BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang No.

20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi dan tujuan di atas, menunjukkan bahwa pendidikan di setiap satuan pendidikan harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Permasalahannya adalah apakah pendidikan di masing-masing satuan pendidikan telah diselenggarakan dengan baik, dan mencapai hasil seperti yang diharapkan. Untuk melihat mutu penyelenggaraan pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator. Beberapa indikator mutu hasil pendidikan yang selama ini digunakan diantaranya adalah nilai Ujian Nasional (UN), persentase kelulusan, angka drop out (DO), angka mengulang kelas, persentase lulusan yang melanjutkan ke jenjang pendidikan di atasnya. Indikator-indikator tersebut cenderung bernuansa kuantitatif, mudah pengukurannya, dan bersifat universal. Di samping indikator kuantitatif, indikator mutu hasil pendidikan lainnya yang sangat penting untuk dicapai adalah indikator kualitatif yang meliputi: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Indikator kualitatif tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik dan berkaitan dengan pembentukan sikap serta perilaku wirausaha peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun, memiliki sikap dan perilaku wirausaha. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung

1

kemampuan soft skill dari pada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter termasuk karakter kewirausahaan peserta didik sangat penting untuk segera ditingkatkan. Sehubungan dengan hal tersebut, peningkatan mutu pembelajaran dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Hasil Studi Cepat tentang pendidikan kewirausahaan pada pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (27 Mei 2010) diperoleh informasi bahwa pendidikan kewirausahaan mampu menghasilkan persepsi positif akan profesi sebagai wirausaha. Bukti ini merata ditemukan baik di tingkat sekolah dasar, menengah pertama, maupun menengah atas, bahwa peserta didik di sekolah yang memberikan pendidikan kewirausahaan memberikan persepsi yang positif akan profesi wirausaha. Persepsi positif tersebut akan memberi dampak yang sangat berarti bagi usaha penciptaan dan pengembangan wirausaha maupun usaha-usaha baru yang sangat diperlukan bagi kemajuan Indonesia. Berkaitan dengan ketercapaian tujuan pendidikan nasional terutama yang mengarah pada pembentukan karakter yang terkait dengan pembentukan sikap dan perilau wirausaha peserta didik, selama ini belum dapat diketahui secara pasti. Hal ini mengingat pengukurannya cenderung bersifat kualitatif, dan belum ada standar nasional untuk menilainya. Berdasarkan realita, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), proyeksi angka pengangguran pada 2009 ini naik menjadi 9% dari angka pengangguran 2008 sebesar 8,5%. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2008 mencapai 111,48 juta orang. Untuk mengurangi angka pengangguran salah satu cara yang bisa dilakukan adalah perlu dikembangkannya semangat entrepreneurship sedini mungkin, karena suatu bangsa akan maju apabila jumlah entrepreneurnya paling sedikit 2% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2007, jumlah wirusaha di Singapura ada sebesar 7,2%, Amerika Serikat 2,14% , Indonesia yang mana jumlah penduduk kurang lebih sebesar 220 juta, jumlah entrepreneurnya sebanyak 400.000 orang (0,18%), yang seharusnya sebesar 4.400.000 orang. Berarti jumlah entrepreneur di Indonesia kekurangan sebesar 4 Juta orang.

2

Berdasarkan kenyataan yang ada, pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan sikap, minat dan perilaku wirausaha peserta didik, baik di sekolahsekolah kejuruan, maupun di pendidikan profesional. Orientasi mereka, pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Untuk itu, perlu dicari penyelesaiannya, bagaimana pendidikan dapat berperan untuk mengubah manusia menjadi manusia wirausaha. Untuk mencapai hal tersebut bekal apa yang perlu diberikan kepada peserta didik agar mampu menjadi wirausaha yang tangguh dan siap bekerja di kantor sehingga mampu menghidupi dirinya. Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP), pembinaan karakter wirausaha juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter wirusaha di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu berlakunya sistem desentralisasi berpengaruh pada berbagai tatanan kehidupan, termasuk pada manajemen pendidikan yaitu manajemen yang memberi kebebasan kepada pengelolaan pendidikan. Adanya kebebasan dalam pengelolaan pendidikan diharapkan mampu menemukan strategi pengelolaan pendidikan yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan output pendidikan yang berkualitas baik dilihat dari kualitas akademik maupun non akademik. Kualitas akademik yang dimaksud adalah kualitas peserta didik yang terkait dengan bidang ilmu, sedangkan kualitas non akademik berkaitan dengan kemandirian untuk mampu bekerja di kantor dan membuka usaha/lapangan kerja sendiri. Dengan kata lain lulusan pendidikan diharapkan memiliki karakter, sikap, minat, dan perilaku wirausaha yang tinggi. Engkoswara (1999), menyatakan bahwa kehidupan manusia Indonesia menjelang tahun 2020 akan semakin membaik dan dinamik. Untuk itu kualitas lulusan dituntut memiliki kemampuan kemandirian yang tangguh agar dapat menghadapi tantangan, ancaman, hambatan yang diakibatkan terjadinya perubahan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tantangan yang terjadi pada era Global adalah semakin menipisnya kualitas kemandirian manusia Indonesia. Krisis yang melanda

3

Kualitas pendidikan terkait dengan kualitas proses dan produk. kelompok masyarakat. maupun negara. Disamping itu penyerapan tenaga kerja oleh instansi pemerintah maupun swasta yang sangat terbatas. kualitas pendidikan harus terus menerus ditingkatkan. bangsa. baik individu. Realita yang ada. Kecenderungan terjadinya perubahan tidak dapat dihindari semua pihak. banyak lulusan pendidikan yang tidak mampu mengisi lowongan pekerjaan karena ketidak cocokan antara kemampuan yang dimiliki dengan kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja. menengah dan atas (formal dan non formal) yang mampu menumbuhkan sikap.Indonesia yang multidimensi mengakibatkan budaya bangsa semakin memudar. sehingga dituntut untuk lebih memfokuskan diri pada penyusunan rencana strategik dengan visi yang jauh ke depan agar siap menghadapi setiap perubahan. RPJMN 2010 – 2014 RPJMN 2010 . yaitu terjadinya degradasi moral spiritual. Kualitas proses dapat dicapai apabila proses pembelajaran berlangsung secara efektif dan peserta didik dapat menghayati dan menjalani proses pembelajaran tersebut secara bermakna. Untuk mencapai tujuan tersebut. pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang menjadi fokus pada naskah kajian ini didasarkan pada butir-butir kebijakan nasional dalam bidang pendidikan yang terdapat dalam dokumen: 1. Dengan demikian untuk mencapai kemampuan di atas perlu dikembangkan model pendidikan kewirausahaan dari PAUD.2014. minat dan perilaku wirausaha pada siswa. telah menetapkan sebanyak 6 substansi inti program aksi bidang pendidikan sebagaimana yang disajikan dalam cuplikan dokumen berikut: 4 . akan memberi dampak jumlah tingkat pengangguran akan meningkat pada setiap tahunnya. semangat berusaha dan bekerja yang semakin melemah. B. Kualitas produk tercapai apabila peserta didik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan kebutuhannya dalam kehidupan dan tuntutan dunia kerja. Kebijakan Pengintegrasian pendidikan kewirausahaan pada setiap satuan pendidikan mulai dari pendidikan usia dini. sekolah dasar. Melalui pengembangan individu diharapkan secara keseluruhan masyarakat akan mengalami “self empowering” untuk lebih kreatif dan inovatif. kreativitas yang semakin mengerdil dan menjurus ke arah yang negatif.

dunia usaha dan dunia industri.Ilustrasi 1: Substansi Inti Program Aksi Bidang Pendidikan RPJMN Tahun 2010 – 2014. 5 . 2) menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja. ekonomi. setara bagi warga negara Indonesia dalam memperoleh pendidikan berkualitas dengan memperhatikan keberagaman latar belakang sosial-budaya. keluhuran budi pekerti. berkualitas dan relevan dengan kebutuhan kehidupan bermasyarakat. dan sebagainya. relevan. Oleh karena itu. Sementara Visi Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2014 adalah terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional yaitu layanan pendidikan yang tersedia secara merata di seluruh pelosok nusantara. substansi inti program aksi bidang kependidikan yang terkait dengan pendidikan kewirausahaan adalah sebagai berikut: 5) Kurikulum: Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional. dan memberikan kepastian bagi warga negara Indonesia untuk mengenyam pendidikan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan: 1) menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan. dunia usaha dan dunia industri. daerah. Visi Departemen Pendidikan Nasional Visi Departemen/Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2025 adalah Menghasilkan Insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). Prioritas 2: Pendidikan Peningkatan Akses pendidikan yang berkualitas. geografi. dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab keutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah dengan memasukan pendidikan kewirausahaan (diantaranya dengan mengembangkan model (link and match). 2. dan karakter bangsa yang kuat. terjangkau. terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat. kemandirian.

(b) mengembangkan kurikulum pendidikan yang memberikan muatan pendidikan kewirausahaan yang mampu meningkatkan pemahaman tentang kewirausahaan. M3-Meningkatkan Kepastian Kualitas/Mutu dan Relevansi Layanan Pendidikan. menumbuhkan jiwa dan karakter wirausaha serta menumbuhkan skill berwirausaha. Berdasarkan landasan filosofis tersebut. sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin 6 . Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan landasan filosofis serta berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan. ekstrakurikuler. M5-Menjamin Memperoleh Layanan Pendidikan. jumlah wirausaha yang masih relatif sedikit. C. 4. bahan ajar. dan terjadinya degradasi moral. Arah Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional Tahun 2010-2014 Arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional dimaksudkan untuk penerapan metodologi pendidikan akhlak mulia dan karakter bangsa termasuk karakter wirausaha. M2-Memperluas Keterjangkauan Layanan Layanan dan Pendidikan. maupun pengembangan diri. Landasan Pengembangan 1. dan Misi Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010-2014 dikemas dalam ”Misi 5K” yaitu: M1-Meningkatkan Ketersediaan Layanan Pendidikan. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan jumlah pengangguran yang relatif tinggi. Realita di lapangan. sistem pembelajaran saat ini belum sepenuhnya secara efektif membangun peserta didik memiliki akhlak mulia dan karakter bangsa termasuk karakter wirausaha.3. Misi Departemen Pendidikan Nasional Untuk mencapai Visi Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2014. (c) menumbuhkan budaya berwirausaha di lingkungan sekolah. Kebijakan untuk menanggulangi masalah ini terutama masalah yang terkait dengan kewirausahaan antara lain dapat dilakukan dengan cara: (a) menanamkan pendidikan kewirausahaan ke dalam semua mata pelajaran. M4-Mewujudkan Kesetaraan dalam Memperoleh Pendidikan.

Pidato Presiden pada Nasional Summit Tahun 2010 telah mengamanatkan perluna penggalakan jiwa kewirausahaan dan metodologi pendidikan yang lebih megembangkan kewirausahaan. Ini memberikan arah dalam melaksanakan gerakan memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan di sektor masingmasing sesuai dengan tugas. Instruksi Presiden No. Tujuan dari SKB adalah (a) memasyrakatkan dan mengembangkan perkoperasian dan kewirausahaan melalui pendidikan. tangguh dan mandiri. inovatif dan berakhlak mulia. sehingga dapat melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal. Pasal 3. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. mandiri. 4/U/SKB/2000 tertanggal 29 Juni 2000 tentang Pendidikan Perkoperasian dan Kewirausahaan. Surat Keputusan Bersama Menteri Negara Koperasi dan UKM dan Menteri Pendidikan Nasional No. 3. dan menengah untuk menjadi pelaku ekonomi yang tangguh dan profesional dalam tatanan ekonomi kerakyatan. 6. Dalam Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kreatif. 63 Tahun 2009 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan. cakap. tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. berakhlak mulia. usaha kecil. sehat. mandiri. kewenangan dan tanggung jawabnya dibawah koordinasi Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil. (c) menumbuhkembangkan koperasi. berilmu. Melalui gerakan ini diharapkan budaya kewirausahaan akan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa. 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. Pasal 3 ditegaskan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 4 butir (d) … kreatifitas dan inovasi dalam menjalani 7 . berbudi luhur.kehidupan yang berharkat dan bermartabat dan menjadi manusia yang bermoral. kreatif. Peraturan Meneteri Pendidikan Nasional No. 4. Undang-Undang No. 02/SKB/MENEG/VI/2000 dan No. (b) menyiapkan kader-kader koperasi dan wirausaha yang profesional. 5.

Tujuan Program Pendidikan Kewirausahaan Program pendidikan kewirausahaan di sekolah bertujuan untuk: 1. Penyelenggaraan pendidikan didasarkan pada beberapa paradigma universal. dan watak. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan kreatif yang mengidamkan peserta didik menjadi subyek pembelajar sepanjang hayat yang mandiri. D. Mengkaji Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan dan kurikulum mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah atas serta pendidikan non formal dalam rangka pemetaan ruang lingkup kompetensi lulusan yang terkait dengan pendidikan kewirausahaan. butir (e) tingkat kemandirian serta daya saing. Paradigma ini memperlakukan. dan mendorong peserta didik menjadi subyek pembelajar mandiri yang bertanggung jawab. budi perkerti luhur. dan berkewirausahaan. 3. pemberdayaan. Memperkuat pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang berlaku saat ini (the existing curriculum ) di setiap satuan pendidikan mulai dari pendidikan usia dini sampai dengan sekolah menengah atas dan Pendidikan Non Formal (PNF) dengan cara memperkuat metode pembelajaran dan mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan. 8 . bertanggung jawab. Peserta didik memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual. pembentukan akhlak mulia. 2. kreatif. Merumuskan rancangan pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah atas serta pendidikan non formal. dan butir (f) kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya. inovatif. kepribadian. atau karakter unggul. maka dari itu perlu diperhatikan peserta didik sebagai subyek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh.kehidupan. memfasilitasi. sosial. inovatif. dan kinestetik. yaitu pembelajaran sejak lahir hingga akhir hayat yang diselenggarakan secara terbuka dan multimakna. kreatif. Pembelajaran merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. serta berbagai kecakapan hidup (life skills). dan berkewirausahaan. spiritual. Pendidikan multimakna diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan.

SMA/MA/SMALB. SMP/MTs/SMPLB. hingga PNF. 2. ada banyak nilai-nilai kewirausahaan yang mestinya dimiliki oleh peserta didik maupun warga sekolah yang lain. SD/MI/SDLB. dan SMK/MAK. Melalui program ini diharapkan lulusan peserta didik pada semua jenis dan jenjang pendidikan. SMP/MTs/SMPLB. Terwujutnya rancangan pengintegrasian pendidikan kewirausahaan pada setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. Nilai-nilai Pokok dalam Pendidikan Kewirausahaan Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan kewirausahaan adalah pengembangan nilai-nilai dari ciri-ciri seorang wirausaha. dan warga sekolah yang lain wirausaha. Tabel 1. hingga PNF). SD/MI/SDLB. dan SMK/MAK. Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Kewirausahaan NILAI 1. Terwujudnya seperangkat pemetaan yang memuat nilai-nilai kewirausahaan dan tingkat kompetensi/kemampuan kewirausahaan lulusan peserta didik pada setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. Ruang Lingkup Program Pendidikan Kewirausahaan Sasaran program pendidikan kewirausahaan adalah satuan pendidikan mulai dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah atas serta pendidikan non formal (PAUD. SD/MI/SDLB. Hasil Yang Diharapkan Dari seluruh rangkaian proses penyusunan naskah akademik diharapkan dapat menghasilkan beberapa hal sebagai berikut: 1. SMA/MA/SMALB. hingga PNF. SMP/MTs/. di dalam pengembangan model naskah akademik ini dipilih beberapa nilai-nilai kewirausahaan yang dianggap paling pokok dan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik. G. Namun. Menurut para ahli kewirausahaan. F. Beberapa nilainilai kewirausahaan beserta diskripnya yang akan diintegrasikan melalui pendidikan kewirausahaan adalah sebagai berikut. Jujur DESKRIPSI Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam memiliki jiwa dan spirit 9 . dan SMK/MAK.E. SMA/MA/SMALB.

Kerja sama Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya mampu menjalin hubungan dengan orang lain dalam melaksanakan tindakan.NILAI DESKRIPSI perkataan. dan mengarahkan orang lain. Ulet Sikap dan perilaku seseorang yang tidak mudah menyerah untuk mencapai suatu tujuan dengan berbagai alternative 11. berani dan mampu mengambil risiko kerja 12. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas dan mengatasi berbagai habatan 4. Berani Menangung Resiko Kemampuan seseorang untuk menyukai pekerjaan yang menantang. 10. dan pekerjaan. mudah bergaul. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Komitmen Kesepakatan mengenai sesuatu hal yang dibuat oleh seseorang. Inovatif Kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan 6. 9. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil berbeda dari produk/jasa yang telah ada 5. 10 . bekerjasama. Kepemimpinan Sikap dan perilaku seseorang yang selalu terbuka terhadap saran dan kritik. Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang yang mau dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya 8. dan pekerjaan. tindakan. 2. 3. baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Mandiri Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas 7.

11 . Memiliki karakter wirausaha. dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain H. yang antara lain meliputi: 1. Menghargai akan prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Mampu melihat peluang 4. 3. Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara. Kriteria Keberhasilan Program Pendidikan Kewirausahaan Keberhasilan program pendidikan kewirausahaan dapat diketahui melalui pencapaian kriteria oleh peserta didik. dan didengar 15. dilihat.NILAI 13. dan bekerjasama dengan orang lain 16. Memiliki keterampilan/skill berwirausaha 5. Memahami konsep kewirausahaan. 14. Terbentuknya lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang berwawasan kewirausahaan. bergaul. Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui secara mendalam dan luas dari apa yang yang dipelajari. Realistis Kemampuan DESKRIPSI menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasionil dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya. 2.

watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan. Dari beberapa konsep di atas menunjukkan seolah-olah kewirausahaan identik dengan kemampuan para wirausahawan dalam dunia usaha (business). baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja. 1980). “An entrepreneur is one who creates a new business in the face if risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resources to capitalze on those opportunities. Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis. kewirausahaan tidak selalu identik dengan watak/ciri wirausahawan semata. berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya. seorang wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan mengaplikasikan hakekat kewirausahaan dalam hidupnya. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5). jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya. Padahal. Wirausaha mencakup semua aspek pekerjaan. bercipta. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Kewirausahan adalah suatu sikap. Norman M. Intinya. Wirausahawan adalah mereka yang melakukan upayaupaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide. Seseorang yang memiliki sikap dan jiwa wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat. mengambil keuntungan serta memiliki sifat. dan meramu sumber 12 . Konsep Kewirausahaan dan Ciri Wirausaha Sampai saat ini konsep kewirausahaan masih terus berkembang. karena sifat-sifat wirausahawanpun dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. dalam kenyataannya. Wirausaha adalah orang-orang yang memiliki kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya.BAB II KAJIAN TEORITIS A.

Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Drucker. Dengan demikian. 1997). Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Jiwa kewirausahaan ada pada setiap orang yang menyukai perubahan. Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge). 1959) 13 . 4. 1997) 3. tenaga penggerak. 4. pembaharuan. proses dan hasil bisnis (Ahmad Sanusi. tujuan. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi. kiat. yaitu: 1. namun sifat inipun sebenarnya dimiliki oleh orangorang yang berprofesi di luar wirausahawan. nilai tambah tersebut dapat diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut: 1. aktivitas dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha (Suryana.daya untuk menemukan peluang (opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo. 1994) 2. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan sumber daya. 3. Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources). Kewirausahaan adalah suatu nilai yang dibutuhkan untuk memulai sebuah usaha dan mengembangkan usaha (Soeharto Prawiro. Pengembangan teknologi baru (developing new technology). siasat. 2. Walaupun di antara para ahli ada yang lebih menekankan kewirausahaan pada peran pengusaha kecil. apapun profesinya. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih. Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. 2001). ada enam hakekat pentingnya kewirausahaan. kemajuan dan tantangan. Menurut Zimmerer (1996:51). Perbaikan produk (barang dan jasa) yang sudah ada (improving existing products or services).

tekad kerja keras. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha (Zimmerer. Orientasi pekerjaan berupa laba.5. (4) berjiwa kepemimpinan. 1996) 6. Menyukai pekerjaan yang menantang Kepemimpinan 1. memberikan ciri-ciri seseorang yang memiliki jiwa wirausaha (entrepeneur) sebagai orang yang (1) percaya diri. dan (6) keorisinalan. Bertingkah laku sebagai pemimpin yang terbuka thd saran dan kritik. Berani dan mampu mengambil risiko kerja 4. Mudah bergaul dan bekerjasama dengan orang lain 14 . (3) berani mengambil risiko. 3. Menyukai pekerjaan yang menantang Pengambil risiko 3. 2. tekun dan tabah. Berani dan mampu mengambil risiko kerja 2. (2) berorientasi tugas dan hasil. Tidak berketergantungan dalam melakukan pekerjaan Berorientasi pada tugas dan 1. (5) berorientasi ke depan. Berinisiatif Pengambil risiko 1. Meredith dalam Suprojo Pusposutardjo(1999). Bentuk ketata kelakukan ciri-ciri wirausaha nampak pada tabel berkut. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Bekerja penuh keyakinan 2. Tabel 2: Bentuk Ketata Kelakukan Ciri-Ciri Wirausaha Ciri-ciri Kewirausahaan Percaya diri Bentuk Tata – kelakuan 1. Memenuhi kebutuhan akan prestasi hasil 2.

pendidikan kewirausahaan mempunyai makna dan arah yang berbeda seperti dalam tabel di bawah ini. tumpukan data (otak adalah server) Terampilan menjawab soal ulangan harian. keterampilan dan sikap Kreatif. ujian Pengetahuan itu informasi. inovatif Ilmuwan yang berjiwa inovatif (Thomas Alva Edison) Sejarah Penemuan Sains dan Teknologi 15 . Berfikiran menatap ke depan 2. Mempunyai banyak sumberdaya 4. Luwes dalam melaksanakan pekerjaan 3. objective test Lebih cepat lebih baik Teknolog (operator mesin produksi) Hero militer dan politikus Analisa data ke informasi ke pengetahuan ke sebanyak mungkin aplikasi manfaat Inovasi adalah pengetahuan Kesatuan antara pengetahuan. test. Tabel 3: Peta Orientasi Pendidikan Kewirausahaan dari Era Pertanian – Industri – ke Era Knowledge Economy Dunia Kerja Sekolah Metode Pembelajaran Era Pertanian Sosialisasi (tacit to tacit) Era Industri Banking system (tacit to explisit) Era Knowledge Economy How to learn (explisit to tacit dan dari explisit to explisit) Peserta didik Keterampilan rutin sehari-hari Pengetahuan Sekadar data dan informasi Tangan cerdas Keterampilan Sikap Sabar Tukang Sains IPS Sejarah Mistis Kuantitas pengetahuan diaplikasikan ke ulangan harian.Ciri-ciri Kewirausahaan Berfikir ke arah hasil (manfaat) Bentuk Tata – kelakuan 1. Perspektif Sumber: Meredith dalam Suprojo Pusposutardjo (1999) Dalam setiap periode atau era sejarah. Kreatif dan Inovatif 2. Serba bisa dan berpengetahuan luas Keorisinilan 1.

Kemampuan kreatif dan inovatif tersebut secara riil tercermin dalam kemampuan dan kemauan untuk memulai usaha (start up). untuk menjadi wirausaha yang berhasil.Penilaian Hasil Belajar Dapat memenuhi Indeks Prestasi kebutuhan hidup Belajar sehari-hari secara mandiri. Kompetensi itu sendiri ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman usaha. Deskripsi Pendidikan Kewirausahaan Untuk 1995 tentang membangun Gerakan semangat kewirausahaan dan dan memperbanyak Membudayakan wirausahawan. kemauan dan kemampuan untuk mencari peluang (opportunity). Melalui gerakan ini diharapkan budaya kewirausahaan akan menjadi bagian dari etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia. Instruksi ini mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Raport Kepemimpinan Paternalistik Hirarkis Kemampuan memroses data ke informasi ke pengetahuan dan ke aplikasi tak terbatas pada manfaat bagi konsumen Manajement talent (player. pencipta jasa) Jadi. kemampuan dan keberanian untuk menanggung risiko (risk bearing) dan kemampuan untuk mengembangkan ide dan meramu sumber daya. Pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun Nasional Memasyarakatkan Kewirausahaan. bahwa seseorang wirausaha adalah seseorang yang memiliki jiwa dan kemampuan tertentu dalam berkreasi dan berinovasi. atau kompetensi. sehingga harus diupayakan untuk ditingkatkan secara terus menerus. Seperti telah dikemukakan di atas. B. Ia adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) atau kemampuan kreatif dan inovatif. Jiwa dan watak kewirausahaan tersebut dipengaruhi oleh keterampilan. sehingga dapat 16 . kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baru (creative). persyaratan utama yang harus dimiliki adalah memiliki jiwa dan watak kewirausahaan. Pemerintah menyadari betul bahwa dunia usaha merupakan tulang punggung perekonomian nasional. kemampuan.

sifat. dan berkeinginan menciptakan nilai tambah (value added). and adaption. karena kegiatan yang bercirikan kewirausahaan tidak hanya terbatas dalam bidang bisnis dengan tujuan mencari laba. perilaku. seseorang yang disebut dengan “wirausahawan” mutlak harus memiliki kemampuan untuk selalu berpikir sesuatu yang baru. namun upaya tersebut belum membawa pengaruh yang signifikan karena masih banyak penduduk yang tidak produktif setiap tahun.melahirkan wirausahawan-wirausahawan baru yang handal. Oleh karenanya makna penting yang terkandung dalam kewirausahaan. (2) Leadership. bertindak melakukan sesuatu yang baru (inovatif). Oleh karena itu. (4) tolerance toward risks. Integrasi pendidikan kewirausahaan yang dilakukan saat ini merupakan momentum untuk revitalisasi 17 . ciri. dan berkeinginan menciptakan nilai tambah. dan mandiri. Hal itu memunculkan pertanyaan. seni. yakni: (1) Commitment and determination. (5) Creativity. dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif (create a new and different). menurut Kristanto (2009). Namun. Misalnya. Timons dan Spinelli (2007) membuat pengelompokan yang diperlukan untuk tindakan kewirausahaan dalam enam (6) hal. yaitu: ilmu. (3) Obsession to the opportunity. Yang membuat kewirausahaan menjadi menarik banyak pihak untuk memahaminya ialah kontribusi istimewa yang dihadirkan oleh mereka yang melakukan tindakan kewirausahaan. ambiquity. Jadi ada tiga indikator utama dari kewirausahaan yaitu: berpikir sesuatu yang baru (kreatif). hingga saat ini upaya tersebut masih berlangsung. Kewirausahaan merupakan suatu proses dinamis untuk melakukan aktivitas ekonomi yang terencana dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan dan peluang dan hambatan dalam melakukan suatu usaha yang bemanfaat bagi kesejahteraan. Menurut pendapat Suherman (2008). hal itu sangat penting mengingat bahwa sebenarnya aktifitas kewirausahaan tidak hanya berada dalam tataran microeconomy. tougness. and uncertainty. Meskipun pemerintah telah berupaya untuk memasyarakatkan kewirausahaan. tangguh. bertindak melakukan sesuatu yang baru. and (6) Motivation for achievement. seberapa jauh keberhasilan pelaksanaan Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan yang telah dilakukan sejak tahun 1995 dan apa dampak dari progran itu.

Tabel 4.665.258. Apabila tidak ada penanganan yang serius terhadap masalah ini bukan tidak mungkin angka pengangguran akan terus meningkat setiap tahunnya.520. Oleh karena itu. Data pengangguran terbuka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (2009) menunjukan bukti masih banyak penduduk yang perlu ditingkatkan produktivitasnya.448 113. merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan. mempersiapkan usaha.040 13.14% 54.964 8.903 32. pendidikan kewirausahaan memiliki peran yang sangat strategis untuk mengatasi persoalan yang berkenaan dengan pengangguran.275.kebijakan Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. 1 2 Jenis Kegiatan Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Bekerja Pengangguran Terbuka *) Tingkat Pengangguran Terbuka 3 Bukan Angkatan Kerja Sekolah Mengurus Rumah Tangga Lainnya *) Pengangguran Terbuka: Mencari pekerjaan.264. Penduduk Menurut Jenis Kegiatannya No.6% 104. [Sumber: BPS.578. Data pengangguran dari Badan Pusat Statistik adalah sebagaimana yang disajikan dalam ilustrasi sebagai berikut.774. sudah punya pekerjaan tetapi belum dimulai. mengingat jumlah terbesar pengangguran terbuka dari tamatan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.717 18 .485.408 67.444 9.420 8. 2009] 2009 (Feb) 168.

pengetahuan kewirausahaan diajarkan di sekolah dasar. Pola pikir yang selalu beorientasi menjadi karyawan diputar balik menjadi berorientasi untuk mencari karyawan.049 2. kewirausahaan itu dapat diajarkan melalui penanaman sikap-sikap dan perilaku untuk membuka bisnis agar para peserta didik dapat menjadi pengusaha yang berbakat pada kemudian hari. Transformasi pengetahuan kewirausahaan menurut Alma (2009) telah berkembang pada akhir-akhir ini. Pendidikan kewirausahaan adalah mendorong para pelajar dan mahasiswa agar memulai mengenali dan membuka usaha atau berwirausaha. 19 .586 486.054.627 1.399 626.621 9.Data berkenaan dengan pengangguran terbuka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (2009) menunjukan bahwa jumlah terbesar pengangguran terbuka berasal dari tamatan satuan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang disajikan dalam ilustrasi sebagai berikut. Jadi kesimpulannya. sekolah menengah hingga perguruan tinggi dan berbagai kursus bisnis. merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan. Dalam konteks ini. pendidikan kewirausahaan harus mampu mengubah pola pikir para peserta didik sebagaimana yang dikemukakan oleh Kasmir (2006).133. mempersiapkan usaha. sudah punya pekerjaan tetapi belum dimulai.964 *) Pengangguran Terbuka: mencari pekerjaan. Demikian pula di Indonesia.620. Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan 1 2 3 4 5 6 Total Tidak/Belum Pernah Sekolah/Belum Tmat SD Sekolah Dasar SLTP SMTA Diploma I/II/III/Akademi Universitas 2009 (Februari) 2.258. Tabel 5: Pengangguran Terbuka*) Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan No.337.682 2.

Hal yang tidak bisa dilupakan dan dirasakan sangat penting dalam konteks pendidikan yang berwawasan kewirausahaan di sekolah yaitu bahwa Kementerian Pendidikan Nasional juga perlu membuat kerangka pengembangan kewirausahaan yang ditujukan bagi kalangan pendidik dan kepala sekolah.44). Cina. produktivitas mereka juga rendah. Pendidikan Kewirausahaan dalam Perspektif Sosio-Psikologis. penggangguran tidak berkurang yang tentu saja memberikan implikasi lain bagi kehidupan sosial. Sangat ironis. jika ternyata komunitas penggangguran tidak sedikit berasal dari yang telah mengecap pendidikan formal. Dewasa ini terdapat kecenderungan semakin tinggi seseorang mendapat semakin besar kemungkinannya jadi penganggur. Friedman (2009) menyebutkan bahwa negara kita menjadi negara pengekspor tenaga kerja yang kurang “kreatif” sehingga berbagai permasalahan yang harus dihadapi mereka. dan lebih-lebih lagi Singapore. Analisis Indonesia belum pascakolonial mengenai pendidikan menunjukan bahwa yaitu dapat melepaskan diri dari tujuan pendidikan kolonial. Malaysia. Selanjutnya. Apa yang republik yang kaya raya sumber daya alamnya ini namun masih karena kemampuan sumber daya manusia yang tidak dapat tergolong negara berkembang yang miskin. Pada tataran psikologis semua orang mempunyai banyak sedikitnya potensi intrepreneur. Sementara hampir 45% tanaga kerja kita saat ini tidak lulus Sekolah Dasar. Mereka adalah agen perubahan ditingkat sekolah yang diharapkan mampu menanamkan semangat atau jiwa kewirausahaan bagi jajaran dan peserta didiknya. Setiap tahun angkah kemiskinan relatif bertambah. Pendidikan yang berwawasan kewirausahan ditandai dengan proses pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi kearah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum terintegrasi yang dikembangkan di sekolah. namun potensi ini tidak akan muncul optimal atau bahkan hilang sama sekali jika tidak dikembangkan iklim yang sesuai dengan 20 . hal ini memanfaatkan kekayaan alamnya itu. sepertinya memberikan implikasi menjadi pegawai dan bukan menjadi seseorang yang dapat berdiri sendiri. Akibatnya. Vietnam. C. Menurut Tilaar (2009. Kondisi sosio-psikologis ini pendidikan menyebabkan disebabkan dalam tataran kehidupan sosial. Hal ini lebih lanjut berakibat pada rendahnya daya saing Republik ini dibandingkan dengan negaranegara tetangga kita seperti Thailand.

adalah pendidikan entrepreneur menjadi sebuah keniscayaan. nonformal. pengembangan pendidikan psikologis dan iklim sosial. Pendidikan yang intelektualitas yang cenderung sangat bersifat formal dengan membiarkan kemampuan kreativitas dan inovasi peserta didik antara lain yang menyebabkan kondisi sosio-psikologis ini. kewirausahaan ini harus memperhatikan suasana D. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Jika dilihat dari aspek kuantitas waktu. peserta didik berada dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal. bertangung jawab. Pentingnya Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah Menurut Undang-Undang No. Pendidikan informal sesungguhnya memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan.perkembangan potensi itu. Sebab itu. Peserta didik mengikuti pendidikan di sekolah hanya sekitar 7 jam per hari. Ini berarti pendidikan kewirausahaan bersamaan dengan sosiologis substansi pendidikan lainnya yang terkait dengan akan mereduksi sejumlah persoalan kehidupan sosial kemasyarakatan. Pada akhirnya pribadi yang memiliki karakter kreatif. Pendidikan kewirausahaan juga mempersiapakan peserta didik memiliki sikap mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menghadapi masa depannya dengan segala problematikanya. Pendidikan kewirausahaan peserta didik tujuan dan orientasi kewirausahaan dan pendidikan untuk menjadi pegawai negeri. disiplin dan kosisten Indonesia. Selama ini. dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan kewirausahaan akan memberikan berkembangnya akan menjadi karakteristik peluang tumbuh dan potensi kreativitas dan inovasi anak. atau kurang dari 30%. Tidak berlebihan mereduksi mindset jika dikatakan bahwa pendidikan tentang mampu memberikan kontribusi dalam pemecahan masalah sumber daya manusia kewirausahaan akan mengikuti mampu sangat berorientasi pada sosio-psiklogis. Nilai-nilai kewirausahaan peserta didik yang dapat digunakannya dalam akan Kata kuncinya bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungnnya. inovatif. pendidikan di sekolah berkontribusi hanya sebesar 30% terhadap hasil pendidikan peserta didik. pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung 21 . Selebihnya (70%).

Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter termasuk karakter wirausaha dan peningkatan mutu akademik peserta didik. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar. pengaruh pergaulan di lingkungan sekitar. Kesibukan dan aktivitas kerja orang tua yang relatif tinggi. serta potensi dan prestasi peserta didik. Dengan demikian. Teori ini membahas tentang bagaimana 22 . potensi. seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. dikembangkan oleh Jean Piaget.pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter wirausaha peserta didik. bakat. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. dan pengaruh media elektronik ditengarai berpengaruh negatif terhadap perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pendidikan karakter terpadu. pembelajaran nilai-nilai karakter wirausaha tidak hanya pada tataran kognitif. tetapi menyentuh pada internalisasi. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan. E. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini. dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat. Psikologi Perkembangan Peserta Didik Teori Perkembangan Kognitif. dieksplisitkan. Disamping itu pendidikan karakter wirausaha dapat juga diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak di lingkungan keluarga. yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial. terutama pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha peserta didik sesuai tujuan pendidikan dapat dicapai.

Tahapan pra-operasional (2 – 7 Tahun) Menurut Piaget. anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. 1. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun) 4. mereka cenderung egoinfantil. saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Mereka 23 . Pada permulaan tahapan ini. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa) Terkait dengan rancangan pengembangan pendidikan kewirausahaan di sekolah. ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. empat tahapan perkembangan tersebut di atas. Bagaimanapun. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri. Menurut Piaget. ada tiga tahapan yang akan dipaparkan dalam uraian ini yaitu tahap/periode pra-operasional (usia 2–7 tahun). Pemikirannya masih bersifat egoinfantil. periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun). anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. dan periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa). mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis.seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan.operasional (usia 2–7 tahun) 3. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun) 2. Dalam tahapan ini. Teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia. yaitu. Dalam tahapan ini. Periode pra . Tahapan perkembangan tersebut sebagaimana berikut: 1. mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar.

Tahapan operasional konkrit (7-11 tahun) Tahapan ini muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. d. bila diberi benda berbeda ukuran. mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. Tetapi seiring pendewasaan. Sebagai contoh. atau ciri lainnya. ukurannya. atau karakteristik lain. Contohnya. 8-4 akan sama dengan 4. memahami bahwa kuantitas. Klasifikasi. kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya. anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8. 2. mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda. bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak. Konservasi. atau jumlah bendabenda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. kemudian kembali ke keadaan awal. Decentering. Penghilangan Sifat Egoinfantil. air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain. Reversibility anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah. kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara 24 . kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran. e. Untuk itu. bentuk. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: a. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan) c. Pengurutan. b. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif pada saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. f. panjang. jumlah sebelumnya.kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya.

Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih. kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci. tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak. Skema yang dimiliki seseorang mempunyai sifat yang selalu berkembang dan dipengaruhi kematangan bio-psikologis pengalaman belajar yang pernah 25 . setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit. Setiap orang memiliki skema yang berbeda tergantung pada apa yang telah dipelajari dan dimilikinya. proses belajar terjadi apabila proses pengolahan data yang aktif di pihak yang belajar. Menurut Piaget. perkembangan psikoseksual. bukti logis. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak. Berdasarkan pandangan ini. namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya.yang salah). kognitif. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Tahapan operasional formal (11-15 tahun) Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. menalar secara logis. tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya). Sebagai contoh. seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta. Dilihat dari faktor biologis. 3. lalu meninggalkan ruangan. Apa yang telah ada dalam diri seseorang antara lain kapasitas dasar kemampuan intelektualnya yang disebut “skema”. dan nilai. penalaran moral. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis. siswa dianggap sebagai subyek belajar yang aktif menimbulkan stimulasi bagi dirinya. dan perkembangan sosial. mencari jawaban terhadap stimulasi tersebut serta mengembangkan stimulasi untuk halhal yang baru. Pengolahan data yang aktif itu merupakan aktivitas lanjutan dari kegiatan mencari informasi dan dilanjutkan dengan kegiatan penemuan-penemuan (discovery). Dalam tahapan ini.

Karena itu. pendidikan informal (keluarga). Pendidikan Berbasis Otak (Brain Based Research) Dalam penelitian berbasis otak. pembentukan sikap dan keterampilan bagi peserta didik termasuk sikap mental wirausaha. guru mempengaruhi tingkat efektivitas pembelajaran. Keutuhan hard skill dan soft skilll akan melahirkan jiwa kewirausahaan. 26 . G. kecerian menjadi pemicu perkembangan keutuhan aspek akademik dan non akademik. dan pelatihan yang bersifat ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). sasaran pendidikan kita adalah pembentukan aspek kognitif (intelektual). afektif (sikap mental atau moral) dan psikomotorik (skill/keterampilan). banyak pendapat mengatakan bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga. sekolah dan masyarakat (Guruvalah 2003 :1). saling memaafkan. Pembelajaran aktif akan mengembangkan kewirausahaan dalam diri anak. letak bagian otak dan zat kimia otak (hormon) mempengaruhi jenis kecerdasan yang beranekaeagam. Jadi. pendidikan baru bermakna apabila skema siswa berubah ke arah lebih maju. saling menghormati.ditempuhnya. bahkan pemerintah. Relasi hangat antar siswa. dan keseimbangan dalam dirinya. Karena itu pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga. Proses perubahan skema menurut Piaget terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi. Pendidikan kita terdiri atas tiga bagian. Pendidikan Kewirausahaan di Lingkungan Sekolah Dilihat dari siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan. pengajaran. Dilihat dari sasaran yang ingin dicapai. kerjasama antar guru. masyarakat. F. lingkungan sosial. antar siswa. ditemukan struktur. Pada umumnya sekolah sebagai lembaga pendidikan dan merupakan pusat kegiatan belajar mengajar dijadikan tumpuan dan harapan orang tua. seseorang baru dapat dikatakan belajar apabila skemanya mulai berkembang. masyarakat dan pemerintah. formal (sekolah) dan nonformal (masyarakat). keluarga. Pertama. sentuhan kasih sayang . jika seluruh bagian otak dioptimalkan. sekolah senantiasa memberikan pelayanan pendidikan.Peserta didik tidak mudah belajar atau berpikir ketika emosi peserta didik terganggu. Oleh karena itu.

persiapan manusia wirausaha terletak pada penempaan semua daya kekuatan pribadi manusia itu untuk menjadikannya dinamis dan kreatif. tidak perlu merevisi kurikulum secara total.Dalam praktik di sekolah. Sebagai contoh pada pembelajaran materi produksi. Pembenahan kurikulum dalam rangka menanamkan jiwa wirausaha pada peserta didik dapat dilakukan dengan cara melengkapi materi kurikulum yang telah ada dengan bidang studi kewirausahaan dan mengintegrasikan ciri-ciri jiwa wirausaha kedalam silabus dan RPP. Manusia yang semacam itu yang menunjukkan ciri-ciri wirausaha. Selain itu alternatif lain untuk mengembangkan organisasi pengalaman belajar siswa adalah pelaksanaan pembelajaran yang berbasis unit produksi. Agar siswa mengalami perkembangan pribadi yang integratif. 2) Peningkatkan Peran Sekolah dalam Mempersiapkan Wirausaha. dinamis dan kreatif. Hakikat persiapan manusia wirausaha adalah dalam segi penempaan sikap mental wirausaha. disamping mampu berusaha untuk hidup maju dan berprestasi. untuk menanamkan nilai-nilai kewirausahaan pada peserta didik ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain: 1) Pembenahan dalam Kurikulum Untuk mewujudkan manusia wirausaha di lingkungan sekolah. Pengorganisasian yang sudah ada biar berlangsung terus. ada pembenahan lebih lanjut dalam hal pengorganisasian pengalaman belajar siswa. Seperti telah dikemukakan pada paparan di atas bahwa salah satu ciri manusia wirausaha adalah memiliki ciri-ciri kepribadian yang kuat. yang penting perlu dicari cara pengorganisasian lain untuk menunjang proses belajar mengajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif belajar dari kenyataan hidup sehari-hari di dalam masyarakat. Dengan perkataan lain. anak dilatih keterampilan untuk 27 . termasuk juga dalam pengorganisasian pengalaman belajar siswa. 3) Pembenahan dalam Pengorganisasian Proses Pembelajaran Pembelajaran di Indonesia telah mengalami berbagai macam pembaharuan. Hal ini tidak berarti bahwa pengorganisasian yang sudah berlaku di sekolah itu harus dihilangkan. Untuk dapat menginternalisasi ciri-ciri wirausaha pada diri peserta didik diperlukan peran sekolah secara aktif.

memproduksi. tetapi juga mempengaruhi hasil belajar mereka. Peserta didik tidak mudah belajar atau berpikir ketika emosi peserta didik terganggu. 4) Pembenahan Proses Kelompok Hubungan pribadi antar siswa di dalam kelas mempunyai pengaruh terhadap belajar mereka. saling memaafkan. Aktivitas belajar anak dapat dipengaruhi oleh perasaannya tentang diri sendiri dalam hubungannya dengan guru-guru serta teman-temannya. kerjasama antar guru. yang melatih peserta didik mengembangkan usaha yang terkait dengan bakat dan minat siswa. Pembelajaran Aktif dalam Pendidikan Kewirausahaan Dalam penelitian berbasis otak. saling menghormati. 5) Pembenahan pada Diri Guru Sebelum guru melaksanakan wirausaha. antar siswa. ditemukan struktur letak bagian otak dan zat kimia otak (hormon) mempengaruhi jenis kecerdasan yang beranekaragam. H. Peran guru adalah mengkomunikasikan potensi dan cita-cita secara jelas sehingga dapat menginspirasi setiap peserta didik untuk dapat melihat jiwa kewirausahaan dalam dirinya. Oleh karena itu. sentuhan kasih sayang. Bentuk ini bukanya mengganti pengorganisasian yang sudah ada melainkan sebagai variasi pengalaman belajar siswa. Pertumbuhan anak banyak tergantung pada suasana emosional dari kelompok kelasnya. Akan lebih baik lagi jika guru juga memiliki pengalaman empiris di dalam bisnis Pendidikan kewirausahaan juga bisa dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Proses-proses kelompok di kelas bukan hanya mempengaruhi perasaan dan sikap para siswa. Hal ini guru dituntut untuk berusaha mengadakan modifikasi-modifikasi terhadap proses-proses kelompok siswa di dalam kelas agar tumbuh kembang ciri-ciri wirausaha pada diri anak. pembelajaran terlebih dahulu di kelas juga dengan dilatih mengintegrasikan ciri-ciri guru kewirausahaan terutama yang terkait dengan penanaman jiwa dan perilaku wirausaha (jiwa dan skill kewirausahaan). keceriaan menjadi pemicu perkembangan 28 . Selanjutnya hasil produksi dititipan dalam unit produksi di sekolah untuk digunakan sebagai latihan menjual pada saat penyampaian materi distribusi.

Dengan demikian. cerdas intelektual. metode dalam sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting dan strategis. demontrasi. and reinforcement of the learning are appropriate to the needs of the learners. Selain metode pembelajaran. 29 . Dituntutan penggunaan metode pembelajaran yang tepat karena.keutuhan aspek akademik dan non akademik. adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasi rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan dapat tercapai secara optimal. Setiap metode mempunyai karakteristik masing-masing yang mencakup kekuatan dan kelemahannya. explained. perlu terus menerus ditingkatkan bukan hanya didalam pengertian pengembangan kemampuan inteligensi (IQ). Metode merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran yang sangat penting bagi keberhasilan pembelajaran dan pemberdayaan potensi peserta didik. cerdas sosial. Sebagaimana diketahui bahwa dalam dunia pembelajaran telah dikenal berbagai macam metode seperti ceramah. Atas dasar itu. dalam pembelajaran biasanya menggunakan metode yang yang bersifat eklektik (penggabungan dua atau lebih metode) untuk menghasilkan ”pembelajaran yang berkualitas dan efektif”. kita menginginkan mutu pendidikan yang sesuai dengan standarlokal. yaitu cerdas spiritual. Oleh karenanya. and altered in a great variey of ways. Metode. Bloom (1976) menyatakan bahwa quality of instruction is the extend which the cues. nasional. Untuk mewujudkan situasi tersebut maka dalam pembelajaran diperlukan metode pembelajaran aktif.simulasi dan bermain pean. dan internasional. Berkenan dengan pembelajaran yang berkualitas. diskusi. hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran menurut Blooms elanjutnya adalah indifidual differences in learning that is an observable phenomenon which can be predicted. practice. Semua itu adalah dalam rangka pembangunan insan cerdas komprehensif atau seutuhnya sebagaimana yang ditegaskan dalam Renstra Kementrian Pendidikan Nasional 2010-2014 (Kementerian Pendidikan Nasional. menurut Tilaar (2004). cerdas emosional. menurut Sanjaya (2009). tetapi juga kemampuan-kemampuan yang lain seperti kemampuan spiritual (spiritual intelligence) dan bentuk-bentuk intelegensi lainnya yang dapat dimiliki seorang manusia. dan cerdas kinestetis. pemecahan masalah. 2010) bahwa yang dimaksud dengan insan indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif.

class . and the promotion of self-directed and independent learnig. menurut Sanjaya (2009). usaha sadar berarti segala upaya yang dilakukan dalam pendidikan diarahkan pada pembentukan sumber daya manuisia (peserta didik) yang dapat berkembang secara utuh. personal. lesson planning and preparation. kecerdasan. and physical development of students. and reinforcement. pengendalian diri. feedback and correctives. assessment and evalution. Pembelajaran efektif dibangun atas dasar beberapa prinsip yang menurut Cole & Chan yaitu: include principles for affective class room communication.Apa yang dikemukakan oleh Bloom tentang individual differences adalah sama dengan “keunikan peserta didik” yang menurut Aunurrahman (2009) bahwa setiap orang berbeda satu sama lain dan tidak satupun yang mempunyai ciri-ciri sama. dan negara. Perbedaan individual Ini merupakan kodrat manusia yang bersifat alami. bangsa. Apabila dikaji secara cermat. Perbedaan individu disebabkan oleh besarnya variasi dalam kemampuan seperti dikatakan oleh Hirsch (1999) bahwa variations in ability and learning style are caused by individual differences. Oleh karena itu. konsep pendidikan menurut Undang-Undang itu mengandung beberapa hal yang sangat penting untuk dikritisi. Hirsch bahwa individual differences in academic preparation and ability. kepribadian. social.management. Hal-hal penting untuk dikritisi sebagaimana yang dimaksud oleh Sanjaya adalah sebagai berikut: Pertama. Pentingnya metode dalam pembelajaran. and the accommodation of those differences take the form ability tracking. Berkenan dengan pembelajaran yang efektif. Cole & Chan (1994) menyatakan bahwa effective teaching is defined as the actions of professionally trained person that enahance the cognitive. assigning work tasks. Undang –undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Penidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. demonstration and explaning. questioning. masyarakat . motivation. 30 . serta keterampilan yang diperlukan dirinya. akhlak mulia . Setiap individu pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan individu lainnya.

Mengapa perlu diadakan kegiatan belajar yang “aktif”. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. belajar aktif membantu untuk mendengarkannya. dan Negara. wujud dari usaha sadar dan terencana adalah suasana dan proses pembelajaran yang berorientasi pada keaktia peserta didik (student active learning) dalam rangka pengembangan potensi dirinya. menemukan contoh-contoh. Yang paling penting. mengajukan pertanyaan tentang oelajaran tertentu. kecerdasan. dan melakukan tugas-tugas yang tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang harus mereka capai.Kedua. menyenangkan. usaha terencana berarti proses pendidikan adalah proses yang berrujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan pendidik dan peserta didik diarahkan pada pencapaian tujuan. pengendalian diri. Belajar aktif pada PAUD/TK dan SD/MI/SDLB berbeda dengan SMP/MTs/SMPLB dan SMA/MA/SMK. Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif. peserta didik perlu "melakukannya" memecahkan masalah sendiri. kepribadian. berpindah-pindah dan berpikir keras. peserta didik tidak hanya terpaku di tempat-tempat duduk mereka. mendukung. serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya. Teaching to the test is bad in current practice because so many tests ask narrow questions about disconnected of information. dan secara pribadi menarik hati. mencoba keterampilan-keterampilan. Untuk mempelajari sesuatu dengan baik. Pengunaan metode dalam pembelajaran merupakan suatu hal yang mutlak untuk dilakukan agar pembelajaran tidak mengarah pada apa yang disebut oleh Ravitch (1995) sebagai “teaching to the test” atau mengajar yang dirahkan untuk menghadapi soal-soal ujian. Seringkali. bangsa. dan mendiskusikannya dengan yang lain. akhlak mulia. Keempat. akhir dari proses pendidikan adalah kemampuan peserta didik yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Bahaya “ teaching to the test” menurut Ravitch adalah teachers tend to teach what is tested. Ketiga. melihatnya. thus leading teacher to drill their student on right answer reather than to teach a deep understanding of the concepts involve Belajar aktif merupakan langkah cepat. masyarakat. Pembelajaran pendekatan konkrit cocok 31 .

sebenarnya memiliki konsep inti sebagai berikut : Pembentukan tim (Team building): Membantu siswa-siswa menjadi lebih terbiasa satu sama lain atau menciptakan suatu semangat kerja sama dan saling ketergantungan. Dalam couching dan mentoring dapat melibatkan sukarelawan dari orang tua yang sukses dalam berwirausaha. Pedagogi reflektif memiliki empat siklus. 32 .untuk PAUD/TK dan SD/MI/SDLB. Keterlibatan belajar seketika (Immediate learning involvement): Menciptakan minat awal dalam pokok bahasan. (3) menciptakan konsep baru yang merupakan hasil integrasi antara observasi dan teori. yaitu: (1) pengalaman konkrit yang melibatkan emosi. Teknik-teknik pembelajaran aktif. pengetahuan. Untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/SMK diterapkan pendekatan pedagogi reflektif dari Ki Hajar Dewantoro. coaching. (2) observasi reflektif dari berbagai perspektif dan melibatkan seluruh indra. dan pengalaman siswa-siswa. Penilaian di tempat (On-The-Spot assessment): Mempelajari tentang perilaku-perilaku siswa-siswa. yakni bermain drama dengan tokoh utama sebagai usahawan dan yang lain sebagai konsumen. mentoring. (4) mengujicoba konsep baru untuk pengambilan keputusan dan tindakan yang lebih banyak manfaat.

SMP/MTs/ SMPLB. dan SMK/MAK.BAB III RANCANGAN PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PADA SETIAP SATUAN PENDIDIKAN A. FRAMEWORK PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PADA SETIAP SATUAN PENDIDIKAN 33 . SD/MI/SDLB. SKL Satuan Pendidikan PAUD. SMA/MA. Framework Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan Di Setiap Satuan Pendidikan Pengintegrasian pendidikan kewirausahaan di dalam setiap satuan pendidikan di dasarkan pada framework yang disajikan dalam ilustrasi berikut. dan Nonformal Semua Mata Pelajaran Pendidikan Kewirausahaan Perubahan Pembelajaran Kewirausahaan SI Ekstrakurikuler Pembela jaran Aktif Nilai-nilai Kewirausahaan: Percaya Diri Kreatif Inovatif Kepemimpinan Berani menanggung Risiko dsb Pengembang an Diri Kultur Sekolah Muatan Lokal Gambar 1.

SMK/MAK. Pendidikan kewirausahaan sebenarnya sudah terakomodasi dalam kurikulum sebelum ditetapkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. kantin dan bisnis center diharapkan mampu menumbuhkan jiwa dan perilaku wirausaha. Di satuan pendidikan jenjang SMA ada satu Standar Kompetensi yang terkait dengan kewirausahaan dan koperasi. Sebagai suatu contoh. setiap satuan pendidikan pada umumnya belum secara eksplisit terinternalisasi nilai-nilai kewirausahaan. Kajian kewirausahaan sebenarnya termasuk kajian yang aplikatif dan perlu praktik lapangan. S I. Adanya kegiatan sekolah yang melibatkan peserta didik dalam pengelolaan koperasi sekolah. Sebagai contoh dalam Kurikulum 1984 maupun Kurikulum 1994. dan hasilnya belum maksimal karena masih pada tataran konsep. Sedangkan di SMK. Dalam implementasi pembelajaran sudah ada upaya untuk menumbuhan nilainilai kewirausahaan. namun hal ini hasilnya belum maksimal karena SKL belum mengukur aspek keterampilan. SI (SK dan KD). namun masih terbatas dalam kelompok Ilmu-Ilmu sosial terutama dalam Mata pelajaran Ekonomi. SMP/MTs/SMPLB. Sedangkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. siswa diharapkan untuk memiliki pengetahuan. 34 . Berdasarkan kajian tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan. SMA/MA/SMALB. dan PNF didalamya sudah terinternalisasi pendidikan kewirausahaan. namun belum terpogram secara komprehensif. dengan penggunaan metode diskusi kelompok di dalam pembelajaran akan mampu menumbuhkan sikap percaya diri dan kerja sama. sikap dan keterampilan. dan Pembelajaran Tahap awal yang perlu dilakukan sebelum merancang model pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan adalah mengkaji sejauh mana Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi yang meliputi Sandar Komptensi dan Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. SD/MI/SDLB. kecuali pada satuan pendidikan di jenjang SMA dan SMK.B. pendidikan kewirausahaan menjadi satu mata pelajaran tersendiri. Kajian Nilai-Nilai Kewirausahaan dalam SKL. Hasil pencermatan SKL.

Dengan demikian tentunya nilai-nilai kewirausahaan dan kompetensi kewirausahaan yang seharusnya dicapai di setiap satuan pendidikan juga berbeda. Menurut Piaget. • Memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini. SMP/MTs/SMPLB. 35 . 1. anak usia dini masuk dalam tahapan pra-operasional (usia 2-7 Tahun). Konsep PAUD dalam kajian pendidikan kewirausahaan ini tidak mencakup pembinaan anak sejak lahir. Berikut ini adalah rancangan tentang ruang lingkup nilai-nilai kewirausahaan dan kompetensi kewirausahaan dari setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. • Menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. SD/MI/SDLB.C. • Kemampuan mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri. Oleh karena itu perlu dilakukan pemetaan mengenai ruang lingkup nilai-nilai kewirausahaan dan kompetensi kewirausahaan di setiap satuan pendidikan. SMA/MA/SMALB. Pemetaan Nilai-nilai dan Kompetensi Pendidikan Kewirausahaan di Setiap Satuan Dilihat dari teori perkembangan peserta didik terlihat adanya perbedaan karakteristik peserta didik di setiap jenjang satuan pendidikan. menurut Piaget memiliki ciri-ciri: • Anak belajar sesuatu objek dengan menggunakan gambar dan bahasa/katakata • Pemikirannya masih bersifat egosentris • Kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. namun dibatasi pada pendidikan anak di jenjang pendidikan Play Group/TK. PAUD Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. dan Nonformal. Anak yang termasuk dalam tahapan pra-operasional. • Kemampuan penalaran intuitif bukan logis.

disamping disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak juga disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari PAUD. kreatif. kinestetis. berakhlak mulia. dengan dan tahap mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga kemampuan sesuai perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan 36 . dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. intelektual. mandiri. dan sosial peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan. berilmu. Tujuan PAUD Pendidikan anak usia dini bertujuan: 1) membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat. cakap. a. b. anak perilaku usia dan dini berfungsi membina. kritis. Fungsi PAUD Pendidikan terbentuk selanjutnya. Berdasarkan ciri-ciri. berkepribadian luhur. dan 2) mengembangkan potensi kecerdasan spiritual. tujuan. dasar menumbuhkan. dapat disusun rancangan nilai-nilai kewirausahaan dan kompetensi kewirausahaan pada Pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai berikut. inovatif. emosional.Untuk satuan merancang nilai-nilai kewirausahaan yang bisa diintegrasikan di tingkat pendidikan PAUD. dan fungsi perkembangan anak usia dini. percaya diri.

yang diselenggarakan pada satuan pendidikan berbentuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain yang sederajat serta menjadi satu kesatuan lanjutan pendidikan pada satuan pendidikan yang berbentuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsnawiyah.Tabel 6: Nilai-nilai Kewirausahaan Yang Bisa Diintegrasikan dan Kompetensi Kewirausahaan NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN YANG DIINTEGRASIKAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN Percaya diri Disiplin Tanggung Jawab Jujur Rasa ingin tahu Kreatif Mandiri Memiliki keberanian tampil di depan kelompok Menunjukkan kebanggaan terhadap hasil kerjanya Memiliki kebiasaan tepat waktu Mengikuti aturan permainan Mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya Memiliki kebiasaan mengungkapkan dan berperilaku apa adanya Kebiasaan bertanya Mencoba sesuatu yang ada di lingkungannya Membuat suatu karya tulis/seni dari bahan tersedia di kelas Mampu mengerjakan tugas sendiri Memilih sesuatu sesuai dengan minat atau kesukaan Menaruh benda (misal: peralatan sekolah) pada tempatnya Mampu merespon ketika ditanya atau diajak bicara Bergaul dengan teman sekelas Menceritakan apa yang baru saja dialami Komunikatif 2. menurut Piaget memiliki ciri-ciri: • Kemampuan mengurutan objek menurut ukuran. atau bentuk lain yang sederajat. SD/MI/SDLB/Paket A Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan pada jalur pendidikan formal yang melandasi jenjang pendidikan menengah. atau ciri lainnya. 37 . Menurut Piaget. anak SD masuk dalam tahapan operasional konkrit (7 – 11 Tahun). bentuk. Anak yang termasuk dalam tahapan pra – operasional konkrit.

peka sosial. atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan tampilan dari benda-benda tersebut. 7) mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat. kreatif dan inovatif. Fungsi Pendidikan Dasar 1) menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. 3) memberikan dasar-dasar kemampuan intelektual dalam bentuk kemampuan dan kecakapan membaca. menulis. Tujuan Pendidikan Dasar Pendidikan dasar bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 6) menumbuhkan minat pada olahraga. kehalusan. maupun ukuran. 2) menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. kritis. a. demokratis dan bertanggung jawab. dan kebugaran jasmani. • Mulai memahami bahwa kuantitas. 5) melatih dan merangsang kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan. dan percaya diri. dan berkepribadian luhur. • Mulai mempertimbangkan bebe-rapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. dan berhitung. • Penghilangan sifat egosentrisme Untuk merancang nilai-nilai kewirausahaan yang bisa diintegrasikan di tingkat satuan pendidikan SD. disamping disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak juga disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari Pendidikan di SD. akhlak mulia. berakhlak mulia. panjang. cakap. mandiri. dan harmoni. • Mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah. b.• Kemampuan memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilan. kesehatan. 2) berilmu. 4) toleran. 3) sehat. dan kepribadian luhur. 38 . 4) memberikan pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berdasarkan tujuan, fungsi dan ciri-ciri perkembangan siswa SD, dapat disusun rancangan nilai-nilai kewirausahaan yang dapat diintegrasikan dan kompetensi kewirausahaan pada pendidikan anak SD. Tabel 7: Nilai-nilai Kewirausahaan Yang Dapat Diintegrasikan dan Kompetensi Kewirausahaan
NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN YANG DIINTEGRASIKAN

KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN

Percaya diri

Berani tampil di depan kelas Berani menjelaskan tentang materi pelajaran di depan kelompok Masuk kelas tepat waktu Menyelesaikan tugas tepat waktu Mentaati peraturan sekolah Tertib berpakaian Menghasilkan sesuatu dengan gagasan sendiri Tidak nyontek hasil karya orang lain Menjawab pertanyaan guru tentang sesuatu berdasarkan apa yang diketahuinya Mampu melakukan tugas tanpa bantuan orang lain Mampu mencari sumber belajar di perpustakaan sendiri Mampu mengerjakan ujian sendiri Membuat suatu karya tulis/seni dari bahan tersedia Membuat berbagai kalimat baru dengan katakata sendiri Mengusulkan suatu kegiatan baru di kelas Mampu melaksanakan tugas yang menjadi kewajibannya Mengerjakan semua tugas dengan sungguhsungguh Mampu mengkoordinir teman-teman dalam kelompok Mampu menerima kritik dari teman Mampu menerima saran dari teman Mencari informasi dari sumber di luar buku pelajaran Menggunakan sebagian besar waktu di kelas

Disiplin

Jujur

Mandiri

Kreatif

Tanggung Jawab

Kepemimpinan

Kerja keras

39

untuk belajar maupun di luar kelas Rasa ingin tahu Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran Bertanya tentang sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran tetapi di luar yang dibahas di kelas Mendengarkan pendapat orang lain secara aktif Memberikan pendapat dalam kerja kelompok di kelas

Komunikatif:

3. SMP/MTs/SMPLB/Paket B Sekolah menengah pertama adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SD atau MI. Menurut Piaget, anak SMP masuk dalam tahapan operasional formal (11 – dewasa). Anak yang termasuk dalam tahapan operasional formal, menurut piaget memiliki ciri-ciri: • Kemampuan berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. • Memahami hal-hal seperti bukti logis, dan nilai. • Tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. • Penalaran moral, dan perkembangan sosial. Untuk satuan SMP. a. Fungsi Pendidikan Menengah Pertama 1) mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan kepribadian luhur yang telah dikenalinya; merancang nilai-nilai kewirausahaan yang bisa diintegrasikan di tingkat pendidikan SMP, di samping disesuaikan dengan karakteristik

perkembangan anak juga disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari pendidikan di

40

2) mengembangkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air yang telah dikenalinya; 3) mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi; 4) melatih dan mengembangkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekspresikan keindahan, kehalusan, dan harmoni; 5) mengembangkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga, baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi, dan mengembangkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat. b. Tujuan Pendidikan Menengah Pertama: Pendidikan menengah pertama bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur; 2) berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif; 3) sehat, mandiri, dan percaya diri; dan 4) toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan, fungsi dan ciri-ciri perkembangan siswa SMP, dapat disusun rancangan nilai-nilai kewirausahaan yang dapat diintegrasikan dan kompetensi kewirausahaan pada pendidikan anak SMP. Tabel 8: Nilai-nilai Kewirausahaan Yang Dapat Diintegrasikan dan Kompetensi Kewirausahaan
NILAI-NILAI, KONSEP DAN SKILL KEWIRAUSAHAAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN

A. NILAI-NILAI Percaya diri Jujur

Berani persentasi di dalam kelas Berani memberi tanggapan dalam diskusi kelas Tidak nyontek dalam mengerjakan ulangan/ujian Mengemukakan rasa senang/tidak senang terhadap pelajaran Menyatakan sikap terhadap suatu materi diskusi kelas Mengembalikan barang yang dipinjam atau

41

ditemukan di tempat umum Disiplin Tertib dalam melaksanakan tugas-tugas sekolah Patuh dalam menjalankan organisasi sekolah Masuk kelas tepat waktu Mengerjakan tugas secara kelompok Mau berbagi dengan sesama teman Mengajukan pendapat yang berkenaan dengan suatu pokok bahasan Mengemukakan gagasan baru Mendiskripsikan konsep dengan kata-kata sendiri Menyukai tugas yang menantang Berani menerima akibat dari perbutannya sendiri Terbuka terhadap saran dan kritik Bertingkah laku sebagai pemimpin di dalam kelompok Membagi tugas dalam kelompok Role model Berfikir rasional Konsisten antara berpikir dan bertindak Berpikir solutif Mengerjakan semua tugas kelas selesai dengan baik pada waktu yang telah ditetapkan Tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan dalam belajar Selalu fokus pada pelajaran Melakukan sendiri tugas kelas yang jadi tanggung jawabnya Tidak tergantung pada orang lain Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran Bertanya kepada sesuatu tentang gejala alam yang baru terjadi Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran Membaca atau mendiskusikan gejala alam yang baru terjadi Mengerjakan tugas dari guru dengan sebaikbaiknya Berlatih keras untuk berprestasi dalam olahraga Kerja sama Kreatif Berani menanggung resiko Kepemimpinan Realistis Kerja keras Mandiri Rasa ingin tahu Menghargai akan prestasi 42 .

MTs. anak SMA/MA/SMALB masuk dalam tahapan operasional formal (11– dewasa). Sekolah Menengah Kejuruan. Menurut Piaget. menurut piaget memiliki ciri-ciri: 43 . dan personalia sekolah lainnya Menyampaikan pesan dengan berbagai media Melaksanakan tugas-tugas individu Menjalankan tugas kelompok Mematuhi kesepakatan dengan orang lain Mematuhi kesepakatan terhadap dirinya sendiri Tidak mudah menyerah dalam mengerjakan tugas Melakukan berbagai alternatif cara dalam mengerjakan tugas Memahami konsep-konsep dasar kewirausahaan Mampu mengidentifikasi peluang usaha Mampu mengalisis secara sederhana peluang beserta risikonya Mampu merumuskan dan merancang usaha bisnis (sederhana) Mampu membuka usaha baru secara berkelompok (sekedar latihan) Tanggung jawab Komitmen Ulet B. atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama/setara SMP atau MTs. dan Madrasah Aliyah Kejuruan atau bentuk lain yang sederajat.SMA/MA/SMALB/Paket C Pendidikan menengah adalah jenjang pendidikan pada jalur pedidikan formal yang merupakan lanjutan pendidikan dasar. kepala sekolah.dan kesenian Menghargai hasil karya sendiri dan orang lain Komunikatif Mendengarkan secara aktif Berbicara dengan teman sekelas Berbicara dengan guru . Madrasah Aliyah.KONSEP C. Sekolah menengah atas adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP. Anak yang termasuk dalam tahapan pra – operasional konkrit. berbentuk Sekolah Menengah Atas. SKILL 4.

menghayati. dan berkepribadian luhur. dan kepribadian luhur. peka sosial. 2) Meningkatkan. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan nilai. dan percaya diri. dan bertanggung jawab merancang nilai-nilai kewirausahaan yang bisa diintegrasikan di tingkat pendidikan SMA. Untuk satuan SMA. Tujuan Pendidikan Menengah Atas: Pendidikan menengah atas bertujuan untuk membentuk peserta didik menjadi insan yang: 1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 3) Mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. 5) Menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. • Penalaran moral. dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. kreatif. 3) Sehat. • Memahami hal-hal seperti bukti logis. mandiri. menghayati. dan 4) Toleran. menalar secara logis. dan inovatif. akhlak mulia. • Tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih. a. 6) Meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dan/atau untuk hidup mandiri di masyarakat b. dan perkembangan sosial.• Kemampuan berpikir secara abstrak. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cint atanah air. berakhlak mulia. dan harmoni. 2) Berilmu. 4) Meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekpresikan keindahan. demokratis. Fungsi Pendiikan Menengah Atas 1) Meningkatkan. kritis. namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. cakap. disamping disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak juga disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari Pendidikan di 44 . kehalusan.

dapat disusun rancangan nilai-nilai kewirausahaan yang bias diintegrasikan dan kompetensi kewirausahaan pada pendidikan anak SMA.Berdasarkan tujuan. Tabel 9: Nilai-nilai Kewirausahaan Yang Bisa Diintegrasikan dan Kompetensi Kewirausahaan NILAI-NILAI. KONSEP DAN SKILL KEWIRAUSAHAAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN A. fungsi dan ciri-ciri perkembangan siswa SMA. NILAI-NILAI Percaya diri Jujur Berani persentasi di dalam kelas Berani memberi tanggapan dalam diskusi kelas Tidak nyontek dalam mengerjakan ulangan/ujian Mengemukakan rasa senang/tidak senang terhadap pelajaran Menyatakan sikap terhadap suatu materi diskusi kelas Mengembalikan barang yang dipinjam atau ditemukan di tempat umum Tertib dalam melaksanakan tugas-tugas sekolah Patuh dalam menjalankan organisasi sekolah Masuk kelas tepat waktu Mengerjakan tugas secara kelompok Mau berbagi dengan sesama teman Mengajukan pendapat yang berkenaan dengan suatu pokok bahasan Mengemukakan gagasan baru Mendiskripsikan konsep dengan kata-kata sendiri Menyukai tugas yang menantang Berani menerima akibat dari perbutannya sendiri Terbuka terhadap saran dan kritik Bertingkah laku sebagai pemimpin di dalam kelompok Membagi tugas dalam kelompok Role model Berfikir rasional Konsisten antara berpikir dan bertindak Berpikir solutif Disiplin Kerja sama Kreatif Berani menanggung resiko Kepemimpinan Realistis 45 .

kepala sekolah. dan personalia sekolah lainnya Menyampaikan pesan dengan berbagai media Melaksanakan tugas-tugas individu Menjalankan tugas kelompok Mematuhi kesepakatan dengan orang lain Mematuhi kesepakatan terhadap dirinya sendiri Tidak mudah menyerah dalam mengerjakan tugas Melakukan berbagai alternatif cara dalam mengerjakan tugas Memahami konsep-konsep kewirausahaan Mampu mengidentifikasi peluang usaha Mampu mengalisis peluang beserta risikonya Mampu merumuskan dan merancang usaha bisnis Mampu membuka usaha baru secara berkelompok dan atau individu (profit) Mandiri Rasa ingin tahu Menghargai akan prestasi Komunikatif Tanggung jawab Komitmen Ulet B.KONSEP C.Kerja keras Mengerjakan semua tugas kelas selesai dengan baik pada waktu yang telah ditetapkan Tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan dalam belajar Selalu fokus pada pelajaran Melakukan sendiri tugas kelas yang jadi tanggungjawabnya Tidak tergantung pada orang lain Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran Bertanya kepada sesuatu tentang gejala alam yang baru terjadi Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran Membaca atau mendiskusikan gejala alam yang baru terjadi Mengerjakan tugas dari guru dengan sebaikbaiknya Berlatih keras untuk berprestasi dalam olahraga dan kesenian Menghargai hasil karya sendiri dan orang lain Mendengarkan secara aktif Berbicara dengan teman sekelas Berbicara dengan guru . SKILL 46 .

Untuk satuan merancang nilai-nilai kewirausahaan yang bisa diintegrasikan di tingkat pendidikan menengah kejuruan disamping disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak juga disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari Pendidikan di SMK. 3) membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. anak SMK/MAK masuk dalam tahapan operasional formal (11 – dewasa). • Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih. akhlak mulia. kehalusan. baik untuk kesehatan dan kebugaran jasmani maupun prestasi. Menurut Piaget. Fungsi Pendidikan Menengah Kejuruan 1) meningkatkan. dan keribadian luhur. dan meningkatkan kesiapan fisik dan mental untuk hidup mandiri di masyarakat dan/atau 6) melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. menghayati. SMK/MAK/Paket C Sekolah menengah kejuruan adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari SMP/MTs. 2) meningkatkan. • Penalaran moral. namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. atau bentuk lain yang sederajat atau lanjutan dari hasil belajar yang diakui sama atau setara SMP atau MTs. dan mengamalkan nilai-nilai keimanan. dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. 47 . menalar secara logis. • Memahami hal-hal seperti bukti logis. dan perkembangan sosial. 4) meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengapresiasi serta mengekpresikan keindahan. dan nilai. 5) menyalurkan bakat dan kemampuan di bidang olahraga. Anak yang termasuk dalam tahapan pra–operasional konkrit. menghayati. dan harmoni. dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. menurut Piaget memiliki ciri-ciri: • Kemampuan berpikir secara abstrak.5. a.

dan percaya diri. dan berkepribadian luhur. Tujuan Pendidikan menengah kejuruan Tujuan pendidikan Menengah kejuruan adalah untuk membentuk peserta didik menjadi insan yang: 1) Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan bertanggung jawab Berdasarkan tujuan. 2) Berilmu. kritis. 3) Sehat.b. demokratis. dapat disusun rancangan nilai-nilai kewirausahaan yang bias diintegrasikan dan kompetensi kewirausahaan pada pendidikan anak SMK. kreatif. Tabel 10: Nilai-nilai Kewirausahaan Yang Bisa Diintegrasikan dan Kompetensi Kewirausahaan NILAI-NILAI. KONSEP DAN SKILL KEWIRAUSAHAAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN A. cakap. peka sosial. NILAI-NILAI Percaya diri Jujur Berani persentasi di dalam kelas Berani memberi tanggapan dalam diskusi kelas Tidak nyontek dalam mengerjakan ulangan/ujian Mengemukakan rasa senang/tidak senang terhadap pelajaran Menyatakan sikap terhadap suatu materi diskusi kelas Mengembalikan barang yang dipinjam atau ditemukan di tempat umum Tertib dalam melaksanakan tugas-tugas sekolah Patuh dalam menjalankan organisasi sekolah Masuk kelas tepat waktu Mengerjakan tugas secara kelompok Mau berbagi dengan sesama teman Mengajukan pendapat yang berkenaan dengan suatu pokok bahasan Mengemukakan gagasan baru Mendiskripsikan konsep dengan kata-kata sendiri Disiplin Kerja sama Kreatif 48 . dan 4) Toleran. berakhlak mulia. fungsi dan ciri-ciri perkembangan siswa SMK. dan inovatif. mandiri.

kepala sekolah.Berani menanggung resiko Kepemimpinan Menyukai tugas yang menantang Berani menerima akibat dari perbutannya sendiri Terbuka terhadap saran dan kritik Bertingkah laku sebagai pemimpin di dalam kelompok Membagi tugas dalam kelompok Role model Berfikir rasional Konsisten antara berpikir dan bertindak Berpikir solutif Mengerjakan semua tugas kelas selesai dengan baik pada waktu yang telah ditetapkan Tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan dalam belajar Selalu fokus pada pelajaran Melakukan sendiri tugas kelas yang jadi tanggungjawabnya Tidak tergantung pada orang lain Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pelajaran Bertanya kepada sesuatu tentang gejala alam yang baru terjadi Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran Membaca atau mendiskusikan gejala alam yang baru terjadi Mengerjakan tugas dari guru dengan sebaikbaiknya Berlatih keras untuk berprestasi dalam olahraga dan kesenian Menghargai hasil karya sendiri dan orang lain Mendengarkan secara aktif Berbicara dengan teman sekelas Berbicara dengan guru . dan personalia sekolah lainnya Menyampaikan pesan dengan berbagai media Melaksanakan tugas-tugas individu Menjalankan tugas kelompok Mematuhi kesepakatan dengan orang lain Mematuhi kesepakatan terhadap dirinya sendiri Realistis Kerja keras Mandiri Rasa ingin tahu Menghargai akan prestasi Komunikatif Tanggung jawab Komitmen 49 .

b. Prinsip Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan Berikut prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan: a. 50 . metode. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. PKn.KONSEP C. guru tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada tetapi menggunakan materi pokok bahasan itu untuk mengembangkan nilai-nilai kewirausahaan. atau pun fakta seperti dalam mata pelajaran agama. Demikian juga. d. Nilai kewirausahaan diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran. dan sebagainya. bahasa Indonesia.Ulet Tidak mudah menyerah dalam mengerjakan tugas Melakukan berbagai alternatif cara dalam mengerjakan tugas Memahami konsep-konsep kewirausahaan Mampu mengidentifikasi peluang usaha Mampu mengalisis peluang beserta risikonya Mampu merumuskan dan merancang usaha bisnis Mampu membuka usaha baru secara individu (profit) B. nilai-nilai tersebut tidak dijadikan pokok bahasan yang dikemukakan seperti halnya ketika mengajarkan suatu konsep. maupun penilaian. IPS. Artinya. Pengintegrasian ke dalam mata pelajaran bisa melalui materi. guru tidak harus mengembangkan proses belajar khusus untuk mengembangkan nilai. Materi nilai-nilai kewirausahaan bukanlah bahan ajar biasa. c. Prinsip ini menyatakan bahwa proses pendidikan nilai-nilai kewirausahaan dilakukan oleh peserta didik bukan oleh guru. SKILL D. prosedur. Proses pengembangan nilai-nilai kewirausahaan merupakan sebuah proses panjang dan berkelanjutan dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. IPA. Dalam proses pembelajaran dilakukan dalam suasana belajar yang menimbulkan rasa senang. teori. Digunakan metode pembelajaran aktif dan menyenangkan.

Dalam hal ini. Pendidikan kewirausahaan terintegrasi di dalam seluruh mata pelajaran dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kewirausahaan ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran. Langkah pengintegrasian ini bisa dilakukan pada saat menyampaikan materi. akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. penanaman nilai menjadi sangat berat. penghayatan nilai secara afektif. sebagai insan yang memiliki karakter/jiwa. juga dirancang untuk menjadikan peserta didik memiliki karakter wirausaha. baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. melalui metode pembelajaran maupun melalui sistem penilaian.E. Apabila semua nilai tersebut harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada semua mata pelajaran. pendidikan kewirausahaan dapat diimplementasikan secara terpadu dengan kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dilakukan oleh kepala sekolah. Dalam pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan ada banyak nilai yang perlu ditanamkan pada siswa/peserta didik. pemahaman dan ketrampilan sebagai wirausahawan. Pada dasarnya. program pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat diinternalisasikan melalui: 1. Hal ini dimulai dengan pengenalan nilai secara kognitif. Rancangan Pengintegrasi Pendidikan Kewirausahaan Di dalam setiap Satuan pendidikan Pendidikan kewirausahaan bertujuan untuk membentuk manusia secara utuh (holistik). siswa secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidikan. selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan. guru. Pendidikan kewirausahaan diterapkan ke dalam kurikulum dengan cara mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan kewirausahaan dan direalisasikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran. tenaga kependidikan (konselor). Terintegrasi Dalam Seluruh Mata Pelajaran Langkah ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan ciri-ciri wirausaha ke dalam pembelajaran di seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah. memahami konsep kewirausahaan dan berperilaku sebagai wirausaha. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai 51 .

Oleh karena itu guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan kewirausahaan ke dalam KTSP. dan bahan ajar dirancang agar muatan maupun kegiatan pembelajarannya memfasilitasi/berwawasan pendidikan kewirausahaan. dan RPP yang berwawasan pendidikan kewirausahaan adalah dengan mengadaptasi silabus.pokok sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya. dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Selanjutnya nilainilai pokok tersebut diintegrasikan pada mata pelajaran-mata pelajaran yang paling cocok. Pada tahap perencanaan ini silabus. bersikap. Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan kewirausahaan mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai kewirausahaan sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan. dan diinternalisasinya nilainilai. Dengan kata lain. menentukan pendirian. Pengembangan nilai-nilai tersebut dalam silabus ditempuh melalui cara-cara berikut ini: 52 . Pengembangan nilai-nilai kewirausahaan dilalukan dengan cara mengintegrasikan pada berbagai mata pelajaran yang telah ditetapkan dalam standar Isi (SI). Integrasi pendidikan kewirausahaan secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan. disadarinya pentingnya nilai-nilai. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai pokok tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. dan berbuat. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP. menilai pilihan. Dengan prinsip ini peserta didik belajar melalui proses berpikir. Pengembangan nilai-nilai pendidikan kewirausahaan diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata pelajaran. dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. dan RPP yang telah dibuat/ada dengan menambahkan/mengadaptasi kegiatan pembelajaran yang bersifat memfasilitasi dikenalnya nilai-nilai. Nilai-nilai pokok kewirausahaan yang diintegrasikan ke semua mata pelajaran nampak pada tabel 1 di bab I. pelaksanaan. RPP. tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai pokok saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. silabus dan RPP yang sudah ada. Cara menyusun silabus. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan yang terkait dengan nilainilai kewirausahaan.

Beberapa kegiatan ekstra kurikuler yang bisa diberi muatan pendidikan kewirausahaan antara lain: a. Pendidikan Kewirausahaan Melalui Pengembangan Diri Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Olah raga. Seni Budaya. e. b. Pendidikan Kewirausahaan Yang Terpadu Dalam Kegiatan Ekstra Kurikuler Kegiatan Ekstra Kurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan. memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai mau pun untuk menunjukkannya dalam perilaku. Misi ekstra kurikuler adalah (1) menyediakan sejumlah kegiatan yang dapat dipilih oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan.a. dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah. serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri. potensi. 2. c. Visi kegiatan ekstra kurikuler adalah berkembangnya potensi. (2) menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta didik mengespresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan atau kelompok. mengembangkan proses pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai d. mencantumkan nilai-nilai yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP c. Pameran. dan minat mereka. bakat. keluarga dan masyarakat. Kepramukaan. bakat. Kegiatan 53 . potensi. mengkaji SK dan KD untuk menentukan apakah nilai-nilai kewirausahaan yang tercantum di atas sudah tercakup didalamnya b. bakat dan minat secara optimal. dsb 3. d.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan terprogram direncanakan secara khusus dan diikuti oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadinya. serta kegiatan ekstra kurikuler. Pengembangan diri meliputi kegiatan terprogram dan tidak terprogram. pembelajaran kewirausahaan diarahkan pada pencapaian tiga kompetansi yang meliputi penanaman jiwa wirausaha. Perubahan Pelaksanaan Pembelajaran Kewirausahaan Dari konsep/Teori Ke Pembelajaran Praktik Berwirausaha Dengan cara ini. untuk satuan pendidikan kejuruan. Untuk satuan pendidikan khusus. 54 . perencanaan dan pelaksanaan pendidikan kewirausahaan dapat dilakukan melalui pengintegrasian dll) 4. pelayanan konseling menekankan peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik. minat. Pengembangan diri secara khusus bertujuan menunjang pendidikan peserta didik dalam mengembangkan: bakat. kreativitas. Dalam program pengembangan diri. khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir. minat. kemampuan belajar. karya siswa. kemampuan sosial.pengembangan diri merupakan upaya pembentukan karakter termasuk karakter wirausaha dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial. kemampuan kehidupan keagamaan. dengan bobot yang lebih besar pada pencapaian kompetensi jiwa dan skill dibandingkan dengan pemahaman konsep. dan kebiasaan dalam kehidupan. kegiatan pengembangan diri. Kegiatan tidak terprogram dilaksanakan secara langsung oleh pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/madrasah yang diikuti oleh semua peserta didik. dan pengembangan karir. wawasan dan perencanaan karir. bakat. kedalam kegiatan sehari-hari sekolah misalnya kegiatan ‘business day’ (bazar. pemahaman konsep dan skill. kompetensi. dan kemandirian. dengan memperhatikan kondisi sekolah/madrasah. Di samping itu. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan pengembangan kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. kondisi dan perkembangan peserta didik. kemampuan pemecahan masalah. Dalam struktur kurikulum SMA. kegiatan belajar. potensi.

Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan Ke Dalam Bahan/Buku Ajar Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. pegawai administrasi dengan sesamanya.pada mata pelajaran ekonomi ada beberapa Kompetensi Dasar yang terkait langsung dengan pengembangan pendidikan kewirausahaan. tugas maupun evaluasi. 55 . Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar. Sedangkan di SMK ada tiga mata pelajaran yang terkait langsung dengan pendidikan kewirausahaan yaitu mata pelajaran Ekonomi. pelaksanaan. 6. dan antar anggota kelompok masyarakat sekolah. tanpa melakukan adaptasi yang berarti. tenaga administrasi ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan mengunakan fasilitas sekolah. tanggung jawab. seperti kejujuran. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan Melalui Kutur Sekolah Budaya/kultur sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya. komitmen dan budaya berwirausaha di lingkungan sekolah (seluruh warga sekolah melakukan aktivitas berwirausaha di lngkungan sekolah). Pengembangan nilai-nilai dalam pendidikan kewirausahaan dalam budaya sekolah mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah. dan penilaian. 5. konselor dengan sesamanya. guru. Penginternalisasi nilai-nilai kewirausahaan dapat dilakukan ke dalam bahan ajar baik dalam pemaparan materi. guru dengan guru. dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung (eksplisit) mengenalkan nilai-nilai kewirausahaan. integrasi pendidikan kewirausahaan pada mata-mata pelajaran selain ekonomi dan kewirausahaan yang dimaksud lebih pada internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan. konselor. Pada kajian ini. IPS dan Kewirausahaan. disiplin.

7. maka penilaiannya dapat terintegrasi pada semua mata pelajaran. aspek afektif dan keterampilan mengorganisir. sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Contoh anak yang berada di lingkungan sekitar pantai. yang kemudian diharapkan anak mampu menjual dalang rangka untuk memperoleh pendapatan. • Sedangkan di tingkat SMK/Paket C. nilai-nilai luhur budaya setempat dan mengangkat permasalahan sosial dan lingkungan yang pada akhirnya mampu membekali siswa dengan keterampilan dasar sebagai bekal dalam kehidupan (life skill). Penilaian Pendidikan Kewirausahaan Rancangan penilaian kemampuan peserta didik dalam pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan adalah sebagai berikut: • Di tingkat PAUD dan SD/MI/SDLB/Paket A diintegrasikan dalam mata pelajaranmata pelajaran yang ada. harus bisa menangkap potensi lokal sebagai peluang untuk mengelola menjadi produk yang memiliki nilai tambah. maupun dalam muatan lokal/ekstrakurikuler. ada beberapa model pendidikan kewirusahaan. keterampilan. 56 . Oleh karena itu mata pelajaran muatan lokal harus memuat karakteristik budaya lokal. serta melekat pada mata pelajaran. Pengintegrasian Pendidikan Kewirausahaan melalui Muatan Lokal Mata pelajaran ini memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. muatan lokal/ekstrakurikuler. F. • Di tingkat SMP/MTs/SMPLB/Paket B dan SMA/MA/SMALB bisa diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran atau terwujud dalam kegiatan life skills. Penilaian pendidikan kewirausahaan didasarkan pada rubrik-rubrik yang mencakup aspek pemahaman (kognitif). terwujud dalam kegiatan life skills.

dan karakter bangsa yang kuat. relevan. 2) menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja. Butir-butir kebijakan nasional dalam bidang pendidikan yang terdapat dalam dokumen RPJMN 2010 . kemandirian. Prioritas 2: Bidang Pendidikan menyatakan bahwa peningkatan Akses pendidikan yang berkualitas. 57 . jumlah entrepreneurnya baru 400. dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab keutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah dengan memasukan pendidikan kewirausahaan (diantaranya dengan mengembangkan model (link and match). dan PNF. perlu segera dilaksanakan mengingat suatu bangsa akan maju apabila jumlah entrepreneurnya paling sedikit 2% dari jumlah penduduk. pelaksanan pendidikan kewirausahaan mulai dari PAUD. Data tahun 2007. Kesimpulan Pendidikan kewirausahan di setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. Berarti jumlah entrepreneur di Indonesia kekurangan sebesar 4 Juta orang. yang seharusnya sebesar 4.2014.18%). SMA/MA/SMK/SMALB. keluhuran budi pekerti. SD/MI/SDLB.BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. SMP/MTs/SMPLB. SMP/MTs/SMPLB. SMA/MA/SMK/SMALB. Dengan demikian pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan: 1) menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan. yang telah menetapkan sebanyak 6 substansi inti program aksi bidang pendidikan sebagaimana yang disajikan dalam cuplikan dokumen Ilustrasi 1: Substansi Inti Program Aksi Bidang Pendidikan RPJMN Tahun 2010 – 2014.000 orang (0. terjangkau. Untuk itu. merupakan suatu hal yang tidak bertentangan dengan: 1. Disamping itu. SD/MI/SDLB.000 orang.400. daerah. dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat. substansi inti program aksi bidang kependidikan yang terkait dengan pendidikan kewirausahaan adalah penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional. jumlah penduduk Indonesia kurang lebih sebesar 220 juta. dan PNF.

SMP/MTs/SMPLB.) 2. 58 . SD/MI/SDLB. SMA/MA/SMK/SMALB. Berdasarakan hal tersebut di atas. sehat. berakhlak mulia. dan Pendidikan Non Formal (PNF). 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3. Undang-Undang No. menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. SMP/MTs/SMPLB. SMA/MA/SMK/SMALB. Pemetaan SKL dan SI (SK dan KD) yang bisa diintegrasikan dengan nilai-nilai kewirausahaan di setiap satuan pendidikan Pemetaan nilai-nilai kewirausahaan yang akan diintegrasikan serta kompetensi kewirausahaan di setiap mapel jenjang satuan pendidikan Rancangan pengintegrasian pendidikan kewirausahaan di setiap mapel jenjang satuan pendidikan Penyusunan panduan/pedoman pengintegrasian nilai-nilai kewirausahaan di setiap mapel jenjang satuan pendidikan Pelatihan kewirausahaan untuk guru dan staf Uji coba pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan 2012 2013 2014 Jangka Panjang (2015 . B. cakap. perlu disusun Naskah akademik pendidikan kewirausahaan sebagai pedoman dalam penyusunan panduan pengintegrasian pendidikan kewirausahaan pada satuan pendidikan mulai dari PAUD. dalam jangka pendek maupun jangka panjang perlu dilakukan kegiatan seperti dalam tabel berikut: No KEGIATAN Jangka Pendek 2011 1. berilmu. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. mandiri.2. Rekomendasi Berdasarkan naskah akademik pendidikan kewirausahan di setiap satuan pendidikan mulai dari PAUD. PNF. kreatif. 3. 4 5. SD/MI/SDLB.

10 11 Implementasi pendidikan kewirausahaan di setiap satuan pendidikan Penyusunan panduan pengembangan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang berwawasan kewirausahaan. Kewirausahaan).6. 59 . Pendirian business center di setiap satuan pendidikan (sekaligus sebagai lab. 8. 7. Pendirian kantin kejujuran di setiap satuan pendidikan yang dikelola oleh siswa Penetapan hari bisnis setiap minggu sekali.

(1995) Life – Span Development. Gede Raka “Beberapa Pandangan Mengenai Kewirausahaan di Perguruan YOGYAKARTA pada tanggal 17 dan 19 Juli 1999. Center for Indonesian Civic Education Gagne.J. New York: Holt. John W. Bandung. A System for Teaching Business Education. Inovasi dan Kewiraswastaan :Praktek dan Dasar-Dasar (terjemahan). Sanjaya. Developing and Documneting The Curricullum. Kewirausahaan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Peter F. Degeng. Kasmir. 1987. Tinggi. Santrock. (2009).Principles of Instructional Design . Drucker. 1996. Malang: LP3. New York: Prentice Hall. Scharg. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Makalah. Rinehart and Winston. 2001. Jakarta : Erlangga. Bandung: Penerbit ALFABETA Aunurrahman. I N. Peter G. & Lorna KS Chan. Poland. Adele F dan Robert P. Menuju Pribadi Unggul Melalui Perbaikan Proses Pembelajaran. Benjamin S (1776). R. Wina. Strategi pembelajaran Berorientasi pada Standar Proses Pendidikan. Buchari. UM. and Briggs. (1974).Inc Cole.DAFTAR PUSTAKA Alma. (2009). Kumpulan Bahan Pembelajaran. Instructional Strategy of Civic Education at Certain School Level.. Teaching Principle and Practice. Kewirausahaan. L. Disampaikan dalam Semiloka Wawasan Entrepreneurship IKIP 60 .(1994). New York: McGraw-Hill.M. S. Bostom: Allyn and Bacon Bloom.(2009). Perkembangan Masa Hidup. (2006). New York : McGraw-Hill Book Company. Human Charcteristics and School learning/. Engkoswara. (1999).

Suyanto. Jeffry & Stephen Spinelli. 61 . “Implementasi Wawasan Entrepreneurship dalam Perguruan Tinggi”. Makalah. “Implementasi Wawasan Entrepreneurship dalam Kegiatan Pembelajaran di Perguruan Tinggi”. New Venture Creation. Suprodjo Pusposutardjo “Pengembangan Budaya Kewirausahaan Melalui Matakuliah Keahlian”. Makalah. Makalah. Disampaikan dalam Semiloka Wawasan Entrepreneurship IKIP YOGYAKARTA pada tanggal 17 dan 19 Juli 1999. Disampaikan dalam Penelitian di Wawasan Semiloka Entrepreneurship IKIP YOGYAKARTA pada tanggal 17 dan 19 Juli 1999. Timmon.Sahid Susanto. Enterpreneurship for the 21st Century. Inc. Disampaikan dalam Semiloka Wawasan Entrepreneurship IKIP YOGYAKARTA pada tanggal 17 dan 19 Juli 1999. New York:Mgraw-Hill.(2007).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful