TUGAS MAKALAH HUKUM TATA NEGARA KELAS D

KAJIAN MENGENAI EKSISTENSI DPD SEBAGAI SALAH SATU LEMBAGA NEGARA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009/2010

DAFTAR ISI

Mengingat DPD adalah lembaga yang paling dekat dengan masyarakat sekaligus sebagai jembatan penghubung suara masyarakat daerah dengan pemerintah pusat. Surakarta. 2 April 2010 Penulis .KATA PENGANTAR Makalah yang berjudul “EKSISTENSI DPD” ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Tata Negara . untuk itu sangat diharapkan pula kritik dan saran yang dapat membantu pembuatan makalah yang lebih baik. Penulis berterima kasih pada seluruh anggota kelompok yang bekerjasama dan pihak-pihak lain yang telah mendukung dan memberikan kontribusi sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Semoga kajian ini dapat memberikan manfaat. Penulis berharap makalah ini dapat memenuhi kriteria persyaratan yang telah ditetapkan. Masih banyak kekurangan yang ada di dalam penulisan makalah ini. Judul ini dipilih berdasarkan keinginan untuk mengetahui bagaimana kiprah DPD sebagai lembaga negara dan hubungan DPD terhadap lembaga negara lainnya khususnya dengan DPR dan MPR.

Walaupun masih dianggap lembaga baru dasar legitimasi demokratisnya sangat kuat karena anggotanya dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu demokratis. tapi tidak ikut memutuskan undang-undang. tidak ada lembaga yang kedudukannya lebih tinggi dari lembaga lain. dan bahkan diangkat. DPD memiliki kedudukan yang sejajar dengan lembaga negara lainnya. tapi tidak punya wewenang untuk ikut memutuskan dalam proses legislasi. Keadaan ini sangat bertentangan dengan pola umum tentang lembaga demokrasi yang setara dengan “DPD” di dunia. Namun demikian hak dan tanggung jawab atau wewenang DPD dalam konstitusi sekarang dibuat tidak mampu merespon aspirasi mereka.BAB I PENDAHULUAN A. Untuk itulah perlu adanya kajian mengenai kewenangan DPD ini agar kedepannya kita bisa mengikuti perkembangan ketatanegaran Indonesia khususnya terhadap Lembaga-lembaga Negara dan mungkin dapat meberikan sumbangsih terhadap wawasan masyarakat tentang Lembaga Negara. Sebab kalau dipertahankan dengan keadaan DPD yang tak punya wewnang legislasi seperti sekarang prinsip demokrasi diingkari. Kalau tidak diberi wewenang legislasi seharusnya lembaga demokrasi semacam DPD itu tidak ada dalam tata negara kita. DPD dalam konstitusi sekarang dibatasi wewenangnya hanya memberikan masukan kepada DPR. LATAR BELAKANG DPD adalah sebuah lembaga demokrasi Indonesia. B. tapi lemah secara substantif. karena sejak mengalami amandemen UUD 1945 kita memiliki delapan lembaga negara yang kedudukannya sejajar. misalnya dipilih oleh anggota DPR. di mana lembaga seperti DPD punya wewenang legislasi meskipun tidak dipilih langsung oleh rakyat. RUMUSAN MASALAH . DPD hanya memberi masukan kepada DPD. DPRD. yakni tak punya wewenang yang kuat dalam proses legislasi. Ada cacat demokratis dalam konsitusi kita: Ada wakil rakyat yang dipilih langsung secara demokrtais tapi tidak punya wewenang dalam legislasi.Padahal kita tahu DPD membawa pesan dari rakyat di daerah. Dalam konstitusi kita. secara prosedural demokratis kita punya DPD yang kuat.

Bagaimana kedudukan DPD sebagai salah satu lembaga negara? 3. dan MPR? 4. Bagaimana hubungan antara DPD. TUJUAN 1. Mengetahui bagaimanakah sejarah terbentuknya DPD 2. DPR.1. Mengetahui solusi atau cara untuk memperkuat kedudukan DPD BAB II PEMBAHASAN . Mengetahui hubungan antara DPD dengan lembaga negara lainnya khususnya DPR dan MPR 4. Adakah cara yang bisa ditempuh untuk memperkuat kedudukan DPD? C. Mengetahui kedudukan DPD sebagai lembaga negara 3. Bagaimana awal terbentuknya DPD? 2.

Jauh hari sebelumnya. Utrecht. yaitu dua orang untuk setiap negara bagian. (1992). 2 . sebagai Majelis Rendah. Sejarah Terbentuknya DPD Di Indonesia. dalam Bambang Subianto et. Senat mewakili daerah-daerah bagian dengan jumlah yang sama.(2002). usaha Konstituante tidak dapat diselesaikan secara tuntas karena Constitutional Assembly yang dibentuk berdasarkan hasil Pemilihan Umum Tahun 1955 dibubarkan Presiden Soekarno sebelum masa tugasnya berakhir. Dalam Bab III Ketentuan Umum KRIS 1949 disebutkan bahwa Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat adalah alat perlengkapan federal Republik Indonesia Serikat.1.. sistem bikameral tetap menjadi salah satu opsi bentuk lembaga perwakilan rakyat. Buktinya. Menggagas Ulang Prinsip-prinsip Lembaga Kepresidenan.1 Sayangnya. pembentukan DPD yang merupakan bagian dari sistem bikameral atau sistem “dua kamar” sudah disepakati menjadi model sistem perwakilan Indonesia. Sidang Tahunan MPR 2001 berhasil mencapai kesepakatan mendasar untuk membentuk “kamar kedua” setelah DPR di lembaga perwakilan rakyat dengan sebutan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Sebagai Majelis Tinggi. Rijksuniversiteit. Sementara itu.). 2 Gagasan sistem bikameral yang mengalami mati suri sekitar empat dasawarsa kembali menemukan momentum seiring dengan kuatnya desakan untuk melakukan reformasi total terhadap UUD 1945 pada awal era Reformasi. 1 Adnan Buyung Nasution. dukungan terhadap sistem bikameral belum punah. ketika berlaku Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) 1949. wacana pembentukan DPD bukan hanya perdebatan yang muncul selama era Reformasi.Seputar Sistem Bikameral. Buktinya. DPR mewakili seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari 150 anggota. dalam upaya membuat konstitusi baru yang dilakukan oleh Konstituante (1956-1959). CPPS Paramadina dan Partnership for Governance Reform in Indonesia. Kevin Evans. pada tanggal 17 Agustus 1950 negara serikat dibubarkan dan KRIS 1949 diganti dengan UUD Sementara 1950. The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: A Socio-Legal Study of Indonesian Konstituante 1956-1959.al (edit. berdasarkan Pasal 80 KRIS. Jakarta. Meskipun negara RIS hanya berumur sekitar delapan bulan. AWAL TERBENTUKNYA DPD 1.

4 Meskipun tidak menyebut secara eksplisit. d. a. dengan adanya dua majelis di suatu negara dapat menguntungkan karena dapat menjamin semua produk legislatif dan tindakantindakan pengawasan dapat diperiksa dua kali (double check).). dalam Maruto MD dan Anwari WMK (edit. Reformasi Politik dan Kekuatan Masyarakat. Jakarta. yaitu distribusi penduduk Indonesia menurut wilayah sangat timpang dan terlampau besar terkonsentrasi di Pulau Jawa. menetapkan APBN. Keunggulan sistem double check ini semakin terasa apabila Senat yang memeriksa dan merevisi suatu rancangan itu memiliki Ramlan Surbakti.2. dan lain-lain). mekanisme chekcs and balances di antara kedua kamar/majelis dapat berjalan lebih seimbang. Hal ini merupakan salah satu faktor untuk menguatkan persatuan. (2002). Kendala dan Peluang Menuju Demokrasi. (2003b) . Wakil daerah menjadi bagian yang melaksanakan fungsi parlemen (membentuk undangundang.3 Sejalan dengan Ramlan Surbakti. c. 3 4 Bagir Manan. Kepentingan golongan diwakili dan disalurkan melalui unsur yang langsung mewakili seluruh rakyat. bukan soft bicameralism yang menjadikan satu kamar atau majelis mempunyai kekuatan lebih ketimbang yang lainnya. ada beberapa pertimbangan Indonesia mengadopsi sistem bikameral yang masing-masing mewadahi keterwakilan yang bebeda. Terkait dengan hali ini. Penyederhanaan sistem badan perwakilan. b. serta sejarah Indonesia menunjukkan aspirasi kedaerahan sangat nyata dan mempunyai basis materil yang sangat kuat yaitu dengan adanya pluralisme daerah otonom seperti daerah istimewa dan otonomi khusus. Tidak perlu menunggu atau bergantung pada satu badan seperti DPR sekarang. Biasanya. Seperti diutarakan Montesquieu. kedua pendapat di atas menghendaki sistem bikameral dengan kewenangan yang relatif berimbang antara kedua kamar/majelis di lembaga perwakilan rakyat (strong bicameralism). menghindari disintegrasi. Tidak diperlukan utusan golongan. Segala tugas dan wewenang dapat dilakukan setiap unsur. Sistem dua kamar akan lebih produktif. Menuju Demokrasi Konstitusional: Reformasi Hubungan dan Distribusi Kekuasaan. Bagir Manan memandang ada beberapa pertimbangan bagi Indonesia menuju sistem dua kamar. Jimly Asshiddiqie menambahkan. Dengan demikian segala kepentingan daerah terintegrasi dan dapat dilaksanakan sehari-hari dalam kegiatan parlemen. dengan strong bicameralism. mengawasi pemerintah. Bikameral Di Indonesia Menurut Ramlan Surbakti. sistem dua kamar merupakan suatu mekanisme checks and balances antara kamar-kamar dalam satu badan perwakilan. LP3ES. Hanya ada satu badan perwakilan tingkat pusat yang terdiri dari dua unsur yaitu unsur yang langsung mewakili seluruh rakyat dan unsur yang mewakili daerah.

27 Tahun 2009 ) Sistem demokrasi yang hendak dibangun usai perubahan UUD 1945 menyangkut keanggotaan MPR yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). (1996). Artinya. DPD dapat mengajukan RUU kepada DPR yang berkaitan dengan 1) otonomi daerah.keanggotaan yang komposisinya berbeda dari DPR. Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. susunan dan kedudukan DPD ditentukanoleh DPR dan Presiden. dan kewajiban kedua dewan ini berbeda. DPD sama sekali tidak memunyai kekuasaan apa-apa. kedudukan DPD berada di bawah DPR dan Presiden. kekuasaan. yaitu melalui Senat dan DPR. Secara implisit. dan 22E ayat 2). Intrans dan Asosiasi Pengajar HTN dan HAN Jawa Timur. sistem bikameral bukan hanya merujuk adanya dua dewan dalam suatu negara. Kedudukan DPD DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara( Pasal 222 UU NO. KEDUDUKAN DPD SEBAGAI LEMBAGA NEGARA 1. 2) hubungan pusat dan daerah. 19 ayat 1. 4) pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Keduanya dipilih lewat pemilu (Pasal 2 ayat 1. 2. Sekalipun dipilih lewat pemilu. 5) perimbangan keuangan pusat dan daerah (22D ayat 1) Jimly Asshiddiqie. Karenanya.5 Bahkan menurut Soewoto Mulyosudarmo. ditegaskan sistem dua kamar memungkinkan untuk mencegah pengesahan undangundang yang cacat atau ceroboh. Universitas Indonesia Press.6 Dengan adanya kamar kedua. mengingat setiap rancangan undang-undang (RUU) dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (20 ayat 2). Anggota DPD dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota DPD itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR (22C ayat 2). Pembaruan Ketatanegaraan Melalui Perubahan Konstitusi. 3) pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (2004). 27 Tahun 2009 ) DPD terdiri atas wakil daerah provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum (Pasal 221 UU NO. Surabaya. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah. dan 22C ayat 1. Jakarta. monopoli proses legislasi dalam satu kamar dapat dihindari. 6 . fungsi. 5 Soewoto Mulyosudarmo. Asas ketidaksetaraan DPR dan DPD terbaca dari susunan dan kedudukan DPD yang diatur dengan UU (22C ayat 3). hak.Untuk menentukan susunan dan kedudukan itu. tetapi dilihat pula dari proses pembuatan undang-undang yang melalui dua dewan atau kamar.

Pemberian pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. yang syarat-syarat dan tata caranya diatur dalam UU (22D ayat 4). hubungan pusat dan daerah. pajak. Bisa juga diinterpretasikan bahwa DPD adalah subordinat dari parpol yang terpilih menjadi Presiden/Wakil Presiden (Wapres) dan DPR dalam hubungan hierarki dan oligopoli. . Artinya. kedudukan DPD bisa kuat ketika menjalankan haknya sebagai anggota MPR. Ikut dalam pembahasan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. atau upaya memperkuat civil society lewat konstitusi. dan d. Sekalipun begitu. kedudukan. Pengajuan usul kepada DPR mengenai rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. Dari pasal-pasal di atas. hubungan pusat dan daerah. DPR dan Presiden bisa mengatur pemberhentian anggota DPD. Apabila sepertiga anggota MPR dari DPD sepakat untuk mengubah arah desentralisasi. Pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. pembentukan. Begitu pula menyangkut perkembangan civil society. betapa berbeda UUD nantinya. pemekaran dan penggabungan daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. memberhentikan Presiden/Wapres atas usul DPR setelah melewati proses dalam Mahkamah Konstitusi (7B ayat 7). pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. hubungan negara dengan civil society. pelaksanaan APBN. dan agama. dan pemberhentian anggota DPD. pendidikan. dan agama. atau memperkuat wewenang DPD. apabila DPR dan Presiden berasal dari kalangan partai politik (parpol) (6A ayat 2 dan 22E ayat 3). c. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. baik dalam mengubah dan menetapkan UUD (3 ayat 1). anggota DPD dapat diberhentikan dari jabatannya. Jelas sekali. terlihat DPD hanyalah weak chamber di bawah DPR dan Presiden dalam hal legislasi. fungsi DPD adalah sbb: a. pembentukan. Ketiadaan hak legislasi DPD menyebabkan kepentingan parpol bias mengatur susunan.Selain itu. dan mampu memengaruhi anggota DPR. pendidikan. pemekaran dan penggabungan daerah. melantik Presiden/Wapres (3 ayat 2). b. Fungsi dan Wewenang DPD Berdasarkan Pasal 223 UU No. peserta pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan (22E ayat 4). hubungan pusat dan daerah. 2. mengingat keanggotaan DPD yang tidak boleh dari parpol. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. 27 Tahun 2009 tentang Parlemen.

2. pendidikan. memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. dan i. ikut serta dalam penyusunan program legislasi nasional yang berkaitan dengan otonomi daerah. yaitu : a. HUBUNGAN ANTARA DPD. f. ikut membahas bersama DPR dan Presiden rancangan undang-undang yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a. dan pengawasan tidak saja berakibat pada melemahkan fungsi legislasi presiden tetapi memunculkan superioritas fungsi legislasi DPR terhadap . dan agama. h. hubungan pusat dan daerah. c. pembentukan. e. Perubahan Pasal 20 Ayat (1) UUD 1945 dari tiap undang-undang menghendaki persetujuan DPR menjadi DPR mempunyai kekuasaan membentuk undang-undang dan penambahan Pasal 20A Ayat (1) bahwa DPR memiliki fungsi legislasi. pemekaran. dan penggabungan daerah. pelaksanaan APBN. b. Antara DPD dan DPR Berikut dapat membuktikan superioritas DPR atas DPD. dan sumber daya ekonomi lainnya. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. d. pajak. pendidikan. hubungan pusat dan daerah. g. hubungan pusat dan daerah. dan penggabungan daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. 27 Tahun 2009. hubungan pusat dan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. pengelolaan sumber daya alam. menerima hasil pemeriksaan atas keuangan negara dari BPK sebagai bahan membuat pertimbangan kepada DPR tentang rancangan undang-undang yang berkaitan dengan APBN.Tugas dan wewenang DPD sesuai dengan UU No. ikut membahas bersama DPR dan Presiden rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR. DPR. dan MPR 1. memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota BPK. pembentukan. dan agama. dapat mengajukan kepada DPR rancangan undangundang yang berkaitan dengan otonomi daerah. dan agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. dalam fungsi legislasi. pelaksanaan undangundang APBN. pemekaran. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. pajak. fungsi anggaran. Pertama. pendidikan. antara lain : a. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a.

pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Oleh karena itu. baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. dan menetapkan anggaran seperti DPR. dalam fungsi anggaran. maka MPR akan menyelenggarakan sidang untuk memutus usul DPR. dalam fungsi anggaran DPD juga mempunyai fungsi anggaran yang sangat terbatas yaitu terbatas pada memberikan pertimbangan kepada DPR dalam proses pembahasan rancangan undang-undang APBN. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam Pasal 22D Ayat (1) dan (2) UUD 1945 tidak cukup untuk mengatakan bahwa DPD mempuyai fungsi legislasi. … memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden 8 . Pasal 7B Ayat (7) UUD 1945 menentukan. b. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. 7 Pasal 7A UUD 1945 menyatakan. dan memutus pendapat DPR apabila presiden dan wakil presiden tidak lagi memenuhi ketentuan yang terdapat dalam Pasal 7A UUD 1945. Pasal 22D Ayat (2) UUD 1945 menyatakan. Untuk itu. fungsi legislasi harus dilihat secara utuh yaitu dimulai dari proses pengajuan sampai menyetujui sebuah rancangan undang-undang menjadi undang-undang. (2002).8 Berdasarakan Pasal 7B Ayat (1) sampai Ayat (6) UUD 1945. Antara DPD dan MPR Ketidakseimbangan antara DPD dan DPR juga dapat dicermati dalam proses pemberhantian presiden dan/atau wakil presiden di tengah masa jabatannya (impeachment). penyuapan. korupsi. dalam fungsi pengawasan pun DPD mempunyai kewenangan yang sangat terbatas7 sesuai dengan Pasal 22D Ayat (3) UUD 1945. Jakarta. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. mengubah. hubungan pusat dan daerah. Ketiga. fungsi pengawasan. keputusan MPR atas usul pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurangkurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. tindak pidana berat lainnya. pertimbangan hanyalah sebagian kecil saja penggunaan hak dalam fungsi anggaran. ruang untuk dapat mengajukan dan ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. mempertimbangkan. c. Kalau Mahkamah Konstitusi membenarkan pendapat DPR.DPD. Jimly Asshiddiqie. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia. Tidak berbeda dengan fungsi legislasi dan fungsi anggaran. hasil itu disampaikan kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. DPD diberi kewenangan untuk mengusulkan. Kemudian. Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat. Padahal. Bagaimanapun. 2. Semestinya. usul pemberhentian dapat diajukan kepada MPR dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa. Kedua. Sama dengan fungsi legislasi. mengadili.

publik umumnya (73%) mendukung gagasan dilakukannya perubahan atau amandemen UUD yang berkaitan dengan DPD agar DPD punya wewenang legislatif yang sejajar dengan DPR yang berkaitan dengan kepentingan daerah. konstitusi menyatakan bahwa bahwa MPR terdiri dari anggota-anggota DPR dan DPD.12 3. Dasar moralnya Pasal 17 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR.Kalau ditelaah ketentuan kuorum yang dalam proses impeachment di MPR. anggota DPD dari setiap provinsi ditetapkan sebanyak empat orang. Hasil Survei LSI Berikut adalah beberapa temuan LSI mengenai DPD : Dari survei ini ditemukan bahwa tingkat kepercayaan publik pada peran dan penilaian publik atas kinerja DPD sama dengan pada DPR. (2004). Seandainya interpretasi konstitusi dipaksakan bahwa MPR ada apabila ada anggota DPR dan DPD yang hadir sekaligus. DPRD Provinsi. Publik menghendaki agar dalam UUD kita dinyatakan bahwa DPD. MEMPERKUAT KEDUDUKAN DPD 1. Umumnya warga percaya pada dua lembaga ini. DPD punya legitimasi demokratik prosedural yang jauh lebih kuat ketimbang DPR. dan umumnya menilai bahwa kedua lembaga ini bekerja baik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Saat ini jumlah anggota DPR 550 orang9 dan anggota DPD 128 orang10. punya wewenang untuk membuat dan memutuskan UU yang berkaitan dengan kepentingan daerah. Hal yang sama juga berlaku dalam proses perubahan UUD 1945. http://www. 18 April 2005. Pasal 33 Ayat (1) UU Susduk menyatakan. 10 Refly Harun.com/news/2004/5/18/Opini/48. impeachment dapat dilakukan tanpa melibatkan DPD karena jumlah anggota DPR yang 550 orang sudah lebih dari ¾ jumlah anggota MPR hanya berjumlah 508 orang.korantempo. anggota DPR berjumlah 550 orang. maka jumlah anggota DPD 32x4 orang yaitu 128 orang. Berarti anggota MPR berjumlah 678 orang. menurut Refly Harun lagi. Penguatan peran DPD. DPRD Kabupaten/Kota (UU Susduk) menyatakan. tapi juga punya dasar moral dan intelektual yang kuat.11 Celakanya. DPR. Memperkuat Dewan Perwakilan Daerah. Jakarta. Kemudian. Karena itu. dalam Koran Tempo. bukan saja benar secara demokratik. kehadiran DPD dalam MPR tidak bersifat kelembagaan. Cara memilih anggota DPD dipandang lebih baik dibanding cara memilih anggota DPR untuk mewakili kepentingan pemilih.Yang sangat berbeda adalah legitimasi demokratik prosedural terhadap DPD dan DPR. peran DPD dapat diabaikan. tanpa kehadiran anggota DPD maka forum MPR tidak absah. Artinya. Menurut Refly Harun. 9 Pasal 22D Ayat (2) UUD 1945 menyatakan. DPD.html 11 12 Ibid . anggota DPD dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota DPD itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. melainkan perseorangan. Karena jumlah provinsi 32. cukup bagi DPR untuk seorang saja anggota DPD agar forum MPR menjadi sah. dan karena itu sulit untuk menolak gagasan tersebut. seperti halnya DPR.

Perubahan lanjutan dilakukan agar UUD 1945 terus menjadi living and working constitution. karena DPD hanya untuk memberi pertimbangan. Ada kaitan yang kuat dalam hubungan antara bikameralisme dan sistem politik desentralisasi dalam hubungan pusat dan daerah (Lijphart 1996). Wacana Amandemen Kelima UUD 1945 Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) telah dilaksanakan empat kali dalam periode 1999-2002 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). yaitu fungsi parlemen yang dijalankan oleh dua kamar secara berimbang (balance) dalam proses legislasi maupun pengawasan. DPD tidak kalah memprihatinkan jika dibandingkan dengan fungsi legislasi. Pelibatan itu menjadi sebuah keniscayaan karena rekrutmen jabatan publik yang hanya dilakukan oleh DPR amat mungkin bias kepentingan politik partai politik. bikameralisme. dibanding anggota DPR. diharapkan fungsinya sebagai penyeimbang DPR dapat dilaksanakan dengan lebih efektif. jika DPD diberi ruang yang cukup dalam proses rekrutmen jabatan publik. Dari ketentuan tersebut jelas terlihat bahwa sistem bikameral yang dituangkan dalam UUD 1945 hasil amandemen tidak sesuai dengan prinsip bikameral yang umum dalam teoriteori ketatanegaraan. . dan fungsi anggaran di atas. perubahan tetap perlu diteruskan untuk menyempurnakan hukum dasar bernegara. 2. UUD 1945 secara eksplisit telah memangkas penggunaan fungsi legislasi oleh DPD. kepentingan politik partai di DPR bisa diimbangi oleh DPD. Seolah-olah DPD hanya berposisi sebagai Dewan Pertimbangan DPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.adalah bahwa anggota DPD mendapat legitimasi demokratis sangat kuat untuk mewakili rakyat. Setelah Perubahan Pertama hingga Keempat dilakukan. Begitu juga ketentuan yang sama dijabarkan lebih lanjut dalam undang-undang turunannya. Dengan adanya amandemen kelima. DPD seharusnya dilibatkan dalam proses rekrutmen jabatan publik. Wewenang DPD terbatas dan sempit. Oleh karenanya. namun juga bisa ikut memberi persetujuan dan putusan terhadap RUU tersebut. Karena DPD lebih mengerti segala permasalahan yang ada di daerah karena mereka sebagai representasi daerah. Pasal 20 ayat (1) dan 20 A ayat (1) menentukan bahwa kekuasaan membuat undang-undang (legislasi) hanya dimiliki oleh DPR. dalam konteks otonomi daerah atau desentrasilisasi dalam hubungan pusat dan daerah. Memperluas kewenangan DPD memang merupakan keharusan. Artinya. adanya dua lembaga legislatif. lembaga ini tidak memiliki wewenang membentuk undang-undang bersama-sama dengan DPR dan Presiden. Namun. yaitu harus terlebih dahulu melakukan amandemen UUD 1945. Sebagai contoh. Melihat pasal-pasal dalam UUD 1945 yang mengatur DPD. Dalam hal fungsi rekrutmen jabatan publik. fungsi kontrol. Secara intelektual. Perubahan kelima UUD 1945 bertujuan untuk membentuk sistem bikameral yang proposional. dan demokrasi kita seharusnya menjadi bagian dari pola ini. DPD tidak hanya berwenang mengajukan RUU yang berkaitan dengan daerah. adalah praktek yang umum dalam demokrasi di dunia. bukan berarti konstitusi hasil perubahan tidak memerlukan perbaikan-perbaikan untuk sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kehidupan berbangsa.

ketentuan yang mengatur prosedur pengusulan dan penenerimaan usulan itu menjadi agenda resmi. 2004. Perubahan terhadap Konstitusi tersebut merupakan perubahan dari Konstitusi yang asli. Dalam membuat ketentuan mengenai prosedur perubahan Undang Undang Dasar. loc. maupun dengan prosedur tidak biasa. Itu maknanya yang harus melakukan perubahan adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat. berpandangan bahwa apabila suatu Konstitusi diubah maka Konstitusi yang asli tetap berlaku. IV. Dengan format metode perubahan. 81. Jakarta. bahwa bentuk hukum perubahan Undang Undang dasar adalah bentuk naskah yang terpisah yang selanjutnya berfungsi sebagai adendum terhadap naskah asli Undang Undang Dasar. menunjukkan dipilihnya model Perancis. hal. seperti Amerika Serikat misalnya. hal. 13 14 Jimly Asshiddiqie. Penggabungan kedua model tersebut dipilih karena menegaskan sistem revisi saja – yang berarti melahirkan UUD baru – sulit dilakukan di tengah-tengah masih kuatnya hubungan emosional dengan UUD 1945. perbedaan antara materi yang tidak dapat diubah. 13 Pertama. ketentuan mengenai siapa dan lembaga apa yang diserahi tugas menyiapkan Rancangan Perubahan UUD itu. adanya ketentuan yang menegaskan. Rajawali Press. Kedua. Maknanya amandemen selanjutnya menjadi perubahan kelima. Keharusan itu menunjukkan kewenangan konstitusional perubahan konstitusi tetap merupakan kewenangan monopoli MPR.al. Kedua. Ketiga. Dahlan Thaib. et. setidaktidaknya ada lima hal yang penting untuk dincantumkan:14 Pertama. Meskipun demikian.cit. dan Prancis. sedangkan substansi perubahan yang komprehensif. melanjutkan pola sebelumnya. sistem yang dianut oleh negara-negara Eropa kontinental berpendirian bahwa manakala terjadi perubahan atas Konstitusi (UUD) maka yang diberlakukan adalah UUD yang baru secara keseluruhan. dan materi yang dapat diubah baik dengan biasa. Keempat. Di antara negara yang menganut sistem ini adalah Belanda. . Cet. baik eksplisit ataupun implicit. ketentuan mengenai mekanisme pengambilan keputusan. Kelima. Penyebutan Perubahan Kelima adalah pilihan yang menunjukkan diadopsinya model Amerika. Dengan demikian format metode perubahan tetap addendum. 67. maka amandemen lanjutan harus menggunakan ketentuan mekanisme sebagaimana diatur dalam Pasal 37 UUD 1945. Metode Perubahan UUD 1945 Secara umum sistem yang dianut oleh negara-negara dalam merubah UUD-nya dapat dikategorikan ke dalam dua sistem perubahan. negara-negara Anglo-Saxon. bukan berarti naskah perubahan tidak dapat disiapkan oleh pihak-pihak lain di luar MPR. Jerman. Teori dan Hukum Konstitusi.3. atau dengan kata lain perubahan tersebut merupakan bagian atau dilampirkan dalam Konstitusinya. baik eksplisit maupun implicit. adanya ketentuan yang menegaskan. dan seterusnya. Indonesia dengan Perubahan Pertama hingga Keempat sebenarnya melakukan model revisi tetapi dengan tetap mendeklarasikan dan mempertahankan format amandemen.

16 . 15 Forum majelis permusyawaratan rakyat adalah merupakan joint session antara DPR dan DPD untuk melakukan tugas-tugas insidentil yang terjadi dalam praktik ketatanegaraan.4. Pasal 3217 Pengaturan ini diperlukan untuk menegaskan bahwa DPR dan DPD adalah lembaga legislatif sehingga keduanya DPR dan DPD sama-sama memegang kekuasaan legislatif. fungsi representasi. penyuapan. Pengaturan ini juga menegaskan bahwa sistem lembaga perwakilan rakyat Indonesia menganut pola dua kamar yang efektif (effective bicameralism). berikut ini adalah beberapa perubahan yang diusulkan khususnya berhubungan dengan DPD : BAB X KEKUASAAN LEGISLATIF Pasal 3015 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah memegang kekuasaan legislatif. korupsi. Yang dimaksudkan dengan kekuasaan legislatif adalah kekuasaan dalam melaksanakan fungsi legislasi. Dengan adanya kamar kedua. untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam hal terjadi kekosongan Presiden dan Wakil Presiden secara bersamaan. fungsi pengawasan. monopoli proses legislasi dalam satu kamar dapat dihindari. dan fungsi pengisian jabatan publik. Karena forum gabungan dan bukan merupakan lembaga permanen. atau terbukti melakukan perbuatan tercela. ditegaskan sistem dua kamar memungkinkan untuk mencegah pengesahan undang-undang yang cacat atau ceroboh. majelis permusyawaratan rakyat tidak lagi merupakan lembaga negara yang permanen karena majelis permusyawaratan rakyat adalah forum gabungan antara DPR dan DPD dan bukan merupakan gabungan antara anggota DPR dan anggota DPD. ataupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Pasal 3116 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mengadakan sidang bersama dalam forum majelis permusyawaratan rakyat untuk mengubah dan menetapkan Undang Undang Dasar. tindak pidana berat lainnya. dan untuk memilih Wakil Presiden ketika Wakil Presiden menggantikan Presiden dalam hal terjadi kekosongan Presiden. fungsi keuangan. untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Dengan pasal ini. Ketua DPR dan Ketua DPD secara ex-officio menjadi pimpinan sidang forum majelis permusyawaratan rakyat. Rancangan Perubahan UUD 1945 Sebagai tindak lanjut terhadap wacana Amandemen kelima UUD 1945. Karenanya.

harus ada elaborasi dalam undang-undang terutama kaitan konstituen di wilayah pemilihan dengan usul pemberhentian anggota DPD. Pasal 34 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diberhentikan dari jabatannya menurut syarat-syarat dan tata cara yang diatur dalam undang-undang. 19 Pasal ini mengatur fungsi-fungsi dan hak-hak yang dimiliki DPR dan DPD sebagai lembaga legislatif. pemberhentian didasarkan pada subyektifitas partai politik. 20 . dengan basis pemilihan provinsi.Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih melalui pemilihan umum. kecenderungan selama ini. 17 Pencantuman bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia untuk calon anggota DPR dan bertempat tinggal di wilayah pemilihannya bagi anggota DPD adalah untuk membedakan keterwakilan bagi DPR dan DPD. Khusus untuk anggota DPR. 18 Pemberhentian anggota DPR dan anggota DPD perlu diatur di tingkat undang-undang untuk memperjelas syarat dan tata cara pemberhentian. Dengan aturan ini. (4) Syarat-syarat lain untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam undang-undang. Khusus untuk DPD. Sementara pemberhentian DPD.19 Pasal 3520 Penegasan bahwa anggota DPR dan anggota DPD dipilih melalui pemilihan umum adalah menghindari agar salah satu kamar tidak diisi dengan cara penunjukan atau gabungan antara pemilihan umum dan penunjukan. Pasal 3318 (1) (2) Calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat adalah warga negara Indonesia dan bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia. frase “bertempat tinggal di wilayah pemilihannya” adalah untuk menegaskan bahwa DPD merupakan perwakilan ruang. Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah warga negara Indonesia (3) dan bertempat tinggal di provinsi daerah pemilihannya. undang-undang partai politik dan undang-undang susunan DPR dan DPD harus menjelaskan syarat dan tata cara pemberhentian anggota DPR. Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat.

anggota KPK dan lain-lain. dan hak menyatakan pendapat juga dimiliki DPD karena fungsi-fungsi yang dimiliki DPR juga dimiliki oleh DPD. serta hak protokoler dan keuangan. Karena pemilihan itu. gubernur BI.28 Pasal 36 Fungsi pengisian jabatan publik adalah pengisian jabatan-jabatan yang memerlukan persetujuan DPR dan/atau DPD. 22 Hak mengajukan rancangan undang-undang. dan hak menyatakan pendapat juga dimiliki DPD karena fungsi-fungsi yang dimiliki DPR juga dimiliki oleh DPD. anggota Komisi Yudisial. 27 Undang-Undang tentang Hak Protokoler dan Keuangan diperlukan agar pelayanan dan keuangan anggota DPR dan anggota DPD mempunyai dasar pengaturan yang jelas. pengisian hakim konstitusi.21 dan fungsi keterwakilan. anggota BPK. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. 21 Fungsi keterwakilan merupakan konsekuensi dari keanggotaan DPR dan DPD yang dipilih secara langsung oleh rakyat. penyuapan. hak menyampaikan usul dan pendapat. Hak mengajukan rancangan undang-undang. fungsi anggaran. hak angket. (3) Selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain undang-undang dasar ini.(1) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah memiliki fungsi legislasi. 26 Pemberian hak yang sama bagi anggota DPR dan anggota DPD adalah konsekuensi dari tidak adanya perbedaan antara anggota DPR dan anggota DPD sebagai anggota lembaga legislatif.23 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak mengajukan rancangan undang-undang. 23 Hak interpelasi adalah hak DPR dan DPD untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara.22 (2) Dalam melaksanakan fungsinya. Misalnya. serta hak keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam undang-undang. hak imunitas. Khusus untuk penambahan hak protokoler dan keuangan ditujukan agar anggota DPR dan anggota DPD tidak semena-mena menggunakan kekuasaan politik yang mereka miliki untuk mendapatkan pelayanan dan menambah penghasilan. fungsi pengawasan. Jabatan publik ini merupakan jabatan-jabatan yang disebutkan dalam UUD dan UU. 28 . hak angket25. hak interpelasi. korupsi. hakim agung. hak angket. fungsi pengisian jabatan publik. 25 Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR sebagai lembaga untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. anggota KPU. hak kelembagaan. setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak mengajukan pertanyaan. hak interpelasi. 24 Hak angket adalah hak DPR dan DPD untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. hak interpelasi24. anggota DPR dan anggota DPD merepresentasikan konstituen mereka. dan hak menyatakan pendapat26.27 (4) Ketentuan lebih lanjut tentang fungsi.

Dengan begitu checks and balances antara eksekutif dan legislatif. Dalam bikameral yang efektif ini. lihat Pasal 28). dengan kemungkinan perundingan melalui panitia bersama. maupun di antara kedua kamar di dalam lembaga legislatif dapat terjadi. hak untuk mengajukan rancangan undang-undang tidak hanya menjadi hak lembaga tetapi juga hak anggota DPR dan anggota DPD. maka RUU dikirim ke DPD untuk dibahas. Bila DPD menerima. sementara Pasal 27 menjelaskan prosedur pembahasan RUU yang diajukan oleh DPD. lihat Pasal 19 dan catatan kaki nomor 51) dalam hal-hal tertentu yang diatur di dalam konstitusi. Dengan demikian. pembahasan undang-undang pun tidak lagi dilakukan “secara bersama-sama” oleh legislatif dan eksekutif seperti yang dikenal sekarang. maka DPR dan DPD akan membentuk panitia bersama untuk mencapai kesepakatan. Nantinya. atau memberi tambahan. dari segi jumlah pun.Undang-undang tentang hak protokoler dan keuangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berakibat pada kenaikan pendapatan diberlakukan untuk masa jabatan setelah pemilihan umum berikutnya. panitia bersama jumlahnya jauh lebih kecil dari forum majelis permusyawaratan rakyat. Penegasan ini diperlukan agar upaya untuk mendapatkan tambahan fasilistas dan keuangan tidak terjebak ke dalam konflik kepentingan (conflict of interest) anggota DPR dan anggota DPD. Apabila RUU berasal dari DPR. dan kemudian presiden diberikan hak untuk menyatakan penolakan politiknya dalam proses pengesahan oleh presiden (penandatanganan. Karena itu. Panitia ini berbeda dengan forum majelis permusyawaratan rakyat yang merupakan forum gabungan (joint session DPR dan DPD. 30 31 Pasal ini terkait dengan pasal berikutnya. Namun bila ada penambahan dari DPD. DPR dan DPD membahas sendiri-sendiri. Untuk membuat penerapan sistem presidensil yang konsisten. Panitia bersama khusus didirikan untuk merumuskan kesepakatan bersama DPR dan DPD untuk RUU yang dibahas dan setelah itu dibubarkan. semua undang-undang (tanpa ada pengkhususan bidang untuk DPD) dibahas oleh DPR dan DPD terpisah dan bertahap dan RUU dapat diajukan baik oleh DPR maupun oleh DPD. yaitu menjelaskan pola baru pembahasan rancangan undang-undang di dalam lembaga legislatif dalam konteks effective bicameralism (lihat catatan kaki nomor 50). Yang disebut dengan “panitia bersama” di sini adalah suatu kelompok kecil yang terdiri dari anggota DPR dan anggota DPR yang membahas RUU yang mendapatkan penambahan materi (tdak disetujui secara bulat oleh DPD). menolak.29 Pasal 37 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan rancangan undang-undang. 29 Pasal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada anggota DPR dan anggota DPD untuk mengajukan rancangan undang-undang. .30 Pasal 3831 (1) Setiap rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan kepada Dewan Perwakilan Daerah. maka RUU tersebut langsung diberikan kepada presiden untuk disahkan. Pasal 26 ini merincikan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPR. DPD dapat menerima. RUU tidak dapat diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. Jika ditolak.

RUU tidak dapat diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan perubahan atas rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Daerah. maka RUU tersebut langsung diberikan kepada presiden untuk disahkan. mengusulkan perubahan. . Jika ditolak. Bila DPR menerima. Dewan Perwakilan panitia Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah membentuk (5) Apabila bersama untuk membahas ditolak rancangan Dewan dapat undang-undang yang diajukan Dewan Perwakilan Daerah. DPR dapat menerima. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Rakyat . atau memberi tambahan.(2) Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui. Jika RUU berasal dari DPD. menolak. Pasal 27 ini menjelaskan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPD. maka RUU dikirim ke DPR untuk dibahas. atau menolak Perwakilan dari Dewan rancangan Daerah undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Daerah. Namun bila ada penambahan dari DPR. maka DPR dan DPD akan membentuk panitia bersama untuk mencapai kesepakatan. rancangan undang-undang tidak dapat Pasal 3932 (1) (2) Setiap Dewan rancangan Perwakilan atau undang-undang Rakyat menolak Perwakilan dapat dari Dewan Perwakilan Daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Apabila Dewan menyetujui Rakyat. Apabila Dewan Perwakilan Daerah mengusulkan perubahan terhadap rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat. 32 Bila Pasal 26 menjelaskan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPR. Dewan menyetujui rancangan rancangan undang-undang dari (4) Dewan Perwakilan Daerah. (5) Apabila rancangan undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Daerah. (3) Apabila rancangan Rakyat undang-undang membentuk panitia bersama untuk membahas rancangan undang-undang yang diajukan Dewan Perwakilan diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. rancangan Rakyat. mengusulkan dari perubahan. undang-undang rancangan oleh tidak Perwakilan undang-undang diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. menyetujui. rancangan rancangan undang-undang (4) Perwakilan undang-undang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan. undang-undang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan.

Ayat ini mengatur batas waktu dalam satuan “hari kerja” sementara ayat sebelumnya dalam satuan “hari” karena ayat sebelumnya dianggap sebagai suatu prosedur teknis sementara ayat ini menggambarkan prosedur politis yang membutuhkan perhitungan waktu efektif bagi presiden untuk mengambil keputusan. proses legislasi berubah secara signifikan. dengan menyatakan bahwa apabila dalam jangka waktu 30 hari setelah disetujui presiden tidak menandatangani RUU maka RUU tetap menjadi undang-undang. rancangan undang-undang dimaksud sah menjadi undang-undang apabila disetujui sekurangDaerah disampaikan kepada Presiden untuk 33 Pasal ini menjelaskan proses pengesahan oleh presiden atas RUU yang sudah disetujui oleh DPR dan DPD dalam konteks sistem presidensil yang konsisten. yaitu adanya proses pernyataan penolakan atau veto presiden.34 (2) Presiden dapat menolak rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dalam jangka waktu paling lama sepuluh hari kerja sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui. Selama ini. 35 . Dalam usulan amandemen ini yang mengandung jiwa penguatan sistem presidensil dan bimakeral yang efektif. Ayat ini menjelaskan proses berikutnya setelah suatu RUU disetujui oleh DPR dan DPD. UU Pelabuhan Bebas Batam) yang sudah disetujui bersama oleh DPR dan pemerintah namun ternyata pemerintah menolak menandatanganinya. Yang ada hanyalah pocket veto. Adanya batasan 10 hari kerja di dalam ayat ini adalah untuk memastikan pembahasan RUU tidak berlarut-larut dan agar ada kejelasan mengenai kondisi pelanggaran suatu prosedur. akibatnya muncul kebingungan secara konseptual mengenai sistem apa yang diterapkan di Indonesia dan secara praktek pun problematik dengan adanya undang-undang (mis.Pasal 4033 (1) Dalam jangka waktu paling lama tiga hari. Namun proses sebelumnya tidak diperjelas dan proses pembahasan pun dilakukan bersama antara eksekutif dan legislatif. yaitu mengirimkannya kepada presiden. di mana eksekutif (presiden) dan legislatif (DPR dan DPD) dapat saling mengontrol. dan “veto diam-diam” presiden (pocket veto). Diberikannya batasan waktu di dalam ayat ini adalah untuk memastikan pembahasan RUU tidak berlarut-larut dan agar ada kejelasan mengenai kondisi pelanggaran suatu prosedur. rancangan undangundang yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan disahkan. penolakan atas veto presiden oleh DPR dan DPD (overriding). dengan semua RUU dibahas oleh legislatif tanpa mengikutsertakan eksekutif. Dalam pasal ini diperkenalkan proses yang lebih rinci yang dapat terjadi sebelum suatu undang-undang disahkan (ditandatangani) presiden untuk membuat. Pasal ini harus dibaca dalam satu rangkaian dengan Pasal 26 dan 27 sehingga akan menggambarkan proses checks and balances yang lebih baik antara eksekutif dan legislatif dalam hal pembuatan undang undang. mekanisme checks and balances dalam proses legislasi ini tidak terjadi karena adanya konsep “pembahasan bersama” antara eksekutif dan legislatif – yang tidak lazim diterapkan dalam sistem presidensial—sehingga menghilangkan pula adanya mekanisme “veto-penolakan veto-pocket veto” ini.35 (3) Jika Presiden menolak untuk mengesahkan rancangan undangundang yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. namun kemudian eksekutif diberikan hak untuk menyatakan penolakan politiknya dalam proses pengesahan oleh eksekutif. 34 Ayat ini memberikan hak kepada presiden untuk menyatakan penolakan atas suatu RUU yang sudah disetujui oleh DPR dan DPD.

karena undang-undang itu dianggap sudah disetujui secara mayoritas oleh parlemen yang merepresentasikan rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui atau menolak peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Meski demikian. Perpu tersebut harus dicabut. peraturan pemerintah pengganti undang-undang tidak dapat menjadi undang-undang. Namun “penolakan” legislatif atas veto eksekutif tersebut masih bisa di-veto lagi "secara diam-diam' melalui tidak ditandatanganinya undang-undang tersebut. karena proses pembentukan RAPBN mempunyai karakter 41 . kata “hal” dan “ihwal” mempunyai pengertian yang sama. untuk menjadi undang-undang. Proses ini diberikan batasan jangka waktu 30 hari untuk memastikan berlangsungnya proses politik ini. peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus mendapat persetujuan DPR dan DPD. 36 Ketentuan ini tetap mempertahankan hak darurat presiden untuk menetapkan peraturan perundang-undangan yang substansinya sama dengan undang-undang sebagai-mana dalam UUD hasil amandemen atau sebelum amandemen. Dengan penolakan itu.40 Pasal 4241 Pasal ini adalah mengenai “penolakan veto presiden oleh legislatif” dan “veto secara diamdiam” presiden (pocket veto) atas penolakan veto tersebut. 37 Batasan waktu 30 hari dicantumkan untuk mencegah agar hak darurat presiden dalam membentuk peraturan dimaksud tidak berlarut-larut dan dalam batas waktu tersebut hak darurat itu dapat dinilai DPR dan DPD. Untuk menghilangkan kata ganda tersebut. 38 Sebagaimana pembentukan undang-undang.36 Pasal 41 (1) (2) Dalam hal kegentingan yang memaksa. untuk memberikan kepastian agar DPR dan DPD tidak mebiarkan Perpu berlarut-larut. kata “ihwal” dihapuskan. Perubahan yang dilakukan adalah menghilangkan kata “ihwal” karena dalam penggunaan bahasa Indonesia. Di samping itu.kurangnya 2/3 dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 2/3 dari anggota Dewan Perwakilan Daerah dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari sejak penolakan tersebut disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Daerah dan wajib diundangkan. Veto presiden atas suatu RUU yang sudah disetujui DPR dan DPD dapat “dilawan” atau ditolak kembali oleh DPR dan DPD melalui suatu pernyataan yang disetujui oleh minimal dua pertiga anggota DPR dan dua pertiga anggota DPD (bukan gabungan dalam forum majelis permusyawaratan rakyat. 40 Pengaturan mengenai pembentukan RAPBN dipisahkan dari pengaturan mengenai pembentukan undang-undang lain. melainkan keputusan DPR dan DPD secara terpisah).39 (4) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Dewan Perwakilan Daerah menolak. 39 Tanpa persetujuan DPR dan DPD.38 (3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah menyetujui. peraturan pemerintah pengganti undangundang menjadi undang-undang.37 paling lama tiga puluh hari sejak waktu ditetapkan. Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah Dalam jangka pengganti undang-undang. undang-undang tersebut tetap sah. peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus dicabut.

atau menolak rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara.44 (5) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan tentang yang Daerah menyetujui puluh (6) hari rancangan sebelum undang-undang tahun anggaran anggaran pendapatan dan belanja negara selambat-lambatnya enam bersangkutan dilaksanakan. Oleh karena itu.42 (2) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui. .(1) Presiden anggaran mengajukan pendapatan rancangan dan belanja undang-undang negara kepada tentang Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah untuk dibahas pada waktu yang bersamaan.45 Dalam jangka waktu paling lama tiga hari. hanya presiden yang berhak mengajukan RAPBN. Proses pembahasan RAPBN merupakan fungsi begrooting DPR dan DPD. 42 Sama dengan rancangan undang-undang. 43 Panitia bersama dengan menyertakan presiden dibentuk usul perubahan yang diajukan oleh DPR dan/atau DPD. sebelum berakhirnya tahun anggaran tidak hanya penyelesaian RAPBN tetapi juga untuk memberikan ruang lebih awal. 44 45 untuk mempercepat pembahasan Sementara itu. rancangan undangundang yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan yang berbeda dengan undang-undang. (3) Apabila Daerah Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan tentang menyetujui rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara. batasan 60 hari bertujuan untuk mempercepat kepada daerah menyusun RAPBD Batasan 60 hari sebelum berakhirnya tahun anggaran tidak hanya bertujuan untuk mempercepat penyelesaian RAPBN tetapi juga untuk memberikan ruang kepada daerah menyusun RAPBD lebih awal. mengusulkan perubahan.43 (4) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Daerah mengusulkan perubahan atas rancangan undangundang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara. Perbedaan itu karena proses pembahasan RAPBN tidak merupakan proses legislasi murni tetapi merupakan kuasi legislasi. RAPBN ditarik keluar dari Bab keuangan negara karena RAPBN merupakan quasi legislasi karena APBN dituangkan dalam baju hukum berbentuk undang-undang. Berbeda dengan pengajuan rancangan undang-undang yang dapat diajukan presiden kepada DPR atau DPD. rancangan undangundang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan. RAPBN diajukan kepada DPR dan DPD sekaligus. RAPBN harus mendapat persetujuan DPR dan DPD. maka Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah membentuk panitia bersama dengan mengikutsertakan Presiden untuk membahas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara. Di samping itu.

. Batasan waktu tiga hari dimaksudkan untuk mempercepat proses di DPR dan DPD setelah RAPBN disetujui.49 (2) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan pengawasan diatur dalam undang-undang. hak angket. dan hak menyatakan pendapat. 48 49 Lihat catatan Pasal 35 ayat 2. bukan Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan seperti UU No 10/2004.Dewan Perwakilan Daerah disampaikan kepada Presiden untuk disahkan.47 Pasal 43 Ketentuan lebih lanjut tentang pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak interpelasi.48 Pasal 44 (1) Dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan. 47 Pasal ini memerintahkan adanya Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang.46 (7) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Dewan Perwakilan Daerah tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara. 46 Tujuan aturan ini adalah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penolakan atas RAPBN yang diajukan oleh presiden. Presiden menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.

SARAN . KESIMPULAN B.BAB III PENUTUP A.