Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan.

Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Menurut istilah ulama ahli hadits,[siapa?] hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab: taqrîr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah) dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadits di sini semakna dengan sunnah. Kata hadits yang mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka pada saat ini bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[1] Kata hadits itu sendiri adalah bukan kata infinitif,[2] maka kata tersebut adalah kata benda.[3] Struktur hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari) Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu‟bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
  

Keutuhan sanadnya Jumlahnya Perawi akhirnya

Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi. Matan

Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan. apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadits ialah:   Ujung sanad sebagai sumber redaksi. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap . Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan) Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" Terkait dengan matan atau redaksi. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.. Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang). Mu'allaq..".. Munqati'. keutuhan rantai sanad. Mu'dal dan Mursal. maka berhatihatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".Matan ialah redaksi dari hadits. Klasifikasi hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. "Kami terbiasa... Science of Hadits). Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. "Kami dilarang untuk. mauquf (terhenti) dan maqtu' :    Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh: hadits sebelumnya) Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'.".

Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Hadits Munqati' . Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : o Gharib. Sanadnya bersambung. da'if dan maudu'  Hadits Shahih." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) o Mashur. . bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Hadits Mursal. Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad.. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. hasan. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut..   Hadits mutawatir. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW      Hadits Musnad. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi.penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) o Aziz. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Hadits ahad..

yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi) Hadits gholia. Hadits Hasan. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya Hadits Syadz. terjaga muruah(kehormatan)-nya. baik dalam sanad atau pada gurunya. memiliki sifat istiqomah. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. serta matannya tidak syadz serta cacat. Hadits Mu'allal. mudallas. padahal sebenarnya ada. Hadits Mudallas. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. Hadits ini biasa juga disebut hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat) Hadits Mudlthorib. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. Hadits Maudu. munqati‟ atau mu‟dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur. Periwayat hadits Sampul kitab hadits Sahih Bukhari . mu‟allaq. hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawiperawi yang lain. berakhlak baik. Jadi. tidak fasik. hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah Hadits Mudraj. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan Hadits Maqlub. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal.   2. bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. 3. mengandung kejanggalan atau cacat. dan kuat ingatannya. Hadits Mungkar. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. [Jenis-jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:          Hadits Matruk. Hadits Dhaif (lemah). bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta.

7. 4. 4 ketika mereka diperintah untuk mengatakan 5 Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan6 lafazh Allah dalam ayat : ‫ص‬ "Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. istri Muhammad saw. yang melawan Ali pada Perang Jamal. tahrif. Ad-Darimi [sunting] Periwayat hadits yang diterima oleh Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad SAW.Periwayat hadits yang diterima oleh Muslim 1. seperti Aisyah. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. Musnad Ahmad. atau merubah bentuk lafazh. Tahrif Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka." [An-Nisa' : 164]. 5. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. Shahih Bukhari. 2. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. 3. 9. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. 8. tanpa ta'thil. Tahrif ini dibagi menjadi dua: Pertama: Tahrif dengan cara menambah. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali. 6. tamtsil. melalui Fatimah az-Zahra. mengurangi. atau maknamaknanya. dan takyif. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah. disusun oleh Imam Malik Sunan Darimi.1 Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan AlHadits. tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. Rahmah . tetapi sebagian besar menggunakan:     Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah). disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal Muwatta Malik. 1. bahwa ‫ص‬ 2 Adalah ‫ 3 ص‬Disini ada penambahan huruf lam (‫ . disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Dawud. dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam). disusun oleh Ibnu Majah (209-273).) ل‬Demikian pula perkataan orangorang Yahudi. tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya. Artinya. Kedua: Merubah makna.

2. alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya. atau mengingkari sebagian darinya. akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. bentuk/ keadaannya tidak diketahui. keadaan. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci. Beliau ‫ هللا ر‬menjawab : ‫ص‬ ‫ع‬ ‫ض ل‬ "Istiwa' itu telah diketahui (maknanya).(kasih sayang). akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya. yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya. tetapi bukan muharif (pelaku tahrif). sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf. Meninggalkan muamalah dengan-Nya. c. Ta'thil Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. d. Jadi. setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil. 3. dengan an-ni'mah (nikmat). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat. Meniadakan pencipta bagi makhluk. atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. dan bentuk dari sifat tersebut. dan Al-Yadu (tangan)."7 Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya. mengimaninya wajib. atau sebagian dari-Nya. Takyif Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar. -bersemayam-. yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. baik secara total maupun sebagian. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah. dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut. Adapun orang yang menafikan sifat. sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat . maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. b. maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil). Jadi. MACAM-MACAM TA'THIL Ta'thil ada bermacam-macam. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala. dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat). mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya. sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. a. Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar. sedangkan menanyakannya adalah bid'ah. sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik ‫هللا ر‬ ‫ ع‬ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa'.

atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya. 1090]. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. 4. serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Baik kita mengkhabarkan sesuatu kepada orang lain atau kita dikhabarkan sesuatu oleh orang lain. Dikatakan : Takhabbaral-khabar was-takhbara maksudnya : jika ia bertanya tentang khabar untuk mengetahuinya [Lisaanul-„Arab. secara hakiki. ta'thil. Khabar adalah sesuatu yang tidak terelakkan dalam kehidupan kita. Syari‟at telah menetapkan satu ketentuan bagi seorang muslim untuk selalu check dan re-check terhadap khabar yang sampai kepadanya. Jadi. menyerupakan. Ibnu Sayyidih berkata : “Khabar adalah berita. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula. takyif. tamtsil dan tasbih. memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk. Kedua : Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Tamtsil ini dibagi menjadi dua. merupakan bentuk tunggal dari kata akhbaar (‫.8 ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.tersebut maupun maknanya. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk. Al-Istikhbaar dan at-takhabbur adalah pertanyaan mengenai khabar. Dua-duanya silih berganti mengisi. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.)خ بر‬kata Ibnul-Mandhuur. yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya. Tamtsil Tamtsil artinya tasybih. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "Ittihad". Jamaknya adalah akhbaar.9 Khabar (‫ . hakekat-hakekatnya. atau makna-maknanya. Mari kita perhatikan kisah Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam dengan burung Hud-hud sebagaimana yang difirmankan Allah ta‟ala : ‫ر‬ ‫أ‬ ‫ل ع‬ ‫أ‬ ‫رط‬ ‫ظ‬ * ‫ب صب‬ * ‫ش ض‬ ‫رأ‬ . yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif. yaitu : Pertama : Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Maha Suci Allah dari itu semua. dan al-akhaabiir adalah jamak dari akhbaar…. Takhabbar maksud mencari tahu. Dalam hadits Al-Hudaibiyyah : Bahwasannya beliau shallallaahu „alaihi wa sallam mengutus seseorang dari suku Khuzaa‟ah menanyakan berita (takhabbar) tentang Quraisy. hal. tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah dalam kaitannya penerimaan khabar oleh kita dari orang lain. atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar. dari kebenarannya yang pasti. dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk. dengan memasrahkan bentuk/ keadaannya. Bila kita membicarakan check dan re-check.)أخ ب ر‬ (Definisinya) yaitu : berita yang datang kepadamu tentang orang yang kamu akan diberitahu.

apa kamu benar. dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah). lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya. Namun beliau menjalankan apa yang diatur syari‟at dengan melakukan check dan re-check atau tatsabbut (meneliti) terhadap khabar tersebut.‫أ‬ ‫ض‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫أ أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ضب‬ ‫ال‬ ‫* ع‬ * ‫أال‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ض‬ ‫عرط ر‬ ‫ر‬ ‫ل* ع‬ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud). . sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. Oleh karena itu. Al-Hujuraat : 6]. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Apabila datang seseorang yang dikenal keadilannya atau kejujurannya menyampaikan satu khabar kepadanya. Kewajiban tatsabbut atau tabayyun (check dan re-check) tidaklah bertentangan dengan asas diterimanya khabar dari seorang perawi yang „adil. Saat Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam menerima khabar burung Hud-hud perihal Ratu Balqis dan kerajaannya. ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” [QS. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tatsabbut dan tabayyun terhadap khabar : 1. yaitu baligh. An-Naml : 22-27].[1] Akan tetapi ada sebagian khabar yang memang dibutuhkan tatsabbut dan tabayyun lebih. Allah ta‟ala berfirman : ‫أ‬ ‫ب ص‬ ‫ب‬ ‫ب أ‬ ‫ب‬ ‫ع‬ “Hai orang-orang yang beriman. dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. dan dan hal-hal yang merusak muru‟ah (harga diri)-nya. jika ada yang mendebat salah seorang di antara mereka terhadap khabar yang disampaikannya. selamat dari sifat fasiq. dengan cepat ia membenarkannya dan sekaligus melakukan konsekuensi dari apa yang dipesankan oleh khabar tersebut. beliau tidak langsung menerima atau menolaknya. maka periksalah dengan teliti. dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Banyak orang yang keliru memahami makna tatsabbut terhadap penerimaan khabar. Tuhan Yang mempunyai „Arsy (singgasana) yang besar”. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Tentu saja semua hal itu dimungkinkan karena barangkali khabar yang sampai kepada kita tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya atau bertolak belakang dengan khabar yang disampaikan oleh orang selainnya. berakal. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [QS. Allah. selain Allah.”. Ke-„adil-an pembawa berita. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari. maka dengan cepat ia menukas : “Telah mengkhabarkan kepadaku seorang yang aku percayai begini dan begitu…. Seakanakan urusannya selesai sampai kalimat tersebut tanpa ada celah untuk meragukan atau sekedar menambah yakin terhadap keakuratan berita dengan melakukan penelusuran khabar yang disampaikannya itu.

tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhaariy. Tatsabbut terhadap khabar yang dibawa orang fasiq adalah satu kewajiban. ‫: ص‬ Dan telah menceritakan kepada kami „Ubaidillah bin Mu‟adz Al-„Anbariy : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‫ . ‫: ال‬ ‫ل ر ر ؛ أ‬ ‫ث‬ ‫ح . Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam bersabda : ‫ث‬ ‫ث‬ ‫ص‬ “ ‫هللا‬ ‫ر‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ثأ‬ ‫ع‬ ‫ع بر‬ . nampak padanya pertentangan antara pembawa khabar satu dengan yang lainnya. ia berkata : “Aku telah menjumpai di Madinah seratus (orang) yang kesemuanya dapat dipercaya (ma‟muun) yang tidak diambil haditsnya. 1423]. sehingga ketika khabar itu diterima. BaitulAfkaar. dari ayahnya.أ‬ ، ‫ع ب‬ : ‫ل‬ ‫هللا ر ص ل‬ ‫. Thn. ‫ر ث‬ ‫أ ر‬ ‫ئ‬ ‫ض‬ ‫أ‬ ‫ث‬ ‫خ‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫أ‬ ‫ز‬ ‫ش‬ ‫أ‬ ‫لأ‬ Telah menceritakan kepada kami Nashr bin „Aliy Al-Jahdlamiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Ashma‟iy. ‫ر‬ ‫ث ب‬ ‫ب‬ ‫ض‬ ، ‫ال‬ ‫أ ر‬ ‫خ بر‬ “Dalam ayat ini terdapat dalil diterimanya khabarul-waahid jika ia seorang yang „aadil. Satu contoh saya bawakan dalam kasus ini : . batallah perkataannya dalam khabar (yang ia sampaikan) berdasarkan ijma‟. Banyak orang yang meremehkan perkara ini. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam : “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia mengatakan setiap apa yang ia dengar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 5].” ص ع‬ . dari Abu Hurairah. Barangsiapa yang tetap kefasiqannya. 16/312. Mereka hanya mencukupkan diri dengan sifat ke-„adil-annya. apalagi jika ia dikenal sebagai orang yang selalu menyampaikan segala sesuatu yang ia dengar. hal. Cet. 2. Cet. 24. yang menyangkut hapalan dan keakuratannya dalam membawa khabar. Dikatakan bahwa mereka itu bukan ahlinya” [Shahih Muslim. dari Khubaib bin „Abdirrahmaan. tidak peduli benar atau salah. ‫ث‬ ‫ث‬ ‫خ ب‬ ‫هللا‬ ‫ث‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ . dari Ibnu Abi Zinaad. Karena perintah tatsabbut dalam ayat ini hanya saat menukil khabar orang fasiq. Ke-dlabth-an pembawa khabar. dan kefasiqan adalah alasan yang membatalkannya” [Tafsir Al-Qurthubiy. Dikarenakan khabar adalah amanah. Thn.Al-Qurthubiy rahimahullah berkata : ‫ث ب‬ ، ‫ه‬ ‫بر‬ ‫آل‬ ‫خ بر‬ ‫ض أ‬ ‫ب ل‬ ‫ص‬ ‫خ بر‬ . 1419]. dari Hafsh bin „Aashim.)ح‬Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami „Abdurrahmaan bin Mahdiy – mereka berdua (Mu‟adz Al-„Anbariy dan „Abdurrahman bin Mahdiy) berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu‟bah. Daarul-„Aalamil-Kutub.

2837]. Mereka adalah : Sa‟iid bin Abi „Aruubah (ia adalah orang yang paling tsabt periwayatannya di antara ashhaab Qataadah). Pemahaman yang baik dan penguasaan yang komprehensif terhadap maksud khabar/berita. maka khabar yang disampaikannya bercampur dengan perkataannya. dan Ghailaan bin Jaami‟ [Irwaaul-Ghaliil oleh Al-Albaaniy 4/387-388 dan Taisiru „Uluumil-Hadits oleh „Amr bin „Abdil-Mun‟im hal. akan tetapi pengetahuannya tentang hakekat perkataan manusia membuatnya membawakan perkataan tersebut tidak sesuai dengan lafadh dan maksud yang mereka kehendaki. Para ulama mengatakan bahwa Hammaam dalam riwayat ini telah keliru dalam membawakan hadits yang mengatakan „yudammaa‟ (dilumuri darah). Contohnya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhaan : ‫أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ر‬ . Sallaam bin Abi Muthii‟. 3.‫هللا‬ ‫ض ع‬ ‫ث‬ ‫ص‬ ‫هللا‬ ‫ر‬ ‫رأ ص‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ل‬ ‫ث‬ : ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫ع‬ ‫ص ر‬ ‫ح‬ ‫رص ل‬ Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin „Umar An-Namiriy : Telah menceritakan kepada kami Hammaam : Telah menceritakan kepada kami Qataadah. dicukur rambut kepalanya. dari Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam. dan kepalanya dilumuri darah (yudammaa)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. maka barangsiapa yang mampu . Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata : ‫ث ر‬ ‫ر‬ ‫ع ر‬ ‫ش‬ ‫ظ‬ ‫صئ ر أ‬ ‫عض‬ ‫ه‬ ‫عرف‬ ‫ر‬ ‫عر‬ ‫ع ضر‬ ‫ل‬ ‫سأ‬ ‫س عض‬ “Dan banyak di antara orang-orang yang membawakan perkataan tanpa bermaksud untuk berdusta. Abaan bin Yaziid Al-„Aththaar. 81]. dari Al-Hasan. ‫ض ، ث ر‬ ‫ع‬ ‫ص‬ ‫أ‬ “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan keadaan bersinarsinar karena bekas wudlu pada anggota tubuh mereka . namun ia tidak memahami hakekat apa yang disampaikannya itu dari orang yang ia ambil khabar-nya. Hammaam adalah seorang yang terpercaya. dari Samuurah. Adakalanya satu khabar dibawakan oleh seorang yang wara‟ dan kuat hapalannya. Oleh karena itu. Namun ia telah menyelisihi beberapa orang dan lebih dlabth darinya dalam penyampaian khabar (periwayatan) dari Qataadah. sehingga menyulitkan sebagian orang dan menjadi penghalang (untuk menerima perkataannya itu)” [Minhaajus-Sunnah 6/303]. dimana mereka menggunakan lafadh : yusammaa (diberikan nama) – bukan yudammaa. Betapa banyak orang jujur membawakan khabar tidak sebagaimana mestinya ?. Saat menyampaikannya. dimana perkataannya itu tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan maksud dan pemahaman orang yang ia ambil khabar-nya. beliau bersabda : “Setiap anak tergadai dengan „aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. bukanlah satu „aib jika kita melakukan check dan re-check sehingga khabar yang sampai pada kita benar-benar akurat.

Dikarenakan ghurrah masuk pada kepala. http://abul-jauzaaa. Oleh karena itu.[5] Inilah tiga hal yang hendaknya diperhatikan bagi kita semua dalam penerimaan khabar.blogspot.com].[2] Sebagian ulama mengkritik bahwasannya perkataan Abu Hurairah tersebut timbul dari pemahamannya atas sabda Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang ia bawakan. Sebab. dan Al-Albaaniy rahimahumullah. melainkan di wajah. namun semoga penekanan urgensitas serta penerapannya di kehidupan sehari-hari dapat dipahami oleh ikhwan semua.memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. tidak ada dalil shahih dari Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang menunjukkan disunnahkannya memanjangkan pembasuhan ghurrah. sebagai pembawa khabar. Sesungguhnya ghurrah itu bukanlah terletak di tangan. Al-Hujuraat : 6. keadaan darurat.[4] Dengan sebab jeleknya pemahaman ini pulalah muncul penisbatan yang tidak benar terhadap diri Al-Imam Asy-Syafi‟iy rahimahullah bahwasannya beliau berpendapat untuk melafadhkan niat dalam shalat. Dan memanjangkannya tidaklah memungkinkan. dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. Dan ini keliru. 383. [Abu Al-Jauzaa‟ – Perumahan Ciomas Permai. 386. Walaupun contoh-contoh yang diberikan adalah seputar riwayat hadits. dan yang lain sebagainya). maka lakukanlah” merupakan perkataan Abu Hurairah radliyallaahu „anhu. makna ghurrah secara bahasa[3] adalah wajah. 197. Mukhtaarush-Shihah hal. dan wajah bukanlah sesuatu yang dapat dipanjangkan dalam pembasuhannya. 136 dan Muslim no. maka . Apalagi jika khabar tersebut berkaitan dengan pelanggaran kehormatan sesama muslim atau menyangkut kepentingan masyarakat banyak (keamanan. [1] Sebagaimana penjelasan para ulama terhadap QS. Wallaahu a‟lam bish-shawwaab. Ini adalah madzhab Maalikiyyah. 246]. [2] Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy (1/236) – lihat pula Ahkaamuth-Thahaarah – Al-Wudluu‟ oleh Dibyaan bin Muhammad Ad-Dibyaan. dan AlFaaiq –melalui perantaraan Ahkaamuth-Thahaarah hal. [3] Lihat pemaknaan ini dalam Lisaanul-„Arab 5/14. [4] Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : ‫ه‬ ‫ض‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ‫أ‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ر ط‬ ‫ه‬ ‫خ‬ ‫ص‬ ‫ال غر‬ ‫ال رأس‬ “Lafadh ini tidak mungkin berasal dari sabda beliau shallallaahu „alaihi wa sallam. dan juga ibadah-ibadah yang lainnya. Perkataan “maka barangsiapa yang mampu memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. terutama yang nulis artikel ini. fitnah. hal. Ibnul-Qayyim. maka lakukanlah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no.

Namun itu tidak seperti halnya shalat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkannya” [Al-Majmuu‟.` Contoh yang kedua: `Dari Abu Hurairah Ra. Mereka beranggapan bahwa „mengucapkan‟ dalam shalat itu adalah mengucapkan niat.bila menyebut-KU di dalam dirinya. akan tetapi maksudnya adalah (mengucapkan) takbir” [lihat At-Ta‟aalum. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. baik di waktu siang atau malam hari. atau ia mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan: ALLOH SWT telah berfirman atau berfirman ALLOH SWT . sebagian ulama Syafi‟iyyah telah salah paham terhadap ucapan Al-Imam AsySyafi‟iy rahimahullah : ‫ر‬ ‫، أ زأ‬ ‫ش‬ ‫ال‬ ‫ح ال‬ ‫ال‬ “Apabila seseorang berniat untuk melakukan haji dan „umrah. tidak dikurangi oleh nafkah. Cet. bahwa Rasululloh SAW berkata: ` ALLOH SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. 5]. hal. 3/243]. Maka rasul menjadi perawi kalam ALLOH SWT ini dari lafal Nabi sendiri.` Contoh yang pertama: `Dari Abu Hurairah Ra. 92. Dari Rasululloh SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla. oleh Bakr Abu Zaid. hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Rasululloh SAW disandarkan kepada ALLOH SWT. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku. 94]. Dan bila ia . [5] Yaitu.(memanjangkannya) tidak dinamakan ghurrah” [I‟lamul-Muwaqqi‟iin 6/316 – melalui Tamaamul-Minnah hal. Bukanlah yang dimaksudkan oleh Asy-Syaafi‟iy dengan „mengucapkan‟ dalam shalat adalah mengucapkan niat. maka itu mencukupi jika ia tidak melafadhkannya. Maksudnya Rasululloh SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam ALLOH SWT. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasululloh SAW dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. tangan ALLOH SWT itu penuh. Hadits Qudsi berasal dari kata quds yang berarti menyucikan ALLOH SWT. hal 100 – melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaa‟il-Mushalliin oleh Masyhur Hasan Salmaan. Daarur-Rayah. dengan mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`. AnNawawiy rahimahullah telah menjelaskan ini : ‫أ ح ل‬ ‫ب ر ر ه‬ :‫ظ‬ ‫ئ‬ ،‫ش‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ، “Para shahabat kami berkata : Orang yang mengatakan ini telah keliru.

sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada ALLOH SWT.` Perbedaan Qur’an dengan hadits Qudsi Ada beberapa perbedaan antara Qur‟an dengan hadits qudsi yang terpenting di antaranya ialah: a. untuk Al Qur‟an kita mesti kutip ayatnya sebelum memberikan penjelasan ttg makna. hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang.menyebut-KU dikalangan orang banyak.*** d. ***untuk mengetahui hadits lebih lengkap.` Dengan kata lain. sedang lafalnya dari Rasululloh SAW. menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja.). Maka dikatakan: `ALLOH SWT telah berfirman atau ALLOH SWT berfirman. sehingga nisbah hadits qudsi kepada ALLOH SWT itu merupakan nisbah yang dibuatkan. dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. Selain sebagai MUKJIZAT. Al Qur‟an menantang orang2 arab (bahkan seluruh dunia) untuk membuat yang seperti Al Qur‟an bahkan satu surah sekalipun (Al Israa‟(17):88. Membaca Al-Qur‟anul Karim merupakan ibadah.Qur‟anul karim hanya dinisbahkan kepada ALLOH SWT. Al-Qur‟anul Karim adalah kalam ALLOH SWT yang diwahyukan kepada Rasululloh dengan lafalnya. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat. b. Dengan kata lain. Hal ini tertera jelas di QS. sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. karena itu ia dibaca di dalam salat. AlMuzzammil(73):20. kita bisa menyampaikan maknanya saja. e. maka Dia memberi keringanan kepadamu. baik dalam lafal maupun maknanya.“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur‟an ini. Sedangkan untuk hadits qudsi. sehingga kepastiannya sudah mutlak. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai .“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam. Al Qur‟an adalah LANGSUNG firman ALLOH SWT. sedangkan untuk pembagian hadits bisa dibaca di sini. Ada kalanya hadits qudsi itu sahih. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari ALLOH SWT. maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`. Oleh sebab itu. tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad. Al. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. bisa dibaca di sini. baik lafal maupun maknanya. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. Maka dia adalah wahyu. Seluruh isi Qur‟an dinukil secara mutawatir. sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. terkadang hasan (baik ) dan terkadang pula da`if (lemah). sementara hadits qudsi adalah firman ALLOH SWT yg disampaikan Rasululloh SAW. niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. c. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. sehingga dikatakan: ALLOH SWT telah berfirman. Al-Qur‟anul Karim dari ALLOH SWT.

Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. lam satu huruf dan mim satu huruf`. dia akan memperoleh satu kebaikan. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al Qur‟an bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. ALLOH SWT memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. tetapi alif satu huruf. .“ Nilai ibadah membaca Al Qur‟an juga terdapat dalam hadits: `Barang siapa membaca satu huruf dari Al Qur‟an. Sedang hadits qudsi tidak disuruh untuk dibaca di dalam salat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful