P. 1
METODE PENELITIAN SOSIAL Hubungan Antara Kemampuan Manajerial Aparat Pemerintahan Desa Dengan Pembangunan Di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen

METODE PENELITIAN SOSIAL Hubungan Antara Kemampuan Manajerial Aparat Pemerintahan Desa Dengan Pembangunan Di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen

|Views: 307|Likes:
Published by T SULFANUR

More info:

Published by: T SULFANUR on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/24/2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Negara Republik Indonesia sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Terbitnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, semakin menguatkan posisi daerah dalam upaya meningkatkan kemampuan di segala bidang, karena semua yang menyangkut kemajuan daerah diserahkan pengelolaan sepenuhnya kepada daerah, terutama Kabupaten dan Kota sebagai titik berat otonomi daerah. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah secara normatif mengatur tentang desa sebagai unit organisasi pemerintah terendah, yang sebelumnya pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 bercorak sentralistik. Pergeseran perubahan yang menonjol pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 maupun Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, terletak pada filosofi yang digunakan, yaitu keanekaragaman dalam kesatuan sebagai kontra konsep dari filosofi keseragaman yang digunakan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. Dalam kerangka otonomi daerah, salah satu komponen yang masih perlu dikembangkan adalah wilayah pedesaan. Eksistensi desa memiliki arti penting dalam proses pembangunan pemerintahan dan kemasyarakatan, karena desa memiliki “hak otonomi”, yaitu hak untuk mengatur dan mengurus secara bebas rumah tangganya sendiri berdasarkan asal-usul dan adat istiadat masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan pedesaan menuju terciptanya desa yang mandiri tidak dapat dilakukan secara uniform dan stereotifikal untuk seluruh bangsa/negara. Merujuk pada konsep pengembangan development from bellow, yang menekankan proses penyelenggaraan pembangunan pada optimalisasi pemanfaatan

1

sumber daya alam dan keahlian setempat, maka konsepsi pembangunan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk. Hal ini berarti surplus wilayah dikembalikan ke wilayah untuk mendiversifikasi ekonomi wilayah. Meskipun konsep wilayah lebih luas maknanya dibanding definisi desa, pusat perhatian konsep ini tetap menekankan pada elemen terkecil suatu wilayah untuk mengembangkan ekonomi wilayah yang lebih luas, dimana desa merupakan elemen terkecil dari sistem wilayah. Salah satu bentuk dari aplikasi konsep development from bellow adalah agropolitan development, sebagai konsep pembangunan wilayah yang memiliki basis perekonomian pertanian. Prasyarat yang dibutuhkan dalam implementasi konsep pembangunan ini adalah sistem pemerintahan yang demokratis dan tidak terlalu sentralistik. Prasyarat tersebut sejalan dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Indonesia, terutama di era otonomi daerah seiring dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Untuk mewujudkan kemandirian pelaksanaan pembangunan yang berbasis pada wilayah pedesaan, dituntut keterlibatan sosiokultural yang ada dalam masyarakat. Hal ini semakin membuka peluang bagi masyarakat desa untuk memanfaatkan nilai-nilai budaya serta pranata sosial setempat demi mewujudkan keberhasilan pembangunan di desanya masing-masing. Melalui otonomi desa, terbuka kesempatan yang luas untuk mengetahui sumber daya, masalah, kendala serta memperbesar akses setiap warga desa untuk berhubungan langsung dengan pemimpinnya, atau sebaliknya bagi pemimpin dapat mengetahui kebutuhan desa secara tepat. Pembangunan desa dengan demikian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan dari masyarakat, oleh masyarakat serta untuk masyarakat desa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan taraf kehidupan yang layak. Karakteristik pembangunan desa memiliki sifat yang multidimensional menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat di desa. Dari sudut pemerintahan, pembangunan desa dioperasionalisasikan melalui berbagai sektor dan program yang saling terkait dan pelaksanaannya dilakukan oleh masyarakat dengan bantuan dan bimbingan pemerintah. Pada realitasnya, mayarakat desa sampai saat ini tetap memiliki berbagai keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia, sumber

2

daya alam, maupun sumber daya modal. Kerjasama yang dibangun antara pemerintah dengan mayarakat akan menciptakan pola hubungan yang serasi dalam proses pelaksanaan pembangunan di pedesaan. Pembangunan pedesaan, identik dengan pembangunan di sektor pertanian, karena sebagian besar mata pencaharian penduduk bergerak di sektor pertanian, meskipun dalam prakteknya di lapangan, karakteristik budaya masyarakat pedesaan di Indonesia sangat beragam. Mubyarto (2000), membagi tipologi desa berdasarkan mata pencahariannya, yakni desa persawahan, desa perkebunan, desa perternakan, desa industri kecil dan menengah, desa jasa dan perdagangan, serta desa perladangan. Fenomena yang sama juga dijumpai di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. Berdasarkan data statistik, wilayah Desa Krueng Juli Barat yang menjadi lokasi penelitian, sebagian besar masyarakatnya bergerak di sektor pertanian, yakni terdapat sekitar 41,72% (BPS Kecamatan Kuala dalam Angka, 2010:19). Secara tradisional, peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi dipandang pasif dan bahkan hanya dianggap sebagai unsur penunjang semata (Todaro, 1998:432). Fenomena ini dijumpai dalam sejarah pembangunan di Indonesia selama pemerintahan Orde Baru, yang menjadikan sektor pertanian sebagai sektor pendukung proses industrialisasi. Peranan sektor pertanian dianggap sebagai sumber tenaga kerja dan sumber bahan baku murah demi perkembangan sektor-sektor industri yang diharapkan mampu mengejar ketertinggalan ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia. Akibat dari marginalisasi konsep pembangunan wilayah pedesaan selama pemerintahan Orde Baru, menimbulkan berbagai masalah bagi masyarakat desa yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Beberapa persoalan yang dihadapi masyarakat di pedesaan antara lain kurangnya sarana dan prasarana, banyaknya pengangguran, kualitas gizi yang masih rendah, aparatur desa belum berfungsi dengan baik, lokasi desa yang terisolisasi dan terpencar, keterampilan penduduk yang rendah, tidak seimbangnya antara jumlah penduduk dengan luas wilayah pertanian, kemiskinan, ketimpangan distribusi pendapatan, ketidakseimbangan struktural ataupun keterbalakangan pendidikan dan lain sebagainya.

3

Hal menonjol dilihat dari aspek pemerintahan adalah pelaksanaan organisasi pemerintahan desa yang belum secara optimal berjalan dengan baik, sehingga pertumbuhan dan perubahan sosial di desa relatif lambat, bahkan kemacetan sistem tidak dapat dihindarkan. Untuk melakukan perubahan sosial masyarakat desa, dibutuhkan perencanaan yang baik dalam pembangunan desa yang mampu mengangkat serta mengembangkan potensi lokal masyarakat di pedesaan. Dalam perencanaan pembangunan desa, pemerintah desa dalam hal ini Kepala Desa mempunyai peran penting dan strategi dalam perencanaan bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, memungkinkan setiap desa memiliki sebuah lembaga yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. Lembaga ini bisa berupa lembaga adat atau lembaga kemasyarakatan desa yang ditetapkan dengan peraturan desa. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 64 Tahun 1999, disebutkan bahwa lembaga kemasyarakatan ini merupakan mitra pemerintah desa dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat. Konsep perencanaan pembangunan di wilayah pedesaan menjadi demikian penting, karena akan menentukan arah pembangunan di suatu desa. Selain itu, menjadi kewajiban pemerintah desa untuk menampung aspirasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa. Aspirasi masyarakat dapat ditampung dengan cara melibatkan Badan Permusyawaratan Desa dalam proses perencanaan pembangunan desa bersama pemerintah desa, yaitu Kepala Desa beserta perangkat-perangkatnya. Untuk mencapai hasil maksimal pembangunan, dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga selesainya pembangunan, yang kata kuncinya diperlukan pengelolaan secara sistematik. Dalam konteks ini, sistem manajemen pemerintahan sebagai perangkat integral dan melekat dengan pengelolaan pembangunan desa berfungsi untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan itu, aspek kemampuan aparat pemerintahan desa sebagai penentu dan penyelenggara menajemen pemerintahan desa harus dapat menciptakan nilai keadilan dalam proses pembangunan desa. Nilai keadilan itu berkaitan dengan pemenuhan hal-hak warga negara yang harus terlayani secara menyeluruh oleh pemerintah desa. Untuk menyelenggarakan fungsi pemerintahan dan pembangunan

4

desa dibutuhkan kemampuan manajerial aparat pemerintah desa yang handal dalam usaha memberikan kepuasan bagi masyarakat melalui pelaksanaan pembangunan desa sesuai tujuan keberadaan institusi pemerintahan sebagai organisasi publik. Secara empirik penerapan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen, belum berjalan secara optimal. Fenomena ini dapat dilihat dari pembuatan Daftar Usulan Rencana Proyek (DURP) yang seharusnya direncanakan oleh pemerintah desa dan BPD atas usul masyarakat desa, ternyata hanya dibuat oleh Kepala Desa dan aparat kecamatan. Proses pelaksanaan pembangunan juga tidak mengikutsertakan masyarakat. Pelaksana kegiatan dilakukan Kepala Desa dan aparat kecamatan tanpa mempertimbangkan aspek kepentingan masyarakat desa. Begitu pula pada aspek pengawasan hasil pembangunan, tidak pernah diperiksa oleh BPD, tetapi diperiksa oleh pihak kecamatan. Dengan demikian sejauh ini pelaksanaan pembangunan desa masih didasarkan atas kemauan dan keinginan Kepala Desa dan pihak kecamatan, belum atas dasar pertimbangan keinginan dan kemauan masyarakat desa. Fenomena di atas menguatkan asumsi bahwa kemampuan manejerial aparat pemerintah desa dalam mengelola manajemen permintahan desa masih sangat rendah, bahkan aktivitas manajemen tidak dilaksanakan oleh aparat pemerintah desa. Kondisi ini, dapat menyebabkan kualitas pengelolaan manajemen pemerintah desa yang menunjang keberhasilan pembangunan desa menjadi rendah. Padahal pembangunan desa yang merupakan keterpaduan antar berbagai kebijakan pemerintah dengan partisipasi serta swadaya gotong-royong masyarakat, perlu didukung dengan kemampuan aparatur pemerintah dalam menciptakan iklim keterpaduan yang serasi dan berkesinambungan dalam memanfaatkan segala sumber daya di desa untuk didayagunakan dalam pelaksanaan program pembangunan desa. Dalam kaitan itu, implikasi tingkat keberhasilan pembangunan desa, yang diukur dari tingkat taraf hidup masyarakat, ternyata masih sangat rendah. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa juga terlihat sangat rendah serta kurangnya kemampuan masyarakat untuk berkembang secara mandiri dalam menjaga dan melestarikan hasil-hasil pembangunan desa. Atas dasar kondisi objektif di atas, salah satu kunci keberhasilan organisasi pemerintah desa dalam

5

melaksanakan pembangunan desa, terletak pada kemampuan manajerial aparat pemerintah desa. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut seberapa besar hubungan kemampuan manajerial aparat pemerintah desa dengan pembangunan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi masalah pokok penelitian ini adalah "hubungan antara kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dengan pembangunan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen?". Secara rinci yang menjadi masalah penelitian ini diuraikan dalam poinpoin pertanyaan berikut: 1. Bagaimana kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen? 2. Bagaimana tingkat pembangunan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen? 3. Apakah terdapat hubungan kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dengan pembangunan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen?

1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui, menjelaskan dan menganalisis hubungan antara kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dengan pembangunan di di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. Secara rinci tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui tingkat kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. 2. Untuk mendeskripsikan tingkat pembangunan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.

6

3. Untuk menjelaskan dan menganalisis hubungan kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dengan pembangunan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Secara akademis, hasil penelitian ini berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam studi pembangunan dan pemerintahan di wilayah pedesaan yang mandiri dan mempertimbangkan kualitas taraf hidup masyarakat. 2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bireuen, dalam meningkatkan kinerja aparatur pemerintahan desa melalui kemampuan pembangunan desa. 3. Hasil penelitian ini juga berguna bagi para peneliti yang berminat pada kajian sejenis. manajerial dalam menunjang

1.5. Kerangka Pemikiran Bila digambarkan kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada skema di bawah ini:

Kemampuan Manajerial Aparat Pemerintahan Desa (X)  Kemampuan pengelolaan struktur organisasi  Kemampuan memperoleh dukungan lingkungan  Kemampuan pelaksanaan tugas (performance)  Kemampuan leadership

   

Tingkat Pembangunan Desa (Y) Partisipasi masyarakat Perimbangan peran Kemandirian masyarakat Taraf hidup masyarakat

Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Hubungan Kemampuan Manajerial Aparat Pemerintahan Desa dengan Pembangunan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen

7

1.6. Hipotesis Terdapat hubungan positif dan signifikan antara kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dengan pembangunan di Desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen.

8

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1. Manajemen Pengembangan Sumberdaya Manusia 2.1.1 Pengertian Manajemen Kegiatan manajemen menurut George R. Terry (1993:9), adalah untuk mencapai tujuan, dilakukan oleh individu-individu yang menyumbangkan upaya yang terbaik melalui tindakan-tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tindakan ini meliputi pengetahuan tentang apa yang harus mereka lakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus mengukur efektivitasnya. Selanjutnya menetapkan dan memelihara kondisi lingkungan yang memberi respon ekonomis, psikologis, sosial, politis dan sumbangan-sumbangan teknis serta pengendaliannya. Bila manajemen disebut sebagai kegiatan, maka pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang melakukannya disebut manajer. Individu yang menangani tugas-tugas operasional seluruhnya bersifat manajerial. Kemampuan manajerial harus sesuai dengan sifat-sifat manajemen sebagai suatu proses. Proses itu menjadi panduan dari kegiatan yang dilakukan secara menyeluruh. Manajemen sebagai suatu proses sosial, artinya adanya proses hubungan antara manajer dengan bawahan. Dari penjelasan ini, istilah manajemen berhubungan dengan usaha untuk mencapai tujuan tertentu dengan jalan menggunakan sumber-sumber yang tersedia dalam organisasi dengan cara sebaik mungkin. Karena organisasi mengandung unsur sekelompok manusia, maka unsur terpenting dalam manajemen adalah kelompok manusia (Sarwoto, 1991:47). Secara umum, manajemen diartikan kemampuan bekerja dengan orang lain untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading) dan pengawasan (controlling) (Handoko, 1991:10). Untuk

9

mencapai tujuan, seorang manajer bekerja dengan orang lain dengan cara mengatur, menggerakkan dan mengarahkan segala jenis pekerjaan. Itulah sebabnya manajemen disebut juga sebagai seni yang menggerakkan dan mengarahkan orang lain melalui cara yang persuasif tanpa tekanan (Hasibuan, 2007:1-2).

2.1.2 Manajemen Sumberdaya Manusia Masalah sumber daya manusia (SDM) di satu pihak dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan kerja manusia dalam melakukan berbagai macam kegiatan dalam masyarakat. Di lain pihak, pengembangan SDM berhubungan erat dengan usaha peningkatan taraf hidup. Yang sering ditekankan adalah pada aspek pertama, yaitu peningkatan kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan asumsi bahwa aspek kedua akan terpenuhi dengan sendirinya (Simanjuntak, 1982:9). Pengembangan adalah setiap usaha untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang, dalam memberikan informasi yang mempengaruhi sikap atau menambah kecakapan. Dengan kata lain pengembangan adalah setiap kegiatan yang dimaksud untuk mengubah perilakuperilaku yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan dan sikap (Moekijat, 1991:8). Manajemen pengembangan SDM dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitas dan kualitas. Aspek kuantitas menyangkut jumlah SDM (penduduk), sedangkan aspek kualitas menyangkut mutu SDM, yakni kualitas fisik maupun kualitas nonfisik (kecerdasan dan mental). Untuk meningkatkan kualitas fisik dapat diupayakan melalui program peningkatan kesehatan dan gizi, sedangkan untuk meningkatkan kualitas kecerdasan dan mental ditempuh melalui pendidikan dan pelatihan. Secara makro, pengembangan SDM (human resources development) diartikan sebagai proses peningkatan kualitas atau kemampuan manusia dalam rangka mencapai tujuan pembangunan. Proses peningkatan ini mencakup perencanaan, pengembangan dan pengelolaan SDM. Secara mikro, pengertian SDM dalam lingkungan unit kerja (organisasi atau lembaga) yang dimaksud adalah tenaga kerja, pegawai (employee). Berdasarkan itu, pengembangan SDM secara mikro

10

adalah proses perencanaan pendidikan, pelatihan dan pengelolaan pegawai/karyawan untuk mencapai hasil yang optimal. Proses pengembangan SDM itu terdiri dari perencanaan (planning), pendidikan dan pelatihan (education and training) dan pengelolaan (management) (Notoatmodjo, 1998:2-3). Prinsip pertama dari manajemen adalah peningkatan efisiensi penggunaan sumber-sumber yang digunakan dalam produksi, seperti waktu, modal, bahan-bahan dan tenaga kerja. Peningkatan produktivitas kerja pegawai merupakan tujuan utama dari manajemen personalia. Produktivitas seseorang dapat ditingkatkan hanya bila kebutuhan fisik minimumnya sudah terpenuhi. Implikasinya adalah penerapan upah minimum dan pembinaan syarat-syarat kerja di instansi/lembaga. Di samping pengembangan, dibutuhkan juga perencanaan SDM yang baik. Perencanaan dalam hal ini berarti teknik atau cara mencapai tujuan untuk mewujudkan maksud dan sasaran tertentu yang telah ditentukan sebelumnya (Sanusi, 2000:9). Perencanaan SDM berarti serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi permintaan (demand) dan lingkungan pada organisasi di waktu yang akan datang, serta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tenaga kerja yang ditimbulkan oleh kondisi-kondisi tersebut. Salah satu definisi klasik tentang perencanaan SDM mengatakan bahwa perencanaan pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan sekarang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa depan (Rivai, 2005:37). Ini berarti, yang menjadi fokus perhatian dalam perencanaan SDM adalah langkah-langkah tertentu yang diambil oleh pihak manajemen guna lebih menjamin bahwa dalam organisasi tersedia SDM yang tepat untuk menduduki berbagai kedudukan, jabatan dan pekerjaan yang tepat pada waktu yang tepat pula. Perencanaan dan Pengembangan SDM yang terarah disertai pengelolaan yang baik akan menghemat penggunaan sumber daya alam (SDA), atau setidaktidaknya pengolahan dan pemakaian SDA dapat secara efektif dan efisien. Pengembangan SDM akan mendorong pencapaian hasil secara optimal, sekaligus merupakan bentuk investasi (human investment). Berdasarkan itu, pengembangan SDM merupakan suatu keniscayaan dalam sebuah organisasi/instansi. Namun demikian, dalam pelaksanaan perlu mempertimbangkan faktor-faktor internal (yang

11

datang dari dalam organisasi) maupun faktor eksternal (yang datang dari luar organisasi). Alasan utama pentingnya pengembangan kualitas SDM dalam suatu organisasi/instansi terutama karena peran strategis SDM sebagai pelaksana fungsifungsi organisasi, yaitu perencanaan, pengorganisasian, manajemen staf,

kepemimpinan, pengendalian dan pengawasan serta sekaligus berfungsi sebagai pelaksana operasional organisasi seperti pemasaran, produksi, perdagangan, industri, keuangan dan administrasi. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut sangat bergantung pada seberapa besar kualitas SDM dalam organisasi itu. Demikian pentingnya peran strategis pengembangan dan peningkatan kualitas SDM sejalan dengan tuntutan era globalisasi. SDM yang berkualitas akan sangat menentukan maju mundurnya organisasi di masa mendatang.

2.1.3 Fungsi Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia SDM perlu dikelola secara baik dan profesional agar tercipta keseimbangan antara kebutuhan SDM dengan tuntutan serta kemajuan organisasi. Keseimbangan itu merupakan kunci sukses bagi organisasi agar dapat berkembang dan tumbuh secara produktif dan wajar. Perkembangan organisasi sangat tergantung pada

produktivitas tenaga kerja yang terdapat dalam organisasi. Bila pengembangan SDM dilaksanakan secara profesional, diharapkan SDM dapat bekerja secara lebih produktif. Pengelolaan dan pengembangan SDM ini dimulai dari sejak perekrutan, seleksi, pengklasifikasian, penempatan sesuai dengan kemampuan, penataran/pelatihan dan pengembangan karir. Dengan demikian, masalah manusia merupakan faktor utama sebagai modal usaha yang perlu diperhatikan oleh organisasi. Sasaran yang diharapkan dari pengembangan SDM itu antara lain pekerjaan yang dilakukan dapat lebih cepat dan lebih baik; penggunaan bahan dapat lebih hemat; penggunaan peralatan/mesin diharapkan lebih tahan lama; angka kecelakaan diharapkan dapat diperkecil; tanggungjawab diharapkan menjadi lebih besar serta kelangsungan organisasi dapat lebih terjamin di masa mendatang. Melalui pengembangan SDM, efektifitas kerja dapat lebih ditingkatkan bilamana SDM yang ada telah sesuai dengan kebutuhan organisasi. Selain itu,

12

Standar Operating Prosedure (SOP) sebagai pedoman kerja telah dimiliki yang meliputi suasana kerja kondusif, tersedia perangkat kerja sesuai dengan tugas masing-masing, adanya jaminan keselamatan kerja, semua sistem telah berjalan dengan baik, dapat diterapkannya secara baik fungsi organisasi, penempatan SDM telah dihitung berdasarkan kebutuhan dan beban kerja (Rivai, 2005:49). Fungsi pengembangan SDM selain meningkatkan efektivitas kerja juga dapat mendorong peningkatan produktivitas organisasi. Senada dengan itu, Flippo (1995:210), mengatakan bahwa manfaat pengembangan SDM pada setiap organisasi adalah: produktifitas semakin bertambah dipandang dari sudut jumlah dan mutu, semangat kerja semakin meningkat, pengawasan semakin berkurang, kecelakaan kerja semakin berkurang dan stabilitas dan fleksibilitas organisasi semakin bertambah.

2.2. Manajemen Pemerintahan Secara umum manajemen pemerintahan adalah pengendalian dan

pemanfaatan semua faktor dan sumber daya sesuai perencanaan (planning) hingga evaluasi yang diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu tujuan tertentu. Sebagaimana manajemen yang dipraktekkan di sektor swasta, maka manajemen pemerintahan ditempatkan pada posisi yang sama, yakni harus memiliki orientasi kepada siapa jasa publik itu diberikan. Dalam manajemen pemerintahan dikenal tiga aktor, yaitu pelanggan, produser dan pengatur pelayanan (service arranger). Apabila produser merangkap sebagai pengatur, maka produser selain memproduksi juga memasarkan dan mendistribusi jasa kepada pelanggan dan pelanggan secara langsung menerima pelayanan dari produser (pemerintah). Sejalan dengan itu, Ndraha (1997:73-86) berpendapat bahwa pemerintah berfungsi sebagai pembuat, penjual dan distibutor, sementara rakyat adalah

pemesan, pembeli, penerima produk-produk pemerintahan. Hubungan antara pemerintah dan yang produser dengan diperintah pada situasi seperti ini diibaratkan hubungan dan disebut hubungan transaksional maupun

konsumer

transformasional.

13

Fungsi pemerintah bukan hanya semata melakukan aktivitas pelayanan, tetapi juga menjamin bahwa pelayanan yang diberikan berkualitas, dalam pengertian sesuai dengan tuntutan kebutuhan pelanggan atau berorientasi pada kepentingan publik. Orientasi manajemen pemerintah harus memperhatikan aspirasi masyarakat sebagai pelanggannya dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai

kepentingan pertama yang harus dilayani. Manajemen pemerintahan perlu membangun sistem kualitas terpadu, perubahan budaya (culture change) yang berorientasi pada kepentingan masyarakat serta menjadikan kualitas pelayanan

sebagai suatu kebutuhan (the way of life), sehingga dapat menghasilkan pelayanan yang berkualitas. Manajemen pemerintahan seperti ini diharapkan dapat memenuhi tuntutan yang berkembang. Pemerintahan desa sebagai satuan pemerintahan dalam struktur

ketatanegaraan terendah, secara operasional menjadi komponen terdepan yang berhadapan langsung dengan aktivitas kehidupan masyarakat. Tuntutan dan kebutuhan masyarakat secara prosedural disampaikan melalui pemerintahan desa, selanjutnya secara struktural diteruskan kepada pemerintah tingkat atasnya (pemerintah kecamatan). Demikian pula sebaliknya, berbagai kebijaksanaan dan program yang diimplementasikan pemerintah dijabarkan melalui satuan

pemerintahan sampai pada tingkat desa yang langsung berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Pemerintahan desa menyandang tugas dan kewajiban ganda atau dwi fungsi pemerintahan. Terhadap pemerintah, ia bertindak sebagai wakil masyarakat, dan terhadap masyarakat ia bertindak selaku wakil dari pemerintah. Fungsi tersebut, menempatkan pemerintahan desa sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakatnya. Dalam upaya melaksanakan tugasnya, institusi pemerintah menurut Katz (dalam Ndraha, 1987:113) "memerlukan dukungan struktur (organisasi) seperti dasar hukum, tata kerja, biaya, fasilitas, personil dan sebagainya, serta dukungan lingkungan yang berfungsi sebagai masukan dalam pelaksanaan tugas". Dukungan struktur organisasi ini, meliputi: (1) kemampuan menyiapkan sarana bagi pelaksanaan tugas, (2) kemampuan memelihara pola perilaku organisasi, dan (3)

14

kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan mengendalikan lingkungan yang bersangkutan. Sebagai unit pemerintahan terendah, pemerintahan desa mempunyai otonomi dalam arti berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, juga mempunyai tugas lain sebagai bagian dari segenap wewenang dan kewajibannya, yaitu hak atas pelaksanaan tugas dekonsentrasi, desentralisasi dan tugas pembantuan yang dibebankan oleh pemerintah tingkat atasnya. Hal ini diikuti pula dengan tanggungjawab aparat pemerintahan desa dalam memanage dan mengarahkan organisasi kemasyarakatan sebagai organisasi yang berdiri sendiri, yang tumbuh atas keinginan rakyat, menjadi harapan besar sehingga dapat berperan dalam membantu pemerintahan desa dalam mengelola pembangunan desa. Organisasi masyarakat yang bersifat lokal, Lembaga Masyarakat Desa (LMD), merupakan wahana partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan yang fungsinya memadukan berbagai kegiatan pemerintah serta swadaya gotong-royong masyarakat. Dalam menerapkan manajemen pemerintahan desa, perlu diterapkan prinsip responsivness, yakni sikap keterbukaan dan transparan dari aparat pemerintahan agar masyarakat mudah memperoleh data dan informasi tentang kebijaksanaan, program dan kegiatan yang akan, sedang dan sudah dijalankan sehingga muncul sikap

partisipasi masyarakat dalam perumusan atau perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian kebijaksanaan publik yang terkait dengan dirinya. Selain itu, perlu diterapkan prinsip akuntabilitas, yang menuntut aparat pemerintah untuk mampu mempertanggungjawabkan kebijaksanaan, program dan kegiatan yang dilaksanakan termasuk pula yang terkait erat dengan pendayagunaan ketiga komponen, yaitu kelembagaan, ketatalaksanaan, dan sumberdaya manusia. Selanjutnya perlu diterapkan prinsip responsibilitas, yang menuntut aparat pemerintah mendasarkan setiap tindakannya pada aturan hukum, baik yang terkait dengan lingkungan eksternal (masyarakat luas) maupun yang berlaku di lingkungan internal.

15

2.3. Kemampuan Manajerial Aparat Pemerintahan Desa Kemampuan manajerial secara umum merupakan kemampuan manajer suatu organisasi dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Millet (dalam Todaro, 1998), mengatakan seorang manajer harus memiliki empat kemampuan pokok dalam menajalankan tugas-tugasnya, the ability to see an enterprise as a whole; (b) the ability to make

yaitu: (a)

decisions; (c) the ability to delegate authority; dan (d) the ability to command loyalty. Seorang manajer harus mampu melihat organisasi sebagai satu keseluruhan (the ability to see an enterprise as awhole). Maksudnya, manajer dengan segala pengetahuan yang dimilikinya, harus dapat memandang seluruh unsur yang ada dalam organisasi sebagai satu kesatuan, serta dapat mempersatukan komponen organisasi atau individu-individu yang ada dan yang berpotensi bersama-sama bekerja untuk tujuan organisasi. Seorang manajer harus mampu mengambil keputusan-keputusan (the ability to make decisions) guna mengatasi segala permasalahan yang timbul, dengan demikian ia dapat membuat alternatif-alternatif dan selanjutnya memilih alternatif yang terbaik guna memecahkan permasalahan yang dihadapi. Manajer harus memiliki kemampuan untuk melimpahkan atau mendelegasikan wewenang (the ability to delegate authority), artinya tidak semua pekerjaan dapat dilakukan oleh seorang manajer mengingat beban kerja yang berat, terlebih bagi manajer yang berada pada level puncak (top level manager). Selain itu, seeorang manajer harus memiliki kemampuan untuk menanamkan kesetiaan (the ability to command loyalty), artinya harus mampu memelihara loyalitas bawahan, baik terhadap atasannya maupun terhadap organisasi. Aparatur pemerintah yang memiliki kemampuan manajerial, adalah aparatur pemerintah yang mampu menerapkan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan, sehingga dapat melayani, mengayomi serta menumbuhkan prakarsa dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan memiliki kepekaan, baik terhadap pandangan maupun aspirasi yang hidup dalam masyarakat. Kemampuan manajerial diperlukan untuk menentukan pencapaian tujuan pemerintahan dalam pembangunan, menurut Katz (dalam Ndraha, 1987:112), dilihat dari aspek kemampuan administratif, yakni

16

kemampuan mencapai tujuan yang diinginkan melalui sistem-sistem pendukung pembangunan. Terkait dengan pemerintahan desa, seorang Kepala Desa harus memiliki kemampuan administratif sekaligus kemampuan manajerial, artinya kedudukan Kepala Desa adalah administrator sekaligus manajer dalam lembaga pemerintahan desa. Siagian (1995:27), mengatakan bahwa bentuk nyata dari kegagalan suatu organisasi mengkaitkan pencapaian tujuannya dengan pencapaian tujuan masyarakat luas terlihat dalam dua wujud. Pertama, masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap organisasi yang bersangkutan. Kedua, akibat hilangnya kepercayaan

tersebut masyarakat tidak lagi memberikan dukungan kepada kebijaksanaan dan kegiatan organisasi tersebut. Menurut Tjokroamidjojo (1987:71), sejalan dengan kemajuan masyarakat, semakin luas dan rumitnya pembangunan, mengharuskan adanya aparatur pemerintah yang berdaya guna tinggi. Fungsi dan kedudukan Kepala Desa sangat kompleks dan luas, walaupun secara struktural hanya penyelenggara unit pemerintahan terendah, tetapi dituntut memiliki kemampuan manajerial yang handal dalam mengatasi dan menyelesaikan berbagai masalah di wilayahnya sebagai akibat dari tuntutan serta kebutuhan masyarakat desa yang kian meningkat. Dalam kaitan tersebut, Kepala Desa dalam melaksanakan tugas diperlukan perangkat pemerintahan desa yang memiliki kemampuan manajerial yang memadai.

2.3.1 Kemampuan Pengelolaan Struktur Organisasi Struktur pada dasarnya, adalah ciri organisasi untuk mengendalikan atau membedakan semua bagiannya (Sedarmayanti, 2001:33). Adanya struktur untuk membedakan organisasi dalam mengendalikan perilaku anggotanya dalam

menjalankan tugas. Di samping itu, struktur juga mempengaruhi perilaku dan fungsi kegiatan di dalam organisasi. Dengan demikian, untuk dapat menciptakan efektivitas dan efisiensi organisasi, diperlukan keputusan yang sarat dengan mendesain struktur organisasi. Berbeda dengan era Orde Baru, struktur pemerintahan desa di era reformasi, ditandai oleh suatu struktur yang otonom. Desa tidak lagi menjadi bawahan langsung

17

kecamatan. Hal penting dari perubahan stuktur ini adalah terjadinya pemisahan fungsi legislatif dan eksekutif. Pemisahan ini menjadi tegas dengan tidak adanya klausul mengenai posisi Kepala Desa di institusi BPD. Dengan demikian pemerintahan desa dikontrol oleh BPD. Di era otonomi, BPD merupakan mitra dari pemerintahan desa, yang fungsinya mengayomi adat istiadat, membuat peraturan desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Posisi dan fungsi BPD, pada dasarnya memungkinkan keterlibatan rakyat untuk mengambil bagian dalam proses pengambilan kebijaksanaan di desa. Dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, Kepala Desa mendapat dukungan dari struktur organisasinya, sebagaimana menurut Ndraha (1991:143), sebagai unsur pimpinan dalam struktur pemerintahan desa, sekretaris desa selaku unsur staf dan kepala dusun sebagai unsur pelaksana. Staf berfungsi mengefektifkan fungsi kepala desa dan tugas-tugas manajemen. Menurut Ndraha (2000:49), semakin modern masyarakat, semakin diversifikatif produk, semakin saling bergantung setiap orang pada orang lain dan semakin diperlukan kerjasama antar manusia.

2.3.2 Kemampuan Memperoleh Dukungan Lingkungan Kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa tidak berarti apa-apa apabila tidak disertai dengan lingkungan, sistem nilai serta dukungan sumber daya yang kondusif. Keterkaitan (dukungan) lingkungan terhadap kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa (Kepala Desa dan perangkatnya), terletak pada kenyataan bahwa pemerintahan desa merupakan tokoh-tokoh pilihan masyarakat desa. Dengan demikian, dukungan lingkungan terhadap pemerintahan desa meliputi beberapa hal, antara lain: a. Melalui sistem itu pemerintahan desa umumnya dan Kepala Desa khususnya diharapkan akseptabel dalam masyarakat, sebagai pemimpin lokal yang berasal dari daerah setempat dan dapat membawakan

aspirasi masyarakat desa. b. Prosedur demokratis di tingkat desa dan diterapkan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan "grass roots planning".

18

c.

Karena Kepala Desa dan unsur pemerintahan desa lainnya berasal dari rakyat, maka harus ada perasaan bersama. Merasakan apa yang diinginkan masyarakat.

d.

Suasana yang demokratis yang membentuk iklim yang sehat bagi tumbuhnya prakarsa dan rasa tanggungjawab masyarakat dalam pembangunan desa, timbulnya rasa percaya diri untuk kemudian kemampuan itu berkembang.

e.

Penetapan dan penggerakan sumber-sumber daya yang ada agar dimanfaatkan guna meningkatkan kemampuan desa untuk berkembang secara mandiri.

f.

Peran pemerintah dalam membimbing pertumbuhan pembangunan di desa dalam hal merencanakan pembangunan desa, misalnya

berlangsung dalam tiga tahap; yakni perencanaan untuk masyarakat, perencanaan bersama masyarakat dan perencanaan oleh masyarakat (Ndraha, 1991:145). Menurut Sedarmayanti (2001:93), organisasi perlu mengidentifikasi kekuatan seluruh sumber daya atau kekuatan yang dimiliki beserta kelemahannya. Identifikasi kelemahan dan kekuatan organisasi dilakukan dalam upaya menggali keunggulan bersaing (competitive advantage). Adapun dukungan lain dari keterkaitan lingkungan adalah adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Partisipasi dapat dianggap sebagai masukan bagi pembangunan. Di samping itu, partisipasi dapat menjadi tolok ukur untuk menilai apakah sebuah proyek yang bersangkutan merupakan proyek pembangunan desa atau bukan. Menurut Peter (dalam Ndraha 1991:103), jika masyarakat desa yang bersangkutan tidak berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan suatu proyek di desanya, maka pada hakekatnya bukanlah proyek pembangunan desa.

2.3.3 Kemampuan Pelaksanaan Tugas (Performance) Kemampuan melaksanakan tugas adalah kemampuan untuk mencapai keluaran yang telah ditetapkan atau hasil yang hendak dicapai. Kemampuan melaksanakan tugas (performance) sebagaimana dikemukakan Ndraha (1991:113),

19

terdiri dari kemampuan untuk merencanakan usaha mencapai tujuan dan kemampuan untuk melaksanakan rencana tersebut. Dalam kemampuan untuk merencanakan usaha tersebut termasuk kemampuan untuk menggali, menggerakkan dan mengkombinasikan masukan-masukan dari lingkungan dan menyiapkannya bagi sistem pelaksanaan tugas, karena pelaksanaan tugas merupakan proses yang langsung berkaitan dengan pencapaian tujuan, maka sistem inilah yang penting. Pelaksanaan tugas berkaitan dengan kinerja. Kinerja menurut

Mangkunegara (2000:67), adalah "hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya". Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan tugas (performance) adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation). Hal ini sesuai dengan pendapat Davis (dalam Mangkunegara 2000:67), faktor kemampuan, terdiri dari kemampuan yang diperoleh dari pendidikan yang memadai dan terampil dalam menjalankan tugasnya, maka ia lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan, serta faktor motivasi yang terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).

2.3.4 Kemampuan Kepemimpinan (Leadership) Pemerintahan Tiap organisasi atau kelompok selalu memiliki pemimpin dan anggota. Jika dalam suatu kelompok tidak ada pemimpin, maka kegiatan yang dilakukan tidak akan terarah bahkan tidak akan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Kepemimpinan melibatkan orang lain, oleh karena itu dimana ada pemimpin, pasti terdapat pengikut. Terry (1993:11), mengatakan kepemimpinan adalah interaksi antar anggota dalam suatu kelompok. Pemimpin adalah agen perubahan, dan orang yang lebih berpengaruh terhadap bawahannya. Usaha mempengaruhi suatu kelompok atau organisasi bukan pekerjaan yang mudah. Seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi dan menghimbau bawahannya, dan harus memiliki keterbukaan

terhadap pandangan-pandangan baru, tanggap atas keperluan bawahannya, serta

20

mendukung pelaksanaan inovasi. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, maka pemimpin harus menjadi agen perubahan yang menerima ide-ide baru, tanggap terhadap kebutuhan bawahannya, dan menjadi fasilitator serta mampu melaksanakan ide baru yang disepakati. Kegiatan pimpinan tidak terlepas dari faktor lingkungan, menurut Wexley dan Yulk (1992:85), untuk memantau pengumpulan informasi mengenai kegiatan unit organisasi, manajer memperhatikan perolehan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kemajuan pekerjaan, kinerja, para bawahan secara individual, kualitas produk atau jasa, keberhasilan proyek atau program, peristiwa dalam organisasi yang mempengaruhi manajer unit, perhatian dari konsumen dan klien, kinerja para pemasok dan penjual, tindakan pesaing, serta perubahan-perubahan lain dalam lingkungan ekstemal, seperti kecenderungan pasar, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah dan pengembangan teknologi. Pemantauan ini pula dapat mengetahui apakah kepemimpinan yang dilaksanakan efektif atau tidak.

2.4. Pembangunan Desa Secara etimologi, pembangunan berasal dari kata "bangun", diberi awalan "pem" dan akhiran "an", guna menunjukkan perihal membangun. Kata bangun setidak-tidaknya mengandung empat arti. Pertama, dalam arti sadar atau siuman. Kedua, dalam arti bangkit atau berdiri. Ketiga, dalam arti bentuk. Keempat, dalam arti kata kerja, yakni membuat, mendirikan atau membina. Pembangunan meliputi pula segi anatomik (bentuk), fisiologik (kehidupan) dan behavioral (perilaku) (Ndraha, 1987:1). Pembangunan menurut Tjokroamidjojo (1987:2), adalah "usaha perubahan ke arah yang lebih baik yang dilakukan secara berencana dan bertahap”. Menurut Siagian (1988:31), pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang terencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building). Bhattacharya Administrative Organization for Development (dalam Ndraha 1991:72-73), memberi batasan pembangunan desa, sebagai proses usaha masyarakat

21

desa yang bersangkutan dipadukan dengan usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, mengintegrasikan kehidupan masyarakat desa ke dalam kehidupan bangsa dan memungkinkan mereka untuk memberikan sumbangan sepenuhnya kepada kemajuan nasional. Berdasarkan definisi ini, pembangunan masyarakat desa dipahami sebagai proses kerjasama pemerintah dengan masyarakat dalam memperbaiki kondisi ekonomi, sosial dan kebudayaan ke dalam integritas komunitas kehidupan bangsa. Proses tersebut meliputi dua elemen dasar, yaitu partisipasi masyarakat dan bantuan pelayanan teknis dari pemerintah. Proses tersebut diwujudkan dalam berbagai program yang dirancang untuk kepentingan masyarakat. Kebutuhan adanya perimbangan peran (konsep keseimbangan dan partisipasi) antara masyarakat dengan pemerintah dalam mekanisme pelaksanaan pembangunan desa untuk menciptakan sosok masyarakat yang mandiri, merupakan tujuan dan sasaran pokok pembangunan yang diidealkan. Konsep kemandirian sebagai wujud kemampuan masyarakat untuk berkembang secara mandiri dalam pembangunan desa, memiliki arti yang lebih luas dari sekedar perimbangan tanggungjawab pembiayaan pembangunan. Konsep mandiri berarti perimbangan kekuatan antara masyarakat pedesaan dan negara dalam menentukan arah dan tujuan perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat (Soetrisno, 1995:20).

2.5. Aparat Pemerintahan Desa Penyelenggaraan pemerintahan desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaran pemerintahan, sehingga desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat. Dalam UU No. 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah ditegaskan bahwa desa tidak lagi merupakan wilayah

administratif, bahkan tidak lagi menjadi bawahan atau unsur pelaksana daerah, tetapi menjadi daerah istimewa dan besifat mandiri yang berada dalam wilayah kabupaten sehingga warga desa berhak berbicara atas kepentingan sendiri sesuai dengan kondisi sosial budaya yang hidup di lingkungan masyarakatnya. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, di desa dibentuk Pemerintahan Desa dan Badan Permusyawaratan Desa, yang merupakan Pemerintahan Desa. Pemerintahan

22

desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut nama lain dan Perangkat Desa. Berdasarkan ini, yang termasuk aparat pemerintahan desa adalah Kepala Desa dan perangkat desa. 1. Kepala Desa Kepala Desa adalah warga desa yang dipilih oleh masyarakat desa yang kemudian diangkat dan dilantik menjadi Kepala Desa, yang mempunyai fungsi sesuai UU No. 32 Tahun 2004, sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa. Membina kehidupan masyarakat desa. Membina perekonomian desa. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat desa. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa. Mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. 2. Perangkat Desa UU No. 32 Tahun 2004 tidak menjelaskan secara rinci mengenai perangkat desa. Namun demikian yang dimaksud perangkat desa adalah: a. b. Unsur staf, yaitu unsur pelayanan kesekretariatan (Sekretaris Desa). Unsur pelaksana teknis, yaitu Kepala Urusan yang terdiri dari Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan dan Kepala Urusan Pelayanan Umum. c. Unsur wilayah adalah Kepala Dusun, yang membantu Kepala Desa di wilayah bagian desa. Sedangkan tugas dan fungsi masing-masing perangkat desa diserahkan kepada desa melalui Peraturan Desa untuk menyusunnya sendiri sesuai dengan adat istiadat serta kondisi daerah dan masyarakat desa setelah mendapat persetujuan Badan Perrmusyawaratan Desa (BPD).

2.6. Hubungan Kemampuan Manajerial dengan Pembangunan Desa Kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa memiliki arti penting dalam menunjang pembangunan desa. Pengembangan atau pembangunan pedesaan

23

keberhasilannnya sangat ditunjang oleh pelaksanaan manajemen pemerintahan yang baik. Hal ini bermakna bahwa kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dalam mengelola manajemen pemerintahan yang berlangsung secara baik mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi, akan sangat bermanfaat dalam menunjang pembangunan desa. Mengingat pembangunan desa adalah sebuah aktivitas yang dilakukan masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama, maka salah satu unsur pengelola pembangunan desa yang utama adalah aparat pemerintahan desa sebagai administrator pembangunan desa. Kapasitas aparat pemerintahan desa dalam hal ini kemampuan manajerial harus memadai, mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal. Pemerintahan desa yang sukses dalam penyelenggaraan pembangunan desa adalah mereka yang mampu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dalam upaya mencapai tujuan. Gagal atau berhasilnya pembangunan desa tergantung dari kemampuan manajemen pemerintahan desa. Dengan kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa, akan dapat mengantisipasi dan menterjemahkan berbagai program pembangunan sesuai tuntutan serta kebutuhan masyarakat dengan memanfaatkan sepenuhnya potensi dan sumber daya yang tersedia di desa. Kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dijabarkan melalui kerangka kerja manajemen pemerintahan. Ndraha (1999:8), menjelaskan kerangka kerja manajemen pemerintahan adalah penerapan fungsifungsi manajemen dalam metodologi ilmu pemerintahan, yaitu: Proses pengolahan input untuk menghasilkan output sampai pada outcome. Input perencanaan adalah inovasi (aspirasi, tuntutan konsumer atau sovereign), sedangkan outputnya adalah rencana. Input pengorganisasian sumber-sumber adalah rencana dan outputnya adalah organisasi sumber daya. Input penggerakan adalah organisasi sumber daya dan outputnya adalah hasil (produk pemerintahan). Input evaluasi (pengawasan) berupa produk pemerintahan sedangkan sejauhmana produk outputnya adalah informasi tentang sesuai dengan tuntutan

pemerintahan

konsumen/sovereign. Informasi ini pada gilirannya menjadi masukan bagi para perencana, demikian seterusnya (siklus manajemen).

24

Berdasarkan pandangan di atas, maka yang menjadi aspek kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa, antara lain: 1. Kemampuan dalam memimpin dan menggerakkan organisasi pemerintahan desa. 2. Kemampuan mengkoordinasikan kegiatan dan pelaksanaan tugas pemerintahan desa. 3. Kemampuan menerapkan prinsip manajeman pemerintahan desa yang berkaitan dengan pembangunan desa. 4. Kemampuan melahirkan gagasan/ide baru untuk kelancaran

penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan desa. 5. Kemampuan menumbuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa. Untuk menunjang pelaksanaan pembangunan desa pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya, diperlukan keterlibatan aktif seluruh rakyat bersama-sama dengan pemerintah. Dengan demikian peranan pemerintah sangat menentukan dalam arti sebagai pelopor, pembimbing dan penggerak bahkan sebagai teladan bagi masyarakat desa dalam setiap langkah dan gerak pembangunan desa. Oleh karena itu, diperlukan aparatur pemerintah yang berdaya guna tinggi dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. Khususnya bagi aparatur pemerintahan desa yang berhadapan dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Berdaya guna tinggi dalam arti memiliki kemampuan manajerial yang memadai, sehingga

pelaksanaan pembangunan dapat mencapai sasaran dan target yang telah ditentukan atau direncanakan secara terarah, terpadu, berdaya guna serta berhasil guna yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat sesuai hakekat pembangunan nasional. Dalam hubungan dengan pelaksanaan pembangunan desa, diperlukan aparat pemerintahan desa yang berkemampuan, berdedikasi, bersih dan berwibawa penuh rasa dan sikap pengabdian, yakni aparat pemerintahan desa beserta perangkatnya yang ada di desa. Kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa dalam melaksanakan tugasnya mendapat dukungan dari dalam berupa struktur dan dari luar berupa dukungan lingkungan.

25

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Jadwal Penelitian Penelitian ini dilakukan di desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama ±3 (tiga) bulan, yakni dari bulan Agustus 2011 sampai dengan Oktober 2011. Selama waktu itu, peneliti melakukan proses pengumpulan data, analisis data, pengkayaan materi serta penulisan laporan hasil penelitian.

3.2. Jenis dan Pendekatan Penelitian Berdasarkan bidang keilmuan, penelitian ini tergolong penelitian terapan dalam ilmu studi pembangunan. Jenis penelitian in adalah ex post facto, yakni penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut (Sugiyono, 2005:7). Sebagaimana dikatakan Kerlinger (1973), bila variabel bebas berbentuk atribut, maka penelitian yang dilakukan adalah ex post facto. Dilihat berdasarkan tempat penelitian, penelitian ini tergolong penelitian kancah (field research). Penelitian kancah paling sering dilaksanakan pada berbagai cabang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial. Semakin kompleks kancah, semakin banyak pula fenomena dan masalah yang dapat dipelajari. Penelitian kancah berhubungan dengan pranata dan budaya serta pengalaman hidup masyarakat, kelompok dan individu (Bungin, 2005:47). Dilihat berdasarkan tujuannya, penelitian ini tergolong pada penelitian terapan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan menerapkan, menguji dan mengevaluasi kemampuan suatu teori yang diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah praktis (Sugiyono, 1998:2). Dilihat berdasarkan jenis datanya, maka penelitian ini tergolong penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menurut Kuncoro (2004:1), adalah pendekatan

26

ilmiah terhadap pengambilan keputusan yang berangkat dari data, selanjutnya diproses dan dimanipulasi menjadi informasi yang berharga bagi masyarakat ilmiah. Pemrosesan dan manipulasi data mentah menjadi informasi yang bermanfaat inilah yang merupakan jantung dari analisis kuantitatif. Pendekatan penelitian adalah korelasional, yakni penelitian yang berusaha menghubungkan atau mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lain (Ali, 2002:23). Untuk mengetahui besarnya hubungan variabel bebas (kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa) dengan variabel terikat (pembangunan desa) dilakukan pengujian statistik, yaitu untuk membantu peneliti melakukan generalisasi secara sahih dari data empirik yang telah dikumpulkan.

3.3. Populasi dan Sampel Subjek penelitian adalah Kepala Desa beserta perangkat-perangkatnya. Berdasarkan itu, maka populasi penelitian adalah seluruh aparat pemerintahan desa Krueng Juli Barat Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. Berdasarkan data statistik Kecamatan Kuala dalam Angka (2010), jumlah seluruh aparat pemerintahan desa Krueng Juli Barat adalah 30 orang. Dengan demikian, total populasi penelitian ini adalah 30 orang. Mengingat jumlah populasi tidak mencapai 100, maka secara keseluruhan ditetapkan menjadi sampel, sebagaimana dikatakan Suharsimi Arikunto (2002:112), "apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitan populasi". Sampel penelitian ini ditetapkan sebanyak 30 orang, berarti penelitian ini disebut juga penelitian sensus, yakni menetapkan semua anggota populasi menjadi sampel penelitian.

3.4. Definisi Operasional Variabel Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas (independen variable) adalah kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa, diberi notasi X. Sedangkan variabel terikat (dependen variable) adalah pembangunan desa, diberi notasi Y. Variabel kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa didefinisikan dengan kemampuan aparatur pemerintah desa dalam menerapkan fungsi-fungsi

27

manajemen pemerintahan, sehingga dapat melayani, mengayomi serta menumbuhkan prakarsa dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan memiliki kepekaan terhadap pandangan maupun aspirasi yang hidup dalam masyarakat. Indikator

kemampuan manajerial aparat pemerintahan desa ini diukur melalui: (1) kemampuan pengelolaan struktur organisasi, (2) kemampuan memperoleh dukungan lingkungan, (3) kemampuan pelaksanaan tugas (performance), dan (4) kemampuan

kepemimpinan (leadership). 1. Kemampuan pengelolaan struktur organisasi adalah kemampuan Kepala Desa melakukan kerjasama dengan seluruh perangkat-perangkat desa untuk melaksanakan fungsi pemerintahan dan pengambilan keputusan di tingkat desa. 2. Kemampuan memperoleh dukungan lingkungan adalah kemampuan Kepala Desa beserta perangkat-perangkatnya mendapatkan dukungan seluruh

sumberdaya

yang ada di tengah masyarakat secara kondusif dalam

melaksanakan program pembangunan masyarakat desa. 3. Kemampuan pelaksanaan tugas (performance) adalah kemampuan Kepala Desa beserta perangkat-perangkatnya untuk menggali, menggerakkan dan

mengkombinasikan berbagai

input (masukan) menjadi

output (hasil) bagi

pelaksanaan program pembangunan masyarakat desa. 4. Kemampuan kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan Kepala desa beserta perangkat-perangkatnya mempengaruhi dan mengajak masyarakat desa untuk ikut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian program pembangunan masyarakat desa. Variabel pembangunan desa didefenisikan sebagai proses kerjasama pemerintah dengan masyarakat untuk memperbaiki dan meningkatkan kondisi kehidupan sosial, ekonomi dan kebudayaan masyarakat desa. Indikator variabel ini diukur melalui: (1) partisipasi masyarakat, (2) perimbangan peran masyarakat dan pemerintah, (3) kemandirian masyarakat, dan (4) taraf hidup masyarakat. 1. Partisipasi masyarakat adalah kesediaan masyarakat desa untuk

menyumbangkan tenaga, pikiran dan dana bagi pelaksanaan proyek-proyek pembangunan fisik di wilayah desanya.

28

2.

Perimbangan peran adalah adanya keseimbangan peran antara masyarakat dan pemerintah dalam menentukan, melaksanakan dan mewujudkan programprogram pembangunan yang berguna bagi kepentingan masyarakat desa.

3.

Kemandirian masyarakat adalah prakarsa, swadaya serta kesediaan masyarakat desa untuk mengidentifikasikan kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi, menyusun usaha untuk memenuhi kebutuhan serta memecahkan masalah

tersebut secara mandiri dan bertanggungjawab. 4. Taraf hidup masyarakat adalah terpenuhinya kebutuhan pokok (primary needs) masyarakat desa, berupa kebutuhan pangan, sandang dan papan serta pendidikan maupun pelayanan kesehatan.

3.5. Sumber Data Penelitian ini mengandalkan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh dari responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi maupun perpustakaan.

3.6. Teknik Pengumpulan Data Data primer dijaring melalui penyebaran kuisioner. Pada kuisioner digunakan skala Likert yang diberi pilihan jawaban berkisar antara sangat setuju (SS); setuju (S); netral (N); tidak setuju (TS); dan sangat tidak setuju (STS). Dalam hal ini responden dapat memilih jawaban sesuai dengan kondisi objektif menurut persepsinya. Nilai persepsi responden ini diukur dengan memberikan nilai jawaban terhadap lima alternatif jawaban yang bergerak dari poin 5, 4, 3, 2 dan 1. Butir pertanyaan pada angket adalah butir pertanyaan positif (favourable). Nilai untuk butir positif adalah 5 untuk jawaban sangat setuju; 4 untuk jawaban setuju; 3 untuk jawaban sedang atau netral; 2 untuk jawaban tidak setuju; dan 1 untuk jawaban sangat tidak setuju. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui teknik checklist (membuat catatan-catatan) dari sejumlah data yang dibutuhkan dalam rangka mendukung objektifitas dan keakuratan penelitian ini.

29

3.7. Analisis Data Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah pengolahan dan analisis data. Data yang bersifat kualitatif dianalisis secara deskriptif analitis. Sedangkan data yang bersifat kuantitatif dianalisis dengan menggunakan statistik. Untuk menguji hipotesis penelitian, maka digunakan analisis korelasi Product Moment, dengan bantuan software versi 12,0. komputer Statistical Product and Service Solutions (SPSS)

30

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Sayuthi. Metodologi Penelitian: Pendekatan Teori dan Praktek. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002. Bagong Suyanto, Sutinah. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007, cetakan ketiga.

Desler, et.al. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga, 1995. Mubyarto. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media, 2000.
Ndraha, Taliziduhu. Dimensi-dimensi Pemerintahan Desa. Jakarta: Bumi Aksara, 1991. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, tentang Pemerintahan Desa.

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->