SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU HADIS

A.Pengertian Ilmu Hadist Menurut Prof Dr T.M Hasbi Asidiq, Ilmu Hadist ialah : ilmu yang berkaitan dengan hadist.definisi ini dikemukakan mengingat ilmu yang behubungan dengan hadist sangat banyak macamnya. Hal ini disebabkan karena ulama yang membahas masalah ini juga banyak, karenanya dijumpai sejumlah istilah yang berkaitan dengan ilmu hadist. Diantara ulama ada yang menggunakan sejarah ilmu hadsit, ilmu usul Al hadist atau ilmu musthalah hadist. Ilmu hadist dibagi menjadai dua bagian : 1. Ilmu Hadist Riwayah Ilmu yang mangetahui perkataan, perbuatan takrir dansifat-sifat Nabi. Dengan kata lain ilmu hadist riwayah adalah ilmu yang membahas segala sesuatu yang datang dari Nabi baik perkataan, perbuatan, ataupun takrir. 2. Ilmu Hadist Dirayah Ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, caracara menerima dan menyampaikan hadist dan sifat-sifat rawi. Oleh karena itu yang menjadi objek pembahasan dari ilmu hadist dirayah adalah keadaan matan, sanad dan rawi hadist

B. Perkembangan Ilmu Hadist Orang yang melakukan kajian secara mendalam mendapati bahwa dasar-dasar dan pokok-pokok penting bagi ilmu riwayah dan menyampaikan bertita dijumpai didalam Al Quran dan Sunnah Nabi. Allah Swt berfirman : Artinya : “Hai oarang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (Qs Al Hujrat 6) Sedangkan didalam sunnah Rasulullah Saw: Artinya : “Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu berita, yaitu hadist lalu ia menyampaikan berita itu sebagaimana yang didengar dan mungkin saja orang yang menerima berita itu lebih faham dari orang yang mendengar. (H.r At Tirmidzy) Dalam uapaya melaksanakan perintah Allah dan Rasul nya para sahabat telah menetapkan halhal yang menyangkut penyampaian suatu berita dan penerimaannya, terutama jika mereka meragukan kejujuran si pembawa berita . berdasarkan hal itu, tampak nilai dan pembahasan mengenai isnad dalam menerima dan menolak suatu berita. Didalam pendahuluan kitab Shahih Muslim, dituturkan dari Ibnu Sirin, “dikatakan, pada awalnya mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, namun setelah terjadi peristiwa fitnah maka mereka berkata, “sebutkanlah pada kami orang-orang yang meriwayatkan hadist kepadamu”. Apabila orang-orang yang meriwayatkan hadist itu adalah ahlu sunnah, maka mereka ambil hadistnya . jika orang-orang yang meriwayatkan hadistitu adalah ahli bidah maka mereka tidak mengambilnya. Berdasarkan hal ini, maka suatau berita tidak bisa diterima kecuali setelah diketahui sanadnya. Karena itu muncullah ilmu jarah wa ta’dil, ilmu mengenai ucapan para perawi, cara untuk mengetahui bersambung (Muttasil) atau terputus (munqati)-nya sanad, mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. Mmuncul pula ucapan-ucapan sebagai tambahan dari hadist sebagian perawi

meskipun sangat sedikit karena masih sedikitnya para perawi yang tercela pada masa-masa awal. Kemudian para ulama dalam bidang itu semakin banyak, sehinggga muncul berbagai pembahasaan didalam banayak cabang ilmu yang terkait denag hadist, baik dari aspek kedhabitannya, tata cara menerima dan menyampaikannnya, pengetahuan tentang hadist-hadist yang nasikh dari hadist-hadist yang mansukh dll. Semua itu masih disampaikan ulama secara lisan Lalu masalah itu pun semakin berkembang lam kelamaan ilmu hadist ini mulai ditulis dan dibukukan, akan tetapi masih terserap diberbagai tempat didalam kitab-kitab lain yang bercampur dengan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul fiqih dan ilmu hadist contohnya ilmu Ar Risalah dan Al Umm Imam Syafi’I. Ilmu hadist mengalami perkembangan yang sanagat luart biasa pada awal abad ke tiga hijriyyah. Hanya saja, perkembangan itu masih berkutat pada upaya mengatahui yang bisa diterima dan ditolak karenanya pembahasan seputar periwayatan dan hadist yang diriwayatkan. Menurut sejarah ulama yang pertama-tama menghimpun ilmu hadist riwayat adalah Muhammad Ibnu Shihab Al Juhri atas perintah dari khalifah Umar bin Abdul Aziz. Al Zuhri adalah salah satu seorang tabiin kecil yang banayak mendengar hadist dari para sahabat dan tabi’in besar. Sedangkan ilmu hadist dirayah sejak pertengahan abad kedua Hijriyyah telah dibahas oleh para ulama hadist, tetapi belum dalam bentuk kitab khusus dan belum merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Pada masa Al Qadhi Ibnu Muhammad Al Ramahurmudzi (265-360 H), barulah kemudian dibukukan dalam kitab khusus yang dijadikan sebagai disiplin ilmu yang berdidri sendiri. Setelah itu barulah diikuti oleh ulama-ulama berikutnya seperti Al Hakim Abdul Al Naysaburi dll. Pada masa ulama konten porer ilmu hadist dirayah dinamakan dengan Ulumul Hadist dan pada masa terakhir ini lebih mashur. Akhirnya ilmu-ilmu itu semakin matang , mencapai puncaknya dan memiliki istilah sendiri yang terpisah dengan ilmu-ilmu lainnya. Hal ini terjadi pada abad ke empat Hijriyyah para ulama menyusun ilmu msthalah dalam kitab tersendiri, orang yang pertama menyusun kitab ini adalah Qadli Abu Al Fasih Baina Ar Rawi wa Al-wa’i.

C. Cabang-cabang Ilmu Hadist Cabang-cabang ilmu hadsit dikelompokan menjadi beberapa hal sebagai berikut : 1. Ilmu Rijal Al Hadist Ilmu untuk mengetahui para perawi hadist dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadist ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam bidang ilmu hadist, karena pada saat ini ada dua yaitu matan dan sanad. Ilmu Rijal Al Hadist memberikan pengertian kepada persoalan khusus persoalan seputar sanad 2. Ilmu Al Jarah wa Ta’dil Ilmu yang membahas kecacatan rawi, seperti keadilan dan kedhabitannya. Sehingga dapat ditentukan siapa diantara perawi itu yang dapat diterima atau ditolak hadsit yang diriwayatkannya. Ilmu jarah wa ta’dil ini dikelompokan oleh sebagian ulama kedalam ilmu hadist yang pokok pembahasannya berpangkal kepada sanad dan matan 3. Ilmu Tarikh Ruwat Ilmu untuk mengetahui para pwrawi hadist yangberkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadist. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada aspek kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan 4. Ilmu Ilalil Hadist

Ilmu Muktalif Al Hadist Ilmu yang membahas hadist-hadist yang menurut lainnya bertentangan atau berlawanan.Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang mencacatkan keshahihan hadist. 8. mulailah bahasa arab yang tinggi tidak diketahui lagi umum.wordpress.com/2009/04/10/sejarah-perkembangan-ilmu-hadis/ . dari murid Ahmad 7. Ilmu Talfiqiel Hadist Ilmu yang membahaskan tentang cara mengumpulkan antara hadist-hadist yang berlawanan lahirnya Dikumpulkan itu adakalanya dengan mentahkhisiskan yang Am atau mentaqyidkan yang mutlak atau dengan memandang banyak kali terjadi. 5. Ilmu Nasikh wa Mansukh Ilmu yang membahas hadist-hadist yang berlawanan yang tidak dapat dipertemukan dengan cara menentukan sebagiannya sebagai nasikh dan sebagian lainnya sebagai mansukh. Ibnul Jauzy kitabnya bernama At Tahqiq sudah disarahkan oleh Ustad Ahmad Muhammad Syakir. Ilmu Asbabi Wurudil Hadis Ilmu yang menerangkan sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. Ilmu Ghraib Al Hadist Ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafad-lafad hadist yang jauh dan sulit dipahami. 6. Ulama yang mula-mula meyusun kitab ini adalah Abu Hafash Umar ibnu Muhammad Ibnu Rajak Al Ukbary. Sesudah berlalu masa sahabat. Ilmu Al Tashif Ilmu pengetahuan yang berusaha menanamkan tentang hadist-hadist yang sudah diubah titik atau sakalnya atau bentuknya. kemudian ia menghilangkan pertentangan tersebut atau mengkompromikan antara keduanya. yakni abad pertama dan para tabi’in pada tahun 150 H. karena lapad-lapd tersebutjarang digunakan. berusahalah para ahli mengumpul kata-kata yang dipandang tidak dapat dipahamkan oleh umum dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan seharihari dalam sesuatu kitab dan mengsarahkannya. Satu-satu orang saja lago yang mengetahuinya. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadist diantara para ulama besar yang telah berusaha menuyusun ilmu ini ialah Al Imamusy Syafi’I. Oleh karena itu. Ibnu Qutaibah. sebagaimana juga ia membahas tentang hadist-hadist yang sulit difahami isi atau kandungannya dengan cara menghilangkan kemuskilan atau kesulitannya serta menjelaska hakikatnya 10. 9. bahwa yang datang terdahulu disebut Mansukh dan yang datang dinamakan nasikh. seperti mengatakan muttasil terhadap hadist munqati menyebat hadist marfu kepada hadsit mauquf. http://t4f5.

jika datang orang fasiq dengan membawa suatu berita kepada kalian. serta terdapat dalam Sunnah Nabawiyah. maka janganlah kamu mengambil hadits yang diriwayatkannya. serta (cara) mengetahui sanadsanad yang muttasil dan yang munqati'. kemudian setelah timbul fitnah. Nabi pernah bersabda : Semoga Allah mengelokkan wajah orang yang mendengar berita dariku. lalu ia menyampaikan persis seperti apa yang pernah didengarnya. mereka baru mempertanyakannya : 'Sebutkanlah kepada kami orang-orang yang meriwayatkan hadits kepada kamu sekalian'. dikatakan Semula mereka tidak pernah mempertanyakan tentang sanad. Allah berfirman : Wahai orang-orang yang telah beriman.Orang yang melakukan studi secara kritis akan mengetahui bahwa asas sarta prinsip-prinsip pokok ulumul hadits (kaidah-kaidah menerima dan menyampaikan hadits) itu benar-benar terdapat dalam kitab al Quran yang mulia. tata cara menerimanya serta menyampaikannya. maka nampak jelaslah kedudukan serta nilai sanad dalam rangka untuk menerima atau menolak suatu berita. dengan cara melakukan tabayyun (memperjelasnya) serta menelitinya dan agar hati-hati dalam menyampaikan suatu berita kepada orang lain. maka para sahabat telah menetapkan ketentuan-ketentuan dalam menyampaikan suatu berita sekaligus dalam hal menerimanya. Bahkan telah muncul pula pembicaraan pada sebagian rawi-rawi yang tercela â??meskipun masih sangat sedikit sekali. Lalu jika ternyata mereka yang meriwayatkan hadits tersebut adalah orang-orang Ahli Sunnah maka terimalah hadits itu. hingga lahirlah pembahasan dalam beberapa cabang yang berhubungan dengan hadits dari segi pencatatannya.. maka munculah ilmu Jarh wa Ta'dil. maka hendaklah kalian menelitinya (al Hujurat : 6).karena sedikitnya rawi-rawi yang benar-benar tercela pada masa awalnya. Kemudian para ulama lama kelamaan memperluas (jangkauan pembahasan) dalam masalah yang demikian itu. Dalam muqadimah Shahih Muslim. dan (ilmu mengenai) pembicaraan terhadap rawirawi hadits. Dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan Rasuyl-Nya itu. begitu pula tidak sedikit orang yang membawa berita itu tidak lebih mengerti daripada orang lyang menerima berita tersebut (HR Tirmidzi). terutama ketika mereka meragukan terhadap kejujuran dari orang yang menyampaikan berita tersebut. Atas dasar ini. jika ternyata memang orang-orang Ahli Bid'ah. dari riwayat Ibnu Sirin. dan mengetahui . Dalam ayat al Quran serta dua hadits tersebut jelas terdapat suatu prinsip ketentuan mengenai pengambilan suatu berita sekaligus tata cara dalam menerima suatu berita tertentu. serta (cara) pembicaraan terhadap rawi-rawi hadits. Karena tidak sedikit orang yang mendengarnya sendiri (HR Tirmidzi) dalam suatu riwayat lain beliau juga bersabda : Maka tidak sedikit orang yang membawa berita itu lebih mengerti daripada orang yang menerima berita tersebut. dan mengetahui cacat-cacat yang tersembunyi. sebaliknya. Berpijak pada prinsip bahwa uatu hadits itu tidak dapat diterima kecuali sesudah dikatahui sanadnya.

Kitab ini belum membahas seluruh persoalan dalam bidang ulumul hadits. yang hal itu dapat ditemukan oleh orang yang kritis terhadap persoalan tersebut. kitabnya Al Muhaddits al Fashil Baina al Rawi wa al Wa'i.nasikh-mansukhnya. sebuah kitab pelengkap Al Hakim Ma'rifat 'Ulum al Hadits . Disusun oleh Abdullah Muhammad bi Abdul Hakim an Naisabury (wafat 405 H). Al Kifayatu fi ilmi al Riwayah. akan tetapi masih terdapat beberapa persoalan yang tertinggal belum dibahas. dan memang begitulah umumnya keadaan orang yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ilmu apapun. Disusun oleh al Khatib al Baghdadi juga. Kemudan terus berkembang. gharibnya dan hal-hal selainnya. Disusun oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit al Khatib al Baghdadi (wafat 463 H). Al Jami' li al Akhlaki al Rawi wa adabi al Sami'i. Ma'rifat 'Ulum al Hadits. hanya saja demikian itu dilakukan para ulama secara lisan. misalnya kitab Ar Risalah dan kitab Al Umm karya Imam Syafi'i. seperti ilmu Ushul Fikih dan ilmu hadits. Al Mustakhraj ala Ma'rifat 'Ulum al Hadits. sebuah kitab yang membahas tentang adab periwayatan sebagaimana nampak jelas pada namanya. Disusun oleh al Qadhi Abu Muhammad al Hasan bin Abdurrahman bin Chalad ar Ramaharmuzi. akan tetapi dalam beberapa kitab yang masih bercampur dengan ilmu-ilmu lainnya. sebuah kitab yang menghimpun segala permasalahan dalam cabang ilmu ini. Hal ini terjadi pada abad keempat hijriah. Para akhirnya ilmu-ilmu tersebut telah mencapai puncaknya dan telah menjadi sebuah istilah tersendiri. Kitab-kitab yang populer dalam bidang ulumul hadits Al Muhaddits al Fashil Baina al Rawi wa al Wa'i. maka para ulama ahli hadits berusaha menyusun kitab secara khusus dalam bidang ulumul hadits. dan masing-masing cabang ilmu telah terpisah dari cabang ilmu lainnya. dan merupakan kitab yang paling baik dalam babnya . Disusun oleh Abu Nu'em Ahmad bin Abdullah al Asbahany (wafat 430 H). sekaligus berisi penjelasan kaidah-kaidah periwayatan dan merupakan kitab acuan pokok yang sangat penting dalam ilmu ini. Adapun ulama yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ini adalah al Qadhi Abu Muhammad al Hasan bin Abdurrahman bin Chalad ar Ramaharmuzi (wafat pada tahun 360 H). kitab ini belum disusun sacara sistematis seperti halnya ilmu yang lain. dan lambat laun ilmu-ilmu ini ditulis dan dibukukan.

makanya benar apa yang dikatakan oleh al Hafidz Abu Bakar bin Nuqthah bahwa Setiap orang yang sadar mengetahui bahwa para ahli hadits sesudah al Khatib dalam menyusun kitab selalu mengacu kepada kitab beliau tersebut. serta mensistematiskannya. Disusun oleh Abu Hafs Umar bin Abdul majid al Mayanaji (wafat 580 H).dan sangat bernilai pembahasannya serta cakupannya. akan tetapi belum tersusun secara urut sesuai dengan tema pokok bahasan. Al Ilma'u ila Ma'rifati Ushuli al Riwayah wa Taqyidi al Sima'i. kitab ini belum mencakup seluruh pembahasan ulumul hadits.merupakan kitab pensyarah kitab Taqrib An Nawawi sebagaimana nampak jelas pada namanya. Disusun oleh Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar As Suyuti (wafat 911 H). terkenal dengan sebutan Ibnu Shalah (wafat 643 H). Ulumul Hadits. Nahlmu al Durar fi Ilmi al Atsar. kitab ini merupakan ringkasan dari kitab 'Ulumul Hadits' karya Ibnu Shalah. Cuma kadang-kadang terdapat ungkapan yang sulit untuk dipahami. Disusun oleh Muhyidin Yahya bin Syarifu al Nawawi (wafat 676 H). Dan sangat sedikit cabang-cabang ilmu hadits kecuali al Khatib telah menyusun dalam sebuah kitab tersendiri. Disusun oleh Al Qadhi 'Iyadh bin Saushi al Yahshuby (wafat 544 H). Dalam kitab ini penyusunnya menghimpun masalah-masalah yang terpisah-pisah dari kitab-kitab al Khatib dan orang yang mendahuluinya. sekalipun begitu kitab ini merupakan kitab pegangan pokok bagi para ulama yang datang sesudahnya. sebuah bagian kecil yang tidak begitu besar faidahnya. Disusun oleh Abu Amru Utsman bin Abdurrahman al Syahrazury. Tadribu al Rawi fi Syarhi Taqrib al Nawawi. Al Taqrib wa al Taisir li Ma'rifati Sunani al Basyir al Nadhir. Ma la yasa'u al Muhadditsa jahluhu. sebab meloncat-loncat dari satu masalah ke masalah yang lain. . kitabnya terkenal dengan nama 'Muqaddimah Ibnu Shalah'. banyak sekali ulama yang telah membuat ringkasan dari kitab ini. bahkan ada pula ulama yang telah memberikan tanggapan serta koreksi perbaikan terhadap kitab ini. merupakan kitab yang paling baik dalam bidang ulumul hadits. bahkan hanya terbatas pada persoalan yang berhubungan dengan tata cara penerimaan dan penyampaian hadits dan cabang-cabangnya. akan tetapi sangat bagus sekali bab pembahasan dan sistematika serta urutan-urutannya. sebuah kitab yang sangat baik sekali. karenanya kitabini menghimpun kaidah-kaidah ilmu hadits. dalam kitab ini penyusunnya mengumpulkan kaidah-kaidah yang banyak sekali.

Dinukil dari kitab Taisir Musthalah Hadits karya Dr. merupakan kitab karangan orisinil yang sangat berfaidah sekali. sebuah kitab kecil dan sangat ringkas. yang sebelumnya belum pernah dilakukan orang lain. dengan beberapa tambahan kitab ini bagus sekali faidahnya.net/manhaj/sekilas-sejarah-perkembangan-ilmu-hadits. sebagaimana yang lainnya telah mensyarahkannya. dan telah banyak disyarahkan. Disusun oleh al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalany (wafat 852 H). Mahmud Thahhan yang diterjemahkan kedalam bahasan Indonesia oleh Drs. Al Mandhumatu al Baiquniyah.Disusun oleh Zainuddin Abdurrahim bin Husein al Iraqi (wafat 806 H). dan merupakan syarah yang paling sempurna dan paling baik dari sekian banyak kitab syarah Alfiya Nuhbatu al Fakir fi Musthalah Ahli al Atsar. http://www. Kemudian beliau telah mensyarahnya dengan nama 'Nuzhatu al Nadhar'.salafyoon. akan tetapi merupakan ringkasan yang paling bermanfaat dan paling bagus urutanurutannya. Zainul Muttaqin dan diterbitkan oleh Titian Ilahi Press (Cet II/Des 1999). merupakan kitab nadham yang ringkas karena hanya terdiri dari tiga puluh empat bait. Disusun oleh Muhammad Jamaluddin al Qashimy (wafat 1332 H).html . Disusun oleh Umar bin Muhammad al Baiquny (wafat 1080 H). dan merupakan ringkasan yang bermanfaat lagi terkenal dan telah banyak disyarahkan. Disusun oleh Muhammad bin Abdurrahman al Sakhawy (wafat 902 H). dua diantaranya disusun oleh penyusunnya sendiri. terkenal dengan nama 'Alfiyah al Iraqi' merupakan kitab Nadham dari kitab 'Ulumul Hadits karya Ibnu Shalah. merupakan kitab pensyarah kitab Alfiyah karya al Iraqi. Qawaidu al Tahdits. penyusunnya merupakan orang yang paling awal dalam menyusun kitab yang menempuh jalan secara urut dan terbagi-bagi pembahasannya. Fathu al Mughits fi Syarhi Alfiyah al Hadits.

dimana beliau berkata. niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. At-Tirmizi no. kita bisa mengetahui bahwa pokok pembahasan ilmu hadits adalah sanad dan matan hadits. maka bisa jadi orang yang disampaikan kepadanya itu lebih faham (tentang hadits itu) daripada orang yang mendengarnya (secara langsung)”. “Definisi yang paling tepat untuk ilmu hadits adalah dikatakan: Ilmu untuk mengetahui kaidah-kaidah yang dengan kaidah-kaidah ini bisa diketahui keadaan ar-rawi (periwayat) dan al-marwi (lafazh yang diriwayatkan). Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Al-Hujurat: 6) Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga telah bersabda: ‫نَضر َّللاُ امرأً سمع منَّب شيئًب فَبَلَّغهُ كمب سمع فَرة مبَلَّغ أَوعَى منْ سبمع‬ ْ َ ِ َ ِ َ َ ْ َّ َ َّ ْ ٍ ُ َّ ُ َ ِ َ َ َ َ ٍ ِ َ ِ “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar sesuatu dariku kemudian dia sampaikan sebagaimana dia mendengarnya. Dan setelah beliau menyebutkan semuanya. 226 dari Zaid bin Tsabit) .Pengantar Ilmu Hadits Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Di dalam Al-Qur`an Allah Ta’ala berfirman yang artinya.” (QS. dan Ibnu Majah no. meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Abu Daud no. dan terkadang orang yang membawa fiqhi itu sendiri itu bukanlah orang yang faqih. 3175. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah. Mengenai definisinya. As-Suyuthi rahimahullah di awal Tadrib Ar-Rawi menyebutkan beberapa definisi di kalangan ulama. beliau kemudian menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar dimana beliau berkata. “Ilmu hadits adalah sebuah ilmu yang berisi kaidah-kaidah yang dengannya bisa diketahui keadaan sanad dan matan (redaksi hadits). Karena terkadang orang yang membawa fiqhi (hadits). Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah.” Dari kedua definisi di atas.” (HR. Kami memuji kepada-Nya. “Hai orang-orang yang beriman. maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Sementara manfaat dari ilmu hadits ini adalah agar seseorang bisa membedakan mana hadits yang bisa diterima dan mana hadits yang harus ditolak. tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan RasulNya. 2581 dari Ibnu Mas’ud) Dalam riwayat lain: ‫نَضر َّللاُ امرأً سمع منَّب حديثًب فَحفِظَهُ حتَّى يُبَلِّغهُ فَرة حبمل فِقه إِلَى منْ هو أَفقَهُ منهُ ورة حبمل فِقه لَيس بِفَقِيه‬ َ ْ ٍ ْ ِ ِ َ َّ ُ َ ْ ِ ْ َ ُ َ َ َ ٍ ٍ ْ ِ ِ َ َّ ُ َ ِ َ ِ َ ِ َ َ ْ َّ َ َّ “Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengar hadits dariku lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain. maka periksalah dengan teliti. Sejarah Ringkas Perkembangan Ilmu Hadits Setiap orang yang mempelajari ilmu hadits ini harus mengetahui bahwasanya semua landasan dan aturan mendasar dari ilmu riwayat dan penukilan kabar itu sudah termaktub dalam AlQur`an dan sunnah. At-Tirmizi no. amma ba’du: Definisi Ilmu Musthalah Al-Hadits Ilmu musthalah al-hadits biasa juga dinamakan ilmu al-hadits atau ilmu ar-riwayah atau ilmu ushul ar-riwayah. ” Semisal dengan definisi dari Ibnu Juma’ah yang juga dinukil oleh As-Suyuthi. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata. 2580. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. dia menceritakannya kepada orang yang lebih faqih darinya. (HR.

“Sebutkan kepada kami rijal (para penukil hadits) kalian. “Dahulu. Maka dilihatlah orang yang disebutkan. Juga menjadi landasan dalam hal bagaimana cara memeriksanya. mereka sudah mulai bertanya (kepada orang yang menceritakan hadits). para sahabat radhiallahu anhum senantiasa melakukan tatsabbut (mengecek kebenaran) dalam menukil dan menerima sebuah kabar.com/pengantar-ilmu-hadits/ .Dalam ayat dan hadits di atas terdapat landasan awal dari kewajiban meneliti dan memeriksa sebuah kabar sebelum kabar tersebut diterima. terlebih lagi jika mereka meragukan kejujuran orang yang membawa kabar tersebut. menghafalnya. Disebutkan dalam Muqaddamah Shahih Muslim dari Muhammad bin Sirin bahwa beliau berkata. “ http://penuntutilmu. Dan sebagai perwujudan dari perintah Allah dan Rasul-Nya ini. mereka tidak pernah mempertanyakan mengenai sanad suatu hadits. Jika rijal yang dia sebutkan adalah ahlussunnah maka diterima hadits mereka. Tapi tatkala fitnah (kekacauan) telah terjadi . Maka dari sisi inilah muncul pembahasan mengenai sanad sebuah kabar dan bagaimana pentingnya kedudukan sanad dalam menerima atau menolak suatu kabar. dan berhati-hati dalam menyampaikan kabar tersebut kepada orang lain. tapi jika yang disebutkan itu adalah ahli bid’ah maka tidak diterima hadits mereka. memperhatikannya.

e. Masa pembuatan kitab syarah hadits. meriwayatkan hadits sekitar 5374 buah. Masa wahyu dan pembentukan hukum ( pada Zaman Rasul : 13 SH .11 SH ). e. Anas bin Malik. Abdullah bin ‘Abbas. Pada zaman Rasulullah al-Hadits belum pernah dituliskan sebab : a. Pada zaman-zaman berikutnya pun ternyata al-Hadits belum sempat dibukukan karena sebab-sebab tertentu.akhir abad 1 H ). Masa penyusunan kitab-kitab koleksi ( awal abad IV H sampai jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H ). meriwayatkan sekitar 2630 buah. Masa pembatasan riwayat ( masa khulafaur-rasyidin : 12-40 H ). kecuali bagi sahabat-sahabat tertentu yang diizinkan beliau sebagai catatan pribadi. Abdullah bin ‘ Umar bin Khattab. Masa penyaringan dan seleksi ketat ( awal abad III H ) sampai selesai. g. f. Baru pada zaman ‘Umar bin Abdul Azis. Sebelumnya hadits-hadits itu hanya disampaikan melalui hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama setelah Nabi wafat dan pada sa'at generasi tabi'in mencari hadits-hadits itu. d. Diantara sahabat-sahabat itu ialah : Abu Hurairah. kitab-kitab tahrij dan penyusunan kitab-kitab koleksi yang lebih umum ( 656 H dan seterusnya ). khalifah ke-8 dari dinasti Bani Umayyah ( 99-101 H ) timbul inisiatif secara resmi untuk menulis dan membukukan hadits itu. Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa dalam menghadapi perjuangan da'wah yang sangat penting. b.Para ulama membagi perkembangan hadits itu kepada 7 periode yaitu : a. c. Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-Qur'an. b. Nabi sendiri pernah melarangnya. c. meriwayatkan . Masa pencarian hadits ( pada masa generasi tabi'in dan sahabatsahabat muda : 41 H . Rasulullah berada ditengah-tengah ummat Islam sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan pada waktu itu. meriwayatkan sebanyak 2286 buah. Masa pembukuan hadits ( permulaan abad II H ). d. Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat terbatas.

Jabir bin ‘Abdillah meriwayatkan sebanyak 1540 buah. serta diadakan seleksi-seleksi ketat oleh mereka sampai melahirkan satu disiplin ilmu tersendiri yang disebut Ilmu Musthalah Hadits. maupun oleh orang-orang luar yang sengaja untuk menghancurkan Islam dari dalam. tetapi kita tetap tidak boleh mengatakan bahwa sesuatu ucapan itu sebagai ucapan Rasulullah kalau memang bukan sabda Rasul. al-Madini. Nama-nama Ishak bin Rahawih. Dan sampai saat ini ternyata masih banyak hadits-hadits palsu itu bertebaran dalam beberapa literatur kaum Muslimin. namun mereka telah melahirkan norma-norma dan pedoman-pedoman khusus untuk mengadakan seleksi sebaik-baiknya yang dituangkan dalam ilmu musthalah hadits tersebut.sebanyak 1160 buah. Alhamdulillah. Walaupun usaha mereka belum dapat membendung seluruh usaha-usaha penyebaran hadits-hadits palsu dan lemah. Ibnu Shalah dan banyak lagi ulama-ulama saleh lainnya adalah rentetan nama-nama yang besar jasanya dalam usaha penyelamatan haditshadits dari kepalsuan-kepalsuan sehingga lahirlah ilmu tersebut. Imam Muslim. Sehingga dengan pedoman itu ummat Islam sekarang pun dapat mengadakan seleksi-seleksi seperlunya. Imam Bukhari. ar-Rama at-Turmudzi. . baik yang dibuat oleh ummat Islam sendiri karena maksud-maksud tertentu. berkat jasa-jasa dari ulama-ulama yang saleh. ‘Aisyah Ummul Mu'minin. Di samping itu tidak sedikit pula kesalahan-kesalahan yang berkembang dikalangan masyarakat Islam. Sebab Sabda Rasulullah : " Barangsiapa berdusta atas namaku maka siap-siap saja tempatnya dineraka ". Kodifikasi Hadits itu justru dilatar belakangi oleh adanya usahausaha untuk membuat dan menyebarluaskan hadits-hadits palsu dikalangan ummat Islam. meriwayatkan sebanyak 2210 buah. haditshadits itu kemudian sempat dibukukan dalam berbagai macam buku. berupa anggapan terhadap pepatah-pepatah dalam bahasa Arab yang dinilai mereka sebagai hadits. Walaupun ditinjau dari segi isi materinya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Abu Sa'id al-Hudri meriwayatkan 1170 buah. Kenapa kemudian Hadits Dikodifikasi.

dan af'alun nabi. 2. c. kemudian yang turut hijrah dan seterusnya.hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam babul-wudhu dan sebagainya. seperti yang ditempuh oleh Abu Dawud.Untuk memberikan gambaran perkembangan hadits dapat kita perhatikan perkembangan kelahiran kitab-kitab hadits dan ilmu-ilmu hadits. Nasa'I. . Penyusunan berdasarkan bab-bab fiqhiyah. seperti yang ditempuh oleh Abu Mansur Abdailani dalam Musnadul Firdausi dan oleh as-Suyuti dalam Jamiush-Shagir. dan sebagainya. Perkembangan Kitab-kitab Hadits A. d. Dengan mengkhususkan hadits-hadits yang shahih saja. mengumpulkan haditshadits yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam babushshalah. kemudian qabilah yang terdekat dengan Rasulullah. nawahi. Dalam penyusunan kitab-kitab hadits para ulama menempuh caracara antara lain : 1. 3. Mereka dahulukan Banu Hasyim. b. Dengan menyusun sebagaimana ketiga dan dibagi-bagi berdasarkan awamir. ikhbar. seperti yang ditempuh oleh Imam Bukhari dan Muslim. Cara ini terbagi dua macam : a. Tirmidzi. b. kemudian ahlul Hudaibiyah. Cara penyusunan kitab-kitab hadits. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan abjad. Dengan tidak mengkhususkan hadits-hadits yang shahih ( asal tidak munkar ). Seperti yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam shahehnya. Cara ini terbagi dua macam : a. Penyusunan berdasarkan abjad-abjad huruf dari awal matan hadits. ibadat. Mereka didahulukan sahabat-sahabat yang termasuk assabiqunal awwalun kemudian ahlul Badr. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan nama qabilah. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan kronologik masuknya Islam. Penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya.

Mushannaf oleh Imam Syu'bah bin Jajaj ( 80 . 4. jadi hanya berdasarkan keterangan sejarah saja yang dapat dipertanggung-jawabkan.179 H ). . 4. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad Damiri ( 181 . Keempat-empatnya tidak sampai ke tangan kita. 5. 7. 2. 6. As-Sunan oleh Imam Ahmad b.279 H ).B. bin Idris asy-Syafi'I ( 150 . 5. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'at ( 202 275 H ). Seluruh kitab-kitab hadits yang ada pada abad ini tidak sampai kepada kita kecuali 5 buah saja yaitu nomor 1 sampai dengan 5. 1. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi'I ( 150 . Al-Musnad oleh Imam Ali Ridha al-Katsin ( 148 . Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-2 H. 3. 2.203 H ). Kitab-kitab Hadits pada abad ke-3 H.303 H ). Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke I H. 9. As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi ( 209 .Sya'ab an-Nasai ( 215 . Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu'man ( wafat 150 H ). Mukhtaliful Hadits oleh Muh. 1. Isa al-Asadi. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin. 1.204 H ). 6. 3.190 H ).180 H ). 10. 8. Ash-Shadiqah oleh Imam Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Ash-Shahifah oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas ( 93 . Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim ( 50 .256 H ).175 H ). Al-Jami' oleh Abdulrazaq al-Hamam ash Shan'ani ( wafat 311 H ). 3.204 H ). 2. D. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj ( 204 . C.255 H ). Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‘Uyaina ( 107 . 4.as-Sunnah oleh Imam Abd bin Zubair b.261 H ).as-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza'i ( wafat 157 H ). 11.124 H ). Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa'ud ( 94 . Ash-Shahih oleh Imam Muh bin Ismail al-Bukhari ( 194 .

Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Ismail at-Tusi al-Anbari ( wafat 280 H ). Al-Musnad oleh Imam ‘Ubaidillah bin Musa ( wafat 213 H ). 11. 13. Al-Musnad oleh Imam Ahmad bin Hambal ( 164 . Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin ( wafat 228 ). Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu'aib an-Nasai ( wafat 303 H ). Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi'amrin Muhammad bin Yahya Aladani ( wafat 243 H ).7. 24. 19.273 H ). 17. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari ( wafat 310 H ). Abi Syaibah ( wafat 235 H ). 20. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin al-Askari ( wafat 282 H ). 16. 10. Kitab-kitab Hadits Pada Abad ke-4 H. . Al-Musnad oleh Imam Abu Ya'la ( wafat 307 H ). Al-Musnad oleh Abdibni ibn Humaid ( wafat 249 H ). 18. Al-Mushannaf oleh Imam Muhammad Sa'id bin Manshur ( wafat 227 H ). Al-Kitab oleh Muhammad Sa'id bin Manshur ( wafat 227 H ). Dan masih banyak sekali kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ulama abad ini.241 H). Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim Ahmad bin Amr asySyaibani ( wafat 287 H ). 14. 9. 12. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah ( 209 . 21. 23. Al-Musnad oleh Imam Ibn. 8. E. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih ( wafat 237 H ). 25. Abi Usamah al-Harits ibn Muhammad at-Tamimi ( 282 H ). Al-Muntaqa al-Ahkam oleh Imam Abd Hamid bin Jarud ( wafat 307 H ). 15. 22. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi ( wafat 276 H ).

Al-Musnad oleh Imam Hawarizni ( wafat 425 H ). Para penghimpunnya memasukkan hadits-hadits tersebut tanpa penyaringan yang seksama dan teliti. Tingkatan Kitab Hadits. 9. 5. 3. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi ( wafat 321 H ). 2. Diantara kitab-kitab hadits yang ada. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa'id bin'Usman al-Baghdadi ( wafat 353 H ). Menurut penyelidikan para ulama ahli hadits secara garis besar tingkatan kitab-kitab hadits tersebut bisa dibagi sebagai berikut : 1. ash-Shagir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani ( wafat 360 H ). Al-Mu'jam Kabir. 7. yang dha'if dan yang lebih rendah lagi. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq ( wafat 311 H ). Adapun kitab-kitab lain adalah disejajarkan dengan alMusnad ini. 13. 2. Oleh karena itu didalamnya bercampur-baur diantara hadits-hadits yang shahih. As-Sunan oleh Imam Darulkutni ( wafat 385 H ). 6. maka Shahih Bukhari- .405 H ). Kitab-kitab Sunan yaitu kitab-kitab hadits yang tidak sampai kepada derajat munkar. F.Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq ( wafat 313 H ). Walaupun mereka memasukkan juga hadits-hadits yang dha'if ( yang tidak sampai kepada munkar ).1. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad ( wafat 402 H ). Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban ( wafat 354 H ). Ash-Shahih oleh Imam Abu ‘Awanah Ya'qub bin Ishaq ( wafat 316 H ). Kitab-kitab Musnad yaitu kitab-kitab hadits yang jumlahnya sangat banyak sekali.Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi ( wafat 385 H ).Al-Mustadrak ‘ala-Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim an-Naisaburi ( 321 . 11. 3. 4. 12. 8. 10. Kitab Hadits ash-Shahih yaitu kitab-kitab hadits yang telah diusahakan para penulisnya untuk hanya menghimpun hadits-hadits yang shahih saja. Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh ( wafat 340 H ). Dan sebagian mereka menjelaskan kedha'ifannya.

4. Ibnu Hibban dalam kitab at-Taqsim Walarba. akan tetapi menurut penyelidikan ahli-ahli hadits. 3. Ada beberapa ulama yang telah berusaha menghimpun hadits-hadits shahih sebagaimana yang ditempuh oleh Bukhari dan Muslim. 7. As-Sunan Tirmidzi.lah kitab hadits yang terbaik dan menjadi sumber kedua setelah alQur'an. g. 5. Ada para ulama hadits yang meneliti kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari. Ibnu Huzaimah dalam kitab ash-Shahih. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. dimana bagi Muslim hanya cukup dengan muttashil ( bersambung ) saja. walaupun dalam cara penyusunan hadits-hadits. Ash-Shahih Muslim. 6. Menurut sebagian besar para ulama hadits. 4. dan kemudian menyusul Shahih Muslim. Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa. 6. Ash-Sunan Abu-Dawud. 3. Seperti tentang syarat yang diharuskan Bukhari berupa keharusan kenal baik antara seorang penerima dan penyampai hadits. tetapi ternyata kurang dapat dipertanggungjawabkan. As-Sunan Nasai. As-Sunan Ibnu Majah. kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari. ternyata kitab-kitab mereka tidak sampai kepada tingkat kualitas kitab-kitab Bukhari dan Muslim. Kitab-kitab Shahih Selain Bukhari Muslim. 2. 5. . Para ulama yang menyusun Kitab Shahih tersebut ialah : 1. Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi dalam kitabnya alMukhtarah. Abu ‘Awanah dalam kitab ash-Shahih. diantara kitab-kitab hadits ada 7 ( tujuh ) kitab hadits yang dinilai terbaik yaitu : 1. Ash-Shahih Bukhari. Al-Musnad Imam Ahmad. sedang syarat-syarat hadits yang digunakan Bukhari ternyata tetap lebih ketat dan lebih teliti daripada apa yang ditempuh Muslim. 2.

yang dapat menjatuhkan kwalitas hadits tersebut. yaitu ilmu yang membahas tentang jujur dan tidaknya pembawa-pembawa hadits. Ilmu panilmubhamat. f. Ilmu tashif wat-tahrif. yaitu ilmu yang membahas tentang kalimatkalimat yang sukar dalam hadits. maka timbullah berbagai macam nama hadits. Ilmu hadits dirayatan membahas hadits dari segi diterima atau tidaknya. Ilmu ‘ilalil hadits. bentuk. Yang paling penting untuk diketahui adalah pembagian hadits itu atas dasar kualitasnya yaitu : . Dalam perkembangan berikutnya telah lahir berbagai cabang ilmu hadits. yaitu ilmu yang membahas tentang sebab timbulnya suatu hadits. Ilmu talfiqil hadits. Ilmu rijalul hadits. i. yang sekaligus dapat menunjukkan jenis. d. yaitu ilmu yang membahas tokoh-tokoh yang berperan dalam periwayatan hadits. Ilmu asbabi wurudil hadits. g. Ilmu gharibil hadits. sedang ilmu hadits riwayatan membahas materi hadits itu sendiri. Secara garis besarnya ilmu hadits ini terbagi kepada dua macam yaitu : ilmu hadits riwayatan dan ilmu hadits dirayatan. Dan lain-lain. yaitu ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits yang nampaknya bertentangan. h. seperti : a. yaitu ilmu yang membahas tentang haditshadits yang berubah titik atau bentuknya. c. Ilmu jarh wat-ta'dil. e. Seleksi Hadits Dengan menggunakan berbagai macam ilmu hadits itu. b. dan kualitas dari suatu hadits. sifat. yaitu ilmu yang membahas tentang orangorang yang tidak nampak peranannya dalam periwayatan suatu hadits. yaitu ilmu yang membahas tentang penyakitpenyakit yang tidak nampak dalam suatu hadits. yang disepakati oleh para ulama.Perkembangan Ilmu Hadits Ilmu Hadits yang kemudian populer dengan ilmu mushthalah hadits adalah salah satu cabang disiplin ilmu yang semula disusun oleh Abu Muhammad ar-Rama al-Hurmuzi ( wafat 260 ). walaupun norma-norma umumnya telah timbul sejak adanya usaha pengumpulan dan penyeleksian hadits oleh masing-masing penulis hadits.

Usaha seleksi itu diarahkan kepada tiga unsur hadits. Tidak boleh ada orang lain yang berperanan dalam membawakan hadits tapi tidak nampak dalam susunan pembawa hadits itu. Maqbul ( dapat diterima sebagai pedoman ) yang mencakup hadits shahih dan hadits hasan. yaitu : a. Mardud ( tidak dapat diterima sebagai pedoman ) yang mencakup hadits dha'if / lemah dan hadits maudhu' / palsu. tidak bertentangan dengan realita.tapi bertentangan isi materinya dengan al-Qur'an : 1. Apabila ada satu kaitan yang diragukan antara pembawa dan penerima hadits. Suatu persambungan hadits dapat dinilai segala baik. Rawi ( orang-orang yang membawakan hadits ) : Seseorang yang dapat diterima haditsnya ialah yang memenuhi syaratsyarat : 1. b. Matan ( materi hadits ). c. maka hadits itu tidak dapat dimasukkan dalam kriteria hadits yang maqbul. tidak pernah berdusta dan membiasakan dosa. Sanad ( persambungan antara pembawa dan penerima hadits ). yaitu orang Islam yang baligh dan jujur. b. ‘Adil. yang artinya : " Dan seseorang tidak akan mendapatkan pahala apa-apa kecuali dari apa yang dia kerjakan sendiri ". tidak bertentangan dengan fakta sejarah. apabila antara pembawa dan penerima hadits benar-benar bertemu bahkan dalam batas-batas tertentu berguru. Ada satu norma yang disepakati oleh mayoritas ulama. tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam. Suatu materi hadits dapat dinilai baik apabila materi hadits itu tidak bertentangan dengan al-Qur'an atau hadits lain yang lebih kuat. adalah bertentangan dengan firman Allah : " Wala taziru waziratun wizra ukhra " yang artinya " Dan seseorang tidak akan memikul dosa orang lain " ( al-An'an : 164 ). 2. maka ambillah Qur'an ". Hadits yang mengatakan : " Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan punya hutang puasa. Hadits yang mengatakan bahwa " Seorang mayat akan disiksa oleh Tuhan karena ratapan ahli warisnya ". ( an-Najm : 39 ). Untuk sekedar contoh dapat kita perhatikan hadits-hadits yang dinilai baik.a. yaitu : " Apabila Qur'an dan hadits bertentangan. adalah bertentangan dengan firman Allah : " Wa allaisa lil insani illa ma-sa'a ". maka hendaklah dipuasakan oleh walinya ". .

Perhatikan kitab pengambilannya ( rowahu = diriwayatkan atau ahrajahu = dikeluarkan ). Hal ini apabila dinilai oleh sama-sama ahli hadits. f. mudallas. c. Diriwayatkan oleh …. Apabila matannya baik diriwayatkan oleh Bukhari atau Muslim. Dengan demikian dapat dikatakan shahih apabila ujung hadits itu oleh para ulama diberi kata-kata : a. Maka langkah kita adalah : dahulukan yang mencela sebelum yang memuji ( " Al-jarhu Muqaddamun ‘alat ta'dil " ). Diriwayatkan / dikeluarkan oleh jama'ah. Perhatikan materinya sesuai dengan norma diatas. hadits baik. b. munqathi. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh dua syaikh ( Bukhari dan Muslim ).. hadits lemah. d. Dalam hal ini kita akan menemukan sesuatu hadits yang mendapatkan penilaian berbeda / bertentangan antara seorang ulama dan lainnya. Disepakati oleh Bukhari dan Muslim ( Muttafaqun ‘ alaihi ).dengan syarat Bukhari atau Muslim. e.2.. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh Imam 6. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa . hadits pilihan dan sebagainya. Diriwayatkan oleh Bukhari saja atau oleh Muslim saja. munkar. maka jumhur ( mayoritas ) ulama berpendirian bahwa kitab ash-Shahih Bukhari dan kitab ashShahih Imam Muslim dapat dijamin keshahihannya ditinjau dari segi sanad dan rawi. muallak. apakah sesuatu hadits itu maqbul atau tidak adalah : 1. hadits ada illatnya. maka dapat dinilai hadits itu shahih atau paling rendah hasan. Beberapa langkah praktis dalam usaha seleksi hadits. Hafizh. Diriwayatkan / dikeluarkan oleh Imam 7. h. g. Diriwayatkan oleh …. Apabila sesuatu hadits sudah baik materinya tetapi tidak termasuk dalam persyaratan pun 2 diatas maka hendaknya diperhatikan komentarkomentar ulama terhadap hadits itu seperti : Komentar baik : Hadits quwat.dan disyahkan oleh Bukhari atau Muslim. 2. Sedang dari segi matan kita dapat memberikan seleksinya dengan pedoman-pedoman diatas. Berdasarkan kriteria-kriteria seleksi tersebut. hadits shahih. 3. mauquf. yaitu kuat hafalannya atau mempunyai catatan pribadi yang dapat dipertanggungjawabkan. dan lain sebagainya.hadits jayyid. maqthu. Komentar jelek : Hadits putus.

seperti yang diterangkan diatas. kadangkadang setelah diteliti kembali ternyata tidak demikian. tetapi ternyata hadits tersebut tidak shahih ( belum tentu shahih ). dan untuk ini telah disusun oleh para ulama terdahulu sejumlah buku-buku yang membahas tentang sejarah dan keadaan para pembawa hadits.tidak semua komentar ulama tersebut dapat dipertanggungjawabkan. seperti yang pernah dilakukan oleh al-Bukhari dalam bukunya ad-Dhu'afa ( kumpulan orang-orang yang lemah haditsnya ). . maka hendaknya digunakan norma-norma umum seleksi. oleh Ibnu Huzaimah dan lain-lain. Contohnya dalam hadits kita akan menemukan kata-kata dan dishahihkan oleh Imam Hakim. Apabila langkah-langkah diatas tidak mungkin ditempuh atau belum memberikan kepastian tentang keshahihan sesuatu hadits. yaitu menyelidiki langsung tentang sejarah para rawi dan lain-lain. Artinya sesuatu hadits yang dikatakan oleh para ulama shahih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful