Pemeriksaan Hapusan Darah Tepi I Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu, 09 Februari 2011 : Pk. 10.

00 wita : Lab. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. A.A.N. Santa

I.

Tujuan : Untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terjadi pada eritrosit

II.

Metode

: secara

Metode yang digunakan dalam pemeriksaan adalah sediaan darah tepi mikroskopis

III.

Prinsip

:

Preparat dilatakkan di atas mikroskop, diperiksa dengan menggunkan pembesaran 10 x kemudian 100 x

IV.

Dasar Teori

:

Darah terdiri dari sel dan cairan yang disebut plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit (sel pembeku darah). Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui kelainan dari kuantitas dan kualitas sel darah dan menguji perubahan yang terjadi pada plasma yang terutama berperan pada proses pembekuan darah. Pemeriksaan pada sel darah meliputi kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, hematokrit, nilai eritrosit rerata (MCV values), jumlah leukosit dan trombosit. Selain itu pemeriksaan hematologi meliputi pula hitung retikulosit, hitung eosinofil, aktifitas glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD), daya tahan eritrosit yang dikenal sebagai resistensi osmotik eritrosit, penetapan fraksi hemoglobin dalam eritrosit yang dikenal dengan analisa hemoglobin, pemeriksaan sel lupus erithematosus (LE) dan penetapan
1

golongan darah. Selain itu, pemeriksaan hematologi yang terpenting adalah pemeriksaan morfologi sel darah yang dilengkapi dengan hitung jenis leukosit Tujuan pemeriksaan hapusan darah tepi adalah menilai berbagai fungsi unsur sel darah tepi seperti RBC atau sel darah merah, WBC atau White Bllod Cell, dan platelet juga mencari adanya parasit seperti malaria, Trupanosoma, microfilaria dan lainnya. Hapusan darah tepi yang dibuat dan diwanai dengan baik merupakan syarat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik. Untuk menghitung jumlah leukosit dengan lensa objektif 10 x dan diamati per lapang pandang. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur dan penyimpanan dari keadaan basal. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi sekitar 10.000 – 30.000 / µL. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4.500-11.000 /µL. Bila jumlah leukosit lebih dari normalmaka keadaan tersebut adalah leukositosis. Dan bila jumlah leukosit kurang dari normal maka disebut leukopeni. Sel darah putih berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari system kekebalan tubuh. Untuk eritrosit atau sel darah merah dilakukan dengan pemeriksaan dengan lensa objektif 100 x dan diamati kesan warna, ukuran dan bentuk eritrosit. Sel darah merah adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringanjaringan tubuh kewat darah. Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf. Jumlah normal sel darah merah 4 juta-6 juta /mm3. Untuk pemeriksaan trombosit hanya diamati morfologi trombosit.

V.

Alat dan Bahan A. Alat B. Bahan Preparat Oil emersi Mikroskop

VI.

Cara Kerja
2

1. Alat dan bahan disiapkan 2. Preparat diletakkan di mikroskop 3. Dilihat dengan pembesaran 10 x, kemudian dengan menggunakan oil imersi dilihat dengan pembesaran 100 x 4. Dicatat hasil yang didapatkan

VII.

Hasil Pengamatan a. Preparat 9/019 Pengamatan morfologi : normokrom – mikrositer – poikilositosis

-

Fn 18 (Limfositosis ringan)

b. Preparat 584/6 Pengamatan morfologi: normokrom – mikrositer – poikilositosis Fn 18 (Limfositosis ringan)

c. Kelainan – kelainan sel darah merah yang ditemukan : Akantosit

Ciri-ciri : pinggiran tidak rata atau begerigi Hipokrom

3

Ciri-ciri : central palor lebih dari 2/3 permukaan sel darah merah Sferosit

Ciri – ciri : berbentuk bulat dan tanpa halo ditengahnya Eliptosit

Ciri – ciri : berbentuk elips Tear drop cell

Ciri – ciri : berbentuk seperti tetesan air Burr cell

Ciri – ciri : eritrosit dengan tonjolan sitoplasam yang teratur Target cell

Ciri – ciri : bentuknya mirip sasaran tembak

-

Skistosit
4

sferosit. Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak dua kali. microfilaria dan lainnya. Berdasarkan hasil pratikum diperoleh hasil pengamatan morfologi untuk preparat 9/019 ini adalah normokrom – mikrositer –poikilositosis. Pada praktikum ini dilakukan perhitungan kesan jumlah leukosit. burr cell. baik sebagian bentuk dari eritrosit normal atau bentuk yang berbeda – beda. WBC atau White Bllod Cell. ukuran dan bentuk eritrosit. Ditemukan juga beberapa kelainan pada sel darah merah yaitu : akantosit.000 (rata-rata 8000) sel darah putih/leukosit dalam keadaan normal. hipokrom. dan skistosit.950 keping/mm3.000 sampai 10. Untuk prearat yang kedua yaitu 584/6 morfologi sel darah merahnya adalah normokrom – mikrositer – poikilositosis. tear drop cell. Sedangkan poikilositosis merupaakn kondisi kelainan bentuk. target cell. Pada preparat 584/6 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 14. dan platelet juga mencari adanya parasit seperti malaria. eliptosit. Mikrositer berarti ukuran dari eritrosit tidak normal dimana ukuran eritrosit lebih kecil dari inti limfosit kecil. Untuk eritrosit atau sel darah merah dilakukan dengan pemeriksaan dengan lensa objektif 100 x dan diamati kesan warna. Metode yang digunakan adalah metode hapusan darah tepi kemudian dilakukan pengamatan secara mikroskopis. Kondisi ini bisa ditemukan pada berbagai kelainan karena tidak spesifik. Normokrom berarti warna dari eritrosit normal. Trupanosoma. Dalam kasus ini 5 . anemia karena defisiensi vitamin B12 atau asam folat. Pembahasan Pada pratikum kali ini dilakukan pemeriksaan pada preparat hapusan darah tepi. untuk preparat 9/019 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 16.Ciri – ciri : berbentuk tidak beraturan VIII. Tujuan pemeriksaan hapusan darah tepi adalah menilai berbagai fungsi unsur sel darah tepi seperti RBC atau sel darah merah. dan ukuran central palornya tidak melebihi sepertiga sel darah merah. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui jumlah normal leukosit. Setiap milimeter kubik darah terdapat 6. Hapusan darah tepi yang dibuat dan diwanai dengan baik merupakan syarat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik.100 keping/mm3. seperti pada thaalsemia.

html 6 . X. Berdasarkan hasil pratikum diperoleh hasil pengamatan morfologi untuk preparat 9/019 ini adalah normokrom – mikrositer –poikilositosis.wikipedia.org/wiki/2010/jenis_eritrosit. IX. Pada preparat 584/6 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 14.kedua preparat didiagnosis pasien mengalami limfositosis ringan karena jumlahnya meningkat.950 keping/mm3. Daftar Pustaka http://id. Dan jumlah leukosit pada preparat 9/019 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 16.100 keping/mm3. Untuk preparat yang kedua yaitu 584/6 morfologi sel darah merahnya adalah normokrom – mikrositer – poikilositosis. Kesimpulan Pada pratikum kali ini dilakukan pemeriksaan terhadap kelainan pada eritrosit. Dalam kasus ini kedua preparat didiagnosis pasien mengalami limfositosis ringan karena jumlahnya meningkat.

Metode : Metode yang dipakai yaitu pemeriksaan preparat HDT secara mikroskopis. Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui kelainan dari kuantitas dan kualitas sel darah dan menguji perubahan yang terjadi pada plasma yang terutama berperan pada proses pembekuan darah. III. jumlah leukosit dan trombosit. A. Dasar teori : Darah terdiri dari sel dan cairan yang disebut plasma. Pemeriksaan pada sel darah meliputi kadar hemoglobin. Santa I.Pemeriksaan Hapusan Darah Tepi II Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu.A. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. aktifitas glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD). dilanjutkan dengan pewarnaan dan dievaluasi dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x. daya tahan eritrosit yang dikenal sebagai resistensi osmotik eritrosit. warna dan ukuran eritrosit serta kelainannya pada hapusan darah tepi. nilai eritrosit rerata (MCV values). Selain itu pemeriksaan hematologi meliputi pula hitung retikulosit. 16 Februari 2011 : Pk. jumlah eritrosit. penetapan fraksi hemoglobin dalam eritrosit yang dikenal dengan analisa 7 . trombosit (sel pembeku darah).N. Prinsip : Setetes darah dipaparkan diatas object glass. Tujuan : untuk mengetahui bentuk. hitung eosinofil. IV.00 wita : Lab. 10. leukosit (sel darah putih). Sel darah terdiri dari eritrosit (sel darah merah). hematokrit. II.

Pada manusia. Untuk eritrosit atau sel darah merah dilakukan dengan pemeriksaan dengan lensa objektif 100 x dan diamati kesan warna. Trupanosoma. Jumlah normal sel darah merah 4 juta-6 juta /mm3. Alat : Mikroskop b.000 – 30. Dan bila jumlah leukosit kurang dari normal maka disebut leukopeni. Alat dan bahan a. WBC atau White Bllod Cell.500-11. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi sekitar 10. dan platelet juga mencari adanya parasit seperti malaria. V. Bila jumlah leukosit lebih dari normalmaka keadaan tersebut adalah leukositosis.000 /µL.hemoglobin. Sel darah merah adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringanjaringan tubuh kewat darah. Hapusan darah tepi yang dibuat dan diwanai dengan baik merupakan syarat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik. microfilaria dan lainnya. sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang. Bahan : Preparat HDT Oil imersi VI. lalu membentuk kepingan bikonkaf. Untuk pemeriksaan trombosit hanya diamati morfologi trombosit. ukuran dan bentuk eritrosit. Cara kerja 8 . Untuk menghitung jumlah leukosit dengan lensa objektif 10 x dan diamati per lapang pandang.000 / µL. pemeriksaan sel lupus erithematosus (LE) dan penetapan golongan darah. Sel darah putih berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari system kekebalan tubuh. pemeriksaan hematologi yang terpenting adalah pemeriksaan morfologi sel darah yang dilengkapi dengan hitung jenis leukosit Tujuan pemeriksaan hapusan darah tepi adalah menilai berbagai fungsi unsur sel darah tepi seperti RBC atau sel darah merah. Selain itu. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur dan penyimpanan dari keadaan basal.

Preparat HDT diletakkan dibawah mikroskop dan diatur. Hasil pengamatan 1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan. Dicatat dan digambar hasilnya. Diamati dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x. 4. Hipokrom 2. Sferosit 4. Target cell 3. VII.1. Makrositik 9 . 3. 2.

Gambaran sel darah merah yang hipokrom dapat ditemukan pada anemia kurang besi (defisiensi fe). Dari hasil pratikum diperoleh hasil pengamatan morfologi untuk preparat ini adalah hipokrom – makrositer –poikilositosis. atau anemia karena penyakit kronis. Hapusan darah tepi yang dibuat dan diwanai dengan baik merupakan syarat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik. Tujuan pemeriksaan hapusan darah tepi adalah untuk mengetahui bentuk. ukuran dan bentuk eritrosit. thalassemia. sickle cells anemia. Selain itu terdapat beberapa kelainan bentuk dari sel darah merah atau eritrosit. warna dan ukuran eritrosit serta kelainannya pada sel darah merah. Selain dari hapusan. Target cell atau sel target 10 . Akantosit VIII. Pembahasan Pada pratikum ini dilakukan pemeriksaan pada preparat hapusan darah tepi. dapat juga kita lihat dari hasil pemeriksaan darah MCH < 26 pg dan MCHC < < 32%.5. menilai berbagai fungsi unsur sel darah tepi seperti RBC atau sel darah merah. Untuk eritrosit atau sel darah merah dilakukan dengan pemeriksaan dengan lensa objektif 100 x dan diamati kesan warna. Hipokrom merupakan sel darah merah yang memiliki central palor lebih dari 1/3 volume sel darah merah.

dan bintik basofil. yang menjadi patokan adalah inti limfosit kecil.um.0 http://www.wikipedia. polikromasi. hipokrommikrositik.angelfire.id/index. atau anemia karena penyakit hati kronik. Dari data pemeriksaan darah ditemukan MCV > 94 fl. Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada preparat HDT tersebut ditemukan adanya kelainan sel dara merah berupa hipokrom. sferosit. target cell.org/wiki/seldarahmerah http://forum. Daftar pustaka http://id.php?topic=12330. Ukuran normal dari sel darah merah sam dengan ukuran inti limfosit kecil jadi makrositik merupakan ukuran sel darah merah yang melebihi ukuran inti limfosit kecil.merupakan bentukan sel darah merah yang mirip dengan sasaran tembak. Dapat ditemukan pada Thalassemia disertai gambaran aniso-poikilositosis. Makrositik Dapat ditemukan pada penyakit anemia megaloblastik karena kurang vit.com/moon/health 11 .B12 atau asam folat. makrosit dan akantosit. Makrositik adalah kelainan ukuran dari sel darah merah. Sferosit adalah kelainan warna dari sel darah merah karena sel darah merah tidak memiliki central palor.ac. Akantosit adalah kelainan bentuk dari eritrosit dimana tepian dari eritrosit tajam IX. anemia setelah perdarahan akut. X.

Central pallor terjadi karena bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga central pallor karena tipis dan kandungan hemoglobin lebih sedikit akan tercat lebih pucat.N. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. II. warna dan bnetuk eritrosit. salah satunya adalah eritrosit. Santa I. Eritrosit tidak memiliki nkleus sel dan tidak dianggap sel dari segi biologi. pengamatan morfologi eritrosit didasarkan atas ukuran. A.Pemeriksaan Morfologi Eritrosit pada Hapusan Darah Tepi III Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu. Bila central pallor 12 . IV. Prinsip Pemeriksaan morfologi diamati secara mmikroskopis pada lensa objektif 100. Dasar Teori Eritrosit merupakan komponen dalam darah. Dalam sediaan. Eritrosit normal berukuran sama dengan inti limfosit kecil. 10. dan lebih besar dinamakan makrosit. Tujuan Untuk mengetahui morfologi eritrosit dan kelainan – kelainan pada eritrosit. 23 Februari 2011 : Pk. Bila lebih kecil dinamakan mikrosit. Pengamatan warna eritrosit ditentukan dari diameter central pallor dibandingkan terhadap diameter eritrosit. Metode Metode yang digunakan adalah pemeriksaan mikroskopis pada sediaan kering hapusan darah tepi III. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. Pembuatan preparat sediaan apus darah adalah untuk menilai berbagai unsur sel darah tepi. Diamati bentuk. warna dan ukuran eritrosit.A. Pengamatan ukuran eritrosit dilihat dengan dibandingkan dengan ukuran inti limfosit kecil.00 wita : Lab.

VIII. Hasil Pengamatan 1. disetting mikroskop pada lensa objektif 10 dengan mencari lapang pandang 3. LP I . Preparat 2. selsabit. Alat 1. krenasi. skistosit. LP II. Cara Kerja 1. tear dropcell dan poikilositosis. ovalosit. ditemukan : Burr cell Eliptosit Akantosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – anisositosis 3. Mikroskop VI. Dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan 2. sferosit. ditemukan : Burr cell Akantosit Tear drop cell 13 . Diteteskan minyak imersi pada sediaan. Diletakkan sediaan pada mikroskop. ditemukan : Eliptosit Burr cell Tear drop cell Hipokrom Sferosit Disimpulkan : Hipokrom – normositer – poikilositosis 2. Bahan 1. Pengamatan bentuk eritrosit didasarkan atas bentuk dan dilihat kelainan bentuk eritrosit seperti. LP III. V. kemudian diamati pada lensa objektif 100. sel burr. Minyak imersi VII. akantosit. bila central pallor › 1/2 diameter eritrosit ini dinamakan hipokromik.≤ 1/3 diameter eritrosit ini dinamakan normokromik. sel target.

LP X.poikilositosis 10. ditemukan : Cigar cell Burr cell Akantosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 7. ditemukan : Burr cell Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 9. LP VI. ditemukan : Eliptosit Burr cell Akantosit 14 . LP VII. LP IX . ditemukan Burr cell Eliptosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 5. LP VIII. LP V. ditemukan : Burr cell Cigar cell Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 6. ditemukan : Burr cell Eliptosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 8. LP IV. ditemukan : Burr cell Akantosit Eliptosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer .- Eliptosit Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis 4.

Hipokrom 15 . Burr cell 2. Akantosit 5.- Disimpulkan : hipokrom – mikrositer – poikilositosis = Kesimpulan akhir pengamatan = Hipokrom – mikrositer – poikilositosis Gambar : 1. Tear drop cell 4. Eliptosit 3. Sferosit 6.

Dalam preparat yang diamati. sel burr. ukuran dan warna eritrosit. Pengamatan bentuk eritrosit didasarkan atas bentuk dan dilihat kelainan bentuk eritrosit seperti. Eritrosit normal berukuran sama dengan inti limfosit kecil. Kelainan bentuk yang ditemukan . Pembahasan Pengamatan morfologi eritrosit didasarkan atas ukuran. akantosit. merupakan eritrosit yang berbentuk lonjong 16 . tear dropcell dan poikilositosis. skistosit. Bila central pallor ≤ 1/3 diameter eritrosit ini dinamakan normokromik. sferosit. Dalam menyimpulkan morfologi eritrosit perlu diamati pada lebih dari 5 lapang pandang. Mikrosit IX. merupakan eritrosit yang kecil atau fragmentosit yang mempunyai duri satu atau lebih pada permukaan eritrosit Eliptosit. ovalosit. antara lain : Burr cell. Pengamatan warna eritrosit ditentukan dari diameter central pallor dibandingkan terhadap diameter eritrosit. Pengamatan ukuran eritrosit dilihat dengan dibandingkan dengan ukuran inti limfosit kecil. Bila lebih kecil dinamakan mikrosit. sel target. selsabit. Central pallor terjadi karena bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga central pallor karena tipis dan kandungan hemoglobin lebih sedikit akan tercat lebih pucat. bila central pallor › 1/2 diameter eritrosit ini dinamakan hipokromik.7. dan lebih besar dinamakan makrosit. hampir di setiap lapang pandang ditemukan berbagai macam bentuk. krenasi. warna dan bnetuk eritrosit. Pengamtan dilakukan pada lensa objektif 100.

merupakan eritrosit yang berbentuk seperti tetesan air Akantosit. Hipokrom memiliki ciri – ciri yaitu pucat berlebihan pada bagian tengah eritrosit.com// 17 . diamtai sebanyak 10 lapang pandang dan secara keseluruhan disimpulkan morfologi eritrositnya hipokrom – mikrositer – poikilositosis.- Sferosit. Kelainan ukuran berupa mikrositer biasanya dijumpai pada anemia hemolitik dananemia megaloblastik.Sp. Disimpulkan pada preparat yang diamati memiliki morfologi hipokrom – mikrositer – poikilositosis. lebih kecil dan lebih tebal dari eritrosit normal - Tear drop cell. Keadaan hipokrom biasanya dijumpai pada anemia defisiensi besi dan talasemia. Kesimpulan Pada pengamatan morfologi eritrosit pada preparat ini. atau anemia karena penyakit kronis. X. Didapat kelainan ukuran yaitu mikrositer. merupakan eritrosit dengan bentuk seperti cerutu Didapat kelainan warna yaitu hipokrom. merupakan eritrosit dengan bentuk lebih bulat . Disebabkan hemoglobinisasi yang tidak adekuat.PK http://drdjebrut. talasemia. Keadaan ini dapat ditemukan biasanya pada anemia defisiensi besi. XI.wordpress. Kadek Mulyantari. melebihi sepertiga diameternya. merupakan eritrosit dengan tonjolan sitoplasma runcing dan tidak teratur seperti duri - Cigar cell. Daftar Pustaka Materi Kuliah Hapusan Darah tepi oleh dr. Didapat hasil ini karena ukuran eritrosit yang lebih kecil dari ukuran inti limfosit kecil.

Sekitar sepertiga dari volume diisi oleh hemoglobin. Metode Metode yang digunakan adalah pengamatan mikroskopis pada hapusan darah tepi III. pengamatan morfologi eritrosit didasarkan atas ukuran. Santa I. Pengamatan ukuran eritrosit dilihat dengan dibandingkan dengan ukuran inti limfosit kecil. 10. IV. Diamati bentuk. Dalam sediaan. Central pallor terjadi karena bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga central pallor karena 18 . mewakili sekitar 65% kandungan besi di dalam tubuh manusia. Dasar Teori Kepingan eritrosit manusia memiliki diameter sekitar 6-8 μm dan ketebalan 2 μm. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. sedangkan sisanya terlarut dalam plasma darah. Bila lebih kecil dinamakan mikrosit.00 wita : Lab. dan lebih besar dinamakan makrosit. Prinsip Pemeriksaan morfologi diamati secara mikroskopis pada lensa objektif 100. lebih kecil daripada sel-sel lainnya yang terdapat pada tubuh manusia. Pada manusia.5 gram besi. dimana setiap molekul membawa 4 gugus heme.Pemeriksaan Morfologi Eritrosit (Talasemia) Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu. 02 Maret 2011 : Pk. warna dan bnetuk eritrosit. total dari 270 juta molekul hemoglobin.N. Pengamatan warna eritrosit ditentukan dari diameter central pallor dibandingkan terhadap diameter eritrosit. A. hemoglobin dalam sel darah merah mempunyai peran untuk mengantarkan lebih dari 98% oksigen ke seluruh tubuh. Eritrosit dalam tubuh manusia menyimpan sekitar 2. Tujuan Untuk mengetahui morfologi eritrosit pada kelainan talasemia II.A. warna dan ukuran eritrosit. Eritrosit normal berukuran sama dengan inti limfosit kecil.

sel burr. skistosit. kemudian diamati pada lensa objektif 100. selsabit. Cara Kerja 1. Mikroskop VI. Diletakkan sediaan pada mikroskop. Bila central pallor ≤ 1/3 diameter eritrosit ini dinamakan normokromik. Tear drop cell 19 . V.tipis dan kandungan hemoglobin lebih sedikit akan tercat lebih pucat. Hasil Pengamatan 1. Diteteskan minyak imersi pada sediaan. ovalosit. Dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan 2. Preparat 2. Pengamatan bentuk eritrosit didasarkan atas bentuk dan dilihat kelainan bentuk eritrosit seperti. VIII. Minyak imersi VII. Alat 1. Bahan 1. bila central pallor › 1/2 diameter eritrosit ini dinamakan hipokromik. sel target. tear dropcell dan poikilositosis. krenasi. sferosit. Eliptosit 2. disetting mikroskop pada lensa objektif 10 dengan mencari lapang pandang 3. akantosit.

sferosit. 20 .3. Keadaan ini biasanya ditemukan dalam penyakit talasemia. Metamielosit IX. selsabit. Pembahasan Dalam sediaan. ` Dalam pengamatan didapat kelainan eritrosit seperti tear drop cell. basofilik normoblast dan metamielosit. Pengamatan bentuk eritrosit didasarkan atas bentuk dan dilihat kelainan bentuk eritrosit seperti. Pengamatan ukuran eritrosit dilihat dengan dibandingkan dengan ukuran inti limfosit kecil. dan lebih besar dinamakan makrosit. Eritrosit normal berukuran sama dengan inti limfosit kecil. Bila central pallor ≤ 1/3 diameter eritrosit ini dinamakan normokromik. Basofilik normoblast 4. Pengamatan warna eritrosit ditentukan dari diameter central pallor dibandingkan terhadap diameter eritrosit. bila central pallor › 1/2 diameter eritrosit ini dinamakan hipokromik. Bila lebih kecil dinamakan mikrosit. Central pallor terjadi karena bentuk eritrosit yang bikonkaf sehingga central pallor karena tipis dan kandungan hemoglobin lebih sedikit akan tercat lebih pucat. akantosit. ovalosit. pengamatan morfologi eritrosit didasarkan atas ukuran. krenasi. tear dropcell dan poikilositosis. skistosit. sel target. eliptosit. sel burr. warna dan bnetuk eritrosit.

Thalassemia adalah suatu kelompok anemia hemolitik kongenital herediter yang diturunkan secara autosomal. Penderita Talasemia mempunyai masalah dengan jumlah globin yang disintesis terlalu sedikit. lemah. X. menjadi pucat. kemampuan membawa oksigennya menurun) maka tubuh penderita talasemia akan kekurangan oksigen. Pada penderita talasemia karena sel darah merahnya ada kerusakan (bentuknya tidak normal. namun. eliptosit. Salah satu atau kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan anemia. Didapat kelainan bentuk eritrosit berupa tear drop cell.blogspot. basofilik normoblast dan metamielosit. Talasemia biasanya terjadi di daerah-daerah dimana terjadi endemik malaria. Talasemia merupakan suatu penyakit darah yang ditandai dengan berkurang atau ketiadaan produksi dari hemoglobin normal. Talasemia biasanya menyebabkan rendahnya produksi proteinprotein globin yang normal.thalassemia. letih. tapi sebagian besar bukan. beberapa thalassemia adalah hemoglobinopathy. khususnya malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Kesimpulan Dalam praktikum. karena sebagian kondisi yang menyebabka abnormalitas pada protein-protein globin (hemoglobinopathy) juga mempengaruhi pada hasilnya (talasemia). sedangkan “anemia sel sabit” (hemoglobinopathy atau kelainan pada hemoglobin) adalah masalah kualitatif dari sintesis globin yang berfungsi tidak benar. Dengan demikian.com Blog Zian Armie diposkan tanggal 05 Februari 2011 21 . cepat rusak. Dafftar Pustaka http://www. Dua kondisi bisa terjadi overlap.com/what_is_thal. sesak dan sangat membutuhkan pertolongan yaitu pemberian transfusi darah. Hemoglobinopathy (kelainan pada hemoglobin) menunjukan kelainan struktural dalam protein globin itu sendiri. dilakukan pengamtan terhadap hapusan darah tepi secara mikroskopis.html http://artikel-info-kesehatan. XI. disebabkan oleh kekurangan sintesis rantai polipeptid yang menyusun molekul globin dalam hemoglobin. Keadaan ini biasanya ditemukan dalam penyakit talasemia. sering kali melalui mutasi pada gen pengatur.

N. Santa I. IV. III. II. Factor eksogen a. 16 Maret 2011 : Pk.Pemeriksaan ALL (Acut limphosityc leukemia) Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu. Penyebab acut limphosityc leukemia sampai saat ini belum jelas. Dasar Teori : Acut limphosityc leukemia adalah proliferasi maligna/ganas lymphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik.A. Prinsip : Preparat diletakkan diatas meja stik pada mikroskop. Kemudian dicari lapang pandang dengan menggunakan lensa objektif 10x dengan oil imersi dan dilanjutkan dengan mengidentifikasi sel dengan lensa objektif 100x. Factor endogen a.00 wita : Lab. Sinar x. diduga kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan factor lain yang mungkin berperan yaitu : 1. Ras (orang yahudi lebih mudah terkena disbanding orang kulit hitam) b. chloramphinecol. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. Kongenital (kelainan kromosom. anti neoplastic agent) 2. Hormone c. 10. preparat sulfat. Metode : Menggunakan sediaan kering dengan pengecatan giemsa. terutama pada anak dengan sindrom down) 22 . A. Bahan kimia seperti : bensol. Tujuan : Untuk mengetahui bentuk dari limpioblast pada pemeriksaan ALL. sinar radioaktif b. arsen.

akibatnya terjadi penurunan jumlah leukosit. Objek glass 3. Terjadi baik pada orang dewasa maupun anak-anak dengan prognosis yang buruk. limfodenopati. penurunan jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis.c. Herediter (kakak beradik atau kembar satu telur) Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur/abnormal dalam jumlah yang berlebihan. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat. Alat dan bahan :  Alat-alat : 1. Mikroskop 2. sakit kepala. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembesaran hati. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan periper sehingga mengganggu perkembangan sel normal. dll). Adanya sel kanker juga mengganggu metabolism sehingga sel kekurangan makanan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ. termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsure-unsur sel yang normal. L2 : Terdiri dari sel-sel limfoblas yang lebih heterogen bila dibandingkan dengan L1. dengan karakteristik berupa sel burkit. muntah. ALL jenis ini sering diderita oleh orang dewasa. Tissue  Bahan : 1. limpa. epistaksis. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia. Preparat kering (ALL) 2. yakni : L1 : Sel-sel leukemia terdiri dari limfoblas yang homogeny dan L1 ini banyak menyerang anak-anak. V. perdarahan gusi. Adanya sel kanker juga mempengaruhi system retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan system pertahanan tubuh. Oil imersi 23 . sel darah merah dan trombosit. dan nyeri tulang serta persendian. sehingga mudah mengalami infeksi. L3 : Terdiri dari limfoblas yang homogen. ALL sendiri terbagi menjadi 3.

VI. Setelah itu ditetesi oil imersi. Metamiolosit 24 . Kemudian dicari lapang pandang dengan menggunakan lensa objektif 10x. Dan preparat siap diidentifikasi bentuk sel-selnya. Preparat/sediaan kering diletakkan di atas meja stik mikroskop. 2. kemudian kembali ke sisi semula dengan arah zigzag berjarak ± 3 lapang pandang. 6. VII. 3. Cara Kerja : 1. Limpoblast 3. Hasil pengamatan : 1. 5. Identifikasi dilakukan di daerah penghitungan (counting area). dan dipindahkan ke objektif 100x. Smak sel 2. Identifikasi sel dimulai dari satu sisi bergarak ke sisi lain. 4.

Ini menandakan pasien menderita ALL. Acut limphosityc leukemia adalah proliferasi maligna/ganas lymphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik. plasma cell. diduga kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan factor lain yang mungkin berperan. Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ. Penyebab acut limphosityc leukemia sampai saat ini belum jelas. Promeolosit VIII. Plasma sel 5. metamiolosit. 25 . promeolosit. Limfosit imatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan periper sehingga mengganggu perkembangan sel normal. Pembahasan : Pada hasil praktikum didapatkan hasil berupa ditemukan adanya kelainan leukosit berupa adanya smak cell. Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur/abnormal dalam jumlah yang berlebihan.4. limpoblast. termasuk sumsum tulang dan menggantikan unsure-unsur sel yang normal.

IX. limpa. sakit kepala. sehingga mudah mengalami infeksi.Askep Retino Blastoma. 26 . sel darah merah dan trombosit. Penurunan jumlah eritrosit menimbulkan anemia. Kesimpulan : Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada preparat HDT ditemukan adanya kelainan leukosit berupa adanya smak cell. Daftar pustaka : Hoesnita. dan nyeri tulang serta persendian. limpoblast. Ini menandakan pasien menderita ALL.plasma cell.http://www.Hal ini menyebabkan haemopoesis normal terhambat. dll). Adanya sel kanker juga mempengaruhi system retikuloendotelial yang dapat menyebabkan gangguan system pertahanan tubuh.AML dan ALL. limfodenopati. metamiolosit. perdarahan gusi.blogspot.husnyta. epistaksis. Infiltrasi sel kanker ke berbagai organ menyebabkan pembesaran hati. X.2010. promeolosit. akibatnya terjadi penurunan jumlah leukosit. penurunan jumlah trombosit mempermudah terjadinya perdarahan (echimosis. muntah.com/2010/12/askep….

Sel abnormal ini dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang. nitropenia. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. Metode Metode yang digunakan adalah pemeriksaan preparat HDT secara mikroskopis. Tujuan Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada leukosit. Dengan demikian gambaran umum leukemia mencakup sel darah putih abnormal dalam darah tepi.00 wita : Lab. misalnya : anemia. hitung sel darah putih total meninggi. 16 Maret 2011 : pk.Pemeriksaan Hapusan Darah Tepi (Akut Mieloblast Leukemia) Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu. atau trombositopena dan 27 . Santa I. hitung sel darah putih sirkulasi meninggi dan menginfiltrasi orang lain. Prinsip Setetes darah dipaparkan di atas object glass. II.10.N. dilanjutkan dengan pewarnaan dan dievaluasi di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x dengan penambahan oil imersi. III. Dasar Teori Leukemia adalah golongan penyakit yang ditandai dengan penimbunan sel darah putih abnormal dalam sumsum tulang belakang.A. IV. bukti kegagalan sumsum tulang belakang. A.

2011) Leukemia digolongkan ke dalam kelompok akut dan kronis berdasarkan derajat maturasi sel – sel ganas di dalam sumsum tulang. meilogenous. Preparat HDT diletakkan di bawah lensa objektif mikroskop dan diatur mikroskop. Pada LMK.sel muda dan terjadi kegagalan diferensiasi sel – sel darah. Mikroskop b. LMK) adala suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal. otak. limfonodi. Sebagian besar granulosit leukemik dihasilkan di sumsum tulang. kulit dan testis. Oil immersi VI. Tisu 2. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.(Anonim. 2011) V. limpa. Granulosit leukemik cenderung menggeser sel – sel normal di dalam sumsum tulang dan sering kali menyebabkan terbentuknya sejumlah besar jaringan fibrosa yang menggantukan sumsum tulang yang normal. 2011) Leukemia Mielositik (meiloid. Alat – alat a. 28 . Keadaan ini menyebabkan penyakit tampak lebih berat dan menyebabkan kematian dalam beberapa bulan tanpa pengobatan. granulositik.(Wikipedia. meningen. Leukemia akut ditandai dengan adanya gangguan maturasi yang mengakibatkan meningkatnya sel. Bahan : : a. Alat dan Bahan 1. 2. sedangkan pada LMA hanya ditemukan sel muda. Preparat HDT b.(Anonim. missal hati. tetapi beberapa diantaranya dibuat di limpa dan hati. Cara Kerja 1.keterlibatan organ lain. sel – selnya terdiri dari sel yang sangat muda sampai sel yang matang.

Dicatat dan digambar hasilnya.3. VII. Basket sel Ciri – ciri # Tidak terdapat sitoplasma 29 . Diamati dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x dengan penambahan oil immersi. Metamielosit Ciri – ciri # Berbentuk oval # sitoplasma berwarna pink # tidak ada anak inti 2. 4. Mieoloblast Ciri – ciri # Bergranula # Berbentuk oval # Sitoplasma berwarna biru # Terdapat inti dan berbentuk bulat 3. Data Hasil Praktikum Gambar – gambar sel 1.

Normoblast Basofilik Ciri – ciri # Berbentuk bulat # Sitoplasma berwarna biru # ada inti berwarna ungu dan berbentuk bulat # Bergranula 6.4. Normoblast Ciri – ciri # Intinya bulat dan berwarna ungu tua # Terdapat anak inti di dalamnya # Sitoplasma seperti eritrosit # Sitoplasma besar dan lebar 30 . Basofil Ciri – ciri # Bergranula banyak dan menutupi inti # Berbentuk oval # Sitoplasma berwarna biru tua 5.

Penyebab atau gejala LMK dapat berupa kelelahan dan kelemahan. sel stem yang ganas hanya menghasilkan granulosit muda saja. meiloblast. dan basket sel. semakin banyak granulosit yang masuk ke dalam aliran darah dan sumsum tulang (fase akselerasi). obat interferon alfa bisa menormalkan kembali sumsum tulang. tulang. Pada krisis blast. Ini biasa ditemukan pada penderita CML. Kadang granulosit leukimik mengalami lebih banyak perubahan dan penyakit berkembang menjadi krisis blast. Sel plasma Ciri – ciri # Inti berbentuk bulat # Inti berwarna gelap # Inti agak ke tepi VIII. Pada saat ini kloroma (tumor yag berisi granulosit) bisa tumbuh di kulit. LMK dapat diobati dengan cara : pencangkokan sumsum tulang. kehilangan nafsu makan. Selama perjalanan penyakit ini. hidroksiurea pre-oral (ditelan) dan bisulfan. suatu pertanda bahwa penyakit semakin memburuk. terjadi anemia dan trombositopenia (penurunan jumlah trombosit) dan proporsi sel darah putih muda (sel blast) meningkat secara drastis. normoblast. 31 . basofil. Pada fase tersebut.7. metameilosit. otak dan kelenjar getah bening. penurunan berat badan. demam atau berkeringat di malam hari. Pada penderita CML sering dan lebih banyak ditemukan meilosit dan metameilosit. dan terapi penyinaran untuk limpa yang berfungsi untuk membantu mengurangi jumlah sel leukemik. basofilik normoblast. dan perasaan penuh di perutnya (karena pembesaran limpa). Pembahasan Pada hasil praktikum didapatkan hasil berupa ditemukan adanya plasma sel.

Ini menandakan pasien menderita CML. metameilosit. X.html 32 . Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada preparat HDT ditemukan adanya kelainan leukosit berupa adanya plasma sel.ac.org/wiki/leukemia http://forumoim. Daftar Pustaka http://id.wikipedia. normoblast. basofilik normoblast.IX.com/amiga2/aniso/leukimia.id/index. meioloblast. basofil.php?topic-123300 http://angelfire. dan basket sel.

00 wita : Lab.N. dan mengetahui kemungkinan penyakit yang diakibat berdasarkan kelainan-kelainan leukosit yang ditemukan. IV. III. Metode Metode yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah metode sediaan kering. Dasar Teori Leukemia adalah penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel-sel hematopoietik. Pada lebih dari 80% 33 . diperiksa dengan perbesaran 10 kali untuk memeriksa lapang pandang dan diperiksa dengan perbesaran 100 kali untuk memeriksa kelainan-kelainan yang ada pada leukosit. 23 Maret 2011 : Pk. A. Prinsip Sediaan diletakkan di mikroskop. Santa I. Tujuan Untuk melihat adanya kelainan-kelainan pada leukosit. Klasifikasi yang cermat adalah vital karena modalitas pengobatan dan prognosisnya sangat berbeda.Pemeriksaan Leukosit ALL (Acute Limfoblastic Leukemic) II Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu. II. Klasifikasi akut atau kronik adalah sesuai dengan jenis sel yang terlibat dan kematangan sel tersebut. 10. Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Diperiksa pada perbesaran 10 kali untuk menghitung jumlah lekosit dan pada perbesaran 100 kali untuk menghitung jumlah trombosit.A. sediaan ini telah disediakan oleh pembimbing praktikan. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs.

Kelainan yang lain meliputi delesi. aspirasi 34 . pungsi lumbal.22)/BCR-ABL (20-30%) dan t(4. sel-sel ganas berasal dari limfosit B dan sisanya merupakan leukemia sel T. mikrodelesi. pemeriksaan fisik.11)/ALL1-AF4 (6%) yang prognosisnya buruk. penentuan HLA). Walaupun demikian. ABL adalah nonreceptor tyrosine protein kinase yang secara enzimatik mentransfer molekul fosfat ke substrat protein sehingga terjadi aktivasi jalur transduksi sinyal yang penting dalam regulasi proliferasi dan pertumbuhan sel. ABO dan Rh. dan anemia. pemeriksaan koagulasi. Manifestasi leukemia limfositik akut menyerupai leukemia granulositik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. 2006). kimia darah. kadar fibrinogen. Jika tidak diobati. Leukemia ini merupakan bentuk leukemia yang paling banyak pada anak-anak. L-2: leukemia limfositik akut pada dewasa (populasi sel blas besar heterogen) L-3: leukemia jenis limfoma Burkitt (sel blas besar dengan sitoplasma bervakuola dan basofilik) Berdasarkan imunologinya (antigen permukaan sel): 1. dan penyusunan kembali gen yang melibatkan p16. L-1: leukemia limfositik akut pada anak (populasi sel blas berukuran kecil homogen) 2. Berdasarkan morfologinya: 1. pemeriksaan laboratorium (CBC. 3. 3. perdarahan. 20% kasus adalah dewasa.kasus. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsum tulang menyebabkan berkurangnya selsel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa infeksi. Wilson LM. Precursor B-ALL (50%) meliputi null cell dan preB-ALL T-ALL (25%) B-ALL (5%) Kelainan sitogenetik yang sering ditemukan pada kasus dewasa ialah t(9. 2. Mekanisme umum lain dari pembentukan kanker adalah inaktivasi gen supresor tumor Rb dan p53 yang berperan mengontrol progresi siklus sel. dapat fatal (Price SA. foto toraks atau CT. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. apus darah tepi.

Hasil Pengamatan Pada pemeriksaan ini dilakukan pada sampel kode 7. Mikroskop B. Dicatat hasilnya VII. Dihidupkan mikroskop b.8 x 300 = 115.dan biopsi sumsum tulang (pewarnaan sitokimia. Bahan a. Imersi oil VI. Diaamati dengan perbesaran 100x untuk memeriksa kelainan-kelainan yang leukosit yang diperiksa dan dihutung jumlah trombosit. Cara Kerja a. analisis sitogenetik.140 35 . Diletakkan sediaan pada meja sediaan mikroskop c.8 Perhitungan: Jumlah leukosit = jumlah dalam 1 LP x 300 = 383. e. Diamati dengan perbesara 10x untuk memeriksa lapang pandang dan sekaligus menghitung jumlah leukosit pada hapusan darah. d. analisis molekular BCR-ABL) V. hasilnya sebagai berikut: a. Alat dan Bahan A. analisis imunofenotip. Sediaan kering b. Alat a. Hitung Leukosit Didapatkan jumlah lekosit pada 5 lapang pandang (1919) dengan rata-rata per lapang pandang 383.

000 dari kadar normal yaitu antara 150.000 c.000. Pembahasan 36 . VIII.Hasil yang diperoleh sebanyak 115.000 – 10.140 sel. b. hasil ini menunjukkan pasien mengalami limfositosis.000 sel Hasil ini menunjukkan hasil yang menurun yaitu 18. Hasil Differential Count LP/lekosit I Eosinofil Basofil Stab Segmen Limfosit Monosit       1 9 II 10 III 10 : 5% : 0% : 6% :5% : 78% : 6% IV 1 2 7 V 9 1 VI 3 1 6 VII 1 6 3 VIII 1 8 1 IX 2 8 X 3 1 5 1 Eosinofil Basofil Stab Segmen Limfosit Monosit Hasil diff count menunjukkan hasil limfosit yang sangat banyak yaitu 78 dalam 100 leukosit. hasil ini menunjukkan hasil yang meningkat dari kadar normal yaitu antara 8.000 – 350. Hitung Trombosit Didapatkan jumlah trombosit 1 per Lapang Pandang Perhitungan: Jumlah trombosit = jumlah dalam 1 LP x 18 = 1 x 18 = 18 = 18.

Didapatkan hasil hitung leukosit sebanyak 115. Didapatkan hasil hitung trombosit 18. Berdasarkan kelainan-kelainan yang ditemukan. bisa diduga kemungkinan pasien menderita penyakit tertentu. Pada pemeriksaan kali ini dilakukan hitung jumlah sel leukosit dan trombosit. Sel darah putih berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Kesimpulan Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan. Melihat dari hasil yang diperoleh kemungkinan pasien ini mengidap leukemi stadium ALL (akut Limpoblastik Leukemi).000. Terdapatnya sel blas dalam darah tepi merupakan gejala patognomik untuk leukimia.Pada pratikum kali ini dilakukan pemeriksaan secara mikroskopis pada sediaan hapusan darah tepi dari pasien yang menderita ALL (Acute Liemfoblastic Leukemic).000 – 10. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi sekitar 10.000 – 30.000 – 350. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur dan penyimpanan dari keadaan basal. Praktikum pemeriksaan leukosit ini bertujuan untuk melihat adanya kelainankelainan pada sampel darah tepi. diperiksa pada lensa objektif 100x dan diamati per lapang pandang.000 / µL. Bila jumlah leukosit lebih dari normal maka keadaan tersebut adalah leukositosis. hasil ini menunjukkan pasien mengalami limfositosis. Hasil diff count menunjukkan hasil limfosit yang sangat banyak yaitu 78 dalam 100 leukosit.000. serta differential count. Dan bila jumlah leukosit kurang dari normal maka disebut leukopeni. .000 /µL.Pemeriksaan di lakukan pada darah tepi karena. Sedangkan pada penghitungan trombosit. limfositosis yang kadang. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit didapatkan hasil limfosit yang cukup tinggi.500-11. Hasil ini menunjukkan hasil yang meningkat dari kadar normal yaitu antara 8.kadang menyebabkan gambaran darah tepi monoton dan terdapat sel blas.140 sel. Untuk menghitung jumlah leukosit dengan lensa objektif 10 x dan diamati per lapang pandang.000 sel dari kadar normal yaitu antara 150. IX. gejala yang terlihat pada darah tepi berdasarkan pada kelainan sumsum tulang berupa adanya pansitopenia. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4. dapat disimpulkan sebagai berikut: 37 .

com/referensi-kedokteran/2010/10/13/leukemia-limfoblastik-akut/ 38 . o Hasil diff count menunjukkan hasil limfosit yang sangat banyak yaitu 78 dalam 100 leukosit.o Didapatkan hasil hitung leukosit sebanyak 115.000.exomedindonesia.140 sel.com/2011/05/tinjauan-teori-akut-limfoblastik. o Melihat dari hasil yang diperoleh kemungkinan pasien ini mengidap leukemi stadium ALL (akut Limpoblastik Leukemi).000 – 350. X.000 – 10.html http://www.blogspot. hasil ini menunjukkan pasien mengalami limfositosis.000 o Didapatkan hasil hitung trombosit 18.000 sel dari kadar normal yaitu antara 150. Hasil ini menunjukkan hasil yang meningkat dari kadar normal yaitu antara 8. Daftar Pustaka http://ilmu-ilmukeperawatan.

dan basofil). Praktikum ini menggunakan metode hapusan darah tepi dan pemeriksaan secara mikroskopis. Prinsip Setetes darah dipaparkan diatas object glass.A. Santa I.00 wita : Lab. Chronic myeloid leukemia adalah salah satu tipe penyakit myeloproliferasi yang dihubungkan dengan adanya translokasi kromosom yang disebut dengan philadelphia chromosome. Tujuan : 1. Metode : 1. 10. dilanjutkan dengan pewarnaan dan dievaluasi dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x. III.N. eosinofil. IV. 30 Maret 2011 : Pk. Dasar teori : Chronic Myeloid Leukemia adalah salah satu bentuk dari leukemia yang ditandai dengan meningkatnya dan pertumbuhan yang tidak teratur dari sel myeloid di dalam sumsum tulang dan terakumulasi juga di dalam darah. Untuk mengetahui ciri-ciri sel dari CML II. Chronic myeloid Leukemia adalah gangguan pda sum-sum tulang dimana terjadi proliferasi dari granulosit yang matur (neutrofil. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. A. Chronic myeloid leukemia disebut juga sebagai chronic granulocytic leukemia adalah gangguan myeloproliferasi yang ditandai oleh peningkatan proliferasi dari granulosit tanpa menghilangnya kemampuan granulosit untuk berdiferensiasi. Pada 39 .Pemeriksaan CML Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu.

Cara kerja : 5. 40 . CML mempengaruhi blasts yang berkembang kedalam sel-sel darah putih yang disebut granulocytes. nyeri sendi. Hepatomegali juga dapat dijumpai sebagai bagian dari hematopoiesis extramedullary yang terjadi di limfe.q1) yang dikenal sebagai kromosom philadelphia. Translokasi ini mendekatkan gen bcr pada kromosom 22 dengan gen abl pada kromosom 9. Bahan : Preparat HDT Oil imersi VI. 6. t(9. hanya 2-3% dari semua jenis leukemia pada anak-anak. Alat : Mikroskop 2. Sel-sel sumsum tulang yang disebut blasts normalnya berkembang (matang) kedalam beberapa tipe-tipe yang berbeda dari sel-sel darah yang mempunyai pekerjaan-pekerjaan spesifik didalam tubuh. Preparat HDT diletakkan dibawah mikroskop dan diatur. dijumpai splenomegali pada pemeriksaan fisik. sehingga menghasilkan gen gabungan yang menyandi protein gabungan bcr-abl. V. Kemudian dijumpai demam. Alat dan bahan 1. Chronic myeloid leukemia jarang terjadi pada anak-anak. anemia dan pendarahan. Blast-blast ini tidak menjadi dewasa secara normal dan sel-sel blast yang tidak menjadi dewasa ditemukan dalam darah dan sumsum tulang.pemeriksaan darah tepi dijumpai peningkatan jumlah granulosit dan adanya sel-sel imatur termasuk sel blast.3 Umumnya pada penderita chronic myeloid leukemia. Chronic myeloid leukemia (CML) yang disebut juga sebagai chronic granulocytic leukemia (CGL).22) (q34 . adalah merupakan keganasan klona dari sel induk (stem cell) sistem hematopoetik yang ditandai oleh translokasi spesifik. yang mana hal ini berkolerasi dengan jumlah granulosit pada pemerikasaan darah tepi. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.

Ditemukan adanya Myeloblast. sel yang sedang 41 . Pembahasan Pada pemeriksaan ini dilakukan pengamatan terhadap kelainan leukosit yaitu CML (Chronic Myelobblast Leukemia). Basofil 3. Basofil. Hasil pengamatan 1. Metamielosit VIII. Diamati dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x. 8. Myeloblast 2.7. VII. Dicatat jumlah yang dihitung.

.org/wiki/leukemia. sehingga penderita tampak pucat. Lama-lama penderita menjadi sangat sakit karena jumlah sel darah merah dan trombosit semakin berkurang.bermitosis. Daftar pustaka http://id. kelemahan. tampak sel darah putih muda yang dalam keadaan normal hanya ditemukan di dalam sumsum tulang. penurunan berat badan.000 sel/µl darah. Berdasarkan hasil praktiku dapat disimpulkan pada preparat ditemukan adanya kelainan berupa adanya Myeloblast. http://www. Pada CML sering terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin jumlah sel darah putih sangat tinggi. Demam.wikipedia.000. mencapai 50. Pada pemeriksaan mikroskopik darah.angelfire. IX. pada stadium awal CML boisa tidak menimbulkan gejala. demam atau berkeringat di malam hari dan perasaan penuh di perutnya (karena pembesaran limpa). X.com/amigo2/aniso/leukemia. kehilangan nafsu makan. 42 . Jumlah sel darah putih lainnya (eosinofil dan basofil) juga meningkat dan ditemukan bentuk sel darah merah yang belum matang. Tetapi beberapa penderita bisa mengalami kelelahan. Penyebab penyakit ini berhubungan dengan suatu kelainan kromosom yang disebut kromosom filadelfia. pembesaran kelenjar getah bening dan pembentukan benjolan kulit yang terisi dengan granulosit leukemik (kloroma) merupakan pertanda buruk. metamielosit. mudah memar dan mudah mengalami pendarahan. Kesimpulan 1. Basofil. sel yang sedang bermitosis dan Metamielosit.000-1.

dan dapat menembus dinding kapiler / diapedesis. WBC.sekitar 7000-25000 sel 43 . IV. III. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat .00 wita : Lab. A.Hitung Jumlah Leukosit dan Trombosit Hari / Tanggal Waktu Tempat Dosen Pembimbing : Rabu.10. Praktikum ini menggunakan metode hapusan darah tepi dan pemeriksaan secara mikroskopis. dilanjutkan dengan pewarnaan dan dievaluasi dibawah mikroskop dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x.N. 2. Prinsip : Setetes darah dipaparkan diatas object glass. Untuk mengetahui jumlah leukosit dalam sampel. II. Tujuan : 1. Metode : 1. 04 Mei 2011 : pk. Santa I. Sel darah putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. leukosit (en:white blood cell.A. Jurusan Analis Kesehatan Lantai III : Drs. memiliki inti. Dasar teori : Sel darah putih. Untuk mengetahui jumlah trombosit dalam sampel. leukocyte) adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih tidak berwarna. dapat bergerak secara amoebeid.

sedangkan nilai di atas rentang yang sama dapat meningkatkan risiko trombosis. Keping darah tersirkulasi dalam darah dan terlibat dalam mekanisme hemostasis tingkat sel dalam proses pembekuan darah dengan membentuk darah beku. tidak berwarna. dan mudah pecah bila tersentuh benda kasar. Trombosit berfungsi dalam hemostasis ( penghentian perdarahan) dan perbaikan pembuluh darah yang robek. neutrofil. Dalam setiap milimeter kubik darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata 8000) sel darah putih.000-300. partikel asing. mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. berukuran lebih kecil dari eritrosit dan leukosit. Alat : Mikroskop 4. sel biang. Bahan : 44 . Leukosit turunan meliputi sel NK. Dalam kasus leukemia. tidak berinti. Di dalam tubuh. jumlahnya dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes. dan fagosit termasuk makrofaga.per tetes.000 keping/mm³. melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang. dan sel dendritik. leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri. basofil. nilai dibawah rentang tersebut dapat menyebabkan pendarahan. Alat dan bahan 3. Ukuran trombosit mencapai setengah ukuran sel darah merah. eosinofil. Selain itu. Rasio plasma keping darah normal berkisar antara 200. Sitoplasmanya terbungkus suatu membran plasma dan mengandung berbagai jenis granula yang berhubungan dengan proses koagulasian darah. thrombocyte) adalah sel anuclear nulliploid (tidak mempunyai nukleus pada DNA-nya) dengan bentuk tak beraturan dengan ukuran diameter 2-3 µm yang merupakan fragmentasi dari megakariosit. leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler. Trombosit memiliki bentuk yang tidak teratur. atau mikroorganisme penyusup. V. Keping darah atau lempeng darah atau trombosit (en:platelet.

Cara kerja : 9. Dicatat jumlah yang dihitung. Preparat HDT diletakkan dibawah mikroskop dan diatur.- Preparat HDT Oil imersi VI. VII. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.340 Trombosit Lapang pandang I II III IV Jumlah trombosit 24 28 20 21 45 . Diamati dengan pembesaran lensa objektif 10x dan 100x. Preparat No. 4 Leukosit Lapang pandang I II III IV V Jumlah Jumlah leukosit 35 30 38 42 44 189 Perhitungan = 189 : 5 x 300 = 11. Pemeriksaan tanggal 25 Mei 2011 a. 11. Hasil pengamatan : 1. 12. 10.

140 Trombosit Lapang pandang I II III IV V Jumlah Jumlah trombosit 75 89 101 87 98 450 Perhitungan = 450 : 5 x 18. 5 Leukosit Lapang pandang I II III IV V Jumlah Jumlah leukosit 343 338 413 372 463 1919 Perhitungan = 1919 : 5 x 300 =115. 2 Leukosit Lapang pandang Jumlah leukosit 46 . Preparat No.000 = 162.V Jumlah 24 117 Perhitungan = 117 : 5 x 18 x 1000 = 421. Preparat No.200 b.000 2. Pemeriksaan tanggal 1 Juni 2011 a.

Metode yang digunakan adalah metode hapusan darah tepi kemudian dilakukan pengamatan secara mikroskopis. Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan perhitungan kesan jumlah leukosit dan trombosit. Biasanya 47 . Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak dua kali.000 keping/mm3. Untuk preparat no. 4 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 11. Setiap milimeter kubik darah terdapat 6. Pemeriksaan yang ke dua pada preparat no.000 (rata-rata 8000) sel darah putih/leukosit dalam keadaan normal.000 sampai 10. untuk preparat no. 2 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 50.000 keping/mm3. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui jumlah normal leukosit dan trombosit.I II III IV V Jumlah 102 94 184 172 284 836 Perhitungan = 836 : 5 x 300 = 50. dan 2 menunjukkan jumlah leukosit melebihi nilai normal.160 Trombosit Lapang pandang I II III IV V Jumlah Jumlah trombosit 1 1 1 1 1 5 Perhitungan = 5 : 5 x 18.000 = 18. 4.000 VIII. Pada preparat no.140 keping/mm3 dan trombosit sebanyak 162.340 keping/mm3 dan jumlah trombosit sebanyak 421. 5 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 115. 5.200 keping/mm3.160 keping/mm3 dan trombosit sebanyak 18.

Preparat no.000 keping/mm3. Jumlah leukosit dan trombosit melebihi nilai normal. Fibrin berjalan dalam segala arah dan menjerat trombosit.000. Trombin bekerja sebagai enzim untuk merubah fibrinogen menjadi fibrin dengan bantuan ion kalsium. Untuk preparat no. 2 jumlah trombosit kurang dari normal. 2. Kerusakan pada pembuluh darah akan mengaktifkan protrombin aktivator. Jumlah trombosit dibawah rentang normal dapat menyebabkan pendarahan. 5 juga jumlah trombosit kurang dari normal. Jumlah ynga didapatkan hanya 18.000-300. kasus ini dinamakan trombositopenia.000 keping/mm3. Jumlah leukosit melebihi nilai normal dan jumlah trombosit kurang dari nilai normal.000 keping/mm3. kasus ini dinamakan trombositosis. sedangkan nilai di atas rentang normal yang sama dapat meningkatkan risiko trombosis. Preparat no. 3.200 keping/mm3.kasus ini terdapat pada penderita leukimia. Protrombin aktivator mengkatalis perubahan protombin menjadi trombin dengan bantuan ion kalsium. Jumlah keping darah atau tormbosit dalam keadaan normal adalah 200.340 keping/mm3 dan jumlah trombosit sebanyak 421. IX.sel darah dan plasma untuk membentuk bekuan darah. Preparat no.160 keping/mm3 dan trombosit sebanyak 18. Jumlah leukosit melebihi nilai normal. 48 .140 keping/mm3 dan trombosit sebanyak 162. 4 jumlah trombosit yang didapat melebihi nilai normal. Leukimia ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit yang bersifat fagositosis. Trombosit berguna untuk pembekuan darah. 2 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 50. preparat no. 5 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 115. Kesimpulan 1. 4 didapatkan jumlah leukosit sebanyak 11. Pada preparat no.

A. Cahya Septia Sardiawan 49 . Santa Praktikan. Kadek Mulyantari Drs. A.N.LEMBAR PENGESAHAN Penanggung Jawab Pembimbing Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful