P. 1
Makalah TAS'ir

Makalah TAS'ir

|Views: 640|Likes:
Published by Defri

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Defri on May 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

Kata Pengantar

Puji syukur kami sampaikan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis untuk dapat melaksanakan tugas makalah kuliah dan sekaligus presentasi kelompok tentang pembahasan Konsep Tas’ir. Dan berkat rahmatNya jualah, maka penulis dapat menyusun sebuah makalah sebagai tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan pada mata kuliah FIQIH Muamalah II tahun ajaran 2011/2012. Makalah ini juga ditujukan kepada semua pihak-pihak mahasiswa agar untuk tahu akan pentingnya peduli tentang hukum-hukum islam dalam kehidupan sehari-hari.

Page | 1

Daftar Isi

Kata Pengantar....................................................................................................... 1 Daftar Isi.................................................................................................................. 2 Pendahuluan............................................................................................................ 3 Pembahasan I.......................................................................................................... 4 Pembahasan II......................................................................................................... Penutup.................................................................................................................... Daftar Pustaka........................................................................................................

Page | 2

PENDAHULUAN

Perekonomian merupakan bagian yang sangat penting untuk kelangsungan utuhnya sebuah negara. Perekonomian negara yang kokoh akan mampu menjamin kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Salah satu penunjang perekonomian negara adalah kesehatan pasar, baik pasar barang jasa, pasar uang, maupun pasar tenaga kerja. Kesehatan pasar, sangat tergantung pada makanisme pasar yang mampu menciptakan tingkat harga yang seimbang, yakni tingkat harga yang dihasilkan oleh interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran yang sehat. Apabila kondisi ini dalam keadaan wajar dan normal (tanpa ada pelanggaran), monopoli misalnya? maka harga akan stabil, namun apabila terjadi persaingan yang tidak jujur, maka keseimbangan harga akan terganggu dan yang pada akhirnya mengganggu hak rakyat secara umum. Pemerintah Islam, sejak Rasulullah SAW di Madinah memusatkan perhatian pada masalah keseimbangan harga ini, terutama pada bagaimana peran negara dalam mewujudkan kestabilan harga dan bagaimana mengatasi masalah ketidakstabilan harga. Para ulama berbeda pandapat mengenai boleh tidaknya negara menetapkan harga. Masing Masing golongan ulama ini memiliki dasar hukum dan interpretasi. Berdasarkan perbedaan pendapat para ulama tersebut, makalah ini mengkaji penetapan harga oleh negara dalam ruang lingkup fikih dengan mempertimbangkan realitas ekonomi.

Page | 3

PEMBAHASAN I TAS'IR

1. Pengertian Tas'ir(1) Kata tas'ir berasal dari kata sa'ara-yas'aru-sa'ran, yang artinya menyalakan. Lalu dibentuk menjadi kata as-si'ru dan jamaknya as'ar yang artinya harga (sesuatu). Kata as-si'ru ini digunakan di pasar untuk menyebut harga (di pasar) sebagai penyerupaan terhadap aktivitas penyalaan api, seakan menyalakan nilai (harga) bagi sesuatu. Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani : “Tas’ir adalah perintah penguasa atau para wakilnya atau siapa saja yang mengatur urusan kaum muslimin kepada pelaku pasar agar mereka tidak menjual barang dagangan mereka kecuali dengan harga tertentu, dan mereka dilarang menambah atas harga itu agar mereka tidak melonjakkan harga, atau mengurangi dari harga itu agar mereka tidak merugikan lainnya. Artinya, mereka dilarang menambah atau mengurangi dari harga itu demi kemaslahatan masyakarat.” (2) Adapun menurut pengertian syariah, terdapat beberapa pengertian. Menurut Imam Ibnu Irfah (ulama Malikiyah) : “Tas’ir adalah penetapan harga tertentu untuk barang dagangan yang dilakukan penguasa kepada penjual makanan di pasar dengan sejumlah dirham tertentu.” (Muhammad bin Qasim Al-Anshari, Syarah Hudud Ibnu Irfah, II/35). (3) Dan para ulama merumuskan definisi tas'ir secara syar'i, yaitu: seorang imam (penguasa), wakilnya atau setiap orang yang mengurusi urusan kaum Muslim memerintahkan kepada para pelaku pasar agar tidak menjual komoditas kecuali dengan harga tertentu, mereka dilarang untuk menambah harganya hingga harga tidak membumbung atau mengurangi harganya hingga tidak memukul selain mereka. Jadi, mereka dilarang untuk menambah atau mengurangi dari harga yang dipatok demi kemaslahatan masyarakat. Artinya, negara melakukan intervensi (campur tangan) atas harga dengan menetapkan harga tertentu atas suatu komoditas dan setiap orang dilarang untuk menjual lebih atau kurang dari harga yang ditetapkan itu demi mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat.

1). http://Dugaliezer.blogspot.com/2011/03/tas’ir-fiqh-muamalah-b.html 2). Taqiyuddin An-Nabhani , An-Nizham Al-Iqtishadi fil Islam, hlm. 199. 3). Ahmad Irfah, ibid.

Page | 4

2. Pendapat Ulama Tentang Tas'ir a. Pendapat Yang Tidak Setuju Dengan Tas'ir Menurut mereka Allah telah menetapkan seseorang untuk menjual komoditasnya dengan harga yang ia ridhai. dengan dalil yang mereka kemukakan bahwa Allah Swt. berfirman:

ُ ْ ُ ‫يَاأَيُّهَا الَّذيهَ ءامىُوا الَ تَأْكلُوا أَموالَكم بَيىَكم بِالبَاطل إِالَّ أَن تَكونَ تِجارةً عَه تَزاض مىكم‬ ُِْْ ٍ َ ْ َ َ ِ ِ ْ ُْ ْ ُْ َ ْ َ َ ِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka samasuka di antara kalian. (QS an-Nisa [4]: 29). Dan juga sabda Rasulullah saw yang berbunyi :

‫إِوَّما البَيع عَه تَزاض‬ ٍ َ ْ ُ ْ ْ َ
Sesungguhnya jual-beli itu harus dengan saling ridha (antara penjual dan pembeli). (HR Ibn Majah). Tas'ir bertentangan dengan nash-nash tersebut. Sebab, tas'ir bermakna pemaksaan atas penjual dan atau pembeli untuk berjual-beli dengan harga tertentu. Ini melanggar kepemilikan seseorang karena kepemilikan itu bermakna seseorang memiliki kekuasaan atas harta miliknya. Karena itu, ia berhak menjual dengan harga yang ia sukai. Pematokan harga tentu akan menghalangi atau merampas sebagian kekuasaan seseorang atas hartanya. Sesuai keterangan nas syariah di atas, hal itu tidak boleh terjadi. Dalam riwayat Abu Hurairah di atas, Rasulullah saw. pernah diminta untuk mematok harga, padahal harga sedang membubung tinggi. Seandainya tas'ir boleh, pastilah Rasulullah saw. memenuhi permintaan tersebut. Namun, Beliau ternyata tidak memenuhinya. Dalam riwayat Anas di atas, Beliau menjelaskan alasan mengapa Beliau tidak melakukannya. Beliau menjelaskan bahwa tas'ir merupakan kezaliman, sedangkan segala bentuk kezaliman adalah haram. Atas dasar itu, tas'ir hukumnya haram. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Keharaman tas'ir ini berlaku secara umum untuk semua komoditi. Hal itu sesuai keumuman larangan tas'ir di atas. Rasulullah saw. menyatakan tas'ir sebagai kezaliman tanpa menyebutkan komoditinya. Ini artinya keharaman itu berlaku untuk semua jenis komoditi. Keharaman tas'ir juga berlaku dalam semua kondisi baik kondisi damai atau perang; baik harga anjlok, normal atau sedang membubung tinggi. Hal itu sesuai dengan kemutlakan nasnya. Pada faktanya, pematokan harga merupakan dharar bagi umat. Pematokan harga itu akan mendorong terbentuknya pasar gelap yang jauh dari monitoring negara. Dengan begitu suplay barang ke pasar akan berkurang karena diperdagangkan di pasar gelap. Lalu harga di pasar normal akan mengalami kenaikan tanpa bisa dicegah oleh negara. Selain mendorong

Page | 5

terbentuknya pasar gelap, pematokan harga juga bisa mempengaruhi tingkat produksi atau konsumsi. Pada tingkat tertentu mungkin bisa menyebabkan krisis ekonomi. b. Pendapat Setuju Dengan Tas'ir Pendapat yang membolehkan tas'ir bertentangan dengan mayoritas para ulama. Tetapi beberapa ahli, seperti Sa’id bin Musayyib, Rabiah bin Abdul Rahman dan Yahya bin Sa’id, menyetujuinya. Para pengikut Abu Hanifah berkata bahwa pemerintah harus menetapkan harga, hanya bila masyarakat menderita akibat peningkatan harga itu, di mana hak penduduk harus dilindungi dari kerugian yang diakibatkan oleh ketidak seimbangan harga. Ibnu Taimiyah menafsirkan sabda Rasulullah SAW yang menolak penetapan harga, meskipun pengikutnya memintanya, itu adalah sebuah kasus khusus dan bukan aturan umum. Itu bukan merupakan merupakan laporan bahwa seseorang tidak boleh menjual atau melakukan sesuatu yang wajib dilakukan atau menetapkan harga melebihi nilai ganti yang sesuai. Ia membuktikan bahwa Rasulullah SAW sendiri menetapkan harga yang adil, jika terjadi perselisihan antara dua orang. Kondisi pertama, ketika dalam kasus pembebasan budaknya sendiri, Ia mendekritkan bahwa harga yang adil dari budak itu harus dipertimbangkan tanpa ada tambahan atau pengurangan (laa wakasa wa laa shatata) dan setiap orang harus diberi bagian dan budak itu harus dibebaskan. Kondisi kedua, dilaporkan ketika terjadi perselisihan antara dua orang, satu pihak memiliki pohon, yang sebagian tumbuh di tanah orang lain, pemilik tanah menemukan adanya bagian pohon yang tumbuh di atas tanahnya yang dirasa mengganggunya. Ia mengajukan masalah itu kepada Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan pemilik pohon untuk menjual pohon itu kepada pemilik tanah dan menerima konpensasi atau ganti rugi yang adil kepadanya. Orang itu ternyata tak melakukan apa-apa. Kemudian Rasulullah SAW membolehkan pemilik tanah untuk menebang pohon tersebut dan ia memberikan konpensasi harganya kepada pemilik pohon. Ibnu Taimiyah menjelasklan bahwa “jika harga itu bisa ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan satu orang saja, pastilah akan lebih logis kalau hal itu ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan publik atas produk makanan, pakaian dan perumahan, karena kebutuhan umum itu jauh lebih penting dari pada kebutuhan seorang individu. Itu sebabnya penetapan harga hanya mungkin dilakukan jika diketahui secara pasti ada kelompok yang melakukan perdagangan dan bisnis melakukan manipulasi sehingga berakibat menaikkan harga. Ketiadaan kondisi ini, tak ada alasan yang bisa digunakan untuk menetapkan harga. Sebab, itu tak bisa dikatakan pada seseorang yang tak berfungsi sebagai penyuplai barang dagangan, sebab tak akan berarti apa-apa atau tak akan adil. Argumentasi terakhir ini tampaknya lebih realistis untuk dipahami. Menurut Ibnu Taimiyah, barang barang yang dijual di Madinah (pada zaman Nabi) sebagian besar berasal dari impor. Kondisi apapun yang dilakukan terhadap barang itu, akan bisa menyebabkan timbulnya kekurangan suplai dan memperburuk situasi. Jadi, Rasulullah SAW menghargai kegiatan impor tadi dengan mengatakan, “Seseorang yang mambawa barang yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, siapapun yang menghalanginya sangat dilarang. Faktanya saat itu penduduk Madinah tidak memerlukan penetapan harga.
Page | 6

Ibnu Taimiyyah sebagaimana yang diutarakan Dr. Yusuf Qardhawi menggabungkan tentang dibolehkan atau tidaknya tas’ir diperbolehkan jika adil dan dilarang jika ada kedzaliman. Dan Ibnu Khaldun pernah meneliti harga-harga di kota-kota. Ia membagi menjadi dua jenis, barang kebutuhan pokok dan barang mewah. Menurut dia bila suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya serta bertambah banyak maka harga-harga pokok akan mendapatkan penggandaannya. Akibat penawaran meningkat dan ini berarti penurunan harga. Adapun untuk barang-barang mewah, permintaannya akan meningkat sejalan dengan berkembangnya kota dan berubahnya gaya hidup. Akibatnya, harga barang mewah meningkat. Ibnu Khaldun juga menjelaskan mekanisme penawaran dan permintaan dalam menentukan harga keseimbangan. Secara lebih rinci ia menjabarkan tentang perkembangan pengaruh persaingan diantara konsumen untuk mendapatkan barang pada sisi pemintaan. Setelah itu ia menjelaskan pula pengaruh meningkatnya biaya poduksi karena pajak dan pungutan-pungutan lain di kota tesebut pada sisi penawaran. Dari keterangan di atas, tampak sekali bahwa penetapan harga hanya dianjurkan bila para pemegang stok barang atau para perantara di kawasan itu berusaha menaikkan harga. Karena itu jika tidak ada masalah dalam harga, lebih baik tidak menetapkan harga, tetapi membiarkan pasar yang akan berperan di dalamnya. Berbeda dengan kondisi musim kekeringan dan perang, Ibnu Taimiyah merekomendasikan penetapan harga oleh pemerintah ketika terjadi ketidaksempurnaan memasuki pasar. Misalnya, jika para penjual menolak untuk menjual barang dagangan mereka kecuali jika harganya mahal dari pada harga normal (al-qimah al-ma’rifah) dan pada saat yang sama penduduk sangat membutuhkan barang-barang tersebut. Maka mereka diharuskan menjualnya pada tingkat harga yang setara, contoh sangat nyata dari ketidaksempurnaan pasar adalah adanya monopoli dalam perdagangan makanan dan barangbarang serupa. Dalam kasus seperti itu, pemerintah harus menetapkan harganya untuk penjualan dan pembelian mereka. Pemegang monopoli tak boleh dibiarkan bebas melaksanakan kekuasaannya, sebaliknya otoritas harus menetapkan harga yang disukainya, sehingga melawan ketidakadilan terhadap penduduk.

Page | 7

Pembahasan II Hukum Tas’ir

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum tas’ir menjadi 2 (dua) madzhab sebagai berikut : Pertama, yang mengharamkan secara mutlak. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari ulama Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanabilah. Ini juga pendapat ulama muta`akkhirin seperti Imam Syaukani dan Imam An-Nabhani. Namun sebagian ulama Hanabilah ada yang mengharamkan secara mutlak seperti Ibnu Qudamah, sementara ulama lainnya ada yang memberikan rincian (tafshil) seperti Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Artinya, menurut Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim jika tas’ir mengandung kezhaliman, hukumnya haram. Jika untuk menegakkan keadilan, hukumnya boleh bahkan wajib. (4) Kedua, yang membolehkan, meski tidak membolehkan secara mutlak. Ini pendapat sebagian ulama Hanafiyah dan Malikiyah. Sebagian ulama Hanafiyah membolehkan tas’ir jika para pedagang melambungkan harga secara tidak wajar. Sebagian ulama Malikiyah membolehkan tas’ir jika sebagian kecil pedagang di pasar sengaja menjual dengan harga sangat murah, sedang umumnya pedagang memasang harga lebih mahal. Maka tas’ir dibolehkan untuk menaikkan harga agar sesuai dengan harga umumnya pedagang. (5) Pendapat pertama, berdalil dengan hadits-hadits Nabi SAW, misalnya hadits Anas bin Malik RA : Dari Anas RA, dia berkata,”Harga melonjak pada masa Rasulullah SAW. Maka berkatalah orang-orang,’Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga untuk kami.’ Maka bersabda Nabi SAW,”Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Menetapkan Harga, Yang Memegang Rizki, Yang Melapangkan Rizki, Yang Maha Pemberi Rizki. Dan sungguh akan betul-betul berharap berjumpa dengan Tuhanku sementara tak ada seorang pun dari kalian yang akan menuntutku karena suatu kezhaliman dalam urusan harta atau nyawa.” (HR Abu Dawud, hadits no 3450). Imam Syaukani berkata,”Hadits ini dan yang semisalnya dijadikan dalil untuk keharaman tas’ir dan bahwasanya tas’ir itu adalah suatu kezhaliman (mazhlimah) (6)

4). Ibnul Qayyim, Ath-Thuruqul Hukmiyah fi As-Siyasah Al-Syar’iyah, (Riyadh : Maktabah Nazar Musthofa Al-Baz), 1996, hlm. 290-291 5). Rincian pendapat masing-masing madzhab lihat Ahmad Irfah, ibid. hlm. 6. Lihat juga Yusuf Al-Qaradhawi, Daur AlQiyam wa Al-Akhlaq fi Al-Iqtishadi Al-Islami, hlm. 426-429. 6). Imam Syaukani, Nailul Authar, V/334. Dikutip oleh Yusuf Al-Qaradhawi, Daur Al-Qiyam wa Al-Akhlaq fi Al-Iqtishadi Al-Islami, hlm. 427

Page | 8

Semakna dengan pernyataan Imam Syaukani, Imam Taqiyuddin An-Nabhani berkata,”Hadits-hadits tentang tas’ir menunjukkan keharaman tas’ir. Juga menunjukkan bahwa tas’ir adalah suatu kezhaliman (madzlimah) yang dapat diajukan kepada penguasa untuk dihilangkan. Maka jika justru penguasa melakukan tas’ir, dia berdosa di hadapan Allah, karena dia telah melakukan perbuatan yang haram.” (7) Pendapat kedua, berdalil antara lain dengan ayat QS An-Nisa` : 29 : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka.” (QS AnNisa` [4] : 29) Wajhul istidlal dari ayat ini ialah, bahwa ayat ini melarang memakan harta secara batil. Jika ada pedagang yang menjual dagangan dengan harga yang melambung tinggi yang merugikan masyarakat, maka itu termasuk memakan harta secara batil. Maka hal itu harus dicegah oleh penguasa dengan cara melakukan tas’ir. (8) Dalil lainnya, hadits Nabi SAW : “Janganlah orang kota menjual kepada orang dusun, biarkanlah manusia, Allah akan memberi rizki kepada mereka sebagian dari sebagian lainnya.” Wajhul istidlal dari hadits ini, bahwa Rasulullah melarang orang kota yang tahu harga menjual barang dagangan kepada orang dusun yang tidak tahu harga. Karena hal ini akan dapat melonjakkan harga. Maka tas’ir dibolehkan agar tidak terjadi pelonjakan harga. (9) Imam Ibnul Qayyim menjelaskan, tas’ir yang dibolehkan itu contohnya : penguasa melarang para pedagang untuk menjual barang dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar, sementara saat itu masyarakat sangat membutuhkan barang itu. Maka dalam kondisi seperti ini penguasa mewajibkan pedagang menjual dengan harga pasar, karena ini berarti mengharuskan keadilan. Padahal keadilan adalah hal yang diperintahkan Allah. (10) Tarjih Pendapat yang rajih (kuat), menurut kami adalah pendapat jumhur yang mengharamkan tas’ir secara mutlak, baik itu tas’ir untuk melindungi kepentingan pedagang maupun tas’ir untuk melindungi kepentingan pembeli. Hal itu dikarenakan dalil-dalil yang mengharamkan tas’ir bersifat mutlak, atau tanpa disertai dengan taqyid, yaitu pemberian sifat atau syarat atau batasan tertentu. Jadi tidak ada dalil yang menerangkan tas’ir yang diharamkan hanyalah yang bersifat zhalim, sedang tas’ir yang bersifat adil dibolehkan. Dalil taqyid seperti ini ini tidak ada. Yang ada justru adalah dalil mutlak dari hadits Anas RA di atas, yaitu bahwa tas’ir adalah kezhaliman (mazhlimah), tanpa ada rincian dari Nabi SAW bagaimana sifat tas’ir itu.

Page | 9

Maka dari itu, segala bentuk tas’ir adalah haram secara mutlak, sesuai kaidah ushul fiqih : “Dalil yang mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak terdapat dalil yang mentaqyidkan (memberikan sifat/syarat/batasan).” Adapun dalil-dalil lainnya yang diajukan pihak yang membolehkan tas'ir, sebenarnya tidak layak menjadi dalil. Karena QS An-Nisa` : 29 tidak ada hubungannya dengan persoalan tas'ir, mengingat maudhu' (topik) dari ayat tersebut tidak sama dengan hadits Anas RA. Begitu pula hadits larangan orang kota menjual kepada orang dusun juga tidak ada hubungannya dengan persoalan tas'ir, karena maudhu' (topik) hadits ini beda dengan topik hadits Anas RA. Perbedaan maudhu' (topik) ini dalam Ushul Fiqih khususnya pembahasan Mutlak– Muqayyad disebut perbedaan “sebab”. Adanya perbedaan “sebab” ini menyebabkan nash yang mutlak tidak dapat dibawa kepada nash yang muqayyad. Atau dengan kata lain, nash yang dianggap muqayyad itu sebenarnya tidak ada relevansinya dengan nash yang mutlak, sehingga nash yang mutlak sebenarnya tetap dalam kemutlakannya.. Bagaimana Mengatasi Lonjakan Harga Tanpa Tas’ir? Jika tas’ir tidak boleh, lalu bagaimanakah solusinya jika terjadi kenaikan harga di pasar? Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani, harus dilihat dan diinvestigasi dulu apa yang menjadi penyebab melonjaknya harga di pasar. Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani, kemungkinan penyebab melonjaknya harga ada dua : Pertama, karena terjadi ihtikar (penimbunan). Jika sebabnya adalah ihtikar, maka tindakan yang dilakukan negara adalah menindak tegas orang yang melakukan ihtikar, sebab ihtikar adalah haram menurut syara’. Kedua, karena kelangkaan barang. Jika sebabnya adalah faktor kelangkaan barang, maka tindakan negara adalah menambah persediaan (supply) agar ketersediaan barang di pasar mencukupi dan harga barang tidak melonjak. Ini seperti yang dilakukan Khalifah Umar, ketika di Madinah terjadi lonjakan harga gandum karena gandum langka. Maka Khalifah Umar lalu membeli gandum dari Mesir dan Syam, lalu menjualnya di Madinah. (11) Dengan demikian persoalan melonjaknya harga dapat terselesaikan tanpa perlu melakukan tas’ir. Inilah kiranya pendapat terkuat yang patut dipegangi.Wallahu a’lam

Page | 10

PENUTUP Simpulan
Kata tas'ir berasal dari kata sa'ara-yas'aru-sa'ran, yang artinya menyalakan. Lalu dibentuk menjadi kata as-si'ru dan jamaknya as'ar yang artinya harga (sesuatu). Dan para ulama merumuskan definisi tas'ir secara syar'i, yaitu: seorang imam (penguasa), wakilnya atau setiap orang yang mengurusi urusan kaum Muslim memerintahkan kepada para pelaku pasar agar tidak menjual komoditas kecuali dengan harga tertentu, Para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya tas'ir ini,mereka masing-masing mempunyai dalil dan a;asan sendiri untuk menetapkan hukumnya.

Page | 11

DAFTAR PUSTAKA

Qardhawi, Yusuf, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Gema Insani Press : Jakarta, 2000. yang diterjemahka oleh Zainal Arifin dan Dahlia Husin dari Daurul Qiyam wal Akhlam fil Iqtishadil Islami. Karim, Adiwarman, Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Gema Insani Press : Jakarta, 2003. Asmuni, Drs., H., Penetapan Harga dalam Islam: Perpektif Fikih dan Ekonomi, http://pabalikpapan.net/index.php (diakses tanggal 24 April 2010) Utomo, Setiawan, Budi, Pematokan Harga oleh Pemerintah, http://www.eramuslim.com/konsultasi/fikih-kontemporer/pematokan-harga.htm tanggal 3 Desember 2008)

(diakses

Mustika, Falery, At-Tas'ir (Pematokan Harga), http://www.mailarchive.com/aroen99society@yahoogroups.com/msg02707.html. (diakses tanggal 5 November 2006)

Page | 12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->