P. 1
BAB I - IV

BAB I - IV

|Views: 1,159|Likes:
Published by Eliza Hafni

More info:

Published by: Eliza Hafni on May 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

Menkes RI No.BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Puskesmas 7 . yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. 1999). Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan. Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan. preventif.128 / MENKES / SK / II / 2004). Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). 1991). Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama.

upaya kesehatan mata. pusat pemberdayaan masyarakat. yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota. 2006). Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. upaya kesehatan olahraga. upaya pembinaan pengobatan tradisional. Selain upaya kesehatan pokok. upaya kesehatan lanjut usia. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. upaya kesehatan jiwa. regional dan global. upaya kesehatan gigi dan mulut. kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB). 2004).000 penduduk untuk setiap puskesmas. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1. perbaikan gizi. pusat pelayanan kesehatan strata I. B. upaya perawatan kesehatan masyarakat. upaya kesehatan kerja. dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30.merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). Adapun batas wilayah Puskesmas 8 . puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko. kesehatan lingkungan. Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional.

Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. sopan dan berbudi luhur. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. Unggul. 5) Bertanggungjawab. Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. UKS ke sekolah-sekolah. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. kegiatan P2P. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. Prioritas. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. Efektif. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. 2) Setia dan taat. 4) Jujur. Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . 7) Kepedulian dan. dan motto puskesmas POPULER (Peduli. Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. 3) Disiplin. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). 8) Ramah. Optimis. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. keluarga dan masyarakat. 6) Kreatif dan berprestasi. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. Kabupaten Deli Serdang. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Loyal. (4) Meningkatkan kesehatan individu. Responsif).

ibu bersalin. yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan. b) 10 . e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. 4) Peningkatan gizi.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan. baik lintas program maupun lintas sektoral. g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

6) Pengobatan. rumah penduduk serta Puskesmas. terutama tentang DBD. FLU BURUNG. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . DIARE. 7) Pencatatan dan Laporan. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. Mengubur. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. posyandu dan balai desa. JAMKESMAS. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras. sekolah. Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. c) Menemukan dan mengobati penyakit. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD. Menutup. HIV/ AIDS. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. ASKES. TUBERCULOSIS PARU. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas. ISPA. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. Telungkup) dan. Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas.Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif.

berupa laporan mingguan. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah. laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. laporan dilakukan pada kasus diare. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan. ketersediaan alat dan obat. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. pembersihan dan pencabutan gigi. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil. berupa administrasi. dokter remaja. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. PMR). penambalan. b) Pelaporan. Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. memberikan pengobatan dan perawatan gigi. upaya ini dilaksanakan untuk mencegah. dengan kegiatan antara lain. kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dari hasil observasi.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. laporan bulanan.

c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. anak balita. b) Melakukan pembuatan slide. kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien. dari hasil observasi. karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa. 6) Usaha Kesehatan Jiwa. usia lanjut dan sebagainya. . b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil. 4) Usaha Kesehatan Kerja. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: . Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. untuk kasus penyakit jiwa. 5) Laboratorium. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite). upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas.Pemeriksaan BTA antara lain.Puskesmas Kedai Durian. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . 7) Usaha Kesehatan Mata. upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa.

2006). Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan. penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia.daerah. ekonomi dan psikologis (Depkes. Memeriksakan kesehatan. Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. pengukuran tekanan darah. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. sosial. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun. Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 . Memberikan obat-obat. Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan. 2. 3. vitamin di setiap Posyandu. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. 2008). Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. pencegahan. Kelurahan Titi Kuning c. Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. 8) Kesehatan Lanjut Usia. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan. pengobatan dan pemulihan. upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1. kemunduran fisik.

Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. 2003). meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif. 15 . serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. 2. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas. meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut. 3. dan pengobatan dasar.

penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. Selain itu. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. 6. Untuk mengatasi masalah tersebut. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. leaflet atau poster. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung. 5.4. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes. Sedangkan 16 .

Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati. Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. 2008). Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. C. keluarga. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 . lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan.mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. 2008). Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. dengan angka keberhasilan sekitar 85%. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita.

Dengan pengalaman ini. Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1. Meja I : Pendaftaran lansia. maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. pengetahuan lansia menjadi meningkat. tinggi badan. Dengan 18 . Dengan menghadiri kegiatan posyandu. lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan. indeks massa tubuh (IMT). Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2.

Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit. keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu.demikian. Dengan sikap yang baik tersebut. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. 4. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. 3. 19 . Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat. mengadakan pembuatan leaflet. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu.

dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. 2003). 2008). Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. mental. 1. Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang. sosial. 1999). Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. 2000). hal ini akan menimbulkan masalah fisik. Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. ketidakmampuan (disability).BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . keterbatasan fungsional (fungsional limitations). Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). kelemahan (impairment). atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. ekonomi dan psikologis (Nugroho.

Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik.1. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. 3. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun.1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I. 2001). biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) . Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. 21 . Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. 2.

pernah pre-eklamsia. Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI. 2001). Polihidramion.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun. Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. perbedaan encoding reseptor insulin. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. 4. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi. pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas. 2.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva. riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan. dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram. 2002).beta.

Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. kurangnya aktivitas fisik. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. serta stroke (Harbuwono. lekas lelah. Walaupun klien banyak makan. monosit dan permukaan sel lemak. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. penyakit jantung. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas. 3. Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. misalnya selama menstruasi. hati. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . perubahan hormon. dan stress. karena tubuh terus merasakan lapar. tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. 2008). Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas. lemas. Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). masalah ginjal atau mata.memenuhinya klien akan terus makan. infeksi atau penyakit lain. Berat badan menurun. maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.

asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat. Namun. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO. dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. 4. dan diabetes pada populasi tersebut. Hawaii. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI. Merokok. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. Indian Amerika.8 mmol/L). Amerika Meksiko. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11. dimana bangsa Amerika Afrika. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl). obesitas. Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. 2008) yaitu Usia. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi. 24 . maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium.1 mmol/L). Ras dan suku bangsa. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif.

2004). Penatalaksanaan 5. Pada urine.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka. Natrium dapat normal. protein 1015%. makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. leukositosis. 5. Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. meningkat atau menurun. 5. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . Kalium dapat normal atau peningkatan semu. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. dan lemak. jogging senam dan berenang. Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat. Sedangkan fosfor lebih sering menurun. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). bersepeda santai. gula dan aseton positif. selanjutnya akan menurun.1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. Sesuai dengan standar makanan berikut ini.Hubungannya adalah retensi air. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak. protein. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan.

2002). Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. 2004). meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak. LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP.jasmani. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 . 2002). biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI. merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat. serta penurunan produksi glukosa oleh hati. Dosisnya. metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. seperti menonton televisi (PERKENI. Berikutnya adalah Glinid.3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin. 2004).5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI. Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida. yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. untuk Repaglinid 0. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas. 5. seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati. 2002). Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan.

stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). kadar kolesterol LDL tinggi. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. 2004). Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit. Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. Kondisi ini meliputi resistensi insulin.2002) 6. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti. kadar gula darah tinggi. 2004). Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan. 2002). sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu. Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. 27 . insulin kerja sedang contohnya insulin suspense.terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo. penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. peningkatan trigliserida. tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. hiperglikemia dan ketoasidosis. 2006).

seperti kadar kolesterol tinggi . Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Pada tahap yang lebih parah. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain. Para penderita diabetes. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. tekanan darah tinggi. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2.Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 . Pada tahap awal. memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Bila ginjal mengalami kerusakan. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. 2006). Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata.

Berdasarkan pengertiannya. otot paha. bersepeda santai. jogging. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. (S. 29 . Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno. 2009). dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. senam. dan berenang. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil.kerusakan saraf. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. 2002).Sumosardjuno. 2007).1986). Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki.  1. dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. 2002). Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI. senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh.

4. seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. prosedur pelaksanaan senam. motivasi). Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. Perawat cuci tangan 30 . Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2.2. Orang yang depresi. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki. 2003). cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). waktu. dan Jaga privacy pasien. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. 3. khawatir atau cemas. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood.

menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali.2.. Dengan meletakkan tumit di lantai. Pada kaki lainnya.1 Pesien duduk di atas kursi 3. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. angkat telapak kaki ke atas. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki. 31 . Gambar 2. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. 4. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Pada posisi tidur. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.

Gambar 4.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6. kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Pada posisi tidur. Pada posisi tidur kaki harus 32 . Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Tumit kaki diletakkan di lantai.

tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo. putar kaki pada pergelangan kaki. 33 . Gambar 6.diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Gerakan ini sama dengan posisi tidur.1 Jari-jari kaki di lantai 7. Luruskan salah satu kaki dan angkat. 2004).

Gambar 8. Cara ini dilakukan hanya sekali saja.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik.1 Kaki diluruskan dan diangkat 8. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki.Gambar 7.9 pasien perlu perawatan tindak lanjut. APBI > 0. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Kemudian. Letakkan sehelai koran dilantai. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0. ulkus. gangren.5 dan < 0. 2003) salah satunya pada organ kaki.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki.1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 . borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular. 2001) adalah 1. dan APBI 0.

Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar. Dari keempat klien Ny.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite. para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. Ny. serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. D dan Ny. 35 . sering buang air kecil. normalnya 1. L dan Ny. Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn. L. 1. D. yaitu terhadap Ny. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang.0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. Tn. N dan Ny.

dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi. Ny. No 1. N dan Ny. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat. L. pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi. L Tn.91 2. Responden Ny. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny.88 0.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. 3.91 0. kulit kaki terasa dingin. Selain itu. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0. 3. D Ny. N Ny. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. 4.85 0. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman. Tn. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit. D. 36 . 2.

M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. Ny.4. N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam. tekanan darah Tn. D untuk beristirahat. Tn. Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. 37 . Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. L dan Ny. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. Pada saat pertemuan ke 3. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam. Selain kegiatan di atas. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn. M juga menderita penyakit maag. Selain DM. Ny. Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag.

2001). Pada pasien lansia. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien. Seiring pertambahan usia. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes. 2000).88. Menurut Sanusi H (2004). Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth.5. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. 38 . Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM. rata-rata berusia 60-70 tahun. B & Hadi Martono. konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. Sedangkan menurut WHO. Berdasarkan usia subjek PBLK. Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. Selain itu.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki.85 0.0 3. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180. senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. L Tn. 2010). Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki.93 0.55 0. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny. N Ny.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192.96.0 1. D Ny.88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0.88 0.91 0.96.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia. 39 . Oleh karena itu. M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0.91 3.85 0. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani.88 menjadi 0. dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali. dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180.92 1.

2009). mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki. selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes. Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah.Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer.2009). menguatkan otot kaki. Oleh karena itu. namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 . mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu. mencegah kekakuan. Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta.

dan sela jari kaki. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin. Saat pemotongan kuku. 2003) Caranya yaitu: a. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. b. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara. Jika penglihatan penderita terganggu. c. jika kuku terlalu keras dan kotor. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik. rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. kulit kemerahan atau penebalan kulit. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. Perhatikan apakah luka atau tidak. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. jari kaki. keringkan dengan handuk halus. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah.

meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat.sendiri. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. dan infeksi. Gangguan motorik juga akan 42 . neuropati. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar. Olah raga harus dilakukan secara teratur. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli. Permukaan atas sepatu harus lunak. menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara. bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. Apabila memakai kaus kaki. 2003). Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. memelihara fungsi saraf. sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. menambah toleransi jalan. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF. Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. jangan terasa sempit. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. d.

Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes. yaitu : a. b. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. denyut arteri hilang. Akibatnya. c. Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. d. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. f. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. dengan atau tanpa osteomielitis. Derajat III : Abses dalam. biaya perawatan 43 . nyeri kaki di malam hari. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. callus”. e. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu.

apalagi amputasi. Selain mengevaluasi senam kaki diabetes.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag. Bahkan. 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi. Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan. 44 . Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik.

45 .75 mg/dl . Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah. B.88 menjadi 0. b. diabetes melitus.25 mg/dl menjadi 180. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin. Saran 1. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a.

Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus. 46 . Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya.2.

blogspot. Depkes. Johnson. Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. (2003). Marilynn. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.go. Closky J. (2007). (2005). Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian. S.. Maas. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC).(2000). Jakarta : EGC Hiswani. (2007). Diakses dari : http://bondankomunitas.libraryusu.. Diakses dari www. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www.id International Diabetes Federation. Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa.ac. B & Hadi Martono. MC. Doenges E. Makassar. Philadelphia : Mosby. Philadelphia : Mosby.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011. Sanusi Harsien. (1999). dkk. 2004. Jakarta : Rineka Cipta Palestin. Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus... M. Notoadmojo.idf. Moorhoed. (2002).id pada tanggal 19 Oktober 2011. S. Edisi 3.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. B. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. J L. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. 2007. Jakarta: EGC Darmojo. Stockslager. Bulaceck G. 2006. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www.org. M. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. Jakarta: EGC 47 .

Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus. Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus.id. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. Jakarta : CV.ac. Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). 2002.net/ pada tanggal 19 Oktober 2011. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Suprianto.undip. (2001). Diakses dari http://ilmukeperawatan.Ulfahsyam(2009). 48 . Jakarta: EGC.Aksara Buana. WHO (2000).

LAMPIRAN 49 .

Sasaran Klien lansia penderita DM D. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Metode       F. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Menyampaikan judul topik. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. C. Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Mendengarkan dan memperhatikan. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus.00 WIB : Rumah Klien G. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09.

penyuluhan.  Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM.  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM.  Memberikan kesempatan untuk bertanya. senam kaki penderita 51 . Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. Mendemonstrasik an pada DM.   2.

Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM. senam kaki klien pada DM. penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  Mendengarkan dan memperhatikan. Menyimpulkan materi penyuluhan.  penderita Menjawab salam. Penutup   Menjawab pertanyaan. 5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet.3. dan 52 . Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet.

Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini. 2. Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). khawatir atau cemas. Kaji kadar gula darah 53 . Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. 4. Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. 3. Orang yang depresi.SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1. motivasi).

perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. perbaikan lemak darah. Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan.Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali.  Dengan meletakkan tumit dilantai. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). angkat telapak kaki ke atas.dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5. Pada kaki lainnya. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. 54 . penurunan kolesterol total. minimal 20 menit. Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali.  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.

 Tumit kaki diletakkan di lantai. Angkat kedua kaki dan luruskan. Ulangi sebanyak 10 kali.pertahankan posisi tersebut. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. dan luruskan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi sebanyak 10 kali.  Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. 55 . Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi langkah ke 8.     Angkat salah satu lutut kaki.

 Luruskan salah satu kaki dan angkat. Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. pisahkan kedua bagian koran. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. putar kaki pada pergelangan kaki . Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.  Letakkan sehelai koran dilantai.     Lalu robek koran menjadi 2 bagian. 56 . Cara ini dilakukan hanya sekali saja. Kemudian. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki.

Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. NO 1. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. 57 3 menit WAKTU MEDIA . Menyampaikan judul topik. II. Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam.00 WIB : Rumah Klien VI. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus. Mendengarkan dan memperhatikan. Metode   Ceramah Diskusi V. III. 2. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus. Media   Leaflet Poster VII.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus. Sasaran Klien lansia penderita DM IV.

3. Penutup   Menjawab pertanyaan. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh. Memberikan kesempatan untuk bertanya. Menjawab salam. 2.   Membagikan leaflet.  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM.penyuluhan. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM. Menyimpulkan materi penyuluhan. Menerima leaflet. 5 menit Poster Leaflet 58 . Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.

Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam). minyak. jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori. Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan). Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. Di samping jadwal makan utama pagi. 59 . kentang .  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. umbi-umbian. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan. Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C.DIET DIABETES A. B. roti dll. jagung. susu.

Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. apel. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . es krim. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. cake. E. jeruk. rambutan. sosis. sayuran. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. buah segar. dll. seperti: sawo. cokelat. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. makanan gorengan. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. jeroan. seperti : pepaya. daging berlemak. misal : kacang-kacangan. salak. semangka. sesuai dengna ukuran porsi makanan. kuning telur. nanas. durian. tomat. kedondong. nangka. dll. dendeng. misal: nasi. D. anggur. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin.

Mendengarkan dan memperhatikan. Menyampaikan judul topik. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. 3 menit WAKTU MEDIA 61 . Sasaran Klien lansia penderita DM D. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E. diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C. Topik : Pola Hidup Sehat DM B. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Pelaksanaan Kegiatan NO 1.   PESERTA Menjawab salam.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A.00 WIB : Rumah Klien G. Metode      F. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus. Menjelaskan tujuan penyuluhan.

dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. Menjawab salam. Penutup   Menjawab pertanyaan.  Memberikan kesempatan untuk bertanya.  Menjelaskan latihan bagi DM. 3.   Membagikan leaflet. Menyimpulkan materi penyuluhan. Menerima leaflet. 5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 . Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah.2.

Brigjend. Status perkawinan e. Katamso Gg. Jenis kelamin d. M 63 . family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara. Agama f.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I. Tempat/ tanggal lahir c. Nama b. IDENTITAS a. II. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Alamat : Ny. M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln. Pekerjaan i. Pendidikan h. Suku g.

RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a. Penyakit yang pernah diderita : Maag b. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari. 64 .Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Penyebab 3. Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. Keluhan utama lansia 2. klien merasa bahwa dirinya sehat. Timbul keluhan secara 4. Mulainya kapan c. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. V. RIWAYAT SEHARI-HARI a. b.

00 WIB dan bangun pukul 05. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga.00 WIB. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 . hal ini disebabkan karena punya sakit maag. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. d. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi. h. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. senang dan terhibur untuk bercerita VII. g. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus.c. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. itupun jika ada uang. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. VI. Klien tidur biasanya jam 23. f. e. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia.

Abdomen : Bentuk soepel. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. RR: 20x/ menit. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. VIII.capillary refill < 2 dtk. klien masih mengenal bau-bauan. penciuman klien tidak terganggu. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. dan anatomis. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. IX. kedua telinga bersih kiri dan kanan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. warna rambut putih. tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala. klien masih dapat mendengar dengan jelas. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. : Nadi 75x/ menit. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. HR: 75x/ menit.Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. tidak ada tanda-tanda ascites. bentuk mata simetris kiri dan kanan. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat.

klien biasanya menemui dokter untuk berobat. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. peristaltik (+). BAK 5-7 kali/hari. Pola BAB satu kali sehari. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin.nyeri ulu hati. KGD klien : 186 mg/dl. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. 67 . tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. XI. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya. X. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. Kulit : Kulit klien tampak keriput. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. Untuk mengatasi masalah maag dan DM.

-Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . wajah meringis saat sendi digerakkan.6 mg/dl) 3. lemas. DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung.ANALISA DATA No 1. DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 . mengantuk dan kebaskebas pada kaki. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan. Sekresi prostaglandin Nyeri 2. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar.

Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak. 69 . Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya. Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. 2. abdomen. pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4. berkurang 1. Pengertian dispepsi (maag) b. Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. Mengidentifikasi 3. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang. Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. 3. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. 4. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Jelaskan kepada klien tentang: a.

klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Cara mengatasi dispepsia (maag) d.c. Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2. Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 . Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien agar 3. Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. 2. terkontrol/ 1. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Menurunkan sendi tekanan pada 3. istirahat selama fase akut. Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2.

Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Jelaskan kepada klien 2. 2. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5.mengandung purin 4. Kaji klien pengetahuan 1. Pengetahuan yang baik dan 71 . Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis. mengetahui dan 1. mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. terapi system 3. mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. pendidikan kesehatan atau tidak. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi.

benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. Memberikan kepada klien. pengetahuan 72 .pengertian dan tanda serta gejala DM. 3. 4. alternatif untuk 3. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 4. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM.

Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 . 2.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. pada ditandai mengeluhkan abdomen.Pengertian (maag) . Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya. 3.CATATAN PERKEMBANGAN No. Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1. Menjelaskan kepada tentang: . . mengulangi apa yang klien telah dijelaskan. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan. (maag) . 4. 1.Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus.

kepada dan tanda 74 . 2. Menjelaskan pengertian gejala DM. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5. yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan. 3. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 2. 3.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 4. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. selama fase akut. serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi.

Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering.Pengertian (maag) .Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. O: Klien tampak klien segar dan sehat. mengeluhkan abdomen. P: Intervensi dilanjutkan. 3. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. kaki diabetes. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. 4. Menjelaskan kepada tentang: . Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. pada ditandai 2. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1. penderita DM. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 75 . No. A: Masalah belum 4. 1. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. berkurang.

Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.Cara mengatasi dispepsia (maag) .. 3. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. 4. yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri. hangat pada sendi yang sakit 5. banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 . 2. mengandung purin. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2.

farmakologi. 2. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. 77 . 3. penderita DM. dihentikan. A: Masalah teratasi. Menjelaskan pengertian gejala DM. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan.

Tempat/tanggal lahir c. Suku g. Agama f. Status perkawinan e. Alamat : Tn. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. Pekerjaan i. menantu dan 3 orang cucu. Pendidikan h. D 78 . D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I. II. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn. Jenis kelamin d. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. IDENTITAS a. Nama b.

Riwayat Sehari-hari a. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. Penyebab 3. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Faktor yang memperberat 5. Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Pola nutrisi : 79 . c. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. b. Mulainya kapan 3. Keluhan utama lansia 2. klien merasa bahwa dirinya sehat. Timbul keluhan secara 4. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu.

namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Karena klien menderita DM. terkadang anaknya mengiriminya uang. e. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil.00 WIB. d. VI. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. Klien tidur biasanya jam 00. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari.00 WIB dan bangun pukul 05.Selain itu. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. VIII. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 . Selain itu. g. f. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya.Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. h. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring.

RR: 24x/ menit. klien masih dapat mendengar dengan jelas. klien masih mengenal bau-bauan. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Hidung : Bentuk hidung anatomis.sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. bentuk mata simetris kiri dan kanan.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. tidak ada nyeri ulu hati. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. IX. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.capillary refill < 2 dtk. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.warna rambut putih dan menipis. Abdomen : Bentuk soepel. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. 81 . klien tapak bernafas cepat. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. kedua telinga bersih kiri dan kanan. HR: 75x/ menit. dan anatomis. penciuman klien tidak terganggu. pola nafas ireguler. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit. peristaltik (+). gigi klien sudah tidak ada lagi. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Klien mengalami gangguan pernafasan. tidak ada tanda-tanda ascites.

82 . Terkadang klien merasa kebas pada kakinya.Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. Pola BAB 1x/ hari. X. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. KGD : 193 mg/dl XI. Kulit : Kulit klien tampak keriput. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. klien biasanya minum ramuan tradisional. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. BAK 5-7 kali/ hari. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal.

DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 .ANALISA DATA No 1. RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2. dan panas. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. bernafas cepat dan irregular. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. lemas.

Gali pengetahuan keluarga tentang 1. Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3. dengan nyaman. menghindari kambuhnya penyakit. tentang penyakitnya. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya. Diskusikan pada lansia tentang 4. 4. 2. 2. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD . Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. 3. pencegahan dan pengobatan penyakit. saluran pernapasan dan jantung. 2. Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1.RENCANA KEPERAWATAN No 1. Memberikan 2.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit.

4. menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. Memberikan kepada klien. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . 2. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 3. 3.sering kambuhnya penyakit. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. 4.

Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 4. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. teratasi. 2. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. mengulangi apa yang 3. tentang pencegahan pengobatan penyakit. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.CATATAN PERKEMBANGAN No. 2. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1. Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. 1. Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. paham dan mampu 86 . 3. pernapasan dan jantung. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.

2. 4. hangat pada sendi yang sakit. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. No. Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan. 3. 4. kaki diabetes. Menganjurkan klien pergi ke 87 . Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. 1. A: Masalah belum penderita DM. P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. meningkatkan rasa nyeri. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. A: Masalah teratasi. 5. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada.

2.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. A: Masalah teratasi. 88 . paham dan mampu 3. 4. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. dihentikan. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. penderita DM.

menantu dan 2 orang cucu. Alamat : Ny.Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. N 89 . Suku g. Status perkawinan e. Tempat/tanggal lahir c. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Agama f. II. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Jenis kelamin d. Nama b. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. IDENTITAS a. Pendidikan h. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Pekerjaan i.

Mulainya kapan 3. 90 .Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Timbul keluhan secara 4. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2. Riwayat Sehari-hari a. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. b. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. klien merasa bahwa dirinya sehat. Penyebab 3. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Keluhan utama lansia 2. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4.

Klien tidur biasanya jam 23. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 . h. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi.c. g. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus.00 WIB dan bangun pukul 05. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. sayur dan lauk pauk. f. VI. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi.00 WIB. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. e. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. VIII. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. mencuci dan menyetrika. d. senang dan terhibur untuk bercerita VII. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.

Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. klien masih dapat mendengar dengan jelas. kedua telinga bersih kiri dan kanan. bentuk mata simetris kiri dan kanan. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat. gigi klien sudah tidak ada lagi. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. peristaltik (+). Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit. tidak ada nyeri ulu hati. tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg. dan anatomis dan warna rambut putih. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. Abdomen : Bentuk soepel. penciuman klien tidak terganggu. BAK 5-7 kali/ hari. tidak ada tanda-tanda ascites. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. IX. klien masih mengenal bau-bauan. pola nafas reguler. HR: 76x/ menit.capillary refill < 2 dtk. RR: 20x/ menit. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. lubang hidung simetris kiri dan kanan. Pola BAB 1x/ hari. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. Hidung : Bentuk hidung anatomis. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.

Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. X. 93 . Kulit : Kulit klien tampak keriput. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. KGD : 186 mg/dl XI. klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan.inkontinensia. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya.

-Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. lemas. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri.6 mg/dl) 2. wajah meringis saat sendi digerakkan. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 .ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.5 mg/dl (normal pada wanita : 3 .

Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2. Anjurkan klien untuk 2. Anjurkan tindakan non 4. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. selama fase akut. Anjurkan klien pergi ke 5. terkontrol/ 1. Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang .Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan klien agar 3. Anjurkan klien untuk 1. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang.

4. 1. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 4. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 3. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. Memberikan kepada klien. 3.nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 2. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. serta menurunkan saraf system 2. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 2. muncul rangsang simpatis. mengetahui 1.

paham dan mampu 3. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. 2. 2. 1. akan mencoba apa 97 . Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menganjurkan tindakan non teratasi. 4. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin.

1. 2. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2. paham dan mampu 3. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. 98 . kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. 4. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. O: Klien tampak 3. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. No. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. makanan mengandung purin. P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang.dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. A: Masalah belum penderita DM.

Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. 2. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. penderita DM. dihentikan. 2. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. paham dan mampu 3. A: Masalah teratasi. 4. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. hangat pada sendi yang sakit 5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.4. 99 .

menantu dan 2 orang cucu. Tempat/tanggal lahir c. L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Agama f. Suku g. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. Status perkawinan e. Pendidikan h. Klien tinggal serumah dengan seorang anak.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. L 100 . II. Pekerjaan i. Jenis kelamin d. Alamat : Ny. IDENTITAS a. Nama b. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny.

Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Keluhan utama lansia 2. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Timbul keluhan secara 4.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Penyebab 3. Mulainya kapan 3. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. 101 . Riwayat Sehari-hari a. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. b. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. klien merasa bahwa dirinya sehat.

RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. Klien tidur biasanya jam 23. f. h. e. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. g. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. VIII. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan.c. senang dan terhibur untuk bercerita VII. sayur dan lauk pauk. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya.00 WIB dan bangun pukul 05. VI. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. d. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. mencuci dan menyetrika.00 WIB. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

Anjurkan klien pergi ke 8. Anjurkan klien untuk 1. tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. 2. selama fase akut. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 . Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan tindakan non 7. Anjurkan klien agar 6. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1.RENCANA KEPERAWATAN No 1. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Anjurkan klien untuk 2.

Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 . system saraf 2. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. 8. 3. mengetahui 1. Memberikan kepada klien. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 7. rangsang simpatis. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. 4. 2. 5. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 6.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi.

Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. 2. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan.CATATAN PERKEMBANGAN No. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. paham dan mampu 3. 4. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 . Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan tindakan non teratasi. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan.

Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. makanan 109 . O: Klien tampak 3. paham dan mampu 3. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. 4. 1. A: Masalah belum penderita DM. P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. kaki diabetes. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. No. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. Mengajarkan klien terapi senam teratasi.

penderita DM. hangat pada sendi yang sakit 5. 2. 4. paham dan mampu 3. A: Masalah teratasi. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1. 4. 2. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.mengandung purin. dihentikan. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. 110 . Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->