BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan. preventif. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI.BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. Puskesmas 7 . Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. 1999). kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. 1991).128 / MENKES / SK / II / 2004). Menkes RI No.

yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. upaya kesehatan lanjut usia. pusat pelayanan kesehatan strata I. dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional. upaya kesehatan mata. 2004). Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30. upaya kesehatan gigi dan mulut. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1. meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko.000 penduduk untuk setiap puskesmas. B. 2006). pusat pemberdayaan masyarakat. pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB). upaya kesehatan olahraga. Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Selain upaya kesehatan pokok. upaya perawatan kesehatan masyarakat. perbaikan gizi. upaya pembinaan pengobatan tradisional. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota. Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. kesehatan lingkungan. puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. upaya kesehatan kerja. upaya kesehatan jiwa. Adapun batas wilayah Puskesmas 8 .merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. regional dan global.

Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . 4) Jujur. Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. UKS ke sekolah-sekolah. Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. Responsif). keluarga dan masyarakat. 8) Ramah. Loyal. 6) Kreatif dan berprestasi. 5) Bertanggungjawab. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. kegiatan P2P. 2) Setia dan taat. Unggul. (4) Meningkatkan kesehatan individu. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). Prioritas. Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. 3) Disiplin.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. 7) Kepedulian dan. untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. sopan dan berbudi luhur. Optimis. Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. dan motto puskesmas POPULER (Peduli. Efektif. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. Kabupaten Deli Serdang.

Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. b) 10 . g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. ibu bersalin. yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan. baik lintas program maupun lintas sektoral. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait. e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. 4) Peningkatan gizi.

FLU BURUNG. Menutup. ASKES. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). 6) Pengobatan. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif. JAMKESMAS. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. Telungkup) dan. Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. HIV/ AIDS. Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. terutama tentang DBD. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. Mengubur. rumah penduduk serta Puskesmas. posyandu dan balai desa. 7) Pencatatan dan Laporan. DIARE. ISPA. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras.Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. sekolah. TUBERCULOSIS PARU. c) Menemukan dan mengobati penyakit.

memberikan pengobatan dan perawatan gigi. b) Pelaporan.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan. kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. pembersihan dan pencabutan gigi. dokter remaja. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. berupa administrasi. 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). PMR). Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi. penambalan. laporan bulanan. ketersediaan alat dan obat. dengan kegiatan antara lain. berupa laporan mingguan. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah. Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). laporan dilakukan pada kasus diare. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. Dari hasil observasi. 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). upaya ini dilaksanakan untuk mencegah. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil.

6) Usaha Kesehatan Jiwa. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . untuk kasus penyakit jiwa.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. . karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa. c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. 5) Laboratorium. 7) Usaha Kesehatan Mata. dari hasil observasi. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite). Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik. upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas. usia lanjut dan sebagainya. anak balita. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. b) Melakukan pembuatan slide. b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil.Pemeriksaan BTA antara lain. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: . kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien. upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit. 4) Usaha Kesehatan Kerja.Puskesmas Kedai Durian. langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa.

pengukuran tekanan darah. pengobatan dan pemulihan. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan. Memeriksakan kesehatan. sosial. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. 2006). Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. 2. Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan. pencegahan. upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 . Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. ekonomi dan psikologis (Depkes. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun. Memberikan obat-obat.daerah. Kelurahan Titi Kuning c. vitamin di setiap Posyandu. Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. 3. kemunduran fisik. penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan. 2008). 8) Kesehatan Lanjut Usia.

meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. 2003). Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. 2. dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga. 15 . Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif. Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. dan pengobatan dasar.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti. meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. 3.

melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. leaflet atau poster. 6. Untuk mengatasi masalah tersebut. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes. Sedangkan 16 . Selain itu. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas.4. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. 5. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM.

pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. dengan angka keberhasilan sekitar 85%. 2008). Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. keluarga. Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. C. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 . 2008). lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan.

Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1. disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan 18 . Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Dengan menghadiri kegiatan posyandu. Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2. indeks massa tubuh (IMT). Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius. pengetahuan lansia menjadi meningkat. lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini. maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Meja I : Pendaftaran lansia.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling. tinggi badan.

mengadakan pembuatan leaflet. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.demikian. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. 3. mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. 4. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat. Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit. 19 . Dengan sikap yang baik tersebut. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek.

ekonomi dan psikologis (Nugroho. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . kelemahan (impairment). 2008). hal ini akan menimbulkan masalah fisik. atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. 2003). keterbatasan fungsional (fungsional limitations). ketidakmampuan (disability). Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. 1. 2000). mental. dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. sosial. dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). 1999).BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang.

tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik. 3. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk. biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) . 2001). Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa.1. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. 2. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. 21 . Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun. yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya.

2. Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. 2002). 2001). Polihidramion.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva. Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. pernah pre-eklamsia. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram. Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan. pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . perbedaan encoding reseptor insulin. 4. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI.beta. Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang.

Berat badan menurun. Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot.memenuhinya klien akan terus makan. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. dan stress. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. misalnya selama menstruasi. monosit dan permukaan sel lemak. Walaupun klien banyak makan. tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. lekas lelah. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. hati. kurangnya aktivitas fisik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). serta stroke (Harbuwono. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. perubahan hormon. lemas. 2008). maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein. 3. karena tubuh terus merasakan lapar. penyakit jantung. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas. infeksi atau penyakit lain. masalah ginjal atau mata. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas.

4. dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. 24 . Namun. elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl). Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI.1 mmol/L).8 mmol/L). Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. Indian Amerika. asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. Merokok. Hawaii. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. dimana bangsa Amerika Afrika. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO. Amerika Meksiko. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif. obesitas. 2008) yaitu Usia. jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi. maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat. dan diabetes pada populasi tersebut. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11. Ras dan suku bangsa. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7.

selanjutnya akan menurun. leukositosis. Sesuai dengan standar makanan berikut ini. Natrium dapat normal. Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak.1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat. protein. jogging senam dan berenang. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. meningkat atau menurun.Hubungannya adalah retensi air. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. 5.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Penatalaksanaan 5. Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. Pada urine. bersepeda santai. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. protein 1015%. makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). 2004). 5. gula dan aseton positif. Kalium dapat normal atau peningkatan semu. dan lemak. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. Sedangkan fosfor lebih sering menurun.

seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati.jasmani. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. untuk Repaglinid 0. seperti menonton televisi (PERKENI. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo. Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI. meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak. 2004). metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP. 5. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas. Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. 2004). Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 .5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI. 2002). Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan. 2002).3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat.2002). Berikutnya adalah Glinid. Dosisnya. serta penurunan produksi glukosa oleh hati. Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida.

kadar gula darah tinggi. Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. 2002). Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. kadar kolesterol LDL tinggi. Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. peningkatan trigliserida. insulin kerja sedang contohnya insulin suspense. stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). 2004).terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo. Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. 2006).2002) 6. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti. 27 . Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah. Kondisi ini meliputi resistensi insulin. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. 2004). hiperglikemia dan ketoasidosis. Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit. Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan. penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu.

Pada tahap yang lebih parah. pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. Para penderita diabetes. seperti kadar kolesterol tinggi .Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. tekanan darah tinggi. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Bila ginjal mengalami kerusakan. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. Pada tahap awal. Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 . 2006). Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain.

jogging. Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. otot paha. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. 29 . Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus.kerusakan saraf. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno.1986). Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh. 2002). 2009). senam. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. 2002). dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki.  1. bersepeda santai.Sumosardjuno. 2007). Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI. dan berenang. yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki. (S. Berdasarkan pengertiannya. dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono.

2003). 4. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. dan Jaga privacy pasien. sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. khawatir atau cemas. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood. cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). motivasi). prosedur pelaksanaan senam. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). waktu. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Orang yang depresi. tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki.2. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. Perawat cuci tangan 30 . Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. 3.

1 Pesien duduk di atas kursi 3.2. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. 31 . Pada posisi tidur. Pada kaki lainnya.. 4. Gambar 2. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Pada posisi tidur. menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Dengan meletakkan tumit di lantai. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. angkat telapak kaki ke atas. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki.

Tumit kaki diletakkan di lantai.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur kaki harus 32 . Pada posisi tidur. kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai.Gambar 4.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5.

Gambar 6. 33 . Luruskan salah satu kaki dan angkat. putar kaki pada pergelangan kaki.1 Jari-jari kaki di lantai 7. 2004).diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Gerakan ini sama dengan posisi tidur. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo.

Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 .Gambar 7. dan APBI 0. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki.1 Kaki diluruskan dan diangkat 8.1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. 2003) salah satunya pada organ kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. APBI > 0. gangren. Letakkan sehelai koran dilantai. Gambar 8. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. 2001) adalah 1. Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0. ulkus.9 pasien perlu perawatan tindak lanjut.5 dan < 0. Kemudian. borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki.

para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. Tn. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite.0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. L. D dan Ny. yaitu terhadap Ny. mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. normalnya 1.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki. N dan Ny. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. sering buang air kecil. D. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang. 1. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn. Dari keempat klien Ny. serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). Ny. L dan Ny. 35 .

Tn. Responden Ny.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny. D Ny. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki. No 1.88 0.91 0. D. 36 . N Ny. L. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman. 2. 4. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. kulit kaki terasa dingin. Selain itu. N dan Ny. Ny. dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi. pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi.91 2. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit.85 0. 3. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. L Tn. 3.

Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. Tn. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. M juga menderita penyakit maag. M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. Ny. Pada saat pertemuan ke 3. Selain DM. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam.4. Selain kegiatan di atas. Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. D untuk beristirahat. Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. Ny. tekanan darah Tn. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn. L dan Ny. D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan. Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. 37 . N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat.

Sedangkan menurut WHO. B & Hadi Martono. Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM.5. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. Pada pasien lansia. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. 2001). Selain itu. rata-rata berusia 60-70 tahun. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. 38 . Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth. 2000). penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes.88. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien. Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. Seiring pertambahan usia. Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. Menurut Sanusi H (2004). konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. Berdasarkan usia subjek PBLK. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh.

M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.85 0. L Tn.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180. senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki.0 1. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani.0 3.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia.55 0. dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki. 39 . D Ny. Oleh karena itu.96.88 menjadi 0.88 0. N Ny.96.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192.92 1. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny.85 0.93 0. 2010). dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0.91 0.75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0.91 3.88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.

Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu. Oleh karena itu. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki.2009). Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes. mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. menguatkan otot kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 . namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. mencegah kekakuan. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki. meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes.Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. 2009). Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott.

keringkan dengan handuk halus.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. kulit kemerahan atau penebalan kulit. hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). jika kuku terlalu keras dan kotor. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara. c. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki. dan sela jari kaki. Perhatikan apakah luka atau tidak. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit. Jika penglihatan penderita terganggu. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik. jari kaki. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Saat pemotongan kuku. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. 2003) Caranya yaitu: a. b.

Permukaan atas sepatu harus lunak. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF. d. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. menambah toleransi jalan.sendiri. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat. neuropati. dan infeksi. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. Apabila memakai kaus kaki. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara. Gangguan motorik juga akan 42 . sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. jangan terasa sempit. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). 2003). memelihara fungsi saraf. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. Olah raga harus dilakukan secara teratur. bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil.

Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. e. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. c. callus”. nyeri kaki di malam hari. denyut arteri hilang. biaya perawatan 43 . Akibatnya. Derajat III : Abses dalam. b. f. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). dengan atau tanpa osteomielitis. yaitu : a. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes. d.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka.

44 . Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik. Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. Selain mengevaluasi senam kaki diabetes. mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag. 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi. apalagi amputasi. Bahkan.

B. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin. Saran 1.88 menjadi 0. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah.75 mg/dl . Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah. Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus. 45 .BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. b. diabetes melitus.25 mg/dl menjadi 180.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a.

Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus.2. Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya. 46 .

Philadelphia : Mosby. Depkes. S. Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus. J L. Jakarta: EGC 47 . Johnson. Makassar. Jakarta: EGC Darmojo.(2000). (2007).DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth.org. Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa. Notoadmojo.idf.ac.id International Diabetes Federation. M. Closky J. Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian. (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). (1999). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. Jakarta : EGC Hiswani. Diakses dari www. M. Jakarta : Rineka Cipta Palestin. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2.. Edisi 3. B & Hadi Martono. 2004. Marilynn. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC). Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www. Moorhoed. Maas. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. B. Diakses dari : http://bondankomunitas. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. (2007). 2007. (2002). dkk.blogspot... Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. Sanusi Harsien.libraryusu. MC. Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Doenges E. Bulaceck G. (2005).go. 2006.id pada tanggal 19 Oktober 2011. (2003).. S. Philadelphia : Mosby.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011. Stockslager.

net/ pada tanggal 19 Oktober 2011. Jakarta : CV.ac.undip. Suprianto. Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. WHO (2000). 48 . 2002.Ulfahsyam(2009). Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus.Aksara Buana. Diakses dari http://ilmukeperawatan. Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.id. Jakarta: EGC. PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). (2001). Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www.

LAMPIRAN 49 .

Sasaran Klien lansia penderita DM D. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Menyampaikan judul topik. Mendengarkan dan memperhatikan. Metode       F. C. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09.00 WIB : Rumah Klien G.

 Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM.  Memberikan kesempatan untuk bertanya. Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM.penyuluhan.   2.  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM. Mendemonstrasik an pada DM. senam kaki penderita 51 .

3. dan 52 . Penutup   Menjawab pertanyaan.  Mendengarkan dan memperhatikan. Menyimpulkan materi penyuluhan.  penderita Menjawab salam. senam kaki klien pada DM. penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM. 5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet. Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet.

SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1. Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. motivasi). 4. Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. Orang yang depresi. Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan. Kaji kadar gula darah 53 . Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini. Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). 3. khawatir atau cemas.

Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan.  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai.dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. perbaikan lemak darah.  Dengan meletakkan tumit dilantai. Pada kaki lainnya. angkat telapak kaki ke atas. 54 . Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. penurunan kolesterol total.Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali. perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler. minimal 20 menit. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas.

55 . Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. Tumit kaki diletakkan di lantai.  Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki dan luruskan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan.pertahankan posisi tersebut. Ulangi sebanyak 10 kali. Ulangi langkah ke 8. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan.     Angkat salah satu lutut kaki. Ulangi sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki lalu luruskan. dan luruskan.

putar kaki pada pergelangan kaki . pisahkan kedua bagian koran. 56 . Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.  Letakkan sehelai koran dilantai. Luruskan salah satu kaki dan angkat.     Lalu robek koran menjadi 2 bagian. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. Kemudian.

Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Mendengarkan dan memperhatikan. II. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus. III. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus. NO 1. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. 57 3 menit WAKTU MEDIA . Metode   Ceramah Diskusi V. Menyampaikan judul topik.00 WIB : Rumah Klien VI.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Media   Leaflet Poster VII. Sasaran Klien lansia penderita DM IV. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus. 2.

dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. Menerima leaflet. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh.penyuluhan. gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM. Menyimpulkan materi penyuluhan. 2. Penutup   Menjawab pertanyaan. 3. Memberikan kesempatan untuk bertanya. Menjawab salam.   Membagikan leaflet. 5 menit Poster Leaflet 58 .  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM.

jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori. Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. 59 . Di samping jadwal makan utama pagi. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C. Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. roti dll. Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan). susu. umbi-umbian. Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh.DIET DIABETES A.  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. B. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam). jagung. kentang . minyak. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan.

cokelat. es krim. sayuran. dll. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin. D. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . kedondong. anggur. nangka. Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. jeruk. seperti : pepaya. jeroan. apel. sosis. misal: nasi. buah segar. makanan gorengan. dll. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. nanas. semangka. daging berlemak. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. seperti: sawo. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. tomat. sesuai dengna ukuran porsi makanan. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. durian. kuning telur. dendeng. rambutan. cake. misal : kacang-kacangan. E. salak.

3 menit WAKTU MEDIA 61 . diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C.   PESERTA Menjawab salam. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Mendengarkan dan memperhatikan. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus. Menjelaskan tujuan penyuluhan. Metode      F. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Sasaran Klien lansia penderita DM D. Menyampaikan judul topik. Topik : Pola Hidup Sehat DM B.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A.00 WIB : Rumah Klien G.

Penutup   Menjawab pertanyaan. Menjawab salam.   Membagikan leaflet.  Menjelaskan latihan bagi DM. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. 5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 . Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. 3. Menyimpulkan materi penyuluhan.2.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah.  Memberikan kesempatan untuk bertanya. Menerima leaflet.

Tempat/ tanggal lahir c. Brigjend. family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Suku g. Katamso Gg. Jenis kelamin d. Status perkawinan e. Pendidikan h. Pekerjaan i. II. Alamat : Ny. Agama f. M 63 . M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln. IDENTITAS a. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Nama b.

klien merasa bahwa dirinya sehat. b. Penyebab 3. 64 . Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d. Timbul keluhan secara 4. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Mulainya kapan c. V. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. Penyakit yang pernah diderita : Maag b. RIWAYAT SEHARI-HARI a. Keluhan utama lansia 2.

Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. itupun jika ada uang.c. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. senang dan terhibur untuk bercerita VII. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 . Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga. g. f. h. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. e. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek.00 WIB. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil.00 WIB dan bangun pukul 05. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. VI. hal ini disebabkan karena punya sakit maag. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. Klien tidur biasanya jam 23. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. d. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi.

Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala. Hidung : Bentuk hidung anatomis. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . VIII. kedua telinga bersih kiri dan kanan. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. bentuk mata simetris kiri dan kanan. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. klien masih mengenal bau-bauan. HR: 75x/ menit. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Abdomen : Bentuk soepel. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. RR: 20x/ menit. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. lubang hidung simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda-tanda ascites.capillary refill < 2 dtk. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. warna rambut putih. IX.Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. penciuman klien tidak terganggu. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. dan anatomis. : Nadi 75x/ menit.

Kulit : Kulit klien tampak keriput.nyeri ulu hati. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. klien biasanya menemui dokter untuk berobat. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Untuk mengatasi masalah maag dan DM. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. peristaltik (+). Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. KGD klien : 186 mg/dl. XI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Pola BAB satu kali sehari. BAK 5-7 kali/hari. Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. X. 67 . tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis.

wajah meringis saat sendi digerakkan.6 mg/dl) 3. DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Sekresi prostaglandin Nyeri 2. DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung.ANALISA DATA No 1. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . lemas. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 . mengantuk dan kebaskebas pada kaki.

Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Mengidentifikasi 3. berkurang 1. 4. Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak. 69 . 2. Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Pengertian dispepsi (maag) b. Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. Jelaskan kepada klien tentang: a. abdomen. pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4. Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. 3. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang.

Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. istirahat selama fase akut. Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2. Cara mengatasi dispepsia (maag) d. Anjurkan klien agar 3.c. terkontrol/ 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2. 2. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 . Menurunkan sendi tekanan pada 3.

mengetahui dan 1. Pengetahuan yang baik dan 71 . mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5. Jelaskan kepada klien 2. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi. pendidikan kesehatan atau tidak. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. Kaji klien pengetahuan 1.mengandung purin 4. terapi system 3.

alternatif untuk 3. 3. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Memberikan kepada klien. 4. 4. benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. pengetahuan 72 .pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes.

Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya. 3. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan. 2. Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. pada ditandai mengeluhkan abdomen.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. . 4.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 .CATATAN PERKEMBANGAN No. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1. peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1. (maag) .Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan. Menjelaskan kepada tentang: . mengulangi apa yang klien telah dijelaskan.Pengertian (maag) . Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus.

3. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5. kepada dan tanda 74 . Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. 2. yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. selama fase akut.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menjelaskan pengertian gejala DM. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. 3. 2. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan.

Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering. 1. O: Klien tampak klien segar dan sehat. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. kaki diabetes. berkurang. 4. 75 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1. Mengajarkan klien terapi senam teratasi.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. A: Masalah belum 4. No. mengeluhkan abdomen. 3. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Menjelaskan kepada tentang: .Pengertian (maag) .Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi. P: Intervensi dilanjutkan. penderita DM. pada ditandai 2.

hangat pada sendi yang sakit 5.. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri. banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi.Cara mengatasi dispepsia (maag) . Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1. 4. 2. mengandung purin. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. 3. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 . Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang.

A: Masalah teratasi. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. penderita DM. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 4. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 77 . Menjelaskan pengertian gejala DM. 3. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. 2. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.farmakologi. dihentikan.

Agama f. II. D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln. IDENTITAS a. Status perkawinan e. menantu dan 3 orang cucu. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Alamat : Tn. Nama b. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Tempat/tanggal lahir c.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn. Jenis kelamin d. D 78 . Pendidikan h. Pekerjaan i. Suku g.

RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. Timbul keluhan secara 4. Faktor yang memperberat 5. b. Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu. Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Penyebab 3. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Mulainya kapan 3. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. Pola nutrisi : 79 . Keluhan utama lansia 2. c. klien merasa bahwa dirinya sehat. Riwayat Sehari-hari a.

klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Klien tidur biasanya jam 00. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. d. f. h.00 WIB. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 . Selain itu. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. Karena klien menderita DM. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. senang dan terhibur untuk bercerita VII. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.Selain itu.00 WIB dan bangun pukul 05. terkadang anaknya mengiriminya uang. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman.Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. g. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya. VI. e. VIII.

pola nafas ireguler.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. gigi klien sudah tidak ada lagi. HR: 75x/ menit.capillary refill < 2 dtk. Abdomen : Bentuk soepel. dan anatomis. tidak ada tanda-tanda ascites. IX. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. klien masih dapat mendengar dengan jelas.sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. peristaltik (+). irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. bentuk mata simetris kiri dan kanan. kedua telinga bersih kiri dan kanan. tidak ada nyeri ulu hati. RR: 24x/ menit. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. klien tapak bernafas cepat. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. penciuman klien tidak terganggu. Klien mengalami gangguan pernafasan. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.warna rambut putih dan menipis. klien masih mengenal bau-bauan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. 81 . Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit.

klien biasanya minum ramuan tradisional. 82 . X. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis.Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. BAK 5-7 kali/ hari. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Kulit : Kulit klien tampak keriput. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. KGD : 193 mg/dl XI. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Pola BAB 1x/ hari. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan.

Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. bernafas cepat dan irregular. lemas.ANALISA DATA No 1. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 . dan panas. RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar.

tentang penyakitnya. dengan nyaman. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya. 3. menghindari kambuhnya penyakit.RENCANA KEPERAWATAN No 1. 4. 2. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD . pencegahan dan pengobatan penyakit. saluran pernapasan dan jantung. Diskusikan pada lansia tentang 4.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. Gali pengetahuan keluarga tentang 1. 2. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1. Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya. Memberikan 2. 2. Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1.

menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes.sering kambuhnya penyakit. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . 3. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. 4. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 3. 2. Memberikan kepada klien. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 4.

paham dan mampu 86 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan. mengulangi apa yang 3. 2.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. 3. 4. Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. 2. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung. tentang pencegahan pengobatan penyakit. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. pernapasan dan jantung. teratasi. 1.

1. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. P: Intervensi dilanjutkan. 5. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada. No. 3. A: Masalah belum penderita DM.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. 2. kaki diabetes. meningkatkan rasa nyeri. 4. Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. hangat pada sendi yang sakit. Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien pergi ke 87 . A: Masalah teratasi. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. 4. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.

Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. dihentikan. 2. paham dan mampu 3. 88 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. penderita DM. A: Masalah teratasi. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes.

II. Agama f. IDENTITAS a. Nama b.Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Tempat/tanggal lahir c. Status perkawinan e. N 89 . Suku g. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Jenis kelamin d. Alamat : Ny. Pekerjaan i. Pendidikan h. menantu dan 2 orang cucu.

b. Penyebab 3. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Riwayat Sehari-hari a. Keluhan utama lansia 2. 90 . RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. klien merasa bahwa dirinya sehat. Timbul keluhan secara 4. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Mulainya kapan 3. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah.

f. VI. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 . klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.00 WIB.00 WIB dan bangun pukul 05. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. mencuci dan menyetrika. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. g. VIII.c. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. d. h. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. e. sayur dan lauk pauk. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. senang dan terhibur untuk bercerita VII. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Klien tidur biasanya jam 23.

Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. dan anatomis dan warna rambut putih. Abdomen : Bentuk soepel. tidak ada nyeri ulu hati. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. RR: 20x/ menit. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . klien masih mengenal bau-bauan. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. HR: 76x/ menit. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. IX. pola nafas reguler. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg. Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit. BAK 5-7 kali/ hari. kedua telinga bersih kiri dan kanan. Pola BAB 1x/ hari. klien masih dapat mendengar dengan jelas. tidak ada tanda-tanda ascites. penciuman klien tidak terganggu. Hidung : Bentuk hidung anatomis.capillary refill < 2 dtk. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. peristaltik (+). bentuk mata simetris kiri dan kanan. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. gigi klien sudah tidak ada lagi.

Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. KGD : 186 mg/dl XI. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Kulit : Kulit klien tampak keriput. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. 93 . klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional. X.inkontinensia. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya.

DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 .5 mg/dl (normal pada wanita : 3 . DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. lemas. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. mengantuk dan kebaskebas pada kaki.6 mg/dl) 2.ANALISA DATA No 1. wajah meringis saat sendi digerakkan.

klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. selama fase akut. Anjurkan tindakan non 4. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. terkontrol/ 1. Anjurkan klien untuk 2. 2. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang . Anjurkan klien pergi ke 5. Anjurkan klien agar 3.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Anjurkan klien untuk 1. Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang.

3. muncul rangsang simpatis. Memberikan kepada klien. 1. serta menurunkan saraf system 2. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 4. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. mengetahui 1. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 3. 2. 2. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 .nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi.

Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. 2. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. 2.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan tindakan non teratasi. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. akan mencoba apa 97 . Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. 4. paham dan mampu 3. 1. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin.

pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. kaki diabetes. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. A: Masalah belum penderita DM. 4. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. 98 . Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan.dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2. P: Intervensi dilanjutkan. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. No. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2. paham dan mampu 3. makanan mengandung purin. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. O: Klien tampak 3. 1.

Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. hangat pada sendi yang sakit 5. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. 2. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. dihentikan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. A: Masalah teratasi. paham dan mampu 3. 4. 2.4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. penderita DM. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1. 99 .

L 100 . IDENTITAS a. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Tempat/tanggal lahir c. Agama f. Pendidikan h. menantu dan 2 orang cucu.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Pekerjaan i. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Alamat : Ny. Nama b. L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Status perkawinan e. Suku g. Jenis kelamin d. II.

RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Keluhan utama lansia 2. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. klien merasa bahwa dirinya sehat. Penyebab 3. b. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Riwayat Sehari-hari a.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. 101 . Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. Timbul keluhan secara 4. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Mulainya kapan 3.

e. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. senang dan terhibur untuk bercerita VII. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus.c. sayur dan lauk pauk. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. f. Klien tidur biasanya jam 23. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. VIII.00 WIB dan bangun pukul 05. g. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. VI. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus.00 WIB. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. h. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . mencuci dan menyetrika. d.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

RENCANA KEPERAWATAN No 1. Anjurkan klien agar 6. Anjurkan klien pergi ke 8. Anjurkan tindakan non 7. Anjurkan klien untuk 2. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. selama fase akut. 2. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 . tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Anjurkan klien untuk 1.

2. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. 3. 5.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 6. Memberikan kepada klien. 8. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 4. rangsang simpatis. 7. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. system saraf 2. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 . mengetahui 1.

2. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1.CATATAN PERKEMBANGAN No. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. 2. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 . paham dan mampu 3. 4. 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menganjurkan tindakan non teratasi.

A: Masalah belum penderita DM. 2. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. 2. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. 1. kaki diabetes.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 4. P: Intervensi dilanjutkan. paham dan mampu 3. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. No. makanan 109 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. O: Klien tampak 3. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Mengajarkan klien terapi senam teratasi.

mengandung purin. 4. paham dan mampu 3. 4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. 110 . Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 2. hangat pada sendi yang sakit 5. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1. dihentikan. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. A: Masalah teratasi. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. penderita DM. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 2.