P. 1
BABI

BABI

|Views: 2,608|Likes:
Published by Ervina Hasibuan

More info:

Published by: Ervina Hasibuan on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2013

pdf

text

original

BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali .000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. Kecuali dinyatakan lain. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika.000 lebih dari 10. rasa. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. dan penggunaan. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat. rupa. .Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. peracikan. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. warna. dicampur. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan. Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku.

Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. nama produsen. kadar atau kekuatan. pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. penyimpanan dan distribusi. pengangkutan. Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut.Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . penyimpanan dan distribusi. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. pengangkutan. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter . hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. langsung dari wadah. Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan. mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan . Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. merekat.

. harus dicantumkan dalam etiket. Persen volume per volume (v/v). tablet. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. menghilangkan. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. Persen Persen bobot per bobot ( b/b) . luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. yang dimaksud adalah b/b. untuk memperelok badan atau bagian badan manusia.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. mencegah . Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. Persen bobot per volume ( b/v) . Pengertian Obat Secara Umum . D. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. guna mencegah.Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. pil. mengurangi. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk. salep. cairan.

untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . nasal. ataupun yang tidak berkhasiat. kapsul. Lokal. vaginal. 4. misalnya lapisan. aurical. yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya. baik sebagai bagian yang berkhasiat. collutio/gargarisma. b). b). Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a).3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. b). linimenta dan cream Sistemis. pembantu atau komponen lain. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru. Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). obat minum dan lain – lain. Contohnya salep. rektal. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). 3. adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar). Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). topikal. merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. pengisi. adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. pelarut. c). Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). Obat narkotika (obat bius). Contohnya implantasi. opthal. adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. membran mukosal. injeksi. seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. Contohnya tablet. b c d 2. 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.

2. Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. vaselin. Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. kina. Obat Psikotropika (obat berbahaya). cera. nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. 4. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. obat yang mempengaruhi proses mental. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. 3. hayati) seperti minyak ikan. 5. e). dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. adeps lanae. kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d). Hewan (fauna. garam dapur. Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat.b). c).   obat baru . Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. Tumbuhan (flora. Resep disebut juga formulae medicae. parafin. mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. alamat dan nomor izin praktek dokter. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. merangsang atau menenangkan. minyak jarak. nabati). seperti digitalis folium.

3). Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. umur. Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas.E. maka dalam resep ditulis Iteratie. Corrigens Actionis.   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal. Nama pasien. 3). 4). 2). injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya.M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda.I. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum . karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. Remidium Cardinal. ipecacuanhae radix. dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). jenis hewan. jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. 5). 4X. artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. . Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens.) Depkes No. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. 2). Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. dan opii pulvis. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. pada bagian atas kanan resep. rasa dan bau dari obat utama. Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. Misalkan iteratie 3 X. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut. 19/Ph/62 Mei 1962. Yang berhak menulis resep adalah dokter.

Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. Pada pemusnahan .Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. 5). Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan.X Nomor resep dan tanggal pembuatan.. sehingga menjadi obat yang cocok. afschrif. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. digunakan untuk memperbaiki warna obat . digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. merupakan zat tambahan. Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. e. digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara).b. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita. d. Corrigens Odoris. Contohnya laktosum pada serbuk. c. 3).obatan yang pahit rasanya. Istilah lain dari copy resep adalah apograph. 2). Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). Constituens / Vehiculum / Exipiens. exemplum. Corrigens Coloris. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat . Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. amylum dan talcum pada bedak tabur. selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. Corrigens Saporis. 4). Corrigens Solubilis.

maka dapat dibagi sebagai berikut : 1). dengan berat badan 58 – 60 kg. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. 3). Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. Dosis Lazim (Usual Doses). L. merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan). 2).i.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. Dosis Maksimal ( maximum).D. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen.resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. 2). Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1).60 tahun.D. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter. L. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. . F. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. 4). Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. injeksi subkutis dan rektal.

Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. daya serap obat. antara lain umur. habituasi. jenis obatnya juga faktor toleransi. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. ekskresi obat. adiksi dan sensitip. sifat penyakit.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . jenis kelamin. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. kasus penyakit. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. juga wanita menyusui. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Faktor lain kondisi pasien. berat badan.

t. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis). serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. makanan diet dan . Karena mempunyai luas permukaan yang luas.o. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan. antasida. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. contohnya s. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam.h. BAB II PULVIS dan PULVERES A. demikian pula pemakaian 1 harinya. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia.70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol.67 % atau lebih dari 1/6 bagian. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Coffein dengan Aminophyllin. guaiacol. hasilnya kurang dari 100 %. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. Dosis dengan pemakaian berdasar jam.3.

kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. . agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. dan Bacillus Anthracis. hitung bobot isi rata-rata. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . (2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. halus dan homogen. Catatan.beberapa jenis analgetik tertentu. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk. antasida. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. C. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. sediaan padat lainnya. keduanya untuk pemakaian luar. Talk. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. seperti laksan. Clostridium Welchii. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. sepat.

Seperti hal sebagai berikut : (1).Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang. Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen). biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih. D.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi .  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. . sehingga serbuk tersebut harus halus sekali. (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2.  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu. Misalnya : rifampisin.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir.  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. Serbuk sangat halus dan berwarna. Iodoform.

baru ditambah zat tambahan. dibuat pengenceran. thymol Dikerjakan seperti diatas. cera alba. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Ratanhiae Tinctura. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . Digitalis Tinctura. Belladonnae Tinctura. parafin padat. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. Serbuk dengan asam salisilat.garam bromida. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura. Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. misalnya KI dan garam. Serbuk dengan asam benzoat. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. (2). zat digerus terlebih dahulu. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. naftol. cera flava. mentol. baru dicampur dengan zat tambahan. vaselin kuning dan vaselin putih. Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). Digitalis Tinctura. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. Aconiti Tinctura. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan.

Macam – macam kapsul dapat juga diambil . Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Contohnya Opii extractum. bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Hydrastis Liq. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. Hyoscyami extractum. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Ext. Extrak Filicis dengan eter. Contohnya Rhamni Purshianae ext. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering.

terdiri atas tubuh dan tutup . pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %.satu kesatuan . Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien.isi biasanya padat. seperti sorbitol atau gliserin. topikal . B. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan.bentuk hanya satu macam Kapsul lunak . Berkaitan dengan hal tersebut. dapat juga cair . bahan opak seperti Titanium dioksida. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. Kapsul keras . Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. 2. Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul.bisa oral. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles. sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus.tersedia dalam bentuk kosong . Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. 4.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula).bentuknya bermacam . 5. 1. vaginal.selalu sudah terisi . Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. 3. misal ujungnya lebih runcing atau rata.Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut. Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. rectal. pengawet.cara pakai per oral . . dapat juga padat .isi biasanya cair. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya.

C. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup. Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. 4. untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . 5. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. 3. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. tanpa bantuan alat lain. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis. .Kerugian bentuk sediaan kapsul. selama transportasi dan penanganan. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. 2. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras. 1.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film.

Sebelum dimasukkan kedalam kapsul. Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %.mengisi sampai dengan menutup kapsul. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. E. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas. kemudian ditutup sambil diputar. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung.Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor . (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . F. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan. Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin. Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. D. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih.

Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. Pengertian Salep . sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Di tempat terlalu kering. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. (3) Mengandung minyak menguap. G. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. setetah itu tutup. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. kreosot dan alkohol. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. NaNO2 dan sebagainya. NaI. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah.pada sebuah kotak. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab. Contohnya kapsul yang mengandung KI. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol.

Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. Salep Diadermic (Salep Serap). tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. B.   . (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik.Menurut FI. (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). (2)  Menurut Efek Terapinya. IV. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Belladonnae. karena bahan obat tidak diabsorbsi. Salep tidak boleh berbau tengik. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. mudah diserap kulit. Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Iodida. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. sehingga konsistensinya lebih keras. astringen untuk meredakan rangsangan.

kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon. antara lain vaselin putih dan salep putih. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. sukar dicuci. minyak lemak. Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. dasar salep larut dalam air. 3). Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. IV. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. . (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya.(3) Menurut Dasar Salepnya. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. C. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. misalnya: campuran dari lemak-lemak. dasar salep serap. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). 1). Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). 2). Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. malam yang tak tercuci dengan air. antara lain salep hidrofilik (krim). Dasar Salep Menurut FI. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup.

sifat bahan obat yang dicampurkan. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). 5.P. campuran PEG. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. hydrophilic ointment. D. minyak nabati. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. 4. paraffin cair. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. (1) Stabil. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan. Poly Ethylen Glycol (PEG). semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. . meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. paraffin padat. emulsifying wax. lanolin anhidrat atau malam. 2. jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. dan seluruh produk harus lunak dan homogen. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. 3. Lunak. emulsifying ointment B. jika perlu dengan pemanasan. campuran vaselin dengan cera. gummi arabicum = 30 : 70). stabilitas dan ketahanan sediaan jadi.. ketersediaan hayati. tragacanth. tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. seperti paraffin.

 Protargol (argentum proteinatum) . maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda).b. campurannya harus digerus sampai dingin. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan. Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air). Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb. Bila kamfer bersama-sama. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%. Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air. Jika a. salol. harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40.(3) Peraturan Salep Ketiga. kemudiaan digerus dengan dasar salep. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. menthol.c.

Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. Oleum Iecoris Aselli. misalnya Tinct. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya. karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. Jumlah banyak. (b) Alkohol  Jumlah sedikit. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. Pyrogalol.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. Antibiotika. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. Zinci Sulfas. Chrysarobin. Phenol.  . sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. tidak boleh diayak Acidum Boricum.5%).      Belerang. Kecuali pada resep obat wasir. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. baru dicampur dengan bahan lainnya. Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. 2. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi.

F. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya. Glycerin. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri.(ii) Tidak tahan panas. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. Oleum Cadini. Bila dasar salep lebih dari satu macam.  Air. dicampurkan . Kreosot. contoh. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin.  Gliserin. Balsamum Peruvianum. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. Tidak diketahui perbandingannya. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. G. Pix Lithantracis.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik. contohnya tinctura Iodii. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. Pix Liquida. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol.  sedikit demi sedikit. Ichtyol. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep.

Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih. maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 ..20%. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu. misalnya cera dengan minyak lemak.bahan-bahan sebagai berikut. meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) .

Larutan. borax. B. Zat pelarut disebut juga solvent. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. Air untuk macam-macam garam Spiritus . Cosolvensi. Gliserin. iodium . Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. Larutan encer. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. 6. menthol. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. chlorobutanol. 5. cetaceum. 4. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula. 3. misalnya untuk tannin. misalnya untuk kamfer. Eter.A. 2. . Larutan lewat jenuh. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. Larutan jenuh. 3. menthol. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. fenol. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. 7. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. misalnya untuk kamfer dan menthol. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. zat samak. 2. Parafin Liquidum. Eter minyak tanah . kamfer. yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. Kelarutan. Minyak. 2. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. fosfor . minyak-minyak. untuk cera. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. sublimat. 1. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. misalnya untuk kamfer. 4. untuk minyak-minyak lemak.

 Semua garam posphat tidak larut. Contoh : a. kecuali AgCl. CaHPO4. Contoh : K2SO4. Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan. Na2CO3.  Semua garam karbonat tidak larut . Zat yang terurai. KOH.Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. (NH4) 2CO3. misalnya aqua calcis 5. Calsium gliseropospat. NaOH. misalnya Natrii bicarbonas c. seperti bismuthi subnitras. kecuali K2CO3. Salting In. Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. NH4OH. 7. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. 6. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut. Saturatio d. b. (NH4)3PO4 4. kecuali KOH. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.  Semua garam nitrat larut. Senyawa – senyawa calsium. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. Na3PO3. Tidak larut dalam air. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. . maka minyak atsiri akan memisah. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. dan Ba(OH)2. Dapat larut dalam air. PbSO4. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ). Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar.  Larutan + panas minyak atsiri. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . Temperatur.  Semua garam sulfat larut. BaO. PbCl2. kecuali K3PO4. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. CaSO4 (sedikit larut) b. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. kecuali nitrat base.  Semua garam klorida larut . misalnya etanol. Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air. minyak atsiri b. misalnya : a. Zat-zat yang atsiri. Salting Out. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Hg2Cl2. kecuali BaSO4.

Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. a. diantaranya adalah : 1. Kamfer. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. dengan gerus tuang (aanslibben). Seng klorida. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. solute makin cepat larut. Kalium permanganat (KMnO4).   C. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . Suhu . b. di tempat yang gelap. 7. setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. kocok lagi. kemudian disaring setelah dingin. Tanin. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. Perak protein. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. 9. Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup . melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. 5. 6. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. Natrium bicarbonas. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin. kemudian ditambah natrium salicylas. diamkan selama ¼ jam . makin halus solute. 2. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. 3. Bic natric digerus tuang . dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. kemudian disaring . dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. makin kecil ukuran partikel . 11. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . Pengadukan. 10. tetapi menurunkan daya baktericidnya. oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . Jika ada air dan gliserin. 8. Succus liquiritiae.Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. dilarutkan dalam air suling sama banyak.. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. bila jumlahnya kecil.Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. diamkan selama ¼ jam. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. Extract opii dan extract ratanhiae. Sublimat (HgCl2). NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat.25 % dari berat larutan. 12. kelarutan dalam air 1: 650.

b. Pepsin.lalu segera encerkan dengan air. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. 17. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. 2.25 % b/v b. 14. direbus dengan air 20 X nya. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. c. Ada 3 macam sirup yaitu : a. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b. pengawet. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a. Nipagin dan Nipasol.etanol. pewarna. Sirup. Jumlah yang diambil 1. 13. 16. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula.17 X-nya.2 x jumlah yang diminta. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air . diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. D. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). dengan alkohol 96 % sampai larut . Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral . dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. sorbitol atau propilenglikol. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. Fenol. 3. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . 1. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. setelah larut diencerkan sebelumdingin.a.

Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. Saturatio dan Potio Effervescent. Zat-zat mudah menguap. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. a. gas dibuang seluruhnya. 4. . segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Bila jumlahnya banyak. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. Kemudian diikat dengan sampagne knop. Netralisasi. b. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. c. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. segera tutup dengan sampagne knop.c. menjaga stabilitas obat. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. c. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. 2. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. Pembuatan : 1. b. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. 2/3 bagian asam masuk basa. Penambahan Bahan –bahan. berdasarkan perbandingan jumlah airnya.  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. 3. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut . Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . karena tidak boleh dikocok. Zat netral dalam jumlah kecil.

Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut. Zat. b. digunakan untuk membersihkan mata. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi .Garam dari asam yang sukar larut . harus ditambahkan kedalam bagian basanya. misalnya natrii benzoas. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet. jernih. a. b. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. 2.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. emulsi atau suspensi . saring hingga jernih. apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. bila tidak. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. akan terbentuk endapan kalium atau 5. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. Obat tetes sebagai obat luar. isotonus. Guttae Ophthalmicae. ear drop untuk telinga. bebas zarah asing. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. natrii salisilas. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. tutup dan sterilkan.masukkan kedalam wadah. . biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia.

c. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata. Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. 0 % b/v. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. d. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Air mata normal memiliki pH 7. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan . Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat.9 % b/v.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata. Pengental . Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pada larutan yang digunakan pada mata. b.6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2.Nilai isotonisitas.

Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. 4. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. 9. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. 6. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. 3. dapat mengandung zat pensuspensi. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. emolient. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. pendapar dan pengawet. Penandaan. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. 5. tidak untuk ditelan. Contoh : metil selulosa. Litus Oris. sedative. Injectiones / obat suntik. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. tidak boleh mengandung zat lendir. diagnostic. atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . 7. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin. 2. 1. hidroksi propil selulosa.Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. anthelmintic . ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli. polivinil alcohol.

Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah.5 sampai 1 liter. hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. tablet yang kalau aplikatornya) 11. 10.dan lain-lain. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. campuran Borwater . tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml.Rivanol. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. Contoh : Liquor Burowi. kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. Douche. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan. Umumnya 0. Solutio Rivanol. Untuk memudahkan.

Ukuran partikel. B. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan. Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar.BAB VI SUSPENSI A. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan .Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.

4. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel.hubungan linier. yaitu : 1. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar .Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). (dalam volume yang sama) . . Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. 2. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis . Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . 3. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. pH dan proses fermentasi bakteri . Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel.

Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative). dapat larut dalam air. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat.  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. Caragen merupakan derivat dari saccharida. stabilitas dari suspensi . jadi mudah dirusak oleh bakteri. Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. tetapi bukan sebagai emulgator. Karena peristiwa tersebut. bersifat alkali. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. tidak larut dalam alkihol. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. yang banyak dipakai oleh industri makanan. hectorite dan veegum. bersifat asam. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. tidak larut dalam alkohol. dapat larut dalam air.

Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor. Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. C. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol. sedikit larut dalam air. serta sedikit pemakaiannya. bukan golongan karbohidrat. atau kontaminan pada serbuk. Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan. Metode pembuatan suspensi. karboksi metil selulosa (CMC). Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . Metode praesipitasi. hidroksi metil selulosa. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %. karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit. lemak. tylose). Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) .Merupakan serbuk putih bereaksi asam. misalnya methosol 1500. hal tersebut karena adanya udara.    . Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. 2. Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. F. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. dan stabilitas emulsi akan bertambah.B. syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak.L. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . 4. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. yaitu bagian yang suka pada minyak. sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya.• • Kelompok hidrofilik. Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Kelompok lipofilik .

• Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. oleum cacao.5 X berat gom . (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . buat corpus emulsi dengan air panas 1. a. lalu diencerkan dengan air sisanya. Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan . Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. diaduk keras dan cepat sampai putih .• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu.5 X berat gom. maka BJ campuran mendekati satu. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w. Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. juga dapat dirusak bakteri. sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan. Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. Contoh : cera. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. zat padat dilarutkan dalam minyaknya. contohnya chloroform.

c. b. Dengan emulgator ini. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. karboksimetil selulosa 1-2 %. merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Emulgator alam dari hewan a. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w.5 – 6.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar.garam magnesium dan aluminium. Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. e. Emulgator alam dari tanah mineral. Emulgator lain Pektin. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. a. 2. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Biasanya d. 3. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. metil selulosa. digunakan 1-2 % . Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. b.

2. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. Metode botol atau metode botol forbes. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. 2. kemudian ditambahkan 2 bagian air. Mixer. 3. 3. Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. blender . Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. Emulgator buatan Sabun. Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. • 1.b. protein. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. • • • • G. 2. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. misalnya sabun kalium. sedangkan sabun dengan valensi 2 . Bila sabun tersebut bervalensi 1. 1. 3. merupakan emulgator tipe w/o. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). tergantung dari valensinya. sangat peka terhadap elektrolit. lesitin. merupakan emulgator tipe o/w. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. Metode gom basah atau metode Inggris. missal sabun kalsium.

Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. KESTABILAN EMULSI. • Peristiwa fisika. Dengan pengecatan/pemberian warna. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. seperti penambahan alkohol.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi . Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. karena sudan III larut dalam minyak 3. pendinginan. Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. 2 3 2. Dengan kertas saring. 4. 5. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. Hal ini dapat . Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. 1. penyaringan. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I. perubahan pH. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. seperti pemanasan.Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia.kan secara seri. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. pengadukan. akibat putaran pisau tersebut. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. partikel akan berbentuk kecilkecil. 4. Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. Dengan prinsip tersebut. 2. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o. irreversible ( tidak bisa diperbaiki). Bila emulsi diteteskan pada kertas saring .

B. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. gom akasia. yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. BAB VIII PILULAE A.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. Sifatnya irreversible. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis.3. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya. Lozenges / tablet hisap menurut (F. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. mengandung 1 mg bahan obat. juga bahan dasar gelatin. sorbitol atau gula. bolus alba. atau bahan lain yang cocok. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. atau bahan lain yang cocok . contoh : akar manis. Boli (menurut F. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. Komponen. Mengandung bahan obat.I.I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. sukrosa. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan. tragacanth.I.I. Contohnya sari akar manis. campuran bahan tersebut (PGS). Pengertian Pilulae (menurut F.

Contoh. Persyaratan Pillulae 1. salol.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . 3.Bahan Khusus. 2. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . air. madu. ferrum pulveratum. Keseragaman bobot. C. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. Pil dengan sari-sari cair. gliserol. Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. 3. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. natrii carbonas. hitung bobot rata-rata.rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. KNO3. 4. sirlak. Pil Dengan Bahan . tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. 2. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). Dalam jumlah besar.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. Timbang 20 pil satu per satu. AgNO3) atau garam-garam Pb. kolodium. 5. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. gelatin. keratin. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian. FeCl3. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. pengikat adeps/vaselin secukupnya . mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. sirup. balsam tolu. 1. untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. natrii bicarbonas. Dalam jumlah kecil .

BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. Urethral Suppositoria (bacilla. C. Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. Vaginal Suppositoria (Ovula). berat umumnya 5 g. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. B. yaitu 1. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. bougies) digunakan lewat urethra. vagina atau urethra. melunak atau melarut dalam suhu tubuh. 2. 10 bag. 20 bag. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. 2.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. .IV kurang lebih 2 g. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk.IV. bentuk batang panjang antara 7 cm . beratnya menurut FI. gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. gliserin. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. digunakan lewat vagina. Umumnya meleleh. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur.ed. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. bentuk bola lonjong seperti kerucut. yang diberikan melalui rektal.14 cm.ed. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan. Menurut FI.

Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . tidak sadar. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. 4. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. minyak nabati terhidrogenasi. campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. c. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. 5. seperti pasien mudah muntah. E. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. Padat pada suhu kamar. 3. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. b. sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. 2. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. 4. D. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. d. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. gelatin tergliserinasi.2 dan kapasitas daparnya rendah. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. 2. 2.3. Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. cacao (lemak coklat). Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat.

Untuk basis lemak. cukup 2/3 saja yang dilelehkan. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ).  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. tidak menunjukkan perubahan warna. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). Kadar air cukup 6. berwarna kekuningan.34 o. warna putih kekuningan. asam stearat. Bahan dasar berlemak : Ol. Bentuk-bentuk kristal Ol. 5. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat. polietilenglikol (PEG) 3. berbau seperti coklat. Ol. padat.31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34. Ol. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 .Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol.350 C. bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. bau dan pemisahan obat.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida. Stabil dalam penyimpanan.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol. sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. kering dan terlindung dari cahaya.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali. asam palmitat.3.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o . meleleh pada suhu 31o . Jika pemanasannya tinggi. karena mudah tengik. bilangan asam.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil . 1.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol. Cacao (lemak coklat) 2.Cacao. Diatas titik leburnya.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya.

Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap.       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi.Cacao Bila airnya menguap. pada suhu dibawah 300 C. 2. minyak atsiri. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3.yang berguna untuk memadat. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ). maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur. Ol.Cacao tersebut. sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. maka dicari pengganti Ol. Campuran cetilalkohol dengan Ol. Mempercepat tengiknya Ol. Karena ada beberapa keburukan Ol.Cacao sintetis : Coa buta . Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat. Keburukan Ol. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria. Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) . akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air.

PEG 4000 (carbowax 4000).Cacao. PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya.6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. PEG 1000 (carbowax 1000). lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . Keburukan : .- mempunyai titik lebur 350 . sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. Jika diharapkan bekerja secara sistemik . sehingga terjadi rasa yang menyengat. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan. tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. - PEG sesuai untuk obat antiseptik. Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG.630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %. PEG di bawah 1000 berbentuk cair. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20. tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan. Tidak melebur pada suhu tubuh. PEG 1500 (carbowax 1500). jika dibanding Ol.Cacao. PEG 6000 (carbowax 6000). lebih lambat melunak. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria.

Berat Suppositoria 2.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain. tetapi untuk Ol. proses penuangan. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis. akan terlepas dari cetakan. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan. Metode Pembuatan Suppositoria 1.  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol. Metode ini. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan.5 g F. 3.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin.6000 Suppositoria / jam. Kapasitas bisa sampai 3500 .  Obatnya supaya larut dalam bahan dasar. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. Dengan mencetak hasil leburan : .Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. bila perlu dipanaskan. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. Dengan kompresi.

Recini dalam etanol. G. 3. PEG 1000 15 menit. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. Test kerapuhan. umumnya 5 gram. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. Test waktu hancur. Pengemasan Suppositoria 1.Cacao 3.cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. tidak mudah hancur atau meleleh. 2. Test homogenitas. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. 2. tetapi spiritus saponatus ini. I. H. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol.6 gram. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak. Test terhadap titik leburnya. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. untuk kemudian dikemas dalam dus.Cacao dingin 3 menit 5. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Bobot ovula adalah 3 . Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Ol. . Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah.

Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). Semakin sukar di sari. 2. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. 3. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. 2. dan sebaliknya. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. 3. simplisia harus dibuat semakin halus. sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1.BAB X ILMU GALENICA A. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1. Suhu dan lamanya waktu . Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan.

Decocta / Infusa : Aqua aromatika. olea velatilia (minyak menguap). glukosida. Secale cornuti. protein. zat lendir. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. Solution. olea. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . B. lemak. 3. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup.. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu.Harus disesuaikan dengan sifat obat. Colatura. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. resina. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. Perkolat. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. mudah menguap atau tidak. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. minyak atsiri. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. damar. zat pati. ampasnya disebut marc atau faeces. 4. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. mudah tersari atau tidak. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. Tinctura. pectin. albumin. 2.

C. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. kadang-kadang juga yang segar. Etanol . 3. 3. zat warna dan garam-garam mineral. 2. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. antara lain : 1.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. 4. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa. pengendapan. hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. glikosida. asam tumbuh-tumbuhan. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida.1. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. Cairan . Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. Ca hidrat. Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. 2. garam glauber dll. 2. 4. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia.

Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. damar. 4. minyak lemak dan minyak atsiri. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan.XI) 7.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak. damar-damar. gula dan albumin. karena efek farmakologinya. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C.F. D. . secale cornutum. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. 5. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. minyak atsiri. Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. 3. Karena cairan ini tidak atsiri. 6. damar. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. 2. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. misalnya strychni. glikosida. Cara – Cara Penarikan 1.

perkolasi persambungan. 2. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. serkai. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. 2. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. Maserasi . Kecuali dinyatakan lain. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. perkolasi biasa 2. continous extraction. Cara Pembuatan 1.5 – 5 bagian cairan penyari. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. tutup. tutup perkolator. pressure percolation 4. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. Cara-cara perkolasi : 1. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. fractional percolation 3. perkolasi dengan tekanan. peras. enap. memakai alat yang disebut perkolator. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. kecuali dinyatakan lain. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. selama 2 hari. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. biarkan selama 24 jam.3. reperkolasi. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. . Perkolasi. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. E. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. tuangkan atau saring. perkolasi bertingkat. memakai alat soxhlet.

Atur kadar hingga memenuhi syarat. Contoh : 1. Iodii Tinctura FI III . tetapkan kadarnya. Asaefoetida Tinctura. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. B. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. Enap. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. Pembagian Tinctur 1. 4. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. 5. di tempat sejuk. tutup. 2. • Peras masa. 4. Pindahkan ke dalam bejana. 6. 3. contoh : 1. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. Capsici Tinctura. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. 7. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. terlindung dari cahaya. 6. 3. 2. Tingtur Menyan. 7. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. A. 5. tuang atau saring. Sediaan tingtur harus jernih.

Contoh : 1. misalnya campuran simplisia. contoh : Tinctura Rhei Aquosa. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. A.2. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. 4. 3. Cara Pembuatan Penyarian : . FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Tinctura Aquosa. 2. eter dan campuran etanol dan air. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. 6. 4. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. FI 1974 Tingtur Keras B. e. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. Tingtura Vinosa. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol. Tingtura Aetherea. Tinctura Composita. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. kental. F. 2. d. jika sebagai cairan penarik dipakai air. contoh : Tinctura Chinae Composita. Cairan penyari yang dipakai adalah air. 3. c. 2. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. b. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). Tinctura Acida. 7. Contoh : 1. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. 5. 3. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung.

suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. 2. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi.• • • 1. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. serkai. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. enapkan. serkai. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura.2 bagian campur dengan perkolat pertama. • Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. 3. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air .8 bagian perkolat pertama dipisahkan. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. 2. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur. G. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0.

daun kumis kucing. Akar manis. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. tetapi tidak larut dalam air dingin. akan mengendap dalam keadaan dingin. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering. kelembak Laos. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. Infus daun sena.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. diserkai setelah dingin. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih.4. 6 bagian 0. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3. akar valerian.5 bagian 0. daun sena Dringo.5 bagian 0. 1. untuk membuat 100 bagian infus. temulawak. jahe Kulit kina. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. akar ipeka. . Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain. 5.

Cara pembuatan : 1. tambahkan 500 mg talc. kocok. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. terlindung dari cahaya. diamkan. Diantara air aromatika. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. 3. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. saring. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. 2. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. 4. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. di tempat sejuk. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. 5. atau agak keruh. bebas bau empirematic atau bau lain. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya. tidak berwarna dan tidak berlendir. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. H. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. Khasiat : zat tambahan. .

terlindung dari cahaya. J. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. terisi penuh. misalnya : oleum cacao. Eter dan Eter minyak tanah. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). 2. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. oleum sesami. oleum olivarum. 1. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. anti racun. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. 2.I. Sebagai obat. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. dapat dipakai sebagai pencahar. Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. misalnya : oleum ricini. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. buah atau dibuat secara sintetis. Contoh : daun. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. 3. mudah menguap . senyawa belerang dan logam berat. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. oleum ricini. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. 3. oleum ricini diperas pada suhu panas. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. bunga. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. 2. oleum amygdalarum. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. diperas pada suhu biasa. kulit buah. 2. yang cair harus jernih. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. oleum cocos harus jernih. misalnya : oleum arachidis. oleum olivae. misalnya : oleum arachidis. lotio dan lain-lain. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral.

teteskan 1 tetes minyak di atas air. 3. Warna coklat. Cara penyulingan ( destilasi). disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif.2. 2. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. 1. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). larut dalam pelarut organik. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. 5. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. 2. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. biarkan memisah. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. hijau ataupun biru. Contoh : minyak jeruk B. permukaan air tidak keruh. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. 4. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. terisi penuh. Identifikasi : 1. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. . Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air. volume air tidak boleh bertambah. 3. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. sedikit kuning muda.

Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. Kemudian daun bunga diangkat. • Kemudian lapisan lemak dikerok. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan. Harus kering. 3. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. tergantung dari jenis daun yang diolah. uap air akan membawa minyak atsiri. 5. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama.zat pengering. Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ). diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. Bau dan rasa seperti simplisia. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. 4. contoh:bunga melati 24 jam.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. contoh: Na2SO4 exicatus. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. kalau perlu setelah pemanasan. 2. Dibiarkan beberapa lama. . Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . biarkan memisah. sedangkan lemaknya tidak larut. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. volume air tidak boleh bertambah. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. minyak atsiri akan larut. Syarat – syarat minyak atsiri 1. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. permukaan air tidak keruh. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. yaitu air dan minyak atsiri. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. tidak berwarna. Harus jernih. dilarutkan dalam alkohol absolut. Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk.

K. aqua destilata : untuk sirupus simplex. 2. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . buang busa yang terjadi. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. • Kecuali dinyatakan lain. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. tambahkan gula. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. Cairan untuk sirup. c.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. b. . tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. serkai. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. • • Bj sirup kira-kira 1. d. a. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. jika perlu didihkan hingga larut. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. meskipun jamur tidak mati. panaskan. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0.

Sterilisasi sirup. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. 2. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. Maka untuk kestabilan sirup. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. Didihkan sambil diaduk. Obat. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. aurantii corticis sirupus. 3. 2. zat putih telur akan menggumpal karena panas. dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Cara memasukkan sirup ke dalam botol.25% atau pengawet lain yang cocok. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. Bila dalam resep. Corigensia saporis. misalnya : sirupus aurantii . maka jamur dapat tumbuh. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga.

Pengawet. misalnya : sirupus Rhoedos.Corigensia coloris. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri. sirupus rubi idaei 3. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk. gula yang tinggi .

. Warna tablet umumnya putih. b. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Tablet cetak agak rapuh. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Penggolongan 1. bundar. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil. Berdasarkan metode pembuatan : a.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. a. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. desintegran dan lubrikan. mencegah pemalsuan. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. Tablet cetak b. B. Pengertian Menurut FI edisi IV. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. segitiga. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. bahan pengaroma dan bahan pemanis. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. bahan pengisi. Tablet kempa. lonjong dan sebagainya. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. bahan pengikat. umumnya silendris. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan.

b. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah. kalsium karbonat. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. Macam-macam tablet salut : a. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. 2. kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. Diformulasikan untuk anak-anak. demikian seterusnya.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. umumnya menggunakan manitol. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. Dibuat dengan cara dikempa. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . 3. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. selain zat aktif. terutama formulasi multivitamin. Berdasarkan jenis bahan penyalut. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. Bekerja sistemik : per oral. asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. antasida dan antibiotik tertentu. disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. a. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet.

metil selulosa. dengan menggunakan cera. Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. menggunakan smoothing syrup. c. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. d.gom akasia atau gelatin. Mula-mula dibuat tablet inti. hidrosi propil selulosa. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tablet lepas-lambat (sustained release). (efek diperpanjang. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak. b. menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. e. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok.E. . Tablet salut enterik (enteric coated tablet). 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ). diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. b. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. kelembaban atau cahaya. dan perlu penyalut tahan air. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung. Tujuan penyalutan tablet adalah : a. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet.

Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. f. Umumnya mengandung antibiotik. Tablet sublingual i. rasanya umumnya tidak pahit. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. antiseptik. 1. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. steril dan bersi hormon steroid. kemudian kulit dijahit kembali. trochisi. c. pecah di lambung b. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. Dihisap di dalam rongga mulut. adstringensia. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. g. d. kalsium fosfat dibase.c. a. desintegran. dan selulosa mikrokristal b. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. kemudian tablet dimasukkan. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. Bahan excipient / bahan tambahan a. metilselulosa. CMC.. Tablet hisap (lozenges. . Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. digunakan per oral dengan cara ditelan. Supradin Effervescent tablet. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. dan manis. gelatin. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. e. Tablet bukal (buccal tablet) h. bahan pengisi. 4. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. pati. Misalnya laktosa. povidon. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. Tablet vagina (Ovula) C. bulat atau oval putih. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. sukrosa. pasta pati terhidrolisa. selulosa mikrokristal. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. berat umumnya 30 mg. umumnya dengan bahan dasar beraroma. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. bahan pengikat. Berdasarkan cara pemakaian. bahan pengaroma dan bahan pemanis. dan lubrikan.

Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. pada saat dicetak. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. Misalnya macammacam minyak atsiri. granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. f. karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. 2. Misalnya pati. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. Makin banyak udaranya.c. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. tablet makin mudah pecah. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). asam stearat. asam alginat. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. D. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Misalnya Silika pirogenik koloidal. Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. 3. Ajuvans a. . Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. e. Granulasi basah. b.

zat pelicin kurang. zat pengisi dan zat penghancur .Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. Keuntungan. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. 4. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . dilakukan apabila: 1. pencetak masih ada lemaknya. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. bila perlu ditambah bahan pewarna.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. tablet NaCl. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. laktosa anhidrat. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. Granulasi kering / slugging / pre compression. Cetak/kempa langsung. tablet KMnO4. Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. massanya basah. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. Setelah itu diayak menjadi granul. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. laktosa semprot-kering. bila perlu ditambahkan zat pengikat. 2. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. 3. Daya pengikat dalam massa tablet kurang. 60 0 C ) . Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. . Kerugian. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. 2. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. Misalnya tablet Hexamin. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin.

Die dan punch tidak rata 5. terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet. d. c.b. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. 6. . sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. Massa tablet terlalu banyak fines. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. Formulanya tidak sesuai e.

Steril.. Misalnya : Inj.. Dalam FI.... Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi. Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi. Camphor oil .. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril.BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A. Dalam FI.III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok. Dalam FI.. Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.. hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril. pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar...ed. .IV.Steril... Vit... pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi. Luminal.... ditandai dengan nama .. ditandai dengan nama.ed.. emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Injeksi.. yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir... Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai...III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril. ditandai dengan nama . 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal. pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj......... Misalnya : Inj. Misalnya : Inj... ..............C..III disebut berupa Larutan. Dalam FI. Dalam FI..III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril.. Untuk Injeksi. ditandai dengan nama. .. Suspensi. Misalnya : Inj.. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang ... Steril untuk Suspensi.III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) .... pelarutnya aqua pro injection Inj.. Misalnya : Inj. pengencer atau bahan tambahan lain. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi.. Procaine Penicilline G steril untuk suspensi...ed.. ditandai dengan nama ... Dalam FI.ed.ed.ed.. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1. mengandung satu atau lebih dapar..

disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". 10. . 3. bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena.s).2 ml. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena. intraspinal. pH netral.10 ml. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. tidak lebih dari 1 ml. tidak boleh mengandung bakterisida.kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ". disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. 5. Injeksi i. Injeksi intrakor / intrakardial ( i. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 . Berupa suspensi / larutan. Injeksi intraarterium ( i.d ).20 ml. volume antara 1 . Injeksi subkutan ( s. Injeksi dalam bentuk larutan.k / i. Volume penyuntikan antra 4 . Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis.1 . intradural ( i. isotonis.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat. tidak boleh mengandung bakterisida. Bentuk suspensi / larutan dalam air. bersifat depo (absorpsinya lambat). berupa larutan atau suspensi dalam air.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 . Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi. 4.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar. jernih. 6. Volume yang disuntikkan antara 0. Injeksi intramuskuler ( i.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. 9. subaraknoid.10 ml.c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini.0.a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i.t). 7. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. 2.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase). Injeksi intrakutan ( i. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida. Umumnya larutan bersifat isotonik. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh.B. digunakan untuk diagnosa. Injeksi intravenus ( i. Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml.k / s. Bentuknya berupa larutan. volume antara 1 . Injeksi intratekal (i. 8. intrasisternal (i. Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. Dibuat isitonis.

Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. Ol. 2. injeksi glukosa.IV. Zat pembawa / zat pelarut 3.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut.Petit.11. injeksi NaCl compositus. C. extradural. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. Olivarum. . tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan.ed. Bahan obat / zat berkhasiat 2. Menurut FI. Bahan pembantu / zat tambahan 4. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. Sesami. Hasil sulingan pertama dibuang.d ). Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Ol. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. Arachidis. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A. didinginkan dan segera digunakan. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. terletak diatas durameter. Injeksi peridural ( p. Sol. Pada etiketnya tercantum : p. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. Injeksi intraperitoneal ( i. segera setelah diwadahkan. menggunakan air untuk injeksi. Penyerapan cepat . Kecuali dinyatakan lain. bahaya infeksi besar 12. zat pembawa mengandung air. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. Wadah dan tutup 1.

bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. hanya boleh secara i.IV. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7.200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar. (3) Dikehendaki efek depo terapi.0. bisulfit atau metabisulfit .01 %  Golongan Klorbutanol.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air.ed. sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut.128 (5) Bilangan penyabunan 185 . Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 . 3. tidak lebih dari 0.9 (4) Bilangan iodium 79 .m. jika hanya mewarnai sediaan akhir.4 dan disebut Isohidri.v . Menurut FI.5 % dari 5 ml.2 .2 % dari 0. . tidak boleh disuntikkan secara i. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0.

Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. sebaiknya obat tidak usah didapar. 2. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. pH dapat diatur dengan cara : 1. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. disebut " Haemolisa ".2. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : .0. akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.C.6 . Vit.520C. Jika yang pecah itu sel darah merah. efek terapi optimal obat. disebut " hipertonis ". Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . Penambahan larutan dapar. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan.9 % b/v. 2. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut.9 % b/v. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. Menjamin stabilitas obat. misalnya asam untuk alkaloida. 2. sehingga sel akan mengkerut. 3.9 % b/v disebut " hipotonis " . 2. tetapi jangan sampai hipotonis. misalnya perubahan warna.0 % b/v. Penambahan zat tunggal . dapar borat untuk obat tetes mata.B1 . Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0. Vit. yaitu . basa untuk golongan sulfa. Kecuali darah. cairan lumbal. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0. 1. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati).

dapat menimbulkan haemolisa. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. Larutan NaCl 0. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. terutama pada Infus intravena.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. jika membeku pada suhu -0. 3.520 C. jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai. 3. 2. Penurunan titik beku darah.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a. maka b1 C < 0. Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI.52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0.520 C. b. sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip . d. penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. ( darah.1. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. air mata adala -0. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . c. Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. maka b1 C > 0. Intralumbal .52 b1 C b2 B = 0. Intravenus. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. maka b1 C = 0.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi.b. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. Caranya : Zat pembawa. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. karena akan rusak atau mengurai. zat pembawa. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. Jika terjadi pertumbuhan kuman. 2. setelah dikemas. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril.ed.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. . zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. zat pembantu.III dan IV. 5. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. 2. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. Kemudian bahan obat. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. wadah. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. alat-alat dari gelas untuk pembuatan. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik.

Sebelum dilakukan uji sterilitas. sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. 4.. pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. Pemeriksaan sterilitas.III. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. ed. Wadah yang bocor. 2. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Pemeriksaan keseragaman volume. 2. b. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. b. Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu. Pemeriksaan kebocoran. ii.1 % yang dingin. 3. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. untuk zat-zat : a. Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. (i) Ampul : . Menurut FI. masih dalam keadaan panas. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . b. dilakukan sebagai berikut : a.E. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea. Pemeriksaan keseragaman bobot. 5. 6. isinya akan terisap keluar. Pemeriksaan 1 . Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . Wadah yang bocor. Wadah yang bocor akan berwarna biru. untuk bakteri anaerob. 1. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. Pemeriksaan meliputi : 1.

i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. Untuk aqua p.ed. Pirogen bersifat termolabil. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. Pemeriksaan kejernihan dan warna . Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. 2. NaCl dan Na-sitrat. disuling dengan wadah gelas. b. 12 ( secara detailnya lihat FI. alat suntik dll. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling. Cara menghilangkan pirogen 1. 9.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2.Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari. dapat larut dalam air. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam).1 % ( Carbo adsorbens 0.001 – 0. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor.1 N dan 5 ml larutan 1 N. 2. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1.II ) 4. yang dalam kadar 0. tahan pemanasan. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. harus bebas pirogen. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai.01 gram per kg berat badan. 1 liter air yang dapat diminum. 3. 3. 6.v sediaan uji pirogenitas.

3. Harus aman dipakai.0 ml 50.5 % ) 1.50 ml ( 5 % ) 0. . yaitu mempunyai pH = 7. bebas dari partikel-partikel padat. Keluarkan isi wadah. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam.0 ml 10.0 ml 20.0 ml 2. Volume pada etiket 0. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini.10 ml ( 20 % ) 0.00 ml ( 4 % ) 0. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih.5 % ) 0.5 ml 1. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu. kemudian dengan etanol 95 % .50 ml ( 10 % ) 0.60 ml ( 3 % ) 0.10 ml ( 10 % ) 0.0 7. Jika berupa larutan harus jernih. Cuci wadah dengan air.30 ml ( 6 % ) 0.25 ml ( 12. 5.15 ml ( 15 % ) 0. Keringkan pada suhu 105 0. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera . tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis.70 ml ( 7 % ) 0. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah. Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka .80 ml ( 2. disinari dari samping.12 ml ( 24 % ) 0. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.15 ml ( 7. Sedapat mungkin lsohidris.20 ml ( 4 % ) 3. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih.0 F.4.0 ml 30.6 % ) 2. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini.5 % ) 0. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap. Cuci bagian luar wadah dengan air.5 5.90 ml ( 4. 2. kecuali yang berbentuk suspensi.1 ml 5.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10. Syarat .

2. tetapi jangan hipotonis. Cara pemberian lebih sukar. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. yaitu bebas dari mikroba hidup. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . Pengemasan. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang. Sedapat mungkin Isotonik. 4. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan. H. Bekerja cepat . yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh.ed. 3. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. 2. hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. 6. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. G.4.. 5. Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan. merangsang jika ke cairan lambung. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. Karena bekerja cepat. Sediaan untuk pemberian intraspinal. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa. 3. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. cara pemberian. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. 7. harus memakai tenaga khusus. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis.I dan tanggal kadaluwarsanya. baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. Harus steril. Bebas pirogen. baik yang patogen maupun yang apatogen. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena.. Penandaan menurut FI.

1 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->