BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

rasa. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. rupa. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. warna. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. dicampur. dan penggunaan. semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain.000 lebih dari 10. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. Kecuali dinyatakan lain. . peracikan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika.

pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. nama produsen. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel.Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . kadar atau kekuatan. pengangkutan. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. pengangkutan. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut. penyimpanan dan distribusi. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. penyimpanan dan distribusi. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . langsung dari wadah. merekat. Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan . kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter .

untuk memperelok badan atau bagian badan manusia. Persen bobot per volume ( b/v) .Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . harus dicantumkan dalam etiket.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . Persen volume per volume (v/v). Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. tablet. D. pil. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. cairan. Pengertian Obat Secara Umum . mencegah . Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. mengurangi. salep. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. yang dimaksud adalah b/b. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk.. menghilangkan. Persen Persen bobot per bobot ( b/b) . Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. guna mencegah.

b). Lokal. 4. membran mukosal. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. Contohnya implantasi. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. Obat narkotika (obat bius). pelarut. dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. opthal. Contohnya salep. linimenta dan cream Sistemis. rektal. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a).3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. aurical. pembantu atau komponen lain. seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). 3. misalnya lapisan. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). topikal. nasal. Contohnya tablet. b). adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. c). yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya. vaginal. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). obat minum dan lain – lain. collutio/gargarisma. kapsul. ataupun yang tidak berkhasiat. pengisi. injeksi. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). b). b c d 2. Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). baik sebagai bagian yang berkhasiat. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan.

Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter .   obat baru . vaselin. Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. Resep disebut juga formulae medicae. seperti digitalis folium. Tumbuhan (flora. e). parafin. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. alamat dan nomor izin praktek dokter. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. adeps lanae. Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat.b). 5. kina. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. 4. Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. hayati) seperti minyak ikan. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. obat yang mempengaruhi proses mental. nabati). Hewan (fauna. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. c). garam dapur. 3. minyak jarak. cera. merangsang atau menenangkan. Obat Psikotropika (obat berbahaya). 2. nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d).

Corrigens Actionis.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. dan opii pulvis. umur. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. maka dalam resep ditulis Iteratie.M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut. artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. 4). Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. ipecacuanhae radix. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. Yang berhak menulis resep adalah dokter. Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P. karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. 3). jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. 19/Ph/62 Mei 1962. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. . khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. pada bagian atas kanan resep.E. serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. 2). 2). Misalkan iteratie 3 X.I. 3). Remidium Cardinal. Nama pasien. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru.) Depkes No. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). jenis hewan. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum . rasa dan bau dari obat utama. 5). 4X. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama.

digunakan untuk memperbaiki warna obat . sehingga menjadi obat yang cocok.X Nomor resep dan tanggal pembuatan. d. Istilah lain dari copy resep adalah apograph. penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. merupakan zat tambahan. Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. Corrigens Solubilis. digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. Pada pemusnahan . Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. Contohnya laktosum pada serbuk. c.. afschrif. Corrigens Saporis. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. 3). Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan.obatan yang pahit rasanya.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Constituens / Vehiculum / Exipiens. Corrigens Odoris. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara).b. 2). digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Corrigens Coloris. Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. e. amylum dan talcum pada bedak tabur. 5). Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. exemplum. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita. 4). Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat . Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik.

Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut.D. maka dapat dibagi sebagai berikut : 1). diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap. 2). 3). Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1). maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun. Dosis Maksimal ( maximum). merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan).D. Dosis Lazim (Usual Doses).i. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. L.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen. . 2). Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep. L.60 tahun. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. F.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . 4).resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. dengan berat badan 58 – 60 kg. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. injeksi subkutis dan rektal.

berat badan. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. Faktor lain kondisi pasien. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. adiksi dan sensitip. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. ekskresi obat. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. sifat penyakit. Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. kasus penyakit. jenis obatnya juga faktor toleransi.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. daya serap obat. juga wanita menyusui. antara lain umur. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. habituasi. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . jenis kelamin. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa.

contohnya s.67 % atau lebih dari 1/6 bagian.o. hasilnya kurang dari 100 %. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Coffein dengan Aminophyllin. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI.3. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia.t. antasida. makanan diet dan . maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. demikian pula pemakaian 1 harinya. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16. BAB II PULVIS dan PULVERES A. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam. Karena mempunyai luas permukaan yang luas.h. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis).70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol. guaiacol. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain.

pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. hitung bobot isi rata-rata. keduanya untuk pemakaian luar. halus dan homogen. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. seperti laksan. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . C. dan Bacillus Anthracis. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. sediaan padat lainnya. sepat.beberapa jenis analgetik tertentu. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. Clostridium Welchii. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. antasida. Talk. (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. . Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. Catatan. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus.  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu.Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang. Misalnya : rifampisin. Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate.  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang. Iodoform.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. sehingga serbuk tersebut harus halus sekali.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi . maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen). Seperti hal sebagai berikut : (1). Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Serbuk sangat halus dan berwarna. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. . biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung.  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu. D. (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan.

Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. Ratanhiae Tinctura. vaselin kuning dan vaselin putih. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae.garam bromida. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). Aconiti Tinctura. Digitalis Tinctura. thymol Dikerjakan seperti diatas. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. mentol.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. cera flava. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. zat digerus terlebih dahulu. baru dicampur dengan zat tambahan. cera alba. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. dibuat pengenceran. Belladonnae Tinctura. (2). baru ditambah zat tambahan. naftol. Serbuk dengan asam salisilat. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . Digitalis Tinctura. Serbuk dengan asam benzoat. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. misalnya KI dan garam. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. parafin padat.

bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya. Macam – macam kapsul dapat juga diambil . Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Contohnya Opii extractum. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Extrak Filicis dengan eter. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Contohnya Rhamni Purshianae ext. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Hydrastis Liq. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Ext. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Hyoscyami extractum. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak.

3. bahan opak seperti Titanium dioksida.terdiri atas tubuh dan tutup . topikal . misal ujungnya lebih runcing atau rata. . Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode.bentuknya bermacam . pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil.bisa oral. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. B. 4. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul.Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae. rectal.selalu sudah terisi .isi biasanya padat.tersedia dalam bentuk kosong . Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut.bentuk hanya satu macam Kapsul lunak . vaginal.cara pakai per oral . pengawet. sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). 5. 2. Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. Berkaitan dengan hal tersebut. seperti sorbitol atau gliserin. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. dapat juga cair .satu kesatuan . dapat juga padat . 1.isi biasanya cair. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles. Kapsul keras .

Kerugian bentuk sediaan kapsul. 3. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. 1. selama transportasi dan penanganan. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. C. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. 2. . Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. 4. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. tanpa bantuan alat lain.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. 5. Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak.

kemudian ditutup sambil diputar. Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. F.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor . D. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas.mengisi sampai dengan menutup kapsul. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . E.Sebelum dimasukkan kedalam kapsul. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan. (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin.

NaNO2 dan sebagainya. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. Contohnya kapsul yang mengandung KI. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. kreosot dan alkohol.pada sebuah kotak. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. G. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. NaI. Pengertian Salep . setetah itu tutup. (3) Mengandung minyak menguap. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Di tempat terlalu kering. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah.

Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. Salep tidak boleh berbau tengik. tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air. astringen untuk meredakan rangsangan. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. Belladonnae. Iodida. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. sehingga konsistensinya lebih keras. B. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah.Menurut FI. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). mudah diserap kulit. karena bahan obat tidak diabsorbsi. Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. (2)  Menurut Efek Terapinya. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Salep Diadermic (Salep Serap). Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir.   . Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. IV.

biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. C. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. dasar salep serap. dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon.(3) Menurut Dasar Salepnya. IV. kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). misalnya: campuran dari lemak-lemak. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. Dasar Salep Menurut FI. dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. 1). Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. . minyak lemak. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. 3). Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. malam yang tak tercuci dengan air. sukar dicuci. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). antara lain vaselin putih dan salep putih. Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. antara lain salep hidrofilik (krim). 2). Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat).

hydrophilic ointment. ketersediaan hayati. meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. jika perlu dengan pemanasan. 3. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. . Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Poly Ethylen Glycol (PEG). Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. (1) Stabil. stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. D. sifat bahan obat yang dicampurkan. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. emulsifying wax. lanolin anhidrat atau malam. Lunak. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. paraffin cair. 5. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. campuran vaselin dengan cera. gummi arabicum = 30 : 70). (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. 2. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). campuran PEG. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. paraffin padat. emulsifying ointment B.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus.. seperti paraffin. tragacanth. minyak nabati.P. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. 4. selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.

Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. campurannya harus digerus sampai dingin. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap.c. Jika a. salol. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda).(3) Peraturan Salep Ketiga. atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%. kemudiaan digerus dengan dasar salep. Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb. menthol. Bila kamfer bersama-sama.  Protargol (argentum proteinatum) . maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan.b.

Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. baru dicampur dengan bahan lainnya. Antibiotika. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut.      Belerang. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya.  . Kecuali pada resep obat wasir.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Pyrogalol. 2. Zinci Sulfas. Oleum Iecoris Aselli. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. (b) Alkohol  Jumlah sedikit. sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak.5%).  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. misalnya Tinct. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. Phenol. Jumlah banyak. Chrysarobin. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. tidak boleh diayak Acidum Boricum. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang.

berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Bila dasar salep lebih dari satu macam.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. Tidak diketahui perbandingannya. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik. G. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. Glycerin.(ii) Tidak tahan panas. Balsamum Peruvianum. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep. dicampurkan . Pix Lithantracis. Ichtyol. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya.  Gliserin. F. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol.  Air. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja.  sedikit demi sedikit. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. Kreosot. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. Pix Liquida. Oleum Cadini. contoh. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. contohnya tinctura Iodii.

meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik. Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air.. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) . maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 . misalnya cera dengan minyak lemak.bahan-bahan sebagai berikut.20%.

chlorobutanol. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. misalnya untuk kamfer. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. fosfor . 3. Cosolvensi. misalnya untuk tannin. untuk cera. misalnya untuk kamfer dan menthol. zat samak. cetaceum. 2. Larutan lewat jenuh. Air untuk macam-macam garam Spiritus . Larutan jenuh. Kelarutan. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. sublimat. fenol. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. iodium . kamfer. minyak-minyak. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. B. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Eter minyak tanah . Zat pelarut disebut juga solvent. 4. 1. Larutan encer. 4. 6. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. Parafin Liquidum. Minyak. misalnya untuk kamfer. . 2. Eter. 3.A. 2. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. Larutan. 7. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. borax. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. menthol. 5. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Gliserin. menthol. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. untuk minyak-minyak lemak.

maka minyak atsiri akan memisah. Hg2Cl2. NH4OH. 7.  Semua garam posphat tidak larut. Calsium gliseropospat. BaO. kecuali AgCl. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. 6. Tidak larut dalam air. (NH4)3PO4 4.  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . Dapat larut dalam air. NaOH. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas.  Larutan + panas minyak atsiri. . Zat yang terurai. Contoh : a. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. kecuali K3PO4. misalnya aqua calcis 5. Na3PO3. dan Ba(OH)2. kecuali BaSO4. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air.  Semua garam klorida larut . Salting In. (NH4) 2CO3. kecuali K2CO3. PbCl2. Senyawa – senyawa calsium. Contoh : K2SO4. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas.  Semua garam nitrat larut. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. misalnya etanol. Temperatur. kecuali KOH. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ). b. Saturatio d. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. seperti bismuthi subnitras. kecuali nitrat base. CaHPO4. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut.  Semua garam sulfat larut. CaSO4 (sedikit larut) b. Zat-zat yang atsiri. misalnya Natrii bicarbonas c. PbSO4. minyak atsiri b. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan.Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. Na2CO3. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. KOH. Salting Out. misalnya : a. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.  Semua garam karbonat tidak larut .

setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent.25 % dari berat larutan. 3. 6. 10. Sublimat (HgCl2). Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. Natrium bicarbonas. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya. kelarutan dalam air 1: 650. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. Jika ada air dan gliserin. Perak protein. diamkan selama ¼ jam . Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. tetapi menurunkan daya baktericidnya. Succus liquiritiae. 9. Suhu . dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. makin halus solute. Kalium permanganat (KMnO4).. 2. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. 5. kemudian disaring . melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . 12. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . Extract opii dan extract ratanhiae. Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat. solute makin cepat larut. 11. dengan gerus tuang (aanslibben). diantaranya adalah : 1. 7.Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. bila jumlahnya kecil. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. diamkan selama ¼ jam. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . a. Bic natric digerus tuang . untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. Kamfer. umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. dilarutkan dalam air suling sama banyak.   C. oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . kemudian disaring setelah dingin. Tanin. Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . Seng klorida. 8. Pengadukan. di tempat yang gelap. Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. b. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin.Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. makin kecil ukuran partikel . kemudian ditambah natrium salicylas. kocok lagi.

mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. 2. Ada 3 macam sirup yaitu : a. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . Pepsin. D. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. Nipagin dan Nipasol. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . pengawet.25 % b/v b. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). Jumlah yang diambil 1. Fenol. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat .17 X-nya. pewarna.etanol. 3. c. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. Sirup. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. dengan alkohol 96 % sampai larut . 13. sorbitol atau propilenglikol. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. 1. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. 14. direbus dengan air 20 X nya. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. setelah larut diencerkan sebelumdingin. b. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer.2 x jumlah yang diminta. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan.lalu segera encerkan dengan air. 17. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air .a. 16.

Zat netral dalam jumlah kecil. Pembuatan : 1. Penambahan Bahan –bahan. menjaga stabilitas obat. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut . Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. c. 3. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. c. Zat-zat mudah menguap. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). gas dibuang seluruhnya. Netralisasi. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. b. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. a. karena tidak boleh dikocok. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. segera tutup dengan sampagne knop. b. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. 2/3 bagian asam masuk basa. . Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. 4. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. Bila jumlahnya banyak. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. 2. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Saturatio dan Potio Effervescent. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. berdasarkan perbandingan jumlah airnya. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat .c.  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a.

. harus ditambahkan kedalam bagian basanya. akan terbentuk endapan kalium atau 5. Guttae Ophthalmicae.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. misalnya natrii benzoas.Garam dari asam yang sukar larut . tutup dan sterilkan. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya. biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. b. digunakan untuk membersihkan mata. jernih. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. isotonus. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya. ear drop untuk telinga. Obat tetes sebagai obat luar. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. emulsi atau suspensi . Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. natrii salisilas. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. a. Zat. bebas zarah asing. bila tidak. 2. b. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . saring hingga jernih.masukkan kedalam wadah. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat.

6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan . Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat.9 % b/v. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca. Pengental . Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. b.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. Air mata normal memiliki pH 7. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. d. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. 0 % b/v.Nilai isotonisitas. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. Pada larutan yang digunakan pada mata. c. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata.

3. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. hidroksi propil selulosa. Litus Oris. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. 1. 5. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . 4. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. 7. pendapar dan pengawet.Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. Penandaan. Contoh : metil selulosa. 9. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. tidak untuk ditelan. diagnostic. 2. 6. Injectiones / obat suntik. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. sedative. dapat mengandung zat pensuspensi. tidak boleh mengandung zat lendir. emolient. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. polivinil alcohol. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. anthelmintic . Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin.

10. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Umumnya 0. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. campuran Borwater . dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. Untuk memudahkan. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. tablet yang kalau aplikatornya) 11.dan lain-lain. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. Douche. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Contoh : Liquor Burowi. Solutio Rivanol. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml.5 sampai 1 liter.Rivanol. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu.

Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini. Ukuran partikel.BAB VI SUSPENSI A. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. B. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.

hubungan linier. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. pH dan proses fermentasi bakteri . Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan.Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. (dalam volume yang sama) . Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. yaitu : 1. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. . maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). 3. oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis . Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. 2. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. 4.

Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative). tetapi bukan sebagai emulgator. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. dapat larut dalam air. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. tidak larut dalam alkihol. yang banyak dipakai oleh industri makanan. jadi mudah dirusak oleh bakteri.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Karena peristiwa tersebut. bersifat asam. Caragen merupakan derivat dari saccharida. tidak larut dalam alkohol. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. bersifat alkali. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. Peristiwa ini disebut tiksotrofi.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. dapat larut dalam air.  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. stabilitas dari suspensi . Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. hectorite dan veegum. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan.

Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. Metode pembuatan suspensi.    . hal tersebut karena adanya udara. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya. bukan golongan karbohidrat. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. hidroksi metil selulosa. karboksi metil selulosa (CMC). karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. serta sedikit pemakaiannya. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . atau kontaminan pada serbuk. 2. C. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. sedikit larut dalam air. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) . Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor.Merupakan serbuk putih bereaksi asam. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. tylose). Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. Metode praesipitasi.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. lemak. misalnya methosol 1500. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar.L.B. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. Kelompok lipofilik . F.• • Kelompok hidrofilik. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. 4.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . yaitu bagian yang suka pada minyak. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. dan stabilitas emulsi akan bertambah.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi.

parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. a. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. contohnya chloroform. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. zat padat dilarutkan dalam minyaknya.5 X berat gom . Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. juga dapat dirusak bakteri. lalu diencerkan dengan air sisanya. diaduk keras dan cepat sampai putih . Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. oleum cacao. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi.• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. maka BJ campuran mendekati satu. Contoh : cera.5 X berat gom. buat corpus emulsi dengan air panas 1. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu. • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam.

Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Dengan emulgator ini. Emulgator lain Pektin. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . a. e. emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w.5 – 6. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. Emulgator alam dari hewan a. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel).• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. 3. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. c. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. metil selulosa. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. Emulgator alam dari tanah mineral. karboksimetil selulosa 1-2 %. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. Biasanya d. b. digunakan 1-2 % . Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. 2. b. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya.garam magnesium dan aluminium. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.

sangat peka terhadap elektrolit. 1. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. Metode gom basah atau metode Inggris. kemudian ditambahkan 2 bagian air. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar. 2. • 1. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. protein. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. 2.b. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. 3. 3. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. 3. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). merupakan emulgator tipe w/o. Metode botol atau metode botol forbes. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. merupakan emulgator tipe o/w. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. • • • • G. blender . tergantung dari valensinya. lesitin. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. Emulgator buatan Sabun. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. missal sabun kalsium. misalnya sabun kalium. 2. Mixer. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. Bila sabun tersebut bervalensi 1. Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . sedangkan sabun dengan valensi 2 . kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus.

irreversible ( tidak bisa diperbaiki). emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . akibat putaran pisau tersebut. Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. seperti pemanasan. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. pengadukan. 4. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. 1. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. karena sudan III larut dalam minyak 3. seperti penambahan alkohol. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. KESTABILAN EMULSI. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. penyaringan. Dengan prinsip tersebut. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. Hal ini dapat .kan secara seri. perubahan pH. • Peristiwa fisika. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. 2 3 2. pendinginan. 4. Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. 5. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi .Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. 2. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. Dengan pengecatan/pemberian warna. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. Dengan kertas saring. partikel akan berbentuk kecilkecil. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I.

3. umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk.I. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. contoh : akar manis. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. Pengertian Pilulae (menurut F. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan. mengandung 1 mg bahan obat. campuran bahan tersebut (PGS). pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. sorbitol atau gula. Komponen. BAB VIII PILULAE A.I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.I. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. tragacanth.I. atau bahan lain yang cocok . Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. B. sukrosa. juga bahan dasar gelatin. gom akasia. Boli (menurut F. Mengandung bahan obat. Contohnya sari akar manis. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. Lozenges / tablet hisap menurut (F. atau bahan lain yang cocok. Sifatnya irreversible. bolus alba.

KNO3. ferrum pulveratum. Pil dengan sari-sari cair. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. Pil Dengan Bahan . penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . balsam tolu.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). Keseragaman bobot. keratin. FeCl3. 4. mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. Persyaratan Pillulae 1.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . gliserol. madu. natrii bicarbonas. C. gelatin. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. 5. AgNO3) atau garam-garam Pb. Contoh.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. 2. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. salol. Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. air. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. 2. tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. sirup. Dalam jumlah kecil . diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. Timbang 20 pil satu per satu. 3. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. Dalam jumlah besar. 3. hitung bobot rata-rata. pengikat adeps/vaselin secukupnya . kolodium. natrii carbonas.Bahan Khusus. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. 1. sirlak.

gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral. . berat umumnya 5 g. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak.IV kurang lebih 2 g. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan. 2. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. yaitu 1. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. 2. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. 20 bag. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. gliserin. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai.14 cm. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. Vaginal Suppositoria (Ovula). Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. digunakan lewat vagina. Urethral Suppositoria (bacilla. beratnya menurut FI. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. bougies) digunakan lewat urethra. B. yang diberikan melalui rektal. C.ed. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan.IV. Menurut FI. bentuk batang panjang antara 7 cm . Umumnya meleleh. vagina atau urethra. bentuk bola lonjong seperti kerucut. 10 bag. melunak atau melarut dalam suhu tubuh.ed.

sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. 2. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. cacao (lemak coklat). Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. E. d. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. minyak nabati terhidrogenasi. seperti pasien mudah muntah. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. D. 2.3. c. 3. 2. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. Padat pada suhu kamar. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . tidak sadar. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . 5. b. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air.2 dan kapasitas daparnya rendah. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. 4. Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. 4. gelatin tergliserinasi. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol.

5. padat. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin. Ol. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. warna putih kekuningan.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.Cacao. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 .  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. Untuk basis lemak. Bentuk-bentuk kristal Ol.34 o. Kadar air cukup 6. berbau seperti coklat. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida. cukup 2/3 saja yang dilelehkan.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). tidak menunjukkan perubahan warna.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. asam palmitat. bilangan asam. Jika pemanasannya tinggi. karena mudah tengik. Cacao (lemak coklat) 2. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ). bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. polietilenglikol (PEG) 3. asam stearat. 1. Ol. Diatas titik leburnya.350 C. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat. berwarna kekuningan.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o .  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol. Bahan dasar berlemak : Ol. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. Stabil dalam penyimpanan.3.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya.Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol. meleleh pada suhu 31o .31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil . bau dan pemisahan obat. kering dan terlindung dari cahaya.

Harus disimpan dalam wadah tertutup baik.Cacao Bila airnya menguap. minyak atsiri. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria.yang berguna untuk memadat. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap. maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. 2. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ). Ol. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air. Mempercepat tengiknya Ol. maka dicari pengganti Ol. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C. Karena ada beberapa keburukan Ol. Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) .Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Campuran cetilalkohol dengan Ol. pada suhu dibawah 300 C. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan.       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil.Cacao tersebut.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. Keburukan Ol. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat.Cacao sintetis : Coa buta .

Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20.Cacao. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. Tidak melebur pada suhu tubuh.- mempunyai titik lebur 350 . - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG. jika dibanding Ol. sehingga terjadi rasa yang menyengat. tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan. - PEG sesuai untuk obat antiseptik. Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. PEG 6000 (carbowax 6000). lebih lambat melunak. sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Jika diharapkan bekerja secara sistemik .Cacao.630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. Keburukan : . tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. PEG 4000 (carbowax 4000). PEG 1500 (carbowax 1500). PEG 1000 (carbowax 1000). PEG di bawah 1000 berbentuk cair. tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum.

6000 Suppositoria / jam. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum.5 g F. tetapi untuk Ol. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. bila perlu dipanaskan. proses penuangan.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2. Berat Suppositoria 2.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. Kapasitas bisa sampai 3500 .  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria. Dengan kompresi. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis. Metode ini. 3.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan.  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. akan terlepas dari cetakan.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin. cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. Metode Pembuatan Suppositoria 1. Dengan mencetak hasil leburan : .

Ol. Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah.6 gram.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ).Cacao 3. . terutama jika digunakan bahan dasar Ol. Test kerapuhan. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. 3. tetapi spiritus saponatus ini. tidak mudah hancur atau meleleh. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. 2. H. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. Recini dalam etanol. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. 2. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Pengemasan Suppositoria 1. PEG 1000 15 menit. I. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. G. Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. untuk kemudian dikemas dalam dus.Cacao dingin 3 menit 5. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. Test waktu hancur. Bobot ovula adalah 3 . Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. Test homogenitas. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. umumnya 5 gram. Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah. Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Test terhadap titik leburnya.

sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. simplisia harus dibuat semakin halus. Semakin sukar di sari. dan sebaliknya. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. 3. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. 2. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan.BAB X ILMU GALENICA A. Suhu dan lamanya waktu . membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). 2. 3.

lemak. mudah tersari atau tidak. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. pectin. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. protein. zat lendir. 3. resina. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. ampasnya disebut marc atau faeces. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. damar. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. mudah menguap atau tidak. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. albumin. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. minyak atsiri. 2. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. glukosida. zat pati.. olea. 4. Solution. Perkolat. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. B. Tinctura. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Secale cornuti. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. Decocta / Infusa : Aqua aromatika.Harus disesuaikan dengan sifat obat. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. olea velatilia (minyak menguap). Colatura. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat.

C. garam glauber dll. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. 2. asam tumbuh-tumbuhan. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. pengendapan.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor.1. 3. Ca hidrat. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. glikosida. 4. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. 2. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. Etanol . Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. Cairan . 3. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). antara lain : 1. 2. zat warna dan garam-garam mineral. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. kadang-kadang juga yang segar. 4. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya.

F. damar. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. 5. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. . Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. 4. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. gula dan albumin. glikosida. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. 6. 2.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. minyak atsiri. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. damar. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. Cara – Cara Penarikan 1. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. secale cornutum. D. Karena cairan ini tidak atsiri. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. 3. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. minyak lemak dan minyak atsiri. karena efek farmakologinya. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya.XI) 7. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. misalnya strychni. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. damar-damar.

cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. kecuali dinyatakan lain. reperkolasi. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. fractional percolation 3. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. E. Cara-cara perkolasi : 1. Kecuali dinyatakan lain. memakai alat yang disebut perkolator. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Cara Pembuatan 1. Maserasi . tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. selama 2 hari. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. perkolasi dengan tekanan. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. 2. enap.5 – 5 bagian cairan penyari. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. tutup. 2. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. memakai alat soxhlet. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk.3. continous extraction. tuangkan atau saring. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. Perkolasi. perkolasi biasa 2. peras. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. biarkan selama 24 jam. . serkai. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. perkolasi bertingkat. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. pressure percolation 4. tutup perkolator. perkolasi persambungan.

FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. Iodii Tinctura FI III . B. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. 5. Asaefoetida Tinctura. 7. di tempat sejuk. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. Pindahkan ke dalam bejana. 6. 7. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. tetapkan kadarnya. terlindung dari cahaya. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. Contoh : 1. 6. Enap. 2. • Peras masa. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. Pembagian Tinctur 1. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. contoh : 1. tutup. 3. Capsici Tinctura. A. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. Tingtur Menyan. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. 5. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. 3. Atur kadar hingga memenuhi syarat. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. 4.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. 2. 4. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. tuang atau saring. Sediaan tingtur harus jernih. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat.

Tinctura Composita. 2. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. 5. 7. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. Tinctura Aquosa. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. kental. misalnya campuran simplisia. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. contoh : Tinctura Chinae Composita. e. A. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. 3. Contoh : 1. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. 6. Tingtura Vinosa. Tinctura Acida.2. Cara Pembuatan Penyarian : . 4. Tingtura Aetherea. contoh : Tinctura Rhei Aquosa. Contoh : 1. 4. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. eter dan campuran etanol dan air. 2. b. Cairan penyari yang dipakai adalah air. c. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. 3. d. jika sebagai cairan penarik dipakai air. FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. 2. F. FI 1974 Tingtur Keras B. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. 3. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk.

• Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas.8 bagian perkolat pertama dipisahkan.• • • 1. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya.2 bagian campur dengan perkolat pertama. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air . uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. 2. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. serkai. 3. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. Serkai selagi panas melalui kain flanel. G. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. 2. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. enapkan. serkai. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0.

daun kumis kucing. akar ipeka. kelembak Laos. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas.5 bagian 0. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. akar valerian. akan mengendap dalam keadaan dingin. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. diserkai setelah dingin. jahe Kulit kina. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. tetapi tidak larut dalam air dingin. 1. Infus daun sena. Akar manis. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering.5 bagian 0. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. 6 bagian 0. untuk membuat 100 bagian infus. temulawak. .5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. daun sena Dringo. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. 5. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas.4. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih.

2. Khasiat : zat tambahan. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. atau agak keruh. diamkan. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Diantara air aromatika. Cara pembuatan : 1. terlindung dari cahaya. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. saring. di tempat sejuk. . bebas bau empirematic atau bau lain. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. tambahkan 500 mg talc. 4.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. 5. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. tidak berwarna dan tidak berlendir. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. 3. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. H. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. kocok. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon.

yang cair harus jernih. 2. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. dapat dipakai sebagai pencahar. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. oleum ricini. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. diperas pada suhu biasa. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). oleum ricini diperas pada suhu panas. mudah menguap . yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. misalnya : oleum ricini. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. misalnya : oleum arachidis. oleum olivarum. J. 3. lotio dan lain-lain. 2. anti racun. Eter dan Eter minyak tanah. kulit buah. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. oleum amygdalarum. terlindung dari cahaya. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. 2. Sebagai obat. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. misalnya : oleum arachidis. 3. misalnya : oleum cacao. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. bunga. terisi penuh. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. 2.I. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. Contoh : daun. oleum cocos harus jernih. oleum sesami. senyawa belerang dan logam berat. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. buah atau dibuat secara sintetis. 1. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. oleum olivae. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. 4. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. 2. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. hijau ataupun biru. biarkan memisah. Identifikasi : 1. terisi penuh. larut dalam pelarut organik. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. 5. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Contoh : minyak jeruk B. 1. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. 3. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. volume air tidak boleh bertambah. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Cara penyulingan ( destilasi). Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian.2. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. sedikit kuning muda. 2. teteskan 1 tetes minyak di atas air. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. 3. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. permukaan air tidak keruh. Warna coklat. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. .

kalau perlu setelah pemanasan. uap air akan membawa minyak atsiri. minyak atsiri akan larut. dilarutkan dalam alkohol absolut. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. Syarat – syarat minyak atsiri 1. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. 3. Harus kering. Harus jernih. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya.zat pengering. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. 4. . sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. 5. contoh: Na2SO4 exicatus. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. permukaan air tidak keruh.Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. Dibiarkan beberapa lama. • Kemudian lapisan lemak dikerok. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. Bau dan rasa seperti simplisia. contoh:bunga melati 24 jam. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. tergantung dari jenis daun yang diolah. Kemudian daun bunga diangkat. tidak berwarna. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. yaitu air dan minyak atsiri. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. sedangkan lemaknya tidak larut. volume air tidak boleh bertambah. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. 2. biarkan memisah.

a.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup. buang busa yang terjadi. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. b. jika perlu didihkan hingga larut. 2. meskipun jamur tidak mati. tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. . Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. Cairan untuk sirup. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. • Kecuali dinyatakan lain. c. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. • • Bj sirup kira-kira 1. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat.K. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. panaskan. tambahkan gula. d.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. aqua destilata : untuk sirupus simplex. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . serkai.

• • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. Bila dalam resep. aurantii corticis sirupus. zat putih telur akan menggumpal karena panas. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. 3. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. Sterilisasi sirup. Maka untuk kestabilan sirup.25% atau pengawet lain yang cocok. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. maka jamur dapat tumbuh. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. 2. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Obat. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Didihkan sambil diaduk. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. 2. misalnya : sirupus aurantii . • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. Corigensia saporis. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.

sirupus rubi idaei 3. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.Corigensia coloris. misalnya : sirupus Rhoedos. gula yang tinggi . Pengawet. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri.

umumnya silendris. desintegran dan lubrikan. Warna tablet umumnya putih. Tablet cetak b. b. Tablet cetak agak rapuh. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Penggolongan 1. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. a. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. bahan pengisi. Tablet kempa. segitiga. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. bahan pengaroma dan bahan pemanis. B. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Berdasarkan metode pembuatan : a. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . . Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. lonjong dan sebagainya. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. Pengertian Menurut FI edisi IV. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. mencegah pemalsuan. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. bundar. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. bahan pengikat.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet.

pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. b. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. Macam-macam tablet salut : a. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. umumnya menggunakan manitol. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. Berdasarkan jenis bahan penyalut. Dibuat dengan cara dikempa.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. Diformulasikan untuk anak-anak. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. selain zat aktif. 3. kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. kalsium karbonat. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. terutama formulasi multivitamin. demikian seterusnya. Bekerja sistemik : per oral. 2. a. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ).Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. antasida dan antibiotik tertentu.

(tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. b. (efek diperpanjang. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. hidrosi propil selulosa. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). dan perlu penyalut tahan air. Mula-mula dibuat tablet inti. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. metil selulosa.E. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. kelembaban atau cahaya. Tujuan penyalutan tablet adalah : a. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara. b. e. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. d. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). c.gom akasia atau gelatin. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ). menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. . dengan menggunakan cera. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. Tablet lepas-lambat (sustained release). Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. menggunakan smoothing syrup. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin.

Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. dan selulosa mikrokristal b. antiseptik. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). sukrosa. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. pasta pati terhidrolisa. steril dan bersi hormon steroid. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. Tablet hisap (lozenges. a. d. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. berat umumnya 30 mg. povidon. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. g. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. adstringensia. f. kalsium fosfat dibase. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. desintegran. Tablet bukal (buccal tablet) h. trochisi. selulosa mikrokristal. metilselulosa. . pecah di lambung b. dan lubrikan. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. kemudian tablet dimasukkan. umumnya dengan bahan dasar beraroma. bahan pengisi. rasanya umumnya tidak pahit. bahan pengaroma dan bahan pemanis. 4. gelatin.. CMC. 1. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan.c. digunakan per oral dengan cara ditelan. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. Dihisap di dalam rongga mulut. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. Bahan excipient / bahan tambahan a. Tablet sublingual i. dan manis. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. c. pati. Misalnya laktosa. Supradin Effervescent tablet. Tablet vagina (Ovula) C. Umumnya mengandung antibiotik. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. bahan pengikat. Berdasarkan cara pemakaian. kemudian kulit dijahit kembali. bulat atau oval putih. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. e.

PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Granulasi basah. . f. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. b. D. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Misalnya pati. asam stearat. Makin banyak udaranya. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d.c. asam alginat. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). 2. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. pada saat dicetak. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. tablet makin mudah pecah. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Misalnya Silika pirogenik koloidal. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. e. yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. 3. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. Misalnya macammacam minyak atsiri. Ajuvans a.

Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. zat pengisi dan zat penghancur . Cetak/kempa langsung. Keuntungan. bila perlu ditambah bahan pewarna. Kerugian. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. tablet KMnO4. . Daya pengikat dalam massa tablet kurang. laktosa semprot-kering. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. Misalnya tablet Hexamin. 4. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. zat pelicin kurang. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. massanya basah.Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. 60 0 C ) . zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. tablet NaCl. Setelah itu diayak menjadi granul. 2. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. bila perlu ditambahkan zat pengikat. pencetak masih ada lemaknya. Granulasi kering / slugging / pre compression. Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . 3. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. dilakukan apabila: 1. laktosa anhidrat. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. 2. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet.

Formulanya tidak sesuai e. Die dan punch tidak rata 5. Massa tablet terlalu banyak fines. 6. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh.b. d. . terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. c.

Steril untuk Suspensi.. Misalnya : Inj. Vit........ pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi. hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril..ed.ed. Dalam FI. pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar... ditandai dengan nama. ditandai dengan nama..ed. Untuk Injeksi. Misalnya : Inj.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.. ditandai dengan nama .. Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai..Steril. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang ..C..BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A. Suspensi.III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok. Misalnya : Inj. ..III disebut berupa Larutan..ed. 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal..IV.ed. Dalam FI.. ditandai dengan nama ....... Dalam FI.... pengencer atau bahan tambahan lain...... Misalnya : Inj.... Misalnya : Inj.. pelarutnya aqua pro injection Inj. Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi. Luminal... Dalam FI. Injeksi.ed. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Steril...... Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi....III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.. ditandai dengan nama . . Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan...III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) .. pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj.. .. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril. Dalam FI.. Camphor oil ..... hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi... mengandung satu atau lebih dapar. Dalam FI.. Procaine Penicilline G steril untuk suspensi....

volume antara 1 . 5.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 . sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. 10. Injeksi intramuskuler ( i.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase). Cara ini disebut" Hipodermoklisa ". Injeksi intrakutan ( i. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1.B. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 . Dibuat isitonis. 2. intradural ( i. intrasisternal (i. 4. Injeksi intraarterium ( i.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena. berupa larutan atau suspensi dalam air. isotonis.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. Injeksi intravenus ( i. 3. jernih. 9. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat. disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.10 ml. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka.20 ml. volume antara 1 .c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya.a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi. Volume penyuntikan antra 4 . Injeksi i. 8. tidak boleh mengandung bakterisida. .1 . intraspinal. digunakan untuk diagnosa. tidak boleh mengandung bakterisida. Injeksi dalam bentuk larutan. bersifat depo (absorpsinya lambat). pH netral. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat.k / i. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". subaraknoid. Injeksi subkutan ( s. Berupa suspensi / larutan.0. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. tidak lebih dari 1 ml. Volume yang disuntikkan antara 0.t). sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). Injeksi intrakor / intrakardial ( i. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml. Bentuknya berupa larutan.2 ml. Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air.k / s. Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. Bentuk suspensi / larutan dalam air.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. 7.d ).10 ml. 6.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. Umumnya larutan bersifat isotonik.s).kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida. Injeksi intratekal (i.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar.

Sol.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya. menggunakan air untuk injeksi. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. segera setelah diwadahkan. 2. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. injeksi glukosa.IV. Hasil sulingan pertama dibuang. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. zat pembawa mengandung air. Penyerapan cepat . . didinginkan dan segera digunakan. Olivarum. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . harus disterilkan dengan cara sterilisasi A. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. extradural. Kecuali dinyatakan lain. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. Wadah dan tutup 1. Bahan pembantu / zat tambahan 4. Ol. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan.d ).11.ed. Arachidis. Zat pembawa / zat pelarut 3. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Pada etiketnya tercantum : p.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. bahaya infeksi besar 12. Sesami. C. Injeksi intraperitoneal ( i.Petit. Ol. Bahan obat / zat berkhasiat 2. injeksi NaCl compositus. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. Injeksi peridural ( p. terletak diatas durameter. Menurut FI. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi.

(2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh.IV. bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar. .128 (5) Bilangan penyabunan 185 . hanya boleh secara i. jika hanya mewarnai sediaan akhir. (3) Dikehendaki efek depo terapi.01 %  Golongan Klorbutanol. bisulfit atau metabisulfit .200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak.9 (4) Bilangan iodium 79 .2 % dari 0. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. tidak lebih dari 0.m.2 .0. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0.ed.5 % dari 5 ml. tidak boleh disuntikkan secara i. Menurut FI.4 dan disebut Isohidri. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator. 3.v . Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 . sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut.

9 % b/v. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . Vit. sehingga sel akan mengkerut. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan.9 % b/v disebut " hipotonis " . Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. 2. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.C. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1.520C. misalnya perubahan warna. 2. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1.0 % b/v. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. yaitu . Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. cairan lumbal. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . dapar borat untuk obat tetes mata. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Penambahan zat tunggal . efek terapi optimal obat.2. 2. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. basa untuk golongan sulfa. Penambahan larutan dapar. Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. Kecuali darah. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0. 3. 2. disebut " Haemolisa ". tetapi jangan sampai hipotonis. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut.0. pH dapat diatur dengan cara : 1.6 . Menjamin stabilitas obat. 1. Jika yang pecah itu sel darah merah. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. disebut " hipertonis ". akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. sebaiknya obat tidak usah didapar.9 % b/v. Vit. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. misalnya asam untuk alkaloida.B1 . Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan.

maka b1 C < 0. dapat menimbulkan haemolisa. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. ( darah.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. maka b1 C = 0.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku. jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal. Intralumbal .52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip .52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a. b. Intravenus. d. 2. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak.1. c. Penurunan titik beku darah. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai.52 b1 C b2 B = 0. 3.520 C. 3. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. Larutan NaCl 0. terutama pada Infus intravena. air mata adala -0. maka b1 C > 0. Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . jika membeku pada suhu -0. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI.520 C.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

wadah. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik. 2. karena akan rusak atau mengurai. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi.b.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. Caranya : Zat pembawa. alat-alat dari gelas untuk pembuatan. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. setelah dikemas. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. Jika terjadi pertumbuhan kuman. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. . 2. zat pembawa.III dan IV. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. Kemudian bahan obat. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. 5. zat pembantu. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan.ed. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril.

untuk itu dipakai perbenihan asam amino. isinya akan terisap keluar. disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a.1 % yang dingin. Menurut FI. dilakukan sebagai berikut : a. Pemeriksaan keseragaman bobot.III. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. b. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. (i) Ampul : .E.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. 1. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. b. Wadah yang bocor. Wadah yang bocor akan berwarna biru. Pemeriksaan 1 . 2. ed. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. 6. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. 4. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. untuk bakteri anaerob. 5. Pemeriksaan sterilitas. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. Pemeriksaan kebocoran.. Sebelum dilakukan uji sterilitas. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. Wadah yang bocor. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Pemeriksaan keseragaman volume. 2. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu. b. 3. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . ii. untuk zat-zat : a. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. masih dalam keadaan panas. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. Pemeriksaan meliputi : 1.

1 % ( Carbo adsorbens 0. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. 9. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam). 2. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. b. Untuk aqua p. Cara menghilangkan pirogen 1.01 gram per kg berat badan. tahan pemanasan. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1. NaCl dan Na-sitrat. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai. 3. 12 ( secara detailnya lihat FI. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi.ed.v sediaan uji pirogenitas. yang dalam kadar 0. harus bebas pirogen. 3. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. Pemeriksaan kejernihan dan warna . Jumlah kelinci percobaan bisa 3. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara. disuling dengan wadah gelas. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. 1 liter air yang dapat diminum.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2. 2. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari. Pirogen bersifat termolabil. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk. dapat larut dalam air. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes.II ) 4.1 N dan 5 ml larutan 1 N. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. 6.001 – 0.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. alat suntik dll.

untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia.4. 5.00 ml ( 4 % ) 0.50 ml ( 10 % ) 0. Syarat . bebas dari partikel-partikel padat.0 F.5 % ) 1.0 ml 2.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih.20 ml ( 4 % ) 3.60 ml ( 3 % ) 0. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih. Jika berupa larutan harus jernih.0 7. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka . disinari dari samping.10 ml ( 20 % ) 0. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal. 3.5 % ) 0. kecuali yang berbentuk suspensi. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. Cuci wadah dengan air.12 ml ( 24 % ) 0.5 % ) 0. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera .5 ml 1. Volume pada etiket 0.1 ml 5.30 ml ( 6 % ) 0.70 ml ( 7 % ) 0. Keluarkan isi wadah. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu.90 ml ( 4. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini. Keringkan pada suhu 105 0. Sedapat mungkin lsohidris. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.0 ml 50. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini. yaitu mempunyai pH = 7.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10.6 % ) 2. 2.25 ml ( 12. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap.50 ml ( 5 % ) 0. Cuci bagian luar wadah dengan air. Harus aman dipakai.15 ml ( 15 % ) 0. kemudian dengan etanol 95 % .0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0. .5 5. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.0 ml 30.10 ml ( 10 % ) 0.0 ml 10.15 ml ( 7. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan.0 ml 20.80 ml ( 2. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam.

Bebas pirogen.ed. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. Cara pemberian lebih sukar. 5. 4. harus memakai tenaga khusus. 7. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. yaitu bebas dari mikroba hidup. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. 3. Karena bekerja cepat.. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. cara pemberian.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. tetapi jangan hipotonis. merangsang jika ke cairan lambung. H. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh.I dan tanggal kadaluwarsanya. baik yang patogen maupun yang apatogen. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . 3. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung.. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan. Harus steril. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan.4. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. 2. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. Bekerja cepat . Sedapat mungkin Isotonik. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. 2. Pengemasan. Penandaan menurut FI. Sediaan untuk pemberian intraspinal. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. G. 6.

1 .