BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. Menkes RI No. 1999). Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. 1991).BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A.128 / MENKES / SK / II / 2004). preventif. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. Puskesmas 7 . Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan. Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. B. Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional. kesehatan lingkungan.000 penduduk untuk setiap puskesmas.merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. upaya kesehatan gigi dan mulut. upaya kesehatan mata. 2006). dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Selain upaya kesehatan pokok. pusat pemberdayaan masyarakat. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. 2004). Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30. pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. perbaikan gizi. Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. upaya kesehatan lanjut usia. Adapun batas wilayah Puskesmas 8 . upaya perawatan kesehatan masyarakat. upaya kesehatan kerja. upaya kesehatan jiwa. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1. regional dan global. kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB). meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko. upaya pembinaan pengobatan tradisional. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). upaya kesehatan olahraga. Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. pusat pelayanan kesehatan strata I. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota.

UKS ke sekolah-sekolah. Loyal. dan motto puskesmas POPULER (Peduli. Prioritas. Responsif). 8) Ramah. sopan dan berbudi luhur. 7) Kepedulian dan. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan. 4) Jujur. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. Unggul. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. 6) Kreatif dan berprestasi. 2) Setia dan taat. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Efektif. Optimis.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. (4) Meningkatkan kesehatan individu. Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. Kabupaten Deli Serdang. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. 5) Bertanggungjawab. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. kegiatan P2P. 3) Disiplin. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. keluarga dan masyarakat.

Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. 4) Peningkatan gizi. g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan. Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat. baik lintas program maupun lintas sektoral. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik. b) 10 . yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. ibu bersalin. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait.

Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif. 7) Pencatatan dan Laporan. Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas.Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. Telungkup) dan. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD. TUBERCULOSIS PARU. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . JAMKESMAS. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. HIV/ AIDS. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. posyandu dan balai desa. Mengubur. ASKES. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. Menutup. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). sekolah. c) Menemukan dan mengobati penyakit. Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas. DIARE. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. terutama tentang DBD. FLU BURUNG. ISPA. rumah penduduk serta Puskesmas. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. 6) Pengobatan. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras.

laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah. pembersihan dan pencabutan gigi. Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. dokter remaja. dengan kegiatan antara lain. Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi. b) Pelaporan. laporan bulanan. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan. laporan dilakukan pada kasus diare. 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). upaya ini dilaksanakan untuk mencegah. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. PMR). mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. ketersediaan alat dan obat. Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. berupa administrasi. penambalan. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. memberikan pengobatan dan perawatan gigi. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. berupa laporan mingguan. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil. Dari hasil observasi.

anak balita. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite). upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit. dari hasil observasi. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: . c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien. kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . usia lanjut dan sebagainya.Pemeriksaan BTA antara lain. 6) Usaha Kesehatan Jiwa. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). 5) Laboratorium. b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil. upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas.Puskesmas Kedai Durian. langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa. c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. b) Melakukan pembuatan slide. . 7) Usaha Kesehatan Mata. 4) Usaha Kesehatan Kerja. Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. untuk kasus penyakit jiwa.

daerah. Memeriksakan kesehatan. Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan. 3. kemunduran fisik. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 . Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. ekonomi dan psikologis (Depkes. 2. 2008). Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. pengobatan dan pemulihan. Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. pengukuran tekanan darah. vitamin di setiap Posyandu. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun. penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia. pencegahan. 8) Kesehatan Lanjut Usia. Memberikan obat-obat. upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1. Kelurahan Titi Kuning c. sosial. 2006). Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan.

3. meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas. Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. 2003). 15 . meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. dan pengobatan dasar. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif. Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas. serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga. 2.

Selain itu. penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung.4. melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes. Sedangkan 16 . wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. leaflet atau poster. 6. Untuk mengatasi masalah tersebut. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. 5.

dengan angka keberhasilan sekitar 85%. 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. C. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 . Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. 2008). Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan. Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. keluarga. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati.mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. 2008).

Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan. Dengan pengalaman ini. lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. indeks massa tubuh (IMT). Dengan menghadiri kegiatan posyandu.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling. Dengan 18 . disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu. maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. tinggi badan. pengetahuan lansia menjadi meningkat. Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1. Meja I : Pendaftaran lansia. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2.

Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat.demikian. Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu. 4. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. 19 . Dengan sikap yang baik tersebut. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. 3. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu. mengadakan pembuatan leaflet.

Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang. ekonomi dan psikologis (Nugroho. dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. 2003). kelemahan (impairment). 1. 2000). ketidakmampuan (disability).BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. hal ini akan menimbulkan masalah fisik. 1999). keterbatasan fungsional (fungsional limitations). Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. sosial. Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. mental. atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. 2008).

Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk.1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I. biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) .1. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. 2.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. 2001). 3. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya.1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). 21 .

beta. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram. riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . 4. Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. 2001). pernah pre-eklamsia. 2002). pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. Polihidramion. Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang. Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. perbedaan encoding reseptor insulin. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga. 2. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI.

misalnya selama menstruasi. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. lemas. Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot. monosit dan permukaan sel lemak. 2008). serta stroke (Harbuwono. lekas lelah. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. 3. Berat badan menurun. perubahan hormon. infeksi atau penyakit lain. maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein. Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. karena tubuh terus merasakan lapar. kurangnya aktivitas fisik. masalah ginjal atau mata. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa. dan stress. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. Walaupun klien banyak makan. penyakit jantung. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP).memenuhinya klien akan terus makan. hati. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas. Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah.

Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO.1 mmol/L). Ras dan suku bangsa. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI. 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11. maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl). Namun. Hawaii. Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. dimana bangsa Amerika Afrika. jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. 24 . asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat.8 mmol/L). Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono. 2008) yaitu Usia. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. Merokok. dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. Indian Amerika. dan diabetes pada populasi tersebut. obesitas. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. Amerika Meksiko. 4. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita.

dan lemak. Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. protein 1015%. 5. Natrium dapat normal. gula dan aseton positif.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat. protein.1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. 5. Sedangkan fosfor lebih sering menurun. bersepeda santai. jogging senam dan berenang. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih.Hubungannya adalah retensi air. makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. 2004). Penatalaksanaan 5. Sesuai dengan standar makanan berikut ini. leukositosis. dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. Pada urine. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). meningkat atau menurun. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . selanjutnya akan menurun. Kalium dapat normal atau peningkatan semu. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan.

seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati. 2004).5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI.3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. 5. metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. seperti menonton televisi (PERKENI. 2004). merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat. yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. 2002). Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP. biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. Dosisnya. untuk Repaglinid 0. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 . 2002). serta penurunan produksi glukosa oleh hati. Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin. LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo.jasmani. meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas. Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI.2002). Berikutnya adalah Glinid. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin.

insulin kerja sedang contohnya insulin suspense. Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. 27 .2002) 6. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. 2006). 2004). Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan. hiperglikemia dan ketoasidosis. sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah. 2002). stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu. Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit. peningkatan trigliserida. Kondisi ini meliputi resistensi insulin. Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. kadar kolesterol LDL tinggi. kadar gula darah tinggi. penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. 2004).terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo.

2006). Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 . Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. tekanan darah tinggi. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. Para penderita diabetes. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Pada tahap yang lebih parah. Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. Bila ginjal mengalami kerusakan. seperti kadar kolesterol tinggi . pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung.Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Pada tahap awal.

kerusakan saraf. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. senam. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno. jogging. 2002). dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI.Sumosardjuno. 2009). Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. 2002). yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki. senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh. otot paha. Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. bersepeda santai. 29 . Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. 2007). Berdasarkan pengertiannya. dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono.  1. (S. dan berenang. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan.1986).

cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki. seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. dan Jaga privacy pasien. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada.2. sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. prosedur pelaksanaan senam. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. 3. waktu. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. Orang yang depresi. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood. motivasi). Perawat cuci tangan 30 . 2003). 4. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. khawatir atau cemas.

Dengan meletakkan tumit di lantai. Pada posisi tidur. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.2. Gambar 2.1 Pesien duduk di atas kursi 3. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali.. angkat telapak kaki ke atas. 4. 31 . Pada posisi tidur. Pada kaki lainnya. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai.

Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Tumit kaki diletakkan di lantai. Pada posisi tidur. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur kaki harus 32 .1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6.Gambar 4. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5.

putar kaki pada pergelangan kaki. Luruskan salah satu kaki dan angkat. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo. Gambar 6.1 Jari-jari kaki di lantai 7. Gerakan ini sama dengan posisi tidur.diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. 2004). 33 .

Kemudian. dan APBI 0.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik. ulkus. 2001) adalah 1.1 Kaki diluruskan dan diangkat 8.1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki.9 pasien perlu perawatan tindak lanjut. Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 . Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0.Gambar 7.5 dan < 0.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. APBI > 0. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden. Letakkan sehelai koran dilantai. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. Gambar 8.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki. borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular. 2003) salah satunya pada organ kaki. gangren.

yaitu terhadap Ny. N dan Ny. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite. para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. Dari keempat klien Ny. 35 . D dan Ny. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. normalnya 1. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang. Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. D. N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. L. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn. 1. L dan Ny. Ny.0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). Tn. sering buang air kecil.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar.

91 2. Ny. Selain itu. D Ny. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. L Tn.91 0. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi. N Ny. Responden Ny. No 1. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny. 3. 2. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit. L. N dan Ny. 4.85 0.88 0. D. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman. dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi. 36 . Tn. kulit kaki terasa dingin. 3. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi.

37 . Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Ny. M juga menderita penyakit maag. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat. Pada saat pertemuan ke 3. D untuk beristirahat. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. Selain kegiatan di atas.4. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn. Selain DM. D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. Ny. Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. Tn. L dan Ny. tekanan darah Tn.

Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Sedangkan menurut WHO. Pada pasien lansia. Menurut Sanusi H (2004). Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ.5. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Seiring pertambahan usia. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes. Selain itu. Berdasarkan usia subjek PBLK. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh. B & Hadi Martono. rata-rata berusia 60-70 tahun. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. 38 .88. 2001). Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM. penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes. 2000). dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien. Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama.

85 0.85 0.88 0.88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0. M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia. L Tn.55 0. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki.91 3.88 menjadi 0. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.93 0. Oleh karena itu.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192. D Ny. 2010). 39 .92 1. N Ny. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani.75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0. dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali.96.96.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180.0 3.0 1. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny. senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah.91 0. dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki.

meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin.Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes. mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki.2009). Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott. Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki. mencegah kekakuan. 2009). selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes. Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta. Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 . mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki. namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. Oleh karena itu. menguatkan otot kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki.

dan sela jari kaki. Jika penglihatan penderita terganggu. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). c. 2003) Caranya yaitu: a. hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara. Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik. rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. b. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. keringkan dengan handuk halus.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. Saat pemotongan kuku. jika kuku terlalu keras dan kotor. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. kulit kemerahan atau penebalan kulit. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. Perhatikan apakah luka atau tidak. jari kaki. Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin.

jangan terasa sempit. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. Gangguan motorik juga akan 42 . bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. Permukaan atas sepatu harus lunak. menambah toleransi jalan. memelihara fungsi saraf. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. neuropati. menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil. d. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. 2003). Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. dan infeksi. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat. Olah raga harus dilakukan secara teratur. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF.sendiri. Apabila memakai kaus kaki. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara.

Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. Akibatnya. yaitu : a. nyeri kaki di malam hari.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki. d. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien. Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. c. denyut arteri hilang. f. Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). callus”. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. dengan atau tanpa osteomielitis. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. e. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. b. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh. biaya perawatan 43 . Derajat III : Abses dalam. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes.

mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag. apalagi amputasi. Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik. Selain mengevaluasi senam kaki diabetes.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. Bahkan. 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi. 44 . Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan.

25 mg/dl menjadi 180. b.75 mg/dl . diabetes melitus. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. 45 . Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192. Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus. B.88 menjadi 0. Saran 1. Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah.

Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus. 46 . Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya.2.

DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Closky J. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. Doenges E. Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. 2007. 2004.blogspot. B.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011. Sanusi Harsien. Diakses dari : http://bondankomunitas. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Makassar. Notoadmojo.go. 2006. Philadelphia : Mosby.id International Diabetes Federation. (2003).. Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www. (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). Marilynn. Jakarta : Rineka Cipta Palestin. Diakses dari www.id pada tanggal 19 Oktober 2011. Bulaceck G. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2. Edisi 3. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www.. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. M. (2007). Jakarta : EGC Hiswani. Moorhoed. B & Hadi Martono. (2005). Johnson.libraryusu.idf. (1999). Philadelphia : Mosby. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. (2002).org. S. Depkes. M. (2007).ac. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC). dkk.(2000). Jakarta: EGC Darmojo. S. Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian. Maas. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa. Stockslager. Jakarta: EGC 47 . MC.. J L..

undip. PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). Diakses dari http://ilmukeperawatan.Aksara Buana. Jakarta: EGC.ac. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. Suprianto.net/ pada tanggal 19 Oktober 2011.Ulfahsyam(2009). WHO (2000). Jakarta : CV.id. (2001). Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus. Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus. 48 . 2002.

LAMPIRAN 49 .

Sasaran Klien lansia penderita DM D.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Metode       F. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Menyampaikan judul topik. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B.00 WIB : Rumah Klien G. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. C. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. Mendengarkan dan memperhatikan.

penyuluhan. Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. senam kaki penderita 51 .  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM.   2.  Memberikan kesempatan untuk bertanya.  Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM. Mendemonstrasik an pada DM.

penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet.  penderita Menjawab salam.3.  Mendengarkan dan memperhatikan. Menyimpulkan materi penyuluhan. Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM. dan 52 . 5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet. Penutup   Menjawab pertanyaan. senam kaki klien pada DM.

Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). khawatir atau cemas. Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. Orang yang depresi.SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1. 4. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini. 3. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. 2. motivasi). Kaji kadar gula darah 53 . Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan.

Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali. perbaikan lemak darah. 54 .dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5.  Dengan meletakkan tumit dilantai. Pada kaki lainnya. perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler. Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. penurunan kolesterol total. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. minimal 20 menit. Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan.  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. angkat telapak kaki ke atas.

Ulangi sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Tumit kaki diletakkan di lantai. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai.     Angkat salah satu lutut kaki. 55 . Ulangi langkah ke 8. Ulangi sebanyak 10 kali.pertahankan posisi tersebut. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan.  Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Angkat kedua kaki dan luruskan. dan luruskan.

    Lalu robek koran menjadi 2 bagian. Kemudian.  Letakkan sehelai koran dilantai. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. 56 . Luruskan salah satu kaki dan angkat. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh. pisahkan kedua bagian koran. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. putar kaki pada pergelangan kaki .

57 3 menit WAKTU MEDIA . 2. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus.00 WIB : Rumah Klien VI. Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Media   Leaflet Poster VII. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. Mendengarkan dan memperhatikan. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus. Menyampaikan judul topik.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Sasaran Klien lansia penderita DM IV. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Metode   Ceramah Diskusi V. NO 1. II. III.

penyuluhan. Menjawab salam. 3. 5 menit Poster Leaflet 58 . 2.  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Menyimpulkan materi penyuluhan. Memberikan kesempatan untuk bertanya. Penutup   Menjawab pertanyaan. gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM.   Membagikan leaflet. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. Menerima leaflet.

susu. kentang .DIET DIABETES A. 59 . minyak. Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan). Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. B. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam). umbi-umbian.  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. Di samping jadwal makan utama pagi. jagung. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C. roti dll. jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan.

misal : kacang-kacangan. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. cokelat. nanas. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. salak. kedondong. apel. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. makanan gorengan. es krim. dll. semangka. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. rambutan. kuning telur. daging berlemak. anggur. seperti: sawo. sesuai dengna ukuran porsi makanan. sosis. dll. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . tomat. jeroan. D. dendeng. sayuran. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin. buah segar. seperti : pepaya. misal: nasi. nangka. jeruk. E. durian. cake.

Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. 3 menit WAKTU MEDIA 61 . Menjelaskan tujuan penyuluhan.00 WIB : Rumah Klien G. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Menyampaikan judul topik. Pelaksanaan Kegiatan NO 1.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C. Topik : Pola Hidup Sehat DM B. Mendengarkan dan memperhatikan. Sasaran Klien lansia penderita DM D. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus. Metode      F.   PESERTA Menjawab salam.

 Memberikan kesempatan untuk bertanya. Menerima leaflet. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.   Membagikan leaflet. Menjawab salam. 3.  Menjelaskan latihan bagi DM.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. 5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 .2. Penutup   Menjawab pertanyaan. Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. Menyimpulkan materi penyuluhan.

Status perkawinan e. Tempat/ tanggal lahir c. M 63 . Katamso Gg. Jenis kelamin d. M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln. Suku g. Agama f. Pekerjaan i. family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara. Brigjend. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Alamat : Ny. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Nama b. II. IDENTITAS a. Pendidikan h.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I.

Penyebab 3. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. 64 . V. Timbul keluhan secara 4. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d. Keluhan utama lansia 2. b. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. RIWAYAT SEHARI-HARI a. klien merasa bahwa dirinya sehat. Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. Mulainya kapan c. Penyakit yang pernah diderita : Maag b.

senang dan terhibur untuk bercerita VII. f. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. VI. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. h. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan.00 WIB.00 WIB dan bangun pukul 05. g. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. e. Klien tidur biasanya jam 23. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil.c. hal ini disebabkan karena punya sakit maag. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. itupun jika ada uang. d. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 .

tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. klien masih dapat mendengar dengan jelas. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. bentuk mata simetris kiri dan kanan. warna rambut putih. dan anatomis. Hidung : Bentuk hidung anatomis. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . lubang hidung simetris kiri dan kanan. kedua telinga bersih kiri dan kanan. tidak ada tanda-tanda ascites. Abdomen : Bentuk soepel. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. IX. VIII.capillary refill < 2 dtk. penciuman klien tidak terganggu. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. RR: 20x/ menit. : Nadi 75x/ menit. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan.Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. HR: 75x/ menit. tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala. klien masih mengenal bau-bauan. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat.

67 . Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Kulit : Kulit klien tampak keriput. klien biasanya menemui dokter untuk berobat. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Pola BAB satu kali sehari. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. XI. peristaltik (+). RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan.nyeri ulu hati. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. KGD klien : 186 mg/dl. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya. X. Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. BAK 5-7 kali/hari. Untuk mengatasi masalah maag dan DM. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter.

lemas. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan. wajah meringis saat sendi digerakkan. DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Sekresi prostaglandin Nyeri 2. DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 .ANALISA DATA No 1.6 mg/dl) 3. mengantuk dan kebaskebas pada kaki.

pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. Pengertian dispepsi (maag) b. 2. abdomen. Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak. Jelaskan kepada klien tentang: a. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang. 3. 69 . Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. Mengidentifikasi 3. Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya. berkurang 1. Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. 4.

Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.c. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Cara mengatasi dispepsia (maag) d. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien agar 3. 2. terkontrol/ 1. Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. Menurunkan sendi tekanan pada 3. Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 . istirahat selama fase akut. Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2.

mengandung purin 4. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi. Pengetahuan yang baik dan 71 . Jelaskan kepada klien 2. mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. terapi system 3. mengetahui dan 1. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis. Kaji klien pengetahuan 1. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. 2. Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5. pendidikan kesehatan atau tidak.

4.pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan kepada klien. pengetahuan 72 . benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 4. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 3. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. alternatif untuk 3.

pada ditandai mengeluhkan abdomen.CATATAN PERKEMBANGAN No. mengulangi apa yang klien telah dijelaskan. peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya. 4. Menjelaskan kepada tentang: . .Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan. 2. Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 . Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. 1. (maag) .Pengertian (maag) . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1.Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan. 3.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1.

2. yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menjelaskan pengertian gejala DM. 3. 2. selama fase akut. 4. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. 3. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. kepada dan tanda 74 . Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan.

mengeluhkan abdomen. 75 .Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi. O: Klien tampak klien segar dan sehat. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. pada ditandai 2. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. berkurang. 1. Mengajarkan klien terapi senam teratasi.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. 4. 3. penderita DM. Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering. No. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. kaki diabetes. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. Menjelaskan kepada tentang: . P: Intervensi dilanjutkan.Pengertian (maag) . A: Masalah belum 4. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1.

Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.Cara mengatasi dispepsia (maag) . 2. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 . 4. 3. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. mengandung purin. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan.. yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri.

Menjelaskan pengertian gejala DM. dihentikan. 4.farmakologi. penderita DM. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. A: Masalah teratasi. 3. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3. 77 . Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. 2.

D 78 . Klien tinggal serumah dengan seorang anak.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I. Pekerjaan i. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Tempat/tanggal lahir c. Nama b. Pendidikan h. Suku g. Alamat : Tn. Jenis kelamin d. II. Status perkawinan e. menantu dan 3 orang cucu. IDENTITAS a. Agama f. D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn.

Penyebab 3. Pola nutrisi : 79 . Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. Mulainya kapan 3. c. Faktor yang memperberat 5. Keluhan utama lansia 2. b. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V. klien merasa bahwa dirinya sehat. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Riwayat Sehari-hari a. Timbul keluhan secara 4. Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III.

klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. Klien tidur biasanya jam 00. Karena klien menderita DM. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. f. VI.Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Selain itu. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya.Selain itu. terkadang anaknya mengiriminya uang. senang dan terhibur untuk bercerita VII. g. h.00 WIB dan bangun pukul 05. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. d. VIII. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 .00 WIB. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. e. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg.warna rambut putih dan menipis. pola nafas ireguler. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. Abdomen : Bentuk soepel. dan anatomis. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. klien masih mengenal bau-bauan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. tidak ada tanda-tanda ascites. RR: 24x/ menit. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. lubang hidung simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. penciuman klien tidak terganggu. IX. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit.capillary refill < 2 dtk.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. bentuk mata simetris kiri dan kanan. kedua telinga bersih kiri dan kanan. tidak ada nyeri ulu hati. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. gigi klien sudah tidak ada lagi. 81 . HR: 75x/ menit. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit. peristaltik (+). tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. klien tapak bernafas cepat. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Klien mengalami gangguan pernafasan.

BAK 5-7 kali/ hari. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Pola BAB 1x/ hari. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. 82 . tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan.Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Kulit : Kulit klien tampak keriput. KGD : 193 mg/dl XI. X. klien biasanya minum ramuan tradisional.

RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2.ANALISA DATA No 1. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. bernafas cepat dan irregular. Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 . dan panas. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. lemas.

RENCANA KEPERAWATAN No 1. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. Diskusikan pada lansia tentang 4. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD . tentang penyakitnya. Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. Memberikan 2. 2. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3. dengan nyaman. 2. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1. saluran pernapasan dan jantung. 2. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1. menghindari kambuhnya penyakit. Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit. 3. Gali pengetahuan keluarga tentang 1. Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. 4. pencegahan dan pengobatan penyakit.

4. Memberikan kepada klien. 4. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. 3. 3. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes.sering kambuhnya penyakit. 2.

2. 1. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. 3. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. teratasi. 2. Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan.CATATAN PERKEMBANGAN No. 4. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1. tentang pencegahan pengobatan penyakit. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. pernapasan dan jantung. paham dan mampu 86 . Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. mengulangi apa yang 3.

Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada. meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. 5. Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. A: Masalah belum penderita DM. 3. Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat. A: Masalah teratasi. Menganjurkan klien pergi ke 87 . 4. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. No. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. hangat pada sendi yang sakit. P: Intervensi dilanjutkan. 4. 2. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. kaki diabetes. 1.

pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. dihentikan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 2. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 88 . penderita DM. A: Masalah teratasi. paham dan mampu 3.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 4. 2.

RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Nama b. Pendidikan h. Suku g. Jenis kelamin d. N 89 .Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Tempat/tanggal lahir c. IDENTITAS a. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. II. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Alamat : Ny. Status perkawinan e. Agama f. menantu dan 2 orang cucu. Pekerjaan i.

Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Riwayat Sehari-hari a. Penyebab 3. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2. 90 . sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Timbul keluhan secara 4. Mulainya kapan 3.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Keluhan utama lansia 2. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. b. klien merasa bahwa dirinya sehat. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV.

klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. f. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 .c. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat.00 WIB. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus.00 WIB dan bangun pukul 05. h. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. VI. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. e. Klien tidur biasanya jam 23. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. sayur dan lauk pauk. g. VIII. mencuci dan menyetrika. d.

capillary refill < 2 dtk. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . peristaltik (+). pola nafas reguler. HR: 76x/ menit. tidak ada tanda-tanda ascites. RR: 20x/ menit. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. Abdomen : Bentuk soepel. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. klien masih mengenal bau-bauan. lubang hidung simetris kiri dan kanan. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg. klien masih dapat mendengar dengan jelas. dan anatomis dan warna rambut putih. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. IX. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. gigi klien sudah tidak ada lagi. Pola BAB 1x/ hari.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. bentuk mata simetris kiri dan kanan. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat. tidak ada nyeri ulu hati. penciuman klien tidak terganggu. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit. kedua telinga bersih kiri dan kanan. BAK 5-7 kali/ hari. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Kulit : Kulit klien tampak keriput. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.inkontinensia. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. X. KGD : 186 mg/dl XI. 93 . tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya.

DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. wajah meringis saat sendi digerakkan. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.5 mg/dl (normal pada wanita : 3 . mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri.ANALISA DATA No 1. lemas.6 mg/dl) 2. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 .

terkontrol/ 1. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Anjurkan klien untuk 1.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan tindakan non 4. 2.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan klien agar 3. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Anjurkan klien pergi ke 5. Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang . selama fase akut. Anjurkan klien untuk 2.

mengetahui 1. 1. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 2. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 . serta menurunkan saraf system 2. 3.nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan kepada klien. 4. 3. 2. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. muncul rangsang simpatis. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.

2. Menganjurkan tindakan non teratasi. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. akan mencoba apa 97 .CATATAN PERKEMBANGAN No. 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. 2. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. 4. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1.

P: Intervensi dilanjutkan. No. makanan mengandung purin. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. 4. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. A: Masalah belum penderita DM. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. kaki diabetes. 1. 2. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. O: Klien tampak 3. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. 98 .dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2.

dihentikan. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. 2. penderita DM. paham dan mampu 3. 2.4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. hangat pada sendi yang sakit 5. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 99 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 4. A: Masalah teratasi. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan.

Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Nama b. Pekerjaan i. II. Pendidikan h. Status perkawinan e. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. L 100 . Tempat/tanggal lahir c. menantu dan 2 orang cucu. L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Jenis kelamin d. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. IDENTITAS a.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Suku g. Alamat : Ny. Agama f.

Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Riwayat Sehari-hari a. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Keluhan utama lansia 2. Mulainya kapan 3. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. b. klien merasa bahwa dirinya sehat. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Timbul keluhan secara 4. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. 101 . Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. Penyebab 3. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah.

namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. f. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. VIII.00 WIB. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. e. h. d. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman.00 WIB dan bangun pukul 05. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. VI. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. mencuci dan menyetrika. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya.c. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. g. Klien tidur biasanya jam 23. sayur dan lauk pauk. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan klien pergi ke 8. tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 .RENCANA KEPERAWATAN No 1. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan tindakan non 7. selama fase akut. Anjurkan klien untuk 1. 2. Anjurkan klien agar 6. Anjurkan klien untuk 2.

Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan kepada klien. mengetahui 1. system saraf 2. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 8. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 4. 5. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. 6. 2. 3. rangsang simpatis. 7. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.

tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2.CATATAN PERKEMBANGAN No. 1. Menganjurkan tindakan non teratasi. 2. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. 4. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi.

1. paham dan mampu 3. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 2. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. O: Klien tampak 3. 2.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 4. No. makanan 109 . kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. P: Intervensi dilanjutkan. A: Masalah belum penderita DM.

mengandung purin. hangat pada sendi yang sakit 5. penderita DM. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. 2. A: Masalah teratasi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1. 2. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 110 . 4. 4. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. paham dan mampu 3. dihentikan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful