TUGAS MAKALAH HUKUM TATA NEGARA KELAS D

KAJIAN MENGENAI EKSISTENSI DPD SEBAGAI SALAH SATU LEMBAGA NEGARA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009/2010

DAFTAR ISI

Penulis berterima kasih pada seluruh anggota kelompok yang bekerjasama dan pihak-pihak lain yang telah mendukung dan memberikan kontribusi sehingga makalah ini dapat diselesaikan.KATA PENGANTAR Makalah yang berjudul “EKSISTENSI DPD” ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Tata Negara . Semoga kajian ini dapat memberikan manfaat. 2 April 2010 Penulis . Judul ini dipilih berdasarkan keinginan untuk mengetahui bagaimana kiprah DPD sebagai lembaga negara dan hubungan DPD terhadap lembaga negara lainnya khususnya dengan DPR dan MPR. Masih banyak kekurangan yang ada di dalam penulisan makalah ini. Surakarta. Penulis berharap makalah ini dapat memenuhi kriteria persyaratan yang telah ditetapkan. Mengingat DPD adalah lembaga yang paling dekat dengan masyarakat sekaligus sebagai jembatan penghubung suara masyarakat daerah dengan pemerintah pusat. untuk itu sangat diharapkan pula kritik dan saran yang dapat membantu pembuatan makalah yang lebih baik.

misalnya dipilih oleh anggota DPR. Kalau tidak diberi wewenang legislasi seharusnya lembaga demokrasi semacam DPD itu tidak ada dalam tata negara kita. Keadaan ini sangat bertentangan dengan pola umum tentang lembaga demokrasi yang setara dengan “DPD” di dunia. DPD memiliki kedudukan yang sejajar dengan lembaga negara lainnya. Namun demikian hak dan tanggung jawab atau wewenang DPD dalam konstitusi sekarang dibuat tidak mampu merespon aspirasi mereka. tapi lemah secara substantif. secara prosedural demokratis kita punya DPD yang kuat. DPD dalam konstitusi sekarang dibatasi wewenangnya hanya memberikan masukan kepada DPR. di mana lembaga seperti DPD punya wewenang legislasi meskipun tidak dipilih langsung oleh rakyat. tapi tidak ikut memutuskan undang-undang. Dalam konstitusi kita. B. DPD hanya memberi masukan kepada DPD. Sebab kalau dipertahankan dengan keadaan DPD yang tak punya wewnang legislasi seperti sekarang prinsip demokrasi diingkari. LATAR BELAKANG DPD adalah sebuah lembaga demokrasi Indonesia. dan bahkan diangkat. karena sejak mengalami amandemen UUD 1945 kita memiliki delapan lembaga negara yang kedudukannya sejajar. DPRD. yakni tak punya wewenang yang kuat dalam proses legislasi. tapi tidak punya wewenang untuk ikut memutuskan dalam proses legislasi. RUMUSAN MASALAH . Ada cacat demokratis dalam konsitusi kita: Ada wakil rakyat yang dipilih langsung secara demokrtais tapi tidak punya wewenang dalam legislasi. Walaupun masih dianggap lembaga baru dasar legitimasi demokratisnya sangat kuat karena anggotanya dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu demokratis. tidak ada lembaga yang kedudukannya lebih tinggi dari lembaga lain.Padahal kita tahu DPD membawa pesan dari rakyat di daerah.BAB I PENDAHULUAN A. Untuk itulah perlu adanya kajian mengenai kewenangan DPD ini agar kedepannya kita bisa mengikuti perkembangan ketatanegaran Indonesia khususnya terhadap Lembaga-lembaga Negara dan mungkin dapat meberikan sumbangsih terhadap wawasan masyarakat tentang Lembaga Negara.

Mengetahui solusi atau cara untuk memperkuat kedudukan DPD BAB II PEMBAHASAN . Bagaimana awal terbentuknya DPD? 2.1. Bagaimana kedudukan DPD sebagai salah satu lembaga negara? 3. Mengetahui kedudukan DPD sebagai lembaga negara 3. Mengetahui bagaimanakah sejarah terbentuknya DPD 2. Mengetahui hubungan antara DPD dengan lembaga negara lainnya khususnya DPR dan MPR 4. dan MPR? 4. Bagaimana hubungan antara DPD. DPR. Adakah cara yang bisa ditempuh untuk memperkuat kedudukan DPD? C. TUJUAN 1.

pembentukan DPD yang merupakan bagian dari sistem bikameral atau sistem “dua kamar” sudah disepakati menjadi model sistem perwakilan Indonesia.Seputar Sistem Bikameral. Utrecht. Dalam Bab III Ketentuan Umum KRIS 1949 disebutkan bahwa Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat adalah alat perlengkapan federal Republik Indonesia Serikat. Sementara itu. AWAL TERBENTUKNYA DPD 1. dalam upaya membuat konstitusi baru yang dilakukan oleh Konstituante (1956-1959). Buktinya. yaitu dua orang untuk setiap negara bagian. Sidang Tahunan MPR 2001 berhasil mencapai kesepakatan mendasar untuk membentuk “kamar kedua” setelah DPR di lembaga perwakilan rakyat dengan sebutan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Meskipun negara RIS hanya berumur sekitar delapan bulan. Sebagai Majelis Tinggi. (1992). pada tanggal 17 Agustus 1950 negara serikat dibubarkan dan KRIS 1949 diganti dengan UUD Sementara 1950. Jakarta. Buktinya. usaha Konstituante tidak dapat diselesaikan secara tuntas karena Constitutional Assembly yang dibentuk berdasarkan hasil Pemilihan Umum Tahun 1955 dibubarkan Presiden Soekarno sebelum masa tugasnya berakhir. dukungan terhadap sistem bikameral belum punah. Senat mewakili daerah-daerah bagian dengan jumlah yang sama. sebagai Majelis Rendah. dalam Bambang Subianto et. 2 Gagasan sistem bikameral yang mengalami mati suri sekitar empat dasawarsa kembali menemukan momentum seiring dengan kuatnya desakan untuk melakukan reformasi total terhadap UUD 1945 pada awal era Reformasi. wacana pembentukan DPD bukan hanya perdebatan yang muncul selama era Reformasi. 1 Adnan Buyung Nasution.1 Sayangnya. berdasarkan Pasal 80 KRIS. Menggagas Ulang Prinsip-prinsip Lembaga Kepresidenan. Kevin Evans. Sejarah Terbentuknya DPD Di Indonesia. 2 .(2002). ketika berlaku Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) 1949.al (edit. CPPS Paramadina dan Partnership for Governance Reform in Indonesia.1.. sistem bikameral tetap menjadi salah satu opsi bentuk lembaga perwakilan rakyat. DPR mewakili seluruh rakyat Indonesia yang terdiri dari 150 anggota. Rijksuniversiteit.). Jauh hari sebelumnya. The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: A Socio-Legal Study of Indonesian Konstituante 1956-1959.

dengan strong bicameralism. dengan adanya dua majelis di suatu negara dapat menguntungkan karena dapat menjamin semua produk legislatif dan tindakantindakan pengawasan dapat diperiksa dua kali (double check). Jakarta. dalam Maruto MD dan Anwari WMK (edit. Bikameral Di Indonesia Menurut Ramlan Surbakti. Kendala dan Peluang Menuju Demokrasi. 3 4 Bagir Manan. Hanya ada satu badan perwakilan tingkat pusat yang terdiri dari dua unsur yaitu unsur yang langsung mewakili seluruh rakyat dan unsur yang mewakili daerah. (2003b) . serta sejarah Indonesia menunjukkan aspirasi kedaerahan sangat nyata dan mempunyai basis materil yang sangat kuat yaitu dengan adanya pluralisme daerah otonom seperti daerah istimewa dan otonomi khusus.). Penyederhanaan sistem badan perwakilan. mekanisme chekcs and balances di antara kedua kamar/majelis dapat berjalan lebih seimbang. b. Keunggulan sistem double check ini semakin terasa apabila Senat yang memeriksa dan merevisi suatu rancangan itu memiliki Ramlan Surbakti. Sistem dua kamar akan lebih produktif. LP3ES. Tidak diperlukan utusan golongan. a. Biasanya. menghindari disintegrasi. Jimly Asshiddiqie menambahkan.2. Kepentingan golongan diwakili dan disalurkan melalui unsur yang langsung mewakili seluruh rakyat. sistem dua kamar merupakan suatu mekanisme checks and balances antara kamar-kamar dalam satu badan perwakilan. Terkait dengan hali ini. dan lain-lain). Bagir Manan memandang ada beberapa pertimbangan bagi Indonesia menuju sistem dua kamar. menetapkan APBN. Hal ini merupakan salah satu faktor untuk menguatkan persatuan. Seperti diutarakan Montesquieu. Segala tugas dan wewenang dapat dilakukan setiap unsur. kedua pendapat di atas menghendaki sistem bikameral dengan kewenangan yang relatif berimbang antara kedua kamar/majelis di lembaga perwakilan rakyat (strong bicameralism). Dengan demikian segala kepentingan daerah terintegrasi dan dapat dilaksanakan sehari-hari dalam kegiatan parlemen. Reformasi Politik dan Kekuatan Masyarakat. ada beberapa pertimbangan Indonesia mengadopsi sistem bikameral yang masing-masing mewadahi keterwakilan yang bebeda. mengawasi pemerintah. Menuju Demokrasi Konstitusional: Reformasi Hubungan dan Distribusi Kekuasaan.3 Sejalan dengan Ramlan Surbakti. Wakil daerah menjadi bagian yang melaksanakan fungsi parlemen (membentuk undangundang. Tidak perlu menunggu atau bergantung pada satu badan seperti DPR sekarang. (2002).4 Meskipun tidak menyebut secara eksplisit. d. yaitu distribusi penduduk Indonesia menurut wilayah sangat timpang dan terlampau besar terkonsentrasi di Pulau Jawa. c. bukan soft bicameralism yang menjadikan satu kamar atau majelis mempunyai kekuatan lebih ketimbang yang lainnya.

Kedudukan DPD DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang berkedudukan sebagai lembaga negara( Pasal 222 UU NO.keanggotaan yang komposisinya berbeda dari DPR. Karenanya. 4) pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Anggota DPD dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota DPD itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR (22C ayat 2).6 Dengan adanya kamar kedua. 27 Tahun 2009 ) DPD terdiri atas wakil daerah provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum (Pasal 221 UU NO. 19 ayat 1. Telaah Perbandingan Konstitusi Berbagai Negara. mengingat setiap rancangan undang-undang (RUU) dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama (20 ayat 2).5 Bahkan menurut Soewoto Mulyosudarmo. Jakarta. 3) pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. sistem bikameral bukan hanya merujuk adanya dua dewan dalam suatu negara. DPD sama sekali tidak memunyai kekuasaan apa-apa. DPD dapat mengajukan RUU kepada DPR yang berkaitan dengan 1) otonomi daerah. 2) hubungan pusat dan daerah. hak. Intrans dan Asosiasi Pengajar HTN dan HAN Jawa Timur. 6 . Secara implisit. Pembaruan Ketatanegaraan Melalui Perubahan Konstitusi. Artinya. fungsi. susunan dan kedudukan DPD ditentukanoleh DPR dan Presiden. KEDUDUKAN DPD SEBAGAI LEMBAGA NEGARA 1.Untuk menentukan susunan dan kedudukan itu. Sekalipun dipilih lewat pemilu. Asas ketidaksetaraan DPR dan DPD terbaca dari susunan dan kedudukan DPD yang diatur dengan UU (22C ayat 3). Surabaya. ditegaskan sistem dua kamar memungkinkan untuk mencegah pengesahan undangundang yang cacat atau ceroboh. monopoli proses legislasi dalam satu kamar dapat dihindari. 5) perimbangan keuangan pusat dan daerah (22D ayat 1) Jimly Asshiddiqie. 5 Soewoto Mulyosudarmo. (2004). Keduanya dipilih lewat pemilu (Pasal 2 ayat 1. dan 22C ayat 1. kedudukan DPD berada di bawah DPR dan Presiden. dan kewajiban kedua dewan ini berbeda. (1996). kekuasaan. 27 Tahun 2009 ) Sistem demokrasi yang hendak dibangun usai perubahan UUD 1945 menyangkut keanggotaan MPR yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Universitas Indonesia Press. tetapi dilihat pula dari proses pembuatan undang-undang yang melalui dua dewan atau kamar. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah. 2. yaitu melalui Senat dan DPR. dan 22E ayat 2).

pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. anggota DPD dapat diberhentikan dari jabatannya. betapa berbeda UUD nantinya. dan agama. pemekaran dan penggabungan daerah. apabila DPR dan Presiden berasal dari kalangan partai politik (parpol) (6A ayat 2 dan 22E ayat 3). dan pemberhentian anggota DPD. yang syarat-syarat dan tata caranya diatur dalam UU (22D ayat 4). DPR dan Presiden bisa mengatur pemberhentian anggota DPD. Artinya. pemekaran dan penggabungan daerah. terlihat DPD hanyalah weak chamber di bawah DPR dan Presiden dalam hal legislasi. atau memperkuat wewenang DPD. Sekalipun begitu. pembentukan.Selain itu. mengingat keanggotaan DPD yang tidak boleh dari parpol. pelaksanaan APBN. peserta pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan (22E ayat 4). hubungan pusat dan daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. melantik Presiden/Wapres (3 ayat 2). Dari pasal-pasal di atas. Pengajuan usul kepada DPR mengenai rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. dan agama. pajak. Apabila sepertiga anggota MPR dari DPD sepakat untuk mengubah arah desentralisasi. . pembentukan. kedudukan. hubungan negara dengan civil society. b. fungsi DPD adalah sbb: a. 27 Tahun 2009 tentang Parlemen. baik dalam mengubah dan menetapkan UUD (3 ayat 1). atau upaya memperkuat civil society lewat konstitusi. hubungan pusat dan daerah. memberhentikan Presiden/Wapres atas usul DPR setelah melewati proses dalam Mahkamah Konstitusi (7B ayat 7). Pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. Begitu pula menyangkut perkembangan civil society. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. Pemberian pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. kedudukan DPD bisa kuat ketika menjalankan haknya sebagai anggota MPR. Jelas sekali. dan mampu memengaruhi anggota DPR. 2. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Bisa juga diinterpretasikan bahwa DPD adalah subordinat dari parpol yang terpilih menjadi Presiden/Wakil Presiden (Wapres) dan DPR dalam hubungan hierarki dan oligopoli. c. pendidikan. pendidikan. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat dan daerah. Ikut dalam pembahasan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. Fungsi dan Wewenang DPD Berdasarkan Pasal 223 UU No. dan d. Ketiadaan hak legislasi DPD menyebabkan kepentingan parpol bias mengatur susunan.

pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. pendidikan. b. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. ikut membahas bersama DPR dan Presiden rancangan undang-undang yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a. memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pemilihan anggota BPK. fungsi anggaran. c. dan agama. h. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. pelaksanaan APBN. dan i. g. d. dapat mengajukan kepada DPR rancangan undangundang yang berkaitan dengan otonomi daerah. dan agama. dan pengawasan tidak saja berakibat pada melemahkan fungsi legislasi presiden tetapi memunculkan superioritas fungsi legislasi DPR terhadap . pendidikan. Antara DPD dan DPR Berikut dapat membuktikan superioritas DPR atas DPD. pembentukan. yaitu : a. menerima hasil pemeriksaan atas keuangan negara dari BPK sebagai bahan membuat pertimbangan kepada DPR tentang rancangan undang-undang yang berkaitan dengan APBN. Perubahan Pasal 20 Ayat (1) UUD 1945 dari tiap undang-undang menghendaki persetujuan DPR menjadi DPR mempunyai kekuasaan membentuk undang-undang dan penambahan Pasal 20A Ayat (1) bahwa DPR memiliki fungsi legislasi. antara lain : a. dan agama kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. pajak. ikut membahas bersama DPR dan Presiden rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat dan daerah. hubungan pusat dan daerah. hubungan pusat dan daerah. pemekaran. e. 27 Tahun 2009. f. pemekaran. Pertama. dan penggabungan daerah. dan sumber daya ekonomi lainnya. ikut serta dalam penyusunan program legislasi nasional yang berkaitan dengan otonomi daerah. yang berkaitan dengan hal sebagaimana dimaksud dalam huruf a. pengelolaan sumber daya alam. pelaksanaan undangundang APBN. HUBUNGAN ANTARA DPD. dalam fungsi legislasi. pendidikan. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. hubungan pusat dan daerah. 2. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. DPR. pembentukan. pajak. dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah.Tugas dan wewenang DPD sesuai dengan UU No. dan penggabungan daerah. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. menyampaikan hasil pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah. dan MPR 1.

8 Berdasarakan Pasal 7B Ayat (1) sampai Ayat (6) UUD 1945. fungsi pengawasan. Kedua. Pasal 22D Ayat (2) UUD 1945 menyatakan. c. Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat. Jakarta. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden 8 . Oleh karena itu. Padahal. maka MPR akan menyelenggarakan sidang untuk memutus usul DPR. b. Sama dengan fungsi legislasi. … memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara.DPD. 7 Pasal 7A UUD 1945 menyatakan. Ketiga. DPD diberi kewenangan untuk mengusulkan. Bagaimanapun. dan menetapkan anggaran seperti DPR. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. dan memutus pendapat DPR apabila presiden dan wakil presiden tidak lagi memenuhi ketentuan yang terdapat dalam Pasal 7A UUD 1945. dalam fungsi anggaran. keputusan MPR atas usul pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurangkurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota yang hadir. ruang untuk dapat mengajukan dan ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. korupsi. hasil itu disampaikan kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam Pasal 22D Ayat (1) dan (2) UUD 1945 tidak cukup untuk mengatakan bahwa DPD mempuyai fungsi legislasi. 2. baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Kemudian. mengubah. mengadili. Semestinya. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. dalam fungsi pengawasan pun DPD mempunyai kewenangan yang sangat terbatas7 sesuai dengan Pasal 22D Ayat (3) UUD 1945. penyuapan. mempertimbangkan. Tidak berbeda dengan fungsi legislasi dan fungsi anggaran. pertimbangan hanyalah sebagian kecil saja penggunaan hak dalam fungsi anggaran. Untuk itu. usul pemberhentian dapat diajukan kepada MPR dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi untuk memeriksa. Pusat Studi Hukum Tata Negara Universitas Indonesia. Kalau Mahkamah Konstitusi membenarkan pendapat DPR. hubungan pusat dan daerah. dalam fungsi anggaran DPD juga mempunyai fungsi anggaran yang sangat terbatas yaitu terbatas pada memberikan pertimbangan kepada DPR dalam proses pembahasan rancangan undang-undang APBN. Jimly Asshiddiqie. Antara DPD dan MPR Ketidakseimbangan antara DPD dan DPR juga dapat dicermati dalam proses pemberhantian presiden dan/atau wakil presiden di tengah masa jabatannya (impeachment). (2002). fungsi legislasi harus dilihat secara utuh yaitu dimulai dari proses pengajuan sampai menyetujui sebuah rancangan undang-undang menjadi undang-undang. tindak pidana berat lainnya. Pasal 7B Ayat (7) UUD 1945 menentukan.

(2004). DPRD Kabupaten/Kota (UU Susduk) menyatakan. publik umumnya (73%) mendukung gagasan dilakukannya perubahan atau amandemen UUD yang berkaitan dengan DPD agar DPD punya wewenang legislatif yang sejajar dengan DPR yang berkaitan dengan kepentingan daerah. Pasal 33 Ayat (1) UU Susduk menyatakan. tapi juga punya dasar moral dan intelektual yang kuat. dan karena itu sulit untuk menolak gagasan tersebut.12 3. punya wewenang untuk membuat dan memutuskan UU yang berkaitan dengan kepentingan daerah. Cara memilih anggota DPD dipandang lebih baik dibanding cara memilih anggota DPR untuk mewakili kepentingan pemilih. 18 April 2005. cukup bagi DPR untuk seorang saja anggota DPD agar forum MPR menjadi sah.Yang sangat berbeda adalah legitimasi demokratik prosedural terhadap DPD dan DPR. 9 Pasal 22D Ayat (2) UUD 1945 menyatakan. tanpa kehadiran anggota DPD maka forum MPR tidak absah. DPD punya legitimasi demokratik prosedural yang jauh lebih kuat ketimbang DPR. melainkan perseorangan. seperti halnya DPR. peran DPD dapat diabaikan.11 Celakanya. Memperkuat Dewan Perwakilan Daerah. Umumnya warga percaya pada dua lembaga ini. Hasil Survei LSI Berikut adalah beberapa temuan LSI mengenai DPD : Dari survei ini ditemukan bahwa tingkat kepercayaan publik pada peran dan penilaian publik atas kinerja DPD sama dengan pada DPR. Hal yang sama juga berlaku dalam proses perubahan UUD 1945. konstitusi menyatakan bahwa bahwa MPR terdiri dari anggota-anggota DPR dan DPD. Saat ini jumlah anggota DPR 550 orang9 dan anggota DPD 128 orang10. Jakarta. bukan saja benar secara demokratik. impeachment dapat dilakukan tanpa melibatkan DPD karena jumlah anggota DPR yang 550 orang sudah lebih dari ¾ jumlah anggota MPR hanya berjumlah 508 orang. anggota DPD dari setiap provinsi ditetapkan sebanyak empat orang. MEMPERKUAT KEDUDUKAN DPD 1. Penguatan peran DPD. http://www.html 11 12 Ibid . Kemudian. maka jumlah anggota DPD 32x4 orang yaitu 128 orang. Artinya.com/news/2004/5/18/Opini/48.korantempo. anggota DPD dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota DPD itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. Seandainya interpretasi konstitusi dipaksakan bahwa MPR ada apabila ada anggota DPR dan DPD yang hadir sekaligus. Karena itu. anggota DPR berjumlah 550 orang. Dasar moralnya Pasal 17 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Publik menghendaki agar dalam UUD kita dinyatakan bahwa DPD. dalam Koran Tempo. kehadiran DPD dalam MPR tidak bersifat kelembagaan. dan umumnya menilai bahwa kedua lembaga ini bekerja baik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. menurut Refly Harun lagi.Kalau ditelaah ketentuan kuorum yang dalam proses impeachment di MPR. Karena jumlah provinsi 32. DPD. 10 Refly Harun. Berarti anggota MPR berjumlah 678 orang. Menurut Refly Harun. DPR. DPRD Provinsi.

Namun. yaitu fungsi parlemen yang dijalankan oleh dua kamar secara berimbang (balance) dalam proses legislasi maupun pengawasan. dan demokrasi kita seharusnya menjadi bagian dari pola ini. Wacana Amandemen Kelima UUD 1945 Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) telah dilaksanakan empat kali dalam periode 1999-2002 oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). namun juga bisa ikut memberi persetujuan dan putusan terhadap RUU tersebut. perubahan tetap perlu diteruskan untuk menyempurnakan hukum dasar bernegara. Dengan adanya amandemen kelima. Begitu juga ketentuan yang sama dijabarkan lebih lanjut dalam undang-undang turunannya. Secara intelektual. Ada kaitan yang kuat dalam hubungan antara bikameralisme dan sistem politik desentralisasi dalam hubungan pusat dan daerah (Lijphart 1996). yaitu harus terlebih dahulu melakukan amandemen UUD 1945. Memperluas kewenangan DPD memang merupakan keharusan. Artinya. DPD tidak kalah memprihatinkan jika dibandingkan dengan fungsi legislasi. Melihat pasal-pasal dalam UUD 1945 yang mengatur DPD. adalah praktek yang umum dalam demokrasi di dunia. Setelah Perubahan Pertama hingga Keempat dilakukan. Wewenang DPD terbatas dan sempit. adanya dua lembaga legislatif. bikameralisme. karena DPD hanya untuk memberi pertimbangan. . jika DPD diberi ruang yang cukup dalam proses rekrutmen jabatan publik. DPD seharusnya dilibatkan dalam proses rekrutmen jabatan publik. lembaga ini tidak memiliki wewenang membentuk undang-undang bersama-sama dengan DPR dan Presiden. fungsi kontrol. UUD 1945 secara eksplisit telah memangkas penggunaan fungsi legislasi oleh DPD. 2. Dari ketentuan tersebut jelas terlihat bahwa sistem bikameral yang dituangkan dalam UUD 1945 hasil amandemen tidak sesuai dengan prinsip bikameral yang umum dalam teoriteori ketatanegaraan. diharapkan fungsinya sebagai penyeimbang DPR dapat dilaksanakan dengan lebih efektif. DPD tidak hanya berwenang mengajukan RUU yang berkaitan dengan daerah. dibanding anggota DPR. dalam konteks otonomi daerah atau desentrasilisasi dalam hubungan pusat dan daerah. Perubahan lanjutan dilakukan agar UUD 1945 terus menjadi living and working constitution. Pelibatan itu menjadi sebuah keniscayaan karena rekrutmen jabatan publik yang hanya dilakukan oleh DPR amat mungkin bias kepentingan politik partai politik. Karena DPD lebih mengerti segala permasalahan yang ada di daerah karena mereka sebagai representasi daerah. Seolah-olah DPD hanya berposisi sebagai Dewan Pertimbangan DPR dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Sebagai contoh.adalah bahwa anggota DPD mendapat legitimasi demokratis sangat kuat untuk mewakili rakyat. kepentingan politik partai di DPR bisa diimbangi oleh DPD. dan fungsi anggaran di atas. Dalam hal fungsi rekrutmen jabatan publik. Oleh karenanya. Perubahan kelima UUD 1945 bertujuan untuk membentuk sistem bikameral yang proposional. bukan berarti konstitusi hasil perubahan tidak memerlukan perbaikan-perbaikan untuk sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kehidupan berbangsa. Pasal 20 ayat (1) dan 20 A ayat (1) menentukan bahwa kekuasaan membuat undang-undang (legislasi) hanya dimiliki oleh DPR.

cit. Keharusan itu menunjukkan kewenangan konstitusional perubahan konstitusi tetap merupakan kewenangan monopoli MPR. 67. Metode Perubahan UUD 1945 Secara umum sistem yang dianut oleh negara-negara dalam merubah UUD-nya dapat dikategorikan ke dalam dua sistem perubahan. Dengan format metode perubahan. Teori dan Hukum Konstitusi. maka amandemen lanjutan harus menggunakan ketentuan mekanisme sebagaimana diatur dalam Pasal 37 UUD 1945. loc. sistem yang dianut oleh negara-negara Eropa kontinental berpendirian bahwa manakala terjadi perubahan atas Konstitusi (UUD) maka yang diberlakukan adalah UUD yang baru secara keseluruhan. 2004. Penggabungan kedua model tersebut dipilih karena menegaskan sistem revisi saja – yang berarti melahirkan UUD baru – sulit dilakukan di tengah-tengah masih kuatnya hubungan emosional dengan UUD 1945. Di antara negara yang menganut sistem ini adalah Belanda. Dengan demikian format metode perubahan tetap addendum. dan materi yang dapat diubah baik dengan biasa. dan seterusnya. ketentuan mengenai siapa dan lembaga apa yang diserahi tugas menyiapkan Rancangan Perubahan UUD itu. et. ketentuan mengenai mekanisme pengambilan keputusan. dan Prancis. maupun dengan prosedur tidak biasa. Indonesia dengan Perubahan Pertama hingga Keempat sebenarnya melakukan model revisi tetapi dengan tetap mendeklarasikan dan mempertahankan format amandemen. perbedaan antara materi yang tidak dapat diubah. Dalam membuat ketentuan mengenai prosedur perubahan Undang Undang Dasar. seperti Amerika Serikat misalnya. Ketiga. Rajawali Press. bahwa bentuk hukum perubahan Undang Undang dasar adalah bentuk naskah yang terpisah yang selanjutnya berfungsi sebagai adendum terhadap naskah asli Undang Undang Dasar. baik eksplisit maupun implicit. 13 14 Jimly Asshiddiqie. Kedua. berpandangan bahwa apabila suatu Konstitusi diubah maka Konstitusi yang asli tetap berlaku. adanya ketentuan yang menegaskan. 13 Pertama. Cet. 81. Penyebutan Perubahan Kelima adalah pilihan yang menunjukkan diadopsinya model Amerika. ketentuan yang mengatur prosedur pengusulan dan penenerimaan usulan itu menjadi agenda resmi.al. atau dengan kata lain perubahan tersebut merupakan bagian atau dilampirkan dalam Konstitusinya. baik eksplisit ataupun implicit. hal. Meskipun demikian. . sedangkan substansi perubahan yang komprehensif. bukan berarti naskah perubahan tidak dapat disiapkan oleh pihak-pihak lain di luar MPR. Maknanya amandemen selanjutnya menjadi perubahan kelima. Jerman. Perubahan terhadap Konstitusi tersebut merupakan perubahan dari Konstitusi yang asli.3. negara-negara Anglo-Saxon. IV. setidaktidaknya ada lima hal yang penting untuk dincantumkan:14 Pertama. melanjutkan pola sebelumnya. Dahlan Thaib. Itu maknanya yang harus melakukan perubahan adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat. Keempat. Jakarta. adanya ketentuan yang menegaskan. hal. menunjukkan dipilihnya model Perancis. Kelima. Kedua.

dan fungsi pengisian jabatan publik. Pasal 3116 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mengadakan sidang bersama dalam forum majelis permusyawaratan rakyat untuk mengubah dan menetapkan Undang Undang Dasar. fungsi pengawasan. monopoli proses legislasi dalam satu kamar dapat dihindari. berikut ini adalah beberapa perubahan yang diusulkan khususnya berhubungan dengan DPD : BAB X KEKUASAAN LEGISLATIF Pasal 3015 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah memegang kekuasaan legislatif. atau terbukti melakukan perbuatan tercela. fungsi representasi. Yang dimaksudkan dengan kekuasaan legislatif adalah kekuasaan dalam melaksanakan fungsi legislasi. tindak pidana berat lainnya. dan untuk memilih Wakil Presiden ketika Wakil Presiden menggantikan Presiden dalam hal terjadi kekosongan Presiden. Karenanya. Dengan adanya kamar kedua.4. korupsi. untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Ketua DPR dan Ketua DPD secara ex-officio menjadi pimpinan sidang forum majelis permusyawaratan rakyat. Pasal 3217 Pengaturan ini diperlukan untuk menegaskan bahwa DPR dan DPD adalah lembaga legislatif sehingga keduanya DPR dan DPD sama-sama memegang kekuasaan legislatif. penyuapan. Pengaturan ini juga menegaskan bahwa sistem lembaga perwakilan rakyat Indonesia menganut pola dua kamar yang efektif (effective bicameralism). 16 . ditegaskan sistem dua kamar memungkinkan untuk mencegah pengesahan undang-undang yang cacat atau ceroboh. untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam hal terjadi kekosongan Presiden dan Wakil Presiden secara bersamaan. 15 Forum majelis permusyawaratan rakyat adalah merupakan joint session antara DPR dan DPD untuk melakukan tugas-tugas insidentil yang terjadi dalam praktik ketatanegaraan. Rancangan Perubahan UUD 1945 Sebagai tindak lanjut terhadap wacana Amandemen kelima UUD 1945. majelis permusyawaratan rakyat tidak lagi merupakan lembaga negara yang permanen karena majelis permusyawaratan rakyat adalah forum gabungan antara DPR dan DPD dan bukan merupakan gabungan antara anggota DPR dan anggota DPD. Dengan pasal ini. fungsi keuangan. ataupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Karena forum gabungan dan bukan merupakan lembaga permanen.

Sementara pemberhentian DPD. kecenderungan selama ini. Khusus untuk DPD. frase “bertempat tinggal di wilayah pemilihannya” adalah untuk menegaskan bahwa DPD merupakan perwakilan ruang. 18 Pemberhentian anggota DPR dan anggota DPD perlu diatur di tingkat undang-undang untuk memperjelas syarat dan tata cara pemberhentian. Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama dan jumlah seluruh anggota Dewan Perwakilan Daerah itu tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat. dengan basis pemilihan provinsi. harus ada elaborasi dalam undang-undang terutama kaitan konstituen di wilayah pemilihan dengan usul pemberhentian anggota DPD. Khusus untuk anggota DPR. Dengan aturan ini. Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah warga negara Indonesia (3) dan bertempat tinggal di provinsi daerah pemilihannya. 19 Pasal ini mengatur fungsi-fungsi dan hak-hak yang dimiliki DPR dan DPD sebagai lembaga legislatif. Pasal 3318 (1) (2) Calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat adalah warga negara Indonesia dan bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia. Pasal 34 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat diberhentikan dari jabatannya menurut syarat-syarat dan tata cara yang diatur dalam undang-undang.19 Pasal 3520 Penegasan bahwa anggota DPR dan anggota DPD dipilih melalui pemilihan umum adalah menghindari agar salah satu kamar tidak diisi dengan cara penunjukan atau gabungan antara pemilihan umum dan penunjukan. pemberhentian didasarkan pada subyektifitas partai politik.Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dipilih melalui pemilihan umum. 20 . (4) Syarat-syarat lain untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam undang-undang. undang-undang partai politik dan undang-undang susunan DPR dan DPD harus menjelaskan syarat dan tata cara pemberhentian anggota DPR. 17 Pencantuman bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia untuk calon anggota DPR dan bertempat tinggal di wilayah pemilihannya bagi anggota DPD adalah untuk membedakan keterwakilan bagi DPR dan DPD.

hak kelembagaan. setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak mengajukan pertanyaan. fungsi anggaran. fungsi pengawasan.21 dan fungsi keterwakilan.(1) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah memiliki fungsi legislasi. serta hak protokoler dan keuangan. fungsi pengisian jabatan publik. korupsi. Hak mengajukan rancangan undang-undang. 21 Fungsi keterwakilan merupakan konsekuensi dari keanggotaan DPR dan DPD yang dipilih secara langsung oleh rakyat. 23 Hak interpelasi adalah hak DPR dan DPD untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. penyuapan.23 Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak mengajukan rancangan undang-undang. 25 Hak menyatakan pendapat adalah hak DPR sebagai lembaga untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket atau terhadap dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. 22 Hak mengajukan rancangan undang-undang. pengisian hakim konstitusi. 26 Pemberian hak yang sama bagi anggota DPR dan anggota DPD adalah konsekuensi dari tidak adanya perbedaan antara anggota DPR dan anggota DPD sebagai anggota lembaga legislatif. tindak pidana berat lainnya atau perbuatan tercela maupun tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. hak angket. dan hak menyatakan pendapat juga dimiliki DPD karena fungsi-fungsi yang dimiliki DPR juga dimiliki oleh DPD.22 (2) Dalam melaksanakan fungsinya. gubernur BI. 28 . 24 Hak angket adalah hak DPR dan DPD untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Karena pemilihan itu. anggota BPK.28 Pasal 36 Fungsi pengisian jabatan publik adalah pengisian jabatan-jabatan yang memerlukan persetujuan DPR dan/atau DPD. hak interpelasi. hak angket. dan hak menyatakan pendapat juga dimiliki DPD karena fungsi-fungsi yang dimiliki DPR juga dimiliki oleh DPD. dan hak menyatakan pendapat26. Misalnya.27 (4) Ketentuan lebih lanjut tentang fungsi. serta hak keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam undang-undang. anggota DPR dan anggota DPD merepresentasikan konstituen mereka. hak angket25. anggota Komisi Yudisial. (3) Selain hak yang diatur dalam pasal-pasal lain undang-undang dasar ini. hakim agung. anggota KPU. hak imunitas. hak menyampaikan usul dan pendapat. Khusus untuk penambahan hak protokoler dan keuangan ditujukan agar anggota DPR dan anggota DPD tidak semena-mena menggunakan kekuasaan politik yang mereka miliki untuk mendapatkan pelayanan dan menambah penghasilan. hak interpelasi. 27 Undang-Undang tentang Hak Protokoler dan Keuangan diperlukan agar pelayanan dan keuangan anggota DPR dan anggota DPD mempunyai dasar pengaturan yang jelas. hak interpelasi24. Jabatan publik ini merupakan jabatan-jabatan yang disebutkan dalam UUD dan UU. anggota KPK dan lain-lain.

menolak. 29 Pasal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada anggota DPR dan anggota DPD untuk mengajukan rancangan undang-undang. sementara Pasal 27 menjelaskan prosedur pembahasan RUU yang diajukan oleh DPD. maka DPR dan DPD akan membentuk panitia bersama untuk mencapai kesepakatan. Dalam bikameral yang efektif ini. semua undang-undang (tanpa ada pengkhususan bidang untuk DPD) dibahas oleh DPR dan DPD terpisah dan bertahap dan RUU dapat diajukan baik oleh DPR maupun oleh DPD. Jika ditolak. lihat Pasal 28). . dengan kemungkinan perundingan melalui panitia bersama. maka RUU dikirim ke DPD untuk dibahas. Dengan begitu checks and balances antara eksekutif dan legislatif. Pasal 26 ini merincikan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPR. 30 31 Pasal ini terkait dengan pasal berikutnya. DPR dan DPD membahas sendiri-sendiri. Panitia bersama khusus didirikan untuk merumuskan kesepakatan bersama DPR dan DPD untuk RUU yang dibahas dan setelah itu dibubarkan. atau memberi tambahan. dan kemudian presiden diberikan hak untuk menyatakan penolakan politiknya dalam proses pengesahan oleh presiden (penandatanganan. maupun di antara kedua kamar di dalam lembaga legislatif dapat terjadi. Panitia ini berbeda dengan forum majelis permusyawaratan rakyat yang merupakan forum gabungan (joint session DPR dan DPD. maka RUU tersebut langsung diberikan kepada presiden untuk disahkan. Namun bila ada penambahan dari DPD. Apabila RUU berasal dari DPR. yaitu menjelaskan pola baru pembahasan rancangan undang-undang di dalam lembaga legislatif dalam konteks effective bicameralism (lihat catatan kaki nomor 50). Yang disebut dengan “panitia bersama” di sini adalah suatu kelompok kecil yang terdiri dari anggota DPR dan anggota DPR yang membahas RUU yang mendapatkan penambahan materi (tdak disetujui secara bulat oleh DPD). Untuk membuat penerapan sistem presidensil yang konsisten. lihat Pasal 19 dan catatan kaki nomor 51) dalam hal-hal tertentu yang diatur di dalam konstitusi. RUU tidak dapat diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. panitia bersama jumlahnya jauh lebih kecil dari forum majelis permusyawaratan rakyat. Penegasan ini diperlukan agar upaya untuk mendapatkan tambahan fasilistas dan keuangan tidak terjebak ke dalam konflik kepentingan (conflict of interest) anggota DPR dan anggota DPD. pembahasan undang-undang pun tidak lagi dilakukan “secara bersama-sama” oleh legislatif dan eksekutif seperti yang dikenal sekarang.30 Pasal 3831 (1) Setiap rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan kepada Dewan Perwakilan Daerah. Dengan demikian. Nantinya. Karena itu. DPD dapat menerima.Undang-undang tentang hak protokoler dan keuangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang berakibat pada kenaikan pendapatan diberlakukan untuk masa jabatan setelah pemilihan umum berikutnya.29 Pasal 37 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan rancangan undang-undang. hak untuk mengajukan rancangan undang-undang tidak hanya menjadi hak lembaga tetapi juga hak anggota DPR dan anggota DPD. dari segi jumlah pun. Bila DPD menerima.

maka DPR dan DPD akan membentuk panitia bersama untuk mencapai kesepakatan. undang-undang rancangan oleh tidak Perwakilan undang-undang diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. rancangan Rakyat. atau memberi tambahan. rancangan rancangan undang-undang (4) Perwakilan undang-undang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan. Dewan menyetujui rancangan rancangan undang-undang dari (4) Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 27 ini menjelaskan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPD.(2) Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui. rancangan undang-undang tidak dapat Pasal 3932 (1) (2) Setiap Dewan rancangan Perwakilan atau undang-undang Rakyat menolak Perwakilan dapat dari Dewan Perwakilan Daerah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Apabila Dewan Perwakilan Daerah mengusulkan perubahan terhadap rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Apabila rancangan Rakyat undang-undang membentuk panitia bersama untuk membahas rancangan undang-undang yang diajukan Dewan Perwakilan diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. mengusulkan perubahan. DPR dapat menerima. Dewan Perwakilan panitia Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah membentuk (5) Apabila bersama untuk membahas ditolak rancangan Dewan dapat undang-undang yang diajukan Dewan Perwakilan Daerah. atau menolak Perwakilan dari Dewan rancangan Daerah undang-undang dari Dewan Perwakilan Rakyat. maka RUU tersebut langsung diberikan kepada presiden untuk disahkan. (5) Apabila rancangan undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Daerah. menyetujui. Jika ditolak. Bila DPR menerima. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat mengusulkan perubahan atas rancangan undang-undang dari Dewan Perwakilan Daerah. Dewan Perwakilan Daerah. Jika RUU berasal dari DPD. . undang-undang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan. menolak. Namun bila ada penambahan dari DPR. mengusulkan dari perubahan. maka RUU dikirim ke DPR untuk dibahas. (3) Apabila Dewan menyetujui Rakyat. 32 Bila Pasal 26 menjelaskan prosedur pembahasan dalam hal RUU diajukan oleh DPR. RUU tidak dapat diajukan kembali dalam masa persidangan saat itu. Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Rakyat .

akibatnya muncul kebingungan secara konseptual mengenai sistem apa yang diterapkan di Indonesia dan secara praktek pun problematik dengan adanya undang-undang (mis. Ayat ini mengatur batas waktu dalam satuan “hari kerja” sementara ayat sebelumnya dalam satuan “hari” karena ayat sebelumnya dianggap sebagai suatu prosedur teknis sementara ayat ini menggambarkan prosedur politis yang membutuhkan perhitungan waktu efektif bagi presiden untuk mengambil keputusan.34 (2) Presiden dapat menolak rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dalam jangka waktu paling lama sepuluh hari kerja sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui. Diberikannya batasan waktu di dalam ayat ini adalah untuk memastikan pembahasan RUU tidak berlarut-larut dan agar ada kejelasan mengenai kondisi pelanggaran suatu prosedur. Dalam usulan amandemen ini yang mengandung jiwa penguatan sistem presidensil dan bimakeral yang efektif. proses legislasi berubah secara signifikan. Yang ada hanyalah pocket veto. dengan semua RUU dibahas oleh legislatif tanpa mengikutsertakan eksekutif.35 (3) Jika Presiden menolak untuk mengesahkan rancangan undangundang yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. yaitu mengirimkannya kepada presiden. mekanisme checks and balances dalam proses legislasi ini tidak terjadi karena adanya konsep “pembahasan bersama” antara eksekutif dan legislatif – yang tidak lazim diterapkan dalam sistem presidensial—sehingga menghilangkan pula adanya mekanisme “veto-penolakan veto-pocket veto” ini. Dalam pasal ini diperkenalkan proses yang lebih rinci yang dapat terjadi sebelum suatu undang-undang disahkan (ditandatangani) presiden untuk membuat.Pasal 4033 (1) Dalam jangka waktu paling lama tiga hari. Ayat ini menjelaskan proses berikutnya setelah suatu RUU disetujui oleh DPR dan DPD. yaitu adanya proses pernyataan penolakan atau veto presiden. Namun proses sebelumnya tidak diperjelas dan proses pembahasan pun dilakukan bersama antara eksekutif dan legislatif. di mana eksekutif (presiden) dan legislatif (DPR dan DPD) dapat saling mengontrol. Selama ini. Pasal ini harus dibaca dalam satu rangkaian dengan Pasal 26 dan 27 sehingga akan menggambarkan proses checks and balances yang lebih baik antara eksekutif dan legislatif dalam hal pembuatan undang undang. dengan menyatakan bahwa apabila dalam jangka waktu 30 hari setelah disetujui presiden tidak menandatangani RUU maka RUU tetap menjadi undang-undang. 34 Ayat ini memberikan hak kepada presiden untuk menyatakan penolakan atas suatu RUU yang sudah disetujui oleh DPR dan DPD. namun kemudian eksekutif diberikan hak untuk menyatakan penolakan politiknya dalam proses pengesahan oleh eksekutif. UU Pelabuhan Bebas Batam) yang sudah disetujui bersama oleh DPR dan pemerintah namun ternyata pemerintah menolak menandatanganinya. rancangan undang-undang dimaksud sah menjadi undang-undang apabila disetujui sekurangDaerah disampaikan kepada Presiden untuk 33 Pasal ini menjelaskan proses pengesahan oleh presiden atas RUU yang sudah disetujui oleh DPR dan DPD dalam konteks sistem presidensil yang konsisten. rancangan undangundang yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan disahkan. penolakan atas veto presiden oleh DPR dan DPD (overriding). Adanya batasan 10 hari kerja di dalam ayat ini adalah untuk memastikan pembahasan RUU tidak berlarut-larut dan agar ada kejelasan mengenai kondisi pelanggaran suatu prosedur. dan “veto diam-diam” presiden (pocket veto). 35 .

37 Batasan waktu 30 hari dicantumkan untuk mencegah agar hak darurat presiden dalam membentuk peraturan dimaksud tidak berlarut-larut dan dalam batas waktu tersebut hak darurat itu dapat dinilai DPR dan DPD. 39 Tanpa persetujuan DPR dan DPD.37 paling lama tiga puluh hari sejak waktu ditetapkan. Perubahan yang dilakukan adalah menghilangkan kata “ihwal” karena dalam penggunaan bahasa Indonesia.36 Pasal 41 (1) (2) Dalam hal kegentingan yang memaksa. karena undang-undang itu dianggap sudah disetujui secara mayoritas oleh parlemen yang merepresentasikan rakyat. Untuk menghilangkan kata ganda tersebut.38 (3) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah menyetujui.40 Pasal 4241 Pasal ini adalah mengenai “penolakan veto presiden oleh legislatif” dan “veto secara diamdiam” presiden (pocket veto) atas penolakan veto tersebut. kata “ihwal” dihapuskan. kata “hal” dan “ihwal” mempunyai pengertian yang sama. 40 Pengaturan mengenai pembentukan RAPBN dipisahkan dari pengaturan mengenai pembentukan undang-undang lain. undang-undang tersebut tetap sah. Dengan penolakan itu. Meski demikian. Proses ini diberikan batasan jangka waktu 30 hari untuk memastikan berlangsungnya proses politik ini. untuk menjadi undang-undang. peraturan pemerintah pengganti undang-undang tidak dapat menjadi undang-undang. Namun “penolakan” legislatif atas veto eksekutif tersebut masih bisa di-veto lagi "secara diam-diam' melalui tidak ditandatanganinya undang-undang tersebut.kurangnya 2/3 dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan 2/3 dari anggota Dewan Perwakilan Daerah dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari sejak penolakan tersebut disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Daerah dan wajib diundangkan. karena proses pembentukan RAPBN mempunyai karakter 41 . untuk memberikan kepastian agar DPR dan DPD tidak mebiarkan Perpu berlarut-larut.39 (4) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Dewan Perwakilan Daerah menolak. Perpu tersebut harus dicabut. peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus dicabut. 36 Ketentuan ini tetap mempertahankan hak darurat presiden untuk menetapkan peraturan perundang-undangan yang substansinya sama dengan undang-undang sebagai-mana dalam UUD hasil amandemen atau sebelum amandemen. Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah Dalam jangka pengganti undang-undang. 38 Sebagaimana pembentukan undang-undang. Veto presiden atas suatu RUU yang sudah disetujui DPR dan DPD dapat “dilawan” atau ditolak kembali oleh DPR dan DPD melalui suatu pernyataan yang disetujui oleh minimal dua pertiga anggota DPR dan dua pertiga anggota DPD (bukan gabungan dalam forum majelis permusyawaratan rakyat. Di samping itu. peraturan pemerintah pengganti undangundang menjadi undang-undang. melainkan keputusan DPR dan DPD secara terpisah). Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui atau menolak peraturan pemerintah pengganti undang-undang. peraturan pemerintah pengganti undang-undang harus mendapat persetujuan DPR dan DPD.

42 Sama dengan rancangan undang-undang. rancangan undangundang disampaikan kepada Presiden untuk disahkan. hanya presiden yang berhak mengajukan RAPBN. Di samping itu. batasan 60 hari bertujuan untuk mempercepat kepada daerah menyusun RAPBD Batasan 60 hari sebelum berakhirnya tahun anggaran tidak hanya bertujuan untuk mempercepat penyelesaian RAPBN tetapi juga untuk memberikan ruang kepada daerah menyusun RAPBD lebih awal. 43 Panitia bersama dengan menyertakan presiden dibentuk usul perubahan yang diajukan oleh DPR dan/atau DPD. RAPBN ditarik keluar dari Bab keuangan negara karena RAPBN merupakan quasi legislasi karena APBN dituangkan dalam baju hukum berbentuk undang-undang. Perbedaan itu karena proses pembahasan RAPBN tidak merupakan proses legislasi murni tetapi merupakan kuasi legislasi. Proses pembahasan RAPBN merupakan fungsi begrooting DPR dan DPD. mengusulkan perubahan.(1) Presiden anggaran mengajukan pendapatan rancangan dan belanja undang-undang negara kepada tentang Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah untuk dibahas pada waktu yang bersamaan. 44 45 untuk mempercepat pembahasan Sementara itu. RAPBN harus mendapat persetujuan DPR dan DPD. (3) Apabila Daerah Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan tentang menyetujui rancangan undang-undang anggaran pendapatan dan belanja negara. .44 (5) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan tentang yang Daerah menyetujui puluh (6) hari rancangan sebelum undang-undang tahun anggaran anggaran pendapatan dan belanja negara selambat-lambatnya enam bersangkutan dilaksanakan.45 Dalam jangka waktu paling lama tiga hari. maka Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah membentuk panitia bersama dengan mengikutsertakan Presiden untuk membahas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara.42 (2) Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah dapat menyetujui. rancangan undangundang yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan yang berbeda dengan undang-undang. Berbeda dengan pengajuan rancangan undang-undang yang dapat diajukan presiden kepada DPR atau DPD.43 (4) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Daerah mengusulkan perubahan atas rancangan undangundang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara. Oleh karena itu. atau menolak rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara. sebelum berakhirnya tahun anggaran tidak hanya penyelesaian RAPBN tetapi juga untuk memberikan ruang lebih awal. RAPBN diajukan kepada DPR dan DPD sekaligus.

Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah mempunyai hak interpelasi. 48 49 Lihat catatan Pasal 35 ayat 2. 46 Tujuan aturan ini adalah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penolakan atas RAPBN yang diajukan oleh presiden.48 Pasal 44 (1) Dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan.47 Pasal 43 Ketentuan lebih lanjut tentang pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang. bukan Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan seperti UU No 10/2004. Presiden menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang lalu.Dewan Perwakilan Daerah disampaikan kepada Presiden untuk disahkan.49 (2) Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan pengawasan diatur dalam undang-undang. dan hak menyatakan pendapat.46 (7) Apabila Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Dewan Perwakilan Daerah tidak menyetujui rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara. 47 Pasal ini memerintahkan adanya Undang-Undang tentang Pembentukan Undang-Undang. Batasan waktu tiga hari dimaksudkan untuk mempercepat proses di DPR dan DPD setelah RAPBN disetujui. . hak angket.

KESIMPULAN B.BAB III PENUTUP A. SARAN .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful