1

PERCERAI AN D AL AM I SLAM :
AN AL I SI S PEN YEBAB D AN KI AT M EN GH I N D ARI N YA
1


M. N UR
2


Pendahuluan

Perkawinan merupakan salah sat u ajaran I slam yang asasi .
K eberadaannya t er kait erat dengan salah sat u bent uk kemaslahat an yang
merupakan t uj uan pensyariat an dalam I slam, yakni memel ihara ket ur unan (hi fz
al -nasl ).
3
D alam hal ini per kawinan dijadikan sebagai sist em berket ur unan yang
baik menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun berket ur unan it u
merupakan sesuat u yang bersif at nal uriah, t et api memerl ukan pengat uran agar
t idak menjur us kepada pemenuhan hawa naf su secara berl ebihan.
Selanjut nya, sebagai sist em berket ur unan yang t elah dit et apkan oleh
agama, perkawinan mengharuskan adanya ikat an bat in dan emosional yang
kuat dengan didasari oleh keimanan menjalankan perint ah Allah dalam rangka
mencapai kel uarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

_¸.´¸ .¸«¸..,¦´, ¿¦ _l> >l _¸. ¯¡>¸.±.¦ l´>´¸¸¦ ¦¡`.>`..¸l !¸,l¸| _->´¸ ¡÷´.¸, ::´¡.
«.>´¸´¸ ¿¸| _¸· ,¸l: ¸¸.,¸ ¸,¯¡1¸l ¿¸`¸>± ., ¸_¸¸

D an di ant ara t anda-t anda k ek uasaan-N ya i al ah di a menci pt ak an unt uk mu
i st eri -i st eri dari j eni smu sendi ri , supaya k amu cenderung dan merasa t ent eram
k epadanya, dan di j adi k an-N ya di ant aramu rasa k asi h dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demi k i an i t u benar-benar t erdapat t anda-t anda bagi k aum yang berfi k i r
D alam kenyat aannya, t ernyat a t idak semua perkawinan yang dibangun
it u dapat mencapai t uj uan sebagaimana dimaksud di at as. Sebagian diant aranya
gagal karena dalam perjalanannya harus berakhir karena t erjadi per ceraian.

1
Makal ah di sampaikan dal am pertemuan Pi mpi nan D aerah Persaudaraan Musl i mah
(Sal i mah) K abupaten Pesi si r Sel atan, di Masji d Agung Al -Amil i n, Pai nan, Mi nggu, 20
Februari 2011;
2
H aki m Pengadi l an Agama Pai nan.
3
Menurut I mam al -Syati bi dalam K i tabnya A l -M uwafaqat , tujuan pensyari atan
hukum dal am I sl am adal ah untuk memel i hara l i ma hal , yakni (1) agama (hi fz al -di n), (2) j iwa
(hi fz al -dam), (3) akal (hi fz al -aql ), (4) keturunan (hi fz al -nasl ), dan (5) harta (hi fz al -mal ).

2
Tul isan sederhana ini akan berusaha menjelaskan bagaimana perceraian
it u t erjadi dengan hal-hal yang melat arbelakangi nya, disert ai upaya-upaya yang
dapat dit empuh unt uk menghindari t erjadinya perceraian dalam rumah t angga.

Pengertian dan H ukum D asar Perceraian
D alam bahasa Arab, perceraian dipersamakan dengan kat a _¸1l¦,
yang berart i melepaskan at au meninggalkan.

4
ì¸.l¦ ¸ _!.¸¸¦ ¡> ¸ _¸1¸¦ _. :¡>!. _¸1l¦
Kat a t hal ak i t u di ambi l dari k at a i t hl aq yak ni mel epask an dan meni nggal k an

Sedangkan dalam ist ilah f iqh berart i mel epaskan t ali i kat an perkawinan
dan berakhirnya ikat an suami ist eri.
5
«,-¸¸l¦ «·¸×l¦ ,!¸.¦¸ _¦¸¸l¦ «1,¦¸ _> _¸:l¦ _ · ¸
D an di dal am syara’ adal ah mel epask an i k at an perk awi nan dan berak hi rnya
i k at an suami -i st eri .

Meskipun secara umum ayat -ayat Al-Qur’an membolehkan t erjadinya
t alak ant ara suami ist eri, namun ulama f i qh mengemukakan rincian hukum
t alak jika di lihat dari kondisi rumah t angga yang menyebabkan t alak it u t erjadi.
1. Talak dihukumkan wajib apabila ant ara suami ist eri senant iasa t erjadi
percekcokan dan t ernyat a set elah dilakukan pendekat an melalui jur u damai
(hakam) dari kedua belah pihak, percekcokan t ersebut t idak kunj ung
berakhir. D alam keadaan sepert i ini, hukum t alak adalah wajib kar ena
perkawinan bert uj uan unt uk menjalin hubungan yang harmonis dan penuh
kasih sayang sert a mencipt akan ket ent eraman ant ara kedua belah pihak.
2. Talak dihukumkan sunnah apabila ist eri t i dak mau pat uh kepada hukum-
hukum Al lah SWT dan t idak mau melaksanakan kewajibannya, bai k
sebagai hamba Allah SWT (sepert i shalat dan puasa) maupun sebagai ist eri
(t idak mau melayani suami);
3. Talak dihukumkan haram t at kala suami menget ahui bahwa ist erinya akan
melakukan perbuat an zina apabila ia menjat uhkan t alak ist erinya. D engan

4
Sayyi d Sabiq, F i qh al -Sunnah, Ji li d 2, (Bei rut: D ar el -Fi kr), h. 206
5
I bi d.

3
menjat uhkan t alak t ersebut , berart i suami memberi peluang bagi ist erinya
unt uk melakukan perzinaan. Termasuk ke dalam t alak yang diharamkan ini
adalah menjat uhkan t alak ist er i dalam keadaan haid, nif as, dan dalam
keadaan suci (t idak haid dan t idak nif as) t et api t elah dicampuri l ebih
dahulu;
4. Talak dihukumkan makr uh apabila t alak t ersebut dijat uhkan t anpa alasan
sama sekali. H al ini lah yang dimaksudkan hadit s N abi SAW yang
diriwayat kan oleh I mam Abu D awud, al-H aki m, dan I bnu Majah dar i
Abdullah bin Umar. Menurut f ukaha, pengert i an “ dibenci” dalam hadit s
t ersebut menunjukkan makruh;
5. Talak dihukumkan mubah (boleh) apabila t alak it u dijat uhkan dengan
alasan t ert ent u, sepert i akhlak wanit a yang diceraikan it u t idak bai k,
pelayanannya t erhadap suami t idak baik, dan hubungan ant ara keduanya
t idak sejalan, meskipun pert engkaran dapat dihindari. D alam perkawinan
sepert i ini, menur ut ulama f i kih, t uj uan perkawinan yang dikehendaki
syarak t idak akan t ercapai. Ol eh karena it u, suami boleh menjat uhkan
t alaknya.
6

Meskipun per ceraian secara sederhana adalah pengungkapan kehendak
unt uk berpisah hidup set elah membina rumah t angga dan dilanjut i dengan
perpisahan hidup, namun permasalahannya t idak sesederhana it u. Bahkan
seorang ahli menyebut nya sebagai “ f enomena sosial dan pengalaman pribadi
yang kompleks (a compl ex soci al phenomenon as wel l as a compl ex personal
ex peri ence)” .
7

K ompleksnya persoalan perceraian t ersebut set idaknya t erl ihat dar i
beberapa segi, ant ara lain:
Pert ama, perceraian sesungguhnya adalah puncak dar i kumulasi
persoalan yang t idak t ersel esaikan dengan baik, sehingga mengendap dalam
alam bawah sadar menjadi rangkaian kekecewaan t erhadap pasangan. Ant ara
t it ik mula t imbulnya persoalan awal hingga puncak yang memicu per ceraian

6
Abdul Azi s D ahl an (et al l ), E nsi k l opedi H uk um I sl am, Ji li d 5, (Jakarta: I chti ar Baru
Van H oeve, 1996, h. 1777

7
Mari an Roberts, M edi ati on i n F ami l y D i sput es: Pr i nci pl es and Pr acti ce (Thi rd Edi ti on),
(H ampshi re: Ashgate Publ ishi ng Ltd, 2008), h. 30



4
t idak jarang berlangsung dalam kur un wakt u yang cukup lama. Umumnya ahli
menyebut kan selama bert ahun-t ahun.
8

Kedua, t erl ihat dari t ahapan-t ahapan t erjadi nya perceraian dalam
kehidupan seseorang, sebagai berikut :
9

1. Per ceraian hat i (emot i onal di vorce), dit andai dengan perasaan t erluka, marah,
hilangnya ket ert ar ikan dan kepercayaan;
2. Per ceraian hukum (l egal di vorce), yang mencipt akan kebolehan unt uk
menikah lagi;
3. Per ceraian ekonomi (economi c di vorce), menandai penat aan ulang pengat uran
keuangan dan kekayaan;
4. Per ceraian pengasuhan bersama (co-parent i ng di vorce), yang melibat kan
persoalan-persoalan t empat t inggal dan hubungan dengan anak. H al ini
seringkal i menimbulkan akibat yang pal ing lama diant ara orang-orang yang
bercerai;
5. Per ceraian masyarakat (communi t y di vorce), yang mencakup dampak
perceraian bagi orang-orang yang bercerai, mi salnya, bagaimana t eman-
t eman yang masih t erikat perkawinan memperl akukan orang-orang yang
t elah bercerai sert a organisasi-organisasi yang t ersedia unt uk memenuhi
kebut uhan inf ormasi dan persahabat an dari orang-orang yang t elah
bercerai;
6. Per ceraian f isi k (phi si c di vorce), menggambarkan sarana-sarana dimana
ot onomi individu it u dipulihkan. Per ceraian ini dipandang sebagai bagian
yang paling sulit meskipun merupakan prest asi yang paling konst rukt if
diant ara semuanya;
Ket i ga, bahwa akibat t erjadinya perceraian t ersebut , t idak hanya dialami
oleh orang-orang yang melakukan per ceraian, t et api juga oleh mer eka yang
memili ki ket erkait an dengannya sekal igus, bahkan kehidupan sosial pada

8
T ypi cal l y, t he di vor ce pr ocess begi n sever al year s befor e t he act ual dat e of separ ati on, when one of
t he spouses begi ns t o ex per i ence a pr edi ctabl e set of feel i ngs, whi ch may i ncl ude di si l lusi onment , di ssat i sfact i on,
anx i et y, and al i enati on (Secara khusus, proses percerai an di mulai beberapa tahun sebel um
tanggal pasti percerai an terj adi , keti ka sal ah satu pasangan mul ai mengalami serangkai an
perasaan yang dapat di perki rakan, yang mungki n termasuk kekecewaan, keti dakpuasan,
kegeli sahan, dan pengasi ngan). Li hat D onal d T. Saposnek, Ph. D dan Chi p Rose, JD , CFLS,
“ The Psychol ogy of D i vorce” , dal am http:/ / www.medi ate.com/ di akses tanggal 09 Mei
2008

9
Mari an Roberts, Op. Ci t ., h. 31

5
umumnya. John Eckelaar, sebagaimana dikut ip Lili Rasyidi, ant ara lai n
menyebut kan:
10

“ T he break down of a marri age i nvol ves more t han t he cessat i on of a rel at i onshi p
bet ween two i ndi vi dual s, for i t si gni fi es t he ul t i mat e col l apse of what i s t he most
i mport ant soci al group i n t he communi t y. (Pecahnya suat u perkawinan
melibat kan l ebih dari sekedar berakhirnya hubungan ant ara dua
individu, karena ia (sekal igus) berart i kehancuran kelompok sosial yang
paling pent ing dalam masyarakat )”

Sebab-Sebab T erjadinya Perceraian

Berdasarkan publi kasi r esmi D irekt orat Badan Peradi lan Agama
Mahkamah Agung Republik I ndonesia, dari 157.771 kasus perceraian yang
diput us pengadilan agama pada t ahun 2007, 77.528 kasus dipicu oleh salah sat u
pihak meninggal kan kewaj iban. Meninggalkan kewaj iban ini disebabkan ol eh
karena salah sat u pihak t idak bert anggung j awab (48.623 kasus), f akt or
ekonomi di rumah t angga para pihak (26.510 kasus), dan dikarenakan pul a
sejarah perkawinan para pihak yang dipaksa oleh orang t ua (2.395 kasus).
11

Pemi cu kedua adalah persel isihan t erus-menerus. Fakt or ini t erjadi
sebanyak 65.818 kasus. Persel isihan dalam perkawinan yang berujung pada
perist iswa per ceraian ini disebabkan oleh ket idak harmonisan pribadi (55.095
kasus), gangguan pihak ket iga (10.444 kasus) dan f akt or polit is (281 kasus).
12

Persoalan moral pun memberi kan andil unt uk memant ik kr isis
keharmonisan rumah t angga. Fakt or moral menampat i urut an ket iga yang
menyebabkan pasangan suami ist eri ber uj ung di persidangan pengadilan
agama. D isebut kan bahwa 10.090 kasus perceraian disebabkan oleh persoalan
moral. Modusnya mengambil t iga bent uk, suami melakukan poligami t idak

10
Prof . D r. Li l i Rasj idi , SH ., LLM., H uk um Per k awi nan dan Per cer ai an di M al aysi a dan
I ndonesi a, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 8. Penj el asan yang agak l engkap mengenai
dampak percerai an dapat di l i hat pada Patri ck F. Fagan dan Robert Rector, “ The Ef f ects of
D i vorce on Ameri ca” , Makal ah di muat dal am The H eri tage Foundati on Backgrounder
N omor 1373, 5 Juni 2000, li hat juga Ruth H al peri n-K addari , “ General Recommendati on on
Economi c Consequences of Marri age and i ts Di ssoluti on: Concept N ot e” , di sampaikan
dal am CED AW Forty-f ourth sesssi on 20 Jul y-7 August 2009, l i hat j uga K athl een K i ernan,
“ The Legacy of Parental D i vorce: Soci al , Economi c and D emographi c Experi enci es i n
Adul thood” , London: Centre f or Anal ysi s of Soci al Exclusi on, London School of
Economi cs, October 1997
11
Sebagai mana di muat www.badi lag.net, diakses tanggal 31 Januari 2011
12
I bi d

6
sesuai at uran (poligami t idak sehat ), 937 kasus, krisis akhlak (4.269 kasus) dan
cembur u yang berlebihan (4.884 kasus).
13

Pemi cu ke empat rusaknya simpul perkawinan adalah kekerasan dalam
rumah t angga. Terdapat 1.845 kasus perkawinan put us karena f akt or ini.
14

Sedangkan pemicu lainnya adalah kar ena salah sat u pasangan
mengalami cacat biologis yang menyebabkan t idak bisa melaksanakan
kewaj iban (1.621 kasus), per kawinan di bawah umur (513 kasus), dan salah
sat u pihak dijat uhi pidana oleh pengadilan (356 kasus).
15

Jika penyebab-penyebab t ersebut dilihat lebi h jauh dalam kont eks
hubungan ant ara suami ist eri, maka akan diperoleh set idaknya 10 (sepuluh)
penyebab ut ama yang mendorong seseorang unt uk memilih per ceraian sebagai
pilihan mengakhiri rumah t angga.
Pert ama, rusak nya k omuni k asi pasangan suami i st eri . Penyebab ini mungki n
t erasa aneh, karena perkawinan pada hakekat nya adalah buah dari komunikasi
yang int ensif ant ara dua orang dahulunya t idak saling kenal mengenal. Akan
t et api, seiring per jalanan wakt u, proses komunikasi dapat mengalami hambat an
at au gagal mencapai hasil yang posit if , kar ena berbagai f akt or, sepert i
kegagalan melakukan penyesuaian dir i pasca pernikahan, komunikasi yang
selal u berujung konf l ik, maupun adanya unsur kekerasan yang menyel imut i
pergaulan suami ist er i.
K egagalan komunikasi ini selanj ut nya memendam persoalan-persoalan
yang t erjadi dalam r umah t angga. Persoalan-persoalan yang t erpendam ini
kemudian t erakumulasi dan dapat berubah menjadi konf lik yang l ebih besar,
karena t idak adanya kanalisasi t erhadap konf lik t ersebut .
Kedua, menurun at au hi l angnya k eset i aan ant ara suami i st eri . Penyebab ini
t idaklah berdiri sendiri. H ilangnya keset iaan ser ingkali mer upakan akibat dar i
konf lik t ak t ersel esaikan ant ara suami ist eri at au karena permasalahan yang
t idak t erkomuni kasikan dan masing-masing pasangan suami ist eri membuat
penilaian t erhadap pasangan lainnya secara sepihak.
Ket i ga, k ek erasan fi si k dan psi k i s. Penyebab it u sama maknanya dengan
apa yang diist ilahkan sebagai K ekerasan dalam Rumah Tangga (K D RT).
K ekerasan dalam rumah t angga at au dalam ist ilah sosiologisnya domest i c vi ol ence,
mengut ip N usyahbani K ant jasungkana (1994), menunjuk pada t indakan
kekerasan yang dilakukan di dalam rumah, di balik pint u t ert ut up, dengan cara
menyiksa secara f isik, psikis, dan seksual, di mana pelakunya orang yang

13
I bi d
14
I bi d
15
I bi d

7
memili ki hubungan dekat dengan korban –dalam hal ini jamaknya adalah kaum
perempuan.
Sement ara it u, Undang-Undang N o. 23 Tahun 2004 t ent ang
Penghapusan K ekerasan dalam Rumah Tangga mendef inisikan K ekerasan
dalam Rumah Tangga sebagai set iap perbuat an t erhadap seseorang t er ut ama
perempuan, yang berakibat t imbulnya kesengsaraan at au penderit aan secar a
f isik, seksual, psikologis, dan/ at au penelant aran rumah t angga t ermasuk
ancaman unt uk melakukan perbuat an, pemaksaan, at au perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah t angga.
Sebagian kalangan menyebut kan kekerasan dalam rumah t angga ini
sebagai kekerasan berbasis gender, kar ena umumnya yang menjadi korban
dalam t indakan t ersebut adalah per empuan, baik ist er i maupun pembant u
rumah t angga. Pengert ian ini t ent u t idak sepenuhnya benar, meskipun sangat
dominan, karena dari kasus-kasus yang ada t erdapat kekerasan yang
menjadikan anak-anak sebagai korbannya.
Secara kat egoris t imbulnya kekerasan dalam rumah t angga merupakan
kumulasi dari f akt or-f akt or lingkungan sosial, budaya, ekonomi, hukum, dan
kepribadian yang mengit ar i dan ada dalam diri seseorang. Fakt or-f akt or mana
masih berkecenderungan membent uk st rukt ur superior dan inf er ior di ant ara
orang-orang dalam suat u r umah t angga. Mer eka yang t erst rukt ur superior,
umumnya suami at au laki-laki ber kecenderungan unt uk melakukan t indakan-
t indakan kekerasan t erhadap mereka yang t erst rukt ur secara inf erior dan
t ersubordinasi secara sosial, ekonomi, dan budaya.
Yang dimaksud dengan kekerasan f isi k adalah perbuat an yang
mengakibat kan rasa sakit , jat uh sakit , at au luka berat . Secara lebih t erper inci
LBH Apik membagi kekerasan f isi k ini ke dal am t iga kat egori ut ama, yait u
kekerasan f isi k berat , kekerasan f isi k ringan, dan kekerasan f isik ringan yang
bersif at repet it i ve (pengulangan).
K ekerasan f isik berat , berupa penganiayaan ber at sepert i menendang;
memukul, menyundut ; melakukan per cobaan pembunuhan at au pembunuhan
dan semua perbuat an lain yang dapat mengakibat kan :
a. Cedera berat
b. Tidak mampu menjalankan t ugas sehari-hari
c. Pingsan
d. Luka berat pada t ubuh korban dan at au luka yang sulit disembuhkan at au
yang menimbulkan bahaya mat i
e. K ehilangan salah sat u panca indera.
f . Mendapat cacat .

8
g. Menderit a sakit l umpuh.
h. Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih
i. Gugurnya at au mat inya kandungan seorang perempuan
j. K emat ian korban.
K ekerasan f isik ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong,
dan perbuat an lainnya yang mengakibat kan:
a. Cedera ringan
b. Rasa sakit dan luka f isik yang t idak masuk dalam kat egori berat
Sedangkan repit isi kekerasan f isik ringan dapat dimasukkan ke dalam
jenis kekerasan berat .
Yang dimaksud dengan kekerasan psikis, sebagaimana dimaksud Pasal
7 Undang-Undang N o. 23 Tahun 2004 adalah perbuat an yang mengakibat kan
ket akut an, hilangnya rasa percaya diri, hi langnya kemampuan unt uk bert indak,
rasa t idak berdaya, dan/ at au penderit aan psikis berat pada seseorang. Bent uk
kekerasan ini, menur ut LBH API K dibagi ke dalam dua bent uk ut ama, yakni
kekerasan psikis berat dan kekerasan psikis ringan.
K ekerasan psikis berat , dapat berupa t indakan pengendalian,
manipulasi, eksploit asi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam
bent uk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial; t indakan dan at au ucapan
yang merendahkan at au menghina; pengunt it an; kekerasan dan at au ancaman
kekerasan f isik, seksual dan ekonomis; yang masing-masingnya bisa
mengakibat kan penderit aan psikis berat ber upa salah sat u at au beberapa hal
berikut :
a. Gangguan t idur at au gangguan makan at au ket er gant ungan obat at au
disf ungsi seksual yang salah sat u at au kesemuanya berat dan at au menahun.
b. Gangguan st ress pasca t rauma.
c. Gangguan f ungsi t ubuh berat (sepert i t iba-t iba lumpuh at au but a t anpa
indikasi medis)
d. D epresi berat at au dest ruksi diri
e. Gangguan jiwa dalam bent uk hi langnya kont ak dengan real it as sepert i
skizof renia dan at au bent uk psikot ik lainnya
f . Bunuh diri
Adapun kekerasan psikis r ingan, dapat berupa t indakan pengendalian,
manipulasi, eksploit asi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam
bent uk pelarangan, pemaksaan, dan isolasi sosial; t indakan dan at au ucapan
yang merendahkan at au menghina; pengunt it an; ancaman kekerasan f isi k,
seksual dan ekonomis;yang masing-masingnya bi sa mengakibat kan penderit aan
psikis ringan, berupa salah sat u at au beberapa hal di bawah ini:

9
a. K et akut an dan perasaan t ert eror
b. Rasa t idak berdaya, hilangnya rasa percaya di ri, hilangnya kemampuan
unt uk bert indak
c. Gangguan t idur at au gangguan makan at au disf ungsi seksual
d. Gangguan f ungsi t ubuh ringan (misalnya, sakit kepala, gangguan
pencernaan t anpa indikasi medis)
e. Fobia at au depresi t emporer
Keempat , k esul i t an ek onomi yang di sebabk an ol eh berbagai fak t or. Penyebab ini
t ergolong dominan menjadi pemicu t er jadinya perceraian. H al ini t erjadi karena
set iap kel uarga senant iasa berhubungan dengan uang. Acapkali manakal a
t erjadi kesul it an ekonomi, dimana t iada ruang unt uk ber gerak secara leluasa,
perbedaan t emperamen dan priorit as di ant ara suami ist eri dapat menimbulkan
t erjadinya konf li k. Meskipun t idak sebuah rumah t angga t idak memiliki hut ang,
perbedaan mengenai pemanf aat an uang dan sumber daya lainnya dalam
perkawinan cukup unt uk mengant arkan t erjadinya usaha unt uk mengakhir i
rumah t angga.
Kel i ma, k esenj angan harapan dengan k enyat aan dal am perni k ahan. H arapan
t erhadap pasangan seringkali mel ebihi kemampuan unt uk mewujudkannya.
D an harapan t ersebut t erkadang menaf ikan kenyat aan bahwa set iap orang
t idak mungkin sempurna. H arapan yang berlebih ini dapat menimbulkan
t erjadinya peni laian yang dapat memicu perceraian.
Akan t et api, hal ini t idak berart i seseorang t idak boleh membuat
harapan t erhadap pasangannya. H anya saja, pengharapan t ersebut t idak boleh
melampaui kenyat aan bahwa manusia t idak sempurna at au menaf ikan pot ensi
suat u keinginan it u akan t idak mungkin selalu t er capai.
Keenam, k ebi asaan buruk yang t i dak menemuk an perubahan. K ebiasaan bur uk
yang berawal dari kehidupan sebelum perkawi nan kerapkali kembali t erjadi
secara t erang-t erangan dalam kehidupan perkawinan. Terungkapnya suat u
kebiasaan buruk dar i orang perorang dalam rumah t angga set elah perkawinan
merupakan konsekwensi dari sif at hubungan suami ist eri dalam perkawinan
yang bersif at t erbuka.
D alam kait an ini Quraish Shihab menarik menyimak gambaran
perbedaan cint a sebelum dan sesudah menikah, sebagai berikut :
16

D uni a ci nt a sebel um meni k ah at au saat pacaran masi h bersi fat t ert ut up, k arena
i t u banyak hal yang di rahasi ak an ol eh yang berci nt a, bai k t erhadap k ek asi hnya
maupun orang l ai n. Banyak j uga i mi t asi dan k epura-puraan. Sedang ci nt a dal am

16
M. Qurai sh Shi hab, Pengant i n A l -Qur ’an, Kal ung Per mata buat A nak -anak k u, (Ci putat:
Lentera H ati , 2007), h. 51

10
duni a perk awi nan sudah t erbuk a. Ket erbuk aan yang di i barat k an ol eh al -Qur’ an
dengan k at a afdha, yak ni sepert i k et erbuk aan angk asa raya, k arena i t u t i dak ada
l agi i mi t asi , at au rahasi a ant ara suami i st eri . Set el ah meni k ah suami t i dak ak an
mal u mengak u t i dak berdui t at au bahk an menangi s k esak i t an di hadapan
i st eri nya, demi k i an j uga sebal i k nya, i st eri j uga t i dak mal u menampak k an yang
di rahasi ak annya sel ama i ni .
Ket uj uh, hubungan suami i st eri yang t i dak sei mbang. Penelit ian biologi
menunjukkan bahwa kekuat an hubungan suami ist eri sepanjang hidup mereka
berlangsung selama 10 (sepuluh) t ahun. Akan t et api, seiring perkembangan
usia, persoalan hubungan int im suami ist eri juga mengalami perubahan, dan
disinilah seringkali muncul perbedaan ant ara suami ist eri.
Kedel apan, k ebosanan yang mengak i bat k an menur un at au hi l angnya k omi t men
dal am rumah t angga. Menurut pengamat an ahli, kebosanan dalam rumah t angga
ant ara lain disebabkan kar ena permasalahan yang selalu dat ang berulang t et api
t idak kunj ung menemui penyel esaian yang t unt as dan rut init as monoton yang
t elah dilakukan oleh seseorang dengan pasangannya. Pada t it ik t ert ent u,
permasalahan yang berlar ut -larut t idak menemukan penyel esaian akan
mengakibat kan t urunnya komit men seseorang t erhadap pasangannya.
Kesembi l an, k et i adaan ot onomi pasangan dal am menent uk an arah rumah t angga.
K ehidupan suami ist eri membut uhkan ot onomi pasangan dalam memut uskan
apa yang t erbaik bagi r umah t angganya. Meskipun demikian, dengan
ot onominya sebuah pasangan t idak berart i harus menut up diri t erhadap
masukan dan pert imbangan orang lain.
Ot onomi yang dimiliki secara ef ekt if ol eh suat u pasangan dimaksudkan
agar pihak ket iga t idak t erlal u mendominasi dan mengont rol keput usan-
keput usan yang diambil oleh pasangan t ersebut .
Kesepul uh, perni k ahan yang t i dak di rencanak an. Banyak hal yang
menyebabkan perkawinan menjadi t idak di rencanakan. Sesuat u yang sif at nya
t iba-t iba mengurangi kesiapan seseorang unt uk menghadapi per ubahan-
perubahan baru dalam hidupnya. D emikian pula dalam suat u per kawinan yang
t idak di rencanakan dengan mat ang, dapat berpot ensi menimbulkan sikap
pasangan yang berbeda-beda.

M enghindari Perceraian, adakah solusinya?

Bila salah sat u dari pasangan suami ist eri t elah memut uskan unt uk
bercerai dengan pasangannya, dapat kah perceraian it u diur ungkan?
Mungkinkah unt uk merubah pendirian seseor ang yang t elah membulat kan

11
t ekadnya unt uk berpisah? Unt uk menjawab pert anyaan diat as, ada beberapa
hal yang perlu dipert imbangkan. Pert ama, keput usan unt uk bercerai umumnya
t imbul jauh mendahului wakt u t ercet usnya. Penelit ian menunjukkan, rat a-rat a
seseorang membut uhkan wakt u 4 (empat) t ahun sebelum akhirnya
mencet uskan keinginannya unt uk ber cerai. Rerat a t ersebut t idak menut up
peluang seseorang membut uhkan wakt u lebih cepat at au lebih lama. I ni berart i
proses berf ikir dan menegosiasikan persoalan t elah berlangsung, t et api gagal
menemukan penyel esaian yang t unt as. Akibat nya, ket ika seseorang sudah
mencet uskan niat nya unt uk bercerai, umumnya seseorang t elah mencapai
suat u t ahapan kehidupan yang disebut sebagai reent ry. Fase ini menurut par a
ahli adalah suat u t ahapan dimana masing-masing pasangan suami ist eri t elah
menurunkan t ensi ket egangan soal hubungan perkawinan dan lebih melihat
kedepan bagaimana menjalani hidup t anpa t eri kat dalam hubungan suami ist er i
lagi dengan pasangan. Bagi mer eka dalam t ahapan psikologis ini, hubungan
perkawinan adalah masa lalu yang t idak mungkin akan dapat dikembal ikan
sepert i semula.
17
Akibat yang paling logis dari t ahapan sepert i ini adalah t idak
mungkinnya mengurungkan niat seseorang unt uk ber cerai dengan
pasangannya.
Kedua, berdasarkan dat a dari D irekt orat Jenderal Badan Peradilan
Agama rat a-rat a jumlah perkara perceraian yang dicabut di Pengadilan Agama,
diduga kuat kar ena pasangan dapat hidup rukun kembali dalam r umah t angga
ada sebesar 5,2 % dar i t ot al perkara per ceraian yang masuk pada t ahun 2007.
Besaran t ersebut merupakan besaran t erkecil dari rat a-rat a perkara yang
dicabut sejak t ahun 2003, karena ant ara t ahun 2003 hingga t ahun 2007 rat a-
rat a besara perkara yang dicabut berkisar ant ara 5,2% - 5,4%.
18

Berdasarkan kedua cat at an diat as, dapat dikat akan bahwa apabila
seseorang sudah mencet uskan unt uk berpisah dari pasangannya, kemungkinan
unt uk mengur ungkan niat nya sangat kecil. I ni berart i bahwa kemungkinan
mereka ber cerai akan l ebih besar dari kemungki nan mereka akan hidup rukun
dan harmonis lagi.
D alam pandangan yang lebih luas, perceraian it u t idak bisa dihindari
dengan cara-cara yang inst an dan sederhana, t anpa mempert imbangkan st rat egi
jangka panjang. St rat egi jangka panjang it u sebenarnya bukanlah semat a-mat a

17
D i ane N eumann, www.divorcemed.com, T he Psychol ogi cal St ages of D i vor ce, di akses
tanggal 6 Januari 2010
18
Wahyu Wi di ana, U paya Penyel esai an Per k ara M el alui Per damai an di Pengadi lan A gama,
Kai tannya dengan BP4, Makalah disampaikan pada Rakernas BP4 tanggal 15 Agustus 2008 di
Jakarta, h. 3, pernah juga di muat pada www.badi lag.net.

12
st rat egi menghindari perceraian, t et api sekal iguss juga st rat egi membangun
rumah t angga yang sakinah.
Tidak mudah merumuskan st rat egi membangun rumah t angga yang
sakinah sebagaimana yang di idam-idamkan ol eh banyak orang. D an boleh jadi
t idak ada st rat egi t unggal unt uk mencapainya.
Salah sat u st rat egi dalam mencipt akan kel uarga sakinah adalah
menggunakan paradigma AGI L, sebagaimana yang dit emukan dalam kajian
sosiologi. Paradigma t ersebut mencakup empat l angkah ut ama, yakni adapt at i on
(adapt asi/ penyesuaian diri), Goal -at t ai nment (Pencapaian t ujuan), i nt egrat i on
(penyat uan) dan l at en pat tern mai nt enance (pemeliharaan pola lat en).
Adapt asi (adapt at i on) ant ara pasangan suami ist eri diper lukan sejak
t erjadinya perkawinan saat mereka mulai memasuki kehidupan bersama set elah
menikah. D ua individu dengan perbedaan masing-masing disat ukan dalam
suat u biduk rumah t angga t ent unya membut uhkan penyesuaian unt uk dapat
menjalaninya t anpa kesenjangan.
Tuj uan berumah t angga membut uhkan kesepahaman dari pasangan
suami ist eri dan diharapkan senant iasa menjadi ukuran ut ama unt uk menilai
arah jalannya rumah t angga.
Penyat uan (i nt egrat i on) adalah persyarat an yang berhubungan dengan
int errelasi ant ara para anggot a dalam keluarga. supaya keluarga dapat berf ungsi
secara ef ekt i f sabagai sat u kesat uan, harus ada paling kurang sat u t ingkat
solidarit as di ant ara indi vidu yang ada di dalamnya. Masalah int egrasi
menunjuk pada kebut uhan unt uk menjamin bahwa ikat an emosional yang
cukup yang menghasilkan solidarit as dan kerelaan unt uk bekerjasama.
D an l at en patt ern mai nt enance (pemeliharaan pola lat en) bermakna agar
kel uarga ber jaga-jaga bilamana sist em it u sewakt u-wakt u t idak ber jalan, dan
para anggot anya idak lagi bert indak at au ber int eraksi sebagai anggot a sist em.
Selama per iode ini komit men para anggot a pada keluarga harus t et ap ut uh
sehingga pada wakt u yang t epat peran-peran sist em dapat diakt if kan kembal i
dan int eraksi sist em dit eruskan.
D isamping pendekat an t ersebut diat as, kiranya beberapa pemikiran
berikut dapat membant u mendukung st rat egi dini unt uk menghindar i
perceraian:
1. Perl u disadari bahwa jalan menuj u t er cipt anya keluarga sakinah t idak selal u
bert abur bunga, t et api j uga dapat ber upa semak belukar yang penuh
dengan duri.

