ANALISIS ISI, ANALISIS SEMIOTIKA, ANALISIS WACANA DAN ANALISIS FRAMING

SUMBER : http://images.andamawara.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SaGYYQoKCDcAAEoKX2Y1/ Untuk%20mengkaji%20isi%20dan%20struktur%20media%20massa.doc?nmid=210670771.

2010

Sedangkan untuk menganalisis koran atau majalah dapat dilakukan dengan mengukur inchi kolom dari berita yang telah dikategorisasi dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian. Karena metode ini pada dasarnya merupakan sebuah metode untuk menguji secara kuantitatif . Teknik analisis isi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut. sehingga peneliti dapat mengetahui adegan kekerasan seksual per jam dan membandingkannya dengan statistik yang dihasilkan penelitian sebelumnya (Gerbner dan Gross dalam Straubhaar dan Larose. Misalnya. Untuk meneliti efek media massa terhadap khalayak. Analisis isi telah sering dipakai dalam mengkaji pesan-pesan media. ada empat metode yang dapat digunakan sebagai alat penelitian. seringkali hanya melihat sampel tayangan yang jumlahnya tidak banyak. Apakah hal ini dapat didefinisikan sebagai kekerasan seksual ? Bagi beberapa orang bisa jadi ini sudah termasuk kekerasan seksual. kepentingan para editor dan penerbit. apalagi jika kemudian kita juga mempertimbangkan keberadaan stasiun televisi lokal. Selain itu. Padahal masih banyak stasiun televisi yang lain. Kemudian dikembangkan definisi obyektif mengenai “kekerasan seksual”. Kemudian diklasifikasikan agar sesuai dengan definisi yang telah dibuat dan kemudian dihitung. kita harus mengadakan penelitian yang melibatkan khalayak.Untuk mengkaji isi dan struktur media massa. maka jumlah tiga stasiun televisi tersebut sangatlah kecil. dalam penelitian analisis isi. peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media. namun bagi yang lain tidak. Misalnya saat kita akan melakukan penelitian mengenai kekerasan seksual di tayangan televisi. bisa jadi kita hanya mengambil sampel tayangan prime time dari tiga stasiun televisi terbesar di Indonesia. pada sebuah tayangan komedi ada seorang aktor berkata jorok yang dibumbui kata-kata yang berhubungan dengan seksualitas sembari tertawa dan tersenyum. Pembuatan definisi sebelum melakukan riset juga dapat problematis. Namun kelemahannya adalah ketidakmampuannya untuk melihat efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak. misalnya scene di mana terjadi kekerasan seksual. 1997 :413). kecenderungan pembaca (dengan asumsi bahwa bahan-bahan yang dipublikasikan secara berhasil bagi golongan tertentu. ANALISIS ISI Analisis isi (content analysis) dilaksanakan dengan melakukan kuantifikasi terhadap sifat-sifat yang dikandung isi media massa. Misalnya jika para peneliti ingin meneliti tayangan kekerasan seksual yang dihadirkan televisi. . analisis semiotika. keyakinan. karena dengan alasan artisnya saja ikut tertawa. Keunggulan analisis isi adalah kemampuannya untuk memberi deskripsi mengenai profil media secara mendetail dan menunjukan trend media dalam waktu tertentu. yaitu analisis isi. mencerminkan secara akurat kecenderungan golongan yang bersangkutan). analisis wacana dan analisis framing. sehingga apakah hasil penelitian representatif atau tidak menjadi sangat dilematis. baik aktor maupun artisnya. maka mereka dapat memilih beberapa tayangan prime time berkaitan dengan isu di atas.

Penanda adalah aspek material dari satu tanda bahasa. Konsep “kaya” misalnya. menyusui. dan bagi mereka isi media massa adalah produk dari penggunaan tanda-tanda bahasa (sign). Jika bergerak selain L maka kacaulah permainan catur tersebut Aturan yang seperti di atas mengikat tanda bahasa ke dalam suatu struktur. Saussure memberi anologi bermain catur untuk menjelaskan hal ini. Menurut Saussure. tidak akan memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “miskin”. 1997 : 7-10). makanya semiotika generasi ini dikenal sebagai peletak dasar strukturalisme yang banyak dikembangkan oleh Louis Althusser dan Jean Claude LeviStrauss (Bignell. bawah. Misalnya tidak ada relasi alamiah antara kata kucing (k-u-c-i-n-g) dengan binatang berkaki empat. Namun harus dicatat bahwa konsep tidak didefinisikan pada isi positifnya tetapi negatifnya. dan dasar dari relasi tersebut adalah berlawanan atau oposisi yang bersifat duaan (binary oposition). Untuk lebih jelasnya kita dapat mengambil ilustrasi sebagai berikut. melalui relasi-relasinya dengan istilah-istilah lain dalam sistemnya (Berger. berbulu. Semiotika memiliki sejarah dengan perkembangan yang cukup panjang dalam abad 21. tanda bahasa (sign) tidak lepas dari beberapa unsur. Relasi keduanya bersifat arbiter (arbitrary) atau diada-adakan. salah seorang pemikir posmoderisme yang terkenal. suka mengeong dan memiliki cakar yang ditunjukan kata kucing. pesan (massage) dari media massa menjadi bagian terpenting untuk dikaji. Pada mulanya semiotika dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes serta kemudian banyak dikembangkan Jean Baudrillard. Kuda dalam catur diatur dalam langue dalam bentuk gerak L. dan para pemain catur bebas memilih untuk bergerak dalam gerakan L ke atas. tanda bahasa terstruktur dalam langue dan parole. penanda (signifier) dan petanda (signified). 2000 : 7). Langue adalah pemakaian bahasa secara umum dan parole adalah pemakaian tanda bahasa secara oleh individu. dan media dalam banyak cara membentuk bagaimana lambang-lambang berfungsi untuk kita. kanan ataupun kiri yang menjadi parole yang mereka miliki. Bidang ini membantu kita melihat bagaimana tanda-tanda bahasa digunakan untuk menginterpretasi kejadiankejadian dan dapat menjadi alat analisis yang terutama baik untuk menganalisis kandungan dari pesan media. sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Bagi para ahli semiotika. Kedua. Pendekatan ini berfokus pada cara produsen tanda bahasa (author) membuat tanda bahasa dan cara khalayak memahaminya. yaitu pertama.SEMIOTIKA Semiotika (semiotic) atau yang juga dikenal sebagai semiologi (semiology) telah menjadi alat analisis yang populer untuk meneliti isi dari media massa dan telah banyak digunakan oleh para mahasiswa ilmu komunikasi dalam meneliti makna dari pesan yang termuat dalam media massa. Hal lain yang tidak bisa dilepaskan dalam kajian semiotika adalah pemikiran Saussure yang menyatakan bahwa konsep memiliki makna disebabkan karena adanya faktor – faktor relasi. Nyaris tidak dapat dipungkiri bahwa tanda bahasa memiliki peran istimewa dalam media. Konsep “cantik” juga tidak memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “jelek”. .

sehingga teks dapat diartikan sebagai rajutan dari berbagai tanda bahasa yang melahirkan makna-makna. sedang yang lain tidak”. 1997:16). 2000 : 26). Semua sisi sebagaimana yang tersebut di atas akan menjalin satu kaitan yang dinamakan sebagai intertekstualitas.Dalam kajian semiotika. yaitu mengenai pembedaan antarkelompok sosial. Kelima adalah ideologi. Intertektualitas melibatkan bahan teks dari banyak ragam yang menjadi hal umum dewasa ini. Berbagai tanda bahasa yang saling berelasi kemudian akan membentuk teks (text). karena semua terbentuk dari relasi (Saussure dalam Berger 2000 : 7). Ada beberapa unsur penting dalam representasi yang lahir dari teks media massa. yaitu strategi representasi yang dirancang untuk mendesain menetapkan difference. novel. Pertama adalah stereotype yaitu pelabelan terhadap sesuatu yang sering digambarkan secara negatif. Kompleksitas representasi akan terlihat dari unsur-unsurnya yang lain. yaitu posisi kamera (angle). 1994 : 67). Ketiga adalah pembedaan (difference). majalah dan sebagainya merupakan bagian dari budaya media yang dipenuhi oleh berbagai praktik penandaan (signifying practice). lagu. Keempat. Ide-ide dari Barthes banyak digunakan untuk memahami realitas budaya media kontemporer yang dikonsumsi oleh manusia setiap harinya (Bignell. Istilah “teks” sendiri berasal dari Bahasa Latin texture yang berarti rajutan. Pemahaman ini menyangkut siapa mereka. menjadi budaya dan mencari arah teks baru tanpa disadari oleh pencipta teks bersangkutan (the author) (Berger. tetapi “relasi-relasi” dalam berbagai sistem. Makna inilah kemudian melahirkan representasi (representation). posisi obyek atau manusia dalam frame. proses pewarnaan (tinting) dan suara (sound) (Bignell. bukan “isi” yang menentukan makna. Kedua adalah identity. Untuk memahami ideologi dalam representasi ada baiknya kita mengingat kembali konsepsi ideologi yang dikemukakan oleh Althusser. Selama ini representasi sering disamakan dengan stereotype. 2000 : 171). namun sebenarnya representasi jauh lebih kompleks daripada stereotype. sinetron. nilai apa yang dianutnya dan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain baik dari sudut pandang positif maupun negatif. Jean Baudrillard kemudian mewacanakan semiotika pascastrukturalisme (poststructuralism) yang . Representasi dalam relasinya dengan ideologi dianggap sebagai kendaraan untuk mentransfer ideologi dalam rangka membangun dan memperluas relasi sosial (Burton. Menurut Norman Fairclough. yang dapat dianalisis dari banyak sisi. seperti yang diutarakan oleh Saussure bahwa sifat yang paling tepat untuk untuk menggambarkan konsep tersebut adalah “ada dalam keberadaannya. Film. 1997:187). dan menjaganya agar kelihatan alami selamanya. di mana satu kelompok dioposisikan dengan kelompok yang lain. Sehingga tidak ada makna pada dirinya sendiri. representasi dapat secara ideologis mereproduksi relasi sosial yang mengandung eksploitasi dan dominasi (Burton. pencahayaan (lighting). yaitu pemahaman kita terhadap kelompok yang direpresentasikan. Mitos lahir melalui konotasi tahap kedua di mana rangkaian tanda yang terkombinasikan sebagaimana dalam film disebut sebagai teks (text) akan membentu pemaknaan tingkat kedua (secondary signification) (Thwaites. naturalisasi (naturalization). Film misalnya dapat dianalisis dari berbagai unsur yang ada di dalamnya. Konsepsi yang dikemukakan oleh Saussure ini kemudian dikembangkan oleh Roland Barthes untuk memahami mitos (myth) yang lahir dari tanda bahasa. 2000 : 170-175).

framing devices (perangkat framing) yang berelasi langsung dengan ide sentral atau bingkai yang ditekankan dalam teks berita. Citra itu juga dilakukan dengan memberi label (depiction) terhadap suatu peristiwa. Pertama. Tanda bahasa mempunyai relasi yang jelas dengan yang obyek yang dilambangkannya. Perangkat framing ini ditandai dengan pemakaian kata. Dapat berupa roots ataupun dengan memberi klaim moral . Ketiga. Media tidak secara mendadak menciptakan kondisi ini. umum dalam masyarakat feodal. 2004 : 225-226). grafis. Penggunaan tanda bahasa telah berjalan melalui suatu evolusi dalam masyarakat. Ada beberapa komponen yang menjadi alat analisis dalam analisis framing yang dikembangkan oleh Gamson. kepalsuan.menyatakan bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari objek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata. dan grafik/gambar. Simbol itu dapat diamati dari pemakaian kata. kalimat. Gamson melihat wacana media massa (khususnya berita) terdiri dari sejumlah kemasan (package) melalui mana konstruksi atas suatu peristiwa dibentuk. dan menafsirkan pesan yang ia terima. Citra juga dapat ditekankan dengan melakukan ilustrasi (eksemplaar) • Kedua. Baudrillard menyatakan pentahapan ini sebagai tahapan dari urutan simbolis. Gamson. Semua elemen dalam perangkat pembingkai tersebut digunakan untuk memberi citra tertentu atas seseorang atau peristiwa tertentu. Kemasan itu merupakan skema atau struktur pemahaman yang dipakai oleh seseorang ketika mengkonstruksi pesan-pesan yang dia sampaikan. Ada dua perangkat bagaimana ide sentral yang merupakan framing diterjemahkan ke dalam teks berita melalui dua cara. elemen inti berita (idea element) yaitu ide atau pemikiran yang dikembangkan dalam teks berita itu kemudian didukung dengan simbol tertentu untuk menekankan arti yang hendak dikembangkan dalam teks berita. atau pemakaian foto atau aksentuasi gambar tertentu. namun memperburuk suatu kecenderungan yang telah lama berlangsung sepanjang sejarah modern. Perangkat kedua adalah reasoning devices (perangkat penalaran) yang berhubungan dengan kohesi dan koherensi dari teks tersebut yang merujuk pada gagasan tertentu (Eriyanto. umum dari masa Renaissance ke masa Revolusi Industri. yang oleh Baudrillard dinamakan sebagai hiperrealitas. yaitu : • Pertama. Pada tahap kedua. ANALISIS FRAMING Analisis framing dikembangkan terutama oleh William A. lambanglambang dianggap kurang memiliki relasi langsung dengan benda-benda dalam kehidupan. Pada mulanya. perangkat penalaran (reasoning devices). tanda bahasa adalah representasi yang sifanya sederhana dari suatu objek atau kondisi. perangkat pembingkai (framing devices) dipakai untuk memberi citra negatif maupun positif terhadap suatu berita atau obyek yang diberitakan. metafora. kalimat.

kekuasaan merupakan sesuatu yang inheren sifatnya dari semua formasi diskursif. dan dikurangi. Foucault memberi perhatian ada relasi antara kuasa (power) dengan pengetahuan (knowledge). tapi satu mikrofisika tentang kuasa. Ia ingin menganalisis strategi kuasa yang faktual. ANALISIS WACANA Michel Foucault adalah salah seorang pemikir Prancis yang memberi banyak kontribusi dalam perkembangan analisis wacana (discourse analysis). aturan. di situ kuasa sedang bekerja. Menurut Foucault.tertentu (appeals to principle). Kontribusinya dapat dilacak dari pemikirannya mengenai kuasa (power). Dalam hal ini terdapat institusi-institusi yang menjamin perbedaaan antara yang benar dan tidak benar. Di mana saja terdapat susunan. Keduanya berpotensi membawa konsekuensi (consequences) mengenai isu berita. dibagi. Biasanya kuasa dihubungkan dengan orang atau lembaga tertentu. Pengetahuan tidak berasal dari dari salah satu subyek yang • . Ia tidak menyajikan suatu metafisika mengenai kuasa. Tapi dalam pandangan Foucault kuasa tidak dimiliki tapi dipraktekan dalam suatu ruang lingkup di mana ada banyak posisi yang secara strategis berelasi satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran. kekuasaan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan. Berikut ini adalah beberapa pendapat Foucault mengenai kuasa : • Pertama. Dengan begitu. namun bagi Foucault sedikit sekali yang berhasil mengurai kuasa. malah memungkinkan semua itu. melainkan bagaimana berfungsinya kuasa pada bidang tertentu. ditambah. masalahnya bukanlah pada apakah itu kuasa. aturan-aturan. Tapi menurut Foucault strategi kuasa berlangsung di mana-mana. parlemen. relasi-relasi itu dari dalam. sebagaimana diekspresikan dalam bahasa. kekuasaan merupakan fungsi wacana atau ilmu dan bukan sebagai properti manusia atau institusi. sebuah tema yang merupakan topik terpenting dalam khasanah pemikiran Foucault yang kemudian banyak digunakan dalam analisis wacana. Ada misalnya analisis Marxian yang banyak mengurai mengenai orang-orang yang berkuasa seperti negara. sistem regulasi. Maksudnya kuasa biasanya disamakan dengan milik. menjamin kekuasaan. institusi agama. kuasa bukanlah milik melainkan strategi. Kedua. tetapi menentukan susunan. Kuasa dianggap sebagai sesuatu yang dapat diperoleh. Berbagai karya besar Foucault memang berkisar pada subyek kekuasaan. Selain itu terdapat pula pelbagai aturan dan prosedur untuk memperoleh dan menyebarkan kebenaran Secara khusus. di mana saja ada manusia yang mempunyai relasi tertentu sama lain dan dengan dunia luar. Banyak literatur yang sudah ditulis berusaha mengungkap kuasa. Tema seperti inilah yang menjadi fokus perhatian Foucault. namun tidak menyinggung bagaimana mekanisme kuasa atau strategi kuasa. Sebagai contoh adalah bahwa setiap masyarakat mengenal berbagai strategi kuasa yang menyangkut kebenaran: beberapa diskursus diterima dan disebarluaskan sebagai benar. disimpan. Maksudnya. Episteme. khususnya aparat negara. Kuasa tidak datang dari luar. kuasa tidak dapat dilokalisasi tetapi ada di mana-mana. Misalnya.

Struktur wacana ini tidak sekedar aturan untuk bagaimana cara berbicara. yang tentu juga menentukan bentuk wacana yang harus dipakai Berlawanan dengan pendapat yang lebih populer. dan etika. Pengetahuan tidak “mencerminkan” relasi kuasa sebagaimana yang selama ini dikenal dalam pemikiran Marxian. dalam pandangan Foucault masyarakat tidak bertanggung jawab dalam membuat kondisi wacana. menindas dan sebagainya. kuasa tidak bersifat destruktif melainkan produktif. tetapi terutama melalui normalisasi dan regulasi. ayah. Menurut pendapat Foucault kuasa tidak bersifat subyektif. tetapi juga aturan-aturan yang menentukan sifat pengetahuan. karena ada kenyataannya kuasa memproduksi realitas.mengenal. Ringkasnya. dan aturan-aturan berekspresi dalam komunikasi kita mempunyai ide seperti ini. pengetahuan tidak merupakan pengungkapan secara samar-samar dari relasirelasi kuasa tetapi pengetahuan berada di dalam relasi kuasa itu sendiri. laki-laki dan kehendak umum) dan subyek itu dianggap melarang. Keempat. • Ketiga. Inilah yang membedakannya dengan pandangan marxisme yang melihat kuasa sebagai satu proses dialektis. melainkan bekerja secara produktif dan positif. Di jaman kita. Hal ini sekaligus meruakan penolakan Foucault terhadap sebagaian pandangan yang menyatakan bahwa kuasa meruakan sesuatu yang jahat dan harus ditolak. di mana A menguasai B. Kuasa memproduksi realitas dengan memproduksi lingkup obyek dan ritus-ritus kebenaran. tetapi malah menghasilkan sesuatu. Struktur diskursif terbaru kita mampu memberi penjelasan mengenai manusia sebagai pondasi dan asal ilmu pengetahuan. Tidak mungkin memilih kawasan di luar kawasan strategi kuasa itu sendiri. kuasa tidak selalu bekerja melalui penindasan atau represi. tetapi ide ini merupakan penciptaan bentuk diskursif yang pra dominan di jaman kita. orang diyakini mendapatkan ilmu pengetahuan dan mempunyai kekuasaan. wacanalah memerlukan tempat seseorang dalam skema dunia. pemerintah. karena menolak kuasa sendiri termasuk dari strategi kuasa. kuasa produktif karena memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan (Bertens. Yang dimaksudkan oleh Foucault disini adalah bahwa kuasa tidak menghancurkan. Selama ini kuasa sering dianggap subyek yang berkuasa (raja. kemudian setelah beberapa syarat terpenuhi ganti B menguasai A. • Menurut Foucault struktur wacana adalah suatu satuan aturan inheren yang menentukan bentuk dan substansi praktek diskursif. membatasi. tetapi dari relasi-relasi kuasa yang menandai subyek itu. Aturan-aturan seperti di atas kemudian mampu mengontrol apa yang bisa kita bicarakan atau tuliskan. Dengan demikian tidak ada pengetahuan yang netral dan murni. Aturan-aturan ini mengontrol apa yang bisa dibicarakan atau dituliskan dan siapa yang boleh bicara atau menulis (atau pembicara yang harus ditanggapi dengan serius). Kuasa memroduksi pengetahuan dan bukan saja karena pengetahuan berguna bagi kuasa. Kuasa juga tidak bekerja secara represif dan negatif. Sebaliknya. kekuasaan. Pada titik ini terdapat relasi: pengetahuan mengandung kuasa seperti juga kuasa mengandung pengetahuan. Strategi kuasa tidak berjalan melalui jalan penindasan melainkan melalui normalisasi dan regulasi. Lebih lanjut dalam pandangan Foucault tidak ada pengetahuan tanpa kuasa dan tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. karena di dalamnya ada kuasa. Di . 2000 : 297 – 325). tetapi masyarakat tidak pernah mendapatkan kedudukan seperti ini sebelumnya di periode yang lain dan dengan sendirinya akan segera kehilangan kedudukan ini.

Interpretasi. . Tetapi kemudian dalam formasi diskursif yang ada di masa sekarang. daripada adanya koherensi.lain waktu. wacana sering dimengerti sebagai bahasa yang digunakan dalam merepresentasikan praktik sosial dari sudut pandang tertentu. 2000 : 31). Studi ini menunjukkan perbedaan atau kontradiksi. tapi pemaknaan itu seharusnya diminimalisir kerena interpretasi tidak membuka struktur diskursif dan pada kenyataannya malah mengaburkannya. Dia menemukan adanya perbedaan yang sangat dramatis di abad 18 dan 19 dari kekejaman dan hukuman publik menjadi pemahaman dan perlindungan kriminal dari penyiksaan tubuh. kita juga tidak bisa lepas dari konsep ideologi karena setiap makna dari wacana selalu bersifat ideologis (Fairclough dalam Burton. Penelitian Foucault tentang sistem hukum dalam karyanya The Birth of Prison. atau pemaknaan teks. Archaelogy berusaha mengungkap berbagai aturan-aturan wacana dengan melewati deskripsi yang seksama. seluruh ide-ide yang berbeda tentang pengetahuan dan kekuasaan muncul dari penggunaan wacana. narapidana disiksa atau atau bahkan dieksekusi di depan publik dan bahkan seringkali oleh publik sendiri dan dijadikan sebagai bentuk tontonan. Sangat alami bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melawan orang/kriminal dan bahwa hukuman seharusnya mencakup kesakitan tubuh. Dalam memahami wacana. orang/kriminal kehilangan statusnya. tidak bisa dihindari dalam analisis teks. Dengan begitu menahan kriminal dilihat sebagai hukuman yang lebih sesuai daripada mencambuk mereka di depan publik. Sebelum masa sekarang. dan mengungkap tentang suksesi dari satu bentuk wacana ke wacana yang lain. Sehingga. Dalam formasi diskursif saat itu orang/kriminal dilihat sebagai obyek sentral dalam hubungan politis. dapat digunakan sebagai contoh mengenai analisis wacana. Studi yang dikerjakan oleh Foucault berkisar pada analisis wacana yang memiliki fungsi untuk melakukan pengungkapan terhadap aturan-aturan dan struktur wacana. Studi ini oleh Foucault dinamakan archaelogy. karena kekuasaan lebih menjadi persoalan fisik atau jiwa individu manusianya. Foucault berpandangan bahwa seorang analis sudah seharusnya menghindari untuk merelasikan wacana dengan pengarang/penulis karena penulis dalam wacana yang muncul hanya menjalankan fungsi wacana semata dan bukan merupakan instrumen di setiap cara yang fundamental di dalam pembuatan struktur teks yang mereka hasilkan. Untuk alasan inilah Foucault menitikberatkan deskripsi komparatif lebih dari satu buah wacana.