P. 1
2.hakikat PENELITIAN KUANTITATIF

2.hakikat PENELITIAN KUANTITATIF

|Views: 3|Likes:
Published by Shucia Adhwa'tullah

More info:

Published by: Shucia Adhwa'tullah on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2014

pdf

text

original

PENELITIAN KUANTITATIF Prasetya Irawan Hakikat Penelitian Kuantitatif Apa sebenarnya penelitian kuantitatif?

Mengapa kita menyebutnya "penelitian kuantitatif"? Ternyata, dalam konteks ilmu sosial, ini sangat sulit menjawabnya. Dalam konteks ilmu alam (eksakta) kata kuantitatif jelas sekali berhubungan dengan angka (kuantita), baik hasil pengukurannya, analisis datanya, maupun penafsiran dan penarikan kesimpulannya, semuanya dalam bentuk angka. Tetapi dalam ilmu sosial, banyak sekali hasil pengukuran terhadap variabel penelitian sangat bersifat kualitatif dan arbitrer (meskipun bentuk luarnya adalah angka). Misalnya, kita mengukur "disiplin pegawai", atau "motivasi pegawai", atau "tingkat loyalitas pegawai" dengan menggunakan skala likert (skala 1 sampai 5, misalnya). Maka hasilnya adalah beberapa angka yang menunjukkan kualitas variabel yang diukur itu. Dengan pengukuran yang sangat lemah seperti ini, kita (terpaksa) rnenyebut pengukuran ini (bagian) dari penelitian kuantitatif. Tentu saja kita bisa mendapat:kan data yang lebih "kuantitatif" tentang disiplin atau motivasi. Misalnya, kita menghitung berapa hari seseorang masuk kantor tepat pukul 8:00 pagi, dan berapa hari orang itu terlambat masuk kantor. Lalu kita mengambil kesimpulan kuantitatif bahwa 62% pegawai, misalnya, memiliki disiplin bagus dan sisanya 28% tidak memiliki disiplin. Biasanya, proses kuantifikasi dalam masalah seperti ini harus berhenti begitu saja. Begitu pun, masih jauh lebih banyak variabel ilmu sosial yang tidak mungkin diukur secara kuantitatif seperti ini. Walhasil, kita sering "memaksakan diri" untuk mengkuantitatifikasi pengukuran suatu variabel dengan cara yang sangat lemah. Bahkan jika Anda teliti, angka 62% atau 28% itu tidak sepenuhnya menggambarkan variabelnya, tetapi hanya indikatornya saja. Kalau begitu, penelitian kuantitatif (dalam ilmu sosial) harus ditafsirkan lain. Ternyata, apa yang dimaksud dengan "kuantitatif" di sini sebenarnya lebih mengacu kepada "keakuratan" deskripsi setiap variabel dan keakuratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Inilah yang disebut oleh Krathwohl (1982) sebagai internal validity atau Linking Power. Maka jika seorang peneliti, misalnya, mampu menunjukkan hubungan antara disiplin pegawai dan kinerja

bukan hubungan kausal. maka data diharapkan juga valid dan reliabel. penelitian kuantitatif sebenarnya tidak hanya berurusan dengan "kuantita". Tetapi. Selanjutnya. maka ia telah mencapai apa yang disebut External Validity atau Generalizing Power. kata "kuantitatif" ditafsirkan secara bebas sebagai "keakuratan" deskripsi suatu variabel dan keakuratan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Jika proses analisis dan penyimpulan juga valid maka penelitian deskriptif ini telah dianggap valid. maka ia telah menerapkan penelitian kuantitatif. Dua karakter inilah yang akan menjadi karakter terpenting yang membedakan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Kesimpulannya. Jika instrumen telah valid (dan reliabel). Paling tidak dalam ilmu sosial. bagaimana dengan penelitian deskriptif (yang juga kuantitatif). Tetapi itu baru separuh jalan. ”internal validity" dalam hal ini hanya menunjuk pada validitas "instrumen" untuk mengumpulkan data. Jadi. yang hanya melibatkan satu variabel (univariat). ini bukan sekedar soal angka atau non angka.pegawai dengan amat meyakinkan dan tanpa menggunakan satu angka pun. Paling jauh penelitian deskriptif hanya menjelaskan hubungan korelasional. ini juga sah disebut sebagai penelitian kuantitatif. Jika begitu. atau kausal)? Jawabannya. atau banyak variabel tetapi tidak saling berhubungan satu-sama lain (misalnya hubungan korelasional. Tetapi penelitian deskriptif seperti ini tetap terbatas pada kemampuannya untuk menjelaskan realitas seperti apa adanya saja. bila peneliti tersebut mampu menunjukkan bahwa hubungan disiplin-kinerja itu juga berlaku di tempat lain. . maka yang dimaksud "internal validity" di dalam penelitian deskriptif-kuantitatif (non-kausal) tidak mengacu pada hubungan satu variabel dan lain variabel. serta memiliki daerah aplikasi (generalisasi) yang luas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->