Hadits secara harfiah berarti perkataan atau percakapan.

Dalam terminologi Islam istilah hadits berarti melaporkan/ mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Menurut istilah ulama ahli hadits,[siapa?] hadits yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab: taqrîr), sifat jasmani atau sifat akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab: bi'tsah) dan terkadang juga sebelumnya. Sehingga, arti hadits di sini semakna dengan sunnah. Kata hadits yang mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka pada saat ini bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[1] Kata hadits itu sendiri adalah bukan kata infinitif,[2] maka kata tersebut adalah kata benda.[3] Struktur hadits Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Contoh:Musaddad mengabari bahwa Yahya sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari) Sanad Sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad, memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh sebelumnya maka sanad hadits bersangkutan adalah Al-Bukhari > Musaddad > Yahya > Syu‟bah > Qatadah > Anas > Nabi Muhammad SAW Sebuah hadits dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/perawi bervariasi dalam lapisan sanadnya, lapisan dalam sanad disebut dengan thaqabah. Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thaqabah sanad akan menentukan derajat hadits tersebut, hal ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits. Jadi yang perlu dicermati dalam memahami hadits terkait dengan sanadnya ialah :
  

Keutuhan sanadnya Jumlahnya Perawi akhirnya

Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sejak sebelum datangnya Islam.Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Akan tetapi mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadits-hadits nabawi. Matan

Mu'allaq. jika sedang bersama rasulullah" maka derajat hadits tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.. apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) menyampaikan bahwa Abu Bakar.". "Kami dilarang untuk. Klasifikasi hadits Hadits dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria yakni bermulanya ujung sanad.".. Matan hadits itu sendiri dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang). Munqati'.. "Kami terbiasa. Dari contoh sebelumnya maka matan hadits bersangkutan ialah: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" Terkait dengan matan atau redaksi.. keutuhan rantai sanad. maka berhatihatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu". Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat seperti "Kami diperintahkan. mauquf (terhenti) dan maqtu' :    Hadits Marfu' adalah hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW (contoh: hadits sebelumnya) Hadits Mauquf adalah hadits yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan: "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah".. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap . maka yang perlu dicermati dalam mamahami hadits ialah:   Ujung sanad sebagai sumber redaksi. Hadits Maqtu' adalah hadits yang sanadnya berujung pada para Tabi'in (penerus). Keaslian hadits yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in dimana hal ini sangat membantu dalam area perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan. Science of Hadits). jumlah penutur (periwayat) serta tingkat keaslian hadits (dapat diterima atau tidaknya hadits bersangkutan) Berdasarkan ujung sanad Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi menjadi 3 golongan yakni marfu' (terangkat).Matan ialah redaksi dari hadits. Mu'dal dan Mursal. Contoh hadits ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadits) adalah agama.

.penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah).   Hadits mutawatir. da'if dan maudu'  Hadits Shahih. Hadits mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma'nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat) Hadits ahad. Jadi hadits mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan (thaqabah) berimbang. Yakni urutan penutur memungkinkan terjadinya transfer hadits berdasarkan waktu dan kondisi. Sanadnya bersambung. Berdasarkan klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits Mutawatir dan hadits Ahad. atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits tersebut. Bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW (contoh: seorang tabi'in (penutur2) mengatakan "Rasulullah berkata" tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya). Ilustrasi sanad : Pencatat Hadits > penutur 4> penutur 3 > penutur 2 (tabi'in) > penutur 1(Para sahabat) > Rasulullah SAW      Hadits Musnad. Bila sanad putus pada salah satu penutur yakni penutur 4 atau 3 Hadits Mu'dal bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut. bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan) o Mashur. Hadits ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis antara lain : o Gharib. Hadits Mursal.. Hadits Mu'allaq bila sanad terputus pada penutur 4 hingga penutur 1 (Contoh: "Seorang pencatat hadits mengatakan. Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadits mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadits. adalah hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan. Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih. Berdasarkan jumlah penutur Jumlah penutur yang dimaksud adalah jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad. bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur.. sebuah hadits tergolong musnad apabila urutan sanad yang dimiliki hadits tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Berdasarkan tingkat keaslian hadits Kategorisasi tingkat keaslian hadits adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut. hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. meski pada lapisan lain terdapat banyak penutur) o Aziz. bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan) namun tidak mencapai derajat mutawatir. hasan. Hadits shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Hadits Munqati' . .

memiliki sifat istiqomah. yakni hadits yang terbalik yaitu hadits yang diriwayatkan ileh perawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau sebaliknya baik berupa sanad (silsilah) maupun matan (isi) Hadits gholia. Periwayat hadits Sampul kitab hadits Sahih Bukhari . yaitu hadits yang mengalami penambahan isi oleh perawinya Hadits Syadz. dan kuat ingatannya. Hadits ini biasa juga disebut hadits Ma'lul (yang dicacati) dan disebut hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat) Hadits Mudlthorib. bila hadits dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang memiliki kemungkinan berdusta. hadits Mudallas ini ialah hadits yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yg mencacatkan hadits. yaitu hadits yang terbalik sebagian lafalnya hingga pengertiannya berubah Hadits Mudraj. munqati‟ atau mu‟dal)dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya. ialah hadits yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa mursal. mengandung kejanggalan atau cacat. padahal sebenarnya ada. baik dalam sanad atau pada gurunya.   2. artinya hadits yang kacau yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidaksama dan kontradiksi dengan yang dikompromikan Hadits Maqlub. mu‟allaq. serta matannya tidak syadz serta cacat. terjaga muruah(kehormatan)-nya. berakhlak baik. bila hadits yang tersebut sanadnya bersambung. disebut juga hadits yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya. mudallas. tidak fasik. hadits yang jarang yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi orang yang tepercaya yang bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari perawiperawi yang lain. yang berarti hadits yang ditinggalkan yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja dan perawi itu dituduh berdusta. 3. yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tepercaya/jujur. Diriwayatkan oleh penutur/perawi yg adil. Hadits Dhaif (lemah). Hadits Maudu. Hadits Mudallas. Hadits Mu'allal. Hadits Hasan. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani bahwa hadits Mu'allal ialah hadits yang nampaknya baik tetapi setelah diselidiki ternyata ada cacatnya. diriwayatkan oleh rawi yg adil namun tidak sempurna ingatannya. Jadi. artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yaitu hadits yang didalamnya terdapat cacat yang tersembunyi. Hadits Mungkar. [Jenis-jenis lain Adapun beberapa jenis hadits lainnya yang tidak disebutkan dari klasifikasi di atas antara lain:          Hadits Matruk.

Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah. Ad-Darimi [sunting] Periwayat hadits yang diterima oleh Syi'ah Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad SAW. 8." [An-Nisa' : 164]. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid'ah yang menafsirkan Ghadhab (marah). mengurangi. yang melawan Ali pada Perang Jamal. 4. 7. Rahmah . tamtsil. disusun oleh Muslim (204-262 H) Sunan Abu Dawud. Shahih Bukhari. 9. 1.Periwayat hadits yang diterima oleh Muslim 1. dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka. disusun oleh Bukhari (194-256 H) Shahih Muslim. tanpa ta'thil. Tahrif ini dibagi menjadi dua: Pertama: Tahrif dengan cara menambah. Artinya. 5. 3. tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya. 2. tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. disusun oleh Imam Ahmad bin Hambal Muwatta Malik. disusun oleh Abu Dawud (202-275 H) Sunan at-Turmudzi. melalui Fatimah az-Zahra. tetapi sebagian besar menggunakan:     Ushul al-Kafi Al-Istibshar Al-Tahdzib Man La Yahduruhu al-Faqih Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta'ala. atau merubah bentuk lafazh. Syi'ah tidak menggunakan hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali. dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam). 6. bahwa ‫ص‬ 2 Adalah ‫ 3 ص‬Disini ada penambahan huruf lam (‫ . Musnad Ahmad. tahrif. disusun oleh Ibnu Majah (209-273). seperti Aisyah. Tahrif Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. istri Muhammad saw.) ل‬Demikian pula perkataan orangorang Yahudi. disusun oleh an-Nasa'i (215-303 H) Sunan Ibnu Majah. Menurut pengertian syar'i berarti: merubah lafazh Al-Asma'ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. dan takyif. atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib. 4 ketika mereka diperintah untuk mengatakan 5 Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid'ah yang memanshubkan6 lafazh Allah dalam ayat : ‫ص‬ "Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung. atau maknamaknanya.1 Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur'an dan AlHadits. disusun oleh Imam Malik Sunan Darimi. disusun oleh At-Turmudzi (209-279 H) Sunan an-Nasa'i. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah. Kedua: Merubah makna.

dengan menetapkan bentuk/ keadaan tertentu untuknya. a. Jadi."7 Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti.(kasih sayang). sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil. dan Al-Yadu (tangan). Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci. atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Inilah paham yang dianut oleh kaum Salaf. mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya. dengan cara meniadakan Asma' dan Sifat-sifat-Nya. akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta'thil melakukan tahrif. maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta'thil. perbedaan antara tahrif dan ta'thil yaitu : ta'thil adalah penafian suatu makna yang benar. yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. bentuk/ keadaannya tidak diketahui. b. mengimaninya wajib. d. tetapi bukan muharif (pelaku tahrif). Ta'thil Ta'thil secara bahasa berarti meniadakan. sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik ‫هللا ر‬ ‫ ع‬ketika ditanya tentang bentuk/ keadaan istiwa'. Takyif Takyif artinya bertanya dengan kaifa (bagaimana). keadaan. 2. -bersemayam-. Beliau ‫ هللا ر‬menjawab : ‫ص‬ ‫ع‬ ‫ض ل‬ "Istiwa' itu telah diketahui (maknanya). c. Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat. dengan an-ni'mah (nikmat). MACAM-MACAM TA'THIL Ta'thil ada bermacam-macam. akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk. sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya. maka ia seorang mu'athil (pelaku ta'thil). Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya. Adapun orang yang menafikan sifat. Adapun menurut pengertian syar'i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta'ala. Meninggalkan muamalah dengan-Nya. Jadi. atau sebagian dari-Nya. atau mengingkari sebagian darinya. setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta'thil. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat . Meniadakan bentuk/ keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut. yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya. sedangkan menanyakannya adalah bid'ah. 3. dengan iradatul in'am (keinginan untuk memberi nikmat). Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah. baik secara total maupun sebagian. dan bentuk dari sifat tersebut. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu'tazilah. Siapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar.

Baik kita mengkhabarkan sesuatu kepada orang lain atau kita dikhabarkan sesuatu oleh orang lain.)خ بر‬kata Ibnul-Mandhuur. yaitu : Pertama : Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta'ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan 'Uzair dengan Allah pula. Ibnu Sayyidih berkata : “Khabar adalah berita.)أخ ب ر‬ (Definisinya) yaitu : berita yang datang kepadamu tentang orang yang kamu akan diberitahu. Tamtsil ini dibagi menjadi dua. secara hakiki. Khabar adalah sesuatu yang tidak terelakkan dalam kehidupan kita. Bila kita membicarakan check dan re-check. Jamaknya adalah akhbaar. hakekat-hakekatnya. Mari kita perhatikan kisah Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam dengan burung Hud-hud sebagaimana yang difirmankan Allah ta‟ala : ‫ر‬ ‫أ‬ ‫ل ع‬ ‫أ‬ ‫رط‬ ‫ظ‬ * ‫ب صب‬ * ‫ش ض‬ ‫رأ‬ . tentu saja yang dimaksudkan di sini adalah dalam kaitannya penerimaan khabar oleh kita dari orang lain. Dalam hadits Al-Hudaibiyyah : Bahwasannya beliau shallallaahu „alaihi wa sallam mengutus seseorang dari suku Khuzaa‟ah menanyakan berita (takhabbar) tentang Quraisy. yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta'ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi'liyah-Nya. hal. menyerupakan. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk. serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. ta'thil. 4. atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar. Syari‟at telah menetapkan satu ketentuan bagi seorang muslim untuk selalu check dan re-check terhadap khabar yang sampai kepadanya. yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif. dan al-akhaabiir adalah jamak dari akhbaar…. Dua-duanya silih berganti mengisi. Takhabbar maksud mencari tahu. dengan memasrahkan bentuk/ keadaannya.8 ILHAD TERHADAP ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH Pengertian ilhad terhadap Asma' dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah.tersebut maupun maknanya. atau makna-maknanya. atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid'ah. Maha Suci Allah dari itu semua. Tamtsil Tamtsil artinya tasybih. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya. merupakan bentuk tunggal dari kata akhbaar (‫. Dikatakan : Takhabbaral-khabar was-takhbara maksudnya : jika ia bertanya tentang khabar untuk mengetahuinya [Lisaanul-„Arab. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya. tamtsil dan tasbih. Kedua : Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk. sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham "Ittihad". Al-Istikhbaar dan at-takhabbur adalah pertanyaan mengenai khabar. dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk. takyif. dari kebenarannya yang pasti. Jadi.9 Khabar (‫ . Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. 1090].

Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat. Namun beliau menjalankan apa yang diatur syari‟at dengan melakukan check dan re-check atau tatsabbut (meneliti) terhadap khabar tersebut. maka dengan cepat ia menukas : “Telah mengkhabarkan kepadaku seorang yang aku percayai begini dan begitu…. ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta” [QS. Kewajiban tatsabbut atau tabayyun (check dan re-check) tidaklah bertentangan dengan asas diterimanya khabar dari seorang perawi yang „adil. Tentu saja semua hal itu dimungkinkan karena barangkali khabar yang sampai kepada kita tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya atau bertolak belakang dengan khabar yang disampaikan oleh orang selainnya. berakal. dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. beliau tidak langsung menerima atau menolaknya. yaitu baligh. Saat Nabi Sulaimaan „alaihis-salaam menerima khabar burung Hud-hud perihal Ratu Balqis dan kerajaannya. Allah.[1] Akan tetapi ada sebagian khabar yang memang dibutuhkan tatsabbut dan tabayyun lebih. jika ada yang mendebat salah seorang di antara mereka terhadap khabar yang disampaikannya. selamat dari sifat fasiq. lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya. Tuhan Yang mempunyai „Arsy (singgasana) yang besar”. apa kamu benar. . Seakanakan urusannya selesai sampai kalimat tersebut tanpa ada celah untuk meragukan atau sekedar menambah yakin terhadap keakuratan berita dengan melakukan penelusuran khabar yang disampaikannya itu. dengan cepat ia membenarkannya dan sekaligus melakukan konsekuensi dari apa yang dipesankan oleh khabar tersebut. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari. Allah ta‟ala berfirman : ‫أ‬ ‫ب ص‬ ‫ب‬ ‫ب أ‬ ‫ب‬ ‫ع‬ “Hai orang-orang yang beriman.”. selain Allah. dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah). Banyak orang yang keliru memahami makna tatsabbut terhadap penerimaan khabar.‫أ‬ ‫ض‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫أ أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ضب‬ ‫ال‬ ‫* ع‬ * ‫أال‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ض‬ ‫عرط ر‬ ‫ر‬ ‫ل* ع‬ “Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud). Oleh karena itu. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka. sehingga mereka tidak dapat petunjuk. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tatsabbut dan tabayyun terhadap khabar : 1. Al-Hujuraat : 6]. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. maka periksalah dengan teliti. An-Naml : 22-27]. tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Apabila datang seseorang yang dikenal keadilannya atau kejujurannya menyampaikan satu khabar kepadanya. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” [QS. Ke-„adil-an pembawa berita. dan dan hal-hal yang merusak muru‟ah (harga diri)-nya.

Mereka hanya mencukupkan diri dengan sifat ke-„adil-annya. sehingga ketika khabar itu diterima. dari Ibnu Abi Zinaad. Satu contoh saya bawakan dalam kasus ini : . 16/312. Cet. Barangsiapa yang tetap kefasiqannya. dari Abu Hurairah.” ص ع‬ . hal. 1419]. nampak padanya pertentangan antara pembawa khabar satu dengan yang lainnya. Karena perintah tatsabbut dalam ayat ini hanya saat menukil khabar orang fasiq. Dikarenakan khabar adalah amanah. yang menyangkut hapalan dan keakuratannya dalam membawa khabar. tidak peduli benar atau salah. 24. Ke-dlabth-an pembawa khabar. Cet. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam : “Cukuplah seseorang dianggap pendusta jika ia mengatakan setiap apa yang ia dengar” [Diriwayatkan oleh Muslim no. dari ayahnya. ‫: ال‬ ‫ل ر ر ؛ أ‬ ‫ث‬ ‫ح . dari Hafsh bin „Aashim. ‫ر‬ ‫ث ب‬ ‫ب‬ ‫ض‬ ، ‫ال‬ ‫أ ر‬ ‫خ بر‬ “Dalam ayat ini terdapat dalil diterimanya khabarul-waahid jika ia seorang yang „aadil. Thn. Banyak orang yang meremehkan perkara ini. Daarul-„Aalamil-Kutub. batallah perkataannya dalam khabar (yang ia sampaikan) berdasarkan ijma‟. Dikatakan bahwa mereka itu bukan ahlinya” [Shahih Muslim. 1423]. ‫: ص‬ Dan telah menceritakan kepada kami „Ubaidillah bin Mu‟adz Al-„Anbariy : Telah menceritakan kepadaku ayahku (‫ . ‫ث‬ ‫ث‬ ‫خ ب‬ ‫هللا‬ ‫ث‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ . Thn. tahqiq : Hisyaam Samiir Al-Bukhaariy. BaitulAfkaar. dari Khubaib bin „Abdirrahmaan.أ‬ ، ‫ع ب‬ : ‫ل‬ ‫هللا ر ص ل‬ ‫. dan kefasiqan adalah alasan yang membatalkannya” [Tafsir Al-Qurthubiy. apalagi jika ia dikenal sebagai orang yang selalu menyampaikan segala sesuatu yang ia dengar.)ح‬Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada kami „Abdurrahmaan bin Mahdiy – mereka berdua (Mu‟adz Al-„Anbariy dan „Abdurrahman bin Mahdiy) berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu‟bah. Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam bersabda : ‫ث‬ ‫ث‬ ‫ص‬ “ ‫هللا‬ ‫ر‬ ، ‫ر‬ ‫ب‬ ‫ب‬ ‫ثأ‬ ‫ع‬ ‫ع بر‬ . ‫ر ث‬ ‫أ ر‬ ‫ئ‬ ‫ض‬ ‫أ‬ ‫ث‬ ‫خ‬ ‫ع‬ ‫ل‬ ‫أ‬ ‫ز‬ ‫ش‬ ‫أ‬ ‫لأ‬ Telah menceritakan kepada kami Nashr bin „Aliy Al-Jahdlamiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Ashma‟iy. 2. ia berkata : “Aku telah menjumpai di Madinah seratus (orang) yang kesemuanya dapat dipercaya (ma‟muun) yang tidak diambil haditsnya. Tatsabbut terhadap khabar yang dibawa orang fasiq adalah satu kewajiban. 5].Al-Qurthubiy rahimahullah berkata : ‫ث ب‬ ، ‫ه‬ ‫بر‬ ‫آل‬ ‫خ بر‬ ‫ض أ‬ ‫ب ل‬ ‫ص‬ ‫خ بر‬ .

Pemahaman yang baik dan penguasaan yang komprehensif terhadap maksud khabar/berita. 81]. Betapa banyak orang jujur membawakan khabar tidak sebagaimana mestinya ?. dan kepalanya dilumuri darah (yudammaa)” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. sehingga menyulitkan sebagian orang dan menjadi penghalang (untuk menerima perkataannya itu)” [Minhaajus-Sunnah 6/303]. dari Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam. Sallaam bin Abi Muthii‟. ‫ض ، ث ر‬ ‫ع‬ ‫ص‬ ‫أ‬ “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan keadaan bersinarsinar karena bekas wudlu pada anggota tubuh mereka . beliau bersabda : “Setiap anak tergadai dengan „aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh. dicukur rambut kepalanya. 2837]. akan tetapi pengetahuannya tentang hakekat perkataan manusia membuatnya membawakan perkataan tersebut tidak sesuai dengan lafadh dan maksud yang mereka kehendaki. maka khabar yang disampaikannya bercampur dengan perkataannya. dari Samuurah. Adakalanya satu khabar dibawakan oleh seorang yang wara‟ dan kuat hapalannya. Saat menyampaikannya. Syaikhul-Islaam rahimahullah berkata : ‫ث ر‬ ‫ر‬ ‫ع ر‬ ‫ش‬ ‫ظ‬ ‫صئ ر أ‬ ‫عض‬ ‫ه‬ ‫عرف‬ ‫ر‬ ‫عر‬ ‫ع ضر‬ ‫ل‬ ‫سأ‬ ‫س عض‬ “Dan banyak di antara orang-orang yang membawakan perkataan tanpa bermaksud untuk berdusta.‫هللا‬ ‫ض ع‬ ‫ث‬ ‫ص‬ ‫هللا‬ ‫ر‬ ‫رأ ص‬ ‫ر‬ ‫ص‬ ‫ل‬ ‫ث‬ : ‫ث‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫ع‬ ‫ص ر‬ ‫ح‬ ‫رص ل‬ Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin „Umar An-Namiriy : Telah menceritakan kepada kami Hammaam : Telah menceritakan kepada kami Qataadah. Namun ia telah menyelisihi beberapa orang dan lebih dlabth darinya dalam penyampaian khabar (periwayatan) dari Qataadah. bukanlah satu „aib jika kita melakukan check dan re-check sehingga khabar yang sampai pada kita benar-benar akurat. Mereka adalah : Sa‟iid bin Abi „Aruubah (ia adalah orang yang paling tsabt periwayatannya di antara ashhaab Qataadah). Para ulama mengatakan bahwa Hammaam dalam riwayat ini telah keliru dalam membawakan hadits yang mengatakan „yudammaa‟ (dilumuri darah). Abaan bin Yaziid Al-„Aththaar. maka barangsiapa yang mampu . Hammaam adalah seorang yang terpercaya. Oleh karena itu. dan Ghailaan bin Jaami‟ [Irwaaul-Ghaliil oleh Al-Albaaniy 4/387-388 dan Taisiru „Uluumil-Hadits oleh „Amr bin „Abdil-Mun‟im hal. dimana perkataannya itu tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan maksud dan pemahaman orang yang ia ambil khabar-nya. namun ia tidak memahami hakekat apa yang disampaikannya itu dari orang yang ia ambil khabar-nya. dari Al-Hasan. Contohnya hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhaan : ‫أ‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ر‬ . dimana mereka menggunakan lafadh : yusammaa (diberikan nama) – bukan yudammaa. 3.

maka lakukanlah” merupakan perkataan Abu Hurairah radliyallaahu „anhu. Dan memanjangkannya tidaklah memungkinkan. [4] Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : ‫ه‬ ‫ض‬ ‫ال‬ ‫ر‬ ‫ال‬ ‫أ‬ ‫ال‬ ‫ال‬ ‫ر ط‬ ‫ه‬ ‫خ‬ ‫ص‬ ‫ال غر‬ ‫ال رأس‬ “Lafadh ini tidak mungkin berasal dari sabda beliau shallallaahu „alaihi wa sallam. dan wajah bukanlah sesuatu yang dapat dipanjangkan dalam pembasuhannya. dan juga ibadah-ibadah yang lainnya. [Abu Al-Jauzaa‟ – Perumahan Ciomas Permai. Sebab. dan AlFaaiq –melalui perantaraan Ahkaamuth-Thahaarah hal. 246]. maka . Ini adalah madzhab Maalikiyyah. keadaan darurat.[2] Sebagian ulama mengkritik bahwasannya perkataan Abu Hurairah tersebut timbul dari pemahamannya atas sabda Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang ia bawakan. [3] Lihat pemaknaan ini dalam Lisaanul-„Arab 5/14. dan yang lain sebagainya). Sesungguhnya ghurrah itu bukanlah terletak di tangan. http://abul-jauzaaa. 136 dan Muslim no. 383. namun semoga penekanan urgensitas serta penerapannya di kehidupan sehari-hari dapat dipahami oleh ikhwan semua. [2] Sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Fathul-Baariy (1/236) – lihat pula Ahkaamuth-Thahaarah – Al-Wudluu‟ oleh Dibyaan bin Muhammad Ad-Dibyaan. Apalagi jika khabar tersebut berkaitan dengan pelanggaran kehormatan sesama muslim atau menyangkut kepentingan masyarakat banyak (keamanan. fitnah. dan Al-Albaaniy rahimahumullah.com]. Mukhtaarush-Shihah hal. 386. [1] Sebagaimana penjelasan para ulama terhadap QS.blogspot. Oleh karena itu. 197. maka lakukanlah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah.[5] Inilah tiga hal yang hendaknya diperhatikan bagi kita semua dalam penerimaan khabar. Dikarenakan ghurrah masuk pada kepala. Ibnul-Qayyim. Wallaahu a‟lam bish-shawwaab. Dan ini keliru.memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. makna ghurrah secara bahasa[3] adalah wajah. tidak ada dalil shahih dari Nabi shallallaahu „alaihi wa sallam yang menunjukkan disunnahkannya memanjangkan pembasuhan ghurrah.[4] Dengan sebab jeleknya pemahaman ini pulalah muncul penisbatan yang tidak benar terhadap diri Al-Imam Asy-Syafi‟iy rahimahullah bahwasannya beliau berpendapat untuk melafadhkan niat dalam shalat. melainkan di wajah. terutama yang nulis artikel ini. Perkataan “maka barangsiapa yang mampu memanjangkan penyiraman ghurrah-nya. Al-Hujuraat : 6. Walaupun contoh-contoh yang diberikan adalah seputar riwayat hadits. sebagai pembawa khabar. hal.

Dan bila ia . dengan mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya`. hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Rasululloh SAW disandarkan kepada ALLOH SWT. Maka rasul menjadi perawi kalam ALLOH SWT ini dari lafal Nabi sendiri. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku.` Contoh yang pertama: `Dari Abu Hurairah Ra. sebagian ulama Syafi‟iyyah telah salah paham terhadap ucapan Al-Imam AsySyafi‟iy rahimahullah : ‫ر‬ ‫، أ زأ‬ ‫ش‬ ‫ال‬ ‫ح ال‬ ‫ال‬ “Apabila seseorang berniat untuk melakukan haji dan „umrah. Dari Rasululloh SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya Azza Wa Jalla.` Contoh yang kedua: `Dari Abu Hurairah Ra. AnNawawiy rahimahullah telah menjelaskan ini : ‫أ ح ل‬ ‫ب ر ر ه‬ :‫ظ‬ ‫ئ‬ ،‫ش‬ ‫ر‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ، “Para shahabat kami berkata : Orang yang mengatakan ini telah keliru. atau ia mengatakan: `Rasululloh SAW mengatakan: ALLOH SWT telah berfirman atau berfirman ALLOH SWT . Cet. akan tetapi maksudnya adalah (mengucapkan) takbir” [lihat At-Ta‟aalum. tangan ALLOH SWT itu penuh. Hadits Qudsi berasal dari kata quds yang berarti menyucikan ALLOH SWT. 92. oleh Bakr Abu Zaid. Daarur-Rayah. Maksudnya Rasululloh SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam ALLOH SWT. hal 100 – melalui perantaraan Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaa‟il-Mushalliin oleh Masyhur Hasan Salmaan.bila menyebut-KU di dalam dirinya.(memanjangkannya) tidak dinamakan ghurrah” [I‟lamul-Muwaqqi‟iin 6/316 – melalui Tamaamul-Minnah hal. maka itu mencukupi jika ia tidak melafadhkannya. Mereka beranggapan bahwa „mengucapkan‟ dalam shalat itu adalah mengucapkan niat. Bukanlah yang dimaksudkan oleh Asy-Syaafi‟iy dengan „mengucapkan‟ dalam shalat adalah mengucapkan niat. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasululloh SAW dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. tidak dikurangi oleh nafkah. [5] Yaitu. 94]. 5]. 3/243]. Namun itu tidak seperti halnya shalat yang tidak sah kecuali dengan mengucapkannya” [Al-Majmuu‟. maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. baik di waktu siang atau malam hari. hal. bahwa Rasululloh SAW berkata: ` ALLOH SWT berfirman: Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.

sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai . e. Maka dia adalah wahyu. karena itu ia dibaca di dalam salat. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat. sedang lafalnya dari Rasululloh SAW. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad.menyebut-KU dikalangan orang banyak. sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. sehingga nisbah hadits qudsi kepada ALLOH SWT itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari ALLOH SWT. sehingga dikatakan: ALLOH SWT telah berfirman.“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam. baik lafal maupun maknanya. c. hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu. kita bisa menyampaikan maknanya saja. atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Al. sementara hadits qudsi adalah firman ALLOH SWT yg disampaikan Rasululloh SAW. Al-Qur‟anul Karim dari ALLOH SWT. Oleh sebab itu. niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. Membaca Al-Qur‟anul Karim merupakan ibadah. sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada ALLOH SWT. maka Dia memberi keringanan kepadamu. Al Qur‟an adalah LANGSUNG firman ALLOH SWT. maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang. ***untuk mengetahui hadits lebih lengkap. bisa dibaca di sini. Dengan kata lain. baik dalam lafal maupun maknanya. Hal ini tertera jelas di QS. Al-Qur‟anul Karim adalah kalam ALLOH SWT yang diwahyukan kepada Rasululloh dengan lafalnya. tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Ada kalanya hadits qudsi itu sahih. untuk Al Qur‟an kita mesti kutip ayatnya sebelum memberikan penjelasan ttg makna. dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu`.).` Perbedaan Qur’an dengan hadits Qudsi Ada beberapa perbedaan antara Qur‟an dengan hadits qudsi yang terpenting di antaranya ialah: a. AlMuzzammil(73):20. menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja. Al Qur‟an menantang orang2 arab (bahkan seluruh dunia) untuk membuat yang seperti Al Qur‟an bahkan satu surah sekalipun (Al Israa‟(17):88.` Dengan kata lain. Maka dikatakan: `ALLOH SWT telah berfirman atau ALLOH SWT berfirman.“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur‟an ini. Selain sebagai MUKJIZAT. maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu.Qur‟anul karim hanya dinisbahkan kepada ALLOH SWT. b. Sedangkan untuk hadits qudsi. terkadang hasan (baik ) dan terkadang pula da`if (lemah). sehingga kepastiannya sudah mutlak. Seluruh isi Qur‟an dinukil secara mutawatir. sedangkan untuk pembagian hadits bisa dibaca di sini.*** d.

balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca Al Qur‟an bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan. ALLOH SWT memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. tetapi alif satu huruf. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sedang hadits qudsi tidak disuruh untuk dibaca di dalam salat. . Dan mohonlah ampunan kepada Allah. lam satu huruf dan mim satu huruf`.“ Nilai ibadah membaca Al Qur‟an juga terdapat dalam hadits: `Barang siapa membaca satu huruf dari Al Qur‟an. dia akan memperoleh satu kebaikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful