BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

000 lebih dari 10. peracikan. rasa. dan penggunaan. tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. rupa. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. Kecuali dinyatakan lain. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. warna. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. . semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. dicampur. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker.

Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . nama produsen. pengangkutan. pengangkutan. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter . Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. penyimpanan dan distribusi. Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. merekat. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. langsung dari wadah. Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. kadar atau kekuatan. hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan . Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. penyimpanan dan distribusi. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut .Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut.

menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. Persen Persen bobot per bobot ( b/b) .Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . mengurangi. cairan. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. tablet. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. mencegah . Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. menghilangkan. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. Pengertian Obat Secara Umum . untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. yang dimaksud adalah b/b. harus dicantumkan dalam etiket. D. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. guna mencegah. Persen bobot per volume ( b/v) . pil. Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. untuk memperelok badan atau bagian badan manusia. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . Persen volume per volume (v/v). menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. salep. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar..

Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. b). Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. rektal. opthal. Obat narkotika (obat bius). 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. baik sebagai bagian yang berkhasiat. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. 4.3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. pembantu atau komponen lain. 3. merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. pelarut. Contohnya salep. adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). collutio/gargarisma. obat minum dan lain – lain. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya. topikal. nasal. linimenta dan cream Sistemis. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). injeksi. vaginal. Contohnya tablet. Contohnya implantasi. aurical. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. membran mukosal. b). kapsul. b). c). b c d 2. pengisi. misalnya lapisan. ataupun yang tidak berkhasiat. Lokal. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal.

nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. Obat Psikotropika (obat berbahaya). diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. hayati) seperti minyak ikan. kina. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. obat yang mempengaruhi proses mental. vaselin. Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. 4. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. alamat dan nomor izin praktek dokter. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin.   obat baru . nabati). kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d).b). Hewan (fauna. seperti digitalis folium. minyak jarak. Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. garam dapur. Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. 2. dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Resep disebut juga formulae medicae. merangsang atau menenangkan. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. parafin. c). Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. adeps lanae. e). 5. Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. Tumbuhan (flora. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). cera. 3.

rasa dan bau dari obat utama.E.) Depkes No. Misalkan iteratie 3 X. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2). Corrigens Actionis. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P. jenis hewan. jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. Nama pasien. 5). ipecacuanhae radix. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. 3). karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. pada bagian atas kanan resep. 3). Yang berhak menulis resep adalah dokter. maka dalam resep ditulis Iteratie.M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. 4). Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1).I. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. 4X. adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut. . 2). umur. serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. dan opii pulvis. Remidium Cardinal. 19/Ph/62 Mei 1962. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum .

afschrif. 5). Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). Constituens / Vehiculum / Exipiens. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. 4). amylum dan talcum pada bedak tabur.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat . Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara). penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. 2). digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama.X Nomor resep dan tanggal pembuatan. digunakan untuk memperbaiki warna obat . Pada pemusnahan . selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). Corrigens Coloris. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. merupakan zat tambahan. Corrigens Solubilis.b. Istilah lain dari copy resep adalah apograph. sehingga menjadi obat yang cocok. Corrigens Odoris. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun.. pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. exemplum.obatan yang pahit rasanya. d. e. digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Corrigens Saporis. 3). c. Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. Contohnya laktosum pada serbuk. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita.

Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. F. maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. Dosis Maksimal ( maximum). Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan). . ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen. 4). L. Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap.resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. dengan berat badan 58 – 60 kg. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 .D. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. Dosis Lazim (Usual Doses). injeksi subkutis dan rektal.D. 2). rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan. maka dapat dibagi sebagai berikut : 1).60 tahun. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun. L. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1). 3).i. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep. 2).

Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. ekskresi obat. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. antara lain umur. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. kasus penyakit.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. berat badan. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. jenis kelamin. Faktor lain kondisi pasien. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . sifat penyakit. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. daya serap obat. habituasi. adiksi dan sensitip. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. jenis obatnya juga faktor toleransi. juga wanita menyusui.

BAB II PULVIS dan PULVERES A. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan.67 % atau lebih dari 1/6 bagian. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). Coffein dengan Aminophyllin. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. makanan diet dan . sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. antasida. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah.3. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia. contohnya s. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. Karena mempunyai luas permukaan yang luas.o.70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. guaiacol. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. hasilnya kurang dari 100 %. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. demikian pula pemakaian 1 harinya.h. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI.t.

. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. Talk. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. Clostridium Welchii. hitung bobot isi rata-rata. sediaan padat lainnya. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. antasida.beberapa jenis analgetik tertentu. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . halus dan homogen. seperti laksan. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. keduanya untuk pemakaian luar. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. C. dan Bacillus Anthracis. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. sepat. Catatan. (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk.

 Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Iodoform. Misalnya : rifampisin. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan. Serbuk sangat halus dan berwarna. D. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu.Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. sehingga serbuk tersebut harus halus sekali.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi . (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2. . maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen).  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir.  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu. Seperti hal sebagai berikut : (1).  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate.

Serbuk dengan asam salisilat. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . zat digerus terlebih dahulu. misalnya KI dan garam. Belladonnae Tinctura.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. Ratanhiae Tinctura. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). Serbuk dengan asam benzoat. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter.garam bromida. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. baru dicampur dengan zat tambahan. cera alba. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. mentol. baru ditambah zat tambahan. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. (2). untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). cera flava. naftol. Digitalis Tinctura. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. vaselin kuning dan vaselin putih. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. dibuat pengenceran. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. parafin padat. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Digitalis Tinctura. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. thymol Dikerjakan seperti diatas. Aconiti Tinctura.

Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Macam – macam kapsul dapat juga diambil . (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Hydrastis Liq. Hyoscyami extractum. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Contohnya Rhamni Purshianae ext. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Extrak Filicis dengan eter. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Ext. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Contohnya Opii extractum. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya.

isi biasanya cair.bentuknya bermacam . umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. topikal . 4. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul. vaginal. 5. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. .selalu sudah terisi . Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. B. Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode. misal ujungnya lebih runcing atau rata. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut.cara pakai per oral . Berkaitan dengan hal tersebut. bahan opak seperti Titanium dioksida. dapat juga cair . 3.terdiri atas tubuh dan tutup . Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. 1. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. rectal. 2. dapat juga padat . seperti sorbitol atau gliserin.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus.isi biasanya padat. Kapsul keras . pengawet.bisa oral. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles.tersedia dalam bentuk kosong . Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna.Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae.bentuk hanya satu macam Kapsul lunak .satu kesatuan . perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan.

3.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan. 2. Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. 4. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. 1. Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak.Kerugian bentuk sediaan kapsul. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. selama transportasi dan penanganan. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. tanpa bantuan alat lain. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. 5. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. . Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. C. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut .

Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. E. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. kemudian ditutup sambil diputar. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor . Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . D. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat.Sebelum dimasukkan kedalam kapsul.mengisi sampai dengan menutup kapsul. F. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin.

cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. Contohnya kapsul yang mengandung KI. setetah itu tutup. Di tempat terlalu kering. G. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol.pada sebuah kotak. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. Pengertian Salep . NaI. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. kreosot dan alkohol. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. (3) Mengandung minyak menguap. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. NaNO2 dan sebagainya.

(d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. karena bahan obat tidak diabsorbsi. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air. mudah diserap kulit. sehingga konsistensinya lebih keras.Menurut FI. (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. Belladonnae. tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. Iodida. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. (2)  Menurut Efek Terapinya. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. IV. astringen untuk meredakan rangsangan. B.   . Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. Salep Diadermic (Salep Serap). Salep tidak boleh berbau tengik. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal.

Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. antara lain vaselin putih dan salep putih. misalnya: campuran dari lemak-lemak. dasar salep serap. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. C. malam yang tak tercuci dengan air. sukar dicuci. kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. minyak lemak. IV. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya.(3) Menurut Dasar Salepnya. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. Dasar Salep Menurut FI. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. antara lain salep hidrofilik (krim). Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). 3). Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. dasar salep larut dalam air. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. . (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. 1). 2). Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien.

paraffin padat. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. emulsifying wax. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. campuran vaselin dengan cera. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). minyak nabati. tragacanth. Lunak. stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. hydrophilic ointment. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. paraffin cair. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. jika perlu dengan pemanasan. sifat bahan obat yang dicampurkan. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. D. 5.. 3. Poly Ethylen Glycol (PEG). Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. seperti paraffin. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. (1) Stabil. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. 4. meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. . Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. emulsifying ointment B. 2. lanolin anhidrat atau malam. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.P. campuran PEG. ketersediaan hayati. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. gummi arabicum = 30 : 70).

maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). Bila kamfer bersama-sama. campurannya harus digerus sampai dingin. salol. kemudiaan digerus dengan dasar salep.(3) Peraturan Salep Ketiga. Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. menthol. Jika a.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter.c. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda). Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%.b. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan.  Protargol (argentum proteinatum) . (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb.

juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep.5%). diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Antibiotika. Jumlah banyak. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang. Kecuali pada resep obat wasir. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. tidak boleh diayak Acidum Boricum. baru dicampur dengan bahan lainnya. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu. (b) Alkohol  Jumlah sedikit. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. Phenol. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya.      Belerang.  . sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. Chrysarobin. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras. Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. Zinci Sulfas. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. Pyrogalol. misalnya Tinct.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. 2. Oleum Iecoris Aselli.

contoh. Pix Lithantracis.  sedikit demi sedikit. Pix Liquida.(ii) Tidak tahan panas. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. contohnya tinctura Iodii. berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin.  Air. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. G. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. Kreosot.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Tidak diketahui perbandingannya. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. Ichtyol. Bila dasar salep lebih dari satu macam.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. Glycerin. F. Oleum Cadini. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep.  Gliserin. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. Balsamum Peruvianum. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik. dicampurkan .

. Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) . misalnya cera dengan minyak lemak.20%. meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik.bahan-bahan sebagai berikut. maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 . sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air.

Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. misalnya untuk kamfer. misalnya untuk kamfer dan menthol. 3. sublimat. 1. Larutan jenuh. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. 2. 7. minyak-minyak. 2. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. B. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. menthol. Larutan. fenol. misalnya untuk tannin. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. 6. untuk cera. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. untuk minyak-minyak lemak. misalnya untuk kamfer. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. zat samak. Kelarutan. Eter minyak tanah . chlorobutanol. Air untuk macam-macam garam Spiritus . Larutan lewat jenuh. cetaceum. 3. Zat pelarut disebut juga solvent. iodium . tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. 5. 2. 4. 4. Cosolvensi. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Parafin Liquidum. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. borax. menthol. Eter. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Larutan encer. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. fosfor . kamfer. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. Minyak.A. . Gliserin. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut.

Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut.  Semua garam karbonat tidak larut . Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. misalnya Natrii bicarbonas c. Contoh : K2SO4. kecuali nitrat base. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. NaOH. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Zat yang terurai. NH4OH. PbSO4. Salting In. Dapat larut dalam air.  Semua garam klorida larut . Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ).Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . Calsium gliseropospat. Senyawa – senyawa calsium. Contoh : a. Temperatur. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. kecuali KOH. minyak atsiri b. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Zat-zat yang atsiri. Na3PO3. Na2CO3. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. b. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. kecuali BaSO4. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm.  Semua garam posphat tidak larut. misalnya : a.  Semua garam nitrat larut. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air.  Semua garam sulfat larut. Hg2Cl2. BaO. PbCl2. Saturatio d. (NH4) 2CO3. kecuali K3PO4. KOH. CaHPO4. 6. (NH4)3PO4 4. CaSO4 (sedikit larut) b. maka minyak atsiri akan memisah. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. 7. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. .  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . kecuali K2CO3. dan Ba(OH)2. kecuali AgCl. Salting Out. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan.  Larutan + panas minyak atsiri. seperti bismuthi subnitras. misalnya aqua calcis 5. Tidak larut dalam air. misalnya etanol.

8. kelarutan dalam air 1: 650.Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. Seng klorida. Bic natric digerus tuang . Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. Kalium permanganat (KMnO4). di tempat yang gelap. kemudian disaring setelah dingin. a.25 % dari berat larutan. diantaranya adalah : 1. Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . bila jumlahnya kecil. Tanin. NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat. b. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . dengan gerus tuang (aanslibben). larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. solute makin cepat larut. Extract opii dan extract ratanhiae. oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. 2. dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. 6. makin halus solute. makin kecil ukuran partikel . Jika ada air dan gliserin. tetapi menurunkan daya baktericidnya. Perak protein.Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya.. Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. Suhu .   C. diamkan selama ¼ jam. Pengadukan. diamkan selama ¼ jam . melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. kocok lagi. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . kemudian ditambah natrium salicylas. Sublimat (HgCl2). Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. 10. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . 11. dilarutkan dalam air suling sama banyak. 7. Natrium bicarbonas. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. 5. Kamfer. kemudian disaring . 12. dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. Succus liquiritiae. 3. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. 9. Calcii Lactas dan Calcii Gluconas.

Fenol. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . 13. D. 17.25 % b/v b. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. 2. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ).17 X-nya.a. Pepsin.2 x jumlah yang diminta. dengan alkohol 96 % sampai larut . sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. setelah larut diencerkan sebelumdingin. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. sorbitol atau propilenglikol. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air . Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. Nipagin dan Nipasol. pengawet.lalu segera encerkan dengan air. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. 14. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. pewarna. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. Jumlah yang diambil 1. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. b. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. 1. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . 16.etanol. 3. direbus dengan air 20 X nya. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. Sirup. c. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. Ada 3 macam sirup yaitu : a.

Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. karena tidak boleh dikocok. segera tutup dengan sampagne knop. Zat-zat mudah menguap. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. Netralisasi. Penambahan Bahan –bahan. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . c. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. b. 4. . Pembuatan : 1. Zat netral dalam jumlah kecil.c. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. menjaga stabilitas obat. b. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. 3. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. Bila jumlahnya banyak. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar.  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. c. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. berdasarkan perbandingan jumlah airnya. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. 2/3 bagian asam masuk basa. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Saturatio dan Potio Effervescent. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut . gas dibuang seluruhnya. a. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. 2. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa.

b.Garam dari asam yang sukar larut . Obat tetes sebagai obat luar. bila tidak. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. harus ditambahkan kedalam bagian basanya. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. bebas zarah asing. emulsi atau suspensi . Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. Zat. a. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . . Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. natrii salisilas. digunakan untuk membersihkan mata. misalnya natrii benzoas. b. akan terbentuk endapan kalium atau 5.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. tutup dan sterilkan.masukkan kedalam wadah. saring hingga jernih. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. Guttae Ophthalmicae. apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air. isotonus.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. jernih. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. 2. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. ear drop untuk telinga.

9 % b/v.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. b. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Pada larutan yang digunakan pada mata.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata. d. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. Air mata normal memiliki pH 7. Pengental . Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. c. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. 0 % b/v. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan .Nilai isotonisitas.6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2.

Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. 3. tidak untuk ditelan. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. tidak boleh mengandung zat lendir. hidroksi propil selulosa. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Injectiones / obat suntik. 5. pendapar dan pengawet. diagnostic. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. 2. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. Penandaan. sedative. 9. Contoh : metil selulosa. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan .Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. 7. 4. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin. 6. anthelmintic . Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. dapat mengandung zat pensuspensi. polivinil alcohol. Litus Oris. emolient. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. 1.

Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . 10. Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. campuran Borwater . Douche. Untuk memudahkan. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Contoh : Liquor Burowi. kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. tablet yang kalau aplikatornya) 11. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml.dan lain-lain.Rivanol. Umumnya 0. dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli.5 sampai 1 liter. Solutio Rivanol.

Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1.BAB VI SUSPENSI A. Ukuran partikel. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . B. Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan.

makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. (dalam volume yang sama) . Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut.hubungan linier. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. 4. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. . maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking .Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. yaitu : 1. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. 3. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. pH dan proses fermentasi bakteri . maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. 2. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis . Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua.

dapat larut dalam air. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. tetapi bukan sebagai emulgator. tidak larut dalam alkohol. bersifat asam. yang banyak dipakai oleh industri makanan. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. tidak larut dalam alkihol. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. Peristiwa ini disebut tiksotrofi.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative). Karena peristiwa tersebut. bersifat alkali.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. jadi mudah dirusak oleh bakteri. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. stabilitas dari suspensi .  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Caragen merupakan derivat dari saccharida. dapat larut dalam air. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. hectorite dan veegum.

Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet. C.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol. atau kontaminan pada serbuk. Metode praesipitasi. hidroksi metil selulosa. lemak. bukan golongan karbohidrat.    . tylose). Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. misalnya methosol 1500. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle.Merupakan serbuk putih bereaksi asam. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) . karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan. karboksi metil selulosa (CMC). 2. hal tersebut karena adanya udara. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. Metode pembuatan suspensi. serta sedikit pemakaiannya. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. sedikit larut dalam air.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. dan stabilitas emulsi akan bertambah.• • Kelompok hidrofilik. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. F. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya.L.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. Kelompok lipofilik . Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan.B. 4. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . yaitu bagian yang suka pada minyak. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.

sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. a. maka BJ campuran mendekati satu. juga dapat dirusak bakteri. • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. lalu diencerkan dengan air sisanya. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu. contohnya chloroform. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . Contoh : cera. zat padat dilarutkan dalam minyaknya. Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w.5 X berat gom.• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. diaduk keras dan cepat sampai putih . Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. buat corpus emulsi dengan air panas 1.5 X berat gom . oleum cacao.

Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. c. a. digunakan 1-2 % . Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. 3. Biasanya d. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Emulgator alam dari hewan a. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. b.5 – 6. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. metil selulosa.garam magnesium dan aluminium. Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. e. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Emulgator lain Pektin. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Dengan emulgator ini.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. b. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Emulgator alam dari tanah mineral. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. 2. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . karboksimetil selulosa 1-2 %. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.

Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. 3. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. 2. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. Bila sabun tersebut bervalensi 1. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar.b. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. Emulgator buatan Sabun. 2. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. tergantung dari valensinya. Metode botol atau metode botol forbes. merupakan emulgator tipe w/o. misalnya sabun kalium. lesitin. kemudian ditambahkan 2 bagian air. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. sangat peka terhadap elektrolit. blender . Metode gom basah atau metode Inggris. Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. • 1. 1. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Mixer. kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. • • • • G. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. missal sabun kalsium. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). merupakan emulgator tipe o/w. Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. protein. 2. 3. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. 3. sedangkan sabun dengan valensi 2 . Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi .

• Peristiwa fisika. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. pengadukan. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. Dengan kertas saring. Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. KESTABILAN EMULSI.Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. 1. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. 2. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. irreversible ( tidak bisa diperbaiki). Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. Dengan prinsip tersebut. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air.kan secara seri. 2 3 2. pendinginan. perubahan pH. Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . partikel akan berbentuk kecilkecil. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. 4. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Dengan pengecatan/pemberian warna. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. seperti penambahan alkohol. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Hal ini dapat . Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. 5.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi . akibat putaran pisau tersebut. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. seperti pemanasan. 4. karena sudan III larut dalam minyak 3. emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. penyaringan.

gom akasia. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan. juga bahan dasar gelatin. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Pengertian Pilulae (menurut F.I. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. tragacanth. campuran bahan tersebut (PGS). sukrosa. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. sorbitol atau gula.I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. Komponen. contoh : akar manis. Sifatnya irreversible. atau bahan lain yang cocok . atau bahan lain yang cocok.I. Lozenges / tablet hisap menurut (F. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat .I.3. Boli (menurut F. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. BAB VIII PILULAE A. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil. mengandung 1 mg bahan obat. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. B. Mengandung bahan obat. bolus alba. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Contohnya sari akar manis.

keratin. Dalam jumlah kecil . pengikat adeps/vaselin secukupnya . tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. air. sirlak. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. Timbang 20 pil satu per satu. 3. natrii bicarbonas. C. salol. gliserol.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . madu. 3. ferrum pulveratum. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. natrii carbonas. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. gelatin.Bahan Khusus. balsam tolu. AgNO3) atau garam-garam Pb. mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. Dalam jumlah besar. 2.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . 1. hitung bobot rata-rata. Pil dengan sari-sari cair. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. Persyaratan Pillulae 1. 2. 5. FeCl3. Pil Dengan Bahan . 4. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. sirup. Contoh. Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. Keseragaman bobot. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . KNO3. kolodium.

bentuk bola lonjong seperti kerucut. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung.ed. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. bougies) digunakan lewat urethra. digunakan lewat vagina. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. 20 bag. bentuk batang panjang antara 7 cm . yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur. vagina atau urethra. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral.IV kurang lebih 2 g. gliserin. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. C. berat umumnya 5 g. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. . 10 bag. Menurut FI. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. 2. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan. B. beratnya menurut FI. Urethral Suppositoria (bacilla. melunak atau melarut dalam suhu tubuh. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk.IV. Umumnya meleleh.ed. 2. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.14 cm. yang diberikan melalui rektal. yaitu 1. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. Vaginal Suppositoria (Ovula).Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet.

3. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. Padat pada suhu kamar. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. D. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. tidak sadar. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. minyak nabati terhidrogenasi. sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. c. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. cacao (lemak coklat). 5. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. 4. 2. gelatin tergliserinasi. 4. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. 2. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya.3. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol.2 dan kapasitas daparnya rendah. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. d. E. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. seperti pasien mudah muntah. 2. b.

5. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. polietilenglikol (PEG) 3.31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ).Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol. Ol. kering dan terlindung dari cahaya. Bahan dasar berlemak : Ol. karena mudah tengik. bilangan asam. Jika pemanasannya tinggi. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. Diatas titik leburnya.34 o. cukup 2/3 saja yang dilelehkan.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol. berbau seperti coklat.350 C.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol. asam stearat. bau dan pemisahan obat. 1. Cacao (lemak coklat) 2.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. Ol. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil . warna putih kekuningan. Bentuk-bentuk kristal Ol. sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. Kadar air cukup 6. Stabil dalam penyimpanan.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o .Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. tidak menunjukkan perubahan warna. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin. asam palmitat. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida.Cacao. Untuk basis lemak. berwarna kekuningan.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). padat. meleleh pada suhu 31o .3. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 .  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol.

sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. minyak atsiri.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol.Cacao Bila airnya menguap. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil.Cacao tersebut. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). maka dicari pengganti Ol. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ). Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air. Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. 2. Campuran cetilalkohol dengan Ol. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur. pada suhu dibawah 300 C.       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. Mempercepat tengiknya Ol. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Keburukan Ol.Cacao sintetis : Coa buta . Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) . maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik. Ol. Karena ada beberapa keburukan Ol. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C.yang berguna untuk memadat. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap.

- mempunyai titik lebur 350 . Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan.630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %. PEG 1500 (carbowax 1500). - PEG sesuai untuk obat antiseptik.Cacao. gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. PEG 6000 (carbowax 6000). Jika diharapkan bekerja secara sistemik .Cacao. tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. lebih lambat melunak. sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Tidak melebur pada suhu tubuh.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. PEG 1000 (carbowax 1000). sehingga terjadi rasa yang menyengat.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). PEG di bawah 1000 berbentuk cair. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG. - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . jika dibanding Ol. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria. Keburukan : . Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. PEG 4000 (carbowax 4000).

Berat Suppositoria 2. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan.  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Metode ini. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol. Dengan kompresi.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya.5 g F.6000 Suppositoria / jam. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. tetapi untuk Ol. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan. bila perlu dipanaskan. cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis. Dengan mencetak hasil leburan : . Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. Metode Pembuatan Suppositoria 1. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. Kapasitas bisa sampai 3500 .  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. proses penuangan. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin.  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. akan terlepas dari cetakan. 3.

Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. 2. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya.Cacao 3. Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Pengemasan Suppositoria 1. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. untuk kemudian dikemas dalam dus. H. Ol. tidak mudah hancur atau meleleh. I. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. Test terhadap titik leburnya. 2. Test kerapuhan. .6 gram.Cacao dingin 3 menit 5. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. G. Test homogenitas. Recini dalam etanol. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. 3. Test waktu hancur. PEG 1000 15 menit. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. umumnya 5 gram. tetapi spiritus saponatus ini. Bobot ovula adalah 3 .

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). simplisia harus dibuat semakin halus. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. 2. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. 3. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. 2. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan.BAB X ILMU GALENICA A. Suhu dan lamanya waktu . 3. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. dan sebaliknya. Semakin sukar di sari.

Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. zat pati. olea. protein. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. zat lendir. 3. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Tinctura. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. mudah menguap atau tidak. 2. ampasnya disebut marc atau faeces. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. lemak. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. Decocta / Infusa : Aqua aromatika. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. B. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. glukosida. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . resina. mudah tersari atau tidak. Solution. pectin. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. olea velatilia (minyak menguap).Harus disesuaikan dengan sifat obat.. minyak atsiri. albumin. Colatura. damar. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. 4. Secale cornuti. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. Perkolat. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio.

zat warna dan garam-garam mineral. 4. glikosida. 2. kadang-kadang juga yang segar. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. pengendapan.1. 3. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. Etanol . Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. Ca hidrat. C. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. asam tumbuh-tumbuhan. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. 3. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. 2. Cairan . sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). antara lain : 1. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. 2. garam glauber dll. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. 4.

jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Cara – Cara Penarikan 1. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. 6. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. gula dan albumin. minyak atsiri. Karena cairan ini tidak atsiri. glikosida. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. 2. . pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. 4. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet.XI) 7. secale cornutum. D. damar-damar. karena efek farmakologinya. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. damar.F. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. minyak lemak dan minyak atsiri. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. misalnya strychni. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. 3. 5. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering.

tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. tuangkan atau saring. memakai alat soxhlet. Maserasi .3. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. peras. perkolasi bertingkat. selama 2 hari. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. biarkan selama 24 jam. perkolasi persambungan. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. E. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. perkolasi biasa 2. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. perkolasi dengan tekanan. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. Perkolasi. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. 2. continous extraction. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. enap. tutup perkolator. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. kecuali dinyatakan lain. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. Kecuali dinyatakan lain. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. 2. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. pressure percolation 4. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. . reperkolasi.5 – 5 bagian cairan penyari. memakai alat yang disebut perkolator. Cara Pembuatan 1. serkai. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. fractional percolation 3. Cara-cara perkolasi : 1. tutup.

setelah diperoleh 80 bagian perkolat. Asaefoetida Tinctura. 2. 3. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. Atur kadar hingga memenuhi syarat. 5. 2. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. B. 4. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. 6. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. • Peras masa. tutup. 7. Contoh : 1. 5. Enap. contoh : 1. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. Pindahkan ke dalam bejana. A. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Tingtur Menyan. tetapkan kadarnya. 6. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. di tempat sejuk. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. 3. 7. Sediaan tingtur harus jernih. 4. terlindung dari cahaya. tuang atau saring. Pembagian Tinctur 1. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. Capsici Tinctura. Iodii Tinctura FI III .

FI 1974 Tingtur Keras B. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. 2. b. F. 4. Tinctura Aquosa. A. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Tinctura Acida. 3. d. 6. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. 4.2. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. Contoh : 1. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. c. Cairan penyari yang dipakai adalah air. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. 3. 7. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. Cara Pembuatan Penyarian : . Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. contoh : Tinctura Chinae Composita. contoh : Tinctura Rhei Aquosa. jika sebagai cairan penarik dipakai air. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. e. 2. kental. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. Tingtura Vinosa. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. 5. misalnya campuran simplisia. 3. FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. Contoh : 1. 2. Tinctura Composita. eter dan campuran etanol dan air. Tingtura Aetherea.

perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. 2. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. G. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. 2. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. serkai. serkai. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air .2 bagian campur dengan perkolat pertama. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur.• • • 1. 3. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. enapkan. Serkai selagi panas melalui kain flanel. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki.

digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. . karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. akar valerian. akar ipeka. temulawak. Akar manis. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia.4. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih. untuk membuat 100 bagian infus. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. 5. diserkai setelah dingin. 1. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering. kelembak Laos.5 bagian 0. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. daun sena Dringo.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. Infus daun sena. jahe Kulit kina. tetapi tidak larut dalam air dingin. daun kumis kucing. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. akan mengendap dalam keadaan dingin. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas.5 bagian 0. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. 6 bagian 0.

saring. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. 5. kocok. 2. diamkan. Khasiat : zat tambahan. 4. di tempat sejuk. Diantara air aromatika. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. tambahkan 500 mg talc. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. .• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. terlindung dari cahaya. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. bebas bau empirematic atau bau lain. H. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. tidak berwarna dan tidak berlendir. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. Cara pembuatan : 1. atau agak keruh. 3. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.

misalnya : oleum cacao. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. misalnya : oleum ricini. oleum ricini. diperas pada suhu biasa. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. oleum cocos harus jernih. Contoh : daun. dapat dipakai sebagai pencahar. oleum amygdalarum. yang cair harus jernih. 3. mudah menguap . Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. 2. bunga. 2. misalnya : oleum arachidis. lotio dan lain-lain. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. Sebagai obat. 1. oleum olivae. terlindung dari cahaya. buah atau dibuat secara sintetis. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. misalnya : oleum arachidis. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. 2. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. oleum ricini diperas pada suhu panas. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). misalnya : sebagai pelarut obat suntik. 3. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. J. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. terisi penuh. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. anti racun. Eter dan Eter minyak tanah. senyawa belerang dan logam berat. kulit buah. oleum olivarum.I. 2. oleum sesami.

Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal.2. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. 3. 4. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Identifikasi : 1. hijau ataupun biru. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. volume air tidak boleh bertambah. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. Contoh : minyak jeruk B. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. 1. larut dalam pelarut organik. biarkan memisah. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. 5. teteskan 1 tetes minyak di atas air. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. . 2. Warna coklat. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. 3. terisi penuh. 2. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. sedikit kuning muda. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Cara penyulingan ( destilasi). terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. permukaan air tidak keruh.

sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. yaitu air dan minyak atsiri. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. volume air tidak boleh bertambah. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. 4. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. . kalau perlu setelah pemanasan. • Kemudian lapisan lemak dikerok. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. 5. Bau dan rasa seperti simplisia. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya.zat pengering. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. Dibiarkan beberapa lama. permukaan air tidak keruh. contoh:bunga melati 24 jam. Syarat – syarat minyak atsiri 1. tergantung dari jenis daun yang diolah. uap air akan membawa minyak atsiri. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. 2. biarkan memisah. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. Kemudian daun bunga diangkat.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. dilarutkan dalam alkohol absolut. contoh: Na2SO4 exicatus. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. tidak berwarna. 3. Harus jernih. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. minyak atsiri akan larut. sedangkan lemaknya tidak larut. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Harus kering. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ).Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan.

. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. b.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. • • Bj sirup kira-kira 1. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup.K. meskipun jamur tidak mati. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. panaskan. buang busa yang terjadi. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. serkai. Cairan untuk sirup. aqua destilata : untuk sirupus simplex. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. jika perlu didihkan hingga larut. c. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin .25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. tambahkan gula. • Kecuali dinyatakan lain. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. d. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. a. 2.

supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. 3. maka jamur dapat tumbuh. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. Obat. Didihkan sambil diaduk. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. aurantii corticis sirupus. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0.25% atau pengawet lain yang cocok. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. Maka untuk kestabilan sirup. zat putih telur akan menggumpal karena panas. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Corigensia saporis. misalnya : sirupus aurantii . Sterilisasi sirup. 2. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. 2. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. Bila dalam resep. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. Pengawet. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri.Corigensia coloris. gula yang tinggi . sirupus rubi idaei 3. misalnya : sirupus Rhoedos.

harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. Berdasarkan metode pembuatan : a. Penggolongan 1. bahan pengisi. desintegran dan lubrikan. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. b. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. Tablet kempa.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. bahan pengikat. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. a. Tablet cetak agak rapuh. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. bahan pengaroma dan bahan pemanis. B. mencegah pemalsuan. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. . Tablet cetak b. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Warna tablet umumnya putih. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. bundar. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Pengertian Menurut FI edisi IV. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. umumnya silendris. segitiga. lonjong dan sebagainya. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering.

kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. kalsium karbonat. asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. Bekerja sistemik : per oral. Berdasarkan jenis bahan penyalut. Dibuat dengan cara dikempa. b. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. 3. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. Macam-macam tablet salut : a. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. 2. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. a. selain zat aktif.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. antasida dan antibiotik tertentu.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. terutama formulasi multivitamin. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. umumnya menggunakan manitol. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . Kelompok pertama tidak diapa-apakan. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. demikian seterusnya. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. Diformulasikan untuk anak-anak.

dengan menggunakan cera. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. . menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ). c.E. Tablet lepas-lambat (sustained release). Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. d. b. Tujuan penyalutan tablet adalah : a. 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). hidrosi propil selulosa. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. e. kelembaban atau cahaya. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. b. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. menggunakan smoothing syrup. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). Mula-mula dibuat tablet inti. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara.gom akasia atau gelatin. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. (efek diperpanjang. metil selulosa. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. dan perlu penyalut tahan air. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin.

Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. Supradin Effervescent tablet. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. digunakan per oral dengan cara ditelan. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. kalsium fosfat dibase. kemudian tablet dimasukkan. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. 1. steril dan bersi hormon steroid. Bahan excipient / bahan tambahan a. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. berat umumnya 30 mg. bahan pengikat. selulosa mikrokristal. a. bahan pengaroma dan bahan pemanis. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa.c. metilselulosa. kemudian kulit dijahit kembali. Dihisap di dalam rongga mulut. Tablet vagina (Ovula) C. umumnya dengan bahan dasar beraroma. dan manis. bahan pengisi. bulat atau oval putih. desintegran. pecah di lambung b. d. e. . 4. Berdasarkan cara pemakaian. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). povidon. adstringensia. antiseptik. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. sukrosa. Tablet sublingual i. Umumnya mengandung antibiotik. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. Tablet hisap (lozenges. trochisi. f. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. Tablet bukal (buccal tablet) h. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. dan selulosa mikrokristal b. c. rasanya umumnya tidak pahit. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. CMC. dan lubrikan. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. pati.. gelatin. Misalnya laktosa. pasta pati terhidrolisa. g. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil.

Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. asam stearat. D. karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. Misalnya Silika pirogenik koloidal. yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. e. . granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. f. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. Makin banyak udaranya. tablet makin mudah pecah. Ajuvans a. 3. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. pada saat dicetak. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. asam alginat. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. Misalnya pati. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Misalnya macammacam minyak atsiri. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. Granulasi basah. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). b.c. 2. Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet.

Keuntungan. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. Granulasi kering / slugging / pre compression. 2. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. 2. laktosa semprot-kering. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. laktosa anhidrat. Cetak/kempa langsung. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. massanya basah. Daya pengikat dalam massa tablet kurang. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . Setelah itu diayak menjadi granul. bila perlu ditambah bahan pewarna. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. pencetak masih ada lemaknya.Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. tablet KMnO4. zat pelicin kurang. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. Kerugian.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. . lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. tablet NaCl. dilakukan apabila: 1. 60 0 C ) . Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. 3. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. 4. zat pengisi dan zat penghancur . zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. Misalnya tablet Hexamin. bila perlu ditambahkan zat pengikat. Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a.

Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. Die dan punch tidak rata 5. Massa tablet terlalu banyak fines. 6. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak.b. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. . c. terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. Formulanya tidak sesuai e. d. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang.

Vit...Steril. pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi. Dalam FI. hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril. Luminal.. mengandung satu atau lebih dapar... pelarutnya aqua pro injection Inj..ed.. ditandai dengan nama . Dalam FI.III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok.... Procaine Penicilline G steril untuk suspensi.......... Misalnya : Inj. Misalnya : Inj. ditandai dengan nama .... emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Dalam FI. ditandai dengan nama. Steril... Misalnya : Inj. Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1.. Dalam FI.... Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.. Misalnya : Inj..... hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril... .ed. Dalam FI. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi... Dalam FI.....ed. Steril untuk Suspensi.. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang . Misalnya : Inj.. Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi.C...ed.... pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar.. pengencer atau bahan tambahan lain. Untuk Injeksi. 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal... Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai..ed. Suspensi...III disebut berupa Larutan. Injeksi. Camphor oil . ditandai dengan nama ..BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A.III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) . pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj.....ed.IV. . ditandai dengan nama. .......

t).1 . Berupa suspensi / larutan. Injeksi intratekal (i.k / i.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase). intraspinal. 9. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). 6. digunakan untuk diagnosa. tidak boleh mengandung bakterisida. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml.0.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". Injeksi intramuskuler ( i.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. tidak boleh mengandung bakterisida. 3. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 .kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. volume antara 1 .a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi. Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar. Bentuk suspensi / larutan dalam air.B.s). subaraknoid. 2. Injeksi intrakutan ( i.10 ml.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. volume antara 1 . Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 . disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit. tidak lebih dari 1 ml. intrasisternal (i. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. 4.c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. 10. Bentuknya berupa larutan. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. Injeksi intraarterium ( i.k / s. Injeksi subkutan ( s. 5. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. Injeksi i.2 ml. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ". Volume yang disuntikkan antara 0. . Umumnya larutan bersifat isotonik. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini. bersifat depo (absorpsinya lambat). Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. Dibuat isitonis. isotonis. Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. 8. Injeksi intravenus ( i.20 ml. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat. Volume penyuntikan antra 4 . pH netral. jernih.d ).10 ml. intradural ( i. Injeksi intrakor / intrakardial ( i. 7. berupa larutan atau suspensi dalam air. Injeksi dalam bentuk larutan.

Sesami. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A. injeksi NaCl compositus.Petit. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. Bahan pembantu / zat tambahan 4. Kecuali dinyatakan lain. Pada etiketnya tercantum : p. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. . Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. segera setelah diwadahkan. menggunakan air untuk injeksi. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Ol. Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p.11. Wadah dan tutup 1. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. didinginkan dan segera digunakan. Sol. terletak diatas durameter. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. zat pembawa mengandung air.d ).p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Bahan obat / zat berkhasiat 2. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi.ed. Injeksi peridural ( p. Menurut FI. C. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . Penyerapan cepat . epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. Zat pembawa / zat pelarut 3. Hasil sulingan pertama dibuang. Injeksi intraperitoneal ( i. injeksi glukosa. Olivarum. Arachidis. Ol. 2. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. extradural.IV. bahaya infeksi besar 12. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi.

tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar.9 (4) Bilangan iodium 79 . sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. Menurut FI.2 .IV.v . a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0.2 % dari 0.4 dan disebut Isohidri.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air.200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak. jika hanya mewarnai sediaan akhir. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. 3. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. .0. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh. (3) Dikehendaki efek depo terapi. tidak lebih dari 0. tidak boleh disuntikkan secara i. hanya boleh secara i. bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan.128 (5) Bilangan penyabunan 185 .5 % dari 5 ml. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 .ed. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik.01 %  Golongan Klorbutanol. bisulfit atau metabisulfit . Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator.m.

Menjamin stabilitas obat. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. disebut " Haemolisa ". air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0. 2. tetapi jangan sampai hipotonis. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. Vit. pH dapat diatur dengan cara : 1. 3. sehingga sel akan mengkerut. yaitu . 1. disebut " hipertonis ". Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan.9 % b/v disebut " hipotonis " . basa untuk golongan sulfa.B1 . Penambahan larutan dapar.9 % b/v.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . 2. akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap.2. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. cairan lumbal. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. dapar borat untuk obat tetes mata. 2. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0.520C. efek terapi optimal obat. Vit. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil.0.C. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. misalnya perubahan warna. sebaiknya obat tidak usah didapar. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati).0 % b/v.9 % b/v. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh.6 . misalnya asam untuk alkaloida. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Kecuali darah. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. 2. Jika yang pecah itu sel darah merah. Penambahan zat tunggal .

maka b1 C > 0. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. terutama pada Infus intravena. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata.520 C.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip . Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. 3. b.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. Intralumbal .520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2.520 C. penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . Penurunan titik beku darah. jika membeku pada suhu -0. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI. 3. c.52 b1 C b2 B = 0.1. 2. dapat menimbulkan haemolisa. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak. ( darah. air mata adala -0. Intravenus. d. maka b1 C < 0. maka b1 C = 0.52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku. Larutan NaCl 0. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

ed. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. setelah dikemas. Jika terjadi pertumbuhan kuman. wadah. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. zat pembantu. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. karena akan rusak atau mengurai. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. Kemudian bahan obat. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik. zat pembawa. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. . 2.b. 2. 5.III dan IV. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. Caranya : Zat pembawa. alat-alat dari gelas untuk pembuatan. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril.

sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. Pemeriksaan keseragaman bobot. untuk bakteri anaerob. dilakukan sebagai berikut : a. Pemeriksaan meliputi : 1. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. 2. 6. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea.III. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . Pemeriksaan 1 . disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. b. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. Wadah yang bocor.1 % yang dingin. 2. Wadah yang bocor. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. b. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. ed. (i) Ampul : . Menurut FI. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. isinya akan terisap keluar. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. 3. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. Pemeriksaan kebocoran. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . masih dalam keadaan panas. Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok.. ii. Pemeriksaan sterilitas.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. untuk zat-zat : a. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. 1. b. Pemeriksaan keseragaman volume. 4. Wadah yang bocor akan berwarna biru. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu.E. 5. Sebelum dilakukan uji sterilitas.

b. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. 2.1 % ( Carbo adsorbens 0. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam.1 N dan 5 ml larutan 1 N. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0.II ) 4. 9. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1.001 – 0. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Cara menghilangkan pirogen 1.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari.01 gram per kg berat badan. 3. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara. 2. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai. NaCl dan Na-sitrat. disuling dengan wadah gelas. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. 1 liter air yang dapat diminum. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk. tahan pemanasan. 3. 6. Pemeriksaan kejernihan dan warna . Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. dapat larut dalam air.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. 12 ( secara detailnya lihat FI. Untuk aqua p. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam). alat suntik dll. yang dalam kadar 0.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2. harus bebas pirogen. Pirogen bersifat termolabil. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik.v sediaan uji pirogenitas. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling.ed.

0 7. Sedapat mungkin lsohidris.60 ml ( 3 % ) 0.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10.0 ml 50.12 ml ( 24 % ) 0. kecuali yang berbentuk suspensi. Cuci wadah dengan air. Keluarkan isi wadah.0 ml 20.6 % ) 2. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal. Cuci bagian luar wadah dengan air. disinari dari samping. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu. kemudian dengan etanol 95 % . Jika berupa larutan harus jernih. Volume pada etiket 0. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah.50 ml ( 10 % ) 0.5 % ) 1.90 ml ( 4.15 ml ( 15 % ) 0. 5. yaitu mempunyai pH = 7. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih. .20 ml ( 4 % ) 3. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis. bebas dari partikel-partikel padat.1 ml 5. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera .4.0 F.0 ml 10.5 ml 1.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.25 ml ( 12. 2.10 ml ( 20 % ) 0. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini.5 5.00 ml ( 4 % ) 0.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1.50 ml ( 5 % ) 0. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan. 3.80 ml ( 2.5 % ) 0.30 ml ( 6 % ) 0.15 ml ( 7. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka . Syarat . Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini.0 ml 2. Harus aman dipakai.10 ml ( 10 % ) 0. Keringkan pada suhu 105 0.70 ml ( 7 % ) 0.5 % ) 0.0 ml 30. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.

Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. 4. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. Sediaan untuk pemberian intraspinal. Pengemasan. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu.ed. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. Penandaan menurut FI.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. cara pemberian. harus memakai tenaga khusus.. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena. H. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. G. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. Sedapat mungkin Isotonik. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1.I dan tanggal kadaluwarsanya. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. 3. yaitu bebas dari mikroba hidup. 7. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. 5. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan. 6. Bebas pirogen. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. Cara pemberian lebih sukar. tetapi jangan hipotonis. Bekerja cepat .4. 2. Harus steril. baik yang patogen maupun yang apatogen. Karena bekerja cepat.. merangsang jika ke cairan lambung. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh. 3. 2.

1 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful