ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO SYARIAH
(Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah)

OLEH SHOLIKHA OKTAVI K. H14050914

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

RINGKASAN

SHOLIKHA OKTAVI K. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah). Dibimbing oleh BUNASOR SANIM.

Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen, sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen. Saat ini perbankan syariah mengelola aset sebesar Rp 47.2 trilyun atau dengan share sebesar 2.05 persen dari total aset perbankan nasional (November 2008). Perkembangan perbankan syariah seiring dengan berkembangnya lembaga keuangan mikro yang mempunyai peran yang sangat besar bagi kelangsungan usaha kecil di Indonesia. Seperti yang diketahui, usaha kecil di Indonesia selalu terkendala masalah modal karena itulah peran lembaga keuangan mikro dibutuhkan. KJKS BMT BUS Lasem merupakan salah satu lembaga keuangan mikro yang telah lama berdiri. Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan efektivitas penyaluran pembiayaannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh KJKS BMT BUS Lasem dalam mendukung sektor usaha kecil khususnya perdagangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, untuk menilai keefektifan pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS. Sampel dari penelitian ini diambil dari usaha kecil khususnya di bidang perdagangan sebanyak 40 responden/ anggota yang melakukan pembiayaan di KJKS BMT BUS. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Semua data yang diperoleh diolah dengan menggunakan software eviews 4.1. Metode analisis yang digunakan yaitu: (1) regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan dampak pembiayaan, (2) deskriptif untuk melihat keefektifan pembiayaan berdasarkan penilaian anggota responden. Variabel yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) adalah biaya peminjaman (BC), pendapatan usaha (SB), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), tingkat pendidikan (DP), jenis usaha (DU), ada tidaknya agunan (DA). Hasil penelitian ini menunjukkan variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan adalah biaya peminjaman, jangka waktu angsuran, dan adanya agunan. Variabel yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman yaitu sebesar 1.09 persen. Akan tetapi, pendapatan usaha (SB) tidak signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan. Hal ini disebabkan oleh

kebutuhan anggota yang sangat besar sehingga dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha anggota tidak terasa pengaruhnya. Efektivitas pembiayaan dinilai dengan melihat tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan dan dengan melihat dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha. Dari tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan, pembiayaan usaha kecil di KJKS BMT BUS tergolong cukup efektif. Akan tetapi, dinilai dari dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha, tujuan pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan dapat diartikan bahwa peranan pembiayaan belum menunjukkan pengaruh yang besar dalam meningkatkan pendapatan usaha anggota. Pengaruh yang rendah ini menunjukkan efektivitas pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Implikasi kebijakan yang seharusnya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi, jangka waktu angsuran, dan ada tidaknya agunan. Selain itu, KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan kelangsungan usaha kecil khususnya mengenai pendapatan usaha yaitu dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama dengan BMT. Keterbatasan penelitian ini terlihat pada sedikitnya variabel yang signifikan pada persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, bidang yang diteliti dalam penelitian ini juga hanya bidang perdagangan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti dengan jumlah sampel yang lebih besar. Diharapkan juga penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauhmana alokasi pemanfaatan pembiayaan oleh responden.

H14050914 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 . Jawa Tengah) OLEH SHOLIKHA OKTAVI K.ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. Lasem.

: H14050914 : Ilmu Ekonomi : Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Pembiayaan Usaha Kecil dan Efektivitas pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera Lasem. Ir. 19641023 198903 2 002 Tanggal Kelulusan : . Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Jawa Tengah) dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Bunasor Sanim. 19451216 196902 1 001 Mengetahui. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. M. Menyetujui. Nama Mahasiswa Nomor Register Pokok Program Studi Judul Skripsi : Sholikha Oktavi K. Ir. Rina Oktaviani. Dr. Dr.Sc NIP. Institut Pertanian Bogor. Dosen Pembimbing. Prof. MS NIP.

H14050914 . Agustus 2009 Sholikha Oktavi K.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor.

serta aktif menjadi asisten dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Selain aktif di berbagai organisasi.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Sholikha Oktavi Khalifaturofi’ah lahir pada tanggal 09 Oktober 1987 di Sragen. . penulis juga aktif di berbagai kepanitiaan. penulis aktif di beberapa organisasi seperti IKMT (Ikatan Keluarga Muslim TPB) (2005-2006). SES-C (Sharia Economics Student Club) IPB (2006-2007). Pada tahun 2005 penulis mengikuti seleksi USMI di IPB dan akhirnya diterima. Penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Rembang dan lulus pada tahun 2005. Selama menjadi mahasiswa. kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Rembang dan lulus pada tahun 2002. dari pasangan Jumanto dan Rufi’ah. Penulis adalah putri pertama dari empat bersaudara. sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Jenjang pendidikan penulis lalui tanpa hambatan. Penulis menamatkan sekolah dasar pada SDN Soditan 1 Lasem. FORMASI (Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam) FEM IPB (2006-2008).

Ir. masukan. adik-adik penulis yaitu dik Furqon. 3.Sc selaku dosen pembimbing atas waktu. Jaenal Effendi. Robbul Izzati yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini sehingga penyusunan skripsi ini dapat tepat waktu. segala puji hanya untuk Allah. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Jawa Tengah)”. . Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurah pada Rasulullah SAW. Dr. dik Izza.KATA PENGANTAR Alhamdulillah. Prof. Inti dari skripsi ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengambilan pembiayaan anggota dan pembuktian seberapa efektif pembiayaan usaha kecil yang dilakukan oleh lembaga keuangan mikro syariah. dik Uma yang selalu dapat menghibur di saat gundah. M.Si selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan masukan dalam perbaikan tata bahasan dan penulisan untuk penyempurnaan skripsi ini. Lasem. saran. MA selaku dosen penguji utama atas segala masukan. arahan selama bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. penelitian ini secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kinerja KJKS BMT BUS Lasem terhadap kelangsungan usaha kecil. M. yaitu: 1. dan arahan yang sangat bermanfaat untuk penyempurnaan skripsi ini. 2. Umi dan Abi. Widyastutik. Oleh karena itu. kesabaran. Bunasor Sanim. Sebagaimana diketahui bahwa kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. Orang Tua tercinta penulis yang tak henti-hentinya mensupport penulis. 4.

Wina. Pihak KJKS BMT BUS Lasem yaitu pak Yenny dan pak Agus yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam pencarian data. Gerry. Heni. Agustus 2009 Sholikha Oktavi K. bantuan. Teman bimbingan penulis. Saudara-saudara penulis. Demy. Diana. Serta teman-teman IE 42 lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Atika. Maryam. Nazrul. Mbak dedeh. Lela. Fiya. Veni. semangat. Tias Arum. Rifi. dll. Wiji. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan. mbak Riana. H14050914 . Nada. Uci. Ayiz. Terima kasih atas doa. sharing. rekan-rekan penulis di FEM (Fuji. Triyanti. 7. dll). terima kasih atas segala bantuannya. Eti. Sahabat-sahabat penulis di IE 42. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi para civitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Listiana. Fitri. Echa. Dina). Teman-teman di kosan Tiara tercinta yang sudah memberikan semangat untuk terus maju dan tidak menyerah (Riyant. Bogor. serta keceriaan selama proses menuju “impian”. Ryza. teman-teman di Alfarabi (Siti. Putri. Mbak Risma. Lala. dan Arie) terima kasih atas segala bantuannya saat penulis sakit.5. Anis. Mbak Ade. Syelvia. Iqbal. 6. 8.

..... ................ Metode Pengambilan Sampel ..1............... Tujuan Penelitian................................................... ................ ............ .....16 2.....9 2................. .............28 4...................1...... Jenis dan Sumber Data..3............ 17 2................2...............1......................................2............. Metode Pengumpulan Data......................... ...2.................5............1................ .7 1............. Metode Pengolahan dan Analisis Data.......................1.1................ .................................................... Penelitian Terdahulu..... Efektivitas Pembiayaan..................................................... ..9 2...3.................. Latar Belakang........... 30 4..........3............................................. Sistem Pembiayaan Bank Syariah....................................1 1.. ...................................1................................................4.................... 27 3.............. .......................... ..11 2...................1...................................1....6 1............... 28 4.................................................................... Baitul Maal wat Tamwil (BMT)......... KERANGKA PEMIKIRAN........................................ Kerangka Pemikiran Teoritis......................................................................... 29 4......................... ........................1.....1..9 2.........................vi I.....................2....... 25 3..................... ............... ................ Usaha Kecil dan Mikro............. Manfaat Penelitian.. Kerangka Pemikiran Operasional..........25 3.............. .... METODE PENELITIAN... Rumusan Masalah....................... ...............20 III................... Lokasi dan Waktu Penelitian.................iv DAFTAR GAMBAR.. .... PENDAHULUAN............. ............................. TINJAUAN PUSTAKA...........1 1...........5............ ............27 IV..............19 2............................. ......... .................... v DAFTAR LAMPIRAN.4...2.........7 1................................................................... Hipotesis Penelitian.....i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................... Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya ......3....................... Tinjauan Teori...........................................1............ ...... ..................1................. Ruang Lingkup Penelitian................... .....28 4.......8 II..31 ...............................................................2.......................................

....2................. Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem...... Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem.........42 5....................................2.....5..... Definisi Operasional........5...............5.................42 5...................6....................2...........1.......... .1.... ............ Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem..... 38 4...54 6............................ .... ...........5............ Prosedur Pencairan Pembiayaan. ...32 4.... 59 6....5...35 4.......2....... 59 6................... .................2. .........3.1...............45 5................ Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan........1.5.. Analisis Statistik.........................2.................................. Uji Koefisien Determinasi (R2)................. Analisis Deskriptif........................... Uji F untuk Model Secara Keseluruhan........2. Analisis Efektivitas Pembiayaan....1... ...... Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem......... Prosedur Pengajuan Pembiayaan...35 4........... 63 6. 54 6......... Dampak Pembiayaan terhadap Keuntungan Usaha............. ........1....44 5........66 6....................... 39 4...2..........2...............4......3.........71 .5.......................... GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM. 59 6......2. .......ii 4................. .... ...69 6.........................52 VI....1...1.......................1..36 4.......40 V.............1............................ Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem...2......... Dampak Pembiayaan terhadap Pendapatan Usaha.....5..4................ HASIL DAN PEMBAHASAN.....2............................................. ................................. Uji t untuk Koefisien Model Regresi....... 66 6.....6.. 38 4. ................ Prosedur Pengembalian Pembiayaan.........5............ Uji Multikolinearitas.......2............. ..........................48 5....... Uji Heteroskedastisitas..3............1.......1.2..... Uji Autokorelasi........... 61 6.... ..2....... ..... ...............1....................... Indikator Kesehatan KJKS BMT BUS Lasem.3...........................5..............6................1....... Implikasi Kebijakan.......37 4...................42 5..... Dampak Pembiayaan..1..1.......... Prosedur Pembiayaan......... ..........2............ ......... ...........................

.................................................................................................. ............ 73 7........1...... ............................................ ......................... Kesimpulan................ 75 LAMPIRAN..................................................... 74 DAFTAR PUSTAKA........... ......... 73 7........................iii VII................................................ KESIMPULAN DAN SARAN...... Saran..........77 .............................. ...........................2.................

....... Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem.................. Menengah.................................5..3................70 ....2.. .................... Jenis dan Sumber Data............. dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha tahun 2003-2006..............3 1............... Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS... 60 6........1.... Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU...........22 4...... . ........ Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS.1..............5 2. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS..................29 5............. 64 6.1..................... ................... Kontribusi Usaha Kecil............ Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008-Miliar Rupiah) .67 6.........2......iv DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1......4...6......................... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan di KJKS BMT BUS.......52 6.............. Penelitian Terdahulu.1................................55 6. Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB....... ........... 62 6...... ...1... ..

.........50 ........................ Skema Al-Musyarakah.......... . ...... 27 5.................... Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS............................1.14 2........13 2...................1............................. .......................................1......................15 3.....................................3...........10 2. 45 5. ....................2 2...... ...................................4....... ............. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS........2.......... Skema Ba’i Al-Murabahah........................3.........................................2.......................... Proses Seleksi Pembiayaan.......v DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1.................1...................... Jenis-Jenis Pembiayaan..................................... Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008)........................ Kerangka Pemikiran Operasional.... Skema Al-Mudlorobah......... ................. .....49 5....................... .........

...................... Kuesioner Penelitian......... 95 ... Data Besarnya Pembiayaan yang Diambil Responden.................................. 84 4..... ........... ......... Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem....... ........................................ ... ........... Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha............ 93 9........... .. . 86 6.. 83 3........................... 91 8....... Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha....... ............................ ................ 85 5.... Data Identitas Responden..78 2..89 7........vi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1........ 94 10................. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem......................... Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem....................................... Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan. Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem......................................

Berdasarkan Gambar 1. Industri perbankan syariah pada saat ini telah menyalurkan pembiayaan sebesar 38 triliun rupiah atau sekitar 3 persen dari total pembiayaan .05 persen dari total aset perbankan nasional. Begitu juga perbandingan antara Financing to Deposite Ratio (FDR) perbankan syariah dan Loan to Deposite Ratio (LDR) perbankan konvensional. diketahui bahwa pertumbuhan aset perbankan syariah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Perbankan syariah sekitar 105 persen. pertumbuhan bank syariah 74 persen setahun dan pada tahun 2003 sebesar 70 persen setahun. sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen (Rizky. 2007).74 persen setahun. pertumbuhan aset. perbankan syariah mengelola aset sebesar 47. 2008). pertumbuhan sumber dana dan pertumbuhan aset produktif. Pertumbuhan perbankan syariah tersebut cukup menggembirakan. Hal ini berarti tingkat intermediasi perbankan syariah jauh lebih tinggi dari perbankan konvensional (Agustianto. Latar Belakang Perkembangan bank syariah dimulai sejak tahun 1992.1.1 I. PENDAHULUAN 1. Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen. Pertumbuhan aset perbankan syariah jauh melampaui pertumbuhan aset pada perbankan konvensional. Pada bulan November 2008. Pada tahun 2000- 2003 pertumbuhan bank syariah di Indonesia meningkat mencapai 54 persen . yaitu pertumbuhan kelembagaan.1. sedangkan perbankan konvensional masih 54 persen (Desember 2003)..2 triliun rupiah atau dengan share sebesar 2. Pada tahun 2002.

Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008) Pangsa perbankan syariah terhadap total bank masih relatif kecil. 2008. Akan tetapi. Akan tetapi. share total aset perbankan syariah terhadap total perbankan yang masih kecil menyebabkan perbankan syariah harus meningkatkan . Gambar 1. namun terus meningkat. Dengan kata lain.1. Statistik Perbankan Syariah. kredit bermasalah terlihat lebih kecil. Sementara rasio pembiayaan perbankan syariah mencapai di atas 100 persen (sekitar 103. yang paling menarik adalah pangsa perbankan syariah terhadap kredit atau pembiayaan yang diberikan lebih besar daripada pangsanya terhadap aset. Selain itu.64 persen) (Bank Indonesia. fungsi intermediasi perbankan dapat lebih efektif dijalankan oleh perbankan syariah. 2008). Sumber: Bank Indonesia.2 yang diberikan (PYD) dengan total kantor layanan sebanyak 1470 kantor.

60 NPFs/NPLs (%) 3.7 Keterangan : FDR=Financing to Depocit Ratio LDR=Loan to Deposit Ratio NPFs=Non Performing Financings NPLs=Non Performing Loans Sumber : Bank Indonesia. . Selain unit simpan pinjam.362 DPK 34. yang dijalankan berdasarkan syariat Islam. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan modal yang dibutuhkan oleh usaha kecil yang kebanyakan merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. perikanan.325. 2006). Salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang memberikan pembiayaan kepada usaha mikro dan kecil adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT).3 sharenya. Tabel 1.707. BMT berintikan dua kegiatan usaha yang mencakup Baitul Maal dan Baitul Tamwil. Hal tersebut masih dapat tercapai mengingat selama ini pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah cukup pesat.91 1.303.1.05 2. 2008. Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008) (Miliar Rupiah) Perbankan Syariah Total Bank Nominal Share (pangsa) (%) Total Aset 47. BMT ialah lembaga ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi rakyat bawah dan kecil. Hal ini tidak terlepas dari perannya dalam hal penyaluran dana (khususnya pada sektor UKM (Usaha Kecil dan Mikro)). peternakan.93 77.323 FDR/LDR (%) 111.02 1.876 Kredit/Pembiayaan 38. Statistik Perbankan Syariah.95 7. seperti toko serba ada.179 2.422 2. Pertumbuhan perbankan syariah ternyata seiring dengan pertumbuhan lembaga keuangan mikro (Aryati. BMT juga bisa secara langsung bergerak di bidang usaha sektor riil.529 2.

hotel. Tidak sedikit BMT yang mengelola aset di atas 10 miliar rupiah dengan jumlah nasabah di atas 3. LKM hanya mampu melayani 2. Jika dari kontribusinya. hampir separuh dari LKM nasional adalah BMT.307 unit dengan aset sekitar 1. Secara individual. leveransir. kontraktor dan sebagainya. Artinya. ekspor impor. Berdasarkan kajian Kantor Mennegkop dan UKM. dan Mikro) dan hanya menyediakan dana sekitar 6 persen dari kebutuhan pembiayaan UMKM. Jumlah lembaga keuangan mikro (LKM) saat ini diduga sekitar 9000 LKM. Sebagian besar BMT berbadan hukum koperasi. Jumlah BMT di seluruh Indonesia diperkirakan sebayak 3. Mengingat kotribusi UKM yang sangat besar inilah maka kebutuhan permodalan .5 juta dari 39 juta entitas UMKM (Usaha Menengah. meskipun juga banyak BMT yang asetnya kurang dari 50 juta rupiah dan nasabahnya kurang dari 500-an orang.99 persen terhadap total unit usaha di Indonesia. Kecil. Oleh karena itu.8 juta unit usaha atau 99.000 ribuan orang. Dengan melihat kondisi ini diperkirakan masih diperlukan sekitar 8000 unit LKM baru.5 triliun rupiah. BMT sangat bervariasi terkait dengan aset yang dikelola. Secara sektoral aktivitas UKM ini didominasi oleh sektor pertanian. sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. UKM memegang posisi yang terbesar yaitu sekitar 53. dan restoran. perdagangan.4 jasa wartel. Menurut data Menteri Negara Koperasi tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah populasi Usaha Kecil Mikro (UKM) pada tahun 2007 mencapai 49. BMT tidak mempunyai peluang untuk menyalurkan pinjaman kepada nonanggota. bangunan. 9 Tahun 1995. Peran BMT cukup besar untuk mendorong perkembangan usaha kecil dan mikro.6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

9 7. sektor usaha mikro dan kecil memang merupakan wilayah yang dapat dicapai oleh BMT. dan Jasa Jasa-jasa PDB PDB tanpa migas Usaha Kecil 87. Gas.7 38. sebagian besar LKM beroperasi dalam wilayah yang terbatas. dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2003-2006 (persen) Rata-rata tahun 2003-2006 Usaha Usaha Jumlah Menengah Besar 8. Kontribusi Usaha Kecil.9 36.6 75. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri pengolahan Listrik.9 17.8 20.2. Kondisi ini memungkinkan BMT lebih banyak mendorong perkembangan usaha mikro dan kecil. Hotel.0 39.2 13. Selain itu.8 24. Diharapkan dengan adanya pembiayaan dari BMT. Hal ini disebabkan oleh layanan keuangan syariah BMT yang mudah diakses berbagai pelaku bisnis usaha mikro dan kecil yang unbankable.8 43.9 15.3 39.7 33.2 46. dan Air Bangunan Perdagangan.3 8. Tabel 1.4 45. Oleh karena itu. atau pada ceruk pasar (market niche) tertentu dimana dimungkinkan untuk mengenal peminjam secara pribadi (Ghate. Selain itu.9 7. Menengah. 1988 dalam Arsyad.3 100 100 100 100 100 100 100 100 100 No.6 100 11.7 21.3 75. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.5 29.1 52.1 0.1 Sumber: Badan Pusat Statistik dan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.5 bagi pengusaha kecil dan mikropun harus terpenuhi untuk kelangsungan usahanya. Sewa. usaha kecil dan mikro dapat terbantu dan berkembang. 2007.9 17.7 4.9 3.0 91. pembiayaan dari BMT .0 100 3. 2008).7 45.3 88.5 44.

adanya tabungan yang memfasilitasi masyarakat menginvestasikan uangnya untuk penggunaan dalam jangka panjang. Akan tetapi. Adanya keterbatasan modal yang dialami oleh usaha mikro dan kecil merupakan sebuah tantangan besar yang harus ditangani oleh BMT. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) khususnya BMT sangat penting untuk masyarakat miskin. Kedua. Ketiga. LKM membantu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat miskin untuk terus berusaha karena LKM dapat melayani usaha yang unbankable. Rumusan Masalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) adalah suatu gerakan swadaya masyarakat di bidang ekonomi yang sejak awal kehadirannya fokus untuk melayani kebutuhan finansial usaha mikro dan kecil. terdapat tiga alasan mengapa LKM penting bagi masyarakat miskin. Menurut Robinson (2000). 1. BMT juga yang telah menyelamatkan banyak usaha mikro dan kecil dari cengkraman lintah darat. pembiayaan yang diberikan oleh BMT terhadap usaha kecil ternyata . BMT yang sebagian besar berbadan hukum koperasi mampu mengatasi kendala-kendala yang dimiliki lembaga keuangan formal seperti Bank.2. Oleh karena itu. dibutuhkan pembiayaan yang dilakukan oleh BMT terhadap usaha kecil. adanya kredit (pembiayaan) yang memudahkan masyarakat menggunakannya untuk keperluan usaha.6 juga dapat mengurangi adanya kemiskinan karena pembiayaan BMT berdasarkan prinsip syariah. Pertama. Dimulai sejak tahun 1992 yang merupakan respon atas kemiskinan dan pengangguran serta kurangnya permodalan dan pendampingan terhadap para pengusaha mikro dan kecil.

Faktor-faktor apa yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 2. masyarakat serta akademisi yang mendalami masalah ekonomi yang sering mewarnai negara Indonesia. Membantu memberikan bahan masukan bagi pemerintah untuk perumusan suatu kebijakan bagi pengembangan UMKM khususnya BMT. Kinerja BMT dapat dikatakan baik apabila kinerja setiap bagian pada BMT juga baik khususnya kinerja BMT dalam hal pembiayaan.7 dipengaruhi oleh beberapa hal. . Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu: 1.3. Menganalisis efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem. 2. 1. 1. Manfaat Penelitian Diharapkan melalui penulisan ini. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas dapat diambil tujuan penelitian yaitu untuk: 1. Seberapa efektifkah pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 1.4. dapat memberikan manfaat bagi pemerintah.

Nasabah yang menjadi objek penelitian juga merupakan nasabah yang melakukan proses pembiayaan. 3. Pengambilan nasabah sebagai sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling yaitu dengan cara purposive sampling terhadap 40 nasabah yang menjadi responden. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan usaha kecil pada LKMS dan seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS.5. Dalam penelitian ini hanya akan mengkaji sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil pada LKMS khususnya di bidang perdagangan. Memberi informasi dan masukan bagi lembaga keuangan mikro khususnya KJKS BMT BUS Lasem demi perkembangannya di masa mendatang. Sebagai bahan referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam bidangnya dan untuk pengembangan IPTEKS. Kinerja pembiayaan didasarkan pada efektivitas penyalurannya yang diukur berdasarkan persepsi nasabahnya. Menambah informasi bagi masyarakat mengenai manfaat LKMS bagi usaha kecil. .8 2. 1. 4.

yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Sistem Pembiayaan Bank Syariah Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank. 2.1. yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. yaitu untuk peningkatan usaha. Peningkatan produksi. yaitu: 1. Tinjauan Teori 2. yaitu jumlah hasil produksi.1. baik secara kuantitatif. 2. yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal/capital goods serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan investasi. Pembiayaan investasi. yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan a. Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang. TINJAUAN PUSTAKA 2. baik usaha produksi. b.9 II. Pembiayaan konsumtif. sifat penggunaan pembiayaan dapat dibagi menjadi dua. Menurut Antonio (2001). yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi. Pembiayaan modal kerja. perdagangan maupun investasi. yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit.1. . Pembiayaan produktif. yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas. Menurut keperluannya. pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua: 1. maupun secara kualitatif.

Jenis-Jenis Pembiayaan Menurut Laksmana (2009). b.10 pembiayaan konsumtif Modal kerja Sumber: Antonio. 2. 2001. Pembiayaan dilihat dari segi tujuan a. Pembiayaan dilihat dari jangka waktu a. Pembiayaan produktif : pembiayaan yang dimanfaatkan untuk kegiatan produksi yang menghasilkan suatu barang dan jasa. yaitu: 1. . Pembiayaan perdagangan : pembiayaan yang diberikan untuk pembelian barang sebagai persediaan untuk dijual kembali. Pembiayaan konsumtif : pembiayaan yang diberikan untuk tujuan konsumtif yang hanya dinikmati pemohon.1. c. produktif investasi Gambar 2. Pembiayaan jangka pendek : pembiayaan dengan jangka waktu maksimal satu tahun. b. Pembiayaan jangka menengah : pembiayaan dengan jangka waktu antara 1-3 tahun. jenis-jenis pembiayaan baik di perbankan konvensional maupun di perbankan syariah terbagi menurut tiga macam dilihat dari pembiayaannya.

1. tingkat laba lembaga.1. Pembiayaan dilihat dari penggunaannya a. Oleh karena itu. Adapun operasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan permodalan dan memberikan pembiayaan. melainkan hubungan kemitraan (partnership) antara penyandang dana (shohibul maal) dengan pengelola dana (mudlarib). Pembiayaan jangka panjang : pembiayaan dengan jangka waktu lebih dari tiga tahun. Pembiayaan modal kerja b. 2007). bukan hubungan debitur dengan kreditur. Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya Dalam lembaga keuangan syariah hubungan antara lembaga dan nasabahnya/ anggota. lembaga menggunakan piranti atau perangkat syariah sebagai berikut (Jumanto dkk.1.11 c. 2007) : a. 3. Pembiayaan investasi c. Al Mudlorobah yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak yang terdiri dari pemilik modal (shohibul maal) dengan pengelola (mudlorib) baik . tidak hanya berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil untuk pemegang saham. Sistem Bagi Hasil Dalam sistem bagi hasil ini KJKS BMT Bina Umat Sejahtera menggunakan perangkat syariah yang disebut Al Mudlorobah dan Al Musyarakah (Jumanto dkk. 1. tetapi juga berpengaruh pada bagi hasil yang diberikan kepada nasabah/ anggota penyimpan dana. Pembiayaan multiguna 2.

Adanya kedua belah pihak yaitu shohibul maal dan mudlorib. untuk mengusahakan modalnya dengan mendapat bagian dari sebagian keuntungan (hasil) yang telah disepakati bersama. yaitu ikatan kerja atau kesepakatan bersama antara dua belah pihak dengan ketentuan secara eksplisit menunjukkan tujuan akad dan semua kesepakatan dilakukan saat membuat kontrak. 2002): a. bentuk uang atau barang yang dinilai secara tunai bukan piutang. apabila mendapat keuntungan dibagi untuk kedua belah pihak sesuai dengan bagian masing-masing (nisbah) yang telah . apabila mendapat hasil atau keuntungan. Namun. selama bukan akibat kelalaian pengelola. Keuntungan. c.12 bersifat keuangan atau institusi (lembaga) dengan ketentuan bagi hasil yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada waktu transaksi (akad). Adanya modal dengan ketentuan jelas jumlahnya. Sedangkan jika rugi. d. maka pengelola harus bertanggung jawab atas kelalaian tersebut. Dengan kata lain dalam mudlorobah. ditanggung oleh pemilik modal. Keduanya disyaratkan harus cakap hukum artinya secara hukum pantas melakukan transaksi (akad) tersebut. Ketentuan-ketentuan yang harus ada pada mudlorobah (BMT Network. bukan usaha yang diharamkan. Adanya akad. Usaha hak eksklusif pengelola (mudlorib) dan yang sesuai syariah. b. Adanya usaha. apabila kelalaian tersebut disebabkan oleh pengelola. e. pengelola hanya sebagai wakil (wakalah) dari pemilik modal.

dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. b. dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana. yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. 2007. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan seperti barang-barang . Adanya akad (ikatan kerja sama) antara pihak akad secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak. c. Modal dengan jumlah yang jelas. hal 65. 1. Skema Al Mudlorobah 2. Kesepakatan-kesepakatan dilakukan saat kontrak. Akad mudlorobah Anggota/ calon anggota Usaha/ proyek Skill/usaha Modal KJKS BMT BUS Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan MODAL Sumber: Jumanto dkk. Al Musyarakah atau syirkah.13 disepakati bersama waktu akad. Gambar 2. Sedang apabila ada kerugian karena usaha ditanggung pemilik dana. Negosiasi 2.2. Ketentuan-ketentuan Al Musyarakah: a. Adanya pihak-pihak yang melakukan kontrak dengan syarat cakap hukum bagi yang melakukan kontrak. bentuk uang atau barang yang dinilai.

hal 68. Sistem Jual Beli Sistem jual beli ini dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang. Keuntungan yang didapat oleh lembaga keuangan ditentukan di depan dan menjadi bagian dari harga barang yang dijual. Akad Musyarakah KJKS BMT BUS Anggota/calon anggota kontribusi Usaha/ proyek kontribusi 3. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.14 properti. Negosiasi 4. e. 2007. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. Adanya kerja. Gambar 2. Skema Al Musyarakah b. dalam sistem ini lembaga menggunakan perangkat syariah yang disebut Ba’i murabahah. d. Keuntungan dan kerugian dibagikan secara proporsional sesuai dengan besarnya modal dan kontribusi masing-masing sesuai dengan kesepakatan. f.3. Akad Musyarakah Sumber: Jumanto dkk. Jika modal berbentuk aset harus terlebih dulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra (anggota). Negosiasi 2. . 1. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar musyarakah atas nama pribadi dan wakil mitranya.

bayar 4. Barang yang dijualbelikan tidak barang haram c. terima barang 3. hal 69. Ketentuan umum ba’i murabahah (BMT Network. Anggota membayar harga yang telah disepakati dan dalam waktu yang telah disepakati pula f. Negosiasi 2.15 Ba’i murabahah yaitu jual beli barang dengan menyebutkan harga asal ditambah keuntungan yang disepakati antara kedua belah pihak yaitu antara lembaga dengan anggota. Lembaga keuangan membeli barang atas nama lembaga dengan sah bebas riba d. beli barang Toko/produsen Sumber: Jumanto dkk. Pada prakteknya anggota membeli barang dengan pembayaran angsuran sehingga sistem murabahah dalam KJKS BMT BUS disebut Bai’bitsamanajil (BBA) artinya jual beli dengan pembayaran harga angsuran (tangguh). Akad Ba’i murabahah KJKS BMT BUS Anggota/ calon anggota 5. Lembaga keuangan harus jujur tentang harga pokok pembelian e. Gambar 2.4. 2002): a. Boleh mengadakan perjanjian khusus misalnya meminta jaminan dan lain sebagainya 1. 2007. Skema Ba’i Al Murabahah . Akad atau transaksi bebas dari riba b.

menurut Hidayat (2004) menyatakan bahwa efektif atau tidaknya suatu penyaluran pembiayaan pada BMT dapat dinilai berdasarkan beberapa parameter antara lain: persyaratan peminjaman. Dalam penulisan ini penulis akan lebih sering menuliskan pembiayaan daripada penyaluran dana.1. besar kecilnya biaya administrasi. Peningkatan keuntungan Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah untuk modal atau tambahan modal usaha dikatakan efektif apabila prosedur pembiayaan tergolong mudah. Mekanisme penyaluran pembiayaan c. Mekanisme pengajuan pembiayaan b. Dampak pembiayaan terhadap kondisi usaha nasabah. prosedur peminjaman. Efektivitas Pembiayaan Pembiayaan adalah istilah dalam syariah untuk lembaga keuangan syariah baik itu mikro maupun makro untuk menyalurkan dananya. Peningkatan pendapatan b. Dalam penelitian ini efektivitas pembiayaan dilihat dari: 1. Mekanisme pengembalian pembiayaan 2. pembiayaan yang diberikan dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan . Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif (Arsyad. jaminan/agunan. pengetahuan dan partisipasi nasabah/calon nasabah. yaitu: a. 2008). pelayanan petugas bank. Prosedur pembiayaannya. lokasi bank.1.16 2. yaitu: a. Sedangkan.2. realisasi kredit.

Sedangkan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. Usaha Kecil dan Mikro Definisi usaha kecil dan mikro menurut beberapa undang-undang dan institusi adalah sebagai berikut : 1.00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan. 9 Tahun 1995 Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil dengan kekayaan bersih maksimal Rp 200.06/2003 Usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia yang memiliki hasil penjualan paling banyak 100 juta rupiah per tahun.000. penjualan tahunan maksimal Rp 1. 20 Tahun 2008 Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki aset maksimal 50 juta rupiah dan omset maksimal 300 juta rupiah.2. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. UU No. 40/KMK. 3. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang mempunyai aset lebih dari 50 juta rupiah sampai 500 juta rupiah dan omset lebih dari 300 juta rupiah sampai 2. Analisis keefektifan pembiayaan ini dilakukan untuk menilai sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan KJKS BMT BUS Lasem.1. UU No. 2. dikuasai.000.000.000.00 . Keputusan Menkeu No.000.5 miliar rupiah.17 usaha nasabah. 2.

b.18 (satu miliar rupiah) dan milik Warga Negara Indonesia (WNI) serta berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan. sudah membuat neraca usaha. Usaha mikro mendapatkan kredit mikro hingga 50 juta rupiah. Dalam usaha mikro. 4. Lokasi/ tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindahpindah. Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang mempekerjakan 5 sampai 10 orang. Ciri-ciri usaha kecil. Badan Pusat Statistik (BPS) Usaha mikro adalah usaha yang mempekerjakan lima orang termasuk pekerja keluarga yang tidak dibayar. . Bank Indonesia (BI) Usaha mikro adalah usaha yang dilakukan orang miskin atau hampir miskin yang merupakan milik keluarga dengan sumber daya lokal dan menggunakan teknologi sederhana. c. Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang memiliki aset hingga 200 juta rupiah di luar tanah dan bangunan dengan omset 1 miliar rupiah dan menerima kredit mulai 50 juta rupiah hingga 500 juta rupiah. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana. masyarakat dapat dengan bebas masuk dan keluar dari usaha ini. keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga. 2008) : a. diantaranya (Suharto. Jenis barang/ komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah. 5.

industri meubelair. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwiraswasta. c. b. LKM pada dasarnya memiliki definisi yang sama dari beberapa pakar dan organisasi. Contoh usaha kecil. kayu dan rotan. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah lembaga yang terlibat dalam penyaluran kredit mikro (Wijono. 2. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal. 2005). Pedagang di pasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya. Koperasi berskala kecil. yaitu (Suharto. Peternakan ayam. Sedangkan menurut Arsyad (2008). g.19 d. industri alat-alat rumah tangga. Pengrajin industri makanan dan minuman. e. f. terutama simpanan dan kredit. itik dan perikanan. LKM merujuk keuangan mikro sebagai upaya penyediaan jasa keuangan. d.1. e. 2008) : a. dan juga jasa keuangan lain bagi . industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan. Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja.3. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.

Penelitian Terdahulu Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Kurnialestari (2007) tentang “Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman” menyimpulkan bahwa Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan.20 keluarga miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap bank komersial. Baitul Maal wat Tamwil mempunyai dua bagian definisi yang keduanya memiliki fungsi dan pengertian yang berbeda. kemudian dalam perkembangannya menjadi Baitul Maal wat Tamwil yang disingkat menjadi BMT.2. lama . 2. Penggunaan istilah BMT diambil dari kata-kata Baitul Maal wa Baitul Tamwil. maal=harta) merupakan lembaga penerima zakat. Sedangkan Baitut Tamwil (bait=rumah. Legalitas BMT diberikan oleh Departemen Koperasi dan Usaha Kecil. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang berbentuk syariah. Menurut asal kata. sadaqah dan sekaligus menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Salah satu lembaga keuangan mikro adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). at-Tamwil=pengembangan harta) adalah lembaga keuangan yang berorientasi bisnis dengan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi masyarakat terutama masyarakat dengan usaha skala kecil. Sedangkan pembinaannya di bawah Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). infak. baitul maal (bait=rumah.

dummy usaha lain. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah” melakukan penelitian dengan metode OLS. Aryati menyimpulkan bahwa permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi secara positif dengan skala usaha yang direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT. tingkat pendidikan dan jenis usaha. Metode yang dilakukan oleh Kurnialestari adalah metode regresi log-linier berganda (double log).21 menjadi mitra. TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. Muhammad Syafar (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor” menyimpulkan bahwa Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif. Sebuah penelitian juga dilakukan oleh Wardhana (2005) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT”. lama nasabah menjadi anggota KBMT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana . periode angsuran. Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. dummy pinjaman lain. dan dummy jenis kelamin mitra. Aryati (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan.

dan dummy jenis kelamin mitra. Analisis Permintaan pembiayaan regresi linier KBMT dipengaruhi berganda secara positif dengan (OLS) dan skala usaha yang Aryati (2006) Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga .22 BMT. dummy pinjaman lain. jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat. lama menjadi mitra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif.1. efektivitas pembiayaan secara keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT. Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen. Tabel 2. Namun. Penelitian Terdahulu Kurnialestari Analisis Tingkat (2007) Kesehatan dan FaktorFaktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman Metode Regresi loglinier Berganda (double log) Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan. Yayat Hidayat (2004) dalam skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon” menggunakan metode cobb douglass. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan. dummy usaha lain.

efektivitas pembiayaan secara Wardhana (2005) Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT Metode regresi linier berganda dan OLS Yayat Hidayat (2004) Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Metode cobb douglass .23 Keuangan Mikro Syariah. Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT. tingkat pendidikan dan jenis usaha. analisis deskriptif Muhammad Syafar (2006) Analisis Efektivitas Metode Pembiayaan Sistem AHP Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT. periode angsuran. Penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana BMT. lama nasabah menjadi anggota KBMT. Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. Namun. TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif. Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan.

Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen. Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat. jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan. .24 Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT.

Pembiayaan usaha kecil pada LKMS memberikan pengaruh yang positif bagi kinerja usaha kecil apabila kinerja pembiayaan pada LKMS baik. Pengelola BMT juga melakukan survey ke nasabah yang mengajukan pembiayaan . dibutuhkan LKM yang dapat melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah Negara Sedang Berkembang (NSB) (Ghate. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Oleh karena itu. Hal ini sejalan dengan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) yang memudahkan peminjam dalam hal pembiayaan (penyaluran kredit). Kerangka Pemikiran Teoritis Lembaga Keuangan Mikro (LKM) telah berkembang sebagai alat pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. 2008). Dalam sebuah literatur. Kelenturan LKM dalam persoalan agunan membuat LKM tersebut dapat membiayai sejumlah besar kegiatan jasa tanpa harus ada agunan. yaitu kelenturan prosedur kredit LKM dan penyediaan pinjaman kecil dan jangka pendek.1.25 III. pihak pengelola BMT menerapkan persetujuan serta pengawasan pembiayaan yang ketat untuk memastikan kualitas pembiayaan yang sehat. dikatakan bahwa masyarakat yang berpenghasilan rendah umumnya mempunyai jenis usaha yang berskala kecil. ditemukan setidaknya dua keunggulan komparatif LKM dalam melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah pedesaan NSB. Menurut Ghate (1992b) dalam Arsyad (2008). Permasalahannya adalah hingga saat ini dukungan modal terhadap usaha kecil tergolong kurang. Menyikapi hal ini. 1992b dalam Arsyad.

26

sebelum pencairan dilakukan. Pembiayaan yang dilakukan BMT diberikan dalam bentuk mudharabah dan musyarakah kepada usaha kecil. Menurut Rachmawan (2008), terdapat beberapa prinsip pembiayaan yang diberlakukan beberapa institusi keuangan, yaitu: (1) Character (kepribadian), (2) Capacity/ capability (kemampuan), (3) Capital (modal), (4) Condition of Economy (kondisi perekonomian baik makro maupun mikro), (5) Cholateral (jaminan). Dari prinsip pembiayaan tersebut diduga besarnya pembiayaan yang diberikan oleh LKMS dipengaruhi oleh jenis dan skala usaha, ada tidaknya agunan, biaya peminjaman, status keanggotaan, pendidikan, dan jangka waktu angsuran. Efektivitas pembiayaan pada LKMS diukur berdasarkan persepsi nasabahnya dalam menilai pembiayaan yang diberikan.

27

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Biaya peminjaman n pendidikan Status keanggotaan Jangka waktu angsuran Pembiayaan LKMS Analisis regresi linier berganda dan deskriptif Keberlangsungan usaha kecil Efektivitas pembiayaan:  Prosedur pembiayaan  Peningkatan pendapatan usaha  Peningkatan keuntungan usaha

Ada tidaknya agunan Jenis dan skala usaha

Usaha kecil

Hipotesis Kesimpulan
Keterangan : : lingkup penelitian : variabel dependen : variabel independen : metode analisis yang digunakan

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Operasional 3.3. Hipotesis Penelitian Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS Lasem cukup efektif. 2. Pengambilan pembiayaan (AB) berhubungan positif dengan pendapatan (PS) dan keuntungan usaha (PU). 3. Pendapatan usaha (SB), biaya peminjaman (BC), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), dan ketiga varibel dummy (tingkat

pendidikan (DP), ada tidaknya agunan (DA), dan jenis usaha(DU)) berhubungan positif dengan besarnya pengambilan pembiayaan (AB).

28

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera (BUS), Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pemilihan KJKS BMT BUS Lasem ini dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa KJKS BMT BUS Lasem telah lama berdiri dan berkembang pesat serta banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di wilayah Lasem. Waktu penelitian dilakukan pada pertengahan bulan Februari sampai bulan Maret 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer untuk mengukur seberapa efektif pembiayaan usaha kecil dan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan pada usaha kecil yang dilakukan oleh LKMS. Sedangkan data sekunder untuk melengkapi data primer dalam penulisan skripsi ini. Sumber data dari penelitian ini berasal dari data responden yaitu anggota KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha dalam lingkup kecil. Selain itu, sumber data yang digunakan berasal dari pembukuan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem. Sumber data lain sebagai pendukung kelengkapan data dalam penelitian ini didapatkan melalui Bank Indonesia, buku, jurnal, skripsi, dan internet.

Data sekunder Neraca keuangan LKMS Status keanggotaan Aset dan outstanding BMT Sumber Data Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS              4. Anggota tersebut juga termasuk ke dalam anggota pembiayaan yang melaksanakan usaha dalam lingkup kecil.Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini. Kuesioner tersebut berisi tentang: a. Penilaian tentang efektivitas pembiayaan usaha kecil yang dilakukan terhadap nasabah responden KJKS BMT BUS Lasem dilakukan dengan instrumen kuesioner.29 Tabel 4. data diambil dengan metode studi kasus (case study) melalui wawancara yang dilakukan oleh pihak KJKS BMT BUS yang berwenang dengan menggunakan kuesioner kepada anggota (responden). Jenis dan Sumber Data Jenis Data I. Data primer Karakteristik anggota Keragaan usaha Besarnya pembiayaan (rupiah) Rata-rata pendapatan perhari (rupiah) Jangka waktu angsuran (hari/bulan/tahun) Biaya transportasi (rupiah) Lama menjadi nasabah (tahun) Tingkat keuntungan (rupiah) Lama menekuni usaha/ skala usaha (tahun) Ada tidaknya agunan II. Tanggapan anggota mengenai pembiayaan yang disalurkan KJKS BMT BUS Lasem .1.3. Karakteristik anggota pembiayaan yang dibiayai KJKS BMT BUS Lasem b.

Keberlangsungan usaha kecil/ perkembangan usaha kecil dengan adanya pembiayaan dari KJKS BMT BUS Lasem 4. Oleh karena itu. Sampel yang diambil berasal dari anggota pembiayaan KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha di bidang perdagangan. Dengan metode ini artinya anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem memiliki peluang yang tidak sama untuk dijadikan sampel sehingga hanya anggota yang telah ditentukan yang menjadi sampel dalam penelitian ini.30 c.000). Pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut: 1. Bidang perdagangan dipilih karena untuk memudahkan analisis permodelan dan penyetaraan akad dalam transaksi. Jumlah keseluruhan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS di bidang perdagangan mencapai 588 orang dengan karakteristik pembiayaan yang berbedabeda (jumlah pembiayaan dari Rp 0 – Rp 50. artinya prosedur yang dilakukan dalam memilih sampel berdasarkan pertimbangannya tentang beberapa karakteristik yang berkaitan dengan anggota sampel yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian (Juanda. metode yang paling memungkinkan adalah dengan metode purposive sampling. Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengambilan sampel non probabilitas (non acak). .000. Responden adalah nasabah KJKS BMT BUS Lasem yang telah diberikan pembiayaan minimal 2 kali.4. 2007). Jumlah anggota sebagai respon yang diamati sebanyak 40 orang untuk memudahkan dalam analisis dengan asumsi kenormalan. Jumlah badan pengurus KJKS BMT BUS sebanyak 5 orang.

000 – Rp 30. biaya. tenaga. dan lain-lain.000. 4.000. Anggota yang menjadi responden adalah anggota yang pembiayaannya digunakan untuk tujuan yang produktif. Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan statistik.5.1. Data yang diperoleh merupakan data kualitatif dan kuantitatif. Anggota mudah ditemui dan bersedia diwawancarai serta diminta penjelasan terkait dengan kuesioner yang diberikan. 3. 5. Untuk pengolahan data menggunakan eviews 4.31 2. Anggota yang diambil datanya adalah anggota yang melakukan pembiayaan di bidang perdagangan (siap saji. Analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian dilakukan dengan dua metode. dan siap pakai) dengan jumlah pembiayaan antara Rp 500. 4. Pengambilan sampel berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pimpinan KJKS BMT BUS Lasem mengenai anggota yang dapat diwawancarai baik berupa saran dan alamat nasabah. retail. 6. Keterbatasan dalam pengambilan sampel yang berhubungan dengan waktu. dilakukan beberapa prosedur pendahuluan terhadap data yang diperoleh yaitu membuat pengkodean dan penggolongan beberapa kategori jawaban. Sebelum diolah dan dianalisa. Metode-metode tersebut dapat dijelaskan berikut ini: .

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan LnABi=a0+b1LnBCi+b2LnSBi+b3LnCRi+b4LnAi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+ d1DU1i+d2DU2i+e1DAi+ei ………………………………………….5.1) Dimana: ABi BCi SBi CRi Ai DPi = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = biaya peminjaman nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = jangka waktu angsuran (hari) = lama menjadi nasabah ke-i (bulan) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar DAi a0 = dummy agunan nasabah ke-i DA bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan = intersep .. Penggunaan logaritma natural (ln) dalam penelitian ini untuk memudahkan interpretasi dalam pemodelan dan untuk menyamakan satuan dalam model.32 4. Rancangan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Analisis Statistik Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda.1...(4.

.……………………………………………………….(4. Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Keuntungan Usaha LnPUi=a0+b1LnABi+b2LnSUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+d2DU2i+ei ……………….33 b1-e1 ei = koefisien = eror ke-i b.3) Dimana : PUi ABi SUi DPi = keuntungan usaha nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain ..………………………………………………………(4.2) Dimana : PSi ABi KUi DPi = besar pendapatan nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = profit (keuntungan) usaha per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i c. Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Pendapatan Nasabah LnPSi=a0+b1LnABi+b2LnKUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+ d2DU2i+ ei ………………...

Model regresi linier berganda ini akan baik dan sesuai dengan kaidah statistik apabila dilakukan pengujian supaya dapat memenuhi asumsi BLUE. (4) tidak ada korelasi serial antara error (no autocorrelation). Selain pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE. Asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) ini yaitu (1) nilai harapan dari rata-rata kesalahan adalah nol. uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. (5) pada regresi linier berganda tidak terjadi hubungan antar variabel bebas (multicolinearity) (Departemen Ilmu Ekonomi. (3) tidak ada hubungan antara variabel bebas dan error term.34 DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i Pengujian model di atas dilakukan dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE di atas adalah uji multikolinearitas. juga dilakukan pengujian statistik terhadap model penduga melalui uji F dan pengujian untuk parameter-parameter regresi melalui . 2005). (2) variansnya tetap (homoskedasticity) atau dengan kata lain tidak ada heteroskedastisitas.

(2) standard error dari parameter dugaan akan sangat besar sehingga selang keyakinan untuk parameter populasi yang relevan cenderung lebih besar.8|. Jika asumsi ini tidak dipenuhi. Selain melalui correlation matrix. (3) jika korelasinya tinggi. di mana jika terdapat koefisien korelasi yang lebih besar dari |0.35 uji t serta melihat berapa persen variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabelvariabel independen melalui koefisien determinasi (R2). maka terdapat gejala multikolinearitas.1. maka akan terdapat masalah heteroskedastisitas.2.5. dapat juga melalui nilai Variance Inflation Factor (VIF).1.1. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan linear di antara variabel-variabel bebas dalam model regresi. Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model adalah melalui correlation matrix. yaitu jika nilai VIF kurang dari 10 maka tidak terdapat multikolinieritas. Gejala multikolinearitas dalam suatu model akan menimbulkan beberapa konsekuensi (Gujarati. . 4. Uji Heteroskedastisitas Suatu model regresi linear harus memiliki varians yang sama. tetapi kesalahan standarnya cenderung semakin besar dengan meningkatnya korelasi antara variabel. (5) tidak mungkinnya mengisolasi pengaruh individual dari variabel yang menjelaskan. 1995). (4) kesalahan standar akan semakin besar dan sensitif bila ada perubahan data. kemungkinan probabilitas untuk menerima hipotesis yang salah menjadi besar. 4. di antaranya: (1) meskipun penaksir OLS mungkin bisa diperoleh.5.

1. 1995).5. Pengujian yang dapat dilakukan untuk melihat gejala ini adalah dengan menggunakan uji White Heteroskedastisitas dengan hipotesis: H0 : γ = 0 (tidak terdapat heteroskedastisitas/ homoskedastisitas) H1 : γ ≠ 0 (terdapat heteroskedastisitas) Kriteria uji yang digunakan: a. 2003). maka persamaan tidak mengalami heteroskedastisitas. Akibatnya hasil dari uji-F dan uji-t menjadi tidak sah dan penaksir regresi akan menjadi sensitif terhadap fluktuasi penyampelan.Uji Autokorelasi Autokorelasi merupakan gejala adanya korelasi antara serangkaian observasi yang diurutkan menurut deret waktu (time series) (Gujarati. tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mempunyai varians minimum (efisien). Nilai statistik-d yang berada di kisaran angka dua . Adanya gejala autokorelasi dalam suatu persamaan akan menyebabkan persamaan tersebut memiliki selang kepercayaan yang semakin lebar dan pengujian menjadi kurang akurat. 4. Uji yang sering digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji-d (Durbin Watson Statistic). maka terdapat heteroskedastisitas dalam persamaan tersebut. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan.3.36 Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketakbiasan dan konsistensi dari penaksir OLS. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. b. Masalah heteroskedastisitas menjadi lebih akut pada data cross section karena tidak samanya besaran unit observasi (Lains.

maka persamaan tidak mengalami autokorelasi. 2005): H0 H1 : ρ = 0 (tidak terdapat serial korelasi) : ρ ≠ 0 (terdapat serial korelasi) Kriteria uji yang digunakan: a.5. maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa minimal ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependennya. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. . Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan. maka peluang terjadinya autokorelasi semakin besar. 4. Pengujian lain untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilakukan juga dengan menggunakan uji Breusch and Godfrey Serial Correlation Lagrange Multiplier Test dengan hipotesis (Hipotesa. Jika probability F-statistic < taraf nyata (α).4.Uji F untuk Model Secara Keseluruhan Uji-F digunakan untuk menguji pengaruh seluruh variabel independen terhadap variabel dependennya secara parsial dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : b1 = b2 = b3 =…= bk = 0 (tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen) H1 : minimal ada salah satu bi ≠ 0 (ada variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen) Kriteria uji yang digunakan. yaitu: a. b.37 menandakan tidak terdapat autokorelasi. maka terdapat autokorelasi dalam persamaan tersebut. Sebaliknya jika semakin jauh dari angka dua.1.

5.38 b.5.1. juga dapat digunakan untuk melihat kuatnya variabel yang . 1985). Jika probability F-statistic > taraf nyata (α). maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya.5. 4. maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen. b. maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependennya secara signifikan. Selain itu.6. yaitu: a. Jika probability t-statistic > taraf nyata (α). Uji t untuk Koefisien Model Regresi Pengujian parsial atau uji t digunakan untuk menguji pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : bk = 0 (variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependen (tidak sinifikan)) H1 : bk ≠ 0 atau bk < 0 atau bk > 0 (variabel independen-k memengaruhi variabel dependen (signifikan)) Kriteria uji yang digunakan.Uji Koefisien Determinasi (R2) Uji keragaman digunakan untuk melihat besarnya keragaman yang dapat diterangkan oleh variabel independen terhadap variabel dependen (Thomas. 4. Jika probability t-statistic < taraf nyata (α).1.

yaitu efektif. tidak aktif) diberi skor 1. kurang mampu. besar. dan pengembalian pembiayaan. kurang efektif. cukup efektif. ringan. kecil. ramah. Terdapat empat kategori penilaian tanggapan responden terhadap efektivitas pembiayaan ini.2. Koefisien determinasi mengukur persentase atau proporsi total varians dalam variabel dependen yang dijelaskan model regresi.39 dimasukkan ke dalam model dapat menerangkan model. dan tidak efektif. Nilai skor untuk masing-masing prosedur antara 160-480 (berdasarkan pengalian skor terendah dan . aktif) diberikan skor 3. Formula untuk menghitung R2 adalah : 𝑅2 = Dimana : 𝐽𝐾𝑅 𝐽𝐾𝑇 …………………………………………………………(4. Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh anggota.5. cepat. jawaban “b” (sedang. mampu. berat. biasa. kecil.4) JKT : Jumlah Kuadrat Total JKR : Jumlah Kuadrat Regresi 4. Keefektifan ini dilihat dari prosedur pembiayaan yang meliputi pengajuan pembiayaan. akan dapat ditentukan seberapa besar keefektifan pembiayaan usaha kecil yang dilakukan KJKS BMT BUS. sulit. Jawaban yang mendukung pernyataan “a” (mudah. tidak mampu. Metode ini digunakan dengan instrumen kuesioner yang ditujukan untuk anggota yang terpilih. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk melihat seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS. pencairan pembiayaan. kurang aktif) diberi skor 2 sedangkan jawaban “c” (lama. besar. tidak ramah. lama.

319 c.1. 30. yaitu: 1. Biaya peminjaman adalah biaya yang dikeluarkan nasabah responden dalam pengajuan pembiayaan yang meliputi biaya materai. biaya administrasi. Efektif bila skor total antara 400 – 480 4.40 tertinggi dengan jumlah pertanyaan dalam setiap prosedur dan jumlah responden).6.000-Rp. Definisi Operasional Variabel dependen yang diteliti adalah besarnya pembiayaan atau jumlah pembiayaan. Cukup efektif bila skor total antara 320 . 500.399 d.000. . 2.000. dan biaya transportasi (rupiah). Jumlah pembiayaan yang diambil nasabah merupakan realisasi pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT kepada nasabah (rupiah) untuk digunakan sebagai modal usaha kecil. Variasi besarnya pembiayaan dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah pembiayaan KJKS BMT kepada nasabah sebesar Rp. Dari selang tersebut akan didapatkan : a. Tidak efektif bila skor total antara 160 . Kurang efektif bila skor total antara 240 .239 b. Sedangkan faktor-faktor yang merupakan variabel independen dari persamaan 4. Jangka waktu angsuran adalah selang waktu pengembalian pembiayaan dimana nasabah harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari) yang sesuai dengan akad yang telah disepakati di awal oleh pihak BMT dan nasabah.

nasabah dianggap sebagai anggota.000. 4. Penulis mengambil sampel 40 orang responden dengan selang besaran pembiayaan antara Rp 500. Sarjana atau yang lainnya.000 tetapi untuk mempersempit ruang lingkup penulis menggunakan batas maksimum Rp 30.41 3.000. retail. SMP. SMA. . Status keanggotaan yaitu riwayat nasabah yang sudah terdaftar menjadi anggota KJKS BMT (lama atau tidaknya beserta karakteristik nasabah yang mengajukan pembiayaan) 6.000-Rp 30. Dalam lingkup koperasi. Adanya agunan yaitu jaminan atau persyaratan yang harus dipenuhi nasabah untuk menghindari adanya adverse selection dan moral hazard. Dalam penelitian ini akan sedikit sekali menggunakan kata „nasabah‟ karena dalam koperasi tidak mengenal kata nasabah. Oleh karena itu.000 karena dalam koperasi terdapat batas maksimum pemberian pembiayaan pada usaha kecil yaitu Rp 50. Jenis dan skala usaha adalah jenis usaha yang dilakukan oleh nasabah (siap pakai. dan siap saji) sedangkan skala usaha nasabah berdasarkan pendapatannya per hari dari total penjualan (rupiah). Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal nasabah yang meliputi pendidikan SD.000. 5. penulis akan menggunakan kata anggota dalam penelitian ini.000.

Di antaranya adalah dari investor yang meliputi pengurus. Modal untuk mendirikan KJKS BMT BUS ini berasal dari modal sendiri. 5.2. pengurus dan pengelola. GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM 5. KJKS BMT BUS didirikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI dengan tujuan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat lapis bawah dalam bidang ekonomi. Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil Bina Ummat Sejahtera diinisiasi dan diprakarsai oleh Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ORSAT Rembang.1. Atas dasar semangat Isy Kariman Au Mut Syahidan (hidup sejahtera atau mati syahid) KJKS BMT BUS mengumpulkan modal awal sebesar dua juta rupiah yang didapatkan dari para pendiri. Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS sangat berkepentingan dalam rangka mewujudkan umat yang beriman dan bertakwa.42 V. Dengan semboyan sebagai “Wahana Kebangkitan Ekonomi Umat. Pendirian KJKS BMT BUS tidak terlepas dari tangan-tangan para pengurus dan pengelola. KJKS BMT . Rasa keprihatinan terhadap kondisi ekonomi dan tuntutan masyarakat untuk memperbaiki sistem ekonomi merupakan landasan idiil pendirian LKMS ini. Dari Umat Untuk Umat Sejahtera Untuk Semua”. sebagai bagian dari gerakan amal usaha secara nasional untuk membangkitkan ekonomi islam khususnya ekonomi mikro dan kecil sesuai dengan syariah islam. pengelola. dan anggota.

5. infak. membebaskan. sehingga mampu membangun tatanan ekonomi yang penuh kesetaraan dan keadilan. 2. guna mempercepat proses mensejahterakan umat. pengelola. 4. Mengupayakan peningkatan permodalan sendiri. melalui penyertaan modal dari para pendiri. anggota. dan segenap potensi umat. sehingga menjadi lembaga jasa keuangan mikro syariah yang sehat dan tangguh. 3. sehingga terbebas dari dominasi ekonomi ribawi. Visi KJKS BMT BUS akan tercapai jika melaksanakan misi lembaga sebagai berikut: 1. . Mengutamakan mobilisasi pendanaan atas dasar ta’awun dari golongan aghniya. dan membangun keadilan ekonomi umat. untuk disalurkan ke pembiayaan ekonomi kecil dan menengah serta mendorong terwujudnya manajemen zakat. Mewujudkan lembaga yang mampu memberdayakan. Membangun Lembaga jasa keuangan mikro syariah yang mampu memberdayakan jaringan ekonomi mikro syariah. dan shodaqah.43 BUS mempunyai visi “Menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syariah Terdepan dalam Pendampingan Usaha Kecil yang Mandiri”. sehingga menjadikan umat yang mandiri. Visi misi itulah yang menyebabkan KJKS BMT BUS Lasem bergerak dalam cakupan usaha kecil dan memberdayakan masyarakat melalui usahanya. Menjadikan lembaga jasa keuangan mikro syariah yang tumbuh dan berkembang melalui kemitraan yang sinergi dengan lembaga syariah yang lain. sehingga mengantarkan umat islam sebagai khoera umat.

11/IV/2006 Koperasi Simpan Pinjam Syariah diubah menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah.11/VII/2002. KJKS BMT BUS telah menerapkan manajerial sistem dalam menjalankan kelembagaannya. Lembaga yang mempunyai motto “Wahana Kebangkitan Ekonomi Ummat” ini mengalami perkembangan badan hukum sebelum menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah. Pada tanggal 4 April 2006 menurut keputusan gubernur Nomor 04/PAD/KDK. Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS Lasem diresmikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI (Orsat Kabupaten Rembang). Badan hukum pertama dari lembaga ini adalah koperasi serba usaha “Unit Simpan Pinjam” dengan nomor badan hukum 13801/ BH/ KWK. Oleh karena itu. Beberapa pengurus dalam KJKS BMT BUS ditunjuk sebagai pengawas atau supervise sesuai dengan sistem yang telah diterapkan oleh lembaga. pengurus bertindak sebagai policy maker dalam menjalankan organisasi. 5. Selanjutnya mengalami perubahan anggaran dasar menjadi Koperasi Simpan Pinjam Syariah pada tanggal 1 Juli 2002 menurut Keputusan Gubernur Nomor 03/BH/PAD/KDK.44 Pemberdayaan masyarakat dijembatani oleh kelembagaan dan struktur organisasi dalam BMT.11/III/ 1998.3. Hal tersebut tercermin dalam rapat anggota tahunan (RAT) sebagai kekuasaan tertinggi untuk memilih pengurus dan pengawas dari anggota untuk masa jabatan lima tahun. .

. dan general manager serta manager cabang. wakil bendahara. dan keempat produk/ jasa lainnya. Gambar 5. 2009.45 Struktur organisasi dari KJKS BMT BUS Lasem meliputi ketua. kedua. Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem Kegiatan operasional BMT saat ini. bendahara. produk penyaluran dana atau pembiayaan. produk penghimpunan dana atau simpanan.1. pada dasarnya menghasilkan empat jenis produk/ jasa layanan. produk baitul maal atau layanan amil zakat. Pengurus General Manager Manager Region Manager Region Manager SPI Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Operasional Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Pemasaran Kepala Bagian Kepala Seksi Manager cabang Anggota KJKS BMT BUS Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. pengawas syariah. sekretaris. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS 5. wakil sekretaris. ketiga. yaitu: pertama.4.

sistem penyetoran dan pengambilannya dapat dilakukan setiap saat. Produk Penghimpunan Dana/ Produk Jasa Layanan I Produk simpanan dalam KJKS BMT BUS meliputi: a. . Wadiah Yad Dlomanah. Jenis simpanan Si Suka dapat digolongkan Si Suka 1 bulan.46 A. Penyetoran Si Rela dapat dilakukan melalui sistem jemput bola yakni pengelola/ petugas akan mendatangi anggota yang hendak menitipkan dana. lembaga dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan anggota dan lembaga dengan suka rela berhak memberikan bonus kepada penyimpan. Jasa atau bagi hasil diperhitungkan dengan nisbah 35 persen : 65 persen b) Simpanan Sukarela Berjangka (Si Suka) Simpanan berjangka dengan sistem setoran dapat dilakukan setiap saat dan pengambilannya disesuaikan dengan tanggal valuta. Mudlorobah. yaitu simpanan dimana penyimpan berhak mendapat bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh lembaga sesuai nisbah (presentase pembagian) yang telah ditentukan. yaitu titipan dana tanpa mengharapkan bagi hasil. 6 bulan. Dalam hal ini ada beberapa macam simpanan dengan nisbah yang berbeda sesuai dengan karakter masingmasing. b. 3 bulan. yaitu: a) Simpanan Sukarela Lancar (Si Rela) Simpanan lancar. dan 1 tahun.

Mudlarabah.47 c) Simpanan Siswa Pendidikan (Si Sidik) Simpanan yang dipersiapkan sebagai penunjang khusus untuk biaya pendidikan dengan cara penyetorannya setiap bulan dan pengambilannya pada saat siswa akan masuk perguruan tinggi. Pembiayaan di BMT ini meliputi: a. B. Ba’i Bitsaman Ajil (BBA). Simpanan haji menggunakan prinsip wadiah yadlomanah dan ijaroh Bittamlik sehinga memberikan kemudahan dan manfaat dalam menunaikan ibadah haji serta mempunyai nilai dakwah bil jama’ah. yaitu akad pembiayaan melalui sistem pengadaan barang dan di dalamnya terdapat kesepakatan besarnya pemberian keuntungan . Murabahah. yaitu akad pembelian barang dengan penambahan margin keuntungan atas kesepakatan bersama. b. d) Simpanan Haji Bentuk simpanan yang ditujukan bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji. dengan pembayaran secara angsuran. c. Produk Penyaluran Dana/ Produk Jasa Layanan II Produk KJKS BMT BUS yang kedua yaitu produk penyaluran dana atau pembiayaan. yaitu pembiayaan modal usaha bagi anggota dan calon anggota dengan sistem bagi hasil dari keuntungan sesuai kesepakatan di depan.

Produk Baitul Maal/ Produk Jasa Layanan III Produk KJKS BMT BUS yang ketiga yaitu Produk baitul maal. yaitu seperti produk penghimpunan dana dan penyaluran dana yang diuraikan di atas. yaitu pembiayaan untuk kepentingan sosial. KJKS BMT BUS telah menggunakan sistem komputerisasi baik bidang administrasi umum maupun keuangan. BMT menerima titipan zakat. bahkan saat ini akan memiliki fasilitas ATM yang akan melaksanakan program online sistem antara cabang dan pusat pada tahun 2009 ini. dan shadaqah serta menjalankannya sesuai dengan ketentuan dan amanahnya. Dalam bidang teknologi informasi.5. Sebagai baitul maal. 5. Produk Baitul Maal dilakukan dalam kegiatan operasional yang sama dengan Baitut Tamwil. dan pelunasannya dapat diangsur atau jatuh tempo sesuai kesepakatan. C. Produk layanan lainnya/ Produk Jasa Layanan IV KJKS BMT BUS mengembangkan produk di luar ketiga jenis produk yang telah diuraikan di atas. Akan tetapi. D.7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah penyediaan uang/tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Qordul Hasan (QH).48 (mark up). pertumbuhannya belum seperti yang terjadi dalam perbankan konvensional. lembaga tidak mengambil keuntungan. infak. Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem Kredit atau pembiayaan menurut UU No. d. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka .

SIUP (Surat Ijin Umum Perusahaan).49 waktu tertentu dengan bunga. pencairan. dan realisasi. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP. nisbah atau pembagian hasil keuntungan. kredit yang disalurkan bisa kembali. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap.2. Dalam pembiayaan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi anggota jika ingin mengajukan pembiayaan diantaranya yaitu fotokopi KTP. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. survey dan analisa anggota. Proses Seleksi Pembiayaan Jaminan diperlukan untuk menghindari adanya moral hazard dari anggotaanggota yang mengajukan pembiayaan. 2009. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri. Jaminan merupakan salah satu syarat . fotocopy KK. P en gaju an S u rvey dan an alis a D ok u m en tas i/P en gik atan D itolak P en c airan P em bin aan Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. waktu sesuai dengan yang diperjanjikan. Gambar 5. Unsurunsur pembiayaan yaitu kepercayaan. tingkat resiko (Degree of Risk) (semakin lama jangka waktu semakin besar resiko yang dihadapi). Proses pembiayaan dalam BMT meliputi pengajuan. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) bagi perusahaan. TDP (Tanda Daftar Perusahaan).

perdagangan. 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Persentase(%) 43% 23% 14% 12% 8% perdagangan pertanian nelayan industri kecil jasa Sektor Pembiayaan Anggota Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. maka jaminan dapat tidak diberlakukan. Diantaranya yaitu sektor pertanian. Pembiayaan yang dilakukan oleh BMT mencakup beberapa sektor. dan nelayan. Sektor ini merupakan prioritas utama dalam KJKS BMT BUS. jika KJKS BMT BUS sudah mengenal karakter anggota dan karakter usahanya.50 direalisasikannya suatu pengajuan pembiayaan. Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS . Untuk lebih jelasnya akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini.3. Sektor perdagangan merupakan sektor yang paling besar diberikan pembiayaan oleh BMT. Gambar 5. Akan tetapi. Hal ini menunjukkan kemudahan dari BMT kepada anggota dalam hal pengajuan pembiayaan. dimana dalam BMT terdapat konsep ta’awun dan kemudahan dalam prosedur pengajuan pembiayaan. 2009. Inilah yang membedakan BMT dengan perbankan. Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat Lasem bekerja pada sektor ini. industri kecil. jasa.

d. Produk Pembiayaan Nelayan Jenis pembiayaan yang diperuntukkan bagi masyarakat nelayan. dan bulanan dengan jangka waktu pembayaran sesuai kesepakatan kedua belah pihak. c. pembiayaan ini dengan sistem musiman.51 Produk pembiayaan anggota yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS terdiri dari lima jenis pembiayaan berdasarkan lapangan usaha. dan industri. . yaitu: a. b. Produk Pembiayaan Pertanian Sasaran pembiayaan pertanian dititikberatkan pada modal tanam dan pemupukan. Produk Pembiayaan Industri Dan Jasa Produk ini dikhususkan bagi para pengusaha yang bergerak dalam bidang pengembangan jasa. dengan sistem angsuran yang telah ditentukan oleh KJKS BMT BUS dan mudhorib. jumlah modal yang dibutuhkan disesuaikan dengan luas lahan garapan. utamanya pedagang kecil yang membutuhkan permodalan untuk pengembangan usahanya dengan sistem angsuran harian. atau jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak. mingguan. Produk Pembiayaan Pedagang Sasaran pembiayaan usaha kecil mikro. produk ini sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat nelayan berupa pemupukan modal nelayan dan pengadaan sarana penangkapan ikan. PNS melalui sistem angsuran ataupun jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak.

505.100 2.464.179 24. Selain itu.710 32.915.450 437.).519.097 PEMBIAYAAN 6. Dalam hal ini repayment rate berhubungan dengan pembiayaan.450.558. Menurut Arsyad (2008) indikator kinerja yang paling penting bagi LKM adalah tingkat pengembalian pinjaman (repayment rate) karena indikator tersebut merupakan prasyarat utama agar sebuah LKM mampu mandiri dan sustainable dalam jangka panjang.400 139.819.180 7.976.349.1.760.733.437.058.660 52.924.077 5.023 15. Pembiayaan yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan.571.601. .035 Sumber : KJKS BMT BUS Lasem.200 88.541.1.900 2.066 30.908.709 21.000 1.148.413.226 40.643. Tabel 5. Saat ini KJKS BMT BUS sudah memiliki 44 cabang di berbagai daerah. Pertumbuhan BMT yang pesat ini dapat dilihat dari banyaknya cabang KJKS BMT BUS di beberapa daerah.246.377 97. Hal ini terjadi mengingat pertumbuhan BMT yang cukup pesat.550 379.846.600 80.615.941.044.202 77.341.407.721.827.384.865.625 114.650.6.900 853.544. pertumbuhan aset dan outstanding BMT setiap tahun mengalami peningkatan (Lihat Tabel 5.52 5.448.524.089.780 25. Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem (dalam Rupiah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TAHUN 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 ASET 8.330 65.589. Indikator Kesehatan Operasional KJKS BMT BUS Lasem Suatu lembaga keuangan akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila kondisi lembaga keuangan tersebut juga baik.214.026.127. 2009.107.559 13.254.

dan FDR.53 KJKS BMT BUS Lasem merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang tergolong sangat pesat perkembangannya di wilayah Lasem. Akan tetapi.035. terdapat juga NPF (Non Performing Financing) yang merupakan tingkat pembiayaan bermasalah. Secara keseluruhan dari total KJKS BMT BUS yang ada. lending. Besarnya Financing to Depocit Ratio (FDR) sebesar 117. Selain funding.094 dan lending sebesar Rp 77.885.906. besarnya funding yang dihasilkan per 31 Desember 2008 yaitu Rp 65.63 persen. Untuk lebih jelasnya telah dilampirkan laporan keuangan BMT per 31 Desember 2008 yang mencakup jumlah aktiva dan pasiva selama tahun 2008. .846.760. NPF tidak dapat penulis ketahui karena terdapat data-data yang tidak untuk dipublikasikan. KJKS BMT BUS melakukan RAT (Rapat Anggota Tahunan) setiap tahun untuk mengevaluasi dan mengetahui kinerjanya selama setahun.

1. Terdapat beberapa variabel bebas yang tidak signifikan terhadap variabel tak bebas yaitu pendapatan dan jenis usaha.1. Uji autokolinearitas dengan menggunakan uji Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test menunjukkan bahwa prob dari obs*R-squared lebih besar dari () 0.54 VI. Hal ini dapat dipahami karena terdapat faktor lain yang memengaruhi variabel tak bebas yang tidak dimasukkan dalam objek penelitian dan kondisi lingkungan pada tempat penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN 6. lama menjadi anggota. dan multikolinieritas menunjukkan bahwa model bersih dari masalah heteroskedastisitas.05. autokorelasi. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan metode white heteroskedasticity dan didapatkan prob dari obs*R-squared statistic lebih besar dari taraf nyata () maka hasilnya tidak tolak H0. dan tingkat pendidikan.05.1 dalam penelitian ini berikut analisis pembahasannya dapat dilihat pada Tabel 6. Berikut ini akan dijelaskan hasil dan analisis yang dicapai dari estimasi model. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Sumber data yang digunakan adalah data primer dari 40 responden yang merupakan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem. Hal ini terlihat karena nilai prob dari obs*R-squared adalah 0. Uji asumsi klasik untuk metode regresi yaitu pengujian heteroskedastisitas. Uji multikolinieritas dilakukan dengan correlation matrix. dan multikolinieritas. Hasil akhir estimasi persamaan 4. dimana batas terjadinya korelasi antara sesama . autokorelasi. sehingga penelitian ini tidak mengandung autokorelasi.31 lebih besar dari taraf nyata 5 persen yaitu 0.

998778 (Tabel 6.998778 2.021921 -0.052512 0.5019* 0.640460 Prob(t-stat) 0. Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C Coefficient 1.09 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.1175* 0.004506 -0.094461 -0.240332 2.148507 0.91 persen.056068 0.014068 -0.8459* 0. Tabel 6.0000*** 0.014913 0.80. Artinya model tersebut mampu dijelaskan oleh variabel-variabel bebas di dalamnya sebesar 99.0665* 0.0407** 0.2218* 0.314248 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : *** = sangat signifikan pada taraf 5 persen ** = signifikan pada taraf 5 persen * = tidak signifikan pada taraf 5 persen Nilai koefisien determinasi R-squared sebesar 0.1345* 0.999122 dan nilai Adjusted R-Squared 0.027783 -0.000000 0.999122 0.3277* 0.1).999122 ini menunjukkan bahwa uji ketepatan perkiraan (goodness of fit) dari model adalah baik.017710 0. sedangkan sisanya 0.0000*** 0.026501 0. Dari uji serentak melalui uji-F menunjukkan pula hasil .1.8008* 0.0000 0.55 variabel bebas adalah tidak lebih dari 0. Nilai R-squared sebesar 0.005428 0. Berdasarkan lampiran dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak mengandung gejala multikolinieritas sehingga dapat dilakukan analisis lebih lanjut karena model memenuhi asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator).

Artinya. Uji parsial atau uji statistik-t memperlihatkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi besarnya pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen adalah biaya peminjaman.56 yang baik.09 persen. dan tingkat pendidikan tidak memengaruhi besarnya pengambilan pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. dan ada tidaknya agunan.00 yang lebih kecil daripada taraf nyata (α) 5 persen. Analisis hasil estimasi persamaan pengambilan pembiayaan di atas akan dijelaskan sebagai berikut: 1. 2. ceteris paribus. Hal ini dilihat dari angka probabilitas statistik F sebesar 0. dari semua variabel penjelas dalam model regresi pengambilan pembiayaan (AB) ini minimal ada satu variabel yang berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5 persen. Artinya adanya pendapatan usaha tidak memengaruhi besarnya . Pendapatan usaha (SB) Variabel SB (Pendapatan Usaha) tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen. lama menjadi anggota. jangka waktu angsuran. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Semakin besar biaya peminjaman yang dikeluarkan oleh anggota maka semakin besar pula pembiayaan yang diberikan oleh BMT (pembiayaan yang diambil oleh anggota). Sedangkan pendapatan dan jenis usaha.09 artinya besarnya biaya peminjaman sebesar satu persen menunjukkan besarnya pengambilan pembiayaan sebesar 1. Koefisien variabel BC sebesar 1. Biaya Peminjaman (BC) Berdasarkan hasil pendugaan parameter menunjukkan bahwa BC (Biaya Peminjaman) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen.

Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa lama menjadi anggota berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan. Koefisien yang negatif menunjukkan bahwa anggota yang mempunyai pendapatan lebih tinggi tidak selalu mengambil pembiayaan dalam jumlah yang tinggi. Hal ini menunjukkan kemudahan mengangsur dari BMT karena anggota mempunyai waktu yang lebih lama untuk memanfaatkan pembiayaan dari BMT untuk kebutuhan modal kerja. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Hal ini mengandung arti bahwa BMT tidak membeda-bedakan antara anggota baru dan anggota lama. Koefisien negatif pada variabel ini berarti . Lama menjadi anggota (A) Variabel lama menjadi anggota tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pendapatan usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap taraf nyata 5 persen.57 pembiayaan yang diambil pada taraf nyata 5 persen. 4. Menurut kondisi di lapangan pada saat penelitian. Jangka waktu angsuran (CR) Variabel jangka waktu angsuran (CR) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen.02 berarti bahwa jika terjadi peningkatan lama angsuran sebesar 1 persen maka akan meningkatkan pengambilan pembiayaan sebesar 0. 3.02 persen. Koefisien variabel jangka waktu angsuran sebesar 0. anggota yang baru memulai usaha (pengalaman usahanya belum terlalu lama tetapi prospek usahanya bagus) mengajukan pembiayaan dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan anggota yang sudah mapan.

Tingkat pendidikan (DP) Variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. 6. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. lebih besar daripada perbedaan pembiayaan jenis usaha siap saji dan retail. Pengambilan pembiayaan terbesar pada jenis usaha siap saji karena jenis usaha ini mudah mengambil keuntungan dalam jumlah yang besar. KJKS BMT BUS dalam memberikan pembiayaannya tidak mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Perbedaan pengambilan pembiayaan jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0. Besarnya pengambilan pembiayaan tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang karena menurut BMT yang terpenting adalah ketekunan seseorang tersebut dalam menjalani usaha. . 5.58 semakin lama seseorang menjadi anggota maka besarnya pengambilan yang diambil akan menurun. Kondisi ini diduga karena adanya pendampingan dari BMT terhadap para anggota sehingga kesejahteraan para anggota dapat meningkat. Jenis usaha (DU) Jenis usaha baik siap saji dan siap pakai maupun siap saji dan retail berpengaruh positif terhadap pengambilan pembiayaan tetapi pengaruhnya tidak nyata secara signifikan pada taraf nyata 5 persen.03. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa jenis usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan pada taraf nyata 5 persen.

Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian.2. pencairan pembiayaan dan pengembalian pembiayaan.1. 6. Dalam penelitian ini menggunakan 40 responden yang berhasil diambil datanya. Ada tidaknya agunan (DA) Ada tidaknya agunan berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen. 6.2. Hal ini menunjukkan kemudahan pada BMT karena BMT dapat melayani pembiayaan tanpa agunan. Adanya agunan memengaruhi pengambilan pembiayaan dalam jumlah yang besar. Penilaian efektivitas pembiayaan dilihat dari prosedur pembiayaan dan dampak pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan dan keuntungan.2.Analisis Efektivitas Pembiayaan Efektivitas pembiayaan diukur berdasarkan persepsi dari responden yang diwawancarai. Prosedur Pengajuan Pembiayaan Berdasarkan Tabel 6. diperoleh keterangan bahwa proses pengajuan pembiayaan di KJKS BMT BUS tergolong efektif. Akan tetapi.1. Hal ini disebabkan kehatihatian BMT untuk menghindari adanya moral hazard dari anggota. artinya prosedur pengajuan .2. terdapat pengecualian dalam hal ini yaitu pada anggota yang mempunyai kredibilitas baik di mata BMT mendapatkan keringanan untuk tidak menyertakan agunan jika pengajuan pembiayaannya masih kurang dari 2 juta rupiah.59 7.1. 6. Prosedur Pembiayaan Prosedur pembiayaan yang dianalisis berdasarkan penilaian responden dalam penelitian ini adalah prosedur pengajuan pembiayaan.

sulit. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. Aspek Kemudahan proses prosedur awal pembiayaan Persyaratan awal pembiayaan Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan Pelayanan petugas BMT Skor 3 Orang 35 Persen 87. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh anggota dalam mengajukan pembiayaan adalah fotokopi KTP.5 persen responden menyatakan bahwa proses prosedur awal pembiayaan tergolong mudah. Hal ini memudahkan anggota dalam mengajukan pembiayaan dan menyebabkan ketertarikan kepada anggota baru untuk melakukan pembiayaan di BMT. ringan. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri. SIUP. 38 95 2 5 0 0 118 3.2. Tabel 6. NPWP (bagi perusahaan). ramah Skor 2 untuk jawaban sedang. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1. TDP. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP.60 pembiayaan dapat diterima oleh anggota.2. fotokopi KK. 38 95 Total Skor 2 5 0 0 118 403 Keterangan : Skor 3 untuk jawaban mudah. biasa Skor 1 untuk jawaban lama. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap.5 Skor 1 Orang 0 Persen 0 Total Skor 115 2. Berdasarkan Tabel 6. tidak ramah . Efektivitas proses pengajuan dapat dilihat dari kemudahan prosedur pembiayaan yang ditetapkan. 2 5 8 20 30 75 52 4.5 Skor 2 Orang 5 Persen 12. dapat diketahui bahwa 87. berat.

Sebagian besar anggota menilai bahwa biaya administrasi yang ditetapkan BMT .2. pengajuan pembiayaan dari anggota akan diperhitungkan dan dianalisis apakah anggota layak diberikan pembiayaan atau tidak. jika anggota sudah mempunyai catatan perilaku baik dan pihak BMT sudah mengenali anggota tersebut maka pihak BMT tidak akan mensyaratkan adanya jaminan.3. 6. diperoleh keterangan bahwa tanggapan anggota responden terhadap lamanya realisasi pembiayaan yaitu sebesar 87.2. Akan tetapi. Berdasarkan Tabel 6. KJKS BMT BUS memang mensyaratkan adanya jaminan bagi anggota yang mengajukan pembiayaan dalam skala tinggi.5 persen mengatakan sedang.5 persen mengatakan cepat dan sisanya sebesar 12. Sebelum dicairkan.1. Prosedur Pencairan Pembiayaan Pencairan pembiayaan akan dilakukan setelah disetujui dan ditandatangani oleh manajer pembiayaan. Lamanya pencairan pembiayaan antara dua sampai dengan lima hari karena bagian pembiayaan harus mensurvey dan menganalisis anggota tersebut.61 Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan menurut sebagian besar responden tergolong besar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya moral hazard karena KJKS BMT BUS tergolong BMT yang sudah mempunyai nama di daerah sehingga manajemennya sangat teratur dengan peningkatan aset dan pembiayaan setiap tahun. Responden yang mengatakan sedang cukup beralasan karena sebagian besar responden tersebut pernah mengalami penangguhan pembayaran pengembalian pembiayaan sehingga BMT harus menganalisis lebih terhadap responden tersebut.

3.5 1 1 2. sulit. Apabila melihat dari besarnya pembiayaan yang diberikan. Hal ini disebabkan biaya administrasi yang ditetapkan BMT pada setiap tingkatan plafond rata-rata sebesar 2 persen dari jumlah pembiayaan.5 Skor 2 Skor 1 Orang Persen Orang Persen 5 12.5 0 0 38 33 95 82. KJKS BMT BUS dalam memberikan .5 1 6 2. kurang mampu Skor 1 untuk jawaban lama. Tabel 6.5 15 Total Skor 115 80 75 4. Besarnya persentase ini diduga menyebabkan tingginya biaya peminjaman sehingga dapat disadari bahwa semakin tinggi biaya peminjaman maka besarnya pembiayaan akan semakin tinggi pula. Hal ini disebabkan perkembangan KJKS BMT BUS yang sangat pesat dengan melakukan ekspansi ke berbagai daerah dengan mendirikan cabangcabang baru dari KJKS BMT BUS.5 1 2. besar. mudah. 2.5 2.5 0 0 119 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban cepat. tidak mampu 389 Pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT BUS mencapai seratus juta rupiah. kecil.62 sedang yaitu sebesar 95 persen. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1. mampu Skor 2 untuk jawaban sedang.5 persen) merasa puas atas jumlah pembiayaan yang diberikan karena besarnya pembiayaan sedang (sesuai) dengan apa yang diajukan oleh anggota. 3. Aspek Realisasi Pembiayaan Biaya Administrasi Besar pembiayaan yang diberikan Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Skor 3 Orang Persen 35 87. 39 97. sebagian besar anggota (82.

. Prosedur Pengembalian Pembiayaan Jangka waktu pembayaran angsuran dan pelunasan pembiayaan oleh anggota ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antara pihak BMT dan anggota. Sedangkan cara yang kedua yaitu jatuh tempo. Secara keseluruhan berdasarkan total skor yang didapat yaitu sebesar 389.63 pembiayaan kepada anggotanya dilakukan secara bertahap. Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi permohonan pembiayaan yang diajukan tergolong mampu. Anggota yang mempunyai pengalaman usaha baik dan keuntungan usahanya meningkat akan diutamakan oleh BMT untuk diberikan pembiayaan.2. Dalam KJKS BMT BUS sendiri terdapat dua macam cara mengangsur pembiayaan. kemudian pada saat jatuh tempo baru memberikan pokoknya. Cara yang pertama yaitu secara angsuran akan menguntungkan KJKS BMT BUS karena setiap bulan/ hari anggota harus mengangsur angsuran pokok sekaligus bagi hasilnya.9 miliar rupiah. yaitu pertama secara angsuran dan kedua secara jatuh tempo. 6.1. maka jumlah modal yang diberikan akan semakin besar. demikian juga sebaliknya. maka KJKS BMT BUS dapat dikatakan cukup efektif dalam hal prosedur pencairan pembiayaan.3. anggota hanya memberikan bagi hasilnya saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat aset BMT pada tahun 2008 yang mencapai 97. Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya. Semakin sering anggota melakukan pembiayaan dengan catatan anggota tersebut „baik‟ selama meminjam.

lama. Anggota yang kemampuannya relatif tinggi akan lebih memilih membayar pelunasan pembiayaan secara jatuh tempo dibandingkan anggota yang mempunyai kemampuan relatif rendah. Lama angsuran ini telah disepakati bersama dengan pihak KJKS BMT BUS. aktif Skor 2 untuk jawaban sedang.5 1 2. Jangka waktu mengangsur secara jatuh tempo biasanya tiga sampai lima bulan.5 8 20 103 4. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan KJKS BMT BUS No 1. efektivitas pengembalian pembiayaan menjadi tujuan utama bagi sebuah lembaga keuangan manapun. 1 2.64 Penetapan jangka waktu mengangsur ini diserahkan sepenuhnya kepada anggota sesuai dengan kemampuannya dalam membayar.5 39 97.4. 2. Beberapa aspek yang memengaruhi efektivitas pengembalian pembiayaan dapat dilihat pada Tabel 6. tidak aktif . 31 77.5 0 0 81 346 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban kecil.5 0 0 Total Skor 82 80 3. Tabel 6.4. cepat. kurang aktif Skor 1 untuk jawaban besar. Oleh karena itu. Setiap lembaga keuangan baik lembaga keuangan bank maupun bukan bank pasti berusaha untuk menghindari adanya kemacetan dalam pembiayaannya.5 0 0 Skor 2 Orang Persen 36 90 40 100 Skor 1 Orang Persen 1 2. Aspek Besar angsuran Jangka waktu angsuran Keaktifan petugas di lapang Keuntungan bagi BMT Skor 3 Orang Persen 3 7.

KJKS BMT BUS sangat memperhatikan kemampuan setiap anggota dalam membayar angsurannya. karena itulah BMT dapat memberikan penangguhan pembiayaan bagi anggota jika alasannya sesuai dengan kondisi usahanya. Sebagian besar lokasi usaha responden berada tidak jauh dari lokasi berdirinya BMT. Selain mengetahui kondisi responden yang sedang meminjam. Hal ini membuktikan bahwa anggota masih dapat menjangkau besarnya angsuran sesuai dengan kemampuan anggota itu sendiri. sebesar 20 persen responden mengantarkan angsuran sendiri ke BMT. Hal ini mempunyai nilai plus sendiri bagi BMT. Mengenai keuntungan yang didapatkan BMT. sebagian besar responden yaitu sebesar 97.4. hal ini dapat meminimalisir terjadinya penangguhan pembayaran pembiayaan. bukan karena moral hazard anggota yang ingin mengulur-ulur waktu pelunasan pembiayaan. Hal ini . sebagian besar responden menyatakan bahwa besar angsuran tergolong sedang (90 persen). sebagian besar responden yaitu sebesar 77.65 Berdasarkan Tabel 6. Sedangkan dari aspek besar angsuran. Akan tetapi. anggota mempunyai cukup banyak waktu untuk meningkatkan capital dari usaha kecilnya. Hal ini berarti anggota memiliki keleluasaan dalam mengembalikan pembiayaan dan dapat memanfaatkan pembiayaan dalam jangka waktu yang cukup lama.5 persen menyatakan bahwa pembiayaan di BMT menyebabkan masing-masing pihak untung.5 persen menyatakan bahwa petugas BMT yang aktif menagih angsurannya ke lokasi usaha. semua responden menyatakan jangka waktu mengangsur tergolong sedang. Di samping itu. yaitu antara BMT dengan anggota. Oleh karena itu.

Uji multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan pendapatan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas (lihat di lampiran). Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota. Durbin-watson stat menunjukkan nilai 2.39 persen dan sisanya 53. Dampak Pembiayaan 6. Secara keseluruhan berdasarkan skor yang didapat yaitu 346 menunjukkan bahwa prosedur pengembalian pembiayaan pada BMT BUS cukup efektif. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 46. dan dummy pinjaman lain.2.61 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.66 membuktikan bahwa pelaksanaan pembiayaan di BMT menurut persepsi anggota memberikan dampak yang cukup baik bagi kelangsungan usaha kecil anggota.05. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 46.Dampak Pembiayaan Terhadap Pendapatan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heterokedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0. sehingga model persamaan pendapatan usaha tidak menunjukkan gejala autokorelasi.505998 yang lebih besar dari 2.5. 6. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Berdasarkan Tabel 6.2.2. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini.39. Selain itu. besarnya tanggungan.115255 lebih besar dari taraf nyata () 0.2.1. Nilai .

728150 -0.172173 0.5968* 0.5066* 0.83 .006993 0.345124 0.829948 -0.505998 0.115255 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan:***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **= signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha kecil.245504 -0.158540 7.3356* 0.0038 0.0170** 0. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pembiayaan KJKS BMT BUS memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan usaha.463975 0.5188* 0.171214 Prob(t-stat) 0.0029*** 0.006993 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas.5.0990* 0. Kondisi ini dimungkinkan disebabkan oleh besarnya tanggungan atau kebutuhan lain-lain yang harus dipenuhi oleh anggota sehingga pembiayaan yang diberikan tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan usaha anggota.325646 2.260001 0.390851 0. Nilai elastisitas sebesar 0.67 probability (F-statistic) sebesar 0. Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0. Tabel 6.519191 -0.1701* 0. Variabel keuntungan usaha adalah variabel yang paling signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha.

Hasil estimasi di atas menunjukkan bahwa pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha secara signifikan pada taraf 5 persen. tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan usaha anggota. Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata jenis usaha siap pakai mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar daripada jenis usaha siap saji. Sesuai dengan kondisi anggota yang sebagian besar berpendidikan antara SD dan SMP. Hal ini dapat dijelaskan demikian karena jenis usaha siap pakai (pakaian) pada umumnya memiliki strategi door to door (dari pintu ke pintu) dalam menjual produknya sehingga dapat memasarkan produknya secara lebih ke konsumen dan lebih mengetahui keinginan konsumen. Jenis usaha siap saji dan siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha.15. sedangkan perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan retail sebesar -0. Akan tetapi. pendapatannya dapat melebihi anggota yang berpendidikan lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara mutlak terhadap pendapatan seseorang.68 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) keuntungan usaha sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) pendapatan usaha sebesar 0. Perbedaan pendapatan untuk anggota yang tidak berpendidikan dan SD jauh lebih tinggi dibandingkan antara tidak sekolah dan SMP. SMA atau PT. Hal ini disebabkan anggota yang berpendidikan lebih rendah umumnya langsung bekerja sehingga mempunyai pengalaman kerja yang lebih banyak daripada anggota yang berpendidikan tinggi.73. Oleh karena . Perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0.83 persen.

Nilai probability (F-statistic) sebesar 0.2.69 itu. besarnya tanggungan. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini. Uji multikolinieritas yang dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan keuntungan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas.824922 sehingga dapat dibuktikan bahwa model juga tidak menunjukkan adanya autokorelasi sehingga dapat dianalisis lebih lanjut. Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota. Berdasarkan Tabel 6.05.05.000283 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas.95 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha belum sepenuhnya tercapai.351066 lebih besar dari taraf nyata () 0.6. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 58.05 persen dan sisanya 41. .2. menurut uji autokorelasi dengan menggunakan breusch-godfrey serial correlation LM test didapatkan nilai sebesar 0. dan dummy pinjaman lain. 6. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Selain itu.2.Dampak Pembiayaan Terhadap Keuntungan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heteroskedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 58.

3850* 0.580460 0. Nilai elastisitas variabel pendapatan sebesar 0.328185 -0.000283 0.1870* 0.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pendapatan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0.70 Tabel 6.108475 -0. . Variabel skala pendapatan usaha signifikan pengaruhnya terhadap keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen.251633 -0.0212** 0. Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0.326285 2.3734* 0.33 persen.472192 2.055063 0.4342* 0.239755 -0. Hal ini dapat dimengerti karena peningkatan pendapatan seiring dengan peningkatan keuntungan anggota dalam mengelola usahanya.33 persen.351066 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : ***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **=signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil berpengaruh secara positif dan signifikan pengaruhnya terdapat keuntungan usaha kecil anggota pada taraf nyata 5 persen.6.031651 Prob(t-stat) 0.824922 0.0939* 0.3507 0.0023*** 0. Nilai elastisitas variabel pembiayaan sebesar 0.291584 0.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pembiayaan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0.408475 -0.7975* 0.327669 0. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembiayaan untuk meningkatkan keuntungan anggota tercapai.

Sedangkan menurut hasil estimasi model keuntungan usaha menunjukkan pembiayaan berpengaruh positif . Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak memengaruhi peningkatan keuntungan anggota.32). dan ada tidaknya agunan. dan jenis usaha siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. SMP. Perbedaan keuntungan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai mempunyai elastisitas yang lebih rendah (-0. Hal ini menunjukkan bahwa usaha siap saji dan retail akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. jangka waktu angsuran. Hasil estimasi model pendapatan usaha menunjukkan bahwa secara signifikan pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha pada taraf nyata 5 persen. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan secara signifikan adalah biaya peminjaman. walaupun usaha siap pakai penjelasan di atas mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada usaha lainnya. Ini dapat dimengerti karena peningkatan keuntungan usaha pada kenyataannya tergantung pada pengalaman usaha anggota itu sendiri. Variabel tingkat pendidikan tidak signifikan terhadap variabel keuntungan.71 Perbedaan keuntungan untuk anggota yang berpendidikan tinggi (PT/ sarjana) mempunyai elastisitas yang jauh lebih tinggi daripada SD.41) daripada jenis usaha siap saji dan retail (-0.3. Implikasi Kebijakan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua variabel dalam penelitian ini memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) secara signifikan. 6. dan SMA. Anggota yang mempunyai pengalaman usaha yang lebih lama biasanya akan mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang besar. keuntungan berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha.

manajemen KJKS BMT BUS Lasem perlu melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengevaluasi kembali tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha anggota. perubahan yang kecil saja pada biaya peminjaman akan menyebabkan perubahan signifikan pada total pengambilan pembiayaan yang dilakukan oleh para anggota. tujuan pembiayaan untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil akan tercapai. Selain itu.72 pada keuntungan usaha dan pendapatan usaha berpengaruh positif pada keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen. Artinya. Implikasinya. Hasil pembahasan dalam penelitian ini juga memperlihatkan bahwa variabel biaya peminjaman merupakan variabel yang memberikan pengaruh terbesar terhadap pengambilan pembiayaan (AB). KJKS BMT BUS Lasem perlu menentukan tingkat persentase ideal bagi biaya administrasi sesuai dengan kemampuan anggota masing-masing sehingga besarnya biaya administrasi yang ditetapkan dapat fleksibel tergantung pada kemampuan anggota (skala pendapatan) dalam mengajukan pembiayaan. Adapun implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh lembaga keuangan mikro syariah dalam hal ini KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap variabel biaya peminjaman khususnya biaya administrasi yang berpengaruh terhadap pengambilan pembiayaan (AB). Hal ini akan lebih memudahkan anggota-anggota yang mempunyai tingkat pendapatan relatif rendah untuk mengajukan pembiayaan di BMT untuk memajukan usaha kecilnya. .

. 2. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan disebabkan oleh besarnya kebutuhan anggota yang harus dipenuhi sehingga pembiayaan yang diberikan hanya untuk menutupi modal yang dibutuhkan tetapi belum menyebabkan peningkatan pendapatan. KESIMPULAN DAN SARAN 7.73 VII. yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) dan efektivitas pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem maka dapat disimpulkan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Faktor-faktor yang memengaruhi secara signifikan pengambilan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem adalah biaya peminjaman. Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan. Sedangkan pencapaian tujuan pembiayaan usaha kecil masih belum sepenuhnya tercapai. dan ada tidaknya agunan. jangka waktu angsuran. Dari ketiga variabel yang memengaruhi pengambilan pembiayaan. Efektivitas pembiayaan pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem berdasarkan hasil penilaian responden dapat dikategorikan cukup efektif. karena belum adanya dampak positif pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan usaha anggota.

diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi. KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha kecil dari anggota khususnya dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama ketika ada event-event yang dapat mengembangkan usaha kecil. 3.74 7. Hal ini dapat dilakukan dengan edukasi dalam hal pembiayaan syariah harus dilakukan kepada masyarakat sekitar supaya tidak terjerumus ke dalam lintah darat. . bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti.2. diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk menganalisis alokasi pemanfaatan pembiayaan usaha kecil yang digunakan oleh anggota. Oleh karena itu. penting bagi KJKS BMT BUS dalam mengatur dan menetapkan biaya administrasi yang terjangkau oleh anggota sehingga kemudahan dalam mengajukan pembiayaan dapat tercapai. Selain itu. Pemerintah dan KJKS BMT BUS harus bekerja sama dalam mengembangkan usaha kecil di daerah Lasem. Implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel yang memengaruhi faktor pengambilan pembiayaan. dan adanya agunan. Saran 1. jangka waktu angsuran. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada efektivitas pembiayaan usaha kecil khususnya di bidang perdagangan. Selain itu. Kabupaten Rembang supaya tingkat kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. Oleh karena itu. 2.

Kabupaten Karawang. 2007.pesantrenvirtual. Fakultas Pertanian. S. Gujarati. L. B. Bank Indonesia. Fakultas Ekonomi. 2005. 2005. Juanda. Ekonometrika Dasar. Ungaran. Konsep dan Kebijakan Perbankan Syariah. Ilmi. Hipotesa. Basic Econometrics. Bogor. Jakarta. 2002. Penerbit Andi. 2008.com/index. Gema Insani. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik. Bank Indonesia. Hipotesa FEM IPB. BUS Graphic Lasem. Yogyakarta Aryati. 2008. Jawa Barat. http://www. Universitas Indonesia. Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Hubbul Wathon. Kecamatan Cilamaya. D. Ikhtiar Tiada Batas: Refleksi Perjalanan Pemikiran Manajemen Qur’ani H. Bogor. Abdullah Yazid.php?option=com_content&view=a rticle&id=1165:mewujudkan-equilibrium-sektor-finansial&catid=8:kajianekonomi&Itemid=60 [2 Desember 2008] Antonio. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.75 DAFTAR PUSTAKA Agustianto. 2001. . Institut Pertanian Bogor. Hidayat. Teori dan Praktek Lembaga Keuangan Mikro Syariah. BMT Network. Lembaga Keuangan Mikro. 1995. 2002. “Mewujudkan Ekuilibrium Sektor Finansial”. Erlangga. UII Press. Institut Pertanian Bogor. 2006. Jakarta.Supeno. 2004. Departemen Ilmu Ekonomi. 2008. Zain dan Sumarno [penerjemah]. Aplikasi Konsep Syariah untuk Lembaga Keuangan Syariah. Bogor. [Skripsi]. Analisis Permintaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KBMT Khidmatul Ummah. Bogor) [Skripsi]. Jakarta.Mustofa. Jumanto. Metodologi Penelitian Ekonomi & Bisnis. 2007. Jakarta. dan A. BMT Network. M. Arsyad. Yogyakarta. Y. IPB Press. E-Views Training 2005. J. Bogor. Lasem.

Thomas. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. RL. BMT Fakta dan Prospek Baitul Maal wat Tamwil. 1985. UCY Press. Jakarta. Jakarta. Suharto. Bogor. http://hndwibowo. 2005. Ekonomerika Teori dan Aplikasi Jilid I. Bogor. Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan. “Peran Permodalan BMT dalam Pemberdayaan Sektor UKM”. Pustaka LP3ES Indonesia. . Institut Pertanian Bogor. 2006. Institut Fellow Emeritus. New York. Laksmana. 2000.76 KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. A. Edisi Khusus. Theory and Applications. Jurnal Kajian Ekonomi Keuangan. Jakarta. PT Elex Media Komputindo. Institut Pertanian Bogor. November 2005. Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor [Skripsi]. Lasem. 2008. M. Rachmawan. [Presentasi Direktur Bank Biru] Rizky. Washington DC.html [4 Desember 2008] Syafar. Longman Inc. Company Profile KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. Analisis Pembiayaan Usaha Mikro Bagi Lembaga Keuangan. 2009. Bogor. M. Kurnialestari. Institut Pertanian Bogor. BMT BUS. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Fakultas Pertanian. Introductory Econometrics. 2005.com/2008/06/peranan-permodalan-bmtdalam. Tanya Jawab Cara Mudah Mendapatkan Pembiayaan di Bank Syariah. 2009. S. A. Wijono. 2007. Y. 2007. The Microfinance Revolution. W. Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman [skripsi]. A. Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT [Skripsi]. 2003. Yogyakarta.blogspot. 2008. Wardhana. Lains. Robinson.

77 LAMPIRAN .

8.tidak sekolah 2. 6. sebutkan…………. Institut Pertanian Bogor. tahun Pendidikan : 1.. Janda/ duda Data keluarga : a. Pedagang pakaian b.Tamat SMA 5.78 Lampiran 1.Tamat SMP 4.orang Lama menjadi anggota : …………. Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. 2. 11.. . Terima Kasih banyak atas perhatiannya. 9.km Biaya transportasi yang dikeluarkan menuju BMT : Rp……………………… 4. Karakteristik Anggota (Responden) Nomer responden : Alamat responden : Jenis kelamin : a..Lainnya.. Menikah c. tahun Jenis usaha yang dilakukan : (mohon ditandai bidang usaha yang dilakukan) a. Pengisian yang jujur dan objektif sangat membantu keberhasilan penelitian ini.. Pedagang lainnya. Jarak lokasi usaha ke BMT : ………………. Belum menikah b. Istri/ suami…………………………. Mohon Bapak/ Ibu berkenan mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan kondisi yang sebenar-benarnya. Anak yang menikah………………. 5.tamat SD 3. 7.orang c. I. Lasem. Jawa Tengah) Kuesioner ini digunakan dalam rangka pengambilan data untuk penyusunan bahan penelitian skripsi oleh Sholikha Oktavi K. sebutkan…………… Status : a. Laki-laki b. 10. 1.orang b. 3. Pedagang sembako c. Perempuan Umur : …………. Mahasiswi Ilmu Ekonomi.. Anak……………………………….

tahun…. Biaya administrasi pembiayaan sebesar Rp……………… Lama menekuni usaha (dihitung sebelum menerima pembiayaan). Ya b. 18.. per bulan sebesar Rp……………………… Pernahkah Anda menangguhkan pembayaran dalam pembiayaan? a. Tidak pernah Tujuan fasilitas pembiayaan yang diterima untuk: a. 14. 19. pendidikan. Perbaikan/ renovasi rumah b. sebutkan……………………………. . anak.. 21.kali Jangka waktu pembiayaan………………hari Lama mengangsur pembiayaan……………….. dll) Rp…………………… Sudah berapa kali mendapatkan fasilitas pembiayaan dari BMT…………. 12. Tidak Bila ya. 26. 23. Ya b. listrik. Peningkatan sarana/ peralatan rumah tangga c.. apakah kesejahteraan hidup Anda dan keluarga meningkat seiring dengan kemajuan usaha Anda? a. Lain-lain. peningkatan kesejahteraan keluarga meningkat dalam bentuk: a. Tidak Bila ya. 17. 25.... telepon. Dari pendapatan yang diperoleh. sebutkan…………………….. 22. Lain-lain. 13. 24. 16. Keuntungan usaha per hari Rp………………. 15. 20. apakah fasilitas pembiayaan dari BMT mempunyai manfaat terhadap perkembangan/ kemajuan usaha Anda? a. Karakteristik Usaha Lama menjadi anggota pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem……………tahun Fasilitas pembiayaan yang diperoleh saat ini Rp…………………. Peningkatan volume usaha d.. Menurut Anda. pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (untuk memenuhi konsumsi. Kebutuhan modal kerja b.79 II. Pernah b...bulan. Investasi usaha c.bulan Rata-rata pendapatan yang diperoleh per hari berdasarkan pengalaman usaha Rp……….

Cepat (jangka waktu paling lambat 7 hari sejak pengajuan pembiayaan) b. Tanggapan Anggota mengenai Pembiayaan di BMT 1. Jaminan Jaminan yang umumnya diberlakukan pada anggota pembiayaan dengan melampirkan sertifikat/ akta jual beli tanah/ bangunan. fotokopi KK. Ringan (tidak memberatkan nasabah) b. Kecil (apabila tidak mencukupi sebagai tambahan modal usaha) 5. Lama (jangka waktu melebihi 1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) 4. Sedang (ada item yang tidak bisa dipenuhi) c. Realisasi pembiayaan Cairnya pembiayaan setelah pengajuan disetujui . BPKB kendaraan (mobil/ motor). tergolong : a. Jangka waktu angsuran Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari). Biaya administrasi pembiayaan Biaya yang dikeluarkan selama proses permohonan pembiayaan hingga direalisasikan. Sedang (jaminan sebanding dengan nilai pinjaman) c. Sedang (tidak berbelit-belit tapi prosesnya lambat) c. Berat (sulit dipenuhi oleh nasabah) 2. tergolong : . Persyaratan awal pembiayaan Menurut Anda. Sedang (apabila cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan) c.80 III. Besar pembiayaan Pembiayaan yang diberikan tergolong : a. tergolong : a. Besar (apabila melebihi dari kebutuhan pembiayaan) b. mengisi formulir persetujuan suami istri. tergolong : a. BKB kendaraan motor/ mobil) ketika mengajukan pembiayaan di BMT. Mudah (tidak berbelit-belit/ terlalu banyak tahapan pencairan dana) b. Lama (berbelit-belit/ prosesnya panjang dan lambat) 3. tergolong : a. Kecil (jaminan lebih kecil daripada pinjaman) b. melampirkan fotokopi jaminan berupa sertifikat tanah-bangunan. Sedang (nasabah mengalami kesulitan untuk mencari dana awal) c. mengisi formulir permohonan pembiayaan. Ringan (mudah dipenuhi oleh nasabah) b. Proses pembiayaan Menurut Anda. tahapan yang harus dilalui dari proses permohonan pembiayaan sampai realisasi pembiayaan kepada anggota. ketentuan yang harus dimiliki (fotokopi KTP suami istri. tergolong : a. Sedang (jangka waktu 1 minggu-1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) c. Berat (memberatkan nasabah) 7. Lama angsuran yang telah disepakati bersama oleh pihak nasabah dengan BMT. Besar (jaminan lebih besar nilainya dari pinjaman) 6.

81

8.

9.

10.

11.

12.

a. Lama b. Sedang c. Cepat Besar angsuran Besar angsuran yaitu jumlah angsuran pembiayaan yang harus dibayar anggota pembiayaan dengan jumlah yang disesuaikan dengan akad yang disepakati. Besar angsuran ini telah disepakati kedua belah pihak dengan mempertimbangkan kemampuan nasabah dalam mengangsur, tergolong : a. Kecil (angsuran tidak memberikan) b. Sedang (angsuran masih terjangkau namun terkadang telat dibayar) c. Besar (angsuran memberatkan) Pelayanan petugas KJKS BMT BUS Pelayanan petugas KJKS BMT BUS yaitu penilaian responden pada saat pertama kali mengajukan pembiayaan. Hal ini merupakan kesan pertama responden terhadap KJKS BMT BUS, tergolong : a. Ramah b. Biasa saja c. Tidak ramah Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Batasan terhadap kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan adalah pihak KJKS BMT BUS selalu menyetujui permohonan pembiayaan yang diminta, tergolong : a. Mampu (besar pengajuan sama dengan realisasi pembiayaan) b. Kurang mampu (besar pembiayaan yang terealisasi kurang dari besar pengajuan) c. Tidak mampu (besar pembiayaan jauh dari pengajuan) Keaktifan petugas dalam menagih di lapang Petugas KJKS BMT BUS dalam menagih angsuran pembiayaan tergolong : a. Aktif (selalu datang untuk mengambil angsuran) b. Kurang aktif (terkadang tidak datang untuk mengambil angsuran) c. Tidak aktif (angsuran diantarkan sendiri oleh nasabah, pihak BMT tidak pernah mengambil angsuran di lapang) Keuntungan bagi KJKS BMT BUS Biaya yang harus dibayar anggota sebagai bentuk dukungan operasional kegiatan bagi pengelola BMT. Menurut Anda, besarnya nisbah dari pembiayaan tergolong : a. Ringan (nasabah tidak merasa dirugikan) b. Sedang (sama-sama untung) c. Berat (nasabah merasa rugi)

82

IV. Keberlangsungan Usaha Kecil (Dampak Pembiayaan terhadap Kondisi Nasabah) 13. Bagaimana kelangsungan usaha kecil Anda setelah mendapatkan pembiayaan dari KJKS BMT BUS? a. Meningkat b. Tetap c. Turun 14. Bagaimana tingkat pendapatan anda setelah mendapatkan pembiayaan? a. Meningkat b. Tetap c. Turun Sebelum pembiayaan (Rp) Setelah pembiayaan (Rp) Keuntungan Pendapatan 15. Untuk apa saja alokasi pembiayaan usaha kecil dari BMT? a. Untuk usaha b. Untuk pengeluaran rumah tangga c. Untuk konsumsi d. dll, sebutkan…

83

Lampiran 2. Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan
Dependent Variable: LNAB Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 07:08 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 1.094461 -0.014913 0.021921 -0.027783 -0.005428 0.014068 -0.004506 -0.056068 0.026501 0.017710 0.240332 2.640460 0.999122 0.998778 0.034697 0.033708 84.82058 2.148507 Std. Error 0.008942 0.009675 0.010218 0.022235 0.021310 0.020679 0.022975 0.029367 0.016410 0.017778 0.031195 0.143860 t-Statistic 122.3936 -1.541374 2.145317 -1.249519 -0.254731 0.680285 -0.196136 -1.909232 1.614954 0.996180 7.704204 18.35435 Prob. 0.0000 0.1345 0.0407 0.2218 0.8008 0.5019 0.8459 0.0665 0.1175 0.3277 0.0000 0.0000 15.08111 0.992396 -3.641029 -3.134365 2897.933 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Pengujian Heteroskedastisitas
White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.192027 17.07758 Probability Probability 0.340606 0.314248

Pengujian Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.246335 5.893442 Probability Probability 0.125925 0.052512

Pengujian Multikolinieritas
LNAB LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA LNAB 1.000000 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 0.200345 -0.046694 0.095961 -0.072585 -0.378634 0.458578 LNBC LNSB LNCR LNA DP1 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 1.000000 0.056518 0.297873 0.468083 -0.336290 0.056518 1.000000 0.286933 0.231653 0.226252 0.297873 0.286933 1.000000 0.155136 0.077356 0.468083 0.231653 0.155136 1.000000 -0.003279 -0.336290 0.226252 0.077356 -0.003279 1.000000 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 DP2 0.200345 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 1.000000 -0.346944 -0.197583 0.316239 -0.118235 0.159189 DP3 -0.046694 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 -0.346944 1.000000 -0.142374 0.320256 -0.119737 0.114708 DP4 0.095961 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.197583 -0.142374 1.000000 -0.197583 0.073872 0.065326 DU1 -0.072585 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 0.316239 0.320256 -0.197583 1.000000 -0.373878 0.159189 DU2 -0.378634 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 -0.118235 -0.119737 0.073872 -0.373878 1.000000 -0.425778 DA 0.458578 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 0.159189 0.114708 0.065326 0.159189 -0.425778 1.000000

3356 0.115255 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 1.046694 -0.172900 -0.006993 Mean dependent var S.197583 -0.369639 0.127079 Prob.054264 0.119737 DP4 -0.307814 0.316239 -0.359019 -0.307941 -0.325646 0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.48808 Probability Probability 0.000000 -0.239915 -0.307814 0.376134 0.404589 -0.197583 1.598517 1.081786 2.671924 2.461783 3.313728 -0.728150 -0.185234 -0.073872 -0.000000 0.338551 DP2 0.5066 0.266001 0.463975 0.200345 -0.245504 -0. Error 0.522813 -0.354413 0.329522 -0.373878 DU2 -0.142374 1.135669 -0.63571 2.0029 0. Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha Dependent Variable: LNPS Method: Least Squares Date: 07/23/09 Time: 22:07 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.700580 1.378634 DP1 0.5188 0.316239 0.D.072585 -0.E.399642 0.135669 -0.296631 2.073872 DU1 0.288626 0.084109 LNKU 0.171214 0.099020 0.513635 0.329522 0.197583 0.829948 -0.197583 0.175371 -0.307941 -0.832390 15.084109 -0.221452 -0.072342 0.095961 -0.000000 .0990 0.84 Lampiran 3.652704 -0.072342 0.534468 3. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1. 0.621512 11.320256 -0.354140 0.343331 1.119737 0.320256 -0.263138 0.505998 Std.313728 0.378634 0.5968 0.185234 -0.088059 -0.354413 1.158540 7.000000 -0.343331 -0.359019 0.427353 1.427353 -0.118235 -0.239915 0.000000 -0.519191 -0.000000 0.398472 3.200345 -0.172173 Pengujian Multikolinearitas LNPS LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPS 1.064615 -0.0038 12.756843 2.118235 DP3 -0.095961 -0.175371 -0.373878 1.1701 0.221452 -0.000000 -0.598517 -0.0170 0.338551 -0.978002 0.088059 -0.390851 0.064615 0.072585 -0.345124 0.054264 -0.97460 -32.346944 -0.000000 -0.000000 -0.142374 0.156418 0.230527 -1.256908 0.346944 1.518507 Probability Probability 0.046694 0.48337 0.172900 LNAB -0.293263 t-Statistic 3.

205831 0.142374 0.118235 DP3 -0.095961 -0.150808 -0.005735 0.187911 -0.0023 0.258680 -0.727952 -1.000000 -0.386847 0.346944 -0.302613 0.000000 0.338551 DP2 -0.197583 0.111520 11.000000 -0.354413 0.792281 -1.005735 -0.378634 0.045511 5.175371 -0.0212 0.073872 DU1 -0. Error 0.241823 2.187911 -0.361310 0.31026 2.694735 1.140894 0.75523 0.330892 0.D.200345 -0.881205 0.119737 0.205831 -0.226643 0.580460 0.373878 1.055063 Std.095961 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.144128 t-Statistic 2.000000 -0.197583 0.000000 -0.296969 0.330657 -0.000000 0.175371 -0.345476 -0.046694 0.236392 0.300203 0.327669 0.346944 1.291584 0.196405 -0.307814 0.239755 -0.427353 -0.947542 Prob.320256 -0.665513 2.200345 -0.108475 -0.1870 0.226252 -0.316239 -0.408475 -0.074401 -0.2586 0.3507 10.349272 0.057392 1.258680 0.073872 -0.226252 0.419045 0.035896 -0.142374 1.098807 0.354413 1.000283 Mean dependent var S.514040 0.85 Lampiran 4.155553 LNAB 0.307941 -0.7975 0.000000 .326285 2.4342 0.072585 -0.427109 3.373878 DU2 -0.046694 -0.155553 -0.307814 0.605371 -0.328185 -0. 0.135004 0.321486 -0.384933 Probability Probability 0.031651 0.320256 -0.472192 0.000000 -0.000000 -0.514040 0.226643 -0. Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha Dependent Variable: LNPU Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 08:35 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.119737 DP4 0.197583 1.897256 -24.0939 0.316239 0.351066 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 0.605371 0.197583 -0.307941 -0.035896 -0.057392 0.869172 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.118235 -0.258863 -1.E.3850 0.330657 LNSU 0.072585 -0.427353 1.378634 DP1 -0.296969 1.338551 -0.074401 0.08328 Probability Probability 0.196405 -0.824922 Pengujian Multikolinearitas LNPU LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPU 1.504728 7.

40) 0.319.162.790.890.60 81.67) 3.22 0.502.62 1.00 764.035.023.40 96.000.00 62.25 1.140.40) 0.062.086.865.00 (851.000.99 0.189.31) 3.00 (262.00 4.00 321.33 97.00 2.906.764.878.412.00 86.00 3.118.00 65.00 1.32 2.49 (0.60 0.377.067.295.00 .413.00 0.215.442.000.00 0.00 644.124.54 4.297.09) 3.89) 394.91 Lampiran 7.971.56 96.590.12 583.00 (391.62 % 16.00 533.643.13 1.01 0.398.00 234.139.413.339.36 1.220.519.413.398.06 (1.028.00 393.305.54 79.750.534.282.800.01 0.413.44 94.38) 364.154.12 0.105.150.75 100.566.455.305.659.24 (0.590.00 52. Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.150.03 % 31 Desember 2007 Rp 10.581.526.15 0.655.700.000.739.097.80 0.222.810.981.93 0.105.750.00 (1.015.822.00 588.60 5.890.78 0.470.000.993.38 (1.00 1.48 77.55 79.00 857.633.580.700.181.000.221.782.LASEM KAB.11 15.00 5.800.29 100.770.00 5.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Piutang Lain-Lain Penyisihan Piutang Tak Tertagih Biaya Dibayar Dimuka Total Aktiva Lancar INVESTASI JANGKA PANJANG Simpanan pada Koperasi Simpanan pada Non Koperasi Total Aktiva Lancar AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku TOTAL AKTIVA 31 Desember 2008 Rp 16.874.294.

07 0.564.21 0.06 38.31 6.37 % 31 Desember 2007 Rp 13.810.25 0.29 0.331.46 0.593.33 8.74 24.319.00 199.00 3.00 18.310.751.00 29.389.561.00 68.000.260.18 6.05 0.834.643.89 30.846.143.65 97.97 39.902.00 260.276.000.377.206.306.957.548.196.000.595.40 1.296.056.65 5.00 44.372.428.750.00 % KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Hutang Bank 17.00 4.36 0.100.38 0.33 288.815. Lanjutan KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.612.739.162.09 0.712.77 0.88 0.10 68.206.773.32 6.92 Lampiran 7.119.36 0.000.00 1.00 Total Hutang Jangka Panjang EKUITAS Simpanan Pokok Simpanan Wajib Modal Penyertaan Modal Donasi Cadangan SHU Tahun Berjalan Total Ekuitas TOTAL PASIVA 24.178.00 15.519.00 77.169.37 105.225.878.84 208.716.842.446.364.801.00 Hutang Jangka Panjang Lainnya 6.295.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 PASIVA KEWAJIBAN LANCAR Simpanan Si Rela Simpanan Si Suka Simpanan Si Sidik Simpanan Si Sidik Plus Simpanan Resiko Kredit Hutang Dana Bagian Usaha Baitul Maal Biaya Masih Harus Dibayar Total Hutang Lancar 31 Desember 2008 Rp 25.00 98.00 90.865.29 6.581.00 199.12 0.47 0.560.818.93 1.000.282.311.028.80 217.380.00 .564.283.10 68.604.320.31 0.915.054.000.00 1.00 19.100.388.097.820.205.92 12.43 44.00 349.610.01 4.11 0.653.958.716.795.32 0.255.70 100.27 5.816.28 44.28 66.726.82 23.696.344.00 248.632.45 65.93 0.71 25.869.001.00 50.532.049.312.413.16 100.00 245.000.946.583.000.149.000.05 0.17 20.00 190.00 305.121.00 5.00 752.892.LASEM KAB.465.62 0.934.

160.04) 285.00 % 387.93 Lampiran 8.568.93 0.00 0.121.405.898.43 185.60 2.40 0.927.00 0.81 217.00 100. Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.612.405.28) (0.409.93 2.62) (68.97 (11.00 % Tahun 2007 Rp 11.00 (97.83 .384.00 0.65 1.160.LASEM KAB.696.422.726.045.REMBANG KOMPOSISI PENDAPATAN DAN BEBAN Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008 dan 2007 Tahun 2008 Rp Pendapatan Usaha Beban Usaha Hasil Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain SHU Sebelum Pajak Penghasilan Taksiran Pajak Penghasilan SHU Setelah Pajak Penghasilan 15.43 0.544.955.613.60) 2.00 100.927.00 (97.422.049.57) 288.468.345.814.60 0.40 (98.28) (0.273.00 0.40) 387.32 1.57) 2.283.00 (15.548.878.

40 X 15. Acid Ratio Kas+Bank+Piutang Hutang Lancar c. RASIO LIKUIDITAS a. Rasio Total Aktiva dengan Total Hutang Total Aktiva : 97.890.48 X 66.049.94 Lampiran 9.33 X Hutang Jk.139.380. RASIO RENTABILITAS a.19% 100% = 204. Operational Ratio HPP+Beban Usaha Penjualan dan Pendapatan : 288.915. Current Ratio Aktiva Lancar Hutang Lancar b.915.062.304.568.561.957.139.957.273.81% : 100% = 97.65 288. Rentabilitas Modal Sendiri SHU Modal b.001.468.934.782.40% : 100% = 1.36% II.273. Rasio Modal dengan Aktiva Tetap Modal : 6.561.915.696.260.32 X 6.097.643.955.48 X 66.058.32 X 15.71 16.955.049.Panjang Aktiva Tetap : 3. RASIO SOLVABILITAS a.215.205.65 X Aktiva Tetap 3.71 b.57% : 100% = 140.297.00 100% = 4.36 X Total Hutang 91.891.71 100% = 140.345.118.00 15.957.817.696. Operational Margin Ratio SHU Penjualan dan Pendapatan c.566.205.71 94.56% : 100% = 24.215.57% .LASEM KAB.Panjang 24. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.00 100% = 107.468.33 c.389.001.118.260.045.REMBANG ANALISA RASIO TAHUN 2008 I.07% 100% = 13. Rasio Aktiva dengan Hutang Jk.001.18% III.03 X 66.382. Cash Ratio Kas dan Bank Hutang Lancar : 94.398.736.865.

95 Lampiran 10. Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem .

96 .

97 .

98 .

Data Besarnya Pembiayaan Yang Diambil Responden NR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 AB BC 20000000 406000 30000000 607000 3000000 69000 3000000 68000 5000000 109000 6000000 127000 10000000 207000 20000000 410000 20000000 411000 20000000 409000 5000000 108000 10000000 208000 1000000 28000 3000000 68000 2000000 47000 1000000 27000 10000000 208000 1500000 37000 5000000 109000 4000000 87000 3000000 67000 5000000 109000 SB CR A DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA 66700 600 84 0 0 0 1 0 0 1 800000 300 132 0 1 0 0 0 0 1 133500 250 48 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 60 0 0 0 0 0 0 1 70000 100 60 0 1 0 0 0 0 1 50000 100 24 0 0 0 1 0 1 1 1000000 600 60 0 1 0 0 1 0 1 200000 600 60 0 0 0 0 0 0 1 500000 100 72 0 0 0 0 0 0 1 1000000 100 48 0 1 0 0 0 0 1 500000 600 48 1 0 0 0 0 0 1 1500000 600 60 1 0 0 0 0 0 1 250000 250 36 0 0 0 1 0 0 1 500000 600 96 1 0 0 0 0 0 1 1000000 250 60 0 1 0 0 0 0 1 300000 250 36 1 0 0 0 0 0 1 117000 500 60 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 36 0 0 0 0 0 0 1 800000 600 36 1 0 0 0 0 0 1 600000 300 48 0 1 0 0 1 0 1 500000 250 48 0 1 0 0 1 0 1 1000000 600 60 0 0 1 0 1 0 1 86 .Lampiran 5.

Lanjutan 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 2000000 2000000 2000000 8000000 500000 2000000 2000000 2000000 1500000 4000000 5000000 3000000 2000000 2000000 500000 3000000 1000000 4000000 49000 47500 47000 168500 17000 46500 46500 46500 37000 87000 108000 69000 47000 47000 17000 67000 28000 87000 300000 600000 400000 800000 300000 300000 300000 300000 400000 400000 500000 600000 400000 100000 400000 600000 500000 400000 300 300 250 600 300 250 250 250 250 250 600 300 250 100 50 300 100 600 60 60 48 48 36 36 36 36 48 60 48 72 36 48 60 48 60 48 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 Keterangan : NR : Nomor responden AB : Besar pengambilan pembiayaan BC : biaya Peminjaman SB : Besarnya pendapatan usaha CR : jangka waktu angsuran A : lama menjadi anggota DP : Dummy Pendidikan 87 .Lampiran 5.

DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan Sarjana muda/ sarjana dan 0 untuk yang lain DU : Dummy jenis usaha DU1 : bernilai 1 jika siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 : bernilai 1 jika retail dan 0 untuk yang lain DA : Dummy Jenis Agunan bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan 88 .

Lampiran 6.000 Jumlah Responden (orang) 40 28 12 2 19 14 4 7 31 2 1 33 6 7 29 4 9 14 14 3 7 10 11 12 Jenis Kelamin Umur Lama Usaha Lama anggota Jangka waktu pembiayaan Tanggungan (tidak termasuk dirinya) Besar pendapatan per hari 89 .000 Rp 433.Rp 400.000 Rp 300. Data Identitas Responden Kategori penggolongan Status Range Belum menikah Sudah menikah Janda/ duda Laki-laki Perempuan 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-72 tahun <5 tahun 5-10 tahun >10 tahun <3 tahun 3-5 tahun 6-11 tahun <3 hari 3-5 hari >5 hari 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang ≤ Rp 100.Rp 250.500 – RP 1.000.000 .000 Rp 120.000 .

000.000.000.500.000 Rp 6.000 Rp2.000 Rp 30.000.000.000 Rp 10.000 Rp 2.000.000 16 14 5 5 90 .000 Rp5. Lanjutan Besar pembiayaan Rp 500.000 Rp 20.Lampiran 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful