P. 1
Analisis Isi, Analisis Semiotika Analisis Wacana Dan Analisis Framing

Analisis Isi, Analisis Semiotika Analisis Wacana Dan Analisis Framing

|Views: 762|Likes:
Published by yukishiro_6

More info:

Published by: yukishiro_6 on May 03, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

ANALISIS ISI, ANALISIS SEMIOTIKA, ANALISIS WACANA DAN ANALISIS FRAMING

SUMBER : http://images.andamawara.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SaGYYQoKCDcAAEoKX2Y1/ Untuk%20mengkaji%20isi%20dan%20struktur%20media%20massa.doc?nmid=210670771.

2010

Selain itu. analisis wacana dan analisis framing. Apakah hal ini dapat didefinisikan sebagai kekerasan seksual ? Bagi beberapa orang bisa jadi ini sudah termasuk kekerasan seksual. sehingga peneliti dapat mengetahui adegan kekerasan seksual per jam dan membandingkannya dengan statistik yang dihasilkan penelitian sebelumnya (Gerbner dan Gross dalam Straubhaar dan Larose. Karena metode ini pada dasarnya merupakan sebuah metode untuk menguji secara kuantitatif . Keunggulan analisis isi adalah kemampuannya untuk memberi deskripsi mengenai profil media secara mendetail dan menunjukan trend media dalam waktu tertentu. pada sebuah tayangan komedi ada seorang aktor berkata jorok yang dibumbui kata-kata yang berhubungan dengan seksualitas sembari tertawa dan tersenyum. Misalnya saat kita akan melakukan penelitian mengenai kekerasan seksual di tayangan televisi. maka jumlah tiga stasiun televisi tersebut sangatlah kecil. peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media. analisis semiotika. sehingga apakah hasil penelitian representatif atau tidak menjadi sangat dilematis. maka mereka dapat memilih beberapa tayangan prime time berkaitan dengan isu di atas. Sedangkan untuk menganalisis koran atau majalah dapat dilakukan dengan mengukur inchi kolom dari berita yang telah dikategorisasi dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian. karena dengan alasan artisnya saja ikut tertawa. 1997 :413). misalnya scene di mana terjadi kekerasan seksual. Namun kelemahannya adalah ketidakmampuannya untuk melihat efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak. Padahal masih banyak stasiun televisi yang lain. kita harus mengadakan penelitian yang melibatkan khalayak. Kemudian dikembangkan definisi obyektif mengenai “kekerasan seksual”. seringkali hanya melihat sampel tayangan yang jumlahnya tidak banyak. dalam penelitian analisis isi. yaitu analisis isi. baik aktor maupun artisnya. bisa jadi kita hanya mengambil sampel tayangan prime time dari tiga stasiun televisi terbesar di Indonesia. Misalnya jika para peneliti ingin meneliti tayangan kekerasan seksual yang dihadirkan televisi. kepentingan para editor dan penerbit. Kemudian diklasifikasikan agar sesuai dengan definisi yang telah dibuat dan kemudian dihitung. Teknik analisis isi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut. keyakinan. . Untuk meneliti efek media massa terhadap khalayak. kecenderungan pembaca (dengan asumsi bahwa bahan-bahan yang dipublikasikan secara berhasil bagi golongan tertentu. Analisis isi telah sering dipakai dalam mengkaji pesan-pesan media. ada empat metode yang dapat digunakan sebagai alat penelitian. apalagi jika kemudian kita juga mempertimbangkan keberadaan stasiun televisi lokal. mencerminkan secara akurat kecenderungan golongan yang bersangkutan). ANALISIS ISI Analisis isi (content analysis) dilaksanakan dengan melakukan kuantifikasi terhadap sifat-sifat yang dikandung isi media massa. namun bagi yang lain tidak.Untuk mengkaji isi dan struktur media massa. Pembuatan definisi sebelum melakukan riset juga dapat problematis. Misalnya.

salah seorang pemikir posmoderisme yang terkenal. melalui relasi-relasinya dengan istilah-istilah lain dalam sistemnya (Berger. suka mengeong dan memiliki cakar yang ditunjukan kata kucing. Relasi keduanya bersifat arbiter (arbitrary) atau diada-adakan. makanya semiotika generasi ini dikenal sebagai peletak dasar strukturalisme yang banyak dikembangkan oleh Louis Althusser dan Jean Claude LeviStrauss (Bignell. tidak akan memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “miskin”. Pada mulanya semiotika dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes serta kemudian banyak dikembangkan Jean Baudrillard. penanda (signifier) dan petanda (signified). sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. Bidang ini membantu kita melihat bagaimana tanda-tanda bahasa digunakan untuk menginterpretasi kejadiankejadian dan dapat menjadi alat analisis yang terutama baik untuk menganalisis kandungan dari pesan media. dan para pemain catur bebas memilih untuk bergerak dalam gerakan L ke atas. Konsep “cantik” juga tidak memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “jelek”. bawah. kanan ataupun kiri yang menjadi parole yang mereka miliki. Kuda dalam catur diatur dalam langue dalam bentuk gerak L. Pendekatan ini berfokus pada cara produsen tanda bahasa (author) membuat tanda bahasa dan cara khalayak memahaminya. Namun harus dicatat bahwa konsep tidak didefinisikan pada isi positifnya tetapi negatifnya.SEMIOTIKA Semiotika (semiotic) atau yang juga dikenal sebagai semiologi (semiology) telah menjadi alat analisis yang populer untuk meneliti isi dari media massa dan telah banyak digunakan oleh para mahasiswa ilmu komunikasi dalam meneliti makna dari pesan yang termuat dalam media massa. dan media dalam banyak cara membentuk bagaimana lambang-lambang berfungsi untuk kita. tanda bahasa terstruktur dalam langue dan parole. Untuk lebih jelasnya kita dapat mengambil ilustrasi sebagai berikut. dan bagi mereka isi media massa adalah produk dari penggunaan tanda-tanda bahasa (sign). Hal lain yang tidak bisa dilepaskan dalam kajian semiotika adalah pemikiran Saussure yang menyatakan bahwa konsep memiliki makna disebabkan karena adanya faktor – faktor relasi. Konsep “kaya” misalnya. Bagi para ahli semiotika. Jika bergerak selain L maka kacaulah permainan catur tersebut Aturan yang seperti di atas mengikat tanda bahasa ke dalam suatu struktur. Menurut Saussure. 1997 : 7-10). dan dasar dari relasi tersebut adalah berlawanan atau oposisi yang bersifat duaan (binary oposition). Saussure memberi anologi bermain catur untuk menjelaskan hal ini. Kedua. Semiotika memiliki sejarah dengan perkembangan yang cukup panjang dalam abad 21. yaitu pertama. berbulu. Langue adalah pemakaian bahasa secara umum dan parole adalah pemakaian tanda bahasa secara oleh individu. . Misalnya tidak ada relasi alamiah antara kata kucing (k-u-c-i-n-g) dengan binatang berkaki empat. pesan (massage) dari media massa menjadi bagian terpenting untuk dikaji. Nyaris tidak dapat dipungkiri bahwa tanda bahasa memiliki peran istimewa dalam media. menyusui. tanda bahasa (sign) tidak lepas dari beberapa unsur. 2000 : 7). Penanda adalah aspek material dari satu tanda bahasa.

sedang yang lain tidak”. Ketiga adalah pembedaan (difference). bukan “isi” yang menentukan makna. Makna inilah kemudian melahirkan representasi (representation). Jean Baudrillard kemudian mewacanakan semiotika pascastrukturalisme (poststructuralism) yang . representasi dapat secara ideologis mereproduksi relasi sosial yang mengandung eksploitasi dan dominasi (Burton. Keempat. tetapi “relasi-relasi” dalam berbagai sistem. naturalisasi (naturalization).Dalam kajian semiotika. Intertektualitas melibatkan bahan teks dari banyak ragam yang menjadi hal umum dewasa ini. Kedua adalah identity. Selama ini representasi sering disamakan dengan stereotype. proses pewarnaan (tinting) dan suara (sound) (Bignell. seperti yang diutarakan oleh Saussure bahwa sifat yang paling tepat untuk untuk menggambarkan konsep tersebut adalah “ada dalam keberadaannya. Berbagai tanda bahasa yang saling berelasi kemudian akan membentuk teks (text). Film misalnya dapat dianalisis dari berbagai unsur yang ada di dalamnya. Menurut Norman Fairclough. karena semua terbentuk dari relasi (Saussure dalam Berger 2000 : 7). dan menjaganya agar kelihatan alami selamanya. Untuk memahami ideologi dalam representasi ada baiknya kita mengingat kembali konsepsi ideologi yang dikemukakan oleh Althusser. Film. Konsepsi yang dikemukakan oleh Saussure ini kemudian dikembangkan oleh Roland Barthes untuk memahami mitos (myth) yang lahir dari tanda bahasa. 2000 : 171). 1997:187). Istilah “teks” sendiri berasal dari Bahasa Latin texture yang berarti rajutan. majalah dan sebagainya merupakan bagian dari budaya media yang dipenuhi oleh berbagai praktik penandaan (signifying practice). namun sebenarnya representasi jauh lebih kompleks daripada stereotype. menjadi budaya dan mencari arah teks baru tanpa disadari oleh pencipta teks bersangkutan (the author) (Berger. 1994 : 67). nilai apa yang dianutnya dan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain baik dari sudut pandang positif maupun negatif. di mana satu kelompok dioposisikan dengan kelompok yang lain. 1997:16). pencahayaan (lighting). 2000 : 170-175). Semua sisi sebagaimana yang tersebut di atas akan menjalin satu kaitan yang dinamakan sebagai intertekstualitas. yaitu strategi representasi yang dirancang untuk mendesain menetapkan difference. Representasi dalam relasinya dengan ideologi dianggap sebagai kendaraan untuk mentransfer ideologi dalam rangka membangun dan memperluas relasi sosial (Burton. Sehingga tidak ada makna pada dirinya sendiri. Pemahaman ini menyangkut siapa mereka. yaitu posisi kamera (angle). Ide-ide dari Barthes banyak digunakan untuk memahami realitas budaya media kontemporer yang dikonsumsi oleh manusia setiap harinya (Bignell. yaitu mengenai pembedaan antarkelompok sosial. sinetron. Kompleksitas representasi akan terlihat dari unsur-unsurnya yang lain. posisi obyek atau manusia dalam frame. Ada beberapa unsur penting dalam representasi yang lahir dari teks media massa. novel. Pertama adalah stereotype yaitu pelabelan terhadap sesuatu yang sering digambarkan secara negatif. yang dapat dianalisis dari banyak sisi. 2000 : 26). lagu. sehingga teks dapat diartikan sebagai rajutan dari berbagai tanda bahasa yang melahirkan makna-makna. Mitos lahir melalui konotasi tahap kedua di mana rangkaian tanda yang terkombinasikan sebagaimana dalam film disebut sebagai teks (text) akan membentu pemaknaan tingkat kedua (secondary signification) (Thwaites. yaitu pemahaman kita terhadap kelompok yang direpresentasikan. Kelima adalah ideologi.

ANALISIS FRAMING Analisis framing dikembangkan terutama oleh William A. dan menafsirkan pesan yang ia terima. Baudrillard menyatakan pentahapan ini sebagai tahapan dari urutan simbolis. Pada mulanya. Pertama. Dapat berupa roots ataupun dengan memberi klaim moral . Ada dua perangkat bagaimana ide sentral yang merupakan framing diterjemahkan ke dalam teks berita melalui dua cara. Perangkat kedua adalah reasoning devices (perangkat penalaran) yang berhubungan dengan kohesi dan koherensi dari teks tersebut yang merujuk pada gagasan tertentu (Eriyanto. umum dari masa Renaissance ke masa Revolusi Industri. Semua elemen dalam perangkat pembingkai tersebut digunakan untuk memberi citra tertentu atas seseorang atau peristiwa tertentu. Pada tahap kedua. perangkat pembingkai (framing devices) dipakai untuk memberi citra negatif maupun positif terhadap suatu berita atau obyek yang diberitakan. Penggunaan tanda bahasa telah berjalan melalui suatu evolusi dalam masyarakat. 2004 : 225-226). metafora. Citra juga dapat ditekankan dengan melakukan ilustrasi (eksemplaar) • Kedua. tanda bahasa adalah representasi yang sifanya sederhana dari suatu objek atau kondisi. yaitu : • Pertama. yang oleh Baudrillard dinamakan sebagai hiperrealitas. grafis.menyatakan bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari objek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata. kalimat. Media tidak secara mendadak menciptakan kondisi ini. Perangkat framing ini ditandai dengan pemakaian kata. dan grafik/gambar. namun memperburuk suatu kecenderungan yang telah lama berlangsung sepanjang sejarah modern. Gamson melihat wacana media massa (khususnya berita) terdiri dari sejumlah kemasan (package) melalui mana konstruksi atas suatu peristiwa dibentuk. Citra itu juga dilakukan dengan memberi label (depiction) terhadap suatu peristiwa. elemen inti berita (idea element) yaitu ide atau pemikiran yang dikembangkan dalam teks berita itu kemudian didukung dengan simbol tertentu untuk menekankan arti yang hendak dikembangkan dalam teks berita. kalimat. Ketiga. lambanglambang dianggap kurang memiliki relasi langsung dengan benda-benda dalam kehidupan. Gamson. Tanda bahasa mempunyai relasi yang jelas dengan yang obyek yang dilambangkannya. atau pemakaian foto atau aksentuasi gambar tertentu. framing devices (perangkat framing) yang berelasi langsung dengan ide sentral atau bingkai yang ditekankan dalam teks berita. kepalsuan. Ada beberapa komponen yang menjadi alat analisis dalam analisis framing yang dikembangkan oleh Gamson. Kemasan itu merupakan skema atau struktur pemahaman yang dipakai oleh seseorang ketika mengkonstruksi pesan-pesan yang dia sampaikan. umum dalam masyarakat feodal. perangkat penalaran (reasoning devices). Simbol itu dapat diamati dari pemakaian kata.

Sebagai contoh adalah bahwa setiap masyarakat mengenal berbagai strategi kuasa yang menyangkut kebenaran: beberapa diskursus diterima dan disebarluaskan sebagai benar. Dengan begitu. dan dikurangi. Biasanya kuasa dihubungkan dengan orang atau lembaga tertentu. Kedua. malah memungkinkan semua itu. ditambah. parlemen. kekuasaan merupakan sesuatu yang inheren sifatnya dari semua formasi diskursif.tertentu (appeals to principle). Dalam hal ini terdapat institusi-institusi yang menjamin perbedaaan antara yang benar dan tidak benar. kuasa bukanlah milik melainkan strategi. dibagi. Kuasa tidak datang dari luar. di situ kuasa sedang bekerja. institusi agama. disimpan. Berikut ini adalah beberapa pendapat Foucault mengenai kuasa : • Pertama. melainkan bagaimana berfungsinya kuasa pada bidang tertentu. aturan. namun bagi Foucault sedikit sekali yang berhasil mengurai kuasa. kuasa tidak dapat dilokalisasi tetapi ada di mana-mana. sebagaimana diekspresikan dalam bahasa. Kontribusinya dapat dilacak dari pemikirannya mengenai kuasa (power). kekuasaan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan. Pengetahuan tidak berasal dari dari salah satu subyek yang • . Maksudnya kuasa biasanya disamakan dengan milik. sebuah tema yang merupakan topik terpenting dalam khasanah pemikiran Foucault yang kemudian banyak digunakan dalam analisis wacana. ANALISIS WACANA Michel Foucault adalah salah seorang pemikir Prancis yang memberi banyak kontribusi dalam perkembangan analisis wacana (discourse analysis). Ada misalnya analisis Marxian yang banyak mengurai mengenai orang-orang yang berkuasa seperti negara. khususnya aparat negara. Episteme. Maksudnya. relasi-relasi itu dari dalam. masalahnya bukanlah pada apakah itu kuasa. Misalnya. namun tidak menyinggung bagaimana mekanisme kuasa atau strategi kuasa. Kuasa dianggap sebagai sesuatu yang dapat diperoleh. kekuasaan merupakan fungsi wacana atau ilmu dan bukan sebagai properti manusia atau institusi. sistem regulasi. Tapi menurut Foucault strategi kuasa berlangsung di mana-mana. Di mana saja terdapat susunan. Tema seperti inilah yang menjadi fokus perhatian Foucault. di mana saja ada manusia yang mempunyai relasi tertentu sama lain dan dengan dunia luar. Ia tidak menyajikan suatu metafisika mengenai kuasa. Menurut Foucault. Berbagai karya besar Foucault memang berkisar pada subyek kekuasaan. aturan-aturan. Ia ingin menganalisis strategi kuasa yang faktual. Banyak literatur yang sudah ditulis berusaha mengungkap kuasa. Keduanya berpotensi membawa konsekuensi (consequences) mengenai isu berita. tapi satu mikrofisika tentang kuasa. Foucault memberi perhatian ada relasi antara kuasa (power) dengan pengetahuan (knowledge). Tapi dalam pandangan Foucault kuasa tidak dimiliki tapi dipraktekan dalam suatu ruang lingkup di mana ada banyak posisi yang secara strategis berelasi satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran. tetapi menentukan susunan. Selain itu terdapat pula pelbagai aturan dan prosedur untuk memperoleh dan menyebarkan kebenaran Secara khusus. menjamin kekuasaan.

kuasa produktif karena memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan (Bertens. Kuasa memproduksi realitas dengan memproduksi lingkup obyek dan ritus-ritus kebenaran. kuasa tidak selalu bekerja melalui penindasan atau represi. Sebaliknya. Keempat. Tidak mungkin memilih kawasan di luar kawasan strategi kuasa itu sendiri. menindas dan sebagainya. Lebih lanjut dalam pandangan Foucault tidak ada pengetahuan tanpa kuasa dan tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. karena di dalamnya ada kuasa. Yang dimaksudkan oleh Foucault disini adalah bahwa kuasa tidak menghancurkan. pengetahuan tidak merupakan pengungkapan secara samar-samar dari relasirelasi kuasa tetapi pengetahuan berada di dalam relasi kuasa itu sendiri. Selama ini kuasa sering dianggap subyek yang berkuasa (raja. • Menurut Foucault struktur wacana adalah suatu satuan aturan inheren yang menentukan bentuk dan substansi praktek diskursif. Kuasa memroduksi pengetahuan dan bukan saja karena pengetahuan berguna bagi kuasa. dalam pandangan Foucault masyarakat tidak bertanggung jawab dalam membuat kondisi wacana. Inilah yang membedakannya dengan pandangan marxisme yang melihat kuasa sebagai satu proses dialektis. tetapi dari relasi-relasi kuasa yang menandai subyek itu. Menurut pendapat Foucault kuasa tidak bersifat subyektif. Dengan demikian tidak ada pengetahuan yang netral dan murni. Strategi kuasa tidak berjalan melalui jalan penindasan melainkan melalui normalisasi dan regulasi.mengenal. wacanalah memerlukan tempat seseorang dalam skema dunia. yang tentu juga menentukan bentuk wacana yang harus dipakai Berlawanan dengan pendapat yang lebih populer. Pada titik ini terdapat relasi: pengetahuan mengandung kuasa seperti juga kuasa mengandung pengetahuan. ayah. tetapi terutama melalui normalisasi dan regulasi. 2000 : 297 – 325). Aturan-aturan seperti di atas kemudian mampu mengontrol apa yang bisa kita bicarakan atau tuliskan. tetapi masyarakat tidak pernah mendapatkan kedudukan seperti ini sebelumnya di periode yang lain dan dengan sendirinya akan segera kehilangan kedudukan ini. Pengetahuan tidak “mencerminkan” relasi kuasa sebagaimana yang selama ini dikenal dalam pemikiran Marxian. Di jaman kita. membatasi. pemerintah. karena menolak kuasa sendiri termasuk dari strategi kuasa. Struktur diskursif terbaru kita mampu memberi penjelasan mengenai manusia sebagai pondasi dan asal ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus meruakan penolakan Foucault terhadap sebagaian pandangan yang menyatakan bahwa kuasa meruakan sesuatu yang jahat dan harus ditolak. tetapi ide ini merupakan penciptaan bentuk diskursif yang pra dominan di jaman kita. kemudian setelah beberapa syarat terpenuhi ganti B menguasai A. orang diyakini mendapatkan ilmu pengetahuan dan mempunyai kekuasaan. dan aturan-aturan berekspresi dalam komunikasi kita mempunyai ide seperti ini. kuasa tidak bersifat destruktif melainkan produktif. tetapi juga aturan-aturan yang menentukan sifat pengetahuan. kekuasaan. melainkan bekerja secara produktif dan positif. Ringkasnya. Aturan-aturan ini mengontrol apa yang bisa dibicarakan atau dituliskan dan siapa yang boleh bicara atau menulis (atau pembicara yang harus ditanggapi dengan serius). dan etika. • Ketiga. di mana A menguasai B. tetapi malah menghasilkan sesuatu. Di . karena ada kenyataannya kuasa memproduksi realitas. Struktur wacana ini tidak sekedar aturan untuk bagaimana cara berbicara. laki-laki dan kehendak umum) dan subyek itu dianggap melarang. Kuasa juga tidak bekerja secara represif dan negatif.

Foucault berpandangan bahwa seorang analis sudah seharusnya menghindari untuk merelasikan wacana dengan pengarang/penulis karena penulis dalam wacana yang muncul hanya menjalankan fungsi wacana semata dan bukan merupakan instrumen di setiap cara yang fundamental di dalam pembuatan struktur teks yang mereka hasilkan. Studi yang dikerjakan oleh Foucault berkisar pada analisis wacana yang memiliki fungsi untuk melakukan pengungkapan terhadap aturan-aturan dan struktur wacana. kita juga tidak bisa lepas dari konsep ideologi karena setiap makna dari wacana selalu bersifat ideologis (Fairclough dalam Burton. Interpretasi. daripada adanya koherensi. Sehingga. dapat digunakan sebagai contoh mengenai analisis wacana. Dalam formasi diskursif saat itu orang/kriminal dilihat sebagai obyek sentral dalam hubungan politis. atau pemaknaan teks. Tetapi kemudian dalam formasi diskursif yang ada di masa sekarang. Dia menemukan adanya perbedaan yang sangat dramatis di abad 18 dan 19 dari kekejaman dan hukuman publik menjadi pemahaman dan perlindungan kriminal dari penyiksaan tubuh. orang/kriminal kehilangan statusnya. karena kekuasaan lebih menjadi persoalan fisik atau jiwa individu manusianya. seluruh ide-ide yang berbeda tentang pengetahuan dan kekuasaan muncul dari penggunaan wacana.lain waktu. narapidana disiksa atau atau bahkan dieksekusi di depan publik dan bahkan seringkali oleh publik sendiri dan dijadikan sebagai bentuk tontonan. tapi pemaknaan itu seharusnya diminimalisir kerena interpretasi tidak membuka struktur diskursif dan pada kenyataannya malah mengaburkannya. Studi ini menunjukkan perbedaan atau kontradiksi. tidak bisa dihindari dalam analisis teks. Sebelum masa sekarang. Untuk alasan inilah Foucault menitikberatkan deskripsi komparatif lebih dari satu buah wacana. Dalam memahami wacana. Penelitian Foucault tentang sistem hukum dalam karyanya The Birth of Prison. Sangat alami bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melawan orang/kriminal dan bahwa hukuman seharusnya mencakup kesakitan tubuh. wacana sering dimengerti sebagai bahasa yang digunakan dalam merepresentasikan praktik sosial dari sudut pandang tertentu. Archaelogy berusaha mengungkap berbagai aturan-aturan wacana dengan melewati deskripsi yang seksama. 2000 : 31). . Dengan begitu menahan kriminal dilihat sebagai hukuman yang lebih sesuai daripada mencambuk mereka di depan publik. Studi ini oleh Foucault dinamakan archaelogy. dan mengungkap tentang suksesi dari satu bentuk wacana ke wacana yang lain.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->