P. 1
Definisi Thoharoh PRINT

Definisi Thoharoh PRINT

|Views: 30|Likes:

More info:

Published by: Risa Maulida Widjaya on Apr 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2012

pdf

text

original

Definisi Thoharoh • Thaharah atau bersuci adalah membersihkan diri dari hadats, kotoran, dan najis dengan cara

yang telah ditentukan, Firman Allah swt. Dalam surat Al-Baqarah:222

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. • secara etimologi (bahasa) : kebersihan, jaduh dari kotoran yang konkrit maupun yang abstrak. • • Secara terminologi (istilah) : hilangnya hadats dan najis. Secara bahasa : membersihkan diri dari najis (kotoran) dan hadats. Atau mensucikan diri dari segala macam sifat/ perangai/ akhlak/ perilaku yang kotor/ tidak terpuji. • Dalam istilah fiqh : hilangnya perkara yang menghalangi sahnya shalat. Dan perkara yang menghalangi sahnya shalat itu adalah hadats atau najis. Sedangkan menghilangkan hadats atau najis itu dengan air atau debu.

Macam-macam Thoharoh 1. Thoharoh Bathiniyah Ma‟nawiyah (pensucian jiwa). Yaitu mensucikan diri, hati dan jiwa dari noda syirik, syak (keraguan), subhat (racun kebohongan) dan bentuk-bentuk perbuatan maksiat lainnya. Cara caranya dengan: • Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Alloh semata, dengan memfokuskan sasaran ibadah hanya kepada-Nya saja. • Mutaba‟ah (mengikuti) Rosululloh saw dalam beramal, berperilaku, bermuamalah dan berakhlak, bahkan dalam segala hal yang kita anggap remeh sekalipun. • Membersihkan diri dari pengaruh dan noda hitam perbuatan maksiat, dosa-dosa dan segala bentuk penyimpangan dalam syari‟at, dengan taubat nashuhah (sungguh-sungguh) tujuan dan

2. Thoharoh Dzohiroh Hissiyah Yaitu membersihkan diri dari khobats (kotoran luar) dan hadats (dari dalam). Khobats adalah najis (kotoran) yang dapat dihilangkan dengan air seperti kotoran yang melekat dibaju orang sholat, dibadan dan ditempat sholatnya. Sedangkan hadats adalah thoharoh dari kotoran yang khusus dan tertentu cara menghilangkannya yaitu dengan wudhu, mandi atau tayamum. http://abdullah-syauqi.cybermq.com/post/detail/7684/thoharoh Thoharoh terbagi dalam 2 bagian : 1. Suci dari hadats ialah bersuci dari hadats kecil yang dilakukan dengan wudhu atau tayamum, dan bersuci dari hadats besar yang dilakukan dengan mandi. 2. Suci dari najis ialah membersihkan badan, pakaian dan tempat dengan menghilangkan najis dengan air.

Dasar Hukum Thoharoh Dalil Normatif Thaharah • Thaharah hukumnya wajib berdasarkan Alquran dan sunah. Allah Taala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.” (Al-Maidah: 6). • Allah juga berfirman, “Dan, pakaianmu bersihkanlah.” (Al-Mudatstsir: 4). “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: 222). • Rasulullah bersabda (yang artinya), “Kunci salat adalah bersuci.” Dan sabdanya, “Salat tanpa wudu tidak diterima.” (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, “Kesucian adalah setengah iman.” (HR Muslim).

Tata Cara Thoharoh A. Dengan menggunakan air Ada empat (4) jenis air yaitu: 1) Air Mutlaq. • Yaitu air yang secara dzat / dzohirnya suci dan dapat dipergunakan untuk bersuci (suci mensucikan). Diantaranya adalah: a) Air hujan, salju atau es (hujan es), embun, mata air dan air sungai. Alloh swt berfirman: Artinya:"Dan Alloh menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu". (QS. Al Anfaal:11) Dari itu Alloh menurunkan air hujan dari langit kepada kalian agar dia sucikan kalian dengan air hujan itu dari hadats dan khobats. (lihat Taisir Al-Aziz Ar-Rohman: 278). Abu Huroiroh ra berkata tentang doa iftitah Rosululloh saw: • ْ ِ ْ ِ َّ َ َ َ َ ْ ْ ْ َ ٍَ‫”انهَّهُى تاعد تًٍَُ وتٍٍََ خَطاٌاي كًا تاعدْخَ تٍٍََ انًشرق وانًغرب، انهَّهُى ََقًُِّ يٍ خَطاٌاي كًا ٌَُُقَّى انثَّىْ بُ األَتٍَضُ ي‬ َ َّ ِ ِ ِ َْ َ ِ ِ ْ َ ْ ِ .“‫اندََس، انهّهُـى اغس ْهًُ يٍ خَطاٌاي، تِانثَّ ْهح وانًـاء وانثَرد‬ َ َِ ْ َ ِ ِ ْ َّ َ ِ ِ َّ "Ya Alloh jauhkanlah antara aku dengan kesalahan-kesalahan sebagaimana engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Alloh sucikanlah aku dari segala kesalahan sebagaimana disucikannya baju putih dari kotoran. Ya Alloh cucilah kesalahanku dengan air, air salju dan air embun". (HR. Bukhori: 1/181 dan Muslim: 1/419) b) Air Laut

Abu Huroiroh ra berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Rosululloh saw seraya berkata: ya Rosululloh, saya sedang brlayar dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu memakai air minum itu, kami akan kehausan. Apakah kami boleh berwudhu dengan air laut? Rosululloh saw

Hukum air ini adalah suci selama masih dianggap sebagai air murni. Kemudian Nabi Muhammad saw hendak berwudhu dari air tersebut. tepung dan sesuatu lainnya yang dapat merubah dzat air. karena telah lama tergenang pada suatu tempat atau karena bercampur dengan benda yang dapat merubah dzat air tersebut seperti air yang dipeuhi oleh lumut atau ganggang atau bercampur dengan daun-daun (yang membusuk). 3) Air yang bercampur dengan sesuatu yang suci Seperti bercampur dengan sabun. (HR. ia berkata ini hadits hasan shohih) c) • Air zamzam. Dan air tidak menjadi junub dengan mandinya orang junub dari air dikolam tersebut. Air jenis ini hukumnya sama dengan hukum air mutlak yaitu suci mensucikan. . (HR. Beliau menjawab: sesungguhnya air tidak menjadi junub". At-Tirmidzi: 65. (lihat Irwaul Gholil: 13. minyak zaitun. At-Tirmidzi: 63. Maka isterinya berkata:"Ya Rosulalloh saya tadi junub. lalu beliau meminumnya dan berwudhu dengannya". َ‫أٌَ رسُىْ ل هللاِ دعَا تِسدْ م يٍ ياء زَ يسَ و فَشَرب يُهُ وذَىضأ‬ َّ َ َ ْ ِ َ ِ َ َ َ َّ ٍ ْ ِ َ ْ ِ ٍ َ Ali ra berkata:" sesungguhnya Rosululloh saw minta satu ketel air zamzam." ُ‫َل ٌَدْ ُِة‬ ”Sebagian isteri-isteri Nabi saw mandi disatu bak. Yaitu air sisa wudhu atau mandi.bersabda: laut itu suci airnya dan halal bangkainya". 2) Air Must‟mal. shohih) d) Air yang tercampur. za‟faron. • ْ ِْ ُ ُْ ْ ِ َ َ ‫اغرَسم تَعْضُ أَزواج انَُّثًِ فًِ خفَُح فَأَراد رسُىْ ل هللاِ أٌَ ٌَرَىضَّأ َ يُهُ فَقَانَد : ٌَا رسُىْ ل هللا إًَِِّ كُد خُ ُُثًا فَقَال: "إٌِ انًاء‬ َ َ َ َ َ ٍ ْ َ ْ ِّ َ َ ْ َ َ َّ َ ْ ِ َ ْ َ . ia berkata: ini hadits hasan shohih) Hadits ini dijadikan dalil atas sucinya air musta‟mal.

. Jika najis tersebut tidak merubah salah satu dari dzat air. warna dan bau) air. kendati ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun. maka hukumnya suci mensucikan. B. maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang suci. maka hendaklah ia menyentuhkannya ke kulitnya. atau tanah berair. atau pasir.” (HR Ahmad). dan ia menghasankannya). “Dijadikan bumi itu sebagai masjid dan suci bagiku. dank arena sebab lain. atau batu. b. Jika ia mendapatkan air. lima kali atau lebih jika dipandang perlu dengan campuran air dan daun bidara…. “Sesungguhnya tanah yang baik (bersih) adalah alat bersuci seorang muslim. yaitu: a. atau tidak bisa menggunakan air karena sakit. Tanah dijadikan sebagai alat thoharoh jika tidak ada air.Dan apabila secara adat sudah tidak dapat dikatakan sebagai air maka ia pun tetap suci. “(HR Tirmizi. “…kemudian kalian tidak mendapatkan air. (HR. Hal ini masih mempunyai dua kemungkinan. Rasulullah SAW bersabda.". Bukhori : 1253 dan Muslim: 939) 4) Air yang bercampur dengan sesuatu yang najis. sehingga secara adat pun air tersebut masih dianggap sebagai air. Tanah yang suci.” (An-Nisa: 43). Ummu Athiyah berkata: • َ ْ ُ ِ ْ ْ َ َ َ َ ‫دخم عهٍََُا انَُّثًِ و ََحْ ٍُ ََغسم اتَُرَهُ فَقَال: اغس ْهَُهَا ثََلثًا أَوْ خَ ًسًا أَوْ أَكثَر يٍ ذنِك إٌِ رأٌَرٍُ يٍ ذنِك تًِاء وسدر‬ ْ ِ ْ َ َ ِّ ٍ ْ ِ َ ٍ َ َ َ ْ ِ َّ ْ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ "Nabi saw memasuki kami saat kami memandikan anak putrinya. Rasulullah SAW bersabda. Allah berfirman. namun tidak dapat digunakan untuk bersuci. maka airnya tidak dapat digunaka untuk thoharoh. Jika najis tersebut merubah dzat (rasa. Beliau bersabda: mandikanlah tiga kali.

sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kejahatan dan para pelakunya.” (HR Bukhari).“Rasulullah SAW mengizinkan Amr bin Ash r. Adapun tambahan basmalah diawal hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani) Doa ini dapat pula dibaca dengan lafazh: ‫ػ‬ “(Dengan menyebut nama Allah) Ya Allah.a. bertayammum dari jinabat pada malam yang sangat dingin. Adab Membuang Hajat 1. sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan setan laki-laki dan setan perempuan.” (Lihat Fathul Bari dan Syarhu Shahih Muslim pada penjelasan hadits diatas) . Oleh karena itu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam mengajarkan do‟a ketika akan masuk WC: ‫ػ‬ “(Dengan menyebut nama Allah) Ya Allah. Al-Bukhari no. Berdo‟a Sebelum Masuk WC WC dan yang semisalnya merupakan salah satu tempat yang dihuni oleh setan. 375. karena ia menghawatirkan keselamatan dirinya jika ia mandi dengan air yang dingin.” (HR. 142 dan Muslim no. Maka sepantasnya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wata‟ala dari kejelekan makhluk tersebut.

Hanya saja terdapat hadits „Aisyah radhiyallahu „anha.” (HR. 1/324). Tidak Membawa Sesuatu Yang Terdapat Padanya Nama Allah subhanahu wata‟ala Atau Ayat Al-Qur`an kedalam WC Sesuatu apapun yang terdapat padanya nama Allah subhanahu wata‟ala. beberapa ulama seperti Al-Imam An-Nawawi dalam kitab beliau. maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (Taudhihul Ahkam.” (QS. Al-Hajj: 32) Adapun hadits yang sering dipakai dalam masalah ini tentang peletakan cincin Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ketika masuk WC merupakan hadits yang dilemahkan para ulama. maka tidak sepantasnya dimasukkan ke tempat buang hajat (WC). dan juga Al-Imam Ibnu Daqiqil „Id menyebutkan disukainya seseorang yang masuk WC dengan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar dengan mendahulukan kaki kanan. atau terdapat padanya nama yang disandarkan kepada salah satu dari nama Allah subhanahu wata‟ala seperti Abdullah. Allah subhanahu wata‟ala berfirman: “Barangsiapa yang mengagungkan syi‟ar-syi‟ar Allah.2. Mendahulukan Kaki Kiri Ketika Masuk WC Dan Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Keluar Dalam masalah ini tidak terdapat hadits shahih yang secara khusus menyebutkan disukainya mendahulukan kaki kiri ketika hendak masakuk WC. 3. Muslim) Oleh karena itu. atau terdapat padanya ayat Al-Qur‟an. ia berkata: “Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menyukai mendahulukan yang kanan pada setiap perkara yang baik. . Syarhu Shahih Muslim. Abdurrahman dan yang lainnya.

Tidaklah keduanya diadzab melainkan karena menganggap sepele perkara besar.” (HR. kebiasaan Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam adalah menjauh dari pandangan para sahabatnya ketika hendak buang hajat. Sedangkan yang lainnya.” (HR. Sesungguhnya Allah sangat murka dengan perbuatan tersebut. Beliau shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Apabila dua orang buang hajat. Abdurrahman bin Abi Qurad radhiallahu „anhu berkata: . ia diadzab karena suka mengadu domba….” (HR. Adapun salah satunya. termasuk ketika buang hajat. Suatu ketika Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melewati dua kuburan. Al-Bukhari no. Ibnul Qathan. 292) Dan Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam telah memperingatkan: “Bersucilah kalian dari kencing. Tetapi perkara ini sering disepelekan oleh kebanyakan orang. untuk menampakkan auratnya di hadapan orang lain. 216 dan Muslim no. maka hendaklah keduanya saling menutup auratnya dari yang lain dan janganlah keduanya saling berbincang-bincang. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarang seseorang dalam keadaan apapun. Tidak Menampakkan Aurat Menutup aurat merupakan perkara yang wajib dalam Islam. Ad-Daraquthni) 5. dari Jabir bin Abdillah radhiallahu „anhu) Oleh karena itu.4. Ahmad dishahihkan Ibnus Sakan. Berhati-hati Dari Percikan Najis Tidak berhati-hati dari percikan kencing merupakan salah satu penyebab diadzabnya seseorang di alam kubur. dan Al-Albani. ia diadzab karena tidak menjaga dirinya dari kencing. seraya beliau shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Sungguh dua penghuni kubur ini sedang diadzab. Sungguh kebanyakan (orang) diadzab di alam kubur disebabkan karena kencing.

” (HR. 7. Boleh Bersuci dengan Batu (Istijmar) Diantara bentuk kemudahan dari Allah subhanahu wata‟ala ialah dibolehkan bagi seseorang untuk bersuci dengan batu (istijmar). Al-Bukhari No. Kebiasaan beliau ketika buang hajat adalah pergi menjauh dari manusia. 156) Namun batu yang dipakai harus berjumlah ganjil dengan jumlah minimal tiga batu sebagaimana dinyatakan Salman Al-Farisi radhiallahu „anhu: “Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarang bersuci (istijmar) kurang dari tiga batu.” (HR. 16. 1/495) 6. An Nasa‟i No. Abdullah bin Mas‟ud radhiallahu „anhu berkata: “Suatu hari Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam buang hajat.“Aku pernah keluar bersama Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ke tempat buang hajat. Dishahihkan Asy Syaikh Muqbil dalam Al-Jami‟us Shahih. termasuk ketika buang hajat sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan adab (etika yang baik) dan kebersihan. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Qotadah radhiallahu „anhu) Hadits inipun mengandung larangan memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika sedang kencing. lalu beliau meminta kepadaku tiga batu untuk bersuci. Tidak Beristinja‟ dengan Tangan Kanan Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarang beristinja‟ dengan tangan kanan sebagaimana sabda beliau shalallahu „alaihi wasallam: “Janganlah seseorang diantara kalian memegang kemaluan dengan tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengan tangan kanan. Muslim) .” (HR.” (HR.

Berdalil dengan hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu „anhu. Al-Bukhari) 9. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian bersuci dengan batu (istijmar). dengan syarat berjumlah ganjil dan minimal 3 (tiga) buah. Tidak Menghadap Atau Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Muslim) Para ulama menyebutkan kriteria batu yang dipakai adalah batu yang suci lagi kering. Dibolehkan juga menggunakan benda-benda lain selagi bisa menyerap benda najis dari tempat keluarnya. Asy-Syaikh Al-Albani dan yang lainnya. Larangan Beristinja‟ dengan Tulang dan Kotoran Binatang Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam melarang beristinja‟ dengan tulang atau kotoran binatang. disamping keduanya merupakan benda yang tidak dapat menyucikan. Jabir bin Abdillah radhiallahu „anhu berkata: “Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam telah melarang beristinja‟ dengan tulang dan kotoran binatang. Sebagian ulama berpendapat dilarangnya buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat secara mutlak.Juga hadits dari Abu Hurairah radhiallahu „anhu. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Tulang adalah makanan saudara kalian dari kalangan jin. Inilah pendapat Ibnu Taimiyyah. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: .” (HR. 8.” (HR. Muslim) Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menyebutkan hikmah pelarangan beristinja‟ dengan tulang sebagaimana disebutkan dari Abu Hurairah radhiallahu „anhu. baik di tempat terbuka maupun di tempat tertutup. maka hendaklah dengan bilangan ganjil. Tidak boleh jika batu tersebut dalam keadaan basah. AsySyaukani.” (HR. yaitu qubul dan dubur.

maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. Maka aku melihat Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam sedang buang hajat dengan menghadap ke arah negeri Syam dan membelakangi Ka‟bah. 3/365. 1/493) Pendapat inilah yang nampak bagi penulis lebih kuat. dan mayoritas para ulama. Hal ini disebabkan karena perbedaan pendapat yang sangat kuat diantara para ulama dalam masalah ini.” (HR. Ahmad. Berdo‟a Setelah Keluar WC Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam mengajarkan do‟a yang dibaca ketika keluar dari tempat buang hajat. 10. Ahmad. 264) Sebagian ulama lain berpendapat bahwa larangan buang hajat dengan menghadap kiblat adalah apabila di tempat terbuka. AlBukhari No. „Aisyah radhiyallahu „anha berkata: . sebaiknya tidak menghadap kiblat ketika buang hajat walaupun di tempat tertutup. Namun dalam rangka berhati-hati. Namun jika di tempat tertutup.” (HR. 148 dan Muslim No. Akan tetapi aku melihat beliau kencing dengan menghadap kiblat setahun sebelum beliau wafat. ia berkata: “Aku pernah menaiki rumah saudariku Hafshah (salah satu istri Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam) untuk suatu kepentingan. ia berkata: “Beliau shalallahu „alaihi wasallam melarang kami membelakangi atau menghadap kiblat ketika buang hajat. dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami‟us Shahih. Akan tetapi hendaknya ia menyamping dari arah kiblat.” (HR. Dan ini pendapat yang dipilih AlImam Malik. Dalil yang menunjukkan bolehnya perkara tersebut adalah hadits dari Ibnu „Umar radhiallahu „anhu. Asy-Syafi‟i. 266) Demikian pula hadits Jabir bin „Abdillah radhiallahu „anhu.“Apabila seseorang dari kalian buang hajat. 394 dan Muslim No. Al-Bukhari No. maka dibolehkan menghadap kiblat.

Apabila ada bagian muka yang dibasuh sebelum niat maka bagian tersebut harus diulangi basuhannya setelah niat. Sungguh tidak layak bagi seorang muslim menganggap hal ini sebagai perkara yang sepele. 52) Terdapat riwayat-riwayat lain yang menyebutkan beberapa bentuk do‟a yang dibaca setelah buang hajat. 1/352) Inilah beberapa perkara yang perlu dicermati oleh setiap muslim.id dari Assalafy.or. maupun bagian bawah dari muka. Niat yaitu menyatakan di dalam hati “saya niat menghilangkan hadats kecil sebagai kewajiban karena Allah” atau “saya niat bersuci dari hadats kecil sebagai kewajiban karena Allah“.” (HR. Atau “saya niat melaksanakan kewajiban berwudhu karena Allah“. Sumber Darussalaf. An-Nasa‟i. .“Bahwasanya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam jika keluar dari tempat buang hajat membaca do‟a: ‫ؿ‬ “(Aku memohon pengampunanmu).” (Taudhihul Ahkam. Niat itu dilakukan ketika membasuh muka. At-Tirmidzi. Abu Daud.org/mahad/?p=268 Judul: Tuntunan Syariat Dalam Masalah Buang Hajat Tata Cara Wudhu o Rukun-rukun Wudhu (yaitu perkara-perkara yang harus dipenuhi dalam) wudhu ada 6 yaitu: 1. Ibnu Majah dan dishahihkan Al-Albani dalam Irwa‟ul Ghalil No. Namun seluruh hadits-hadits tersebut didha‟ifkan para ulama pakar hadits. Al-Imam Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Hadits yang paling shahih tentang masalah ini adalah hadits „Aisyah (yang telah disebutkan diatas). baik membasuhnya dari bagian atas muka atau bagian tengah.

Dalam membasuh kedua tangan ini harus diyakini bahwa air basuhan mengenai seluruh bagian tangan dari ujung jari sampai siku dan tidak boleh terdapat sesuatu yang menghalanginya bahkan kotoran yang terdapat di bawah kuku apabila keberadaannya menghalangi air sampai ke ujung jari ia harus dibersihkan. Batasan muka dari atas ke bawah adalah antara tempat tumbuh rambut hingga ujung dagu. Perlu dijelaskan perbedaan membasuh dengan mengusap. Mengusap ialah meletakkan atau menggerakkan tangan yang telah dibasahi dengan air di bagian mana saja dari kepala tanpa harus ada air yang mengalir atau bergerak di atas kepala. Diharuskan pula bagi orang seperti itu untuk melaksanakan wudhu setelah masuk waktu sholat kemudian membersihkan najisnya dan membalut tempat keluar najis sehingga najisnya tidak mengenai pakaian sholat atau anggota badannya yang lain. dan dari samping antara kedua telinga. 4. kalau tidak dibersihkan maka wudhunya menjadi tidak sah yang mengakibatkan sholatnya tidak sah pula. bukan rambut yang berada di luar batas kepala bagi pemilik rambut yang panjang. Membasuh dua tangan hingga dua siku. Batas rambut yang diusap ialah rambut yang berada dibagian kepala. Diharuskan membasuh muka dengan melewati batasan di atas dan tidak terdapat sesuatu yang menghalangi air mengenai seluruh kulit muka sehingga diyakini bahwa seluruh bagian muka telah terbasuh. Mengusap sebagian kepala atau rambut dengan tangan yang telah dibasahi. 2. atau wanita yang mengalami darah penyakit niatnya berbeda yaitu dengan menyatkan di dalam hatinya “saya niat berwudhu sebagai kewajiban untuk dibolehkan sholat”. Dia tidak boleh niat menghilangkan hadats kecil karena dengan kondisinya seperti itu hadatsnya terus menerus bahkan ketika dia berwudhu sehingga tidak akan hilang dengan wudhunya.Bagi seseorang yang menderita penyakit yang membuatnya batal terus menerus seperti penyakit beser (air kencing yang merembes terus menerus) dan sejenisnya. Sedangkan membasuh ialah menyiramkan anggota wudhu yang harus . Membasuh muka. 3.

Selain perkara-perkara di atas yang harus dipenuhi ketika berwudhu. Sebagaimana halnya dengan tangan kedua kaki terdapat kuku-kuku jari kaki yang terkadang menyimpan kotoran. Membasuh lubang hidung sebelum berniat. . membasuh kedua telapak tangan ketika membaca bismillah. Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan. memasukkan air ke dalam hidung lalu menyemprotkannya kembali. bersiwak. dan membaca do‟a setelah wudhu sekurang-kurangnya sebagai berikut: “asyhadu an laa ilaaha illalloohu wahdahuu laa syariika lahu wa asyhadu anna muhammadan „abduhuu warosuuluh“. Yaitu berurutan dalam melaksanakan basuhan-basuhan sebagaimana yang telah disebutkan di atas. o Sunat Wudhu         Membaca basmalah pada permulaan wudhu. Tertib. kalau tidak maka wudhunya menjadi tidak sah yang berakibat solatnya tidak sah pula. mengusap kedua telinga dengan tangan yang basah. Menyapu seluruh kepala dengan air. ada perkara-perkara yang disunnatkan untuk dilakukan ketika berwudhu yaitu membaca bismillah ketika hendak memulai berwudhu. Kotoran tersebut harus dibersihkan agar air basuhan mengenai ujungujung jari kaki yang terletak di bawah kuku. 5. Menyapu kedua telinga luar dan dalam. Meniga kalikan membasuh. berkumur-kumur. melakukan basuhan atau usapan hingga tiga kali. mengusap seluruh kepala. mendahulukan anggota wudhu yang kanan daripada yang kiri. Mendahulukan anggota kanan dari pada kiri.dibasuh dengan air sehingga terdapat air yang mengalir atau bergerak pada anggota tersebut. Berkumur-kumur. menggosok-gosok setiap anggota wudhu yang dibasuh. 6. Membasuh dua kaki hingga dua mata kaki.

Mengenai air mazi dan . ms. Yang Membatalkan Wudhu 1.” (Rujuk Syarh Sahih Muslim. atau apabila ada antara karnu yang datang dari tempat membuang hajat. Lantas haginda menjawab: Berwudhu‟lah dan basuhlah kemaluanmu. 2.a berkata: Aku adalah lelaki yang paling banyak keluar air mazi. 212). ijmak ulama bahawa tidak wajib mandi junub. Kentut & Qadha‟ Hajat Firman ALLAH SWT : Wahai orang-orangyang beriman. Syafie. bahawa Rasulullah s. wajib berwuduk berdasarkan hadis ibi. Lalu dia bertanya kepada baginda. (Surah al-Maidah: 6) Abu Hurairah r. berwuduklah apabila kamu ingin mendirikan solat. Keluar al-Wadi Ibn Abbas a berkata: Berhubung dengan air mani.h berkata: “Mengenai hukum keluar air mazi. Keluar air mazi.h bcrkata: “Memang tsabit daripada hadis Rasulullah s..a. 133) Al-Nawawi r.w bersabda: ALLAH tidak akan menerima solat seseorang apabila dia telah berhadas sehingga dia kembali berwuduk. Seorang lelaki daripada Hadramaut bertanya: Apakah yang dimaksudkan dengan hadas wahai Abu Hurairah? Jawabnya: Kentut.w rnengenai kewajipan berwudhu‟ bagi air mazi (yang keluar)” (Rujuk al-Ausot. jil.a. 3.a.a berkata. Ahmad dan jumhur berpendapat. Ali bin Abu Talib r.. 1.w menggunakan nama anak perempuanya (Fatimah). Membaca doa sesudah wudhu. wajib mandi junub. (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim). Lalu aku perintahkan seorang lelaki bertanya kepada Nabi s. Abu Hanifah. ms. (Hadis riwayat alBukhari dan Muslim) Ibn al-Mundziri r. jil. 3.  o Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki.

Tidak perlu berwudhu' apabila waswas. berkata bahawa Rasulullah s. 4. Ibn al-Mundzir r. 1.w memerintahkan agar wanita yang mengalami darah istihadhah berwuduk setiap kali solat berdasarkan hadis yang diriwayat oleh Bukhari dalam kitab al.h berkata: “Mengenai air wadi.w bersabda: Apabila seseorang antara kamu merasakan sesuatu yang tidak kena pada perutnya lalu waswas sama ada dia kentut atau tidak. berkata: “Rasulullah s. jil. apa sahaja yang keluar daripada zakar sudah tentu diwajibkan berwuduk sebagaimana wajib berwuduk apabila keluar air kencing. Tidur atau Tidak Tetap Punggung Safwan bin „Assal r. Berselisih pendapat sama ada tidur boleh membatalkan wudhu‟ atau sebaliknya.a. (Hadis riwayat Muslim). air kecil atau tidur” (Hadis riwayat Ahmad. wudhu‟ wajib selepas kencing.a. Keluar air mani Ini berdasarkan riwayat Ibn Abbas r. terdapat beberapa hadis sahih yang menjelaskan . 136). Namun. AlTirmizi mensahihkannya). ia sesuatu yang keluar daripada zakar selepas kencing. ms. Sesuatu yang keluar secara berterusan seperti darah istihadhah dan sebagainya. Jadi.” (Rujuk al-Ausot. dia hendaklah membasuh kemaluannya serta bewuduk. 5. (Hadis riwayat Abdul Razzaq dalam Musannaf. 1. al-Nasaai dan al-Tirmizi. Oleh itu. ms. 159 dengan sanad sahih).a.a. 7.Wuduk. kitab alHaid (333). bab: Ghuslu al-Dam (228) dan Muslim.a. Abu Hurairah r. Nabi s.wadi.a yang dinyatakan sebelum ini melalui Musannaf Abdul Razzaq. buang air besar.w memerintahkan kami agar tidak mencabut kasut ketika musafir selama tiga hari tiga malam kecuali jika berjunub. jil. dia tidak perlu keluar daripada masjid kecuali selepas dia mendengar bunyi atau terhidu bau kentut. 6.

Baginda melakukan solat itu sebanyak 11 rakaat. musafir. berhadas kecil atau menyentuh wanita. 8. wuduknya tidak terbatal berdasarkan beberapa hadis di atas. (Hadis riwayat Muslim).” (Surah al-Maidah: Sentuhan menurut pengertian bahasa ialah merasai sesuatu dengan tangan . Rasulullah s. Setiap kali kepalaku tersengguk kerana mengantuk. Setelah baginda bersiap untuk menunaikan solat.a. Menurut pendapat paling sahih. mereka bangun bersolat tanpa memperbaharui wuduk. Kemudian. Abu Daud dan alTirmizi) Ibn „Abbas r. Anas r.w bangun untuk menunaikan solat malam. Ini kerana. apabila seseorang tidur tetapi tetap punggungnya di bumi dan sebagainya.a.w menunggu solat isyak sehingga tersengguk-sengguk kepala mereka kerana Nabi s. perselisihan mereka dalam mentafsjrkan firman ALLAH di bawah: ‫ؿ‬ ‫ػ‬ ‫ؼ‬ ‫ؼ‬ ‫ػ‬ ‫ؼ‬ ‫ؼ‬ ‫ؼ‬ ‫ػ‬ ‫ـ‬ “Wahai orang-orang yang beriman . yang afdalnya ialah berwuduk apabila tertidur berdasarkan maksud hadis secara umum. aku bangun berdiri di sebeiah kirinya. para sahabat Rasulullah s. Menyentuh Wanita Ajnabi.a berkata: Aku telah bermalam di rumah ibu saudaraku Maimunah (isteni Nabi)..bahawa tidur yang lena dan tetap punggungnya tidak perlu berwudhu‟. Ulama berbeza pendapat dalam menentukan hukum menyentuh wanita ajnabi tanpa berlapik.w melewatkannya.kamu hendaklah berwudhu‟ apabila ingin mendirikan solat. Namun.a.” (Hadis riwayat Muslim.a berkata: “Suatu ketika. baginda menanik tanganku hingga menjadikan aku berada di sebeiah kanannya. Lain. baginda akan menarik telingaku.. Kamu juga mesti berwudhu‟ walaupun ketika sakit.

menurut Ibn „Abbas r.a (sahabat Nabi s. Pendapat ini dikuatkan lagi atau yang dikehendaki dalam ayat dengan firman ALLAH S.w yang difahami secara urnum. Firman ALLAH S. Ini kerana.a. majoriti ulama berpendapat bahawa yang dimaksudkan dengan ‫( ره ط‬suci) di sini ialah iktikad yang suci daripada syirik.a. Sedangkan. menurut pemahaman orang arab apabila dikatakan ‫تسم ل‬ esreb uka) duskamreb ‫ة‬ tubuh dengannya).w telah memerintahkan sahabatnya menulis sepucuk surat kepada penduduk Yaman yang terkandung dalam isi kandungannya: Al-Quran tidak boleh disentuh kecuali dalam keadaan suci.w yang digelar sebagai pakar tafsir al-Quran) berpendapat bahawa kalimah ialah (persetubuhan). (Surah al-Waqi‟ah: 79). mana mungkin aku mernpunyai seorang anak sedangkan aku belum pernah disentuhi lelaki. Abu Bakar bin Muhammad bin „Amru bin Hazm daripada ayah dan datuknya: Sesungguhnya Nabi s.WT: Al-Quran itu tidak boleh disentuh melainkan orang-orang yang suci.a. Ini kerana.atau bertemu kulit sesama manusia. . (Hadis riwayat al-Darimi dan Malik) Penggunaan kalimah itu hakikatnya secara kiasan semata-mata.WT: Maryam berkata: Ya TUHAN-ku. (Surah Alii Imran: 47) Sebahagian ulama menggunakan firman ALLAH yang bersifat umum untuk menguatkan hujah bahawa menyentuh perempuan membatalkan wudhu‟. Begitu juga maksud sabda Rasulullah s. Namun.

. Tidak ada seorang pun yang boleh meryentuhnya kecuali orang-orang yang suci (malaikat). baginda tetap meneruskan solat tanpa memperbaharui wudhu‟nya. Ini kerana.w: “Sesungguhnya orang mukrnin tidak najis.a. Aisyah r. Dikuatkan lagi dengan firman ALLAH yang berbunyi: “Sesungguhiya orang musyrikin itu najis.” (Surah alWaqi‟ah: 77 – 79) Banyak hadis sahih yang membicarakan tentang sentuhan Nabi s.” (Hadis riwayat al-Nasaai. itulah al-Quran yang mulia.” (Hadis riwayat Bukhari.a berkata: “Rasulullah s. ALLAH kaitkan ayat sebelumnya yang bermaksud: “Sesungguhnya. Apabila ingin menunaikan solat witir baginda akan mengejutkanku dengan hujung kakinya.perbuatan syirik menurut fahaman salafussoleh termasuk amalan yang boleh dianggap najis.a.a.” (Surah al-Taubah: 28) Begitu juga sabda Rasulullah s. al-Quran tidak boleh disentuh (diambil) daripada ‫( ظ فحمل ح لل‬tempat simpanan khazanah perbendaharaan ALLAH termasuk al-Quran) kecuali ‫رهطمل‬ (para malaikat al- Muqarrabun) yang berada paling hampir dengan ALLAH. Muslim. Namun.w telah mendirikan solat sedangkan aku berada di hadapannya (melintang) seperti jenazah yang terbujur ketika disolatkan. Ia berada dalam kitab yang terjaga rapi (di lauh mahfuz). al-Nasaai. Ibn Majah dan Ahmad) Menurut Tafsir Ibn Kathir. Al-Hafiz Ibn Hajar menyatakan bahawa sanad hadis ini sahih di dalam Kitab al-Talkhis).w dengan para isterinya.

Aku telah menyentuhnya lalu meletakkan tanganku ke atas kedua-dua belah tapak kakinya yang sedang ditegakkan. (Hadis riwayat Abu Daud dan al-Nasaai) Aisyah r. Al-Tirmizi mensahihkannya). tidak mengapa tidak berwudhu‟. Al-Bukhari r.w telah mencium salah seorang isterinya.w tidak berwudhu‟ ketika bercumbu-cumbuan dengan isteri-isterinya. jika hadis di atas merupakan pengkhususan kepada Nabi sa. Hujah saya. Oleh itu.w. Abu Daud dan Ibn Majah. baginda sedang berada di dalam majid sambil aku mendengar baginda berdoa: . jika perkara itu diwajibkan dan berdosa apabila meninggalkannya atau ia hanya dikhususkan kepada Nabi s.a. Kemudian baginda menunaikan solat tanpa memperbaharui wudhu‟nya. ada sebahagian hadis yang sahih menyebut bahawa Nabi s. aku kehilangan Rasulullah s. 9.a.a. Ketika itu.a. al-Nasaai dan selainnya.a berkata: Nabi s. maka perlu didatangkan dalil yang menerangkan perkara Iitu. (Hadis diriwayatkan oleh Muslim dan al-Nasaai. al-Tirmizi.h berkata: “Inilah hadis paling sahih dalam bab membicarakan terbatal wuduk . Busrah binti Safwan r.a berkata: “Suatu malam.w. (Hadis riwayat Ahmad. Menyentuh kemaluan.w daripada tempat tidurku. Al-Tirmizi mensahihkannya) Pendapat terpilih..a. Sedangkan. al-Nasaai.. Inilah pendapat yang saya pegang sebagaimana pendapat sebahagian ulama Syafie seperti Ibn Hajar al-Asqalani.a berkata bahawa Rasulullah s.w bersabda: Janganlah menunaikan solat sebelum berwudhu‟ bagi sesiapa jang menyentuh kemaluannya. pasti terdapat dalil yang sahih lagi sarih melarang perbuatan itu.Aisyah r.

„Amru bin Ali al-Falas r.” Oleh kerana kedua-dua hadis di atas tidak dapat ditarjihkan dan terdapat kritikan pada sanad. Rabi‟ah. al-Tirmizi.w ditanya: Apabila seorang lelaki menyentuh kemaluannya.a. al-Tsauri. Ibn Hibban. Hadis ini diklasifikasikan sebagai sahih oleh Amru bin Ali al-Falas. Abu Daud. Begitu juga sama ada bersyahwat atau sebaliknya.menyentuh kemaluan. al-Nasaai. Hasan al-Basri. adakah dia perlu berwuduk? Jawab baginda: Bukankah ia hanya sebahagian daripada anggota badanmu. 10. pendapat terpilih ialah afdhal berwuduk apabila menyentuh kemaluan dan diyakini tidak terkena najis. inilah hadis terbaik berbanding hadis Busrah. al-Tabrani dan Ibn Hazm).” Ali bin al-Madini berkata: “Menurut kami. Talaq bin Ali r.l. Inilah pendapat yang dipegang oleh sebahagian salafussoleh seperti Ali. iaitu tidak mudhorib (bercampuk-aduk dengan lafaz lain). (Hadis riwayat Ahmad.” (Rujuk Nail al-Autor. Namun. Jabir bin Samurah r. Abu Hanifah dan pengikutnya serta selain mereka berdasarkan hadis di bawah. Berbeza dengan hadis riwayat Busrah. Ia hanya pendapat tanpa asal-usul yang dapat dikaji masih boleh.a berkata: Rasulullah s.a berkata: .” Al-Thohawi berkata: “Sanad hadis ini mustaqim. solat orang yang tidak memperbaharui wuduk tetap sah sama ada berlapik atau tidak kerana tidak ada dalil sarih (jelas) mengenainya. Ibn Majah dan al-Daruqutni. Tetapi. Makan daging unta. al‟Utrah. ms. jil. tidak dapat dipastikan kesahihan pendapat itu. „Ammar. Ibn Mas‟ud. 189). Manakala hukum tidak batal wuduk apabila berlakunya persentuhan dengan belakang tapak tangan.h berkata: “Hadis ini lebih tsabit daripada hadis Busrah. hadis di atas tidak terlepas daripada kritikan ahli hadis mengenai martabat kesahihannya.

pengsan dan sebagainya. Baginda pun bertanya kepadanya: Adakah orang ramai telah solat? Jawab Aisyah : Belum.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim). Baginda berkata: Bawakan air wudhu‟ yang berada dalam Mikhdhab (sejenis bekas) itu untukku. 1. Tiba-tiba sakit itu menyerang lagi dan baginda terus pengsan. Baginda berkata: Bawakan air wudhu‟ yang berada dalam Mikhdhab (sejenis bekas) itu untukku.h berkata: “Makan daging unta membatalkan wudhu‟ serta merta sama ada dimakan secara mentah atau dimasak dan dalam keadaan tahu atau jahil.” (Rujuk al-Ausot.a. jil. berwudhu‟lah.w: Adakah kami perlu memperbaharui wudhu‟ apabila memakan daging kambing? Jawab baginda: Jika kamu mahu. jil.h berkata: “Ulama sepakat mewajibkan berwudhu‟ bagi sesiapa yang tidak sedar .“Seorang lelaki telah bertanya kepada Rasulullah s. Berwudhu‟lah apabila memakan daging unta. Ibn al-Mundzir r. 138).a berkata: Nabi s. Aisyah r. Hilang akal kerana gila. tidak mengapa.” (Rujuk alMughni. ms. Ditanya lagi: Adakah kami perlu berwudhu‟ apabila memakan daging unta? Jawab baginda: Ya. Tiba-tiba sakit itu menyerang lagi dan baginda terus pingsan. ms. Jika sebaliknja. 1. Mereka menunggu engkau. Ibn Qudamah r. Ditanya lagi: Bolehkah kami solat di kandang unta? Jawab baginda: Tidak. Mereka menunggu engkau. 11. Ditanya lagi: Bolehkah kami solat di kandang kambing? Jawab baginda: Boleh. 250). Lalu baginda membasuh (berwudhu‟). berada dalam keadaan sakit yang tenat.w. (Hadis riwayat Ahmad dan Muslim) Ibn al-Mundziri r.a. Apabila sedar baginda bertanya lagi: Adakah orang ramai telah solat? Jawab Aisyah: Belum. Aisyah berkata: Aku pun melakukannya. Aisyah berkata: Baginda duduk lalu membasuh (berwudhu‟).h berkata: “Wajib berwuduk selepas makan daging unta kerana tsabit melalui hadis dan sanad.

” (Rujuk al-Ausot. Najis dari segi „ainnya terbahagi kepada dua: a. 1.a. ms. 155. iaitu benda kotor sama ada beku atau cair dan sama ada dapat dilihat atau tidak. .R At-Tirmidi) 2. Najis haqiqiyy.” (H. Cara mensucikannya ialah lebih dahulu dihilangkan wujud benda najis itu. Rasulullah saw bersabda: “sucinya tempat (perkakas)mu apabila dijilat anjing adalah dengan mencuci tujuh kali. 156) Macam-macam Najis dan Tata cara Mensucikannya: Najis menurut bahasa artinya kotoran. Kami telah meriwayatkan dengan sanad yang tsabit daripada Rasulullah s. Najis Mughaladhah : yaitu njis yang berat yakni yang timbul dari najis anjing dan babi. sedang menurut syara‟ berarti yang mencegah sahnya shalat. seperti air kencing bayi laki-laki yang umurnya kurang dari dua tahun dan belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya. Najis Mukhaffafah : yaitu najis yang ringan. kemudian baru dicuci bersih dengan air sampai tujuh kali dan salah satunya dicuci dengan air yang tercampur tanah.w bahawa baginda telah mengalami sakit lalu berwudhu‟ sehingga menyebabkan baginda pengsan.disebabkan gila atau pengsan. permulaan atau penghabisan diantara persucian itu dicuci dengan air yang bercampur dengan tanah. jil. Ia terbahagi kepada tiga : 1.

sedangkan bela terkena air kencing laki-laki cukup dengan memercikan air padanya. Darah jerawat. Najis yang dapat dimaafkan. Najis Mutawassithah dapat dibagi menjadi dua bagian : a. najis-najis berikut adalah dimaafkan: 1.Cara mensucikan. Cara mensucikannya dengan menghilangkan zat (bendanya) lebih dahulu hingga hilang rasa bau. Oleh yang demikian. Najis yang dimaafkan Tiada sebarang najis yang dimaafkan. dan warnanya. Najis yang tidak dapat dilihat oleh pandangan sederhana seperti darah yang sedikit dan percikan air kencing. Najis hukmiy.R Abu Daud dan Nasa‟i) 3. 2. Najis Mutawassithah : yaitu najis yang sedang. b. Najis „aniyah: Yaitu najis yang bendanya berwujud. cara mensucikannya cukup dengan mengalirkan air pad belas najis itu. Seperti: Kotoran manusia atau binatang.” (H. belalang dan mayat manusia). b. bangkai (selain bangkai ikan. air kencing. agas dan pijat. darah kudis atau kurap dan nanah. Walaupun begitu. nanah darah. . Najis hukmiyah : yaitu najis tidak berwujud bendanya. seperti bekas kencing. atau tayammum apabila ketiadaan air atau uzur daripada menggunakan air. syara` memberi kemaafan terhadap kadar benda najis yang sedikit yang sulit untuk dielakkan. darah bisul. arak yang sudah kering. 3. begitu juga untuk memudahkan dan bertolak ansur kepada umatnya. Darah binatang yang tidak mengalir darahnya seperti kutu. cukup dengan memercikan air pada benda yang kena najis itu sampai bersih. c. Rasulullah saw bersabda : “barang yang terkena air kencing anak perempuan harus dicuci. yaitu kekotoran yang ada pada bahagian tubuh badan iaitu hadath kecil yang dapat dihilangkan dengan berwudhu‟ dan hadath besar (janabah) yang dapat dihilangkan dengan mandi. nyamuk. yaitu najis yang lain selain yang tersebut dalam najis ringan dan berat. kemudian menyiramnya dengan air sampai bersih.

terkadang keluar tanpa disadari. Madzi. Tahi manusia Berdasarkan sabda nabi Muhammad Sollallohu'alaihi wasallam : ‫ب‬ ،‫ى‬ ‫ؼ‬ ‫ئ‬ "Jika sendal salah seorang diantara kalian menginjak kotoran. adalah air bening lekat-lekat yang keluar dari kemaluan ketika syahwat. ini terjadi baik pada pria maupun wanita. ^_^ . keluar dengan tidak memancar dan tidak menyebabkan badan menjadi lemas setelahnya." Hadits sahih riwayat Abu Dawud : 385. maka tanah/debu sebagai menyuci baginya. namun Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam bersabda : "Biarkanlah dia dan jangan mengganggunya " . kencing tidak lawas.4. maka berdirilah para sahabat hendak menghentikannya. 2. Air kencing manusia Berdasarkan hadits nabi : ‫ؽ‬ ‫ػ‬ ‫ػ‬ ‫ؼ‬ ‫ػ‬ ‫ػ‬ ‫ػ‬ Dari hadits Anas bin Malik radhiyallohu'anhu. Benda yang termasuk najis : 1. air kurap atau kudis. Tempat berbekam. bahwasannya seorang arab badui datang ke masjid kemudian kencing didalamnya. hingga setelah selesai sang badui menunaikan hajatnya maka Rosululloh meminta air kemudian di siramkan ke bekas kencing tersebut. HR Bukhari (6025) Muslim (284). 3. najis lalat. darah istihadhah.

adapun wadi adalah air bening pekat yang biasa keluar setelah buang air kecil. dan ini juga najis menurut kesepakatan ulama. Wadi. wadi. 5.Madzi adalah najis berdasarkan Sabda Rosululloh sollalohu'alaihi wasallam kepada sahabat yang bertanya mengenai madzi : "‫ق‬ ‫ي ص يب‬ ‫ي ع‬ ‫س‬ ‫ع‬ ‫سؽي " ي‬ ‫ك‬ ‫يض تي‬ Nabi bersabda : "Hendaknya ia mencuci dzakarnya kemudian berwudhu" HR Bukhari (269) Muslim (303). Darah Haidh. 4. Darah menstruasi adalah najis berdasarkan hadits Asma' : ‫بث‬ ‫ث‬ " ‫ت‬ ‫غ؟‬ ‫ف‬ ‫ػ‬ " ‫ث‬ ‫ض‬ ‫ت‬ ‫ت‬ ‫ث‬ Seorang sahabiah datang kepada Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam bertanya " Pakaian salah seorang dari kami terkena darah haidh. dan madzi." HR Baihaqi dan disahihkan Al Albani dalam kitab sahih sunan abu dawud (190). Dari hadits diatas dapat kita ketahui bagaimana cara membersihkan pakaian dari darah haidh. Berdasarkan hadits : . HR Bukhari (227) Muslim (291). adapun wadi dan madzi maka ia ( Rasulullah ) berkata cucilah dzakarmu kemudian berwudhulah sebagaimana wudhumu ketika hendak sholat. Adapun mani maka mewajibkannya mandi. kemudian (tidak apa-apa) ia shalat dengannya". ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ـ‬ ‫ي‬ ‫ك‬ ،‫ي‬ ‫ئ‬ ‫ي‬ ‫ك‬ " ‫ك‬ ‫ػ س‬ ‫ؿ‬ ‫ػ‬ " Dari sahabat Ibn 'Abbas radhiyallohu'anhu berkata " Mani. Kotoran binatang yang tidak dimakan dagingnya. maka apa yang harus ia perbuat? Rasulullah menjawab : "Hendaknya ia mengeriknya kemudian mencucinya dengan air. 6.

HR Bukhari (156). Air liur anjing adalah najis. berdasarkan Sabda Nabi sollallohu'alaihi wasallam : ‫ب‬ ‫ت‬ ‫غ‬ ‫ـ‬ ‫ب‬ ‫ؾ‬ "Sucinya tempat air kalian jika dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali. kecuali kalau makanan itu bangkai. maka sesungguhnya . kemudian memerintahkanku " Datangkan kepadaku 3 buah batu" maka aku hanya mendapati 2 batu dan routsah (kotoran himar). 8. sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas. sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya. dan yang paling pertama dengan menggunakan debu (tanah)". 7. berdasarkan firman Alloh dalam Al Qur'an : ‫ؼ‬ ‫ـ‬ ‫ػ‬ ‫ػ‬ ‫س‬ ‫ؿ‬ ‫ػ‬ ‫ؽ‬ ‫ؿ‬ "Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa. Air liur anjing. atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu rijs (najis) atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. maka beliau mengambil batunya dan membuang routsah sembari berkata " Dia itu rijs (najis)". Daging Babi .‫ػ‬ " ‫ث‬ ‫ح‬ ‫ز‬ ‫أ‬ ‫ػ‬ ‫ث‬ ‫ؼ‬ " ‫ث ث‬ "‫س‬ ‫ػ‬ Dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallohu'anh berkata : Nabi sollallohu'alaihi wasallam hendak buang hajat. Daging babi selain haram juga najis. HR Muslim (279).

dan bulu bangkai.3314) 2. QS Al An'am : 145. kuku. Bangkai. maka tidaklah najis. Karena Rosululloh sollallohu'alaihi wasallam telah bersabda: : ‫ت‬ "Telah dihalalkan kepada kami dua bangkai dan dua darah.Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Ikan dan belalang. Kecuali 3 bangkai berikut maka tidak najis : 1. berdasarkan riwayat dari Imam Bukhari dari Imam Az Zuhri secara mu'allaq namun dengan sighat Jazm sehingga haditsnya menjadi sahih : . karena sesungguhnya pada salah satu sisi sayapnya (lalat) itu mengandung penyakit dan pada sisi yang lain terdapat penawarnya. Maka ia najis dengan kesepakatan ulama berdasarkan hadits : ‫ؾ إل ب‬ "Jika kulit (bangkai) telah disamak maka ia telah suci" HR Muslim (366). Bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir di tubuhnya." HR Bukhari (3320) 3. dan dua darah yaitu hati dan limpa " Hadits sahih riwayat Ibnu Majah (3218. yaitu hewan yang mati dengan sendirinya tanpa disembelih dengan alat secara syar'i. ‫ى‬ ‫ػ‬ ‫ث‬ ‫ـ‬ ‫ش ب‬ ‫ب‬ ‫غ‬ ‫ى ش‬ ‫أل‬ "Jika minuman salah seorang diantara kalian dihinggapi lalat maka hendaknya ia celupkan lalat itu kedalam minumannya kemudian menbuangnya. adapun dua bangkai yaitu bangkai ikan dan belalang. 9. Tulang. tanduk.

10.dan sesungguhnya dia adalah termasuk binatang yang biasa berkeliaran diantara kalian. Air liur binatang buas atau binatang yg dagingnya haram dimakan. berdasarkan sabda Rasulullah sollallohu'alaihi wasallam mengenai kucing : ‫س‬ ‫ت‬ ": ‫ػ‬ ‫ت"ػ‬ "Sesungguhnya dia tidaklah najis. ، ‫أل‬ ‫ػ‬ ‫ؼ‬ ‫س‬ "Sesungguhnya Alloh dan RasulNya melarang kalian dari daging himar (keledai) yang jinak. Daging hewan yang tidak dapat dimakan (haram). . 12. dan air bekas minum binatang buas. Kecuali Kucing. Ketika Rasulullah ditanya mengenai air yang berada di tempat terbuka.‫ي‬ – ‫ؿ‬ ‫ػظ‬ – ‫ت‬ ‫أس‬ ، ‫ف ؼ‬ " "Berkata Imam Az Zuhri : "Aku mendapati ulama salaf bersisir dan berminyak dengannya. Ibn Majah (3216). mereka tidak mempermasalahkannya". beliau bersabda : "Jika air tersebut lebih 2 qullah maka tidang mengandung najis" Hadits Sahih Abu Dawud (63). 11. Apa-apa yang terpotong dari anggota badan hewan sedangkan ia masih hidup. karena sesungguhnya dia itu najis" HR Muslim (1940). Sebagaimana sabda Rosulullah sollallohu'alaihi wasallam ‫غ‬ "Apa-apa yang terpotong dari binatang ternak sedang ia masih hidup maka itu adalah bangkai" HR Tirmidzi (1480). Abu Dawud (2858)." Sahih HR Imam Ahmad (5/303). maka bekas minumnya suci.

dan tayamum. darah haid. Mabuk. Menyentuh lawan jenis yang bukan muhrim tanpa adanya pembatas. seperti shalat. Hadats besar. 2. apabila hilang akal. Contoh hadas kecil: 1. darah haid. mandi wajib. dan tidur nyenyak. dan nifas. yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya (selain sperma. Menyentuh kubul. Hadats kecil. dan nifas) dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus) seperti : buang angin. ‟itikaf. hadats adalah keadaan badan yang tidak suci atau kotor dan dapat dihilangkan dengan cara berwudhu. Cara mensucikannya yaitu dengan mandi wajib/tayammum. Macam-macam Hadats a. dalam kondisi seperti ini dilarang (tidak sah) untuk mengerjakan ibadah yang menuntut keadaan badan bersih dari hadats dan najis. buang air kecil atau besar. Cara mensucikannya dengan wudhu/tayammum. artinya tidak suci atau keadaan badan tidak suci jadi tidak boleh shalat. b. Contoh hadas besar : . yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya sperma. Menyentuh dubur. thawaf. Dengan demikian. Adapun menurut terminologi (istilah) Islam. 3. 4. Juga.Pengertian Hadats Hadats secara etimologi (bahasa).

dalam Al quran Surah Al Maidah Ayat 6. Bukhari (290) dan Muslim (1211) meriwayatkan dari Aisyah rodhiyallohu „anhaa-. saya haidh. Berhubungan uintim. dia berkata. Keluar darah saat haid. namun biasanya adalah sembilan bulan. Masa nifas paling pendek adalah sejenak. Jangka waktu hamil paling sedikit adalah enam bulan. sedangkan paling lama adalah lima belas hari. Keluarnya mani yang terjadi karena mimipi atau hal lainnya.menemuiku ketika aku sedang menangis. „Ini adalah perkara yang ditetapkan . Penjelasan : 1. “Kami berangkat dan tidak ada yang ingin kami lakukan kecuali menunaikan haji. „Ya‟ Beliau bersabda. Masa haidh paling pendek adalah sehari semalam. Firman Allah swt. sedangkan paling lama adalah empat tahun. maka mandilah kamu. Biasanya selama enam atau tujuh hari. „ada apa denganmu? Apakah engkau mengeluarkan darah?‟ Saya menjawab. Umur perempuan mengalami haidh paling sedikit adalah sembilan tahun.    Nifas. bukan karena melahirkan. Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Biasanya empat puluh hari. yang artinya : “Dan jika kamu junub.” (QS Al Maidah: 6) Hukum Haid dan Nifas Haidh adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita dengan cara yang sehat. Warnanya merah kehitam-hitaman. sedangkan paling lama adalah enam puluh hari. Ketika kami berada di Sarf. Kemudian Rosululloh -shollallohu „alaihi wasallam. Mengenai haidh. Beliau bertanya. Istihadhah adalah darah yang keluar bukan pada hari-hari haidh dan nifas. Masa suci paling sedikit diantara dua haidh adalah lima belas hari dan tidak ada batasan jangka waktu paling lamanya.

“Wahai Rosululloh! Saya adalah perempuan yang sedang mengalami istihadhah. Jika engkau mengalami haidh. maka tinggalkanlah shalat. maka jangan mengerjakan shalat.” Sarf adalah nama sebuah daerah di dekat Mekkah. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang yang menunaikan haji.lalu bersabda kepadanya. . maka warnanya hitam dan dikenal. Jika berakhir waktunya. Maksud pertanyaan Rosululloh “Apakah engkau mengeluarkan darah?” adalah “Apakah engkau haidh?” 2. “Sampai engkau suci. Jika darahnya memang seperti itu. yaitu meneliti berbagai kejadian dan realita. َ َ َ َ َ ِ َّ ‫اِذا كاٌَ دو انحٍْضح فَاََِّهُ اَسىد ٌُعْرفُ فَاِذا كاٌَ ذنِكَ فَاَيسكً عٍَ انصَلَج فَاِذا كاٌَ ْاَخر فَرَىضًِِ وَهًِّ فَاًََِّا ُُى‬ َ َ َّ َ ُ َ َ ُ َ ْ ِ ِ ْ ِ َ َ ْ َُ َ َ َ َ ِ ٓ‫عرْ ق‬ ِ Jika itu adalah darah haidh. 4.oleh Allah kepada anak-anak perempuan Adam. Jika darahnya tidak seperti itu. Bolehkah saya meninggalkan shalat?” Beliau bersabda : َّ ًِّٓ‫اًََِّا ذنِك عرْ ق ونٍَْس تِحٍْض، فَاِذا اَقثَهَد حٍْضرُك فَاذركً انصَلَجَ، فَاِذا ذَُة قَدرَُا فَاغسهًِ عُك اندو وَه‬ ُ ْ َ َ َ َ َ َ َّ ِ ْ َ ِ ْ ِ ُ ْ ِ َ َ ْ ْ َ ٍ َ َ َ ِ ِ َ َ Itu hanyalah cucuran darah. Abu Dawud (286) dan selainnya meriwayatkan dari Fathimah binti Abu Hubaisy bahwa dia mengalami istihadhah. maka bersihkanlah darah dari dirimu dan shalatlah. nifas. bukan haidh. maka berwudhulah dan shalatlah. janganlah engkau thawaf di Baitulloh!‟” Dalam riwayat lain. 3. Banyak fenomena yang membuktikannya. dan suci adalah berdasarkan penelitian. Penentuan jumlah hari maupun umur seorang wanita mulai mengalami haidh. Bukhari (226) dan Muslim (333) meriwayatkan dari Aisyah -rodhiyallohu „anhaa-. Nabi -shollallohu „alaihi wasallam.dan bertanya. Itu hanyalah cucuran darah. dia menceritakan bahwa Fathimah binti Abu Hubaisy datang menemui Nabi shollallohu „alaihi wasallam. Namun demikian.

ٍٍ‫وفِصهُهُو فِى عَاي‬ َ َٰ َ ِ َْ Masa menyapihnya adalah selama dua tahun. Ringkasnya. jika ditinjau apakah ungkapan itu hadits Nabi SAW atau bukan. Sebab tidak terdapat hadits berbunyi demikian dalam berbagai kitab hadits yang ada. Konsep Kebersihan Sebagian dari Iman Ungkapan ”Kebersihan Sebagian Dari Iman” (Arab : an-nazhaafatu minal iimaan) sebenarnya bukanlah hadits Nabi SAW.Abu Dawud (311) dan selainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah -rodhiyallohu „anhaa-. 5.” Ini berdasarkan kebiasaan dan tidak mustahil jika lebih. (Luqmaan [31]: 14) Jika jumlah waktu hamil dan menyapih adalah tiga puluh bulan. dia berkata. namun hanya sekedar peribahasa atau kata mutiara yang baik atau Islami. sejauh pengetahuan kami. maka waktu hamil adalah selama enam bulan. Namun kalau ditinjau apakah . “Perempuan-perempuan yang mengalami nifas pada masa Rosululloh -shollallohu „alaihi wasallam. sedangkan menyusui selama dua tahun.tidak mengerjakan shalat selama empat puluh hari. jawabnya bukan hadits Nabi SAW. Dalil yang menunjukan waktu biasanya dan paling lama adalah berdasarkan penelitian. Dalil jangka waktu hamil paling sedikit adalah firman Allah -subhaanahu wata‟ala: ْ َ ۚ ‫وحًهُهُى وفِصهُهُى ثَ َٰهَثُىٌَ شهرً ا‬ َ َٰ َ َْ َ Masa mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan (Al-Ahqaaf [46]: 15) Beserta firman-Nya.

Sedang bersih (nazhif) adalah lawan dari kotor yaitu keadaan sesuatu tanpa kotoran. misalnya berwudhu. I/6). Memang. ada hadits sahih dari Nabi SAW yang mirip dengan kalimat ”Kebersihan Sebagian Dari Iman”. Al-Jami‟ Ash-Shaghir. dan Tirmidzi) (Lihat Imam AsSuyuthi. meski ini tentu kurang afdhol. baik hadas besar maupun hadas kecil. air. dan sebagainya. 66-67). bukan kebersihan (an-nazhafah). Ahmad. Imam Al-Qazwini. II/57. Sesuatu yang kotor bisa saja suci. pakaian. Sajadah yang lama tidak . Bersuci (thaharah) adalah aktivitas seseorang untuk mencapai kondisi suci itu. bukan arti etimologis (makna bahasa).ungkapan itu Islami atau tidak. meskipun patut diketahui ath-thaharah secara makna bahasa artinya memang kebersihan [an-nazhaafah] (Taqiyuddin al-Husaini.” Karenanya hadis Nabi SAW di atas hendaknya diartikan “Bersuci itu setengah daripada iman”.” Suci dan bersih itu berbeda. (Taqiyuddin al-Husaini. Kifayatul Akhyar. "Ath-thahuuru syatrul iimaan…” (HR. Bingkisan Seberkas 77 Cabang Iman (Terj. Sebab ungkapan itu didukung oleh sebuah hadits hasan seperti yang akan kami sebutkan. Hadits itu adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi. hal.” Kata ath-thahuuru dalam hadits itu artinya tiada lain adalah bersuci (aththaharah). Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab AsySyakhshiyyah Al-Islamiyah Juz III hal. Namun arti hadits Nabi tersebut adalah. Mukhtashar Syu‟abul Iman Li Al-Imam Baihaqi). Kifayatul Akhyar. tayammum. Tetapi dalam ushul fiqih terdapat kaidah bahwa arti asal suatu kata dalam al-Qur`an dan Al-Hadits adalah arti terminologis (makna syar‟i). Suci (thahir) adalah keadaan tanpa najis dan hadas. I/6). tempat. jawabnya Islami. Muslim.”Bersuci [thaharah] itu setengah daripada iman…. dan bukannya ”Kebersihan itu sebagian daripada iman. atau mandi junub. 174 menyebutkan kaidah ushul fiqih yang berbunyi : Al-Ashlu fi dalalah an-nushush asy-syar‟iyah huwa al-ma‟na asy-syar‟iy “Arti asal nash-nash syariah [Al-Qur`an dan As-Sunnah] adalah makna syar‟i. pada badan.

dicuci adalah kotor. Kembali ke masalah hadits di atas. [Jakarta : GIP]. mulia dan mencintai kemuliaan. karena dia telah beriman bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Mahabersih (nazhiif). Ungkapan itu dapat diberi arti. yang sifatnya tidak universal. Tapi tetap disebut suci selama kotoran yang menempel hanya sekedar debu atau daki.” (HR. karena didukung sebuah hadits yang menurut Imam Suyuthi berstatus hasan.” Namun demikian. hal. Tirmidzi) (Lihat Imam As-Suyuthi. Hadits di atas menunjukkan bahwa kebersihan (an-nazhafah) merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. kalimat ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” merupakan ungkapan yang baik (Islami). yang ada adalah hadits Nabi SAW yang berarti ”Bersuci Adalah Sebagdian Dari Iman”. yaitu diakui baik oleh umat Islam maupun umat non Islam. dia tetaplah tidak suci alias masih berhadas besar. bahwa menjaga kebersihan segala sesuatu merupakan bukti atau buah keimanan seorang muslim. Al-Jami‟ Ash-Shaghir. . Demikian pula sesuatu yang bersih juga tidak otomatis suci. 1993. Seorang muslim yang berhadats besar (misal karena haid atau berhubungan seksual) bisa saja tubuhnya bersih sekali karena mandi dengan sabun anti kuman atau desinfektan. Walhasil. dan bukan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman. Sedang bersih atau kebersihan berkaitan dengan fakta empiris yang universal. suci atau bersuci berkaitan dengan keyakinan seorang muslim. yakni sabda Nabi SAW : ”Sesungguhnya Allah Ta‟ala adalah baik dan mencintai kebaikan. Kesimpulannya. I/70. bersih dan mencintai kebersihan. 311). bukan najis seperti kotoran binatang. Maka dari itu ungkapan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” kami katakan sebagai ungkapan yang baik atau Islami karena ada dasarnya dalam Islam yaitu hadits riwayat Tirmidzi di atas. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi. Tapi selama dia tidak meniatkan mandi junub. Muhammad Faiz Almath. Maksudnya hanya menjadi pandangan khas di kalangan umat Islam. cetakan keenam. 1100 Hadits Terpilih. dermawan dan mencintai kedermawanan.

Alat-alat yang diharamkan untuk beristinjak termasuklah: (a) bahan-bahan makanan seperti roti. Hukum istinjak adalah wajib apabila seseorang itu membuang air besar atau kecil.W. atau batu atau benda-benda kesat. (c) kertas yang tertulis nama Allah S. (b) tulang-tulang binatang. dan sebagainya. keras dan kering seperti batu. (b) benda-benda yang kesat. Sabda Rasulullah SAW: Bila salah seorang antara kamu pergi buang air hendaklah beristinjak dengan tiga biji batu.Istinjak 1. . Menggunakan kedua-duanya (air dan batu atau benda-benda kesat) dalam satu masa sebagai alat istinjak adalah lebih afdal (baik). ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadis. Istinjak boleh dilakukan dengan air. 3. Alat-alat yang boleh digunakan untuk beristinjak termasuklah: (a) air mutlak. Istinjak ialah menghilangkan najis yang keluar dan qubul dan dubur selepas membuang air kecil atau air besar dengan menggunakan alat-alat instinjak. kertas. daun kering. kerana demikian itu cukuplah untuknya(Riwayat An-Nasai dan Abu Daud). kayu.. 2.T.

o hendaklah dicalitkan tempat keluar najis sebanyak tiga kali. supaya kita tergolong dalam golongan yang bersih dan beramal soleh. hendak disapukan pada tiga penjuru batu tersebut. o bersihkan tempat keluar najis hingga suci dan dan bersih o pastikan hilang bau. o sekiranya masih belum bersih.T. dan warna najis tersebut. bau. rasa. (c) najis tersebut masih belum kering. o menyapu tempat keluar najis dengan batu sehingga hilang najis tersebut. (b) alat tersebut bukan daripada benda yang diharamkan seperti makanan atau yang seumpama dengannya. kita disunatkan membaca doa memohon kepada Allah S. o jika menggunakan satu batu. 3. iaitu: (a) alat tersebut kering dan bersih.Cara Beristinjak 1. . dan warnanya 2. wajib diulang sehingga benar-benar suci. (c) menggunakan air dan batu.W. Selepas selesai beristinjak. Istinjak boleh dilakukan dengan tiga cara iaitu : (a) menggunakan air mutlak. dibersihkan dengan air untuk menghilangkan rasa. o kemudian. rupa. (b) menggunakan benda kesat atau batu. Beristinjak dengan benda-benda kesat mempunyai beberapa syarat.

. dengan khusyuk. (f) tidak ada benda-benda lain yang melekat di tempat keluar najis. (d) mengelakkan daripada dipandang jijik oleh orang lain. (b) supaya badan dalam keadaan sihat dan bersih. tetapi sekiranya belum bersih hendaklah diulang lagi sehingga bersih.(d) najis tersebut tidak beralih daripada tempat asalnya. (e) supaya anggota badan tidak dijangkiti oleh pelbagai penyakit. (c) dapat mengerjakan ibadat kepada Allah S. Hikmat-hikmat beristinjak termasuklah: (a) menjauhkan diri daripada kuman yang membawa penyakit.W. (e) disapu sebanyak tiga kali.T. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->