Pembagian Hadits Dari segi Kualitas Rawi, Sanad, Matan Hadits, Bersambung Terputus sanad dan Kehujahan

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Banyaknya pembagian hadits dari segi Kualitas Rawi, Sanad dan Matan, Kuantitas Rawi, serta berambung dan terputusnya Sanad dan kehujahan. I.2. Rumusan Masalah Dari Segi Periwayatan Hadits Dari Segi Kualitas Sanad Matan Hadits Kedudukan Dalam Kehujahan Bersambung-Terputusnya Sanad I.3. Tujuan Agar kita memahami macam-macam periwayatan hadits. Kita mampu memahami secara jelas kualitas sanad dan matan. Kita mampu memahami bersambunh-terputusnya sanad. Selain kita mampu memahami yang di atas kita juga bisa memahami kedudukan dalam hujah (hadits)

dimana dalam hal ini. namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama. maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam. DARI SEGI JUMLAH PERIWAYATNYA Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita. Ijma dan Qiyas. yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera. 1. Ta'rif Hadits Mutawatir Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan. Hadits yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya. yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya. yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi. perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam.BAB II PEMBAHASAN Definisi dan Pembagian Hadits Secara Umum Hadits adalah segala perkataan (sabda)." Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain AlQur'an. "Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta. yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta. Ada banyak ulama periwayat hadits. Imam Abu Daud. Imam Muslim. dan Imam Ibnu Majah. Imam Nasa'i. Untuk mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan. Hadits Mutawatir a. Sedangkan menurut istilah ialah:"Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera. kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an. A. Imam Turmudzi. seperti meriwayatkan tentang . yakni Imam Bukhari. Imam Ahmad.

Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. 2. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya. maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Ashabus Syafi'i menentukan minimal 5 orang. tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta. b. Hal tersebut diqiyaskan . Ada yang melihat atau mendengar. ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera.jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi . Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya.sifat-sifat manusia. a. baik yang terpuji maupun yang tercela. misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim b. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW. maka penyampaian itu adalah secara mutawatir. dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Hal tersebut diqiyaskan dengan . dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya. Disamping itu. juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak.

Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada. yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath'i (pasti)." (QS. bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir.(ayat 65 d. Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. seperti Al-Azharu alMutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah. dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi. Hal :tersebut diqiyaskan dengan firman Allah Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi " . Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya.(penolongmu). sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan . susunan Muhammad Abdullah bin Jafar AlKhattani (1345 H). karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. tetapi jumlahnya hanya sedikit. susunan Imam As-Suyuti(911 H). Seimbang jumlah para perawi. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal . Dengan demikian. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Faedah Hadits Mutawatir Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri. Al-Anfal: 64 3. c. dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits.c.

Hadits Mutawatir Lafzi Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya." Contoh Hadits Mutawatir Lafzi : "Rasulullah SAW bersabda. Silsilah/urutan rawii hadits di atas ialah sebagai berikut : .mengamalkan semua hadits mutawatir." Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah :"Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi. maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka. Pembagian Hadits Mutawatir Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam : 1. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera). "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku. . d.

Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi : Artinya : "Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau." Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut. namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat. Contoh : Artinya : "Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa' dan beliau mengangkat tangannya. yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Hadits mutawatir maknawi Hadits mutawatir maknawi adalah "Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya. Hadis Mutawatir Amali Hadis Mutawatir Amali adalah :"Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu ." (HR. tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum. sehingga nampak putihputih kedua ketiaknya. hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat. 2. Bukhari Muslim) Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak.Menurut Abu Bakar Al-Bazzar." 3. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad." "Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.

Hadis Ahad a. atau hasan). dua orang. tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir: " Ada juga yang memberikan tarif sebagai berikut: "Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir. empat orang. maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. sebagaimana hadis mutawatir. Kalau mardud. Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas. Mereka memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa. kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. dalam arti maqbul. boleh kita berhujjah dengannya. Oleh karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi. hendaklah .FaedahHadisAhad Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat'i. tarif hadis ahad antara laian adalah: "Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir. lima orang dan seterusnya. juga ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. 2. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan." b.berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu. Pengertian hadis ahad Menurut Istilah ahli hadis. ialah memeriksa "Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud". tiga orang." Contoh : Kita melihat dimana saja bahwa salat Zhuhur dilakukan dengan jumlah rakaat sebanyak 4 (empat) rakaat dan kita tahu bahwa hal itu adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Islam dan kita mempunyai sangkaan kuat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukannya atau memerintahkannya demikian. Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih. hadis tersebut tidak tertolak. Kalau maqbul. oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. baik pemberita itu seorang.

maka yang terdahulu kita tinggalkan. Kalau tak mungkin dikumpulkan. baik ia muhkam. lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya. B. keadaan (kualitas) rawi. bahkan ada yang membatasi cukup dengan empat orang pertimbangan bahwa saksi zina itu ada empat . dan hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh rawi pendusta. atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis. atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Jika dua buah hadis memiliki keadaan matan jumlah rawi (sanad) yang sama. Artinya : "Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada kami) pada waktu yang telah kami tentukan. Jika ada. yang terkemudian kita ambil. kita pandang mansukh. sesudah nyata sahih atau hasannya. kita tinggalkan yang marjuh. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Ketiga hal tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadis. yaitu jumlah rawi. dan keadaan matan. Kita ambil yang rajih." Pendapat lain membatasi jumlah mereka empat pulu orang. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya. Jika kita tidak mengetahui sejarahnya. maka hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya. kita kumpulkan antara keduanya. Walhasil. kita pandang nasikh. DARI SEGI KUALITAS SANAD DAN MATAN HADIST Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis bergantung kepada tiga hal. tapi diketahui mana yang terkemudian. maka hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang diriwayatkan oleh satu orang rawi. Bila dua buah hadis menentukan keadaan rawi dan keadaan matan yang sama. dan hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi. bertawaqquflah kita dahulu.kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. kita usahakan menarjihkan salah satunya.

Kata-kata (dan sandaran mereka adalah pancaindera) seperti sikap dan perkataan beliau yang dapat dilihat atau didengar sabdanya. hadis hasan. Hadis yang rendah tingkatannya berarti hadis yang rehdah taraf kepastiannya atau taraf dugaan tentang benarnya ia berasal dari Rasulullah SAW. Hadis yang tinggi tingkatannya berarti hadis yang tinggi taraf kepastiannya atau tinggi taraf dugaan tentang benarnya hadis itu berasal Rasulullah SAW. maka hadis yang matannya seiring atau tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran. Hal ini dikarenakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah akal bukan berita. yaitu hadis sahih. Bila dua hadis memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya. Tingkatan{martabat) hadis ialah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar atau palsunya hadis berasal dari Rasulullah. Dengan demikian mengecualikan masalah-masalah keyakinan yang disandarkan pada akal. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan. Misalnya para sahabat menyatakan. Kata-kata (dari sejumlah rawi yang semisal dan seterusnya sampai akhir sanad) mengecualikan hadis ahad yang pada sebagian tingkatannya terkadang diriwayatkan oleh sejumlah rawi mutawatir. Maka hadis yang demikian bukan termsuk hadis mutawatir. "kami melihat Nabi SAW berbuat begini"." Awal hadis tersebut adalah ahad. dan hadis daif. Contoh hadis : Artinya : "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya. . Para ulama membagi hadis ahad dalam tiga tingkatan. seperti pernyataan bahwa satu itu separuhnya dua. jumlah rawi. Tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadis sebagai sumber hukum atau sumber Islam. lebih tinggi tingkatannya dari hadis yang matannya buruk atau bertentangan dengan ayat-ayat Alquran. seperti pernyataan tentang keesaan firman Allah dan mengecualikan pernyataan-pernyataan rasional murni. namun pada pertengahan sanadnya menjadi mutawatir.orang.

DARI SEGI KEDUDUKAN DALAM HUJJAH Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu hadis perlu dilakukan pemeriksaan. Pada hadis daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadis tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW . hadis yang benar berasal dari Rasulullah SAW. karena hadis tersebut tidak mencapai derajat mutawatir. tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat." 3. yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW. atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. hasan berarti bagus atau baik. matan hadisnya." Jadi hadis daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadis sahih. antara lain "Hadis sahih adalah hadis yng susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran). penyelidikan dan pemhahasan yang seksama khususnya hadis ahad. Menurut Imam Turmuzi hasis hasan adalah :"yang kami sebut hadis hasan dalam kitab kami adalah hadis yng sannadnya baik menurut kami. hdis mutawatir. Batasan hadis sahih. dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadis hasan. Hadis Hasan Menurut bahasa. melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadis hasan.C. dan keadaan matan dalam menentukan pembagian hadis-hadis tersebut menjadi hadis sahih.keadaan rawi. yang diberikan oleh ulama. hasan. Hadis yang demikian kami sebut hadis hasan. 1. Hadis Sahih Hadis sahih menurut bahasa berarti hadis yng bersih dari cacat. Para ulama memberi batasan bagi hadis daif : "Hadis daif adalah hadis yang tidak menghimpun sifat-sifat hadis sahih. yaitu setiap hadis yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta. Memang berbeda dengan hadis mutawatir ." 2. Hadis Daif Hadis daif menurut bahasa berarti hadis yang lemah. dan daif.

hadis ahad ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu hadis maqbul dan hadis mardud. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. terdapat pula hadis-hadis maqbul yang maknanya berlawanan antara satu dengan yang lainnya yang lebih rajih (lebih kuat periwayatannya). maka hadis maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni hadis maqbulun bihi dan hadis gairu ma'mulin bihi. mengingat dalam kenyataan terdapat hadis-hadis yang telah dihapuskan hukumnya disebabkan datangnya hukum atau ketentuan barn yangjugaditetapkan oleh hadis Rasulullah SAW. Disamping itu. sedangkan yang lemah disebut dengan hadis marjuh. yaitu dua hadis yang pada lahimya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah . Hadis mukhtalif. yang diterima. namun demikian para muhaddisin dan juga ulama yang lain sependapat bahwa tidak semua hadis yang maqbul itu harus diamalkan. yaitu suatu keharusan menerima secara bulat. Hadis Maqbul Maqbul menurut bahasa berarti yang diambil. Hadis muhkam. yaitu hadis yang tidak mempunyai perlawanan b. 1.yang memfaedahkan ilmu darury. Kedua macam hadis tersebut di atas adalah hadis-hadis maqbul yang wajib diterima. sedangkan yang datang terdahulu (yang dihapus) disebut dengan hadis mansukh. a. Adapun hadis maqbul yang datang kemudian (yang menghapuskan)disebut dengan hadis nasikh. Hadis maqmulun bihi Hadis maqmulun bihi adalah hadis yang dapat diamalkan apabila yang termasuk hadis ini ialah: a. Sedangkan menurut urf Muhaditsin hadis Maqbul ialah: "Hadis yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad SAW menyabdakannya. baik yang lizatihu maupun yang ligairihi. yang dibenarkan. Apabila ditinjau dari segi kemakmurannya. Dalam hal ini hadis yang kuat disebut dengan hadis rajih." Jumhur ulama berpendapat bahwa hadis maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang temasuk dalam kategori hadis maqbul adalah: * Hadis sahih. * Hadis hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi.

Hadis gairo makmulinbihi Hadis gairu makmulinbihi ialah hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan. Hadis marjuh.c. Hadis mutawaqaf. Hadis nasih d. Di antara hadis-hadis maqbul yang tidak dapat diamalkan ialah: a. Hadis mansuh c. Hadis rajih. . 2. tidak dapat ditansihkan dan tidak pula dapat ditarjihkan b. yaitu hadis muthalif yang tidak dapat dikompromikan.

D. Jadi. dan AlIjasah. Hadis Muttasil Hadis muttasil disebutjuga Hadis Mausul. hadis mardud adalah semua hadis yang telah dihukumi daif. Al-Sahihah. tetapi adanya dengan ketidakadaannya bersamaan. maka sebaliknya setiap hadis yang mardud tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan (harus ditolak)." Kata-kata "hadis yang didengar olehnya" mencakup pula hadis-hadis yang diriwayatkan melalui cara lain yang telah diakui." Ada juga yang menarifkan hadis mardud adalah:"Hadis yang tidak terdapat di dalamnya sifat hadis Maqbun."Hadis muttasil adalah hadis yang didengar oleh masing-masing rawinya dari rawi yang di atasnya sampai kepada ujung sanadnya. hadis mardud ialah :"Hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketidakadaannya. DARI SEGI BERSAMBUNG-TERPUTUSNYA SANAD 1. bahwa para ulama Mutaakhirin menggunakan kata 'an dalam menyampaikan hadis yang diterima melalui Al-Ijasah dan yang demikian tidaklah menafikan hadis yang bersangkutan dari batas Hadis Muttasil. seperti Al-Arz." Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa jumhur ulama mewajibkan untuk menerima hadis-hadis maqbul. baik hadis marfu' maupun hadis mauquf. sehubungan dengan hadis Mu 'an 'an. dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada keluarga dan hartanya" .B. Sedangkan menurut urf Muhaddisin. Mereka menjelaskan. Dalam definisi di atas digunakan kata-kata "yang didengar" karena cara penerimaan demikian ialah cara periwayatan yang paling banyak ditempuh. Hadis Mardud Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak. Contoh Hadis Muttasil Marfu' adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik. Al-Mukatabah. yang tidak diterima.

Secara etimologis hadis maqtu' adalah lawan Hadis mausul. karena masingmasing rawinya mendengarnya dari periwayat di atasnya. mereka membedakannya dengan menyadarkannya kepada tabi'in. Definisi Munqati' yang paling utama adalah definisi yang dikemukakan oleh AlHafizh Ibnu Abdil Barr." . "Hadis maqtu tidak dapat disebut hadis mausul atau muttasil secara mutlak. Hadis Munqati' Kata Al-Inqita' (terputus) berasal dari kata Al-Qat (pemotongan) yang menurut bahasa berarti memisahkan sesuatu dari yang lain. maupun disandarkan kepada yang lain. Para ulama berbeda pendapat dalam memahami istilah ini dengan perbedaan yang tajam. hal ini dikarenakan berkembangnya pemakaian istilah tersebut dari masa ulama mutaqaddimin sampai masa ulama mutaakhirin. Yang dimaksud di sini adalah gugurnya sebagaian rawi pada rangkaian sanad. 2. Seakan-akan pendapat yang dikemukakan jumhur. yaitu hadis yang berpangkal pada tabi'in dinamai hadis maqtu." Masing-masing hadis di atas adalah muttasil atau mausul. Adapun hadis Maqtu yakni hadis yang disandarkan kepada tabi'in. dari awal sampai akhir.Contoh hadis mutasil maukuf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi' bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata: Artinya: "Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali keharusan membayarnya. yakni: "Hadis Munqati adalah setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya. Kata inqita' adalah lawan kata ittisal (bersambung) dan AlWasl. Oleh karena itu. Oleh karena itu. tetapi jumhur mudaddisin berkata. mestinya dikatakan "Hadis ini bersambung sampai kepada Sayid bin Al-Musayyab dan sebagainya ". melainkan hendaknya disertai kata-kata yang membedakannya dengan Hadis mausul sebelumnya. Menurut kami. diikutkan kepada kedua hadis mausul di atas. Tidak diperselisihkan bahwa hadis maqtu termasuk jenis Hadis muttasil. bila sanadnya bersambung. Dan kata inqita' merupakan akibatnya. baik yang disandarkan kepada Nabi SAW. yakni terputus. Sebagian ulama membolehkan penyebutan hadis maqtu sebagai hadis mausul atau muttasil secara mutlak tanpa batasan.

" Demikianlah para ulama Mutaqaddimin mengklasifikasikan hadis. penyusun Al-Manzhumah Al-Baiquniyyah mengatakan: Setiap hadis yang tidak bersambung sanadnya bagaimanapun keadannya adalah termasuk Hadis Munqati' (terputus) persambungannya. Imam Muslim. Untuk . hadis munqati' merupakan suatu judul yang umum yangmencakup segala macam hadis yang terputus sanadnya. yakni Imam Bukhari. Dengan ketentuan "Salah seorang rawinya" defnisi ini tidak mencakup hadis mu'dal. Imam Nasa'i. Al-Khatib." Definisi ini menjadikan hadis munqati' berbeda dengan hadis-hadis yang terputus sanadnya yang lain. Dengan demikian. "Klasifikasi tersebut adalah sahih dan dipilih oleh para fuqaha. Hadits yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya. dan dengan penjelasan kata-kata "Tidak pada awal sanad" definisi ini tidak mencakup hadis muallaq BAB III PENUTUP Ada banyak ulama periwayat hadits. dan Muhaddis lainnya". Adapun ahli hadis Mutaakhirin menjadikan istilah tersebut sebagai berikut: "Hadis Munqati adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat. dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. "Sebelum sahabat" definisi ini tidak mencakup hadis mursal. namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama. Ibnu Abdil Barr. An-Nawawi berkata. dengan kata-kata. Imam Ahmad. dan Imam Ibnu Majah. Sehubungan dengan itu. Imam Abu Daud.Hadis yang tidak bersambung sanadnya adalah hadis yang pada sanadnya gugur seorang atau beberapa orang rawi pada tingkatan (tabaqat) mana pun. Imam Turmudzi.

. yaitu jumlah rawi. maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam. Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita.mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan. Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadis bergantung kepada tiga hal. dan keadaan matan. Ketiga hal tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadis. keadaan (kualitas) rawi. yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.

Surabaya. april. 1966. . Pustaka At-Taqwa.2006.wikipedia. 1976. Masyfuk Zuhdi. Ilmu Hadits. Kedudukan As-Sunnah Cet ke 2. Bangil. Pengantar Ilmu Hadits. Darul Fikri.org/wiki/hadits 15:30 wib.. Pustaka Progesif. 2006 Yazid Abd Qadir. Jawa Barat. lebanon Qadir Hasan A. Beirut. 2005.15.Drs. Al-Ajurri. Al-Muslimun.DAFTAR PUSTAKA http://id. As-Syariah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful