P. 1
artikel hadist

artikel hadist

|Views: 28|Likes:
Published by Airin Sachihana

More info:

Published by: Airin Sachihana on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2012

pdf

text

original

Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan.

Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Menurut istilah ulama ahli hadits,[siapa?] hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab: taqrîr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah) dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadits di sini semakna dengan sunnah. Kata hadits yang mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka pada saat ini bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[1] Kata hadits itu sendiri adalah bukan kata infinitif,[2] maka kata tersebut adalah kata benda.[3] Struktur hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari) Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu‟bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
  

Keutuhan sanadnya Jumlahnya Perawi akhirnya

Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi. Matan

. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadits ialah:   Ujung sanad sebagai sumber redaksi.. "Kami terbiasa.. Science of Hadits). Mu'allaq. Munqati'.Matan ialah redaksi dari hadits. keutuhan rantai sanad. jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan) Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat). Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan. Klasifikasi hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar. Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang). apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama... maka berhatihatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". mauquf (terhenti) dan maqtu' :    Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh: hadits sebelumnya) Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" Terkait dengan matan atau redaksi. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan.". Mu'dal dan Mursal. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.". Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap . "Kami dilarang untuk.

Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur.. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) o Aziz. . telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan.. Sanadnya bersambung. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : o Gharib." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah). atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Hadits Munqati' . Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) o Mashur. Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW      Hadits Musnad. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).   Hadits mutawatir.penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadits Mursal. yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. hasan. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. da'if dan maudu'  Hadits Shahih. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Hadits ahad.

mudallas. [Jenis-jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:          Hadits Matruk. 3. dan kuat ingatannya. yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya Hadits Syadz. munqati‟ atau mu‟dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. Hadits Maudu. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. terjaga muruah(kehormatan)-nya. hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya. hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawiperawi yang lain. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur. berakhlak baik. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Hadits Dhaif (lemah). memiliki sifat istiqomah. Hadits ini biasa juga disebut hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat) Hadits Mudlthorib. Hadits Mungkar. Hadits Hasan. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. Hadits Mudallas. bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. mengandung kejanggalan atau cacat. baik dalam sanad atau pada gurunya. serta matannya tidak syadz serta cacat. Periwayat hadits Sampul kitab hadits Sahih Bukhari . tidak fasik. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. mu‟allaq.   2. padahal sebenarnya ada. Jadi. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah Hadits Mudraj. Hadits Mu'allal. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan Hadits Maqlub. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi) Hadits gholia.

6. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Dawud." [An-Nisa' : 164]. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. atau merubah bentuk lafazh.1 Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan AlHadits.Periwayat hadits yang diterima oleh Muslim 1. 7. disusun oleh Imam Malik Sunan Darimi. disusun oleh Ibnu Majah (209-273).) ل‬Demikian pula perkataan orangorang Yahudi. tanpa ta'thil. tahrif. Kedua: Merubah makna. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali. Musnad Ahmad. Tahrif Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. 4. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. Ad-Darimi [sunting] Periwayat hadits yang diterima oleh Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad SAW. 4 ketika mereka diperintah untuk mengatakan 5 Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan6 lafazh Allah dalam ayat : ‫ص‬ "Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya. 8. Shahih Bukhari. Rahmah . disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. 5. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah). 2. tetapi sebagian besar menggunakan:     Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala. Artinya. istri Muhammad saw. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah. bahwa ‫ص‬ 2 Adalah ‫ 3 ص‬Disini ada penambahan huruf lam (‫ . 1. 9. mengurangi. tamtsil. yang melawan Ali pada Perang Jamal. dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam). dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka. melalui Fatimah az-Zahra. Tahrif ini dibagi menjadi dua: Pertama: Tahrif dengan cara menambah. tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal Muwatta Malik. dan takyif. seperti Aisyah. atau maknamaknanya. 3. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi.

perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf. setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah. sedangkan menanyakannya adalah bid'ah. c. b. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya. dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat).(kasih sayang). sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil. maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Beliau ‫ هللا ر‬menjawab : ‫ص‬ ‫ع‬ ‫ض ل‬ "Istiwa' itu telah diketahui (maknanya). sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik ‫هللا ر‬ ‫ ع‬ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa'. Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut. tetapi bukan muharif (pelaku tahrif). Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci. baik secara total maupun sebagian. Meniadakan pencipta bagi makhluk. 2. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat . Jadi. Meninggalkan muamalah dengan-Nya. sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat. MACAM-MACAM TA'THIL Ta'thil ada bermacam-macam. Ta'thil Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. dan Al-Yadu (tangan). dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. -bersemayam-. dengan an-ni'mah (nikmat). alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya. d. maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil). sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah."7 Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Jadi. dan bentuk dari sifat tersebut. yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. atau mengingkari sebagian darinya. bentuk/ keadaannya tidak diketahui. mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya. dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya. 3. yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya. akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk. Adapun orang yang menafikan sifat. mengimaninya wajib. Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala. Takyif Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). keadaan. a. akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. atau sebagian dari-Nya.

Maha Suci Allah dari itu semua. serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil.8 ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Tamtsil Tamtsil artinya tasybih. dan al-akhaabiir adalah jamak dari akhbaar…. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula. tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah dalam kaitannya penerimaan khabar oleh kita dari orang lain. Ibnu Sayyidih berkata : “Khabar adalah berita. Baik kita mengkhabarkan sesuatu kepada orang lain atau kita dikhabarkan sesuatu oleh orang lain. Jamaknya adalah akhbaar. atau makna-maknanya. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya. Khabar adalah sesuatu yang tidak terelakkan dalam kehidupan kita. dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk. atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah. menyerupakan. yaitu : Pertama : Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. dengan memasrahkan bentuk/ keadaannya. Syari‟at telah menetapkan satu ketentuan bagi seorang muslim untuk selalu check dan re-check terhadap khabar yang sampai kepadanya. Dua-duanya silih berganti mengisi. Jadi.)أخ ب ر‬ (Definisinya) yaitu : berita yang datang kepadamu tentang orang yang kamu akan diberitahu.)خ بر‬kata Ibnul-Mandhuur. secara hakiki. 1090]. ta'thil. 4. Bila kita membicarakan check dan re-check. takyif. Takhabbar maksud mencari tahu. memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk. dari kebenarannya yang pasti. yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya. hal.9 Khabar (‫ . hakekat-hakekatnya. Tamtsil ini dibagi menjadi dua. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "Ittihad". Mari kita perhatikan kisah Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam dengan burung Hud-hud sebagaimana yang difirmankan Allah ta‟ala : ‫ر‬ ‫أ‬ ‫ل ع‬ ‫أ‬ ‫رط‬ ‫ظ‬ * ‫ب صب‬ * ‫ش ض‬ ‫رأ‬ . Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif. Al-Istikhbaar dan at-takhabbur adalah pertanyaan mengenai khabar. atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar. Dalam hadits Al-Hudaibiyyah : Bahwasannya beliau shallallaahu „alaihi wa sallam mengutus seseorang dari suku Khuzaa‟ah menanyakan berita (takhabbar) tentang Quraisy.tersebut maupun maknanya. Dikatakan : Takhabbaral-khabar was-takhbara maksudnya : jika ia bertanya tentang khabar untuk mengetahuinya [Lisaanul-„Arab. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk. merupakan bentuk tunggal dari kata akhbaar (‫. tamtsil dan tasbih. Kedua : Menyerupakan Pencipta dengan makhluk.

dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya. berakal.‫أ‬ ‫ض‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫أ أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ضب‬ ‫ال‬ ‫* ع‬ * ‫أال‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ض‬ ‫عرط ر‬ ‫ر‬ ‫ل* ع‬ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud). Tuhan Yang mempunyai „Arsy (singgasana) yang besar”. Seakanakan urusannya selesai sampai kalimat tersebut tanpa ada celah untuk meragukan atau sekedar menambah yakin terhadap keakuratan berita dengan melakukan penelusuran khabar yang disampaikannya itu. maka dengan cepat ia menukas : “Telah mengkhabarkan kepadaku seorang yang aku percayai begini dan begitu…. dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah). Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tatsabbut dan tabayyun terhadap khabar : 1. tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. apa kamu benar. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [QS. Tentu saja semua hal itu dimungkinkan karena barangkali khabar yang sampai kepada kita tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya atau bertolak belakang dengan khabar yang disampaikan oleh orang selainnya. beliau tidak langsung menerima atau menolaknya. Oleh karena itu. jika ada yang mendebat salah seorang di antara mereka terhadap khabar yang disampaikannya.[1] Akan tetapi ada sebagian khabar yang memang dibutuhkan tatsabbut dan tabayyun lebih. Apabila datang seseorang yang dikenal keadilannya atau kejujurannya menyampaikan satu khabar kepadanya. Kewajiban tatsabbut atau tabayyun (check dan re-check) tidaklah bertentangan dengan asas diterimanya khabar dari seorang perawi yang „adil. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” [QS. Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat. sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Banyak orang yang keliru memahami makna tatsabbut terhadap penerimaan khabar. dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”. Allah. . maka periksalah dengan teliti. An-Naml : 22-27]. Al-Hujuraat : 6]. Allah ta‟ala berfirman : ‫أ‬ ‫ب ص‬ ‫ب‬ ‫ب أ‬ ‫ب‬ ‫ع‬ “Hai orang-orang yang beriman. selamat dari sifat fasiq. dan dan hal-hal yang merusak muru‟ah (harga diri)-nya. Ke-„adil-an pembawa berita. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari. Namun beliau menjalankan apa yang diatur syari‟at dengan melakukan check dan re-check atau tatsabbut (meneliti) terhadap khabar tersebut. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. yaitu baligh. selain Allah. Saat Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam menerima khabar burung Hud-hud perihal Ratu Balqis dan kerajaannya. dengan cepat ia membenarkannya dan sekaligus melakukan konsekuensi dari apa yang dipesankan oleh khabar tersebut.

BaitulAfkaar.أ‬ ، ‫ع ب‬ : ‫ل‬ ‫هللا ر ص ل‬ ‫. Barangsiapa yang tetap kefasiqannya. dari Khubaib bin „Abdirrahmaan. Banyak orang yang meremehkan perkara ini. dari Hafsh bin „Aashim. ‫: ال‬ ‫ل ر ر ؛ أ‬ ‫ث‬ ‫ح . 24. 2. Thn. ‫ر ث‬ ‫أ ر‬ ‫ئ‬ ‫ض‬ ‫أ‬ ‫ث‬ ‫خ‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫أ‬ ‫ز‬ ‫ش‬ ‫أ‬ ‫لأ‬ Telah menceritakan kepada kami Nashr bin „Aliy Al-Jahdlamiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Ashma‟iy. batallah perkataannya dalam khabar (yang ia sampaikan) berdasarkan ijma‟. Karena perintah tatsabbut dalam ayat ini hanya saat menukil khabar orang fasiq. Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam bersabda : ‫ث‬ ‫ث‬ ‫ص‬ “ ‫هللا‬ ‫ر‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ثأ‬ ‫ع‬ ‫ع بر‬ . Ke-dlabth-an pembawa khabar. ‫ر‬ ‫ث ب‬ ‫ب‬ ‫ض‬ ، ‫ال‬ ‫أ ر‬ ‫خ بر‬ “Dalam ayat ini terdapat dalil diterimanya khabarul-waahid jika ia seorang yang „aadil. tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhaariy. nampak padanya pertentangan antara pembawa khabar satu dengan yang lainnya. tidak peduli benar atau salah. 1423]. 16/312. Dikatakan bahwa mereka itu bukan ahlinya” [Shahih Muslim.)ح‬Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami „Abdurrahmaan bin Mahdiy – mereka berdua (Mu‟adz Al-„Anbariy dan „Abdurrahman bin Mahdiy) berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu‟bah.Al-Qurthubiy rahimahullah berkata : ‫ث ب‬ ، ‫ه‬ ‫بر‬ ‫آل‬ ‫خ بر‬ ‫ض أ‬ ‫ب ل‬ ‫ص‬ ‫خ بر‬ . dari Abu Hurairah.” ص ع‬ . 5]. Daarul-„Aalamil-Kutub. ia berkata : “Aku telah menjumpai di Madinah seratus (orang) yang kesemuanya dapat dipercaya (ma‟muun) yang tidak diambil haditsnya. hal. Cet. dan kefasiqan adalah alasan yang membatalkannya” [Tafsir Al-Qurthubiy. Cet. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam : “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia mengatakan setiap apa yang ia dengar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. dari ayahnya. Dikarenakan khabar adalah amanah. Tatsabbut terhadap khabar yang dibawa orang fasiq adalah satu kewajiban. yang menyangkut hapalan dan keakuratannya dalam membawa khabar. dari Ibnu Abi Zinaad. sehingga ketika khabar itu diterima. apalagi jika ia dikenal sebagai orang yang selalu menyampaikan segala sesuatu yang ia dengar. ‫ث‬ ‫ث‬ ‫خ ب‬ ‫هللا‬ ‫ث‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ . Thn. 1419]. ‫: ص‬ Dan telah menceritakan kepada kami „Ubaidillah bin Mu‟adz Al-„Anbariy : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‫ . Satu contoh saya bawakan dalam kasus ini : . Mereka hanya mencukupkan diri dengan sifat ke-„adil-annya.

Mereka adalah : Sa‟iid bin Abi „Aruubah (ia adalah orang yang paling tsabt periwayatannya di antara ashhaab Qataadah). Hammaam adalah seorang yang terpercaya. 81]. Adakalanya satu khabar dibawakan oleh seorang yang wara‟ dan kuat hapalannya. dimana mereka menggunakan lafadh : yusammaa (diberikan nama) – bukan yudammaa. Contohnya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhaan : ‫أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ر‬ . Oleh karena itu. dari Samuurah. sehingga menyulitkan sebagian orang dan menjadi penghalang (untuk menerima perkataannya itu)” [Minhaajus-Sunnah 6/303]. dicukur rambut kepalanya. Betapa banyak orang jujur membawakan khabar tidak sebagaimana mestinya ?.‫هللا‬ ‫ض ع‬ ‫ث‬ ‫ص‬ ‫هللا‬ ‫ر‬ ‫رأ ص‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ل‬ ‫ث‬ : ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫ع‬ ‫ص ر‬ ‫ح‬ ‫رص ل‬ Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin „Umar An-Namiriy : Telah menceritakan kepada kami Hammaam : Telah menceritakan kepada kami Qataadah. maka barangsiapa yang mampu . Namun ia telah menyelisihi beberapa orang dan lebih dlabth darinya dalam penyampaian khabar (periwayatan) dari Qataadah. Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata : ‫ث ر‬ ‫ر‬ ‫ع ر‬ ‫ش‬ ‫ظ‬ ‫صئ ر أ‬ ‫عض‬ ‫ه‬ ‫عرف‬ ‫ر‬ ‫عر‬ ‫ع ضر‬ ‫ل‬ ‫سأ‬ ‫س عض‬ “Dan banyak di antara orang-orang yang membawakan perkataan tanpa bermaksud untuk berdusta. beliau bersabda : “Setiap anak tergadai dengan „aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. akan tetapi pengetahuannya tentang hakekat perkataan manusia membuatnya membawakan perkataan tersebut tidak sesuai dengan lafadh dan maksud yang mereka kehendaki. dimana perkataannya itu tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan maksud dan pemahaman orang yang ia ambil khabar-nya. Sallaam bin Abi Muthii‟. dari Al-Hasan. Pemahaman yang baik dan penguasaan yang komprehensif terhadap maksud khabar/berita. ‫ض ، ث ر‬ ‫ع‬ ‫ص‬ ‫أ‬ “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan keadaan bersinarsinar karena bekas wudlu pada anggota tubuh mereka . 3. dan kepalanya dilumuri darah (yudammaa)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2837]. dari Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam. namun ia tidak memahami hakekat apa yang disampaikannya itu dari orang yang ia ambil khabar-nya. Para ulama mengatakan bahwa Hammaam dalam riwayat ini telah keliru dalam membawakan hadits yang mengatakan „yudammaa‟ (dilumuri darah). dan Ghailaan bin Jaami‟ [Irwaaul-Ghaliil oleh Al-Albaaniy 4/387-388 dan Taisiru „Uluumil-Hadits oleh „Amr bin „Abdil-Mun‟im hal. Abaan bin Yaziid Al-„Aththaar. maka khabar yang disampaikannya bercampur dengan perkataannya. Saat menyampaikannya. bukanlah satu „aib jika kita melakukan check dan re-check sehingga khabar yang sampai pada kita benar-benar akurat.

Ibnul-Qayyim.memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. namun semoga penekanan urgensitas serta penerapannya di kehidupan sehari-hari dapat dipahami oleh ikhwan semua. [1] Sebagaimana penjelasan para ulama terhadap QS. tidak ada dalil shahih dari Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang menunjukkan disunnahkannya memanjangkan pembasuhan ghurrah. Dan ini keliru. [Abu Al-Jauzaa‟ – Perumahan Ciomas Permai. Sesungguhnya ghurrah itu bukanlah terletak di tangan. Mukhtaarush-Shihah hal. dan juga ibadah-ibadah yang lainnya. maka lakukanlah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. Walaupun contoh-contoh yang diberikan adalah seputar riwayat hadits. 383. Ini adalah madzhab Maalikiyyah. makna ghurrah secara bahasa[3] adalah wajah. maka . Dikarenakan ghurrah masuk pada kepala. dan wajah bukanlah sesuatu yang dapat dipanjangkan dalam pembasuhannya.[4] Dengan sebab jeleknya pemahaman ini pulalah muncul penisbatan yang tidak benar terhadap diri Al-Imam Asy-Syafi‟iy rahimahullah bahwasannya beliau berpendapat untuk melafadhkan niat dalam shalat. keadaan darurat. Oleh karena itu. Al-Hujuraat : 6. 386.[2] Sebagian ulama mengkritik bahwasannya perkataan Abu Hurairah tersebut timbul dari pemahamannya atas sabda Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang ia bawakan. maka lakukanlah” merupakan perkataan Abu Hurairah radliyallaahu „anhu. fitnah. Perkataan “maka barangsiapa yang mampu memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. Wallaahu a‟lam bish-shawwaab. Sebab. dan AlFaaiq –melalui perantaraan Ahkaamuth-Thahaarah hal. 197. dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. [2] Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy (1/236) – lihat pula Ahkaamuth-Thahaarah – Al-Wudluu‟ oleh Dibyaan bin Muhammad Ad-Dibyaan. [4] Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : ‫ه‬ ‫ض‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ‫أ‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ر ط‬ ‫ه‬ ‫خ‬ ‫ص‬ ‫ال غر‬ ‫ال رأس‬ “Lafadh ini tidak mungkin berasal dari sabda beliau shallallaahu „alaihi wa sallam. sebagai pembawa khabar.blogspot. dan Al-Albaaniy rahimahumullah.com]. [3] Lihat pemaknaan ini dalam Lisaanul-„Arab 5/14. Dan memanjangkannya tidaklah memungkinkan. http://abul-jauzaaa.[5] Inilah tiga hal yang hendaknya diperhatikan bagi kita semua dalam penerimaan khabar. Apalagi jika khabar tersebut berkaitan dengan pelanggaran kehormatan sesama muslim atau menyangkut kepentingan masyarakat banyak (keamanan. dan yang lain sebagainya). melainkan di wajah. hal. 246]. 136 dan Muslim no. terutama yang nulis artikel ini.

Daarur-Rayah. sebagian ulama Syafi‟iyyah telah salah paham terhadap ucapan Al-Imam AsySyafi‟iy rahimahullah : ‫ر‬ ‫، أ زأ‬ ‫ش‬ ‫ال‬ ‫ح ال‬ ‫ال‬ “Apabila seseorang berniat untuk melakukan haji dan „umrah. atau ia mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan: ALLOH SWT telah berfirman atau berfirman ALLOH SWT . Maksudnya Rasululloh SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam ALLOH SWT. tidak dikurangi oleh nafkah. Bukanlah yang dimaksudkan oleh Asy-Syaafi‟iy dengan „mengucapkan‟ dalam shalat adalah mengucapkan niat. AnNawawiy rahimahullah telah menjelaskan ini : ‫أ ح ل‬ ‫ب ر ر ه‬ :‫ظ‬ ‫ئ‬ ،‫ش‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ، “Para shahabat kami berkata : Orang yang mengatakan ini telah keliru. baik di waktu siang atau malam hari.bila menyebut-KU di dalam dirinya. 3/243].` Contoh yang pertama: `Dari Abu Hurairah Ra. [5] Yaitu. maka itu mencukupi jika ia tidak melafadhkannya. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku. Dan bila ia . hal 100 – melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaa‟il-Mushalliin oleh Masyhur Hasan Salmaan. 94]. oleh Bakr Abu Zaid. 92.` Contoh yang kedua: `Dari Abu Hurairah Ra. akan tetapi maksudnya adalah (mengucapkan) takbir” [lihat At-Ta‟aalum. Cet. Hadits Qudsi berasal dari kata quds yang berarti menyucikan ALLOH SWT. Maka rasul menjadi perawi kalam ALLOH SWT ini dari lafal Nabi sendiri. tangan ALLOH SWT itu penuh. Dari Rasululloh SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasululloh SAW dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. Namun itu tidak seperti halnya shalat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkannya” [Al-Majmuu‟. hal. bahwa Rasululloh SAW berkata: ` ALLOH SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.(memanjangkannya) tidak dinamakan ghurrah” [I‟lamul-Muwaqqi‟iin 6/316 – melalui Tamaamul-Minnah hal. dengan mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`. Mereka beranggapan bahwa „mengucapkan‟ dalam shalat itu adalah mengucapkan niat. 5]. hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Rasululloh SAW disandarkan kepada ALLOH SWT. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku.

dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. Ada kalanya hadits qudsi itu sahih. sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedangkan untuk hadits qudsi. sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada ALLOH SWT.“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur‟an ini. Oleh sebab itu. Dengan kata lain. sedang lafalnya dari Rasululloh SAW. Al Qur‟an menantang orang2 arab (bahkan seluruh dunia) untuk membuat yang seperti Al Qur‟an bahkan satu surah sekalipun (Al Israa‟(17):88. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`. ***untuk mengetahui hadits lebih lengkap. e. maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu. atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Al-Qur‟anul Karim adalah kalam ALLOH SWT yang diwahyukan kepada Rasululloh dengan lafalnya. b. baik dalam lafal maupun maknanya. Hal ini tertera jelas di QS.*** d. tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. sehingga nisbah hadits qudsi kepada ALLOH SWT itu merupakan nisbah yang dibuatkan. maka Dia memberi keringanan kepadamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. baik lafal maupun maknanya. bisa dibaca di sini. sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.` Perbedaan Qur’an dengan hadits Qudsi Ada beberapa perbedaan antara Qur‟an dengan hadits qudsi yang terpenting di antaranya ialah: a. Maka dia adalah wahyu. hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.` Dengan kata lain. untuk Al Qur‟an kita mesti kutip ayatnya sebelum memberikan penjelasan ttg makna. Al Qur‟an adalah LANGSUNG firman ALLOH SWT.menyebut-KU dikalangan orang banyak.Qur‟anul karim hanya dinisbahkan kepada ALLOH SWT. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai . terkadang hasan (baik ) dan terkadang pula da`if (lemah). Al. c. sedangkan untuk pembagian hadits bisa dibaca di sini. kita bisa menyampaikan maknanya saja. sementara hadits qudsi adalah firman ALLOH SWT yg disampaikan Rasululloh SAW. maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang. Seluruh isi Qur‟an dinukil secara mutawatir. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Selain sebagai MUKJIZAT. Membaca Al-Qur‟anul Karim merupakan ibadah. karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. sehingga dikatakan: ALLOH SWT telah berfirman. karena itu ia dibaca di dalam salat. menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja. Maka dikatakan: `ALLOH SWT telah berfirman atau ALLOH SWT berfirman. niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. Al-Qur‟anul Karim dari ALLOH SWT. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari ALLOH SWT.“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam. AlMuzzammil(73):20. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad.).

“ Nilai ibadah membaca Al Qur‟an juga terdapat dalam hadits: `Barang siapa membaca satu huruf dari Al Qur‟an. ALLOH SWT memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. . sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. dia akan memperoleh satu kebaikan. tetapi alif satu huruf.balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. lam satu huruf dan mim satu huruf`. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Sedang hadits qudsi tidak disuruh untuk dibaca di dalam salat. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al Qur‟an bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->