P. 1
Contoh PTK Matematika Kelas III SD

Contoh PTK Matematika Kelas III SD

5.0

|Views: 13,016|Likes:
Published by Yunita Reksaningrum

More info:

Published by: Yunita Reksaningrum on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/07/2015

pdf

text

original

Contoh PTK Matematika Kelas III SD: UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN

KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011
Posted by noer al khosim on 04:45 in PTKlaporan | 0 komentar

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 2 JAPANAN KECAMATAN CAWAS, KAB.KLATEN MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRIT SEMESTER I TAHUN 2010/2011 Oleh : Sri Subekti ABSTRAK Sri Subekti;2011.”Upaya Meningkatkan Hasil belajar Matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kab. Klaten Materi Pecahan Melalui bantuan alat peraga benda konkrit tahun 2010/2011” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran alat peraga benda konkrit dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten.Penelitian ini disebut penelitian populatif yang berupa tindakan kelas dengan subyek penelitian adalah semua siswa kelas III SD negeri 2 Japanan Kecamatan cawas yang berjumlah 24 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi langsung yang dilakukan peneliti selama proses pembelajaran berlangsung adalah observasi partisipatif agar hasilnya obyektif, selain itu observasi juga dilakukan untuk mengamati siswa dalam mengikuti pembelajaran dan Tes yang dilaksanakan pada awal penelitian untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca anak dan pada akhir setiap siklus untuk mengetahui prestasi belajar matematiika siswa. Teknik analisis data adalah deskriptif komparatif. Berdasarkan analisis penelitian, diketahui bahwa nilai rata-rata pada

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat. baik materi maupun kegunaannya.siklus I sebesar 35 % sebesar 61. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %. Pada era globalisasi ini penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM) pada siklus III. Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret” ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi .2 kini meningkat menjadi 8. Hal ini tercermin dari kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pada materi pecahan serta kurang adanya respon positif dan siswa yang dapat mengerjakan soal tes formatif dengan betul kurang dari 65% dengan ketuntasan kurang dari 60%.8.8 %. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbolsimbol. Dalam hal ini penulis mengangkat materi pecahan untuk dijadikan bahan penelitian karena selama penulis mengajar di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten dapat ditarik kesimpulan bahwa materi pecahan kurang diminati siswa. sampai saat sekarang matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik.6 pada siklus II yang telah mencapai ratarata 7. Namun sayang. sebelum memanipulasi simbol-simbol itu. dan Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis. maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. Semula hanya mencapai rata-rata 6. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. maka dapat diambil kesimpulan hasil penelitian : bahwa penggunaan media pembelajaran benda konkrei dan alat peraga dengan nyata efektif dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahuinya.

b. Landasan teori 1. Mutu pendidikan di sekolah semakin meningkat. Prinsip-prinsip Belajar Proses belajar itu komplek sekali. Menurut Nasution (1982:38) mengartikan belajar sebagai berikut. kritis. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses yang harus disadari dengan perubahan pada diri seseorang sebagai hasil proses dalam bentuk pengetahuan. Manfaat bagi sekolah Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. Manfaat bagi siswa Dengan adanya penelitian ini diharapkan: a. Manfaat bagi guru Dengan adanya penelitian ini diharapkan guru dapat: Memperoleh kemudahan dalam penyampaian materi sehingga mudah dipahami oleh siswa. keterampilan. dapat mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar di kelas yang lebih tinggi. Tujuan akan menuntutnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya. Dapat membentuk sifat logis. Baik bimbingan dari guru atau buku pelajaran itu sendiri. dapat melahirkan siswa yang siap dalam jenjang pendidikan yang lebih bermutu. kebiasaan. maupun kelakuannya. dan sekolah semakin dipercaya oleh masyarakat. sikap dan tingkah laku. tetapi juga dapat dianalisis dan diperinci dalam bentuk asas-asas atau prinsip-prinsip belajar. Manfaat Penelitian 1. 2. cermat. LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. 2. serta perubahan aspekaspek lain pada individu yang belajar. c. Belajar memerlukan atas hal-hal yang dipelajari sehingga memperoleh . Menurut Abu Ahmadi (1986:14) prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut. Belajar memerlukan bimbingan. keterampilan. Pengetahuan dan kemampuan siswa dalam berpikir semakin meningkat. memperoleh banyak variasi dalam mengajar. Perubahan tingkah laku tersebut karena adanya interaksi.pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret. kecakapan. b. kreatif dan disiplin. 3. sikap. Dengan kata lain ada perbedaan sikap dan tingkah laku antara sebelum dan sesudah belajar. Belajar harus bertujuan dan terarah. sehingga terjadi perubahan baik pengetahuan. Dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku. Belajar adalah perubahan tingkah laku akibat pengalaman sendiri.

tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama. Seorang guru perlu . belajar matematika perlu dua tahap. 5. matematika sepenuhnya menggunakan pola pikir deduktif. diantaranya adalah sebagai berikut. 2) materi disajikan secara permanen dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Perlu menggunakan benda-benda konkret untuk memberikan basis bagi siswa dalam menghayati ide-ide matematika yang abstrak. matematika mendasarkan diri pada kesepakatankesepakatan. 4. Belajar memerlukan latihan dan ulangan agar apa yang telah dipelajari dapat dikuasainya. 2005:35). menyatakan Meskipun terdapat berbagai pendapat yang tampaknya berlainan. maka akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. 6. yaitu mulai meninggalkan benda konkret untuk menuju kepemahaman matematika yang memang memuat objek-objek abstrak. Soedjadi dan masriyah (1994:1). Teori belajar dari Richard Skemp Menurut Richard Skemp (dalam Amin Suyitno. dalam mengerjakan matematika di Pendidikan Dasar sebaiknya: 1) Menggunakan alat peraga benda konkret. sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Tingkat abstrak. Pengajaran Matematika Pengertian Matematika Menurut R.pengertian-pengertian. Teori Belajar Matematika Ada beberapa teori belajar yang populer dan cocok untuk diterapkan pada pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar. Sebagai komunikasi pada proses pembelajaran di atas adalah siswa. Jika sekelompok siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator. Dari beberapa teori belajar matematika di atas. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika. dan matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi. 3. Teori belajar dari William Brownell Menurut William Brownell. yaitu faktor dari dalam (Internal) dan faktor yang berasal dari luar (external). Media Pengajaran Matematika Hubungan antar Media dan Proses Pembelajaran Pada hakikatnya pembelajaran (belajar dan mengajar) merupakan proses komunikasi antar guru dan siswa. yakni matematika mempunyai objek kajian yang abstrak. hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Pada proses belajar mengajar. yaitu sebagai berikut.

atau bahkan salah konsep. 2) Menurut Anderson Alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. Pegertian Pecahan Pecahan adalah salah satu cara untuk menuliskan bilangan. dengan beberapa cara: Dengan peragaan luas Dengan garis bilangan Penjumlahan pecahan dengan garis bilangan Contoh: a) . 2003:1) a. Inc. Bilangan cacah diadakan untuk menggambarkan salah satu sifat himpunan. Banyaknya anggota setiap himpunan adalah bilangan cacah. bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan. Pecahan diadakan untuk menggambarkan satu atau beberapa bagian dari suatu benda. Relasi dua pecahan 3) Nama lain suatu pecahan (pecahan senilai) Kita dapat menunjukkan kepada siswa bahwa : = = dan seterusnya. salah pengertian. 7.menyadari bahwa proses komunikasi tidak selalu berjalan dengan lancar. Pengertian Media Pembelajaran 1) Menurut Darhim Alat peraga yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran (Kegiatan Belajar Mengajar). Pecahan menunjukkan bahwa jika sebuah bilangan merupakan bagian dari satu bilangan utuh (Lynette Long dalam John Wiley & Sons.

Hasil Penelitian 1. tahap pengamatan. Tahapan tersebut meliputi tahapan perencanaan. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Semester I tahun pelajaran 2010/2011. METODE PENELITIAN A. guru harus dapat membimbing siswa. sehingga konsep-konsep baru akan sulit dipahami apabila konsep-konsep yang relevan belum dimiliki oleh siswa. Hipotesis Tindakan Melalui pembelajaran dengan alat peraga benda konkret maka hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten semester I tahun pelajaran 2010/2011 dalam materi pecahan dapat ditingkatkan. C. Salah satu Sekolahan yang berada di wilayah kecamatan Cawas dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua yang beragam hal ini menjadikan daya tarik tersendiri untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Kerangka Berpikir Dalam proses pembelajaran komponen utamanya adalah guru dan siswa. dan tahap refleksi.b) B. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Untuk mencapai keberhasilan tersebut guru harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan. C. Jumlah siswa kelas III sebanyak 24 siswa terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. B. Agar proses pembelajaran berhasil. Tahapan tersebut disusun dalam tiga siklus. sehingga dapat mengembangkan pengetahuannya. Namun pada kenyataannya siswa cenderung enggan untuk belajar jika materi tidak dapat dipahami. Prosedur Penelitian Prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas ini ditempuh secara bertahap. Lokasi Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten smester I tahun pelajaran 2010/2011 yang beralamat di dukuh turasan desa Japanan Kecamatan Cawas.Pelaksanaan Siklus I 1) Pemberian materi tentang pengenalan pecahan sederhana dengan . tahap pelaksanaan atau tindakan.

Tuliskan nilai pecahan gambar di bawah ini pada daerah yang diarsir! Jawab : Seharusnya : b. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 7. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 9. 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9 90 Sudah 5. 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 4. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 100 Sudah 6. 3) Guru meminta beberapa siswa untuk menunjukkan pecahan yang bernilai dan seterusnya dengan bantuan alat peraga yang telah disediakan.Buatlah gambar yang sesuai dengan nilai pecahan 1/3! Jawab: Seharusnya Ketelitian siswa terhadap penulisan pecahan baik lambang pecahannya maupun dengan kata-kata masih sangat kurang. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 2. 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 8 80 Sudah 8. Contoh soal: a. 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9 90 Sudah . 1 1 1 1 0 1 0 1 0 1 6 60 Belum 3. contohnya siswa masih belum paham dan belum dapat membedakan antara pembilang dan penyebut. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS I Skor yang diperoleh Ketercapaian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 % 1. 2) Penyajian alat peraga berupa model bangun datar yang terbuat dari plastik dan kertas warna-warni untuk menjelaskan pecahan bernilai dan seterusnya. dari 24 siswa hanya 14 siswa yang dinyatakan tuntas sedangkan 10 siswa masih mendapat nilai rendah karena masih kurang memahami materi.bantuan gambar-gambar bangun datar. Pada tes akhir pembelajaran baru 58% siswa yang mendapat nilai di atas 6.

1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 15. 3. 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 2 20 Belum Jumlah skor 19 17 18 15 11 12 14 14 15 13 148 1480 Sdh=14 Blm=10 Jumlah skor maks 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 240 2400 Ket. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Belum 18. 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 6 60 Belum 16. 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 90 Sudah 21. siswa tidak memperhatikan contoh yang telah diberikan. Keterampilan siswa dalam menulis di papan tulis belum terlihat rapi. 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 13. TABEL ANALISIS TES FORMATIF SIKLUS II . 1 1 1 1 1 0 0.7% 2. 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 14. Keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat belum muncul secara keseluruhan.10.6 616 Sdh=58.1 1 1 8 80 Sudah 12. 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 9 90 Sudah 22. 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 5 50 Belum 20. 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 5 50 Belum 23. 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 10 Belum 11. 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 10 Belum 19. Capaian (%) 79 70 75 63 46 50 58 58 63 54 61. 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 8 80 Sudah 17. hanya siswa tertentu saja yang terlihat aktif. Bimbingan dan pengawasan terhadap siswa ketika sedang mengerjakan tugas belum dilakukan secara menyeluruh. Pelaksanaan Siklus II 1.3% Blm=41. 2. 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 90 Sudah 24.

Guru memberikan soal-soal latihan kepada siswa. 3.3. Pelaksanaan Siklus III 1. Diadakan tes formatif pada akhir pertemuan.8. guru membuat beberapa soal latihan untuk melatih keberanian siswa dalam berpendapat. Partisipasi Siswa dalam Proses Belajar Mengajar Siklus I Siklus II Siklus III . Setelah selesai diterangkan dan siswa terlihat sudah paham.9% dan ketuntasan belajar mencapai 83.3% dengan nilai rata-rata 8. guru menawarkan pada siswa untuk maju mengerjakan soal di depan kelas. Pada 20 menit menjelang akhir pertemuan diadakan tes formatif untuk mengukur tingkat keberhasilan . 1. daya serapnya mencapai 87. Peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan. ANALISIS HASIL TES FORMATIF SIKLUS III Hasil tes formatif pada siklus III meningkat drastis. Berikut adalah tabel partisipasi siswa dalam proses pembelajaran dan tabel prestasi siswa dalam menyerap materi pelajaran selama diadakan penelitian yang terdiri dari 3 siklus dan ditempuh sebanyak 6 kali pertemuan dengan alokasi waktu 12 jam pelajaran.

7% 7 29.3% 17 70.9% B.5 14 58.8% 20 83.1 dari 24 siswa.7% 7 29.5% Sedang 8 33. .Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Acuh 10 41.3% 87.PEMBAHASAN 1.3% Tidak Tuntas 10 41.3% 17 70.7% 73.3% 11 45. Setelah diadakan tes formatif pada akhir pembelajaran diperoleh nilai rata-rata hanya 6.8 Daya Serap 61.2% 4 16.2% 4 16.3% Tuntas Belajar 14 58.7×100% = 61.7% 6 25% 3 12.Siklus I Dari faktor-faktor penghambat yang peneliti peroleh di atas sangat mempengaruhi hasil pembelajaran sehingga pembelajaran pada siklus I ini belum dapat berjalan dengan baik.3×100% = 73.5% Jumlah 24 100% 24 100% 24 100% 2.9×100% = 87.2% 15 62.7% Nilai Rata-rata 148 : 24 = 6. Untuk itu peneliti akan terus berusaha lebih keras lagi pada pembelajaran di siklus berikutnya.3 211 : 24 = 8.5 10 41.2 178 : 24 = 7. hanya 14 siswa yang tuntas belajar sedangkan 10 siswa lainnya tidak tuntas.8% 6 25% Aktif 6 25% 7 29.8% 20 83. Prestasi Siswa dalam Menyerap Materi Pelajaran Siklus I Siklus II Siklus III Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Jumlah Siswa persentase Nilai < 7.7% Nilai ≥ 7. sedangkan persentase keaktifan siswa hanya 35 % saja.

Siklus III Pelajaran matematika yang sebelumnya membosankan dan materi pecahan yang sebelumnya membingungkan kini berubah menjadi menyenangkan dan selalu dinanti-nantikan sebagaimana layaknya seperti yang harus dialami oleh siswa kelas tiga pada umumnya. Sehingga.8. B. 3. Namun selain kekurangan yang ada pada siswa.2 % saja yang tidak tuntas. Sehingga hasil belajar yang diperolehpun meningkat drastis. alat peraga benda konkret yang peneliti gunakan sebagai media perantara dalam menjelaskan materi pecahan ini.2 kini meningkat menjadi 8. Simpulan Dapat ditarik simpulan sebagai berikut. guru pengajar juga masih mempunyai banyak kekurangan diantaranya dalam penggunaan alat bantu pembelajaran seperti alat peraga benda konkret yang digunakan harus dikembangkan lagi.Siklus II Hal ini dapat dilihat dari perolehan hasil tes formatif yang diperoleh siswa di akhir pembelajaran pada siklus II yang telah mencapai rata-rata 7.9%. Rata-rata nilai yang diperoleh pada siklus sebelumnya sampai siklus III ini meningkat hingga daya serapnya mencapai 88 %. Hasil belajar materi pecahan pada siswa kelas III SD Negeri 2 Japanan Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten tahun pelajaran 2010/2011. melihat dari hasil penelitian yang cukup baik pada materi pecahan ini dapat dikatakan bahawa penggunaan peraga benda konkrit dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan dari hasil ini maka peneliti akan melanjutkan dan menggunakan cara-cara yang sudah peneliti tempuh pada materi-materi lainnya tentunya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan. Dengan bantuan alat peraga benda konkret ini telah membuktikan bahwa hasil belajar pada materi pecahan dapat meningkat sesuai dengan yang diharapkan. dapat meningkat melalui bantuan alat peraga benda-benda konkret. Saran Guru juga hendaknya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang alat-alat peraga apa saja yang dapat digunakan sebagai alat bantu .8 dengan daya serap 87. peningkatan ini telah melebihi dari yang peneliti targetkan (KKM).2. skor ratarata yang diperoleh 8. sangat membantu dan dapat menumbuhkan semangat belajar siswa serta memacu guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik lagi. Ini berarti. PENUTUP A. serta kekreatifan guru dalam menggunakan alat peraga dan variasi mengajar yang digunakan perlu ditingkatkan agar siswa lebih termotivasi sehingga siswa lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pelajaran.3 dengan persentase ketuntasan belajar 70. Dari 24 siswa hanya 29. Telah dibuktikan pada akhir siklus III.8 %. Semula hanya mencapai rata-rata 6.

Bandung: Sinar Baru. Amin. Sukahar dan dwi Juniati. Kurikulum Pendidikan Dasar. Pendidikan Matematika I. Suyitno. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1989. Lynette. Tidar. Bandung: CV. Pedoman Pembuatan dan Penggunaan Alat Peraga/Praktik Sederhana Mata Pelajaran matematika Untuk Sekolah Dasar. 2004. Workshop Pendidikan Matematika. Nasution. 1982. 2005. Jakarta: Balai Pustaka. Matematika Sekolah II. Matematika Sekolah I. Alwi. 2004. Long.Inc. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Canada: John Wiley & Sons. 1996. Sugiarto. Jakarta: Depdikbud. 1994. . Suyitno. Didaktik Asas-asas Mengajar. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Bandung: Janmer. 2001.komunikasi yang sesuai dengan materi pecahan yag nantinya tidak akan membingungkan siswa melainkan dengan adanya bantuan alat peraga benda konkret ini akan lebih membantu siswa untuk menguasai materi sehingga proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan efektif. Matematika 3. Jakarta: Depdikbud. dkk. 2000. Sugiarto dan Isti Hidayah. 2005. Nana. Hasan. Jakarta: Balai Pustaka Depdikbud. Fabulous Fractions. CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar. Sudjana. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Depdikbud. Amin. Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang. Djauzak. 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->