ASKEP SINUSITIS

A. DEFINISI SINUSITIS Sinusitis adalah suatu keradangan yang terjadi pada sinus. Sinus sendiri adalah rongga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus adalah untuk menjaga kelembapan hidung & menjaga pertukaran udara di daerah hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis, yaitu : 1. 2. 3. 4. Sinus Frontal, terletak di atas mata dibagian tengah dari masing-masing alis Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat disamping hidung Sinus Ethmoid, terletak diantara mata, tepat di belakang tulang hidung Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid & dibelakang mata Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia. Fungsi dari cilia ini adalah untuk mendorong lendir yang di produksi didalam sinus menuju ke saluran pernafasan. Gerakan cilia mendorong lendir ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kotoran ataupun organisme yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus ini membengkak maka cairan lendir yang ada tidak dapat bergerak keluar & terperangkap di dalam rongga sinus. Jadi sinusitis terjadi karena peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lendir terperangkap di rongga sinus & menjadi tempat tumbuhnya bakteri. Sinusitis paling sering mngenai sinus maksila (Antrum Highmore), karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.

B. KLASIFIKASI SINUSITIS Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : 1. Sinusitis akut : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3 minggu. Macam-macam sinusitis akut : sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.

2. Sinusitis kronis : Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 3-8 minggu tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

C. ETIOLOGI SINUSITIS Pada Sinusitis Akut, yaitu: 1. Infeksi virus Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya Rhinovirus, Influenza virus, dan Parainfluenza virus). 2. Bakteri Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut. 3. Infeksi jamur Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem kekebalan, contohnya jamur Aspergillus. 4. Peradangan menahun pada saluran hidung

Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor. 5. Septum nasi yang bengkok 6. Tonsilitis yg kronik

Pada Sinusitis Kronik, yaitu: 1. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh. 2. Alergi 3. Karies dentis ( gigi geraham atas ) 4. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa. 5. Benda asing di hidung dan sinus paranasal 6. Tumor di hidung dan sinus paranasal.

D. MANIFESTASI KLINIK 1. Sinusitis maksila akut

ingus kental dan penciuman berkurang. sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. batuk kering. 2.sakit kepala yang hebat pada siang hari.PM2. kental kadangkadang berbau dan bercampur darah. dan edema. bronkiektasis. Sinusitis etmoid akut Gejala : ingus kental di hidung dan nasafaring. .tetapi berkurang setelah sore hari. 2. dan pusing. sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal. 6. X Foto sinus paranasalis: Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah Posisi Water’s. nefritis. Posteroanterior dan Lateral. E. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit. sakit kepala. nyeri pada pipi terutama sore hari. Sinusitis frontal akut Gejala : demam. ingus mengalir ke nasofaring. hidung tersumbat. Sinusitis sphenoid akut Gejala : nyeri di bola mata. Rinoskopi anterior Tampak mukosa konka hiperemis. 2. ingus kental di hidung. Dentogen : Caries gigi (PM1.selalu terdapat ingus di tenggorok. 3. Sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. ingus di nasofaring 5. ingus kental dan kadang-kadang berbau. 4. 3. Sinusitis Kronis Gejala : pilek yang sering kambuh. terdapat gejala di organ lain misalnya rematik. pusing.4 Transiluminasi (diaphanoscopia) 5. nyeri di antara dua mata. Rinoskopi posterior : Tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). kavum nasi sempit. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus yang sakit. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1.5.Gejala : Demam.Pada sinusitis maksila. bronchitis. dan sering demam. sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius.M1) 4.

Untuk diagnosis . Kadang sukar membedakannya dengan polip yang terinfeksi. dengan memasukkan lampu kedalam mulut dan ditekankan ke langit-langit.Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan : a.Posisi Water’s adalah untuk memproyeksikan tulang petrosus supaya terletak di bawah antrum maksila. homogen. bentuknya konveks (bundar). Massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus e. Sinusitis maksila akut Pemeriksaan rongga hidung akan tampak ingus kental yang kadang-kadang dapat terlihat berasal dari meatus medius mukosa hidung. frontal dan etmoid. Pemeriksaan CT –Scan Pemeriksaan CT-Scan merupakan cara terbaik untuk memperlihatkan sifat dan sumber masalah pada sinusitis dengan komplikasi. CT-Scan pada sinusitis akan tampak : penebalan mukosa. Mukokel. Pada pemeriksaan di kamar gelap. sphenoid dan etmoid 7. b. Pada pemeriksaan tenggorok. penekanan. Pemeriksaan di setiap sinus a. Pada kelainan sinus maksila gambar bulan sabit itu kurang terang atau tidak tampak. Mukosa hidung tampak membengkak (edema) dan merah (hiperemis). licin. penebalan dinding sinus dengan sklerotik (pada kasus-kasus kronik). perselubungan homogen atau tidak homogen pada satu atau lebih sinus paranasal. atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer. akan tampak pada sinus maksila yang normal gambar bulan sabit di bawah mata. air fluid level. bila kista ini makin lama makin besar dapat menyebabkan gambaran air-fluid level. Posisi ini terutama untuk melihat adanya kelainan di sinus maksila. Kista retensi yang luas. terdapat ingus kental di nasofaring. Polip yang mengisi ruang sinus c. 8. Posisi Posteroanterior untuk menilai sinus frontal dan Posisi Lateral untuk menilai sinus frontal. pada pemeriksaan CT-Scan tidak mengalami ehans. Polip antrokoanal d. yakni dengan cara menengadahkan kepala pasien sedemikian rupa sehingga dagu menyentuh permukaan meja.

Surgikal dengan irigasi sinus maksilaris. Drainage a. 2. yaitu : Dekongestan local : efedrin 1%(dewasa) ½ %(anak). mukosa hidung edema dan hiperemis. Pada pemeriksaan di kamar gelap. dapat sebelah (unilateral). d. dengan meletakkan lampu di sudut mata bagian dalam. Sinusitis frontal akut Pemeriksaan rongga hidung. Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20) c. dapat juga kedua belah (bilateral ). Cabut geraham atas bila penyebab dentogen b. Sinusitis sfenoid akut Pemeriksaan rongga hidung. 4. Amoksilin 3 x 500 mg c. Penatalaksanaan Pembedahan . Akan terlihat perselubungan di sinus maksila. metampiron 3 x 500 mg.. Dengan pemberian obat. Foto roentgen. ingus di meatus medius. b. terdapat ingus kental. c. tampak pada foto roentgen daerah sinus frontal berselubung. Pemberian obat simtomatik Contohnya parasetamol. akan terdapat perselubungan di sinus etmoid.diperlukan foto rontgen. akan tampak bentuk sinus frontal di dahi yang terang pada orang normal. F. Pemeriksaan radiologik. tampak ingus atau krusta serta foto rontgen. Sinusitis etmoid akut Pemeriksaan rongga hidung. Untuk Sinusitis kromis bisa dengan : a. Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi). dan kurang terang atau gelap pada sinusitis akut atau kronis. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Medis 1. Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet d. Pemberian antibiotik dalam 5-7 hari (untuk Sinusitis akut) yaitu : a. 3. Diksisiklin 100 mg/hari. b. Dekongestan oral PseUdo efedrin 3 X 60 mg. Ampisilin 4 X 500 mg b.

Air cucian sinus akan keluar dari mulut. dan dilakukan di kamar bedah. oleh karena kepala diletakkan ebih rendah dari badan). maka jarum trokar dicabut. kapas dikeluarkan. b. Pada sinus frontal. Pasien harus menyebut “kek-kek” supaya HCL efedrin yang diteteskan tidak masuk ke dalam mulut. atau dengan balon yang khusus untuk pencucian sinus itu.dasar mata tertusuk karena arah penusukan salah. Caranya ialah. yaitu busi. atau dengan memakai alat. Setelah tulang dinding sinus maksila bagian medial tembus. ujung trokar diarahkan ke batas luar mata. emboli udara karena setelah menyemprot dengan air disemprotkan udara dengan maksud mengeluarkan seluruh cairn yang telah dimasukkan serta perdarahan karena konka inferior tertusuk. maka untuk memasukkan pipa dipakai trokar yang tumpul. Pada waktu meneteskan HCL ini. Lubang fungsi ini dapat diperbesar. Tindakan ini diulang 3 hari kemudian. Kedalam hidung diteteskan HCL efedrin 0. dan dicuci 2 kali seminggu dengan larutan garam fisiologis. etmoid dan sfenoid Pencucian sinus dilakukan dengan pencucian Proetz. Tapi tindakan seperti ini dapat menimbulkan kemungkinan trokar menembus melewati sinus ke jaringan lunak pipi. dengan pasien yang diberi anastesi. Setelah 5 menit. dan ditampung di tempat bengkok. Pasien yang telah ditataki plastik di dadanya. tetapi ke dalam rongga yang terletak dibawah ( yaitu sinus paranasal. Pada sinus maksila Dilakukan fungsi sinus maksila. Pipa itu dihubungkan dengan semprit yang berisi larutan garam fisiologis.5-1.5 %. Pada waktu lubang ditutup maka akan terisap ingus dari sinus.Pencucian sinus paranasal : a. Tindakan ini disebut antrostomi. lalu dengan trokar ditusuk di bawah konka inferior. dengan memotong dinding lateral hidung. Pada pipa gelas itu dibuat lubang yang dapat ditutup dan dibuka dengan ujung jari jempol. Karena sudah ada lubang fungsi. Ke dalam lubang hidung dimasukkan pipa gelas yang dihubungkan dengan alat pengisap untuk menampung ingus yang terisap dari sinus. dengan sebelumnya memasukkan kapas yang telah diteteskan xilokain dan adrenalin ke daerah meatus inferior. diminta untuk membuka mulut. sehingga tinggal pipa selubungnya berada di dalam sinus maksila. lubang di pipa . Caranya ialah dengan pasien ditidurkan dengan kepala lebih rendah dari badan.

tidak ditutup. Tindakan pencucian menurut cara ini dilakukan 2 kali seminggu. .

yang disebut fosa kanina. Olehkarena itu pasien harus bernafas melalui mulut. Dengan cunam . setelah itu. Alat yang perlu disiapkan ialah :      alat fungsi sinus maksila semprit untuk mencuci pahat untuk memotong dinding lateral hidung alat pengisap tampon kapas atau kain kasa panjang yang diberi salep Tindakan dilakukan di kamar besdah. bila foto rontgen sudah tampak penebalan dinding sinus paranasal. yaitu membuat saluran antara rongga hidung dengan sinus maksila di bagian lateral konka inferior. maka kedua belah hidung tersumbat oleh tampon. Sinus maksila a. Operasi Caldwell-Luc Operasi ini ialah membuka sinus maksila.  tampon diangkat pada hari ketiga. Gunanya ialah untuk mengalirkan nanah dan ingus yang terkumpul di sinus maksila. maka insisis dilakukan di bawah bibir.Pembedahan. Macam pembedahan sinus paranasal 1. bila tidak terdapat perdarahan. dengan menembus tulang pipi. Dengan pahat atau bor tulang itu dibuka. Persiapan sebelum pembedahan perlu dibuat foto ( pemeriksaan) dengan CT scan. Antrostomi. dengan demikian rongga sinus maksila kelihatan. pasien boleh pulang. bila setelah dilakukan pencucian sinus 6 kali ingus masih tetap kental b. b. dan pasien dirawat selama 2 hari. sehingga tampak tulang sedikit di atas cuping hidung. Kemudian jaringan diatas tulang pipi diangkat kearah superior. dan makanan yang diberikan harus lunak. dilakukan : a. Supaya tidak terdapat cacat di muka. dengan pembiusan ( anastesia ). di bagian superior ( atas ) akar gigi geraham 1 dan 2. Perawatan pasca tindakan :  beri antrostomi dilakukan pada kedua belah sinus maksila.

maka dengan cunam sel etmoid yang terbesar ( bula etmoid ) dibuka. perhatikan keadaan umum : nadi. Sinus etmoid Pembedahan untuk membersihkan sinus etmoid. Perawatan pasca bedah :      beri kompres es di pipi. tensi. Isi sinus maksila dibersihkan. Bila terdapat banyak perdarahan dari sinus maksila. dapat dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dengan membuat insisi di batas hidung dengan pipi (ekstranasal). Setelah sinus bersih dan dicuci dengan larutan bethadine. untuk mencegah pembengkakan di pipi pascabedah. maka dokter harus diberitahu. makanan lunak tampon dicabut pada hari ketiga. 2. seh igga apa yang akan dikerjakan dapat dilihat dengan baik. Polip yang ditemukan dikeluarkan sampai bersih.suhu perhatikan apakah ada perdarahan mengalir ke hidung atau melalui mulut. . Dapat juga dengan bius lokal (analgesia). Apabila terdapat perdarahan. yang ujungnya disalurkan melalui antrostomi ke luar rongga hidung.pemotong tulang lubang itu diperbesar. a. Etmoidektomi intranasal Alat yang diperlukan ialah :      spekulum hidung cunam pengangkat polip kuret ( alat pengerok ) alat pengisap tampon Tindakan dilakukan dengan pasien dibius umum ( anastesia). Setelah konka media di dorong ke tengah. Seringkali akan terdapat jaringan granulasi atau polip di dalam sinus maksila. Kemudian luka insisi dijahit. maka dimasukkan tampon panjang serta pipa dari plastik. Sekarang tindakan ini dilakukan dengan menggunakan endoskop. maka dibuat anthrostom.

Biasanya bersama dengan pembersihan sinus etmoid dan muara sinus maksila serta muara sinus frontal. Sinus sfenoid Pembedahan untuk sinus sfenoid yang aman sekarang ini ialah dengan memakai endoskop. Insisi dibuat seperti pada insisi etmoidektomi ekstranasal. dan diberi perban-tekan. pada batas hidung dan mata. maka dokter juga melakukan pembedahan tidak perlu melihat kedalam endoskop. yang disebut fronto-etmoidektomi. kemudian dibersihkan. tetapi cukup dengan melihat monitor. 4. tanpa melakukan insisis di kulit muka. dan bila tersumbat. Salurannya ke hidung diperikasa. b. yang disebut Bedah Endoskopi Sinus Fungsional. Kemudian dapat diteruskan kedalam sinus sfenoid yang terletak dibelakang sinus etmoid apabila di CT scan terdapat kelainan di sinus sfenoid. luka insisi dijahit. tetapi kemudian diteruskan ke atas alis. Setelah rongga sinus frontal bersih. kemudian dibersihkan. Endoskop dimasukkan ke dalam rongga hidung. Bedah endoskopi sinus fungsional ( FESS=functional endoscopic sinus surgery) Cara pemeriksaan ini ialah dengan mempergunakan endoskop. 3. Endoskop juga dapat dimasukkan kedalam sinus etmoid anterior dan posterior untuk membuka sel-sel sinus etmoid. Di daerah itu sinus etmoid dibuka. Perban dibuka setelah seminggu. Dengan bantuan endoskop dapat dibersihkan daerah muara sinus. seperti daerah meatus medius untuk sinus maksila. Seringkali pembedahan untuk membuka sinus frontal dilakukan bersama dengan sinus etmoid.Perawatan pasca-bedah yang terpenting ialah memperhatikan kemungkinan perdarahan. . Karena endoskop ini dihubungkan dengan monitor (seperti televisi). dibersihkan. Etmoidektomi ekstranasal Insisi dibuat di sudut mata.Tulang frontal dibuka dengan pahat atau bor. sinus etmoid anterior dan sinus frontal. Sinus frontal Pembedahan untuk membuka sinus frontal disebut operasi Killian.

Sekitar sinus yang sakit dibersihakan. Tampon dicabut pada hari ketiga. dilihat juga muara sinus-sinus yang lain. . rongga hidung di tampoan untuk mencegah perdarahan. Setelah selesai.

. Tahap ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius. Selulitis orbita Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi orbita namun pus belum terbentuk. Abses subperiosteal Pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita menyebabkan proptosis dan kemosis. juga proptosis yang makin bertambah. b. Thrombosis sinus kavemosus Akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus. 2. Kelainan pada Orbita Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering. seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis. Abses orbita Pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Meningitis akut Salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut. Kelainan intracranial a.G. kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik. e. Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva merupakan tanda khas abses orbita. d. c. namun sinus frontalis dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita juga. Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak. karena lamina papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada kelompok umur ini. Pada komplikasi ini terdapat lima tahapan : a. infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang berdekatan. KOMPLIKASI 1. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis didekatnya.

Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. demam dan menggigil. c. 5. sehingga pasien hanya mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intra kranial. Dalam sinus frontalis. Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi sinus frontalis. kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya. sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya. . Mukokel terinfeksi. kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris. Abses otak Setelah sistem vena. Proses ini timbul lambat. d. 3. Gejala yang timbul sama dengan abses dura. Mukokel Suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus. kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya.b. gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat. 4. maka dapat terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak. ethmoidalis dan sfenoidalis. Abses dura Kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. sering kali mengikuti sinusitis frontalis. dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi. Pyokokel. Osteitis dan Osteomylitis. Dalam sinus sfenoidalis. Abses subdural Kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau permukaan otak. Gejala sistemik berupa malaise.

c. suku/bangsa. Interpersonal : hubungan dengan orang lain. 5. Pola nutrisi dan metabolism Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung. Pola istirahat dan tidur Adakah indikasi klien merasa tidak dapat istirahat karena sering flu. pendidikan. umur. 3. 2.ASUHAN KEPERAWATAN A. Riwayat Sakit dan Kesehatan a. Keluhan utama b. b. agama. PENGKAJIAN 1. ingus kental di hidung. Klien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma. Riwayat penyakit dahulu a. Biasanya klien mengeluh nyeri kepala sinus dan tenggorokan c. 6. pekerjaan. Intrapersonal : Perasaan yang dirasakan klien ( cemas atau sedih ) b. penciuman berkurang. Pola fungsi kesehatan a. Riwayat penyakit keluarga Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. pusing. c. Pengkajian psiko-sosio-spiritual a. demam. d. Data Demografi Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama. alamat. pilek yang sering kambuh. nyeri di antara dua mata. dan penanggung biaya. status perkawinan. Riwayat penyakit saat ini Klien mengeluh hidung tersumbat. jenis kelamin. Pola persepsi dan tatalaksana hidup Contohnya untuk mengurangi flu biasanya klien mengkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping b. . 4. Klien pernah mempunyai riwayat penyakit THT. Klien pernah menderita sakit gigi geraham. Pola persepsi dan konsep diri Klien sering flu terus menerus dan berbau yang menyebabakan konsep diri menurun.

Pola sensorik Daya penciuman klien terganggu kaena hidung buntu akibat flu terus menerus ( baik purulen.e. serous maupun mukopurulen ). .

dan B6 (Bone). Penglihatan (mata) : normal b. Bunyi jantung . Pernafasan B1 (breath) a. Uretra : normal d. Kardiovaskular B2 (blood) a. PEMERIKSAAN FISIK ( ROS : REVIEW OF SYSTEM ) Pemeriksaan fisik pada klien dengan sinusitis meliputi pemeriksaan fisik umum per system dari observasi keadaan umum. Muskuloskeletal/integument B6 (bone) . Bentuk alat kelamin : normal c. Mulut : bersih d. Pendengaran (telinga) : tidak ada gangguan c. pemeriksaan tanda-tanda vital. Bentuk dada : normal b. Kesadaran: gelisah e. Batuk : tidak f. Nyeri dada : tidak c. Akral : hangat 3. 1. ya g. Produksi urin: normal 5. Porsi makan : setengah c. Retraksi otot bantu napas . Reflek: normal 4. B5 (Bowel). normal d. Persyarafan B3 (brain) a. B2 (Blood). Sesak napas : ya e. Suara napas : ronkhi d. B4 (Bladder).B. Nafsu makan : menurun b. Pencernaan B5 (bowel) a. Perkemihan B4 (bladder) a. Irama jantung : regular b. Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm) 2. Mukosa : lembap 6. B3 (Brain). Pola napas : tidak teratur c. Penciuman (hidung) : ada gangguan d. B1 (breathing). Kebersihan : bersih b.

a. Kemampuan pergerakan sendi : bebas b. Kondisi tubuh: kelelahan .

Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi 4. Tujuan : Nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi oleh klien Kriteria hasil :  Klien mengungkapkan nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi . 6. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis ( irigasi sinus / operasi ) D. 2. Kriteria hasil :     Respiratory Rate 16-20x/menit Suara napas tambahan tidak ada Ronkhi (-) Dapat melakukan batuk efektif INTERVENSI RASIONAL a. c. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung. Bersihan jalan nafas tidak efetif berhubungan dengan obstruksi / adanya secret yang mengental. nyeri sekunder akibat peradangan hidung. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan manurun sekunder dari peradangan dengan sinus. INTERVENSI 1. b. d.C. Kaji penumpukan secret yang ada Observasi tanda-tanda vital. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung. Tujuan : bersihan jalan nafas menjadi efektif setelah secret dikeluarkan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi / adanya secret yang mengental. 3. 5. Ajarkan batuk efektif Koaborasi nebulizing dengan tim medis untuk pembersihan secret 2. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung tersumbat.

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu memilih makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit e. rambut tidak jarang dan merah Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah INTERVENSI RASIONAL a. lingkar lengan Biokimia: albumin normal dewasa (3.5-18 g/dl. f. Mengajarkan tehnik relaksasi dan metode distraksi d. c. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien b.5-5.0) g/dl Hb normal (laki-laki 13. terdapat lipatan lemak. c. Manganjurkn makan sedikit. 3. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan adekuat Kriteria hasil :     Antropometri: berat badan tidak turun (stabil). Observasi tingkat nyeri dan respon motorik klien. klien tidak gelisah. Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan. perempuan 12-16 g/dl) Clinis: tidak tampak kurus. Dapat mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.sedikit tapi sering. 30 menit setelah pemberian analgesik untuk mengkaji efektivitasnya dan setiap 1-2 jam setelah tindakan perawatan selama 1-2 hari.  Klien tidak merasa kesakitan. Mencatat intake dan output makanan klien. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-4 b. d. Menyarankan kebiasaan untuk oral hygine sebelum dan sesudah makan . skala nyeri 0-1 atau teradaptasi INTERVENSI RASIONAL a. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nafsu makan manurun sekunder akibat peradangan dengan sinus. tinggi badan. Kolaborasi analgesic e.

Kriteria hasil :  Klien tidur 6 – 8 jam sehari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antibiotik guna mengurangi proses peradangan (inflamasi) d. Suhu tubuh harus dipantau secara efektif guna mengetahui perkembangan dan kemajuan dari pasien.4. INTERVENSI RASIONAL a. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis ( irigasi sinus / operasi ). membran mukosa lembab INTERVENSI RASIONAL a. nyeri sekunder akibat peradangan hidung. Kolaborasi dengan tim medis pemberian 6. Anjurkan pada pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal sehingga metabolisme dalam tubuh dapat berjalan lancar a. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung tersumbat. Kaji kebutuhan tidur klien. Menciptakan suasana yang nyaman. b. Tujuan : Klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi Tujuan : suhu tubuh kembali dalam keadaan normal Kriteria hasil :   suhu tubuh 36. Kriteria hasil :  Klien dapat menggambarkan tingkat keemasa dan pola kopingnya. 5. Tujuan : Perasaan cemas klien berkurang atau hilang. Monitoring perubahan suhu tubuh b. Mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh dengan pemasangan infus c.5-37.5 C kulit hangat dan lembab. c. .

j. kolaborasi dengan tim medis. Perlihatkan rasa empati ( datang dengan menyentuh klien ) e. Berikan kenyamanan dan ketentraman pada klien dengan. Temani klien d. h. . Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya secara perlahan dan tenang serta menggunakan kalimat yang jelas. c. Batasi kontak dengan orang lain atau klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan i. Bila perlu . Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang. Kaji tingkat kecemasan klien b. singkat dan mudah dimengerti f. Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang di deritanya serta pengobatannya. INTERVENSI RASIONAL a. Observasi tanda-tanda vital. Menjauhkan stimulasi yang berlebihan misalnya : g.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful