FILOSOFI PENDIDIKAN

:

MENEMUKAN KEMBALI LANDASAN YANG HILANG
Kehidupan yang tidak dipahami karena tidak pemah dipelajari tidak bemilai untuk dilalui

A. Pengantar Ada sebuah fenomena yang sering berlalu di depan data, yang hampir-hampir tidak terdeteksi, yakni proses kejiwaan yang terjadi ketika pendidik harus memilih antara menerapkan pendidikan tanpa menghiraukan landasan filosofinya, dengan mendalami filosofi pendidikan sebagai pengetahuan, tetapi tanpa menghiraukan penerapannya. Memilih satu di antara keduanya—yang manapun—berarti memilih yang tidak benar. Secara hakiki, tidak ada aktivitas atau praktik pendidikan yang dapat berlangsung tanpa dasar filosofi, yang sedikitnya terkait dengan makna kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan tanpa dasar filosofi yang jelas, bukan saja goyah tetapi juga berbahaya. Sebaliknya, tidak ada filosofi yang dapat mendalami problematik pendidikan tanpa menjiwai praktik pendidikan. Filosofi pendidikan yang tidak berkelanjutan ke dalam penerapannya dalam kehidupan nyata, menjadi mubazir dan tidak layak disebut filosofi pendidikan. Memang pada saat tertentu, dalam konteks tertentu, bisa muncul problem pendidikan yang lebih dominan bersifat teknis, dan di saat yang lain lebih bersifat finansial, infrastruktural, institusional, ketenagaan, kultural, atau politik? Tetapi apakah problem yang mengemuka pada suatu saat bersifat teknis, politis, yuridis, ekonomis, atau gabungan dari semuanya, pada saat yang sama problematik pendidikan itu juga selalu bersifat normatif, yakni terkait dengan norma, standar, atau nilai yang mendasar, yang memberikan relevansi dan makna kepada sifat problematik pendidikan yang teknis dan pragmatis? Makalah ini menyarankan kita kembali memilih gabungan dari keduanya: praktik yang berdasarkan filosofi yang relevan, untuk senantiasa memberi pembenaran, arab, tujuan, dan makna pada seluruh spektrum kegiatan pendidikan. Soalnya saat ini di depan mata terpampang

dalam segala apa pun yang kita laksanakan demi kebesaran generasi anak bangsa. Masalah yang terkait dengan pilihan ini. ntau mungkin kurang yakin mengenai manfaat filosofi pendidikan. atau dihilangkan dari dunia pendidikan. kita temukan cukup banyak petunjuk ke arah itu. Tidak ada pretensi untuk membahas segala aspek yang terkait dengan persoalan ini secara komprehensif. Imbauannya agar dalam proses berbangsa. Memang belum pemah kita jumpai kasus yang mati-maIan menolak filosofi pendidikan. paradigma) yang jemih. ketika merencanakan. Tetapi dengan sedikit yang dapat diangkat ke permukaan. dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. kita senantiasa bertindak di atas sebuah landasan pandangan hidup yang jemih. menghilang. Sebabnya. Paling jauh. Ia hanya dapat mengimbau. yang dapat mendasari lahimya pendidikan yang bermakna. sebagai the thing in the past. di kalangan mereka yang seharusnya berfilosofi ketika merumuskan kebijakan. Akibatnya. menemukan dan mereposisinya kembali perlu kesungguhan usaha dan proses yang . Keduanya. tidak banyak yang peduli untuk memberinya dasar filosofis.masalah lain. Juga di kalangan birokrasi. ketika memutuskan. dan bermotivasi berbagai kepentingan. filosofi dan pendidikan. ketika membiayai. atau ketika mengelola. dunia pendidikan bergantung pada penafsiran masing-masing.. dari politik pendidikan dan dari berbagai kebijakan. melahirkan kebijakan bermasalah.Temyata lagi. dalam dan di luar pendidikan. Makalah ini tidak menawarkan sikap "Filosofi Pendidikan atau Mati!". banyak guru yang tidak tahu. diharapkan agar hal ini cukup untuk dijadikan awal pemikiran bersama dalam melahirkan sebuah filosofi pendidikan yang layak dijadikan dasar pendidikan nasional sekarang dan di masa de-pan. kalau benar filosofi pendidikan (kalau masih ada) sudah tergeser dari posisi dan perannya sebagai fondasi pendidikan. Sudah semakin banyak guru yang mengganti filosofi yang melambangkan kekinian dengan teknologi yang melambangkan kekinian. visi. memang tidak berhadapan dalam posisi yang bertentangan diametral. Sudah semakin banyak guru yang memandang filosofi pendidikan sebagai simbol keusangan. Filosofi tanpa filosofi. memang bukan hanya guru yang harus bekerja keras di lapangan yang bersikap demikian. Dari sistem pendidikan nasional. jelas dan mantap mencerminkan aspirasi berbangsa agar arah dan tujuan pendidikan nasional turut menjadi jelas dan mantap. Hanya filosofi (atau kalau dikehendaki: kredo. ialah karena sudah lama filosofi pendidikan hilang. yang berpotensi melahirkan masalah. tidak hirau. Cukup banyak kebijakan masa lalu yang kandas di tengah jalan karena para perumus kebijakan mengabaikan landasan yang mutlak itu. filosofi yang keruh. misi.

hubungan filosofi dengan kurikulum. Biarlah pemikir-pemikir saja yang berfilosofi. Bukan oleh masyarakat luas saja.panjang. Sekarang. apakah ada rujukan filosofi pendidikan? Tidak. Ada orang yang dengan fasih dapat memberikan jawaban yang masuk akal. B. filosofi tidak berarti apa-apa. kita masih bisa mengembangkan pendidikan. perbedaannya tidak tampak. guru khususnya. dengan pekerja rumah.  Lagi pula pemerintah sendiri tidak (pemah) lagi memberikan prioritas kepada ilmu filosofi pendidikan. atau Dewey. atau kepada mereka yang sedang menyiapkan diri untuk mengambil gelar ilmu kependidikan yang lebih tinggi. tidak untuk saya. berfilosofi berarti bertanya. respons saya secara ringkas (yang secara lebih terurai dikemukakan dalam makalah ini) adalah:  Secara sederhana. tetapi bagi sebagian orang. Saya. Ini disebabkan ada orang yang dengan tekun memelajari makna dan kegunaannya. pertanyaan tunggal tentang esensi kebenaran memang selalu berkembang menjadi sejumlah pertanyaan. Dengan kata lain. dari banyak . situasinya tidak seberapa berbeda. dan sebagian karena memelajari filosofi dalam cara yang tidak seharusnya. apakah filosofi itu ada atau tidak ada. Artinya. Tujuan bertanya hanya satu: mencari kebenaran. mungkin mereka akan menjawab begini:  Saya tidak dapat mengatakan bahwa filosofi itu tidak penting. tetapi agak rumit. Makna Filosofi Pendidikan bagi Manusia Filosofi berarti banyak hal bagi banyak orang. Filosofi tidak untuk semua orang. Sekarang bahkan telah terbukti bahwa setelah sekian lama kita mengesampingkan filosofi. Kant. Bukan oleh satu orang tetapi perlu dirintis bersama. dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan di Indonesia. Berfilosofi memang seringkali mengasyikkan. Apakah tidak cukup kalau sudah ada undang-undang ten-tang sistem pendidikan nasional? Kalau betul filosofi pendidikan begitu fundamental untuk kepentingan nasional. Tetapi karena dipersyaratkan sebagai. tetapi saya juga masih sukar menemukan pembenaran bahwa filosofi itu sungguh penting. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada sarjana pendidikan atau keguruan. tetapi juga—bahkan terutama—oleh pemerintah. dan dengan banyak lagi aspek praktik atau aspek teknis pendidikan. filosofi mendekati esensi kebenaran kehidupan untuk mengungkap prinsip dari segala prinsip. memang ada penambahan pengetahuan. dengan ujian akhir.  Kalau pertanyaan di atas ditujukan kepada saya. sebagian lagi belum pemah. Di dalam proses untuk mendapatkan jawaban. terutama bila kita mengikuti berbagai aliran filosofi dari berbagai pemikir dunia. Sejak dari dulu saya tidak bisa melihat kegunaan filosofi untuk perbaikan pendidikan. misalnya. Di kalangan para pendidik umumnya. Yang jelas. Menarik. urgensinya sudah tidak ada. filosofi tidak berguna. bahkan kadan kadang sukar dipahami. Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada guru yang sehari-hari sibuk mengajar ke sana ke mari dalam rangka mempertahankan hidup sebagai manusia biasa. merasa sukar memahami filosofi Socrates. sangat mungkin jawabannya akan begini:  Bagi saya. mata kuliah.

Tidak ada waktu yang terlalu lama. dapat juga senantiasa dilakukan oleh guru!). dan jarak. kita tidak hanya asal bertanya. Filosofi diartikan sebagai metode berpikir reflektif mengenai esensi kebenaran dalam kehidupan. Berfilosofi adalah kegiatan sehari-hari. Berkembangnya pertanyaan menjadi majemuk disebabkan terutama karena ketunggalan kebenaran hanya dapat didekati dari kemajemukan sifatnya. guru khususnya. Jawaban terhadap pertanyaan induk yang tunggal didekati dengan jalan melahirkan banyak lagi jawaban yang saling terkait. manusia berpeluang menjelajahi banyak hal di balik dinding mental. Luasnya "melampaui" Luasnya kehidupan yang luas yang dapat diraih oleh manusia. ruang. kapan saja. lahir seribu buah yang lain. Yang menjadikan pertanyaan itu kadang-kadang sukar untuk dijawab adalah karena andahan dan jangkauan pertanyaan itu sendiri sangat luas. Tidak ada orang yang mempu menemukan jawaban tanpa pemah bertanya. kita tidak perlu terikat oleh definisi yang akademik. ruang yang terlalu besar. dijelajahi oleh manusia secara mental. yang diperkokoh oleh pikiran yang terasah. makin dekat kita pada jawaban yang diperlukan. Memahami Pendidikan Tanpa Berfilosofi? Tenaga kependidikan pada umumnya. Tentu. Hanya Batas ketekunan manusia yang menjadi batas penjelajahan. walaupun manusia terikat di Bumi. Makin tajam pertanyaan kita. Apa yang tidak dapat diraih secara fisik. Untuk berfilosofi. Dari satu pertanyaan. Ini tidak berarti bahwa filosofi adalah ilmu serba bisa yang dapat dipelajari hanya oleh orangorang terpilih. Kemampuan dasar itu ada pada semua manusia. tetapi yang lebih penting dari itu ialah bagaimana kita belajar berfilosofi dan menerapkannya di dalam kehidupan. tetapi juga kegunaannya di dalam praktik sangat disangsikan. C. kecuali yang mengalami hambatan perkembangan mental tertentu. menjelajahi kehidupan yang tidak terikat oleh kesementaraan waktu. Karena itu. Kesimpulan itu diduga bersumber dari tersendatnya arus dialog antara pendidik dengan peserta didik. kita belajar merumuskan pertanyaan yang tajam dan konsisten. semata-mata untuk bertanya lebih dalam dan lebih tajam tentang berbagai segi dari sesuatu yang diterima sebagai kebenaran. Dengan batasan itu. Jauh dari itu. sebagai bentuk komitmen pada kebenaran. Dengan pertanyaan yang bertujuan. yang dapat terjadi di mana saja.       sampai tidak terhingga. dan jarak yang terlalu jauh apabila manusia berfilosofi. Pendidik tidak berhasil dalam merangsang dan mengantar pemikiran mereka . adalah untuk melepaskan diri dari kedangkalan makna kehidupan. oleh siapa saja (artinya. sebagai aktivitas mental manusia. yang ditekankan bukan bagaimana kita belajar berbagai aliran filosofi. Tujuan berfilosofi pada umumnya. seringkali menyimpulkan bahwa filosofi pendidikan bukan saja sukar untuk dipahami. tujuan berfilosofi di bidang pendidikan adalah untuk memahami makna terdalam dari kehidupan dari sudut pandang manusia. didukung oleh pengamatan yang jemih. Secara positif.

yang sekarang kita pelajari sebagai aliran filosofi. apa maknanya. Akibatnya. Walaupun mungkin hakikat filosofi tidak pemah dipahami dengan cukup jelas. senangi. dan dari proses bertanya itu. Kalau filosofi diartikan terfokus hanya pada kemampuan yang terbatas itu. fenomenalisme. Apakah kehidupan itu. mengapa ada kehidupan. Karena itu filosofi pendidikan tidak jelas gunanya di dalam praktik pendidikan. Mereka bertanya mengenai berbagai segi kehidupan yang setiap saat mereka alami. antara Pinto dan John Locke. bila dibandingkan dengan cara mahasiswa hari ini bertanya. tidak perlu ada filosofi. adalah bahwa ketika Plato menyimpulkan filosofi yang dikembangkan dari kehidupan. tampaknya heralasan. dari mengasuh sampai membunuh. Atau mereka merasa sudah berfilosofi ketika mereka sudah mampu merumuskan arti leksikal dari struktural-reduksionisme. berdogma. berintuisi. Itulah awal filosofi yang melahirkan semakin banyak pertanyaan yang sampai pada hari ini masih berlanjut. mereka yang memelajari filosofi sering merasa sudah cukup menguasai substansi filosofi apabila mereka dapat memperlihatkan atau merumuskan kembali pengetahuan mereka tentang persamaan (atau perbedaan) pandangan filosofis antara Rene Descartes dan Spinoza. wulaupun di luar konteks realitas. tetapi jawaban yang benar hanya datang dari pertanyaan yang benar. benci. mereka pasti sudah cukup mampu membedakannya dari segala aktivitas kehidupan yang rid sehari-hari: dari bercinta sampai berperang. Bahkan dalam kehidupan yang sudah begitu rutin dilakukan setiap orang. Yang salah ialah karena pengetahuan mereka tentang hal-hal tersebut tidak ditarik lebih jauh sebingga menyentuh kepentingan peserta didik dalam mengidentifikasi persenyawaan antara pendidikan dengan realitas kehidupan. filosofi yang dipelajari sebagai mata pelajaran hanya menguji daya tahan calon guru untuk berspekulasi. kepedulian. berteori. manusia mulai berfilosofi dengan jalan mempertanyakan sebuah pokok persoalan yang tidak habishabisnya mengkaji obyek yang cukup jelas: kehidupan. lahir jawaban. dan progresivisme. mereka mulai bertanya. atau antara filosofi Timur dan Barat. Masih tetap saja dipertanyakan segala hal yang esensial terkait dengan kehidupan yang penuh dinamika dan dialektika. misalnya. Dari kecintaan. Di dalam lembaga-lembaga pendidikan guru. filosofi akhimya hanya menjadi mata pelajaran yang tidak terkait dengan realitas kehidupan.kepada esensi pendidikan melalui proses berfilosofi. amati. takuti. Jawaban dari sejumlah tertanyaan itulah. Perbedaan antara cara Plato bertanya tentang kehidupan. Mengapa bukan melahirkan jawaban? Inilah karakteristik berfilosofi. Memang tidak salah mengetahui berbagai aliran dan nomenklatur filosofi itu. Filosofi memang tidak berguna kecuali mungkin sebagai brain teaser. kesimpulan para guru yang tidak menghargai peran filosofi di dalam praktik. atau berkegiatan apa pun yang berdekatan dengan istilah-istilah yang bersifat abstrak. Jawaban bukannya tidak penting. bahkan yang tidak dipahami. dan ketekunan mereka untuk mengenal kehidupan. Karena itulah para pemikir mulai dengan bertanya. calon guru hari ini ber-"filosofi" dari arah yang berlawanan: dari filosofi ke kehidupan. . Filosofi terlalu jauh dari segala jenis aktivitas praktis seperti itu. dan apa tujuannya. ketika dirumuskan. Untuk buang hajat saja. Akibatnya. dari makan sampai buang hajat. Menurut sejarah. pengamatan.

Guru merasa sudah tidak memerlukan filosofi pendidikan karena sejak dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan. mereka temukan bahwa lembaga pendidikan itu senlrl lama menjadi "steril". Bila tidak. Sejauh yang dapat diamati. yang tidak dapat dihasilkan oleh makhluk hidup yang lain. yang dengan mata dan otak yang berbeda-beda. mulai saat itu.Di situ terletak perbedaan yang cukup benar antara Plato dengan guru kita sekarang yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Sedikitnya ada tiga fenomena yang perlu menjadi perhatian kita. Perbedaab antara keduanya harus jelas. ketika mereka mulai memelajari "aliran" Plato. Dengan meminjam mata dan otak Plato. telah lama dibuang dari program kurikuler lembaga. filosofi sebagai fenomena di dalam kehidupan manusia mungkin setua sejarah mat manusia itu sendiri. Apa yang dapat direkam oleh sejarah peradaban manusia. lebih praktis dan lebih mudah dipasarkan! D. atau Ranggwarsito. mereka tidak menemukan sesuatu yang relevan bagi kehidupan mereka sendiri. Ketika seorang guru memelajari berbagai aliran filosofi sebagai pengetahuan. sangat mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang secara aktual dihasilkan manusia. guru tidak cukup tuntas memelajari kehidupan dengan mata dan otak sendiri. Diperlukan Proses "Re-Filosofisasi" Sejauh yang dapat disimpulkan. Mata kuliah yang bemama filosofi pendidikan dim yang berfungsi sebagai landasan ilmu pendidikan. sehingga perlu diganti dengan sesuatu yang lebih teknis. Buddha Gautama atau Vivekananda. filosofi tercabut akamya dari kehidupan. Tetapi ini bukan karena guru sengaja berulah demikian. tetapi yang sudah tidak berguna untuk dipelajari. Tidak melihat kehidupan dari perspektif yang berbeda-beda. dan kekunoan filosofi sekaligus berarti keusangannya. yang dapat dilihat dan dimengerti hanya kehidupan sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Plato. karena menggambarkan mengapa manusia "berhenti" menjadi makhluk berfilosofi: 1. Kita seringkali tidak menyadari bahwa filosofi adalah prestasi yang sangat khas sekaligus bemilai tinggi. Filsafat pendidikan dinilai sebagai sudah kuno dan sudah tidak berguna. manusia agaknya dapat disimpulkan sebagai makhluk berfilosofi. Di lembaga itu. Mereka. Filosofi menjadi sebuah pengetahuan yang mungkin masih menarik untuk diketahui. menjadi lembaga pendidikan tanpa filosofi. yang mereka lihat pada hakikatnya adalah kehidupan yang dilihat oleh Plato. Waktu sepanjang itu kemudian melahirkan rasa kekunoan. Filosofi lahir terlalu awal Dari kaca mata manusia kontemporer—termasuk kita sekarang—tidak mustahil jarak waktu yang berbilang abad sejak terekamnya buah pikiran filosofi sekitar 2. belum berarti dia berfilosofi.500 tahun yang lalu. dirasakan sebagai waktu yang terlalu panjang. atau Soren Kierkegaard. termasuk kekunoan filosofi. tidak mengherankan. Begitulah posisi filosofi pendidikan hari ini. . bukan hanya sebagai makhluk berpikir. Proses itu juga yang terjadi ketika calon guru memelajari filosofi Immanuel Kant. Hegel. yang sebelum menjadi guru harus dipersiapkan melalui lembaga pendidikan guru.

filosofi pendidikan berbicara mengenai nilai yang baik dan buruk. Namun. semua untuk memastikan bahwa yang bemilai hanyalah yang berguna secara pragmatis. bukan pada hal-hal yang teknis dan insidentil. dan untuk mencari tumpuan yang universal mengenai nilai dan tujuan pendidikan. Padahal. Perubahan semakin terakselerasi: Mungkin juga dunia kontemporer yang semakin berwajah serba berubah. Filosofi pendidikan lahir sebagai bentuk kemampuan manusia untuk memahami tujuan hidup. usia yang tua. berpikir dan berbicara dalam rujukan yang serba konkret. Jadi setiap orang yang memajukan pertanyaan "masih relevankah kita berfilosofi dalam atau untuk pendidikan.— tanpa sadar sebenamya telah mulai berfilosofi. Karena itu. ada juga kemungkinan bahwa karena manusia masa kini telah dimanjakan oleh lingkungan kehidupan serba jadi. bahkan menolak filosofi? Mungkin karena para pemikir atau filosof sendiri tidak mampu menjelaskan posisi pemikiran mereka dalam . di mana satu-satunya yang tetap adalah perubahan. Jadi mengapa kita menolak kehadirannya? Mengapa kita mengingkari kegunaannya? Mengapa kita alergi berfilosofi? Mengapa begitu banyak orang meninggalkan. tidak menjadikan filosofi itu usang. Bukan oleh karena aspek teknis tidak penting. Karena itu manusia bisa menjadi gamang dan enggan untuk kembali diajak berbicara mengenai hal-hal yang dinilai sangat spekulatif. 2. Memang filosofi. terutama lagi yang benar dan salah. bergerak dalam pola-pola kehidupan serba Baku. pertanyaan itu berimplikasi bahwa nilai benar dan salah tidak ada. Dunia semakin pragmatis Di samping kesan kekunoannya. hakikat manusia.Lalu. tentang nilai yang lebih universal. menerima pentingnya moralitas tetapi menolak berfilosofi ten-tang hal tersebut. doktrin. mereka enggan belajar filosofi. atau di mana perubahan itu sendiri pun senantiasa berubah! Di tengah kehidupan yang serba beubah dan mengalir ("panta rei") dipertanyakan apakah masih berguna manusia berbicara mengenai sejumlah 'haltermasuk pendidikan—secara normatif? Di dalam filosofi. adalah berpikir dalam kontradiksi. dan tidak perlu dipermasalahkan. Dalam arti itu jugalah. menurut hakikatnya. untuk dipertimbangkan di dalam kehidupan.pertanyaan yang tumbuh baik karena rasa bimbang mengenai masih berguna tidaknya kita berfilosofi. menyebabkan manusia sulit memelajari sesuatu—dasar atau prinsip—yang lebih permanen. karena itu. di situ tersembul persoalan. tidak (dilahirkan sekadar untuk memuaskan manusia memenuhi kebutuhan sesaat. tanpa kegunaan yang nyata. Ini adalah prinsip mendahulukan yang patut didahulukan. atau bahkan tentang kebenaran yang absolut. aspek kehidupan yang dipertanyakan lebih terpusat pada hal-hal yang normatif. Bukankah dunia kita sekarang ini telah terjerat di dalam perubahan. tanpa standar yang permanen. seperti a-moralnya sebatang pohon atau sebuah batu? Realitas berkata: Tidak. Kalau pertanyaan itu berarti pemyataan bahwa filosofi pendidikan memang tidak perlu. Apakah betul masalah benar-salah dan baik-buruk tidak ada dan karena itu tidak perlu dipersoalkan? Dapatkah manusia hidup tanpa moral. atau karena rasa yakin bahwa filosofi sama sekali sudah tidak berguna. tentang dogma. tetapi untuk membijaksanakan atau mengarifkannya.

Setiap manusia dapat berpikir dan berbicara tentang cinta. Apakah penegasan Socrates masih bisa dierima oleh manusia modem. cinta tanah air. Dan segi hakikat manusia. Sebaliknya. 2000 tahun kemudian? Ucapan Socrates temyata tidak termakan waktu. Ketika kita menyadari bahwa karunia kemampuan berfilosofi hanya diberikan kepada manusia oleh Maha Pencipta. mengenai norma dari segala norma. inti dari segala inti. Mungkin karena sekarang masyarakat sudah semakin gemar berplkir pragmatis. Lagi pula. atau Aristoteles. dan ditakdirkan mati usang. Tentang pemerintahan. Socrates yang hidup di zaman kuno. Ten-tang politik. berfilosofi atau tidak. antara cinta pada Tuhan. Ketika manusia berbicara tentang cinta. tetapi sekaligu menjadi sesuatu yang Illahi. Kita dapat mengatakan. yang—dalam bahasa agama— merupakan karunia kepada umat manusia. bahkan lebih lama dari perhitungan Maschi? Bukankah juga karena tidak ada seorang pun di antara filosof besar pada zaman itu yang pemah berkunjung dan hidup di masa depan yang semakin menjadi serba pragmat is? Kira-kira. Dengan anugerah itu. dia tidak saja berkewajiban secara moral. bagaimana filosof Socrates. karena berfilosofi adalah tingkah laku yang sangat manusiawi. kalau mereka hart ini dapat berkunjung ke Indonesia dan melihat pengelolaan pendidikan nasional? Konfusius atau Lao Tze akan berkata apa tentang kewajiban belajar? Pada prinsipnya setiap orang berpeluang merumuskan apa yang telah dirumuskan Socrates. manusia telah berfilosofi . Plato. Hanya saja. alangkah tragisnya apabila manusia menolak berfilosofi. hakikat apa yang membedakan cinta dari nafsu. masih banyak manusia yang seakanakan harus lahir usang. tetapi tidak harus berarti usang dalam referennya. menerapkan. Dalam berpikir. tetapi juga berhak secara eksistensial untuk berfilosofi. bemilaikah cinta itu. berdasarkan penalaran yang sehat dan bertahan sepanjang peradaban manusia. Maka dengan mulai mempertanyakan hal-hal seperti itu saja. kebenaran dari segala kebenaran. Ada beberapa kemungkinan yang dapat diduga. sejak 2000 tahun lalu. manusia tidak dapat diwajibkan oleh undangundang. penegasan Socrates itu memang kung dalam dimensi waktu. Tentang penindasan. berfilosofi bukan saja menjadi sesuatu yang manusiawi. pada suatu ketika dia pasti dihadapkan pada pertanyaan apakah cinta itu. atau mengonversi buah pikiran ke dalam situasi kehidupan yang nyata. Mungkin karena mereka tidak mampu meneruskan. bahkan jauh sebelum itu. Tentang kematian. Tentang pendidikan. Tentang filosofi. bukan urusan undang-undang. Berfilosofi berarti berpikir mengenai dasar dari segala dasar. membuktikan. dengan cinta pada kekasih.kaitannya dengan kebenaran yang menjadi fokus perhatian orang lain. Kesimpulannya temyata logis. kegemaran itu diposisikan sebagai bertentangan dengan berfilosofi. agaknya lebih penting untuk menyadari bahwa di dalam masyarakat kontemporer. Tidak ada hukuman formal bagi mereka yang malas atau enggan berfilosofi. para pemikir besar sepanjang sejarah tentang dunia hurl ini? Kira-kira bagaimana reaksi sejumlah filosof Yunani Kuno lainnya yang dikenal sebagai epikurian. Socrates telah membuktikan bahwa manusia. Dan yang lebih penting. bukan Socrates yang usang. sudah berfilosofi. Bukankah 'zaman keemasan' filosofi telah lama terlalu. Socrates yang kuno itu. tetapi masalah hakikat kehadiran manusia di muka Bumi. lebih tepat dalam berfilosofi. telah lebih dahulu merumuskan.

Seorang pemikir dalam kategori ini selalu berusaha memahami kehidupan. Dan seribu satu lagi. Filosof atau pemikir pendidikan akan mempertanyakan mengapa lebih baik bila berpendidikan daripada bila tidak. Berfilosofi tidak berarti harus mengecam kehidupan. atau lebih tepat: layak dijadikan pengantar pendidikan manusia untuk memasuki kehidupan. dan yang telah memberikan hilllibangan yang sangat besar dalam usaha mengukur tingkat kedalaman dan kompleksitas hidup ini. Menempatkan Filosofi pada Posisi dan Perannya Untuk mendapatkan gambaran dan makna filosofi yang kontekstual. melanjutkan berfilosofi sebagai usaha untuk mempertajam pemahaman. apa yang patut diketahui. dan bagaimana kemampuan manusia dalam belajar. apa yang mampu dipelajari. Determinasi seorang pemikir pendidikan untuk sejauh mungkin dan sedalam mungkin memahami dunia dan kehidupan di dalamnya. dan apa makna kehidupan dan dunia ini bagi umat manusia. Secara ringkas. dan berguna bagi kehidupan manusia. tetapi senantiasa mempertanyakan sejumIuh prinsip dan konsistensi dari sebanyak mungkin fenomena kehidupan yang dapat diamati. paling layak dan paling bermoral untuk dipertanggungjawabkan. mereka mencarinya dengann tujuaan menemukan sesuatu yang paling benar untuk dikerdpkan di dalam praktik pendidikan. apa makna pengetahuan bagi manusia. Di dalam dunia pendidikan. Siapa di antara kita yang tidak tergerak jiwanya untuk memahami kehidupan? Manusia yang mulai memahami. Berfilosofi tidak densan tujuan menyeragamkan pendapat. kita dapat melihat kehidupan para filosof besar yang intmah dilahirkan di dunia. terlalu besar. tidak akan membiarkan dirinya hidup dan tertelan di dalam kehidupan yang tidak dipahaminya.tentang cinta. menyebabkan daya jangkau filosofinya merambah kehidupan yang semakin luas. Dia tidak menerima begitu saja fenomena kehidupan yang kasat mata. Di dalam filosofi pendidikan. Begitu juga di dalam filosofi pendidikan. juga demikian. Siapakah manusia itu. sangat mungkin sedalam Socrates. jelas dan sederhana. Seorang pemikir yang serius. tetapi untuk metiOniukan landasan normatif yang paling manusiawi. dengan jalan mendalami perspektif kehidupan yang tertIttlam. untuk mencari dasar yang paling dasar. berfilosofi hanya berarti benisaha memahami kehidupan. tetapi itu bukan masalah utama. Tidak mustahil ketidaktahuan manusia tentang dunianya harus dibayar dengan mahal. dan untuk memahami referensi istilah itu lebih tiolitm. para pemikir berbicara mengenai dasar dari segala dasar pendidikan. Kita tidak berfilosofi untuk kepentingan Socrates. E. Filosofi pendidikan. filosofi yang dikembangkan dalam kaitan kehidupan dengan pendidikan. Mengapa? Karena risiko yang harus dihadapi setiap manusia yang membiarkan dirinya hanyut dalam kehidupan yang sama sekali tidak dipahaminya. Ketika mereka berfilosofi untuk mencari kebenaran nisbi yang paling benar. Memang. Ia tidak harus berontak terhadap kehidupan. Yang penting ialah ia berfilosofi. . seberapa jauh kita memahami hakikat manusia dan hakikat kehidupan adalah modal dasar pemahaman untuk memungkinkan kita dengan yakin menyimpulkan bahwa kehidupan itu memang layak diarungi.

