BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki sel dan mempertahankan struktur fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan sel. Kerusakan jaringan akan mengakibatkan perubahan pada sturuktur dan fungsi organ tubuh (Boedi & Hadi, 2004). Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara–negara yang sudah maju, jumlah lansia relatif lebih besar dibanding dengan negara–negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia. Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaanpekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain–lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler, gangguan endokrin dan lainlain. Beberapa masalah kesehatan pada lanjut usia yang sering terjadi diantaranya hipertensi, CHF, diabetes mellitus, stroke, infark miokard dan kanker (Ismar, 2008).

1

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin atau menggunakan insulin secara efektif yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) melebihi nilai normal yaitu kadar gula darah sewaktu/ random dari 200mg/dl, dan kadar gula darah puasa diatas atau sama dengan 126 mg/dl (Brunner & Suddart, 2002). Sedangkan menurut WHO, Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik

hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Menurut Davies et al (1994) penyebab DM sangatlah kompleks yang meliputi dua hal yaitu pengaruh genetik dan lingkungan. Sedangkan menurut Valentine (1992) keluarga yang memiliki resiko menderita DM dapat menurunkannya pada anaknya sekitar 25%40%. Prevalensi DM di Amerika Serikat adalah sebesar 7% dari populasi total yaitu sekitar 18 juta penduduk. Dari 18 juta penduduk tersebut, sekitar 5 jutanya adalah kelompok yang tidak sadar dengan kondisi kesehatan (McClendon, 2007). Jumlah penderita DM terus meningkat di Indonesia, hal ini perlu diwaspadai karena kini Indonesia menempati urutan ke empat terbesar di dunia dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2006 jumlah Diabetasi di Indonesia diperkirakan mencapai 14 juta orang, dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur (WHO, 2008). Hasil beberapa penelitian epidemiologis dan konsensus pengelolaan DM di Indonesia, sekitar tahun 1980-an didapatkan prevalensi DM sebesar 1,5–2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan di Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%, Tasikmalaya sebesar 1,1%, Tanah Toraja khususnya kecamatan Sesean 0,8%, Surabaya penduduk diatas 12 tahun sebesar 1,43%, daerah

2

rural prevalensinya 1,47%, Jakarta peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993, bahkan ditahun 2001 di Depok mencapai 12,8%, demikian pula di Ujung Pandang adanya peningkatan dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (PERKENI, 2000). Sedangkan prevalensi DM di Kecamatan Medan Johor selama tahun 2011 sebanyak 4.543 orang dan termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Medan Johor. Di Puskesmas Medan Johor sudah terdapat posyandu lansia, namun belum ada kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengkontrolan kadar gula darah, sehingga penderita DM semakin bertambah. Melihat semakin meningkatnya angka kejadian DM baik di Indonesia khususnya di Medan Johor, maka diperlukan tindakan pencegahan dari masyarakat, tenaga medis dalam hal perubahan gaya hidup yang mengakibatkan resiko tinggi untuk terjadinya DM dan untuk penderita DM diperlukan perawatan yang professional untuk dapat mengatasi penyakitnya atau mencegah terjadinya komplikasi. Berbagai proses patologis berperan dalam terjadinya DM, mulai dari kerusakan autoimun dari sel b pankreas yang berakibat defisiensi insulin sampai kelainan yang menyebabkan resistensi terhadap kerja insulin. Kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein pada DM disebabkan kurangnya kerja insulin pada jaringan target. Pengendalian DM tidak hanya ditujukan untuk menormalkan kadar glukosa darah tetapi juga mengendalikan faktor risiko lainnya yang sering dijumpai pada penderita dengan DM (Losen, 2003). Komplikasi kronik diabetik dapat mengenai semua alat tubuh kita mulai dari kepala sampai ke kaki. Gangguan kesehatan komplikasi Diabetes Melitus antara lain gangguan mata retinopati, gangguan ginjal nefropati, gangguan pembuluh darah vaskulopati, dan kelainan pada kaki. Komplikasi yang paling sering adalah terjadinya

3

perubahan patologis pada anggota gerak bawah yang disebut kaki diabetik atau diabetic foot. Dalam kondisi keadaan kaki diabetik, yang terjadi adalah kelainan persarafan neuropati, perubahan struktural, tonjolan kulit kalus, perubahan kulit dan kuku, luka pada kaki, infeksi dan kelainan pembuluh darah. Keadaan kaki diabetik lanjut yang tidak ditangani secara tepat dapat berkembang menjadi suatu tindakan pemotongan amputasi kaki. Adanya luka dan masalah lain pada kaki merupakan penyebab utama kesakitan morbiditas, ketidakmampuan disabilitas, dan kematian mortalitas pada seseorang yang menderita diabetes mellitus (Prabowo, 2007). Melihat kondisi tersebut penanganan Diabetes Melitus perlu segera diatasi setelah dideteksi secara dini untuk mengurangi komplikasi dari diabetes mellitus. Dari sudut ilmu kesehatan, tidak diragukan lagi bahwa olah raga apabila dilakukan sebagaimana mestinya menguntungkan bagi kesehatan dan kekuatan pada umumnya. Selain itu telah lama pula olah raga digunakan sebagai bagian pengobatan diabetes melitus namun tidak semua olah raga dianjurkan bagi pengidap diabetes melitus (bagi orang normal juga demikian) karena dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga yang dianjurkan terutama pada penderita usia lanjut adalah senam kaki (Akhtyo, 2009). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (S. Sumosardjuno,1986). Senam kaki ini bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha, serta

4

mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus. Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes Melitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini (Wibisono, 2009). Selain olah raga, menurut Kartari (1998), cara yang mudah dan murah dalam mencegah diabetes mellitus yaitu dengan mengkontrol pola diit, seperti diketahui diit adalah hal yang paling penting dalam sehat jasmani, rohani, mental dan sosioekonomi. Hal ini telah dicanangkan oleh beberapa ahli sebagai pengobatan Diabetes Melitus. Empat pilar utama dalam penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu edukasi (penyuluhan),perencanaan makan, latihan jasmani dan pengobatan diabetes mellitus. Pada perencanaan makan dianjurkan pada penderita diabetes mellitus yaitu makan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25% dan teratur dalam jadwal, jumlah, dan jenis makanan (PERKENI, 2000). Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Ismail, 2002). Melihat kondisi tersebut penulis tertarik melakukan Praktek Belajar Lapangan Komperhensif (PBLK) pada kasus Diabetes Melitus secara komprehensif pada lansia di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. B. Tujuan Adapun tujuan dilakukannya PBLK ini adalah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan konsep dan teori yang didapat selama pendidikan dalam dunia kerja nyata, selain itu meningkatkan kemampuan mahasiswa 5

dalam mengelola kasus secara mandiri dan profesional berdasarkan teori dan konsep yang ada. Selain itu tujuan khusus dari PBLK ini adalah melakukan perawatan pasien dengan Diabetes Mellitus dan terapi senam kaki diabetes di wilayah binaan Kelurahan Titi Kuning Medan. C. Manfaat 1. Mahasiswa Keperawatan Manfaat PBLK terhadap mahasiswa adalah sebagai wadah latihan dan gambaran menjadi perawat profesional yang dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif pada pasien. Selain itu juga melatih mahasiswa mengelola manajemen keperawatan secara efektif dan efisien. 2. Institusi Pendidikan Sebagai bahan masukan atau referensi dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan mutu pelayanan keperawatan, khususnya perawatan gerontik. Hasil laporan ini juga dapat digunakan sebagai informasi atau data untuk penulis selanjutnya yang berhubungan dengan gangguan endokrin, DM pada lansia khususnya. 3. Lahan Praktik Sebagai Informasi dan masukan bagi perawat gerontik dan komunitas untuk dapat memahami kondisi pasien yang mengalami DM, sehingga perawat dapat meningkatkan asuhan pelayanan keperawatan terhadap pasien yang mengalami masalah gangguan endokrin, DM. Serta sebagai rujukan bagi lanjut usia dalam meningkatkan dan menjaga status kesehatan.

6

1991). Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja (Kep. Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung jawab atas pemeliharaan kesehatan dalam wilayah kerjanya. Menkes RI No. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi–tingginya. Puskesmas 7 . Puskesmas merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif. Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan.BAB II PENGELOLAAN PELAYANAN KEPERAWATAN A. Salah satu bentuk upaya pelayanan kasehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dimana peran serta masyarakat juga dilibatkan yaitu melalui suatu wadah yang disebut puskesmas yang merupakan salah satu tempat diperolehnya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk masyarakat. Di Indonesia puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. kuratif dan rehabilitatif (Depkes RI.128 / MENKES / SK / II / 2004). preventif. Puskesmas juga merupakan pelayanan kesehatan dasar (basic health care services). 1999). yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal disuatu wilayah kerja tertentu (Muninjaya. Konsep Dasar Pada saat ini pemerintah telah berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal dengan adanya penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan.

Adapun kegiatan pokok tersebut antara lain promosi kesehatan. Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. Upaya kesehatan pengembangan meliputi: upaya kesehatan sekolah. kesehatan lingkungan. meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat (Hatmoko. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (P2M). pengobatan serta pencatatan dan pelaporan (Depkes RI. upaya kesehatan lanjut usia. sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan kemampuan sumber daya yang tersedia. sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati atau Walikota. Selain upaya kesehatan pokok. dengan saran tekhnis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Analisis Puskesmas Kedai Durian 1.merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II. Adapun batas wilayah Puskesmas 8 .000 penduduk untuk setiap puskesmas. upaya kesehatan jiwa. upaya kesehatan kerja. B. kesehatan ibu dan anak (KIA)/ keluarga berencana (KB). upaya kesehatan olahraga. pusat pelayanan kesehatan strata I. upaya perawatan kesehatan masyarakat. Pengkajian Puskesmas Kedai Durian adalah puskesmas Rawat Inap yang terletak di Jalan Sari Kelurahan Kedai Durian Kecamatan Medan Johor. Kegiatan pokok puskesmas merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan berdasarkan komitmen nasional. upaya kesehatan mata. upaya kesehatan gigi dan mulut. yaitu upaya yang ditetapkan berdasarkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. regional dan global. upaya pembinaan pengobatan tradisional. Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas ratarata 30. pusat pemberdayaan masyarakat. 2004). 2006). puskesmas juga memiliki upaya kesehatan pengembangan. perbaikan gizi.

Loyal. 3) Disiplin. 4) Jujur. dan motto puskesmas POPULER (Peduli. 8) Ramah. Responsif). Efektif. Optimis.Kedai Durian yaitu Kecamatan Medan Maimun. Hal ini sesuai dengan pendapat Muninjaya (1999). sopan dan berbudi luhur. Selain itu Puskesmas Kedai Durian juga memiliki norma yang harus dipatuhi oleh setiap pegaiwai puskesmas antara lain: 1) Iman dan taqwa. misinya adalah (1) Menggerakkan pembangunan berwawasan nusantara. Unggul. maupun kegiatan yang dilakukan didalam Puskesmas itu sendiri 2) Kesehatan Lingkungan. program promosi kesehatan secara tidak langsung telah dilakukan oleh Puskesmas Kedai Durian dengan menempatkan poster-poster di dalam ruangan puskesmas. 2) Setia dan taat. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Memberi penyuluhan tentang kesehatan yang optimal dalam usaha 9 . (4) Meningkatkan kesehatan individu. 6) Kreatif dan berprestasi. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan untuk tujuan pokok pembangunan kesehatan Dinas Kesehatan Medan Kota melaksanakan berbagai upaya kesehatan dengan meningkatkan fungsi Puskesmas melalui kegiatan pokok Puskesmas. melalui kegiatan sanitasi dasar serta pencegahan. Visi Puskesmas Kedai Durian adalah ”Terwujudnya kecamatan sehat sejahtera tahun 2010”. Ada 7 program wajib Puskesmas yang dilaksanakan di Pukesmas Kedai Durian antara lain: 1) Promosi Kesehatan. Kecamatan Pangkalan Mansur dan Kecamatan Medan Amplas. (2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Kabupaten Deli Serdang. untuk memperbaiki lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan. Prioritas. UKS ke sekolah-sekolah. (3) Meningkatkan kesehatan yang bermutu dan merata serta terjangkau. kegiatan P2P. Promosi kesehatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tiap-tiap program Puskesmas. 7) Kepedulian dan. 5) Bertanggungjawab. Dari hasil wawancara diketahui bahwa kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas Kedai Durian dilakukan dengan penyuluhan pada saat kegiatan posyandu. keluarga dan masyarakat.

yang dapat dicapai dari makanan yang kita makan.peningkatan kesehatan perorangan dan lingkungan. d) Melakukan penimbangan berat badan bayi. Gizi adalah kebutuhan pokok manusia yang sehat. e) Melaksanakan pengawasan kesehatan di tempattempat umum dan penyajian makanan. 3) Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). ibu bersalin. e) Memberikan konseling pada ibu hamil. Hendaknya makanan yang kita makan mengandung gizi. jangan dipandang dari segi kemewahan dan dari banyaknya saja. b) 10 . baik lintas program maupun lintas sektoral. f) Pemberian makanan tambahan kepada bayi dan balita dan. balita dan ibu hamil di Posyandu dan Puskesmas. d) Memberi penyuluhan tentang cara-cara pembuangan sampah limbah rumah tangga yang memenuhi syarat kesehatan dan. Makanan yang sederhana dan bervariasi pasti tidak kalah gizinya dengan makanan yang mewah dan banyak. Pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam KIA yaitu: a) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka penyakit kekurangan gizi maka dilakukan kegiatan berupa: a) Memberikan penyuluhan makanan bergizi. b) Pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita sehat dengan memberikan imunisasi pada minggu pertama dan kedua setiap bulannnya. KIA adalah upaya kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil. 4) Peningkatan gizi. Usaha ini bersifat lintas sektoral yang dilaksanakan oleh departemen terkait. c) Memberikan vitamin A setiap 6 bulan pada balita yaitu bulan Februari dan Agustus dan pada ibu nifas sebanyak 1 kapsul. c) Memberi penyuluhan tentang penggunaan sumber air bersih dan penggunaan pembuatan jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) adalah kegiatan masyarakat untuk melembagakan uapya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. g) Melakukan pemeriksaan ibu hamil. bayi dan balita serta anak pra sekolah yang menjadi tanggung jawab Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan bangsa pada umumnya. b) Memberi penyuluhan tentang syarat-syarat rumah yang baik.

Memberikan vitamin A pada bayi dan balita. d) Memberikan makanan tambahan pada kegiatan posyandu dan. d) Menggerakkan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah merupakan upaya yang dilakukan meliputi 3M + 1T (Menguras. Pengobatan dan perawatan adalah menegakkan diagnosa penyakit. Mengubur. 7) Pencatatan dan Laporan. Pencatatan dan pelaporan sangat 11 . JAMKESMAS. 5) Program Pencegahan Penyakit (P2P). DIARE. Di bagian ruang perawatan juga dilakukan pengobatan dan tindakan bila ada kecelakaan seperti membersihkan luka dan hecting sesuai kondisi pasien. e) Bila ada kasus DBD melakukan PE dan Fogging di wilayah kerja yang dilakukan di kelurahan. Kegiatan P2P yang dilakukan di Puskesmas Kedai Durian meliputi: a) Penyuluhan mengenai bahaya dan cara menularnya penyakit di puskesmas. FLU BURUNG. c) Memberikan zat besi pada ibu hamil. Sedangkan kegiatan aktif dimana petugas melakukan kunjungan ke rumah-rumah pasien untuk melakukan penyuluhan dan pengobatan. Telungkup) dan. rumah penduduk serta Puskesmas. terutama tentang DBD. Menutup. c) Menemukan dan mengobati penyakit. ISPA. TUBERCULOSIS PARU. dimana kegiatan pasif adalah penderita mengunjungi puskesmas. sekolah. Selain memberikan obat diberikan juga penyuluhan kepada pasien tentang aturan memakan obat. Pelayanan pengobatan gratis diberikan kepada pasien yang mempunyai KTP/KRT. ASKES. HIV/ AIDS. Kegiatan yang dilakukan dalam pengobatan adalah memeriksa dan mendiagnosa penyakit dan memberikan obat kepada pasien melalui apotik yang terdapat pada puskesmas. Tujuan dari pengobatan itu sendiri adalah memberikan pertolongan segera dengan menyelesaikan masalah kritis yang ditemukan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh serta meringankan penderita dari sakitnya. posyandu dan balai desa. b) Menemukan dan memberantas sumber infeksi. Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit meliputi kegiatan pasif. 6) Pengobatan. e) Pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali untuk murid-murid SD.

b) Pelaporan. b) Melaksanakan BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah). Pelayanan gigi dan mulut tersebut ditangani langsung oleh dokter gigi dan perawat gigi. Pencatatan dan pelaporan bertujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan atau kegiatan yang telah dilakukan. pembersihan dan pencabutan gigi. Dari hasil observasi. laporan dilakukan pada kasus diare. upaya ini dilaksanakan untuk mencegah.penting bagi mutu suatu unit organisasi antara lain Puskesmas. 2) Usaha kesehatan gigi dan mulut. sehingga dengan demikian tercipta budaya sehat terhadap siswa dan akan berkembang di lingkungan keluarga dan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah: a) Pencatatan. berupa laporan mingguan. kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas Kedai Durian telah sepenuhnya dilakukan di dalam gedung. memberikan pengobatan dan perawatan gigi. Kegiatan yang dilakukan berupa: a) Pembentukan kader di masyarakat oleh pihak 12 . Sedangkan untuk program pengembangan Puskesmas Kedai Durian ada delapan program yaitu: 1) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). penambalan. c) Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam pelayanan kesehatan (dokter kecil. 3) Perawatan Kesehatan Masyarakat (PERKESMAS). dengan kegiatan antara lain. PMR). dokter remaja. laporan bulanan. melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. registrasi imunisasi dan registrasi kegiatan-kegiatan lain. mengobati dan meningkatkan kesehatan gigi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian. berupa administrasi. laporan tahunan dan laporan khusus bila terjadi wabah. Hal ini dibuktikan dengan adanya ruangan tersendiri yaitu klinik gigi yang melayani masyarakat setiap hari kecuali hari libur. ketersediaan alat dan obat. Kegiatannya: a) Memberikan penyuluhan di sekolah. UKS adalah salah satu program pengembangan yang ada pada Puskesmas dimana salah satu tujuannya adalah untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin di lingkungan sekolah terhadap peserta didik dan lingkungan yang sehat di sekolah.

dari hasil observasi. 4) Usaha Kesehatan Kerja. b) Pencegahan dan pengobatan terhadap defisiensi vitamin A dan infeksi mata.Pemeriksaan BTA antara lain.Pemeriksaan darah rutin yaitu a) Gula darah dan b) Golongan darah dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium sederhana yang dapat dilakukan adalah: . anak balita. b) Pelayanan keperawatan kepada kelompok khusus diantaranya ibu hamil. kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya kesehatan mata berupa: a) Penyuluhan tentang bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A. 5) Laboratorium. upaya laboratorium medis yang dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian merupakan pelayanan penunjang dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan puskesmas. untuk kasus penyakit jiwa. b) Melakukan pembuatan slide. 7) Usaha Kesehatan Mata. a) Memberikan wadah sputum dengan cara SPS (Sewaktu Pagi Sewaktu). usia lanjut dan sebagainya. . Rumah Sakit Pringadi atau RSUP Haji Adam Malik. c) Memberikan pelayanan keperawatan secara menyeluruh kepada pasien atau keluarga di rumah pasien dengan mengikut sertakan keluarga dan kelompok masyarakat di sekitarnya. diketahui bahwa perawatan kesehatan masyarakat dilakukan dalam bentuk pelaksanaan posyandu bagi lansia dan balita dengan mengikut sertakan keluarga dan lembaga masyarakat yang ada serta kunjungan pada penderita penyakit tertentu (home visite). langsung dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa. 6) Usaha Kesehatan Jiwa. karena belum adanya tenaga ahli di bidang kesehatan jiwa. Berdasarkan hasil pengamatan dan interview terhadap tenaga puskesmas bahwa penyakit mata jarang dijumpai dan jika ada penyakit yang dijumpai biasanya pasien dirujuk kerumah sakit 13 . upaya ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan terhadap jumlah perusahaan dan karyawan di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu jumlah perusahaan: 16 unit.Puskesmas Kedai Durian. c) Pewarnaan dengan PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) ke Puskemas Medan Johor. c) Melakukan rujukan ke bagian mata Rumah Sakit Pringadi dan RSUP Haji Adam Malik dan beberapa RS swasta sesuai dengan permintaan pasien.

Upaya kesehatan usia lanjut adalah upaya kesehatan paripurna dasar dan menyeluruh di bidang kesehatan usia lanjut yang meliputi peningkatan kesehatan.daerah. timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. penimbangan berat badan secara rutin di Posyandu Lansia. ekonomi dan psikologis (Depkes. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ. Namun hanya sedikit lansia yg datang saat posyandu dikarenakan jarak yang jauh dan bekerja. 2006). 2. Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley. sosial. vitamin di setiap Posyandu. 8) Kesehatan Lanjut Usia. 2008). Jumlah Posyandu Lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kedai Durian yaitu: a. Kelurahan Suka Maju : 1 unit : 1 unit Hasil observasi dan interview yang dilakukan diketahui bahwa upaya kesehatan lanjut usia di Puskesmas Kedai Durian dilaksanakan secara bergiliran setiap bulannya di masingmasing kelurahan. pencegahan. pengukuran tekanan darah. Melakukan pendataan terhadap sejumlah manula yaitu yang berusia >55 tahun. Kelurahan Kedai Durian : 1 unit b. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan. pengobatan dan pemulihan. 3. Kelurahan Titi Kuning c. Memeriksakan kesehatan. upaya ini dilaksanakan di Puskesmas Kedai Durian melalui kegiatan Posyandu Lansia dimana dilakukan antara lain: 1. Memberikan obat-obat. kemunduran fisik. Tujuan dari upaya ini antara lain meningkatkan derajat kesehatan 14 .

meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya. Rumusan Masalah Perumusan masalah dilakukan dengan melihat adanya kesenjangan antara pencapaian dengan target/ tujuan yang ditetapkan oleh puskesmas. dan pengobatan dasar. dan upaya peningkatan kesehatan lansia lain seperti olah raga. Program kesehatan lansia di posyandu masih perlu dikembangkan karena belum mencapai aspek promotif dan preventif. 2003). 15 . meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut. Salah satu indikator lansia sehat dan berkualitas adalah peningkatan status kesehatan lansia. Kegiatan di posyandu dilaksanakan oleh pihak dari puskesmas dan kader lansia. meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut. serta meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut (Asfriyanti. Analisa Situasi Berdasarkan data awal yang didapat dari Puskesmas Kedai Durian kegiatan yang dilaksanakan untuk mengoptimalkan kesehatan lansia adalah dengan diadakannya posyandu lansia satu kali dalam sebulan. 3. pemeriksaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan pengukuran BB. Kegiatan posyandu berlangsung pada tanggal 6 setiap bulannya.dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat sesuai dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan. 2. Belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. Kegiatan posyandu lansia yang biasa dilakukan adalah sistem 3 meja yaitu pendaftaran. Tujuan program kesehatan lanjut usia di puskesmas adalah tercapainya lansia yang sehat dan berkualitas.

wawancara dan mengajukan pertanyaan secara langsung tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta mendemonstrasikan senam kaki diabetes secara langsung terhadap lansia. Rencana Penyelesaian Masalah Optimalisasi pelayanan dapat dilakukan dengan mengembangkan program preventif dan promosi kesehatan. melatih anggota keluarga senam kaki diabetes. 5. Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengamatan langsung. 6. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. penyediaan modul tentang DM dan pola nutrisi bagi penderita DM serta terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM. dan upaya peningkatan kesehatan lansia serta belum ada kegiatan pendukung lainnya dalam mengkontrol kadar gula darah lansia. Hasil yang diperoleh berdasarkan evaluasi pengetahuan lansia dan keluarga tentang pendidikan kesehatan yang telah diberikan. dalam hal ini dapat dilakukan dengan pemberian pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga pada saat kegiatan di komunitas. penyediaan poster untuk posyandu dan perbanyakan leaflet untuk puskesmas. Sedangkan 16 . Untuk mengatasi masalah tersebut.4. leaflet atau poster. salah satu langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengadakan pembuatan leaflet. lansia dan keluarga mampu menjawab pertanyaan yang diajukan sekitar 75%. Selain itu. Implementasi Berdasarkan hasil observasi belum terdapat penyuluhan tentang masalah kesehatan lansia. penyediaan modul tentang DM dan terapi non farmakologis yang dapat dilakukan dalam bentuk booklet. juga dilakukan kegiatan lainnya seperti melatih lansia dan anggota keluarga senam kaki diabetes.

dengan angka keberhasilan sekitar 85%. lansia dan keluarga mampu mengulang apa yang telah dipraktekkan. 2008). 2) Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut (Erfandi. Salah satu program pengembangan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Kedai Durian yaitu Posyandu Lansia. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia. dengan kegiatan sebagai berikut: 17 . Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita. pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu Wilayah Kabupaten maupun kota penyelenggara. yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan (Erfandi. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati. ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja. Pada era desentralisasi Pemko Medan Puskesmas Kedai Durian memiliki tujuh program prioritas dan delapan program pengembangan. Pembahasan Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia. tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. keluarga. 2008).mendemonstrasikan secara langsung senam kaki diabetes. C. sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Mekanisme pelayanan posyandu lansia berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja. Tujuan posyandu lansia antara lain: 1) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat.

Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi. tinggi badan. Menurut Erfandi (2008) beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: 1. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu. pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan  Meja II : Melakukan pencatatan berat badan. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Dengan menghadiri kegiatan posyandu. yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia 2. pengetahuan lansia menjadi meningkat. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius. Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini. Dengan pengalaman ini. indeks massa tubuh (IMT). lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan 18 . Meja I : Pendaftaran lansia.  Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling.

mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu. 19 . 4. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.demikian. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons. Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. karena dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memberikan perawatan secara komprehensif. Dengan demikian tingkat pengetahuan lansia akan meningkat. dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu. Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. sehingga menjadi dasar pembentukan sikap untuk mendorong lansia untuk lebih berkeinginan untuk mengikuti program kesehatan lansia yang dilaksanakan oleh Puskesmas maupun oleh kader-kader kesehatan ataupun instansi kesehatan lainnya. Adapun tindakan yang mahasiswa lakukan adalah sosialisasi tentang keberadaan posyandu lansia pada saat home visit. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Dengan sikap yang baik tersebut. mengadakan pembuatan leaflet. Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu. keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia. 3. Leaflet yang dibuat yaitu pola nutrisi bagi penderita DM.

dan keterhambatan (handicap) yang akan dialami bersamaan dengan proses kemunduran (Bondan. atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock. Proses menua yang terjadi pada lanjut usia secara linier dapat digambarkan melalui tiga tahap yaitu. sosial. keterbatasan fungsional (fungsional limitations). dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur. 1. 2003). kelemahan (impairment).BAB III PENGELOLAAN ASUHAN KEPERAWATAN A. yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan. ekonomi dan psikologis (Nugroho. 2000). 1999). Gangguan sistem endokrin yg sering terjadi pada usia lanjut adalah diabetes mellitus (DM). hal ini akan menimbulkan masalah fisik. Landasan Teori Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin. 2008). Proses penuaan secara alamiah terjadi pada usia di atas 50 tahun. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah: 20 . mental. ketidakmampuan (disability).

2001). Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. berarti sel pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk.1 Diabetes Mellitus Tipe III Diabetes Melitus tipe ini dapat disebabkan oleh faktor atau kondisi lainnya seperti: Subtipe genetik spesifik. Disebabkan karena turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahun. biasanya disebut Maturity-onset diabetes of the young (MODY) .1 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta. tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya Diabetes Melitus tipe I.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. artinya terjadi defisiensi relatif insulin.1. Tipe ini berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. 3. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. 21 . Namun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. 2.

beta. infeksi saluran kemih berulangulang selama hamil (PERKENI. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. riwayat melahirkan anak meninggal tanpa sebab yang jelas. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk 22 . Dapat juga disebabkan oleh Diabetes Melitus yang berkaitan dengan imunitas tubuh Autoantibodi. Penyakit Eksokrin pada pancreas berkaitan dengan agenesis pankreas yaitu insulin promotor faktor 1 mengalami gangguan. pernah pre-eklamsia. riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga.defek genetic yang terjadi akibat disfungsi sel. 2001). 4. Faktor resiko Diabetes Melitus Gestasional ialah abortus berulang. Polihidramion. Gambaran Klinik Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. 2002). 2.1 Diabetes Melitus Gestasional Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva. dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. Toksik dengan pemakaian bahan-bahan kimia dan obatobatan dalam jangka panjang mengakibatkan encoding kromosom dan reseptor berubah. Definisi ini juga mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum terdeteksi. riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Faktor predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun. pernah mengalami diabetes melitus gestasional pada kehamilan sebelumnya. perbedaan encoding reseptor insulin. pernah melahirkan bayi lebih dari 4000 gram.

serta stroke (Harbuwono. lemas. Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya. Walaupun klien banyak makan. Gula darah tinggi yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf. sehingga menyebabkan pembentukan katarak. Faktor Resiko Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang tidak dapat diubah. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. Berat badan menurun. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan metabolik. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan Diabetes Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. lekas lelah. hati. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). masalah ginjal atau mata. infeksi atau penyakit lain. misalnya selama menstruasi. Hal-hal yang dapat meningkatkan gula darah dapat berupa. Obesitas berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot. 2008). maka tubuh mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang muncul pada jaringan lemak yang luas. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. karena tubuh terus merasakan lapar. Seseorang dikatakan menderita diabetes 23 . Mata kabur yang disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. perubahan hormon. monosit dan permukaan sel lemak. penyakit jantung. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. dan stress. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan obesitas.memenuhinya klien akan terus makan. kurangnya aktivitas fisik. 3. tenaga berkurang disebabkan karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa.

elektrolit lebih banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO.1 mmol/L). Indian Amerika. maka peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan laboratorium. bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin meningkat. dan diabetes pada populasi tersebut. Jenis kelamin yang memungkinan pria menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. Merokok. 2008) yaitu Usia. 1985 jika Glukosa plasma sewaktu (random)>200mg/dl (11.8 mmol/L). dimana bangsa Amerika Afrika. dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung yang lebih tinggi. Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45 tahun. asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat.apabila kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup dengan menambah kegiatan harian. 4. obesitas. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi. Amerika Meksiko. jika wanita telah menopause maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya tidak setinggi pria. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. Ras dan suku bangsa. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono. dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp >200mg/dl). dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan peningkatan tekanan darah. 24 . Namun. 2002) Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. Hawaii. Pemeriksaan lain adalah aseton plasma yang positif.

1 Perencanaan makanan Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.Hubungannya adalah retensi air. dan lemak. selanjutnya akan menurun. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih. meningkat atau menurun. Natrium dapat normal. 5. Penatalaksanaan 5. leukositosis. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan. Sesuai dengan standar makanan berikut ini. jogging senam dan berenang. protein 1015%. Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak. dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien diabetes (Sukardji. Sedangkan fosfor lebih sering menurun. 2004). Berat jenis atau osmolalitas mungkin meningkat. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran 25 . Tujuan yang paling penting dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar glukosa darah. bersepeda santai. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. Kalium dapat normal atau peningkatan semu. makanan yang berkomposisi karbohidrat 60-70%. Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi). gula dan aseton positif. Pada urine. Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi aldosteron dalam sistem sekresi urinarius.2 Perencanaan latihan jasmani Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. 5. protein.

2004). LDL kolesterol dan kolesterol total (Soegondo. seperti Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati. Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab (PERKENI. Methformin menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida.2002). Dosisnya. yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo. (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien DM seperti obat Pemicu sekresi insulin.3 Intervensi farmakologi Menurut PERKENI. Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma. Berikutnya adalah Glinid. Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang memerlukan pergerakan. untuk Repaglinid 0. Selain obat pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin. meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak. biasanya dosis yang diberikan adalah 100-250 mg/tab. metformin ini tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pancreas. 2004). Methformin menurunkan glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot.jasmani. 5. meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada otot dan sel lemak. 2002).5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid. suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak yang 26 . merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari dua macam obat. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap ATP. serta penurunan produksi glukosa oleh hati. seperti menonton televisi (PERKENI. Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi insulin. 2002).

Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. Komplikasi Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly. 27 . stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada pembuluh darah kaki). 2006). penghentian obat oral maupun insulin yang didahului stres akut. Kondisi ini meliputi resistensi insulin.terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo. Berdasarkan cara kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu. 2002). hiperglikemia dan ketoasidosis. kadar gula darah tinggi. Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia. Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner. kadar kolesterol LDL tinggi.2002) 6. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan oleh penurunan glukosa darah. dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng (PERKENI. Sindroma metabolisme adalah gabungan masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar dapat mematikan. Belum lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit. Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab (PERKENI. peningkatan trigliserida. sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan. 2004). insulin kerja sedang contohnya insulin suspense. 2004). Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan diabetes mellitus (Subekti.

Para penderita diabetes. Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes yang sudah lama dan parah. pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta. seperti kadar kolesterol tinggi . memiliki resiko terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. tekanan darah tinggi. Pada tahap yang lebih parah. Pada tahap awal. Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih tinggi. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. Orang yang memiliki diabetes biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Penyakit jantung adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan erat dengan faktor-faktor lain. saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati. baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2. dan tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly. Ginjal berfungsi sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. pembuluh darah mulai bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan. Diabetes dapat juga menyebabkan 28 . 2006).Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. Sebagian besar penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung. Bila ginjal mengalami kerusakan. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi.

2007). Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI. Senam Kaki Diabetes Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana. Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki.Sumosardjuno. Hal ini menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk disembuhkan dan bahaya terkena infeksi. otot paha. 2002). 29 . jogging. Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. bersepeda santai. Berdasarkan pengertiannya. 2009). Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada kaki.kerusakan saraf. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan. dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (karim. dan berenang. senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. senam. (S. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis. disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (probosuseno.1986). dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono.  1. 2002).

motivasi). sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung. kaji status emosi pasien (suasana hati/mood. khawatir atau cemas. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki. 3. 4. Perawat cuci tangan 30 . waktu. Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2.2. serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. Orang yang depresi. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut. cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik. 2003). dan Jaga privacy pasien. prosedur pelaksanaan senam. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini.

Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Pada posisi tidur. Gambar 2. menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali. Dengan meletakkan tumit di lantai. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.. angkat telapak kaki ke atas. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki. jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. 31 .1 Pesien duduk di atas kursi 3. Pada kaki lainnya. Pada posisi tidur. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. 4.2.

Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6. Pada posisi tidur. Tumit kaki diletakkan di lantai.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5. Pada posisi tidur kaki harus 32 . kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali Gambar 5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.Gambar 4.

diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.1 Jari-jari kaki di lantai 7. 2004). tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo. 33 . Gerakan ini sama dengan posisi tidur. Luruskan salah satu kaki dan angkat. putar kaki pada pergelangan kaki. Gambar 6.

ulkus. 2001) adalah 1. Gambar 8.9 pasien perlu perawatan tindak lanjut. Cara untuk mengukur sirkulasi darah normal pada pasien dengan menggunakan rumus: ABPI = 34 . Cara ini dilakukan hanya sekali saja.5 dan < 0. APBI > 0. Letakkan sehelai koran dilantai.1 Bentuk koran menjadi seperti bola menggunakan kedua kaki  Sirkulasi Darah pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Sirkulasi darah adalah aliran darah yang dipompakan jantung ke pembuluh darah dan dialirkan oleh arteri ke seluruh organ-organ tubuh (Hayens. borok yang perlu penanganan dokter ahli bedah Vaskular.5 diindikasikan kaki sudah mengalami kaki nekrotik. 2003) salah satunya pada organ kaki.9 diindikasikan ada resiko tinggi luka di kaki. Normal sirkulasi darah pada kaki menurut (Vowden. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. dan APBI 0. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Sedangkan keadaan yang tidak normal dapat diperoleh bila nilai APBI < 0. gangren.0 yang diperoleh dari rumus ABPI (Ankle Brachial Pressure Index).1 Kaki diluruskan dan diangkat 8. Kemudian.Gambar 7.

Tn. sering buang air kecil. Jumlah lansia yang dijadikan kelolaan sebanyak 4 orang. L dan Ny. L. Pengkajian Berdasarkan hasil pengkajian terhadap 4 orang lansia di Kelurahan Titi Kuning Kecamatan Medan Johor. serta melakukan pengukuran kadar gula darah dan ABPI (Ankle Brachial Pressure Index). mengantuk dan kebas-kebas pada kaki dan dingin pada ujung kaki. N dan Ny. normalnya 1. M mengkonsumsi obat-obatan medis penurun kadar gula darah sedangkan Tn.0 = P1 = Tekanan tetinggi yang diproleh dari pembuluh darah pergelangan kaki Pα = Tekanan tertinggi dari kedua tangan B. D. Tinjauan Kasus Pengkajian dilakukan kepada lansia yang menderita DM yang berada di Kelurahan Titi Kuning dengan wawancara terstruktur pada saat home visite. Keluhan yang dirasakan klien yaitu sering merasa lapar.Keterangan: ABPI1 Index tekanan brachial pada pergelangan kaki. yaitu terhadap Ny. M didapatkan bahwa Dari hasil wawancara dan pengukuran kadar gula darah keempat klien digolongkan kedalam penderita DM. para klien menjaga asupan gula yang masuk ke tubuh mereka. Dari keempat klien Ny. Sejak diketahui kadar gula darah tinggi. N mengkonsumsi ramuan herbal utuk mengurangi kadar gula darah. Ny. 35 . D dan Ny. 1.

pengaturan pola makan bagi penderita DM dan teknik senam kaki diabetes serta mereview klien dan keluarga berkaitan dengan DM dan senam yang telah dilakukan pada saat proses terminasi. L. kulit kaki terasa dingin. dua diantara empat klien memiliki kadar asam urat yang tinggi. N dan Ny. M maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman. melakukan pemantauan pola makan dan aktivitas fisik yang dilakukan serta memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga sesuai dengan jadwal yang disepakati dengan menggunakan media flip chart dan leaflet yang berisi tentang DM dan pola hidup sehat pada penderita DM. D. 4. Responden Ny. 2. L Tn. 3. Selain itu. N Ny. D Ny. Tn. No 1. nyeri berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak efektif ditandai dengan kebas-kebas pada kaki. Diagnosa Keperawatan Berdasarkan hasil pengkajian Ny. M Kadar Glukosa Darah 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl ABPI 0.91 0. peningkatan kadar glukosa darah dan warna kulit perifer terlihat pucat. Intervensi Keperawatan Melakukan perawatan kesehatan di rumah dengan melakukan kunjungan rumah 4x selama 2 minggu untuk mengajarkan senam kaki diabetes. 36 .88 0.85 0.Hasil pengukuran kadar gula dan ABPI keempat klien preintervensi. 3.91 2. Ny. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang asam urat dan mengajarkan untuk mengkompres bagian yang sakit.

D meningkat dan terlihat agak sesak sehingga senam hanya dilakukan 1x dan mahasiswa juga memberikan penyuluhan tentang hipertensi. tekanan darah Tn. mahasiswa juga melakukan pengukuran tekanan darah tangan dan kaki secara rutin sebelum senam. memberikan motivasi kepada keluarga untuk membantu dan mendukung klien menjalani seluruh kegiatan yang berguna untuk kesehatannya. M juga menderita penyakit maag. Setelah itu mahasiwa menyuruh Tn.4. Tn. Selain kegiatan di atas. memantau jadwal pola makan dan hidup sehat klien yang telah dijalankan. Semua klien terlihat senang karena mapu melakukan gerakan dengan baik. M memerlukan 4x percobaan senam dan pada awalnya terlihat bingung dan ragu untuk menggerakkan kakinya sedangkan Ny. memberikan pendidikan kesehatan pengaturan pola makan dan hidup sehat pada klien pada pertemuan kedua dan ketiga di minggu ketiga dan keempat serta melakukan proses terminasi di pertemuan keempat pada minggu keempat. D memerlukan 3x percobaan senam sampai hapal gerakan yang diberikan. Implementasi Keperawatan Kegiatan kunjungan rumah untuk melakukan perawatan kesehatan klien dilakukan 4x selama 2 minggu sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Senam diabetes dilakukan pada pagi hari selama 4x dalam 2 minggu. Ny. D untuk beristirahat. Selain DM. Pada saat pertemuan ke 3. Senam dilakukan semua klien selama 20 menit dan mahasiswa meminta kepada klien untuk melakukan senam kaki rutin setiap hari. L dan Ny. 37 . Sebelumnya didahului dengan pemberian penyuluhan kesehatan mengenai senam diabetes. Ny. N hanya perlu 2x percobaan untuk dapat menghapal semua gerakan senam. Tindakan yang dilakukan antara lain mengajarkan senam kaki diabetes pada awal pertemuan dan menganjurka klien utntuk melatih senam yang diajarkan di rumah setiap hari. mahasiswa memberikan penyuluhan tentang maag dan pola makan bagi penderita maag.

rata-rata berusia 60-70 tahun. Pada lansia terjadi penurunan fungsi organ. pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. Dari pengukuran yang dilakukan kelima klien menderita DM. Berdasarkan usia subjek PBLK. Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner & Sudarth. Rentang kadar gukosa darah klien berkisar antara 186 – 200 mg/dl dan ABPI rata-rata sebelum intervensi 0. dilakukan pengukuran kadar glukosa darah dan ABPI klien.5. Menurut Sanusi H (2004). Sedangkan menurut WHO. Dari hasil pengkajian juga didapat bahwa 2 dari 4 klien memiliki riwayat DM dalam keluarganya. konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkatkan dan lebih memperpanjang hiperglikemia (Darmojo. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Evaluasi Sebelum dilakukan senam diabetes. Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama.88. Seiring pertambahan usia. sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin. penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. salah satunya penurunan funsi endokrin yaitu gangguan dalam pengaturan kadar glukosa darah dalam tubuh. Selain itu. B & Hadi Martono. yang mengurangi kemampuan lansia untuk memetabolisme glukosa. 2000). 38 . Pada pasien lansia. 2001). Kecenderungan genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu.

88 Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 0. Oleh karena itu.96. 2010). dilakukan pengukuran kadar gula dan ABPI kembali.91 3.88 0. M 70 thn 65 thn 60 thn 69 thn 0.85 0.91 0. 39 . N Ny. Perbandingan nilai pre implementasi dan post implementasi senam kaki diabetes.92 1.55 0.75 mg/dl dan nilai ABPI post implementasi 0.Setelah dilakukan senam diabetes selama 2 minggu pada subjek lansia.0 1.25 mg/dl Post Implementasi (Pertemuan ke 4) 186 mg/dl 177 mg/dl 180 mg/dl 180 mg/dl 723 mg/dl 180.85 0.0 3.96. Menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara sirkulasi darah pada klien sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki. senam kaki sangat bagus dilakukan pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah.93 0. dimana sirkulasi darah pada klien setelah dilakukan senam kaki meningkat yaitu dari 0.96 Kadar Glukosa Darah Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 200 mg/dl 193 mg/dl 190 mg/dl 186 mg/dl 769 mg/dl 192. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. ABPI No Klien Usia Pre Implementasi (Pertemuan ke 1) 1 2 3 4 Ny.88 menjadi 0. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yag sudah pernah dilakukan Juliani dengan judul Pengaruh Senam Kaki Terhadap Peningkatan Sirkulasi Darah Kaki pada Pasien Penderita Diabetes Melitus (Juliani. D Ny.75 mg/dl Total Rata-Rata Dari tabel di atas didapat bahwa rata-rata nilai kadar glukosa darah klien post implementasi 180. L Tn.

Pasien mengatakan ada perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes (Scrott. Setelah dilakukan senam kaki juga terdapat perubahan pada ekstremitas pasien dimana kaki pasien kelihatan lebih memerah dibandingkan sebelum dilakukan senam kaki. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes melitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan keadaan kaki pada saat pre senam kaki dan post senam kaki. selain itu klien mengatakan tidak sulit melakukan senam kaki diabetes. Oleh karena itu. 2009). mahasiswa juga menanyakan secara objektif pada pasien tentang perubahan yang dirasakan setelah melakukan senam kaki selama satu minggu terakhir. mencegah kekakuan. menguatkan otot kaki. namun setelah dilakukan senam kaki ekstremitas klien mulai lebih merah dan hangat. Sebelumya kaki pasien terlihat pucat dan dingin sebelum dilakukan senam kaki. meningkatkan transport glukosa ke sel-sel. Penelitian lain yang sudah pernah dilakukan adalah pengaruh senam kaki terhadap pencegahan kaki diabetik (Cinta.2009). Hasil ini sesuai dengan pendapat Tara (2003) yang menyebutkan bahwa senam kaki dapat mencegah kaki diabetik yaitu memperlancar peredaran darah ke perifer. memperbaiki kesehatan secara umum pada pasien diabetes. Senam kaki merupakan pilihan yang tepat untuk pasien diabetes mellitus karena dapat memperbaikai sirkulasi darah. Menurut Krucoff (2004) mengatakan latihan fisik mempunyai efek pada metabolisme tubuh yaitu meningkatkan kualitas insulin. Senam kaki merupakan salah satu terapi yang di berikan untuk melancarkan sirkulasi darah yang terganggu.Selain mengukur sirkulasi darah pada pasien pre dan post senam kaki. meningkatkan pemakaian glukosa darah sehingga tidak menumpuk. senam kaki sangat bagus dilakukan 40 . mencegah kebas-kebas dan menghangatkan kaki. dimana klien merasa bahwa kebas-kebas pada kakinya mulai berkurang dan merasa lebih baik dari sebelum dilakukan senam kaki.

Penderita DM harus disadari bahwa kegiatan perawatan kaki merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari (Tara. Perhatikan apakah luka atau tidak. kecuali pada sela jari dan bila kulit sudah pecah-pecah atau luka terbuka. jika kuku terlalu keras dan kotor. Hal ini dapat dilihat dari gambaran telapak kaki yang dibuat pada kertas yang dapat dibuat 41 . 2003) Caranya yaitu: a. Periksalah kaki setiap hari terutama telapak kaki. Pada kulit kering dapat ditambahkan lotion. yaitu dengan cara tetap mengontrol keadaan kadar gula darahnya dengan diet dan atau pemberian obat yang teratur dari dokter. Perawatan kuku dilakukan setiap hari bersamaan dengan perawatan kulit kaki. Arah pemotongan kuku sesuai dengan bentuk kuku. sedangkan upaya pencegahan pada penderita diabetes dengan komplikasi kaki diabetik sama dengan yang belum mengalami komplikasi. Pemeriksaan dilakukan di tempat yang terang dan untuk memudahkan pemantauan gunakan cermin. rendam dalam air sabun hangat selama 5 menit agar kotoran mudah lepas dan kuku menjadi agak lunak. dan sela jari kaki. Upaya pencegahan pada penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi kaki diabetik.pada pasien Diabetes Melitus baik untuk pencegahan maupun untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada tungkai bawah. Jangan memakai powder karena dapat menjadi lebih kering dan merupakan bahan iritan kulit. jari kaki. Sepatu yang dipakai harus sesuai dengan bentuk dan besarnya kaki. c. Jika ditemukan adanya kelainan kuku atau luka dianjurkan berkonsultasi ke dokter. sebaiknya minta tolong pada orang lain untuk memotong kukunya. Bersihkan kaki dengan sabun dan air hangat (jangan air panas). b. Saat pemotongan kuku. Jika penglihatan penderita terganggu. kulit kemerahan atau penebalan kulit. keringkan dengan handuk halus. hanya ditambah dengan perawatan kaki yang baik.

jangan terasa sempit. menguatkan otot betis dan telapak kaki sehingga sewaktu berjalan kaki menjadi lebih stabil. dan meningkatkan skill dan motivasi (Tara. Neuropati merupakan faktor penting terjadinya DF. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Tebal kaus kaki harus sesuai dengan sepatu yang dipakai. Olah raga harus dilakukan secara teratur. memelihara fungsi saraf. menambah kelenturan sendi sehingga kaki terhindar dari sendi kaku. dan infeksi. sebaiknya memakai kaus kaki dari bahan katun yang dapat menyerap keringat.sendiri. meningkatkan ketahanan jantung dan paru sehingga daya tahan aktivitas fisik bertambah. bagian alas sepatu yang bersentuhan dengan kaki (insole) permukaannya harus sesuai dengan bentuk permukaan telapak kaki yang normal. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan ulkus pada kaki. Latihan ini bermanfaat agar koordinasi gerak tetap terpelihara. Gangguan motorik juga akan 42 . 2003). sebaiknya pada pemakaian awal diperiksa adakah daerah kemerahan akibat penekanan yang berlebihan. Tujuan olah raga bagi penderita DM adalah melancarkan aliran darah kaki sehingga nutrisi terhadap jaringan lebih lancar. Permukaan atas sepatu harus lunak. Apabila sepatu yang dipakai baru dibeli. yaitu memiliki kelengkungan (arch support). d. Alas sepatu ini harus dilapisi dengan bahan yang halus dan empuk agar permukaan telapak kaki tidak lecet. menambah toleransi jalan. Apabila memakai kaus kaki. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. bagian tumit sepatu harus kokoh agar kaki stabil. Penyebab utama terjadinya Diabetic Foot (DF) adalah angiopati. Lakukan olah raga kaki diabetes yang baik dan benar. neuropati. Dengan kelengkungan ini seluruh permukaan telapak kaki akan tertahan dengan baik dan benar.

Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. denyut arteri hilang. b. f. e. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhadap penyembuhan atau pengobatan dari pasien Diabetc Foot. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai DF akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. d. Akibatnya. kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Komplikasi ini merupakan penyebab utama penderita harus dirawat dengan waktu perawatan yang lama. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit Internasional Bintaro (RSIB). Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. dengan atau tanpa osteomielitis. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. callus”. Derajat III : Abses dalam. nyeri kaki di malam hari. Klasifikasi Wagner (1983) membagi Diabetic Foot menjadi enam tingkatan. biaya perawatan 43 . kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “claw. c. yaitu : a. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Derajat I : Ulkus superficial terbatas pada kulit. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah komplikasi pada kaki (15%) yang kini disebut kaki diabetes. sehinggga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki pasien.mengakibatkan terjadinya atrofi kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. oksigen (zat asam) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh.

mahasiswa juga mengevaluasi klien terkait pola makan bagi pendeita DM dan klien yang menderita maag. apalagi amputasi. Klien dan keluarga mengatur pola makan dengan baik. Selain mengevaluasi senam kaki diabetes.pengidap diabetes menjadi sangat tinggi. Bahkan. Oleh karena sangat penting untuk melakukan perawatan pada kaki diabetes agar terhindar dari tindakan pembedahan. 44 . 70% di antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40% di antaranya berakhir dengan amputasi.

88 menjadi 0.25 mg/dl menjadi 180. B. diabetes melitus. Klien dan keluarga sendiri menyatakan puas terhadap pendidikan kesehatan yang diberikan dan menyatakan pengetahuan mereka menjadi bertambah. 45 . Dari hasil penelitian diketahui bahwa senam kaki berpengaruh terhadap peningkatan sirkulasi darah kaki pada pasien Diabetes Melitus. Maka dapat disimpulkan bahwa senam kaki sangat berpengaruh pada peningkatan sirkulasi darah pada kaki pasien Diabetes Melitus. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirkulasi darah kaki pasien mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 0. Institusi Pendidikan Sebaiknya institusi pendidikan memberi topik khusus mengenai pentingnya senam kaki pada klien dengan penyakit diabetes melitus dan mengintegrasikan materi ini dalam pendidikan keperawatan terutama dalam materi pembelajaran asuhan keperawatan gerontik pasien dengan gangguan endokrin.96 dan kadar glukosa darah mengalami penurunan dari 192.75 mg/dl .BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. b. Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan asuhan keperawatan yang telah dilakukan kesimpulan yang bisa didapat antara lain : a. Setelah melakukan kegiatan asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan mahasiwa menilai bahwa terdapat perubahan pengetahuan dan motivasi klien dan keluarga untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehataan di rumah. Saran 1.

Lahan Praktek Sebaiknya lahan praktik memberikan pendidikan kesehatan secara terencana dan teratur kepada klien diabetes mellitus untuk meningkatkan kemampuan klien meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidupnya. 46 . Penulis juga mengharapkan supaya senam kaki dapat diterapkan di posyandu lansia karena senam kaki sangat bermanfaat untuk memperlancar sirkulasi darah ke perifer pada pasien diabetes melitus.2.

Philadelphia : Mosby. Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www. M. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Depkes.(2000). (1999). Stockslager. 2004. S. Sanusi Harsien. J L. Bulaceck G. M. Notoadmojo. Moorhoed.blogspot. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.. B. Tinjauan Medis DM Akibatnya pada Kematian.go.. Buku Saku Asuhan Keperawatan Geriatrik Edisi 2. B & Hadi Martono. S.. dkk. Jakarta: Balai Penerbit FK UI Depkes RI. Makassar. Jakarta : Rineka Cipta Palestin.idf. Marilynn. MC. (2000) Nursing Intervention Classification (NIC). (2007). Closky J.org.. Peranan Gizi Dalam Diabetes Mellitus. Penderita Diabetes Indonesia Urutan ke-4 di dunia. Panduan Global untuk Diabetes Tipe 2. Jakarta : EGC Hiswani.libraryusu. 2006. (2007). Philadelphia : Mosby. (2005). Jakarta: EGC Darmojo. Diakses dari www. Diakses tanggal 15 Juni 2011 dari www.com/ pada tanggal 18 Oktober 2011. (2000) Nursing Outcomes Classification (NOC). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2. Doenges E.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. (2003). Jakarta: EGC 47 . Pendidikan Kesehatan dalam Pengelolaan Diabetes secara Mandiri bagi Diabetesi Dewasa.ac. 2007. Maas. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-2.id pada tanggal 19 Oktober 2011. Edisi 3. Johnson. Diakses dari : http://bondankomunitas. (2002).id International Diabetes Federation.

Ulfahsyam(2009).ac. 2002.net/ pada tanggal 19 Oktober 2011. Panduan penatalaksanaan Diabetes Melitus.undip. Hubungan Antara Derajat Kaki Diabetik Dengan Neuropati Perifer Dan Iskemik Perifer Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2. 48 . PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). Diakses tanggal 9 Juni 2011 dari www.id. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. (2001). Jakarta: EGC. Asuhan Keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus. WHO (2000). Diakses dari http://ilmukeperawatan.Aksara Buana. Jakarta : CV. Suprianto.

LAMPIRAN 49 .

Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Kamis/ 06 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. 3 menit WAKTU MEDIA 50 . Mampu mendemonstrasikan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Sasaran Klien lansia penderita DM D. Topik : Senam Kaki Pada Penderita Diabetes Mellitus B. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi Demonstrasi E. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. diharapkan klien:    Mampu mengetahui tujuan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Mampu mengetahui prosedur pelaksanaan senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. Menyampaikan judul topik. Metode       F. Mendengarkan dan memperhatikan.00 WIB : Rumah Klien G.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang senam kaki pada penderita Diabetes Mellitus. C.

penyuluhan.   2.  Menjelaskan tujuan senam kaki pada DM. Kegiatan Menjelaskan tentang pengertian senam kaki pada Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM.  Menjelaskan cara melakukan senam kaki  pada penderita penderita DM. senam kaki penderita 51 .  Memberikan kesempatan untuk bertanya. Mendemonstrasik an pada DM.

 Mendengarkan dan memperhatikan. Menyimpulkan materi penyuluhan. Penutup   Menjawab pertanyaan. Mendemonstrasi kan senam kaki   Membagikan leaflet. dan 52 . Meminta untuk mendemonstrasik an pada DM. penderita  Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.3. 5 menit Poster Leaflet   Menerima leaflet. senam kaki klien pada DM.  penderita Menjawab salam.

Hal yang Harus Dikaji Sebelum Tindakan       Lihat Keadaan umum dan kesadaran pasien Cek tanda-tanda Vital sebelum melakukan tindakan Cek Status Respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada). khawatir atau cemas. Orang yang depresi. 4. Perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut. motivasi). 3.SENAM KAKI PADA PENDERITA DM 1. Kaji kadar gula darah 53 . Pengertian Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. Kaji status emosi pasien (suasanan hati/ mood. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Mellitus sebagai tindakan pencegahan dini. b) Kontraindikasi   Klien mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnu atau nyeri dada. 2. Tujuan a) Memperbaiki sirkulasi darah b) Memperkuat otot-otot kecil c) Mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki d) Meningkatkan kekuatan otot betis dan paha e) Mengatasi keterbatasan gerak sendi f) Membantu pasien DM dalam menjaga berat badan. Indikasi dan Kontraindikasi a) Indikasi Senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2.

angkat telapak kaki ke atas. Prosedur Pelaksanaan : Persiapan Alat : Kertas Koran 2 lembar. Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk). Hasil positif itu meliputi terkontrolnya gula darah dan berat badan. 54 .  Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. Pada kaki lainnya.  Posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. penurunan kolesterol total.dan peningkatan HDL (kolesterol baik) 5.  Dengan meletakkan tumit dilantai. perbaikan lemak darah. perbaikan risiko penyakit kardiovaskuler. jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. minimal 20 menit.Senam DM akan memberikan hasil positif jika dilakukan rutin seminggu lima kali. jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas.

55 . dan luruskan. Tumit kaki diletakkan di lantai. Ulangi langkah ke 8. namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.pertahankan posisi tersebut. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang.  Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.     Angkat salah satu lutut kaki. Ulangi sebanyak 10 kali. Ulangi sebanyak 10 kali. Angkat kedua kaki dan luruskan.

    Lalu robek koran menjadi 2 bagian. pisahkan kedua bagian koran. Cara ini dilakukan hanya sekali saja. tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian.  Letakkan sehelai koran dilantai. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki. Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh. 56 . Luruskan salah satu kaki dan angkat. buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. putar kaki pada pergelangan kaki .

Menyampaikan judul topik. Sasaran Klien lansia penderita DM IV. Mampu mengetahui prinsip pengelolaan makanan pada penderita Diabetes Mellitus. NO 1. Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang diet pada penderita Diabetes Mellitus.SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) I.00 WIB : Rumah Klien VI. Topik : Diet Diabetes Tujuan 1. diharapkan klien:    Mampu mengetahui zat-zat penting bagi tubuh. Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. 57 3 menit WAKTU MEDIA . Metode   Ceramah Diskusi V. Pelaksanaan Kegiatan KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. II. Waktu dan Tempat Penyuluhan    Hari/ Tangal : Jumat/ 07 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Mendengarkan dan memperhatikan. Media   Leaflet Poster VII. Menjelaskan tujuan   PESERTA Menjawab salam. III. 2. Mampu mengetahui anjuran pada penderita Diabetes Mellitus.

gizi bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster  Menjelaskan prinsip pengelolaan makan bagi penderita DM. Menyimpulkan materi penyuluhan.  Menjelaskan anjuran  bagi penderita DM. 2. Menjawab salam. 3. Menerima leaflet. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.   Membagikan leaflet. Kegiatan  Menjelaskan tentang pengertian penting tubuh.penyuluhan. Memberikan kesempatan untuk bertanya. 5 menit Poster Leaflet 58 . dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Penutup   Menjawab pertanyaan.

Bagi yang menjalankan olah raga ditambah sekitar 300an kalori. 59 . Pengertian Gizi Gizi adalah zat-zat penting dalam makanan yang berhubungan dengan kesehatan tubuh. minyak. susu. jagung. umbi-umbian. Zat-zat gizi penting  Karbohidrat Digunakan untuk:  Memenuhi kebutuhan energi tubuh pembentukan sel-sel baru Sumber: beras. siang dan malam dianjurkan porsi makanan ringan diantara waktu tersebut (selang waktu sekitar 3 jam).DIET DIABETES A. Di samping jadwal makan utama pagi.  Jadwal Makan Bagi penderita diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang. roti dll. kentang . Prinsip Pengelolaan Makanan bagi Diabetes Pola 3 J  Jumlah Kalori Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah BB (Berat Badan). jumlah kalori yang dibutuhkan = BB x 30 kalori. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 20-25 % C. B. Anjuran konsumsi bagi penderita diabetes : 60-70 % Protein Diperlukan untuk :  Penunjang pertumbuhan Pengaturan proses tubuh Anjuran konsumsi bagi diabetes: 10-15 % Lemak Berguna untuk : Memberikan energy Sumber lemak: kacang-kacangan.

salak. misal : kacang-kacangan. kuning telur. cake. apel. seperti: sawo. makanan gorengan. dll. tomat. jeroan. sayuran. cokelat. Makanan yang dianjurkan Makanan dengan karbohidrat berserat. durian. misal: nasi. jeruk. daging berlemak. sosis. nangka. nanas. dendeng. Makanlah aneka ragam sayuran sebanyak-banyaknya Laksanakan diet dengan disiplin. anggur. seperti : pepaya. buah segar. rambutan. D. Atur penggunaan makanan sumber karbohidrat. semangka. Sedangkan buah-buahan yang terlalu manis tidak dianjurkan. sesuai dengna ukuran porsi makanan. Jenis Makanan Makanan yang perlu dibatasi: makanan berkalori dan berlemak tinggi. kedondong. Contoh makanan sehari-hari Waktu Pagi Nasi Telur dadar Tumis kacang panjang Selingan Pagi Siang Selingan Sore Pisang rebus Nasi Pepes ikan Tumis kacang merah Sayur asam Pepaya Pisang Nasi Malam Semur ayam Sup bayam Sambal Pepaya 60 Menu . dll. Anjuran bagi Penderita DM Makanlah secara teratur. E. es krim.

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) A. Mendengarkan dan memperhatikan. Sasaran Klien lansia penderita DM D. 3 menit WAKTU MEDIA 61 . Topik : Pola Hidup Sehat DM B. 2) Tujuan Instruksional Khusus Selama 20 menit. KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN    Memberi salam. Pelaksanaan Kegiatan NO 1. Tujuan 1) Tujuan Instruksional Umum Selama 20 menit diharapkan klien mengerti tentang pola hidup sehat pada penderita Diabetes Mellitus. Menyampaikan judul topik.   PESERTA Menjawab salam. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/ Tangal : Sabtu/ 08 Oktober 2011 Waktu Tempat : Pukul 09. Media   Leaflet Poster Ceramah Diskusi E.00 WIB : Rumah Klien G. diharapkan klien:    Mampu mengetahui prinsip perencanaan makanan Mampu mengetahui latihan jasmani bagi penderita DM Mampu mengetahui penggunaan obat penurun gula darah C. Menjelaskan tujuan penyuluhan. Metode      F.

 Menjelaskan latihan bagi DM.  Memberikan kesempatan untuk bertanya. Penutup   Menjawab pertanyaan. dan    Mendengarkan dan memperhatikan. Menerima leaflet.   Membagikan leaflet. Mengakhiri penyuluhan memberikan salam.  Menjelaskan penggunaan obat penurun darah. 5 menit Poster Leaflet gula jasmani penderita 62 .2. Menyimpulkan materi penyuluhan. Kegiatan  Menjelaskan prinsip perencanaan makanan bagi  Mendengarkan dan memperhatikan 12 menit Poster penderita DM. 3. Menjawab salam.

Pekerjaan i. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Brigjend.Kasus I KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 30 September 2011 I. Pendidikan h. Alamat : Ny. Katamso Gg. M : Medan/ 31-12-1942 : Perempuan : Janda : Islam : Melayu : SR : IRT : Jln. M 63 . Tempat/ tanggal lahir c. Nama b. Jenis kelamin d. IDENTITAS a. family Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak ke 3 dari 5 bersudara. Agama f. Suku g. Klien tinggal serumah 2 orang anak dan 2 orang cucunya. Status perkawinan e. II.

64 .Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Timbul keluhan secara 4. klien merasa bahwa dirinya sehat. Penyebab 3. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Bagaimana pengobatannya : 2 tahun yang lalu : Minum obat dari dokter d. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Keluhan utama lansia 2. Penyakit yang pernah diderita : Maag b. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU a. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname selama 1 minggu di RS karena sakit maag dan sesak napas. b. Faktor yang memperberat : Klien merasa perutnya perih dan gembung : Makan tidak teratur : Tidak tentu (kadang-kadang) : Makanan pedas 5. V. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya : Memijat perutnya dengan balsem dan minum obat IV. RIWAYAT SEHARI-HARI a. Mulainya kapan c. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien mempunyai kebiasaan minum teh di pagi hari.

klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. senang dan terhibur untuk bercerita VII. untuk berpergian atau mengunjungi keluarga hanya dilakukan sesekali. Rekreasi: Klien merasa terhibur dengan menonton televisi. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. itupun jika ada uang. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. g. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: 65 . namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan tidak susah utk kembali tidur lagi. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman serta mencuci. Klien makan 3x sehari dan terkadang diselingi dengan cemilan seperti kue atau biskuit. h.00 WIB. e.00 WIB dan bangun pukul 05. namun masalah ini diatasi dengan makanan yang mau dimakan dijadikan bubur terlebih dahulu atau nasi lembek.c. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia mengalami masalah dalam makan. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Klien tidur biasanya jam 23. d. Olahraga jalan santai terkadang dilakukan 1x dalam seminggu. hal ini disebabkan karena punya sakit maag. f. VI. klien menganggap membantu membersihkan rumah seperti mencabut rumput sudah menjadi olahraga.

capillary refill < 2 dtk. warna rambut putih. IX. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. kedua telinga bersih kiri dan kanan. RR: 20x/ menit. Terkadang anaknya mengiriminya uang belanja. : Nadi 75x/ menit. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: Klien rajin sholat 5 waktu di rumah dan mengikuti pengajian di dekat rumah. tidak ada pembengkakan ataupun kelainan pada kepala. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus.Klien merupakan janda dari almarhum yang seorang pegawai negeri. tidak ada 66 Keadaan Umum Tanda Vital . PEMERIKSAAN FISIK : Kesadaran compos mentis : TD : 130/80 mmHg. klien masih dapat mendengar dengan jelas. HR: 75x/ menit. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. Temp: 370C Kepala : Bentuk bulat. Pernafasan Kardiovaskuler : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. Setiap bulan klien selalu mengambil gaji pensiunnya. lubang hidung simetris kiri dan kanan. klien masih mengenal bau-bauan. Hidung : Bentuk hidung anatomis. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. dan anatomis. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. Abdomen : Bentuk soepel. penciuman klien tidak terganggu. VIII. bentuk mata simetris kiri dan kanan. tidak ada tanda-tanda ascites. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.

Kulit : Kulit klien tampak keriput. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan.nyeri ulu hati. BAK 5-7 kali/hari. klien mengkonsumsi obat Ranitidin 3x/ hari. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. Pola BAB satu kali sehari. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatananya. Untuk mengatasi masalah maag dan DM. Klien terkadang merasa nyeri di perutnya. KGD klien : 186 mg/dl. Tetapi terkadang klien merasa kebas-kebas di kaki dan ujung kaki dingin. klien biasanya menemui dokter untuk berobat. X. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Glimepirid 2x/ hari dan Methyl Prednisolon 2x/ hari. tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. XI. 67 . Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. peristaltik (+).

DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. Sekresi prostaglandin Nyeri 2. lemas.2 mg/dl (normal pada wanita : 3 . DO: Klien mengkonsumsi obat penurun kadar asam lambung. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri. wajah meringis saat sendi digerakkan.6 mg/dl) 3. Data DS: Klien mengatakan dan nyeri di Etiologi Lambung kosong dalam waktu yang cukup lama Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung perutnya mengatakan Sekresi HCl maggnya sering kambuh jika telat makan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Proses menua Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 68 . DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.ANALISA DATA No 1.

abdomen. 69 . Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan 4. 4. Pengertian dispepsi (maag) b.RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Kaji nyeri yang dirasakan klien dan faktor-faktor pencetus 1. Kaji pengetahuan pasien akan penyakitnya. Motivasi klien untuk makan sedikit tapi sering 2. berkurang 1. Membantu menentukan manjemen dalam kebutuhan nyeri dan keefektifan program. Penyebab dispepsia (maag) apakah klien akan untuk perlu pendidikan kesehatan atau tidak. 2. Jelaskan kepada klien tentang: a. Mengidentifikasi 3. Gangguan rasa nyaman : nyeri pada lambung Klien melaporkan nyeri berhubungan dengan peningkatan sekresi HCl lambungnya ditandai dengan klien mengeluhkan nyeri pada ataupun hilang. Makan sedikit tapi sering membantu pasien memenuhi kebutuhan nutrisinya. 3.

Minimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi. Cara mengatasi dispepsia (maag) d. Anjurkan klien agar 3. Anjurkan klien untuk tirah baring atau 1. Anjurkan klien untuk mengurangi yang meningkatkan nyeri aktivitas dapat rasa 2. terkontrol/ 1. istirahat selama fase akut. Menurunkan sendi tekanan pada 3. 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Pola hidup sehat untuk (maag) dipepsia 2. Membantu mengekskresikan banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak purin dalam darah 70 .c. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut.

mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD. analgetik nyeri dapat yang serta menurunkan saraf bertambah/ hebat untuk mendapatkan farmakologi. Jelaskan kepada klien 2. mengetahui dan 1. mengenai Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD penyakitnya. Anjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti 4. Pemberian menurunkan muncul rangsang simpatis. Pengetahuan yang baik dan 71 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. 2. terapi system 3. Kaji klien pengetahuan 1. pendidikan kesehatan atau tidak.mengandung purin 4. Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan kompres hangat pada sendi yang sakit 5. Anjurkan klien pergi ke pelayanan jika nyeri kesehatan semakin 5.

Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. 4. alternatif untuk 3. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 3. pengetahuan 72 . benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. 4. Memberikan kepada klien.pengertian dan tanda serta gejala DM.

4.Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dispepsi A: Masalah belum teratasi. O: Klien tampak dan faktor-faktor akan mencoba apa yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien untuk S: Klien mengatakan tirah baring atau istirahat akan mencoba apa 73 . Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 6 Oktober 2011 lambungnya 1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan Nyeri terkontrol/ berkurang 6 Okober 2011 1.CATATAN PERKEMBANGAN No. .Pengertian (maag) . Memotivasi klien untuk makan sedikit tapi sering. (maag) .Cara mengatasi dispepsia dilanjutkan.Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. 2. Mengkaji pengetahuan pasien paham dan mampu akan penyakitnya. mengulangi apa yang klien telah dijelaskan. 3. pada ditandai mengeluhkan abdomen. peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. Menjelaskan kepada tentang: . 1.

Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi farmakologi. kepada dan tanda 74 . yang O: Klien tampak paham dan mampu dapat meningkatkan rasa nyeri. Farmakoterapi seperti kompres hangat pada sendi yang sakit P: Intervensi 5. Menganjurkan klien agar mengulangi apa yang banyak mengkonsumsi air putih telah dijelaskan. serta O: Klien tampak paham dan mampu mengenai penyakitnya. selama fase akut. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Menjelaskan pengertian gejala DM. Menganjurkan tindakan A: Masalah belum non teratasi. 4. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas untuk yang telah dijelaskan. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan.peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 6 Oktober 2011 1. 3. 3. 2. 2.

Penyebab (maag) dispepsia P: Intervensi dihentikan dispepsi A: Masalah teratasi. pada ditandai 2. penderita DM. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri Klien pada dengan HCl lambung berhubungan nyeri Tujuan Tanggal Implementasi Evaluasi melaporkan 12 Oktober 2011 lambungnya 1. dan faktor-faktor sudah mencoba apa yang telah dijelaskan peningkatan dengan nyeri sekresi berkurang ataupun klien hilang. kaki diabetes. P: Intervensi dilanjutkan. 4. O: Klien tampak klien segar dan sehat. 3.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. mengeluhkan abdomen. Mengkaji nyeri yang dirasakan S: Klien mengatakan klien pencetus. 75 . berkurang. Mengkaji pengetahuan pasien akan penyakitnya.Pengertian (maag) . A: Masalah belum 4. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. Memotivasi klien untuk makan dan sakit perutnya sedikit tapi sering. Menjelaskan kepada tentang: . 1. No.

yang O: Klien tampak dapat meningkatkan rasa nyeri. 3. banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak A: Masalah teratasi. Nyeri terkontrol/ berkurang 12 Okober 2011 1..Pola hidup sehat untuk dipepsia (maag) 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan mengurangi klien aktivitas yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin untuk bertambah/ mendapatkan hebat terapi 76 . 2. Menganjurkan klien agar segar dan sehat. 4. hangat pada sendi yang sakit 5. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.Cara mengatasi dispepsia (maag) . Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. mengandung purin.

2. serta O: Klien tampak paham dan mampu 3. dihentikan. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 12 Oktober 2011 1. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. penderita DM. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. A: Masalah teratasi. 77 . Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 4.farmakologi. 3. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. kepada dan tanda sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menjelaskan pengertian gejala DM.

II. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak pertama dari 6 bersaudara. D 78 . IDENTITAS a. Nama b. D : Asahan/ 31-12-1946 : Laki-laki : Kawin : Islam : Jawa : SD : Wiraswasta : Jln. Pekerjaan i. Alamat : Tn. Pendidikan h. Tempat/tanggal lahir c. Jenis kelamin d. RIWAYAT KELUARGA Genogram Tn. Suku g. Status perkawinan e. menantu dan 3 orang cucu. Klien tinggal serumah dengan seorang anak.Kasus II KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 01 Oktober 2011 I. Agama f.

Penyakit yang pernah diderita : Diabetes Mellitus 2. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Keluhan utama lansia 2. Pola nutrisi : 79 . Bagaimana pengobatannya : 20 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Faktor yang memperberat 5. c. Riwayat Sehari-hari a.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena hiperglikemia V. flu dan pening merupakan gejala dari penyakit. b. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Dulu klien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Istirahat dan minum obat IV. tetapi semenjak sakit klien menghentikan kebiasaannya itu. Timbul keluhan secara 4. Mulainya kapan 3. Penyebab 3. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI : Sesak napas : Sakit Jantung : Periodik (kadang-kadang) : Berjalan lama 1. klien merasa bahwa dirinya sehat.

klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. Klien tidur biasanya jam 00. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. senang dan terhibur untuk bercerita VII. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia.00 WIB. Kebiasaan berolahraga: Klien setiap pagi selalu jalan pagi selama kira-kira 20 menit di lingkungan tempat tinggalnya. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien bekerja sebagai wiraswasta yaitu berjualan di dekat rumahnya. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. VI. e.Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari. Karena klien menderita DM. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. f. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. g. klien juga hanya bisa tidur duduk karena klien merasa sesak bila tidur berbaring. VIII. d. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur.Selain itu.00 WIB dan bangun pukul 05. klien mengurangi asupan karbohidratnya sehingga klien mudah merasa lapar dan sering ngemil. terkadang anaknya mengiriminya uang. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 80 . klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. Selain itu. h. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari.

klien masih mengenal bau-bauan. peristaltik (+). Abdomen : Bentuk soepel. tidak ada nyeri ulu hati. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. tidak ada tanda-tanda ascites. dan anatomis. Hidung : Bentuk hidung anatomis. penciuman klien tidak terganggu. IX.capillary refill < 2 dtk. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 160/80 mmHg. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 24x/ menit. Mata : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus. HR: 75x/ menit. RR: 24x/ menit. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. Temp: 360C Kepala : Bentuk bulat. gigi klien sudah tidak ada lagi. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Kardiovaskuler : Nadi 75x/ menit.warna rambut putih dan menipis. kedua telinga bersih kiri dan kanan.sehingga klien memakai gigi palsu untuk makan. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. klien tapak bernafas cepat. Klien mengalami gangguan pernafasan. 81 . tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. pola nafas ireguler. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. lubang hidung simetris kiri dan kanan. bentuk mata simetris kiri dan kanan.

tidak terdapat retensi urin ataupun inkontinensia. Pola BAB 1x/ hari. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. BAK 5-7 kali/ hari. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. X. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan. Kulit : Kulit klien tampak keriput. klien biasanya minum ramuan tradisional. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien jarang ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya.Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. Selama ini klien mengkonsumsi ramuan herbal dan isosorbit dinitrat untuk mengurangi sesak dan menurunkan tekanan darahnya. KGD : 193 mg/dl XI. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. 82 . tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis.

Etiologi Masalah Keperawatan Riwayat perokok aktif selama Gangguan Pola Nafas 20 tahun DO : Klien hanya berkipas-kipas Saluran pernafasan terganggu jika timbul sesak. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. Data DS : Klien mengatakan susah bernafas jika terlalu keletihan. dan panas.ANALISA DATA No 1. RR : 24x/ menit Gangguan pola nafas dan menyempit 2. lemas. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 193 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Tanda dan gejala DM Kurang Pengetahuan 83 . DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. bernafas cepat dan irregular.

tentang penyakitnya.  Klien dapat mencegah kambuhnya penyakit. 3. 2. Diskusikan pada lansia tentang 4. Kaji pengetahuan klien mengenai dan penyakitnya. Lansia dapat mengubah pola hidupnya menjadi pola hidup yang sehat. Meningkatkan penyebab dari penyakit saluran lansia pengetahuan dapat penyebab sehingga faktor pernapasan dan jantung serta tanda dan gejalanya. Jelaskan pada lansia tentang faktor 3.RENCANA KEPERAWATAN No 1. Jelaskan kepada klien pengertian dan 1. dengan nyaman. saluran pernapasan dan jantung. Diagnosa Gangguan pola nafas  Klien Tujuan dapat Intervensi Rasional bernafas 1. 4. Jelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari penyakit kepada lansia pengetahuan dan keluarga saluran pernapasan dan tentang penyakitnya. menghindari kambuhnya penyakit. 2. Menentukan pengetahuan lansia penyakit jantung. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 1. 2. pencegahan dan pengobatan penyakit. Gali pengetahuan keluarga tentang 1. Mengidentifikasi pengetahuan klien akan penyakitnya 84 untuk penyakit DM berhubungan dengan perawatan adanya riwayat DM ditandai dengan pengkonrolan KGD . Memberikan 2.

Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Memberikan kepada klien. 4. menentukan apakah perlu dilakukan pendidikan kesehatan atau tidak. 3. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD tanda serta gejala DM. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 4. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 85 . 3.sering kambuhnya penyakit. 2.

2. paham dan mampu 86 . Mendiskusikan pada lansia dan P: Intervensi dilanjutkan. 1. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 3. klien Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 7 Oktober 2011 1.  Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat Tanggal dapat 7 Oktober 2011 dengan Implementasi Evaluasi 1. 2. teratasi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. faktor penyebab dari penyakit saluran pernapasan dan jantung A: Masalah belum serta tanda dan gejalanya. Menjelaskan pada lansia dan keluarga tentang pengertian dari O: Klien tampak penyakit saluran pernapasan dan paham dan mampu jantung. pernapasan dan jantung. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan.CATATAN PERKEMBANGAN No. tentang pencegahan pengobatan penyakit. Menggali pengetahuan keluarga S: Klien mengatakan tentang penyakit saluran akan mencoba apa yang telah dijelaskan. Menjelaskan pada lansia tentang telah dijelaskan. mengulangi apa yang 3.

 Klien mencegah kambuhnya penyakit dapat dapat dengan Tanggal 13 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. hangat pada sendi yang sakit. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. A: Masalah belum penderita DM. P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien agar O: Klien tampak banyak mengkonsumsi air putih segar dan sehat. No.mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD 3. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 5. 1. 4. 3. 2. kaki diabetes. Menganjurkan klien pergi ke 87 . Menganjurkan tindakan non Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi dilanjutkan. meningkatkan rasa nyeri. dan makan makanan yang tidak mengandung purin. A: Masalah teratasi. Diagnosa Gangguan pola nafas Tujuan  Klien bernafas nyaman. 4. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk namun sesak masih mengurangi aktivitas yang dapat ada.

Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. 88 . paham dan mampu 3. A: Masalah teratasi. penderita DM. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkonrolan KGD 13 Oktober 2011 1. dihentikan. 4. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya.pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi.

Suku g. Pendidikan h. N : Medan/ 31-12-1951 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. N 89 . IDENTITAS a. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. II. menantu dan 2 orang cucu. Jenis kelamin d. Tempat/tanggal lahir c. Status perkawinan e. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Agama f. Pekerjaan i. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. Alamat : Ny.Kasus III KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Nama b.

Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. Riwayat Sehari-hari a. Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena mengidap kanker payudara V. Penyakit yang pernah diderita : Ca mamae 2. Penyebab 3. Timbul keluhan secara 4. 90 . b.Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Mulainya kapan 3. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. klien merasa bahwa dirinya sehat. Keluhan utama lansia 2.

00 WIB dan bangun pukul 05. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi. sayur dan lauk pauk. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Klien tidur biasanya jam 23. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. h. f. mencuci dan menyetrika. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. g. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 91 . e. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus.00 WIB. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. d. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia.c. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur. VI. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. VIII.

penciuman klien tidak terganggu. IX. HR: 76x/ menit. RR: 20x/ menit. tidak ada tanda tanda pembesaran uvula. Hidung : Bentuk hidung anatomis. irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas. kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus.capillary refill < 2 dtk. gigi klien sudah tidak ada lagi. klien masih mengenal bau-bauan. Mulut/ Tenggorokan : Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis. Pola BAB 1x/ hari. Telinga : Telinga simetris kiri dan kanan. bentuk mata simetris kiri dan kanan. lubang hidung simetris kiri dan kanan.Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Pernafasan : Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. pola nafas reguler. Kardiovaskuler : Nadi 76x/ menit. Abdomen : Bentuk soepel. BAK 5-7 kali/ hari. tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan. tidak ada tanda-tanda ascites. klien masih dapat mendengar dengan jelas. Eleminasi : Tidak ada gangguan pola eliminasi. tidak terdapat retensi urin ataupun 92 . tidak ada nyeri ulu hati. Temp: 360C Kepala Mata : Bentuk bulat. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya. peristaltik (+). kedua telinga bersih kiri dan kanan. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Tanda Vital : Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg. dan anatomis dan warna rambut putih.

klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. Kulit : Kulit klien tampak keriput. RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. KGD : 186 mg/dl XI. X. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan.inkontinensia. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. 93 . Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal.

5 mg/dl (normal pada wanita : 3 . Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri.ANALISA DATA No 1. mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7.6 mg/dl) 2. lemas. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi 94 . wajah meringis saat sendi digerakkan.

RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1. Anjurkan klien agar 3. 2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien pergi ke 5. terkontrol/ 1. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Anjurkan klien untuk 2.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. selama fase akut. Anjurkan tindakan non 4. Pemberian pelayanan kesehatan jika menurunkan analgetik nyeri 95 dapat yang . Minimalkan stimulasi/ tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Anjurkan klien untuk 1.

Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. 4. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 1.nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. muncul rangsang simpatis. 3. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 96 . mengetahui 1. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 3. 2. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. serta menurunkan saraf system 2. 2. 4. Memberikan kepada klien.

akan mencoba apa 97 . Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. paham dan mampu 3. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. 2. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. 1.CATATAN PERKEMBANGAN No. 2. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan Klien mengetahui perawatan dan 7 Oktober 2011 1. 4. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. Menganjurkan tindakan non teratasi.

P: Intervensi dilanjutkan. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat.dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. kaki diabetes. Mengajarkan klien terapi senam teratasi. paham dan mampu 3. makanan mengandung purin. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. A: Masalah belum penderita DM. Menjelaskan kepada klien yang telah dijelaskan. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 14 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. 4. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pengkonrolan KGD 2. 2. 1. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut. No. O: Klien tampak 3. 98 .

Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. 2. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. penderita DM. dihentikan. 99 . Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. A: Masalah teratasi. 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. 2. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. paham dan mampu 3. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 14 Oktober 2011 1.4. hangat pada sendi yang sakit 5.

Tempat/tanggal lahir c. Pendidikan h. Alamat : Ny.Kasus IV KEPERAWATAN GERONTIK Tanggal pengkajian : 1 Oktober 2011 I. Klien tinggal serumah dengan seorang anak. II. L : Medan/ 31-12-1950 : Perempuan : Kawin : Islam : Melayu : SD : IRT : Jln. Agama f. Suku g. IDENTITAS a. Nama b. menantu dan 2 orang cucu. Brigjend Katamso Komposisi Keluarga: Klien merupakan anak kedua dari 4 bersaudara. L 100 . Pekerjaan i. Jenis kelamin d. RIWAYAT KELUARGA Genogram Ny. Status perkawinan e.

Keterangan: : Laki-laki : Perempuan : Klien : Meninggal (laki-laki ) : Meningggal (perempuan) : Tinggal serumah III. Penyebab 3. sedangkan sakit menurut klien ketika seseorang tidak mampu lagi bangkit dari tempat tidur dan menderita sakit yang parah. Keluhan utama lansia 2. Riwayat Sehari-hari a. Persepsi lansia terhadap sehat sakit: Klien mengatakan bahwa sehat adalah sehat secara jasmani dan ketika seseorang terbebas dari berbagai penyakit. Kemampuan lansia yang dapat dilakukan untuk meringankan penyakitnya: Mengoleskan balsem di daerah yang sakit dan minum obat IV. 101 . Bagaimana tindakan medisnya : Klien pernah diopname karena DM V. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI 1. Faktor yang memperberat : Kaki kebas-kebas : Klien memiliki penyakit reumatik : Periodik (kadang-kadang) : Berdiri dan berjalan lama 5. Mulainya kapan 3. Kebiasaan (merokok/minum kopi/alkohol/dll): Klien memiliki kebiasaan minum kopi pagi hari. Penyakit yang pernah diderita : DM 2. Bagaimana pengobatannya : 15 tahun yang lalu : Klien rutin minum obat dan periksa ke dokter 4. Timbul keluhan secara 4. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU 1. b. klien merasa bahwa dirinya sehat.

namun klien tidak susah untuk kembali tidur lagi. d. VIII. namun klien sering terbangun karena ingin BAK dan haus. Kemampuan melakukan aktivitas: Dalam melakukan aktivitas sehari hari klien masih sanggup melakukan sendiri tanpa bantuan dari keluarganya misalnya membersihkan rumah dan halaman. RIWAYAT SOSIAL EKONOMI Aspek sosial ekonomi lansia: Klien hanya seorang ibu rumah tangga sehingga ekonominya bergantung kepada suami yang berjualan dan kiriman uang dari anak-anaknya. klien menganggap membersihkan rumah sebagai olah raga. senang dan terhibur untuk bercerita VII. Klien tidur biasanya jam 23. f. h. Kebiasaan berolahraga: Klien tidak pernah berolahraga secara khusus. Pola eliminasi: Tidak ada gangguan. VI. RIWAYAT SPIRITUAL Aspek spiritual lansia: 102 . g.00 WIB. Rekreasi Klien merasa terhibur dengan menonton televisi dan berkumpul dengan keluarga. Pola nutrisi : Klien mengatakan bahwa ia makan 3x/ hari dengan komposisi nasi.c. klien BAB 1 x sehari dan BAK klien tidak ada kelainan yakni 5-7 x sehari. e. RIWAYAT PSIKOLOGI Aspek psikologi lansia: Keadaan emosi klien stabil. sayur dan lauk pauk. klien tidak merasa terganggu dengan kehadiran perawat. mencuci dan menyetrika. Pola istirahat/tidur: Klien mengatakan ia tidak memiliki masalah dalam tidur.00 WIB dan bangun pukul 05. klien tidak mengalami konstipasi ataupun inkontinensia. klien tampak tenang dan kooperatif saat berkomunikasi dengan perawat.

Klien rajin sholat 5 waktu dan mengikuti pengajian yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. IX. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum Tanda Vital

: Kesadaran compos mentis : TD : 120/80 mmHg, RR: 20x/ menit, HR: 76x/ menit, Temp: 360C

Kepala Mata

: Bentuk bulat, dan anatomis dan warna rambut putih. : Tidak di jumpai adanya tanda-tanda anemis ataupun ikterus, kemampuan membaca sudah berkurang dan sudah mengalami rabun dekat, bentuk mata simetris kiri dan kanan.

Telinga

: Telinga simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, kedua telinga bersih kiri dan kanan. Klien tidak mempunyai masalah dengan pendengarannya, klien masih dapat mendengar dengan jelas.

Hidung

: Bentuk hidung anatomis, lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak ada tanda tanda perdarahan maupun peradangan, penciuman klien tidak terganggu, klien masih mengenal bau-bauan.

Mulut/ Tenggorokan

: Tidak dijumpai peradangan ataupun stomatitis, gigi klien sudah tidak ada lagi, tidak ada tanda tanda pembesaran uvula.

Pernafasan

: Suara nafas vesikuler dengan frekwensi 20x/ menit, pola nafas reguler.

Kardiovaskuler

: Nadi 76x/ menit, irama teratur dan tidak dijumpai adanya edema pada kedua ekstrimitas,capillary refill < 2 dtk.

Abdomen

: Bentuk soepel, tidak ada tanda-tanda ascites, tidak ada nyeri ulu hati, peristaltik (+).

Eleminasi

: Tidak ada gangguan pola eliminasi. Pola BAB 1x/ hari, BAK 5-7 kali/ hari, tidak terdapat retensi urin ataupun 103

inkontinensia. Neurologis Muskuloskletal : Klien tidak mengalami paralisis atau perese : Klien mampu melakukan rentang gerak aktif pada kedua ekstremitas kiri dan kanan secara optimal. Kedua ekstremitas simetris kiri dan kanan. Tidak ada

pembengkakan pada kedua ekstremitas kiri dan kanan, tidak ada kiposis dan tidak ada paralisis. Terkadang klien merasa kebas pada kakinya. Kulit : Kulit klien tampak keriput.

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Klien sering berobat ke klinik dokter. Klien cukup sering dan teratur dalam memeriksakan kesehatannya. KGD : 186 mg/dl

XI.

RIWAYAT TERAPI Bila klien mengalami masalah dalam kesehatan, klien biasanya menemui dokter untuk berobat dan terkadang minum ramuan tradisional.

104

ANALISA DATA No 1. Data DS: Klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. DO : -Klien tampak memegangi lututnya saat akan berdiri, wajah meringis saat sendi digerakkan. -Hasil pemeriksaan asam urat adalah 7,5 mg/dl (normal pada wanita : 3 - 6 mg/dl) 2. DS: Klien mengatakan selama akhirakhir ini mudah merasa lapar, lemas, mengantuk dan kebaskebas pada kaki. DO: Klien memiliki riwayat DM Hasil pemeriksaan KGD : 186 mg/dl (normal KGD random : 40-180 mg/dl) Kurang Pengetahuan Tanda dan gejala DM Riwayat DM Kurang pengetahuan tentang penyakitnya : DM Nyeri/ kebas ↑ Kadar asam urat ↑ Metabolisme otot Etiologi Proses menua Masalah Keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri sendi

105

Membantu banyak mengkonsumsi air putih dan makan makanan yang tidak mengandung purin 4. selama fase akut. klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Meningkatkan relaksasi dan Farmakoterapi seperti kenyamanan mengekskresikan purin dalam darah kompres hangat pada sendi yang sakit 5. 2. Anjurkan klien pergi ke 8. tirah baring atau istirahat meningkatkan relaksasi. Tujuan Intervensi Rasional Minimalkan stimulasi/ terkontrol/ 1.RENCANA KEPERAWATAN No 1. Pemberian pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ menurunkan muncul serta analgetik nyeri dapat yang menurunkan 106 . Anjurkan tindakan non 7.Menurunkan tekanan pada sendi mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri 3. Anjurkan klien untuk 1. Anjurkan klien agar 6. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan Nyeri dengan peradangan pada sendi ditandai dengan berkurang. Anjurkan klien untuk 2.

2.hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Memberikan kepada klien. 8. Kaji pengetahuan klien dan mengenai penyakitnya. 7. Jelaskan kepada klien pola hidup dan makan sehat bagi penderita DM. Mengidentifikasi pengetahuan penyakitnya menentukan dilakukan apakah klien akan untuk perlu klien pengkonrolan KGD mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD pendidikan kesehatan atau tidak. Pengetahuan yang baik dan benar akan penyakitnya akan memotivasi klien untuk mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih baik. Jelaskan kepada klien pengertian dan tanda serta gejala DM. Ajarkan klien terapi senam kaki diabetes. 5. rangsang simpatis. mengetahui 1. 4. system saraf 2. Memberikan nonfarmakologi menurunkan KGD alternatif untuk pengetahuan 107 . Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM Klien berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai perawatan dengan sering kambuhnya penyakit. 3. 6.

2. 1. Menganjurkan klien untuk yang telah dijelaskan. Menganjurkan klien pergi ke dilanjutkan. Kurang pengetahuan mengenai Klien mengetahui 7 Oktober 2011 1. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan 108 . paham dan mampu 3. 2. tidak A: Masalah belum makanan mengandung purin. Farmakoterapi seperti kompres P: Intervensi hangat pada sendi yang sakit 5.CATATAN PERKEMBANGAN No. Menganjurkan tindakan non teratasi. mengurangi aktivitas yang dapat O: Klien tampak meningkatkan rasa nyeri. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 7 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menganjurkan klien agar banyak mengulangi apa yang mengkonsumsi makan air putih yang dan telah dijelaskan. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase akan mencoba apa akut. 4.

A: Masalah belum penderita DM. Menjelaskan kepada akan mencoba apa klien yang telah dijelaskan. mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan rasa nyeri. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. 2. kaki diabetes. Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan peradangan pada sendi ditandai dengan klien mengatakan sering merasa sakit pada sendi terutama pada pergelangan kaki dan lutut. 2. makanan 109 . Mengajarkan klien terapi senam teratasi. mengkonsumsi makan air putih yang dan tidak A: Masalah teratasi. P: Intervensi dilanjutkan. 4. paham dan mampu 3.penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit. Menganjurkan klien yang telah dijelaskan untuk dan kebas berkurang. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. No. 1. Tujuan Nyeri terkontrol/ berkurang Tanggal 15 Oktober 2011 Implementasi Evaluasi 1. Menganjurkan klien agar banyak segar dan sehat. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD perawatan dan pengkonrolan KGD mengenai penyakitnya. O: Klien tampak 3. Menganjurkan klien untuk tirah S: Klien mengatakan baring atau istirahat selama fase sudah mencoba apa akut.

Menjelaskan kepada sudah mencoba apa klien yang telah dijelaskan. Menganjurkan tindakan non P: Intervensi Farmakoterapi seperti kompres dilanjutkan. paham dan mampu 3. 110 . 2. Menganjurkan klien pergi ke pelayanan kesehatan jika nyeri semakin bertambah/ hebat untuk mendapatkan terapi farmakologi. Menjelaskan kepada klien pola mengulangi apa yang hidup dan makan sehat bagi telah dijelaskan. 2. penderita DM. Mengajarkan klien terapi senam P: Intervensi kaki diabetes. hangat pada sendi yang sakit 5. Kurang pengetahuan mengenai penyakit DM berhubungan dengan adanya riwayat DM ditandai dengan sering kambuhnya penyakit.mengandung purin. 4. dihentikan. pengertian dan tanda serta gejala O: Klien tampak DM. A: Masalah teratasi. Mengkaji pengetahuan klien S: Klien mengatakan mengenai penyakitnya. 4. klien mengatakan tidak mengetahui cara perawatan dan pengkontrolan KGD Klien mengetahui perawatan dan pengkontrolan KGD 15 Oktober 2011 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful