P. 1
Sistem Kurs Valuta Asing

Sistem Kurs Valuta Asing

|Views: 226|Likes:
Published by Roshi Han

More info:

Published by: Roshi Han on May 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2015

pdf

text

original

Sistem Kurs Valuta Asing Secara umum, sistem penyesuaian internasional ada 3 yaitu sebagai berikut : 1.

SISTEM KURS TETAP (FIXED EXCHANGE RATE) Fixed exchange rate mempertahankan kurs valuta asing yang tetap tidak berubah, dan mengharapkan bahwa elemen-elemen yang lainnya dalam system tersebut seperti jumlah pendapatan nasional, tingktat harga, politik perbankan, dan fiscal dapat menjamin perekonomian dan berada dalam suatu keseimbangan internasional. Dari kurs pertukaran tetap atau fixed exchange rate ini, yang terkenal adalah standar emas (gold standard). Dalam system ini Negara-negara mempertahankan nilai mata uang dalam hubungan yang telah ditentukan dengan disertai syarat adanya

penjualan dan pembelian emas pada harga yang konstan. Bila semua mata uang di dunia mempunyai hubungan yang konstan dengan emas, maka semua mata uang tersebut akan mempunyai hubungan yang konstan pula. Sedikitnya hal tersebut adalah benar bila harga pembelian dan penjualan emas disetiap Negara adalah sama, dan bila emas dapat diangkut antar Negara. Mungkin tidak begitu jelas bagi setiap orang mengapa kurs valuta asing baru konstan bila setiap Negara memiliki satu harga pembelian dan harga penjualan serta pengangkutan emas tanpa biaya. Tetapi, misalkanlah bahwa harga pembelian dan penjualan emas $ 35 per ons USA dan 175 shilling di inggris. Kurs pertukaran antara dolar dan pondsterling akan konstan, pada $ 4 terhadap 1 pound Karena : shilling per dolar atau $ 4.00 per poundsterling (20 sh) Alasan mengapa kurs itu tidak berubah dari keadaan diatas adalah karena tidak ada orang di USA yang akan mau membayar lebih dari $ 4.00 untuk 1 poundsterling. Pada setiap kurs yang lebih tinggi bagi poundsterling, adalah lebih murah untuk membeli seharga 4/35 ons emas di new York yang harganya hanya $ 4.00, dan menukarkannya di London £ 1. Demikian pula sebaliknya yang akan terjadi bila kurs itu turun. Memang dalam kenyataan pemerintah c.q. bank sentral mengadakan perbedaan antara harga pembelian dan penjualan. Disamping itu pula pengangkutan emas antar Negara mahal disebabkan adanya macam-macam biaya. Sebagai akibatnya adalah

bahwa harga poundsterling di New York dapat berbeda dengan perbandingan hargaharga emas dari kedua mata uang yang bersangkutan, hal mana disebut “ mint parity” sebesar biaya-biaya pengangkutan emas tersebut. Suatu perubahan dalam harga emas dikedua pasar valuta akan mengubah mint parity, dan dengan demikian mengubah kurs valuta. Z

Seseorang mungkin bersedia membeli poundsterling dan membayar dengan jumlah yang lebih tinggi daripada jumlah mint parity, tetapi pasti tidak dengan jumlah lebih tinggi yang lebih besar dari biaya untuk pembeliaan emas di New York beserta pengangkutannya ke London. Biaya-biaya itulah yang membentuk apa yang dikenal dengan “titik ekspor emas”. Di luar titik tersebut nilai poundsterling tidak akan meningkat lagi. Sebaliknya, seseorang yang menjual poundsterling akan bersedia akan menjualnya dengan suatu harga dibawah mint parity tetapi tidak lebih rendah dari biaya-biaya pengangkutan poundsterlingnya untuk membeli emas di London serta biaya-biaya pengangkutannya ke New York, dimana ia dapat menjual untuk memperoleh dolar. Biaya-biaya inialah yang membentuk “titik impor emas”. Di antara kedua titik yaitu titik ekspor emas dan titik impor emas, kurs valuta asing ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut ini

