Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan.

Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Menurut istilah ulama ahli hadits,[siapa?] hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab: taqrîr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah) dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadits di sini semakna dengan sunnah. Kata hadits yang mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka pada saat ini bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[1] Kata hadits itu sendiri adalah bukan kata infinitif,[2] maka kata tersebut adalah kata benda.[3] Struktur hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari) Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu‟bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
  

Keutuhan sanadnya Jumlahnya Perawi akhirnya

Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi. Matan

Mu'allaq. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.Matan ialah redaksi dari hadits. "Kami terbiasa. Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang). Munqati'. mauquf (terhenti) dan maqtu' :    Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh: hadits sebelumnya) Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'.. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap . Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Mu'dal dan Mursal. apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. Science of Hadits). Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan) Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus).".. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama.. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan. "Kami dilarang untuk... Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" Terkait dengan matan atau redaksi. keutuhan rantai sanad. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad.". maka berhatihatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadits ialah:   Ujung sanad sebagai sumber redaksi. Klasifikasi hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya.

Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Hadits ahad... da'if dan maudu'  Hadits Shahih. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits.   Hadits mutawatir. Hadits Mursal. Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : o Gharib. hasan. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). Hadits Munqati' . Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). . hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir.penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) o Mashur. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir.. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) o Aziz. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW      Hadits Musnad. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. Sanadnya bersambung. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.

mu‟allaq. bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung. Hadits Mungkar. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal.   2. serta matannya tidak syadz serta cacat. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah Hadits Mudraj. tidak fasik. Hadits Mu'allal. Hadits Maudu. munqati‟ atau mu‟dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. berakhlak baik. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan Hadits Maqlub. Jadi. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. mengandung kejanggalan atau cacat. Hadits Hasan. Hadits ini biasa juga disebut hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat) Hadits Mudlthorib. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. dan kuat ingatannya. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. Hadits Mudallas. memiliki sifat istiqomah. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. 3. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi) Hadits gholia. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur. padahal sebenarnya ada. terjaga muruah(kehormatan)-nya. hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawiperawi yang lain. Periwayat hadits Sampul kitab hadits Sahih Bukhari . [Jenis-jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:          Hadits Matruk. mudallas. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya Hadits Syadz. baik dalam sanad atau pada gurunya. Hadits Dhaif (lemah). disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya.

Periwayat hadits yang diterima oleh Muslim 1. tetapi sebagian besar menggunakan:     Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala. atau maknamaknanya. tanpa ta'thil. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. tahrif. Musnad Ahmad. disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal Muwatta Malik. tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya. Shahih Bukhari. seperti Aisyah. 6. tamtsil. dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. 9. 1. Tahrif ini dibagi menjadi dua: Pertama: Tahrif dengan cara menambah. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. yang melawan Ali pada Perang Jamal." [An-Nisa' : 164]. mengurangi. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. Ad-Darimi [sunting] Periwayat hadits yang diterima oleh Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad SAW. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah). 4. 5. Tahrif Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. disusun oleh Imam Malik Sunan Darimi. dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam). disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. Kedua: Merubah makna. 3. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya.) ل‬Demikian pula perkataan orangorang Yahudi. Rahmah . Artinya. 2. melalui Fatimah az-Zahra. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali. 8. bahwa ‫ص‬ 2 Adalah ‫ 3 ص‬Disini ada penambahan huruf lam (‫ . atau merubah bentuk lafazh. istri Muhammad saw. dan takyif. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah. 7.1 Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan AlHadits. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. 4 ketika mereka diperintah untuk mengatakan 5 Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan6 lafazh Allah dalam ayat : ‫ص‬ "Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Dawud.

3. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat. a. Meninggalkan muamalah dengan-Nya. atau mengingkari sebagian darinya. maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf. alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya. dan Al-Yadu (tangan). Adapun orang yang menafikan sifat. b. c. Beliau ‫ هللا ر‬menjawab : ‫ص‬ ‫ع‬ ‫ض ل‬ "Istiwa' itu telah diketahui (maknanya). Jadi. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala. mengimaninya wajib. -bersemayam-. Ta'thil Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah. Jadi. sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik ‫هللا ر‬ ‫ ع‬ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa'. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat . sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil. yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya. akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk."7 Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. dan bentuk dari sifat tersebut. akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. d. sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. MACAM-MACAM TA'THIL Ta'thil ada bermacam-macam. perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar. mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya. baik secara total maupun sebagian. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci. atau sebagian dari-Nya. Takyif Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). tetapi bukan muharif (pelaku tahrif). Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah. setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil. keadaan. dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat). Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar. bentuk/ keadaannya tidak diketahui. 2. atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya. dengan an-ni'mah (nikmat). Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya. sedangkan menanyakannya adalah bid'ah. maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil). yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.(kasih sayang).

Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya. atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar. Jadi. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk. serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. dan al-akhaabiir adalah jamak dari akhbaar…. hakekat-hakekatnya. 4. 1090]. Bila kita membicarakan check dan re-check. Takhabbar maksud mencari tahu.tersebut maupun maknanya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "Ittihad". Syari‟at telah menetapkan satu ketentuan bagi seorang muslim untuk selalu check dan re-check terhadap khabar yang sampai kepadanya.9 Khabar (‫ . ta'thil. Khabar adalah sesuatu yang tidak terelakkan dalam kehidupan kita. tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah dalam kaitannya penerimaan khabar oleh kita dari orang lain. tamtsil dan tasbih. Mari kita perhatikan kisah Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam dengan burung Hud-hud sebagaimana yang difirmankan Allah ta‟ala : ‫ر‬ ‫أ‬ ‫ل ع‬ ‫أ‬ ‫رط‬ ‫ظ‬ * ‫ب صب‬ * ‫ش ض‬ ‫رأ‬ . Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. secara hakiki. atau makna-maknanya. yaitu : Pertama : Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. menyerupakan. Al-Istikhbaar dan at-takhabbur adalah pertanyaan mengenai khabar. Kedua : Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya. memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk. dengan memasrahkan bentuk/ keadaannya.8 ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dikatakan : Takhabbaral-khabar was-takhbara maksudnya : jika ia bertanya tentang khabar untuk mengetahuinya [Lisaanul-„Arab. yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif. Ibnu Sayyidih berkata : “Khabar adalah berita. atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah.)أخ ب ر‬ (Definisinya) yaitu : berita yang datang kepadamu tentang orang yang kamu akan diberitahu. Tamtsil Tamtsil artinya tasybih. Dua-duanya silih berganti mengisi. takyif. merupakan bentuk tunggal dari kata akhbaar (‫. Tamtsil ini dibagi menjadi dua.)خ بر‬kata Ibnul-Mandhuur. dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk. Dalam hadits Al-Hudaibiyyah : Bahwasannya beliau shallallaahu „alaihi wa sallam mengutus seseorang dari suku Khuzaa‟ah menanyakan berita (takhabbar) tentang Quraisy. hal. dari kebenarannya yang pasti. Jamaknya adalah akhbaar. Maha Suci Allah dari itu semua. Baik kita mengkhabarkan sesuatu kepada orang lain atau kita dikhabarkan sesuatu oleh orang lain. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula.

Allah ta‟ala berfirman : ‫أ‬ ‫ب ص‬ ‫ب‬ ‫ب أ‬ ‫ب‬ ‫ع‬ “Hai orang-orang yang beriman. tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. Al-Hujuraat : 6]. Namun beliau menjalankan apa yang diatur syari‟at dengan melakukan check dan re-check atau tatsabbut (meneliti) terhadap khabar tersebut. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [QS. dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Saat Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam menerima khabar burung Hud-hud perihal Ratu Balqis dan kerajaannya. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. dan dan hal-hal yang merusak muru‟ah (harga diri)-nya. Apabila datang seseorang yang dikenal keadilannya atau kejujurannya menyampaikan satu khabar kepadanya.[1] Akan tetapi ada sebagian khabar yang memang dibutuhkan tatsabbut dan tabayyun lebih. ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” [QS. apa kamu benar. Oleh karena itu. dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah). berakal. jika ada yang mendebat salah seorang di antara mereka terhadap khabar yang disampaikannya. maka periksalah dengan teliti. selamat dari sifat fasiq. lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya. beliau tidak langsung menerima atau menolaknya. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat. maka dengan cepat ia menukas : “Telah mengkhabarkan kepadaku seorang yang aku percayai begini dan begitu…. yaitu baligh. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Banyak orang yang keliru memahami makna tatsabbut terhadap penerimaan khabar. Seakanakan urusannya selesai sampai kalimat tersebut tanpa ada celah untuk meragukan atau sekedar menambah yakin terhadap keakuratan berita dengan melakukan penelusuran khabar yang disampaikannya itu. Tentu saja semua hal itu dimungkinkan karena barangkali khabar yang sampai kepada kita tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya atau bertolak belakang dengan khabar yang disampaikan oleh orang selainnya. selain Allah.”. . sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Ke-„adil-an pembawa berita. dengan cepat ia membenarkannya dan sekaligus melakukan konsekuensi dari apa yang dipesankan oleh khabar tersebut. An-Naml : 22-27]. Kewajiban tatsabbut atau tabayyun (check dan re-check) tidaklah bertentangan dengan asas diterimanya khabar dari seorang perawi yang „adil.‫أ‬ ‫ض‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫أ أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ضب‬ ‫ال‬ ‫* ع‬ * ‫أال‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ض‬ ‫عرط ر‬ ‫ر‬ ‫ل* ع‬ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud). Tuhan Yang mempunyai „Arsy (singgasana) yang besar”. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tatsabbut dan tabayyun terhadap khabar : 1. dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

Daarul-„Aalamil-Kutub. dari ayahnya. BaitulAfkaar. Dikarenakan khabar adalah amanah. Dikatakan bahwa mereka itu bukan ahlinya” [Shahih Muslim. ‫: ص‬ Dan telah menceritakan kepada kami „Ubaidillah bin Mu‟adz Al-„Anbariy : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‫ .Al-Qurthubiy rahimahullah berkata : ‫ث ب‬ ، ‫ه‬ ‫بر‬ ‫آل‬ ‫خ بر‬ ‫ض أ‬ ‫ب ل‬ ‫ص‬ ‫خ بر‬ . yang menyangkut hapalan dan keakuratannya dalam membawa khabar. 16/312. ‫ر‬ ‫ث ب‬ ‫ب‬ ‫ض‬ ، ‫ال‬ ‫أ ر‬ ‫خ بر‬ “Dalam ayat ini terdapat dalil diterimanya khabarul-waahid jika ia seorang yang „aadil. Satu contoh saya bawakan dalam kasus ini : . dan kefasiqan adalah alasan yang membatalkannya” [Tafsir Al-Qurthubiy. tidak peduli benar atau salah. Cet. 5]. Tatsabbut terhadap khabar yang dibawa orang fasiq adalah satu kewajiban.” ص ع‬ . Thn. hal. Cet. apalagi jika ia dikenal sebagai orang yang selalu menyampaikan segala sesuatu yang ia dengar. ‫ر ث‬ ‫أ ر‬ ‫ئ‬ ‫ض‬ ‫أ‬ ‫ث‬ ‫خ‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫أ‬ ‫ز‬ ‫ش‬ ‫أ‬ ‫لأ‬ Telah menceritakan kepada kami Nashr bin „Aliy Al-Jahdlamiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Ashma‟iy. sehingga ketika khabar itu diterima. dari Hafsh bin „Aashim. ia berkata : “Aku telah menjumpai di Madinah seratus (orang) yang kesemuanya dapat dipercaya (ma‟muun) yang tidak diambil haditsnya. batallah perkataannya dalam khabar (yang ia sampaikan) berdasarkan ijma‟. 1423]. 24. nampak padanya pertentangan antara pembawa khabar satu dengan yang lainnya. dari Abu Hurairah. dari Khubaib bin „Abdirrahmaan. Ke-dlabth-an pembawa khabar. Mereka hanya mencukupkan diri dengan sifat ke-„adil-annya. Barangsiapa yang tetap kefasiqannya. 2. dari Ibnu Abi Zinaad. ‫ث‬ ‫ث‬ ‫خ ب‬ ‫هللا‬ ‫ث‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ . ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam : “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia mengatakan setiap apa yang ia dengar” [Diriwayatkan oleh Muslim no.أ‬ ، ‫ع ب‬ : ‫ل‬ ‫هللا ر ص ل‬ ‫. ‫: ال‬ ‫ل ر ر ؛ أ‬ ‫ث‬ ‫ح .)ح‬Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami „Abdurrahmaan bin Mahdiy – mereka berdua (Mu‟adz Al-„Anbariy dan „Abdurrahman bin Mahdiy) berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu‟bah. 1419]. tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhaariy. Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam bersabda : ‫ث‬ ‫ث‬ ‫ص‬ “ ‫هللا‬ ‫ر‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ثأ‬ ‫ع‬ ‫ع بر‬ . Karena perintah tatsabbut dalam ayat ini hanya saat menukil khabar orang fasiq. Banyak orang yang meremehkan perkara ini. Thn.

dari Al-Hasan. Pemahaman yang baik dan penguasaan yang komprehensif terhadap maksud khabar/berita. Saat menyampaikannya. Oleh karena itu. Para ulama mengatakan bahwa Hammaam dalam riwayat ini telah keliru dalam membawakan hadits yang mengatakan „yudammaa‟ (dilumuri darah). dari Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam. Betapa banyak orang jujur membawakan khabar tidak sebagaimana mestinya ?. Contohnya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhaan : ‫أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ر‬ . bukanlah satu „aib jika kita melakukan check dan re-check sehingga khabar yang sampai pada kita benar-benar akurat. dan Ghailaan bin Jaami‟ [Irwaaul-Ghaliil oleh Al-Albaaniy 4/387-388 dan Taisiru „Uluumil-Hadits oleh „Amr bin „Abdil-Mun‟im hal. Hammaam adalah seorang yang terpercaya. Adakalanya satu khabar dibawakan oleh seorang yang wara‟ dan kuat hapalannya. 3. dimana perkataannya itu tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan maksud dan pemahaman orang yang ia ambil khabar-nya. beliau bersabda : “Setiap anak tergadai dengan „aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. akan tetapi pengetahuannya tentang hakekat perkataan manusia membuatnya membawakan perkataan tersebut tidak sesuai dengan lafadh dan maksud yang mereka kehendaki. Namun ia telah menyelisihi beberapa orang dan lebih dlabth darinya dalam penyampaian khabar (periwayatan) dari Qataadah. Mereka adalah : Sa‟iid bin Abi „Aruubah (ia adalah orang yang paling tsabt periwayatannya di antara ashhaab Qataadah). ‫ض ، ث ر‬ ‫ع‬ ‫ص‬ ‫أ‬ “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan keadaan bersinarsinar karena bekas wudlu pada anggota tubuh mereka . 2837]. dimana mereka menggunakan lafadh : yusammaa (diberikan nama) – bukan yudammaa.‫هللا‬ ‫ض ع‬ ‫ث‬ ‫ص‬ ‫هللا‬ ‫ر‬ ‫رأ ص‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ل‬ ‫ث‬ : ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫ع‬ ‫ص ر‬ ‫ح‬ ‫رص ل‬ Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin „Umar An-Namiriy : Telah menceritakan kepada kami Hammaam : Telah menceritakan kepada kami Qataadah. namun ia tidak memahami hakekat apa yang disampaikannya itu dari orang yang ia ambil khabar-nya. Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata : ‫ث ر‬ ‫ر‬ ‫ع ر‬ ‫ش‬ ‫ظ‬ ‫صئ ر أ‬ ‫عض‬ ‫ه‬ ‫عرف‬ ‫ر‬ ‫عر‬ ‫ع ضر‬ ‫ل‬ ‫سأ‬ ‫س عض‬ “Dan banyak di antara orang-orang yang membawakan perkataan tanpa bermaksud untuk berdusta. maka barangsiapa yang mampu . sehingga menyulitkan sebagian orang dan menjadi penghalang (untuk menerima perkataannya itu)” [Minhaajus-Sunnah 6/303]. maka khabar yang disampaikannya bercampur dengan perkataannya. dari Samuurah. Sallaam bin Abi Muthii‟. 81]. Abaan bin Yaziid Al-„Aththaar. dan kepalanya dilumuri darah (yudammaa)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. dicukur rambut kepalanya.

blogspot. Al-Hujuraat : 6. namun semoga penekanan urgensitas serta penerapannya di kehidupan sehari-hari dapat dipahami oleh ikhwan semua. Oleh karena itu.memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. Sebab. 386. Dikarenakan ghurrah masuk pada kepala. Ini adalah madzhab Maalikiyyah. maka lakukanlah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. keadaan darurat. fitnah.[5] Inilah tiga hal yang hendaknya diperhatikan bagi kita semua dalam penerimaan khabar. [1] Sebagaimana penjelasan para ulama terhadap QS. maka lakukanlah” merupakan perkataan Abu Hurairah radliyallaahu „anhu. sebagai pembawa khabar.com]. 197. Mukhtaarush-Shihah hal. tidak ada dalil shahih dari Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang menunjukkan disunnahkannya memanjangkan pembasuhan ghurrah. 246]. hal. dan juga ibadah-ibadah yang lainnya. melainkan di wajah. 136 dan Muslim no. makna ghurrah secara bahasa[3] adalah wajah. Dan ini keliru. dan Al-Albaaniy rahimahumullah. Dan memanjangkannya tidaklah memungkinkan. [4] Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : ‫ه‬ ‫ض‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ‫أ‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ر ط‬ ‫ه‬ ‫خ‬ ‫ص‬ ‫ال غر‬ ‫ال رأس‬ “Lafadh ini tidak mungkin berasal dari sabda beliau shallallaahu „alaihi wa sallam.[4] Dengan sebab jeleknya pemahaman ini pulalah muncul penisbatan yang tidak benar terhadap diri Al-Imam Asy-Syafi‟iy rahimahullah bahwasannya beliau berpendapat untuk melafadhkan niat dalam shalat. dan yang lain sebagainya). Wallaahu a‟lam bish-shawwaab. Apalagi jika khabar tersebut berkaitan dengan pelanggaran kehormatan sesama muslim atau menyangkut kepentingan masyarakat banyak (keamanan. Sesungguhnya ghurrah itu bukanlah terletak di tangan. maka . Ibnul-Qayyim. 383. terutama yang nulis artikel ini. dan wajah bukanlah sesuatu yang dapat dipanjangkan dalam pembasuhannya. Walaupun contoh-contoh yang diberikan adalah seputar riwayat hadits. [2] Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy (1/236) – lihat pula Ahkaamuth-Thahaarah – Al-Wudluu‟ oleh Dibyaan bin Muhammad Ad-Dibyaan.[2] Sebagian ulama mengkritik bahwasannya perkataan Abu Hurairah tersebut timbul dari pemahamannya atas sabda Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang ia bawakan. Perkataan “maka barangsiapa yang mampu memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. dan AlFaaiq –melalui perantaraan Ahkaamuth-Thahaarah hal. dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. [3] Lihat pemaknaan ini dalam Lisaanul-„Arab 5/14. http://abul-jauzaaa. [Abu Al-Jauzaa‟ – Perumahan Ciomas Permai.

akan tetapi maksudnya adalah (mengucapkan) takbir” [lihat At-Ta‟aalum. Daarur-Rayah. Dan bila ia . baik di waktu siang atau malam hari. Namun itu tidak seperti halnya shalat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkannya” [Al-Majmuu‟. hal. Maksudnya Rasululloh SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam ALLOH SWT.(memanjangkannya) tidak dinamakan ghurrah” [I‟lamul-Muwaqqi‟iin 6/316 – melalui Tamaamul-Minnah hal.` Contoh yang pertama: `Dari Abu Hurairah Ra. dengan mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku. 92. Maka rasul menjadi perawi kalam ALLOH SWT ini dari lafal Nabi sendiri.` Contoh yang kedua: `Dari Abu Hurairah Ra. Cet. Hadits Qudsi berasal dari kata quds yang berarti menyucikan ALLOH SWT. oleh Bakr Abu Zaid. [5] Yaitu. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasululloh SAW dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. sebagian ulama Syafi‟iyyah telah salah paham terhadap ucapan Al-Imam AsySyafi‟iy rahimahullah : ‫ر‬ ‫، أ زأ‬ ‫ش‬ ‫ال‬ ‫ح ال‬ ‫ال‬ “Apabila seseorang berniat untuk melakukan haji dan „umrah.bila menyebut-KU di dalam dirinya. 94]. tangan ALLOH SWT itu penuh. atau ia mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan: ALLOH SWT telah berfirman atau berfirman ALLOH SWT . Mereka beranggapan bahwa „mengucapkan‟ dalam shalat itu adalah mengucapkan niat. AnNawawiy rahimahullah telah menjelaskan ini : ‫أ ح ل‬ ‫ب ر ر ه‬ :‫ظ‬ ‫ئ‬ ،‫ش‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ، “Para shahabat kami berkata : Orang yang mengatakan ini telah keliru. bahwa Rasululloh SAW berkata: ` ALLOH SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. hal 100 – melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaa‟il-Mushalliin oleh Masyhur Hasan Salmaan. Bukanlah yang dimaksudkan oleh Asy-Syaafi‟iy dengan „mengucapkan‟ dalam shalat adalah mengucapkan niat. 3/243]. maka itu mencukupi jika ia tidak melafadhkannya. tidak dikurangi oleh nafkah. Dari Rasululloh SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Rasululloh SAW disandarkan kepada ALLOH SWT. 5].

Maka dia adalah wahyu. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai . Seluruh isi Qur‟an dinukil secara mutawatir. maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu. sementara hadits qudsi adalah firman ALLOH SWT yg disampaikan Rasululloh SAW. Al. dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat. Al Qur‟an menantang orang2 arab (bahkan seluruh dunia) untuk membuat yang seperti Al Qur‟an bahkan satu surah sekalipun (Al Israa‟(17):88.“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur‟an ini. c. Oleh sebab itu. bisa dibaca di sini. Al-Qur‟anul Karim adalah kalam ALLOH SWT yang diwahyukan kepada Rasululloh dengan lafalnya. baik dalam lafal maupun maknanya. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. sehingga kepastiannya sudah mutlak. tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Maka dikatakan: `ALLOH SWT telah berfirman atau ALLOH SWT berfirman. baik lafal maupun maknanya. Ada kalanya hadits qudsi itu sahih.“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam.*** d. niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`.menyebut-KU dikalangan orang banyak.` Dengan kata lain. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad. untuk Al Qur‟an kita mesti kutip ayatnya sebelum memberikan penjelasan ttg makna. karena itu ia dibaca di dalam salat. terkadang hasan (baik ) dan terkadang pula da`if (lemah).Qur‟anul karim hanya dinisbahkan kepada ALLOH SWT. sedang lafalnya dari Rasululloh SAW. sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.). b. Membaca Al-Qur‟anul Karim merupakan ibadah. hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Selain sebagai MUKJIZAT. karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dengan kata lain. sehingga nisbah hadits qudsi kepada ALLOH SWT itu merupakan nisbah yang dibuatkan. AlMuzzammil(73):20. Al Qur‟an adalah LANGSUNG firman ALLOH SWT. Hal ini tertera jelas di QS.` Perbedaan Qur’an dengan hadits Qudsi Ada beberapa perbedaan antara Qur‟an dengan hadits qudsi yang terpenting di antaranya ialah: a. sedangkan untuk pembagian hadits bisa dibaca di sini. sehingga dikatakan: ALLOH SWT telah berfirman. sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. ***untuk mengetahui hadits lebih lengkap. kita bisa menyampaikan maknanya saja. e. Sedangkan untuk hadits qudsi. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari ALLOH SWT. maka Dia memberi keringanan kepadamu. maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. Al-Qur‟anul Karim dari ALLOH SWT.

Sedang hadits qudsi tidak disuruh untuk dibaca di dalam salat. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al Qur‟an bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.“ Nilai ibadah membaca Al Qur‟an juga terdapat dalam hadits: `Barang siapa membaca satu huruf dari Al Qur‟an. ALLOH SWT memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja.balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. . tetapi alif satu huruf. dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. lam satu huruf dan mim satu huruf`.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful