P. 1
PENDEKATAN PSIKOANALISIS

PENDEKATAN PSIKOANALISIS

|Views: 1,749|Likes:
Published by Bakhtiar Semangat

More info:

Published by: Bakhtiar Semangat on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING PSIKOANALISA

A. Sejarah Perkembangan Pendakatan psikoanalisa dipopulerkan oleh Sigmund Freud. Dia lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freberg, Moravia (Sekarang Cekoslowakia). Ketika ia berusia 3 tahun, bersama keluarganya pindah ke leipzig, Jerman Barat. Satu tahun kemudian dia pindah ke Wina, Freud menjadi mahasiswa universitas Wina sejak usia 17 tahun dan mencapai gelar doktor pada tahun 1881. Pada tahun 1885 ia memperoleh kesempatan belajar ke sesorang ahli neurologi perancis yang terkenal , Jean-Martin Charcot di Paris. Dari Charcot ia mempelajari teknik hipnotis untuk merawat histeria yaitu suatu gangguan dengan ciri khasnya kelumpuhan atau bagian-bagian tertentu dari tubuh tidak berfungsi dengan baik. Pada waktu menjadi mahasiswa kedokteran, Freud menjalin hubungan profesional yang akrab dan persahabatan pribadi dengan Josef Breuer. Breuer mengajar Freud tentang katarsis yaitu menghilangkan simtom (gejala) histeria dengan cara “berbicara” mengenai simtom-simtom itu. Pada tahun 1895 Breuer dan Freud menerbitkan buku yang berjudul Studies on Hysteria . Freud menggunakan istilah psikoanalisa pertama kali pada tahun 1896 melalui karya-karyanya. Tulisan-tulisan Freud berikutnya pada periode tahun 1890-an banyak membahas tentang pentingnya peningkatan kesadaran individu tentang kehidupan seksualitasnya. Menurut Freud gejala-gejala histeria dan neurosis disebabkan oleh pengalaman seksual yang traumatis pada masa kecil. Dari hasil pengalamanya hidupnya dengan istri ditambah dengan minat yang kuat untuk memahami jiwa (phyche) manusia, serta upayanya untuk menagani berbagai bentuk kesulitan, freud mulai megungkap makna impian dan fantasi-fantasinya sendiri disamping perasaan seksual masa anakanak yang ditujukan pada ibunya dan perasaan marah terhadap ayahnya. Dari hasil kerjanya sejak tahun 1895 hingga 1899 pada bidang ini, Freud menemukan suatu metode yang ia perkenalkan dengan analisis mimpi. Analisis mimpi berisi tentang konsep bahwa mimpi merefleksikan harapanharapan yang ditekan, dan bahwa proses mental dan fisik itu saling

1

berhubungan satu sama lain. Setelah lima tahun buku tentang analisis mimpi diterbitkan, freud mulai percaya diri, kemudian menulis beberapa karya penting seperti Introductory Lecture on Psycho-analysis (1920), The Ego And The Id (1923), Future of an Illusion (1927), Civilization and Its Discontents (1930), New Introdutory Lecture Psycho-analysis(1940) membantu memperkokoh dasar psikoanalisa. Penerbitan buku-buku ini membuat Freud menjadi terkemuka dalam lingkungan ilmiah dan kedokteran. Perkembangan penting dalam psikoanalisa bukan hanya tentang tulisantulisan Freud tapi juga seputar interaksinya dengan para pengikutnya seperti Alfred Adler, Wilhelm Stekel, Max Kahane, Rudlof Reitler. Dimulai dengan mengadakan forum the Wednesday Psychological Society (1902) hingga menjadi the Vienna Psychoanalytic Society (1908). Beberapa dari muridnya mengembangkan teori psikoterapinya sendiri seperti Alfred Adler, Carl Jung, dan Otto Rank. Mereka kemudian disebut sebagai neo-Freudian yang lebih memfokuskan pada faktor-faktor sosial dan budaya daripada faktor biologis. Karen Horney (1937) yang tidak setuju dengan pandangan Freud tentang perempuan, berpendapat bahwa faktor budaya dan hubungan interpersonal lebih berpengaruh terhadap kepribadian individu daripada trauma masa kecil. Erich Fromm (1955) memfokuskan penelitiannya pada kelompok-kelompok sosial dan perubahan kebudayaan. Neo-Freudian yang paling banyak mendapat perhatian karena memberikan tambahan dimensi pada teori psikoanalisa, adalah Harry Stack Sullivan (1953) dia memberikan penekanan pada faktor-faktor interpersonal dan hubungan teman sebaya pada masa kecil. Sigmund Freud terus aktif berkarya hingga maut menjemputnya pada tanggal 23 September 1939 karena penyakit kanker mulut dan rahang yang telah dideritanya selama 20 tahun terakhir.

B. Hakikat Manusia Hakikat Manusia menurut Sigmun Freud adalah : 1. Manusia pada dasarnya Deterministik. yaitu tingkah laku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan irrasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan

2

dorongan-dorongan biologis dan naluriah serta peristiwa-peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan. 2. Manusia berisi sistem energi Energi Psikis dasar manusia disebut libido. Konsep tentang energi libido disamakan dengan penggunaan istilah “sex” dalam arti luas yaitu mencakup segala kenikmatan. Energi instingtif ini “mengarahkan” individu bertahan hidup dan memelihara kelangsungan keturunan. Energi-energi ini memelihara individu untuk tetap tumbuh, berkembang, kreatif. Manusia memiliki naluri-naluri kehidupan dinamakan Eros dan naluri- naluri kematian disebut Thonatos. Contoh ketika remaja mengalami frustasi karena tidak lulus ujian maupun putus cinta ia mengutuk diri sendiri atau bahkan bunuh diri.

C. Pandangan Psikoanalisa Terhadap Kepribadian a. Prinsip-Prinsip Fundamental 1. Prinsip Konstansi Prinsip Konstansi berarti bahwa kehidupan psikis mempunyai kecenderungan untuk mempertahankan kualitas atau tingkatan ketegangan psikis pada taraf serendah mungkin 2. Prinsip Kenikmatan Prinsip kenikmatan berarti bahwa kehidupan psikis berkehendak mendapatkan kesenangan dan menghindarkan ketidaksenangan 3. Prinsip Realitas Prinsip realitas berarti bahwa kehidupan psikis berkehendak mendapatkan kesenangan dan menghindarkan ketidaksenangan. b. Struktur Kepribadian 1) Struktur mental Struktur mental terdiri dari 3 tingkat, yakni ; kesadaran, ketidaksadaran, dan ambang sadar (batas antara kesadaran dan ketidaksadaran). Kesadaran menunjuk pada apa yang sedang kita persepsi (rasakan, pikirkan, dan amati). Ambang sadar berisikan ingatan-ingatan peristiwa tentang masa lampau yang siap masuk

3

kedalam kesadaran sewaktu-waktu diperlukan. Kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa seperti gunung es yang mengapung yang bagian jiwa yang terbesar berada di bawah permukaan kesadaran. Sedangkan tingkat ketidaksadaran berisikan tentang imej yang tak ditolak oleh norma atau moral tertentu, peristiwa masa lampau, impuls-impuls, dan keinginan-keinginan yang tidak kita sadari, hal ini sering muncul dalam bentuk halusinasi atau impian. 2) Struktur Kepribadian Struktur kepribadian menurut Freud terdiri atas 3 aspek yaitu id, ego, dan superego. a). Id (struktur kepribadian primitif) adalah sistem kepribadian yang dimiliki individu sejak lahir dan berisikan potensi bawaan. Tempatnya ada pada alam bawah sadar dan secara langsung berpengaruh terhadap perilaku seseorang tanpa disadari. Digerakkan oleh libido, yaitu energi psikis untuk dapat beradaptasi secara fisiologis dan sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan spesiesnya. Di dalam id terdapat dorongan naluriah (instingtif) dimana prinsip kerjanya selalu mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Id menggunakan dua mekanisme: tindakan refleks dan proses primer. Menurut Freud terdapat dua insting dasar dalam Id, yaitu Eros (naluri hidup) dan Thanatos (naluri mati). Eros merupakan insting untuk bertahan hidup, dengan libido sebagai dorongan utama. Sedangkan Thanatos merupakan insting yang mendorong individu untuk berperilaku agresif dan destruktif. Cara- cara Id untuk mendapatkan kenikmatan atau menghindarkan ketidakenakan adalah : (1) Melalui reflek-reflek atau reaksi-reaksi otomatis seperti meggeliatkan tubuh, mengedipkan mata, bersin dsb (2) Melalui proses primer yaitu Id “ Membayangkan” ada makanana yang lezat ketika sedang lapar.

4

b). Ego memiliki hubungan dengan dunia realita. Ego berkaitan erat dengan prinsip peredaan tegangan dan juga prinsip realita. Tugas utama ego adalah mengantar naluri-naluri dengan lingkungan sekitar, ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dan berfikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan. Dengan kata lain ego berfungsi membantu id memenuhi dan menolak dorongan-dorongannya secara nyata. Ego juga dapat dikatakan sebagai aspek eksekutif dari struktur kepribadian. c). Superego adalah kode moral individu yang berkaitan dengan tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Superego berfungsi membatasi dorongan-dorongan atau Id dan mengendalikan ego agar tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan moral atau norma masyarakat. Fungsi Super Ego dalam hubungannya dengan fungsi Id dan Ego yaitu merintangi dorongan-dorongan Id, terutama dorongan-dorongan seksual dan agresif yang perwujudannya amat ditentang oleh masyarakat. 3. Ego Defence Mechanism/Mekanisme Pertahanan Ego Ketiga struktur kepribadian di atas tidak selalu dapat bekerjasama secara harmonis. Dalam rangka memenuhi kebutuhan id, antara ketiga aspek tersebut seringkali terjadi konflik yang disebut dengan konflik intrapsikis. Jika konflik tersebut tidak segera diatasi akan menimbulkan perasaan cemas. Dalam hal ini Freud mengemukakan tiga bentuk kecemasan, yaitu: a). Kecemasan neurotik Kecemasan atau perasaan takut bahwa instink-instink akan terlepas dan menyebabkan individu akan melakukan sesuatu yang mendatangkan hukuman.

5

b). Kecemasan realistik Kecemasan realistik merupakan ketakutan terhadap ancaman bahaya dunia luar. c). Kecemasan moral Kecemasan ini bisa disebut sebagai kecemasan kata hati, sesorang yang mengembangkan kata hati dengan baik cenderung merasa bersalah ketika ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral. Jika ego tak mampu menemukan cara-cara yang realistis untuk merespon rasa cemas, ia menggunakan cara-cara yang realistis yang disebut dengan mekanisme pertahana ego ( ego defence mechanism). Kaplan, dkk (1994) dan Seligman (1996) mengklasifikasikan mekanisme pertahanan ego dalam empat kelompok berikut: 1. Narsistik atau psikotik, yakni suatu bentuk pertahanan ego yang dilakukan dengan cara pembiasaan, pengingkaran, dan proyeksi delusional. 2. Tidak matang, mekanisme ini umum ditemukan pada remaja dan beberapa orang dewasa dengan gangguan mood, kepribadian, dan kontrol impuls. Termasuk didalamnya proyeksi, regresi, pembelahan, devaluasi dan kenakalan. 3. Neurotik. Mekanisme ini umum ditemukan pada orang dewasa yang dinyatakan dalam bentuk rasionalisasi, intelektualisasi, dan pengalihan. Sehat merupakan bentuk mekanisme yang produktif yang umumnya diperlihatkan oleh orang dewasa yang sehat dalam bentuk sublimasi, humor, supresi sadar atai semi sadar, dan kompensasi. Freud menjelaskan bahwa ketika terjadi konflik antara tuntutan realitas, keinginan id, dan hambatan super ego maka

6

individu menggunakan mekanisme-mekanisme pertahanan yang untuk mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Adapun mekanisme pertahananan ego (dalam Corey, 2010) adalah sebagai berikut : 1. Denial / Penyangkalan Penyangkalan adalah pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap kenyataan yang mengancam. Individu mempunyai kecenderungan untuk menolak sejumlah aspek kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk diterima. 2. Proyeksi Proyeksi adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego kepada orang lain. Dengan proyeksi individu akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dibuatnya sendiri, dan menyangkal bahwa dia memiliki dorongan negatif 3. Fiksasi Fiksasi yaitu terpaku/tetap pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena individu memiliki kecemasan untuk mengambil langkah ke tahap berikutnya. Anak yang memakai mekanisme pertahanan fiksasi biasanya mempunyai hambatan dalam perkembangan dan menjadi tidak mandiri 4. Regresi Regresi yaitu melangkah mundur ke tahap perkembangan sebelumnya dimana tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar 5. Rasionalisasi Rasionalisasi adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” untuk menghindarkan ego dari cedera, memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu menyakitkan 6. Sublimasi Sublimasi yaitu menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau lebih dapat diterima secara sosial, mekanisme pertahanan

7

sublimasi ini lebih bersifat positif karena individu mencari jalan lain bagi pengungkapan perasaan agresinya dengan cara yang lebih bermanfaat 7. Displacement Displacement adalah mengarahkan energi kepada obyek atau orang lain ketika obyek asal tidak terjangkau. 8. Represi Represi adalah melupakan peristiwa traumatis yang bisa membangkitkan kecemasan, dengan menekannya ke alam bawah sadar sehingga tidak lagi menjadi hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah satu konsep Freud yang paling penting, karena merupakan dasar bagi sebagian besar pertahanan ego yang digunakan individu 9. Formasi Reaksi Formasi reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan hasrat-hasrat tak sadar. Ketika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka individu berusaha menampilkan tingkah laku yang berlawanan untuk menyangkal perasaan-perasaan negatifnya. 10. Introyeksi Mekanisme introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. misalnya seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak. introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah nilai-nilai positif dari orang-oranglain. 11. Identifikasi Meskipun sebagai bagian proses perkembangan dimana anak belajar tingkahlaku peranan seksnya, dapat juga sebagai mekanisme pertahanan. Ini untuk mempertahankan harga diri dan membantu orang dari perasaan gagal. Orang-orang yang

8

merasa interior pada dasarnya dapat mengidentifikasikan diri dengan sumber-sumber keberhasilan sehingga mereka diterima sebagai orang yang berhasil. 12. Kompensasi Merupakan penandaan terhadap kelemahan dan mengembangkan sifat-sifat positif tertentu untuk membangun keterbatasan-keterbatasannya. Seorang anak yang tidak menerima perhatian yang positif akan mengembangkan tingkahlaku yang dirncang untuk sekurang-kurangnya memperoleh erhatian yang negatif. 13. Ritual dan Undoing Merupakan pola petahanan yang sering dilakukan penderita neurotik kompulsif-obsesif. Ia merupakan bentuk berpikir magis yang dibentuk di sekitar ide-ide atau perbuatanperbuatan tertentu yang dirancang untuk menutupi akibat kecemasan yang tidak tertahankan. Kompulsi untuk mengulang aktivitas (repetition compultion) mencoba untuk “ melepaskan” atau melakukan cara-cara menahan kecemasan. 14. Isolasi Merupakan bentuk pertahanan lain yang dijumpai dalam neurosis kompulsif-obsesif. Sepeti bentuk malasuai lainnya merupakan kecenderungan hati memisah ide-ide dari perasan. Jelasnya menghindarkan makna emosional dari pengalamanpengalaman visual yang merupakan bentuk perlindungan dari kecemasan. c. Perkembangan Individu Sehat dan Bermasalah Kepribadian individu, menurut sigmund Freud, mulai terbentuknya pada beberapa tahun petama khidupannya. Pada usia 5 tahun, hampir seluruh struktur keprbadian individu telah terbentuk, perkembangan berikutnya adalah penghalusan struktur dasar itu. S frued memandang masa kanak-kanak adalah cikal bakal manusia, dan gangguan psikis

9

pada orang-orang dewasa, pada umumnya bercikal bakal pada dari pengalaman masa kanak-kanak. Secara struktural, pribadi manusia berkembang normal apabila ego dapat mencari jalan yang rasional dan realistis atas konflik antara id dan superego. Secara topografis, orang dapat berkembang normal apabila dapat menyadari ketidaksadarannya. Kedua hal tersebut terjadi pada fase-fase perkembangan psikoseksual. Periode Perkembangan Psikoseksual Freud berpendapat bahwa tahapan perkembangan individu yang terpenting terjadi pada 5 tahun pertama kehidupannya, dan periode perkembangan psikoseksual pada masa ini merupakan landasan bagi perkembangan kepribadian individu selanjutnya: Adapun penjelasan masing-masing fase adalah sebagai berikut : 1. Fase Oral (0 – 1 tahun) Mulai usia 1 tahun seorang bayi menjalani fase oral, pada masa ini mulut dan bibir merupakan zona yang peka. Kebutuhan akan makanan dan kesenangan dipuaskan dengan aktivitas menyusu pada ibunya. Benda-benda yang dicari anak dapat menjadi pengganti bagi apa-apa yang sesungguhnya diinginkannya, yakni makanan dan cinta dari ibunya. Tugas perkembangan utama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, baik kepada diri sendiri, dan orang lain. Cinta adalah perlindungan terbaik terhadap ketakutan dan ketidakamanan. Anak-anak yang dicintai tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menerima dirinya, sebaliknya anak-anak yang merasa tidak diinginkan, tidak diterima, dan tidak dicintai cenderung mengalami kesulitan dalam menerima dirinya sendiri, dan belajar untuk tidak mempercayai orang lain, serta memandang dunia sebagai tempat yang mengancam. Efek penolakan pada fase oral akan membentuk anak menjadi pribadi yang penakut, tidak aman, haus akan perhatian, iri, agresif, benci, dan kesepian.

10

2. Fase Anal (1 – 3 tahun) Bermula dari tahun kedua berlanjut hingga tahun ketiga, fase anal memiliki arti penting bagi pembentukan kepribadian. Tugas perkembangan pada fase ini adalah anak harus belajar mandiri, dan belajar mengakui dan menangani perasaan-perasaan negatif. Pada fase anal anak banyak berhadapan dengan tuntutan-tuntutan orangtua, terutama yang berhubungan dengan toilet training, dimana anak memperoleh pengalaman pertama dalam hal kedisiplinan. Banyak sikap terhadap fungsi tubuh sendiri yang dipelajari anak dari orangtuanya. Selama fase anal anak akan mengalami perasaan-perasaan negatif seperti benci, hasrat merusak, marah, dan sebagainya, namun mereka harus belajar bahwa perasaan-perasaan tersebut bisa diterima. Hal penting lain yang harus dipelajari anak adalah bahwa mereka memiliki kekuatan, kemandirian, dan otonomi. 3. Fase Phalic (3 – 5 tahun) Dengan meningkatnya perkembangan kemampuan motorik dan perseptual dari masa sebelumnya pada anak usia tiga tahun keatas, maka kecakapan-kecakapan interpersonal merupakan fase kemajuan (fase falik) yang terjadi pada anak. Pada fase ini aktivitas seksual anak menjadi lebih intens dan lebih berpusat pada fungsi alat kelaminnya, anak-anak menjadi lebih berhasrat untuk melakukan eksplorasi terhadap tubuhnya, dan menemukan perbedaan-perbedaan di antara kedua jenis kelamin. Fase Phalic juga merupakan periode perkembangan hati nurani, dimana anak belajar mengenai standar-standar moral. Mereka membutuhkan contoh yang memadai bagi identifikasi peran seksual, untuk mengetahui apa yang benar dan salah, serta apa yang maskulin dan feminin, sehingga mereka memperoleh perspektif yang benar tentang peran mereka sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.

11

Selama fase ini pula anak perlu belajar menerima perasaanperasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat. Masa falik laki-laki akan ditandai dengan perhatiannya pada ibunya dan penentengan pada ayah dan akan berkembangan perasaan takut bahwa ayahnya akan menghukumnya kalau tahu bahwa ia menyenangi ibu. Perasaan ini disebut odipus complex yaitu dorongan seksual tidak sadar dari anak laki-laki terhadap ibunya yang disertai keinginan untuk menggantikan dan menyingkirkan ayahnya. Begitu juga pada anak perempuan pada masa ini anak perempuan akan mengalami kompleks elektra. 4. Fase Laten (6 – 12 tahun) Pada fase Laten ketertarikan pada masalah seksual sudah berkurang, libido ditekan dan anak mulai mengalihkan energinya ke kegiatan sekolah, bersosialisai dengan teman, olah raga, dan hobi. Namun berkurangnya perhatian pada masalah seksual itu bersifat laten dan masih akan terus memberikan pengaruh pada tahap perkembangan kepribadian berikutnya. 5. Fase Genital (12 tahun ke atas) Fase genital dimulai pada usia 12 tahun, yaitu pada masa remaja awal dan berlanjut terus sepanjang hidup. Pada fase ini energi seksual anak mulai terarah kepada lawan jenis bukan lagi pada kepuasan diri melalui masturbasi, dan anak mulai mengenal cinta kepada lawan jenis. Selain itu kepribadian yang sehat menurut Freud adalah jika individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah, mampu belajar dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, memiliki kesehatan mental yang baik yaitu hasil dari keseimbangan antara kinerja super ego terhadap id dan ego. Sedangkan pribadi yang bermasalah adalah jika terdapat dinamika yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu mengikuti dorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu mempertahankan kata

12

hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak. Perkembangan Perilaku Bermasalah/Menyimpang Menurut teori ini pribadi menyimpang berasal /bermasalah bermasalah adalah jika terdapat dinamika yang tidak efektif antara Id, Ego dan Superego, dimungkinkan Ego selalu mengikuti dorongan-dorongannya dan mengabaikan tuntutan moral atau Ego selalu mempertahankan kata hatinya tanpa menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak benar pada masa kanak-kanak. D. HAKIKAT KONSELING Freud dalam pendapatnya menyatakan bahwa konseling merupakan proses membantu individu untuk menyadari ketidaksadarannya, dengan kata lain agar individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampu memilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego. Seperti diketahui secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah agar Konseling dalam pandangan psikoanalisis adalah sebagai proses reedukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional. Freud menganggap bahwa seseorang yang telah dapat menyadari dengnan sendirinya akan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai yakni tingkah laku yang sesuai dan dapat diterima secara sosial. Dalam proses konseling belajar yakni mengenali bahwa dalam dirinya ada resistensi emosional yang kuat. Proses lonseling mementingkan faktor afektif serta penekanannya terletak pada faktor interpersonal. Konseling dalam pelaksanaannya membutuhkan pengetahuan proses dan teknik konseling . kedua hal ini dapat bermakna bagi penyembuhan masalah dan merupakan manifestasi kemanusiaan antara klien dan

13

konselor. Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam proses konseling, yaitu: 1. Kontrak dan mengatur teknik Didalam kontrak dan mengatur teknik ini lebih mengarah bagaiaman seorang konselor mampu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan klien, baik dari sisi batasan waktu untuk memulai dan mengakhiri, cara menghadapai klien serta bagaimana konselor mampu membuat kondisi klien nyaman namun tidak menyebabkan kecanduan (addict). 2. Fase pembukaan analitik Dalam fase ini merupakan fase dimana seorang konselor dituntut untuk mampu mengungkapkan permasalahnnya, sehingga dalam analisisnya konselor mampu membedakan klien yang menunjukkan gejala histeria atau obsesi klien yang mengalami kelainan tingkah laku. Selain daripada itu didalam konseling juga terdapat teknik-teknik untuk intervensi konseling. Freud mengajarkan lima (5) teknik dasar dalam konseling psikoanalisis (Corey, 2010:42), yaitu : 1. Asosiasi bebas Merupakan teknik utama dalam pendekatan psikoanalisa. Di sini konseli diminta untuk memanggil kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan-pelepasan emosi yang berkaitan dengan peristiwa traumatis di masa lampau. Pada teknik asosiasi bebas konseli mengalami proses katarsis, dimana dia mendapatkan kebebasan untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikiran yang terlintas di benaknya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Biasanya dilakukan dengan cara konseli berbaring di atas sofa sementara konselor duduk di belakang kepalanya sehingga tidak mengganggu perhatian konseli pada saat melakukan asosiasi bebas. Selama proses berlangsung tugas konselor adalah mengenali peristiwaperistiwa yang di-repres dan dikurung oleh konseli dalam ketidaksadarannya. Kemudian konselor menafsirkan pengalaman itu,

14

menyampaikannya kepada konseli dan membimbingnya ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika yang tidak disadari oleh konseli

2. Interpretasi (Penafsiran) Penafsiran aadalah suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasiasosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensitransferensi.prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analis yang menerangkan makna-makna tingkah laku yang memanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas dan oleh hubungan teraupetik itu sendiri. Intepretasi atau penafsiran ini bertujuan mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Ada aturan yang harus diperhatikan konselor dalam melakukan interpretasi. Ia harus diberlakukan sebagai hipotesis, bukan fakta yang seringkali dinilai klien.disamping itu, interpretasi harus berhubungan dengan yang paling dekat dengan kesadaran kita. Konselor tidakdapat menyampaikan interpretasi yang hanya berupa praduga belaka dimana klien belum pernah mengugkapkannya pada konselor. Konselor juga membuat intrepetasi yang dimulai dari material yang bersifat permukaan menuju material yang lebih dalam.

3. Analisis mimpi Freud menyebut mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran, sebab melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari bisa terungkap. Mimpi memiliki 2 taraf isi yaitu isi laten dan isi manifes, isi laten terdiri dari motif-motif yang tersembunyi dan simbolis, sebaliknya isi manifes yaitu gambaran yang tampak dalam mimpi yang dialami oleh individu. Tugas konselor disini adalah untuk menyingkap isi laten yang tergambar dalam isi manifes mimpi konseli, serta mengasosiasikannya guna menyingkap makna-makna terselubung di dalamnya.

15

4. Analisis resistensi Resistensi adalah sesuatu yang menghambat kelangsungan terapi dan mencegah konseli mengungkapkan alasan-alasan kecemasannya. Freud berpendapat bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan karena akan menghambat proses konseling. Penafsiran terhadap resistensi harus dilaksanakan untuk membantu konseli menyadari alasan-alasan yang ada di balik resistensi dan kemudian mampu menyelesaikan konfliknya secara realistis. 5. Analisis transferensi Transferensi terjadi ketika terdapat sebuah “urusan yang belum selesai” dengan orang-orang penting di masa lalu, yang terdistorsi ke masa sekarang dan memberikan reaksi kepada konselor sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah atau ibunya pada masa kanak-kanak. Di sini konselor melakukan penafsiran agar konseli mampu menembus konflik masa lalu, dan menggarap konflik emosional yang terdapat pada hubungan terapeutiknya bersama sang konselor.

E. KONDISI PENGUBAHAN 1. Tujuan Tujuan Secara umum konseling psikoanalisa adalah untuk membantu konseli agar mampu mengoptimalkan fungsi ego sehingga kecemasan atau konflik-konflik intrapsikis mampu ditangani secara realistis dan tidak banyak pada tuntutan nafsu. Menurut Corey (2010:38), tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa, dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak. Baker dalam (Darmanto:2007) mengemukakan secara khusus tujuan konseling psikoanalisa adalah : a. Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls dan berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional. b. Memahami sifat dan macam-macam mekanisme pertahanan ego sehingga lebih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima.

16

c. Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yang akrab dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi dan orang lain. 2. Peran Konselor Peran konselor dalam psikoanalisa adalah : a. Membantu konseli dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional. b. Konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dan kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. c. Konselor juga memberikan perhatian kepada resistensi/penyangkalan konseli untuk mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Sementara konseli berbicara, konselor berperan mendengarkan dengan penuh perhatian, menganalisis dan menginterpretasikan ungkapan-ungkapan konseli, kemudian memberikan tafsiran-tafsiran terhadap informasi konseli, selain itu konselor juga harus peka terhadap isyarat-isyarat non verbal dari konseli. d. Konselor memberikan penjelasan tentang makna proses kepada konseli sehingga konseli mencapai pemahaman terhadap masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah, sehingga konseli mampu mendaptakan kendali yang lebih rasional atas hidupnya sendiri. 3. Peran Konseli Konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Saat proses konseling, konseli bersedia mengemukakan perasaannya,pengalamannya, hubunganhubungannya, ingatannya dan fantasinya. Produksi verbal konseli merupakan esensi dari kegiatan konseling psikoanalisa. Pada kasus-kasus tertentu konseli diminta secara khusus untuk tidak mengubah gaya

17

hidupnya selama proses konseling. Dalam pelaksanaan konseling psikoanalisis, konseli menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru. 4. Situasi Hubungan Dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan konselor dengan klien, yaitu transferensi dan kontratransferensi. a. Transferensi Transferensi yaitu suau keadaan yang menggambarkan konseli memproyeksikan karakteristik orang lain (orang tua atau orang lain yang menjadi tokoh identifikasi konseli atau dengan siapa konseli yang punya masalah) ke dalam diri konselor. Tranferensi merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis membantu konseli untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya. b. Kontratransferensi Yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandanganpandangan yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau keterlibatan yang berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses konseling karena konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor harus menyadari perasaaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisa merusak. Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalam menerima kemarahan, cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi kuat lainnya dari konseli.

18

F. Keterbatasan Dan Kelebihan Keterbatasan dari pendekatan ini adalah: 1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat kemanusiaan. 2. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah tanggung jawab individu berkurang. 3. Cenderung meminimalkan rasionalitas. 4. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem dan konsep psikoanalisis, seperti konsep tentang energi psikis yang menentukan tingkah laku manusia.

Kelebihan dari pendekatan ini adalah: 1. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat manusia untuk meredakan penderitaan manusia. 2. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atas mimpi-minpi, resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi. 3. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi simptomatologi.

19

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2010, Teori Konseling & Psikoterapi, Bandung : PT Refika Aditama Darminto, Eko.2007, Teori-Teori Konseling, UNESA Semium, Yustinus OFM. 2010, Teori kepribadian & Terapi Psikoanalitik FREUD, Yogyakarta: KANISIUS Triyono, 1992. Ancangan Konseling Psikoanalitik, IKIP Malang

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->