Laporan praktikum elastisitas

Disusun oleh
Chotimah
X-2

Tujuan
1. Menentukan konstanta pegas
2. Menentukan hubungan antara gaya yang bekerja pada pegas
dengan pertambahan panjang pegas
3. Membuktikan hokum Hooke
4. Menentukan hubungan antara periode pegas dan massa beban
sekaligus menghitung tetapan pegas
5. Mengetahui hubungan panjang tali dengan periode ayunan
6. Mencari besar percepatan gravitasi di suatu tempat





Landasan teori
Bandul matematis adalah suatu titik benda digantungkan
pada suatu titk tetap dengan tali. Jika ayunan menyimpang
sebesar sudut u terhadap garis vertical maka gaya yang
mengembalikan :
F = - m . g . sin u
Untuk u dalam radial yaitu u kecil maka sin u = u = s/l, dimana s =
busur lintasan bola dan l = panjang tali , sehingga :
l
mgs
F ÷ =
Kalau tidak ada gaya gesekan dan gaya puntiran maka
persamaan gaya adalah :
s
l
mg
dt
s d
m =
2
2
atau 0
2
2
= + g
l
g
dt
s d
m
Ini adalah persamaan differensial getaran selaras dengan periode
adalah :
x
l
T t 2 =
Dengan bandul matematis maka percepatan gravitasi g dapat
ditentukan yaitu dengan hubungan :
2
2
4
2
T
l
g
x
l
T
t
t
=
=

Harga l dan T dapat diukur pada pelaksanaan percobaan dengan
bola logam yang cukup berat digantungkan dengan kawat yang
sangat ringan (Anonim, 2007).

Beban yang diikat pada ujung tali ringan yang massanya
dapat diabaikan disebut bandul. Jika beban ditarik kesatu sisi,
kemudian dilepaskanmaka beban akan terayun melalui titik
keseimbangan menuju ke sisi yang lain. Bila amplitudo ayunan
kecil, maka bandul sederhana itu akan melakukan getaran
harmonik. Bandul dengan massa m digantung pada seutas tali
yang panjangnya l. Ayunan mempunyai simpangan anguler θ dari
kedudukan seimbang. Gaya pemulih adalah komponen gaya
tegak lurus tali.
F = - m g sin θ
F = m a
maka
m a = - m g sin θ
a = - g sin θ
Untuk getaran selaras θ kecil sekali sehingga sin θ = θ.
Simpangan busur s = l θ atau θ=s/l , maka persamaan menjadi:
a= gs/l . Dengan persamaan periode getaran harmonik

a
s
T
÷
= t 2 maka didapat menjadi:
l gs
s
T
/
2
÷
÷
= t atau
g
l
T t 2 =
Dimana :
l = panjang tali (meter)
g= percepatan gravitasi (ms
-2
)
T= periode bandul sederhana (s)
Dari rumus di atas diketahui bahwa periode bandul sederhana
tidak bergantung pada massa dan simpangan bandul, melaikan
hanya bergantung pada panjang dan percepatan gravitasi, yaitu:
2
2
4
T
l
g
t
=
(Hendra, 2006).

Gerak osilasi yang sering dijumpai adalah gerak ayunan. Jika
simpangan osilasi tidak terlalu besar, maka gerak yang terjadi
dalam gerak harmonik sederhana. Ayunan sederhana adalah
suatu sistem yang terdiri dari sebuah massa dan tak dapat mulur.
Ini dijunjukkan pada gambar dibawah ini. Jika ayunan ditarik
kesamping dari posisi setimbang, dan kemudian dilepasskan,
maka massa m akan berayun dalam bidang vertikal kebawah
pengaruh gravitasi. Gerak ini adalah gerak osilasi dan periodik.
Kita ingin menentukan periode ayunan. Pada gambar di bawah
ini, ditunjukkan sebuah ayunan dengan panjang 1, dengan
sebuah partikel bermassa m, yang membuat sudut θ terhadap
arah vertical. Gaya yang bekerja pada partikel adalah gaya berat
dan gaya tarik dalam tali. Kita pilih suatu sistem koordinat
dengan satu sumbu menyinggung lingkaran gerak (tangensial)
dan sumbu lain pada arah radial. Kemudian kita uraikan gaya
berat mg atas komponen-komponen pada arah radial, yaitu mg
cos θ, dan arah tangensial, yaitu mg sin θ.
Komponen radial dari gaya-gaya yang bekerja memberikan
percepatan sentripetal yang diperlukan agar benda bergerak
pada busur lingkaran.Komponen tangensial adalah gaya
pembalik pada benda m yang cenderung mengembalikan massa
keposisi setimbang. Jadi gaya pembalik adalah :
u sin mg F ÷ =
Perhatikan bahwa gaya pembalik di sini tidak sebanding dengan
θ akan tetapi sebanding dengan sin θ. Akibatnya gerak yang
dihasilkan bukanlah gerak harmonic sederhana. Akan tetapi, jika
sudut θ adalah kecil maka sin θ ≈ θ (radial). Simpangan
sepanjang busur lintasan adalah
x=lθ ,
dan untuk sudut yang kecil busur lintasan dapat dianggap
sebagai garis lurus. Jadi kita peroleh
x
l
mg
F
l
x
mg mg mg F
÷ =
|
.
|

\
|
÷ = ÷ ~ ÷ = u u sin









Gambar. 1. Gaya-gaya yang bekerja pada ayunan sederhana
adalah gaya tarik T dan gaya berat mg pada massa m

Jadi untuk simpangan yang kecil, gaya pembalik adalah
sebanding dengan simpangan, dan mempunyai arah berlawanan.
Ini bukan laian adalah persyaratan gerak harmonic sederhana.
Tetapan mg/l menggantikan tetapan k pada F=-kx.
Perioda ayunan jika amplitude kecil adalah:
g
l
T
l mg
m
k
m
T
t
t t
2
/
2 2
=
= =

(Sutrisno, 1997).

Contoh dari kategori ayunan mekanis, yaitu pendulum. Kita
akan memulai kajian kita dengan meninjau persamaan gerak
untuk sistem yang dikaji seperti dalam gambar 2.



Gaya
pemulih muncul sebagai
konsekuensi gravitasi terhadap bola bermassa M dalam bentuk
gaya gravitasi M
g
yang saling meniadakan dengan gaya Mdv/dt
yang berkaitan dengan kelembaman. Adapun frekuensi ayunan
tidak bergantung kepada massa M.
Gambar 2.Pendulum, gaya
pemulih yang timbul berkaitan
dengan pengaruh gravitasi pada
massa M. Dapat anda
menyebutkan kondisi apa saja
yang berlaku untuk pendulum
sederhana seperti di samping.
Dalam kasus sistem ayunan seperti yang disajikan dalam gambar
di atas, maka gerakan massa M terbatasi atau ditentukan oleh
panjang pendulum L, dan persamaan gerak yang berlaku adalah :
u
u
sin
2
2
mg
dt
d
ML ÷ =
dimana dalam hal ini kecepatan bola sepanjang lintasannya yang
berupa busur lingkaran adalah ( ) ( ) t L t v u = . Faktor sinθ merupakan
komponen yang searah dengan gravitasi dari gaya yang bekerja
pada bola dalam arah θ. Selanjutnya dengan membuang M dari
kedua sisi persamaan di atas, diperoleh bentuk 0 sin
2
2
= + u
u
L
g
dt
d
,
yang merupakan persamaan diferensial tak linear untuk θ.
Jika dianggap simpangan awal ayunan cukup kecil ,
maka berlaku sin θ=θ sehingga persamaan dapat diubah menjadi
bentuk linear sebagai berikut,
0
2
2
= + u
u
L
g
dt
d

persamaan merupakan gambaran untuk ayunan sinusuidal
dengan frekuensi diberikan oleh:
l
g
= e maka
g
l
T t 2 =
(yahya, 2005).

Pada bandul matematis, berat tali diabaikan dan panjang tali
jauh lebih besar dari pada ukuran geometris dari bandul. Pada
posisi setimbang, bandul berada pada titik A. Sedangkan pada
titik B adalah kedudukan pada sudut di simpangan maksimum (θ).
Kalau titik B adalah kedudukan dari simpangan maksimum, maka
gerakan bandul dari B ke A lalu ke B’ dan kemudian kembali ke A
dan lalu ke B lagi dinamakan satu ayunan. Waktu yang diperlukan
untuk melakukan satu ayunan ini disebut periode (T). Seperti
pada gambar 3. di bawah ini


f = komponen w menurut
garis singgung pada
lintasan bandul
P= gaya tegang tali
N= komponen normal dari
W=mg
l= panjang tali
θ sudut simpangan







Gambar 3. bandul matematis, berat tali diabaikan dan panjang
tali dan panjang tali yang memiliki ukuran lebih besar.

Dengan mengambil sudut θ cukup kecil sehingga BB’= busur
BAB’, maka dapat dibuktikan bahwa
g
l
T t 2 =
Dengan mengetahui panjang tali dan periode, maka percepatan
gravitasi bumi dapat dihitung (Anonim, 2004).

Cara sederhana mengukur g adalah dengan menggunakan
bandul matematis sederhana. Bandul ini terdiri dari beban yang
diikatkan pada ujung benang (tali ringan) dan ujung lainnya
=
dogantungkan pada penyangga tetap. Beban dapat berayun
dengan bebas. Ketika disimpangkan, bandul bergerak bolak-balik.
Waktu satu kali gerak bolak-balik disebut satu periode. Kita
nyatakan periode dengan symbol T. Periode bandul memenuhi
rumus :


g
L
T
2
2
4t
=
T= periode bandul (s)
L= panjang penggantung (m)
g= percepatan gravitasi (m/s
2
)



Gambar 4. bandul yang diikat pada tali
(Anonim, 2003).
Fitting menurut kuadrat terkecil
1. Fitting menurut garis linear (y = ax + b).
Diketahui set data (xi, yi). Akan ditentukan persamaan garis
lurus yang terbaik yang melalui set data tersebut.
( )
¿
=
÷ =
N
i
i
y y E
1
ˆ (1)
( )
2
1
ˆ
1
¿
=
÷ =
N
i
i rms
y y
N
E = ( ) | |
2
1
1
¿
=
+ ÷
N
i
i i
b ax y
N

= ( ) | |
2 / 1
2
1
1
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
+ ÷
¿
=
N
i
i i
b ax y
N
(2)
( ) | | c = + ÷ =
¿
=
2
1
2
N
i
i i rms
b ax y NE (3)
rms
E akan minimum jika
2
rms
NE minimum. Misal
2
rms
NE = c . Nilai c
akan minimum jika 0 ; 0 =
c
c
=
c
c
b a
c c
. Jika ini dikerjakan maka akan
diperoleh nilai a dan b.
a. Menghitung 0 =
c
c
a
c

( ) | | 0 ) ( 2
1
= ÷ + ÷
¿
=
i
N
i
i i
x b ax y
( ) | | 0
1
2
= + + ÷
¿
=
N
i
i i i i
bx ax y x
0
1 1
2
1
= + + ÷
¿ ¿ ¿
= = =
N
i
i
N
i
i
N
i
i i
bx ax y x
¿ ¿ ¿
= = =
= +
N
i
i i
N
i
i
N
i
i
y x bx ax
1 1 1
2
(4)
b. Menghitung 0 =
c
c
b
c

( ) | | 0 ) 1 ( 2
1
= + ÷
¿
=
N
i
i i
b ax y
( ) | | 0
1
= + ÷
¿
=
N
i
i i
b ax y
0
1 1 1
= ÷ ÷
¿ ¿ ¿
= = =
N
i
N
i
i
N
i
i
b ax y
0
1 1
= ÷ ÷
¿ ¿
= =
Nb ax y
N
i
i
N
i
i

¿ ¿
= =
= +
N
i
i
N
i
i
y Nb ax
1 1
(5)
Persamaan (6.4) da (6.5) digabung
¿ ¿ ¿
= = =
= +
N
i
i i
N
i
i
N
i
i
y x x b x a
1 1 1
2

¿ ¿
= =
= +
N
i
i
N
i
i
y Nb x a
1 1

Jadi terdapat dua persamaan dengan 2 variabel yang belum
diketahui yaitu a dan b. Kedua pers. Tersebut dapat dibentuk
dalam matrik:
|
|
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
|
|
|
.
|

\
|
¿
¿
¿
¿ ¿
=
=
=
= =
N
i
i
N
i
i i
N
i
i
N
i
i
N
i
i
y
y x
b
a
N x
x x
1
1
1
1 1
2
(6)
Maka
N x
x x
N y
x y x
a
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i i
¿
¿ ¿
¿
¿ ¿
=
= =
=
= =
=
1
1 1
2
1
1 1
=
¿ ¿
¿ ¿ ¿
= =
= = =
|
.
|

\
|
÷
÷
N
i
N
i
i i
N
i
N
i
i i
N
i
i i
x x N
y x y x N
1
2
1
2
1 1 1
(7)
N x
x x
y x
y x x
b
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i
N
i
i i
N
i
i
¿
¿ ¿
¿ ¿
¿ ¿
=
= =
= =
= =
=
1
1 1
2
1 1
1 1
2
=
¿ ¿
¿ ¿ ¿ ¿
= =
= = = =
|
.
|

\
|
÷
÷
N
i
N
i
i i
N
i
N
i
N
i
i i i
N
i
i i
x x N
x y x y x
1
2
1
2
1 1 1 1
2
(8)
Maka diperoleh persamaan kurva fitting y = ax + b.
2. Garis lurus y = a + bx
i i
bx a x y + = ) (
) (
i i i
x y y y ÷ = A
a dan b dicari agar
total
P bernilai maksimum.
Misal didefinisikan
2
_ (chi kuadrat dibaca “kai kuadrat”)
sebagai
¿
|
|
.
|

\
|
÷
=
2
2
) (
i
y
i i
s
x y y
_
¿
|
|
.
|

\
|
+ ÷
=
2
2
) (
i
y
i i
s
bx a y
_

a. Jika
y
i
y y y y
s s s s s = = = =
3 2 1


Hal ini terjadi jika pada masing-masing titik tidak dilakukan
pengulangan sehingga ralatnya merupakan ralat yang
berasal dari alat ukur yang besarnya selalu tetap.
( )
¿
+ ÷ =
2
2
2
) (
1
i i
y
bx a y
s
_ = ( )
¿
÷
2
2
ˆ
1
i i
y
y y
s
(9)
Syarat
2
_ minimum adalah 0
2 2
=
c
c
=
c
c
b a
_ _

( )
¿
= ÷ + ÷ =
c
c
0 ) 1 ( ) ( 2
1
2
2
i i
y
bx a y
s a
_

i i
y bx a E = E + E
i i
y bx Na E = E +
(10)
( )
¿
= ÷ + ÷ =
c
c
0 ) ( ) ( 2
1
2
2
i i i
y
x bx a y
s b
_

0
2
4
6
8
10
12
14
0 2 4 6 8 10 12
i i i i
y x bx x a E = E + E
2

(11)
Dari pers. (10) dan (11) maka diperoleh:
( )( ) ( )( )
( )
2 2
2
2
2
i i
i i i i i
i
i i
i i
i i i
x N x
y x y x x
x N
x x
x y
x y x
a
E ÷ E
E E ÷ E E
=
E
E E
E E
E E
= (12)

Misal bagian penyebut pada pers. (12):
A = ( )
2 2
i i
x N x E ÷ E
Maka :
a = ( )( ) ( )( ) | |
i i i i i
y x y x x E E ÷ E E
A
2
1

(13)
Dengan cara yang sama yaitu dengan menerapkan 0
2
=
c
c
b
_

maka diperoleh:
( )( )
( )
¿ ¿
¿ ¿ ¿
÷
÷
=
E
E E
E
E E
=
2
2 2
i i
i i i i
i
i i
i
i i i
x N x
y x N y x
x N
x x
y N
y x x
b

( )( ) | |
i i i i
y x N y x b E ÷ E E
A
=
1

(14)

Tampak bahwa nilai a dan b tidak ada ketergantungan
terhadap s
y
.

b. Jika
i
x dan
i
y keduanya memiliki ralat yang besarnya
| | | |
i i
y x
s s = maka s total untuk x
i
dan y
i
adalah :

2 2
i i
y x
i
s s s + =
(15)

Lanjutan ...
) ,..., , ( ) (
2 1 N i
y y y a y a a = =
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
...
2 1 N i
y
N
y y y
i
a
s
y
a
s
y
a
s
y
a
s
y
a
s
|
|
.
|

\
|
c
c
+ +
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
E =
y
i

Ay
i

x
i

Ax
i


=
¿
=
|
|
.
|

\
|
c
c
N
j
y
j
j
s
y
a
1
2
2

(16)
dimana
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
A
=
c
c
¿ ¿
i
i
i
j i
j
x x x
y
a
2
1

ingat, karena
y y
s s
j
= maka pada pers. (7) ungkapan tersebut
dimasukkan sehingga:
2
1
2
2
2
2
1
y
N
j i
i
i
j i a
s x x x s
¿ ¿ ¿
=
|
|
.
|

\
|
÷
A
=
( )
¿ ¿ ¿ ¿ ¿
= (
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
A
=
N
j i
i j
i
i
i
i
i
j i
y
x x x x x x
s
1
2
2
2
2
2
2
2
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
A
=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
j
j
i
i
i
i
i
i
j
j
i
i
y
x x x x N x x
s
2
2
2 2
2
2
2
2
(
(
¸
(

¸

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
÷ |
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
|
.
|

\
|
A
=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿
i
i
i
i
i
i
i
i
i
i
y
x x x N x x
s
2
2 2
2 2
2
2
2
2
| |
      
A
E ÷ E E
A
=
2 2 2
2
2
2
) (
i i i
y
a
x x N x
s
s


2
2
2
i
y
a
x
s
s E
A
=
atau
2 2
2
) (
i i
i
y a
x x N
x
s s
E ÷ E
E
=
(17)
Dengan cara yang sama maka diperoleh:

A
=
2
2 y
b
Ns
s atau
2 2
) (
i i
y b
x x N
N
s s
E ÷ E
=

c. Jika
konstan
3 2 1
= = = =
i
y
i
y y y y
s s s s s

Hal ini dapat terjadi jika pada masing-masing titik dilakukan
pengukuran berulang sehingga memiliki simpangan baku.

| |
¿ ¿
+ ÷ =
|
|
.
|

\
|
+ ÷
=
2
2
2
2
) (
1 ) (
i i
i
y
i
y
i i
bx a y
s s
bx a y
_
0
2
4
6
8
10
12
14
0 2 4 6 8 10 12
¿
= ÷
(
(
¸
(

¸

+ ÷
=
c
c
0 ) 1 (
) (
2
2
2
i
y
i i
s
bx a y
a
_

(18)
2 2 2
1
i
y
i
i
y
i
i
y
s
y
s
x
b
s
a E = E + E
(19)
¿
= ÷
(
(
¸
(

¸

+ ÷
=
c
c
0 ) (
) (
2
2
2
i
i
y
i i
x
s
bx a y
b
_

(20)
2 2
2
2
i
y
i i
i
y
i
i
y
i
s
y x
s
x
b
s
x
a E = E + E
(21)

Dari pers. (19) dan (21) maka diperoleh:
2
2 2
2
2
2 2 2 2
2
2
2
2
2 2
2
2
2
2 2
1
1
|
|
.
|

\
|
E ÷ E E
E E ÷ E E
=
E E
E E
E E
E E
=
i
y
i
i
y
i
i
y
i
y
i i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
y
i
i
y
i i
i
y
i
i
y
i
s
x
s
x
s
s
y x
s
x
s
y
s
x
s
x
s
x
s
x
s
s
x
s
y x
s
x
s
y
a (22)

Dengan memisalkan
A =
2
2 2
2
2
1
|
|
.
|

\
|
E ÷ E E
i
y
i
i
y
i
i
y
s
x
s
x
s

(23)
( )
2 2
i i i i i
x w x w w E ÷ E E = A
Maka intersep
a =
(
(
¸
(

¸

E E ÷ E E
A
2 2 2 2
2
1
i
y
i i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
s
y x
s
x
s
y
s
x

(24)

| |
i i i i i i i i i
y x w x w y w x w a E E ÷ E E
A
=
2
1

¿
|
|
.
|

\
|
c
c
=
j
j
y
j
a
s
y
a
s
2
2
2
=
¿
|
|
.
|

\
|
c
c
j
j
y
j
s
y
a
2

(25)
atau untuk untuk memudahkan pemahaman:
2 2
3
3
2
2
2
2
1
1
...
|
|
.
|

\
|
c
c
+ +
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
+
|
|
.
|

\
|
c
c
=
N
y
N
y y y a
s
y
a
s
y
a
s
y
a
s
y
a
s
Pada pers. (16) turunan a terhadap y
j
dimana y
j
adalah salah
satu nilai dari y
i
adalah:
(
(
¸
(

¸

|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
A
=
c
c
¿ ¿ 2 2 2 2
2
1 1
j
y
j
i
i
y
i
j
y
i
i
y
i
j
s
x
s
x
s s
x
y
a
(26)
Dengan mensubstitusikan pers. (26) ke (25) dan kemudian
memasukkan
j
y
s
2
ke dalam kurung maka diperoleh:
¿ ¿ ¿
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
A
=
j
j
y
j
i
i
y
i
j
y
i
i
y
i
a
s
x
s
x
s s
x
s
2
2 2
2
2
2
1 1

=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿
(
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
A
j
j
y
j
i
i
y
i
j
y
i
i
y
i
j
y
j
i
i
y
i
j
y
i
i
y
i
s
x
s
x
s s
x
s
x
s
x
s s
x
2 2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1 1

Jika tanda
¿
j
dimasukkan ke dalam kurung kotak maka
ij
j
j
y
j
i
i
y
i
i
i
y
i
j
y
j
j i
i
y
i
j
j
y
i
i
y
i
a
s
x
s
x
s
x
s
x
s
x
s s
x
s o
(
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
A
=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
2 2 2
2
2
2
2 2
2
2
2
2
2
2
1 1
(27)

sehingga dengan menjalankan i = j = 1... N maka diperoleh:
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
A
=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
2
2 2
2
2 2
2 2
2
2
2
2
2
2
1 1
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
y
i
a
s
x
s
x
s
x
s
x
s s
x
s (28)
Dengan menguraikan A
2
menjadi AA dan mengganti salah
satu A dengan pers. (23) maka AA ditulis menjadi:
|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
E ÷ E E A
2
2 2
2
2
1
i
y
i
i
y
i
i
y
s
x
s
x
s

(29)
maka persamaan (28) menjadi
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

|
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
E ÷ E E
(
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
A
=
¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿
2
2 2
2
2
2
2 2
2
2 2
2 2
2
2
2
2
1
2
1
1
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
i
y
i
i
y
i
a
s
x
s
x
s
s
x
s
x
s
x
s
x
s s
x
s (30)

yang nilainya dapat didekati dengan:

¿
A
~
i
i
y
i
a
s
x
s
2
2
2
1
atau
¿
A
~
i
i
y
i
a
s
x
s
2
2
1
atau
¿
A
~
i
i i a
x w s
2
1
(31)


Slope grafik
2
2 2
2
2
2 2 2 2
2
2
2
2 2
2 2
2 2
1
1
1
1
|
|
.
|

\
|
E ÷ E E
E E ÷ E E
=
E E
E E
E E
E E
=
i
y
i
i
y
i
i
y
i
y
i
i
y
i
i
y
i i
i
y
i
y
i
i
y
i
i
y
i
i
y
i
y
i i
i
y
i
i
y
i
i
y
s
x
s
x
s
s
x
s
y
s
y x
s
s
x
s
x
s
x
s
s
y x
s
x
s
y
s
b
A
E E ÷ E E
=
i i i i i i i i
x w y w y x w w
b
Dengan cara yang sama untuk
b
s maka diperoleh:
¿
A
~
i
i
y
b
s
s
2
2
1 1
atau
¿
A
~
i
i
y
b
s
s
2
1 1
atau
¿
A
~
i
i b
w s
1
(32)
dengan ( )
2 2
i i i i i
x w x w w E ÷ E E = A
Untuk gejala yang mengikuti distribusi Poisson maka
i
i
y
y s =
(32)
maka:
N y = sehingga N s
y
=
(Bevington, 2003).



Percobaan 1

Alat dan bahan
1. Beban seberat 50 gr ( 3 buah )
2. Tali
3. Dua buah pegas
4. Mistar
5. Statif


Langkah kerja
1. Gantungkan sebuah pegas pada statif
2. Ukur panjang pegas sebelum di beri beban sebagai panjang
mula-mula ( L
o
)
3. Gantungkan anak timbangan 50 gr. Kemudian ukurlah
panjang pegas ketika beban masih tergantung ( L
1
) dan
beban tidak bergerak lagi
4. Ukurlah pertambahan panjang pegas ( X L
1
-L
o
)
5. Ulangi lanhkah 3 dan 4 dengan mengganti anak timbangan
menjadi 0,1 kg, 0,15 kg, 0,25 kg
6. Masukkan data hasil percobaan ke dalam table


Data pengamatan percobaan 1


No. Massa (kg) Berat (N)
Lo (m) L1 (m) X (m) konstanta
1. 0,05 0,5 0,17 0,29 0,12 4,167
2. 0,1 1 0,17 0,38 0,21 4,76
3. 0,15 1,5 0,17 0,52 0,35 4,285
4. 0,2 2 0,17 0,635 0,465 4,30
5. 0,25 2,5 0,17 0,675 0,595 4,174


Pembahasan percobaan 1
Menghitung Konstanta :

K
1
=

=

= 4, 167

K
2
=

=

= 4,76

K
3
=

=

= 4,285

K
4
=

=

= 4,30

K
5
=

=

= 4,174



Kesimpulan percobaan 1


Percobaan 2


Tujuan
Menentuan hubungan antara periode pegas dan
massa beban sekaligus menghitung tetapan pegas

Landasan teori


Alat dan bahan

Sebuah tiang, sebuah beban pegas 50 kg,
stopwatch, dan selembar kertas untuk menuangkan
data hasil percobaan

Langkah kerja

1. Gantungkan seutas pegas pada tiang. Pada
ujung bebas pegas hubungkan sebuah beban 50
gr.
2. Tarik beban dari kedudukan A ke kedudukan B
dengan amplitude yang berbeda
3. Siapkan sebuah stopwatch dan jalankan
bersamaan dengan saat melepaskan beban dari
kedudukan B.
4. Beri hitungan satu pada saat beban kembali ke
kedudukan A untuk pertama kalinya, beri
hitungan 2 untuk yang kedua kalinya demikian
seterusnya. Pada saat hitungan ke sepuluh,
matikan stopwatch. Selang waktu yang di catat
stopwatch adalah…x periode pegas.
5. Isikan hasil pengamatan


Data pengamatan percobaan 2

No. Amplitude (A) t (sekon) T (sekon) konstanta
1. 3 9 0,9 2,43
2. 5 9 0,9 2,43
3. 10 9 0,9 2,43
4. 12 9 0,9 2,43
5. 7 9 0,9 2,43





Pembahasan

*massa = 50 gr = 0,05 gr

T1 = T2 = T3 = T4 = T5 =

= 0,9 s

K1 = K2 = K3 = K4 = K5 =

=

= 2,43

*amplitude = 5 cm

T1 =

=

= 0,8 sekon

T2 =

=

= 1,1 sekon

T3 =

=

= 1,3 sekon

T4 =

=

= 1,5 sekon

T5 =

=

= 1,7 sekon

K1 = = = 3,084
K2 = = = 3,26
K3 = = = 3,5
K4 = = = 3,51
K5 = = = 3,41


Kesimpulan




Percobaan 3

Tujuan
a. Mengetahui hubungan panjang tali dengan
periode ayunan
b. Mencari besar percepatan gravitasi di suatu
tempat

Langkah percobaan

1. Ikatkan beban pada benang, kemudian ikatkan
ujung benang pada statif yang telah dipasang
dengan busur derajat
2. Tarik beban ( 50 gr ), lepaskan dan hitung
dengan stopwatch sebanyak 20
putaran/gelombang
3. Lakukan perintah no. 2 dengan panjang tali 50
cm, 70 cm, dan 80 cm secara bergantian dengan
beban yang sama
4. Buat tabel hasil pengamatan




Data pengamatan

No. Panjang tali (m) Waktu (s) Jumlah getaran Periode (s) g (m/s
2
)
1. O,5 28 20 1,5 10,52
2. 0,7 33 20 1,5 10,52
3. 0,8 35 20 1,5 0,52





sebesar sudut  terhadap garis vertical maka gaya yang mengembalikan : F = - m . g . sin  Untuk  dalam radial yaitu  kecil maka sin  =  = s/l, dimana s = busur lintasan bola dan l = panjang tali , sehingga :
F  mgs l

Kalau tidak ada gaya gesekan dan gaya puntiran maka persamaan gaya adalah :
m d 2 s mg  s l dt 2

atau

m

d 2s g  g 0 dt 2 l

Ini adalah persamaan differensial getaran selaras dengan periode adalah :
T  2 l x

Dengan bandul matematis maka percepatan gravitasi g dapat ditentukan yaitu dengan hubungan :
T  2 g 4 2 l T2 l x

Harga l dan T dapat diukur pada pelaksanaan percobaan dengan bola logam yang cukup berat digantungkan dengan kawat yang sangat ringan (Anonim, 2007).

Beban yang diikat pada ujung tali ringan yang massanya dapat diabaikan disebut bandul. Jika beban ditarik kesatu sisi, kemudian dilepaskanmaka beban akan terayun melalui titik keseimbangan menuju ke sisi yang lain. Bila amplitudo ayunan kecil, maka bandul sederhana itu akan melakukan getaran harmonik. Bandul dengan massa m digantung pada seutas tali yang panjangnya l. Ayunan mempunyai simpangan anguler θ dari kedudukan seimbang. Gaya pemulih adalah komponen gaya tegak lurus tali. F = - m g sin θ F=ma maka m a = - m g sin θ a = - g sin θ Untuk getaran selaras θ kecil sekali sehingga sin θ = θ. Simpangan busur s = l θ atau θ=s/l , maka persamaan menjadi: a= gs/l . Dengan persamaan periode getaran harmonik

maka gerak yang terjadi dalam gerak harmonik sederhana. Ayunan sederhana adalah suatu sistem yang terdiri dari sebuah massa dan tak dapat mulur. Ini dijunjukkan pada gambar dibawah ini. yaitu: g 4 2 l T2 (Hendra.T  2 s a maka didapat menjadi: atau T  2 l g T  2 s  gs / l Dimana : l = panjang tali (meter) g= percepatan gravitasi (ms-2) T= periode bandul sederhana (s) Dari rumus di atas diketahui bahwa periode bandul sederhana tidak bergantung pada massa dan simpangan bandul. 2006). melaikan hanya bergantung pada panjang dan percepatan gravitasi. Jika ayunan ditarik kesamping dari posisi setimbang. . dan kemudian dilepasskan. Jika simpangan osilasi tidak terlalu besar. Gerak osilasi yang sering dijumpai adalah gerak ayunan.

Jadi gaya pembalik adalah : F  mg sin  Perhatikan bahwa gaya pembalik di sini tidak sebanding dengan θ akan tetapi sebanding dengan sin θ. dan arah tangensial. Gerak ini adalah gerak osilasi dan periodik.Komponen tangensial adalah gaya pembalik pada benda m yang cenderung mengembalikan massa keposisi setimbang. Kita ingin menentukan periode ayunan. yaitu mg cos θ. Kemudian kita uraikan gaya berat mg atas komponen-komponen pada arah radial. Akan tetapi. ditunjukkan sebuah ayunan dengan panjang 1.maka massa m akan berayun dalam bidang vertikal kebawah pengaruh gravitasi. jika sudut θ adalah kecil maka sin θ ≈ θ (radial). Simpangan sepanjang busur lintasan adalah . Akibatnya gerak yang dihasilkan bukanlah gerak harmonic sederhana. Komponen radial dari gaya-gaya yang bekerja memberikan percepatan sentripetal yang diperlukan agar benda bergerak pada busur lingkaran. Pada gambar di bawah ini. yang membuat sudut θ terhadap arah vertical. Gaya yang bekerja pada partikel adalah gaya berat dan gaya tarik dalam tali. yaitu mg sin θ. dengan sebuah partikel bermassa m. Kita pilih suatu sistem koordinat dengan satu sumbu menyinggung lingkaran gerak (tangensial) dan sumbu lain pada arah radial.

dan untuk sudut yang kecil busur lintasan dapat dianggap sebagai garis lurus. dan mempunyai arah berlawanan. . Tetapan mg/l menggantikan tetapan k pada F=-kx.x=lθ . 1. Ini bukan laian adalah persyaratan gerak harmonic sederhana. Jadi kita peroleh  x F   mg sin    mg    mg   l mg F  x l Gambar. gaya pembalik adalah sebanding dengan simpangan. Gaya-gaya yang bekerja pada ayunan sederhana adalah gaya tarik T dan gaya berat mg pada massa m Jadi untuk simpangan yang kecil.

Gambar 2. Dapat anda menyebutkan kondisi apa saja yang berlaku untuk pendulum sederhana seperti di samping. Kita akan memulai kajian kita dengan meninjau persamaan gerak untuk sistem yang dikaji seperti dalam gambar 2. Adapun frekuensi ayunan tidak bergantung kepada massa M. 1997). yaitu pendulum. Gaya pemulih muncul sebagai konsekuensi gravitasi terhadap bola bermassa M dalam bentuk gaya gravitasi Mg yang saling meniadakan dengan gaya Mdv/dt yang berkaitan dengan kelembaman. gaya pemulih yang timbul berkaitan dengan pengaruh gravitasi pada massa M.Pendulum. .Perioda ayunan jika amplitude kecil adalah: T  2 T  2 m m  2 k mg / l l g (Sutrisno. Contoh dari kategori ayunan mekanis.

dan persamaan gerak yang berlaku adalah : ML d 2  mg sin  dt 2 dimana dalam hal ini kecepatan bola sepanjang lintasannya yang berupa busur lingkaran adalah vt   L t  . Jika dianggap simpangan awal ayunan cukup kecil . maka berlaku sin θ=θ sehingga persamaan dapat diubah menjadi bentuk linear sebagai berikut. diperoleh bentuk d 2 g  sin   0 .Dalam kasus sistem ayunan seperti yang disajikan dalam gambar di atas. d 2 g   0 dt 2 L persamaan merupakan gambaran untuk ayunan sinusuidal dengan frekuensi diberikan oleh:  g l maka T  2 l g (yahya. 2005). Faktor sinθ merupakan komponen yang searah dengan gravitasi dari gaya yang bekerja pada bola dalam arah θ. . Selanjutnya dengan membuang M dari kedua sisi persamaan di atas. maka gerakan massa M terbatasi atau ditentukan oleh panjang pendulum L. dt 2 L yang merupakan persamaan diferensial tak linear untuk θ.

Pada bandul matematis. Waktu yang diperlukan untuk melakukan satu ayunan ini disebut periode (T). bandul berada pada titik A. Kalau titik B adalah kedudukan dari simpangan maksimum. di bawah ini f = komponen w menurut garis singgung pada lintasan bandul P= gaya tegang tali N= komponen normal dari W=mg l= θ panjang tali sudut simpangan . Seperti pada gambar 3. Pada posisi setimbang. maka gerakan bandul dari B ke A lalu ke B’ dan kemudian kembali ke A dan lalu ke B lagi dinamakan satu ayunan. Sedangkan pada titik B adalah kedudukan pada sudut di simpangan maksimum (θ). berat tali diabaikan dan panjang tali jauh lebih besar dari pada ukuran geometris dari bandul.

Dengan mengambil sudut θ cukup kecil sehingga BB’= busur BAB’. maka dapat dibuktikan bahwa T  2 l g Dengan mengetahui panjang tali dan periode. berat tali diabaikan dan panjang tali dan panjang tali yang memiliki ukuran lebih besar. Bandul ini terdiri dari beban yang diikatkan pada ujung benang (tali ringan) dan ujung lainnya . bandul matematis. Cara sederhana mengukur g adalah dengan menggunakan bandul matematis sederhana. maka percepatan gravitasi bumi dapat dihitung (Anonim. 2004).= Gambar 3.

. bandul yang diikat pada tali (Anonim. Akan ditentukan persamaan garis lurus yang terbaik yang melalui set data tersebut. Kita nyatakan periode dengan symbol T. yi). Waktu satu kali gerak bolak-balik disebut satu periode. Ketika disimpangkan. 2003). bandul bergerak bolak-balik. Periode bandul memenuhi rumus : T2  4 2 L g T= periode bandul (s) L= panjang penggantung (m) g= percepatan gravitasi (m/s2) Gambar 4. Fitting menurut kuadrat terkecil 1. Diketahui set data (xi.dogantungkan pada penyangga tetap. Beban dapat berayun dengan bebas. Fitting menurut garis linear (y = ax + b).

ˆ E    yi  y  i 1 N (1) ˆ  y 2 Erms  1 N  y i 1 N i = 1 N  y  ax  b i 1 i i N 2 = 2 1 N       yi  axi  b    N i 1    1/ 2 (2) 2 NE rms    yi  axi  b    i 1 N 2 (3) 2 NE rms E rms akan minimum jika 2 NE rms minimum. a. a b Jika ini dikerjakan maka akan diperoleh nilai a dan b. Nilai  akan minimum jika    0. Misal =  . Menghitung N  0 a 2  yi  axi  b ( xi )  0 i 1   x y  ax N i 1 i i N N 2 i  bxi  0    xi yi   axi   bxi  0 2 i 1 i 1 i 1 N  ax  bx   x y 2 i 1 i i 1 i i 1 i N N N i (4) b. 0. Menghitung  0 b .

Kedua pers. Tersebut dapat dibentuk dalam matrik:  N 2   xi  i 1  N   xi  i 1  x  a    x y     i 1 N   N     i 1  b   N  N     yi    i 1  i i i (6) Maka .4) da (6.2  yi  axi  b (1)  0 i 1 N   y  ax  b   0 i 1 i i N  y  ax  b  0 i 1 i i 1 i i 1 N N N  yi  axi Nb  0 i 1 i 1 N N  axi Nb   yi i 1 i 1 N N (5) Persamaan (6.5) digabung a  xi b xi   xi yi 2 i 1 i 1 i 1 N N N a  xi Nb   yi i 1 i 1 N N Jadi terdapat dua persamaan dengan 2 variabel yang belum diketahui yaitu a dan b.

Garis lurus y = a + bx y ( xi )  a  bxi yi  yi  y ( xi ) a dan b dicari agar Misal didefinisikan sebagai 2  Ptotal 2 bernilai maksimum. (chi kuadrat dibaca “kai kuadrat”)   y  y( x )  i   i   s yi   2 .x y x i 1 N i i i 1 N N i a y i 1 N i 1 N i i N N x i 1 2 x i 1 = N  xi yi   xi  yi i 1 i 1 i 1 N N N i x   N  xi    xi  i 1  i 1  N 2 N 2 (7) i N x i 1 N N 2 i x y i 1 N i N i b x i 1 N i 1 N i y x i 1 i 1 N i x i 1 = x  y x y x 2 i 1 i i 1 i i 1 i i N N N N 2 i i x  N  N  xi    xi  i 1  i 1  N 2 i 1 2 i (8) i N Maka diperoleh persamaan kurva fitting y = ax + b. 2.

  2   y  (a  bx )  i   i   syi   2 a. 2  1 sy 2  y  (a  bx ) i i 2 = 1 sy 2   y  yˆ  i i 2 (9) Syarat 2 minimum adalah  2  2  0 a b  2 1  2  2 yi  (a  bxi ) (1)  0 a s y a  bxi  yi Na  bxi  yi (10)  2 1  2  2 yi  (a  bxi ) ( xi )  0 b s y . Jika 14 12 10 8 6 4 2 0 s y1  s y 2  s y 3  s y i  s y 0 2 4 6 8 10 12 Hal ini terjadi jika pada masing-masing titik tidak dilakukan pengulangan sehingga ralatnya merupakan ralat yang berasal dari alat ukur yang besarnya selalu tetap.

(10) dan (11) maka diperoleh: xi yi a yi xi N xi 2 xi xi 2 xi  xi xi yi   xi 2 yi  xi 2  Nxi 2 (12) Misal bagian penyebut pada pers.axi  bxi 2  xi yi (11) Dari pers. (12):  = xi 2  Nxi 2 Maka : a= (13) Dengan cara yang sama yaitu dengan menerapkan maka diperoleh: xi N xi N xi yi y i xi xi 2 1 xi xi yi   xi 2 yi        2 0 b b   x  y   N  x y  x   N  x i i i 2 2 i i i .

  sa 2    y  i  y  1  y  2  y  1  2  i  N 2 2 2  2  sy  N  2 . a  a( yi )  a( y1.. y N )  a  2  a  2  a  2  a  sy    sy    s y  . y2 ..... b..b 1 xi yi   Nxi yi   (14) Tampak bahwa nilai a dan b tidak ada ketergantungan terhadap sy... Jika xi dan yi keduanya memiliki ralat yang besarnya | s xi || s yi | maka s total untuk xi dan yi adalah : 2 si  s x  s 2 yi i (15) yi yi xi xi Lanjutan .

(7) ungkapan tersebut dimasukkan sehingga: sa 2 1  2   x x x i j i i    j 1  N 2 i 2    2 sy2 2 2     2    2  2    xi x j     xi   2  xi x j   xi   j 1  i   i   i   i    sy N 2 2 2 s y        2 2 2   2   xi    x j   N   xi   2  xi   xi   x j       i   j  i   i  i  j      2 2 2 2  s y        2 2 2  2   xi    xi   N   xi   2  xi    xi    i   i   i   i   i    sa  2 sy2 2 xi2 Nxi2  (xi ) 2         . karena syj  sy maka pada pers.= (16)   a   y j j 1  N  2  sy  j  2 dimana a 1    y j     i   xi x j         i  xi 2    ingat.

14 12 10 8 6 4 2 0 0 2 4 6 8 10 12  y  (a  bxi )     1  yi  (a  bxi )2    i 2   syi syi   2 2 . Jika s y1  s y 2  s y 3  s y i s y i  konstan Hal ini dapat terjadi jika pada masing-masing titik dilakukan pengukuran berulang sehingga memiliki simpangan baku.sa  2 sy2  xi2 atau sa  s y xi2 Nxi2  (xi ) 2 (17) Dengan cara yang sama maka diperoleh: sb  2 Ns y  2 atau sb  s y Nxi2 N  (xi ) 2 c.

(19) dan (21) maka diperoleh:   a   yi syi 2     xi syi xi xi syi xi syi 2 2 2 2 2 2 xi y i syi 1 syi xi syi 2 2 2 syi   xi 2 2 syi   yi syi  2  2 2 xi syi 2  xi y i syi     2 2 1 syi 2 xi syi  x    i2  sy i  (22) . 2 2 a   y  (a  bx )  i   i (1)  0 2   syi   (18) a 1 syi 2  b xi syi 2  yi syi 2 (19)  2 2 b   y  (a  bx )  i   i ( xi )  0 2   syi   (20) a xi syi 2  b xi 2 2 syi  xi y i syi 2 (21) Dari pers.

  y s y N          1   2   3   N  2 2 2 2 Pada pers.. (16) turunan a terhadap yj dimana yj adalah salah satu nilai dari yi adalah: .Dengan memisalkan = (23)   wi wi xi  wi xi  2 2  1 syi 2  xi 2 2 syi  x    i2  sy i      2 Maka intersep a= (24) 2 y x xy  1  xi  2  i2   i2  i 2i    sy syi syi syi  i   a 1 2 wi xi wi yi  wi xi wi xi yi    2 2 sa   j  a   y j   2  sy j   2 =  a    y s y j    j  j  (25) atau untuk untuk memudahkan pemahaman:   a   a   a   a sa    y s y1    y s y 2    y s y 3   ..

 a 1    y j     i   xi 2  1     2  2   s y i  s y j      i   xi  x j     s y i2  s y 2   j  (26) Dengan mensubstitusikan pers.. (26) ke (25) dan kemudian memasukkan s2 j y ke dalam kurung maka diperoleh:   xi  x j      s 2  s   i y i  y j     2 1 2 sa  2  2     xi  1   i s 2  s j yi   yj  = 2 2 2 2   2       xj   x 2  1  xi    x  x j  1  xi   1     2  i 2    i2       i s y  s y  i s y  s y  2 j  i s y i2   s y j   i s y i2   s y j  i  j  i  j           Jika tanda  j dimasukkan ke dalam kurung kotak maka 2 2  x      j   2 xi  xi  x j  s    s y 2   s y 2   s y 2  ij  i i  i i  j j   yj   2  2 1  xi  1 2   sa  2  2  2   i s y i  j s y j     x     i2   i sy  i   2  j (27) sehingga dengan menjalankan i = j = 1. N maka diperoleh: 2 2  2 xi   x 1  xi   1   s  2  2   2    2   i   i s y i   i s y i   i s y i   i s y i        2 a 2    xi    2 xi      s y 2   s y 2    i i  i i  2 2   (28)   Dengan menguraikan 2 menjadi  dan mengganti salah satu  dengan pers.. (23) maka  ditulis menjadi: .

2  2  x   xi  1 i     2  2    2   syi syi  syi       (29) maka persamaan (28) menjadi 2 2 2 2   2    x 2  x    1   xi   xi  i  i     xi        2    s 2    s 2    s 2    s    s y 2   s y 2    i i i i yi   yi   yi   yi    i i  i i    1  2 sa   2  (30)   2  x      1 xi  i      s 2  s 2   s 2    yi yi    yi       yang nilainya dapat didekati dengan: 2 sa  1  s i xi 2 2 yi atau sa  1  s i xi 2 2 yi atau sa  1  wi xi2  i (31) Slope grafik .

  b 1 2 syi xi syi 2     yi syi xi y i syi xi syi xi syi 2 2 2 2 2   y x 1 xi y i  2   i 2  i2 2 syi syi syi syi 2  x  1 x  2  i 2    i2  syi syi  syi    2 1  2 syi  xi syi 2 b wi wi xi yi  wi yi wi xi  Dengan cara yang sama untuk 2 sb  sb maka diperoleh: sb  1  wi  i 1  s i 1 2 yi atau sb  1  s i 2 1 2 yi atau (32) dengan   wi wi xi  wi xi  2 Untuk gejala yang mengikuti distribusi Poisson maka s y i  yi (32) maka: yN sehingga sy  N (Bevington. . 2003).

Gantungkan anak timbangan 50 gr. Beban seberat 50 gr ( 3 buah ) 2. Gantungkan sebuah pegas pada statif 2. Mistar 5. Dua buah pegas 4. Tali 3. Kemudian ukurlah panjang pegas ketika beban masih tergantung ( L1 ) dan beban tidak bergerak lagi . Statif Langkah kerja 1. Ukur panjang pegas sebelum di beri beban sebagai panjang mula-mula ( Lo ) 3.Percobaan 1 Alat dan bahan 1.

05 0. Masukkan data hasil percobaan ke dalam table Data pengamatan percobaan 1 No.29 0.52 0.21 0.17 0. Massa (kg) Berat (N) Lo (m) 0.17 L1 (m) 0.30 4.25 0.38 0. 0. 5.4. 4.174 1. Ukurlah pertambahan panjang pegas ( X L1-Lo ) 5.76 4.5 Pembahasan percobaan 1 .595 konstanta 4.635 0.15 0.675 X (m) 0.15 kg.5 2 2.35 0. Ulangi lanhkah 3 dan 4 dengan mengganti anak timbangan menjadi 0.17 0.5 1 1. 3.17 0.17 0. 0.465 0.1 0.25 kg 6.12 0.285 4.1 kg.2 0.167 4. 0. 2.

167 K2 = = = 4.285 K4 = = = 4.174 Kesimpulan percobaan 1 .30 K5 = = = 4.76 K3 = = = 4.Menghitung Konstanta : K1 = = = 4.

Percobaan 2 Tujuan Menentuan hubungan antara periode pegas dan massa beban sekaligus menghitung tetapan pegas Landasan teori Alat dan bahan .

Pada ujung bebas pegas hubungkan sebuah beban 50 gr.Sebuah tiang. stopwatch. 2. sebuah beban pegas 50 kg. Gantungkan seutas pegas pada tiang. . beri hitungan 2 untuk yang kedua kalinya demikian seterusnya. 4. dan selembar kertas untuk menuangkan data hasil percobaan Langkah kerja 1. Beri hitungan satu pada saat beban kembali ke kedudukan A untuk pertama kalinya. Siapkan sebuah stopwatch dan jalankan bersamaan dengan saat melepaskan beban dari kedudukan B. Tarik beban dari kedudukan A ke kedudukan B dengan amplitude yang berbeda 3. Pada saat hitungan ke sepuluh.

43 2. 5 9 0.9 2.43 2.43 2.43 2.9 3. 5.9 4. 10 9 0. Isikan hasil pengamatan Data pengamatan percobaan 2 No. 3 9 0.9 konstanta 2.matikan stopwatch. 7 9 0. Amplitude (A) t (sekon) T (sekon) 1.43 .9 5. 12 9 0. Selang waktu yang di catat stopwatch adalah…x periode pegas.

1 sekon .Pembahasan *massa = 50 gr = 0.8 sekon T2 = = = 1.43 *amplitude = 5 cm T1 = = = 0.9 s K1 = K2 = K3 = K4 = K5 = = = 2.05 gr T1 = T2 = T3 = T4 = T5 = = 0.

3 sekon T4 = = = 1.T3 = = = 1.41 .51 = 3.26 = 3.5 sekon T5 = = = 1.7 sekon K1 = K2 = K3 = K4 = K5 = = = = = = = 3.084 = 3.5 = 3.

Mencari besar percepatan gravitasi di suatu tempat Langkah percobaan 1. Ikatkan beban pada benang.Kesimpulan Percobaan 3 Tujuan a. kemudian ikatkan ujung benang pada statif yang telah dipasang dengan busur derajat . Mengetahui hubungan panjang tali dengan periode ayunan b.

52 0.5 1. Tarik beban ( 50 gr ).52 .52 10. 70 cm.5 1.5 g (m/s2) 10. Panjang tali (m) Waktu (s) Jumlah getaran Periode (s) 1. lepaskan dan hitung dengan stopwatch sebanyak 20 putaran/gelombang 3. O.7 0. 2 dengan panjang tali 50 cm.5 0. Lakukan perintah no. 2. dan 80 cm secara bergantian dengan beban yang sama 4. 3.8 28 33 35 20 20 20 1. Buat tabel hasil pengamatan Data pengamatan No.2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful