Contoh PTK Matematika Kelas III SD: UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN

KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011
Posted by noer al khosim on 04:45 in PTKlaporan | 0 komentar

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011 Oleh : Sri Subekti ABSTRAK Sri Subekti;2011.”Upaya Meningkatkan Hasil belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kab. Klaten Materi Pecahan Melalui bantuan alat peraga benda konkrit tahun 2010/2011” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran alat peraga benda konkrit dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten.Penelitian ini disebut penelitian populatif yang berupa tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah semua siswa kelas III SD negeri 2 Japanan Kecamatan cawas yang berjumlah 24 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi langsung yang dilakukan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung adalah observasi partisipatif agar hasilnya obyektif, selain itu observasi juga dilakukan untuk mengamati siswa dalam mengikuti pembelajaran dan Tes yang dilaksanakan pada awal penelitian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca anak dan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui prestasi belajar matematiika siswa. Teknik analisis data adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis penelitian, diketahui bahwa nilai rata-rata pada

sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.6 pada siklus II yang telah mencapai ratarata 7. maka dapat diambil kesimpulan hasil penelitian : bahwa penggunaan media pembelajaran benda konkrei dan alat peraga dengan nyata efektif dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat. baik materi maupun kegunaannya.2 kini meningkat menjadi 8. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahuinya.8 %. sampai saat sekarang matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik. Namun sayang. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM) pada siklus III. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbolsimbol. Semula hanya mencapai rata-rata 6.8. Dalam hal ini penulis mengangkat materi pecahan untuk dijadikan bahan penelitian karena selama penulis mengajar di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten dapat ditarik kesimpulan bahwa materi pecahan kurang diminati siswa. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %.siklus I sebesar 35 % sebesar 61. Pada era globalisasi ini penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret” ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi . dan Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis. Hal ini tercermin dari kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pada materi pecahan serta kurang adanya respon positif dan siswa yang dapat mengerjakan soal tes formatif dengan betul kurang dari 65% dengan ketuntasan kurang dari 60%. maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu.

Manfaat bagi sekolah Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. dapat mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar di kelas yang lebih tinggi. Pengetahuan dan kemampuan siswa dalam berpikir semakin meningkat. memperoleh banyak variasi dalam mengajar. kritis. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. b. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri. Dapat membentuk sifat logis. keterampilan. Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku. keterampilan. maupun kelakuannya. Menurut Abu Ahmadi (1986:14) prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut. b. Manfaat Penelitian 1. sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan. Landasan teori 1. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang harus disadari dengan perubahan pada diri seseorang sebagai hasil proses dalam bentuk pengetahuan. Dengan kata lain ada perbedaan sikap dan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar.pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret. Belajar memerlukan bimbingan. Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman sendiri. cermat. 2. Belajar harus bertujuan dan terarah. Belajar memerlukan atas hal-hal yang dipelajari sehingga memperoleh . dapat melahirkan siswa yang siap dalam jenjang pendidikan yang lebih bermutu. 2. kreatif dan disiplin. 3. Mutu pendidikan di sekolah semakin meningkat. Menurut Nasution (1982:38) mengartikan belajar sebagai berikut. Perubahan tingkah laku tersebut karena adanya interaksi. sikap. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya. sikap dan tingkah laku. kebiasaan. c. serta perubahan aspekaspek lain pada individu yang belajar. dan sekolah semakin dipercaya oleh masyarakat. Manfaat bagi guru Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat: Memperoleh kemudahan dalam penyampaian materi sehingga mudah dipahami oleh siswa. Manfaat bagi siswa Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. kecakapan. Prinsip-prinsip Belajar Proses belajar itu komplek sekali. tetapi juga dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk asas-asas atau prinsip-prinsip belajar.

yaitu mulai meninggalkan benda konkret untuk menuju kepemahaman matematika yang memang memuat objek-objek abstrak.pengertian-pengertian. diantaranya adalah sebagai berikut. Perlu menggunakan benda-benda konkret untuk memberikan basis bagi siswa dalam menghayati ide-ide matematika yang abstrak. matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Pada proses belajar mengajar. 6. Teori belajar dari William Brownell Menurut William Brownell. yaitu faktor dari dalam (Internal) dan faktor yang berasal dari luar (external). maka akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. Pengajaran Matematika Pengertian Matematika Menurut R. Sebagai komunikasi pada proses pembelajaran di atas adalah siswa. belajar matematika perlu dua tahap. yakni matematika mempunyai objek kajian yang abstrak. hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor. sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. 3. menyatakan Meskipun terdapat berbagai pendapat yang tampaknya berlainan. Teori belajar dari Richard Skemp Menurut Richard Skemp (dalam Amin Suyitno. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika. Tingkat abstrak. Media Pengajaran Matematika Hubungan antar Media dan Proses Pembelajaran Pada hakikatnya pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasi antar guru dan siswa. matematika mendasarkan diri pada kesepakatankesepakatan. Seorang guru perlu . 5. 4. tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama. Dari beberapa teori belajar matematika di atas. Soedjadi dan masriyah (1994:1). Jika sekelompok siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator. 2005:35). yaitu sebagai berikut. dan matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi. Teori Belajar Matematika Ada beberapa teori belajar yang populer dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar. dalam mengerjakan matematika di Pendidikan Dasar sebaiknya: 1) Menggunakan alat peraga benda konkret. 2) materi disajikan secara permanen dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Bilangan cacah diadakan untuk menggambarkan salah satu sifat himpunan.menyadari bahwa proses komunikasi tidak selalu berjalan dengan lancar. 2) Menurut Anderson Alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. atau bahkan salah konsep. salah pengertian. Pengertian Media Pembelajaran 1) Menurut Darhim Alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran (Kegiatan Belajar Mengajar). Pecahan diadakan untuk menggambarkan satu atau beberapa bagian dari suatu benda. Relasi dua pecahan 3) Nama lain suatu pecahan (pecahan senilai) Kita dapat menunjukkan kepada siswa bahwa : = = dan seterusnya. Pegertian Pecahan Pecahan adalah salah satu cara untuk menuliskan bilangan. Banyaknya anggota setiap himpunan adalah bilangan cacah. bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan. 2003:1) a. Inc. Pecahan menunjukkan bahwa jika sebuah bilangan merupakan bagian dari satu bilangan utuh (Lynette Long dalam John Wiley & Sons. dengan beberapa cara: Dengan peragaan luas Dengan garis bilangan Penjumlahan pecahan dengan garis bilangan Contoh: a) . 7.

tahap pelaksanaan atau tindakan. C. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten smester I tahun pelajaran 2010/2011 yang beralamat di dukuh turasan desa Japanan Kecamatan Cawas. Tahapan tersebut disusun dalam tiga siklus. sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya. dan tahap refleksi. sehingga konsep-konsep baru akan sulit dipahami apabila konsep-konsep yang relevan belum dimiliki oleh siswa. guru harus dapat membimbing siswa. Untuk mencapai keberhasilan tersebut guru harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan. Agar proses pembelajaran berhasil.Pelaksanaan Siklus I 1) Pemberian materi tentang pengenalan pecahan sederhana dengan . Namun pada kenyataannya siswa cenderung enggan untuk belajar jika materi tidak dapat dipahami.b) B. Salah satu Sekolahan yang berada di wilayah kecamatan Cawas dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua yang beragam hal ini menjadikan daya tarik tersendiri untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Jumlah siswa kelas III sebanyak 24 siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Hasil Penelitian 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Tahapan tersebut meliputi tahapan perencanaan. Prosedur Penelitian Prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas ini ditempuh secara bertahap. B. tahap pengamatan. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Semester I tahun pelajaran 2010/2011. C. METODE PENELITIAN A. Kerangka Berpikir Dalam proses pembelajaran komponen utamanya adalah guru dan siswa. Hipotesis Tindakan Melalui pembelajaran dengan alat peraga benda konkret maka hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan dapat ditingkatkan.

1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 9.Tuliskan nilai pecahan gambar di bawah ini pada daerah yang diarsir! Jawab : Seharusnya : b. 2) Penyajian alat peraga berupa model bangun datar yang terbuat dari plastik dan kertas warna-warni untuk menjelaskan pecahan bernilai dan seterusnya. contohnya siswa masih belum paham dan belum dapat membedakan antara pembilang dan penyebut. 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90 Sudah .Buatlah gambar yang sesuai dengan nilai pecahan 1/3! Jawab: Seharusnya Ketelitian siswa terhadap penulisan pecahan baik lambang pecahannya maupun dengan kata-kata masih sangat kurang. 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 5. 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 6 60 Belum 3.bantuan gambar-gambar bangun datar. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS I Skor yang diperoleh Ketercapaian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 % 1. Contoh soal: a. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 2. Pada tes akhir pembelajaran baru 58% siswa yang mendapat nilai di atas 6. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 4. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 7. 3) Guru meminta beberapa siswa untuk menunjukkan pecahan yang bernilai dan seterusnya dengan bantuan alat peraga yang telah disediakan. 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 80 Sudah 8. dari 24 siswa hanya 14 siswa yang dinyatakan tuntas sedangkan 10 siswa masih mendapat nilai rendah karena masih kurang memahami materi. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 100 Sudah 6.

1 1 1 1 1 0 0. Pelaksanaan Siklus II 1. 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 2 20 Belum Jumlah skor 19 17 18 15 11 12 14 14 15 13 148 1480 Sdh=14 Blm=10 Jumlah skor maks 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 240 2400 Ket. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 24. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 15. 3.7% 2. 2. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 19.3% Blm=41. Keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat belum muncul secara keseluruhan. 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 90 Sudah 21. Keterampilan siswa dalam menulis di papan tulis belum terlihat rapi. 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 5 50 Belum 20. 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 17. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 14.6 616 Sdh=58.10. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS II . 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 90 Sudah 22.1 1 1 8 80 Sudah 12. 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 6 60 Belum 16. 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 5 50 Belum 23. 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 10 Belum 11. hanya siswa tertentu saja yang terlihat aktif. Bimbingan dan pengawasan terhadap siswa ketika sedang mengerjakan tugas belum dilakukan secara menyeluruh. siswa tidak memperhatikan contoh yang telah diberikan. 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 13. Capaian (%) 79 70 75 63 46 50 58 58 63 54 61. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 18.

daya serapnya mencapai 87. Pelaksanaan Siklus III 1. guru membuat beberapa soal latihan untuk melatih keberanian siswa dalam berpendapat.3. Peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan.8. Partisipasi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I Siklus II Siklus III . 3. Pada 20 menit menjelang akhir pertemuan diadakan tes formatif untuk mengukur tingkat keberhasilan .9% dan ketuntasan belajar mencapai 83.Guru memberikan soal-soal latihan kepada siswa. guru menawarkan pada siswa untuk maju mengerjakan soal di depan kelas. Berikut adalah tabel partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan tabel prestasi siswa dalam menyerap materi pelajaran selama diadakan penelitian yang terdiri dari 3 siklus dan ditempuh sebanyak 6 kali pertemuan dengan alokasi waktu 12 jam pelajaran.3% dengan nilai rata-rata 8. 1. Setelah selesai diterangkan dan siswa terlihat sudah paham. Diadakan tes formatif pada akhir pertemuan. ANALISIS HASIL TES FORMATIF SIKLUS III Hasil tes formatif pada siklus III meningkat drastis.

3 211 : 24 = 8.3% 87.5 14 58. Untuk itu peneliti akan terus berusaha lebih keras lagi pada pembelajaran di siklus berikutnya.PEMBAHASAN 1.1 dari 24 siswa.5 10 41.2% 15 62.8% 20 83.2 178 : 24 = 7.8% 20 83.7% 7 29.Siklus I Dari faktor-faktor penghambat yang peneliti peroleh di atas sangat mempengaruhi hasil pembelajaran sehingga pembelajaran pada siklus I ini belum dapat berjalan dengan baik.8 Daya Serap 61.5% Sedang 8 33. hanya 14 siswa yang tuntas belajar sedangkan 10 siswa lainnya tidak tuntas.9×100% = 87.7% Nilai ≥ 7.3% Tuntas Belajar 14 58.3% Tidak Tuntas 10 41.7×100% = 61.3% 17 70.2% 4 16. sedangkan persentase keaktifan siswa hanya 35 % saja.7% 73.7% 7 29.3% 17 70.2% 4 16.5% Jumlah 24 100% 24 100% 24 100% 2. .7% Nilai Rata-rata 148 : 24 = 6. Setelah diadakan tes formatif pada akhir pembelajaran diperoleh nilai rata-rata hanya 6.3% 11 45.8% 6 25% Aktif 6 25% 7 29.3×100% = 73.9% B. Prestasi Siswa dalam Menyerap Materi Pelajaran Siklus I Siklus II Siklus III Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Nilai < 7.Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Acuh 10 41.7% 6 25% 3 12.

melihat dari hasil penelitian yang cukup baik pada materi pecahan ini dapat dikatakan bahawa penggunaan peraga benda konkrit dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan dari hasil ini maka peneliti akan melanjutkan dan menggunakan cara-cara yang sudah peneliti tempuh pada materi-materi lainnya tentunya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Sehingga.8 %. alat peraga benda konkret yang peneliti gunakan sebagai media perantara dalam menjelaskan materi pecahan ini. B. guru pengajar juga masih mempunyai banyak kekurangan diantaranya dalam penggunaan alat bantu pembelajaran seperti alat peraga benda konkret yang digunakan harus dikembangkan lagi. serta kekreatifan guru dalam menggunakan alat peraga dan variasi mengajar yang digunakan perlu ditingkatkan agar siswa lebih termotivasi sehingga siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis. Namun selain kekurangan yang ada pada siswa. Telah dibuktikan pada akhir siklus III. Dengan bantuan alat peraga benda konkret ini telah membuktikan bahwa hasil belajar pada materi pecahan dapat meningkat sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti.9%. sangat membantu dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik lagi. Hasil belajar materi pecahan pada siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011.Siklus II Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil tes formatif yang diperoleh siswa di akhir pembelajaran pada siklus II yang telah mencapai rata-rata 7. Dari 24 siswa hanya 29. PENUTUP A. Saran Guru juga hendaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang alat-alat peraga apa saja yang dapat digunakan sebagai alat bantu . Simpulan Dapat ditarik simpulan sebagai berikut. skor ratarata yang diperoleh 8.8 dengan daya serap 87.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. 3.2 % saja yang tidak tuntas. dapat meningkat melalui bantuan alat peraga benda-benda konkret. Siklus III Pelajaran matematika yang sebelumnya membosankan dan materi pecahan yang sebelumnya membingungkan kini berubah menjadi menyenangkan dan selalu dinanti-nantikan sebagaimana layaknya seperti yang harus dialami oleh siswa kelas tiga pada umumnya.2. Semula hanya mencapai rata-rata 6. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %.8.2 kini meningkat menjadi 8. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM).

2005. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Bandung: Sinar Baru. Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud. 1996. 2000. . Suyitno. Bandung: CV. Amin. Sugiarto dan Isti Hidayah. Didaktik Asas-asas Mengajar. 2001. Lynette. 2004. Pedoman Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga/Praktik Sederhana Mata Pelajaran matematika Untuk Sekolah Dasar. Nasution. Jakarta: Depdikbud. Canada: John Wiley & Sons. Djauzak. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta: Balai Pustaka. Fabulous Fractions. dkk. Long. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Matematika Sekolah II. 2005. Hasan. Sudjana. 2005.Inc. Pendidikan Matematika I. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989. Tidar. Bandung: Janmer. Sugiarto. 1994. Suyitno. Alwi. Kurikulum Pendidikan Dasar. Nana. 1982. Matematika 3. Sukahar dan dwi Juniati. Workshop Pendidikan Matematika. Matematika Sekolah I. Amin.komunikasi yang sesuai dengan materi pecahan yag nantinya tidak akan membingungkan siswa melainkan dengan adanya bantuan alat peraga benda konkret ini akan lebih membantu siswa untuk menguasai materi sehingga proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan efektif. 2004. Depdikbud. CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar. 2004.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.