kearifan menjadi langgeng. kalau patut diajarkan. dari yang sangat umum sampai kepada yang sangat khas.  Perhatikan misalnya. Apa bedanya dengan filosofi dalam arti umum? Tidak banyak filosofi pendidikan adalah juga filosofi. atau dari titik tolak bahwa Tuhan memang ada. Pemikir pendidikan harus menilai dan memilih mana yang benar antara pendidikan yang bertitik tolak bahwa Tuhan tidak ada dan keberadaannya masih perlu dibuktikan (atas nama pendekatan penemuan). dari yang sangat sederhana sampai pada yang sangat kompleks. Misalnya. musim tertentu. siapa— manusia yang bagaimanayang berhak mengajarkannya. kekuatan analisis merupakan dorongan alami manusia ketika menghadapi situasi. apa alasannya. untuk terus-menerus memahami hidup yang sedang dilalui. Dalam ukuran duniawi. dan diperkuat menjadi pandangan hidup bangsa. diperhalus. kebebasan dan keterikatan kehidupan sesudah kematian. Ia menilai dan memutuskan implikasi yang serasi dengan kesimpulan. estetika. Lebih jauh dari pendidikan moral. Analisis saja belum berarti filosofi. kita menghadapi pendidikan agama. Ia harus mampu menilai setiap situasi. bagaimana kita memahami konsep peningkatan . Tidak Ininyak di dunia ini yang bersifat abadi karena Tuhan telah memberikan siklus perkembangan.Berdasarkan visi tentang manusia dan kehidupan itu.  Hampir secara alami (tanpa pembelajaran khusus) manusia mampu menganalisis berbagai fenomena yang dihadapi. dan wisa hidup yang terbatas kepada hampir semua hal. ini dapat ditingkatkan. apa yang akan terjadi di dalam proses berpikir apabila kita dihadapkan pada persoalan filosofis ini: Apakah moralitas patut diajarkan ataukah tidak. dan kalau tidak. Kalau patut diajarkan. Dengan berfilosofi manusia menjadi mampu merumuskan sikap yang menggambarkan pemahaman seseorang mengenai baik dan buruk atau benar dan salah terhadap hasil pencariannya. bahkan membela kebenaran yang diperoleh dari usaha berfilosofi. mengapa. bahkan eksistensi Tuhan. baru dipermasalahkan implikasi praktisnya dalam pendidikan. yang benar dan yang salah. Melalui proses yang panjang dan kompleks. Dalam pertumbuhan peradaban sebuah bangsa.D sekitar soal-soal praktis tersebut. perbedaan hanya menunjukkan bahwa fokus filosofi dileMir loin pada problematik pendidikan Sebutlah filosofi pendidikan sebagai 'filosofi terapan' Hidupnya komitmen pada kearifan mudah melahirkan untuk mengemukakan. terjadi proses berpikir atau berfilosofi kolektif. yang baik dan yang buruk. menerapkan. Begitulah juga filosofi pendidikan yang memerlukan kesepakatan kolektif. dan kesimpulan dogmatis ini menjadi titik awal serta titik akhir semua kegiatan kependidikan. Di dalam diri manusia akan semakin berkembang sekurang-kurangnya dua keterampilan dasar untuk memantapkan proses berfilosofi: kemampuan menganalisis dan kemampuan mengevaluasi. Dalam kehidupan manusia dituntut selalu memberikan penilaian. Tetapi tidak begitu dengan kearifan: kearifan tidak mengenal musim. Dalam peradaban manusia. pendidikan akan etika.

Dengan penggunaan nalar yang teratur. kita memiliki materi untuk disusun dalam format penalaran. (berarti apakah semua unsumya konsisten dan bersenyawa secara logis). 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. tetapi karena guru-guru sebagian besar tidak mempunyai kualifikasi kegiatan praktik yang mencukupi. Banyak alasan atau justifikasi yang dikemukakan oleh mereka yang menganggap bahwa filosofi pendidikan sudah tidak diperlukan. Kita siap menjelaskan pemahaman kita yang berkembang sejauh itu. serta yang tertuang dalam berbagai peraturan pemerintah. Walaupun demikian. filosofi pendidikan tidak perlu dijadikan masalah. mulai dari apa yang implisit dan eksplisit tertera di dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dengan kemampuan menganalisis dan menilai (berdasar koherensi. mereka yang memiliki: 1. berada di dalam kategori pendidik yang terbenam di dalam arus pendidikan 'kontemporer-praktis: Misalnya. tetapi telah beralih dan kini terletak dalam aspek teknis. negara ini sudah mempunyai landasan filosofi yang kuat. . yang sekarang perlu dikomunikasikan ke dunia luar. atau sekurang-kurangnya menganggap sudah tidak perlu dipersoalkan lagi. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Pandangan ini berkata. bukan karena kita tidak mempunyai filosofi dan aspirasi pendidikan. Dengan keterampilan itu. dan dari sudut prinsip yang sama). Itulah kegunaan meningkatkan dan menyempumakan pemahaman setiap orang mengenai manusia dan kehidupannya di dunia. dan bahwa setiap pilihan adalah altematif yang berdasarkan pandangan filosofis: pandangan filosofi pendidikan. lengkap (berarti mampu menyentuh semua persoalan yang terkait tanpa meninggalkan wilayahwilayah yang kosong). Pengamatan ini terutama terfokus pada apa yang terjadi di Indonesia selama 30 tahun terakhir. dan sekarang dengan filosofi pendidikan yang menjiwai Undang-Undang No. Keterbelakangan pendidlkin disebabkan bukan karena filosofi pendidikan kita sudoh usang. tetap masih tersingkirkan di dalam persepsi banyak pendidik dewasa ini. kita menata hasil pikiran kita menjadi hasil yang siap ditawarkan. Mereka. Bahwa pendidikan nasional belum mencapai mutu yang diharapkan. pada umumnya. dan benar (berarti selalu dapat diterima sebagai benar dalam semua situasi. Diperkatakan pun jarang. tidak ada di antara alasan yang banyak itu yang dapat mengingkari realitas bahwa setiap tingkah laku kependidikan adalah tingkah laku yang bertujuan.kualitas pendidikan? Bagaimana kita menetapkan kualitas? Penilaian hams melalui proses kolektif dan pertimbangan yang ketat. Pandangan bahwa problematik pendidikan tidak lagi terletak dalam aspek normatif. terdisiplin. Ketelanjuran yang Menimbulkan Inersia Di manakah sekarang kita dapat menemukan filosofi pendidikan? Sukar! Filosofi pendidikan sudah semakin se-ring dilupakan. Alasannya. apakah pendidikan yang dihadapi adalah koheren. kelengkapan. kita menjadi Iebih dipersenjatai dengan pemahaman. jelas dan terfokus. Kita pun siap mempertahankannya. diperkaya dengan Undang-Undang No. F. karena kurang dipahami. dan bahwa setiap tujuan bersumber dari pilihan. landasan filosofis yang selalu mendasari setiap tindakan kependidikan. Walaupun demikian. serta kebenaran) hasil yang dicapai.

Thnpa pengelolaan yang baik. yakni tugas mengajarkan baca tulis sampai kepada ilmu pengetahuan dasar dan keterampilan yang berguna untuk kemandirian. Pandangan ini berkata bahwa pendidikan tidak dapat lagi dikelola sebagai lembaga kemanusiaan seperti pada masa yang lampau. reformasi pendidikan pada waktu ini hams menekankan pada perubahan strategi operasionalisasi pendidikan yang bersifat praktis. Di sini. dan tanpa guru yang bermutu. menurut pandangan ini. Jadi yang guru hams kuasai adalah ilmu-ilmu modem yang diperlukan untuk menjadikan bangsa ini tangguh bersaing di dalam percaturan hidup sejagat. Persoalan pendidikan bukan terletak di dalam filosofinya. penyempumaan. maka aspek tersebut adalah kurikulum. betapapun Diperlukan. Sekarang. pendidikan diperlakukan sebagai lembaga produksi tenaga manusia yang berguna secara praktis dan pragmatis. lembaga pendidikan pada hakikatnya sejenis alat dari kepentingan lain. metodologi. kalau ada aspek kependidikan yang pada masa ini perlu peningkatan. bukan filosofi. yakni sebagai manusia pembangunan. Oleh karena itu. Tantangan masa depan terlalu banyak dan terlalu berat untuk masih terus dihadapi dengan pendidikan masa lalu. pendidikan adalah serious business. Sebaliknya. tujuan pendidikan menjadi lebih spesifik menekankan nilai manusia terdidik sebagai homo economicus. atau pada umumnya. dan pembiayaan yang sesuai. 3. misalnya—tidak diajarkan dengan baik dan tidak dalam jumlah yang cukup. Apa yang diperlukan oleh para guru di lapangan adalah pengetahuan inti yang segera dapat diwariskan ke dan dimanfaatkan oleh murid-murid mereka. .tetapi karena pendidikan tidak didukung oleh sarana yang diperlukan. itulah yang menyebabkan bangsa ini tetap terbelakang. tidak akan pemah dapat langsung memengaruhi perkembangan pendidikan sebagai yang dapat dihasilkan oleh sarana. Penganut pandangan ini sekaligus hendak berkata bahwa filosofi sudah tidak dapat digunakan sebagai penopang pengembangan sektor pendidikan yang sekarang menghadapi persoalan penurunan kualitas yang serius. pengelolaan. Karena tujuannya telah ditentukan oleh tujuan pembangunan. Harga menusia ditentukan oleh potensi dan kontribusinya untuk mendukung sistem produksi. filosofi pendidikan. mati atau hidupnya sebuah bangsa. Pandangan bahwa pendidikan terutama bertujuan menyiapkan sumber tenaga manusia memasuki dunia kerja. sebagai homo Faber (manusia pekerja). bukan spekulatif filosofis. tanpa metodologi yang baik. Dalam konteks Indonesia. Karena itu. berupa pembiayaan yang mencukupi. tetapi di dalam kenyataan bahwa ilmu-ilmu dasar yang sangat dibutuhkan oleh bangsa ini— matematika dan ilmu alam. misalnya kegiatan manfaatan ekonomis dan politis. 2. Karena itu. yang tidak lagi butuh filosofi. kita tidak dapat mengharapkan perbaikan di bidang pendidikan. Pandangan bahwa pendidikan harus kembali ke tugas utama. pendidikan menjadi sebuah faktor penentu mengenai jatuh atau bangunnya. atau perubahan. Dengan rumusan tujuan seperti itu. tetapi kemanfaatan tertentu.

tidak mendapat tempat di dalam sistem tersebut. Dengan menarik garis hubungan sekuensial antara unsur-unsur sistem pendidikan seperti itu. Pandangan bahwa pendidikan harus dikembangkan dan dikelola secara modem sebagai industri. yang . tidak lagi mempunyai tempat. mungkin berguna untuk melahirkan teori pendidikan yang menarik. Dalam pandangan seperti itu. 4. konkret. Tujuan harus jelas dan terukur. guru memperoleh pegangan bagaimana mengarahkan pendidikan agar senantiasa bergerak dalam peraturan formal. sebagai landasan atau unsur masukan.l. pendidikan kontemporer. guru perlu menyadari jenis pertanyaan yang penting di dalam pendidikan. Karena itulah filosofi pendidikan. Pandangan ini a. Penanganan harus dilakukan oleh mereka yang secara profesional memiliki segala kompetensi dan syarat yang kemudian melahirkan pendidikan berbasis kompetensi. yang tidak dapat dijawab oleh psikologi atau undang-undang saja. semua unsur pendidikan harus diidentifikasi dengan jelas. Dengan landasan psikologi. terutama untuk mempertebal keyakinan mengenai peran filosofi sebagai landasan yang berguna. Filosofi tidak dapat membantu dalam perhitungan efisiensi dan penentuan keuntungan" pendidikan. Bagaimana dengan landasan filosofi? Guru mungkin menjadi tidak seyakin ketika memberikan jawaban terdahulu. dia mungkin cukup yakin menjawab bahwa pendidikan yang kuat memerlukan sekurang-kurangnya landasan psikologi dan landasan hukum. dia masih akan menemukan kesulitan memberikan pembenaran mengapa atau dalam hal bagaimana filosofi dapat berperan. menjadi alasan mengapa filosofi pendidikan. Kalaupun guru mengakui perlunya pendidikan dibangun di atas landasan filosofi. Metafisika Menjadi Fondasi Pendidikan Kalau seorang guru ditanyai landasan apakah yang diperlukan untuk memperkuat praktik pendidikan. Filosofi pendidikan. Penganut pandangan ini tidak dapat menerima kehadiran filosofi sebagai dasar untuk mengadalcan perhitungan yang teliti. G. ruang gerak pendidikan (serta batasnya) sudah jelas: pendidikan tidak lain dari sebuah proses teknis yang mengolah masukan menjadi hasil. dan ilmiah. Bentuk yang ekstrem dalam sejarah pendidikan di Indonesia adalah Ebtanas dan UAN. Pandangan bahwa pendidikan harus dikelola secara ilmiah dan realistik sebagai industri yang teliti mengolah dan menghasilkan produk yang terukur. tetap tidak mempunyai nilai praktis untuk pendidikan yang memerlukan pengelolaan yang praktis. Pertanyaan itu pertanyaan filosofis. dapat dimengerti mengapa filosofi pendidikan tidak lagi mempunyai tempat di lembaga. Pendidikan dilihat sebagai sistem yang produktif. melihat. guru memperoleh berbagai petunjuk bagaimana mengarahkan kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien. Untuk menghilangkan kebimbangan guru.ukuran keberhasilan bergeser pada mampu tidaknya usaha pendidikan memberikan nilai tambah dalam pertumbuhan pembangunan umumnya. Dengan landasan hukum. yang dianggap sangat spekulatif.

dikelompokkan sebagai pertanyaan metafisik. dapatkah kita tetapkan implikasinya dalam pendidikan. Kesimpulan mereka bahwa pendidikan selama ini tidak dapat berkembang sebagai praktik yang ilmiah disebabkan terlalu banyak dipengaruhi oleh filosofi. Masih banyak pendidik yang terjebak mempertentangkan hal-hal yang pada dasamya tidak harus dipertentangkan. epislrInologis. dan apakah ini membenarkan perlunya pendidikan?  Mengapa manusia berada di dunia ini: dari mana dan mau ke mana? Apa tujuannya. dan apa makna semua ini di dalam keberadaban manusia? Kalau ada yang harus dilakukan. dengan alasan apa kita dapat membenarkan pilihan kita bertindak sebagai pendidik? Kalau kita mengetahui. sedikitnya dikotomi antara filosofi dengan praktik pendidikan tidak lagi dibesar-besarkan. ataukah hidup ini hanya lorong panjang tanpa nilai apa pun. mengapa harus ada pendidikan? Kalau ada makna. siapa yang berhak melakukan. adalah konsekuensi kesalahan pemahaman tersebut. masalah teknis. adalah kesimpulan yang salah. filosofi adalah pandangan yang melandasi semua perilaku profesional normatif setiap guru. dan apa fungsi manusia selagi mereka masih di dunia? Kalau kita tidak tahu.— walaupun jawabannya tidak dapat segera diketemukan—. pertanyaan dan jawaban yang terkait dengan pertanyaan serupa itu tidak relevan dan tidak diperlukan dijadikan pertimbangan dalam pendidikan? Mudah-mudahan guru dapat mengakui bahwa jenis pertanyaan filosofis serupa itu. kalau filosofi dilihat sebagai teori. atau masalah hukum?  Dari jawaban terhadap rangkaian pertanyaan filosofis itu. yakni menjadikan pertimbangan filosofis itu sebagai dasar praktik pendidikan? Masih dapatkah kita berkata. apakah makna itu. di mana keduanya—karena perbedaan tersebut—tidak perlu atau tidak dapat bertemu. yang harus dilalui tanpa makna? Kalau tidak ada makna yang patut diperjuangkan. maka filosofi adalah teori yang paling praktis. dan dengan dasar apa?  Apakah ada sesuatu yang berharga di dalam hidup ini untuk disampaikan kepada sesama. merupakan pertanyaan yang bukan saja wajar. apakah itu membenarkan adanya pendidikan? Apakah pendidikan pada dasamya masalah moral. dan aksiologis. Dalam pendidikan. Pertanyaan yang bersifat filosofis. tetapi seharusnya dikemukakan. dan apa guna kehidupan duniawi ini bagi umat manusia? Apakah memang ada sesuatu yang mutlak perlu dilakukan selagi manusia masih di dunia. Yang benar. Mempertentangkan filosofi sebagai "teori" belaka (= tanpa nilai praktik) dan pendidikan sebagai praktik (= tanpa teori). dan yang relevan sebab landasan bagi pengembangan pendidikan. di antaranya adalah:  Mengapa ada kehidupan di dunia ini. Mereka telah salah memahami filosofi sebagai tidak lebih dari sebuah "teori" yang tidak mempunyai nilai empiris (istilah teori pun disalahaitikan). Dengan kesadaran yang cukup mengenai pentingnya pendidik mempertanyakan (memahami) segi-segi kehidupan yang perlu dijadikan sebagai dasar bertindak. pendidikan menjadi pegangan gersang justru karena mereka memahami filosofi secara salah! . karena itu.

atau apa pun namanya. dan tidak lebih dari itu. sekurang-kurangnya halhal mendasar seperti:  Apakah yang dimaksud dengan kenyataan atau realitas. atau di dalam pikiran anak didik?  Kalau kita menghadapi anak didik dalam permasalahan dengan mayapada yang luas ini: sebenamya apakah ada tujuan dari segala tujuan mengapa dunia ini diciptakan. yang dibutuhkan adalah pelaksanaan yang baik. . pertanyaan yang berkaitan dengan dan sifat realitas. telah mulai mempermasalahkan hal-hal yang sangat mendasar.-terlebih dahulu. Ini sebuah contradictio in terminis. Para pendidik harus mencari jawabannya secara fundamental di dalam filosofi. Dan di sinilah kaidah filosofis memberikan pegangan kepada pendidik. tidak ada pendidikan yang berdasar. Aktivitas pendidik yang tidak berdasar. di mana letak kenyataan itu?: di luar sana. tetapi tidak dapat diterapkan. ataukah semua ini hanya bunga rampai kebetulan yang tidakberarti apa-apa? Bagaimana kurikulum dapat menjawab pertanyaan ini secara ilmiah? Tidak dapat. bukan teori yang muluk-muluk. sebagai manusia: siapakah mereka. Bukan! filosofi pendidikan menjadi baik hanya apabila dapat menjadi dasar bagi pendidik di dalam praktik! Tidak sepatutnya kita menyingkirkan filosofi pendidikan karena kesalahan memahami filosofi sebagai "tidak lebih dari teori belaka". sebelum seorang pendidik beraksi—. Pandangan ini salah karena pengertian mereka mengenai hakikat dan peran filosofi pendidikan sangat terbatas. Apalagi bila pendidik sekarang menghadapi anak didik mereka sebagai insan. Pertanyaan itu bersifat metafisik. terlepas dari tingkat kesadarannya mengenai filosofi. tanpa fondasi itu. hanyalah pikiran muluk-muluk. kalau kepada anak didik kita akan 'didikkan berbagai kenyataan hidup. ataukah sekadar makhluk yang pada tempat dan waktu tertentu kebetulan muncul dan hilang.Karena pemahaman yang salah itu. padahal dalam pendidikan. hubungan sebab-akibat adalah sebuah kenyataan? Bagaimana kita mengajarkan sebab-akibat tersebut kepada anak didik? Kalau hubungan sebab-akibat benar sebuah kenyataan. sebagai pendidikan semu: pendidikan yang bukan-bukan! Filosofi pendidikan menjadi fondasi praktik pendidikan karena filosofi tersebut. misalnya lagi. Filosofi pendidikan adalah fondasi untuk melahirkan praktik. manusia itu? Apakah mereka pada hakikatnya adalah makhluk spiritual. yang tidak bertujuan. Apakah. Filosofi pendidikan mempertanyakan. filosofi pendidikan dinilai baik bukan hanya karena filosofi tersebut terdengar muluk-muluk. Bagaimanakah memulai memecahkan masalah itu? Tidak ada kaidah ilmiah yang dapat mencapai tingkat permasalahan tersebut. Terlepas dari baik buruknya filosofi yang dipahami seorang pendidik. yang tidak disertai keyakinan mengenai kebaikan dan kebenaran aktivitas itu. mereka pun mengembangkan pandangan yang salah bahwa filosofi pendidikan. misalnya. atau berada di antara dua kontinum? Kita tidak dapat mencari jawaban terhadap pertanyaan itu melalui kajian ilmiah dalam arti yang konvensional. bukanlah aktivitas pendidikan sesungguhnya! Paling banyak. pertanyaan yang mungkin dirasakan oleh banyak pendidik sebagai pertanyaan yang terlalu jauh kaitannya dengan pelaksanaan pendidikan. Mereka tidak mampu melihat. tidak ada seorang pendidik yang dapat melepaskan diri dari padanya.

dengan moral apakah is dapat mendidikkannya kepada orang lain? Asumsi yang dilakukan oleh seorang guru. tetapi seorang pendidik. dengan masalah yang perlu dipahami melalui filosofi. Akan lain apabila topik itu tidak menjadi fokus kurikulum! Di dalam ketidaktahuan. Dalam kebimbangan.Guru di lapangan akan menilainya sebagai terlalu abstark dan karena itu menganggapnya tidak berguna karena mereka dihadapkan pada beban yang berat untuk menyelesaikan program kurikuler yang telah dirancang. guru akan terutama menanamkan dan mengembangkan. Mengapa pengetahuan tertentu dikemukakan di dalam kurikulum. apa yang da pat dilakukannya sekarang? . mencari prinsip-prinsip yang kekal. guru harus mempunyai landasan berpijak yang lebih sehat. ataukah masalah filosofis? Tanpa kemampuan berfilosofi. Landasan Epistemologi dan Aksiologi Pendidikan Kecuali landasan yang bersifat metafisik. Tindakan seorang guru mengajarkan makna kebahagiaan yang abadi. misalnya. guru memerlukan keyakinan hidup. mereka mencari pegangan-pegangan yang pasti. bertumpu pada epistemologi. berbeda dari tindakan guru hedonistik yang menganggap kebahagiaan merupakan serangkaian kenikmatan sejenak. pendekatan filosofis yang lebih lanjut memusatkan diri mempertanyakan hakikat. dan mengapa yang lain tidak? Keputusan dan tindakan yang praktis. Tetapi justru sikap seperti itulah yang harus diperbaiki. pendidik juga akan berhadapan dengan masalah-masalah yang bersifat epistemologis. serta mendampingi memantapkan pengetahuan anak didiknya. Setiap guru harus selalu dapat mempertanggungjawabkan tindakannya di dalam memilih mengajarkan pengetahuan tertentu serta di dalam memilih tidak mengajarkan pengetahuan yang lain. salah satunya landasan metafisik itu! Agar tidak terombang-ambing. Tetapi hasil tradisi sering merupakan pegangan yang sekarang menjadi insersia atau daya haling kemajuan. Apakah semua ini hanya masalah metodologis. guru tidak akan pemah tahu. Kalau guru tidak mempunyai pemahaman yang jelas mengenai dasar tindakannya mengajarkan hak asasi. tidak selalu terjamin sebagai benar. dan faedah pengetahuan. tanpa latar belakang filosofi pendidikan ketika guru menyiapkan diri memasuki profesi keguruan. Karena itu dia paling sedikit harus bertanya apakah yang dimaksud dengan pengetahuan. Tetapi. dengan maksud menghindar dari berbagai masalah metafisik. Apa pun namanya. Guru harus mengambil keputusan kependidikan yang tidak selalu mudah karena-berkaitan dengan masalah-masalah yang begitu fundamental. makna. dengan asumsi yang masih agak goyah itu saja pun. yang sebagian besar tugasnya berkaitan dengan pengembangan pengetahuan. H. Sebabnya karena di dalam praktik pendidikan. sekarang menjadi lebih mampu membedakan antara masalah yang patut diuji melalui pembuktian empiris. Pertanyaan itu adalah juga pertanyaan yang hams dikaji oleh guru. Karena itu ia perlu lebih dari sekadar tradisi. karena guru itu berpendapat bahwa kebahagiaan adalah salah satu tujuan yang akan dicapai melalui pendidikan. Begitu juga di dalam kurikulum. guru sering harus berpegang pada berbagai hasil tradisi.

Matematika dan fisika.Epistemologi juga mempertanyakan cara manusia memperoleh pengetahuan. yang tidak kurang penting. Karena sistem persekolahan menghendaki demikian. dengan kriteria tersebut. Dari segi epistemologi. tetapi secara praktis manusia direndahkan martabatnya. banyak guru di lapangan cenderung menekankan hanya pada pengetahuan yang dinilai obyektif. Secara konstitusional manusia dididik seutuhnya dalam rangka pencerdasan kehidupan bangsa. dari intuisi. Landasan aksiologi—landasan yang memusatkan perhatian pada hakikat. humaniora. dan mengapa guru yang lain mengharuskan muridnya memelajari hanya pengetahuan tertentu yang datang dari guru seperti yang diinstruksikan di dalam buku petunjuk. Inilah yang menempatkan sebuah lagi landasan filosofis pada kedudukan yang penting untuk pendidikan: landasan aksiologi. dinilai jauh lebih penting dari pengetahuan sastra dan pengetahuan budaya. atau bereksperimen dan mengembangkan pengetahuan yang diperlukan. karena pendidikan pada masa lalu cenderung mengorbankan nilainilai kehidupan yang manusiawi. yang jelas-jelas kuantitatif. mengujicobakan. misalnya. dan hanya pengetahuan serupa itulah yang harus menjadi inti program pendidikan. Kalau ilham dan wahyu adalah sumber kebenaran pengetahuan yang bertingkat tinggi. dari eksperimen. atau bahkan yang lebih penting untuk meningkatkan keterdidikan manusia dibandingkan dengan apa yang telah digariskan oleh sistem yang berlaku. banyak guru berkesimpulan bahwa hanya pengetahuan yang dengan obyektif. berarti bahwa sumber-sumber tersebut merupakan sumber kebenaran yang berbeda tingkatannya. adalah dua bentuk praktik yang berbeda karena berdiri di atas landasan filosofis yang berbeda. yang benar-benar dapat diterima sebagai pengetahuan. dari penginderaan. mengeksplorasi. Juga akan menyadari bahwa tidak semua pengetahuan mempunyai kedudukan yang sama. yakni sejauh mana pengetahuan dapat d 1peroleh manusia secara terpercaya. penilaian menjadi lain. Pendidikan masa lalu tidak cukup—kalau ada—memberikan perhatian pada usaha memanusiakan manusia. Mengapa seorang guru memberikan peluang kepada murid-muridnya mencari. yang mudah dipelajari dan diukur. makna dan peran nilai dalam kehidupan—menjadi penting. pendidikan. yang diperoleh melalui pendekatan mekanistik. Karena ketumpulan epistemologis. agama. Walaupun sangat mungkin guru menyadari bahwa masih banyak jenis pengetahuan lain yang dapat dikembangkan. dari atau dari wahyu? Kenyataan bahwa terdapat berbagai sumber pengetahuan. bahkan (apalagi) filosofi. bagaimana menanamkannya di dalam kalbu anak didik? Dengan dasar apakah sekolah masih saja terus terpaku mengajarkan hanya pengetahuan yang mengandung kebenaran yang nisbi pada tingkat yang paling rendah. mungkin serendah atau sedikit saja lebih tinggi dari kemampuan hewan yang cerdas? Guru yang dilengkapi kemampuan epistemologis. secara terkendali dan terukur. dip . keadaan itu tidak terwujud. Guru akan bertindak sesuai dengan landasan epistemologis yang dia pahami. Adakah—dan yang manukah—pengetahuan yang bersumber dari pengalaman emplris. akan lebih mudah mengetahui bahwa tidak terdapat hanya satu jean untuk memperoleh pengetahuan. terutama di Indonesia.

Sekolah semakin menjadi pranata pengolah pengetahuan. Masyarakat mengkritik sekolah sebagai terlalu mementingkan aspek kognitif. Artinya. Namun. bahkan tidak memahami konsep . ditentukan ruang geraknya. Secara aksiologis. seperti mengenal. yang hanya sedikit lebih tinggi dari kemampuan yang dapat diperlihatkan oleh seekor monyet yang cerdas dalam laboratorium. dan berlanjut sampai pada pendidikan tinggi. dan memberikan pemilaian dengan pertimbangan hati nurani. sekolah memberikan sumbangan yang berharga kepada kehidupan anak didik untuk mengembangkan kemampuan berlogika. Kompetensi hidup di dalam hal-hal serupa itu seperti tidak pemah dipikirkan komunitas sekolah. mengalahkan kepentingan pengembangan kepribadian. Scandainya sekolah berhasil dengan baik mengembangkan kemampuan saja. mengambil keputusan secara adil. di tingkat paling rendah. dikondisi pemikirannya. pendidikan nilai telah hancur. agar juga nilai-nilai afektif dan psikomotorik diberikan tekanan yang sebanding. yang menginginkan agar domein yang lain sama-sama diperhatikan sebanding dengan penanganan guru terhadap domein kognitif. guru perlu bertanya: Apakah tekanan pendidikan seb aiknya diletakkan pada pengembangan pengetahu an ataukah pada pengembangan kepribadian? Jawaban terhadap pertanyaan ini.s. prestasi di bidang kognitif pun tidak. sungguhpun pendidikan mencanangkan pengembangan manusia seutuhnya. bukan menumbuhkannya melalui pendidikan.asu ng kemerdekaannya. Pembelajaran seperti itu menjadi pembunuhan potensi berpikir secara sistematis. dalam realitas hanya semu. Mereka yang terusik melihat perkembangan sekolah di dalam menekankan nilainilai kognitif. Tetapi benarkah sekolah kita sudah terfokus mengembangkan kemampuan kognitif? Tidak dap at dikatakan demikian. Yang benar adalah bahwa aktivitas di sekolah tidak berhasil dalam pengembangan kemampuan kognitif sekalipun! Apa yang kelihatannya sebagai aktivitas yang kental bersifat kognitif. melatih. yakni kategori kemampuan kognitif yang sangat elementer. cenderung didominasi kepentingan pengetahuan skolastik. Ini bertentangan dengan filosofi metafisika mengenai harkat dan potensi manusia! Memang pendidikan nilai telah terabaikan sejak awal. memecahkan masalah secara beradab. berpikir kreatif. Apa yang terjadi di sekolah tidak lebih dari latihan-latihan otak. Bangsa ini akhimya tumbuh tanpa pemah memiliki pemahaman untuk menilai. dan menghapal jalan yang sudah ditentukan. masalah yang terjadi di sekolah jauh lebih serius dari yang dikritik oleh pengikut Bloom c. ke pendidikan kanak-kanak. dasar. Dari keluarga. membandingkan. membuktikan betapa kurangnya kemampuan bangsa—dari pemimpin sampai pada rakyatnya—. yakni kemampuan kognitif—dengan kemampuan itu saja. bahkan sampai pada kemampuan berfilosofi sekalipun! Kedangkalan moralitas yang melanda bangsa Indonesia sampai sekarang. secara stereotipis menawarkan altematif yang lebih "utuh". semua atas nama pendidikan. menengah. Ini diperkuat lagi oleh sikap pemerintah di masa lalu yang hanya mampu mengidoktrinasikan nilai.

 Pengantar Diskusi Pendidikan dan Metodologi Perkuliahan Universitas Negeri Riau. banyak hal yang dapat dilakukan untuk menyehatkan pendidikan nasional. dan dengan merumuskan tujuan memberdayakan manusia menghadapi tantangan kehidupan. jelas praktik pendidikan tidak lain dari menyiapkan anak bangsa menghadapi kehidupan. adakah lagi sumber yang terbaik untuk mencari strategi kecuali mencarinya pada dan dari kehidupan itu sendiri! Penulis berharap segera bangkit kembali semangat mengadakan refilosofisasi pendidikan yang terkait dengan amanah mencerdaskan kehidupan bangsa. Balikpapan. direvisi editorial Winarno Surakhmad.menilai nilai. tidak dapat membangun nilai. Untuk mengembangkan pendidikan yang mengabdi pada kepentingan kehidupan manusia. karena bangsa ini hanya dipaksa untuk menelan "nilai". Kalau kita sepaham bahwa pendidikan adalah tentangkehidupan dan untuk kehidupan. Filosofi Pendidikan. Dengan merumuskan fillosofi pendidikan sebagai metode berpikir reflektif mengenai esensi kebenaran dalam kehidupan. tidak dapat menghargai nilai. tidak dapat memperjuangkan nilai. . Dengan landasan aksiologis. dia dapat memberikan makna lebih mulia pada tugas-tugas kependidikannya. setiap pendidik dapat memulai aktualisasi dan operasionalisasi tugas-tugasnya dengan lebih baik. lull 2004. bangsa ini tidaklagi memiliki kesadaran nilai. Haruskah semua itu terjadi? Dengan landasan aksiologis yang mantap. Musyawarah Nasional V ISPI. Mereka hidup tanpa hirau akan nilai. 21 Mei 2009. Sebaliknya.