ANALISIS ISI, ANALISIS SEMIOTIKA, ANALISIS WACANA DAN ANALISIS FRAMING

SUMBER : http://images.andamawara.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SaGYYQoKCDcAAEoKX2Y1/ Untuk%20mengkaji%20isi%20dan%20struktur%20media%20massa.doc?nmid=210670771.

2010

Misalnya saat kita akan melakukan penelitian mengenai kekerasan seksual di tayangan televisi. Kemudian diklasifikasikan agar sesuai dengan definisi yang telah dibuat dan kemudian dihitung. baik aktor maupun artisnya. 1997 :413). Misalnya jika para peneliti ingin meneliti tayangan kekerasan seksual yang dihadirkan televisi. . Misalnya. Sedangkan untuk menganalisis koran atau majalah dapat dilakukan dengan mengukur inchi kolom dari berita yang telah dikategorisasi dalam berbagai kategori berdasarkan tujuan penelitian. kepentingan para editor dan penerbit. misalnya scene di mana terjadi kekerasan seksual. keyakinan. Apakah hal ini dapat didefinisikan sebagai kekerasan seksual ? Bagi beberapa orang bisa jadi ini sudah termasuk kekerasan seksual. kita harus mengadakan penelitian yang melibatkan khalayak. Padahal masih banyak stasiun televisi yang lain. Teknik analisis isi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut. seringkali hanya melihat sampel tayangan yang jumlahnya tidak banyak. sehingga peneliti dapat mengetahui adegan kekerasan seksual per jam dan membandingkannya dengan statistik yang dihasilkan penelitian sebelumnya (Gerbner dan Gross dalam Straubhaar dan Larose. Analisis isi telah sering dipakai dalam mengkaji pesan-pesan media. peneliti memulainya dengan membuat sampel yang sistematis dari isi media. sehingga apakah hasil penelitian representatif atau tidak menjadi sangat dilematis. pada sebuah tayangan komedi ada seorang aktor berkata jorok yang dibumbui kata-kata yang berhubungan dengan seksualitas sembari tertawa dan tersenyum. mencerminkan secara akurat kecenderungan golongan yang bersangkutan). yaitu analisis isi. Keunggulan analisis isi adalah kemampuannya untuk memberi deskripsi mengenai profil media secara mendetail dan menunjukan trend media dalam waktu tertentu. maka jumlah tiga stasiun televisi tersebut sangatlah kecil. maka mereka dapat memilih beberapa tayangan prime time berkaitan dengan isu di atas. kecenderungan pembaca (dengan asumsi bahwa bahan-bahan yang dipublikasikan secara berhasil bagi golongan tertentu. dalam penelitian analisis isi. analisis wacana dan analisis framing. Namun kelemahannya adalah ketidakmampuannya untuk melihat efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak. bisa jadi kita hanya mengambil sampel tayangan prime time dari tiga stasiun televisi terbesar di Indonesia. karena dengan alasan artisnya saja ikut tertawa. ANALISIS ISI Analisis isi (content analysis) dilaksanakan dengan melakukan kuantifikasi terhadap sifat-sifat yang dikandung isi media massa. Untuk meneliti efek media massa terhadap khalayak. ada empat metode yang dapat digunakan sebagai alat penelitian.Untuk mengkaji isi dan struktur media massa. namun bagi yang lain tidak. Pembuatan definisi sebelum melakukan riset juga dapat problematis. apalagi jika kemudian kita juga mempertimbangkan keberadaan stasiun televisi lokal. Kemudian dikembangkan definisi obyektif mengenai “kekerasan seksual”. Karena metode ini pada dasarnya merupakan sebuah metode untuk menguji secara kuantitatif . Selain itu. analisis semiotika.

Bidang ini membantu kita melihat bagaimana tanda-tanda bahasa digunakan untuk menginterpretasi kejadiankejadian dan dapat menjadi alat analisis yang terutama baik untuk menganalisis kandungan dari pesan media. Bagi para ahli semiotika. Pada mulanya semiotika dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Roland Barthes serta kemudian banyak dikembangkan Jean Baudrillard. dan media dalam banyak cara membentuk bagaimana lambang-lambang berfungsi untuk kita. Konsep “cantik” juga tidak memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “jelek”. bawah. suka mengeong dan memiliki cakar yang ditunjukan kata kucing. Konsep “kaya” misalnya. Pendekatan ini berfokus pada cara produsen tanda bahasa (author) membuat tanda bahasa dan cara khalayak memahaminya. kanan ataupun kiri yang menjadi parole yang mereka miliki.SEMIOTIKA Semiotika (semiotic) atau yang juga dikenal sebagai semiologi (semiology) telah menjadi alat analisis yang populer untuk meneliti isi dari media massa dan telah banyak digunakan oleh para mahasiswa ilmu komunikasi dalam meneliti makna dari pesan yang termuat dalam media massa. Relasi keduanya bersifat arbiter (arbitrary) atau diada-adakan. penanda (signifier) dan petanda (signified). sedangkan petanda adalah aspek mental dari tanda bahasa. pesan (massage) dari media massa menjadi bagian terpenting untuk dikaji. Kedua. tanda bahasa (sign) tidak lepas dari beberapa unsur. Namun harus dicatat bahwa konsep tidak didefinisikan pada isi positifnya tetapi negatifnya. dan dasar dari relasi tersebut adalah berlawanan atau oposisi yang bersifat duaan (binary oposition). Saussure memberi anologi bermain catur untuk menjelaskan hal ini. Misalnya tidak ada relasi alamiah antara kata kucing (k-u-c-i-n-g) dengan binatang berkaki empat. Menurut Saussure. Penanda adalah aspek material dari satu tanda bahasa. makanya semiotika generasi ini dikenal sebagai peletak dasar strukturalisme yang banyak dikembangkan oleh Louis Althusser dan Jean Claude LeviStrauss (Bignell. Semiotika memiliki sejarah dengan perkembangan yang cukup panjang dalam abad 21. Untuk lebih jelasnya kita dapat mengambil ilustrasi sebagai berikut. menyusui. berbulu. dan bagi mereka isi media massa adalah produk dari penggunaan tanda-tanda bahasa (sign). tanda bahasa terstruktur dalam langue dan parole. . Hal lain yang tidak bisa dilepaskan dalam kajian semiotika adalah pemikiran Saussure yang menyatakan bahwa konsep memiliki makna disebabkan karena adanya faktor – faktor relasi. 2000 : 7). dan para pemain catur bebas memilih untuk bergerak dalam gerakan L ke atas. Jika bergerak selain L maka kacaulah permainan catur tersebut Aturan yang seperti di atas mengikat tanda bahasa ke dalam suatu struktur. Kuda dalam catur diatur dalam langue dalam bentuk gerak L. Nyaris tidak dapat dipungkiri bahwa tanda bahasa memiliki peran istimewa dalam media. Langue adalah pemakaian bahasa secara umum dan parole adalah pemakaian tanda bahasa secara oleh individu. tidak akan memiliki arti apapun jika tidak ada konsep “miskin”. 1997 : 7-10). salah seorang pemikir posmoderisme yang terkenal. yaitu pertama. melalui relasi-relasinya dengan istilah-istilah lain dalam sistemnya (Berger.

Menurut Norman Fairclough. Berbagai tanda bahasa yang saling berelasi kemudian akan membentuk teks (text). bukan “isi” yang menentukan makna. Ide-ide dari Barthes banyak digunakan untuk memahami realitas budaya media kontemporer yang dikonsumsi oleh manusia setiap harinya (Bignell. Kelima adalah ideologi. Keempat.Dalam kajian semiotika. proses pewarnaan (tinting) dan suara (sound) (Bignell. Sehingga tidak ada makna pada dirinya sendiri. Ketiga adalah pembedaan (difference). 1997:16). seperti yang diutarakan oleh Saussure bahwa sifat yang paling tepat untuk untuk menggambarkan konsep tersebut adalah “ada dalam keberadaannya. posisi obyek atau manusia dalam frame. Ada beberapa unsur penting dalam representasi yang lahir dari teks media massa. pencahayaan (lighting). lagu. sinetron. 2000 : 26). yang dapat dianalisis dari banyak sisi. Selama ini representasi sering disamakan dengan stereotype. naturalisasi (naturalization). Istilah “teks” sendiri berasal dari Bahasa Latin texture yang berarti rajutan. sehingga teks dapat diartikan sebagai rajutan dari berbagai tanda bahasa yang melahirkan makna-makna. namun sebenarnya representasi jauh lebih kompleks daripada stereotype. karena semua terbentuk dari relasi (Saussure dalam Berger 2000 : 7). 1997:187). Representasi dalam relasinya dengan ideologi dianggap sebagai kendaraan untuk mentransfer ideologi dalam rangka membangun dan memperluas relasi sosial (Burton. nilai apa yang dianutnya dan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain baik dari sudut pandang positif maupun negatif. tetapi “relasi-relasi” dalam berbagai sistem. Mitos lahir melalui konotasi tahap kedua di mana rangkaian tanda yang terkombinasikan sebagaimana dalam film disebut sebagai teks (text) akan membentu pemaknaan tingkat kedua (secondary signification) (Thwaites. menjadi budaya dan mencari arah teks baru tanpa disadari oleh pencipta teks bersangkutan (the author) (Berger. novel. Jean Baudrillard kemudian mewacanakan semiotika pascastrukturalisme (poststructuralism) yang . yaitu strategi representasi yang dirancang untuk mendesain menetapkan difference. dan menjaganya agar kelihatan alami selamanya. Pemahaman ini menyangkut siapa mereka. yaitu mengenai pembedaan antarkelompok sosial. 1994 : 67). Kompleksitas representasi akan terlihat dari unsur-unsurnya yang lain. Konsepsi yang dikemukakan oleh Saussure ini kemudian dikembangkan oleh Roland Barthes untuk memahami mitos (myth) yang lahir dari tanda bahasa. di mana satu kelompok dioposisikan dengan kelompok yang lain. Makna inilah kemudian melahirkan representasi (representation). 2000 : 171). Film misalnya dapat dianalisis dari berbagai unsur yang ada di dalamnya. Untuk memahami ideologi dalam representasi ada baiknya kita mengingat kembali konsepsi ideologi yang dikemukakan oleh Althusser. Kedua adalah identity. Semua sisi sebagaimana yang tersebut di atas akan menjalin satu kaitan yang dinamakan sebagai intertekstualitas. Film. yaitu pemahaman kita terhadap kelompok yang direpresentasikan. majalah dan sebagainya merupakan bagian dari budaya media yang dipenuhi oleh berbagai praktik penandaan (signifying practice). 2000 : 170-175). sedang yang lain tidak”. Pertama adalah stereotype yaitu pelabelan terhadap sesuatu yang sering digambarkan secara negatif. representasi dapat secara ideologis mereproduksi relasi sosial yang mengandung eksploitasi dan dominasi (Burton. yaitu posisi kamera (angle). Intertektualitas melibatkan bahan teks dari banyak ragam yang menjadi hal umum dewasa ini.

dan menafsirkan pesan yang ia terima. kalimat. Ada beberapa komponen yang menjadi alat analisis dalam analisis framing yang dikembangkan oleh Gamson. dan grafik/gambar. metafora. Simbol itu dapat diamati dari pemakaian kata. Kemasan itu merupakan skema atau struktur pemahaman yang dipakai oleh seseorang ketika mengkonstruksi pesan-pesan yang dia sampaikan. umum dalam masyarakat feodal. kalimat. Baudrillard menyatakan pentahapan ini sebagai tahapan dari urutan simbolis. elemen inti berita (idea element) yaitu ide atau pemikiran yang dikembangkan dalam teks berita itu kemudian didukung dengan simbol tertentu untuk menekankan arti yang hendak dikembangkan dalam teks berita. ANALISIS FRAMING Analisis framing dikembangkan terutama oleh William A. Penggunaan tanda bahasa telah berjalan melalui suatu evolusi dalam masyarakat. tanda bahasa adalah representasi yang sifanya sederhana dari suatu objek atau kondisi. umum dari masa Renaissance ke masa Revolusi Industri. yaitu : • Pertama. grafis. Ada dua perangkat bagaimana ide sentral yang merupakan framing diterjemahkan ke dalam teks berita melalui dua cara. Tanda bahasa mempunyai relasi yang jelas dengan yang obyek yang dilambangkannya. namun memperburuk suatu kecenderungan yang telah lama berlangsung sepanjang sejarah modern. Citra itu juga dilakukan dengan memberi label (depiction) terhadap suatu peristiwa. yang oleh Baudrillard dinamakan sebagai hiperrealitas. Gamson melihat wacana media massa (khususnya berita) terdiri dari sejumlah kemasan (package) melalui mana konstruksi atas suatu peristiwa dibentuk. 2004 : 225-226). Media tidak secara mendadak menciptakan kondisi ini. Pada tahap kedua. kepalsuan. framing devices (perangkat framing) yang berelasi langsung dengan ide sentral atau bingkai yang ditekankan dalam teks berita. Perangkat kedua adalah reasoning devices (perangkat penalaran) yang berhubungan dengan kohesi dan koherensi dari teks tersebut yang merujuk pada gagasan tertentu (Eriyanto. lambanglambang dianggap kurang memiliki relasi langsung dengan benda-benda dalam kehidupan. perangkat pembingkai (framing devices) dipakai untuk memberi citra negatif maupun positif terhadap suatu berita atau obyek yang diberitakan. Dapat berupa roots ataupun dengan memberi klaim moral . Ketiga. Pertama. Gamson. Perangkat framing ini ditandai dengan pemakaian kata. perangkat penalaran (reasoning devices). Pada mulanya. atau pemakaian foto atau aksentuasi gambar tertentu.menyatakan bahwa tanda bahasa telah semakin terpisah dari objek yang mereka wakili dan bahwa media telah mendorong proses ini ke titik dimana tidak ada sesuatu yang nyata. Citra juga dapat ditekankan dengan melakukan ilustrasi (eksemplaar) • Kedua. Semua elemen dalam perangkat pembingkai tersebut digunakan untuk memberi citra tertentu atas seseorang atau peristiwa tertentu.

Biasanya kuasa dihubungkan dengan orang atau lembaga tertentu. Maksudnya. kekuasaan dan pengetahuan tidak bisa dipisahkan. ANALISIS WACANA Michel Foucault adalah salah seorang pemikir Prancis yang memberi banyak kontribusi dalam perkembangan analisis wacana (discourse analysis). kuasa bukanlah milik melainkan strategi. Kedua. Menurut Foucault. Berikut ini adalah beberapa pendapat Foucault mengenai kuasa : • Pertama. kekuasaan merupakan fungsi wacana atau ilmu dan bukan sebagai properti manusia atau institusi. sebagaimana diekspresikan dalam bahasa. namun bagi Foucault sedikit sekali yang berhasil mengurai kuasa. di mana saja ada manusia yang mempunyai relasi tertentu sama lain dan dengan dunia luar. Dalam hal ini terdapat institusi-institusi yang menjamin perbedaaan antara yang benar dan tidak benar. Maksudnya kuasa biasanya disamakan dengan milik. Banyak literatur yang sudah ditulis berusaha mengungkap kuasa. aturan. Dengan begitu. Pengetahuan tidak berasal dari dari salah satu subyek yang • . ditambah. aturan-aturan. masalahnya bukanlah pada apakah itu kuasa. tapi satu mikrofisika tentang kuasa. parlemen. Sebagai contoh adalah bahwa setiap masyarakat mengenal berbagai strategi kuasa yang menyangkut kebenaran: beberapa diskursus diterima dan disebarluaskan sebagai benar. Kuasa tidak datang dari luar. Ia tidak menyajikan suatu metafisika mengenai kuasa. kuasa tidak dapat dilokalisasi tetapi ada di mana-mana. Keduanya berpotensi membawa konsekuensi (consequences) mengenai isu berita. malah memungkinkan semua itu. Ia ingin menganalisis strategi kuasa yang faktual. dibagi. Ada misalnya analisis Marxian yang banyak mengurai mengenai orang-orang yang berkuasa seperti negara. Tapi menurut Foucault strategi kuasa berlangsung di mana-mana. di situ kuasa sedang bekerja. menjamin kekuasaan. Episteme. Misalnya. tetapi menentukan susunan. namun tidak menyinggung bagaimana mekanisme kuasa atau strategi kuasa. Berbagai karya besar Foucault memang berkisar pada subyek kekuasaan. disimpan. khususnya aparat negara. Di mana saja terdapat susunan. Tema seperti inilah yang menjadi fokus perhatian Foucault. relasi-relasi itu dari dalam. melainkan bagaimana berfungsinya kuasa pada bidang tertentu. Tapi dalam pandangan Foucault kuasa tidak dimiliki tapi dipraktekan dalam suatu ruang lingkup di mana ada banyak posisi yang secara strategis berelasi satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran. kekuasaan merupakan sesuatu yang inheren sifatnya dari semua formasi diskursif. Kontribusinya dapat dilacak dari pemikirannya mengenai kuasa (power).tertentu (appeals to principle). Selain itu terdapat pula pelbagai aturan dan prosedur untuk memperoleh dan menyebarkan kebenaran Secara khusus. institusi agama. dan dikurangi. sebuah tema yang merupakan topik terpenting dalam khasanah pemikiran Foucault yang kemudian banyak digunakan dalam analisis wacana. Kuasa dianggap sebagai sesuatu yang dapat diperoleh. sistem regulasi. Foucault memberi perhatian ada relasi antara kuasa (power) dengan pengetahuan (knowledge).

Kuasa memproduksi realitas dengan memproduksi lingkup obyek dan ritus-ritus kebenaran. Kuasa memroduksi pengetahuan dan bukan saja karena pengetahuan berguna bagi kuasa. Di . Lebih lanjut dalam pandangan Foucault tidak ada pengetahuan tanpa kuasa dan tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. karena ada kenyataannya kuasa memproduksi realitas. 2000 : 297 – 325). kuasa produktif karena memungkinkan segala sesuatu dapat dilakukan (Bertens. Aturan-aturan ini mengontrol apa yang bisa dibicarakan atau dituliskan dan siapa yang boleh bicara atau menulis (atau pembicara yang harus ditanggapi dengan serius). pemerintah. tetapi masyarakat tidak pernah mendapatkan kedudukan seperti ini sebelumnya di periode yang lain dan dengan sendirinya akan segera kehilangan kedudukan ini. Menurut pendapat Foucault kuasa tidak bersifat subyektif. Strategi kuasa tidak berjalan melalui jalan penindasan melainkan melalui normalisasi dan regulasi. Ringkasnya. Struktur diskursif terbaru kita mampu memberi penjelasan mengenai manusia sebagai pondasi dan asal ilmu pengetahuan. karena di dalamnya ada kuasa. menindas dan sebagainya. Keempat. karena menolak kuasa sendiri termasuk dari strategi kuasa. dalam pandangan Foucault masyarakat tidak bertanggung jawab dalam membuat kondisi wacana. di mana A menguasai B. Aturan-aturan seperti di atas kemudian mampu mengontrol apa yang bisa kita bicarakan atau tuliskan. tetapi malah menghasilkan sesuatu. orang diyakini mendapatkan ilmu pengetahuan dan mempunyai kekuasaan. Tidak mungkin memilih kawasan di luar kawasan strategi kuasa itu sendiri. ayah. wacanalah memerlukan tempat seseorang dalam skema dunia. Di jaman kita. • Menurut Foucault struktur wacana adalah suatu satuan aturan inheren yang menentukan bentuk dan substansi praktek diskursif. kemudian setelah beberapa syarat terpenuhi ganti B menguasai A. Sebaliknya. kekuasaan. pengetahuan tidak merupakan pengungkapan secara samar-samar dari relasirelasi kuasa tetapi pengetahuan berada di dalam relasi kuasa itu sendiri. Yang dimaksudkan oleh Foucault disini adalah bahwa kuasa tidak menghancurkan. laki-laki dan kehendak umum) dan subyek itu dianggap melarang. Inilah yang membedakannya dengan pandangan marxisme yang melihat kuasa sebagai satu proses dialektis. tetapi juga aturan-aturan yang menentukan sifat pengetahuan. tetapi terutama melalui normalisasi dan regulasi. • Ketiga. kuasa tidak selalu bekerja melalui penindasan atau represi. kuasa tidak bersifat destruktif melainkan produktif. melainkan bekerja secara produktif dan positif. membatasi.mengenal. Pengetahuan tidak “mencerminkan” relasi kuasa sebagaimana yang selama ini dikenal dalam pemikiran Marxian. yang tentu juga menentukan bentuk wacana yang harus dipakai Berlawanan dengan pendapat yang lebih populer. dan aturan-aturan berekspresi dalam komunikasi kita mempunyai ide seperti ini. Struktur wacana ini tidak sekedar aturan untuk bagaimana cara berbicara. Selama ini kuasa sering dianggap subyek yang berkuasa (raja. tetapi ide ini merupakan penciptaan bentuk diskursif yang pra dominan di jaman kita. Dengan demikian tidak ada pengetahuan yang netral dan murni. tetapi dari relasi-relasi kuasa yang menandai subyek itu. Pada titik ini terdapat relasi: pengetahuan mengandung kuasa seperti juga kuasa mengandung pengetahuan. dan etika. Hal ini sekaligus meruakan penolakan Foucault terhadap sebagaian pandangan yang menyatakan bahwa kuasa meruakan sesuatu yang jahat dan harus ditolak. Kuasa juga tidak bekerja secara represif dan negatif.

narapidana disiksa atau atau bahkan dieksekusi di depan publik dan bahkan seringkali oleh publik sendiri dan dijadikan sebagai bentuk tontonan. Untuk alasan inilah Foucault menitikberatkan deskripsi komparatif lebih dari satu buah wacana. Tetapi kemudian dalam formasi diskursif yang ada di masa sekarang. Studi yang dikerjakan oleh Foucault berkisar pada analisis wacana yang memiliki fungsi untuk melakukan pengungkapan terhadap aturan-aturan dan struktur wacana. Interpretasi. Dia menemukan adanya perbedaan yang sangat dramatis di abad 18 dan 19 dari kekejaman dan hukuman publik menjadi pemahaman dan perlindungan kriminal dari penyiksaan tubuh. Dalam memahami wacana. 2000 : 31). Sangat alami bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melawan orang/kriminal dan bahwa hukuman seharusnya mencakup kesakitan tubuh. wacana sering dimengerti sebagai bahasa yang digunakan dalam merepresentasikan praktik sosial dari sudut pandang tertentu. dan mengungkap tentang suksesi dari satu bentuk wacana ke wacana yang lain. dapat digunakan sebagai contoh mengenai analisis wacana. Dengan begitu menahan kriminal dilihat sebagai hukuman yang lebih sesuai daripada mencambuk mereka di depan publik.lain waktu. Penelitian Foucault tentang sistem hukum dalam karyanya The Birth of Prison. . seluruh ide-ide yang berbeda tentang pengetahuan dan kekuasaan muncul dari penggunaan wacana. tapi pemaknaan itu seharusnya diminimalisir kerena interpretasi tidak membuka struktur diskursif dan pada kenyataannya malah mengaburkannya. Foucault berpandangan bahwa seorang analis sudah seharusnya menghindari untuk merelasikan wacana dengan pengarang/penulis karena penulis dalam wacana yang muncul hanya menjalankan fungsi wacana semata dan bukan merupakan instrumen di setiap cara yang fundamental di dalam pembuatan struktur teks yang mereka hasilkan. Dalam formasi diskursif saat itu orang/kriminal dilihat sebagai obyek sentral dalam hubungan politis. orang/kriminal kehilangan statusnya. tidak bisa dihindari dalam analisis teks. karena kekuasaan lebih menjadi persoalan fisik atau jiwa individu manusianya. Archaelogy berusaha mengungkap berbagai aturan-aturan wacana dengan melewati deskripsi yang seksama. Sebelum masa sekarang. Studi ini oleh Foucault dinamakan archaelogy. atau pemaknaan teks. Studi ini menunjukkan perbedaan atau kontradiksi. kita juga tidak bisa lepas dari konsep ideologi karena setiap makna dari wacana selalu bersifat ideologis (Fairclough dalam Burton. Sehingga. daripada adanya koherensi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful