PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA PENDIDIKAN BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anakanak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh oleh anak-anak didiknya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi mengenai Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan, yang menjadi Rumusan Masalah dalam Karya Ilmiah ini adalah : 1. Bagaimana Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia? 2.

Kemampuan Masyarakat dan Peserta Didik dalam Berbicara (bahasa lisan). Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali peserta didik. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok.

dan pemahaman guru terhadap isi/pesan yang disampaikan oleh peserta didik. 5. Dalam proses pemerolehan dan penggunaannya. kedua ragam ini pada umumnya berbeda. menulis. . sintaksis). isi pesan komunikasi. dan berbicara. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. 6. mendengarkan (menyimak). maka apa yang mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat langsung ditanyakan kepada pembicara.Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. 4. 2. Bahasa Lisan Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa.). Dalam penggunaannya. keterkaitan antara penggunaan ragam dan fungsi bahasa. fungsi bahasa. khususnya kemampuan peserta didik dalam berbicara (bahasa lisan). bahwa ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988: 6). morfologi. leksikal. yang di dalamnya (kurikulum pendidikan) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. Adapun bagian-bagian yang akan dibahas tersebut adalah : 1. 3. Hal-hal yang dimaksud adalah bagian-bagian yang terkait dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam penelitian ini. keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan. Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan. tetapi di dalamnya termasuk kemampuan membaca. Sebagaimana diungkapkan oleh Moeliono (Ed. yaitu karena bahasa ragam lisan digunakan dengan hadirnya peserta bicara. khususnya berbagai persoalan yang akan dibahas dalam bab ini. Salah satu tujuan pokoknya adalah mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah. yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan. struktur ragam bahasa lisan (fonologi. Keterampilan berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek. ragam bahasa lisan.

tekanan kata. antara lain gejala intonasi yang berupa aksen. bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan dibantu pengertiannya. sedangkan dalam bahasa tulisan. apabila terjadi kesalahan. 3. Badudu (1985: 6) menjelaskan pula perbedaan bahasa lisan dan tulisan. dan 4. alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada. Menurutnya. dan keras lembutnya suara. yaitu : 1. bahasa lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur. pada saat itu pula dapat dikoreksi. jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi. Dalam bahasa tulisan. Apa yang tidak jelas dalam bahasa tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan. situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kaliamt. saran-saran suprasegmental memberi sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan suatu komunikasi. Di samping itu. karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakannya. kita dapat menangkap . karena dengan bahasa lisan banyak yang dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit. artinya meskipun gelap orang masih bisa berkomunikasi. faktor kejelasan. faktor kecepatan. Pateda (1987: 63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam komunikasi. Dalam bahasa lisan. Dalam penggunaan bahasa lisan. meskipun kalimat yang diucapkan oleh seorang pembicara tidak lengkap. Saran suprasegmental itu. Sebaliknya. pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Itulah sebabnya. Penggunaan bahasa lisan. bahasa tulis harus disusun lebih sempurna. sedangkan dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. tinggi rendahnya nada. faktor efisiensi. oleh gerak-gerak pembicara. dapat disesuaikan dengan situasi. 2. Berkaitan dengan ini. dan oleh mimiknya.Hal ini menunjukan bahwa peranan penggunaan bahasa ragam lisan itu penting.

kalimat bahasa tulisan secara umum berstruktur subjek–predikat. juga. Sejumlah ahli telah melakukan studi bahasa lisan. serta agak jarang jika. pemahaman pemakaian bahasa lisan adalah hasil permainan bersama yang subtil dari data pengetahuan lingual dan ekstra lingual. dalam bahasa tulisan terdapat seperangkat penanda metabahasa untuk menandai hubungan antar klausa (bahwa. 4. dari informasi auditif. penutur sering menghasilkan sejumlah pengisi (filter). dalam bahasa lisan. peristiwa konstruksi pasif relatif jarang terjadi. penutur dapat mempercayakan petunjuk pandangan untuk membantu suatu acuan. baiklah. saya pikir. penutur sering mengulangi beberapa bentuk kalimat. ketika). Gambaran karakteristik bahasa lisan sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli yang dimaksud yaitu: 1. dan biasanya berbentuk kalimat deklaratif aktif. kalimat bahasa lisan banyak yang kurang terstruktur ketimbang bahasa tulisan.maknanya dengan melihat lagu kalimatnya serta gerak-gerik tangan. engkau tahu. 5. di samping itu. mata dan anggota badan lainnya. seperti. yaitu bahasa lisan berisi beberapa kalimat tidak lengkap. visual. sedangkan dalam bahasa lisan umumnya berstruktur topik komentar. dalam tuturan formal. bukan . penutur dapat menjaring ekspresi lawan bicara. biarpun. juga (brown dalam yule. Dalam hal ini Uhlenbeck dalam Teeuw (1984: 27) pun menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak tergantung pada epek sarana-sarana lingual saja. dan kognitif (berdasarkan pengetahuan dan penapsiran). kalimatkalimat pendek dapat diobservasi. penggunaan susunan kalimat dihubungkan oleh dan tetapi. meskipun penggunaan bahasa lisan itu memiliki banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan (seperti diuraikan di atas). 2. 7. 6. 3. 1983: 12). 8. dalam obrolan akrab. selain itu. bahkan sering urutan frasa-frasa sederhana. misalkan. yang disebut logical connector. tentu. bahasa lisan secara khusus memuat lebih sedikit kalimat subordinat. lalu. dan dalam percakapan lisan.

Penggunaan Bahasa Ragam Lisan Berbicara tentang penggunaan bahasa. Keterampilan bahasa yang terdiri dari berbicara. yaitu totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure. Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa. Saussure memberinya istilah dengan langue. Komunikasi di antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar. karena penggunaan bahasa bersifat heterogen. sama bagi semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya. sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai orang yang memproduksikan (menghasilkan) bahasa. dan masalah yang dikemukakan. setiap bahasa memiliki seperangkat sistem. Kaitannya dengan penelitian ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah parole. yaitu sistem bunyi bahasa. Language adalah suatu sistem yang memiliki susunan sendiri. pembaca dan pendengar atau penyimak. Penutur-penutur bahasa itu. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. . tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. 1985: 4). sistem gramatikal (tata bentuk kata. lawan bicara. yaitu diistilahkan dengan parole. Setiap penutur dapat dikatakan terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang dikuasainya. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan bahasa. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa ini berfungsi sebagai penerima. apabila di antara kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara. dan kosa kata. dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. Language adalah sesuatu yang ada pada setiap individu. 1988: 88).berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. tata bentuk kalimat). Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (Sassure dan Rahayu. penulis. tata makna. Istilah competence (kompetensi) diartikan sebagai ―… the speaker hearers knowledge of his language …‖ (Aiwasilah. Dengan demikian.

Orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik. sesuai pokok permasalahan. tetapi juga dapat memakainya secara serasi. dan variasi bahasa menurut penggunaannya (use) disebut dengan istilah register. dengan pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan sistem-sistem di atas. yang disebut dengan dialek. setiap penutur harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan fungsinya. Dalam hal ini Fishman (1972: 149) membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya (user). Untuk itu. situasi. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan tepat (1988: 19). apa pun jenisnya itu disebut berbahasa dengan efektif. membaca ini pun pada umumnya jarang dikuasainya penutur yang sama baiknya.mendengar. tetapi kurang terampil menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. Bahasanya memberikan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Berkaitan dengan ini Anton Moeliono (Ed. Dengan demikian. seorang penutur harus lebih cermat dalam menggunakan bahasanya. dan sebagainya. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara. Ragam itu ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dan ada pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. Ada penutur yang terampil berbicara. Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. Dalam hal ini Rusyana (1984: 104) menjelaskan bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa dengan baik. Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu terdiri dari berbagai ragam. supaya apa yang ingin diungkapkan dapat diterima oleh lawan tuturnya. menulis. lawan bicara. dan suasana pembicaraan. topik pembicaraan.) menguraikan bahwa orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya. tokoh bicara. Namun. Del Hymas merinci faktor-faktor yang .

yang mengacu kepada sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan. pilihan kata atau leksis. 4. Berkaitan dengan pendapat di atas. dan 8. yang dipakai dalam keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. actsequence. identitas katakata. yang mengacu kepada norma perilaku dalam berinteraksi. morfologi. fonologi. yang mengacu pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi. morfologi. Ragam-ragam itu menunjukan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. 5. genres. ends (pupose and goals). yang mengacu kepada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi. interpretasi komunikasi. yang mengacu kepada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi. Untuk mengetahui ragam bahasa apa yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui : 1. 7. misalnya cerita. instrumentalities. Sejalan dengan pendapat tersebut. sintaksis. pendengar/penerima. 3. 2. yang dilihat dari segi fonologi . 5. dan intonasi (Badudu. 1991: 85). key. prosa puisi (Hymes dalam Bell. 3. 1976: 81). Kedelapan faktor itu adalah : 1. setting and scence. participant. bahasa. intonasi. dan sintaksis. 4. norms. ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi.mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi delapan faktor. Nebaban (1984: 22) menjelaskan bahwa setiap bahasa mempunyai banyak ragam. yang mengacu kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim. yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi. dialek. yang mengacu kepada gaya. Perbedaan struktural ini berbentuk ucapan. 2. dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemakaian bahasa. 6.

karena lidah penutur yang sudah ―terbentuk‖ sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya. Badudu (1985: 12) menjelaskan bahwa yang sering sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku. Oleh karena itu. diucapkan dengan menggunakan /e/ benar. ada pengaruh bentuk kata. tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. karena. leksis (pilihan kata). Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. kata-kata yang befonem /e/ akan dilafalkan dengan /E/. yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit. Bali. tampaknya pengaruh lafal bahasa daerah sering kita dengar. sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal.(pelafalan/pengucapan). Lagi pula agaknya pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya. Mengenai pengertian lafal baku tersebut. kemana. Bila kita perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya. bila berbicara akan diwarnai oleh pengaruh bahasa daerahnya. akhirankan akan diucapkan dengan /ken/. bila seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya. Pengaruh tersebut beragam. Dari beberapa pengaruh tersebut. Pelafalan (Pengucapan) Masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku. Ada pengaruh lafal. maka lafalnya dapat digolongkan kepada bahasa baku (standar). ada juga pengaruh struktur kalimat. Aceh. Demikian pula dengan suku-suku lain misalnya Sunda. Atau orang yang berasal dari Jawa. Akan tetapi. kosakata dan sintaksis (kalimat). Badudu (1980: 115) menjelaskan bahwa lafal bahasa Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa daerah atau . Bila seseorang dalam berbahasa Indonesia (lisan) terdengar bahasa daerahnya. morfologi (bentuk kata). Kata-kata seperti mengapa. Lebih lanjut dikatakannya. ada pengaruh makna kata.

bentuk morfologis. bahasa yang kita gunakan terdiri dari unsur bunyi. Penggunaan bahasa lisan banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. predikat. aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan.dialek. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa struktur bahasa ragam lisan anakanak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. sintaksis dan semantik. memahami bahasa lisan seseorang dapat dilakukan. unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. Soemantri (1987: 11) mengemukakan bahwa lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak terlalu menonjol ciri lafal daerah penuturnya. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua. Kaitan dengan penilaian ini. Situasinya juga diketahui oleh kedua belah pihak. bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan kemungkinan untuk berkontak secara langsung. Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. Struktur Bahasa Ragam Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD Dalam wujudnya. dan objek. ketidak jelasan . Kenyataan seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130). Karena itu. Andaikan ada yang tidak dipahami. Akan tetapi. Kemudian. lawan bicara dan masalah yang dikemukakan. struktur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar. walaupun ada yang jika dipandang dari kalimat-kalimat yang digunakan. juga tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda. Di samping itu. Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah-pisah. Dalam bahasa lisan. tidak begitu jelas. (2) kalimat deklaratif aktif lebih banyak daripada konstruksi pasif. Inggris atau Arab. dan (3) lepasnya unsur subjek. dapat ditanyakan dan kemudian dijelaskan. antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan aturan yang berlaku dalam bahasa itu. bahwa dalam penuturan lisan. Oleh karena itu. kalimat kedua dapat memunculkan kalimat ketiga dan seterusnya.

misalnya bahasa Indonesia.itu mungkin sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan atau langsung dijelaskan oleh pembicara. . Sebagian besar masyarakat. Dalam rentang waktu selanjutnya. sesuai dengan usianya kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah masyarakat. Kedwibahasaan seseorang di dalam masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa atau lebih. Dengan demiklian. maka akan diperoleh dan dikuasai bahasa kedua. Bahasa ibu. penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu sendiri. termasuk anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. Dengan demikian. sehingga mereka dapat menguasai lebih dari satu bahasa. kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya. Meskipun anak-anak telah memasuki sekolah. biasanya yang dominan adalah bahasa ibu daerah. maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam berkomunikasi. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan bahasa yang lain. Dari perjalanan waktu dan usia sekolah itulah. Bagi anak-anak. Terutama di daerah-daerah pedesaan. Bebereapa pakar memberikan penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang masing-masing. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. Fungsi Bahasa yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. karena sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah. hal ini akan dialami apabila anak-anak mulai masuk sekolah. yang pertama kali mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih. yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat.

1987. Sekaitan dengan itu. 1986. Fungsi untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. 1993. Bandung: Angkasa. penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara keseluruhan memiliki banyak persamaan. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah. Sosiolinguistik. Yusuf. 1978. Syamsu. ―Morfologi” Bahan Kuliah pada Penataran Disiplin Ilmu. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini. Dalam konteks itu. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: FKSS IKIP —————. 1984. alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau heuristik. Rusyana. Moeliono. Bandung: Angkasa Badudu. 1985. dkk. bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia. secara konstekstual bahasa yang digunakan anak-anak dwibahasawan berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksional.Akan tetapi. Yus. Tarigan. Sosiologi Bahasa.S. Pateda. (ed). bahasa merupakan unsur kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan. A. J. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Henry Guntur. Chaedar. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Diponegoro. Pelik-pelik Bahasa Indonesia. . Mansoer. dan untuk menyatakan imajinasi dan khayal. merupakan alat untuk diri atau personal. 1985. Bandung: CV Andira. A. 1986. Bandung: Angkasa. Jakarta: Jambatan. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Bandung: Pustaka Prima.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful