ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN

MIKRO SYARIAH
(Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah)

OLEH SHOLIKHA OKTAVI K. H14050914

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

RINGKASAN

SHOLIKHA OKTAVI K. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera, Lasem, Jawa Tengah). Dibimbing oleh BUNASOR SANIM.

Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen, sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen. Saat ini perbankan syariah mengelola aset sebesar Rp 47.2 trilyun atau dengan share sebesar 2.05 persen dari total aset perbankan nasional (November 2008). Perkembangan perbankan syariah seiring dengan berkembangnya lembaga keuangan mikro yang mempunyai peran yang sangat besar bagi kelangsungan usaha kecil di Indonesia. Seperti yang diketahui, usaha kecil di Indonesia selalu terkendala masalah modal karena itulah peran lembaga keuangan mikro dibutuhkan. KJKS BMT BUS Lasem merupakan salah satu lembaga keuangan mikro yang telah lama berdiri. Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan efektivitas penyaluran pembiayaannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh KJKS BMT BUS Lasem dalam mendukung sektor usaha kecil khususnya perdagangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, untuk menilai keefektifan pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS. Sampel dari penelitian ini diambil dari usaha kecil khususnya di bidang perdagangan sebanyak 40 responden/ anggota yang melakukan pembiayaan di KJKS BMT BUS. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Semua data yang diperoleh diolah dengan menggunakan software eviews 4.1. Metode analisis yang digunakan yaitu: (1) regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan dan dampak pembiayaan, (2) deskriptif untuk melihat keefektifan pembiayaan berdasarkan penilaian anggota responden. Variabel yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) adalah biaya peminjaman (BC), pendapatan usaha (SB), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), tingkat pendidikan (DP), jenis usaha (DU), ada tidaknya agunan (DA). Hasil penelitian ini menunjukkan variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan adalah biaya peminjaman, jangka waktu angsuran, dan adanya agunan. Variabel yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman yaitu sebesar 1.09 persen. Akan tetapi, pendapatan usaha (SB) tidak signifikan pengaruhnya terhadap pengambilan pembiayaan. Hal ini disebabkan oleh

kebutuhan anggota yang sangat besar sehingga dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha anggota tidak terasa pengaruhnya. Efektivitas pembiayaan dinilai dengan melihat tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan dan dengan melihat dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha. Dari tanggapan responden mengenai prosedur pembiayaan, pembiayaan usaha kecil di KJKS BMT BUS tergolong cukup efektif. Akan tetapi, dinilai dari dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha dan keuntungan usaha, tujuan pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan dapat diartikan bahwa peranan pembiayaan belum menunjukkan pengaruh yang besar dalam meningkatkan pendapatan usaha anggota. Pengaruh yang rendah ini menunjukkan efektivitas pembiayaan belum sepenuhnya tercapai. Implikasi kebijakan yang seharusnya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi, jangka waktu angsuran, dan ada tidaknya agunan. Selain itu, KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan kelangsungan usaha kecil khususnya mengenai pendapatan usaha yaitu dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama dengan BMT. Keterbatasan penelitian ini terlihat pada sedikitnya variabel yang signifikan pada persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan pembiayaan. Selain itu, bidang yang diteliti dalam penelitian ini juga hanya bidang perdagangan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti dengan jumlah sampel yang lebih besar. Diharapkan juga penelitian lebih lanjut untuk melihat sejauhmana alokasi pemanfaatan pembiayaan oleh responden.

H14050914 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 .ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENGAMBILAN PEMBIAYAAN DAN EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. Lasem. Jawa Tengah) OLEH SHOLIKHA OKTAVI K.

Ir. Nama Mahasiswa Nomor Register Pokok Program Studi Judul Skripsi : Sholikha Oktavi K. Dosen Pembimbing. MS NIP. M. Prof. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. Dr. Menyetujui. Rina Oktaviani. 19641023 198903 2 002 Tanggal Kelulusan : .INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. 19451216 196902 1 001 Mengetahui. Bunasor Sanim. : H14050914 : Ilmu Ekonomi : Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Pembiayaan Usaha Kecil dan Efektivitas pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera Lasem. Jawa Tengah) dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Ir. Institut Pertanian Bogor. Dr. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.Sc NIP.

H14050914 . Bogor. Agustus 2009 Sholikha Oktavi K.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Selama menjadi mahasiswa. SES-C (Sharia Economics Student Club) IPB (2006-2007). serta aktif menjadi asisten dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Jenjang pendidikan penulis lalui tanpa hambatan. penulis juga aktif di berbagai kepanitiaan. penulis aktif di beberapa organisasi seperti IKMT (Ikatan Keluarga Muslim TPB) (2005-2006). Penulis adalah putri pertama dari empat bersaudara. dari pasangan Jumanto dan Rufi’ah. kemudian melanjutkan ke SLTP Negeri 2 Rembang dan lulus pada tahun 2002.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Sholikha Oktavi Khalifaturofi’ah lahir pada tanggal 09 Oktober 1987 di Sragen. . Selain aktif di berbagai organisasi. FORMASI (Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam) FEM IPB (2006-2008). Penulis menamatkan sekolah dasar pada SDN Soditan 1 Lasem. Penulis masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima sebagai mahasiswa di Departemen Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Pada tahun 2005 penulis mengikuti seleksi USMI di IPB dan akhirnya diterima. sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Rembang dan lulus pada tahun 2005.

M. Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurah pada Rasulullah SAW. MA selaku dosen penguji utama atas segala masukan. Robbul Izzati yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini sehingga penyusunan skripsi ini dapat tepat waktu. dik Uma yang selalu dapat menghibur di saat gundah.KATA PENGANTAR Alhamdulillah.Sc selaku dosen pembimbing atas waktu. Lasem. 4. 2. . Inti dari skripsi ini adalah penjelasan mengenai faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengambilan pembiayaan anggota dan pembuktian seberapa efektif pembiayaan usaha kecil yang dilakukan oleh lembaga keuangan mikro syariah. dik Izza. Oleh karena itu. Umi dan Abi. segala puji hanya untuk Allah. arahan selama bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. kesabaran. Ir. Prof. Dr. Skripsi ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KJKS BMT Bina Umat Sejahtera. Orang Tua tercinta penulis yang tak henti-hentinya mensupport penulis. Bunasor Sanim. Widyastutik. dan arahan yang sangat bermanfaat untuk penyempurnaan skripsi ini. penelitian ini secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kinerja KJKS BMT BUS Lasem terhadap kelangsungan usaha kecil. Jaenal Effendi. adik-adik penulis yaitu dik Furqon. masukan. saran. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. yaitu: 1. Sebagaimana diketahui bahwa kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif. M. 3. Jawa Tengah)”.Si selaku dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan masukan dalam perbaikan tata bahasan dan penulisan untuk penyempurnaan skripsi ini.

Gerry. mbak Riana. Tias Arum. Anis. Agustus 2009 Sholikha Oktavi K. 7. Lala. serta keceriaan selama proses menuju “impian”. Ayiz. dan Arie) terima kasih atas segala bantuannya saat penulis sakit. bantuan. Iqbal. Terima kasih atas doa. Mbak dedeh. sharing. Dina). Rifi. Serta teman-teman IE 42 lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Fitri. 8. Teman-teman di kosan Tiara tercinta yang sudah memberikan semangat untuk terus maju dan tidak menyerah (Riyant. Triyanti. Ryza. Maryam. Putri. semangat. dll. Demy. Eti. Heni. Nazrul. teman-teman di Alfarabi (Siti. Diana. Sahabat-sahabat penulis di IE 42. Lela. Pihak KJKS BMT BUS Lasem yaitu pak Yenny dan pak Agus yang telah membantu dan memudahkan penulis dalam pencarian data. Syelvia. Bogor. Fiya. Nada. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pihak lain yang membutuhkan. Mbak Risma. Atika. Teman bimbingan penulis. Echa. Veni. H14050914 . Listiana. dll). terima kasih atas segala bantuannya. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna bagi para civitas akademika pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Wina. rekan-rekan penulis di FEM (Fuji. Mbak Ade. Uci. Saudara-saudara penulis. 6.5. Wiji.

...... Latar Belakang............ .... 17 2..................................i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.........................................3.................................................................. 28 4..... ......... TINJAUAN PUSTAKA.1...........1.27 IV.9 2................................. PENDAHULUAN.............6 1...........................31 ......... KERANGKA PEMIKIRAN. ..1..........3.5.................................1..... ... Efektivitas Pembiayaan........... Lokasi dan Waktu Penelitian......5..................... ................... .. 27 3............................................20 III...............................2........................................3.................. Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya ........................................ ..........1......4..28 4..................................9 2...................2............................................................7 1................... Manfaat Penelitian.... 25 3......... .............1 1......................iv DAFTAR GAMBAR...................8 II... ....... ........................... Tinjauan Teori................................................................25 3....... .................. 29 4.......1.................2.3...........vi I.1...........................................................................................1 1.......................... Usaha Kecil dan Mikro.......... Rumusan Masalah....... Metode Pengumpulan Data.................................2......................... Sistem Pembiayaan Bank Syariah........ ....................... 30 4......... Kerangka Pemikiran Teoritis.... ............. Penelitian Terdahulu.......................................1.............................. Metode Pengambilan Sampel ............. Ruang Lingkup Penelitian...............................1.................28 4........................ ..................................... Baitul Maal wat Tamwil (BMT).....................7 1.................11 2...... ...................... . .......4....................................1.............................................. ....... .............. Kerangka Pemikiran Operasional.. Jenis dan Sumber Data...... Metode Pengolahan dan Analisis Data...2........... ..2....................19 2...........9 2........1.....................................16 2... ...................... ........................................... .................................................. Tujuan Penelitian.1................................ ...................... Hipotesis Penelitian....1....... METODE PENELITIAN...... ............ v DAFTAR LAMPIRAN..............

.. Uji Autokorelasi.2......................1.............................5....................5..........5.....37 4..............5.. GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM.... Dampak Pembiayaan terhadap Keuntungan Usaha... HASIL DAN PEMBAHASAN...........1.....2.........48 5.........42 5.......1.....5...........................3....2........................... ....2................36 4......35 4...5.6....6......2................................1......... Prosedur Pengajuan Pembiayaan.... .52 VI....5......... ......... ..... 61 6.......1.... .................. ... .......................... Uji Heteroskedastisitas.............1.............1.... Uji t untuk Koefisien Model Regresi...... 63 6. Indikator Kesehatan KJKS BMT BUS Lasem................. Analisis Statistik..40 V...........6................2....45 5.1...71 .........2..................................... .. 38 4...... Uji Multikolinearitas................5....2.. Dampak Pembiayaan terhadap Pendapatan Usaha..................2............................. Analisis Efektivitas Pembiayaan..................... ... 39 4. ..........1........44 5............66 6......... ...........................................3............................. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan... ......... 59 6..................1................................... Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem.............. 38 4............................. 59 6..ii 4..................2........................... Implikasi Kebijakan...1...........2......1.................... 54 6...... 66 6..3.1........................ Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem. 59 6.......... .... Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem...2...... .....1............2....... Uji Koefisien Determinasi (R2).5...42 5..................... Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem....................... Analisis Deskriptif.. Uji F untuk Model Secara Keseluruhan...2............. ....... Prosedur Pembiayaan.5..... Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem............54 6.................... ... .........................32 4.1.2........ ..3......2...... Prosedur Pencairan Pembiayaan...... ...........4...... ... Definisi Operasional......... Prosedur Pengembalian Pembiayaan.................69 6................4.............42 5............ ............................ Dampak Pembiayaan.35 4...1.

........................... 74 DAFTAR PUSTAKA..........iii VII.................................... Kesimpulan.................................................................. ......... .... Saran........................................................................... 73 7...................77 ..1......... ................................. 73 7............................................ ... .......................... KESIMPULAN DAN SARAN......2............................................................ 75 LAMPIRAN...............

. ...................3. 62 6.................1............22 4.......... ................... Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008-Miliar Rupiah) .......1. ............................................................55 6.....2........ Jenis dan Sumber Data..1....................... 64 6.......1.................... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan di KJKS BMT BUS......................... Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB. dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha tahun 2003-2006..... ... Menengah..iv DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1..........70 .52 6... 60 6..........................3 1.............5 2........... ......... Penelitian Terdahulu...........67 6. Kontribusi Usaha Kecil...........................5.... Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS.......... .... Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem....4.1..... .. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS.......... Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU.2....6......29 5..... Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS......

........................... ....... Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008)...................49 5............................ ........................ Skema Al-Musyarakah. ..............1.......v DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1.......................14 2............. ........................4... ..........................3........... .....................50 ..................... 45 5.... ........ Jenis-Jenis Pembiayaan.3................................. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS.................................................. ......... 27 5.......................15 3.......................... Skema Ba’i Al-Murabahah.......................1............2............... Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS...............1.................................. Kerangka Pemikiran Operasional................2 2.1. ............................ Proses Seleksi Pembiayaan..................................10 2.. Skema Al-Mudlorobah........13 2..............2....

........................... Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem.. 93 9.................. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem............................. 84 4..... Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem..... ............89 7. ..................... ........ Data Identitas Responden.. Kuesioner Penelitian.......................................... Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha... 85 5.............. Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha.................. 94 10........ Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem........vi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1............. 83 3..................... .......................... ....................78 2.... Data Besarnya Pembiayaan yang Diambil Responden... Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan................. 91 8... ............... . .... 95 ...... 86 6. ......................................... .............

.1. pertumbuhan bank syariah 74 persen setahun dan pada tahun 2003 sebesar 70 persen setahun. Pertumbuhan aset perbankan syariah jauh melampaui pertumbuhan aset pada perbankan konvensional. 2007). Aset perbankan syariah (tidak termasuk BPRS) selalu tumbuh di atas 30 persen. Pada tahun 2002.2 triliun rupiah atau dengan share sebesar 2. 2008). Pada tahun 2000- 2003 pertumbuhan bank syariah di Indonesia meningkat mencapai 54 persen . sedangkan perbankan konvensional masih 54 persen (Desember 2003). Begitu juga perbandingan antara Financing to Deposite Ratio (FDR) perbankan syariah dan Loan to Deposite Ratio (LDR) perbankan konvensional.1. PENDAHULUAN 1.74 persen setahun. pertumbuhan sumber dana dan pertumbuhan aset produktif. Perbankan syariah sekitar 105 persen. Pertumbuhan perbankan syariah tersebut cukup menggembirakan. Hal ini berarti tingkat intermediasi perbankan syariah jauh lebih tinggi dari perbankan konvensional (Agustianto. diketahui bahwa pertumbuhan aset perbankan syariah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan Gambar 1. sedangkan perbankan konvensional hanya sekitar 10 persen (Rizky. Industri perbankan syariah pada saat ini telah menyalurkan pembiayaan sebesar 38 triliun rupiah atau sekitar 3 persen dari total pembiayaan . pertumbuhan aset.1 I. perbankan syariah mengelola aset sebesar 47. yaitu pertumbuhan kelembagaan.05 persen dari total aset perbankan nasional. Latar Belakang Perkembangan bank syariah dimulai sejak tahun 1992. Pada bulan November 2008.

Akan tetapi. share total aset perbankan syariah terhadap total perbankan yang masih kecil menyebabkan perbankan syariah harus meningkatkan . Gambar 1.1. 2008). Sementara rasio pembiayaan perbankan syariah mencapai di atas 100 persen (sekitar 103. 2008. kredit bermasalah terlihat lebih kecil. Dengan kata lain. Sumber: Bank Indonesia. Statistik Perbankan Syariah.2 yang diberikan (PYD) dengan total kantor layanan sebanyak 1470 kantor. Selain itu. Akan tetapi. Perkembangan dan Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah di Indonesia (Tahun 2007-2008) Pangsa perbankan syariah terhadap total bank masih relatif kecil.64 persen) (Bank Indonesia. namun terus meningkat. yang paling menarik adalah pangsa perbankan syariah terhadap kredit atau pembiayaan yang diberikan lebih besar daripada pangsanya terhadap aset. fungsi intermediasi perbankan dapat lebih efektif dijalankan oleh perbankan syariah.

peternakan. 2006).95 7. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan modal yang dibutuhkan oleh usaha kecil yang kebanyakan merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. Selain unit simpan pinjam. 2008. Hal ini tidak terlepas dari perannya dalam hal penyaluran dana (khususnya pada sektor UKM (Usaha Kecil dan Mikro)). BMT berintikan dua kegiatan usaha yang mencakup Baitul Maal dan Baitul Tamwil.02 1.323 FDR/LDR (%) 111.91 1. . Hal tersebut masih dapat tercapai mengingat selama ini pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah cukup pesat.422 2.179 2.707.325.93 77.3 sharenya.362 DPK 34. Statistik Perbankan Syariah. Tabel 1.60 NPFs/NPLs (%) 3.529 2. Pangsa Perbankan Syariah Terhadap Total Bank (November 2008) (Miliar Rupiah) Perbankan Syariah Total Bank Nominal Share (pangsa) (%) Total Aset 47. yang dijalankan berdasarkan syariat Islam. Salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang memberikan pembiayaan kepada usaha mikro dan kecil adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Pertumbuhan perbankan syariah ternyata seiring dengan pertumbuhan lembaga keuangan mikro (Aryati.05 2. perikanan. seperti toko serba ada.7 Keterangan : FDR=Financing to Depocit Ratio LDR=Loan to Deposit Ratio NPFs=Non Performing Financings NPLs=Non Performing Loans Sumber : Bank Indonesia.1.876 Kredit/Pembiayaan 38. BMT ialah lembaga ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk mendukung kegiatan usaha ekonomi rakyat bawah dan kecil. BMT juga bisa secara langsung bergerak di bidang usaha sektor riil.303.

ekspor impor. leveransir. Artinya. Sebagian besar BMT berbadan hukum koperasi. Jumlah lembaga keuangan mikro (LKM) saat ini diduga sekitar 9000 LKM. BMT tidak mempunyai peluang untuk menyalurkan pinjaman kepada nonanggota.307 unit dengan aset sekitar 1. LKM hanya mampu melayani 2. Tidak sedikit BMT yang mengelola aset di atas 10 miliar rupiah dengan jumlah nasabah di atas 3. Secara sektoral aktivitas UKM ini didominasi oleh sektor pertanian. Kecil. Peran BMT cukup besar untuk mendorong perkembangan usaha kecil dan mikro. bangunan.6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Secara individual. meskipun juga banyak BMT yang asetnya kurang dari 50 juta rupiah dan nasabahnya kurang dari 500-an orang. UKM memegang posisi yang terbesar yaitu sekitar 53. perdagangan. Oleh karena itu. kontraktor dan sebagainya.000 ribuan orang. BMT sangat bervariasi terkait dengan aset yang dikelola. dan Mikro) dan hanya menyediakan dana sekitar 6 persen dari kebutuhan pembiayaan UMKM. sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. Dengan melihat kondisi ini diperkirakan masih diperlukan sekitar 8000 unit LKM baru.5 triliun rupiah. 9 Tahun 1995.99 persen terhadap total unit usaha di Indonesia.4 jasa wartel. Jika dari kontribusinya. Mengingat kotribusi UKM yang sangat besar inilah maka kebutuhan permodalan . Jumlah BMT di seluruh Indonesia diperkirakan sebayak 3. Berdasarkan kajian Kantor Mennegkop dan UKM. Menurut data Menteri Negara Koperasi tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah populasi Usaha Kecil Mikro (UKM) pada tahun 2007 mencapai 49.8 juta unit usaha atau 99. dan restoran.5 juta dari 39 juta entitas UMKM (Usaha Menengah. hotel. hampir separuh dari LKM nasional adalah BMT.

8 24.9 7. atau pada ceruk pasar (market niche) tertentu dimana dimungkinkan untuk mengenal peminjam secara pribadi (Ghate.7 33. dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan.6 100 11.9 7.0 91.1 0. 1988 dalam Arsyad. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri pengolahan Listrik. Menengah.9 3.9 17.3 100 100 100 100 100 100 100 100 100 No. dan Jasa Jasa-jasa PDB PDB tanpa migas Usaha Kecil 87. Hotel.8 43.4 45. 2007. Diharapkan dengan adanya pembiayaan dari BMT.9 15.2 46.5 bagi pengusaha kecil dan mikropun harus terpenuhi untuk kelangsungan usahanya. pembiayaan dari BMT .7 45.3 88.7 38.6 75. sektor usaha mikro dan kecil memang merupakan wilayah yang dapat dicapai oleh BMT. dan Besar terhadap PDB Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2003-2006 (persen) Rata-rata tahun 2003-2006 Usaha Usaha Jumlah Menengah Besar 8. Kontribusi Usaha Kecil.2 13.7 4.0 100 3.5 44.8 20. Tabel 1.5 29. Gas.1 52.3 8. sebagian besar LKM beroperasi dalam wilayah yang terbatas.9 36.3 39. Selain itu. usaha kecil dan mikro dapat terbantu dan berkembang. Oleh karena itu. Selain itu. dan Air Bangunan Perdagangan. Hal ini disebabkan oleh layanan keuangan syariah BMT yang mudah diakses berbagai pelaku bisnis usaha mikro dan kecil yang unbankable. Sewa. Kondisi ini memungkinkan BMT lebih banyak mendorong perkembangan usaha mikro dan kecil.9 17.1 Sumber: Badan Pusat Statistik dan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.3 75.7 21.0 39. 2008).2.

BMT yang sebagian besar berbadan hukum koperasi mampu mengatasi kendala-kendala yang dimiliki lembaga keuangan formal seperti Bank. adanya kredit (pembiayaan) yang memudahkan masyarakat menggunakannya untuk keperluan usaha. Kedua. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) khususnya BMT sangat penting untuk masyarakat miskin. Pertama. Akan tetapi. LKM membantu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat miskin untuk terus berusaha karena LKM dapat melayani usaha yang unbankable. adanya tabungan yang memfasilitasi masyarakat menginvestasikan uangnya untuk penggunaan dalam jangka panjang. Menurut Robinson (2000). Rumusan Masalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) adalah suatu gerakan swadaya masyarakat di bidang ekonomi yang sejak awal kehadirannya fokus untuk melayani kebutuhan finansial usaha mikro dan kecil. Ketiga. dibutuhkan pembiayaan yang dilakukan oleh BMT terhadap usaha kecil. 1.6 juga dapat mengurangi adanya kemiskinan karena pembiayaan BMT berdasarkan prinsip syariah. pembiayaan yang diberikan oleh BMT terhadap usaha kecil ternyata . BMT juga yang telah menyelamatkan banyak usaha mikro dan kecil dari cengkraman lintah darat. Oleh karena itu.2. Adanya keterbatasan modal yang dialami oleh usaha mikro dan kecil merupakan sebuah tantangan besar yang harus ditangani oleh BMT. terdapat tiga alasan mengapa LKM penting bagi masyarakat miskin. Dimulai sejak tahun 1992 yang merupakan respon atas kemiskinan dan pengangguran serta kurangnya permodalan dan pendampingan terhadap para pengusaha mikro dan kecil.

Seberapa efektifkah pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 1. Faktor-faktor apa yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem? 2. Membantu memberikan bahan masukan bagi pemerintah untuk perumusan suatu kebijakan bagi pengembangan UMKM khususnya BMT. 1.4. Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem.3. Manfaat Penelitian Diharapkan melalui penulisan ini.7 dipengaruhi oleh beberapa hal. dapat memberikan manfaat bagi pemerintah. Kinerja BMT dapat dikatakan baik apabila kinerja setiap bagian pada BMT juga baik khususnya kinerja BMT dalam hal pembiayaan. . Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas dapat diambil tujuan penelitian yaitu untuk: 1. Menganalisis efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem. 2. Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu: 1. 1. masyarakat serta akademisi yang mendalami masalah ekonomi yang sering mewarnai negara Indonesia.

Nasabah yang menjadi objek penelitian juga merupakan nasabah yang melakukan proses pembiayaan. Sebagai bahan referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam bidangnya dan untuk pengembangan IPTEKS.5. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan usaha kecil pada LKMS dan seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS. Memberi informasi dan masukan bagi lembaga keuangan mikro khususnya KJKS BMT BUS Lasem demi perkembangannya di masa mendatang. Kinerja pembiayaan didasarkan pada efektivitas penyalurannya yang diukur berdasarkan persepsi nasabahnya. Pengambilan nasabah sebagai sampel dilakukan dengan teknik non probability sampling yaitu dengan cara purposive sampling terhadap 40 nasabah yang menjadi responden. Dalam penelitian ini hanya akan mengkaji sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan oleh Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil pada LKMS khususnya di bidang perdagangan. 4. 1. .8 2. 3. Menambah informasi bagi masyarakat mengenai manfaat LKMS bagi usaha kecil.

2.9 II. yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas. yaitu: 1. baik secara kuantitatif. Untuk keperluan perdagangan atau peningkatan utility of place dari suatu barang. yaitu jumlah hasil produksi. yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-barang modal/capital goods serta fasilitas-fasilitas yang erat kaitannya dengan investasi. Pembiayaan konsumtif. maupun secara kualitatif. 2. Pembiayaan investasi. yaitu pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan a. Tinjauan Teori 2. Pembiayaan modal kerja. baik usaha produksi. sifat penggunaan pembiayaan dapat dibagi menjadi dua. TINJAUAN PUSTAKA 2. Menurut keperluannya. yaitu peningkatan kualitas atau mutu hasil produksi.1. Peningkatan produksi. pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua: 1.1. Sistem Pembiayaan Bank Syariah Pembiayaan merupakan salah satu tugas pokok bank. yaitu pembiayaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. b.1. Pembiayaan produktif. yaitu untuk peningkatan usaha. perdagangan maupun investasi. yaitu pemberian fasilitas penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang merupakan deficit unit. yang akan habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Antonio (2001). .

2001. Pembiayaan jangka pendek : pembiayaan dengan jangka waktu maksimal satu tahun. jenis-jenis pembiayaan baik di perbankan konvensional maupun di perbankan syariah terbagi menurut tiga macam dilihat dari pembiayaannya. b. b. c. yaitu: 1. . 2. Pembiayaan produktif : pembiayaan yang dimanfaatkan untuk kegiatan produksi yang menghasilkan suatu barang dan jasa. Jenis-Jenis Pembiayaan Menurut Laksmana (2009). Pembiayaan perdagangan : pembiayaan yang diberikan untuk pembelian barang sebagai persediaan untuk dijual kembali. Pembiayaan dilihat dari jangka waktu a. Pembiayaan konsumtif : pembiayaan yang diberikan untuk tujuan konsumtif yang hanya dinikmati pemohon. Pembiayaan dilihat dari segi tujuan a.10 pembiayaan konsumtif Modal kerja Sumber: Antonio.1. produktif investasi Gambar 2. Pembiayaan jangka menengah : pembiayaan dengan jangka waktu antara 1-3 tahun.

Pembiayaan modal kerja b. Pembiayaan dilihat dari penggunaannya a. Oleh karena itu. melainkan hubungan kemitraan (partnership) antara penyandang dana (shohibul maal) dengan pengelola dana (mudlarib). lembaga menggunakan piranti atau perangkat syariah sebagai berikut (Jumanto dkk. Pembiayaan investasi c. tingkat laba lembaga. Sistem Bagi Hasil Dalam sistem bagi hasil ini KJKS BMT Bina Umat Sejahtera menggunakan perangkat syariah yang disebut Al Mudlorobah dan Al Musyarakah (Jumanto dkk. Produk-Produk Sistem Syariah dan Ketentuan-Ketentuannya Dalam lembaga keuangan syariah hubungan antara lembaga dan nasabahnya/ anggota. tetapi juga berpengaruh pada bagi hasil yang diberikan kepada nasabah/ anggota penyimpan dana. 2007). 3. Pembiayaan jangka panjang : pembiayaan dengan jangka waktu lebih dari tiga tahun. tidak hanya berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil untuk pemegang saham. Adapun operasionalisasi untuk memenuhi kebutuhan permodalan dan memberikan pembiayaan. bukan hubungan debitur dengan kreditur.1.1. Pembiayaan multiguna 2. Al Mudlorobah yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak yang terdiri dari pemilik modal (shohibul maal) dengan pengelola (mudlorib) baik . 1.11 c.1. 2007) : a.

apabila mendapat hasil atau keuntungan. bukan usaha yang diharamkan. untuk mengusahakan modalnya dengan mendapat bagian dari sebagian keuntungan (hasil) yang telah disepakati bersama. Ketentuan-ketentuan yang harus ada pada mudlorobah (BMT Network. pengelola hanya sebagai wakil (wakalah) dari pemilik modal. apabila kelalaian tersebut disebabkan oleh pengelola. yaitu ikatan kerja atau kesepakatan bersama antara dua belah pihak dengan ketentuan secara eksplisit menunjukkan tujuan akad dan semua kesepakatan dilakukan saat membuat kontrak. Dengan kata lain dalam mudlorobah. Usaha hak eksklusif pengelola (mudlorib) dan yang sesuai syariah. Adanya usaha. maka pengelola harus bertanggung jawab atas kelalaian tersebut. bentuk uang atau barang yang dinilai secara tunai bukan piutang. 2002): a. ditanggung oleh pemilik modal. Keduanya disyaratkan harus cakap hukum artinya secara hukum pantas melakukan transaksi (akad) tersebut. c. Adanya modal dengan ketentuan jelas jumlahnya. Namun. Adanya akad. b. Keuntungan. Sedangkan jika rugi. e. selama bukan akibat kelalaian pengelola.12 bersifat keuangan atau institusi (lembaga) dengan ketentuan bagi hasil yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada waktu transaksi (akad). apabila mendapat keuntungan dibagi untuk kedua belah pihak sesuai dengan bagian masing-masing (nisbah) yang telah . d. Adanya kedua belah pihak yaitu shohibul maal dan mudlorib.

Modal dengan jumlah yang jelas. dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.2.13 disepakati bersama waktu akad. Ketentuan-ketentuan Al Musyarakah: a. Skema Al Mudlorobah 2. yaitu sistem kerja sama antara dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. 2007. Akad mudlorobah Anggota/ calon anggota Usaha/ proyek Skill/usaha Modal KJKS BMT BUS Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan MODAL Sumber: Jumanto dkk. Al Musyarakah atau syirkah. dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana. Sedang apabila ada kerugian karena usaha ditanggung pemilik dana. Adanya akad (ikatan kerja sama) antara pihak akad secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan seperti barang-barang . hal 65. bentuk uang atau barang yang dinilai. 1. c. Gambar 2. Adanya pihak-pihak yang melakukan kontrak dengan syarat cakap hukum bagi yang melakukan kontrak. Kesepakatan-kesepakatan dilakukan saat kontrak. b. Negosiasi 2.

e. Akad Musyarakah Sumber: Jumanto dkk. d. Negosiasi 4. Adanya kerja. Keuntungan dan kerugian dibagikan secara proporsional sesuai dengan besarnya modal dan kontribusi masing-masing sesuai dengan kesepakatan. f. Sistem Jual Beli Sistem jual beli ini dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan barang.14 properti. Skema Al Musyarakah b. dalam sistem ini lembaga menggunakan perangkat syariah yang disebut Ba’i murabahah. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. Akad Musyarakah KJKS BMT BUS Anggota/calon anggota kontribusi Usaha/ proyek kontribusi 3. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar musyarakah atas nama pribadi dan wakil mitranya.3. . 2007. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. hal 68. Gambar 2. Jika modal berbentuk aset harus terlebih dulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra (anggota). Negosiasi 2. Keuntungan yang didapat oleh lembaga keuangan ditentukan di depan dan menjadi bagian dari harga barang yang dijual. 1.

hal 69. terima barang 3. Pada prakteknya anggota membeli barang dengan pembayaran angsuran sehingga sistem murabahah dalam KJKS BMT BUS disebut Bai’bitsamanajil (BBA) artinya jual beli dengan pembayaran harga angsuran (tangguh). beli barang Toko/produsen Sumber: Jumanto dkk. Ketentuan umum ba’i murabahah (BMT Network. Boleh mengadakan perjanjian khusus misalnya meminta jaminan dan lain sebagainya 1. Gambar 2. Anggota membayar harga yang telah disepakati dan dalam waktu yang telah disepakati pula f. Lembaga keuangan harus jujur tentang harga pokok pembelian e. Akad Ba’i murabahah KJKS BMT BUS Anggota/ calon anggota 5.4. Skema Ba’i Al Murabahah . Lembaga keuangan membeli barang atas nama lembaga dengan sah bebas riba d. Akad atau transaksi bebas dari riba b. 2002): a. Barang yang dijualbelikan tidak barang haram c. Negosiasi 2.bayar 4.15 Ba’i murabahah yaitu jual beli barang dengan menyebutkan harga asal ditambah keuntungan yang disepakati antara kedua belah pihak yaitu antara lembaga dengan anggota. 2007.

lokasi bank. besar kecilnya biaya administrasi. Mekanisme pengembalian pembiayaan 2. yaitu: a. Kinerja LKM dikatakan efektif jika kinerja pembiayaannya terhadap usaha kecil efektif (Arsyad. Mekanisme pengajuan pembiayaan b. Efektivitas Pembiayaan Pembiayaan adalah istilah dalam syariah untuk lembaga keuangan syariah baik itu mikro maupun makro untuk menyalurkan dananya.1. Peningkatan keuntungan Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah untuk modal atau tambahan modal usaha dikatakan efektif apabila prosedur pembiayaan tergolong mudah. Dampak pembiayaan terhadap kondisi usaha nasabah. Peningkatan pendapatan b. pelayanan petugas bank. Mekanisme penyaluran pembiayaan c. menurut Hidayat (2004) menyatakan bahwa efektif atau tidaknya suatu penyaluran pembiayaan pada BMT dapat dinilai berdasarkan beberapa parameter antara lain: persyaratan peminjaman.16 2. Sedangkan. realisasi kredit.2. jaminan/agunan. Dalam penulisan ini penulis akan lebih sering menuliskan pembiayaan daripada penyaluran dana. pengetahuan dan partisipasi nasabah/calon nasabah. Dalam penelitian ini efektivitas pembiayaan dilihat dari: 1.1. prosedur peminjaman. Prosedur pembiayaannya. yaitu: a. 2008). pembiayaan yang diberikan dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan .

000.00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan.1.00 . Sedangkan usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.2. Usaha Kecil dan Mikro Definisi usaha kecil dan mikro menurut beberapa undang-undang dan institusi adalah sebagai berikut : 1.5 miliar rupiah. 40/KMK. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. UU No. 2. 3. Analisis keefektifan pembiayaan ini dilakukan untuk menilai sejauh mana kinerja pembiayaan yang telah dilakukan KJKS BMT BUS Lasem. Keputusan Menkeu No.000.000. dikuasai. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang mempunyai aset lebih dari 50 juta rupiah sampai 500 juta rupiah dan omset lebih dari 300 juta rupiah sampai 2. 2.17 usaha nasabah.06/2003 Usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia yang memiliki hasil penjualan paling banyak 100 juta rupiah per tahun.000. UU No.000. 20 Tahun 2008 Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki aset maksimal 50 juta rupiah dan omset maksimal 300 juta rupiah. 9 Tahun 1995 Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat berskala kecil dengan kekayaan bersih maksimal Rp 200. penjualan tahunan maksimal Rp 1.

Lokasi/ tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindahpindah. Usaha mikro mendapatkan kredit mikro hingga 50 juta rupiah. Dalam usaha mikro. Badan Pusat Statistik (BPS) Usaha mikro adalah usaha yang mempekerjakan lima orang termasuk pekerja keluarga yang tidak dibayar. keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga. b. Jenis barang/ komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah. c. Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang mempekerjakan 5 sampai 10 orang. 2008) : a. Ciri-ciri usaha kecil. 4. . Sedangkan usaha kecil adalah usaha yang memiliki aset hingga 200 juta rupiah di luar tanah dan bangunan dengan omset 1 miliar rupiah dan menerima kredit mulai 50 juta rupiah hingga 500 juta rupiah. sudah membuat neraca usaha. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana.18 (satu miliar rupiah) dan milik Warga Negara Indonesia (WNI) serta berdiri sendiri bukan merupakan anak perusahaan. 5. masyarakat dapat dengan bebas masuk dan keluar dari usaha ini. Bank Indonesia (BI) Usaha mikro adalah usaha yang dilakukan orang miskin atau hampir miskin yang merupakan milik keluarga dengan sumber daya lokal dan menggunakan teknologi sederhana. diantaranya (Suharto.

Pengrajin industri makanan dan minuman. e. industri meubelair. Sedangkan menurut Arsyad (2008).1. yaitu (Suharto. c. industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan. Pedagang di pasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya. terutama simpanan dan kredit. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Lembaga Keuangan Mikro (LKM) adalah lembaga yang terlibat dalam penyaluran kredit mikro (Wijono. e. f. d. b. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP. industri alat-alat rumah tangga. itik dan perikanan.19 d. Contoh usaha kecil.3. LKM merujuk keuangan mikro sebagai upaya penyediaan jasa keuangan. Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja. 2008) : a. dan juga jasa keuangan lain bagi . kayu dan rotan. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal. 2005). LKM pada dasarnya memiliki definisi yang sama dari beberapa pakar dan organisasi. g. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwiraswasta. Koperasi berskala kecil. Peternakan ayam. 2.

20 keluarga miskin dan berpenghasilan rendah yang tidak memiliki akses terhadap bank komersial. infak. at-Tamwil=pengembangan harta) adalah lembaga keuangan yang berorientasi bisnis dengan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kehidupan ekonomi masyarakat terutama masyarakat dengan usaha skala kecil.2. maal=harta) merupakan lembaga penerima zakat. Sedangkan Baitut Tamwil (bait=rumah. baitul maal (bait=rumah. Sedangkan pembinaannya di bawah Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK). Salah satu lembaga keuangan mikro adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT). Penggunaan istilah BMT diambil dari kata-kata Baitul Maal wa Baitul Tamwil. Baitul Maal wat Tamwil mempunyai dua bagian definisi yang keduanya memiliki fungsi dan pengertian yang berbeda. Penelitian Terdahulu Penelitian skripsi yang dilakukan oleh Kurnialestari (2007) tentang “Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman” menyimpulkan bahwa Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan. sadaqah dan sekaligus menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. BMT merupakan lembaga keuangan mikro yang berbentuk syariah. lama . kemudian dalam perkembangannya menjadi Baitul Maal wat Tamwil yang disingkat menjadi BMT. Menurut asal kata. Legalitas BMT diberikan oleh Departemen Koperasi dan Usaha Kecil. 2.

periode angsuran. dan dummy jenis kelamin mitra. Muhammad Syafar (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor” menyimpulkan bahwa Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif. Sebuah penelitian juga dilakukan oleh Wardhana (2005) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT”. Aryati menyimpulkan bahwa permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi secara positif dengan skala usaha yang direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT. Aryati (2006) dalam skripsi yang berjudul “Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah.21 menjadi mitra. Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan. Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. tingkat pendidikan dan jenis usaha. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah” melakukan penelitian dengan metode OLS. dummy usaha lain. TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. lama nasabah menjadi anggota KBMT. Metode yang dilakukan oleh Kurnialestari adalah metode regresi log-linier berganda (double log). dummy pinjaman lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana .

lama menjadi mitra. Namun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif. Yayat Hidayat (2004) dalam skripsi yang berjudul “Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon” menggunakan metode cobb douglass. jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. efektivitas pembiayaan secara keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT.1. Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen. Tabel 2. Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat. Penelitian Terdahulu Kurnialestari Analisis Tingkat (2007) Kesehatan dan FaktorFaktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman Metode Regresi loglinier Berganda (double log) Faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi besar pembiayaan mitra kelompok KBMT Ibbadurrahman adalah pendapatan bersih mitra per bulan. Analisis Permintaan pembiayaan regresi linier KBMT dipengaruhi berganda secara positif dengan (OLS) dan skala usaha yang Aryati (2006) Analisis Permintaan Dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil Pada Lembaga . dan dummy jenis kelamin mitra. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan.22 BMT. dummy pinjaman lain. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT. dummy usaha lain.

Sedangkan secara negatif permintaan pembiayaan KBMT dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agunan dan biaya peminjaman nasabah. Partisipasi anggota dalam mengikuti program UPK ikhtiar dapat meningkatkan jumlah tabungan. Dengan Studi Kasus KBMT Khidmatul Ummah. Secara keseluruhan pembiayaan menurut nasabah telah efektif. Penyaluran dana pada Koperasi Baitul Maal wat Tamwil sangat dipengaruhi oleh peningkatan penghimpunan dana BMT. periode angsuran. tingkat pendidikan dan jenis usaha. Namun. analisis deskriptif Muhammad Syafar (2006) Analisis Efektivitas Metode Pembiayaan Sistem AHP Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor direpresentasikan oleh pendapatan per hari dari nasabah KBMT.23 Keuangan Mikro Syariah. efektivitas pembiayaan secara Wardhana (2005) Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT Metode regresi linier berganda dan OLS Yayat Hidayat (2004) Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil Pada Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Koperasi Metode cobb douglass . TPL (tenaga pendamping lapangan) merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi efektivitas pembiayaan. lama nasabah menjadi anggota KBMT. Penerapan program UPK ikhtiar di desa Ciaruteun merupakan daerah agribisnis yang sangat efektif. Hal ini menggambarkan tingkat kepercayaan masyarakat sehingga masyarakat ingin menyimpan dananya di BMT.

jangka waktu angsuran pada koefisien keyakinan 90 persen. . Hal ini disebabkan oleh frekuensi peminjaman yang rendah serta tunggakan pembiayaan yang semakin meningkat. Sedangkan faktor pendapatan usaha keluarga dan jumlah tanggungan keluarga berpengaruh terhadap jumlah pembiayaan yang diambil pada koefisien keyakinan 85 persen. Faktor yang memengaruhi jumlah pengambilan pembiayaan oleh nasabah di BMT koppontren hubbul wathon yaitu besar tunggakan.24 Pondok Pesantren (Koppontren) Hubbul Wathon keseluruhan belum tercapai sesuai dengan yang diharapkan KBMT.

Menurut Ghate (1992b) dalam Arsyad (2008). Pengelola BMT juga melakukan survey ke nasabah yang mengajukan pembiayaan . dibutuhkan LKM yang dapat melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah Negara Sedang Berkembang (NSB) (Ghate. pihak pengelola BMT menerapkan persetujuan serta pengawasan pembiayaan yang ketat untuk memastikan kualitas pembiayaan yang sehat. Pembiayaan usaha kecil pada LKMS memberikan pengaruh yang positif bagi kinerja usaha kecil apabila kinerja pembiayaan pada LKMS baik.25 III. 1992b dalam Arsyad. Oleh karena itu. KERANGKA PEMIKIRAN 3. yaitu kelenturan prosedur kredit LKM dan penyediaan pinjaman kecil dan jangka pendek. Permasalahannya adalah hingga saat ini dukungan modal terhadap usaha kecil tergolong kurang. Hal ini sejalan dengan lembaga keuangan mikro syariah (LKMS) yang memudahkan peminjam dalam hal pembiayaan (penyaluran kredit).1. 2008). Kelenturan LKM dalam persoalan agunan membuat LKM tersebut dapat membiayai sejumlah besar kegiatan jasa tanpa harus ada agunan. Menyikapi hal ini. Dalam sebuah literatur. Kerangka Pemikiran Teoritis Lembaga Keuangan Mikro (LKM) telah berkembang sebagai alat pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. dikatakan bahwa masyarakat yang berpenghasilan rendah umumnya mempunyai jenis usaha yang berskala kecil. ditemukan setidaknya dua keunggulan komparatif LKM dalam melayani masyarakat berpenghasilan rendah di daerah-daerah pedesaan NSB.

26

sebelum pencairan dilakukan. Pembiayaan yang dilakukan BMT diberikan dalam bentuk mudharabah dan musyarakah kepada usaha kecil. Menurut Rachmawan (2008), terdapat beberapa prinsip pembiayaan yang diberlakukan beberapa institusi keuangan, yaitu: (1) Character (kepribadian), (2) Capacity/ capability (kemampuan), (3) Capital (modal), (4) Condition of Economy (kondisi perekonomian baik makro maupun mikro), (5) Cholateral (jaminan). Dari prinsip pembiayaan tersebut diduga besarnya pembiayaan yang diberikan oleh LKMS dipengaruhi oleh jenis dan skala usaha, ada tidaknya agunan, biaya peminjaman, status keanggotaan, pendidikan, dan jangka waktu angsuran. Efektivitas pembiayaan pada LKMS diukur berdasarkan persepsi nasabahnya dalam menilai pembiayaan yang diberikan.

27

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Biaya peminjaman n pendidikan Status keanggotaan Jangka waktu angsuran Pembiayaan LKMS Analisis regresi linier berganda dan deskriptif Keberlangsungan usaha kecil Efektivitas pembiayaan:  Prosedur pembiayaan  Peningkatan pendapatan usaha  Peningkatan keuntungan usaha

Ada tidaknya agunan Jenis dan skala usaha

Usaha kecil

Hipotesis Kesimpulan
Keterangan : : lingkup penelitian : variabel dependen : variabel independen : metode analisis yang digunakan

Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran Operasional 3.3. Hipotesis Penelitian Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Pembiayaan usaha kecil pada KJKS BMT BUS Lasem cukup efektif. 2. Pengambilan pembiayaan (AB) berhubungan positif dengan pendapatan (PS) dan keuntungan usaha (PU). 3. Pendapatan usaha (SB), biaya peminjaman (BC), jangka waktu angsuran (CR), lama menjadi anggota (A), dan ketiga varibel dummy (tingkat

pendidikan (DP), ada tidaknya agunan (DA), dan jenis usaha(DU)) berhubungan positif dengan besarnya pengambilan pembiayaan (AB).

28

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) BMT Bina Umat Sejahtera (BUS), Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pemilihan KJKS BMT BUS Lasem ini dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa KJKS BMT BUS Lasem telah lama berdiri dan berkembang pesat serta banyak membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di wilayah Lasem. Waktu penelitian dilakukan pada pertengahan bulan Februari sampai bulan Maret 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer untuk mengukur seberapa efektif pembiayaan usaha kecil dan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pembiayaan pada usaha kecil yang dilakukan oleh LKMS. Sedangkan data sekunder untuk melengkapi data primer dalam penulisan skripsi ini. Sumber data dari penelitian ini berasal dari data responden yaitu anggota KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha dalam lingkup kecil. Selain itu, sumber data yang digunakan berasal dari pembukuan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem. Sumber data lain sebagai pendukung kelengkapan data dalam penelitian ini didapatkan melalui Bank Indonesia, buku, jurnal, skripsi, dan internet.

Karakteristik anggota pembiayaan yang dibiayai KJKS BMT BUS Lasem b.1. Anggota tersebut juga termasuk ke dalam anggota pembiayaan yang melaksanakan usaha dalam lingkup kecil.Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini. Kuesioner tersebut berisi tentang: a. Data sekunder Neraca keuangan LKMS Status keanggotaan Aset dan outstanding BMT Sumber Data Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota Responden/anggota KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS KJKS BMT BUS              4.3. Jenis dan Sumber Data Jenis Data I. Penilaian tentang efektivitas pembiayaan usaha kecil yang dilakukan terhadap nasabah responden KJKS BMT BUS Lasem dilakukan dengan instrumen kuesioner. Data primer Karakteristik anggota Keragaan usaha Besarnya pembiayaan (rupiah) Rata-rata pendapatan perhari (rupiah) Jangka waktu angsuran (hari/bulan/tahun) Biaya transportasi (rupiah) Lama menjadi nasabah (tahun) Tingkat keuntungan (rupiah) Lama menekuni usaha/ skala usaha (tahun) Ada tidaknya agunan II. data diambil dengan metode studi kasus (case study) melalui wawancara yang dilakukan oleh pihak KJKS BMT BUS yang berwenang dengan menggunakan kuesioner kepada anggota (responden).29 Tabel 4. Tanggapan anggota mengenai pembiayaan yang disalurkan KJKS BMT BUS Lasem .

Keberlangsungan usaha kecil/ perkembangan usaha kecil dengan adanya pembiayaan dari KJKS BMT BUS Lasem 4.4. Oleh karena itu.000). Jumlah anggota sebagai respon yang diamati sebanyak 40 orang untuk memudahkan dalam analisis dengan asumsi kenormalan. metode yang paling memungkinkan adalah dengan metode purposive sampling.30 c. Bidang perdagangan dipilih karena untuk memudahkan analisis permodelan dan penyetaraan akad dalam transaksi. Responden adalah nasabah KJKS BMT BUS Lasem yang telah diberikan pembiayaan minimal 2 kali. Jumlah keseluruhan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS di bidang perdagangan mencapai 588 orang dengan karakteristik pembiayaan yang berbedabeda (jumlah pembiayaan dari Rp 0 – Rp 50. artinya prosedur yang dilakukan dalam memilih sampel berdasarkan pertimbangannya tentang beberapa karakteristik yang berkaitan dengan anggota sampel yang diperlukan untuk menjawab tujuan penelitian (Juanda. Sampel yang diambil berasal dari anggota pembiayaan KJKS BMT BUS yang mempunyai usaha di bidang perdagangan. Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pengambilan sampel non probabilitas (non acak). Pertimbangan dalam pengambilan sampel adalah sebagai berikut: 1. Dengan metode ini artinya anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem memiliki peluang yang tidak sama untuk dijadikan sampel sehingga hanya anggota yang telah ditentukan yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Jumlah badan pengurus KJKS BMT BUS sebanyak 5 orang.000. . 2007).

Sebelum diolah dan dianalisa. dilakukan beberapa prosedur pendahuluan terhadap data yang diperoleh yaitu membuat pengkodean dan penggolongan beberapa kategori jawaban.000. dan siap pakai) dengan jumlah pembiayaan antara Rp 500. Metode-metode tersebut dapat dijelaskan berikut ini: . 6.5.1. dan lain-lain.000 – Rp 30. Anggota yang diambil datanya adalah anggota yang melakukan pembiayaan di bidang perdagangan (siap saji.000.31 2. Anggota mudah ditemui dan bersedia diwawancarai serta diminta penjelasan terkait dengan kuesioner yang diberikan. 5. Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dan statistik. tenaga. Anggota yang menjadi responden adalah anggota yang pembiayaannya digunakan untuk tujuan yang produktif. Pengambilan sampel berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pimpinan KJKS BMT BUS Lasem mengenai anggota yang dapat diwawancarai baik berupa saran dan alamat nasabah. 3. Untuk pengolahan data menggunakan eviews 4. Data yang diperoleh merupakan data kualitatif dan kuantitatif. Analisis yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian dilakukan dengan dua metode. biaya. 4. Keterbatasan dalam pengambilan sampel yang berhubungan dengan waktu. 4. retail.

32 4.1) Dimana: ABi BCi SBi CRi Ai DPi = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = biaya peminjaman nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = jangka waktu angsuran (hari) = lama menjadi nasabah ke-i (bulan) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar DAi a0 = dummy agunan nasabah ke-i DA bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan = intersep .(4.5.1... Rancangan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Penggunaan logaritma natural (ln) dalam penelitian ini untuk memudahkan interpretasi dalam pemodelan dan untuk menyamakan satuan dalam model.. Analisis Statistik Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan LnABi=a0+b1LnBCi+b2LnSBi+b3LnCRi+b4LnAi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+ d1DU1i+d2DU2i+e1DAi+ei ………………………………………….

………………………………………………………(4.2) Dimana : PSi ABi KUi DPi = besar pendapatan nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = profit (keuntungan) usaha per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i c.3) Dimana : PUi ABi SUi DPi = keuntungan usaha nasabah per hari ke-i (rupiah) = besar pengambilan pembiayaan nasabah ke-i (rupiah) = besar pendapatan per hari nasabah ke-i (rupiah) = dummy tingkat pendidikan nasabah ke-i DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain .. Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Pendapatan Nasabah LnPSi=a0+b1LnABi+b2LnKUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+ d2DU2i+ ei ………………... Pengaruh Pembiayaan terhadap Tingkat Keuntungan Usaha LnPUi=a0+b1LnABi+b2LnSUi+c1DP1i+c2DP2i+c3DP3i+c4DP4i+d1DU1i+d2DU2i+ei ……………….………………………………………………………..33 b1-e1 ei = koefisien = eror ke-i b.(4.

(4) tidak ada korelasi serial antara error (no autocorrelation). Model regresi linier berganda ini akan baik dan sesuai dengan kaidah statistik apabila dilakukan pengujian supaya dapat memenuhi asumsi BLUE. (3) tidak ada hubungan antara variabel bebas dan error term.34 DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan sarjana dan 0 untuk yang lain Tidak sekolah menjadi kategori dasar DUi = dummy jenis usaha nasabah ke-i DU1 bernilai 1 jika jenis usaha siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 bernilai 1 jika jenis usaha retail dan 0 untuk yang lain Siap saji menjadi kategori dasar a0 ei = intersep b1-d2 = koefisien = eror ke-i Pengujian model di atas dilakukan dengan menggunakan model regresi linier berganda dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) ini yaitu (1) nilai harapan dari rata-rata kesalahan adalah nol. 2005). juga dilakukan pengujian statistik terhadap model penduga melalui uji F dan pengujian untuk parameter-parameter regresi melalui . Selain pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE. uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Pengujian untuk memenuhi asumsi BLUE di atas adalah uji multikolinearitas. (5) pada regresi linier berganda tidak terjadi hubungan antar variabel bebas (multicolinearity) (Departemen Ilmu Ekonomi. (2) variansnya tetap (homoskedasticity) atau dengan kata lain tidak ada heteroskedastisitas.

Jika asumsi ini tidak dipenuhi. kemungkinan probabilitas untuk menerima hipotesis yang salah menjadi besar. di antaranya: (1) meskipun penaksir OLS mungkin bisa diperoleh.1. maka terdapat gejala multikolinearitas. maka akan terdapat masalah heteroskedastisitas. Gejala multikolinearitas dalam suatu model akan menimbulkan beberapa konsekuensi (Gujarati. (2) standard error dari parameter dugaan akan sangat besar sehingga selang keyakinan untuk parameter populasi yang relevan cenderung lebih besar.2. (5) tidak mungkinnya mengisolasi pengaruh individual dari variabel yang menjelaskan.5. (4) kesalahan standar akan semakin besar dan sensitif bila ada perubahan data. Uji Heteroskedastisitas Suatu model regresi linear harus memiliki varians yang sama. tetapi kesalahan standarnya cenderung semakin besar dengan meningkatnya korelasi antara variabel. dapat juga melalui nilai Variance Inflation Factor (VIF).5.1.35 uji t serta melihat berapa persen variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabelvariabel independen melalui koefisien determinasi (R2).1. yaitu jika nilai VIF kurang dari 10 maka tidak terdapat multikolinieritas. 4. 1995). Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model adalah melalui correlation matrix. di mana jika terdapat koefisien korelasi yang lebih besar dari |0. . 4. Selain melalui correlation matrix. (3) jika korelasinya tinggi. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas merupakan pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan linear di antara variabel-variabel bebas dalam model regresi.8|.

2003). Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. Masalah heteroskedastisitas menjadi lebih akut pada data cross section karena tidak samanya besaran unit observasi (Lains. maka terdapat heteroskedastisitas dalam persamaan tersebut. Uji yang sering digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji-d (Durbin Watson Statistic).Uji Autokorelasi Autokorelasi merupakan gejala adanya korelasi antara serangkaian observasi yang diurutkan menurut deret waktu (time series) (Gujarati.3. Akibatnya hasil dari uji-F dan uji-t menjadi tidak sah dan penaksir regresi akan menjadi sensitif terhadap fluktuasi penyampelan. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan. 1995).36 Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketakbiasan dan konsistensi dari penaksir OLS.5. maka persamaan tidak mengalami heteroskedastisitas. Pengujian yang dapat dilakukan untuk melihat gejala ini adalah dengan menggunakan uji White Heteroskedastisitas dengan hipotesis: H0 : γ = 0 (tidak terdapat heteroskedastisitas/ homoskedastisitas) H1 : γ ≠ 0 (terdapat heteroskedastisitas) Kriteria uji yang digunakan: a. 4.1. Nilai statistik-d yang berada di kisaran angka dua . Adanya gejala autokorelasi dalam suatu persamaan akan menyebabkan persamaan tersebut memiliki selang kepercayaan yang semakin lebar dan pengujian menjadi kurang akurat. tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mempunyai varians minimum (efisien). b.

yaitu: a. maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa minimal ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependennya. Jika probability F-statistic < taraf nyata (α).5.37 menandakan tidak terdapat autokorelasi. maka peluang terjadinya autokorelasi semakin besar. 2005): H0 H1 : ρ = 0 (tidak terdapat serial korelasi) : ρ ≠ 0 (terdapat serial korelasi) Kriteria uji yang digunakan: a. maka persamaan tidak mengalami autokorelasi. 4.Uji F untuk Model Secara Keseluruhan Uji-F digunakan untuk menguji pengaruh seluruh variabel independen terhadap variabel dependennya secara parsial dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : b1 = b2 = b3 =…= bk = 0 (tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen) H1 : minimal ada salah satu bi ≠ 0 (ada variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen) Kriteria uji yang digunakan.1. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya < taraf nyata (α) yang digunakan. Pengujian lain untuk mendeteksi gejala autokorelasi dapat dilakukan juga dengan menggunakan uji Breusch and Godfrey Serial Correlation Lagrange Multiplier Test dengan hipotesis (Hipotesa.4. Apabila nilai probability Obs*R-squared-nya > taraf nyata (α) yang digunakan. . maka terdapat autokorelasi dalam persamaan tersebut. b. Sebaliknya jika semakin jauh dari angka dua.

5. Jika probability F-statistic > taraf nyata (α). 4.Uji Koefisien Determinasi (R2) Uji keragaman digunakan untuk melihat besarnya keragaman yang dapat diterangkan oleh variabel independen terhadap variabel dependen (Thomas. maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa tidak ada variabel independen yang memengaruhi variabel dependen.5. maka tolak H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependennya. b. 1985).6. Jika probability t-statistic > taraf nyata (α). maka terima H0 dan dapat disimpulkan bahwa variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependennya secara signifikan.38 b. juga dapat digunakan untuk melihat kuatnya variabel yang .5.1. Selain itu. Uji t untuk Koefisien Model Regresi Pengujian parsial atau uji t digunakan untuk menguji pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya dengan hipotesis sebagai berikut : H0 : bk = 0 (variabel independen-k tidak memengaruhi variabel dependen (tidak sinifikan)) H1 : bk ≠ 0 atau bk < 0 atau bk > 0 (variabel independen-k memengaruhi variabel dependen (signifikan)) Kriteria uji yang digunakan. Jika probability t-statistic < taraf nyata (α).1. 4. yaitu: a.

besar. berat. kurang efektif.39 dimasukkan ke dalam model dapat menerangkan model. cukup efektif. mampu. Keefektifan ini dilihat dari prosedur pembiayaan yang meliputi pengajuan pembiayaan. kurang mampu. ramah.5. dan pengembalian pembiayaan. Berdasarkan kuesioner yang diisi oleh anggota. pencairan pembiayaan. Formula untuk menghitung R2 adalah : 𝑅2 = Dimana : 𝐽𝐾𝑅 𝐽𝐾𝑇 …………………………………………………………(4. kecil. Terdapat empat kategori penilaian tanggapan responden terhadap efektivitas pembiayaan ini. dan tidak efektif. tidak mampu. lama. Metode ini digunakan dengan instrumen kuesioner yang ditujukan untuk anggota yang terpilih. Koefisien determinasi mengukur persentase atau proporsi total varians dalam variabel dependen yang dijelaskan model regresi. kecil. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk melihat seberapa besar efektivitas pembiayaan usaha kecil pada LKMS.4) JKT : Jumlah Kuadrat Total JKR : Jumlah Kuadrat Regresi 4. kurang aktif) diberi skor 2 sedangkan jawaban “c” (lama.2. Jawaban yang mendukung pernyataan “a” (mudah. cepat. yaitu efektif. tidak ramah. sulit. ringan. jawaban “b” (sedang. biasa. aktif) diberikan skor 3. tidak aktif) diberi skor 1. Nilai skor untuk masing-masing prosedur antara 160-480 (berdasarkan pengalian skor terendah dan . akan dapat ditentukan seberapa besar keefektifan pembiayaan usaha kecil yang dilakukan KJKS BMT BUS. besar.

1.399 d. Tidak efektif bila skor total antara 160 . 500.40 tertinggi dengan jumlah pertanyaan dalam setiap prosedur dan jumlah responden). 2. Jangka waktu angsuran adalah selang waktu pengembalian pembiayaan dimana nasabah harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari) yang sesuai dengan akad yang telah disepakati di awal oleh pihak BMT dan nasabah. Variasi besarnya pembiayaan dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah pembiayaan KJKS BMT kepada nasabah sebesar Rp.239 b. Sedangkan faktor-faktor yang merupakan variabel independen dari persamaan 4.000.6.000-Rp. yaitu: 1. Definisi Operasional Variabel dependen yang diteliti adalah besarnya pembiayaan atau jumlah pembiayaan. dan biaya transportasi (rupiah). . Jumlah pembiayaan yang diambil nasabah merupakan realisasi pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT kepada nasabah (rupiah) untuk digunakan sebagai modal usaha kecil. biaya administrasi. Cukup efektif bila skor total antara 320 . 30.319 c. Dari selang tersebut akan didapatkan : a. Kurang efektif bila skor total antara 240 . Efektif bila skor total antara 400 – 480 4.000. Biaya peminjaman adalah biaya yang dikeluarkan nasabah responden dalam pengajuan pembiayaan yang meliputi biaya materai.

.000-Rp 30. penulis akan menggunakan kata anggota dalam penelitian ini. Jenis dan skala usaha adalah jenis usaha yang dilakukan oleh nasabah (siap pakai. Oleh karena itu.000 tetapi untuk mempersempit ruang lingkup penulis menggunakan batas maksimum Rp 30. retail.000.000. Penulis mengambil sampel 40 orang responden dengan selang besaran pembiayaan antara Rp 500.000. dan siap saji) sedangkan skala usaha nasabah berdasarkan pendapatannya per hari dari total penjualan (rupiah). Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal nasabah yang meliputi pendidikan SD.000. Status keanggotaan yaitu riwayat nasabah yang sudah terdaftar menjadi anggota KJKS BMT (lama atau tidaknya beserta karakteristik nasabah yang mengajukan pembiayaan) 6. nasabah dianggap sebagai anggota. Sarjana atau yang lainnya. Adanya agunan yaitu jaminan atau persyaratan yang harus dipenuhi nasabah untuk menghindari adanya adverse selection dan moral hazard.41 3. Dalam lingkup koperasi. SMA. 4.000 karena dalam koperasi terdapat batas maksimum pemberian pembiayaan pada usaha kecil yaitu Rp 50. Dalam penelitian ini akan sedikit sekali menggunakan kata „nasabah‟ karena dalam koperasi tidak mengenal kata nasabah. SMP. 5.

KJKS BMT . pengurus dan pengelola. Rasa keprihatinan terhadap kondisi ekonomi dan tuntutan masyarakat untuk memperbaiki sistem ekonomi merupakan landasan idiil pendirian LKMS ini. 5. pengelola. Dengan semboyan sebagai “Wahana Kebangkitan Ekonomi Umat. Visi dan Misi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS sangat berkepentingan dalam rangka mewujudkan umat yang beriman dan bertakwa. Sejarah Pendirian KJKS BMT BUS Lasem Koperasi Jasa Keuangan Syariah Baitul Maal Wat Tamwil Bina Ummat Sejahtera diinisiasi dan diprakarsai oleh Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ORSAT Rembang. Dari Umat Untuk Umat Sejahtera Untuk Semua”. sebagai bagian dari gerakan amal usaha secara nasional untuk membangkitkan ekonomi islam khususnya ekonomi mikro dan kecil sesuai dengan syariah islam. Atas dasar semangat Isy Kariman Au Mut Syahidan (hidup sejahtera atau mati syahid) KJKS BMT BUS mengumpulkan modal awal sebesar dua juta rupiah yang didapatkan dari para pendiri. Modal untuk mendirikan KJKS BMT BUS ini berasal dari modal sendiri. dan anggota.42 V. KJKS BMT BUS didirikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI dengan tujuan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat lapis bawah dalam bidang ekonomi.1. Pendirian KJKS BMT BUS tidak terlepas dari tangan-tangan para pengurus dan pengelola. Di antaranya adalah dari investor yang meliputi pengurus. GAMBARAN UMUM KJKS BMT BUS LASEM 5.2.

membebaskan. Membangun Lembaga jasa keuangan mikro syariah yang mampu memberdayakan jaringan ekonomi mikro syariah. pengelola. 2. sehingga menjadi lembaga jasa keuangan mikro syariah yang sehat dan tangguh. sehingga menjadikan umat yang mandiri. Mengutamakan mobilisasi pendanaan atas dasar ta’awun dari golongan aghniya. 5. anggota. sehingga mampu membangun tatanan ekonomi yang penuh kesetaraan dan keadilan. 4. guna mempercepat proses mensejahterakan umat. Visi KJKS BMT BUS akan tercapai jika melaksanakan misi lembaga sebagai berikut: 1. untuk disalurkan ke pembiayaan ekonomi kecil dan menengah serta mendorong terwujudnya manajemen zakat. dan segenap potensi umat. .43 BUS mempunyai visi “Menjadi Lembaga Keuangan Mikro Syariah Terdepan dalam Pendampingan Usaha Kecil yang Mandiri”. sehingga terbebas dari dominasi ekonomi ribawi. Menjadikan lembaga jasa keuangan mikro syariah yang tumbuh dan berkembang melalui kemitraan yang sinergi dengan lembaga syariah yang lain. dan membangun keadilan ekonomi umat. sehingga mengantarkan umat islam sebagai khoera umat. infak. Mewujudkan lembaga yang mampu memberdayakan. Mengupayakan peningkatan permodalan sendiri. melalui penyertaan modal dari para pendiri. Visi misi itulah yang menyebabkan KJKS BMT BUS Lasem bergerak dalam cakupan usaha kecil dan memberdayakan masyarakat melalui usahanya. 3. dan shodaqah.

Selanjutnya mengalami perubahan anggaran dasar menjadi Koperasi Simpan Pinjam Syariah pada tanggal 1 Juli 2002 menurut Keputusan Gubernur Nomor 03/BH/PAD/KDK.11/IV/2006 Koperasi Simpan Pinjam Syariah diubah menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah. KJKS BMT BUS telah menerapkan manajerial sistem dalam menjalankan kelembagaannya.44 Pemberdayaan masyarakat dijembatani oleh kelembagaan dan struktur organisasi dalam BMT. Hal tersebut tercermin dalam rapat anggota tahunan (RAT) sebagai kekuasaan tertinggi untuk memilih pengurus dan pengawas dari anggota untuk masa jabatan lima tahun. 5. Pada tanggal 4 April 2006 menurut keputusan gubernur Nomor 04/PAD/KDK.11/III/ 1998. pengurus bertindak sebagai policy maker dalam menjalankan organisasi. Beberapa pengurus dalam KJKS BMT BUS ditunjuk sebagai pengawas atau supervise sesuai dengan sistem yang telah diterapkan oleh lembaga.3.11/VII/2002. . Badan hukum pertama dari lembaga ini adalah koperasi serba usaha “Unit Simpan Pinjam” dengan nomor badan hukum 13801/ BH/ KWK. Kelembagaan dan Struktur Organisasi KJKS BMT BUS Lasem KJKS BMT BUS Lasem diresmikan pada tanggal 10 November 1996 oleh ICMI (Orsat Kabupaten Rembang). Oleh karena itu. Lembaga yang mempunyai motto “Wahana Kebangkitan Ekonomi Ummat” ini mengalami perkembangan badan hukum sebelum menjadi Koperasi Jasa Keuangan Syariah.

1. dan general manager serta manager cabang. wakil bendahara. kedua.4. Struktur Organisasi KJKS BMT BUS 5. Produk-Produk KJKS BMT BUS Lasem Kegiatan operasional BMT saat ini. produk penghimpunan dana atau simpanan. dan keempat produk/ jasa lainnya. pada dasarnya menghasilkan empat jenis produk/ jasa layanan.45 Struktur organisasi dari KJKS BMT BUS Lasem meliputi ketua. ketiga. wakil sekretaris. pengawas syariah. Gambar 5. yaitu: pertama. 2009. sekretaris. . Pengurus General Manager Manager Region Manager Region Manager SPI Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Operasional Kepala Bagian Kepala Seksi Manager Pemasaran Kepala Bagian Kepala Seksi Manager cabang Anggota KJKS BMT BUS Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. produk penyaluran dana atau pembiayaan. produk baitul maal atau layanan amil zakat. bendahara.

sistem penyetoran dan pengambilannya dapat dilakukan setiap saat.46 A. . Jasa atau bagi hasil diperhitungkan dengan nisbah 35 persen : 65 persen b) Simpanan Sukarela Berjangka (Si Suka) Simpanan berjangka dengan sistem setoran dapat dilakukan setiap saat dan pengambilannya disesuaikan dengan tanggal valuta. Wadiah Yad Dlomanah. 3 bulan. Mudlorobah. Jenis simpanan Si Suka dapat digolongkan Si Suka 1 bulan. 6 bulan. dan 1 tahun. yaitu simpanan dimana penyimpan berhak mendapat bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh lembaga sesuai nisbah (presentase pembagian) yang telah ditentukan. Penyetoran Si Rela dapat dilakukan melalui sistem jemput bola yakni pengelola/ petugas akan mendatangi anggota yang hendak menitipkan dana. yaitu: a) Simpanan Sukarela Lancar (Si Rela) Simpanan lancar. Dalam hal ini ada beberapa macam simpanan dengan nisbah yang berbeda sesuai dengan karakter masingmasing. yaitu titipan dana tanpa mengharapkan bagi hasil. Produk Penghimpunan Dana/ Produk Jasa Layanan I Produk simpanan dalam KJKS BMT BUS meliputi: a. b. lembaga dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan anggota dan lembaga dengan suka rela berhak memberikan bonus kepada penyimpan.

47 c) Simpanan Siswa Pendidikan (Si Sidik) Simpanan yang dipersiapkan sebagai penunjang khusus untuk biaya pendidikan dengan cara penyetorannya setiap bulan dan pengambilannya pada saat siswa akan masuk perguruan tinggi. Murabahah. b. yaitu pembiayaan modal usaha bagi anggota dan calon anggota dengan sistem bagi hasil dari keuntungan sesuai kesepakatan di depan. B. Pembiayaan di BMT ini meliputi: a. dengan pembayaran secara angsuran. Simpanan haji menggunakan prinsip wadiah yadlomanah dan ijaroh Bittamlik sehinga memberikan kemudahan dan manfaat dalam menunaikan ibadah haji serta mempunyai nilai dakwah bil jama’ah. yaitu akad pembiayaan melalui sistem pengadaan barang dan di dalamnya terdapat kesepakatan besarnya pemberian keuntungan . c. Produk Penyaluran Dana/ Produk Jasa Layanan II Produk KJKS BMT BUS yang kedua yaitu produk penyaluran dana atau pembiayaan. yaitu akad pembelian barang dengan penambahan margin keuntungan atas kesepakatan bersama. Ba’i Bitsaman Ajil (BBA). d) Simpanan Haji Bentuk simpanan yang ditujukan bagi umat Islam yang akan menunaikan ibadah haji. Mudlarabah.

48 (mark up). Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem Kredit atau pembiayaan menurut UU No. BMT menerima titipan zakat. C.7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah penyediaan uang/tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. D. lembaga tidak mengambil keuntungan. Akan tetapi. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka . yaitu seperti produk penghimpunan dana dan penyaluran dana yang diuraikan di atas. Produk Baitul Maal dilakukan dalam kegiatan operasional yang sama dengan Baitut Tamwil. dan pelunasannya dapat diangsur atau jatuh tempo sesuai kesepakatan. yaitu pembiayaan untuk kepentingan sosial. infak. Produk Baitul Maal/ Produk Jasa Layanan III Produk KJKS BMT BUS yang ketiga yaitu Produk baitul maal.5. pertumbuhannya belum seperti yang terjadi dalam perbankan konvensional. Qordul Hasan (QH). bahkan saat ini akan memiliki fasilitas ATM yang akan melaksanakan program online sistem antara cabang dan pusat pada tahun 2009 ini. dan shadaqah serta menjalankannya sesuai dengan ketentuan dan amanahnya. KJKS BMT BUS telah menggunakan sistem komputerisasi baik bidang administrasi umum maupun keuangan. Dalam bidang teknologi informasi. Sebagai baitul maal. d. Produk layanan lainnya/ Produk Jasa Layanan IV KJKS BMT BUS mengembangkan produk di luar ketiga jenis produk yang telah diuraikan di atas. 5.

waktu sesuai dengan yang diperjanjikan. Gambar 5. 2009. kredit yang disalurkan bisa kembali. Unsurunsur pembiayaan yaitu kepercayaan. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri. SIUP (Surat Ijin Umum Perusahaan).49 waktu tertentu dengan bunga. Proses pembiayaan dalam BMT meliputi pengajuan. Jaminan merupakan salah satu syarat . nisbah atau pembagian hasil keuntungan. Dalam pembiayaan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi anggota jika ingin mengajukan pembiayaan diantaranya yaitu fotokopi KTP. survey dan analisa anggota. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. dan realisasi. P en gaju an S u rvey dan an alis a D ok u m en tas i/P en gik atan D itolak P en c airan P em bin aan Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) bagi perusahaan. tingkat resiko (Degree of Risk) (semakin lama jangka waktu semakin besar resiko yang dihadapi). pencairan.2. Proses Seleksi Pembiayaan Jaminan diperlukan untuk menghindari adanya moral hazard dari anggotaanggota yang mengajukan pembiayaan. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap. TDP (Tanda Daftar Perusahaan). fotocopy KK. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP.

Pembiayaan Anggota di KJKS BMT BUS . jasa. Pembiayaan yang dilakukan oleh BMT mencakup beberapa sektor. Untuk lebih jelasnya akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini. Diantaranya yaitu sektor pertanian. dimana dalam BMT terdapat konsep ta’awun dan kemudahan dalam prosedur pengajuan pembiayaan.3. Sektor perdagangan merupakan sektor yang paling besar diberikan pembiayaan oleh BMT. dan nelayan. Gambar 5. Hal ini disebabkan sebagian besar masyarakat Lasem bekerja pada sektor ini. 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 Persentase(%) 43% 23% 14% 12% 8% perdagangan pertanian nelayan industri kecil jasa Sektor Pembiayaan Anggota Sumber : KJKS BMT BUS Lasem. 2009.50 direalisasikannya suatu pengajuan pembiayaan. Akan tetapi. maka jaminan dapat tidak diberlakukan. perdagangan. jika KJKS BMT BUS sudah mengenal karakter anggota dan karakter usahanya. Inilah yang membedakan BMT dengan perbankan. Hal ini menunjukkan kemudahan dari BMT kepada anggota dalam hal pengajuan pembiayaan. industri kecil. Sektor ini merupakan prioritas utama dalam KJKS BMT BUS.

dengan sistem angsuran yang telah ditentukan oleh KJKS BMT BUS dan mudhorib. atau jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak. pembiayaan ini dengan sistem musiman. mingguan. produk ini sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat nelayan berupa pemupukan modal nelayan dan pengadaan sarana penangkapan ikan. Produk Pembiayaan Nelayan Jenis pembiayaan yang diperuntukkan bagi masyarakat nelayan. dan bulanan dengan jangka waktu pembayaran sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Produk Pembiayaan Pedagang Sasaran pembiayaan usaha kecil mikro. d. Produk Pembiayaan Industri Dan Jasa Produk ini dikhususkan bagi para pengusaha yang bergerak dalam bidang pengembangan jasa. jumlah modal yang dibutuhkan disesuaikan dengan luas lahan garapan.51 Produk pembiayaan anggota yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS terdiri dari lima jenis pembiayaan berdasarkan lapangan usaha. . utamanya pedagang kecil yang membutuhkan permodalan untuk pengembangan usahanya dengan sistem angsuran harian. b. PNS melalui sistem angsuran ataupun jatuh tempo yang telah disepakati kedua belah pihak. Produk Pembiayaan Pertanian Sasaran pembiayaan pertanian dititikberatkan pada modal tanam dan pemupukan. c. dan industri. yaitu: a.

Indikator Kesehatan Operasional KJKS BMT BUS Lasem Suatu lembaga keuangan akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila kondisi lembaga keuangan tersebut juga baik.924.413.600 80.559 13.448.541.760. Tabel 5. Pertumbuhan BMT yang pesat ini dapat dilihat dari banyaknya cabang KJKS BMT BUS di beberapa daerah.058.400 139.6.246.450.643.52 5.407.524.000 1.625 114.026.660 52.214.341.089.437.377 97. Hal ini terjadi mengingat pertumbuhan BMT yang cukup pesat.733.066 30. Selain itu.200 88.505.023 15.450 437.589. Dalam hal ini repayment rate berhubungan dengan pembiayaan.202 77. .254.819.558.044.226 40.941.615.550 379.915.650. 2009.180 7.780 25.519. Menurut Arsyad (2008) indikator kinerja yang paling penting bagi LKM adalah tingkat pengembalian pinjaman (repayment rate) karena indikator tersebut merupakan prasyarat utama agar sebuah LKM mampu mandiri dan sustainable dalam jangka panjang.709 21.127. Perkembangan Aset dan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem (dalam Rupiah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 TAHUN 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 ASET 8.107.571.900 2. Saat ini KJKS BMT BUS sudah memiliki 44 cabang di berbagai daerah.544.601.).721.908.827.846. Pembiayaan yang dilakukan oleh KJKS BMT BUS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan.384.976.900 853.349.100 2.865.1.464.097 PEMBIAYAAN 6.077 5.710 32.1.179 24.330 65.035 Sumber : KJKS BMT BUS Lasem.148. pertumbuhan aset dan outstanding BMT setiap tahun mengalami peningkatan (Lihat Tabel 5.

terdapat juga NPF (Non Performing Financing) yang merupakan tingkat pembiayaan bermasalah. NPF tidak dapat penulis ketahui karena terdapat data-data yang tidak untuk dipublikasikan.035.63 persen. lending. Secara keseluruhan dari total KJKS BMT BUS yang ada.906. Akan tetapi.53 KJKS BMT BUS Lasem merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang tergolong sangat pesat perkembangannya di wilayah Lasem. Besarnya Financing to Depocit Ratio (FDR) sebesar 117.885.094 dan lending sebesar Rp 77. KJKS BMT BUS melakukan RAT (Rapat Anggota Tahunan) setiap tahun untuk mengevaluasi dan mengetahui kinerjanya selama setahun. Untuk lebih jelasnya telah dilampirkan laporan keuangan BMT per 31 Desember 2008 yang mencakup jumlah aktiva dan pasiva selama tahun 2008.846. .760. dan FDR. Selain funding. besarnya funding yang dihasilkan per 31 Desember 2008 yaitu Rp 65.

31 lebih besar dari taraf nyata 5 persen yaitu 0. dan multikolinieritas menunjukkan bahwa model bersih dari masalah heteroskedastisitas. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Pembiayaan Sumber data yang digunakan adalah data primer dari 40 responden yang merupakan anggota pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem. Uji asumsi klasik untuk metode regresi yaitu pengujian heteroskedastisitas. autokorelasi. autokorelasi.54 VI. Hal ini terlihat karena nilai prob dari obs*R-squared adalah 0. Terdapat beberapa variabel bebas yang tidak signifikan terhadap variabel tak bebas yaitu pendapatan dan jenis usaha. Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan metode white heteroskedasticity dan didapatkan prob dari obs*R-squared statistic lebih besar dari taraf nyata () maka hasilnya tidak tolak H0.1. lama menjadi anggota.1.1 dalam penelitian ini berikut analisis pembahasannya dapat dilihat pada Tabel 6. dimana batas terjadinya korelasi antara sesama . Uji multikolinieritas dilakukan dengan correlation matrix. Berikut ini akan dijelaskan hasil dan analisis yang dicapai dari estimasi model. sehingga penelitian ini tidak mengandung autokorelasi. Hasil akhir estimasi persamaan 4. Hal ini dapat dipahami karena terdapat faktor lain yang memengaruhi variabel tak bebas yang tidak dimasukkan dalam objek penelitian dan kondisi lingkungan pada tempat penelitian.05. HASIL DAN PEMBAHASAN 6. Uji autokolinearitas dengan menggunakan uji Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test menunjukkan bahwa prob dari obs*R-squared lebih besar dari () 0.05. dan tingkat pendidikan. dan multikolinieritas.

999122 ini menunjukkan bahwa uji ketepatan perkiraan (goodness of fit) dari model adalah baik.005428 0.004506 -0.999122 dan nilai Adjusted R-Squared 0.5019* 0. Berdasarkan lampiran dapat disimpulkan bahwa penelitian ini tidak mengandung gejala multikolinieritas sehingga dapat dilakukan analisis lebih lanjut karena model memenuhi asumsi BLUE (Best Linier Unbiased Estimator).0665* 0.998778 2.3277* 0.1.0000*** 0.026501 0. Hasil Pengujian Persamaan Pengambilan Pembiayaan LNAB Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C Coefficient 1.999122 0.09 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.1).094461 -0. Tabel 6. sedangkan sisanya 0. Artinya model tersebut mampu dijelaskan oleh variabel-variabel bebas di dalamnya sebesar 99.8459* 0. Dari uji serentak melalui uji-F menunjukkan pula hasil .80.55 variabel bebas adalah tidak lebih dari 0.998778 (Tabel 6.021921 -0.240332 2.1175* 0.052512 0.91 persen.640460 Prob(t-stat) 0.0000*** 0. Nilai R-squared sebesar 0.014913 0.056068 0.027783 -0.0000 0.000000 0.2218* 0.314248 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : *** = sangat signifikan pada taraf 5 persen ** = signifikan pada taraf 5 persen * = tidak signifikan pada taraf 5 persen Nilai koefisien determinasi R-squared sebesar 0.017710 0.014068 -0.148507 0.1345* 0.8008* 0.0407** 0.

Artinya. 2. ceteris paribus. Hal ini dilihat dari angka probabilitas statistik F sebesar 0. dan tingkat pendidikan tidak memengaruhi besarnya pengambilan pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. Semakin besar biaya peminjaman yang dikeluarkan oleh anggota maka semakin besar pula pembiayaan yang diberikan oleh BMT (pembiayaan yang diambil oleh anggota).09 persen. Koefisien variabel BC sebesar 1. Pendapatan usaha (SB) Variabel SB (Pendapatan Usaha) tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen. dari semua variabel penjelas dalam model regresi pengambilan pembiayaan (AB) ini minimal ada satu variabel yang berpengaruh signifikan pada taraf nyata 5 persen. Sedangkan pendapatan dan jenis usaha.56 yang baik.09 artinya besarnya biaya peminjaman sebesar satu persen menunjukkan besarnya pengambilan pembiayaan sebesar 1. Biaya Peminjaman (BC) Berdasarkan hasil pendugaan parameter menunjukkan bahwa BC (Biaya Peminjaman) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen. Analisis hasil estimasi persamaan pengambilan pembiayaan di atas akan dijelaskan sebagai berikut: 1. jangka waktu angsuran. dan ada tidaknya agunan. lama menjadi anggota.00 yang lebih kecil daripada taraf nyata (α) 5 persen. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Uji parsial atau uji statistik-t memperlihatkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi besarnya pembiayaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen adalah biaya peminjaman. Artinya adanya pendapatan usaha tidak memengaruhi besarnya .

Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa lama menjadi anggota berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pendapatan usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap taraf nyata 5 persen. Hal ini mengandung arti bahwa BMT tidak membeda-bedakan antara anggota baru dan anggota lama.57 pembiayaan yang diambil pada taraf nyata 5 persen. Koefisien variabel jangka waktu angsuran sebesar 0.02 berarti bahwa jika terjadi peningkatan lama angsuran sebesar 1 persen maka akan meningkatkan pengambilan pembiayaan sebesar 0. Koefisien yang negatif menunjukkan bahwa anggota yang mempunyai pendapatan lebih tinggi tidak selalu mengambil pembiayaan dalam jumlah yang tinggi. Hal ini menunjukkan kemudahan mengangsur dari BMT karena anggota mempunyai waktu yang lebih lama untuk memanfaatkan pembiayaan dari BMT untuk kebutuhan modal kerja. Koefisien negatif pada variabel ini berarti .02 persen. Jangka waktu angsuran (CR) Variabel jangka waktu angsuran (CR) berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen. anggota yang baru memulai usaha (pengalaman usahanya belum terlalu lama tetapi prospek usahanya bagus) mengajukan pembiayaan dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan anggota yang sudah mapan. 4. 3. Lama menjadi anggota (A) Variabel lama menjadi anggota tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen. Menurut kondisi di lapangan pada saat penelitian. Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian.

Perbedaan pengambilan pembiayaan jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0. Pengambilan pembiayaan terbesar pada jenis usaha siap saji karena jenis usaha ini mudah mengambil keuntungan dalam jumlah yang besar.58 semakin lama seseorang menjadi anggota maka besarnya pengambilan yang diambil akan menurun. 5. . Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa jenis usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengambilan pembiayaan pada taraf nyata 5 persen. KJKS BMT BUS dalam memberikan pembiayaannya tidak mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian. 6. Jenis usaha (DU) Jenis usaha baik siap saji dan siap pakai maupun siap saji dan retail berpengaruh positif terhadap pengambilan pembiayaan tetapi pengaruhnya tidak nyata secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. Besarnya pengambilan pembiayaan tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang karena menurut BMT yang terpenting adalah ketekunan seseorang tersebut dalam menjalani usaha. Kondisi ini diduga karena adanya pendampingan dari BMT terhadap para anggota sehingga kesejahteraan para anggota dapat meningkat. Tingkat pendidikan (DP) Variabel tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen.03. lebih besar daripada perbedaan pembiayaan jenis usaha siap saji dan retail.

Hasil ini sesuai dengan hipotesis penelitian. Adanya agunan memengaruhi pengambilan pembiayaan dalam jumlah yang besar. Prosedur Pengajuan Pembiayaan Berdasarkan Tabel 6. Hal ini menunjukkan kemudahan pada BMT karena BMT dapat melayani pembiayaan tanpa agunan.Analisis Efektivitas Pembiayaan Efektivitas pembiayaan diukur berdasarkan persepsi dari responden yang diwawancarai. Prosedur Pembiayaan Prosedur pembiayaan yang dianalisis berdasarkan penilaian responden dalam penelitian ini adalah prosedur pengajuan pembiayaan.2. pencairan pembiayaan dan pengembalian pembiayaan.2.1. 6. Penilaian efektivitas pembiayaan dilihat dari prosedur pembiayaan dan dampak pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan dan keuntungan. Dalam penelitian ini menggunakan 40 responden yang berhasil diambil datanya. 6.2. Akan tetapi. terdapat pengecualian dalam hal ini yaitu pada anggota yang mempunyai kredibilitas baik di mata BMT mendapatkan keringanan untuk tidak menyertakan agunan jika pengajuan pembiayaannya masih kurang dari 2 juta rupiah. artinya prosedur pengajuan . Ada tidaknya agunan (DA) Ada tidaknya agunan berpengaruh positif dan signifikan pada taraf nyata 5 persen.1.59 7. diperoleh keterangan bahwa proses pengajuan pembiayaan di KJKS BMT BUS tergolong efektif. 6.1.2. Hal ini disebabkan kehatihatian BMT untuk menghindari adanya moral hazard dari anggota.

berat. TDP. ringan. 38 95 Total Skor 2 5 0 0 118 403 Keterangan : Skor 3 untuk jawaban mudah. NPWP (bagi perusahaan). 2 5 8 20 30 75 52 4. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengajuan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1. surat pernyataan bersedia dijadikan agunan apabila sertifikat bukan atas nama sendiri. Efektivitas proses pengajuan dapat dilihat dari kemudahan prosedur pembiayaan yang ditetapkan. SIUP. dapat diketahui bahwa 87.2. ramah Skor 2 untuk jawaban sedang. Berdasarkan Tabel 6.5 Skor 2 Orang 5 Persen 12.2. tidak ramah . Tabel 6. 38 95 2 5 0 0 118 3. slip gaji terakhir untuk PNS dan pegawai swasta. surat pernyataan potong gaji bagi PNS atau pegawai swasta yang memiliki gaji tetap. Aspek Kemudahan proses prosedur awal pembiayaan Persyaratan awal pembiayaan Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan Pelayanan petugas BMT Skor 3 Orang 35 Persen 87. surat keterangan domisili dari kelurahan jika tidak mempunyai KTP.5 Skor 1 Orang 0 Persen 0 Total Skor 115 2. Hal ini memudahkan anggota dalam mengajukan pembiayaan dan menyebabkan ketertarikan kepada anggota baru untuk melakukan pembiayaan di BMT. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh anggota dalam mengajukan pembiayaan adalah fotokopi KTP. sulit.5 persen responden menyatakan bahwa proses prosedur awal pembiayaan tergolong mudah. fotokopi KK.60 pembiayaan dapat diterima oleh anggota. biasa Skor 1 untuk jawaban lama.

Lamanya pencairan pembiayaan antara dua sampai dengan lima hari karena bagian pembiayaan harus mensurvey dan menganalisis anggota tersebut.2. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari adanya moral hazard karena KJKS BMT BUS tergolong BMT yang sudah mempunyai nama di daerah sehingga manajemennya sangat teratur dengan peningkatan aset dan pembiayaan setiap tahun.5 persen mengatakan sedang. Responden yang mengatakan sedang cukup beralasan karena sebagian besar responden tersebut pernah mengalami penangguhan pembayaran pengembalian pembiayaan sehingga BMT harus menganalisis lebih terhadap responden tersebut. Berdasarkan Tabel 6. 6.1. KJKS BMT BUS memang mensyaratkan adanya jaminan bagi anggota yang mengajukan pembiayaan dalam skala tinggi. Sebagian besar anggota menilai bahwa biaya administrasi yang ditetapkan BMT . diperoleh keterangan bahwa tanggapan anggota responden terhadap lamanya realisasi pembiayaan yaitu sebesar 87.3. Prosedur Pencairan Pembiayaan Pencairan pembiayaan akan dilakukan setelah disetujui dan ditandatangani oleh manajer pembiayaan. Akan tetapi.5 persen mengatakan cepat dan sisanya sebesar 12.61 Nilai jaminan dengan besarnya pembiayaan menurut sebagian besar responden tergolong besar. jika anggota sudah mempunyai catatan perilaku baik dan pihak BMT sudah mengenali anggota tersebut maka pihak BMT tidak akan mensyaratkan adanya jaminan.2. Sebelum dicairkan. pengajuan pembiayaan dari anggota akan diperhitungkan dan dianalisis apakah anggota layak diberikan pembiayaan atau tidak.

5 Skor 2 Skor 1 Orang Persen Orang Persen 5 12.5 0 0 119 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban cepat. mampu Skor 2 untuk jawaban sedang.62 sedang yaitu sebesar 95 persen. kurang mampu Skor 1 untuk jawaban lama. KJKS BMT BUS dalam memberikan .5 1 6 2.5 1 2. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pencairan Pembiayaan di KJKS BMT BUS No 1.5 15 Total Skor 115 80 75 4. 2. sulit. Aspek Realisasi Pembiayaan Biaya Administrasi Besar pembiayaan yang diberikan Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Skor 3 Orang Persen 35 87. besar. mudah. tidak mampu 389 Pembiayaan yang diberikan oleh KJKS BMT BUS mencapai seratus juta rupiah. 3.5 0 0 38 33 95 82. sebagian besar anggota (82.5 persen) merasa puas atas jumlah pembiayaan yang diberikan karena besarnya pembiayaan sedang (sesuai) dengan apa yang diajukan oleh anggota. Apabila melihat dari besarnya pembiayaan yang diberikan. Hal ini disebabkan biaya administrasi yang ditetapkan BMT pada setiap tingkatan plafond rata-rata sebesar 2 persen dari jumlah pembiayaan. Tabel 6. 39 97. Hal ini disebabkan perkembangan KJKS BMT BUS yang sangat pesat dengan melakukan ekspansi ke berbagai daerah dengan mendirikan cabangcabang baru dari KJKS BMT BUS.5 1 1 2.3. Besarnya persentase ini diduga menyebabkan tingginya biaya peminjaman sehingga dapat disadari bahwa semakin tinggi biaya peminjaman maka besarnya pembiayaan akan semakin tinggi pula.5 2. kecil.

Prosedur Pengembalian Pembiayaan Jangka waktu pembayaran angsuran dan pelunasan pembiayaan oleh anggota ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antara pihak BMT dan anggota.9 miliar rupiah. yaitu pertama secara angsuran dan kedua secara jatuh tempo. Hal ini dapat dibuktikan dengan tingkat aset BMT pada tahun 2008 yang mencapai 97. . Semakin sering anggota melakukan pembiayaan dengan catatan anggota tersebut „baik‟ selama meminjam. Cara yang pertama yaitu secara angsuran akan menguntungkan KJKS BMT BUS karena setiap bulan/ hari anggota harus mengangsur angsuran pokok sekaligus bagi hasilnya.63 pembiayaan kepada anggotanya dilakukan secara bertahap. demikian juga sebaliknya.3. maka jumlah modal yang diberikan akan semakin besar. Secara keseluruhan berdasarkan total skor yang didapat yaitu sebesar 389. Sedangkan cara yang kedua yaitu jatuh tempo. Dalam KJKS BMT BUS sendiri terdapat dua macam cara mengangsur pembiayaan. anggota hanya memberikan bagi hasilnya saja. maka KJKS BMT BUS dapat dikatakan cukup efektif dalam hal prosedur pencairan pembiayaan. Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya. 6.2. Anggota yang mempunyai pengalaman usaha baik dan keuntungan usahanya meningkat akan diutamakan oleh BMT untuk diberikan pembiayaan.1. Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi permohonan pembiayaan yang diajukan tergolong mampu. kemudian pada saat jatuh tempo baru memberikan pokoknya.

4. lama. Beberapa aspek yang memengaruhi efektivitas pengembalian pembiayaan dapat dilihat pada Tabel 6. 31 77. Anggota yang kemampuannya relatif tinggi akan lebih memilih membayar pelunasan pembiayaan secara jatuh tempo dibandingkan anggota yang mempunyai kemampuan relatif rendah. tidak aktif .5 39 97.64 Penetapan jangka waktu mengangsur ini diserahkan sepenuhnya kepada anggota sesuai dengan kemampuannya dalam membayar.5 0 0 Total Skor 82 80 3. Oleh karena itu.4.5 1 2. Jumlah Anggota Responden dalam Menanggapi Pelaksanaan Prosedur Pengembalian Pembiayaan KJKS BMT BUS No 1. cepat. Tabel 6.5 8 20 103 4. 1 2. kurang aktif Skor 1 untuk jawaban besar. Lama angsuran ini telah disepakati bersama dengan pihak KJKS BMT BUS. efektivitas pengembalian pembiayaan menjadi tujuan utama bagi sebuah lembaga keuangan manapun. Aspek Besar angsuran Jangka waktu angsuran Keaktifan petugas di lapang Keuntungan bagi BMT Skor 3 Orang Persen 3 7.5 0 0 81 346 Total Skor Keterangan : Skor 3 untuk jawaban kecil. Setiap lembaga keuangan baik lembaga keuangan bank maupun bukan bank pasti berusaha untuk menghindari adanya kemacetan dalam pembiayaannya.5 0 0 Skor 2 Orang Persen 36 90 40 100 Skor 1 Orang Persen 1 2. Jangka waktu mengangsur secara jatuh tempo biasanya tiga sampai lima bulan. 2. aktif Skor 2 untuk jawaban sedang.

anggota mempunyai cukup banyak waktu untuk meningkatkan capital dari usaha kecilnya. Hal ini . karena itulah BMT dapat memberikan penangguhan pembiayaan bagi anggota jika alasannya sesuai dengan kondisi usahanya. Mengenai keuntungan yang didapatkan BMT. Hal ini mempunyai nilai plus sendiri bagi BMT. sebagian besar responden yaitu sebesar 97.4. yaitu antara BMT dengan anggota.65 Berdasarkan Tabel 6. Sebagian besar lokasi usaha responden berada tidak jauh dari lokasi berdirinya BMT. KJKS BMT BUS sangat memperhatikan kemampuan setiap anggota dalam membayar angsurannya. semua responden menyatakan jangka waktu mengangsur tergolong sedang. Oleh karena itu. Akan tetapi. sebagian besar responden yaitu sebesar 77. sebagian besar responden menyatakan bahwa besar angsuran tergolong sedang (90 persen). Hal ini membuktikan bahwa anggota masih dapat menjangkau besarnya angsuran sesuai dengan kemampuan anggota itu sendiri. sebesar 20 persen responden mengantarkan angsuran sendiri ke BMT. hal ini dapat meminimalisir terjadinya penangguhan pembayaran pembiayaan. bukan karena moral hazard anggota yang ingin mengulur-ulur waktu pelunasan pembiayaan. Hal ini berarti anggota memiliki keleluasaan dalam mengembalikan pembiayaan dan dapat memanfaatkan pembiayaan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sedangkan dari aspek besar angsuran.5 persen menyatakan bahwa petugas BMT yang aktif menagih angsurannya ke lokasi usaha.5 persen menyatakan bahwa pembiayaan di BMT menyebabkan masing-masing pihak untung. Selain mengetahui kondisi responden yang sedang meminjam. Di samping itu.

505998 yang lebih besar dari 2.1.39 persen dan sisanya 53. dan dummy pinjaman lain.2.115255 lebih besar dari taraf nyata () 0. 6.Dampak Pembiayaan Terhadap Pendapatan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heterokedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 46.05. Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota. sehingga model persamaan pendapatan usaha tidak menunjukkan gejala autokorelasi. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 46.5.66 membuktikan bahwa pelaksanaan pembiayaan di BMT menurut persepsi anggota memberikan dampak yang cukup baik bagi kelangsungan usaha kecil anggota.2. Durbin-watson stat menunjukkan nilai 2. Secara keseluruhan berdasarkan skor yang didapat yaitu 346 menunjukkan bahwa prosedur pengembalian pembiayaan pada BMT BUS cukup efektif. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini. Selain itu. Nilai .61 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Dampak Pembiayaan 6.2.2. besarnya tanggungan.39. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Uji multikolinieritas dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan pendapatan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas (lihat di lampiran). Berdasarkan Tabel 6.

245504 -0.3356* 0.325646 2.0038 0.345124 0.519191 -0.728150 -0. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa pembiayaan KJKS BMT BUS memberikan pengaruh positif terhadap pendapatan usaha.390851 0.171214 Prob(t-stat) 0.5066* 0.0990* 0.5968* 0. Tabel 6. Nilai elastisitas sebesar 0.006993 0.172173 0.260001 0.1701* 0.5.83 .67 probability (F-statistic) sebesar 0.463975 0. Kondisi ini dimungkinkan disebabkan oleh besarnya tanggungan atau kebutuhan lain-lain yang harus dipenuhi oleh anggota sehingga pembiayaan yang diberikan tidak begitu berpengaruh terhadap pendapatan usaha anggota.006993 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas.829948 -0.505998 0.158540 7.0029*** 0.115255 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan:***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **= signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil tidak berpengaruh secara signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha kecil. Variabel keuntungan usaha adalah variabel yang paling signifikan pada taraf nyata 5 persen terhadap pendapatan usaha.5188* 0.0170** 0. Hasil Pengujian Model Persamaan Pendapatan Usaha LNPS Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0.

Hasil estimasi di atas menunjukkan bahwa pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha secara signifikan pada taraf 5 persen. Jenis usaha siap saji dan siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha.83 persen. tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan usaha anggota. Sesuai dengan kondisi anggota yang sebagian besar berpendidikan antara SD dan SMP. sedangkan perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan retail sebesar -0. SMA atau PT. Hal ini menunjukkan bahwa secara rata-rata jenis usaha siap pakai mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar daripada jenis usaha siap saji. Hal ini dapat dijelaskan demikian karena jenis usaha siap pakai (pakaian) pada umumnya memiliki strategi door to door (dari pintu ke pintu) dalam menjual produknya sehingga dapat memasarkan produknya secara lebih ke konsumen dan lebih mengetahui keinginan konsumen. Oleh karena .73. Hal ini disebabkan anggota yang berpendidikan lebih rendah umumnya langsung bekerja sehingga mempunyai pengalaman kerja yang lebih banyak daripada anggota yang berpendidikan tinggi. Perbedaan pendapatan untuk anggota yang tidak berpendidikan dan SD jauh lebih tinggi dibandingkan antara tidak sekolah dan SMP.15. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh secara mutlak terhadap pendapatan seseorang. pendapatannya dapat melebihi anggota yang berpendidikan lebih tinggi. Akan tetapi.68 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) keuntungan usaha sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) pendapatan usaha sebesar 0. Perbedaan pendapatan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai sebesar 0.

6.05 persen dan sisanya 41. besarnya tanggungan. tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha belum sepenuhnya tercapai.2.824922 sehingga dapat dibuktikan bahwa model juga tidak menunjukkan adanya autokorelasi sehingga dapat dianalisis lebih lanjut.69 itu. Saran bagi penelitian lebih lanjut agar memasukkan variabel-variabel misalnya dummy pendampingan anggota. dan dummy pinjaman lain.05. Nilai R-squared yang kecil ini disebabkan oleh adanya variabel-variabel independen yang tidak dimasukkan dalam model. Hal ini berarti bahwa model pendapatan usaha kecil dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya sebesar 58.000283 menunjukkan bahwa minimal terdapat satu variabel bebas yang memengaruhi variabel tak bebas. maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak tolak H0 artinya tidak ada masalah heteroskedastisitas atau asumsi homoskedastisitas terpenuhi pada model ini.2. Selain itu. koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 58.95 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.351066 lebih besar dari taraf nyata () 0. Uji multikolinieritas yang dilakukan dengan menggunakan correlation matrix menunjukkan bahwa persamaan keuntungan usaha tidak mengandung gejala multikolinieritas.Dampak Pembiayaan Terhadap Keuntungan Usaha Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan mengunakan metode white heteroskedasticity dengan nilai Prob dari Obs*R-Squared sebesar 0. menurut uji autokorelasi dengan menggunakan breusch-godfrey serial correlation LM test didapatkan nilai sebesar 0. Nilai probability (F-statistic) sebesar 0. Berdasarkan Tabel 6.2. .05.6.

Variabel skala pendapatan usaha signifikan pengaruhnya terhadap keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen. Nilai elastisitas variabel pendapatan sebesar 0.1870* 0.0212** 0. .327669 0. Nilai elastisitas variabel pembiayaan sebesar 0.239755 -0.33 persen.0939* 0. Hal ini dapat dimengerti karena peningkatan pendapatan seiring dengan peningkatan keuntungan anggota dalam mengelola usahanya.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pendapatan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0.824922 0.33 menunjukkan bahwa peningkatan (penurunan) pembiayaan sebesar 1 persen akan meningkatkan (menurunkan) keuntungan usaha sebesar 0.0023*** 0.4342* 0.055063 0.326285 2.291584 0.000283 0. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembiayaan untuk meningkatkan keuntungan anggota tercapai.70 Tabel 6.3507 0.108475 -0. Hasil Pengujian Model Persamaan Keuntungan Usaha LNPU Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C Coefficient 0.580460 0.3850* 0.6.408475 -0.351066 R-squared Adjusted R-squared Durbin-Watson stat Prob (F-statistic) Probabilitas obs*R-squared (Uji LM) Probabilitas obs*R-squared (Uji White) Keterangan : ***= sangat signifikan pada taraf nyata 5 persen **=signifikan pada taraf nyata 5 persen *= tidak signifikan pada taraf nyata 5 persen Pembiayaan yang diberikan kepada usaha kecil berpengaruh secara positif dan signifikan pengaruhnya terdapat keuntungan usaha kecil anggota pada taraf nyata 5 persen.251633 -0.3734* 0.7975* 0.472192 2.031651 Prob(t-stat) 0.33 persen.328185 -0.

Perbedaan keuntungan untuk jenis usaha siap saji dan siap pakai mempunyai elastisitas yang lebih rendah (-0. dan jenis usaha siap pakai berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. dan SMA. Sedangkan menurut hasil estimasi model keuntungan usaha menunjukkan pembiayaan berpengaruh positif . dan ada tidaknya agunan. Variabel tingkat pendidikan tidak signifikan terhadap variabel keuntungan. walaupun usaha siap pakai penjelasan di atas mendapatkan pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada usaha lainnya.32). Implikasi Kebijakan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua variabel dalam penelitian ini memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) secara signifikan.41) daripada jenis usaha siap saji dan retail (-0. Ini dapat dimengerti karena peningkatan keuntungan usaha pada kenyataannya tergantung pada pengalaman usaha anggota itu sendiri. SMP. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan secara signifikan adalah biaya peminjaman.3. keuntungan berpengaruh positif terhadap pendapatan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak memengaruhi peningkatan keuntungan anggota. Hal ini menunjukkan bahwa usaha siap saji dan retail akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. jangka waktu angsuran.71 Perbedaan keuntungan untuk anggota yang berpendidikan tinggi (PT/ sarjana) mempunyai elastisitas yang jauh lebih tinggi daripada SD. Anggota yang mempunyai pengalaman usaha yang lebih lama biasanya akan mendapatkan keuntungan dalam jumlah yang besar. Hasil estimasi model pendapatan usaha menunjukkan bahwa secara signifikan pembiayaan tidak memengaruhi pendapatan usaha pada taraf nyata 5 persen. 6.

perubahan yang kecil saja pada biaya peminjaman akan menyebabkan perubahan signifikan pada total pengambilan pembiayaan yang dilakukan oleh para anggota. Hasil pembahasan dalam penelitian ini juga memperlihatkan bahwa variabel biaya peminjaman merupakan variabel yang memberikan pengaruh terbesar terhadap pengambilan pembiayaan (AB). Implikasinya. Artinya. Selain itu. manajemen KJKS BMT BUS Lasem perlu melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengevaluasi kembali tujuan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha anggota. .72 pada keuntungan usaha dan pendapatan usaha berpengaruh positif pada keuntungan usaha pada taraf nyata 5 persen. Adapun implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh lembaga keuangan mikro syariah dalam hal ini KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap variabel biaya peminjaman khususnya biaya administrasi yang berpengaruh terhadap pengambilan pembiayaan (AB). KJKS BMT BUS Lasem perlu menentukan tingkat persentase ideal bagi biaya administrasi sesuai dengan kemampuan anggota masing-masing sehingga besarnya biaya administrasi yang ditetapkan dapat fleksibel tergantung pada kemampuan anggota (skala pendapatan) dalam mengajukan pembiayaan. Hal ini akan lebih memudahkan anggota-anggota yang mempunyai tingkat pendapatan relatif rendah untuk mengajukan pembiayaan di BMT untuk memajukan usaha kecilnya. tujuan pembiayaan untuk meningkatkan kemandirian usaha kecil akan tercapai.

yang paling besar pengaruhnya adalah biaya peminjaman. dan ada tidaknya agunan. Dari ketiga variabel yang memengaruhi pengambilan pembiayaan. Efektivitas pembiayaan pada LKMS khususnya KJKS BMT BUS Lasem berdasarkan hasil penilaian responden dapat dikategorikan cukup efektif.73 VII. . karena belum adanya dampak positif pembiayaan terhadap peningkatan pendapatan usaha anggota. Tidak adanya pengaruh yang nyata terhadap perubahan pendapatan disebabkan oleh besarnya kebutuhan anggota yang harus dipenuhi sehingga pembiayaan yang diberikan hanya untuk menutupi modal yang dibutuhkan tetapi belum menyebabkan peningkatan pendapatan. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan pembiayaan (AB) dan efektivitas pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem maka dapat disimpulkan dari penelitian ini sebagai berikut: 1. Hal ini disebabkan besarnya pembiayaan yang diberikan tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan. Faktor-faktor yang memengaruhi secara signifikan pengambilan pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem adalah biaya peminjaman. Sedangkan pencapaian tujuan pembiayaan usaha kecil masih belum sepenuhnya tercapai. 2.1. KESIMPULAN DAN SARAN 7. jangka waktu angsuran.

. 3. Implikasi kebijakan yang sebaiknya diambil oleh KJKS BMT BUS Lasem adalah dengan melakukan pengaturan terhadap tiga variabel yang memengaruhi faktor pengambilan pembiayaan. Hal ini dapat dilakukan dengan edukasi dalam hal pembiayaan syariah harus dilakukan kepada masyarakat sekitar supaya tidak terjerumus ke dalam lintah darat. Kabupaten Rembang supaya tingkat kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.2. KJKS BMT BUS Lasem harus lebih memperhatikan dampak pembiayaan terhadap pendapatan usaha kecil dari anggota khususnya dengan cara melakukan pendampingan dan mengikutsertakan usaha kecil dalam kerja sama ketika ada event-event yang dapat mengembangkan usaha kecil. Pemerintah dan KJKS BMT BUS harus bekerja sama dalam mengembangkan usaha kecil di daerah Lasem. Selain itu. penting bagi KJKS BMT BUS dalam mengatur dan menetapkan biaya administrasi yang terjangkau oleh anggota sehingga kemudahan dalam mengajukan pembiayaan dapat tercapai. Oleh karena itu. dan adanya agunan. bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih luas lagi bidang usaha kecil yang diteliti. diantaranya biaya peminjaman lebih tepatnya biaya administrasi. jangka waktu angsuran. Oleh karena itu. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada efektivitas pembiayaan usaha kecil khususnya di bidang perdagangan. Saran 1. diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk menganalisis alokasi pemanfaatan pembiayaan usaha kecil yang digunakan oleh anggota. Selain itu. 2.74 7.

Bogor. Bogor. dan A. BUS Graphic Lasem. 2002. Juanda. Hipotesa. Jawa Barat. Aplikasi Konsep Syariah untuk Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta. Hidayat. Yogyakarta Aryati. 2005. Bank Indonesia. “Mewujudkan Ekuilibrium Sektor Finansial”. BMT Network. D. .Mustofa. Ungaran. Jakarta. B. J. M. Bogor) [Skripsi]. Teori dan Praktek Lembaga Keuangan Mikro Syariah. Abdullah Yazid. 2004. Fakultas Ekonomi. Hipotesa FEM IPB. Metodologi Penelitian Ekonomi & Bisnis. 2008. Jakarta. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik. 1995. E-Views Training 2005. Yogyakarta.com/index. 2006. Y. 2007. Bogor. Efektivitas Pembiayaan Pola Bagi Hasil pada Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Hubbul Wathon. 2007. 2002. L. Ekonometrika Dasar. IPB Press. Bogor. Analisis Permintaan dan Efektivitas Pembiayaan Usaha Kecil pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah (Studi Kasus: KBMT Khidmatul Ummah.pesantrenvirtual. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. 2008.php?option=com_content&view=a rticle&id=1165:mewujudkan-equilibrium-sektor-finansial&catid=8:kajianekonomi&Itemid=60 [2 Desember 2008] Antonio. BMT Network. Institut Pertanian Bogor. http://www. Arsyad. Ikhtiar Tiada Batas: Refleksi Perjalanan Pemikiran Manajemen Qur’ani H. Kecamatan Cilamaya. 2001. Lembaga Keuangan Mikro. Departemen Ilmu Ekonomi. Jumanto. Gujarati. Gema Insani.Supeno. Konsep dan Kebijakan Perbankan Syariah. Ilmi. [Skripsi]. Lasem. 2005. S. 2008. Bank Indonesia. Fakultas Pertanian. Erlangga. Penerbit Andi. Institut Pertanian Bogor. UII Press. Basic Econometrics. Universitas Indonesia.75 DAFTAR PUSTAKA Agustianto. Kabupaten Karawang. Jakarta. Zain dan Sumarno [penerjemah].

blogspot. Institut Pertanian Bogor.76 KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. 2005. Analisis Hubungan Penyaluran Dana dengan Penghimpunan Dana pada KBMT [Skripsi]. S. Jakarta. Washington DC. Lasem. W. Wijono. Laksmana. Institut Pertanian Bogor. Yogyakarta. Bogor. RL. http://hndwibowo. Wardhana. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. PT Elex Media Komputindo. Y. Analisis Efektivitas Pembiayaan Sistem Syariah Terhadap Petani Agribisnis Sayuran Pada Program UPK Ikhtiar Yayasan Peramu Bogor [Skripsi]. Analisis Tingkat Kesehatan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pembiayaan Mitra Koperasi Baitul Maal wat Tamwil (KBMT) Ibbadurrahman [skripsi]. Suharto. Ekonomerika Teori dan Aplikasi Jilid I. Thomas. 2007. A. Introductory Econometrics. M. 2008. Institut Fellow Emeritus. 2006. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Longman Inc. Institut Pertanian Bogor. Analisis Pembiayaan Usaha Mikro Bagi Lembaga Keuangan.com/2008/06/peranan-permodalan-bmtdalam. “Peran Permodalan BMT dalam Pemberdayaan Sektor UKM”. Fakultas Pertanian. BMT Fakta dan Prospek Baitul Maal wat Tamwil. The Microfinance Revolution. Bogor. UCY Press. Tanya Jawab Cara Mudah Mendapatkan Pembiayaan di Bank Syariah. Rachmawan. [Presentasi Direktur Bank Biru] Rizky. A. Jakarta. . New York. Pustaka LP3ES Indonesia. 2000. Kurnialestari. 2009. Bogor. Lains. Theory and Applications. A. 2009. M. November 2005. Jurnal Kajian Ekonomi Keuangan. Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Pilar Sistem Keuangan Nasional: Upaya Konkrit Memutus Mata Rantai Kemiskinan. 2007. 1985. 2003. BMT BUS. Company Profile KJKS BMT Bina Ummat Sejahtera. Edisi Khusus. Robinson. Jakarta. 2005.html [4 Desember 2008] Syafar. 2008.

77 LAMPIRAN .

5. 10.Tamat SMP 4. Jarak lokasi usaha ke BMT : ……………….km Biaya transportasi yang dikeluarkan menuju BMT : Rp……………………… 4. 3. tahun Pendidikan : 1.Tamat SMA 5. Perempuan Umur : …………. Anak………………………………. Karakteristik Anggota (Responden) Nomer responden : Alamat responden : Jenis kelamin : a. Pedagang pakaian b. Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN ANALISIS EFEKTIVITAS PEMBIAYAAN USAHA KECIL PADA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (Studi Kasus : KJKS BMT Bina Umat Sejahtera.tidak sekolah 2. tahun Jenis usaha yang dilakukan : (mohon ditandai bidang usaha yang dilakukan) a. Istri/ suami…………………………. Pengisian yang jujur dan objektif sangat membantu keberhasilan penelitian ini. 6. Laki-laki b. Terima Kasih banyak atas perhatiannya. . Mahasiswi Ilmu Ekonomi.. Institut Pertanian Bogor. Pedagang lainnya.Lainnya. 8. Lasem. 2.orang c.. 1. Mohon Bapak/ Ibu berkenan mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan kondisi yang sebenar-benarnya.. 11. Anak yang menikah……………….tamat SD 3.. sebutkan…………… Status : a. Menikah c.. 9. sebutkan…………..orang b. Belum menikah b.orang Lama menjadi anggota : …………. I.78 Lampiran 1. 7. Jawa Tengah) Kuesioner ini digunakan dalam rangka pengambilan data untuk penyusunan bahan penelitian skripsi oleh Sholikha Oktavi K. Pedagang sembako c. Janda/ duda Data keluarga : a.

tahun…. sebutkan…………………….bulan.79 II.. Pernah b. 17. Kebutuhan modal kerja b. Tidak Bila ya.. 12. telepon.. Peningkatan sarana/ peralatan rumah tangga c. 19. Perbaikan/ renovasi rumah b. Dari pendapatan yang diperoleh. 22. Peningkatan volume usaha d.kali Jangka waktu pembiayaan………………hari Lama mengangsur pembiayaan……………….. . 13. apakah kesejahteraan hidup Anda dan keluarga meningkat seiring dengan kemajuan usaha Anda? a. Lain-lain. pendidikan. pengeluaran yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (untuk memenuhi konsumsi. dll) Rp…………………… Sudah berapa kali mendapatkan fasilitas pembiayaan dari BMT…………. 21.. peningkatan kesejahteraan keluarga meningkat dalam bentuk: a. 15.bulan Rata-rata pendapatan yang diperoleh per hari berdasarkan pengalaman usaha Rp………. anak. 20. Keuntungan usaha per hari Rp………………. Tidak pernah Tujuan fasilitas pembiayaan yang diterima untuk: a. listrik.. Biaya administrasi pembiayaan sebesar Rp……………… Lama menekuni usaha (dihitung sebelum menerima pembiayaan). 24... 16. Tidak Bila ya. 26... 18. 14. Ya b. 25. Menurut Anda. sebutkan…………………………….. Lain-lain. per bulan sebesar Rp……………………… Pernahkah Anda menangguhkan pembayaran dalam pembiayaan? a. Ya b. Karakteristik Usaha Lama menjadi anggota pembiayaan di KJKS BMT BUS Lasem……………tahun Fasilitas pembiayaan yang diperoleh saat ini Rp…………………. apakah fasilitas pembiayaan dari BMT mempunyai manfaat terhadap perkembangan/ kemajuan usaha Anda? a. Investasi usaha c. 23.

Besar pembiayaan Pembiayaan yang diberikan tergolong : a. Mudah (tidak berbelit-belit/ terlalu banyak tahapan pencairan dana) b. Jaminan Jaminan yang umumnya diberlakukan pada anggota pembiayaan dengan melampirkan sertifikat/ akta jual beli tanah/ bangunan. Sedang (ada item yang tidak bisa dipenuhi) c. Kecil (apabila tidak mencukupi sebagai tambahan modal usaha) 5. Lama (berbelit-belit/ prosesnya panjang dan lambat) 3. Sedang (nasabah mengalami kesulitan untuk mencari dana awal) c. mengisi formulir permohonan pembiayaan. melampirkan fotokopi jaminan berupa sertifikat tanah-bangunan. Lama angsuran yang telah disepakati bersama oleh pihak nasabah dengan BMT. tergolong : a. Sedang (apabila cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan) c. Cepat (jangka waktu paling lambat 7 hari sejak pengajuan pembiayaan) b. BKB kendaraan motor/ mobil) ketika mengajukan pembiayaan di BMT. Realisasi pembiayaan Cairnya pembiayaan setelah pengajuan disetujui . ketentuan yang harus dimiliki (fotokopi KTP suami istri. tergolong : a. Lama (jangka waktu melebihi 1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) 4. mengisi formulir persetujuan suami istri. Sedang (jangka waktu 1 minggu-1 bulan sejak pengajuan pembiayaan) c. Besar (jaminan lebih besar nilainya dari pinjaman) 6. Sedang (jaminan sebanding dengan nilai pinjaman) c. Ringan (tidak memberatkan nasabah) b. Kecil (jaminan lebih kecil daripada pinjaman) b. Persyaratan awal pembiayaan Menurut Anda. BPKB kendaraan (mobil/ motor). Proses pembiayaan Menurut Anda.80 III. Berat (sulit dipenuhi oleh nasabah) 2. Jangka waktu angsuran Jangka waktu angsuran adalah selang waktu anggota harus mengangsur dan melunasi pinjamannya (hari). tergolong : a. Biaya administrasi pembiayaan Biaya yang dikeluarkan selama proses permohonan pembiayaan hingga direalisasikan. Tanggapan Anggota mengenai Pembiayaan di BMT 1. Sedang (tidak berbelit-belit tapi prosesnya lambat) c. Besar (apabila melebihi dari kebutuhan pembiayaan) b. fotokopi KK. tergolong : a. tahapan yang harus dilalui dari proses permohonan pembiayaan sampai realisasi pembiayaan kepada anggota. tergolong : a. Berat (memberatkan nasabah) 7. Ringan (mudah dipenuhi oleh nasabah) b. tergolong : .

81

8.

9.

10.

11.

12.

a. Lama b. Sedang c. Cepat Besar angsuran Besar angsuran yaitu jumlah angsuran pembiayaan yang harus dibayar anggota pembiayaan dengan jumlah yang disesuaikan dengan akad yang disepakati. Besar angsuran ini telah disepakati kedua belah pihak dengan mempertimbangkan kemampuan nasabah dalam mengangsur, tergolong : a. Kecil (angsuran tidak memberikan) b. Sedang (angsuran masih terjangkau namun terkadang telat dibayar) c. Besar (angsuran memberatkan) Pelayanan petugas KJKS BMT BUS Pelayanan petugas KJKS BMT BUS yaitu penilaian responden pada saat pertama kali mengajukan pembiayaan. Hal ini merupakan kesan pertama responden terhadap KJKS BMT BUS, tergolong : a. Ramah b. Biasa saja c. Tidak ramah Kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan Batasan terhadap kemampuan KJKS BMT BUS dalam memenuhi pembiayaan adalah pihak KJKS BMT BUS selalu menyetujui permohonan pembiayaan yang diminta, tergolong : a. Mampu (besar pengajuan sama dengan realisasi pembiayaan) b. Kurang mampu (besar pembiayaan yang terealisasi kurang dari besar pengajuan) c. Tidak mampu (besar pembiayaan jauh dari pengajuan) Keaktifan petugas dalam menagih di lapang Petugas KJKS BMT BUS dalam menagih angsuran pembiayaan tergolong : a. Aktif (selalu datang untuk mengambil angsuran) b. Kurang aktif (terkadang tidak datang untuk mengambil angsuran) c. Tidak aktif (angsuran diantarkan sendiri oleh nasabah, pihak BMT tidak pernah mengambil angsuran di lapang) Keuntungan bagi KJKS BMT BUS Biaya yang harus dibayar anggota sebagai bentuk dukungan operasional kegiatan bagi pengelola BMT. Menurut Anda, besarnya nisbah dari pembiayaan tergolong : a. Ringan (nasabah tidak merasa dirugikan) b. Sedang (sama-sama untung) c. Berat (nasabah merasa rugi)

82

IV. Keberlangsungan Usaha Kecil (Dampak Pembiayaan terhadap Kondisi Nasabah) 13. Bagaimana kelangsungan usaha kecil Anda setelah mendapatkan pembiayaan dari KJKS BMT BUS? a. Meningkat b. Tetap c. Turun 14. Bagaimana tingkat pendapatan anda setelah mendapatkan pembiayaan? a. Meningkat b. Tetap c. Turun Sebelum pembiayaan (Rp) Setelah pembiayaan (Rp) Keuntungan Pendapatan 15. Untuk apa saja alokasi pembiayaan usaha kecil dari BMT? a. Untuk usaha b. Untuk pengeluaran rumah tangga c. Untuk konsumsi d. dll, sebutkan…

83

Lampiran 2. Hasil Estimasi Model Persamaan Pengambilan Pembiayaan
Dependent Variable: LNAB Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 07:08 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 1.094461 -0.014913 0.021921 -0.027783 -0.005428 0.014068 -0.004506 -0.056068 0.026501 0.017710 0.240332 2.640460 0.999122 0.998778 0.034697 0.033708 84.82058 2.148507 Std. Error 0.008942 0.009675 0.010218 0.022235 0.021310 0.020679 0.022975 0.029367 0.016410 0.017778 0.031195 0.143860 t-Statistic 122.3936 -1.541374 2.145317 -1.249519 -0.254731 0.680285 -0.196136 -1.909232 1.614954 0.996180 7.704204 18.35435 Prob. 0.0000 0.1345 0.0407 0.2218 0.8008 0.5019 0.8459 0.0665 0.1175 0.3277 0.0000 0.0000 15.08111 0.992396 -3.641029 -3.134365 2897.933 0.000000

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Pengujian Heteroskedastisitas
White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.192027 17.07758 Probability Probability 0.340606 0.314248

Pengujian Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 2.246335 5.893442 Probability Probability 0.125925 0.052512

Pengujian Multikolinieritas
LNAB LNBC LNSB LNCR LNA DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA LNAB 1.000000 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 0.200345 -0.046694 0.095961 -0.072585 -0.378634 0.458578 LNBC LNSB LNCR LNA DP1 0.997823 0.057392 0.316475 0.453185 -0.354413 1.000000 0.056518 0.297873 0.468083 -0.336290 0.056518 1.000000 0.286933 0.231653 0.226252 0.297873 0.286933 1.000000 0.155136 0.077356 0.468083 0.231653 0.155136 1.000000 -0.003279 -0.336290 0.226252 0.077356 -0.003279 1.000000 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 DP2 0.200345 0.185309 0.226643 -0.093228 0.028543 -0.427353 1.000000 -0.346944 -0.197583 0.316239 -0.118235 0.159189 DP3 -0.046694 -0.059532 -0.196405 0.072440 -0.031688 -0.307941 -0.346944 1.000000 -0.142374 0.320256 -0.119737 0.114708 DP4 0.095961 0.105398 -0.514040 -0.060328 -0.191003 -0.175371 -0.197583 -0.142374 1.000000 -0.197583 0.073872 0.065326 DU1 -0.072585 -0.097516 0.187911 0.072095 -0.057760 -0.307814 0.316239 0.320256 -0.197583 1.000000 -0.373878 0.159189 DU2 -0.378634 -0.364785 -0.155553 -0.244376 -0.331710 0.338551 -0.118235 -0.119737 0.073872 -0.373878 1.000000 -0.425778 DA 0.458578 0.410493 0.026512 0.300555 0.073789 -0.372500 0.159189 0.114708 0.065326 0.159189 -0.425778 1.000000

230527 -1.127079 Prob.345124 0.200345 -0.135669 -0.084109 LNKU 0.376134 0.073872 -0.518507 Probability Probability 0.000000 -0.072342 0.329522 0.084109 -0.000000 -0.172173 Pengujian Multikolinearitas LNPS LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPS 1.621512 11.5968 0.346944 1.142374 1.046694 0.48808 Probability Probability 0.073872 DU1 0.307941 -0.0170 0.296631 2.185234 -0.354140 0.338551 -0.064615 0.072585 -0.346944 -0.000000 -0.000000 0.000000 -0.175371 -0.307814 0.E.63571 2.175371 -0.006993 Mean dependent var S.338551 DP2 0.316239 -0.316239 0.088059 -0.000000 .513635 0.354413 1.158540 7.119737 DP4 -0.398472 3.463975 0.3356 0.293263 t-Statistic 3.5066 0.197583 -0.0990 0.378634 DP1 0.461783 3.118235 DP3 -0.072585 -0.081786 2.427353 -0.378634 0.142374 0.099020 0.343331 -0.307814 0.320256 -0.000000 0.329522 -0.046694 -0.307941 -0.700580 1. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.221452 -0.115255 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 1.505998 Std.119737 0.200345 -0.728150 -0.359019 0. 0.671924 2.325646 0.84 Lampiran 3.1701 0.313728 0.197583 1.832390 15.343331 1.0038 12.519191 -0.239915 -0.172900 -0.266001 0.064615 -0.288626 0.978002 0.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.197583 0. Error 0.135669 -0.095961 -0.054264 0.354413 0.359019 -0.239915 0.095961 -0.185234 -0.598517 1.522813 -0.48337 0.427353 1.399642 0.97460 -32.369639 0.373878 DU2 -0.390851 0.320256 -0.118235 -0.404589 -0.534468 3.221452 -0.171214 0.652704 -0.5188 0.0029 0. Hasil Estimasi Model Persamaan Pendapatan Usaha Dependent Variable: LNPS Method: Least Squares Date: 07/23/09 Time: 22:07 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNKU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.000000 -0.256908 0.000000 -0.172900 LNAB -0.072342 0.054264 -0.197583 0.829948 -0.313728 -0.088059 -0.756843 2.598517 -0.245504 -0.373878 1.263138 0.156418 0.

472192 0.000000 0.75523 0.326285 2.361310 0.373878 1.2586 0.85 Lampiran 4.4342 0.378634 0.419045 0.045511 5.427109 3.055063 Std.197583 1.31026 2.226643 0.236392 0.897256 -24.330892 0.258680 -0.135004 0.072585 -0.187911 -0.175371 -0. 0.514040 0.155553 -0.073872 -0.150808 -0.095961 -0.175371 -0.427353 1.0212 0.046694 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.947542 Prob.187911 -0.226252 -0.316239 -0.258680 0.349272 0.665513 2.046694 0.200345 -0.605371 0.142374 1.378634 DP1 -0.0939 0.384933 Probability Probability 0.197583 -0.824922 Pengujian Multikolinearitas LNPU LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 LNPU 1.031651 0.504728 7.119737 0.320256 -0.196405 -0.095961 -0.118235 -0.338551 -0. Hasil Estimasi Model Persamaan Keuntungan Usaha Dependent Variable: LNPU Method: Least Squares Date: 06/23/09 Time: 08:35 Sample: 1 40 Included observations: 40 Variable LNSU LNAB DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 C R-squared Adjusted R-squared S.142374 0.792281 -1.057392 0.155553 LNAB 0.197583 0.345476 -0.320256 -0.258863 -1.119737 DP4 0.307941 -0.000283 Mean dependent var S.514040 0.881205 0.200345 -0.330657 LNSU 0.08328 Probability Probability 0.3507 10.869172 0.330657 -0.205831 -0.7975 0.427353 -0.108475 -0.408475 -0.000000 -0.074401 -0.000000 -0.727952 -1.328185 -0.E.346944 -0.239755 -0.300203 0.1870 0.196405 -0.296969 0.000000 -0.072585 -0.354413 1.057392 1.321486 -0.000000 -0.144128 t-Statistic 2.351066 Pengujian Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 0.074401 0.302613 0.035896 -0.3850 0.580460 0.073872 DU1 -0.291584 0.307814 0.035896 -0.140894 0.205831 0.241823 2.0023 0.005735 0.000000 0.307814 0.338551 DP2 -0.307941 -0.226252 0.373878 DU2 -0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Pengujian Heteroskedastisitas White Heteroskedasticity Test: F-statistic Obs*R-squared 1.197583 0.005735 -0.316239 0.327669 0. Error 0.694735 1.386847 0.296969 1.226643 -0.354413 0.000000 .605371 -0.000000 -0.D.098807 0.118235 DP3 -0.000000 -0.346944 1.111520 11.

412.339.015.590.993.398.33 97.00 533.62 1.297.643.91 Lampiran 7.38 (1.874.502.00 .305.739.67) 3.150.00 1.971.118.000.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank Piutang Usaha Piutang Lain-Lain Penyisihan Piutang Tak Tertagih Biaya Dibayar Dimuka Total Aktiva Lancar INVESTASI JANGKA PANJANG Simpanan pada Koperasi Simpanan pada Non Koperasi Total Aktiva Lancar AKTIVA TETAP Tanah Bangunan Kendaraan Peralatan Harga Perolehan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku TOTAL AKTIVA 31 Desember 2008 Rp 16.00 764.00 5.000.12 0.03 % 31 Desember 2007 Rp 10.00 0.181.00 857.154.40) 0.00 393.38) 364.00 588.215.580.770.659.40 96.750.48 77.295.890.000.782.377.086.78 0.189.55 79.25 1.413.222.00 4.319.810.06 (1.89) 394.00 65.22 0.60 5.534.700.000.566.11 15.067.655.221.455.00 (262.99 0.00 0.581.62 % 16.09) 3. Komposisi Aktiva dan Pasiva KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.062.700.220.890.60 81.00 5.54 4.60 0.49 (0.124.750.000.LASEM KAB.15 0.470.80 0.590.00 3.44 94.00 (391.413.150.442.00 62.24 (0.294.105.162.56 96.00 1.75 100.305.105.035.981.097.413.282.764.906.01 0.023.139.140.790.29 100.00 2.40) 0.878.526.413.633.800.32 2.398.93 0.13 1.519.00 321.865.000.800.822.028.00 (1.12 583.01 0.00 234.54 79.36 1.00 52.31) 3.00 644.00 (851.00 86.

716.09 0.92 12.37 105.751.169.820.643.93 0.17 20.595.162.276.306.18 6.178.74 24.00 29.00 % KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Hutang Bank 17.00 752.000.869.312.82 23.958.957.00 260.564.712.653.560.532.00 90.205.000.413.00 18.143.000.27 5.389.344.377.45 65.260.583.46 0.00 305.465.934.206.773.581. Lanjutan KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.604.372.32 0.00 4.054.65 5.77 0.00 199.05 0.38 0.283.REMBANG KOMPOSISI AKTIVA DAN PASIVA PER 31 DESEMBER 2008 DAN 2007 PASIVA KEWAJIBAN LANCAR Simpanan Si Rela Simpanan Si Suka Simpanan Si Sidik Simpanan Si Sidik Plus Simpanan Resiko Kredit Hutang Dana Bagian Usaha Baitul Maal Biaya Masih Harus Dibayar Total Hutang Lancar 31 Desember 2008 Rp 25.000.364.10 68.000.93 1.00 1.282.40 1.100.88 0.00 Hutang Jangka Panjang Lainnya 6.097.915.33 288.834.946.810.049.07 0.05 0.00 19.255.06 38.36 0.65 97.00 98.319.892.632.612.84 208.878.739.25 0.795.446.750.00 1.21 0.00 44.310.561.00 15.71 25.31 0.000.28 66.000.LASEM KAB.000.00 .00 77.92 Lampiran 7.902.33 8.29 6.296.32 6.149.12 0.31 6.548.11 0.716.36 0.519.610.00 199.89 30.00 5.70 100.196.43 44.846.28 44.62 0.320.29 0.815.00 50.00 248.00 3.225.00 190.818.97 39.842.428.121.028.00 245.00 68.10 68.206.001.295.37 % 31 Desember 2007 Rp 13.564.80 217.726.00 349.000.801.696.119.311.056.16 100.865.00 Total Hutang Jangka Panjang EKUITAS Simpanan Pokok Simpanan Wajib Modal Penyertaan Modal Donasi Cadangan SHU Tahun Berjalan Total Ekuitas TOTAL PASIVA 24.47 0.380.816.593.331.01 4.100.388.

62) (68.548.60 2.160.43 0.40 (98.40) 387.405.93 Lampiran 8.00 (97.32 1.468.65 1.83 .00 0.927.04) 285.927.726.00 0.544.568.405.00 0.422.REMBANG KOMPOSISI PENDAPATAN DAN BEBAN Tahun yang Berakhir 31 Desember 2008 dan 2007 Tahun 2008 Rp Pendapatan Usaha Beban Usaha Hasil Usaha Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain SHU Sebelum Pajak Penghasilan Taksiran Pajak Penghasilan SHU Setelah Pajak Penghasilan 15.273.814.612. Komposisi Pendapatan dan Beban KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.160.422.00 0.121.60) 2.LASEM KAB.93 0.28) (0.955.00 (97.97 (11.43 185.60 0.00 % Tahun 2007 Rp 11.345.93 2.00 100.57) 2.283.613.045.696.81 217.384.00 100.00 % 387.40 0.049.00 (15.898.57) 288.878.28) (0.409.

955.062. Acid Ratio Kas+Bank+Piutang Hutang Lancar c.891.915.Panjang Aktiva Tetap : 3.097.36 X Total Hutang 91.568.215.LASEM KAB. RASIO SOLVABILITAS a.32 X 6.273.71 16.058. Current Ratio Aktiva Lancar Hutang Lancar b.955. Operational Ratio HPP+Beban Usaha Penjualan dan Pendapatan : 288.32 X 15.957.001.118.03 X 66.00 15.736.71 b. Analisa Rasio KJKS BMT BUS Lasem KOPERASI JASA KEUANGAN SYARI’AH “BINA UMMAT SEJAHTERA” KEC.33 c.389. RASIO RENTABILITAS a.18% III.81% : 100% = 97.890.Panjang 24.48 X 66.345.07% 100% = 13.215.001.205.94 Lampiran 9.57% . Operational Margin Ratio SHU Penjualan dan Pendapatan c.045.696.468.65 X Aktiva Tetap 3.957.297. Rentabilitas Modal Sendiri SHU Modal b.36% II.865.566. Rasio Total Aktiva dengan Total Hutang Total Aktiva : 97.19% 100% = 204.56% : 100% = 24.049.65 288. Rasio Aktiva dengan Hutang Jk.40% : 100% = 1.696.049.118.782.205.REMBANG ANALISA RASIO TAHUN 2008 I.273.957.643.71 94.00 100% = 107.71 100% = 140.57% : 100% = 140.260.934.915.398.380.260.139.40 X 15.48 X 66.139.915.304.561.382.33 X Hutang Jk. Rasio Modal dengan Aktiva Tetap Modal : 6.817.468.561. Cash Ratio Kas dan Bank Hutang Lancar : 94. RASIO LIKUIDITAS a.00 100% = 4.001.

95 Lampiran 10. Lembar Permohonan Pembiayaan KJKS BMT BUS Lasem .

96 .

97 .

98 .

Lampiran 5. Data Besarnya Pembiayaan Yang Diambil Responden NR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 AB BC 20000000 406000 30000000 607000 3000000 69000 3000000 68000 5000000 109000 6000000 127000 10000000 207000 20000000 410000 20000000 411000 20000000 409000 5000000 108000 10000000 208000 1000000 28000 3000000 68000 2000000 47000 1000000 27000 10000000 208000 1500000 37000 5000000 109000 4000000 87000 3000000 67000 5000000 109000 SB CR A DP1 DP2 DP3 DP4 DU1 DU2 DA 66700 600 84 0 0 0 1 0 0 1 800000 300 132 0 1 0 0 0 0 1 133500 250 48 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 60 0 0 0 0 0 0 1 70000 100 60 0 1 0 0 0 0 1 50000 100 24 0 0 0 1 0 1 1 1000000 600 60 0 1 0 0 1 0 1 200000 600 60 0 0 0 0 0 0 1 500000 100 72 0 0 0 0 0 0 1 1000000 100 48 0 1 0 0 0 0 1 500000 600 48 1 0 0 0 0 0 1 1500000 600 60 1 0 0 0 0 0 1 250000 250 36 0 0 0 1 0 0 1 500000 600 96 1 0 0 0 0 0 1 1000000 250 60 0 1 0 0 0 0 1 300000 250 36 1 0 0 0 0 0 1 117000 500 60 0 0 1 0 0 0 1 400000 300 36 0 0 0 0 0 0 1 800000 600 36 1 0 0 0 0 0 1 600000 300 48 0 1 0 0 1 0 1 500000 250 48 0 1 0 0 1 0 1 1000000 600 60 0 0 1 0 1 0 1 86 .

Lanjutan 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 2000000 2000000 2000000 8000000 500000 2000000 2000000 2000000 1500000 4000000 5000000 3000000 2000000 2000000 500000 3000000 1000000 4000000 49000 47500 47000 168500 17000 46500 46500 46500 37000 87000 108000 69000 47000 47000 17000 67000 28000 87000 300000 600000 400000 800000 300000 300000 300000 300000 400000 400000 500000 600000 400000 100000 400000 600000 500000 400000 300 300 250 600 300 250 250 250 250 250 600 300 250 100 50 300 100 600 60 60 48 48 36 36 36 36 48 60 48 72 36 48 60 48 60 48 0 1 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 Keterangan : NR : Nomor responden AB : Besar pengambilan pembiayaan BC : biaya Peminjaman SB : Besarnya pendapatan usaha CR : jangka waktu angsuran A : lama menjadi anggota DP : Dummy Pendidikan 87 .Lampiran 5.

DP1 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SD dan 0 untuk yang lain DP2 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMP dan 0 untuk yang lain DP3 bernilai 1 jika tingkat pendidikan SMA dan 0 untuk yang lain DP4 bernilai 1 jika tingkat pendidikan Sarjana muda/ sarjana dan 0 untuk yang lain DU : Dummy jenis usaha DU1 : bernilai 1 jika siap pakai dan 0 untuk yang lain DU2 : bernilai 1 jika retail dan 0 untuk yang lain DA : Dummy Jenis Agunan bernilai 1 jika ada agunan dan 0 jika tidak ada agunan 88 .

000 .000 .000.500 – RP 1.Rp 400.000 Rp 120. Data Identitas Responden Kategori penggolongan Status Range Belum menikah Sudah menikah Janda/ duda Laki-laki Perempuan 21-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-72 tahun <5 tahun 5-10 tahun >10 tahun <3 tahun 3-5 tahun 6-11 tahun <3 hari 3-5 hari >5 hari 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang ≤ Rp 100.000 Rp 300.000 Rp 433.Rp 250.Lampiran 6.000 Jumlah Responden (orang) 40 28 12 2 19 14 4 7 31 2 1 33 6 7 29 4 9 14 14 3 7 10 11 12 Jenis Kelamin Umur Lama Usaha Lama anggota Jangka waktu pembiayaan Tanggungan (tidak termasuk dirinya) Besar pendapatan per hari 89 .

000 Rp 20.000 Rp5.000.Lampiran 6.000.000 16 14 5 5 90 .000.000 Rp2.000 Rp 6.000.000 Rp 30.000 Rp 10.000 Rp 2.000.000. Lanjutan Besar pembiayaan Rp 500.500.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful