P. 1
jantung hati borobudur

jantung hati borobudur

|Views: 767|Likes:
Published by Ristiono Anton

More info:

Published by: Ristiono Anton on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

JANTUNG HATI BOROBUDUR

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia
Eka Budianta, Editor

Jantung Hati Borobudur
Penerbit:

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia
Penanggung Jawab:

I Gede Ardika
Koordinator:

Catrini Pratihari Kubontubuh
Editor:

Eka Budianta
Penulis:

Sucoro, Amat Sukandar, Tatak Sariawan, Khoirul Muna, Bambang Dono Kuntjoro, Dwita Hadi Rahmi, dkk.
Fotografer:

Suparno
Tim BPPI untuk Borobudur:

Laretna Adishakti, Suhadi Hadiwinoto, Hardini Sumono, Aristia Kusuma, Suci Rifani, Sinta Carolina, Yenny P. Leibo.
Cetakan Pertama:

Jakarta, April 2012
Percetakan:

PT Percetakan Penebar Swadaya
Foto Sampul:

Suparno
Desain sampul:

Wisnu Adhi Wibowo
Lay-out:

Anton Ristiono
ISBN:

978-602-8756-22-8 BPPI menggandakan kembali buku ini untuk diperjual-belikan dalam rangka menghimpun pendanaan pelestarian pusaka Indonesia.

2

Jantung Hati Borobudur

KATA PENGANTAR

Salam Lestari!
Buku Jantung Hati Borobudur merupakan sebuah upaya strategis untuk mengantarkan para pemangku kepentingan guna meninjau kembali keberadaan Borobudur, menyegarkan memori bersama, dan meningkatkan semangat untuk menjaga kelestariannya. Candi Borobudur beserta Mendut dan Pawon merupakan salah satu Pusaka Dunia (World Heritage List no 592) yang mendapatkan pengakuan UNESCO sejak tahun 1991. Kawasan Candi Borobudur sangatlah kaya dan potensial yang terdiri dari bentangan alam yang sangat indah dikelilingi gunung-gunung, danau purba, tanah yang subur, serta sumber air yang kesemuanya berkaitan dalam sejarah keberadaan Candi Borobudur. Kesemuanya ini juga menyatu dengan kehidupan keseharian masyarakat di desa-desa sekitarnya saat ini, yaitu perjuangan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya di kawasan Borobudur yang telah menjadi salah satu objek pariwisata terkemuka serta kontribusi masyarakat baik langsung maupun tidak langsung terhadap pelestarian kawasan Borobudur. Buku ini diluncurkan pada peringatan Hari Pusaka Dunia (World Heritage Day) 18 April 2012 yaitu hari ketika seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia merayakan dan memberikan apresiasi kepada kekayaan pusaka (heritage) masing-masing. Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) - Indonesian Heritage Trust - bersama-sama para mitra pelestarian di berbagai daerah turut berpartisipasi dalam peringatan Hari Pusaka Dunia dengan tema yang berbeda dari tahun ke tahun. Peringatan Hari Pusaka Dunia 2012 mengangkat tema “A Tribute to Borobudur Community in Conserving a World Heritage” sebuah apresiasi kepada peran masyarakat dalam pelestarian Borobudur sebagai pusaka dunia. Acara ini dipusatkan di kawasan Borobudur baik di pelataran Candi Borobudur, desa-desa sekitar serta bentang alam seperti sungai, gunung dan lainnya di kawasan tersebut. Tema ini sekaligus mendukung peringatan 40 tahun Konvensi Pusaka Dunia (World Heritage Convention) UNESCO yang mengangkat tema “World Heritage and Sustainable Development: the Role of Local Communities”. Melalui buku ini, kami berharap berbagai langkah ke depan untuk mengawal kelestarian pusaka Indonesia dapat selalu mengikutsertakan masyarakat selaku pendukung utama serta menguatkan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak secara luas. Terima kasih dan penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada para pendukung acara Peringatan Hari Pusaka Dunia 2012, para penyumbang pikiran, pengisi acara dan masyarakat Borobudur yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu atas semangatnya yang luar biasa dan selalu memberikan inspirasi positif. Kami ucapkan terima kasih kepada segenap pihak-pihak lainnya yang telah mendukung sehingga tersusunnya buku ini.

KETUA DEWAN PIMPINAN BADAN PELESTARIAN PUSAKA INDONESIA

I Gede Ardika
Jantung Hati Borobudur

3

Heritage conservation is cultural movement. The total involvement of the community is important aspect in resolving conservation through an inclusive bottom-up planning approach and people-centered management. This kind of movement has been already experienced in Borobudur Temple Compounds. However, more enabled World Heritage Sites conservation management may enhance in response the local communities enthusiasm towards sustainability.

Pelestarian pusaka adalah sebuah gerakan kultural. Keterlibatan total masyarakat merupakan aspek penting di dalam menyelesaikan masalah konservasi melalui pendekatan pengelolaan yang inklusif, dari bawah ke atas dan fokus pada manusianya. Gerakan semacam ini sudah dilaksanakan di Kawasan Candi Borobudur. Bagaimana pun, pengelolaan Situs Pusaka Dunia yang lebih diberdayakan dapat menambah semangat warga setempat dalam meneruskan keberlanjutannya.

A proposal from Director General of Spatial Planning Ministry of Public Works, Indonesia to the World Heritage Center, UNESCO, Paris in response to theme of 40th Anniversary of the World Heritage Convention in 2012 is “World Heritage and Sustainable Development: the Role of Local Communities

Usulan Direktur Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia kepada Pusat Pusaka Dunia, UNESCO, Paris,untuk menanggapi Peringatan 40 Tahun Konvensi Pusaka Dunia, pada 2012, yang mengambil tema “Pusaka Dunia dan Pembangunan Berkelanjutan: Peran Masyarakat Setempat.”

4

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

5

DAFTAR ISI BUKU
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pengantar Ketua Dewan Pimpinan BPPI - I Gede Ardika ........................ 3 Prolog: Jantung Hati Borobudur - Eka Budianta ....................................... 9 Rangkaian DukaYang Tidak Terlupakan - Sucoro .................................. 15 Upaya memaknai Pusaka Dunia - Amat Sukandar ................................. 61 Candirejo dan Paket Wisatanya - Tatak Sariawan .................................. 91 Wanurejo selayang pandang - Khoirul Muna......................................... 107 Antara Utopia dan Kenyataan - Bambang Dono Kuntjoro ..................... 117 Pelestarian Pusaka Saujana - Dwita Hadi Rahmi................................. 123 Epilog: Cara terindah mencintai Borobudur - Eka Budianta .................. 138

10. Kontributor

6

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

7

8

Jantung Hati Borobudur

Prolog

Jantung Hati Borobudur
Eka Budianta
“Pak Suparno, karya fotografi anda bagus-bagus. Suasana seputar Borobudur kelihatan sangat indah. Tapi mengapa kami sering mendengar hal-hal yang menyedihkan?” “Menyedihkan?” “Ya. Ada kemiskinan. Ada konflik berbagai pihak. Ada yang tidak suka.” “Ooh, kalau konflik saya rasa tidak ada. Kalau rebutan rejeki saya sering dengar. Apalagi pada waktu pengunjung sedang sepi. Maklumlah, banyak yang menggantungkan penghidupan kepadanya. Borobudur itu seperti menjadi pusat ekonomi. Kalau sedikit yang datang, kita semua sedih.” Begitulah penjelasan Pak Suparno yang menyumbangkan foto-foto jepretannya sebagai ilustrasi utama dalam buku ini. Borobudur adalah ibu bagi ribuan orang yang seharihari menyusu kepadanya. Candi berumur lebih dari seribu tahun itu diharapkan bisa menghidupi, memakmurkan dan membahagiakan bayak orang. Bukan hanya para pedagang asongan, pegawai, pengawas, petugas kebersihan, sopir bus, kusir andong dan resepsionis penginapan, tapi juga pengunjungnya. Mereka inilah jantung hati Borobudur. Suparno lahir di Sleman, Yogyakarta, 5 Juni 1952. Sejak 1972 ia bekerja di Borobudur. Tugasnya membantu penelitian dan pemugaran oleh Balai Arkeologi, memotret, melayani tamu, dan lain-lain sampai pensiun. Dengan gembira ia mengikuti berbagai pelatihan, belajar fotografi, bahkan membuka warung mie di rumahnya sejak 1992. Silakan bertanya di mana warung mie rebus Suparno? Banyak pelanggan akan menunjukkan, bahkan memberikan nomor telponnya dengan suka-cita. “Ajaran agama Budha yang paling mengesankan bagi saya adalah hidup sederhana dan tidak menyakiti orang lain,” katanya. Suparno sendiri seorang Muslim. Ia dikenal sebagai “penemu” Puntuk Setumbu. Dari atas bukit itu, kita bisa melihat Borobudur menyembul di balik kabut pagi hari. Dulu sedikit orang yang mau bangun pagi, mendaki bukit, dan menunggu matahari terbit. Sekarang, pengunjung mulai ramai, dikenakan karcis, mendapat minuman hangat dan sekedar kudapan. “Saya sudah menemukan tempat lain di Nglipoh,” katanya. “Kalau kita datang bulan Mei sampai Juli, akan melihat pemandangan sangat indah, bersamaan dengan matahari muncul di antara Gunung Merbabu dan Merapi,” katanya. Sebentar lagi, Suparno akan mempromosikan tempat yang strategis, di puncak sebuah bukit sekitar 3 kilometer arah barat daya Candi Borobudur itu. Dusun Nglipoh terletak di desa Karanganyar, dulu terkenal miskin. Tetapi berkat ketrampilan warganya mengolah tanah-liat menjadi gerabah, pelan-pelan berubah menjadi dusun yang kaya dan sejahtera. “Ketika saya datang ke Klipoh atau Nglipoh, 1972,

Jantung Hati Borobudur

9

suasananya memprihatinkan. Rumah penduduk kecilkecil, berdinding bambu yang sederhana dan mudah rusak. Sekarang rumahnya bagus-bagus, besarbesar,berdinding tembok permanen. Jalanan pun sudah mulus,” cerita Suparno. Meskipun demikian masih banyak yang belum puas. Warga di seputar candi, semestinya bisa lebih makmur dari yang kita lihat sekarang. Seorang aktifis, Jack Priyana, yang telah merelakan dua rumah keluarganya menjadi penginapan – home stay, menyuarakan terlalu kecilnya pemasukan dari candi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi penduduk. Ia menyebut hal ini sebagai kapilerisme – yaitu perembesan rejeki yang sangat kecil, nyaris tidak berarti. Dalam bayangannya, kalau anggaran untuk pelestarian mencukupi, mata air bisa dijaga, lingkungan bisa lebih hijau dan kehidupan masyarakat lebih sejahtera. Jack yang mengaku dilahirkan hanya 150 meter dari kaki candi ini sekarang banyak mengadakan pelatihan penduduk. Ia mengajarkan cara-cara yang baik mengadakan acara kesenian, membatik, mengelola penginapan, dan mempromosikan kegiatan di dusun, desa maupun kecamatan. Masalah kesejahteraan warga di seputar candi ini memang sudah lama dirasakan. Lebih dari seribu tahun yang lalu, pada tanggal 11 November 842 Prasasti Tri Tepusan menyebutkan, bahwa Sri Kahulunan membebaskan penduduk beberapa desa dari membayar pajak, karena ikut merawat Kamulan Bhumi Sambhara. Kamulan Bhumi Sambara adalah nama asli Candi Borobudur. Sri Kahulunan adalah gelar permaisuri, Pramodawardani, setelah menjadi isteri Raja Keenam Mataram – Syailendra, yaitu Rakai Pikatan. Semasa gadisnya, Pramodawardani juga yang meresmikan selesainya pembangunan candi atau jinala yang indah itu. Ia adalah puteri raja Syailendra, yaitu Samaratungga dan Dewi Tara, penganut Budha

Mahayana yang taat. Sedangkan suaminya, Rakai Pikatan adalah putera raja Mataram, Rakai Gerung, penganut agama Hindu yang kuat. Di duga saat itu, Hindu adalah agama mayoritas penduduk di Pulau Jawa. Maka, kerajaan perlu memberikan perhatian khusus pada penduduk di seputar candi. Pada tahun 856, Rakai Pikatan bahkan meresmikan sebuah candi Hindu yang hebat, yaitu Prambanan. Kalau seribu tahun berikutnya, pengelolaan Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, dipercayakan pada sebuah badan, tentunya berdasarkan latar belakang historis ini. Ratu Boko adalah kompleks istana, tempat tinggal keluarga besar Mataram dan Syailendra. Termasuk di antaranya adalah Balaputeradewa, saudara laki-laki Pramodawardani, yang menyingkir ke Sumatera, untuk mendirikan kerajaannya sendiri, yaitu Sriwijaya. Secara historis pula kita dibuat paham, bahwa penduduk di seputar candi memerlukan perhatian istimewa sejak monumen raksasa itu dibangun hingga pengelolaannya. Berbagai kisah menunjukan betapa berat pengorbanan warga, baik pada saat pelaksanaan pembangunan hingga perawatannya. Seorang aktifis yang tangguh, Sucoro, dalam buku ini membagikan pengalaman tak terlupakan. Bersama keluarga dan teman-temannya, ia ikut berjuang terus menerus sejak muda belia, hingga menjadi warga lanjut usia atau lansia. Rincian perjuangannya dapat dibaca pada bab pertama buku ini. Sebetulnya, perjuangan Sucoro sendiri terangkum dalam tulisan panjang, lebih dari 200 halaman. Di dalamnya lengkap dengan foto-foto. Mulai dari foto rumah masa kecilnya yang hanya beberapa meter dari candi dan sudah ikut digusur, sampai pengalamannya 4 bulan meringkuk dalam tahanan, dan upayanya mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.

10

Jantung Hati Borobudur

Pada awal 1980-an, penderitaan masyarakat di seputar candi itu cukup menyita perhatian. Para cendekiawan dari berbagai penjuru turun tangan. Ada sastrawan dan budayawan WS Rendra, aktifis hukum Nursyahbani Katjasungkana, aktifis hak-hak asasi manusia. HC Princen. Semua fotonya didokumentasikan dengan baik. Tentu saja, akan lebih bagus kalau perjuangan Sucoro terbit lengkap sebagai buku tersendiri. Sedangkan buku ini menyajikan potret dan aspirasi yang lebih luas; meskipun tetap dalam bingkai partisipasi masyarakat yang terdekat dengan Candi Borobudur.

Selain Romo Albert, ada lagi yang memberikan respon, yaitu Romo Mudji Sutrisno SJ, yang juga dikenal sebagai seorang budayawan Indonesia terkemuka. Dengan spontan beliau memberikan renungannya berjudul Borobudur dan Saya. Antara lain dikatakan: “Ketika bersekolah dan berasrama di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang, saya temukan "guru" yang mengajak mencintai dan mengenal Borobudur. Waktu itu, sehelai daun pohon "bodhi yang bentuknya sama serupa dengan Stupa ditunjukkan kepada kami sambil membandingkan bentuk stupa Borobudur yang tepat sama dengan helai daun pohon bodhi itu. Lalu dijelaskan dengan amat menarik renung-renungan pembangun dan pendiri Borobudur menganalogikan atau menyatukan narasi Sidaharta Gautama yang mendapatkan "pencerahannya mengenai empat kebenaran hidup di bawah pohon bodhi. Karena itulah stupa-stupa Borobudur yang dibatinkan pada kami didorong untuk mengunjungi candi demi rasa ingin tahu di hari libur nanti dengan sebuah pertanyaan: benarkah stupa-stupa candi Borobudur merupakan "helai-helai daun pohon bodhi" pencerahannya Sidharta Gautama? Inilah guru budaya yang mengajak dan menanamkan pada kami dalam tindak laku pepatah yang berbunyi: "yang tidak mengenal akan tidak mampu menyayangi". Dari sana sampai hari ini, kecintaan pada Borobudur telah membawa saya tidak hanya upaya mengenalnya dalam perbandingan dengan candi-candi Budhis di Ayuthaya Thailand dan Angkor Watt di Kamboja namun pula membuat saya mengajar dan menulis mengenai Budhisme. Bahkan ketika di Kamakura Jepang mendalami perkembangannya dalam Budhisme-Zen setelah Budhisme dari India bergerak ke China lalu ke Jepang dalam perbandingan dengan yang ada di Asia tenggara. Dari pandangan keluar tersembullah dorongan pandang ke dalam untuk, menulis renung estetika religiusitas Borobudur. Religiusitas adalah keruhanian

Religiusitas di Seputar Borobudur
Tantangan kita tentu, bagaimana menjaring aspirasi dari kalangan yang lebih luas. Borobudur adalah mahakarya untuk kemanusiaan, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) mengajak semua pihak untk memikirkan, bagaimana mengenal, menghargai dan melestarikan pusaka budaya ini. Romo Albert Herwanta, O.Carm, seorang rohaniwan Katolik yang sedang bertugas di Vatican, Italia menanggapi: “Bagi orang Katolik nilai rohani dan religius Borobudur sangat mendalam. Pertama, nilai-nilai itu menegaskan panggilan mereka, yakni mencapai kesucian hidup lewat doa. Pastor John Main, OSB mendirikan Christian Meditation setelah mengalami meditasi timur seperti yang terpancar di Candi Borobudur. Kelompok meditasi ini sekarang berkembang di seluruh dunia.” “Kedua, nilai-nilai rohani Candi Borobudur mengingatkan orang Katolik untuk tidak lekat terhadap barang dan kenikmatan duniawi. Ketiga, nilai-nilai rohani candi Borobudur mengajak umat Katolik untuk belajar, mencintai, dan menghargai kekayaan spiritualitas Timur yang bisa menyumbangkan spiritualitas kepada Gereja dan dunia. Singkatnya, sebagian besar nilai-nilai candi itu dekat dan bersentuhan dengan spiritualitas Katolik.”

Jantung Hati Borobudur

11

atau spiritualitas, dalam arti, kesadaran manusia yang mempercayai dalam lubuk hatinya  bahwa nilai serta arah hidupnya dihubungkan dan ditentukan oleh relasinya yang damai dengan Yang Suci, Yang Ilahi.” Religiusitas ini tentu tidak terbatas pada peranan Borobudur sebagai ikon agama Budha, bahkan stupa terbesar di dunia. Meskipun begitu, ada juga yang dengan berterusterang memberikan pendapatnya: “Kalau mau memuliakan Borobudur, ia harus dikembalikan sebagai sarana ibadah Ummat Budha.” – Kafi Kurnia. Kafi Kurnia terkenal sebagai motivator, konsultan dan punya Pusat Pelancongan di Jalan Magelang, arah ke Borobudur. Dia mengingatkan kita periihal “Teori Konspirasi”, yaitu adanya upaya sistematis untuk menenggelamkan sebuah paham, oleh paham atau kepercayaan lain. Ia tidak menyumbangkan pikiranya, tetapi bersedia menguraikan lebih rinci bila diperlukan. Aduh! Kita jadi teringat bagaimana serangan terhadap kapitalisme, misalnya dengan menabrakkan pesawat ke Pusat Perniagaan Dunia – World Trade Center di New York, pada 11 September 2001. Jangan lupa, Candi Borobudur pun pernah mengalami peledakan dengan dinamit, oleh sekelompok fundamentalis.

Candi Borobudur. Sangkono Tjiptowardoyo, seorang penghayat senior agama Pransoeh itu, memberikan respon begini: “Sepertinya stupa candi Borobudur paling atas mengambarkan puncak paling tinggi yaitu Cahaya Tuhan atau Pelita Tuhan. Di sana bersemayam Sang Allah yang memilih Jalmo kang wikan. Ya hanya orang suci yang sempurna yang bisa menghadap Tuhan, sepertinya contohnya Sang Budha bersamadi di atas bunga teratai dan sudah bisa meninggalkan hawa nafsunya. Ini sama persis dengan ajaran Romo Resi Pransoeh mengenai ilmu tiga perangkat.” Dengan kata lain, kawasan Borobudur telah menjadi sentral kegiatan religius baik dari agama Budha, Kristen Katolik, Islam, maupun kepercayaan lain yang tumbuh kemudian. Sekitar 18 orang memberikan respons pada ajakan BPPI untuk memikirkan Borobudur ini. Tiga di antaraya adalah ibu-ibu rumah tangga yang giat berpikir dan terampil dalam menulis. Mereka adalah Ibu Nining Niluh Sudarti dari Desa Majaksingi, Borobudur, Magelang; Ibu Nia Samsihono dari Pusat Bahasa, Jakarta; dan Ibu Nessa Kartika, seorang mantan tenaga kerja Indonesia di Singapura. Nining Niluh Sudarti yang lahir di dekat candi itu berkata, “Menurut saya, Borobudur adalah sebuah mandala suci, sekaligus salah satu perpustakaan besar dan termegah di seluruh dunia.” Nia Samsihono berpendapat, “Borobudur harus dikunjungi setiap warga negara Indonesia agar dapat menyadarkan diri bahwa kita adalah bangsa yang besar, berbudaya, dan berkarakter. Dengan segala kehebatan yang ada, mengunjungi Borobudur dapat menjadi inspirasi setiap generasi muda untuk dapat berkarya.” Sedangkan Nessa menganggap Borobudur sebagai “penanda” untuk pulang. Maklumlah, kampung halamannya di Wonosobo, selalu melewati jalur ke

Melebihi Pertanda Kehidupan
Respons lain datang dari seorang penghayat kepercayaan pada Romo Pransoeh. Perlu diingat bahwa kawasan Borobudur merupakan lahan yang paling subur untuk bertumbuhnya ajaran berbagai agama dan kepercayaan. Candi itu terletak di tengahtengah Pulau Jawa. Di kawasan ini, terdapat Pondok Pesantren Pabelan yang sangat terkenal di kalangan Umat Musim; Gua Maria Sendangsono bagi Umat Katolik, Balai Suci bagi penganut Ajaran Pransoeh dan Klenteng besar Hok An Kiong bagi pemeluk ajaran Konghucu di Muntilan. Semuanya dalam radius belasan kilometer saja dari

12

Jantung Hati Borobudur

Borobudur, bila ia mudik melalui Yogya dan Magelang. Nessa bahagia setiap kali menjelaskan potret Borobudur yang terpampang di tembok Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), di Chatsword Road, Singapura. “Boss harus datang ke sana,” ia membujuk majikannya, yang menganut agama Budha, agar berkunjung ke Indonesia. Nessa Kartika berkata, “Saya orang biasa yang tidak bisa berbuat banyak untuk Borobudur, yang bisa saya lakukan hanya menyebarkan keindahan Borobudur kepada setiap orang yang saya temui di tanah antah berantah mana pun, dengan harapan mereka tergugah untuk mengunjungi dan mencintai Borobudur dengan segala misterinya.”

beralih menjadi pedagang asongan, dikhawatirkan kegiatan di sawah, ladang dan kebun kurang optimal. Padahal, kalau lapangan agrobisnis dan hortikultura ditekuni, kemakmuran warga di seputar Borobudur lebih cepat terkejar. Sebagai contoh, Bambang Dono Kuntjoro merujuk ke usaha perkebunan pohon sengon. Dengan lahan dua ribu meter saja pekebun bisa memetik keuntungan Rp 78 juta sekali panen. Belum lagi kalau ditambah dengan ternak kambing di bawahnya. Maka, alih-alih bertarung di sektor pariwisata, warga Borobudur perlu diberdayakan dan didukung dengan sarana pertanian yang lebih baik. “Sebenarnya, kepedulian masyarakat terhadap alam telah ada sejak jaman dulu.” Begitu tulis Dwita Hadi Rahmi. Ia sedang menyiapkan desertasi untuk mendapatkan doktor di Universitas Gajahmada, dengan penelitian khusus mengenai pelestarian pusaka saujana Borobudur. Untuk buku ini Dwita Hadi Rahmi memberikan catatan berharga mengenai peran masyarakat dalam pelestarian kawasan Borobudur. Ia mengingatkan, “Kekayaan alam dan budaya masyarakat di kawasan Borobudur merupakan modal fisik, sosial dan ekonomi yang apabila dioptimalkan dapat memberikan kontribusi peningkatan kualitas hidup masyarakat, sekaligus pelestarian aset alam dan budaya.” Sudah jelas, pelestarian candi Borobudur sebagai pusaka budaya dunia harus diikuti dengan berbagai upaya di berbagai bidang. Jangan sampai monumen yang indah, megah dan tak ternilai itu justru memperjelas kemiskinan, keterbelakangan dan penderitaan warga di seputarnya. Jantung hati Borobudur adalah kita semua yang mencintainya. Tidak terbatas pada yang bijak dan kaya, tapi juga yang kurang mampu, dan selalu memerlukan bimbingan, dukungan, baik material maupun moral. ***

Untuk Pendidikan dan Kelestarian
Organisasi Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) selalu menekankan dua pilar utama pengakuan pusaka dunia adalah untuk kelestarian dan pendidikan. Jadi, kawasan candi Borobudur dinyatakan sebagai World Cultural Heritage, pertama-tama supaya lestari. Kedua, supaya berfungsi maksimal dan optimal sebagai wahana pendidikan. Berbahagialah kita yang sudah melihat Borobudur sebagai sebuah perpustakaan besar, sebuah tempat ibadah, sebuah pusat mandala untuk kebudayaan dan lingkungan hidup. Kecemasan Suparno bahwa Borobodur telah menjadi sentra ekonomi, tempat ribuan orang menggantungkan hidupnya, tentu menjadi kekhawatiran kita semua. Bambang Dono Kuntjoro, Kepala Bidang Tata Ruang & Prasarana Wilayah Kabupaten Magelang, menunjukkan sejumlah jalan keluar. Di antaranya yang paling penting masyarakat bisa kembali membangun agrobisnis. Sebelum menjadi kawasan tujuan wisata, masyarakat Borobudur hidup dengan bertani, berkebun. Mereka tidak tergantung pada kunjungan turis. Justru dengan

Jantung Hati Borobudur

13

Tegarlah anak Borobudur
Ribuan hari aku belajar pahami makna ilhammu Puluhan bulan aku abaikan anak dan istriku Tahunan aku coba pahami karyamu Katamu untuk jarnihkan rembulan Agar sinarmu cemerlang dan buka cakrawala Telah kucoba hidup di antara bongkahan batu, sungai , gunung, hutan Kutanya pada langit dan bintang Masih adakah pembelaan terhadap anakku Sayang purnama tak bisa menjadi milik kita Semakin aku mencari semakin jauh ia tersembunyi Tuhan ciptakan dunia untuk kita Nenek moyang ciptakan Borobudur untuk kita Tuhan, Nenek Moyang tak perlu uang kita. Kita perlu Kedamaian, kerukunan dengan membaca petunjukNya semua telah diajarkan dan disediakan kereta untuk menghantar ke Nirwana ataupun sebaliknya Akhirnya pada Batu, Gunung, Hutan, Sungai Kutaruh harap obat luka jiwaku Kuatlah kau anak yang terlahir diantara batu-batu Borobudur Petaka akan menjadi sejarah hidupmu Tegarlah wahai pahlawan ku Selamatkan Borobudur dari kesrakahan dan angkara murka Ery Kusuma Wardhani Siswi Kelas X H SMAN Kota Mungkid

14

Jantung Hati Borobudur

Catatan Rakyat di Kaki Candi RangkaianDuka yang Tak Terlupakan
Sucoro

M

endengar rencana pembangunan Taman Wisata Candi Borobudur penduduk warga Dusun Kenayan, Ngaran Krajan, sebagian Gendingan, Sabrangrowo, Gopalan secara keseluruhan penduduk Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang praktis seluruhnya berada dalam zone II menyatakan akan mendukung rencana pemerintah yang akan melestarikan warisan budaya dunia itu. Meskipun demikian, mereka menolak untuk dipindahkan. Mereka akan mendudukung sepenuhnya pelaksanaan Taman wisata candi Borobudur, apabila itu benar-benar demi kepentingan umum - nasional. Hal ini terungkap dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan di kediaman Bp Parto Diharjo (P.Jembar) di sebelah utara Pasar Borobudur pada tanggal 2 Januari 1980. Pernyataan sikap tersebut tertuang dalam surat bermaterai lima ratus rupiah, ditandatangani secara bersama-sama seluruh warga yang akan terkena pembebasan tanah. SebagaI bukti dukungan, mereka akan menyumbang pemikiran yaitu saran, pendapat agar pembangunan Taman wisata tersebut diarahkan ke sebelah utara dan selatan candi dengan menggunakan tanahtanah kosong atau tegalan. Dengan demikian tanah pemukiman yang dihuni oleh sekitar tiga ratus delapan puluh warga masyarakat tidak tergusur. Dari sisi pemandangan pun akan lebih menarik. Monumen peninggalan Nenek Moyang itu tampak dengan latar belakang pegunungan Menoreh.

Gagasan itu ternyata ditolak oleh Bp Boediardjo, Dirut PT Taman wisata dengan mendasarkan bahwa candi Borobudur itu dahulu menghadap ke arah timur, sehingga arah pembengunan Taman wisata kembali mengikuti pola pembangunan sebelumnya. Dalam temu gagasan yang diadakan di pendopo candi Borobudur tanggal 8 Maret kembali penduduk menyampaikan keinginan untuk tetap tinggal di zone II dengan bersedia akan sanggup menyesuaikan konsep pembangunan Taman wisata sesuai dengan tingkat kemampuan warga. Seperti bentuk bangunan rumah – rumah joglo atau arsitektur jawa kuno misalnya, menaman bunga dan lain sebagainya. Kondisi saat itu rumah-rumah penduduk memang berserakan, tak teratur, sangat tidak memadai untuk idealnya sebuah Taman yang tentunya akan megah. Menanggapi penolakan penduduk Bp Boediardjo mengatakan, “Memang rencana baik itu tidak mudah dipahami. Perlu sosialisasi dan pendekatan yang manusiawi.” Penolakan masyarakat wajar sebab mereka belum memahami dikarenakan kurangnya sosialisasi pentingnya pembangunan Taman wisata candi Borobudur itu. Alasan penduduk untuk bertahan adalah sesuatu yang wajar. Mereka merasa bahwa kehidupan mereka telah menyatu dengan alam lingkungan yang menghidupi sampai sekarang. Sebagai contoh yang dikemukakan oleh beberapa penderes kelapa misalnya. Soal mata pencaharian – satu segi totalitas kehidupan mereka. Banyak para penderes tidak mempunyai pohon

Jantung Hati Borobudur

15

kelapa sendiri. Mereka hanya sebagai buruh, tetapi kebersamaan sosial yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun sehingga pembagian penghasilan pun tetap bisa saling menguntungkan Kemudian muncul pertanyaan, “Bagaimana kehidupan mereka kelak setelah menempati pemukiman baru?“ Memang pohon-pohon kelapa itu pada kenyataannya bukan milik mereka. Belum lagi apakah di tempat yang baru nanti ada pohon kelapa. Kalau toh ada pembagian hasilnya tidak akan sama dengan yang telah dialaminya. Menjawab pertanyaan itu, Pak Boed mengatakan bahwa pohon-pohon kelapa yang ada tidak akan ditebang. Bahkan ia menjanjikan antara lain akan memberikan lapangan kerja dan akan mengajarkan penduduk agar dapat memanfaatkan rumah-rumah mereka untuk penginapan yang disebut hostel. Menanggapi kekhawatiran pedagang yang seharihari berdagang di sekitar candi Borobudur Pak Boed mengatakan bahwa kekhawatiran itu tak perlu, karena nantinya para pedagang tersebut akan ditampung di kios-kios baru yang akan dibangun pada area zone II dan para pedagang tersebut akan mendapat prioritas. Alasan lain yang disampaikan oleh penduduk, mereka sudah terlanjur mencintai tanah kelahirannya atau tanah leluhurnya. Kecintaan mereka seolah-olah terbukti, ketika turun sebuah keputusan pembebasan tanah yang akan digunakan untuk Taman wisata, seorang warga Kenayan, mBok Tomblok kesurupan roh pelindung Dusun setempat. Pada saat kesurupan ia mengatakan bahwa Bupati (penguasa) yang akan membersihkan Dusun Kenayan dan sekitarnya akan mendapat laknat. Cinta tanah leluhur memang umum di kalangan masyarakat Jawa yang agraris. Di wilayah pedalaman yang sangat subur seperti halnya di Borobudur, rasa cinta ini jauh lebih intens dari pada diwilayah pesisir atau perkotaan. Mereka tidak membedakan kelas maupun status ekonomi. Bahkan pada kalangan bangsawan perasaan cinta terhadap tanah leluhur itu

juga dapat muncul kuat. Menyikapi hal ini, enam penduduk warga Dusun Kenayan, Ngaran Krajan hari Selasa tanggal 26 Februari menyampaikan pendapatnya ke DPRD Tingkat I Jawa Tengah di Semarang. Menurut penduduk, tanah mereka itu merupakan tanah yang sangat subur, sehingga sulit untuk mendapatkan tanah lain yang ideal untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti sekarang. Selain candi itu sendiri yang telah menjadi atraksi yang selalu dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun manca negara. Warga berharap rizki yang sudah bertahun – tahun dinikmati ini tidak hilang karena datangnya pemodal besar. Pengorbanan penduduk sekitar dalam upaya pelestarian monumen tersebut memang sangat besar. Sayang pengorbanan yang telah ia berikan tanpa jaminan apapun. GENANGAN DUKA RAKYAT JELATA Candi Borobudurku telah tegak kembali setelah kian lama kondisinya sangat memprihatinkan, lorong-lorong bebatuan yang miring kini telah tegak kembali, batubatu yang terkena virus terlihat bersih, kini Borobudurku telah tegak,anggun, gagah perkasa telah kembali seperti ketika terlahir Ia dipersiapkan agar mampu bertahan sampai seribu tahun lagi, suatu waktu dua kali lipat dari usia sekarang. Dinasti Wangsa Syailendra yang telah membangun candi Borobudur pada abad ke delapan masehi yang terancam kerusakan dikarenakan oleh Korosi, pengaruh iklim, pengaruh alam, atau tangan manusia yang tidak bartanggung jawab, kini telah terselamatkan. Borobudur memang sangat pantas untuk dilestarikan agar keberadaanya tetap kokoh, tetap dapat hadir menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah bangsanya Pemugaran candi Borobudur yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Van Erp pada tahun 1907 – 1911 selama empat tahun, dirasa masih kurang karena

16

Jantung Hati Borobudur

kegiatan pemugaran saat itu masih hanya untuk memperbaiki sistem drainase dan pembuatan canggal untuk mengarahkan aliran air hujan. Pada tahun 1963 usaha penyelamatan monumen besar dunia itu dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Meskipun usaha penyelamatan ini telah memakan dana yang cukup besar namun usaha tersebut terhenti dengan adanya pemberontakan G 30 S / P K I. Rupanya harapan bangsa untuk menyelamatkan candi Borobudur tak pernah padam. Tanggal 10 Agustus tahun 1973 Presiden Soeharto meresmikan proyek pemugaran candi Borobudur yang saat itu disebut proyek pemugaran candi Borobudur fase I. Presiden Soeharto pada saat peresmian mengatakan bahwa proyek pemugaran candi Borobudur fase I ini benarbenar sebuah proyek penyelamatan candi Borobudur dari ancaman kerusakan baik kerusakan karena proses alam maupun karena gangguan getaran akibat kendaraan yang sering melintas di sisi utara bangunan candi .“ Kegiatan pemugaran ini akan membutuhkan waktu selama sepuluh tahun (1973 – 1983). Untuk pelaksanaannya telah dipercayakan kepada Prof. Dr. Soekmono dari pihak Indonesia yang bekerjasama dengan UNESCO. Peran penduduk sekitar saat itu juga telah dibutuhkan guna mendukung kerja besar tersebut. Tanah maupun bangunan milik penduduk sekitar yang beradius 200 meter dari kaki candi dibebaskan untuk kegiatan restorasi. Dan penduduk yang terkena pembebasan tanah diberi ganti rugi sebesar Rp 200 per meter persagi. Sebagian warga yang tergusur saat itu antara lain Bp Sunardi, Bp Wirotedyo, dan beberapa warga lainya yang berasal dari Dusun Ngaran Krajan. Semua tanah yang dibeli terletak disebelah selatan candi Borobudur. Waktu itu harga pasaran tanah diluar area sudah mencapai -/+ Rp 750,- - Rp 1200,- per meter. Soekmono, kepala proyek pemugaran, mengakui bahwa proyek tersebut membutuhkan tanah dalam

radius 200 meter dari kaki candi. “Tetapi kami tidak dapat membeli langsung kepada pemilik karena ada peraturan yang mengharuskan kami membeli dari Pemda (Pemerintah Daerah),” katanya. Tahun 1972 tempat parkir kendaraan pengunjung dan beberapa warung makan juga kios –kios suvenir yang terletak di sisi timur dan utara candi Borobudur dikenal dengan parkir “pereng“ dirasakan telah mengganggu kegiatan pemugaran sehingga tempat tersebut harus dipindahkan ke arah timur dengan menggusur tanah penduduk. Sebagian warga yang terkena M. Rachmad, Amat Sayuti, Darmo suwito, Ali Sukiyadi, Luwarno, Murdiman, Ambal, Toko Ibu Sumirah, Rakim, Much Iksan, semuanya penduduk Dusun Ngaran I,. Waktu itu ganti rugi yang diterima oleh penduduk masih sama dengan harga sebelumnya yaitu Rp 200,- - Rp 225 per meter persegi. Kemudian di tempat itu dibangun lapangan parkir kendaraan baik Bus maupun mobil sedan. Restoran yang dikenal dengan nama Indras, serta kios-kios dan warung makan yang dibangun sendiri oleh pedagang. Waktu itu harga tanah di sekitar lokasi telah mencapai Rp 1500,- - Rp 2000,- per meter.

Dagi Restaurant
Masih di tahun yang sama (1972) tanah Bukit Dagi milik 43 warga, digusur oleh Pemerintah yang belum jelas peruntukannya. Hanya yang dapat diketahui oleh penduduk yang terkena, bahwa tanah tersebut akan dibeli oleh Gubernur untuk kepentingan Pemerintah Daerah. Saat itu ganti rugi yang diberikan jauh lebih rendah dari harga ganti rugi sebelumnya yakni Rp 60,per meter. Untuk tanah di bagian depan atau pinggir jalan, untuk yang dibelakang hanya Rp 40,- per meter. Akhirnya tanah tersebut dimiliki oleh PT Pura Bukit Dagi, yang kemudian didirikan sebuah Restoran yang dikelola oleh Ambarukmo Sheraton Yogyakarta. Di Bukit Dagi juga terdapat arena Motocross.

Jantung Hati Borobudur

17

Meskipun pernah ada larangan mendirikan bangunan bertingkat di atas Bukit Dagi, karena dikhawatirkan akan terjadi goncangan terhadap candi akibat tekanan yang ditimbulkan oleh bangunan maupun aktivitasnya, tetap saja berdiri sebuah restoran. Yang paling tidak masuk akal buat penduduk yang telah menyerahkan tanahnya, tetapi mereka masih dipungut pajak atas tanah yang sudah bukan miliknya lagi. Seperti di desa-desa umumnya pajak itu didasarkan oleh petok (bukti pembayaran pajak tanah). Memang pajak itu tidak terlalu besar. Menurut seorang warga yang terkena saat itu, pajak itu hanya Rp 180,- “ Tetapi tanah itu kan sudah bukan milik saya “ katanya. Tahun 1975 Komplek pemakaman warga Dusun Ngaran yang dikenal makam nJaten dipindahkan ke sebelah timur Dusun Gendingan atau arah utara candi Borobudur. Kepada ahli warisnya diberikan ongkos pemindahan Rp 1000,- tiap makam. “Soal pemindahan kuburan ini kalau dibilang dengan Rp 1000,- cukup ? Ya cukup untuk mindah, tetapi apakah tidak perlu sesaji atau semalatan, yang semua itu butuh biaya kan?” kata Pak Tejo yang diharuskan memindah makam kerabatnya. Tahun 1976 – 1977 para pedagang yang berjualan di sekitar tempat parkir kendaraan pengunjung candi Borobudur dipindahkan. Padahal letak bangunan baru tersebut masih berdekatan dengan lokasi lama. Sebagian para pedagang keberatan karena harga kios baru tersebut dinilai terlalu mahal. Untuk ukuran kios 3 x 3 meter harga Rp 100 000,-. Beberapa kios akhirnya tetap dibangun oleh panitia dan sebagian pedagang juga telah membayar sesuai dengan harga yang telah dipatok oleh panitia. Tetapi belum seluruhnya kios – kios baru yang direncanakan sebanyak 115 kios itu jadi, sebagaian kios yang juga belum selesai sudah roboh.

Tentu saja para pedagang tidak mau menempati bangunan tersebut dan menarik kembali uang yang telah disetor kepada panitia. Panitia juga keberatan karena uang yang diterima telah terlanjur dipakai untuk membangun. Akhirnya masalah tersebut sampai ke Gubernur dan panitia mengembalikan uang kepada calon pemilik kios meski tidak seluruhnya. Akhir tahun 1979 Warga masyarakat Dusun Kenayan, Ngaran Krajan, Sabrangrowo, Gopalan, Gendungan merasa resah dengan adanya berita bahwa Dusunnya akan digusur untuk pembangunan Taman Purbakala Nasional. Pembicaraan rencana tersebut sangat bermacammacam. Isu yang berkembang di masyarakat pun bermacam-macam. Sebagian warga menanggapi rencana tersebut itu sebagai berkah. Tetapi sebagian besar warga masyarakat menganggapnya itu musibah. Berkah bagi warga yang sedang kesulitan keuangan maupun sedang punya masalah soal tanah. Musibah bagi masyarakat yang terancam kehidupannya, dan memang menolak rencana pembangunan Taman Purbakala Nasional itu.

Papan larangan mendirikan bangunan
Beberapa warga yang menolak jumlahnya jauh lebih banyak dibanding yang setuju. Mereka membentuk paguyuban yang diberi nama “Ngesti Raharjo “. Pertemuan untuk menyatukan pendapat terus dilakukan, baik melalui arisan, ronda malam, pengajian, serta forum-forum lainnya. Dari pertemuan tersebut disepakati untuk menolak rencana pembangunan Taman wisata candi Borobudur. Keresahan warga masyarakat Kenayan, Ngaran Krajan, Sabrangrowo, sebagian Gendingan dan Gopalan ternyata juga telah mengundang perhatian beberapa kalangan. Tidak hanya kalangan anak muda, hampir seluruh warga masyarakat yang akan terkena

18

Jantung Hati Borobudur

pembangunan tersebut merasa resah, akibatnya “Roh“ penunggu yang diyakini sebagi cikal bakal bumi Kenayan terusik sehingga merasuki seorang warga Kenayan. Malam Jumat Pon November 1980, Mbok Tomblok, warga Dusun Kenayan Kesurupan, sepulang mereka dari membabat duri cangkring di tegalan yang tak jauh dari rumah tinggalnya. Sehari sebelum mBok Tomblok Kesurupan, anaknya juga kesurupan. mBok Tomblok yang sehari-hari bekerja sebagai petani, hari itu terlihat tidak seperti biasanya. Ia pulang dari tegal langsung marah-marah dan keluar kata-kata yang kotor, bahkan mengumpat-umpat “Bupati“ akan menyapu lebu warga dusun Kenayan maupun Ngaran Krajan. Pak Setro yang kebetulan tanggap dan dipandang dapat menterjemahkan apa yang dikatakan oleh mBok Tomblok. Diyakini bahwa ia kesurupan roh penunggu di pohon beringin yang berada di pasar Borobudur. Pak Setro mengatakan, hal ini sebagai firasat bahwa akan terjadi bencana besar terhadap warga dusun Kenayan. Tetapi tidak akan ada korban, karena roh penunggu tersebut sepertinya tidak rela anak cucunya diobrakabrik . Firasat tersebut ternyata benar. Tak lama kemudian turunlah keputusan pembangunan taman Purbakala Nasional (Tapurnas) yang akan menggusur tempat tinggalnya pada tanggal 18 Desember tahun 1980. Taman Purbakala Nasional akan menggunakan tanah seluas 87 hektar dan akan memindahkan masyarakat lima Dusun, yaitu Dusun Kenayan, Ngaran Krajan, Gendingan, Sabrangrowo, Gopalan. Dengan jumlah 350 Kepala Keluarga. Taman Purbakala Nasional tampaknya segera akan dilaksanakan, menurut rencana akhir Oktober 1982 sekitar 381 kk akan dipindahkan. Tahun 1980 dengan selesainya purna pemugaran fase I yang dikenal dengan nama Tapurnas (Taman Purbakala Nasional) kemudian akan dilanjutkan dengan PT

Taman Wisata Candi Boobudur dan Prambanan. Secara resmi PT ini berdiri melalui peraturan Pemerintah N0 7 Th 1980. Untuk pendirian PT ini Pemerintah RI menyertakan modalnya sebesar Rp 3.8 miliar kepada Persero. Uangnya didapat dari anggaran belanja Negara (Pasal 3 ayat 3) kemudian pengelolaannya diserahkan PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan, dengan Marsekal Purnawirawan H. Boediardjo selaku Direktur Utama. Meskipun rencana tersebut belum tersosialisasikan di masyarakat, sebagian warga sudah ada yang mengetahui dan menjadi isu penting di masyarakat. Di sisi lain pihak panitia pembebasan tanah pada tanggal 2 Januari tahun 1980 mengadakan sosialisasi tentang rencana pembangunan Taman wisata candi Borobudur di Kediaman Bapak Parto Dihardjo di Dusun Kenayan. Pertemuan yang diselenggarakan oleh pemerintah Kecamatan Borobudur tersebut dihadiri oleh warga masyarakat Kenayan dan Ngaran Krajan yang jumlah penduduknya terbanyak dibanding Sabrangrowo, Gendingan dan Gopalan. Dari ingatan yang dapat terlukiskan sebagai berikut. Tidak seperti biasanya rumah Bp Parto Dihardjo sangat ramai. Ratusan warga masyarakat setelah Ibadah Sholat Mahrib kemudian berbondong-bondong berkumpul di rumah yang bercat putih yang dipadukan dengan cat warna hijau pada pintu dan jendela. Rumah berbentuk limasan tersebut terletak dipinggir jalan desa di sebelah utara pasar Borobudur. Udara dingin yang menyelimuti sepertinya tidak dirasakan lagi, karena rakyat ingin tahu tentang rencana pembangunan Taman wisata yang akan menggusur mereka. Tak lama kemudian datang dua buah mobil berplat merah dengan bertuliskan PT. Taman Wisata candi Borobudur dan Prambanan yang ditumpangi oleh panitia. Satunya lagi mobil Kabupaten Magelang yang dinaiki oleh kepala kantor Agraria Kabupaten Magelang Bapak Widoyoko Martowardoyo. Keduanya

Jantung Hati Borobudur

19

datang untuk sosialisasi rencana pembangunan Taman wisata candi Borobudur kepada masyarakat yang akan terkena pembebasan tanah.

Tampak Bp Kromo, Bp Sontrot, warga Kenayan.
Mendengar rencana pembangunan Taman wisata candi Borobudur, secara keseluruhan penduduk Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang praktis seluruhnya berada dalam zone II menyatakan akan mendukung rencana pemerintah yang akan melestarikan warisan budaya dunia. Tapi mereka menolak untuk dipindahkan. Mereka akan mendudukung sepenuhnya pelaksanaan Taman wisata candi Borobudur, itu benar-benar demi kepentingan umum. Penolakan untuk tetap berada di zone II tersebut terimplementasi dalam surat pernyataan yang bermeterai, dan ditandatangani oleh ratusan warga masyarakat baik Kenayan maupun Ngaran Krajan. Pertemuan tersebut berakhir sampai pukul 23. 00 Wib dengan tidak ada kesepakatan antara warga masyarakat dengan panitia pembebasan tanah. Langkah warga masyarakat yang menolak kemudian mengadukan nasibnya ke KSBH (Kelompok Studi dan Bantuan Hukum dan Kantor Lembaga Bantuan Hukum ( L B H) di Yogyakarta pada Bulan Januari 1981 yang diterima oleh Bp Hadi Wahono, Muchamad Farid, serta Sdr Gito Prastowo.SH dan di LBH mereka diterima oleh Nursyahbani Kaca Sungkana SH. Dalam pemaparannya warga masyarakat yang ikut mendatangi kantor KSBH dan LBH mengatakan, “Keresahan yang dialami oleh warga Dusun Kenayan dan Ngaran Krajan, tentang adanya rencana pembebasan tanah tidak sekedar hanya karena trauma terhadap pembebasan tanah sebelumnya. Juga kekhawatiran terancam kehilangan mata pencaharianya, tetapi juga karena terpisahnya hubungan mereka dengan candi Borobudur yang sudah menyatu secara alami dengan kehidupan.

Bagi Penduduk Borobudur, candi Borobudur bukan sekedar obyek wisata melainkan juga sebagai tempat yang sangat sakral. Kemarahan roh penunggu di pohon beringin yang diyakini oleh warga sekitar sebagai pelindung yang mengancam akan menyapu lebu kepada siapa saja yang akan mengobrak-abrik warganya (anak cucunya) itu sebagai bentuk ketidak setujuan “Roh” tersebut akan adanya pembebasan tanah. Keterikatan secara batin warga masyuarakat sekitar candi Borobudur yang telah terajut secara turun temurun dari nenek moyangnya. Dengan cara mereka, ada yang memuja “roh-roh“ pelindungnya dan menghormati dengan menanggap wayang semalam suntuk. Ada juga pemasangan sesaji yang setiap tahun dilakukan. Ini sebagai bukti keterikatan warga masyarakat sekitar dan candi Borobudur tidak bisa dipisahkan. Malam Minggu, 24 Januari 1981, penduduk kembali resah. Mereka disodori undangan dan diminta menandatangani bukti kesanggupan bahwa mereka untuk dapat menghadiri pertemuan dengan Boediardjo yang menjadi wakil pemerintah. Cara penyampaian undangan itu sangat tidak simpatik. Beberapa petugas dengan “membentak, memaksa“ penduduk untuk menandatangani undangan tersebut. Undangan itu memang betul-betul undangan rapat. Tetapi bagi penduduk yang buta huruf, itu bisa diartikan lain. Bahkan itu dianggap merugikan, paling tidak: mencurigakan. “Jangan-jangan dengan kehadiran kita besok dapat dipergunakan sebagai bukti, legitimasi bahwa kita telah setuju dengan rencana PT tersebut, “ kata mereka. Kecurigaan itu tidak mustahil, mengingat pengalaman penduduk yang beberapa kali tertipu dalam soal pembebasan tanah. Akhirnya Minggu, 25 Januari 1981, pukul 09.00 pertemuan jadi dilaksanakan. Sebelumnya Sabtu malam beberapa warga masyarakat tampak berkumpul di depan pasar Borobudur untuk

20

Jantung Hati Borobudur

koordinasi dengan teman lainnya. Akhirnya disepakati tidak seluruh warga masyarakat hadir. Hanya perwakilan saja. Rapat tersebut memang sangat ketat. Bagi yang tidak membawa undangan tidak boleh masuk dalam rapat. Pertemuan tersebut berlangsung selama empat jam. Penduduk lewat juru bicaranya tetap pada pendirian untuk tetap tidak mau menyerahkan atau ingin tetap tinggal di zone II. Sebagai penggantinya penduduk akan menyerahkan lahan kosong, meski lahan tersebur menjadi garapan penduduk. Kata seorang warga yang mempertanyakan, “ Mengapa Taman wisata justru dibangun ke arah timur? Padahal di arah timur tersebut sangat padat penduduk dan aktivitasnya. Kalau di sebelah barat dan utara kan masih banyak lahan kosong.“. Borobudur memang akan bertambah cantik bila berada di tengah taman wisata seluas 87 ha. Menurut rencana dalam area itu, kecuali bangunan resmi proyek tidak diijinkan ada bangunan lain termasuk rumah penduduk. Tapi apakah kecantikan Borobudur itu tidak menjadi artifisial dan menghilangkan keotentikan Borobudur yang telah bertahun-tahun menyatu dengan penduduk sekitar? Mungkin saja yang ontentik itu lebih menarik wisatawan, sehingga turis juga bisa mempelajari candi Borobudur lengkap dengan penduduknya. Suasana yang khas ini akan lebih menarik perhatian, karena seperti dahulu nenek moyang yang telah membangun candi Borobudur tersebut juga tidak akan terlepas dari peran serta warganya secara lengkap. Pertemuan tersebut berakhir dengan tidak adanya kesepakatan antara warga masyarakat dengan pihak PT Taman Wisata, serta pemerintah Daerah setempat. Pemerintah dan PT Taman Wisata terus mengadakan berbagai pendekatan. Bisa secara personal, dengan mendatangi rumah-rumah penduduk, maupun lewat siaran radio, berita di koran-koran, serta tabloit Gunadarma terbitan Taman wisata.

Borobudur ungkapkan Aspirasi Kemuliaan Jiwa Kedaulatan Rakyat 24 Februari 1981
Direktur Jendral UNESCO mengatakan, bahwa Borobudur merupakan salah satu munumen yang terbesar dan terindah di kawasan Asia Tenggara. Candi yang didirikan oleh Dinasti Wangsa Syailendra pada abad ke delapan dan dipersembahkan untuk memuliakan Budha itu telah memadukan berbagai pengaruh budaya. Demikian Dr AMM Bow dalam sambutan akhir peresmian pemugaran candi Borobudur. Lebih jauh ia katakan, Candi Borobudur impian dan harapan untuk seribu tahun lagi. Jika waktu itu peresmian yang dilakukan oleh Presden Soeharto tanggal 23 Februari 1983 kemudian seribu tahun lagi tentunya harapan kita kelak Borobudur masih bisa bertahan pada tahun 2983. Borobudur juga merupakan suatu ungkapan aspirasi yang mengagumkan menuju kemuliaan jiwa dan kemurnian hati yang umumnya bagi semua bentuk kepercayaan. Bangsa dan pemerintah Indonesia telah diakui sebagai salah satu pola dasar tradisi yang hidup. Inilah yang menyebabkan Borobudur tidak hanya dipandang sebagai munumen arsitektural dan karya seni pahat saja, tetapi sebagai kulminasi pencarian spiritual dan budaya yang dilakukan peziarah ahli pikir, sejarawan, dan arkeologi. Tetapi setelah berabad-abad Borobudur tersia-sia sebagai munumen tertutup tumbuh-tumbuhan dan terancam kemusnahan total, bangunan mulai runtuh karena gabungan unsur-unsur perusak dari iklim tropis, gempa bumi dan lain sebagainya. Monumen ini hanya dapat terselamatkan dengan langkah-langkah yang tepat, dengan memperbaiki dari segala aspek bahaya yang mengancam kelestariannya. Untuk itu UNESCO yang membidangi pendidikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, melaksanakan kampanye mengumpulkan dana dan tenaga ahli yang

Jantung Hati Borobudur

21

diperlukan. Usaha yang sudah dimulai sejak tahun 1960 ini dimaksudkan untuk menyelamatkan munumen dari situs –situs yang bernilai spiritual, budaya dan sejarah dari kemerosotan dengan jalan menghimbau usahausaha solidaritas internasional. Ada dua tujuan dari UNESCO. Pertama untuk menyelamatkan karya-karya yang menakjubkan, menunjukkan betapa genius manusia yang kreatif, lengkap dengan instuisi dan harapan-harapannya serta usahanya dalam mencari kebenaran. Kedua, menjadikan karya-karya ini bernilai bagi masyarakat luas, baik bagi mereka yang memiliki warisan itu, maupun bagi bangsa lain didunia yang mulai memandang karya seperti Borobudur sebagai warisan umat manusia yang tiada duanya. Mengenai pemugaran ini, Dirjen UNESCO mengatakan, lebih dari 6,5 Juta dolar telah disumbangkan oleh dua puluh tujuh negara anggota dan berbagai Organisasi Non Pemerintah; sedangkan Pemerintah Indonesia yang menanggung sisanya. “Pemugaran ini merupakan pekerjaan raksasa, “ kata Dirjen UNESCO. Pelaksanaannya melibatkan 20 Disiplin Ilmu, sejuta balok batu yang dipindahkan, dan lebih 10,000 lainnya yang masih beserakan dikembalikan ke tempat semula “Berkat rangkaian kemauan, kecakapan, dan keahlian yang sangat luar biasa, Borobudur sedikit- demi sedikit memperoleh kemegahannya kembali,” katanya. Akhirnya Dirjen UNESCO mengharap, “Penyelamatan Borbudur dan kampanye yang selama ini berlangsung untuk menyelamatkan munumen dan situs lain yang bernilai yang universal akan mengantar ke dalam era solidaritas yang berkembang dalam ruang lingkup bidang yang senantiasa meluas yang merintis suatu dunia penuh kedamaian,, kemajuan dan kemakmuran bagi semua .“ Dua puluh penduduk Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Selasa siang menghadap pimpinan DPRD

Jawa Tengah dengan membawa surat kuasa yang ditandatangani oleh 123 penduduk Desa tersebut. Mereka mengutarakan semua keluhan berkenaan dengan pelaksanaan proyek Purbakala Nasional Borobudur dan Prambanan Penduduk setuju dengan rencana proyek tersebut. Pada umumnya mereka rela melepaskan tanah yang berupa tegalan yang saat ini masih digarap. Namun mereka tidak mau digusur atau dipindahkan dari tempat tinggalnya. Apabila daerah pemukiman mereka tetap dimasukan dalam kawasan proyek tersebut, penduduk agar tetap diperkenankan untuk tetap memiliki tanahnya serta tetap tinggal di sana dan sanggup untuk menyesuaikan bentuk banguanan rumahnya masing-masig sesuai dengan lingkungan pariwisata atau dengan bentuk bangunan Jawa kuno .

Pathokan yang menutup jalan
Penduduk Borobudur juga mempertanyakan status PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan yang diserahi untuk mengelola pelaksanaan proyek Tapurnas itu. Mereka menganggap usaha perusahaan itu bukan usaha pemerintah, dan derap langkahnya dinilai merugikan penduduk sekitar. Mereka menyatakan resah dengan pemathokan-pemathokan yang dilakuikan tanpa memberi tahu pemilik tanah. Padahal penduduk belum pernah memberikan persetujuan. Menjawab semua keluhan utusan masyarakat Borobudur. Pihak DPRD Jateng akan segera mengirimkan Tim untuk mengumpulkan data yang lebih akurat “Pihaknya akan melakukan pembicaraan dengan eksekutif tentang sejauh mana keinginan penduduk bisa terpenuhi “ kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Moelyono. Tentang Tim yang akan dikirim yaitu terdiri dari Komisi A bidang Hukum, Komisi B Bidang anggaran, serta komisi C bidang pariwisata dan perhubungan juga tidak menutup kemungkinan pihaknya akan melibatkan komisi E bidang kesejahteraan.

22

Jantung Hati Borobudur

Pola induk pengembangan taman purbakala Nasional Borobudur dan Prambanan, telah disahkan Menteri Perhubungan dengan N0 KM /221/PW/004/PHB.80 Pola induk tersebut merupakan hasil penelitian dan perencanaan yang dilakukan oleh tim Indonesia yang berintikan unsur Universitas Gajah Mada dan tim alhi Jepang (proyek mendapat bantuan dari Jepang). Pada dasarnya proyek pola tersebut berisi rencana peraturan zoning. Tata guna tanah dan rencana konstruksi bangunan berbagai fasilitas taman seperti museum, pusat konservasi, kantor pengelola, tempat parkir, pintu gerbang masuk dan lain sebagainya. Setidaknya sampai bulan Maret 1981 ratusan kepala keluarga masih tetap tidak mau menyerahkan tanahya untuk pembangunan Taman wisata candi Borobudur, meski sebagian warga telah menyerahkan dan bersedia pindah. Bagi yang menolak pindah dari pemukiman seperti penduduk Kenayan, Ngaran Krajan, yang seluruh warga terkena,mengemukakan pendapatnya. “Bahwa ternyata pengelolaan PT Taman wisata itu ternyata seluruhnya bukan pemerintah melainkan sebuah perusahaan yang berbentuk Perseroan terbatas atau PT. Ini jelas – jelas nantinya tetap akan lebih mengedepankan prifit atau lebih mencari keuntungan sebanyak-banyaknya,“ kata seorang pemuda yang tinggal di bawah pohon beringin. Seorang Ibu rumah tangga yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari pasar Borobudur mengatakan “ Kini usaha yang kami lakukan sudah cukup untuk menopang kebutuhan sehari-hari, Kemudian kalau besok pinad apakah nantinya kami masih akan mendapat tempat yang sama. “ Pak Darmo yang kebetulan rumahnya dekat dengan candi Borobudur, kini hidup dengan berkerja membuka warung makan. Dengan modal tempat yang strategis tersebut kini dapat menyekolahkan anaknya serta dapat membeli kebun yang ditanami pepaya. Bagai mana nanti di tempat yang baru apakah juga seperti

yang ia rasakan selama ini? Sebagian besar para pedagang di pinggir jalan menuju ke candi Borobudur menolak rencana pembangunan Taman Wisata. Mereka mempertanyakan kelancaran usahanya kelak setelah mereka pindah dari tempat yang sekarang ini. Pak Sontrot warga Ngaran Krajan mengatakan bahwa saat ini mereka hidup dari menderes kelapa, dan sebagian besar pohonya bukan miliknya, ia khawatir kalau nanti tidak lagi bisa menderes lagi karena pohon kelapanya ditebang.

Setrowokromo, Adasar, Mudasir di depan makam Kenayan
Untuk mengantisipasi berbagai persoalan yang muncul Widoyoko Martowardoyo Kapala Kantor Agraria Kab, Magelang mengatakan, Bahwa pihaknya telah menyediakan tanah sebagi pengganti yang terletak di Dsn Janan yang saat ini disebut “ Pemukti “. Di tempat ini sudah disediakan berbagai fasilitas. Antara lain menyediakan tempat pemukiman dengan fasilitas yang lebih baik. Di samping membayar ganti rugi tanah,bangunan, tanaman serta ongkos pindah rumah. Kini untuk memecahkan masalah tersebut saat ini terus dilakukan pendekatan-pendekatan secara kekeluargaan terhadap masyarakat. Seperti usaha yang telah dilakukan dengan mengundang 350 kepala keluarga untuk mendengarkan secara langsung dengan Bp Boedihardjo pada 25 Januari 1981. Ir Suparto Direktur PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan, “Untuk menampung 320 KK penduduk pada daerah pemukiman nanti akan disediakan seluas 30 ha, Untuk pemukiman baru ini tidak akan disertai dengan pekarangan, sedangkan persawahan yang saat ini masih akan dipikirkan kemudian .”

Jantung Hati Borobudur

23

24

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

25

Hal tersebut dikatakan hari Rabu sewaktu acara dengar pendapat dengan tim DPRD Tingkat I Jawa Tengah yang akan mulai turun ke bawah dalam rangka ikut menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat di Borobudur. Menyinggung tentang ganti rugi, pihak PT Taman Wisata memakai dasar ketentuan Pemerintah Daerah, sedangkan bangunan rumah pohon dan tanaman serta ongkos pemindahan rumah atau bangunan akan diganti rugi oleh pihak Taman wisata dan untuk bangunan pemilik masih diperbolehkan untuk memilik.i Atas pertanyaan anggota tim DPRD yang dipimpin oleh Soeripto Ketua yang terdiri dari anggota H.Moch Toyib Komisi E, Suwignyo Komisi D, Drs Suryanto Komisi C, dan Abdul Wahab BA Komisi B. Direktur PT Taman wisata Ir Soeparto mengatakan bahwa tujuan pokok adalah untuk melestarikan warisan budaya setelah candi Borobudur ini selesai dipugar. Tim DPRD minta kepada pihak PT Taman Wisata agar dapat bersikap luwes dalam menangani masalah tanah di sekitar candi Borobudur, Sehingga tidak terjadi gejolak baru yang merugikan masyarakat setempat. Juga disarankan agar memberikan lapangan kerja buat masyarakat sekitar, terutama bagi masyarakat yang tergusur. Tim DPRD yang dipimpin oleh Soeripto Ketua yang terdiri dari anggota H.Moch Toyib Komisi E, Suwignyo Komisi D, Drs Suryanto Komisi C, dan Abdul Wahab BA Komisi B juga melakukan tatap muka dengan masyarakat di Kelurahan Borobudur, (Suara Merdeka, 6 Maret 1981) Dalam kesempatan tersebut Soeripto kepada masyarakat mengatakan, bahwa usaha pemerintah untuk memindahkan penduduk dari daerah pemukiman Zone I – II adalah untuk merobah cara penghidupan yang tradisional sekaligus untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

Soeripto juga manandaskan bahwa melalui PT tersebut pemerintah tidak akan menyusahkan rakyat, sebaliknya akan merubah kehidupan yang masih sangat terbatas dan tradisional. Tim DPRD Juga menjajikan, bahwa Taman tersebut nantinya tidak akan menjadi taman semacam Taman Ancol yang dikhawatirkan oleh warga masyarakat Borobudur, sehingga akan mencemarkan lingkungan yang disakralkan atau disucikan itu. Penduduk Kenayan dalam pertemuan di Desa Borobudur menyinggung ketenangan hidup. Dalam tatap muka dengan warga masyarakat Tim DPRD Tingkat I Jawa Tengah tersebut, Penduduk mengemukakan agar Taman wisata yang direncanakan tidak dibangun ke arah timur candi, akan tetapi kearah utara.Sehingga tidak mengganggu daerah pemikiman penduduk khususnya didaerah Kenayan dan Ngaran Krajan. Pemerintah diharapkan meninjau kembali hasil survai yang telah dilaksanakan pihak Jepang terutama yang menyangkut kehidupan rakyat setempat. Demikian pula masalah jaminan hidup bagi warga yang tergusur dikemudian hari, setelah mereka dipindahkan dari daerah pemukian saat ini cukup merisaukan penduduk setempat. Pertemuan tersebut berakhir sampai dengan pukul 13.00 WIB. Di sisi lain H. Boediardjo dalam dengar pendapat dengan Tim DPRD Tingkat I Jawa Tengah di Kabupaten Magelang mengatakan, bahwa untuk menampung aspirasi warga masyarakat serta keingina penduduk Desa Borobudur telah membuka praktek pada setiap Jumat malam di tempat kediamanya di Dusun Tingal, Wanurejo. Praktek tersebut sekaligus untuk bisa menyelesaikan dan memberikan penerangan sejelasjelasnya kepada penduduk yang tanahnya nanti akan dipergunakan taman wisata candi Borobudur. Apabila Jumat malam masih dirasa kurang akan dilanjutkan Sabtu paginya. Praktek semacam itu menurut Boediardjo telah dilangsungkan untuk kedua

26

Jantung Hati Borobudur

kalinya setelah diangkat menjadi Direktur Utama PT (Persero) Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan. (Suara Merdeka, 9 Maret 1981) Menanggapi beberapa masalah yang diajukan sebagai sesuatu keberatan H. Boediardjo mengatakan bahwa masalah yang paling berat yang dihadapinya adalah menyangkut pemindahan pemukiman dan kehidupan penduduk setempat. Namun mengingat jangkauan yang lebih lagi di mana diharapkan candi Borobudur bisa dinikmati oleh Bangsa Indonesia selama 1000 tahun lagi maka akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memecahkan masalah tersebut dengan sebaik-baiknya. Taman itu sendiri nantinya merupakan taman budaya yang akan menggunakan daerah pemukiman seluas 85 hektar.“ Tampaknya tidak ada alternatif lain untuk memindahkan penduduk untuk mencapai kesempatan emas yang akan datang itu.“ Menyinggung masalah daerah pemukiman baru nantinya akan berbentuk kota penuh dengan fasilitas yang diperlukan. Sedangkan mengenai pembangunan Taman wisata yang menuju ke arah timur, adalah didasarkan suatu keputusan untuk memulihkan kembali seperti pembangunan zaman dahulu, dimana harus setia pada falsafah Nenek Moyang kita waktu itu bahwa candi Borobudur ‘ Madep ngetan Masalah itu menurut H. Boedihardjo, manunggal dengan Nenek Moyang kita dan tidak ada hubunganya dengan Agama. Sementara itu Tim DPRD Tk I Jawa Tengah yang dipimpin oleh Soeripto mengatakan, bahwa kepada penduduk Desa Borobudur masih perlu penjelasan yang mantap tentang PT Taman wisata itu sendiri. Dalam menyelesaikan masalahnya perlu adanya pendekatan-pendekatan yang manusiawi. Sedangkan permasalahan yang lalu perlu segera diselesaikan, untuk sebagai obat atas penderitaan rakyat yang telah dialami selama ini .

Bupati Magelang Drh Supardi mengatakan, bahwa pemilik tanah di zone III sebagian sudah menerima ganti rugi dengan harga antara Rp 5000,- sampai dengan Rp 7500,- per meter, Sedang didaerah zone II dimana Taman Nasional candi Borobudur ini akan dibangun, sampai kemarin sebanyak 31 pemilik tanah maupun bangunantelah memintan uang ganti ruginya. Khusus Zone II meliputi tanah ruas I,II daerah untuk pasar Terminal, dan pemukiman baru. (Sumber Suara Merdeka, 24 April 1981 ) Daerah ruas I tercatat 21 pemilik tanah milik dari sejumlah 29 pemilik tanahn telah memintan ganti rugi. Diruas II 31 pemilik dari 40 orang pemilik tanah, untuk didaerah yang rencananya akan dibangun pasar telah 9 pemilik dari 11 pemelik tanah maupun bangunan. Atas pertanyaan Wartawan SM Drh Supardi mengatakan, bahwa penduduk yang paling banyak menerima ganti rugi adalah berjumlah Rp 88 Juta, sedangkan paling kecil sebanyak Rp 250 000,-, namun dijelaskan hampir seluruh uang yang diterimanya disimpan dalam bentuk Tabanas maupun giro di Bank Khusus mengenai ganti rugi yang diterimanya Drh Supardi, mengatakan bahwa semuanya dulakukan “cara terbuka“ dimana setiap pemilik diharuskan menyertai pengukuran ataupun penghitungan setiap benda yang ada di daerahnya. Demikian pula mengenai penerimaan uang yang langsung dan tanda tangan persetujuan sebelumnya dibayar oleh setiap pemilik tanah di daerah Borobudur. Dengan cara demikian baik penduduk maupun pemerintah Daerah sama-sama puas dan terbuka sehingga tidak ada masalah lagi dikemudian hari. Sementara itu Camat Borobudur Gathot Sugiyarto BA atas pertanyaan SM mengatakan, bahwa setiap penduduk, pemilik tanah yang menerima ganti rugi tidak dikenakan potongan apa pun dan ongkos administrasi yang diperlukan sudah ditanggung oleh PT Taman wisata. Dikatakan bahwa setiap pepohonan yang ada di halaman dan pekarangan mendapat ganti

Jantung Hati Borobudur

27

rugi. Seperti pohon kelapa misalnya yang nantinya akan dilestarikan mendapat ganti rugi Rp 25 000,- per buah. Pohon Rambutan Rp15000,-, Jeruk Rp 15 000,-.Cengkeh Rp 10 000,- Asam tunas Rp 1 000,-, pepohonan kecil misalnya Kimpul Rp 10,- Kunyit sebangsanya Rp 25,Camat Borobudur Gathot Sugiyarto BA juga mengatakan bahwa, seorang pemilik didaerahnya dengan uang ganti rugi tersebut telah dapat membayar utang di Bank, membeli 2Truk, sebuah Colt, Scooter PX dan membangun rumah beserta tanah yang baru. Berdasarkan pengamatan sumber Suara Merdeka di tempat, para pemilik tanah yang telah mendapat ganti rugi kebanyakan memilih tanah di daerah Ngrajek, Muntilan, Tempuran, Salaman, Kajoran yang dengan harga yang lebih murah dibanding dengan penerimaan ganti rugi, meski kualitas tanahnya dibawahnya.

pembangunan Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan seta membahas segi-segi peran kedua obyek wisata ini untuk mendukung pelayanan dan pemasaran wisata guna mementapkan daya saing produk wisata Indonesia. Pembangunan Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan merupakan hasil studi yang dilaksanaka selama bertahun-tahun oleh kedua tim Badan Kerjasama International Jepang, JICA (Japan International Cooperation Agency) dan Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Studi tersebut terdiri dari Studi Pembangunan Taman wisata atau Taman Purbakala Nasional Borobudur dan Prambanan untuk pelestarian peninggalan sejarah dan kekayaan budaya nasional serta perencanaan tata lingkungan pemukiman di sekitar taman wisata. Studi ini mempunyai tiga sarana yaitu prestasi kekayaan budaya, arkeologi, pembangunan kepariwisataan dan peningkatan sosial ekonomi masyarakat di sekitar Taman wisata kedua candi tersebut. Untuk mencapai tujuannya, pemerintah pada tahun 1980 menetapkan penyertaan modal pemerintah untuk mendirikan Perusahaan Persero Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan Guna melaksanakan pembangunan Taman wisata tersebut selanjutnya mengelola sebagai Badan Usaha Milik Negara ( BUMN) . Pelaksanaan pembangunan taman, pembanguna pemukiman penggati untuk penduduk yang dipindahkan dari daerah taman dan pengaturan keseimbangan lingkungan yang dapat mendukung kelestarian kawasan taman yang meliputi lima zone. Zone I adalah zone Konservasi (pelestarian) arkelogi, Zone II Taman wisata, Zone III sebagai pengaturan tata guna tanah. Di sisi lain Boediardjo mengatakan, pembinaan produk wisata candi Bborobudur dan Prambanan dalam tingkat pertama adalah untuk menciptakan “brand image atau

Sejuta Wisatawan Ke Borobudur 400,000 Ke Prambanan, Tahun 1983 (Kedaulatan Rakyat 15 Oktober 1981)
Arus wisatawan domestik yang mengunjungi candi Borobudur tahun 1983 diproyeksikan sebanyak satu juta orang dan yang mengunjungi candi Prambanan akan mencapai 400 000 orang. Sedangkan kunjungan wisatawan Asing tahun 1983 ke candi Borobudur diproyeksikan 73000 orang dan ke Prambanan 21000 orang. Hal tersebut dikatakan oleh Direktur PT Taman Wisata candi Borobudur dan Prambanan Boediardjo dalam makalahnya yang berjudul “Peran Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan dalam mendukung progran peningkatan pelayanan dan pemasaran wisata Indonesia“ pada lokakarya Dirjen Pariwisata di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan pada tanggal 1-2 Oktober 1981. Boediardjo dalam makahlah tersebut menjelaskan,

28

Jantung Hati Borobudur

cap-citra“ Borobudur dan Prambanan sebagai obyek kebudayaan dan lingkungan yang bermutu tinggi.

Sekitar Borobudur dijamin tidak ada pencakar langit. Sinar Harapan Kamis, 18 Februari 1982
Direktur Utama PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan H. Boediardjo menjamin tidak ada bangunan pencakar langit di belakang candi Borobudur dan Prambanan. Justru di kedua candi tersebut akan diperoleh ciri-ciri tertentu. Taman candi Borobudur akan berciri-ciri sebagai “pusat pengembangan ilmu percandian“. Sedang di taman candi Prambanan akan berciri sebagai “pusat pengembangan seni pentas“ Hal tersebut dimungkinkan sebagai akibat dibangunya pusat studi Borobudur dan pusat konservasi batu-batu candi Borobudur di komplek Borobudur, sedang di Prambanan dibangun dua panggung teater masingmasing teater terbuka dan teater tertutup. Hal tersebut diungkapkan Boedihardjo Senin pagi di Balai Wartawan Yogyakarta dalam acara temu gagasan masalah taman wisata sehubungan dengan HUT, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang ke 30. Menurut bekas Merteri Penerangan itu tahap pertama pembangunan dan pengelolaan taman wisata memang dipusatkan di Borobudur, karena direncanakan pemugaran candi Borobudur akan diselesaikan Oktober 1982 dan peresmian akan dilakukan bulan Mei 1983. Oleh sebab itu diharapkan bertepatan dengan peresmian tersebut disekitar candi sudah bersih dari penduduk dan sudah dibangun beberapa fasilitas “taman wisata kedua candi tersebut. Ibarat sebuah batu permata yang bertambah indah apabila ditambahi lingkaran emas.“ Dari pembangunan taman itulah penduduk yang kini sudah mulai dipindahkan akan memperoleh manfaat banyak, misalnya dari kunjungan wisata sekitar dua juta .

Diakui Boediardjo kerusakan batu-batu candi sering tidak dilakukan oleh turis asing melainkan justru oleh turis domestik yang belum memahami betul pemeliharaan batu-batu candi. Mereka sadar atau tidak memegang batu candi, padahal dari tangantangan yang kotor itu melengket kuman-kuman yang bisa merusak. Menyinggung perencanaan taman baik taman wisata candi Borobudur maupun candi Prambanan diakui digarap oleh Jepang melalui pinjaman, Dewasa ini sedang dikerjakan mendekati penyelesaian bulan Juli nanti baru kita lihat hasilnya. Masih dalam seputar temu gagasan dalam rangka HUT. PWI ke 30 cabang Yogya .

Dampak sosial – Budaya dan ekonomi sudah dipertimbangka secara masak (Kedaulatan Rakyat 16 Februari 1982 .
Secara fisik candi Borobudur dibangun oleh kerajaan Budha pada abab ke 8, Namun sekarang tempat itu sudah tidak merupakan tempat ibadah lagi kecuali sebagai tempat prosesi tiga kali tiap tahun. Dengan demikian candi itu yang menurut sejarahnya pernah “sakral “ kini bisa disebut mati. Fakta lain bisa disebutkan, penduduk di Borobudur dan Prambanan hampir tidak ada yang menggunakan candi itu untuk peribadatan. Ditambah lagi pengakuan Internasional tentang “keajaiban“ dunia bangunan kuno itu yang mempunyai karateristik sendiri, sehingga ada kesepakatan berbagai negara yang tergabung dalam UNESCO untuk melestarikan . Boediardjo menandaskan, titik tolak pembangunan taman wisata itu adalah untuk kepentingan masyarakat setempat khususnya dan kepentingan nasional pada umumnya. Selain akan dibangun beberapa sarana wisata di candi Borobudur akan didirikan pula pusat pengembangan ilmu percandian, dan dibuatkan semacam perkampungan domestik sehingga bisa para wisatawan akan tetap menikmati

Jantung Hati Borobudur

29

keaslian kebudayaan rakyat setempat Beberapa dampak sosial yang mungkin terjadi adalah perubahan pola hidup masyarakat sekitar taman itu yang mendekati cara hidup orang kota. Meskipun harus dijaga keaslianya dan ketradisionalan kehidupan rakyat dengan cara penyesuaian Arsitektur beberapa bangunan “kami berpringsip menyamakan semua bangunan “. Dampak ekonomi yang mungkin timbul adalah suasana arus penjualan jasa atau barang yang dilakukan oleh penduduk setempat. Untuk mempersiapkan itu beberapa penduduk setempat sudah diberi semacam penataran untuk membuat penginapan, penjualan barang dan tradisi-tradisi khas yang bisa dijadikan tontonan wisatawan asing.

penerangan seluas-luasnya kepada masyarakat setempat pada dasarnya. Pembangunan yang nantinya akan menyentuh tanah milik rakyat, tidak bakal merugikan mereka sama sekali “ tandasnya. Ganti rugi yang memadai tetap disediakan,bahkan kepada mereka juga akan diberikan prioritas utama untuk bekerja di Kawasan taman wisata. Terhadap yang melakukan “ teror gurem “ Boediardjo mengatakan, selaku Dirut Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan yang bakal menangani pembangunan itu beserta seluruh aparatnya ingin segera diperiksa opstib, sebab memang sudah ada yang melapor kepada opstib. Ada yang mengadukan bahwa di dalam pembebasan tanah itu telah terjadi penyelewengan yang merugikan rakyat . “Karena sudah ada laporan dari masayarakat maka sudah sewajarnya kalau saya beserta aparat saya segera diperiksa “ katanya. “Namun saya pun juga akan mengadu ke opstib dengan bekal berkas berkas yang telah saya miliki, agar sekelompok pelaku teror amatir inipun juga diperiksa atas perilakunya,“ demikian Boediardjo sambil menunjukan setumpuk map. Dengan secepatnya diperiksa, maka persoalan pun bakal segera selesai dan gamblang di mana letak kesalahannya. Sementara itu Bupati Magelang Drh Supardi yang mendampingi Boediardjo juga mengatakan bahwa diri Karsono penduduk Kenayan, Kelurahan Borobudur yang telah mengatas namakan dirinya sebagai kuasa 19 orang untuk mengadu ke opstib, kini oleh pihak Pemda tengah dilakukan penelitian mengenai motifasi perbuatannya. Oleh Bupati ia juga dinyatakan sebagai avonturir yang kurang pekerjaan. Bupati juga menjelaskan, untuk zone II yaitu zone yang akan dijadikan sebagai lokasi taman wisata seluruhnya seluas 85 ha dan hingga kini telah dibebaskan seluas 64.19 ha atau sekitar 75 persen.

Sekitar masalah pembebasan tanah rakyat di Borobudur : Dirut PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan minta diperiksa opstib (Kedaulatan Rakyat 10 April 1982)
Dengan nada yang cukup menggelitik Dirut PT Taman wisata candi Borobudur Prambanan H. Boediardjo dalam keteranganya, Kamis menyetakan dalam upaya pemerintah untuk membangun taman wisata budaya di daerah Borobudur memang masih kurang mendapat dukungan masyarakat setempat. Menurut H. Boediardjo, bahwa ada beberapa faktor yang menopang hal itu, antara lain kurang mengertinya kalangan sementara masyarakat arti pentingnya pembangunan tersebut. Di samping itu juga ada sementara orang yang melaksanakan teror amatiran dengan macam-macam perilaku yang bertujuan menghabat tujuan pembangunan. H.Boediardjo juga mengatakan, bahwa pembangunan secara besar-besar ini tidak bisa segera dimulai jika penduduk tidak iklas betul melepaskan tanahnya.“ Untuk itulah menjadi tugas kita bersama memberikan

30

Jantung Hati Borobudur

Sebenarnya pembebasan tanah itu harus sudah selesai pada akhir Desember 1981, tetapi karena adanya hambatan yang diluar perhitungan sama sekali, maka pembebasan tanah itu agak terlambat. Namun demikian Bupati berkeyakinan dalam waktu singkat masalah itu akan teratasi. Menyinggung kawasan pemukti (pemukiman pengganti) seluas 39.6 Ha yang bakal disediakan untuk pada penduduk dari kawasan zone II kini sudah dapat dibebaskan seluas 28.5 Ha dan telah digunakan untuk pembangunan, sedangkan ruas I,II,III serta IV calon terminal, pasar, fasilitas sosial lainya serta pemukiman,. Bahkan jalan tersebut kini telah selesai sepanjang 4 Km dan telah berfungsi, Di samping itu juga sebuah Kantor Pos juga telah dibangun. Menjawab pertanyaan KR sejauh mana pelaksanaan Perda Kab Magelang Nomor 3 tahun 1977 yang antara lain menyatakan bahwa mendirikan bangunan baru, merubah bangunan serta menambah harus ijin dahulu dari Pemda Magelang dalam hal ini mendapat ijin Bupati, meski plang-plang telah dipasang di beberapa tempat. Namun kenyataanya penduduk terutama yang bermukim di kawasan Borobudur yang tanahnya akan dibebaskan justru memacu pembangunan tempat tinggalnya tanpa ada ijin. “Ini jelas merupakan pelanggaran.” Demikian Bupati. Tetapi terhadap kenekatan ini, Pemda juga menyatakan bangunan baru itu tidak akan mendapat ganti rugi. Ganti rugi akan diberikan sesuai dengan data bangunan semula.

tatap muka dengan penduduk Desa Borobudur untuk menyelesaikan masalah tanah yang akan digunakan taman wisata. Dalam tatap muka Bupati mengatakan, seperti yang diinginkan Gubernur Jawa Tengah Soepardjo, agar masalah pembebasan tanah diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. Dalam petemuan tersebut penduduk diberi kebebasan untuk menyampaikan uneg-unegnya di pendopo candi Borobudur. Bupati Magelang menjelaskan secara rinci, maksud pemerintah membantu taman wisata untuk menyelamatkan candi Borobudur . Dan Dim 0705 Magelang Letkol Inf Soedirman, yang mendampingi Bupati menyatakan, menurut laporan di Borobudur sekarang ada oknum tertentu yang sengaja menghambat pelaksanaan program pemerintah pembangunan taman wisata candi Borobudur. Oknum tersebut telah memanfaatlkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. “Suara negatif dan isu tersebut sengaja dihembuskan orang-orang yang tidak bartanggung jawab. “ Di samping itu ia mengingatkan, ada beberapa orang mendatangi rakyat mengancam dan menakut-nakuti . Komandan Kodim (Dan Dim) juga mengharapkan agar masyarakat Borobudur tetap waspada dan berhati-hati terhadap mereka yang sengaja mempertentangkan pemilik tanah lokasi taman wisata dengan pemerintah. Oleh Ketua pengadilan Negeri Magelang Hensyah Syahlani SH, dikatakan “Kalau oknum-oknum ini terbukti memeras dapat dikenakan pidana hukuman selama lamanya 9 tahun menurut KUHP pasal 318. Sesungguhnya pemerintah tidak akan merugikan rakyat, usaha musyawarah tetap diadakan antara masyarakat dengan panitia pembebasan tanah. Apabila ada yang keberatan dapat diajukan lewat surat kepada Gubernur Jawa Tengah selambat-lambatnya 30 hari setelah harga itu ditetapkan oleh panitia

Ada oknum sengaja hambat Pembangunan Taman wisata Borobudur Kedaulatan Rakyat, 31 Mei 1982
Bupati Magelang Drh Supardi didampingi Muspida, Soemardji Direktur Umum PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan Sunarto Ketua DPRD serta petugas Agraria Kabupaten Magelang, melakukan

Jantung Hati Borobudur

31

pembebasan tanah. “

138 KK Penduduk Borobudur tidak mau dipindahkan Kedaulatan Rakyat tgl 29 Mei 1982
Sebanyak 138 Kepala Keluarga yang terdiri dari Desa Kenayan, 103 dan dari Ngaran Krajan 35 yang keduanya termasuk Desa Borobudur Kecamatan Borobudur tetap tidak mau dipindahkan dari tempat asalnya ke daerah lain . Wilayah kedua Dusun itu telah dinyatakan oleh pemerintah sebagai daerah yang akan dibebaskan untuk lokasi taman wisata candi Borobudur Dari sejumlah penduduk tersebut 10 diantaranya hari Kamis dengan disertai tiga penasehat hukumnya masing-masing Nursyahbani Kacasungkana SH, dari LBH Yogyakarta dan Gito Prastowo serta Hadi Wahono dari KSBH Yogyakarta telah mendatangi kantor Gubernur Jawa Tengah. Rombongan tersebut tidak dapat diterima oleh Gubernur Soepardjo Roestam karena tidak ada di tempat. Mereka diterima oleh Kepala Biro Pemerintahan Drs Soetomo, yang menampung semua masukan untuk kemudian disampaikan kepada Gubernur. Selain ke kantor Gubernur, rombongan juga mendatangi kantor Wartawan Semarang untuk memberikan penjelasan sekitar upaya menghadap Gubernur. Dikatakan kehendak untuk tidak mau pindah tempat tinggal dikarenakan prospek masa depan yang masih teramat suram. Nursyahbani SH juga menyampaikan, tampaknya dalam upaya pembebasan tanah penduduk banyak praktek-praktek yang tak terpuji telah dilakukan. Antara lain, dengan mengintimidasi penduduk. Di samping itu ada seorang penduduk yang didatangi secara beramai-ramai oleh aparat pemerintah agar penduduk itu mau melepaskan tanahnya. Anggota dari LBH Yogya menghendaki dengan jalan

hukum saja yang digunakan.Sebab pada dasarnya kalau ada warga yang tetap mempertahankan haknya untuk tetap menempati rumah tinggalnya dapat dibenarkan. Itu bukan merupakan perbuatan yang melawan hukum. Pemda Magelang maupun PT Taman Wisata banyak menjanjikan kepada para penduduk akan memberi lapangan kerja yang layak, kalau mau dipindahkan. Namun kenyataannya berbagai proyek yang telah dibangun pemerintah seperti proyek di Dagi, pembangunan pasar, dan lain sebagainya jarang mengikut sertakan penduduk sekitar, sehingga warga masyarakat dengan janji-janji itu semakin jera. Nursyahbani menimpali pendapat temannya, apabila pendududk melepaskan haknya ternyata ganti rugi yang ia terima hany Rp 5000,- sampai dengan Rp 7500,per meter pesagi dan kemudian dibelikan lagi tanah yang sejajar posisinya yang saat ini harganya sudah mencapai Rp 15 000,- per meternya. Karena banyaknya pratek intimidasi yang dilakukan itu, akibatnya banyak pendudk yang merasa dikejar-kejar dan ketakutan bahkan sampai ada yang jatuh sakit. Berapapun banyaknya ganti rugim yang akan diberikan penduduk tidak akan merimanya. Penduduk telah berbulat hati untuk menyelesaikan masalahnya dengan secara hukum. Kini mereka hanya butuh ketenangan dalam hidupnya yaitu tetap tinggal di kampung halamannya.

Serahkan tanah atau berhenti jadi pegawai Buana Minggu 27 Juni 1982
Masalah pembebasan tanah untuk taman wisata candi Borobudur akan menemui jalan buntu, khususnya di pedukuhan Kenayan ini masih terdapat sekitar 103 KK yang ogah pindah. Berapa pun besarnya ganti rugi yang akan diberikan oleh proyek. Di samping itu juga di Ngaran Krajan masih terdapat 32 KK yang juga enggan pindah ke tempat pemukiman baru di Janan. Dengan

32

Jantung Hati Borobudur

demikian dari 380 KK yang ditargetkan pindah sampai sekarang baru berhasil dua pertiga saja. Sebagian besar yang enggan pindah justru didaerah yang padat penduduknya. Bahkan boleh dikata hampir semua rumah disepanjang jalan utama menuju candi tak mau tanahnya digusur. Seperti diberitakan dalam Buana Minggu, 20 Juni 1982, ada 11 orang mencoba mengadukan nasibnya ke Gubernur Jateng, mereka hanya ditemui oleh Soetono. kepala Boro Pemerintahan Pemerintanh Propinsi Jawa Tengah ini meyakinkan agar prnduduk tenang-tenang saja. Belum lagi rasa tidak tenteran itu terobati, tahu-tahu di Kenayan terbetik kabar ada 17 orang mendapat surat perintah agar membongkar rumahnya yang sekarang mereka huni. “Kami sangat bingung, rumah rumah mana yang diperintahkan untuk dibongkar itu?“ “Kami menghuni rumah itu sudah bertahun-tahun kalau kami menambahi bangunan rumah itu hanya menambah emperan kiranya kan tidak ada masalah “ katanya. Hal ini kami lakukan karena kami butuh tempat untuk menempatkan kayu-kayu bakar dan perkakas rumah tangga. Dan lagi kami juga tidak akan kami serahkan kok.” katanya lagi . Hal serupa juga dialami oleh Abdhul Patah 50 Th, Ia Merasa kebingungan dengan adanya pelarangan tersebut.”Jika kami digusur bagai mana menghidupi keluarga kami, perusahaan kayu ini harus ditutup. Tanah kami digusur. Kami juga sudah banyak berkorban untuk Taman wisata candi Borobudur dengan tanah seluas 7400 m2. Untuk ini kami diberi ganti rugi berapapun kami tetap tidak akan kami jual. Soalnya kami mengemban amanat dari orang tua kami agar tanah warisan ini jangan dijual “ katanya. Lebih menyedihkan adalah nasib yang menimpa 4 orang yang kebetulan mendapat nafkah dari mengabdi

kepada negara. Oleh oknum atasanya mereka disuruh memilih“ berhenti menjadi pegawai negeri atau menyerahkan tanahnya kepada taman wisata candi Borobudur. Tanggal 15 Juni yang lalu merupakan batas waktu untuk memberikan jawaban. Seorang pemuda yang ditemui sedang memperbaiki andhong. Ia justru menyampaikan kejanggalan informasi yang diperoleh, “Seperti harga tanah untuk tanah kelas satu dihargai Rp 7500,- untuk kelas dua Rp 6000,-. Sedangkan diprambanan harga tanah ke;as satu mencapai Rp 35 000,- per meter. Ini saya tidak tahu kebenarannya, dan saya tidak berkeinginan untuk mencari tahu karena saya tidak akan menjual tanah itu,” katanya. Alasan terbanyak pendudk tidak mau pindah, karena soal penghidupan. Sebagian terbesar memperoleh nafkah di tempat tinggalnya dengan berdagang seperti membuka usaha toko, berjualan, warung makan, bengkel, dsb. Lagi pula jika kalau mereka pindah nanti belum tentu akan mendapat tempat yang sama. belum lagi uang ganti ruginya yang jelas tidak akan cukup untuk dipergunakan untuk membeli tanah maupun untuk membangun kembali rumahnya.

SAPTO HOEDOYO Masyarakat Kecil Supaya Diajak “ Menghidupkan “ Taman Wisata Borobudur “ Kedaulatan Rakyat Kamis Pon 1 Juli 1982
Sapto Hoedoyo Seniman Yogya berpendapat, pembangunan Taman Wisata candi Borobudur hendaknya menunjang kelestarian pertunjukan kesenian tradisional setempat sesuai dengan aslinya “Pertunjukan yang disuguhkan jangan dipotong waktunya dan jangan sekali–kali mengambil kesenian dari tempat lain dengan dialih untuk menarik wisatawan.” Hal ini dikatakan dalam percakapannya dengan Wartawan KR di Art Gallerynya. Ia menilai pembangunan Taman wisata tersebut

Jantung Hati Borobudur

33

34

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

35

sebagai suatu kemajuan proyek bidang kepariwisataan “Sukses atau tidaknya kegiatan ini perlu disurvai dan ditangani sebaik-baiknya. “ Seniman kelahiran Solo yang bertahun-tahun berada di negeri barat itu juga berpendapat agar masyarakat kecil diikutkan dalam pembangunan seni budaya untuk mencegah terjadinya jurang pemisah antara “ orang atas dengan orang kecil. “ Ia menyatakan, banyak menerima keluhan dari kalangan seniman yang “merasa“ tidak dihargai masayarakat. Menurutnya hal itu disebabkan masyarakat kecil jarang melihat pameran sementara yang seniman tidak pernah berpaling terhadap usaha perjuangannya. Sapto Hoedoyo sangat menaruh perhatian terhadap nasib masyarakat di sekitar candi Borobudur yang tanahnya terkena pembebasan. Agar bisa menikmati hasil pembangunan tersebut, Ia berharap agar masyarakat yang terpaksa pindah diberi kegiatan seperti membuat caping. Produknya perlu dibeli pemerintah agar pemasaranya lancar. “Saya pernah mengusulkan agar setiap pengunjung candi Borobudur diberi sebuah caping sebagai karcis /tanda masuk sehingga kelangsungan hidup pengrajin ini terjamin.” “Kekhawatiran akan dampak masalah pembebasan tanah tersebut sangat dirasakan oleh sebagian besar penduduk, Termasuk kekhawatiran terhadap pelayanan administrasi Desa seperti KTP, atau keperluan lain yang juga sering ditanyakan oleh Kepala Desa.“Seperti yang dikatakan oleh pedagang es di parkir candi Borobudur.

Tengah yang berlangsung di rumah makan “ Bukit Dagi Borobudur, Pada hari Minggu Wage , 1 Agustus 1982. Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua PWI Harmoko, Dirjen PPG Suwarno, Dirjen Agraria Daryono dan Dirjen Pariwisata Joop Ave. Pembangunan Taman wisata candi Borobudur dimasudkan untuk menjawab pertanyaan sesudah candi Borobudur ini selesai dipugar lalu bagai mana? Hal ini diungkapkan oleh H.Boediardjo, Direktur Utama PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan. Menurut rencana pemugaran ini akan selesai pada bulan Oktober ini, selanjutnya direncanakan mengadakan upacara besar-besaran untuk menandai selesainya pekerjaan pemugaran candi Borobudur, Dan pembangunan Taman wisata candi Borobudur ini adalah untuk menempatkan munumen milik bangsa itu pada “Seting“ yang sesuai dengan kebesaran munumen tersebut. “Pengunjung candi Borobudur ini sekarang sudah meningkat terus, Diperkirakan di tahun 2000 nanti pengunjung sudah akan memadati lorong-lorong yang ada di candi itu. Ini bisa membahayakan bangunan candi itu sendiri “ Kata Boedihardjo . Karenanya pembangunan Taman wisata candi Borobudur dimaksudkan agar bisa mengatur pengunjung untuk tidak naik candi semua dalam waktu yang bersamaan. Juga adanya Taman bisa menjadikan pengunjung terpencar, memilih jalan dari mana hendak naik candi Borobudur. Juga di kemudian hari naik candi harus dilakukan secara terpimpin, oleh pemandu yang terpercaya. Penjelasan ini disampaikan oleh Boedihardjo dalam pertemuan dengan pemimpin Redaksi Surat Kabar dan Ketua PWI se Jawa Tengah hari Minggu dilingkungan candi Borobudur. Dijelaskan selanjutnya, Taman itu akan dilengkapi dengan Museum dan pusat Studi mengenai kepurbakalaan. Dengan begitu,Borobudur bukan saja akan menarik bagi wisatawan, tetapi juga menarik dari

Tapurnas Borobudur akan menjadi pusat pengembangan wilayah. Suara Merdeka Senin Kliwon 2 Agustus 1982
Pertemuan hati ke hati antara Dirut PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan yang didampingi oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam Dengan para Pemimpin Redaksi dan Ketua PWI Jawa

36

Jantung Hati Borobudur

berbagai sisi.

Ratusan kios sekitar candi Borobudur dipindahkan Sinar Harapan 27 Agustus 1982
Mendengar selesainya pemugaran candi Borobudur yang menurut rencana akan diresmikan Presiden Soeharto awal Maret 1983. Sedikitnya 180 pemilik kios dan Warung makan disekitar candi Borobudur, telah siap dipindahkan ke tempat yang baru, beberapa ratus meter dari tempat yang lama. Para pemilik kios tersebut, yang hampir 85 % terdiri dari kios kerajinan ( Sauvenier ), Dewasa ini tidak lagi menambah daganganya agar pemindahan dapat dilakukan lebih cepat dan ringan. Deretan kios-kios sebelah barat parkir Beberapa pedagang tersebut menggapi soal pemindahan tersebut sebetulnya sangat berat, dan akan menghabtan laju usaha dagang mereka. Namun hal tersebut sudah merupakan kesepakatan bersama dalam pertemuan para pemilik kios dan warung dengan Bupati Magelang Supardi di Gedung “Handicraf Display Centre “ akhir juni lalu . “Dilokasi ini ( lokasi lama red ) kami sudah memperoleh pendapatan yang cukup untuk kebutuhan keluarga. ya nggak tahu nanti dilokasi baru “ katanya dengan nada pasrah. Pedagang lain menimpali, bahwa, lokasi yang baru yang telah ditunjuk di Kaliabon dan Janan sebelah timur. Ditempat tersebut saat inin sadang dikerjakan calon lokasi pedagang. Dari 180 pengusaha sauvenier dan warung makan diperkirakan ada 100 diantaranya akan ditempatkan dilokasi tersebut. Menurut sumber yang tidak mau disebut namanya mengatakan, bahwa sebelumnya seluruh pedagang baik yang ada di tepi jalan masuk ke candi Borobudur maupun di trotoar parkir wisata itu ada sejumlah 180

pedagang. waktu dikumpulkan di Gedung Handicraf Display Centre akahir Juni kemarin para pedagang diberi pilihan anatara lain “Mau ikut PT Taman Wisata atau ikut menginduk pada Pemda Tk II Magelang?“ Kalau ikut PT Taman wisata sementara akan ditampung di sebelah timur parkir yang disebut kios “Kriya “ , di lokasi tersebut akan dibangun 130 kios. Sedangkan yang ikut meninduk pada Pemda Tk II Magelang akan ditempatkan di belakang tempat parkir. tempat itu cukup bagus sudah dilengkapi dengan listrik dan air bersih.. Tempat ini memang sangat strategis untuk jualan apa saja menurut seorang pedagang yang sedang mulai mengkemasi barang daganganya, “ Kami masih tetap ingin membantu keramaian dan sukseskan taman wisata disekitar Borobudur, Namun kami juga minta, supaya sewakios yang dibuatkan nanti sewanya dapat ditekan lebih rendah, dan dapat diangusur “ komentar sementara pemilik kios yang akan dipindahkan. Mereka umumnya memperbincangkan tarif kios yang berukuran 3x2 meter yang harganya Rp 200,000 dan harus dibayar kontan. Sekaligus kios tersebut menjadi hak milik yang hanya dibebani sewa tanah, retribusi dan pajak pembangunan 1 kepada Pemda, namun pembayaran kontan tersebut tetap saja merupakan beban yang cukup berat kalau harga tersebut masih bisa ditawar, setidaknya diangsur secara bertahap bisa mngurangi perasaan berat untuk dipindahkan. Pemilik kios sauvenir dan warung makan umumnya membenarkan pemindahan lokasi akan dimulai akhir Agustus mendatang. Namun itupun belum jelas, apakah pedagang lesehan yang tidak memiliki tepat seperti warung atau kios seperti ini juga akan digusur. Ia mencontohkan seperti yang berjualan buah-buahan atau Es campur justru mempertanyakan “ bagimana untuk kami, kami ini orang Borobudur asli dan kami berjualan sudah puluhan tahun sejak dari tempat parkir berada di “ Pereng “ sampai disini “ kata Ibu yang berusia 45 tahun, sambil menunjukan barang

Jantung Hati Borobudur

37

dagangannya. Menurut sebuah sumber di Pemda Kab Magelang, bahwa kios –kios yang akan dibangun untuk mpara pedagang disekitar Kaliabon dan Janan tersebut terbuat dari kayu dan dinding dari triplek serta lantai semen, tanpa pintu hanya disekat-sekat saja. Nanti untuk memudahkan para pedagang mengaturnya sesuai dengan kehendak para pedagang sendiri. Beberapa pedagang yang calon menempati sudah mulai berkomentar “Bangunan yang berbentuk los – los memanjang yang tempatnya jauh dari keramaian itu jelas nantinya tidak akan ada yang mau menempati, karena tak akan ada pengunjung candi yang akan melewati tempat tersebut, paling banter yang melewati hanya orang yang mau ke WC saja “ katanya Perkembangan berikut di masyarakat kini mulai terus menghindar dari pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh panitia atau pemerintah Daerah Kab. Magelang.Tetapi masyarakat tetap sering mengadakan pertemuan dengan yang masih bertahan, Sebagian warga yang telah menyerahkan tanah maupun bangunanya menjadi tersisih, ia merasa dikucilkan di desanya, sehingga kehidupan di masyarakat menjadi terbelah Cara pendekatan kadang juga dapat meresahkan penduduk yang masih bertahan karena berita-berita radio kurang berpihak pada penduduk.Seperti adanya berita bahwa ganti rugi untuk tanah kelas satu hanya Rp 4000,- sampai Rp 5000,-, padahal Pemda telah mengumumkan bahwa ganti rugi untuk tanah kelas I tersebut adalah Rp 7500, dan Rp 6000,- untuk kelas dua.

Akhir Januari 1983 harus susah dibongkar sehingga kelihatan bersih Demikian penegasan Direktur Umum Pt Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan H.Boedihardjo sewaktu mengadakan peninjauan dan melihat persiapan menjelang diresmikanya purna pemugaran candi Borobudur. Kamis Dalam peninjauan itu, H.Boedihardjo didampin;gi Dirut PTHI Moch Saleh Tyakraamidyaya. Direktur Operasi PTHI Hartono Sidiq, Ir Soeparto Drs Truno Sardyono, Manager Hotel Ambarrukmo Kunting Sukardi. Peresmian yang akan dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 23 Februari 1983, dipusatkan di sebelah barat candi Borobudur. Tetapi menurut pengamatan, persiapan –persiapan hingga kemarin masih belum tuntas banyak bangunan-bangunan yang belum terselesaikan.Terutama disekitar lokasi Prasasti yang akan ditanda tangani oleh Presiden Soeharto. Gedung yang akan dipergunakan untuk pameran juga masih belum siap pakai. Di sana –sini masih diadakan perbaikan.. Juga bangunan – bangunan lain yang masih terus dikerjakan. Batu Prasasti yang akan merupakan tetenger peresmian juga masih “tertutup rapat“ yang berusaha memotret tidak berhasil karena tingginya penutup. Menurut H.Boediardjo, Prasasti itu akan bertuliskan keputusan Presiden, dan daftar nama-nama Negara donatur yang telah membantu pelaksanaan pemugaran candi Borobudur Peresmian itu diselenggarakan Dep P dan K Pusat, PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan hany diundang untuk menghadiri peresmian nanti. Dari Hotel Istana Ambarrukmo memperoleh keterangan, untuk meliput peresmian pemugaran candi Borobudur, 35 Wartawan Asean akan menginap di Hotel tersebut. Mereka umumnya hanya dikenakan tarip 50 %. Dalam pada itu H. Boediardjo berserta staf dan Dirut PHRI yang sebelumnya telah mengadakan pembicaraan di Restoran Dagi Borobudur mengenai akan dilaksanakanya kerja sama antara PT. Taman

183 Kios dan rumah di Borobudur Akhir Januari 1983, Harus sudah dibongkar. Kedaulatan Rakyat 28 Januari 1983.

Sekitar 183 kios dan rumah serta bangunan –bangunan lainya, termasuk pedagang kaki lima dan pedagang acungan, yang berlokasi di kaki candi Borobudur.

38

Jantung Hati Borobudur

wisata candi Borobudur dan Prambanan dan PHRI. Kerjasama itu menyangkut pengelolaan restoran Dagi. Semula Restoran Dagi itu milik Pemda Magelang dan pada tahun 1981 dibeli oleh PT Taman Wisata Rp 230 Juta termasuk tanahnya. Setelah nantinya dikelola PHRI. H. Boediardjo mengharapkan direvisi agar mempunyai ciri-ciri khas Borobudur. Hal ini disanggupi oleh PHRI bahkan akan merekrut tenaga-tenaga muda di sekitar candi Borobudur untuk bekerja di restoran tersebut. Direktur Jendral Kebudayaan Departemen P dan K Dr Haryati Soebadiio, mengatakan berbagai kegiatan seperti pameran lukisan, pemeran foto, kerajinan tangan dan kegiatan kesenian akan diselenggarakan pada saat peresmian pemugaran candi Borobudur oleh Presiden Soeharto. “Kegiatan seni budaya itu tidak hanya diselenggarakan disekitar Borobudur, tetapi juga di Yogyakarta dan di Jakarta” Katanya dalam konperesi pers di Jakarta Selasa dalam rangka menjelang peresmian pemugaran candi Borobudur.” Ia mengatakan, pekerjaan pemugaran secara teknis sudah selesai bulan Oktober 1982.Namun pekerjaan yang menyangkut pemebenahan dan pebersihan tanah disekelilingnya memerlukan cukup waktu hingga peresmian baru bisa dilakukan Februari 1983 ini. Kata Haryati, “Seluruh biaya pemugaran yang dilakukan sejak 1973 sam[pai 1983 tercatat sekitar 24 sampai 25 juta US dolar merupakan sumbangan dari 28 Negara sahabat yang dikoordinasikan oleh UNESCO .“ Selama pemugaran yang berlangsung sepuluh tahun itu, kata Haryati, telah dipekerjakan para alhi di bidang Arkeologi, Arsitektur, Biologi, Kimia, Hidrologi, dan Ilmuwan lainnya baik dari dalam maupun luar negeri. “Pekerjaan pemugaran merupakan tugas raksasa. Untuk itu dipergunakan alat-alat paling sederhana sampai komputer. “

Candi Borobudur yang berasal dari abad ke 8 merupakan bangunan yang bercorak Budha yang paling besar didunia. Namun ketika ditemukan pada tahun 1814 sudah berupa puing-puing. Dikatakan Oleh Haryati, dalam penelitian Arkeologi selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk memugar kembali candi itu yang pelaksanaannya ditangani oleh ahli Purbakala Van Erp. Ketika melaksanakan proses pemugaran Van Erp berusaha menghindari musuh utama Borobudur yakni air hujan dan dan air tanah yang meresap melalui natnat batu candi Borobudur dan merusaknya. Ahli Arkelogi Belanda itu berusaha menyalurkan air hujan dan mengisi semua lubang supaya air tidak masuk lagi dengan harapan Borobudur bisa bertahan hingga berabad-abad. “Harapan Van Erp tidak berhasil karena aliran air masih tetap mengancam Borobudur. “ Akhirnya pada akhir tahun 1960 dan awal tahun 1970 Indonesia menghimbau dunia Internasional melalui Unesco dan hasilnya kini Borobudur selesai.

Presiden Soeharto dalam rangka peresmian Purna pemugaran candi Borobudur PEMUGARAN BUKAN PEKERJAAN YANG MEWAH Presiden tentang pemeliharaan warisan budaya Kedaulatan Rakyat 24 Februari 1983
Usaha pemugaran warisan budaya yang sudah, sedang dan akan dilakukan, bukan merupakan perbuatan yang mewah dan berlebih-lebihan, sebab yang dipugar bukanlah sekedar benda-bernda tanpa makna. Demikian Presiden Soeharto menanggapi kalagan masyarakat dan remaja Indonesia yang ingin membuang tradisi –tradisi warisan masa lampau, karena mereka mengiran warisan dan tradisi masa

Jantung Hati Borobudur

39

lampau itu kuno dan tidak berlaku lagi. Menurut Presiden, ketika meresmikan purna pemugaran candi Borobudur, mereka lupa bahwa dengan melupakan begitu saja segala sesuatu yang tradisi, akan menghilangkan dasar-dasaryang fundamental dari dari kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia, yaitu masa lampau yang bernilai dan membetuk kepribadian bangsa Indonesia. Yang kita pugar itu kata Kepala Negara adalah bukti mengenai masa lampau kita sebagai bengsa, warisan yang sekaligus bersifat kesejarahan, kebudayaan peradaban. Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Atahan Yang Maha Esa Presiden Soeharto didampingi Menteri Pdan K Dr Daud Joesoef, Dirjen UNESCO Dr AM, Bow, Pimpinan proyek pemugaran candi Borobudur Dr Soekmono, dan Menteri Pekerjaan umum Rusmin Nuryadin, mengatakan meresmikan pemugaran candi Borobudur . Acara berlangsung lancar dan tertip. Dimulai pukul 10.20 dan berakhir tepat pukul 12.00 WIB. Presiden mengatakan, pemugaran candi Borobudur mempunyai arti tersendiri, sebagai sarana pendidikan bangsa, karena candi ini merupakan warisan budaya yang dapat menyegarkan. mampu mendorong dan memberi ilham bagi kemajuan pendidikan.

meliputi museum pusat penelitian kepurbakalaan dan perpustakaan akan dapat menarik para ilmuwan dan peneliti Indonesia sendiri dan seluruh dunia, disampaing akan menimbulkan daya tarik bagi dunia kepariwisataan kita. Mengingat betapa pentingnya arti peranan candi Borobudur bagi kehidupan bangsa Indonesia,Presiden meminta masyuarakat pengunjung bersama-sama menjaga keutuhan dan kebirsihan candi “ Janganlah kita nodai warisan budaya kita yang bernilai ini dengan tulisan –tulisan, goresan, atau coret-coret pada tubuh atau bagian –bagian tertentu dari candi, Karena yang penting bukan goresan sebagain tanda kita sudah mengunjungi candi Borobudur, melainkan kehadiran candi ini utuh dan tidak cacat “ kata Presiden Soeharto. Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Soepardyo Roestam dalam ucapan selamat datangnya mengatakan, Candi Borobudur dengan kearifanya secara totalitas merupakan kerya seni yang sangat menakjupkan, Candi ini benda mati, tetapi pada setiap lekuk dan ukirannya tersimpan sesuatu rahasia sejarah suatau bangsa, yang dapat ditelusuri relevansi kehidupan masa lalu dan sekarang ini, yang sangat bermanfaat bagi usaha menempuh perjalanan di masa depan. Apa yang dilakukan bangsa kita dimasa lampau pada dasarnya melandasai apa yang kita lakukan sekarang ini, sedang kita tahu, yang dilakukan bangsa Indonesia sekarang ini, yaitu membangun yang ditujukan utnuk terciptanya suatu kehidupan bangsa Indonesia yang adil makmur, serasi seimbang berdasarkan Pancasila dan UUD 45 . Candi Borobudur yang membawa suasana heningdan luhur ini merupakan museum, sejarah pengetahuan dan teknologi yang harus kita manfaatkan untuk kepentingan banga dan dunia Pemugaran candi Borobudur yang dimulai sejak 10 Agustus 1973 dan telah menelan biaya 25 jta dolar AS ini disamping dibeayai oleh Pemerintah Indonesia sendiri, juga

Stupa Borobudur
“Itulah sebabnya, dengan pemugaran candi Borobudur dapat diusahakan pemaliharaan bukti mengenai kebesaran bangsa Indonesia di masa lampau bangsa yang melahirkan masyarakat bangsa Indonesia yangyang hidup di zaman ini” kata Presiden Soeharto. Sebagai sarana pendidikan, candi Borobudur akan terus dikembangkan. Dengan demikian candi itu sendiri berserta taman kepurbakalaan di sekitarnya,

40

Jantung Hati Borobudur

mendapat bantuan dari Negara dan Lembaga Asing. Tercatat 28 Negara ikut menyumbang pemugaran candi Borobudur, Yaitu Australia,Belanda, Birma, Philipina, Graha, India, Ingris, Irak, Iran, Italia, Jepang, Jerman barat, Kuwait, Luxemburg, Malaysia, Mauritius, Nigeria, Pakistan, Perancis, Qatar, Selandia Baru,Singapura, Siprus, Swiss, Sepanyol, Tansania,dan Thailand Hadari dalam upacara,Wakil Presiden dan Ibu Nelli Adama Malik, sejumlah Menteri, serta wakil-wakil negara penyumbang. Selesai peresmian, Presiden, Wakil Presiden dan undangan l;ainya disuguhi pawai kesenian dari 27 Propinsi dengan diawali dari kesenian Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sementara itu 8 Badan Swasta penyumbang, Rakyat Indonesia di dalam dan luar Negeri, American Community For Borobudur Inc, Japan Assosiation for The Restoration Of Borobudur In Cooreration With The Asian Cultural Center For UNESCO, Comperative Assosition Of The Japan World Exposition, Netherland National Communitee For Borobudur Restoration Supporting Group In Nagoya JDR Brd Fund New York dan IBM Corporation. Dengan prasasti baru tersebut maka dikomplek candi Borobudur terdapat dua prasasti Masing-masing Prasasti berfungsi menandai dimulainya pekerjaan pemugaran dan berakhirnya penggarapan. Prasasti tanda dimulainya pekerjaan pemugaran berlokasi di utara bangsal pendopo berukir kalimat: “Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Kami Pemerintah Republik Indonesia, meresmikan dimulainya pemugaran candi Borobudur sebagai langkah utama dalam meneruskan warisan pusaka budaya Nasional Indonesia, kepada keturunan yang akan datang demi kebahagiaan umum manusia 10 Agustus 1973 Presiden Republik Indonesia Soeharto. Rakyat dan Borobudur Berapa besar kah harga yang harus dibayar rakyat setempat untuk mendirikan cand Borobudur di abad ke 8?. Persoalan ini sampai sekarang hangat dibicarakan oleh para sejarahwan. Adapun pada zaman itu penduduk masih sangat sedikit, Mereka terutama memadati wilayah sekitar Kerajaan atau kraton. Dan ini terdapat di Jawa Tengah dan juga di Jawa Timur yang juga sangat subur. Artinya pula, di sini pertanian dapat menghasilkan surplus yang besar sekali. Memang hanya di wilayah seperti itu kebudayaan kraton yang monumental dapat lahir. Tenaga manusia dimasa itu sudah tentu merupakan faktor produksi

PRASATI BOROBUDUR BERATNYA 20,5 Ton Kedaulatan Rakyat 21 Februari 1983 Prasasti tanda selesainya pemugaran candi Borobudur yang akan ditanda tangani Presiden Soeharto 23 Februari 1983, sudah siap.
Prasasti tersebut berupa batu alam seberat 20,5 ton,tinggi 2 meter dan lebar 2 meter lebih. Menurt keterangan batu tersebut barasal dari Gunung Merapi itu ditemukan di kali Krasak Desa Kricak Mesir Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Pada prasasti tersebut terukir “ kalimat dengan rachmad Tuhan Yang Maha Esa Pemugaran candi Borobudur diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Soeharto, Borobudur 23 Februari 1983 “ . Selain kalimat tersebut dan tanda tangan Presiden pada sisi lain terukir nama-nama 28 negara dan Badan Swasta yang menyumbang dan membantu terlaksananya pemugaran candi Borobudur melalui UNESCO.

Jantung Hati Borobudur

41

yang pokok. Dan tenaga ini pula yang dijadikan alat untuk membangun candi Borobudur, melalui kerja bakti. Kerja tanpa dibayar ini merupakan suatu bentuk upeti yang dikenal di daerah pedalaman Jawa dari zaman dahulu sampai zaman modern aia awal abad ke 20,Suatu hal yang tak dikenal di daerah pesisiran dan di kerajaan maritim. Meskipun demikian kalau kita menelaah kesenian yang terlihat pada patung dan pahatan batu Borobudur (relief ) tak nampak adanya paksaan di baliknya. Tidak adanya pemerasan dibebani kerja terlalu besar. Kesenian yang terungkap dalam relief candi menunjukan dalam keriangan dan kebaktian yang tak mngkin terdapat kalau ada pecut yang mengancam para pekerja. Namun banyaknya bangunan yang berdiri dalam waktu relatif singkat – yakni dua abad – menimbulkan dugaan terjadinya bencana sosial dan disentegrasi masyarakat. Sejarahwan B. Schieke misalnya menduga, bahwa beban kerja bakti untuk mendirikan candi Borobudur ini akhirnya yang menyebabkan orang meninggalkan daerah kerajaan Jawa Tengah dan Jawa Timur, tempat berdirinya pusat-pusat kekuasaan. Memang, salah satu cara bagi petani dan rakayat untuk melarikan diri dari beban adalah untuk berpindah tempat, entah ke pusat kerajaan lain entah ke daerah lain tempat tanah masih luas. Dengan kata lain, mereka “memberikan suara“ menolak dengan kaki mereka. Mungkin bangunan-bangunan batu itu hanya secara tidak langsung saja menyebabkan disintegrasi. Terlalu banyaknya beban untuk monumen dapat mengakibatkan terlantarnya sawah dan tanah pertanian umumnya. Apalagi agraria di zaman itu sangat sensitif terhadapa bencana, biar pun yang sekecil sekalipun. Seandainya pun tak ada cambuk yang memaksa membangun munumen batu itu, terlantarnya sawah dapat rusaknya sendi-sendi sosial. Menurut saya, kemungkinan seperti itu tak demikian besar. Di zaman dahulu, jawaban masyarakat terhadap ancaman seperti itu hanyalah, mengungsi

buat sementara untuk kemudian kembali ke tempat pemukiman bila musuh sudah mundur. Ini mengingat dahulu tak ada kerajaan yang menduduki suatau tempat yang waktu lama, karena belum cukup ada tentara pendudukan dan upaya mendirikan garnisun atau benteng. Lalu mengapa di daerah Jawa Tengah ditinggalkan orang-orang hingga terlantar pula Borobudur sampai ditemukan orang barat? Agaknya, seperti terdapat di India, bila suatau pusat politik terlalu banyak menyedot sumber-sumber masyarakat guna tegaknya peradaban kraton dan tempat suci, daerah itu pun mengalami disentegrasi sosial dan ekonomi. Namun sementara itu ada pula dampak lain, bila tenaga kerja manusia diperlukan dalam jumlah yang demikian basar.Ini memang tak nampakdalam masa Borobudur, tapi terjadi selama kolonial Belanda di abad ke 19. Di zaman abad ini, sistem ekonomi juga bardasarkan tenaga manusia,khususnya di Jawa. Perkebunan tanam paksa memerlukan tegana manusia yang cukup besar : diantaranya 60 % sampai dengan 80 % penduduk petani Jawa terlihat didalamnya. Juga kebutuhan tenaga kerja perkebunan kolonial diperoleh melalui upeti yang oleh rakyat disebut kerja rodi. Akibat dari kebutuhan basar tenaga manusia ini, menurut ahli antropologi Geertz, misalnya, yang menyebabkan masyarakat membagi kerja rodi seringan mungkin. Caranya dengan melahirkan sebanyak-banyaknya anak, hingga banyak anakpun dianggap banyak rezeki. Tentu, pertumbuhan penduduk secara besar-besaran yang mengakibatkan Jawa di abad ke 19 dianggap salah satu tempat paling tinggi tingkat kenaikannya di dunia – tidaklah hanya karena faktor itu. Harus dicatat adanya perbaikan kesehatan, juga adanya efisiensi dalam panen atau tidak adanya peperangan. Mungkin faktor itulah yang tak ada di masa Borobudur, hingga monumen besar yang dibangun dengan susah-

42

Jantung Hati Borobudur

payah itu kemudian diterlantarkan. Namun apapun sebenarnya yang terjadi dengan kerajaan Mataram Hindhu itu setelah malahirkan zaman batu yang monomental, kita tak tahu secara pasti, juga kita tak memiliki dokomentasi yang cukup mengenai hal itu. Untuk sementara yang kita ketahui ialah, bahwa daerah yang pernah padat penduduknya, dan jadi pusat kerajaan yang besar itu, kelihatan seperti lenyap kira-kira di akhir abad ke 10. Selama 400 sampai 500 tahun berikutnya bahwa kita tak mendengar apa pun tentang daerah di Jawa Tengah ini. Daerah itu hanya sunyi, sampai dinasti Pajang dan Mataram membangun kerajaan baru, setelah datangnya Islam. Tapi dibandingkandengan Borobudur, peninggalan kerajaan yang datang kemudian ini justru praktis lebih tidak bertahan secara monumental. Pembangunan yang seperti di abad ke 8 tidak terulang lagi dalam sejarah, barangkali sampai dengan dibangunya Masjid Istiqal di masa kita. Aliran listrik di sekitar Candi Borobudur diputuskan, Pemda sudah menganggap daerah itu kosong, Tapi penduduk yang tak mau pidah tetap bertahan. Borobudur nampaknya semakin angker begitu senja tiba. Rumah penduduk yang masih kukuh disekitar candi itu kini gelap. Kegelapan masih diotambah lagi dengan kesunyian. Tak lagi ada kerumunan di depan telivisi, Orang pun tak lagi menggerombol di jalan sambil menatap candi yang bagai bertabur bintang, seperti ratusan tahun sebelumnya. Aliran listrik yang menuju keperkampungan di sekitar candi itu, telah diputus oleh PLN sejak akhir Maret 1983. Kampung itu Dukuh Kenayan, Ngaran Krajan, Sabrangrowo, Gopalan, Sebagaian Gendingan yang dikenal sebagai daerah Zone II pengembangan Borobudur. Dalam kawasan ini, akan dibangun taman wisata candi Borobudur dan Prambanan. Rumahrumah memang harus digusur dari zone II itu. Bahwa masih ada rumah yang berdiri, itu adalah kasus lama yang cukup pelik penyelesaiannya.

Sebanyak 98 KK masih bertahan. Mereka tidak mau digusur mengikuti yang lainya. Mereka menempati pemukiman pengganti yang telah disediakan oleh pemerintah. Mereka menempuh berbagai cara seperti mengadukan ke LBH, mengirim utusan ke DPRD atau berunding dengan pengelola PT Taman Wisata Candi Borobudur. Hasilnya tak pernah final, karena para penduduk itu pada pringsipnya tetap tak mau pidah. “Kalau dijadikan taman, biarkan kami hidup di dalam taman. Kalau candi dilestarikan, kenapa penduduk tidak sekalian dilestarikan?“ Begitu pernah diucapkan Setro Wikromo, mewakili mereka yang bertahan. Pemda Kab Magelang yang menangani pembebasan tanah untuk PT Taman Wisata tentu saja tidak bisa menerima semua itu. Karena pendirian taman wisata dan pembagian zone didasarkan atas riset baik menyangkut arkeologi. Sejarah maupun pengembangan candi itu sendiri. PLN Wilayah XIII Cabang Magelang pertama kali mengirim pemberitahuan akan adanya pemutusan aliran listrik pada 2 Juli 1982.Waktu itu penduduk dianjurkan untuk segera membongkar instalasi listrik di rumahnya yang akan kena gusur, karena aliran listrik akan diputus awal September, Tak ada yang menghiraukann anjuran tersebut, PLN juga tak bertindak walau bulan Septemberv telah lewat. Al;asanya, sebagian jaringan masih diperlukan untuk penerangan pasar. Tetapi ketika pasar Borobudur dipindah ke pemukiman baru bulan Oktober 1982. Aliran listrik ke rumah-rumah penduduk di zone II tetap tak di apa-apakan. Bagi penduduk rupanya ini dianggap suatu “kemenangan“ hingga mereka makin kukuh untuk bertahan, Sampai tiba waktunya, 31 Maret lalu PLN benar-benar memutuskan aliran listriknya. Pendudk jadi tersentak dan ramai-ramai mendatangi KSBH Yogya untuk mengadukan masalah ini. Lembaga ini yang bersama LBH pusat menghimbau kepada PLN dan Pemda Magelang agar membatalkan pencabutan aliran listrik itu. “Kalau pemerintah mengambil sikap keras, pasti

Jantung Hati Borobudur

43

44

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

45

penduduk akan lebih keras, dan itu jelas bukan penyelesaian“ ujar Abdulhakim Garuda Nusantara, SH Manajer eksekutif LBH di Jakarta. “Tindakan pemutusan listrik itu tidak lain hanya bermaksud agar masyarakat segera meninggalkan daerah itu.“ Komentar lebih keras datang dari KSBH Yogya “Pencabutan listrik itu merupakan tindakan sewenangwenang“ kata Much Farid dari Komisi penerangan KSBH “ Apapun yang terjadi, penduduk tetap tak mau pindah, mareka terlanjur telah mencintai Desanya yang sudah turun-tumurun ditempati.“ Bupati Magelang Drh Supardi tak merasa mencabut aliran listrik, Apa lagi itu proyek listrik masuk Desa dan baru menyela mulai awal tahun 1980 “yang terjadi adalah pemindahan aliran listrik dari zone II yang harus dikosongkan ke pemukiman pengganti, karena jaringan telah selesai. “ “Tentang zone II Bupati sudah menganggapnya sebagi daerah kosong, dan sesuai dengan surat Gubernur, zone itu dijadikan taman wisata yang pembangunanya semestinya sudah dimulai tahun 1981”. PLN Cabang Magelang Kasdik Kusuma winata BEE, juga tak merasa mencabut aliran listrik itu dipindahkan dari zone II karena sangat membahayakan untuk pekerjaan taman wisata. Apa lagi “PLN sudah selesai memasukan aliran listrik ke pemukiman baru dengan anggaran Rp 104 juta lebih.“ Berbagai kemudahan telah diberikan, misalnya hak pelanggan tetap sama, biaya pemindahan aliran tidak dipungut. Penduduk tak banyak berkomentar. Mereka hanya membisu sewaktu menyaksikan petugas PLN membenahi kawat-kawat yang dilepas dari tiang listrik. Sementara jalanan di sana-sini sudah mulai digali untuk pembangunan taman wisata. Kepala Dukuh Ngaran Marto Suyono berkata “ Dulu sebelum ada listrik, kami juga memakai lampu minyak, tak ada persoalan. “

Sikap bertahan mereka ternyata masih kukuh, entah sampai kapan. “Inilah nasib wong cilik lungguhe mung ana ndingklik, moklak-maklik, golek pangan wae nganti mendelik,“ kata seorang yang sedang membuat lampu minyak Sejak 1 April 1983 aliran listrik di Dusun Kenayan memang sudah diputus oleh PLN, Warga Kenayan yang masih tinggal menempati Dusun tersebut masih kurang lebih 66 KK. Meski rumah-rumah mereka agak berjauhan antara rumah yang satu dan lainya, bagi penduduk tidak dianggap itu kendala untuk berkumpul untuk membicarakan nasibnya.” Kegelapan memang terasa bagi anak-anak khususnya yang biasanya belajar dengan memakai penerangan listrik, kini harus memakai lampu minyak, Rumah Pak Marjuki yang biasanya banyak orang nonton TV, jadi sepi. Keresahan warga masyarakat bertambah sehubungan dengan adanya pemathokan – pemathokan dan penggalian tanah yang tidak seijin dari pemelik tanah, serta pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh beberapa orang luar (Jepang). Beberapa warga terlihat hanya diam tidak berani berbuat apa-apa. Pematokan dan penggalian itu banyak dilakukan saat pemilik tidak ada di tempat atau di rumah. Ada beberapa orang pemilik tanah setelah mengetahui bahwa tanah pekarangannya telah dipatoki langsung marah. Mereka mendatangi P. Camat Gathot Sugiyarto. Oleh P. Camat dijelaskan,”bahwa pemathokan itu dalam rangka untuk penelitian arkeologi” katanya. “Kami tidak rela kalau tanah kami dirampas serta kami sebagai pemilik tanah tidak dihargai lagi “ kata warga Dusun Kenayan.Akibat dari pemathokan dan penggalian itu sering terjadi kecelakaan, pengendara sepeda motor masuk ke lubang galian atau menabrak patokan. Dalam pelaksanaan pembabasan tanah memang

46

Jantung Hati Borobudur

banyak masalah yang muncul dengan tak terduga sama sekali. Hingga menyinggung perasaan masyarakat. Ini diakui oleh P. Boed katanya “Ya kami salah, kami terlambat memberi informasi kepada warga masyarakat, tetapi mereka sudah mendengar lebih dahulu, sehingga mereka menjadi resah.” Boediardjo mengakui juga pematokan itu memang dilakukan oleh orang –orang Jepang seperti dilaporkan oleh warga masyarakat. Tetapi orang-orang Jepang itu hanya mematok untuk mencari apakah di daerah itu ada benda-benda purbakala. Ini untuk menentukan proyek Taman Wisata itu kelak. Dan orang-orang Jepang itu memang berkerja untuk proyek purbakala. Apa yang terjadi di sekitar Candi Borobudur sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sejak mula pertama kali ditemukan kembali oleh bekas penguasa Inggris di Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles tahun 1814, sudah dirasakan perlunya segera ada pemugaran candi Borobudur. Maka sejak dibersihkan dari selimutan semak belukar, Borobudur segera mendapatkan perhatian luas.. Pada awal abad ke 20 Pemerintah Belanda membentuk panitia untuk menyelamatkan candi itu dari kehancuran. Lalu tugas itu diambil alih oleh Pemerintah R I setelah merdeka. Dan tahun 1963 terbit surat keputusan pemerintah menyediakan anggaran khusus untuk pemugaran candi Borobudur, dan dunia Internasional juga akan ikut mengambil bagian dalam rencana kerja besar tersebut. Ini jelas suatau bukti bahwa candi Borobudur tersebut sudah menjadi milik dunia. Setiap pembangunan hampir selalu menimbulkan masalah, juga pemugaran Borobudur. Pembangunan di Borobudur akan diikuti dengan dibangunya Taman Purbakala Nasional, Namun sejak tahuan 1980, Taman Purbakala Nasioanal, beralih pada Direktorat Jendral Pariwisata, Departemen

Perhubungan, Sebabnya karena Taman Purbakala Nasional itu akan dijadikan Taman wisata. “Kami hanya mengurusi masalah pemugaran candi saja, tidak mengurusi masalah Taman wisata itu, “ kata Prof. Soekmono. Untuk membangun Taman wisata itu pemerintah melalui peraturan pemerintah Nomor 7 tahun1980, telah menetapkan berdirinya PT Taman wisata candi Borobudur dan Prambanan, Untuk pengelolaanya PT tersebut diserahkan kepada Marsekal Purnawirawan Boediardjo. Modal pemerintah yang ditanamkan sebanyak Rp 3.8 miliar. Sedangkan modal PT itu ditetapkan sebesar 10 miliar rupiah. Untuk pelaksanaan Pt Taman wisata itu Gubernur Jawa Tengah telah mengeluarkan suatau surat keputusan yang memberi izin lokasi dan pembebasan tanah di sekitar candi Borobudur yang luasnya 85 hektar. Memang banyak orang yang resah, ketika mendengar Borobudur akan dijadikan Taman wisata dan pengelolaanya diserahkan kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan. Alasannya karena suatu PT pasti akan terdiri dari beberapa persero yang akan memiliki sahamsahamnya. Dan boleh jadi keuntunganya hanya jatuh ketangan beberapa orang saja.Selain pemerintah yang telah menanamkan modalnya Namun Boediardjo menandaskan, “Tidak ada saham pribadi atau swasta yang akan masuk dalam PT itu. Ini benar-benar PT pemerintah. Seluruh modalnya adalah modal pemerintah. Komisarisnya juga dari pemerintah dan melibatkan tiga Departemen yaitu Departemen PDK, Departeman Dalam Negeri dan Departemen Perhubungan. Jadi keuntunganya bisa dikatakan tidak ada karena hasilnya akan digunakan untuk pemeliharaan candi.“ Kami memikirkan candi yang sudah berusia 1000 tahun

Jantung Hati Borobudur

47

itu masih bisa dipertahankan sampai seribu tahun lagi. dan bisa dinikmati keindahannya oleh siapa saja. Kini masyarakat sekitar Borobudur memang resah, terutama bagi mereka yang tergusur. dan daerah sebelah timur memang daerah yang paling padat penduduknya. Namun daerah ini justru yang akan habis terkena pembebasan tanah Pertimbangan untuk membebaskan sebelah timur ini menurut Pak Beod adalah karena pintu masuk ke candi Borobudur memang menghadap ke timur Rencana pemeritah bersama para pemegang saham di sebuah PT tersebut menggunakan tanah penduduk seluas 87 Ha. Tanah tersebut berupa tanah hunian dan lahan kosong atau tegalan, meliputi Dsn Kenayan, Ngaran Krajan, sebagaian Sabrangrowo, Gendingan, dan Gopalan. Untuk pembebasan tanahnya diatur oleh keputusan Gubernur N0 593/B/265/1980 SK tersebut ditetapkan di Semarang pada tanggal 18 Desember tahun 1980 . Rencana tersebut ternyata tetap ditolak oleh masyarakat yang akan terkena pembebasan tanah dengan alasan, bahwa para warga masyarakat sudah terlanjur mencintai tanah kelahiran mereka. Ada juga yang beralasan masih merasa trauma dengan pembebasan tanah sebelumnya yang sangat menyengsarakan rakyat. Bagi warga yang kebetulan ekonominya telah mapan khawatir kalau di tempat yang baru nanti penghasilan mereka akan berkurang. Terlebih bagi yang bermata pencaharian dengan menderes pohon kelapa, mereka merasa kehilangan mata pencaharian. Menjawab berbagai persoalan tersebut Pak Boed mengatakan kepada penduduk yang mempunyai pekerjaan menderes akan tetap ditampung karena pohon-pohon yang ada tak akan ditebang justru mereka akan diseragamkan. Menurut catatan kami penduduk yang terkena pembebasan tanah berjumlah 381 kepala keluarga

terdiri dari 108 kk warga Dusun Kenayan, 196 warga Dusun Ngaran Krajan, berikutnya dari Dusun Gendingan, Sabrangrowo,dan Gopalan. Harga ganti rugi yang diberikan oleh panitia untuk tanah kelas 1 Rp 7500,- kelas II Rp 6000,- Rp 5000 untuk kelas III. Adapun untuk ganti rugi bangunan ditentukan berdasarkan kwalitas bangunan, ada yang Rp 25 000 sampai dengan ratusan ribu. Sosialisasi rencana tersebut secara terus menerus dilakukan oleh panitia termasuk pemerintah baik melalui media cetak maupun lewat pertemuanpertemuan. Pendekatan panitia pembebasan tanah yang waktu itu dilakukan oleh Kepala Kantor Agraria Kab, Magelang Widoyoko Martowardoyo, Camat Borobudur Gatot Sugiyarto, dan Kepala Desa Borobudur Sarwoto. Dengan membuka tempat pelayanan terpadu baik di Balai Desa maupun di kediaman kepala Desa yang mendatangkan Advokat senior mantan LBH Kamal Firdaus selalu siap berkonsultasi dengan warga masyarakat yang terkena. Janji-janji untuk meyakinkan konsepnya kepada penduduk terus dilontarkan. Seperti yang dikutip oleh majalah Mutiara terbitan 4 Maret 1981 disampaikan oleh P. Boediardjo, bahwa nantinya tidak akan berdiri sebuah hotel pun di area tersebut. Di Zona II yang ada hanya kantor penerangan untuk menjelaskan tentang keberadaan candi Borobudur serta kios-kios cindera mata. Ditandaskan pula oleh Pak Boed bahwa PT Taman Wisata candi Borobudur dan Prambanan ini jelas tidak akan meraih profit. Kalau toh itu ada hanya kecil sekali karena Pt ini harus mengembalikan modalnya kepada JICA., Jadi benar-benar PT ini hanya untuk pelestarian Candi Borobudur. Kepada warga masyarakat yang berkehidupan dengan berjualan disekitar candi, akan diprioritaskan untuk menempati kios-kios yang akan dibangun pada area

48

Jantung Hati Borobudur

Taman Wisata. Demikian rumah-rumah penduduk nantinya diharapkan dijadikan penginapan untuk menampung para wisatawan yang berkeinginan belajar tentang candi Borobudur dengan menginap. Untuk itu peran serta masyarakat sekitar sangat diharapkan demi kelestarian monument peninggalan Dinasti Wangsa Syailendra agar dapat bertahan sampai seribu tahun lagi. Pergulatan adanya pembebasan tanah untuk Taman wisata candi Borobudur, memang cukup melelahkan. Tidak hanya masyarakat yang memang tidak mampu atau tidak memiliki dana cukup untuk berjuang. tetapi pemerintahpun terlihat kelelahan. Sehingga pola pendekatan –pendekatanyapun kadang seperti tidak terkonsep sama sekali. Suasana sttatus quo ternyata dapat dimanfaatkan oleh pengembang, dengan cara menitipkan rumah-rumah yang dibangun diatas tanah penduduk yang belum diserahkan. Dengan harapan untuk mendapatkan uang ganti rugi yang lebih. Hal ini terus dilakukan dengan bekerjasama dengan oknum panitia. Tidak hanya bangunan rumah yang dititipkan di tanah penduduk yang belum diserahkan, Tetapi tanaman baik Bibit Kelapa ( Cikal ), Cengkeh, Rambutan atau bibit-bibit tanaman lain. Untuk tanaman ini biasanya dilakukan pada malam hari kemudian pagi harinya diserahkan kepada panitia pembabasan tanah. Tanaman atau bangunan yang telah mendapat ganti rugi tersebut, kemudian dipindahkan ketempat tanah penduduk yang belum diserahkan, sehingga bangunan itupun terkesan sesaat atau asal-asalan .

tanah untuk pembangunan Taman wisata candi Borobudur masih terdapat 67 pemilik tanah yang belum menyerahkan hak miliknya. Ketua panitia pembebasan tanah Kabupaten Magelang Widoyoko Marto wardoyo mengungkapkan, batas waktu pembebasan tanah akahir Juli 1983. Seleruh luas tanah yang belum dibebaskan 12.4998 hektar. Widoyoko Marto Wardoyo menyatakan sampai 10 Juli 1983 tanah yang berhasil dibebaskan 72.63282 hektar milik 314 Kepala Keluarga ( penduduk ) untuk membebaskan tanah tersebut sekitar Rp 5.7 miliar. Agar masalah pembebasan tanah dapat terlaksana sebelum berakhirnya batas waktu pihak panitia mengirim seruan tertulis kepada ke 67 pemilik tanah tersebut. Seruan itu antara lain mengharap kesadaran mereka untuk segera mengadakan musyawarah dengan panitia pembebasan tanah, untuk kemudian diberi ganti rugi. Panitia membukan kesempatan setiap saat untuk bermusyawarah. Posko Taman wisata candi Borobudur akan terbuka selama 24 jam tiap hari untuk melayani mereka Musyawarahdapat juga dilakukan di kantor Agraria Kabupaten Magelang, ujar Ketua Panitia pembebasan tanah Kabupaten Magelang. Pelaksanaan proyek pembangunan Nasional Taman Wisata candi Borobudur dikatakan akan dimulai bulan Agustus 1983 secara bartahap. Menanggapi ancaman batas akhir tersebut beberapa penduduk Kenayan masih merasa santai,. Tapi ada juga yang merasa waswas kalau nanti terjadi pemaksaan, seperti di buldoser atau dengan ancaman kekerasan lain. Pertemuan untuk menyamakan pendapatnya terus dilakukan oleh penduduk yang masih bertahan. Setahu saya penduduk yang masih belum mau menyerahkan haknya di Dusun Kenayan masih ada sekitar 52 KK, dan tempatnya berjauhan satu dengan lainnya.

Pembebasan tanah di Borobudur 67 Pemilik diberi batas akhir Juli 1983 Kedaulatan Rakyat 14 Juli 1983
Sampai hampir berakhirnya batas waktu pe,bebasan

Jantung Hati Borobudur

49

Pembebasan tanah di Borobudur : 29 Pemilik tanah diperingatkan Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 1983
Dua puluh sembilan pemilik tanah di Borobudur, pada 29 Juli 1983 telah mendapat peringatan terakhir untuk menyelesaikan pembebasan tanah melik mereka bagi kepentingan Taman wisata candi Borobudur yang pembangunanya akan dimulai bulan Agustus 1983. Dalam suratnya yang disampaikan kepada penduduk Borobudur, Panitia pembebasan tanah menyebutkan kepada mereka yang belum bersedia menyerahkan atau bersedia dibebaskan tanahnya untuk memilih cara pelepasan hak atas tanah miliknya untuk keperluan proyek nasional dipersilahkan untuk cepat menyelesaikan. Baik datang sendiri atau memberikan kuasa kepada Kamal Firdaus SH. Sementara itu dalam bagian lain oleh panitia diinformasikan kepada masayarakat perihal dua pengacara Yogya Yakni Hadi Wahono serta Hasta Atmodyo dari KSBH Yogyakarta. Bahwa sesuai dengansurat Gubernur Jawa Tengah tanggal 28 Juli 1983, ditegaskan bahwa kepada KSBH Yogyakarta yang senantiasa di Borobudur diwakili Hadi Wahono dan Hasta Atmodyo dinyatakan belum mendapat ijin penelitian. Berhubung dengan itu pemberian kuasa kepada keduanya tersebut untuk musyawarah penyelesaian masalah tanah. Panitia Pembebasan tanah tidak akan melayani. Apabila peberian itu bersifat pribadi kepada mereka baru akan dilayani setelah ada ijin dari Bupati KDH Magelang atau instansi terkait. Surat yang bersifat pemberitahuan larangan KSBH untuk mengadakan kegiatan di Desa Borobudur dikeluarkan Panitia Pembebasan tanah Kabupaten Magelang, ditanda tangani oleh Ketua Panitia Pembebasan tanah Widoyoko Marto Wardoyo.

31 Juli Batas Akhir Pembebasan tanah di Borobudur Kompas 15 Juli 1983
Tanggal 31 Juli 1983 ditetapkan sebagai batas akhir pembebasan tanah sekitar candi Borobudur. Pada tanggal itu seluruh penduduk yang masih tersisa tingal dikawasan Dsn Kenayan dan sebagaian Ngaran Krajan harus sudah menyerahkan tanah miliknya guna pembangunan Taman wisata Borobudur. Belum diketahui, Apa tindakan yang bakal dilakukan pemerintah daerah setempat, andai sampai batas akhir tadi ada penduduk yang tetap bertahan. Pejabat Gubernur Ismail serta ketua pembebasan tanah Kab. Magelang Widoyoko Martowardoyo, secara terbuka sudah menegaskan, tentang adanya batas akhir, ini sebagai langkah lanjut dari penentuan tadi. Kepada semua penduduk yang masih tersiasa sudah diberi surat tertulis, penjelasan tentang adanya batas akhir 31 Juli 1983. Mereka dihimbau agar menyadari maksud baik pemerintah membangun taman wisata serta diharapkan segera bersedia menerima ganti rugi. Khusus untuk meleyaninya, panitia menyetakan kesediaanya bertatap muka, bermusyawarah, dan membuka pintu 24 jam penuh dalam memberikan pelayanan. Menurut catatan, menjelang batas akhir ini, penduduk yang masih tersisa disekitar Borobudur tinggal 67 orang, meliputi luas tanah 12,4998 hektar. masyarakat yang sudah rela menyerahakan tanah miliknya 314 orang. Seluas 72,5382 hektar. Dana yang di keluarkan sekitar Rp 5,7 miliar. Pembangunannya direncakan memerlukan tanah seluas 85,0035 hektar.sekeliling daerah candi, kecuali taman tumbuh -tumbuhan dan bunga, direncanakan pula dibangun suatu plaza, museum pubakala, pusat Studi Purbakala dan berbagai sarana penunjang lain. Penduduk yang masih tinggal terdapat di tiga pedukuhan yakni Ngaran, Kenayan, dan Sabrangrowo.

50

Jantung Hati Borobudur

Sekalipun praktis mereka tertutup dari berbagai fasilitas pelayanan masayarakat, semacam aliran listrik, jaringan jalan umum dan tertutup dalam pagar, menjelang akahir Juli ini situasinya tetap tenang. Pihak Pemda sebenarnya telah menyediakan pemukiman pangganti untuk menampung kepindahan mereka. Pemukti tadi sudah terrinci dalam kapling –kapling mulai dari 100 meter sampai dengan 400 meter. Di samping itu, dibangun pula fasilitas lainnya berupa pasar, Sekolah, Terminal, Mesjid, Puskesmas dan kantor-kantor pemerintah. Begitu juga, ganti rugi yang disediakan berfariasi dari tanah kelas I Rp 7500,sampai yang seharga Rpm 5000,-. Terhadap bangunan, untukbangunan bambu kayu Rp 10 000,- per meter untuk kayu Rp 15 000,- dan bangunan batu per meter Rp 35 000,-, lengkap ganti rugi terhadap segala macam tanaman. Bagimana akhir pembebasan tanah di Borobudur ini, masih sulit diramalkan. Pemda sudah mengisyaratkan. Pembangunan taman wisata candi Borobudur yang terus menerus tertunda. Dipastikan segera dimulai bulan Agustus 1983. Sementara penduduk yang masih bertahan, tetap membisu sebagai mana yang disaksikan Kompas. Kehidupan tetap berjalan normal, bahkan sebagian dari rumah –rumah yang tersisa dalam kawasan calon taman wisata, sudah diubah menjadi losmen dan tempat parkir pengunjung candi Borbudur. Pada pintu rumah, mereka mencantumkan papan nama losmen berikut Nomor izin usahanya dari Gubernur. Di sisi lain, penduduk Dusun Kenayan masih tetap menjalankan aktifitas seperti biasa. Dinding dan tembok yang bertuliskan tanah dan rumah tidak akan dijual masih tetap terpampang. Rumah penduduk yang belum diserahkan dikelilingi pagar kawat berduri sehingga praktis rumah tersebut tidak punya akses jalan keluar. Penghuni rumah apabila

akan keluar atau masuk harus mbrobos. Bahkan kata seseorang yang akan menggembala kambingnya mengatakan,“ Meski diancam dengan kekerasan pun saya tetap tidak akan menyerahkan tanah kami. Apalagi hati kami sudah merasa sakit atas akibat pembebasan ini. Karena kami harus bermasalah dengan saudara-saudara kami sendiri, ketika saudara kami akan menyerahkan tanahnya. “ “Coba bayangkan, mas. Kami enam bersaudara saat ini mempunyai tanah seluas 200 meter. Kalau tanah itu kami serahkan berapa ganti ruginya? Apakah uang itu cukup untuk kami belikan lagi di daerah lain? Padahal sekarang sudah mencapai Rp 15 000 per meter. Belum lagi dari salah satu saudara kami ada yang mau minta bagian uang saja,“ katanya kesal. Dampak-dampak yang akan terjadi di masyarakat sudah diperhitungkan secara masak oleh P. Boediardjo. Termasuk dampak sosial, budaya, dan ekonominya serta perubahan pola hidup masyarakat, dari kehidupan mereka sebagai petani, penderes kelapa, buruh tani menjadi kehidupan layaknya kehidupan orang kota. Juga dampak ekonomi yang akan timbul misalnya suasana arus penjualan barang dan jasa ataupun pemindahan arus kendaraan maupun pusat perdagangan atau pasar. Sayang, Pak Boed lupa atau belum menghitung dampak di masyarakat yang belum pernah sama sekali memegang uang yang sedemikian banyak. Akhirnya banyak warga masyarakat yang salah dalam menggunakan uang ganti ruginya. Dampak sosial yang muncul di kalangan panitia misalnya, berupa tindakan over acting dengan mendatangi rumah-rumah penduduk dengan secara berbondong-bondong yang dilakukan pada malam hari,pola pendekatan semacam ini akan menimbulkan masalah baru, karena warga akan merasa ketakutan, terlebih penduduk yang sediyanya akan tetap mempertahankan haknya.

Jantung Hati Borobudur

51

Terputusnya aliran listrik yang berlangsung cukup lama menjadikan suasana sepi di malam hari. Terlebih di Dusun Kenayan yang ternyata masih banyak warga belum mau menyerahkan tanah maupun bangunannya, untuk keperluan Taman wisata candi Borobudur. Terlebih seram lagi tak jauh dari tempat tinggal kami tiba-tiba dikejutkan adanya mayat orang tak dikenal yang terbujur kaku di parit. Menurut penuturan orang yang menemukan, mayat tersebut memang sengaja dibuang oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk menakut-takuti warga yang belum bersedia menyerahkan tanah maupun bangunannya. Dampak pemutusan aliran listrik lain misalnya adanya peningkatan tingkat pencurian di malam hari, kejadian ini biasanya terjadi pada warga yang telah menyerahkan tanahnya tetapi belum pindah ke lokasi baru. Sedangkan dampak ekonomi adalah pemotongan uang ganti rugi yang dilakukan oleh oknum panitia dengan alasan yang tidak jelas. Peristiwa ini terjadi pada bulan Juni sampai beberapa bulan berikutnya. Akhirnya khasus ini dilaporkan ke Gubernur dan Opstib. Keresahan warga masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai Pegawai Negeri (PNS) merasa terancam kehidupannya atau pekerjaannya karena dianggap mereka tidak loyal kepada pemerintah.. Seperti yang terjadi pada P. Sastro - nama samaran. Ia diultimatum untuk segera menyerahkan tanahnya kalau tidak mau akan dipindah tugasnya. Hal ini sampai muncul di koran-koran.“ Serahkan tanah atau berhenti bekerja’“ ditulis dalam Buana Minggu edisi 27 Juni 1982. Kelunakan penduduk dengan menyerahkan tanahtanah kosong tidak lagi ditanggapi oleh panitia. Jalanjalan Desa maupun Dusun ditutup dan digali dengan kedalaman sampai 2 sampai 3 meter. Tak jarang pengendara sepeda maupun pejalan kaki tercebur ke galian itu. Warga masyarakat yang memiliki mobil, andong, dan kendaraan lain kemudian dititipkan ke

tempat saudaranya yang masih ada akses jalan menuju ke rumah. Meskipun penting, kesulitan warga masyarakat dalam hal transpotasi, tetapi itu semua masih dianggap dingin saja. Kesulitan soal ditutupnya jalan–jalan Desa yang menghubungkan dengan Desa lain ini juga dirasakan oleh penungunjung candi Borobudur, khususnya yang tidak tertampung di Bus Wira-wiri. Kebanyakan jadi naik andong dan tetap melewati jalan-jalan yang sudah ditutup dengan cara melewati tanah warga masyarakat. Proses pembebasan tanah telah memakan waktu selama tiga tahun. Kata Gubernur Jawa Tengah Ismail pembebasan tanah untuk keperluan Taman wisata candi Borobudur akan berakhir sampai tanggal 31 Juli 1983. Warga yang belum mau menyerahkan tanahnya diminta untuk segera menyerahkan. Meskipun demikian, warga masyarakat yang masih mempertahankan haknya terlihat masih kompak. Mereka terus mengadakan pertemuan-pertemuan tertutup yang dilakukan di rumah-rumah warga yang senasib. Saat menjelang penutupan pembebasan tanah masih sebanyak 67 warga masyarakat diperingatkan dengan selebaran-selebaran berisikan peringatan pertama, ke dua, dan ke tiga. Tetapi peringatan dan himbauan kepada warga yang belum bersedia menyerahkan itu tetap dianggap dingin oleh masyarakat yang masih bertahan dalam kegelapan, karena tidak ada aliran listrik. Pertemuan–pertemuan yang hanya memakai penerangan “senthir“ (lampu minyak) tetap terus dilakukan secara bergiliran. LBH, maupun KSBH dari Yogyakarta tetap setia mendampingi penduduk dalam setiap pertemuan. Menegangkan. Begitulah saat-saat terakhir pembebasan tanah untuk taman wisata candi Borobudur, seperti yang ditulis Kedaulatan Rakyat,

52

Jantung Hati Borobudur

2 Agustus 1983. Pembebasan tanah sudah bersedia menyerahkan hak miliknya. Akhirnya seluruh pemilik tanah yang terkena proyek pembangunan Taman Wisata candi Borobudur bersedia menyerahkan hak milik mereka untuk kepentingan proyek nasional tersebut. Dengan demikian 381 kk pemilik tanah seluas 85 hektar di Dukuh Kenayan, Ngaran Krajan, Gendingan, Sabrangrowo, sebagian Gopalan telah menyerahkan tanahnya kendati telah melampaui batas waktu yang tekah ditentukan oleh panitia. Pemda Kab Magelang 31 Juli 1983 pukul 24.00 Ketetapan batas waktu didasari karena waktu itu masih adanya sementara pemilik yang berusaha menundanunda penyerahan yang mengakibatkan terlambatnya proyek tersebut sampai 2 tahun lamanya. Menurut pengamatan Kedaulatan Rakyat sampai hampir batas waktu penyerahannya pada hari Minggu tanggal 31 Juli 1983 pukul 24.00 tampak kesibukankesibukan yang mencekam di pos komando yang membuka selama 24 jam. Pertemuan terakhir antara pemilik tanah yang telah menyerahkan hak miliknya dengan panitia pembebasan tanah yang dihadiri oleh Drs Truno Sardjono direksi Keuangan Ir Soeparto Direktur Tehnik PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan di Balai Desa Borobudur, hari Minggu malam. Mendadak pada pukul 23.45 datang utusan 65 pemilik tanah yang belum bersedia menyerahkan tanahnya . Utusan tersebut menyampaikan keinginan agar batas waktu penyerahan hak milik mereka diperpanjang sampai pukul 00.05 Senin. Selain itu mereka mengajukan permintaan agar panitia datang ke Dusun Kenayan. Permintaan itu dipenuhi oleh panitia yang malam itu juga berangkat ke Dukuh Kenayan. Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pengacara

Kamal Firdaus SH dari Yogyakarta sebagai penengah (moderator) berlangsung sedikit tegang. Jam di dinding saat itu menunjukan pukul 00.01 Ketua panitia pembebasan tanah, yaitu Kepala Kantor Agraria Kabupaten Magelang Widoyoko Martowardoyo yang didampingi oleh Camat Borobudur Gathot Sugiyarto. Ba, dalam pertemuan itu menyampaikan cara-cara penyelesaian yang telah digariskan oleh Bupati Kepala Daerah Magelang. Sikap Bupati dengan tegas menyatakan para pemilik tanah yang tetap membandel tinggal pilih ingin masuk daftar “Hitam“ atau “Putih“. Daftar berarti mereka dengan sukarela menyerahkan hak miliknya untuk kepentingan nasional atau masuk “daftar hitam“ karena menolak. Namun dalam hal ini, “Kendati sudah melebihi batas waktu yang telah ditentukan, penyerahan dengan cara musyawarah masih tetap terbuka sesuai dengan keinginan Bapak Soepardjo Roestam, ketika menjadi Gubernur Jawa Tengah,” ujar Widoyoko Martowardoyo. Kamal Firdaus SH dalam kesempatan tersebut telah pula menyampaikan penjelasanya secara hukum. Dalam penjelasannya itu Kamal Firdaus juga menguraikan akibat-akibat bila mereka tetap menolak penyerahan tanah dengan ganti rugi. Menurut keterangan, beberapa hari sebelum batas waktu penyerahan 65 kk pemilik tanah seluas 71,829 m2 telah menyampaikan surat permohonan kepada Kantor Agraria selaku Panitia Pembebasan tanah, yang isinya antara lain “Bersedia menyerahkan tanah hak miliknya asal persyaratan yang mereka ajukan dipenuhi.”

Surat pernyataan bersama yang ditanda-tangani oleh 49 pemilik tanah yang belum menyerahkan
Beberapa syarat tersebut antara lain: “Pertama, ganti rugi tanah tiga kali lipat dari luas tanah sekarang yang lokasinya harus dalam satu komplek dilengkapi

Jantung Hati Borobudur

53

54

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

55

fasilitas air bersih, listrik, jalan, dan tempat Ibadah. Kedua, ada jaminan hidup yang jelas terkait dengan kehidupan penduduk kelak setelah menyerahkan tanah maupun bangunanya. Ketiga, ada jaminan bahwa kelak PT Taman Wisata tidak akan mengingkari janjinya, termasuk untuk mempekerjakan penduduk untuk sebagai karyawan di dalam PT tersebut.” Sucoro dan Santoso yang kebetulan ketemu di kantor KSBH, Jalan Brigjen Katamso 53, malam itu pukul 23.30 membenarkan adanya batas waktu yang diberikan oleh panitia pembebasan tanah. Ia mengakui bahwa pada saat-saat terakhir tersebut situasi di Dusun Kenayan khususnya tegang, “ Wah sepertinya saat ini kita dibuat kacau, sampai tidak tahu siapa yang masih berkawan dan siapa yang sudah menjadi lawan “ katanya. Sebelumnya kami sudah bertemu di panitia di Balai Desa Borobudur. Di sana kami disodori data temanteman kami yang ternyata sudah menyerahkan. Dan pada saat itu kami juga kami diancam untuk segera menyerahkan. Apabila tidak mau, kami dianggap menghambat pembangunan dan itu berisiko. Tidak ada kesepakatan antara kami dengan panitia pembebasan tanah. Kemudian kami mohon diri untuk berfikir, bermusyawarah dengan keluarga. Akhirnya kami terus melaporkan kejadian tersebut kepada KSBH pada malam hari itu. Tanggal 31 Juli 1983 batas akhir pembebasan tanah, saat itu, pukul 21.30 warga yang belum menyerahkan berkumpul di kediaman Sucoro atau Setrowikromo masih sebanyak 29 kk (Kedaulatan Rakyat, 30 Juli 1983) didatangi oleh panitia pembebasan tanah lengkap dengan aparat keamanan dan saat itu warga diberikan opsi menyerahkan saat itu atau besok pagi. Apabila tetap tidak mau menyerahkan dianggap akan menghambat pembangunan. Sebagian warga yang merasa ketakutan akhirnya mau menyerahkan. Sebagian lagi terdiam dan masih akan tetap mempertahankan hak atas tanah maupun bangunannya dengan berjuang sendiri.

Gubernur Jawa Tengah Ismail Sudah tidak ada masalah soal Pembebasan tanah Taman wisata Borobudur Kedaulatan Rakyat 26 Agustus 1983
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah Ismail dalam surat pernyataannya tanggal 22 Agustus 1983 tentang penyelesaian pembebasan tanah untuk pembangunan Taman Wisata candi Borobudur menyatakan sebagian telah selesai. Lancarnya pelaksanaan pembebasan tanah tersebut menurut Gubernur berkat kesadaran yang tinggi dan peran serta semua pihak termasuk masyarakat. Serta besarnya pengabdian dari segenap aparat pemerintah yang berwenang. Terutama karena adanya koordinasi yang baik oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Magelang. Dalam pernyataannya itu Gubernur juga menjanjikan bagi pemilik tanah yang telah rela melepaskan haknya, kepada nereka diberikan sertifikat tanah secara massal melalui prona di tanah pengganti (pemukti). Untuk tahap pertama akan diserahkan sebanyak 54 sertifikat tanah, pada peringatan hari Pramuka 29 Agustus 1983 . Sedangkan kepada pemilik lainnya akan segera menyusul, penyerahan sertifikatnya setelah yang bersangkutan mengajukan permohonan. Termasuk dalam hal ini sertifikat milik keluarga Setrowikromo juga belum dapat diserahkan, karena belum jadi. Dengan selesainya pembebasan tanah untuk taman wisata candi Borobudur, maka usaha pengembangan keagungan candi Borobudur akan segera terwujud. Sebelumnya Gubernur Ismail juga mengingatkan, pelaksanaan pemugaran Borobudur yang telah selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto 23 Februari 1983 mempunyi berbagai tujuan. Antara lain oleh Gubernur disebutkan untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya

56

Jantung Hati Borobudur

nasional dari sektor pariwisata. Di samping itu juga untuk memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Pemeliharaan lingkungan hidup serta lebih menampakan identitas Jawa Tengah. Pergulatan soal pembebasan tanah yang berdampak luas seperti yang terjadi di Borobudur, di atas kertas kelihatanya telah selesai. Kemudian pembangunan Taman wisata candi Borobudur segera dimulai. Tetapi diam-diam masih tersisa beberapa masalah terkait dengan pembebasan tanah. Hal ini terlihat sampai dengan dimulainya pembangunan Taman wisata candi Borobudur. Beberapa rumah belum juga dibongkar, bahkan masih beberapa pemilik tanah masih tetap bertahan dan berjuang secara sendiri-sendiri. Panitia Pembebasan tanah dalam hal ini DPU Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magelang sampai mengirimkan surat perintah untuk segera menyelesaikan atau membongkar bangunan, kepada penduduk. Entah sampai kapan penduduk yang belum bersedia menyerahkan tanah maupun bangunanya tersebut mampu bertahan dalam kegelapan. Yang patut dicatat, serangkaian peristiwa pembebasan tanah untuk kelestarian candi Borobudur itu telah mengorbankan masyarakat sekitar. Lima Dukuh telah tersingkirkan, ratusan kepala keluarga telah terpinggirkan, lapangan kerja telah tak terpikirkan.

Berbagai kenangan, pengalaman, saat-saat yang menegangkan kepedihan, kesedihan kebersamaan, yang selalu terlihat dalam kegotong-royongan di masyarakat sepertinya akan terkubur hidup-hidup dengan kalimat “Demi kelestarian candi Borobudur “ . Segala bekas-bekas kehidupan mereka sudah dibersihkan dari lanskap Borobudur, tetapi apakah kisah-kisah penduduk yang telah berkorban demi kelestarian candi Borobudur kemudian akan ikut terkubur? Akankah kehidupan penduduk sekitar yang telah menyatu dengan alam lingkungan serta keberadaan Candi Borobudur semakin terjauhkan? Bagaimana nasib penduduk yang telah mengorbankan tanah maupun bangunanya terhadap upaya kelestarian candi Borobudur selanjutnya ? Benarkah PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan akan tetap konsisten dengan rencana awal yaitu untuk kelestarian candi Borobudur? Bagimana nasib puluhan pemilik sertifikat yang sampai tahun 2012 ini, belum mendapatkannya? Ooh, Tanah Airku, Indonesia! Itulah pertanyaan yang sampai kini masih maya atau masih dalam mimpi yang tak seindah impian kelestarian candi Borobudur.

Jantung Hati Borobudur

57

58

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

59

60

Jantung Hati Borobudur

MEMAKNAI KAWASAN PUSAKA DUNIA
Amat Sukandar

S

itus purbakala candi-candi Borobudur, Pawon dan Mendut sebagai “World Cultural Heritage” (Warisan Budaya Dunia) merupakan asset dunia yang harus diamankan dengan memelihara dan melestarikan kawasan cagar budaya tersebut. Sebab candi-candi ini merupakan potensi yang terus dikembangkan sebagai objek wisata budaya warisan dunia. Ini merupakan misi dalam “Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional (RTR KSN) Cagar Budaya Candi Borobudur” yang sedang disusun oleh Direktorat Penataan Ruang Wilayah II, Direktorat Jendral Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum. Untuk visi-nya, Melestarikan Kawasan Candi Borobudur sebagai Pusat Pembelajaran Konservasi Cagar Budaya Dunia. Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional tersebut berdasarkan, Undang Undang Nomor 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pasal 2 undang-undang ini menyatakan, perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Pijakan hukum lainnya, Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam pasalpasalnya undang-undang ini menyatakan, suatu cagar budaya warisan dunia seperti Candi Borobudur dapat ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional yang pelaksanaan penataan ruangnya merupakan kewenangan Pemerintah dan diatur dengan Peraturan Presiden. Aturan lainnya yang melatarbelakangi penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur adalah Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dimana dalam Peraturan Pemerintah ini dinyatakan, penataan ruang kawasan cagar budaya, seperti Candi Borobudur,

ditujukan untuk melindungi kawasan sebagai kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, keindahan alam dan lingkungan. Issue issue strategis yang juga melatarbelakangi Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur antara lain, belum adanya payung hukum yang jelas yang dapat dijadikan jaminan pelestarian kawasan. Pemerintah Pusat perlu mempertahankan kawasan konservasi warisan budaya, termasuk warisan budaya dunia seperti Candi Borobudur (UU Penataan Ruang Nomor 26/2007). Sementara itu Keppres Nomor 1/1992, tidak menjamin pengelolaan pelestarian kawasan, sehingga tidak ada koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta pelibatan masyarakat. Selama ini, kawasan Candi Borobudur memiliki daya tarik wisata yang tinggi sebagai sumber pendapatan daerah. Namun candi itu memerlukan upaya pelestarian. Sebab, kini telah terjadi penurunan kualitas fisik lingkungan dan lemahnya pengawasan terhadap pedagang formal dan informal yang beroperasi di zona II, sebagai akibat tidak jelasnya landasan pengaturan perijinan. Disamping itu juga ada issue perubahan paradigma pelestarian, dari pelestarian situs candi menjadi pelestarian kawasan candi dan masyarakat. Sebagai dampak dari issue issue tersebut ada ancaman terhadap kelestarian Candi Borobudur sebagai asset warisan dunia. Sehingga perlu upaya penataan kawasan secara komprehensif dengan focus pelestarian dan peningkatan nilai kawasan yang perlu dipertahankan sebagai warisan dunia. Wujud legalitas penataan kawasan secara bersama dalam bentuk Peraturan Presiden yaitu Rencana Tata Ruang Kawasan

Jantung Hati Borobudur

61

Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur. Rencana luas Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur adalah 1.176 hektar. Kawasan ini meliputi Kawasan Konservasi, Kawasan Pengembangan Sangat Terbatas dan Kawasan Pengembangan Terbatas. Kawasan Strategis Nasional ini meliputi desa Borobudur dan Wanurejo di Kecamatan Borobudur, Kelurahan Mendut, sebagian desa Ngrajeg, sebagian desa Pabelan, sebagian desa Paremono, sebagian desa Bojong dan sebagian desa Rambeanak di wilayah Kecamatan Mungkid. Untuk menata Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur perlu kebijakan dan strategi Penataan Ruang. Strategi untuk menjamin keberlangsungan Kawasan Cagar Budaya Candi Borobudur sebagai Kawasan Warisan Budaya Nasional dan Warisan Budaya Dunia, perlu dilakukan konservasi Candi Borobudur, Candi Pawon dan Candi Mendut serta temuan arkeologi lainnya. Untuk itu perlu diatur mekanisme dan kewenangan penyelenggaraan pelestarian dan penataan ruang kawasan. Disamping itu, perlu adanya sinkronisasi kebijakan lintas wilayah dan sektor terkait dengan pemanfaatan ruang Kawasan Cagar Budaya Dunia Candi Borobudur. Strategi untuk mewujudkan keterpaduan penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang, antara lain dengan mempertahankan karakter kawasan perdesaan. Disamping itu juga mempersiapkan rencana struktur dan pola ruang secara terpadu sesuai dengan kebijakan lintas wilayah dan sektor, serta arahan pengendalian pemanfaatan ruang dalam bentuk ketentuan umum peraturan zonasi yang semuanya berdasarkan prinsipprinsip pelestarian kawasan. Untuk itu perlu diatur mekanisme dan kewenangan dalam pengendalian pemanfaatan ruang kawasan dalam rangka pelestarian kawasan. Dalam Progress Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur direkomendasikan konsep kelembagaan yang

akan menangani dan mengelolanya yaitu “Badan Perlindungan dan Pemeliharaan Situs Candi Borobudur, Mendut dan Pawon”, dan “Badan Pengelola Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Warisan Dunia Candi Borobudur”.* Bahan: ‘Progres Penyusunan Raperpres Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Cagar Budaya Candi Borobudur’, yang disusun Kementerian Pekerjaan Umum, Dirjen Penataan Ruang, Direktorat Penataan Ruang Wilayah II,Semarang, 15 Juni 2010. (Informasi dari Bappeda Kabupaten Magelang)

Ritual ‘Ruwat Rawat Borobudur’ “Menggali tradisi, menyemai harmonisasi”
Candi Borobudur tidak hanya dipandang sebagai monumen arsitektural dan hasil karya seni pahat saja, tetapi merupakan titik puncak pencarian spiritual dan budaya yang dilakukan para peziarah, ahli pikir, ahli sejarah dan arkeolog. Disamping itu, candi Buddha terbesar ini juga merupakan ungkapan inspirasi yang mengagumkan untuk menuju kemuliaan jiwa dan kemurnian hati dari semua bentuk kepercayaan. Candi Borobudur sebagai warisan budaya (heritage) harus dilestarikan dan dilindungi. Dari sisi religius candi ini harus dihormati. Dan dari dimensi pariwisata dalam pemanfaatan candi tersebut harus dipikirkan secara bijak dan penuh pertimbangan terkait semua hal yang melatarbelakanginya. Karena candi Borobudur menjadi ‘ruang’ bertemunya berbagai dimensi kepentingan tersebut. Ritual ‘Ruwat Rawat Borobudur’ yang digagas ‘Warung Info Jagad Cleguk’, untuk langkah ke depan diharapkan mampu mendorong masyarakat di sekitar candi ini agar dapat mengembalikan kejayaan dan keagungan Candi Borobudur dan menjadikannya sebagai pusat study dan komunikasi budaya. Sehingga bisa tercipta, Candi Borobudur dan lingkungannya sebagai tujuan wisata dunia. Ini harus didukung masyarakat Borobudur

62

Jantung Hati Borobudur

dengan memiliki pengetahuan lebih sebagai pelaku pariwisata yang cerdas dan memiliki kebijakan dalam bersikap. Sebagai warisan budaya dunia, dalam pengelolaan candi ini agar tidak terkesan hanya dimiliki oleh kelompok tertentu saja. Karena perlu melibatkan antar pemangku kepentingan (‘stakeholder’), meski mereka berlatarbelakang yang berbeda. Sehingga diharapkan monumen warisan budaya tersebut tidak kehilangan ‘roh kehidupan’-nya. Candi Borobudur dapat lebih hidup dan berimbang antara wujud bangunan warisan budaya dengan nilai-nilai luhur yang ada dalam masyarakat sekitarnya termasuk nilai tradisi dan kehidupannya. Menurut Sucoro, ketua Warung Info Jagad Cleguk penanggungjawab acara ini, ruwatan ini merupakan sebuah laku budaya yang berorientasi pada pencerahan dan pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Ruwatan memiliki makna simbolisasi yang tersaji dalam laku budaya sebagai pendidikan bagaimana mendalami watak atau karakter kejiwaan manusia. Karena manusia sebagai sosok yang lemah dan bodoh akan selalu mengalami kesialan. Dengan ruwatan ini diharapkan dapat terhindar dari halhal yang bisa membawa kesialan. “Ruwatan ini juga memiliki arti sebagai pencerahan batin bagi yang mampu menghayati dan memahami,” tegasnya. Terkait dengan tema, “Menggali tradisi, menyemai harmonisasi”, Sucoro menjelaskan, acara ruwatan ini bertujuan menggali potensi keanekaragaman budaya sekaligus pesan moral dan nilai-nilai luhur yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Disamping itu, untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran masyarakat terhadap candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia, yang diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Acara yang digelar setiap tahun ini juga diharapkan menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke candi ini. Prosesi ritual Ruwat Rawat Borobudur ini digelar Kamis

Pahing, 28 Juli 2011 yang lalu. Rangkaian acaranya diawali dengan berdoa dan mengheningkan cipta yang dipimpin Sucoro, di pelataran timur candi. Peserta ritual menaiki candi sampai di tingkat ke tujuh. Dari sini mereka turun menuju ke pelataran barat candi untuk melakukan doa bersama menghadap ke candi. Doa secara agama Islam dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat dari desa Sambeng, pak Muh Sajak. Dalam ritual ini diusung sebuah ‘tumpeng’ lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng ini bermakna sebagai ungkapan rasa dan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nenek moyang yang telah membangun dan mewariskan Candi Borobudur yang telah memberi manfaat kepada banyak pihak. Ruwat Rawat Borobudur diakhiri dengan doa memohon keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebelumnya, kelompok kesenian selawatan Jawa melantunkan tembang ‘Ayun-ayun’, yang lirik tembangnya bermakna untuk pencapaian kesempurnaan hidup banyak tantangan dan halangan yang dihadapi manusia. Kebersamaan masyarakat sekitar Borobudur tampak akrab dalam acara ini, mereka menikmati hidangan slametan berupa nasi tumpeng dengan lauk ‘kluban’.***

Saparan Merti Desa di ‘Desa Wisata’ Candirejo, Borobudur Melestarikan adat tradisi budaya untuk daya tarik wisata
ACARA tradisi Saparan “Ruwat Bumi” di Desa Wisata Candirejo Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu upacara adat yang sampai sekarang masih diuri-uri (dilestarikan) oleh warga masyarakat setempat. Bahkan dikembangkan menjadi ‘objek wisata budaya’ yang bisa menjadi daya tarik wisatawan. Upacara adat Saparan merti desa “Ruwat Bumi” ini merupakan wujud syukur masyarakat berkaitan dengan hasil panen desa ini, serta ungkapan

Jantung Hati Borobudur

63

rasa terima kasih kepada Gusti Allah Yang Maha Kuasa agar selalu diberi keselamatan dan perlindungan-Nya dan memohon agar ditingkatkan hasil pertaniannya. Ruwat Bumi atau sedekah bumi ini merupakan budaya spiritual yang terkait dengan kepercayaan dan agama yang dianut warga masyarakat sejak jaman kuna sampai kini. Sedangkan rangkaian acaranya tidak lepas dari sesaji khusus, kenduri, dan pagelaran wayang kulit. Sesaji ‘Sega gurih” dan ubarampenya, termasuk ingkung ayam jago, dulu bermakna sebagai gambaran Gunung Himalaya dengan puncak Suralaya tempat kediaman para dewa, menurut ajaran agama Hindu. Karena desa Candirejo letaknya di kaki puncak Suralaya, Pegunungan Menoreh. Ingkung ayam jago bermakna sebagai wujud kepasrahan, tidak mendua (mangro tingal), dalam hal kepercayaan. Ketika agama Islam yang disebarkan Sunan Kalijaga masuk dan dianut sebagian besar warga masyarakat di sini, tumpeng sega gurih dan ingkung ayam jago mengandung makna ‘rasulan’, sebagai sedekah untuk sesame, melaksnakan perintah Nabi Muhammad SAW. Sesaji lainnya berwujud ‘sega golong milang dhusun’ sebanyak 15 buah, sebagai perlambang adanya 15 dusun di desa ini. ‘Sega golong’ yang berjumlah 9 buah, mempunyai makna niat yang ‘golong gilig,’ dan manunggalnya Kawula Gusti. Sesaji atau ‘larakan’ lainnya dari hasil bumi Candirejo berupa ‘pala kependhem,’‘pala gumantung,’ dan ‘pala kesimpar,’ yang bermakna permohonan berkah supaya hasil pertanian di desa ini selalu meningkat dan bermanfaat. Ada lagi sesaji berupa ‘Golong Kencana’ berupa sega golong ketan yang ditutup dan dilambari telur dadar tanpa garam. Sedangkan sesaji berupa jajan pasar, ingkung panggang, kelapa dua pasang dan ayam kecil yang masih hidup. Semua itu harus disajikan di pagelaran wayang kulit. Upacara ‘ruwat bumi’ ini sebagai perlambang hubungan antara manusia dengan Gusti Allah SWT, manusia dengan leluhurnya, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam

sekitarnya. Ini sebagai wujud “Memetri Bapa Ngakasa Ibu Pertiwi.” Merti desa tahun ini diselenggarakan pada hari Sabtu Pon tanggal 18 Sapar 1942 Je atau 14 Pebruari 2009 yang lalu. Dengan tema, “Melestarikan adat tradisi budaya lokal masyarakat Candirejo sebagai daya tarik wisata di Kawasan Borobudur.” Acara formal Perti Desa yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si., Bupati Magelang, Ir. H. Singgih Sanyoto dan pejabat lainnya bertempat di pelataran balai desa Candirejo. Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya, disusul mengumandangkan gending ‘Candirejo Bersatu’, persembahan tarian kolosal ‘Kidung Candigra’ oleh sanggar ‘Ladrang Sekati’ pimpinan Saryan Adi Yanto, SE dengan Pembina Untung Mulyono, M.Hum dan Drs. Joko Trilaksono. Selesai pagelaran kesenian dikumandangkan ‘Kidung Panuwun’ (Kidung Permohonan) yang dipimpin Nursuhud, Kepala Urusan Kesra Desa Candirejo. Pembukaan kidung permohonan tersebut: “Ingsun miwiti amuji, anyebut asmane Allah, kang paring murah ing donya mangke, paring asih ing akherat, dhumateng mukmin sadaya, jaler lan estri sadarum, den ganjar swarga mulya.” Kemudian warga masyarakat yang menonton acara ini beramai-ramai merebut Gunungan Asil Bumi yang menghiasi pelataran acara. Gunungan ini disusun dari berbagai hasil pertanian desa Candirejo yang ditata indah mirip gunungan atau stupa setinggi kira-kira tiga meter. Bupati Magelang Ir. H. Singgih Sanyoto mengatakan, merti desa atau ruwat bumi ini merupakan konsep

64

Jantung Hati Borobudur

budaya yang bermakna emosional dan spiritual. Artinya, bisa sebagai sarana bersilaturahmi masyarakat desa. Disamping itu juga sebagai sumber semangat bagi masyarakat desa dalam menghadapi tantangantantangan pada masa mendatang. Sedangkan di bidang spiritual, sebagai ungkapan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberi rejeki. Terkait dengan kebijaksaan pemerintah pusat dalam hal bagi hasil retribusi objek wisata Candi Borobudur, bupati merasa kecewa dan menganggap tidak adil. Karena, tahun-tahun belakangan ini Pemerintah Kabupaten Magelang sudah tidak menerima bagian dari hasil retribusi tersebut. Padahal pemerintah daerah harus bertanggungjawab terhadap infrastruktur, keamanan dan kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Dra. Hj. Rustriningsih, M.Si, mengatakan, untuk mengembangkan desa Candirejo menjadi desa wisata yang potensial dan produktif memang masih banyak tantangan. Sehingga perlu disusun rancangan yang lebih mendasar dari Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang mau pun para ‘stake holder’ yang bisa dan mau mendukung rancangan tersebut. Desa ini memang bisa menyuguhkan kearifan lokal daerah. Kegiatan ini diharapkan bisa menyangga paket wisata di Candi Borobudur. Karena sektor pariwisata di Jawa Tengah merupakan basis penting untuk mewujudkan kemandirian wilayah. Kegiatan ruwat bumi ini diharapkan bisa lestari dan memberi berkah bagi peningkatan kesejahteraan rakyat. Ketua panitia, Saryan Adi Yanto, SE, menjelaskan, acara Saparan Ruwat Bumi ini sebagai upaya menggali potensi budaya dan alam di desa Candirejo yang diharapkan bisa untuk mengembangkan desa wisata. Kegiatan pariwisata di desa ini dengan berdasarkan kehendak masyarakat, yang dikembangkan sebagai objek wisata budaya sejak tahun 2003 yang lalu. Pada tahun 2008, hasil dari sektor pariwisata di desa ini sejumlah Rp. 184.340.250,-, dan jumlah wisatawan

manca sebanyak 1.403 orang dan Wisatawan Nusantara 1.113 orang. Di desa wisata ini banyak objek wisata, yaitu objek wisata alam dan objek wisata budaya. Objek wisata alam yang berupa “ecotourism” (wisata lingkungan) di desa ini ada ‘Watu Kendhil’ yang berada di pegunungan Menoreh, ‘Watu Tambak’ dan ‘Kladon” di sungai Progo, mataair asin, makam Gunung Mijil, serta pertemuan sungai Progo dan Elo yang indah pemandangannya. Di sungai ini juga menjadi tempat tujuan memancing. Untuk potensi kesenian rakyat yang ada di setiap dusun, seperti Jathilan, Gatholoco, Wulangsunu, Sholawatan, wayang kulit, dan ketoprak. Meski desa ini kurang air irigasi untuk pertanian pada musim kemarau, namun banyak tanaman buahbuahan yang menjadi andalan petani di sini, yaitu rambutan, jeruk, salak dan pepaya. Yang mendukung sebagai desa wisata yaitu banyaknya rumah warga yang menjadi ‘home stay’ (rumah sewaan) untuk para wisatawan. Dengan warganya yang ramah, dan biaya penginapan yang murah, para wisatawan diharapkan bisa betah berwisata di desa ini. Untuk cinderamata para wisatawan, masyarakat di sini juga banyak yang membuat kerajinan rakyat seperti kerajinan pandan dan kerajinan bambu.*** ‘Muludan’ di dusun Ngaglik, Candirejo, Borobudur, Menyatunya budaya religius Islam dengan budaya spiritual masyarakat Peringatan Maulid Nabi Mohammad SAW di dusun Ngaglik desa Candirejo Kecamatan Borobudur, Magelang, diselenggarakan secara khas. Acaranya bernuansa ‘sinkretik’, perpaduan antara budaya religius Islam dengan budaya spiritual masyarakat yang merupakan ‘kearifan lokal’. Dalam acara ini tampak jelas, adanya kemanunggalan budaya Islam yang agamis dengan budaya spiritual masyarakat Jawa yang ‘animis-dinamistis’, dengan menggelar acara ritual

Jantung Hati Borobudur

65

sedekah dan sesaji. Acara ritual ini tidak lepas dengan ubarampe sedekah berupa sesaji tumpeng komplit dengan lauk pauknya dan ingkung ayam, juga jajan pasar serta ‘larakan’ (berupa ketela rebus, nyidra rebus dan beraneka macam hasil bumi). Nuansa animis-dinamistis dalam peringatan Muludan ini tampak dalam acara khusus, ‘nylameti’ alat tetabuhan selawatan Jawa yaitu sebuah ‘bedug kuna’, ketipung dan tiga buah rebana (‘terbang’). Dan penyajian ubarampe sedekah ke mataair di tepian sungai Benda, yang diarak dari dusun ke tempat ritual tersebut. Piranti tetabuhan selawatan tersebut peninggalan almarhum Eyang Ali Wiryo, sesepuh dusun ini. Menurut sesepuh adat dusun ini, Notodikromo, 56 tahun, almarhum Eyang Ali Wiryo dulu pernah berpesan kepada warga dusun Ngaglik, ”Slametan memetri bedhug iki para anak putu kudu nerusake ing saben wulan Mulud.” (Selamatan melestarikan bedug ini, anak cucu harus melanjutkan pada setiap bulan Maulud). Sehingga, sejak dahulu kala sampai kini dalam ‘nylameti’ piranti selawatan Jawa tersebut waktunya bersamaan dengan acara peringatan Maulid Nabi. Pesan tersebut mempunyai makna, para warga dusun ini supaya tetap melestarikan kesenian selawatan Jawa, yang tembang-tembangnya penuh makna spiritual yaitu ajaran agama Islam. Pak Noto tidak bisa menjelaskan dengan pasti, sejak kapan acara Muludan dengan cara seperti ini diselenggarakan di dusun ini. Yang jelas, piranti tetabuhan selawatan yang dibuat dari kayu nangka itu umurnya sudah ratusan tahun dan sampai kini masih baik. Hanya kulitnya saja yang sudah berulang kali diganti. Dia juga menjelaskan, sampai sekarang kesenian rakyat selawatan yang bermakna religius itu masih lestari dan ‘diuri-uri.’ Pada setiap malam Jum’at Kliwon di rumah pak Noto digelar selawatan. Dalam menggelar kesenian salawatan ini dilantunkan dan dibaca buku dengan tulisan huruf Arab yaitu Kitab al Barzanji dan Sholawat Nabi. Sedangkan tembangtembang Jawa dengan judul ‘Ayun-ayun’, ‘Pitik Tulak’,

dan masih banyak lagi. Ada sekitar tiga puluh orang yang mengikuti pagelaran seni selawatan ini. Acara Maulid Nabi Mohammad SAW yang diselenggarakan hari Ahad Pahing, 15 Maret 2009 atau 19 Mulud 1942 Je yang lalu, semua ubarampe tumpeng, sesaji ingkung dan jajan pasar serta bedug kuna dikirab dari rumah Pak Notodikromo menuju ke mata air di pinggir sungai Benda. Bedug kuna ditutup kain mori putih dan dipikul dalam perjalanan kirab sejauh sekitar 500 meter. Suasana kirab terasa semarak dengan iringan kesenian selawatan jawa dan topeng ireng serta warga dusun. Acara ini didukung Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Borobudur, ‘Warung Info Jagad Cleguk’. Tiba di lokasi mata air di pinggir sungai, tumpeng dan ubarampe serta bedug kuna diletakkan di dekat pancuran. Acaranya diawali dengan melantunkan tembang macapat Dhandhanggula diiringi suara selawatan jawa, serta membaca sholawat. Dalam acara yang bermakna ritual spiritual ini, ada warga dusun yang ‘ngangsu’ di pancuran ini. Sedangkan bedug kuna, ketipung dan terbang diperciki air dari pancuran tersebut, diiringi doa permohonan keselamatan. Selesai acara di pinggir kali Benda, semua ubarampe sedekah dan bedug kuna diarak kembali ke tempat upacara peringatan Muludan. Ubarampe sedekah diletakkan di meja yang telah disediakan, dan bedug kuna diletakkan di pelataran beralas tikar. Acara ‘ritual’ sedekah Muludan diawali dengan membaca Kitab Al Barzanji dan Kitab Sholawat Nabi. Kumandang tembang ini diiringi irama selawatan Jawa dengan suara terbang, ketipung dan bedug. Bedug kuna ditabuh khusus oleh pak Notodikromo, selaras dengan iramanya. Di tengah meriahnya suara tetabuhan selawatan Jawa, mempengaruhi para penari dalam ritual ini menjadi kesurupan. Sehingga tarian mereka yang kesurupan seperti bukan kehendaknya sendiri, mereka menari mengitari pelataran. Bahkan ada yang menuju ke tempat ubarampe sesaji sedekah, memilih makanan

66

Jantung Hati Borobudur

sesaji yang disukainya dan dimakan di tempat. Setelah ‘diusadani’ sesepuh acara ritual ini, para penari yang kesurupan bisa kembali sadar. Untuk menyemarakkan suasana acara Muludan dan menghibur warga dusun, juga digelar kesenian rakyat ‘topeng ireng’ dari dusun Wonoboyo desa Keji Kecamatan Muntilan. Pentas jenis kesenian yang kostumnya meniru suku Indian Apache ini kini merupakan tontonan yang sedang digemari masyarakat, karena ulah seni tariannya serba dinamis. Peringatan Maulid Nabi dengan sedekah dan selamatan untuk melestarikan piranti selawatan berupa bedug, ketipung dan rebana kuna tersebut setiap tahun mesti dilaksanakan warga dusun Ngaglik. Menurut pak Noto, bila tidak dilaksanakan selamatan, kehidupan masyarakat kurang tenteram dan rejekinya seret. Danyang dusun ini, Kyai Larah yang makamnya di pinggir dusun, menurut ceriteranya juga senang dengan kesenian selawatan. Sehingga sampai kini kesenian selawatan ini selalu ‘diuri-uri’ oleh warga dusun agar tetap lestari. Dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 7 kilometer dari Borobudur, terletak di lereng Pegunungan Menoreh sebelah utara. Pada musim kemarau, dusun ini sulit air. Sehingga pepohonan besar yang ada di sekitar mata air di dusun ini dipelihara warga agar sumber air tetap mengalir. Penduduk dusun ini ada 24 kepala keluarga. Keadaan sekitar dusun bertopografi lereng dengan pepohonan dan karang kitri. Di sini tidak ada sawah, dengan hasil khusus yang menjadi andalan warga dusun ini adalah bunga kenanga. Pohon-pohon kenanga di sini sudah berumur puluhan tahun. Untuk harga bunga kenanga tergantung waktu dan keadaan. Ketika banyak orang yang membutuhkan, seeprti pada bulan Ruwah, harga kembang kenanga setiap kilogramnya bisa mencapai seratus ribu rupiah. Untuk sekarang ini harganya tidak kurang dari empat puluh ribu rupiah setiap kilogramnya.

Bagi warga dusun ini menanam pohon kenanga memang menguntungkan. Sebab, menanam sekali panen berulang kali tanpa mengenal musim sampai puluhan tahun. “Padahal untuk perawatan pohon ini lebih gampang, tidak seperti pohon buah-buahan lainnya”, jelas pak Noto. Di samping dibeli para tengkulak, bunga kenanga kadangkala juga ada yang membeli untuk diolah di pabrik ‘penyulingan’, diambil minyaknya untuk bahan ‘minyak wangi’. Di dusun ini juga banyak tumbuhan pandan duri. Daun pandan duri ini untuk bahan baku kerajinan tikar dan kerajinan anyam-anyaman lainnya. Sebagian warga masyarakat di sini juga banyak yang menekuni kerajinan anyaman pandan duri. Hasilnya lumayan, bisa untuk menambah penghasilan bagi warga di sini.***

Kyai Sorok Manggala Yudha Jaman Perang Dipanegara yang digdaya
Di dusun Soropadan desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, ada sebuah makam tunggal yang dikeramatkan, makam Kyai Sorok. Sampai saat ini nama tokoh ini masih melegenda sebagai perajurit P. Diponegoro yang gigih dan setia. Menurut legenda atau ceritera rakyat yang dibeberkan juru kunci makam, Pak Ngainan, Kyai Sorok adalah cucu Ki Ajar Windusana, yang masih trah keturunan Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Ketika jaman Perang Diponegoro, Kyai Sorok yang tak mau takluk kepada penjajah Belanda, pergi meninggalkan istana dan berkelana sampai ke sebuah dusun di desa Wanurejo, wilayah Borobudur, dan menjadi perajurit P. Diponegoro. Kyai Sorok sebagai perajurit yang tangguh, kemudian diangkat menjadi manggala yudha. Karena dia

Jantung Hati Borobudur

67

memiliki ngelmu kanuragan yang tinggi dan sakti. Sehingga serdadu Belanda selalu kedodoran setiap kali menghadapi laskar P. Diponegoro yang dipimpin Kyai Sorok. Isteri Kyai Sorok, adalah Nyai Lodra, yang makamnya berada di dusun Klodran desa Deyangan, Kota Mungkid. Menurut ceriteranya, ketika mereka dikejarkejar serdadu Belanda, pada waktu terbenam matahari (wanci lerep surya), Kyai Sorok berhasil menyeberangi sungai Progo. Nyai Lodra yang tertinggal berupaya untuk mengejar suaminya. Dan dia selalu memanggil (“mbelukake”, bahasa Jawa) Kyai Sorok. Tempat dia selalu memanggil suaminya itu kini disebut dusun “Belukan” dan juga ada nama dusun “Nglerep”. Dusun tempat tinggalnya (yang kini disebut Sorokan) letaknya di sebelah utara sungai Sileng, kaki utara Pegunungan Menoreh. Dusun ini oleh Kyai Sorok dipilih sebagai markas perajurit P. Diponegoro. Ternyata Kyai Sorok ‘krasan’ bertempat tinggal di dusun ini sampai akhir hayatnya. Ketika beliau wafat dimakamkan di dusun ini. Namun, sampai beliau wafat tidak seorang pun tahu dengan jelas siapa sebenarnya nama asli Kyai Sorok. Menurut penuturan Pak Ngainan, nama Kyai Sorok yaitu “Asmamu.” Nama itu didengar Pak Ngainan ketika dia sedang tiduran, dalam keadaan antara sadar dan tidak, ada suara gaib yang didengarnya dan menyebut, nama Kyai Sorok adalah Asmamu. Kejadian ini dialami sendiri oleh Pak Ngainan pada tahun 1970an. Ceritera tentang Kyai Sorok, menurut versi ‘sejarah’ kisahnya lain lagi. Seperti yang dituturkan Pak Suhardi, pensiunan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, yang warga dusun Barepan desa Wanurejo. Dia menjelaskan, Kyai Sorok sebenarnya adalah salah seorang pemimpin perang atau ‘manggala yudha’ laskar Pangeran Dipanegara dengan nama Yudhaningrat. Beliau memiliki ‘ngelmu kanuragan’ yang tinggi dan disegani oleh perajurit

serta warga dusun tersebut. Yudhaningrat bermukim di dusun Sorokan, sampai usia tua dan wafat di sini. Sekarang nama dusun Sorokan sudah tidak ada karena dusun ini sudah digabung dengan dusun Soropadan. Dengan desa Ngargogondo dusun ini dibatasi sungai Sileng, yang kini sudah dihubungkan dengan sebuah jembatan permanen. Dusun Soropadan ketika itu dianggap dusun yang berwibawa atau “mrebawani” bagi musuh P. Dipanegara yaitu serdadu dan antek-antek penjajah Belanda. Manakala ada musuh datang ke sini ibaratnya “kutuk marani sunduk,” atau “sorok nyawa” (menyerahkan nyawa). Karena jarang musuh yang bisa pulang selamat bila berani masuk ke dusun Soropadan ini. Kalau tidak mati dibunuh perajurit P. Dipanegara, serdadu itu tewas karena kecelakaan. Ketika perang dengan Belanda, di dusun ini juga menjadi tempat pengungsian warga desa. Di dusun Soropadan ini sampai kini masih ada barang ‘keramat’ peninggalan Kyai Sorok berupa “kukusan setangkep”. Kukusan yang umurnya sudah ratusan tahun ini kini disimpan dan dirawat oleh pak Ngatun. Kukusan ini disimpan dengan dibungkus kain mori putih dan diikat supaya tidak terurai. Bungkusan kukusan ini digantungkan di sebuah kamar khusus. Setiap malam Jum’at Kliwon kukusan ini ‘dikutugi’ (diasapi) asap kemenyan atau asap dupa. Dahulu kukusan ini bila dikutugi asap kemenyan, bisa berputarputar sendiri di gantungannya. Menurut ceriteranya, kukusan setangkep ini dahulu sebagai piranti untuk membawa pakaian dan perlengkapan lain oleh Kyai Sorok ketika datang ke dusun ini. Karena pada masa itu mungkin belum banyak tas atau kopor untuk membawa barang-barang bila bepergian. Kukusan ini konon berisi pakaian, kitab stambul, rokok lintingan dan puntungnya, telur dan barang lainnya. Kukusan ini dipercaya memiliki kekuatan magis yaitu “daya panglimunan”. Menurut

68

Jantung Hati Borobudur

penuturan pak Ngatun, pada masa Perang Dipanegara dan masa Perang Kemerdekaan melawan penjajah Belanda dahulu, manakala ada musuh yang datang ke dusun ini dan mengancam keselamatan warganya, kukusan itu kemudian digantungkan di pohon atau rumpun bambu. Dengan digantungnya kukusan itu, dusun ini oleh musuh tampak sebagai hutan ilalang. Tidak tampak sebagai dusun yang banyak rumah penduduk. Dengan demikian warga dusun ini bisa selamat dari marabahaya serangan musuh dan terlindungi dari kejaran serdadu Belanda berkat adanya kukusan setangkep yang memiliki ‘daya supranatural’ ini. Sampai kini, kukusan setangkep ini masih ada wujudnya dan dirawat agar lestari. Meski bentuk anyaman bambunya sudah tidak utuh lagi, karena usianya yang sudah lebih seratus tahun. Bambu anyamannya sudah lapuk, dan bentuk kukusan sudah terurai. Ketika acara “Kirab Budaya Wanurejo 2006” yang lalu, kukusan setangkep ini juga ikut dikirabkan. Tujuannya agar masyarakat tahu kalau di dusun Soropadan ada sebuah “benda peninggalan sejarah” yang harus diuriuri. Ada gagasan, warga di sini akan membuat kukusan duplikatnya. Dengan duplikat kukusan ini diharapkan “tapak sejarah” Kyai Sorok di dusun Soropadan tidak akan hilang dan musna begitu saja. “Makam Tunggal Kyai Sorok” di dusun Soropadan menjadi salah satu obyek wisata ziarah. Menurut penjelasan juru kunci makam tersebut, Pak Ngainan, 77 tahun, Kyai Sorok dianggap dan diakui sebagai “cikal bakal” dusun Soropadan, meski bukan asli desa itu. Kini makamnya menjadi pepundhen warga dusun dan sering menjadi tujuan para peziarah dari daerah Magelang dan sekitarnya. Bahkan ada peziarah yang datang dari lain daerah seperti Semarang dan Yogyakarta. Ada banyak tujuan para peziarah ini, tetapi kebanyakan mereka memohon kepada Allah SWT lewat kelebihan almarhum Kyai Sorok agar keinginannya cepat tercapai.

“Tetapi jangan sekali-kali mempunyai permohonan yang jelek, lebih-lebih yang bersifat maksiat di makam Kyai Sorok ini,” pesan Pak Ngainan. “Bila permohonan itu bersifat buruk dan mencelakakan orang lain, permohonan itu bisa berbalik membahayakan bagi diri si pemohon,” tambahnya. Dan apabila ada peziarah memiliki permohonan yang disertai dengan ‘nadar,’ atau janji, bila permohonannya telah terkabul harus segera membayar nadarnya. Jangan sekalikali ingkar janji. Bila sampai ingkar janji, akan dapat menyebabkan hal-hal yang tidak menyenangkan, bahkan membahayakan bagi dirinya. Pak Suratin, mantan kepala dusun Soropadan menjelaskan, makam Kyai Sorok merupakan ‘pepundhen’ warga dusun ini. Setiap bulan Ruwah di makam ini mesti diselenggarakan acara ‘nyadran.’ Dusun ini Lokasi makam tunggal ini berada di tanah tegalan milik (almarhum) pak Ronowiryo, ayahanda pak Ngainan. Letaknya di atas sebuah sungai kecil tidak jauh dari kali Sileng. Untuk ke makam keramat ini, para peziarah berjalan kaki kira-kira seratus meter dari dusun Soropadan menyusuri jalan setapak.*** Candi Borobudur sebagai objek wisata hampir tidak pernah ‘istirahat’ dan ‘bernafas’. Setiap hari, sejak pagi hingga sore, ribuan wisatawan menaiki candi peninggalan jaman Kerajaan Mataram Kuna ini. Warga desa di sekitar Candi Borobudur, yang semula bermatapencaharian sebagai petani atau buruh tani banyak yang beralih profesi sebagai pedagang di objek wisata ‘Warisan Budaya Dunia’ ini, entah itu berjualan cinderamata atau membuka warung makan dan jasajasa lainnya. Kenyataan sekarang, candi ini ternyata bisa menghidupi ribuan warga. Tidak hanya warga di sekitar Borobudur, namun juga warga dari lain kota, bahkan lain wilayah dan daerah. Usaha-usaha warga ini, mulai dari usaha warung makan dan pengasong, penginapan sampai usaha para investor yang mempunyai modal milyaran rupiah.

Ruwat Rawat Borobudur VII

Jantung Hati Borobudur

69

70

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

71

Juga usaha transportasi, dari tukang becak dan kusir andong sampai para pengusaha ‘biro perjalanan wisata’. Usaha milik pemerintah hingga usaha swasta milik warga masyarakat, bertumpu pada Candi Borobudur dan mencari rejeki di wilayah candi. Namun bila para warga dan pengusaha tersebut ditanya, “Siapakah sebenarnya yang membangun Candi Borobudur?”, banyak yang tidak tahu. Sejak tujuh tahun yang lalu acara ritual ‘Ruwat Rawat Borobudur’, setiap tahun digelar oleh Lembaga Swadaya Masyarakat ‘Warung Info Jagad Cleguk’ yang didukung warga masyarakat sekitar candi ini. Meski acaranya diselenggarakan dengan sederhana, namun mengandung makna spiritual yang dalam bagi warga yang masih peduli terhadap lestarinya ‘Warisan Budaya Dunia’ yang diakui UNESCO ini. Menurut Ketua “Warung Info Jagad Cleguk”, Sucoro, makna acara ruwatan ini agar bisa meningkatkan ‘rasa handarbeni’ (rasa memiliki) dan tetap menghormati warisan budaya berupa candi agung ini. Sebab keberadaan candi Borobudur ini sudah memberikan guna manfaat yang besar bagi masyarakat, khususnya dalam hal peradaban, kebudayaan dan juga ekonomi. Sucoro juga prihatin, masih banyak pengunjung candi yang kurang menghormati dan memperhatikan kelestarian bangunan candi iki. Misalnya, masih ada pengunjung yang membuang sampah sembarangan, dan masih banyak wisatawan yang memanjat stupa atau dinding bangunan candi. Acara ‘Ruwat Rawat Borobudur ke VII’ tahun 2010 ini diselenggarakan pada hari Senin Wage tanggal 9 Agustus 2010 yang lalu dengan tema, “Dengan membangun Spiritual Borobudur, kita tingkatkan kesejahteraan Masyarakat, dengan acara ritual di Candi Borobudur. Para pelaku ritual, tokoh-tokoh paranormal, seniman, tokoh agama, tokoh masyarakat dan didukung peserta ritual lainnya, yang berasal dari desa-desa sekitar Borobudur. Para pelaku ritual ini adalah, Dulkamid Djayaprana, seniman pahat batu /pematung dari Muntilan, Mohammad Dimyati tokoh agama dari Pabelan, mBah Bejo tokoh spiritual

dari desa Ngadiharjo. Tokoh paranormal lainnya, mBah Paimo dari Ngabean, mBah Darsi dari Gunung Tanjung, Pak Kodim dari Kupatan, Pak Wahyudin dari Karangtengah, mBah Kimpul dan mBah Dahlan dari Sedengan, Ngadiharjo. Atas ijin dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan PT Taman Wisata Candi Borobudur, ritual Ruwat Rawat Borobudur dilaksanakan di pelataran dan puncak Candi Borobudur. Di depan gerbang naik ke candi yang ‘dijaga’ arca Singa, para pelaku ritual mengheningkan cipta dan memanjatkan doa menurut agama dan keyakinan spiritual masing-masing dan ‘nyekar’ (menaburkan bunga mawar) serta menyapu dengan sapu lidi yang bermakna membersihkan candi. Ritual ini bermakna untuk memberikan penghormatan dan mebersihkan candi. Acara ini dimulai dari gerbang candi di sisi timur, kemudian ke sisi selatan, dilanjutkan di sisi barat dan terakhir di gerbang naik candi di sisi utara. Selesai ritual di ‘keblat papat’ tersebut, dilanjutkan ritual di puncak candi di bawah Stupa Induk, sebagai ‘pancer’. Di teras tingkat Arupadhatu ini, para pelaku ritual juga memanjatkan doa, penghormatan dan menyapu untuk membersihkan bagian bawah stupa induk. Acara ini ternyata juga menarik perhatian para wisatawan yang sedang berkunjung ke Candi Borobudur dan melihat acara ritual tersebut. Para wisatawan tidak melewatkan ‘event’ khusus ini dengan ‘jeprat-jepret’ memotret acara ini. Malam harinya, di ‘Warung Info Jagad Cleguk’, digelar sarasehan yang mengupas masalah, bagaimana agar Candi Borobudur sebagai objek wisata budaya bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar candi. Karena dalam kenyataannya keberadaan candi ini belum bisa memberikan kemakmuran dan kesejahtaraan kepada rakyat Borobudur. Masih banyak warga miskin di desa-desa wilayah Kecamatan Borobudur. Sarasehan ini disamping diikuti para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh budayawan dan seniman, serta Lembaga Swadaya Masyarakat, juga dihadiri para pejabat yang terkait dengan pengelolaan candi, PT Taman Wisata Borobudur dan Balai Konservasi

72

Jantung Hati Borobudur

Peninggalan Borobudur. Juga hadir Camat Borobudur, dan dosen dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sarasehan ini dimeriahkan dengan pergelaran kesenian rakyat ‘Slawatan Jawa’ dari dusun Ngaglik desa Sambeng.***

Ritual Pasar Ngumandhang Upaya menghidupkan Pasar Desa Tegalarum, Borobudur
Di tengah semakin maraknya pembangunan pusatpusat perbelanjaan dan toko-toko serba ada yang modern, kini banyak pasar desa yang terpuruk. Karena tempat perdagangan yang bernuansa tradisional itu sepi pembeli. Sekarang ini banyak pasar desa yang ‘ilang kumandhange’. Seperti yang sudah diprediksi pujangga kondang Raja Kediri, Prabu Jayabaya dalam ‘ramalan’ Jangka Jayabaya. Pasar desa yang sederhana, secara tradisional bukan hanya sebagai tempat jual-beli. Namun pasar juga sebagai tempat interaksi dan wadah komunikasi warga masyarakat yang lebih mengedepankan rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Jual-beli hanyalah sebagai bagian dari interaksi antar warga. Sehingga dalam jual-beli itu mereka tidak semata-mata mencari keuntungan. Di tengah kehidupan masyarakat Jawa ada pepatah, ‘tuna satak, bathi sanak’. Ini artinya, mereka rela sedikit merugi dalam jual-beli, namun yang penting bisa bertambah saudara. Dalam upaya untuk menghidupkan pasar desa, masyarakat dusun Susukan desa Tegalarum Kecamatan Borobudur, Magelang, menggelar acara ‘Ritual Pasar Ngumandhang’, pada hari Minggu Pon, tanggal 24 Sapar 1944 Be, atau 30 Januari 2011 yang lalu. Acara khusus ini diselenggarakan oleh masyarakat dusun Susukan bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat ‘Warung Info Jagad Cleguk’ Borobudur, yang didukung sejumlah paranormal. Prosesi ritual Pasar Ngumandhang diawali dari halaman

rumah Amat Sudarsin di dusun Susukan menuju ke pasar desa sejauh lebih kurang setengah kilometer. Dalam prosesi yang diikuti para tokoh masyarakat dan pedagang pasar ini diusung ubarampe sedekah antara lain ingkung ayam, nasi tumpeng lengkap dengan lauknya, pisang raja, beras dan telur ayam, aneka jajan pasar, kendi berisi air dan air bunga mawar dalam stoples serta dua ekor anak ayam. Sampai di kompleks pasar desa, prosesi kirab yang dipimpin Kepala Dusun Susukan, Atmo Sudiyo, berjalan mengelilingi bangunan kios dan los pasar tiga kali. Di halaman pasar, pak Atmo memanjatkan doa permohonan kepada Allah SWT agar pasar desa ini bisa ramai kembali sebagai tempat mencari rejeki warganya. Usai berdoa, dia melepas dua ekor anak ayam yang diperebutkan warga. Suasana di halaman pasar menjadi bertambah semarak ketika masyarakat yang menghadiri acara ini beramai-ramai ‘berebut’ makanan ubarampe sedekah. Mengakhiri prosesi ritual ‘Pasar Ngumandhang,’ pak Atmo memercikkan air bunga mawar di bawah pohon beringin di halaman pasar. Acara ini dimeriahkan dengan pentas kesenian jatilan “Turangga Kridha Budaya” dari desa Mungkid. Menurut Sucoro, ketua Warung Info Jagad Cleguk, ritual Pasar Ngumandhang ini digelar bersamaan dengan acara Saparan dusun Susukan ini sebagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat di sekitarnya terhadap pasar desa Tegalarum. Ke depan diharapkan, pasar desa ini tidak sekedar menjual kebutuhan seharihari warga desa ini, tetapi bisa berkembang menjadi sebuah ‘pasar seni kerajinan’ yang menjual aneka jenis hasil kerajinan warga desa Tegalarum dan sekitarnya. Karena di desa ini dan desa tetangganya, Kebonsari, banyak perajin bambu dengan aneka jenis produk kerajinan cinderamata. Kepala Desa Tegalarum, Abdul Karim Suyono menjelaskan, ritual Pasar Ngumandhang ini dalam rangka untuk melestarikan tradisi Saparan Merti Desa. Acara ini merupakan ‘slametan’ seluruh warga desa guna memohon keselamatan dan kemurahan rejeki kepada Allah SWT. Desa Tegalarum adalah ‘gerbang

Jantung Hati Borobudur

73

pariwisata’ menuju ke objek wisata Candi Borobudur dari arah barat. Sehingga diharapkan, pasar di desanya ini bisa menjadi sebuah pasar seni kerajinan yang menyediakan cinderamata bagi wisatawan. Karena, di desa-desa sekitar Candi Borobudur banyak perajin cinderamata seperti kerajinan bambu, kaleng bekas, grabah yang selama ini dijual di kompleks taman wisata. Dia menambahkan, pasar desa Tegalarum tersebut dibangun pada tahun 2002 dengan dana dari P2MPD. Pasar ini menempati tanah bengkok seluas 1.500 m², dengan tiga los pasar dan 30 kios. Jumlah pedagang ada 60 orang yang berjualan sembako dan barangbarang kelontong kebutuhan sehari-hari. Setiap harinya pasar ini ramai pembeli hanya pada pagi hari antara pukul 06.00 sampai 10.00. Direncanakan, untuk pengembangan pasar desa ini akan dibangun kioskios dan los baru. Sehingga ‘angan-angan’ agar pasar desa ini bisa menjadi pasar seni kerajinan diharapkan dapat terwujud. Hal ini tidak lepas dari partisipasi warga masyarakat, dukungan dari pemerintah daerah dan para pelaku pariwisata.***

Miriombo. Tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Ki Sela Lukita, pengikut Ki Mangku Raga. Petilasanpetilasan tersebut oleh warga dusun Miriombo dipercaya sebagai tempat-tempat spiritual yang memiliki daya supranatural atau daya gaib dan di sini orang tidak boleh berbuat sembarangan. Kepercayaan adanya kekuatan supranatural tersebut, di Gunung Mongkrong ini banyak warga atau perorangan dari lain desa yang melakukan tirakat dan laku spiritual. Juga banyak para ‘calon pemimpin’ yang melakukan tirakat dan melaksanakan ‘laku spiritual’ di sini, yang dilanjutkan tirakat di Puncak Suralaya. Warga masyarakat dusun Miriombo Wetan desa Giripurna Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang setiap bulan Sapar melaksanakan acara ritual tradisional sedekah bumi untuk melestarikan budaya spiritual leluhur dan juga melestarikan lingkungan alam. Keadaan alam di desa Giripurna – yang letaknya di lereng utara Pegunungan Menoreh - masih banyak pepohonan besar seperti jati, sengon, sanakeling, aren, lamtoro, rumpun bambu, tegalan dan karangkitri serta semak belukar. Meski dusun ini lokasinya di lereng pegunungan yang tanahnya tandus dan batu kapur dan batu marmer, pada musim hujan tampak ijo royoroyo. Dusun ini dekat dengan puncak Suralaya, dan tidak jauh dari Borobudur, kira-kira 7 kilometer lewat jalan aspalan menanjak yang sebagian aspalnya sudah rusak.

Gunung Mongkrong dan Watu Adeg Petilasan cikal bakal dusun Miriombo Wetan, Giripurno, Borobudur
Gunung Mongkrong lokasinya di sebelah utara dusun Miriombo. Dari gunung ini bila memandang ke arah utara tampak candi Borobudur dan sekitarnya, juga tampak jelas Gunung Tidar dan wilayah kota Magelang. Di sebelah timur tampak gunung Merapi dan gunung Merbabu, dan gunung Sumbing tampak di sebelah barat laut. Menurut keyakinan warga dusun ini, gunung Mongkrong sebagai tempat Ki Mangku Raga, cikal bakal dusun Miriombo Wetan. Menurut cerita legenda masyarakat, Ki Mangku Raga wafat moksha di gunung ini, karena kesaktiannya. Dan tempat moksha Ki Mangku Raga sampai kini dianggap sebagai petilasan wingit oleh warga Miriombo Wetan. Watu Adeg lokasinya di sebelah selatan dusun

Sedekah di Gunung Mongkrong dan Watu Adeg,

Sedekah bumi merti dusun di sini telah dilakukan oleh para leluhurnya sejak bertahun-tahun yang lalu dengan nama “Sedhekah Gunung Mongkrong dan Watu Adeg”. Semula acara sedekah ini oleh warga masyarakat diselenggarakan dengan sederhana, seperlunya. Namun sejak tahun ini acaranya dilakukan lebih meriah, dengan menggelar berbagai kesenian rakyat yang merupakan potensi kesenian rakyat desa ini. Acara ritual tradisional “Sedekah Gunung Mongkrong dan Watu Adeg” diselenggarakan Selasa Wage, tanggal 26 Pebruari 2008 atau 18 Sapar 1941 Jimawal yang

74

Jantung Hati Borobudur

lalu. Acara tradisional ini diawali dengan berziarah ke makam para leluhur dusun dan melakukan acara ritual khusus di petilasan Gunung Mongkrong dan Watu Adeg. Selanjutnya, dengan dipimpin para sesepuh dusun dan sembilan orang paranormal yaitu mbah Notodihardjo, mbah Wiryoatmo, pak Hadi Suyitno, pak Pangat, pak Kamidjan, pak Ali, pak Djimin dan pak Kirdjiono, warga dusun melakukan ‘sesuci’ di Sendang Sabrang. Dan tidak ketinggalan warga memohon doa restu kepada sesepuh desa Giripurna, mbah Abdul Kahar yang berusia 109 tahun, agar pelaksanaan acara Saparan Merti Dusun ini bisa terlaksana dengan selamat tidak ada halangan. Pelaksanaan ritual ziarah di Gunung Mongkrong, para warga dusun duduk lesehan sambil membaca doa-doa permohonan kepada Gusti Allah SWT, sesuai dengan keyakinan agama dan kepercayaan masingmasing. Sedangkan para penghayat kepercayaan Kawruh Kejawen, melantunkan kidung dan membaca geguritan yang isinya menghaturkan terima kasih dan permohonan kepada Gusti Allah ‘Sing Akarya Jagad’ agar berkenan memberikan keselamatan, perlindungan dan kebahagiaan kepada warga dusun. Sebagai sarana, tidak ketinggalan para peziarah di gunung ini menyebar bunga sesaji tujuh macam dan membakar dupa. Setelah selesai berdoa, para peziarah mengambil ketupat yang telah disediakan oleh panitia Saparan. Warga di dusun ini percaya, ketupat yang dibagi-bagikan dalam acara ritual ini memiliki daya ghaib sebagai sarana untuk tolak balak.

Ritual di Tuk Sendang Sabrang diawali dengan bacaan ‘Kidung Urip Suci’ oleh tokoh kejawen, Ki Hadi Suyitno. Sedangkan yang membaca doa secara agama Islam, Ali Muchsin. Pak Kamidjan, tokoh kejawen ‘Urip Sejati’ di dusun ini mengambil air sendang yang dituangkan ke sebuah kendi. Menurut kepala desa Giripurna, Maryanto, mata air di sendang ini tidak pernah kering, meski kemarau panjang. Mataairnya muncul di bawah pohon sanakeling yang umurnya sudah ratusan tahun dan diameter batangnya sekitar dua meter lebih. Mataair ini menjadi sumber air utama bagi warga dusun, baik untuk mandi, mencuci ataupun air minum. Oleh masyarakat dusun Miriombo Wetan di sumber air ini sudah dibangun bak permanen dari semen. Di mata air ini, konon ada yang ‘mbaureksa’ bernama Kyai Sumber. Mataair yang terletak di pinggir jalan desa ini dianggap ‘wingit’ oleh warga dusun. Dalam kirab yang mengusung sesaji, kursi kencana dan air dari tuk Sabrang ini, sebagai ‘cucuk lampah’ para sesepuh dusun dan tokoh paranormal. Disusul perawan-perawan dusun yang membawa kendi dan bunga sesaji. Di belakangnya para pengusung sesaji ‘wulu wetu’ dan kursi kencana. Kirab ini juga diiringi kelompok-kelompok kesenian rakyat seperti jathilan bocah, kesenian rebana, laras madya pitutur, lengger, angguk dan jaran kepang. Arak-arakan kirab berakhir di rumah kepala dusun. Di sini diselenggarakan acara kenduri dan ‘walimahan’ yang dihadiri seluruh warga dusun. Dengan acara ini diharapkan bisa lebih mengakrabkan persaudaraan dan gotong royong di antara warga dusun.

Kirab sesaji dan kursi kencana,

Acara kirab sesaji merti dusun dan “kursi kencana” diawali dari Tuk Sendang Sabrang. Sesaji yang diusung dalam kirab ini berupa segala macam hasil bumi desa ini ditambah jajan pasar dan nasi tumpeng lengkap dengan lauknya. Sedangkan “kursi kencana” sebagai perwujudan tempat duduk yang ‘mbaureksa’ atau cikal bakal dusun Miriombo Wetan. Kursi ini sebagai perlambang yang harus dilestarikan supaya selalu ingat kepada para leluhur desa ini. Kursi yang diusung dalam kirab seperti tandu ini ditutup mori putih dan di setiap sudutnya dipajang daun talas.

Bekas ajang Perang Dipanegara

Di kawasan pegunungan Menoreh banyak petilasan Perang Dipanegara, karena daerah ini dahulu menjadi ajang perang. Demikian pula dusun Miriombo Wetan ini, yang letaknya tidak jauh dari Pos Mati dan Sendang Suruh di desa Giritengah, juga dekat dengan Guwa Lawa di desa Ngargoretno. Menurut ceritera tokoh

Jantung Hati Borobudur

75

masyarakat di sini, ketika para prajurit Pangeran Dipanegara melakukan perang gerilya melawan penjajah Belanda, dusun ini juga menjadi tempat istirahat. Perjalanan P. Dipanegara dari Guwa Selarong ke daerah Magelang, melewati lereng Pegunungan Menoreh. Sehingga di daerah ini banyak petilasanpetilasan yang terkait dengan Perang Dipanegara. Sedangkan tempat petilasan yang kini sebagai ‘monumen’ spiritual adalah Langgar Agung Pangeran Dipanegara di desa Menoreh Kecamatan Salaman. Sucoro, ketua “Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Borobudur”, yang juga memimpin “Warung Info Jagad Cleguk dan mendukung acara ini menjelaskan, segala sesuatu yang pernah dilakukan oleh para leluhur bukanlah hal yang jelek, asalkan kita bisa menyaring dan memaknainya. Adanya ‘kearifan lokal’ yang masih hidup di tengah masyarakat perlu dibongkar lagi sebagai upaya untuk mengetahui maknanya. Segala tradisi yang dilakukan dan diwariskan oleh para leluhur kepada generasi sekarang, kita harus bisa menyaring maknanya. Tugas merti dusun ini sebagai upaya agar alam dan isinya tetap lestari. Sehingga bencana alam yang sering terjadi, khususnya bencana alam karena dari perilaku manusia seperti banjir dan tanah longsor. Terkait dengan upaya pengembangan kepariwisataan daerah, dengan menggali dan nguri-uri acara ritual tradisional seperti ini, diharapkan acara ritual ‘Sedekah Gunung Mongkrong dan Watu Adeg” ini bisa menambah objek wisata budaya di kawasan sekitar Candi Borobudur. Sehingga para wisatawan berkunjung ke Candi Borobudur tidak hanya melihat candi, tetapi juga bisa melihat budaya dan tradisi masyarakat serta kesenian rakyat yang banyak dijumpai di desa-desa sekitar Candi Borobudur.***

Magelang berada di kaki Pegunungan Menoreh. Dari Candi Borobudur desa ini kira-kira berjarak 3 kilometer kea rah barat. Desa ini kaya potensi yang bisa digali dan dikembangkan menjadi objek pariwisata. Disamping panorama alam pegunungan yang indah, dari desa ini juga bisa dinikmati keindahan Candi Borobudur yang tampak di kejauhan dengan latar belakang gunung Merapi. Memandang kea rah selatan dari desa ini tampak jelas puncak Suralaya di Pegunungan Menoreh. Di desa Ngadiharjo ada petilasan dan makam para sesepuh desa yang dulu membuka hutan Pegunungan Menoreh menjadi desa-desa yang subur makmur sampai sekarang. Sesepuh desa itu seperti Eyang Carik Saji dan Kyai Abdul Karim. Pada masa Perang Dipanegara, desa ini juga menjadi ajang peperangan, sehingga di sini ada petilasan yang disebut Pos Mati dan Kedhok. Menurut ceritera mBah Bejo, 62 tahun, salah seorang sesepuh dusun Saji, tempat tersebut dulu pernah menjadi peristirahatan Pangeran Dipanegara ketika memimpin perang melawan serdadu Belanda. Dalam pertempuran itu banyak korban yang mati dan dimakamkan di dusun ini, sehingga di dusun ini ada tempat dengan nama ‘Pos Mati’ dan Kedhok. Di sini dulu sebagai tempat para penggali makam atau tukang kedhuk makam, sehingga dusunnya disebut Kedhok sampai sekarang. mBah Bejo juga menuturkan, di dusunnya ada sebuah sendang yang kini disebut ‘Sendhang Pakis Aji,’ sebab dulu di dekat sendang ini ada pohon pakis yang besar. Sendang ini airnya tak pernah kering meski kemarau panjang, dan menjadi sumber air bagi warga dusun ini. Nama sendang ‘Pakis Aji’, singkat kata menjadi ‘Saji’ yang akhirnya menjadi nama dusun ini. Warga dusun ini sejak dahulu sampai sekarang selalu berupaya agar sendang ini airnya tetap mengalir, dengan melestarikan pepohonan yang ada di sekitarnya. Bahkan ada sementara warga di dusun ini menganggap sendang ini ‘wingit.’ Sendang lainnya adalah ‘Sendang Kali Gayam’ yang berada di dusun Sedhengan. Sendang kecil di bawah

‘Sedekah Gunung Menoreh’ di Ngadiharjo, Borobudur Masyarakat bangkit menggali dan mengembangkan potensi pariwisata
DESA Ngadiharjo di Kecamatan Borobudur Kabupaten

76

Jantung Hati Borobudur

pohon gayam ini juga masih ‘sinengker’ oleh warga dusun. Sendang ini menjadi tempat warga mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari. Acara ritual ‘Sedekah Gunung Menoreh’ yang baru pertama kali diselenggarakan warga desa Ngadiharjo, dilaksanakan Minggu Wage tanggal 22 Nopember 2009 yang lalu. Rangkaian acara ritual diawali dengan mensucikan diri di Sendang Pakis Aji, dusun Saji yang dipimpin mBah Bejo. Selanjutnya para sesepuh desa menuju ke rumah Kyai Ali Asyari untuk mohon doa restu agar pelaksanaan ritual Sedekah Gunung Menoreh bisa berjalan dengan selamat dan lancar. Dari dusun Saji prosesi ritual yang mengusung sesaji Gunungan hasil bumi seperti palawija, pala kependhem, bahan sayuran, pisang, dan tumpeng lengkap dengan lauknya dan jajan pasar. Perjalanan kirab sesaji diikuti warga masyarakat dan kesenian rakyat yang menambah semarak suasana kirab. Di setiap perempatan atau pertigaan jalan masuk dusun kirab sesaji dijemput para sesepuh dusun yang juga membawa tumpeng sedekah dan bergabung ikut kirab. Sampai di dusun Sedengan, sesepuh dusun melakukan ritual di Sendang Kali Gayam. Di sini para sesepuh dusun mencuci muka untuk ‘sesuci dhiri,’ dan berdoa kepada Allah SWT dengan permohonan supaya dusun dan desane selalu mendapat perlindungan, keselamatan dan kemakmuran. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu kilometer, prosesi kirab sesaji sampai di Balai Desa. Sebelum memasuki tempat ‘walimahan’ Sedekah Gunung Menoreh, sesepuh desa mBah Bejo menggunting pita sebagai tanda membuka jalan menuju ke balai desa. Di sepanjang tepian jalan menuju ke balai desa digelar pameran dan peragaan kerajinan yang ada di desa ini, seperti kerajinan anyaman bambu, anyaman pandan, kerajinan ukir bambu, kerajinan mebel bambu, kerajinan membuat parut. Di halaman balai desa digelar potensi wisata kuliner yang menyajikan berbagai macam minuman seperti ‘wedang sumelak’,

wedang jahe, wedang serbat dan makanan khas desa seperti tumpeng thiwul dan aneka makanan dari ketela pohon. Acara Sedekah Gunung Menoreh yang menjadi ajang kiprah masyarakat desa Ngadiharjo dalam upaya menggali dan mengembangkan potensi desa, dilanjutkan dengan walimahan dengan acara sarasehan warga desa untuk membahas berbagai macam masalah terkait dengan pembangunan desa, khususnya upaya mengembangkan potensi wisata di desa ini. Sarasehan dibuka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah yang diwakili Kepala Bidang Kesejarahan dan Kepurbakalaan, Drs. Suhardi, S.Sos, M.Pd., ditandai pemotongan tumpeng. Acara ini dihadiri pejabat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang yang diwakili Kepala Bidang Sejarah, Museum, Kepurbakalaan dan Perfilman, Drs. Djoni Susmiyanto, M.Pd., Suryatono, SE dari Komisi B DPRD Kabupaten Magelang, Muspika Kecamatan Borobudur dan undangan lainnya. Dalam sambutannya Drs. Suhardi S.Sos. M.Pd., mengharapkan supaya acara Sedekah Gunung Menoreh ini bisa ditingkatkan lagi sehingga bisa menjadi sarana untuk promosi dan pemasaran pariwisata. Dengan demikian diharapkan bisa lebih banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Di Jawa Tengah masih banyak kebudayaan daerah yang belum digarap dengan baik agar bisa menjadi objek wisata. Untuk itu perlu didukung warga masyarakat. Ternyata dengan menggelar Sedekah Gunung Menoreh ini warga masyarakat desa ini bisa bangkit bersatu untuk melestarikan dan mengembangkan budaya adiluhung guna mewujudkan desa ini menjadi salah satu desa wisata di kawasan Borobudur. Kepala Desa Ngadiharjo, NA Amin, SH menjelaskan, di desanya yang terletak di lereng Pegunungan Menoreh memiliki potensi wisata alam dan wisata budaya, dan potensi kerajinan rakyat, serta agrowisata. Bila potensipotensi tersebut bisa digali dan dikembangkan diharapkan bisa meningkatkan kemakmuran rakyat.

Jantung Hati Borobudur

77

Ketua Panitia, Aris Ubaya menambahkan, penyelenggaraan acara Sedekah Gunung Menoreh dilaksanakan secara gotong royong warga masyarakat yang didukung Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Borobudur“Warung Info Jagad Cleguk”dan para peserta Sekolah Lapangan Kawasan Borobudur “Ngudi Kawruh”. Untuk biayanya hasil gotong masyarakat desa Ngadiharjo dan dibantu beberapa instansi. Kegiatan ini juga sebagai sarana untuk pelestarian alam di lereng Pegunungan Menoreh. Suasana Sedekah Gunung Menoreh dan walimahan warga desa tampak meriah. Di halaman balai desa yang relatif sempit digelar kesenian rakyat Topeng Ireng dan Jathilan Campur. Para penonton tumpah ruah memenuhi tepian halaman. Acara diakhiri dengan berebut sesaji sedekah dan mengepung tumpeng.***

Bagi warga dusun Gleyoran, luapan lahar Merapi yang banyak membawa material vulkanis berupa batu dan pasir dipandangnya sebagai berkah dan rejeki yang dilimpahkan Allah SWT. Kini disepanjang tepian sungai Progo di dusun Gleyoran batu dan pasir melimpah ruah. Batu-batu besar dan kecil banyak menumpuk di sepanjang tepian sungai. Bahkan kedungnya, yang oleh warga setempat disebut ‘Kedung Winong’, kini telah hilang karena mendangkalnya sungai ini. Kini, sungai Progo sudah ‘ilang kedhunge’, seperti disebutkan dalam Ramalan Jangka Jayabaya. Sedekah Kedung Winong di dusun Gleyoran, yang hanya berjarak 5 kilometer dari Borobudur, digelar setiap tahun sejak jaman nenek moyang warga dusun ini. Tahun ini ritual sedekah diselenggarakan pada hari Senin Legi, tanggal 14 Maret 2011. Pelaksanaan ritual tradisional tersebut tahun ini sangat sederhana tidak semeriah tahun lalu. Acara ini didukung paguyuban masyarakat pecinta seni dan budaya di Borobudur, LSM ‘Warung Info Jagad Cleguk’. Acara ritual tradisional yang bernuansa animistis-dinamistis ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rejeki bagi warga dusun ini dengan tersedianya batu-batu kali yang melimpah ruah di Kedung Winong sungai Progo. Disamping sebagai upaya untuk pelestarian alam dan lingkungannya. Puluhan pencari dan pemecah batu, baik laki-laki maupun perempuan, menyatu dalam acara ritual sedekah ini. Sesaji yang terdiri dari nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, jajan pasar dan sesaji larungan diusung dari dusun Gleyoran menuju ke Kedung Winong di sungai Progo sejauh kira-kira setengah kilometer. Prosesi sesaji ini yang dipimpin Pak Subandi dengan diiringi tetabuhan kesenian Selawatan Jawa. Di pinggir sungai Progo, Subandi membacakan doa permohonan keselamatan dan perlindungan secara agama Islam kepada Allah SWT. Sebelum berdoa, Subandi menaburkan bunga mawar di lokasi ritual. Para peserta ritual yang berdiri memadati pinggiran sungai mengikuti acara ini dengan khidmad. Trimo,

Sedekah Kedung Winong di Sungai Progo Upaya Pelestarian Alam dan Ungkapan rasa syukur Pencari Batu
Sungai Progo merupakan lahan mata pencaharian utama bagi warga masyarakat dusun Gleyoran, desa Sambeng Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dari sungai inilah sebagian besar warga desa ini mendapatkan rejeki dengan mencari batu yang melimpah ruah di sepanjang alirannya. Batu dari gunung Sumbing yang terhanyut di sungai Progo ini teksturnya relatif lebih padat dan keras, sehingga banyak dicari pembeli, khususnya para pemborong bangunan untuk pengerasan jalan. Batu dari sungai Progo lebih baik kualitasnya dibandingkan batu dari sungai-sungai yang berhulu di lereng Merapi. Sungai Progo di daerah ini merupakan muara sungaisungai yang berhulu di gunung Merapi seperti sungai Pabelan dan sungai Putih. Setelah erupsi Merapi tahun 2010 yang lalu, sungai Progo menjadi tempat tumpahan batu dan pasir lahar Merapi dengan jumlah yang cukup besar sehingga mendangkalkan sungai ini. Disamping itu, luapan laharnya juga melongsorkan tebing-tebing sungai Progo di beberapa tempat.

78

Jantung Hati Borobudur

salah seorang warga dusun pelaku ritual, membawa sesaji larungan ke tengah sungai untuk dilarung. Selesai ritual ‘larungan’, tumpeng sedekah dan jajan pasar diusung kembali ke tempat acara di dusun Gleyoran. Di rumah Pak Trimo, digelar sarasehan budaya dengan pokok bahasan, bagaimana mengembangkan kepariwisataan di wilayah sekitar Borobudur, khususnya di dusun Gleyoran desa Sambeng. Sarasehan ini dihadiri Camat Borobudur, Ary Widhi Nugroho S.Sos, Pjs. Kepala Desa Sambeng, Akhid Nafiudin dan undangan lainnya. Sarasehan yang diikuti warga dusun ini juga dihadiri Prof. DR. Baekuni, MA dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada Yogyakarta beserta beberapa mahasiswa Strata 3 dan Tim Peneliti Pariwisata. Mereka juga menyaksikan dan mendokumentasikan rangkaian kegiatan ritual tradisional Sedekah Kedung Winong ini. Menurut Ketua LSM ‘Warung Info Jagad Cleguk, Borobudur’, Sucoro, yang memandu sarasehan ini, acara ritual Sedekah Kedung Winong sebagai penghormatan terhadap alam dan lingkungannya. Disamping itu, juga sebagai sarana berkumpul warga dusun Gleyoran untuk bersama-sama memaknai alam sebagai pemberi rejeki dari Allah SWT. Dusun ini jumlah warganya 89 kepala keluarga, sebagian besar bermatapencaharian sebagai pencari, pengumpul dan pemecah batu. Pekerjaan tersebut merupakan tumpuan kehidupan warga dusun. Karena di dusun yang terletak di kaki Pegunungan Menoreh dan di lembah sungai Progo ini, tidak ada sawah. Adanya hanya karangkitri dengan hasil yang kurang mencukupi untuk menopang kehidupan masyarakat di sini. Prof. DR. Baekuni MA mengatakan, ritual tradisional Sedekah Kedung Winong ini sebagai bukti kebudayaan masyarakat di sini dekat dengan alam dan ada hubungan vertikal antara manusia sebagai makhluk dengan Sang Chalik. Bagi wisatawan manca negara, ritual ini bisa menarik. Karena di Barat banyak orang mencari kerinduan dengan alam untuk menemukan kembali kehidupan batinnya. Sehingga acara ritual ini bisa dikembangkan menjadi salah satu daya tarik

wisatawan sebagai objek wisata budaya spiritual. Salah seorang generasi muda dusun Gleyoran, Drajat, mengungkapkan, ritual Sedekah Kedung Winong sudah ada sejak jaman dahulu kala. Ini merupakan warisan budaya spiritual yang perlu dilestarikan, karena sebagai bentuk rasa syukur. Karena bagi warga dusun ini, sungai Progo telah memberikan rejeki berupa batu, pasir dan ikan. Konon, ritual sedekah ini sudah ada sejak jaman Wali Sanga menyebarkan agama Islam di daerah ini. Meski ada pro dan kontra terhadap tradisi ritual ini, Sedekah Kedung Winong diharapkan dapat dilestarikan sehingga tidak hilang ditelan jaman. Peserta sarasehan lainnya, Edi, warga Borobudur, menengarai di wilayah Borobudur memang ada adat istiadat dan tradisi masyarakat yang kontradiksi dengan religi. Ini perlu ada titik temu yang bersifat universal sehingga dapat selaras dengan pariwisata di kawasan Borobudur dan sekitarnya. Terkait dengan masalah ini, Maryono dari Borobudur mengharapkan, untuk acaraacara ritual seperti ini bisa diambil positifnya. Sedekah akan mendapatkan pahala, dan acara tersebut sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. Sehingga tradisi-tradisi masyarakat seperti itu perlu dilestarikan. Camat Borobudur, Ary Widhi Nugroho, S.Sos, menekankan, yang penting bagi warga dusun Gleyoran adalah, bagaimana bisa mengemas acara ritual tradisional Sedekah Kedung Winong ini menjadi objek wisata yang berdaya tarik. Untuk dapat mewujudkan harapan tersebut, perlu dikaji seluruh potensi dusun dan desa guna menyusun perencanaan pembangunan dari bawah yang melibatkan seluruh warga masyarakat.***

Sedekah Kali Sibenda di Kebonsari, Borobudur Melestarikan sumber air agar tetap mengalir
UPAYA melestarikan tradisi peninggalan leluhur di desa Kebonsari Kecamatan Borobudur, Magelang, yang kini hampir musnah, berhasil digali dan diselenggarakan lagi oleh warga masyarakat setempat. Acara ritual

Jantung Hati Borobudur

79

80

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

81

“Sedekah Kali Sibenda” di desa ini sudah dilaksanakan oleh para leluhur mereka sejak puluhan tahun yang lalu. Ritual sedekah ini sebagai ungkapan rasa terima kasih dan memanjatkan doa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rejeki dengan hasil pertanian yang sempulur dan hewan ternak berkembang biak, serta makmur. Semua itu karena air tercukupi dengan mataair yang selalu mengalir. Ritual ini juga mengingatkan warga masyarakat desa supaya selalu memelihara alam dan lingkungannya. Karena sekarang ini alam sudah banyak yang rusak akibat ulah manusia. Kerusakan alam itu mengakibatkan berbagai bencana yang mengancam dan membahayakan bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Desa di kaki Pegunungan Menoreh ini jaraknya sekitar 3 kilometer di sebelah barat candi Borobudur. Sebagian besar warganya hidup bertani dan menekuni seni kerajinan bambu. Di desa ini kesenian rakyat masih dilestarikan dan dikembangkan untuk mendukung perkembangan pariwisata di daerah sekitar Borobudur. “Sedekah Kali Sibenda” yang diselenggarakan belum lama ini, diawali dengan prosesi ritual dari dusun Gupit menuju ke sebuah sendang di mata air sungai Sibenda. Prosesi ini mengarak ubarampe sesaji menuju sendang sejauh satu kilometer, melewati jalan desa. Sesaji yang diarak berwujud stupa yang terbentuk dari berbagai hasil kerajinan bambu seperti kalung dan gelang dari rangkaian bambu gendani yang tertata indah, dan aneka macam hasil bumi desa ini. Prosesi ini dipimpin Abdul Wakir, warga desa Kebonsari, yang membawa sebuah kendil berisi bunga mawar dan ubarampe ritual lainnya, diikuti warga masyarakat dan kelompok kesenian rakyat. Setibanya di dekat sendang dan mataair kali Sibenda, kirab sesaji dijemput kelompok peserta ritual dan seniman. Kelompok ini dipimpin Ki Ipang, dari Paguyuban Masyarakat Pecinta Seni dan Budaya Magelang. Di sini Ki Ipang menerima kendil yang berisi bunga sesaji dari Abdul Wakir, kemudian menuju ke sendang untuk melaksanakan ritual. Di sendang

ini dia berendam setengah badan dan mengambil air dimasukkan ke kendil serta menyebar bunga mawar merah dan putih. Setelah memanjatkan doa, kendil berisi air itu diarak kembali ke tempat acara di dusun Gupit. Semua itu mengandung makna, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih serta permohonan agar warga desa ini selalu diberi perlindungan dan ketenteraman oleh Allah SWT. Diharapkan pula agar lingkungan alam di sekitar mata air Sibenda tetap lestari. Kepala desa Kebonsari, Aryoto menjelaskan, desanya kaya potensi budaya lokal dan kerajinan rakyat. Dengan menyelenggarakan acara ritual “Sedekah Kali Sibenda” ini diharapkan bisa melestarikan dan mengembangkan kesenian rakyat dan budaya lokal. Disamping untuk memperkenalkan potensi-potensi desa yang bisa mendukung pengembangan kepariwisataan di daerah Borobudur. Karena desa ini merupakan sentra kerajinan bambu dengan hasil produksinya beraneka macam cinderamata yang banyak dijual di objek wisata Candi Borobudur. Di desa ini juga ada makam Eyang Gupita, cikal bakal dusun Gupit, yang menurut legenda rakyat di sini sebagai salah seorang prajurit P. Dipanegara. Makam ini bisa menjadi objek wisata ziarah, dalam mengenang dan menghormati para pejuang lasykar P. Dipanegara. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Drs. H. Wibowo Setyo Utomo, M.Si., yang hadir pada acara ini mengatakan, acara budaya yang digelar dengan biaya swadaya di desa Kebonsari ini berarti desa ini telah ikut melestarikan seni dan adat tradisi masyarakat. Dengan demikian diharapkan ikut mendukung pengembangan objek wisata Candi Borobudur. Sucoro, ketua Lembaga Swadaya Masarakat “Warung Info Jagad Jleguk,” Borobudur, yang ikut mendukung penyelenggaraan acara ritual ini menjelaskan, dengan menyelenggarakan acara ini diharapkan bisa menggali kembali kearifan lokal seperti adat tradisi masyarakat, kesenian dan juga menjunjung pelajaran moral peninggalan para leluhur, yang bisa diwariskan

82

Jantung Hati Borobudur

kepada generasi muda. Sehingga desa ini diharapkan bisa mendukung Borobudur sebagai obek wisata internasional. Dia menambahkan, acara gelar kesenian dan ritual tradisional ini diselenggarakan dalam rangkaian memperingati ulang tahun ke VI ‘Warung Info Jagad Cleguk’, salah satu lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap pelestarian dan pengembangan kesenian rakyat dan budaya masyarakat, khususnya di wilayah Borobudur. Sucoro prihatin, para seniman di daerah Borobudur belum merasakan manisnya rejeki dari ‘Warisan Budaya’ candi Borobudur yang terkenal itu. Ibaratnya, seperti ‘anak ayam mati di lumbung padi’. Dia menjelaskan, ada sementara kelompok kesenian rakyat yang gamelan saja tidak punya. Demikian juga ‘kostum’ atau irah-irahan, kondisinya banyak yang memprihatinkan. Apa yang dirasakan para seniman di daerah Borobudur ini sebagai pendorong bagi LSM ‘Warung Info Jagad Cleguk,’ bagaimana caranya supaya kesenian rakyat di sini nantinya bisa dadi ‘obyek wisata budaya’ dengan mementaskan pagelaran kesenian dan menjual cinderamata kepada para wisatawan. Pergelaran itu bisa di kompleks objek wisata Candi Borobudur atau pun di desanya masing-masing. Para wisatawan lah yang berkunjung ke pedesaan sambil menikmati panorama alam dan kehidupan masyarakat pedesaan yang menarik bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Acara Sedekah Kali Sibenda ini juga dimeriahkan dengan pagelaran berbagai macam kesenian rakyat seperti topeng ireng dari desa Kebonsari dan desa-desa lainnya seperti dari Salaman dan Sawangan. Pagelaran kesenian yang meriah dengan gerak tari yang dinamis ini, cukup menarik dan bisa menghibur para tamu undangan dan warga masyarakat desa ini. ***

dahulu kala merupakan salah satu desa di kaki Pegunungan Menoreh yang subur makmur dan gemah ripah lohjinawi. Namun kini desa itu keadaan alamnya sudah berubah. Pada musim kemarau panjang desa ini kekurangan air. Sungai-sungainya mengering, pepohonan banyak yang meranggas, tumbuhtumbuhan di tegalan dan pekarangan banyak yang kering, sehingga para petani hasil panennya banyak berkurang. Warga desa ini kini sudah jarang yang memelihara ternak karena sulitnya pakan pada musim kemarau. Di desa ini ada beberapa bukit (punthuk - Jw), yang dulu bisa menyimpan air. Kini hutannya sudah jarang pepohonan karena berubah menjadi tanah-tanah tegalan. Akibatnya air tidak bisa disimpan di bukitbukit itu. Mata air dan sendhang di sini kini sudah hilang. Di desa ini ada Punthuk Cething, Punthuk Cemuris dan Punthuk Setumbu yang semuanya oleh warga masyarakat desa ini dipercaya sebagai tempattempat wingit dan memiliki cerita-cerita legenda. Menurut penuturan Pak Timbul dan Pak Mardi, warga desa Karangrejo yang masih melestarikan ceriteraceritera para simbah leluhur mereka, di Punthuk Cemuris dahulu tempat ‘ayam jago intan berlian’ dengan sangkar emas. Punthuk Setumbu merupakan rumah gandhok dan di Punthuk Cething dulu tempat untuk menyimpan dulang mas. Di sini juga ada Sendang Widodaren, dan Pohon Asam Lima yang umurnya lebih dari 175 tahun. Konon, rasa buah pohon asam ini khas, berbeda dengan rasa asam pada umumnya. Pada masa silam, di Punthuk Setumbu setiap Senin Legi atau Senin Wage para peternak di desa ini menggembala bersama. Mereka menggiring kambing, sapi dan kerbau naik ke puncak bukit Setumbu. Setiap gembala membawa bekal ketupat dan lauknya. Untuk meringankan beban bawaan mereka, ketupat-ketupat itu ada yang dikalungkan di hewan ternaknya. Di Punthuk Setumbu setelah para gembala itu merasa

Sedekah Bumi Puntuk Setumbu Melestarikan tradisi, menggali potensi
DESA Karangrejo Kecamatan Borobudur, Magelang,

Jantung Hati Borobudur

83

lelah, lapar dan haus, mereka istirahat bersama sambil menikmati bekal ketupat dan lauknya. Sebagian ketupat ada yang dipendam di punthuk itu, sebagai simbol sedekah dengan permohonan supaya semua ternaknya selalu diberi keselamatan, sehat dan cepat berkembang biak. Ceritera legenda di Punthuk Cemuris lain lagi. Dulu ketika sisi timur punthuk itu longsor, ada sebuah berlian yang muncul dan tampak berkilauan indah warnanya. Kemudian ada seorang warga desa yang “melik” (ingin memiliki) berlian itu. Kemudian dia mengambil berlian itu. Ketika tiba di rumah berlian itu hilang musna, yang ternyata kembali lagi ke tempat semula. Oleh yang mbaureksa punthuk orang itu dipesan, agar jangan lagi mengambil berlian itu dan ‘yang mbaureksa’ punthuk itu menggantinya dengan makanan wajik. Wajik itu dibawanya pulang dan dimakan bersama isteri dan anaknya. Ceritera-ceritera yang bersifat mistis legendaris yang terkait dengan bukit-bukit itu sampai kini masih dipercaya beberapa warga desa. Warga masyarakat sekitar Punthuk Setumbu masih sering mendengar suara gamelan wayangan semalam suntuk yang berasal dari puncak bukit itu. Namun, ketika ada warga desa yang melacak sumber suara gamelan itu sampai ke puncak bukit, ternyata di sana tidak ada apa-apa. Ceritera lainnya, pada malam Jum’at Kliwon di bulan Sura masih sering terdengar suara ‘sawangan’ merpati yang mendesing berputar-putar di atas desa dan punthuk Setumbu. Suara itu berhenti di puncak bukit itu. Menurut ceritanya, Simbah Citraleksana (almarhum) sesepuh yang kini mbaureksa desa ini mempunyai klangenan memelihara merpati. Konon, dahulu merpati peliharaannya itu sering untuk tomprang (balap merpati). Adu balap merpati itu antara sesepuh Punthuk Setumbu dan sesepuh Puncak Suralaya. Dalam tomprang itu merpati-merpati dilepas di kawasan Gunung Merapi.

Ritual Sedekah Bumi Puntuk Setumbu, Acara ritual “Sedekah Bumi Puntuk Setumbu” pada jaman dahulu biasa dilaksanakan pada Mangsa Kapat oleh para penggembala di desa Karangrejo. Namun sudah beberapa puluh tahun terakhir ini ritual itu tidak pernah diselenggarakan warga masyarakat Karangrejo. Ini karena adanya perubahan jaman, atau karena sudah jarang warga yang memelihara ternak. Untuk melestarikan acara ritual tradisional “sesaji kupat” di Punthuk Setumbu, dengan dorongan dan dukungan LSM ‘Warung Info Jagad Cleguk’ Borobudur ketika tahun 2006 yang lalu tradisi itu kembali digali dan diselenggarakan lagi. Sedekah Bumi Puntuk Setumbu kembali digelar oleh warga masyarakat desa Karangrejo pada hari Sabtu Kliwon tanggal 24 Oktober 2009 yang lalu. Acara ini diharapkan bisa diselenggarakan setiap tahun secara teratur, sehingga dapat menjadi event wisata budaya yang bisa menarik bagi wisatawan. Masyarakat desa ini bertekad untuk bangkit mengembangan desa agar bisa menjadi ‘Desa Wisata’ di daerah Borobudur dengan menggali, melestarikan tradisi dan mengembangkan potensi desa. Rangkaian acara ritual‘Sedekah Bumi Punthuk Setumbu’ diawali dengan sesuci diri siraman air bunga tujuh warna. Sesuci diri ‘pasangan’ yang menggambarkan keluarga masyarakat diperagakan Karsi dan Satiyah. Simbah Abdul Rasyid, modin dan sesepuh masyarakat desa Karangrejo yang usianya lebih dari 80 tahun menyirami pasangan warga tersebut. Ubarampe sesaji atau sedekah bumi yang diusung menuju ke puncak punthuk Setumbu berupa gunungan hasil bumi seperti sayuran, pala kependhem dan pala gumantung, nasi tumpeng, lilin, bunga macan kerah, air suci dalam kendi, uang receh, dan hewan ternak seperti kambing dan sapi juga mengikuti kirab. Kirab mengarak ubarampe sedekah itu tampak tertib dan khidmad. Perjalanan kirab diiringi kesenian tradisional dan kesenian rebana, yang menambah suasana menjadi bertambah meriah.

84

Jantung Hati Borobudur

Kirab berjalan menapaki jalan sempit naik menuju ke puncak punthuk Setumbu sejauh kira-kira 300 meter dari jalan desa. Di tikungan jalan desa, Simbah Abdul Rosyid memanjatkan doa permohonan kepad Allah SWT supaya desa dan warga masyarakatnya selalu diberi keselamatan. Tiba di puncak Puntuk Setumbu, acara ritual diawali dengan berdoa yang dipimpin Simbah Abdul Rosyid. Di tengah pelataran puncak Puntuk Setumbu ada gundukan tanah yang menjadi pusat ritual. Gundukan tanah yang ditebari bunga sesaji dan ketupat, disiram air kendi. Para gembala menuntun ternaknya yang berkalung ketupat. Sesepuh desa, Pak Tunggal membagikan ketupat kepada para pengunjung dan warga peserta ritual, meski tidak merata. Gunungan hasil bumi menjadi rebutan pengunjung. Dalam acara ini ‘pasangan’ Karsi dan Satiyah melepas burungburung merpati. Acara ritual ‘Sedekah Bumi Puntuk Setumbu’ dari tahun ke tahun tampak lebih meriah dibanding 2006. Di samping diselenggarakan acara ritual sedekah, juga dimeriahkan pagelaran kesenian tradisional wayang kulit, kesenian rakyat dari desa ini dan lain desa. Juga sajian berbagai jajanan ‘ndesa’ untuk menjamu para tamu. Gelar sedekah bumi Punthuk Setumbu kali ini mendapat perhatian dan dihadiri para pejabat dari instansi terkait seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah, serta PT Taman Wisata Candi Borobudur dan pihak-pihak lainnya, yang telah memberikan dukungan dana. Potensi wisata budaya dan wisata alam, Acara ritual tradisional ini merupakan salah satu potensi wisata budaya di kawasan sekitar Candi Borobudur yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Diharapkan, potensi pariwisata di desa ini bisa “dijual” kepada wisatawan. Disamping potensi budaya berupa acara tradisional dan kesenian rakyat seperti Jatilan

dan kesenian Islami ‘Subhanul Muslimin’, desa ini juga memiliki potensi alam dengan panorama yang indah. Dari puncak Puntuk Setumbu, menghadap ke arah timur bisa dilihat Candi Borobudur yang indah dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Di sebelah selatan tampak pedesaan dan persawahan dengan latar belakang Pegunungan Menoreh. Di punthuk Setumbu kini sudah ada ‘gardu pandang’ berukuran 4 m x 4 m yang dibangun warga masyarakat desa Karangrejo dengan biaya Rp 7 juta. Dari tempat ini banyak juru foto yang mengambil gambar keindahan alam Borobudur dan sekitarnya. Desa Karangrejo berjarak sekitar 2 kilometer di sebelah barat Candi Borobudur. Potensi kerajinan rakyat di desa ini adalah kerajinan ukir bambu, kerajinan grabah dan membuat gula jawa. Desa ini bisa menjadi “desa wisata” seperti halnya desa Candirejo dan desa Wanurejo, manakala potensi-potensi itu dikembangkan. Dengan menggelar acara budaya yang tumbuh dari kehendak warga desa Karangrejo ini membuktikan, masyarakatnya telah bangkit dan cancut taliwanda mengembangkan desanya agar bisa menjadi “desa wisata”, yang pada saatnya nanti bisa memakmurkan warganya. Lebih-lebih bila pemerintah bisa membantu dukungan dana.***

Laku Spiritual mencari ketenangan jiwa di Candi Borobudur, ‘Dialog dengan Lingkungan Alam’
Laku spiritual ‘Dialog dengan Lingkungan Alam’ Kanwa Adikusumah dan pengikutnya sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Kegiatan olah-jiwa ini untuk memperoleh kesenangan dan ketenangan jiwa. Mereka telah melakukannya di berbagai tempat di dunia, terutama di lokasi sekitar bangunan yang bermakna spiritual seperti candi-candi. Namun mereka juga bisa melakukannya di antara kemegahan gedung-

Jantung Hati Borobudur

85

gedung di tengah keramaian kota megapolitan, seperti New York atau kota-kota besar lainnya di Eropa. Kanwa Adikusumah, yang lebih akrab dipanggil Tony Kanwa, 51 tahun, adalah seorang seniman patung asal Bandung. Dia sejak sepuluh tahun yang lalu bermukim di Belgia. Sebagai seorang pematung, dia berkarya tidak hanya membuat patung, tetapi juga membangun ‘pilar’ atau tiang kehidupan jiwa yang menjadi esensi jiwa “Wong Jawa” yang berhati mulia. Pilar kehidupan jiwa yang berujung pada Sang Maha Pencipta bersifat abstrak. Namun bisa dirasakan keberadaannya dalam olah jiwa dengan laku spiritual berdialog dengan alam dan lingkungannya. Menurut Kanwa, bagi yang bisa mencapai ketenangan jiwa dalam dialog ini, akan mendapatkan rasa “adhem” (dingin) dan menyejukkan kehidupan jiwa dengan ‘pasrah sumarah’ kepada Sang Pencipta. Bersama isterinya, Bernadette van de Maele (yang juga sebagai ‘Reiki Master’ di negaranya, Belgia), Kanwa dan pengikutnya selama 6 hari melaksanakan kegiatan laku spiritual berdialog dengan lingkungan alam di berbagai tempat seperti di taman wisata Candi Prambanan dan di lokasi taman candi Ratu Boko. Di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur kegiatan mereka dilakukan pada hari Sabtu, 18 September 2010 yang lalu. Mereka berjumlah 28 orang yang berasal dari negeri Belgia, Belanda, Perancis dan Spanyol. Menurut Kanwa, semula yang akan mengikuti laku spiritual di Borobudur ini berjumlah 30 orang. Tetapi ketika akan berangkat ke Indonesia, ada 2 calon peserta yang sakit dan terpaksa tidak bisa ikut. Sehingga secara kebetulan, jumlah peserta laku spiritual ini ada 28 orang. Angka “28” ini, menurut penuturannya, terdiri dari angka 2 dan 8, yang bila dijumlah = 10. Angka sepuluh ini bermakna ‘nol’ atau dibaca “O” yang artinya kosong atau ‘suwung’. Siapa “O” itu? Inilah yang perlu dicari dan ditemukan dalam laku spiritual. Meski “O” ini belum ketemu, tetapi dapat dirasakan ‘keberadaannya’, karena Dia-lah Sang Maha Pencipta Alam Semesta ini. Pemahaman makna “O” ini selaras dengan faham dan budaya spiritual “Wong Jawa”.

Alam dan lingkungannya mempunyai aura dan energi yang dapat mempengaruhi kehidupan jiwa manusia. Alam dan lingkungannya sebagai bagian dari ‘cosmology life’ (kehidupan jagad raya), mempunyai kekuatan supranatural yang bisa dirasakan oleh jiwa manusia. Alam dan lingkungannya yang berupa tanah, air, api, angin dan kehidupan yang ada di dalamnya termasuk tetumbuhan, ada mempunyai energi dan kekuatan. Sehingga bagi yang bisa menangkap dan merasakannya, bisa diajak ‘dialog’ dengan indera perasaan dan kata hati yang ada dalam setiap jiwa manusia. Alam dan lingkungannya merupakan ‘healing garden’ (taman untuk penyembuhan) untuk mendapatkan kesenangan dan ketenangan jiwa manusia. Dengan iringan musik tradisional Sunda, kecapi dan rebab, yang iramanya monoton, para peserta laku spiritual melakukan ritmis gerakan badan seperti ‘menari’ di sekitar pohon Bodhi. Jiwa dan perasaannya ‘mengalir’ mengikuti irama iringan musik yang bermuara pada ‘dialog’ atau ‘wawan rasa’ dengan lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Dalam ritual ini ada beberapa butir kelapa hijau sebagai ‘media dialog’, disusun di sekeliling pohon Bodhi. Di atas tatanan kelapa hijau itu ada sepasang patung “Loro Blonyo”, yang melambangkan sepasang umat manusia. Kanwa Adikusumah mengawali ritual dengan menaburkan bunga mawar merah-putih ke atas tatanan kelapa hijau dan diikuti para peserta laku spiritual. Sambil menaburkan bunga mawar mereka terus ‘menari’. Di empat sudut tempat ritual ini dipasang obor bambu yang apinya dinyalakan Kanwa. Api sebagai bagian dari alam harus ada dalam ritual ini. Sementara di sisi pemetik kecapi ada seseorang duduk bersila dan sibuk membakar dupa yang asapnya terus mengepul. Suasana laku spiritual ‘dialog dengan lingkungan alam’ yang berlangsung sekitar satu jam ini terasa khidmad dan sakral. Para peserta laku spiritual yang mengenakan pakaian putih-putih itu tampak sangat menikmati suasana ini.

86

Jantung Hati Borobudur

Kegiatan mereka di taman wisata Candi Borobudur ini dalam rangka merespon bangunan karya maestro bangsa Indonesia asli (yang oleh Kanwa disebut dengan istilah “Wong Jawa”). Karena menurut keyakinannya, Candi Borobudur ini dibuat bukan oleh bangsa manca, bukan pula diimpor dari manca negara, tetapi dibangun oleh orang pribumi negeri ini pada masa silam yang kini menjadi ‘karya maestro’ atau karya agung di jagad raya. Dalam ‘laku spiritual’ ini mereka mengambil ‘kelapa hijau’ sebagai media ritual. Pemilihan media ritual ini mengikuti ‘kata hati’ yang muncul setiap kali akan melakukan laku spiritual. Kelapa hijau yang secara fisik juga bermanfaat sebagai sarana penyembuhan tradisional, juga bermakna sebagai ‘sumber air’ yang berada di atas (tidak di dalam tanah). Dan air adalah sumber kehidupan bagi manusia. Buah tanaman tropis kelapa hijau ini, juga akan diperkenalkan ke luar Nusantara lewat acara ini. Karena sebagian besar peserta laku spiritual berasal dari negara-negara Eropa. Menurut Kanwa, media laku spiritual ini banyak macamnya. Pilihannya tergantung dari ‘kata hati’. Mereka juga pernah melakukan ritual dengan media rumput dan pohon kenari. Kanwa menjelaskan, setelah mengikuti laku spiritual ini para peserta akan merasakan “joy with spirit” (kesenangan jiwa). Sehingga mereka bisa lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya, sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing. Bagi mereka, hidup menjadi lebih bersemangat dan bermakna bagi umat manusia. Dia juga menekankan, laku spiritual yang dilakukan ini bukan merupakan kegiatan keagamaan. Bukan pula sebagai aliran keagamaan atau pun aliran kepercayaan Kejawen. Olah jiwa ini muncul dari diri sendiri sebagai umat manusia yang berupaya untuk mencari kesenangan dan ketenangan jiwa. Mereka telah menemukan jalan, dan secara kejiwaan mereka telah merasakan hasilnya.***

‘Jejak-jejak Peradaban‘ Untuk pengembangan Pariwisata
“Jejak-jejak Peradaban” (‘Trail of Civilization’) dari masa lalu yang secara fisik masih bisa dilihat dan dinikmati keindahannya adalah bangunan candi-candi. Ada puluhan bangunan candi – baik itu candi yang berciri agama Hindu mau pun candi yang bernafaskan agama Buddha – yang tersebar di wilayah Indonesia. Bangunan-bangunan purbakala itu peninggalan dari masa pra-sejarah sampai masa klasik. Candi-candi ini sebagai bukti betapa tingginya peradaban dan budaya spiritual bangsa Indonesia pada masa lalu. Bangunanbangunan peninggalan purbakala, Jejak-jejak Peradaban masa lalu yang ‘senafas’ dengan yang ada di Indonesia juga banyak tersebar di negara-negara Asia Tenggara. ‘Deklarasi Borobudur’ yang disepakati oleh 6 (enam) negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Laos, Kamboja, Thailand, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2006, bertujuan untuk saling memperkuat kerjasama dalam melestarikan warisan peradaban dan membangun koridor peradaban demi menjaga perdamaian dan persahabatan antar bangsa. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, keenam negara tersebut sepakat untuk merevitalisasi warisan budaya fisik dan non fisik, dan mempromosikan nilainilai peradaban itu melalui pelestarian wisata budaya. Pemanfaatan Candi Borobudur dan kawasannya sebagai daya tarik wisata dapat dilaksanakan berdasarkan pelestarian dengan pendekatan pariwisata budaya dan eko-wisata (“Eco-culture Tourism”). Kawasan Borobudur sebagai kawasan peka (sensitif ) yang memiliki daya tarik wisata, baik dari segi alamnya mau pun budayanya. Sehingga penerapan pariwisata di kawasan ini selalu mengacu pada nilai penting yaitu berbasis pada lingkungan alam dan budaya alami. Pengembangan pariwisata di sini harus mendukung upaya pelestarian alam dan budaya beserta lingkungannya. Dan yang lebih penting dapat memberikan manfaat bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.

Jantung Hati Borobudur

87

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Henky Hermantoro, MURP/MPA dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Balai Arkeologi Yogyakarta, belum lama ini. Acara ini terkait dengan kegiatan penelitian ‘Trail of Civilization’, dalam upaya mengidentifikasi masalah dan peluang yang ada di kawasan Borobudur. FGD ini diikuti antara lain oleh dinas-dinas pariwisata dari Propinsi Jawa Tengah, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah dan BP3 Yogyakarta, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Balitbang DIY dan Balitbang Jawa Tengah, para pelaku wisata budaya, para kepala desa di sekitar Candi Borobudur, LSM Anti Kekerasan Borobudur, dan paguyuban seni Borobudur. Pemahaman eko-wisata dan wisata budaya dari para pemilik dan pemangku kepentingan (‘stake holder’) yang terkait dengan pemanfaatan Kawasan Borobudur sebagai daya tarik wisata merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penyelenggaraan pariwisata. Peran, fungsi dan pelibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata perlu terintegrasi dalam suatu kelembagaan yang terkait dengan aspek kebijakan, program dan kegiatan yang dihasilkan. Untuk pengembangan wisata alternatif dan wisata budaya sebagai bagian pariwisata berkelanjutan, harus diikuti dengan kepedulian terhadap perlindungan keanekaragaman keunikan alam serta nilai dan tradisi budaya masyarakat setempat.

Wilayah Kabupaten Magelang juga kaya akan bangunan-bangunan peninggalan purbakala berupa candi-candi (selain Candi Borobudur, Mendut dan Pawon) yang bisa dijadikan objek wisata alternatif. Candi-candi jejak peradaban masa silam itu adalah, Candi Selogriyo di kaki Gunung Sumbing, Candi Umbul di wilayah Kecamatan Grabag, Candi Asu, Candi Pendem dan Candi Lumbung di kaki Gunung Merapi, Candi Ngawen di Kecamatan Muntilan, Candi Gunung Wukir di Kecamatan Salam. Namun, untuk mengembangkan candi-candi tersebut menjadi objek wisata alternatif yang menarik masih perlu penataan dan penyempurnaan fasilitas bagi pengunjung. Terkait dengan upaya pelestarian Candi Borobudur dan sekitarnya untuk mendukung pengembangan kepariwisataan yang berkelanjutan kini tengah disusun “Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional (RTR KSN) Cagar Budaya Candi Borobudur” oleh Direktorat Penataan Ruang Wilayah II, Direktorat Jendral Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum. Tujuan penataan ruang ini untuk melestarikan Kawasan Candi Borobudur sebagai Pusat Pembelajaran Konservasi Cagar Budaya Dunia.

88

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

89

90

Jantung Hati Borobudur

DESA CANDIREJO DAN PAKET WISATANYA

Jantung Hati Borobudur

91

T

erdapat sekitar 20 desa dalam radius 10 km dari Candi Borobudur yang berkepentingan langsung dengan pengembangan kebudayaan dan pariwisata. Dua di antaranya adalah desa Wanurejo dan desa Candirejo, selain tentunya Desa Borobudur sendiri.

Koperasi Desa Wisata Candirejo adalah satu-satunya pengelola Pariwisata Berbasis Masyarakat di Desa Candirejo. Pengelolaanya adalah terpisah dengan sistem pemerintahan Desa. Namun demikian, Koperasi Desa Wisata Candirejo merupakan Badan Usaha milik Desa dan bertanggung jawab terhadap Pemerintah Desa dan masyarakat Candirejo. Masyarakat Desa Candirejo menyadari bahwa aspek pemberdayaan masyarakat lokal telah menjadi suatu kesepakatan dan komitmen yang harus diwujudkan untuk mendukung pengembangan Community Based Tourism di Desa Candirejo secara berkelanjutan. Dimana menekankan pada terwujudnya kualitas Sumber Daya lingkungan (Quality of resources) kualitas pengalaman wisata (Quality of visitor experience )serta kualitas kehidupan masyarakat lokal (Quality of live local community) , untuk mewujudkan ketiga hal tersebut peran Koperasi Desa Wisata Candirejo di tingkatan Masyarakat lokal cukup penting. Maka dalam hal ini perlu sensitif dan responsif terhadap keberadaan komunitas lokal dalam usaha pendampingan usaha sebagai upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui kegiatan pariwisata yang dikelola dengan sistem perkoperasian. Penerimaan dari seluruh elemen dalam hal ini adalah pemerintah amat sangat kita perlukan dalam upaya mengembangkan serta menciptakan Kemandirian Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagai penggerak Ekonomi di tingkatan Masyarakat local Desa Candirejo serta keberhasilan kegiatan Pariwisata di tingkat masyarakat lokal.

PENATAAN KAWASAN WISATA DESA CANDIREJO (COMMUNITY BASED TOURISM) DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN KOPERASI DESA WISATA CANDIREJO SEBAGAI PENGERAK EKONOMI DI TINGKATAN MASYARAKAT LOKAL I. GAMBARAN UMUM
Selama ini Candi Borobudur sebagai Warisan Bangsa dan Warisan Dunia , dan merupakan objek utama wisata. Namun kawasan sekitarnya kurang bergitu di kenal oleh sejumlah wisatawan terutama dari mancanegara. Candi Borobudur seolah hanya dimiliki oleh industri pariwisata dan taman wisata,padahal Borobudur dirancang sebagai konsep MANDALA ,yang berupa tata bumi , alam , rohani dan budaya.(Natural, Spiritual, dan Cultural Landscape ). Tanpa perhitungan bahwa hal tersebut dalam segi yang lain mengurangi potensi perekonomian masarakat sekitar kawasan Candi Borobudur. Dalam konteks diatas Desa Candirejo bisa dikembangkan menjadi kawasan usaha seperti tersebut diatas

92

Jantung Hati Borobudur

yang dapat menarik perhatian Dunia. Sebagai rintisan awal Desa Wisata Candirejo akan berkembang bila di dukung oleh instansi – instansi / stakeholders terkait.Sehingga mempunyai daya tarik bagi wistawan asing atau Domestik. oleh karena itu upaya terobosan perlu dipikirkan guna mendorong pemerataan pendapatan sekaligus menjadikan lahan pendapatan potensial bagi masarakat lokal. Disamping itu , melalui penerapan pariwisata pedesaan / ekowisata berbasis masarakat di Desa Candirejo dapat kita jadikan sebagai landscape alam dan budaya yang dapat berbicara dari berbagai dimensi cultural. Secara fisik Desa Candirejo merupakan contoh seting yang cerdas dalam kerja kreatif yang dapat menjadi sumber estetik dan kepariwisataan yang mendalam,dengan sendirinya akan membentuk image yang nantinya Desa Candirejo akan tumbuh menjadi Desa Wisata mandiri yang dapat meningkatkan pendapatan masarakat dan mensejahterakan masarakat secara keseluruhan.

II. POTENSI

1. Desa Candirejo yang terletak 3 Km arah tenggara Candi Borobudur memiliki Potensi sumber daya alam dan dan adat Budaya yang sangat mendukung dan menunjang untuk pengembangan kegiatan pariwisata pedesaan ( village tourism ) / pariwisata berbasis masarakat. 2. Potensi kerajinan pandan ,bambu , Sistem pertanian tumpang sari / Agro organic, adat budaya masarakat lokal serta tempat – tempat bersejarah, merupakan suatu daya tarik tersendiri sebagai bentuk usaha peningkatan pendapatan bagi masarakat lokal. 3. Desa Candirejo memiliki semangat tinggi untuk maju dan berkembang baik di tingkat pemerintahan Desa maupun dari Masyarakatnya. 4. Desa Candirejo dapat dijadikan salah satu simpul / landscape Alam dan Budaya yang dapat berbicara dari berbagai dimensi Cultural,dari pengembangan kawasan wisata terpadu di Borobudur sehingga akan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masarakat candirejo melalui kegiatan wisata pedesaan atau pariwisata berbasis masarakat.

III. GAMBARAN KAWASAN DAN KEPENDUDUKAN
1.

Desa Candirejo terletak 3 Km kearah tenggara dari pusat peradaban dunia Candi Borobudur yang dapat ditempuh dengan andong (Transportasi Lokal) sambil menikmati keindahan alam bukit menoreh dan sapaan dedaunan yang melukiskan kekentalan suasana khas pedesaan. 2. Desa Candirejo memiliki luas wilayah 366,25 Ha dengan jumlah KK 1057 & jumlah penduduknya 4058 jiwa yang secara administrative terbagi menjadi 15 dusun dan terbelah oleh dua sungai (sungai sileng / progo) sehingga 8 dusun di lereng menoreh , 7 dusun merupakan dataran di bagian utara yang dilalui oleh sungai progo.

Jantung Hati Borobudur

93

3. 4. 5.

Desa Candirejo terletak pada ketinggian 100 hingga 850 Dpl dengan konfigurasi umum lahanya berbukit dan dataran dengan curah hujan rata – rata 2468 mm, dan dalam siklus waktu tertentu terjadi kemarau panjang sehingga warga masarakat kesulitan air . Di Candirejo terdapat 3 Tk, 5 SD , 1 SLTP DAN 1 SMKK ( sebagai kelompok pariwisata jurusan tata boga) Penduduk Candirejo mempunyai sifat kondusif , dinamis dan aktif.Kondusif dalan arti warga masarakat selalu menjunjung kebersamaan , hidup rukun ,gotong royong dengan sesama warga , dan mengedepankan musawarah mufakat dalam pengambilan keputusan.Dinamis dalam arti senantiasa melaksanakan dengan sebaik-baiknya setiap program pemerintah / Desa maupun dari Koperasi yang memberikan manfaat lebih kepada warga masarakat.aktif dalam arti melaksanakan program yang telah menjadi kesepakatan bersama dan selalu inovatif & selalu pro aktif dalam menyikapinya.

IV. DASAR

3.

4.

1. Desa Candirejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang,pada tanggal 31 mei 1999 melalui SK Bupati Magelang No 556 / 1258 / 19/ 1999 di tetapkan menjadi “Desa Binaan Wisata Tk.Kab Magelang”. 2. Desa Candirejo pada tanggal 18 April 2003,diresmikan menjadi “DESA WISATA”oleh menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Bp. I Gede Ardhika yang disaksikan oleh Bp Gubernur Jawa Tengah dan Bp Bupati Kab Magelang. Sebagai tindak lanjut dari keberadaan Desa Wisata Candirejo, dengan musawarah mufakat pihak pemerintahan desa ,tokoh masarakat serta tokoh pemuda membentuk badan pengelola Desa wisata yang dalam hal ini adalah KOPERASI “DESA WISATA “ CANDIREJO melalui keputusan desa No 04 / KPTS / 03 / 2003 yang merupakan satu satunya pengelola Desa wisata Candirejo. Berdasarkan keputusan Menteri Negara urusan Koperasi dan usaha kecil dan menegah Republik Indonesia Pengesahan akta pendirian Koperasi Desa wisata Candirejo dengan Badan Hukum No 220 / BH / 2004 tertanggal 11 maret 2004

V. ARAH KEBIJAKAN

Sesuai dengan arah pembangunan pemerintah dibidang ekonomi daerah maka pembangunan yang dilaksanakan mengarah pada peningkatan taraf hidup masarakat ,sehingga arah kebijakan pembangunan desa dititik beratkan pada sector usaha kecil dan menengah ,pertanian organic , dan segala bentuk kegiatan yang mendukung keberadaan Desa candirejo sebagai Desa wisata / pariwisata berbasis masarakat ( Community bassed tourism ) yang merupakan suatu upaya menciptakan jiwa wirausaha anggota / masarakat sehingga dapat dijadikan alternative peningkatan pendapatan masarakat dengan asas pemberdayaan Masyarakat, dimana pengelolaan di tangani oleh koperasi yang dalam hal ini adalah sebagai pengelola Desa Wisata Candirejo / Candirejo Ecotourism.

VI. MAKSUD DAN TUJUAN
1.

Menyediakan pendapatan alternative bagi masarakat local Desa Candirejo, melalui kegiatan – kegiatan pariwisata berbasis masarakat yang sesuai terhadap kawasan serta menjunjung tinggi nilai – nilai Sosial dan Budaya.

94

Jantung Hati Borobudur

9.

2. Membangun kemampuan / kapasitas masarakat terhadap pengelolaan segenap potensi yang ada ( termasuk perencanaan dan managemen) 3. Meningkatkan kesadaran Masarakat melalui kegiatan – kegiatan yang mendukung di Desa wisata Candirejo. 4. Sebagai Upaya untuk memperkuat jaringan kerja dengan unit – unit kegiatan yang ada dalam Koperasi desa wisata Candirejo . 5. Menciptakan pola struktur tata ruang yang serasi dan optimal dengan pengadaan fasilitas dan utilitas secara tepat dan merata tanpa mengabaikan kualitas lingkungan . 6. Sebagai upaya peningkatan dan kompetisi masarakat local (perencanaan usaha) 7. Pemberdayaan terhadap sub kelompok usaha Koperasi desa wisata Candirejo. 8. Mampu memfasilitasi sentra Unit – unit usaha Koperasi Desa wisata Candirejo, dalam upaya pengembangan strategi dan membuat program aksi sebagai salah satu usaha peningkatan kinerja usaha. Meningkatkan in come perkapita masarakat melalui pengembangan koperasi dalam sector pariwisata.

VII. SASARAN

Kelompok sasaran yang ingin di capai dalam rangka pengembangan usaha unit – unit kegiatan pendukung wisata di Desa wisata Candirejo meliputi semua komponen unit usaha Koperasi Desa Wisata Candirejo dalam rangka peningkatan produksi dan layanan usaha ,sebagai salah satu bentuk penciptaan alternative pendapatan ekonomi masarakat.

VIII. BEBERAPA PROGRAM YANG TELAH BERJALAN DI DESA WISATA CANDIREJO I. Jelajah Desa I

Durasi : 2 Jam Incluide : Dokar/sepeda onthel , snack, guide,donasi. Keliling desa dengan menggunakan dokar/sepeda onthel menikmati suasana pedesaan. Kunjungan meliputi home industri (slondok), pertanian tumpangsari, Salak, Pepaya, Rambutan (Musim Panen) wisata alam Banyuasin.

II. Jelajah Desa II

Durasi : 4 jam Incluide : Dokar / sepeda onthel, makan, snack, kesenian, guide, donasi. Keliling desa dengan menggunakan dokar/sepeda onthel. Kunjungan meliputi home industri (slondok), pertanian, wisata alam, pertunjukan kesenian tradisional.

Jantung Hati Borobudur

95

III.Tinggal Bersama di Rumah Penduduk

Durasi : 1 Hari 1 Malam Incluide : Homestay, Kesenian, Makan 3 kali + snack, guide, donasi. Menikmati suasana malam dengan satu pertunjukan seni tradisional, di tambah dengan kegiatan Jelajah Desa I

IV. Sunrise di Bukit Menoreh

Durasi Incluide donasi.

: 1 hari 1 malam : Home stay, makan 3 kali + snack, guide,

Menikmati alam di Pegunungan Menoreh dan bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sumbing, dan melihat keindahan Candi Borobudur. Untuk pencapaian kesana dilakukan dengan tracking/menggunakan jeep. Ditambah dengan paket Jelajah Desa I.

V. Rafting

Durasi : 8 jam Incluide : Dokar/sepeda, makan 1 kali + snack, guide, donasi.

Jelajah Desa I+ + mengarungi derasnya sungai Elo dan Progo sambil menikmati jeram – jeram yang menegangkan sekaligus menyenangkan dan untuk mehilangkan rasa jenuh, sehingga badan dan fikiran kembali fresh. Selain menggunakan perahu karet pengarungan bias dilakukan dengan cara lama, yaitu dengan menggunakan bamboo / gethek.

VI. Cooking Lesson
Durasi : 4 Hour Incluide donasi. : Dokar / sepeda, Makan + snack, guide,

Setelah puas jalan – jalan keliling desa bisa beristirahat minum teh panas dengan jajanan pasar. Pengunjung pun bisa menikmati makanan buatan sendiri dengan ala Deso.

96

Jantung Hati Borobudur

VII. Negotiable Program

Perpaduan antara paket yang satu dengan paket yang lain sangatlah mungkin dilakukan. Ini dilakukan tak lain untuk memenuhi permintaan dan kepuasan para wisatawan.

VIII. GRAFIK KUNJUNGAN TAHUN 2003 - 2011

IX. DATA KUNJUNGAN WISATAWAN ASING & DOMESTIK TAHUN 2011
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 BULAN Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah DOMESTIK 75 0 28 73 96 43 142 1 2 0 0 172 632 ASING 55 61 95 189 302 196 647 268 368 431 220 231 3063 JUMLAH 130 61 123 262 398 239 789 269 370 431 220 403 3695

Jantung Hati Borobudur

97

98

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

99

X. PENUTUP

Demikian kami sampaikan , gambaran umum tentang Desa Wisata Candirejo, banyak hal tentunya yang masih manjadi pemikiran dan tanggungan dalam upaya pengembangan ke depan guna mencapai sebuah kemandirian ,untuk meningkatkan pandapatan alternatif masyarakat melalui kegiatan pariwisata berbasis Masyarakat dalam upaya menangkap peluang pariwisata serta usaha menciptakan kemandirian Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagi pengerak ekonomi di tingkatan masyarakat lokal khususnya Desa Candirejo.

Koperasi Desa Wisata Candirejo
Pengurus

Tatak Sariawan Ketua

100

Jantung Hati Borobudur

DAFTAR PAKET TOUR DESA WISATA CANDIREJO Januari - Desember 2012
1. DOKAR TOUR
-Include : Dokar,local guide,home industry,agro plantation,simple gamelan,snack,tea,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 2 hour

2. CYCLING TOUR

-Incluide : Sepeda,local guide,home industry,agro plantation,simple gamelan,snack,tea,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 2 hour

3. COOKING LESSON

-Incluide : local guide,dokar,agro plantation,material +practice cooking lesson,lunch,snack,tea ,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 4 hour

Jantung Hati Borobudur

101

4. STAY

-Include : Homestay, local guide, home industry, agro plantation, simple gamelan, dinner, Breakfast, snack, tea, donasi. -Minimal: 2 pax

5. SUNRISE TREKKING

-Include : local guide,mineral snack,tea,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 4 hour

6. SOBO GUNUNG/ADVENTURE

-Incluide : Jeep, local guide,mineral water ,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 4 hour

102

Jantung Hati Borobudur

7. WALKING AROUND VILLAGE + BREAKFAST/LUNCH/DINNER
-Include :Luch, local guide,snack,tea ,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 1 hour

8. WALKING AROUND VILLAGE + REFRESHMENT
-Incluide :local guide,snack,tea ,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 1 hour

9. KESENIAN TRADISIONAL

-Incluide :Kesenian, local guide,snack,tea ,donasi. -Minimal: 2 pax -Durasi : 2 hour

Jantung Hati Borobudur

103

10. RAFTING

-Incluide :Boad,life jacket,helmed, rifer guide,snack,makan,transportasi ,donasi. -Minimal: 6 pax -Durasi : 3 hour

11. BAMBOO RAFTING

-Incluide :Gethek,life jacket,helmed, rifer guide,snack,makan,transportasi ,donasi. -Minimal: 5 pax -Durasi : 3 hour

104

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

105

106

Jantung Hati Borobudur

DESA WANUREJO SELAYANG PANDANG

A. PROFIL UMUM DESA

Dilihat dari letak geografis, Desa Wanurejo berada pada ketinggian 233 meter diatas permukaan laut dan merupakan dataran rendah. Desa Wanurejo dilalui dua buah sungai yaitu sungai progo disebelah utara dan sungai sileng disebelah selatan. Jumlah penduduk Desa Wanurejo tersebar di 9 dusun yaitu Brojonalan, Tingal Kulon, Tingal Wetan, Bejen, Ngentak, Soropadan, Barepan, Jowahan dan Gedongan. NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. DUSUN Brojonalan Tingal Kulon Tingal Wetan Bejen Ngentak Soropadan Barepan Jowahan Gedongan JUMLAH TOTAL
Sumber: Monografi Desa

RT 1, 2, 3 & 4 1, 2 & 3 4, 5 & 6 1, 2 & 3 1 1 1, 2 & 3 1&2 1, 2, 3 & 4

JUMLAH JIWA 661 566 614 632 154 186 433 288 515 4049

Desa Wanurejo memiliki luas area 295,293 Ha serta mempunyai batas administrasi sebagai berikut : a. Sebelah Utara : Kota Mungkid dan Mendut b. Sebelah Timur : Desa Candirejo dan Desa Progowati c. Sebelah Selatan : Desa Ngargogondo dan Desa Candirejo d. Sebelah Barat : Desa Tuksongo dan Desa Borobudur Jumlah penduduk Desa Wanurejo adalah 4049 jiwa dengan 1274 KK dan jumlah Warga Miskin/Pra Sejahtera 516 KK dengan jumlah 2050 jiwa. Warga Desa Wanurejo bermata pencaharian bervariasi yaitu Buruh Industri, Petani, Buruh Tani, Perkebunan, Perdagangan, Pns, Swasta dan Jasa.

Jantung Hati Borobudur

107

KEPENDUDUKAN

1 2 3 4 5 6 7 8

Petani Buruh Petani Perkebunan Perdagangan PNS Swasta Industri Lain – lain

66 191 0 32 36 63 17 50

11 98 0 51 12 13 7 15

23 10 0 8 7 15 6 2

63 140 0 16 14 12 14 94

6 1 0 10 2 1 2 100

80 200 12 35 3 20 50 0

45 20 0 78 13 70 5 0

21 12 0 16 15 6 4 0

5 9 0 8 12 15 3 40

320 681 12 254 110 215 108 301

Sumber: Monografi Desa

B. POTENSI WISATA

B.1.1. Daya Tarik Wisata Alam 1. Candi Pawon 2. Mata Air Umbul Tirta 3. Mata Air Asin 4. Sungai Progo (Rafting) 5. Sungai Sileng 6. Pemandangan View Candi Borobudur 7. Atraksi Gajah (Dalam Proses Penggarapan) 8. Atraksi Wisata Sawah dan Perkebunan 9. Out Bond 10. Bumi Perkemahan B.1.2. Daya Tarik Wisata Budaya dan Kerajinan 1. Kesenian a. Kesenian Jatilan Siswo Turonggo Dusun Brojonalan b. Kesenian Jatilan Panji Paningal Dusun Tingal Kulon c. Kesenian Jatilan Sekar Dyu Dusun Tingal Wetan d. Kesenian Kobro Siswo Adi Siswo Dusun Bejen e. Kesenian Jatilan Cahyo Marsudi Budoyo Dusun Ngentak f. Kesenian Arumba Dusun Soropadan g. Kesenian Topeng Ireng Wira Catra Dusun Barepan

108

Jantung Hati Borobudur

JUMLAH JIWA

Tingal Wetan

Tingal Kulon

Brojonalan

Soropadan

Gedongan

Jowahan

Ngentak

Barepan

Bejen

No

h. Kesenian Pitutur Dusun Jowahan i. Kesenian Topeng Ireng Manusia Rimba Dusun Gedongan j. Pitutur k. Laras madyo l. Karawitan m. Pagelaran Wayang Padat n. Sendra Tari Kinara Kinari 2. Kerajinan a. Fiberglas / Resin Bening b. Gipsum c. Cor Batu d. Ukir Bambu e. Anyam Bambu f. Kriya Kayu g. Topeng h. Bulumata i. Bathik Tulis 3. Kuliner a. Jenang Sirat b. Gula Jawa c. Rengginan d. Aneka Makanan Tradisional 4. Sanggar a. Sanggar Seni Joyowiyatan b. Sanggar Seni Budiharjo c. Gandok NITIHARJAN d. Taman Bacaan Dunia Tera 5. Religi a. Makam BPH Tejo Kusumo (Adipati Wonorejo) dan b. Makam Tokoh-tokoh di 9 dusun. 6. Situs Sejarah (Situs Budha) Sampai dengan saat ini untuk situs tersebut belum di gali. 7. Seniman a. Lukis, b. Kartunis, c. Pengrawit, d. Dalang, e. Penari dll 8. Museum Wayang

Jantung Hati Borobudur

109

C. SARANA PRASARANA KEPARIWISATAAN
1.

2.

3.

4.

5. 6.

7.

Penginapan (Hotel dan Homestay) a. Hotel (Pondok Tingal) b. Java Homestay / Rumah Sawah c. Homesaty (ada sekitar 40 homestay tersebar di 9 dusun) Rumah Makan / Warung Makan a. Borobudur Restaurant b. Warung Kaget (Kuliner Pagi) c. Sarawati Restourant (Dalam Penggarapan) d. Progo Restaurant (Dalam Penggarapan) Bengkel Kerajinan a. Rik Rok b. Lidiah Art c. Lilliro Art Galeri Seni a. Elo Progo Art b. Limanjawi Art c. Museum Wayang Sanggar Seni dan Budaya Transportasi a. Dokar b. Becak c. Sepeda Onthel (MTB dan Tradisional) Atraksi Wisata a. Atraksi Gajah (dalam tahap trial) b. Out Bond c. Rafting d. Bajak Sawah, Tanam Padi, Panen Padi (menyesuaikan dengan musim)

D. KONDISI FISIK WILAYAH

Dilihat dari kondisi geografis, Desa Wanurejo berada pada ketinggian 233 meter diatas permukaan laut dan merupakan daerah dataran rendah. Adapun banyaknya curah hujan adalah 1615, 5 mm/tahun serta suhu udara rata-rata adalah 28°. Dan kondisi tanah yang ada berupa tanah lempung lanauan, lempung pasiran, lempung, lanau, lempung organik, pasir dan kerikil. Desa Wanurejo dilalui sebuah sungai besar yaitu Sungai Progo disebelah utara dan sungai Sileng di sebelah selatan. Dengan kondisi geografis yang sebagian besar merupakan daerah persawahan dan ladang Desa Wanurejo dapat dikembangkan menjadi desa pertanian, karena sebagian besar wilayah administrasi Desa Wanurejo merupakan daerah persawahan dan ladang. Namun demikian kondisi geografis yang ada di Desa Wanurejo tidak ditopang dengan sumber air untuk irigasi. Kondisi ini terjadi karena Desa Wanurejo merupakan desa yang letaknya berada di bagian hilir dari jaringan

110

Jantung Hati Borobudur

irigasi sekunder yang sudah ada, sehingga pada setiap musim kemarau iair irigasi tidak sampai di Desa Wanurejo. Disamping itu keberadaan dua sungai besar yang membentang disepanjang desa tidak dapat berfungsi sebagai sumber irigasi, hal ini dikarenakan letak sungai yang terlalu dalam dan untuk memanfaatkan sumber air yang ada ini dibutuhkan suatu pompa yang dapat mengangkat air dari dasar sungai ke atas saluran irigasi yang sudah ada. Desa Wanurejo merupakan pintu gerbang masuk obyek wisata Candi Borobudur (The World Heritage Culture), yang sangat banyak memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Selain potensi pertanian Desa Wanurejo banyak memiliki kawasan- kawasan peninggalan sejarah seperti Candi Pawon, Situs Umbul Tirta, Kawasan heritage (rumah tradisional joglo ) dan makam-makam heritage seperti, makam Eyang Wanu (BPH.TEJOKUSUMO), makam Kyai Singolesono, Kyai Sorok, Kyai Jugil dan lain-lain yang lokasinya menyebar diseluruh pedusunan yang ada di Desa Wanurejo. Selain itu desa ini juga sangat banyak memiliki berbagai macam kesenian tradisional dan kerajinan tradisional. Dan menurut histori/sejarah desa Wanurejo dulunya merupakan pusat pemerintahan dari daerah perdikan bernama kadipaten Wonorejo yang dipimpin oleh Kanjeng Bendoro Pangeran Haryo Tejo Kusumo dan makamnya sekarang lebih dikenal dengan nama makam Eyang Wanu. Dengan beragamnya potensi yang dimiliki maka Desa Wanurejo sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata, terutama wisata Budaya dan wisata Religi. Karena hal ini sesuai dengan hirarki kota yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Magelang maka Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur masuk dalam kriteria desa penyangga kawasan wisata candi Borobudur, sehingga sangat tepat apabila kedepan Desa Wanurejo dikembangkan menjadi Desa Wisata Budaya dan Wisata Religi.

E. KEPENDUDUKAN

Jumlah penduduk Desa Wanurejo pada tahun 2009, tercatat berjumlah 4076 jiwa dengan rincian komposisi penduduk dewasa, penduduk lanjut usia dan anak-anak, sebagaimana trlihat dalam tabel. Tabel Jumlah Penduduk NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA DUSUN Tingal Kulon Tingal Wetan Soropadan Bejen Ngentak Gedongan Brojonalan Jowahan Barepan JUMLAH 2005 589 601 159 535 160 500 661 270 424 3899 2006 591 610 163 540 165 511 665 275 430 3950 Jumlah (jiwa) 2007 595 617 165 547 168 515 669 277 438 3991 2008 600 625 170 550 171 520 672 281 440 4029 2009 613 632 173 556 175 522 678 283 444 4076 Prosentase (%) 15,04 15,51 4,24 13,64 4,3 12,81 16,63 6,94 10,9 100

( Sumber : Pemetaan Swadaya Desa Wanurejo 2010)

Jantung Hati Borobudur

111

Warga Desa Wanurejo bermata pencaharian bervariasi yaitu sebagai buruh industri, buruh tani dan bangunan, PNS/ABRI, pengusaha, dagang dan jasa, selain itu sebagian besar mata pencaharian warga Wanurejo adalah peternak dan petani yaitu 70%, pada dasarnya hampir sama dengan penduduk di wlayah lain, warga Wanurejo lebih nyaman bertahan di daerahnya daripada keluar desa untuk beraktivitas maupun mencari mata pencaharian sehari-hari. Hal tersebut berdampak pada semakin dekatnya emosional yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bentuk emosional ini sangat erat dan dapat dilihat dalam aktifitas kehidupan sehari-hari mereka, misalnya gotong royong, pertemuan RT, pertemuan rutinan dusun, pertemuan ibu-ibu, menjenguk tetangga yang sedang sakit maupun pertemuan-pertemuan ritual tahlilan, aqiqahan, sripahan dan lain sebagainya, dimana datang dalam forum-forum tersebut bagi masyarakat adalah sebuah ’kewajiban’ yang tidak bisa ditinggalkan sebagai bentuk rasa solidaritas persaudaraan. Disamping itu dengan lebih bayaknya penduduk berusia produktif, mereka menjadi modal penggerak dalam proses pembangunan yang ada, hal ini tampak dari munculnya beberapa bentuk kegiatan lain, misalnya: membuka industri rumah tangga seperti makanan ringan (rengginan), kerajinan ukir bambu, kerajinan limbah batu, mebel, pembuatan tempe, seni lukis, rikrok, macam-macam souvenir dan lainlain. Di sisi lain, antusiasme dan partisipasi perempuan dalam proses pembangunan di Desa Wanurejo dapat dilihat di berbagai bidang, mulai dari pertanian, peternakan, produksi rumah tangga bahkan buruhpun banyak di antara mereka juga ikut terlibat. Namun selama ini yang menjadi kekurangan warga Desa Wanurejo adalah mereka lebih memposisikan perempuan berperan menjadi pelaksana kegiatan dibanding menjadi inisiator, sebagai contoh ketika mereka di undang untuk melaksanakan kerja bakti, posyandu, maka mereka akan datang dengan semangat, tetapi ketika mereka diundang untuk bermusyawarah mengenai apa yang akan dilakukan untuk mengembangkan Desa Wanurejo, mereka akan lebih banyak diam dan tidak menuangkan ide-ide mereka dalam pertemuan tersebut, padahal apabila kita melihat jumlah perempuan yang ada di Desa Wanurejo lebih banyak dibanding dengan jumlah kaum laki-laki. Sebagian besar warga adalah masyarakat berpendidikan. Dalam tabel III.3. dan peta 3.2. dapat dilihat, meskipun jumlah person yang jenjang pendidikannya mencapai Perguruan Tinggi hanya sekitar 3.21 % (131 orang), lulusan SMU 11.97 % (488 orang), SMP 5.96 % (243 orang) dan SD 15.23% ( 621 orang) yang merupakan modal bagi pembangunan Desa Wanurejo.

Tabel Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Pendidikan.
No 1 2 3 4 5 DUSUN Tingal Kulon Tingal Wetan Soropadan Bejen Ngentak Tidak/Belum Sekolah 341 457 126 304 140 Lulus SD 114 82 23 106 17 Lulus SMP 52 30 8 41 6 Lulus SMU 106 54 10 88 9 Akademi/ PT 33 9 6 17 3 Jumlah (Jiwa) 613 632 173 556 175

112

Jantung Hati Borobudur

6 7 8 9

Gedongan Brojonalan Jowahan Barepan Total Presentase (%)

431 413 102 312 2593 63.62

49 105 64 61 621 15.23

16 40 32 18 243 5.96

22 95 62 42 488 11.97

4 25 23 11 131 3.21

522 678 283 444 4076 100

(Sumber : Pemetaan Swadaya Desa Wanurejo 2010)

Tabel Jumlah Penduduk Menurut (KK, Jenis Kelamin, Usia, Mata Pencaharian).
No KEPENDUDUKAN Tingal Kulon Tingal Wetan Soropadan Bejen N g e n - Gedong- B r o j o tak an nalan Jowahan Bare- J U M L A H pan JIWA

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Jumlah Penduduk Jumlah KK Penduduk Laki –Laki Penduduk Perempuan Anak – Anak Lansia Petani Buruh Petani Perkebunan

613 199 289 324 107 51 66 191 0 32

632 207 314 318 224 201 11 98 0 51

173 53 89 84 34 56 23 10 0 8

556 183 292 264 153 50 63 140 0 16

175 54 89 86 50 5 6 1 0 10

522 162 251 271 110 30 80 200 12 35

678 219 347 331 148 42 45 20 0 78

283 81 130 153 25 84 21 12 0 16

444 125 233 211 123 55 5 9 0 8

4076 1283 31,48 2034 49,9 2042 50,1 974 23,9 574 14,08 320 7,85 681 16,71 12 0,29 254 6,23

Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) 10 Perdagangan Prosentase (%)

Jantung Hati Borobudur

113

11 PNS 12 Pegawai Swasta 13 Industri 14 Lain – lain

36 63 17 50

12 13 7 15

7 15 6 2

14 12 14 94

2 1 2 100

3 20 50 0

13 70 5 0

15 6 4 0

12 15 3 40

110 2,7 215 5,27 108 2,65 301 7,38

Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%) Prosentase (%)
(Sumber: Pemetaan Swadaya Desa Wanurejo 2010)

Sumber daya alam yang ada dan cukup menonjol di kawasan Desa Wanurejo adalah yang ladang dan persawahan, selebihnya untuk kawasan permukiman yang terbagi menjadi 9 dusun/dukuh. Untuk penggunaan lahan pekarangan, mereka memanfaatkannya dengan menanami tanaman yang mempunyai nilai ekonomis bagi mayarakat sekitar. Komposisi penggunaan lahan dapat digambarkan bahwa, Desa Wanurejo terdiri dari 9 Perdukuhan yaitu: Dukuh Tingal Kulon, Dukuh Tingal Wetan, Dukuh Soropadan, Dukuh Bejen, Dukuh Ngentak, Dukuh Gedongan, Dukuh Jowahan, dan Dukuh Barepan, Dari 9 dusun ini mempunyai tipikal kondisi geografis yang sama karena letak Desa Wanurejo sudah berada dibawah perbukitan menoreh dan letak Desa Wanurejo sudah termasuk daerah perkotaan, karena Desa ini tidak jauh dari kota Kecamatan maupun Kota Kabupaten. Sedang luas permukiman 62,967 Ha, persawahan 107,789 Ha, ladang/tegalan 124,537 Ha. Untuk lebih jelasnya lihat tabel.

F. PENGGUNANAAN LAHAN

Tabel Penggunaan Lahan Eksisting Desa Wanurejo
JUMLAH LUAS (Ha) 107,789 124,537 62,967 0,0248 0,405 295,7228

NO. 1 2 3 4 5

PENGGUNAAN LAHAN Sawah / pertanian Ladang / tegalan Permukiman Perikanan Peternakan Jumlah

Prosentase ( % ) 36,45 42,11 21,3 0,01 0,14 100

(Sumber: Pemetaan Swadaya Desa Wanurejo2010)

Semoga laporan dan paparan dari dua desa ini cukup menggambarkan dinamika dan peran serta masyarakat setempat dalam berperan sebagai kawasan penyangga Borobudur sebagai Pusaka Dunia. Desa-desa lainnya mempunyai keunikan masing-masing dan memerlukan buku tersendiri. Melalui kerja-sama dengan pihak swasta, teristimewa dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, tentu dapat diwujutkan .

114

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

115

116

Jantung Hati Borobudur

Borobudur: Antara Utopia dan Realita
Bambang Dono Kuntjoro

B

erbentuk gigantic namun tetap cantik, simetris geometris manis, berukir detil ornamen yang berkisah tentang jalan kehidupan. Beribu hati jatuh demi melihat Candi Borobudur. Para ahli mengatakan bahwa seluruh badan candi, proporsi ukurannya, tatanan tingkat, substansi ornamen, konstelasi stupa serta patung-patung buddha merupakan ayatayat dari sebuah mandala (frozen library). Sebuah kitab besar yang memuat pelajaran hidup dan ilmu pemerintahan. Tatanan alamnya membuat orang terpana. Candi ini dirangkul lekukan jalur Pegunungan Menoreh dan dijaga dari kejauhan oleh gunung-gunung perkasa. Merapi, Merbabu. Andong dan Sumbing. Memandang Candi Borobudur pagi hari dari puncak Menoreh merupakan pengalaman tak terlupakan. Pepohonan, perkampungan dan siluet Candi Borobudur muncul antara ada dan tiada dalam selimut kabut mengambang. Sebait lagu tentang sebuah negeri di awan, dimana kedamaian menjadi istananya. Inilah Borobudur dalam utopia, lalu bagaimana dalam realita?

Di akhir jaman tersier atau sekitar 2-3 juta tahun yang lalu, bagian utara kompleks gunung api Kulon Progo mengalami pensesaran. Bagian utara ini mengalami penenggelaman menjadi cekungan Borobudur. Pada saat itu terbentuk bukit-bukit kecil seperti bukit Borobudur, Bukit Gendol, Bukit Sari, Bukit Mijil dan Bukit Pring. Lebih kurang 1 juta tahun yang lalu, di bagian utara cekungan Borobudur lahir gunung api muda seperti; Sumbing, Sindoro, Merbabu dan Merapi. Dari lereng gunung-gunung tersebut mengalir sungai yang bermuara di cekungan, sehingga terbentuklah Danau Borobudur. Pada abad ke 8 Candi Borobudur didirikan diatas sebuah bukit yang membentuk tanjung di danau itu. Pada abad 11 sampai akhir abad 13 terjadi letusanan gununggunung api yang membawa material vulkanik. Pelan tapi pasti terjadi penimbunan dan pengeringan Danau Borobudur. Aliran air yang semula bermuara di Danau Borobudur mencari jalan menuju laut selatan. Aliran air ini menggerus tanah yang dilalui dan tersingkaplah jejak danau purba Borobudur. Dari sampel tanah di tebing kali Elo dekat pertemuan dengan kali Progo di bawah lapisan endapan material vulkanik terdapat tanah lempung hitam berasal dari endapan danau yang mengandung karbon organik dan serbuk sari bunga tanaman rawa. Nama dua desa di dekat Candi Borobudur yaitu Sabrangrawa dan Bumi Segara seolah mempertegas kisah ini,

Geologi Kawasan Borobudur.

Helmy Murwanto, geologist Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, menguraikan sebuah hipotesis dalam film dokumenter Borbudur Teratai Di Tengah Danau produksi antara Pemerintah Propinsi Jateng dengan perguruan tinggi tersebut. Pada jaman dahulu candi ini terletak ditengah cekungan berair. Terbentuknya cekungan Borobudur tidak lepas dari terbentuknya Kompleks Gunung Api Kulon Progo kira-kira 20-30 juta tahun yang lalu. Sebagian besar badan gunung-gunung api Kulon Progo tenggelam dibawah permukaan air laut.

Menjual Candi Borobudur

Candi Borobudur mulai dapat dilihat setelah dibersih-

Jantung Hati Borobudur

117

kan pada tahun 1854. Pada tahun 1907-1911 dipugar untuk pertama kali oleh Theodor Van Erp. Bagian yang dipugar adalah : Stupa Induk beserta 3 teras melingkar dibawahnya. Perbaikan bagian bawah hanya perbaikan lorong dan dinding, tanpa pembongkaran. Pemugaran Borobudur yang kedua dimulai pada 10 Agustus 1973 dan selesai pada tahun 1983. merupakan kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Unesco dibantu beberapa negara donor. Pemugaran ini dilakukan secara total, baik konstruktif, penataan drainase sampai perbaikan ornamen dan patung. Disusun pula Peta Zonasi (Zoning Plan) kawasan Candi Borobudur oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) yang menetapkan adanya 5 zona kawasan Borobudur, yaitu : 1. Bangunan candi merupakan zona 1 yang tak boleh diotak-atik, 2. Halaman Candi atau Taman Arkeologi / Laboratorium sebagai zona 2, 3. Wilayah perdesaan Borobudur dan Wanurejo disebut zona 3 sebagai permukiman, area parkir dan toko cinderamata, 4. Zona 4 dengan fungsi sebagai bentang alam dengan panorama bersejarah dan 5. Zona 5 sebagai Taman Arkeologi Nasional. Setelah dipugar Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon beserta lingkungannya (Borobudur Temple Compounds) didaftarkan dan menjadi world herritage karena memenuhi beberapa nilai keunggulan universal (outstanding universal value). Pada tanggal 2 Januari 1992 diterbitkan pula Keppres Nomor 1 / tahun 1992 tentang Pengelolaan Taman Wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang berisi : 1. Kawasan Candi Borobudur dibagi menjadi 3 Zona, yaitu Zona 1 seluas 44,8 Ha, Zona 2 seluas 42,3 Ha dan Zona 3 seluas 932 Ha. (berbeda dengan zoning plan JICA yang menyebutkan adanya 5 zona).

2. 3.

4. 5.

Pengelolaan Zona 2 diselenggarakan oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (PT TWCBP). PT TWCBP melakukan pemanfaatan dan pemeliharaan ketertiban serta kebersihan zona 1 beserta candinya sebagai obyek dan daya tarik wisata berdasarkan petunjuk teknis dari Dirjen Kebudayaan Depdikbud selaku instansi yang menguasai mengelola dan bertanggung jawab atas candi sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Penggalian sumber-sumber dan pembagian pendapatan di zona 3, dilaksanakan oleh Pemerintah daerah ybs bersama-sama dengan PT TWCBP. Keamanan dan ketertiban di dalam zona 1 dan zona 2 dilakukan oleh PT TWCBP di bawah koordinasi Kepolisian Negara RI.

Dalam serial diskusi dengan Kementrian Kebudayaan beberapa waktu yang lalu, terungkap bahwa sebenarnya Kepress 1/ 1992 pada waktu itu disusun guna mewadahi hibah dari negara Jepang yang tidak dapat dilaksanakan secara Government to Government (G to G) dan hanya dapat dilaksanakan antar lembaga non Pemerintah (Person to Person). Dalam hal ini lembaga di pihak Indonesia adalah PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (PT TWCBP). Keppres 1 / 1992, hanya memuat 3 zona saja, tanpa disertai petunjuk teknis pengendalian ruang dan sehingga di kemudian terjadi perkembangan tata ruang yang salah arah. Sayang tak seorang pun berminat mempelajari ngelmu tinggi dari Mandala Borobudur. Keberadaan Candi Borobudur sebagai world heritage diterjemahkan sebagai obyek wisata komersial. Kementrian BUMN melalui PT Taman Wisata Candi Borobudur mengelola wisata mass tourism melalui penjualan ticket masuk. Data pada tahun 2010 menunjukkan pengunjung Candi Borobudur sebanyak 2.408.403 orang, terdiri dari 2.261.081 orang wisatawan domestik dan 147.372 orang.wisatawan asing. Bila diasumsikan pada tahun 2012 terdapat angka yang kurang lebih sama, maka dengan harga ticket wisa-

118

Jantung Hati Borobudur

tawan domestik saat ini sebesar Rp.25.000,- terkumpul pendapatan kotor sebanyak Rp. 56.527.025.000.000,dan dengan ticket wisatawan asing sebesar $ 15.00 akan terkumpul pendapatan kotor sebesar $ 2.210.580.00. Sebagian besar wisatawan domestic tersebut, datang dengan bis besar dalam paket wisata multi tujuan yang singgah ke Candi Borobudur selama 2-3 jam saja. Ratusan bis wisatawan menjejali halaman Candi Borobudur. Meski telah dibangunkan kios-kios cinderamata, para pedagang asongan tetap merangsek wisatawan. Komersialisasi di halaman Candi Borobudur makin marak ketika dibangun Hotel Manohara dan Museum Kapal. Jumlah kunjungan wisatawan yang meningkat dari tahun ke tahun dianggap sebuah prestasi baik. Orang datang berjejal naik ke badan candi melebihi daya dukungnya. Konservasi berhadapan langsung dengan komersialisasi. Di luar pagar halaman Candi Borobudur, sihir pariwisata meracuni pikiran semua orang. Dipicu oleh kekurangan air irigasi, para petani beralih profesi ke dunia pariwisata yang menipu. Semua khilaf bahwa dengan pola paket one day tour, wisatawan yang singgah beberapa jam saja nyaris tak menyisakan kue pariwisata bagi masyarakat lokal. Semua pangling bahwa seluruh potensi wisatawan sudah tersedot di tempat penjualan tiket. Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten menggelontorkan sejumlah dana untuk rehabilitasi homestay, pelatihan jasa wisata dan pembuatan barang kerajinan, tanpa menyadari betapa minim prospeknya. Semua tertipu nafsu meraih keuntungan sesaat lalu terjerat dalam lingkaran karma buruk. Persis penuturan relief Karmawibhangga, yaitu ngelmu tentang lingkaran sebab akibat sebagaimana terukir pada dinding candi terbawah.

sistem agribisnis yang cerdas. Berbekal keunikan alam dan kisah sejarah kawasan Borobudur, diharapkan prospek ecotourism akan datang sebagai bonus manakala masyarakat sudah siap mengambil perannya. Meski dunia pertanian tak lagi seksi, setidaknya sektor ini masih lebih menguntungkan daripada menanti gerimis pariwisata yang tak jelas. Sebuah Laporan Koperasi Wisata Desa X Kecamatan Borobudur, menjelaskan bahwa pendapatan koperasi tersebut pada tahun 2011 sebesar Rp.340.549.200,-, pengeluarannya sebesar Rp.320.894.900,- Sisa Hasil Usaha (SHU) = Rp.340.549.200 - Rp.320.894.900,- = Rp.19.654.300,. Bila SHU rata-rata sebesar Rp.19.654.300,- maka dalam kurun 5 tahun terdapat SHU sebesar = 5 x Rp.19.654.300,- = Rp.98.271.500,SHU ini masih harus dibagi sejumlah anggota yang cukup banyak. Bandingkan dengan usaha tani kayu sengon dalam lahan seluas 1 ha atau 10.000 m2. Bila pohon ditanam ditanam dengan jarak 3 x 4 m, maka tiap pohon membutuhkan ruang tumbuh 12 m2. Dalam 1 ha terdapat 10.000 m2 : 12 m2 = 833 pohon. Bila dalam umur 5 tahun tiap pohon dijual dengan harga Rp.500.000,-, akan didapatkan hasil = 833 x Rp.500.000,- = Rp.416.500.000,-. Harga 1 bibit sengon Rp.700,-. Dengan memperhitungkan ongkos tanam, pupuk kandang, NPK perawatan dan penyulaman pohon pada tahun 1 dan 2, modal yang dibutuhkan tak lebih dari Rp.25.000.000,-. Profit yang didapat = Rp.416.500.000 - Rp.25.000.000 = Rp.391.666.666,- . Dengan luas kepemilikan lahan rata-rata petani sebesar 2.000 m2, maka keuntungan yang didapat hanya dibagi untuk 5 KK. Masing-masing mendapatkan “SHU” sebesar Rp.78.333.333,33. Tidak hanya itu, pada lorong tanaman sejarak 4 meter, masih dapat diupayakan tanaman sela yang menghasilkan pendapatan jangka pendek. Bila pada lorong ini dibudidayakan tanaman sepele yaitu

Kembali ke agrobisnis.

Ada sebagian kecil pihak yang berseru amat lemah untuk kembali ke fitrah. Memperbaiki jaringan irigasi, mengembalikan rakyat ke dunia pertanian lalu menciptakan

Jantung Hati Borobudur

119

rumput pakan ternak, ada peluang profit dari budidaya kambing. Prospek pasarnya amat terbuka. Misalnya sebuah warung sate kambing membutuhkan 1 ekor kambing per hari alias 30 ekor per bulan atau 360 ekor per tahun. Seekor induk kambing dalam setahun beranak rata-rata 1,5 ekor. Maka guna memenuhi kebutuhan warung tersebut dibutuhkan sebuah peternakan rakyat dengan populasi induk kambing sejumlah = 360 ekor : 1,5 = 240 ekor kambing. Bila 1 rumah rata-rata memelihara 5 ekor kambing, maka dibutuhkan kelompok peternak sebanyak 240 rumah : 5 = 58 rumah. Bila 1 RT (Rukun Tetangga) berisi 20-25 KK, ternyata sebuah peternakan rakyat pada 2 RT baru mampu mencukupi kebutuhan sebuah warung. Akan menjadi lebih menarik manakala dibuat mix farming yang menggabungkan antara pertanian dan peternakan. Limbah pertanian (daun) menjadi pakan ternak dan limbah ternak (urine dan kotoran) menjadi pupuk organik cair dan padat. Komoditas pertaniannya dapat dikombinasi sehingga dalam satu lahan dapat dibudidayakan guna mendapatkan pendapatan jangka panjang (kayu), menengah (buah), pendek (sayur) dan insidentil (ternak). Siapa bilang dunia pertanian tak lagi seksi, siapa bilang pariwisata adalah satu-satunya andalan di kawasan Borobudur

kah relief Karma Wibhangga sudah cukup memberikan peringatan itu ? Promosi besar-besaran dan program untuk menyebarkan keramaian ke beberapa titik di perdesaan sekitar candi Borobudur perlu didahului dengan penyiapan masyarakat secara matang. Bila akses ke beberapa desa dibuka, maka bahaya yang menghadang adalah alih kepemilikan lahan. Ketika dunia pertanian belum menjanjikan pendapatan layak, promosi yang semula bertujuan untuk menarik wisatawan, malahan membuka jalan bagi economic animals untuk memangsa lahan-lahan strategis di perdesaan. Kawasan sekitar Borobudur menyimpan pesona kue ecotourism yang pada saatnya kelak akan layak jual. Akan tetapi jalan masih panjang. Dibutuhkan penyadaran masyarakat bahwa mereka duduk di tambang emas, Program yang harus segera dilakukan adalah agrobisnis guna ketahanan pangan. Kementrian atau Dinas Pertanian harus mengubah pola kerjanya sehingga tidak sekedar menjadi Kementrian atau Dinas Bercocok Tanam, tapi Fasilitator Agrobisnis. Tidak hanya itu, aspek kebudayaan sudah saatnya dimaknai secara lebih arif. Bukan sekedar pernik-pernik kerajinan krya (perekonomian kreatif), tari-tarian atau daur ulang ritual adat tanpa roh tapi sebuah mindset tatanan nilai, seperti kejujuran, kerukunan, toleransi, tanggung jawab, amanah dan semangat untuk bekerja keras. Pemberdayaan masyarakat agar kembali kepada jati diri dan kearifan lokalnya, adalah sebuah kunci. Dengan mindset tersebut dapat diupayakan budhi daya pertanian terpadu secara cermat.. Ecotourism adalah sebuah bonus yang hanya akan dipetik bila masyarakat perdesan sudah menemukan jati dirinya sebagai petani yang berbudaya.

Memaknai Borobudur

Pemberdayaan masyarakat Borobudur telah berlangsung amat lama, namun hanya membuahkan perdebatan dan rebutan diantara para pelaku untuk menangani program. Diduga hal ini terjadi karena entry point yang salah yaitu pariwisata. Akibatnya terjadi rebutan sisa kue pariwisata yang bagian terbesarnya sudah habis ditelan penjualan ticket mass tourism di Candi Borobudur. Beberapa pihak berusaha membuat kue baru dengan menciptakan acara yang dapat meramaikan Kawasan Borobudur. Acara yang bernuansa hura-hura dan hedonis hanya akan memberikan mudharat bagi kehidupan sosial masyarakat. Bukan-

Ir. Bambang Dono Kuntjoro, Kabid Tata Ruang & Praswil Bappeda Kab Magelang email : bambangdonokuncoro@rocketmail.com

120

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

121

122

Jantung Hati Borobudur

Pusaka Saujana Borobudur: Peran Masyarakat dalam Pelestariannya
Dwita Hadi Rahmi

P

agi merekah, suasananya biasa, tenang dan sederhana. Terlihat para petani bergegas pergi ke sawah atau ladang, dan ibu-ibu bersepeda atau berjalan kaki ke pasar untuk berbelanja. Anakanak berseragam berjalan bersama-sama ke sekolah sambil bersenda gurau. Di beberapa tempat, terdengar suara kambing mengembik dan sapi melenguh, mungkin tanda mereka meminta makan. Dari tepi desa, tampak hamparan padi menguning tertimpa sinar matahari pagi, berkilau bagaikan taburan emas dipadang luas, berbingkai jajaran Pegunungan Menoreh nun jauh di sana. Panorama ini menjadi lebih lengkap dengan hadirnya sosok Candi Borobudur di kejauhan yang berdiri dengan gagahnya, seakan menjadi saksi perjalanan kehidupan di sekitarnya dari waktu ke waktu. Demikianlah sekilas suasana pagi hari kehidupan di desa-desa di kawasan Borobudur. Kehidupan sederhana yang terus berjalan sejak ratusan tahun yang lalu sampai saat ini. Borobudur adalah sebuah nama yang sangat dikenal di dunia. Nama Borobudur identik dengan Candi Borobudur, bangunan dari susunan batu berumur 1200an tahun peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada abad ke-9 Masehi. Candi Budha ini, bersama dengan Candi Mendut dan Candi Pawon yang berada di area sama, pada tahun 1991 telah dinobatkan oleh UNESCO sebagai pusaka dunia (World Cultural Heritage) yang wajib untuk dilestarikan. Nama Borobudur juga menjadi nama kawasan dimana Candi Borobudur berada, yang terletak di Dataran Kedu dan secara administratif berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Kawasan Borobudur merupakan kawasan subur, dengan desa-desa dan area persawahan yang menghadirkan panorama indah, dengan beberapa gunung dan pegunungan yang melingkupinya, yaitu Gunungapi Sumbing, Gunung Telomoyo, Gunung Andong, Gunungapi Merbabu, Gunungapi Merapi, Gunung Tidar, dan Pegunungan Menoreh. Selain Candi Borobudur, kawasan ini juga kaya akan peninggalan benda-benda arkeologi lainnya, antara lain Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Selogriyo, dan Candi Ngawen. Pada kawasan ini pula Sungai Progo, Sungai Elo dan sungai-sungai yang lebih kecil lainnya mengalir. Berdasarkan sejarah pembentukan kawasan, lebih dari 22.000 tahun yang lalu, diperkirakan sebagian dari kawasan Borobudur merupakan danau yang cukup luas. Danau purba tersebut terbentuk oleh terbendungnya aliran sungai-sungai yang berasal dari lereng gunungapi dan pegunungan di sekitar dataran Borobudur sebagai erosi dasar sementara, sebelum mengalir mencapai Samudera Indonesia (Sutikno dkk, 2006). Seiring berjalannya waktu, luasan danau tersebut semakin mengecil dan benar-benar mengering pada abad ke-12 Masehi. Masyarakat desa-desa di kawasan Borobudur yang agraris memiliki kehidupan sosial dan budaya yang khas, meliputi adat istiadat atau tradisi, kepercayaan, tata kehidupan, dan kesenian. Bahkan, setiap desa memiliki kehidupan sosial dan budaya sendiri yang belum tentu sama dengan desa-desa lainnya. Sekedar contoh, kerajinan atau industri rumah tangga yang merupakan kekhasan desa-desa antara lain kerajinan gerabah di

Jantung Hati Borobudur

123

Dusun Klipoh Desa Karanganyar, industri so’on di Desa Tuksongo, industri gula Jawa di Desa Wringinputih, kerajinan pahat batu dan ukir bambu di Desa Wanurejo, kerajinan tenggok bambu di Desa Kalinegoro, dan industri tahu di Desa Tanjungsari. Banyak budaya masyarakat yang secara tidak langsung merupakan bentuk hubungan antara alam dan manusia, misalnya pemakain batu dan bambu untuk bahan kerajinan, dan kepercayaan terhadap gunung yang dianggap suci dan memiliki ruh, sehingga sebenarnya masyarakat tanpa menyadari telah ikut melakukan pelestarian terhadap alam tempat tinggalnya dan budaya yang ada. Keanekaragaman hayati kawasan Borobudur sangat dibutuhkan bagi kehidupan penduduk disamping memiliki nilai-nilai ekologi. Kekayaan alam dan budaya masyarakat di kawasan Borobudur tersebut merupakan modal fisik, sosial dan ekonomi masyarakat yang apabila dioptimalkan dapat memberikan kontribusi peningkatan kualitas hidup masyarakat, sekaligus pelestarian aset alam dan budaya yang sudah ada (Taylor, 2003; Soeroso, 2007).

Desa-desa di kawasan Borobudur masing-masing merupakan sebuah saujana, yang disebut saujana desa. Wujud saujana desa merupakan hasil integrasi antara elemen-elemen pembentuknya, yaitu elemen fisik kawasan (bentanglahan) dan budaya masyarakatnya. Kesatuan atau gabungan saujana-saujana desa kemudian membentuk saujana Borobudur, karena kawasan Borobudur terdiri dari banyak desa. Dengan kata lain, saujana Borobudur merupakan integrasi antara bentanglahan kawasan yang terdiri dari permukiman dengan budaya masyarakatnya, lahanlahan pertanian, sungai-sungai yang mengalir, gununggunung dan pegunungan yang mengelilingi, serta bentukan-bentukan alam lainnya. Saujana Borobudur ini menjadi lebih lengkap lagi dengan keberadaan candi-candi Hindu dan Budha yang tersebar di seluruh kawasan. Selanjutnya, pusaka saujana Borobudur memiliki wujud yang sama dengan wujud saujana-saujana desa, dalam skala yang lebih luas, yaitu: 1) pola pengolahan lahan, 2) tata kehidupan masyarakat, 3) arsitektur kawasan, dan 4) bentukan-bentukan alami (natural features). Pola pengolahan lahan adalah cara-cara masyarakat desa membudidayakan lahan bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya, antara lain: penggunaan lahan, cara pengolahan tanah, cara bertani, termasuk didalamnya usaha pemeliharaan kelestariannya. Tata kehidupan adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan masyarakat desa sejak dulu, yang memiliki aturan-aturan secara tidak tertulis dan telah menyatu atau membudaya dengan kehidupan sehari-hari, seperti matapencaharian, adat istiadat, kepercayaan, dan perilaku-perilaku masyarakat yang biasanya tidak dapat dilepaskan dari adat dan kepercayaan mereka. Arsitektur kawasan perdesaan berkaitan dengan rancangan fisik dan spasial dari lingkungan, yang merupakan cerminan khas tata kehidupan yang ada, sehingga arsitektur tidak dapat dilepaskan dari budaya lokal kawasan. Bentukan-bentukan alami merupakan elemen-elemen bentanglahan yang masih

Borobudur adalah pusaka saujana

Hubungan antara alam dan budaya desa-desa dan seluruh kawasan Borobudur tersebut menciptakan wujud saujana-saujana desa dan saujana kawasan yang unik dan berkualitas. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia (2003) mengartikan pusaka saujana (cultural landscape heritage) sebagai refleksi hubungan antara pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu yang luas. Pusaka alam adalah bentukan alam seperti gunung, pegunungan, hutan, gurun, dan sebagainya. Pusaka budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia, seperti tradisi, kepercayaan, cara hidup, dan sebagainya. Selanjutnya, saujana dapat diartikan sebagai produk kreativitas manusia dalam mengubah bentanglahan dalam waktu yang lama sehingga didapatkan keseimbangan harmoni kehidupan antara alam dan manusia.

124

Jantung Hati Borobudur

bersifat alamiah. Tidak adanya kegiatan manusia yang merubahnya dapat diartikan bahwa manusia turut melestarikan bentukan-bentukan alami tersebut. Di kawasan Borobudur, bentukan-bentukan alami yang masih ada, yang menjadi salah satu wujud saujana antara lain: sungai-sungai dengan tebingnya yang menunjukkan lapisan-lapisan tanah; batu-batuan yang banyak ditemukan di sungai; gunung-gunung dan pegunungaan; serta mata air. Kekayaan potensi bentanglahan maupun budaya dan hubungan erat keduanya yang dimiliki saujana Borobudur membuat kawasan ini memiliki keunggulan kualitas saujana yang tidak setiap saujana di tempat lain memilikinya. Potensi-potensi yang dimiliki kawasan Borobudur, serta keberlanjutan kondisi bentanglahan dan budayanya menjadikan kawasan Borobudur sebuah saujana yang unggul. Keunggulannya terletak pada 4 (empat) hal, yaitu: 1) Kandungan sejarah lingkungan kawasan Kawasan Borobudur memiliki keistimewaan nilainilai sejarah, meliputi sejarah geologi terbentuknya kawasan Borobudur; sejarah danau purba; sejarah peninggalan benda-benda arkeologi; dan sejarah keberadaan desa-desa. Sejarah-sejarah tersebut telah merefleksikan hubungan yang lama dan kompleks antara manusia dan lingkungan tempat tinggalnya. Melalui sejarah pula dapat diketahui perubahan dan kemenerusan saujana kawasan Borobudur. 2) Kawasan peninggalan benda-benda arkeologi. Kawasan Borobudur merupakan kawasan peninggalan benda-benda arkeologi jaman kerajaan Hindu dan Budha di abad ke 8-10 Masehi, berupa candi-candi dan tempat-tempat pemujaan. Salah satu peninggalan tersebut adalah Candi Borobudur. Kemegahan Candi Borobudur, berupa arsitektur bangunannya, relief-reliefnya, dan filosofi yang dikadungnya menunjukkan tingginya peradaban dan budaya masyarakat pada masa lalu.

3)

Saujana-saujana desa yang menunjukkan kehidupan agraris masyarakatnya. Keunikan saujana-saujana desa tergambarkan dari: kemenerusan budaya masyarakat lokal bercocok tanam (agraris); keunikan pola tata guna lahan yang telah terbentuk secara turun-temurun dan berlanjut sampai saat ini; kekayaan budaya lokal ragawi (tangible) dan tak ragawi (intangible) yang telah berlangsung lama, dan merupakan respon masyarakat terhadap kondisi alam dan filosofi hidup yang mereka anut, yaitu mencapai keseimbangan hidup dan harmoni dengan alam. Panorama indah bentanglahan Bentanglahan kawasan Borobudur dengan gunung-gunung yang mengelilingi dataran (Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Pegunungan Menoreh, Gunung Sumbing) dan Candi Borobudur yang terletak ditengah-tengah dataran, ditambah hamparan hijau sawah dan permukiman penduduk dengan arsitektur tradisionalnya menghadirkan pesona dan panorama indah. Keindahan yang mengekspresikan hasil hubungan alami antara bentanglahan dan budaya masyarakat.

4)

Empat keayaan potensi yang dimiliki saujana Borobudur menunjukkan tingginya nilai pusaka (heritage) kawasan, yang diwujudkan dalam nilainilai alam dan budayanya. Sebutan “pusaka saujana” selayaknyalah diberikan kepada kawasan Borobudur. Pusaka saujana Borobudur termasuk historic venacular landscape, yaitu saujana yang mengalami evolusi bentuk akibat kegiatan manusia. Karakter fisik, biologi dan budaya dari kehidupan masyarakat sehari-hari direfleksikan melalui perilaku-perilaku sosial dan budaya masyarakat. Hal ini menunjukkan saujana Borobudur terbentuk secara alami oleh tata kehidupan masyarakat yang menyesuaikan alam dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, saujana merupakan hasil kreativitas masyarakat dalam mengolah alam.

Jantung Hati Borobudur

125

Hubungan masyarakat desa dengan Candi Borobudur Candi-candi di kawasan Borobudur dibangun terutama untuk keperluan keagamaan bagi penguasa yang memerintah pada masa itu dan masyarakat di sekitar candi-candi tersebut yang beragama Budha maupun Hindu, sehingga candi biasanya dibangun tidak terlalu jauh dari permukiman penduduk. Oleh karena itu, desa-desa pada masa itu tidak dapat dilepaskan dari keberadaan candi. Candi menjadi bagian dari kehidupan kerajaan dan masyarakat desa, serta masyarakat merasa memiliki candi yang mereka bangun sendiri. Di kawasan Borobudur, candi-candi dibangun terutama di sekitar Sungai Progo dan Sungai Elo, sehingga pada masa itu tempat-tempat tersebut dianggap suci untuk beberapa kegiatan (Sukmono, 1976). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa lalu, keberadaan candi sangat berperan bagi kehidupan penduduk, dan keadaan ini berlangsung terus meskipun penduduk di sekitar candi beragama Islam. Mereka tetap menganggap candi sebagai bagian dari lingkungan hidupnya. Bahkan menurut cerita, pada masa lalu apabila ada penduduk yang mengkhitankan anaknya, maka secara tradisi pada waktu itu dibawalah anak tersebut ke Candi Borobudur. Penduduk juga memakai halaman di sekitar Candi Borobudur untuk kegiatankegiatan bersama, antara lain menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit pada watu-waktu tertentu dan upacara tradisi masyarakat. Candi Borobudur juga dipakai sebagai tempat berekreasi penduduk yang tinggal disekitarnya, dan juga masyarakat dari berbagai tempat lain. Dengan semakin berkembangnya permukiman penduduk, maka pada waktu itu Candi Borobudur, Mendut dan Pawon benar-benar berada di tengah-tengah permukiman. Pada tahun 1960an sampai 1970an, telah banyak orang dari luar Borobudur datang ke Candi Borobudur untuk berwisata. Para wisatawan selalu memasuki Desa Kenayan dan Ngaran untuk dapat naik ke candi.

Pada waktu itu, telah banyak penduduk desa yang memanfaatkan kesempatan untuk menjual berbagai macam cinderamata, atau menawarkan jasa sebagai pemandu wisata. Demikianlah, sampai pada masamasa itu, masyarakat dan candi seperti menjadi satu kesatuan. Masyarakat merasa memiliki candi dan mendapatkan keuntungan dari keberadaan candicandi tersebut. Hubungan yang erat terutama antara Candi Borobudur dan penduduk desa-desa di sekitarnya akhirnya berakhir pada saat dimulainya pemugaran candi oleh UNESCO dan Pemerintah Indonesia pada tahun 1973, serta dibuatnya Taman Nasional di sekitar candi pada tahun 1980 oleh Pemerintah Jepang (JICA). Pembangunan taman tersebut, yang bertujuan terutama untuk keamanan dan pertahanan Candi Borobudur dari ancaman kerusakan, telah memindahkan dua desa yang berada tepat di bawah bukit Borobudur, yaitu Desa Ngaran Krajan dan Desa Kenayan. Semua penduduk kedua desa dipindah ke permukiman pengganti (pemukti) yang berada di desa lain. Proses pemindahan tersebut banyak mendapat tantangan dari penduduk lokal yang telah tinggal di dua desa tersebut secara turun-temurun. Penduduk seperti tercerabut dari akarnya dan dipaksa berpisah dengan candi yang selama ini menjadi bagian dari lingkungannya. Hasil dari proyek taman yang mengelilingi Candi Borobudur tersebut (selesai tahun 1983) adalah diberinya batas yang tegas antara taman dan permukiman penduduk diluarnya. Batas tersebut berupa pagar besi setinggi 2 meter mengelilingi tepi taman, yang benar-benar memisahkan penduduk dari keberadaan candi. Penduduk tidak bisa lagi bebas mengunjungi Candi Borobudur dan tidak lagi memiliki hubungan secara spiritual, sosial maupun ekonomi dengan candi. Para wisatawan pun hanya datang untuk mengunjungi Candi Borobudur dan kemudian pergi. Candi Borobudur dengan taman di sekelilingnya tampak berdiri dengan megah atau dapat dikatakan

126

Jantung Hati Borobudur

pula berdiri dengan angkuhnya, tidak mau lagi menyapa orang-orang desa yang tinggal di sekitarnya. Candi yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini, ternyata tidak menjadi kebanggaan masyarakat yang berada di sekitarnya. Kebanyakan penduduk lokal mulai menganggap Candi Borobudur bukan lagi tempat yang sakral dan harus dipedulikan. Sangat ironis bahwa penduduk yang tinggal di sekitar Candi Borobudur tidak tahu-menahu tentang kegiatan yang berlangsung di lingkungan candi, dan bahkan masih ada penduduk yang belum pernah seumur hidupnya menginjakkan kaki diatas batu-batu candi. Tidak adanya rasa memiliki candi lagi dari masyarakat karena cara pengelolaan candi justru menjauhkannya dari masyarakat. Memang ada kekhawatiran candi dan lingkungannya mengalami kerusakan atau penurunan kualitas apabila berada di tengah-tengah permukiman penduduk. Seperti juga kekhawatiran Soekmono, arkeolog yang berperan dalam restorasi Candi Borobudur, bahwa banyaknya kegiatan karena daya tarik Candi Borobudur akan mengubah kawasan perdesaan di sekitarnya menjadi kawasan perkotaan yang membahayakan candi (Soekmono, 1991, Tanudirjo, 2008). Dari kekhawatiran inilah Taman Nasional Candi Borobudur dirancang oleh JICA yang kemudian direalisasikan (Tanudirjo, 2008). Penunjukkan kelompok candi, Candi Borobudur – Candi Pawon – Candi Mendut sebagai World Cultural Heritage pada tahun 1991 tidak juga menjadikan candi menjadi bersahabat dengan masyarakat sekitar, trutama Candi Borobudur. Apa yang menjadi perhatian UNESCO hanyalah fisik candi saja, dan tidak menyangkut pada lingkungan dimana monumen tersebut berada. Dengan demikian, kiranya perlu dipertanyakan, apa gunanya Candi Borobudur menjadi world heritage kalau tidak bermanfaat bagi penduduk sekitar dan justru memisahkannya dari masyarakat yang telah sejak dulu merasa memiliki?

Perlunya pelestarian pusaka saujana Borobudur

Saujana bukanlah sesuatu yang tetap, tetapi dinamis. Seperti dijelaskan oleh Ndubisi (dalam Thompson dan Steiner, 1997), secara alamiah, saujana yang berada dalam lingkungan dinamis pasti terus mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan perubahan jaman. Alam maupun budaya selalu berubah, dan perubahan tersebut dapat mengarah pada peningkatan kualitas atau penurunan kualitas alam dan kehidupan manusia. Demikian juga dengan pusaka saujana Borobudur. Banyak perubahan telah terjadi sejak awal terbentuknya permukiman sampai saat ini. Perubahan-perubahan fisik dan pergeseran budaya yang terus terjadi secara perlahan di kawasan Borobudur sejak awal keberadaan permukiman sampai sekarang, telah merubah hubungan antara masyarakat dan lingkungannya. Industri pariwisata yang tumbuh di kawasan Borobudur secara tidak langsung telah mempengaruhi budaya masyarakat setempat – yang memiliki budaya petani tradisional Jawa. Dari sisi tata ruang, kegiatan wisata tersebut sampai saat ini telah merubah tata ruang kawasan di sekitar Candi Borobudur dengan banyaknya pembangunan baru khususnya di bekas lahan pertanian. Perubahanperubahan tersebut telah memacu banyaknya kepunahan, kerusakan, dan pengrusakan budaya mayarakat maupun bentanglahan. Untuk itulah pelestarian saujana diperlukan. Pelestarian saujana adalah suatu pengelolaan kawasan yang memiliki nilai biofisik, kesejarahan dan budaya agar terus berkesinambungan dalam menerima perubahan dan pembangunan, antara pemeliharaan aset lama dan pemenuhan kebutuhan hidup masa kini dan mendatang (Adishakti, 1999). Pelestarian saujana, yang merupakan suatu upaya pembangunan, terkait erat dengan perencanaan ekonomi masyarakat yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat beserta lingkungannya. Masyarakat perlu memperoleh keuntungan dari upaya pelestarian, baik secara moril maupun materiil. Isu dalam pelestarian adalah

Jantung Hati Borobudur

127

128

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

129

bagaimana secara selektif menetapkan komponen dari saujana yang perlu dipertahankan dan yang dapat dikembangkan bahkan diubah. Langkah untuk melaksanakan seleksi ini perlu dipertimbangkan secara holistik dan terpadu, serta memperhatikan teknis implementasi oleh dan untuk masyarakat. Sering terjadi upaya pelestarian tanpa sadar telah menjadikan masyarakat di kawasan bersejarah hanya sebagai obyek kegiatan. Upaya pelestarian justru membelenggu masyarakat yang tidak memperoleh dampak menguntungkan, bahkan membuat penghuni harus pindah dari lokasi yang telah menjadi bagian dari kehidupannya untuk waktu lama. Di sisi lain, masyarakat sering tidak menyadari telah memiliki aset-aset budaya dan bersejarah yang sangat bernilai. Banyak masyarakat tidak menyadari dan menganggap komponen-komponen yang dimiliki tersebut merupakan aset yang bernilai, misalnya upacara musim panen, kegiatan gotong royong, makanan tradisional, arsitektur rumah tradisional dan sebagainya. Bahkan pihak-pihak yang berwenang terhadap masalah inipun sering tidak memahami pula. Masyarakat sebenarnya memiliki peran yang menentukan dalam upaya pelestarian. Masyarakat merupakan subyek pembangunan yang memiliki peran aktif dan mampu mengembangkan sistem pembangunan bottom-up. Pelestarian kawasan Borobudur belum sepenuhnya dilakukan. Kekurangpahaman akan makna dan prinsip-prinsip pelestarian, belum adanya pedoman pelestarian saujana, serta belum adanya keseriusan dalam melakukan pelestarian menjadikan kawasan Borobudur terus menghadapi ancaman penurunan kualitasnya. Pemindahan Desa Kenayan dan Desa Ngaran untuk pembangunan taman jelas merupakan langkah yang tidak tepat, karena upaya ini seperti mencabut masyarakat dari akar tempat hidupnya yang sudah turun temurun ditempatinya. Pemindahan ini telah memisahkan masyarakat dari Candi Borobudur yang sudah beratus-ratus tahun menjadi bagian

dari kehidupan mereka. Upaya ini jauh dari prinsip pelestarian, bahwa pelestarian pusaka budaya tidaklah cukup hanya untuk menghargai produk-produk sejarah yang bermakna dengan pemugaran artefakartefak yang dianggap bernilai sejarah, dalam hal ini Candi Borobudur. Upaya-upaya pelestarian harus mempunyai cakupan yang lebih luas, meliputi tidak saja elemen fisik tunggal, melainkan juga kawasan secara keseluruhan. Pelestarian pusaka budaya harus pula memperhatikan ‘kebudayaan rakyat’ atau ‘vernacular culture’, yaitu hasil-hasil kebudayaan rakyat yang dinamik dan memiliki nilai ‘keunggulan’ tertentu, meliputi obyek fisik, sistem sosial, seni dan budaya yang hidup dan berkembang pada suatu kawasan; serta lingkungan alam yang merupakan bagian integral kehidupan (Setiawan, 2008). Jadi, pelestarian perlu memperhatikan kepentingan masyarakat masa kini dan masa datang, sehingga peran masyarakat menjadi yang utama karena pelestarian adalah untuk dan oleh masyarakat. Setelah pemugaran Candi Borobudur dan pembangunan taman di sekelilingnya, kegiatan wisata di kawasan Candi Borobudur semakin berkembang. Permasalahan yang sering dirasakan oleh masyarakat desa-desa di kawasan Borobudur adalah belum meratanya keuntungan, terutama keuntungan ekonomi, yang diterima oleh mereka dari berkembangnya kegiatan wisata. Di sisi lain, desa-desa di sekitar Candi Borobudur dengan budaya masyarakatnya sebenarnya memiliki potensi alam, seni dan budaya tinggi, yang apabila dikembangkan akan dapat mendukung kegiatan wisata di kawasan Borobudur dan memberi keuntungan pada masyarakat. Dengan kata lain, desa-desa perlu diberdayakan untuk menggali potensi yang ada. Meskipun demikian, upayaupaya pemberdayaan desa oleh pemerintah belum sepenuhnya dilakukan, dan perhatian pemerintah masih terfokus pada pengembangan wisata di sekitar Candi Borobudur saja. Oleh karena itu, masyarakat desa kemudian berupaya untuk memberdayakan desa-desa

130

Jantung Hati Borobudur

mereka sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan peluang dalam kegiatan wisata, sekaligus melestarikan alam dan budaya mereka. Cukup banyak upaya-upaya pemberdayaan desadesa di kawasan Borobudur yang telah dan sedang dilakukan, baik oleh masyarakat, kelompok, maupun perseorangan. Sebagai contoh, kegiatan wisata di Desa Candirejo; kegiatan Komunitas Seni Lima Gunung; dan Borobudur Trail oleh kelompok Jaker. Dari upaya peberdayaan desa oleh masyarakat tersebut, beberapa hal dapat dipelajari, yaitu: 1) Kawasan Borobudur memiliki keragaman dan kekayaan pusaka alam dan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tempat kunjungan wisata, 2) Masyarakat desa memiliki keinginan untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan wisata, dengan memberdayakan budaya, tradisi, dan lingkungannya, 3) Tidak adanya bimbingan atau bantuan dari pemerintah tidak menyurutkan langkah dan semangat masyarakat desa untuk berkarya memajukan penghidupannya, 4) Masyarakat memiliki kesadaran akan perlunya melestarikan budaya dan lingkungannya. Diharapkan upaya-upaya pemberdayaan desa tersebut semakin berkembang, sehingga masyarakat desa turut mendapat keuntungan dari berkembangnya kegiatan wisata di kawasan Candi Borobudur untuk kesejahteraan kehidupan mereka.

dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga interaksi dengan alam menjadi bagian penting dari kehidupan. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, mereka mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam secara turun-temurun. Dengan demikian, budaya masyarakat dengan kearifan lokalnya secara perlahan telah ikut berperan mempengaruhi kondisi bentanglahan yang ada (Nassauer, 1997). Sebenarnya, kepedulian masyarakat terhadap alam telah ada sejak jaman dulu. Masyarakat lokal, tradisional atau asli memiliki hubungan yang dekat dengan lingkungan dan sumberdaya alam. Seperti dijelaskan oleh Mitchell, Setiawan dan Rahmi (2007), masyarakat lokal melalui “uji-coba” telah mengembangkan pemahaman terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal. Masyarakat ini tidak selalu hidup secara harmoni dengan alam, karena mereka juga menyebabkan kerusakan alam. Pada saat yang sama, karena kehidupan mereka tergantung pada dipertahankannya integritas ekosistem tempat mereka mendapatkan makanan dan rumah, kesalahan besar biasanya tidak mereka ulangi. Pemahaman mereka tentang sistem alam yang terakumulasi biasanya diwariskan secara lisan, yang selanjutnya disebut kearifan lokal. Kearifan lokal lahir dari pengalaman manusia dalam memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam. Sebagai contoh, masyarakat Borobudur mengembangkan kerajinan dengan memakai bahan yang diambil dari alam lingkungan sekitarnya, yaitu batu-batu sungai untuk kerajinan pahat batu; bambu untuk pembuatan tenggok bambu, dinding anyaman bambu, hiasan ukir bambu; dan tanah liat untuk pembuatan gerabah. Dengan kearifan lokalnya, kerajinan-kerajinan ini telah lama dilakukan dan keahlian pembuatannya juga turun-temurun dimiliki masyarakat. Keberadan batu, bambu dan tanah liat telah menjadi bagian dari lingkungan hidup masyarakat Borobudur, dan kegiatan pembuatan kerajinan dari ketiga bahan tersebut

Kearifan Lokal Masyarakat Borobudur Dalam Pelestarian Saujana

Upaya-upaya pemberdayaan desa di kawasan Borobudur yang dilakukan oleh masyarakat lokal tidak terlepas dari kemampuan mereka mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam. Masyarakat lokal atau tradisional Borobudur adalah bagian dari lingkungan alam yang tidak mungkin dipisahkan

Jantung Hati Borobudur

131

telah menyatu dengan kehidupan masyarakat seharihari. Secara tidak langsung, masyarakat Borobudur berperan menjaga kelestarian batu, bambu dan tanah liat dari kerusakan atau kepunahan. Kearifan lokal lain yang dimiliki masyarakat Borobudur yaitu dalam pembangunan rumah dengan arsitektur tropis tradisional Jawa dengan memakai bahan-bahan dari alam; waktu tanam padi dan palawija dengan sistem ‘pranotomongso’, yaitu memperhitungkan musim; kepercayaan terhadap gunung sebagai tempat suci; dan tradisi-tradisi yang berkaitan dengan pertanian, kelahiran-kematian, hidup bertetangga, yang semuanya bertujuan untuk mencapai keseimbangan hidup dan keharmonisan dengan alam. Meskipun pengelolaan alam lingkungan secara tradisional kadang tidak logis, ini tidak berarti selalu berakibat buruk bagi lingkungan. Bahkan menurut Soemarwoto (1994), sering citra lingkungan tersebut melahirkan praktik pengelolaan lingkungan yang baik dan disebut kearifan ekologi. Secara empiris, kearifan ekologi tersebut terbukti paling erat terkait dengan pemanfaatan lingkungan menurut cara-cara yang

hidup sesuai norma budaya. Masyarakat, dengan kearifan ekologinya, secara tidak sadar telah ikut berperan dalam melakukan praktik-praktik pelestarian lingkungan. Pemahaman bahwa penduduk lokal yang tinggal di suatu wilayah telah mempunyai pemahaman dan pandangan tentang sumberdaya, lingkungan dan ekosistem setempat, menimbulkan pemikiran bahwa para ahli tidak boleh semata-mata mengandalkan pada cara-cara ilmiah dalam memahami suatu wilayah. Kearifan-kearifan lokal masyarakat dalam mengelola lingkungan perlu mendapatkan perhatian agar kelestarian lingkungan dapat berlanjut. Dengan demikian, apa yang dapat dilakukan dengan benar untuk menjaga dan melestarikan pusaka saujana Borobudur adalah dengan memperhatikan dan memberi kepedulian terhadap kehidupan masyarakat lokal. Nilai-nilai budaya ragawi (tangible) dan tidak ragawi (intangible) masyarakat dengan kearifan lokalnya patut menjadi dasar pemikiran dalam upayaupaya pelestarian pusaka saujana Borobudur.

132

Jantung Hati Borobudur

Pustaka
Adishakti, L., 1999, Pengantar Konservasi Lingkungan Kota Berejarah, Proyek Penulisan Direktorat Jendral pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia, Jakarta. Michell, B.; Setiawan, B., dan Rahmi, D. H., 2007, Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Cetakan 3, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Nassauer, J. I., 1995, Culture and Changing landscape Structure, Landscape Ecology, Vol 10 No. 4, 229-237, SPB Academic Publishing, Amsterdam Ndubisi, F., 1991, Landscape Ecological Planning, dalam Steiner, Frederick, The Living Landscape: An Ecological Approach to Landscape Planning, McGraw-Hill, Inc., New York. Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia, 2003, Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia. Setiawan, B., 2008, Managing Borobudur Cultural Landscape Heritage: from Restoration to Creation, makalah disampaikan dalam Seminar Penelitian: South East Asian Landscapes, Department of Architecture, National University of Singapore, 15 Desember 2008. Soekmono, 1976, Chandi Borobudur: A Monument of Mankind, UNESCO Press, Paris Soekmono, 1991, Satu Abad Usaha Penyelamatan Candi Borobudur, Kanisius, Yogyakarta Soemarwoto, O., 1994, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djambatan, Jakarta. Soeroso, A., 2007, Penilaian Kawasan Pusaka Borobudur Dalam Kerangka Perspektif Multiatribut Ekonomi Lingkungan dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Manajemen Ekowisata, Disertasi tidak dipublikasikan, Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Sutikno, Murwanto, H.dan Sutarto, 2006, Kajian Lingkungan Geologi di Daerah Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dalam Seminar Nasional “Borobudur, Dari Masa Lalu ke Masa Depan”. Konferensi Agung Sangha Indonesia dan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Jakarta. Tanudirjo, D.A., 2008, Nilai Penting Arkeologi dan Pelestarian Kawasan Candi Borobudur, makalah disampaikan dalam Workshop: Re-Thinking Borobudur di Jakarta 27 Mei 2008. Taylor, Ken, 2003, Cultural Landscape as Open Air Museum: Borobudur World Heritage Site and Its Setting, Humanities Research, 10 (2): 51-62

Jantung Hati Borobudur

133

134

Jantung Hati Borobudur

CANDI
Di atas bukit berpayung langit membiru Dalam kerajaan sunyi kau bersemayam abadi Dindingmu terukir ajaran suci Mulai awal kehidupan hingga mati Maha karyamu selalu dijaga roh suci Hingga kini tetaplah murni Pantulkan cahaya tanpa distori Ditepi orang bersemadi , coba pahami karyamu ini

JANJI
Telah lama aku sadari Bahwa kau akan ingkar janji Tapi aku bukan pejuang dari surga khayalmu dulu Aku juga bukan pejuang impian Aku hanyalah loper koran Memang aku miskin harta, benda Bukankah kau berkata , bahwa ini untuk selamatkan karya warisan bapa ? Cinta seharusnya tanpa syarat Seperti ibu alirkan susu pada anaknya

Ery Kusuma Wardani

Jantung Hati Borobudur

135

136

Jantung Hati Borobudur

Jantung Hati Borobudur

137

Epilog

Cara Terindah Mencintai Borobudur
Eka Budianta
“Bila kita berkunjung ke Borobudur, lakukanlah penghormatan dengan cara memutar candi sebanyak 3 kali sambil membacakan buddhanusati, dhammanusati, dan sanghanusati.” Itulah pesan Irpan Trigunawan, seorang blogger lulusan SMK Jayabeka 1, Bekasi, jurusan otomotif. Tentu pesan ini sangat penting dan dapat dipahami bila kita penganut ajaran Budha, khususnya dari aliran Teravada seperti dia. Sedangkan kenyataan di lapangan, sebagian besar kita tidak paham dengan doa-doa itu. Padahal, Borobudur adalah pusaka budaya untuk semua orang. Tentu, ada beberapa syarat yang dapat dipelajari. Misalnya melakukan pradaksina, berjalan mengelilingi candi dengan menempatkan tubuh candi di tangan kanan. Belakangan, ada lagi persyaratan untuk menghormati candi dengan berkostum yang pantas, bahkan mengenakan selendang. Berbagai cara untuk menghormati candi sebagai tempat yang sakral dan pusaka umat manusia, tentu harus didukung. Yang lebih penting lagi tentunya membaca, mencermati, dan berdialog dengan candi itu sendiri. Dr. Titus Leber, seorang sineas dunia dari Austria, melihat Borobudur seperti sebuah SIM-Card. “Dari angkasa, Candi Borobudur tampak seperti sebuah micro chip, komponen penyimpan memori dalam computer. Tugas kita adalah mencerat dan membuka kode itu, memahami isinya,” kata Dr. TitusLeber. Sepanjang tahun 2010 dia bermukim di dekat candi, dan ikut menangis ketika kawasan Borobudur terkubur abu Merapi. Kakak pahlawan nasional RA Kartini, yaitu RM Sosrokartono berpesan, “Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan maju, kalau sudah berhasil membaca pesan-pesan pada dinding candi Borobudur.” Pesan itu bergema dalam hati banyak orang. Terutama di hati dan kepala seorang pemuda bernama Jack Priyana. Jack lahir 150 meter dari kaki candi Borobudur. Lulusan Akademi Bahasa Asing ini sadar, candi kelahirannya selalu indah di dalam pidato dan tulisan. Menurut dia, celoteh emas itu kurang mendidik. Jack menganggap semua puja-puji, harapan dan sanjungan pada candi yang dicintainya sebagai “cocot kencana” atau “golden bulshit” – omong kosong yang indah. Maka, sehari-hari kegiatannya melatih, mendidik masyarakat agar lebih memahami Borobudur, belajar manajemen konservasi, dan membuat desanya makmur, kuat sentosa semegah candinya. Ia juga belajar dari cara-cara mengelola monumen dunia seperti Angkor Watt di Kamboja. Ia berbicara di berbagai seminar dan konferensi, bagaimana pentingnya melibatkan masyarakat di seputar kawasan pusaka. Jack adalah salah satu di antara pegiat yang paling aktif, selain Sucoro, yang tulisannya mengawali buku ini.

138

Jantung Hati Borobudur

Pak Sucoro itu kurus, rambutnya panjang, dan mengesankan dirinya sebagai pribadi yang prihatin, sedikit uang tapi banyak persoalan. Ia tidak pernah menjadi menteri, walikota, maupun pejabat apa pun. Pendidikannya pun hanya lulusan Sekolah Dasar. Meskipun begitu ia hebat. Cita-citanya luhur dan tulisannya menggetarkan hati. Ia sudah menderita sejak pemugaran candi mulai dilaksanakan. Rumahnya digusur, dia ditahan karena ikut berjuang membela hak masyarakatnya. Bertahuntahun ia setia bekerja sebagai relawan, penggerak Masyarakat Peduli Borobudur. Dan setelah 40 tahun jatuh bangun, Sucoro mendirikan dan memimpin sekolah lapangan. Pak Sucoro, tolong diceritakan bagaimana visi anda dan apa tujuan Sekolah Lapangan? Begini katanya, “Selama ini masyarakat Borobudur lebih banyak melihat candi sebagai sarana mengais rejeki. Terbukti jumlah pedagang di Taman Wisata Candi Borobudur mencapai lebih dari 3,000 pada tahun 2006. Bahkan bisa diperkirakan meningkat lagi menjadi 3,600 pedagang pada tahun 2008. Kenyataan inilah yang melatar belakangi kami untuk berinisiatif memberikan pengetahuan lebih jauh mengenai Borobudur kepada masyarakat yang bermukim atau berkegiatan usaha disekitarnya.” Melalui program itu, Sucoro dan karan-kawannya berupaya meningkatkan pemahaman masyarakatnya pada Candi Borobudur dan berbagai aspek yang meliputinya. “Harapan kami dengan diadakannya program pendidikan tambahan ini, masyarakat Borobudur akan memiliki pengetahuan lebih, menjadi lebih cerdas dan memiliki cara pandang yang lebih bijak dalam bersikap, terkait dengan Candi Borobudur sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.”

Itukah cara terindah untuk mencintai Borobudur? Betul. Cara terindah untuk mencintai Borobudur adalah membuat masayarakat seputarnya lebih pintar, cerdas, bijaksana. Ketua Satu Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), Prof. Dr, Dorodjatun Kuntjorojakti mengajukan konsepkonsep yang lebih radikal. Ia mencemaskan kalau pengunjung candi Borobudur melebihi empat juta wisatawan dalam setahun atau sepuluh ribu orang dalam sehari. “Kita harus berhati-hati. Harus diperhitungkan kalau terjadi setiap hari, terus menerus hentakan 10,000 pasang kaki untuk batuan candi. Apakah konstruksinya cukup memadai?” tanya Pak Dorodjatun. Menurut dia harus ada penyelesaian teknis yang terencana dengan baik. Zonasi di kawasan candi harus dibuat lebih teliti, dan perlu sarana menyibukkan pengunjung. Hanya kalangan tertentu saja yang boleh dan perlu masuk sampai pelataran, apa lagi mendaki sampai ke puncak candi. Bagi banyak peminat, mungkin cukup bisa mendekat dan mengambil foto dengan latar belakang candi itu. Lagi pula, tidak semua orang suka berpanas-panas, berpayah-payah dan menghabiskan tenaga naik turun candi yang cukup meletihkan. “Kalau ada cara untuk menahan, tetapi lebih memuaskan pengunjung, tanpa harus menginjakinjak candi, pasti lebih baik,” katanya. Ia percaya, ada museum, restoran, animasi dan alat peraga lain yang dapat dibangun untuk mengurangi tekanan pada candi. Hal itu tidak salah, sebab ada juga orang yang datang ke dekat Borobudur, untuk menikmati sup jamur dan soto mi. Wisata kuliner, pagelaran kesenian, pelajaran membatik, seni kriya dan kerajinan gerabah, ternyata

Jantung Hati Borobudur

139

bisa membantu mengharumkan Borobudur, tanpa membebaninya dan mengancam kelestariannya. Demikian juga kegiatan olahraga. Ada jalan kaki, turnamen golf, tenis dan sepak bola merupakan alternatif yang baik untuk masa depan Borobudur. Seorang penggiat BPPI, Dewi Turgarini, yang juga pelestari pusaka, dosen ilmu pariwisata pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, mengajukan makalah, berjudul: Peran Candi Borobudur sebagai obyek wisata kreatif berkelanjutan. Di antara pokok-pokok pemikirannya, Dewi Turgarini menyatakan: “Makna terdalam dari eksistensi Candi Borobudur adalah bagaimana mengajak para generasi muda untuk memahami warisan dunia yang sarat dengan nilai-nilai kultural patut dicintai dan dilestarikan. Hal ini patut dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas refleksi sejarah perkembangan bangsa ini baik di masa lampau, dan manfaat yang komprehensif dan multidisipliner pada masa mendatang. Memang menjadi hal yang krusial keberadaan candi secara berkelanjutan agar dapat tetap sinergis dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, budaya, dan ekonomi bagi seluruh stakeholdernya. Beragam upaya dan perencanaan yang matang patut diperhatikan dalam meningkatkan kualitas atraksi wisata, pelayanan jasa dalam candi, dan teknik pelestarian, serta pelibatan masyarakat sekitarnya sebagai basis pengembangan pariwisatanya.”

“Untuk itu diperlukan adanya code of conduct yang jelas sehingga tidak merusak kultur komunitasnya. Tentunya perlu diciptakan suatu atraksi yang tidak melibatkan jumlah wisatawan banyak (mass tourism), dan dapat memberikan kontribusi langsung secara ekonomis kepada masyarakat. Sebaiknya para stakeholder yang terdiri dari komunitas - masyarakat, pemerintah serta industri pariwisata harus selalu menyadari adanya resiko, dan berupaya untuk meminimalisir dampak pariwisata dalam setiap aktivitasnya dari berbagai aspek.” “Berkaca dari perjalanan penulis saat melihat pengelolaan obyek wisata warisan dunia Angkor Wat di Kamboja, dan The Great Wall di China terdapat beberapa point penting yang patut kita teladani. Pertama ketegasan para pengelola dalam menjaga kelestarian obyek dari gerusan wisatawan yang datang. Kedua penciptaan atraksi wisata sebagai living culture diciptakan pengelola bekerjasama dengan masyarakat sekitar dengan tidak merusak zona inti (adanya aktivitas ritual keagamaan, sesi foto menggunakan kostum tradisional, adanya grup musik tradisional, melukis cepat). Ketiga ketegasan pemerintah dalam menetapkan kawasan obyek wisata warisan dunia dipatuhi oleh seluruh stakeholder dalam menjaga keberlanjutannya. Keempat melibatkan masyarakat dalam perencanaan pengembangan pariwisata secara berkelanjutan bahkan dilakukan sosialisasinya kepada masyarakat sejak usia dini.” Dewi sadar, keempat masukannya tidak mudah diimplementasikan di kawasan pengelolaan Candi Borobudur. “Namun sudah sepatutnya kita segera menciptakan kawasan Candi Borobudur sebagai obyek wisata kreatif yang harmonis. Hal ini patut melibatkan masyarakat sekitarnya agar selalu dapat dilestarikan dengan penuh rasa cinta dari stakeholdernya karena

Wisata Kreatif Melibatkan Partisipasi Masyarakat

Dewi Turgaini melihat bahwa sudah saatnya dikembangkan wisata alternatif yang lebih menciptakan interaksi yang intens antara pendatang, dan masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

140

Jantung Hati Borobudur

dirasakan manfaatnya secara komprehensif,” tulisnya. Selain dari Dewi, BPPI juga mendapatkan masukan dari Zulfiza Ariska, seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, Universitas Terbuka, yang tinggal di Yogyakarta. Ia melihat dua hal yang penting. Pertama dukungan kurikulum sekolah untuk mengembangkan pendidikan yang menghargai kearifan lokal. Kedua peranan media massa sebagai penyebar informasi, sekaligus piñata kesadaran nasionalisme. Kata Zulfiza, “Dari dua perspektif tersebut bisa kita tarik dua sikap dalam mempertahankan Candi Borobudur sebagai pusaka Indonesia. Pertama, rekontruksi kurikulum pendidikan formal menuju konsep kearifan lokal. Kita bisa melakukan proses menggali informasi, komunikasi peduli kearifan lokal, dan menyatukan kesadaran kolektif dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. Kedua, membantu media massadapat ikut merekontruksi konsep produksi yang selaras dengan kearifan lokal dan aplikatif.” Akhirnya, kita disadarkan bahwa begitu banyak yang telah ikut memikirkan, bekerja-keras, bahkan berkorban habis-habisan untuk Candi Borobudur. Buku ini sudah mengingatkan kita pada penderitaan rakyat kecil, yang berabad-abad, siang dan malam, hidup dan mati di kaki candi. Tapi itu bukan berarti kita

melupakan, bahwa Borobudur juga dicintai dan dibela oleh para selebriti, para presiden, para raja, puteri dan pangeran di berbagai penjuru tempat yang jauh. Sebagai penutup, kita juga tidak ingin mengabaikan peranan swasta, lembaga internasional, pemerintah manca negara, badan-badan dunia, teristimewa UNESCO, bahkan kalangan akademis dan media massa yang dengan caranya sendiri telah berbakti untuk dan atas nama kelestarian Borobudur. Kita semua tahu bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko juga memperjuangkan konservasi hijau – green conservation – dalam berbagai aspek dan tingkatan, baik lokal, nasional, maupun internasional. Ada berbagai buku, video, brosur dan sumber-sumber terpercaya yang dapat menjelaskannya. Artinya, kita perlu selalu terbuka, mendengar, mengapresiasi, mendukung, dan memperhatikan upaya bersama yang mulia ini. Selamat bekerja. Salam lestari untuk anda semua yang telah menjadi Jantung Hati Borobudur.

EKA BUDIANTA Editor

Kesimpulan dan harapannya: “Dengan kedua sikap tersebut, tak hanya Candi Borobudur saja yang bisa kita lestarikan sebagai pusaka Indonesia, tapi seluruh kekayaan peradaban warisan leluhur bangsa. Semoga!”
Jantung Hati Borobudur

141

UNGKAPAN TERIMA KASIH dan CATATAN TENTANG NARASUMBER
Buku ini terwujud berkat bantuan sejumlah narasumber. Atas partisipasi dan sumbangan pemikiran serta perhatiannya diucapkan banyak terima kasih dan Penghargaan setinggi-tingginya. Di antara mereka adalah: Bapak Lurah Candirejo, Singgih Mulyanto, SE – Lahir di Magelang, 16 Mei 1975, lulusan Universitas Janabadra, Yogyakarta. Alamat: Dusun Sangen, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Bapak Tatak Sariawan, kepala Koperasi Desa Wisata Candirejo sebagai Pengelola Wisata di Desa Candirejo. Bapak Jack Priyana, pengelola Home Stay Lotus 1 dan 2, aktifis konservasi budaya dan ecotourism. Bapak Sucoro, lahir di Magelang 28 September 1953, penggerak masyarakat peduli Borobudur sejak 1980. Ia telah menulis berbagai renungan dan merilis video untuk menanamkan kecintaan kepada Candi Borobudur, tinggal di Jalan Medang Kamulan 7, Borobudur. Bapak Amat Sukandar, lahir di Purworejo, 17 Agustus 1950 staf ahli Majalah Kabupaten Magelang, Suara Gemilang, Koresponden Majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang, Yogyakarta (1975 – sekarang), Koresponden/ reporter Surat Kabar Harian “Kedaulatan Rakyat” Yogyakarta (1980 – 1990), tinggal di Mungkid. Ibu Dwita Hadi Rahmi, staf pengajar Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Menyelesaikan studi S1 di Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (Ir); S2 Environmental Studies di University of Waterloo, Canada (M.A); dan saat ini sedang menyelesaikan studi S3 di Program Studi Ilmu Lingkungan, Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Penelitian yang dilakukan untuk disertasinya bertema “pusaka saujana Borobudur” (Borobudur cultural landscape), yang mengantarnya untuk mempelajari kondisi fisik dan budaya masyarakat Borobudur. Bapak Ir. Bambang Dono Kuntjoro, lahir di Purwokerto, 26 September 1957, tinggal di Jl Sunan Kalijaga V/3 Magelang, sarjana teknik arsitektur, lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Jabatannya Kepala Bidang Penataan Ruang & Prasarana Wilayah, Bappeda Kabupaten Magelang. Bersama dengan teman-temannya dari LSM, di luar kedinasan, ia mencoba bergiat dalam pemberdayaan masyarakat Kawasan Borobudur dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT Taman Wisata Candi Borobudur. Di antara kontributor, ada juga Bapak Khoirul Muna dari Desa Wanurejo, dan para penyumbang pemikiran dari berbagai penjuru Tanah Air Indonesia dan luar negeri. Misalnya, Rm Albert Herwanta, rohaniwan Indonesia di Roma, Italia; Rm Mudji Sutrisno, budayawan, rohaniwan Indonesia di Jakarta, Ibu Nining Niluh Sudarti, dari Dusun Pakem RT. 001/RW. 006, Desa Majaksingi, Borobudur, Ibu Nessa Kartika, di Lipursari, Wonosobo, Ibu Nia Samsihono, di Pusat Bahasa, Jakarta, Bapak Sangkono Tjiptowardoyo dari komunitas penganut ajaran Pransoeh, Bapak Romanus Agung dan Mashambal Al-Ghozali, seorang pengarang cerpen kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai penutup, berikut ini adalah kutipan dari sepenggal cerita pendeknya, yang melukiskan Candi Borobudur di mata rakyat jelata. Judulnya: Batas Pagar, karya Mashambal al-Ghzali, yang juga populer dengan nama Kak Syms.

BATAS PAGAR

Gemerutuk hujan yang turun sepanjang hari membuat tubuhku kedinginan. Telah lama aku menunggu di teras mushola ini. Aku ingin menghentikan hujan lebat tapi tak kuasa. Aku ingin berlari menerobos rinainya tapi takut kuyup. Aku biarkan raga ini terpaku dan me-

142

Jantung Hati Borobudur

natap sekitar. Orang-orang yang sudah selesai sholat jumat sebagian besar sudah bergegas meninggalkan teras mushola ini. Aku terpaku. Menatap kemegahan candi Borobudur. Sebelum menunaikan kewajiban untuk sholat jumat di mushola yang berada di halaman candi Borobudur ini aku telah masuk ke tingkat tertinggi dari candi. Aku naik dan masuk melalui sisi timur candi lalu mengitari candi searah jarum jam dan melalui undakan-undakan melewati Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Sepanjang perjalanan mengitari candi, mataku tak lepas-lepasnya menatap lebih dari 1.400 panel relief. Semuanya aku tatap dengan penuh kekaguman. Relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan mengingatkanku pada perubahan kehidupan manusia dan setelah turun kembali dari undakan-undakan tersebut aku seperti dihadapkan pada dunia yang sebenarnya. Para pedagang yang penuh nafsu menggodaku dengan barang dagangan. Dengan setengah memaksa, bapak-bapak pedagang memaksaku untuk membeli dagangan mereka dan anak-anak kecil mengemis dengan memasang wajah memelas. Kalbuku diobok-obok oleh emosi dan keikhlasan. Aku sungguh tidak dapat membedakan antara yang berwujud dan tidak berwujud. Hatiku berkecamuk. Panggilan adzan. Ya… panggilan adzan untuk menghadapNYA terdengar berkumandang dan aku yang berada di antara berwujud dan tidak berwujud menjadi kembali fana. Aku tak sabar untuk segera bersujud di hadapanNYA. Ingin menumpahkan air mata kalbu yang hampir jatuh. **** Hujan telah reda. Tiga jam berlalu sudah. Mataku masih saja terus menjajah. Tak ingin rasanya aku membiarkan sisa siang ini percuma. Aku berjalan sedikit menjauh dari mushola. Kakiku berkecipakan. Sisa air hujan yang

tergenang membuat sandal jepitku basah dan celana panjang berlepotan sedikit becek. Aku berjalan menuju luar pagar kawasan candi Borobudur dan mampir makan di salah satu warung makan. Dengan ramahnya, ibu pemilik warung makan mempersilahkan aku duduk dan aku tidak menunggu terlalu lama untuk memesan nasi gudeg. Ketika aku menunggu pesanan datang, aku mendengar percakapan dari abang-abang becak yang sedang berteduh menunggu penumpang. “Joy, keliatannya harga tiket masuk candi Borobudur jadi dinaikan?!’’ ‘’Oh ya? Wah, gimana itu? Pasti wisatawan akan turun,”sahut temannya yang berbaju coklat sedikit camping. ‘’Pinten jal tiket masuk’e?” timpal abang becak yang baru saja memarkir becaknya. Tampak keringat mengucur di dahinya. “Dengar-dengar sih, nyampe dua ratusan ribu, po yo?’’ ‘’Wadow! Kenapa ya?’’ Percakapan abang-abang becak itu tersamarkan oleh sajian makanan yang telah diantar oleh ibu pemilik warung. Aku tidak lagi menghiraukan mereka. Nasi gudeg dan es kelapa muda segera aku santap. Angin semilir sedikit membawa perubahan pada kepenatanku. Di jarak kejauhan, aku mendadak melihat ada kerumunan orang dan abang-abang becak itu bergegas mendekati kerumunan orang tersebut. Semakin lama kerumunan semakin bertambah dan ada polisi yang datang mendekat. ***

Jantung Hati Borobudur

143

“Peringatan Hari Pusaka Dunia di Puri Pejeng, Gianyar, Bali, 18 April 2011, dirayakan BPPI bersamaan dengan acara Samuan Tiga. Tampak dalam foto: Bupati Gianyar, Dr. Ir. Tjokorda Oka A.A. Sukawati, Ketua Dewan Pimpinan BPPI, I Gede Ardika dan Budayawan Mudji Sutrisno, serta para Pedanda yang memberikan orasi.”

MENGAWAL KELESTARIAN PUSAKA INDONESIA
Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) merupakan organisasi nirlaba. Anggota BPPI tersebar di seluruh Nusantara dan dunia yang terdiri dari individu praktisi dan pemerhati pelestarian. Ruang lingkup programprogram BPPI yang sangat luas menjadikan BPPI kaya dengan anggota dari berbagai disiplin ilmu seperti arsitektur, perencanaan kota/daerah, lingkungan hidup, arkeologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, sejarah, sastra, musik, teater dan lain sebagainya.

Saat ini BPPI bermitra dengan lebih dari 50 mitra lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia serta mitra internasional dari Australia, Belanda, Lebanon dll. BPPI merupakan anggota dari International National Trusts Organisation (INTO) yaitu wadah jaringan organisasi pelestarian sedunia yang berpusat di London.

KEMITRAAN

1. I Gede Ardika (Ketua) 2. Dorodjatun Kuntjoro Jakti (Wakil Ketua I) 3. Pia Alisjahbana (Wakil Ketua II) 4. Hashim Djojohadikusumo (Wakil Ketua III) 5. Catrini Pratihari Kubontubuh (Direktur Eksekutif ) 6. Arya Abieta (anggota)

DEWAN PIMPINAN BPPI 2010-2013

144

Jantung Hati Borobudur

7. Amran Nur (anggota) 8. Dedy Gumelar (anggota) 9. Hardini Sumono (anggota) 10. Hasti Tarekat (anggota) 11. Heri Akhmadi (anggota) 12. Laretna T. Adishakti (anggota) 13. Luluk Sumiarso (anggota) 14. Ning Purnomohadi (anggota) 15. Rudy J. Pesik (anggota) 16. Setyanto P. Santosa (anggota) 17. Soehardi Hartono (anggota)

DEWAN PAKAR BPPI

BPPI didukung oleh kumpulan individu yang memiliki kepakaran di bidangnya masing-masing, serta membentuk kelompok-kelompok kerja sesuai dengan bidang yang diminati. Tiga bidang utama yang mendapat perhatian istimewa adalah pusaka ragawi, pusaka tak-ragawi, dan pusaka saujana (lanskap) gabungan antara alam dan kebudayaan.

1. Aristia Kusuma (Koordinator) 2. Hannisya Subana (Bidang Internal) 3. Patricia Manangkot (Bidang Eksternal) 4. Suci Rifani (Administrasi) 5. Leni Marlina (Tenaga Pendukung) BPPI didukung pula oleh para sukarelawan pencinta pusaka.

SEKRETARIAT BPPI

Griya BPPI: Jl. Veteran I no. 27 Jakarta 10110 Indonesia T/F: 021.35 111 27

INFORMASI LEBIH LANJUT

Rekening BPPI:

Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Permata Bank, Jl. Sudirman Kav. 27 Jakarta 10110 No: 070 162 16 62 (Rupiah) / 090 450 40 41 (Euro)

Jantung Hati Borobudur

145

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->