INTEGRASI PENDIDIKAN NILAI KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Indonesia memerlukan sumberdaya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumberdaya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, termasuk di sekolah harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Melihat masyarakat Indonesia sendiri juga lemah sekali dalam penguasaan soft skill. Untuk itu penulis menulis makalah ini, agar pembaca tahu betapa pentingnya pendidikan karakter bagi semua orang, khususnya bangsa Indonesia sendiri. Secara akademik, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerrti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan seharihari dengan sepenuh hati.

jaringan maya. tetapi juga menyentuh tataran afektif dan konatif melalui mata pelajaran Pendidikan Agama. care deeply about what is right. 1981). dirasakan perlunya membangun wacana dan sistem pendidikan karakter yang sesuai dengan konteks sosial kultural Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika dengan nilai-nilai Agama dan Pancasila sebagai sumber nilai dan rujukan utamanya.Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning. Pendidikan karakter bangsa diharapkan mampu menjadi alternatif solusi berbagai persoalan tersebut. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Sampai saat ini. Pendidikan karakter perlu direformulasikan dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Pendidikan Bahasa Indonesia. Secara pedagogis. . dan moral behaviour (Lickona:1991). it’s clear we want our children are able to judge what is right. Pendidikan IPS. Untuk itu. maka upaya-upaya tersebut ternyata belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap perubahan tersebut. diyakini bahwa nilai dan karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan pendidikan nasional. harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat ini dan di masa mendatang akan datang. Karena itu pengembangan nilai yang bermuara pada pembetukan karakter bangsa yang diperoleh melalui berbagai jalur. dan warga negara yang memiliki kepribadian unggul seperti diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. jenjang. dan Pendidikan Jasmani. dan jenis pendidikan. berbangsa. atau dalam arti utuh sebagai morality yang mencakup moral judgment and moral behaviour baik yang bersifat prohibition-oriented morality maupun pro-social morality (Piager. anak bangsa. and then do what they believe to be right-even in the face of pressure form without and temptation from within. dengan pengertian bahwa “Effective character education is not adding a program or set of programs. Pendidikan Kewarganegaraan. Kohlberg. moral feeling. dll) yang memuat fenomena dan kasus perseteruan dalam berbagai kalangan yang memberi kesan seakan-akan bangsa kita sedang mengalami krisis etika dan krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan.com: 2010): Sementara itu Lickona (1992) menegaskan bahw: “In character education. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dirancangulang dan dikemas kembali dalam wadah yang lebih komprehensif dan lebih bermakna. Rather it is a tranformation of the culture and life of the school” (Berkowitz: … dalam goodcharacter. Namun demikian harus diakui karena kondisi jaman yang berubah dengan cepat. secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih mempunyai makna bagi individu yang tidak sekadar memberi pengetahuan pada tataran koginitif. dan bernegara Indonesia. 1967. akan mendorong mereka menjadi anggota masyarakat. pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic approach. 1975. Eisenberg-Berg. Kebutuhan tersebut bukan hanya dianggap penting tetapi sangat mendesak mengingat berkembangnya godaan-godaan (temptations) dewasa ini marak dengan tayangan dalam media cetak maupun noncetak (televisi.

Oleh karena itu pelaksanaan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut. d. sebagai berikut. kegiatan. Pendapat kedua. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi secara holistik dan sinambung. sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan masyarakat. Namun. dan mata pelajaran lain yang relevan. pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. kini upaya tersebut mulai dirintis melalui pendidikan karakter bangsa.Urgensi dari pelaksanaan komitmen nasional pendidikan karakter. sarana/prasarana. b. Pertama. Pendapat ketiga. para pakar berbeda pendapat. a. yang dibacakan pada akhir khir Sarasehan Tanggal 14 Januari 2010. pendidikan dasar.” Berangkat dari hal tersebut diatas. sekolah dan orangtua. masyarakat. Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif sbg proses pembudayaan. pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh. dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat. bahwa pendidikan karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Dalam upaya merevitalisasi pendidikan dan budya karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan. telah dinyatakan pada Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sebagai Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Oleh karena itu. Tidak terkecuali juga pada anak-anak usia sekolah. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah. “Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yg tak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh. secara formal upaya menyiapkan kondisi. Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak. 1. Setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang. Dalam pemberian pendidikan karakter bangsa di sekolah.Kondisi dan situasi saat ini tampaknya menuntut pendidikan karakter yang perlu ditransformasikan sejak dini. pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran PKn. yakni sejak pendidikan anak usia dini. pendidikan. . pendidikan agama.

Untuk mengetahui apakah Pendidikan Karakter Bangsa dapat terintegrasikan kedalam semua mata pelajaran. Ruang Lingkup Ruang lingkup dalam makalah ini akan mengurai upaya sekolah mengembangkan Pendidikan Karakter Bangsa dengan mengkritisi implementasi Pendidikan Karakter Bangsa dalam keterpaduan pembelajaran. bentuk-bentuk pembelajaran terpadu.B. Bagaimanakah proses pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa ? C. skenario penerapan Pendidikan Karakter Bangsa dalam keterpaduan pembelajaran . Apakah Pendidikan Karakter Bangsa dapat terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran? 2 Bagaimanakah cara mengimplementasikan terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran ? Pendidikan Karakter Bangsa 3. 2. Untuk mengatahui cara mengimplementasikan Pendidikan Karakter Bangsa terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. Kupasan selengkapnya mencakup rasionalisasi keterpaduan. Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang terurai diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut : 1. Tujuan Adapun tujuan dalam pembahasan makalah ini antara lain : 1. 3. Untuk mengetahui proses pengembangan Pendididkan Karakter Bangsa. D.

1991). dalam menentukan keberhasilan siswa harus dinilai dari berbagai ranah seperti pengetahuan (kognitif). 2000) pemaksaan suatu pengembangan tujuan didalam kompetensi dasar tidak dapat dipertahankan lagi bila hanya mengacu pada hafalan semata. pembinaannya pun harus oleh semua guru. kurang tepat jika dikatakan bahwa mendidik para siswa agar memiliki karakter bangsa hanya ditimpahkan pada guru mata pelajaran tertentu. Sebab tidak akan memiliki makna apapun bila seorang guru PKn mengajarkan menyelesaikan suatu masalah yang bertentangan dengan cara demokrasi. dan perilaku (psikomotor). Dengan demikian. Dampak pengiring adalah pendidikan karakter bangsa yang harus dikembangkan. Oleh karena itu. Walaupun dapat dipahami bahwa porsi yang dominan untuk mengajarkan pendidikan karakter bangsa adalah para guru yang relevan dengan pendidikan karakter bangsa. Hasil belajar atau pengalaman belajar dari sebuah proses pembelajaran dapat berdampak langsung dan tidak langsung. Oleh karena itu. semua guru akan dan seharusnya mengukur kemampuan siswa dalam semua ranah (Waridjan. Seorang siswa yang menempuh ujian Matematika secara tertulis. sementara guru lain dengan cara otoriter. Menurut (Joni. Artinya. Dalam penilaian hasil belajar. Dengan penilaian seperti itu maka akan tergambar sosok utuh siswa sebenarnya. menurut (Hasan. .BAB II LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN A. Tujuan utuh pendidikan jauh lebih luas dari misi pengajaran yang dikemas dalam Kompetensi Dasar (KD). tidak dapat dicapai secara langsung. semisal guru PKn atau guru pendidikan agama. sementara guru lain hanya mengatakan asal-asalan dalam menjawab Sesungguhnya setiap guru yang mengajar haruslah sesuai dengan tujuan utuh pendidikan. sebab tidak semua kualitas manusia dapat dinyatakan terukur berdasarkan hafalan tertentu. sikap (afektif). sebenarnya siswa tersebut dinilai kemampuan penalarannya yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal Matematika. semua guru harus menjadikan dirinya sebagai sosok teladan yang berwibawa bagi para siswanya. Atau seorang guru pendidikan agama dalam menjawab pertanyaan para siswanya dengan cara yang nalar yaitu dengan memberikan contoh perilaku para Nabi dan sahabat. Tanpa terkecuali. Rasionalisasi Keterpaduan Pendidikan ke arah terbentuknya karakter bangsa para siswa merupakan tanggungjawab semua guru. Rumusan tujuan yang berdasarkan pandangan behaviorisme dan menghafal saja sudah tidak dapat dipertahankan lagi Para guru harus dapat membuka diri dalam mengembangkan pendekatan rumusan tujuan. baru dapat tercapai setelah beberapa kegiatan belajar berlangsung. 1996) mengatakan Dampak langsung pengajaran dinamakan dampak instruksional (instrucional effects) sedangkan dampak tidak langsung dari keterlibatan para siswa dalam berbagai kegiatan belajar yang khas yang dirancang oleh guru yang disebut dampak pengiring (nurturant effects).

1991)." 2. hari terpadu (integrated day). pada setiap rencana pembelajaran termuat kemampuan kognitif. model-model pembelajaran inovatif dan terpadu yang mungkin dapat diadaptasi. rapi. Dengan demikian. yaitu kemampuan mengerjakan soal-soal ujian dengan tulisan yang teratur. Artinya. dalam bukunya yang berjudul Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik adalah sebagai berikut. Berdasarkan pada pemikiran-pemikiran dan prinsip-prinsip tersebut maka dapat dimengerti bahwa pendidikan karakter bangsa menghendaki keterpaduan dalam pembelajarannya dengan semua mata pelajaran. Di samping itu. seperti yang ditulis oleh Trianto. pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core/center of interst). selalu usil. Pendidikan karakter bangsa diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. dan psikomotor. dan dapat dipertangungjawabkan.Juga dinilai kemampuan pendidikan karakter bangsanya yaitu kemampuan melakukan kejujuran dengan tidak menyontek dan bertanya kepada teman dan hal ini disikapi karena perbuatan-perbuatan tersebut tidak baik. seorang guru akan menilai kemampuan dalam semua ranah ujian suatu mata pelajaran secara absah. ia dinilai kemampuan gerak-geriknya. tanpa ragu. dengan demikian akan menghindarkan adanya "mata pelajaran baru. 2009. Lebih lanjut. dan suka berbuat keonaran meskipun dalam mengerjakan ujian siswa itu berhasil baik tanpa menyontek dan menuliskan jawaban ujian dengan tulisan yang jelas dan rapi. Seorang guru mungkin saja tidak akan meluluskan seorang siswa yang mengikuti ujian mata pelajaran tertentu karena perilaku siswa tersebut sehari-harinya adalah kurang sopan. Sementara itu. alat kepentingan politik. dampak instruksional. Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. afektif. dan pelajaran hafalan yang membosankan. akan tepat apabila pada setiap mata pelajaran dirumuskan tujuan pengajaran yang mencakupi kemampuan dalam semua ranah. boleh jadi seorang guru memperhitungkan tindak-tanduk siswanya di luar ujian. Bentuk-Bentuk Pembelajaran Terpadu Yang Bekarakter Menurut Cohen dalam Degeng (1989).2. dan dampak pengiring. terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum). dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Selain penilaian dilakukan terhadap semua kemampuan pada saat ujian berlangsung. dan mudah dibaca (Waridjan. Oleh karena itu. .

tema/topik yang bercabang ditautkan ke dalam kurikulum. (9) Peleburan Dalam model ini. (5) Patungan Dalam model ini. dan keterampilan khusus) dari setiap mata pelajaran. atau konsep ke konsep isi mata pelajaran dihubungkan secara tegas (3) Sarang Dalam model ini.(1) Fragmentasi Dalam model ini. dalam setiap topik ke topik. berpikir. tema ke tema. topik atau unit pembelajaran disusun dan diurutkan selaras dengan yang lain. guru mentargetkan variasi keterampilan (sosial. . para pebelajar menjaring semua isi melalui keahlian dan meramu ke dalam pengalamannya. dan keterampilan belajar melalui variasi disiplin. pembelajaran mencari konsep/gagasan yang tepat. suatu disiplin yang berbeda dan terpisah dikembangkan merupakan suatu kawasan dari suatu mata pelajaran (2) Koneksi Dalam model ini. Dengan menggunakan tema itu. Ide yang sama diberikan dalam kegiatan yang sama sambil mengingatkan konsep-konsep yang berbeda. intelegensi. pendekatan interdisipliner memasangkan antar mata pelajaran untuk saling mengisi dalam topik dan konsep dengan beberapa tim guru dalam model integrasi riil. (8) Integrasi Dalam model ini. pebelajar menjaring semua pembelajaran melalui pandangan keahliannya dan membuat jaringan hubungan internal mengarah ke jaringan eksternal dari keahliannya yang berkaitan dengan lapangan. suatu disiplin menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keahliannya. pendekatan metakurikuler menjalin keterampilan berpikir. (7) Untaian Simpul Dalam model ini. sosial. (6) Jala-jala Dalam model ini. (4) Rangkaian/Urutan Dalam model ini. (10) Jaringan Dalam model ini. teknik. perencanaan dan pembelajaran menyatu dalam dua disiplin yang konsep/gagasannya muncul saling mengisi sebagai suatu sistem.

dan komponen kurikulum yang harus dikembangkan. proses belajar di kelas. Kegiatan penyampaian informasi. 1996). 2000) terhadap semua mata pelajaran yang dimuati pendidikan karakter bangsa. melakukan percobaan. Pengembangan dokumen berkaitan dengan keputusan tentang informasi dan jenis dokumen yang akan dihasilkan. Penempatan Pendidikan karakter bangsa diintegrasikan dengan semua mata pelajaran tidak berarti tidak memiliki konsekuensi. dalam proses pengembangannya haruslah mencakupi tiga dimensi yaitu kurikulum sebagai ide. atau paling tidak pada proses pengembangan kurikulum sebagai dokumen. Dalam pembelajaran terpadu agar pembelajaran efektif dan berjalan sesuai harapan ada persyaratan yang harus dimiliki yaitu (a) kejelian profesional para guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai kemungkinan arahan pengait yang harus dikerjakan para siswa untuk menggiring terwujudnya kaitan-kaitan koseptual intra atau antarmata bidang studi dan (b) penguasaan material terhadap bidang-bidang studi yang perlu dikaitkan (Joni. Konsekuensi dari pembelajaran terpadu. pendekatan atau model evaluasi. kurikulum sebagai dokumen. maka skenario pembelajaran yang di dalamnya terkait pendidikan karakter bangsa seperti contoh berikut ini dapat dilaksanakan lebih bermakna. perlu ada komitmen untuk disepakati dan disikapi dengan saksama sebagai kosekuensi logisnya. Komitmen tersebut antara lain sebagai berikut. . prosedur penyampaian.2. Lebih lanjut. Oleh karena itu. maka modus belajar para siswa harus bervariasi sesuai dengan karakter masingmasing siswa Variasi belajar itu dapat berupa membaca bahan rujukan. Sementara itu. Hasan (2000) mengurai bahwa pengembangan ide berkenaan dengan folisifi kurikulum. bentuk/format Silabus. Agar pengembangan proses ini merupakan kelanjutan dari pengembangan ide dan dokumen haruslah didahului oleh sebuah proses sosialisasi oleh orang-orang yang terlibat dalam kedua proses. Kebiasaan penyampaian pelajaran secara eksklusif dan pendekatan ekspositorik hendaknya dikembangkan kepada pendekatan yang lebih beragam seperti diskoveri dan inkuiri. melakukan pengamatan.3. dan sebagainya dengan cara kelompok maupun individual. pemantapan konsep. dan kurikulum sebagai proses (Hasan. mewawancarai nara sumber. pendekatan dan teori belajar. dan evaluasi yang sesuai. serta pemaknaan pengalaman belajar para siswa. pengungkapan pengalaman para siswa melalui monolog oleh guru perlu diganti dengan modus penyampaian yang ditandai oleh pelibatan aktif para siswa baik secara intelektual (bermakna) maupun secara emosional (dihayati kemanfaatannya) sehingga lebih responsif terhadap upaya mewujudkan tujuan utuh pendidikan. pengembangan proses berkenaan dengan pengembangan pada tataran empirik seperti RPP. Pendidikan Karakter Bangsa dalam Keterpaduan Pembelajaran Pendidikan karakter bangsa dalam keterpaduan pembelajaran dengan semua mata pelajaran sasaran integrasinya adalah materi pelajaran. Pendidikan karakter bangsa (sebagai bagian dari kurikulum) yang terintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Terselenggaranya variasi modus belajar para siswa perlu ditunjang oleh variasi modus penyampaian pelajaran oleh para guru. model kurikulum. Dengan bekal varisai modus pembelajaran tersebut.

antar tenaga kependidikan. harapan.Berkaitan dengan Pendidikan karakter bangsa sebagai pembelajaran yang terpadu dengan semua mata pelajaran arahan pengait yang dimaksudkan dapat berupa pertanyaan yang harus dijawab atau tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh para siswa yang mengarah kepada perkembangan pendidikan karakter bangsa dan pengembangan kualitas kemanusiaan. kebijakan maupun interaksi sosial antar komponen di sekolah. di ruang kelas. Jika suasana sekolah penuh kedisiplinan. Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya. guru akan merasakan kedamaian dan suasana sekolah seperti itu akan meningkatkan pengelolaan kelas. kejujuran. . juga staf-staf sekolah. dan tanggungjawab merupakan nilainilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah. Dengan pengelolaan kelas yang baik maka akan menyebebakan prestasi akademik yang tinggi. kepemimpinan sekolah. baik di kamar mandi/WC. rasa kebangsaan. kepedulian lingkungan. Pada saat yang sama . Selain itu. semua langkah dalam model pembelajaran nilai-nilai karakter ini akan berkontribusi terhadap buadya sekolah. Sesunngguhnya. Hal ini termasuk di dalamnya adalah objetive atau tujuan yang tepat untuk sekolah. toleransi. moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah. Yang terpenting adalah iklim atau budaya sekolah. Teerakiat Jareonsttasin (2000) tentang pengaruh sekolah terhadap perkebangan anak. kebijakan dan visi pihak manajemen moral para staf dan guru. keramahan. konselor dengan peserta didik. disiplin. Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan. hubungan sosial-kultural. proses pengambilan keputusan. serta partisipasi orang tua dan siswa. kasih sayang maka hal ini akan menghasilkan output yang diinginkan berupa katakter yang baik. dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah sekolah. Desain Pendidikan Karakter A. di lorong-lorong maupun di luar gedung sekolah/taman sekolah. norma. misi sekolah. kegiatan kurikuler. pada umumnya mencakup kegiatan ritual. kepedulian sosial. kerja keras. Karena itu langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah menciptkan suasana atau iklim sekolah yang cocok yang akan membantu transformasi guru-guru dan siswa. Sebuah temuan penting lainnya adalah bila siswa memeiliki karakter yang baik. budaya sekolah diyakini merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan anak. kegiatan ekstrakurikuler. Kerangka Pengembangan budaya sekolah Budaya sekolah memiliki cakupan yang sangat luas. Menurut penelitian Dr. Kepemimpinan. keteladanan. . guru dengan guru. ditemukan empat hal utama (input dan output) yang saling mempengaruhi. antara tenaga kependidikan dengan pendidik dan ppeserta didik. maka hal ini akan berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik yang tinggi. Sebagai salah satu contoh kecil tentang kebersihan lingkungan sekolah. aspek demografi.

berani menentang/mengkoreksi perilaku teman yang tidak terpuji dan sebagainya. melakukan bullying. rambut dan lain-lain) setiap hari Senin. Integrasi nilai dalam kegiatan intrakurikuler dan kurikuler Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan oleh kepala sekolah. guru. berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain. beribadah bersama/sembahyang bersama setiap dluhur (bagi yang beragama Islam). Contoh kegiatan ini adalah: upacara pada hari besar kenegaraan. . mencuri. Di setiap sudut ruang. telinga. memalak. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Siswa dikondisikan untuk membuang sampah ke tempat yang sesuai dengan jenis sampah dan melalui pembiasaan seperti itu diharapkan kepedulian siswa menjadi lebih tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Program Pengembangan Diri Dalam program pengembngan diri. pemeriksaan kebersihan badan (kuku. perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pengintegrasian kedalam kegiatan sehari-hari sekolah yaitu melalui hal-hal sebagai berikut. berpakaian tidak senonoh dan sebagainya. berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran. berlaku tidak sopan. Contoh kegiatan tersebut adalah: membuang sampah tidak pada tempatnya.Hal itu hanya dapat dilakukan di sekolah dengan dukungan manajemen sekolah yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan. tenaga kependidikan (konselor) secara bersamasama sebagai suatu komunitas pendidik diterapkan ke dalam kurikulum melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut. memperoleh prestasi dalam olahraga atau kesenian. misalnya: memperoleh nilai tinggi. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik tersebut. terdapat tempat sampah yang dapat digunakan untuk menyimpan sampah kering dan basah serta sampah yang dapat di daur ulang. a. B. siswa dan orang tua siswa. Kegiatan rutin sekolah Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. guru. berkelahi. Kegiatan spontan Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. mengucap salam bila bertemu guru/tenaga kependidikan yang lain dan sebagainya. Kondisi sekolah seperti itu dilaksanakan melalui program sekolah bersama antara manajemen sekolah. menolong orang lain. Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang tidak baik dan yang baik sehingga perlu dipuji. b.

bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan. dan proses. Misalnya berpakaian rapi. dukungan pendidikan luar sekolah. kasih sayang. pengembangannya lebih memadai pada model kurikulum terpadu dan pembelajaran terpadu dengan menentukan center core pada mata pelajaran yang akan dibelajarkan. tujuan utuh pendidikan adalah membentuk sosok siswa secara utuh.c. Implementasi Pendidikan karakter bangsa terintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. . Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh bagaimana berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai terebut. Teladan Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. bekerja keras. difusi. arahan spontan dan penguatan segera. perhatian terhadap peserta didik. semua guru harus menjadi teladan yang berwibawa. dokumen. pencapaian pendidikan harus mencakupi dampak instruksional dan dampak pengiring. kejelian profesional dan penguasaan materi. penilaian beragam. Proses pengembangan Pendidikan karakter bangsa sebagai pembelajaran terpadu harus diproses seperti kuriklum lainya yaitu sebagai ide. Misalnya toilet yang selalu bersih. Pengkondisian Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan tersebut. inovasi dan sosialisasi adalah komitmen-komitmen yang harus diterima dan disikapi dalam pencanangan pembelajaran terpadu Pendidikan karakter bangsa. d. Sekolah harus mencerminkan kehidupan sekolah yang mencerminkan nilai-nilai dalam budaya dan karakter bangsa yang diinginkan. BAB III PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan landasan teori dan pembahasan yang terurai ditas maka dapat disimpulkan sebagai berikut : . sekolah terlihat rapi dan alat belajar ditempatkan teratur. Cukup beralasan bila Pendidikan karakter bangsa dalam pembelajarannya diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. jujur. bertutur kata sopan. datang tepat pada waktunya. Alasan-alasan itu adalah karena meningkatkan akhlak luhur para siswa adalah tanggung jawab semua guru. menjaga kebersihan dan sebagainya.

Untuk itu benahi lingkungan sekolah agar menjadi lingkungan yang positif. Keterpaduan pendidikan karakter adalah kegiatan pendidikan. Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.go. dan Redefinisi Pendidikan Nilai Bagi Generasi Muda Bangsa. Guru harus disiplin lebih dulu siswa pasti akan mengikuti disiplin Daftar Rujukan Rachman. Depdikbud. 3. Raka. . Maman.Universitas negeri Malang. 2009. Waridjan. Malang. Sistem Pendidikan Nasional. simulasi. Jakarta: Dirjen Dikti Bagian Proyek PPGSD.id Hasan. Mulyana. Tes Hasil Belajar Gaya Objektif. Tahun Ke-7 Degeng. Agus Genad Senduk. Nurhadi. Jakarta. www.Saran-Saran 1. S. Bandung: Remaja Rosdakarya Joni. Reevaluasi. Pendekatan Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Bandung: Remaja Rosdakarya. Undang-undang No. Pendekatan Multikultural untuk Penyempurnaan Kurikulum. Depdiknas.depdiknas. 20 tahun 2003. Hamid. Pendidikan karakter diharapk menjadi kegiatan-kegiatan diskusi. Burhan Yasin.1989.Taksonomi Variabel . 1996. 2003. 2004. Lingkungan sekolah yang positif membantu membangun karakter. S Nyoman. 2003. T. Reposisi. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. 1991. 2000. Jakarta. Prestasi Pustaka Publisher. 2000. Semarang: IKIP Semarang Press. Pembelajaran Terpadu. dan penampilan berbagai kegiatan sekolah untuk itu guru diharapkan lebih aktif dalam pembelajarannya 2. Trianto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful