P. 1
Makalah Keteladanan Rasulullah Membina Umat Periode Madinah

Makalah Keteladanan Rasulullah Membina Umat Periode Madinah

|Views: 4,520|Likes:
Published by Must Takim

More info:

Published by: Must Takim on May 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2014

pdf

text

original

DOWNLOAD http://www.ziddu.com/download/19296473/alahKeteladananRasulullahMembinaUm atperiodeMadinah.doc.html BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ini terjadi pada 12 Rabi`ul Awwal tahun pertama Hijrah, yang bertepatan dengan 28 Juni 621 Masehi. Hijrah adalah sebuah peristiwa pindahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah atas perintah Allah, untuk memperluas wilayah penyebaran Islam dan demi kemajuan Islam itu sendiri. B. Sejarah Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembunuhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur. Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman. Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan

sebelumnya. Berangkatlah Nabi SAW bersama Abu Bakar menuju Yatsrib menyusuri pantai Laut Merah, suatu jalan yang tidak pernah ditempuh orang. Setelah 7 hari perjalanan, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba di Quba, sebuah desa yang jaraknya 5 km dari Yatsrib. Di desa ini mereka beristirahat selama beberapa hari. Mereka menginap di rumah Kalsum bin Hindun. Di halaman rumah ini Nabi SAW membangun sebuah masjid yang kemudian terkenal sebagai Masjid Quba. Inilah masjid pertama yang dibangun Nabi SAW sebagai pusat peribadatan. Tak lama kemudian, Ali menggabungkan diri dengan Nabi SAW. Sementara itu penduduk Yatsrib menunggu-nunggu kedatangannya. Menurut perhitungan mereka, berdasarkan perhitungan yang lazim ditempuh orang, seharusnya Nabi SAW sudah tiba di Yatsrib. Oleh sebab itu mereka pergi ke tempat-tempat yang tinggi, memandang ke arah Quba, menantikan dan menyongsong kedatangan Nabi SAW dan rombongan. “Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan perasaan bahagia, mereka mengelu-elukan kedatangan Nabi SAW. Mereka berbaris di sepanjang jalan dan menyanyikan lagu Thala' al-Badru, yang isinya: Telah tiba bulan purnama, dari Saniyyah al-Wadâ'i (celah-celah bukit). Kami wajib bersyukur, selama ada orang yang menyeru kepada Ilahi, Wahai orang yang diutus kepada kami, engkau telah membawa sesuatu yang harus kami taati. Setiap orang ingin agar Nabi SAW singgah dan menginap di rumahnya. Tetapi Nabi SAW hanya berkata, "Aku akan menginap dimana untaku berhenti. Biarkanlah dia berjalan sekehendak hatinya."

Ternyata unta itu berhenti di tanah milik dua anak yatim, yaitu Sahal dan Suhail, di depan rumah milik Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian Nabi SAW memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Tujuh bulan lamanya Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub, sementara kaum Muslimin bergotong-royong membangun rumah untuknya. Sejak itu nama kota Yatsrib diubah menjadi Madînah an-Nabî (kota nabi). Orang sering pula menyebutnya Madînah al-Munawwarah (kota yang bercahaya), karena dari sanalah sinar Islam memancar ke seluruh dunia. Terbentuknya Negara Madinah

Setelah Nabi SAW tiba di Madinah dan diterima penduduk Madinah, Nabi SAW menjadi pemimpin penduduk kota itu. Ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan yang kokoh bagi pembentukan suatu masyarakat baru. Dasar pertama Yang ditegakkannya adalah Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan di dalam Islam), yaitu antara kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah) dan Anshar (penduduk Madinah yang masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin). Nabi SAW mempersaudarakan individu-individu dari golongan Muhajirin dengan individu-individu dari golongan Anshar. Misalnya, Nabi SAW mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zaid, Ja'far bin Abi Thalib dengan Mu'az bin Jabal. Dengan demikian diharapkan masing-masing orang akan terikat dalam suatu persaudaraan dan kekeluargaan. Dengan persaudaraan yang semacam ini pula, Rasulullah telah menciptakan suatu persaudaraan baru, yaitu persaudaraan berdasarkan agama, menggantikan persaudaraan berdasarkan keturunan. Dasar kedua Adalah sarana terpenting untuk mewujudkan rasa persaudaraan tsb, yaitu tempat pertemuan. Sarana yang dimaksud adalah masjid, tempat untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT secara berjamaah, yang juga dapat digunakan sebagai pusat kegiatan untuk berbagai hal, seperti belajar-mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul dalam masyarakat, musyawarah, dan transaksi dagang.

Nabi SAW merencanakan pembangunan masjid itu dan langsung ikut membangun bersama-sama kaum muslimin. Masjid yang dibangun ini kemudian dikenal sebagai Masjid Nabawi. Ukurannya cukup besar, dibangun di atas sebidang tanah dekat rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dindingnya terbuat dari tanah liat, sedangkan atapnya dari daundaun dan pelepah kurma. Di dekat masjid itu dibangun pula tempat tinggal Nabi SAW dan keluarganya. Dasar ketiga Adalah hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam juga masih terdapat golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang

mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Nabi Muhammad SAW mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Perjanjian tersebut diwujudkan melalui sebuah piagam yang disebut dengan Mîsâq Madînah atau Piagam Madinah. Isi piagam itu antara lain mengenai kebebasan beragama, hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban negerinya, kehidupan sosial, persamaan derajat, dan disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjadi kepala pemerintahan di Madinah. Masyarakat yang dibentuk oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah setelah hijrah itu sudah dapat dikatakan sebagai sebuah negara, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negaranya. Dengan terbentuknya Negara Madinah, Islam makin bertambah kuat. Perkembangan Islam yang pesat itu membuat orang-orang Mekah menjadi resah. Mereka takut kalau-kalau umat Islam memukul mereka dan membalas kekejaman yang pernah mereka lakukan. Mereka juga khawatir kafilah dagang mereka ke Suriah akan diganggu atau dikuasai oleh kaum muslimin. Untuk memperkokoh dan mempertahankan keberadaan negara yang baru didirikan itu, Nabi SAW mengadakan beberapa ekspedisi ke luar kota, baik langsung di bawah pimpinannya maupun tidak. Hamzah bin Abdul Muttalib membawa 30 orang berpatroli ke pesisir L. Merah. Ubaidah bin Haris membawa 60 orang menuju Wadi Rabiah. Sa'ad bin Abi Waqqas ke Hedzjaz dengan 8 orang Muhajirin. Nabi SAW sendiri membawa pasukan ke Abwa dan disana berhasil mengikat perjanjian dengan Bani Damra, kemudian ke Buwat dengan membawa 200 orang Muhajirin dan Anshar, dan ke Usyairiah. Di sini Nabi SAW mengadakan perjanjian dengan Bani Mudij. EkspedEsi-ekspedisi tersebut sengaja digerakkan Nabi SAW sebagai aksi-aksi siaga dan melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk. Perjanjian perdamaian dengan kabilah dimaksudkan sebagai usaha memperkuat kedudukan Madinah. Perang Badar Perang Badar yang merupakan perang antara kaum muslimin Madinah dan kaun musyrikin Quraisy Mekah terjadi pada tahun 2 H. Perang ini merupakan puncak dari serangkaian pertikaian yang terjadi antara pihak kaum muslimin Madinah dan kaum musyrikin Quraisy. Perang ini berkobar setelah berbagai upaya perdamaian yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW gagal.

Tentara muslimin Madinah terdiri dari 313 orang dengan perlengkapan senjata sederhana yang terdiri dari pedang, tombak, dan panah. Berkat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan semangat pasukan yang membaja, kaum muslimin keluar sebagai pemenang. Abu Jahal, panglima perang pihak pasukan Quraisy dan musuh utama Nabi Muhammad SAW sejak awal, tewas dalam perang itu. Sebanyak 70 tewas dari pihak Quraisy, dan 70 orang lainnya menjadi tawanan. Di pihak kaum muslimin, hanya 14 yang gugur sebagai syuhada. Kemenangan itu sungguh merupakan pertolongan Allah SWT (QS. 3: 123). Orang-orang Yahudi Madinah tidak senang dengan kemenangan kaum muslimin. Mereka memang tidak pernah sepenuh hati menerima perjanjian yang dibuat antara mereka dan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah. Sementara itu, dalam menangani persoalan tawanan perang, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk membebaskan para tawanan dengan tebusan sesuai kemampuan masing-masing. Tawanan yang pandai membaca dan menulis dibebaskan bila bersedia mengajari orang-orang Islam yang masih buta aksara. Namun tawanan yang tidak memiliki kekayaan dan kepandaian apa-apa pun tetap dibebaskan juga. Tidak lama setelah perang Badar, Nabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian dengan suku Badui yang kuat. Mereka ingin menjalin hubungan dengan Nabi SAW karenan melihat kekuatan Nabi SAW. Tetapi ternyata suku-suku itu hanya memuja kekuatan semata. Sesudah perang Badr, Nabi SAW juga menyerang Bani Qainuqa, suku Yahudi Madinah yang berkomplot dengan orang-orang Mekah. Nabi SAW lalu mengusir kaum Yahudi itu ke Suriah. Perang Uhud Perang yang terjadi di Bukit Uhud ini berlangsung pada tahun 3 H. Perang ini disebabkan karena keinginan balas dendam orang-orang Quraisy Mekah yang kalah dalam perang Badr. Pasukan Quraisy, dengan dibantu oleh kabilah Tihama dan Kinanah, membawa 3.000 ekor unta dan 200 pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Tujuh ratus orang di antara mereka memakai baju besi.

Adapun jumlah pasukan Nabi Muhammad SAW hanya berjumlah 700 orang. Perang pun

berkobar. Prajurit-prajurit Islam dapat memukul mundur pasukan musuh yang jauh lebih besar itu. Tentara Quraisy mulai mundur dan kocar-kacir meninggalkan harta mereka.

Melihat kemenangan yang sudah di ambang pintu, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Rasulullah di puncak bukit meninggalkan pos mereka dan turun untuk mengambil harta peninggalan musuh. Mereka lupa akan pesan Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam keadaan bagaimana pun sebelum diperintahkan. Mereka tidak lagi menghiraukan gerakan musuh. Situasi ini dimanfaatkan musuh untuk segera melancarkan serangan balik. Tanpa konsentrasi penuh, pasukan Islam tak mampu menangkis serangan. Mereka terjepit, dan satu per satu pahlawan Islam berguguran. Nabi SAW sendiri terkena serangan musuh. Sisa-sisa pasukan Islam diselamatkan oleh berita tidak benar yang diterima musuh bahwa Nabi SAW sudah meninggal. Berita ini membuat mereka mengendurkan serangan untuk kemudian mengakhiri pertempuran itu. Perang Uhuh ini menyebabkan 70 orang pejuang Islam gugur sebagai syuhada. Perang Khandaq Perang yang terjadi pada tahun 5 H ini merupakan perang antara kaum muslimin Madinah melawan masyarakat Yahudi Madinah yang mengungsi ke Khaibar yang bersekutu dengan masyarakat Mekah. Karena itu perang ini juga disebut sebagai Perang Ahzab (sekutu beberapa suku).

Pasukan gabungan ini terdiri dari 10.000 orang tentara. Salman al-Farisi, sahabat Rasulullah SAW, mengusulkan agar kaum muslimin membuat parit pertahanan di bagianbagian kota yang terbuka. Karena itulah perang ini disebut sebagai Perang Khandaq yang berarti parit. Tentara sekutu yang tertahan oleh parit tsb mengepung Madinah dengan mendirikan perkemahan di luar parit hampir sebulan lamanya. Pengepungan ini cukup membuat masyarakat Madinah menderita karena hubungan mereka dengan dunia luar menjadi terputus. Suasana kritis itu diperparah pula oleh pengkhianatan orang-orang Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizah, dibawah pimpinan Ka'ab bin Asad. Namun akhirnya pertolongan Allah SWT menyelamatkan kaum muslimin. Setelah sebulan mengadakan pengepungan, persediaan makanan pihak sekutu berkurang. Sementara itu pada malam hari angin dan badai turun dengan amat kencang, menghantam dan menerbangkan kemah-kemah dan seluruh perlengkapan tentara sekutu. Sehingga

mereka terpaksa menghentikan pengepungan dan kembali ke negeri masing-masing tanpa suatu hasil. Para pengkhianat Yahudi dari Bani Quraizah dijatuhi hukuman mati.

Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzâb: 25-26. Perjanjian Hudaibiyah Pada tahun 6 H, ketika ibadah haji sudah disyariatkan, hasrat kaum muslimin untuk mengunjungi Mekah sangat bergelora. Nabi SAW memimpin langsung sekitar 1.400 orang kaum muslimin berangkat umrah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang dilarang adanya perang. Untuk itu mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa senjata ala kadarnya untuk menjaga diri, bukan untuk berperang.

Sebelum tiba di Mekah, mereka berkemah di Hudaibiyah yang terletak beberapa kilometer dari Mekah. Orang-orang kafir Quraisy melarang kaum muslimin masuk ke Mekah dengan menempatkan sejumlah besar tentara untuk berjaga-jaga.

Akhirnya diadakanlah Perjanjian Hudaibiyah antara Madinah dan Mekah, yang isinya antara lain: 1. Kedua belah pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata selama 10 tahun. 2. Bila ada pihak Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad, ia harus dikembalikan. Tetapi bila ada pengikut Muhammad SAW yang menyeberang ke pihak Quraisy, pihak Quraisy tidak harus mengembalikannya ke pihak Muhammad SAW. 3. Tiap kabilah bebas melakukan perjanjian baik dengan pihak Muhammad SAW maupun dengan pihak Quraisy. 4. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Ka'bah pada tahun tsb, tetapi ditangguhkan sampai tahun berikutnya. 5. Jika tahun depan kaum muslimin memasuki kota Mekah, orang Quraisy harus keluar lebih dulu.

6. Kaum muslimin memasuki kota Mekah dengan tidak diizinkan membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya, dan tidak boleh tinggal di Mekah lebih dari 3 hari 3 malam. Tujuan Nabi SAW membuat perjanjian tsb sebenarnya adalah berusaha merebut dan menguasai Mekah, untuk kemudian dari sana menyiarkan Islam ke daerah-daerah lain.

Ada 2 faktor utama yang mendorong kebijaksanaan ini :

Mekah adalah pusat keagamaan bangsa Arab, sehingga dengan melalui konsolidasi bangsa Arab dalam Islam, diharapkan Islam dapat tersebar ke luar. Apabila suku Quraisy dapat diislamkan, maka Islam akan memperoleh dukungan yang besar, karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar di kalangan bangsa Arab.

Setahun kemudian ibadah haji ditunaikan sesuai perjanjian. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin, disamping juga melihat kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.

Di Sisi Lain Keberhasilan dakwah di madinah tak terlepas dari sosok sahabat nabi, yang bernama MUSH'AB BIN 'UMAIR. Beliau adalah salah satu sahabat nabi. Sebelum masuk hidayah tertanam didadanya, beliau adalah seorang pemuda tampan, anak seorang bangsawan dan hartawan. pemuda yang menjadi buah bibir warga mekah, khususnya para wanita. Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Sampai akhirnya hidayah Allah datang kepada beliau, dan beliau masuk islam dalam usia yang masih muda, sekira 24 tahun berbagai kesenangan dunia serta kekayaannya ia tinggalkan demi memilih islam sebagai agamanya.

Seorang Mush'ab yang memilih hidup miskin dan sengsara demi Islam sebagai tuntunan hidupnya Pemuda ganteng itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar. Sampai akhirnya Nabi Muhammad mengutus beliau sebagai sebagai duta dakwah pertama ke madinah. Sejarah mengisahkan betapa Al-Amin mempercayakan kepadanya. Mush'ab dipilih menjadi seorang utusan. Seorang duta pertama dalam Islam. Ada amanah indah yang harus segera ia tunaikan. Tugasnya mengajarkan tentang Islam kepada kaum Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di Aqabah. Sebuah misi yang tentu saja tidak mudah. Saat itu telah 12 orang kaum Anshar yang beriman. Tak lama berselang, Allah yang maha besar, memperlihatkan hasil usaha sungguh sungguh dari seorang Mushaib. Berduyun-duyun manusia berikrar mengesakan Allah dan mengakui Rasulullah sebagai utusan Allah. Jika saat ia pergi ada 12 orang golongan kaum Anshar yang beriman, maka pada musim haji selanjutnya umat muslim Madinah mengirim perwakilan sebanyak 70 orang laki-laki dan 2 orang perempuan ke Makkah untuk menjumpai Nabi yang Ummi. Madinah semarak dengan cahaya. Usaha gigih yang diperbuat Mushab membuat Benih benih islam tersemai dengan subur di madinah kesungguhan Mus‘ab bin Umair dalam berdakwah. Setiap hari dalam hidupnya senantiasa memberikan konstribusi baru bagi Islam di dalam dakwah dan jihad yang dilakukannya. Beliau adalah dai pertama dalam Islam di kota Madinah. Di tangannyalah sebagian besar penduduk Madinah berhasil diislamkan. Dia adalah peletak pertama fondasi Negara Islam Madinah. Dia adalah kontributor sesungguhnya bagi Islam dan jamaah kaum Muslim.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Dakwah Rasulullah saw Periode Madinah 1. Orang Yatsrib masuk Islam Pada waktu musim haji tiba, datanglah ke Mekah kabilah-kabilah Arab dari segala penjuru tanah Arab. Di antara mereka itu, terdapat jemaah orang Khazraj dari Yatsrib. Sebagaimana biasanya setiap musim haji, Nabi Muhammad menyampaikan seruan Islam kepada kabilah-kabilah yang sedang melakukan haji itu. Kali ini beliau menjumpai orangorang Khazraj. Mereka ini sudah ada yang mempunyai pengertian tentang agama ketuhanan, dan kerap kali mendengar dari orang Yahudi di negeri mereka, tentang akan lahirnya seorang Nabi pada waktu yang dekat. Segeralah mereka mencurahkan perhatian kepada da'wah yang disampaikan Nabi kepada mereka itu, dan pada waktu itu juga mereka langsung beriman setelah mereka yakin bahwa Muhammad itu Nabi yang dinantinantikan. Peristiwa ini merupakan titik terang bagi perjalanan risalah Muhammad s.a.w. Orang Khazraj yang masuk Islam ini tidak lebih dari enam orang, tapi merekalah yang membuka lembaran baru sejarah perjuangan Nabi Muhammad s.a.w. Setibanya mereka di Yatsrib dari Mekah, mulailah mereka menyiarkan kepada kaum kerabat mereka, tentang kebangkitan Nabi akhir zaman. Muhammad s.a.w. yang berada di Mekah. Berkat kegiatan mereka, hampir setiap rumah di Madinah itu, sudah mendengar dan bercakap-cakap tentang Nabi Muhammad s.a.w. Pada tahun kedua belas sesudah kenabian, datanglah ke Mekah di usim haji 12 orang lakilaki dan seorang wanita penduduk Yatsrib. Mereka menemui Rasulullah secara rahasia di 'Aqabah. Di tempat inilah mereka mengadakan bai'at (perjanjian) atas dasar Islam dengan Nabi, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, berzina, membunuh anak-anak, fitnah memfitnah dan tidak akan mendurhakai Muhammad s.a.w. Perjanjian ini dalam sejarah dinamakan Bai'atul Aqabatil Ula (Perjanjian Aqabah yang pertama), karena dilangsungkan di 'Aqabah untuk pertama kalinya. Dinamakan pulaBai'atun Nisaa' (Perjanjian wanita) karena dalam bai'at itu ikut seorang wanita bernama 'Afra binti 'Abid bin Tsa'labah. Sesudah selesai pembai'atan ini, Rasulullah mengirim Mush'ab bin Umair bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajarkan Al-Qur'an dan agama Islam. Maka, agama Islampun tersebar ke setiap rumah dan keluarga penduduk Yatsrib, kecuali beberapa keluarga kecil orang Aus.

Pada tahun ketiga belas dari kenabian, berangkatlah serombongan kaum Muslimin dari Yatsrib ke Mekah untuk mengerjakan haji. Orang-orang Islam itu mengundang Rasul agar mengadakan pertemuan dengan mereka di 'Aqabah pada hari tasyriq. Sesudah selesai melakukan upacara haji, keluarlah orang-orang Islam dari perkemahan mereka menuju 'Aqabah secara sembunyi-sembunyi pada waktu tengah malam. Di tempat itulah mereka berkumpul menunggu Nabi. Jumlah mereka 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita. Rasulullah pun datang didampingi oleh Abbas, paman beliau, yang di masa itu masih belum menganut agama Islam. Setelah mereka duduk semuanya, maka yang berbicara pertama kali, adalah Abbas, katanya: "Para Khazraj! Kamu semua telah mengetahui bahwa Muhammad s.a.w. ini adalah salah seorang di antara kaum kami. Kami telah membelanya, sebab itu dia terhormat dan terjaga di negerinya. Sekarang dia ingin menyebelah dan menggabungkan diri dengan kamu. Sekiranya kamu benar-benar bermaksud akan setia kepadanya dalam segala hal, yang kamu kemukakan kepadanya, dan kamu akan membelanya dari semua orang yang menantangnya, dapatlah saya menyerahkan Muhammad kepada kamu, atas pertanggungan jawab kamu sendiri. Akan tetapi sekiranya kamu akan menyerahkan kepada musuh-musuhnya dan mengecewakannya, maka tinggalkanlah dia dari sekarang". Pembicaraan Abbas ini dijawab oleh Khazraj: "Telah kami dengar apa yang kamu katakan, ya Abbas. Maka cobalah Rasulullah sendiri berbicara. Ambillah ya, Rasulullah apa yang kamu inginkan buat dirimu dan buat Tuhanmu!" Maka berbicaralah Rasulullah dan beliau baca ayat-ayat Al-Qur'an kemudian beliau berkata: "Saya ingin mengambil perjanjian dari kamu semua, bahwa kamu akan menjaga saya sebagai kamu menjaga keluarga dan anak-anakmu sendiri". Kemudian berdirilah 12 orang pemuka-pemuka Khazraj dan Aus dari penduduk Yatsrib itu, masing-masing mewakili golongan yang ada dalam kabilah mereka. Mereka berjanji akan membela Nabi Muhammad s.a.w. walaupun harta dan jiwa mereka habis tandas karenanya. Seorang demi seorang menjabat tangan Rasul, tanda bai'at sudah pasti. Peristiwa ini dalam sejarah dinamakan Bai'atul 'Aqabah Ats Tsaaniyah (Perjanjian Aqabah kedua).
2. Hijrah ke Yatsrib (Madinah)

Sejak zaman dahulu kota Yatsrib -empat belas hari perjalanan ke sebelah Utara Mekahmerupakan stasiun yang penting yang terletak di lalu-lintas perdagangan dari Mekah ke Syria. Orang Yahudi dan orang Arab yang beragama Yahudi, sejak sebelum masehi sudah berkuasa di negeri ini. Barulah pada abad ke 5 masehi orang Khazraj dan Aus berpindah dari Arabia Selatan, dan ikut menetap di Yatsrib ini. Karena hidup mereka berdekatan dengan orang Yahudi, maka mereka sedikit banyaknya sudah mengerti tentang ketuhanan, kenabian, wahyu dan hari akhirat. Maka tidaklah mengherankan, apabila orang Orang Arab Yatsrib ini lekas menerima agama Islam.

Tatkala Nabi Muhammad s.a.w. melihat tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib itu, disuruhnyalah para sahabat-sahabatnya berpindah ke sana. Berkata Rasul kepada sahabat-sahabatnya itu: "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla telah menjadikan orang-orang Yatsrib sebagai saudara-saudara bagimu dan negeri itu sebagai tempat yang aman bagimu". Orang-orang Quraisy sangat terperanjat setelah mengetahui perkembangan Islam di Yatsrib itu. Mereka merasa khawatir jika Nabi Muhammad s.a.w. berkuasa di Yatsrib itu, karena tentulah Muhammad dan pengikutnya akan menyerang kafilah-kafilah dagang mereka yang pulang balik ke Syam. Hal demikian berarti kerugian bagi perniagaan mereka. Oleh karena itu sebelum terlambat mereka harus bertindak cepat dan tegas terhadap nabi Muhammad s.a.w. selagi dia belum ikut pindah ke Yatsrib. Maka bersidanglah pemuka-pemuka Quraisy di Daarun Nadwah untuk merencanakan tindakan apakah yang akan diambil terhadap Nabi. Akhirnya mereka memutuskan bahwa Nabi Muhammad harus dibunuh, demi keselamatan masa depan mereka. Untuk melaksanakan pembunuhan ini, setiap suku Quraisy mengirimkan seorang pemuda pilihan. Dengan demikian bilamana Nabi Muhammad s.a.w. berhasil dibunuh, keluarga beliau tidak akan mampu menuntut bela kepada seluruh suku. Rencana keji kaum Quraisy ini telah diketahui oleh nabi Muhammad s.a.w. dan beliau diperintahkan oleh Allah s.w.t. agar segera pindah ke Yatsrib. Hal ini beliau beritahukan kepada sahabatnya Abu Bakar. Abu Bakar minta kepada Nabi supaya diizinkan menemani beliau dalam perjalanan yang bersejarah ini. Nabi setuju, lalu Abu Bakar menyediakan persiapan untuk perjalanan ini. Pada malam hari waktu pemuda-pemuda Quraisy sedang mengepung rumah Nabi dan siap akan membunuh beliau. Rasulullah berkemas-kemas untuk meninggalkan rumah. Disuruh beliau Ali bin Abi Thalib, menempati tempat tidur beliau supaya orang-orang Quraisy mengira bahwa beliau masih tidur. Kepada Ali diperintahkan juga, supaya mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau kepada pemiliknya masingmasing. Kemudian dengan diam-diam beliau keluar dari rumah. Dilihatnya pemudapemuda yang mengepung rumah beliau sedang tertidur, tak sadarkan diri. "Alangkah kejinya mukamu" kata Rasulullah s.a.w. seraya meletakan pasir di atas kepala mereka. Dengan sembunyi-sembunyi beliau pergi menuju rumah Abu Bakar. Kemudian mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang rumah, menuju sebuah gua di bukit Tsuur sebelah Selatan kota Mekah, lalu mereka bersembunyi dalam gua itu. Setelah algojo-algojo itu mengetahui, bahwa Nabi tidak ada di rumah dan terlepas dari kepungan mereka, maka mereka menjelajah seluruh kota untuk mencari Nabi, tetapi tidak juga bertemu. Akhirnya mereka sampai juga di gua Tsuur, tempat Nabi dan Abu Bakar

bersembunyi. Tetapi dengan perlindungan Allah, di muka gua itu terdapat sarang labahlabah berlapis-lapis, seolah-olah terjadinya telah lama sebelum Nabi dan Abu Bakar masuk ke dalamnya. Melihat keadaan yang demikian, pemuda Quraisy itu sedikitpun tidak menaruh curiga. Setelah tiga hari lamanya mereka bersembunyi dalam gua itu dan keadaan sudah dirasakan aman, maka Nabi dan Abu Bakar barulah meneruskan perjalanan menyusur pantai Laut Merah, dan Ali bin Abi Thalib menyusul kemudian. Dengan berpindahnya Nabi Muhammad s.a.w. dari Mekah ini berakhirlah fase pertama dari sejarah risalahnya, setelah tidak kurang dari 13 tahun lamanya berjuang antara hidup dan mati menegakkan agama Allah di tengah masyarakat Mekah itu. 3. Yatsrib menjadi Madinatun Nabiy Setelah mengharungi padang pasir yang sangat luas, dan amat panas, mendaki gunung dan menuruni jurang, akhirnya pada hari Senin tanggal 8 Rabi'ulawal tahun 1 Hijriah, tibalah Nabi Muhammad s.a.w. di Quba, sebuah tempat kira-kira sepuluh kilometer jauhnya dari Yatsrib. Selama empat hari beristirahat, Nabi mendirikan sebuah Mesjid, yaitu Mesjid Quba'. Inilah mesjid yang pertama kali didirikan dalam sejarah islam. Pada hari Jum'at tanggal 12 Rabi'ulawal tahun 1 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 24 September tahun 622 M. Nabi, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thallib memasuki kota Yatsrib, dengan mendapat sambutan yang hangat, penuh kerinduan dan rasa hormat dari penduduknya. Pada hari itu juga, Nabi mengadakan sembahyang Jum'at yang pertama kali dalam sejarah Islam, dan beliaupun berkhutbah di hadapan kaum Muslimin, Muhajirin dan Anshar. Sejak ini Yastrib berubah namanya menjadi Madinatun Nabiy artinya: "Kota Nabi" selanjutnya disebut Madinah. Setelah menetap di Madinah, barulah nabi memulai rencana mengatur siasat dan membentuk masyarakat Islam, yang bebas dari ancaman dan tekanan, mempertalikan hubungan kekeluargaan antara Anshar dan Muhajirin, mengadakan perjanjian saling membantu, antara kaum Muslimin dengan orang-orang yang bukan Islam, dan menyusun siasat, ekonomi, sosial serta dasar-dasar Daulah Islamiyah. Dalam usaha membentuk masyarakat Islam di Madinah ini, sekaligus beliau berjuang pula memelihara dan mempertahankan masyarakat Islam yang dibina itu dari rongrongan musuh, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan demikian gerak perjuangan Nabi di Madinah bersifat dua segi. Pertama, membina masyarakat Islam. Kedua, memelihara dan mempertahankan masyarakat Islam itu. B. Dakwah Rasulullah saw Periode Madinah

1. Mendirikan mesjid Beliau dahulukan mendirikan bangunan mesjid, sebelum mengerjakan bangunanbangunan lainnya selain rumah tempat kediaman beliau sendiri, karena mesjid mempunyai potensi yang sangat vital, dalam menyatukan umat dan menyusun kekuatan mereka lahir batin, untuk membina masyarakat Islam atau Daulah Islamiyah berlandaskan semangat tauhid. Di dalam mesjid Nabi Muhammad s.a.w. dapat mengadakan benteng pertahanan yang bersifat moril dan spirituil, yaitu semangat jihad di jalan Allah, sehingga kaum Muslimin yang waktu itu jumlahnya belum berapa banyak, rela mengorbankan harta benda dan segenap kesenangan materi mereka. Di dalam mesjid beliau senantiasa mengajarkan doktrin tauhid, dan mengajarkan pokok-pokok agama Islam kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Dan di dalam mesjid pula kaum Muslimin melakukan ibadat berjamaah dan senantiasa dapat bertemu, bermusyawarah untuk menrundingkan masalahmasalah, yang bersama-sama mereka hadapi. Jadi, mesjid selain tempat untuk bersujud kepada Allah, juga digunakan oleh Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pembinaan bangsa (nation building) bagi umat Islam yang berjiwa tauhid. Karena mesjid adalah tempat yang paling efektif untuk menyusun dan menghimpun potensi umat Islam.

2. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshor

Kaum Muhajirin yang jauh dari sanak keluarga dan kampung halaman mereka, dipererat oleh beliau dengan mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshar, karena kaum Anshar telah menolong mereka dengan ikhlas dan tidak memperhitungkan keuntungankeuntungan yang bersifat materi, melainkan hanya karena mencari keridhaan Allah semata-mata. Abu Bakar, beliau persaudarakan dengan Haritsah bin Zaid. Ja'far bin Abi Thalib, beliau persaudarakan dengan Mu'az bin Jabal, dan Umar bin Khaththab, beliau persaudarakan dengan 'Itbah bin Malik. Begitu seterusnya tiap-tiap orang dari kaum Anshar dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin, dan persaudaraan itu hukumnya sebagai saudara kandung. Dengan demikian, maka kaum Muhajirin yang bertahun-tahun terpisah dengan sanak saudara dan kampung halamannya, merasa tenteram dan aman menjalankan syari'at agamanya. Di tempat yang baru itu, sebagian dari mereka ada yang hidup berniaga, dan ada pula yang bertani, mengerjakan tanah kaum Anshar. Dengan ikatan yang teguh ini, dapatlah Nabi Muhammad s.a.w. mengikat setiap pengikut Islam yang terdiri dari bermacam-macam suku dan kabilah itu, ke dalam satu paduan masyarakat Islam yang

kuat, dengan semangat bekerja bergotong-royong, senasib sepenanggungan, seperasaan, sesakit, sesenang dengan semangat persaudaraan Islam.
3. Perjanjian perdamaian dengan kaum Non Muslim

Guna menciptakan suasana tenteram dan aman di kota baru bagi Islam (Madinah), Nabi Muhammad s.a.w. membuat perjanjian persabatan dan perdamaian dengan kaum Yahudi, yang berdiam di dalam dan di sekeliling kota Madinah. Dalam perjanjian ini ditetapkan dan diakui hak kemerdekaan tiap-tiap golongan untuk memeluk dan menjalankan agamanya. Inilah salah satu perjanjian politik yang memperlihatkan kebijaksanaan Nabi Muhammad s.a.w., sebagai seorang ahli politik yang ulung. Tindakan seperti ini belum pernah dilakukan oleh Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang terdahulu, baik oleh Nabi 'Isa a.s. maupun Nabi Musa a.s. atau Nabi-Nabi sebelum mereka. Kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. bukan saja hanya sebagai seorang Nabi dan Rasul, tetapi juga dalam masyarakat Islam beliau sebagai ahli politik, diplomat yang ulung, di tengah-tengah medan perang beliau sebagai pahlawan yang gagah berani, dan di dalam memperlakukan musuh yang sudah kalah, beliau sebagai seorang kesatria yang tidak ada taranya. Di antara isi perjanjian yang dibuat Nabi dengan kaum Yahudi itu antara lain: Bahwa kaum Yahudi hidup damai bersama-sama dengan kaum Muslimin, kedua belah pihak bebas memeluk dan menjalankan agama masing-masing. Kaum Muslimin dan kaum Yahudi wajib bertolong-tolongan, untuk melawan siapa saja yang memerangi mereka. Orang-orang Yahudi memikul tanggung jawab belanja sendiri, dan orang-orang Islam memikul belanja mereka sendiri pula. Kaum Muslimin dan kaum Yahudi wajib nasehat-menasehati, dan tolong menolong dan melaksanakan kebajikan dan keutamaan. Bahwa kota Madinah adalah kota suci yang wajib dihormati oleh mereka yang terikat dengan perjanjian itu. Kalau terjadi perselisihan di antara kaum Yahudi dengan kaum Muslimin, sekiranya dikhawatirkan akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, maka urusan itu hendaklah diserahkan kepada Allah dan Rasul. Bahwa siapa saja yang tinggal di dalam atau di luar dari kota Madinah, wajib diperlindungi keamanan dirinya, kecuali orang zalim dan bersalah, sebab Allah menjadi pelindung orang-orang yang baik dan berbakti. Demikianlah, perjanjian politik yang dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w. sejak 13 abad yang silam, yang ternyata kemerdekaan beragama dan berpikir serta hak-hak kehormatan

jiwa dan harta golongan bukan Islam, telah terjamin. Perjanjian yang dibuat oleh nabi Muhammad s.a.w. ini, merupakan peristiwa yang baru dalam dunia politik dan peradaban, sebab waktu itu di berbagai pelosok bumi, masih berlaku perkosaan dan perampasan hakhak asasi manusia. Disebabkan perjanjian yang dibuat oleh Nabi Muhammad s.a.w. dengan kaum Yahudi, dan perjanjian-perjanjian lain yang dibuatnya dengan kaum Yahudi Bani Quraizhah, maka kota madinah menjadi sebuah kota suci atau "Madinatul Haram" dalam arti kata yang sebenar-benarnya karena setiap penduduk mempunyai tanggung jawab dan memikul kewajiban bersama, untuk menyelenggarakan keamanan, dan guna membela serta mempertahankan terhadap setiap serangan musuh dari mana juapun datangnya

DOWNLOAD http://www.ziddu.com/download/19296473/alahKeteladananRasulullahMembinaUm atperiodeMadinah.doc.html

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->