P. 1
50-Akad_Mudharabah_Musytarakah

50-Akad_Mudharabah_Musytarakah

|Views: 38|Likes:

More info:

Published by: Timur Abimanyu, SH.MH on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2012

pdf

text

original

FATWA

DEWAN SYARI'AH NASIONAL
NO: 50/DSN-MUI/III/2006
Tentang
AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH
ِ ﻢ ﻴِ ﺣ ﺮﻟﺍ ِ ﻦﻤ ﺣ ﺮﻟﺍ ِ ﷲﺍ ِ ﻢ ﺴِ ﺑ

Dewan Syari'ah Nasional setelah:
Menimbang : a. bahwa beberapa fatwa DSN yang memuat mudharabah, seperti
Fatwa No. 1/DSN-MUI/IV/2000 tentang Giro, Fatwa No. 2/DSN-
MUI/IV/2000 tentang Tabungan, Fatwa No.3/DSN-MUI/IV/2000
tentang Deposito, Fatwa No. 7/DSN-MUI/IV/2000 tentang
Pembiayaan Mudharabah dan Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001
tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah khususnya mengenai
akad Tijarah (Mudharabah) belum memuat akad Mudharabah
Musytarakah;
b. bahwa akad Mudharabah Musytarakah, yaitu salah satu bentuk
akad Mudharabah di mana pengelola (mudharib) turut
menyertakan modalnya dalam kerjasama investasi; diperlukan
karena mengandung unsur kemudahan dalam pengelolaannya
serta dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi para pihak;
c. bahwa oleh karena itu, Dewan Syariah Nasional memandang
perlu menetapkan fatwa tentang Mudharabah Musytarakah untuk
dijadikan pedoman.
Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain:
١ ( ِ ﺩ ﻮﹸ ﻘ ﻌﹾ ﻟﺎِ ﺑ ﺍ ﻮﹸ ﻓ ﻭﹶ ﺃ ﺍ ﻮ ﻨ ﻣﺁ  ﻦﻳِ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶ ﺃ ﺂﻳ ﱠ ﻻِ ﺇ ِ ﻡﺎ ﻌ ﻧَ ﻷﹾ ﺍ ﹸ ﺔ ﻤ ﻴِ ﻬ ﺑ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ  ﺖﱠ ﻠِ ﺣﹸ ﺃ
ﺎ ﻣ  ﻢﹸ ﻜ ﺤﻳ َ ﷲﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ ، ﻡ ﺮ ﺣ  ﻢ ﺘ ﻧﹶ ﺃ ﻭ ِ ﺪ ﻴ ﺼﻟﺍ ﻰﱢ ﻠِ ﺤ ﻣ  ﺮ ﻴﹶ ﻏ  ﻢﹸ ﻜ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻰﹶ ﻠ ﺘﻳ ﺎ ﻣ
 ﺪﻳِ ﺮﻳ ) ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ : ١ (
“Hai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu.
Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan
kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya
Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-
Nya.” (QS. al-Maidah [5]: 1)
٢ (  ﻦ ﻴ ﺑ  ﻢ ﺘ ﻤﹶ ﻜ ﺣ ﺍﹶ ﺫِ ﺇ ﻭ ﺎ ﻬِ ﻠ ﻫﹶ ﺃ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ِ ﺕﺎ ﻧﺎ ﻣﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﺍﻭ ﺩ ﺆ ﺗ ﹾ ﻥﹶ ﺃ  ﻢﹸ ﻛ ﺮ ﻣﹾ ﺄﻳ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ
ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ َ ﷲﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ ،ِ ﻪِ ﺑ  ﻢﹸ ﻜﹸ ﻈِ ﻌﻳ ﺎ ﻤِ ﻌِ ﻧ َ ﷲﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ ِﻝ ﺪ ﻌﹾ ﻟﺎِ ﺑ ﺍﻮ ﻤﹸ ﻜ ﺤ ﺗ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ِ ﺱﺎ ﻨﻟﺍ
ﺍ ﺮ ﻴِ ﺼ ﺑ ﺎ ﻌ ﻴِ ﻤ ﺳ ) ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ : ٥٨ (
50 Akad Mudharabah Musytarakah 2
Dewan Syariah Nasional MUI
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamiu
menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat ” (QS. an-Nisa [4]: 58).
٣ (  ﻡﺎﹶ ﻟ ﺯﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﻭ  ﺏﺎ ﺼ ﻧﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﻭ  ﺮِ ﺴ ﻴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ  ﺮ ﻤ ﺨﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻤ ﻧِ ﺇ ﺍﻮ ﻨ ﻣﺍَ ﺀ  ﻦﻳِ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶ ﺃﺎﻳ
ﹶ ﻥﻮ ﺤِ ﻠﹾ ﻔ ﺗ  ﻢﹸ ﻜﱠ ﻠ ﻌﹶ ﻟ  ﻩ ﻮ ﺒِ ﻨ ﺘ ﺟﺎﹶ ﻓ ِ ﻥﺎﹶ ﻄ ﻴ ﺸﻟﺍ ِ ﻞ ﻤ ﻋ  ﻦِ ﻣ  ﺲ ﺟِ ﺭ ) ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ :
٩٠ (
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum)
khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib
dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan
syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan” (QS. al-Maidah [5]: 90)
٤ ( ...  ﺑ ﺮﻟﺍ  ﻡ ﺮ ﺣ ﻭ  ﻊ ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻞ ﺣﹶ ﺃ ﻭ ﺎ ) ... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ : ٢٧٥ (
“…Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba....” (QS. Al-Baqarah [2]: 275)
٥ (  ﻢ ﺘ ﻨﹸ ﻛ ﹾ ﻥِ ﺇ ﺍﻮ ﺑ ﺮﻟﺍ  ﻦِ ﻣ  ﻲِ ﻘ ﺑ ﺎ ﻣ ﺍ ﻭ ﺭﹶ ﺫ ﻭ َﷲﺍ ﺍﻮﹸ ﻘ ﺗﺍ ﺍ ﻮ ﻨ ﻣﺁ  ﻦﻳِ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶ ﺃ ﺂﻳ
 ﻦ ﻴِ ﻨِ ﻣ ﺆ ﻣ ) ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ : ٢٧٨ .(
“Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba jika kamu orang yang beriman” (QS. al-
Baqarah [2]: 278).
٦ ( ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﱠ ﻻِ ﺇ ِ ﻞِ ﻃﺎ ﺒﹾ ﻟﺎِ ﺑ  ﻢﹸ ﻜ ﻨ ﻴ ﺑ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟﺍ ﻮ ﻣﹶ ﺃ ﺍﻮﹸ ﻠﹸ ﻛﹾ ﺄ ﺗ ﹶ ﻻ ﺍ ﻮ ﻨ ﻣﺍَ ﺀ  ﻦﻳِ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬﻳﹶ ﺃﺎﻳ
 ﻨِ ﻣ ٍ ﺽﺍ ﺮ ﺗ  ﻦ ﻋ ﹰ ﺓ ﺭﺎ ﺠِ ﺗ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻜ ﺗ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥِ ﺇ ، ﻢﹸ ﻜ ﺴﹸ ﻔ ﻧﹶ ﺃ ﺍ ﻮﹸ ﻠ ﺘﹾ ﻘ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ﻢﹸ ﻜ
ﺎ ﻤﻴِ ﺣ ﺭ  ﻢﹸ ﻜِ ﺑ ) ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ : ٢٩ (
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan
(mengambil) harta orang lain secara batil, kecuali jika berupa
perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah
Maha Penyayang dirimu.” (QS. an-Nisa [4] : 29).
2. Hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam, antara lain:
١ ( ... ﹰ ﻻﹶ ﻼ ﺣ  ﻡ ﺮ ﺣ ﺎﹰ ﻃ ﺮ ﺷ ﱠ ﻻِ ﺇ  ﻢِ ﻬِ ﻃﻭ ﺮ ﺷ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﻥﻮ ﻤِ ﻠ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﱠ ﻞ ﺣﹶ ﺃ  ﻭﹶ ﺃ
ﺎ ﻣﺍ ﺮ ﺣ ) . ﻑﻮﻋ ﻦﺑ ﻭﺮﻤﻋ ﻦﻋ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ (
“Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf)
50 Akad Mudharabah Musytarakah 3
Dewan Syariah Nasional MUI
٢ ( ﱠ ﻠ ﺻ ِ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹸ ﻝﻮ ﺳ ﺭ ﻰ ﻬ ﻧ ِ ﺭ ﺮ ﻐﹾ ﻟﺍ ِ ﻊ ﻴ ﺑ  ﻦ ﻋ  ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ِ ﻪ ﻴﹶ ﻠ ﻋ  ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰ ) ﻩﺍﻭﺭ
ﻲِ ﺑﹶ ﺃ ﻦﻋ ﺔﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ﺩﻭﺍﺩ ﻮﺑﺃﻭ ﻲﺋﺎﺴﻨﻟﺍﻭ ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍﻭ ﻢﻠﺴﻣ
ﹶ ﺓ ﺮﻳ ﺮ ﻫ (
“Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar”
(HR. Muslim, Tirmizi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari
Abu Hurairah).
٣ (  ﺭﺍ ﺮِ ﺿﹶ ﻻ ﻭ  ﺭ ﺮ ﺿﹶ ﻻ ) ،ﺖﻣﺎﺼﻟﺍ ﻦﺑ ﺓﺩﺎﺒﻋ ﻦﻋ ﺔﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍ ﻩﺍﻭﺭ
ﻲﳛ ﻦﻋ ﻚﻟﺎﻣﻭ ،ﺱﺎﺒﻋ ﻦﺑﺍ ﻦﻋ ﺪﲪﺃﻭ (
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula
membahayakan orang lain.” (Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah
dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, dan
Malik dari Yahya).
3. Kaidah fiqh, antara lain:
١ ( ﺎ ﻬِ ﻤﻳِ ﺮ ﺤ ﺗ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﹲ ﻞ ﻴِ ﻟ ﺩ ﱠ ﻝ ﺪﻳ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﱠ ﻻِ ﺇ ﹸ ﺔ ﺣﺎ ﺑِ ﻹﹾ ﺍ ِ ﺕﹶ ﻼ ﻣﺎ ﻌ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰِ ﻓ ﹸ ﻞ ﺻَ ﻷﹾ ﺍ
“Pada dasarnya, semua bentuk mu’amalah boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”
٢ ( ِ ﻥﺎﹶ ﻜ ﻣِ ﻹﹾ ﺍ ِ ﺭ ﺪﹶ ﻘِ ﺑ  ﻊﹶ ﻓ ﺪﻳ  ﺭ ﺮ ﻀﻟﹶ ﺍ .
“Segala mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin.”
٣ ( ﹸ ﻝﺍ ﺰﻳ  ﺭ ﺮ ﻀﻟﹶ ﺍ .
“Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.”
4. Ijma’, sebagaimana dikemukakan oleh Wahbah Zuhaili:
ِ ﻭ ﺭ ﺎ ﻤﹶ ﻓ  ﻉﺎ ﻤ ﺟِ ﻹﹾ ﺍ ﺎ ﻣﹶ ﺃ ﻭ ﹶ ﻝﺎ ﻣ ﺍ ﻮ ﻌﹶ ﻓ ﺩ  ﻢ ﻬ ﻧﹶ ﺃ ِ ِ ﺔ ﺑﺎ ﺤ ﺼﻟﺍ  ﻦِ ﻣ ٍ ﺔ ﻋﺎ ﻤ ﺟ  ﻦ ﻋ  ﻱ
ﺎ ﻋﺎ ﻤ ﺟِ ﺇ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻜﹶ ﻓ ، ﺪ ﺣﹶ ﺃ  ﻢِ ﻬ ﻴﹶ ﻠ ﻋ  ﺮِ ﻜ ﻨﻳ  ﻢﹶﻟ ﻭ ،ﹰ ﺔ ﺑ ﺭﺎ ﻀ ﻣ ِ ﻢ ﻴِ ﺘ ﻴﹾ ﻟﺍ ) ﻲﻣﻼﺳﻹﺍ ﻪﻘﻔﻟﺍ
ﺹ ،ﺲﻣﺎﳋﺍ ﺀﺰﳉﺍ ،ﻲﻠﻴﺣﺰﻟﺍ ﺔﺒﻫﻮﻟ ،ﻪﺘﻟﺩﺃﻭ . ٣٩٢٥ .(
“Mengenai Ijma’, diriwayatkan bahwa sejumlah sahabat
menyerahkan harta anak yatim sebagai mudharabah, dan tidak
ada seorang pun megingkarinya. Oleh karena itu, hal tersebut
adalah ijma’.” (Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa
Adillatuhu, [Damsyiq: Dar al-Fikr, 2004], juz V, h. 3925).
Memperhatikan : 1. Pendapat para ulama, antara lain:
١ ( ﺎ ﺑِ ﺭﺎ ﻀ ﻣ ِ ﻡﺎ ﺸﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ  ﺝ ﺮ ﺧ  ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ِ ﻪِ ﻟﺁ ﻭ ِﻪ ﻴﹶ ﻠ ﻋ ُ ﷲﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ  ﻲِ ﺒ ﻨﻟﺍ ﱠ ﻥﹶ ﺃ
 ﻢﹸ ﺛ ،ِ ﺓ ﻮ ﺒ ﻨﻟﺍ ﹶ ﻞ ﺒﹶ ﻗ  ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﻭ ،ٍ ﺪِ ﻠﻳ ﻮ ﺧ ِ ﺖ ﻨِ ﺑ ﹶ ﺔ ﺠﻳِ ﺪ ﺧ ِ ﺓ ﺪ ﻴ ﺴﻟﺍ ِ ﻝﺎ ﻤِ ﺑ
50 Akad Mudharabah Musytarakah 4
Dewan Syariah Nasional MUI
 ﻪﹶ ﻟ ﺍ ﺭ ﺮﹶ ﻘ ﻣ ﺎ ﻫ ﺪ ﻌ ﺑ  ﻩﺎﹶ ﻜ ﺣ ) . ﺹ ،ﻡﺎﺸﻫ ﻦﺑﻻ ﺔﻳﻮﺒﻨﻟﺍ ﺓﲑﺴﻟﺍ :.
١٤١ ، ،ﺪﻳﺯ ﰊﺃ ﻢﻌﻨﳌﺍ ﺪﺒﻋ ﺪﻤﶈ ،ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ ﻡﺎﻈﻧ ﺮﻳﻮﻄﺗ ﻮﳓ
ﺹ . ٤١١ (
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pergi berniaga sebagai
mudharib ke Syam dengan harta Sayyidah Khadijah binti
Khuwailid sebelum menjadi nabi; setelah menjadi nabi, beliau
menceritakan perniagaan tersebut sebagai penegasan (taqrir).”
(Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, [al-Qahirah: Dar al-Hadis,
2004], juz I, h. 141; Muhammad Abd al-Mun’im Abu Zaid,
Nahwa Tathwir al-Mudharabah, [al-Qahirah: Maktabah al-
Ma’had al-‘Alami li-al-Fikr al-Islami, 2000], h. 411).
٢ ( ِ ﺀﺎ ﻬﹶ ﻘﹸ ﻔﹾ ﻟﺍ  ﻦ ﻴ ﺑ ٍ ﻑﹶ ﻼِ ﺧ ﹶ ﻼِ ﺑ  ﻉ ﻭ ﺮ ﺸ ﻣ  ﺪﹾ ﻘ ﻋ ﹸﺔ ﺑ ﺭﺎ ﻀ ﻤﹾ ﻟﹶ ﺍ . ِ ﻩِ ﺬ ﻫ ﹸ ﻞ ﻴِ ﻟ ﺩ ﺎ ﻣﹶ ﺃ
ِ ﺔﻳِ ﺮﻳِ ﺮﹾ ﻘ ﺘﻟﺍ ِ ﺔ ﻨ ﺴﻟﺍ ﻰﹶ ﻟِ ﺇ ِ ﺪ ﻨ ﺘ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ِ ﻉﺎﻤ ﺟِ ﻹﹾ ﺎِ ﺑ  ﺖ ﺒﹶ ﺛ  ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ِ ﺔ ﻴِ ﻋ ﻭ ﺮ ﺸ ﻤﹾ ﻟﺍ
) ﺹ ﺔﺑﺭﺎﻀﳌﺍ ﻡﺎﻈﻧ ﺮﻳﻮﻄﺗ ﻮﳓ . ١١ (
“ Mudharabah adalah akad yang disyari’atkan tanpa ada
perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqh. Dalil pensyari’atan
tersebut ditetapkan dengan ijma’ yang didasarkan pada sunnah
taqririyah.” (Muhammad Abd al-Mun’im Abu Zaid, Nahwa
Tathwir al-Mudharabah, [al-Qahirah: Maktabah al-Ma’had al-
‘Alami li-al-Fikr al-Islami, 2000], h. 411).
٣ (  ﻊِ ﺑﺍ ﺮﻟﺍ  ﻢ ﺴِ ﻘﹾ ﻟﹶ ﺍ : ﺍﹶ ﺬﻬﹶ ﻓ ؛ﺎ ﻤِ ﻫِ ﺪ ﺣﹶ ﺃ ِ ﺐِ ﺣﺎ ﺻ ﹸ ﻥ ﺪ ﺑ ﻭ ِ ﻥﹶ ﻻﺎ ﻣ  ﻙِ ﺮ ﺘ ﺸﻳ ﹾ ﻥﹶ ﺃ
 ﺢ ﻴِ ﺤ ﺻ  ﻮ ﻫ ﻭ ؛ﹰ ﺔ ﺑ ﺭﺎ ﻀ ﻣ ﻭ ﹰ ﺔﹶ ﻛ ﺮِ ﺷ  ﻊ ﻤ ﺠﻳ . ِ ﻦ ﻴﹶ ﻠ ﺟ ﺭ  ﻦ ﻴ ﺑ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ  ﻮﹶ ﻠﹶ ﻓ
ﹶ ﺃ ﺎ ﻤِ ﻫِ ﺪ ﺣَ ﻷ ،ٍ ﻢ ﻫ ﺭِ ﺩ ِ ﻑﹶ ﻻﺁ ﹸ ﺔﹶ ﺛﹶ ﻼﹶ ﺛ  ﺐِ ﺣﺎ ﺻ ﹶ ﻥِ ﺫﹶ ﺄﹶ ﻓ ،ِ ﻥﺎﹶ ﻔﹾ ﻟﹶ ﺃ  ﺮ ﺧَ ﻷ ﻭ  ﻒﹾ ﻟ
 ﺢ ﺑ ﺮﻟﺍ ﹶ ﻥ ﻮﹸ ﻜﻳ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻬ ﻴِ ﻓ  ﻑ ﺮ ﺼ ﺘﻳ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ِ ﻒﹾ ﻟَ ﻷﹾ ﺍ ِ ﺐِ ﺣﺎ ﺼِ ﻟ ِ ﻦ ﻴﹶ ﻔﹾ ﻟَ ﻷﹾ ﺍ
 ﺢ ﺻ ِ ﻦ ﻴﹶ ﻔ ﺼِ ﻧ ﺎ ﻤ ﻬ ﻨ ﻴ ﺑ .  ﻖ ﺤِ ﺑ ِ ﺢ ﺑ ﺮﻟﺍ ﹸ ﺚﹸ ﻠﹸ ﺛ ِ ﻒﹾ ﻟَ ﻷﹾ ﺍ ِ ﺐِ ﺣﺎ ﺼِ ﻟ ﹸ ﻥ ﻮﹸ ﻜﻳﻭ
ﺎﹶ ﺜﹸ ﻠﹸ ﺛ  ﻮ ﻫ ﻭ  ﻲِ ﻗﺎ ﺒﹾ ﻟﺍ ﻭ ،ِ ﻪِ ﻟﺎ ﻣ ﹸ ﺔﹶ ﺛﹶ ﻼﹶ ﺛ ِ ﻦ ﻴﹶ ﻔﹾ ﻟَ ﻷﹾ ﺍ ِ ﺐِ ﺣﺎ ﺼِ ﻟ ؛ﺎ ﻤ ﻬ ﻨ ﻴ ﺑ ِ ﺢ ﺑ ﺮﻟﺍ
،ِ ﺢ ﺑ ﺮﻟﺍ  ﻒ ﺼِ ﻧ  ﻪﹶ ﻟ ﹶ ﻞِ ﻌ ﺟ  ﻪ ﻧَ ﻷ  ﻚِ ﻟﹶ ﺫ ﻭ ؛ ﻪ ﻌ ﺑ ﺭ ِ ﻞِ ﻣﺎ ﻌﹾ ﻠِ ﻟ ﻭ ،ِ ﻪِ ﻋﺎ ﺑ ﺭﹶ ﺃ
ِ ﻥﺎ ﻤ ﻬ ﺳ ِ ﻪِ ﻟﺎ ﻣ ﹸ ﺔ ﺼِ ﺣ ،ِ ﻞِ ﻣﺎ ﻌﹾ ﻠِ ﻟ ﹲ ﺔﹶ ﺛﹶ ﻼﹶ ﺛ ﺎ ﻬ ﻨِ ﻣ ،ٍ ﻢ ﻬ ﺳﹶ ﺃ ﹶ ﺔ ﺘِ ﺳ  ﻩﺎ ﻨﹾ ﻠ ﻌ ﺠﹶ ﻓ
ِ ﺑ  ﻪﱡ ﻘِ ﺤ ﺘ ﺴﻳ  ﻢ ﻬ ﺳ ﻭ ِ ﻪِ ﻜﻳِ ﺮ ﺷ ِ ﻝﺎ ﻣ ﹸ ﺔ ﺼِ ﺣ ﻭ ،ِ ﻪِ ﻜﻳِ ﺮ ﺷ ِ ﻝﺎ ﻣ  ﻲِ ﻓ ِﻪِ ﻠ ﻤ ﻌ
 ﻊ ﺑ ﺮﻟﺍ  ﻮ ﻫ ﻭ  ﻢ ﻬ ﺳ ِ ﻞِ ﻣﺎ ﻌﹾ ﻠِ ﻟ ،ٍ ﻢ ﻬ ﺳﹶ ﺃ ﹸ ﺔ ﻌﺑ ﺭﹶ ﺃ ... ) ،ﺔﻣﺍﺪﻗ ﻦﺑﻹ ﲎﻐﳌﺍ
] ﺓﺮﻫﺎﻘﻟﺍ : ،ﺚﻳﺪﳊﺍ ﺭﺍﺩ ٢٠٠٤ [ ﺝ ، :. ٦ ﺹ ، :. ٣٤٨ (
Bagian keempat: bermusyarakah dua modal dengan badan
(orang) pemilik salah satu modal tersebut. Bentuk ini mengga-
bungkan syirkah dengan mudharabah; dan hukumnya sah.
50 Akad Mudharabah Musytarakah 5
Dewan Syariah Nasional MUI
Apabila di antara dua orang ada 3000 (tiga ribu) dirham: salah
seorang memiliki 1000 dan yang lain memiliki 2000, lalu pemilik
modal 2000 mengizinkan kepada pemilik modal 1000 untuk
mengelola seluruh modal dengan ketentuan bahwa keuntungan
dibagi dua antara mereka (50:50), maka hukumnya sah. Pemilik
modal 1000 memperoleh 1/3 (satu pertiga) keuntungan, sisanya
yaitu 2/3 (dua pertiga) dibagi dua antara mereka: pemilik modal
2000 memperoleh ¾ (tiga perempat)-nya dan amil (mudharib)
memperoleh ¼ (seperempat)-nya; hal ini karena amil
memperoleh ½ (setengah) keuntungan. Oleh karena itu,
keuntungan (sisa?) tersebut kita jadikan 6 (enam) bagian; 3 (tiga)
bagian untuk amil, (yaitu) porsi (keuntungan) modalnya 2 (dua)
bagian dan 1 (satu) bagian ia peroleh sebagai bagian karena ia
mengelola modal mitranya; sedangkan porsi (keuntungan) modal
mitranya adalah 4 (empat) bagian, untuk amil 1 (satu) bagian,
yaitu ¼ (seperempat). (Ibn Qudamah, al-Mughni, [Kairo: Dar al-
Hadis, 2004], juz 6, h. 348).
٤ ( ،ِ ﻝﺎ ﻤﹾ ﻟﺍ  ﺏ ﺭ ِ ﻥﹾ ﺫِ ﺈِ ﺑ ِ ﺔ ﺑ ﺭﺎ ﻀ ﻤﹾ ﻟﺍ ِ ﻝﺎ ﻣ ِ ﺱﹾ ﺃﺭ  ﻲِ ﻓ  ﻢِ ﻬ ﺴﻳ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ِ ﺏِ ﺭﺎ ﻀ ﻤﹾ ﻠِ ﻟ ﻭ
ِ ﻦ ﻴﹶ ﻓ ﺮﱠ ﻄﻟﺍ  ﻦِ ﻣ ِ ﻝﺎ ﻤﹾ ﻟﺍ ِ ﺱﹾ ﺃ ﺭ  ﻲِ ﻓ ِ ﺔﹶ ﻛ ﺭﺎ ﺸ ﻤﹾ ﻟﺍ ِ ﺐ ﺒ ﺴِ ﺑ ِ ﺢ ﺑ ﺮﻟﺍ ﹸ ﺔ ﻤ ﺴِ ﻗ  ﻢِ ﺘ ﺗ ﻭ
ﹶ ﻘِ ﺑ ِ ﻪ ﻴﹶ ﻠ ﻋ  ﻖﹶ ﻔ ﺘ ﻤﹾ ﻟﺍ  ﻪ ﺒ ﻴِ ﺼ ﻧ  ﺏِ ﺭﺎ ﻀ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹸ ﺬ ﺧﹾﺄﻳ  ﻢﹸ ﺛ ، ﻢ ﻬ ﻨِ ﻣ ﱟ ﻞﹸ ﻛ ِ ﻝﺎ ﻣ ِ ﺭ ﺪ
ﺔﹶ ﻛ ﺮ ﺘ ﺸ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹸ ﺔ ﺑ ﺭﺎ ﻀ ﻤﹾ ﻟﺍ  ﻲِ ﻫ ِ ﻩِ ﺬﻫ ﻭ ،ِ ﻞ ﻤ ﻌﹾﻟﺍ ِ ﻦ ﻋ ) ﺔﻴﻟﺎﳌﺍ ﺕﻼﻣﺎﻌﳌﺍ
ﺹ ﻰﻠﻴﺣﺰﻟﺍ ﺔﺒﻫﻭ ﺭﻮﺘﻛﺪﻠﻟ ﺓﺮﺻﺎﻌﳌﺍ . ١٠٧ (
“Mudharib (pengelola) boleh menyertakan dana ke dalam
akumulasi modal dengan seizin rabbul mal (pemilik modal yang
awal). Keuntungan dibagi (terlebih duhulu) atas dasar
musyarakah (antara mudharib sebagai penyetor modal/dana
dengan shahibul mal) sesuai porsi modal masing-masing.
Kemudian mudharib mengambil porsinya dari keuntungan atas
dasar jasa pengelolaan dana. Hal itu dinamakan mudharabah
musytarakah”. (Wahbah al-Zuhaili, al-Mu’amalat al-Maliyyah
al-Mu’ashirah, [Dimasyq: Dar al-Fikr, 2002], h. 107)
2. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional
pada 23 Shafar 1427 H/23 Maret 2006.

MEMUTUSKAN
Menetapkan : FATWA TENTANG AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH
Pertama : Ketentuan Umum
Mudharabah Musytarakah adalah bentuk akad Mudharabah di mana
pengelola (mudharib) menyertakan modalnya dalam kerjasama
investasi tersebut.
Kedua : Ketentuan Hukum
Mudharabah Musytarakah boleh dilakukan oleh LKS, karena
merupakan bagian dari hukum Mudharabah.
50 Akad Mudharabah Musytarakah 6
Dewan Syariah Nasional MUI
Ketiga : Ketentuan Akad
1. Akad yang digunakan adalah akad Mudharabah Musytarakah,
yaitu perpaduan dari akad Mudharabah dan akad Musyarakah.
2. LKS sebagai mudharib menyertakan modal atau dananya dalam
investasi bersama nasabah.
3. LKS sebagai pihak yang menyertakan dananya (musytarik)
memperoleh bagian keuntungan berdasarkan porsi modal yang
disertakan.
4. Bagian keuntungan sesudah diambil oleh LKS sebagai
musytarik dibagi antara LKS sebagai mudharib dengan nasabah
dana sesuai dengan nisbah yang disepakati.
5. Apabila terjadi kerugian maka LKS sebagai musytarik
menanggung kerugian sesuai dengan porsi modal yang
disertakan.
Keempat : Ketentuan Penutup
1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika
terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya
dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak
tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan
jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah
dan disempurnakan sebagaimana mestinya.


Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 23 Shafar 1427 H
23 Maret 2006 M


DEWAN SYARI’AH NASIONAL
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua, Sekretaris,


K.H.M.A. Sahal Mahfudh Drs. H.M. Ichwan Sam

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->