BABI

BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

peracikan. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. dicampur.000 lebih dari 10. warna. rasa.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. . semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat. rupa. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. Kecuali dinyatakan lain. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. dan penggunaan. tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan.

penyimpanan dan distribusi. pengangkutan. pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. pengangkutan. nama produsen. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan . Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. merekat. Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. langsung dari wadah. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter . kadar atau kekuatan. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal.Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. penyimpanan dan distribusi.

Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. harus dicantumkan dalam etiket. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. mengurangi. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. Persen volume per volume (v/v).. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk. Persen bobot per volume ( b/v) . Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. salep. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . Persen Persen bobot per bobot ( b/b) . untuk memperelok badan atau bagian badan manusia. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. mencegah . Pengertian Obat Secara Umum . pil. menghilangkan. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. tablet. yang dimaksud adalah b/b. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . cairan. guna mencegah. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. D.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o.

5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. baik sebagai bagian yang berkhasiat. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). Obat narkotika (obat bius). c). kapsul. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. 3. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. topikal. Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. obat minum dan lain – lain. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . b c d 2. Contohnya salep. pengisi. ataupun yang tidak berkhasiat. opthal. b). pelarut. seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). membran mukosal. 4. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). vaginal. dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. misalnya lapisan. rektal. linimenta dan cream Sistemis. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). injeksi. merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. b). Contohnya tablet. b). adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. pembantu atau komponen lain. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). Lokal. aurical. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. Contohnya implantasi. nasal. collutio/gargarisma. yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya.

Obat Psikotropika (obat berbahaya). Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. hayati) seperti minyak ikan. Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. c). alamat dan nomor izin praktek dokter. minyak jarak. nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Hewan (fauna.b). Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. parafin. Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . kina. Tumbuhan (flora. kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d).   obat baru . Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. Resep disebut juga formulae medicae. obat yang mempengaruhi proses mental. Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. merangsang atau menenangkan. e). cera. vaselin. 4. vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. garam dapur. nabati). Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. 2. mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. seperti digitalis folium. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. 5. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). 3. adeps lanae. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin.

Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. rasa dan bau dari obat utama. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut. Remidium Cardinal. umur. adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. 5). dan opii pulvis. serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum .M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. ipecacuanhae radix. jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. 3). 3). 19/Ph/62 Mei 1962. maka dalam resep ditulis Iteratie. Corrigens Actionis. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). 2). pada bagian atas kanan resep. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. 2). artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. . 4X. jenis hewan. Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S.I. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. Misalkan iteratie 3 X. Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). Yang berhak menulis resep adalah dokter.E.) Depkes No. 4). Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Nama pasien.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1).

4). Pada pemusnahan . digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara). pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur ….b. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat . 2). Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. Istilah lain dari copy resep adalah apograph. d. Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. Constituens / Vehiculum / Exipiens. 3). Corrigens Solubilis. digunakan untuk memperbaiki warna obat . Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. afschrif. Corrigens Coloris. sehingga menjadi obat yang cocok. Corrigens Odoris. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. amylum dan talcum pada bedak tabur.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan..X Nomor resep dan tanggal pembuatan. merupakan zat tambahan. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. e. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. exemplum. digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Corrigens Saporis. 5). digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). c. Contohnya laktosum pada serbuk.obatan yang pahit rasanya. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4).

( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen. maka dapat dibagi sebagai berikut : 1). . 2).D. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim.resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. injeksi subkutis dan rektal. Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. 3). merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan). POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. L. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1). Dosis Lazim (Usual Doses). Dosis Maksimal ( maximum). dengan berat badan 58 – 60 kg. F. maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. 2). L.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.i. Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun.60 tahun. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit.D. 4).

habituasi. daya serap obat. jenis kelamin. berat badan. adiksi dan sensitip. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . jenis obatnya juga faktor toleransi. juga wanita menyusui. kasus penyakit. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. Faktor lain kondisi pasien. sifat penyakit. Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. antara lain umur. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. ekskresi obat. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa.

kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. hasilnya kurang dari 100 %. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. makanan diet dan . BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1.67 % atau lebih dari 1/6 bagian. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Coffein dengan Aminophyllin. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. guaiacol.t.h. antasida. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. contohnya s. BAB II PULVIS dan PULVERES A. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. Karena mempunyai luas permukaan yang luas. demikian pula pemakaian 1 harinya.70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol.3. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16.o. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI.

Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. keduanya untuk pemakaian luar. Clostridium Welchii. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. sepat. sediaan padat lainnya. seperti laksan. . Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. Catatan. antasida. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. Talk. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka.beberapa jenis analgetik tertentu. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. hitung bobot isi rata-rata. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. C. dan Bacillus Anthracis. (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. halus dan homogen.

karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi . maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen).  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. D. . Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan.  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. Misalnya : rifampisin. Iodoform.Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang.  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu. Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). sehingga serbuk tersebut harus halus sekali. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Serbuk sangat halus dan berwarna. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Seperti hal sebagai berikut : (1). biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate.

cera flava. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Serbuk dengan asam benzoat. cera alba.garam bromida. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. parafin padat. mentol. thymol Dikerjakan seperti diatas. misalnya KI dan garam. Aconiti Tinctura. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). Belladonnae Tinctura. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. Digitalis Tinctura. zat digerus terlebih dahulu. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. vaselin kuning dan vaselin putih. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. Serbuk dengan asam salisilat. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. baru ditambah zat tambahan. baru dicampur dengan zat tambahan. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. Digitalis Tinctura. dibuat pengenceran. naftol. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. (2).Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. Ratanhiae Tinctura.

BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Extrak Filicis dengan eter. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Hyoscyami extractum. Ext. Contohnya Opii extractum. Hydrastis Liq. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti. Contohnya Rhamni Purshianae ext.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Macam – macam kapsul dapat juga diambil . Catatan : Ekstrak Chinae Liq.

Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. . Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. vaginal. 4. 3. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. 2.terdiri atas tubuh dan tutup .bentuk hanya satu macam Kapsul lunak . 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil.isi biasanya cair.cara pakai per oral . sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. topikal .Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae. dapat juga padat .bentuknya bermacam . 5. dapat juga cair . 1. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. seperti sorbitol atau gliserin. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. pengawet.satu kesatuan . rectal. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles.selalu sudah terisi . Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. misal ujungnya lebih runcing atau rata. pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %.bisa oral. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). bahan opak seperti Titanium dioksida. Kapsul keras . Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter.tersedia dalam bentuk kosong . perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan. Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus. B. Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien.isi biasanya padat. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul. Berkaitan dengan hal tersebut.

3. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. 4. C.Kerugian bentuk sediaan kapsul. Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis. 5. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. 2. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. 1. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. .  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. selama transportasi dan penanganan. tanpa bantuan alat lain. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka.

mengisi sampai dengan menutup kapsul. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. kemudian ditutup sambil diputar. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. D. F. kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . E. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin.Sebelum dimasukkan kedalam kapsul.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor .

(2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. Contohnya kapsul yang mengandung KI. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. (3) Mengandung minyak menguap. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah. G. kreosot dan alkohol. Di tempat terlalu kering. NaI. setetah itu tutup. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. NaNO2 dan sebagainya.pada sebuah kotak. Pengertian Salep .

karena bahan obat tidak diabsorbsi. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). (2)  Menurut Efek Terapinya. Iodida. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. Salep tidak boleh berbau tengik. Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air. Salep Diadermic (Salep Serap).   . IV. B. Belladonnae. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes).Menurut FI. astringen untuk meredakan rangsangan. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. sehingga konsistensinya lebih keras. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. mudah diserap kulit.

(3) Menurut Dasar Salepnya. IV. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. 2). sukar dicuci. misalnya: campuran dari lemak-lemak. malam yang tak tercuci dengan air. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. dasar salep serap. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). . antara lain salep hidrofilik (krim). Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). 3). tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. minyak lemak. (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon. dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. C. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar Salep Menurut FI. 1). dasar salep larut dalam air. antara lain vaselin putih dan salep putih. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum.

meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. campuran vaselin dengan cera. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). Poly Ethylen Glycol (PEG). seperti paraffin. sifat bahan obat yang dicampurkan. selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. 5. 4. gummi arabicum = 30 : 70).. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. campuran PEG. (1) Stabil. 3. tragacanth.P. ketersediaan hayati. minyak nabati. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. jika perlu dengan pemanasan. paraffin padat. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. emulsifying ointment B. 2. semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. D. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). paraffin cair. Lunak. lanolin anhidrat atau malam. emulsifying wax. hydrophilic ointment.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. . Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan.

harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. Jika a. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. campurannya harus digerus sampai dingin. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan. Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air.c. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda). maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. menthol.b.(3) Peraturan Salep Ketiga. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. kemudiaan digerus dengan dasar salep. salol. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan.  Protargol (argentum proteinatum) . Bila kamfer bersama-sama. atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya.

diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. Jumlah banyak. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. 2. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. Phenol.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut. Pyrogalol. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras. Antibiotika. baru dicampur dengan bahan lainnya. sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu. Oleum Iecoris Aselli. Zinci Sulfas. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum.  . Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya.5%). misalnya Tinct. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. tidak boleh diayak Acidum Boricum.      Belerang. Chrysarobin. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. (b) Alkohol  Jumlah sedikit. Kecuali pada resep obat wasir.

(ii) Tidak tahan panas. F. Pix Lithantracis. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. G.  sedikit demi sedikit. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep. Glycerin.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. Balsamum Peruvianum. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. Kreosot. Tidak diketahui perbandingannya. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. Pix Liquida. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. dicampurkan . Oleum Cadini. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya. Bila dasar salep lebih dari satu macam. contohnya tinctura Iodii. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik.  Gliserin. contoh. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol.  Air. berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. Ichtyol.

20%. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air.bahan-bahan sebagai berikut.. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) . maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 . meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik. misalnya cera dengan minyak lemak. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu. Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih.

3. Cosolvensi. minyak-minyak. iodium . . 4. 3. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. 2. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. chlorobutanol. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. Larutan. 6. 2.A. menthol. Larutan jenuh. zat samak. Larutan encer. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. Parafin Liquidum. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. untuk cera. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. 4. cetaceum. menthol. B. 2. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. sublimat. Kelarutan. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. fosfor . Gliserin. borax. Eter. untuk minyak-minyak lemak. misalnya untuk kamfer dan menthol. Minyak. fenol. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Larutan lewat jenuh. misalnya untuk tannin. Eter minyak tanah . Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. Zat pelarut disebut juga solvent. kamfer. misalnya untuk kamfer. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. misalnya untuk kamfer. 5. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. 1. Air untuk macam-macam garam Spiritus . 7. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1.

kecuali AgCl.  Semua garam klorida larut . akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.  Semua garam sulfat larut. Senyawa – senyawa calsium. Dapat larut dalam air. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. Salting In. (NH4)3PO4 4. seperti bismuthi subnitras. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. NH4OH. misalnya etanol. BaO. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. maka minyak atsiri akan memisah. Zat-zat yang atsiri. kecuali KOH. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. Zat yang terurai. Salting Out. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. CaSO4 (sedikit larut) b. Temperatur. Calsium gliseropospat. NaOH. misalnya aqua calcis 5.  Semua garam nitrat larut. (NH4) 2CO3. Hg2Cl2.  Larutan + panas minyak atsiri. minyak atsiri b. . dan Ba(OH)2. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan.  Semua garam posphat tidak larut.  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . CaHPO4. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. kecuali nitrat base. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. 7. PbSO4. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.  Semua garam karbonat tidak larut . kecuali K2CO3. misalnya Natrii bicarbonas c. Na3PO3. Na2CO3. 6. Tidak larut dalam air. Contoh : K2SO4. Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. misalnya : a. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ). Contoh : a. kecuali K3PO4. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar.Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. kecuali BaSO4. PbCl2. Saturatio d. KOH. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. b.

5. 12. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. 2. melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. a. Kamfer. diamkan selama ¼ jam. kemudian disaring . dilarutkan dalam air suling sama banyak. dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. tetapi menurunkan daya baktericidnya. Succus liquiritiae. solute makin cepat larut. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin.   C. 7. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. Extract opii dan extract ratanhiae. umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . makin kecil ukuran partikel . kocok lagi. Natrium bicarbonas. makin halus solute. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. kelarutan dalam air 1: 650. 10. b. kemudian ditambah natrium salicylas. dengan gerus tuang (aanslibben). kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . diantaranya adalah : 1. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . bila jumlahnya kecil. Suhu . Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat. Perak protein. untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. Tanin. Seng klorida. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya.. Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. di tempat yang gelap. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus .Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. 6. 9. diamkan selama ¼ jam . 11. 3. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. Sublimat (HgCl2).25 % dari berat larutan. Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. 8. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. Pengadukan. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . Kalium permanganat (KMnO4). Jika ada air dan gliserin. kemudian disaring setelah dingin. Bic natric digerus tuang .Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak.

2. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. c. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. pewarna.2 x jumlah yang diminta. Pepsin. dengan alkohol 96 % sampai larut . 3. Nipagin dan Nipasol. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. Jumlah yang diambil 1. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. Ada 3 macam sirup yaitu : a. b. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. Sirup. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. 16. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . 13. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. D. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. Fenol. 17.etanol. pengawet. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air .17 X-nya. 14. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. direbus dengan air 20 X nya.lalu segera encerkan dengan air.a. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. sorbitol atau propilenglikol.25 % b/v b. 1. setelah larut diencerkan sebelumdingin. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15.

Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . . c. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. Penambahan Bahan –bahan. a. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia.  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. gas dibuang seluruhnya. 3. Netralisasi. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. Saturatio dan Potio Effervescent. karena tidak boleh dikocok. c. Pembuatan : 1. 2/3 bagian asam masuk basa. Bila jumlahnya banyak. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. b. 2. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. b. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Zat-zat mudah menguap. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. 4. Zat netral dalam jumlah kecil. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut .c. segera tutup dengan sampagne knop. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). berdasarkan perbandingan jumlah airnya. menjaga stabilitas obat.

Garam dari asam yang sukar larut . biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. isotonus. a.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. Guttae Ophthalmicae. harus ditambahkan kedalam bagian basanya. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. natrii salisilas. jernih. ear drop untuk telinga. akan terbentuk endapan kalium atau 5. tutup dan sterilkan. b. bila tidak. bebas zarah asing. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya.masukkan kedalam wadah. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. b. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. emulsi atau suspensi . Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. 2. . misalnya natrii benzoas. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya. Obat tetes sebagai obat luar. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. saring hingga jernih. Zat. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. digunakan untuk membersihkan mata. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air.

b. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata. Pada larutan yang digunakan pada mata. Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan . Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. Air mata normal memiliki pH 7.6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. d.Nilai isotonisitas. c. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. 0 % b/v. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca.9 % b/v. Pengental . Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata.

polivinil alcohol. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. 7. anthelmintic . dapat mengandung zat pensuspensi. Penandaan. 1.Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. Injectiones / obat suntik. tidak untuk ditelan. 2. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. Litus Oris. sedative. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin. 6. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. pendapar dan pengawet. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. 3. tidak boleh mengandung zat lendir. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. hidroksi propil selulosa. Contoh : metil selulosa. 5. diagnostic. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. 4. 9. emolient.

campuran Borwater . Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . tablet yang kalau aplikatornya) 11. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. Untuk memudahkan.5 sampai 1 liter. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli.Rivanol. Umumnya 0. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. Solutio Rivanol. dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Douche. Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. Contoh : Liquor Burowi. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml. Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita.dan lain-lain. 10.

Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Ukuran partikel. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu.BAB VI SUSPENSI A. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . B. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini.

Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. (dalam volume yang sama) . Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas.hubungan linier. 3. pH dan proses fermentasi bakteri . Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis . oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. . Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. yaitu : 1. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . 4. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. 2. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama.

untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. dapat larut dalam air. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. Caragen merupakan derivat dari saccharida. jadi mudah dirusak oleh bakteri.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. tidak larut dalam alkihol.  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. yang banyak dipakai oleh industri makanan. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. stabilitas dari suspensi . kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. tidak larut dalam alkohol. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. hectorite dan veegum. tetapi bukan sebagai emulgator. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Karena peristiwa tersebut. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative). bersifat alkali. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. dapat larut dalam air. bersifat asam.

tylose). Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. misalnya methosol 1500. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit.    . serta sedikit pemakaiannya. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. 2. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) . Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol. atau kontaminan pada serbuk. lemak.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. karboksi metil selulosa (CMC). karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya. hal tersebut karena adanya udara. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor. hidroksi metil selulosa. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. Metode pembuatan suspensi. Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri.Merupakan serbuk putih bereaksi asam.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle. sedikit larut dalam air. Metode praesipitasi. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. bukan golongan karbohidrat. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet. C.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. dan stabilitas emulsi akan bertambah.• • Kelompok hidrofilik. sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. 4. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama.B.L. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase. F. yaitu bagian yang suka pada minyak. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. Kelompok lipofilik . Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini. Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . Dengan kata lain fase disper menjadi stabil.

sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. juga dapat dirusak bakteri. Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . maka BJ campuran mendekati satu. • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. Contoh : cera. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. diaduk keras dan cepat sampai putih .• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. a. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. buat corpus emulsi dengan air panas 1. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. oleum cacao. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. contohnya chloroform. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. lalu diencerkan dengan air sisanya. zat padat dilarutkan dalam minyaknya. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum.5 X berat gom .5 X berat gom. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1.

5 – 6. 3. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. b. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . 2. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. metil selulosa. b. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. karboksimetil selulosa 1-2 %. Emulgator lain Pektin. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. a. Emulgator alam dari hewan a. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. digunakan 1-2 % . Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. e. Emulgator alam dari tanah mineral. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. c.garam magnesium dan aluminium. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. Biasanya d. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. Dengan emulgator ini.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak.

Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . blender . Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. missal sabun kalsium. 2. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. 3. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. Bila sabun tersebut bervalensi 1. misalnya sabun kalium. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. 3. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar.b. 1. 3. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Metode botol atau metode botol forbes. kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). 2. Mixer. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. protein. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. • 1. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. • • • • G. merupakan emulgator tipe w/o. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. kemudian ditambahkan 2 bagian air. sedangkan sabun dengan valensi 2 . lesitin. 2. Metode gom basah atau metode Inggris. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. tergantung dari valensinya. merupakan emulgator tipe o/w. Emulgator buatan Sabun. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. sangat peka terhadap elektrolit.

4. 4. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. penyaringan. akibat putaran pisau tersebut. emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). • Peristiwa fisika. Dengan pengecatan/pemberian warna. 2.Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi . dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I.kan secara seri. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. KESTABILAN EMULSI. 5. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. pengadukan. Dengan prinsip tersebut. Dengan kertas saring. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. 1. Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . seperti penambahan alkohol. irreversible ( tidak bisa diperbaiki). Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. seperti pemanasan. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. pendinginan. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. partikel akan berbentuk kecilkecil. Hal ini dapat . karena sudan III larut dalam minyak 3. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. perubahan pH. 2 3 2.

I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. BAB VIII PILULAE A. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain.I. contoh : akar manis.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. Contohnya sari akar manis.I. tragacanth.I. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. sukrosa. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil. juga bahan dasar gelatin. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. mengandung 1 mg bahan obat. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. B. Pengertian Pilulae (menurut F. gom akasia.3. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Sifatnya irreversible. sorbitol atau gula. Boli (menurut F. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. campuran bahan tersebut (PGS). IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. bolus alba. atau bahan lain yang cocok . atau bahan lain yang cocok. Mengandung bahan obat. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk. Komponen. Lozenges / tablet hisap menurut (F.

sirup. keratin. untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . 3. sirlak. pengikat adeps/vaselin secukupnya .Bahan Khusus. natrii bicarbonas. gelatin. 5. 2. Dalam jumlah kecil . Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. 1. hitung bobot rata-rata. 3. Timbang 20 pil satu per satu. air.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). C. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. FeCl3. Pil Dengan Bahan . supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . madu. Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. kolodium.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . balsam tolu. Dalam jumlah besar. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . gliserol. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. Persyaratan Pillulae 1. ferrum pulveratum. 4. Contoh. Pil dengan sari-sari cair. salol. AgNO3) atau garam-garam Pb. Keseragaman bobot. natrii carbonas.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. 2. KNO3.

Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. gliserin. . maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat.IV kurang lebih 2 g.IV. digunakan lewat vagina. yang diberikan melalui rektal. beratnya menurut FI. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. Umumnya meleleh. Urethral Suppositoria (bacilla.ed.14 cm. Menurut FI. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. berat umumnya 5 g. B. 20 bag. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan. 2. 2. bougies) digunakan lewat urethra. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. bentuk bola lonjong seperti kerucut. yaitu 1. Vaginal Suppositoria (Ovula). vagina atau urethra. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur. 10 bag. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. bentuk batang panjang antara 7 cm . C. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. melunak atau melarut dalam suhu tubuh.ed. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan.

4. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. minyak nabati terhidrogenasi. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. c. Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. b. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. 4. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). seperti pasien mudah muntah. Padat pada suhu kamar. d. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. 5. tidak sadar. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. E. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . gelatin tergliserinasi. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. cacao (lemak coklat). Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. 2. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum.3. Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. D. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak.2 dan kapasitas daparnya rendah. 2. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. 2. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. 3.

Cacao (lemak coklat) 2.350 C. kering dan terlindung dari cahaya. Diatas titik leburnya.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali. berbau seperti coklat.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya. Bentuk-bentuk kristal Ol. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 .bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. berwarna kekuningan. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. cukup 2/3 saja yang dilelehkan.Cacao.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol. Kadar air cukup 6. padat. polietilenglikol (PEG) 3. asam palmitat. bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. bilangan asam.31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o . Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. Ol. bau dan pemisahan obat.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). warna putih kekuningan. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida. 5. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil . 1. Jika pemanasannya tinggi. Untuk basis lemak. Stabil dalam penyimpanan. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. tidak menunjukkan perubahan warna. Ol.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ). Bahan dasar berlemak : Ol.3. sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. asam stearat. karena mudah tengik. meleleh pada suhu 31o .Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol.34 o.  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol.

Cacao tersebut. maka dicari pengganti Ol. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. minyak atsiri. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat. 2.Cacao sintetis : Coa buta . sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. Karena ada beberapa keburukan Ol. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap. Mempercepat tengiknya Ol. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. pada suhu dibawah 300 C. Campuran cetilalkohol dengan Ol. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur. Keburukan Ol.       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol.Cacao Bila airnya menguap. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ). Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) .Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria. maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang.yang berguna untuk memadat. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. Ol.

sehingga terjadi rasa yang menyengat. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. PEG 6000 (carbowax 6000).  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. - PEG sesuai untuk obat antiseptik. Tidak melebur pada suhu tubuh. PEG 1500 (carbowax 1500). Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria. lebih lambat melunak. tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan. PEG 4000 (carbowax 4000). tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. PEG 1000 (carbowax 1000). tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG.- mempunyai titik lebur 350 .Cacao.Cacao.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). Keburukan : . Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". PEG di bawah 1000 berbentuk cair.630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Jika diharapkan bekerja secara sistemik . jika dibanding Ol. - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20.

Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin. cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan.5 g F.  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. 3. tetapi untuk Ol.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. Berat Suppositoria 2.6000 Suppositoria / jam. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. Dengan kompresi.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. Metode Pembuatan Suppositoria 1.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis. bila perlu dipanaskan. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan.  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. Dengan mencetak hasil leburan : . Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin. proses penuangan. Metode ini.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain. akan terlepas dari cetakan. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2. Kapasitas bisa sampai 3500 .

Cacao 3. Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Test kerapuhan. Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. Test waktu hancur. tetapi spiritus saponatus ini. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. umumnya 5 gram. Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah. Bobot ovula adalah 3 .Cacao dingin 3 menit 5. G. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.6 gram. H. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. 3. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. tidak mudah hancur atau meleleh. . Ol. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. PEG 1000 15 menit. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. I. Test homogenitas. 2. Test terhadap titik leburnya. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. 2. Recini dalam etanol. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. untuk kemudian dikemas dalam dus. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. Pengemasan Suppositoria 1.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1.

BAB X ILMU GALENICA A. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. 2. Semakin sukar di sari. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. 3. Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. 3. simplisia harus dibuat semakin halus. Suhu dan lamanya waktu . dan sebaliknya. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. 2.

Perkolat. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. 2. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. mudah menguap atau tidak. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. olea. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. albumin. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. glukosida. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. lemak. Secale cornuti. damar. olea velatilia (minyak menguap). Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. Solution. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. Tinctura. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. zat pati. resina. 4. Decocta / Infusa : Aqua aromatika. mudah tersari atau tidak. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. pectin. zat lendir. minyak atsiri.Harus disesuaikan dengan sifat obat.. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. Colatura. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. protein. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. ampasnya disebut marc atau faeces. B. 3.

pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. 3. Ca hidrat. pengendapan. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. 3. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. Cairan . Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. 4. asam tumbuh-tumbuhan. C. 2. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). garam glauber dll. zat warna dan garam-garam mineral. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. antara lain : 1. glikosida. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. 2.1.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. 4. 2. Etanol . kadang-kadang juga yang segar.

Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. 6.F. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. 4. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. . Karena cairan ini tidak atsiri. glikosida. misalnya strychni. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. minyak lemak dan minyak atsiri. damar. secale cornutum. 5. karena efek farmakologinya. damar. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. damar-damar. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. 2. minyak atsiri.XI) 7. D. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Cara – Cara Penarikan 1. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. gula dan albumin. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. 3.

Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2.3. reperkolasi. Perkolasi. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. perkolasi bertingkat. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. fractional percolation 3. memakai alat soxhlet. tutup. pressure percolation 4. selama 2 hari. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. E. serkai. perkolasi persambungan. memakai alat yang disebut perkolator. biarkan selama 24 jam. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. enap. continous extraction. tuangkan atau saring. Cara-cara perkolasi : 1. 2. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. 2. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. . melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. perkolasi biasa 2. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. Kecuali dinyatakan lain. kecuali dinyatakan lain.5 – 5 bagian cairan penyari. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. Cara Pembuatan 1. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Maserasi . peras. tutup perkolator. perkolasi dengan tekanan. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya.

tuang atau saring. 3. 5. 2. 7. Tingtur Menyan. Pindahkan ke dalam bejana. Pembagian Tinctur 1. contoh : 1. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. 6. 4. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. 4. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. terlindung dari cahaya. 2. 7. Contoh : 1. B. Enap. • Peras masa. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. tutup. setelah diperoleh 80 bagian perkolat.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. A. Capsici Tinctura. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Sediaan tingtur harus jernih. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. di tempat sejuk. 5. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. Asaefoetida Tinctura. Atur kadar hingga memenuhi syarat. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Iodii Tinctura FI III . campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. 6. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. tetapkan kadarnya. 3.

7. F. Tingtura Vinosa. Tinctura Acida. Tinctura Composita. contoh : Tinctura Chinae Composita. FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. 4. Tinctura Aquosa. b. A. Cairan penyari yang dipakai adalah air. Tingtura Aetherea. 3. contoh : Tinctura Rhei Aquosa.2. jika sebagai cairan penarik dipakai air. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. Contoh : 1. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. 3. 5. kental. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. eter dan campuran etanol dan air. 2. 2. 6. misalnya campuran simplisia. e. 3. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. FI 1974 Tingtur Keras B. 4. Contoh : 1. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. 2. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. Cara Pembuatan Penyarian : . Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. d. c.

uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. 2. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. serkai. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0. 2. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas.• • • 1. G. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air . suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. enapkan. 3. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. serkai. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. Serkai selagi panas melalui kain flanel.2 bagian campur dengan perkolat pertama. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat.

Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.5 bagian 0. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. daun kumis kucing. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas.4. tetapi tidak larut dalam air dingin.5 bagian 0. akar ipeka. diserkai setelah dingin. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. untuk membuat 100 bagian infus. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. Infus daun sena. daun sena Dringo. akan mengendap dalam keadaan dingin. jahe Kulit kina.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. . Akar manis. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. 6 bagian 0. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. kelembak Laos. 1. 5. akar valerian. temulawak. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3.

• Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. Khasiat : zat tambahan. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. atau agak keruh. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. 2. Cara pembuatan : 1. saring. . kocok. tidak berwarna dan tidak berlendir. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. tambahkan 500 mg talc. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. bebas bau empirematic atau bau lain. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. diamkan. 3. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Diantara air aromatika. 5. di tempat sejuk. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. 4. terlindung dari cahaya. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. H.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam.

harus disimpan dalam wadah tertutup baik. misalnya : oleum ricini. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. senyawa belerang dan logam berat. oleum amygdalarum. misalnya : oleum arachidis. J. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. oleum olivarum. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. 2. 2. yang cair harus jernih. dapat dipakai sebagai pencahar. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. anti racun. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. buah atau dibuat secara sintetis. oleum olivae. terisi penuh. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. oleum ricini diperas pada suhu panas. kulit buah. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. 2. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. misalnya : oleum arachidis. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. lotio dan lain-lain. oleum cocos harus jernih. mudah menguap . Eter dan Eter minyak tanah. misalnya : oleum cacao. 3. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). Contoh : daun. oleum ricini. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. terlindung dari cahaya. 3. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. bunga. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. 2.I. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Sebagai obat. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. 1. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. diperas pada suhu biasa. oleum sesami.

2. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. 1. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Contoh : minyak jeruk B. disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. . permukaan air tidak keruh. Warna coklat. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. 5. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. hijau ataupun biru. 4. 2.2. 3. teteskan 1 tetes minyak di atas air. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. volume air tidak boleh bertambah. terisi penuh. sedikit kuning muda. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. 3. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. larut dalam pelarut organik. Cara penyulingan ( destilasi). Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. biarkan memisah. Identifikasi : 1. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A.

Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. yaitu air dan minyak atsiri. 3. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. contoh: Na2SO4 exicatus. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Harus kering. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. tidak berwarna. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. contoh:bunga melati 24 jam. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. dilarutkan dalam alkohol absolut. Kemudian daun bunga diangkat. Dibiarkan beberapa lama. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. . 4. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. 5. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. permukaan air tidak keruh. biarkan memisah.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. Harus jernih. volume air tidak boleh bertambah. Syarat – syarat minyak atsiri 1. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. 2. uap air akan membawa minyak atsiri. Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. minyak atsiri akan larut. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. • Kemudian lapisan lemak dikerok. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. tergantung dari jenis daun yang diolah. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. sedangkan lemaknya tidak larut. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. Bau dan rasa seperti simplisia.Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. kalau perlu setelah pemanasan. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik.zat pengering.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan.

panaskan. aqua destilata : untuk sirupus simplex. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. a. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. sirup tidak dapat ditumbuhi jamur.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. d. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. 2. meskipun jamur tidak mati.K. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup. c. • Kecuali dinyatakan lain. jika perlu didihkan hingga larut. Cairan untuk sirup. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. tambahkan gula. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. buang busa yang terjadi. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. • • Bj sirup kira-kira 1. b. serkai. . pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri.

Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. 2. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. 2. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. Didihkan sambil diaduk. Sterilisasi sirup. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. Bila dalam resep. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. aurantii corticis sirupus. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. maka jamur dapat tumbuh. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. Obat. Corigensia saporis. zat putih telur akan menggumpal karena panas. 3. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering.25% atau pengawet lain yang cocok. Maka untuk kestabilan sirup. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. misalnya : sirupus aurantii . Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri.

gula yang tinggi . misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri. sirupus rubi idaei 3. Pengawet. misalnya : sirupus Rhoedos.Corigensia coloris. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.

a. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. bahan pengisi. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. mencegah pemalsuan. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. b. bahan pengaroma dan bahan pemanis. tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. bundar. B. Tablet kempa. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . segitiga. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. lonjong dan sebagainya. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Tablet cetak b. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. umumnya silendris. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Pengertian Menurut FI edisi IV. Penggolongan 1. Berdasarkan metode pembuatan : a. Warna tablet umumnya putih. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Tablet cetak agak rapuh. . bahan pengikat. desintegran dan lubrikan. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung.

kalsium karbonat. a. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. umumnya menggunakan manitol. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). b. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. demikian seterusnya. Diformulasikan untuk anak-anak. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). asam tartrat) dan Natrium bikarbonat.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . Bekerja sistemik : per oral. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. terutama formulasi multivitamin. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. antasida dan antibiotik tertentu. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. 3. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. 2. Macam-macam tablet salut : a. Dibuat dengan cara dikempa.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. Berdasarkan jenis bahan penyalut. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. selain zat aktif. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan .

Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. Mula-mula dibuat tablet inti. metil selulosa. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara.E. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). hidrosi propil selulosa. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action. . kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P.gom akasia atau gelatin. b. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). b. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. kelembaban atau cahaya. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ). menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. Tablet lepas-lambat (sustained release). d. c. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. menggunakan smoothing syrup. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. (efek diperpanjang.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. dengan menggunakan cera. e. Tujuan penyalutan tablet adalah : a. dan perlu penyalut tahan air.

dan manis. kalsium fosfat dibase. g. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). bahan pengaroma dan bahan pemanis. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut.. pecah di lambung b. CMC. . 1. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. f. Tablet bukal (buccal tablet) h. a. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. kemudian kulit dijahit kembali. trochisi. Misalnya laktosa. c. bahan pengikat. Berdasarkan cara pemakaian. d. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. e. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. berat umumnya 30 mg. desintegran. kemudian tablet dimasukkan. Tablet hisap (lozenges. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. pasta pati terhidrolisa. pati. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. dan lubrikan. Dihisap di dalam rongga mulut. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. selulosa mikrokristal. Bahan excipient / bahan tambahan a. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. dan selulosa mikrokristal b. umumnya dengan bahan dasar beraroma. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. steril dan bersi hormon steroid. metilselulosa. antiseptik.c. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. sukrosa. 4. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. Supradin Effervescent tablet. povidon. Tablet sublingual i. rasanya umumnya tidak pahit. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. digunakan per oral dengan cara ditelan. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. gelatin. Umumnya mengandung antibiotik. adstringensia. Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. Tablet vagina (Ovula) C. bulat atau oval putih. bahan pengisi.

granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Misalnya macammacam minyak atsiri. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. Misalnya pati. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. f. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. asam alginat. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. pada saat dicetak. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. 2. yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Makin banyak udaranya. b. 3. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. tablet makin mudah pecah. asam stearat.c. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. e. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. Ajuvans a. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. Misalnya Silika pirogenik koloidal. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. . D. Granulasi basah.

Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. tablet NaCl.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. Kerugian.Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. zat pelicin kurang. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. tablet KMnO4. laktosa semprot-kering. 60 0 C ) . kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. 3. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. Misalnya tablet Hexamin. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. 4. Setelah itu diayak menjadi granul. massanya basah. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. bila perlu ditambahkan zat pengikat. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. Cetak/kempa langsung. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . pencetak masih ada lemaknya. 2. laktosa anhidrat. . sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. 2. zat pengisi dan zat penghancur . Daya pengikat dalam massa tablet kurang. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. Keuntungan. bila perlu ditambah bahan pewarna. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. dilakukan apabila: 1. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. Granulasi kering / slugging / pre compression.

Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. d. Die dan punch tidak rata 5. Massa tablet terlalu banyak fines. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak.b. c. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. Formulanya tidak sesuai e. 6. . terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar.

BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A.ed.. Dalam FI.... Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Vit. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi.. Misalnya : Inj.. pelarutnya aqua pro injection Inj... Procaine Penicilline G steril untuk suspensi... ditandai dengan nama ........III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok...III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) . pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi. Misalnya : Inj.. pengencer atau bahan tambahan lain....C. Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.IV..III disebut berupa Larutan.. Dalam FI. 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal.. Untuk Injeksi.. Steril untuk Suspensi... Dalam FI. Camphor oil . pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar.ed.. . sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1..... mengandung satu atau lebih dapar.ed. Dalam FI. ditandai dengan nama. . Suspensi..... Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi.Steril.ed. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang .. ditandai dengan nama...ed. Dalam FI.. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.... Misalnya : Inj. Dalam FI... Misalnya : Inj. ditandai dengan nama . Luminal.. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. .. ditandai dengan nama ... Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi... hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril.... Injeksi.. Misalnya : Inj...III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.ed. Steril.. pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj.......

yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. jernih.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase). pH netral. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. tidak boleh mengandung bakterisida. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 .0. bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena. 8. 3. tidak lebih dari 1 ml. isotonis.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. . Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. Injeksi intratekal (i. Volume penyuntikan antra 4 . Injeksi intrakor / intrakardial ( i. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. 9. volume antara 1 . Injeksi intraarterium ( i.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. volume antara 1 .v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.t).k / s. Injeksi intravenus ( i.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. intrasisternal (i. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 .d ).a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi. Volume yang disuntikkan antara 0.c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi.s). digunakan untuk diagnosa. Bentuk suspensi / larutan dalam air. disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. tidak boleh mengandung bakterisida. intraspinal. 4. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. Injeksi subkutan ( s. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat.20 ml. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata.10 ml. 5. berupa larutan atau suspensi dalam air. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini.1 .2 ml. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". 2. Umumnya larutan bersifat isotonik. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml.B. Injeksi i. Berupa suspensi / larutan.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya.k / i. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. Injeksi intramuskuler ( i. 10. subaraknoid.10 ml. 7. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. Bentuknya berupa larutan. Injeksi dalam bentuk larutan. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida. intradural ( i. Injeksi intrakutan ( i. 6. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ". bersifat depo (absorpsinya lambat). Dibuat isitonis.

Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi .i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. Bahan obat / zat berkhasiat 2. didinginkan dan segera digunakan.Petit. Wadah dan tutup 1. Injeksi intraperitoneal ( i. injeksi NaCl compositus. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri.11. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.ed. Kecuali dinyatakan lain. Olivarum. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Injeksi peridural ( p. Bahan pembantu / zat tambahan 4. . Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Menurut FI.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya. epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. Sesami. segera setelah diwadahkan. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Zat pembawa / zat pelarut 3. Arachidis. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. Ol.IV. 2. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. bahaya infeksi besar 12. extradural. terletak diatas durameter. Penyerapan cepat . C. Ol. injeksi glukosa.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Pada etiketnya tercantum : p. menggunakan air untuk injeksi. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. zat pembawa mengandung air. Sol. Hasil sulingan pertama dibuang.d ).

ed. tidak boleh disuntikkan secara i.4 dan disebut Isohidri.01 %  Golongan Klorbutanol. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0.0. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. tidak lebih dari 0. jika hanya mewarnai sediaan akhir.5 % dari 5 ml.2 .m. 3. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator.2 % dari 0. Menurut FI.128 (5) Bilangan penyabunan 185 . Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh. hanya boleh secara i. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 .9 (4) Bilangan iodium 79 . Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7. sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. . bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. bisulfit atau metabisulfit .IV.v .200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak. (3) Dikehendaki efek depo terapi.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar.

3. yaitu . Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . Vit. sebaiknya obat tidak usah didapar. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. sehingga sel akan mengkerut. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. Menjamin stabilitas obat. misalnya asam untuk alkaloida.C.0. cairan lumbal. misalnya perubahan warna. Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. Penambahan zat tunggal . akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. disebut " hipertonis ". Penambahan larutan dapar. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0.9 % b/v. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. efek terapi optimal obat.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. 2. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. dapar borat untuk obat tetes mata. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat.6 . Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh.2. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel .B1 .9 % b/v. pH dapat diatur dengan cara : 1. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. tetapi jangan sampai hipotonis. disebut " Haemolisa ". air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel.520C. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. Kecuali darah. 2.0 % b/v. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). 2. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. 2. basa untuk golongan sulfa. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. Vit. Jika yang pecah itu sel darah merah. 1. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri.9 % b/v disebut " hipotonis " .

Intralumbal . jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal. 2. b.1.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip . maka b1 C < 0. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. dapat menimbulkan haemolisa. Larutan NaCl 0. Penurunan titik beku darah. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI. ( darah. penyerapan bahan obat tidak dapat lancar.52 b1 C b2 B = 0. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. maka b1 C > 0.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh.520 C.520 C. Intravenus. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2. air mata adala -0. maka b1 C = 0. c.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . 3. 3. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku.52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0. terutama pada Infus intravena. Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. jika membeku pada suhu -0. d. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

2. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. .ed. Caranya : Zat pembawa. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. zat pembantu. karena akan rusak atau mengurai. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. zat pembawa. 2. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri.b.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. 5. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). Jika terjadi pertumbuhan kuman. wadah. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. Kemudian bahan obat. setelah dikemas. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1.III dan IV. alat-alat dari gelas untuk pembuatan.

b. Pemeriksaan keseragaman volume. isinya akan terisap keluar. ii. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. 3. Menurut FI. Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. 4.III. Wadah yang bocor akan berwarna biru. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. (i) Ampul : . 6. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu.E.. dilakukan sebagai berikut : a. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. untuk zat-zat : a.1 % yang dingin. Pemeriksaan 1 . sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. b.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. 1. Pemeriksaan kebocoran. Pemeriksaan sterilitas. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. ed. Wadah yang bocor. Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. untuk bakteri anaerob. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . 5. Pemeriksaan keseragaman bobot. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . 2. disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. Sebelum dilakukan uji sterilitas. Wadah yang bocor. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea. Pemeriksaan meliputi : 1. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. 2. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. b. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. masih dalam keadaan panas.

) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam). Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. dapat larut dalam air.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk.1 N dan 5 ml larutan 1 N.ed. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. 2.v sediaan uji pirogenitas. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. 6. 2. 12 ( secara detailnya lihat FI. yang dalam kadar 0. harus bebas pirogen.1 % ( Carbo adsorbens 0. 1 liter air yang dapat diminum. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1.II ) 4.01 gram per kg berat badan. Pirogen bersifat termolabil. NaCl dan Na-sitrat. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling. Untuk aqua p. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i. Pemeriksaan kejernihan dan warna . Cara menghilangkan pirogen 1. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. 3. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. tahan pemanasan. b. disuling dengan wadah gelas.001 – 0. alat suntik dll. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai. 3. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. 9.

kemudian dengan etanol 95 % .1 ml 5. bebas dari partikel-partikel padat. Jika berupa larutan harus jernih.15 ml ( 15 % ) 0. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.60 ml ( 3 % ) 0.0 7.0 ml 30. Cuci wadah dengan air.0 ml 20. kecuali yang berbentuk suspensi. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia. Keluarkan isi wadah. Harus aman dipakai. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal.5 5. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka .5 % ) 0. 5. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan.12 ml ( 24 % ) 0. disinari dari samping. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera .0 F.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.4. .20 ml ( 4 % ) 3.6 % ) 2. Syarat . keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap.10 ml ( 20 % ) 0. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini. yaitu mempunyai pH = 7.25 ml ( 12. Keringkan pada suhu 105 0.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih.0 ml 50.0 ml 10.5 % ) 0. Cuci bagian luar wadah dengan air. Sedapat mungkin lsohidris. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu.80 ml ( 2.50 ml ( 10 % ) 0.10 ml ( 10 % ) 0.15 ml ( 7.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1.00 ml ( 4 % ) 0.30 ml ( 6 % ) 0.50 ml ( 5 % ) 0.0 ml 2. 2. Volume pada etiket 0. 3. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10.70 ml ( 7 % ) 0.5 % ) 1. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih.5 ml 1.90 ml ( 4.

Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. 6. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. 7. merangsang jika ke cairan lambung. G. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. 4. Bebas pirogen. 2. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan..IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. Sedapat mungkin Isotonik. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. H. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora.I dan tanggal kadaluwarsanya. 3. Pengemasan. tetapi jangan hipotonis. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang.ed. Sediaan untuk pemberian intraspinal. 5. 2. Cara pemberian lebih sukar. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. baik yang patogen maupun yang apatogen. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. cara pemberian. Harus steril. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis.4. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. harus memakai tenaga khusus. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. Bekerja cepat . Penandaan menurut FI. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. yaitu bebas dari mikroba hidup.. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. Karena bekerja cepat. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . 3.

1 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful