P. 1
Laporan ketengikan Minyak Kimia Fisika 3

Laporan ketengikan Minyak Kimia Fisika 3

|Views: 774|Likes:
Published by Triyas Rahayu
Laporan Kimia Fisika
Laporan Kimia Fisika

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Triyas Rahayu on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/03/2013

pdf

text

original

hasil pemanasan Campuran an 3,6ml asam asetat glacial dan 2,4 ml kloroform ,6ml asam asetat dari hasil dan

2,4 ml kloroform Diambil 1ml sampel glacial pemanasan 1mlVolume Na2S2O sampel dari hasil pemanasan olume asam asetat glacial dan 2,4 ml kloroform (perbandingan 3:2) +3,6ml Na2S2O3 3 asam Sampelglacial dan 2,4 ml kloroform (perbandingan 3:2) asetat Sampel Dimasukkan Dimasukkan dalam erlenmeyer + 2 tetes KI jenuh dalam erlenmeyer es KI jenuh Sampel hasil pemanasan Sampel hasil pemanasan + 2tetes +Didiamkan jenuh A.menit (sewaktu-waktu di goyang) 2tetes KI KI jenuh JUDUL : kan selamaselama 1 2(sewaktu-waktu di goyang) Diambilmenit yang dipanaskan 1Hasil minyak yang dititrasi Minyak Rancangan alat titrasi 2 ml Ungu Diambil ml Didiamkan selama 1 menit (sewaktu-waktu di goyang) Didiamkan selama 1 menit (sewaktu-waktu + 6ml Dididihkan 15,30,45,60 menit hinggadi goyang) akuades kuades 2jam Dididihkan 15,30,45,60 menit hingga 2jam ++2 tetes amilum 6ml akuades + 6ml akuades s amilum DibiarkanPENENTUAN ORDE REAKSI PADA LAJU KETENGIKAN MINYAK KELAPA Dibiarkan ditempat terbuka ditempat terbuka +2 tetes amilum 1% +2 tetes amilum O Dititrasi dengan Na2S2SAWIT DENGAN METODE TITRASI IODOMETRI dengan Na2S2O3 1% 3 Dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 M Dititrasi dengan Na S O 0,1 M Na2S2O3 S O Volume Na2 2 3

Sampel hasil pemanasan

B. C.

2 2

TANGGAL : Kamis, 22 Maret 2012 TUJUAN

3

1. Mengetahui besarnya bilangan peroksida pada minyak kelapa sawit 2. Mengetahui cara penentuan ketengikan minyak kelapa sawit 3. Mengetahui orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa sawit

D.

KAJIAN TEORI Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan konsentrasi reaktan atau produk per

satuan waktu. Satuan laju reaksi M/s (Molar per detik). Sebagaimana diketahui, reaksi kimia berlangsung dari arah reaktan menuju produk. Hal ini berarti, selama reaksi kimia berlangsung reaktan digunakan (dikonsumsi) bersamaan dengan pembentukan sejumlah produk. Dengan demikian, laju reaksi dapat dikaji dari sisi pengurangan konsentrasi reaktan maupun peningkatan konsentrasi produk. Secara umum, laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut: A B Laju reaksi berhubungan erat dengan koefisien reaksi. Untuk reaksi kimia dengan koefisien reaksi yang bervariasi, laju reaksi harus disesuaikan dengan koefisien reaksi masing-masing spesi. Contohnya dalam reaksi 2A  B, terlihat bahwa 2 mol A dikonsumsi untuk menghasilkan satu mol B. Hal ini menandakan bahwa laju konsumsi spesi A adalah dua kali laju pembentukan spesi B. Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju reaksi (V) terhadap konsentrasi laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan tertentu (orde reaksi). Hukum laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berikut: aA + Bb  Cc + Dd
v = k [A]x [B]y

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

x dan y adalah bilangan perpangkatan (orde reaksi) yang hanya dapat ditentukan melalui eksperimen. Nilai x maupun y tidak sama dengan koefisien reaksi a dan b. Bilangan perpangkatan x dan y memperlihatkan pengaruh konsentrasi reaktan A dan B terhadap laju reaksi. Orde total (orde keseluruhan) atau tingkat reaksi adalah jumlah orde reaksi reaktan secara keseluruhan. Dalam hal ini, orde total adalah x + y.
 Reaksi Orde Satu

Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan satu. Secara umum reaksi dengan orde satu dapat digambarkan oleh persamaan reaksi berikut: A  Produk Laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan: v = – ∆ [A]/∆ t dan juga dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A]. Satuan k dapat diperoleh dari persamaan: k = v/[A] = M.s-1/M = s-1 atau 1/s Dengan menghubungkan kedua persamaan laju reaksi
– ∆[A]/∆ t = k [A]

Maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut: ln { [A]t / [A]0 }= – kt atau
ln [A]t = – kt + ln [A]0

dimana :
ln = logaritma natural [A]0 = konsentrasi saat t = 0 (konsentrasi awal sebelum reaksi) [A]t = konsentrasi saat t = t (konsentrasi setelah reaksi berlangsung selama t detik)  Reaksi Orde Dua Merupakan reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi satu reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan dua atau konsentrasi dua reaktan berbeda yang masing-masing dipangkatkan dengan bilangan satu. Untuk orde dua didapatkan persamaan sebagai berikut:
Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

1 / [A]t = kt + 1 / [A]0  Reaksi Orde Nol Merupakan reaksi dimana laju tidak bergantung pada konsentrasi reaktan. Penambahan maupun pengurangan konsentrasi reaktan tidak mengubah laju reaksi. Untuk orde nol didapatkan persamaan sebagai berikut: [A]t = -kt + [A]0 Berikut ini beberapa cara penentuan orde reaksi yaitu: 1. Bentuk Differensial a. Metode variasi atau metode differensial non grafik A + B  hasil/produk Dengan persamaan : r = k[A]x[B]y dimana x = orde reaksi untuk reaktan A, y merupakan orde reaksi untuk reaktan B dan [A] dan [B] merupakan konsentrasi reaktan A dan B. Orde reaksi dapat ditentukan dengan metode isolasi, dimana dengan mencari konsentrasi yang sama. Misalnya untuk mencari orde reaksi B dapat ditentukan dengan mencari konsentrasi A yang sama. Berikut ini persamaan laju reaksi bentuk differensial: Orde 0

Orde 1

Orde 2 Satu pereaksi

Dua pereaksi

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Orde 3

Orde n

b. Metode differensial grafik Persamaan dx/dt = r = k (a-x)n diubah ke dalam bentuk ln r = ln k + n ln (a-x)t 2. Bentuk Integral a. Merupakan suatu metode trial and error. Yakni perubahan konsentrasi dengan waktu yang diukur, dan harga k dihitung dengan menggunakan orde reaksi akan diperoleh persamaan yang memberikan harga k yang konsisten. Berikut ini persamaan yang dapat digunakan;

Obj100

Orde 0

Obj102 Obj101

Orde 1 

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Obj103

t = 0, x= 0 maka:

Orde 2 kt = xa

(a-x)

Orde 3 kt = 12(a-x)²b. Integral Grafik Orde suatu reaksi dapat ditentukan dengan cara membuat grafik dari data eksperimen.  Ketengikan Minyak Ketengikan oksidatif merupakan ketengikan yang disebabkan oleh oksidasi oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung minyak dan lemak dibiarkan kontak dengan udara. Minyak dan lemak mudah mengalami oksidasi spontan adalah minyak yang mengandung asam lemak tak jenuh. Ketengikan merupakan proses autooksidasi dan kerusakan yang terjadi pada bau, rasa lemak dan makanan berlemak. Hal tersebut dikarenakan terdapat satu atau lebih iaktan rangkap yang mudah terserang oksigen sehingga menimbulkan ketengikan. Bau tengik yang dihasilkan pada proses ketengikan disebabkan oleh terbentuknya senyawa-senyawa hasil akhir pemecahan hidroperoksida seperti asam-asam lemak rantai pendek, aldehid, keton yang bersifat volatil. Rasa tengik juga disebabkan karena terbentuknya aldehid tak jenuh (akreolin) yang dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.  Bilangan Peroksida

12a²

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Didefinisikan sebagai jumlah meq peroksida dalam setiap 1000 g(1 kg) minyak atau lemak. Bilangan peroksida ini menunjukkan tingkat kerusakan minyak atau lemak. Pada percobaan ini, peningkatan bilangan peroksida digunakan sebagai indikator dan peringatan bahwa minyak sebentar lagi akan berbau tengik.

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

E.

ALAT DAN BAHAN Alat :

1.Gelas Kimia 2. Pipet tetes 3. Gelas ukur 4. Erlenmeyer 5. Pembakar spirtus Bahan : 1. Minyak Kelapa Sawit 2.Asam Asetat glacial 3.Larutan Na2S2O3 0,1 M 4. Akuades F.

6. Kaki tiga dan kasa 7. Buret 8.Corong

5. Kloroform 6.KI jenuh 7.Amilum1%

ALUR KERJA
1. Tahap Perlakuan Sampel

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

2. Tahap Penentuan bilangan peroksida

3. Titrasi blanko

G.

DATA PENGAMATAN No Prosedur Hasil Pengamatan Dugaan /Reaksi Kesimpulan 1
Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Tahap Penentuan Sampel

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Sebelum : Minyak : kuning (+) Asam asetat glasial + kloroform : tak berwarna KI jenuh : tak berwarna Amilum : tak berwarna

Sesudah : Sampel + asam asetat + kloroform + KI jenuh + amilum : kuning keruh Voleme Na2S2O3
• • • • • •

15 menit : 0,1 ml 30 menit : 0,4 ml 45 menit : 0,65 ml 60 menit : 1,15 ml 2 jam (180 menit) :2,1 ml Blanko : 0,05 ml

• • • •

Semakin lama pemanasan minyak, maka laju ketengikan minyak semakin meningkat Asam asetat dan kloroform berfungsi sebagai non polar KI menghasilkan I2 bila direaksikan dengan asam Tujuan didiamkan dan digoyang adalah agar reaksi setimbang dan larutan terlarut sempurna Penambahan akuades unruk pengenceran Amilum digunakan untuk mengetahui terbentuknya I2

• •

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

• • • •

Raksi : IO3- + 5I- + 6H+ → 3I2 +3H2O Volume titran → berubahnya warna kuning memjadi kuning muda dan tidak keruh Raksi : I2 + 2S2O32- → 2I- + SO4O62Angka peroksida

=V Na2S2O3×N×100masa minyak

Semakin besar bilangan peroksida minyak mengindikasikan semakin besar ketengikan minyak tersebut

Penenetuan Ketengikan minyak dengan cara Metode titrasi Iodometri yaitu dengan menghitung bilangan peroksida yang digunakan sebagai indikator ketengikan minyak

 

Ketengikan Minyak ditentukan dengan menggunakan metode Integral Laju Ketengikan pada minyak menunjukkan orde 1

2 Tahap penentuan bilangan peroksida

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

3 Titrasi Blanko

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

H.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN Percobaan dimulai dengan memanaskan minyak. Setelah 15 menit, sampel minyak

diambil 1 ml lalu dicampur dengan larutan asam asetat glasial : kloroform 3:2. Tujuan pencampuran ini adalah untuk melarutkan minyak dan asam asetat agar minyak memiliki sifat oksidator. Campuran tersebut berwarna kuning keruh. Setelah itu, campuran ditambah larutan KI jenuh didiamkan 1 menit dan sekali-kali digoyang. I- pada larutan KI akan mereduksi peroksida yang ada pada minyak. I- akan berubah menjadi I2. Percobaan tersebut diulang-ulang dengan lama pemanasan 30, 45, 60, dan 2 jam. KI + peroksida → I2 + 2e Campuran tersebut kemudian diencerkan dengan 6 mL aquades. Kemudian ditambahkan amilum 2% untuk memastikan keberadaan I2. Larutan berubah menjadi biru menunjukkan keberadaan I2. Selanjutnya larutan dititrasi dengan Na2S2O3, sehingga terjadi reaksi:

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

2e + I2 + 2S2O32- → I- + S4O62Dari hasil percobaan diperoleh data sebagai berikut: Lama pemanasan (menit) 0 (blanko) 15 30 45 60 120 Jumlah Na2S2O3 yang digunakan 0,05 mL 0,1 mL 0,4 mL 0,65 mL 1,15 mL 2,10 mL

Dari data diatas kemudian dicari bilangan peroksidanya. Bilangan peroksida dicari dengan menggunakan persamaan: bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak

sehingga diperoleh hasil sebagai berikut: Lama pemanasan (detik) 0 (blanko) 900 1800 2700 3600 7200 Bilangan peroksida 0.537 1.075 4.301 6.989 12.365 22.580
Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Jika diplotkan dalam bentuk grafik, maka diperoleh garis linier dengan regresi 0.0812.

Bilangan peroksida menggambarkan jumlah peroksida yang terbentuk, maka semakin tinggi bilangan peroksida maka semakin banyak pula peroksida yang terbentuk. Jadi, a-x sebanding dengan volume Na2S2O3 pada waktu pemanasan (t) tertentu.

 1. Orde 1

Penyelesaian dengan Metode Integral Non Grafik

kt= ln aa-x  k= 1t x ln aa-x t (s) 900 1800 2700 3600 a 2.1 2.1 2.1 2.1 a-x 0.1 0.4 0.65 1.15 a/(a-x) 21 5.25 3.23 1.82 ln aax 3.04 1.65 1.17 0.60 k 33.8 x 10-4 9.2 x 10-4 4.3 x 10-4 1.6 x 10-4

2. Orde 2

kt= ln xa(a-x)  k= 1t x ln xa(a-x) t (s) 900 1800 2700 a 2.1 2.1 2.1 a-x 0.1 0.4 0.65 x 2 1.7 1.45 xa(ax) 9.52 2.02 1.06 ln xa(ax) 2.25 0.70 0.06 k 250 x 10-5 39 x 10-5 2.23 x 10-5

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

3600

2.1

1.15

0.95

0.39

-0.93

-26 x 10-5

3. Orde 3 kt = 12(a-x)²- 12a²  k= 1t x1

2(a-x)²- 12a²
(a-x)2 0.01 0.16 0.42 1.32 12a 2 0.11 0.11 0.11 0.11
12(a-x)² 12(a-x)²- 12a²

t (s) 900 1800 2700 3600

a 2.1 2.1 2.1 2.1

a2 4.41 4.41 4.41 4.41

2 a2 8.82 8.82 8.82 8.82

a-x 0.1 0.4 0.65 1.15

k 5540 x 10-5 167 x 10-5 40 x 10-5 7.4 x 10-5

50 3.125 1.190 0.378

49.89 3.015 1.08 0.268

Berdasarkan perhitungan harga k menggunakan rumus pada orde, 1,2 dan 3 diperoleh harga k yang mirip atau mendekati sama adalah pada orde 1, maka orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa sawit adalah 1

Penyelesaian dengan Metode Integral-Grafik

1. Orde 1

t (s) 900 1800 2700 3600

a-x 0.1 0.4 0.65 1.15

ln (a-x) -2.30 -0.91 -0.43 0.13

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

2. Orde 2

t (s) 900 1800 2700 3600

a-x 0.1 0.4 0.65 1.15

1/(a-x) 10 2.5 1.53 0.86

3. Orde 3

t (s) 900 1800 2700 3600

a-x 0.1 0.4 0.65 1.15

(a-x)2 0.01 0.16 0.42 1.32

1/(a-x)2 100 6.25 2.38 0.75

Berdasarkan grafik diperoleh harga regresi atau R2 yang mendekati 1 yang berarti grafik tersebut linier yaitu terdapat pada grafik orde 1, yaitu 0.9317. Maka maka orde reaksi pada proses ketengikan minyak kelapa sawit adalah 1. Orde tersebut pun sesuai apabila dihitung dengan menggunakan Metode Integral non grafik.

I.

KESIMPULAN
 Bilangan Peroksida pada minyak kelapa sawit adalah :
Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

Lama pemanasan (detik) 0 (blanko) 900 1800 2700 3600 7200

Bilangan peroksida 0.537 1.075 4.301 6.989 12.365 22.580

 Penenetuan Ketengikan minyak dengan cara Metode titrasi Iodometri yaitu dengan

menghitung bilangan peroksida yang digunakan sebagai indikator ketengikan minyak
 Ketengikan Minyak ditentukan dengan menggunakan metode Integral  Laju Ketengikan Minyak menunjukkan orde 1

J.

DAFTAR PUSTAKA Anonim A.2011.Asam Palmitat.http://wikipedia.org. diakses pada Sabtu, 24 November 2011, Pukul : 10.20 WIB Hiskia, Achmad.1992.Elektrokimia dan Kinetika Kimia, Penuntun Belajar Kimia Dasar.PT. Citra Aditya Bakti : Bandung. Ketaren, S.1986.Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.Universitas Indonesia-UI-Press:Jakarta. Day, R.A. Jr and Underwood, A.L.1986.Kimia Analisis Kualitatif.Erlangga:Jakarta Suyono dan Bertha Yonata.2011.Panduan Praktikum Kimia Fisika III.Laboratorium Kimia Fisika, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Surabaya:Surabaya.

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

LAMPIRAN PERHITUNGAN
 Perhitungan Bilangan Peroksida

Lama pemanasan (menit) 0 (blanko) 15 30 45 60 120

Jumlah Na2S2O3 yang digunakan 0,05 mL 0,1 mL 0,4 mL 0,65 mL 1,15 mL 2,10 mL

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak ρ minyak kelapa sawit = 0.93 gr/ml massa minyak = ρ x V = 0.93 x 1 ml= 0.93 gram N Na2S2O3= 0.1 N
1.

Blanko (0 menit)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=0.05×0.1×1000.93=0.537
2.

Pemanasan 15 menit (900 detik)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=0.1×0.1×1000.93=1.075

3.

Pemanasan 30 menit (1800 detik)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=0.4×0.1×1000.93=4.301

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

4.

Pemanasan 45 menit (2700 detik)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=0.65×0.1×1000.93=6.989

5.

Pemanasan 60 menit (3600 detik)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=1.15×0.1×1000.93=12.365
6.

Pemanasan 120 menit (7200 detik)

bil peroksida=V Na2S2O3×N×100massa minyak=2.1×0.1×1000.93=22.580 Lama pemanasan (detik) 0 (blanko) 900 1800 2700 3600 7200 Bilangan peroksida 0.537 1.075 4.301 6.989 12.365 22.580

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

LAMPIRAN FOTO

Laporan Kimia Fiska 3 PKA 2009

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->