PERANAN BAHASA INDONESIA DALAM DUNIA PENDIDIKAN BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Pendidikan sastra dan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting didalam dunia pendidikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu pendidikan tentang bahasa dan sastra Indonesia. Agar kita dapat belajar dan mengetahui bagaimana cara kita menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Terutama bagi calon pendidik, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dirasakan memang sangat penting. Karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anakanak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan dicontoh oleh anak-anak didiknya.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil penelitian dan diskusi mengenai Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan, yang menjadi Rumusan Masalah dalam Karya Ilmiah ini adalah : 1. Bagaimana Peranan Bahasa Indonesia Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia? 2.

Kemampuan Masyarakat dan Peserta Didik dalam Berbicara (bahasa lisan). Kemampuan berbahasa Indonesia adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi masyarakat Indonesia, tidak terkecuali peserta didik. Dalam bidang pendidikan dan pengajaran di sekolah, bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran pokok.

ragam bahasa lisan. dan berbicara. 4. Penggunaan ragam bahasa lisan mempunyai keuntungan. bahwa ragam bahasa menurut sarananya lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan (1988: 6). Bahasa Lisan Ada dua ragam komunikasi yang digunakan manusia melalui bahasa. morfologi. fungsi bahasa. . Sebagaimana diungkapkan oleh Moeliono (Ed.Pelajaran bahasa Indonesia diajarkan berdasarkan kurikulum yang berlaku. isi pesan komunikasi. leksikal. Adapun bagian-bagian yang akan dibahas tersebut adalah : 1. dan pemahaman guru terhadap isi/pesan yang disampaikan oleh peserta didik.). Dalam proses pemerolehan dan penggunaannya. Ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. keterampilan berbahasa tersebut saling berkaitan. mendengarkan (menyimak). Salah satu tujuan pokoknya adalah mampu dan terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar setelah mengalami proses belajar mengajar di sekolah. sintaksis). khususnya kemampuan peserta didik dalam berbicara (bahasa lisan). maka apa yang mungkin tidak jelas dalam pembicaraan dapat dibantu dengan keadaan atau dapat langsung ditanyakan kepada pembicara. struktur ragam bahasa lisan (fonologi. yang di dalamnya (kurikulum pendidikan) tercantum beberapa tujuan pembelajaran. yaitu karena bahasa ragam lisan digunakan dengan hadirnya peserta bicara. keterkaitan antara penggunaan ragam dan fungsi bahasa. kedua ragam ini pada umumnya berbeda. 5. menulis. tetapi di dalamnya termasuk kemampuan membaca. 3. 2. Dalam penggunaannya. 6. khususnya berbagai persoalan yang akan dibahas dalam bab ini. Hal-hal yang dimaksud adalah bagian-bagian yang terkait dengan berbagai permasalahan yang terjadi dalam penelitian ini. Keterampilan berbahasa itu tidak saja meliputi satu aspek. yaitu ragam bahasa lisan dan ragam tulisan.

pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakan. sedangkan dalam bahasa tulisan. apabila terjadi kesalahan. bahasa lisan yang digunakan dalam tuturan dibantu pengertiannya. kita dapat menangkap . karena dengan bahasa lisan banyak yang dapat diungkapkan dalam waktu yang relatif singkat dan tenaga yang sedikit. berbeda halnya dengan penggunaan ragam bahasa tulisan. tekanan kata. Badudu (1985: 6) menjelaskan pula perbedaan bahasa lisan dan tulisan. jika bahasa tutur itu kurang jelas oleh situasi. tinggi rendahnya nada.Hal ini menunjukan bahwa peranan penggunaan bahasa ragam lisan itu penting. Saran suprasegmental itu. situasi harus dinyatakan dengan kalimat-kaliamt. Itulah sebabnya. Apa yang tidak jelas dalam bahasa tulisan tidak dapat ditolong oleh situasi seperti bahasa lisan. faktor kejelasan. meskipun kalimat yang diucapkan oleh seorang pembicara tidak lengkap. dan keras lembutnya suara. artinya meskipun gelap orang masih bisa berkomunikasi. sedangkan dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. dan 4. oleh gerak-gerak pembicara. faktor kecepatan. faktor efisiensi. Sebaliknya. bahasa lisan lebih bebas bentuknya daripada bahasa tulisan karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur. antara lain gejala intonasi yang berupa aksen. saran-saran suprasegmental memberi sumbangan yang berarti terhadap keberhasilan suatu komunikasi. Dalam bahasa lisan. yaitu : 1. alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada. Berkaitan dengan ini. karena pembicara menambahkan unsur lain berupa tekan dan gerak anggota badan agar pendengar mengerti apa yang dikatakannya. bahasa tulis harus disusun lebih sempurna. pada saat itu pula dapat dikoreksi. 3. Pateda (1987: 63) menyebutkan bahwa ada empat alasan mengapa bahasa lisan itu penting dalam komunikasi. Di samping itu. Penggunaan bahasa lisan. dapat disesuaikan dengan situasi. 2. dan oleh mimiknya. Menurutnya. Dalam penggunaan bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan.

kalimat bahasa lisan banyak yang kurang terstruktur ketimbang bahasa tulisan. lalu. Sejumlah ahli telah melakukan studi bahasa lisan. 6. biarpun. dan dalam percakapan lisan. 2. meskipun penggunaan bahasa lisan itu memiliki banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan (seperti diuraikan di atas). yaitu bahasa lisan berisi beberapa kalimat tidak lengkap. juga.maknanya dengan melihat lagu kalimatnya serta gerak-gerik tangan. Gambaran karakteristik bahasa lisan sebagaimana telah diungkapkan oleh para ahli yang dimaksud yaitu: 1. bahkan sering urutan frasa-frasa sederhana. 8. penutur dapat mempercayakan petunjuk pandangan untuk membantu suatu acuan. penutur sering menghasilkan sejumlah pengisi (filter). di samping itu. dalam tuturan formal. kalimatkalimat pendek dapat diobservasi. dan kognitif (berdasarkan pengetahuan dan penapsiran). 7. penggunaan susunan kalimat dihubungkan oleh dan tetapi. 3. yang disebut logical connector. selain itu. dalam obrolan akrab. serta agak jarang jika. dari informasi auditif. penutur sering mengulangi beberapa bentuk kalimat. engkau tahu. juga (brown dalam yule. seperti. misalkan. visual. Dalam hal ini Uhlenbeck dalam Teeuw (1984: 27) pun menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak tergantung pada epek sarana-sarana lingual saja. kalimat bahasa tulisan secara umum berstruktur subjek–predikat. dalam bahasa tulisan terdapat seperangkat penanda metabahasa untuk menandai hubungan antar klausa (bahwa. pemahaman pemakaian bahasa lisan adalah hasil permainan bersama yang subtil dari data pengetahuan lingual dan ekstra lingual. ketika). 1983: 12). dalam bahasa lisan. tentu. saya pikir. penutur dapat menjaring ekspresi lawan bicara. bukan . mata dan anggota badan lainnya. peristiwa konstruksi pasif relatif jarang terjadi. sedangkan dalam bahasa lisan umumnya berstruktur topik komentar. bahasa lisan secara khusus memuat lebih sedikit kalimat subordinat. 4. baiklah. dan biasanya berbentuk kalimat deklaratif aktif. 5.

penulis. Berbeda halnya dengan penggunaan bahasa. Setiap penutur dapat dikatakan terampil berbahasa apabila ia memiliki kompetensi atau langue dari bahasa yang dikuasainya. sistem gramatikal (tata bentuk kata. 1985: 4). setiap bahasa memiliki seperangkat sistem. Penggunaan Bahasa Ragam Lisan Berbicara tentang penggunaan bahasa. dalam proses sosialisasinya dapat berfungsi sebagai pembicara.berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Parole adalah bahasa sebagaimana ia dipakai karena itu sangat bergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern (Sassure dan Rahayu. Dengan demikian. Saussure memberinya istilah dengan langue. Language adalah sesuatu yang ada pada setiap individu. Penyimak dan pembaca dalam hal proses berbahasa ini berfungsi sebagai penerima. Ini sebagai satu gudang segala fakta kebahasaan yang ada pada setiap orang. Language adalah suatu sistem yang memiliki susunan sendiri. Konsep penggunaan bahasa itu didasari teori Sassure. lawan bicara. tata bentuk kalimat). Istilah competence (kompetensi) diartikan sebagai ―… the speaker hearers knowledge of his language …‖ (Aiwasilah. Keterampilan bahasa yang terdiri dari berbicara. 1988: 88). dan masalah yang dikemukakan. Komunikasi di antara pembicara dan pendengar atau penulis dengan pembaca dapat berjalan lancar. Kaitannya dengan penelitian ini penggunaan bahasa yang dimaksud adalah parole. pembaca dan pendengar atau penyimak. dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. karena penggunaan bahasa bersifat heterogen. yaitu sistem bunyi bahasa. tentunya tidak terlepas dari penutur-penutur bahasa itu atau orang yang menggunakan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat. tata makna. . Penutur-penutur bahasa itu. Perangkat sistem ini ada dalam benak penutur. apabila di antara kedua belah pihak terdapat dalam masyarakat bahasa yang sama. sedangkan pembicara dan penulis berfungsi sebagai orang yang memproduksikan (menghasilkan) bahasa. yaitu diistilahkan dengan parole. yaitu totalitas dari sekumpulan fakta satu bahasa. dan kosa kata. Langue merupakan norma dari segala pengungkapan bahasa. sama bagi semuanya dan berbeda di luar kemauan penyampainya.

Dengan demikian. menulis. Namun. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik dan tepat (1988: 19). Dalam hal ini Fishman (1972: 149) membedakan variasi bahasa tersebut menurut penuturnya (user). tokoh bicara.mendengar. topik pembicaraan. sesuai pokok permasalahan. Penggunaan bahasa mengenal berbagai variasi. lawan bicara. Kevariasian bahasa itu dipengaruhi oleh siapa yang berbicara. yang disebut dengan dialek. setiap penutur harus menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan situasi dan fungsinya. tetapi juga dapat memakainya secara serasi. Ada penutur yang terampil berbicara. membaca ini pun pada umumnya jarang dikuasainya penutur yang sama baiknya. seorang penutur harus lebih cermat dalam menggunakan bahasanya. Ragam itu ada yang berhubungan dengan pemakaian bahasa dan ada pula yang berhubungan dengan pemakaiannya. situasi. belumlah dapat dikatakan mampu berbahasa dengan baik. dan variasi bahasa menurut penggunaannya (use) disebut dengan istilah register. apa pun jenisnya itu disebut berbahasa dengan efektif. Orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Del Hymas merinci faktor-faktor yang . tetapi kurang terampil menulis dan begitu pula halnya dengan keterampilan yang lainnya. dengan pemakaiannya keterampilan penutur dalam menggunakan bahasa sesuai dengan sistem-sistem di atas. Kenyataan yang terjadi di masyarakat adalah bahwa bahasa itu terdiri dari berbagai ragam. dan suasana pembicaraan. Bahasanya memberikan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya. Dalam hal ini Rusyana (1984: 104) menjelaskan bahwa berbahasa dengan baik berarti bukan saja dapat menguasai struktur bahasa dengan baik. Untuk itu.) menguraikan bahwa orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya. Berkaitan dengan ini Anton Moeliono (Ed. Bahasa yang digunakan oleh seseorang akan berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh orang lain. supaya apa yang ingin diungkapkan dapat diterima oleh lawan tuturnya. dan sebagainya.

pilihan kata atau leksis. pendengar/penerima. fonologi. 2. 3. dialek. Perbedaan struktural ini berbentuk ucapan. 1976: 81). dan intonasi (Badudu. participant. morfologi. setting and scence. yang mengacu kepada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi. Berkaitan dengan pendapat di atas. identitas katakata. instrumentalities. ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi. yang mengacu kepada norma perilaku dalam berinteraksi. prosa puisi (Hymes dalam Bell. Nebaban (1984: 22) menjelaskan bahwa setiap bahasa mempunyai banyak ragam. dalam penelitian ini akan memfokuskan pada pemakaian bahasa. 7. genres. yang mengacu kepada gaya. 4. sintaksis. actsequence. 4. 5. Sejalan dengan pendapat tersebut. Untuk mengetahui ragam bahasa apa yang dipakai oleh seseorang kita dapat mengenalnya melalui : 1. yang mengacu kepada sarana atau perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan. norms. dan 8. yang dilihat dari segi fonologi . yang mengacu kepada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara/pengirim. morfologi.mempengaruhi pemakaian bahasa menjadi delapan faktor. 2. yang mengacu kepada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi. intonasi. bahasa. 3. interpretasi komunikasi. 6. yang dipakai dalam keadaan atau keperluan/tujuan yang berbeda-beda. yang mengacu pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi. key. 1991: 85). misalnya cerita. yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi. ends (pupose and goals). 5. Ragam-ragam itu menunjukan perbedaan struktural dalam unsur-unsurnya. Kedelapan faktor itu adalah : 1. dan sintaksis.

leksis (pilihan kata). ada pengaruh bentuk kata. kemana. Aceh. tidaklah mengherankan kalau bahasa daerah tersebut sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Atau orang yang berasal dari Jawa. karena. maka lafalnya dapat digolongkan kepada bahasa baku (standar). dan masing-masing suku memiliki bahasa daerah. Bila seseorang dalam berbahasa Indonesia (lisan) terdengar bahasa daerahnya. tampaknya pengaruh lafal bahasa daerah sering kita dengar. Bahasa daerah tersebut dipergunakan oleh bangsa (masyarakat) Indonesia sebagai sarana komunikasi antar suku. Ada pengaruh lafal. karena lidah penutur yang sudah ―terbentuk‖ sejak kecil oleh lafal bahasa daerahnya. Seperti dikatakan oleh Badudu (1985: 12) bahwa tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengaruh itu seratus persen. kosakata dan sintaksis (kalimat). Mengenai pengertian lafal baku tersebut. dan juga dipergunakan di lingkunagn keluarga. Badudu (1980: 115) menjelaskan bahwa lafal bahasa Indonesia baku adalah lafal yang tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa daerah atau . Badudu (1985: 12) menjelaskan bahwa yang sering sukar dihindari adalah pengaruh lafal bahasa daerah. kata-kata yang befonem /e/ akan dilafalkan dengan /E/. Akan tetapi.(pelafalan/pengucapan). bila berbicara akan diwarnai oleh pengaruh bahasa daerahnya. Demikian pula dengan suku-suku lain misalnya Sunda. Kata-kata seperti mengapa. Pengaruh tersebut beragam. maka lafalnya tergolong lafal nonbaku. akhirankan akan diucapkan dengan /ken/. Lagi pula agaknya pengaruh-pengaruh tersebut sulit untuk dihindari dengan sepenuhnya. Dari beberapa pengaruh tersebut. Lebih lanjut dikatakannya. diucapkan dengan menggunakan /e/ benar. ada pengaruh makna kata. Pelafalan (Pengucapan) Masyarakat Indonesia terdiri dari beratus-ratus suku. yang mungkin adalah bahwa pengaruh ini sangat sedikit. ada juga pengaruh struktur kalimat. bila seseorang dalam berbahasa Indonesia tidak terdengar lafal bahasa daerahnya. sehingga sukar kita menerka dari suku manakah orang yang bertutur itu berasal. Oleh karena itu. morfologi (bentuk kata). Bila kita perhatikan lafal orang Tapanuli misalnya. Keadaan seperti ini akan berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Indonesia. Bali.

dialek. ketidak jelasan . Karena itu. bukan berarti penggunaan dapat dilakukan seenaknya. Akan tetapi. memahami bahasa lisan seseorang dapat dilakukan. walaupun ada yang jika dipandang dari kalimat-kalimat yang digunakan. aturan-aturan yang berlaku juga dapat digunakan sebagai tolak ukur baku atau tidaknya penggunaan bahasa secara keseluruhan. Struktur Bahasa Ragam Lisan Anak-anak Dwibahasawan di SD Dalam wujudnya. struktur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan berupa (1) topik komentar. kalimat kedua dapat memunculkan kalimat ketiga dan seterusnya. Unsur-unsur bahasa itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terpisah-pisah. lawan bicara dan masalah yang dikemukakan. bentuk morfologis. Inggris atau Arab. pembicara dan pendengar ada dalam ruang dan waktu yang memberikan kemungkinan untuk berkontak secara langsung. Andaikan ada yang tidak dipahami. bahasa yang kita gunakan terdiri dari unsur bunyi. predikat. Kaitan dengan penilaian ini. sintaksis dan semantik. Kemudian. Kalimat yang pertama pada dasarnya digunakan sebagai acuan munculnya kalimat yang kedua. unsur-unsur tersebut terangkai dalam wujud kalimat yang saling berkaitan. tidak begitu jelas. (2) kalimat deklaratif aktif lebih banyak daripada konstruksi pasif. Soemantri (1987: 11) mengemukakan bahwa lafal bahasa Indonesia yang standar adalah tuturan bahasa Indonesia yang tidak terlalu menonjol ciri lafal daerah penuturnya. dapat ditanyakan dan kemudian dijelaskan. antara lain dengan cara menganalisis unsur-unsur bahasa dan aturan yang berlaku dalam bahasa itu. Uraian di atas memberikan gambaran bahwa struktur bahasa ragam lisan anakanak pun dapat dianalisis melalui unsur-unsur bahasa yang dugunakannya. Situasinya juga diketahui oleh kedua belah pihak. dan (3) lepasnya unsur subjek. Dalam bahasa lisan. Oleh karena itu. Kenyataan seperti ini juga dijelaskan oleh Rusyana (1984: 130). Dalam menggunakan bahasa lisan perlu diperhatikan oleh setiap penutur mengenai situasi. juga tidak memperdengarkan ―warna‖ lafal bahasa asing seperti bahasa Belanda. Di samping itu. Penggunaan bahasa lisan banyak kelonggaran bila dibandingkan dengan bahasa tulisan. dan objek. bahwa dalam penuturan lisan.

maka akan diperoleh dan dikuasai bahasa kedua. Dari perjalanan waktu dan usia sekolah itulah. Dengan demikian. biasanya yang dominan adalah bahasa ibu daerah. Fungsi Bahasa yang Digunakan Anak-anak Dwibahasawan SD Fungsi bahasa yang paling utama adalah sebagai alat komunikasi. yang pertama kali mempengaruhi mendasari bahasa seseorang umumnya adalah bahasa ibu. hal ini akan dialami apabila anak-anak mulai masuk sekolah. yang merupakan bahasa pertama biasanya diperoleh dalam lingkungan keluarga atau masyarakat. karena sebagian besar masyarakat menggunakan bahasa daerah. Meskipun anak-anak telah memasuki sekolah. Sebagian besar masyarakat. Hal ini terbukti karena bahasa daerah lebih sering digunakan bila dibandingkan dengan bahasa yang lain. Bagi anak-anak. sehingga mereka dapat menguasai lebih dari satu bahasa. kita tidak heran bila kalau bahasa daerah atau bahasa percakapan akan mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia penuturnya. maka pemakaian bahasa daerahlah yang cenderung dominan dalam berkomunikasi. Bebereapa pakar memberikan penjelasan mengenai fungsi bahasa dilihat dari cara pandang masing-masing.itu mungkin sudah teratasi oleh pemahaman terhadap hubungan dalam peristiwa pembicaraan atau langsung dijelaskan oleh pembicara. Kedwibahasaan seseorang di dalam masyarakat pada dasarnya dapat dilihat dari kemampuannya menggunakan dua bahasa atau lebih. Dalam hal ini berbagai penjelasan mengenai fungsi bahasa telah dapat dikemukakan para ahli bahasa. termasuk anak-anak sekolah dasar kebanyakan berbahasa ibu bahasa daerah. Dalam rentang waktu selanjutnya. Kecenderungan pemakaian bahasa ibu atau bahasa pertama sangat tergantung pada bahasa yang paling dominan dipergunakan di tengah-tengah masyarakat. . Sebelum seseorang menguasai dua bahasa atau lebih. Dengan demiklian. Bahasa ibu. Terutama di daerah-daerah pedesaan. penyimpangan-penyimpangan struktur kalimat dan lesapnya unsur-unsur kalimat dalam ujaran anak-anak dwibahasawan disebabkan oleh sifat bahasa lisan itu sendiri. sesuai dengan usianya kemudian seseorang akan mempelajari bahasa kedua. misalnya bahasa Indonesia.

Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. A. secara konstekstual bahasa yang digunakan anak-anak dwibahasawan berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi atau interaksional. Pateda. Mansoer. Fungsi untuk menjelaskan informasi atau materi pelajaran ini terkait secara kontekstual. 1986. 1987. 1985. dan untuk menyatakan imajinasi dan khayal. Dasar-dasar Pembinaan Kemampuan Proses Belajar Mengajar. Bandung: FKSS IKIP —————.S. Bandung: Angkasa. 1978. 1985. Bandung: Angkasa Badudu. Rusyana. J. dkk. Dalam konteks itu. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah. Tarigan. Henry Guntur. alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan atau heuristik. Jakarta: Jambatan. Syamsu. bahasa merupakan unsur kebudayaan yang memungkinkan pengembangan dan perkembangan kebudayaan. Moeliono. 1993. Sosiologi Bahasa. merupakan alat untuk diri atau personal. Bandung: Angkasa. A. 1986. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Yus. . Bandung: Pustaka Prima. Yusuf. Bandung: CV Andira. (ed). 1984. ―Morfologi” Bahan Kuliah pada Penataran Disiplin Ilmu. penjelasan mengenai fungsi bahasa tersebut secara keseluruhan memiliki banyak persamaan. Sekaitan dengan itu. Sosiolinguistik. bahasa Indonesia adalah bahasa yang membuka jalan bagi kita menjadi anggota yang seutuhnya dari bangsa Indonesia.Akan tetapi. Chaedar. Bandung: Diponegoro. Pelik-pelik Bahasa Indonesia.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.