P. 1
PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI

|Views: 412|Likes:
Published by Maxi Optional Say

More info:

Published by: Maxi Optional Say on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2014

pdf

text

original

PATOFISIOLOGI Apendik belum diketahui fungsinya, merupakan bagian dari sekum.

Peradangan pada apendik dapat terjadi oleh adanya ulserasi dinding mukosa atau obstruksi lumen (biasanya oleh fecolif/faeses yang keras). Penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan perlengketan, infeksi dan terhambatnya aliran darah. Dari keadaan hipoksia menyebabkan gangren atau dapat terjadi ruptur dalam waktu 24-36 jam. Bila proses ini berlangsung terusmenerus organ disekitar dinding apendik terjadi perlengketan dan akan menjadi abses (kronik). Apabila proses infeksi sangat cepat (akut) dapat menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan komplikasi yang sangat serius. Infeksi kronis dapat terjadi pada apendik, tetapi hal ini tidak selalu menimbulkan nyeri di daerah abdomen.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Apendiksitis, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Apendiksitis, askep Apendiksitis, Laporan pendahuluan LP askep Apendiksitis, contoh askep Apendiksitis, laporan kasus Apendiksitis, diagnosa keperawatan askep Apendiksitis, kumpulan asuhan keperawatan, makalah askep Apendiksitis, pengertian Apendiksitis, patofisiologi askep Apendiksitis informasi tentang penyakit usus buntu atau Apendiksitis akan dibahas berikut ini: A. Pengertian Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer,2000). Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dzri sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989). Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston, 1995). Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). B. Etiologi 1. Menurut Syamsyuhidayat, 2004 :

Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium. diapedesis bakteri. o Hiperplasia jaringan limfe. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.Suhu tubuh mulai naik. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema. o Neoplasma. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. atau neoplasma. invasi kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. lapisan muskularisa. edema bertambah. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. Patofisiologi Menurut Mansjoer. tekanan akan terus meningkat. muntah. o Fekalit. Menurut Mansjoer . 2000 : o Hiperflasia folikel limfoid. o Cacing ascaris. nausea. dan bakteri akan . benda asing. dan ulserasi mukus. 1996 : o Fekolit o Parasit o Hiperplasia limfoid o Stenosis fibrosis akibat radang sebelumnya o Tumor karsinoid o C. o Tumor apendiks. fekalit.Bila sekresi mukus terus berlanjut. namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. 2000: Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. 2. Histolytica. 3. submukosa. dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. o Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. Menurut Markum. o Benda asing. Semakin lama mukus semakin banyak. o Erosi mukosa apendiks karena parasit E.Fekalit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat.

akan menyebabkan apendisitis perforasi. Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti dengan gangren.(tanda awal yang umum. Apendisitis akuta perforate ( termasuk apendisitis gangrenosa. . o Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis. kuramg umum pada anak yang lebih besar). o Nyeri lepas. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. o Konstipasi. Tahapan Peradangan Apendisitis 1. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. tanpa perforasi) 2. kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah o Anoreksia o Mual o Muntah.menembus dinding. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut. Manifestasi Klinik 1. Bila dinding yang telah rapuh pecah. 2000 : o Sakit. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Apendisitis akuta (sederhana. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. Menurut Betz. Cecily. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila proses tersebut berjalan lambat. o Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali. dinding apendiks lebih tipis. Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. karena dinding apendiks sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi) D.

o o o o o E Coli Abdomens Free Logo Hiperplasia Neoplasma . yang terdiri dari : Mual. Pada orang tua dan wanita hamil. akan semakin meyakinkan diagnosa klinis. Pada bayi dan anak-anak. Bila usus buntu pecah. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah.2. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Terdapat juga keluhan anoreksia. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. nyeri bisa bertambah tajam. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.8-38. nyeri dan demam bisa menjadi berat.8° Celsius. Manifestasi klinis menurut Mansjoer. 2000 : Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. lalu timbul mual dan muntah. Biasanya juga terdapat konstipasi. o Iritabilitas. Setelah beberapa jam. nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Diare. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif. nyerinya bersifat menyeluruh. o Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan. Demam bisa mencapai 37. kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama. Jika dokter menekan daerah ini. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah. malaise. dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. tetapi kadang-kadang terjadi diare. psoas. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. dan obturatorpositif. dan demam yang tidak terlalu tinggi. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. dan muntah. o Disuria. di semua bagian perut. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. o Gejala berkembang cepat. mual. Bila tanda Rovsing.

Menurut Mansjoer. malaise. 1994 : o Perforasi. Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi.o Umbilicus Tag Cloud o o o o o Abdomens Online Shop Oranges Stadiums Quick weight loss diet o o o Diet Pills E Coli Free antivirus download E. koreksi cairan dan elektrolit. o Abses intra abdomen. tetapi peyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. Menurut Hartman. spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi. o Obstruksi intestinum. o Peritonitis. Komplikasi 1. leukositosis semakin jelas. Sedangkan tindakan lain sebagai penunjang : tirah baring dalam posisi fowler medium. diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertam akali datang. 2000 : Apendiksitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan. pemberian . puasa. demam. ileus. observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut. dikutip dari Nelson. o Infeksi luka. Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri. pemasangan NGT. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama. 2.

dan apendiktomi dapat dilakaukan 612 minggu kemudian. hepatomegali. transfusi utnuk mengatasi anemia. menggigil. metronidazol. penderita nampak sakit. ada 4 hal yang penting adalah : o Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. o Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). F. Catzel(1995).penenang. atau klindamisin). antara lain : 1. Pada keadaan ini diindikasikan pemberian antibiotik kombinasi dengan drainase. Dengan sediaan ini abses akan segera menghilang. bila ada. di perut terasa nyeri. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina. menghindarkan pergerakan. Terapi dini dapat diberikan kombinasi antibiotik (misalnya ampisilin. Anamnesa Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. Abses daerah pelvis yang menonjol ke arah rektum atau vagina dengan fruktuasi positif juga perlu dibuatkan drainase. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk . Komplikasi lain yang terjadi ialah abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain. dan ikterus setelah terjadi perforasi apendiks. o Muntah oleh karena nyeri viseral. pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan kultur. 2. o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan. gentamisin. dan penanganan syok septik secara intensif. Pada abses yang tetap progresif harus segera dilakukan drainase. Tromboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal. Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan. Pemeriksaan Pemeriksaan menurut Betz(2002). Hal ini harus dicurigai bila ditemukan demam sepsis. Hartman(1994).

Kadang ada fecolit (sumbatan).menegakkan diagnosa apendisitis akut. Laboratorium Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika. Penatalaksanaan Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer. 3. . Sebelum operasi o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi o Pemasangan kateter untuk control produksi urin. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. jika apendiks mengalami perforasi bebas. o Bila demam. 2000 : 1. Hb (hemoglobin) nampak normal. Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. Operasi o Apendiktomi. 2. Tidak adanya lekositosis tidak menyingkirkan apendisitis.maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika. phenergan sebagai anti menggigil. pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. o Apendiks dibuang. G. kecuali bila terjadi peritonitis. harus diturunkan sebelum diberi anestesi. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. dosis tinggi dan diberikan secara intravena. o Obat-obatan penurun panas. largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai. o Rehidrasi o Antibiotic dengan spectrum luas.

o Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan : o o o Keadaan umum klien masih terlihat sakit. Pasca operasi o Observasi TTV. o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. misalnya pada perforasi. o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit.Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV.massanya mungkin mengecil. .atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan. o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. selama pasien dipuasakan. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. suhu tubuh masih tinggi Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan. puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. o Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. 3. o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler. o Bila tindakan operasilebih besar.

Catzel (1995). Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. Pemeriksaan Fisik . suhu tubuh tidak tinggi lagi. Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah. Pengkajian Pengkajian menurut Wong (2003). o Kebiasaan eliminasi.kebiasaan makan makanan rendah serat.Sifat keluhan nyeri dirasakan terusmenerus. Betz (2002). Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak.Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan : o o o o Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih. o Diet. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. panas. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai : o Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum. Doenges (1999). 2. antara lain : 1. kesehatan klien sekarang ditanyakan kepada orang tua. dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. o Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. Asuhan Keperawatan Anak dengan Apendiksitis A.

pernapasan dangkal. o Aktivitas/istirahat : Malaise. diare kadang-kadang. o Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. o Respirasi : Takipnoe. Pemeriksaan Penunjang o Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. o Pada enema barium apendiks tidak terisi. 3. o Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal. o Nyeri/kenyamanan. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang muncul pada anak dengan kasus apendiksitis berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut NANDA (2006) antara lain : Pre Operasi 1. batuk. meningkat karena berjalan.Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. o Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Burney. o Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. penurunan atau tidak ada bising usus. bersin. . o Demam lebih dari 380C. o Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. o Ultrasound: fekalit nonkalsifikasi. abses apendiks. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. atau napas dalam. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum). kekakuan. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. neutrofilia. tanpa eosinofil. o Sirkulasi : Takikardia. o Distensi abdomen. o Data psikologis klien nampak gelisah. o B. nyeri tekan/nyeri lepas. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. o Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. o Peningkatan leukosit. apendiks nonperforasi. nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus.

2. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.Closkey (1996) Nursing Intervention Classsification (NIC). Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. Tujuan :Nyeri dapat berkurang atau hilang. keparahan. hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase. Observasi ketidaknyamanan non verbal. antara lain : Pre Operasi Dx I. Anjurkan pasien untuk istirahat. Kriteria Hasil : • • • • • Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Kegelisahan atau keteganganotot Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. perubahan posisi. anoreksia. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari berhubungan dengan mual. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. factor presipitasinya. Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien. C. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. . Intervensi Keperawatan Intervensi menurut Mc. secara komprhensif meliputi lokasi. Post Operasi kebutuhan tubuh 1.muntah. berikan perawatan yang tidak terburu-buru. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. dan hasil yang diharapkan menurut Johnson (2000) Nursing Outcome Classification ( NOC) . Intervensi • • • • • • • Lakukan pengkajian nyeri.2. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan.

Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi. perubahan posisi. Observasi ketidaknyamanan non verbal Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien. Intervensi • • • • • Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Turgor kulit baik. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi pasien adekuat. Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah. keparahan. secara komprhensif meliputi lokasi. Kriteria Hasil : • • • • Mempertahankan berat badan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. berikan perawatan yang tidak terburu-buru. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual. . Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan. hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase.Dx II. Kriteria Hasil : • • • • Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. Post Operasi Dx. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. anoreksia. Intervensi • • • Lakukan pengkajian nyeri.muntah. I. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan. pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan.

Atur kemungkinan transfusi darah. Kriteria Hasil : • • • • Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB.1995. Tidak ada rasa haus yang berlebihan. Tekanan darah.• • • • Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. nadi. 2002. Dx II. Jakarta: EGC. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi. .dkk 1999. Intervensi • • • • • • Pertahankan catatan intake dan output yang akurat. seperti Hb/Ht. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.dkk. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Monitor vital sign dan status hidrasi. Jakarta: EGC Catzel. suhu tubuh dalam batas normal. Nursing Outcome Classification (NOC). Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. E. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencana Pendokumentasian Perawatan Klien. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Daftar Pustaka Betz. Marion. Na+ albumin dan waktu pembekuan. Kapita Selekta Pediatri. Marilyn. Pincus. Johnson. BJ urine normal. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. Edisi 3. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan pasien normal dan dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat. turgor kulit. St. Monitor status nutrisi Awasi nilai laboratorium. Cecily L. elastisitas. Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai saat nyeri. Dongoes. membran mukosa lembab. Louis. HT normal. dkk.

2000. apendisitis. Buku Ajar Bedah.Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. Louis. A. Mansjoer.Inc. D. terdapat pada:www.C. Sabiston. Joanne. Jilid 2. 2004. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik. St. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius. Missouri: Mosby Yearbook. Nursing Intervention Classsification (NIC).Missouri: Mosby Yearbook.Inc. 1996. . Dkk. Markum. Edisi 2 . Mc. harnawatiarjwordpress. Nelson. Jakarta: FKUI. 2007. 1995. Kapita Selekta Kedokteran. R & De Jong W. Syamsuhidayat. Edisi 4. 2003.Ilmu Kesehatan Anak. Buku Ajar Ilmu Bedah. Donna L. Wong.Jakarta: EGC.1991.1994.Ilmu Kesehatan Anak.com diakses tanggal 1 Juni 2008. Closkey.Vol 2. Jakarta: EGC ____.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->