Contoh PTK Matematika Kelas III SD: UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN

KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011
Posted by noer al khosim on 04:45 in PTKlaporan | 0 komentar

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011 Oleh : Sri Subekti ABSTRAK Sri Subekti;2011.”Upaya Meningkatkan Hasil belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kab. Klaten Materi Pecahan Melalui bantuan alat peraga benda konkrit tahun 2010/2011” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran alat peraga benda konkrit dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten.Penelitian ini disebut penelitian populatif yang berupa tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah semua siswa kelas III SD negeri 2 Japanan Kecamatan cawas yang berjumlah 24 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi langsung yang dilakukan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung adalah observasi partisipatif agar hasilnya obyektif, selain itu observasi juga dilakukan untuk mengamati siswa dalam mengikuti pembelajaran dan Tes yang dilaksanakan pada awal penelitian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca anak dan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui prestasi belajar matematiika siswa. Teknik analisis data adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis penelitian, diketahui bahwa nilai rata-rata pada

Pada era globalisasi ini penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. baik materi maupun kegunaannya. maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM) pada siklus III.8. maka dapat diambil kesimpulan hasil penelitian : bahwa penggunaan media pembelajaran benda konkrei dan alat peraga dengan nyata efektif dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahuinya. Hal ini tercermin dari kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pada materi pecahan serta kurang adanya respon positif dan siswa yang dapat mengerjakan soal tes formatif dengan betul kurang dari 65% dengan ketuntasan kurang dari 60%. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat. sampai saat sekarang matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik.8 %. Dalam hal ini penulis mengangkat materi pecahan untuk dijadikan bahan penelitian karena selama penulis mengajar di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten dapat ditarik kesimpulan bahwa materi pecahan kurang diminati siswa. Semula hanya mencapai rata-rata 6. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret” ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi . Namun sayang. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbolsimbol.2 kini meningkat menjadi 8. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %. sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.6 pada siklus II yang telah mencapai ratarata 7.siklus I sebesar 35 % sebesar 61. dan Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis.

LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. c. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri. sikap. sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan. Prinsip-prinsip Belajar Proses belajar itu komplek sekali. cermat. dapat melahirkan siswa yang siap dalam jenjang pendidikan yang lebih bermutu. Belajar memerlukan bimbingan. Menurut Nasution (1982:38) mengartikan belajar sebagai berikut. b. Dapat membentuk sifat logis. b. Belajar memerlukan atas hal-hal yang dipelajari sehingga memperoleh . kecakapan. Manfaat Penelitian 1. 2. Pengetahuan dan kemampuan siswa dalam berpikir semakin meningkat. keterampilan. Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku. dan sekolah semakin dipercaya oleh masyarakat. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya. kreatif dan disiplin. Menurut Abu Ahmadi (1986:14) prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut. keterampilan. Landasan teori 1. dapat mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar di kelas yang lebih tinggi. Mutu pendidikan di sekolah semakin meningkat. 3. kritis. kebiasaan. memperoleh banyak variasi dalam mengajar. Perubahan tingkah laku tersebut karena adanya interaksi. tetapi juga dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk asas-asas atau prinsip-prinsip belajar.pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret. Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman sendiri. sikap dan tingkah laku. 2. Dengan kata lain ada perbedaan sikap dan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar. Manfaat bagi guru Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat: Memperoleh kemudahan dalam penyampaian materi sehingga mudah dipahami oleh siswa. Manfaat bagi siswa Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. Belajar harus bertujuan dan terarah. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang harus disadari dengan perubahan pada diri seseorang sebagai hasil proses dalam bentuk pengetahuan. maupun kelakuannya. serta perubahan aspekaspek lain pada individu yang belajar. Manfaat bagi sekolah Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a.

Sebagai komunikasi pada proses pembelajaran di atas adalah siswa. 3. sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Soedjadi dan masriyah (1994:1). Pengajaran Matematika Pengertian Matematika Menurut R. 2005:35). Jika sekelompok siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator. belajar matematika perlu dua tahap. Perlu menggunakan benda-benda konkret untuk memberikan basis bagi siswa dalam menghayati ide-ide matematika yang abstrak. Dari beberapa teori belajar matematika di atas. yakni matematika mempunyai objek kajian yang abstrak. yaitu faktor dari dalam (Internal) dan faktor yang berasal dari luar (external). maka akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama. dalam mengerjakan matematika di Pendidikan Dasar sebaiknya: 1) Menggunakan alat peraga benda konkret. 6. yaitu mulai meninggalkan benda konkret untuk menuju kepemahaman matematika yang memang memuat objek-objek abstrak. menyatakan Meskipun terdapat berbagai pendapat yang tampaknya berlainan. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Pada proses belajar mengajar. 2) materi disajikan secara permanen dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama. dan matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi. Seorang guru perlu . diantaranya adalah sebagai berikut.pengertian-pengertian. Teori belajar dari Richard Skemp Menurut Richard Skemp (dalam Amin Suyitno. Teori belajar dari William Brownell Menurut William Brownell. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika. Teori Belajar Matematika Ada beberapa teori belajar yang populer dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar. 5. matematika mendasarkan diri pada kesepakatankesepakatan. matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. 4. Media Pengajaran Matematika Hubungan antar Media dan Proses Pembelajaran Pada hakikatnya pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasi antar guru dan siswa. yaitu sebagai berikut. Tingkat abstrak. hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor.

7. 2) Menurut Anderson Alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan. salah pengertian. Bilangan cacah diadakan untuk menggambarkan salah satu sifat himpunan. dengan beberapa cara: Dengan peragaan luas Dengan garis bilangan Penjumlahan pecahan dengan garis bilangan Contoh: a) . Relasi dua pecahan 3) Nama lain suatu pecahan (pecahan senilai) Kita dapat menunjukkan kepada siswa bahwa : = = dan seterusnya. Pecahan menunjukkan bahwa jika sebuah bilangan merupakan bagian dari satu bilangan utuh (Lynette Long dalam John Wiley & Sons. atau bahkan salah konsep. 2003:1) a. Pecahan diadakan untuk menggambarkan satu atau beberapa bagian dari suatu benda.menyadari bahwa proses komunikasi tidak selalu berjalan dengan lancar. Inc. Banyaknya anggota setiap himpunan adalah bilangan cacah. Pegertian Pecahan Pecahan adalah salah satu cara untuk menuliskan bilangan. Pengertian Media Pembelajaran 1) Menurut Darhim Alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran (Kegiatan Belajar Mengajar).

b) B. Untuk mencapai keberhasilan tersebut guru harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten smester I tahun pelajaran 2010/2011 yang beralamat di dukuh turasan desa Japanan Kecamatan Cawas. Prosedur Penelitian Prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas ini ditempuh secara bertahap. tahap pelaksanaan atau tindakan. C. sehingga konsep-konsep baru akan sulit dipahami apabila konsep-konsep yang relevan belum dimiliki oleh siswa. Kerangka Berpikir Dalam proses pembelajaran komponen utamanya adalah guru dan siswa. Namun pada kenyataannya siswa cenderung enggan untuk belajar jika materi tidak dapat dipahami. guru harus dapat membimbing siswa. C. Hasil Penelitian 1. Salah satu Sekolahan yang berada di wilayah kecamatan Cawas dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua yang beragam hal ini menjadikan daya tarik tersendiri untuk melakukan penelitian tindakan kelas. dan tahap refleksi. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Semester I tahun pelajaran 2010/2011. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya. tahap pengamatan. Tahapan tersebut meliputi tahapan perencanaan. Hipotesis Tindakan Melalui pembelajaran dengan alat peraga benda konkret maka hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan dapat ditingkatkan. B. METODE PENELITIAN A.Pelaksanaan Siklus I 1) Pemberian materi tentang pengenalan pecahan sederhana dengan . Tahapan tersebut disusun dalam tiga siklus. Agar proses pembelajaran berhasil. Jumlah siswa kelas III sebanyak 24 siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 4. 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90 Sudah . dari 24 siswa hanya 14 siswa yang dinyatakan tuntas sedangkan 10 siswa masih mendapat nilai rendah karena masih kurang memahami materi. 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 5.bantuan gambar-gambar bangun datar. 3) Guru meminta beberapa siswa untuk menunjukkan pecahan yang bernilai dan seterusnya dengan bantuan alat peraga yang telah disediakan. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 2. 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 80 Sudah 8. 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 6 60 Belum 3. Pada tes akhir pembelajaran baru 58% siswa yang mendapat nilai di atas 6. contohnya siswa masih belum paham dan belum dapat membedakan antara pembilang dan penyebut. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS I Skor yang diperoleh Ketercapaian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 % 1. Contoh soal: a. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 7.Buatlah gambar yang sesuai dengan nilai pecahan 1/3! Jawab: Seharusnya Ketelitian siswa terhadap penulisan pecahan baik lambang pecahannya maupun dengan kata-kata masih sangat kurang.Tuliskan nilai pecahan gambar di bawah ini pada daerah yang diarsir! Jawab : Seharusnya : b. 2) Penyajian alat peraga berupa model bangun datar yang terbuat dari plastik dan kertas warna-warni untuk menjelaskan pecahan bernilai dan seterusnya. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 9. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 100 Sudah 6.

1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 24. 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 90 Sudah 21.10. Capaian (%) 79 70 75 63 46 50 58 58 63 54 61. Bimbingan dan pengawasan terhadap siswa ketika sedang mengerjakan tugas belum dilakukan secara menyeluruh.6 616 Sdh=58. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS II . hanya siswa tertentu saja yang terlihat aktif. 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 6 60 Belum 16. 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 13. Keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat belum muncul secara keseluruhan. Keterampilan siswa dalam menulis di papan tulis belum terlihat rapi. 3.7% 2. 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 5 50 Belum 20. siswa tidak memperhatikan contoh yang telah diberikan. 2. 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 5 50 Belum 23. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 19. 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 17. 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 10 Belum 11. 1 1 1 1 1 0 0. 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 2 20 Belum Jumlah skor 19 17 18 15 11 12 14 14 15 13 148 1480 Sdh=14 Blm=10 Jumlah skor maks 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 240 2400 Ket.1 1 1 8 80 Sudah 12. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 14. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 15. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 18.3% Blm=41. 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 90 Sudah 22. Pelaksanaan Siklus II 1.

Berikut adalah tabel partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan tabel prestasi siswa dalam menyerap materi pelajaran selama diadakan penelitian yang terdiri dari 3 siklus dan ditempuh sebanyak 6 kali pertemuan dengan alokasi waktu 12 jam pelajaran. Pelaksanaan Siklus III 1. ANALISIS HASIL TES FORMATIF SIKLUS III Hasil tes formatif pada siklus III meningkat drastis. 3.3% dengan nilai rata-rata 8.Guru memberikan soal-soal latihan kepada siswa.3. Partisipasi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I Siklus II Siklus III . 1. Setelah selesai diterangkan dan siswa terlihat sudah paham.8. guru menawarkan pada siswa untuk maju mengerjakan soal di depan kelas. Peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan.9% dan ketuntasan belajar mencapai 83. guru membuat beberapa soal latihan untuk melatih keberanian siswa dalam berpendapat. Pada 20 menit menjelang akhir pertemuan diadakan tes formatif untuk mengukur tingkat keberhasilan . Diadakan tes formatif pada akhir pertemuan. daya serapnya mencapai 87.

7% 6 25% 3 12.7% Nilai ≥ 7.PEMBAHASAN 1.Siklus I Dari faktor-faktor penghambat yang peneliti peroleh di atas sangat mempengaruhi hasil pembelajaran sehingga pembelajaran pada siklus I ini belum dapat berjalan dengan baik.3% Tuntas Belajar 14 58.9% B.5 10 41.3% Tidak Tuntas 10 41.5% Sedang 8 33. .3% 11 45.3% 17 70.3×100% = 73. Prestasi Siswa dalam Menyerap Materi Pelajaran Siklus I Siklus II Siklus III Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Nilai < 7.5% Jumlah 24 100% 24 100% 24 100% 2.3% 87.7% 7 29.8 Daya Serap 61.7% 7 29.2 178 : 24 = 7.7% 73. Setelah diadakan tes formatif pada akhir pembelajaran diperoleh nilai rata-rata hanya 6.1 dari 24 siswa.8% 20 83.5 14 58.8% 6 25% Aktif 6 25% 7 29.7% Nilai Rata-rata 148 : 24 = 6. hanya 14 siswa yang tuntas belajar sedangkan 10 siswa lainnya tidak tuntas.3% 17 70. sedangkan persentase keaktifan siswa hanya 35 % saja.2% 4 16.8% 20 83.Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Acuh 10 41.7×100% = 61.2% 4 16.2% 15 62.3 211 : 24 = 8.9×100% = 87. Untuk itu peneliti akan terus berusaha lebih keras lagi pada pembelajaran di siklus berikutnya.

Dengan bantuan alat peraga benda konkret ini telah membuktikan bahwa hasil belajar pada materi pecahan dapat meningkat sesuai dengan yang diharapkan. Dari 24 siswa hanya 29.2 % saja yang tidak tuntas. alat peraga benda konkret yang peneliti gunakan sebagai media perantara dalam menjelaskan materi pecahan ini. B. Telah dibuktikan pada akhir siklus III.8. serta kekreatifan guru dalam menggunakan alat peraga dan variasi mengajar yang digunakan perlu ditingkatkan agar siswa lebih termotivasi sehingga siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis.8 %. skor ratarata yang diperoleh 8.9%. Hasil belajar materi pecahan pada siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011. 3. Semula hanya mencapai rata-rata 6. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %. Ini berarti.Siklus II Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil tes formatif yang diperoleh siswa di akhir pembelajaran pada siklus II yang telah mencapai rata-rata 7. Namun selain kekurangan yang ada pada siswa. PENUTUP A. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM). Sehingga. Siklus III Pelajaran matematika yang sebelumnya membosankan dan materi pecahan yang sebelumnya membingungkan kini berubah menjadi menyenangkan dan selalu dinanti-nantikan sebagaimana layaknya seperti yang harus dialami oleh siswa kelas tiga pada umumnya.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. Simpulan Dapat ditarik simpulan sebagai berikut.2.8 dengan daya serap 87. melihat dari hasil penelitian yang cukup baik pada materi pecahan ini dapat dikatakan bahawa penggunaan peraga benda konkrit dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan dari hasil ini maka peneliti akan melanjutkan dan menggunakan cara-cara yang sudah peneliti tempuh pada materi-materi lainnya tentunya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Saran Guru juga hendaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang alat-alat peraga apa saja yang dapat digunakan sebagai alat bantu . sangat membantu dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik lagi.2 kini meningkat menjadi 8. dapat meningkat melalui bantuan alat peraga benda-benda konkret. guru pengajar juga masih mempunyai banyak kekurangan diantaranya dalam penggunaan alat bantu pembelajaran seperti alat peraga benda konkret yang digunakan harus dikembangkan lagi.

Lynette. 2005. Didaktik Asas-asas Mengajar. 1994. Workshop Pendidikan Matematika. Bandung: CV. Bandung: Janmer. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Sugiarto dan Isti Hidayah. Depdikbud. 1989. Long. 2001. Nasution. Suyitno. Jakarta: Balai Pustaka. Canada: John Wiley & Sons. CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. 1996. Matematika 3. 1982. Amin.komunikasi yang sesuai dengan materi pecahan yag nantinya tidak akan membingungkan siswa melainkan dengan adanya bantuan alat peraga benda konkret ini akan lebih membantu siswa untuk menguasai materi sehingga proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan efektif. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Sudjana. 2005. Pedoman Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga/Praktik Sederhana Mata Pelajaran matematika Untuk Sekolah Dasar. Amin. 2004.Inc. Suyitno. Sugiarto. dkk. Jakarta: Depdikbud. Djauzak. Pendidikan Matematika I. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud. Kurikulum Pendidikan Dasar. Bandung: Sinar Baru. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. 2005. Hasan. Fabulous Fractions. Alwi. 2000. Sukahar dan dwi Juniati. Matematika Sekolah I. Nana. Matematika Sekolah II. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2004. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Jakarta: Depdikbud. . 2004. Tidar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful