BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat.BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). Puskesmas 7 . 1991). Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan. Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. preventif.128 / MENKES / SK / II / 2004). Menkes RI No. 1999).

B. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1.000 penduduk untuk setiap puskesmas. perbaikan gizi. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB).merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. upaya kesehatan olahraga. upaya kesehatan lanjut usia. upaya kesehatan kerja. pusat pelayanan kesehatan strata I. Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30. regional dan global. upaya perawatan kesehatan masyarakat. 2006). upaya pembinaan pengobatan tradisional. pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko. Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. upaya kesehatan jiwa. kesehatan lingkungan. 2004). Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. Selain upaya kesehatan pokok. puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota. upaya kesehatan gigi dan mulut. Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. Adapun batas wilayah Puskesmas 8 . pusat pemberdayaan masyarakat. upaya kesehatan mata.

UKS ke sekolah-sekolah. Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. Prioritas. Responsif). Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. (4) Meningkatkan kesehatan individu. Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. keluarga dan masyarakat.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. sopan dan berbudi luhur. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. 4) Jujur. Optimis. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan. Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. 5) Bertanggungjawab. Loyal. 6) Kreatif dan berprestasi. 2) Setia dan taat. dan motto puskesmas POPULER (Peduli. 8) Ramah. Unggul. 7) Kepedulian dan. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). Kabupaten Deli Serdang. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. Efektif. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. kegiatan P2P. untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. 3) Disiplin.

KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. 4) Peningkatan gizi. ibu bersalin. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait. Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. baik lintas program maupun lintas sektoral. e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. b) 10 . g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil.

ISPA. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD. TUBERCULOSIS PARU. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. JAMKESMAS.Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. Mengubur. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. ASKES. Telungkup) dan. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . 6) Pengobatan. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif. Menutup. HIV/ AIDS. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas. terutama tentang DBD. Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). sekolah. rumah penduduk serta Puskesmas. 7) Pencatatan dan Laporan. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras. FLU BURUNG. DIARE. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas. posyandu dan balai desa. c) Menemukan dan mengobati penyakit.

penambalan. berupa administrasi. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil. b) Pelaporan. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah. mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. upaya ini dilaksanakan untuk mencegah. Dari hasil observasi. Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi. 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. PMR). laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. pembersihan dan pencabutan gigi. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). dokter remaja. laporan bulanan. kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. laporan dilakukan pada kasus diare. ketersediaan alat dan obat. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan. berupa laporan mingguan.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah. memberikan pengobatan dan perawatan gigi. dengan kegiatan antara lain.

untuk kasus penyakit jiwa. . dari hasil observasi. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: . kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. 5) Laboratorium. langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa. Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa. b) Melakukan pembuatan slide. c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien.Pemeriksaan BTA antara lain. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite). anak balita.Puskesmas Kedai Durian. 7) Usaha Kesehatan Mata. usia lanjut dan sebagainya. 6) Usaha Kesehatan Jiwa. b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . 4) Usaha Kesehatan Kerja. upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas.

penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan. 2. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. 2008). pencegahan. Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. sosial. kemunduran fisik. ekonomi dan psikologis (Depkes. Memberikan obat-obat. 8) Kesehatan Lanjut Usia. Kelurahan Titi Kuning c. 3. vitamin di setiap Posyandu. Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 . upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1. Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. Memeriksakan kesehatan. pengukuran tekanan darah. Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan.daerah. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun. 2006). pengobatan dan pemulihan.

Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. 3. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. 15 . 2. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga. dan pengobatan dasar. meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas. meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut. meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. 2003). Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas.

leaflet atau poster. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. Untuk mengatasi masalah tersebut. 6. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes. wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet.4. 5. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. Selain itu. Sedangkan 16 . penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas.

Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. C. dengan angka keberhasilan sekitar 85%. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita. 2008). 2008). Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 .mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. keluarga. lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati.

pengetahuan lansia menjadi meningkat. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2. Dengan menghadiri kegiatan posyandu. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius. tinggi badan. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. indeks massa tubuh (IMT). disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Meja I : Pendaftaran lansia. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu. Dengan pengalaman ini. Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling. Dengan 18 . pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan.

4. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Dengan sikap yang baik tersebut. mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. 19 . karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit. Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat. mengadakan pembuatan leaflet.demikian. 3. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu.

BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. 1. hal ini akan menimbulkan masalah fisik. Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. ketidakmampuan (disability). 2000). Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. 1999). Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. sosial. 2008). Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . ekonomi dan psikologis (Nugroho. 2003). dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. keterbatasan fungsional (fungsional limitations). yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. kelemahan (impairment). Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). mental.

2001).1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). 2. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk. 21 . Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I. Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. 3. biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) .1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik.1. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.

Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. pernah pre-eklamsia. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang. Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram. Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun. perbedaan encoding reseptor insulin. 2002). dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan.beta.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI. 2. Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. 4. Polihidramion. 2001).

infeksi atau penyakit lain. Berat badan menurun. tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas.memenuhinya klien akan terus makan. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. penyakit jantung. 3. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein. lekas lelah. dan stress. Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. hati. masalah ginjal atau mata. Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. serta stroke (Harbuwono. monosit dan permukaan sel lemak. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. 2008). Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. perubahan hormon. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. karena tubuh terus merasakan lapar. lemas. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. misalnya selama menstruasi. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . Walaupun klien banyak makan. kurangnya aktivitas fisik. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa.

Hawaii. 4. Merokok. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. dimana bangsa Amerika Afrika. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. Ras dan suku bangsa. dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat.8 mmol/L). maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO. 2008) yaitu Usia. dan diabetes pada populasi tersebut. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. 24 . obesitas. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif. Amerika Meksiko. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi. asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat.1 mmol/L). jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri. Indian Amerika. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono. Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. Namun. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl).

leukositosis.1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak. Pada urine. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . Kalium dapat normal atau peningkatan semu. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. 2004). Penatalaksanaan 5. 5. Sedangkan fosfor lebih sering menurun. Sesuai dengan standar makanan berikut ini. Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih. selanjutnya akan menurun. protein. protein 1015%. Natrium dapat normal. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. meningkat atau menurun. bersepeda santai. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). 5. dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. gula dan aseton positif. jogging senam dan berenang. dan lemak. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan. Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus.Hubungannya adalah retensi air.

merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. untuk Repaglinid 0. yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. serta penurunan produksi glukosa oleh hati. 2004). Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin.jasmani. Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida. Berikutnya adalah Glinid. LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo.2002). 2002). biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 . 5. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP. Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin.5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI. seperti menonton televisi (PERKENI. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak.3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. Dosisnya. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas. 2004). seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati. 2002). Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI. Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan.

tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti. stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan.terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo. Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit. 2004). Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. Kondisi ini meliputi resistensi insulin. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. kadar kolesterol LDL tinggi. sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin.2002) 6. 2002). Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah. 2006). peningkatan trigliserida. penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. 2004). 27 . insulin kerja sedang contohnya insulin suspense. Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu. kadar gula darah tinggi. Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. hiperglikemia dan ketoasidosis.

Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Pada tahap yang lebih parah.Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. seperti kadar kolesterol tinggi . Bila ginjal mengalami kerusakan. Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. Para penderita diabetes. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung. Pada tahap awal. Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. tekanan darah tinggi. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. 2006). pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 .

(S. 29 . senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh. Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Berdasarkan pengertiannya. 2002). Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI.  1. dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. senam.Sumosardjuno. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. bersepeda santai. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno. otot paha. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan. yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki.1986). dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. 2002). 2007). dan berenang. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. jogging. 2009).kerusakan saraf.

prosedur pelaksanaan senam. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). khawatir atau cemas. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. motivasi). 2003). sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki.2. dan Jaga privacy pasien. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood. 3. Perawat cuci tangan 30 . waktu. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. 4. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. Orang yang depresi. cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada).

Pada posisi tidur. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Pada kaki lainnya. 4.1 Pesien duduk di atas kursi 3. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. Pada posisi tidur.2. menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. angkat telapak kaki ke atas. Dengan meletakkan tumit di lantai. Gambar 2. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki. 31 .

Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Pada posisi tidur kaki harus 32 .1 Ujung kaki diangkat ke atas 6. Pada posisi tidur. kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Tumit kaki diletakkan di lantai.Gambar 4.

Luruskan salah satu kaki dan angkat. 33 .diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.1 Jari-jari kaki di lantai 7. 2004). Gerakan ini sama dengan posisi tidur. Gambar 6. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo. putar kaki pada pergelangan kaki.

1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0.5 dan < 0.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik. Kemudian.1 Kaki diluruskan dan diangkat 8. Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 . buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. APBI > 0. 2001) adalah 1.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki.Gambar 7.9 pasien perlu perawatan tindak lanjut. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Letakkan sehelai koran dilantai. gangren.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). ulkus. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. 2003) salah satunya pada organ kaki. borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular. Gambar 8. dan APBI 0.

serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). 35 .0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang. para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn. mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. yaitu terhadap Ny. 1. D dan Ny. Tn. L dan Ny. sering buang air kecil. Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. N dan Ny. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite. normalnya 1. Ny. N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. Dari keempat klien Ny. L. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar. Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. D.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki.

D. 3. N Ny. Responden Ny. 4. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. N dan Ny. No 1. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit. D Ny. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki. Tn.88 0. pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi. 2. Selain itu. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny. 3. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi. Ny. 36 . kulit kaki terasa dingin.85 0. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0.91 0. L Tn.91 2. L. dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi.

memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. M juga menderita penyakit maag. 37 . Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam. Pada saat pertemuan ke 3.4. Ny. Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan. Selain kegiatan di atas. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat. Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. Selain DM. D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. Ny. L dan Ny. tekanan darah Tn. Tn. D untuk beristirahat. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag.

Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. Menurut Sanusi H (2004). Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. 2001). Pada pasien lansia. Berdasarkan usia subjek PBLK. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes.88. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM. dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien. Selain itu. 2000). penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes. Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh. 38 . Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. Sedangkan menurut WHO. konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. B & Hadi Martono. rata-rata berusia 60-70 tahun. Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. Seiring pertambahan usia.5.

senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah.0 3.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180.91 3. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192. L Tn.92 1.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia.55 0. 39 .85 0. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani. 2010).75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny.93 0.0 1.88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0. M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.96. N Ny. Oleh karena itu. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. D Ny.88 menjadi 0.88 0. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.91 0. dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0.85 0. dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali.96.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180.

2009). Oleh karena itu. Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. menguatkan otot kaki. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. mencegah kekakuan. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes.Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes. mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki. meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 . Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer. 2009). Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta. Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu.

hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki. Jika penglihatan penderita terganggu. jari kaki. keringkan dengan handuk halus. Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. Saat pemotongan kuku. jika kuku terlalu keras dan kotor. Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. dan sela jari kaki. Perhatikan apakah luka atau tidak. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik. c. 2003) Caranya yaitu: a.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. b. kulit kemerahan atau penebalan kulit. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara.

menambah toleransi jalan. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara. menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. Apabila memakai kaus kaki. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. Gangguan motorik juga akan 42 . dan infeksi. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. Permukaan atas sepatu harus lunak. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF. d. memelihara fungsi saraf. neuropati. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. 2003).sendiri. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. Olah raga harus dilakukan secara teratur. Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. jangan terasa sempit. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli.

Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh. denyut arteri hilang. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. callus”. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. f. b. dengan atau tanpa osteomielitis. d. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Akibatnya. c. e. Derajat III : Abses dalam. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. biaya perawatan 43 . Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. yaitu : a. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. nyeri kaki di malam hari.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki.

Selain mengevaluasi senam kaki diabetes.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. apalagi amputasi. Bahkan. Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan. 44 . 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi. Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik. mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag.

Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0. Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192. Saran 1. diabetes melitus.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. B.25 mg/dl menjadi 180. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin.75 mg/dl . b. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah. Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a.88 menjadi 0. 45 .

2. Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus. Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya. 46 .

Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC).id pada tanggal 19 Oktober 2011. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2.(2000). Sanusi Harsien. Bulaceck G. S.. Doenges E. (2007). Jakarta : Rineka Cipta Palestin.org. M.. (2003). S. Jakarta: EGC Darmojo. 2007. J L. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.idf.libraryusu. dkk. MC. (2005).ac. (2002). Philadelphia : Mosby.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. B & Hadi Martono. Jakarta : EGC Hiswani.id International Diabetes Federation. Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus.blogspot.. Marilynn. Jakarta: EGC 47 . Diakses dari www. Maas. Moorhoed. Makassar. (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). Stockslager. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. B. Diakses dari : http://bondankomunitas. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. Notoadmojo. 2006. Johnson. (1999). Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Edisi 3.go. M. Closky J. Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian.. Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Philadelphia : Mosby. Depkes. (2007).DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 2004.

PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia).net/ pada tanggal 19 Oktober 2011. 2002. (2001). Jakarta : CV.undip.id. Diakses dari http://ilmukeperawatan. Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. WHO (2000). Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Suprianto. Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. Jakarta: EGC. 48 .Aksara Buana.ac.Ulfahsyam(2009).

LAMPIRAN 49 .

C. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . Sasaran Klien lansia penderita DM D. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam.00 WIB : Rumah Klien G. Mendengarkan dan memperhatikan. Menyampaikan judul topik. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B. Metode       F. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E.

 Memberikan kesempatan untuk bertanya. Mendemonstrasik an pada DM.   2.penyuluhan.  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM. Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. senam kaki penderita 51 .  Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM.

5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet. Penutup   Menjawab pertanyaan. senam kaki klien pada DM.3. dan 52 . penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  penderita Menjawab salam. Menyimpulkan materi penyuluhan. Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM.  Mendengarkan dan memperhatikan. Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet.

Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. Kaji kadar gula darah 53 . motivasi). 3. Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan. Orang yang depresi. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini.SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. khawatir atau cemas. Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. 2. 4. Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada).

Pada kaki lainnya.  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. perbaikan lemak darah.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai.dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5. minimal 20 menit. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas.Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali. penurunan kolesterol total. Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan.  Dengan meletakkan tumit dilantai. jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler. angkat telapak kaki ke atas. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. 54 .

Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Angkat kedua kaki dan luruskan.pertahankan posisi tersebut.     Angkat salah satu lutut kaki. Tumit kaki diletakkan di lantai. dan luruskan. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Ulangi sebanyak 10 kali. Ulangi langkah ke 8. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. Ulangi sebanyak 10 kali. 55 .  Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

putar kaki pada pergelangan kaki . tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. 56 . Cara ini dilakukan hanya sekali saja. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola. Luruskan salah satu kaki dan angkat. Kemudian. pisahkan kedua bagian koran. Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh.  Letakkan sehelai koran dilantai. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki.     Lalu robek koran menjadi 2 bagian.

Media   Leaflet Poster VII. Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus. Mendengarkan dan memperhatikan. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. NO 1. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus. 57 3 menit WAKTU MEDIA .00 WIB : Rumah Klien VI. Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I. Menyampaikan judul topik. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. Metode   Ceramah Diskusi V. III. 2. Sasaran Klien lansia penderita DM IV. II.

Penutup   Menjawab pertanyaan. gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM.   Membagikan leaflet.penyuluhan. Menjawab salam. 3. Memberikan kesempatan untuk bertanya. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam. 2. Menerima leaflet. Menyimpulkan materi penyuluhan. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh. dan    Mendengarkan dan memperhatikan.  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM. 5 menit Poster Leaflet 58 .

DIET DIABETES A. kentang . roti dll. Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan). susu. Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. B. umbi-umbian. 59 . minyak. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam). Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori.  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. Di samping jadwal makan utama pagi. jagung.

buah segar. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. jeroan. dendeng. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . rambutan. durian. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin. Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. dll. makanan gorengan. es krim. daging berlemak. apel. misal : kacang-kacangan. E. jeruk. seperti : pepaya. salak. misal: nasi. sosis. semangka. tomat. dll. kedondong. seperti: sawo. sayuran. anggur. sesuai dengna ukuran porsi makanan. nanas. cake. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. D. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. nangka. kuning telur. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. cokelat.

Menyampaikan judul topik. Metode      F. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Menjelaskan tujuan penyuluhan. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Topik : Pola Hidup Sehat DM B.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C. Mendengarkan dan memperhatikan. 3 menit WAKTU MEDIA 61 . Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus.   PESERTA Menjawab salam. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Sasaran Klien lansia penderita DM D.00 WIB : Rumah Klien G.

Menjawab salam. Menerima leaflet.  Memberikan kesempatan untuk bertanya. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  Menjelaskan latihan bagi DM. Penutup   Menjawab pertanyaan. 3.   Membagikan leaflet. Menyimpulkan materi penyuluhan. Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM.2.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah. 5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 .

family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara. Status perkawinan e. II. Tempat/ tanggal lahir c. Katamso Gg. Jenis kelamin d. M 63 . Nama b. Agama f. Pendidikan h. Pekerjaan i. Alamat : Ny. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Brigjend. IDENTITAS a. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Suku g. M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I.

Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. 64 . Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari. b. Keluhan utama lansia 2. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Mulainya kapan c. Penyakit yang pernah diderita : Maag b. klien merasa bahwa dirinya sehat. Penyebab 3. V. Timbul keluhan secara 4. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a. Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. RIWAYAT SEHARI-HARI a. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d.

itupun jika ada uang. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek. e.c.00 WIB dan bangun pukul 05. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. VI.00 WIB. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Klien tidur biasanya jam 23. Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga. hal ini disebabkan karena punya sakit maag. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. d. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi. g. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 . klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. h. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. f.

klien masih mengenal bau-bauan. dan anatomis. HR: 75x/ menit. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada tanda-tanda ascites. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. IX. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. penciuman klien tidak terganggu. Hidung : Bentuk hidung anatomis.capillary refill < 2 dtk. warna rambut putih. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. RR: 20x/ menit. VIII. bentuk mata simetris kiri dan kanan. : Nadi 75x/ menit.Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Abdomen : Bentuk soepel. klien masih dapat mendengar dengan jelas. kedua telinga bersih kiri dan kanan. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala.

Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB satu kali sehari. peristaltik (+). klien biasanya menemui dokter untuk berobat. BAK 5-7 kali/hari.nyeri ulu hati. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya. KGD klien : 186 mg/dl. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kulit : Kulit klien tampak keriput. Untuk mengatasi masalah maag dan DM. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. XI. X. Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. 67 .

DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar.ANALISA DATA No 1.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. lemas. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 .6 mg/dl) 3. DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan. DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. wajah meringis saat sendi digerakkan. Sekresi prostaglandin Nyeri 2.

Jelaskan kepada klien tentang: a. abdomen. Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. 3. Pengertian dispepsi (maag) b. berkurang 1. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4. 4. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang. 2. Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya. Mengidentifikasi 3. Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. 69 .

Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 . 2. Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2. Cara mengatasi dispepsia (maag) d. Anjurkan klien agar 3. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.c. Menurunkan sendi tekanan pada 3. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. terkontrol/ 1. istirahat selama fase akut. Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang.

Jelaskan kepada klien 2. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. Pengetahuan yang baik dan 71 . Kaji klien pengetahuan 1. mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi. terapi system 3. pendidikan kesehatan atau tidak. 2. Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5. Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis.mengandung purin 4. mengetahui dan 1. mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit.

alternatif untuk 3. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. pengetahuan 72 . 3. Memberikan kepada klien. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. 4.pengertian dan tanda serta gejala DM. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 4.

Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1. Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya.Pengertian (maag) . 3. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. 1.CATATAN PERKEMBANGAN No. (maag) . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1. . peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. pada ditandai mengeluhkan abdomen. mengulangi apa yang klien telah dijelaskan.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. 2. 4.Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan. Menjelaskan kepada tentang: .

3. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. selama fase akut. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menjelaskan pengertian gejala DM. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 4. kepada dan tanda 74 . serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. 2. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 3. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi. 2.

75 . berkurang. A: Masalah belum 4. kaki diabetes. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. 3. O: Klien tampak klien segar dan sehat. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering. penderita DM. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1. mengeluhkan abdomen.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. 4. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya.Pengertian (maag) . Menjelaskan kepada tentang: . No.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi. 1. P: Intervensi dilanjutkan. pada ditandai 2.

banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 .. 4. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1.Cara mengatasi dispepsia (maag) . 3. yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri. mengandung purin. hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. 2.

dihentikan. 2. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. 3. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. penderita DM. 77 . A: Masalah teratasi.farmakologi. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. Menjelaskan pengertian gejala DM. 4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.

Status perkawinan e. menantu dan 3 orang cucu. Jenis kelamin d. D 78 . Pekerjaan i. D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln. Tempat/tanggal lahir c. Nama b. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Pendidikan h. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Alamat : Tn. Agama f. Suku g. IDENTITAS a. II. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I.

Mulainya kapan 3. Riwayat Sehari-hari a. Penyebab 3. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Pola nutrisi : 79 . Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Timbul keluhan secara 4. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. Keluhan utama lansia 2. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. b. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. klien merasa bahwa dirinya sehat. Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2. Faktor yang memperberat 5. c. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu. Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4.

00 WIB. Selain itu.Selain itu. h. VI. Klien tidur biasanya jam 00. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. terkadang anaknya mengiriminya uang. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. d. e. VIII. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. senang dan terhibur untuk bercerita VII.00 WIB dan bangun pukul 05. f. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. g. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 .Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. Karena klien menderita DM.

kedua telinga bersih kiri dan kanan. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit. HR: 75x/ menit. Abdomen : Bentuk soepel. 81 . Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. klien masih dapat mendengar dengan jelas. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. tidak ada nyeri ulu hati. gigi klien sudah tidak ada lagi. Klien mengalami gangguan pernafasan. IX. peristaltik (+).Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. klien masih mengenal bau-bauan. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. penciuman klien tidak terganggu. dan anatomis. bentuk mata simetris kiri dan kanan. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit. pola nafas ireguler. tidak ada tanda-tanda ascites. RR: 24x/ menit.warna rambut putih dan menipis. klien tapak bernafas cepat.capillary refill < 2 dtk. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.

Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. KGD : 193 mg/dl XI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. X. Pola BAB 1x/ hari. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. klien biasanya minum ramuan tradisional. Kulit : Kulit klien tampak keriput. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. BAK 5-7 kali/ hari. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. 82 .

DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan. RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2. mengantuk dan kebaskebas pada kaki.ANALISA DATA No 1. lemas. bernafas cepat dan irregular. dan panas. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 .

3. Memberikan 2. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya.RENCANA KEPERAWATAN No 1. 2. saluran pernapasan dan jantung. Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya. pencegahan dan pengobatan penyakit. Diskusikan pada lansia tentang 4. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1. tentang penyakitnya. 2. 4. 2. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. dengan nyaman. menghindari kambuhnya penyakit. Gali pengetahuan keluarga tentang 1. Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD .

4. Memberikan kepada klien. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. 3. menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 4. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 3. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.sering kambuhnya penyakit. 2.

1. pernapasan dan jantung. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung.CATATAN PERKEMBANGAN No. tentang pencegahan pengobatan penyakit. teratasi. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. 2. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1. Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. mengulangi apa yang 3. 2. paham dan mampu 86 . 4. Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan. 3. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya.

Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan. hangat pada sendi yang sakit. 3. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. No. 5. 4. 2. Menganjurkan klien pergi ke 87 . meningkatkan rasa nyeri. A: Masalah belum penderita DM. kaki diabetes. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada. 4.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. A: Masalah teratasi. 1. P: Intervensi dilanjutkan.

Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. penderita DM. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 88 . paham dan mampu 3. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 2.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. dihentikan. 4. A: Masalah teratasi.

menantu dan 2 orang cucu. N 89 . Pekerjaan i. Agama f.Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. IDENTITAS a. Suku g. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Jenis kelamin d. Nama b. Tempat/tanggal lahir c. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Status perkawinan e. Pendidikan h. II. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Alamat : Ny.

Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Mulainya kapan 3. Penyebab 3. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Keluhan utama lansia 2. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. klien merasa bahwa dirinya sehat. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Riwayat Sehari-hari a. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Timbul keluhan secara 4. 90 . b.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2.

f. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 . mencuci dan menyetrika. e. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.c. VIII. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. h. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. d. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur.00 WIB. Klien tidur biasanya jam 23. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. g. sayur dan lauk pauk. senang dan terhibur untuk bercerita VII. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil.00 WIB dan bangun pukul 05. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. VI. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan.

irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit.capillary refill < 2 dtk. tidak ada nyeri ulu hati. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. Abdomen : Bentuk soepel. peristaltik (+). tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . klien masih dapat mendengar dengan jelas. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. BAK 5-7 kali/ hari. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. bentuk mata simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. Pola BAB 1x/ hari. tidak ada tanda-tanda ascites. Hidung : Bentuk hidung anatomis. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. klien masih mengenal bau-bauan. IX. gigi klien sudah tidak ada lagi. HR: 76x/ menit. penciuman klien tidak terganggu. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. kedua telinga bersih kiri dan kanan. pola nafas reguler. RR: 20x/ menit.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. dan anatomis dan warna rambut putih. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.

Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput. klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional. KGD : 186 mg/dl XI. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. 93 . PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter.inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. X. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan.

-Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7.ANALISA DATA No 1. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 . mengantuk dan kebaskebas pada kaki. wajah meringis saat sendi digerakkan.6 mg/dl) 2. lemas.5 mg/dl (normal pada wanita : 3 . DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.

Anjurkan klien pergi ke 5. Anjurkan tindakan non 4. Anjurkan klien untuk 1.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. terkontrol/ 1. 2. selama fase akut. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Anjurkan klien agar 3. Anjurkan klien untuk 2. Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang .RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1.

Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 4.nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 . Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. muncul rangsang simpatis. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. 2. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. mengetahui 1. 3. 2. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 1. 3. 4. serta menurunkan saraf system 2. Memberikan kepada klien.

Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. 4. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan tindakan non teratasi. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. 2. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. akan mencoba apa 97 . 2. 1.

2. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. 1. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. P: Intervensi dilanjutkan. 98 . Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. makanan mengandung purin. 4.dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. No. O: Klien tampak 3. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. kaki diabetes. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. A: Masalah belum penderita DM.

Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. A: Masalah teratasi. paham dan mampu 3. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. dihentikan.4. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 99 . 2. hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. 4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. penderita DM. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan.

L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. IDENTITAS a. Jenis kelamin d. Tempat/tanggal lahir c. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Status perkawinan e. Nama b. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. II. Agama f. L 100 . Pekerjaan i. Alamat : Ny. menantu dan 2 orang cucu. Suku g. Pendidikan h.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I.

Timbul keluhan secara 4. Keluhan utama lansia 2. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. 101 . sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. klien merasa bahwa dirinya sehat.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Penyebab 3. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. b. Mulainya kapan 3. Riwayat Sehari-hari a. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV.

VIII. VI. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. d. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. Klien tidur biasanya jam 23. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. mencuci dan menyetrika.c. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. sayur dan lauk pauk. f. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. senang dan terhibur untuk bercerita VII. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat.00 WIB. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. g.00 WIB dan bangun pukul 05. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . e. h. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Anjurkan klien agar 6. Anjurkan klien untuk 2. Anjurkan klien untuk 1. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 . Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang.RENCANA KEPERAWATAN No 1.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan tindakan non 7. Anjurkan klien pergi ke 8. 2. selama fase akut. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1.

6. 2. rangsang simpatis. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. system saraf 2.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 8. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 3. mengetahui 1. 5. 4. 7. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan kepada klien. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 .

2. 2. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. 1. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 . paham dan mampu 3. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. Menganjurkan tindakan non teratasi. 4.

2. 2. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 1.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. No. O: Klien tampak 3. paham dan mampu 3. kaki diabetes. P: Intervensi dilanjutkan. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. A: Masalah belum penderita DM. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 4. makanan 109 . Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. Mengajarkan klien terapi senam teratasi.

2. 110 . pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. A: Masalah teratasi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.mengandung purin. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. 2. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1. 4. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. dihentikan. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. hangat pada sendi yang sakit 5. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. paham dan mampu 3. 4. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. penderita DM.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful