P. 1
Laporan Pendahuluan Oksigenasi Dan Suction Pada Anak

Laporan Pendahuluan Oksigenasi Dan Suction Pada Anak

|Views: 1,242|Likes:
Published by edynugroho

More info:

Published by: edynugroho on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN TERAPI OKSIGENASI DAN SUCTION PADA ANAK PADA ANAK

Disusun oleh : 1.Debi arianto, S.kep (G3A011006)

2.Deby eri saputro, S. Kep (G3A011007) 3.Dewa ayu silfi KH, S. Kep (G3A011008) 4.Dhana yogasara, S. Kep (G3A011009) 5.Dhessy wulandari, S. Kep (G3A011010) 6.Dwi arif rachmanto,S. Kep(G3A011011)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SEMARANG 2011

LAPORAN PENDAHULUAN TERAPI OKSIGENASI DAN SUCTION PADA ANAK

TERAPI OKSIGENASI A. DEFINISI Pemenuhan kebutuhan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow. Kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh. Kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan menimbulkan kematian. Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigen adalah sistem pernafasan, sistem persarafan dan sistem kardiovaskuler. Masalah kebutuhan oksigen merupakan masalah utama dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Hal ini terbukti, pada seseorang yang kekurangan oksigen maka akan mengalami hipoksia dan akan terjadi kematian. Proses pemenuhuan kebutuhan okigen pada manusia dapat dilkaukan dengan beberapa cara pemberian oksigen melalui saluran pernafasan, membebaskan saluran pernafasan dari adanya sumbatan yang menghalangi masuknya oksigen, memulihkan dan memperbaiki organ pernafasan agar berfungsi secara normal. Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsure vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel – sel tubuh (Mubarak, 2007). Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen ke dalam sistem (baik kimia maupun fisika). Oksigen merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme sel tubuh (Mubarak, 2007). Terapi oksigen merupakan suatu tindakan yang dilakukan dengan cara memberikan oksigen lembab pada pasien dengan tujuan memberikan

oksigen ke dalam jaringan tubuh, mengatasi hipoksemia, menurunkan kerja pernafasan, mengurangi kerja miokardium (Auliyati, 2008).

B. INDIKASI PEMBERIAN TERAPI 1. Pada kasus hipoksemia : Bayi dan anak – anak : PaO2 < 60 mmHg atau SaO2 < 90% (udara ruangan) Neonatus : PaO2 < 50 mmHg atau SaO2 < 88% 2. Mencegah atau mengatasi hypoksia. 3. Penurunan PaCO2 dengan gejala dan tanda-tanda hypoksia : dyspnea, tachypnea, gelisah, disorientasi, apatis, kesadaran menurun. 4. Keadaan lain : gagal nafas akut, shock, keracunan CO2.

C. KONTRA INDIKASI Tidak ada kontra indikasi absolute. 1. Kanul nasal : jika ada obstruksi nasal 2. Kateter nasofaringeal : jika terdapat fraktur basis crania, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal.

D. PEMBERIAN TERAPI OKSIGEN Pada prosedur pemberian terapi oksigen, pada dasarnya hampir sama antara dewasa dan anak – anak. Yang membedakan adalah apabila untuk anak – anak dengan menggunakan peralatan yang berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan ukuran untuk dewasa. Pemberian terapi oksigen ini dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu : 1. Kateter nasal 2. Kanula nasal 3. Masker oksigen

E. METODE PEMBERIAN 1. SISTEM ALIRAN RENDAH (LOW FLOW) a. LOW FLOW, LOW CONCENTRATION 1) Nasal catheter : flow = 1 – 3 L/min, konsentrasi = 24 – 32 %. 2) Nasal cannula : flow = 4 – 6 L/min, konsentrasi = 33 – 44 %. b. LOW FLOW, HIGH CONCENTRATION 1) Sungkup muka sederhana : flow = 5 – 8 L/min., 2) Sungkup muka dengan kantong rebreathing : flow = 6 – 10 L/min, konsentrasi = 40 – 60%. 3) Sungkup muka dengan kantong non rebreathing : flow = 10 – 15 L/min, konsentrasi = 80 – 100%. 2. SISTEM ALIRAN TINGGI (HIGH FLOW) a. HIGH FLOW, LOW CONCENTRATION 1) Sungkup Venturi : flow dapat diatur, konsentrasi 24 – 50 %. Indikasi : ventilasi tidak teratur. b. HIGH FLOW, HIGH CONCENTRATION 1) Head box

F. TUJUAN PEMBERIAN TERAPI 1. Memperbaiki oksigenasi jaringan Meningkatnya persentase oksigen pada udara inhalasi akan

meningkatkan konsentrasi oksigen pada alveoli dan kenaikan tekanan oksigen di dalam darah. Terapi oksigen sangat bermanfaat bila tekanan oksigen darah rendah (hypoxic – hypoxemia).

Alat Kanula nasal

Aliran (L/menit) 1 2 3 4 5 6

Fi O2 (fraksi oksigen inspirasi) 0,24 0,28 0,32 0,36 0,40 0,44 0,40 0,50 0,60 0,60 0,70 0,80 ≥0,80 ≥0,80

Masker oksigen

5-6 6-7 7-8

Masker

dengan

6 7 8 9 10

kantong reservoir

G. ALAT DAN BAHAN 1. Tabung oksigen lengkap dengan humidifier dan flow meter 2. Kateter nasal, kanula nasal, atau masker oksigen 3. Vaselin atau jelly

H. PROSEDUR KERJA 1. Kateter Nasal a. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan b. Cuci tangan c. Atur aliran oksigen sesuai dengan kebutuhan, kemudian observasi humidifier dengan cara melihat adanya gelembung air d. Atur posisi klien pada posisi semi fowler e. Ukur nasal kateter mulai dari lubang telinga sampai ke hidung dan berikan tanda. f. Buka saluran udara dari tabung oksigen g. Olesi dengan menggunakan vaselin atau jelly h. Masukkan ke dalam hidung sampai batas yang telah ditentukan i. Lakukan pengecekan kateter apakah sudah masuk atau belum dengan menekan lidah pasien meggunakan spatel (apabila sudah masuk akan terlihat posisinya di belakang uvula) j. Fiksasi kateter pada daerah hidung k. Periksa nasal kateter setiap 6 – 8 jam sekali l. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respons klien m. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

2. Kanula Nasal a. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan b. Cuci tangan c. Atur aliran oksigen sesuai kebutuhan. Kemudian observasi humidifier pada tabung dengan adanya gelembung air d. Atur posisi klien pada posisi semi fowler e. Pasang kanula nasal pada hidung dan atur posisi kanula sesuai kenyamanan klien f. Periksa kanula tiap 6 – 8 jam g. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respons klien h. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

3. Masker Wajah a. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan b. Cuci tangan c. Atur aliran oksigen sesuai kebutuhan. Kemudian observasi humidifier pada tabung dengan adanya gelembung air d. Atur posisi klien pada posisi semi fowler e. Tempatkan masker oksigen di wajah klien, menutupi hidung dan mulut klien. Ikatkan elastic band melingkari kepala klien sesuai kenyaman klien. Berikan alasa pada elastic band yang berada di belakang telinga dan di atas tulang yang menonjol. Fungsi alas adalah untuk mencegah iritasi karena masker oksigen. f. Periksa masker wajah tiap 6 – 8 jam g. Catat kecepatan aliran oksigen, rute pemberian dan respons klien h. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

SUCTION A. DEFINISI Penghisapan lendir (suction) merupakan suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu untuk mengeluarkan secret secara mandiri dengan menggunakan bantuan alat penghisap (Hidayat, 2004).

Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri (Ignativicius, 1999).

B. INDIKASI Indikasi dilakukannya penghisapan adalah adanya atau banyaknya secret yang menyumbat jalan nafas, ditandai dengan : 1. Hasil auskultasi : ditemukan suara crackels atau ronkhi 2. Nadi dan laju pernafasan meningkat 3. Ditemukan adanya mukus pada saluran nafas 4. Pasien yang koma 5. Pasien yang tidak bisa batuk karena kelumpuhan dari otot pernafasan. 6. Bayi atau anak dibawah umur 2 tahun

C. KONTRA INDIKASI 1. Pasien dengan stridor 2. Pulmonary oedem 3. Post pneumonectomy

D. TUJUAN 1. Untuk memelihara saluran nafas tetap bersih. 2. Untuk mengeluarkan sekret pada pasien yang tidak mampu mengeluarkan secret sendiri.

3. Diharapkan suplay oksigen terpenuhi dengan jalan nafas yang adekuat.

E. ALAT DAN BAHAN 1. Alat penghisap lendir dengan botol berisi larutan desinfektan 2. Kateter penghisap lendir (steril) 3. Pinset steril 4. Sarung tangan steril 5. Dua buah kom berisi larutan aquabides atau NaCl 0.9% dan larutan desinfektan 6. Kasa steril 7. Kertas tissue

F. PROSEDUR KERJA 1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan 2. Cuci tangan 3. Tempatkan klin pada posisi supinasi dengan kepala miring kea rah perawat 4. Pakai sarung tangan 5. Hubungkan kateter penghisap dengan selang alat penghisap 6. Hidupkan mesin penghisap 7. Masukkan kateter penghisap ke dalam kom berisi aquabides atau NaCl 0.9% untuk mempertahankan tingkat kesterilan alat 8. Masukkan kateter penghisap melalui hidung klien pada posisi tidak menghisap 9. Gunakan alat penghisap dengan tekanan 95 – 110 mmHg untuk anak – anak dan tekanan 50 – 95 mm Hg untuk bayi. 10. Tarik keluar kateter penghisap tidak lebih dari 5 detik untuk anak – anak dan 3 detik untuk bayi 11. Bilas kateter penghisap dengan menggunakan aquabides atau cairan NaCl 0.9%

12. Minta klien untuk menarik nafasa dalam dan batuk di setiap jeda proses penghisapan. 13. Setelah seluruh lendir berhasil dikeluarkan, kaji jumlah, konsistensi, warna, bau secret dan respons klien terhadap prosedur yang dilakukan 14. Cuci tangan setelah prosedur dilakukan

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul. 2004. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. EGC : Jakarta Hidayat, A.Aziz Alimul. 2008. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi, Konsep dan Proses Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta Nur Auliyati. 2008. Dalam : http://buah-hati-

harapan.blogspot.com/2008/01/terapi-oksigen.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->