P. 1
BUKU_PELENGKAP_2011

BUKU_PELENGKAP_2011

|Views: 354|Likes:
Published by bhyaaaaaa

More info:

Published by: bhyaaaaaa on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2013

pdf

text

original

Pelengkap BUKU PEGANGAN
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

2011

Peningkatan Kualitas
Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kementerian Keuangan April 2011 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

KEMENTERIAN KEuANgAN REPuBlIK INDoNEsIA gedung Radius Prawiro lantai 9 Website: www.djpk.depkeu.go.id Email: info@djpk.depkeu.go.id
ii 

DIREKToRAT JENDERAl PERIMBANgAN KEuANgAN Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710 Tlp. 021.350.9442, Faks. 021.350.9443

Pelengkap Buku Pegangan 2011

KATA PENGANTAR

Indonesia

desentralisasi fiskal selama satu dekade. Implikasi dari kebijakan ini adalah adanya pembagian kewenangan urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang disertai dengan pemberian sumber-sumber keuangan untuk mendanai urusan yang untuk mendorong daerah dalam memberikan pelayanan yang lebih baik masyarakat. sementara itu, kebijakan desentralisasi fiskal dalam kerangka hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah hubungan keuangan antara pusat dan daerah, diharapkan dapat lebih dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat, dan meningkatkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meningkatkan
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

telah

melaksanakan

REPuBlIK INDoNEsIA kebijakan

MENTERI KEuANgAN

otonomi

daerah

dan

telah diserahkan kepada daerah. Kebijakan otonomi daerah ditujukan dan efisien, dan peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan kepada daerah tersebut sebagai konsekuensi logis atas kebijakan aktivitas perekonomian daerah, yang pada gilirannya diharapkan

otonomi daerah. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah dan

iii

perekonomian daerah secara bersama-sama akan menggerakkan roda perekonomian nasional. Hubungan keuangan proses yang dinamis dan dilaksanakan melalui berbagai bentuk penyempurnaan yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspirasi dari berbagai stakeholders . meningkatkan kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah dalam rangka mendukung tujuan pembangunan nasional. Berbagai upaya untuk itu, Pemerintah terus berupaya pusat dan daerah merupakan sebuah

penyempurnaan telah dilakukan, yaitu melalui penguatan local taxing power, percepatan penyaluran transfer ke daerah, upaya peningkatan kualitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan peningkatan kinerja pemerintah daerah. efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah, serta pengaturan mekanisme reward dan punishment untuk mendorong peningkatan Penguatan local taxing power kepada daerah melalui Pajak Daerah dan hal pokok yaitu: 1) pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah dalam hal pajak daerah dan retribusi daerah, 2) peningkatan akuntabilitas daerah dalam penyediaan layanan dan penyelenggaraan jenis-jenis pungutan daerah.

Retribusi Daerah (PDRD) terutama dilakukan melalui undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang PDRD. undang-undang ini memuat tiga

pemerintahan, dan 3) pemberian kepastian bagi dunia usaha mengenai sementara itu, kemajuan perkembangan kebijakan dan implementasi transfer ke daerah diwujudkan melalui formulasi kebijakan transfer ke daerah yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi ketimpangan kualitas pelayanan publik dan peningkatan kinerja pemerintah daerah.
iv 

fiskal vertikal dan horizontal, tetapi juga untuk mendorong peningkatan

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Dalam hal peningkatan kualitas pelayanan publik, kebijakan transfer

ke daerah terutama dilakukan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditujukan untuk pembangunan fisik berbagai sarana dan prasarana daerah baik dari sisi pengelolaan keuangan maupun kinerja ekonomi reward untuk daerah-daerah yang berprestasi. dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan

layanan publik di daerah. selain itu, untuk mengapresiasi kinerja daerah, maka Pemerintah memberikan dana insentif daerah sebagai selain itu, efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah kebutuhan daerah terutama untuk memberikan kesempatan bagi daerah agar dapat melakukan pinjaman daerah untuk membiayai anggarannya perkembangan

termasuk melakukan kegiatan investasi. saat ini Pemerintah sedang melakukan revisi atas Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. Beberapa perubahan pokok yang dimuat prosedur pemberian pinjaman Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. dalam revisi PP tersebut terutama terkait dengan peningkatan fleksibilitas penggunaan pinjaman daerah serta pengaturan mengenai Disadari sepenuhnya bahwa kebijakan penguatan sumber pendapatan daerah yang berkualitas. Fakta dilapangan menunjukkan masih banyak daerah yang terlambat menetapkan APBD, meskipun telah kegiatan pembangunan di daerah. Dalam hal ini kebijakan percepatan

daerah tentunya harus diikuti oleh kemampuan pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan yang baik dan belanja maka pengaturan mekanisme punishment juga diberlakukan untuk terdapat kecenderungan perbaikan dari tahun ke tahun. untuk itulah tenggat waktu penyampaian APBD sebagaimana dituangkan dalam
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

mendorong percepatan penyelesaian APBD dan mendorong pelaksanaan

v

namun juga diharapkan dapat mendorong dikupas dalam Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2011 ini yang upaya reformulasi Daerah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”. upaya peningkatan kualitas kebijakan hubungan keuangan pusat dan daerah harus terus didorong. sementara itu. Dalam kaitan inilah maka Pemerintah selalu berupaya untuk melakukan berbagai penyempurnaan agar kualitas hubungan keuangan pusat dan semata.Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah diharapkan dapat mendorong disiplin pemerintah daerah terutama dalam hal penyelesaian penyampaian APBD. selama tahun 2007-2010 komponen belanja pegawai masih mendominasi belanja daerah dalam setiap tahunnya. Padahal belanja modal meningkatnya pertumbuhan ekonomi. porsi belanja modal justru mengalami penurunan sejak tahun 2007 hingga 2009 yaitu sebesar 29 persen di kebijakan dilakukan setiap tahun sehingga diharapkan tidak hanya kualitas layanan publik dan perekonomian daerah. Namun demikian. sehingga mampu APBD yaitu rata-rata sebesar 41 persen dan mengalami tren kenaikan tahun 2007 menjadi 21 persen di tahun 2009. ini sangat diharapkan meningkat. uraian singkat dalam pengantar ini merupakan materi yang akan bertemakan “Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan vi  mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan terutama kepada daerah-daerah tertinggal. terutama dalam rangka mendorong daerah tidak hanya dikaitkan dengan pertumbuhan besaran pendanaan meningkatkan kualitas belanja di daerah. Dengan disusunnya . namun yang lebih penting adalah bagaimana dampaknya terhadap pembangunan ekonomi di daerah.

Pelengkap Buku Pegangan 2011

buku ini diharapkan para pembaca dapat memahami secara lebih baik hubungan keuangan pusat dan daerah, kebijakan pendanaan di daerah, dan dampak dari peningkatan kualitas belanja di daerah semoga buku ini dapat bermanfaat bagi upaya meningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat. menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pengelolaan anggaran belanja pusat dan daerah, sehingga setiap rupiah

terhadap pertumbuhan ekonomi. untuk itu, pada kesempatan ini saya pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini.

dari belanja negara akan mendatangkan sebesar-besarnya peningkatan

Menteri Keuangan,

AGUS D.W. MARTOWARDOJO

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

vii

DAFTAR ISI
KATA PENgANTAR ......................................................................................................... iii DAFTAR gAMBAR .......................................................................................................... xv DAFTAR TABEl .............................................................................................................xvii BAB I PENDAHuluAN ............................................................................................. I-1 BAB II HuBuNgAN KEuANgAN ANTARA PusAT DAN DAERAH...........II-9 BAB III sIsTEM PENDANAAN DI DAERAH ...................................................III-19 3.1. Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah ................................................III-21 3.1.1. Pendahuluan ..............................................................................................III-21 3.1.2. Jenis Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah .....................................III-25 3.1.2.1. Pajak Daerah ..............................................................................III-25 3.1.2.2. Retribusi Daerah ......................................................................III-26 3.1.3. Kriteria .........................................................................................................III-29 3.1.3.1. Kriteria Pajak Daerah .............................................................III-29 3.1.3.2. Kriteria Retribusi Daerah .....................................................III-33 3.1.4. Prosedur Penetapan ...............................................................................III-36 3.1.5. Pengawasan Dan Pembatalan.............................................................III-38 3.1.6. sanksi ............................................................................................................III-41 3.1.7. Kesalahan Materi Perda ........................................................................III-42 3.1.8. Pelaksanaan undang-undang.............................................................III-42 3.1.9. BPHTB dan PBB P-2 ................................................................................III-45 3.2. Transfer ke Daerah ..................................................................................III-51 3.2.1. Pendahuluan ..............................................................................................III-51 3.2.2. Dana Bagi Hasil .........................................................................................III-54 3.2.2.1. Dana Bagi Hasil Pajak ............................................................III-54 1. Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Pasal 21.......................................................................III-56 Alokasi Dana Bagi Hasil PPh .......................................III-56 2. DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ..................III-57 A. Alokasi Dana Bagi Hasil PBB ..............................III-57 B. Perhitungan Dana Bagi Hasil PBB ...................III-58 3. DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ...............III-59 3.2.2.2. dana bagi hasil sumber daya alam ...................................III-65
viii 

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.2.3.

3.2.4.

1. Penetapan Alokasi DBH sDA.......................................III-69 2. DBH sDA Pertambangan Minyak dan gas Bumi (DBH sDA MIgAs) ......................................III-71 A. Pola Pembagian DBH sDA Migas ......................III-71 B. Penyusunan Perkiraan DBH sDA Migas .........III-74 i. Mekanisme Penyusunan ...............................III-74 ii. Penetapan ...........................................................III-76 C. Penyusunan Realisasi DBH sDA Migas ...........III-77 i. Mekanisme Penghitungan ...........................III-77 ii. Penyaluran..........................................................III-81 D. Mekanisme Counter Balance dan Penyaluran DBH Migas ..........................................III-85 i. Prinsip DBH .......................................................III-85 ii. Waktu Perhitungan realisasi PNBP/DBH Migas. ...........................................III-85 iii. Kebijakan Pengalihan sisa Anggaran ke Rekening Cadangan ..................................III-86 iv. Kebijakan Mekanisme Counter Balance .................................................................III-87 E. Pemantauan dan Evaluasi ...................................III-88 3. DBH sDA Pertambangan umum ..............................III-89 4. DBH sDA Kehutanan .....................................................III-91 5. DBH sDA Perikanan .......................................................III-95 Perhitungan DBH sDA Perikanan ....................................III-95 Dana Alokasi umum ...............................................................................III-97 3.2.3.1. Penyusunan Formula dan Perhitungan DAu ...............III-97 1. Variabel DAu ......................................................................III-98 2. Formula DAu dalam Kerangka undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ..............III-98 3. Bentuk umum Formula DAu ......................................III-99 4. Data Perhitungan DAu................................................III-100 3.2.3.2. DAu Daerah Pemekaran.....................................................III-105 Dana Alokasi Khusus ...........................................................................III-106 3.2.4.1. Penetapan Program dan Kegiatan .................................III-107 3.2.4.2. Perhitungan Alokasi DAK ..................................................III-108 1. Kriteria umum ...............................................................III-109 2. Kriteria Khusus..............................................................III-110 3. Kriteria Teknis ...............................................................III-111
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi ix

A. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Pendidikan...............................................................III-111 B. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kesehatan.................................................................III-112 C. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Bidang Infrastruktur ...........................................III-114 D. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kelautan dan Perikanan.....................................III-116 E. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Pertanian .................................................................III-117 F. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK lingkungan Hidup ................................................III-118 g. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Prasarana Pemerintahan ...................................III-119 H. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Keluarga Berencana ............................................III-120 I. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kehutanan................................................................III-120 J. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Perdagangan ...........................................................III-121 K. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Perumahan dan Permukiman .........................III-122 l. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK listrik Perdesaan: ...............................................III-122 M. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan ...............................................................III-123 N. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Transportasi Perdesaan ....................................III-123 o. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Keselamatan Transportasi Darat ...................III-124 P. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal ..III-124 3.2.4.3. Administrasi Pengelolaan DAK .......................................III-128 1. Dana Pendamping ........................................................III-128 2. Penganggaran .................................................................III-128 3. Pemantauan dan Pengawasan ................................III-129 3.2.4.4. Pelaporan .................................................................................III-130
x 

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.2.5.

3.3. 3.3.1. 3.3.2.

PenyaluranAnggaran Transfer keDaerah ...................................III-131 3.2.5.1. penyaluran dbh Pajak..........................................................III-132 1. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh ............................III-132 2. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB ...........................III-133 3. Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) ...........................................................III-133 3.2.5.2. Penyaluran DBH sumber Daya Alam ............................III-134 3.2.5.3. Penyaluran DAu.....................................................................III-137 3.2.5.4. Penyaluran DAK.....................................................................III-138 Pinjaman Dan Hibah Daerah ............................................................III-139 Pendahuluan ...........................................................................................III-139 Pinjaman Daerah ..................................................................................III-140 3.3.2.1. Pinjaman Daerah sebagai Alternatif sumber Pembiayaan APBD ................................................................III-141 1. sumber Pinjaman Daerah ........................................III-143 2. Jenis dan Penggunaan Pinjaman Daerah ...........III-143 3. Persyaratan umum Pinjaman Daerah ................III-144 3.3.2.2. Kebijakan Fiskal di Bidang Pinjaman Daerah...........III-147 1. Prinsip umum Pinjaman Daerah ...........................III-147 2. Revisi Peraturan Pemerintah tentang Pinjaman Daerah ..........................................................III-148 3. Pengendalian Batas Maksimal Defisit dan Pinjaman Daerah .........................................................III-149 3.3.2.3. Pinjaman Daerah Yang Bersumber Dari Pemerintah .............................................................................III-151 1. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Penerusan Pinjaman luar Negeri .................................................III-151 A. Prosedur Pengadaan Pinjaman / Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat .............III-152 B. Prosedur Penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada Pemerintah Daerah .......................................................................III-156 2. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) ..........................................................III-161 3.3.2.4. Pinjaman Daerah Yang Bersumber Dari Pemerintah Daerah lain, lembaga Keuangan
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xi

3.3.3.

3.4.

3.4.1. 3.4.2.

Bank, dan lembaga Keuangan Bukan Bank ............III-164 1. Prosedur Pinjaman Jangka Pendek:......................III-164 2. Prosedur Pinjaman Jangka Menengah dan Pinjaman Jangka Panjang:.........................................III-165 3.3.2.5. obligasi Daerah .....................................................................III-166 1. Prinsip umum ................................................................III-169 2. Prosedur Penerbitan ...................................................III-170 3. Pengelolaan obligasi Daerah ...................................III-175 3.3.2.6. Pembayaran Kembali Pinjaman .....................................III-178 3.3.2.7 Penatausahaan, Pemantauan, Evaluasi, Pelaporan, Dan Publikasi .................................................III-179 1. Penatausahaan ...............................................................III-179 2. Pemantauan dan Evaluasi .........................................III-179 3. Pelaporan .........................................................................III-180 4. Publikasi ...........................................................................III-181 3.3.2.8. sanksi Administratif Pinjaman Daerah .......................III-182 Hibah Daerah ..........................................................................................III-184 3.3.3.1. sumber Hibah .........................................................................III-185 3.3.3.2. Prinsip Dasar Pemberian Hibah Kepada Daerah ....III-186 3.3.3.3. Kriteria Pemberian Hibah .................................................III-187 3.3.3.4. Penyaluran Hibah ..............................................................III-188 1. Penyaluran Hibah Berupa uang .............................III-188 2. Penyaluran Hibah Berupa Barang dan/atau Jasa .................................................................III-189 3. Mekanisme Penerusan Hibah kepada Pemerintah Daerah .....................................................III-190 4. Pemanfaatan Hibah di Daerah ................................III-195 3.3.3.5. Pengelolaan Hibah oleh Daerah .....................................III-197 3.3.3.6. Pencatatan ..............................................................................III-198 3.3.3.7. Pelaporan ................................................................................III-199 3.3.3.8. Pemantauan ............................................................................III-200 Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah ......................III-201 Pendahuluan ...........................................................................................III-201 Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ...............................................................................III-205 3.4.2.1. Pengertian Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan...............................................................III-205 

xii

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.4.3. 3.4.4. 3.4.5. 3.4.6.

3.4.2.2. Prinsip Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ............................................................................III-205 3.4.2.3. Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ............................................................................III-208 1. Keseimbangan Pendanaan di Daerah dalam Rangka Perencanaan lokasi dan Alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.......................................................III-209 2. Proses Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan..............................................III-214 3.4.2.4. Penyaluran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan...............................................................III-215 3.4.2.5. Pertanggungjawaban dan Pelaporan .........................III-215 1. Dana Dekonsentrasi ....................................................III-216 2. Dana Tugas Pembantuan ...........................................III-217 3.4.2.6. Pengelolaan Barang Milik Negara..................................III-219 1. status Barang Hasil Pelaksanaan Dekonsentrasi ................................................................III-219 2. status Barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan.......................................................III-220 Pembinaan, Pengawasan dan Pemeriksaan .............................III-221 3.4.3.1. Pembinaan dan Pengawasan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan ..............................III-221 3.4.3.2. Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan ...................................................III-222 sanksi .........................................................................................................III-223 Peran Kepala Daerah Dalam Penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan .......................................III-225 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah .....................III-226 3.4.6.1. Pengertian Pendanaan urusan Bersama Pusat Dan Daerah ..............................................................................III-232 3.4.6.2. Prinsip-Prinsip Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah ..................................................................III-233 3.4.6.3. Perencanaan Dan Penganggaran Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah ..............................................III-234 3.4.6.4. Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xiii

Penanggulangan Kemiskinan ..........................................III-238 1. Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah ..............................................................................III-238 2. Formulasi Penghitungan Persentase Besaran Penyediaan DDuB Per Kelompok dan Per Daerah ..............................................................III-240 3.4.6.5. Pencairan dan Penyaluran ................................................III-241 3.4.6.6. Pelaporan dan Pertanggungjawaban ...........................III-242 3.4.6.7. Pembinaan ..............................................................................III-243 3.4.6.8. Pengawasan.............................................................................III-244 BAB IV PENINgKATAN KuAlITAs BElANJA DAERAH DAN PERTuMBuHAN EKoNoMI DAERAH ................................ IV-245 4.1. gambaran umum Belanja Pemerintah Daerah Dan Kondisi Ekonomi/kesejahteraan Daerah .......................... IV-248 4.1.1. Belanja Pemerintah Daerah ............................................................ IV-248 4.1.2. Belanja Daerah dalam Kaitannya dengan Kondisi Ekonomi/ Kesejahteraan Daerah ................................................... IV-255 4.2. upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Kualitas Belanja Daerah Dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi serta Kesejahteraan Masyarakat Di Daerah .......................................... IV-261 4.2.1. Kebijakan di Bidang Perpajakan dan Retribusi Daerah ....... IV-261 4.2.2. Kebijakan Transfer ke Daerah ......................................................... IV-264 4.2.3. Kebijakan Hibah ke Daerah .............................................................. IV-246 4.2.4. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pengelolaan Keuangan Daerah .................................................................................. IV-266 4.2.5. Kebijakan Melalui Pendanaan Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan urusan Bersama .................................. IV-271 BAB V PENuTuP....................................................................................................V-273 DAFTAR PusTAKA ..................................................................................................V-279 INDEX ................................................................................................................V-285 uCAPAN TERIMA KAsIH ......................................................................................V-289

xiv 

..2 skema Peraturan Perundangan yang mengatur Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah .........III-73 gambar3............................17 Proses Penentuan Besaran Alokasi DAK per Daerah III-126 gambar 3........................1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah ......................................13 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA ............... II-16 gambar 2................III-93 gambar 3...............III-142 gambar 3.......................................................III-136 gambar 3.....4 Porsi Pembagian DBH sDA Minyak Bumi ......16 Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan ..........11 Perhitungan DBH sDA Pertambangan umum .3 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA ...........10 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas ........6 Mekanisme Perhitungan DBH sDA Migas ...III-104 gambar 3.........................2 skema Bagi Hasil sDA..............III-166 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xv ....................15 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran ..............24 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber selain dari Pemerintah .................................III-55 gambar 3..........III-72 gambar 3..........III-70 gambar 3..III-77 gambar 3.....................................................................III-135 gambar 3..............III-91 gambar 3.....22 Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri III-155 gambar 3...III-161 gambar 3..Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR GAMBAR gambar 2.................19 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas.......III-81 gambar 3.III-97 gambar 3......14 Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004................................6 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas ...................23 Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) ..........20 Mekanisme Penyaluran (2008) .........................III-87 gambar 3.........12 Perhitungan DBH sDA Kehutanan .....III-108 gambar 3........1 Persentase Pembagian Dana Bagi Hasil Pajak ......III-137 gambar 3....................................................................III-84 gambar 3....5 Porsi Pembagian DBH sDA gas Bumi ..........18 Format Penyaluran DBH sDA Migas..................III-105 gambar 3................ II-17 gambar 3................8 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas...21 Proses Perencanaan Pinjaman Daerah ...................................III-84 gambar 3..................................................................9 Penyaluran DBH sDA Migas .........................................III-67 gambar 3..........

....................III-241 gambar 4.....30 Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH ..............6 Belanja APBD Per Kapita Tahun 2008-2010 ................................................................................................................35 sumber Pendanaan urusan bersama ........... IV-257 gambar 4.................................................36 Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama .........III-194 gambar 3....... IV-249 gambar 4........III-233 gambar 3..III-192 gambar 3.................III-190 gambar 3....III-171 gambar 3..................III-204 gambar 3......................III-172 gambar 2.....................................III-189 gambar 3......... Penilaian dan Persetujuan Penerbitan obligasi Daerah oleh Menteri Keuangan ...gambar 3...................................................................................................................................................................... IV-254 gambar 4...........................4 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Pengangguran dan Jumlah Penduduk Miskin .....25 Proses Penerbitan obligasi Daerah .............. IV-256 gambar 4.....31 Proses Penyusunan DIPA Hibah kepada Pemerintah Daerah ...1 Trend Belanja APBD secara Nasional ...III-211 gambar 3.................................. IV-254 gambar 4...2 sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2011 .......................26 Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah ......III-174 gambar 3............................27 Pengajuan...................................................5 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan ...........28 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang ...33 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ................37 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah . IV-258 xvi  ............................III-237 gambar 3.....3 sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2011 ...........29 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa..........32 Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah ...............34 Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan Kementerian dalam Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ........................................................................III-197 gambar 3...........

.....................................III-96 Pencatatan dan Pelaporan Hibah ....Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR TABEL Tabel 3....................III-91 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP).........................................................................3 Tabel 3....III-96 Tarif Pungutan Hasil Perikanan (PHP) ..............................................................III-199 Potret Belanja Pegawai APBD 2007-2010 ..............................III-48 Porsi Pembagian DBH sDA Pertambangan umum ...1 Tabel 3.......6 Tabel 3.............. IV-250 Indikator Ekonomi Per Daerah 2008 – 2010 .........2 Jenis Pajak Daerah .....................III-25 Jenis Retribusi Daerah ..............5 Tabel 3...III-27 Kesiapan Daerah Memungut BPHTB (Posisi tanggal 21 Februari 2011) .................7 Tabel 4....1 Tabel 4...... IV-259 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xvii ..2 Tabel 3.........4 Tabel 3...........

xviii  .

BAB I PENDAHULUAN PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-1 .

I-2 Pendahuluan .

dan baik secara makro maupun mikro bagi perekonomian daerah dengan dan (iii) kewenangan pengelolaan keuangan diberikan secara utuh kepada menumbuhkembangkan sektor riil. daerah dengan mengedepankan pada asas partisipasi. transparansi. Muara dari permasalahan yang terjadi pada saat krisis keuangan untuk itu. mendorong upaya pemberdayaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-3 . kebijakan dan pelaksanaan otonomi daerah ditujukan guna DPRD. meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan 1997-2000. Tuntutan akan adanya otonomi reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka menstabilkan saat itu antara lain disebabkan karena sistem sentralisasi yang terlalu kuat. daerah dalam mengelola perekonomian daerahnya. (ii) pengaturan yang jelas mengenai alokasi dana dari pusat ke daerah. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat masyarakat. awal tahun 2000 saat ditetapkannya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 daerah dan desentralisasi merupakan salah satu bagian dari rangkaian kembali roda perekonomian Indonesia yang sempat terpuruk sejak tahun sehingga belum memberikan peran dan kewenangan yang cukup kepada meningkatkan kemandirian dan kreativitas daerah dalam mengatur dan menangani urusan daerah melalui tiga strategi utama yaitu (i) pertanggungjawaban lebih bersifat horizontal melalui peningkatan peran akuntabilitas.Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB I PENDAHULUAN Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia bergulir pada dan undang-undang Nomor 25 Tahun 1999.

Dalam kerangka kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. serta memperbaiki kualitas pelayanan publik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. I-4 efisien dan efektif dari sumber-sumber penerimaan dana desentralisasi. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang peningkatan kualitas tersebut diwujudkan dalam bentuk penguatan taxing hibah ke daerah. proporsional. Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.keuangan daerah. dan akuntabel sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggung jawab daerah dapat didanai secara Tujuan utama dari pengaturan pendanaan desentralisasi adalah untuk dan daerah. telah diatur ketentuan mengenai hubungan keuangan tersebut mencakup pengaturan atas pendanaan fungsi-fungsi yang menjadi kewenangan/fungsi pemerintahan kepada pemerintah daerah. saat ini dilaksanakan berdasarkan undang-undang Nomor 32 Tahun proses yang dinamis dan keberlanjutan agar hakekat kebijakan tersebut desentralisasi fiskal. mengurangi ketimpangan fiskal yang terjadi antara pemerintah pusat dicita-citakan di atas. merupakan sebuah kewenangan pemerintah daerah sebagai konsekuensi atas pembagian dilakukan secara adil. berbagai penyempurnaan telah dilakukan melalui dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. upaya power ke daerah. yang dapat dilaksanakan secara nyata oleh daerah. peningkatan besaran dan formulasi dana desentralisasi. Pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah harus Pengaturan hubungan keuangan 2004 dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004. serta mekanisme pinjaman dan Pendahuluan upaya peningkatan kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah. serta untuk mengurangi kesenjangan kemampuan fiskal antardaerah. .

peningkatan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah. serta pemberian diskresi atas penetapan tarif pajak daerah. pengaturannya dilakukan berdasarkan perpajakan daerah serta memberikan kepastian kepada masyarakat dan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi dalam rangka pemberian kewenangan yang luas kepada daerah di bidang dunia usaha. total dana yang didaerahkan melalui dana perimbangan pada Anggaran Pendapatan dan triliun.3 selain transfer dana dalam bentuk dana perimbangan.4 triliun. upaya penyempurnaan tersebut dilakukan agar Dilihat dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan melalui jumlah transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah. penambahan jenis PDRD baru. terjadi kenaikan yang siginifikan dari tahun ke tahunnya. untuk mengoptimalkan provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih ideal dan kebijakan earmarking pelayanan kepada masyarakat daerah dan meningkatkan investasi dalam rangka pertumbuhan ekonomi daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).334. Pada tahun 2011. perluasan basis PDRD yang sudah ada. Penerbitan uu tersebut merupakan langkah yang sangat strategis list. Peningkatan yang cukup signifikan pada besaran dana perimbangan tersebut telah menyebabkan pengelolaan fiskal yang menjadi tanggung jawab daerah meningkat cukup tajam.82. kepada daerah juga penerimaan PAD maka dikembangkan pula kebijakan dana bagi hasil pemungutan PDRD yang dilakukan pemerintah daerah dapat meningkatkan diberikan pendanaan lain dalam komponen dana otonomi khusus dan dana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-5 . untuk jenis pajak tertentu. selain itu. Pengaturan tersebut dilakukan melalui penerapan sistem closedDaerah. sedangkan dalam APBN tahun 2011 besarnya alokasi dana perimbangan adalah Rp. Belanja Negara (APBN) tahun 2001 adalah sebesar Rp.

Dana Tugas Pembantuan. Rapid Transit (MRT) di Provinsi DKI Jakarta. upaya pemerintah dalam memberikan hibah kepada daerah terutama (RPJM). Sementara ditujukan bagi proyek pembangunan yang menjadi prioritas pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah sangat kecil dan berfluktuasi berkisar antara 4-7 persen antara tahun 2007itu. Pemerintah daerah umumnya menggunakan sisa lebih Perhitungan Di samping dukungan pendanaan dalam bentuk dana desentralisasi. Terkait dengan dana penyesuaian. . antara lain Penguatan sumber-sumber penerimaan daerah dalam kerangka hubungan dan hibah daerah. Dana ini ditujukan untuk menampung alokasi anggaran untuk mendorong atau menguatkan desentralisasi fiskal dan percepatan pembangunan daerah. dan dana untuk melaksanakan I-6 Pendahuluan 2010. terdapat tren kenaikan yang dana penyesuaian pada dasarnya untuk menampung program-program yang berganti-ganti. Proyek ini selaras dengan prioritas nasional dan masuk di dalam Pemerintah juga mengalokasikan dana untuk membiayai program dan kegiatan yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah melalui Dana Dekonsentrasi. salah satu proyek prioritas yang akan didanai dari mekanisme Penerusan Hibah dan Penerusan Pinjaman ke daerah adalah kegiatan Mass penting yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan transportasi di RPJMN yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proyek MRT merupakan agenda Jakarta. Pengalokasian tertentu untuk jangka waktu tertentu (bersifat ad hoc) dengan nomenklatur dalam rangka pendanaan kebijakan tertentu pemerintah. Kontribusi pinjaman daerah terhadap defisit APBD masih Anggaran (SILPA) sebagai sumber untuk menutup defisit APBD. keuangan pusat dan daerah juga dalam bentuk mekanisme pinjaman daerah cukup signifikan atas alokasi tersebut dari tahun ke tahun.penyesuaian.

upaya yang dilakukan untuk meningkatkan yang memadai.Pelengkap Buku Pegangan 2011 program dan kegiatan instansi vertikal di daerah.1 persen. serta pertumbuhan ekonominya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang saat itu mencapai 4. masuk dalam pos APBD. Pada tahun 2009. (4) menciptakan kondisi I-7 . saat itu mencapai 6. Hal dilayaninya sehingga pemerintah daerah lebih memahami kebutuhan dan penyelenggaraan pemerintahan tersebut diharapkan akan mendorong Keberhasilan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi telah mulai terlihat di beberapa daerah. Daerah di wilayah timur Indonesia.55 persen. baik kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian. (3) menciptakan jaminan keamanan. (2) menciptakan kepastian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Faktor utama bagi daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah investasi diantaranya adalah (1) meningkatkan ketersediaan infrastruktur hukum. juga termasuk ke dalam daerah provinsi yang pertumbuhan ekonominya di atas pertumbuhan ekonomi nasional. namun secara nyata dana tersebut dibelanjakan di daerah. terdapat 14 provinsi yang tingkat pertumbuhan ekonominya di atas pertumbuhan nasional yang seperti Papua dan Papua Barat. Dalam masa mendatang peningkatan kualitas meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dana-dana tersebut tidak meningkat. terdapat 22 provinsi yang akses layanan publik dan akan mendorong perekonomian daerah. dengan meningkatkan investasi. dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di daerah. Pada tahun 2008. sejalan dengan pelaksanaan kebijakan otonomi Melalui penguatan sumber-sumber pendapatan daerah dan pemberian daerah. proporsi pengeluaran APBN yang dibelanjakan di daerah terus diskresi belanja daerah maka diharapkan terdapat efisiensi dan efektivitas ini dikarenakan semakin dekatnya Pemerintah dengan masyarakat yang prioritas daerah mereka.

dan (5) menciptakan transparansi kebijakan pemerintah daerah. sistem pengelolaan PDRD berdasarkan closed-list diharapkan dapat PDRD yang diperkenankan agar tidak menghambat masuknya investasi ke daerah. diharapkan mampu dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. fiskal di Indonesia. khususnya dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi transparan dan akuntabel. pro-job. serta peningkatan pelayanan publik yang sesuai segera terwujud. Dengan demikian pengelolaan keuangan di daerah yang dengan agenda pro-rakyat yaitu pro-poor.persaingan usaha yang sehat. Pelengkap Buku Pegangan konsep dan ruang lingkup hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Buku ini pengelola kebijakan baik pemerintah pusat dan daerah. serta upaya peningkatan kualitas belanja daerah dan kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi daerah. yang telah dituangkan dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. terutama kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah. hukum. diharapkan dapat menjadi pedoman bagi semua pemangku kepentingan. selain itu. Dalam kaitannya dengan upaya menciptakan kepastian memberikan kepastian kepada masyarakat dan pelaku usaha atas pungutan oleh pemerintah dalam bentuk transfer ke daerah. salah satunya dilakukan melalui penyempurnaan kebijakan di bidang PDRD. peningkatan dana untuk infrastruktur yang disalurkan untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam atas peningkatan tema “Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam memberikan stimulus untuk lebih mendorong investasi di daerah. dan pro-growth akan I-8 Pendahuluan . Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2011 disajikan dengan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”. pelaku ekonomi dan masyarakat. Buku ini akan membahas mengenai sistem pendanaan di daerah.

BAB II HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-9 .

II-10 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah .

kota. pelayanan umum. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follow function. yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah mencakup pembagian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-11 . Pasal ini merupakan landasan filosofis dan landasan konstitusional pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintahan Daerah yang pembentukan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 bertujuan untuk mendukung diatur dalam undang-undang tentang Pemerintahan Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB II HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH Konsep Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah diturunkan dari undang-undang Dasar 1945. selanjutnya undang-undang Dasar 1945 Pasal 18A ayat (2) menyebutkan alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undangKeuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Dalam pasal 18A ayat (1) undang-undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa hubungan wewenang antara Pemerintah kekhususan dan keragaman daerah. pemanfaatan sumber daya undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. undang. atau antara propinsi dan kabupaten dan kota. Pasal inilah yang melandasi lahirnya dan pemerintahan daerah propinsi. kabupaten. diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan bahwa hubungan keuangan.

namun juga mencakup dukungan Pemerintah dalam mendorong pengelolaan keuangan daerah sebagai subsistem pengelolaan keuangan keuangan tersebut juga selaras dengan amanat dari tiga paket undangtentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 2004. rangka pelaksanaan desentralisasi harus memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Berbagai filosofi perimbangan dengan daerah (vertical fiscal imbalance) dan antar daerah (horizontal fiscal imbalance). demokratis. dan kebutuhan daerah. Dimensi lain dari hubungan keuangan bukan hanya terkait pola pembagian keuangan dalam rangka mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah. adil. selain itu Pemerintah juga memberikan bimbingan kepada daerah untuk meningkatkan efektifitas pinjaman daerah dan hibah ke daerah.keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah secara proporsional. yakni undang-undang Nomor 17 Tahun yang merupakan acuan dasar pelaksanaan undang-undang Nomor 33 Tahun landasan bagi pola pendanaan kepada daerah yang mengacu 3 (tiga) prinsip utama yaitu: (1) perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai (2) pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam 2003 tentang Keuangan Negara. dan transparan dengan memperhatikan potensi. dan (3) perimbangan keuangan antara Pemerintah II-12 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah . dan undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 konsekuensi penyerahan urusan Pemerintah kepada pemerintah daerah. kondisi. undang di bidang keuangan negara. Kerangka hubungan keuangan antara pusat dan daerah memberikan negara termasuk optimalisasi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

tetap mengutamakan kemandirian daerah dalam mengelola sumber-sumber dan efektif serta untuk mencegah tumpang tindih ataupun tidak tersedianya memprioritaskan pada pengentasan kemiskinan (Pro Poor). menjadi kewenangan daerah dibiayai dari APBD. Implementasi ketiga prinsip hubungan keuangan tersebut. dan dilaksanakan secara optimal dapat mendukung sinkronisasi perencanaan mengedepankan pembangunan berdimensi kewilayahan yang menempatkan daerah sebagai pusat pertumbuhan. Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya Pemerintah dalam menjaga keserasian pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan apabila dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan (Growth with Equity). baik kewenangan pusat yang didekonsentrasikan kepada PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-13 . dan mempertahankan kelestarian lingkungan (Pro Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan agar terlaksana secara efisien pendanaan pada suatu bidang pemerintahan. Dengan demikian. Disamping itu.Pelengkap Buku Pegangan 2011 dan pemerintahan daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam tugas pembantuan. dekonsentrasi. pemerintah daerah harus tetap memperhatikan pembangunan daerah yang Environment). setiap daerah dapat memberikan kontribusi terbaik dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional dengan keuangan daerah. dalam menjaga keselarasan dengan prioritas nasional. rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi. sedangkan penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dibiayai dari APBN. menciptakan lapangan kerja (Pro Job). maka diatur pendanaan penyelenggaraan pemerintahan. Adapun penyelenggaraan pemerintahan yang gubernur atau ditugaskan kepada pemerintah daerah dan/atau desa atau sebutan lainnya dalam rangka Tugas Pembantuan.

sumber-sumber pendanaan pemerintahan daerah yang dikelola dalam APBD terdiri atas Pendapatan Asli Daerah. Dana Darurat dapat diberikan kepada daerah dalam negeri atau perseorangan. Pendapatan Asli Daerah lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya. Transfer ke Daerah juga mencakup Hibah dan Dana Darurat. Dana Perimbangan. dan Pinjaman Daerah. tidak perlu dibayar kembali. dan selain Dana Perimbangan. Pemerintah. baik dalam bentuk devisa. hasil retribusi daerah. badan/ lembaga asing. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan bagian yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH). dan Dana Perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN Dana Alokasi Khusus (DAK). daerah sendiri dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah. Dana Alokasi umum (DAu). dari Transfer ke Daerah dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat antar-daerah. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. badan/lembaga dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli. lain-lain Pendapatan Yang sah. rupiah. badan/lembaga internasional. PAD bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam mengoptimalkan potensi pendanaan desentralisasi. juga bertujuan untuk dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan yang utuh. maupun yang mengalami bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak II-14 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah . dan pelatihan yang dapat ditanggulangi dengan dana APBD. Hibah dapat berasal dari pemerintah negara asing.

oleh karena itu. Pada gambar 2. urusan pelayanan kepada masyarakat. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-15 . dekonsentrasi dibiayai dari dan atas beban APBN. Pembiayaan yang bersumber dari pinjaman keuangan daerah sendiri serta stabilitas ekonomi dan moneter secara nasional. sepanjang potensi sumber-sumber keuangan daerah belum mencukupi. pinjaman daerah perlu mengikuti kriteria. dan yang merupakan tugas Pemerintah di daerah dalam rangka dibiayai oleh Pemerintah atas beban APBN atau oleh pemerintah daerah tingkat atasnya atas beban APBD-nya sebagai pihak yang menugaskan. yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pinjaman Daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan harus dikelola secara benar agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi persyaratan. mekanisme. c. Pemerintah memberikan sejumlah bantuan. desentralisasi dibiayai dari dan atas beban APBD. urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah sendiri dalam rangka tingkat atasnya.1 terlihat pola Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari hubungan wewenang atau fungsi antara Pemerintah dan pemerintahan daerah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: b. dan sanksi pinjaman daerah. a. urusan yang merupakan tugas Pemerintah atau pemerintah daerah d.

pelaksanaan.1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka daerah dituntut untuk dapat secara mandiri melaksanakan pembangunan. mulai dari sisi perencanaan. untuk mendanai penyelenggaraan urusan untuk melaksanakan kewenangan tersebut. pada dasarnya bentuk penyerahan kewenangan harus diikuti dengan penyerahan pendanaan dilakukan dengan prinsip money follow function. desentralisasi yang memberikan kewenangan yang luas kepada daerah. maka besarnya sumber pendanaan untuk daerah tersebut juga diikuti dengan diskresi dalam hal pembelanjaan II-16 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah maupun sesuai kebutuhan dan prioritas daerah. Hal ini berarti bahwa setiap selaras dengan esensi otonomi daerah. maka pertanggungjawabannya sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi daerah. pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. penganggaran.gambar 2. sebagaimana disebutkan di atas. diharapkan agar . Dengan demikian.

efisien. gambar 2. transparan. keuangan pemerintah harus dikelola secara tertib. ekonomis. dan Daerah tersebut telah ditetapkan berbagai peraturan perundangan sebagai gambar 2.2 memperlihatkan berbagai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-17 . daerah dalam mengalokasikan belanjanya pada program dan kegiatan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat (public service). keberhasilan suatu daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada pemerintah lapangan kerja.2 skema Peraturan Perundangan yang mengatur Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah landasan dalam implementasinya. taat pada akuntabel. efektif. oleh karena itu. untuk menjabarkan konsep Hubungan Keuangan antara Pusat dan peraturan perundangan yang mengatur hal tersebut. selanjutnya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 local government spending akan benar-benar bermanfaat dan menjadi stimulus fiskal bagi perekonomian di daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. menciptakan peraturan perundang-undangan. dan mengurangi jumlah penduduk miskin.

II-18 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah .

BAB III SISTEM PENDANAAN DI DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-19 .

III-20 SistemPendanaandiDaerah .

peningkatan efektivitas pengawasan. kebijakan perpajakan dan retribusi daerah diarahkan untuk lebih Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2010 merupakan pengganti dari undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi daerah dapat dipungut oleh daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi memberikan kepastian hukum. Berdasarkan undang-undang tersebut. PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH 3. Kebijakan ini tertuang dalam undang-undang Daerah sebagaimana telah diubah dengan undang-undang Nomor 34 Tahun 2000.1. penguatan local taxing power. salah satu upaya pemerintah melalui perpajakan dan retribusi daerah sesuai dengan perkembangan keadaan. untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan membangun hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah yang lebih penyempurnaan peraturan perundang-undangan di bidang untuk mendorong penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah adalah PENDAHULUAN ideal. dan perbaikan pengelolaan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah.1. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) merupakan komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). sebagai sumber utama PAD. pemerintah senantiasa mendorong peningkatan penerimaan daerah yang bersumber dari pungutan pajak daerah dan retribusi daerah.1. pajak daerah dan retribusi III-21 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB III SISTEM PENDANAAN DI DAERAH 3.

seperti perluasan basis Pajak Kendaraan Bermotor. Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak Restoran dan Retribusi Izin gangguan. yaitu: 1. meningkatkan efisiensi pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. yang terdiri dari 14 jenis retribusi jasa 2. 1. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang Memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada. antara lain: Beberapa kebijakan mendasar yang diatur dalam undang-undang Nomor 28 menjadi closed-list system. perpajakan dan retribusi daerah (penguatan local taxing power). 11 jenis retribusi jasa usaha. salah satu pertimbangan penerapan closedlist system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha mengenai jenis pungutan daerah yang wajib dibayar serta jenis pajak dan retribusi daerah yang tercantum dalam undang-undang. yaitu 5 jenis pajak provinsi dan 11 jenis pajak kabupaten/ umum. pemerintah daerah hanya dapat memungut Penetapan pajak daerah dan retribusi daerah diubah dari open-list system Berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 terdapat 16 jenis kota. Pajak Hotel.sesuai dengan kewenangan masing-masing dengan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). III-22 SistemPendanaandiDaerah . dan 5 jenis retribusi perizinan tertentu. selain pajak daerah. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. juga terdapat 30 jenis retribusi daerah yang dapat dipungut oleh daerah. Penguatan local taxing power dilakukan melalui beberapa kebijakan. Dengan closed-list system. pajak daerah.

Retribusi Pengendalian Menara Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. seperti dan Perkotaan (PBB-P2). dan Pajak Rokok. dan Retribusi Izin usaha Perikanan. seperti Pajak 3. Pajak Parkir. daerah Daerah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menetapkan besaran didorong untuk mengoptimalkan pemungutan jenis pajak daerah dan 3. Kewenangan yang lebih luas di bidang perpajakan daerah diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah sehingga dapat mengkompensasi hilangnya berbagai jenis pungutan daerah sebagai akibat perubahan retribusi daerah yang memiliki landasan hukum yang kuat dan tidak menciptakan jenis pungutan baru yang potensinya relatif kecil dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Memberikan diskresi penetapan tarif pajak kepada provinsi kecuali Menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah. dan Bangunan (BPHTB). Pajak Hiburan. 4. Pajak sarang Burung Walet. Dalam kaitan ini. Retribusi Pelayanan Tera/Tera ulang. dan Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. open-list system menjadi closed-list system. Pajak Kendaraan Bermotor. Memperbaiki sistem pengelolaan pajak daerah dan retribusi daerah melalui kebijakan bagi hasil pajak provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih pasti dan kebijakan earmarking untuk jenis pajak daerah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-23 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. tarif pajak daerah yang diberlakukan di daerahnya (ditetapkan dalam Perda) sepanjang tidak melampaui tarif minimum dan maksimum yang tercantum dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Rokok. Bea Perolehan Hak atas Tanah Telekomunikasi. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Retribusi Pelayanan Pendidikan. Menaikkan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah.

10 pajak rokok harus dialokasikan untuk membiayai pelayanan kesehatan persen dari pendapatan pajak kendaraan bermotor harus dialokasikan modal dan sarana transportasi umum. Kewenangan pembatalan daerah sebelum ditetapkan menjadi Perda harus dievaluasi terlebih undang-undang Nomor 34 Tahun 2000) menjadi sistem preventif dan Perda yang semula berada pada Menteri Dalam Negeri dialihkan kepada Presiden dalam rangka memperkuat dasar hukum pembatalan Perda. setiap jenis pajak provinsi dibagihasilkan kepada kabupaten/ kota sesuai komposisi yang ditetapkan dalam undang-undang. sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk pembayar pajak tersebut. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan kebijakan earmarking adalah sebagian pendapatan pajak penerangan untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan 4. sebagai contoh jalan harus dialokasikan untuk membiayai penerangan jalan umum. III-24 SistemPendanaandiDaerah . Kebijakan bagi hasil pajak ini mencerminkan bentuk tanggungjawab pemerintah provinsi untuk ikut serta menanggung beban biaya yang diperlukan oleh kabupaten/kota dalam pelaksanaan fungsinya memberikan pelayanan membiayai kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh kepada masyarakat. sementara itu. setiap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pajak dahulu oleh Pemerintah.tertentu. Perda yang sudah ditetapkan dapat dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan/atau kepentingan umum. dan 50 persen dari pendapatan dengan mengubah mekanisme pengawasan dari sistem represif (berdasarkan korektif. Meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan daerah pelayanan yang lebih baik kepada pembayar pajak. dengan adanya kebijakan earmarking. masyarakat dan penegakan hukum.

9. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. 10. Pajak Restoran. 2. terhadap daerah yang melakukan pelanggaran terhadap daerah dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah dan retribusi 3. 3. Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan.2.1. 3.1. Pajak Air Permukaan.2. 1. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. Pajak Kendaraan Bermotor. rmotor. 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 selain itu. Provinsi Pajak Hotel. Pajak Reklame. 4. 6. Kabupaten/Kota PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-25 . Jenis Pajak Daerah 1. meliputi 5 jenis dan yang dapat kabupaten/kota adalah 30 jenis. 28 Tahun 2009 dapat dilihat Tabel 3. Pajak Rokok. dan 5 jenis retribusi perizinan tertentu. JENIS PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. 4. 11. 11 Jenis-jenis Pajak Daerah berdasarkan uu No. Pajak Air Tanah.1. Pajak daerah pada Tabel 3. pajak daerah yang dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota adalah sebanyak 11 jenis retribusi jasa usaha. Pajak Hiburan. jenis. dan 5. motor.1. 2. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. 7. Pajak Penerangan Jalan. meliputi 14 jenis retribusi jasa umum. PBB Perdesaan & Perkotaan.1. 8. Pajak Parkir. 5. Pajak sarang Burung Walet. sedangkan retribusi yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan dapat dipungut oleh daerah adalah 16 jenis.

antara lain. Penetapan jenis pajak tersebut sebagai pajak daerah provinsi dan pajak kabupaten/kota didasarkan pada Retribusi daerah dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan. retribusi jasa usaha.2. 1. yaitu retribusi jasa umum. 3. kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau meliputi: 1. prasarana. barang. mobilitas objek pajak. Retribusi Jasa Usaha adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan yang belum dimanfaatkan secara optimal. retribusi daerah memungut pajak selain yang telah ditetapkan.2. baik provinsi maupun kabupaten/kota tidak dapat pertimbangan. menjaga kelestarian lingkungan. penggunaan sumber daya alam. badan. Retribusi Jasa Umum adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan 2. dan retribusi perizinan tertentu. dan/atau disediakan secara memadai oleh pihak swasta. 2. Retribusi Perizinan Tertentu adalah pungutan atas pelayanan perizinan pemanfaatan ruang. oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum dapat 3. atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan .1. III-26 SistemPendanaandiDaerah tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan sarana.sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Jenis pajak daerah bersifat limitatif (closed-list) yang berarti bahwa pemerintah daerah.

Retribusi Pemakaman/ Pengabuan Mayat 7. Retribusi Izin gangguan 4. Retribusi Parkir di Tepi Jalan umum 6. Retribusi Tempat Rekreasi dan olahraga 10.2. Retribusi Persampahan/ Kebersihan 3. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 5. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta 11. Retribusi Pasar grosir/Pertokoan 3. Retribusi Pelayanan Tera/ Tera ulang 8. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/Villa 10. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-27 . Retribusi Pelayanan Pendidikan 6.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Jenis Retribusi Daerah berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagaimana tercantum pada Tabel 3. Retribusi Terminal 1. Retribusi Pelayanan Pasar 8. Retribusi Pengolahan limbah Cair 13. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan 11.2. Retribusi Pelayanan Kesehatan Jasa Umum 2. Retribusi Tempat Khusus Parkir 7. Jenis Retribusi Daerah 1. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Jasa Usaha 2. Retribusi Izin usaha Perikanan 1. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan Perizinan Tertentu 2. Retribusi KTP dan Akte Capil 4.Retribusi Penjualan Produksi usaha Daerah 9. Retribusi Rumah Potong Hewan 4. Retribusi Izin Trayek 5. Tabel 3. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 9. Retribusi Tempat Pelelangan 5.Retribusi Penyeberangan di Air sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 14. Retribusi Penyedotan Kakus 12. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol 3.

dimungkinkan umum dan retribusi perizinan tertentu yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada urusan pemerintahan perundang-undangan. aspek biaya modal. sementara itu. jenis retribusi daerah juga bersifat limitatif (closed-list) artinya bahwa pemerintah daerah tidak dapat memungut jenis retribusi selain 30 jenis retribusi tersebut di atas. yaitu: 1. biaya bunga. untuk untuk dilakukannya penambahan jenis retribusi daerah yang akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. penyediaan jasa yang bersangkutan. Keuntungan yang layak adalah keuntungan yang SistemPendanaandiDaerah pengenaan retribusi atas objek tertentu namun tidak boleh melakukan Tarif Retribusi Jasa umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya 2. Biaya keuntungan yang layak. tarif retribusi harus mengacu kepada prinsip dan sasaran penetapan tarif keadilan. Pemerintah daerah dapat mengatur pengecualian perluasan terhadap objek retribusi daerah. kemampuan masyarakat. dimaksud meliputi biaya operasi dan pemeliharaan. Penentuan jenis retribusi jasa yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota sesuai peraturan kabupaten/kota berdasarkan prinsip efisiensi. penetapan besaran untuk masing-masing jenis retribusi daerah. mengantisipasi perkembangan penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada daerah dan menyesuaikan dengan ketentuan sektoral. sedangkan penentuan retribusi jasa usaha didasarkan pada jasa pelayanan yang dapat diselenggarakan/diberikan oleh provinsi dan objek masing-masing jenis retribusi telah diatur dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. dan Tarif Retribusi Jasa usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh III-28 . dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Meskipun demikian.sama halnya dengan pajak daerah.

3. pengawasan di lapangan. suatu jenis pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan sebagai pungutan daerah berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Kriteria untuk pajak sebagai pajak daerah digunakan kriteria sebagai berikut: 3. menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin hukum. diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.3. dan bukan retribusi. badan kepada daerah: • • dan Pajak tersebut harus sesuai definisi pajak yang ditetapkan dalam undangtanpa imbalan langsung yang seimbang. kriteria Pajak daerah a. dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.1. penegakan Tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk Pemanfaatan hasil penerimaan masing-masing jenis retribusi daerah bersangkutan yang pengalokasiannya ditetapkan dengan Perda. Biaya penyelenggaraan pemberian izin dimaksud meliputi penerbitan dokumen izin. penatausahaan. yang bersangkutan. daerah dibedakan dengan kriteria retribusi daerah.1. Dalam menetapkan pajak KRITERIA undang yaitu kontribusi wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-29 . dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. Bersifat pajak. diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan jenis layanan 3.1.

dengan penjelasan sebagai berikut:. contohnya antara lain: Pajak atas reklame dalam surat kabar dan media elektronik. Pajak Restoran. disediakan oleh daerah maka iuran tersebut bukan pajak melainkan yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang 1) Yang dimaksud dengan ’mobilitas rendah’ adalah objek pajak relative 2) Yang dimaksud dengan ’hanya melayani masyarakat di wilayah tertentu’ adalah bahwa beban pajaknya hanya ditanggung oleh masyarakat lokal. pelabuhan atau bandara atau di tempat lain. Pajak Mineral Bukan logam dan • • Pajak atas barang yang diekspor atau diimpor (lalu lintas barang) di masyarakat luas di luar wilayah daerah yang bersangkutan. Jika suatu kontribusi hanya dibayar oleh orang pribadi atau badan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Jenis pajak dengan objek objek tersebut pada umumnya melayani III-30 SistemPendanaandiDaerah . Contoh: Pajak Penerangan Jalan. objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota bersangkutan.• yang menggunakan/memanfaatkan suatu pelayanan/perizinan yang b. immobile Batuan bersifat retribusi. Contoh: Pajak Hotel. Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini.

Pajak ditujukan untuk kepentingan bersama yang lebih luas antara objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan Contoh: Pajak atas seluruh komoditi akan menimbulkan ketidakstabilan Hasil penerimaan pajak harus lebih besar dari biaya pemungutan. ekonomi. ekonomi dan kestabilan politik. serta pertahanan dan Potensi pajak memadai.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. karena dampak dari pungutan ini tidak dapat arus sumber daya ekonomi antardaerah maupun kegiatan ekspor-impor. d. antara lain adalah f. Contoh jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini adalah: Pajak tidak mengganggu alokasi sumber ekonomi dan tidak merintangi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-31 . e. dilokalisir. oleh Pemerintah Pusat. Contoh : Pajak atas produksi minuman keras. yaitu pajak dengan objek dan/atau dasar pengenaan yang tumpang tindih dengan objek dan/atau dasar pengenaan pajak lain yang sebagian atau seluruh hasilnya diterima oleh daerah. Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini. objek pajak tersebut merupakan objek cukai yang lebih layak dipungut Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. sosial. pajak ganda (double tax). umum. budaya. objek Pajak bukan merupakan objek pajak pusat. pemerintah dan masyarakat dengan memperhatikan aspek ketentraman keamanan.

atau masyarakat luas untuk merusak lingkungan. pengenaan pajak tidak membedakan (klasifikasi) orang pribadi atau badan tanpa alasan yang kuat. seperti: pajak atas produksi garam. Contoh: Pajak pengenaan pajak tidak memberikan peluang kepada daerah atau pusat Pajak harus bersifat netral terhadap lingkungan. seperti kesenian tradisional. Contoh: Pajak Hotel. antara lain: objek dan subjek pajak harus jelas sehingga dapat diawasi jumlah pembayaran pajak dapat diperkirakan oleh wajib pajak. sehingga sebagian besar dari beban pajak tersebut h. dispensasi jalan umum. pemungutannya. pajak yang dipungut atas kegiatan ekonomi tertentu tanpa alasan pajak atas hasil perkebunan. pengecualian anggota DPRD sebagai subjek atau wajib pajak. Contoh: Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. Aspek kemampuan masyarakat: Pajak memperhatikan kemampuan subjek pajak untuk memikul Menjaga kelestarian lingkungan. yang berarti bahwa . • • • Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat.• • g. dan pajak pajak atas lalu lintas barang atau atas transportasi barang atau ekonomis atau sosial yang kuat. seperti: pajak angkutan barang di jalan raya. Hiburan terhadap hiburan rakyat. Hal lain mengenai aspek keadilan adalah objek atau subjek atau dasar tambahan beban pajak. Aspek keadilan. SistemPendanaandiDaerah III-32 tidak dipikul oleh masyarakat yang relatif kurang mampu. tarif pajak ditetapkan dengan memperhatikan keadaan wajib pajak. hewan.

layanan yang konkrit. Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa usaha atau Retribusi Perizinan Tertentu. disamping manfaat bagi individu masyarakat pada umumnya terhindar dari penyebaran bakteri penyakit. juga akan menyebabkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-33 . pengawasan. kriteria retribusi daerah a. Misalnya Pengguna jasa dapat diidentifikasi dan layanan tersebut memberikan secara eksplisit telah ditetapkan dalam peraturan perundangundangan sebagai fungsi dan menjadi kewenangan daerah. Pengenaan retribusi ii. dan pengendalian. pelayanan yang secara langsung dapat dinikmati oleh pengguna jasa tetapi jasa tersebut bukan menyangkut kegiatan pembinaan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. manfaat bagi kepentingan masyarakat pada umumnya.3.1. retribusi pelayanan persampahan.2. di samping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam Pengenaan retribusi hanya berkaitan dengan penyediaan jasa yang dihitung dengan nilai per komoditi tidak sesuai dengan kriteria iii. ini karena pengenaannya bersifat pajak dan tidak tersirat adanya rangka pelaksanaan desentralisasi. yang berasal dari sampah yang menjadi sumber penyebaran wabah berupa terbebasnya rumah dari sampah. Pengenaan retribusi hanya dapat dilakukan terhadap jasa yang pengaturan. Kriteria Retribusi Jasa umum i.

biaya pemungutan tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih seharusnya digunakan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. antara lain dalam bentuk proses pelayanan yang tanpa menaikkan tarif retribusi daerah. kebijakan oleh publik dan besarnya retribusi dapat dipikul oleh masyarakat mengenai penyelenggaraannya. Dari segi efisiensi. Dengan tarif retribusi daerah yang wajar. Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi daerah. merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial. pada umumnya. kepuasan pengguna jasa sebanding dengan nasional wajib disediakan oleh pemerintah Jasa yang akan dikenakan retribusi secara politis harus bisa diterima Retribusi daerah tidak bertentangan dengan kebijakan nasional pelayanannya harus diberikan secara gratis kepada masyarakat vi. serta pembayaran retribusi. sarana publik yang berdasarkan pendidikan dasar dan jalan umum tidak sesuai dengan kriteria ini. Retribusi atas pelayanan dan vii.iv. Retribusi daerah dapat dipungut secara efektif dan efisien. v. tingkat seharusnya lebih rendah dari hasil penerimaan retribusi. Penerimaan retribusi lebih cepat melalui perbaikan sistem pengelolaan dan administrasi III-34 SistemPendanaandiDaerah . Pemungutan retribusi daerah memungkinkan penyediaan jasa kepuasan atas pelayanan yang diberikan. pengguna jasa memperoleh Efektifitas dari pungutan retribusi seharusnya tercermin dalam jumlah umum tidak dapat dikenakan retribusi. baik.

dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang yang selama ini sudah menjadi kewenangan daerah serta perizinanii. diserahkan kepada daerah dalam rangka azas desentralisasi. Kriteria Retribusi Perizinan Tertentu: mengenakan tarif jasa yang di dalamnya sudah termasuk margin keuntungan. i. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa umum atau ii.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. pengendalian. dan pengawasan. Retribusi tidak boleh dikenakan terhadap jasa yang dimaksudkan seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai daerah yang belum Jasa yang dikenakan retribusi daerah adalah jasa yang belum sepenuhnya dapat disediakan oleh swasta dimana layanan tersebut Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang bersifat komersial sehingga pemerintah daerah dimungkinkan untuk c. Retribusi Perizinan Tertentu. yaitu melalui kegiatan pembinaan dan pengaturan guna PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pemberian izin dimaksudkan untuk melindungi kepentingan III-35 . untuk melayani kepentingan umum dan bukan menyangkut kegiatan pembinaan. Retribusi yang boleh dipungut hanya terhadap perizinan-perizinan Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi umum. Kriteria Retribusi Jasa usaha: i. pengaturan. kepentingan umum. perizinan baru yang pengelolaannya telah diserahkan kepada daerah sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

iii. dan untuk dievaluasi. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari retribusi perizinan. Pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah harus diatur dengan Perda. menimbulkan dampak negatif karena memerlukan biaya yang cukup pengendalian guna menanggulangi dampak negatif dari pemberian pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari besar untuk menanggulangi dampak negatif atas pemberian izin Retribusi dikenakan terutama terhadap pemberian izin yang 3. b. Negeri untuk dievaluasi. tersebut.menjaga ketertiban umum dan melalui kegiatan pengawasan dan izin tersebut. dengan ketentuan: a. Rancangan Perda provinsi tentang PDRD yang telah disetujui antara Rancangan Perda kabupaten/kota yang telah disetujui antara bupati/ gubernur dan DPRD provinsi harus disampaikan kepada Menteri Dalam walikota dan DPRD kabupaten/kota harus disampaikan kepada gubernur PRoSEDUR PENETAPAN Dalam proses evaluasi tersebut.1. suatu rancangan Perda tentang PDRD.4. sebelum ditetapkan menjadi Perda terlebih dahulu harus dievaluasi oleh pemerintah. III-36 SistemPendanaandiDaerah . gubernur dan Menteri Dalam Negeri berkoordinasi dengan Menteri Keuangan agar terdapat sinkronisasi kebijakan fiskal antara pusat dan daerah.

3) Wilayah pemungutan. 1. dan cara penghitungan pajak. berupa pemberian pengurangan. 7) Kadaluwarsa. pembebasan pajak kepada kedutaan. 2. dan perwakilan negara PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-37 . 3. dan pembebasan dalam hal-hal Tata cara penghapusan piutang pajak yang kadaluwarsa. Pemberian pengurangan. tarif. objek. Disamping itu. dan 9) Tanggal mulai berlakunya. 8) sanksi administratif.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Perda PDRD adalah sebagai berikut: a. keringanan. keringanan. 2) Dasar pengenaan. 5) Penetapan. dan subjek retribusi. dan Perda tentang retribusi daerah sekurang-kurangnya harus mengatur 3) Cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan. 6) Tata cara pembayaran dan penagihan. asing sesuai dengan kelaziman internasional. Perda pajak daerah dapat pula mengatur mengenai: tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya. 4) Masa pajak. dan/atau Asas timbal balik. objek. 2) golongan retribusi. mengenai: 1) Nama. dan subjek pajak. b. konsulat. mengenai: setiap Perda tentang pajak daerah sekurang-kurangnya harus mengatur 1) Nama.

dan/atau 3. angsuran. 3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa. Pengawasan dimaksud dilakukan secara preventif dan korektif. pembayaran. 9) Penagihan. 7) Penentuan 8) sanksi administratif. 6) Wilayah pemungutan.1. Hasil evaluasi yang III-38 SistemPendanaandiDaerah persetujuan bersama. pengurangan.5.4) Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif 5) struktur dan besarnya tarif retribusi. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Perda tentang PDRD yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. selanjutnya Menteri Dalam Negeri dan gubernur melakukan evaluasi terhadap Raperda dimaksud dan dalam proses . penundaan pembayaran. 2) Pemberian keringanan. Raperda provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Raperda Kabupaten/Kota disampaikan kepada gubernur paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah evaluasinya berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. tempat retribusi. 10) Penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa. Pengawasan secara preventif dilakukan dengan PENGAwASAN DAN PEMBATALAN mengevaluasi Raperda PDRD yang telah disetujui bersama antara kepala daerah dengan DPRD sebelum ditetapkan menjadi Perda. dan pembebasan dalam halhal tertentu atas pokok retribusi dan/atau sanksinya. pembayaran. Perda retribusi daerah dapat juga mengatur mengenai: 1) Masa retribusi. dan Disamping itu. dan 11) Tanggal mulai berlakunya.

Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut diatas dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-39 . Menteri Dalam Negeri mengajukan permohonan pembatalan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari kerja sejak diterimanya provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda Agung. Jika keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Keputusan pembatalan Perda ditetapkan pembatalan. Perda PDRD yang telah lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 telah dikoordinasikan kepada Menteri Keuangan tersebut dapat berupa persetujuan atau penolakan. Perda dimaksud dinyatakan Perda sebagaimana dimaksud. ditetapkan oleh kepala daerah disampaikan kepada Menteri Keuangan paling dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang sementara itu. Berdasarkan rekomendasi pembatalan yang disampaikan oleh Menteri Perda dimaksud kepada Presiden. Paling lama 7 hari kerja setelah keputusan dengan alasan-alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang- selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. Jika Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda. kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan Perda dan undangan. Jika berlaku. pengawasan represif dilakukan terhadap Perda tentang PDRD yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal rekomendasi pembatalan oleh Menteri Keuangan kepada Menteri Dalam Perda. kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Dalam hal Perda bertentangan lebih tinggi maka Menteri Keuangan merekomendasikan pembatalan Perda Negeri dilakukan paling lambat 20 hari kerja sejak tanggal diterimanya dimaksud kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. Penyampaian Keuangan.

312 Raperda dari Pemerintah Daerah. Dari jumlah tersebut. semenjak digulirkannya otonomi daerah tahun 2001 sampai dengan Februari 2011. Raperda PDRD harus dievaluasi terlebih dahulu oleh 3.885 Perda diantaranya atau sekitar 36 persen direkomendasikan pembatalannya oleh Menteri Keuangan kepada Menteri Dalam Negeri karena tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. industri dan perdagangan. mineral. energi dan sumber daya sektor ini perlu mendapat perhatian agar tidak kontra produktif dalam upaya III-40 SistemPendanaandiDaerah . hanya 895 menjadi Perda. jenis pungutan daerah yang banyak bermasalah terutama pengembangan potensi fiskal daerah dan pembangunan ekonomi daerah.623 Perda PDRD. Pungutan daerah untuk sektor- Dalam rangka pelaksanaan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. serta kebudayaan dan pariwisata. sejak tahun 2005 sampai dengan Februari 2011. Berdasarkan ikhtisar hasil evaluasi Perda dan Raperda PDRD yang dilakukan oleh Pemerintah. Menteri Keuangan telah menerima dan mengevaluasi Raperda atau sekitar 27 persen yang dapat secara langsung disetujui dan 63 persen lainnya harus direvisi terlebih dahulu sebelum dapat ditetapkan pembinaan secara terus menerus.Bagi Hasil atau restitusi. pemerintah sebelum ditetapkan menjadi Perda. Menteri Keuangan telah menerima 13. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa pemahaman daerah dalam penyusunan Perda PDRD masih perlu ditingkatkan dan memerlukan dari sektor perhubungan. Dari jumlah Perda yang diterima tersebut seluruh Perda telah dievaluasi dan sebanyak 4.

a. berdasarkan Perda yang telah dibatalkan. Ketentuan sanksi tersebut diatur lebih lanjut Cara Pengenaan sanksi terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemerintah. pelanggaran di bidang pajak daerah dan Retribusi daerah b. menyampaikan Perda yang telah Penetapan Perda tanpa mengikuti hasil evaluasi. • • • dapat dibagi dua bagian.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. Pelanggaran terhadap ketentuan di bidang perpajakan daerah dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. Atas pelanggaran substansi Atas pelanggaran prosedur ini dikenakan sanksi berupa penundaan Dana kepada ini dikenakan sanksi berupa pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau DBH pajak penghasilan sebesar perkiraan penerimaan PDRD yg telah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-41 . yang dapat berupa: Penetapan Perda tanpa melalui proses evaluasi. Pelanggaran terhadap substansi pungutan yaitu pemungutan PDRD dipungut berdasarkan Perda yang telah dibatalkan atau sebesar 5 persen dari jumlah Dana Alokasi umum dan/atau DBH Pajak Penghasilan yang disalurkan setiap periode penyaluran.1. Alokasi umum atau DBH pajak penghasilan sebesar 10 persen untuk setiap periode penyaluran.6. yaitu: Tidak Pelanggaran terhadap prosedur penetapan Perda.07/2010 tentang Tata secara umum. atau ditetapkan SANKSI dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK.

3. Pemberlakuan beberapa jenis pajak daerah yang baru dimunculkan langsung diimplementasikan oleh pemerintah daerah. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh daerah terkait dengan penetapan Perda tentang PDRD dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. Kesepahaman.1.1. tarif tidak ditetapkan secara definitif. KESALAHAN MATERI PERDA pada Perda. dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak secara otomatis dapat dan Pajak Rokok pada 1 Januari 2014. Meskipun demikian.7. tarif melampaui tarif maksimum yang ditetapkan dalam undang-undang. 2. dan struktur dan besaran tarif Retribusi ditetapkan oleh kepala daerah. substansi pungutan tidak sesuai dengan undang-undang. misalnya ada 3. maka undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 beserta peraturan pelaksanaanya lagi. Masih terdapat pungutan yang dilakukan oleh daerah tanpa didasarkan Materi pengaturan dalam Perda tidak memenuhi standar ketentuan perluasan objek pungutan. misalnya dengan Peraturan/Keputusan Kepala Daerah.8. pemerintah (seperti Peraturan Pemerintah Nomor 65 dan 66 Tahun 2001) tidak berlaku diberlakukan pada 1 Januari 2011 serta PBB Perdesaan dan Perkotaan mengambil alih pemungutan PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak Rokok PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG III-42 SistemPendanaandiDaerah . Nota sebagaimana diatur dalam undang-undang. BPHTB baru dapat memberikan peluang kepada pemerintah daerah yang sudah siap untuk sebelum 1 Januari 2014. atau dokumen selain Perda. 3. Dengan berlakunya undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tersebut. 4.

yaitu: a. g. notaris/pejabat pembuat akta tanah. dan Pajak Rokok sebelum 1 Januari 2014 atau sebelum pengambilalihan objeknya agar potensi penerimaan dapat dioptimalkan. Menyusun dan menerbitkan Perda tentang PBB Perdesaan dan Perkotaan Perda tentang PDRD harus memuat seluruh ketentuan yang sekurang- penyusunan Perda sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 28 pemerintah daerah perlu melakukan konsultasi/koordinasi/sosialisasi dengan intansi terkait (kanwil pajak. dan Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan. kurangnya harus diatur dalam Perda tentang PDRD. bea dan cukai. f. c.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. BPHTB dan Pajak Rokok. Memilih b. Mendahulukan perubahan atau penyesuaian Perda yang diperluas Perda yang berlaku saat ini yang mengatur jenis pajak dan Retribusi yang d. Tahun 2009. dan lain-lain). e. h. Dalam menyusun Perda harus mengikuti proses dan prosedur PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-43 . diberlakukan dengan Tidak mengadakan jenis pungutan selain yang ada dalam undangterdapat dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 harus disesuaikan dengan undang-undang dimaksud paling lambat 31 Desember 2012. kedua jenis pajak dimaksud. badan pertanahan. jenis pungutan yang akan mempertimbangkan potensi daerah (tidak harus memberlakukan semua undang Nomor 28 Tahun 2009. jenis pungutan yang ada). beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh pemerintah daerah.

07/2010 tentang Badan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 148/PMK. dan penetapan. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan. 6. 5. pemerintah daerah perlu Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah (Official atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek BPHTB.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah. 2.i. Perdesaan dan Perkotaan. Beberapa peraturan pelaksanaan terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang telah ditetapkan oleh Pemerintah adalah: 1. 186/PMK. 7. 4.07/2010 tentang Tata Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek PBB Cara Pengenaan sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Assessment) atau Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Self Assessment). SistemPendanaandiDaerah 213/PMK. BPHTB menjadi Pajak Daerah. pendataan. penilaian.07/2010 tentang Badan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK. Retribusi Daerah. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara memperpersiapkan sDM khususnya tenaga administrator.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan PBB III-44 .

mengacu pada ketentuan dalam uu Nomor 28 Tahun 2009 karena pengaturan BPHTB. Namun demikian. Penyusunan Perda tersebut dilakukan dengan daerah dapat menyesuaikan Perda BPHTB dengan kondisi masyarakat dan langkah kedua yang perlu dipersiapkan daerah adalah teknis pemungutan prasarana pemungutan pajak (termasuk menyediakan komputer dengan spesifikasi untuk mengunduh data NJOP guna validasi pembayaran BPHTB). ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. pemungutan BPHTB pertama yang harus dilakukan oleh daerah adalah menetapkan Perda tentang pajak. karakteristik daerah sepanjang tidak melanggar ketentuan pokok yang ditetapkan dalam undang-undang. Perda ini merupakan landasan hukum yang mengatur kebijakan BPHTB di suatu daerah. subjek dan wajib BPHTB dalam undang-undang ini relatif telah cukup rinci. yaitu: 1. langkah BPHTB. sebagaimana halnya dengan jenis pajak daerah lainnya. oleh karena itu. dasar pengenaan pajak. mulai dari penyusunan Standard Operating Procedures (soP) yang menyiapkan sumber daya manusia (sDM) untuk memungut BPHTB (melalui PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-45 . Penyetoran Pajak Rokok. 2. terdapat 2 (dua) peraturan pelaksanaan terkait Pemerintah.9. baik menyangkut cakupan objek. dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang sedang disiapkan oleh Peraturan Pemerintah tentang Retribusi Daerah Tambahan yang Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pemungutan dan 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Disamping peraturan diatas.1. dan ketentuan lain yang diperlukan BPHTB DAN PBB P-2 hanya dapat dilakukan dengan menerbitkan Perda. membangun sarana dan untuk pemungutan BPHTB. penerbitannya disesuaikan dengan kebutuhan. tarif pajak.

Membentuk Tim dari pusat ke daerah. 2. mempersiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan pengalihan BPHTB tentang Pengecualian lembaga internasional dari pengenaan BPHTB BPHTB (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. Kantor Pelayanan Pajak Pratama. dan Balai Pelatihan Keuangan yang ada di daerah. PPAT. Masyarakat) dan Pemerintah telah melakukan berbagai langkah. Tim ini juga Nomor 186/PMK. langkah ketiga yang perlu dipersiapkan adalah upaya pendukung kelancaran melakukan kerjasama dengan pihak terkait. Kegiatan untuk membantu daerah dalam rangka pemungutan BPHTB. magang. lainnya untuk menyampaikan kebijakan baru di bidang PDRD. Disamping mempersiapkan peraturan pelaksanaan Persiapan Pengalihan BPHTB yang bertugas dilakukan sejak oktober 2009 sampai sekarang. hanya instansi Pemerintah di pusat tetapi juga Kantor Wilayah Ditjen Pajak. Kantor Pertanahan. serta membuka rekening pada bank yang sehat. Kantor lelang. bimbingan teknis.pelatihan. pemungutan BPHTB. 1.07/2010 dan Nomor 53 Tahun 2010 tentang Tahapan III-46 SistemPendanaandiDaerah . Melakukan sosialisasi kepada seluruh Pemda dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan pengalihan BPHTB menjadi pajak kabupaten/kota. dengan melibatkan tidak Memberikan bimbingan teknis dan fasilitasi kepada seluruh Pemda 3. dan lain-lain). dan penyediaan e-learning. konsultasi. Kegiatan pelatihan. antara lain: ini dilakukan sejak oktober 2009 sampai sekarang. Daerah harus melakukan sosialisasi tentang kebijakan BPHTB kepada seluruh pemangku kepentingan di daerah tersebut (Notaris.07/2010 serta Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Persiapan Pengalihan BPHTB menjadi pajak daerah). Perbankan.

antara lain: Januari 2011. sejumlah daerah telah melakukan b. sejumlah langkah lainnya dilakukan untuk Menyusun dan menyerahkan aplikasi pembaca NJoP kepada Pemda. a. dan menginformasikan spesifikasi komputer yang diperlukan untuk membaca yang dapat digunakan oleh Pemda untuk menyusun soTK. daerah Melalui langkah-langkah tersebut di atas. Mendorong daerah untuk mempercepat penerbitan Perda BPHTB 2 Desember 2010. serta organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini mengelola BPHTB Membantu daerah dalam melakukan persiapan pemungutan BPHTB 5. berfungsi sebagai “Help-Desk” untuk membantu daerah mengatasi berbagai masalah dalam proses pengalihan BPHTB. mempercepat persiapan pemungutan BPHTB. 7. Namun terdapat sejumlah Pemda lainnya yang belum menerbitkan Perda BPHTB karena berbagai kendala dan prolegda 2010.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. rancangan Perda sedang dievaluasi oleh gubernur dan rancangan Perda BPHTB belum masuk PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-47 . tentang struktur organisasi pemungutan BPHTB. Menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2010 Melakukan launching BPHTB dan PBB-P2 di surabaya pada tanggal pusat mengalihkan pemungutan BPHTB kepada daerah sejak 1 dan mengingatkan implikasinya apabila pada tanggal 1 Januari 2011 Perda BPHTB belum diterbitkan. mendorong NJoP dalam rangka validasi pembayaran BPHTB. pertimbangan. dengan menyediakan template Perda BPHTB. sebagai public announcement bahwa pemerintah pemungutan BPHTB mulai 1 Januari 2011. antara lain: potensi BPHTB di daerahnya relatif kecil. belum selesai pembahasan Rancangan Perda bersama DPRD. template soP BPHTB. 6.

400.8 (%) 17. maka kewajiban lunas Daerah yang belum atau tidak menetapkan Perda tentang BPHTB tidak Berdasarkan pemantauan yang dilakukan.8 juga tidak lagi memperoleh dana bagi hasil BPHTB karena jenis pajak ini Disamping tidak memperoleh pendapatan dari BPHTB.0 0.733.2 (%) 3. 3.320.3 Kesiapan Daerah Memungut BPHTB (Posisi tanggal 11 April 2011) Jumlah Daerah 75. menimbulkan beberapa implikasi sebagai berikut: 1.9 Potensi Penerimaan * 96. 2.597 240.Belum atau tidak ditetapkannya Perda BPHTB tersebut. Karena di daerah tersebut tidak ada Perda BPHTB. 2. 3. sudah sepenuhnya menjadi Pendapatan Asli Daerah. ditetapkan.926 100 III-48 SistemPendanaandiDaerah . daerah tersebut No.730 66. Kesiapan Perda Perda yang telah siap Belum ada informasi Total Jumlah Daerah 373 85 34 Potensi Penerimaan 7.018. Tabel 3.599 (Rp) Raperda (dalam proses) sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan *) Potensi penerimaan BPHTB dihitung berdasarkan data realisasi penerimaan BPHTB tahun 2010 492 8.399. 1.462. dapat memungut BPHTB sejak 1 Januari 2011 sampai Perda BPHTB bayar BPHTB dalam proses administrasi pengalihan hak atas tanah dan bangunan menjadi gugur.3 100 6. perkembangan kesiapan daerah dalam pemungutan BPHTB sampai tanggal 11 April 2011 adalah sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut.711.416.536.362.

penerimaan BPHTB. stakeholder terkait sejak bulan oktober 2009 sampai saat ini.5 persen dari potensi penerimaan BPHTB. Melakukan sosialisasi kepada mempersiapkan Perda BPHTB. Daerah ini mewakili 98. sesuai amanat Pasal 182 angka 1 uu 28/2009. sebagaimana diatur dalam Pasal 180 angka 5 uu No. Pemerintah telah melakukan beberapa hal-hal sebagai berikut: kewenangan pemungutan PBB-P2 dialihkan menjadi pajak daerah.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010 tentang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-49 . dan Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 213/PMK. telah selesai dan sedang yang belum diketahui secara pasti kesiapan Perda BPHTBnya.2 persen dari jumlah daerah. 1. P2 menjadi pajak daerah: a. seluruh Pemerintah Daerah Dari data tersebut.2 persen dari total ini hanya memiliki sekitar 2. Pemerintah akan secara terus menerus memberikan bantuan dan fasilitasi agar daerah ini dapat menyelesaikan persiapan selanjutnya. diketahui bahwa masih ada 62 daerah kabupaten/kota menjadi pajak daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam memperlancar pengalihan BPHTB menjadi pajak kabupaten/kota hasilnya cukup memadai. 2. Hal ini terlihat dari data di atas dimana sekitar 444 daerah kabupaten/ kota atau 90. Meskipun demikian. untuk menyampaikan kebijakan baru bahwa paling lambat 31 Desember 2013 Mempersiapkan dan menyusun peraturan pelaksanaan pengalihan PBBTahapan Persiapan Pengalihan PBB-P2 sebagai Pajak Daerah. namun daerah pemungutan BPHTB sesegera mungkin. dalam rangka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 28/2009.

Pemerintah telah Procedure (soP). awareness dan memotivasi daerah agar pada tanggal 2 Desember 2010 di surabaya yang bertujuan untuk menumbuhkan sebagai public announcement sekaligus pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat terkait kebijakan perpajakan. Dalam rangka kewenangan pemungutan PBB-P2.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010. Menteri Dalam Negeri telah menetapkan Permendagri Nomor 56 Tahun 2010 tentang perubahan Permendagri 57/2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun struktur organisasi dan tata kerja Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. sebagaimana diatur dalam Peraturan mempercepat dan memperlancar proses Dalam Negeri Nomor: 213/PMK. baik Kantor Wilayah DJP. sebagai pelaksanaan dari Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri organisasi Perangkat Daerah. System Operating ini dilakukan oleh Ditjen Pajak yang dapat dijadikan acuan oleh Pemerintah pengalihan . organisasi dan tata kerja pemungutan PBB-P2 yang selama III-50 SistemPendanaandiDaerah mengkompilasi dan mengirimkan peraturan pelaksanaan. kegiatan ini pemungutan PBB-P2 yang dilakukan mulai bulan oktober 2009 sampai Melakukan launching pengalihan PBB-P2 menjadi pajak daerah Badan atau Perwakilan lembaga Internasional yang Tidak Dikenakan segera 4. Di sisi lain. dengan saat ini dengan melibatkan perangkat pusat di daerah.07/2011 tentang PBB-P2. Peraturan tersebut merupakan dasar/pedoman pemungutan PBB-P2. Memberikan pelatihan/bimbingan teknis untuk membantu daerah dalam menyiapkan infrastruktur yang diperlukan. Kantor Pelayanan Pajak Pratama. 3. maupun Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK).b. sebagai amanat Pasal 77 ayat (3) huruf f uu 28/2009. Peratuan Menteri Keuangan Nomor: 148/PMK.

2. langkah-langkah tersebut akan terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mendorong dan membantu Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan maupun persiapan lainnya (sosialisasi dan kerjasama) sehingga pengalihan 3. persiapan teknis pemungutan (sistem. peta blok. peta desa/kelurahan. Namun demikian. Pemerintah III-51 . sK Menteri Keuangan mengenai NJoPTKP softcopy. Keberhasilan kebijakan Transfer ke Daerah dalam mengurangi ketimpangan vertikal antara pusat dan fiskal antar daerah melalui DAu dan DAK. dan kota. dan peta zona nilai tanah dalam bentuk P2 beserta berkas pendukungnya. hasil penggandaan basis data PBB-P2 sebelum Tahun pengalihan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Daerah. masih menghadapi tantangan yang terus berupaya untuk melakukan reformulasi kebijakan Dana Perimbangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi daerah melalui alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) dan meminimalkan kesenjangan cukup berat dengan adanya alokasi dana penyesuaian tertentu yang belum sepenuhnya berdasarkan formula dan kriteria. perangkat hukum (Perda dan Peraturan Kepala Daerah). kabupaten. sumber daya manusia. salinan dan hasil penggandaan sistem Aplikasi PBB-P2 beserta source code. kewenangan pemungutan PBB-P2 dapat berjalan dengan baik. TRANSFER KE DAERAH 3. selain itu.1. Pemerintah juga telah mengkompilasi: data piutang PBByang berlaku dalam kurun waktu 10 tahun sebelum tahun pengalihan. Kebijakan dan implementasi Transfer ke Daerah sebagai instrumen utama PENDAHULUAN desentralisasi fiskal di Indonesia selama 11 tahun (2001-2011) telah memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi peningkatan sumber pendanaan di daerah provinsi.2. data. sarana dan prasarana).

0 miliar. 2. 5. 4. 3.232. daerah.3 miliar.324. maka arah meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan mengurangi kesenjangan menyelaraskan kebutuhan pendanaan di daerah sesuai dengan meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. 7.558.8 miliar dan DAK sebesar Rp25. untuk mendukung reformulasi kebijakan yang berkelanjutan. Perbaikan tersebut III-52 . Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian pada Tahun 2011 sebesar Rp334.setiap tahun sehingga diharapkan dapat mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan terutama kepada daerah-daerah marjinal.532.8 miliar. kesenjangan pelayanan publik antar daerah. dan meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional Kebijakan alokasi Dana Transfer ke Daerah yang terdiri dari Dana sebesar Rp225.4 miliar. dapat dilihat dari telah direvisinya Peraturan Menteri Keuangan Nomor SistemPendanaandiDaerah dengan rencana pembangunan daerah.980. Dana Perimbangan merupakan komponen terbesar Perimbangan. sehingga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah. DAu Transfer ke Daerah. terdiri dari DBH sebesar Rp83. 6. Dana Perimbangan tahun 2011 dialokasikan dalam alokasi Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan (continuous improvement) terhadap mekanisme penyaluran Transfer ke Daerah. pembagian urusan pemerintahan. kebijakan Transfer ke Daerah tetap diarahkan untuk : 1. fiskal antara pusat & daerah dan antar daerah. mendukung kesinambungan fiskal nasional. sebesar Rp392.

(b) mempertegas penyaluran DBH Cukai Hasil empat tahap menjadi tiga tahap.07/2009 dan direvisi lagi dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor mempercepat penyelesaian Perda APBD.07/2010.Pelengkap Buku Pegangan 2011 04/PMK. (2) mendorong pelaksanaan sistem penerimaan kas daerah sehingga daerah dapat mengatur pola belanja. satu rekening bank yang ditunjuk daerah. (5) mengurangi sisa anggaran pada akhir tahun sistem Informasi Keuangan Daerah (sIKD). (c) mempercepat proses penyaluran DAK dari Implementasi perbaikan mekanisme penyaluran tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan keuangan daerah. (4) mempercepat pelaksanaan kegiatan/pembangunan daerah dengan semakin Realisasi Anggaran (lRA) Transfer ke Daerah. Tembakau secara triwulanan. yaitu: (a) mempercepat penyaluran PBB Bagian Daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara bulanan menjadi mingguan melalui Bank operasional III. dan (8) meningkatkan akurasi dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih awal.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/ 126/PMK. Perbaikan mekanisme penyaluran anggaran Transfer ke Daerah tersebut terutama dimaksudkan untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi penyaluran. (3) memberikan kepastian terhadap dan dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) PMK. (6) mempercepat tersedianya data realisasi transfer. yakni: (1) treasury single account dengan disalurkannya semua dana transfer melalui cepat tersedianya dana. (7) meningkatkan akuntabilitas penyusunan laporan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-53 .

2. 6. namun obyek dan atau subyek pajaknya berada di Pemerintah Pusat. 3. secara mandiri. 4. 5. daerah itu sendiri.3.2. Memberikan kompensasi kepada daerah atas timbulnya beban dari III-54 SistemPendanaandiDaerah .1.2. DANA BAGI HASIL dana bagi hasil Pajak Penerimaan pajak yang diperoleh Pemerintah dalam APBN dibagihasilkan 2005 yang ditujukan dalam rangka memperkecil kesenjangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan Kebijakan adanya DBH Pajak ini dilatarbelakangi oleh: 1. Memberikan insentif kepada daerah dalam melaksanakan program kegiatan yang dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. Kebutuhan pendanaan daerah dalam kepada daerah dengan proporsi yang telah ditetapkan berdasarkan undangpemerintahan di daerah.2. 3.2. rangka menyelenggarakan undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun pemerintahan di daerah tidak seimbang dengan besarnya pendapatan Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam pengumpulan dana Adanya jenis penerimaan pajak dan atau bukan pajak yang berdasarkan Memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah. Penyempurnaan mekanisme perhitungan dan penyediaan data DBH Pajak perlu didukung oleh instansi teknis terkait di tingkat pusat maupun daerah agar penerimaan pajak dan DBH lebih optimal. daerah. pertimbangan tertentu pemungutannya harus dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat.

mulai tahun 2011.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Proporsi DBH Pajak yang diterima oleh daerah ditentukan berdasarkan formula persentase tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku.1 Persentase Pembagian Dana Bagi Hasil Pajak PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-55 . DBH Pajak bersumber dari: a) PPh Pasal 21 dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/Pasal 29 Wajib Pajak b) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). BPHTB sudah dialihkan menjadi pajak daerah terhitung gambar 3. c) Cukai Hasil Tembakau (dialokasikan sejak tahun 2009). sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. orang Pribadi Dalam Negeri.

dan III tahun anggaran berjalan pada bulan pertama triwulan IV tahun anggaran berjalan.4 persen untuk kabupaten/kota tempat wajib pajak terdaftar. a. Bagian Pemerintah sebesar 80 persen . yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat bersangkutan dengan bagian yang sama besar. Pajak Negara dari PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25 dan 29 orang Pribadi b. sebagai dasar penyaluran triwulan I. Pajak Penghasilan (PPh) wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (wPoPDN) dan PPh Pasal 21 Alokasi DBH PPh didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun Alokasi Dana Bagi Hasil PPh 2005 tentang Dana Perimbangan. kembali dengan rincian : dan c. 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. 3. telah dicairkan selama triwulan I. II. dan III. dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20 persen. yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat Alokasi sementara. e. sebagai dasar penyaluran triwulan IV dengan memperhitungkan jumlah dana yang Alokasi definitif.1. yang dibagi kembali dengan Bagian daerah kabupaten atau kota sebesar 12%. Bagian pemerintah daerah sebesar 20 persen . akan dibagi d. Bagian daerah provinsi sebesar 8 persen . II. komposisi sebagai berikut: • • dialokasikan kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk DBH. 8.6 persen untuk seluruh kabupaten/kota dalam provinsi yang III-56 SistemPendanaandiDaerah .

6) Penyaluran DBH PBB didasarkan atas perkiraan alokasi. 16. ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.8 persen untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. 9 persen untuk biaya pemungutan PBB. sebagai berikut: 3) Bagian pemerintah daerah 90 persen.5 persen dibagi secara merata kepada seluruh kabupaten/kota. 6. 4) Bagian pemerintah pusat dibagi kembali ke daerah dengan imbangan kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada TA sebelumnya mencapai/ melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.5 persen dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten/ 5) Bagian daerah dari PBB sebesar 90% tersebut diperinci dengan imbangan: 64. Alokasi Dana Bagi Hasil PBB daerah dalam DBH.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. sebagai penyaluran tahap I dan II dimana ditetapkan masing-masing sebesar 7) untuk DBH PBB bagian Pusat. 25 persen dan 50 persen. 3.2 persen untuk daerah provinsi. yang dasar penyaluran tahun anggaran berjalan. 1) Penerimaan Negara dari PBB dialokasikan kepada pemerintah 2) Bagian Pemerintah 10 persen. DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) A. perkiraan alokasi merupakan dasar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-57 .

penilaian yang diklasifikasikan dan digolongkan berdasarkan nilai perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis atau nilai Nilai Jual obyek Pajak (NJoP) per m2. terlebih dahulu dikurangi dengan NJoP-TKP (Nilai Jual obyek SistemPendanaandiDaerah III-58 . 1 milyar atau lebih. sebagai dasar penyaluran tahap III dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah dicairkan selama tahap I dan II. sedangkan untuk NJKP Assessment Ratio perhutanan. Perhitungan Dana Bagi Hasil PBB 1) Besaran PBB yang dibebankan ke wajib pajak tergantung hasil perolehan baru. atau NJoP Pengganti.5 % X(40 % X NJoP) 4) NJoP sebagai dasar pengenaan PBB sebelum dihitung beban PBB- nya. dan 20 persen untuk obyek pajak lainnya. serta 3) Dengan dasar perhitungan di atas maka perhitungan PBB adalah = 0. NJoP ditentukan melalui Jual Kena Pajak (NJKP). prognosa realisasi penerimaan oleh Ditjen Pajak ditetapkan sebagai dasar alokasi definitif. Dalam tahap III ini dialokasikan mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. bidang usaha perkebunan.5 persen dari Nilai yang berlaku saat ini adalah 40 persen untuk obyek pajak perumahan dengan NJoP Rp. sebagai berikut: = tarif X NJKP = (20% X NJoP) 2) Tarif untuk pengenaan PBB ditetapkan sebesar 0. pula insentif kepada kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya B.8) untuk DBH PBB bagian Pusat.

serta data-data mengenai obyek pajak. yaitu (1) peningkatan bahan baku industri hasil tembakau.Pelengkap Buku Pegangan 2011 5) Pengenaan PBB diberitahukan kepada Wajib Pajak dengan berisikan antara lain nama serta alamat wajib pajak. undang-undang pembinaan lingkungan sosial. gubernur dalam negeri yang dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau menetapkan pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau kepada bupati/ penerimaan cukai hasil tembakaunya. dan 30 persen persetujuan Menteri Keuangan. Menteri Keuangan menetapkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi prioritas dan karakteristik daerah masing-masing daerah. dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kedalam 5 (lima) kelompok kegiatan utama. Pajak Tidak Kena Pajak) per Wajib Pajak sebesar Rp.(delapan juta rupiah). DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) 2007 yang bersumber dari penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi sebesar 2 persen. 40 persen untuk kabupaten/kota daerah penghasil. gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk walikota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penghasil. mendorong. besarnya pajak terutang. (4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai. dengan komposisi 30 persen untuk provinsi menggerakkan. Pembagian DBH CHT dilakukan dengan untuk kabupaten/kota lainnya.8.000. untuk menjabarkan lima III-59 . menerbitkan surat Pemberitahuan Pajak Terutang (sPPT) yang DBH CHT merupakan amanat Pasal 66A undang-undang Nomor 39 Tahun 3. Dalam pelaksanaannya. Dalam pengelolaan dan penggunaannya.000. Nomor 39 Tahun 2007 tersebut mengamanatkan penggunaan DBH CHT dan (5) pemberantasan barang kena cukai ilegal. (2) pembinaan industri hasil tembakau. (3) kegiatan utama menjadi rincian kegiatan.

07/2008 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai III-60 SistemPendanaandiDaerah . asal negara pembuat). dan nomor izin usaha industri. (NPPBKC). d) Penanganan panen dan pascapanen bahan baku.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. hasil tembakau. Nama pabrik. tipe. c) Pembentukan kawasan industri hasil tembakau. dan mesin/peralatan mesin hasil tembakau. (merek. yang meliputi: a) Pendataan (i) (ii) setiap pabrik atau tempat lainnya. kapasitas. Jumlah mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau di tembakau (iii) (iv) Identitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau b) Penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). dan/atau 2) Pembinaan industri hasil tembakau. pengujian.07/2009 sebagai berikut: a) standardisasi kualitas bahan baku. 1) Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau. meliputi: (i) Perpindahan kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi Identitas kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil d) Pemetaan industri hasil tembakau berupa kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah. yang meliputi: b) Pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah. tembakau. produksi hasil c) Pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan metode e) Penguatan kelembagaan kelompok petani bahan baku untuk industri (registrasi mesin/ peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus.

provinsi). tenaga kerja pengemasan. h) Pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin a) Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil kepada Analisis Dampak lingkungan (AMDAl). kota/kabupaten. Kemitraan usaha Kecil Menengah (uKM) dan usaha besar dalam b) Penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang mengacu c) Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus d) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-61 . Realisasi produksi. Wilayah pemasaran. Jumlah alat linting. f) pengadaan bahan baku. dan/atau rokok. g) Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau. merek. meliputi : rendah melalui penerapan Good Manufacturing Practices (gMP).Pelengkap Buku Pegangan 2011 (ii) (iii) (iv) (v) (vi) lokasi/alamat pabrik (jalan/desa. dan/atau 3) Pembinaan lingkungan sosial. untuk merokok di tempat umum. dan Jumlah tenaga kerja linting/ giling. tipe. dan tenaga kerja lainnya. e) Asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkih). bahan baku industri hasil tembakau. (vii) (viii) Jumlah. dan kapasitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau. Realisasi pembayaran cukai.

dan palsu. meliputi: ditemukan indikasi adanya hasil tembakau yang dilekati pita cukai sesuai surat Edaran Menteri Keuangan Nomor sE-151/MK. memahami. c) Apabila dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan informasi tempat penjualan eceran. gubernur/ bupati/walikota menyampaikan 5) Pemberantasan barang kena cukai ilegal. dan/atau tembakau dalam rangka pengentasan kemiskinan. pengangguran.07/2010 tanggal 27 April 2010 tentang Prioritas Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai tembakau yang diperkirakan berdampak pada terbatasnya kesempatan III-62 SistemPendanaandiDaerah Hasil Tembakau TA 2010. akibat dari adanya kenaikan tarif cukai hasil . Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil 4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai merupakan kegiatan menyampaikan ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat yang bertujuan agar insidentil. dan mematuhi ketentuan di bidang cukai yang dilaksanakan dalam periode tertentu dan/atau secara a) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu b) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran. hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau informasi secara tertulis kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. masyarakat mengetahui. dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. mengurangi dilaksanakan antara lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi. di peredaran atau tempat penjualan eceran.e) Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga f) kerja industri hasil tembakau.

Keberhasilan pemanfaatan DBH CHT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para gubernur/ DBH CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. sarana dan prasarana balai latihan kerja dalam mendukung alih profesi. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk kerja industri tembakau. Penjabaran tersebut masing¬-masing kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan (Term of PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-63 . pemberantasan rokok/pita cukai ilegal. dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 kerja di industri rokok kecil (golongan III) dan beredarnya rokok ilegal maka dihimbau kepada gubernur/Bupati dan Walikota agar menetapkan prioritas penggunaan DBHCHT untuk kegiatan sebagai berikut: 1. 4. mengurangi pengangguran. Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu baku industri hasil tembakau. agar berkoordinasi dengan kantor Bea dan cukai setempat dalam rangka 2. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja dalam rangka alih profesi tenaga kerja. dilaksanakan antara lain dan tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran. 3. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk penguatan dalam rangka pengentasan kemiskinan.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan bupati/walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/bupati/walikota yang Nomor 20/PMK. melalui bantuan permodalan dan sarana produksi.

8. melaksanakannya. 5. 3.Reference/ToR) yang komprehensif. maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut bagaimana cara tersebut. 20/PMK. 7. 2. pelaksanaan kegiatan rinci dan jelas. melalui koperasi dan sebagainya. ToR tersebut sebaiknya meliputi substansi 7W & 2H sebagai berikut: 1. kegiatan antara lain satuan Kerja Pemerintah Daerah (sKPD). akan menerima manfaat dari keluaran. dengan tabel penjadualan How – bagaimana cara melaksanakannya : penjelasan mengenai caracara mencapai keluaran. 6.07/2009.07/2008 dan PMK Nomor Why – mengapa perlu kegiatan tersebut : Penjelasan alasan perlunya. unit Where – lokasi kegiatan : penjelasan mengenai dimana kegiatan When – waktu kegiatan : penjelasan mengenai waktu mulai dan waktu selesai pelaksanaan kegiatan (lamanya). III-64 SistemPendanaandiDaerah . melalui pengerahan tenaga kerja (padat karya). misalnya melaui proses pengadaan. dilengkapi dengan data dan gambaran kasus-kasus 4. yang telah terjadi sehingga mendorong perlunya solusi melalui kegiatan dibawah sKPD yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. Who – siapa yang melaksanakan : penjelasan mengenai pelaksanan Whom – siapa penerima manfaat : penjelasan mengenai masyarakat yang dilaksanakan dan dimana keluaran (output) kegiatan akan berada. What – kegiatan apa : nama kegiatan yang akan didanai dari DBH CHT. Which – kegiatan yang mana : penjelasan kaitannya dengan salah satu kegiatan yang mana dari PMK Nomor 84/PMK.

2.Pelengkap Buku Pegangan 2011 9. dana bagi hasil sumber daya alam 3. DBH untuk mendanai penyelenggaraan pembangunan infrastruktur. keterbatasan input dan tidak terbarukan. penerimaan Anggaran penghasil yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk memperkecil kesenjangan vertikal antara Pusat dan Daerah. pengembangan dari butir how much ini adalah Rincian Anggaran Biaya (RAB). gas bumi. menjaga sebagai tools kelestarian lingkungan saat pra dan pasca eksploitasi sDA. mengurangi Renewable Resources atau tidak dapat diperbaharui. kriteria penerimaan sDA mana yang dapat dibagihasilkan kepada daerah. sDA diharapkan dapat pula mendukung daerah-daerah penghasil tersebut kebutuhan daerah dalam menyediakan layanan publik yang lebih memadai. terdapat sektor sDA lainnya seperti kehutanan dan perikanan dapat pula dibagihasilkan (replenishable) karena hal ini dimungkinkan dengan asumsi masa pemulihan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dampak eksternalitas sosial di sekitar lokasi sDA. hal ini telah menjadi bahan diskusi para akademisi di berbagai negara mengenai batasan dan Beberapa sektor sDA yang menurut antara lain sumber daya mineral yang berasal dari minyak bumi. dan geothermal karena diasumsikan memiliki walaupun secara teoritis termasuk sumber daya yang terbarukan III-65 .2.2. serta membantu mendanai sebagaimana diketahui. Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam (DBH sDA) memegang peranan cukup dominan dalam memberikan kontribusi terhadap Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terutama kepada daerah-daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun demikian. sumber penerimaan sDA adalah bersifat Non best practices dapat dibagihasilkan pertambangan umum. How much – berapa harga kegiatan : penjelasan mengenai sumber dana dan besaran dana yang diperlukan.

Pertambangan umum. Penerimaan DBH sDA sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. f. b. a. tingkat eksploitasi dan konsumsi lebih tinggi daripada upaya untuk memperbaharuinya. dan memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan terhadap penerimaan negara. Nomor 55 Tahun 2005.yang relatif lama. c. dan Perikanan. Pertambangan gas Bumi. dibagihasilkan kepada daerah dengan angka persentase tertentu didasarkan bersumber dari PNBP dalam APBN yang d. e. Persentase alokasi DBH sDA ditunjukkan dalam skema berikut: III-66 SistemPendanaandiDaerah . Pertambangan Panas Bumi. Kehutanan. DBH sDA berasal dari penerimaan: Pertambangan Minyak Bumi.

pengalihan Dana Reboisasi (sebelumnya Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi/ penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula DAK-DR sumber PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-67 . yaitu: menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR). Mulai tahun 2006 dilakukan 1) Adanya penambahan obyek dana bagi hasil sumber daya alam.2 skema Bagi Hasil sDA sumber: undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Beberapa hal baru yang diatur dan ditegaskan dalam hal DBH sDA oleh undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah sebagai berikut: • DAK-DR).Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.

5 persen. sebesar 0. 3) Penambahan • • pertambangan minyak bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yakni: • • • Jadwal penetapan.5 persen dari penerimaan gas bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan peraturan perundang-¬undangan. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 30.5 persen. persentase • Penetapan alokasi DBH sDA dilakukan berdasarkan daerah penghasil. dan dasar perhitungan.5 persen dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar dan dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009.1 persen. perincian: III-68 Adapun pembagian porsi tambahan tersebut dibagikan dengan untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 0.5 persen sumber Daya Alam Panas Bumi.5 persen. Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 84. Penyaluran DBH sDA dilakukan secara triwulanan. SistemPendanaandiDaerah . • • Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 69.2) Adanya penegasan mekanisme.5 persen. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 15. dari penerimaan 4) Penambahan persentase sebesar 0. setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan 5) Tambahan DBH dari pertambangan minyak bumi dan gas bumi untuk daerah sebesar 0.

Menteri Teknis menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau pertimbangan dari menteri teknis. b. - melebihi 130% dari asumsi dasar harga minyak bumi dan dan gas persen. untuk kabupaten/kota penghasil 0. Penetapan Alokasi DBH sDA diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 1.2 bumi dalam APBN tahun berjalan. Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-69 . Penetapan Alokasi DBH SDA tahun 2005 pasal 27 sebagai berikut: a. berada pada lebih dari satu daerah. DBH sDA paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri.Pelengkap Buku Pegangan 2011 - 6) Realisasi penyaluran DBH dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak penyalurannya dilakukan melalui mekanisme formula DAu. dan untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan 0.2 persen. dan apabila melebihi 130 persen.

d. e. menteri teknis. penghitungan DBH sumber daya alam oleh menteri teknis. dan perkiraan unsur-unsur pengurang lainnya. perkiraan bagian pemerintah.3 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA c.gambar 3. menerima ketetapan dari menteri teknis sebagaimana dimaksud pada Perkiraan alokasi DBH sDA Minyak Bumi dan/atau gas Bumi untuk III-70 SistemPendanaandiDaerah . Ketetapan Menteri Dalam Negeri sebagaimana dimaksud menjadi dasar Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH sDA untuk masing- Ketetapan Menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing daerah paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan dari masing-masing daerah ditetapkan paling lambat 30 hari setelah ayat (1). disampaikan kepada Menteri Keuangan. f.

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya dasar penyaluran DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota.2 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam III-71 . Terkait dengan perhitungan DBH sDA Migas per provinsi/ menghitung perkiraan alokasi maupun realisasi DBH sDA Migas sebagai 2004 yang ditindaklanjuti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.1 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. 6.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota 2) DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. 2005 adalah sebagai berikut: kegiatan-¬kegiatan yang meliputi penyusunan rencana (perkiraan) dan Kerjasama (KKKs). DBH SDA Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (DBH SDA MIGAS) Dalam rangka mendukung pelaksanaan kebijakan dimaksud diperlukan A. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut: • • • 3. provinsi yang bersangkutan.17 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. dan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi 6. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • 5. Pola Pembagian DBH SDA Migas realisasi di bidang DBH sDA Migas dari hasil kegiatan Kontraktor Kontrak kabupaten/kota. dan Porsi pembagian DBH sDA Migas menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 1) DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15.2 persen dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil.

4 Porsi Pembagian DBH sDA Minyak Bumi 3) DBH sDA gas Bumi sebesar 30.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • • 6.1 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. dan 4) DBH sDA gas Bumi sebesar 30. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : SistemPendanaandiDaerah 12.2 persen dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil. gambar 3.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.2 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam III-72 . 12.• 10. provinsi yang bersangkutan.33 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • 10.33 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam 5) Pengecualian untuk Daerah otonomi Khusus yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat. dan bagian dari pertambangan gas Bumi sebesar 40 persen. daerah otonomi khusus tersebut mendapatkan tambahan DBH dengan ketentuan sebagai berikut : • • bagian dari pertambangan Minyak Bumi sebesar 55 persen. dan provinsi yang bersangkutan. Migas yang merupakan bagian dari penerimaan pemerintah provinsi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-73 .5 Porsi Pembagian DBH sDA gas Bumi 20.17 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. selain mendapatkan DBH Migas. gambar 3.

Lifting yang tersusun perdaerah penghasil per KKKs pada data Ditjen migas dikonsolidasi dengan data lifting per KKKs (per dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKs (per III-74 SistemPendanaandiDaerah . kecuali PT PERTAMINA EP). kecuali PT PERTAMINA EP) Menteri EsDM tentang penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar dengan data perkiraan PNBP per KKKs yang disampaikan Ditjen Anggaran. Mekanisme Penyusunan oleh Ditjen Perimbangan Keuangan selanjutnya akan dituangkan ke dalam mekanisme perhitungannya sebagai berikut : 1) Data Peraturan Menteri Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil sDA Migas.B. Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas Perkiraan DBH sDA Migas per provinsi/kabupaten/kota yang dihitung i. Data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan dan Menteri Energi dan sumber Daya Mineral tentang Penetapan Daerah Penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH sDA Migas. PNBP Migas per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. a) Prognosa lifting per daerah penghasil berdasarkan surat Keputusan b) surat Dirjen Anggaran-Kementerian Keuangan tentang Perkiraan 2) Mekanisme a) Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Prognosa lifting dalam surat Keputusan Perhitungan DBH sDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas jenis minyak khusus untuk minyak bumi.

kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP Pemerintah. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) per lifting yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu. Menteri Keuangan. per daerah penghasil. daerah penghasil. kecuali PT jenis minyak khusus untuk minyak bumi. d) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b) Data hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. daerah penghasil. e) PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian f) undang-undang dan peraturan pemerintah. PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. dan daerah pemerataan berdasarkan sehingga didapat perkiraan alokasi DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-75 . Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi c) Rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil.

berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. dan harga minyak Indonesia (ICP) melalui penetapan asumsi makro APBN antara Pemerintah dengan DPR. Gross Revenue. Proses penetapan perkiraan alokasi DBH sDA Migas sebagai berikut: daerah penghasil berdasarkan pertimbangan menteri teknis paling dasar perhitungan lifting per daerah penghasil sDA Migas oleh Hulu Minyak dan gas Bumi (BP Migas) melakukan perhitungan perkiraan Cost Recovery. First Trance Petroleoum (FTP). Ketetapan Menteri Dalam Negeri tersebut menjadi 3) Bersamaan dengan proses tersebut. PPN. kurs 2) Berdasarkan asumsi tersebut Menteri EsDM menetapkan daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH sDA Migas. fee usaha Hulu Migas.ii. Menteri Dalam Negeri menetapkan lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari Menteri EsDM. Dalam hal lapangan Rupiah terhadap Dollar. Badan Pelaksana Kegiatan usaha 4) Berdasarkan ketetapan Menteri EsDM tersebut. Penetapan 1) Penetapan besaran asumsi dasar berupa prognosa lifting. dan Bagian Pemerintah per KKKs. menteri teknis. Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah pada lebih dari satu daerah. selanjutnya ketetapan migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau berada tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan. III-76 SistemPendanaandiDaerah pertambangan Migas. Hasil perhitungan PNBP sDA Migas per . PBB sektor KKKs tersebut disampaikan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan. PDRD). Dirjen Anggaran melakukan perhitungan perkiraan faktor-faktor pengurang (Domestic Market Obligation/DMo.

Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan diajukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan dalam Migas paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran. gambar3. Mekanisme Penghitungan prinsip sebagai berikut: Proses penghitungan realisasi DBH sDA Migas berdasarkan prinsip- PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-77 .6 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas perhitungan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas yang kemudian Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH sDA Diagram proses pelaksanaannya sebagai berikut: C. Penyusunan Realisasi DBH SDA Migas i.Pelengkap Buku Pegangan 2011 5) Berdasarkan Ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran tersebut.

Data yang digunakan sebagai dasar penghitungan dan mekanisme a) Realisasi lifting per daerah penghasil per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi)berdasarkan berita acara rekonsiliasi untuk minyak bumi. dan daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan dalam mekanisme penghitungan realisasi DBH sDA Migas ini penghitungan realisasi DBH sDA Migas adalah sebagai berikut : 1) Data lifting yang disampaikan oleh Ditjen Migas. mendekati dibanding jika menggunakan realisasi lifting. kecuali PT PERTAMINA EP) yang disampaikan b) Perkiraan Realisasi PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus III-78 SistemPendanaandiDaerah . 2) Dana yang dibagihasilkan adalah penerimaan negara dari wilayah 3) Mekanisme perhitungan realisasi DBH sDA Migas hampir sama dengan penghitungan perkiraan alokasi DBH sDA Migas. oleh Ditjen Anggaran.d. triwulan IV. realisasi s.1) Penghitungan realisasi DBH sDA Migas dilakukan setiap triwulan. triwulan II. sedangkan pada mekanisme penghitungan perkiraan Hal ini dikarenakan Realisasi Gross Revenue sudah berbentuk satuan 4) Data yang disajikan baik oleh Ditjen Migas maupun Ditjen Anggaran realisasi s. sehingga dikenal data realisasi triwulan I. realisasi s. mata uang. alokasi DBH sDA Migas yang digunakan adalah data prognosa lifting. yang membedakannya adalah data yang dirasiokan yakni data Realisasi Gross Revenue. triwulan III.d.d. pungutan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan. sehingga perhitungan yang dihasilkan dianggap lebih merupakan kumulatif triwulanan.

minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) tidak terdapat realisasi penerimaan sDA migas (dari DMo. per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. over/under lifting. minyak bumi. minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Realisasi Gross Revenue realisasi PNBP per KKKs yang disampaikan Direktorat Jenderal data gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak khusus untuk minyak bumi. Rasio Gross Revenue c) Dalam hal dimana suatu KKKs (per jenis minyak khusus untuk lifting untuk periode berjalan. maka perhitungan rasionya menggunakan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-79 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Mekanisme a) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. sementara terdapat realisasi rasio periode lifting tahun sebelumnya. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. Gross Revenue yang tersusun per daerah penghasil per KKKs pada data Direktorat Jenderal Migas dielaborasi dengan sehingga didapatkan data Gross Revenue per KKKs (per jenis b) Data Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total Gross kecuali PT PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio Gross Revenue dimaksud untuk mengetahui porsi Gross Revenue yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) dari Ditjen Anggaran yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan Anggaran. dll) untuk periode dimaksud. kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu.

EP) sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Realisasi PNBP sDA Migas untuk mengetahui PNBP per kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada didapatkan PNBP per daerah penghasil. daerah penghasil. daerah. f) Dihitung porsi DBH-nya dari PNBP per daerah penghasil untuk pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga bagian Pemerintah. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. dijumlah sehingga didapat realisasi DBH sDA Migas per provinsi/ III-80 SistemPendanaandiDaerah . realisasi DBH sDA Migas dikurangi terlebih Diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: dahulu dengan kelebihan salur tahun sebelumnya dan total DBH sDA Migas yang telah disalurkan pada triwulan sebelumnya pada tahun anggaran berjalan. e) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kabupaten/kota untuk selanjutnya disalurkan ke tiap-tiap g) Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut h) sebelum disalurkan. kecuali PT PERTAMINA KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah.d) Rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi.

Penyaluran masing-masing provinsi/kabupaten/kota. Ditjen Pajak dan Ditjen Perimbangan Keuangan) realisasi DBH sDA dilakukan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara Pemerintah dan daerah penghasil. Ditjen Anggaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Ditjen Migas. Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 28 Peraturan menjadi dasar penyaluran DBH sDA Migas ke rekening umum kas provinsi/ PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-81 . Kemendagri.6 Mekanisme Perhitungan DBH sDA Migas setelah diketahui hasil perhitungan DBH sDA Migas yang akan disalurkan ke ii. kabupaten/kota penerima DBH sDA Migas. Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam berita acara rekonsiliasi yang kemudian Proses penyaluran DBH sDA Migas dapat dijelaskan sebagai berikut: Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 yang menyatakan bahwa perhitungan dengan daerah penghasil. maka dilakukan proses rekonsiliasi data antara Pemerintah (yang diwakili oleh BP Migas.

Penyaluran DBH Migas mulai dari tahun 2008 dilakukan secara triwulan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengajukan surat Permintaan Penerbitan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Migas ke Dirjen Perbendaharaan. menerbitkan DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. DBH sDA Migas triwulan I III-82 SistemPendanaandiDaerah . Penyaluran DBH Migas triwulan I dan triwulan II masing-masing disalurkan pada bulan Maret dan triwulan II pada bulan Juni. Bank Indonesia (BI) mentransfer dana (PKN) Ditjen Perbendaharaan menerbitkan surat Perintah Pencairan Dana (sP2D). 2) setiap triwulan penyaluran: Format penyaluran DBH sDA Migas sudah mengalami beberapa perubahan sejalan dengan kebijakan Dirjen Perimbangan Keuangan. Dirjen Perbendaharaan a) Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi. dari Rekening Kas Negara ke Rekening Kas pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. Direktur Dana b) Berdasarkan sPM Migas tersebut. b) Berdasarkan surat permintaan tersebut. Direktur Pengelolaan Kas Negara c) Berdasarkan sP2D tersebut. dilaksanakan sebesar 20 persen dari pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Perimbangan Ditjen Perimbangan Keuangan mengajukan surat Perintah Membayar (sPM) Migas ke Ditjen Perbendaharaan.1) Di awal tahun: a) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan perkiraan Alokasi DBH sDA Migas.

d. Agustus dikurangi penyaluran triwulan I s. Apabila penyaluran DBH sDA Migas terdapat kekurangan yakni Pemerintah Realisasi penyaluran DBH sDA Migas tidak boleh melebihi 130 persen dari Adapun diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: asumsi dasar harga Minyak dan gas Bumi dalam APBN. sDA Migas bulan Desember s. maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan. (satu tahun anggaran) dikurangi penyaluran triwulan I s. kurang bayar.d. maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN dan/ atau APBN-P tahun berikutnya.d. Apabila melebihi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-83 . Mei dikurangi penyaluran triwulan I dan triwulan II. memperhitungkan realisasi DBH sDA Migas bulan Desember s. triwulan III. d. November sDA Migas tersebut disalurkan pada bulan Februari tahun anggaran berikutnya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. triwulan IV dengan batas maksimal sebesar pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan.d. DBH sDA Migas triwulan IV disalurkan pada bulan Desember. sisa rampung DBH e. f. DBH sDA Migas triwulan III disalurkan pada bulan september. Penyaluran DBH Migas triwulan III memperhitungkan realisasi DBH Penyaluran DBH Migas triwulan IV memperhitungkan realisasi DBH sDA Penyaluran DBH Migas rampung (bersumber dari dana cadangan) Migas bulan Desember s. c.d.

8 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas gambar 3.gambar 3.9 Penyaluran DBH sDA Migas III-84 SistemPendanaandiDaerah .

waktu satu tahun tersebut dimulai bulan). Hal ini menimbulkan masalah penyaluran DBH Migas pada setiap tahunnya. Namun kenyataannya sampai dengan bulan Desember pihak tersendiri dalam penyaluran DBH Migas sehingga perlu diambil kebijakan penyedia data PNBP Migas belum siap menyediakan data. waktu Perhitungan realisasi PNBP/DBH Migas.5 persen daerah). Prinsip DBH adalah persentase tertentu dari PNBP (migas 84. 15. dari Desember suatu tahun sampai November tahun berikutnya (tetap 12 ii. (2) besarannya i. (3) alokasinya dalam APBN berdasarkan perkiraan PNBP dalam satu tahun – dalam hal migas perkiraan tersebut sangat tergantung dari asumsi jumlah lifting. baru kemudian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-85 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 D. PNBP dihitung mulai dari Awal Desember sampai dengan Akhir November pada pertengahan Februari data realisasi PNBP satu tahun dapat disediakan Desember. (4) penyalurannya kepada daerah berdasarkan realisasi PNBP dalam satu tahun – dalam hal DBH Migas. Mekanisme Counter balancedan Penyaluran DBH Migas Prinsip DBH secara umum meliputi : (1) harus ada PNBP-nya.5 persen pusat. Realisasi agar hasil perhitungan PNBP tersebut dapat disalurkan DBH-nya pada bulan yang berarti sudah melewati tahun anggaran. harga Indonesian Crude Price (ICP). serta kurs Rp thd us$ dalam APBN. Penetapan segmen waktu tersebut semula dimaksudkan agar alokasi DBH sDA seluruhnya dapat tersalur ke daerah pada akhir tahun anggaran.

oleh karena itu. triwulan. Dengan demikian realisasi PNBP Migas yang dibagikan ke daerah tetap disalurkan pada pertengahan Februari 2010). Dengan demikian pagu anggaran DBH Migas baru akan dibebani untuk membayar realisasi migas dari bulan Desember mengalihkan sisa anggaran tersebut ke Rekening Cadangan Menteri Keuangan Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Pengelola Rekening Kas Negara). sampai dengan bulan Agustus atau 9 bulan. Kebijakan Pengalihan Sisa Anggaran ke Rekening Cadangan sampai pada bulan Agustus. idealnya (yang menjadi harapan semula) sudah sampai pada bulan November.Pada bulan Desember data realisasi penerimaan migas yang tersedia hanya iii. dan september s/d November 2009 yang realisasi belum bisa menyediakan data selama 12 bulan pada akhir November. sisa pagu ini akan hangus setelah akhir Desember Menteri Keuangan (dalam hal ini kewenangannya dilimpahkan kepada Dengan kebijakan tersebut. yang berarti terjadi selisih waktu antara realisasi dan penyaluran selama satu III-86 SistemPendanaandiDaerah . perlu diambil kebijakan untuk (atau biasa disebut dengan Escrow Account) pada Bank yang ditunjuk oleh cadangan sudah sebagai belanja dari rekening Kas Negara. Penyalurannya pagu anggaran 3 bulan. yang berarti masih tersisa apabila tidak direalisasikan. status sisa anggaran yang ditampung di rekening KKKs) diterima unit penyalur (DJPK) dan dihitung DBH-nya (per daerah). Kebijakan ini akan dilakukan setiap tahun sepanjang unit penyedia data ke rekening kas daerah dilaksanakan setelah data realisasi PNBP Migas (per meliputi waktu 12 bulan (misalnya Desember 2008 s/d Agustus 2009 yang disalurkan pada Desember 2009.

Namun dari aspek jumlah bulan realisasi tetap meliputi waktu 12 bulan. sisa anggaran tersebut tetap membebani anggaran tahun lalu namun daerah mencatat pendapatan sebagai penerimaan tahun berikutnya (lihat gambar 3. yang berarti hak daerah atas DBH satu tahun tidak berkurang. Balance. maka kebijakan counter balance dalam managemen penyaluran DBH Migas dapat dipersepsikan tidak ada keterlambatan penyaluran DBH Migas.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari aspek pergeseran waktu penyaluran yang seharusnya selesai pada bulan iv.10 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas realisasi tahun yang bersangkutan biasa disebut dengan kebijakan Counter Dengan pola yang rutin dan tetap tersebut. (2) besaran dana yang disalurkan sesuai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-87 . Kebijakan Mekanisme Counter balance Desember menjadi bulan Februari memang jelas menunjukkan keterlambatan. dengan penjelasan : (1) hak yang dibagikan meliputi waktu 12 bulan. Pengalihan penyaluran dari Desember menjadi Februari namun tetap berdasarkan data skema Counter Balance).

yaitu penerimaan yang masuk ke kas daerah dalam satu tahun. Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya DBH sDA Migas sebagaimana DBH sDA lainnya bersifat Block pemda penerima. yaitu daerah tersebut dapat dikenai sanksi berikutnya. Januari s/d Desember) terdapat 5 kali penerimaan DBH Migas yang masuk ke kas daerah pada bulan Februari. Juni.realisasi. Maret. bulan penyaluran DBH Migas. (3) pelaksanaan penyaluran dengan pola yang konsisten. september dan Desember. dibelanjakan pada tahun yang sama (dalam satu tahun anggaran. maka Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan untuk tahun anggaran berikutnya. Dari pola ini dapat dipersepsikan bahwa tidak ada keterlambatan dalam E. kecuali untuk dana Tambahan Anggaran Pendidikan lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan.5 persen dari porsi DBH sDA Migas harus digunakan untuk sektor pendidikan dasar yang tata cara penggunaannya akan diatur lebih pendidikan dasar tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH sDA Migas administrasi berupa pemotongan penyaluran DBH sDA Migas untuk periode III-88 SistemPendanaandiDaerah . Pola ini dapat diacu oleh daerah dalam membukukan penerimaan yang bersumber dari DBH Migas. Dasar sebesar 0. Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana tambahan anggaran apakah penggunaannya sesuai dengan peruntukannya. Pemantauan atas dana tambahan ini menyangkut pelaksanaannya. Apabila hasil grant yang kewenangan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya penyimpangan dalam fungsional untuk melakukan pemeriksaan.

Dalam peraturan tersebut. berikut: Pemerintah berkenaan dengan produksi mineral yang berasal dari area Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) adalah iuran produksi yang diterima berupa bahan galian yang tergali atas kesempatan eksplorasi yang diberikan kepadanya serta atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan yang disetujui bersama. tarif royalti bersifat advalorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap Tatacara penghitungan Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) sebagai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-89 . tarif iuran tetap (hektar). dari iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) dan iuran tetap (landrent). Kedua iuran tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor merupakan tarif satuan atas nilai us$ per luas area eksploitasi/eksplorasi rupiah per satuan luas eksploitasi/eksplorasi (hektar) dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak). Tarif royalti untuk pertambangan mineral dan batubara ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003. Besarnya tarif dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak) untuk Kuasa Pertambangan. yang dikenakan di sektor pertambangan dilakukan Negara dalam hal Pemegang Kuasa Pertambangan Eksplorasi mendapat hasil eksploitasi satu atau lebih bahan galian. tarif iuran tetap yang dikenakan pada Kuasa Pertambangan merupakan tarif satuan atas nilai setiap semester. Pemungutan iuran tetap. Royalti harus dibayar dalam satuan rupiah atau satuan lainnya harga jual yang telah dikalikan dengan jumlah produksi. Royalty adalah pembayaran kepada penambangan. DBH SDA Pertambangan Umum 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen EsDM.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor pertambangan umum terdiri 3.

III-90 SistemPendanaandiDaerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005. Jumlah Produksi yang Terjual x Persentase Tarif (%) x Harga Jual (US$) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 ini juga memasukkan peraturan mengenai besarnya tarif royalti untuk bahan tambang batubara. 32 persen untuk kabupaten/kota penghasil dan 32 persen untuk kabupaten/ dari landrent adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk .Besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian.5 persen dari produksi batubara (dana hasil produksi batubara/ DHPB. Pemerintah DHPB). Bagian Pemerintah sebesar 13.5 persen diterima Negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum. bagian daerah (lihat gambar 3. eksplorasi atau eksploitasi pada suatu Wilayah Kuasa Pertambangan (dalam hal ini termasuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). untuk bagian daerah dari royalti adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk provinsi yang bersangkutan. Tatacara penghitungan Iuran Tetap (landrent/deadrent) sebagai berikut: Luas Wilayah KP/KK/PKP2B (Ha) x Tarif (Rp/US $) Iuran Tetap (landrent/deadrent) adalah seluruh penerimaan iuran yang selanjutnya untuk perhitungan DBH sDA Pertambangan umum sebagaimana provinsi yang bersangkutan dan 64 persen untuk kabupaten/kota penghasil kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. sebelumnya Presiden Nomor 75 Tahun 1996.11). Dalam peraturan tersebut.5 persen tersebut sudah mencakup pembayaran royalti yang diestimasikan sebesar 3.3 persen dari 13. pengenaan royalti untuk batubara sudah termasuk dalam bagian Pemerintah dari Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) yang diatur dalam Keputusan mendapat 13.

LAND RENT PENgHAsIl PRoVINsI C. RoYAlTI PENgHAsIl KAB/KoTA D. LAND RENT PENgHAsIl KAB/KoTA B. DBH SDA Kehutanan dari sektor kehutanan terdiri: a. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) hasil yang dipungut dari Hutan Negara.11 Perhitungan DBH sDA Pertambangan umum JENIS DBH Tabel 3.4 Porsi Pembagian DBH sDA Pertambangan umum % UNTUK DAERAH 80% 80% 80% 80% PROV 16% 80% 16% 26% KAB/KOTA PENGHASIL 64% 32% - PORSI KAB/KOTA LAIN DALAM PROV - PERTAMBANGAN UMUM A. dan Adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-91 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. RoYAlTI PENgHAsIl PRoVINsI 32% 54% Dana Bagi Hasil sDA Kehutanan berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak 4.

pembayaran dilakukan oleh pemegang HPH pada . Pada HPH. tarif yang Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan pemegang Izin Pemanfaatan dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per m3. rehabilitasi hutan Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) dikenakan kepada Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per satuan luas Hak tahun). IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau sekitar 20 Pengusahaan Hutan (HPH) (hektar). pemegang ke industri terkait dengan HPH. untuk produksi yang disalurkan ke industri yang tidak terkait saat pengangkutan. Besarnya tarif tergantung dari (1) Tarif PsDH tertuang dalam surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Nomor 59 Tahun 1998. Provisi sumber Daya Hutan (PsDH) dikenakan terhadap pemegang HPH. Dana Reboisasi (DR) Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan c. Pembayaran dilakukan setiap bulan atas dasar produksi III-92 SistemPendanaandiDaerah dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. yang besarnya tergantung Kayu (IPK) (lihat undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 juga Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1999). pembayaran dilakukan oleh pihak industri dengan pemegang HPH. Tarif IIuPH terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah kategori wilayah dan (2) status HPH (baru/ perpanjangan/ HPHTI). Dalam peraturan tersebut. Adalah dana yang dipungut dari pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hasil Adalah pungutan yang bersifat license fee (terkait dengan perizinan) yang kawasan hutan tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin tersebut diberikan. Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa Perkebunan Nomor 859/Kpts-II/1999. untuk penyaluran produksi penerima.b.

Perhitungan jumlah kayu yang dikenai kewajiban untuk membayar PsDH dan Dana Reboisasi didasarkan dari laporan Hasil Penebangan (lHP). sistem pelaporan produksi hasil hutan tersebut bersifat self assessment yaitu perusahaan pemegang HPH mengisi volume produksi dan jenis tanaman.12 Perhitungan DBH sDA Kehutanan setelah itu diterbitkan dokumen surat Keterangan sahnya Hasil Hutan (sKsHH) yang sebelumnya disebut surat Angkutan Kayu olahan (sAKo). Jika terjadi penyimpangan volume <5%. lHP tetap disahkan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 bulan sebelumnya. Pengesahan lHP dilakukan setelah diadakan pengukuran sampling 10% dari dokumen lHP. Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAKDR) menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR) serta Penetapan DBH PPh Wajib PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-93 . disetor langsung ke Rekening Menteri Kehutanan dan Perkebunan. gambar 3. area produksi oleh petugas kehutanan untuk menguji kebenaran pengisian namun tidak berlaku untuk kesalahan pengisian jenis tanaman.

dimana besarnya tergantung dari (1) yang dihitung dari luas areal yang akan diterbitkan izin HPH/uPH hutan kayu dan bukan dan dikali tarif PsDH yang berlaku. Perhitungan bagian daerah akan ditetapkan berdasarkan rencana produksi hasil hutan dan rencana penerbitan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau usaha Pemanfaatan Hutan (uPH) dengan perhitungan sebagai berikut: dikalikan tarif IHPH yang berlaku. baik hutan alam maupun tanaman Berlaku Pada Departemen Kehutanan Dan Perkebunan. realisasi dibagihasilkan.Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Psl 21 masing-masing kabupaten/kota yang sebelumnya ditetapkan oleh gubernur mulai tahun 2006 ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Perkiraan penerimaan IHPH/IIuPH. Perkiraan penerimaan PsDH yang dihitung dari target produksi hasil Perkiraan Penerimaan PsDH dan yang bersumber dari tunggakan PsDH. Dalam perkembangannya. III-94 SistemPendanaandiDaerah . Menurut undangini dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan. Tarif Dana Reboisasi undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. DBH senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya realisasi penerimaan dalam negeri yang Tarif Dana Reboisasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun Tahun 1998 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang 1999 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 59 kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. pungutan Dana Reboisasi merupakan tarif satuan us$ per m3.

yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada Pungutan Pengusahaan Perikanan. dan surat Ijin Kapal Pengangkut Ikan (sIKPI). Pungutan fee. Pungutan Hasil Perikanan. dimana besar tarif Perhitungan DBH SDA Perikanan Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) objek yang penting dalam penghitungan PPP adalah: Kapal Penangkapan Ikan. Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman Modal usaha perikanan dalam wilayah perikanan Republik Indonesia. sebagai imbalan atas kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia untuk melakukan perusahaan perikanan Indonesia yang melakukan usaha penangkapan ikan sesuai dengan surat Penangkapan Ikan (sPI) yang diperoleh. dikenakan satu kali pada saat pengajuan permohonan surat Ijin Kapal untuk sektor perikanan ini diatur dalam sK Menteri Pertanian Nomor 424/ Kpts/7/1977. Rumus yang dipakai untuk menghitung PPP adalah: Data yang dibutuhkan untuk dapat menghitung PPP adalah: PPP = Tarif (US $) x Ukuran Kapal (DWT) PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-95 . Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong kapal. Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) bersifat license Perikanan. Adapun Pungutan Hasil Perikanan dibedakan menurut kelompok jenis ikan. Izin usaha Perikanan (IuP). DBH SDA Perikanan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang memperoleh (APIPM). (PHP) dikenakan pada hasil produksi sektor perikanan yang diekspor. Tarif PPP merupakan tarif nominal (us $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan ikan (Dead weight Ton -DWT). Tarif yang dikenakan bersifat ad valorem (persentasi).Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam Perikanan berasal dari Pungutan 5. a.

Perikanan yang diekspor.5 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) b. objek dalam penghitungan PHP ini adalah: Hasil Produksi sektor adalah jumlah kapal dan volume hasil produksi perikanan yang akan diekspor. us $ 1000 us $ 500 PHP = Hasil Produksi (Ton) x Tarif (%) 1.424/Kpts/7/1977 Catatan: untuk setiap kelebihan di atas 100 DWT dengan pembulatan perhitungan sampai dengan 50 DWT dikenakan tambahan us $ 250. Data Jumlah surat Izin Kapal Perikanan yang dikeluarkan. Cakalang. Daftar Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) No. Pungutan Hasil Perikanan (PHP) atau yang diperlukan adalah: sumber: sK Mentan No. Tarif (%) 1. 2 1 Ukuran Kapal 50-100 DWT <50 DWT Tarif Tabel 3.1. No. dengan rumus sebagai berikut: Data Hasil Ekspor Produksi sektor Perikanan.6 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) sumber: sK Mentan No.1 dan 2 2 III-96 SistemPendanaandiDaerah . Daftar Tarif PHP untuk setiap jenis ikan.424/Kpts/7/1977 udang Golongan Jenis Ikan Tuna. 2 3 1 Dalam penghitungan ini hal yang paling penting untuk diperhatikan Tabel 3. 2. 2.5 1 lain-lain yang tidak termasuk gol.

3. gambar 3.2.1.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.2. proporsi pembagian DAu adalah bagian 10% PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-97 . DANA ALoKASI UMUM Penyusunan Formula dan Perhitungan dau Dalam undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 porsi Dana Alokasi umum (DAu) ditetapkan sekurang-kurangnya 26 persen dari Penerimaan Dalam untuk Provinsi dan bagian 90 persen untuk Kabupaten/Kota.3. sementara itu.13 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA Negeri Netto.3.

Besaran alokasi DAu per daerah sesuai Provinsi dan sebesar 90 persen untuk Daerah Kabupaten/Kota dari formula DAu. dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan DBH Pajak dan DBH 33 Tahun 2004 Variabel kapasitas fiskal yang merupakan sumber pendanaan daerah jumlah gaji Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD). Proporsi pembagian DAu adalah sebesar 10 persen untuk Daerah Pengalokasian DAu kepada masing-masing daerah menggunakan dengan uu Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 (CF) dan alokasi Dasar (AD). Variabel DAU b. luas wilayah darat dan perairan. III-98 SistemPendanaandiDaerah b. 1. yaitu dihitung berdasarkan formula atas dasar Celah Fiskal dihitung berdasarkan Jumlah gaji PNsD. 2. Variabel Alokasi Dasar adalah belanja pegawai yang dicerminkan oleh Variabel kebutuhan fiskal terdiri dari jumlah penduduk. kebijakan dalam pengalokasian DAu tahun 2011 adalah sebagai berikut : a. Indeks Kemahalan (sesuai undang-undang Nomor 33 Tahun 2004). Formula DAU dalam Kerangka Undang-undang Nomor sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004. DAu ditetapkan 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri (PDN) Neto yang ditetapkan dalam APBN.a. sedangkan AD . besaran DAu secara Nasional. CF suatu daerah merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) dengan Kapasitas Fiskal (KpF). ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden. c. Konstruksi. Indeks Pembangunan Manusia. sDA. c.

atau dirumuskan: CF = KbF – KpF Kebutuhan Fiskal (KbF): Celah Fiskal (CF) merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) KbF = TBR (α1IP + α2IW + α3IPM + α4IKK + α5IPDRB/kap) TBR = Total Belanja Rata-rata APBD IP IW = Indeks luas Wilayah = Indeks Jumlah Penduduk berikut: Rumusan tentang kebutuhan fiskal (KbF) dapat ditunjukkan sebagai Dimana: IPM = Indeks Pembangunan Manusia IKK = Indeks Kemahalan Konstruksi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-99 . Bentuk Umum Formula DAU formula dapat ditunjukkan pada persamaan berikut ini: Dimana: AD CF • • CF Dimana DAU = AD + CF DAu = Dana Alokasi umum = Alokasi Dasar = Celah Fiskal = KbF – KpF (celah fiskal merupakan selisih dari kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal).Pelengkap Buku Pegangan 2011 Bentuk umum formula alokasi DAu kepada masing-masing daerah secara 3. dengan Kapasitas Fiskal (KpF).

4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Data Perhitungan DAU Alokasi Dasar dalam penghitungan DAu tahun 2011 dihitung berdasarkan Belanja Pegawai PNs Daerah dengan memperhatikan kebijakan-kebijakan perbaikan penghasilan PNs antara lain kenaikan tahun 2010 (termasuk sekretaris Desa). • sDA : : : : : : α1. DBH Pajak = PBB + BPHTB + PPh + CHT Pendapatan Asli Daerah. sumber Daya Alam Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan Pasal 25 dan 29. Cukai Hasil Tembakau. α2. Komponen Alokasi Dasar dalam DAu yaitu belanja III-100 SistemPendanaandiDaerah Alokasi Dasar (AD). α5 = Bobot dari masing-masing indeks variabel α1 + α2 + α3 + α4 + α5 = 100% KpF = PAD + DBH Pajak + DBH SDA Dana Bagi Hasil. gaji bulan ke-13 dan mempertimbangkan formasi CPNsD nasional sebesar 48 persen untuk provinsi dan 45 persen untuk . α4. gaji pokok. PPh WPoPDN. Pajak Bumi dan Bangunan. α3. untuk lebih mengoptimalkan peranan formula celah fiskal (CF) dalam perhitungan DAu maka panja menyepakati untuk membatasi Porsi AD terhadap DAu secara Kabupaten/Kota.IPDRB/kap = Indek Produk Domestik Regional Bruto per kapita • Kapasitas (KpF): Keterangan : PAD PPh DBH PBB BPHTB : CHT a.

tahun 2009. • • • Adapun data dasar yang digunakan adalah data gaji Induk bulan Juni gaji PNsD terdiri dari komponen gaji Pokok. 32. IKK tahun 2010. Pada data PDRB per kapita untuk ditarik ke tingkat PDRB per kapita setingkat lebih rendah agar • Data luas Wilayah yang digunakan adalah luas wilayah daratan (administratif) berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Daerah. dan PDRB per Kapita tahun 2009.56 persen. Tunjangan Jabatan. Daerah Kabupaten/Kota dihitung sebesar 68. untuk Daerah Provinsi belanja gaji PNsD dihitung sebesar 83. Tunjangan PPh.1 persen. sedangkan untuk Kebutuhan Fiskal terdiri dari : Data Jumlah Penduduk berdasarkan sensus Penduduk 2010. karena tidak dimaksudkan untuk menutup seluruh kebutuhan belanja gaji PNsD. yang terlalu tinggi dibandingkan dengan yang lainnya diputuskan tidak merusak komposisi data PDRB per kapita secara keseluruhan. Tunjangan Keluarga.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gaji PNsD tidak dihitung 100 persen. bersumber dari Badan Pusat statistik. garis pantai bagi provinsi dan 35 persen dari wilayah perairan sejauh PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-101 . IPM Diberlakukan kebijakan khusus terhadap PDRB per kapita suatu daerah yang dinilai outlier atau pencilan. dan surat-surat Menteri Dalam Negeri ditambah dengan 30 persen dari wilayah perairan sejauh 12 mil dari yang berkaitan dengan hasil klarifikasi dan verifikasi luas wilayah. undang-undang Nomor33 Tahun 2004). Tunjangan Beras. terlebih untuk daerah yang memiliki kapasitas fiskal tinggi (Penjabaran dari pasal • b. 2010 yang bersumber dari daerah.

provinsi: Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan Indeks PDRB per Kapita 4 mil bagi kabupaten/kota berdasarkan data Badan Koordinasi survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). untuk kabupaten/kota : : 30. untuk : 30.00% : 16.00% : 13.00% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) : 10.00% Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan Indeks PDRB per Kapita : 15.50% : 35.50% Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) : 30.• Total Belanja Rata-rata (TBR) terdiri dari 507 daerah berdasarkan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan). bersumber dari daerah dan Kementerian Keuangan.00% III-102 SistemPendanaandiDaerah . APBD realisasi tahun 2009 dan 17 daerah berdasarkan APBD Tahun 2010 (karena belum mengirimkan laporan APBD realisasi 2009 • Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut.00% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) : 10.00% : 30.00% • Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut.00% Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) : 30.00% : 15.

untuk kabupaten/kota sebesar 63 persen. bersumber dari daerah dan Kementerian Keuangan. untuk provinsi dihitung sebesar 80 persen. bersumber dari Kementerian Keuangan. bersumber dari Kementerian untuk kabupaten/kota sebesar 100 persen. DBH sDA dengan data dasar 2009. untuk provinsi dihitung sebesar 50 persen. untuk Provinsi dihitung sebesar 95 persen. sedangkan Keuangan. sedangkan untuk • • DBH Pajak dengan data dasar 2009. sedangkan secara sistematika Penyusunan Formula DAu dapat digambarkan dalam gambar 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. • Kapasitas Fiskal terdiri dari : Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan laporan APBD realisasi ditentukan). tahun 2009 sebanyak 507 daerah dan 17 daerah menggunakan data PAD berdasarkan APBD tahun 2010 (karena belum mengirimkan laporan APBD realisasi 2009 sampai dengan batas waktu yang telah kabupaten/kota sebesar 93 persen.14 berikut ini : PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-103 .

terkait dengan daerah pemekaran baru. perhitungan alokasi DAu untuk daerah tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.15 III-104 SistemPendanaandiDaerah .gambar 3. 14 Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 sementara itu.

untuk perhitungan DAu Tahun 2011 untuk 14 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-105 . penduduk. dan dibagi secara proporsional dengan menggunakan 3 variabel. yaitu luas wilayah.3.15 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran 3. Pembagian DAu pada daerah yang mengalami pemekaran dialokasikan pada daerah induk sebelum pemekaran.2.2. Pemekaran dau daerah Pemekaran daerah memberi dampak terhadap jumlah DAu yang diterima oleh daerah pemekaran. jumlah daerah pemekaran baru beserta induknya dihitung secara mandiri.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Sejak dimulainya implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memberikan warna baru dengan adanya pemekaran daerah baik di tingkat provinsi serta terutama di tingkat kabupaten/kota. dan jumlah PNsD.

(11) Keluarga Berencana. koordinasi pengelolaan DAK Membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif Mendukung program yang menjadi Prioritas Nasional dalam RKP 2011 DAK Tahun 2011 digunakan untuk mendanai kegiatan di 19 bidang. (12) Kehutanan.2. Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah. (5) Infrastruktur Air Minum. Arah Kebijakan DAK Tahun 2011. . 3. (14) sarana dan Prasarana daerah tertinggal. secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah. (17) Keselamatan Transportasi Darat. sementara itu.4. serta meningkatkan Meningkatkan penyediaan data-data teknis. (10) lingkungan Hidup. III-106 SistemPendanaandiDaerah Pemerintahan. berbasis kinerja. (6) Infrastruktur sanitasi. (9) Pertanian. (4) Infrastruktur Irigasi. (15) listrik Perdesaan. (7) Prasarana (16) Perumahan dan Permukiman. (3) Infrastruktur Jalan. (2) Kesehatan. dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan 2005 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk DANA ALoKASI KHUSUS sesuai kerangka pengeluaran jangka menengah dan penganggaran rendah dalam membiayai pelayanan publik sesuai standar Pelayanan Minimal (sPM) dalam rangka pemerataan pelayanan dasar publik. (13)Perdagangan. yaitu: 1. (8) Kelautan dan Perikanan.3. sesuai dengan Pasal 39 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan kepada pemerintah daerah. yaitu: (1) Pendidikan. 2. sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai APBN dan APBD.

serta (19) sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan. setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri. yaitu (1) penetapan program dan kegiatan. dan (4) sebagaimana diketahui bahwa kegiatan khusus yang di danai dari DAK 2005 menyatakan bahwa program yang menjadi prioritas nasional PenetaPan Program dan kegiatan dibagi menjadi 4 kelompok besar. 3.1. dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Berdasarkan prioritas nasional sebagaimana tercantum dalam menjadi urusan daerah.2. (3) arah dan penggunaan DAK. Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun RKP tersebut. menteri teknis mengusulkan kegiatan khusus dan ditetapkan teknis menyampaikan kegiatan khusus yang telah ditetapkan tersebut kepada Menteri Keuangan. Menteri Keuangan. Formulasi yang berkaitan dengan alokasi DAK secara garis besar dapat (2) penghitungan alokasi DAK.Pelengkap Buku Pegangan 2011 (18) Transportasi Perdesaan. selanjutnya. menteri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-107 . Formulasi Dana Alokasi Khusus TA 2011 administrasi pengelolaan DAK.4. merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan dimaksud dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun anggaran bersangkutan.

kriteria umum. Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahapan. yaitu: Penentuan daerah tertentu yang mendapat alokasi DAK harus memenuhi indeks berdasarkan kriteria umum.4. kriteria khusus.2.16 Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan sumber: PP Nomor 55 Tahun 2005 3. dan kriteria teknis. dan kriteria teknis.2. 1. 2.gambar 3. kriteria khusus. penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah ditentukan dengan perhitungan . sementara itu. III-108 SistemPendanaandiDaerah Perhitungan alokasi dak Penentuan daerah tertentu yang menerima alokasi DAK Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah.

Dalam dengan menggunakan rumus di bawah ini. Dalam tahun 2011.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sesuai dengan pasal 40 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dinyatakan 1. Kriteria Umum bahwa alokasi DAK mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD. Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pembangunan daerah yang persamaan di bawah ini: bentuk rumus. kriteria umum tersebut dapat ditunjukkan pada beberapa dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-109 . DBHDR = Dana Bagi Hasil = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi hal ini. Dalam Kemampuan Keuangan Daerah = Penerimaan Umum APBD – Belanja Pegawai Daerah Penerimaan Umum = PAD + DAU + (DBH – DBHDR) Belanja Pegawai Daerah = Belanja PNSD Dimana: PAD APBD DBH PNsD DAu = Pendapatan Asli Daerah = Dana Alokasi umum = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah = Pegawai Negeri sipil Daerah Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. arah kebijakan umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah.

Rumus IFN dapat dilihat di bawah ini. untuk daerah provinsi. atau dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional. kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat serta seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapatkan alokasi DAK Karakteristik daerah yang meliputi : a. perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah. daerah tersebut mendapatkan prioritas dalam memperoleh DAK. 2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan 4) Daerah rawan bencana 6) Daerah pariwisata 1) Daerah tertinggal 5) Daerah ketahanan pangan 3) Daerah perbatasan dengan negara lain b. Indeks Fiskal Netto Daerah Z = Jika IFN < 1. Kriteria Khusus dan karakteristik daerah. maka Kemampuan Keuangan Daerah Z Rata-rata Nasional Kemampuan Keuangan Daerah Ditetapkan 2. untuk Provinsi : 1) Daerah tertinggal dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan.Rata-rata Nasional Kemampuan Kauangan Daerah = Total Kemampuan Keuangan Daerah secara Nasional Jumlah Daerah selanjutnya. untuk Kabupaten dan Kota : SistemPendanaandiDaerah III-110 .

Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan 4) Daerah rawan bencana 3. Kriteria teknis tersebut dicerminkan dengan indikator-indikator Diprioritaskan untuk menuntaskan rehabilitasi ruang kelas sD/sDlB dan sMP/ sMPlB yang rusak sedang dan berat. dan memperhatikan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) masing-masing daerah. A. pembangunan ruang kelas baru (RKB) termasuk perpustakaan dan mutu bangunan ditingkatkan menjadi peningkatan mutu. 1) sD Indikator Teknis kelas B yang semula kelas C. Kriteria Teknis 6) Daerah pariwisata 5) Daerah ketahanan pangan 3) Daerah perbatasan dengan negara lain Kriteria teknis dirumuskan oleh kementerian negara/departemen teknis yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi sarana-prasarana pada masing-masing bidang/kegiatan yang akan didanai oleh DAK. serta memenuhi kebutuhan sarana Jumlah sD/sDlB 2) sMP Jumlah Ruang Kelas Rusak sedang/Berat Angka Pastisipasi Murni (APM) Jumlah sekolah Jumlah sD yang belum memiliki perpustakaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-111 . Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Pendidikan Lingkup Kegiatan terkait.

-

Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Keterampilan/Ruang Kesenian Kebutuhan Bangunan Fisik Rehab sedang Kebutuhan Bangunan Fisik Rehab Berat Kebutuhan Alat lab. IPA Kebutuhan Alat lab. IPs Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Kelas Baru (RKB) Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Perpustakaan Kebutuhan Alat Matematika Kebutuhan Alat olah Raga Kebutuhan Alat Kesenian

Kebutuhan Alat lab. Bahasa

B. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kesehatan Lingkup Kegiatan (1) Pembangunan, peningkatan dan perbaikan Puskesmas dan jaringannya; (2) Pembangunan Pos Kesehatan Desa; (3) Pengadaan peralatan kesehatan

Angka Partisipasi Kasar (APK)

untuk pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya; (4) Pengadaan peralatan promosi kesehatan; (5) Peningkatan fasilitas tempat pengadaan peralatan IgDRs; (8) Pembangunan dan pengadaan Peralatan tidur kelas III Rs; (6) Pembangunan, perbaikan Bank Darah Rumah sakit

(BDRs) dan peralatan unit Transfusi Darah (uTD); (7) Pembangunan dan obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PoNEK) Rs; (9) Pemenuhan peralatan di lab.kesehatan daerah dan Rs Provinsi/Kab/Kota; (10) Instalasi Kab/Kota; (13) Pengadaan sarana pendukung instalasi farmasi di Provinsi/ Kab/Kota.
III-112 SistemPendanaandiDaerah

Pengolahan Air limbah (IPAl); (11) Penyediaan obat generik dan perbekalan kesehatan; (12) Pembangunan dan perbaikan instalasi farmasi di Provinsi/

Pelengkap Buku Pegangan 2011

1) Pelayanan Dasar Indikator Teknis -

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indeks luas Wilayah Indeks Jumlah Penduduk Indeks Rasio Puskesmas/Kecamatan Indeks Rasio Poskesdes/Desa Indeks Puskesmas PoNED Indeks Ponek Rs Indeks IgDRs Indeks uTD dan BDRs Indeks TT Kelas III Indeks IPAl Rs Indeks Peningkatan Puskesmas (TT)

2) Pelayanan Rujukan Kab/kota

3) obat generik

Indeks Penunjang Diagnostik

4) Pelayanan Rujukan Provinsi Indeks Ponek Rs Indeks IgDRs Indeks uTD dan BDRs Indeks TT Kelas III Indeks IPAl Rs

Indeks Alokasi obat dan Perbekkes Kab/Kota

Indeks Instalasi Farmasi dan sarana Pendukungnya

Indeks Penunjang Diagnostik

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

III-113

C. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Infrastruktur Lingkup Kegiatan 1) Bidang Infrastruktur Jalan / kabupaten/kota.

kabupaten/kota dan peningkatan prasana jalan dan jembatan provinsi/ kabupaten/kota, penyelesaian pembangunan jalan dan jembatan provinsi jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi daerah penerima DAK bidang Irigasi Rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem

Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan

dan jembatan provinsi/

2) Bidang Infrastruktur Irigasi

wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan, sedangkan dana untuk operasional dan Pemeliharaan 3) Bidang Infrastruktur Air Minum

(oP) jaringan irigasi dialokasikan dari APBD masing-masing pemerintah (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru desa rawan air minum dan kekeringan. untuk mengoptimalkan sistem Penyediaan Air Minum Terbangun

sistem Penyediaan Air Minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah 4) Bidang Infrastruktur sanitasi pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa(1) Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal; (2)

drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.
III-114 SistemPendanaandiDaerah

Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse, dan recycle); dan (3) Pengembangan prasarana dan sarana

Pelengkap Buku Pegangan 2011

1) Bidang Infrastruktur Jalan Indikator Teknis -

Indeks Panjang Jalan (Ipj) Indeks Kondisi Jalan (Ikj) Indeks luas wilayah (Ilw) Indeks Kepedulian (Ikp) Indeks Pelaporan (Ipl)

2) Bidang Infrastruktur Irigasi Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan Indikator Teknis

Indeks jumlah Penduduk (I jp) Indeks luas Daerah Irigasi

Indeks Kondisi Daerah Irigasi

3) Bidang Infrastruktur Air Minum Indeks Cakupan Air Minum Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan Indikator Teknis

Indeks Rata-rata Produksi sawah

Indeks Kerawanan Air Minum

Indeks Masyarakat Berpenghasilan Rendah

4) Bidang Infrastruktur sanitasi

Indeks Kerawanan sanitasi

Indeks Masyarakat Berpenghasilan Rendah Indeks luas Kawasan Kumuh Indeks Cakupan Pelayanan sanitasi

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

III-115

-

Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan

D. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kelautan dan Perikanan Lingkup Kegiatan (1) penyediaan sarana dan rehabilitasi prasarana produksi perikanan tangkap; (2) penyediaan sarana dan rehabilitasi prasarana produksi perikanan budidaya; (3) penyediaan dan rehabilitasi sarana dan prasarana pengolahan, peningkatan mutu dan pemasaran hasil bahari dan pengembangan perikanan; (5) penyediaan dan rehabilitasi Bahan Bakar Nelayan (sPBN); (6) penyediaan sarana dan prasarana untuk provinsi berupa pengadaan kapal penangkapan ikan. Produksi Tangkap Panjang Pantai Jumlah Nelayan Produksi Benih Kawasan Minapolitan Produksi Perikanan sarana prasarana pemberdayaan masyarakat di pesisir dan pulau-pulau kecil serta kawasan konservasi perairan, yang terkait dengan wisata pengawasan; (7) penyediaan sarana dan prasarana penyuluhan perikanan; (4) penyediaan dan rehabilitasi infrastruktur dasar dan prasarana Solar Packed Dealer Nelayan (sPDN)/stasiun Pengisian perikanan; dan (8) penyediaan sarana dan prasarana pengembangan 1) Provinsi statistik perikanan. (9)Penyediaan sarana produksi perikanan tangkap

Indikator Teknis

2) Kab/Kota

III-116

SistemPendanaandiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

-

unit Balai Benih

luas lahan Potensi Budidaya luas Perairan umum Daratan Kapal Perikanan Tenaga Kerja Perikanan unit Pengolahan Ikan unit Pemasaran Ikan Pokmaswas sDKP Kasus Pelanggaran Pulau Kecil dikelola Pos Pengawasan sDKP

luas lahan Pengelolaan budidaya unit Pangkalan Pendaratan Ikan

Kawasan Konservasi Perairan Tenaga Penyuluh Perikanan Tenaga statistisi Perikanan Retribusi Perikanan dihapus

E. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Pertanian Lingkup Kegiatan 1) perluasan areal pertanian, meliputi: pencetakan sawah, pembukaan lahan 2) penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan air, antara lain: dangkal, irigasi tanah dalam, pompanisasi, dam parit dan embung;
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

kering/perluasan areal untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan;

pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi tingkat usaha tani, jaringan

irigasi tersier desa, tata air mikro, irigasi air permukaan, irigasi tanah

III-117

Particulate Matter (PM10). untuk tanamanpangan/hortikultura/perkebunan/peternakan. Instalasi laboratorium. sederhana untuk pengurangan limbah (seperti biogas. peningkatan kesuburan tanah. Ruang (uKM). taman kahati.3) pengelolaan lahan melalui pembangunan/rehabilitasi jalan usaha tani 4) pembangunan/rehabilitasi Balai Penyuluhan Kecamatan. ii) penyediaan sarana prasarana pemantauan kualitas air. inseminasi buatan. Lingkup Kegiatan 2) Balai Penyuluhan Pertanian Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Lingkungan Hidup 1) Pemantauan kualitas air melalui kegiatan: i) pembangunan gedung dan iii) pembangunan laboratorium lingkungan bergerak. konservasi lahan. Pengolahan Air limbah (IPAl) medik dan usaha Kecil dan Menengah SistemPendanaandiDaerah . (uPPo). 6) penyediaan sarana dan prasarana Balai Perbenihan/Perbibitan Kabupaten 7) pembangunan/rehabilitasi pusat/pos pelayanan kesehatan hewan dan 1) luas Penggunaan lahan Indikator Teknis 3) Jumlah Penyuluh 4) Pengguna lahan F. 3R. optimasi lahan. dan jalan produksi. serta penyediaan unit Pengolahan Pupuk organik 5) penyediaan lumbung/gudang pangan masyarakat/pemerintah. dan III-118 2) Pengendalian pencemaran air melalui kegiatan: penerapan teknologi Terbuka Hijau (RTH).

gedung kantor sKPD di daerah otonom baru/pemekaran dan yang mengalami dampak pemekaran sampai dengan tahun 2009. Indikator Teknis 2) Jumlah sKPD yang kondisinya rusak 3) Daerah yang pindah ibukota 1) Jumlah sKPD yang belum memiliki kantor sendiri 4) luas Praspem yang masih dibutuhkan daerah-daerah lainnya yang prasarana pemerintahannya seperti kantor gubernur. khususnya pada daerah-daerah yang belum mendapat alokasi DAK Prasarana Pemerintahan pada tahun sebelumnya. Walikota.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3) Pengendalian polusi udara melalui kegiatan: i) pengadaan alat pemantau mengurangi polusi udara (alat pembuatan asap cair. dan lain-lain). briket arang. kualitas udara. DPRD dan kantor sKPD-nya sudah tidak layak PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-119 . kantor DPRD. ii) penerapan teknologi tepat guna/sederhana untuk 1) Kepadatan penduduk Indikator Teknis 3) luas tutupan lahan 6) Volume sampah Lingkup Kegiatan 4) Bentuk kelembagaan 5) Ruang terbuka hijau 2) Panjang sungai tercemar G. serta pada lagi. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Prasarana Pemerintahan Pembangunan/perluasan/rehabilitasi kantor Bupati dan/atau Walikota. Bupati.

obgyn bed.H. (3) pengembangan sarana prasarana penyuluhan kehutanan. Indikator Teknis 3) Indeks Jumlah Desa / Kelurahan 4) Indeks Jumlah Kecamatan 5) Indeks Klinik KB I. lapangan Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kehutanan Ruang lingkup kegiatan meliputi (1) kegiatan RHl yang terdiri dari kegiatan vegetatif dan konservasi tanah dan air. (3) pembangunan/renovasi balai penyuluhan KB kecamatan. pengadaan public address. (4) Keluarga Berencana (PPlKB. (8) Penyediaan 1) Indeks Penyuluh KB / Petugas lapangan KB 2) Indeks Pengendali Petugas lapangan KB penyediaan Mobil unit Penerangan (MuPEN) KB. (2) penyediaan sarana pelayanan KB di klinik Laparascopy. dan (7) mobil unit pelayanan (MuYAN) KB keliling. III-120 SistemPendanaandiDaerah . (5) penyediaan serta pengadaan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kit. (6) penyediaan Bina Keluarga Balita (BKB) kit. dan pembangunan gudang penyimpanan alokon di kab/kota. (2) pengembangan sarana prasarana keamanan hutan. Lingkup Kegiatan KB (statis) berupa Intra uterine Device (IuD) kit/sterilisator. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keluarga Berencana Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan meliputi (1) penyediaan kendaraan bermotor roda lapangan Keluarga Berencana (PlKB)/Pengawas Petugas dua dan sarana kerja bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Penyuluh implant kit.

Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Perdagangan Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan a) pembangunan dan pengembangan pasar tradisional.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1) Kab/ Kota - Indikator Teknis luas Wilayah luas Hutan Mangrove luas lahan Kritis luas Hutan lindung luas lahan gambut luas Tahura luas lahan Kritis di luar Kawasan luas Kawasan Konservasi Daerah Penghasil/Jumlah DBH yang Diperoleh luas Kawasan Konservasi 2) Provinsi J. dan c) Resi gudang. b) pembangunan dan peningkatan sarana metrologi legal. 1) Pembangunan sarana Distribusi Perdagangan (Pasar Tradisional) Indikator Teknis jarak < 3 km Jumlah Pasar Tanpa Bangunan Prosentase jumlah pasar rusak pembangunan gudang komoditas pertanian dalam rangka penerapan sistem Jumlah desa yang tdk memiliki pasar permanen/semi permanen pd 2) Metrologi : Jumlah Peralatan Mobilitas sidang Tera & Tera ulang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-121 .

3) Pembangunan gudang. sarana dan utilitas (Psu) kawasan perumahan dan permukiman yaitu: 1) 2) Septic tank komunal. Penyediaan jaringan pipa air minum. dan 4) Penerangan jalan umum. 2) Indeks Backlog 1) Indeks Kepadatan Penduduk 3) Indeks Penetapan Alokasi 4) Indeks Kesiapan RRTR 5) Indeks Tata Ruang L. & Peralatan gudang Jumlah Produksi Beras Teknis dan K. Indikator Teknis 3) Jaringan distribusi listrik. III-122 SistemPendanaandiDaerah Baru Terbarukan (EBT) yaitu konstruksi pembangkit skala kecil EBT berbasis . 6) Indeks Rencana Pembangunan Rumah 2011 Lingkup Kegiatan Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Listrik Perdesaan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan untuk penyediaan energi listrik dengan memanfaatkan potensi energi lokal yang berasal dari Energi surya (solar cell). mikro hidro. sarana Penunjang. atau pembangkit EBT lainnya. Kriteria Jumlah Produksi Jagung Ruang Lingkup DAK Perumahan dan - Jumlah Pengadaan Pos ukur ulang & Peralatannya Pemukiman Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan pembangunan Prasarana.

Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana Kawasan (1) pembangunan/rehabilitasi jaringan jalan di luar jalan provinsi dan tambatan perahu di kecamatan perbatasan atau kawasan pulau kecil mendukung mobilisasi angkutan orang dan barang. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Transportasi Pedesaan Lingkup Kegiatan a) pembangunan jalan poros desa. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-123 . dan (3) moda transportasi perairan/kepulauan untuk N.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Indikator Teknis 1) Rasio elektrifikasi kabupaten kota 3) Harga BPP listrik per propinsi Perbatasan Lingkup Kegiatan kabupaten/kota. Indikator Teknis 1) Panjang garis Batas Kecamatan Perbatasan 2) Jumlah Desa Wilayah Perbatasan 3) luas Wilayah Perbatasan 4) (2) pembangunan/rehabilitasi dermaga kecil atau terluar berpenduduk. dan Jumlah Penduduk di Kecamatan Perbatasan b) penyediaan angkutan perdesaan (pemberian bantuan sarana transportasi angkutan barang yang sesuai dengan karakteristik daerah). 2) Desa Berlistrik untuk kabupaten kota M.

dan pagar pengaman jalan. 3) Indeks Karakteristik Kewilayahan yaitu rasio jumlah desa pertanian. jasa O. c) pembangunan dan rehabilitasi jalan di luar jalan provinsi dan kabupaten/kota. marka jalan.Indikator Teknis 1) Indeks Kebutuhan Prasarana Angkutan yaitu Rasio jumlah desa bukan aspal/ jumlah desa moda transport darat dari desa ke kecamatan dibagi total jumlah desa 2) Indeks Kebutuhan sarana Angkutan yaitu rata-rata waktu tempuh pe km 4) Kawasan strategis Cepat Tumbuh Darat Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan jalan. b) penyediaan dermaga kecil atau tambatan perahu. antara lain: Lingkup Kegiatan 1) 2) 3) rambu jalan. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keselamatan Transportasi 1) Indeks Aksesibilitas (Panjang jalan / luas wilayah) Indikator Teknis P. d) pembangunan dan rehabilitasi III-124 . khususnya dermaga kecil atau SistemPendanaandiDaerah moda transportasi darat. Daerah Tertinggal Lingkup Kegiatan 2) Indeks Kepadatan Penduduk (Jumlah penduduk / luas wilayah) Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana dan Prasarana a) penyediaan moda transportasi perairan/kepulauan.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 tambatan perahu di wilayah pesisir yang tidak ditangani Kementerian Perhubungan. proses pengalokasian DAK dapat dijelaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-125 . dan e) penyediaan/pembangunan pembangkit energi 1) Indeks Infrastruktur Indikator Teknis pikohidro.17 di bawah ini. listrik perdesaan yang memanfaatkan sumber energi mikrohidro dan 2) Indeks Infrastruktur energi 3) Indeks Rumah Tangga tidak pelanggan listrik 4) Indeks Desa tidak berlistrik 7) Indeks Jalan 8) Indeks Moda Transportasi 5) Indeks Infrastruktur Transportasi 6) Indeks Akses Kendaraan Roda 4 9) Indeks Administrasi Pelaporan pada gambar 3. Dari beberapa penjelasan di atas.

Tahap 1 : Menentukan Daerah Tertentu Penerima DAK Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1. baik dalam menentukan daerah tertentu yang menerima DAK maupun dalam menentukan besaran alokasi masing-masing daerah.gambar 3. maka dilihat III-126 . 1. DAK. 1 di atas daerah tidak memenuhi.17 di atas. terdapat serangkaian proses yang harus dilalui. maka daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi kriteria khusus yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk SistemPendanaandiDaerah Jika pada proses no.17 Proses Penentuan Besaran Alokasi DAK per Daerah Dari gambar 3. 2.

maka dilihat kriteria teknisnya untuk menghasilkan IFWT. proses ini. besaran alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB. maka harus dihitung Tahap 2 : Menentukan Besaran Alokasi DAK masing-masing Daerah 1. Pada proses ini. 2. di atas. Jika ya. maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik hal ini apabila IFW > 1. IT digabungkan dengan IFW sehingga setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui. alokasi daerah dan bidang).Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. maka daerah tersebut layak memperoleh DAK. Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masingmasing-masing bidang. IFN dan IKW digabungkan sehingga menghasilkan IFW. IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan selanjutnya. Pada 4. maka daerah tersebut layak memperoleh alokasi DAK. 3. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan wilayah yang ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). Jika IFWT > 1. masing daerah. BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masing- masing bidang sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-127 . Dalam DAK pada proses nomor 3 di atas. dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut.

2.2.3. Dana Pendamping dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya.3.07/2010 diatur bahwa daerah wajib menyampaikan rencana penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan pendamping. sesuai dengan PMK Nomor 216/PMK. volume dan besaran. yaitu selisih antara negatif maka tidak diwajibkan menganggarkan Dana Pendamping. penerimaan umum APBD dan Belanja Pegawainya sama dengan 0 (nol) atau Menteri Teknis menetapkan Petunjuk Teknis pelaksanaan kegiatan DAK untuk masing-masing bidang. pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK harus selesai paling lambat 31 Desember tahun anggaran berjalan dan hasil dari kegiatan yang didanai DAK harus sudah dapat dimanfaatkan pada akhir tahun anggaran tesebut. pencairan DAK tidak dapat dilakukan. serta dana terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c. selanjutnya. Penganggaran untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan yang dapat dibiayai dari DAK. daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari nilai DAK yang diterimanya Dana Pendamping. Jika daerah tidak menganggarkan untuk mendanai kegiatan fisik.q. Dana Pendamping tersebut wajib dianggarkan juga dicantumkan dalam Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA-sKPD) atau untuk daerah dengan kemampuan keuangan tertentu. yang memuat pilihan kegiatan. dalam APBD tahun anggaran berjalan. Dirjen Perimbangan III-128 SistemPendanaandiDaerah . administrasi Pengelolaan dak untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab daerah dalam pelaksanaan 1.4. Keuangan. Dana Pendamping program yang didanai DAK.

BPK dan/atau aparat pengawas intern pemerintah daerah menindaklanjutinya sesuai aparat pengawasan intern pemerintah daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sementara itu. Pemantauan dan Pengawasan sebelumnya dan/atau tahun berjalan. 3. Daerah sendiri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-129 . 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah Pasal 28. berdasarkan PMK No. kegiatan yang didanai dari DAK sesuai dengan kewenangan masing-masing. sisa DAK tersebut untuk mendanai kegiatan DAK pada bidang yang sama dengan petunjuk teknis yang ditetapkan. sisa DAK tidak dapat digunakan untuk Pemantauan dan pengawasan dari kegiatan yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus ini melibatkan tiga hal penting. optimalisasi penggunaan DAK tersebut pada kas daerah saat tahun anggaran berakhir. Apabila dalam pemeriksaan dengan peraturan perundang¬undangan yang berlaku. yaitu pemantauan teknis. daerah dapat menggunakan tahun anggaran berikutnya sesuai dengan petunjuka teknis tahun anggaran dana pendamping DAK. Menteri Teknis melakukan keuangan DAK dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan/atau pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan administrasi tersebut terdapat penyimpangan dan/atau penyalahgunaan. Dalam hal terdapat sisa DAK pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan serta penilaian terhadap manfaat kegiatan yang dibiayai oleh DAK tersebut. daerah penerima DAK dapat melakukan optimalisasi penggunaan DAK dengan merencanakan berjalan apabila akumulasi nilai kontrak pada suatu bidang DAK lebih kecil dilakukan untuk kegiatan-kegiatan pada bidang DAK yang sarna dan sesuai dan menganggarkan kembali kegiatan DAK dalam APBD Perubahan tahun dari pagu bidang DAK tersebut.

07/2008.07/2010. Menteri Keuangan.4. 126/PMK.PPN/11/2008.melalui tim koordinasi melakukan evaluasi terhadap manfaat pelaksanaan DAK yang melibatkan pihak terkait setempat. hasil yang telah dicapai. dapat digunakan untuk digunakan.2. DAK pada akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan. meliputi gambaran. Dirjen Perimbangan Keuangan. sementara itu. Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. surat Edaran Bersama (sEB) Menteri Dalam Negeri.q. sEB dimaksud lebih banyak mengatur tata hubungan dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi DAK yang dilaksanakan antar tingkat Daerah menyampaikan laporan triwulanan yang memuat laporan pelaksanaan serta jumlah realisasi dana Dalam Negeri. sasaran. Menteri selanjutnya. Jika sudah III-130 SistemPendanaandiDaerah . telah diterbitkan Pemantauan Teknis Pelaksanaan Dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi pemerintahan.4. PelaPoran kegiatan dan penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c. dan Menteri Terkait dengan sisa DAK TA 2003 – 2009 yang belum digunakan sampai dengan ditetapkannya PMK No. dan Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nomor 0239/ M. hambatan. wajib melaporkannya kepada paling lambat 60 hari setelah PMK kegiatan DAK pada bidang yang sama sesuai juknis TA berjalan. sE 1722/MK. 3. rencana kegiatan. untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan DAK di daerah dalam kaitannya dengan penyempurnaan kebijakan DAK. 900/3556/sJ Petunjuk Pelaksanaan Khusus (DAK).

3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 No.07/2010 ditetapkan. 126/PMK.06/2007 tentang Bagan Akun standar. penganggaran. Pelaksanaan kelompok bagan akun tersendiri yaitu ”Kelompok Transfer ke Daerah” telah Menteri Keuangan Nomor 91/PMK. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. sejalan menyempurnakan dengan amanat bagan akun undang-undang standar daerah yang dipisahkan. Keuangan dalam upaya daerah dan mewakili pemerintahan daerah dalam kepemilikan kekayaan sendiri pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan. sisa DAK tersebut tidak dapat digunakan untuk dana pendamping.5. pemerintah daerah melakukan Menteri tersebut. mengelompokkan bagan akun yang terkait dengan pengalokasian Dana Perimbangan dan Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian ke dalam menggantikan ”Kelompok Belanja ke Daerah”. kekuasaan pengelolaan keuangan negara tersebut diserahkan kepada gubernur/bupati/ walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya. Hal ini diatur dalam Peraturan selanjutnya pada tahun 2008. PENyALURAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH Pasal 6 undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. ”Transfer ke Daerah” dan diikuti pula dengan perubahan mendasar dalam penyaluran ini terakhir diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-131 .2. Hal ini berarti. perubahan ini diimplementasikan ke dalam perubahan nomenklatur APBN dari sebelumnya ”Belanja ke Daerah” menjadi pelaksanaan penyalurannya dari kas negara ke kas daerah.

07/2010 1.1. b. • • • Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan.126/PMK. Penyaluran angggaran Transfer ke Daerah dilakukan dengan cara (BuD) atau Kuasa BuD membuka rekening pada bank sentral atau bank umum untuk menampung penyaluran semua anggaran Transfer ke Daerah Daerah. dengan rincian sebagai berikut : sebesar 20 persen dari alokasi sementara. a.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Penyaluran dbh Pajak Penyaluran DBH PPh mengacu pada Pasal 19 PMK Nomor 126/PMK. Dalam rangka penyaluran tersebut.5.2. dan DAK) dengan nama Rekening Kas umum definitif dengan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara SistemPendanaandiDaerah III-132 . 3. DBH sDA. Bendaharawan umum Daerah (DBH Pajak. Penyaluran triwulan I sampai dengan triwulan III masing-masing Penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pembagian Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran triwulan berdasarkan prognosa realisasi penerimaan PPh WPoPDN dan PPh Pasal pemindahbukuan dari rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. sampai dengan triwulan III. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. 21 tahun anggaran berjalan. DAu.

Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Penyaluran DBH CHT didasarkan pada Pasal 20. 126/PMK. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB Transfer ke Daerah. dan bulan november tahun anggaran berjalan. melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. PBB tahun anggaran berjalan. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-133 Nomor 126/PMK. (CHT) Penyaluran Biaya Pemungutan PBB bagian daerah dilaksanakan secara e. b. Peraturan Menteri Keuangan Anggaran Transfer ke Daerah yaitu: a. d. bulanan. kepada kabupaten dan kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/ bulan November tahun anggaran berjalan. maka kelebihan dimaksud Penyaluran DBH PBB mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 2.Pelengkap Buku Pegangan 2011 lebih besar daripada alokasi definitif. a. bulan agustus. Triwulan II sebesar 30 persen dari alokasi sementara.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Penyaluran DBH PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan Penyaluran DBH PBB bagian daerah dilaksanakan secara mingguan.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban . b. diperhitungkan dalam penyaluran tahun anggaran berikutnya. kepada seluruh kabupaten dan kota dilaksanakan dalam tiga tahap. Triwulan I sebesar 20 persen dari alokasi sementara. c. yaitu Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan secara merata bulan april. dilaksanakan dalam Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan sebagai insentif 3.

yang telah disalurkan pada triwulan I. 3. Triwulan II sebesar 20 persen dari pagu di Peraturan Menteri perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan 4. d. Proses penyaluran tersebut SistemPendanaandiDaerah . Keuangannya.c. 5. dan III. II. secara umum. Triwulan IV berdasarkan (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan penyaluran triwulan I dan II (40 persen PMK)) + (lebih salur tahun (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan Penyaluran rampung tahun sebelumnya (bulan Februari) berdasarkan Proses Penyaluran Penyaluran DBH sDA Migas dari rekening kas negara ke rekening kas sebagai berikut: III-134 pemerintah daerah penerima DBH sDA Migas. yaitu: 1. Keuangannya. Penyaluran dbh sumber daya alam Triwulan III sebesar 30 persen dari alokasi sementara. negara sampai dengan triwulan III) – (penyaluran s. pola penyaluran DBH sDA dilaksanakan secara triwulanan.2.d.5. sebelumnya).2.d. dilaksanakan setelah DBH CHT semester I. Ditjen Perimbangan Keuangan menerima laporan realisasi pelaksanaan Triwulan IV sebesar selisih antara alokasi definitif dengan jumlah dana 3. 2. triwulan IV). triwulan III) triwulan IV) – (penyaluran s. • • Triwulan I sebesar 20 persen dari pagu di Peraturan Menteri Triwulan III berdasarkan: triwulan II.

Berdasarkan sP2D tersebut. Berdasarkan surat permintaan tersebut.18 Format Penyaluran DBH sDA Migas Dirjen Perbendaharaan mengajukan sPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengajukan surat Permintaan Berdasarkan DIPA tersebut.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1. Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen Perbendaharan.19. 3. sP2D. 2. menerbitkan DIPA Migas untuk Dirjen PK. Direktur PKN – DJPBN menerbitkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-135 . 4. Direktur Dana Perimbangan sebagai KPA gambar 3. BI mentransfer dana dari rekening kas negara ke rekening kas pemda provinsi/kabupaten/kota Berdasarkan sPM Migas tersebut. alur perhitungan dan penyaluran DBH Migas dapat dilihat pada gambar 3. selanjutnya.

setiap Penyaluran: III-136 SistemPendanaandiDaerah . b. Jadi hanya ada satu DIPA 1. maka mulai tahun 2008 proses permintaan dan penerbitan gambar 3. Dirjen Perbendaharan menerbitkan DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. Prosesnya sebagai berikut: setiap triwulan. mengajukan surat Permintaan Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen Perbendaharan. 2. Di awal tahun: Berdasarkan PMK Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas. sejak tahun 2008 diberlakukan sedikit perubahan dalam proses penyaluran ini. Dirjen PK Berdasarkan surat permintaan tersebut. Bila sebelumnya semua dokumen dilaksanakan untuk untuk setiap tahunnya.19 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas DIPA dilaksanakan hanya satu kali di awal tahun.sementara itu. a.

Kepala daerah bertindak III-137 . dan penerbitan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.20 Mekanisme Penyaluran (2008) Berdasarkan sP2D tersebut.3. b.2. Direktur PKN – DJPBN menerbitkan sP2D.Pelengkap Buku Pegangan 2011 a. Dengan demikian proses penyaluran dapat dilaksanakan dengan lebih cepat.5. negara ke rekening kas pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota Perimbangan sebagai KPA mengajukan sPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN. BI mentransfer dana dari rekening kas karena penyaluran setiap triwulannya tidak lagi melalui proses permintaan 3. Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi. Direktur Dana Berdasarkan sPM Migas tersebut. sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAu dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan selaku KPA dari Bendaharawan umum Negara (BuN) membuat DIPA PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penyaluran dau melalui KPPN setempat. c. gambar 3.

Penyaluran dak Mulai tahun 2008 penyaluran DAK dilaksanakan langsung melalui Kuasa untuk mendapatkan pengesahan.dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk untuk penyaluran DAu setiap bulan. Pertanggung¬jawaban Perbendaharaan Anggaran mendapatkan pengesahan. kepala daerah atau pejabat yang Transfer ke Daerah. laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya. mulai ditunjuk menerbitkan sPM dan menyampaikannya kepada KPPN setempat sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan 2008 Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan bertindak selaku KPA alokasi masing-masing daerah.2. Dirjen Perimbangan Keuangan ditunjuk Tahap I sebesar 30 persen dari alokasi. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM yang terbagi dalam 3 tahap yaitu. 3. Penyaluran yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal tahun dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 dari besaran Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM setiap BuN (KPPN Jakarta II . selanjutnya.4. dilaksanakan setelah Perda mengenai APBD. Berdasarkan Anggaran Transfer ke Daerah. Dirjen bulan dan menyampaikannya kepada Kuasa BuN (KPPN Jakarta II .DJPB). Dalam rangka menyalurkan DAK.5. dan surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping III-138 . Dalam rangka penyaluran tersebut. • diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan.DJPB) dengan cara memindahbukukan dari Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban sebagai KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. SistemPendanaandiDaerah DAu rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah.

15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap I diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. pelaksanaan penyaluran secara bertahap tersebut berjalan. dan sesuai dengan PMK.3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • Tahap II sebesar 45 persen dari alokasi.3. tidak dapat dilakukan sekaligus dan tidak boleh melampaui tahun anggaran 3. PINJAMAN DAN HIBAH DAERAH 3.1. undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 mengatur konsep desentralisasi fiskal secara komprehensif. Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah. termasuk Pendapatan Asli Daerah. dengan mengacu kepada undang-undang Nomor 33 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah pada prinsipnya mengatur mengenai pendanaan atas pelaksanaan otonomi daerah berupa function). dan sumber-sumber penerimaan daerah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi PENDAHULUAN desentralisasi fiskal dengan konsep uang mengikuti fungsi (money follows III-139 . penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan Pemerintahan Daerah. dilaksanakan selambatlambatnya 15 hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap II diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. Hibah. sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dilaksanakan selambat-lambatnya Tahap III sebesar 25 persen dari alokasi. Pinjaman. Dana Perimbangan.

dan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut.lainnya. kondisi. Peraturan perundang-undangan tersebut pelaksanaan kebijakan pinjaman dan hibah daerah merupakan bagian kepada pemerintah daerah atau sebaliknya merupakan wujud pelaksanaan secara tegas dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pemerintah dapat memberikan Daerah tidak semata-mata bertumpu kepada Dana Perimbangan. yang mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah dan kebutuhan daerah. selain mengalokasikan Dana III-140 SistemPendanaandiDaerah . otonomi daerah. dan transparan dengan memperhatikan potensi.3. termasuk pengelolaan 3. demokratis. adil. yang dicatat dan dikelola dalam APBD. sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan dan pengawasan keuangannya. Hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan telah PINJAMAN DAERAH disinggung sebelumnya. namun juga pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintah daerah. seperti Perimbangan kepada pemerintah daerah. Pemerintah dapat memberikan menjelaskan yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan asas desentralisasi dan Hubungan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang kesatuan. Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selain mengalokasikan Dana pinjaman dan/atau hibah kepada Pemerintah Daerah.2. Hal ini sejalan dengan undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Perimbangan kepada pemerintah daerah. Pemberian pinjaman dan/atau hibah oleh Pemerintah merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan dalam kerangka negara pemerintah daerah serta pemerataan antardaerah secara proporsional.

risiko tingkat bunga. selanjutnya. sebelumnya. dan risiko Berdasarkan peraturan perundang-undangan. dan pelampauan target sisa lebih Perhitungan Anggaran (silPA) daerah tahun anggaran Pencairan dana cadangan. Dana pinjaman dapat ditujukan untuk mendanai kegiatan investasi berupa pengadaan prasarana dan/atau sarana daerah yang memberikan manfaat ekonomi dapat ditujukan untuk mengatasi masalah jangka pendek yang berkaitan pengelolaan pinjaman daerah. dana pinjaman juga pembiayaan kembali. 3. Pinjaman daerah merupakan alternatif sumber pembiayaan APBD untuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. uang pihak ketiga yang belum diselesaikan. b.Pelengkap Buku Pegangan 2011 termasuk pinjaman dan hibah daerah sebagai salah satu sumber pendanaan pembangunan daerah. selain itu. Kegiatan investasi tersebut memberikan atau penerimaan daerah pada khususnya. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-141 . defisit APBD dapat ditutup dengan sumber-sumber pembiayaan sebagai berikut: a. maka diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam Pinjaman daerah sebagai alternatiF sumber Pembiayaan aPbd dengan arus kas daerah.2.3. mengingat pinjaman memiliki berbagai sumbangan bagi perkembangan perekonomian daerah pada umumnya dan/ risiko seperti risiko kesinambungan fiskal. mencakup sisa dana untuk mendanai kegiatan lanjutan. pendapatan daerah.1. mendanai kegiatan yang merupakan inisiatif dan kewenangan daerah dan sosial bagi masyarakat.

maka selanjutnya pemerintah daerah harus memperhatikan persyaratan pinjaman daerah. dapat berupa hasil Penerimaan pinjaman. dan/atau Penerimaan kembali pemberian pinjaman. termasuk penerbitan obligasi Daerah yang akan Dalam hal pemerintah daerah akan menutup defisit APBD dengan melakukan pinjaman daerah. atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah. menentukan jenis pinjaman.21 Proses Perencanaan Pinjaman Daerah pinjaman. secara umum proses perencanaan pembiayaan daerah dilakukan III-142 SistemPendanaandiDaerah . d. penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga. dan sumber sesuai bagan alur (flow chart) dalam gambar 3. direalisasikan pada tahun anggaran yang bersangkutan. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.c.21 berikut ini: gambar 3. e.

adalah sebagai berikut: 2) Pemerintah daerah lain. Pinjaman jangka pendek tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. Jenis dan Penggunaan Pinjaman Daerah pinjaman jangka pendek. bersangkutan. misalnya pelunasan kewajiban atas pengadaan/pembelian barang dan/atau jasa tidak dan denda) seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang dilakukan pada saat barang dan/atau jasa dimaksud diterima. dan penawaran umum kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri. 3) lembaga Keuangan Bank yang berbadan Hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia. Negeri. dan jangka panjang. dan/atau penerusan Pinjaman luar 4) lembaga Keuangan Bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan 5) Masyarakat. bunga. jangka menengah. 1) Pemerintah. pinjaman daerah dapat dikategorikan dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban Pinjaman jangka pendek merupakan pinjaman daerah dalam jangka pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. asuransi. komitmen. Pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-143 . 1) Pinjaman Jangka Pendek Berdasarkan waktunya. penerusan Pinjaman Dalam Negeri. mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia. yaitu berupa obligasi Daerah yang diterbitkan melalui 2.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Alternatif sumber-sumber pinjaman yang dapat dipilih oleh pemerintah 1. provisi. Sumber Pinjaman Daerah daerah. dan biaya lain (termasuk biaya administrasi. berasal dari APBN termasuk dana investasi Pemerintah.

provisi. asuransi. komitmen. bunga. Pinjaman jangka menengah 3) Pinjaman Jangka Panjang Pinjaman jangka panjang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran Pinjaman jangka menengah merupakan pinjaman daerah dalam jangka kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. dan biaya lain (seperti: biaya administrasi. bunga. dan denda) harus dilunasi pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan persyaratan penerimaan. Penjelasan persyaratan tersebut dapat dijelaskan berikut 1) Pinjaman Jangka Pendek dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan III-144 SistemPendanaandiDaerah . komitmen. asuransi. dan biaya dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan.2) Pinjaman Jangka Menengah jangka pendek dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas. Persyaratan Umum Pinjaman Daerah ini: pinjaman daerah. lain (termasuk biaya administrasi. dan denda) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan. perjanjian pinjaman yang bersangkutan. provisi. Pinjaman jangka panjang Persyaratan pinjaman secara garis besar dapat dibagi berdasarkan jenis 3.

dan penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu. c. Persyaratan yang dipenuhi bagi pemerintah daerah dalam melakukan Kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan kegiatan yang bersifat mendesak dan tidak dapat ditunda.Pelengkap Buku Pegangan 2011 pinjaman jangka pendek adalah sebagai berikut: a. Kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman jangka pendek telah Persyaratan lainnya yang dipersyaratkan oleh calon pemberi 2) Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang a. APBD tidak termasuk Dana Alokasi Khusus. dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75 persen dari jumlah penerimaan umum Jumlah Pinjaman < 75% Penerimaan Umum APBD Tahun sebelumnya belum dibayar. jangka menengah dan panjang adalah sebagai berikut: Persyaratan bagi pemerintah daerah untuk dapat melakukan pinjaman APBD tahun sebelumnya. dana pinjaman lama. Jumlah sisa pinjaman daerah adalah jumlah pinjaman lama yang Jumlah pinjaman yang akan ditarik adalah rencana pencairan dana Penerimaan APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan pinjaman tahun yang bersangkutan. pinjaman. b. dianggarkan dalam APBD tahun bersangkutan. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-145 . Dana Darurat.

dan denda) yang jatuh tempo pada anggaran bersangkutan bersangkutan. Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi. dengan rumus sebagai berikut: DSCR = : : : : : DsCR PAD BW P B DBH DAu (PAD + (DBH-DBHDR) + DAU) – BW P + B + BL pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DsCR) paling sedikit 2. dan (BuMD). dalam tahun anggaran bersangkutan. Dana Alokasi umum. c. yaitu belanja pegawai dan belanja DPRD Angsuran pokok pinjaman yang jatuh tempo pada tahun d.5 Keterangan: DBHDR : : Dana Bagi Hasil. Bl : : Bunga pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran Biaya lainnya (biaya administrasi. komitmen. Debt Service Coverage Ratio.5 (dua ≥ 2. provisi. anggaran bersangkutan. asuransi. Pendapatan Asli Daerah. Belanja Wajib. Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan koma lima).b. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang tahun dalam hal pinjaman tersebut diteruspinjamkan dan/atau diteruskan sebagai penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah Mendapatkan persetujuan dari DPRD. bersumber dari Pemerintah. Persetujuan DPRD termasuk III-146 SistemPendanaandiDaerah .

pinjaman daerah harus dilakukan dalam batas-batas yang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah pada prinsip-prinsip umum sebagai berikut: atau untuk menutup kekurangan kas. kebijakan Fiskal di bidang Pinjaman daerah Pada prinsipnya pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah. Pinjaman daerah adalah sejumlah uang desentralisasi. undangan. inisiatif dan kewenangan daerah berdasarkan peraturan perundangluar negeri yang terjadi karena kegiatan transaksi obligasi Daerah di 4) Pemerintah daerah tidak dapat melakukan penjaminan terhadap 5) Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.2. kecuali dalam hal pinjaman langsung kepada pihak Pasar Modal Domestik. Pinjaman daerah dapat dilaksanakan dengan berpedoman 3) Pemerintah daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-147 . Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan daerah dalam rangka pelaksanaan 1) Pinjaman daerah merupakan alternatif sumber pembiayaan APBD dan/ 2) Pinjaman daerah digunakan untuk membiayai kegiatan yang merupakan perekonomian daerah serta perekonomian nasional. 1.2.3. aman dan terkendali sehingga tidak berdampak negatif terhadap APBD dan tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Prinsip Umum Pinjaman Daerah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima Namun demikian. pinjaman pihak lain.

Pemerintah daerah dapat meneruskan pinjaman daerah sebagai III-148 . pinjaman Pemerintah kepada pemerintahan daerah. Peningkatan fleksibilitas penggunaan pinjaman daerah. dan/atau penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintahan Daerah dan Badan usaha Milik Daerah. daerah. Revisi Peraturan Pemerintah tentang Pinjaman Daerah Daerah. pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintahan daerah. i. seperti: ii. Beberapa perubahan pokok dalam pengaturan bahwa pinjaman jangka panjang digunakan untuk mendanai tidak langsung. saat ini sedang dilakukan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. pelayanan publik yang menghasilkan penerimaan langsung.6) Proyek yang dibiayai dari obligasi Daerah beserta barang milik daerah 2. dan/atau memberikan manfaat ekonomi dan sosial. penerimaan Negara (BuN) yang mempunyai kewenangan untuk memberikan kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan pinjaman. SistemPendanaandiDaerah Penegasan peran Menteri Keuangan selaku Bendaharawan umum Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah diberikan dalam iii. dan kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan melalui b. hibah. yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah serta menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan dalam rangka revisi Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 antara lain adalah: a. Penambahan prinsip umum pinjaman daerah.

Menteri Keuangan setiap bulan Agustus menetapkan Peraturan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Batas Maksimal Kumulatif Menteri Keuangan mengenai batas maksimal defisit APBD dan batas maksimal Menteri Keuangan Nomor 149/PMK. pembayaran langsung. letter of credit (l/C). c. pemerintah daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. baik yang bersumber dari Penerusan Pinjaman luar Negeri. ditetapkan sebesar 0. serta Dana Investasi Pemerintah. b. d.07/2010 tentang Batas Maksimal Defisit Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD untuk Tahun Anggaran 2011 Kumulatif Defisit APBD tersebut di atas adalah kumulatif defisit APBD 4. Daerah Pengaturan mekanisme penarikan dana pinjaman daerah yang mencakup Pengaturan prosedur pemberian pinjaman Pemerintah kepada 3. pemindahbukuan ke Rekening Kas umum Daerah.3 persen dari proyeksi PDB yang digunakan dalam Batas Maksimal Defisit APBD masing-masing daerah ditetapkan sebesar Defisit APBD setiap daerah adalah defisit yang dibiayai dari pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-149 . untuk tahun anggaran 2011. rekening khusus. yang dibiayai oleh pinjaman daerah. daerah dan setelah memperhitungkan pengeluaran pembiayaan. telah ditetapkan Peraturan Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2011. d. Penerusan Pinjaman Dalam Negeri. daerah. dan pembiayaan pendahuluan.5 persen dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2011. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut diatur hal-hal sebagai: a. penyusunan APBN Tahun Anggaran 2011. Pengendalian Batas Maksimal Defisit dan Pinjaman Dalam rangka pengendalian batas maksimal defisit dan pinjaman pemerintah pinjaman daerah.

melebihi Batas Maksimal Defisit APBD termasuk rencana penggunaan pinjaman. Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri v. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri c. i.q. Direktur memberikan pertimbangan dalam waktu 10 hari kerja setelah disertai dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada huruf ii. Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Perimbangan SistemPendanaandiDaerah III-150 . Tata cara pengajuan permohonan persetujuan melebihi c.Daerah dapat melebihi Batas Maksimal Defisit APBD setelah mengajukan permohonan dan mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan dengan diberikan sepanjang Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD secara nasional Batas Maksimal Defisit APBD dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: i. iii.q. disertai dengan dokumen ringkasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang telah dibahas bersama antara Pemerintah Daerah dan DPRD. Atas dasar permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud pada huruf Jenderal Keuangan Daerah. Pemerintah daerah mengajukan permohonan persetujuan tidak terlampaui. Persetujuan Menteri Keuangan pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD kepada Menteri Keuangan Permohonan persetujuan sebagaimana tersebut di atas memuat alasan atas ii. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan tembusan kepada pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Dalam Negeri tidak menyampaikan pertimbangan dalam jangka waktu Dalam hal Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri iv. Direktur Jenderal Keuangan Daerah. diterimanya surat permintaan pertimbangan dari Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf iv.

Besaran dengan Tahun Anggaran 2011 ditetapkan sebesar 0.2.3. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya saat ini prosedur pinjaman daerah yang dananya berasal dari penerusan Bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri pinjaman luar negeri mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran 2011. 3. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan wajib memberikan persetujuan atau penolakan paling lama 25 hari kerja telah dilengkapi dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada huruf ii.35 persen dari proyeksi jumlah pinjaman masing-masing daerah disesuaikan dengan kemampuan Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau yang telah direvisi menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri III-151 .3. Keuangan atas nama Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan atau penolakan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD. setelah diterimanya surat permohonan dari pemerintah daerah yang vii. Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah 1. dokumen yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan pinjaman daerah bagi daerah yang melampaui Batas Maksimal Defisit APBD. Persetujuan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD merupakan Peraturan Menteri Keuangan dimaksud juga mengatur batas maksimal kumulatif pinjaman daerah yang masih menjadi kewajiban daerah sampai keuangan daerah dan setelah memenuhi persyaratan pinjaman daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 vi.

Pusat mengatur proses lebih lanjut penerusan pinjaman luar negeri pemerintah Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas prosedurnya adalah sebagai berikut: Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri Nomor 53 Tahun 2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang A. sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari kedua Peraturan Pemerintah di atas. untuk selanjutnya disampaikan kepada Presiden keuangan yang memegang prinsip kehati-hatian. secara rinci 1) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bersama untuk mendapatkan penetapan dalam bentuk Peraturan Presiden. yang ditujukan untuk menghilangkan III-152 SistemPendanaandiDaerah . Menteri Keuangan membuat rancangan Rencana Kebutuhan Pinjaman Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri adalah rencana pengadaan pinjaman luar negeri dan strateginya dalam rangka pengelolaan luar Negeri (RKPlN). Pemerintah telah menetapkan paket peraturan setingkat menteri. yaitu: Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/ Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. dan Peraturan Menteri Keuangan kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah Luar Negeri oleh Pemerintah Nomor 005 Tahun 2006 mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan pinjaman/hibah luar negeri oleh Pemerintah Pusat. RKPlN disebut juga dengan istilah borrowing strategy.tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman luar negeri dan Penerimaan Hibah.

masuk ke dalam Daftar Rencana Pinjaman/Hibah luar Negeri Jangka d) surat persetujuan pemerintah daerah dan DPRD yang bersangkutan untuk usulan pemerintah daerah atau surat persetujuan Direksi BuMN dan Menteri Pembinaan BuMN untuk usulan BuMN. Perencanaan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. c) Hasil studi Kelayakan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Berdasarkan RKPlN yang telah disusun. Kementerian Keuangan. Menteri Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menilai kelayakan kegiatan. penyusunan DRPHlN-JM. Kementerian/lembaga. Kementerian Perencanaan Pembangunan acuan untuk membuat lending Program. Dalam penilaian atas usulan kegiatan pemerintah daerah. Nasional/Bappenas akan melakukan sinkronisasi pendanaan bersama 4) DRPHlN-JM yang telah disusun disampaikan kepada calon PHlN sebagai 5) Kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam DRPHlN-JM diproses lebih lanjut untuk meningkatkan kesiapan pelaksanaan kegiatan. usulan Kegiatan yang disampaikan berisi: a) Daftar Isian Pengusulan Kegiatan. dan BuMN menyampaikan usulan proyek untuk Menengah (DRPHlN-JM). Pemerintah Daerah. dan 3) Dalam rangka dominasi pemberi pinjaman (donor driven) dalam perencanaan pinjaman yang selama ini terjadi menuju Indonesian driven. b) Kerangka Acuan Kerja. untuk selanjutnya kegiatan yang telah memenuhi kelayakan kesiapan kegiatan (readiness criteria) akan dicantumkan dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman/Hibah luar Negeri (DRPPHlN) yang akan diterbitkan setiap PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-153 .

Kementerian/ menetapkan alokasi pinjaman. Pemerintah Daerah/BuMN untuk kegiatan PlN yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN. calon PPHlN menyampaikan indikasi komitmen pinjaman. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.6) Dalam rangka menyusun DRPPHlN. Berdasarkan penetapan alokasi pinjaman. Berdasarkan permintaan dari keuangan pemerintah daerah dan BuMN untuk kegiatan PlN yang akan Kepala Bappenas serta Menteri Keuangan. pendanaan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ tahunnya oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. untuk selanjutnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menyusun Daftar Kegiatan. dan Menteri Keuangan melakukan penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman untuk menetapkan alokasi Keuangan menetapkan alokasi pinjaman. Berdasarkan Daftar Kegiatan yang disampaikan oleh Menteri 8) Berdasarkan Daftar Kegiatan yang telah disusun oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas meminta informasi kemampuan keuangan Menteri Menteri Keuangan menyampaikan masukan berupa indikasi kemampuan diteruskan. Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas serta penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman. 7) Berdasarkan DRPPHlN. III-154 SistemPendanaandiDaerah lembaga/pemerintah daerah/BuMN pengusul melaksanakan persiapan pinjaman serta melakukan konfirmasi penerusan pinjaman dengan menyampaikan usulan kegiatan kepada Menteri Keuangan untuk .

Pelengkap Buku Pegangan 2011 Adapun prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri termasuk yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN adalah sebagaimana tercantum dalam gambar 3. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-155 .22.22 Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri Menteri Keuangan mengajukan usulan kepada calon PPHlN untuk mendapatkan komitmen pendanaan. gambar 3.

dengan melampirkan dokumen rencana pinjaman yang terdiri dari: a) studi kelayakan kegiatan. b) Rencana Kegiatan Rinci. Prosedur Penerusan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53 Tahun 2006 tentang Tatacara secara terinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut: Pemerintah Daerah Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah Yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri. tahun terakhir. III-156 SistemPendanaandiDaerah . mengatur proses lebih lanjut penerusan pinjaman luar negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. Menteri Keuangan akan rencana pinjaman kepada Menteri Keuangan.B. DsCR) serta asumsi yang digunakan selama jangka waktu pinjaman f) memenuhi kewajiban pembayaran kembali pinjaman (proyeksi g) surat persetujuan DPRD berupa persetujuan prinsip yang diberikan oleh komisi di DPRD yang menangani bidang keuangan. Rencana Pembiayaan Kegiatan (financing plan) secara keseluruhan. Berdasarkan Daftar Kegiatan. Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas kepada Menteri Keuangan. e) Perhitungan proyeksi APBD selama jangka waktu pinjaman termasuk perhitungan DsCR yang mencerminkan kemampuan daerah dalam yang akan diusulkan. 1) Prosesnya dimulai setelah Daftar Kegiatan disampaikan dari Menteri menyampaikan surat kepada pemerintah daerah agar menyampaikan c) Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tiga d) APBD tahun bersangkutan.

Menteri Keuangan meliputi aspek politik dan administrasi pemerintah daerah. Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman 2) Berdasarkan dokumen rencana pinjaman yang telah disampaikan. dan pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak. maka rencana pinjaman dapat III-157 . yang berisi tentang: Menyediakan dana pendamping.Pelengkap Buku Pegangan 2011 h) Data kewajiban yang masih harus dibayar setiap tahunnya dari i) pinjaman yang telah dilakukan. 3) Dalam rangka penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman. Pertimbangan kerja setelah diterimanya dokumen rencana pinjaman yang dinyatakan diproses lebih lanjut tanpa menunggu pertimbangan Menteri Dalam PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Menteri Dalam Negeri diberikan selambat-lambatnya dalam 10 hari 5) Dalam hal pertimbangan Menteri Dalam Negeri tidak diberikan dalam batas waktu yang telah ditentukan. Menteri Keuangan akan memberikan jawaban atas kekurangan atau telah rencana pinjaman dilakukan selambat-lambatnya 10 hari kerja terhitung sejak diterimanya berkas dokumen rencana pinjaman. tersebut dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman. Tidak memiliki tunggakan atas pinjaman yang sedang berjalan. Menteri Keuangan akan melakukan penelitian kelengkapan dokumen rencana pinjaman dan penilaian atas dokumen rencana pinjaman. dan surat Pernyataan Pemerintah Daerah. Penilaian kelengkapan dokumen 4) Dalam rangka melaksanakan penilaian tersebut. yang lengkap. meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri atas rencana pinjaman untuk aspek-aspek diluar perencanaan dan keuangan. Dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk terpenuhinya kelengkapan dokumen.

Menteri Keuangan menetapkan persetujuan atau penolakan atas rencana pinjaman. d) Biaya komitmen. Menteri Keuangan disampaikan kepada pemerintah daerah pengusul. Berdasarkan DRPD. menerbitkan Daftar 40 hari kerja setelah dokumen rencana pinjaman diterima secara lengkap. yang memuat hal-hal sebagai berikut: a) Plafond pinjaman. dan Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman III-158 SistemPendanaandiDaerah . tersebut dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman. Dalam hal Menteri Keuangan menyampaikan surat kepada pemerintah daerah pengusul. selanjutnya dilakukan koordinasi dengan 7) Berdasarkan komitmen pendanaan dari calon PPlN.Negeri. g) Kesediaan dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak. c) Bunga pinjaman. Menteri Keuangan persetujuan Menteri Keuangan. Rencana Pinjaman Daerah (DRPD) untuk calon Pemberi Pinjaman luar Negeri (PPlN) untuk mendapatkan e) Menyediakan dana pendamping. menetapkan penolakan atas rencana pinjaman. Penilaian oleh Menteri Keuangan dilakukan selambat-lambatnya 6) Berdasarkan hasil penilaian. pemerintah daerah menyampaikan surat Keputusan DPRD tentang persetujuan pinjaman yang dihasilkan dari rapat paripurna DPRD kepada Menteri Keuangan. Berdasarkan komitmen pendanaan. f) b) Jangka waktu pinjaman.

surat persetujuan pinjaman yang memuat: a) Jumlah. dan Kementerian Keuangan. selambat-lambatnya dalam 40 hari kerja Menteri Keuangan menerbitkan 10) NPPlN ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-159 . a) Kesiapan indikator kinerja monitoring dan evaluasi. seperti data d) Pembentukan dan penempatan personalia unit Manajemen Proyek administrasi proyek/memorandum (yang berisi cakupan organisasi dan kerangka acuan kerjanya. b) Alokasi dana pendamping untuk pelaksanaan kegiatan tahun c) Pengadaan tanah dan/atau resettlement telah dilaksanakan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 8) Perundingan dengan calon PPlN dilakukan setelah diterbitkannya DRPD dan pemerintah daerah memenuhi kriteria kesiapan kegiatan. yang mencakup: dasar. dan konsep pengelolaan proyek/petunjuk pertama dalam APBD. termasuk pemerintah Perjanjian Pinjaman luar Negeri (NPPlN). pengelolaan/ (Project Management Unit/PMu) dan unit Pelaksana Proyek (Project 9) Perundingan dilakukan oleh Tim Perunding yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang keanggotaannya terdiri atas unsur-unsur Nasional/Bappenas. dan pengaturan tentang pengadaan. dan auditing). laboran. dan instansi terkait lainnya. e) Kesiapan Implementation Unit/PIu). b) Peruntukan. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan daerah pengusul. anggaran. Berdasarkan NPPlN yang telah ditandatangani. disbursement. Hasil perundingan akan menjadi acuan dalam Naskah kuasa dengan PPlN.

12) Berdasarkan NPPP.11) Persyaratan pinjaman dalam NPPlN menjadi acuan dalam menetapkan (NPPP). dan Prosedur penerusan pinjaman luar negeri kepada pemerintah daerah dalam III-160 SistemPendanaandiDaerah . pemerintah daerah melaksanakan proses penarikan bentuk pinjaman secara sitematis dapat digambarkan sebagaimana gambar 3. persyaratan pinjaman dalam Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman g) monitoring dan evaluasi. d) penarikan dana. memuat sekurangkurangnya hal-hal sebagai berikut: a) sumber dan jumlah dana. bupati atau walikota. c) Persyaratan pinjaman. sanksi. h) pelaporan dan perkembangan fisik dan keuangan.23. f) i) c) persyaratan pinjaman. b) peruntukan. pinjaman serta pelaksanaan kegiatan. NPPP ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa dengan gubernur. e) penggunaan dana. pembayaran kembali.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.23 Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) 2. termasuk di dalamnya dana yang dikelola oleh Pusat Investasi dan menjadi operator investasi Pemerintah. Investasi di bidang pembangunan infrastruktur sebagai salah satu fokus dari investasi PIP didasarkan pada alasan filosofis PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pemerintah (PIP). Adapun cakupan sektor investasi PIP meliputi bidang infrastruktur dan bidang lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya salah satu sumber pinjaman dari Pemerintah Pusat yaitu Dana Investasi Bersumber dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Pemerintah. PIP merupakan Sovereign Wealth Fund (sWF) Indonesia III-161 .

Ketenagalistrikan. c. Transportasi. skema pembagian risiko. Pinjaman yang diberikan PIP kepada pemerintah daerah dibatasi hanya Tatacara pengajuan pinjaman daerah kepada PIP sebagai berikut: b. dan Bagi badan usaha/badan hukum menyampaikan anggaran dasar dan SistemPendanaandiDaerah III-162 . Calon mitra menyampaikan proposal dilengkapi dengan: latar belakang. proyek. a. antara lain mencakup: d. e. Rumah sakit. Pasar. Air Bersih. Calon mitra mengajukan surat permohonan pinjaman kepada Kepala PIP. Terminal. perijinan. - skema hak kepemilikan (untuk investasi penyertaan modal).bahwa pembangunan infrastruktur merupakan salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. salah satu bentuk investasi langsung PIP adalah pemberian pinjaman kepada pemerintah daerah. studi kelayakan. tahun berjalan. g. dan laporan keuangan 3 (tiga) tahun terakhir. b. a. skema pengembalian dana (untuk investasi pemberian pinjaman). Jalan/Jembatan. Kepala PIP mengundang calon mitra untuk melakukan presentasi. f. c. skema pembiayaan. dan untuk pembangunan infrastruktur dasar.

ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah. proyek yang didanai harus berada di h. b. - Analisa Kelayakan Proyek dan Kelayakan Keuangan Daerah. e.5. c. antara lain: a. sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Adapun syarat efektif perjanjian pinjaman sebagai berikut : a. Persetujuan calon mitra terhadap Indicative Offer. g. Penandatanganan Perjanjian. Penyampaian Indicative Offer dari PIP kepada calon mitra. Indonesia. bupati. i. langsung.Pelengkap Buku Pegangan 2011 d. j. f. surat persetujuan DPRD atas rencana pinjaman pemerintah daerah. Bagi mitra luar negeri. juga harus mengikuti ketentuan mengenai pinjaman daerah Jumlah sisa pinjaman ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak DsCR atau rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan bersumber dari Pemerintah. atau walikota bahwa bersedia dipotong dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil secara PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-163 . surat pernyataan gubernur. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang melebihi 75 persen dari Penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. b. Pemindahbukuan. pinjaman paling sedikit 2. Persetujuan Pinjaman. Persyaratan Pinjaman PIP kepada pemerintah daerah selain mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005. Efektivitas Perjanjian Pinjaman.

Prosedur pinjaman jangka pendek: calon pemberi pinjaman. 1. lembaga keuangan bank. Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah secara garis besar terbagi dua.c. umum dan/atau Dana Bagi Hasil. f. atau walikota kepada Direktur Jenderal legal opinion dari Kepala Biro/Kepala Bagian Hukum pemerintah Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah daerah lain. d. e.3. jangka pendek sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pemerintah daerah memilih ketentuan dan persyaratan pemberi III-164 SistemPendanaandiDaerah . pinjaman jangka panjang. c. maksimal defisit yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 3. Perimbangan Keuangan untuk melakukan pemotongan Dana Alokasi Ijin pelampauan defisit dalam hal pinjaman tersebut melampaui batas surat kuasa gubernur. bupati. a. dan lembaga keuangan bukan bank surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (sPTJM) dari gubernur. bupati. atau walikota.2. yaitu prosedur pinjaman jangka pendek. yang dibedakan menurut lamanya masa pinjaman.4. pinjaman jangka menengah dan Pemerintah daerah mengajukan usulan pinjaman jangka pendek kepada Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian atas usulan pinjaman serta ketentuan dan persyaratan pemberi pinjaman. b. pinjaman yang paling menguntungkan pemerintah daerah. daerah.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 d. APBD tahun yang bersangkutan. v. dengan menyampaikan atau walikota harus melaporkan rencana pinjaman jangka menengah sekurang- iv. ii. persetujuan Menteri Keuangan. pertimbangan. bupati atau pinjaman jangka panjang kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan i. kurangnya dokumen: iii. surat Persetujuan DPRD. maka terlebih dahulu harus mendapatkan pertimbangan Menteri Dalam Negeri tersebut. Pemerintah daerah mengajukan proposal pinjaman berdasarkan Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian terhadap proposal Dalam hal defisit APBD suatu daerah melebihi batas maksimal defisit PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-165 . e. d. Prosedur pinjaman jangka menengah dan pinjaman a. APBD masing-masing daerah. Rencana Keuangan (Financing Plan) pinjaman yang akan diusulkan. sebelum mengajukan usulan pinjaman jangka menengah atau pinjaman jangka panjang kepada calon pemberi pinjaman. walikota. bupati. b. atau pejabat yang diberi kewenangan. c. tersebut. Proyeksi DsCR. Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan dalam rangka pemantauan defisit APBD dan batas kumulatif pinjaman daerah. jangka panjang: Pinjaman jangka pendek dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang 2. gubernur. dan Kerangka acuan proyek. ditandatangani oleh gubernur.

3. Menteri Dalam Negeri. Jika disetujui.5. berkaitan dengan III-166 SistemPendanaandiDaerah obligasi daerah Nomor 54 Tahun 2005. unsur yang pertama adalah. pinjaman daerah dilakukan melalui perjanjian pinjaman Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah di atas. untuk . Terdapat dua unsur utama yang perlu diperhatikan khusus dalam kaitannya dengan obligasi Daerah.2.24 berikut ini: mekanisme tersendiri dan akan dijelaskan dalam bagian lain dalam Bab gambar 3. Prosedur obligasi Daerah diatur dengan ini. Prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang yang bersumber dari 3. tidak berlaku untuk pinjaman daerah yang bersumber dari masyarakat selain Pemerintah dapat ditunjukkan pada gambar 3.24 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber selain dari Pemerintah Perjanjian pinjaman tersebut wajib dilaporkan ke Menteri Keuangan dan dalam bentuk obligasi Daerah.f. yang ditandatangani oleh kepala daerah dan pemberi pinjaman. Dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. obligasi Daerah diartikan sebagai pinjaman daerah kapasitas pemerintah daerah dalam menerbitkan obligasi Daerah. g.

pemerintah daerah yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. proyek yang dibiayai obligasi Daerah dapat menutup pokok dan bunga yang penerimaan. dimana penerbit berkewajiban untuk membayar pokok obligasi beserta bunganya pada lainnya. Pihak yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus memenuhi untuk memberikan informasi lengkap mengenai prospek obligasi Daerah obligasi (emiten) memiliki utang terhadap pemegang obligasi dan emiten waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Jangka waktu obligasi lebih PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-167 . Jika akan dibiayai tersebut. Prinsip keterbukaan dimaksudkan obligasi Daerah merupakan efek yang bersifat utang. Pada prinsipnya. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kemungkinan sehingga benar-benar dapat menghasilkan penerimaan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 melindungi fiskal daerah. Berkaitan adalah mengenai penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal. prinsip keterbukaan di pasar modal. Penerbitan obligasi ini dimaksudkan untuk membiayai proyekproyek yang dapat memberikan manfaat kepada publik dan menghasilkan harus dibayarkan pada saat jatuh tempo. unsur yang kedua obligasi Daerah telah diterbitkan dan telah dinyatakan efektif oleh Badan Daerah telah siap untuk diperjualbelikan di pasar modal. perlu diadakan langkah-langkah penilaian atas proyek yang apakah komponen-komponen dari proyek yang dimaksud di sini telah layak prakteknya obligasi Daerah dianggap sebagai efek yang bersifat utang. diharapkan pendapatan yang didapat dari oleh karena itu. Dalam Pengawas Pasar Modal lembaga Keuangan (Bapepam-lK). maka obligasi dengan hal ini. prosedur yang perlu diikuti telah diatur sedemikian rupa melalui berbagai Keputusan Kepala Bapepam-lK dan peraturan pasar modal untuk menarik minat investor. Transaksi jual beli obligasi Daerah harus mengikuti mekanisme di pasar modal.

dimana pada saat itu obligasi dibayarkan kembali. dimana biasanya pemberi pinjaman adalah bank. pokok dan bunga pinjaman dibayarkan dapat dibayarkan pada jumlah yang sama. Kadangkala. Pokok obligasi itu sendiri dibayarkan dalam bentuk pembayaran tunggal pada akhir jangka waktu yang telah obligasi merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh emiten sehingga nominalnya. bukan dalam mata uang asing. obligasi memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan pinjaman. secara khusus. obligasi dilunasi sesuai dengan nilai Dengan menerbitkan obligasi Daerah. oleh karena itu. peminjam menjadi emiten dan pemberi pinjaman menjadi pemegang obligasi. Pokok pinjaman pada jumlah yang sama. obligasi Daerah diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan investasi. pinjaman. ditentukan. berharga. Pada akhir jangka waktu. Peminjam membayar kembali pokok dan bunga pinjaman kepada yang meminjamkan setahun.dari 1 tahun. obligasi Daerah diterbitkan dalam mata uang rupiah. pemerintah daerah akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya. Pinjaman diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima sampai batas waktu pinjaman. Dalam obliasi. jumlah bunga yang telah dibayarkan adalah sama pemegang obligasi adalah pemberi pinjaman kepada emiten. suku bunga biasanya sudah ditentukan. dimana suku bunganya biasanya dapat disesuaikan. yang artinya bunga dibayarkan 2 dalam tiap tahunnya sampai pembayaran pokok obligasi lunas. Pembayaran biasanya dilakukan 2 kali dalam pada neraca pinjaman. dengan bunga yang terhutang obligasi juga merupakan pinjaman. serta dikelola pada pasar modal domestik. obligasi memiliki jangka waktu yang pasti. kali dalam setahun pada pokok obligasi. tetapi diberikan dalam bentuk surat Kebanyakan obligasi adalah semi-tahunan. pemerintah daerah dapat memperoleh III-168 SistemPendanaandiDaerah .

pemerintah daerah harus benarbenar memberikan kepastian bahwa obligasi tersebut akan dibayarkan menghasilkan penerimaan. 1. untuk menarik minat para investor agar membeli obligasi kembali pada saat jatuh tempo. melakukan pinjaman langsung luar negeri selain melalui obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 pembiayaan bagi proyek-proyek yang memberikan manfaat kepada publik. khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur. domestik dan dalam mata uang Rupiah. Prinsip Umum peraturan perundangan-undangan. modal memungkinkan lebih banyak pihak yang terlibat untuk memberikan Melalui obligasi. yang telah diatur dalam obligasi Daerah merupakan pinjaman pemerintah daerah dan tidak membiayai kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penerbitan obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal Pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi Daerah hanya untuk III-169 . oleh karena itu. Namun demikian. 3. Mekanisme yang ada di pasar pinjaman dalam bentuk obligasi karena melibatkan masyarakat luas. maka proyek tersebut harus benar-benar matang terdaftar di Bapepam-lK sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. mengingat pemerintah daerah dilarang untuk Daerah yang ditawarkan di pasar modal. pemerintah daerah juga dimungkinkan untuk mendapatkan pinjaman dari investor asing. Mengingat bahwa obligasi Daerah dipergunakan untuk proyek yang memberikan manfaat kepada publik dan dan layak. studi Kelayakan harus dibuat oleh lembaga penilai yang Prinsip umum mengenai penerbitan obligasi Daerah. 2. dijamin oleh Pemerintah. dalam tahapan sebelum mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan. antara lain sebagai berikut: 1.

secara sistematis dapat dilihat dalam gambar 3. Dengan ketentuan tersebut. dan persetujuan Menteri Keuangan.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. diatur lebih lanjut tentang perencanaan. modal. obligasi Daerah pada saat diterbitkan. secara garis besar prosedur penerbitan obligasi Daerah dapat dibagi pengajuan penyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum di Prosedur penerbitan obligasi Daerah. pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. III-170 SistemPendanaandiDaerah . dengan indeks tertentu dari nilai nominal. misalnya dengan kurs dollar selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/ 2. Nilai obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal Daerah yang diterbitkan pemerintah daerah hanya jenis obligasi pemerintah daerah dilarang menerbitkan obligasi Daerah dengan jenis index bond yaitu obligasi Daerah yang nilai jatuh temponya dinilai modal mengikuti ketentuan perundang-undangan di bidang pasar Pengaturan lebih lanjut mengenai penerbitan obligasi Daerah di pasar 5. Pendapatan (Revenue Bond).urusan pemerintah daerah. 2. Pertanggungjawaban dan berdasarkan prosedur: 1. pengajuan. Pasar Modal. maka obligasi 4. Publikasi Informasi obligasi Daerah. maka atau harga emas. perencanaan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah. penilaian. Dengan ketentuan ini.25. Prosedur Penerbitan PMK. 3.

ditunjuk melakukan persiapan penerbitan obligasi Daerah yang c) menyiapkan studi kelayakan yang dibuat oleh pihak yang independen d) memantau batas kumulatif pinjaman serta posisi kumulatif pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-171 . dan kompeten.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Perencanaan Obligasi Daerah oleh Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut: a) menentukan kegiatan.25 Proses Penerbitan obligasi Daerah 1) Kepala daerah melalui satuan Kerja Perangkat Daerah (sKPD) yang A. daerahnya. b) membuat kerangka acuan kegiatan.

proyeksi keuangan dan perhitungan kemampuan secara sistematis prosedur persiapan penerbitan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah dapat digambarkan dalam gambar 3. dan biaya lainnya yang timbul sebagai III-172 SistemPendanaandiDaerah . kupon. mengajukan permohonan persetujuan prinsip kepada DPRD. b) jumlah dan nilai nominal obligasi yang akan diterbitkan.2) Persetujuan prinsip DPRD meliputi: c) penggunaan dana.26. pembayaran kembali obligasi Daerah. akibat penerbitan obligasi. berikut ini: gambar 3.26 Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah d) pembayaran pokok. dan e) membuat f) a) nilai bersih maksimal obligasi Daerah.

27 berikut ini: PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-173 . Kerangka acuan kegiatan. Perhitungan DsCR. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan dilengkapi dokumen sebagai berikut: a. Pengajuan Usulan. dapat digambarkan dalam bagan alur pada gambar 2.q. d. 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 B. Menteri Keuangan c. Kepala daerah menyampaikan usulan penerbitan obligasi Daerah kepada 2. persetujuan/penolakan atas rencana penerbitan obligasi Daerah dengan menyampaikan pernyataan pendaftaran penawaran umum kepada kepala daerah Berdasarkan hasil penilaian tersebut. melakukan penilaian atas dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah selambat-lambatnya dalam waktu 20 hari kerja setelah dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah dinyatakan lengkap. 4. Menteri Keuangan memberikan Menteri Keuangan c. Berdasarkan persetujuan Menteri memperhatikan pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Perhitungan APBD 3 (tiga) tahun terakhir.q. Bapepam-lK. dan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana telah diuraikan di atas. Keuangan. penilaian. Penilaian dan Persetujuan Menteri Keuangan 1. b. Perda APBD tahun yang bersangkutan dan Peraturan Daerah surat persetujuan prinsip DPRD. e. dan studi kelayakan kegiatan. c. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Prosedur pengajuan.

obligasi Daerah kepada Bapepam-lK sebelum pernyataan efektif obligasi Daerah. pemerintah daerah harus menyampaikan pernyataan pendaftaran Kepala daerah wajib menyampaikan Peraturan Daerah tentang Penerbitan ketentuan mengenai: III-174 Modal dengan melengkapi dokumen yang dipersyaratkan kepada Bapepam-lK. Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum di Pasar Dalam rangka pelaksanaan penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal.gambar 2. Penilaian dan Persetujuan Penerbitan obligasi Daerah oleh Menteri Keuangan C.27 Pengajuan. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Peraturan Daerah tentang Penerbitan obligasi Daerah memuat SistemPendanaandiDaerah .

Penerbitan obligasi Daerah. 3. Bapepam-lK mengeluarkan pernyataan efektif penawaran umum obligasi memenuhi kewajiban untuk pengembalian pokok dan bunga obligasi Daerah. 4.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1. 5. nilai nominal. penggunaan dana obligasi Daerah. Dalam rangka diperlukan pengelolaan obligasi Daerah yang baik. 5. Pelunasan pada saat jatuh tempo. maka Peraturan Daerah harus memuat jadwal penerbitan tahunan obligasi Daerah. 6. 7. jumlah. akan dijaminkan. kebijakan pengendalian risiko. Dalam hal obligasi Daerah akan diterbitkan dalam beberapa tahun Bapepam-lK selanjutnya akan melakukan penelahaan terhadap kecukupan Daerah di pasar modal. 4. yang meliputi: 1. 2. Penjualan obligasi Daerah melalui lelang. maka Peraturan Daerah harus memuat ketentuan mengenai aset yang Dalam hal obligasi Daerah yang akan diterbitkan membutuhkan jaminan. anggaran. Penawaran umum obligasi Daerah dapat dilakukan setelah setelah diterbitkannya obligasi Daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-175 . Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk Perencanaan dan penetapan struktur portofolio pinjaman daerah. 2. Pertanggungjawaban. 3. pemerintah daerah berkewajiban 3. Pengelolaan obligasi Daerah untuk mengembalikan pokok dan bunga obligasi Daerah. keterbukaan (adequate disclosure) sebagai persyaratan penawaran umum di pasar modal. dan Pembelian kembali obligasi Daerah sebelum jatuh tempo.

kegiatan investasi belum menghasilkan penerimaan. dalam rekening khusus yang dananya tidak dapat digunakan untuk dibayarkan setiap jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian obligasi Daerah. Dalam hal diperlakukan sebagai treasury bonds. Penatausahaan dan Penggunaan Dana Obligasi Daerah hasil penjualan obligasi Daerah sebagai berikut: III-176 SistemPendanaandiDaerah cadangan dialokasikan setiap tahun hingga obligasi Daerah tersebut jatuh bahwa pada saat jatuh tempo pemerintah daerah sanggup untuk melunasi Pemerintah telah mengatur tentang penatausahaan dan penggunaan dana . terutama Pada keadaan ini. pada masa konstruksi. ada kalanya. Pelunasan Pada Saat Jatuh Tempo Pokok dibayarkan pada saat obligasi Daerah jatuh tempo. harus dibentuk suatu dana cadangan tempo. A. Namun demikian. B. Alokasi dana pemerintah daerah untuk mengontrol arus kas sehingga dapat menjamin C. maka hak-hak yang melekat pada obligasi Daerah batal demi hukum. Pembelian Kembali Obligasi Daerah sebelum Jatuh Tempo Pembelian kembali obligasi Daerah oleh Pemerintah Daerah sebagai emiten dapat diperlakukan sebagai pelunasan kembali atas obligasi Daerah tersebut atau disimpan untuk dapat dijual kembali (treasury bonds). sementara bunga dari penerimaan kegiatan investasi. dengan besaran yang dibagi rata per tahunnya. pembayaran bunga dibebankan pada APBD. Hal ini memudahkan kewajiban pembayaran pokok obligasi Daerah. Pada prinsipnya. pembayaran kembali obligasi Daerah bersumber kepentingan lain selain pembayaran kupon obligasi Daerah. Khusus untuk pembayaran pokok.Pengelolaan obligasi Daerah dilakukan oleh kepala daerah dengan menunjuk satuan kerja yang akan melaksanakannya.

yaitu: melaporkan: 1) Pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi Daerah. bunga. perlu dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan Dalam pertanggungjawaban pengelolaan obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1) Dana hasil penjualan obligasi Daerah ditempatkan pada rekening 2) Dana hasil penjualan obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang telah direncanakan yang merupakan kegiatan manfaat bagi masyarakat. pembayaran bunga dan biaya lain. Terdapat dua hal yang penerbitan obligasi Daerah. dan denda obligasi Daerah. serta kegiatan lain yang terkait dengan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-177 . umum. pelunasan. 2) laporan transaksi obligasi Daerah di pasar modal yang mencakup 3) Posisi obligasi Daerah. penawaran pengelolaan obligasi Daerah. pertukaran. dan 1) Keterangan tentang portofolio obligasi Daerah. dan pokok. Pertanggungjawaban ini disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban APBD. Pertanggungjawaban Kepala daerah wajib membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan obligasi Daerah dan dana obligasi Daerah sesuai dengan rencana penerbitan obligasi Daerah. tersendiri yang ditatausahakan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). 3) Penerimaan dari investasi sektor publik diprioritaskan untuk membayar D. 2) Pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi Daerah. pemerintah daerah pembelian kembali.

dan/atau biaya lainnya dibebankan pada belanja APBD. Realisasi tentang Perubahan APBD dan/atau dicantumkan dalam Peraturan Daerah Kewajiban pembayaran kembali pinjaman jangka pendek yang berupa sebagaimana dimaksud dianggarkan dalam Peraturan Daerah tentang III-178 SistemPendanaandiDaerah .6. 3) laporan alokasi dana cadangan. Kewajiban pinjaman jangka menengah dan pinjaman jangka panjang dianggarkan dalam Pembayaran kembali Pinjaman sebesar jumlah kewajiban yang telah jatuh tempo tersebut. jangka panjang sebagaimana dimaksud dianggarkan dalam Peraturan Daerah bunga. bupati. atau walikota tetap melakukan pembayaran pinjaman jangka panjang yang telah jatuh tempo melebihi dana yang kewajiban pembayaran bunga pinjaman jangka menengah dan pinjaman tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran berkenan. Dalam hal kewajiban pembayaran bunga pinjaman jangka menengah dan dianggarkan. Kewajiban pembayaran kembali APBD dan dibayarkan pada tahun anggaran berkenaan. 2) laporan keuangan kegiatan yang meliputi penggunaan dana dari obligasi Pemerintah daerah wajib melakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perjanjian pinjaman.3.2. gubernur.4) Realisasi strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk 5) Alokasi anggaran dan realisasinya. 3. Pemerintah Daerah melaporkan : Dalam pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi Daerah. dan pengendalian risiko. 1) Perkembangan pelaksanaan kegiatan investasi. Daerah dan dana hasil penerimaan kegiatan.

dan penerimaan kewajiban pembayaran kembali pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah. gubernur. bunga. gubernur. dan penggunaan dana atas penerbitan obligasi Daerah. penyaluran. kewajiban disetorkan ke Rekening Kas umum Negara atau rekening lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Menteri Keuangan dapat mengambil PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi penggunaan dana atas kegiatan yang dibiayai dari penerbitan obligasi III-179 .3. evaluasi. 3. 2.7 Dalam hal pinjaman daerah bersumber dari Pemerintah. bupati. atau walikota melakukan penatausahaan pinjaman daerah atas transaksi penerimaan dan penggunaan pinjaman daerah dan kewajiban pembayaran kembali atau walikota melakukan penatausahaan atas transaksi penerimaan Daerah. Pemantauan. Khusus terkait dengan obligasi Daerah.2. bupati. penerimaan dan Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penarikan. Penatausahaan dan/atau penyaluran Keuangan melakukan penatausahaan daerah dan pemberian pinjaman Pemerintah kepada pemerintah daerah termasuk atas transaksi penarikan pembayaran kembali pinjaman daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Perubahan APBD dan/atau dicantumkan dalam Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran berkenan. dan kewajiban lainnya dalam perjanjian pinjaman. Pemantauan dan Evaluasi pinjaman penerimaan kewajiban pinjaman daerah. dan pembayaran kewajiban atas penerbitan obligasi Daerah. dan Publikasi Menteri 1. pembayaran yang berupa cicilan pokok. Kewajiban pembayaran kembali pinjaman daerah dari pemerintah daerah dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan Penatausahaan. PelaPoran.

Menteri Keuangan menyusun dan menyajikan laporan sebagai bagian dari pinjaman daerah. Pemerintah kepada pemerintah daerah termasuk pembatalan pinjaman. Pelaporan indikasi adanya penyimpangan dan/atau ketidaksesuaian antara rencana Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan Negeri setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Dalam keuangan sesuai dengan standar Akuntansi Pemerintahan. rangka pertanggungjawaban pelaksanaan pemberian pinjaman kepada pemerintah daerah. 2. maka III-180 SistemPendanaandiDaerah . Dalam rangka Akuntansi Pemerintahan.langkah-langkah penyelesaian atas permasalahan pemberian pinjaman apabila: 1. pemerintah daerah kewajiban pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi Daerah dan dana atas kegiatan yang dibiayai dari penerbitan obligasi Daerah disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menyimpang dari rencana penarikan. penyerapan pinjaman mengalami keterlambatan yang sangat jauh penggunaan pinjaman tidak sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk melihat penerbitan obligasi Daerah dengan realisasinya. 3. pertanggungjawaban pelaksanaan pinjaman daerah. dan/atau pinjaman.

pinjaman daerah. b. posisi realisasi penyerapan pinjaman daerah dan pemenuhan kewajiban pinjaman gubernur. modal. pinjaman daerah meliputi kebijakan tentang pinjaman daerah. bupati. atau walikota menyelenggarakan publikasi informasi d. serta laporan lain yang bersifat material. f. pengelolaan obligasi Daerah. sumber pinjaman daerah. penggunaan pinjaman daerah. g. e. dan tingkat bunga. struktur laporan keuangan Pemerintah Daerah. atau walikota menyelenggarakan publikasi informasi kumulatif pinjaman daerah. a. Publikasi informasi mengenai merupakan dokumen publik dan diumumkan dalam lembaran Daerah. c. mengenai pinjaman daerah secara berkala. jadwal waktu penerbitan. jangka waktu pinjaman daerah. dan jumlah obligasi Daerah yang beredar beserta komposisinya. laporan penggunaan dana yang diperoleh melalui penerbitan obligasi kewajiban publikasi data dan/atau informasi lainnya yang diwajibkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-181 . rencana penerbitan obligasi Daerah yang meliputi perkiraan jumlah dan jatuh tempo. Publikasi gubernur. bupati. tingkat bunga daerah. Daerah. mengenai obligasi Daerah secara berkala tentang: kebijakan penerbitan obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 setiap perjanjian pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah 4. alokasi dana cadangan.

3. atas penyaluran Dana Perimbangan. 47/PMK. Jika daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Jika daerah tidak menyampaikan laporan posisi kumulatif pinjaman dan Jika daerah melakukan pinjaman langsung dari sumber luar negeri sanksi administratiF Pinjaman daerah Keuangan akan melakukan pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau maka Menteri Keuangan akan mengenakan sanksi berupa penundaan Pemerintah. Penjelasan mengenai Peraturan Menteri .07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya dengan Pinjaman Daerah. tersebut.2. kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.8. yang bukan karena kegiatan transaksi obligasi Daerah.1 di bawah ini.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Alokasi umum Dan/Atau Dana Bagi Hasil sebagai pengganti Peraturan Keuangan tersebut dapat dilihat dalam Boks No.3. 3. maka Menteri Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah tersebut. maka pemerintah daerah yang tidak memenuhi kewajibannya dapat dikenakan sanksi seperti yang dijelaskan berikut ini: 1. 2. Berkaitan dengan kewajiban yang muncul dari pinjaman daerah.3. maka Menteri Keuangan akan melaksanakan pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah untuk pengaturan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud di atas. III-182 SistemPendanaandiDaerah Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui sanksi Pemotongan Dana Menteri Keuangan Nomor 129/PMK.

Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah. Pinjaman pemerintah daerah yang bersumber dari Pemerintah berasal dari: Daerah yang telah direstrukturisasi. c. Ketentuan yang dalam naskah perjanjian pinjaman atau perubahannya mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH. sanksi tersebut dapat dikenakan terhadap pinjaman pemerintah daerah Dana yang dialokasikan dalam APBN. atau unit lain di dan/atau DBH sebagai penyelesaian tunggakan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan besaran pemotongan DAu dan/atau DBH per periode transfer. penerusan pinjaman luar negeri. termasuk pula dana investasi Pemerintah yang Prosedur penyelesaian tunggakan pinjaman pemerintah daerah melalui sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH dilakukan sebagai berikut: 1. 4. PIP. telah diatur sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH sebagai ini secara teknis diatur dalam PMK Nomor 47/PMK.1 Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Daerah melalui Sanksi Pemotongan Dana Alokasi Umum (DAU) dan/atau Dana Bagi Hasil (DBH) untuk menjamin kolektabilitas pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada penyelesaian tunggakan pinjaman pemerintah daerah kepada Pemerintah Pusat. Dirjen Perimbangan Keuangan atas nama Menteri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-183 . Direktorat sistem Manajemen Investasi-DJPB. Pinjaman yang berasal dari Rekening Dana Investasi dan Rekening Pembangunan dan/atau DBH.q. Keuangan menerbitkan surat ketetapan sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah kepada Pemerintah melalui sanksi Pemotongan DAu dan/atau DBH. b. 3. dikelola PIP. a. dan pemerintah daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Boks No. lingkungan Kementerian Keuangan yang berwenang mengelola piutang kepada Pemda melakukan rekonsiliasi pinjaman dengan Pemda. Terhadap pinjaman yang menunggak dan memenuhi persyaratan pemotongan DAu Berdasarkan rekonsiliasi tersebut. 3. 2. disampaikan surat permintaan pemotongan DAu Berdasarkan surat permintaan tersebut. penerusan pinjaman dalam negeri. Direktorat Pembiayaan dan Kapasitas Daerah Berdasarkan perhitungan tersebut.

daerah. Pemotongan DAu dan/atau DBH untuk tahun berikutnya dihitung berdasarkan data kapasitas fiskal dan jumlah DAu dan 3. akan disalurkan pada tahun berkenaan yang dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas Berdasarkan surat ketetapan tersebut. yang dimaksud dengan Hibah adalah Penerimaan Daerah yang berasal dari pemerintah negara asing. termasuk hibah untuk instansi vertikal Pemerintah di Daerah. Besaran maksimum pemotongan DAu dan/atau DBH adalah 20% Dalam hal jumlah tunggakan lebih besar dari besaran sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH per tahun. badan/lembaga III-184 SistemPendanaandiDaerah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada . HIBAH DAERAH Hibah kepada pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah untuk dapat diberikan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah atau sebaliknya. Besaran pemotongan DAu dan/atau DBH dihitung sebesar jumlah tunggakan.5. Besaran pemotongan tersebut ditetapkan dalam persentase tertentu dari DAu dan/atau DBH yang untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal sangat Tinggi dan Tinggi. maka lingkup hibah daerah meliputi hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dan hibah dari pemerintah daerah kepada Pemerintah. dan 10% untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal Rendah.3. mendukung pelaksanaan kegiatan daerah dan dikelompokkan sebagai salah Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa hibah satu komponen lain-lain pendapatan yang sah pada APBN. PA/KPA Transfer ke Daerah melaksanakan fiskal daerah bersangkutan. pemotongan DAu dan/ atau DBH dilakukan secara bertahap untuk beberapa DBH yang akan disalurkan untuk daerah bersangkutan pada tahun anggaran berkenaan tahun sampai dengan seluruh tunggakan diselesaikan/dilunasi. badan/lembaga asing. undang-undang sesuai dengan hal tersebut.3. sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH dengan mencantumkan pada lampiran sPP/sPM DAu atau DBH. 15% untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal sedang.

1. 3. 1. 2. 4. 4. 1. 2. Pemerintah daerah lain. badan/lembaga dalam negeri atau perorangan tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. 2. Kelompok masyarakat/perorangan dalam negeri. Hibah III-185 . Badan/lembaga asing.3. termasuk selaku Bendahara umum Negara. Menteri Keuangan sebagai Pengguna Anggaran menunjuk Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Hibah kepada Pemerintah Daerah (KPA-HPD). rupiah maupun barang dan atau jasa. Badan/lembaga internasional. dan/atau Hibah luar Negeri. Pemerintah. Pendapatan APBN. Hibah kepada pemerintah daerah dapat bersumber dari : Pemerintah. 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 internasional. Badan/lembaga organisasi swasta dalam negeri. 1. sumber hibah Hibah kepada pemerintah daerah termasuk dalam Bagian Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan sedangkan Hibah dari Pemerintah dapat bersumber dari: Hibah dari luar Negeri dapat bersumber dari : Pemerintah negara asing. dan/atau Pinjaman luar Negeri. Donor lainnya. baik dalam bentuk devisa. 3.3. dan/atau Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN dan dari pihak lain dalam yang bersumber dari luar negeri (baik dari pinjaman luar negeri maupun PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi negeri dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD). 3.

2. Khusus untuk hibah yang dengan kapasitas fiskal rendah 3. Keuangan. dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Hibah bersifat bantuan untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang merupakan kewenangan pemerintah daerah. daerah. Hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan pemerintah Hibah dilaksanakan sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan Tahun 2007.3. berdasarkan Peta Kapasitas Fiskal Daerah yang ditetapkan oleh Menteri Kegiatan yang dibiayai hibah diusulkan oleh Kementerian Negara/ III-186 SistemPendanaandiDaerah . daerah Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) antara Pemerintah c. Menteri bersumber dari pinjaman luar negeri. 2. 3. prioritas diberikan kepada daerah berdasarkan peta kapasitas fiskal yang PrinsiP dasar Pemberian hibah kePada Prinsip-prinsip dasar pemberian hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah adalah: 1. Hibah dilaksanakan dengan mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah lembaga terkait dan merupakan diskresi Pemerintah.3. ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. 4. antara Pemerintah.q. 5.hibah luar negeri) dilakukan melalui Pemerintah dengan penandatanganan Keuangan atau kuasanya dengan kepala daerah. pemerintah daerah provinsi.

Hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri.3.3. untuk melaksanakan kegiatan yang merupakan urusan pemerintah daerah dalam rangka pencapaian sasaran program dan prioritas pembangunan nasional sesuai dengan peraturan perundangMenteri Keuangan. Kegiatan tertentu yang diatur secara khusus dalam peraturan Kegiatan lainnya sebagai akibat kebijakan Pemerintah yang b. kriteria Pemberian hibah Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN diberikan kepada untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan penyelenggaran pemerintah daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. b. a. Diprioritaskan untuk pemerintah daerah dengan kapasitas fiskal rendah berdasarkan Peta Kapasitas Fiskal yang ditetapkan oleh Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri. perundang-undangan. daerah. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-187 . 2.3. layanan dasar umum. 1. 3. dan pemberdayaan aparatur pemerintah kegiatan Pemerintah yang berskala nasional/internasional oleh b. Kriteria pemberian hibah digolongkan berdasarkan sumber hibah. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: undangan. daerah atau untuk kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan. yaitu: pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: a. c. mengakibatkan penambahan beban pada APBD.

Penyaluran Hibah Berupa Uang pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara (RKuN) kepada Rekening dilakukan melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. c. daerah. yang terpisah dari bagian Kas umum Daerah (RKuD). Kegiatan dalam rangka mendukung riset dan teknologi. Kelalaian untuk memenuhi dari Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri (PHlN) dilakukan RKuN ke rekening tersendiri yang merupakan bagian dari RKuD. b. Penyaluran hibah dilaksanakan melalui Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari pendapatan APBN 1.4. Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber melalui pemindahbukuan dari Rekening Khusus yang merupakan bagian dari kepada pihak ketiga dalam waktu 2 hari kerja. b. Kegiatan dalam rangka mendukung pelestarian sumber daya alam.3. Kegiatan dalam rangka bantuan kemanusiaan. dan pemberdayaan aparatur. Penyaluran hibah kepada daerah dilaksanakan dengan menggunakan sesuai peraturan perundang-undangan. yaitu peningkatan fungsi pemerintahan. pemerintah daerah wajib membayarkan uang tersebut ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam NPPH III-188 SistemPendanaandiDaerah .3. yaitu dengan menggunakan Bagian dasar kinerja (performance-based). Hibah disalurkan dari APBN ke APBD Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara umum Negara. setelah uang diterima di RKuD. untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah umum. layanan dasar 3.a. Penyaluran hibah lingkungan hidup dan budaya. anggaran Kementerian/lembaga.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 atau NPHD.28. sesuai dengan NPHD atau NPPH dan peraturan perundang-undangan. mekanisme penyaluran hibah berupa uang dapat dilihat pada gambar 3. hibah luar negeri dan/atau pinjaman luar negeri dapat dilakukan dengan penyerahan langsung dari pemberi pinjaman dan/atau hibah luar negeri Penyerahan hibah barang/jasa tersebut dilakukan dengan membuat berita acara serah terima barang/jasa setelah mendapat pertimbangan terlebih PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-189 . selanjutnya. gambar 3. Penyaluran Hibah Berupa Barang dan/atau Jasa Penyaluran hibah berupa barang dan/atau jasa yang bersumber dari kepada pemerintah daerah penerima hibah.28 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang Tata cara penyaluran hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaksanakan 2.

proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH adalah Kementerian/lembaga meminta penerbitan nomor registrasi hibah Grant Agreement (dokumen perjanjian) dan rencana penyerapan. secara sederhana. Copy berita acara serah terima barang/jasa 3.07/2008 tentang Hibah Daerah. Mekanisme Daerah Penerusan Hibah Kepada Pemerintah Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.dahulu dari Kementerian/lembaga terkait.29 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa disampaikan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku KPA-HPD. mekanisme penerusan hibah kepada pemerintah daerah dilakukan dengan langkah– langkah sebagai berikut: 1. mekanisme 3. a. SistemPendanaandiDaerah Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH. sebagai berikut: Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. Copy berita acara serah terima tersebut merupakan dasar penatausahaan dan pelaporan hibah.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK. kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan utang dengan melampirkan III-190 . penyaluran hibah berupa barang dan/atau jasa dapat dilihat dalam gambar gambar 3.29.07/2008.

surat persetujuan penerushibahan kepada pemerintah daerah. maka Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerbitkan Berdasarkan surat Pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyusun konsep NPPH dengan berkoordinasi dengan Kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. mencantumkan dana hibah dalam APBN dan kepada Direktorat Jenderal c. e. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-191 . Perimbangan Keuangan untuk menindaklanjuti proses penerusan hibah dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Direktorat Jenderal Pengelolaan utang menerbitkan nomor registrasi hibah dan menyampaikan surat pemberitahuan kepada Direktorat Jenderal Anggaran untuk kepada pemerintah daerah. secara ringkas. Berdasarkan permintaan tersebut. proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH dapat dilihat pada gambar 3. Kementerian/lembaga menetapkan pemerintah daerah penerima hibah utang dan surat penetapan daerah penerima hibah oleh Kementerian/ lembaga. setelah konsep NPPH disetujui maka dilakukan penandatanganan NPPH oleh kepala daerah dan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan.30.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. d.

gambar 3. kepada Pemerintah Daerah (DIPA-HPD). Penyusunan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran–Hibah III-192 SistemPendanaandiDaerah .30 Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH 2.

kepada pemerintah daerah. f. selanjutnya Direktur Jenderal Anggaran menerbitkan surat Penetapan Atas dasar sP-RKABuN. j. maka Direktur umum Negara) dan disampaikan kepada Dirjen Anggaran untuk Perimbangan Keuangan dan Direktur Jenderal Perbendaharaan sebagai dasar penyusunan dan pengesahan DIPA-HPD. b. Berdasarkan Rencana Komprehensif tersebut. Direktur Jenderal Perimbangan RKABuN (sP-RKABuN) untuk disampaikan kepada Direktur Jenderal h. e. Tahunan d. Perbendaharaan untuk disahkan. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya. kepala daerah menyusun Rencana Tahunan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 a. dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Kementerian/lembaga terkait Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan verifikasi terhadap Rencana Keuangan menyusun RKABuN (Rencana Kerja Anggaran Bendahara untuk kesesuaian dengan alokasi hibah pada APBN. konsep DIPA-HPD disampaikan kepada Direktur Jenderal Berdasarkan hasil verifikasi tersebut. i. ditetapkan. Komprehensif dan Rencana Tahunan yang disampaikan. Penyusunan sebelum disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Rencana Komprehensif dan Rencana Kepala daerah menyusun Rencana Komprehensif berdasarkan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) atau Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) yang telah ditandatangani. menyusun konsep DIPA-HPD. g. pemerintah III-193 . c. daerah menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran sKPD (DPA-sKPD) PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi DIPA-HPD yang telah disahkan merupakan dasar penyaluran hibah Berdasarkan Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan.

31 Proses Penyusunan DIPA Hibah kepada Pemerintah Daerah yang paralel dengan penyusunan DIPA-HPD oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. III-194 SistemPendanaandiDaerah . gambar 3.31.secara ringkas. proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada gambar 3.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 setelah penyusunan DIPA-HPD dan DPA–sKPD selesai dan disahkan. c. maka 4. Rencana penggunaan hibah. RKuD yang digunakan untuk menampung dana hibah. Copy sPM dan Dokumen terkait. pelaksanaan kegiatan dan 2) Tahap berikutnya:     Copy surat Perintah Pencairan Dana (sP2D) yang disahkan oleh Bendahara umum Daerah (BuD) tahap sebelumnya dan dokumen dokumen PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-195 . kemajuan pertimbangan dari kementerian/lembaga terkait. b. kepala daerah menyampaikan surat Permintaan Mutlak (sPTJM) dan dokumen-dokumen terkait yang telah mendapatkan Rencana penggunaan hibah. Dokumen terkait Copy DPA-sKPD dan dokumen pendukung terkait. nama rekening dan nama Perimbangan Keuangan yang akan digunakan sebagai bukti telah dibukanya rekening dimaksud. bank serta copy bukti pembukaan rekening kepada Direktur Jenderal Penyaluran Hibah yang dilampiri surat Pernyataan Tanggung Jawab tersebut antara lain: 1) Tahap pertama:    Berdasarkan DPA-sKPD. Pemanfaatan Hibah di Daerah proses selanjutnya adalah sebagai berikut: a. Kepala daerah membuka rekening tersendiri/khusus sebagai bagian dari Kepala daerah menyampaikan nomor rekening. pendukung terkait. laporan terkait. Copy sPM dan copy rekening koran serta dokumen terkait.

 d.32. daerah tersebut disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada gambar 3. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai KPA-HPD menerbitkan surat Permintaan Penyaluran Hibah yang telah ditandatangani kepala laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana secara ringkas. e. Berdasarkan sP2D tersebut. dilakukan pemindahbukuan dari RKuN atau III-196 SistemPendanaandiDaerah . laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping serta dokumen terkait. f. Rekening Khusus ke RKuD. sPM untuk disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan sebagai dasar penerbitan sP2D. Copy sP2D yang disahkan oleh BuD dan dokumen pendukung pendamping secara keseluruhan yang ditetapkan sKPD terkait. 3) Tahap terakhir:  terkait.

Hal ini berarti bahwa hibah dan dana pendampingnya PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pengelolaan hibah oleh daerah III-197 .3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.3.5.32 Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah 3. Penerimaan hibah oleh pemerintah daerah dikelola dan dilaksanakan secara transparan dan akuntabel melalui mekanisme APBD sesuai peraturan perundang-undangan.

tujuan. Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) satuan Kerja Perangkat Daerah maksud. daerah juga wajib menjaga agar penggunaan dana hibah sesuai dengan Penerimaan hibah dari pihak lain dalam negeri dituangkan dalam NPHD dan salinannya disampaikan kepada Menteri Keuangan c. berdasarkan harga perolehan atau taksiran nilai wajar barang dan/atau daerah pada saat diterima.q. 4. dan ketentuan yang dipersyaratkan untuk menghindari dan tujuan penggunaan dana hibah). 3. Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dicatat Barang yang diterima dari hibah diakui dan dicatat sebagai barang milik III-198 SistemPendanaandiDaerah . Direktur Jenderal Pencatatan hibah oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut: kelompok lain-lain Pendapatan yang sah pada APBD. Pemerintah pengeluaran yang ineligible (pengeluaran yang tidak sesuai dengan maksud Perimbangan Keuangan dan instansi terkait. sama.(apabila dipersyaratkan) dianggarkan dalam APBD dan dituangkan dalam (sKPD).3.6.3. PenCatatan 1. Hibah wajib digunakan sesuai ketentuan dalam NPPH atau NPHD. Penerimaan hibah oleh daerah dicatat sebagai pendapatan hibah dalam Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa selain dicatat sebagai pendapatan hibah dalam kelompok lain-lain Pendapatan yang sah pada saat yang sama dicatat juga sebagai belanja dengan nilai yang jasa tersebut. 2. 3.

3. lRA. hibah harus dilaporkan dalam laporan Pertanggungjawaban Keuangan. 1.3. Keuangan. Tabel 3. PelaPoran Penerimaan hibah dalam bentuk uang disajikan dalam laporan Realisasi Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaporkan dalam Transaksi penerimaan hibah diungkapkan dalam Catatan atas laporan Dalam hal hibah tidak termasuk dalam perencanaan hibah pada tahun anggaran berjalan. 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.7 berikut: Tata cara akuntansi dan pelaporan keuangan yang terkait dengan hibah laporan Realisasi Anggaran laporan Arus Kas Neraca Keterangan Laporan Hibah Barang Hibah Jasa Catatan atas laporan Keuangan √ √ Dicatat sebesar nilai nominal Dicatat sebesar nilai wajar Dicatat sebesar nilai wajar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-199 .7 Pencatatan dan Pelaporan Hibah Hibah Uang √ √ √ √ √ √ secara ringkas pencatatan dan pelaporan hibah dapat digambarkan dalam Tabel 3. 5. 4. 2. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.7. Hibah dalam laporan keuangan daerah adalah sebagai berikut: Anggaran (lRA) dan laporan Arus Kas.

daerah penerima hibah setiap perkembangan Direktur Perencanaan 3. Jenderal Perimbangan Keuangan dan menteri negara/pimpinan lembaga Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan menteri negara/pimpinan lembaga terkait melakukan pemantauan atas kinerja pelaksanaan kegiatan dan penggunaan hibah dalam rangka pencapaian target dan sasaran yang ditetapkan dalam NPHD dan NPPH. 1. maka Dalam hal daerah melakukan pengelolaan hibah yang menyimpang 4. III-200 SistemPendanaandiDaerah .8. dari ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam NPHD atau NPPH. kegiatan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Dalam rangka monitoring dan evaluasi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan menteri seluruh kegiatan penyaluran hibah dapat dihentikan. penyerapan dana. permasalahan Perencanaan terkait.3. triwulan wajib menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan negara/pimpinan lembaga terkait. dan dalam pelaksanaan kegiatan serta Pemantauan 2. Direktur penyelesaian Kontrak Pengadaan Barang dan/atau Jasa kepada Menteri Pembangunan Nasional/Kepala Keuangan. Jenderal Perimbangan Menteri Daerah melaporkan kemajuan realisasi fisik.3.3. Bappenas.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. sebagai bagian dari trilogi sistem penyelenggaran Pemerintahan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pada hakekatnya dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian/intervensi Indonesia. Secara normatif Dekonsentrasi didefinisikan sebagai pelimpahan wewenang/ urusan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban menugaskan. serta dari pemerintah kabupaten.3. Dekonsentrasi dan Tugas melalui kewenangan yang dimiliki dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Pembantuan adalah untuk (Desentralisasi. DANA DEKoNSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN SERTA PENDANAAN URUSAN BERSAMA PUSAT DAN DAERAH 3. atau kota dan/atau desa. tertentu. Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) di Indonesia. dalam konsideran undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten. sebagaimana dimaksud tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.1. serta Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Hal ini dapat dilihat pada tujuan utama penyelenggaraan Pemerintah terhadap daerah mempercepat PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-201 . melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang PENDAHULUAN Disisi lain.4. terwujudnya kesejahteraan masyarakat di daerah. sedangkan Tugas Pembantuan diartikan sebagai penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa.

hubungan penyelenggaraan tugas dan wewenang. dan evaluasi. pelimpahan dan penugasan dengan ketentuan undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem urusan pemerintahan dimaksud didanai dari Anggaran Pendapatan dan berarti dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan penyelenggaraan aparat pemerintah daerah. Hal ini Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Kementerian Keuangan mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pengelolaan pendanaan sejalan dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan aturan pelaksanaannya. Pada tingkat pemerintah mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penataan urusan pemerintahan Pemerintahan Daerah dan aturan pelaksanaannya. undangundang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. program/kegiatan. Bappenas. perencanaan. sedangkan pertanggungjawabannya kepada sebagian urusan pemerintah pusat di daerah yang dilaksanakan oleh III-202 SistemPendanaandiDaerah . dan Kementerian Teknis yang berkoordinasi dalam perumusan kebijakan.Pelaksanaan dan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan melibatkan beberapa instansi pemerintah di pusat dan daerah dalam suatu pola pusat. Kementerian Dalam Negeri sejalan dengan ketentuan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang tugas dan wewenang dalam hal penetapan dan sinkronisasi program sejalan Perencanaan Pembangunan Nasional. instansi yang terlibat terdiri dari Kementerian Dalam Negeri. undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara sementara kementerian teknis mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pelimpahan/penugasan urusan kepada Daerah yang berkaitan dengan Belanja Negara melalui bagian anggaran kementerian/lembaga. Bappenas mempunyai Kementerian Keuangan.

penerbitan surat Rincian Alokasi Anggaran (sRAA).07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. pencairan dana. pembinaan dan koordinasi sistem akuntansi instansi (sAI) Pemerintah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri evaluasi. Peraturan Pemerintah dan pelaporan keuangan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat. Pengelolaan pendanaan dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di Kementerian Keuangan dilaksanakan oleh beberapa unit eselon I yang mempunyai peranan dalam siklus pendanaan. dan perumusan rekomendasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 Keuangan Nomor 156/PMK. serta aturan dalam bidang pengelolaan barang milik negara/daerah sejalan dengan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (DIPA). penerbitan RABPP dan RKA-satker sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 mengatur mengenai standar biaya. Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi pengenaan sanksi. Direktorat Jenderal Anggaran dan aturan pelaksanaannya termasuk Peraturan Menteri Keuangan yang Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.06/2007 tentang pelaksanaannya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan mempunyai tugas dalam penelaahan RKA-Kl. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara mempunyai tugas III-203 . Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dalam pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mempunyai tugas dalam pengelolaan informasi.

gambar 3.Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan aturan pelaksanaannya.33 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan III-204 SistemPendanaandiDaerah .

2. tersedia bagi penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan yang 1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan selaku wakil Pemerintah di daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi didanai dari APBN. transparan. Pembantuan didanai dari APBN. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/ III-205 .2. Tugas Pembantuan dalam tataran implementasi harus mempertimbangkan Pemerintah dan Daerah yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem potensi. sesuai dengan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Nomor 7 tahun 2008. demokratis.4.4.1. Peraturan Pemerintah PMK.2. dan bertanggung jawab.2.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.4. Pengertian dana dekonsentrasi dan tugas Pembantuan sebagai salah satu unsur dalam sistem perimbangan keuangan antara pembagian keuangan yang adil. Dalam 2) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur 3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur/ bupati/walikota selaku kepala daerah otonom dalam rangka Tugas PrinsiP Pendanaan dekonsentrasi dan tugas Pembantuan 3. proporsional. maka penyelenggaraan pendanaan Dekonsentrasi dan sistem perimbangan keuangan antara Pemerintah dan daerah sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ditegaskan bahwa: Desentralisasi didanai dari APBD. PENGELoLAAN DANA DEKoNSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN 3.

yang dilimpahkan/ ditugaskan.07/2010. gubernur (sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah). yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang tidak menambah aset tetap. antara lain sinkronisasi dan koordinasi perencanaan. g. SistemPendanaandiDaerah III-206 . pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Pendanaan Dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan Pendanaan Tugas Pembantuan dilaksanakan setelah adanya penugasan bupati/walikota (sebagai kepala daerah). f. penyuluhan. h. fasilitasi. wewenang dari Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada dari Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur/ d.Nomor 248/PMK. bimbingan teknis. Tugas Pembantuan adalah lingkup kewenangan yang sudah menjadi Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan Kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di daerah dilaksanakan Pendanaan dalam rangka Dekonsentrasi dialokasikan untuk kegiatan oleh satuan Kerja Perangkat Daerah (sKPD) selaku kuasa pengguna bersifat non-fisik. e. Pelimpahan/penugasan wewenang dimaksud dijabarkan dalam bentuk Pendanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan oleh Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran Pemerintah disesuaikan dengan beban dan besar/kecilnya wewenang kementerian/lembaga yang dialokasikan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/lembaga (RKA-K/l). b. program dan kegiatan kementerian/lembaga. c. tupoksi kementerian/lembaga. anggaran/barang (KPA/B). pelatihan.

akun Belanja Barang Penunjang Kegiatan Tugas Pembantuan dengan akan diserahkan kepada daerah). seperti obat-obatan. nilai aset Pemerintah. Dana penunjang tersebut menggunakan akun Belanja Barang Penunjang Kegiatan Dekonsentrasi dengan kode akun 521311. sebagian kecil Dana Dekonsentrasi dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas dan mesin. Dalam rangka mendukung pelaksanaan atau aset tetap. pembinaan dan pengawasan. pengadaan bibit dan pupuk yang peruntukannya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 supervisi. sebagian kecil Dana Tugas Pembantuan dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau pengadaan input berupa pengadaan barang/jasa dan penunjang lainnya. jalan. vaksin. antara lain pengadaan tanah. serta pengendalian. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang menambah Pendanaan dalam rangka Tugas Pembantuan dialokasikan untuk kegiatan kegiatan Dekonsentrasi. bersifat fisik. sedangkan pengadaan kegiatan fisik lain menggunakan akun 521411. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Tugas Dana penunjang tersebut yang menghasilkan aset tetap menggunakan kode akun 521321. irigasi dan jaringan. penelitian dan survei. Pengadaan kegiatan yang bersifat fisik seperti tersebut di atas menggunakan akun belanja modal sesuai dengan akun Belanja Barang Fisik lainnya Tugas Pembantuan dengan kode PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-207 . Pembantuan. peralatan administratif dan/atau pengadaan input berupa barang habis pakai dan/ i. serta kegiatan fisik lain yang menambah nilai aset Pemerintah (antara lain pengadaan barang habis pakai. Kegiatan tersebut menggunakan akun belanja barang sesuai dengan peruntukannya. bangunan.

dan kebutuhan pembangunan di daerah.2. berdasarkan RKA-Kl. Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dalam tiga pusat serta mempertimbangkan besarnya alokasi Transfer ke Daerah dan tugas Pembantuan dan kegiatan yang merupakan urusan Pemerintah di daerah dan disusun Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008. efisien. proses perencanaan parameter penyusunan perencanaan dan penganggaran tersebut mengandung disesuaikan dengan kemampuan APBN dalam mendanai urusan pemerintah kemampuan keuangan daerah. dan tidak terkonsentrasi di suatu III-208 SistemPendanaandiDaerah .4.3. keseimbangan makna bahwa pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disusun pendanaan di daerah. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga yang dialokasikan untuk mendanai program ketentuan yang berlaku bagi APBN. Penganggaran dana dekonsentrasi dan kementerian/lembaga kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan kegiatan Dekonsentrasi di daerahnya. gubernur memberitahukan RKA-K/l yang telah diterima dari 3.j. gubernur/bupati/walikota memberitahukan RKA-Kl yang telah diterima dari kementerian/lembaga kepada DPRD setempat pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan rencana kegiatan Tugas Pembantuan di daerah provinsi/kabupaten/kota. agar alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan menjadi lebih efektif. k. Dengan demikian mekanisme pengganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tersebut dilakukan sesuai dengan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara.

alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tidak terkonsentrasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2010 sebagai berikut: • • • • • pada daerah tertentu. penyusunan perencanaan dan penganggaran prioritas pembangunan nasional dan prioritas pembangunan daerah. selain itu. bulan Maret sebelum penyusunan Renja-Kl. Menteri kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 daerah tertentu.07/2008 sebagaimana dirubah dengan PMK No.248/PMK. dan Tugas Pembantuan 1.07/2008 sebagaimana diubah mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah yang terdiri dari Keuangan menjadi dasar pertimbangan bagi Rekomendasi Menteri Keuangan disampaikan kepada kementerian/ lembaga dengan tembusan kepada Kepala Bappenas selambat-lambatnya kementerian/lembaga dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Keseimbangan pendanaan dilakukan secara proporsional agar sebaran Pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan Hasil rumusan keseimbangan pendanaan di daerah dimaksud dituangkan Rekomendasi dalam Rekomendasi Menteri Keuangan.07/2010 tersebut di atas PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-209 . Keseimbangan Pendanaan di Daerah dalam Rangka Perencanaan Lokasi dan Alokasi Dana Dekonsentrasi Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan juga seyogyanya disesuaikan dengan Keseimbangan pendanaan di daerah dalam rangka perencanaan lokasi dan alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan telah diatur dalam dengan PMK No. besarnya Transfer ke Daerah dan kemampuan keuangan daerah.248/PMK.

sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (1) undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan bahwa keuangan negara dikelola secara tertib. mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan Officer (CFo) Pemerintah Republik Indonesia. dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. ekonomis. Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian wewenang dan tugas pemerintahan. efisien. terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah Chief Operational Officer (Coo) III-210 SistemPendanaandiDaerah . oleh karena itu. sementara setiap menteri/ tanggung jawab. Dana selanjutnya dalam Penjelasan umum poin (5) kekuasaan atas pengelolaan bahwa Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang Dekonsenstrasi dan Tugas Pembantuan sebagai bagian dari keuangan negara keuangan negara dalam undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dikatakan keuangan (pengelola fiskal) pada hakekatnya adalah Chief Financial untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. taat pada peraturan perundangundangan. dan bertanggung jawab harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. efektif. transparan.

perbendaharaan. Maksud dan tujuan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-211 . administrasi perpajakan. Hal ini dilakukan melalui indikator mengarahkan umum berupa peta keseimbangan pendanaan di daerah yang disampaikan berwenang merencanakan lokasi dan besaran alokasi Dana Dekonsentrasi dalam bentuk rekomendasi. Terkait dengan fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dekonsentrasi dan tugas pembantuan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.34 Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan Kementerian dalam Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Secara umum aspek pengelolaan fiskal meliputi beberapa fungsi yaitu dan penganggaran dalam rangka Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. penganggaran. sedangkan kementerian/lembaga teknis dana dan Tugas Pembantuan berdasarkan indikator teknis yang dimiliki setelah mempertimbangkan rekomendasi Menteri Keuangan. Menteri kementerian/lembaga Keuangan mempunyai dalam perencanaan kewenangan lokasi untuk dan alokasi pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. administrasi kepabeanan. dan pengawasan keuangan.

serta Produk Domestik Regional Menentukan Indeks Kemampuan Fiskal Daerah: langkah-langkah formulasi keseimbangan pendanaan adalah sebagai Menghitung besaran transfer daerah (jumlah dana perimbangan: DAu. angka harapan hidup. lain Pendapatan yang sah dikurangi Belanja PNsD). DBH Pajak. Daerah. Dana otonomi Khusus. dan Dana otsus). Variabel KFD diukur berdasarkan besaran: Pendapatan Asli tingkat pendidikan. Menghitung kemampuan keuangan daerah (jumlah PAD dan lain- III-212 SistemPendanaandiDaerah . DBH sDA. a.rekomendasi ini adalah untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas. DAK. Dana Bagi Hasil. ratarata lama sekolah. kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang dibentuk Bruto (PDRB) per kapita. dan memberikan masukan adalah Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). yaitu: angka melek huruf penduduk dewasa. Dana Alokasi umum. Dana Alokasi Khusus. sementara IPM merupakan cerminan dari 4 (empat) indikator. b. lain-lain Pendapatan yang sah. berikut: i. serta proporsional dalam pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Tugas bagi kementerian/lembaga dalam merencanakan lokasi dan alokasi terkonsentrasi di daerah tertentu. meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dana Penyesuaian. dan Belanja PNsD (sebagai pengurang). Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan agar tepat sasaran dan tidak Variabel yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah Pembantuan.

e. ii. Mengkaitkan KFD dengan IPM: Membandingkan indeks KFD daerah dengan rata-rata KFD Nasional Membandingkan IPM daerah dengan rata-rata IPM Nasional sehingga dalam 4 cluster daerah sebagai berikut: rata-rata nasional rata-rata nasional menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata b. rata-rata nasional. jumlah penduduk. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-213 . Menghitung KFD per kapita yang didapat dari KFD dibagi dengan Menghitung KFD Riil yang didapat dari KFD per kapita dibagi Indeks Menentukan Indeks KFD sebagai hasil dari pembagian KFD Riil Menentukan Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) yang merupakan Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai proxy perbedaan tingkat harga terhadap rata-rata KFD Riil nasional sehingga diperoleh Peta KFD. d.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. antar daerah. hasil penjumlahan dana transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah. nasional. a. sehingga menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah Hasil kedua perbandingan KFD dan IPM tersebut di atas tersusun Cluster 1: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas Cluster 2: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di bawah rata-rata Cluster 3: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah nasional namun IPM di atas rata-rata nasional. f. c.

Dalam mekanisme penganggaran Dana Tugas Pembantuan. Pembantuan 2. prioritas daerah yang akan direkomendasikan sebagai penerima dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagai berikut: a. Cluster 4: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di atas rata-rata selanjutnya untuk menentukan besaran alokasi Dana Dekonsentrasi dan yang disusun oleh kementerian/lembaga terkait. gubernur Pejabat pengelola keuangan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan III-214 SistemPendanaandiDaerah . wewenang. Proses Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dituangkan penelaahan dengan gubernur dalam hal Dekonsentrasi dan kepada gubernur/bupati/walikota dalam hal Tugas Pembantuan. setelah menerima RKAsatker. b. Dalam mekanisme penganggaran Dana Tugas Pembantuan ke masing-masing daerah digunakan indikator teknis dalam penyusunan RKA-Kl yang setelah melalui proses pembahasan dan kementerian/lembaga terkait kemudian ditetapkan menjadi RKA-satker.Berdasarkan hasil formulasi tersebut. penyampaian RKA-satker dilakukan bersamaan dengan penyampaian Peraturan Menteri/Pimpinan lembaga tentang pelimpahan menetapkan pejabat pengelola keuangan Dana Dekonsentrasi. Prioritas II: Daerah pada Cluster 2. gubernur/bupati/walikota menyampaikan usulan pejabat pengelola keuangan dana tugas pembantuan kepada menteri/pimpinan lembaga. nasional namun IPM di bawah rata-rata nasional. Prioritas I: Daerah pada Cluster 3. setelah menerima pelimpahan wewenang tersebut. RKA-satker dimaksud kemudian disampaikan kepada Dekonsentrasi.

4.5. 3. RKA-satker tersebut juga RKA-Kl yang telah ditetapkan menjadi RKA-satker sebagai dasar dalam penyusunan DIPA. pencapaian target keluaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 terdiri dari Kuasa Pengguna Anggaran/Barang. kepada DPRD pada saat pembahasan DIPA mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Tata cara penyusunan RKA-Kl dan penetapan/pengesahan Penyaluran dana dekonsentrasi dan Membayar.4. Pejabat diberitahukan oleh gubernur dalam hal Dekonsentrasi dan gubernur/bupati/ RAPBD sebagai bahan sinkronisasi program dan kegiatan. kendala yang dihadapi. tugas Pembantuan Penguji Tagihan/Penandatangan surat Perintah Pejabat Akuntansi dan Bendahara Pengeluaran.4. Aspek manajerial terdiri dari perkembangan realisasi III-215 . walikota dalam hal Tugas Pembantuan.2. Pejabat Pembuat Komitmen. Berdasarkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) melalui Rekening Kas umum Negara. PMK. sedangkan mekanisme penyaluran Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan Pendapatan dan Belanja Negara. 3.2. dan saran tindak lanjut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dan aspek akuntabilitas.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pertanggungjawaban dan PelaPoran sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/ Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disebutkan bahwa pertanggungjawaban dan pelaporan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan mencakup aspek manajerial penyerapan dana.

kepala sKPD provinsi atas nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan yang membidangi pengelolaan keuangan daerah.Pembangunan. dan laporan barang sejalan tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. catatan atas laporan keuangan. Dana Dekonsentrasi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan secara rinci pertanggungjawaban dan pelaporan Dana Dekonsentrasi dan sKPD provinsi selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Barang dekonsentrasi wajib dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang. sementara aspek akuntabilitas terdiri dari laporan realisasi anggaran. neraca. untuk melaksanakan penggabungan b) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud laporan tersebut. Tugas Pembantuan adalah sebagai berikut : 1. berikut: Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Kepala menyelenggarakan akuntansi dan bertanggung jawab terhadap penyusunan Penyusunan dan penyampaian laporan dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. lembaga pemberi dana dekonsentrasi dengan tembusan kepada sKPD dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran.07/2008 sebagaimana diubah dengan PMK Nomor 248/PMK.07/2010 yang secara garis besar dapat disajikan sebagai a) setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. gubernur menugaskan/ menetapkan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator unit akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (Koordinator uAPPAIII-216 SistemPendanaandiDaerah .

Pelengkap Buku Pegangan 2011 W) dan sKPD yang membidangi pengelolaan barang/ kekayaan daerah c) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan Dana Dekonsentrasi d) laporan melalui Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun anggaran. Kepala lembaga pemberi dana tugas pembantuan. menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada Presiden pelaksanaan dekonsentrasi oleh gubernur dilampirkan dalam laporan Penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan 2. dengan tembusan kepada sKPD kabupaten/kota atas nama bupati/walikota menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang daerah. Dana Tugas Pembantuan diuraikan sebagai berikut : dan barang atas pelaksanaan Tugas Pembantuan secara garis besar dapat a) setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. tahun anggaran. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD. Kepala sKPD provinsi atas nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah. pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (Koordinator uAPPB-W). dengan tembusan kepada sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-217 c) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud . b) setiap triwulan dan setiap berakhirnya kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana tugas pembantuan.

bupati/walikota pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator uAPPB-W. untuk melaksanakan penggabungan W dan sKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator uAPPB-W. khususnya Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah III-218 SistemPendanaandiDaerah . dengan tembusan kepada gubernur.setiap berakhirnya tahun anggaran. dan jasa Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. anggaran. gubernur menugaskan/menetapkan sKPD yang mebidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator uAPPAd) Bupati/walikota menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan menugaskan/menetapkan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan e) Menteri/pimpinan f) Pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan Tugas daerah sebagai Koordinator uAPPA-W dan sKPD yang membidangi kepada presiden melalui Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun tugas pembantuan setiap berakhirnya tahun anggaran dilampirkan dalam laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD. setiap berakhirnya tahun anggaran. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut. Adapun bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban keuangan atas barang Pusat. lembaga yang mengalokasikan Dana laporan tersebut.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.07/2008 Pembantuan pasal 37A mengatur bahwa barang yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi tersebut adalah sebagai berikut: i. waktu 6 bulan sejak pengadaan atau sKPD tidak bersedia menerima BMN maka BMN dimaksud direklasifikasi menjadi aset tetap pada PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-219 . Tata cara Hibah BMN berupa persediaan yang Persediaan diserahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan melampirkan Berita Acara serah Terima. Keuangan selaku Pengelola Barang c. Status Barang Hasil Pelaksanaan Dekonsentrasi tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Tugas ditatausahakan dalam sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi sKPD pelaksana tugas Dekonsentrasi dengan Berita Acara serah Terima selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan menatausahakan dan melaporkan pada neraca daerah. Pengguna Barang melaporkan serah terima barang kepada Menteri iv. iii. BMN tersebut harus Barang Milik Negara. barang. Berdasarkan berita acara serah terima.07/2010 tentang dicatat sebagai persediaan (eks Dekonsentrasi). sKPD penerima wajib ii.6.q.4. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyerahkan dalam jangka kementerian/lembaga. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Pengelolaan barang milik negara 1.q.2.

BMN tersebut harus ditatausahakan dalam sistem Informasi Manajemen dan bermaksud menyerahkan yang dituangkan dalam surat Pernyataan Kesediaan Menghibahkan dan daerah menyatakan kesediaannya untuk menerima aset tetap dimaksud yang dituangkan dalam surat Pernyataan Aset tetap dihibahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c. iii. BMN yang dihasilkan dari kegiatan fisik lain dan yang selain yang berasal dari kegiatan fisik lain dicatat sebagai aset tetap.q. Direktorat Jenderal Kekayaan SistemPendanaandiDaerah keputusan Menteri Kementerian/lembaga tentang penugasan atas surat Pernyataan Kesediaan Menghibahkan dan surat Pernyataan iv. pelaksana Tugas Pembantuan sepanjang pihak kementerian/lembaga Kesediaan Menerima Hibah.q. Tata cara hibah BMN berupa aset tetap yang diperoleh dari Dana Tugas Pembantuan adalah sebagai berikut: i. Kesediaan Menerima Hibah diterbitkan sebelum disampaikannya surat program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di daerah.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pasal 37B mengatur bahwa barang yang diperoleh dari Dana Tugas Pembantuan berasal dari dana penunjang dicatat sebagai persediaan.07/2010 tentang Perubahan 2.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan hibah kepada Menteri III-220 . Status Barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.q. sKPD ii. barang. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara harus diajukan oleh menteri/pimpinan lembaga selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan Keuangan selaku Pengelola Barang c. Permohonan persetujuan hibah kepada Menteri Keuangan c. merupakan BMN. sedangkan BMN Akuntansi Barang Milik Negara.

sKPD Tata cara Hibah BMN yang dihasilkan dari kegiatan fisik lain dan yang berasal dari dana penunjang yang dicatat sebagai persediaan adalah sebagai berikut: ii.q. lembaga. tetap dicatat sebagai aset tetap pada kementerian/lembaga. selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan barang. Dalam hal kementerian/lembaga tidak melaksanakan ketentuan tersebut maka kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan anggaran v. sKPD penerima wajib Keuangan c. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan melampirkan dimaksud direklasifikasikan menjadi aset tetap pada kementerian/ PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-221 . Dalam hal sKPD tidak bersedia menerima BMN maka BMN dimaksud BMN dihibahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyerahkan maka BMN Berdasarkan Berita Acara serah Terima. Pengguna Barang melaporkan serah terima barang kepada Menteri iv. Direktorat Jenderal Pengelolaan utang. dan Direktorat Jenderal Anggaran dengan melampirkan Berita Acara serah Terima. menatausahakan dan melaporkan pada neraca daerah Berita Acara serah Terima. untuk pengadaan aset tetap dalam rangka Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Negara. pelaksana Tugas Pembantuan dengan Berita Acara serah Terima iii. i.q.

4. Pembinaan dan Pengawasan dekonsentrasi/tugas Pembantuan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008. dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang meliputi pemberian pedoman. penggunaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan transparansi. fasilitasi dan dan efektivitas pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta mengikuti ketentuan yang berlaku bagi APBN. PEMBINAAN. dan pemeriksaan dengan SistemPendanaandiDaerah .2. serta pemantauan dan evaluasi. bimbingan teknis.4. pemeriksaan kinerja.3.3.1.3.3. dana tugas Pembantuan Pemeriksaan dana dekonsentrasi dan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan kegiatan yang dan d) Pengawasan tersebut dilaksanakan dalam rangka pencapaian efisiensi 3. pembinaan dan sesuai ketentuan sebagai berikut: a) Menteri pengawasan dilimpahkan negara/pimpinan dalam kepada penyelenggaraan gubernur lembaga melakukan urusan pemerintah pembinaan pengawasan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dapat dilaksanakan terhadap pelaksanaan b) Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap c) Pembinaan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja.4. PENGAwASAN DAN PEMERIKSAAN 3. Pemeriksaan atas Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan meliputi tujuan tertentu: III-222 pemeriksaan keuangan.

efektivitas atas pelaksanaan kegiatan. pemeriksaan investigatif dan pemeriksaan atas Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan oleh unit pemeriksaan internal kementerian/lembaga dan/atau unit pemeriksaan keuangan. Pemeriksaan kinerja berupa pemeriksaan atas pengelolaan keuangan Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi pemeriksaan atas hal-hal sistem pengendalian intern Pemerintah. eksternal Pemerintah. dan lain dibidang keuangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan 3. pelaksanaan dana dimaksud kepada kementerian/lembaga dikenakan sanksi laporan keuangan dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur SANKSI mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan Pemerintah Pusat. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • • Pemeriksaan keuangan yang dapat berupa pemeriksaan atas laporan keuangan.07/2010 diatur bahwa sKPD penerima Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang secara sengaja atau lalai tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa: 1.4.4. kinerja dan tujuan tertentu berpedoman pada peraturan perundangan-undangan.07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Pengenaan sanksi penundaan pencairan dimaksud tidak membebaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi sanksi penundaan pencairan. apabila sKPD tidak melakukan rekonsiliasi III-223 . efisiensi. negara yang terdiri dari pemeriksaan atas aspek ekonomi.

dan Menteri Dalam Negeri tentang Peningkatan di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif gubernur selaku Wakil Pemerintah III-224 SistemPendanaandiDaerah Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/lembaga . BPKP. b. c. sKPD tidak menyampaikan laporan keuangan triwulanan kepada atau Dana Tugas Pembantuan secara berturut-turut 2 (dua) kali kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/ Inspektorat Jenderal Kementerian/lembaga yang bersangkutan. dan/atau atau aparat pemeriksa fungsional lainnya. 3. sebelumnya yang telah ditetapkan. ditemukan adanya penyimpangan dari hasil pemeriksaan BPK. d. Tidak bersedia menerima hibah terhadap BMN yang disetujui untuk Menteri Keuangan. Inspektorat Jenderal Kementerian/lembaga yang bersangkutan atau melakukan penyimpangan sesuai hasil pemeriksaan BPK. b. a. BPKP.2. Kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan Dana tidak memenuhi target kinerja pelaksanaan kegiatan tahun tidak pernah menyampaikan laporan keuangan dan barang sesuai ketentuan yang berlaku pada tahun anggaran sebelumnya. dan/atau diterima selanjutnya dalam surat Edaran Bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. Penghentian pembayaran dalam tahun berjalan. aparat pemeriksa fungsional lainnya. dapat dilakukan apabila: dalam tahun anggaran berjalan. sKPD dari kewajiban menyampaikan laporan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya apabila sKPD penerima dana dimaksud: a.

4. penganggaran maupun pembinaan dan pengawasan. penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan baik pada tataran dengan kementerian/lembaga sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan perencanaan. selanjutnya. bupati.5. untuk mengenakan sanksi berupa tidak mengalokasikan Dana Tugas Pembantuan kepada kabupaten/kota yang tidak melaksanakan koordinasi penyelenggaraan Tugas Pembantuan. selanjutnya sesuai dengan pasal 22 Peraturan III-225 . pada tahap penganggaran. dapat kita garis bawahi bahwa kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) mempunyai peran yang sangat besar dalam Tugas Pembantuan antara kepala daerah (gubernur. Pada TUGAS PEMBANTUAN aspek perencanaan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pusat. walikota) Renja K/l dan pelaksanaan Musrenbangnas. PERAN KEPALA DAERAH DALAM PENyELENGGARAAN DEKoNSENTRASI DAN Berdasarkan butir-butir penjelasan mengenai Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di atas. sinkronisasi pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dilaksanakan sejak tahap penyusunan kementerian/lembaga menerima pagu sementara dan menyusun RKA-Kl maka kementerian/lembaga berkewajiban untuk menyampaikan kepada yang akan dilaksanakan oleh daerah. gubernur dapat mengusulkan kepada kementerian/lembaga 3. setelah menerima RKAPeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dengan surat Keputusan/Penetapan Menteri/Pimpinan lembaga berkenaan Pemerintah Pusat (RABPP). Pemberitahuan definitif tentang kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan dilaksanakan oleh daerah tentang indikasi kegiatan Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan setelah daerah disampaikan oleh kementerian/lembaga kepada pemerintah daerah setelah ditetapkannya Keputusan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah tersebut.

selain itu kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) juga melakukan koordinasi. pengendalian.4. bupati. seperti diatur dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah Nomor 7 2008 tersebut telah sejalan dengan ketentuan dalam pasal 3 ayat (1) huruf i Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dengan kementerian/lembaga terkait Ketentuan dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan wakil pemerintah memiliki tugas melaksanakan urusan pemerintah yang antara lain meliputi koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Tugas Pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota.Kl yang ditetapkan menjadi RKA-satker. yang menyatakan bahwa gubernur sebagai Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 dimaksud juga menggaris-bawahi bahwa salah satu peran dan tugas utama gubernur adalah melakukan koordinasi dan penyelenggaran pemerintahan dapat tercapai secara efektif dan efisien. PENDANAAN URUSAN BERSAMA PUSAT DAN DAERAH Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan suatu pola baru dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya dalam pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 III-226 SistemPendanaandiDaerah . pengawasan dan pelaporan walikota) melakukan penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan pelaksanaan program dan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Tahun 2008.6. Peraturan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. sinkronisasi dalam setiap tahap dan dengan seluruh stakeholders agar tujuan 3. pembinaan. kepala daerah (gubernur.

secara umum.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 dan Tugas Pembantuan. Pembangunan yang bersifat inklusif ini mensyaratkan pembangunan yang pro growth. menjangkau wilayah nusantara. Pemerintah telah menetapkan triple track strategy. Dengan sinergi tersebut. proses dan hasil pembangunan tidak hanya terjadi pada sekelompok orang atau pada sedikit PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-227 . pro job dan pro poor. Di sisi daerah sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Presiden 13 Tahun 2009 meyakini bahwa sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 dan pembangunan suatu bangsa seyogyanya bersifat inklusif. adalah dengan meningkatkan sinergi antara atau sering disebut juga sebagai growth with equity. salah satu cara untuk mengantisipasi tantangan pembangunan keseimbangan. Pendanaan program PNPM Mandiri pada mulanya dialokasikan melalui mekanisme Dekonsentrasi lain. diseluruh adanya keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan. Hal tersebut tentu tidak tepat karena Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan hanya digunakan untuk mendanai tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. namun lebih merata dan menyebar serta tidak terfokus pada wilayah tertentu saja. yang berdimensi kewilayahan. pembangunan yang pada hakikatnya Pemerintah urusan pusat sehingga tidak diperlukan dana pendamping dari daerah. untuk mewujudkan hal yang inklusif yang merupakan harmonisasi antara keserasian dan tersebut. program PNPM Mandiri ditetapkan sebagai urusan bersama pusat dan oleh karenanya dapat didanai bersama dari APBN dan APBD. yaitu strategi Pemerintah dan daerah dalam mendukung kesinambungan pembangunan nasional daerah/wilayah tertentu saja. Program PNPM Mandiri merupakan salah satu bagian dari proses dan mengangkat derajat seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Pemerintah mencantumkan salah satu agenda program pembangunan dalam Rencana kelembagaan dan pelaksanaan masih terbatas.0-13. maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2010 yaitu pemeliharaan kesejahteraan perlindungan sosial.15 persen dengan melalui sistem merupakan harmonisasi dan konsolidasi program-program pemberdayaan kemiskinan dan mempercepat penciptaan lapangan kerja. masyarakat yang upaya peningkatan pembangunan pertanian. masyarakat. dan PNPM Mandiri merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Namun tinggi terhadap penciptaan kesempatan kerja. Harmonisasi dan konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga ke dalam satu program PNPM Mandiri tersebut telah dimulai pada tahun 2007. pembangunan pedesaan. Kegiatan yang diprioritaskan untuk menjalankan agenda penanggulangan program kemiskinan tersebut.5 persen pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 2009 yang sebesar 14. seperti issue terkait penciptaan lapangan kerja yang lebih merupakan salah satu agenda capaian kinerja Pemerintah. III-228 SistemPendanaandiDaerah . yaitu suatu program yang diperlukan untuk mempercepat penanggulangan persentase penduduk miskin menjadi 12. serta penataan luas dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan koordinasi dan sinkronisasi antar kementerian dan juga tiap tingkatan mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja selanjutnya untuk memenuhi capaian kinerja tersebut.Issue yang sifatnya crosscutting baik karena sifatnya yang memerlukan pemerintahan. yaitu penurunan jumlah program-program pro rakyat.

khususnya PNPM Mandiri yaitu: a. Bantuan sosial. meningkat menjadi Rp6. sementara itu fund chanelling yang digunakan saat itu adalah mekanisme Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.83 triliun. pada tahun 2007 adalah sebesar Rp3. Namun demikian.31 triliun (data Tim Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan memiliki karakteristik tertentu Mensyaratkan cost-sharing atau dana pendamping dari daerah dalam Mendanai kegiatan yang bersifat Bantuan langsung kepada Masyarakat. selanjutnya pada Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan . Pada tahun 2010 tahun 2011 ini mengalami penurunan menjadi 10.84 triliun. 2009 masih menemui beberapa kendala. urusan yang ditangani merupakan urusan bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah. bentuk sebutan apapun yang bersumber APBD. c.01 triliun. kemudian pada tahun 2008 dan tahun 2009 berturut-turut kembali mengalami peningkatan menjadi Rp11. Jenis belanja yang dialokasikan lebih dominan dipenuhi dengan Belanja d. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-229 . Dana cost-sharing tersebut diikat dalam naskah kesepahaman. Alokasi anggaran Bantuan langsung Masyarakat (BlM) PNPM Mandiri Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan. dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan. utamanya dalam aspek pendanaan. pelaksanaan program PNPM Mandiri tersebut hingga tahun sebagaimana diketahui. alokasi anggaran untuk program PNPM Mandiri terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir. baik yang bersumber dari APBN maupun APBD. b. e.69 triliun dan Rp11.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Bappenas.TNP2K). program PNPM Mandiri.

07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan yang didanai melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Kegiatan yang merupakan urusan yang ditangani merupakan urusan Kegiatan dilaksanakan oleh gubernur selaku wakil Pemerintah untuk Dekonsentrasi dan gubernur/bupati/walikota untuk Tugas Pembantuan. Dengan demikian. Pembantuan. Pembantuan. urusan Bersama kemiskinan (PNPM Mandiri) menyalahi aturan karena tidak sesuai terhadap program disempurnakan. Pendanaan b. SistemPendanaandiDaerah III-230 . aspek legalitas dalam penyediaan sharing pendanaan dari pemerintah daerah dalam pendanaan PNPM Mandiri pun perlu untuk terus PNPM Mandiri tetap meneruskan pola pendanaan melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan maka: a. karena sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan adalah: a. e. c. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan disebutkan bahwa kegiatan Pemerintah. Hal tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa apabila penanggulangan Dekonsentrasi dan surat penugasan sebagai dasar pelaksanaan Tugas Pendanaan urusan Bersama dinyatakan tidak transparan dan akuntabel. Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.Hal ini tentu saja belum tepat. Menggunakan surat Kegiatan bersifat Non Fisik untuk Dekonsentrasi dan Fisik untuk Tugas Tidak diperkenankan mensyaratkan dana pendamping atau sebutan lain pelimpahan sebagai dasar pelaksanaan d. b. dengan ketentuan Pendanaan yang ada. yang membebani APBD.

Menteri mengatur penyediaan dan tata cara pengelolaan dana program nasional dilakukan pemeriksaaan oleh BPK. Dalam mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang kemudian diubah dengan Peraturan bersama antara Pemerintah dan daerah dalam penanggulangan kemiskinan. penanggulangan kemiskinan khususnya mengenai Dana urusan Bersama pusat dan daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. upaya mengatasi laporan Keuangan Pemerintah Pusat menjadi disclaimer pada saat permasalahan tersebut. Disamping itu Peraturan Menteri Keuangan dimaksud juga merupakan upaya untuk menyempurnakan mekanisme pendanaan yang digunakan untuk program PNPM Mandiri selama ini. APBN dan APBD. Pemerintah telah Dalam Pasal 34 dan Pasal 36 Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Bendahara umum Negara perlu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. maka dengan ditetapkan Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan. Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang merupakan payung hukum bagi penanganan urusan tersebut diatur sistem pendanaan urusan bersama yang bersumber dari Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden tersebut diatas. Pemerintah telah memberikan dasar hukum bagi daerah untuk menyediakan dana pendamping dari APBD untuk program PNPM Mandiri atau yang disebut Dana Daerah untuk urusan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-231 . yang hanya diperuntukkan bagi pendanaan PNPM Mandiri Bersama (DDuB). sesuai dengan hal tersebut.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan.

3. dibedakan menjadi Dana urusan Bersama yang Daerah untuk urusan Bersama yang selanjutnya disebut DDuB. Pengertian Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah Urusan Bersama Pusat dan Daerah dapat didefinisikan sebagai urusan sepenuhnya Pemerintah.6. terencana. Berdasarkan sumber pendanaannya. serta Dana III-232 SistemPendanaandiDaerah . yang bersumber dari APBD. dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat Lebih spesifik pada aspek pendanaan.1. yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah. urusan bersama pusat dan daerah difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan yang merupakan kebijakan dan program Pemerintah dan daerah yang dilakukan secara untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat. seperti sistematis. yaitu dana singkat mengenai hal tersebut. pemerintahan di luar urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi. yaitu dana yang bersumber dari APBN. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. dapat ditarik kesimpulan bahwa dan APBD yang digunakan untuk mendanai program/kegiatan bersama Pendanaan urusan Bersama adalah pendanaan yang bersumber dari APBN Pemerintah dan daerah untuk penanggulangan kemiskinan. gambar dibawah ini memberikan penjelasan selanjutnya disebut DuB.4. telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya.

pendanaan yang bersumber dari APBN dialokasikan melalui bagian anggaran kementerian/lembaga dalam bentuk DuB dan pendanaan yang III-233 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.6.07/2009 tentang Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Pendanaan urusan Bersama untuk Penanggulangan Kemiskinan dapat didanai dari APBN. dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. PrinsiP-PrinsiP Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/ Penanggulangan Kemiskinan.35 sumber Pendanaan urusan bersama 3. APBD.4. Dalam hal Program Penanggulangan Kemiskinan didanai bersama bersumber dari APBD dialokasikan melalui sKPD dalam bentuk DDuB. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi PMK.2. b. dan/atau didanai bersama APBN dan APBD.

dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. transparan. efektif.6. taat pada peraturan perundang-undangan. Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan program-program yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan masyarakat. Pendanaan dilakukan setelah adanya kesepakatan kedua belah pihak Pengelolaan DuB dan DDuB dilakukan dengan prinsip tertib. 3. ekonomis.c. Terkait dengan hal tersebut. d. efisien. Kemiskinan ditujukan untuk kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan kegiatan yang komponen bantuan langsung masyarakatnya adalah belanja bantuan sosial.3. dapat dikemukakan bahwa Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga dan anggaran pemerintah daerah yang dialokasikan untuk mendanai program dan kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. definisi dan PerenCanaan dan Penganggaran dana prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas urusan bersama Pusat dan daerah Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan dirinci dalam bentuk f. yang dituangkan dalam naskah perjanjian antara Pemerintah dan daerah.4. e. Sesuai Pembantuan. sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/ III-234 SistemPendanaandiDaerah .

07/2009. Pemberitahuan tentang indikasi program tersebut. subyek kerja sama. b.Pelengkap Buku Pegangan 2011 PMK. Pemerintah dan daerah kepada kepala daerah paling lambat pertengahan informasi mengenai ketentuan/persyaratan penyelenggaraan urusan program penanggulangan kemiskinan paling lambat minggu pertama Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat. Perencanaan Program Penanggulangan Kemiskinan merupakan bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional. c. Kota. disertai dengan Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah menandatangani naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama pusat dan daerah untuk bulan Desember atau setelah ditetapkannya Peraturan Presiden tentang Naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama sekurang-kurangnya memuat: a. Penanggulangan Kemiskinan yang akan diselenggarakan bersama antara bulan Juni atau setelah ditetapkannya pagu sementara dengan tembusan kepada Ketua Tim terkait Penanggulangan Kemiskinan Tingkat Nasional. e. Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan dikoordinasikan APBN wajib mengacu pada RKP dan dituangkan dalam Renja-Kl Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Nasional/ Provinsi/ Kabupaten/ Kementerian/lembaga memberitahukan indikasi Program/Kegiatan d. terhadap proses perencanaan dan penganggaran berlaku ketentuan sebagai berikut: a. f. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-235 . bersama yang akan dituangkan dalam naskah perjanjian.

Program/Kegiatan pemberitahuan Penangulangan Kemiskinan • • • Kepala Daerah menyampaikan usulan nama sKPD yang akan Dalam indikasi penanggulangan kemiskinan tersebut di atas tidak sesuai dengan kebijakan daerah. klausul komitmen daerah untuk tertib pelaporan keuangan DuB oleh Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai Dalam Daerah (Renja-sKPD). kepala daerah dapat menolak pelaksanaan untuk Penanggulangan Kemiskinan dan alokasi anggaran DuB SistemPendanaandiDaerah Program/Kegiatan Rencana daerah penyelenggara urusan Bersama Pusat dan Daerah III-236 . penetapan penanggungjawab dalam pengelolaan DuB. serta pembahasan dengan melaksanakan hal kepada kementerian/lembaga. kepala daerah meneruskan indikasi program/ DPRD. sumber dan besaran pendanaan. f. program/kegiatan dimaksud. rincian alokasi dan lokasi dana program/ kegiatan yang diselenggarakan bersama. hal pemberitahuan indikasi dari APBD wajib mengacu pada Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan dituangkan dalam Rencana Kerja satuan Kerja Perangkat penanggulangan kemiskinan tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah. d. jangka waktu kerja sama. c. dan • • kegiatan dimaksud kepada sKPD sebagai bahan penyusunan RenjasKPD dan rencana penyediaan DDuB. program/kegiatan daerah kepada kementerian/ lembaga.b. e.

gambar 3. indeks fiskal dan kemiskinan daerah.36 Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama untuk Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan disusun dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara. serta indikator teknis. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-237 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 • Kemampuan keuangan negara dimaksudkan bahwa pengalokasian DuB disesuaikan dengan kemampuan APBN melalui bagian anggaran kementerian/lembaga. proses tersebut di atas dapat dijelaskan dalam gambar siklus dibawah ini. secara umum.

07/2011 tanggal 31 Maret 2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan transparansi dan akuntabilitas. yaitu: 1.4. indeks Fiskal dan kemiskinan daerah dalam rangka PerenCanaan Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah untuk Penanggulangan kemiskinan salah satu perwujudan dari upaya yang telah dilakukan Pemerintah dalam disusun dan ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/ Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012. adalah dengan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan merencanakan pendanaan urusan bersama agar tepat sasaran dan tujuan yang nantinya diharapkan akan bermuara pada peningkatan efisiensi dan Formulasi indeks fiskal dan kemiskinan daerah dilakukan melalui 4 (empat) 1. b. Daerah dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. tahap. serta proporsional dalam pendanaan urusan bersama.3. penguatan sinergi antar kementerian/lembaga dan daerah. serta mendukung kementerian/lembaga penyelenggara dalam efektivitas dalam pengelolaan DuB. Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Penghitungan Ruang Fiskal Daerah Penghitungan ruang fiskal daerah dilakukan dengan menghitung dikurangi dengan belanja wajib. secara umum Peraturan Menteri Keuangan ini bertujuan untuk mewujudkan PMK.6. a. Besaran kemampuan keuangan daerah meliputi Pendapatan Asli besaran kemampuan keuangan daerah dan Transfer ke Daerah III-238 SistemPendanaandiDaerah .4.

dan pada tahun terakhir. fiskal masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata ruang fiskal seluruh daerah. dengan mengkaitkan hasil penghitungan Indeks Fiskal Daerah dan Indeks Kemiskinan Daerah masing-masing sebagai sumbu tegak dan Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah. 3. Persentase jumlah penduduk miskin tersebut adalah persentase Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan sumbu mendatar dalam peta kuadran. e. Penghitungan seluruh daerah (nasional). d. Hasil. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-239 . kemampuan fiskal daerah riil per kapita. Dana Bagi Hasil penghitungan ruang fiskal daerah tersebut dibagi dengan Penghitungan ruang fiskal daerah didasarkan data anggaran Tahun jumlah penduduk dan Indeks Kemahalan Konstruksi agar tercermin 2. Besaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Alokasi umum. 4. Dana Penyesuaian. dan 2008. a. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah. dan Dana otonomi Khusus.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. a. Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan Penghitungan Indeks Fiskal Daerah Penghitungan Indeks Fiskal Daerah dilakukan dengan menghitung ruang dengan menghitung persentase jumlah penduduk miskin masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata persentase jumlah penduduk miskin jumlah penduduk miskin berdasarkan data dari Badan Pusat statistik b.

Kelompok 2 adalah daerah yang indeks fiskalnya di bawah rata-rata Kelompok 1 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase iii. sebagai berikut: i. penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional. Berdasarkan hasil pengkaitan tersebut.b. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD < 1. Formulasi Penghitungan Persentase Besaran DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan indeks fiskal Penyediaan DDUB Per Kelompok dan Per Daerah dan kemiskinan daerah. dan rata-rata nasional. 3. IPPMD > 1). menyediakan DDuB sangat Tinggi. menyediakan DDuB sedang. Indeks Persentase Penduduk Miskin Daerah (IPPMD)-nya di atas ratarata nasional (IRFD dan IPPMD > 1). 2. nasional. daerah sasaran dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kelompok. namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah Kelompok 1 adalah daerah yang Indeks Ruang Fiskal Daerah (IRFD) dan Kelompok 2 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di bawah rata- rata nasional. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks fiskalnya di atas rata-rata 2. rata-rata nasional (IRFD < 1. dan SistemPendanaandiDaerah nasional. rata nasional. ii. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas ratapenduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional. dengan rincian tingkatan: 1. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase iv. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks III-240 . menyediakan DDuB Rendah. IPPMD < 1).

Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. menyediakan DDuB Tinggi. fiskal dan kemiskinan daerah. IPPMD < 1). Persentase untuk menentukan besaran penyediaan DDuB untuk masingmasing tingkatan tersebut ditetapkan lebih lanjut melalui Keputusan Ketua TKPK Nasional berdasarkan pertimbangan Menteri Keuangan. skema berikut memberikan gambaran mengenai alur pikir formulasi indeks gambar 3.37 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah nasional. sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 Peraturan Menteri Keuangan ketentuan sebagai berikut : PenCairan dan Penyaluran Nomor 168 tahun 2009. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di atas rata-rata 3.5.4. pencairan dan penyaluran DuB dan DDuB mengikuti PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-241 . namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah ratarata nasional (IRFD> 1.6.

6. c. b. 5. 2. Mekanisme pencairan dan penyaluran DDuB berpedoman pada peraturan PelaPoran dan Pertanggungjawaban Apabila dalam jangka waktu sebagaimana tersebut di atas. kelompok masyarakat dan/atau lembaga partisipatif masyarakat harus telah dimanfaatkan sesuai dengan rencana selambat-lambatnya 3 bulan setelah tahun anggaran bersangkutan berakhir. laporan Realisasi Anggaran. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 tahun 2009 Bab VI Pasal Pertanggungjawaban DuB dan DDuB yaitu : 1. 4. Kas umum Negara.1. Neraca. kelompok DuB yang telah ditransfer ke rekening masyarakat. uang. dan belum dimanfaatkan maka dana tersebut harus disetorkan ke Rekening yang mengatur mengenai pengelolaan keuangan daerah. sedangkan ketentuan lebih lanjut diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan. dan Catatan atas laporan Keuangan. 3.4. dana tersebut 3. berlaku dalam pembayaran atas beban APBN. a.6. (DuB dan DDuB) wajib menyusun laporan keuangan berupa: 16 sampai dengan Pasal 18 diuraikan ketentuan mengenai Pelaporan dan sKPD yang menjadi pelaksana kegiatan penanggulangan kemiskinan III-242 SistemPendanaandiDaerah . masyarakat dan/atau lembaga partisipatif masyarakat dalam bentuk Pencairan DuB secara umum dilakukan sesuai dengan mekanisme yang DuB disalurkan secara langsung kepada masyarakat.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. pelaksanaan anggaran. dan wujud transparansi dan akuntabilitas DuB dan DDuB. pengelolaan informasi.4.7. TKPK Nasional melakukan koordinasi pembinaan terhadap efektivitas Bappenas melakukan pembinaan terhadap efektivitas perencanaan dan Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pembinaan terhadap efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan. dalam hal: efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran. 2. selanjutnya dalam Bab VIII Pasal 22 dan Pasal 23 Peraturan Menteri meliputi : 1. dan penyusunan indeks fiskal dan kemiskinan di daerah dan Menteri Keuangan melakukan pembinaan terhadap pengelolaan DuB PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-243 . mengacu ketentuan peraturan mengenai pengelolaan keuangan daerah dan sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. 3. 4. Keuangan tersebut menyebutkan bahwa pembinaan DuB dan DDuB adalah pelaksanaan urusan bersama pusat dan daerah untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali. pelaksanaan program. pada Peraturan Menteri Keuangan tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. 3. Pembinaan Kepala daerah melampirkan laporan keuangan tahunan atas pelaksanaan Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DDuB Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DuB mengacu DuB dalam laporan Pertanggungjawaban APBD kepada DPRD sebagai 3.6. 4.

2. 5. dan TKPK Nasional melakukan koordinasi pengawasan dan pengendalian Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pengawasan Menteri Keuangan melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap Kepala daerah melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap Pengawasan dilaksanakan dalam rangka peningkatan efisiensi dan dan pengendalian atas efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama efektivitas pengelolaan DuB dan DDuB. 4. 1.8. pelaporan keuangan DDuB. 3.5. pelaporan keuangan DuB. Kepala daerah melakukan pembinaan terhadap efisiensi dan efektivitas Pengawasan terhadap efektivitas pelaksanaan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali. untuk penanggulangan kemiskinan. sedangkan pengawasan DuB dan DDuB adalah sebagai berikut : pengelolaan DDuB.4.6. 3. III-244 SistemPendanaandiDaerah .

BAB IV PENINGKATAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN PERTUMBUHAN EKoNoMI DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-245 .

IV-246 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .

Pelengkap Buku Pegangan 2011

BAB IV PENINGKATAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN PERTUMBUHAN EKoNoMI DAERAH
Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang diatur dalam

undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah telah menunjukkan secara tegas kesepakatan politis yang menetapkan bahwa desentralisasi fiskal di Indonesia lebih menitikberatkan membelanjakan dana yang dikelolanya. Hal ini ditunjukkan dengan fakta desentralisasi pada sisi belanja. Kewenangan yang didelegasikan kepada daerah untuk mendapatkan penerimaan masih relatif terbatas. sementara di sisi lain, daerah diberikan kewenangan yang cukup besar untuk untuk mendukung kebutuhan pendanaan daerah, Pemerintah memberikan digunakan oleh daerah sesuai prioritas dan kebutuhannya. transfer yang cukup besar (lebih dari 80 persen dari total pendapatan daerah akan sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang diambil oleh daerah daerah dituntut untuk mempunyai strategi yang jitu dalam mengelola dan bahwa porsi PAD hanya berkisar 18 persen dari total pendapatan. sementara, daerah) dan sebagian besar bersifat block grant yang dapat secara bebas itu sendiri. Dengan input dana publik yang selalu bersifat terbatas, maka mengalokasikannya secara efisien, sehingga mampu memberikan output
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

Dengan diskresi belanja daerah yang luas tersebut, maka kualitas belanja

IV-247

layanan publik yang optimal. selanjutnya diharapkan pilihan atas prioritas peningkatan kesejahteraan masyarakat yang antara lain dapat dilihat melalui tingkat pengangguran. pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat kemiskinan atau penurunan

output tersebut akan menghasilkan outcome yang signifikan, yang berupa

4.1. GAMBARAN UMUM BELANJA PEMERINTAH DAERAH DAN KoNDISI EKoNoMI/KESEJAHTERAAN DAERAH
4.1.1.
Total Belanja Daerah pada APBD tahun 2010 secara nasional mencapai

BELANJA PEMERINTAH DAERAH

Rp443,6 triliun, yang terdiri dari Rp 113,1 triliun Belanja Pemerintah Provinsi (25,6 persen) dan Rp330,4 triliun Belanja Pemerintah Kabupaten/Kota (74,4 persen). Komposisi belanja antara Provinsi dengan Kabupaten/Kota berbeda sementara, untuk Kabupaten/Kota, dominasi belanja pegawai sangat tinggi hingga mencapai lebih dari 51 persen dari total belanja. Diikuti oleh belanja modal sebesar 21 persen dan barang dan jasa sebesar 17 persen. secara signifikan. Untuk Provinsi, porsi belanja pegawai, barang & jasa, dan modal relatif hampir berimbang di kisaran 23 persen-26 persen, diikuti oleh belanja bagi hasil dan bantuan keuangan yang mencapai 20 persen.

IV-248

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

gambar 4.1 Trend Belanja APBD secara Nasional

secara nasional porsi belanja pegawai terus meningkat. Porsi belanja pegawai

pada tahun 2007 sebesar 38 persen, tahun 2008 sebesar 39 persen, tahun pegawai tidak langsung (gaji) dan belanja pegawai langsung (honorarium/ semakin turun dari tahun ke tahun.

2009 sebesar 42 persen dan tahun 2010 sebesar 45 persen. Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa belanja pegawai terdiri dari dua komponen, yaitu belanja nominal maupun porsinya, namun belanja pegawai langsung (honor-honor) upah). Dalam tabel tersebut terlihat bahwa gaji PNs terus meningkat, baik Dengan semakin tingginya porsi belanja pegawai, maka porsi belanja modal persen. Bahkan secara nominal, belanja modal pada tahun 2010 adalah yang paling rendah dibandingkan tiga tahun sebelumnya. semakin tergerus dari tahun ke tahun. Pada gambar 4.1 dapat dilihat jika pada dari tahun ke tahun semakin turun dan pada tahun 2010 hanya mencapai 22

tahun 2007 persentase belanja modal di APBD mencapai 31 persen, maka

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

IV-249

Tabel 4.1 Potret Belanja Pegawai APBD 2007-2010
Tahun 2007 2008 2009 2010 TOTAL BELANJA 317.041 390.392 429.580 443.561 Total Belanja pegawai 121.879 153.823 180.439 198.562 Tidak langsung 128.071 155.959 174.763 99.506 langsung 22.373 25.752 24.480 23.799

% thd Total belanja Tidak langsung 31,39% 32,81% 36,30% 39,40% 7,06% 6,60% 5,70% 5,37%

(dalam miliar)

langsung

selanjutnya apabila dilihat dari realisasi belanja daerah secara nasional pada 94,3 persen). secara persentase, komponen belanja daerah yang tingkat penyerapannya paling kecil adalah belanja modal dengan tingkat penyerapan hanya mencapai 89,5 persen. Berkebalikan dengan realisasi tahun sebelumnya, maka realisasi terendah

tahun 2009 maka realisasi Belanja Daerah adalah Rp405,2 triliun, lebih kecil

dibandingkan dari pagu anggaran sebesar Rp429,6 triliun (hanya mencapai penyerapannya diatas 100 persen adalah belanja hibah. sedangkan realisasi

jenis belanja lainnya berkisar 93 persen, dan jenis belanja yang tingkat pada tahun 2010 adalah justru belanja hibah. sedangkan untuk belanja modal menurun dari tahun ke tahun.

sampai dengan triwulan III masih berkisar 35 persen, dan pada akhir tahun masih dibawah 90 persen. Penyerapan yang kurang optimal ini menyebabkan silPA masih cenderung tinggi meskipun mempunyai tren yang semakin

IV-250

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Realisasi Belanja Tw I – IV 2010

Tren silPA 2007-2009

Dari segi kualitas administratif pengelolaan keuangan daerah, dapat

dikemukakan bahwa sesuai opini BPK atas laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2009, sebanyak 15 daerah yang memperoleh opini Wajar Pendapat) dan sebanyak 47 daerah memperoleh opini TW (Tidak Wajar). Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 53), APBD seharusnya ditetapkan paling ternyata masih banyak daerah yang terlambat menetapkan APBD, meskipun daerah dari 524 daerah.

Tanpa Pengecualian (WTP), 331 daerah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), 103 daerah memperoleh opini TMP (Tidak Memberikan lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Namun demikian, Disamping itu, sesuai peraturan perundangan (PP 58/2005 tentang terdapat kecenderungan perbaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008

terdapat 110 daerah menetapkan APBD tepat waktu, tahun 2009 menjadi selain mekanisme desentralisasi, mekanisme lain yang digunakan Pemerintah Pusat dalam mendorong upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah adalah mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta mekanisme urusan Bersama. Keterlibatan Pemerintah Pusat melalui ketiga mekanisme tersebut bersifat langsung, dimana proses perencanaan program
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

118 daerah, tahun 2010 menjadi 214 daerah, dan tahun 2011 sebanyak 211

IV-251

dan kegiatan berikut pendanaanya berada langsung dibawah kendali pelaksanaannya di daerah dilimpahkan atau ditugaskan kepada Pemerintah Daerah.

Pemerintah Pusat melalui anggaran Kementerian/lembaga, sementara

Total Pagu Anggaran Dana Dekon dan Dana TP T.A 2008 2011
60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000

Miliyar Rp

DEKON 2008
DANA DEKON TP TOTAL 2008 24,814 11,935 36,749

TP DANA 2009 2010 2011

TOTAL

Perkembangan pagu anggaran Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas berikut : Rata-rata pagu anggaran dana dekonsentrasi selama Tahun Anggaran 2008pembantuan sebesar Rp. 11,997 triliun.
IV-252

ALOKASI TAHUN (Miliyar Rp) 2009 2010 2011 36,497 28,946 15,380 16,328 7,720 12,004 52,825 36,666 27,384

RATA2 26,409 11,997 38,406

PERTUMBUHAN 2010 2011 46.9% 55.5% 25.3%

Pembantuan dalam kurun waktu 2008-2011 menunjukan kondisi sebagai 2011 sebesar Rp. 26,409 triliun, sedangkan rata-rata pagu anggaran tugas

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

3 (sebaran alokasi dana tugas pembantuan). diperoleh gambaran bahwa tersebar di Pulau Jawa dan sumatera. pengadaan barang habis pakai. Begitu juga dengan sebaran alokasi dana tugas pembantuan. sedangkan alokasi terendah berada di Bangka Belitung (Babel). seperti obat-obatan. sebaran alokasi Dana Dekonsentrasi sebagian besar masih terpusat di pulau Jawa dan sumatera dengan alokasi tertinggi berada di Jawa Barat. jalan. pergeseran pola alokasi pendanaan yang semula diarahkan kepada kegiatan yang bersifat fisik. irigasi dan jaringan. Kegiatan fisik lain dimaksud antara lain sebaran alokasi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan tahun 2008dana tersebut merupakan data konsolidasi pada Provinsi dan Kabupaten/ Kota se-provinsi yang bersangkutan. sebaran alokasi Berdasarkan data alokasi anggaran dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan selama kurun waktu 2008-2011. vaksin.5 persen. Kondisi ini 2011 dapat dilihat pada gambar 4. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang dekonsentrasi yang bersifat non fisik menjadi kegiatan tugas pembantuan Dengan perkembangan seperti itu. menunjukkan bahwa telah terjadi menambah nilai aset pemerintah seperti pengadaan tanah. pengadaan bibit dan pupuk yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah. serta kegiatan fisik lain yang menambah nilai aset pemerintah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pada Tahun Anggaran 2011 mengalami kenaikan pagu anggaran dana tugas pembantuan dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2010 sebesar 55.2 (sebaran alokasi dana dekonsentrasi) dan gambar 4. mayoritas dananya masih Barat sedangkan alokasi terendah berada di Kepulauan Riau. dan alokasi tertinggi berada di Jawa menunjukan bahwa pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan masih diarahkan kepada daerah yang padat penduduknya yang sudah barang tentu PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-253 . bangunan. peralatan dan mesin.

0% 30.0% 30.membutuhkan lebih banyak penyediaan sarana dan prasarana pelayanan dan pembangunan dibanding dengan daerah lainnya.0% SULTENG SUMUT MALUT NTT JATENG SULUT DIY KALTENG PABAR NAD NTB BALI SULTRA SULSEL BABEL DKI SUMBAR SUMSEL KALSEL JABAR SULBAR KALBAR LAMPUNG BANTEN KALTIM JATIM PAPUA BENGKULU MALUKU JAMBI GORONTALO RIAU KEPRI gambar 4.0% 15.0% 15.A 2008 2011 (Konsolidasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se Provinsi yang bersangkutan) 50.0% PABAR NAD NTB BALI DKI SULTENG SUMUT JATENG KALTENG SUMBAR MALUT SULUT JABAR SULBAR KEPRI NTT DIY KALTIM KALBAR SUMSEL PAPUA SULTRA SULSEL KALSEL BANTEN LAMPUNG JAMBI BENGKULU MALUKU GORONTALO BABEL JATIM RIAU 2008 2009 2010 Sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan T.0% % Proporsi Total Konsolidasi 40. gambar 4.0% % Proporsi Total Konsolidasi 40.3 sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2011 2011 Se Provinsi 2008 2009 2010 2011 Se Provinsi IV-254 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .0% 0.0% 10.0% 20.0% 20.0% 45.0% 45.2 sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2011 Sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi T.0% 25.A 2008 2011 (Konsolidasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se Provinsi yang bersangkutan) 50.0% 10.0% 25.0% 35.0% 5.0% 35.0% 5.0% 0.

relatif kecil. kondisi Mengenai hubungan antara realisasi belanja daerah dengan jumlah pengangguran dan jumlah kemiskinan. BELANJA DAERAH DALAM KAITANNyA DENGAN KoNDISI EKoNoMI/ KESEJAHTERAAN DAERAH secara teoritis. namun mengingat bahwa kontribusi belanja pemerintah daerah dalam pembentukan PDRB satu-satunya faktor yang mempengaruhi indikator ekonomi.95 persen) dan 2.43 juta orang (-1.1. maka signifikansi secara langsung mungkin tidak terlalu besar. sementara itu. yaitu hubungan negatif keduanya dengan realisasi belanja daerah (grafik menunjukkan hubungan belanja tahun t-1 dengan pengangguran dan kemiskinan tahun t). Hal ini berarti peningkatan dengan tahun 2007 ternyata selaras dengan penurunan baik jumlah pengangguran maupun jumlah kemiskinan meskipun penurunan jumlah pengangguran lebih tajam dibandingkan penurunan jumlah kemiskinan. dan lain-lain. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi kemiskinan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar masing-masing 168. Kenaikan realisasi belanja daerah tahun 2008 dibandingkan Kenaikan realisasi belanja dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar Rp56. indikator ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh pemerintah daerah melalui kebijakan belanjanya adalah pengangguran dan kemiskinan. masih banyak sosial politik.79 persen). grafik di bawah menunjukkan pola hubungan yang relatif sama.630 IV-255 .2. Namun demikian.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4.3 Triliun (17. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan indikator yang dapat dipengaruhi oleh belanja daerah.9 persen) diikuti penurunan jumlah pengangguran dan jumlah orang (-6. belanja pemerintah daerah tentunya bukan merupakan faktor lain seperti investasi swasta. kebijakan ekonomi nasional. belanja daerah diikuti dengan penurunan pengangguran dan kemiskinan di tahun berikutnya.

5 IV-256 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .6 persen).24 persen) dan diikuti penurunan baik jumlah pengangguran dan kemiskinan juta orang (4.untuk tahun 2009 belanja mengalami kenaikan sebesar Rp30.0 persen) dan 1.4 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Pengangguran dan Jumlah Penduduk Miskin pada tahun 2010 sebesar masing-masing 63 ribu orang (7. gambar 4.3 Triliun (9.

berarti lebih tinggi 10 kali lipat apabila dibandingkan dengan Jawa Barat mempunyai belanja APBD per kapita sekitar Rp 11 juta per kapita. Papua dan Papua Barat atau Banten yang hanya berada di kisaran Rp 1 juta per kapita.9 persen. kenaikan realisasi belanja daerah diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2010 masing-masing sebesar 0.2 persen. Kenaikan realisasi belanja daerah dari tahun 2007 ke tahun 2008 diikuti pola penurunan persentase tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2009 masing-masing sebesar 0.5 persen dan 0. sementara untuk 2009. maka akan terlihat variasi yang sangat lebar. Perbedaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Apabila dilihat dari besarnya belanja APBD di setiap daerah di Indonesia. yang IV-257 .5 persen dan 1.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 4.5 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan Pola yang sama juga terjadi untuk perbandingan antara belanja daerah dengan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan sebagaimana dapat dilihat pada Grafik di atas.

tentunya diharapkan agar seluruh daerah di Indonesia dapat maju bersama-sama dan daerah yang belum maju mampu mengejar ketertinggalannya. gambar 4. Hal ini disamping dikarenakan oleh adanya perbedaan harga antar-daerah. Dengan kebijakan tersebut.6 Belanja APBD Per Kapita Tahun 2008-2010 IV-258 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .yang besar tersebut disebabkan oleh besarnya transfer ke daerah-daerah yang masih tertinggal. juga terutama karena Pemerintah menyadari bahwa untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah-daerah lain yang sudah lebih maju diperlukan dana yang cukup besar terutama untuk pembangunan infrastruktur dasar.

6 8.6 8.2 9. sulawesi utara 22 Prov.2 8.4 6.2 5. Jawa Barat 11 Prov.7 8.2 5.4 21.6 2009 11.6 17.7 19.9 13.5 20.9 9. Jawa Timur 12 Prov.3 10.5 15.4 7.0 6.0 4.3 15.3 6.6 2010 11.4 4.3 2.6 17.3 -7.8 10.4 5.5 6.1 8.2 1.8 7.6 8.5 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-259 .5 8.8 6.6 10.2 7.4 23. sulawesi Tenggara 20. Nusa Tenggara Timur 25 Prov.0 8.0 1.6 23.1 4.5 16. DI Yogyakarta 14 Prov.2 6.7 10.0 4.5 10.6 15.4 3.0 5.2 Indikator Ekonomi Per Daerah 2008 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Daerah Pertumbuhan Ekonomi (%) 2009 5.2 5.1 6.1 9.0 6.6 13. Nusa Tenggara Barat 29 Prov. Maluku 26 Prov.9 11.9 Tingkat Kemiskinan (%) 2008 12.1 7.3 6.0 5.9 5.7 6.0 8.1 10.0 27.2 8.8 7.9 6.4 5.4 6.1 21.4 5.9 8.9 3.1 7.7 8.4 27.4 6.4 9.4 8.8 9.8 4.1 6.5 11.2 5.7 3.5 18.0 Tingkat Pengangguran (%) 2008 9.8 3.8 4.1 5.6 7.8 10.5 12.1 4.2 14. DKI Jakarta 10 Prov.1 11.6 5.5 6.6 16. Papua Barat 33 Prov.3 6.1 5.8 6.0 7.2 6. sumatera utara Prov.0 5.4 5.1 7.9 4.5 3.9 5.5 5.6 5.5 5.0 8.5 9.1 6.5 3.9 23. gorontalo 16 Prov.1 4.6 21.3 18.8 7.9 3.9 4.8 15.6 14.7 3.8 7.5 14.3 9.2 4.8 23.6 10.9 18. sumatera selatan Prov.7 2010 8. Jambi Prov.5 4.6 2009 8.6 6.0 18.2 7.4 8.0 7. Kepulauan Riau 32 Prov.0 6.0 5.3 4. Bali 15 Prov.5 9. Bangka Belitung 31 Prov.5 4.4 7.9 5.2 6.9 8.4 15.4 7.8 7.8 5.9 16.8 17.3 5.0 7.0 5.7 9.1 12.3 10.2 5.6 4.5 8.6 4.9 2010 10. Aceh Darussalam Prov.1 4.3 21.6 7.0 7.9 12.4 6.7 8. Jawa Tengah 13 Prov.2 6.0 4.5 33.0 2. Kalimantan selatan 21 Prov.9 4.6 4.9 Prov.3 6.6 -0.9 7.4 4.6 11.7 15.5 10.6 6.3 16.3 4.1 20.1 4.6 5.3 34.5 7.4 4.0 18.2 8.4 6.8 7.0 4.4 7.2 7.7 19.6 7.9 7.7 7.3 5.8 5.1 6.0 8.1 10.1 19.1 7.6 Prov.0 7.1 9. sulawesi Barat sumber: BPs 30.3 23.2 6.4 18.2 10.0 6.8 3. Riau Prov. Bengkulu Prov.1 3.0 7. sumatera Barat Prov.7 36.2 35.3 8. sulawesi Tengah 20 Prov.2 5.8 5.0 4.3 9.2 5.4 6.0 5.3 31.7 6.5 11.3 11.0 5.9 5.9 5. sulawesi selatan 24 Prov.3 4. Maluku utara 28 Prov.5 11.9 3.0 5.6 5. Kalimantan Barat 18 Prov.4 7.8 4. Kalimantan Timur 19 Prov.7 29.0 9.2 12.3 15. Kalimantan Tengah 17 Prov. lampung 2008 6.3 6.5 9.7 6.7 7.9 8.8 6.2 9.0 20.4 6.5 23 Prov.1 11.8 8.6 6.2 34.1 7.0 6.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Tabel 4.4 25. Papua 27 Prov.7 18.7 3. Banten 30 Prov.8 6.3 18.1 6.2 7.6 4.2 4.4 8.4 19.3 5.4 6.2 5.7 3.3 6.4 6.4 6.6 4.9 9.7 8.9 17.0 4.

sementara pada tahun ekonomi tahun 2010 menggunakan data y-on-y Triwulan IV). Pusat maupun daerah yang bersangkutan agar kebijakan ekonomi yang enam propinsi. Aceh. lainnya. yang secara konsisten selama tiga tahun berturut turut Tentu saja hal ini perlu menjadi perhatian yang mendalam bagi Pemerintah Dari tabel 4. Pada tahun 2008. terdapat 16 Propinsi yang pertumbuhan ekonominya di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Terdapat yakni Bangka Belitung. Hal ini wajar. untuk indikator pertumbuhan ditekan dan terus menunjukan penurunan. Bengkulu. untuk daerah-daerah tertentu ternyata terdapat juga . yang berarti penurunan kinerja daerah dalam melakukan kontrol terhadap kedua IV-260 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah 2009 dan 2010 secara berurut ada 8 dan 21 propinsi (data pertumbuhan diambil di daerah-daerah tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan secara umum menunjukkan tren penurunan hampir di seluruh daerah. NTT. maka pada tabel di atas dapat dilihat mempunyai keterkaitan dengan outcome yang berupa pertumbuhan ekonomi ekonomi relatif sangat fluktuatif hampir di seluruh daerah. untuk melihat apakah besarnya belanja APBD tersebut dan kesejahteraan masyarakat. sementara fokus keberhasilan positif (tidak harus progresif) dan pertumbuhannya tidak jauh di bawah karena sifat pertumbuhan ekonomi memang berbeda dengan dua indikator ekonomi nasional. pertumbuhan ekonominya berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. dimana kemiskinan dan pengangguran dinilai berhasil apabila dapat pertumbuhan ekonomi adalah apabila menunjukkan pertumbuhan yang pertumbuhan ekonomi daerah lainnya ataupun jauh di bawah pertumbuhan indikatornya selama 3 tahun berturut-turut. Jawa Barat.selanjutnya. ekonomi secara lebih baik.2 di atas terlihat juga bahwa untuk kemiskinan dan pengangguran yang mengalami peningkatan kemiskinan dan pengangguran. Meskipun demikian. dan Yogyakarta.

2. Papua Barat dan gorontalo dan daerah yang mengalami 4. adalah belum memberikan kontribusi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Permasalahan yang umumnya dihadapi oleh daerah terkait dengan penggalian IV-261 . Pajak daerah dan sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah yang merupakan bagian retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang sangat penting dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).1. Hal ini perlu suatu pemerintahan tentunya akan dinilai dari keberhasilannya dalam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya. karena keberhasilan Provinsi Papua. antara lain peningkatan pengangguran yaitu Provinsi Bali dan Papua Barat. masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 variable tersebut. KEBIJAKAN DI BIDANG PERPAJAKAN DAN RETRIBUSI DAERAH Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Provinsi Jambi dan Provinsi Riau. yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Pada tahun 2009 daerah yang mengalami peningkatan pengangguran yang signifikan adalah Provinsi DI Yogyakarta. anggaran dan kebijakan ekonomi lainnya harus lebih fokus untuk mengurangi menjadi catatan khusus bagi daerah-daerah tersebut. sedangkan pada tahun 2010 daerah-daerah yang mengalami peningkatan kemiskinan secara cukup signifikan.2. UPAyA PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN MENDoRoNG PERTUMBUHAN EKoNoMI SERTA KESEJAHTERAAN MASyARAKAT DI DAERAH 4. Desain kebijakan tingkat kemiskinan dan pengangguran.

dalam rangka memberikan kewenangan perpajakan dan retribusi yang lebih luas kepada daerah. bahwa prinsip utama pemberian kewenangan pemungutan pajak dan retribusi daerah tidak terlalu membebani masyarakat. karena terdapat perubahan kebijakan yang cukup fundamental dalam penataan kembali hubungan keuangan antar pusat dan daerah. memberikan kepastian bagi dunia usaha mengenai jenis-jenis pungutan b. daerah. memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah dalam jawab daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan perpajakan dan retribusi sejalan dengan semakin besarnya tanggung penyelenggaraan pemerintahan dan sekaligus memperkuat otonomi daerah dan sekaligus memperkuat dasar hukum pemungutan pajak dan retribusi daerah. Pemerintah bersama dengan DPR-RI telah menyetujui undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (uu PDRD).sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. yaitu: a. Undang-Undang ini sangat strategis dan mendasar di bidang desentralisasi fiskal. kepada masyarakat. uu PDRD memuat setidaknya 3 tujuan pokok. meningkatkan akuntabilitas daerah dalam penyediaan layanan dan selain 3 tujuan pokok diatas. yang perlu mendapat perhatian daerah adalah penerimaan PAD dengan cara menaikkan atau menetapkan tarif pajak dan retribusi maksimal sebagaimana diatur dalam uu PDRD. Reformulasi uu PDRD tersebut sebagai konsekuensi dari penerapan desentralisasi fiskal. c. Daerah tidak boleh terjebak dengan kepentingan jangka pendek untuk semata-mata mengejar IV-262 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .

Dengan kata lain. merupakan alat bagi daerah untuk pertumbuhan domestik (daerah) dari sektor industri jasa.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Peningkatan ekonomi. daerah perlu secara tingkat pelayanan publik (the benefit-tax link). ada kesempatan bagi mereka untuk menjadikannya sebagai instrumen insentif jelas mendesain kaitan antara kewenangan penetapan tarif pajak dengan guna menarik minat investor melalui penetapan tarif yang rendah (tarif kompetitif) dibanding daerah-daerah lain. Pemda tidak boleh melihat hal tersebut sebagai daerah serta harus bisa mengukur kapasitas perekonomian di daerahnya. baik secara langsung ataupun tidak. Pemda seharusnya punya kajian komprehensif mengenai kebijakan penetapan tarif pajak dan retribusi ini perlu benar-benar menjadi concern daerah. pemberian kewenangan perpajakan dan retribusi sebagaimana diatur dalam uu PDRD. Hal setiap daerah memiliki kapasitas penerimaan (revenue) yang berbeda PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-263 . diterima daerah. khususnya jasa. Dalam pemberdayaan kekuatan ekonomi lokal untuk menciptakan pertumbuhan dengan pajak maupun retribusi daerah. baik pajak maupun retribusi. tetapi seyogyanya juga dijadikan sebagai instrumen kebijakan bagi peningkatan investasi di daerah. Artinya. karena pada kenyataannya diatur dalam uu PDRD. Daerah yang pertumbuhan ekonominya positif tentunya akan mendapatkan kenaikan PAD. perlu dioptimalkan. selain itu. PAD sebenarnya merupakan ekses dari pertumbuhan retribusi terkait erat dengan kegiatan sektor industri jasa. Artinya. Pajak dan memberikan dampak yang signifikan terhadap besarnya PAD yang akan meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi. konteks kemandirian tersebut seharusnya Pemda lebih berkonsentrasi pada ekonomi daripada sekedar mengeluarkan produk perundangan terkait sektor-sektor industri. yang peluang bagi tambahan PAD semata. secara linear akan Terkait dengan diskresi penetapan tarif.

setiap jenis transfer Hasil Tembakau dan DBH Dana Reboisasi) dan DAu bersifat block grant. antara lain DAK. Dengan iklim ekonomi yang cenderung kondusif tersebut tentunya 4. diharapkan kebijakan yang diambil. terkait dengan pajak dan retribusi pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap PAD. dan lain-lain. seperti Dana Insentif Daerah. strategi dan prioritas daerah masing-masing. Transfer tersebut terutama dilakukan dalam bentuk mempunyai tujuan masing-masing.2. Dalam konteks perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung pada kejelian. yang berarti daerah dapat menggunakannya untuk apa saja. Khusus untuk DBH (kecuali DBH Cukai Dana Perimbangan yang terdiri dari DBH. DAu dan DAK. Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah. Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah dan Dana Insentif Daerah. maka kebijakan anggaran yang diambil oleh daerah guna meningkatkan Sementara jenis transfer lainnya relatif bersifat spesifik.sehingga treatment-nya seharusnya didesain sesuai dengan ciri dan lokalitas daerah masing-masing. serta ditambah lagi dengan berbagai jenis transfer lainnya. tidak terlalu membebani atau memberatkan masyarakat dan dunia akan menarik investor sehingga pertumbuhan ekonomi lokal meningkat yang usaha. ini. sumber pendapatan utama bagi daerah sampai saat ini adalah transfer dari KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH Pemerintah Pusat. Danayang telah ditetapkan oleh Pemerintah. daerah.2. Dana spesifik inilah yang diharapkan dana tersebut dapat digunakan oleh daerah sesuai dengan peruntukkan dapat menjadi alat bagi Pemerintah untuk mempengaruhi belanja daerah IV-264 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . Dengan adanya kajian yang jelas dan komprehensif oleh pemerintah daerah.

antara lain pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.Pelengkap Buku Pegangan 2011 dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu. Dana ini dialokasikan sebagai reward kepada daerah-daerah lain. Mengingat mekanisme DAK bidang infrastruktur. Ini berarti bahwa untuk masing-masing daerah dilakukan berdasarkan kriteria umum. Infrastruktur dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan kualitas pelayanan publik di berbagai bidang. Dalam prekteknya. pertumbuhan ekonomi. maka selain Di sisi lain. terutama daerah yang lKPD-nya mendapatkan opini outcome daerah yang di atas rata-rata nasional. adalah outcome pendidikan. menetapkan APBD secara tepat waktu dan pencapaian bahwa ketersediaan infrastruktur akan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. maka sejak tahun 2010. misalnya infrastruktur jalan ataupun bidang-bidang ekonomi dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa perhitungan alokasi DAK bobot yang sangat besar yaitu mencapai 80 persen. pengurangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi yang berprestasi baik. kriteria khusus. Outcome tersebut antara IV-265 . baik dari segi pengelolaan Pemerintah juga menetapkan satu jenis transfer baru yaitu Dana Insentif Daerah (DID). dan kriteria teknis. untuk mengapresiasi kinerja daerah. Beberapa bidang yang didanai ekonomi di daerah. yang baik dari BPK. kriteria teknis memberikan perhitungan alokasi DAK lebih ditujukan untuk mendorong peningkatan dari DAK mempunyai kontribusi positif dalam menunjang pertumbuhan lainnya yang menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan ekonomi di daerah. Pemerintah juga mengalokasikan dana Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPID) yang cara maupun tujuan pengalokasiannya hampir sama dengan DAK. keuangan maupun kinerja ekonomi daerah.

hibah daerah pemerintah daerah agar melaksanakan kegiatannya dengan berorientasi pada hasil yang telah direncanakan. pengelolaan dan efektif telah disalurkan dananya pada tahun 2010 melalui Local Basic Education Capacity (l-BEC). melaksanakan prinsip kinerja dalam penyaluran dananya (performance-based disbursement). Hibah Air Minum.2 miliar. sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 168/2008 tentang Hibah Daerah dan PMK Nomor 169/2008 tentang Tata Cara Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah. Terdapat tiga kegiatan hibah daerah yang secara l-BEC merupakan penerusan hibah yang bersumber dari hibah Pemerintah Kerajaan Belanda dan uni Eropa dengan perwalian Bank Dunia dan akan kepada 50 pemerintah kabupaten/kota dengan tujuan meningkatkan kapasitas penyelenggara pendidikan dalam hal perencanaan. Hibah ini diberikan pertanggungjawaban anggaran sekolah berbasis teknologi informasi. diharapkan daerah akan berlomba-lomba untuk mendesain kebijakannya 4. baik yang berasal dari penerusan pinjaman maupun penerusan hibah. Jenis kegiatan dalam hibah ini meliputi berbagai model pengembangan kapasitas IV-266 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . dan Hibah Air limbah. Hibah kepada daerah merupakan salah satu instrumen transfer Pemerintah KEBIJAKAN HIBAH KE DAERAH guna mendorong peningkatan kualitas belanja di daerah dengan menerapkan syarat tertentu yang memungkinkan dilaksanakannya transfer dana kepada pemerintah daerah (conditional cash transfer).3. Hibah dilaksanakan sampai dengan tanggal 30 April 2012.2. Dengan adanya insentif ini sebaik mungkin agar dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang maksimal. Penerapan prinsip ini merupakan suatu upaya pendorong Pada tahun 2010 telah dialokasikan dalam APBN pemberian hibah kepada daerah sebesar Rp243.kemiskinan dan pengurangan pengangguran.

koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal pengelolaan administratif perpipaan secara berkesinambungan dalam upaya mencapai target MDgs. Program ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan output-based baru.Pelengkap Buku Pegangan 2011 dengan peserta kepala sekolah. guru maupun staf tata usaha. tim Nasional juga melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan. dana untuk hibah ini menggunakan basis kinerja (performance-based) dan dilaksanakan secara bertahap sejalan dengan kinerja yang ditunjukkan oleh untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan amanat yang tertera dalam NPPH. Di sisi perencanaan. Dengan dapat merencanakan dan mengelola anggaran sekolah secara transparan yang ideal secara holistik. diharapkan penyelenggara pendidikan menggunakan teknologi informasi dan melaporkannya kepada para pemangku kepentingan sehingga tercapai pola penyelenggaraan pendidikan Hibah Air Minum bertujuan untuk meningkatkan akses penyediaan air minum bagi masyarakat yang belum memiliki akses sambungan air minum dalam mengupayakan percepatan penambahan jumlah sambungan rumah sudah memiliki sistem pengelolaan air limbah terpusat. hibah ini diarahkan IV-267 . Penyaluran Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH). selain menerbitkan Panduan operasional Manual. kegiatan untuk mencegah terjadinya pengeluaran yang ineligible. sedangkan Hibah Air limbah bertujuan untuk meningkatkan akses sistem air limbah perpipaan bagi masyarakat khusus untuk kota-kota yang Program Hibah Air Minum dan Hibah Air limbah memiliki karakteristik yang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi berbeda dengan program l-BEC. pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan Naskah Pemerintah yang dalam hal ini dikoordinir oleh Kementerian Pendidikan selain itu. tim Central Project Implementation Unit juga secara akif melakukan dilaksanakannya program hibah lBEC.

dana hibah yang disampaikan oleh tim verifikator. sedangkan program Hibah Air limbah sambungan rumah baru untuk air minum dan air limbah. kegiatan. Dalam aspek pelaksanaan. Hibah ini akan disalurkan setelah pemerintah daerah terlebih dahulu menginvestasikan dana APBD melalui PDAM/PDAl sampai .441 sambungan baru air berjalan selama 2 bulan. dengan tahap pertama ditandatangani pada tanggal 11 Juni 2010. Jenis kegiatan yang dilaksanakan untuk kedua program ini adalah pembangunan miliar yang disalurkan untuk pembangunan 15. minum dan 2. dilaksanakan survei dasar dan verifikasi untuk kegiatan ini akan ditransfer setelah kegiatan yang disepakati dalam Hibah Air Minum dan Hibah Air limbah yang saat ini berjalan merupakan NPPH telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah berdasarkan rekomendasi penerusan hibah yang bersumber dari hibah AusAID dan direncanakan akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2011. Penandatanganan NPPH untuk hibah ini dilaksanakan dalam 3 tahap. telah disalurkan dana hibah dari APBN sebesar Rp 45. sampai dengan akhir tahun 2010.untuk daerah-daerah yang telah memenuhi syarat dalam hal kondisi keuangan yang sehat dan kapasitas yang memadai untuk memenuhi target pelaksanaan terhadap kegiatan yang telah dilakukan.400 sambungan baru air limbah yang telah terpasang dan telah telah ditandatangani dengan 35 kabupaten/kota yang berkomitmen untuk mencapai target yang telah ditentukan.473 Hibah ini juga dimaksudkan sebagai stimulus untuk mendorong pemerintah daerah selaku penanggung jawab penyediaan prasarana pelayanan air minum dan sanitasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas dengan telah tersedianya layanan air minum/pengelolaan air limbah kepada IV-268 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah kesehatan masyarakat. Dalam aspek penyaluran. NPPH program Hibah Air Minum melibatkan 5 kota yang memenuhi syarat dan mendukung pencapaian target kegiatan.

untuk mengembangkan kapasitas sumber Daya Manusia (sDM) pengelola keuangan daerah. PDAM pada beberapa daerah mencoba menerapkan strategi diferensiasi harga produk dipungkiri juga peran DPRD dalam mendukung kebijakan alokasi anggaran dan pengawasan yang memadai bagi keberlangsungan program hibah ini. dan meningkatkan penyertaan modalnya pada BuMD penyedia air minum membantu meningkatkan kapasitas BuMD terkait. mekanisme ini selain menuntut adanya transparansi pelaksana pelayanan air minum dan air limbah. DPRD. secara tidak langsung. KEBIJAKAN PENINGKATAN KUALITAS salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas pengelolaan PENGELoLAAN KEUANGAN DAERAH keuangan daerah adalah sumber daya manusia yang mengelolanya. Di sisi lain.Pelengkap Buku Pegangan 2011 masyarakat. strategi ini pada jangka panjang atau pengelolaan air limbah kepada masyarakat secara lebih baik. Pemerintah mengadakan berbagai kegiatan pelatihan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-269 . kepada lapisan masyarakat yang berbeda. Artinya. tanggung jawab pemerintah daerah kepada masyarakat juga kepada BuMD Pada tataran implementasinya.4. Tambahan penyertaan modal ini menunjukkan adanya perhatian yang lebih baik dari pemerintah daerah yang secara langsung akan tambahan penyertaan ini juga menunjukkan peningkatan pengawasan pola hubungan positif antara pemerintah daerah. pemerintah daerah untuk menjamin ketersediaan layanan air minum dan/ wujud komitmen peningkatan kinerja pelayanan publik. pemerintah daerah berinisiatif untuk dan air limbah. sebagai diharapkan dapat menjaga kesinambungan akses sambungan air minum khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. hibah ini telah mendorong peningkatan masyarakat. Pada sebagian daerah.2. BuMD. tidak dapat 4.

baik pada tingkat pengambil kebijakan maupun pelaksana teknis operasional pengelolaan keuangan daerah. Perguruan tinggi penyelenggara KKD/lKD sebagai center of excellencies dapat berperan menjadi media untuk terlibat bagi penyelenggara dalam hal updating pengetahuan tentang kebijakan lembaga/pusat studi keuangan daerah di masing-masing center. program KKD/lKD secara khusus didesain untuk mengembangkan kapasitas sDM pemerintah daerah dalam melaksanakan itu. kebijakan desentralisasi fiskal yang berpedoman pada peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara dan daerah terkini dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). kegiatan KKD/lKD juga bermanfaat desentralisasi fiskal terkini serta menjadi embrio bagi terbentuknya Dengan kata lain. langsung dan berpartisipasi dalam transfer pengetahuan dan sosialisasi serta ikut mendorong penyempurnaan kebijakan Pemerintah di bidang keuangan negara dan daerah. untuk IV-270 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . Pelatihan tersebut dilakukan baik melalui pelatihan akuntansi keuangan pemerintah daerah. Keuangan Daerah (lKD) untuk level pengambil keputusan. Pemerintah akan tetap melanjutkan dan mengembangkan pelaksanaan kegiatan pelatihan keuangan daerah di masa mendatang. penyelenggaraan KKD/lKD bermanfaat untuk meningkatkan kualitas aparatur pengelola keuangan daerah. maupun KKD Khusus Penatausahaan/Akuntansi Keuangan Daerah (KKDK) dengan fokus Kursus Keuangan Daerah (KKD) untuk level staf pemerintah daerah. selain itu. latihan Bagi pemerintah daerah.keuangan daerah dengan melibatkan beberapa perguruan tinggi sebagai pusat kegiatan pelatihan (center).

seperti pendidikan. b. TUGAS PEMBANTUAN DAN URUSAN BERSAMA Program dan kegiatan pembangunan yang dikelola Pemerintah Pusat Cq. Pemerintah 1) Peningkatan proporsi alokasi pendanaan atas program dan kegiatan yang kemiskinan. perekonomian. pengawasan pada pengelolaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan menerapkan kebijakan Triple Track Strategy sebagaimana tertuang dalam Menengah Nasional (RPJMN). dimana program dan kegiatan yang disusun berorientasi Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Pusat telah melakukan berbagai upaya pendekatan kebijakan dalam rangka mendorong percepatan terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat. daerah. 2) Melakukan upaya sinergi pusat dan daerah dalam rangka efektifitas dan perumahan dan faslitas umum serta Program Nasional Pemberdayaan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Pemerinta Pusat di Penguatan peran gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat di Pemberitahuan lebih awal kepada Pemerintah Daerah atas indikasi program dan kegiatan yang akan dilimpahkan dan/atau ditugaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Daerah dalam menjalankan fungsi koordinasi serta pembinaan dan IV-271 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 4.5. KEBIJAKAN MELALUI PENDANAAN DEKoNSENTRASI.2. pelayanan umum. dan dalam penyelenggaraanya. melalui : a. yang antara lain sebagai berikut : bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan pengentasan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Kementerian/lembaga melalui ketiga mekanisme tersebut mengacu pada Prioritas Nasional.

IV-272 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . 3) Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan 4) Memperbaiki a. pengelolaan dana urusan bersama pola perencanaan yang memperhatikan dan kegiatan daerah dengan program dan kegiatan Pemerintah Pusat Pelibatan DPRD dalam proses sinkronisasi dan harmonisasi program dana dengan menerbitkan beberapa pedoman pengelolaan dana. melalui : b. Pembantuan untuk pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan maupun Penggunaan indikator keseimbangan pendanaan di daerah dalam dalam perencanaan lokasi dan anggaran serta penentuan besaran indikator Penggunaan Indikator Kemampuan Fiskal dan Kemiskinan Daerah program dan kegiatan urusan Bersama perencanaan alokasi dan anggaran Dekonsentrasi dan Tugas dana pendamping (cost sharing) daerah dalam penyelenggaraan 5) Memprioritaskan daerah yang tertinggal atau daerah yang berkinerja baik dana Tugas Pembantuan. dan dana urusan bersama. untuk mendapatkan perhatian dalam pengalokasian dana Dekonsentrasi. baik kesejahteraan masyarakat di daerah.c.

BAB V PENUTUP PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-273 .

V-274 Penutup .

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi desain desentralisasi fiskal di Indonesia bertumpu pada desentralisasi sebagai pendapatan yang dominan di Daerah. Di samping itu. penguatan sumber pendapatan meningkatkan fungsi akuntabilitas fiskal Daerah. karena ada pungutanpungutan yang akan langsung dilakukan oleh Pemerintah Daerah. local taxing power tetap harus dijaga. Meskipun Daerah tidak dimaksudkan untuk menjadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Belanja pemerintah yang efisien dan efektif akan menjadi kunci keberhasilan pemborosan dan tidak berorientasi pada kepentingan masyarakat. Berapapun besarnya pendapatan akan menjadi kurang bermakna apabila pola belanjanya masih melakukan pemborosan- dana sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing Daerah. sehingga akan berimbas kepada kondisi perekonomian yang lebih fiskal Indonesia adalah desentralisasi fiskal di sisi pengeluaran yang utamanya daerah dititikberatkan pada diskresi (kebebasan) untuk membelanjakan didanai melalui transfer ke Daerah. pembangunan suatu bangsa. Desentralisasi Pemerintah dalam mengelola pembangunan guna mendorong perekonomian di Daerah. bagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia. Esensi otonomi pengelolaan fiskal di sisi pengeluaran yang didanai melalui transfer ke Daerah. PAD lebih dimaksudkan untuk V-275 . Namun demikian.Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB V PENUTUP Desentralisasi fiskal adalah salah satu instrumen yang digunakan oleh Daerah maupun Nasional. Mekanisme hubungan keuangan yang lebih baik akan menciptakan berbagai kemudahan dalam pelaksanaan pembangunan baik yang tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat.

melalui sistem perencanaan nasional yang mendukungnya. baik dalam konteks pendanaan diperoleh. sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan antar tingkatan. Desentralisasi fiskal dan otonomi daerah harus mampu . haruslah diwujudkan pembagian urusan di antara berbagai tingkatan. sehingga tidak lagi terjadi tumpang tindih belanja antar unit dan antar tingkatan. digunakan untuk untuk itulah Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki kualitas desentralisasi.belanja pemerintah mempunyai peranan yang cukup krusial sebagai stimulus pembangunan ekonomi. Perbaikan sistem perencanaan belanja pemerintah diperlukan untuk mendapatkan efek positif yang optimal bagi perekonomian. Masih terjadi belanja Pemerintah melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. tugas pembantuan ataupun skema pendanaan urusan bersama. antar unit maupun antar tingkatan. dekonsentrasi. baik secara langsung ke Daerah maupun mendanai kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi urusan Daerah yang telah didesentralisasikan. satu hal yang perlu dicermati dalam harmonisasi ini adalah bahwa semua bentuk belanja tersebut harus berangkat dari kejelasan tugas dan kewenangan masing-masing level V-276 Penutup pemerintahan. satu hal yang pasti diharapkan akan terjadi dalam masa yang akan datang adalah sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan antar tingkatan pemerintahan tidak lagi menjadi ‘barang mewah’ yang sulit untuk terutama dalam program-program dan kegiatannya. Harus diakui bahwa sampai saat ini masih terjadi tumpang tindih belanja melalui anggaran kementerian. sistem tersebut Adanya harmonisasi belanja Pusat dan Daerah demi mencapai pelayanan publik yang optimal merupakan hal yang krusial. harus menjadi alat atau regulasi untuk menjamin kepastian dan kejelasan hubungan keuangan pusat dan daerah.

sehingga diharapkan belanja daerah dapat memberikan Pada akhirnya. yang secara bersama-sama akan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang kemudian dapat desentralisasi fiskal yang bersih dan sehat. lebih tepat sasaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 menjawab isu-isu penting seperti kemiskinan. Inisiatif lokal atau kebijakan ekonomi lokal harus dapat menjadi awal penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. karena sumber daya fiskal mencukupi untuk Daerah dan Pusat. bukan pada tujuan untuk menyediakan layanan menyejahterakan masyarakat lokal. upaya penerapan good governance haruslah dijadikan dasar bagi pengeluaran APBD yang menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki pendapatan masyarakat. pengangguran. melalui pertumbuhan problem desentralisasi fiskal akan didominasi oleh permasalahan kekurangan publik yang memadai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. desentralisasi fiskal tidak akan berhenti pada aspek fiskal saja. pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Ekonomi Daerah yang kuat akan mempermudah proses dan perebutan sumber daya. Jika ekonomi Daerah lemah. tetapi justru tujuan besarnya adalah mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. maka desentralisasi harus diukur dari kemampuan Pemerintah Daerah dalam ekonomi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-277 . mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Keberhasilan yang cukup tinggi dan kemudian mentransformasikannya dalam bentuk penciptaan lapangan kerja baru dan perbaikan pendapatan masyarakat.

V-278 Penutup .

“Produk Hukum dan Perundang-undangan”. strategi dan Peluang”.2006. Building Institutions for good governance (BIgg). Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Reformulasi Dana Alokasi umum: laporan Penelitian. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) and Institute for Economics and social Research-Faculty of Economics university of Indonesia (lPEMFEuI). 2005.indonesia.go.id). Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat. Bambang Ps dan Robert A. (2004).go. laporan Panitia Kerja Belanja Daerah dalam Rangka Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan Ruu tentang RAPBN TA. Juli 2005. “otonomi Daerah: Reformasi. Jakarta: Bappenas (www. Jakarta: lPEM-FEuI. (2009). “sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah”. Jakarta. M.id). “Pedoman Acuan Anggaran Kinerja”.Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR PUSTAKA Asian Development Bank (ADB) TA 3967-INo: local government Provision of Minimum Basic service for the Poor. Pedoman Penyusunan APBD Berbasis Kinerja. 20032004. draft hasil Focus group Discussion (FgD) sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah. 2004. simanjuntak. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah otonom. “Nota Keuangan APBN 2011”. lPEM FEuI dan PsE-KP FEugM. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-279 .. (2005). Kementerian Keuangan. Jakarta: Penerbit Erlangga. “study on Decentralization Framework and Fiscal and Administrative Capacity of local governments in Indonesia”. (2004). 2005. laporan Akhir. Bappenas. Brodjonegoro. Perencanaan.go. Jakarta: Kemenkeu RI (www. Kementerian Keuangan. “sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”. (2005). depkeu. BPKP. (2010). Buku Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2010. Jakarta: Pemerintah RI (www. PP No.bappenas.id) Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat. Kuncoro.

dan Informasi laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. PP No. 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas PP No. PP No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan.1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah V-280 Penutup . PP No. 106 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. PP No. PP No. PP No. PP No. PP no. PP No. PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. PP No. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah. PP No. laporan Keterangan Pertanggungjawaban Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/Daerah. 65 Tahun 2010 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah. PP No. 24 Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan. dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ lembaga. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. PP No. PP No. 56 Tahun 2001 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. PP No. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri PP No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan uu No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara/ Daerah. 3 Tahun 2007 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.PP No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.

PMK No. 153/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. PMK No. serta aturan pelaksanaanya PMK No.Pelengkap Buku Pegangan 2011 PP No. 129/PMK. 147/PMK. 156/PMK. diatur lebih lanjut tentang perencanaan. 04/PMK.06/2007 tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat.07/2011 tentang tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah. PP No. 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah (Official Assessment) atau Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak (Self Assessment) PMK No. Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi Daerah. 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah PP No.05/2008 Tentang Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman luar Negeri. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/ Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. PMK No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan PP No. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-281 . pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. 171/PMK. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman luar Negeri dan Penerimaan Hibah PMK No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Permendagri No. Dan Rekening Pembangunan Daerah pada Pemerintahan Daerah. Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas No.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari Pemerintah Pusat. Rekening Dana Investasi. PMK No.

PMK No. 186/PMK. 2002). Hambatan. 174 Tahun 2009 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. Dana Alokasi umum: Konsep.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek BPHTB. PMK No. Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2009.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah. 149/PMK. (Jakarta: Kompas.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. dan Prospek di Era otonomi Daerah. PMK No.all. 66/PMK. PMK No. PMK No. 47/PMK.07/2010 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2011. 148/PMK.07/2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012. Machfud et.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek PBB Perdesaan dan Perkotaan. PMK No. PMK No. PMK No.PMK No.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. V-282 Penutup . 245/PMK. 223 Tahun 2009 tentang Alokasi dan Pedoman umum Dana Tambahan Penghasilan Bagi guru PNsD Kepada Daerah Provinsi. PMK No. 197 Tahun 2009 tentang Dasar Pembagian Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kepada Provinsi Penghasil Cukai dan/atau Provinsi Penghasil Tembakau. 11/PMK. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. PMK No. 168 Tahun 2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. PMK No. 147/PMK. 21/PMK.07/2010 tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. sidik.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum (DAu) dan/atau Dana Bagi Hasil (DBH). 213/PMK.

17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. uu No. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-283 . 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. uu No. paper for Conference Expenditure Assignment under Indonesia’s Emerging Decentralization: A Review of Progress and Issues for the Future. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Atlanta. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. uu No. uu No. uu No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. uu No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. uu No. World Bank Dutch Trust Fund. Andrew Young school of Policy studies. uu No. May 2002. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Support to the Ministry of Home Affairs. sponsored by the International studies Program. 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Paul.Pelengkap Buku Pegangan 2011 smoke. November 2002. uu No. World Bank Report of Dutch Trust Fund Package 8 on “Reformulasi Dana Alokasi umum”. “Can Desentralization Help Rebuild Indonesia”. georgia state university. 2004. uu No. “strengthening Indonesia’s Framework for Decentralization”.

V-284 Penutup .

III-69. III-238. IV-257. xvii. V-284 272 dana bagi hasil pajak I-5 dana bagi hasil sDA viii. III-109. IV-247. xi. III-192. III-103. V-279 IV-272. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-285 . III-132. xiv. III-54. III-67 100. III-105. III-97. III-185. III-59. I-6. III-151. III-190. IV-253. xvi. I-8. III-152. III-211. H Hibah Hibah luar negeri x. III-215. IVDAu Dana Alokasi umum ix. III-216. II-14. III-214. III-99. III-155. III-65. I-3. III-146. III-243. III-53. IV-264. III-186. III-187. IV-262. III-52. III-137. xv. IIIIII-184. III-104. III-222. B belanja daerah v. II-14. IV-264. III-51. III-188. xv. I-7. III-48. V-277 D dana bagi hasil dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan I-4. x. vi. III-183. I-5. III-212. III-25. xii. IV-250. III-184. III-98. III- 153. III-208. III-138. III-41. III-189. IV-255.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Index A akuntabilitas iv. III-139. III-212.

III-238. xv. III-127. IV-267. III-176. III-181. III- K kriteria khusus 221. III-173. III-160. III-193. IV-261. III-55. IIIIII-179. III-147. III-167. IV-261 233. IIIIII-139. III-98. IV-266. III-148. III-126. III-234. III-194. III-219. III-226. III-185. III-22. III-103. V-283 N Naskah Perjanjian 267 Kriteria teknis III-108. III-182. V-284 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah xii. III-142. III-21. III-212. V-282. O obligasi Daerah xi. III-23. III-174. III-166. V-283 169. III-231. xiii. III-172. III-160. III-170. III-238. III-185. V-277 Penutup Pendapatan Asli Daerah I-5. III-178. III-201. IV-265 Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman III-159. III-186. II-14. IV-268. III-25. III-168. III-195. III-180. III-109. P Pajak Bumi dan Bangunan viii. III-177. III-143. III-171. III-193. V-286 . III-197. III-100 pajak penghasilan III-41 pajak daerah dan retribusi daerah iv. III-199. III-29.III-193. III-100. III-186. III-220. IVIV-267 Naskah Perjanjian Pinjaman luar Negeri III-159. II-12. III-196. III-21. III-175. III-57. III-23. III-146. III-48. III-198. III-36.

III-151. III-152. III-149. xv. V-283 III-182. III-166. III-183. xii. V-282. III-141. V-284 147. III-164.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pinjaman Daerah v. III-156. III-156. III-143. III-158. II-15. xi. III-148. III-152. III-144. III-161. III-142. III-143. V-283. III-149. IIIPinjaman luar Negeri xi. II-14. III-140. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-287 . III-158. III-151. III185. III-159.

V-288 Penutup .

atas kontribusinya membantu Iskandar. sH. sH. MFM. Kurnia. MA.. sE. M. MM. SE. Putut Hari satyaka.M. Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2011 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan untuk menyumbangkan bahan. sE. MFM. serta semua PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-289 Tidak lupa disampaikan terima kasih kepada Ichwan setyarno. Edison sihombing. Marwanto Harjowiryono.D. Brodjonegoro..Ak. M. M. Ak. s. Ricka Yunita Prasetya. MM. Endang Ah.. Ph. MM.. Anwar syahdat.sc. MA. Panjaitan.. Dra... Budi sitepu. MA. Matheus Agus Kristianto. sH. sE. MM. Zainatun.. sE. Erny Murniasih. Drs. Jamiat Aries Calfat. Pramudjo. Drs...s.. SE...sos. serta masukannya sehingga terselesaikannya buku ini... Prof. Drs...soc. Ahmad membantu proses pengumpulan naskah editing sampai setting. Yusrizal Ilyas... ME. Agung . MM. Berlin tentang MA. menyusun materi. Prof. MPA. Ak. sugiyarto. MA. MM. Dhani setyawan. Wendy Julianti. SE. MPP. Ahmad Yani. Wahyudi sulestyanto. sE. sE.sc. Nafi. dan kepada semua ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr.sc.. sE. setio Budi. Adriansyah. penyusunan materi. Drs. Ak. sH. SE. MM. Dr. Jackwin Simbolon. Radityo Putumayor... Mu’Am. Drs. Rukijo. sE. Ria sartika A... Hesti Budi utomo. ubaidi socheh Hamidi. Dr.D.Pelengkap Buku Pegangan 2011 UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada para kontributor yang telah meluangkan waktunya pendukung yang telah membantu terbitnya Buku “Peningkatan Kualitas Ekonomi”sebagai Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Muhammad Zainuddin. Imaduddin.. MM... Ph. Masagus Zenaidi. MT. lily Kuntratih.sc. Heru sE. Anny Ratnawati. dan Agus Nugroho yang telah subiyantoro. Bambang P. Drs. Helmy Rukmana.soc.

V-290 Penutup .pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu. Kepada semuanya sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->