BAB I KONSEP KEFARMASIAN A.

Pendahuluan Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter. Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi. Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal : • • • Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu. Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat. Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan. Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama. B. Sejarah Kefarmasian Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit. Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :

-

Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran

-

Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.

-

Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.

-

Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.

Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi. Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan. Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter. Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti : • • • • Farmakope Indonesia milik negara Indonesia United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris Nederlands Pharmakope milik Belanda

Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya. Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.

Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan : • • • • • • • • C. Farmakope Farmakope memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan. Ketentuan Umum Farmakope Indonesia IV Farmakope edisi terbaru yang berlaku hingga saat ini adalah Farmakope Indonesia edisi Empat. Judul tersebut dapat disingkat menjadi Farmakope Indonesia edisi IV atau FI IV. FI IV dan semua suplemennya. Bahan dan Proses Sediaan resmi dibuat dari bahan-bahan yang memenuhi persyaratan dalam monografi Farmakope untuk masing-masing bahan yang bersangkutan, yang monografinya tersedia dalam Farmakope. Air yang digunakan sebagai bahan dalam sediaan resmi harus memenuhi persyaratan untuk air, air untuk injeksi atau salah satu bentuk steril air yang tercantum dalam monografi dalam FI ini. Air yang dapat diminum dan memenuhi persyaratan air minum yang diatur oleh pemerintah dapat digunakan dalam memproduksi sediaan resmi. Apabila monografi suatu sediaan memerlukan bahan yang jumlahnya dinyatakan sebagai zat yang telah dikeringkan, bahan tersebut tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum digunakan, asalkan adanya air atau zat lain yang mudah menguap diperkenankan dalam jumlah yang ditetapkan. Bahan Tambahan Bahan resmi yang dibedakan dari sediaan resmi tidak boleh mengandung bahan yang ditambahkan kecuali secara khusus diperkenankan dalam monografi. Apabila diperkenankan pada penandaan harus tertera nama dan jumlah bahan tam-bahan tersebut. Tangas Uap. Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pamanas lain yang dapat diatur hingga suhunya sama dengan uap panas mengalir. Tangas Air Jika dinyatakan penggunaan tangas air, tanpa menyebutkan suhu tertentu, yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat. Larutan. Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat dengan air sebagai pelarut. Jika digunakan istilah FI tanpa keterangan lain selama periode berlakunya Farmakope Indonesia ini, maka yang dimaksudkan adalah Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962 Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965 Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966 Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972 Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974 Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978 Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979 Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995

bobot jenis adalah perbandingan bobot zat diudara pada suhu 25 air dengan volume sama pada suhu 25 Suhu Kecuali dinyatakan lain. yang dapat mengakibatkan perubahan kekuatan. mutu atau kemurniannya hingga tidak memenuhi persyaratan resmi. yang dimaksud adalah suhu 15 o dan 30 o Air Kecuali dinyatakan lain. Kelarutan Kelarutan zat yang tercantum dalam farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut : Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan untuk melarutkan satu bagian zat.Pernyataan 1 dalam 10 mempunyai arti 1 bagian volume cairan atau 1 bagian bobot zat padat diencerkan dengan atau dilarutkan dalam pengencer atau pelarut secukupnya hingga volume akhir 10 bagian volume. semua suhu di dalam Farmakope dinyatakan dalam derajat celcius dan semua pengukuran dilakukan pada suhu 25 o. rasa. dicampur. Pernyataan 20 : 5 : 2 mempunyai arti beberapa cairan dengan perbandingan volume seperti yang disebutkan. warna. tetapi meskipun demikian secara tidak langsung dapat membantu dalam penilaian pendahuluan terhadap mutu zat yang bersangkutan. Jika dinyatakan suhu kamar terkendali . dimaksudkan untuk dijadikan petunjuk dalam pengelolaan. bau dan untuk beberapa hal dilengkapi dengan sifat kimia atau sifat fisika.000 o o terhadap bobot Wadah dan Penyimpanan Wadah dan sumbatnya tidak boleh mempengaruhi bahan yang disimpan didalamnya baik secara kimia maupun secara fisika. Pemerian Pemerian memuat paparan mengenai sifat zat secara umum terutama meliputi wujud. persyaratan wadah yang tertera di Farmakope juga berlaku untuk wadah yang digunakan dalam penyerahan obat oleh apoteker. . Pernyataan dalam pemerian tidak cukup kuat dijadikan syarat baku. dan penggunaan. Bobot Jenis Kecuali dinyatakan lain. yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan kadar adalah air yang dimurnikan.000 lebih dari 10. Sangat mudah larut Mudah larut Larut Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 30 30 sampai 100 100 sampai 1000 1000 sampai 10. rupa. peracikan. Kecuali dinyatakan lain.

Wadah dosis tunggal Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan untuk bahan yang hanya digunakan secara parenteral. Wadah tidak tembus cahaya Wadah tidak tembus cahaya harus dapat melindungi isi dari pengaruh cahaya. Wadah satuan ganda Adalah wadah yang memungkinkan dapat diambil isinya beberapa kali tanpa mengakibatkan perubahan kekuatan. penyimpanan dan distribusi. kadar atau kekuatan. Wadah dosis ganda Adalah wadah satuan ganda untuk bahan yang digunakan hanya secara parenteral Suhu penyimpanan Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o . Wadah atau pembung-kusnya sebaiknya dirancang sedemikian rupa. nomor batch dan tanggal ka-daluarsa. harus disegel sedemikian rupa hingga isinya tidak dapat digunakan tanpa merusak segel. dibuat dari bahan khusus yang mempunyai sifat menahan cahaya atau dengan melapisi wadah tersebut . merekat. langsung dari wadah. nama produsen. Dalam hal ini pada etiket harus disebutkan bahwa pembungkus buram diperlukan sampai isi dari wadah habis karena diminum atau digunakan untuk keperluan lain. Wadah yang bening dan tidak berwarna atau wadah yang tembus cahaya dapat dibuat tidak tembus cahaya dengan cara memberi pembungkus yang buram. Wadah tertutup baik Wadah tertutup baik harus melindungi isi terhadap masuknya bahan padat dan mencegah kehilangan bahan selama penanganan . Wadah tertutup rapat dapat diganti dengan wadah tertutup kedap untuk bahan dosis tunggal. bahan padat atau uap dan mencegah kehilangan.Kemasan tahan rusak Wadah suatu bahan steril yang dimaksudkan untuk pengobatan mata atau telinga. hingga dapat diketahui apabila wadah tersebut pernah dibuka. pengangkutan dan distribusi dan harus dapat ditutup rapat kembali. Wadah tertutup kedap Harus dapat mencegah menembusnya udara atau gas selama penanganan. Wadah satuan tunggal Digunakan untuk produk obat yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai dosis tunggal yang harus digunakan segera setelah dibuka. Wadah tertutup rapat Harus melindungi isi terhadap masuknya bahan cair . penyimpanan dan distribusi. Wadah dosis satuan Adalah wadah satuan tunggal untuk bahan yang digunakan bukan secara parenteral dalam doosis tunggal. mencair atau menguapnya bahan selama pena-nganan . Jika dalam monografi dinyatakan “Terlindung dari cahaya “ dimaksudkan agar penyimpanan dilakukan dalam wadah tidak tembus cahaya. kecuali yang disiapkan segera sebelum diserahkan atas resep dokter . pengangkutan. mutu atau kemurnian sisa zat dalam wadah tersebut. pengangkutan. Tiap wadah satuan tunggal harus diberi etiket yang menye-butkan identitas.

untuk memperelok badan atau bagian badan manusia.. sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarut lain. 2 Obat Patent Yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama si pembuat pembuat yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 gram larutan atau campuran. D. Pengertian Obat Secara Khusus 1 Obat Jadi Yakni obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk. Persen bobot per volume ( b/v) . Persen Persen bobot per bobot ( b/b) . Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun. luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan. Menurut undang – undang yang dimaksud obat ialah suatu bahan atau bahan-bahan yang dimaksudkan untuk dipergunakan dalam menetapkan diagnosa. Pengertian Obat Secara Umum . menyatakan jumlah ml zat dalam 100 ml larutan Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah padat. untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimak-sud adalah v/v dan untuk larutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v. Obat dan Sediaan Obat ialah semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar. menyatakan jumlah gram zat dalam 100 ml larutan. mencegah . pil. yang dimaksud adalah b/b.Lemari pendingin memiliki suhu antara 2o dan 8o sedangkan Sejuk mempunyai suhu antara . Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur antara 15 o dan 30o adalah suhu antara 30o dan 40 o adalah suhu di atas 40o o o lemari pembeku harus disimpan pada suhu sejuk dapat Bahan dan sediaan yang disebutkan dalam farmakope harus diberi penandaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. untuk larutan dan suspensi suatu zat padat dalam cairan yang dimaksud adalah b/v . Kecuali Suhu kamar Hangat Panas berlebih Penandaan dinyatakan lain disimpan di dalam lemari pendingin adalah suhu pada ruang kerja. meringankan ataupun menyembuhkan penyakit. Persen volume per volume (v/v). cairan. harus dicantumkan dalam etiket. suppositoria atau bentuk lain yang mempunyai teknis sesuai dengan Farmakope Indonesia atau buku lain yang ditetapkan oleh pemerintah. menghilangkan. menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit. tablet. Daluarsa Adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih memenuhi syarat baku. salep. mengurangi.20 dan -10 adalah suhu antara 8o dan 15o. guna mencegah.

obat minum dan lain – lain. Menurut cara penggunaan obat dapat dibagi : a). adalah obat yang didistribusikan keseluruh tubuh. adalah obat yang digunakan melalui orang dan diberi tanda etiket putih Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar).3 Obat Baru Yakni obat yang terdiri atau berisi zat. rektal. pembantu atau komponen lain. nasal. dan 4 Obat Asli Yakni obat yang didapat langsung dari bahan-bahan alamiah Indonesia. Menurut undang-undang kesehatan obat digolongkan dalam : a). 4. Contohnya salep. collutio/gargarisma. b). b c d 2. b). b). seperti obat – obat yang digunakan secara topikal pemakaian topikal. Obat narkotika (obat bius). Menurut cara kerjanya obat dapat dibagi : a). Contohnya implantasi. yang belum dikenal sehingga tidak diketahui khasiat kegunaannya. Lokal. membran mukosal. c). Penggolongan Obat Macam-macam penggolongan obat : 1. 3. Menurut kegunaannya obat dapat dibagi : a). injeksi. pengisi. topikal. untuk menyembuhkan (terapeutic) untuk mencegah (prophylactic) untuk diagnosa (diagnostic) . terolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional. opthal. ataupun yang tidak berkhasiat. baik sebagai bagian yang berkhasiat. linimenta dan cream Sistemis. adalah obat yang bekerjanya pada jaringan setempat. kapsul. Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam). pelarut. 5 Obat Esensial Adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan 6 Obat Generik Adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan ilmu pengetahuan dan dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa pembatasan dan pengawasan. vaginal. misalnya lapisan. Contohnya tablet. aurical. adalah obat yang cara penggunaannya selain melalui oral dan diberi tanda etiket biru.

vitamin C Mikroba seperti antibiotik penicillin dari Penicillium notatum. nabati). merangsang atau menenangkan.b). Suatu resep yang lengkap harus memuat :    Nama. e). c). minyak jarak. kecuali dinyatakan Departemen Kesehatan tidak membahayakan semua sediaan parenteral d). obat yang mempengaruhi proses mental. dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Obat keras adalah semua obat yang :   mempunyai takaran maksimum atau yang tercantum dalam daftar obat keras. parafin. seperti digitalis folium. Tumbuhan (flora. Resep disebut juga formulae medicae. 4. 2. Obat Bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas. Sumber Obat Obat Bebas Terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dengan penyerahan dalam bungkus aslinya dan diberi tanda peringatan. Sintetis (tiruan/buatan) seperti kamfer sintetis. Mineral (pertambangan) seperti kalium iodida. terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter) Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). Hewan (fauna. adeps lanae. nama setiap obat atau komposisi obat Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep . kina. 3. dan tidak membahayakan bagi si pemakai dan diberi tanda lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. mengubah pikiran/perasaan / kelakuan orang. diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam dengan huruf K yang menyentuh garis tepi. Contoh : Simplisia Belladonnae herba Opium Preparat Kimia Atropin sulfas Scopolamini hydrobromidum Morphini hydrochloridum Codeini Hydrochloridum E. Resep Preparat Galenis Belladonna extractum Belladonnae tinctura Opii extractum Opii tinctura Pengertian Resep Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter . Obat Psikotropika (obat berbahaya). alamat dan nomor izin praktek dokter. vaselin. dokter gigi atau dokter hewan Tanggal penulisan resep. garam dapur. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin.   obat baru . 5. Obat yang kita gunakan ini berasal dari berbagai sumber antara lain : 1. Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. hayati) seperti minyak ikan. Dari sumber-sumber ini supaya lebih sederhana dan lebih mudah dalam pemakaian dan penyimpanan masih harus diolah menjadi sediaan kimia dan sediaan galenis. cera.

5). dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). 3).E. ipecacuanhae radix. Nama pasien. rasa dan bau dari obat utama. Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar. 4X. apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum . adalah obat yang berkhasiat utama Remidium Ajuvans. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama Corrigens. jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio. Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas. Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S. artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = Untuk resep yang mengandung narkotika. 4). serta alamat/pemilik hewan Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.M : : : : segera penting penting Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda. jenis hewan. digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama. Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang. Misalkan iteratie 3 X. 19/Ph/62 Mei 1962. injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya. Komponen Resep Menurut Fungsi Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas : 1). maka dalam resep ditulis Iteratie. pada bagian atas kanan resep. Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio ) Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura ) Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio ) Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio ) Nama obat. dan opii pulvis.I. 2). umur. Yang berhak menulis resep adalah dokter.) Depkes No. adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna. Remidium Cardinal. karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb. 3). . Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut : a. Corrigens Actionis. tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru. 2).   Pembagian suatu resep yang lengkap : 1). Resep untuk pengobat segera Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda : Cito Urgent Statim P.

digunakan untuk memperbaiki warna obat . Penyimpanan Resep Apoteker Pengelola Apotik mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. c. selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat : 1). Corrigens Saporis. Corrigens Coloris. Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita.b. Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum. digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun.. sehingga menjadi obat yang cocok.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan. afschrif. Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotik bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. amylum dan talcum pada bedak tabur. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat .X Nomor resep dan tanggal pembuatan. merupakan zat tambahan. Nama dan alamat apotik Nama dan nomer izin apoteker pengelola apotik. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk. Constituens / Vehiculum / Exipiens. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat NaI KI / 4). penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara). penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan. Salinan Resep (Copy Resep) Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh apotik. 4). Corrigens Odoris. digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. exemplum. Corrigens Solubilis. Pada pemusnahan . Istilah lain dari copy resep adalah apograph. 2). Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan tugasnya.obatan yang pahit rasanya. pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …. Contohnya laktosum pada serbuk. 3). digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. 5). d. e. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotik Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan.

Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep. Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat. injeksi subkutis dan rektal.100 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 . Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun. diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap. Macam – Macam Dosis Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai. 2). dengan berat badan 58 – 60 kg. Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n. Dosis Pengertian Dosis Kecuali dinyatakan lain. Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar. dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak.50 adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan. berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut. Dosis Maksimal ( maximum).D. merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan). yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter.D. maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa. L. Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni : 1). Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim. rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotik. 2).i. F. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen. Dosis terapi adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit.60 tahun. L. Dosis Lazim (Usual Doses). 3).resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan. . 4). Dosis maksimum adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan. maka dapat dibagi sebagai berikut : 1).

daya serap obat. dimana n adalah umur dari 20 n x dosis maksimal dewasa. Faktor lain kondisi pasien. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor. n adalah umur bayi dalam 150 anak 8 tahun ke bawah Rumus DILLING : anak 8 tahun kebawah. Rumus YOUNG : Dosis 4 /5 x dosis dewasa ¾ x dosis dewasa 2 /3 x dosis dewasa ½ x dosis dewasa n x dosis maksimal dewasa. Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut : Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak (1) Berdasarkan Umur. sifat penyakit. juga wanita menyusui. karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur. habituasi. dimana n adalah umur dari n + 12 n x dosis maksimal dewasa. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus. jenis obatnya juga faktor toleransi. ekskresi obat. Dosis untuk anak dan bayi Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. kasus penyakit. antara lain umur. bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang. adiksi dan sensitip. bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada. berat badan.Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa : Umur 60-70 tahun 70-80 tahun 80-90 tahun 90 tahun keatas Dosis untuk wanita hamil Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil. Rumus FRIED bulan (2) Berdasarkan Berat Badan (BB) Rumus CLARK (Amerika) : Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa Rumus Thermich ( Jerman ) : Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa : . jenis kelamin.

o.t. sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan. BAB II PULVIS dan PULVERES A. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B. Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae. Serbuk oral tidak terbagi terbatas pada obat yang relatif tidak poten seperti laksansia. antasida. ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar. Serbuk oral dapat diserahkan dalam bentuk terbagi (pulveres) atau tidak terbagi (pulvis).70 Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu : Naphthol. maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. hasilnya kurang dari 100 %. demikian pula pemakaian 1 harinya.3. contohnya s. Dosis dengan pemakaian berdasar jam. Anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet lebih mudah menggunakan obat dalam bentuk serbuk. II) Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16. guaiacol. Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri. makanan diet dan .67 % atau lebih dari 1/6 bagian. (setiap tiga jam) (1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung : untuk kulit untuk mata untuk obat pompa 24 X = n (2) 24 X = 8 kali minum dalam sehari semalam 3 Menurut Van Duin : 16 16 +1 X = + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam. BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1. Pengertian Pulvis (serbuk) adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan. serbuk lebih mudah terdispersi dan lebih larut dari pada bentuk sediaan yang dipadatkan. Biasanya serbuk oral dapat dicampur dengan air minum. kecuali untuk antibiotika n 3 dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI. kreosot Sublimat Iodoform Dosis maksimum gabungan Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah.h. Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lainlain. Coffein dengan Aminophyllin. Karena mempunyai luas permukaan yang luas.

(2) Serbuk oral tidak terbagi Pada serbuk oral tidak terbagi hanya terbatas pada obat yang relatif tidak poten. agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka. bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. keduanya untuk pemakaian luar. Lebih stabil terutama untuk obat yang rusak oleh air. . Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka. pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar yang lain. Clostridium Welchii.beberapa jenis analgetik tertentu. Penyimpangan antara penimbangan satu persatu terhadap bobot isi rata-rata tidak lebih dari 15% tiap 2 bungkus dan tidak lebih dari 10% tiap 18 bungkus. sediaan padat lainnya. makanan diet dan beberapa analgesik tertentu sehingga pasien dapat menakar secara aman dengan sendok teh atau penakar lain. Umumnya dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. kaolin dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas bakteri ClostridiumTetani. Kelebihan dan Kelemahan Sediaan Serbuk Kelebihan Dokter lebih leluasa dalam memilih dosis yang sesuai dengan keadaan si penderita. Cocok digunakan untik anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Serbuk tidak terbagi lainnya adalah serbuk gigi dan serbuk tabur. halus dan homogen. sepat. Syarat – Syarat Serbuk : bila tidak dinyatakan lain serbuk harus kering. Catatan. seperti laksan. C. lengket di lidah (bisa diatasi dengan corrigens saporis) (1) Pada penyimpanan menjadi lembab Pulveres (serbuk bagi) Keseragaman bobot : Timbang isi dari 20 bungkus satu-persatu. antasida. Talk. campur isi ke 20 bungkus tadi dan timbang sekaligus. dan Bacillus Anthracis. Kelemahan Tidak tertutupnya rasa tidak enak seperti pahit. Penyerapan lebih cepat dan lebih sempurna dibanding . (1) Jenis Serbuk Pulvis Adspersorius Adalah serbuk ringan. (3) Serbuk tabur Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh. hitung bobot isi rata-rata. Obat yang terlalu besar volumenya untuk dibuat tablet atau kapsul dapat dibuat dalam bentuk serbuk.

D. biasanya menggunakan carmin sebagai pewarna yang dilarutkan terlebih dulu dalam chloroform / etanol 90 % (3) Pulvis Sternutatorius Adalah serbuk bersin yang penggunaannya dihisap melalui hidung. Belerang tidak dapat diayak dengan ayakan dari sutera maupun logam karena menimbulkan butiran bermuatan listrik akibat gesekan.  Obat yang berlainan warna diaduk bersamaan agar tampak bahwa serbuk sudah merata. sehingga serbuk tersebut harus halus sekali. Misalnya : rifampisin. karena itu dalam pembuatan bedak tabur tidak ikut diayak. kemudian membentuk larutan yang pada umumnya jernih.  Serbuk dengan bahan-bahan padat Dengan memperhatikan hal-hal diatas masih ada beberapa pengecualian maupun yang dikerjakan secara khusus. Serbuk sangat halus dan berwarna. Cara Mencampur Serbuk Dalam mencampur serbuk hendaklah dilakukan secara cermat dan jaga agar jangan ada bagian yang menempel pada dinding mortir. Stibii Penta Sulfidum Serbuk dapat masuk kedalam pori-pori mortir dan warnanya sulit hilang.  Obat yang volumenya kecil dimasukkan terlebih dahulu.  Obat yang jumlahnya sedikit dimasukkan terlebih dahulu.  Obat yang berkhasiat keras dan jumlahnya sedikit dicampur dengan zat penambah (konstituen) dalam mortir. Serbuk ini merupakan campuran antara senyawa asam (asam sitrat atau asam tartrat ) dengan senyawa basa (natrium carbonat atau natrium bicarbonate.(2) Pada umumnya serbuk tabur harus melewati ayakan dengan derajat halus 100 mesh agar tidak menimbulkan iritasi pada bagian yang peka Pulvis Dentifricius Serbuk gigi . Karena baunya yang sukar dihilangkan maka dalam bedak tabur diayak terpisah (gunakan ayakan khusus). Iodoform. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat serbuk :  Obat yang berbentuk kristal/ bongkahan besar hendaknya digerus halus dulu. (4) Pulvis Effervescent Serbuk effervescent merupakan serbuk biasa yang sebelum ditelan dilarutkan terlebih dahulu dalam air dingin atau air hangat dan dari proses pelarutan ini akan mengeluarkan gas CO2. maka pada waktu menggerus mortir dilapisi zat tambahan (konstituen). Terutama untuk serbuk yang berkhasiat keras dan dalam jumlah kecil. . Seperti hal sebagai berikut : (1).Serbuk halus sekali  Serbuk halus tidak berkhasiat keras Belerang.

Cara inipun harus hati-hati karena terlalu lama menggerus atau dengan sedikit ditekan waktu menggerus akan mengumpulkan kembali campuran tersebut. Dapat dikerjakan dalam lumpang panas. zat digerus terlebih dahulu. parafin padat. Aconiti Tinctura. lebih baik kita ganti dengan exiccatusnya. Serbuk dengan bahan cair (1) Serbuk dengan minyak atsiri Minyak atsiri dapat diteteskan terakhir atau dapat juga dibuat oleo sacchara. Serbuk halus berkhasiat keras Dalam jumlah banyak. mentol. baru ditambah zat tambahan. Digitalis Tinctura. Belladonnae Tinctura. Dalam hal ini asam salisilat kita basahi dengan eter dan segera dikeringkan dengan zat tambahan. naftol. kita campur 4 g saccharum dengan 2 tetes minyak anisi. baru dicampur dengan zat tambahan. (2) Serbuk dengan tinctura Contohnya serbuk dengan Opii Tinctura.Serbuk berbentuk hablur dan kristal Sebelum dicampur dengan bahan obat yang lain. cera flava. dibuat pengenceran. Yang termasuk bahan setengah padat adalah adeps lanae. Bila hendak dibuat 4 g oleosacchara anisi. Serbuk dengan asam benzoat. Serbuk dengan asam salisilat. Serbuk dengan garam-garam yang mengandung kristal. yakni campuran 2 gram gula dengan 1 tetes minyak. (2). Digerus dalam mortir dengan dilapisi zat tambahan. Digitalis Tinctura. Garamgaram yang mempunyai garam exiccatusnya. Contoh : Serbuk dengan champora Champhora sangat mudah mengumpul lagi. Penggantiannya adalah sbb : Natrii Carbonas Ferrosi Sulfas Aluminii et Kalii Sulfas Magnesii Sulfas Natrii Sulfas Serbuk dengan bahan setengah padat Biasanya terdapat dalam bedak tabur. vaselin kuning dan vaselin putih. 50 % atau ½ bagian 60 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 67 % atau 2/3 bagian 50 % atau ½ bagian . Dalam jumlah sedikit digerus dengan penambahan aceton atau eter. Untuk obat dalam dipakai etanol 95 % sedangkan untuk obat luar digunakan eter. cera alba. untuk mencegahnya dikerjakan dengan mencampur dulu dengan eter atau etanol 95 % (untuk obat dikeringkan dengan zat tambahan). Dalam jumlah sedikit (kurang dari 50 mg ). misalnya KI dan garam. thymol Dikerjakan seperti diatas. Ratanhiae Tinctura. Dalam jumlah besar sebaiknya dilebur dulu diatas tangas air. Serbuk sangat ringan dan mudah terbang yang akan menyebabkan rangsangan terhadap selaput lendir hidung dan mata hingga akan bersin.garam bromida.

Chlorpheniramin Maleas dalam bentuk serbuk yang sudah di encerkan dalam lactosa. Sedangkan dalam jumlah besar dikerjakan dengan menguapkan diatas tangas air sampai kental baru ditambahkan zat tambahan (sampai dapat diserap oleh zat tambahan ) aduk sampai kering kemudian diangkat. Hyoscyami extractum. sedangkan untuk serbuk tak terbagi harus diganti seberat tinctura itu dengan zat tambahan. Macam – macam kapsul dapat juga diambil . bisa diganti dengan ekstrak Chinae Siccum sebanyak sepertiganya. Serbuk dengan extractum (1) Extractum Siccum (ekstrak kering) Pengerjaannya seperti membuat serbuk dengan zat padat halus. untuk serbuk terbagi kehilangan berat tidak perlu diganti.Tinctur dalam jumlah kecil dikerjakan dengan lumpang panas kemudian dikeringkan dengan zat tambahan. Serbuk dengan tablet atau kapsul Dalam membuat serbuk dengan tablet dan kapsul diperlukan zat tambahan sehingga perlu diperhitungkan beratnya. Contohnya Opii extractum. BAB III CAPSULAE (KAPSUL) A. Tinctura yang diuapkan ini beratnya 0. Contohnya Chlortrimeton tablet kadarnya 4 mg. Hydrastis Liq. Kalau tablet / kapsul terdiri dari satu macam zat berkhasiat serta diketahui kadar zat berkhasiatnya dapat kita timbang dalam bentuk zat aslinya. Ext. Kapsul dikeluarkan isinya kemudian ditimbang beratnya. Dapat kita ambil bentuk tablet atau kapsul itu langsung. Extrak Filicis dengan eter. (3) Extractum Liquidum (ekstrak cair) Dikerjakan seperti mengerjakan serbuk dengan tinctur. Strychni extractum (2) Extractum Spissum (ekstrak kental) Dikerjakan dalam lumpang panas dengan sedikit penambahan pelarut Contohnya Belladonnae extractum. Extrak Cannabis Indicae dan Extrak Valerianae menggunakanetanol 90 %. kemudian tambahkan zat tambahan sebagai pengering. Catatan : Ekstrak Chinae Liq. Pengertian dan Macam Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. (etanol 70 %) untuk mengencerkan ekstrak. Tablet digerus halus kemudian ditimbang beratnya. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. Contohnya Rhamni Purshianae ext.

2. 5.isi biasanya padat. bahan opak seperti Titanium dioksida.satu kesatuan .bentuk hanya satu macam Kapsul lunak . . 1. soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula).isi biasanya cair. pengawet. sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus.terdiri atas tubuh dan tutup . B. topikal . Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 – 13 %. perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan. misal ujungnya lebih runcing atau rata. pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles. Ukuran kapsul Untuk hewan : : 000 10 00 11 0 12 1 2 3 4 5 yang Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. dapat juga cair . Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran dinyatakan dalam nomor kode. 4. Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna. Kapsul keras . Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil. Berkaitan dengan hal tersebut.bisa oral.selalu sudah terisi . dapat juga padat .Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae. 3. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien.cara pakai per oral . Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut.bentuknya bermacam . Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. seperti sorbitol atau gliserin. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. rectal. vaginal.macam Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus.tersedia dalam bentuk kosong .

Kapsul gelatin keras terdiri dari dua bagian yaitu bagian dalam / induk yaitu bagian yang lebih panjang (biasa disebut badan kapsul) dan bagian luar /tutup.Kerugian bentuk sediaan kapsul. 4. Dengan alat mesin Untuk menghemat tenaga dalam rangka memproduksi kapsul secara besar-besaran dan untuk menjaga keseragaman dari kapsul tersebut . Dengan cara demikian semua kapsul akan tertutup. C. . untuk mencegah terbukanya cangkang kapsul yang telah diisi. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang tetap dan bagian yang bergerak. perlu dipergunakan alat yang serba otomatis mulai dari membuka. Caranya :  Kapsul dibuka dan badan kapsul dimasukkan kedalam lubang dari bagian alat yang tidak bergerak. Ada 3 macam cara pengisian kapsul yaitu dengan tangan. Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan Tidak untuk zat-zat yang higroskopis Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul Tidak untuk Balita Tidak bisa dibagi ( misal ½ kapsul) Cara Pengisian Kapsul Yang dimaksud kapsul disini adalah kapsul keras.  Serbuk yang akan dimasukkan kedalam kapsul dimasukkan /ditaburkan pada permukaan kemudian diratakan dengan kertas film. dengan alat bukan mesin dan dengan alat mesin (1) Dengan tangan Merupakan cara yang paling sederhana yakni dengan tangan. 2. Cara ini sering dikerjakan di apotik untuk melayani resep dokter. Pada pengisian dengan cara ini sebaiknya digunakan sarung tangan untuk mencegah alergi yang mungkin timbul karena petugas tidak tahan terhadap obat tersebut. (2) Dengan alat bukan mesin Alat yang dimaksud disini adalah alat yang menggunakan tangan manusia. Kapsul demikian juga disebut Capsulae Operculatae dan kapsul bentuk ini diproduksi besar-besaran di pabrik dengan mesin otomatis. tanpa bantuan alat lain. Umumnya ada lekuk khas pada bagian tutup dan induk untuk memberikan penutupan yang baik bila bagian induk dan tutup cangkangnya dilekatkan. 5.  (3) Kapsul ditutup dengan cara merapatkan/menggerakkan bagian yang bergerak. selama transportasi dan penanganan. 1. Dengan menggunakan alat ini akan didapatkan kapsul yang lebih seragam dan pengerjaannya dapat lebih cepat sebab sekali cetak dapat dihasilkan berpuluh-puluh kapsul. 3. Untuk memasukkan obat dapat dilakukan dengan cara serbuk dibagi sesuai dengan jumlah kapsul yang diminta lalu tiap bagian serbuk dimasukkan kedalam badan kapsul dan ditutup.

Sesudah itu tutup kapsul harus ditutup (di seal) supaya cairan yang ada didalamnya tidak bocor . Kapsul diletakkan dalam posisi berdiri yang telah ditara. Untuk itu kapsul perlu dibersihkan dahulu. baru dimasukkan kedalam cangkang kapsul keras dan direkat. Untuk cairan-cairan seperti minyak menguap . (1) Pengisian Cairan ke Dalam Kapsul Keras Zat-zat setengah cair/cairan kental Misalnya ekstrak-ekstrak kental dalam jumlah kecil dapat dikapsul sebagai serbuk sesudah dikeringkan dengan bahan-bahan inert. Apabila kapsul tersebut bocor akan meninggalkan noda pada kertas. F. E. harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak lemak sampai kadarnya dibawah 40 %. Penutupan cangkang kapsul dapat juga dilakukan dengan pemanasan langsung. Caranya letakkan kapsul diatas sepotong kain (linnen. menggunakan energi ultrasonik atau pelekatan menggunakan cairan campuran air – alkohol Untuk menutup kapsul yang berisi cairan perlu dilakukan cara khusus seperti diatas. terutama untuk kapsul yang dibuat dengan tangan . D. Cara paling sederhana ialah menambahkan bahan perekat agar isinya tidak keluar atau bocor. Cara Membersihkan Kapsul Salah satu tujuan dari pemberian obat berbentuk kapsul adalah untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak dari bahan obatnya. kemudian ditutup sambil diputar. Untuk melihat adanya kebocoran kapsul tersebut kapsul diletakkan diatas kertas saring kemudian gerakkan ke depan dan ke belakang hingga menggelinding beberapa kali. Caranya oleskan sedikit campuran air-alkohol pada tepi luar bagian badan kapsul. Sesuai dengan tujuan tersebut maka bagian luar dari kapsul harus bebas dari sisa bahan obat yang mungkin menempel pada dinding kapsul. Cara penutupan kapsul Penutupan kapsul yang berisi serbuk dapat dilakukan dengan cara yang biasa yakni menutupkan bagian tutup kedalam badan kapsul tanpa penambahan bahan perekat. Kapsul harus dalam keadaan bersih sebelum diserahkan pada pasien. tetapi kalau jumlahnya banyak yang jika dikeringkan membutuhkan terlalu banyak bahan inert.wol ) kemudian digosok-gosokkan sampai bersih. kreosot atau alkohol yang akan bereaksi dengan gelatinnya hingga rusak/meleleh . Dengan cara ini dapat diproduksi kapsul dengan jumlah besar dan memerlukan tenaga sedikit serta keseragamannya lebih terjamin. (2) Cairan-cairan Untuk cairan-cairan seperti minyak-minyak lemak dan cairan lain yang tidak melarutkan gelatinnya (bahan pembuat cangkang kapsul) dapat langsung dimasukkan dengan pipet atau keluar. maka dapat dibuat seperti masa pil dan dipotong-potong sebanyak yang diperlukan.Sebelum dimasukkan kedalam kapsul.mengisi sampai dengan menutup kapsul.

kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. NaNO2 dan sebagainya. Faktor – Faktor yang Merusak Cangkang Kapsul Cangkang kapsul dapat rusak jika kapsul tersebut : (1) Mengandung zat-zat yang mudah mencair ( higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hingga menjadi rapuh dan mudah pecah.pada sebuah kotak. Penambahan lactosa atau amylum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka karena kapsul tersebut menghisap air dari udara yang lembab tersebut. Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. kreosot dan alkohol. NaI. setetah itu tutup. G. kemudian cairan kita teteskan dengan pipet yang sudah ditara dengan tegak lurus. sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Di tempat terlalu kering. (2) Mengandung campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula. Contohnya kapsul yang mengandung KI. Contohnya kapsul yang mengandung Asetosal dengan Hexamin atau Camphor dengan menthol. (3) Mengandung minyak menguap. Pengertian Salep . Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan :  dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau dingin kering  dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering)  dalam wadah plastik yang diberi pengering  dalam blitser / strip alufoil BAB IV UNGUENTA (SALEP) A. (pemecahan sudah dibahas diatas ) (4) Penyimpanan yang salah Di tempat lembab.

  . tidak mencair pada suhu biasa tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga. Dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao. (1) Penggolongan Salep Menurut konsistensinya salep dibagi menjadi : (a) Unguenta : adalah salep yang mempunyai konsistensi seperti mentega. karena bahan obat tidak diabsorbsi. (b) Cream : adalah salep yang banyak mengandung air. (e) Gelones (Jelly) Spumae : adalah suatu salep yang lebih halus.Menurut FI. Suatu tipe yang dapat dicuci dengan air. Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. Salep tidak boleh berbau tengik. IV. Untuk melunakkan kulit atau selaput lendir diberi lokal iritan. Kadang-kadang ditambahkan antiseptik. Salep Endodermic Salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorbsi sebagian. Suatu salep tebal karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diberi. (2)  Menurut Efek Terapinya. B. salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Iodida. Biasanya terdiri dari campuran sederhana minyak dan lemak dengan titik lebur yang rendah. mudah diserap kulit. (c) Pasta : adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). Salep Diadermic (Salep Serap). Dasar salep yang baik adalah minyak lemak. Kecuali dinyatakan lain kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotika adalah 10 %. misalnya pada salep yang mengandung senyawa Mercuri. (d) Cerata : adalah suatu salep berlemak yang mengandung persentase tinggi lilin (waxes). Dasar salep yang terbaik adalah senyawa hidrokarbon (vaselin). sehingga konsistensinya lebih keras. Belladonnae. Umumnya cair dan mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis. salep dibagi atas : Salep Epidermic (Salep Penutup) Digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal. astringen untuk meredakan rangsangan.

Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien. IV. dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. dasar salep yang dapat dicuci dengan air. misalnya: campuran dari lemak-lemak. biasanya dasar salep tipe o/w atau seperti dasar hydrophobic tetapi konsistensinya lebih lembek. malam yang tak tercuci dengan air. kemungkinan juga tipe w/o antara lain campuran sterol dan petrolatum. tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. C. dasar salep serap. sukar dicuci. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik 4). antara lain vaselin putih dan salep putih. . minyak lemak. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. 1). Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. 3). yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon.(3) Menurut Dasar Salepnya. Dasar Salep Menurut FI. Dasar salep ini dinyatakan juga sebagai dapat dicuci dengan air. dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok. Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat). Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. dasar salep larut dalam air. Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak. karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. antara lain salep hidrofilik (krim). Dasar Salep Larut Dalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. (b) Salep hydrophillic yaitu salep yang kuat menarik air. salep dibagi atas : (a) Salep hydrophobic yaitu salep-salep dengan bahan dasar berlemak. Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. 2).

jika tidak ada peraturan-peraturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air. meskipun obat tersebut bekerja lebih efektif dalam dasar salep yang mangandung air. gummi arabicum = 30 : 70). dan seluruh produk harus lunak dan homogen. 4. semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. emulsifying wax. unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ) 3 Dasar salep dapat dicuci dengan air 4 Dasar salep larut air Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream). tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. hydrophilic ointment. 2. D. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. campuran PEG.Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air. ketersediaan hayati. 3. emulsifying ointment B. selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas. lanolin anhidrat atau malam. campuran vaselin dengan cera. vaselin kuning (=yellow petrolatum = yellow soft paraffin). (1) Stabil. paraffin cair. seperti paraffin. lebih stabil dalam dasar salep hidrokarbon daripada dasar salep yang mengandung air. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. jika perlu dengan pemanasan. asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. (2) Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan.P. tragacanth. sifat bahan obat yang dicampurkan. Poly Ethylen Glycol (PEG). . minyak nabati.. Beberapa contoh – contoh dasar salep : 1 Dasar salep hidrokarbon Vaselin putih ( = white petrolatum = whitwe soft paraffin). stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. 5. Misalnya obatobat yang cepat terhidrolisis. 2 Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Adeps lanae. Mudah dipakai Dasar salep yang cocok Dapat t Ketentuan Umum cara Pembuatan Salep Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya. hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl Kualitas dasar salep yang baik adalah: 1. paraffin padat. Lunak.

harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40.c. Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air.  Protargol (argentum proteinatum) . menthol. Kalau jumlahnya melebihi daya larutnya. Camphora  Pellidol Larut 3% dalam vaselin dan 7% dalam minyak lemak maka Pellidol dilarutkan bersama-sama dasar salep yang di cairkan. Dilarutkan dalam etanol 95% kemudian tambahkan dasar salep. Bila kamfer bersama-sama. campurannya harus digerus sampai dingin. maka digerus dengan dasar salep yang sudah dicairkan. (b) Bila dalam resep terdapat gliserol. (4) Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan. salol.  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam air (a) Larut dalam air dengan jalan menaburkan diatas air kemudian didiamkan selama 15 menit ditempat gelap. Iodium (a) (b) (c) (2) Kalau memenuhi kelarutan dikerjakan seperti pada kamfer (1a) Dilarutkan dalam larutan pekat KI atau NaI (seperti pada Unguentum Iodii dari farmakope Belanda). atau zat lainnya yang dapat mencair jika dicampur (karena penurunan titik eutentik) maka kamper dicampur dg sesamanya supaya (d) mencair baru ditambahkan dasar salep. kemudiaan digerus dengan dasar salep. maka Protargol digerus dengan gliserin baru ditambah air. Jika a. (1)  Zat berkhasiat bentuk padat yang larut dalam dasar salep (a) Dilarutkan dalam dasar salep yang sudah dicairkan dalam pot salep tertutup (bila tidak melampaui daya larutnya) (b) (c) Bila dalam resep terdapat minyak-lemak maka kamfer dilarutkan dalam minyak lemak tsb. bila dasar salep disaring maka pellidol juga ikut disaring dan jangan lupa menambahkan 20%.b.(3) Peraturan Salep Ketiga. tidak ada maka kamfer diberi etanol 95% atau eter. dan tidak perlu ditunggu 15 menit (gliserol mempercepat daya larut protargol dalam air).

Kecuali pada resep obat wasir. Colargol (argentum colloidale) Sama dengan Protargol dan air yang dipakai 1/3 kalinya. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Ratanhiae dipanaskan diatas tangas air sampai sirup atau 1/3 bagian. diuapkan atau diambil bahan berkhasiatnya dan berat airnya diganti dengan dasar salep. Argenti Nitras Jika dilarutkan dalam air akan meninggalkan bekas hitam pada kulit karena terbentuk Ag2O. Jumlah banyak. tetapi dalam salep tidak dilarutkan karena bekerja nya merangsang. baru dicampur dengan bahan lainnya. juga tidak dapat diganti dengan phenol liquefactum (campuran fenol dan air 7781. diambil yang pulveratum Zinci Oxydum. 100 (4) Zat berkhasiat berupa cairan (a)  Air Terjadi reaksi. Antibiotika. Chrysarobin. misalnya Tinct. diteteskan terakhir sedikit demi sedikit sampai terserap oleh dasar salep. Bahan obat yang dalam salep tidak boleh dilarutkan ialah Argenti Nitras. Zinci Sulfas. kehilangan beratnya diganti dengan dasar salep. Jadi dikerjakan seperti pada kamper dalam salep. sekental Diteteskan sedikit-sedikit Dikocok dalam botol bersana minyak lemak. Untuk itu cara pengerjaannya adalah : 1. harus diayak terlebih dahulu dengan pengayak No. Oleum Iecoris Aselli. Phenol. 2. (b) Alkohol  Jumlah sedikit.5%). Hydrargyri Bichloridum dan Stibii et kalii Tartras (3) Zat berkhasiat bentuk padat tak larut Umumnya dibuat halus dengan mengayak atau menjadikannya serbuk halus terlebih dahulu.  Phenol Sebenarnya phenol mudah larut dalam air. Pyrogalol.  . karena itu pada pembuatan AgNO3 tidak dilarutkan dalam air walaupun ia larut.      Belerang. Tidak terjadi reaksi (i) (ii) Jumlah sedikit.  Jumlah banyak : (i) Tahan panas. misalnya aqua calcis dengan minyak lemak akan terjadi penyabunan. tidak boleh diayak Acidum Boricum.

F. (c) Cairan kental Umumnya dimasukkan sedikit demi sedikit. (c) Extractum Spissum Diencerkan terlebih dahulu dengan air atau etanol. Ichtyol.  Balsem-balsem dan minyak atsiri. Bila dasar salep lebih dari satu macam. (b) Extractum Liquidum Dikerjakan seperti pada cairan dengan alcohol. dicampurkan . berfungsi sebagai pendingin dan untuk mencegah permukaan mortir menjadi licin. maka harus diperhitungkan menurut perbandingan dasar salep tersebut. contohnya tinctura Iodii. balsem merupakan campuran dari damar dan minyak atsiri. jadi dilarutkan dalam air dan berat air dikurangi dasar salep.  Diketahui perbandingannya maka diambil bagianbaguannya saja. Dasar salep sering juga terbuat dari dua bagian atau lebih yang konsistensinya berbeda. contoh. Kreosot. diteteskan terakhir Perlu diperhatikan bahwa kehilangan berat pelarutnya hendaknya diganti dengan dasar salep. jika digerus terlalu lama akan keluar damarnya sedangkan minyak atsiri akan menguap. Pix Lithantracis.  Gliserin. Pix Liquida. G. Tidak diketahui perbandingannya. sebab tidak bias campur dengan bahan dasar salep yang sedang mencair dan ditambahkan sedikit-sedikit sebab tidak bias diserap dengan mudah oleh dasar salep. sebab jika ditambahkan pada masa salep yang panas atau digilas terlalu lama dapat terjadi pemisahan. (5) Zat berkhasiat berupa extractum (a) Extractum Siccum Pada umumnya larut dalam air. Untuk mendapatkan suatu massa dasar salep yang baik. Bahan Yang Ditambahkan Terakhir Pada Suatu Massa Salep  Ichtyol. Balsamum Peruvianum. Glycerin. harus ditambahkan kedalam dasar salep yang dingin. Pembuatan Salep Dengan Cara Meleburkan Bahan dasar salep berbeda-beda konsistensinya.  Air.(ii) Tidak tahan panas. Oleum Cadini.  sedikit demi sedikit.

Banyak juga dari bahan-bahan yang dilebur tersebut kurang bersih. sebagai pengaduk digunakan pengaduk kaca atau spatel kayu.bahan-bahan sebagai berikut.20%.. maka disaring dengan kain kassa pada saat bahan panas dan tentunya berkurang beratnya sehingga bahan-bahan yang dilebur dilebihkan menimbangnya sebesar 10 . misalnya cera dengan minyak lemak. Umumnya hampir semua bahan dilebur dalam cawan penguap diatas tangas air. BAB IV SOLUTIO (LARUTAN) . meskipun titik leburnya berbeda jauh dapat dilebur dalam perbandingan-perbandingan tertentu sehingga diperoleh massa yang baik.

Parafin Liquidum. menthol. Gliserin. yaitu larutan yang mengandung jumlah zat A yang terlarut melebihi batas kelarutannya di dalam air pada temperatur tertentu. Misalnya garam-garam anorganik larut dalam air. 3. iodium . yaitu larutan yang mengandung sejumlah kecil zat A yang terlarut. 4. Larutan jenuh. yaitu larutan yang mengandung sejumlah besar zat A yang terlarut. yaitu larutan yang mengandung jumlah maksimum zat A yang dapat larut dalam air pada tekanan dan temperatur tertentu. 5. Larutan lewat jenuh. 2. 4. 2. 1. tetapi larut dalam campuran air – gliserin atau solutio petit 3. misalnya untuk tannin. chlorobutanol. Misalnya Luminal tidak larut dalam air. 2. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Sifat dari solute atau solvent. Eter. fenol. minyak-minyak. 3. Kelarutan. Misal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Minyak. fosfor . 6. sublimat. menthol. Larutan. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. misalnya untuk kamfer. Karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. Solvent yang biasa dipakai adalah : 1. zat samak. Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. untuk cera. Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. misalnya untuk kamfer dan menthol. 7. Pengertian Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. untuk minyak-minyak lemak. misalnya untuk kamfer. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa organik) larut dalam chloroform. sedangkan zat yang terlarut disebut solute. Larutan encer. Cosolvensi. Solute yang nonpolar larut dalam solvent yang nonpolar pula.A. cetaceum. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. B. borax. Bila zat A dilarutkan dalam air atau pelarut lain akan terjadi tipe larutan sebagai berikut : 1. Air untuk macam-macam garam Spiritus . kamfer. . Eter minyak tanah . Zat pelarut disebut juga solvent.

Contohnya : riboflavin (vitamin B2) tidak larut dalam air. Kelarutan zat anorganik yang digunakan dalam farmasi umumnya adalah : a. Calsium gliseropospat. CaSO4 (sedikit larut) b.  Semua garam klorida larut . misalnya Natrii bicarbonas c. misalnya aqua calcis 5. Zat-zat yang atsiri. b. karena pada proses kelarutannya menghasilkan panas. PbSO4. kecuali K2CO3. Saturatio d. 6. Contoh : K2SO4. Zat terlarut + pelarut gas-gas yang larut. Temperatur. misalnya : a. Reaksi antara papaverin Hcl dengan solutio charcot menghasilkan endapan papaverin base. zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm. Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. Berdasarkan pengaruh ini maka beberapa sediaan farmasi tidak boleh dipanaskan. Salting out adalah peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama. KOH.  Semua garam sulfat larut. karena pada proses kelarutannya membutuhkan panas. Zat yang terurai.Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut . Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan. Na2CO3. (NH4)3PO4 4. Contoh : a. kecuali K3PO4. tetapi larut dalam larutan yang mengandung nicotinamidum (terjadi penggaraman riboflavin + basa NH4 ). Disini kelarutan NaCl dalam air lebih besar dibanding kelarutan minyak atsiri dalam air. Dapat larut dalam air. PbCl2.  Semua garam karbonat tidak larut . minyak atsiri b. kecuali AgCl. Salting Out. . misalnya etanol. Salting In. dan Ba(OH)2. maka minyak atsiri akan memisah. akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. kecuali BaSO4.  Semua garam posphat tidak larut. zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut.  Larutan + panas minyak atsiri. Kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh. Na3PO3. seperti bismuthi subnitras.  Semua oksida dan hidroksida tidak larut . Tidak larut dalam air. Pembentukan kompleks Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. (NH4) 2CO3. Senyawa – senyawa calsium. NH4OH. CaHPO4. Zat terlarut + pelarut + panas  Larutan Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut. 7. zat tersebut dikatakan bersifat endoterm. BaO. kecuali KOH.  Semua garam nitrat larut. kecuali nitrat base. Hg2Cl2. NaOH.

Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh. Calcii Lactas dan Calcii Gluconas. kelarutan dalam air 1: 650. 12. 7. Pengadukan. dengan merebus atau memanaskannya hingga larut. Bila air tidak cukup disuspensikan dengan penambahan PGS dibuat mixtura agitanda. 11. 8. kocok lagi. Seng klorida. KMnO4 dilarutkan dengan pemanasan . solute makin cepat larut. a. 5. bila jumlahnya kecil. 2. Beberapa bahan obat memerlukan cara khusus dalam melarutkannya. diamkan selama ¼ jam . Codein : Cara Mengerjakan Obat Dalam Larutan . Sublimat (HgCl2). untuk obat tetes mata harus dilakukan dengan pemanasan atau dikocok-kocok dalam air panas. 6. setelah dilarutkan disaring untuk mencegah kristalisasi. larutkan tanin dalam air kocok baru tambahkan gliserin. Suhu . dilarutkan dalam air suling sama banyak. Succus liquiritiae. oleh sebab itu setelah dingin tanpa dikocok – kocok dituangkan ke dalam botol atau bisa juga disaring dengan gelas wol . tetapi menurunkan daya baktericidnya. Dilarutkan dengan spiritus fortior ( 96 % ) 2 X berat kamfer dalam botol kering kocok-kocok kemudian tambahkan air panas sekaligus . Kamfer. tanin mudah larut dalam air dan dalam gliserin. tetapi tidak larut dalam gliserin sehingga larutannya dalam gliserin harus disaring dengan kapas yang dibasahkan. kemudian ditambah natrium salicylas.. 10. Bila terdapat asam salisilat larutkan seng klorid dengan sebagian air kemudian tambahkan asam salisilat dan sisa air baru disaring. umumnya kenaikan suhu menambah kelarutan solute. melarutkan seng klorid harus dengan air sekaligus. harus dilakukan dengan cara gerus tuang (adslibben) Natrium bicarbonas + Natrium salicylas. kemudian disaring . Kadar Sublimat dalam obat mata 1 :4000 4. dilarutkan dengan cara ditaburkan ke dalam air sama banyak. 9. Tanin. Jika ada air dan gliserin. Kalium permanganat (KMnO4). di tempat yang gelap. Bic natric digerus tuang .   C.25 % dari berat larutan. KI + I2   KI3 K2HgI4 HgI2 + 2KI Kecepatan kelarutan dipengaruhi oleh :  Ukuran partikel . Tetapi tanin selalu mengandung hasil oksidasi yang larut dalan air. Natrium bicarbonas. 3. makin luas permukaan solute yang kontak dengan solvent. kelarutan dalam air 1 : 20 Bila jumlah air cukup .Untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada larutan harus ditambahkan Natrium pyrophosphat sebanyak 0. NaCl dapat meningkatkan kelarutan sublimat. dengan gerus tuang (aanslibben). b. Pada proses pemanasan akan terbentuk batu kawi ( MnO2) . Perak protein. diamkan selama ¼ jam. diantaranya adalah : 1. Karena jika airnya sedikit demi sedikit maka akan terbentuk seng oksi klorid yang sukar larut dalam air. makin halus solute. kemudian disaring setelah dingin. makin kecil ukuran partikel . Extract opii dan extract ratanhiae.

etanol. Larutan pepsin hanya tahan sebentar dan tidak boleh disimpan. pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran kosolven-air. b. Sedangkan untuk pengganti gula bisa digunakan sirup gula. tidak larut dalam air tapi larut dalam HCl encer. sirup simplex mengandung 65 % gula dalam larutan nipagin 0. Bahan-bahan obat yang bekerja keras harus dilarutkan tersendiri.a. Fenol. pengawet. D. Nipagin dan Nipasol. Selain berbentuk larutan potio dapat juga berbentuk emulsi atau suspensi. diganti dengan HCl Codein sebanyak 1. Bila terdapat bahan obat yang harus diencerkan dengan air. 3. Ada 3 macam sirup yaitu : a. 13. diambil fenol liquefactum yaitu larutan 20 bagian air dalam 100 bagian fenol. direbus dengan air 20 X nya. dilarutkan dulu dengan sedikit etanol baru dimasukkan dalam sediaan yang diawetkan. Macam – Macam Sediaan Larutan Obat Bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya dibedakan atas : Larutan oral Yaitu sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral .lalu segera encerkan dengan air. sorbitol atau propilenglikol. pewarna.25 % b/v b. Potiones (obat minum) Adalah solutio yang dimaksudkan untuk pemakaian dalam ( per oral ). Pembuatan : pepsin disuspensikan dengan air 10 X nya kemudian tambahkan HCl encer. dengan alkohol 96 % sampai larut . Pepsin. hasil pengenceran yang diambil paling sedikit adalah 2 CC 15. Sirup. dilarutkan dengan pemanasan sambil digoyang-goyangkan b.17 X-nya. setelah larut diencerkan sebelumdingin. 1. c. 2. Jumlah yang diambil 1. Pada elixir dapat pula ditambahkan glycerol. sirup obat mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa zat tambahan digunakan untuk pengobatan . 17. 14. Disini etanol berfungsi mempertinggi kelarutan obat . mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. kelarutan 1 : 2000 Nipagin berfungsi sebagai pengawet untuk larutan air Nipasol berfungsi sebagai pengawet untuk larutan minyak a.2 x jumlah yang diminta. pewangi) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campuran air . 16. Elixir Adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan (pemanis.

Ekstrak dalam jumlah kecil dan alkaloid d. Penambahan Bahan –bahan. sirup pewangi tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. b. c. 4. dan kadang-kadang dimaksudkan untuk menyegar-kan rasa minuman ( corrigensia). b. Potio Effervescent adalah saturatio yang CO2nya lewat jenuh. Hal yang harus diperhatikan untuk sediaan saturatio dan potio effervescent adalah : diberikan dalam botol yang kuat . Langkah ke 3 Seluruh bagian asam dimasukkan kedalam basa dengan hati-hati. segera tutup dengan sampagne knop sehingga gas yang terjadi tertahan. Saturatio dan Potio Effervescent.c. Zat netral dalam jumlah kecil. Komponen asam dilarutkan dalam 1/3 bagian air yang tersedia. Sisa asam dituang hati-hati lewat tepi botol. Netralisasi.  Zat – zat yang dilarutkan dalam bagian asam a. Zat-zat mudah menguap. Sirup sebagian dilarutkan dalam asam sebagian dilarutkan dalam basa. karena tidak boleh dikocok. 2. berdasarkan perbandingan jumlah airnya. . Saturatio adalah obat minum yang dibuat dengan mereaksikan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi ditahan dalam wadah sehingga larutan jenuh dengan gas. gas dibuang seluruhnya. Komponen basa dilarutkan dalam 2/3 bagian air yang tersedia. Netralisasi adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan bagian asam dan bagian basa sampai reaksi selesai dan larutan bersifat netral Contoh : Solutio Citratis Magnesici. 3. Pengocokan menyebabkan botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar. Bila jumlahnya banyak. Gas CO2 umumnya digunakan untuk pengobatan. Amygdalas Ammonicus Pembuatan : Seluruh bagian asam direaksikan dengan bagian basanya bila perlu reaksi dipercepat dengan pemanasan. Misalnya NaHCO3 digerus tuang kemudian masuk botol. segera tutup dengan sampagne knop. Pembuatan : 1. Kemudian diikat dengan sampagne knop. berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. c. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut . 2/3 bagian asam masuk basa. menjaga stabilitas obat. Pembuatan : Langkah 1 dan 2 sama dengan pada saturatio. Penambahan sirup ini bertujuan untuk menutup rasa atau bau obat yang tidak enak. a.

2. Larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio Sedian-sedian termasuk larutan topical : 1. misalnya natrii benzoas. Bila saturasi mengandung asam tartrat maka garam-garam kalium dan ammonium ammonium dari asam tartrat. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan oleh Farmakope Indonesia. isotonus.Garam dari asam yang sukar larut . apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam. Larutan topikal Larutan topikal ialah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga pelarut lain. Dalam perdagangan dikenal pediatric drop yaitu obat tetes yang digunakan untuk anak-anak atau bayi . tutup dan sterilkan.zat yang dilarutkan dalam bagian basa. Kolirium yang mengandung pengawet dapat digunakan paling lama tujuh hari setelah botol dibuka tutupnya.Masa penggunaan setelah tutup dibuka. biasanya disebutkan tujuan pemakaiannya misalnya : eye drop untuk mata. . b. bebas zarah asing. saring hingga jernih. Biasanya obat diteteskan ke dalam makanan atau minuman atau dapat diteteskan langsung kedalam mulut. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air. Catatan :  Pada etiket harus tertera : a. Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap. akan terbentuk endapan kalium atau 5. jernih. ear drop untuk telinga. bila tidak.dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet.masukkan kedalam wadah. Collyrium Adalah sediaan berupa larutan steril. Obat tetes sebagai obat luar. harus ditambahkan kedalam bagian basanya. “ Obat cuci mata”  Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya. a. b. Guttae ( drop) Guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan. natrii salisilas. digunakan untuk membersihkan mata. misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk penggunaan topikal pada mukosa mulut. Zat. Guttae Ophthalmicae. emulsi atau suspensi .

Pendaparan Salah satu maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil oleh wadah kaca.9 % b/v.6 % b/v dan tertinggi yang setara dengan larutan NaCl 2. Tetes mata juga tersedia dalam bentuk suspensi. Tetapi mata masih dapat tahan terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan larutan NaCl 0. Hal tersebut dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. fenil etil alcohol Untuk penggunaan pada pembedahan . 0 % b/v. c.4 secara ideal obat tetes mata memiliki pH seperti pada air mata. partikel halus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. Larutan harus mengandung zat atau campuran zat yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan atau memusnahkan bakteri yang mungkin masuk pada waktu wadah dibuka pada saat digunakan. Pada larutan yang digunakan pada mata.Tetes mata adalah larutan steril bebas partikel asing merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan pada mata. d. selain steril larutan obat mata tidak boleh mengandung antibakteri karena dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mata. terlebih pada mata yang luka sterilitas adalah yang paling penting. Selain itu penambahan dapar juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas obat tertentu misalnya : garam – garam alkaloid. Hal –hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan obat tetes mata : a. timerosol  benzalkonium klorid  klorbutanol. untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Pengental . Pengawet yang dianjurkan :  nipagin dan nipasol  fenil merkuri nitrat. b. Pengawet Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk menjamin sterilitas pada pemakaian pertama.Nilai isotonisitas. Secara ideal obat tetes mata harus memiliki nilai isotonis sama dengan larutan NaCl 0. tetapi karena beberapa bahan obat tidak stabil (tidak larut/ rusak/ mengendap) pada pH tersebut maka sebaiknya obat tetes mata di dapar pada pH sedekat mungkin dengan pH air mata supaya tidak terlalu merangsang mata. Air mata normal memiliki pH 7.

atau disemprotkan dalam bentuk kabut kedalam saluran pernafasan . tidak ditelan “ Contoh : Betadin Gargle. dapat mengandung zat pensuspensi. diagnostic. 4. 2. 7. 1. 3. Oles Bibir adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut. polivinil alcohol. Tetesan butiran kabut harus seragam dan sangat halus sehingga dapat mencapai bronkhioli.Ditambahkan untuk meningkatkan kekentalan sehingga obat lebih lama kontak dengan jaringan. tidak boleh mengandung zat lendir. Inhalationes Sediaan yang dimaksudkan untuk disedot hidung atau mulut. Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang dapat terlihat. 9. Cairan yang pemakaiannya per rectum/colon yang gunanya untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat atau sistemik Enema yang digunakan untuk membersihkan atau penolong pada sembelit atau pembersih faeces sebelum operasi. ( akan dibahas lebih lanjut dikelas III) Penandaan : Jika mengandung bahan yang tidak larut pada etiket harus tertera “ Kocok dahulu” 8. 6. Injectiones / obat suntik. (dibahas dikelas III) Lavement / Clysma / Enema. Penandaan. Guttae Oris Tetes mulut adalah obat tetes yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur-kumurkan. 5. Minyak lemak atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa. Selain untuk membersihkan enema juga berfungsi sebagai karminativa. tidak untuk ditelan. anthelmintic . Litus Oris. pendapar dan pengawet. hidroksi propil selulosa. Inhalasi merupakan larutan dalam air atau gas. Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. sedative. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan “ Hanya untuk kumur. Gargarisma (Gargle) Gargarisma atau obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan. Guttae Nasales Tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung. emolient. Contoh : metil selulosa. Contoh : Larutan 10 % borax dalam gliserin.

5 sampai 1 liter. tetapi ada juga yang diperpekat dan diberikan sebanyak 100 – 200 ml. Umumnya 0. Dalam hal ini untuk mengurangi kerja obat yang bersifat merangsang terhadap usus . Epithema /Obat kompres Adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang sakit dan panas karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah. campuran Borwater . hendak digunakan dilarutkan dalam sejumlah air tertentu. Contoh Betadin Vaginal Douche (dikemas beserta . Douche. dipakai basis berlendir misalnya mucilago amyli.Rivanol. kebanyakan douche ini dibuat dalam bentuk kering/padat (serbuk. Adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina. 10. Solutio Rivanol. tablet yang kalau aplikatornya) 11. Enema diberikan dalam jumlah variasi tergantung pada umur dan keadaan penderita. Karenanya larutan ini mengandung bahan obat atau antiseptik. Pada pemakaian per rectal berlaku dosis maksimal. Contoh : Liquor Burowi. Untuk memudahkan.dan lain-lain. dapat juga diberikan larutan kental yang nantinya diencerkan seperlunya. baik untuk pengobatan maupun untuk membersihkan.

Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal . Suspensi oral adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk penggunaan oral. Ukuran partikel. Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Beberapa faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah : 1. Stabilitas Suspensi Salah satu problem yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Hubungan antara ukuran partikel merupakan perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. B. Obat dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan pada kornea. sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.BAB VI SUSPENSI A. Cara tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan . Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai “lotio” termasuk dalam kategori ini.Pengertian Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang mengeras atau penggumpalan. Suspensi optalmik adalah sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma termasuk dalam kategori ini. Sedangkan antara luas penampang dengan daya tekan keatas merupakan . Sediaan seperti ini disebut “ Untuk Suspensi oral” Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi dalam pembawa cair yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.

Kekentalan mucilago sangat dipengaruhi oleh panas. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan tersebut. makin besar kemungkinan terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat. Artinya semakin besar ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. Jumlah partikel (konsentrasi) Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalam jumlah besar . Kekentalan (viscositas) Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut. makin kental suatu cairan kecepatan alirannya makin turun (kecil). Karena sifat bahan tersebut sudah merupakan sifat alam. Hal ini dapat dibuktikan dengan suatu percobaan : Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis .hubungan linier. maka kita tidak dapat mempe-ngaruhinya. yaitu : 1. Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa ini disebut caking . Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua. Sifat/muatan partikel Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran bahan yang sifatnya tidak selalu sama. 4. pH dan proses fermentasi bakteri . . Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan menambah stabilitas suspensi. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan. 2. (dalam volume yang sama) . oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel.Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan semakin memperlambat gerakan partikel untuk mengendap. gerakan turun dari partikel yang dikandungnya akan diperlambat. Gom dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir. Kecepatan aliran dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat didalamnya. Stabilitas fisik suspensi farmasi didefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Bila partikel mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan. Tetapi perlu diingat bahwa kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah dikocok dan dituang. maka partikel tersebut akan susah melakukan gerakan yang bebas karena sering terjadi benturan antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat tersebut. Bahan pensuspensi dari alam Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. 3. sehingga untuk memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel.

Algin merupakan senyawa organik yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dengan algin memerlukan bahan pengawet. kekentalan cairan akan bertambah sehingga menjadi lebih baik. Dalam perdagangan terdapat dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 – 9.- Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan. Caragen merupakan derivat dari saccharida. Dengan penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 – 9 akan menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Karena peristiwa tersebut. dapat larut dalam air. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet ( preservative).  Chondrus Diperoleh dari tanaman chondrus crispus atau gigartina mamilosa. yang banyak dipakai oleh industri makanan. Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol tanpa pemanasan.Tanah liat yang sering dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada 3 macam yaitu bentonite. hectorite dan veegum. bersifat alkali. Peristiwa ini disebut tiksotrofi. tetapi bukan sebagai emulgator. dapat larut dalam air. stabilitas dari suspensi . tidak larut dalam alkohol. Tragacanth sangat lambat mengalami hidrasi. Mucilago tragacanth lebih kental dari mucilago dari gom arab. Tragacanth Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1-2 %. kemudian keduanya disimpan ditempat yang sama. Apabila tanah liat dimasukkan ke dalam air mereka akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Mucilago gom arab dengan kadar 35 % kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. Mucilago tragacanth baik sebagai stabilisator suspensi saja. jadi perlu penambahan bahan pengawet untuk suspensi tersebut. bersifat asam. untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan. tidak larut dalam alkihol. - Termasuk golongan gom adalah :  Acasia ( pulvis gummi arabici) Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp.   Algin Diperoleh dari beberapa species ganggang laut. Ekstrak dari chondrus disebut caragen. jadi mudah dirusak oleh bakteri. Golongan bukan gom Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat.

Kebaikan bahan suspensi dari tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu/panas dan fermentasi dari bakteri. Golongan ini tidak diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun . bukan golongan karbohidrat. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi kesuka-ran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle. Bila sudut kontak ± 90o serbuk akan mengambang diatas cairan. Golongan organik polimer Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Carbophol 934 (nama dagang suatu pabrik) . tylose). Cara Mengerjakan Obat Dalam Suspensi 1. hidroksi metil selulosa. Untuk memper-oleh viskositas yang baik diperlukan kadar ± 1 %.tidak beracun dan tidak mengiritasi kulit. Semakin besar angkanya berarti kemampuannya semakin tinggi.Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air. Untuk menurunkan tegangan antar muka antara partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau wetting agent. Serbuk yang demikian disebut memiliki sifat hidrofob.  Bahan pensuspensi sintetis Derivat selulosa Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methosol.    . misalnya methosol 1500. 2. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispers dengan medium. hal tersebut karena adanya udara. lemak. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya. sehingga banyak dipakai dalam produksi makanan. Dibelakang dari nama tersebut biasanya terdapat angka/nomor. Suspensi dapat dibuat secara : Metode dispersi Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah terbentuk kemudian baru diencerkan. karena bahanbahan tersebut merupakan senyawa anorganik. C. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga digunakan sebagai laksansia dan bahan penghancur/disintregator dalam pembuatan tablet.Merupakan serbuk putih bereaksi asam. serta sedikit pemakaiannya. Angka ini menunjukkan kemampuan menambah viskositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya. sehingga penambahan bahan tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi. Serbuk yang sangat halus mudah kemasukan udara sehingga sukar dibasahi.Sehingga bahan tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. sedikit larut dalam air. Metode praesipitasi. atau kontaminan pada serbuk. Metode pembuatan suspensi. karboksi metil selulosa (CMC). Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit.

Zat yang hendak didispersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencer- kan dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan terjadi endapan halus dan tersuspensi dengan bahan pensuspensi. Cairan organik tersebut adalah : etanol, propilenglikol, dan polietilenglikol

2. 

Sistem pembentukan suspensi Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah,cepat mengendap dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali

Sistem flokulasi

Sistem deflokulasi Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap perlahan dan akhirnya membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali. D. Formulasi Suspensi Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :  Penggunaan “structured vehicle” untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi structured vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain. Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali. Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah : 1. 2. 3. 4. 5. Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir. Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah structured vehicle Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structured vehicle Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif, dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang bermuatan positif digunakan zat pemflokkulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium fosfat monobase. Suspensi sulfamerazin yang bermuatan negatif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan positif yaitu AlCl3 (Aluminium trichlorida)

BAB VII EMULSI A. Pengertian Emulsi Menurut FI Edisi IV, emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Stabilitas emulsi dapat dipertahankan dengan penambahan zat yang ketiga yang disebut dengan emulgator (emulsifying agent) Emulsi berasal dari kata emulgeo yang artinya menyerupai milk, warna emulsi adalah putih. Pada abad XVII hanya dikenal emulsi dari biji-bijian yang mengandung lemak, protein dan air. Emulsi semacam ini disebut emulsi vera atau emulsi alam, sebagai emulgator dipakai protein yang terdapat dalam biji tersebut. Pada pertengahan abad ke XVIII, ahli farmasi Perancis memperkenalkan pembuatan emulsi dari oleum olivarum, oleum anisi dan eugenol oil dengan menggunakan penambahan gom arab, tragacanth, kuning telur. Emulsi yang terbentuk karena penambahan emulgator dari luar disebut emulsi spuria atau emulsi buatan. B. 1. Komponen Emulsi Komponen dari emulsi dapat digolongkan menjadi 2 macam yaitu : Komponen dasar Adalah bahan pembentuk emulsi yang harus terdapat didalam emulsi. Terdiri atas :  Fase dispers / fase internal / fase diskontinue Yaitu zat cair yang terbagi- bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair lain. Fase kontinue / fase external / fase luar Yaitu zat cair dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi tersebut. Emulgator. Adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk menstabilkan emulsi. 2. Komponen tambahan Bahan tambahan yang sering ditambahkan pada emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya corrigen saporis, odoris, colouris, preservative (pengawet), anti oksidan.

Preservative yang digunakan antara lain metil dan propil paraben, asam benzoat, asam sorbat, fenol, kresol dan klorbutanol, benzalkonium klorida, fenil merkuri asetas dan lain – lain. Antioksidan yang digunakan antara lain asam askorbat, L.tocopherol, asam sitrat, propil gallat , asam gallat.

C.

Tipe Emulsi Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun external, maka emulsi

digolongkan menjadi dua macam yaitu : 1. Emulsi tipe O/W ( oil in water) atau M/A ( minyak dalam air). Adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase external. 2. Emulsi tipe W/O ( water in oil ) atau A/M ( air dalam minyak) Adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar kedalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase external. D. Tujuan pemakaian emulsi Emulsi dibuat untuk diperoleh suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua cairan yang saling tidak bisa bercampur. Tujuan pemakaian emulsi adalah : 1. Dipergunakan sebagai obat dalam / per oral. Umumnya emulsi tipe o/w 2. dikehendaki. E. Teori Terjadinya Emulsi Untuk mengetahui proses terbentuknya emulsi dikenal 4 macam teori , yang melihat proses terjadinya emulsi dari sudut pandang yang berbeda-beda. Teori tersebut ialah : 1. Teori Tegangan Permukaan (Surface Tension) Molekul memiliki daya tarik menarik antara molekul yang sejenis yang disebut daya kohesi. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut daya adhesi. Daya kohesi suatu zat selalu sama, sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseim -bangan daya kohesi. Tegangan yang terjadi pada permukaan tersebut dinamakan tegangan permukaan (surface tension). Dipergunakan sebagai obat luar.

Bisa tipe o/w maupun w/o tergantung banyak faktor misalnya sifat zatnya atau jenis efek terapi yang

2.

Teori Orientasi Bentuk Baji (Oriented Wedge) Setiap molekul emulgator dibagi menjadi dua kelompok yakni :

syarat emulgator yang dipakai adalah :    dapat membentuk lapisan film yang kuat tapi lunak jumlahnya cukup untuk menutup semua permukaan partikel fase.L. Dengan kata lain fase disper menjadi stabil.dispers dapat membentuk lapisan film dengan cepat dan dapat menutup semua permukaan partikel dengan segera. Terjadinya muatan listrik disebabkan oleh salah satu dari ke tiga cara dibawah ini. Bahan Pengemulsi (Emulgator) . Dengan terbungkusnya partikel tersebut maka usaha antara partikel yang sejenis untuk bergabung menjadi terhalang. Dengan demikian emulgator seolah-olah menjadi tali pengikat antara air dan minyak. Masing-masing kelompok akan bergabung dengan zat cair yang disenanginya. Benteng tersebut akan menolak setiap usaha dari partikel minyak yang akan mengadakan penggabungan menjadi satu molekul yang besar. F. karena susunan listrik yang menyelubungi setiap partikel minyak mempunyai susunan yang sama. satu lapis air yang langsung berhubungan dengan permukaan minyak akan bermuatan sejenis. sedangkan lapisan berikutnya akan mempunyai muatan yang berlawanan dengan lapisan didepannya. kelompok hidrofil kedalam air dan kelompok lipofil kedalam minyak. dan stabilitas emulsi akan bertambah.• • Kelompok hidrofilik. Teori Interparsial Film Teori ini mengatakan bahwa emulgator akan diserap pada batas antara air dan minyak. terjadinya gesekan partikel dengan cairan disekitarnya. yaitu bagian yang suka pada minyak.    terjadinya ionisasi dari molekul pada permukaan partikel terjadinya absorbsi ion oleh partikel dari cairan disekitarnya. Teori electric double layer ( lapisan listrik rangkap) Jika minyak terdispersi ke dalam air. yaitu bagian dari emulgator yang suka pada air. (Hydrophyl Lipophyl Balance) yaitu angka yang menunjukkan perbandingan antara kelompok lipofil dengan kelompok hidrofil . sehingga terbentuk lapisan film yang akan membungkus partikel fase disper. Dengan demikian antara sesama partikel akan tolak-menolak . Dengan demikian seolah-olah tiap partikel minyak dilindungi oleh 2 benteng lapisan listrik yang saling berlawanan. Kelompok lipofilik . Setiap jenis emulgator memiliki harga keseimbangan yang besarnya tidak sama. Antara kedua kelompok tersebut akan membuat suatu keseimbangan.Harga keseimbangan itu dikenal dengan istilah H. 4. Untuk memberikan stabilitas maksimum pada emulsi.B.

Selain itu dapat disebutkan : • Lemak-lemak padat : PGA sama banyak dengan lemak padat Cara pembuatan .5 X berat gom . lalu diencerkan dengan air sisanya. Gom Arab Sangat baik untuk emulgator tipe o/w dan untuk obat minum. juga dapat dirusak bakteri. tambahkan gom ( ½ x myk lemak + aa x myk atsiri + aa x zat padat ) • Bahan obat cair BJ tinggi. Emulsi yang terbentuk sangat stabil dan tidak terlalu kental. sangat peka terhadap elektrolit dan alkohol kadar tinggi. contohnya chloroform. Contoh : cera. zat padat dilarutkan dalam minyaknya. Lemak padat dilebur lalu ditambahkan gom. Kestabilan emulsi yang dibuat dengan gom arab berdasarkan 2 faktor yaitu • kerja gom sebagai koloid pelindung (teori plastis film) • terbentuknya cairan yang cukup kental sehingga laju pengendapan cukup kecil sedangkan masa mudah dituang jumlah minyaknya. Oleh sebab itu pada pembuatan emulsi dengan emulgator ini harus selalu ditambah bahan pengawet. diaduk keras dan cepat sampai putih . • Balsam-balsam Gom sama banyak dengan balsam. buat corpus emulsi dengan air panas 1.5 X berat gom. Emulgator alam dari tumbuh-tumbuhan.• Emulgator alam Yaitu emulgator yang diperoleh dari alam tanpa proses yang rumit. Gom sebanyak ¾ kali bahan obat cair. (tiksotropi) Bila tidak dikatakan lain maka emulsi dengan gom arab menggunakan gom arab sebanyak ½ dari . Untuk membuat corpus emulsi diperlukan air 1. Contoh : Oeum amygdalarum • Minyak Lemak + minyak atsiri + zat padat larut dalam minyak lemak Kedua minyak dicampur dulu. a. Dinginkan dan encerkan emulsi dengan air dingin. bromoform : Ditambah minyak lemak 10 x beratnya. kecuali oleum ricini karena memiliki gugus OH yang bersifat hidrofil sehingga untuk membuat emulsi cukup dibutuhkan 1/3 nya saja. parafin solid • Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri • Minyak lemak : PGA ½ kali berat minyak. maka BJ campuran mendekati satu. oleum cacao. Dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu : 1. Pada umumnya termasuk karbohydrat dan merupakan emulgator tipe o/w.

Tragacanth hanya berfungsi sebagai pengental tidak dapat membentuk koloid pelindung. Cara mempersiapkan dilakukan seperti pada agar. a. Penambahan emulgator ini akan menambah kemampuan minyak untuk menyerap air. 2.garam magnesium dan aluminium. Zat ini mampu mengemulsikan minyak lemak empat kali beratnya dan minyak menguap dua kali beratnya. Lecitin merupakan emulgator tipe o/w. Tetapi kemampuan lecitin lebih besar dari kolesterol sehingga secara total kuning telur merupakan emulgator tipe o/w. b. Dalam keadaan kering dapat menyerap air 2 X beratnya. Dengan emulgator ini. Emulsi ini khusus untuk pemakaian luar. Magnesium Aluminium Silikat/ Veegum Merupakan senyawa anorganik yang terdiri dari garam . c. Sebelum dipakai agar-agar tersebut dilarutkan dengan air mendidih Kemudian didinginkan pelanpelan sampai suhu tidak kurang dari 45oC (bila suhunya kurang dari 45oC larutan agar-agar akan berbentuk gel). Emulgator alam dari tanah mineral. Agar-agar Emulgator ini kurang efektif apabila dipakai sendirian. Adeps Lanae Zat ini banyak mengandung kholesterol . Tragacanth Dispersi tragacanth dalam air sangat kental sehingga untuk memperoleh emulsi dengan viskositas yang baik hanya diperlukan trgacanth sebanyak 1/10 kali gom arab. emulsi yang terbentuk adalah emulsi tipe o/w. Emulgator alam dari hewan a. Biasanya d. Kuning telur Kuning telur mengandung lecitin (golongan protein / asam amino) dan kolesterol yang kesemuanya dapat berfungsi sebagai emulgator. merupakan emulgator tipe w/o dan banyak dipergunakan untuk pemakaian luar. Chondrus Sangat baik dipakai untuk emulsi minyak ikan karena dapat menutup rasa dari minyak tersebut. 3. digunakan 1-2 % . Sedangkan pemakaian yang lazim adalah sebanyak 1 %. b. e. Emulgator lain Pektin. Tragacanth dibuat corpus emulsi dengan menambahkan sekaligus air 20 x berat tragacanth. metil selulosa.5 – 6. Emulgator ini hanya bekerja optimum pada pH 4.• Oleum Iecoris Aseli Menurut Fornas dipakai gom 30 % dari berat minyak. karboksimetil selulosa 1-2 %. Pada umumnya zat ini ditambahkan untuk menambah viskositas dari emulsi dengan gom arab.

missal sabun kalsium. sangat peka terhadap elektrolit. Dapat dipergunakan sebagai emulgator tipe o/w maupun w/o. merupakan emulgator tipe o/w. kemudian ditambahkan 2 bagian air. Zat pengemulsi ditambahkan ke dalam air (zat pengemulsi umumnya larut) agar membentuk suatu mucilago. merupakan emulgator tipe w/o. 3. protein.b. • • • • G. 3. setelah itu baru diencerkan dengan sisa air. Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit sambil dikocok. 2. • 1. Sangat banyak dipakai untuk tujuan luar. Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan emulsi Untuk membuat emulsi biasa digunakan : 1. lesitin. Tween 20 : 40 : 60 : 80 Span 20 : 40 : 80 : : : : sabun alkali. Bila sabun tersebut bervalensi 1. blender . Emulgator dapat dikelompokkan menjadi : Anionik Kationik Non Ionik Amfoter Cara Pembuatan Emulsi Dikenal 3 metode dalam pembuatan emulsi . Metode botol atau metode botol forbes. Bentonit Tanah liat yang terdiri dari senyawa aluminium silikat yang dapat mengabsorbsikan sejumlah besar air sehingga membentuk massa sepert gel. Metode gom basah atau metode Inggris. hal tersebut memberi kesempatan pada emulgator untuk bekerja sebelum pengocokan berikutnya. baru diencerkan dengan sisa air yang tersedia. Serbuk gom dimasukkan ke dalam botol kering. Untuk tujuan sebagai emulgator dipakai sebanyak 5 %. tergantung dari valensinya. secara singkat dapat dijelaskan : Metode gom kering atau metode kontinental. misalnya sabun kalium. Mixer. Emulgator buatan Sabun. 2. Mortir dan stamper Mortir dengan permukaan kasar merupakan mortir pilihan untuk pembuatan emulsi yang baik. natrium lauryl sulfat senyawa ammmonium kuartener tween dan span. kemudian ditambahkan air untuk pembentukan corpus emulsi. tutup botol kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat. sedangkan sabun dengan valensi 2 . Dalam metode ini zat pengemulsi (biasanya gom arab) dicampur dengan minyak terlebih dahulu. Digunakan untuk minyak menguap dan zat –zat yang bersifat minyak dan mempunyai viskositas rendah (kurang kental). Botol Mengocok emulsi dalam botol secara terputus-putus lebih baik daripada terus menerus. 2. kemudian perlahan-lahan minyak dicampurkan untuk mem-bentuk emulsi. 1. 3.

1. penyaringan. irreversible ( tidak bisa diperbaiki). Dengan kertas saring. Hal ini dapat . Coloid mill digunakan untuk memperoleh derajat dispersi yang tinggi cairan dalam cairan H. 4. perubahan pH. akibat putaran pisau tersebut. kertas saring menjadi basah maka tipe emulsi o/w. pengadukan. Dengan pengecatan/pemberian warna. Dengan prinsip tersebut. 2 3 2. dimana yang satu mengandung fase dispers : lebih banyak daripada lapisan yang lain. Zat warna akan tersebar rata dalam emulsi apabila zat tersebut larut dalam fase external dari emulsi tersebut. 5. karena sudan III larut dalam minyak 3. dan akan mati dicelupkan pada emulsi tipe w/o I. seperti penambahan alkohol.Partikel fase disper dihaluskan dengan cara dimasukkan kedalam ruangan yang didalamnya terdapat pisau berputar dengan kecepatan tinggi . Cara Membedakan Tipe Emulsi Dikenal beberapa cara membedakan tipe emulsi yaitu Dengan pengenceran fase. emulsi tipe o/w dapat diencerkan dengan air sedangkan emulsi tipe w/o dapat diencerkan dengan minyak. dan bila timbul noda minyak pada kertas berarti emulsi tipe w/o.Sifatnya terjadi karena : • Peristiwa kimia. seperti pemanasan. Emulsi + larutan metilen blue dapat memberi warna biru pada emulsi tipe o/w karena metilen blue larut dalam air. partikel akan berbentuk kecilkecil. Misalnya (dilihat dibawah mikroskop) Emulsi + larutan Sudan III dapat memberi warna merah pada emulsi tipe w/o. 2. penambahan CaO/CaCl2 exicatus. Koalesen dan cracking (breaking) adalah pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen(menyatu). pendinginan. Creaming bersifat reversible artinya bila digojok perlahanlahan akan terdispersi kembali. Dengan konduktivitas listrik Alat yang dipakai adalah kawat dan stop kontak. • Peristiwa fisika. Lampu neon akan menyala bila elektroda dicelupkan dalam cairan emulsi tipe o/w.kan secara seri. KESTABILAN EMULSI. Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami hal-hal seperti dibawah ini : 1 1. Setiap emulsi dapat diencerkan dengan fase externalnya. Colloid Mill Terdiri atas rotor dan stator dengan permukaan penggilingan yang dapat diatur. 4. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan. kawat dengan K ½ watt lampu neon ¼ watt semua dihubung. Bila emulsi diteteskan pada kertas saring . Homogeniser Dalam homogenizer dispersi dari kedua cairan terjadi karena campuran dipaksa melalui saluran lubang kecil dengan tekanan besar.

umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis. Umumnya ditujukan untuk pengobatan iritasi lokal atau infeksi mulut atau tenggorokan. Lozenges / tablet hisap menurut (F. mengandung 1 mg bahan obat. campuran bahan tersebut (PGS). yang dapat membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.3. sukrosa. Zat penabur : membuat sediaan yang sudah terbentuk tidak melekat satu sama lain lycopodium atau talk.I. Boli (menurut F. BAB VIII PILULAE A. IV) ialah sediaan padat mengandung satu atau lebih bahan obat . contoh : akar manis. atau bahan lain yang cocok . Contohnya sari akar manis. Sifatnya irreversible. sedangkan pastiles adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara tuang. III) ialah pil yang beratnya diatas 300 mg. Pengertian Pilulae (menurut F. juga bahan dasar gelatin. gom akasia. atau bahan lain yang cocok. terdiri dari Zat pengisi Zat pengikat : : gunanya untuk memperbesar volume pil. Komponen.III) ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat. Inversi adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi w/o menjadi o/w atau sebaliknya.I III) ialah pil kecil yang beratnya tidak lebih dari 30 mg. tetapi dapat juga mengandung bahan aktif yang ditujukan untuk absorbsi sistemik setelah ditelan. Lozenges terdiri dari dua macam yaitu troches dan pastiles. atau bahan lain yang cocok membuat massa supaya saling melekat antara satu dengan yang lain. sorbitol atau gula. bolus alba. Mengandung bahan obat. tragacanth. pembuatan sam dengan pil Granula (menurut F.I. B.I. Trochisi ( troches) adalah tablet hisap yang dibuat dengan cara kempa tablet. Penggunaan dan Contoh Pilulae\ Zat utama : berupa bahan obat Zat tambahan.

Dalam jumlah besar. 5. Persyaratan Pillulae 1. hitung bobot rata-rata. kolodium. 1. Pil dengan garam-garam ferro harus dibalut dengan tolubalsem untuk mencegah oksidasi oleh udara. untuk menutup rasa dan bau yang kurang enak 2. gliserol. balsam tolu. AgNO3) atau garam-garam Pb. pengisi menggunakan 100mg bolus alba. natrii bicarbonas. keratin. Pil Dengan Bahan . 4. 3.Zat penyalut digunakan karena ada beberapa alasan yaitu : 1. gula atau bahan lain yang cocok Zat pembasah : membasahi masa sebelum dibentuk. 3. Timbang 20 pil satu per satu. pengikat adeps/vaselin secukupnya .rata 100 mg – 250 mg 251 mg – 500 mg yang diperbolehkan (%) 18 Pil 10 % 7. air.5 5 2 Pil 20 % 15 % rata – rata dapat hancur dalam MgO sebanyak 100 mg untuk . mencegah perubahan karena pengaruh udara 3. diuapkan kemudian tambahkan radix secukupnya atau diganti dengan sisa keringnya. tetapi tidak begitu keras sehingga saluran pencernaan . ferrum pulveratum. campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok. tetap digunakan succus dan radix sari cair digunakan sebagai pengganti aqua gliserinata. Pil dengan extractum gentian ( bereaksi asam) bila diberikan bersama-sama dengan zat lain yang dengan asam-asam melepaskan gas misal : ferrum reductum. Pil dengan senyawa mengoxid (KMnO4. natrii carbonas. Dalam jumlah kecil . Pil dengan liquor fowleri tidak boleh diganti dengan As2O3 yang telah diperhitungkan. supaya pil pecah dalam usus (enteric coated pil) Contoh : Perak. 2. sirlak. gelatin. Pil dengan sari-sari cair. FeCl3. penyimpangan terbesar yang diperbolehkan terhadap bobot rata-rata adalah sebagai berikut : Penyimpangan terbesar terhadap bobot Bobot rata . salol. Contoh. Selain itu menggunakan pillen plank ebonit). madu. C. maka untuk menetralkan asamnya perlu ditambah setiap 3 gram extract gentian.Bahan Khusus. Keseragaman bobot. sirup. 2. Memenuhi syarat waktu hancur yang tertera pada compresi (FI Edisi III ) Memenuhi keseragaman bobot pil ( FI edisi III ) Pada penyimpanan bentuknya harus tetap . KNO3.

ed. maka Suppositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya. vagina atau urethra. beratnya menurut FI. yang diberikan melalui rektal. berat umumnya 5 g. yaitu 1. Umumnya meleleh. C. Supositoria dengan bahan dasar gelatin tergliserinasi (70 bag. 2. Menurut FI. . gelatin dan sebaiknya pada suhu dibawah 350 C° 3. bentuk bola lonjong seperti kerucut. yaitu bila bagian yang besar masuk melalui jaringan otot penutup dubur. atau dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. Keuntungan Suppositoria Keuntungan penggunaan obat dalam Suppositoria dibanding peroral.IV kurang lebih 2 g. 10 bag. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut / bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserinasi berbobot 5 g. melunak atau melarut dalam suhu tubuh. gliserin. bentuk batang panjang antara 7 cm . Suppositoria rektal berbentuk torpedo mempunyai keuntungan. sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Rektal Suppositoria sering disebut Suppositoria saja. 20 bag.Penyimpanan : Sesuai dengan cara penyimpanan tablet. Pengertian Supositoria menurut FI edisi IV adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk. Vaginal Suppositoria (Ovula).IV. digunakan lewat vagina. air) harus disimpan dalam wadah tertutup rapat. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung. bentuk peluru digunakan lewat rektal atau anus. bougies) digunakan lewat urethra. Macam-Macam Suppositoria Macam-macam Suppositoria berdasarkan tempat penggunaannya : 1. dengan memperhatikan sifat zat tambahan yang digunakan. Supositoria kempa atau Supositoria sisipan adalah Supositoria vaginal yang dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai.14 cm. B.ed. BAB IX SUPPOSITORIA / SUPOSITORIA A. Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung. Urethral Suppositoria (bacilla. 2.

Basis Suppositoria : Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat melepas setelah masuk ke dalam rektum. Bahan Dasar Suppositoria Bahan dasar : ol.2 dan kapasitas daparnya rendah. 2.3. 3. Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. 4. gelatin tergliserinasi. tidak sadar. Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal. karena dapat diserap oleh membran mukosa dalam rektum. seperti pasien mudah muntah. Tidak beracun dan tidak menimbulkan iritasi . Apabila penggunaan obat peroral tidak memungkinkan. tapi akan melunak pada suhu rektal dan dapat bercampur dengan cairan tubuh. Faktor fisiologis : Rektum mengandung sedikit cairan dengan pH 7. 2. baik dalam rektum maupun vagina atau urethra. Bahan dasar Suppositoria yang ideal harus mempunyai sifat sebagai berikut : 1. c. b. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air. Padat pada suhu kamar. aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air. karena obat diabsorpsi melalui mukosa rektal langsung masuk ke dalam sirkulasi darah. sehingga dapat dibentuk dengan tangan atau dicetak. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat per rektal ialah : 1. Bahan dasar lain dapat digunakan seperti surfaktan nonionik misalnya ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. seperti penyakit haemorroid / wasir / ambein dan infeksi lainnya. Aksi kerja awal akan diperoleh secara cepat. 2. Tujuan Penggunaan Obat Bentuk Suppositoria 1. Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air. E. cacao (lemak coklat). dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. Faktor fisika-kimia dari obat dan basis : a. Juga secara rektal digunakan untuk distribusi sistemik. Agar terhindar dari pengrusakan obat oleh enzym di dalam saluran gastrointestinal dan perubahan obat secara biokimia di dalam hepar . campuran PEG berbagai bobot molekul dan ester asam lemak PEG. Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat makin cepat. d. minyak nabati terhidrogenasi. Suppositoria dipakai untuk pengobatan lokal. maka diutamakan permeable terhadap obat yang tidak terionisasi (obat yang mudah larut dalam lemak). 5. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral. D. Epitel rektum keadaannya berlipoid (berlemak). 4.

31o  bentuk β stabil (beta stabil) : terjadi dari perubahan perlahan-lahan bentuk disertai kontraksi volume dan bentuk ini mempunyai titik lebur 34 o -35 o ( literatur lain 34.Cacao tadi didinginkan dengan segera pada 0o dan bentuk ini titik leburnya 24o (literatur lain 22 o). Untuk basis lemak. meleleh pada suhu 31o . bilangan iodium dan bilangan penyabunan harus jelas. bau dan pemisahan obat. warna putih kekuningan. tidak menunjukkan perubahan warna. asam palmitat. Jika dipanasi sekitar 300 C mulai mencair dan biasanya meleleh sekitar 340 . kering dan terlindung dari cahaya. padat.misalnya campuran Tween 61 85 % dengan gliserin laurat 15 % Suppositoria dengan bahan dasar Lemak coklat ( Ol. Stabil dalam penyimpanan. Diatas titik leburnya. Cacao dapat menunjukkan polimorfisme dari bentuk kristalnya karena pemanasan tinggi. polietilenglikol (PEG) 3. Bentuk-bentuk kristal Ol.350 C. Bahan dasar yang dapat bercampur atau larut dalam air : gliserin-gelatin. Jika pemanasannya tinggi.34 o. lemak coklat akan mencair sempurna seperti minyak dan akan kehilangan semua inti kristal yang stabil . Kadar air cukup 6. Cacao (lemak coklat) 2.Cacao yang sudah dingin (20o) dan bentuk ini mempunyai titik lebur 18 o Menghindari bentuk.Cacao tadi diaduk-aduk pada suhu 18 o -23 o dan bentuk ini mempunyai titik lebur 28 o . sebaiknya harus disimpan dalam wadah / tempat sejuk. 1. Penggolongan bahan dasar Suppositoria. Ol. berwarna kekuningan. Ol. Dapat bercampur dengan bermacam-macam obat 4. 5. berbau seperti coklat.bentuk kristal yang tidak stabil di atas dengan cara :  Ol. karena mudah tengik. Cacao ) merupakan trigliserida dari asam oleat.3. tetapi suhu dibawah 300 C merupakan masa semi-padat.Cacao akan meleleh sempurna seperti minyak dan akan kehilangan inti kristal stabil yang berguna untuk membentuk kristalnya kembali. asam stearat. untuk mempercepat perubahan bentuk tidak stabil menjadi bentuk stabil  Pembekuan lelehan selama beberapa jam / hari Lemak coklat merupakan trigliserida.  Penambahan sejumlah kecil bentuk kristal stabil ke dalam lelehan Ol.Cacao.5 o)  bentuk γ (gamma) : terjadi dari pendinginan lelehan Ol.Cacao tersebut adalah :  bentuk α (alfa) : terjadi bila lelehan Ol.  bentuk β ( beta ) : terjadi bila lelehan Ol. bilangan asam. cukup 2/3 saja yang dilelehkan. Bahan dasar lain : Pembentuk emulsi A/M. Bahan dasar berlemak : Ol.Cacao tidak dilelehkan seluruhnya. bau yang khas dan bersifat polimorfisme ( mempunyai banyak bentuk kristal ).

sehingga tetap mengandung inti kristal dari bentuk stabil. maka dengan penambahan Cera flava dapat juga menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. Lemak coklat jarang dipakai untuk sediaan vagina karena meninggalkan residu yang tidak dapat diserap. 2. maka pemanasan lemak coklat sebaiknya dilakukan sampai cukup meleleh saja sampai dapat dituang.       Meleleh pada udara yang panas Dapat menjadi tengik pada penyimpanan yang lama Titik leburnya dapat turun atau naik bila ditambahkan bahan tertentu Adanya sifat Polimorfisme Sering bocor (keluar dari rektum karena mencair) selama pemakaian Tidak dapat bercampur dengan sekresi. minyak atsiri. Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat.yang berguna untuk memadat. Jika bahan obatnya merupakan larutan dalam air. sedangkan gelatin tergliserinasi jarang dipakai untuk rektal karena disolusinya lambat. Untuk meninggikan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera atau Cetasium ( Spermaseti ). Supositol Suppositoria dengan bahan dasar PEG (Polietilenglikol) . Lemak coklat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh. pada suhu dibawah 300 C. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik. Campuran cetilalkohol dengan Ol.Cacao tersebut. akan mengkristal dalam bentuk kristal metastabil. Karena ada beberapa keburukan Ol. Bila didinginkan di bawah suhu 15 0 C. Campuran asam oleat dengan asam stearat dalam perbandingan yang dapat diatur. Keburukan Ol. dapat dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak lemak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk yang sesuai atau dibuat dengan cara meleburkan minyak lemak dengan obat kemudian dibiarkan sampai dingin di dalam cetakan. Untuk menurunkan titik lebur lemak coklat dapat digunakan tambahan sedikit Kloralhidrat atau fenol. oleh karena itu dapat menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat yang diobati.Amygdalarum dalam perbandingan = 17 : 83 3. Penambahan Cera flava tidak boleh lebih dari 6 % sebab akan memperoleh campuran yang mempunyai titik lebur di atas 370 C dan tidak boleh kurang dari 4 % karena akan memperoleh titik lebur di bawah titik leburnya ( < 330 C ).Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria. maka dicari pengganti Ol.Cacao sintetis : Coa buta . Mempercepat tengiknya Ol. Ol.Cacao sebagai bahan dasar Suppositoria yaitu : 1. perlu diperhatikan bahwa lemak coklat hanya sedikit menyerap air. Agar mendapatkan Suppositoria yang stabil. Pemakaian air sebagai pelarut obat dengan bahan dasar Ol. obat tersebut akan mengkristal kembali dan dapat keluar dari Suppositoria.Cacao Bila airnya menguap.Cacao sebaiknya dihindari karena :    Menyebabkan reaksi antara obat-obat dalam Suppositoria.

630 tidak meleleh pada suhu tubuh tetapi larut dalam cairan sekresi tubuh Formula yang dipakai :   bahan dasar tidak berair : PEG 4000 4 % ( 25 % ) dan PEG 1000 96 % ( 75 % ) bahan dasar berair : PEG 1540 30 %.Cacao. Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin Dapat digunakan sebagai bahan dasar Vaginal Suppositoria. Hal ini dapat diatasi dengan cara mencelupkan Suppositoria ke dalam air sebelum digunakan.- mempunyai titik lebur 350 . - Pembuatan Suppositoria dengan PEG dilakukan dengan melelehkan bahan dasar lalu dituangkan ke dalam cetakan seperti pembuatan Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat. PEG 6000 (carbowax 6000). Keburukan : . gliserin 60 dan aqua yang mengandung obat 20 Kebaikan :  dapat diharapkan berefek yang cukup lama. sedangkan di atas 1000 berbentuk padat lunak seperti malam. tetapi melarut dalam sekresi tubuh Perlu penambahan pengawet ( Nipagin ) karena bahan dasar ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. PEG 1000 (carbowax 1000).6000 Dalam perdagangan terdapat : PEG 400 (Carbowax 400). Tidak melebur pada suhu tubuh. sehingga terjadi rasa yang menyengat. Keuntungan :     Kerugian :  - PEG merupakan polimerisasi etilenglikol dengan berat molekul antara 300 . lebih lambat melunak.  dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat. jika dibanding Ol. lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh jika dibandingkan dengan Ol. PEG di bawah 1000 berbentuk cair. PEG 4000 (carbowax 4000). Meskipun bentuk nonionik dapat dilepaskan dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air seperti gelatin tergliserinasi atau PEG. - PEG sesuai untuk obat antiseptik. Pada etiket Supositoria ini harus tertera petunjuk " Basahi dengan air sebelum digunakan ". Jika diharapkan bekerja secara sistemik . tetapi cenderung sangat lambat larut sehingga dapat menghambat pengelepasan obat. tetap kontak dengan lapisan mokosa karena tidak meleleh pada suhu tubuh menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkan.Cacao. lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. PEG 1500 (carbowax 1500). PEG 6000 50 % dan Aqua + Obat 20 % tidak mengiritasi / merangsang dapat disimpan diluar lemari es tidak ada kesulitan dengan titik leburnya. Penyimpanan harus ditempat yang dingin Bahan dasar ini dapat juga digunakan untuk pembuatan Urethra Suppositoria dengan formula : gelatin 20.

 Obatnya supaya larut dalam bahan dasar.  Bila bahan obatnya sukar larut dalam bahan dasar maka harus diserbuk halus. bila perlu dipanaskan. Dengan kompresi. Dengan mencetak hasil leburan : . Metode Pembuatan Suppositoria 1. Berat Suppositoria 2. dituangkan ke dalam cetakan Suppositoria kemudian didinginkan. Biarkan massa cukup dingin dan tuangkan dalam cetakan hingga diperoleh Suppositoria dengan berat 4 gram.5 g F. Obat yang ditambahkan dilarutkan atau digerus dengan sedikit air atau Gliserin yang disisakan dan dicampurkan pada massa yang sudah dingin.  Cetakan tersebut terbuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain.6000 Suppositoria / jam.  Untuk mengatasi massa yang hilang karena melekat pada cetakan. Dengan tangan : Hanya dengan bahan dasar Ol. maka pembuatan Suppositoria harus dibuat berlebih ( ± 10 % ) dan cetakannya sebelum digunakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin 2.Cacao dan PEG tidak dibasahi karena mengkerut pada proses pendinginan. 3. akan terlepas dari cetakan. Metode ini. beberapa diantaranya membentuk emulsi tipe A//M Formulasinya : Tween 61 85 % dan Gliserin laurat 15 % Bahan dasar ini dapat menahan air atau larutan berair. tetapi untuk Ol. memerlukan tempat untuk melindunginya dari udara lembab supaya terjaga bentuknya dan konsistensinya. yaitu : panasi 2 bagian Gelatin dengan 4 bagian air dan 5 bagian Gliserin sampai diperoleh massa yang homogen. - Dalam farmakope Belanda terdapat formula Suppositoria dengan bahan dasar Gelatin. Bahan dasar lainnya : Bersifat seperti lemak yang larut dalam air atau bercampur dengan air. Kapasitas bisa sampai 3500 . cenderung menyerap uap air karena sifat gliserin yang hygroskopis yang dapat menyebabkan dehidrasi / iritasi jaringan. ada juga yang dibuat dari plastik Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal untuk mengeluarkan Suppositoria. Tambahkan air panas sampai diperoleh 11 bagian. proses penuangan. Cetakan harus dibasahi lebih dahulu dengan Parafin cair bagi yang memakai bahan dasar Gliseringelatin.Cacao yang dapat dikerjakan atau dibuat dengan tangan untuk skala kecil dan bila bahan obatnya tidak tahan terhadap pemanasan Metode ini kurang cocok untuk iklim panas. pendinginan dan pelepasan Suppositoria dilakukan dengan mesin secara otomatis.  Untuk mencetak bacilla dapat digunakan tube gelas atau gulungan kertas. Pembuatan Suppositoria secara umum dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Bahan dasar Suppositoria yang digunakan supaya meleleh pada suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum.  Setelah campuran obat dan bahan dasar meleleh atau mencair.

cair atau minyak lemak atau spiritus saponatus ( Soft Soap liniment ). G. Penetapan kadar zat aktifnya dan disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya. Test homogenitas. dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 1. Recini dalam etanol. tidak mudah hancur atau meleleh. Pemeriksaan Mutu Suppositoria Setelah dicetak.Cacao dingin 3 menit 5. 3. Ovulae / Ovula Ovula adalah sediaan padat . Bobot ovula adalah 3 . Biasanya dimasukkan dalam wadah dari alumunium foil atau strip plastik sebanyak 6 sampai 12 buah. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Test kerapuhan. H. . Ovula disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. tetapi spiritus saponatus ini. 2. Sebagai bahan dasar dapat digunakan lemak coklat atau campuran PEG dalam berbagai perbandingan. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat sejuk. jangan digunakan untuk Suppositoria yang mengandung garam logam karena akan bereaksi dengan sabunnya dan sebagai pengganti digunakan Ol. Test waktu hancur.Cacao 3. terutama jika digunakan bahan dasar Ol. umumnya berbentuk telur mudah melemah (melembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Ol. Khusus Suppositoria dengan bahan dasar PEG dan Tween tidak perlu bahan pelicin cetakan karena pada pendinginan mudah lepas dari cetakannya yang disebabkan bahan dasar tersebut dapat mengkerut. Dikemas sedemikian rupa sehingga tiap Suppositoria terpisah. PEG 1000 15 menit.6 gram. untuk kemudian dikemas dalam dus. Test terhadap titik leburnya. umumnya 5 gram. 2. untuk menghindari kerapuhan selama pengangkutan 4. I. Pengemasan Suppositoria 1. Sebagai bahan dasar ovula harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.

Semakin sukar di sari. 2. Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut : • • Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat nabati. Pendahuluan Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos (GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan. 2.BAB X ILMU GALENICA A. 3. 3. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang dianggap tidak bermanfaat. Derajat kehalusan Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. Suhu dan lamanya waktu . Konsentrasi / kepekatan Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan. sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika. Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik 1. Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan diolah dalam bentuk sediaan / preparat. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama. simplisia harus dibuat semakin halus. dan sebaliknya. Tujuan dibuatnya sediaan galenik : 1.

olea. selulosa yang pada umumnya mempunyai daya larut dalam cairan pelarut tertentu dimana sifat-sifat kelarutan ini dimanfaatkan dalam extractio. Tujuan utama extractio adalah :untuk mendapatkan zat-zat berkhasiat pengobatan sebanyak mungkin dari zat-zat yang tidak berfaedah. damar. zat pati. Tinctura. Hasil Penarikan : (minyak lemak) Syrup. Solution. Misalnya mengawal lemakkannya seperti: Strychni. resina. Decocta / Infusa : Aqua aromatika. supaya lebih mudah digunakan dari pada simplisia asal. Cairan yang dipisahkan disebut Macerate Liquid. 2. Cairan penarik yang dipergunakan disebut menstrum. Perkolat. minyak atsiri.Harus disesuaikan dengan sifat obat. Istilah extractio hanya dipergunakan untuk penarikan zat-zat dari bahan asal dengan menggunakan cairan penarik/ pelarut. olea pinguia Hasil Penyulingan/ pemerasan Dalam beberapa hal sebelum sediaan yang dimaksud dibuat. Bahan penyari dan cara penyari Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam simplisia. Colatura. Bentuk-bentuk sediaan galenik 1. mudah menguap atau tidak. Begitu juga penyimpanan dan tujuan pengobatannya terjamin sebab pada umumnya simplisia terdapat dalam keadaan tercampur yang memerlukan cara-cara penarikan dan cairan-cairan penarik tertentu yang nantinya akan menghasilkan sediaan galenik sesuai dengan pengolahannya. zat lendir. Secale cornuti. Supaya zat-zat yang tidak berguna / merusak tidak ikut tertarik bersama-sama dengan zat-zat yang berkhasiat. 3. ampasnya disebut marc atau faeces. Cara menghilangkan isi simplisia yang tidak berguna : . olea velatilia (minyak menguap). suhu penarikan untuk : Maserasi Digerasi Infundasi Memasak : 15 – 25 0C : 35 – 45 0C : 90 – 98 0C : suhu mendidih Extracta. simplisia perlu diolah terlebih dahulu. albumin. Penarikan (Extraction) Extractio adalah cara menarik satu atau lebih zat-zat dari bahan asal yang umumnya zat berkhasiat tersebut tertarik dalam keadaan (khasiatnya) tidak berubah. Disamping itu terdapat juga jenis-jenis gula. lemak. atau menghilangkan zat pahitnya seperti : Lichen islandicus. 4. Zat-zat berkhasiat tersebut antara lain alkaloida. B. glukosida. mudah tersari atau tidak. Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan. Umumnya extractio dikerjakan untuk simplisia yang mengandung zat berkhasiat atau zat-zat lain untuk keperluan tertentu. pectin. protein..

4. sedangkan bahan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut. Dengan menggunakan jarak waktu menarik yang tertentu dimana bahan berkhasiat dari sipmlisia lebih banyak larutnya. Jadi kesimpulan dalam extractio ini adalah memilih salah satu cara penarikan yang tepat dengan cairan yang pantas dan memisahkan ampas dengan hasil penarikan yang akan menghasilkan sebuah preparat galenik yang dikehendaki. sehingga menyebabkan proses difusi dari zat-zat berkhasiat lebih cepat dari pada melalui dinding-dinding sel yang utuh (proses osmose). Kelarutan zat-zat dalam menstrum Tidak menyebabkan nantinya zat-zat berkhasiat tersebut rusak atau akibat-akibat yang tidak dikehendaki (perubahan warna. Dengan menarik / merendam pada suhu tertentu dimana bahan berkhasiat terbanyak larutnya. Disamping itu simplisia ini ditentukan derajat halusnya untuk memperbesar atau memperluas permukaannya. Dengan memurnikan / membersihkan memakai cara-cara tertentu baik secara ilmu alam maupun ilmu kimia. garam glauber dll. 2. 2. 4. Dengan memakai bahan pelarut yang tepat dimana bahan berkhasiatnya mudah larut. 3. sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi. Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan pengecualian misalnya pada condurangin. asam tumbuh-tumbuhan.1. sedangkan yang tidak berguna sedikit atau tidak larut dalam cairan penyari tersebut. Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa.Cairan Penarik Menentukan cairan penarik apa yang akan digunakan harus diperhitungkan betul-betul dengan memperhatikan beberapa faktor. Air Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas. pengendapan. kadang-kadang juga yang segar. Simplisia yang dipergunakan umumnya sudah dikeringkan. glikosida. antara lain : 1. Ca hidrat. zat warna dan garam-garam mineral. 2. Etanol . Cairan . hidrolisa) Harga yang murah Jenis preparat yang akan dibuat Macam – macam cairan penyari : 1. C. pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat misalnya : garam-garam alkaloida. Untuk kemudahan simplisia yang kering ini dilembabkan terlebih dahulu / di maserer dalam batas waktu tertentu. 3.

Solvent Hexane Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering. damar. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan. secale cornutum. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida. Digerasi Cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia dengan cairan penyari pada suhu 35o – 45o. damar-damar. Karena cairan ini tidak atsiri. minyak lemak dan minyak atsiri. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak.F. karena efek farmakologinya. minyak atsiri tetapi bukan untuk jenis-jenis gom. Chloroform Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam. Maserasi juga merupakan proses pendahuluan untuk pembuatan secara perkolasi. 6. gula dan albumin. misalnya strychni. Gycerinum (Gliserin) Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Maserasi Adalah cara penarikan sari dari simplisia dengan cara merendam simplisia tersebut dalam cairan penyari pada suhu biasa yaitu pada suhunya 15-25 0C. . minyak atsiri. Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya. damar. Cara – Cara Penarikan 1. sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik. pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak.XI) 7. Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Acetonum Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam. Eter Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama. D. 2. Umumnya pelarut yang baik untuk alkaloida. glikosida. 4. Cara ini sekarang sudah jarang dilakukan karena disamping membutuhkan alat-alat tertentu juga pada suhu tersebut beberapa simplisia menjadi rusak. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri.Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu. Dipakai misalnya pada pembuatan Capsicum oleoresin (N. 3. 5.

E. Kecuali dinyatakan lain. . kecuali dinyatakan lain. Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali di tekan hati-hati. tingtur dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras. perkolasi dengan tekanan. tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya 3 jam. Maserasi . Tingtur (Tinctura) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut yang tertera pada masing – masing monografi. tuangkan atau saring. biarkan selama 24 jam. • Pindahkan ke dalam bejana tertutup. Cara Pembuatan 1.5 – 5 bagian cairan penyari. Perkolasi Perkolasi ialah suatu cara penarikan. memakai alat soxhlet. perkolasi persambungan.3. fractional percolation 3. reperkolasi. lakukan sebagai berikut : • Masukkan 20 bagian simplisia dengan derajat halus yang cocok ke dalam sebuah bejana. melembabkan dengan cara penyari : maserasi I 3. pressure percolation 4. peras. mempersiapkan simplisianya : derajat halusnya. serkai. yang simplisianya terendam dalam cairan penyari dimana zat-zatnya terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Hal-hal yang harus mendapat perhatian pada perkolasi ialah : 1. perkolasi biasa 2. tuangi dengan 75 bagian cairan penyari. memakai alat yang disebut perkolator. kecuali dinyatakan lain lakukan sebagai berikut : • Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2. tutup. jenis perkolator yang dipergunakan dan memper-siapkannya 4. enap. continous extraction. selama 2 hari. biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering di aduk. Perkolasi. 2. 2. Cara-cara perkolasi : 1. cara memasukkannya ke dalam perkolator dan lamanya di maserer dalam perkolator : maserasi II 5. biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya. pengaturan penetapan cairan keluar dalam jangka waktu yang ditetapkan. cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. tutup perkolator. perkolasi bertingkat.

3. Opii Tinctura Valerianae Tinctura Capsici Tinctura Myrrhae Tinctura Opii Aromatica Tinctura Polygalae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI II FI II FI III Ext. Tingtur yang mengandung harsa / damar adalah Mira Tinctura. Atur kadar hingga memenuhi syarat. tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas simplisia hingga diperoleh 80 bagian perkolat. terlindung dari cahaya. 2. Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat. Contoh : Tingtur yang dibuat secara maserasi 1. biarkan selama 2 hari ditempat sejuk terlindung dari cahaya. tambahkan cairan penyari secukupnya hingga diproleh 100 bagian. 2. FI 1974 Tingtur Tidak Asli (Palsu) Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu.• Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit. tetapkan kadarnya. 3. Enap. Contoh : 1. campurkan cairan perasan ke dalam perkolat. tuang atau saring. setelah diperoleh 80 bagian perkolat. 6. jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya. B. 4. A. Pindahkan ke dalam bejana. • Peras masa. 7. untuk bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. 5. Menurut Cara Pembuatan Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi. Belladonae Tinctura Cinnamomi Tinctura Digitalis Tinctura Lobeliae Tinctura Strychnini Tinctura Ipecacuanhae Tinctura Dan lain-lain FI III FI III FI III FI II FI II Ext. Asaefoetida Tinctura. Iodii Tinctura FI III . Capsici Tinctura. 4. Pembagian Tinctur 1. 5. tutup. Sediaan tingtur harus jernih. 6. di tempat sejuk. 7. contoh : 1. Tingtur Menyan. Jika dalam monografi tertera penetapan kadar. FI 1974 Tingtur Asli Tingtur yang dibuat secara perkolasi.

Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei). contoh : Tinctura Rhei Aquosa. d. c. Tingtur Lemah Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak berkhasiat keras. 3. Tinctura Composita. Tingtura Vinosa. eter dan campuran etanol dan air. Tingtura Aetherea. A. Cara Pembuatan Penyarian : . FI 1974 FI II Berdasarkan Cairan Penariknya a. jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur dengan aethanol. b. jika sebagai cairan penarik dipakai air. kental. atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung. 3. Contoh : pada pembuatan Tinctura Acida Aromatica. adalah tingtur yang didapatkan dari jika penarikan dilakukan dengan cairan penarik selain aethanol hal ini harus dinyatakan pada nama tingtur tersebut. Secalis Cornuti Tinctura FI III Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari) Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat keras. jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Contoh : 1. F. misalnya campuran simplisia. Tinctura Acida. Contoh : 1. contoh : Tinctura Chinae Composita. Ekstrak (Extracta) Adalah sediaan kering. 3. 7. FI 1974 Tingtur Keras B. Cairan penyari yang dipakai adalah air.2. 4. 2. Cinnamomi Tinctura Valerianae Tinctura Polygalae Tinctura Myrrhae Tinctura FI III FI III Ext. e. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea. Tinctura Aquosa. 2. 2. Belladonae Tinctura Digitalis Tinctura Opii Tinctura Lobeliae Tinctura Stramonii Tinctura Strychnin Tinctura Ipecacuanhae Tinctura FI III FI III FI III FI II FI II FI II Ext. 5. 6. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk. 4. jika cairan penariknya adalah aether atau campuran aether dengan aethanol.

• Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang lebih 90 0C. 2. Cara Pembuatan Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya. • Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas. panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. enapkan.• • • 1. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus : 1. tuangi massa dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir diuapkan tidak meninggalkan sisa. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau perkolasi. • Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam. Perkolat disuling atau diuapkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki • Pada pembuatan ekstrak cair 0.2 bagian campur dengan perkolat pertama. serkai. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi. Perkolasi • Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. • Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. Serkai selagi panas melalui kain flanel. suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi. Infus (Infusa) Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90 0C selama 15 menit. 3. G. perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih. perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0.8 bagian perkolat pertama dipisahkan. serkai. Setelah perkolator ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang digunakan. uapkan pada tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki. terlindung dari cahaya • Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki. Jumlah simplisia Derajat halus simplisia Banyaknya ekstra air . 2. tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki. Maserasi Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur.

Infus daun sena. infus asam jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas. diserkai setelah dingin. 6 bagian 0. • Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air panas. kecuali infus simplisia yang mengandung minyak atsiri. Derajat Halus Simplisia Yang digunakan untuk infus harus mempunyai deajat halus sebagai berikut : Serbuk (5/8) Serbuk (8/10) Serbuk (10/22) Serbuk (22/60) Serbuk (85/120) 3.5 bagian 0. jahe Kulit kina. akar valerian. 1. temulawak. Jumlah Simplisia • • Kecuali dinyatakan lain. . Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada umumnya dalam keadaan kering. sekale kornutum Daun digitalis daun sirih. karena zat berkhasiatnya larut dalam keadaan panas. digunakan sejumlah simplisia seperti tersebut di bawah ini : Kulit kina Daun digitalis Akar ipeka Daun kumis kucing Sekale kornutum Daun sena Temulawak 2.5 bagian 3 bagian 4 bagian 4 bagian 4. 5. akan mengendap dalam keadaan dingin. tetapi tidak larut dalam air dingin. Cara Menyerkai • Pada umumnya infus di serkai selagi panas. untuk membuat 100 bagian infus. daun sena Dringo.4. Akar manis. daun kumis kucing. Kecuali untuk simplisia seperti yang tertera di bawah ini. Banyaknya Air Ekstra Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali berat simplisia. kelembak Laos. akar ipeka. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras di buat dengan menggunakan 10 % simplisia.5 bagian 0. • Untuk decocta Condurango diserkai dingin. Cara menyerkai Penambahan bahan-bahan lain • • • untuk menambah kelarutan untuk menambah kestabilan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.

tidak berwarna dan tidak berlendir. terlindung dari cahaya. Talc berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan jernih. diamkan. kocok. Diantara air aromatika. buku lain juga mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. hendaknya diambil derajat kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan bahan yang sama. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok kuat-kuat. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi dalam 60 ml etanol 95%. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II. ada yang mempunyai daya terapi yang lemah. • Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya.• Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan air hingga massa seperti bubur. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air. Air aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal. Penambahan Bahan-Bahan Lain Pada pembuatan infus kulit kina ditambahkan asam sitrat 10% dari bobot bahan berkhasiat dan pada pembuatan infus simplisia yang mengandung glikosida antrakinon. di tempat sejuk. Aqua aromatik yang diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam. tambahkan 500 mg talc. Khasiat : zat tambahan. . bebas bau empirematic atau bau lain. Pemerian aqua aromatika : cairan jernih. Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. Air Aromatik (Aqua Aromatica) Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. atau agak keruh. 3. tetapi terutama digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. 5. Penyimpanan : dalam wadah terttutup rapat. • Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu. Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh. kocok kuat-kuat sebelum digunakan. saring. 4. H. bau dan rasa tidak boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal. ditambahkan Natrium karbonat 10% dari bobot simplisia. 2. Cara pembuatan : 1.

oleum olivae. Olea Volatilia adalah campuran bahan-bahan berbau keras yang menguap. buah atau dibuat secara sintetis. Minyak Atsiri (Olea Volatilia) Minyak atsiri disebut juga minyak menguap atau minyak terbang. Contoh : daun. 3. terlindung dari cahaya. terisi penuh. begitupun yang padat sesudah dihangatkan (diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik. yang cair harus jernih. anti racun. Sebagai obat. oleum sesami. misalnya : oleum ricini. Sebagai zat tambahan Sebagai pelarut. Minyak atsiri diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. misalnya : oleum arachidis. mudah menguap . Penyimpanan minyak lemak : Kecuali dinyatakan lain. dapat dipakai sebagai pencahar. Sifat-sifat minyak atsiri : 1. minyak harsa dan minyak-minyak asing lainnya. bunga. Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain : Minyak lemak dibagi dalam dua golongan : 1. Eter dan Eter minyak tanah. Cara-cara mendapatkan minyak lemak 1. lalu segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat. J. 1. lotio dan lain-lain. misalnya : oleum cacao. 2. 2.I. yang diperoleh baik dengan cara penyulingan atau perasan simplisia segar maupun secara sintetis. oleum cocos harus jernih. diperas pada suhu biasa. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl 3. 2. minyak-minyak yang tidak dapat mengering. misalnya : oleum arachidis. untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak. Cara identifikasi minyak lemak : Pada kertas meninggalkan noda lemak Penggunaan minyak lemak : 1. harus disimpan dalam wadah tertutup baik. oleum amygdalarum. 2. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini. kulit buah. misalnya : sebagai pelarut obat suntik. Minyak Lemak (Olea Pinguia) Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida asam lemak bersuku tinggi). oleum ricini. senyawa belerang dan logam berat. oleum ricini diperas pada suhu panas. 3. oleum olivarum.

disebabkan adanya zat-zat asing dalam minyak atsiri tersebut. 5. 1. Cara penyulingan ( destilasi). sedikit kuning muda. Warna coklat. Cara pemerasan yaitu cara yang termudah dan masih dapat dikatakan primitif. Pemerian : • • • Cairan jernih Bau seperti bau bagian tanaman asal. 4. Contoh : minyak jeruk B. Warna hijau yang ada seperti yang terlihat diperdagangan karena adanya : klorophyl dan spora-spora Cu (tembaga). 2. biarkan memisah. rasa yang tajam wangi yang khas tidak larut dalam air. karena jumlah air yang akan menjadi uap dan membawa serta minyak terbatas jumlahnya. terisi penuh. teteskan 1 tetes minyak di atas air. Cara ini hanya dapat digunakan untuk jumlah bahan bakal yang sedikit. permukaan air tidak keruh. Cara-cara memperoleh minyak atsiri : A. hijau ataupun biru. Alirkan ke dalamnya uap air yang berasal dari bejana lain. pada sepotong kertas teteskan 1 tetes minyak yang diperoleh dengan cara penyulingan uap tidak terjadi noda transparan kocok sejumlah minyak dengan larutan NaCl jenuh volume sama. kemudian minyak yang keluar dengan uap air di tampung. Ada 2: Cara langsung ( menggunakan api langsung) Bahan yang akan diolah di masukkan ke dalam sebuah bejana di atas pelat yang berlubang dan bejana berisi air. 2. larut dalam pelarut organik. Uap air yang naik melalui lubang dan melalui sebuah pendingin. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dalam jumlah yang besar terutama bahan bakal yang mempunyai kadar minyak atsiri yang rendah. Cara tidak langsung ( destilasi uap) Bahan yang akan di olah di masukkan ke dalam sebuah bejana dan di tambah dengan air.2. Warna kuning atau kuning coklat terjadi karena adanya penguraian. terlindung dari cahaya dan ditempat sejuk. Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat. 3. volume air tidak boleh bertambah. minyak atsiri yang segar tidak berwarna. Misalnya : Minyak kayu putih (Oleum Cajuputi) yang murni tidak berwarna. Cara ini hanya dapat dipakai untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan untuk minyak atsiri yang mempunyai kadar tinggi dan minyak atsiri yang tidak tahan pemanasan. Identifikasi : 1. . 3.

Daun bunga disebarkan diatas keping gelas yang lebih dulu dilapisi dengan lemak atau gemuk. Alkohol yang digunakan bukan alkohol fortior sebab waktu diuapkan. Rasa diperiksa dengan mencampur satu tetes minyak atsiri dengan 2 gram gula. biarkan memisah. Dibiarkan beberapa lama. . Ke dua lapisan ini dapat dipisahkan dan setelah dipisahkan sisa air dapat di keringkan dengan menggunakan zat . Jika Bj minyak atsiri > Bj air maka minyak atsiri berada di bawah dan sebaliknya. permukaan air tidak keruh. yaitu air dan minyak atsiri. Cara Enfleurage • Biasanya untuk minyak atsiri yang berasal dari daun bunga yang digunakan untuk kosmetik. Oleum kajuputi berwarna hijau karena senyawa tembaga dari alat penyulingnya terlarut kedalamnya. Kekeringan dibuktikan dengan cara mengocok sejumlah minyak atsiri dengan larutan Natrium Klorida jenuh vbolume sama. tergantung dari jenis daun yang diolah. Minyak atsiri yang ada dalam alkohol disuling secara vacum (dengan alat evaporator vacum ).zat pengering. Cara ini dapat digunakan untuk bahan bakal dengan kandungan minyak atsiri yang rendah dan tidak tahan pemanasan.Dari ke dua cara di atas pada bejana penampungan akan terdapat dua lapisan. 4. Hal ini dibuktikan dengan cara meneteskan keatas kertas perkamen tidak meninggalkan noda transparan. minyak atsiri akan larut. Biasanya lemak itu dapat digunakan untuk 30 kali. tidak berwarna. • Kemudian lapisan lemak dikerok. Bila lapisan minyak atsiri dan air sukar dipisahkan dapat di tambahkan NaCl jenuh untuk menarik airnya 3. Minyak atsiri yang diperoleh dari penyulingan uap harus bebas minyak lemak. 3. volume air tidak boleh bertambah. Minyak atsiri akan berwarna kuning atau kuning kecoklatan karena sudah terurai atau teroksidasi. 2. Letak minyak atsiri dan air tergantung pada berat jenisnya.Kejernihan dapat dibuktikan dengan cara meneteskan 1 tetes minyak atsiri keatas permukaan air. hanya beberapa yang sesui dengan warna aslinya. Mudah larut dalam Chloroform atau Eter. Harus kering. contoh: Na2SO4 exicatus. sehingga lemaknya dapat dipisahkan dari minyak atsiri. Syarat – syarat minyak atsiri 1. uap air akan membawa minyak atsiri. Bau dan rasa seperti simplisia. 5. Kemudian daun bunga diangkat. karena air akan mempercepat reaksi oksidasi sehingga minyak akan berwarna. sedangkan lemaknya tidak larut. Pengeringan sisa air ini perlu di lakukan sebab dengan adanya sisa air tersebut minyak atsiri cepat rusak / menjadi tengik. kalau perlu setelah pemanasan. Oleum bergamottae berwarna hijau karena klorofilnya terlarut kedalamnya. contoh:bunga melati 24 jam. sampai lemak itu benar-benar jenuh dengan minyak atsiri.Minyak menguap umumnya tidak berwarna. diganti dengan yang segar sampai beberapa kali. dilarutkan dalam alkohol absolut. Harus jernih. Bau diperiksa dengan cara mencampurkan satu tetes minyak atsiri dengan 10 ml air.

larutan atau campuran larutan bahan obat misalnya : methydilazina hydrochloridi sirupus. serkai.25 % b/v atau pengawet lain yang cocok. tambahkan gula. bila lebih tinggi akan terjadi pengkristalan. a. . Cairan untuk sirup. 2.3 Pada penyimpanan dapat terjadi inversi dari sakarosa ( pecah menjadi glukosa dan fruktosa ) dan bila sirup yang bereaksi asam inversi dapat terjadi lebih cepat. kedalam mana gulanya akan dilarutkan dapat dibuat dari : 1. • Kecuali dinyatakan lain. • • Bj sirup kira-kira 1. sirup-sirup dengan nama patent misalnya yang mengandung campuran vitamin . tetapi bila lebih rendah dari 62 % sirup akan membusuk. pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan metil paraben 0. b. Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki. panaskan. Cara pembuatan sirup : Buat cairan untuk sirup. Kadar sakarosa (C 12 H22 O11) tidak kurang dari 64% dan tidak lebih dari 66%. buang busa yang terjadi. d. • • • Pemanasan sebaiknya dihindari karena pemanasan akan menyebabkan terjadinya gula invert. jika perlu didihkan hingga larut. Gula invert tidak dikehendaki dalam sirup karena lebih encer sehingga mudah berjamur dan berwarna tua ( terbentuk karamel ). sirup tidak dapat ditumbuhi jamur. c. • Kadar gula dalam sirup pada suhu kamar maksimum 66 % sakarosa. aqua destilata : untuk sirupus simplex. • Pada sirup yang mengandung sakarosa 62 % atau lebih. Gula invert adalah gula yang terjadi karena penguraian sakarosa yang memutar bidang polarisasi kekiri. Syrup (Sirupi) Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung sakarosa. meskipun jamur tidak mati.K. hasil-hasil penarikan dari bahan dasar : maserat misalnya sirupus Rhei perkolat misalnya sirupus Cinnamomi colatura misalnya sirupus Senae sari buah misalnya rubi idaei 3. • pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon di tambahkan Na2CO3 sejumlah 10% bobot simplisia. tetapi mencegah terjadinya oksidasi dari bahan obat.

Kadang-kadang gula invert dikehendaki adanya misalnya dalam pembuatan sirupus Iodeti ferrosi.25% atau pengawet lain yang cocok. Maka untuk kestabilan sirup. Penting untuk kestabilan sirup dalam penyimpanan. Untuk cinnamomi sirupus sakarosa dilarutkan tanpa pemanasan. Gula invert disini dipercepat pembuatannya dengan memanaskan larutan gula dengan asam sitrat. aurantii corticis sirupus. misalnya : sirupus aurantii . Obat. 3. 2. Dari ketiga cara memasukkan sirup ke dalam botol ini yang terbaik adalah cara ketiga. seperti pada pembuatan Thymi sirupus dan Thymi compositus sirupus. misalnya : chlorfeniramini maleatis sirupus. Sterilisasi sirup. • • Untuk mencegah sirup tidak menjadi busuk. zat putih telur akan menggumpal karena panas. 2. Mengisikan sirup panas-panas kedalam botol panas ( karena sterilisasi ) sampai penuh sekali sehingga ketika disumbat dengan gabus terjadi sterilisasi sebagian gabusnya. • Bila cairan hasil sarian mengandung zat yang mudah menguap maka sakarosa dilarutkan dengan pemanasan lemah dan dalam botol yang tertutup. Tetapi pada pendinginan ada kemungkinan terjadinya cemaran sehingga terjadi juga penjamuran. 2 Menambahkan kocokan zat putih telur segar pada sirup . dapat ditambahkan bahan pengawet misalnya nipagin. Ada beberapa cara menjernihkan sirup : 1. maka jamur dapat tumbuh. FI III juga menuliskan tentang panambahan metil paraben 0. Sirup yang sudah dingin disimpan dalam wadah yang kering. sirup diencerkan dengan air dapat pula ditumbuhi jamur. • Maksud menyerkai pada sirup adalah untuk memperoleh sirup yang jernih. Cara memasukkan sirup ke dalam botol. Hal ini disebabkan karena sirup merupakan media yang mereduksi. Bila dalam resep. Didihkan sambil diaduk. Dalam ilmu farmasi sirup banyak digunakan karena dapat berfungsi sebagai : 1. lalu sumbat gabus dicelup dalam lelehan parafin solidum yang menyebabkan sirup terlindung dari pengotoran udara luar.• Bila kadar sakarosa turun karena inversi. Menambahkan bubur kertas saring lalu didihkan dan saring kotoran sirup akan melekat ke kertas saring. disini harus diperhitungkan pemanasan 30 menit apakah tidak berakibat terjadinya gula invert. Corigensia saporis. mencegah bentuk ferro menjadi bentuk ferri. misalnya : sirupus simplex Corigensia odoris. supaya awet (tidak berjamur ) sebaiknya sirup disimpan dengan cara : 1.

Corigensia coloris. sirupus rubi idaei 3. Pengawet. misalnya sediaan dengan bahan pembawa sirup karena konsentrasi mencegah pertumbuhan bakteri. misalnya : sirupus Rhoedos. gula yang tinggi . Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan di tempat sejuk.

Pengertian Menurut FI edisi IV. Kemudian dikeluarkan dan dibiarkan kering. Etiket pada tablet harus mencantumkan nama tablet / zat aktif yang terkandung. Tablet cetak Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi umumnya mengandung laktosa dan serbuk sukrosa dalam berbagai perbandingan. Kadar etanol tergantung pada kelarutan zat aktif dan bahan pengisi dalam sistem pelarut dan derajat kekerasan tablet yang diinginkan. Bentuk khusus ini dimaksudkan untuk menghindari / mencegah / menyulitkan pemalsuan dan agar mudah dikenal orang. b. bahan pengaroma dan bahan pemanis. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet. bahan pengisi. . Penggolongan 1. lonjong dan sebagainya. umumnya silendris. membedakan tablet yang satu dengan tablet yang lain. Tablet kempa. desintegran dan lubrikan. tetapi ada tablet yang sengaja diberikan warna dengan maksud agar tablet lebih menarik. Tablet kempa Dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet cetak b. Tablet cetak agak rapuh. Warna tablet umumnya putih. Bolus adalah tablet besar yang digunakan untuk obat hewan besar. Berdasarkan metode pembuatan : a. Umumnya tablet kempa mengandung bahan zat aktif. jumlah zat aktif ( zat berkhasiat ) tiap tablet. Massa serbuk dibasahi dengan etanol prosentase tinggi . bahan pengikat. Tablet triturat merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil.BAB XI TABLET / COMPRESSI A. bundar. Tablet yang berwarna kemungkinan karena zat aktifnya berwarna. Bentuk tablet umumnya berbentuk cakram pipih / gepeng. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( pewarna diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Tablet hipodermik adalah tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. sehingga harus hati-hati dalam pengemasan dan pendistribusian. B. digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk peracikan obat. tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Kepadatan tablet tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan. a. mencegah pemalsuan. segitiga. Massa serbuk yang lembab ditekan dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. harus steril dan dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan untuk injeksi hipodermik.

sorbitol atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi. 2. juga mengandung campuran asam (asam sitrat. b) Repeat action tablet ( RAT ) Granul-granul dari kelompok yang paling lama pecahnya dicetak dahulu menjadi tablet inti ( core tablet ). yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida . kelompok kedua disalut dengan bahan penyalut yang akan pecah setelah beberapa saat. mengandung bahan pewarna dan bahan pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa. granul-granul dibagi dalam beberapa kelompok. meninggalkan residu dengan rasa enak dalam rongga mulut. Kelompok pertama tidak diapa-apakan. Bekerja lokal : tablet hisap untuk pengobatan pada rongga mulut. asam tartrat) dan Natrium bikarbonat. dalam satu hari memerlukan beberapa kali menelan tablet. pada etiket tertera tidak untuk langsung ditelan. Kemudian granul-granul yang kurang lama pecahnya dimampatkan di sekelilingnya kelompok pertama sehingga terbentuk tablet baru. Tablet yang bekerja sistemik dapat dibedakan menjadi : 1) Yang bekerja short acting ( jangka pendek ). Tablet salut biasa / salut gula ( dragee ). disimpan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab. diberikan secara oral atau jika diperlukan ketersediaan obat yang cepat seperti halnya tablet nitrogliserin.Tablet Sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah. Ovula pengobatan pada infeksi di vagina. kelompok ketiga disalut dengan bahan penyalut yang pecah lebih lama dari kelompok kedua. Tablet kunyah dimaksudkan untuk dikunyah.Berdasarkan distribusi obat dalam tubuh: Dibedakan menjadi 2 ( dua ) bagian. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. demikian seterusnya. 3. Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi. Dibuat dengan cara dikempa. sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut. b. kalsium karbonat. Tablet effervesent yang larut dibuat dengan cara dikempa. tergantung dari macamnya bahan penyalut dan lama kerja obat yang dikehendaki. Diformulasikan untuk anak-anak. umumnya menggunakan manitol. selain zat aktif. disalut dengan gula dari suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut seperti pati. Long acting ini dapat dibedakan lagi menjadi: a) Delayed action tablet ( DAT ) Dalam tablet ini terjadi penangguhan pelepasan zat berkhasiat karena pembuatannya sebagai berikut : Sebelum dicetak. a. Bekerja sistemik : per oral. 2) Yang bekerja long acting ( jangka panjang ) dalam satu hari cukup menelan satu tablet. terutama formulasi multivitamin. antasida dan antibiotik tertentu. Granul-granul dari semua kelompok dicampurkan dan baru dicetak. Berdasarkan jenis bahan penyalut. talk atau titanium dioksida yang disuspensikan dengan . Macam-macam tablet salut : a.

dan perlu penyalut tahan air. Mula-mula dibuat tablet inti. Tablet salut enterik (enteric coated tablet). hidrosi propil selulosa. menggunakan smoothing syrup. 2) Melicinkan (smoothing) Adalah proses agar tablet menjadi bulat dan licin. dengan menggunakan cera. Tablet salut kempa : Tablet yang disalut secara kempa cetak dengan massa granulat yang terdiri dari laktosa. yaitu pengeringan salut sehingga terbentuk hasil akhir yang licin. e. b. Tablet lepas-lambat (sustained release). c. efek pengulangan dan lepas lambat) dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. kalsium fosfat dan zat lain yang cocok. Melindungi zat aktif yang bersifat hygroskopis atau tidak tahan terhadap pengaruh udara. menggunakan salut penutup (sealing coat) agar air dari subcoating syrup tidak masuk ke dalam tablet. kelembaban atau cahaya. Hal ini memperlambat disolusi dan memperbesar bobot tablet. metil selulosa. 5) Pengilapan (polishing) Yaitu proses yang menghasilkan tablet salut menjadi mengkilap. d.G yang tidak mengandung air atau mengandung air. Tablet salut selaput (film coated tablet / fct). Kelemahan salut gula adalah waktu penyalutan lama. Tahapan pembuatan salut gula : 1) Penyalutan dasar ( subcoating ) Dilakukan jika tablet mengandung zat yang hygroskopis. (efek diperpanjang. kemudian dicetak kembali bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet berlapis ( multi layer tablet ).E. b. Tablet ini sering dipergunakan untuk pengobatan secara repeat action. Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan P. disalut dengan hidroksipropil metilselulosa. 3) Pewarnaan (coloring) Dilakukan dengan memberi zat warna yang dicampur pada sirup pelicin. Tujuan penyalutan tablet adalah : a. 4) Penyelesaian (finishing) Proses terakhir dari penyalutan tablet. diperlukan penyalut enterik yang bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung. . Menutupi rasa dan bau yang tidak enak.gom akasia atau gelatin. (tablet lepas-tunda) jika obat dapat rusak atau inaktif karena cairan lambung atau dapat mengiritasi mukosa lambung.

Tablet bukal (buccal tablet) h. umumnya dengan bahan dasar beraroma. pasta pati terhidrolisa. Tablet kunyah (chewable tablet) : Bentuk seperti tablet biasa. Tablet vagina (Ovula) C. misalnya enteric tablet yang pecah di usus. adstringensia.c. Bahan excipient / bahan tambahan a. berat umumnya 30 mg. pecah di lambung b. Zat aktif harus memenuhi syarat yang ditentukan Farmakope 2. 4. povidon. Tablet implantasi (pelet): Tablet kecil. Umumnya mengandung antibiotik. bulat atau oval putih. sukrosa. gelatin. Bahan pengikat (binder) berfungsi memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi misalnya gom akasia. CMC. Zat khasiat akan dilepas perlahan-lahan. Tablet larut (effervescent tablet) : Contohnya Ca-D-Redoxon . trochisi. Tablet hipodermik (hypodermic tablet) : tablet steril. . Supradin Effervescent tablet. dan selulosa mikrokristal b. dapat juga mengandung bahan pewarna dan lak ( bahan warna yang diadsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut ) yang diizinkan. Komponen Tablet Komponen / formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif. a. dan manis. bahan pengaroma dan bahan pemanis. f. kemudian kulit dijahit kembali. digunakan per oral dengan cara ditelan. d. bahan pengisi. pastiles) : adalah sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat. Dihisap di dalam rongga mulut. Bahan pengisi (diluent) berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah dicetak atau dibuat. metilselulosa. bahan pengikat. 1. pati. c. g. kemudian tablet dimasukkan. Berdasarkan cara pemakaian. kalsium fosfat dibase. selulosa mikrokristal. dan lubrikan. larut dalam air digunakan dengan cara melarutkan ke dalam air untuk injeksi secara aseptik dan disuntikkan di bawah kulit ( subcutan ). digunakan sebagai obat lokal pada infeksi di rongga mulut atau tenggorokan. yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan-lahan dalam mulut. Tablet biasa / tablet telan : dibuat tanpa penyalut. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Tablet hisap (lozenges. steril dan bersi hormon steroid. caranya dikunyah dulu dalam mulut kemudian ditelan. dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit. Bahan pengisi ditambahkan jika zat aktifnya sedikit atau sulit dikempa. desintegran. rasanya umumnya tidak pahit. Misalnya laktosa.. e. Membuat penampilan lebih baik dan menarik d. Tablet ini dibuat dengan cara tuang ( dengan bahan dasar gelatin dan atau sukrosa yang dilelehkan atau sorbitol ) disebut Pastilles atau dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut Trochisi. antiseptik. Tablet sublingual i.

Tujuan granulasi adalah sebagai berikut : 1. f. Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik. . karena akan ambyar dan mudah pecah tabletnya. biasanya digunakan untuk tablet yang penggunaannya lama di mulut. Bahan pengharum (flavour) berfungsi menutupi rasa dan bau zat khasiat yang tidak enak (tablet isap Penisillin). e. Bahan pelicin (lubrikan/ lubricant) berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Bahan pewarna (colour) dan lak berfungsi meningkatkan nilai estetika atau untuk identitas produk. 3. Cara Pembuatan Tablet Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk. Bahan penyalut (coating agent) : lihat di atas pada jenis bahan penyalut 3. Ajuvans a. asam alginat. Oleh karena itu kadar lubrikan yang berlebih harus dihindari. Makin banyak udaranya. PEG dan garam Lauril sulfat dapat digunakan tetapi kurang memberikan daya lubrikasi yang optimal dan perlu kadar yang lebih tinggi. D. Campuran serbuk itu harus diubah menjadi granul-granul. tidak mudah melekat pada stempel (punch) dan mudah lepas dari matris (die) Granul-granul yang dibentuk masih diperbolehkan mengandung butiran-butiran serbuk lembut / halus (fines) antara 10 % – 20 % yang bermanfaat untuk memperbaiki sifat alirnya (free-flowing). Misalnya pati. tidak dapat langsung dicampur dan kemudian dicetak menjadi tablet. supaya sifat alirnya baik (free-flowing) : granul dengan volume tertentu dapat mengalir teratur dalam jumlah yang sama ke dalam mesin pencetak tablet. Granulasi basah. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. sehingga dapat menurunkan kecepatan desintegrasi dan disolusi tablet. Misalnya senyawa asam stearat dengan logam. selulosa mikrokristal dan povidon sambung-silang d. ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika dibanding bentuk serbuk jika diukur dalam volume yang sama. tablet makin mudah pecah. Bahan penghancur / pengembang (desintegran) berfungsi membantu hancurnya tablet setelah ditelan. b. pati dan selulosa yang termodifikasi secara kimia. Cara mengubah serbuk menjadi granul ini disebut granulasi . yaitu kumpulan serbuk dengan volume lebih besar yang melekat satu dengan lain. pada saat dicetak. Misalnya zat pewarna dari tumbuhan. Misalnya Silika pirogenik koloidal. Misalnya macammacam minyak atsiri.c. granulasi kering (mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Cara pembuatan tablet dibagi menjadi 3 cara yaitu granulasi basah. Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk. minyak nabati terhidrogenasi dan talk. 2. asam stearat. umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi.

Cetak/kempa langsung. Setelah kering diayak lagi untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan E. bila perlu ditambah bahan pewarna. sehingga menjadi tablet besar (slugging) yang tidak berbentuk baik. sukrosa yang dapat dikempa dan beberapa pati termodifikasi. kemudian digiling dan diayak hingga diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan. zat pelicin kurang. lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat.500 C ( tidak lebih dari bahan pelicin / lubrikan dan dicetak menjadi tablet dengan mesin tablet. terjadi pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi. Misalnya tablet Hexamin. zat pengisi dan zat penghancur sampai homogen. zat khasiatnya berbentuk kristal yang bersifat free-flowing Bahan pengisi untuk kempa langsung yang paling banyak digunakan adalah selulosa mikrokristal. bila perlu ditambahkan zat pengikat. 2. Granulasi kering / slugging / pre compression. massanya basah. 3. zat khasiatnya mempunyai sifat alir yang baik (free-flowing) 3. zat pengisi dan zat penghancur . Whiskering : terjadi karena pencetak tidak pas dengan ruang cetakan. Daya pengikat dalam massa tablet kurang. tablet KMnO4. Cara granulasi basah menghasilkan tablet yang lebih baik dan dapat disimpan lama dibanding cara granulasi kering. Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat . tidak diperlukan panas dan kelembaban dalam proses granulasi kering ini serta penggunaan alatnya lebih sederhana. dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 400 . 60 0 C ) .Dilakukan dengan mencampurkan zat khasiat. laktosa semprot-kering. Caping : membelahnya tablet di bagian atasnya Penyebabnya adalah : a. Spliting/caping Spliting : lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet terutama pada bagian tengah. Macam-Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet 1. zat pelicin menjadi massa serbuk yang homogen. Binding : kerusakan tablet yang disebabkan massa yang akan dicetak melekat pada dinding ruang cetakan. . Setelah itu diayak menjadi granul. sisi-sisi yang lebih akan lepas dan menghasilkan bubuk. 4. Kerugian. pencetak masih ada lemaknya. Akibatnya pada penyimpanan dalam botol-botol. laktosa anhidrat. Keuntungan. Akhirnya dikempa cetak lagi sesuai ukuran tablet yang diinginkan. Sticking / picking : pelekatan yang terjadi pada punch atas dan bawah yang disebabkan permukaan punch tidak licin. 2. dilakukan apabila: 1. tablet NaCl. lalu dikempa cetak pada tekanan tinggi. jumlah zat khasiat per tabletnya cukup untuk dicetak. menghasilkan tablet yang kurang tahan lama dibanding dengan cara granulasi basah.

Formulanya tidak sesuai e. Crumbling : tablet menjadi retak dan rapuh. 6. c. Penyebabnya adalah kurang tekanan pada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang. Die dan punch tidak rata 5. terlalu banyak mengandung udara sehingga setelah dicetak udara akan keluar. Tenaga yang diberikan pada pencetakan tablet terlalu besar. sehingga udara yang berada di atas massa yang akan dicetak sukar keluar dan ikut tercetak. Massa tablet terlalu banyak fines. . d. Motling : terjadi karena zat warna tersebar tidak merata pada permukaan tablet.b.

.ed. hasilnya merupakan larutan yang memenuhi syarat larutan injeksi... Pengertian Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan.. Untuk Injeksi.III disebut berupa Larutan. Procaine Penicilline G steril untuk suspensi. mengandung satu atau lebih dapar. 4 Sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau ke dalam saluran spinal.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril. hasilnya merupakan suspensi yang memenuhi syarat suspensi steril....IV.. Misalnya : Inj.. Penicilline Oil untuk injeksi 5 jenis yang ........ ditandai dengan nama. Sediaan berupa larutan dalam air / minyak / pelarut organik yang lain yang digunakan untuk injeksi....ed. Dihydrostreptomycin Sulfat steril 3 Sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai....... pengencer atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi.... hasilnya merupakan emulsi yang memenuhi semua persyaratan emulsi steril.. Misalnya : Inj.. Dalam FI.. Suspensi Hydrocortisone Acetat steril 5 Sediaan berupa emulsi. Vit.. ditandai dengan nama . ditandai dengan nama. Injeksi.ed.. Dalam FI... . emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. pelarutnya aqua pro injection Inj..... Camphor oil . . Dalam FI. Steril. Misalnya : Inj...ed. Steril untuk Suspensi. Luminal. Dalam FI. sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi berbeda : 1. pelarutnya Olea neutralisata ad injection Inj...Steril.III disebut berupa zat padat kering jika akan disuntikkan ditambah zat pembawa yang cocok dan steril....III disebut bahan obat dalam pembawa cair yang cocok... pelarutnya Sol Petit atau propilenglikol dan air 2 Sediaan padat kering (untuk dilarutkan) atau cairan pekat tidak mengandung dapar... ditandai dengan nama ....... yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.C. Dalam FI..ed...ed.. Misalnya : Inj. ... Misalnya : Inj. Dalam FI. Suspensi. ditandai dengan nama . pengencer atau bahan tambahan lain.BAB XII INJECTIONES / INJEKSI A....III disebut Suspensi steril ( zat padat yang telah disuspensikan dalam pembawa yang cocok dan steril) ..

Injeksi intraarterium ( i.20 ml. 3. 8. Injeksi intravenus ( i. . tidak lebih dari 1 ml. yang berupa emulsi atau suspensi diserap lambat dengan maksud untuk mendapatkan efek yang lama. sebab akan menyumbat pembuluh darah vena tersebut. bersifat depo (absorpsinya lambat). disuntikkan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.k / i. meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonis. Infusi harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung bakterisida. disebut "infus intravena/ Infusi/Infundabilia". Larutan harus isotonis karena sirkulasi cairan cerebrospinal adalah lambat. Berupa suspensi / larutan. suspensi atau emulsi dapat diberikan secara ini.6 lumbra vertebrata ) yang ada cairan cerebrospinalnya. Injeksi intramuskuler ( i. Injeksi intrakutan ( i.v ) Disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah vena.v dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen. volume antara 1 . Injeksi intravenus yang diberikan dalam dosis tunggal dengan volume lebih dari 10 ml. Volume penyuntikan antra 4 .c ) atau intradermal Dimasukkan ke dalam kulit yang sebenarnya. Dapat diberikan dalam jumlah besar (volume 3 .10 ml. Cara ini disebut" Hipodermoklisa ". Dibuat isitonis. 10. pH netral. Bentuknya berupa larutan.c ) atau hipodermik Disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam alveolar. Intraartikulus Disuntikkan ke dalam cairan sendi di dalam rongga sendi.B. intraspinal. disuntikkan hanya dalam keadaan gawat.0. 4. bila pasien tersebut tidak dapat diberikan infus intravena.4 liter/hari dengan penambahan enzym hialuronidase).t). berupa larutan atau suspensi dalam air.kd ) Disuntikkan langsung ke dalam otot jantung atau ventriculus. tidak boleh mengandung bakterisida. Yang berupa larutan dapat diserap dengan cepat. 7. Injeksi dalam bentuk larutan. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis (disuntikkannya lambat / perlahan-lahan dan tidak mempengaruhi sel darah). 6. jernih. Umumnya larutan bersifat isotonik. Injeksi i.k / s. Macam-Macam Cara Penyuntikan 1. 5. Jaringan syaraf di daerah anatomi disini sangat peka. sedangkan bentuk suspensi atau emulsi tidak boleh. Injeksi intratekal (i.1 . volume antara 1 . isotonis. tidak boleh mengandung bakterisida. Injeksi subkutan ( s.s).10 ml.a ) Disuntikkan ke dalam pembuluh darah arteri / perifer / tepi. Disuntikkan langsung ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak ( antara 3 -4 atau 5 .d ). 9.2 ml. Volume yang disuntikkan antara 0.v dengan volume 15 ml atau lebih tidak boleh mengandung bakterisida Injeksi i. intradural ( i. Injeksi intrabursa Disuntikkan ke dalam bursa subcromillis atau bursa olecranon dalam bentuk larutan suspensi dalam air. digunakan untuk diagnosa.m ) Disuntikkan ke dalam atau diantara lapisan jaringan / otot. volume yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. intrasisternal (i. 2. Bentuk suspensi / larutan dalam air. Injeksi intrakor / intrakardial ( i. Injeksi subkonjuntiva Disuntikkan ke dalam selaput lendir di bawah mata. subaraknoid.

11.a ( pro analisa ) walaupun secara kimiawi terjamin kualitasnya.p ) Disuntikkan langsung ke dalam rongga perut.d ). Ol. didinginkan dan segera digunakan. sebagai zat pembawa injeksi harus memenuhi syarat Uji pirogen dan uji Endotoksin Bakteri. Ol. injeksi glukosa. Zat pembawa / zat pelarut 3.ed. harus disterilkan dengan cara Sterilisasi A atau C segera setelah diwadahkan. Menurut FI. b) Zat pembawa tidak berair Umumnya digunakan minyak untuk injeksi (olea pro injection) misalnya Ol. Air untuk injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama tidak kurang dari 10 menit sambil mencegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin. terletak diatas durameter.i ( pro injection ) Obat yang beretiket p. tetapi belum tentu memenuhi syarat untuk injeksi. Wadah dan tutup 1. sulingan selanjutnya ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan. lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian : a) Zat pembawa berair Umumnya digunakan air untuk injeksi. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi. menggunakan air untuk injeksi. Bahan obat / zat berkhasiat a) b) c) Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam Farmakope. Penyerapan cepat . . Bahan obat / zat berkhasiat 2. epidural Disuntikkan ke dalam ruang epidural. Injeksi peridural ( p. Susunan Isi ( Komponen ) Obat Suntik 1. Kecuali dinyatakan lain. Sol. extradural. Jika dimaksudkan sebagai pelarut serbuk untuk injeksi . NaCl dapat ditambahkan untuk memperoleh isotonik. Disamping itu dapat pula digunakan injeksi NaCl. segera setelah diwadahkan. Bahan pembantu / zat tambahan 4. bahaya infeksi besar 12. Injeksi NaCl atau injeksi Ringer dapat digunakan untuk pengganti air untuk injeksi. Air untuk injeksi ( aqua pro injection ) dibuat dengan cara menyuling kembali air suling segar dengan alat kaca netral atau wadah logam yang dilengkapi dengan labu percik. zat pembawa mengandung air. Sesami. harus disterilkan dengan cara sterilisasi A.IV. Pada etiketnya tercantum : p. 2. Arachidis.Petit. Hasil sulingan pertama dibuang. injeksi NaCl compositus. C. Olivarum. Injeksi intraperitoneal ( i.

IV. Kecuali  Belerang dioksida atau sejumlah setara dengan Kalium atau Natrium Sulfit. a) Untuk mendapatkan pH yang optimal pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7.v .9 (4) Bilangan iodium 79 .01 %  Golongan Klorbutanol. 3.128 (5) Bilangan penyabunan 185 . kreosol dan fenol tidak lebih tidak lebih dari 0. tidak lebih dari 0.Pembawa tidak berair diperlukan apabila : (1) Bahan obatnya sukar larut dalam air (2) Bahan obatnya tidak stabil / terurai dalam air. Pemilihan dan penggunaan bahan tambahan harus hati-hati untuk injeksi yang diberikan lebih dinyatakan lain berlaku sebagai berikut :  Zat yang mengandung raksa dan surfaktan kationik. Tidak boleh ditambahkan bahan pewarna. . bahan tambahan untuk mempertinggi stabilitas dan efektivitas harus memenuhi syarat antara lain tidak berbahaya dalam jumlah yang digunakan. (2) Tidak berbau asing / tengik (3) Bilangan asam 0. Menurut FI.m. Bahan pembantu / zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : a) b) c) d) e) f) Untuk mendapatkan pH yang optimal Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Untuk mendapatkan larutan isoioni Sebagai zat bakterisida Sebagai pemati rasa setempat ( anestetika lokal ) Sebagai stabilisator. tidak boleh disuntikkan secara i. bisulfit atau metabisulfit .2 . sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh.200 (6) Harus bebas minyak mineral (7) Memenuhi syarat sebagai Olea Pinguia yaitu cairan jernih atau massa padat yang menjadi jernih diatas suhu leburnya dan tidak berbau asing atau tengik Obat suntik dengan pembawa minyak.0.ed. (3) Dikehendaki efek depo terapi. jika hanya mewarnai sediaan akhir. Syarat-syarat minyak untuk injeksi adalah : (1) Harus jernih pada suhu 100 .5 % dari 5 ml. tidak mempengaruhi efek terapetik atau respon pada uji penetapan kadar.2 % dari 0.4 dan disebut Isohidri. hanya boleh secara i.

B1 . menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat. efek terapi optimal obat. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. Penambahan zat tunggal . Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. Menjamin stabilitas obat. Jika larutan injeksi mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari larutan NaCl 0. disebut " Haemolisa ". 2.6 .2. Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. b) Untuk mendapatkan larutan yang isotonis Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. 3. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. Vit. 2. Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan. Jadi sebaiknya larutan injeksi harus isotonis. dapar borat untuk obat tetes mata. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh.520C. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . sehingga sel akan mengkerut.9 % b/v.9 % b/v. air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0. Penambahan larutan dapar. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). 2. jika lebih kecil dari larutan NaCl 0. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. Larutan injeksi dibuat isotonis terutama pada penyuntikan : Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : . pH dapat diatur dengan cara : 1. 2. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0.9 % b/v disebut " hipotonis " . misalnya asam untuk alkaloida. kalau terpaksa dapat sedikit hipertonis. Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. misalnya perubahan warna. sebaiknya obat tidak usah didapar. tetapi jangan sampai hipotonis. 1. disebut " hipertonis ". misalnya dapar fosfat untuk injeksi. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl.Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. air dari larutan injeksi akan diserap dan masuk ke dalam sel. Jika yang pecah itu sel darah merah.0 % b/v. Jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut. basa untuk golongan sulfa.0. akibatnya dia akan mengembang dan menyebabkan pecahnya sel itu dan keadaan ini bersifat tetap. Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang. Kecuali darah. cairan lumbal.C. yaitu . Vit.

penyerapan bahan obat tidak dapat lancar. Keadaan Isotonis apabila nilai B = 0 . sel-sel sekitar penyuntikan dapat rusak. terutama pada Infus intravena. ( darah.520 ) adalah PTB zat khasiat adalah konsentrasi dalam satuan % b/v zat khasiat adalah PTB zat tambahan ( NaCl ) Tiga jenis keadaan tekanan osmotis larutan obat : 1 2.9 % b/v adalah larutan garam fisiologis yang isotonis dengan cairan tubuh. 3.1. Untuk memperoleh larutan isotonik dapat ditambahkan NaCl atau zat lain yang cocok yang dapat dihitung dengan rumus : Rumus-1 : Keterangan : B 0. d.520 C. Penurunan titik beku darah. b. yang pada umumnya berdasarkan pada perhitungan terhadap penurunan titik beku. dapat menimbulkan perangsangan pada selaput otak. Subkutan : jika tidak isotonis dapat menimbulkan rasa sakit. Intravenus.520 C. air mata adala -0. Beberapa cara menghitung tekanan osmose : a. Intralumbal .52 b1 C b2 B = 0.52 Keadaan hipertonis apabila nilai B negatip . Dengan cara penurunan titik beku air yang disebabkan 1% b/v zat khasiat (PTB) Dengan cara Equivalensi NaCl Dengan cara derajat disosiasi Dengan cara grafik Cara PTB dengan rumus menurut FI. 2. air mata ) Hipotonis : tekanan osmotis larutan obat < tekanan osmotis cairan tubuh Hipertonis : tekanan osmotis larutan obat > tekanan osmotis cairan tubuh Cara menghitung tekanan osmose : Banyak rumus dipakai. 3.52 – b1 C b2 adalah bobot zat tambahan ( NaCl ) dalam satuan gram untuk tiap 100 ml larutan adalah titik beku cairan tubuh ( -0. dapat menimbulkan haemolisa. jika membeku pada suhu -0. maka b1 C > 0.52 c) Untuk mendapatkan isoioni . c.52 Keadaan hipotonis apabila nilai B positip . Perhitungan Isotonis Isotonis adalah suatu keadaan dimana tekanan osmotis larutan obat yang sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh kita. jika terjadi perubahan tekanan osmotis pada cairan lumbal. maka b1 C = 0. Suatu larutan dinyatakan isotonik dengan serum atau cairan mata. Larutan NaCl 0. maka b1 C < 0.

Yang dimaksud isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion-ion yang sama dengan ionion yang terdapat dalam darah, yaitu : K+ , Na+ , Mg++ , Ca++ , Cl-. Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar, misalnya pada infus intravena. d) Sebagai zat bakterisida / bakteriostatik Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 1. 2. 3. 4. Bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 980 – 1000 selama 30 menit. Bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran berganda.

Zat bakterisida tidak perlu ditambahkan jika : 1. 2. sekali penyuntikan melebihi 15 ml. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatikanya ( tetes mata Atropin Sulfat dalam pembawa asam borat, tak perlu ditambah bakterisida, karena asam borat dapat berfungsi pula sebagai antiseptik ). 3. Pada penyuntikan : intralumbal, intratekal, peridural, intrasisternal, intraarterium dan intrakor.

e) Sebagai zat pemati rasa setempat / anestetika lokal Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan , yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya Procain dalam injeksi Penicillin dalam minyak, Novocain dalam injeksi Vit. B-compleks, Benzilalkohol dalam injeksi Luminal-Na. f) Sebagai Stabilisator Digunakan untuk menjaga stabilitas larutan injeksi dalam penyimpanan. Stabilisator digunakan untuk : (1) Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : (a) Mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert, misalnya gas N2 atau gas CO2. penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1 % b/v pada larutan injeksi Vit.C, Adrenalin dan Apomorfin. (2) Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas. Untuk ini dapat dengan menambah chelating agent EDTA ( Etilen Diamin Tetra Asetat ) untuk mengikat ion logam yang lepas dari gelas / wadah kaca atau menambah HCl sehingga bersuasana asam. (3) Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah larutan dapar. (4) Menambah / menaikkan kelarutan bahan obat, misalnya injeksi Luminal dalam Sol.Petit, penambahan Etilendiamin pada injeksi Thiophyllin. 4. Wadah dan tutup Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik. Dapat juga dibedakan lagi menjadi : (b) Menambah antioksidant untuk larutan injeksi yang tidak tahan terhadap O2 dari udara. Contohnya :

  karet. 

Wadah dosis tunggal ( single dose ), wadah untuk sekali pakai misalnya ampul. Ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api sehingga tertutup kedap tanpa penutup Wadah dosis ganda ( multiple dose ), wadah untuk beberapa kali penyuntikan, umumnya

ditutup dengan karet dan alumunium, misalnya vial ( flakon ) , botol. Wadah kaca Syarat wadah kaca : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat. Tidak boleh memberikan zarah / partikel kecil ke dalam larutan injeksi. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dengan mudah. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok. Harus memenuhi syarat " Uji Wadah kaca untuk injeksi "

Wadah plastik Wadah dari plastik ( polietilen, polipropilen ) . Keuntungan : netral secara kimiawi, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat hingga mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet. Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2. Wadah plastik disterilkan dengan cara sterilisasi gas dengan gas etilen oksida. Tutup karet Digunakan pada wadah dosis ganda yang terbuat dari gelas / kaca. Tutup karet dibuat dari karet sintetis atau bahan lain yang cocok. Untuk injeksi minyak , tutup harus dibuat dari bahan yang tahan minyak atau dilapisi bahan pelindung yang cocok. Syarat tutup karet yang baik adalah bila direbus dalam otoklaf, maka : a. Karet tidak lengket / lekat, dan jika ditusuk dengan jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali setelah jarum suntik dicabut. b. Setelah dingin tidak boleh keruh. c. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat ( Pb-asetat ). Cara mencuci : mula-mula dicuci dengan detergen yang cocok, jangan memakai sabun Calsium / Magnesium karena ion-ion itu akan mengendap pada dinding kaca. Bilas dengan air dan rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti.

Cara sterilisasi :

masukkan tutup karet ke dalam labu berisi larutan bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tidak kurang dari 7 hari. Bakterisida yang digunakan harus sama dengan bakterisida yang digunakan dalam obat suntiknya dengan kadar 2 kalinya dengan volume untuk tiap 1 gram karet dibutuhkan 2 ml. Tutup karet yang mengandung Na-pirosulfit, sebelum dipakai harus direndam dalam larutan bakterisida yang mengandung Na-pirosulfit 0,1 % selama tidak kurang dari 48 jam. D. Cara Pembuatan Obat Suntik. Persiapan pembuatan obat suntik : 1. Perencanaan Direncanakan dulu, apakah obat suntik itu akan dibuat secara aseptik atau dilakukan sterilisasi akhir ( nasteril ). Pada pembuatan kecil-kecilan alat yang digunakan antara lain pinset, spatel, pengaduk kaca, kaca arloji yang disterilkan dengan cara dibakar pada api spiritus. Ampul, Vial atau flakon beserta tutup karet, gelas piala, erlemeyer, corong yang dapat disterilkan dalam oven 1500 selama 30 menit ( kecuali tutup karet, didihkan selama atau menurut FI.ed.III ) Kertas saring, kertas G3, gelas ukur disterilkan dalam otoklaf. Untuk pembuatan besar-besaran di pabrik, faktor tenaga manusia juga harus direncanakan. 2 Perhitungan dan penimbangan Perhitungan dibuat berlebih dari jumlah yang harus didapat, karena dilakukan penyaringan, kemudian ditimbang. Larutkan masing-masing dalam Aqua p.i kemudian dicampurkan. 3 Penyaringan Lakukan penyaringan hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat. Pada pembuatan kecil-kecilan dapat disaring dengan kertas saring biasa sebanyak 2 kali , lalu disaring lagi dengan kertas saring G3. 4 Pengisian ke dalam wadah Cairan : Farmakope telah mengatur volume tambahan yang dianjurkan. Bubuk kering : jumlah bubuk diukur dengan jalan penimbangan atau berdasarkan volume, diisi melalui corong. Pengisian dengan wadah takaran tunggal dijaga supaya bagian yang akan ditutup dengan pemijaran, harus bersih, terutama dari zat organik, karena pada penutupan zat organik tersebut akan menjadi arang dan menghitamkan wadah sekitar ujungnya . Membersihkan bagian leher wadah dapat dilakukan dengan : a. memberi pelindung pada jarum yang dipakai untuk mengisi wadah. yang sudah dijelaskan cara pembuatannya, 30 menit dalam air suling

Tutup wadah dan eramkan pada suhu 320 selama 7 hari. zat pembawa. hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok. 2. Masukkan ke dalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptik. menyemprot dengan uap air pada mulut wadah obat suntik yang dibuat dengan pembawa berair. Pembuatan larutan injeksi : Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1.ed. . Caranya : Zat pembawa. Kemudian bahan obat.III dan IV. karena akan rusak atau mengurai. 6 Penyeterilan ( Sterilisasi ) Sterilisasi menurut Fi. Cara non-aseptik ( NASTERIL ). wadah. 5. Jika terjadi pertumbuhan kuman. Dilakukan sterilisasi akhir Caranya : bahan obat dan zat pembantu dilarutkan ke dalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi. 2. alat-alat dari gelas untuk pembuatan. Uji Sterilitas dapat dilakukan sebagai berikut : ke dalam salah satu wadah dimasukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. Tutup karet dilapisi dengan tutup alumunium. menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu pengisian bahan steril ke dalam wadah akhir yang steril. Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrat larutan. Penutupan Wadah Wadah dosis tunggal : ditutup dengan cara melebur ujungnya dengan api hingga tertutup kedap. Wadah dosis ganda : ditutup dengan karet melalui proses pengurangan tekanan hingga karet tertarik ke dalam. Cara aseptic : Digunakan kalau bahan obatnya tidak dapat disterilkan. Cara aseptik Cara non-aseptik ( Nasteril ) 1. zat pembantu.dapat dilakukan sesuai dengan persyaratan masing-masing monografinya dan sifat dari larutan obat suntiknya. dan yang lainnya yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. 7 Uji sterilitas pada teknik aseptik Sediaan steril selalu dilakukan Uji Sterilitas sebelum sediaan itu diedarkan ke pasaran. setelah dikemas. zat pembantu dicampur secara aseptik dalam ruang aseptik hingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptik.b.

masukkan ke dalam larutan metilen biru 0. Wadah yang bocor akan berwarna biru. sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea.III. Wadah yang bocor. Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari: i. Pemeriksaan pirogenitas Pemeriksaan kejernihan dan warna. jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. untuk itu dipakai perbenihan asam amino. b. Wadah yang bocor. Dibuat perbenihan B untuk memeriksa adanya jamur dan ragi.1 % yang dingin. (i) Ampul : . sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. untuk zat-zat : a. Pengawet : larutan diencerkan dahulu. 4. b. sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. 2. sebagai pembanding digunakan Candida albicans . Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu. 3. ed. isinya akan terisap keluar. Sebelum dilakukan uji sterilitas. Pemeriksaan meliputi : 1. perlu dilakukan pemeriksaan kemudian yang terakhir diberi etiket dan dikemas. dilakukan sebagai berikut : a. karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut. Menurut FI. Pemeriksaan sterilitas. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri. isinya akan kosong / habis atau berkurang setelah selesai sterilisasi (ii) Vial : setelah disterilkan . Dilakukan dengan teknik aseptik yang cocok. 5. misalnya pada Penicillin ditambah enzym Penicillinase. 1. ii. b. 6. Pemeriksaan kebocoran. Pemeriksaan keseragaman bobot. 2.4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi.. Pemeriksaan 1 . Perbenihan thioglikolat untuk bakteri aerob . Pemeriksaan keseragaman volume. pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut : a. Pemeriksaan kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah. Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna Diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. Pemeriksaan Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan. masih dalam keadaan panas. Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 1000 selama waktu yang diperlukan. untuk bakteri anaerob.E.

Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 300 – 320 selama tidak kurang dari 7 hari.1 % ( Carbo adsorbens 0. kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. Jumlah kelinci percobaan bisa 3. Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling. (reaksi demam setelah 15 menit sampai 8 jam). Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10 ml satu kali pakai.001 – 0. 2. Pemeriksaan kejernihan dan warna . 2. alat suntik dll. harus bebas pirogen. Untuk aqua p. dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. Dilakukan oksidasi :   Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. tahan pemanasan.ed. ditambah 10 ml larutan KMnO 4 0. 9. Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik Alat penampung dan cara menampung air suling harus seaseptis mungkin Sumber pirogen : 1. Uji pirogenitas : dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan i. selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi.v sediaan uji pirogenitas. Cara mencegah terjadinya pirogen : 1. NaCl dan Na-sitrat. 1 liter air yang dapat diminum. Cara menghilangkan pirogen 1. Air suling yang telah dibiarkan lama dan telah tercemar bakteri dari udara.i ( air untuk injeksi ) bebas pirogen : a. dapat larut dalam air. 6.) dipanaskan pada suhu 2500 selama 30 menit 2.01 gram per kg berat badan. Pirogen adalah Zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme ( bangkai mikroorganisme ) berupa zat eksotoksin dari kompleks Polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Posfor. yang dalam kadar 0. 3. b. disuling dengan wadah gelas. Pirogen bersifat termolabil.II ) 4. 3. Wadah larutan injeksi dan bahan-bahan seperti glukosa. 12 ( secara detailnya lihat FI.1% pada suhu 60 0 selama 5 – 10 menit ( literatur lain 15 menit ) sambil sekali-sekali diaduk. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. Untuk alat / zat yang tahan terhadap pemanasan ( jarum suntik. tidak terdapat pertumbuhan jasad renik. Lewatkan dalam kolom Al2O3 Panaskan dalam Arang Pengabsorpsi 0. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes.1 N dan 5 ml larutan 1 N.

5.30 ml ( 6 % ) 0. 2.25 ml ( 12. Pemeriksaan keseragaman volume Untuk injeksi dalam bentuk cairan. Dinginkan dan kemudian timbang satu per satu Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera .15 ml ( 7.5 % ) 0. yaitu mempunyai pH = 7.00 ml ( 6 % ) Batas penyimpangan ( % ) 10. bebas dari partikel-partikel padat.0 ml 10. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini. Syarat keseragam bobot seperti pada tabel berikut ini.5 5. Syarat . Cuci wadah dengan air.4.50 ml ( 5 % ) 0.0 ml 50.15 ml ( 15 % ) 0. kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. 3. Sedapat mungkin lsohidris. kotoran tidak berwarna akan kelihatan pada latar belakang hitam.10 ml ( 10 % ) 0.12 ml ( 24 % ) 0. Kotoran berwarna akan kelihatan pada latar belakang putih. agar tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal. . Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka .0 ml 30.5 % ) 1. kecuali yang berbentuk suspensi. Volume pada etiket 0.80 ml ( 2.10 ml ( 20 % ) 0.Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih.0 ml 20. Jika berupa larutan harus jernih.20 ml ( 4 % ) 3. tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksis. volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.60 ml ( 3 % ) 0.00 ml ( 4 % ) 0.5 ml 1. Keringkan pada suhu 105 0.0 ml atau lebih Volume tambahan yang dianjurkan cairan encer cairan kental 0.0 F. keringkan lagi pada suhu 1050 sampai bobot tetap.1 ml 5. Keluarkan isi wadah.5 % ) 0.0 ml 2.0 7. Cuci bagian luar wadah dengan air.50 ml ( 10 % ) 0.Syarat Obat Suntik Syarat berikut hanya berlaku bagi injeksi berair : 1. Pelarut dan bahan penolong harus dicoba pada hewan dulu. Pemeriksaan keseragaman bobot Hilangkan etiket 10 wadah.6 % ) 2. disinari dari samping. untuk meyakinkan keamanan pemakaian bagi manusia.70 ml ( 7 % ) 0. Harus aman dipakai.90 ml ( 4. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 mg dan 300 mg 300 mg atau lebih 3. kemudian dengan etanol 95 % .

hemofiltrasi atau cairan irigasi dan volume lebih dari 1 liter. Cara pemberian lebih sukar. tetapi jangan hipotonis. Jika terpaksa dapat dibuat sedikit hipertonis. cara pemberian. baik yang patogen maupun yang apatogen. Sediaan untuk pemberian intraspinal.IV Larutan intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 ml. Bebas pirogen. Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin 4. 5. Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau kurang.. untuk sediaan kering tertera jumlah zat aktif. 3. jika terjadi kekeliruan sukar dilakukan pencegahan. tidak diabsorpsi secara baik oleh cairan lambung. untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif dalam volume tertentu. Wadah injeksi yang akan digunakan untuk dialisis. Pengemasan.. 7. Secara ekonomis lebih mahal dibanding dengan sediaan yang digunakan per oral . Keuntungan dan Kerugian Bentuk Sediaan Injeksi Keuntungan : 1. untuk injeksi yang mengandung antibiotik : juga harus tertera kesetaraan bobot terhadap U. misalnya pada injeksi Adrenalin pada schock anfilaksis. 2. Penandaan : Pada etiket tertera nama sediaan.ed.I dan tanggal kadaluwarsanya. Injeksi untuk hewan ditandai untuk menyatakan khasiatnya. nama pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau nomor bets yang menunjukkan identitasnya. Bekerja cepat . baik dalam bentuk vegetatif maupun spora. merangsang jika ke cairan lambung. 3. Penandaan menurut FI. Harus steril. 4. Sedapat mungkin Isotonik. 2. Dapat digunakan jika : obat rusak jika kena cairan lambung. H. Tidak boleh berwarna kecuali memang zat berkhasiatnya berwarna. harus memakai tenaga khusus. intrasisternal atau pemakaian peridural dikemas hanya dalam wadah dosis tunggal. untuk larutan injeksi yang mempunyai volume 10 ml atau lebih sekali penyuntikan. agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan haemolisa. yaitu bebas dari mikroba hidup. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian : 1. diberi penandaan bahwa sediaan tidak digunakan untuk infus intravena. Karena bekerja cepat. kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluwarsa.4. G. yaitu mempunyai tekanan osmose sama dengan tekanan osmose darah / cairan tubuh. 6. Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan.

1 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful