BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. rupa. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan.000 lebih dari 10. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. warna. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. dicampur. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. rasa.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. peracikan. . Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika. dan penggunaan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. Kecuali dinyatakan lain.

pengangkutan. nama produsen. pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. merekat. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . penyimpanan dan distribusi. pengangkutan. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . penyimpanan dan distribusi. hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . langsung dari wadah. Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan .Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. kadar atau kekuatan. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter .

Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. cairan. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku.. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . tablet. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. Pengertian Obat Secara Umum . Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. mencegah . mengurangi. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. salep. untuk memperelok badan atau bagian badan manusia. D. yang dimaksud adalah b/b. pil. menghilangkan. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. Persen bobot per volume ( b/v) .20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. Persen volume per volume (v/v). Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. guna mencegah. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk. menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit.Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . Persen Persen bobot per bobot ( b/b) . harus dicantumkan dalam etiket.

dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. membran mukosal. pengisi. pelarut. linimenta dan cream Sistemis. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . topikal. Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. pembantu atau komponen lain. c). baik sebagai bagian yang berkhasiat. ataupun yang tidak berkhasiat. Contohnya implantasi. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). misalnya lapisan. nasal. 3. Contohnya tablet. aurical. injeksi. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. kapsul. vaginal.3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. Contohnya salep. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). rektal. b). opthal. 4. yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya. b c d 2. collutio/gargarisma. b). obat minum dan lain – lain. b). Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). Lokal. seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). Obat narkotika (obat bius). 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional.

Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. Hewan (fauna. alamat dan nomor izin praktek dokter. kina. Obat Psikotropika (obat berbahaya). c). adeps lanae.   obat baru . Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. seperti digitalis folium. vaselin. Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama.b). Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. 5. Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. minyak jarak. cera. e). 3. parafin. merangsang atau menenangkan. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. obat yang mempengaruhi proses mental. nabati). mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. garam dapur. hayati) seperti minyak ikan. Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Tumbuhan (flora. 2. kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d). Resep disebut juga formulae medicae. 4. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep.

5). Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. 4). dan opii pulvis.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. ipecacuanhae radix. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. 3). Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. 4X. Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. pada bagian atas kanan resep. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Corrigens Actionis. 2).I. serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Nama pasien. . injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya. 3). Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut.M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. umur. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru.E. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. maka dalam resep ditulis Iteratie. Yang berhak menulis resep adalah dokter. jenis hewan.) Depkes No. rasa dan bau dari obat utama. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. 19/Ph/62 Mei 1962. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum . Misalkan iteratie 3 X. artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. Remidium Cardinal. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). 2). digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P.

pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. 5). digunakan untuk memperbaiki rasa obat. selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). merupakan zat tambahan. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Constituens / Vehiculum / Exipiens. sehingga menjadi obat yang cocok. exemplum. Istilah lain dari copy resep adalah apograph. 2). Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. 4). Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara). Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. Corrigens Coloris. Corrigens Saporis. penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. c. digunakan untuk memperbaiki warna obat . Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). Pada pemusnahan . Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan. Corrigens Solubilis. digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. Corrigens Odoris. amylum dan talcum pada bedak tabur. digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat .. d. afschrif. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum.X Nomor resep dan tanggal pembuatan. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita.b. Contohnya laktosum pada serbuk. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk.obatan yang pahit rasanya. 3). Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. e.

F. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun.60 tahun. Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. dengan berat badan 58 – 60 kg.D. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap. injeksi subkutis dan rektal. rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. 4). dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. L.D. . 2). maka dapat dibagi sebagai berikut : 1). Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan.i. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. 2). Dosis Maksimal ( maximum). Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan). POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. Dosis Lazim (Usual Doses). 3). L. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep.resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1).

berat badan. kasus penyakit. ekskresi obat. jenis obatnya juga faktor toleransi. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. antara lain umur. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . habituasi. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. juga wanita menyusui. adiksi dan sensitip. Faktor lain kondisi pasien. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. jenis kelamin. sifat penyakit.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. daya serap obat.

Coffein dengan Aminophyllin. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16.67 % atau lebih dari 1/6 bagian.h. guaiacol. BAB II PULVIS dan PULVERES A. demikian pula pemakaian 1 harinya. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri.70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol. makanan diet dan . serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah.3. contohnya s. antasida. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). Karena mempunyai luas permukaan yang luas. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1.o. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. hasilnya kurang dari 100 %. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk.t. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan.

. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Talk. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. antasida.beberapa jenis analgetik tertentu. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. halus dan homogen. sediaan padat lainnya. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. keduanya untuk pemakaian luar. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. seperti laksan. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. Catatan. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. hitung bobot isi rata-rata. C. dan Bacillus Anthracis. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. sepat. Clostridium Welchii. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air.

 Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu.  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. Serbuk sangat halus dan berwarna. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir.  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. Misalnya : rifampisin. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen). sehingga serbuk tersebut harus halus sekali. biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. Iodoform. Seperti hal sebagai berikut : (1).Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang. (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2. D. . Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus).  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi . Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil.

Digitalis Tinctura. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae. Serbuk dengan asam salisilat. baru ditambah zat tambahan. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. cera flava. naftol. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. cera alba. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. (2). Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). parafin padat. Aconiti Tinctura. Digitalis Tinctura. vaselin kuning dan vaselin putih. zat digerus terlebih dahulu. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi.garam bromida. baru dicampur dengan zat tambahan. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. misalnya KI dan garam. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. thymol Dikerjakan seperti diatas. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. dibuat pengenceran. mentol. Serbuk dengan asam benzoat. Ratanhiae Tinctura. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Belladonnae Tinctura.

Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Extrak Filicis dengan eter. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Catatan : Ekstrak Chinae Liq.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Hyoscyami extractum. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Contohnya Rhamni Purshianae ext. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Hydrastis Liq. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Contohnya Opii extractum. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Ext. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Macam – macam kapsul dapat juga diambil .

rectal.cara pakai per oral .satu kesatuan .bentuknya bermacam . Berkaitan dengan hal tersebut. Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien.terdiri atas tubuh dan tutup . bahan opak seperti Titanium dioksida. misal ujungnya lebih runcing atau rata. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil.isi biasanya padat.selalu sudah terisi . pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik.tersedia dalam bentuk kosong . dapat juga padat . hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak.bisa oral.Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. 3. 4. Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. 2. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. dapat juga cair . Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul. perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan. topikal . pengawet.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus. .bentuk hanya satu macam Kapsul lunak .isi biasanya cair. 1. Kapsul keras . Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. B. seperti sorbitol atau gliserin. vaginal. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode. 5. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik.

(2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. . Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. 3. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. 2.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. 5. 1. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras.Kerugian bentuk sediaan kapsul. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. tanpa bantuan alat lain. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. C. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. selama transportasi dan penanganan. 4. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan.

Sebelum dimasukkan kedalam kapsul. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor . D. F. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. kemudian ditutup sambil diputar. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor.mengisi sampai dengan menutup kapsul. Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan. E.

kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. Di tempat terlalu kering. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. Contohnya kapsul yang mengandung KI. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. G. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. kreosot dan alkohol.pada sebuah kotak. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Pengertian Salep . NaNO2 dan sebagainya. setetah itu tutup. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. (3) Mengandung minyak menguap. NaI.

(2)  Menurut Efek Terapinya. IV. Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). mudah diserap kulit. Iodida. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). Belladonnae. Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air.Menurut FI. Salep tidak boleh berbau tengik. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.   . (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. sehingga konsistensinya lebih keras. karena bahan obat tidak diabsorbsi. Salep Diadermic (Salep Serap). misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. astringen untuk meredakan rangsangan. B. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik.

Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. C. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. antara lain salep hidrofilik (krim). Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. Dasar Salep Menurut FI. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. IV. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon. (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. 3). 1). minyak lemak. malam yang tak tercuci dengan air. dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. antara lain vaselin putih dan salep putih.(3) Menurut Dasar Salepnya. sukar dicuci. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. misalnya: campuran dari lemak-lemak. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. dasar salep serap. Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. dasar salep larut dalam air. 2). Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. .

Poly Ethylen Glycol (PEG). jika perlu dengan pemanasan. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. sifat bahan obat yang dicampurkan. gummi arabicum = 30 : 70). stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. minyak nabati. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. paraffin cair. D. lanolin anhidrat atau malam. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. emulsifying wax. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya.. jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. 3. emulsifying ointment B. 5. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. Lunak. campuran vaselin dengan cera. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). (1) Stabil.P. ketersediaan hayati. . 4.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. paraffin padat. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. 2. hydrophilic ointment. seperti paraffin. tragacanth. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. campuran PEG. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.

(4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan.(3) Peraturan Salep Ketiga. menthol. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb. kemudiaan digerus dengan dasar salep. atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep.  Protargol (argentum proteinatum) . Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air. maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40. campurannya harus digerus sampai dingin.c. salol.b. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda). (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%. Jika a. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. Bila kamfer bersama-sama.

tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya. Kecuali pada resep obat wasir. Phenol. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. Antibiotika. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Chrysarobin. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut. Oleum Iecoris Aselli. Pyrogalol. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu.      Belerang.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras.  . Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. tidak boleh diayak Acidum Boricum. sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. Jumlah banyak. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. 2. misalnya Tinct. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. baru dicampur dengan bahan lainnya. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No.5%). Zinci Sulfas. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. (b) Alkohol  Jumlah sedikit.

 Air. Kreosot. berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin. Glycerin. Oleum Cadini. Pix Liquida. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. contoh.  Gliserin. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik. G.  sedikit demi sedikit. Ichtyol. Pix Lithantracis. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Bila dasar salep lebih dari satu macam. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. F. contohnya tinctura Iodii. dicampurkan . Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya. Balsamum Peruvianum. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. Tidak diketahui perbandingannya.(ii) Tidak tahan panas. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit.

misalnya cera dengan minyak lemak. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) . Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air..bahan-bahan sebagai berikut. maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 . Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih. meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu.20%.

7. 1. fosfor . misalnya untuk tannin. 2. 2. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. Kelarutan. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. Parafin Liquidum. Larutan lewat jenuh. untuk cera. 3. Air untuk macam-macam garam Spiritus . 4. Cosolvensi. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Larutan. 5. misalnya untuk kamfer. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. 4. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Eter. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. menthol. fenol. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Eter minyak tanah . B. menthol. Zat pelarut disebut juga solvent. borax. misalnya untuk kamfer dan menthol. 2. Minyak. Larutan jenuh. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. Gliserin. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. 6. iodium . minyak-minyak. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. Larutan encer. . untuk minyak-minyak lemak. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. zat samak. cetaceum. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. sublimat. 3. chlorobutanol.A. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. misalnya untuk kamfer. kamfer.

zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. PbSO4.  Semua garam posphat tidak larut. Zat-zat yang atsiri. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. (NH4) 2CO3. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air. Salting Out. CaSO4 (sedikit larut) b. Senyawa – senyawa calsium. kecuali K3PO4. Contoh : a.  Semua garam nitrat larut. Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. . 6. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. NaOH. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. dan Ba(OH)2. maka minyak atsiri akan memisah. Zat yang terurai. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. misalnya : a. NH4OH.  Semua garam klorida larut .  Semua garam sulfat larut.  Larutan + panas minyak atsiri. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan. b. kecuali K2CO3.Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . kecuali AgCl. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Na3PO3. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ).  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . Dapat larut dalam air. (NH4)3PO4 4. Salting In. minyak atsiri b. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. Temperatur. 7. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. Hg2Cl2. KOH. Calsium gliseropospat. Na2CO3. Tidak larut dalam air. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. misalnya etanol. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. misalnya aqua calcis 5. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. kecuali BaSO4. PbCl2. Contoh : K2SO4. kecuali KOH. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. Saturatio d. CaHPO4. kecuali nitrat base. seperti bismuthi subnitras.  Semua garam karbonat tidak larut . BaO. misalnya Natrii bicarbonas c.

Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. bila jumlahnya kecil. kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . di tempat yang gelap. Sublimat (HgCl2).25 % dari berat larutan. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . kocok lagi. Natrium bicarbonas. 12. b. diamkan selama ¼ jam. Bic natric digerus tuang . dengan gerus tuang (aanslibben). melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . Kamfer. Pengadukan. setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. Kalium permanganat (KMnO4). 8.   C. 9. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan .Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. solute makin cepat larut. 5. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. 10. makin halus solute. dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. Seng klorida. Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat.Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya. kemudian disaring . oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. a. kemudian disaring setelah dingin. Succus liquiritiae. tetapi menurunkan daya baktericidnya. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . Tanin. 11. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. 6. diantaranya adalah : 1. 3. dilarutkan dalam air suling sama banyak. makin kecil ukuran partikel . 2. diamkan selama ¼ jam . Extract opii dan extract ratanhiae. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. kemudian ditambah natrium salicylas. Perak protein. kelarutan dalam air 1: 650. 7. Suhu . tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin.. Jika ada air dan gliserin.

dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. pewarna. direbus dengan air 20 X nya.17 X-nya. setelah larut diencerkan sebelumdingin. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. c. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol.2 x jumlah yang diminta. Nipagin dan Nipasol.25 % b/v b. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. 16. Pepsin. 2. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . Sirup. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . Fenol. 1. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan.etanol. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula.a. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air . 3. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). Ada 3 macam sirup yaitu : a.lalu segera encerkan dengan air. pengawet. dengan alkohol 96 % sampai larut . diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. D. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . b. 17. 13. Jumlah yang diambil 1. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. 14. sorbitol atau propilenglikol.

 Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. 3.c. Netralisasi. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. menjaga stabilitas obat. 2. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut . Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. Pembuatan : 1. berdasarkan perbandingan jumlah airnya. b. segera tutup dengan sampagne knop. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). Penambahan Bahan –bahan. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Saturatio dan Potio Effervescent. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . Kemudian diikat dengan sampagne knop. karena tidak boleh dikocok. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. a. 4. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. gas dibuang seluruhnya. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. 2/3 bagian asam masuk basa. c. b. Zat netral dalam jumlah kecil. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. . Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Bila jumlahnya banyak. c. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. Zat-zat mudah menguap.

ear drop untuk telinga. tutup dan sterilkan. natrii salisilas. akan terbentuk endapan kalium atau 5. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. emulsi atau suspensi . Guttae Ophthalmicae. harus ditambahkan kedalam bagian basanya.masukkan kedalam wadah. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. Obat tetes sebagai obat luar. jernih. misalnya natrii benzoas. Zat. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya. 2. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. b. . saring hingga jernih. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut. biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata.zat yang dilarutkan dalam bagian basa.Garam dari asam yang sukar larut . isotonus. b. a. digunakan untuk membersihkan mata. bebas zarah asing. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. bila tidak. apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet.

4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan .9 % b/v. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. Air mata normal memiliki pH 7.6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2. 0 % b/v. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. d. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. b. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata. Pengental . c. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. Pada larutan yang digunakan pada mata.Nilai isotonisitas. Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol.

3. 4. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . polivinil alcohol. Litus Oris. 7. Injectiones / obat suntik. pendapar dan pengawet. tidak boleh mengandung zat lendir. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. 1. diagnostic. hidroksi propil selulosa. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. 6. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. 2. 9. sedative. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. 5. Penandaan. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. dapat mengandung zat pensuspensi. anthelmintic . tidak untuk ditelan. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Contoh : metil selulosa. emolient.Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas.

Rivanol. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . Solutio Rivanol.dan lain-lain. Untuk memudahkan. Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. 10. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. Contoh : Liquor Burowi. dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. Umumnya 0. campuran Borwater . baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. Douche. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. tablet yang kalau aplikatornya) 11.5 sampai 1 liter. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah.

Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Ukuran partikel. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai.BAB VI SUSPENSI A. B.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). . 4. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. 3. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. (dalam volume yang sama) . Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. yaitu : 1. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis . Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut.Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap.hubungan linier. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. 2. pH dan proses fermentasi bakteri .

- Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. dapat larut dalam air. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative).  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. yang banyak dipakai oleh industri makanan. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. Caragen merupakan derivat dari saccharida. bersifat alkali.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. tidak larut dalam alkohol. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. Karena peristiwa tersebut. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik. bersifat asam.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. tidak larut dalam alkihol. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. stabilitas dari suspensi . Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. dapat larut dalam air. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. jadi mudah dirusak oleh bakteri. hectorite dan veegum. tetapi bukan sebagai emulgator. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat.

Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle. atau kontaminan pada serbuk. 2. lemak. bukan golongan karbohidrat.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. C. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor.Merupakan serbuk putih bereaksi asam. hidroksi metil selulosa. karboksi metil selulosa (CMC). Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. misalnya methosol 1500. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. Metode pembuatan suspensi. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. sedikit larut dalam air. tylose). Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) .    . Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Metode praesipitasi. serta sedikit pemakaiannya. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. hal tersebut karena adanya udara.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. F. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. dan stabilitas emulsi akan bertambah.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase.B. 4. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan.• • Kelompok hidrofilik.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.L. yaitu bagian yang suka pada minyak. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini. Kelompok lipofilik . Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak.

oleum cacao. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . a. Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. juga dapat dirusak bakteri. lalu diencerkan dengan air sisanya. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. buat corpus emulsi dengan air panas 1. • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. zat padat dilarutkan dalam minyaknya.• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak.5 X berat gom . Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin.5 X berat gom. sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w. maka BJ campuran mendekati satu. Contoh : cera. contohnya chloroform. diaduk keras dan cepat sampai putih .

digunakan 1-2 % . merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . Dengan emulgator ini. 3. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. b. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung.garam magnesium dan aluminium. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. a. karboksimetil selulosa 1-2 %. emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. Emulgator alam dari hewan a. metil selulosa. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar. Emulgator lain Pektin. b.5 – 6. Emulgator alam dari tanah mineral. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. e. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. c.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. Biasanya d. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. 2.

sangat peka terhadap elektrolit. Metode gom basah atau metode Inggris. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. 3. kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. • 1. merupakan emulgator tipe w/o. Metode botol atau metode botol forbes. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. protein. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. tergantung dari valensinya. 2. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. 3. Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. Bila sabun tersebut bervalensi 1. blender .b. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. Mixer. kemudian ditambahkan 2 bagian air. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. sedangkan sabun dengan valensi 2 . 2. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. misalnya sabun kalium. 1. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). merupakan emulgator tipe o/w. 3. Emulgator buatan Sabun. 2. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. • • • • G. lesitin. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. missal sabun kalsium. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya.

kan secara seri. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. KESTABILAN EMULSI. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I. 1. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. 4. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. akibat putaran pisau tersebut. 2. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. Dengan prinsip tersebut. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. pendinginan. Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. Dengan kertas saring. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. seperti penambahan alkohol. karena sudan III larut dalam minyak 3. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. irreversible ( tidak bisa diperbaiki).Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi .Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia. perubahan pH. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. partikel akan berbentuk kecilkecil. 4. Dengan pengecatan/pemberian warna. 5. penyaringan. Hal ini dapat . 2 3 2. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. pengadukan. • Peristiwa fisika. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. seperti pemanasan.

yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk. atau bahan lain yang cocok. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. BAB VIII PILULAE A. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. contoh : akar manis. juga bahan dasar gelatin.I. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. sukrosa. B. Lozenges / tablet hisap menurut (F. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan. Komponen. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. Contohnya sari akar manis.I.3. Pengertian Pilulae (menurut F. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. bolus alba. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil.I. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. gom akasia. tragacanth. sorbitol atau gula. Sifatnya irreversible. Mengandung bahan obat. atau bahan lain yang cocok . Boli (menurut F.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. mengandung 1 mg bahan obat. campuran bahan tersebut (PGS).I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg.

FeCl3. KNO3. Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. Pil dengan sari-sari cair. Dalam jumlah besar. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . kolodium.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. 1. sirup. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. Dalam jumlah kecil . madu. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. Persyaratan Pillulae 1. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum.Bahan Khusus. pengikat adeps/vaselin secukupnya . keratin. Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. gelatin. ferrum pulveratum. Keseragaman bobot.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . pengisi menggunakan 100mg bolus alba. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap .Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . AgNO3) atau garam-garam Pb. 3. C. 5. Contoh. 2. hitung bobot rata-rata. sirlak. balsam tolu. air. 2. gliserol. Pil Dengan Bahan . 4. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. 3. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). natrii bicarbonas. natrii carbonas. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. salol. Timbang 20 pil satu per satu.

gliserin. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan.14 cm. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. bentuk bola lonjong seperti kerucut. melunak atau melarut dalam suhu tubuh. beratnya menurut FI. 20 bag. yang diberikan melalui rektal. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. bougies) digunakan lewat urethra. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. Umumnya meleleh. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g.IV. 2. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. berat umumnya 5 g. 10 bag. B. C. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. digunakan lewat vagina. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. Menurut FI. 2. yaitu 1. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3.ed. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. vagina atau urethra. .ed. bentuk batang panjang antara 7 cm .IV kurang lebih 2 g. Urethral Suppositoria (bacilla. Vaginal Suppositoria (Ovula).

3. 5. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. 2.2 dan kapasitas daparnya rendah. d.3. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. 2. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . b. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. E. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. 2. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). 4. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. D. seperti pasien mudah muntah. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. 4. gelatin tergliserinasi. c. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. minyak nabati terhidrogenasi. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. tidak sadar. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . cacao (lemak coklat). Padat pada suhu kamar. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh.

Ol. Cacao (lemak coklat) 2.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil .Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol.Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol. padat. cukup 2/3 saja yang dilelehkan. tidak menunjukkan perubahan warna.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. asam palmitat. 1. Diatas titik leburnya. polietilenglikol (PEG) 3.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat. warna putih kekuningan.31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34.350 C.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol.34 o.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali. Kadar air cukup 6. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. kering dan terlindung dari cahaya. karena mudah tengik. bau dan pemisahan obat.3.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o . asam stearat. berwarna kekuningan. bilangan asam. Jika pemanasannya tinggi. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. 5. Bahan dasar berlemak : Ol.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol. meleleh pada suhu 31o . sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk.  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol. Untuk basis lemak. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 . Stabil dalam penyimpanan. Bentuk-bentuk kristal Ol. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. berbau seperti coklat. Ol. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin.Cacao. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ).

Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ).Cacao tersebut. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang.yang berguna untuk memadat. Campuran cetilalkohol dengan Ol. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. maka dicari pengganti Ol. Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat.Cacao Bila airnya menguap. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Karena ada beberapa keburukan Ol. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap.Cacao sintetis : Coa buta . pada suhu dibawah 300 C. Ol. Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) . Mempercepat tengiknya Ol. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ).       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. Keburukan Ol. minyak atsiri. 2. sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil.

PEG 4000 (carbowax 4000). gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). Tidak melebur pada suhu tubuh. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria.- mempunyai titik lebur 350 . - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. PEG 6000 (carbowax 6000). lebih lambat melunak. PEG di bawah 1000 berbentuk cair. PEG 1500 (carbowax 1500). - PEG sesuai untuk obat antiseptik. PEG 1000 (carbowax 1000). Jika diharapkan bekerja secara sistemik . Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan. sehingga terjadi rasa yang menyengat. Keburukan : . sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . jika dibanding Ol. tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum.630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG. tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat.Cacao. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20.Cacao.

 Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. tetapi untuk Ol.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. Kapasitas bisa sampai 3500 . pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. 3. bila perlu dipanaskan.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2. Metode ini. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria.6000 Suppositoria / jam.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. Dengan kompresi. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. proses penuangan.5 g F. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin.  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya. akan terlepas dari cetakan.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan. Berat Suppositoria 2. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan. Dengan mencetak hasil leburan : . yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. Metode Pembuatan Suppositoria 1.

2. Test homogenitas. H. Recini dalam etanol. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. tidak mudah hancur atau meleleh. umumnya 5 gram. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Test terhadap titik leburnya. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Pengemasan Suppositoria 1. Ol. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. Test kerapuhan.6 gram. Test waktu hancur. G. 3. Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah.Cacao dingin 3 menit 5. Bobot ovula adalah 3 . Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. . tetapi spiritus saponatus ini. untuk kemudian dikemas dalam dus. 2.Cacao 3. PEG 1000 15 menit. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . I.

Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. Semakin sukar di sari. 3. 2. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. dan sebaliknya.BAB X ILMU GALENICA A. Suhu dan lamanya waktu . 3. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. simplisia harus dibuat semakin halus. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. 2.

Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. olea velatilia (minyak menguap). Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat.. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. zat lendir. mudah menguap atau tidak. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. glukosida. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. Perkolat.Harus disesuaikan dengan sifat obat. Colatura. 4. 2. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. minyak atsiri. Decocta / Infusa : Aqua aromatika. olea. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. Solution. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. B. Tinctura. 3. pectin. protein. damar. ampasnya disebut marc atau faeces. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. Secale cornuti. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. albumin. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. zat pati. mudah tersari atau tidak. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. resina. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. lemak. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1.

4. antara lain : 1. C. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. 4.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. 2. 3. Ca hidrat. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. garam glauber dll. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. Cairan . Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. 2. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Etanol . sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut.1. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. 2. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. asam tumbuh-tumbuhan. zat warna dan garam-garam mineral. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. kadang-kadang juga yang segar. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. glikosida. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. 3. pengendapan.

Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. 4. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. 5. .Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. damar. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. gula dan albumin. 2. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. Cara – Cara Penarikan 1.XI) 7. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering.F. minyak atsiri. 6. secale cornutum. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. minyak lemak dan minyak atsiri. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. D. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. karena efek farmakologinya. misalnya strychni. damar-damar. Karena cairan ini tidak atsiri. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. glikosida. damar. 3. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak.

Cara Pembuatan 1.3. perkolasi dengan tekanan. . cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. perkolasi biasa 2. selama 2 hari. Maserasi . Kecuali dinyatakan lain. memakai alat soxhlet. 2. kecuali dinyatakan lain. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. fractional percolation 3. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. tuangkan atau saring. enap. Perkolasi. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. tutup perkolator. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. continous extraction. E. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3.5 – 5 bagian cairan penyari. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. perkolasi persambungan. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. biarkan selama 24 jam. Cara-cara perkolasi : 1. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. reperkolasi. memakai alat yang disebut perkolator. tutup. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. pressure percolation 4. peras. serkai. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. perkolasi bertingkat. 2. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari.

tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. Iodii Tinctura FI III . tetapkan kadarnya. Enap. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. 5. 2. Capsici Tinctura. A. 7. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Sediaan tingtur harus jernih. B. 6. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. 5. 6. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. • Peras masa. 4. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. 3. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. Atur kadar hingga memenuhi syarat. Pembagian Tinctur 1. 2. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. 4. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. tuang atau saring. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. 7. contoh : 1. Asaefoetida Tinctura. Pindahkan ke dalam bejana. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. terlindung dari cahaya. tutup. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. di tempat sejuk. 3. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. Contoh : 1. Tingtur Menyan.

Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. Cara Pembuatan Penyarian : . jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Tinctura Composita. 5. kental. 3. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. jika sebagai cairan penarik dipakai air. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. 4. Contoh : 1. Cairan penyari yang dipakai adalah air. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. contoh : Tinctura Rhei Aquosa. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). 3. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. 2. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. 7. F. Tinctura Acida.2. contoh : Tinctura Chinae Composita. misalnya campuran simplisia. 2. c. 6. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. A. FI 1974 Tingtur Keras B. eter dan campuran etanol dan air. 3. b. Tingtura Vinosa. Tingtura Aetherea. e. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Contoh : 1. d. 2. Tinctura Aquosa. 4.

serkai. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. 2. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. 2. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. enapkan. Serkai selagi panas melalui kain flanel. 3. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air . • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. serkai. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. G.2 bagian campur dengan perkolat pertama. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura.• • • 1.

daun kumis kucing. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. akar ipeka. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. kelembak Laos. Infus daun sena. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. untuk membuat 100 bagian infus. akar valerian. jahe Kulit kina. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. diserkai setelah dingin.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. 6 bagian 0. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. 1.5 bagian 0. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. 5. temulawak.5 bagian 0. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. akan mengendap dalam keadaan dingin. daun sena Dringo. tetapi tidak larut dalam air dingin. Akar manis.4. . • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering.

tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. Cara pembuatan : 1. 4. . Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. 2. H. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. di tempat sejuk. Khasiat : zat tambahan. bebas bau empirematic atau bau lain. saring. terlindung dari cahaya. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. diamkan. 3. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. tidak berwarna dan tidak berlendir. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. atau agak keruh. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. Diantara air aromatika. kocok. tambahkan 500 mg talc. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. 5. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%.

2. 3. 2. 2. diperas pada suhu biasa. oleum amygdalarum. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. 3. oleum ricini diperas pada suhu panas. Eter dan Eter minyak tanah. misalnya : oleum ricini. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. bunga. 2. oleum olivarum. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. Sebagai obat. anti racun. 1. misalnya : oleum arachidis. oleum olivae. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. J. yang cair harus jernih. misalnya : sebagai pelarut obat suntik.I. misalnya : oleum arachidis. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. oleum ricini. terlindung dari cahaya. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. misalnya : oleum cacao. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. mudah menguap . untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. terisi penuh. oleum cocos harus jernih. oleum sesami. kulit buah. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. lotio dan lain-lain. senyawa belerang dan logam berat. dapat dipakai sebagai pencahar. Contoh : daun. buah atau dibuat secara sintetis.

permukaan air tidak keruh. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. volume air tidak boleh bertambah. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit.2. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. 4. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. biarkan memisah. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. Contoh : minyak jeruk B. teteskan 1 tetes minyak di atas air. 2. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. 3. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. 2. 5. sedikit kuning muda. Warna coklat. larut dalam pelarut organik. 3. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). 1. hijau ataupun biru. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. Identifikasi : 1. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. Cara penyulingan ( destilasi). terisi penuh. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. .

Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. 4. sedangkan lemaknya tidak larut. minyak atsiri akan larut. tidak berwarna. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama.zat pengering.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. Harus jernih. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan.Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Syarat – syarat minyak atsiri 1. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. dilarutkan dalam alkohol absolut. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. 5. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. Kemudian daun bunga diangkat.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. biarkan memisah. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. volume air tidak boleh bertambah. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. • Kemudian lapisan lemak dikerok. tergantung dari jenis daun yang diolah. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. 2. 3. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. kalau perlu setelah pemanasan. . Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Bau dan rasa seperti simplisia. yaitu air dan minyak atsiri. contoh:bunga melati 24 jam. permukaan air tidak keruh. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. contoh: Na2SO4 exicatus. uap air akan membawa minyak atsiri. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Harus kering. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. Dibiarkan beberapa lama.

b. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. buang busa yang terjadi. d. . aqua destilata : untuk sirupus simplex. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. panaskan. • Kecuali dinyatakan lain. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. c.K. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. • • Bj sirup kira-kira 1. 2. a. meskipun jamur tidak mati. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. serkai. jika perlu didihkan hingga larut. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. Cairan untuk sirup. tambahkan gula. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%.

Didihkan sambil diaduk. Corigensia saporis. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. maka jamur dapat tumbuh. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. 2. aurantii corticis sirupus. zat putih telur akan menggumpal karena panas. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. 2. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Maka untuk kestabilan sirup.25% atau pengawet lain yang cocok. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. Bila dalam resep. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Sterilisasi sirup. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. misalnya : sirupus aurantii . sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. 3. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. Obat. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk.

gula yang tinggi . Pengawet. sirupus rubi idaei 3. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. misalnya : sirupus Rhoedos. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri.Corigensia coloris.

bundar. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. a. tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. mencegah pemalsuan. . bahan pengaroma dan bahan pemanis. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. desintegran dan lubrikan. b. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. umumnya silendris. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. bahan pengikat. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. lonjong dan sebagainya. Tablet kempa. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Berdasarkan metode pembuatan : a. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Tablet cetak b. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . segitiga. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. B. Pengertian Menurut FI edisi IV. bahan pengisi. Warna tablet umumnya putih. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. Tablet cetak agak rapuh. Penggolongan 1.

granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. Bekerja sistemik : per oral. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). umumnya menggunakan manitol. Diformulasikan untuk anak-anak. a. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. selain zat aktif. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. 3. sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. 2. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. antasida dan antibiotik tertentu. Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. Berdasarkan jenis bahan penyalut. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Dibuat dengan cara dikempa. kalsium karbonat. demikian seterusnya. pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. terutama formulasi multivitamin. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. Macam-macam tablet salut : a. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. b. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.

2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. hidrosi propil selulosa. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. Mula-mula dibuat tablet inti. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara. menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ).G yang tidak mengandung air atau mengandung air. dan perlu penyalut tahan air. 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. c.gom akasia atau gelatin. Tablet lepas-lambat (sustained release). . dengan menggunakan cera. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. menggunakan smoothing syrup. metil selulosa. d. b. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet.E. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). Tujuan penyalutan tablet adalah : a. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. b. kelembaban atau cahaya. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. (efek diperpanjang. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. e. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama.

Tablet bukal (buccal tablet) h. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. dan manis. pati. digunakan per oral dengan cara ditelan. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. e. dan selulosa mikrokristal b. bahan pengikat. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. Tablet sublingual i. g. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. sukrosa. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. antiseptik. Tablet vagina (Ovula) C. Bahan excipient / bahan tambahan a. kemudian kulit dijahit kembali. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. Tablet hisap (lozenges. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. pasta pati terhidrolisa. pecah di lambung b. dan lubrikan. kalsium fosfat dibase. desintegran. Supradin Effervescent tablet. Berdasarkan cara pemakaian. Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. . larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). selulosa mikrokristal. CMC. 4. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . f. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. trochisi. berat umumnya 30 mg. umumnya dengan bahan dasar beraroma. bahan pengaroma dan bahan pemanis. Misalnya laktosa. a. gelatin. bahan pengisi. bulat atau oval putih.c.. c. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. povidon. Dihisap di dalam rongga mulut. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. Umumnya mengandung antibiotik. steril dan bersi hormon steroid. adstringensia. rasanya umumnya tidak pahit. metilselulosa. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. d. kemudian tablet dimasukkan. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. 1.

umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. 3. Makin banyak udaranya. . Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. 2. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. Misalnya macammacam minyak atsiri. Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. f. pada saat dicetak. Ajuvans a. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). b. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Granulasi basah. D. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. e. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam.c. Misalnya pati. tablet makin mudah pecah. Misalnya Silika pirogenik koloidal. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. asam stearat. asam alginat. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk.

Setelah itu diayak menjadi granul. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. zat pelicin kurang. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. Kerugian. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. dilakukan apabila: 1. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. pencetak masih ada lemaknya. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. 2. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. 60 0 C ) . tablet NaCl. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . Misalnya tablet Hexamin. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. laktosa anhidrat. laktosa semprot-kering. 3. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. Daya pengikat dalam massa tablet kurang. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk.Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. 2. bila perlu ditambah bahan pewarna. Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. Cetak/kempa langsung. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. bila perlu ditambahkan zat pengikat. tablet KMnO4. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. . zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. zat pengisi dan zat penghancur . Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. massanya basah. Keuntungan. 4. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. Granulasi kering / slugging / pre compression.

Die dan punch tidak rata 5. .b. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. c. Formulanya tidak sesuai e. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. Massa tablet terlalu banyak fines. terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. 6. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. d.

. .ed..III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang ... pelarutnya aqua pro injection Inj..III disebut berupa Larutan. ditandai dengan nama .III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) .ed.. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.. Dalam FI. .. Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi. Dalam FI. ......... 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. Camphor oil ... Steril.... emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Dalam FI. Dalam FI.. ditandai dengan nama .III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok... Suspensi...ed. Misalnya : Inj.. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril........ pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj. ditandai dengan nama... Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai..ed. pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi.BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A. Misalnya : Inj.... pengencer atau bahan tambahan lain. pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar.. Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi.Steril.. ditandai dengan nama . Luminal. Dalam FI...... mengandung satu atau lebih dapar.... Steril untuk Suspensi..... Misalnya : Inj.. Untuk Injeksi. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1. Procaine Penicilline G steril untuk suspensi...IV. Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. Vit. Misalnya : Inj.. hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril..ed.....ed. Dalam FI.C.. Misalnya : Inj.. Injeksi. ditandai dengan nama..

m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot.k / i. Injeksi intratekal (i. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 . pH netral.1 . bersifat depo (absorpsinya lambat).10 ml. 2. intrasisternal (i. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. subaraknoid.20 ml. Injeksi intrakor / intrakardial ( i.c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml. Injeksi intrakutan ( i. 7. Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit. 3. tidak boleh mengandung bakterisida.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. Injeksi intravenus ( i. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. Injeksi subkutan ( s. Volume yang disuntikkan antara 0. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. digunakan untuk diagnosa. Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena. Volume penyuntikan antra 4 . Injeksi dalam bentuk larutan. Injeksi intraarterium ( i.a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi.2 ml.kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml.k / s. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. jernih. volume antara 1 .s). Injeksi i. Bentuknya berupa larutan. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata.d ). Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat. 10. volume antara 1 . . berupa larutan atau suspensi dalam air. 8. 9. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. Berupa suspensi / larutan. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. Injeksi intramuskuler ( i. Bentuk suspensi / larutan dalam air.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. tidak lebih dari 1 ml.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ".c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase).10 ml. intraspinal. 5. Umumnya larutan bersifat isotonik. tidak boleh mengandung bakterisida. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 . disuntikkan hanya dalam keadaan gawat. 6.0. intradural ( i. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. isotonis. Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida.t).B. 4. Dibuat isitonis.

epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. extradural. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. zat pembawa mengandung air.Petit. segera setelah diwadahkan. Penyerapan cepat . Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. Zat pembawa / zat pelarut 3. menggunakan air untuk injeksi.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. Olivarum. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. C. Bahan pembantu / zat tambahan 4.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. Pada etiketnya tercantum : p. Hasil sulingan pertama dibuang. bahaya infeksi besar 12.IV. Arachidis. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . Kecuali dinyatakan lain. Sol.d ). terletak diatas durameter. 2. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. Menurut FI. . sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. Sesami. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A. Bahan obat / zat berkhasiat 2. didinginkan dan segera digunakan. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. Injeksi peridural ( p. Injeksi intraperitoneal ( i. Ol.11.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Wadah dan tutup 1. injeksi NaCl compositus.ed. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. injeksi glukosa. Ol.

hanya boleh secara i.128 (5) Bilangan penyabunan 185 .200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh. (3) Dikehendaki efek depo terapi. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 .5 % dari 5 ml.IV.01 %  Golongan Klorbutanol. 3.2 % dari 0. tidak lebih dari 0.2 . bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar.m. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7. . Menurut FI. tidak boleh disuntikkan secara i.v .ed.4 dan disebut Isohidri. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit.9 (4) Bilangan iodium 79 .0. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. jika hanya mewarnai sediaan akhir. bisulfit atau metabisulfit .

9 % b/v disebut " hipotonis " . sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. Menjamin stabilitas obat. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. Penambahan larutan dapar. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel .2. akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0.9 % b/v. 2. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. Vit. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0.B1 . 2. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. efek terapi optimal obat. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan. misalnya perubahan warna.0 % b/v. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh.C.0.520C. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Jika yang pecah itu sel darah merah. sebaiknya obat tidak usah didapar. cairan lumbal.9 % b/v. 2. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. yaitu . Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. Penambahan zat tunggal . 2. 1. disebut " hipertonis ". Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). misalnya asam untuk alkaloida. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. disebut " Haemolisa ".6 . dapar borat untuk obat tetes mata. sehingga sel akan mengkerut. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Vit. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. Kecuali darah. basa untuk golongan sulfa. tetapi jangan sampai hipotonis. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. pH dapat diatur dengan cara : 1. 3.

Intravenus. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. Intralumbal . jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip . Penurunan titik beku darah.520 C. air mata adala -0. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. maka b1 C < 0.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip .52 c) Untuk mendapatkan isoioni .1. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. b. ( darah. maka b1 C = 0.52 b1 C b2 B = 0. c. 3. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. d. jika membeku pada suhu -0. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. terutama pada Infus intravena. Larutan NaCl 0. dapat menimbulkan haemolisa. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 .52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0.520 C. maka b1 C > 0. 2. 3.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

2.ed. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. Kemudian bahan obat. zat pembawa. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. Jika terjadi pertumbuhan kuman. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. 5. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. setelah dikemas. karena akan rusak atau mengurai. 2. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. alat-alat dari gelas untuk pembuatan.III dan IV. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. zat pembantu. wadah.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1.b. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. . Caranya : Zat pembawa. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam.

Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. ed. 1. Sebelum dilakukan uji sterilitas. Wadah yang bocor akan berwarna biru.1 % yang dingin. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah.. b.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. Pemeriksaan keseragaman bobot. 3. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. dilakukan sebagai berikut : a. b. Pemeriksaan meliputi : 1. Pemeriksaan keseragaman volume. Wadah yang bocor. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. 2. Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. untuk zat-zat : a. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. Pemeriksaan 1 . Pemeriksaan sterilitas. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. masih dalam keadaan panas. Wadah yang bocor. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a. Pemeriksaan kebocoran. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. untuk bakteri anaerob. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. 6. b.E. 4. Menurut FI. isinya akan terisap keluar. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. 5. sebagai pembanding digunakan Candida albicans .III. Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. 2. ii. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea. (i) Ampul : . disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah.

2. Pemeriksaan kejernihan dan warna . tahan pemanasan. dapat larut dalam air. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas.ed. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. NaCl dan Na-sitrat. disuling dengan wadah gelas. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam).1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk. 1 liter air yang dapat diminum. 12 ( secara detailnya lihat FI.001 – 0.01 gram per kg berat badan. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. b. harus bebas pirogen. Cara menghilangkan pirogen 1. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling. alat suntik dll.v sediaan uji pirogenitas. 3. 2. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. Pirogen bersifat termolabil. 6. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes.II ) 4. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai.1 % ( Carbo adsorbens 0. Untuk aqua p.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari.1 N dan 5 ml larutan 1 N. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1. 9. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi. 3. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. yang dalam kadar 0. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik.

2.25 ml ( 12.5 5.0 7. Cuci wadah dengan air. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini.0 ml 50.5 % ) 1.0 ml 30. disinari dari samping.60 ml ( 3 % ) 0. Harus aman dipakai.12 ml ( 24 % ) 0. Sedapat mungkin lsohidris. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis. Keluarkan isi wadah. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia.0 ml 20. bebas dari partikel-partikel padat.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.5 % ) 0. . Volume pada etiket 0.50 ml ( 10 % ) 0. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih.90 ml ( 4.00 ml ( 4 % ) 0. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera .70 ml ( 7 % ) 0. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam.10 ml ( 10 % ) 0.5 ml 1. yaitu mempunyai pH = 7. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka . Cuci bagian luar wadah dengan air. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap. 5. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu.80 ml ( 2.10 ml ( 20 % ) 0.5 % ) 0.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10.0 F.0 ml 2. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3.4. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan. 3. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih. Syarat .20 ml ( 4 % ) 3. kemudian dengan etanol 95 % .6 % ) 2. Keringkan pada suhu 105 0.30 ml ( 6 % ) 0. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.0 ml 10.15 ml ( 15 % ) 0.50 ml ( 5 % ) 0.15 ml ( 7.1 ml 5.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1. Jika berupa larutan harus jernih. kecuali yang berbentuk suspensi.

baik yang patogen maupun yang apatogen. 5. Cara pemberian lebih sukar. Bekerja cepat . Harus steril. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa.. 4. cara pemberian.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. Sedapat mungkin Isotonik. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang.4.I dan tanggal kadaluwarsanya. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. Pengemasan.ed. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. G. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. Sediaan untuk pemberian intraspinal. 3. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan. yaitu bebas dari mikroba hidup. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. 7. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. 2. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. Bebas pirogen. H. Penandaan menurut FI. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan. tetapi jangan hipotonis. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. merangsang jika ke cairan lambung. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. 6. harus memakai tenaga khusus. 3. Karena bekerja cepat. 2..

1 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful