Contoh PTK Matematika Kelas III SD: UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN

KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011
Posted by noer al khosim on 04:45 in PTKlaporan | 0 komentar

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011 Oleh : Sri Subekti ABSTRAK Sri Subekti;2011.”Upaya Meningkatkan Hasil belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kab. Klaten Materi Pecahan Melalui bantuan alat peraga benda konkrit tahun 2010/2011” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran alat peraga benda konkrit dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten.Penelitian ini disebut penelitian populatif yang berupa tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah semua siswa kelas III SD negeri 2 Japanan Kecamatan cawas yang berjumlah 24 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi langsung yang dilakukan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung adalah observasi partisipatif agar hasilnya obyektif, selain itu observasi juga dilakukan untuk mengamati siswa dalam mengikuti pembelajaran dan Tes yang dilaksanakan pada awal penelitian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca anak dan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui prestasi belajar matematiika siswa. Teknik analisis data adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis penelitian, diketahui bahwa nilai rata-rata pada

Hal ini tercermin dari kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pada materi pecahan serta kurang adanya respon positif dan siswa yang dapat mengerjakan soal tes formatif dengan betul kurang dari 65% dengan ketuntasan kurang dari 60%. Namun sayang.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. sampai saat sekarang matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahuinya.8. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Semula hanya mencapai rata-rata 6. maka dapat diambil kesimpulan hasil penelitian : bahwa penggunaan media pembelajaran benda konkrei dan alat peraga dengan nyata efektif dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011.siklus I sebesar 35 % sebesar 61. Pada era globalisasi ini penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. baik materi maupun kegunaannya. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbolsimbol. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM) pada siklus III. Dalam hal ini penulis mengangkat materi pecahan untuk dijadikan bahan penelitian karena selama penulis mengajar di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten dapat ditarik kesimpulan bahwa materi pecahan kurang diminati siswa.8 %. dan Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis.6 pada siklus II yang telah mencapai ratarata 7. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret” ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi .2 kini meningkat menjadi 8. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %. maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu. sebelum memanipulasi simbol-simbol itu.

Pengetahuan dan kemampuan siswa dalam berpikir semakin meningkat. Belajar memerlukan atas hal-hal yang dipelajari sehingga memperoleh . Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku. dapat mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar di kelas yang lebih tinggi. serta perubahan aspekaspek lain pada individu yang belajar. keterampilan. Menurut Abu Ahmadi (1986:14) prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut. kreatif dan disiplin. Dengan kata lain ada perbedaan sikap dan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar. c. Manfaat bagi guru Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat: Memperoleh kemudahan dalam penyampaian materi sehingga mudah dipahami oleh siswa. Manfaat bagi siswa Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. cermat. Perubahan tingkah laku tersebut karena adanya interaksi. dan sekolah semakin dipercaya oleh masyarakat. kritis. Mutu pendidikan di sekolah semakin meningkat. b. Manfaat Penelitian 1. Belajar harus bertujuan dan terarah. b. Prinsip-prinsip Belajar Proses belajar itu komplek sekali. Landasan teori 1. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. 2. sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri. 2. Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman sendiri.pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret. Belajar memerlukan bimbingan. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang harus disadari dengan perubahan pada diri seseorang sebagai hasil proses dalam bentuk pengetahuan. kebiasaan. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya. Menurut Nasution (1982:38) mengartikan belajar sebagai berikut. Manfaat bagi sekolah Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. Dapat membentuk sifat logis. dapat melahirkan siswa yang siap dalam jenjang pendidikan yang lebih bermutu. 3. sikap dan tingkah laku. memperoleh banyak variasi dalam mengajar. kecakapan. maupun kelakuannya. keterampilan. sikap. tetapi juga dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk asas-asas atau prinsip-prinsip belajar.

dan matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi. Teori Belajar Matematika Ada beberapa teori belajar yang populer dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar. 2) materi disajikan secara permanen dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama. tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama. belajar matematika perlu dua tahap. Tingkat abstrak.pengertian-pengertian. 2005:35). Teori belajar dari William Brownell Menurut William Brownell. menyatakan Meskipun terdapat berbagai pendapat yang tampaknya berlainan. Pengajaran Matematika Pengertian Matematika Menurut R. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Pada proses belajar mengajar. matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. Perlu menggunakan benda-benda konkret untuk memberikan basis bagi siswa dalam menghayati ide-ide matematika yang abstrak. 3. hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor. sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Seorang guru perlu . diantaranya adalah sebagai berikut. yaitu faktor dari dalam (Internal) dan faktor yang berasal dari luar (external). Teori belajar dari Richard Skemp Menurut Richard Skemp (dalam Amin Suyitno. 4. maka akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. Sebagai komunikasi pada proses pembelajaran di atas adalah siswa. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. Dari beberapa teori belajar matematika di atas. Media Pengajaran Matematika Hubungan antar Media dan Proses Pembelajaran Pada hakikatnya pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasi antar guru dan siswa. yaitu mulai meninggalkan benda konkret untuk menuju kepemahaman matematika yang memang memuat objek-objek abstrak. Soedjadi dan masriyah (1994:1). 5. 6. matematika mendasarkan diri pada kesepakatankesepakatan. yakni matematika mempunyai objek kajian yang abstrak. Jika sekelompok siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator. yaitu sebagai berikut. dalam mengerjakan matematika di Pendidikan Dasar sebaiknya: 1) Menggunakan alat peraga benda konkret.

Pecahan diadakan untuk menggambarkan satu atau beberapa bagian dari suatu benda. Inc. 2) Menurut Anderson Alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. Relasi dua pecahan 3) Nama lain suatu pecahan (pecahan senilai) Kita dapat menunjukkan kepada siswa bahwa : = = dan seterusnya. Bilangan cacah diadakan untuk menggambarkan salah satu sifat himpunan. atau bahkan salah konsep. 2003:1) a. Pegertian Pecahan Pecahan adalah salah satu cara untuk menuliskan bilangan.menyadari bahwa proses komunikasi tidak selalu berjalan dengan lancar. Banyaknya anggota setiap himpunan adalah bilangan cacah. Pengertian Media Pembelajaran 1) Menurut Darhim Alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran (Kegiatan Belajar Mengajar). salah pengertian. Pecahan menunjukkan bahwa jika sebuah bilangan merupakan bagian dari satu bilangan utuh (Lynette Long dalam John Wiley & Sons. bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan. 7. dengan beberapa cara: Dengan peragaan luas Dengan garis bilangan Penjumlahan pecahan dengan garis bilangan Contoh: a) .

Salah satu Sekolahan yang berada di wilayah kecamatan Cawas dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua yang beragam hal ini menjadikan daya tarik tersendiri untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Agar proses pembelajaran berhasil. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. tahap pelaksanaan atau tindakan. Hasil Penelitian 1. sehingga konsep-konsep baru akan sulit dipahami apabila konsep-konsep yang relevan belum dimiliki oleh siswa. Tahapan tersebut meliputi tahapan perencanaan. guru harus dapat membimbing siswa. Prosedur Penelitian Prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas ini ditempuh secara bertahap. dan tahap refleksi. Untuk mencapai keberhasilan tersebut guru harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan.b) B. Jumlah siswa kelas III sebanyak 24 siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Namun pada kenyataannya siswa cenderung enggan untuk belajar jika materi tidak dapat dipahami. B. Tahapan tersebut disusun dalam tiga siklus. C. C. tahap pengamatan. Hipotesis Tindakan Melalui pembelajaran dengan alat peraga benda konkret maka hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan dapat ditingkatkan.Pelaksanaan Siklus I 1) Pemberian materi tentang pengenalan pecahan sederhana dengan . METODE PENELITIAN A. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Semester I tahun pelajaran 2010/2011. sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya. Kerangka Berpikir Dalam proses pembelajaran komponen utamanya adalah guru dan siswa. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten smester I tahun pelajaran 2010/2011 yang beralamat di dukuh turasan desa Japanan Kecamatan Cawas.

1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 9. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 2. 3) Guru meminta beberapa siswa untuk menunjukkan pecahan yang bernilai dan seterusnya dengan bantuan alat peraga yang telah disediakan.bantuan gambar-gambar bangun datar. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 7. 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 6 60 Belum 3. 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 5. Contoh soal: a.Tuliskan nilai pecahan gambar di bawah ini pada daerah yang diarsir! Jawab : Seharusnya : b. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 4.Buatlah gambar yang sesuai dengan nilai pecahan 1/3! Jawab: Seharusnya Ketelitian siswa terhadap penulisan pecahan baik lambang pecahannya maupun dengan kata-kata masih sangat kurang. contohnya siswa masih belum paham dan belum dapat membedakan antara pembilang dan penyebut. dari 24 siswa hanya 14 siswa yang dinyatakan tuntas sedangkan 10 siswa masih mendapat nilai rendah karena masih kurang memahami materi. 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90 Sudah . TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS I Skor yang diperoleh Ketercapaian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 % 1. 2) Penyajian alat peraga berupa model bangun datar yang terbuat dari plastik dan kertas warna-warni untuk menjelaskan pecahan bernilai dan seterusnya. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 100 Sudah 6. 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 80 Sudah 8. Pada tes akhir pembelajaran baru 58% siswa yang mendapat nilai di atas 6.

0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 10 Belum 11. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 24. 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 13. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 18. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS II . 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 5 50 Belum 23. 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 17.10.1 1 1 8 80 Sudah 12. Bimbingan dan pengawasan terhadap siswa ketika sedang mengerjakan tugas belum dilakukan secara menyeluruh. 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 90 Sudah 22. 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 6 60 Belum 16. Pelaksanaan Siklus II 1. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 19. siswa tidak memperhatikan contoh yang telah diberikan. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 14. hanya siswa tertentu saja yang terlihat aktif. 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 5 50 Belum 20. 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 90 Sudah 21. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 15. Keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat belum muncul secara keseluruhan. 1 1 1 1 1 0 0. Keterampilan siswa dalam menulis di papan tulis belum terlihat rapi.7% 2.6 616 Sdh=58.3% Blm=41. 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 2 20 Belum Jumlah skor 19 17 18 15 11 12 14 14 15 13 148 1480 Sdh=14 Blm=10 Jumlah skor maks 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 240 2400 Ket. 2. 3. Capaian (%) 79 70 75 63 46 50 58 58 63 54 61.

ANALISIS HASIL TES FORMATIF SIKLUS III Hasil tes formatif pada siklus III meningkat drastis. 1. Peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan. guru menawarkan pada siswa untuk maju mengerjakan soal di depan kelas. Pada 20 menit menjelang akhir pertemuan diadakan tes formatif untuk mengukur tingkat keberhasilan . daya serapnya mencapai 87. 3. guru membuat beberapa soal latihan untuk melatih keberanian siswa dalam berpendapat.8. Partisipasi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I Siklus II Siklus III .3. Berikut adalah tabel partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan tabel prestasi siswa dalam menyerap materi pelajaran selama diadakan penelitian yang terdiri dari 3 siklus dan ditempuh sebanyak 6 kali pertemuan dengan alokasi waktu 12 jam pelajaran. Setelah selesai diterangkan dan siswa terlihat sudah paham. Diadakan tes formatif pada akhir pertemuan. Pelaksanaan Siklus III 1.3% dengan nilai rata-rata 8.Guru memberikan soal-soal latihan kepada siswa.9% dan ketuntasan belajar mencapai 83.

3% Tidak Tuntas 10 41.7% 6 25% 3 12.8% 6 25% Aktif 6 25% 7 29.2% 4 16.7% 7 29.2% 15 62.9% B.7% Nilai Rata-rata 148 : 24 = 6.3% 17 70. hanya 14 siswa yang tuntas belajar sedangkan 10 siswa lainnya tidak tuntas. Setelah diadakan tes formatif pada akhir pembelajaran diperoleh nilai rata-rata hanya 6. Untuk itu peneliti akan terus berusaha lebih keras lagi pada pembelajaran di siklus berikutnya.3% 87.Siklus I Dari faktor-faktor penghambat yang peneliti peroleh di atas sangat mempengaruhi hasil pembelajaran sehingga pembelajaran pada siklus I ini belum dapat berjalan dengan baik.7% Nilai ≥ 7.8% 20 83.Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Acuh 10 41.1 dari 24 siswa.3×100% = 73.5% Jumlah 24 100% 24 100% 24 100% 2.3% 11 45.2 178 : 24 = 7.5 10 41. . Prestasi Siswa dalam Menyerap Materi Pelajaran Siklus I Siklus II Siklus III Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Nilai < 7.7×100% = 61.7% 7 29.9×100% = 87.3 211 : 24 = 8.3% Tuntas Belajar 14 58.5% Sedang 8 33.PEMBAHASAN 1.7% 73. sedangkan persentase keaktifan siswa hanya 35 % saja.5 14 58.8 Daya Serap 61.3% 17 70.2% 4 16.8% 20 83.

Ini berarti. Hasil belajar materi pecahan pada siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011. Simpulan Dapat ditarik simpulan sebagai berikut. Dengan bantuan alat peraga benda konkret ini telah membuktikan bahwa hasil belajar pada materi pecahan dapat meningkat sesuai dengan yang diharapkan. Siklus III Pelajaran matematika yang sebelumnya membosankan dan materi pecahan yang sebelumnya membingungkan kini berubah menjadi menyenangkan dan selalu dinanti-nantikan sebagaimana layaknya seperti yang harus dialami oleh siswa kelas tiga pada umumnya. Semula hanya mencapai rata-rata 6.2. Namun selain kekurangan yang ada pada siswa.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70.2 % saja yang tidak tuntas. melihat dari hasil penelitian yang cukup baik pada materi pecahan ini dapat dikatakan bahawa penggunaan peraga benda konkrit dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan dari hasil ini maka peneliti akan melanjutkan dan menggunakan cara-cara yang sudah peneliti tempuh pada materi-materi lainnya tentunya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. serta kekreatifan guru dalam menggunakan alat peraga dan variasi mengajar yang digunakan perlu ditingkatkan agar siswa lebih termotivasi sehingga siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pelajaran.8.9%. sangat membantu dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik lagi. 3. Telah dibuktikan pada akhir siklus III. guru pengajar juga masih mempunyai banyak kekurangan diantaranya dalam penggunaan alat bantu pembelajaran seperti alat peraga benda konkret yang digunakan harus dikembangkan lagi.8 dengan daya serap 87. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM). alat peraga benda konkret yang peneliti gunakan sebagai media perantara dalam menjelaskan materi pecahan ini. Saran Guru juga hendaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang alat-alat peraga apa saja yang dapat digunakan sebagai alat bantu .2 kini meningkat menjadi 8. PENUTUP A.Siklus II Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil tes formatif yang diperoleh siswa di akhir pembelajaran pada siklus II yang telah mencapai rata-rata 7. Dari 24 siswa hanya 29. Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis. dapat meningkat melalui bantuan alat peraga benda-benda konkret. skor ratarata yang diperoleh 8. B.8 %. Sehingga. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %.

Jakarta: Depdikbud. Tidar. Nana. Lynette. 2005. Sugiarto dan Isti Hidayah. . 1982. 1994. Pedoman Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga/Praktik Sederhana Mata Pelajaran matematika Untuk Sekolah Dasar.komunikasi yang sesuai dengan materi pecahan yag nantinya tidak akan membingungkan siswa melainkan dengan adanya bantuan alat peraga benda konkret ini akan lebih membantu siswa untuk menguasai materi sehingga proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan efektif. Fabulous Fractions. Long. Hasan. Suyitno. 2005. Matematika Sekolah II. Bandung: CV. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Kurikulum Pendidikan Dasar. Workshop Pendidikan Matematika. Sugiarto. Nasution. Matematika Sekolah I. 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Amin. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud. CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar. Depdikbud. Jakarta: Depdikbud. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Balai Pustaka. Canada: John Wiley & Sons. Sukahar dan dwi Juniati. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Bandung: Janmer. 1996. Amin. 2000. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Bandung: Sinar Baru. 1989. Sudjana. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Suyitno. Djauzak. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar.Inc. Matematika 3. Pendidikan Matematika I. 2004. 2004. 2005. Alwi. 2001. dkk. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.