P. 1
Peranan Bahasa Indonesia

Peranan Bahasa Indonesia

|Views: 75|Likes:
Published by DweCaprio D' Lavoox

More info:

Published by: DweCaprio D' Lavoox on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2012

pdf

text

original

PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA PENDIDIKAN BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anakanak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh oleh anak-anak didiknya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi mengenai Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan, yang menjadi Rumusan Masalah dalam Karya Ilmiah ini adalah : 1. Bagaimana Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia? 2.

Kemampuan Masyarakat dan Peserta Didik dalam Berbicara (bahasa lisan). Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali peserta didik. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok.

isi pesan komunikasi. 4. mendengarkan (menyimak). ragam bahasa lisan. Bahasa Lisan Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa. leksikal. Adapun bagian-bagian yang akan dibahas tersebut adalah : 1. yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan. dan berbicara. Dalam penggunaannya. fungsi bahasa. morfologi. sintaksis). Sebagaimana diungkapkan oleh Moeliono (Ed. bahwa ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988: 6). keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan. 5. maka apa yang mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat langsung ditanyakan kepada pembicara. khususnya kemampuan peserta didik dalam berbicara (bahasa lisan). 2. keterkaitan antara penggunaan ragam dan fungsi bahasa. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. dan pemahaman guru terhadap isi/pesan yang disampaikan oleh peserta didik. Keterampilan berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek. 6. yang di dalamnya (kurikulum pendidikan) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. Hal-hal yang dimaksud adalah bagian-bagian yang terkait dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam penelitian ini. menulis. Dalam proses pemerolehan dan penggunaannya. tetapi di dalamnya termasuk kemampuan membaca. . Salah satu tujuan pokoknya adalah mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah. 3. khususnya berbagai persoalan yang akan dibahas dalam bab ini. yaitu karena bahasa ragam lisan digunakan dengan hadirnya peserta bicara. Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan. struktur ragam bahasa lisan (fonologi. kedua ragam ini pada umumnya berbeda.Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan berdasarkan kurikulum yang berlaku.).

Saran suprasegmental itu. situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kaliamt. dapat disesuaikan dengan situasi. dan oleh mimiknya.Hal ini menunjukan bahwa peranan penggunaan bahasa ragam lisan itu penting. jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi. oleh gerak-gerak pembicara. karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakannya. meskipun kalimat yang diucapkan oleh seorang pembicara tidak lengkap. bahasa tulis harus disusun lebih sempurna. karena dengan bahasa lisan banyak yang dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit. Di samping itu. alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada. 3. Apa yang tidak jelas dalam bahasa tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. yaitu : 1. dan 4. bahasa lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur. Berkaitan dengan ini. faktor efisiensi. 2. Itulah sebabnya. Penggunaan bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan. pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Badudu (1985: 6) menjelaskan pula perbedaan bahasa lisan dan tulisan. sedangkan dalam bahasa tulisan. antara lain gejala intonasi yang berupa aksen. faktor kecepatan. Dalam penggunaan bahasa lisan. tinggi rendahnya nada. Dalam bahasa lisan. dan keras lembutnya suara. Sebaliknya. saran-saran suprasegmental memberi sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan suatu komunikasi. Menurutnya. apabila terjadi kesalahan. bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan dibantu pengertiannya. Pateda (1987: 63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam komunikasi. kita dapat menangkap . sedangkan dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. faktor kejelasan. tekanan kata. artinya meskipun gelap orang masih bisa berkomunikasi. berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan. pada saat itu pula dapat dikoreksi.

mata dan anggota badan lainnya. baiklah. dalam obrolan akrab. bahasa lisan secara khusus memuat lebih sedikit kalimat subordinat. penggunaan susunan kalimat dihubungkan oleh dan tetapi. tentu. dan dalam percakapan lisan. biarpun. 1983: 12). juga (brown dalam yule.maknanya dengan melihat lagu kalimatnya serta gerak-gerik tangan. saya pikir. visual. seperti. dari informasi auditif. 8. dalam bahasa tulisan terdapat seperangkat penanda metabahasa untuk menandai hubungan antar klausa (bahwa. meskipun penggunaan bahasa lisan itu memiliki banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan (seperti diuraikan di atas). 3. Gambaran karakteristik bahasa lisan sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli yang dimaksud yaitu: 1. misalkan. ketika). 2. bukan . engkau tahu. 6. lalu. dalam bahasa lisan. pemahaman pemakaian bahasa lisan adalah hasil permainan bersama yang subtil dari data pengetahuan lingual dan ekstra lingual. kalimat bahasa lisan banyak yang kurang terstruktur ketimbang bahasa tulisan. bahkan sering urutan frasa-frasa sederhana. peristiwa konstruksi pasif relatif jarang terjadi. 5. penutur sering mengulangi beberapa bentuk kalimat. selain itu. di samping itu. serta agak jarang jika. yang disebut logical connector. penutur dapat mempercayakan petunjuk pandangan untuk membantu suatu acuan. dan biasanya berbentuk kalimat deklaratif aktif. Sejumlah ahli telah melakukan studi bahasa lisan. penutur sering menghasilkan sejumlah pengisi (filter). kalimat bahasa tulisan secara umum berstruktur subjek–predikat. yaitu bahasa lisan berisi beberapa kalimat tidak lengkap. dan kognitif (berdasarkan pengetahuan dan penapsiran). sedangkan dalam bahasa lisan umumnya berstruktur topik komentar. kalimatkalimat pendek dapat diobservasi. 7. penutur dapat menjaring ekspresi lawan bicara. 4. Dalam hal ini Uhlenbeck dalam Teeuw (1984: 27) pun menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak tergantung pada epek sarana-sarana lingual saja. dalam tuturan formal. juga.

Saussure memberinya istilah dengan langue. yaitu totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa. karena penggunaan bahasa bersifat heterogen. Dengan demikian. tata makna. Setiap penutur dapat dikatakan terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang dikuasainya. 1985: 4). sistem gramatikal (tata bentuk kata. Language adalah suatu sistem yang memiliki susunan sendiri. Kaitannya dengan penelitian ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah parole.berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. dan masalah yang dikemukakan. sama bagi semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. dan kosa kata. Istilah competence (kompetensi) diartikan sebagai ―… the speaker hearers knowledge of his language …‖ (Aiwasilah. Komunikasi di antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar. yaitu diistilahkan dengan parole. 1988: 88). pembaca dan pendengar atau penyimak. dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. lawan bicara. Keterampilan bahasa yang terdiri dari berbicara. setiap bahasa memiliki seperangkat sistem. Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (Sassure dan Rahayu. Penggunaan Bahasa Ragam Lisan Berbicara tentang penggunaan bahasa. dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara. penulis. Language adalah sesuatu yang ada pada setiap individu. Penutur-penutur bahasa itu. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure. tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. apabila di antara kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa ini berfungsi sebagai penerima. . tata bentuk kalimat). Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa. yaitu sistem bunyi bahasa. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan bahasa. sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai orang yang memproduksikan (menghasilkan) bahasa.

apa pun jenisnya itu disebut berbahasa dengan efektif. tokoh bicara.mendengar. menulis. membaca ini pun pada umumnya jarang dikuasainya penutur yang sama baiknya. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara. Ada penutur yang terampil berbicara. Namun. Bahasanya memberikan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Dengan demikian. dengan pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan sistem-sistem di atas. Del Hymas merinci faktor-faktor yang . dan suasana pembicaraan. situasi. tetapi kurang terampil menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. dan sebagainya. Dalam hal ini Rusyana (1984: 104) menjelaskan bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa dengan baik. yang disebut dengan dialek.) menguraikan bahwa orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya. Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu terdiri dari berbagai ragam. supaya apa yang ingin diungkapkan dapat diterima oleh lawan tuturnya. topik pembicaraan. seorang penutur harus lebih cermat dalam menggunakan bahasanya. Dalam hal ini Fishman (1972: 149) membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya (user). Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. tetapi juga dapat memakainya secara serasi. Ragam itu ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dan ada pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. sesuai pokok permasalahan. belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. Berkaitan dengan ini Anton Moeliono (Ed. Untuk itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan tepat (1988: 19). setiap penutur harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan fungsinya. Orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. dan variasi bahasa menurut penggunaannya (use) disebut dengan istilah register. lawan bicara.

ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi. morfologi. dan intonasi (Badudu. instrumentalities. pilihan kata atau leksis. Perbedaan struktural ini berbentuk ucapan. yang dilihat dari segi fonologi . ends (pupose and goals). Nebaban (1984: 22) menjelaskan bahwa setiap bahasa mempunyai banyak ragam. morfologi.mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi delapan faktor. 2. yang mengacu kepada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi. yang mengacu kepada sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan. yang dipakai dalam keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. 5. sintaksis. fonologi. yang mengacu kepada norma perilaku dalam berinteraksi. Kedelapan faktor itu adalah : 1. 1991: 85). Sejalan dengan pendapat tersebut. yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi. 3. Ragam-ragam itu menunjukan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. interpretasi komunikasi. prosa puisi (Hymes dalam Bell. 4. bahasa. dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemakaian bahasa. yang mengacu kepada gaya. dan 8. 7. yang mengacu kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim. Berkaitan dengan pendapat di atas. yang mengacu kepada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi. dan sintaksis. pendengar/penerima. setting and scence. yang mengacu pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi. intonasi. genres. norms. 4. 3. 2. actsequence. misalnya cerita. key. 6. 1976: 81). dialek. participant. Untuk mengetahui ragam bahasa apa yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui : 1. identitas katakata. 5.

ada juga pengaruh struktur kalimat. Badudu (1980: 115) menjelaskan bahwa lafal bahasa Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa daerah atau . Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. leksis (pilihan kata).(pelafalan/pengucapan). Oleh karena itu. Bila seseorang dalam berbahasa Indonesia (lisan) terdengar bahasa daerahnya. kemana. bila seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya. ada pengaruh bentuk kata. Lagi pula agaknya pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya. yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit. Pengaruh tersebut beragam. Bali. Bila kita perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya. Pelafalan (Pengucapan) Masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku. Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku. ada pengaruh makna kata. akhirankan akan diucapkan dengan /ken/. Aceh. maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. Mengenai pengertian lafal baku tersebut. bila berbicara akan diwarnai oleh pengaruh bahasa daerahnya. Lebih lanjut dikatakannya. Badudu (1985: 12) menjelaskan bahwa yang sering sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah. Atau orang yang berasal dari Jawa. sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal. maka lafalnya dapat digolongkan kepada bahasa baku (standar). tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. kosakata dan sintaksis (kalimat). morfologi (bentuk kata). karena lidah penutur yang sudah ―terbentuk‖ sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya. diucapkan dengan menggunakan /e/ benar. dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. Demikian pula dengan suku-suku lain misalnya Sunda. Kata-kata seperti mengapa. kata-kata yang befonem /e/ akan dilafalkan dengan /E/. Dari beberapa pengaruh tersebut. Ada pengaruh lafal. karena. tampaknya pengaruh lafal bahasa daerah sering kita dengar. Akan tetapi.

Uraian di atas memberikan gambaran bahwa struktur bahasa ragam lisan anakanak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. kalimat kedua dapat memunculkan kalimat ketiga dan seterusnya. lawan bicara dan masalah yang dikemukakan. unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Andaikan ada yang tidak dipahami. Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. Struktur Bahasa Ragam Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD Dalam wujudnya. Kaitan dengan penilaian ini. Di samping itu. dan objek. Kenyataan seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130). Inggris atau Arab. Akan tetapi. memahami bahasa lisan seseorang dapat dilakukan. (2) kalimat deklaratif aktif lebih banyak daripada konstruksi pasif. tidak begitu jelas. sintaksis dan semantik. struktur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar. bentuk morfologis. Dalam bahasa lisan. Karena itu. pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan kemungkinan untuk berkontak secara langsung. dapat ditanyakan dan kemudian dijelaskan. ketidak jelasan . juga tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda. bahasa yang kita gunakan terdiri dari unsur bunyi. Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah-pisah. walaupun ada yang jika dipandang dari kalimat-kalimat yang digunakan. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua. Penggunaan bahasa lisan banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. Kemudian.dialek. Situasinya juga diketahui oleh kedua belah pihak. aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan. Soemantri (1987: 11) mengemukakan bahwa lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak terlalu menonjol ciri lafal daerah penuturnya. dan (3) lepasnya unsur subjek. predikat. Oleh karena itu. antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan aturan yang berlaku dalam bahasa itu. bahwa dalam penuturan lisan.

Bebereapa pakar memberikan penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang masing-masing. hal ini akan dialami apabila anak-anak mulai masuk sekolah. . Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah masyarakat. biasanya yang dominan adalah bahasa ibu daerah. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih. yang pertama kali mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. Bagi anak-anak. Dalam rentang waktu selanjutnya. sesuai dengan usianya kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. Terutama di daerah-daerah pedesaan. Fungsi Bahasa yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi.itu mungkin sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan atau langsung dijelaskan oleh pembicara. misalnya bahasa Indonesia. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan bahasa yang lain. yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. Dengan demikian. sehingga mereka dapat menguasai lebih dari satu bahasa. Sebagian besar masyarakat. karena sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah. Kedwibahasaan seseorang di dalam masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa atau lebih. Bahasa ibu. kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya. maka akan diperoleh dan dikuasai bahasa kedua. penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu sendiri. Dari perjalanan waktu dan usia sekolah itulah. Dengan demiklian. termasuk anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. Meskipun anak-anak telah memasuki sekolah. maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam berkomunikasi.

penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara keseluruhan memiliki banyak persamaan. Rusyana. Sosiolinguistik. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Fungsi untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. 1993. secara konstekstual bahasa yang digunakan anak-anak dwibahasawan berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksional. Chaedar. ―Morfologi” Bahan Kuliah pada Penataran Disiplin Ilmu. Syamsu. Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa Badudu. dkk.Akan tetapi. Bandung: FKSS IKIP —————. Bandung: Diponegoro. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini. Bandung: Angkasa.S. Pateda. A. 1986. dan untuk menyatakan imajinasi dan khayal. alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau heuristik. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. 1984. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Mansoer. bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia. Dalam konteks itu. Bandung: Angkasa. . A. Bandung: Pustaka Prima. Henry Guntur. Sekaitan dengan itu. Tarigan. Yusuf. 1987. merupakan alat untuk diri atau personal. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. 1985. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah. (ed). Jakarta: Jambatan. 1978. Bandung: CV Andira. 1986. 1985. bahasa merupakan unsur kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan. Yus. J. Moeliono.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->