BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. dan penggunaan. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika. Kecuali dinyatakan lain.000 lebih dari 10. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. dicampur. rupa. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . rasa. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. warna. tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. peracikan.

pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan .Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. merekat. penyimpanan dan distribusi. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. pengangkutan. Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. langsung dari wadah. hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. kadar atau kekuatan. nama produsen. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter . Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. pengangkutan. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. penyimpanan dan distribusi. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa.

untuk memperelok badan atau bagian badan manusia. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. pil. guna mencegah. menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. mencegah . menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. Persen Persen bobot per bobot ( b/b) .. D. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. salep. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. yang dimaksud adalah b/b. Persen volume per volume (v/v). Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. Persen bobot per volume ( b/v) . menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . harus dicantumkan dalam etiket. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain.Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . cairan. tablet.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. mengurangi. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk. Pengertian Obat Secara Umum . menghilangkan. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat.

opthal. aurical. kapsul. Contohnya salep. 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. linimenta dan cream Sistemis. Contohnya tablet. membran mukosal. b). pembantu atau komponen lain. 3. obat minum dan lain – lain. nasal. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. pelarut. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. b). adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. collutio/gargarisma. Obat narkotika (obat bius). injeksi. pengisi. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. topikal.3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). misalnya lapisan. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). Contohnya implantasi. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. b). rektal. vaginal. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). ataupun yang tidak berkhasiat. 4. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). Lokal. b c d 2. baik sebagai bagian yang berkhasiat. c). yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya.

Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d). Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . e). Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. hayati) seperti minyak ikan. nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. 5. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. 2. kina. cera. c). dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. 4. diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. alamat dan nomor izin praktek dokter. seperti digitalis folium. obat yang mempengaruhi proses mental. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. Obat Psikotropika (obat berbahaya). Hewan (fauna. adeps lanae. mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. Tumbuhan (flora. Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. merangsang atau menenangkan. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). 3.   obat baru .b). dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. nabati). Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. garam dapur. vaselin. Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. parafin. Resep disebut juga formulae medicae. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. minyak jarak.

jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. ipecacuanhae radix. karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. . 2).M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru. rasa dan bau dari obat utama. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. jenis hewan. Yang berhak menulis resep adalah dokter. 5). 19/Ph/62 Mei 1962. umur. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum . Corrigens Actionis. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). maka dalam resep ditulis Iteratie. 4). injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). 3). Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P. Misalkan iteratie 3 X. 4X.) Depkes No. pada bagian atas kanan resep.E. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. 2). artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. Nama pasien. dan opii pulvis. adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. Remidium Cardinal. 3).I.

Pada pemusnahan . Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat . exemplum. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara). d. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. digunakan untuk memperbaiki warna obat . 3). Corrigens Saporis.. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. afschrif. c. Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan.obatan yang pahit rasanya. Contohnya laktosum pada serbuk. 2). 5).b.X Nomor resep dan tanggal pembuatan. merupakan zat tambahan. selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). digunakan untuk memperbaiki rasa obat. e. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. sehingga menjadi obat yang cocok. 4). Istilah lain dari copy resep adalah apograph. Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. Corrigens Coloris. Corrigens Odoris. amylum dan talcum pada bedak tabur. pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. Corrigens Solubilis. Constituens / Vehiculum / Exipiens. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya.

maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. L. L. 2).100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . 3). berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1). Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit. F.D. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan. Dosis Maksimal ( maximum). 2). Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. maka dapat dibagi sebagai berikut : 1).D. Dosis Lazim (Usual Doses). injeksi subkutis dan rektal. merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan).i. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n.60 tahun. 4). Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep. dengan berat badan 58 – 60 kg. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. .resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap.

bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. sifat penyakit. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. habituasi. ekskresi obat. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. berat badan. adiksi dan sensitip. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. antara lain umur. daya serap obat. juga wanita menyusui. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Faktor lain kondisi pasien. Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. kasus penyakit. jenis obatnya juga faktor toleransi. jenis kelamin. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah.

demikian pula pemakaian 1 harinya. BAB II PULVIS dan PULVERES A. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan.h.67 % atau lebih dari 1/6 bagian. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam.t. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis).3. antasida. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1. guaiacol. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan.70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol. contohnya s. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. hasilnya kurang dari 100 %. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan.o. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. Coffein dengan Aminophyllin. makanan diet dan . Karena mempunyai luas permukaan yang luas.

(3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. Clostridium Welchii. dan Bacillus Anthracis. keduanya untuk pemakaian luar.beberapa jenis analgetik tertentu. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. hitung bobot isi rata-rata. C. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. halus dan homogen. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. Talk. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. sediaan padat lainnya. (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. antasida. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. Catatan. . Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . sepat. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. seperti laksan. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus.

(4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2. . Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. sehingga serbuk tersebut harus halus sekali. Misalnya : rifampisin.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. Iodoform. Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus).  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. Seperti hal sebagai berikut : (1). Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate.  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi .Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. Serbuk sangat halus dan berwarna. biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. D. maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen).  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.

(2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. Belladonnae Tinctura. parafin padat. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. Aconiti Tinctura. Digitalis Tinctura. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. baru dicampur dengan zat tambahan. (2). kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. naftol. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . zat digerus terlebih dahulu. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. cera flava. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Serbuk dengan asam benzoat. Serbuk dengan asam salisilat. Digitalis Tinctura. baru ditambah zat tambahan. vaselin kuning dan vaselin putih. thymol Dikerjakan seperti diatas. dibuat pengenceran. mentol. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Ratanhiae Tinctura. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. cera alba.garam bromida. misalnya KI dan garam. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan).

Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Contohnya Opii extractum. Hydrastis Liq. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Hyoscyami extractum. Contohnya Rhamni Purshianae ext. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Extrak Filicis dengan eter. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Ext. Macam – macam kapsul dapat juga diambil .Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya.

3.isi biasanya cair. pengawet. 2. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. dapat juga cair . seperti sorbitol atau gliserin.bisa oral. Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. dapat juga padat . Berkaitan dengan hal tersebut. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil. 1. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. misal ujungnya lebih runcing atau rata. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. 4. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien.tersedia dalam bentuk kosong . sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus.terdiri atas tubuh dan tutup . .selalu sudah terisi . Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. topikal . Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul. Kapsul keras . soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak.cara pakai per oral .macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus. perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan. Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. rectal. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %.isi biasanya padat. B. Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. 5.Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae.satu kesatuan . bahan opak seperti Titanium dioksida. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik.bentuknya bermacam . vaginal.bentuk hanya satu macam Kapsul lunak .

selama transportasi dan penanganan. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. . Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. 1. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. tanpa bantuan alat lain. Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. 5. 4. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. 3.Kerugian bentuk sediaan kapsul. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras. C. 2. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis.

Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. kemudian ditutup sambil diputar. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %.Sebelum dimasukkan kedalam kapsul. Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. E.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor .mengisi sampai dengan menutup kapsul. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. D. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. F. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin. (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan.

(3) Mengandung minyak menguap. Contohnya kapsul yang mengandung KI. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek.pada sebuah kotak. setetah itu tutup. G. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. NaNO2 dan sebagainya. NaI. Di tempat terlalu kering. Pengertian Salep . Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. kreosot dan alkohol.

salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air.   . (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. B. karena bahan obat tidak diabsorbsi. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao.Menurut FI. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. mudah diserap kulit. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Salep Diadermic (Salep Serap). Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. Salep tidak boleh berbau tengik. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. sehingga konsistensinya lebih keras. tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). astringen untuk meredakan rangsangan. IV. Belladonnae. (2)  Menurut Efek Terapinya. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. Iodida. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik.

2). antara lain vaselin putih dan salep putih. misalnya: campuran dari lemak-lemak. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). IV. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. 3). dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. . kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. dasar salep serap.(3) Menurut Dasar Salepnya. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon. Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. malam yang tak tercuci dengan air. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. 1). Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). C. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar Salep Menurut FI. dasar salep larut dalam air. minyak lemak. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. sukar dicuci. antara lain salep hidrofilik (krim). Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air.

3. 2. jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). sifat bahan obat yang dicampurkan. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. seperti paraffin. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. Poly Ethylen Glycol (PEG). semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. minyak nabati. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. hydrophilic ointment. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. emulsifying wax.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. campuran vaselin dengan cera. Lunak. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. . selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin).P. tragacanth. 5. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. lanolin anhidrat atau malam. paraffin padat. jika perlu dengan pemanasan. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. gummi arabicum = 30 : 70). ketersediaan hayati. 4. (1) Stabil. D.. paraffin cair. campuran PEG. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. emulsifying ointment B.

salol. harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%. maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb.b.c. Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. Jika a. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. menthol.  Protargol (argentum proteinatum) . atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep. campurannya harus digerus sampai dingin.(3) Peraturan Salep Ketiga. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda). Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air. kemudiaan digerus dengan dasar salep. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. Bila kamfer bersama-sama.

 Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya. Zinci Sulfas. Oleum Iecoris Aselli.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. (b) Alkohol  Jumlah sedikit. 2.  . Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut. Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Chrysarobin. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep.      Belerang. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. Antibiotika. tidak boleh diayak Acidum Boricum. Kecuali pada resep obat wasir. sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. Pyrogalol. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. Phenol. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu. Jumlah banyak. baru dicampur dengan bahan lainnya. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit.5%). misalnya Tinct.

jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep. G. Oleum Cadini. Balsamum Peruvianum. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. F. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. Bila dasar salep lebih dari satu macam. Glycerin. contohnya tinctura Iodii.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. Tidak diketahui perbandingannya. Pix Lithantracis.  Gliserin.(ii) Tidak tahan panas. contoh. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. dicampurkan . Ichtyol. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Kreosot. Pix Liquida.  sedikit demi sedikit. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri.  Air.

meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik. maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 .. Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih.bahan-bahan sebagai berikut. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air. misalnya cera dengan minyak lemak. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu.20%. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) .

2. Gliserin. Eter minyak tanah . 7. 3.A. 1. 4. Parafin Liquidum. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. B. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. . untuk cera. misalnya untuk kamfer. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. menthol. Larutan jenuh. sublimat. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. 6. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Minyak. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. 5. misalnya untuk kamfer. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. misalnya untuk tannin. fenol. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. misalnya untuk kamfer dan menthol. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. 3. 2. iodium . untuk minyak-minyak lemak. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. kamfer. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. fosfor . Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. zat samak. 2. Larutan. cetaceum. borax. 4. Cosolvensi. Air untuk macam-macam garam Spiritus . Eter. minyak-minyak. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. Larutan lewat jenuh. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. Zat pelarut disebut juga solvent. chlorobutanol. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Larutan encer. Kelarutan. menthol.

dan Ba(OH)2. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. Na2CO3. seperti bismuthi subnitras. NaOH. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air.  Semua garam posphat tidak larut. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. PbSO4. Contoh : a. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. Senyawa – senyawa calsium. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. CaSO4 (sedikit larut) b. kecuali KOH. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut.  Semua garam nitrat larut. . (NH4)3PO4 4. Tidak larut dalam air. b. NH4OH.  Semua garam karbonat tidak larut . Temperatur. maka minyak atsiri akan memisah. Salting Out. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ).Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . 6. Hg2Cl2.  Larutan + panas minyak atsiri. minyak atsiri b. CaHPO4. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan.  Semua garam klorida larut . Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. kecuali BaSO4. misalnya aqua calcis 5. misalnya etanol. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. 7. kecuali AgCl. Contoh : K2SO4. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. kecuali nitrat base. kecuali K3PO4. Saturatio d. misalnya Natrii bicarbonas c.  Semua garam sulfat larut. Zat yang terurai. KOH.  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . kecuali K2CO3. BaO. misalnya : a. PbCl2. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. Salting In. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. Dapat larut dalam air. Calsium gliseropospat. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. (NH4) 2CO3. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Na3PO3. Zat-zat yang atsiri.

oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol .Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin. makin kecil ukuran partikel . bila jumlahnya kecil. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . a. dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. Seng klorida. dilarutkan dalam air suling sama banyak. dengan gerus tuang (aanslibben). kelarutan dalam air 1: 650. 7. diantaranya adalah : 1. kemudian disaring setelah dingin. Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. Perak protein.25 % dari berat larutan. Jika ada air dan gliserin. tetapi menurunkan daya baktericidnya. Suhu . makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. kemudian ditambah natrium salicylas. Tanin. NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya. Bic natric digerus tuang . umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. 12.. diamkan selama ¼ jam . 11. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . 5.Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . 9. Succus liquiritiae. setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. Extract opii dan extract ratanhiae. Kalium permanganat (KMnO4). 10. kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . 2. 6. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . kemudian disaring . Kamfer. Pengadukan. Sublimat (HgCl2). solute makin cepat larut.   C. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . di tempat yang gelap. 8. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. makin halus solute. kocok lagi. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. b. 3. Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. Natrium bicarbonas. diamkan selama ¼ jam.

Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ).25 % b/v b. 2. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. b.2 x jumlah yang diminta. 16. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air . sorbitol atau propilenglikol. dengan alkohol 96 % sampai larut .lalu segera encerkan dengan air.etanol. Nipagin dan Nipasol. pewarna. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer.a. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. direbus dengan air 20 X nya. Sirup.17 X-nya. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. Pepsin. setelah larut diencerkan sebelumdingin. Ada 3 macam sirup yaitu : a. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. 13. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. D. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. 1. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. Fenol. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. pengawet. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. Jumlah yang diambil 1. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . 3. c. 17. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . 14. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0.

Zat-zat mudah menguap. 2/3 bagian asam masuk basa. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . karena tidak boleh dikocok. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. menjaga stabilitas obat. c. berdasarkan perbandingan jumlah airnya. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. c. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. a. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. segera tutup dengan sampagne knop. gas dibuang seluruhnya. Netralisasi. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. 2. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. . 4. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. b. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia).  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. Zat netral dalam jumlah kecil. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. Saturatio dan Potio Effervescent. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. b.c. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. Penambahan Bahan –bahan. 3. Pembuatan : 1. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Bila jumlahnya banyak. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut .

misalnya natrii benzoas. saring hingga jernih. tutup dan sterilkan. Zat.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. natrii salisilas. . jernih. a. akan terbentuk endapan kalium atau 5. b. ear drop untuk telinga. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. harus ditambahkan kedalam bagian basanya. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia.Garam dari asam yang sukar larut . apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. isotonus. emulsi atau suspensi . Obat tetes sebagai obat luar. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. bila tidak.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. digunakan untuk membersihkan mata. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. bebas zarah asing. Guttae Ophthalmicae. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya. b.masukkan kedalam wadah. 2. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut.

6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. 0 % b/v.9 % b/v. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan . d. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. Air mata normal memiliki pH 7. Pada larutan yang digunakan pada mata. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata.Nilai isotonisitas. c. Pengental . Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat. b.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata.

1. Contoh : metil selulosa. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. tidak boleh mengandung zat lendir. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. 5. Penandaan. Injectiones / obat suntik. 7. 3. 6. anthelmintic .Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. diagnostic. sedative. Litus Oris. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. 9. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin. 2. hidroksi propil selulosa. polivinil alcohol. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. 4. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. tidak untuk ditelan. pendapar dan pengawet. dapat mengandung zat pensuspensi. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. emolient. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan .

Contoh : Liquor Burowi. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. 10.5 sampai 1 liter. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. Douche. Solutio Rivanol. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina.Rivanol. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml. Umumnya 0.dan lain-lain. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli. campuran Borwater . Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Untuk memudahkan. tablet yang kalau aplikatornya) 11. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal.

Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan.BAB VI SUSPENSI A. B. Ukuran partikel. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal .

Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. . Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. 3. 2. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.hubungan linier.Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. yaitu : 1. pH dan proses fermentasi bakteri . Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . 4. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. (dalam volume yang sama) . Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis .

Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative). Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. Karena peristiwa tersebut. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. hectorite dan veegum. jadi mudah dirusak oleh bakteri. tidak larut dalam alkohol. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. Caragen merupakan derivat dari saccharida. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. stabilitas dari suspensi . Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. bersifat asam. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. tetapi bukan sebagai emulgator. Peristiwa ini disebut tiksotrofi.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. dapat larut dalam air. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. dapat larut dalam air. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. bersifat alkali.  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. tidak larut dalam alkihol. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat. yang banyak dipakai oleh industri makanan.

Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. lemak.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. hal tersebut karena adanya udara. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . Metode praesipitasi. karboksi metil selulosa (CMC). Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. misalnya methosol 1500. bukan golongan karbohidrat. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) . karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik.Merupakan serbuk putih bereaksi asam. hidroksi metil selulosa. 2. C. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol. Metode pembuatan suspensi. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet. atau kontaminan pada serbuk. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. sedikit larut dalam air. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. tylose). serta sedikit pemakaiannya.    . Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. 4. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang.B. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. yaitu bagian yang suka pada minyak. Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air.L. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air.• • Kelompok hidrofilik. Kelompok lipofilik . Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . dan stabilitas emulsi akan bertambah. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . F. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini. syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase.

Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. contohnya chloroform. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. juga dapat dirusak bakteri. Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu.5 X berat gom. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. maka BJ campuran mendekati satu. a. Contoh : cera. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari .5 X berat gom . kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. buat corpus emulsi dengan air panas 1. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. oleum cacao. diaduk keras dan cepat sampai putih . Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w. lalu diencerkan dengan air sisanya. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. zat padat dilarutkan dalam minyaknya. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet.• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit.

a. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. 3. Biasanya d. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak.5 – 6.garam magnesium dan aluminium. Emulgator alam dari hewan a. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. 2. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. b. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. karboksimetil selulosa 1-2 %. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . digunakan 1-2 % . metil selulosa. Emulgator alam dari tanah mineral. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar. e. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. b. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Dengan emulgator ini. c. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Emulgator lain Pektin. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab.

• • • • G. Metode gom basah atau metode Inggris. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. blender . missal sabun kalsium. 2. 2. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. 1. tergantung dari valensinya. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. Metode botol atau metode botol forbes. protein. 2. Emulgator buatan Sabun. 3. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. lesitin. misalnya sabun kalium. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. Mixer. merupakan emulgator tipe o/w. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. • 1. Bila sabun tersebut bervalensi 1. 3. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. sangat peka terhadap elektrolit.b. Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. merupakan emulgator tipe w/o. Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . sedangkan sabun dengan valensi 2 . kemudian ditambahkan 2 bagian air. 3. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental.

Dengan kertas saring. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. perubahan pH. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. 1. 4. Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. pengadukan. partikel akan berbentuk kecilkecil. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. 5. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). seperti penambahan alkohol.Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia. 2. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Dengan pengecatan/pemberian warna. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. 2 3 2. seperti pemanasan. pendinginan. Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase.kan secara seri. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I. akibat putaran pisau tersebut. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi . Dengan prinsip tersebut. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. penyaringan. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. Hal ini dapat . karena sudan III larut dalam minyak 3. irreversible ( tidak bisa diperbaiki). 4. • Peristiwa fisika. KESTABILAN EMULSI. penambahan CaO/CaCl2 exicatus.

umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. gom akasia. Boli (menurut F. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. contoh : akar manis. B. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. BAB VIII PILULAE A. Mengandung bahan obat. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. Sifatnya irreversible. yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. mengandung 1 mg bahan obat.3. Contohnya sari akar manis.I.I. juga bahan dasar gelatin. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. campuran bahan tersebut (PGS).I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. bolus alba. atau bahan lain yang cocok. atau bahan lain yang cocok . tragacanth. sukrosa. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. sorbitol atau gula. Pengertian Pilulae (menurut F. Komponen. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. Lozenges / tablet hisap menurut (F.I.

Contoh. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. C. keratin.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. Dalam jumlah besar.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . 2. 5. kolodium. gliserol. Keseragaman bobot. tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . 4. Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. FeCl3. Pil Dengan Bahan . untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. 2. ferrum pulveratum. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). 3. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. AgNO3) atau garam-garam Pb. pengikat adeps/vaselin secukupnya . Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. Timbang 20 pil satu per satu. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. natrii bicarbonas. hitung bobot rata-rata. madu. gelatin. mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. sirlak. 1. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . 3. Pil dengan sari-sari cair. salol.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. air. sirup.Bahan Khusus. KNO3. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. natrii carbonas. balsam tolu. Persyaratan Pillulae 1. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . Dalam jumlah kecil . Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan.

Urethral Suppositoria (bacilla.IV. Menurut FI. bougies) digunakan lewat urethra. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. gliserin. 10 bag. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan. berat umumnya 5 g. 20 bag. gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. beratnya menurut FI. 2. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. . bentuk bola lonjong seperti kerucut.IV kurang lebih 2 g. vagina atau urethra. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral.14 cm. Umumnya meleleh. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. Vaginal Suppositoria (Ovula). Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. yaitu 1. C. bentuk batang panjang antara 7 cm .ed. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. B.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan. digunakan lewat vagina. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur.ed. 2. yang diberikan melalui rektal. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. melunak atau melarut dalam suhu tubuh. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.

Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. Padat pada suhu kamar. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. cacao (lemak coklat). gelatin tergliserinasi. d. 2. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1.3. c. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. seperti pasien mudah muntah. 4. D. 4. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . 2. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. 5. 2. tidak sadar. minyak nabati terhidrogenasi. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol. 3. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral.2 dan kapasitas daparnya rendah. b. sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. E.

untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). Ol. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. 1. bilangan asam. tidak menunjukkan perubahan warna. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. cukup 2/3 saja yang dilelehkan. polietilenglikol (PEG) 3. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 .Cacao tidak dilelehkan seluruhnya. berwarna kekuningan.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali. berbau seperti coklat. Penggolongan bahan dasar Suppositoria.Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol. bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. 5. Ol.350 C. Kadar air cukup 6. Diatas titik leburnya.Cacao.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. Untuk basis lemak. asam stearat. Cacao (lemak coklat) 2. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ). karena mudah tengik. Stabil dalam penyimpanan.34 o.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o . lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil .misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol. Jika pemanasannya tinggi.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. asam palmitat. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. Bentuk-bentuk kristal Ol. Bahan dasar berlemak : Ol. bau dan pemisahan obat.3. meleleh pada suhu 31o . tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol.31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34.  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol. padat. kering dan terlindung dari cahaya.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol. warna putih kekuningan.

      Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi.Cacao tersebut. minyak atsiri. Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. Ol. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat.Cacao sintetis : Coa buta .Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. maka dicari pengganti Ol. Keburukan Ol. sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. 2.Cacao Bila airnya menguap. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C.yang berguna untuk memadat. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. Mempercepat tengiknya Ol. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ). pada suhu dibawah 300 C. Karena ada beberapa keburukan Ol. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. Campuran cetilalkohol dengan Ol. Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) . oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap.

tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. PEG 1000 (carbowax 1000).630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria. jika dibanding Ol.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. Jika diharapkan bekerja secara sistemik . lebih lambat melunak. PEG 1500 (carbowax 1500). - PEG sesuai untuk obat antiseptik.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam.Cacao.Cacao. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. Tidak melebur pada suhu tubuh. PEG 4000 (carbowax 4000). Keburukan : . PEG 6000 (carbowax 6000). tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. PEG di bawah 1000 berbentuk cair. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. sehingga terjadi rasa yang menyengat. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20.- mempunyai titik lebur 350 .

proses penuangan. Metode Pembuatan Suppositoria 1. Metode ini. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas.5 g F.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. Dengan mencetak hasil leburan : . cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan. 3. Dengan kompresi. bila perlu dipanaskan.  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. akan terlepas dari cetakan. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria.  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. tetapi untuk Ol. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin.6000 Suppositoria / jam. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya. Kapasitas bisa sampai 3500 . Berat Suppositoria 2.

Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. tidak mudah hancur atau meleleh.Cacao dingin 3 menit 5.Cacao 3. Bobot ovula adalah 3 . Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. Test kerapuhan. Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Test terhadap titik leburnya. Test homogenitas. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. 2. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. untuk kemudian dikemas dalam dus. tetapi spiritus saponatus ini. Test waktu hancur. . untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. umumnya 5 gram. G. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. I. PEG 1000 15 menit. Ol. 3. Pengemasan Suppositoria 1.6 gram.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. 2. H. Recini dalam etanol. Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah.

sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. 2. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati.BAB X ILMU GALENICA A. dan sebaliknya. 2. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. Semakin sukar di sari. 3. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. 3. Suhu dan lamanya waktu . Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. simplisia harus dibuat semakin halus.

simplisia perlu diolah terlebih dahulu. olea velatilia (minyak menguap). B. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. minyak atsiri. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. 4. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. ampasnya disebut marc atau faeces. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya.. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. zat pati. 2. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. lemak. Solution. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. pectin. Tinctura. protein. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. glukosida. damar.Harus disesuaikan dengan sifat obat. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. zat lendir. 3. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. olea. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Perkolat. Decocta / Infusa : Aqua aromatika. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. Secale cornuti. mudah tersari atau tidak. mudah menguap atau tidak. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. albumin. Colatura. resina.

4. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. 4. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). 2. kadang-kadang juga yang segar.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. 2. zat warna dan garam-garam mineral. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. asam tumbuh-tumbuhan. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. antara lain : 1. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. garam glauber dll. 3. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. glikosida. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Cairan . Ca hidrat. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya.1. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. 3. pengendapan. Etanol . Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. 2. C.

Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. minyak lemak dan minyak atsiri. Cara – Cara Penarikan 1. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. D.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. 2. 6. glikosida. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. damar. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. gula dan albumin. secale cornutum. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. 3. damar. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. damar-damar. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. misalnya strychni. minyak atsiri. Karena cairan ini tidak atsiri. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak.F. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. 4. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet.XI) 7. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. 5. karena efek farmakologinya. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. . minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom.

lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. biarkan selama 24 jam. perkolasi biasa 2. . memakai alat yang disebut perkolator. Kecuali dinyatakan lain. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. continous extraction. E. tuangkan atau saring. fractional percolation 3. perkolasi dengan tekanan. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. reperkolasi. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. peras. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. perkolasi bertingkat. perkolasi persambungan. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. pressure percolation 4. Maserasi . mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya.3. 2. 2. tutup perkolator.5 – 5 bagian cairan penyari. Cara Pembuatan 1. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. Perkolasi. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. selama 2 hari. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. kecuali dinyatakan lain. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. serkai. enap. memakai alat soxhlet. tutup. Cara-cara perkolasi : 1. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4.

tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. A. 5. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. terlindung dari cahaya. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. tutup. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. 7. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. 3. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. 4. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. B. Pembagian Tinctur 1. 7. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. Tingtur Menyan. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. 6. 5. 6. Atur kadar hingga memenuhi syarat.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. Capsici Tinctura. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. tuang atau saring. Enap. 3. 4. Asaefoetida Tinctura. Iodii Tinctura FI III . FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. tetapkan kadarnya. • Peras masa. Contoh : 1. 2. 2. Pindahkan ke dalam bejana. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. contoh : 1. Sediaan tingtur harus jernih. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. di tempat sejuk.

Tingtura Vinosa. Cairan penyari yang dipakai adalah air. Contoh : 1. 7. Tingtura Aetherea. contoh : Tinctura Rhei Aquosa.2. misalnya campuran simplisia. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). A. Contoh : 1. 3. 4. 5. e. Tinctura Acida. 2. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. FI 1974 Tingtur Keras B. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. 2. b. 2. eter dan campuran etanol dan air. Cara Pembuatan Penyarian : . jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. jika sebagai cairan penarik dipakai air. 3. Tinctura Composita. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Tinctura Aquosa. 4. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. d. 6. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. 3. contoh : Tinctura Chinae Composita. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. kental. F. c.

2.• • • 1. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. 3. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. G. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. serkai. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1.2 bagian campur dengan perkolat pertama. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Serkai selagi panas melalui kain flanel. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air . 2. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. serkai. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. enapkan.

jahe Kulit kina. akar ipeka.4. akar valerian. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. daun kumis kucing. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. 1. tetapi tidak larut dalam air dingin. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas.5 bagian 0. kelembak Laos. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. daun sena Dringo. Akar manis. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. diserkai setelah dingin. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. Infus daun sena. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. . 5. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. untuk membuat 100 bagian infus. 6 bagian 0. akan mengendap dalam keadaan dingin.5 bagian 0. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. temulawak. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain.

Khasiat : zat tambahan. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. 2. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. tidak berwarna dan tidak berlendir. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. . di tempat sejuk. 3. atau agak keruh. saring. tambahkan 500 mg talc. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. terlindung dari cahaya. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. 4. bebas bau empirematic atau bau lain. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. H. Cara pembuatan : 1. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. 5. diamkan. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. Diantara air aromatika. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. kocok. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air.

Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. 2. J. misalnya : oleum arachidis. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). kulit buah. oleum ricini.I. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. oleum olivae. anti racun. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. mudah menguap . minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. oleum cocos harus jernih. lotio dan lain-lain. 1. oleum ricini diperas pada suhu panas. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. Contoh : daun. buah atau dibuat secara sintetis. senyawa belerang dan logam berat. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. 3. terisi penuh. misalnya : oleum ricini. terlindung dari cahaya. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. misalnya : oleum arachidis. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. 2. 2. 3. misalnya : oleum cacao. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. bunga. Eter dan Eter minyak tanah. yang cair harus jernih. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. oleum olivarum. oleum amygdalarum. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. diperas pada suhu biasa. oleum sesami. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. 2. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. Sebagai obat. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. dapat dipakai sebagai pencahar.

larut dalam pelarut organik. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. . sedikit kuning muda. Warna coklat. hijau ataupun biru. Contoh : minyak jeruk B. 4. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. permukaan air tidak keruh. volume air tidak boleh bertambah. 3. Cara penyulingan ( destilasi). Identifikasi : 1. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. 2. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut.2. 5. 3. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. terisi penuh. 2. biarkan memisah. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. 1. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. teteskan 1 tetes minyak di atas air.

Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak.zat pengering. contoh:bunga melati 24 jam. Kemudian daun bunga diangkat. Harus jernih. tergantung dari jenis daun yang diolah. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). . sedangkan lemaknya tidak larut. • Kemudian lapisan lemak dikerok. Syarat – syarat minyak atsiri 1. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. 3. 4. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. 5. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. uap air akan membawa minyak atsiri.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Bau dan rasa seperti simplisia. volume air tidak boleh bertambah. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . tidak berwarna. Dibiarkan beberapa lama. contoh: Na2SO4 exicatus. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. dilarutkan dalam alkohol absolut. minyak atsiri akan larut. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. Harus kering. permukaan air tidak keruh. 2. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. biarkan memisah.Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. kalau perlu setelah pemanasan. yaitu air dan minyak atsiri.

a. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. 2. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. • • Bj sirup kira-kira 1. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. b. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. tambahkan gula. c. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. serkai. d. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. aqua destilata : untuk sirupus simplex.K. tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup. . • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. buang busa yang terjadi. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. jika perlu didihkan hingga larut. panaskan. Cairan untuk sirup. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. meskipun jamur tidak mati. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. • Kecuali dinyatakan lain. sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1.

maka jamur dapat tumbuh. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. 2. Bila dalam resep. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Sterilisasi sirup. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. zat putih telur akan menggumpal karena panas. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. Didihkan sambil diaduk. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. 2. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. misalnya : sirupus aurantii .• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. Obat. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Maka untuk kestabilan sirup. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. Corigensia saporis. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar. aurantii corticis sirupus. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. 3. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. Cara memasukkan sirup ke dalam botol.25% atau pengawet lain yang cocok.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. gula yang tinggi . sirupus rubi idaei 3. misalnya : sirupus Rhoedos. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri.Corigensia coloris. Pengawet.

Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. Berdasarkan metode pembuatan : a. bahan pengaroma dan bahan pemanis. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . umumnya silendris. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Tablet cetak agak rapuh. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Pengertian Menurut FI edisi IV. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. a. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. b. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. mencegah pemalsuan. Penggolongan 1. Tablet kempa. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. lonjong dan sebagainya. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. segitiga. Warna tablet umumnya putih. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. bundar. tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. bahan pengikat. B. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. . Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. bahan pengisi. desintegran dan lubrikan. Tablet cetak b. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan.

Bekerja sistemik : per oral. asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. antasida dan antibiotik tertentu. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. selain zat aktif. Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. Dibuat dengan cara dikempa. Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. terutama formulasi multivitamin. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. demikian seterusnya. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. kalsium karbonat. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . Macam-macam tablet salut : a. Diformulasikan untuk anak-anak. umumnya menggunakan manitol.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. 2. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. 3. b. Berdasarkan jenis bahan penyalut. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. a. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian.

E. metil selulosa. dengan menggunakan cera. e. Mula-mula dibuat tablet inti. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). Tablet lepas-lambat (sustained release). b. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. d. menggunakan smoothing syrup. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. b.gom akasia atau gelatin. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ). disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. (efek diperpanjang. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara. . 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. c. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. hidrosi propil selulosa. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. dan perlu penyalut tahan air. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. kelembaban atau cahaya. Tujuan penyalutan tablet adalah : a.

Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. 4. kalsium fosfat dibase. Umumnya mengandung antibiotik. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. f. sukrosa. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). dan lubrikan. kemudian kulit dijahit kembali. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. Tablet bukal (buccal tablet) h. povidon. Misalnya laktosa. Dihisap di dalam rongga mulut. metilselulosa. umumnya dengan bahan dasar beraroma. adstringensia. c. berat umumnya 30 mg. desintegran. trochisi. bulat atau oval putih. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. bahan pengikat. pasta pati terhidrolisa. Supradin Effervescent tablet. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. Tablet vagina (Ovula) C. CMC. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. . Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. Tablet sublingual i. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. d. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. pati. digunakan per oral dengan cara ditelan. dan selulosa mikrokristal b.. Bahan excipient / bahan tambahan a.c. pecah di lambung b. g. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. bahan pengisi. bahan pengaroma dan bahan pemanis. dan manis. antiseptik. Tablet hisap (lozenges. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. gelatin. steril dan bersi hormon steroid. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. rasanya umumnya tidak pahit. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. kemudian tablet dimasukkan. 1. Berdasarkan cara pemakaian. e. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. a. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. selulosa mikrokristal.

asam stearat. 2. Misalnya pati. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. asam alginat. Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. Misalnya Silika pirogenik koloidal. Granulasi basah. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. . pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. D. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut.c. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. 3. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). pada saat dicetak. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). Makin banyak udaranya. e. Misalnya macammacam minyak atsiri. tablet makin mudah pecah. yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. Ajuvans a. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. b. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. f.

Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. tablet KMnO4. Setelah itu diayak menjadi granul. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . Daya pengikat dalam massa tablet kurang. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. laktosa semprot-kering. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. bila perlu ditambah bahan pewarna. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. .500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. dilakukan apabila: 1. Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. Misalnya tablet Hexamin. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. bila perlu ditambahkan zat pengikat. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. 60 0 C ) . sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. tablet NaCl. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. Granulasi kering / slugging / pre compression. pencetak masih ada lemaknya. zat pengisi dan zat penghancur . 4. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. 3. Keuntungan. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. massanya basah. Kerugian. Cetak/kempa langsung. 2. laktosa anhidrat. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat.Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. 2. zat pelicin kurang. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering.

Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. d.b. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. Massa tablet terlalu banyak fines. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. 6. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. . Formulanya tidak sesuai e. c. terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. Die dan punch tidak rata 5.

.... Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang . Dalam FI. pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi.. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1.. Dalam FI.III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) .III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril. ditandai dengan nama. Luminal.. Misalnya : Inj. hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril.. Dalam FI.. Misalnya : Inj...ed.III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok....... Procaine Penicilline G steril untuk suspensi. pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj.. ditandai dengan nama ... Untuk Injeksi. ditandai dengan nama .. Misalnya : Inj. Suspensi. Dalam FI.... ... 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal.ed...III disebut berupa Larutan.ed..... Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi. Dalam FI..... Steril.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.. Misalnya : Inj.... ditandai dengan nama. Misalnya : Inj. ..ed. Vit.... yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi.. pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar. pelarutnya aqua pro injection Inj.. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.ed. Steril untuk Suspensi. Injeksi. Camphor oil . pengencer atau bahan tambahan lain.BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A.C...IV. Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai....ed.... Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi... mengandung satu atau lebih dapar....Steril.... ditandai dengan nama .. . Dalam FI...

Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida. 4. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml. Umumnya larutan bersifat isotonik. tidak boleh mengandung bakterisida.B. 5. Volume penyuntikan antra 4 . Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. volume antara 1 . Injeksi intravenus ( i. Injeksi intraarterium ( i. digunakan untuk diagnosa.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. subaraknoid. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat. 7. tidak lebih dari 1 ml. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama.d ).s). Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). 6. Injeksi subkutan ( s. Injeksi intrakor / intrakardial ( i.t).6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. Berupa suspensi / larutan.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. 9. Injeksi dalam bentuk larutan. Injeksi i. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. 10.20 ml.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase). 8.1 . Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. Dibuat isitonis.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot.10 ml. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 . Injeksi intrakutan ( i. Injeksi intramuskuler ( i. . jernih.2 ml. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini. Volume yang disuntikkan antara 0. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.k / i. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 . bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena.c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. volume antara 1 . 3. 2. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ".v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. isotonis.10 ml. Injeksi intratekal (i.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar. intradural ( i. Bentuk suspensi / larutan dalam air.kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat. tidak boleh mengandung bakterisida.a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi. Bentuknya berupa larutan. bersifat depo (absorpsinya lambat). pH netral. berupa larutan atau suspensi dalam air.k / s. intrasisternal (i. intraspinal.0.

Sol. Injeksi intraperitoneal ( i. 2. menggunakan air untuk injeksi. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. Kecuali dinyatakan lain. Hasil sulingan pertama dibuang. Ol. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. zat pembawa mengandung air.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Menurut FI. Bahan pembantu / zat tambahan 4. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Bahan obat / zat berkhasiat 2. . C. Wadah dan tutup 1. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. Injeksi peridural ( p. extradural. Zat pembawa / zat pelarut 3. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik.Petit. Sesami. epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. Pada etiketnya tercantum : p. Ol.IV. terletak diatas durameter. bahaya infeksi besar 12. segera setelah diwadahkan. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Arachidis.d ). Olivarum. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin.ed. Penyerapan cepat . Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. injeksi NaCl compositus. didinginkan dan segera digunakan. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. injeksi glukosa.11.

2 % dari 0.5 % dari 5 ml. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh.ed. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit.01 %  Golongan Klorbutanol. tidak lebih dari 0. .IV.128 (5) Bilangan penyabunan 185 . bisulfit atau metabisulfit .0. sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. tidak boleh disuntikkan secara i. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar. bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. (3) Dikehendaki efek depo terapi. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator.m.200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak.9 (4) Bilangan iodium 79 .4 dan disebut Isohidri.2 . 3. jika hanya mewarnai sediaan akhir. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. Menurut FI. hanya boleh secara i.v . Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 .

Vit. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. pH dapat diatur dengan cara : 1.0. Vit. tetapi jangan sampai hipotonis. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat.9 % b/v disebut " hipotonis " . Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. 2. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. 1. disebut " Haemolisa ". Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). misalnya dapar fosfat untuk injeksi. misalnya asam untuk alkaloida. 2. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . cairan lumbal.520C. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. misalnya perubahan warna. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. basa untuk golongan sulfa. Menjamin stabilitas obat.0 % b/v. sehingga sel akan mengkerut. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0.9 % b/v.6 . Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0. Penambahan larutan dapar.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri.2. 2. efek terapi optimal obat. disebut " hipertonis ". 3. sebaiknya obat tidak usah didapar.C. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . dapar borat untuk obat tetes mata. Jika yang pecah itu sel darah merah. Kecuali darah. yaitu . Penambahan zat tunggal .B1 . tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. 2.9 % b/v.

Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. jika membeku pada suhu -0. Larutan NaCl 0. maka b1 C > 0. d. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita.520 C. Intralumbal . 3. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a.52 b1 C b2 B = 0.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku.52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0. c. b. terutama pada Infus intravena. maka b1 C < 0. dapat menimbulkan haemolisa.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip .520 C. Penurunan titik beku darah. jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal. ( darah.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. 2.1. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . 3. air mata adala -0. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . Intravenus. penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . maka b1 C = 0. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

Cara non-aseptik ( NASTERIL ). 2. Caranya : Zat pembawa. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. Kemudian bahan obat. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. . karena akan rusak atau mengurai. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. wadah.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik.ed.III dan IV. Jika terjadi pertumbuhan kuman. 5. 2. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. alat-alat dari gelas untuk pembuatan.b. setelah dikemas. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. zat pembawa. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan. zat pembantu. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap.

b. disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. Pemeriksaan keseragaman volume. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . 1. Wadah yang bocor akan berwarna biru. Pemeriksaan meliputi : 1. untuk bakteri anaerob. 2.1 % yang dingin. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. masih dalam keadaan panas.E. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a. Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. Wadah yang bocor. Pemeriksaan kebocoran. b. Sebelum dilakukan uji sterilitas. ii. Menurut FI. b. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. 3. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . dilakukan sebagai berikut : a. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. 2. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. untuk zat-zat : a. isinya akan terisap keluar. Pemeriksaan 1 . ed.III. 5. 4. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. Wadah yang bocor.. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. Pemeriksaan keseragaman bobot. (i) Ampul : . 6. Pemeriksaan sterilitas.

Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0.001 – 0. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi. alat suntik dll. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. harus bebas pirogen. Pemeriksaan kejernihan dan warna . (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam).1 % ( Carbo adsorbens 0. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. dapat larut dalam air.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari. 3. 6. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1.II ) 4. 2. 9. 2.1 N dan 5 ml larutan 1 N.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk.ed. 12 ( secara detailnya lihat FI. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling.v sediaan uji pirogenitas. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai. Untuk aqua p. yang dalam kadar 0. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik. tahan pemanasan.01 gram per kg berat badan. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. Pirogen bersifat termolabil. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. 1 liter air yang dapat diminum. disuling dengan wadah gelas. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. b. Cara menghilangkan pirogen 1. 3. NaCl dan Na-sitrat. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2.

agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.5 % ) 0.1 ml 5. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu. . 3.0 F.0 ml 30. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan.6 % ) 2. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.25 ml ( 12.0 ml 2.4. Sedapat mungkin lsohidris.50 ml ( 5 % ) 0.12 ml ( 24 % ) 0.70 ml ( 7 % ) 0.30 ml ( 6 % ) 0. Syarat .5 5. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera . kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap. kemudian dengan etanol 95 % .0 ml 50. bebas dari partikel-partikel padat. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam.5 % ) 1. Jika berupa larutan harus jernih.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih. Keluarkan isi wadah.15 ml ( 15 % ) 0. Cuci bagian luar wadah dengan air.15 ml ( 7.10 ml ( 20 % ) 0.60 ml ( 3 % ) 0.10 ml ( 10 % ) 0. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini. Cuci wadah dengan air.0 ml 20. yaitu mempunyai pH = 7.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10.0 7.00 ml ( 4 % ) 0.50 ml ( 10 % ) 0.80 ml ( 2.5 ml 1.0 ml 10. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah. Volume pada etiket 0. 5. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3.5 % ) 0. disinari dari samping. Harus aman dipakai.90 ml ( 4. Keringkan pada suhu 105 0. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka . kecuali yang berbentuk suspensi. 2.20 ml ( 4 % ) 3.

3. Penandaan menurut FI. 3. Bekerja cepat . Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. merangsang jika ke cairan lambung. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. 7. baik yang patogen maupun yang apatogen. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan.. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya.4.. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. Harus steril. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. G. Sedapat mungkin Isotonik.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh. harus memakai tenaga khusus. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena.I dan tanggal kadaluwarsanya. H. Karena bekerja cepat.ed. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. 2. Cara pemberian lebih sukar. Sediaan untuk pemberian intraspinal. 4. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. yaitu bebas dari mikroba hidup. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. 5. tetapi jangan hipotonis. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. 2. 6. Pengemasan. Bebas pirogen. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. cara pemberian. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan.

1 .