Gambar diatas memperlihatkan posisi pada stabilisasi karena spekulasi, oleh karena kurve permintaan gerak arahnya negative dan kurve penawaran gerak arahnya positif. Kurs valuta asing tidak didorong kea rah mint varity yang bekerja sebagai dasar kalkulasi dari titik-titik emas. Kurs sebenarnya ( titik E), berada dibawah mint parity tetapi yang dapat pula berada antara titik ekspor emas dan titik impor emas. Pada titik impor emas, besar permintaan akan poundsterling menjadi tidak terbatas karena pada kurs itu £ dapat di tukarkan dengan $ melalui pengiriman emas, dimikian pun pada titik ekspor emas besarnya persediaan poundsterling tidak terbatas karena pada harga yang tinggi untuk poundsterling ini, sangatlah berfaedah untuk mendapatkan poundsterling melalui ekspor emas. Pada standard emas yang stabil pergerakan kurs antara kedua titik emas biasaya berguna, sedikitnya untuk pasar-pasar uang yang letaknya berjauhan, dimana biaya pengangkutan emas menyebabkan titiktitik emas tersebut terletak cukup jauh satu sama lain. Makin jauh terpisahnya titiktitik emas tersebut, makin system standard emas itu menyerupai system flexible exchange rate atau “paper standard”. Bila terjadi perubahan besar dalam permintaan, atau penawaran akan valuta asing, maka pergerakan emas yang disebabkan oleh perubahan dalam kurs valuta akan mengimbangi permintaan dan penawaran itu dalam jangka pendek. Jika permintaan akan sterling melibihi penawaran mendatang pada harga antara kedua titik emas, maka sebagian dari permintaan itu akan dipenuhi oleh ekspor emas yang mengubah dolar ke dalam sterling. Dalam gambar 4.3 misalnya, suatu pergeseran dalam permintaan akan sterling dari DD ke D’D’ menyebabkan pula SS ke kanan. Permintaan dan penawaran akan seimbang pada satu-satunya titik yaitu D’, yang terletak pada titik ekspor.

Emas setinggi $ 2.828. jumlah MS. Sebagian dari permintaan total MD’, dipenuhi oleh penawaran £ dari hasil ekspor barang-barang dan jasa-jasa. Jumlah permintaan SD’ dipenuhi melalui ekspor emas. Dalam gambar 4.3B sebaliknya, suatu pergeseran ke kanan dari penawaran akan sterling, yaitu dari SS ke S’S’, Yang dimungkinkan oleh pertambahan dalam permintaan akan hasil-hasil ekspor USA, akan menurunkan kurs pertukaran sampai kepada titik impor emas. Jumlah OD disebabkan oleh impor barang-barang dan jasajasa, sedangkan jumlah DS’ oleh impor emas.

PRICE SPECIE FLOW MECHANISM Harus emas akan memberikan keseimbangan jangka pendek dalam permintaan dan penawaran valuta asing. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung terus, karena

persediaan emas suatu Negara akan habis bila diekspor terus-menerus. Keseimbangan jangka panjang di dalam standar emas dicapai melalui suatu mekanisme, yang oleh para ahli ekonomi klassik antara lain David Hume, Adam Smith, J. Stuart Mill, Alfred Marshall, disebut price specie flow mechanism. Dalam mekanisme ini perubahan harga yang dikarenakan arus emas dianggap dapat melakukan penyesuaian. Oleh para ahli ekonomi modern memang pengaruh harga itu tidak diabaikan, tetapi mereka lebih cenderung untu menganggap bahwa perubahan pendapatanlah yang untuk sebagian besar melakukan penyesuaian dalam standar emas. Ketika dalam abad ke-18 David Hume mengemukakannya untuk pertama kali, memang pendapat kaum klasik tersebut di atas merupakan sebuah pendapat yang revolusioner. Pendapat itu telah dapat melenyapkan, sekurang-kurangnya di Inggris, pandangan kaum merkantilis yang memandang bahwa kenaikan dalam ekspor sangat diharapkan, disebabkan oleh karena hal tersebut akan memungkinkan untuk mengimpor emas, dan emas menurut kaum merkantilis adalah yang paling tinggi nilainya di dunia ini.

Mengenai bekerjanya price specie flow mechanism dapat diterangkan sebagai berikut. Suatu kelebihan dalam impor barang-barang, di dalam jangka pendek akan menyebabkan ekspor emas. Akan tetapi, kerugian emas tersebut mengurangi jumlah uang dalam negeri karena uang adalah sama dengan emas atau system perbankan menyesuaikan persediaan uang dengan jumlah emas yang tersedia. Berkurangnya persediaan uang dalam negeri akan mengakibatkan penurunan dalam harga barangbarang, sesuai dengan teori kualitet dari uang, yang mengatakan, bahwa dengan lebih sedikit uang orang akan mengeluarkan lebih sedikit, sehingga dengan output yang sama besarnya hal tersebut akan mengakibatkan penurunan harga-harga, sebagai akibat dari arus emas ke luar, inilah yang merupakan kunci dalam mekanisme penyesuaian dalam jangka panjang. Harga barang yang turun akan memperbesar ekspor, karena orang luar akan menganggap Negara yang bersangkutan sebagai tempat yang lebih murah untuk membeli. Ini akan menggeser kurve SS dalam gambar 4. 1 kearah kanan, yaitu, dengan harga yang lebih rendah orang-orang luar negeri akan berdatangan untuk memberli pada setiap kurs valuta asing. Harga-harga yang lebih rendah akan mengurangi impor pula, karena konsumen dalam negeri akan mencari substitusi untuk barang-barang luar neger, yang menjadi relatif lebih mahal, pada barang-barang dalam negeri. Ini akan menggeser permintaan akan valuta asing dalam Gambr 4. 1 ke arah kiri serta menurun. Dengan harga-harga dala negeri yang lebih rendah, permintaan akan valuta asing pada setiap kurs valuta asing akan berkurang. Dengan cara ini, arus uang logam atau emas akan melakukan penyesuaian dala posisi internasional suatu Negara pada pasar valuta asing.

KRITIK TERHADAP PRICE SPECIE FLOW MECHANISM Price specie flow mechanism yang sederhana tidak dapat bertahan lama. Para ahli ekonomiper mulai meragukan bahwa standar emas dapat diatur malalui harga. Penyelidikan mengenai keadaan dalam abad ke – 19 menyatakan bahwa arus emas di Inggris tidakkalh dipengaruhi oleh khusus perubahan dalam harga barangbarang, melainkan oleh pergerakan modal jangka pendek yang disebabkan oleh perusahaan bunga diskonto, yaitu bunga diskonto dari bank of England. Bila tingkat bunga di London secara relative menurun, dibandingkan dengan semua Negara sisanya di dunia ini. Sebagai gantinya pemasukan emas, pergerakan modal jangka

pendeklah yang bergerak ke luar, yang menghentikan pemasukan emas ke dalam, serta mengisi pos debet untuk mengimbangi pos kredit dari ekspor yang bertambah. Sebaliknya, bila tingkat bunga jangka pendek meningkat, terjadilah pemasukan modal, yang cukup besar untuk menghapuskan kerugian emas jika kenaikan tingkat bunga itu cukup besar, dalam kenyaataan dapat terjadi pemasukakan modal yang melibihi ketidakseimbangan dalam nerasa serta selanjutnya terjadilah penglaliran emas ke dalam. Selanjutnya yang lebih penting adalah bahwa seperti telah diketahui, para ahli ekonomi klasik mengabaikan elemen penting dalam proses penyesuaian, yaitu peranan perubahaan dalam pengeluaran dan pendapatan. PERUBAHAN-PERUBAHAN PADA FIXED EXCHANGE RATE Suatu kenikkan ekspor akan menyebabkan pertambahan pendapatan bagi eksportir. Pendapatan ekstra tersebut akan dikeluarkan untuk gaji, upah, persediaan, dan konsumsi barang-barang atau ditabung. Umumnya, sebagian besar akan dikonsumsi. Bagian yang dikeluarkan akan menjadi pendapatan bagi produsen barangbarang dan jasa-jasa, dan mereka ini akan mengeluarkan lagi (atau menabung). Bagian yang dikeluarkan merupakan pertambahan dalam pendapatan nasional. Akan tetapi, pertambahan dalam pendapatan itu hanya akan berlangsung selama pendapatan tersebut dikeluarkan untuk barang dan jasa dalam negeri, sedangkan bila digunakan untuk impor, maka pengeluaran tersebut akan berhenti (dengan ekspor tetap tidak berubah). Ekspor menyebebkan pertambahan pendapatan, sedangkan impor menguranginya. Bila tidak ada bagian dari pendapatan tersebut yang ditabung, maka pertambahan dalam pendapatan yang disebabkan oleh pertambahan ekspor akan berlangsung terus sampai suatu jumlah pertambahan yang sama besarnya dipergunakan untuk impor. Suatu perubahan dalam pendapatan dapat terjadi karena perubahan dalam ekspor atau impor. Dengan demikian perubahan pendapatan ini memiliki peranan penting dalam proses penyesuaian, dengan atau tanpa kebutuhan akan perubahan relatif dalam harga-harga. STANDAR EMAS DAN PURE EXCHANGE STANDARD Standar emas atau fixed exchange standard, uang dipergunakan oleh berbagai negara setelah Perang Dunia I, sebenarnya merupakan standar dimana suatu negara

bersedia untuk menjual dan membeli valuta asing tertentu yang dapat ditukarkan dengan emas, tanpa negara itu sendiri menjual atau membeli emas. Dalam Pure Exchange Standard,suatu negara membeli dan menjual valuta asing pada suatu kurs yang tetap. Hal ini berarti bahwa jarak perbedaan antara harga beli dan harga jual adalah lebih kcil dibandingkan dengan jarak perbedaan antara titik-titik emas.

2. SISTEM KURS BERUBAH UBAH (FLEXIBLE EXCHANGE RATE) Bila tidak ada mekanisme otomatis atau mekanisme resmi untuk keperluan Clearing pasar valuta asing, sepeti halnya pada standar emas atau Fixed Exchange Rate yang bekerja tanpa adanya pembatasan-pembatasan valuta, maka penyesuaian dalam neraca pembayaran dilakukan melalui perubaha dalam harga-harga. Perubahanperubahan ini tidaklah berasal dalam jumlah barang atau prubahan-perubahan dalam pengeluaran pada Full Employment, melainkan perubahan-perubahan itu langsung disebabkanoleh suatu perubahan dalam kurs pertukaran. Di dini bekerja pula mekanisme penyesuaian jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, permintaan dan penawaran valuta asing mencapai equilibrium ,elalui perubahan harga yang meratakan keadaan pasar. Bila permintaan akan valuta asing melibihi penawaran pada tingkat harga yang berlaku, maka harga akan meningkat sampai terjadi keadaan baru, dimana permintaan baru lebih besar dari sebagian dari permintaan dikurangi. Perubahan dalam kurs valuta asing ini, bila cukup berarti, akan mempunyai pengaruh penting lainnya. Hubungan antara harga-harga dari barang-barang yang diperdagangkan secara internasional akan berubah barang-barang yang diekspor dan diimpor, dan barang-barang yang dihasilkan dalam negeri yang merupakan saingan barang-barang impor, serta begitu pula harga barang-arang dalam negeri yang tidak ikut serta dalam perdagangan niternasional. Suatu kenaikkan harga barang yang diperdagangkan secara internasional akan memperbesar prosuksi ekspor, dan barang yang menyaingi barang impor yang kini menguntungkan, dan akan mengurangi pengeluaran untuk impor. Suatu penurunan harga barang yang diperdagangkan secara internasional, secara relatif terhadap barang dalam negeri sebaliknya akan memperbesar impor dan mengurangi ekspor. Depresiasi dari suatu mata uang akan menaikkan harga barang dalam negeri yang diperdagangkan secara internasional, dengan perumpamaan bahwa harga dalam pasar dunia tidak berubah. Misalkan bahwa harga pasaran dunia untuk kain katun dan

gandum yang terlihat di New York adalah masing-masing 30 sen per yard, dan $ 2.00 per bushel. Dengan tidak mengindahkan biaya transpor dan dengan kurs sterling $ 4.00 per pound, harga barang tersebut di London adalah 1sh. 6d. Per yard untuk kain katun dan 10sh. Per bushel untuk gandum. Jika kini nilai poundsterling di pasar valuta asing berubah, dengan perumpamaan bahwa harga pasaran masih tetap, maka harga barang tersebut dalam poundsterling akan dipengaruhi. Suatu depresiasi pound yaitu misalkanlah kini £1=$2.80 akan menaikkan harga kain katunmenjadi 1sh. 2d. Dan harga gandum 14sh. 4d per bushel. Pabriktekstil akan didorong untuk memperbesar produksinya dan menjualnya ke luar negeri , yang mengakibatkan ekspor bertambah besar; produsen dalam negeri akan memperbesar jumlah gandum pada hrga yang lebih tinggi, yang memungkinkan para penggiling gandum mengurangi ekspor mereka. Akan tetapi suatu apresiasi pound dari $4.00 menjadi $5.00 akan menurunkan harga kain katun dan gandum menjadi 1sh. 2d. Dan 8sh. Yang mengurangi ekspor dan mendorong impor. Sekalipun kita tinggalkan perumpamaan, bhwa harga-harga di pasaran dunia tetap, toh pengaruh depresiasi pertama-tama adalah untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor, sedangkan sebaliknya adalah benar pula untuk apresiasi. Disamping pengaruh-pengaruh di atas, masih terdapat pengaruh-pengaruh sekunder yang terjadi melalui pendapatan. Suatu depresiasi valuta asing misalnya, akan memperbesar ekspor dan mengurangi impor. Tetapi kedua-duanya, pertambahan ekspor dan pengurangan impor, akan memperbesar pendapatan nasional, dan ini akan cenderung untuk mengurangi ekspor dan memperbesar impor. Pengaruh sekunder ini dapat dilenyapkan melalui tindakan dalam sistem moneter atau fiskal atau dapat pula menjadi lebih hebat disebabkan oleh suatu penentuan atau tindakan politik yang salah. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa meskipun harga tidak dapat melakukan penyesuaian sepenuhnya, namun faktor harga ini telah memberikan kegunaannya pada taraf permulaan. KURS YANG BERFLUKTUASI SECARA BEBAS DAN YANG SEKALI-KALI BERUBAH Suatu negara tidak perlu untuk memiliki standar emaas untuk menjamin kurs valuta asing yang tetap, melinkan dapat pula mempergunakan “standar kertas” atau “paper standard” dalam mana mata uang yang bersangkutan tidak dapat ditukarkan dengan logam mulia, dan dapat pula mempergunakan berbagai politik devisa; suatu kurs yang tetap dalam ukuran mata uang lainnya; suatu kurs yang dapat berfluktuasi secara bebas dimana pemerintah tidak pernah turut campur; suatu kurs fleksibel tanpa

suatu rata-rata (par) yang tetap, tetapi dalam mana berbagai perubahan jangka pendek dapat dibuat oleh tindakan resmi dari pemerintah, atau pula kurs yang untuk jangka waktu lama adalah stabil dan hanya sesekali berubah. Suatu kurs yang berfluktuasi secara bebas tanpa campur tengan pemerintah, hampir tidak terdapat kenyataan, karena – terlepas dari pengawasan – Bank sentral akan mencari kesempatan untuk mencegah mata uang domestik meningkat dengan jalan membeli valuta asing, atau valuta asing yang dimilikinya untuk mencegah kurs itu menurun. Kebutuhan akan adanya campur tangan pemerintah timbul dari kenyataan tidak adanya kemungkinan bahwa pasar akan dapat meratakan (clear) keadaan fluktuasi kurs setiap jam, hari, bulan atau tahun. Apabila semua spekulasi bersifat menstabilisir,hal tersebut mungkin dapat terjadi,tetapi seperti telah kita ketahui kebanyakan spekulasi bersifat mendestabilisir. Tujuan jangka pendek dalam pasar valuta asing adalah untuk mencapai stabilitas tertentu dengan tidak memperdulikan kegunaan dari perubahan-perubahan jangka panjang. Tetapi harus diperhatikan bahwa stabilitasi jangka pendek tersebut tidak boleh menyerupai suatu trend, karena hal itu akan mendorong spekulasi yang bersifat destabilisasi. TEORI PARITAS-TENAGA BELI (PURCHASING POWER-PARITY THEORY) Faktor-faktor apa yang harus memasukkan dalam hubungan dengan fluctuating exchange rate,bila kurs lama tidak lagi dapat memenuhi tugasnya untuk keseimbangan perdagangan sehingga dirasakan perlu adanya kurs baru ? persoalan tersebut timbul untuk pertama kalinya setelah perang dunia I. Ahli ekonomi swedia, Gustav Cassel, menyarankan agar kurs baru mencerminkan perubahan-perubahan harga relatif dalam masing-masing negara. Bila kita mulai dari suatu periode dasar o dan dimisalkan ada dua negara, A dan B, maka kurs pertukaran (R) dalam periode 1 akan mempengaruhi harga-harga relatif sejak periode dasar : : R = kurs periode I a = negara A b = negara B P = harga o = periode dasar I =

Rumus diatas mengandung perumpamaan bahwa hubungan antara kedua negara telah ada dalam periode dasar dan bahwa tidak ada perubahan dalam struktur perdagangan internasional yang dapat mempengaruhi hubungan itu tanpa menyebabkan perubahanperubahan ditempat lain. Atas dasar rumus itu , maka kurs pertukaran antara A dan B akan menjadi setengah kali bila tingkat harga di B secara relatif kini dua kali tingginya dari periode dasar daripada di A. Didalam teori, doktrin paritas-tenaga beli itu menekankan bahwa hubungan hargaharga yang pada suatu waktu berhasil mengadakan penyesuaian dalam neraca pembayaran, akan juga menghasilkan keseimbangan, dengan syarat tidak terjadi perubahan besar dalam hubungan kedua negara yang bersangkutan. Bila tingkat harga dinegara A menjadi dua kali lebih tinggi dan B dinegara tiga kali, maka kurs baru sebesar 66 % dari yang lama akan menyebabkan mata uang dinegara B dinilai terlalu tinggi. Terjadinya kurs 66 % itu dapat dilihat dengan menggunakan rumus cassel sebagai berikut :

100 : 66 =

:

Barang-barang dinegara B dinilai terlalu tinggi dipasar A, sedang barang-barang negara A dinilai terlalu rendah dipasar negara B, dengan akibatnya bahwa ekspor negara B akan menurunkan dan impornya akan meningkatkan sehingga neraca pembayarannya terganggu. Kemungkinan kenaikan yang lebih tinggi dinegara B daripada dinegara A itu, tidak dapat diterapkan pada barang-barang dagangan internasional, melainkan hanya terbatas pada barang-barang domestik atau pada biaya produksi-produksi, termasuk gaji, bunga dan lain-lain. Namun pengaruhnya tetap sama ; bila biaya meningkat terus dinegara B secara relatif terhadap kurs baru, dibandingkan dengan dinegara A, maka adalah kurang menguntungkan untuk menjual barang-barang dari B kepasar negara A atas dasar harga-harga di A, serta sebaliknya, akan lebih menguntungkan untuk membeli barang A dinegara B atas dasar harga-harga A. Dengan demikian, ekspor akan berkurang sedang impor meningkat pada kurs yang dinilai terlalu tinggi itu.

Beberapa penulis menganggap doktrin paritas-tenaga beli sebagai persoalan yang mutlak dan mengatakan, bahwa barang-barang yang sama disetiap negara akan memerlukan biaya-biaya yang sama besarnya setelah perubahan kurs terjadi. Hal tersebut hanya dapat dibenarkan bila semua barang merupakan barang internasional tanpa terdapat biaya transpor serta tunduk pada hukum satu-harga (bahwa hanya berlaku satu harga dalam satu pasar). Dalam kenyataan terlihat, bahwa hanya sebagian kecil saja dari barang-barang yang diperdagangkan secara internasional ; bahwa barang-barang itu lebih murah dinegara-negara pengekspor, disebabkan oleh biayabiaya transpor, dan bahwa tidak terdapat kecenderungan penyamaan harga untuk barang-barang domestik murni. Dikemukakan pla oleh mereka itu misalnya, bahwa terdapat perbedaan tenaga beli dari poundsterling di inggris dalam ukuran dollar, untuk £ 1.000 pendapatan yang pertama, sebagian besar dikeluarkan untuk membayar bunga dan membeli bahan-bahan kebutuhan pokok;nilai pound adalah £ 5.00 atau $ 6.00; untuk £ 1.000 yang kedua, nilainya menjadi $ 3.00 atau $ 2.00, dan untuk pendapatan £ 1.000 yang ketiga dan keempat nilai £ 1 mungkin sudah akan menjadi £ 1.00. penyelidikan atas pendapatan rill di U.S.A, jerman, dan italia, yang dilakukan oleh gilbert dan kravis, memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang besar dari tenaga beli berbagai mata uang eropah (dalam ukuran dollar) untuk berbagai macam barang. Doktrin perias-tenaga beli ini hanya akan berguna pada keadaan fll employment (secara relatif), bila perubahan dalam pendapatan uang akan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam harga. Doktrin itu terutama berlaku antara tahun 19131919,dimana ketika itu terdapat keadaan full employment. Akan tetapi teori itu ternyata akan tidak berguna bila terjadisuatu perubahan dalam metode perdagangan, dan khususnya bila terdapat pengawasan devisa. PENGAWASAN DEVISA Banyak negara kekuranagn akan emas, dan telah mengalami pahit getirnya depresiasi (yang bertujuan untuk melenyapkan inflasi dalam pendapatan uang nasional), sehingga kemudian beralih kepada pengawasan devisa guna mengatur pembayaran-pembayaran internasionalnya. Tugasnya adalah untuk membatasi impor sampai kepada taraf jumlah ekspor atau bila perlu membatasi pengeluaran untuk jasajasa luar negeri, lebih luas lagi menjalankan pengawasan devisa tersebut dengan membatasi pergerakan modal.

Dalam proses pembatasan impor, harga-harga dan pendapatansediit banyak akan dipengaruhi, yaitu berupa kenaikan harga-harga dipasar yang persediaannya telah bertambah. Suatu pembatasan impor mempengaruhi pula pendapatan nasional, karena pengeluaran-pengeluaran yang biasanya dipergunakan untuk impor menjadi berkurang serta kini dialihkan untuk pengeluaran-pengeluaran domestik. Tetapi pokok utama pengawasan devisa adalah penjatahan (rationing). Dalam penjatahan, pemerintah berusaha untuk membatasi “barang-barang mewah”, sedang impor barang-barang esensiil tetap diperkenankan. Pengawasan devisa bersifat selektif (atau arbitrary), tetapi pengaruhnya terhadap neraca pembayaran adalah nyata. SISTEM-SISTEM PENGAWASAN DEVISA Kita kenal pengawasan devisa dengan melakukan diskriminasi dalam mata uang, atau juga dalam jenis barang-barang dan kadang-kadang dalam kedua-duanya. Diskriminasi dalam arti ekonomi adalah bila pembeli harus membeli barang pada suatu tingkat harga yang lebih tinggi dari suatu harga yang lebih murah, atau bila penjual harus menjual lebih murah dari suatu harga yang lebih tinggi. Dikatakan pula diskriminasi, bila terdapat larangan terhadap pembeli untuk membeli, dan menjual untuk menjual, pada setiap tingkat harga. Dalam sistem clearing. Pengawasan devisa melalui mata uang dipergunakan secara luas. Dalam hal ini diperbolehkan atau tidaknya seorang importir membeli barangbarang dari luar negeri, tergantung pada jenis mata uang yang akan dipakainya. Bila argentina mempunyai surplus dalam clearingnya dengan jerman barat misalnya, maka negara tersebut akan mengijinkan impor dari jerman barat, tetapi tidak diperbolehkan mengimpor barang sama bila misalnyaharus dibayar dengan dollar. Perihal pengawasan devisa melalui diskriminasi jenis barang-barang, metode yang sering dipakai adalah larangan atau pembatasan terhadap barang-barang yang dianggap non-esensiil. Pada pengawasan devisa dengan diskriminasi terhadap mata uang dan jenis barang, biasanya diijinkan untuk mengimpor suatu barang tertentu, tetapi pula hanya dari negara-negara tertentu.

Tujuan mula-mula dari pengawasan devisa ialah tercapainya keseimbangan impor terhadap ekspor pada suatu tingkat kurs valuta asing yang tidak berubah. Tetapi setelah diperkembangkan, ternyata bahwa keseimbangan dapat dicapai lebih cepat bila kurs valuta asing dapat berfluktuasi dalam bagian-bagian tertentu dari sistem yang bersangkutan. Hal tersebut membawa kita kepada multiple exchange rate system, dimana dapat pula diadakan diskriminasi dibidang barang-barang, dibidang negaranegara atau kedua-duanya. Pada sistem dua-kurs (two-rate system) melalui diskriminasi jenis barang terdapat kurs transaksi yang resmi (official exchange rate) yang cukup tinggi, dan paada kurs tersebut, barang-barang ekspor yang terbanyak diminta akan dijual,serta barangbarang impor esensiil dibeli. Didalam hal ini dapat diadakan perbedaan oleh pemerintah antara kurs pembelian dan kurs penjualan valuta asing, dan ini merupakan sumber pendapatan pemerintah yang bersangkutan. Tingkat kurs bebas, yang mungkin lebih rendah dari pada kurs resmi, dipergunakan untuk penyelesaian hal-hal lainnya, seperti impor barang-barang mewah dan barang-barang ekspor yang belum memiliki pasaran yang luas diluar negeri. Multiple exchange rate discrimination jarang dilakukan oleh negara-negara karena para arbitrageurs (pihak-pihak yang melakukan arbitrage) dapat mengelakkan peraturan-peraturan pemerintah dan menarik keuntungan dari keadaan. REKAPITULASI Standar internasional yang terkenal adalah standar emas, yang berusaha untuk membuat kurs valuta asing tetap berada diantara titik-titik emas ekspor dan impor. Biasanya terdapat anggapan bahwa penyesuaian dalam standar emas dicapai melalui price-specie-flow mechanism. Dewasa ini diakui bahwa meskipun perubahanperubahan dalam tingkat harga kadang-kadang memegang peranan, namun faktor penyesuaian yang terbesar adalah perubahan-perubahan dalam pendapatan. Pada sistem kurs yang berfluktuasi secara bebas, pasar valuta asing diratakan (clear) dengan jaan mengubah kurs. Hal tersebut mempunyai pengaruh jangka panjang dalam mengubah hubungan antara harga-harga dari barang-barang domestik dan

barang-barang yang diperdagangkan secara international. Teori Pritas-Tenaga beli berusaha untuk menerangkan tingkat kurs dibawah sistim kurs Yang dipaksakan (pegged system), dan bekerja tanpa pembatasan bila mata uang dapat ditukukarkan dengan emas.

Pengawasan devisa meratakan keadaan pasar valuta asing diantara pihak-pihak yang memerlukannya. Sistem penjatahan itu bersifat diskriminatif. Dan diskriminasi itu dapat dilakukan di bidang negara-negara, barang-barang atau kedua-duanya.

TUGAS EKONOMI INTERNASIONAL

oleh
ANGGOTA KELOMPOK :
1. LALU ANUGERAH DWI SEPTIAWAN 2. QAEDY THARIS ARDITA 3. DENI ABHI KRISDIANTO 4. MUHAMMAD ULUL AZMI 5. I WAYAN ANGGA HARIANA WIKA (A1B 010 149) (A1B 010 107) (A1B 010 023) (A1B 010 079) (A1B 010 095)

UNIVERSITAS MATARAM FAKULTAS EKOMONI 2011 / 2012

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->