13
2. K et ika suasana kel uarga menghadapi masa-masa sulit , maka sebai knya
masing-masing t et ap berpegangan t angan dengan senant iasa memikirkan
jalan kel uar yang t erbaik;
3. Perl u disadari bahwa kehidupan kel uarga secara ekonomi t idak selalu baik
unt uk selamanya. Ada kalanya membaik dan ada kalanya mengalami
kesulit an. K et i ka kondisi ekonomi kel uarga sedang menghadapi masalah,
maka pent ing unt uk disadari bahwa pint u rizki akan t erbuka lebar
berbanding lur us dengan ket aat an suami ist er i. D an saat kondisi ekonomi
sedang baik, seseorang t idak boleh melupakan pasangan yang t elah
mendampingi selama menjalani masa-masa sulit .
4. Sedapat mungkin dalam menjalani kehidupan rumah t angga dengan
prinsip 6 K (K et aqwaan, K asih sayang, K eset i aan, K omunikasi dialogis,
K et erbukaan, dan K ejujuran).
5. Pada akhirnya keluarga yang paling ideal dan paling pant as unt uk
dit eladani adalah kel uarga Rasul ul lah SAW. D alam Al Qur’an it u sudah
digambarkan pot ret – pot ret keluarga yang akan selal u hadir sampai bumi
ini Qiyamat (QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya).
a. Pot ret Suami dan I st ri yang kompak ingkarnya. Suami kaf ir dan ist ri
juga kaf ir. ( bukan kar ena pepat ah jawa Surgo Mel u neroko K at ut ).
D iant ara banyak nominasi yang ada, pot ret ini di menangkan oleh
kel uarga Abu Lahab dan I st rinya. Padahal hidup semasa dengan
N abi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Ber apa banyak mukjizat
yang ia saksikan t api t et ap t idak membuat nya beriman. Bahkan lebih
giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka.
b. Pot ret suami yang sholeh dan ist ri yang salah (ingkar). Bahkan bukan
hanya ist rinya saja, t et api anak – anaknya j uga kaf i r dan ingkar
t erhadap seruan f it rah islam. Pot ret ini akan ki t a t emui pada sosok
kel uarga N abi N uh dan N abi Lut h. Bagaimana ist ri dan put ranya
K an’an t elah dijak masuk ke dalam kapal t api menolak dengan alasan
akan selamat di puncak gunung yang akhir nya t enggelam juga
bersama kekaf iran mereka. Pun ist ri N abi Lut h yang mengumpankan
t amu – t amunya (malaikat ) kepada masyarakat H omo di
lingkungannya.
c. Pot ret ist ri yang sholehah dan suami yang sal ah (ingkar). I ngat lah
akan kisah N abi Musa as. Akan kit a t emui pot ret Fir’aun yang ingkar
berist rikan Aisi yah yang dalam do’anya kepada Allah memint a
dibuat kan rumah di Syur ga. D ialah Aisiyah ibunda angkat N abi Musa
as, yang menarik keranjang bayi dari sungai N il dan memohon

14
kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini t idak dibunuh. Pot ret keluar ga
sepert i ini banyak kit a t emui dewasa ini disekit ar kit a. I st ri yang t aat ,
beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar t api bersuamikan lelaki
yang muslim t api malas sholat , bahkan kadang berjudi at au minum
minuman keras.
d. Pot ret keluar ga singl e parent s. K eluarga yang hanya diisi ol eh ist r i
saja. Pot ret ini diwakil i oleh Maryam ibunda N abi I sa. H al ini
diakibat kan oleh ket ent uan Allah, ent ah karena mukjizat sepert i
Maryam at au karena dit inggal mat i suaminya. D an sekali lagi bukan
karena si wanit a ini doyan berzina dengan sat u at au banyak lelaki ,
kemudian t idak ada l elaki yang mau bert anggungjawab sebagai ayah
si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri. N amun f enomena
ini sekarang menyebar ke masyarakat umum aki bat wabah pergaulan
bebas muda – mudi dan remaja.
e. Pot ret kel uarga ideal, keluarga sakinah, kel uarga dakwah. Pot ret ini
ada pada diri suri t auladan kit a yang t erbai k yait u Rosulul lah dengan
K hadijah. Sang suami sholeh, sang ist ri juga sholeh. Saling mengisi
dalam kebahagiaan dan penderit aan kehidupan dakwah I slam.
N ah, jika ingin kel uarga sakinah, maka ambilah pot ret keluarga yang
kel ima yait u kel uarga Rosulullah sebagai cont oh unt uk dii kut i.
D ari sej umlah pemikiran mengenai kel uarga sakinah diat as, yang paling
pent ing unt uk disadar i kemudian adalah, kunci unt uk mewuj udkan keluarga
sakinah it u sangat bergant ung kepada diri masing-masing. D emikian pula
halnya dalam menghindari per ceraian, semuanya banyak dikembalikan kepada
diri masing-masing.



15
D AFT AR PUST AKA

Abdul Azis D ahlan (et all), E nsi k l opedi H uk um I sl am, Ji l i d 5, (Jakart a: I cht iar
Baru Van H oeve, 1996, h. 1777

D iane N eumann, www.di vorcemed.com, T he Psychol ogi cal St ages of D i vorce,
diakses t anggal 6 Januari 2010

D onald T. Saposnek, Ph. D dan Chip Rose, JD , CFLS, “ The Psychology of
D ivorce” , dalam ht t p:/ / www.mediat e.com/ diakses t anggal 09 Mei 2008

K at hleen K i ernan, “ The L egacy of Par ent al D ivorce: Social, Economic and
D emographic Experienci es in Adult hood” , London: Cent re f or Analysis
of Social Excl usion, London School of Economics, Oct ober 1997
M. Quraish Shihab, Pengant i n A l -Qur’ an, Kal ung Permat a buat A nak -anak k u,
Ciput at : Lent era H at i, 2007

Marian Robert s, M edi at i on i n F ami l y D i sput es: Pri nci pl es and Pract i ce (Third
Edit ion), H ampshire: Ashgat e Publishing Lt d, 2008

Pat rick F. Fagan dan Robert Rect or, “ The Ef f ect s of D i vorce on America” ,
Makalah dimuat dalam The H er it age Foundat ion Backgrounder N omor
1373, 5 Juni 2000

Prof . D r. Lili Rasjidi, SH ., LLM., H uk um Perk awi nan dan Percerai an di M al aysi a
dan I ndonesi a, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991

Rut h H alperin-K addari, “ General Recommendat ion on Economic
Consequences of Marr iage and it s D issol ut ion: Concept N ot e” ,
disampaikan dalam CED AW Fort y-f ourt h sesssion 20 Jul y-7 A ugust
2009

Sayyi d Sabiq, F i qh al -Sunnah, Jilid 2, Beir ut : D ar el-Fi kr

Wahyu Widiana, U paya Penyel esai an Perk ara M el al ui Perdamai an di Pengadi l an
A gama, Kai t annya dengan BP4, Makalah disampaikan pada Rakernas BP4
t anggal 15 Agust us 2008 di Jakart a

www.badilag.net (sit us resmi D irekt orat Jenderal Badan Peradilan Agama)

namun ulama fiqh mengemukakan rincian hukum talak jika dilihat dari kondisi rumah tangga yang menyebabkan talak itu terjadi. yang berarti melepaskan atau meninggalkan. 2 . baik sebagai hamba Allah SWT (seperti shalat dan puasa) maupun sebagai isteri (tidak mau melayani suami). 5          Dan didalam syara’ adalah melepaskan ikatan perkawinan dan berakhirnya ikatan suami-isteri. percekcokan tersebut tidak kunjung berakhir. Talak dihukumkan haram tatkala suami mengetahui bahwa isterinya akan melakukan perbuatan zina apabila ia menjatuhkan talak isterinya. 3. Pengertian dan Hukum Dasar Perceraian Dalam bahasa Arab. Jilid 2. Meskipun secara umum ayat-ayat Al-Qur’an membolehkan terjadinya talak antara suami isteri. Talak dihukumkan wajib apabila antara suami isteri senantiasa terjadi percekcokan dan ternyata setelah dilakukan pendekatan melalui juru damai (hakam) dari kedua belah pihak. 2. perceraian dipersamakan dengan kata . 1. Fiqh al-Sunnah. Dalam keadaan seperti ini. hukum talak adalah wajib karena perkawinan bertujuan untuk menjalin hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang serta menciptakan ketenteraman antara kedua belah pihak.Tulisan sederhana ini akan berusaha menjelaskan bagaimana perceraian itu terjadi dengan hal-hal yang melatarbelakanginya. h. Talak dihukumkan sunnah apabila isteri tidak mau patuh kepada hukumhukum Allah SWT dan tidak mau melaksanakan kewajibannya. (Beirut: Dar el-Fikr). disertai upaya-upaya yang dapat ditempuh untuk menghindari terjadinya perceraian dalam rumah tangga. 4         Kata thalak itu diambil dari kata ithlaq yakni melepaskan dan meninggalkan Sedangkan dalam istilah fiqh berarti melepaskan tali ikatan perkawinan dan berakhirnya ikatan suami isteri. Dengan 4 5 Sayyid Sabiq. 206 Ibid.

al-Hakim. seperti akhlak wanita yang diceraikan itu tidak baik. Dalam perkawinan seperti ini. pengertian “dibenci” dalam hadits tersebut menunjukkan makruh. Oleh karena itu. tujuan perkawinan yang dikehendaki syarak tidak akan tercapai. meskipun pertengkaran dapat dihindari. Bahkan seorang ahli menyebutnya sebagai “fenomena sosial dan pengalaman pribadi yang kompleks (a complex social phenomenon as well as a complex personal experience)”. Antara titik mula timbulnya persoalan awal hingga puncak yang memicu perceraian 6 Abdul Azis Dahlan (et all). 2008). h. dan hubungan antara keduanya tidak sejalan. Jilid 5. Termasuk ke dalam talak yang diharamkan ini adalah menjatuhkan talak isteri dalam keadaan haid. Ensiklopedi Hukum Islam. Menurut fukaha. Hal inilah yang dimaksudkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud. pelayanannya terhadap suami tidak baik. sehingga mengendap dalam alam bawah sadar menjadi rangkaian kekecewaan terhadap pasangan. menurut ulama fikih.6 Meskipun perceraian secara sederhana adalah pengungkapan kehendak untuk berpisah hidup setelah membina rumah tangga dan dilanjuti dengan perpisahan hidup. berarti suami memberi peluang bagi isterinya untuk melakukan perzinaan. Mediation in Family Disputes: Principles and Practice (Third Edition). 4. namun permasalahannya tidak sesederhana itu.7 Kompleksnya persoalan perceraian tersebut setidaknya terlihat dari beberapa segi. h. suami boleh menjatuhkan talaknya. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. dan dalam keadaan suci (tidak haid dan tidak nifas) tetapi telah dicampuri lebih dahulu. 5. Talak dihukumkan makruh apabila talak tersebut dijatuhkan tanpa alasan sama sekali.menjatuhkan talak tersebut. dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar. 1996. antara lain: Pertama. perceraian sesungguhnya adalah puncak dari kumulasi persoalan yang tidak terselesaikan dengan baik. nifas. 1777 Marian Roberts. 30 7 3 . Talak dihukumkan mubah (boleh) apabila talak itu dijatuhkan dengan alasan tertentu. (Hampshire: Ashgate Publishing Ltd.

menandai penataan ulang pengaturan keuangan dan kekayaan. Hal ini seringkali menimbulkan akibat yang paling lama diantara orang-orang yang bercerai.com/ diakses tanggal 09 Mei 2008 8 9 Marian Roberts. proses perceraian dimulai beberapa tahun sebelum tanggal pasti perceraian terjadi.. terlihat dari tahapan-tahapan terjadinya perceraian dalam kehidupan seseorang. yang mungkin termasuk kekecewaan. Saposnek. ketika salah satu pasangan mulai mengalami serangkaian perasaan yang dapat diperkirakan. 31 4 . marah.8 Kedua. D dan Chip Rose. 2. h. dan pengasingan). anxiety. which may include disillusionment. and alienation (Secara khusus. Perceraian masyarakat (community divorce). dissatisfaction. CFLS. yang mencakup dampak perceraian bagi orang-orang yang bercerai. hilangnya ketertarikan dan kepercayaan. ditandai dengan perasaan terluka. when one of the spouses begins to experience a predictable set of feelings. Perceraian hati (emotional divorce). sebagai berikut:9 1. Perceraian fisik (phisic divorce). Perceraian ini dipandang sebagai bagian yang paling sulit meskipun merupakan prestasi yang paling konstruktif diantara semuanya. 4.mediate. dalam http://www. bahkan kehidupan sosial pada Typically. Ph. yang menciptakan kebolehan untuk menikah lagi. JD. ketidakpuasan. yang melibatkan persoalan-persoalan tempat tinggal dan hubungan dengan anak. bahwa akibat terjadinya perceraian tersebut. Cit. 3. the divorce process begin several years before the actual date of separation. 6. Perceraian pengasuhan bersama (co-parenting divorce). Perceraian hukum (legal divorce). Umumnya ahli menyebutkan selama bertahun-tahun. misalnya.tidak jarang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. “The Psychology of Divorce”. Ketiga. kegelisahan. tidak hanya dialami oleh orang-orang yang melakukan perceraian. Op. tetapi juga oleh mereka yang memiliki keterkaitan dengannya sekaligus. bagaimana temanteman yang masih terikat perkawinan memperlakukan orang-orang yang telah bercerai serta organisasi-organisasi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan informasi dan persahabatan dari orang-orang yang telah bercerai. Lihat Donald T. Perceraian ekonomi (economic divorce). menggambarkan sarana-sarana dimana otonomi individu itu dipulihkan. 5.

Penjelasan yang agak lengkap mengenai dampak perceraian dapat dilihat pada Patrick F. Faktor moral menampati urutan ketiga yang menyebabkan pasangan suami isteri berujung di persidangan pengadilan agama. London: Centre for Analysis of Social Exclusion.510 kasus). Perselisihan dalam perkawinan yang berujung pada peristiswa perceraian ini disebabkan oleh ketidak harmonisan pribadi (55. faktor ekonomi di rumah tangga para pihak (26. sebagaimana dikutip Lili Rasyidi.090 kasus perceraian disebabkan oleh persoalan moral. LLM. “The Legacy of Parental Divorce: Social.. Faktor ini terjadi sebanyak 65. (Bandung: Remaja Rosdakarya.12 Persoalan moral pun memberikan andil untuk memantik krisis keharmonisan rumah tangga. Meninggalkan kewajiban ini disebabkan oleh karena salah satu pihak tidak bertanggung jawab (48. 8. antara lain menyebutkan:10 “The breakdown of a marriage involves more than the cessation of a relationship between two individuals. Lili Rasjidi.. Modusnya mengambil tiga bentuk. “General Recommendation on Economic Consequences of Marriage and its Dissolution: Concept Note”. 77. Economic and Demographic Experiencies in Adulthood”. Makalah dimuat dalam The Heritage Foundation Backgrounder Nomor 1373. lihat juga Kathleen Kiernan. disampaikan dalam CEDAW Forty-fourth sesssion 20 July-7 August 2009. gangguan pihak ketiga (10. suami melakukan poligami tidak Prof. London School of Economics. dan dikarenakan pula sejarah perkawinan para pihak yang dipaksa oleh orang tua (2.771 kasus perceraian yang diputus pengadilan agama pada tahun 2007. karena ia (sekaligus) berarti kehancuran kelompok sosial yang paling penting dalam masyarakat)” Sebab-Sebab Terjadinya Perceraian Berdasarkan publikasi resmi Direktorat Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia. Dr.623 kasus). Hukum Perkawinan dan Perceraian di Malaysia dan Indonesia. SH. “The Effects of Divorce on America”. h. dari 157. Fagan dan Robert Rector.444 kasus) dan faktor politis (281 kasus). October 1997 11 Sebagaimana dimuat www.net.11 Pemicu kedua adalah perselisihan terus-menerus.badilag. diakses tanggal 31 Januari 2011 12 Ibid 10 5 . lihat juga Ruth Halperin-Kaddari. 5 Juni 2000. (Pecahnya suatu perkawinan melibatkan lebih dari sekedar berakhirnya hubungan antara dua individu. Disebutkan bahwa 10.395 kasus).umumnya. John Eckelaar.818 kasus. 1991).095 kasus).528 kasus dipicu oleh salah satu pihak meninggalkan kewajiban. for it signifies the ultimate collapse of what is the most important social group in the community.

di mana pelakunya orang yang Ibid Ibid 15 Ibid 13 14 6 . dan seksual. 937 kasus. karena tidak adanya kanalisasi terhadap konflik tersebut. psikis. maka akan diperoleh setidaknya 10 (sepuluh) penyebab utama yang mendorong seseorang untuk memilih perceraian sebagai pilihan mengakhiri rumah tangga. mengutip Nusyahbani Kantjasungkana (1994). Penyebab ini mungkin terasa aneh. Penyebab ini tidaklah berdiri sendiri. proses komunikasi dapat mengalami hambatan atau gagal mencapai hasil yang positif.621 kasus). komunikasi yang selalu berujung konflik. Persoalan-persoalan yang terpendam ini kemudian terakumulasi dan dapat berubah menjadi konflik yang lebih besar. dengan cara menyiksa secara fisik. kekerasan fisik dan psikis.14 Sedangkan pemicu lainnya adalah karena salah satu pasangan mengalami cacat biologis yang menyebabkan tidak bisa melaksanakan kewajiban (1. menurun atau hilangnya kesetiaan antara suami isteri. seiring perjalanan waktu. Ketiga. Terdapat 1. Kegagalan komunikasi ini selanjutnya memendam persoalan-persoalan yang terjadi dalam rumah tangga. seperti kegagalan melakukan penyesuaian diri pasca pernikahan. karena berbagai faktor.15 Jika penyebab-penyebab tersebut dilihat lebih jauh dalam konteks hubungan antara suami isteri. Kedua.13 Pemicu ke empat rusaknya simpul perkawinan adalah kekerasan dalam rumah tangga. rusaknya komunikasi pasangan suami isteri. Penyebab itu sama maknanya dengan apa yang diistilahkan sebagai Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).sesuai aturan (poligami tidak sehat). Akan tetapi. Hilangnya kesetiaan seringkali merupakan akibat dari konflik tak terselesaikan antara suami isteri atau karena permasalahan yang tidak terkomunikasikan dan masing-masing pasangan suami isteri membuat penilaian terhadap pasangan lainnya secara sepihak. Pertama.845 kasus perkawinan putus karena faktor ini. karena perkawinan pada hakekatnya adalah buah dari komunikasi yang intensif antara dua orang dahulunya tidak saling kenal mengenal. dan salah satu pihak dijatuhi pidana oleh pengadilan (356 kasus). Kekerasan dalam rumah tangga atau dalam istilah sosiologisnya domestic violence. di balik pintu tertutup. maupun adanya unsur kekerasan yang menyelimuti pergaulan suami isteri. krisis akhlak (4.884 kasus). perkawinan di bawah umur (513 kasus). menunjuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan di dalam rumah.269 kasus) dan cemburu yang berlebihan (4.

yaitu kekerasan fisik berat. Faktor-faktor mana masih berkecenderungan membentuk struktur superior dan inferior di antara orang-orang dalam suatu rumah tangga. Sebagian kalangan menyebutkan kekerasan dalam rumah tangga ini sebagai kekerasan berbasis gender. ekonomi. menyundut.memiliki hubungan dekat dengan korban –dalam hal ini jamaknya adalah kaum perempuan. atau luka berat. Yang dimaksud dengan kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. meskipun sangat dominan. f. Undang-Undang No. dan kepribadian yang mengitari dan ada dalam diri seseorang. melakukan percobaan pembunuhan atau pembunuhan dan semua perbuatan lain yang dapat mengakibatkan : a. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. psikologis. Secara kategoris timbulnya kekerasan dalam rumah tangga merupakan kumulasi dari faktor-faktor lingkungan sosial. Mereka yang terstruktur superior. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. baik isteri maupun pembantu rumah tangga. Sementara itu. ekonomi. jatuh sakit. umumnya suami atau laki-laki berkecenderungan untuk melakukan tindakantindakan kekerasan terhadap mereka yang terstruktur secara inferior dan tersubordinasi secara sosial. Kekerasan fisik berat. seksual. Pengertian ini tentu tidak sepenuhnya benar. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga mendefinisikan Kekerasan dalam Rumah Tangga sebagai setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. kekerasan fisik ringan. karena umumnya yang menjadi korban dalam tindakan tersebut adalah perempuan. Pingsan d. dan kekerasan fisik ringan yang bersifat repetitive (pengulangan). Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari c. Mendapat cacat. Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati e. memukul. dan budaya. hukum. budaya. 7 . Cedera berat b. berupa penganiayaan berat seperti menendang. Secara lebih terperinci LBH Apik membagi kekerasan fisik ini ke dalam tiga kategori utama. Kehilangan salah satu panca indera. karena dari kasus-kasus yang ada terdapat kekerasan yang menjadikan anak-anak sebagai korbannya. pemaksaan.

eksploitasi. kesewenangan. Depresi berat atau destruksi diri e. yakni kekerasan psikis berat dan kekerasan psikis ringan. Rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk dalam kategori berat Sedangkan repitisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan berat. Bentuk kekerasan ini. hilangnya rasa percaya diri. yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat berupa salah satu atau beberapa hal berikut: a. seksual dan ekonomis. pemaksaan dan isolasi sosial. dapat berupa tindakan pengendalian. Kekerasan psikis berat.g. penguntitan. seksual dan ekonomis. h. sebagaimana dimaksud Pasal 7 Undang-Undang No. dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan: a. ancaman kekerasan fisik. berupa salah satu atau beberapa hal di bawah ini: 8 . tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina.yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis ringan. Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat dan atau menahun. Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis) d. i. mendorong. hilangnya kemampuan untuk bertindak. c. Gangguan stress pasca trauma. perendahan dan penghinaan. tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina. eksploitasi. manipulasi. dalam bentuk pelarangan. Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya f. perendahan dan penghinaan. j. pemaksaan. Yang dimaksud dengan kekerasan psikis. Bunuh diri Adapun kekerasan psikis ringan. manipulasi. kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik. dapat berupa tindakan pengendalian. rasa tidak berdaya. b. Menderita sakit lumpuh. dalam bentuk pelarangan. kesewenangan. menjambak. penguntitan. menurut LBH APIK dibagi ke dalam dua bentuk utama. dan isolasi sosial. Kekerasan fisik ringan. Cedera ringan b. Terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan Kematian korban. 23 Tahun 2004 adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. berupa menampar. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang.

Akan tetapi. perbedaan temperamen dan prioritas di antara suami isteri dapat menimbulkan terjadinya konflik. Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual d. kesenjangan harapan dengan kenyataan dalam pernikahan. pengharapan tersebut tidak boleh melampaui kenyataan bahwa manusia tidak sempurna atau menafikan potensi suatu keinginan itu akan tidak mungkin selalu tercapai. kebiasaan buruk yang tidak menemukan perubahan. Fobia atau depresi temporer Keempat. hilangnya kemampuan untuk bertindak c. dimana tiada ruang untuk bergerak secara leluasa. Pengantin Al-Qur’an. Meskipun tidak sebuah rumah tangga tidak memiliki hutang. sebagai berikut:16 Dunia cinta sebelum menikah atau saat pacaran masih bersifat tertutup. 2007). Hanya saja. gangguan pencernaan tanpa indikasi medis) e. Sedang cinta dalam M. Quraish Shihab. Gangguan fungsi tubuh ringan (misalnya. kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh berbagai faktor. Terungkapnya suatu kebiasaan buruk dari orang perorang dalam rumah tangga setelah perkawinan merupakan konsekwensi dari sifat hubungan suami isteri dalam perkawinan yang bersifat terbuka. hal ini tidak berarti seseorang tidak boleh membuat harapan terhadap pasangannya. perbedaan mengenai pemanfaatan uang dan sumber daya lainnya dalam perkawinan cukup untuk mengantarkan terjadinya usaha untuk mengakhiri rumah tangga.a. Banyak juga imitasi dan kepura-puraan. Kalung Permata buat Anak-anakku. Kelima. Harapan yang berlebih ini dapat menimbulkan terjadinya penilaian yang dapat memicu perceraian. Rasa tidak berdaya. karena itu banyak hal yang dirahasiakan oleh yang bercinta. (Ciputat: Lentera Hati. Kebiasaan buruk yang berawal dari kehidupan sebelum perkawinan kerapkali kembali terjadi secara terang-terangan dalam kehidupan perkawinan. Harapan terhadap pasangan seringkali melebihi kemampuan untuk mewujudkannya. Ketakutan dan perasaan terteror b. baik terhadap kekasihnya maupun orang lain. Dan harapan tersebut terkadang menafikan kenyataan bahwa setiap orang tidak mungkin sempurna. hilangnya rasa percaya diri. sakit kepala. Dalam kaitan ini Quraish Shihab menarik menyimak gambaran perbedaan cinta sebelum dan sesudah menikah. Keenam. 51 16 9 . h. Acapkali manakala terjadi kesulitan ekonomi. Penyebab ini tergolong dominan menjadi pemicu terjadinya perceraian. Hal ini terjadi karena setiap keluarga senantiasa berhubungan dengan uang.

yakni seperti keterbukaan angkasa raya. permasalahan yang berlarut-larut tidak menemukan penyelesaian akan mengakibatkan turunnya komitmen seseorang terhadap pasangannya. isteri juga tidak malu menampakkan yang dirahasiakannya selama ini. ketiadaan otonomi pasangan dalam menentukan arah rumah tangga. kebosanan dalam rumah tangga antara lain disebabkan karena permasalahan yang selalu datang berulang tetapi tidak kunjung menemui penyelesaian yang tuntas dan rutinitas monoton yang telah dilakukan oleh seseorang dengan pasangannya. Keterbukaan yang diibaratkan oleh al-Qur’an dengan kata afdha. Setelah menikah suami tidak akan malu mengaku tidak berduit atau bahkan menangis kesakitan di hadapan isterinya. kebosanan yang mengakibatkan menurun atau hilangnya komitmen dalam rumah tangga. dapat berpotensi menimbulkan sikap pasangan yang berbeda-beda. dengan otonominya sebuah pasangan tidak berarti harus menutup diri terhadap masukan dan pertimbangan orang lain. Ketujuh. Otonomi yang dimiliki secara efektif oleh suatu pasangan dimaksudkan agar pihak ketiga tidak terlalu mendominasi dan mengontrol keputusankeputusan yang diambil oleh pasangan tersebut. atau rahasia antara suami isteri. karena itu tidak ada lagi imitasi. dapatkah perceraian itu diurungkan? Mungkinkah untuk merubah pendirian seseorang yang telah membulatkan 10 . hubungan suami isteri yang tidak seimbang. persoalan hubungan intim suami isteri juga mengalami perubahan. Akan tetapi. Kesembilan. seiring perkembangan usia. Meskipun demikian. Kedelapan. Sesuatu yang sifatnya tiba-tiba mengurangi kesiapan seseorang untuk menghadapi perubahanperubahan baru dalam hidupnya. dan disinilah seringkali muncul perbedaan antara suami isteri. demikian juga sebaliknya. adakah solusinya? Bila salah satu dari pasangan suami isteri telah memutuskan untuk bercerai dengan pasangannya. Demikian pula dalam suatu perkawinan yang tidak direncanakan dengan matang. Banyak hal yang menyebabkan perkawinan menjadi tidak direncanakan. Kesepuluh. Pada titik tertentu.dunia perkawinan sudah terbuka. Menghindari Perceraian. Menurut pengamatan ahli. Kehidupan suami isteri membutuhkan otonomi pasangan dalam memutuskan apa yang terbaik bagi rumah tangganya. Penelitian biologi menunjukkan bahwa kekuatan hubungan suami isteri sepanjang hidup mereka berlangsung selama 10 (sepuluh) tahun. pernikahan yang tidak direncanakan.

Besaran tersebut merupakan besaran terkecil dari rata-rata perkara yang dicabut sejak tahun 2003. dapat dikatakan bahwa apabila seseorang sudah mencetuskan untuk berpisah dari pasangannya. kemungkinan untuk mengurungkan niatnya sangat kecil. Pertama. Ini berarti bahwa kemungkinan mereka bercerai akan lebih besar dari kemungkinan mereka akan hidup rukun dan harmonis lagi.divorcemed. 3.4%. Strategi jangka panjang itu sebenarnya bukanlah semata-mata 17 Diane Neumann.5. berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama rata-rata jumlah perkara perceraian yang dicabut di Pengadilan Agama.tekadnya untuk berpisah? Untuk menjawab pertanyaan diatas. Penelitian menunjukkan. keputusan untuk bercerai umumnya timbul jauh mendahului waktu tercetusnya. perceraian itu tidak bisa dihindari dengan cara-cara yang instan dan sederhana. www.2% . Fase ini menurut para ahli adalah suatu tahapan dimana masing-masing pasangan suami isteri telah menurunkan tensi ketegangan soal hubungan perkawinan dan lebih melihat kedepan bagaimana menjalani hidup tanpa terikat dalam hubungan suami isteri lagi dengan pasangan. Ini berarti proses berfikir dan menegosiasikan persoalan telah berlangsung. The Psychological Stages of Divorce. h. Akibatnya. ketika seseorang sudah mencetuskan niatnya untuk bercerai.18 Berdasarkan kedua catatan diatas. hubungan perkawinan adalah masa lalu yang tidak mungkin akan dapat dikembalikan seperti semula. tanpa mempertimbangkan strategi jangka panjang.17 Akibat yang paling logis dari tahapan seperti ini adalah tidak mungkinnya mengurungkan niat seseorang untuk bercerai dengan pasangannya. Kaitannya dengan BP4. umumnya seseorang telah mencapai suatu tahapan kehidupan yang disebut sebagai reentry.2 % dari total perkara perceraian yang masuk pada tahun 2007. diakses tanggal 6 Januari 2010 18 Wahyu Widiana. Makalah disampaikan pada Rakernas BP4 tanggal 15 Agustus 2008 di Jakarta. pernah juga dimuat pada www. 11 .badilag. tetapi gagal menemukan penyelesaian yang tuntas.com. Dalam pandangan yang lebih luas. Bagi mereka dalam tahapan psikologis ini. karena antara tahun 2003 hingga tahun 2007 ratarata besara perkara yang dicabut berkisar antara 5. Rerata tersebut tidak menutup peluang seseorang membutuhkan waktu lebih cepat atau lebih lama. rata-rata seseorang membutuhkan waktu 4 (empat) tahun sebelum akhirnya mencetuskan keinginannya untuk bercerai. diduga kuat karena pasangan dapat hidup rukun kembali dalam rumah tangga ada sebesar 5. ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Kedua.net. Upaya Penyelesaian Perkara Melalui Perdamaian di Pengadilan Agama.

harus ada paling kurang satu tingkat solidaritas di antara individu yang ada di dalamnya. sebagaimana yang ditemukan dalam kajian sosiologi. kiranya beberapa pemikiran berikut dapat membantu mendukung strategi dini untuk menghindari perceraian: 1. Dan boleh jadi tidak ada strategi tunggal untuk mencapainya. tetapi juga dapat berupa semak belukar yang penuh dengan duri. Dua individu dengan perbedaan masing-masing disatukan dalam suatu biduk rumah tangga tentunya membutuhkan penyesuaian untuk dapat menjalaninya tanpa kesenjangan. Selama periode ini komitmen para anggota pada keluarga harus tetap utuh sehingga pada waktu yang tepat peran-peran sistem dapat diaktifkan kembali dan interaksi sistem diteruskan. Perlu disadari bahwa jalan menuju terciptanya keluarga sakinah tidak selalu bertabur bunga. 12 . Dan laten pattern maintenance (pemeliharaan pola laten) bermakna agar keluarga berjaga-jaga bilamana sistem itu sewaktu-waktu tidak berjalan. dan para anggotanya idak lagi bertindak atau berinteraksi sebagai anggota sistem. Tujuan berumah tangga membutuhkan kesepahaman dari pasangan suami isteri dan diharapkan senantiasa menjadi ukuran utama untuk menilai arah jalannya rumah tangga. Paradigma tersebut mencakup empat langkah utama. Adaptasi (adaptation) antara pasangan suami isteri diperlukan sejak terjadinya perkawinan saat mereka mulai memasuki kehidupan bersama setelah menikah. Goal-attainment (Pencapaian tujuan). Tidak mudah merumuskan strategi membangun rumah tangga yang sakinah sebagaimana yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Masalah integrasi menunjuk pada kebutuhan untuk menjamin bahwa ikatan emosional yang cukup yang menghasilkan solidaritas dan kerelaan untuk bekerjasama. Salah satu strategi dalam menciptakan keluarga sakinah adalah menggunakan paradigma AGIL.strategi menghindari perceraian. Penyatuan (integration) adalah persyaratan yang berhubungan dengan interrelasi antara para anggota dalam keluarga. Disamping pendekatan tersebut diatas. integration (penyatuan) dan laten pattern maintenance (pemeliharaan pola laten). tetapi sekaliguss juga strategi membangun rumah tangga yang sakinah. supaya keluarga dapat berfungsi secara efektif sabagai satu kesatuan. yakni adaptation (adaptasi/penyesuaian diri).

Suami kafir dan istri juga kafir. 5. Dan saat kondisi ekonomi sedang baik. c. Dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Keterbukaan. maka penting untuk disadari bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan ketaatan suami isteri. maka sebaiknya masing-masing tetap berpegangan tangan dengan senantiasa memikirkan jalan keluar yang terbaik. Sedapat mungkin dalam menjalani kehidupan rumah tangga dengan prinsip 6 K (Ketaqwaan. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya. Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Ada kalanya membaik dan ada kalanya mengalami kesulitan. Bahkan bukan hanya istrinya saja. b. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Ketika kondisi ekonomi keluarga sedang menghadapi masalah. Perlu disadari bahwa kehidupan keluarga secara ekonomi tidak selalu baik untuk selamanya. seseorang tidak boleh melupakan pasangan yang telah mendampingi selama menjalani masa-masa sulit. Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Ketika suasana keluarga menghadapi masa-masa sulit. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Komunikasi dialogis. Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar).2. yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon 13 . Kasih sayang. Diantara banyak nominasi yang ada. bahkan pamannya lagi. 3. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Kesetiaan. dan Kejujuran). 4. Pada akhirnya keluarga yang paling ideal dan paling pantas untuk diteladani adalah keluarga Rasulullah SAW. Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. a. tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad.

Potret keluarga single parents. Dari sejumlah pemikiran mengenai keluarga sakinah diatas. keluarga dakwah. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja. 14 . kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri. e. entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. maka ambilah potret keluarga yang kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. sang istri juga sholeh. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. jika ingin keluarga sakinah. beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat. yang paling penting untuk disadari kemudian adalah. kunci untuk mewujudkan keluarga sakinah itu sangat bergantung kepada diri masing-masing. keluarga sakinah. Nah. bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras.kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Demikian pula halnya dalam menghindari perceraian. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Sang suami sholeh. Istri yang taat. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. semuanya banyak dikembalikan kepada diri masing-masing. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah. d. Potret keluarga ideal. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.

Saposnek. Beirut: Dar el-Fikr Wahyu Widiana. 2008 Patrick F. Dr..com. 2007 Marian Roberts.divorcemed. disampaikan dalam CEDAW Forty-fourth sesssion 20 July-7 August 2009 Sayyid Sabiq. Economic and Demographic Experiencies in Adulthood”. Jilid 2. Ensiklopedi Hukum Islam. h. London School of Economics. www. (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1991 Ruth Halperin-Kaddari. Kaitannya dengan BP4.. Hukum Perkawinan dan Perceraian di Malaysia dan Indonesia.net (situs resmi Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama) 15 . LLM. “The Legacy of Parental Divorce: Social. Ph. October 1997 M. “The Psychology of Divorce”. London: Centre for Analysis of Social Exclusion. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. D dan Chip Rose. The Psychological Stages of Divorce. Quraish Shihab. SH. Upaya Penyelesaian Perkara Melalui Perdamaian di Pengadilan Agama. Mediation in Family Disputes: Principles and Practice (Third Edition). dalam http://www.DAFTAR PUSTAKA Abdul Azis Dahlan (et all). Pengantin Al-Qur’an. Makalah dimuat dalam The Heritage Foundation Backgrounder Nomor 1373. 1777 Diane Neumann. Jilid 5. Lili Rasjidi. 5 Juni 2000 Prof. 1996.com/ diakses tanggal 09 Mei 2008 Kathleen Kiernan. “General Recommendation on Economic Consequences of Marriage and its Dissolution: Concept Note”. Makalah disampaikan pada Rakernas BP4 tanggal 15 Agustus 2008 di Jakarta www. Fagan dan Robert Rector. Hampshire: Ashgate Publishing Ltd.mediate. diakses tanggal 6 Januari 2010 Donald T. “The Effects of Divorce on America”. Kalung Permata buat Anak-anakku. Fiqh al-Sunnah.badilag. CFLS. JD. Ciputat: Lentera Hati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful