P. 1
Teori Fluida

Teori Fluida

|Views: 700|Likes:
Published by Ta In

More info:

Published by: Ta In on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2014

pdf

text

original

TEORI UMUM FLUIDA

Fluida adalah suatu zat alir yang tidak bisa menahan tegangan geser saat
keadaan hidrostatiknya. Yang dimaksud dengan zat alir ialah sebuah zat yang
akan terus bergerak dan berubah-ubah secara terus –menerus atau kontiniu selama
tegangan geser bekerja pada zat tersebut. Keadaan hidrostatis adalah keadaan
dimana tegangan geser adalah nol (tidak ada tegangan geser).
1. Klasifikasi Fluida :
A. Berdasarkan jarak molekulnya
 Fluida cair
Fluida cair adalah fluida yang memiliki jarak antar molekul yang lebih
renggang dari pada zat padat, dan lebih rapat dari pada fluida gas.
Contoh : air
 Fluida gas
Fluida gas adalah fluida yang memiliki jarak antara molekul yang lebih
renggang dibanding fluida cair dan fluida padat.
Contoh : udara
B. Berdasarkan kemampuan dimampatkan
 Fluida kompresibel
Fluida kompresibel adalah fluida yang dapat dimampatkan, karena
memiliki jarak antar molekul yang lebih renggang, sehingga dapat
mengalami perubahan density. Contohnya udara, dalam kondisi fluida
kompresibel atau inkompresibel ditunjukkan melalui suatu bilangan
non dimensional yaitu bilangan Mach. Untuk Fluida Kompresibel
memiliki besar bilangan Mach diatas 0,3.
0 =
dt
d
Dimana : dρ = perubahan kerapatan (kg/m
3
)
dt = perubahan waktu (s)
contoh : udara
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 2
 Fluida Inkompresibel
Fluida inkompresibel adalah fluida yang tidak dapat dimampatkan.
Artinya memiliki besar density yang konstan. Memiliki besar bilangan
Mach kecil dari 0,3. Tidak dapat dimampatkan karena memiliki jarak
antar molekul yang rapat.
0 =
dt
d
Contoh : air
C. Berdasarkan perubahan sifat menurut waktu
 Fluida Tunak
Fluida tunak adalah fluida yang memiliki sifat yang konstan (steady),
tidak berubah dari waktu ke waktu.
0
) (
=
dt
sifat d
contoh : gas ideal
 Fluida Tak tunak
Fluida tak tunak adalah fluida yang memiliki sifat yang tidak konstan
(unsteady), berubah terhadap waktu.
0
) (
=
dt
sifat d
contoh : air
D. Berdasarkan Hukum Newton
 Fluida Newtonian
Fluida Newtonian adalah fluida yang memiliki sifat dimana
perbandingan antara tegangan geser yang berkerja terhadap laju
deformasi berlangsung linier. Dengan kata lain memenuhi hukum
linierisasi Newton.
linear
y
u
=
A
A
A
=


Contoh : udara
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 3
 Fluida Non-Newtonian
Fluida Non-Newtonian adalah fluida yang memiliki sifat dimana
perbandingan antara tegangan geser yang bekerja terhadap laju
deformasi berlangsung tak linear, dengan kata lain tidak memenuhi
hukum linearisasi Newton.
taklinear
u
y
=
A
A
A
=


contoh : agar-agar, darah.
E. Berdasarkan Viskositas
 Fluida Viskos
Fluida Viskos adalah Fluida yang memiliki kekentalan tinggi,
memiliki tingkat kemampuan menahan tegangan geser yang cukup
tinggi.
Contoh : oli
 Fluida Non-viskos
Fluida Non-viskos adalah fluida yang tidak kental, memiliki
kemampuan menahan tegangan geser yang rendah.
Contoh : air
2. SIFAT-SIFAT FLUIDA
A. Berdasarkan Sifat Intensif
Yaitu sifat fluida yang tidak dipengaruhi oleh ukuran dan masa, seperti :
 Tekanan ( p )
Tekanan adalah besarnya tumbukan fluida dalam suatu satuan luas
penampang atau dalam suatu luas daerah tertentu. Tekanan fluida dapat
juga didefenisikan sebagai intensitas gaya tumbukan fluida. Dalam kondisi
tertentu tekanan fluida sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi kerja fluida
antara lain adalah ketinggian, kecepatan, luas penampang, dan kondisi
wadah tempat fluida tersebut. Tekanan fluida merupakan fungsi dari
density, grafitasi dan ketinggian.
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 4
.
. .
. .
. .
F
P
A
F m g
F V g
V g
P
A
P h g



=
=
=
=
=
Dimana : ρ = kerapatan (kg/m
3
)
g = percepatan gravitasi (m/s
2
)
h = ketinggian (m)
 Temperatur ( T )
Temperatur merupakan derajat panas yang dimiliki oleh suatu benda.
Temperatur merupakan parameter umum yang dipakai untuk menunjukan
tingkat keadaan energi suatu benda khususnya energi termal. Pada
umumnya makin tinggi tingkat temperatur benda maka tingkat energi
dalam yang dimiliki oleh benda itu makin tinggi, karena energi dalam
benda merupakan fungsi dari temperatur.
.
v
C U = A T A ) (kJ
Keterangan : ∆U = energi dalam
C
v
= kalor spesifik untuk volume tetap (m
2
/(s
2
.K))
∆T = temperatur (K)
 Massa jenis ( ρ )
Massa jenis adalah jumlah zat yang terkandung dalam suatu benda dan
biasanya dinyatakan dalam suatu satuan masa per volume.
V
m
=  ) (
3
m
kg
Keterangan : m = massa (kg)
V = volume (m
3
)
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 5
 Viskositas ( µ,ν )
Viskositas adalah tingkat kekentalan yang dimiliki oleh suatu fluida,
biasanya tingkat harga kekentalan fluida berbanding lurus sesuai dengan
harga density fluida tersebut. Besarnya harga viskositas adalah
perbandingan antara besarnya tegangan geser yang diberikan terhadap
besarnya deformasi yang terjadi pada fluida tersebut. Dengan kata lain
viskositas fluida dapat didefenisikan dengan arti berupa kemampuan fluida
menahan tegangan geser.
y
u
A
A
A
=

 ) (
ms
kg
Bila suatu fluida mengalami geseran, ia mulai bergerak dengan laju
regangan yang berbanding terbalik dengan suatu besaran yang disebut
koefisien kekentalan  . Tinjaulah suatu unsur fluida yang mendapat
geseran disuatu bidang karena tegangan geser tunggal  , seperti pada
gambar dibawah. Sudut regangan geser  akan terus membesar selama
tegangan  bekerja dan permukaan dibagian atas bergerak dengan
kepesatan bagian bawah. Fluida biasa, seperti air, minyak dan udara
menunjukkan adanya hubungan antara geseran yang dikenakan dan laju
regangan yang diakibatkannya.
t 
 
 ·
(a) (b)
Gambar 1.1. Tegangan geser menimbulkan regangan geser kontinu dalam fluida. (a)
suatu unsur fluida meregang dengan laju δθ/δt ; (b) distribusi geseran newton dalam suatu
lapisan geser dekat sebuah dinding.
Profil Kecepatan
u(y)
y
0
y 
x 
Tidak tergelincir di dinding
y
u


  =
t 
 
 ·
u u  =
0 = u
t u  
   
x 
y 

Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 6
dari geometri pada gambar diatas kita lihat bahwa
y
t u

 
  = tan
bila batas perubahan kecil takhingga (infinitesimal) tercapai, ini menjadi
hubungan antara laju regangan dan landai kecepatan
y
u
t 


 
=
maka tampak dari persamaan paling atas tadi bahwa regangan geser yang
bekerja juga berbanding langsung dengan gradient kecepatan. Ini berlaku
untuk fluida-fluida biasa yang linier. Konstanta kesebandingannya ialah
koefesien 
y
u
t 



 
  = =
Viskositas atau kekentalan terdiri dari dua macam antara lain adalah
viskositas dinamik dan viskositas kinematik. Yang kita bicarakan diatas
adalah viskositas dinamik, sedangkan viskositas kinematik adalah
besarnya perbandingan antara viskositas dinamik terhadap harga density
fluida.


 = ) (
2
s
m
Keterangan : υ = viskositas kinematik
μ = viskositas dinamik
ρ = density
 Volume jenis/volume spesifik ( 1/ρ )
Volume jenis/volume spesifik adalah nilai volume benda pada tiap satu
kilogramnya. Atau dengan kata lain volume zat per satuan masanya.

1
= =
m
V
v ) (
3
kg
m
Keterangan : V = volume zat (m
3
)
m = massa (kg)
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 7
 Gravitasi Spesifik (SG)
Gravitasi spesifik adalah perbandingan kerapatan suatu zat terhadap
kerapatan standar dari beberapa fluida acuan pada 20°C dan 1 atm.
dar s
x
SG
tan


=
Keterangan : ρ
x
= kerapatan zat
ρ
standar
= kerapatan acuan
 Berat Jenis (BJ)
Berat per volume satuan dari suatu fluida disebut berat jenis dan besarnya
sama dengan ρg , yang merupakan hasil kali antara kerapatannya dan
percepatan gravitasi.
Keterangan : m = massa (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s
2
)
V = volume zat (m
3
)
ρ = kerapatan (kg/m
3
)
 Tekanan Uap ( P
o
)
Tekanan uap adalah tekanan dimana zat pada saat itu sudah mulai
mendidih ( mulai berubah fasa dari cairan menjadi uap ). Nilai tekanan uap
ini berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Nilai tekanan uap
ini tergantung pada nilai tekanan atmosfer.
B. Berdasarkan sifat Ekstensif
Yaitu sifat fluida yang dipengaruhi ukuran dan masa, seperti :
 Tegangan permukaan (σ )
Tegangan permukaan merupakan tegangan yang muncul akibat gaya tarik
menarik antar molekul. Gaya tarik-menarik antara molekul yang sejenis
dinamakan dengan gaya kohesi. Apabila lebih besar dari pada gaya tarik
menarik antara molekul yang berbeda jenis (gaya adhesi) maka akan
terjadi meniskus cembung. Dan sebaliknya apabila gaya tarik menarik
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 8
h
2
F
1
F
2
A
2
P
2
P
1
A
1
x
2
x
1
h
1
antara molekul berbeda jenis lebih besar dari pada gaya tarik-menarik
antara molekul sejenis maka akan terjadi meniskus cekung.
3. PERSAMAAN BERNOULLI
Persamaan Bernoulli adalah persamaan yang banyak sekali dipakai untuk
perhitungan yang berkaitan dengan tekanan, kecepatan dan elevasi. Persamaan
tersebut didapatkan dari penurunan persamaan sebagai berikut :
Gambar 1.2 Suatu aliran fluida dalam pipa dengan 2 ketinggian yang berbeda
Dari gambar dapat diketahui penurunan rumus
2 2 2 2 2 2
1 1 1 1 1 1
x . A . P x . F w
x . A . P x . F w
= =
= =
µ
= =
µ
= =
m
P V . P w
m
P V . P w
2 2 2 1
1 1 1 1
( )
µ
÷ = ÷ = A
m
P P w w w
2 1 2 1
- Energi kinetik

2
1 1
mv
2
1
EK =
2
2 2
mv
2
1
EK =
( )
2
2
2
1 2 1 1
v v m
2
1
EK EK EK ÷ = ÷ = A
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 9
- Energi potensial

1 1
mgh Ep =
2 2
mgh Ep =
( )
1 2 1 2
EP EP EP mg h h A = ÷ = ÷
Sesuai dengan hukum pertama termodinamika ‘ energi bersifat konstan’ maka
:
Ep EK w
Ep EK H w Q
A + A = ÷
A + A + A = ÷
Karena tidak terjadi perubahan temperatur maka tidak ada panas yang
berpindah dan tidak ada perubahan entalpi yang terjadi.
( ) ( ) ( )
( )
( ) ( )
2
2
2 2
1
2
1 1
2
2
2
2
1
2
1
1
2 1
2
2
2
1
2 1
2 1
2
2
2
1 2 1
h
g 2
v
g
P
h
g 2
v
g
P
gh v
2
1 P
gh v
2
1 P
h h g v v
2
1 P P
h h mg v v m
2
1 m
P P
+ +
µ
= + +
µ
+ +
µ
= + +
µ
÷ + ÷ =
µ
÷
÷
÷ + ÷ =
µ
÷ ÷
Persamaan Bernoulli dengan persamaan kontinuitas
Gambar 1.3. Suatu aliran fluida dalam pipa dengan 2 ketinggian yang berbeda
Perhatikan tabung alir a-c di bawah ini. A 1 adalah penampang lintang tabung alir di a. A 2=
penampang lintang di c. v 1 = kecepatan alir fluida di a, v 2 = kecepatan alir fluida di c.
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 10
Persamaan kontinuitas
1 2
1 1 2 2 t t
m m
A v A v  
=
A = A
1 1 2 2
A v A v =
1 1 2 2
konstant Q A v A v = = =
konstant
Q W H EK Ep
Q
H tidak terjadi perubahaanenergi dalam
W EK Ep
÷ = A + A + A
=
A =
÷ = A + A
1 1 2 2
1 1 1 2 2 2
W Fs F s
W p A v t p A v t
= ÷
= A ÷ A
Atau
1 2
1 1 2 2
1 2
1 2
2 1
( )
( )
P P
W A v t A v t
P P
W m m
m
W P P
m
P P Ek Ep
 
 
 


= A ÷ A
= ÷
= ÷
÷ ÷ = A + A

( ) ( ) ( )
( )
( ) ( )
2
2
2 2
1
2
1 1
2
2
2
2
1
2
1
1
2 1
2
2
2
1
2 1
2 1
2
2
2
1 2 1
h
g 2
v
g
P
h
g 2
v
g
P
gh v
2
1 P
gh v
2
1 P
h h g v v
2
1 P P
h h mg v v m
2
1 m
P P
+ +
µ
= + +
µ
+ +
µ
= + +
µ
÷ + ÷ =
µ
÷
÷
÷ + ÷ =
µ
÷ ÷
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 11
4. PERSAMAAN KONTINUITAS
A. Untuk Fluida incompressible (tak-termampatkan)
Massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas penampang
A
1
(diameter pipa yang besar) selama selang waktu tertentu adalah :
Demikian juga, massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki
luas penampang A
2
(diameter pipa yang kecil) selama selang waktu tertentu
adalah :
Mengingat bahwa dalam aliran tunak, massa fluida yang masuk sama
dengan massa fluida yang keluar, maka :
Catatan : massa jenis fluida dan selang waktu sama sehingga
dilenyapkan.
Jadi, pada fluida tak-termampatkan, berlaku persamaan kontinuitas :
A
1
v
1
= A
2
v
2
Persamaan 1
Di mana A
1
= luas penampang 1, A
2
= luas penampang 2, v
1
= laju aliran
fluida pada penampang 1, v
2
= laju aliran fluida pada penampang 2. Av adalah
laju aliran volume V/t atau debit.
Persamaan 1 menunjukkan bahwa laju aliran volume alias debit selalu
sama pada setiap titik sepanjang pipa/tabung aliran. Ketika penampang pipa
mengecil, maka laju aliran fluida meningkat, sebaliknya ketika penampang
pipa menjadi besar, laju aliran fluida menjadi kecil.
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 12
B. Untuk Fluida Termampatkan (Compressible)
Untuk kasus fluida yang termampatkan atau compressible, massa jenis
fluida tidak selalu sama. Dengan kata lain, massa jenis fluida berubah ketika
dimampatkan. Kalau pada fluida Tak-termampatkan massa jenis fluida tersebut
kita lenyapkan dari persamaan, maka pada kasus ini massa jenis fluida tetap
disertakan. Dengan berpedoman pada persamaan yang telah diturunkan
sebelumnya, maka dapat diturunkan persamaan untuk fluida termampatkan.
Mengingat bahwa dalam aliran tunak, massa fluida yang masuk sama
dengan massa fluida yang keluar, maka :
Selang waktu (t) aliran fluida sama sehingga t bias dilenyapkan.
Persamaan berubah menjadi:
Ini adalah persamaan untuk kasus fluida termampatkan. Bedanya hanya
terletak pada massa jenis fluida. Apabila fluida termampatkan, maka massa
jenisnya berubah. Sebaliknya, apabila fluida tak termampatkan, massa jenisnya
selalu sama sehingga bisa kita lenyapkan.
5. GARIS DERAJAT ENERGI DAN GARIS DERAJAT HIDROLIK ( GDE
DAN GDH )
Persamaan Bernoulli dapat ditafsirkan secara visual dengan melukis
bagan dua garis derajat suatu aliran. Garis Derajat Energi (GDE) menunjukkan
tinggi tetapan Bernoulli total, dan mempunyai ketinggian yang tetap.
GDE = z + P/µg + V
2
/2g
Sedangkan Garis Derajat Hidrolik (GDH) menunjukkan tingginya hulu
elevasi dan hulu tekanan, yaitu GDE dikurangi hulu kecepatan V
2
/2g .
GDH = z + P/µg
Dimana, z = ketinggian
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 13
Gambar 1.4 Garis Derajat Energi dan Garis Derajat Hidrolik
GDH adalah tinggi permukaan zat cair didalam tabung piezometer yang
dipasang pada aliran zat cair itu. Pada gambar dilukiskan GDE dan GDH untuk
aliran takgesekan pada penampang 1 dan penampang 2 suatu talang. Pipa
piezometer itu mengukur hulu tekanan statik z + P/ρg, karena itu ia
menunjukan GDH. Pipa kecepatan stagnasi pitot mengukur hulu total z + P/ρg
+ V
2
/2g yang sesuai dengan GDE. Dalam hal ini GDE-nya tetap, dan GDH
naik karena kecepatannya berkurang.
Dalam aliran yang lebih umum, GDE akan menurun perlahan-lahan
karena rugi gesekan dan akan menukik tajam kalau ada rugi yang besar (sebuah
katup atau halangan) atau karena usaha yang dikerjakan (pada sebuah turbin).
GDE hanya dapat naik kalau ada tambahan usaha (misalnya dari pompa atau
baling-baling). GDH pada umumnya mengikuti perilaku GDE bila ada rugi
atau pemindahan usaha, dan ia juga dapat naik dan/atau turun jika
kecepatannya berkurang dan/atau bertambah.
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 14
6. KONSEP ALIRAN DALAM TALANG
Gambar 1.5 Perkembangan profil kecepatan dan perubahan tekanan di lubang masuk suatu
aliran talang
Dari gambar terlihat suatu aliran dalam sebuah talang yang panjang
dimana laju alirannya mengalami gangguan akibat gesekan fluida dengan
dinding talang. Pada daerah masuk ( hulu talang ) alirannya adalah inviscid
core flow. Pengaruh dari gesekan antara dinding talang dengan fluida
membentuk aliran kental, atau aliran yang kecepatannya menurun dari
kecepatan aliran sebelum masuk talang. Pada susunan molekul fluida yang
menyentuh dinding kecepatan aliran molekul fluida bernilai nol karena
pengaruh gesekan, makin ke tengan maka pengaruh gesekan makin kecil
sehingga kecepatan meningkat sampai pada daerah yang kecepatannya
mendekati kecepatan awal masuk pipa ( ( ) u 0.99u ~ · ). Pada daerah yang
kecepatannya adalah ( ) u 0.99u ~ · disebut boundary layer. Boundary layer
yang kental meluas ke hilir, menahan aliran aksial u(r,x) pada dinding dan
dengan demikian mempercepat aliran di bagian tengah untuk tetap memenuhi
syarat kontinuitas incompressible.
}
= = tetap A d u Q
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 15
Boundary layer ini akan meluas selama profil berkembang karena
dipengaruhi oleh celah viskos. Lapisan batas akan hilang apabila profil telah
berkembang penuh. Sedangkan inviscid core flow merupakan aliran fluida saat
memasuki pipa yang terdapat dalam boundary layer. Aliran ini akan hilang saat
profil telah berkembang penuh dan aliran akan menjadi viskos.
Pada jarak tertentu dari lubang masuk, lapisan batas ini mengumpul dan
aliran yang encer hilang. Aliran pipa itu lalu menjadi kental seluruhnya dan
kecepatan aksialnya sedikit menyesuaikan nilainya sampai pada x = L
e
,
dimana kecepatannya tidak berubah lagi. Pada titik x = L
e
aliran fluida disebut
telah berkembang penuh, artinya ( ) r u u ~ saja. Dibagian hilir dari x = L
e
profil
kecepatan tetap, geseran dindingnya tetap dan tekanannya menurun secara
linier dengan x, baik untuk aliran berlapis maupun untuk aliran bergolak.
Dapat ditunjukkan dengan analisis dimensi bahwa bilangan Reynolds
adalah satu-satunya parameter yang menentukan panjang masuk.
Jika ( )
A
Q
V V d f L
e
= =  , , , , Q = debit aliran (m
3
/s)
A = luas penampang (m
2
)
Maka ( )
e
e
R g
Vd
g
d
L
=
|
|
.
|

\
|
=


7. POLA-POLA ALIRAN
Ada empat tipe dasar pola garis yang dipakai untuk menggambarkan
aliran, yaitu :
1. Garis-Alir ialah garis yang dimana-mana menyinggung vektor kecepatan
pada suatu saat tertentu.
Gambar 1.6 Garis alir
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 16
2. Garis-Lintas ialah lintasan yang sesungguhnya yang ditempuh partikel
fluida tertentu.
Gambar 1.7 Garis lintas
3. Garis-Alur ialah lokus atau tempat kedudukan partikel-partikel yang
sebelumnya telah melalui suatu titik yang ditetapkan.
Gambar 1.8 Garis alur
4. Garis-Waktu ialah himpunan partikel fluida yang pada suatu saat tertentu
membentuk garis.
Gambar 1.9 Garis waktu
Garis-Alir mudah ditentukan secara matematika, sedang ketiga garis
lainnya lebih mudah ditimbulkan dengan eksperimental. Garis-Alir, Garis-
Universitas Andalas
Modul 0
Kelompok 9 17
Lintas, dan Garis-Alur ketiga-tiganya identik dalam aliran tunak. Dalam
mekanika fluida hasil matematis yang paling lazim untuk keperluan visualisasi
adalah pola Garis-Alir.
(a) (b)
Gambar 1.10. (a) garis-garis alir dimana-mana menyinggung vektor kecepatan lokal ; (b)
Sebuah tabung alir dibentuk oleh sekumpulan garis-alir yang tertutup

d 0 dt Contoh : air C. d ( sifat ) 0 dt contoh : air D.   linear u y  Contoh : udara Modul 0 Kelompok 9 2 . Tidak dapat dimampatkan karena memiliki jarak antar molekul yang rapat. d ( sifat ) 0 dt contoh : gas ideal  Fluida Tak tunak Fluida tak tunak adalah fluida yang memiliki sifat yang tidak konstan (unsteady). Dengan kata lain memenuhi hukum linierisasi Newton.Universitas Andalas  Fluida Inkompresibel Fluida inkompresibel adalah fluida yang tidak dapat dimampatkan. Artinya memiliki besar density yang konstan. Berdasarkan perubahan sifat menurut waktu  Fluida Tunak Fluida tunak adalah fluida yang memiliki sifat yang konstan (steady). berubah terhadap waktu. Berdasarkan Hukum Newton  Fluida Newtonian Fluida Newtonian adalah fluida yang memiliki sifat dimana perbandingan antara tegangan geser yang berkerja terhadap laju deformasi berlangsung linier. tidak berubah dari waktu ke waktu.3. Memiliki besar bilangan Mach kecil dari 0.

Berdasarkan Sifat Intensif Yaitu sifat fluida yang tidak dipengaruhi oleh ukuran dan masa. E. kecepatan. Modul 0 Kelompok 9 3 . SIFAT-SIFAT FLUIDA A. Contoh : oli  Fluida Non-viskos Fluida Non-viskos adalah fluida yang tidak kental. grafitasi dan ketinggian. Contoh : air 2.   taklinear y u  contoh : agar-agar. Tekanan fluida merupakan fungsi dari density. memiliki kemampuan menahan tegangan geser yang rendah. darah. Tekanan fluida dapat juga didefenisikan sebagai intensitas gaya tumbukan fluida. Dalam kondisi tertentu tekanan fluida sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi kerja fluida antara lain adalah ketinggian. memiliki tingkat kemampuan menahan tegangan geser yang cukup tinggi. luas penampang. dan kondisi wadah tempat fluida tersebut. Berdasarkan Viskositas  Fluida Viskos Fluida Viskos adalah Fluida yang memiliki kekentalan tinggi. seperti :  Tekanan ( p ) Tekanan adalah besarnya tumbukan fluida dalam suatu satuan luas penampang atau dalam suatu luas daerah tertentu.Universitas Andalas  Fluida Non-Newtonian Fluida Non-Newtonian adalah fluida yang memiliki sifat dimana perbandingan antara tegangan geser yang bekerja terhadap laju deformasi berlangsung tak linear. dengan kata lain tidak memenuhi hukum linearisasi Newton.

g  . karena energi dalam benda merupakan fungsi dari temperatur. g P Dimana : ρ = kerapatan (kg/m3) g = percepatan gravitasi (m/s2) h = ketinggian (m)  Temperatur ( T ) Temperatur merupakan derajat panas yang dimiliki oleh suatu benda.V .V .  U  C v . Pada umumnya makin tinggi tingkat temperatur benda maka tingkat energi dalam yang dimiliki oleh benda itu makin tinggi.g P F   .K)) ∆T = temperatur (K)  Massa jenis ( ρ ) Massa jenis adalah jumlah zat yang terkandung dalam suatu benda dan biasanya dinyatakan dalam suatu satuan masa per volume. g A P   .h .Universitas Andalas F A F  m . m V  (kg m3 ) Keterangan : m = massa (kg) V = volume (m3) Modul 0 Kelompok 9 4 . Temperatur merupakan parameter umum yang dipakai untuk menunjukan tingkat keadaan energi suatu benda khususnya energi termal. T (kJ ) Keterangan : ∆U = energi dalam Cv = kalor spesifik untuk volume tetap (m2/(s2.

seperti air. (a) suatu unsur fluida meregang dengan laju δθ/δt . Besarnya harga viskositas adalah perbandingan antara besarnya tegangan geser yang diberikan terhadap besarnya deformasi yang terjadi pada fluida tersebut. (b) distribusi geseran newton dalam suatu lapisan geser dekat sebuah dinding. ia mulai bergerak dengan laju regangan yang berbanding terbalik dengan suatu besaran yang disebut koefisien kekentalan  . Dengan kata lain viskositas fluida dapat didefenisikan dengan arti berupa kemampuan fluida menahan tegangan geser.ν ) Viskositas adalah tingkat kekentalan yang dimiliki oleh suatu fluida. minyak dan udara menunjukkan adanya hubungan antara geseran yang dikenakan dan laju regangan yang diakibatkannya. biasanya tingkat harga kekentalan fluida berbanding lurus sesuai dengan harga density fluida tersebut. Sudut regangan geser  akan terus membesar selama tegangan  bekerja dan permukaan dibagian atas bergerak dengan kepesatan bagian bawah.Universitas Andalas  Viskositas ( µ. seperti pada gambar dibawah.1.  u y  (kg ms ) Bila suatu fluida mengalami geseran.  u t   t u u   t y u(y) Profil Kecepatan  y x  x y  u y Tidak tergelincir di dinding u 0 0  (a) (b) Gambar 1. Tegangan geser menimbulkan regangan geser kontinu dalam fluida. Fluida biasa. Tinjaulah suatu unsur fluida yang mendapat geseran disuatu bidang karena tegangan geser tunggal  . Modul 0 Kelompok 9 5 .

ini menjadi hubungan antara laju regangan dan landai kecepatan   u  t  y maka tampak dari persamaan paling atas tadi bahwa regangan geser yang bekerja juga berbanding langsung dengan gradient kecepatan. Atau dengan kata lain volume zat per satuan masanya. sedangkan viskositas kinematik adalah besarnya perbandingan antara viskositas dinamik terhadap harga density fluida. Ini berlaku untuk fluida-fluida biasa yang linier.    (m 2 s ) Keterangan : υ = viskositas kinematik μ = viskositas dinamik ρ = density  Volume jenis/volume spesifik ( 1/ρ ) Volume jenis/volume spesifik adalah nilai volume benda pada tiap satu kilogramnya. v V 1  m  (m 3 kg ) Keterangan : V = volume zat (m3) m = massa (kg) Modul 0 Kelompok 9 6 . Yang kita bicarakan diatas adalah viskositas dinamik. Konstanta kesebandingannya ialah koefesien     u  y t Viskositas atau kekentalan terdiri dari dua macam antara lain adalah viskositas dinamik dan viskositas kinematik.Universitas Andalas dari geometri pada gambar diatas kita lihat bahwa tan    u t y bila batas perubahan kecil takhingga (infinitesimal) tercapai.

Nilai tekanan uap ini berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Dan sebaliknya apabila gaya tarik menarik Modul 0 Kelompok 9 7 . yang merupakan hasil kali antara kerapatannya dan percepatan gravitasi. Berdasarkan sifat Ekstensif Yaitu sifat fluida yang dipengaruhi ukuran dan masa. Nilai tekanan uap ini tergantung pada nilai tekanan atmosfer. Gaya tarik-menarik antara molekul yang sejenis dinamakan dengan gaya kohesi.Universitas Andalas  Gravitasi Spesifik (SG) Gravitasi spesifik adalah perbandingan kerapatan suatu zat terhadap kerapatan standar dari beberapa fluida acuan pada 20°C dan 1 atm. SG  Keterangan : ρx = kerapatan zat ρstandar = kerapatan acuan  Berat Jenis (BJ) Berat per volume satuan dari suatu fluida disebut berat jenis dan besarnya sama dengan ρg . Apabila lebih besar dari pada gaya tarik menarik antara molekul yang berbeda jenis (gaya adhesi) maka akan terjadi meniskus cembung. x  s tan dar Keterangan : m = massa (kg) g = percepatan gravitasi (m/s2) V = volume zat (m3) ρ = kerapatan (kg/m3)  Tekanan Uap ( Po) Tekanan uap adalah tekanan dimana zat pada saat itu sudah mulai mendidih ( mulai berubah fasa dari cairan menjadi uap ). seperti :  Tegangan permukaan (σ ) Tegangan permukaan merupakan tegangan yang muncul akibat gaya tarik menarik antar molekul. B.

kecepatan dan elevasi.2 Suatu aliran fluida dalam pipa dengan 2 ketinggian yang berbeda Dari gambar dapat diketahui penurunan rumus w1  F .Universitas Andalas antara molekul berbeda jenis lebih besar dari pada gaya tarik-menarik antara molekul sejenis maka akan terjadi meniskus cekung. 3.x 2  P2 .x1 1 w 2  F2 . PERSAMAAN BERNOULLI Persamaan Bernoulli adalah persamaan yang banyak sekali dipakai untuk perhitungan yang berkaitan dengan tekanan.V2  P2  w1  P1.x1  P1.A 2 . Persamaan tersebut didapatkan dari penurunan persamaan sebagai berikut : x2 A2 P2 x1 F1 A1 P1 h1 h2 F2 Gambar 1.V1  P1 w  w1  w 2  P1  P2  m   Energi kinetik EK1  1 mv12 2 EK 2  1 mv 2 2 2 EK1  EK1  EK 2  1 m v12  v 2 2 2   8 Modul 0 Kelompok 9 .A1.x 2 m  m w1  P2 .

Modul 0 Kelompok 9 9 . Suatu aliran fluida dalam pipa dengan 2 ketinggian yang berbeda Perhatikan tabung alir a-c di bawah ini. A 1 adalah penampang lintang tabung alir di a. A 2= penampang lintang di c. v 1 = kecepatan alir fluida di a.3.Universitas Andalas  Energi potensial Ep1  mgh 1 Ep 2  mgh 2 EP  EP1  EP2  mg  h1  h 2  Sesuai dengan hukum pertama termodinamika ‘ energi bersifat konstan’ maka : Q  w  H  EK  Ep  w  EK  Ep Karena tidak terjadi perubahan temperatur maka tidak ada panas yang berpindah dan tidak ada perubahan entalpi yang terjadi. v 2 = kecepatan alir fluida di c. m   P  P   1 2   P1 1 2  v1  gh1   2  P1  P2  1 m v12  v 22  mgh1  h 2  2 1 2 v1  v 22  gh1  h 2  2 P2 1 2  v 2  gh 2  2     P1 v12 P v 2   h1  2  2  h 2 g 2g g 2g Persamaan Bernoulli dengan persamaan kontinuitas Gambar 1.

Universitas Andalas Persamaan kontinuitas m1  m2  A1 v1 t   A2 v2 t A1 v1  A2 v2 Q  A1 v1  A2 v2  konstant Q  W  H  EK  Ep Q  konstant H  tidak terjadi perubahaan energi dalam W  EK  Ep W  F1s1  F2 s2 W  p1 A1 v1 t  p2 A2 v2 t W  Atau P1 P  A1 v1  t  2  A2 v 2  t   P P W  1 m 2 m   m W  ( P1  P2 )  m  ( P2  P1 )   Ek   Ep  m   P  P   1 2   P1 1 2  v1  gh1   2  P1  P2  1 m v12  v 22  mgh1  h 2  2 1 2 v1  v 22  gh1  h 2  2 P2 1 2  v 2  gh 2  2     P1 v12 P v 2   h1  2  2  h 2 g 2g g 2g Modul 0 Kelompok 9 10 .

Modul 0 Kelompok 9 11 . v2 = laju aliran fluida pada penampang 2.Universitas Andalas 4. maka : Catatan : massa jenis fluida dan selang waktu sama sehingga dilenyapkan. PERSAMAAN KONTINUITAS A. Untuk Fluida incompressible (tak-termampatkan) Massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas penampang A1 (diameter pipa yang besar) selama selang waktu tertentu adalah : Demikian juga. v1 = laju aliran fluida pada penampang 1. Persamaan 1 menunjukkan bahwa laju aliran volume alias debit selalu sama pada setiap titik sepanjang pipa/tabung aliran. berlaku persamaan kontinuitas : A1v1 = A2v2 Persamaan 1 Di mana A1 = luas penampang 1. A2 = luas penampang 2. massa fluida yang masuk sama dengan massa fluida yang keluar. pada fluida tak-termampatkan. laju aliran fluida menjadi kecil. Ketika penampang pipa mengecil. sebaliknya ketika penampang pipa menjadi besar. Av adalah laju aliran volume V/t atau debit. massa fluida yang mengalir dalam pipa yang memiliki luas penampang A2 (diameter pipa yang kecil) selama selang waktu tertentu adalah : Mengingat bahwa dalam aliran tunak. Jadi. maka laju aliran fluida meningkat.

massa jenis fluida berubah ketika dimampatkan. maka dapat diturunkan persamaan untuk fluida termampatkan. Dengan berpedoman pada persamaan yang telah diturunkan sebelumnya. dan mempunyai ketinggian yang tetap. yaitu GDE dikurangi hulu kecepatan V2/2g . apabila fluida tak termampatkan. Persamaan berubah menjadi: Ini adalah persamaan untuk kasus fluida termampatkan. maka massa jenisnya berubah.Universitas Andalas B. GDE = z + P/g + V2/2g Sedangkan Garis Derajat Hidrolik (GDH) menunjukkan tingginya hulu elevasi dan hulu tekanan. Bedanya hanya terletak pada massa jenis fluida. massa jenis fluida tidak selalu sama. Untuk Fluida Termampatkan (Compressible) Untuk kasus fluida yang termampatkan atau compressible. Sebaliknya. Mengingat bahwa dalam aliran tunak. GARIS DERAJAT ENERGI DAN GARIS DERAJAT HIDROLIK ( GDE DAN GDH ) Persamaan Bernoulli dapat ditafsirkan secara visual dengan melukis bagan dua garis derajat suatu aliran. massa jenisnya selalu sama sehingga bisa kita lenyapkan. maka : Selang waktu (t) aliran fluida sama sehingga t bias dilenyapkan. Apabila fluida termampatkan. massa fluida yang masuk sama dengan massa fluida yang keluar. z = ketinggian Modul 0 Kelompok 9 12 . Garis Derajat Energi (GDE) menunjukkan tinggi tetapan Bernoulli total. Dengan kata lain. maka pada kasus ini massa jenis fluida tetap disertakan. 5. GDH = z + P/g Dimana. Kalau pada fluida Tak-termampatkan massa jenis fluida tersebut kita lenyapkan dari persamaan.

Dalam aliran yang lebih umum. Pipa kecepatan stagnasi pitot mengukur hulu total z + P/ρg + V2/2g yang sesuai dengan GDE. Dalam hal ini GDE-nya tetap.4 Garis Derajat Energi dan Garis Derajat Hidrolik GDH adalah tinggi permukaan zat cair didalam tabung piezometer yang dipasang pada aliran zat cair itu. dan ia juga dapat naik dan/atau turun jika kecepatannya berkurang dan/atau bertambah. GDE hanya dapat naik kalau ada tambahan usaha (misalnya dari pompa atau baling-baling). GDH pada umumnya mengikuti perilaku GDE bila ada rugi atau pemindahan usaha. karena itu ia menunjukan GDH. Pipa piezometer itu mengukur hulu tekanan statik z + P/ρg. GDE akan menurun perlahan-lahan karena rugi gesekan dan akan menukik tajam kalau ada rugi yang besar (sebuah katup atau halangan) atau karena usaha yang dikerjakan (pada sebuah turbin). Modul 0 Kelompok 9 13 . dan GDH naik karena kecepatannya berkurang. Pada gambar dilukiskan GDE dan GDH untuk aliran takgesekan pada penampang 1 dan penampang 2 suatu talang.Universitas Andalas Gambar 1.

5 Perkembangan profil kecepatan dan perubahan tekanan di lubang masuk suatu aliran talang Dari gambar terlihat suatu aliran dalam sebuah talang yang panjang dimana laju alirannya mengalami gangguan akibat gesekan fluida dengan dinding talang. makin ke tengan maka pengaruh gesekan makin kecil sehingga kecepatan meningkat sampai pada daerah yang kecepatannya mendekati kecepatan awal masuk pipa ( u  0. menahan aliran aksial u(r. KONSEP ALIRAN DALAM TALANG Gambar 1. Boundary layer yang kental meluas ke hilir. Q   u d A  tetap Modul 0 Kelompok 9 14 . atau aliran yang kecepatannya menurun dari kecepatan aliran sebelum masuk talang. Pada daerah yang kecepatannya adalah u  0. Pengaruh dari gesekan antara dinding talang dengan fluida membentuk aliran kental.x) pada dinding dan dengan demikian mempercepat aliran di bagian tengah untuk tetap memenuhi syarat kontinuitas incompressible. Pada susunan molekul fluida yang menyentuh dinding kecepatan aliran molekul fluida bernilai nol karena pengaruh gesekan.Universitas Andalas 6.99u    disebut boundary layer. Pada daerah masuk ( hulu talang ) alirannya adalah inviscid core flow.99u    ).

Universitas Andalas Boundary layer ini akan meluas selama profil berkembang karena dipengaruhi oleh celah viskos. baik untuk aliran berlapis maupun untuk aliran bergolak. Sedangkan inviscid core flow merupakan aliran fluida saat memasuki pipa yang terdapat dalam boundary layer. POLA-POLA ALIRAN Ada empat tipe dasar pola garis yang dipakai untuk menggambarkan aliran. V . Gambar 1. Dapat ditunjukkan dengan analisis dimensi bahwa bilangan Reynolds adalah satu-satunya parameter yang menentukan panjang masuk.6 Garis alir Modul 0 Kelompok 9 15 . dimana kecepatannya tidak berubah lagi. geseran dindingnya tetap dan tekanannya menurun secara linier dengan x. yaitu : 1.  . Aliran ini akan hilang saat profil telah berkembang penuh dan aliran akan menjadi viskos. lapisan batas ini mengumpul dan aliran yang encer hilang. Lapisan batas akan hilang apabila profil telah berkembang penuh. Dibagian hilir dari x = Le profil kecepatan tetap. Jika Le  f d . Garis-Alir ialah garis yang dimana-mana menyinggung vektor kecepatan pada suatu saat tertentu. Pada jarak tertentu dari lubang masuk. artinya u  u r  saja.   A = luas penampang (m2) Maka Le  Vd   g      g  Re  d   V  Q . Pada titik x = Le aliran fluida disebut telah berkembang penuh. A Q = debit aliran (m3/s) 7. Aliran pipa itu lalu menjadi kental seluruhnya dan kecepatan aksialnya sedikit menyesuaikan nilainya sampai pada x = Le .

Gambar 1. sedang ketiga garis lainnya lebih mudah ditimbulkan dengan eksperimental.8 Garis alur 4. Garis-Alir.7 Garis lintas 3. GarisModul 0 Kelompok 9 16 . Gambar 1. Garis-Lintas ialah lintasan yang sesungguhnya yang ditempuh partikel fluida tertentu.Universitas Andalas 2. Gambar 1. Garis-Alur ialah lokus atau tempat kedudukan partikel-partikel yang sebelumnya telah melalui suatu titik yang ditetapkan. Garis-Waktu ialah himpunan partikel fluida yang pada suatu saat tertentu membentuk garis.9 Garis waktu Garis-Alir mudah ditentukan secara matematika.

dan Garis-Alur ketiga-tiganya identik dalam aliran tunak. (a) garis-garis alir dimana-mana menyinggung vektor kecepatan lokal . (a) (b) Gambar 1. Dalam mekanika fluida hasil matematis yang paling lazim untuk keperluan visualisasi adalah pola Garis-Alir. (b) Sebuah tabung alir dibentuk oleh sekumpulan garis-alir yang tertutup Modul 0 Kelompok 9 17 .Universitas Andalas Lintas.10.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->