BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

Puskesmas 7 . Menkes RI No. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI. yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. preventif. 1999). Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan.BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan. Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. 1991).128 / MENKES / SK / II / 2004).

000 penduduk untuk setiap puskesmas. 2006). Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional. Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. 2004). upaya kesehatan lanjut usia. perbaikan gizi. upaya kesehatan jiwa. Selain upaya kesehatan pokok. kesehatan lingkungan. pusat pemberdayaan masyarakat. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). regional dan global. upaya kesehatan mata. meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko. Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. B. yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. upaya kesehatan kerja. Adapun batas wilayah Puskesmas 8 . kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB). Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1. puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. upaya perawatan kesehatan masyarakat. pusat pelayanan kesehatan strata I. dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30. upaya kesehatan olahraga.merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. upaya pembinaan pengobatan tradisional. upaya kesehatan gigi dan mulut. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota.

Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. 2) Setia dan taat. kegiatan P2P. sopan dan berbudi luhur. 3) Disiplin. 6) Kreatif dan berprestasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. UKS ke sekolah-sekolah. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. 7) Kepedulian dan. keluarga dan masyarakat. Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. 5) Bertanggungjawab. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. Kabupaten Deli Serdang.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. Responsif). Unggul. 4) Jujur. Loyal. 8) Ramah. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . Optimis. Efektif. (4) Meningkatkan kesehatan individu. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. Prioritas. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. dan motto puskesmas POPULER (Peduli.

4) Peningkatan gizi. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul. b) 10 . baik lintas program maupun lintas sektoral. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan. jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. ibu bersalin. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat.

c) Menemukan dan mengobati penyakit.Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. FLU BURUNG. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. rumah penduduk serta Puskesmas. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. HIV/ AIDS. Menutup. terutama tentang DBD. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . Telungkup) dan. ISPA. TUBERCULOSIS PARU. 6) Pengobatan. JAMKESMAS. sekolah. Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. DIARE. ASKES. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. Mengubur. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas. 7) Pencatatan dan Laporan. Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas. posyandu dan balai desa. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya.

penambalan. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. b) Pelaporan. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. PMR). Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. laporan dilakukan pada kasus diare. upaya ini dilaksanakan untuk mencegah. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . dokter remaja. UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah. pembersihan dan pencabutan gigi. ketersediaan alat dan obat. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. laporan bulanan. 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). Dari hasil observasi. berupa administrasi. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah. Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. dengan kegiatan antara lain. memberikan pengobatan dan perawatan gigi. berupa laporan mingguan. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan.

b) Melakukan pembuatan slide. 5) Laboratorium.Puskesmas Kedai Durian. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). 6) Usaha Kesehatan Jiwa. . usia lanjut dan sebagainya. 4) Usaha Kesehatan Kerja. Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik. untuk kasus penyakit jiwa. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: .Pemeriksaan BTA antara lain. dari hasil observasi. anak balita. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata. 7) Usaha Kesehatan Mata. c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil. upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit. c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien. langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite).

Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan. 8) Kesehatan Lanjut Usia. Kelurahan Titi Kuning c. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan. 3. 2008). Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. kemunduran fisik. ekonomi dan psikologis (Depkes. pengobatan dan pemulihan. vitamin di setiap Posyandu. Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. pencegahan. 2006). Memeriksakan kesehatan. 2. Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan. pengukuran tekanan darah. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 . Memberikan obat-obat. Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun.daerah. penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia. Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. sosial. upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1.

meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas. Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. 3. dan pengobatan dasar. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. 2003). meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut. Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya. Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif. 2. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. 15 . dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas.

Selain itu. Untuk mengatasi masalah tersebut. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. Sedangkan 16 . penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas. wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet.4. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. leaflet atau poster. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes. 6. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. 5. melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%.

Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. dengan angka keberhasilan sekitar 85%. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. C. 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. 2008). Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. keluarga. lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan. Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 . Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya.mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. 2008). sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia.

Dengan pengalaman ini. Meja I : Pendaftaran lansia. tinggi badan. pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling. lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Dengan menghadiri kegiatan posyandu. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius. indeks massa tubuh (IMT). maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. pengetahuan lansia menjadi meningkat. Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1. disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. Dengan 18 .

keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. 3. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. mengadakan pembuatan leaflet. 4. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. Dengan sikap yang baik tersebut. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. 19 . Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia.demikian. mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu. Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu. Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit.

dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. 2008). Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang.BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. ekonomi dan psikologis (Nugroho. Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). 2003). 2000). hal ini akan menimbulkan masalah fisik. Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. keterbatasan fungsional (fungsional limitations). Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. sosial. ketidakmampuan (disability). Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. mental. 1999). dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. kelemahan (impairment). 1.

Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin.1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk. 3. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. 2001). 21 . yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun.1.1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). artinya terjadi defisiensi relatif insulin. biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) . Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. 2.

Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI. 2002). Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . 2. pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang. 2001). Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi. 4. pernah pre-eklamsia. perbedaan encoding reseptor insulin.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva.beta. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga. Polihidramion. dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun.

Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). lekas lelah. maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. 3. hati. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas. lemas. misalnya selama menstruasi. serta stroke (Harbuwono. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. 2008). Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot. dan stress. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. perubahan hormon. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. kurangnya aktivitas fisik. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. karena tubuh terus merasakan lapar. penyakit jantung. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . masalah ginjal atau mata.memenuhinya klien akan terus makan. Walaupun klien banyak makan. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. monosit dan permukaan sel lemak. tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. infeksi atau penyakit lain. Berat badan menurun. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin.

Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium. Hawaii. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. Indian Amerika. 4. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi.1 mmol/L). 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI. Namun. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. Amerika Meksiko. elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono. obesitas. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat. dimana bangsa Amerika Afrika. dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. 24 .8 mmol/L). jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl). dan diabetes pada populasi tersebut. 2008) yaitu Usia. asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat. Merokok. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. Ras dan suku bangsa. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7.

dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. bersepeda santai. Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. Natrium dapat normal. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. protein. gula dan aseton positif. meningkat atau menurun. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. selanjutnya akan menurun. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat. 5. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan.Hubungannya adalah retensi air. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik).1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. protein 1015%. dan lemak. Penatalaksanaan 5. Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. leukositosis. 5. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih. Sesuai dengan standar makanan berikut ini. jogging senam dan berenang. Pada urine. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). 2004). Kalium dapat normal atau peningkatan semu. Sedangkan fosfor lebih sering menurun.

jasmani. 5. Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin. Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. 2002). 2004). untuk Repaglinid 0. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. seperti menonton televisi (PERKENI.5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI. Dosisnya. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin. serta penurunan produksi glukosa oleh hati. metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 . yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo.2002). merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat. Berikutnya adalah Glinid.3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. 2002). 2004). Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI. meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak. seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati. Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan. biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas.

Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu. Kondisi ini meliputi resistensi insulin. penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan. kadar gula darah tinggi. 2004). 2002). Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. 2006). insulin kerja sedang contohnya insulin suspense. 2004). kadar kolesterol LDL tinggi. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti. stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. 27 .terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah.2002) 6. peningkatan trigliserida. Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. hiperglikemia dan ketoasidosis. Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit.

seperti kadar kolesterol tinggi . memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 . Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. Para penderita diabetes. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. Pada tahap awal. tekanan darah tinggi. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Bila ginjal mengalami kerusakan.Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung. Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. Pada tahap yang lebih parah. 2006).

1986). Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh. dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. 2009). 29 . dan berenang. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. (S.  1. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI. 2007). senam. 2002). bersepeda santai. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno. jogging. yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki.kerusakan saraf. dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono. 2002). Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. otot paha. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Berdasarkan pengertiannya.Sumosardjuno.

dan Jaga privacy pasien. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. khawatir atau cemas.2. sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. prosedur pelaksanaan senam. 3. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. 4. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). motivasi). 2003). Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. waktu. Orang yang depresi. Perawat cuci tangan 30 . tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki.

Pada kaki lainnya. Dengan meletakkan tumit di lantai. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.2.1 Pesien duduk di atas kursi 3. 4. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. 31 . Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai.. Pada posisi tidur. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Gambar 2. Pada posisi tidur. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki. menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali. angkat telapak kaki ke atas. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.

Gambar 4. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5. kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit kaki diletakkan di lantai. Pada posisi tidur. Pada posisi tidur kaki harus 32 . Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

33 . 2004).1 Jari-jari kaki di lantai 7. Gambar 6. Luruskan salah satu kaki dan angkat. putar kaki pada pergelangan kaki. Gerakan ini sama dengan posisi tidur. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo.diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

2001) adalah 1. ulkus.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki. borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular.1 Kaki diluruskan dan diangkat 8. Letakkan sehelai koran dilantai. Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 .9 pasien perlu perawatan tindak lanjut. Gambar 8.1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. APBI > 0.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik. 2003) salah satunya pada organ kaki. gangren. Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. dan APBI 0. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden. Kemudian. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki.Gambar 7.5 dan < 0.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki.

Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite. serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). Dari keempat klien Ny. Tn. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar. para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. N dan Ny. yaitu terhadap Ny. 35 . mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. Ny. Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. normalnya 1.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki. sering buang air kecil. D dan Ny. L. 1. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn. D.0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. L dan Ny.

N dan Ny. 3. 3. Ny.85 0. 4.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. Tn.91 0. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit. No 1. 36 . D.88 0. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat. pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0. kulit kaki terasa dingin. D Ny. N Ny. L. dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi. Responden Ny. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki.91 2. Selain itu. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. L Tn. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman. 2.

Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. L dan Ny. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. Selain DM. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn. Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. Selain kegiatan di atas. N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam.4. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam. Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. 37 . mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. Pada saat pertemuan ke 3. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat. Ny. Ny. M juga menderita penyakit maag. D untuk beristirahat. tekanan darah Tn. D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Tn. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan.

Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. 2001). konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Pada pasien lansia. 38 . Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. Menurut Sanusi H (2004).88. Berdasarkan usia subjek PBLK. B & Hadi Martono. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin.5. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. 2000). Sedangkan menurut WHO. Seiring pertambahan usia. penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. rata-rata berusia 60-70 tahun. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. Selain itu. Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh. Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM.

M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.0 3.85 0.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia. N Ny.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.0 1. Oleh karena itu. L Tn. 2010).93 0.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180. dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0.91 3. senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny.88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0. D Ny.85 0. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki.88 0.55 0. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki.96.91 0. dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180.75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0.96. 39 .92 1.88 menjadi 0.

Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes. mencegah kekakuan. Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin. mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 .Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. menguatkan otot kaki. mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. Oleh karena itu.2009). 2009). Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes. meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki.

Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . 2003) Caranya yaitu: a. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. jari kaki. b. Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki. hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. Perhatikan apakah luka atau tidak. Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara. rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. c. Jika penglihatan penderita terganggu. keringkan dengan handuk halus. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Saat pemotongan kuku. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. dan sela jari kaki. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). kulit kemerahan atau penebalan kulit. jika kuku terlalu keras dan kotor.

dan infeksi. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. d. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli. menambah toleransi jalan. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara. meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. Olah raga harus dilakukan secara teratur. sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. Apabila memakai kaus kaki. jangan terasa sempit. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat. memelihara fungsi saraf. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. neuropati.sendiri. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. Permukaan atas sepatu harus lunak. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. 2003). menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil. Gangguan motorik juga akan 42 . Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik.

d. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). callus”. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. biaya perawatan 43 . f. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. c. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. denyut arteri hilang. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien. e. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes. b. Akibatnya. nyeri kaki di malam hari. yaitu : a. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. dengan atau tanpa osteomielitis. Derajat III : Abses dalam. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.

44 . 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi. Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan. apalagi amputasi.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag. Bahkan. Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik. Selain mengevaluasi senam kaki diabetes.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. b.75 mg/dl . Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a.88 menjadi 0. Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah. 45 . Saran 1.25 mg/dl menjadi 180. Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin. diabetes melitus. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. B.

Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus. Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya.2. 46 .

id pada tanggal 19 Oktober 2011. dkk. Sanusi Harsien. Doenges E. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. Makassar. Philadelphia : Mosby. Jakarta: EGC Darmojo.. (2005). Moorhoed.(2000). (2007). (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus.. (1999).id International Diabetes Federation. Philadelphia : Mosby. Closky J. 2007. 2004.libraryusu.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. S. Jakarta: EGC 47 . Marilynn. Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa. M. Notoadmojo. Johnson. B & Hadi Martono. Maas. S. Bulaceck G. Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. Diakses dari : http://bondankomunitas. B. (2007). (2003).. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. MC.go.blogspot. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2. J L. M. Diakses dari www. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC). Depkes.org.idf. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian. Jakarta : Rineka Cipta Palestin. Stockslager. Edisi 3. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. 2006.. Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www.ac. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. Jakarta : EGC Hiswani. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. (2002).

PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia).undip. Diakses dari http://ilmukeperawatan. Jakarta: EGC. Jakarta : CV. 48 . Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus. Suprianto.ac. (2001). Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus.Aksara Buana. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www.Ulfahsyam(2009). Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. WHO (2000). 2002. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.net/ pada tanggal 19 Oktober 2011.id.

LAMPIRAN 49 .

00 WIB : Rumah Klien G. C. Menyampaikan judul topik. Mendengarkan dan memperhatikan. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Metode       F. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Sasaran Klien lansia penderita DM D. Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . Pelaksanaan Kegiatan NO 1. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus.

Mendemonstrasik an pada DM. Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM.  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM. senam kaki penderita 51 .  Memberikan kesempatan untuk bertanya.penyuluhan.  Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM.   2.

Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet.  penderita Menjawab salam. Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM. Menyimpulkan materi penyuluhan. penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. senam kaki klien pada DM. 5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet. dan 52 .3. Penutup   Menjawab pertanyaan.  Mendengarkan dan memperhatikan.

motivasi). Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. 4. Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). Kaji kadar gula darah 53 . Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan. Orang yang depresi. Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. 2. khawatir atau cemas. 3.SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1.

perbaikan lemak darah. 54 . Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali.  Dengan meletakkan tumit dilantai. penurunan kolesterol total. perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler. Pada kaki lainnya. Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan. jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5. Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). angkat telapak kaki ke atas. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. minimal 20 menit.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai.  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai.

 Jari-jari kaki diletakkan dilantai. dan luruskan. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. Ulangi sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki lalu luruskan.     Angkat salah satu lutut kaki. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. 55 . Ulangi sebanyak 10 kali. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Tumit kaki diletakkan di lantai.pertahankan posisi tersebut. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki dan luruskan. Ulangi langkah ke 8.

buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki.     Lalu robek koran menjadi 2 bagian. Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. 56 . putar kaki pada pergelangan kaki . pisahkan kedua bagian koran.  Letakkan sehelai koran dilantai. Kemudian. Luruskan salah satu kaki dan angkat. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian.

Menyampaikan judul topik. 57 3 menit WAKTU MEDIA . Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. NO 1. Sasaran Klien lansia penderita DM IV.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus. Media   Leaflet Poster VII. Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Metode   Ceramah Diskusi V. II. Mendengarkan dan memperhatikan.00 WIB : Rumah Klien VI. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. III. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. 2. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus.

dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Penutup   Menjawab pertanyaan. 3.penyuluhan. Menerima leaflet.  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM. 5 menit Poster Leaflet 58 .   Membagikan leaflet. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. Menjawab salam. Menyimpulkan materi penyuluhan. gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM. Memberikan kesempatan untuk bertanya. 2. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh.

jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori. Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. Di samping jadwal makan utama pagi. Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan).DIET DIABETES A.  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. B. roti dll. 59 . susu. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C. Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. jagung. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam). minyak. kentang . umbi-umbian.

cokelat. daging berlemak. apel. semangka. nangka. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin. salak. dendeng. cake. seperti : pepaya. es krim. sosis. sesuai dengna ukuran porsi makanan. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. durian. kedondong. makanan gorengan. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. anggur. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. misal : kacang-kacangan. buah segar. rambutan. sayuran. misal: nasi. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . D. seperti: sawo. Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. dll. jeruk. nanas. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. dll. jeroan. kuning telur. tomat. E.

2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E. Sasaran Klien lansia penderita DM D. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus. Mendengarkan dan memperhatikan.   PESERTA Menjawab salam. Menjelaskan tujuan penyuluhan. 3 menit WAKTU MEDIA 61 . Topik : Pola Hidup Sehat DM B. diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Menyampaikan judul topik.00 WIB : Rumah Klien G. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Metode      F.

5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 . 3.  Memberikan kesempatan untuk bertanya.   Membagikan leaflet. Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. Menyimpulkan materi penyuluhan.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah. dan    Mendengarkan dan memperhatikan.2. Penutup   Menjawab pertanyaan. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  Menjelaskan latihan bagi DM. Menjawab salam. Menerima leaflet.

IDENTITAS a. Jenis kelamin d. Alamat : Ny. family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I. Tempat/ tanggal lahir c. Suku g. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Pekerjaan i. Agama f. Pendidikan h. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Nama b. Brigjend. M 63 . M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln. II. Katamso Gg. Status perkawinan e.

Penyebab 3. klien merasa bahwa dirinya sehat. Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. 64 . Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari. Mulainya kapan c. Keluhan utama lansia 2. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d. V. RIWAYAT SEHARI-HARI a. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Timbul keluhan secara 4. Penyakit yang pernah diderita : Maag b.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. b. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a.

hal ini disebabkan karena punya sakit maag. f. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek. Klien tidur biasanya jam 23. d. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. VI. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. itupun jika ada uang. g. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga. Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 .00 WIB. h. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.00 WIB dan bangun pukul 05. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. e. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia.c. senang dan terhibur untuk bercerita VII.

Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. IX. VIII. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. bentuk mata simetris kiri dan kanan. penciuman klien tidak terganggu. HR: 75x/ menit. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. : Nadi 75x/ menit. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. Hidung : Bentuk hidung anatomis. tidak ada tanda-tanda ascites. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. klien masih mengenal bau-bauan. Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. kedua telinga bersih kiri dan kanan. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.capillary refill < 2 dtk. RR: 20x/ menit. Abdomen : Bentuk soepel. lubang hidung simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala. warna rambut putih. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. dan anatomis.

klien biasanya menemui dokter untuk berobat. 67 . Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya.nyeri ulu hati. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. Pola BAB satu kali sehari. peristaltik (+). Untuk mengatasi masalah maag dan DM. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. Kulit : Kulit klien tampak keriput. KGD klien : 186 mg/dl. BAK 5-7 kali/hari. X. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. XI. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan.

lemas. wajah meringis saat sendi digerakkan.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Sekresi prostaglandin Nyeri 2. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan. DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung.6 mg/dl) 3.ANALISA DATA No 1. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 .

Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. 3. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 69 . Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. berkurang 1. abdomen. pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang. Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak. 2.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. 4. Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. Jelaskan kepada klien tentang: a. Pengertian dispepsi (maag) b. Mengidentifikasi 3. Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2. Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 . Menurunkan sendi tekanan pada 3.c. 2. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. Cara mengatasi dispepsia (maag) d. Anjurkan klien agar 3. terkontrol/ 1. istirahat selama fase akut. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2.

2. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi.mengandung purin 4. Kaji klien pengetahuan 1. mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. mengetahui dan 1. Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis. Jelaskan kepada klien 2. Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. terapi system 3. pendidikan kesehatan atau tidak. Pengetahuan yang baik dan 71 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5.

pengetahuan 72 . 3. benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan kepada klien. 4. 4. alternatif untuk 3. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes.

Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. pada ditandai mengeluhkan abdomen. 1.Pengertian (maag) . 2. . Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. Menjelaskan kepada tentang: .Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya. 3.CATATAN PERKEMBANGAN No. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan. (maag) . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1.Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan. mengulangi apa yang klien telah dijelaskan. 4. Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 .

Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. selama fase akut. 3. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menjelaskan pengertian gejala DM. 2.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. 3. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5. 2. yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. 4. serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. kepada dan tanda 74 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.

Menjelaskan kepada tentang: . 75 . kaki diabetes. 3. Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. 4. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. P: Intervensi dilanjutkan. mengeluhkan abdomen. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. O: Klien tampak klien segar dan sehat. pada ditandai 2. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 1. berkurang. A: Masalah belum 4. No.Pengertian (maag) .Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi. penderita DM. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3.

banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. 2. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri. mengandung purin. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 . 4. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. 3.Cara mengatasi dispepsia (maag) . Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. hangat pada sendi yang sakit 5..

3. Menjelaskan pengertian gejala DM. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.farmakologi. 4. A: Masalah teratasi. dihentikan. penderita DM. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 77 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. 2. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3.

IDENTITAS a. Agama f. Suku g. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. II. menantu dan 3 orang cucu. Pendidikan h. Jenis kelamin d. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn. Nama b. D 78 . Pekerjaan i.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I. D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln. Alamat : Tn. Tempat/tanggal lahir c. Status perkawinan e.

Keluhan utama lansia 2. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Faktor yang memperberat 5. Timbul keluhan secara 4. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. klien merasa bahwa dirinya sehat. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. c.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Riwayat Sehari-hari a. Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu. Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. b. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Mulainya kapan 3. Pola nutrisi : 79 . Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. Penyebab 3.

00 WIB. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. d. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Klien tidur biasanya jam 00. f. h.Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. Karena klien menderita DM. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring. VIII. VI. terkadang anaknya mengiriminya uang. Selain itu. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.00 WIB dan bangun pukul 05. senang dan terhibur untuk bercerita VII. e. g. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil.Selain itu. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 . klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi.

Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Klien mengalami gangguan pernafasan. kedua telinga bersih kiri dan kanan.capillary refill < 2 dtk. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. RR: 24x/ menit. dan anatomis. Hidung : Bentuk hidung anatomis. klien masih mengenal bau-bauan.warna rambut putih dan menipis. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. HR: 75x/ menit. tidak ada nyeri ulu hati. klien tapak bernafas cepat. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. 81 . PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. lubang hidung simetris kiri dan kanan. bentuk mata simetris kiri dan kanan.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. gigi klien sudah tidak ada lagi. tidak ada tanda-tanda ascites. penciuman klien tidak terganggu. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. pola nafas ireguler. IX. peristaltik (+).sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. Abdomen : Bentuk soepel. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis.

klien biasanya minum ramuan tradisional.Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. 82 . Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Pola BAB 1x/ hari. BAK 5-7 kali/ hari. KGD : 193 mg/dl XI. X. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kulit : Kulit klien tampak keriput. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis.

mengantuk dan kebaskebas pada kaki. dan panas. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan.ANALISA DATA No 1. RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. lemas. bernafas cepat dan irregular. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 .

Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1. Memberikan 2. Diskusikan pada lansia tentang 4. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD . Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. 2. 2.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit. Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. dengan nyaman. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. saluran pernapasan dan jantung. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3. tentang penyakitnya. Gali pengetahuan keluarga tentang 1.RENCANA KEPERAWATAN No 1. 4. pencegahan dan pengobatan penyakit. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1. menghindari kambuhnya penyakit. 3. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1. 2.

sering kambuhnya penyakit. 3. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. 4. 3. 2. 4. Memberikan kepada klien.

Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. 3. 4. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan.CATATAN PERKEMBANGAN No. Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan. mengulangi apa yang 3. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung. 2. 1. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. pernapasan dan jantung. 2. teratasi. tentang pencegahan pengobatan penyakit. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. paham dan mampu 86 .  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1.

Menganjurkan klien pergi ke 87 . kaki diabetes. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. 4. 1. 5. 3. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. 2.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 4. meningkatkan rasa nyeri. hangat pada sendi yang sakit. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat. A: Masalah belum penderita DM. P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada. No. A: Masalah teratasi. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan.

Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. dihentikan. 2. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. A: Masalah teratasi. 88 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. penderita DM. paham dan mampu 3. 4.

Alamat : Ny. Tempat/tanggal lahir c. N 89 . Suku g. IDENTITAS a.Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Jenis kelamin d. Nama b. Pendidikan h. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Status perkawinan e. Agama f. II. menantu dan 2 orang cucu. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Pekerjaan i.

Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Penyebab 3. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. Keluhan utama lansia 2. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Timbul keluhan secara 4. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2. Riwayat Sehari-hari a. b. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. 90 . klien merasa bahwa dirinya sehat. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Mulainya kapan 3.

VIII.00 WIB dan bangun pukul 05. Klien tidur biasanya jam 23. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. h. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. e.00 WIB. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. g. f. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. d. VI. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. mencuci dan menyetrika. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus.c. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. senang dan terhibur untuk bercerita VII. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 . Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. sayur dan lauk pauk. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga.

Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. Abdomen : Bentuk soepel. Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. gigi klien sudah tidak ada lagi. RR: 20x/ menit. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. bentuk mata simetris kiri dan kanan. peristaltik (+). tidak ada tanda-tanda ascites. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. HR: 76x/ menit. BAK 5-7 kali/ hari. klien masih mengenal bau-bauan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. IX. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. penciuman klien tidak terganggu.capillary refill < 2 dtk. tidak ada nyeri ulu hati. dan anatomis dan warna rambut putih. tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . lubang hidung simetris kiri dan kanan. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. pola nafas reguler. klien masih dapat mendengar dengan jelas. kedua telinga bersih kiri dan kanan. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Pola BAB 1x/ hari. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat.

Kulit : Kulit klien tampak keriput. X. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. 93 . PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. KGD : 186 mg/dl XI. klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan.inkontinensia. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan.

mengantuk dan kebaskebas pada kaki. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. lemas.5 mg/dl (normal pada wanita : 3 .ANALISA DATA No 1. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri.6 mg/dl) 2. wajah meringis saat sendi digerakkan. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 .

Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang . Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan klien agar 3. selama fase akut. Anjurkan klien untuk 1.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien pergi ke 5. Anjurkan klien untuk 2. 2. terkontrol/ 1. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Anjurkan tindakan non 4.

Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 . 3. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 4. 2. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. serta menurunkan saraf system 2. Memberikan kepada klien. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 3. mengetahui 1. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. muncul rangsang simpatis. 4. 1. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi.

4.CATATAN PERKEMBANGAN No. 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1. 2. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. 2. akan mencoba apa 97 . Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. Menganjurkan tindakan non teratasi. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5.

A: Masalah belum penderita DM. paham dan mampu 3. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang.dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. kaki diabetes. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. 2. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. P: Intervensi dilanjutkan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 98 . O: Klien tampak 3. 4. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. makanan mengandung purin. No. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2. 1.

klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. dihentikan. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan.4. paham dan mampu 3. 2. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. 4. penderita DM. hangat pada sendi yang sakit 5. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 99 . A: Masalah teratasi. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan.

RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Pekerjaan i. Status perkawinan e. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Tempat/tanggal lahir c. IDENTITAS a. Suku g. Jenis kelamin d. II. menantu dan 2 orang cucu. Pendidikan h. L 100 . Nama b. L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Agama f.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Alamat : Ny.

RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. klien merasa bahwa dirinya sehat. Keluhan utama lansia 2. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Timbul keluhan secara 4.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. 101 . RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. b. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Penyebab 3. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. Riwayat Sehari-hari a. Mulainya kapan 3. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah.

klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus.00 WIB. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. mencuci dan menyetrika. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. VI. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. h. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . d. sayur dan lauk pauk. g. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. e.c. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. f. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. senang dan terhibur untuk bercerita VII. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi.00 WIB dan bangun pukul 05. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. Klien tidur biasanya jam 23. VIII. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

Anjurkan tindakan non 7. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Anjurkan klien pergi ke 8. Anjurkan klien untuk 1. selama fase akut. Anjurkan klien agar 6. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.RENCANA KEPERAWATAN No 1. 2. Anjurkan klien untuk 2. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3.

Memberikan kepada klien. system saraf 2. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. rangsang simpatis. 7. 8. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 2. 4. 6. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 5. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 . Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. mengetahui 1. 3.

Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 2. 1. Menganjurkan tindakan non teratasi. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. 4. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. 2. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 .

2. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. P: Intervensi dilanjutkan. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 2. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. makanan 109 . pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. paham dan mampu 3. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. O: Klien tampak 3. 4. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. kaki diabetes. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. 1. No. A: Masalah belum penderita DM.

2. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. paham dan mampu 3. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. hangat pada sendi yang sakit 5. 110 . Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. penderita DM. 2. dihentikan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 4. 4.mengandung purin. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. A: Masalah teratasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful