Empirisme Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke. Filsafat ilmu Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu[1]. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Daftar isi [sembunyikan]   1 Konsep dan pernyataan ilmiah o 1.1 Empirisme o 1.2 Falsifiabilitas 2 Catatan kaki [sunting] Konsep dan pernyataan ilmiah Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/bf/Button_pagename.png [sunting] Empirisme Salah satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu adalah empirisme, atau ketergantungan pada bukti. Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi. Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena alam. [sunting] Falsifiabilitas Salah satu cara yang digunakan untuk membedakan antara ilmu dan bukan ilmu adalah konsep falsifiabilitas. Konsep ini digagas oleh Karl Popper pada tahun 1919-20 dan kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1960-an. Prinsip dasar dari konsep ini adalah, sebuah pernyataan ilmiah harus memiliki metode yang jelas yang dapat digunakan untuk membantah atau menguji teori tersebut. Misalkan dengan mendefinisikan kejadian atau fenomena apa yang tidak mungkin terjadi jika pernyataan ilmiah tersebut memang benar. Artikel bertopik ideologi atau filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. [sunting] Catatan kaki 1. ^ Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Halaman 20. III. DUALISME a. Pengertian Pokok. Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia. b. Tokoh-tokohnya. 1. Plato (427 -347 Sb.H) 2. Aristoteles (384 -322 Sb.H) 3. Descartes (1596 -1650) 4. Fechner (1802 -1887) 5. Arnold Gealinex 6 .Leukippos 7. Anaxagoras 8. Hc. Daugall 9. A. Schopenhauer (1788 -1860) IV. EMPIRISME a. Pengertian Pokok Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapantanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut. Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi. b. Tokoh-tokohnya. 1. Francis Bacon (1210 -1292) 2. Thomas Hobbes ( 1588 -1679) 3. John Locke ( 1632 -1704) 4. George Berkeley ( 1665 -1753) 5. David Hume ( 1711 -1776) 6. Roger Bacon ( 1214 -1294) V. RASIONALISME. a. Pengertian Pokok. Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan). b. Tokoh-tokohnya 1. Rene Descartes (1596 -1650) 2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775) 3. B. De Spinoza (1632 -1677 M) 4. G.W.Leibniz (1946-1716) 5. Christian Wolff (1679 -1754) 6. Blaise Pascal (1623 -1662 M) Empirisme Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia. Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu: 1. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami. 2. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio. 3. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi. 4. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika). 5. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman. 6. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Tokoh-Tokoh Empirisme Aliran empirisme dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobes (1588-1679), namun mengalami sistematisasi pada dua tokoh berikutnya, John Locke dan David Hume. a. John Locke (1632-1704) Ia lahir tahun 1632 di Bristol Inggris dan wafat tahun 1704 di Oates Inggris. Ia juga ahli politik, ilmu alam, dan kedokteran. Pemikiran John termuat dalam tiga buku pentingnya yaitu essay concerning human understanding, terbit tahun 1600; letters on tolerantion terbit tahun 16891692; dan two treatises on government, terbit tahun 1690. Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme. Bila rasionalisme mengatakan bahwa kebenaran adalah rasio, maka menurut empiris, dasarnya ialah pengalaman manusia yang diperoleh melalui panca indera. Dengan ungkapan singkat Locke : Segala sesuatu berasal dari pengalaman inderawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi. Dengan demikian dia menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi) dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari empiri). b. David Hume (1711-1776). David Hume lahir di Edinburg Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang nyang menguasai hukum, sastra dan juga filsafat. Karya tepentingnya ialah an encuiry concercing humen understanding, terbit tahun 1748 dan an encuiry into the principles of moral yang terbit tahun 1751. Pemikiran empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang singkat yaitu I never catch my self at any time with out a perception (saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression). Pemikiran ini lebih maju selangkah dalam merumuskan bagaimana sesuatu pengetahuan terangkai dari pengalaman, yaitu melalui suatu institusi dalam diri manusia (impression, atau kesan yang disistematiskan ) dan kemudian menjadi pengetahuan. Di samping itu pemikiran Hume ini merupakan usaha analisias agar empirisme dapat di rasionalkan teutama dalam pemunculan ilmu pengetahuan yang di dasarkan pada pengamatan “(observasi ) dan uji coba (eksperimentasi), kemudian menimbulkan kesan-kesan, kemudian pengertian-pengertian dan akhirnya pengetahuan, rangkaian pemikiran tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut: Beberapa Jenis Empirisme 1. Empirio-kritisisme Disebut juga Machisme. ebuah aliran filsafat yang bersifat subyaktif-idealistik. Aliran ini didirikan oleh Avenarius dan Mach. Inti aliran ini adalah ingin “membersihkan” pengertian pengalaman dari konsep substansi, keniscayaan, kausalitas, dan sebagainya, sebagai pengertian apriori. Sebagai gantinya aliran ini mengajukan konsep dunia sebagai kumpulan jumlah elemenelemen netral atau sensasi-sensasi (pencerapan-pencerapan). Aliran ini dapat dikatakan sebagai kebangkitan kembali ide Barkeley dan Hume tatapi secara sembunyi-sembunyi, karena dituntut oleh tuntunan sifat netral filsafat. Aliran ini juga anti metafisik. 2. Empirisme Logis Analisis logis Modern dapat diterapkan pada pemecahan-pemecahan problem filosofis dan ilmiah. Empirisme Logis berpegang pada pandangan-pandangan berikut : a. Ada batas-batas bagi Empirisme. Prinsip system logika formal dan prinsip kesimpulan induktif tidak dapat dibuktikan dengan mengacu pada pengalaman. b. Semua proposisi yang benar dapat dijabarkan (direduksikan) pada proposisi-proposisi mengenai data inderawi yang kurang lebih merupakan data indera yang ada seketika c. Pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat kenyataan yang terdalam pada dasarnya tidak mengandung makna. 3. Empiris Radikal Suatu aliran yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman inderawi. Apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu, dianggap bukan pengetahuan. Soal kemungkinan melawan kepastian atau masalah kekeliruan melawan kebenaran telah menimbulkan banyak pertentangan dalam filsafat. Ada pihak yang belum dapat menerima pernyataan bahwa penyelidikan empiris hanya dapa memberikan kepada kita suatu pengetahuan yang belum pasti (Probable). Mereka mengatakan bahwa pernyataan- pernyataan empiris, dapat diterima sebagai pasti jika tidak ada kemungkinan untuk mengujinya lebih lanjut dan dengan begitu tak ada dasar untukkeraguan. Dalam situasi semacam iti, kita tidak hanya berkata: Aku merasa yakin (I feel certain), tetapi aku yakin. Kelompok falibisme akan menjawab bahwa: tak ada pernyataan empiris yang pasti karena terdapat sejumlah tak terbatas data inderawi untuk setiap benda, dan bukti-bukti tidak dapat ditimba sampai habis sama sekali. Ditulis dalam FilsAFat « Nasehat Mbah Hasyim Benarkah perbedaan itu Rohmat? » Beberapa Aliran-Aliran Filsafat 1. MATERIALISME Yaitu faham yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Faham ini mendapat tanggapan yang serius pada zaman Aufklarung (pencerahan) di Eropa Barat. Pada abad 19 pertengahan faham ini popular di Eropa Barat, yang disebabkan orang-orang merasa mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Teori materialisme jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti, tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak. Faham ini tidak mengakui adanya Tuhan (ateis) sehingga mendapat tantangan yang keras dari kaum agama di mana-mana. Adapun kritikan kaum agama untuk materalisme : a. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos (kacau balau). Padahal kata Hegel, kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya b. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. Padahal pada hakikatnya hukum ala mini adalah perbuatan rohani juga c. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. Padahal dalil itu menunjukan adanya sumber dari luar alam sendiri yaitu Tuhan d. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun Tokoh faham materialisme : Aniximenes (585-528), Anaximandros (610-545), Thales (625-545), Demokritos (kl.460-545), Thomas Hobbes (1588-1679), Lamettrie (1709-1715), Feuerbach (1804-1877), Spencer (1820-1903), dan Karl Marx (1818-1883) 2. DUALISME Yaitu faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakikat yaitu hakikat materi dan hakikat rohani. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama asasi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini adalah terdapat dalam diri manusia. Tokohnya : Plato (427-347), Aristoteles (384-322), Descartes (1596-1650), Fechner (18021887), Arnold Gealinex, Leukippos, Anaxagoras, Hc.Daugall dan A.Schopenhaur (1788-1860). 3. EMPIRISME Yaitu aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan cara observasi/penginderaan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan, ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia. Aliran ini sangat bertentangan dengan rasionalisme, rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, karena itu pengenalan indrawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan indriawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat indriawi, yang kemudian dipahami di dalam otak, dan akibat dari rangsangan itu terbentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat indriawi tersebut. Faham empirisme memiliki kelemahan : 1. Indera sifatnya terbatas 2. Indera sering menipu 3. Objek juga menipu, seperti ilusi/fatamorgana Tokoh-tokohnya : Francis Bacon (1210-1292 M), Thomas Hobbes (1588-1679M), John Locke (1632-1753M), Herbert Spencer (1820-1903M), dan Roger Bacon (1214-1294M) 4. RASIONALISME Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa kelemahan empirisme ini karena keterbatasan indera manusia sehingga muncullah aliran rasionalisme. Rasionalisme yaitu faham yang berdasarkan rasio, ide-ide yang masuk akal. Untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran, rasionalisme selalu berpendapat bahwa akal merupakan faktor fundamental dalam suatu pengetahuan. Menurut rasionalisme, pengalaman tidak mungkin dapat menguji kebenaran hukum “sebab-akibat”, karena peristiwa yang tak terhingga dalam kejadian ala mini tidak mungkin dapat diobservasi. Bagi aliran ini kekeliruan pada aliran empirisme disebabkan kelemahan alat indera tadi, dan dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Tokohnya : Rene Descartes, Nicholas Malerbranche, B.De Spinoza, Leibniz, Christian Wolff, dan Blaise Pascal 5. KRITISISME Kehadiran aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang dari tujuan semula. Immanuel Kant sangat menolak kedua pandangan itu. Kant berusaha menawarkan persepektif baru dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan kritisisme. Bagi Kant, dalam pengenalan indriawi sudah ada dua bentuk apriori, yaitu ruang dan waktu. Kedua-duanya berakar pada struktur dan objek sendiri. Memang ada suatu realitas terlepas dari subjek yang mengindra, tapi realitas tidak pernah dikenalinya. Kita hanya mengenal gejala-gejala yang merupakan sintesis antara yang di luar (aposteriori) dan ruang waktu ( a priori) 6. IDEALISME Yaitu suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idealisme mempunyai argumen epistomologi tersendiri. Oleh karena itu tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistemology yang digunakan oleh idealisme. Idealisme menganggap bahwa realitas terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide dan pikiran. Tokohnya : Plato, Spinoza, Liebniz, Berkeley, Immanuel Kant, J. Fichte, Schelling, Hegel 7. RENAISSANCE Yaitu kebangkitan kembali, oleh sejarawan istilah tersebut digunakan untuk menunjukan berbagai periode kebangkitan intelektual. Berbeda dengan abad sebelumnya, yakni abad pertengahan yang lebih menitikberatkan pada aspek ajaran agama Kristen di mana gereja menjadi symbol kejayaan dan kekuasaan dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam pemikiran. Segala sesuatunya dikembalikan kepada Tuhan. Sehingga akhirnya gereja sangat mendominasi dan siapa pun tidak bisa mengganggu gugat kekuasaan dan otoritasnya. Renaissance berbeda dengan abad pertengahan yang memiliki semangat kebebasan. Renaissance menandakan kebangkitan kembali ke pemikiran yang rasional, yang pada zaman terdaulunya yaitu pertengahan selalu dikembalikan kepada Tuhan. Aliran-Aliran Filsafat Ilmu Wednesday, 26. January, 14:03 Filsafat Ilmu Oleh. Fauzan Arrasyid Latar Belakang Sebagai bagian dari bangunan besar filsafat, filsafat ilmu hilang dan tumbuh berganti dari mashab yang satu ke mashab yang lainnya. Ini karena pemikiran filsafat ilmu berasal dari pikiran manusia. “Filsafat adalah pengetahuan atas realitas dalam kemungkingn-kemungkinan akal manusia, karena filsafat berakhir pada teori ilmu pengetahuan untuk memperoleh kebenaran dan bertindak di atas rel kebenaran yang sudah ditemukan”, demikian kata Abu Y’aqub al-kindi (dalam Hossein Nasr, 1993) Makalah ini tertarik untuk mengkaji tentang aliran-aliran yang berkembang dalam filsafat ilmu. Prinsip prinsip dari filsafat ilmu akan dijelaskan, cara pemerolehan ilmu dalam masing-masing aliran akan dieksplorasi dan kontribusi masing-masing aliran dalam membangun pengetahuan akan didiskusikan. Rasionalisme Rasionalisme adalah mashab filsafat ilmu yang berpandangan bahwa rasio adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, kriteria kebenaran berbasis pada intelektualitas. Strategi pengembangan ilmu model rasionalisme, dengan demikian, adalah mengeksplorasi gagasan dengan kemampuan intelektual manusia. Sejak abad pencerahan, rasionalisme diasosiasikan dengan pengenalan metode matematika (Rasionalisme continental). Tokoh-tokoh rasionalisme diantaranya adalah Descartes, Leibniz dan Spinoza. Benih rasionalisme sebenarnya sudah ditanam sejak jaman Yunani kuno. Salah satu tokohnya, Socrates, mengajukan sebuah proposisi yang terkenal bahwa sebelum manusia memahami dunia ia harus memahami dirinya sendiri. Kunci untuk memahami dirinya itu adalah kekuatan rasio. Para pemikir rasionalisme berpandangan bahwa tugas dari para filosof diantaranya adalah membuang pikiran irasional dengan rasional. Pandangan ini misalnya disokong oleh Descartes yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati hanya didapat dengan menggunakan rasio. Tokoh lain, Baruch Spinoza secara lebih berani bahkan mengatakan : “God exists only philosophically” (Calhoun, 2002). Sumbangan rasionalisme tampak nyata dalam membangun ilmu pengetahuan modern yang didasarkan pada kekuatan pikiran atau rasio manusia. Hasil-hasil teknologi era industri dan era informasi tidak dapat dilepaskan dari andil rasionalisme untuk mendorong manusia menggunakan akal pikiran dalam mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan manusia. Empirisme Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah pendiri utama tradisi empirisme (Calhoun, 2002). Sumbangan utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain itu, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengtahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam. Sejak saat itu, empirisme menempati tempat yang terhormat dalam metodologi ilmu pengetahuan sosial. Acapkali empirisme diparalelkan dengan tradisi positivism. Namun demikian keduanya mewakili pemikiran filsafat ilmu yang berbeda. Realisme Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme. Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Dalam konteks ini, ilmuwan dapat saja menganalisa kategori fenomena-fenomena yang secara teoritis eksis walaupun tidak dapat diobservasi secara langsung. Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan struktural (Ibid, 2002). Mediasi bahasa dan kesadaran manusia yang bersifat nyata inilah yang menjadi ide dasar ‘Emile Durkheim’ dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Dalam area linguistik atau ilmu bahasa, de Saussure adalah salah satu tokoh yang terpengaruh mengadopsi pendekatan empirisme Durkheim. Bagi de Saussure, obyek penelitian bahasa yang diteliti diistilahkan sebagai ‘la langue’ yaitu simbol-simbol linguistic yang dapat diobservasi (Francis & Dinnen, 1996) Ide-ide kaum realis seperti ini sangatlah kontributif pada abad 19 dalam menjembatani antara ilmu alam dan humaniora, terutama dalam konteks perdebatan antara klaim-klaim kebenaran dan metodologi yang disebut sebagai ‘methodenstreit’ (Calhoun, 2002). Kontribusi lain dari tradisi realisme adalah sumbangannya terhadap filsafat kontemporer ilmu pengetahuan, terutama melalui karya Roy Bashkar, dalam memberikan argument-argument terhadap status ilmu pengetahuan spekulatif yang diklaim oleh tradisi empirisme. Idealism Idealisme adalah tradisi pemikiran filsafat yang berpandangan bahwa doktrin tentang realitas eksternal tidak dapat dipahami secara terpisah dari kesadaran manusia. Dengan kata lain kategori dan gagasan eksis di dalam ruang kesadaran manusia terlebih dahulu sebelum adanya pengalaman-pengalaman inderawi. Pandangan Plato bahwa semua konsep eksis terpisah dari entitas materinya dapat dikatakan sebagai sumber dari pandangan idealism radikal. Karya dan pandangan Plato memberikan garis demarkasi yang jelas antara pikiran-pikiran idealis dengan pandangan materialis. Aritoteles menjadi orang yang memberikan tantangan pemikiran bagi gagasan-gagasan idealis Plato. Aristoteles mendasarkan pemikiran filsafatnya berdasarkan materi dan fisik. Salah satu sumbangan dari tradisi filsafat idealisme adalah pengaruh idealism platonic dalam agama kristen. Dalam Perjanjian Baru terdapat gagasan yang diagungkan, yakni “Permulaan adalah kata-kata” (Ibid, 2002). Pada gilirannya, dalam sejarah, pemikiran Kristen turut memberikan andil dalam membentuk tradisi idealis terutama gagasan-gagasan dari Sain Augustine dengan pengembangan konsep penyucian jiwa. Selain Kristen, pemikiran yang turut memberikan saham bagi tradisi idealis adalah mistisisme Yahudi, mistisisme Kristen dan pengembangan pemikiran matematika oleh bangsabangsa Arab. Gerakan-gerakan pemikiran inilah yang kemudian membentuk dialektika modern antara idealisme dan materialism sejak era renaisans. Sumbangan idealism terhadap ilmu pengetahuan modern sangatlah jelas. Ilmu pengetahuan modern diniscayakan oleh kohesi antara bukti-bukti empiris dan formasi teori. Kaum materialis mendasarkan pemikirannya pada bukti-bukti empiris sedangkan kaum idealis pada formasi teori. Sebagai sebuah tradisi filosofi, idealisme tak bisa dipisahkan dengan gerakan Pencerahan dan filsafat Pasca Pencerahan Jerman. Salah satu tokoh pemikir idealis yang tersohor adalah Immanuel Kant. Melalui bukunya “Critique of pure reason” yang diterbitakan tahun 1781, Kant menentang pendapat tradisi tokoh empiris seperti David Hume dan lain-lainnya. Kant mengatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman dunia memerlukan kategori dan pandangan yang berada dalam ruang kesadaran manusia (ibid, 2002). Gagasan Kant yang terkenal adalah ‘idealisme transedental’. Dalam konsep ini Kant berargumen bahwa ide-ide rasional dibentuk tidak saja oleh ‘phenomenal’ tapi juga ‘noumenal’, yakni kesadaran transedental yang berada pada pikiran manusia (ibid, 2002). Generasi idealis berikutnya dipelopori oleh, Georg Hegel. Hegel mengenalkan gagasan pendekatan dialektis yang tidak memihak baik gagasan ‘kesadaran mental’ Kant maupun ‘bukti-bukti material’ dari kaum empiris. Pikiran-pikiran Hegel inilah yang kemudian melahirkan konsep ‘spirit’-sebuah konsep yang integral dengan kelahiran tradisi ‘idealisme absolut’ (ibid, 2002). Dengan demikian, pemikiran filsafat idealisme dibangun terutama oleh gagasan-gagasan Hegel dan Kant. Namun demikian, bangunan filsafat politik modern yang berpaham bahwa manusia dapat mengatur dunia melalui ilmu pengetahuan telah membuktikan vitalitas aliran idealisme Kantian. Tokohtokoh yang meletakkan batu pertama bagi fondasi filsafat politik modern antara lain John Rawls yang menulis tentang teori keadilan dan Habermas (1987) yang membuahkan karya ‘Communication action’. Melalui karya ini Habermas menjadi tokoh idealis yang mengoreksi idealisme konvensional. Bagi kaum idealis konvensional, kenyataan sejarah merupakan determinisme sejarah yang statis dan tidak dapat ditolak. Namun bagi Habermas, kenyataan sejarah adalah hasil dari dialektika dan komunikasi antar manusia. Dengan kata lain, Habermas memposisikan manusia menjadi subyek aktif dalam praktekpraktek politik dan dalam membangun institusi-institusi sosial. Positivisme Positivisme adalah doktrin filosofi dan ilmu pengetahuan sosial yang menempatkan peran sentral pengalaman dan bukti empiris sebagai basis dari ilmu pengetahuan dan penelitian. Terminologi positivisme dikenalkan oleh Auguste Comte untuk menolak doktrin nilai subyektif, digantikan oleh fakta yang bisa diamati serta penerapan metode ini untuk membangun ilmu pengetahuan yang diabdikan untuk memperbaiki kehidupan manusia. Salah satu bagian dari tradisin positivism adalah sebuah konsep yang disebut dengan positivisme logis. Positivisme ini dikembangkan oleh para filosof yang menamakan dirinya ‘Lingkaran Vienna’ (Calhoun, 2002) pada awal abad ke duapuluh. Sebagai salah satu bagian dari positivisme, positivisme logis ingin membangun kepastian ilmu pengetahuan yang disandarkan lebih pada deduksi logis daripada induksi empiris. Kerangka pengembangan ilmu menurut tradisi positivisme telah memunculkan perdebatan tentang apakah ilmu pengetahuan sosial memang harus “diilmiahkan”. Kritik atas positivism berkaitan dengan penggunaan fakta-fakta yang kaku dalam penelitian sosial. Menurut para oponen positivism, penelitian dan pengembangan ilmu atas realitas sosial dan kebudayaan manusia tidak dapat begitu saja direduksi kedalam kuantifikasi angka yang bisa diverikasi karena realitas sosial sejatinya menyodorkan nilai-nilai yang bersifat kualitatif (Calhoun, 2002). Menjawab kritik ini, kaum positivis mengatakan bahwa metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian sosial tidak menemukan ketepatan karena sulitnya untuk di verifikasi secara empiris. Tokoh-tokoh yang paling berpengaruh dalam mengembangkan tradisi positivisme adalah Thomas Kuhn, Paul K. Fyerabend, W.V.O. Quine, and filosof lainnya. Pikiran-pikiran para tokoh ini membuka jalan bagi penggunaan berbagai metodologi dalam membangun pengetahuan dari mulai studi etnografi sampai penggunaan analisa statistik. Pragmatisme Pragmatisme adalah mashab pemikiran filsafat ilmu yang dipelopori oleh C.S Peirce, William James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S Schiller dan Richard Rorty. Tradisi pragmatism muncul atas reaksi terhadap tradisi idealis yang dominan yang menganggap kebenaran sebagai entitas yang abstrak, sistematis dan refleksi dari realitas. Pragmatisme berargumentasi bahwa filsafat ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental dan menggantinya dengan aktifitas manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para penganut mashab pragmatisme, ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah perjalanan dan bukan merupakan tujuan. Pada awalnya pragmatisme dengan tokoh-tokohnya mengambil jalan berpikir yang berbeda antara satu dengan lainnya. Peirce (dalam Calhoun, 2002), misalnya, lebih tertarik dalam meletakkan praktek dalam bentuk klarifikasi gagasan-gagasan. Peirce adalah tokoh yang menggagas konsep bahasa sebagai media dalam relasi instrumental antara manusia dengan benda. Gagasan ini kemudian disebut sebagai semiotik. James, tokoh yang mempopulerkan pragmatism, lebih tertarik dalam menghubungkan antara konsepsi kebenaran dengan area pengalaman manusia yang lain seperti; kepercayaan dan nilai-nilai kemasyarakatan. Tokoh selanjutnya, Dewey, menjadikan pragmatisme sebagai basis dari praktekpraktek berpikir secara kritis. Pendekatan Dewey (1916) yang pragmatis dalam pendidikan, misalnya, menitikberatkan pada penguasaan proses berpikir kritis daripada metode hafalan materi pelajaran. Sumbangan dari pragmatisme yang lain adalah dalam praktek demokrasi. Dalam area ini pragmatisme memfokuskan pada kekuatan individu untuk meraih solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi. Sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang popular dengan sebuatan wali songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak Jawa Tengah. Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam. Para ulama yang sembilan (wali songo) dalam menangguangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN. ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain. Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan animisme dan dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauhjauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari‟at Islam tanpa reseve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH. Adapun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati. Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari‟at Islam. Maka para wali aliran Tuban berusaha adat istiadat Budha, Hindu, animisme dan dinamisme diwarnai keislaman. Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang “radikal”. aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan syari‟at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam abangan. Dengan ajarah agama Hindu yang terdapat dalam kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna besar dan Yajna kecil. Yajna besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang. Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati. Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si pulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya. Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si pulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan. *1 Musyawarah para wali *2 Pada masa para wali dibawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman. Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut : “Apakah tidak dikhawatirkan dikemudian hari?, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid‟ah”. Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut : “Saya sangat dengan pendapat Sunan Kali Jaga”. Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu. Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran kleni / aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut “Manunggaling Kaula Gusti” yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan. Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang. Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi pra raja Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari‟at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri. Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang keparat itu. Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membela, dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian. Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur‟an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur‟an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid‟ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional. Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu. Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang. Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kemagian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini. Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini. Dengan sudah tahunya sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian yang terurai diatas, maka kita tidak akan lagi mengatakan bahwa upacara kematian adalah ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa orang yang tidak mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran agama Hindu. Orang-orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikitpun. Tetapi kenapa kita orang Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka. Tak cukupkah bagi kita Sunnah Rasulullah yg sudah jelas terang benderang saja yg kita kerjakan. Kenapa harus ditambah-tambahin/mengada-ngada. Mereka beranggapan ajaran Rasulullah masih kurang sempurna. Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, kita mau membuka hati untuk menerima kebenaran yang hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi orang Islam yang konsekwen terhadap ajaran Alloh dan RosulNya. Ada satu hal yang perlu kita jaga baik-baik, jangan sekali-kali kita berani mengatakan bahwa orang yang matinya tidak ditahlil adalah kerbau. Menurut penulis, perkataan seperti ini termasuk dosa besar, karena berarti Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya serta kaum muslimin seluruh dunia selain orang pulau Jawa yang matinya tidak ditahlili adalah kerbau semua. Na‟udzu billahi mindzalik Penulis SUHADI Daftar Literatur 1. K.H. Saifuddin Zuhn, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Ma’arif Bandung 1979 2. Umar Hasyim, Sunan Giri, Menara Kudus 1979 3. Solihin Salam, Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974 4. Drs. Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, Ab.Siti Syamsiyah Solo 1977 5. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961 6. Hasil wawancara dengan tokoh Agama Hindu. 7. A. Hasan, Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975 Source: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4135127 MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI‟UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH TANYA : Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta‟ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut? JAWAB : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu. KETERANGAN : Dalam kitab I‟anatut Thalibin Kitabul Janaiz: “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta‟ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).” Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan : “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta‟ziyah jenazah. Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.” Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID‟AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa‟). Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi SAW terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat. Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris). SELESAI , KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI‟UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 REFERENSI : • Lihat : Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman 15-17), Pengantar: Rais „Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh, Penerbit Lajnah Ta‟lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007. • Masalah Keagamaan Jilid 1 – Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama Kesatu/1926 s/d/ Ketigapuluh/2000, KH. A.Aziz Masyhuri, Penerbit PPRMI dan Qultum Media. Pendapat Para Ulama tentang Tahlilan Bismillah… Assalaamu’alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokaatuh… Yang berkembang dimasyarakat luas pada saat ini adalah AHLUSSUNAH WAL JAMA‟AH adalah mereka yang melakukan qunut pada waktu sholat subuh, orang yang suka melakukan TAHLILAN/ MA‟TAM, orang yang suka melakukan maulidan (penbacaan barjanji dan lain sebagainya), jika itu yang menjadi patokan mereka berarti dapat ditarik kesimpulan bahwasanya orang-orang yang tidak melakukan Qunut pada waktu sholat Subuh, TAHLILAN/ MA‟TAM, dan maulidan berarti mereka bukan termasuk AHLUSSUNAH WAL JAMA‟AH berarti Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali) yang tidak melakukan Qunut pada waktu sholat subuh beratri beliau bukan termasuk ahlussunah waljama‟ah dan lebih jauhnya Imam Madzhab yang 4 “Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi), Imam Malik bin Annas (Amam Annasa‟i), Imam Syafi‟I dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali)”, para shabat, bahkan Rosul SAW yang tidak melakukan tahlilan dan tidak melakukan maulidan bukan termasuk AHLUSSUNAH WAL JAMA‟AH, ini adalah suatu anggapan yang SALAH BESAR dan ini bukan termasuk golongan AHLUSSUNAH WAL JAMA‟AH melainkan ALUSSALAH WAL GAGABAH. (Pengajian Mansyura: Bpk. Muhammad Syihabuddin Muhsin rohimahulloh) HISTORY TAHLILAN/ MA’TAM Pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah kita ketahui, di antara yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya. Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang TRADISI HINDU yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam. Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan. Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit. Jadi istilah tahlil seperti pengertian di atas tidak dikenal sebelum Wali Songo. KESIMPULAN: 1. TAHLILAN/ MA‟TAM tidak ada dasar syaria‟ahnya 2. TAHLILAN/ MA‟TAM merupakan kebiasaan orang-orang Hindu PANDANGAN AL-QUR’AN DAN AL-HADITS 1. Al-Muatha’ “Telah aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang bila mana kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur‟an –red) dan Sunnahku (Al-Hadits Shahihah).” (AlMuatha‟, Al-Qadar, hal.560, no.3) 2. Tafsir Jalalain “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” “Maka seseorang tidak akan memperoleh pahala sedikit pun dari hasil usaha orang lain.” (Tafsir Jalalain, 2/197) 3. Hadits Shahih dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii “Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap.” PANDANGAN ULAMA TERHADAP TAHLILAN/ MA’TAM 1. Imam Syafi’I “Aku benci Al MA‟TAM yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .” (Al-Umm, Juz 1, hal 248) 2. Imam Nawawi “Adapun bacaan Al-Qur‟an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit dan menggantikan shalatnya mayit tersebut. Menrut Imam Syafi‟I dan Jumhur Ulama mengatakan tidak dapt sampai kepada simayit yang dikirimkan dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi didalam kitabnya Syarah Muslim.” (As Subuki, TAKMILATUL MAJMU, syarah MUHADZAB, Juz X, hal. 426) 3. Al-Haitami “Mayit tidak boleh dibacakan apa pun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari para Ulama Mutaqaddimin (Al-Qur‟an dan As-Sunnah) (terdahulu), bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada simayit) adalah tidak sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedangkan pahala hasil amalan tidak dapat dipindahkan ari amil (yang mengamalkan) pernuatan itu, berdasarkan firman Allah “Dan manusia tidak memperoleh, kecuali dari pahala hasil usahanya sendiri.” (Al-Haitami, Al-Fatwa Wa Al Kubra Al Fighiyah, Juz II, hal.9) 4. Imam Al Khazin “Dan yang masyhur dalam madzhab Syafi‟I, bahwa bacaan Al-Qur‟an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi.” (Al Khazin, Al-Jamal, Juz IV, hal.236) 5. Ibnu Katsir “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(An-Najm :39), Imam Syafi‟I r.a dan ulama-ulama yang mengikitinya mengambil kesimpulan, bahwa pahala bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada simayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah SAW tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan). Dan tidak pernah memberikan bimbingan, baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorang sahabatpun yang tidak pernah mengamalkan hal tersebut, kalau toh amalan semacam itu baik , tentu mereka lebih dulu mengerjakannya, padahal amalan qurban (mendekatkan diri kepada Allah ) hanya terbatas yang ada nash-nashnya (dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Rosulullah SAW) dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat.” (Tafsir Ibnu Katsir IV:258) Analisi Firman Allah: “Dan bahwasanya seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu selain apa yang telah diusahakan” 1. Tafsir Ibnu Katsir IV: 258 (maksudnya) ialah bagaimana seseorang tidak akan dibebani dengan dosa (orang) lain, demikian ia tidak dapat memperoleh pahala selain dari apa yang telah iya upayakan untuk dirinya. Imam Syafi‟I r.a dan ulama-ulama yang mengikitinya mengambil kesimpulan, bahwa pahala bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada simayit adalah tidak dapat sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah SAW tidak pernah menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala bacaan). Dan tidak pernah memnerikan bimbingan, baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorang sahabatpun yang tidak pernah mengamalkan hal tersebut, kalau toh amalan semacam itu baik , tentu mereka lebih dulu mengerjakannya. 2. Tafsir Al-Maraghi XXVII:66) Adapun madzhab Ahmad bin Hanbal dan segolongan para ulama (menyatakan) bahwa bacaan Al-Qur‟an akan sampai (pahalanya) kepada yang telah mati, apa bila bacaan itu dilakukan dengan tidak mengambil upah. Adapun apabila mengambil bayaran atau upah sebagaimana dilakukan orang-orang dewasa ini, ialah dengan member bayaran/ upah kepada pembaca Al-Qur‟an diatas kuburan dan yang lainnya, maka hal seperti itu tidak akan sampai kepada yang telah mati. 3. Sarah Shahih Muslim Adapun Al-Qur‟an pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi‟I tidak sampai pahalanya kepada yang telah mati, sementara sebagian pengikut Imam Syafi‟I berpendapat bahwa pahala bacaan itu sampai kepada orang yang telah mati. 4. Adzkar An-Nawawi Para ulama berselisih pendapat dalam hal sampai dan tidaknya pahala bacaan Al-Qur‟an, maka pendapat yang masyhur dari madzhab Imam Syafi‟I serta golongan para ulama bahwasanya pahala bacaan Al-Qur‟an itu tidak akan sampai kepada orang yang telah mati. (AL HIDAYAH, Bab Menghadiyahkan Pahala Bacaan Al-Qur‟an Kepada Orang Yang Telah Mati hal.784, A.Zakariya) Analisa Kitab 1. I’anatut Thalibin “ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul dirumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk BID‟AH Munkarat (bid‟ah yang diingkari agama). Yang bagi memberantasnya akan diberi pahala.” (I‟anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu‟in, Juz 2 hal. 145) Dan apa yang dibiasakan orang tentang hidangan makanan oleh keluarga mayit untuk dihidangkan para undangan. Adalah BID‟AH yang tidak disukai dalam agama. Sebagaimana berkumpul dirumah simayit itu sendiri. Karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii ” Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan adalah sama dengan hokum Niyahah (meratapi mayit) yakni haram.” (I‟anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu‟in, Juz 2 hal. 146) Dan tidak disukai menyediakan makana pada hari pertama kematian. Hari ketiga, sesudah seminggu, dan juga memindahkan makanan ke luburan secara musiman seperti haul. (I‟anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu‟in, Juz 2 hal. 146) Dan diantara bid‟ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I‟anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu‟in, Juz 2 hal. 145-146) Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid‟ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID‟AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I‟anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu‟in, Juz 2 hal. 145-146) 2. Al-Umm ” Aku benci Al MA‟TAM yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidak ada tangisan, karena sesungguhnya yang demikian itu akan memperbaharui kesedihan .” (Al-Umm, Juz 1, hal 248) 3. Mughnil Muhtaj Adapun menyediakan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang-orang banyak disitu, adalah BID‟AH, yang tidak disunatkan, dan didalam hal ini Imam Ahmad bin Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang sah dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii ” Kami ( yakni para Shahabat semuanya ) memandang/menganggap ( yakni menurut madzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayit dan membuatkan makanan adalah sama dengan hokum Niyahah (meratapi mayit) yakni haram.” (Mughnil Muhtaj, Jus 1, hal 268) 4. Hasyiyatul Qalyubi Syekh Ar Romli berkata “diantara bid‟ah yang munkarat yang tidak dibenarkan agama, yang tidak disukai dikerjakan, yaitu sebagaimana yang diterngangkan dalam kitab Ar Raudlah, yaitu apa yang dikerjakan orang, yang disebut kifarah, dan hidangan makanan untuk acara berkumpul dirumah keluarga mayit. Baik senelum maupun sesudah kematian, dan juga penyembelihan dikuburan.” (Hasyiyatul Qalyubi, Juz 1, hal 353) 5. Al-Majmu’ Sarah Muhadzab Adapun menyediakan hidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya orang-orang banyak disitu, adalah BID‟AH yang tidak disunatkan.” (Al-Majmu‟ Sarah Muhadzab, Juz 5, hal.286 6. Al Fiqhu Alal Madzahibil Arba’ah “Dan diantara BID‟AH yang tidak disukai agama ialah, apa yang dikerjakan orang tentang menolong binatangbinatang ketika mayit dikeluarkandari tempat bersemayamnya, atau dikuburan, dan juga menghidangkan makanan yang diperuntukkna bagi orang-orang yang ta‟ziah (menjenguk yang meninggal).” (Al Fiqhu Alal Madzahibil Arba‟ah, Juz 1, hal 539) (TAHLILAN dan SELAMATAN: Menurut Madzhab Syafi’i) Dari awal sampai saat ini sudah teramat sangat jelas apa itu TAHLILAN/ MA‟TAM dari sudut pandang Syari‟ah (AlQur‟an dan As-Sunah), Qaul Ulama, Kitab-kitab dan lain sebagainya, akan tetapi kenapa lagi-lagi masih banyak disekitar kita yang melakukan hal BODOH seperti itu, apakah para asatidz yang pura-pura tidak tahu ? ? ? tidak ingin tahu ? ? ? takut kehilangan BESEK (Berkat, Imbalan sehabis TAHLILAN/ MA‟TAM), dan biasanya hal ini identik dengan kegiatan orang-orang NU, afwan ane pribadi miris ketika orang-orang diluar sana mencap NU sebagai Ahlul Bid‟ah, ana miris karena ini semua perbuatan masyarakat BODOH yang TAQLID dan FANATIK yang mengakungaku Nahdiyin akan tetapi ia tidak tau menau apa-apa (BODOH), majalah NU Al-Mawa‟id menentang keras TAHLILAN/ MA‟TAM bahkan didalam majalah yang tebit pada tahun 1930an itu mengutip “bahwasanya Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan TAHLILAN/ MA‟TAM min AF‟ALIL JAHILIYAH (PERBUATAN ORANG JAHILIYAH) dan menurut sejarah itu berasal dari agama BUDHA, naudzubillahhi min dzalik. K.H Wahab Muhsin dan K.H Muhammad Syihabuddin Muhsin rohimahullah beserta para asatidz NU lainnya berjuang memerangi TAHLILAN/ MA‟TAM 17 tahun lamanya didaerah Suka Rame, Suka Rapih, Singaparna, Tasikmalaya. Ini harus kita jadikan contoh terutama bagi orang-orang yang mengaku Ahlussunah. karena NU bukan perkumpulan orang yang CINTA BID‟AH, TAQLID BUTA dan FANATIK akan tetapi tajdid yang senantiasa berpegang kepada Al-Qur‟an dan As-Sunah Shahihah. “Yaa Allah bukakan lah pintu hidayahMu dan bimbinglah kami kedalam jalan yang Engkau ridhoi” Note: Saya tidak cantumkan penulisnya karena lupa, tidak tercatat, tapi saya setuju dengan dalil-dalil ini , kepada penulis, saya mohon maaf karena tulisannya dimuat di blog ini.Terima kasih (Selengkapnya)
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful