Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Pajak Penghasilan pada Wajib Badan di Indonesia

PROPOSAL
Proposal ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian Dosen Pengampu: Anis Chariri, S.E., M.Com., Ph.D., Akt.

disusun oleh: Mona Ajeng Puspaningrum C2C009147

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

1

JURNAL Judul : Income Tax Liabilty for Large Corporation in China : 1998 - 2007 :Author : Tao Zeng (School of Business and Economics, Wilfrid Laurier
University,Waterloo, Canada)

Tahun Sumber
Volume

: 2010
: www.emeraldinsight.com/1321-7348.htm : Asian Review of Accounting Vol. 18 No. 3, 2010 pp. 180-196

2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Hal ini dapat dilihat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun anggaran 2005 sampai dengan tahun anggaran 2011 dimana proporsi penerimaan yang berasal dari sektor pajak merupakan penerimaan dalam negeri yang paling besar terhadap seluruh pendapatan negara yaitu dijelaskan pada tabel sebagai berikut : Tabel 1.1 Proporsi Penerimaan Pajak, 2005-2011 (dalam miliar rupiah) Tahun Penerimaan Perpajakan Penerimaan Negara Bukan Pajak 146.888,5 226.950,2 215.119,7 320.604,6 258.496,0 247.176,4 94.440,7 Total Proporsi Penerimaan Pajak 78,88 % 64,32 % 69,53 % 67,26 % 73,70 % 75,04 % 77,56 %

2005 347.031,1 2006 409.203,0 2007 490.988,6 2008 658.700,8 2009 725.843,0 2010 743.325,9 2011* 326.573,3 Sumber: www.fiskal.depkeu.go.id
* APBN tahun 2011 Semester Pertama

439.919,6 636.153,2 706.108,3 979.305,4 984.786,5 990.502,3 421.014

Semakin besarnya pengeluaran pemerintah dalam rangka pembiayaan negara menuntut peningkatan penerimaan negara yang salah satunya berasal dari penerimaan pajak. Direktorat Jenderal Pajak sebagai instansi pemerintahan di bawah Departemen Keuangan yang berfungsi sebagi pengelola sistem perpajakan di Indonesia berusaha meningkatkan
3

penerimaan pajak dengan mereformasi pelaksanaan sistem perpajakan yang lebih modern serta memaksimalkan kesadaran pajak kepada subjek pajak melalui gerakan Sensus Pajak Nasional (SPN) 2011. Subjek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan (Resmi, 2009). Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008, subjek pajak dikelompokkan sebagai berikut : 1. 2. Subjek Pajak Orang Pribadi Subjek Pajak Warisan yang belum terbagi sebagai kesatuan, menggantikan yang berhak 3. 4. Subjek Pajak Badan Subjek Pajak Bentuk Usaha Tetap

Pajak bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial sehingga menuntut adanya perbaikan baik secara sistemik maupun operasional. Perbaikan sistem perpajakan berupa penyempurnaan kebijakan dan sistem administrasi perpajakan diharapkan dapat mengoptimalkan potensi perpajakan yang tersedia dengan menjunjung asas keadilan sosial. Salah satu upaya perbaikan sistem perpajakan di Indonesia adalah dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 yang merupakan perubahan keempat dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 ini disahkan pada tanggal 23 September 2008 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 2009. Terdapat lima perubahan penting dalam peraturan pajak penghasilan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 yang diantaranya: 1. 2. Perubahan penghasilan tidak kena pajak. Insentif bagi sumbangan wajib keagamaan.
4

000. kecil. Beberapa poin penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang dapat menjadi objek pajak. 5. Insentif bagi usaha mikro. Disebutkan pada Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat (2a). Pengesahan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentunya akan menentukan kembali faktor – faktor yang mempengaruhi kewajiban pajak penghasilan baik Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) maupun Wajib Pajak Badan (WP Badan).000. Pengesahan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 berpengaruh pada kewajiban pajak penghasilan pada Wajib Pajak Badan.800.000. dari yang sebelumnya menggunakan tarif pajak progresif . 5 . 4.000 mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif sebagaimana dalam Pasal 17 ayat (1b) dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4.progresif.000.3. Fasilitas pengurangan tarif tersebut berlaku pada saat WP Badan DN menyampaikan SPT Tahunan PPh WP Badan (self assessment) tanpa perlu penyampaian permohonan untuk dapat memperoleh faslitas tersebut. 50. Peraturan tersebut didasarkan pada Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 (Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983) Tentang Pajak Penghasilan terdapat Pasal 31E ayat (1) yang mengatur bahwa Wajib Pajak Badan Dalam Negeri (WP Badan DN) dengan peredaran bruto sampai dengan Rp. Insentif bagi perusahaan terbuka dibursa efek. Unsur wajib dari pajak penghasilan Wajib Pajak Badan di Indonesia adalah peredaran bruto dan penghasilan kena pajak. dan menengah berupa potongan tarif hingga 50%. bahwa tarif tertinggi Wajib Pajak Badan dalam negeri dan BUT tersebut di atas dapat diturunkan menjadi serendah-rendahnya 25% (berlaku mulai 1 Januari 2010). Dimana peredaran bruto yang nantinya akan mempengaruhi pajak penghasilan yang terutang.

Perbedaan tersebut terletak pada tarif pajak dan struktur pajak. Hal ini yang mendorong peneliti dalam mereplikasi dan melakukan penelitian kembali terhadap penelitian yang dilakukan oleh Zeng (2010) tentang pajak penghasilan pada perusahaan di Negara maju. letak geografis kator pusat perusahaan dan struktur modal perusahaan berupa struktur kepemilikan saham. namun juga unsur lain yang melingkupinya diluar. Namun. Penelitian yang dilakukan oleh Bahl dan Bird (2008). Struktur lain pada pajak penghasilan untuk Wajib Pajak Badan berbeda antara Negara maju dan Negara berkembang seperti (Plesko. keuangan dan akuntansi yang mengungkapkan bahwa perubahan peraturan perpajakan pada 6 . (2007) yang mengukur kewajiban pajak efektif Wajib Pajak Badan selama 10 tahun. Penelitian ini juga dimotivasi oleh peningkatan proporsi pendapatan pajak terhadap pendapatan negara dari tahun ke tahun dan juga penelitian yang dilakukan oleh Dyreng. 2007).. pada penelitian yang sebelumnya tidak menjadikan perubahan peraturan pajak pada masing – masing Negara sebagai faktor yang membedakan jumah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan pada setiap tahun pengungkapan.Gupta dan Newberry (1997) menyatakan bahwa jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan tidak hanya dipengaruhi oleh unsur yang membentuknya secara langsung. Zeng (2010) dalam penelitiannya menyatakan struktur yang melingkupi pajak penghasilan Wajib Pajak Badan di Negara maju seperti China adalah jenis industri perusahaan. Namun. et al. mendukung pernyataan tersebut bahwa aturan perpajakan dan administrasi perpajakan pada Negara berkembang berbeda dari Negara maju sehingga unsur lain yang mempengaruhi jumlah pajak penghasilan antara negara maju dan negara berkembang berbeda. belum ada penelitian tentang struktur yang melingkupi penghasilan Wajib Pajak Badan di Negara berkembang. Banyak literatur ekonomi.

. dikarenakan tidak ada kantor pusat perusahaan go public tersebut yang berada pada wilayah free tax area di Indonesia . Karimun Jawa.setiap Negara mempengaruhi perbedaan kewajiban pajak penghasilan bagi wajib pajak (Feldstein dan Summers. 1986. Gordon.2 Rumusan Masalah Perbedaan faktor yang membentuk jumlah pajak penghasilan bagi Wajib Pajak Badan di Negara maju dan Negara berkembang. et al. namun diterapkan pada wilayah yang berbeda dengan penelitian yang sudah ada. Bitan dan Sabang dikarenakan ke empat wilayah tersebut merupakan wilayah perdagangan bebas (PP Nomor 2 tahun 2009 dan PMK 240/2009). 1984. Berdasarkan uraian di atas. Masalah yang diteliti. Terutama setelah diterbitkannya Undang – undang Nomor 36 Tahun 2008 (Nomor 17 tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127. yaitu Batam. 2002). serta penyertaan variabel sesuai dengan wilayah penelitian yaitu Indonesia. Apakah jenis industri perusahaan dari Wajib Pajak Badan di Indonesia mempengaruhi jumlah pajak penghasilan ? 7 . tidak memenuhi kriteria sebagai variabel independen. Fullerton. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985)) secara langsung mempengaruhi perbedaan jumlah pajak penghasilan yang harus dibentuk oleh Wajib Pajak sebelum dan sesudah berlakunya Undang – Undang tersebut. Letak geografis kantor pusat perusahaan – perusahaan di Indonesia yang go public. 1979. selanjutnya dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut : 1. membuat peneliti berminat untuk menganalisis faktor – faktor yang membentuk pajak penghasilan Wajib Pajak Badan di Indonesia. maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian ulang terhadap penelitian yang sudah ada. 1.

2.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan guna menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research question) dalam rumusan masalah yang dijabarkan. Mendapatkan bukti tentang perbedaan jumlah pajak penghasilan setelah perubahan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 menjadi Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 bagi Wajib Pajak Badan di Indonesia. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan ? 3. Apakah struktur kepemilikan saham berpengaruh terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan ? 4. 3. Menguji pengaruh jenis industri perusahaan terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan.2. 4. Apakah perubahan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 menjadi Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 mempengaruhi perbedaan jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan di Indonesia secara signifikan ? 1. Beberapa tujuan yang terkait dengan pertanyaan penelitian adalah sebagai berikut : 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi berupa manfaat sebagai berikut : 8 . Menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan. Menguji pengaruh struktur kepemilikan saham terhadap jumlah pajak penghasilan. 1.

1. dan sistematika penulisan. diharapkan dari penelitian ini pemerintah mampu memaksimalkan pajak penghasilan.5 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam penelitian ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bab. Bagi Akademisi. penelitian terdahulu. jenis dan sumber data. 2. dan hipotesis. kerangka pemikiran teoritis. tujuan penelitian. Bagi Direktorat Jendral Pajak. pengumpulan data. rumusan permasalahan.1. populasi dan sampel. 3. manfaat penelitian. penelitian ini setidaknya membantu direktorat jendral pajak dalam melakukan reformasi perpajakan dan mendukung Sensus Pajak Nasional (SPN). metode 9 . BAB III : METODE PENELITIAN Bab Metode Penelitian berisi tentang variabel penelitian dan definisi operasional variable penelitian. yaitu: BAB I : PENDAHULUAN Bab Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah. terutama bagi Wajib Pajak Badan untuk mendapatkan manfaat maksimal sebagai kontribusi pendapatan Negara. penelitian ini diharapkan mampu memberikan wawasan baru tentang faktor – faktor yang mempengaruhi Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Badan di Indonesia. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Bab Tinjauan Pustaka berisi tentang landasan teori. Bagi Pemerintah. serta metode analisis data.

2. yaitu : 1.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 2. pajak perseroan.1 Landasan Teori 2. W. Anderson.H. seperti pada zaman kerajaan-kerajaan yang pernah ada di bumi nusantara dikenal suatu pungutan oleh raja-raja dengan istilah upeti. pajak pendapatan dan lain-lain. mutlak diperlukan untuk mempertahankan eksistensi suatu Negara. Pinjaman merupakan suatu penarikan yang dilakukan sebagai 19 pengganti janji pemerintah untuk membayar kembali dimasa mendatang serta untuk membayar bunga selama periode pinjaman.1 Perpajakan Indonesia dan Dasar Hukumnya Pajak adalah suatu jenis pungutan yang dilakukan oleh Negara atas perintah UndangUndang.1. (2006:7) 10 . Dalam perkembangannya setelah bangsa Indonesia dijajah oleh kolonial Belanda mulai dikenal pungutan pajak dengan istilah seperti pajak tanah. Pajak merupakan suatu kewajiban sementara pinjaman lebih bersifat bersukarela. Berbagai pendapat para ahli memberikan definisi tentang pajak. Musgrave (1993:226) Pajak ditarik dari sektor swasta tanpa mengakibatkan timbulnya kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar. Oleh karena itu dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka sudah dikenal suatu pungutan yang disebut pajak dengan istilah yang bermacam-macam. Hal ini sangat bisa dipahami karena tanpa dana yang memadai mustahil Negara akan dapat menjalankan roda pemerintahan dan melaksanakan pembangunan disegala bidang bahkan sangat mustahil suatu Negara dapat mempertahankan eksistensinya sebagai suatu Negara. pajak hasil bumi.

3. Pajak menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang selanjutnya akan disebut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) yaitu dalam pasal 1 butir 1 “Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undangundang. R. DR. levied by the state (in the broad sense) upon person’s property income and privileges for purposes of defraying the expenses of government”. 4.“Tax is compulsory contribution. PJA. dengan tidak mendapatkan 11 . (Pajak adalah suatu pungutan yang bersifat paksaan dari orang kepada pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang bertalian dengan masyarakat umum tanpa dapat ditunjuk adanya keuntungan-keuntungan khusus sebagai imbalannya)3.A. Seligman (Ibid:8) “A tax is compulsory contribution from the person to the government to defray the expenses incurred in the common interest of all without reference to specialbenefits conferred”. Prof. Adriani (1991:2) Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan. (Pajak adalah pembayaran yang bersifat paksaan kepada Negara yang dibebankan pada pendapatan kekayaan seseorang yang diutamakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah). dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk. 5. dan yang gunanya untuk membiayai pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan4.R.

terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan akan dikenakan sanksi hukum baik itu sanksi administrasi maupun sanksi pidana. dan pemungut pajak. Terutang Oleh Orang Pribadi Atau Badan Artinya bahwa pajak itu terutang oleh orang pribadi atau badan yang wajib membayarnya yang disebut dengan Wajib Pajak.imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Wajib Pajak dimaksud meliputi pembayar pajak. pelaksanaannya dapat dipaksakan secara hukum. Kontribusi Wajib Kepada Negara Artinya bahwa pajak merupakan sumbangsih kepada negara yang bersifat wajib. 2. pemotong pajak. sehingga karena sifatnya yang wajib tersebut maka apabila ada Wajib Pajak yang tidak membayar pajak sebagaimana mestinya. Bersifat Memaksa Artinya bahwa setiap Wajib Pajak yang meliputi orang pribadi atau badan yang tidak membayar pajak sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan. 3. Berdasarkan pengertian tentang pajak yang telah dirumuskan oleh undang-undang tersebut. ada beberapa unsur yang harus terpenuhi bahwa suatu pungutan itu disebut pajak yaitu : 1. penyitaan barang12 . penyampaian Surat Paksa. yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Apabila setelah diterbitkan surat ketetapan pajak maupun Surat Tagihan Pajak Wajib Pajak setelah tanggal jatuh tempo yang ditentukan tidak bersedia untuk membayar pajak yang masih harus dibayar sebagaimana dalam surat ketetapan pajak maupun Surat Tagihan Pajak tersebut maka terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan tindakan penagihan mulai dengan dikeluarkannya Surat Teguran.

Digunakan Rakyat. Tidak mendapatkan imbalan secara langsung Artinya bahwa bagi pembayar pajak setelah mereka membayar pajak sesuai ketentuan undang-undang perpajakan tidak mendapatkan imbalan atau balas jasa secara langsung. Akan tetapi imbalan atau balas jasa akan diperoleh si pembayar pajak secara tidak langsung dengan tersedianya layanan publik (public service) maupun barang-barang publik (goods service).barang milik penanggung pajak. Oleh karena itu jika pemungutan pajak sudah didasarkan pada undang-undang yang mengaturnya maka sesungguhnya rakyat sudah setuju untuk dipungut pajaknya. Hal ini juga dengan tegas dinyatakan dalam Pasal 23A Undang Undang Dasar 1945 amandemen ketiga yang berbunyi “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. sampai dengan pelelangan. sehingga pada 13 Untuk Keperluan Negara Bagi Sebesar-Besarnya Kemakmuran . Berdasarkan Undang-Undang Artinya bahwa pemungutan pajak itu harus selalu didasarkan pada undangundang. 4. berarti pemungutan pajak dapat dipaksakan. Artinya bahwa uang pajak yang telah terkumpul akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum dalam rangka memberikan pelayanan publik. sehingga tidak ada pajak tanpa undang-undang. Bahkan bila dimungkinkan terhadap Wajib Pajak yang tidak mau membayar atau melunasi pajaknya sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku dapat dilakukan tindakan penyanderaan badan. Dengan adanya pajak yang dipungut berdasarkan undang-undang. 6. bahkan yang bukan ikut membayar pajak akan turut serta menikmati layanan publik yang dibiayai dari pendapatan pajak. 5.

Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Pajak Bumi dan Bangunan 4. Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPn BM) 3. Undang – Undang Nomor 21 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan. Sedangkan yang menjadi dasar hukum pemungutan pajak di Indonesia sebagai hukum pajak materiil antara lain : 1.1. Satu asas penting yang dianut Undang – undang perpajakan 14 . Sedangkan untuk hukum pajak formilnya diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan 2. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan 2.2 Wajib Pajak Badan Setiap perusahaan yang didirikan di Indonesia dan sudah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) maka otomatis perusahaan itu ditetapkan sebagai Wajib Pajak Badan (WP Badan) dan mempunyai hak dan kewajiban yang ditetapkan dalam ketentuan peraturan pajak yang berlaku di Indonesia.akhirnya uang pajak yang telah terkumpul itu akan dikembalikan manfaatnya untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat.

serta status Wajib Pajak yang bersangkutan.Indonesia adalah self assestment. PPh Pasal 26. maupun pemungutan PPN dan atau PPnBM (jika ada). Denda Administrasi (Pasal 7 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007) SPT tidak disampaikan atau disampaikan melebihi batas waktu: i) Rp500. tergantung pada tingkat pelanggaran yang dilakukan. yaitu: 1. akan timbul sanksi-sanksi yang dikenakan secara berjenjang. pemotongan/pemungutan pajak atas penghasilan pihak lain. Kewajiban pajak sendiri (PPh Pasal 25 dan PPh Pasal 29) 2. kemudian menyetor dan melaporkannya kepada instansi pajak yang berwenang. tergantung dari bentuk badan.000. baik atas pajak sendiri.000. jenis usaha yang dilakukan.00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya 15 . Kewajiban Wajib Pajak Badan umumnya meliputi seluruh jenis pajak. Sanksi Perpajakan yang terkait dengan Pelaporan dan Penyetoran Pajak: 1. Apabila WP Badan melalaikan kewajiban tersebut. dan PPh Final) 3. Kewajiban memungut PPN dan atau PPn BM (jika ada) yang khusus berlaku bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP).00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai ii) Rp 100. Secara umum ada tiga kelompok kewajiban pajak yang wajib dilaksanakan oleh setiap WP Badan . PPh Pasal 22. Kewajiban memotong atau memungut pajak atas penghasilan orang lain (PPh Pasal 21. PPh Pasal 23. di mana setiap WP Badan diberi kepercayaan sepenuhnya untuk menghitung sendiri pajak-pajak yang terutang dalam suatu masa pajak atau dalam suatu tahun pajak.

Karena kealpaan.000. Kenaikan (Pasal 13 ayat 3 dan Pasal 13A Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007) i) SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu yang telah ditentukan dalam surat teguran sanksinya berupa kenaikan sebesar 50% (untuk PPh Badan/Orang Pribadi). sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang pertama kali. 3. wajib melunasi kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% dari jumlah pajak yang kurang dibayar yang ditetapkan melalui SKPKB. 100% (untuk PPh Pemotongan/Pemungutan). ii) Karena kealpaan. sehingga 16 . SPT tidak disampaikan atau disampaikan tapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan. SPT tidak disampaikan atau disampaikan tapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. Bunga (Pasal 9 (2a) dan (2b) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007) Atas pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Masa/Tahunan Pajak Penghasilan yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Masa/Tahunan dikenakan Sanksi Administrasi berupa Bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Masa/Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran.iii) Rp1. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar. 100% (untuk PPN) dari jumlah pajak yang kurang/tidak dibayar.00 (satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan 2. Sanksi Pidana: i.000. atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar.

Jenis-jenis pajak yang menjadi penghasilan kena pajak pada Wajib Pajak Badan adalah: 17 . Karena penghitungan PPh dilakukan setahun sekali. (Pasal 38 UndangUndang 28 Tahun 2007).dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali.1. (Pasal 39 Undang-Undang 28 Tahun 2007) 2. Karena sengaja. atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun. ii. SPT tidak disampaikan atau disampaikan tapi isinya tidak benar atau tidak lengkap. maka perhitungan dan penghitungan PPh dilakukan setahun sekali yang dituangkan dalam SPT Tahunan. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Berdasarkan hal ini. didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Dengan cara seperti itu tentu saja jumlah PPh terutang yang wajib dibayar baru dapat diketahui ketika suatu tahun pajak telah berakhir. maka penghitungan ini harus dilakukan setelah satu tahun tersebut berakhir agar semua data penghasilan dalam satu tahun sudah diketahui. Unsur dasar pajak penghasilan pada WP badan adalah penghasilan kena pajak dan penghasilan bruto (Pasal 31E Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008).3 Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Pajak Penghasilan (PPh) dikenakan terhadap Wajib Pajak dalam satu periode tertentu yang dinamakan tahun pajak.

Kewajiban PPh Pasal 21/Pasal 26 yang harus dilaksanakan. seperti tenaga ahli. SPT Masa PPh Pasal 21 untuk Akhir Tahun Pajak sebenarnya merupakan penghitungan ulang atas PPh Pasal 21 yang telah dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 untuk Masa Pajak Januari sampai dengan Desember. Pada dasarnya. Bisa jadi. sesuai dengan ketentuan Pasal 21 UU PPh. Dalam hal terdapat pembayaran penghasilan. jasa. atau kegiatan yang diterima atau diperoleh orang pribadi. yang dibayar atau terutang oleh perusahaan. yang terutang pada setiap masa pajak. Wajib Pajak Badan wajib melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut maupun penghasilan orang pribadi lainnya. PPh Pasal 21/Pasal 26 Yaitu PPh yang wajib dipotong atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan. yang termasuk objek PPh Pasal 21. PPh Pasal 21 yang dilaporkan dalam SPT Masa merupakan angsuran atau pajak dibayar di muka untuk PPh Pasal 21 yang terutang pada akhir tahun pajak yang bersangkutan. meliputi : a) SPT Masa PPh Pasal 21 dan atau Pasal 26 pada setiap Masa Pajak Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung dan disetor oleh Wajib Pajak Badan. b) SPT Masa PPh Pasal 21 pada Akhir Tahun Pajak Merupakan pelaporan atas PPh Pasal 21 yang telah dihitung dan dilunasi pada suatu tahun pajak. PPh yang dipotong mengacu pada ketentuan Pasal 26 UU PPh atau berdasarkan tax treaty. termasuk PPh Pasal 26 yang terutang atas penghasilan orang pribadi berstatus WP luar negeri. kepada orang pribadi yang berstatus WP luar negeri. PPh Pasal 26 yang terutang atas pembayaran kepada orang pribadi yang berstatus Wajib Pajak Luar Negeri juga wajib dilaporkan pada SPT Masa PPh Pasal 21. pada SPT Masa PPh Pasal 21 pada akhir tahun nantinya timbul kurang 18 .1.

PPh Pasal 23 Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen. dan jasa lain. jasa konsultan. 3. PPh Final 19 . imbalan sehubungan dengan jasa. yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 23 UU PPh. Jika penerima penghasilannya berbentuk badan dan berstatus WP luar negeri. jasa manajeman. royalti. 2. sewa dan imbalan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Penghitungan dan penyetoran PPh Pasal 26 sebaiknya tetap dilakukan secara tersendiri. 4. atau lebih bayar. meskipun untuk pelaporannya digabungkan dengan PPh Pasal 21 atau PPh Pasal 23. pekerjaan dan kegiatan. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. hadiah dan penghargaan selain yang telah dikenakan PPh Pasal 21. PPh Pasal 26 Yaitu PPh yang dipotong atas penghasilan berupa dividen. pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 23 dan atau Pasal 26. Ketentuan ini diatur dalam Pasal 26 UU PPh. Misalnya. serta imbalan jasa sehubungan dengan jasa-jasa seperti jasa teknik.bayar. tergantung pada jenis objek pajaknya serta penerima penghasilannya. PPh Final Yaitu PPh yang dipotong atas jenis penghasilan tertentu atau jenis usaha tertentu yang diatur secara khusus (special treatment) melalui peraturan pemerintah. royalti. hadiah dan penghargaan serta pensiun dan pembayaran berkala lainnya yang diterima/diperoleh WP luar negeri. bunga. bunga. maka pelaporannya melalui SPT Masa PPh Pasal 21 dan atau Pasal 26. Jika objek pajaknya cenderung sama dengan PPh Pasal 21 dan penerima penghasilannya adalah orang pribadi berstatus WP luar negeri. atau mungkin juga nihil (PPh Pasal 21 yang sudah disetor sama dengan PPh Pasal 21 yang terutang).

PPN Yaitu pemungutan pajak atas penyerahan BKP (Barang Kena Pajak) atau JKP (Jasa Kena Pajak) yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) di dalam Daerah Pabean. kewajiban. 7. menyetor. PPh Pasal 29 Yaitu kewajiban untuk melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang pada akhir tahun pajak.atas persewaan tanah dan atau bangunan. dengan memperhitungkan kredit pajak berupa angsuran PPh Pasal 25 yang telah disetor setiap bulan dan PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak lain. WP Badan diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. yang meliputi suatu masa pajak. penghasilan dan biaya. Sesuai ketentuan Pasal 28 ayat (1) UU KUP . dan melaporkan PPh Final yang terutang atas sewa kantor tersebut. 5. Besarnya PPh Pasal 25 yang wajib disetor setiap bulan dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 25 UU PPh beserta ketentuan pelaksanaannya. 6. pembukuan dilakukan sekurang-kurangnya untuk memperoleh informasi mengenai harta. modal. seandainya Wajib Pajak Badan menyewa gedung dari pihak lain untuk dipergunakan sebagai kantor. sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang 20 . Dalam hal BKP tergolong barang mewah. PPh Pasal 25 Yaitu pembayaran angsuran PPh dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh WP untuk setiap bulan. terdapat Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPn BM) yang juga terutang sesuai ketentuan UU yang berlaku. Jadi. serta penjualan dan pembelian. maka Wajib Pajak Badan wajib memotong. Sesuai dengan definisi yang diberikan oleh UU KUP.

Dimana variabel independen yang digunakan adalah struktur kepemilikan modal dan bentuk perusahaan. Dan hasil penelitiannya menyatakan 21 . et al. dan Dyreng. Zimmerman (1983). yaitu jenis industri perusahaan.. Namun. Porcano (1986) . (2007) Penelitian yang dilakukan oleh mereka adalah meneliti hubungan antara ukuran perusahaan terhadap jumlah pajak penghasilan terutang. Shevlin (2001) Melakukan penelitian tentang faktor kontrol organisasi perusahaan terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan. Dalam penelitian yang dilakukan keduanya menghasilkan sebuah hasil penelitian bahwa jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan tidak hanya berdasarkan pada unsur – unsur yang membentuk pajak penghasilan tersebut namun juga dipengaruhi oleh unsur lain yang melingkupinya. aturan perpajakan. Kim dan Limpaphayom (1998). Bahl dan Bird (2008) Penelitian yang dilakukan adalah menganalisis unsur lain yang berpengaruh terhadap jumlah pajak penghasilan Wajib Pajak Badan di negara berkembang dan negara maju. 2. Gupta dan Newberry (1997). hasil penelitian mereka tidak sama semua.2 Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menganalisis unsur yang melingkupi pajak penghasilan Wajib Pajak Badan selain unsur didalamnya antara lain : 1. dan administratif perpajakan. (2007) dan Porcano (1986) menyajikan hasil negatif dan Gupta dan Newberry menyajikan bahwa tidak ada hubungan antara ukuan perusahaan dengan jumlah pajak penghasilan. 3. yaitu Zimmerman (1983) dan Kim dan Limpaphayom (1998) menyajikan hasil positif terhadap penelitian mereka.2. Dyreng et al.

namun juga dipengaruhi oleh unsur lain yang melingkupinya yaitu struktur modal. Hasil yang ditampilkan adalah bahwa hubungan antara ukuran perusahaan dengan jumlah pajak penghasilan adalah negativ. Adhikari (2006) Penelitian yang dilakukan mendasari penelitian Dyreng et al. 5. 7. jenis industri perusahaan. (2007 Penelitian yang dilakukannya adalah hubungan antara tarif pajak efektif selama 10 tahun terhadap struktur modal. et al. 6. tentang pajak penghasilan di perusahaan besar 22 . dan ukuran perusahaan. jenis industri dan ukuran perusahaan (terangkum dalam variable karateristik perusahaan). Dyreng. Dalam penelitian ini alat uji hipotesis yang digunakan adalah Univariat. (2007) selanjutnya. namun jenis industri dan struktur modal memiliki hubungan positif. Zeng (2010) Berdasarkan penelitian Adhikari (2006) dan Dyreng et al. menghasilkan sebuah hasil penelitian bahwa tidak semua perusahaan yang membayar pajak penghasilan yang rendah disebabkan oleh unsur pembentuk yang rendah misalnya pendapatan perusahaan tersebut. Suhendi (2008) Menyatakan bahwa terdapat faktor lain yang mempengaruhi penerimaan pajak hotel dan restoran selain pajak terutang yang terbentuk. Penelitian tersebut berdasarkan penelitian Adhikari (2006). melakukan penelitian di China sebagai negara industri. (2007).adanya hubungan positif antara variabel indpenden tersebut terhadap jumlah pajak penghasilan.. 4.

menyatakan bahwa letak geografis turut berpengaruh terhadap jumlah pajak penghasilan pada perusahaan besar di china.3 Kerangka Pemikiran Teoritis Tarif PPh Badan pada UU Nomor 7 Tahun 1983 (sebelum Tahun 2009) Tarif PPh Badan pada UU Nomor 36 Tahun 2008   Tahun 2009 Tahun 2010 TERDAPAT PERBEDAAN JENIS INDUSTRI PERUSAHAAN STRUKTUR KEPEMILIKAN SAHAM PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN di INDONESIA UKURAN PERUSAHAAN 2. beberapa peraturan perpajakan untuk industri di Indonesia yaitu : 23 .1 Jenis Industri Perusahaaan Tarif pajak yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia berbeda untuk setiap masing – masing industri. 2.4 Hipotesis 2.4.

perkebunan.5% (setengah persen) dari harga pembelian sebelum PPn. c) Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 31D Ketentuan mengenai perpajakan bagi bidang usaha pertambangan minyak dan gas bumi. Perkebunan. Pertanian dan Perikanan (Keputusan Dirjen Pajak : KEP . KEP . industri pengilangan minyak bumi. Dalam Pasal 2 dari PMK 130 tersebut dijelaskan bahwa Wajib Pajak yang memperoleh fasilitas tersebut dapat memperoleh fasilitas bebas PPh Badan selama maksimal 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang dengan PPh Badan sebesar 50 persen hingga 2 (dua) tahun kemudian.011/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan PPh./2010 tanggal 20 Oktober 2010 Impor atau penyerahan kapal yang dilakukan oleh Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri (Niaga Nasional) untuk kegiatan usahanya dapat dibebaskan dari pengenaan PPN. 24 . industri di bidang sumberdaya terbarukan. industri permesinan. pertanian.PER-46/PJ.523/PJ. perkebunan. Merupakan Industri Pionir yang mencakup contohnya industri logam dasar. bidang usaha pertambangan umum termasuk batubara. b) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.industri peralatan komunikasi. dan bidang usaha berbasis syariah diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Perkebunan. dan perikanan untuk industri dan ekspor dari pedagang pengumpul sebesar 0.25/PJ/2003 Badan usaha industri dan ekportir yang bergerak dalam sektor perhutanan. d) Peraturan Dirjen Pajak No./2001. bidang usaha panas bumi. Pertanian dan Perikanan Hasil Kehutanan. dan perikanan yang ditunjuk oleh Kantor Pelayanan Pajak wajib melakukan pemungutan pajak penghasilan pasal 22 atas pembelian bahan-bahan berupa hasil perhutanan.a) PPh Pasal 22 atas Industri dan ekportir sektor Kehutanan. pertanian.

hal tersebut dikarenakan perbedaan transaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh masing – masing perusahaan tersebut. Zimmerman (1983) menyajikan penelitian untuk menjelaskan hubungan antara ukuran perusahaan dengan jumlah pajak penghasilan perusahaan.2 Ukuran perusahaan Wajib Pajak Badan Dasar pengenaan pajak bagi industri di Indonesia menurut Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 adalah jumlah penghasilan bruto yang dihasilkan oleh perusahaan.PER-57/PJ/2010 Tata cara dan prosedur pemungutan pajak penghasilan pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.e) Peraturan Dirjen Pajak No. perikanan dan kehutanan. (2007) menyatakan bahwa hubungan antara jenis perusahaan terhadap jumlah pajak penghasilan yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Jenis – jenis pajak yang ditetapkan kepada WP Badan tidak semuanya menjadi unsur pembentuk pajak penghasilan terutang. Zeng (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa perusahaan dengan jenis industri pertanian. et al. Namun pada penelitian yang dilakukan oleh Dyreng.4. hasil penelitian tersebut 25 .. dan teknologi informasi membayar pajak lebih rendah dari tarif pajak yang sebenarnya dikarenakan aturan pemerintah yang menerapkan proteksi terhadap industri – industri tersebut. Untuk menguji pernyataan tersebut maka dibuat hipotesis : H1 : Terdapat Pengaruh Negatif Antara Jenis Industri perusahaan Dengan Pajak Penghasilan 2. penghasilan bruto yang dapat dilihat berdasarkan ukuran perusahaan tersebut.

2006). Di sisi lain. Maka dibuat hipotesis : 26 . (2007) menemukan hubungan negatif antara jumlah pajak penghasilan dengan ukuran perusahaan. Bahkan Gupta dan Newberry (1997) pada hasil penelitiannya menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara ukuran perusahaan dengan jumlah pajak penghasilan terutang. leverage. hal tersebut konsistensi dengan argumen nilai politik. (2007) dan penelitian lainnya. Berdasarkan penelitian Dyreng et al.menyatakan bahwa jumlah pajak penghasilan memiliki hubungan positif dengan ukuran perusahaan. 2006). Pernyataan tersebut bertentangan dengan penelitian yang menyatakan diversifikasi struktur kepemilikan modal memiliki efek pada pajak penghasilan (Cao dan Dou. reputasi manajemen yang baik akan membuat perusahaan mempayar pajak berlebih dari tarif pajak semestinya (Cao. Untuk melakukan pengujian ulang terhadap hasil penelitian sebelumnya maka dibuat hipotesis : H2 : Pengaruh Positif Ukuran Perusahaan Terhadap Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan 2. Hubungan antara struktur kepemilikan dan jumlah pajak penghasilan tidak memiliki kemampuan untuk dijelaskan pada negara berkembang (Adhikari.4.3 Struktur kepemilikan saham dan pajak penghasilan Wajib Pajak Badan Salah satu syarat yang ditetapkan oleh Bappepam LK untuk perusahaan go public di Indonesia adalah memiliki saham yang beredar di masyarakat. perusahaan berukuran besar akan membayar pajak penghasilan lebih rendah dari tarif pajak yang ada Namun penelitian serupa yang dilakukan oleh Porcano (1986) dan Dyreng et al. profitability dan intensitas modal merupakan dasar pengukuran ukuran perusahaan. Kim dan Limpaphayom (1998) menyatakan di negara maju. Pada Peraturan pemerintah nomor 81 Tahun 2007 memberikan insentif pajak 5% bagi perusahaan dengan kepemilikan saham yang beredar di masyarakat lebih dari 40%. 2007).

dan lebih dapat menciptakan kepastian hukum serta transparansi perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.. Karena perubahan Undang – Undang tersebut maka pajak penghasilan sebelum dan setalah perubahan Undang – Undang tersebut mengalami perbedaan. stabil. et al. Dari pernyataan tersebut. Fullerton (1986) dan Gordon.4 Perubahan Undang Undang Nomor 7 tahun 1983 menjadi Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008 Dalam upaya mengamankan penerimaan negara yang semakin meningkat.H3 : Pengaruh positif struktur modal perusahaan terhadap pajak penghasilan Wajib Pajak Badan 2. (2002) menyatakan bahwa perbedaan peraturan perpajakan di masing – masing negara mempengaruhi jumlah penghasilan wajib pajak badan. Penelitian yang dilakukan oleh Feldstein dan Summers (1979). dibuat hipotesis : H4 : Terdapat Perbedaan positif antara pajak penghasilan Wajib Pajak Badan saat diterapkannya Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 dengan pajak penghasilan Wajib Pajak Badan saat diterapkannya Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 27 . sederhana. lebih memberikan keadilan.4. mewujudkan sistem perpajakan yang netral.

Jenis Industri Perusahaan Dalam Undang-Undang No.BAB III METODE PENELITIAN 3. 9 klasifikasi umum jenis industri di Indonesia yaitu : menjadi variable independen dan variable 28 . Pada Indonesia Stock Exchange. bahwa perusahaan adalah bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha yang bersifat tetap dan terusmenerus dan dirikan. 3. Untuk menguji hipotesis yang diajukan. variable yang diteliti dalam penelitian ini diklasifikasikan dependen . bekerja dan berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: 1.1 Variabel Independen Variabel independen (bebas) adalah tipe variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain.1 Variabel penelitian dan definisi operasional variabel Variabel penelitian adalah karateristik yang nilai datanya bervariasi dari satu pengukuran ke pengukuran berikut. 3 Tahun 1982 Pasal 1 Huruf (b) disebutkan.1. terdapat 9 klasifikasi umum industri dengan 99 klasifikasi khusus industri yang melingkupi 425 perusahaan go public di Indonesia.

sepatu dan ektronik serta peralatan pendukungnya. e) Industri Barang Konsumsi Publik Merupakan jenis industri yang menyediakan barang konsumsi masyarakat pada umumnya seperti makanan dan minuman. yang diolah kembali menjadi barang setengah jadi. b) Industri Pertambangan Merupakan industri yang mengolah sumber daya alam berupa mineral.a) Industri Pertanian Merupakan industri yang mengolah sumber daya alam berupa tumbuhan dan sejenisnya. Industri yang digolongkan industri campuran umumnya adalah industri pengolahan kembalai bahan setengah jadi. d) Industri Campuran Merupakan jenis industri kompleks yang tediri dari industri mesin dan otomotif. textil dan garment. manufaktur kosmetik dan perlengkapan rumah tangga. 29 . tambang dan unsur alam lain yang sebagian besar berada di perut bumi. dimana diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. c) Industri Dasar dan Kimia Merupakan indusrtri yang mengolah bahan dasar dan bahan kimia lainnya menjadi barang jadi yang siap dikonsumsi masyarakat maupun digunakan kembali untuk bahan baku industri lainnya. barang jadi atau masih barang mentah.

penggunaan variable dummy yang hanya di kategorikan oleh industri yang mendapat keringanan pajak pemerintah dan yang tidak mendapat keringanan pajak pemerintah tidak mencakup keseluruahan jenis industri yang ada. industri ini juga merupakan industri jasa siap pakai.f) Industri Properti. yaitu pada industri ini penggunaan unsur derivative sangan kental. Perumahan dan Konstruksi Gedung Merupakan jenis industri yang menyediakan jasa konstruksi pembangunan rumah maupun gedung. g) Industri Infrastruktur. Dalam penelitian Zeng (2010) jenis industri perusahaan dianggap variable dummy. seperti tidak ada perbedaan pajak penghasilan Wajib Pajak Badan dengan jenis industri perusahaan perikanan dan pertambangan. Peralatan dan Transportasi Merupakan jenis industri pendukung roda kehidupan di masyarakat berupa penyediaan peralatan transportasi dan infrastrukut. h) Industri Keuangan Merupakan jenis industri jasa yang menyokong roda perekonomian secara langsung dan berfungsi sebagai system regulai keuangan Indonesia dibawah Bank Indonesia secara langsung maupun tidak langsung. Jasa dan Investasi Merupakan jenis industri jasa yang membantu industri keuangan namun beda wilayah. pada kenyataannya tarif pajak yang ditetapkan 30 . namun disinilah kelemahan dari penelitian tersebut. Industri ini tidak menyediakan barang siap konsumsi namun jasa siap pakai. i) Industri Perdagangan.

total aktiva. Ukuran perusahaan akan mempengaruhi struktur pendanaan dan penghasilan perusahaan. memberikan insentif pajak 5% bagi perusahaan dengan kepemilikan saham beredar lebih dari 40% membuat perbedaan tarif pajak wajib pajak yang ada. yang semuanya berkorelasi tinggi (Machfoedz. dan secara langsung mempengaruhi pajak penghasilan bagi Wajib Pajak Badan. 2. pada beberapa perusahaan kepemilikan modal beredar terkadang lebih banyak dimiliki oleh masyarakat ketimbang pemegang modal. Dalam penelitian ini. 1994). Ukuran perusahaan dapat ditentukan berdasarkan penjualan. Semakin besar kepemilikan saham di masyarakat. Ukuran Perusahaan Menurut Agnes Sawir (2004) ukuran perusahaan dinyatakan sebagai determinan dari struktur keuangan dalam hampir setiap studi untuk alasan yang berbeda. memperbaiki penelitian sebelumnya jenis industry menggunakan skala nominal agar bias mencakup 9 jenis industri yang ada. 3. Struktur Struktur Modal Saham Salah satu syarat dari perusahaan go public di Indonesia adalah menerbitkan dan menjual modal kepada masyarakat. Keputusan pemerintah yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 81 Tahun 2007. menandakan semakin besar modal dari luar yang dimiliki oleh Perusahaan dan semakin “terbuka” Perusahaan tersebut. 31 . dan lain-lain. Umumnya pemegang modal pengendali (biasanya pemilik perusahaan) memiliki lebih dari 50% modal beredar. tenaga kerja. Namun. Disini struktur kepemilikan modal diwakilkan oleh variable dummy yaitu 1 untuk perusahaan dengan saham beredar lebih dari 40% dan 0 untuk saham beredar kurang dari 40%.berbeda.

(2004) menggunakan harga pasar saham biasa di akhir periode. et al. Semakin besar total assets perusahaan. ukuran untuk menentukan ukuran perusahaan adalah dengan log natural dari total assets (Hatta.. SIZE = log of Total Assets 4. Selain itu. 2002).. menggunakan total assets. (2007). dan net sales untuk mengukur ukuran perusahaan. Undang Undang Perpajakan Peraturan perundang-undangan perpajakan yang mengatur tentang Pajak Penghasilan yang berlaku sejak 1 Januari 1984 adalah Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang – undang Nomor 36 Tahun 2008 (Nomor 17 tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 127. Pernyataan tersebut didukung penelitian sebelumnya. Undang-Undang Pajak Penghasilan ini dilandasi falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang di dalamnya tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warga negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan dan merupakan sarana peran serta rakyat dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional.Ukuran perusahaan merupakan proksi yang paling umum digunakan untuk sensivitas politik (Chao. et al. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3985)) tentang Pajak Penghasilan. Dalam penelitian Chao. asset menunjukkan aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan. total assets. et al. 32 . maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Pernyataan lain menyebutkan bahwa. hal tersebut didasarkan pada penelitian Dyreng. 2004).. Ketiga faktor ini dinilai karena tidak terdapat kecenderungan yang lebih untuk memilih faktor ukuran perusahaan dibandingkan faktor lainnya.

Dalam rangka meningkatkan keadilan pengenaan pajak maka dilakukan perluasan subjek dan objek pajak dalam hal-hal tertentu dan pembatasan pengecualian atau pembebasan pajak dalam hal lainnya 33 . dan transparansi 5. lebih memberikan kesederhanaan administrasi perpajakan 4. kemudahan. serta peningkatan dan optimalisasi penerimaan negara dengan tetap mempertahankan sistem self assessment.Dengan pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional dan globalisasi serta reformasi di berbagai bidang dipandang perlu untuk dilakukan perubahan Undang-Undang tersebut guna meningkatkan fungsi dan peranannya dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan nasional khususnya di Perubahan Undang-Undang Pajak Penghasilan dimaksud bidang ekonomi. konsistensi. lebih memberikan kepastian hukum. lebih menunjang kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan daya saing dalam menarik investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas. Pajak Penghasilan meliputi pokok-pokok sebagai berikut: 8. lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak 2. Oleh karena itu. tetap berpegang pada prinsip- prinsip perpajakan yang dianut secara universal. arah dan tujuan penyempurnaan Undang-Undang Pajak Penghasilan ini adalah sebagai berikut: 1. dan efisiensi administrasi. lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak 3. yaitu keadilan.

000. dan memberikan dorongan bagi berkembangnya usaha-usaha kecil. Peningkatan batas peredaran bruto untuk menggunakan norma ini sejalan dengan realitas dunia usaha saat ini yang makin berkembang tanpa melupakan usaha dan pembinaan wajib pajak agar dapat melaksanakan pembukuan dengan tertib dan taat asas. terencana. mengedepankan prinsip keadilan dan netralitas dalam penetapan tarif. pembedaan tarif. Perbaikan terutama dilakukan pada sistem pelaporan dan tata cara pembayaran pajak dalam tahun berjalan agar tidak mengganggu likuiditas wajib pajak dan lebih sesuai dengan perkiraan pajak yang akan terutang. Untuk lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak.00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah). 34 .000.00 (lima puluh miliar rupiah) mendapat fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b dan ayat (2a) yang dikenakan atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4. Bagian dari undang – undang nomor 36 tahun 2008 untuk wajib pajak badan terdapat Pada Pasal 31E. Bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. sistem self assessment tetap dipertahankan dan diperbaiki.9. yang berbunyi : (1) Wajib Pajak badan dalam negeri dengan peredaran bruto sampai dengan Rp 50. Dalam rangka meningkatkan daya saing dengan negera-negara lain. serta penyederhanaan lapisan yang dimaksudkan untuk memberikan beban pajak yang lebih proporsional bagi tiap-tiap golongan wajib pajak tersebut 10. kemudahan yang diberikan berupa peningkatan batas peredaran bruto untuk dapat menggunakan norma penghitungan penghasilan neto. struktur tarif pajak yang berlaku juga perlu diubah dan disederhanakan yang meliputi penurunan tarif secara bertahap.000.000.000.800.

17 Tahun 2000 (Berlaku sampai dengan 31 Desember 2008): Tarif Pajak Penghasilan Lapisan Penghasilan Sampai dengan Rp 50.000 Rp 50. ii) Penghasilan yang dikenai PPh tidak bersifat final.000 Tarif 10% 15% 30% 35 .(2) Besarnya bagian peredaran bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dinaikkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.000 adalah sebagai batasan maksimal peredaran bruto yang diterima atau diperoleh WP Badan Dalam Negeri untuk dapat memperoleh fasiltas pengurangan tarif.000 .000.000. menagih.000. meliputi: i) Penghasilan yang dikenai PPh bersifat final. Dan fasilitas Pasal 31E ayat (1) tersebut bukan merupakan pilihan.000 maka wajib mengikuti ketentuan fasiltias pengurangan tarif sesuai UU PPh. dan memelihara penghasilan baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.000. iii) Penghasilan yang dikecualikan dari objek pajak. Sepanjang akumulasi peredaran bruto tidak melebihi Rp 50.000.000. Tarif Wajib Pajak Badan sesuai dengan ketentuan UU No. 100. Peredaran bruto adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha sebelum dikurangi biaya untuk mendapatkan. Batasan peredaran bruto sampai dengan Rp 50.Rp 100.000.000 Lebih dari Rp.000.

Tarif pajak penghasilan yang dibayarkan lalu dibandingkan dengan tarif pajak sesuai aturan pada tahun tersebut. tarif pajak penghasilan selama 10 tahun diukur dengan menghitung jumlah pajak yang dibayar dibagi pendapatan sebelum pajak. dan menjadi 25% pada tahun 2010 (mulai 1 Januari 2010).1. Perbedaan nilai pajak penghasilan tersebut mempengaruhi angsuran untuk pajak penghasilan (pasal 25) dimulai tahun 2009. dimana 1 untuk perusahaan dengan tarif pajak efektif dibawah tarif pajak sebenarnya dan 2 untuk perusahaan dengan tarif pajak efektif di atas tarif pajak sebenarnya. Penggunaan variabel dependen tersebut didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Dyreng et al. (2007). perubahan peraturan tentang perpajakan terutama pajak penghasilan wajib pajak badan di Indonesia membuat perubahan tarif pajak yang ada.2 Variabel Dependen Variabel dependen (terikat) adalah tipe variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen.Keputusan Perubahan (Berlaku mulai 1 Januari 2009): i) Dengan tarif tunggal 30% (berakhir 31 Desember 2008) ii) Tarif diturunkan menjadi 28% pada tahun 2009 (berakhir 31 Desember 2009). Variabel Dependen dari penelitian ini adalah tarif pajak efektif selama 10 tahun. perubahan dari tarif pajak progresif – progresif menjadi tarif pajak tunggal. Variabel dependen pada penelitian ini menggunakan skala nominal. iii) Untuk WP Badan Masuk Bursa diberikan tarif 5% lebih rendah dari tarif yang berlaku. 3. Terutama perubahan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 menjadi Undang Undang Nomor 36 Tahun 2008. Penghitungan tarif pajak efektif adalah 36 10 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐷𝑖𝑏𝑎𝑦𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡 .

2 Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Menampilkan Catatan Atas Laporan Keuangan yaitu penjelasan atas selisih fiskal. Alasan penggunaan data sekunder yang didapatkan dari ICMD karena laporan 37 .3.3 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) selama tahun 2001 – 2011 dan Bursa Efek Indonesia. dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampel yang memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. 3. 2. 3. Datanya lengkap dan tersedia untuk diteliti. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2001 – 2011 (saat penerapan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan penerapan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008).

keuangan bagi perusahaan go public berupa laporan keuangan audited telah disajikan melalui ICMD dan matching dengan laporan keuangan asli perusahaan karena signalling theory yang digunakan perusahaan. (2007) yang menyatakan bahwa tarif pajak efektif jangka panjang diukur selama 10 tahun.5 Metode analisis data Metode analisis ini digunakan untuk mendapatkan sesuatu yang pasti dari pengelolaan data dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. yaitu perusahaan akan memilih auditor berkualitas tinggi untuk menunjukkan kinerja superior mereka (Komalasari. Laporan Kegiatan Pengawasan Dewan Komisaris.idx. 2005). Alasan penetapan tahun selama 10 tahun berdasarkan penelitian Dyreng et al.4 Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi yaitu metode pengumpulan data yang berasal dari pencatatan sumber atau publikasi lain (Sugiyono.co. 2004). 2004). Pernyataan tersebut didukung dari surat pemeberitahuan yang dikeluarkan oleh pengurus PT Adira Dinamika Multi Finaance. Penetapan jangka waktu penelitian selam 10 tahun juga didukung oleh perubahan tarif pajak. Adapun alat analisis yang dipergunakan adalah 38 . pada tahun 2009 menggunakan tarif tunggal 28% sesuai perubahan menjadi Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 . yang menyatakan bertanggungjawab atas Laporan Tahunan. yaitu pada tahun 2009. termasuk Laporan Kegiatan Pengurus. Laporan Tata Kelola Perusahaan dan penyajian Laporan Keuangan Perusahaan yang di audit (www. Sehingga auditor akan mengaudit sesuai aturan yang ada (Mulyadi. Wajib Pajak Badan di Indonesia menggunakan tarif progresif – progresif sesuai Undang – Undang Nomor 7 tahun 1983. 3. dan pada tahun 2010 sesuai ketentuan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2000 diturunkan kembali menjadi tarif tunggal 25%.id/annoucement). 3.

5.2 Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik yang digunakan adalah Uji Normalitas. 3. dimana Homoskedastisitas yaitu variasi dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap. minimum dan distribusi frekuensi (Ghozali. 3.2.3.5. 2007). Uji Multikolinearitas.5. 3. Alat analisis yang digunakan adalah rata – rata (mean).2.2007). Model regresi yang baik adalah yang Homoskesdatisitas atau tidak terjadi Heteroskesdatisitas.5. Uji Heteroskedastisitas dan Uji Autokorelasi. Statistik deskriptif menyajikan ukuran – ukuran numerik yang sangat penting bagi sampel. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi didasarkan pada VIF (Variance Inflation Faktor) dan tolerance.2 Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari satu residual pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali.1 iii) Tingkat Korelasi > 95% Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variable independennya (Ghozali.1 Multikolinearitas Uji Multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antara variable bebas (independen) . Salah satu cara untuk mendeteksi heteroskedastisitas adalah dengan 39 . standar deviasi.2007). maksimum.1 Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan variable – variable dalam penelitian ini. Dengan criteria pengambilan keputusan suatu regresi bebas multikolineritas adalah sebagai berikut : i) Mempunyai nilai VIF di bawah 10 ii) Mempunyai nilai tolerance di atas 0.

3.5.5. Uji normalitas penelitian ini dilakukan melalui metode grafik. dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya ) yang telah di-studentized. 40 .melihat grafik scatter plot antara lain prediksi variable terikat ZPRED dengan residualnya SRESID. Model regresi yang dihasilkan tidak dapat digunakan untuk menaksir nilai variabel dependen pada nilai variabel independen tertentu. Konsekuensi dari adanya penyimpangan ini yaitu varians populasinya. 3.2007).2.2. variable terikat dan varibel bebas memiliki distribusi normal atau tidak. 2007). Model regeresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal (Ghozali.3 Uji Normalitas Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam model regersi. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas dilihat dari pola pada grafik scatter plot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi. Penyimpangan ini biasanya muncul pada observasi yang menggunakan data time series.4 Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi menguji apakah dalam model regresi ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali.

2 Pengujian Hipotesis 3.3. diukur dari log total assets = Variabel dummy sama dengan 1 jika saham beredar > 40% dan sama dengan 0 jika saham beredar < 40% (PP nomor 81 Tahun 2007) Laws = Perubahan Undang – Undang 28 Tahun 1983 menjadi Undang Undang 36 Tahun 2008 β α ε = Koefesien Variabel = Konstanta = Error Kemudian untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel independen dengan tarif pajak efektif maka dilakukan pengujian-pengujian hipotesis penelitian terhadap variabelvariabel dengan pengujian di bawah ini: 1.5.5. Koefisien determinasi (R2 ) Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variable independen terhadap variable dependen baik secara individual maupun bersama – sama 41 .3.1 Persamaan Regresi Linear Berganda Model regresi yang digunakan untuk menguji penelitian ini adalah sebagai berikut : Taxi = α0 + β1 Type + β2 Size + β3 DummyOwn + β4 Laws + εi Taxi = Tarif pajak efektif perusahaan selama 10 tahun Type = Jenis Industri Perusahaan Size Own = Ukuran Perusahaan.

Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0.(Kiswara. Penolakan atau penerimaan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut : i) Jika nilai signifikansi kurang dari atau sama dengan 0.05 (α = 5%). 2007). Pengujian dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi 0. Penolakan atau penerimaan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut : 42 . 3. ii) Jika nilai signifikansi lebih dari 0.05 (α = 5%). dan LAWS secara bersama – sama berpengaruh terhadap tarif pajak efektif perusahaan selama 10 tahun. dan LAWS secara bersama – sama tidak berpengaruh terhadap tarif pajak efektif perusahaan selama 10 tahun. Uji statistik t Uji statistik t digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan variasi variabel dependen (Ghozalo. OWN. 2007). Koefisien determinasi untuk mengukur goodness of fit persamaan regresi. 2010). Uji statistik F Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (Ghozali. SIZE.05 maka hipotesis ditolak yang berarti variable TYPE.05 maka hipotesis diterima yang berarti variabel TYPE. SIZE. Nilai R2 berkisar antara nol sampai satu. 2. OWN. sedangkan R2 = 1berarti adanya suatu hubungan yang sempurna dan regresi mampu menjelaskan. apabila R2 = 0 berarti tidak ada hubungan dan tidak dapat menjelaskanantara variabel independen dengan variabel dependen.

dan LAWS berpengaruh terhadap tarif pajak efektif perusahaan selama 10 tahun. OWN.i) Jika nilai signifikansi kurang dari atau sama dengan 0.05 maka hipotesis diterima yang berarti secara parsial variabel TYPE.05 maka hipotesis ditolak yang berarti secara parsial variabel TYPE. 3. pertama menguji asumsi Apakah variasi populasi kedua sampel tersebut sama (equal variance assumed) ataukah berbeda (equal variance not assumed) dengan melihat nilai levene test. HA : Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan saat penerapan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 dan Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1983 adalah berbeda. SIZE.3. SIZE. OWN.2 Uji Beda T-test dengan related sample Analisis hipotesis yang harus dilakukan adalah dua tahap. 43 . Langkah kedua adalahmelihat nilai t-test untuk menentukan apakah terdapat perbedaan nilai rata – rata secara signifikan. ii) Jika nilai signifikansi lebih dari 0. dan LAWS tidak berpengaruh terhadap tarif pajak efektif perusahaan selama 10 tahun. Hipotesis yang dibuat adalah sebagai berikut : H0 : Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan saat penerapan Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2008 dan Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1983 adalah sama.5.

htm. Bambang. 44 . (2006). Journal of Economis.id diakses Oktober 2011 Kiswara. Semarang: Badan Penerbit Undip.id. Jakarta: Salemba Empat. Siti. SD Dyreng. Keuangan Negara dalam Teori dan Praktek (Terjemahan oleh Alfonsus Sirait).id diakses Desember 2011 Copeland. Semarang: Badan Penerbit Undip. Riyanto. Jakarta: Erlangga. J. Diakses pada tanggal November 2011. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. http://www. An Evaluation of Alternative Measures of Corporate Tax Rates". Malang: Bayu Media. Perpajakan : Teori dan Kasus (Edisi 5). R.go.idx. www. Panduan Uji Statistik.fiskal. Jakarta: Elangga. F. Long run corporate avoidance.com/Berita Pajak Bank BUMN Incar Insentif Pajak 5%25 - PajakOnline. (2003).depkeu. M. (2007). (2010). A. T.pajakonline. Dasar Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Resmi. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS. Musgrave. (1999). Proporsi Penerimaan Pajak. (2007). H. E.go. Accounting Review. Pengantar Hukum Pajak. Diakses pada November 2011 Plesko. I.bappepam. (1993). Ghozali. Manjaemen Keuangan. (2008). G. www. (2007).DAFTAR PUSTAKA www.co. 201-206. Negara. 2011. A. Departemen Keuangan.

Income Tax Liability for Large Corporations in China. T. 45 . (1991). (2010). Jakarta: Salemba Empat. B.Santoso. (2010). Uma. Jakarta: Salemba Empat. emeraldinsight. http://www. Bandung: PT Eresco.pajak. Waluyo. (2011). Pengantar Ilmu Hukum Pajak.go. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Sekaran. Akuntansi Pajak. Diakses pada November 2011. Zeng.id/ .