BAB I PENDAHULUAN

Hubungan bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf, bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman Yunani. Namun demikian pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa tidaklah lama, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema-problema filsafat pada zaman tertentu. Suatu perubahan yang sangat penting terjadi ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai suatu contoh problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, "keadilan", "kebaikan", "kebenaran", "kewajiban", "hakikat ada" dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai "Filsafat Analitik", yang berkembang di Eropa terutama di Inggris pada abad XX. Memang semua ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa maka analisis tersebut tentunya berkaitan dengan makna bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep-konsep tersebut. Hubungan yang sangat erat antara bahasa dengan filsafat tersebut sebenarnya telah berlangsung lama bahkan sejak zaman pra Sokrates, namun dalam perjalanan sejaran aksentuasi perhatian filsuf berbeda-beda dan sangat tergantung pada perhatian dan permasalahan filsafat yang dikembangkannya. Pada zaman Yunani filsafat merupakan dasar untuk memandang hakikat segala sesuatu termasuk bahasa. Hal ini dapat dipahami karena pada zaman tersebut belum berkembang ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu bahasa juga merupakan objek material pemecahan problema spekulatif para filsuf. Dikotomi spekulatif tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' adalah merupakan pusat perhatian filsuf pada saat itu. Demikian juga dikotomi 'analogi' dan 'anomali' juga merupakan diskursus filosofis yang mendasar mengingat bahasa merupakan sarana yang utama dalam filsafat terutama

dalam logika. Plato, Aristoteles, kaum Sofis dan kaum Stoik adalah tokoh-tokoh filsuf yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Selain itu tradisi analitika bahasa juga telah berkembang pada saat itu, yaitu ketika Sokrates berdialog dengan kaum Sofis. Metode yang digunakan dalam analitika bahasa pada saat itu dikenal dengan metode dialektis-kritis terutama untuk mengatasi kekacauan dan kesesatan pikir. Terlebih lagi peranan bahasa menjadi semakin penting ketika Aristoteles mengangkat bahasa dalam 'organon' yang merupakan karya besar di bidang logika yang merupakan salah satu cabang dalam filsafat. Karya-karya besar para filsuf Yunani yang menaruh perhatian terhadap bahasa inilah kemudian dilanjutkan oleh para Sarjana dari Alexandrian terutama karya-karya kaum Stoa yang kemudian pada perkembangan berikutnya merupakan dasar-dasar pokok bagi pengembangan bahasa aliran tradisionalisme. Pada zaman Romawi objek perhatian filsuf terhadap bahasa berkembang kearah karya gramatika bahasa latin dan tokoh-tokoh yang terkenal adalah Varro dan Priscia. Karya-karya besar mereka terutama dalam meletakkan dasar-dasar dalam bidang etimologi, morfologi yaitu tentang "partes Orations" dan "Oratio" yang lazimnya dalam linguistic tersebut sintaksis. Perhatian filsuf menjadi semakin besar ketika zaman abad pertengahan, yang ditandai dengan tujuh system utama yaitu 'Trivium' yang meliputi gramatika, dialektika (logika), dan retorika; serta 'Quadrivium' yang mencakup aritmatika, gemetrika, astronomi, dan musik. Akar-akar ilmu pengetahuan modern sudah mulai nampak, oleh karena itu perhatian filsuf terhadap bahasa juga sebagian mengarah kepada perkembangan linguistic sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya merupakan dasar pijak linguistic tersebut. Persoalan klasik Yunani tentang hakikat bahasa 'fisei-nomos' serta 'analogi-anomalia' kembali merebak menjadi isu spekulatif yang actual pada saat itu. Tokoh filsuf abad pertengahan yang menaruh perhatian terhadap bahasa dalam mengklarifikasikan konsep filosofisnya terutama dalam kaitannya dengan religi adalah Thomas Aquinas. Metode analitika bahasa yang digunakan oleh Thomas dan karyanya 'Summa Theologiae' adalah dengan analogi yang metaphor. Pada zaman modern yang ditandai dengan ’Renaissance' dan 'Aufklarung', pemikiran-pemikiran filsafat secara berangsur-angsur berkembang ke arah timbulnya

ilmu pengetahuan alam modern. Tokoh-tokoh pengembang ilmu pengetahuan tersebut antara lain Copernicus, Johanes Kepler, Galileo Galilei dan terutama tokoh yang meletakkan dasar filosofis ilmu pengetahuan yaitu Francis Bacon dengan 'Novum Organism-nya'. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut perhatian filsuf terhadap bahasa juga semakin mengarah pada ilmu pengetahuan bahasa (linguistic). Bahkan yang terlebih penting lagi berkembangnya bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan terutama peranan bahasa dalam pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemology. Walaupun perkembangan filsafat mengarah pada timbulnya ilmu pengetahuan modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsafat modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsfat modern yang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Rene Descartes dengan metode skiptisnya dan bertumpu pada metode 'Cogito Ergo Sum'. Rasionalisme Rene Descartes dengan metode skiptisnya yang mengkritik ilmu pengetahuan dengan mengembangkan prinsip analisis berdasarkan rasio. Begitu juga paham empirisme Inggris dengan tokoh-tokoh Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume serta tokoh kritisme Immanuel Kant. Aliran-aliran inilah yang mempengaruhi timbulnya aliran Atomisme Logis di Inggris yang kemudian berkembang dan mempengaruhi aliran Positivisme Logis serta filsafat bahasa biasa. Sejalan dengan karakteristik perkembangan filsafat modern yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan modern maka peranan bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan menjadi semakin penting. Periode filsafat abad XX perhatian filsuf terhadap bahasa menjadi semakin besar. Mereka semakin sadar bahwa dalam kenyataannya terdapat banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi semakin jelas manakala menggunakan analisis bahasa. Pada periode ini terdapat suatu reaksi yang sangat radikal terutama terhadap pandangan empirisme, idealisme maupun konsep metafisika. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekacauan dan kekaburan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan perkembangan filsafat bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan yang sangat radikal pada abad XX tersebut, yaitu Ferdinand de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistic. Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang

sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi Yunani. Konsep Ferdinand de Saussure tersebut sangat penting dalam linguistic karena mengembangkan paradigma baru di bidang ilmu bahasa yang dikenal dengan linguistic modern yang dijiwai oleh paham Strukturalisme. Paham ini berkembang sebagai reaksi terhadap ilmu bahasa tradisionalisme yang mendasarkan pada tradisi Alexandrian yang bercirikan pada makna dan tidak mendasarkan pada struktur bahasa yang bersifat empiris. Pengaruh linguistic modern yang didasarkan pada pemikiran filosofis dan teori Ferdinand de Saussure pengaruhnya cukup luas di berbagai wilayah di Eropa, Amerika termasuk di Indonesia sendiri. Tokoh Strukturalisme di Amerika yang sangat terkenal adalah Bloomfield. Perkembangan Strukturalisme yang sangat besar inipun pada akhirnya juga mendapat reaksi yang sangat keras dari paham Transfosionalisme Generatif di bawah Noam Chomsky yang pengaruhnya juga cukup besar. Demikianlah sekilas perkembangan filsafat bahasa yang selain memberikan wawasan bagi kita tentang pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa juga menunjukan aksentuasi konseptual filosofis terhadap bahasa, serta ruang lingkup filsafat bahasa yang sangat beranekaragam dan kompleks. Namun demikian secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian yaitu pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis, kedua: perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek material yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran-aliran dan teori-teori linguistic.

A. Pengertian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa sebagai salah satu cabang filsafat memang mulai dikenal dan berkembang pada abad XX ketika para filsuf mulai sadar bahwa terdapat banyak masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat baru dapat dijelaskan melalui analisis bahasa, karena bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat (Davis, 1976). Berbeda dengan cabang-cabang filsafat lainnya, filsafat bahasa termasuk bidang yang kompleks dan sulit ditentukan lingkup pengertiannya (Devitt, 1987). Namun demikian bukanlah berarti filsafat bahasa itu merupakan bidang filsafat yang tidak jelas objek pembahasannya melainkan para filsuf bahasa memiliki aksentuasi yang

beraneka ragam sehingga penekanannya juga beraneka ragam juga. Walaupun bidang filsafat bahasa baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun berdasarkan fakta sejarah hubungan filsafat dengan bahasa telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani. Berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan sejarah filsafat bahasa maka filsafat bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengertian yaitu : Pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat. Pada periode abad XX para filsuf semakin sadar bahwa banyak problema-problema serta konsep-konsep filsafat dapat dijelaskan melalui analisis bahasa misalnya berbagai macam pertanyaan filosofis seperti 'kebenaran', 'keadilan', 'kewajiban', 'kebaikan' dan pertanyaanpertanyaan fundamental filosofis lainnya dapat dijelaskan dan diuraikan melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Tradisi inilah menurut para ahli filsafat disebut dengan pengertian 'Filsafat Analitik' atau "FIlsafat Analitika Bahasa'. Istilah ini memang baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun demikian perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan konsep-konsep filsafat daam kenyataan sejarah berlangsung lama yaitu sejak zaman yunani. Sokrates misalnya telah menggunakan metode analitika bahasa dalam berdebat dengan kaum Sofis yang dikenal dengan metode dialektis-kritis. Demikian juga Thomas Aquinas pada abad pertengahan melalui analisis bahasa analogi dan metaphor untuk menjelaskan konsep-konsep filosofisnya. Filsuf abad modern seperti Rene Descartes juga menjelaskan konsep-konsepnya melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Aliran-aliran filsafat analitika bahasa antara lain Atomisme Logis Positivisme Logis dan Filsafat Bahasa Biasa. Berdasarkan pengertian yang pertama ini dapat disimpulkan bahwa bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsepkonsep dan problema-problema filsafat. Kedua, filsafat bahasa sebagaimana bidang-bidang filsafat lainnya seperti filsafat hukum, filsafat manusia, filsafat alan, filsafat sosial dan bidang-bidang filsafat lainnya yang membahas, menganalisis dan mencari hakikat dari objek materi filsafat tersebut (Davis, 1976). Pengertian yang kedua ini hendaklah dibedakan dengan pengertian filsafat analitika bahasa yang menggunakan bahasa sebagai alat analisis konsep-konsep dan masalah-masalah filsafat. Oleh karena itu filsafat bahasa

Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menemukan kearifan dalam hidupnya. sebagaimana dikemukan oelh Bertrand Russell bahwa bahasa memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta dan lebih dipertegas oleh Wittgenstein bahwa bahasa merupakan gambaran realitas. melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Perkembangan filsafat bahasa yang menggali hakikat bahasa selain sebagai sarana komunikasi pada hakikatnya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. Hal itu dapat dipahami karena dunia fakta dan realitas yang menjadi objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang terwakili oleh bahasa. karena bahasa adalah hanya salah satu saja dari banyak sistem tanda dalam kehidupan manusia. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem simbol yang memiliki makna. Peirce mendasarkan filsafat semiotikanya berdasarkan pada filsafat logika dan pragmatisme.dalam pengertian yang kedua ini bahasa sebagai objek materi filsafat. Berbeda dengan para digma tersebut. sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. Akar filsafat bahasa inilah yang menumbuhkan ilmu semiotika. Kedudukan Bahasa dalam Filsafat Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urut bunyi-bunyi secara empiris. Tokoh yang sangat popular yang mengembangkan pemikiran filosofis ini adalah Ferdinad de Saessure. Terdapat hubungan antara tanda dengan objek tanda tersebut. penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu memiliki hubungan yang erat dengan bahasa terutama bidang semantik. meskipun terdapat dua istilah namun objek material ilmu tersebut memiliki kesamaan. yang menurut Saussure disebut significant dan signifie. merupakan alat komunikasi manusia. Dalam hubungan inilah kemudian berkembang ilmu tanda yang dikenal dengan semiologi dengan tokoh Roland Barethes. B. Oleh karena itu untuk . Charles Sanders Peirce mengembangkan ilmu tanda yang dikenal dengan semiotika. Bahasa sebagai suatu sistem tanda tersebut pada suatu saat menurut Saussure berada pada suatu wilayah ilmu tanda secara umum.

hipinimi maupun polisemi juga menjadi faktor kesamaran dan ketaksaan makna.dapat mengungkapkan struktur realitas diperlukan sesuai sistem simbol bahasa yang memenuhih syarat logis segingga satuan-satuan dalam ungkapan bahasa itu terwujud dalam proposisi-proposisi. 1964:6). Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kenyataannya bahasa sehari-hari memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan-ungkapan dalam aktivitas berfilsafat. Berbagai kelemahan dan kekurangan bahasa dalam proses pengungkapan konsep-konsep filosofis perlu diberikan suatu penjelasan khusus agar ungkapanungkapan atau kata-kata yang digunakan dalam menjelaskan realitas tidak terjadi misleadingness. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) vagueness (kesamaran). Selain itu pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik. dapat dikaitkan dengan 'bunga mawar'. Kata bunga misalnya. Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. (5) misleadingness (menyesatkan). Kata 'orang tua' dapat berarti 'bapak-ibu' ataupun orang yang memang sudah tua. Akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna adanya terjadi inexplicitness. Kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut sebenarnya disamping merupakan kelemahan bahasa untuk aktivitas filsafat juga sebaliknya sebenarnya justru kelebihan bahasa manusia yaitu bersifat 'multifungsi' yaitu selain berfungsi simbolik. sehingga bahasa seringkali tidak mampu mengungkapkan secara eksak. Selain itu adanya sinonimi. (Alston. 'bunga anggrek'. (4) contex-dependence (tergantung pada konteks). Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bungan mawar. tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawat tersebut. (2) inxeplicitness (tidak eksplisit). Dari adanya jumlah kekurangan tersebut tidak mengherankan apabila paparan lewat bahasa sering mengandung misleadingness sehubungan keberadaannya dalam komukasi (Aminuddin. tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang direpresentasikannya. bahasa juga memiliki fungsi 'emotif. 'bunga melati' dan lain sebagainya. 1988:20). (3) ambiguity (ketaksaan). Betapapun demikian keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia tidak hanya merupakan simbol belaka melainkan merupakan media . serta konteks situasional dalam pemakaiannya sehingga mengalami context-dependent. sosial. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan.

'kata maupun susunan kata' (Peursen. Berdasarkan kenyataan fungsi bahasa tersebut diatas maka hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan. Dari sejumlah fitur semantis itu para filsuf Yunani merumuskan pengertian 'logos' sebagai kegiatan menyatakan sesuatu yang didukung oleh sejumlah komponen yang masing-masing komponen tersebut antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan dengan menggunakan katakata. 'inti sesuatu'. misalnya dalam bahasa Yunani berpangkal dari 'logon ekhoon' yang mengandung makna 'dilengkapi dengan akal budi'. terdapat 14 buku tanpa nama dan ia menyebut keempat belas karya tersebut dengan 'buku-buku yang datang sesudah fisika'. Dalam pengertian yang demikian inilah bahasa menunjukkan fungsi vitalnya dalam aktivitas manusia. 1. Bahasa sebagai media pengembang refleksi filosofis tersebut telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. . yang ada yang tidak terdapat dalam dunia fisik. Untuk itu Aristoteles menyebutnya dengan istilah 'sofia' dan 'teologi' (Steenberghen. kualitas. Aristoteles menamakan metafisika sebagai filsafat yang pertama yang membahas tentang hakikat realitas. kesempurnaan. Secara etimologis istilah metafisika beasal dari bahasa Yunani 'ia meta ta physica' yang secara harfiah dibalik fisik atau di balik hal-hal yang bersifat fisik. 1991:18). Masing-masing hubungan tersebut memiliki fungsi dan cirinya masing-masing. yaitu berfilsafat. kesempurnaan. kualitas. prinsip konstitutif dan tertinggi dari segala sesuatu. 1970:8). Fungsi Bahasa dalam Metafisika Metafisika adalah salah satu cabang filsafat disamping cabang-cabang lainnya. 1980:4).pengembangan pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan realitas segala sesuatu. Hakikat manusia yang dilukiskan dengan ungkapan Animal Rationale. tidak dapat dipisahkan terutama dalam cabangcabang filsafat metafisika. logika dan epistemologi. yang ada dan secara keseluruhan bersangkutan dengan sebab-sebab terdalam. Demikian juga istilah 'logos' dalam bahasa Yunani mengandung makna 'isyarat'. Dalam buku-buku ini ia menemukan pembahasan mengenai realitas. (Bagus. Kesimpulannya adalah terdapat hal-hal yang bersifat metafisik. Andronikus menemukan bahwa sesudah karya-karya Aristoteles mengenai fisika. 'cerita'. 'perbuatan'.

. Upaya metafisika untuk memformulasikan fakta-fakta atau Kenyataankenyataan segala sesuatu yang ada dengan suatu asumsi yang menjadi dasar dari argumentasi metafisis tertentu dirumuskan secara lebih eksplisit dan dengan demikian maka peranan bahasa dalam metafisika menjadi sangat sentral. Menurut christian Wolf. Keberadaan aksidensia tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi : (1) kuantitas yaitu unsur fisis dari segala sesuatu yang meliputi luas. (2) kualitas yaitu yang berkaitan dengan aksidensia sifat-sifat terutama sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indra (untuk substansi yang memiliki kuantitas). teori mengenai roh. ruang. dan sembilan aksidensia.Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan suatu pengertian bahwa metafisika adalah suatu cabang filsafat yang membahas secara sistematis dan reflektif dalam mencari hakikat segala sesuatu yang ada dibalik hal-hal yang bersifat fisik dan bersifat partikular. hal itu dikarenakan substansi memiliki kuantitas. Apakah keadilan. kontradiksi. bentuk dan berat sehingga segala sesuatu menempati ruang tertentu. kebaikan dan sebagainya adalah upaya-upaya secar analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut (White. 1987:11). kesucian. juga dapat diartikan mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal yang ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal. (7) waktu segala sesuatu di alam semesta ini berada di dalam suatu waktu tertentu. Oleh karena itu metafisika adalah sebagai ilmu mengenai yang ada yang bersifat universal. (4) passi yaitu yang menyangkut penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan ssuatu hal atau benda yang lainnya. waktu. (6) tempat segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa mengambil ruangan dimana sesuatu itu berada. (3) aksi yaitu yang menyangkut perubahan dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi. metafisika meliputi dua cabang ilmu. tempat tertentu. Aristoteles menjelaskann tentang konsep 10 kategori yang meliputi substansi yaitu merupakan hakikat dari segala sesuatu yang bersifat fundamental dan merupakan dasar dari segala sesuatu. 1974:47). (5) relasi setiap hal termasuk benda senantiasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lainnya. Misalnya pertanyaan-pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Plato. yaitu ontologi dan kosmologi umum. adapun teori mengenai roh dibagi atas psikologi dan teologi kodrati (natural) (Ando.

seperti ruang. dan juga substansi. melainkan berdasarkan analisis bahasa. (8) keadaan yaitu bagaimana sesuatu itu berada disamping sesuatu lainnya. . 2002:10).akapn sesuatu itu berada dan kapan sesuatu itu tidak berada kembali. Berdasarkan uraian tersebut maka metafisika berupaya untuk memformulasikan segala sesuatu yang bersifat fundamental dan mendasar dari segala sesuatu dan hal ini dilakukan oleh para filsuf dengan membuat eksplisit hakikat segala sesuatu tersebut dan hal ini hanya akan dilakukan dengan menggunakan analisis bahasa yang terutama karena sifat metafisika yang tidak mengacu pada realitas yang bersifat empiris. secara etimologis istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani "Episteme" yang berarti pengetahuan. relasi. watak da kebenaran pengetahuan manusia. Berdasarkan bidang pembahasannya epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia yang meliputi sumber-sumber. waktu. dan kalau ada dapatkah kita mengetahui? Hal ini semuanya merupakan problema penampilan terhadap realitas. 2. bukan berdasarkan pengamatan empiris atau hukum rasio. Bilama dirinci persoalan-persoalan epistemologi meliputi bidang sebagai berikut : (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu? Hal ini semuanya merupakan problema asal pengetahuan manusia. (2) Apakah watak dari pengetahuan itu? Adakah dunia yang real di luar akal manusia. Dalam karya lainnya yang disebut 'peri Hermeneias' Aristoteles merupakan peletak dasar kelas kata yang secara ontologis juga mendasarkan pada sepuluh kategori tersebut (Kaelan. Hal itu didasarkan pad akenyataan bahwa pemikiran-pemikiran tentang hakikat segala sesuatu dalam metafisika. Ungkapan-ungkapan metafisis yang demikian ini yang karena tidak mengacu pada realitas atau fakta yang bersifat empiris maka formulasinya sangat tergantung pada ungkapan-ungkapan bahasa yang digunakan dalam metafisika tersebut. Fungsi Bahasa dalam Epistemologi Epistemologi adalah salahsatu cabang filsafat yang pokok. keadaan.

matematika. V16 = 4. Argumentasi pengetahuan apriori seperti tersebut di atasmerupakan suatu perdebatan yang besar tentang pengetahuan manusia. tanpa tahun:8).(3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Hal ini semua merupakan problema kebenaran pengetahuan manusia. misalnya 6 x 6 = 36. Persoalannya adalah bagaimana dapat dikatakan bahwa pernyataanpernyataan itu benar. (Titus. 'akar' dan terminologi bahasa lainnya yang digunakan dalam pengetahuan apriori tersebut. Berdasarkan analisis problema dasar epistemologi tesebut maka dua masalah pokok sangat ditentukan oleh formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu sumber pengetahuan manusia yang pengetahuannya meliputi pengetahuan apriori dan aposteriori. logika dan mungkin kita memiliki pengetahuan apriori yang lain. Namun demikian bagaimanapun juga bahwa hal itu memaksa kita untuk bertanya apakah yang menyebabkan sesuatu artian (term) itu mempunyai makna tertentu. dan pengalaman kita tidak akan pernah menyalahkan pernyataan-pernyataan tersebut. oleh karena itu kebenaran-kebenarannya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. dan bagaimana sesuatu pernyataan it adalah benar (Poerwowidagdo. Jawaban yang akan kita jumpai adalah bahwa pernyataan tentang pengetahuan itu benar berdasarkan definisi atau pernyataanpernyataan itu benar karna arti yang terkandung dalam artian-artian itu sendiri. 'bagi'. Justifikasi kebenaran dalam pengetahuan apriori tersebut seluruhnya diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa. Berkaitan dengan masalah pengetahuan a priori peranan bahasa sangat penting bahkan sangat menentukan. Kalau kita menolak atau mengingkari kebenaran pernyataan-pernyataan itu maka berarti kita harus mengubah satu atau lebih artian terminologi bahasa yang digunakan dalam pernyataan-pernyataan pengetahuan apriori seperti 'kali'. 1984:20). Pengetahuan apriori adalah pengetahuan tentang sesuatu itu adalah benar demikian tanpa didasarkan pada pengalaman indra. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi yaitu: . 'tambah'. Selain dalam pengetahuan apriori peranan penting bahasa dalam epistemologi berkaitan erat dengan teori kebenaran. serta problema kebenaran pengetahuan manusia. sudut bertolak belakang sama besarnya dan pernyataan apriori lainnya secara pasti benar.

Berbeda dengan peranna bahasa dalam sistem kebenaran koherensi. Jikalau seseorang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara Republik Indonesia adalah Jakarta" adalah benar maka pernyataan itu adalah benar karena pernyataan itu dengan objek yang bersifat faktual atau Jakarta yang memang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. 1984:55-59). (2) Teori kebenaran korespondensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikadung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut. suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana hal itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek atu fakta yang diacu pernyataan tersebut. Misalnya pernyataan 'semua orang pasti akan mati' adalah suatu pernyataan yang benar. maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sangat menentukan pada sistem kebenaran koherensi. Kesalahan dalam merumuskan bahasa akan berakibat kesalahan dalam kebenaran pengetahuan. (3) Teori kebenaran pragmatis yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.(1) Teori kebenaran koherensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Justifikasi kebenaran menurut teori koherensi sangat ditentukan oleh suatu pernyataan yang terdahulu yang dianggap benar. maka pernyataan 'si Amin pasti akan mati' adalah pernyataan yang benar juga. Dengan kata lain perkataan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana memiliki konsekuensi pragmatis bagi kehidupan praktis manusia (Suriasumantri. peranan bahasa dalam sistem kebenaran menurut teori korespondensi. Namun sekiranya orang lain yang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara . Bilamana dalam pernyataan di atas rumusan bahasanya menjadi 'beberapa orang pasti akan mati dianggap pengetahuan yang benar maka pernyataan kedua menjadi 'si Amin belum mati'. Pernyataanpernyataan yang benar tersebut sangat bergantung pada ungkapan yang dirumuskan melalui bahasa dan ungkapan-ungkapan tersebut terdiri atas pangkal pikir-pangkal pikir yang dirumuskan melalui bahasa juga.

Kelemahan teori korespondensi adlah apa yang kita persepsi secara langsung adalah persis dengan apa yang dipercaya oleh anggapan umum yaitu objek yang bersifat real dan terlepas dari subjek. Artinya. Peranan ungkapan-ungkapan bahasa dalam penentuan kebenaran berdasarkan teori pragmatis. Kelemahan sistem kebenaran teori korespondensi ini terletak pada kekurang sesuaian antara pengalaman indera dengan fakta empiris. tetapi hanya data indrawi dan bahasa harian mengandung teori-teori atau hipotesis yang tidak dapat dibuktikan mengenai benda-benda pengalaman. 1994:76). sehingga bahasa sangat menentukan formulasi kebenaran tentang fakta. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Martin Lean yang mengemukakan bahwa kita tidak pernah mengalami objek. kata dalam dirinya sendiri adalah bunyi dan kita memberikan arti kepadanya dengan cara kita dalam menggunakannya (Lean. Lean menekankan bahwa bahasa adalah nyata seutuhnya dan tidak mungkin memuat hipotesis yang tak dikenal atu menunjuk kepada hal yang tidak dapat diamati. Arti kata-katanya terletak dalam penggunaannya. sehingga rumusan bahasa dalam mengungkapkan kebenaran dalam hubungannya dengan objek fisis menjadi sangat menentukan (lihat Hadi. 1963:16-24). Konsekuensinya suatu pernyataan yang benar pada suat waktu tertentu dapat menjadi tidak benar manakala pernyataant . 2002:12-16). Konstatasi Lean tersebut mengisyaratakan pada kita bahwa objek pengetahuan yang bersifat fisis dan real tidak dapat begitu saja terwakili melalui rumusan bahasa. suatu pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. berkaitan erat dengan konsekuensi fungsional dalam kehidupan praktis. dan kalau demikian maka akan berakibat pada kesalahan perumusan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peranan analisis bahasa menjadi sangat penting bahkan sangat menentukan terutama dalam operasionalisasi penelitian sosial yang mendasarkan pada teori kebenaran korespondensi (Kaelan.Republik Indonesia adalah Yogyakarta" maka pernyataan tersebut adalah tidak benar karena tidak didukung oleh objek yang terdapat suatu hubungan antara ide dan fakta (objek faktual) dan hubungan tersebut dilakukan melalui bahasa. sebab objek fisis menurut teori korespondensi tersebut sejauh mana dapat dibuktikan didalam persepsi indrawi karena hanya merupakan data indrawi.

Sebaliknya suatu rumusan bahasa yang tidak mengungkapkan kebenaran objektif dapat menjadi benar karena memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. baik secara objektif maupun secara imajinatif. 'berpikir dengan mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum' dan bentuk kegiatan ini sering diistilahkan dengan 'bernalar' dengan istilah lain menurut Plato dan Aristoteles bahwa berpikir adalah berbicara di dalam batin. bagaimana kemungkinan hubungan antara bahasa dengan pikiran manusia dalam upaya manusia memahami realitas secara benar (Aminuddin. pergi ke pasar dengan naik mobil atau becak. 1984:4). melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam memahami dunia luar. Bahasa sebagai Sarana dalam Logika Dalam kehidupan manusia bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo. misalnya seseorang yang berpikir akan membeli roti untuk dimakan. menganalisis. kedua. 1988:36). juga memiliki fungsi kognitif dan emotif. mempertimbangkan. . Masalahnya sekarang. Seseorang yang sedang melamun tidak termasuk kegiatan berpikir.dalam masalah ini bahasa memiliki peranan mengkomunikasikan antara objek dengan kehidiupan manusia secara praktis. 3. Kegiatan bernalar dengan menggunakan hukum-hukum itulah yang disebut sebagai logika yang merupakan salah satu cabang filsafat praktis. membuktikan sesuatu. Oleh sebab memiliki fungsi komunikatif. Demikian juga berpikir dapat digolongkan dalam dua pengertian yaitu pertama 'berpikir tanpa menggunakan aturan-aturan atau hukum-hukum'. Berpikir dalam pengertian ini adalah suatu bentuk kegiatan akal dan terarah sehingga dengan demikian tidak semua kegiatan manusia yang bersumber pad aakal tersebut berpikir. Rumusan bahasa yang melukiskan kebenaran tentang objek pengetahuan dapat menjadi tidak benar karena tidak memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu.ersebut tidak memiliki konsekuensi kegunaan atau manfaat praktis bagi kehidupan manusia.

adapun proposisi itu mengandung benar atau salah. adapun bentuk-bentuk pemikiran dari yang paling sederhana adalah sebagai berikut: pengertian atau konsep. proposisinya menjadi sebagai berikut :" Anjing hitam itu tidak menggonggong". Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa term tidak dapat ditentukan benar atau salah. Rangkaian pengertian itulah yang disebut proposisi dan pengertian hanya terdapat dalam proposisi. Jikalah proses pembentukan proposisi itu terjadi pengingkaran maka. Proses pembentukan proposisi terjadi sedemikian rupa sehingga ada pengertian yang menerangkan pengertian yang lain. di dalam pikiran tidak hanya terbentuk pengertian akan tetapi terjadi perangkaian term-term itu. Dalam kaitannya dengan . Kata "itu" berfungsi menerangkan dan diberi tanda = maka pola proposisi itu menjadi sebagai berikut S=P. dan penalaran atau reasoning. proposisi atau pernyataan. Jikalau terjadi pengakuan maka proposisi itu akan menjadi "Anjing hitam itu menggonggong". Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran manusia. Dalam proses pembentukan proposisi pengertian (1) disebut subjek (S) adalah pengertian (2) yang menerangkan pengertian (I) disebut predikat (P). Oleh karena itu kerancuan sifat-sifat bahasa dengan sifat-sifat yang dilambangkannya akan menimbulkan sesat dalam penarikan kesimpulan. Pengertian yang dilambangkan dengan kata disebut sebagai term. Kegiatan penalaran manusia sebagaimana dijelaskan adalah kegiatan berpikir. atau sebaliknya ada pengertian yang mengingkari pengertian yang lainnya. Dalam proses pembentukan proposisi itu sekaligus terjadi pengakuan atau pengingkaran.Persoalan yang mendasar adalah bagaimana kegiatan bernalar manusia itu dapat dikomunikasikan kepada orang lain dan dapat mewakili kebenaran isi pikiran manusia. Dalam pengertian ini sifat-sifat bahasa berbeda dengan sifat-sifat yang dilambangkannya yaitu pengertian. Pengertian adalah sesuatu yang abstrak dan diwujudkan dalam bentuk simbol bahasa. Dalam pengertian inilah maka peranan bahasa di dalam logika menjadi sangat penting. kalau fungsi pengingkaran itu diganti dengan tanda = maka pola preposisi itu menjadi sebagai berikut : S=P. Berkaitan dengan kegiatan penalaran terutama dalam kaitannya dengan observasi empirik. Misalnya pada contoh proposisi berikut ini:"anjing hitam itu menggonggong" proposisi itu terdiri atas pengertian "anjing hitam (S) dan "menggonggong" (P).

dan setiap kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang. (lihat Poerwowidagdo. Walaupun term tidak dapat ditentukan bernar atau salah namun kekurang tepatan dalam menentukan simbol (bahasa) term. Hal yang sama juga kita jumpai dalam . dalam kalimat yang berbeda dapat memiliki makna yang berbeda. Berdasarkan uraian di atas bahwa kesesatan dalam penalaran dapat diakibatkan karena bahasa dalam pembentukan term dan proposisi. maka dapat berakibat sesatnya kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis penyimpulan penalaran tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan. Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda. sehingga kesimpulannya tidak dapat bersama-sama sebagai term yang lama. dan perhatian itu dikarenakan kekurangan tepatan dalam menentukan simbol bahasa pada term sebagai unsur dari proposisi. sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan.bahasa yang digunakan dalam pembentukan proposisi tersebut maka kekeliruan dalam menentukan simbol term dapat berakibat sesanya kesimpulan. Maka meskipun kata-kata sama. walaupun keduanya secara formal bentuknya sama namun bentuk logisnya berbeda. Jadi peran bahasa dalam penentuan term sangat mempengaruhi hasil dari penalaran tersebut. Namun bilamana penentuan bahas term itu tidak maka akan berakibat sesatnya penyimpulan. Misalnya pada contoh berikut: Ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM Ada seseorang yang adalah penjual sepatu Jadi: ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM dan penjual sepatu Kesimpulan yang kedua ini menyesatkan karena term "ada seseorang yang" ini tidak mengacu pada orang yang sama. Misalnya dalam penyimpulan berikut ini. tanpa tahun:5). Amin adalah mahasiswa UGM Amin adalah penjual sepatu Jadi: Amin adalah mahasiswa UGM yang penjual sepatu Penyimpulan ini benar karena unsur term menggunakkan bahasa yang benar yaitu kata Amin mengacu pada seseorang tertentu.

Kesesatan karena term ekuivok Term ekuivok yaitu term yang mempunyai lebih dari satu arti. maka terjadilah kesesatan penalaran. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti.kalimat. b. Contoh : Sifat abadi adalah sifat Tuhan Joko adalah mahasiswa abadi Jadi: Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat Tuhan c. sehingga arti kalimat yang sama dapat bervariasi dalam konteks yang berbeda. Kalau dalam suatu penalaran sebuah . Kesesatan karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Kesesatan karena aksen atau tekanan Dalam ucapan tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan. Contoh : Tiap pagi pasukan mengadakan apel. kesesatan itu akan hilang sama sekali. Kesesatan karena arti kiasan (metaphor) Ada analogi antara arti kiasan dengan arti sebenarnya. Justru lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari ketidakpastian arti dalam bahasa. dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. Apel itu buah Jadi: Tiap pagi pasukan mengadakan buah. berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa. Ketidaksaksamaan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat. kalau penalaran itu diberi bentuk lambang. Sebuah kalimat dengan struktur sintaksis tertentu dapat mempunyai arti lebih dari satu. Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama. dan arti kalimat juga tergantung pada konteksnya. artinya terdapat kesamaan dan juga ada perbedaannya. a.

d. C. Berbeda dengan cabang-cabang serta bidang-bidang filsafat lainnya. yang pasti terdapat hubungan yang sangat erat antara filsafat dengan bahasa karena bahasa merupakan alat dasar dan utama dalam filsafat (Liang Gie. Contoh : Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan. yaitu bahwa mereka kesemuanya menaruh perhatiant erhadap bahasa baik sebagai objek materia dalam berfilsafat maupun bagaimana bahasa itu berfungsi dalam kegiatan filsafat (lihat Poerwowidagdo. 1964:1). Apa yang paling depan. Kesesatan karena amfiboli (amphibolia) Amfiboli terjadi kalau kontruksi kalimat itu sedemikian rupa. mahasiswanya atau mejanya? Kalau dalam sebuah penalaran kalimat amfiboli itu di dalam suatu premis digunakan dalam arti yang satu. terjadilah kesesataan karena arti kiasan. Hal ini disebabkan karena penganutpenganut filsafat bahasa atau tokoh-tokoh filsafat bahasa masing-masing mempunyai perhatian dan caranya sendiri-sendiri. Demikianlah kiranya pernana bahasa dalam pembentukan term dan proposisi sangat menentukan benar atau sesatnya suatu hasil penalaran dalam logika (Soekadijo. filsafat bahasa dalam perkembangannya tidak mempunyai prinsip-prinsip yang jelas dan terdefinisikan dengan baik (Alston. Luas Kajian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa merupakan cabang filsafat khusus yang memiliki objek materia bahasa. sehingga artinya menjadi bercabang. 1985:12). meskipun juga terdapat persamaan di antara mereka. bahwa betapapun terdapat berbagai macam perbedaan tentang perhatian filsuf terhadap bahasa. 1977:122). . Namun demikian satu hal yang penting untuk diketahui. 2). sedangkan dalam konklusi artinya berbeda maka terjadilah kesesatan karena amfiboli itu.arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya. Dalam sejarah perkembangan aksentuasi filsuf bahasa menunjukkan minat perhatian yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema filosofis pada zamannya masing-masing.

Oleh karena itu lingkup filsafat bahasa yang utama membahas filsafat analitik baik menyangkut perkembangan maupun konsep-konsep dari para tokohnya. yaitu pembahasan tentang bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bagi tindakan manusia. oleh karena itu salah satu bidang filsafat bahasa adalah untuk memberikan analisis yang adekuat tentang konsep-konsep dasr dan hal ini dilakukan melalui analisis bahasa. Kedua: itidaklah tepat bilamana lingkup pembahasan filsafat bahasa itu hanya berkaitan dengan filsafat analitik. filsafat bahasa sebagaimana cabang-cabang filsafat lainnya membahas hakikat bahasa sebagai objek materia filsafat. kebudayaan. Demikian juga hubungan bahasa dengan pikiran. 2002:22). Dalam pengertian inilah pada abad XX filsafat bahasa memiliki aksentuasi pada filsafat analitik. Pertama: salah satu tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep (conceptual analysis). Keempat: Selain masalah-maslah tersebut diatas.Berdasarkan alasan tersebut diatas. Lingkup lain filsafat bahasa adalah berkenaan dengan penggunaan dan fungsi bahasa. hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk. dan lain sebagainya. bahkan lingkup pembahasan ini terlalu lama ditekuni oleh para filsuf. Ketiga: berkenaan dengan teori makna dan dimensi-dimensi makna pembahasan tentang lingkup inilah filsafat bahasa memiliki keterkaitan erat dengan linguistik yaitu bidang semantik. . Hal ini disebabkan karena sesuatu kata tertentu mempunyai arti atau makna tertentu dan yang nampak sedemikian rupa sehingga menimbulkan refleksi filosofis. Meskipun sebenarnya seorang filsuf dapat menggunakan analisisnya untuk setiap konsep dasar yang berkenaan dengan bahasa tetapi dallam kenyataannya kecenderungan yang ada ialah untuk memusatkan perhatiannya pada konsep-konsep semantis. maka pembahasan filsafat bahasa meliputi masalah sebagai berikut. komunikasi manusia dan bidang-bidang lainnya yang prinsipnya berkenaan dengan pembahasan bahasa sampai hakikatnya yang terdalam (Kaelan. Antar alain hakikat bahasa secara ontologis sebagai dualisme bentuk dan makna.

bahwa alam tidak bisa dibujuk bukan karena enggan memenuhi permintaan manusia.BAB II KAJIAN FILSAFAT TENTANG BAHASA A. Pengantar Tatkala manusia untuk pertama kali mulai menyadari bahwa kepercayaanya melalui mitos primitifnya itu sia-sia. melainkan karena tidak mampu memahami .

bukanlah letupan angin semata-mata yang menentukan kata bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. bahkan tertinggi. kata tidak dapat mengubah kehendak dewa-dewa atau roh-roh. Kata tidak lagi memuat daya-daya misterius supernatural. Fungsi magis kata mulai memudar. retan terhadap kesepian yang mendalam yang membawa manusia untuk merenungkan dunia sekitarnya. kelemahan dan ketidakjelasan konsep-konsep filosofis dapat dijelaskan melalui analisis bahasa. Sejak itu manusia menemukan dirinya dicekam kesendirian yang mendalam. Secara fisik kata boleh dikatakan tanpa daya.bahasa manusia dan kesadaran itu tentunya menimbulkan goncangan jiwa. diganti oleh fungsi semantis. Logos menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. Diskursus melalui bahasa dan tentang bahasa dalam menyibak hakikat realitas telah marak dilakukan oleh para filsuf sejak zaman pra Sokrates. B. namun demikian kata bukanlah tanpa arti dan tanpa kekuatan. Kata bukanlah sekedar flatus vocis. Bersamaan dengan itu merebak pula reaksi tokoh-tokoh Postmodernisme yang mengakar keberbagai bidang kehidupan manusia yang sekali lagi juga menggunakan media bahasa sebagai dasar pijaknya terutama konsep dekonstruksinya. tidak lagi memiliki pengaruh jasmaniah atau adikodrati secara langsung. Hal itu berlangsung sampai zaman modern dan kemudian disusul filsuf-filsuf abad XX justru semakin menyadari bahwa kekaburan. Demikianlah kiranya sejarah filsafat Yunani telah akrab dengan bahasa dalam mengungkapkan refleksi filosofisnya. Sekalipun terdapat perbedaan perhatian para filsuf abad pertengahan dengan zaman Yunani namun bahasa masih merupakan teman akrab dalam kegiatan refleksi filosofisnya. pada era inilah para filsuf analitik berkiprah menjelaskan mengkritik dan mengungkapkan konsep-konsep filosofisnya melalui analisi bahasa. Kata tidak dapat mengubah alam benda-benda. Peristiwa ini mengharuskan manusia mengahadapi masalah baru yang merupakan titik balik dan krisis dalam hidup intelektual mampu hidup moralnya. Zaman Yunani . Dalam pengertian inilah dalam sejarah manusia mulai sadar melihat hubungan bahasa dengan realitas dari sudut yang berbeda. akan tetapi secara logis kata diangkat ke tingakat lebih tinggi.

Ekspresi mitis dan primitif ini membawa manusia pada kegoncangan jiwanya mereka menjadi semakin sepi dan merasakan adanya krisis intelektualnya. bahasa merupakan media mengungkapkan daya magis dalam komunikasinya dengan para Dewa dan kekuatan super natural lainnya. Manusia dengan kemampuan kodratnya yang dianugrahkan oleh Tuhan berupanya memahami hakikat realitas segala sesuatu termasuk Tuhan sendiri. terutama Herakleitos yang oleh Aristoteles dalam metafisikanya disebut 'para fisiologis kuno' (hoi arkhaioi phisiologoi). akan tetapi secara logis sematis bahasa dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dalam mengungkap rahasia alam dan segala sesuatu. Ia tidak sejutu bahwa diatas dunia terdapat ada yang murni sebagai dunia ideal. di dalam dunia jasmani tidak ada sesuatupun yang tetap. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. kata bukanlah sekedar flotus vocis. Secara struktual fisis bahasa memang tanpa eneegi. . Dengan memudarnya fungsi magis dari bahasa bangsa Yunani mulai sadar bahwa bahasa tidak mampu mengubah alam benda-benda fisis. Kembara refleksi intelektual ini terjadi pada awal filsafat Yunani. bahasa adalah bentuk makna. Dengan demikian Herakleitos tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. bahasa tidak dapat menggerakkan kehendak Dewa-dewa atau roh-roh. namun demikian bahasa bukanlah tanpa arti dan tanpa potensi. Namun demikian bagi bangsa Yunani sebelum para filsuf hadir dengan kemampuan refleksinya. 1989: 10). Masa Pra Sokrates Bangsa Yunani sejak lama dikenal sebagai bangsa yang gemar akan oleh pikirnya. Demikianlah kemudian logos menjadi prinsip alam semesta dan prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. namun ia mencari prinsip perubahan.1. Bahasa bukanlah hanya letupan angin yang meluncur dari mulut manusia. namun yang menentukan bahasa bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. bahasa adalah subtansi dan bentuk sehingga bahasa memiliki ciri logisnya. Menurutnya tidak ada sesuatu yang difinitif melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa 'sedang menjadi' yang terkenal dengan ungkapan 'panta rhei' artinya semua mengalir. semuanya berubah terus-menerus (Bertens. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi.

Sebab berkat bumilah. kata Empedokles kita melihat bumi. karena ada yang menjelaskan subtansi . Namun kata tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. Kita harus memahami arti ucapan-ucapan agar dapat memahami arti dalam semesta. kata 'logos' bukan semata-mata gejala antropologis. Bila kodrat manusia kita analisis. Pengetahuan tentang makrokosmos dimungkinkan karena mikrokosmos merupakan bagian sistem yang harmonis. 1987: 70). linguis maupun para psikolog Filsafat Yunani kuno hanya mampu memcahkan melalui prinsip yang secara umum diterima dan sangat mapan. dengan api kita lihat api yang kadangkala merusak. Bahkan masa Herakleitos ini disebut sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgmann.Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara menduduki tempat sentral. Bilamana kita gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa dan bukanya melalui fenomena fisik belaka maka kita gagal pula dalam menemukan pintu gerbang filsafat. bahkan dengan benci kita melihat benci yang menyedihkan. karena keduanya satu dan sama. Semua mazhab mulai dengan pengadaian-pengadaian bahwa fakta pengetahuan tidak akan dipertanggungjawabkan tanpa adanya identitas antara subjek yang mengetahui dan realitas yang diketahui. Bilamana teori umum ini diterima maka persoalan kemudian adalah apa "arti dari arti" ? Secara antologis pertama-tama dan yang terpenting adalah arti harus diterangkan dari sudut ada. Parmenides menandaskan bahwa kita tidak dapat memisahkan ada dan berpikir. dengan air kata melihat air. maka akan ditemukan di dalam dunia fisik. Terdapat beberapa kesulitan baru yang menyangkut masalah arti. bahkan sampai dewasa inipun masalah itu terdapat beranekaragam pendirian yang dikemukakan oleh para filsuf. 1974: 3). dengan udara kita lihat udara yang cerah. Para filsuf alam memahami dan menafsirkan indentitas ini dari segi yang betul-betul bersifat material. Dengan demikian. Idealisme dan realisme. melainkan dipahami dalam fungsi semantis dan simbolis. biarpun mereka berbeda dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. sebenarnya sama-sama menerima kebenaranya. Masalah "arti dari arti" merupakan masalah yang kontroversial. dan dengan cinta kita lihat cinta. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos pun. namun kata 'logos' juga mengandung kebenaran kosmis universal. pemikiran filsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Cassirer.

Dari pengertian ini lahirlah usaha-usaha orang untuk mencari sumber sebuah kata atau disebut 'etimologi'. dan saat itu kemudian munculah persoalahn filosofis yaitu apakah bahasa itu dikuasai oleh alam. o. 2002:27. Kaum naturalis selanjutnya mengutarakan bahwa bahasa bukanlah hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. nature. kaki meja dan sebagainya). Pertentangan antara 'Fisei' dan 'Nomos' Perhatian para filsuf terhadap bahasa nampaknya menjadi semakin kental. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal bukan semata-mata konvensional. Perbincangan hakikat bahasa pada zaman itu menjadi semakin marak tentang terdapat bahwa apakah bahasa itu sebagai konversi atau bersifat alamiah (Kaelan. ciri-ciri atau 'sound symbolism' baik bersifat imitatif dan sugestif (I. Kemudian hal itu dengan sendirinya dilanjutkan dengan upaya menginterpretasi makna. Sepatah kata tidak dapat memberi arti pada suatu benda bila tidak ada sekurang-kurangnya identitas sebagian di antara kedua hal tersebut.merupakan kategori yang paling umum yang mengikat dan menyatukan kebenaran dengan realitas. Jadi ada hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. Karena hal ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dapat berubah dalam perjalanan zaman. atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos. misalnya leher botol. Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa adalah bersifat alamiah (fisei) yaitu bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal usul usul. Kaum naturalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatakan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. kebiasaan-kebiasaan berupa 'tacit agreement' yang artinya 'persetujuan dian'. u) metafora (hubungan antara sumber pertama dengan aplikasi kedua. Bahasa bukanlah pemberian . menyusun daftar kata-kata peniru bunyi ('onomatopoeia'). Sebaliknya kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari hasil-hasil tradisi.28). sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri dan karena itu tak dapat ditolak. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda.

Kaum Sofis ini mulai menekuni bahasa mengadakan pembedaan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan maknanya mungkin berdasarkan strukturnya.Tuhan. Pada waktu itu di bidang politik Athena memainkan peranan yang sangat penting di bawah pimpinan Perikles. Protagoras sebagai tokoh kaum Sofis ini membedakan tipe-tipe kalimat atas 7 yaitu : narasi pertanyaan. melainkan bahasa bersifat konvensional.M. Untuk tujuan ini mereka mengembangkan cabang pengetahuan .L. Mereka terkenal di seluruh Yunani karena keahliannya dalam bidang retorika. sehingga penganut-penganutnya dinamakan kaum Sofis. Demikianlah kiprah para filsuf bahasa yang mencoba menemukan hakikat bahasa. 1977:42). laporan doa. Adapun Gorgia membedakan tentang gaya bahasa yang dewasa ini dikenal dalam studi bahasa secara luas (Parera. perintah. Kaum Sofis Sekitar pertengahan abad 5 S. Kaum Sofis menemukan pendekatan baru yang lebih sederhana untuk mendekati bahasa manusia. Sesuai dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Protagoras bahawa manusia menjadi pusat semesta manusia adalah merupakan pusat segala-galanya. Demikian pula waktu itu filsafat juga berpusat di Athena. fasih lidahnya dan berkeliling dari kota ke kota untuk melatih kaum muda dalam bidang keahlian berpidato. Dalam kaitannya dengan filsafat bahasa kaum Sofis mengemukakan bahwa dalam membahas hakikat bahasa yang memainkan peranan utama bukanlah metafisika melainkan filsafat manusia. Dalam dialog Plato pendapat ini diwakili oleh tokoh yang dikenal saat itu yang bernama Hermogenes. Terdapatlah suatu golongan yang biasanya dinamakan Sofistik. Austin yang membedakan bahasa atas tindakan dalam menggunakan bahasa. Hal ini nampaknya mirip dengan konsep J. jawaban. Athena menjadi pusat baru seluruh kebudayaan Yunani. Memang diakui bahwa dalam kenyataannya bahasa tidak dapat dipasung melalui satu mazhab saja melainkan bahasa memang memiliki sifat konvensional namun juga terdapat ciri-ciri fisei walaupun hal itu meliputi jumlah yang banyak. Mencari keterangan tentang bahasa dunia benda-benda fisik merupakan usaha yang sia-sia dan tidak berguna. dan undangan.

Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. Dalam diskusi filsafat mereka tidak memiliki kesepakatan tentang dasar-dasar umum yang berlaku bagi kedua teori tersebut. 2. retorika menduduki tempat sentral. Proses dialek-kritis dalam hal ini mengandung suatu pengertian "dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (inteplay) antar ide (Titurs. 1984:17). istilah dan kata menjadi sia-sia dan berlebihan.baru yaitu 'retorika' . Menanggapi kondisi kacau akibat kelicinan kaum Sofis tersebut Sokrates merasa terpanggil untuk meluruskannya dengan suatu metode "dialektis=kritis". 1980:54). Mereka hanya mencapai kesepakatan mengenai satu hal kebenaran yang sesungguhnya tidak mungkin dapat tercapai. Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. melainkan untuk mendorong orang agar mengambil tindakan-tindakan tertentu (Cassirer. Sokrates Kaum Sofis yang dikenal dengan kemahirannya dalam olah penggunaan bahasa terutama melalui retorikanya. Kaum Sofis inilah yang membawa perubahan terhadap corak pemikiran filsafat di Yunani yang semula terarah pada kosmos menjadi terarah pada teori pengetahuan dan etika (Hatta. bukan hanya untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran saja. oleh karena itu harus diragukan kebenarannya. maka muncullah persoalan dasar-dasar teori pengetahuan dan etika. Tugas bahasa yang nyata bukanlah untuk melukiskan benda-benda melainkan untuk membangkitkan emosi manusia. senantiasa aktif mengembangkan dan mengangkat masalah-masalah filsafat untuk diperdebatkan secara kritis. yaitu segala sesuatu yang bersifat nisbi. 1987:173). dalam definisi mereka tentang 'kebijaksanaan (sophia). Tugas bahasa benda-benda. Semua pertikaian tentang 'kebenaran' atau 'ketepatan' (orthotes). Sokrates dalam menerapkan metode dialektis kritis itu tidak begitu saja menerima suatu pengertian sebelum dilakukan pengujian-pengujian untuk . Sejalan dengan filsafat kaum Sofis yang dalam arena perdebatan filsaft tidak mudah menyerah.

Akan tetapi jikalau lawan dialog itu tidak mampu mengajukan argumentasi yang benar mengenai pengertian yang diungkapkannya. Jadi Sokrates senantiasa menuntut para ahli untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar. (Lihat Mustansyir. Apabila diperoleh suatu jawaban yang memang benar yang didukung oleh alasan yang benar. dan kepada seorang pemimpin tentang makna 'keadilan' dan lain sebagainya (Bakker. Setelah diperoleh penjelasan dari ahlinya. Dengan menggunakan metode dialketis kritis inilah nampaknya Sokrates mampu mengatasi kemelut filosofis melalui perdebatan yang ketat. 1984:28). Metodi Therapy yang dilakukan oleh Sokrates terhadap kekacauan makna yang merupakan penyakit kronis yang ditimbulkan oleh kaum Sofis ini nampaknya juga dilakukan oleh para filsuf analitik dalam menyembuhkan obrolan omong kosongnya kaum idealisme yang dianggapnya tidak bermakna.membuktikan benar atau salahnya. yang terjadi ddalam bidang filsafat pada masa itu. Misalnya ia bertanya kepada seorang seniman tentang apa yang dimaksud dengan 'keindahan'. Dapat pula dikatakan bahwa dengan metode dialektis kritis ini Sokrates melakukan penyembuhan (therapy). kemudian Sokrates mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai dasar-dasar pemikiran para ahli itu tentang apa alasan mereka sehingga memiliki pandangan yang demikian. 1987:20). terutama yang ditimbulkan oleh kaum Sofis. Dengan metode itu tujuan utama Sokrates adalah untuk menjernihkan pelbagai problema filosofis yang selama ini dikacaukan oleh kaum Sofis. kepada seorang panglima tentang makna 'keberanian'. maka ide yang telah teruji tadi diterimanya sebagai pengetahuan yang benar untuk sementara sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut melalu metode komparasi (perbandingan). karena dianggapnya tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Kaum Sofis yang lazimnya tidak begitu saja mudah menyerah dengan kefasihannya dalam setiap perdebatan ternyata mengakui keuletan dan akurasi metode Sokrates dalam menjelaskan makna melalui analisis bahasanya dialektis kritis. Oleh karena itu ia selalu meminta penjelasan-penjelasan tentang sesuatu pengertian dari orang yang dianggap ahli dalam bidangnya. Metode yang digunakan oleh Sokrates dengan metode yang dikembangkan oleh kaum Sofis dengan retorikanya nampaknya memang terdapat perbedaan . maka ide yang dilontarkan akan disisihkan oleh Sokrates.

Plato Plato seorang filsuf dari Athena dalam menuangkan karya-karya filosofisnya diwujudkan melalui bentuk dialog. suatu kata dalam perbedaharaan bahasa manusia takkan dapat dipahami. Ulasan Plato terhadap teori yang mengatakan bahwa semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi berakhir dengan ejekan dan karikatur. 3. namun demikian keduanya memiliki kesamaan yaitu menjelaskan konsep-konsep filosofis melalui bahasa. Bila pengadaian ini bersumber pada teori umum pengetahuan bukannya pada teori bahasa maka diperlukan suatu upaya pemecahan. Dari kata-kata direvatif kita harus kembali kepada kata-kata primer. kita harus menemukan 'etimon' atau bentuk murni dan bentuk asal dari tiap-tiap kata.yang sangat tajam. Bilamana kita hendak mengusut lebih lanjut ikatan yang menyatukan antara kata-kata dengan objeknya. Kesulitan ini bagaimanapun juga dapat disingkirkan dengan menunjuk fakta bahwa bahasa manusia sejak semula rentan terhadap perubahan dan kerusakan. Maka tidak boleh berhenti pada keadaan yang sekarang. maka kita harus menelusuri kata-kata sampai pada sumber-sumbernya. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal tidak semata-mata konvensional. Keberatan terhadap teori Plato ini menunjuk pad fakta bahwa ketika menganalisis kata-kata dalam pembicaraan sehari-hari. Persoalan dikotomi tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' tertuang dalam dialog Cratylus dan Hermogenes. Dalam persoalan inilah Plato mengemukakan diktrinnya yang disebut 'onomatopoeia’ (Cassier. kita sering sungguhsungguh tidak bisa menentukan kemiripan yang diduga ada antara bunyi-bunyi dengan benda-benda. Tanpa hubungan natural seperti itu. Namun demikian tesis Plato tersebut selaman beberapa abad masih tetap bertahan. Filsafat bahasa Plato inilah yang mampu menjembatani jurang antara namanama dengan benda-benda. Menurut prinsip ini sebenarnya etimologi tidak hanya . Bahkan sampai dewasa ini kepustakaan bahasa masih merupakan bahan pembahasan walaupun tidak merupakan satu-satunya teori dalam ilmu bahasa. 1987: 171).

4.menjadi dasar dalam linguistik melainkan justru menjadi salah satu dasar filsafat bahasa. Aristoteles Aristoteles seorang filsuf yang jenius dari Stagira yang memiliki karya yang cukup banyak dan pemikiran-pemikirannya sampai saat ini masih relevan dengan ilmu pengetahuan. Lebih lanjut Plato mengemukakan pemikiran filosofisnya tentang bahasa dalam dialog Cratylus. Teori Aristoteles disebut dengan istilah 'hilemorfisme' yang berasal dari bahasa Yunani 'hyle' dan 'morphe' yang secara hafiah disebut 'teori bentuk-materi'. dalam istilah tata bahasa dan 'rhema' merupakan anggota dari 'logos' yang berarti suatu segmentasi bahasa baik berupa frase klausa. 1983 : 43). kategori demikian pula tentang filsafat bahasa. bahwa bahasa pada hakikatnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan 'ono mata' dan 'rhemata' yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. melainkan dalam bendabenda jasmani sendiri. nominal menurut istilah tata bahasa. Pengertian 'onomata' jamaknya 'onoma' dapat berarti nama (dalam bahasa sehari-hari). verbal. subjek dalam hubungan subjek logis. maupun kalimat. verb. Ia sebagai salah seorang dari padepokan Akademia Plato di Athera dan dia belajar samapai Plato meninggal. Platolah yang pertamatama membedakan kata dalam 'onoma' dan 'rhema' (Parera. Pemikiran inilah yang merupakan pangkal perbedaan konsepnya dengan pemikiran filosofis gurunya. Misalnya tentang prinsip kausalitas. Aristoteles mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa terdapat sesuatu yang tetap akan tetapi tidak dalam suatu dunia ideal. logika. 'Rhemata' jamaknya 'rhema' dapat berarti frase atau ucapan dalam bahasa sehari-hari. Nampaknya Plato telah banyak menuangkan konsep-konsepnya berkaitan dengan hakikat bahasa yang dalam kenyataannya sampai saat ini merupakan dasar pijak bagi pengembangan imu bahasa. Aristoteles . nomen.

batasan. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. tak satu bagianpun mempunyai makna sendiri. penyimpulan langsung dan sesat pikir (Liang Gie. Materi adalah prinsip yang sama sekali tidak ditentukan. Selain itu yang dimaksud dengan pengertian 'syndesmoi' adalah 'penghubung partikel' yang dalam pengertian linguistik sering diistilahkan dengan konjungsi. Pandangan Aristoteles tentang hakikat bahasa itu nampak mendasarkan pada konsep filosofisnya tentang 'hilemorfisme'. yang secara sederhana bahwa hakikat bahasa juga meliputi hakikat materi dan bentuk (Arens. Pemikiran Aristoteles tentang filsafat bahasa tidak bisa dipisahkan dengan logika yang dalam karyanya disebut 'organon' secara luas dikenal dengan istilah logika tradisional. 1989 : 15). yang sama sekali terbuka. Demikian juga dalam membahasa tentang hakikat bahasa Aristoteles juga mendasarkan pada prinsip metafisisnya. 1975:21). Dalam pengertian inilah maka Aristoteles mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkrit (Bertens. Selain itu Aristoteles juga mengembangkan prinsip keteraturan dalam bahasa sehingga bahasa memiliki paradigma yang disebut dengan 'analogi'. Dua prinsip ini tidak dapat hanya ditunjukkan dengan jari melainkan harus diandaikan bahwa kita mengerti benda-benda jasmani. 'onoma' adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. Dalam salah satu karyanya Peri Hermeneias yang mengemukakan tentang kwalifikasi kata yaitu 'onoma'. 'rhema' dan 'syndesmoi'. karena sebagaian tamabahan menandai adanya (waktu sekarang) dalam diri seseorang. Bilamana kita .memberikan konstatasinya bahwa setiap benda jasmani terdiri atas dua hal. 1984: 21). dan selalu merupakan tanda untuk apa yang dibicarakan tentang sesuatu yang lain. yaitu bentuk dan materi. Dalam 'organ' Aristoteles menjelaskan bahwa logika itu meliputi pengertian dan penggolongan artian. keterangan. dengan bersama menandai waktu yang dimaksudkan misalnya 'kesehatan' adalah 'onoma' tetapi 'adalah sehat' adalah 'rhema'. tak ada satu bagianpun dari padanya memberi tanda secara sendiri-sendiri. Bentuk dan materi dalam pengertian ini bukanlah dalam arti empiris indrawi melainkan dalam pengertian prinsip-prinsip metafisis. Materi adalah suatu kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk. susunan fikir.

Mereka menunjuk beberapa bukti dalam kenyataan sehari-hari mengapa ada sinonimi dan homonimi mengapa ada unsur kata yang disebut netral dan jika bahasa itu bersifat konvensional semestinya kekacauan itu diperbaiki. Sebaliknya kaum anomalis berpendapat bahwa bahasa dalam bentukbentuknya tidak teratur (irreguler). premis. Proses pembentukan proposisi. Keteraturan bahasa membawa konsekuensi dapat disusun suatu tata bahasa. Dikotomi 'analogi' dan 'anomali' Pembahasan tentang hakikat bahasa di Yunani ditandai pula dengan munculnya teori 'analogi' dan 'anomali' yang nampaknya berpegangan pada khitohnya masing-masing. Kiranya pendapat kaum anomalis ini masih digunakan sebagai salah satu ciri bahasa bahwa bahasa itu pada hakikatnya arbitrer (mana suka) karena sifat bahasa yang alamiah tadi. Prinsip analogi ini sebenarnya merupakan transformasi keteraturan logika dan matematika ke dalam bahasa. 1983: 42). Golongan yang berpendapat analogi menyatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan. Oleh karena itu menurut kelompok analogi bahwa bahasa itu teratur dan disusun secara teratur pula. satu paradigma. Analogi secara matematis berdasarkan proporsi seperti 6:3 sama dengan 4:2 sama dengan 2:1 misalnya jamak dalam bahasa Inggris 'book – books'. Analogi dianut oleh kelompok Plato dan Aristoteles dan diterapkannya dalam karya-karya mereka. . Dalam pengrtian inilah bahasa itu pada hakikatnya bersifat alamiah (Parera. batasan dan terutama penyimpulan yang benar senantiasa mendasarkan pada analisis bahasa. demikian pula manusia juga memiliki keteraturan dan hal itu terefleksi melalui bahasa.analisis lebih jauh dasar kerja penalaran logika tradisional sangat mendasarkan pada term yang diwakili oleh simbol bahasa. 'girl – girls'. 'cow – cows' dan lain sebagainya. namun demikian sampai saat ini kedua pendapat itu masih relevan dengan realitas bahasa terutama dalam pengembangan bidang ilmu linguistik. Memang dapat kita akui bahwa perdebatan kedua pendapat itu akan berjalan seperti rel kereta api. Dalam pengertian inilah sebenarnya Aristoteles telah turut andil dalam meletakkan dasar-dasar filsafat bahasa.

Mazhab Stoa ini berdiri atas kelompok filsuf yang ahli logika sehingga pandangan-pandangannya tentang hakikat bahasa tidak dapat dilepaskan dengan rasio yang mendasarkan pada logika. Namun demikian satu hal yang perlu dicatat bahwa sumbangan kaum Stoa terhadap filsafat bahasa cukup besar terutama dalam menentukan prinsip-prinsip analisisnya secara sistematis. Ketiga. makna mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan analisis logika Aristoteles yang sering tidak jelas maksudnya. Semua perubahan dari onoma sesuai dengan fungsinya tidak mereka akui hal itu hanya sebagai kasus saja. Lalu mereka membedakan atas kasus nominatif-genetif. yang diistilahkan dengan semainomenon. tempat Zeno memberikan pembelajarannya. Mereka membedakan antara legein (tutur) bunyi yang mungkin merupakan bagian dari fonologi dari sebuah bahasa tetapi tidak bermakna. Nama stoa menunjuk kepada tempat belajar yaitu suatu serambi bertiang. Kedua. kedua kemajuan tersebut ada hubungannya dengan perbedaan kaum Stoa dan logika peripatetik dari penganut Aristoteles. Pertama. tanda tulisan untuk huruf itu dan nama untuk huruf itu. dan ini adalah bunyi atau materi bahasa. Mazhab Stoa Mazhab Stoa didirikan oleh Zeno dari Kriton sekitar menjelang abad keempat SM. Aristoteles hanya mengakui adanya onoma dan onomata. Kaum Stoapun juga menaruh perhatian terhadap bunyi. atau lekton. Mereka memberikan contoh tentang kata Yunani 'gramma' berarti huruf itu sendiri. kaum Stoa telah membedakan antara studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara gramatika. Hal ini disebabkan logika Aristoteles dengan silogismenya yang hanya mempergunakan kode huruf A. phone.5. (3) hal-hal ternal yang disebut benda atau situasi yang diistilahkan dengan to pragma atau to tungchanon. Langkah pertama kaum Stoa untuk mendeskripsikan tentang hakikat bahasa terutama tentang makna dengan membedakan tiga aspek utama bahasa : (1) tanda atau simbol. datif- . B. dan C. dan tidak menggunakan bebtuk-bentuk onoma secara praktis dalam contoh. sign yang disebut semainon. (2) makna. Dalam bidang lekta. Menurut kaum Stoa kasus itupun onoma pula yang sesuai dengan fungsinya. mereka telah menciptakan beberapa istilah teknik khusus untuk berbicara tentang bahasa.

netral. hoi. Walaupun Aristoteles membedakan rhema dalam 'tense' ia berbicara tentang sesuatu yang belum komplit. Zaman Abad Pertengahan Alexander Agung yang dalam sejarah telah mendirikan suatu kerajaan besar. Kaum stoa juga membedakan jenis kata. Hal ini bukan berarti kehancuran kebudayaan dan filsafat Yunani melainkan tetap berkembang dengan subur mengingat sang Raja sendiri menaruh perhatian terhadap kebudayaan. yang dalam pengertian sekarang disebut bentuk infinit dan finit. Apa yang mereka sebut nominatif itu menurut Aristoteles disebut onoma saja. 1983:44. dan arthron. kerja. Jika masuk dalam suatu kalimat akan berbentuk kategorrhema. C. Dalam hal ini mereka memberikan pengertian bercampur antara bentuk morfologis dan semantik. Kaum stoa dalam hal ini membedakan rhema dan kategorrhema.45). to. Pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat bahasa walaupun masih memiliki ciri spekulatif namun telah mulai mengarah pada dasar-dasar linguistik. yang mula-mula empat kemudian lima : benda. seperti dalam bahasa Yunani : ho. Hal yang sama juga berlaku bagi rhema. yang menyatakan jenis kelamin maskulin. feminin. Bentuk ini kemudian kita kenal dengan nama artikel dan kata ganti penghubung. hai. sedangkan rhema disebutkan sebagai kata yang menggambarkan satu peristiwa dan tidak mengalami kasus. Pengembangan dan . ta. Pendapat kaum Soa ini memang merupakan rintisan ke arah pengembangan suatu tata bahasa walaupun sifatnya masih spekulatif (Parera. tunggal dan jamak. yang meliputi juga Romawi maupun Yunani. Syndesmoi disebutkan sebagai kata yang tidak mempunyai akhir kasus. antara lain dengan dikembangkan "kebudayaan helenistis". Dalam kenyataan sejarah perhatian orang Romawi terhadap bahasa sangat dipengaruhi bahkan meneruskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani. he. Arthron ialah kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah.akusatif dan sebagainya. Kata benda disebut kata yang mengalami infleksi yang dibedakan atas kata benda dan nama diri. syndesmoi.

dan berikut ini beberapa bagian yang penting dari karya Varro. ialah menganggap semua kata yang berbentuk sama adalah pinjam langsung. Varro juga membahas hal yang sama.pemikiran tentang bahasa di Romawi diserahkan kepada seorang tokoh yang bernama Crates seorang filsuf dan sekaligus seorang ahli gramatika golongan Stoa. Satu hal yang merupakan suatu kelemahan dalam etimologi ini. Dengan metode-metode linguistik komparatifnya ia memberikan pula etimologi dalam bidang kata primer derivasi serta infleksi. Pengertian Kata . seperti bahasa Indo Eropa. Karya Varro yang terbesar adalah "De Lingua Latina" terdiri atas 25 jilid. 1. Perubahan makna umpamanya 'hostis' semula berarti 'orang asing' kemudian berubah menjadi 'musuh'. Karya besar filsuf Romawi tentang filsafat bahasa adalah Varro yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan ahli bahasa. walaupun beberapa contohnya kurang tepat. Kiranya dalam karya-karyanya yang ada. Ia memberikan contoh perubahan bunyi 'duellum'menjadi 'bellum' = perang. Padahal dalam kenyataannya ada pula bentuk-bentuk bahasa kedua bahasa tersebut harus direkonstruksikan kembali kepada satu bahasa purba. Pemikiran Varro tentang Hakikat bahasa Dalam perkembangan karyanya Varro terlibat juga dalam perbincangan spekulatif yang dikotomis di Yunani yaitu antara pandangan analogi dan anomali. Etimologi Dalam bidang etimologi Varro mencatat perubahan bunyi dari zaman ke zaman dan perubahan makna dari sebuah kata. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pemikiran-pemikiran filsuf Yunani sangat mewarnai konsep-konsep tiap orang Romawi.

generativus (menyatakan kepunyaan). Kasus yang keenam adalah ablativus.adverbium Keempat kelas kata ini dikategorikan kembali kedalam (yang membuat perntanyaan yang menghubungkan dalam sintaksis kata benda dan kata kerja. jika ia mempunyai deklinasi yang biasa dipakai semua orang menurut ketentuan dan aturan. Berbeda dengan bahasa Yunani yang hanya mengenal lima kasus. Konsep kasus inilah yang banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan studi bahasa. yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum. pokok). Dalam hubungan ini penting juga untuk diketahui pengertian kata yang dikemukakan oleh Varro. Varro membedakan juga deklinasi dari bentuk- . Jadi ada kasus : nominativus (Bentuk primer.kata benda (termasuk sifat) --. Kasus dan Deklinasi Dalam hal kasus perihal penggunaan dan maknanya dalam bahasa Latin ada enam kasus. Yang berinfleksi kasus Yang berinfleksi 'tense' Yang tidak berinfleksi --. dari). Dalam hal deklinasi. adverbium). Dalam menyusun bentuk indikatif 'tense'. Ia menyusun satu perbedaan antara 'tense'. 1983: 52). Yang disebut kata ialah bagian dari ucapan. ia membedakan pula atas aktif-pasif (Parera. Konsep morfologi Dalam bidang morfologi Varro menunjukkan orisinalitasnya dalam pembagian kelas kata. 'aspect'. Dengan kata kerja ia nampaknya bersimpati terhadap kaum Stoa. Varro telah membahas lebih jauh dibandingkan dengan pada masa Yunani. 'time'. Ia menyusun satu sistem infleksi dari kata Latin dalam empat bagian sebagai berikut.kata kerja --.Menurut Varro perihal pembahasan kata sebenarnya terdapat bentukbentuk yang terjadi secara analogi dan anomali terutama dalam bahasa Latin. Jadi terdapat bentuk-bentuk teratur dan tidak teratur. dan yang menjadi anggota bawahan dari kata kerja. dativus (menyatakan asal.

2. Konsep deklinasi tersebut yang mempengaruhi cara kerja penemuan etimologi. Bahkan konsep model Priscia inilah yang merupakan model dan contoh untuk penulisan dan pendeskripsian tatabahasa-tatabahasa di Eropa dan di dunia lainnya. Nama dari huruf-huruf ini adalah figurae. Nilai dari bunyi ini disebut potestas. Priscia membedakan pula atas vox articulata. apakah ia bunyi articulata atau inartikulata. Deklinasi voluntaria yaitu satu perubahan bentuk dari kata-kata secara morfologis yang bersifat selektif dan manasuka. Akan tetapi bunyi yang disebut vox illitterata adalah bunyi yang tidak dapat ditulis. karena merekalah yang memasukkan semantik sebagai norma utama dalam deskripsi bahasa. (2) teori-teori taa bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Hal ini dianggap penting karena terdapat dua alasan yaitu : (1) konsep Priscia merupakan model tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya. Fonologi dan Morfologi Priscia Dalam bidang fonologi priscia membicarakan tulisan atau huruf yang disebutnya litterae. demikian juga mereka juga membicarakan segi-segi formal dari bentuk-bentuk bahasa. vox litterata adalah bunyi-bunyi yang dapat dituliskan. Secara singkronis ia membedakan pula ada dua macam deklinasi yaitu : deklinasi naturalis atau deklinasi alamiah ialah perubahan sebuah bentuk yang terjadi dengan sendirinya dan sudah terpola. Jika disebut tata bahasa tradisional sebenarnya merekalah sumbernya. Deklinasi naturalis pada umumnya reguler dan dapat diketauhi masyarakat pemakai bahasa dengan serta merta tanpa ragu-ragu.bentuk derivasi dan infleksi. Para penutur kadang-kadang harus sadar akan bagaimana ia harus melaksanakan suatu deklinasi irreguler. yaitu bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna. Menurut konsep morfologi Priscia dijelaskan bahwa kata disebut dictio. Kata adalah bagian yang minium dari suatu ujaran dan harus diartikan terpisah . Konsep Priscia ini merupakan model yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa sesudahnya. Konsep Priscia Perkembangan pemikiran tentang hakikat bahasa lama kelamaan menjadi semakin sempurna dan berkembang ke arah sturdi ketatabahasaan. Litterae merupakan bagian yang terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan.

Adverbium : keistimewaan adverbum ini ialah selalu dipergunakan dalam konstruksi bersama dengan verbum dan secara sintaksis dan semantik merupakan atribut verbum. Participium : yaitu sebuah kelas kata yang selalu berderivasi dari verbum. Praepositio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi juga dipergunakan sebagai kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus atau dalam kompositum. kedua dan ketiga. Nomen : dalamnya termasuk kata sifat menurut klasifikasi sekarang. 7). 2). tetapi tidak berinfleksi kasus. dan oleh karena itu berbeda dari keduanya. Tingkat berikutnya pembahasan bahasa yang menyangkut hubungan kata dengan kata. 3). Mengambil kategori verbum dan nomen (tense dan kasus). Verbum menyatakan perbuatan atau dikenal perbuatan. Pronomen : yaitu jenis kata yang dapat menggantikan nomen biasa dan biasanya menunjukkan orang pertama. Interjectio : jenis kata yang secara sintaksis terlepas dari verbum dan menyatakan perasaan atau sikap pikiran 8). Kata benda yang menunjukkan subtansi dan kualitas. Dalam bidang morfologi inilah Priscia membedakan jenis kata dalam delapan macam yaitu : 1). 5). Verbum : verbum adalah jenis kata yang mempunyai infleksi untuk menunjukkan 'tense'. 4). Menurut Priscia oratio yaitu . modus. Dalam hal ini Priscia memiliki suatu kekeliruan bahwa seakan-akan bentuk vires bentuk Latin tidak dapat dianalisis atau dipecah-pecah kembali dalam bentuk yang lebih kecil lagi. Penentuan kelas kata tersebut sebagai unsur dari pembenetukan satuan bahasa lainnya yaitu kalimat. 6). frase dan unsur lainya yang dewasa ini disebut bidang sintaksis disebut sebagai oratio. Cinjuctio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dan secara sintaksis menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan antara unsur satu dengan lainnya.dalam makna sebagai satu keseluruhan.

tata susun kata yang berselang dan menunjukkan kalimat itu selesai. Hal yang menarik dari segi oratio yaitu bahwa sebuah kata itu dapat menjadi kalimat secara penuh. Demikianlah kiranya pemikiran tentang bahasa kelompok Priscia yang besar pengaruhnya terhadaps tudi bahasa pada periode-periode berikutnya (Parera, 1983, 54-56); (Kaelan, 2002: 24-43).

D. Zaman Abad Modern Ciri yang utama pada zaman abad pertengahan adalah masa-masanya filsuf Kristiani terutama kaum Patristik dan Sekolastik sehingga wacana filosofis juga sangat akrab dengan teologi. Selain di Eropa perkembangan pendidikan diwarnai oleh sistem pendidikan Latin. Semua orang yang mencapai pendidikan tinggi baik di awam mapun rohaniawan bergantung pada pengetahuan mereka mengenai bahasa Latin. Dengan demikian bahasa latin menduduki tempat yang terhormat terutama dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat maupun teologi. Pendidikan zaman abad pertengahan dibangun dalam 7 sistem sebagai pilar utamanya dan bersifat liberal. Ketujuh dasar pendidikan liberal tersebut dibedakan atas Trivium, yang mencakup grammatika dialektika (logika) dan retorik, serta Quadrivium, yang mencakup aritmetika, geometrika, astronomi dan musik. Pada zaman ini perkembangan filsafat bahasa menuju pada dua arah yaitu, pertama dengan ditentukannya grammatika sebagai pilar pendidikan lain serta bahasa latin sebagai titik sentral dalam khasanah pendidikan maka pendidikan spekulatif filosofis memberikan dsar yang kokoh bagi ilmu bahasa. Kedua oleh karena sistem pendidikan dan pemikiran filosofis pada saat itu sangat akrab dengan teologi, maka analisis filosofis diungkapkan melalui analisis bahasa sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas. Kemudian dasar-dasar yang mendukung perkembangan ilmu bahasa antara lain konsep pemikiran kaum Modistae dan konsep bahasa spekulativa.

1.

Pemikiran Thomas Aquinas Thomas Aquinas atau dikenal juga dari Aquino dilahirkan di Italia dan pada

usia 19 tahun ia masuk Ordo Dominikan. Thomas telah menghasilkan banyak

karya dansuatu edisi modern telah mengumpulkan semua karyanya terdiri atas 34 jilid. Pemikiran filsafat Thomas diwarnai oleh nuansa teologi dan selain itu Thomas banyak memberikan komentar terhadap filsafat Aristoteles, sehingga tidak mengherankan banyak karya-karyanya diwarnai oleh filsafat Aristoteles. Pemikiran Thomas yang lekat dengan teologi tersebut dalam sistematika filsafatnya merupakan karya terbesar pada periode abad pertengahan terutama karyanya yang berjudul summa Theologiae (ikhtisar teologi) (Bertens, 1989:35). Untuk menemukan suatu kebenaran pada suatu masalah tertentu menurut Thomas perlu memahami terlebih dahulu dengan baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar yang lain. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles, yang mengembangkan semangat dialektika Sokrates. Menurut Thomas kesemuanya harus diandaikan bahwa mereka mempunyai dasar bag pendapatnya. Segala pro dan kontra dari siapa pun harus diangkat secara serius, dan dideskripsikan seobjektif mungkin. Argumen itu diuji dari segala pihak, dari teks asli maupun interpretasi-interpretasi pemahaman dan penilaian kritis dan lebih mendalam mengenai persoalan dan prinsip-prinsip yang bersangkutan. Melalui analisis bahasa ia mengetengahkan kelemahan, kekurangan dan keberatan-keberatannya pada gilirannya mengetengahkan pandangannya atas kebenaran tersebut. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa pemikiran filosofis Thomas sangat dipengaruhi terutama oleh filsafat Aristoteles. Pertama-tama Thomas berusaha mengolah filsafat Aristoteles. Hampir semua karya filosofisnya merupakan komentar atas karya-karya besar Aristoteles. Ia mendalami dan menyelami pemikiran Aristoteles dan kemudian juga memformulasikannya melalui pandangan filosofisnya. Sehingga tidak mengherankan pemikiran filosofisnya diwarnai oleh logika Aristoteles sebagai metode berpikirnya. Titik tolak tradisi yang kedua yang diangkat secara kritis dan mendasar oleh Thomas yaitu pemikiran Platonis. Ia senantiasa menganalisis prinsip-prinsip filosofisnya yang mendasari ajaran mereka kemudiann daam keragka pemikiran filosofis ajaran-ajaran platonis disistematisir berdasarkan kerangka logika Aristoteles.

Analisis Bahasa Banyak kalangan historian memberikan ciri perkembangan pemikiran filsafat pada abad pertengahan diwarnai oleh mercusuar tradisi Skolastik, sehingga tidak mengherankan bahasa Latin menduduki posisi sentral dalam wacana intelektual filosofis dan teologi. Analisis bahasa praktis menjadi metode yang akrab dalam penuangan pemikiran pemikiran filosofis. Dalam pemikiran filosofis Thomas menggunakan ungkapan-ungkapan dengan melalui bahasa yang bersahaja, terang dan berbentuk murni. Analissi abstraksi sebagai metode khas filsafat dikembangkannya, yaitu dengan meninjau suatu segi atau sifat tersendiri dan kemudian menyisihkan segala aksidensia dan akhirnya sampai pada substansi atau hakikat segala sesuatu. Konsep pengertian sepergi ’kodrat’, nafsu dan lain sebagainya dapat dijelaskan dengan tepat. Bahasa sastra yang bersifat puitis senantiasa dihindarinya. Namun demikian bukan berarti Thomas mengelak dari fungsi bahasa yang bersifat fleksibel serta kelenturan makna bahasa. Hal ini nampak dalam mengungkapkan analisis filosofisnya melalui analogi dan metafor. Memang benar diakui oleh banyak kalangan intelektual bahwa dalam setiap khasanah ilmup engetahuan memiliki istlah-istilah teknis dan artifisial tertentu yang memang berlaku sah dan bermakna dalam konteks ilmu pengetahuant ertentu tersebut. Namun demikian bahasa adalah tepat dan kaya dan merupakan sarana yang mutlak bagi presisi ilmiah. Para ahli juga sependapat bahwa terdapat suatu perbedaan antara struktur sintaksis dengan struktur logis, yang terdapat dalam makna bahasa. Untuk mencapai suatu kebenaran dalam sistem pemikirannya Thomas, menggunakan analisis bahasa melalui penalaran logis dengan menggunakan prinsip deduksi yang dilakukan dengan melalui analisis premis. Premis dalam proses deduksi adalah merupakan suatu pernyataan yang mutlak benar, yang memberikan informasi tentang kenyataan (Copleston, 1958:28). Premis yang demikian ini merupakan suatu prinsip yang jelas dengan sendirinya (principium per se notum), sekali istilah dipahami semua orang yakin akan kebenarannya. Hal itu meliputi beberapa macam bentuk premis deduktif yaitu: Definisi, yaitu pernyataan yang predikatnya menyatakan hakikat subjek. Bagi Thomas definisi itu sangat sentral, dan ia sangat cermat mencarinya, misalnya definisi ’keadilan’. Thomas secara konsistem berusaha memberi

kepada segala sesuatu kerangka skematis yang menyajikan pemahaman. Ia mulai dari pemahaman umum misalnya tentang ’ada’, kemudian dengan perbandingan pertentangan, analisis istilah dan sebagainya ia memberikan definisi unik yang hanya berlaku bagi hal yang akan dirumuskannya. Paling ideal definisi yang mampu memberikan rumusan menurut prinsip ’genus et species’. Namun demikian juga dapat ditandai menurut salah satu sifat, atau salah satu sebab atau menurut salah satu prinsip, dengan demikian definisi itu dapat ditentukan. Prnsip yang self-evident, yaitu suatupernyataan yang predikatnya merupakan sifat yang dalam analisis nampaknya mutlak berlaku bagi subjeknya, misalnya prinsip kausalitas (Copleston, 1955:29). Dapat juga keseluruhan yang terbatas itu lebih besar daripada masing-masing bagiannya. Pengetahuan akan istilah-istilah dalam prinsip itu memang secara psikologis berasal dari pencerapan, tetapi evidensinya muncul langsung dalam analisis hubungan predikat dan subjek, jadi secara logis bersifat ’apriori’. Prinsipprinsip yang self-evident itu berhubungan satu sama lain, akhirnya dikembalikan pada prinsip utama ’yang ada tidak dapat sekaligus tidak ada’. Prinsip yang lebih bersifat sekunder, yaitu dengan memakai prinsip-prinsip metafisis lainnya. Misalnya, ’yang baik ialah sebagaimana berlaku dalam kebanyakan hal’, ’kodrat selalu mengarah ke kesatuan’, yang lain merupakan hubungan substansi dan aksidensia atau hubungan potensi dengan aktivitas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tudingan kepada filsafat Skolastik Thomas yang dianggapnya menjadi verbalisme yang kering, suatu sitem berpikir yang tertutup yang diabadikan melalui sistem hafalan belaka, walaupun sebenarnya tuduhan itu tidak sepenuhnya benar (Bakker, 1984:60,64). Walaupun tidak memiliki hubungan sebab akibat yang langsung antara sistem pemikiran Thomas dengan Atomisme Logis nampaknya memiliki kemiripan terutama menggunakan ungkapan bahasa melalui logika dalam melakukan analisis konsep-konsep filsafat. Hanya perbedaan yang esensial adalah Atomisme Logis menolak metafisik karena ungkapan metafisis sebenarnya tidak mengungkapkan keberadaan fakta apa pun; sedangkan Thomas justru analisis logis melalui ungkapan-ungkapan bahasa digunakan dalam upaya untuk memberikan analisis ungkapan-ungkapan metafisis maupun fakta.

Analogi dan Metafor Anggapan yang menyatakan bahwa filsafat Thomas bersifat verbalisme yang kering, nampaknya tidak sepenuhnya benar karena dalam kenyataannya Thomas mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofisnya tidak hanya melalui logika Aristoteles melainkan juga mengangkat analogi dan metafor. Dalam filsafat Thomas doktrin tentang 'analogi' sebenarnya dimaksudkan justru untuk mengangkat wacana teologis ke taraf ilmu filosofis sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan menghindarkan diri dari wacana puitik religius (Sugiharto, 1996:124). Bila bagi Aristoteles kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana bisa keluar dari dilema antara disatu pihak ada unsur dasr yang satu bagi seluruh kenyataan, di pihak lain ada pula makna yang amat beragam dari kenyataan itu, maka wacana teologi menghadapi kenyataan yang seperti itu. Dalam wacana teologis tentang Tuhan dan tantang manusia yang akan berakibat menghilangkan unsur transendensi Tuhan. Di pihak lain mengasumsikan ketidakberhubungan total antara kedua wacana itu dan akan berakibat membawa kepada agnositisme. Kenyataan itulah yang kemudian membawa Thomas Aquinas menerapkan konsep Aristoteles tentang 'analogi' di kawasan teologi. Maka di antara atribut yang bersifat univokal dan ekuivokal kemudian ada atribut baru , yaitu atribut 'analogi'. Jadi doktrin Thomas tentang Analogi Etnis atau 'analogi' pengada itu adalah upaya untuk memadukan hubungan horizontal antara ciptaan di dunia ini dengan hubungan vertikal antara ciptaan itu dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian dimaksudkan dengan istilah onto-teologi. Betapa keras upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke taraf 'ilmiah filosofis' terlihat dari bagiamana ia secara terus menerus mengubah dan memberi rincian baru atas konsep analogi tersebut. Misalnya ia berupaya membagi analogi itu menjadi 'analogi proportio' dan 'analogi proportionalitas' (dalam de Veritate). Tidak puas dengan itu dibuatnya analogi 'duorum et tertius' dan analogi 'unius ad alterum' (dalam de Potentia). Masih juga belum measa puas Thomas menciptakan rincian baru yaitu analogi dengan prioritas pada Tuhan sendiri, jadi titik tolaknya adalah Tuhan kemudian analogi yang berangkat dari sifat-sifat

Dengan melalui ungkapan bahasa metaforis ini Thomas mampu mengungkap makna spiritual teologis ke dataraan ilmiah filosofis sekaligus menghilangkan kekaburan ungkapan teologis (Borgmann. Dalam kenyataannya metode yang digunakan dalam memecahkan dan menjelaskan problemaproblema filosofis dengan menggunakan metode analisis yang menonjol dari karya pemikiran Thomas ini melalui analisis bahasa terutama analogi dan metafor. Selain melalui analogi upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke tingkat wacana ilmiah filosofis ia mengembangkan melalui metafor. Hal ini dapat dilakukan dengan sendirinya melalui kelenturan bahasa. 2002:44. Memang terdapat kendala yang bersifat dilematis yaitu di satu pihak keberadaan Tuhan yang bersifat transenden diungkapkan melalui bahasa yang acuannya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sifatnya adalah real dan terbatas. Perkembangan pemikiran filosofis zaman abad pertengahan yang memuncak mencapai puncak keemasan pada karya dan konsep-konsep Skolastik terutama pemikiran filosofis Thomas Aquinas yang menyangkut dan menganalisis secara kritis karya-karya besar Aristoteles. 1974: 63). Yang dimaksud tangan dalam pengertian harfiah adalah mengacu pada anggota badan manusia. kekuasaan dari Tuhan. Dalam summa theologiae diungkapkan 'Tangan tuhan menciptakan keajaiban'. Analisis bahasa teologi tentang hakikat Tuhan yang transenden sulit diungkapkan melalui bahasa terutama yang mengacu pada realitas fakta ciptaan Tuhan. mampu mengangkat persoalan-persoalan teologis ketingkat pemikiran yang bersifat ilmiah filosofis. Mazhab Modistae . Melalui ungkapan bahasa mnetaforis persoalan-persoalan teologi dapat diklarifikasikan secara ilmiah filosofis. Namund emikian yang dimaksud dengan "Tangan Tuhan" adalah makna spiritual.ciptaan yang titik tolaknya adalah ciptaan (dalam Summa Theologiae). Dilema inilah yang kemudian dipecahkan oleh Thomas melalui karya besarnya dengan menggunakan analisis bahasanya terutama melalui analogi dan metafor (Kaelan. sehingga pengertian makna "Tangan Tuhan" adalah kekuatan.50). 2.

Mereka menerima analogi. Salah satu usaha untuk memastikan semua ini ialah usaha dari kaum Modistae untuk menemukan sumber makna. karena menurutnya bahasa bersifat reguler dan universal. Dalam konsep pemikiran kaum Modistae ini unsur semantik mendapatperhatian yang utama dan digunakan pula dalam penyebutan definisidefinisi bentuk-bentuk bahasa.Kaum Modistae menaruh perhatian terhadap pemikiran hakikat bahasa secara tekun mereka mengembangkan dan nama Mostae muncul karena ucapan mereka yang dikenal dengan 'De Modis Significandi'. Modi Significandi inilah yang meruakan kunci dalam sistem analisis bahasa kaum Modistae. Sehingga dengan demikian berkembanglah . Secara sistematis dapat disusun dasar pemikiran sebagai berikut: Modi essendi Modi intellegendi active Modi sifnificandi active modi intellegendi passivi modi significandi passivi Berdasarkan konsep pemikiran yang dikemukakan oleh kaum Modistae nampaknya pengaruh ilmu pengetahuan dan pemikiran-pemikiran Skolastik yang memberi ciri mencari sebab-sebab universal dan tidak berubah. Mereka pun mengulang pertentangan klasik tentang hakikat bahas 'Fisei dan Nomos'. Dalam bahasa pikiran in dialihkan kedalam tanda bunyi (voces) penunjuk yang aktif (modi sifnigicandi activi) dalam bentuk kata-kata (dictiones) dan bagian ujaran (paries orationis) atau sering disebut jenis kata. Menurut konsep pemikiran kaum Modistae barang-barang atau benda-benda memiliki beberapa ciri khas atau kepribadian yang perlu dibeda-bedakan. perdebatan antara 'Analogi dan Anomali'. sehingga dalam konsep pemikiran tersebut mereka mencoba menurunkan kategorikategori tata bahasa dari kategori-kategori logika. epistemologi dan metafisika. Interpretasi ajaran Skolastik akan ajaran-ajaran Aristoteles nampak dengan jelas dalam sistem pemikiran kaum Modistae ini. Kepribadsian ini disebut 'modessendi' dan pikiran manusia menangkap ini dengan daya pengertian yang aktif yang disebut sebagai 'modi intellegendi activi' yang kepadanya dikenakan pula daya pengertian yang pasif yaitu 'modi intellegendi passiva'.

Kata hanya mewakili hal yang adanya benda itu dalam pelbagai cara. dan ini memberikan refleksi dari kenyataan yang mendasari dunia fisik. dan hal lini terjadi dengan pendekatan kepada partes orationis. Seorang tokoh yang terkenal pada masa . substansi. Pengertian spekulativa kiranya dapat dijelaskan dengan lebih memperhatikan maksudnya ini. Skolatisisme timbul dari satu kemampuan dan pengabdian intelektual yang matang. Konsep Bahasa Spekulativa Konsep bahasa spekulativa adalah merupakan hasil integrasi deskripsi bahasa Latin seperti yang dirumuskan oleh Priscia dan Donatus ke dalam filsafat Skolastik. 3. kualitas dan sebagainya. Istilah spekulativa berasal dari kata speculum yang berarti 'cermin'. modus. Konsep bahasa adalah berasal dari konsep filosofis partes orationis dan dicirikan dalam modus yang menunjuk itu atau modi significandi. Dengan ini kaum spekulativa berdasarkan filsafat metafisik mereka ingin mendeskrispikan bhawa semua bahasa mempunyai kesamaan jenis kata dan kategori-kategori gramatikal lainnya. Skolatisme sendiri adalah merupakan hasil integrasi filsafat Aristoteles dalam tangan pemikir-pemikir seperti Thomas Aquinas ke dalam teologi.etimologi dalam zaman ini dan sumber mereka adalah 20 jilid etimologi dari Santo Istidore dari Seville tahun 636 (Parera. Disimpulkan pula kepada bahwa prinsip-prinsip bersifat universal dan konstan. walaupun secara pedagogis ada manfaatnya. Dalam konteks ini deskripsi bahasa latin seperti yang dilakukan oleh Priscia dan Donatus dianggap tidak cukup. Persoalan yang timbul adalah bagaimana bahasa dapat merupakan jembatan atau alat bagi pengetahuan yang benar. aksi. Menurut konsep bahasa spekulativa bahwa kata pada hakikatnya tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuknya. 1983:57). Tugas dari konsep bahasa spekulativa ialah untukmenemukan prinsipprinsip tempat kata-kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada satu pihak dengan intelek manusia dan pada pihal lain dihubungkan kepada benda yang ditunjuk ata yang diwakilinya.

E. Di dalam ekalhiran kembali itu orang kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan (Hadiwijono. Kaum humanis zaman Renaissance bermaksud untuk meningkatkan perkembangan yang harmonis dan sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan alamiah manusia dengan mengusahakan kepustakaanyang lebih baik dan dengan mengikuti jejak kebudayaan klasik. Kekhusukan manusia dalam mensyukuri karunia Sang Maha Kuasa nampaknya terusik dengan munculnya kegelisahan manusia akan dirinya sendiri. namun apa yang telah dilakukan orangorang pada abad pertengahan itu berbeda dengan apa yang dilakukan para humanis pada zaman Renaisance yang tidak mendasarkan pada otoritas teologi. Awal gerakan pembaharuan ini sebenarnya telah dilakukan oleh orang-orang Italia yang dikenal dengan gerakan humanisme yang sebenarnya teah dilakukan sejak abad pertengahan.itu yaitu Peter Helias yang secara garis besar doktrin Priscia akan tetapi ia selalu memberikan komentar berdasarkan logika Aristoteles. Secara historis Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya sebgai telah dilahirkan kembali dalam suatu peradaban. Keakraban manusia dalam menafsirkan suara Tuhan sebagaimana dilakukan oleh kaum Patristik dan Sekolastik terutama sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas pada masa abad pertengahan menjadi sirna dengan munculnya kesadaran manusia akan dirinya sendiri. Demikianlah akhirnya masa kejayaan abad pertengahan memudar di telah waktu dan muncullah masa abad modern yang diawali dengan ”renaissance”. Pengantar Sejarah pemikiran umat manusia menapak terus dipimpin sang waktu. 1983:11). Zaman Abad Modern 1. 1983:59). Secara harfiah kata ’Renaissance’ berarti ’kelahiran kembali’. Maka pada zaman Renaissance ini .gerakan ini ditandai dengan usaha untukmenghidupkan kembali kebudayaan Yunani-/Romawi. dan logika ini dipakai sebagai dasar kaidah peraturan bahasa yang benar dalam bahasa zaman itu (Parera. bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya besar dari pada pemikir dan penulis Yunani dan Latin. Tidak dpat disangkal.

melainkan diperoleh oleh manusia sendiri karena kekuatan sendiri dengan penelitian-penelitian. Seorang tokoh yang meletakkan dasar filosofis untuk perkembangan dalam ilmu pengetahuan adalah Francis Bacon bangsawan Inggris ini mengarang suatu karya yang bermaksud menggantikan teori Aristoteles tentang . Suatu perkembangan yang maha penting dalam zaman itu adalah mulai timbulnya ilmu pengetahuan alam modern berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Beberapa tokoh peletak dasr ilmu pengetahuant ersebut antara lain Leonardo da Vinci.Nocolaus Copernicus.munculah kebangkitan untuk mempelajari sastra klasik dan penyambutan yang bersemangat atas realitas hidup ini yang bersifat alamiah. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri. Kebanyakan orang berpendaapat bahwa akal tidak bewibawa atas kebenaran-kebenaran keagamaan. Titik tolak yaitu kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian bebas dan wibawa atau tradisi. Johanes Kepler serta Galileo Galilei. Pengetahuan yang pasti bukannya didapat dari pewarisan. filsafat menjadi lebihbersifat individualistis sehingga sejarah menunjukan kepribadian-kepribadian. Demikianlah lambat laun filsafat mulai meninggalkan kemesraannya dengan teologi. Dapat juga dikatakan bahwa di samping terdapat pandangan atas dunia alamiah yang murni dan berdiri sendiri terdapat juga jiwa yang murni. karena kebenaran-kebenaran itu hanya dapat dipercaya. Pengenalan akan dirinya sendiri dalam arti mereka mulai sadar akan nilai pribadinya dan akan kekuatan pribadinya. Dalam khasanah filsafat orng berpendapat bahwa dalam pengertian ini tiada sedikitpun ikatan kepada satu wibawa apa pun dalam hal kebebasan akal manusia. Era baru akan penemuan dirinya sendiri oleh manusia ini berakibat manusia merasa terbebas dari kungkungan wahyu. sebab orang merasa kerasan di dunia dan sangat menghargai akan hal-hal yang baik dari hidup ini. Menurut Renaissance dunia diterima seperti apa adanya. Selain itu karena menjadi semakin optimis. Optimisme manusia diarahkan kepada perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkrit. Menurutnya wahyu memiliki wibawa dalam bidangnya sendiri. Perhatian itu ditujukan kepada manusia. Manusia mulai menyadari dua hal yang berbeda yaitu dunia dan dirinya sendiri. kepada hidup kemasyarakatan dan kepada sejarah.

ilmu pengetahuan dengan suatu teori baru yang disebut Novum Organon (Bertens. Kesalahan dikarenakan manusia tidak mau mempergunakan akalnya. Descartes menyatakan bahwa dalam bidnag dak ada sesuatupun yang dianggap pasti. 2. 1983:47). John Locke. Nama ini diberikan pada masa ini karena manusia mencari suatu cahaya baru dalam rasionya. bahwa Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari keadaan tidak akil balig. Descartes menyusun satu buku tentang mode yang berjudul ”De cours de la Methode” (1637) yang artinya yaitu uraian tentang metode. David Hume tokoh Kritisisme Immanuel Kant serta August Comte sebagai pencetus paham positivisme. Empirisme antara lain tokohnya adalah Thomas Hobbes. 1989:64). Terlebih lagi perkembangan filsafat pada abad modern ini ditandai dengan hadirnya masa Aufklarung. Immanuel Kant telah memberikan semacam definisi. semuanya dapat dipersoalkan tidak terkecuali . Dalam pengertian ini Voltaire menyebutnya sebagai ”Zaman akal’ (Hadiwijono. Rene Descartes Filsuf yang membuka cakrawala abad modern adalah Rene Descartes sehingga ia layak mendapat gelar ”bapak filsafat modern”. Ia sebagai seorang filsuf yang inovatif ia tidak merasa puas dengan ajaranajaran filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikannya. Dalam kaitan dengan erkembangan filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. Paham-paham tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa terutama dalam pengembanan dasar-dasar analisis bahasa. Filsuf ini dilahirkan di Prancis dan belajar filsafat pada Kolese di La Fleche. Rasionalisme Rene Descartes yang bahkan ia disebut sebagai ”Bapak filsafat modern”. yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri. Zaman filsafat abad modern ini muncullah berbagai tokoh pemikir yang mampu mengubah dunia terutama yang kemudian dikembangkan pada ilmu pengetahuan. Buku tersebut menjelaskan tentang pengembaraan intelektualnya.

Konsekuensinya kita harus menghidnarkan diri dari sikap tergesa-gesa dan prasangka. 1983:22).filsafat dan ilmu pengetahuan yang pada saat itu berkembang. sebagai pengetahuan yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. yaitu keragu-raguan sebagai suatu pandangan. Pengamatan indrawi tidak memberi keterangan kepada kita tentang hakikat dan sifat-sifat dunia ke luar kita. Ide yang samarsamar itu henya memberitahukan kepada diri tentang perasaan subjek yang mengamatinya. Pengamatan indrawi hanya memberi nilai praktis. Namun keragua-raguan di sini bersifat metodis dan bukannya skiptisisme mutlak. Oleh karena itu untuk mencapai kebenaran pengetahuan yang kedap dengan keragu-raguan tahapan metodenya sebagai berikut : (a) Bertolak dari keragu-raguan metodis bahwa tidak ada yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Benda-benda di luar kita hanya memberi nilai praktis. Hanya pemikiran yang jelas dan terpilah-pilah yang dapat mengajar kepada kita secara sempurna tentang hakikat segala sesuatu dan sifatsifatnya yaitu melalui pengertian-pengertian atau ide-ide yang secara langsung jelas. Menurut Descartes yang dipandang. Pengertian atau ide0idea itu semula dikenal dengan realitasnya sendiri.e mlalui perantaaan. Yang diketahui pikiran secara langsung tanpa melalui perantaraan adalah dirinya semata-mata. artinya bahwa gagasan-gagawan atau ide-ide itu seharusnya dapat dibedakan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang lain. Oleh karna itu ide-ide juga menjadi alat untuk mengenal hal-hal yang di luar pikiran. Bendabenda di luar kita hanya memberi ide yang samar-samar saja. terkecuali ilmu pasti yang meruakan hasil dari rasio (Bertens. Untuk mencapai kebenaran pengetahuan Descartes bepangkal pada keragu-raguan terhadap segala sesuatu. Pemikiran Descartes sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa dan bahkan hal ini ditekankan sendiri oleh Descartes bahwa metode yang ia kembangkan itu adalah metode analitis. Pengertian yang jelas dan terpilahpilah tadi ternyata benar-benar sesuai dengan apa yang digambarkan (Hadiwijono. Adapun dalam keputusan-keputusan . Pikiran menemukand alam dirinya sendiri ide-ide itu sebgai gagasan-gagasan yang menampakkandiri sebagai pencerminan objekobjek atau sasaran-saaran di luar kita. Segala sesuatu di luarnya hanya dikenal secara tidak langsung. 1989:45).

(d) Akhirnya sampailah pada tinjauan permasalahan yang bersifat universal. Proposisi atomik adalah mengungkapkan fakta atomik. Terdapat kesamaan antara metode Descartes dengan metode Atomisme logis yaitu keduanya menggunakan metode analitis. manakala kiranya perlu untuk pemecahan yang memadai. 1984:74-78). aka tetapi aku berpikir bukanlah khayalan. berangsur-angsur tahap demi tahap sampai pada pengertian yang lebh kompleks. 1983:21). dibagikandalam sebanyak mungkin bagian. Jadi dari pengertian yang simple dan absolut sampai pada pengertian yang kompleks dan relatif. Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan menurut Descartes yaitu bahwa ’cogito ergo sum’ aku berpikir dan oleh karena itu aku ada’. Langkah-langkah metodis ini nampaknya memiliki kemiripand engan metod eyang dikembangkanoleh tokoh-tokoh Atomisme logis. Namun demikian terdapat perbedaan di antara keduanyayaitu. Tiada seorang pun dapat menipu saya. (b) Semua bahan danepsoalan yang diteliti. Pemikiran Atomisme logis yang menjelaskan realias melalui bahasa logik yang diungkapkan melalui proposisi-proposisi. dan yang dimaksud fakta daam pengertian ini dalah keberadaan suatu peristiwa (state of affairs). Doktrin Descartes tentang cogito ergo sum yang ditindaklanjuti dengan keragu-raguan metodis beserta langkahnya untukmendapatkan kebenaran pada hakikatnya adalah menerapkan metode yang besifat analitik dan hal itu dikemukakan sendiri oleh Descartes.hanya menerima sesuatu yang dilakukan pada akal dengandemikian jelas dan tegas sehingga mustahil untuk disangksikan. (c) Sistmatik pikiran dilakukan dengan bertitik tolak dari pemahaman objek dari yang paling sederhana danmudah. sehingga ditemukan suatu kepastian maka dengan demikian tiada lagi keraguan (Bakker. Memang segala sesuatu yang dipikirkan dapat saja tentang khayala. Realitas tersusun atas fakta-fakta dari fakta atomik sampai pada fakta yang bersifat kompleks. Atomisme logis dalam memecahkan problema-problema . bahawa saya berpikir danoleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu maka aku berada (Hadiwijono. atau dengan lain perkataan bhawa kedua pemikiran tesebut sama-sama menggunakan metode analitis dalam mengungkapkan kebenaran.

Thomas Hobbes adalah filsuf Inggrus pertama yang mengembangkan aliran empirisme. Walaupun sebelum Hobbes. 3. atau tentang penampakan-penampakan yang sedemikian sebagaimana yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Menurut Hobbes filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ilmu. dalam memberikan dasar-dasar ilmiah. . Adapun Rene Descartes melalui pendekatan ontologik yaitu ’cogito ergo sum’ ’aku berpikir oleh karena itu saya ada’ dan pencapaian tidak didasarkan padaanalisis logis namun didasarkan pada intuisi dan akal murni. Biarpun demikian ia menerima juga prinsip metode yang dipakai dalam ilmu-ilmu alam sebagaimana dikembangkan oleh Bacon yaitu metode empiris matematis. Demikianlah kiranya Rene Descartes selain sebagai bapak filsafat modern ia juga sebagai peletak dasar-dasar filsafat analitik.w alaupun titik tolak pemikiran Descartes adalah pada rasio. Paham rasionalismenya dikembangkan oleh para tokoh filsafat analitik yang mengungkapkan konsepkonsep tentang proposisi antara lain proposisi formal yang bersumber pada rasio manusia. baik yang berkaitan dengan pemikiran filsafat analitik maupun terhadap perkembangan pemikiran hakikat bahasa yang merupakan dasar-dasar perkembangan ilmu linguistik periode berikutnya. Thomas Hobbes Perkembangan pemikiran filsafat setelah masa rasionalisme Descartes adalah paham empirisme.filosofis menggunakan analisis logis tentang ungkapan-ungkapan filsafat. sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat. Francis Bacon telah menerapkan prinsip-prinsip empirisme namun Bacon tidak mengembangkan suatu ajaran yang lengkap melainkan dalam bentuk pengembangan pada aplikasi di bidang ilmu pengetahuan empiris. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati. Thomas Hobbes termasuk filsuf yang unik dan kreatif yaitu menyatukan pandangan emirisme dengan rasionalisme dalam suatu sitem filsafat materialisme. Pemikiran filsafat materialisme sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa. sehingga sampai pada suatu putusan.

1989:51).yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. bahwa ungkapan yang bermakna adalah yang dapat diverifikasi secara empiris. ajaran empirisme Hobbes memberikan warna bagi berkembangnya pahampaham filsafat analitika bahasa. 1983:32). Segala gejala pada benda-benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada subjek. Demikianlah kiranya filsafat Hobbes nampak ciri-ciri empirisme. bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta-fakta bahkan menurut positivisme logis. Di dalam proses pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bntuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. Menurut Hobbes. Demkian sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. rasionalisme dan meaterialisme (Hadiwijono. yang nyata menurutnya adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Kedua. empirisme Hobbes memberikan warna bagi penentuan sistem logika bahasa filsafat analitik yaitu proposisi meliputi pengertian proposisi empiris (atau faktual) yaitu proposisi yang mengungkapkan realitas empiris (yaitu yang . menurut Hobbes fakta-fakta itu diungkapkan dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Pertama. Adapun instrumennya adalah pengertianpengertian yang diungkapkan melalui bahasa yang menggambarkan fakta-fakta itu. yang hukumnya sesuai dengan hukum alam dan ilmu pasti. terutama atomisme logis dan positivisme logis. namun demikian sebenarnya berdasarkan ajaran-ajaran yang dikembangkanya terdapat tiga hal yang mempengaruhi berkembangnya filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. Ketiga. Segala yang ada ditentukan oleh sebab. dan hal ini dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis dalam mengungkapkan realitas melalui bahasa yang didasarkan pada logika.tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata. waktu bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Hobbes memberikan dasar-dasar ini karena dalam empirisme Hobbes ajuga mengangkat otoritas rasio (logika) dan fakta. Dunia adalah suatu keseluruhan sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian ruang. Walaupun tidak secara langsung pengaruh Hobbes terhadap berkembangnya filsafat bahasa. Sebenarnya masih terdapat filsafat Hobbes yang justru paling populer yaitu konsepnya dalam bidang filsafat politik dan salah satu karya besarnya adalah ”Leviathan” (Bertens.

adapun gagasan majemuk timbul dari percampuran atau penggabungan gagaan-gagasn tunggal. 1989:51). Tugas rohmanusia terbatas pada memberi sebutan kepada gagasan-gagasant unggal gadi. Semula akal semacam secarik kertas yang putih bersih ’as a white paper’ tanpa tulisan dan seluruh isinyaberasal dari pengalaman inderawi manusia (Bertens. Menurut Locke segala pengetahuan datang dari pengalaman yang tidak lebih dari itu. Akal atau rasio bersifat pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. merangkumkannya dan menajdikannya bersifat . Ia menentang teori rasionalisme mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandag sebagai bawaan manusia. dan proposisi formal yang bersumber dari rasio manusia dan memiliki kebenarannnya yang bersifat tautologis. subjek menamggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk hal yang sama. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal. Selain dari substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertian tentang keadaan atau modi tentang hubungan-hubungan. namun ia menentang ajaranajaran pokok Descartes. Gagasangagasan dibedakan atas gagasan tunggal (simple ideas) dan gagasan majemuk (complex ideas). yang timbulnya karena pengalaman-pengalaman lahirian (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection) yang berada dalam psikis manusia. Akal tidakmelahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri.berasal dari pengalaman indra). John Locke Pemikiran empirisme John Locke merupakan sistesis rasionalisme Rene Descartes dengan empirisme Thomas Hobbes. Jikalau beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri. Gagasan tunggal datang langsung dari pengalmaan. 4. yang berdiri sendiri yang disebut substansi. menggabungkannya. Walaupun Locke menggabungkan beberapa pemikiran Descartes. tanpa pengeolahan logis apapun. Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan atau ide-ide. 1983:36). namun diperolehnya dri luar akal melalui indera (Hadiwijono.

Jadi bahasa yang tersusun atas kata-kata berfungsi sebagai tanda bagi suatu isi kesadaran manusia. Sasaran kesesuaian manusia adalah gagasan semata-mata. (c) dalam bentuk koeksistensi atau berada bersamasama. tetapi dapat juga salah. Pengamatan tentang dua gagasan tunggal yang ada atau yang tidak ada persesuaiannya dinyatakan didalam suatu putusan. Putusan itu dapat benar. Gagasan-gagasan tunggal dari pengalmaan batiniah adalah objektif. Putusan yang benar diperoleh karena pengalaman intuitif. pembuktian kurang memberi kepasatian dibanding dengan intuisi (Hadiwijono. sehingga dalam hubungannya dengan pemikiran filsafat analitika bahasa empirisme Locke banyak memberikan sumbangan terutama . (b) dalam bentuk hubungan. Segala putusan terjadi di kawasan roh. Pengenalan manusia adalah pengenalan tentang gagasan-gagasan atau ide-ide yaitu kesankesan yang dimiliki subjek yang mengenal. etika). Gagasa-gagasan itu kita kenal dalam kesadaran seerti keadaanyang sebenarnya.umum. Bagaimanapun bentuknya gagasangagasan itu senantiasa dihubungkan dengan yang lain dalam suatu putusan. Segala gejala psikis yang disaksikan oleh kesadaran kita tampil sebagai kenyataan bagi manusia. ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan tunggal dan kesesuaianya dengan kenyataan di luar kita (misalnya mengenai sifat primer dan sekunder) dan ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan kompleks dan kesesuaiannya dengan kenyataan (dalam hal ini khususnya timbul soal yang mengenai substansi). Gagasan tunggal dari pengalaman lahiriah semuanya adalah benar sejauh gagasan-gagasan itu disebabkan oleh realitas yang ada di luar subjek serta menghadirkan realitas itu dalam kesadaran kita. Apakah gagasanyang satu ada persesuannya dengan gagasan yang lain dapat muncul dalam beberapa bentuk antara lain : (a) dalam bentuk identitas atau perbedaan. Empirisme John Locke lebih memiliki sifat analitis dibandingkan dengan Thomas Hobbes. Ada putusan yang hanya mengenai pengetahuan tentang gagasan-gagasan kita (ilmu pasti. Segala kepastian dan kejelasan dalam pengetahuan bersandarkan intuisi. 1983:36). dan (d) dalam bentuk kenyataan. Pengetahuan umum adalah suatu sebutan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan mejumuk dri rumpun yang sama. Dari gagasan-gagasan itulah timbul isi pengetahuan kita yang bermacam-macam sekali.

5. Keyakinan asasu menurutnya adalah sebagai berikut : (a) segala realitas di luar manusia adalah tergantung kepada kesadaran. adapun menurut filsafat analitik yang diungkapkan melalui bahasa adalah fakta. Hal ini sesuai dengan konsep Locke tentang ide-ide yang sederhana dan ide-ide yang kompleks. yang tersusun atas prinsipprinsip logika sehingga menentukan bermakna atau tidaknya ungkapan tersebut. karena ia menyangkal adanya suatu dunia yang ada di luar kita. atau pengalaman dalamroh saja sehingga pemikiran Berkeley ini dikenal secara luas dengan aliran yang disebut ”imaterialisme’ (Bertens. Berdasarkan ciri metafisiknya pemikiran Berkeley ini bermuara pada aliran idealisme. (b) tiada perbedaan antara dunia rohani dan dunia bendawi. Namun perbedaannya bahwa Locke tidak menentukan susunan gagasan-gagasan atau ide-ide itu berdasarkan pada sistem logika seperti yang dilakukan oleh atomisme logis maupun positivisme logis. Berkeley dalam konsep-konsep pemikiran filosofisnya sebenarnya meneruskan tradisi Locke namun dalam kesimpulan serta dasar-dasar metafisiknya berbeda. Dalam kaitannya dengan bahasa isi pengetahuan yang timbul dari gagasangagasan manusia diungkapkan melalui bahasa. (c) tidada perbedaan antara gagasan pengalaman batiniah dengan gagasan pengalaman lahiriah. yang ada hanyalah ciriciri yang diamati. Sebagaimana kita pahami Locke menyatakan tentang adanya substansisubstansi material dan hal ini ditolak oleh Berkeley. 1989:52). George Berkeley Filsuf kelahiran Irlandia ini pernah menjadi uskup Anglikan di Cloyne. Jastifikasi pengetahuan empiris juga memiliki kesamaan dengan justifikasi proposisi menurut konsep analitika bahasa yaitu keduanya bukan hanya sampai pada klarifikasi melainkan sampai pada putusan. Dalam konsep filsafat analitika bahasa dikenal konsep proposisi. elementer atau sederhana yang melukiskan fakta elementer (atomis) serta proposisi kompleks yang melukiskan fakta yang kompleks pula. Ia berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material di luar kita.dasar-dasar fakta empiris beserta bentuk susunan gagasan-gagasan. sebab pengamatan adalah identik .

karena prinsip utama para filsuf analitis adalah penolakannya terhadap metafisika. dengan penggabungan bagian-bagian gambaran yang diamati. juga memiliki sisi positif yang dikembangkan oleh positivisme logis yaitu pengamatan yang kalau menuntut istilah positivisme logis adalah sebagai prinsip verifikasi. Objek adalah gagasan-gagasan atau ide-ide. Apa yang berada secara umum hanya berada sebagai nama saja. Pengamatan terjadi bukan karena hubungan antara subjek yang mengamati dengan objek yang diamati. Sesuatu yang kita amati adalah kongkrit. Isi itu bukan pengertian-pengertian umum yang abstrak yang bersifat individual. Sifat pengamatan adalah kongkrit. Demikian juga objek itu pad ahakikatnya disebabkan pengamatan karena pengamatanpengamatan yang ditambah ingatan dan fantasi atau khayalan. dan (d) tiada sesuatu yang berada kecuali roh. yaitu ide-ide yang disebabkan karena pengamatan indera yang langsung disebabkan pengamatan batiniah. 1983:51). Titik tolak pemikiran Berkeley terdapat pada pandangannya dibidang teori pengenalan. 1983:50). artinya isi yang diamati adalah sesuatu yang benar-benar dapat diamati. Hanya pengamatanlah yang ada. benda. melainkan hubungan antara pengamatan indera yang satu dengan pengamatan indera yang lain. 6. Pengamatan adalah identik degangagasan yang diamati. sehingga realitas objek yang diamati pada hakikatnya terletak pada pengamatan itu sendiri. yang dalam realitasnya yang bersifat kongkrit dikenal dngan pribadi-pribadi (Hadiwijono. Pemikiran Berkeley di samping secara substansial sebagai pangkal penolakan kalangan filsuf analitika bahasa karena dasar metafisisnya yang bersifat ’imaterialis’.dengan gagasan yang diamati. David Hume . Menurutnya segala pengetahuan kita bersandar pada pengamatan. Tiada pengertian umum seperti umpamanya substansi. dunia dan lains ebagainya yang lazim dikenal metafisika (Hadiwijono. Jadi hanya gagasan-gagasan yang kongkritlah yang dapat dipakai sebagai untuk memikirkan gagasan-gagasan konkrit lainnya yang bermacam-macam itu.

Yang termasuk dalam ide yang keadaannya redup. Ia memang mengembangkan ajakan Locke dan Berkelay yang diolahnya secara cermat sehingga merupakan pandangan empirisme yang amat fanatik dan tajam. Pengamatan memberikan dua hal. Ide atau pengertian adalah sebagai tembusan atau copy dari kesan-kesan. Kuasa kesan-kesan ini memang . Akan tetapi segala kekaburan dan kekacauan akan hilang. Rasa sakit pada bagian tubuh yang sedang luka dirasakan lebih kuat dibanding dengan kemudian jikalau rasa sakit itu direnungkan kembali. yaitu kesan-kesan atau ’impression’ dan pengertianpengertian atau ide-ide yang disebut ’ideas’. Sebenarnya sebagian umat manusia mendasarkan pendapatnya atau pengetahuannya. dan lainlain. Sebagaian besar pendapat manusia sebenarnya tidak bermakna karena kesalahan pengenalan. samar-samar dan tidak pasti adalah segala hal apa saja. Ide kurang jelas dan kurang hidup jika dibandingkan dengan kesan-kesan. yang satu secara langsung yang lain dengan perenungan kembali (Hume. yang melalui ide-ide atau pengertian-pengertian . Sumber asal ide-ide itu adalah kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman. yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman manusia. itulah sebabanya manusia sering ragu-ragu. kacau dan lain sebagainya. jika kita berhasil menemukan kembali sumber-sumber asal ide-ide atau pengertian-pengertian itu. Menurut Hume yang dimaksud dengan pengertian atau ide adlaah gambaran tentang pengalaan yang redup sama-samar.Dalam sejarah filsafat Inggris. baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. yang kita terima secara tidak langsung misalnya gagasan yang menyenangkan atau yang menyedihkan dari pertemuan dengan teman. atas hal-hal yangd iterimanyatidak secara langsung. Perbedaannya terletak pada caranya ditimbulkan dalam kesadaran. Bilamana akal kita diperoleh kesan-kesan yang demikian itu. 1977:9-13). sehingga kesan atau ide adalah sama. tradisi pemikiran empirisme yang paling konsekuen dan radikal adalah pemikiran David Hume. barulah kita mengetahui hal yang sebenarnya. Yang dimaksud dengan kesankesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. Menurut Hume bahwa manusia tidakmembawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya dan sumber pengetahuan adalah pengamatan. yang menampakkan diri dengan jelas hidup dan kuat.

dan sebenarnya yang diamati hanyalah kesan-kesan belaka. kekacauan. tanpa ada satu pengamatan yang lain. Susunan logis proposisi ini nampaknya memiliki kesamaan dengan konsep susunan kesan- . Secara metafisik Hume menentang aku menurut Descartes maupun Berkeley yang menyatakan aku sebagai substansi roh. Dalam kepercayaan itu kita mendapatkan pengetahuan langsung. walaupun pada sisi lain ia mendasarkan pandangan matafisiknya pada eksistensi pengamatan.tidak dapat kita andalkan sepenuhnya. dan keyakinan yang demikian inlah menurut Hume disebut ’kepercayaan’. Di dalam diri kita tiada hal yang lain kecuali kemarahan. Aspek inilah yang merupakan inspirasi kalangan filsuf analitika bahwa terutama paham atomisme logis dan positivisme logis.kita percaya bahwa di dalam kesan-kesan itu pengalaman kita bukan lagi hal-hal yang menyesatkan dan salah. pengharapan. Hume juga memiliki andil yang besar terhadap konsep dasa proposisi terutama paham atomisme logis. yang menjelaskan bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta yaitu suatu keberadaan peristiwa. kesan-kesan serta ide-ide. adapun proposisi yang kompleks mengungkapkan fakta yang kompleks. Ia tidak pernah menjumpai kesan aku yang berdiri sendiri. Oleh karena itu yang disebut ”aku sebenarnya merupakan suatu komposisi atau susunan kesan-kesan tadi. kesenangan dan lain sebagainya. Jadi aku sebenarnya bukanlah merupakan suatu substansi yang berdiri sendiri karena tidak dapat diamati secara langsung. ketakutan. Mereka secara lantang menyatakan menentang dan menolak ungkapanungkapan metafisika. Menurut Hume. sehingga sebenarnya merupakan susunan kesan-kesan atau komposisi kesankesan yang diterima manusia. di mana segala keragu-raguan dilarutkan kedalam kepastian. Bagi pengamat idealisme yang fanatik nampaknya pemikiran Hume diasakan terlalu keras dan radikal. tidak pernah ia mengamati aku itu. Ungkapan-ungkapan metafisis yang dikemukakan oleh kaum idealisme itu sebenarnya tidak menyatakan fakta apa-apa oleh karena itu sama sekali tidak bermakna atau nirarti. Dengan ungkapan lain Hume menolak secara radikal realitas metafisis yang tidak didasarkan pada fakta empiris. Proposisi yang sederhana mengungkapkan fakta yang sederhana atau elekmenter.

Menurutnya Kritisisme adalah . Halliday. Bloomfield. Demikianlah kiranya tradisi empirisme yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan filsafat bahasa. Immanuel Kant Munculnya pemikiran filsuf Jerman ini menandai suatu era baru dalam bidang perkembangan filsafat. universalia dan egocentric particular yang dikembangkan oleh Russel adalah merupakan hasil pengolahan lebih lanjut konsep Hume tentang teori pengenalan. 1983:63).a dapun universalia adalah menunjuk pada sifat atau hubungan. Konsep particularia. Russel yang juga setia pada tradisi empirisme nampaknya mengembangkan lebih lanjut konsep Hume terutama doktrin pengenalannya pada atomisme logis. Pemkiran empirisme inilah yang memberikand asar-dasar yang sangat kokoh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada metode ilmiah. 1984:86). Chornsky dan tokoh-tokoh lainnya. Demikian juga pengakuan tentang realitas empiris sebagai dasr pemikiran filosofisnya nampaknya merupakan sumbangan yang berharga atas pemilahan proposisi menurut positivisme logis yaitu proposisi formal dan faktual atau empiris. Egocentric particular adalah merupakan pengalaman individual (Heraty. Kant berusaha untuk melakukan suatu sintesis baru terhadap suatu pemikiran filsafat yang pada saat itu berkembang yatiu paham rasionalisme dan empirisme (Hadiwijono. Pengaruh pemikiran empirisme juga sangat kuat terhadap filsuf bahasa yang membahas dan mengembagkan pengertian hakikat bahasa terutama dalam kaitannya dengan perkembangan linguistik modern yang mengakui hakikat realitas bahasas ebagai suatu realitas empiris. Pemikiran Kant tersebut dikenal dengan paham ”kritisisme”. Menurut Russel particularia adlaah merupakan hasil persepsi kongkrit individual. 7. Selain itu prinsip verifikasi empiris yang dikembangkan oleh positivisme logis nampaknya meruakan hasil jasa baik dari Hume.kesan serta ide-ide yang sederhana dan yang kompleks menurut Hume yang dikembangkan dalam proses yang disebut pengenalan. tokohnya antara lain Ferdinand de Saussure.

Walaupun Kant seangat mengagumi empirisme Hume yang bersifat radikal dan konsekuen. demikianlah pula . Dahulu para filsuf mencoba mengerti akan pengenalan dengan mengandaikan bahwa subjek mengarahkan diri pada objek. Padahal sebagaimana diketahui bersama bahwa pada masa Kant sudah menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan yang telahdihasilkan oleh beberaa ilmuwan mampu menemukan dalil atau hukum-hukum yang sifatnya berlaku umum. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriorinya. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan. Kant yang dalam prestasi pemikirannya mampu mengubah wajah dan paradigma filsafat membedakan dan mempertentangkan antara dogmatisme dengan kritisisme yang dituangkan dalam karya besarnya yang sangat terkenal pada abad itu (Bertens. karena mereka hanya percaya secara mentah-mentah pada kemampuan rasio tapa menyelidiki terlebih dahulu. namun ia tidak menyetujui spektisisme yang dikembangkan Hume yang menyimpulkan bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak dapat mencapai suatu kepastian. Kritik atas Rasio Murni Kritisisme Kant sebagai suatu usaha raksasa untuk menjembatani rasionalisme dengan empirisme. berarti hanya unsur-unsur yang berasal dari pengalaman sebagaimana dikemukakan Locke dan Hume. karena menurut pendapatnya filsuf-filsufnya sebelumnya adalah bersifat dogmatisme.filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. yang berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman misalnya ’ide-ide bawaan’ ala Descartes. Menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme sebenarnya keduaduanya bersifat berat sebelah. Sebagaimana ditetapkan oleh Copernicus bahwa bumi berputar sekitar matahari dan tidak sebaliknya. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Kant berupaya mengembangkan pengenalan dengan berpangkal pada suatu anggapan bahwa objek mengarahkan diri pada subjek. Kant adalah filsuf yang pertama yang mengembangkan penyelidikan ini. 1989:59).

unsur apriori itu sudah terdapat pada taraf indera. Akan tetapi ’das ding an sich’ selalu tinggal X yang tidak dikenal. yaitu ruang dan waktu. misalnya ”logam mengembang”. Oleh karena itu suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabakan secara ilmiah. yang selalu merupakan suatu sintesis antara hal-hal yang datang dari luar dengan bentuk ruang dan waktu (Bertens. 1989:60). Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan-putusan yang memberi pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak dan bersifat umum (a priori). Putusan ini disebut putusan sintetis dan diperoleh secara aposteriori. Kant menyatakan bahwa memang ada ’das ding an sich’ (bendabenda pada dirinya sendiri). Menurut Kant. Menurut Kant pengenalan itu bersandar pada putusan. di mana penginderaan-penginderaan bisa ditempatkan. 1983:65). a. Selain itu terdapat pula putusan yang bersifat apriori namun bersifat sintetis juga. Unsur apriori memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Oleh karena itu perlu pertama-tama diadakan penelitian terhadap suatu keputusan. harus juga dapat kerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang apriori. Maka ilmu pengetahuan menurut adanya putusan-putusan apriori yang bersifat sintetis. . Kita hanya mengenal gejalagejala. memang terdapat suatu realitas yang terlepas dari subjek. misalnya ”segala kejadian ada sebabnya”.Kant berupaya memperlihatkan pemikirannya yang substansial bahawa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek (Bertens. Demikianlah pula waktu tidak merupakan suatu arus tetap. Jadi ruang tidak merupakan ’ruang pada dirinya’ (ruang an sich). putusan ini berlaku umum dan mutlak. yang terdiri atas subjek dan predikat. Ilmu pasti sebenarnya tersusun atas dasar putusan a priori yang bersifat sintetis. Pada Taraf Indra Pengenalan merupakan sintesis antara unsur apriori dengan unsur aposteriori. Ia berpendapat bahwa dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori. Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu. namun bersifat sintesis (Hadiwijono. Kedua-duanya merupakan bentuk apriori dari pengenalan inderawi (Bertens. 1989:61). Suatu putusan menghubungkan dua pengertian. ’the thing in itself’. 1989:60).

Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk dan materi. Menurut Kant terdapat empat kategori sebagai berikut : 1) Kategori kuantitas. Dengan demikian Kant telah menjelaskan sahnya pengetahuan alam. Kant memperlihatkan bhawa rasio membentuk argumentasi- . Pada taraf akal budi Kant membedakan akal budi (verstand) dengan rasio (vernunft). dengan lain perkataan akal budi menentukanputusan. Dengan lain perkataan. Suatu hal yang inovatif dalam pemikiran kant dalam masalah ini adalah nampak adanya upaya untuk mensintesiskan antara rasionaisme dengan metafisika. terdiri atas : realitas (kenyataan). terdiri atas : categories (tidak bersyarata).b. 4) Kateogri modalis. limitasi (batas-batas). Akal budi memiliki struktur yang sedemikian rupa. Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data inderawi. Pada taraf rasio Tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. sehingga terpaksa manusia memikirkan data-data inderawi sebagai substansi atau menurut ikatan kategori yang lainnya. 2) Kategori kualitas. Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah apriorri yang terdapat dalam akal budi. hypothetis (sebab dan akibat). keperluan/kebutuhan (Hamersma. Bentuk apriori ini dinamakan Kant dengan ’kategori’ (Bertens. disjuctif (saling meniadakan). terdiri atas : mungkin/tidak. c. 3) Kategori relasi. ada/tiada. 1983:30). terdiri atas: singuler (satuan). rasio mengadakan argumentasi-argumentasi seperti halnya akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusanputusan. dan universal (umum). negasi (pengingkaran). 1989:61). partikuler (sebagian.

sehingga rasio disebut ’rasio teoritis’ atau menurut istilah Kant disebut ’rasio murni’. atau dengan lain perkataan rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. Menurut Kant terdapat tiga hal yang harus diandaikan agar tingkah laku kita tidak menjadi mustahil. melainkan hanya dituntut. kategorikategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide. yaitu kebebasan kehendak. Usaha metafisika itu sia-sia dan hal itu dibuktikan oleh Kant bahwa bukti-bukti adanya Allah yang diberikan dalam filsafat praktis semuanya kontradiktoris (Bertens. Dengan ide Kant memaksudkan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan terakhr dalam bidang gejala-gejala psikis (jiwa). sekalipun metafisika berusha yang sedemikian. Tetapi justru itulah yang diusahakan oleh metafisika misalnya upaya dalam bidang metafisika untuk membuktikan bahwa Allah adalah sebagai penyebab pertama alam semesta. dalam bidang kejadiankejadian jasmani (Dunia). 1989:62). Kritik atas Rasio Praktis rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan. immoralitas. tetapi ketiga ide tadi tidak termasuk pengalaman kita.argumentasi itu dengan dipimpin oleh tiga ide yaitu jiwa. Itulah sebabnya Kant menyebut sebagai ”ketga postulat dari rasio praktis”. dunia dan Allah. dan dalam bidang segala-galanya yang ada (Allah). Tetapi dengan hal itu metafisika melewati batas-batas yang ditentukan untuk pengenalan manusia. Tetpai di samping itu terdapat juga ’rasio praktis’ yaitu rasio yang mengatakan a pa yang harus kita lakukan. Ketiga ide tersebut mengatur argumentasi-argumetnasi kita tentang pengalaman. Jadi apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis. Karena kategori-kategori kal budi hanya berlaku untuk pengalaman. Tetapi tentang kebebasan kehendak. Mislanya barang kepunyaan orang lain harus dikembalikan atau secara negatif berupa larangan untuk tidak menyakiti orang yang tidak bersalah. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak (imperatif kategoris). immoralitas jiwa dan adanya Allah. jiwa dan adanya Allah kita sama sekali tidak . Adanya Allah dan immortalitas jiwa tidak dapat dibuktikan. Tetapi harus diinsyafi bahwa ketiga hal itu tidak dibuktikan. harus diandaikan atas dasar rasio praktis.

8. Demikianlah positivisme membatasi filsfat dan ilmu pengetahuan pada bidang gejala-gejala saja. Yang harus diusahakan manusia adalah menentukan syarat-syarat di mana fakta-fakta tertentu tampil dan menghubungkan faktafakta itu menurut persamaannya dan urutannya. yang secara etimologis berasal dari kata ’positif yang secara harfiah berarti yang diketahui. Positivisme August Comte Pada abad ke-19 timbullah aliran filsata yang menandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Setelah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum-hukum tertentu.mempunyai pengetahuan teoritis. yang faktual empiris bahkan dapat juga berarti teruji atau teramati. yang kita terima sebagaimana apa adanya. 1989:62). Segala uraian atau persoalan yang berada di luar apa yang ada sebagai fakta dikesampingkan. Maka tiada gunanya untuk menanyakan pad tingkat hakikatnya atau kepada sebab-sebab yang sebenarnya dari gejala-gejala itu. Hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan disebut ’pengertian’. Apa yang dapat kita lakukan adalah segala fakta yang menyajikan diri kepada kita sebagai penampakan atau gejala. segala hal yang bersifat empiris dan segala gejala. Jadi kita hanya dapat menyatakan atau mengkonstatir fakta-faktanya. Aliran itu terkenal dengan nama ”Positivisme”. Akhirnya dengan berpangkal pada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat masa depan. Ap ayang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak. Oleh karena itu metafisika ditolak. Menerima ketiga postulat tersebut dinamakan Kant sebagai kepercayaan (Bertens. Menurut Aliran positivisme bahwa pengetahuan berpangkal dari apa yang telah diketahui. sedangkan hubungan-hubungan tetap yang tampak pada urutannya disebut ’hukum’. yang faktual atau yang positif. dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. ke arah yang akan nampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri dngannya. Bilamana diamati ajaran positivisme terutama dalam kaitannya dengan pengenalan pengetahuan masih memiliki kesamaan-kesamaan prinsip terutama . Arti segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan.

2) Zaman Metafisis . termasuk juga pengertian kawasan ide atau gagasan yang bersifat batiniah. Kekuasaan ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia. Pemikiran August Comte Ajaran Comte yang paling terkenal adalah tiga tahap perkembangan pemikiran manusia. dewa matahari dan lain sebagainya yang disebut (politeisme). Bagi Comte perkembangan menurut tiga tahap atau tiga zaman tersebut merupakan suatu hukum yang tetap. dewa gunung. Adapun pada taraf lebihtinggi lagi manusia memandang satu Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu (monoteisme). manusia percaya kepada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu dunianya sendiri-sendiri misalnya. zaman metafisis dan zaman positif atau zaman ilmiah. Positivisme hanyamembatasi diri pada pengalaman-pengalaman objektif dan tanpa melibatkan pengalamanpengalaman batiniah (Hadiwijono. Demikianlah doktrin positivisme yang periode-periode berikutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada abad XX. Namun perbedaan yang pokok adalah positivisme menolak dengan tegas metafisika. Ketiga zaman tersebut meliputi: zaman teologis. Zaman teologis sendiri dibagi atas tiga periode yaitu : taraf yang paling primitif yaitu benda-benda sendiri dianggapnya berjiwa (animisme). dewa laut. tetapi manusia percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk insani yang biasa. 1) Zaman Teologis Pada zaman ini manusia percaya bahwa di balik gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.dalam hal mengutamakan pengalaman empiris. 1983:109). taraf berikutnya. baik manusia perorangan maupun umat manusia sebagai keseluruhan.

2002:53-76). bahkan positivisme logis ingin menghilangkan metafisika. hanya perbedaannya positivisme logis menekankan pada analisis konsep filosofis melalui bahasa serta positivisme logis lebih menekankan kepada prinsip verifikasi. Dalam karitannya dengan ilmu pengetahuan Comte juga memberikan uraian-uraiannya yang kiranya sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan pada abad XX. aksidensia dan lain sebagainya menjadi penting pada zaman ini. seperti misalnya ’kodrat’ dan ’penyebab’. Baru dalam zaman terakhir inilah manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenanrya atau disebut ilmu pengetahuan modern (Bertens. 1989:73). Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman metafisis ini. Dasar-dasar verifikasi. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionaya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau uruturutan yang terdapat di antara fakta-fakta. Baik positivisme maupun positivisme logis keduanya menolak dengan tegas tentang metafisika. 3) Zaman Positif Pada zaman ini sudah tidak lagi dicari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. BAB III . Pemikiran positivisme ini memberikan dasar pijak bagi paham filsafat analitik terutama kelompok Wina atau Kring Wina yang menamakan dirinya sebagai paham positivisme logis. Manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya.Dalam zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak. Seluruh pandangan positivisme diangkat oleh positivisme logis. Konsep-konsep metafisika seperti substansi. pandangannya tentang ilmu pengetahuan dengan segala dasar-dasar epistemologinya dapat dikatakan hampir keduanya memiliki kesamaan (Kaelan.

Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata komis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawai. yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. bahkan sejak zaman pra Sokrates. Demikian juga perhatian yang amat besar terhadap bahasa juga dikembangkan oleh Plato maupun Aristoteles. dunia idea dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki temapat yang sentral. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini. bahkan tentang hakikat bahasa itu sendiri menjadi topic perhatian utama. Sokrates dalam berdialog ilmiah dengan kaum sofis menggunakan analisi bahasa dan metode yang dikembangkan dikenal dengan metode ‘dialektis kritis’. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. Demikian sehingga pemikiran Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang melakukan bahasa sebagai objek kajian filsafat (Casseirer. . Objektivitas kebenaran filosofis perlu diungkapkan dalam suatu analisis bahasa secara diakletis dan dengan didasarkan pada dasar logika. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. ia mencari prinsio perubahan.FILSAFAT ANALITIKA BAHASA A. Menurut Herakleitos. Bahkan Herakleitos mengatakan ‘jangan dengar aku’. Pada zaman Sokrates. terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. 2944: 170). perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. bahasa bahkan menjadi pusat perhatian filsafat ketika retorika menjadi medium utama dalam dialog filosofis. PENGANTAR Perhatian filsafat terahadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama. ‘dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa bergeser benda itu satu’. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa ‘kata’ (logos) bukan semata-mata gejala antropologi.

indera dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal. Bilamana kita kaji dalam sejarah filsafat timbulnya filsafat analitika sebagai suatu ketidakpuasan terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern pada saat itu. dijelaskan dan diuraikan dengan menggunakan analisis ungkapan-ungkapan filsafat. rasionalisme maupun intuisionisme sebenarnya tidak bermakna atau dengan lain perkataan filsuf analitika bahasa menolak dengan tegas ungkapan-ungkapan metafisis. Terutama Thomas Aquinas telah mengangkat teologi ke tingkat ilmiah filosofis sehingga mampu menjebatani teologi ketingkat ilmiah filosofis.Kekhusuan manusia dalam mengagungkan sang Maha Kuasa pada abad pertengahan juga diungkapkannya melalui ungkapan manusiawi yaitu bahasa. bahkan yang paling radikal kaum positivism logis ingin menghilangkan metagisika. Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. atau melalui suau analisis bahasa. kalangan filsuf analitika bahasa sadar bahwa sebenarnya problem-problem filsafat itu dapat dipecahkan. padat dan sangat beragam. karena dasar-dasar filosofisnya yang cukup rumit. Kaum Patristik dan Skolastik mengemukakan pemikirannya tentang teologi berupaya untuk mendeskripsikannya secara ontologik dengan menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa. sehingga mampu menjembatani antara realitas Tuhan yang bersifat adikodrati dengan realitas makhluk yang bersifat terbatas. aliran epirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran materialism dan kritisme Immanuel filsafat analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realitas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa. Ketika para penganut aliran-aliran filsafat modern bertikai memperdebatkan tentang hakikat kebenaran segala sesuatu. Memang banyak bahasa itu sulit ditentukan ahli filsafat dan kalangan historia bahwa filsafat bahasa itu sulit ditentukan batasan pengertiannya terutama filsafat analitika bahasa. . Peranan rasio. Para filsuf analitika bahasa melihat banyak ungkapan-ungkapan filsafat misalnya ungkapan-ungkapan metafisis dari kaum idealism.

Dalam pembahasan ini analisi bahasa tidak hanya berkaitan dengan penjelasan dan pemecahan problem-problem filsafat namun berkaitan erat dengan metode hermeneutic. Filsafat Sebagai Analisis Bahasa .Secara termonologi istilah analitika bahasa baru dikenal dan popular pada abad XX. Reaksi yang keras dari filsuf-filsuf kontemporer terhadap proses modernism antara lain melalui analisis ungkapan bahasa karena modernism tidak mampu mengungkapkan hakikat kemanusiaan dan hal ini hanya mampu diungkapkan melalui symbol-simbol sebagaimana dikembangkan oleh Derrida. Maka untuk mempermudah pamahaman kita tentang perkembangannya filsafat analitika bahasa. Michel Foucault. maka sebenarnya berdasarkan isi materi dan merodenya filsafat analitika bahasa itu telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman Yunani. penentuan berdasarkan aliran merupakan suatu pilihan yang dianggap paling tepat. namun demikian bilamana kita sependapat bahwa pengetian filsafat analitika adalah pemecahan dan penjelasan problem-problem serta konsep-konsep filsafat melalui analisi bahasa. juga terdapat filsuf-filsuf kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala untuk sampai pada suatu kebenaran yang hakiki. Gadamer dan Dilthey dengan mazhab Frangfrutnya. Demikian juga secara diakronis filsafat analitika bahasa pada abad XX ini tidak terbatas pada timbulnya aliran-aliran filsafat di Inggris. namun lebih luas antara lain di Jerman selain mempengaruhi tumbuh berkembangnya aliran positivism logis dan lingkungan Wina. Lyotard dan tokoh-tokoh lainnya dalam paham ‘postmodernisme’ Demikialah kiranya filsafat analitika bahasa memiliki dimensi yang sangat luas dan meliputi berbagai bidang. Pemilihan filsafat analitika bahasa ini memang sulit untuk ditentukan berdasarkan periodisasi maupun wilayah karena aliran-aliran filsafat analitik tersebut memiliki keterkaitan pengaruh antara tokoh satu dengan lainnya. antara lain Edmund Husserl dengan aliran fenomennologinya. B. antara aliran satu dengan lainnya.

Namun demikian kegiatan para filsuf semacam itu dewasa ini dianggap tidak mencukupi karena tidak didukung dengan pengalatan dan pembuktian yang memadai untuk mendapatkan kesimpulan adekuat. Hal ini terutama dengan timbulnya aliran filsafat analitika bahasa yang memandang bahwa problema-problema filosofis akan menjadi terjelaskan manakala menggunakan analisis terminology gramatika. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. bahkan kalangan flsuf analitika bahasa menyadari banyak ungkapan-ungkapan filsafat yang sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan yang fundamental tentang hakikat segala sesuatu para filsuf berupaya untuk memberikan suatu argumentasi yang didukung dengan analisis bahasa yang memenuhi syarat-syarat logis. kebenaran.Bahasa adalah alat yang paling utama bagi seorang filsuf serta merupakan media untuk analisis dan refleksi. misalnya ‘apakah keadilan itu’. sehingga banyak filsuf menaruh perhatian untuk menyempurnakannya. pengetahuan ataupun kewajiban moral. Berdasarkan hal tersebut maka banyak kalangan filsuf terutama para tokoh filsafat analitika bahsa menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep. Kegiatan yang semacam itu merupakan suatu permulaan dari suatu usaha pokok filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakikat tentang segala sesuatu termasuk manusia sendiri. misalnya tentang hakikat pengetahuan sebagai berikut : (1) Kita menyelidiki pengetahuan itu (2) Kita menganalisis konsep pengetahuan itu (3) Kita ingin membuat eksplisit kebenaran pengetahuan itu Untuk pemecahan yang pertama mustahil dapat dilaksanakan karena seakan-akan filsafat itu mencari dan meneliti suatu entitas (keberadaan) . Oleh Karena itu bahasa sangat sensitive terhadap kekaburan serta kelemahan-kelemahan lainnya. Sebagaimana kita ketahui misalnya banyak filsuf yang mengetengahkan konsepnya melalui analitika bahasa. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. Untuk itu terdapat tiga cara untuk memformulasikan problema filsafat secara analitis misalnya masalah sebab akibat. ‘apakah yang dimaksud dengan kebaikan’ dan lain sebagainya.

Problem yang muncul berkaitan dengan filsafat sebagai analisis konsep-konsep yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa sebagaimana dihadapi oleh disiplin ilmu-ilmu lainnya. yaitu bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep tersebut senantiasa melalui bahasa (Poerwowidagdo. Konsep-konsep filsafat senantiasa diartikulasikan secara verbal sehingga dengan demikian mmaka bahasa memiliki peranan yang netral. Namun demikian harus diakui bahwa untuk mengatasi . Dalam pengertian inilah menurut Alston bahawa bahasa merupakan laboratorium filsafat untuk menguji dan menjelaskan konsep-konsep dan problema-problema filosofis bahkan untuk menentukan kebenaran pemikirannya (Alston. menentukan hubungan-hubungannya hingga menjadi suatu konsep disebut pengetahuan.sesuatu yangd isebut pengetahuan berada bebas dari pikiran manusia. Kiranya hanya kemungkinan alternative yang ketiga saja yang banyak dilakukan oleh filsafat. Untuk yang kedua itu juga menyesatkan karena seakan-akan tugas filsafat untuk memeriksa. 1964:5). Menanggapi peranan bahsa sehari-hari dalam kegiatan filsafat maka terdapat dua kelompok filsuf yang memilkiki pandangan yang berbeda. Memang filsafat sebagai analisis konsep-konsep tesebut senantiasa berkaitan dengan bahasa yang berkaitan dengan makna (semantic) dan tidak turut campur dalam bahasa itu sendiri sebagai suatu realitas. meneliti dan mengamati sesuatu yang disebut pengetahuan. Kemudian menentukan bagian-bagiannya. tanpa tahun: 14). Kedudukan filsafat sebagai analisisi konsep-konsep dan mengingat peranan bahasa yang bersifat sentral dalam mengungkapkan secara verbal pandangan-pandangan dan pemikiran filosofis maka timbulnah suatu masalah yaitu keterbatasan bahasa sehari-hari yang dalam masalah tertentu tidak mampu mengungkapkan konsep filosofis. (1) Terdapat kelompok filsuf yang beranggapan bahwa sebenarnya bahasa biasa (ordinary language) yaitu bahasa yang sehari-hari digunakan dalam komunikasi manusia itu telah cukup untukmaksud-maksud filsafat atau dengan perkataan bahasa sehari-hari itu memadai sebagai sarana pengungkapan konsep-konsep filsafat.

Rudolf Carnap. Kelompok filsafat antara lain Leibniz. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari itu. Menurut pandangan ini (terutama aliran filsafat bahasa biasa Wittgenstein II) masalah-masalah filsafat itu timbul justru karna adnaya penyimpangan-penyimpangan penggunaan bahasa biasa oleh para filsuf dalam berfilsafat. yaitu perlu diwujudkan suatu bahasa sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Demikianlah kiranya perhatian filsafat terhadap bahasa dan hal ini mengingat tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena ungkapan . sehingga timbullah kekacauan dalam filsafat dan penyimpangan itu tanpa suatu penjelasan agar dapat dimengerti (Poerwowidagdo. Ryle. Maka menurut pandangan yang pertama ini tugas filsuf dalam memberikan semacam terapi untuk penyembuhan dalam kelemahan penggunaan bahwa filsafat tersebut. Masalah-masalah filsafat itu justru timbul karena bahasa biasa itu tidak cukup untuk tujuan analisis filosofis karena bahasa sehari-hari memiliki banyak kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa.kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan bahasa sehari-hari bahasa filsafat harus diberikan suatu pengertian yang khusus atau harus memberikan suatu penjelasan terhadap penyimpangan tersebut. Maka yang menjadi perhatian kita yang terpenting adalah usaha bahwa perhatian filsafat itu memang berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di dalamnya. Bertnard Russel dan tokoh lainnya. (2)Sebaliknya terdapat kelompok filsuf yang menganggap bahwa bahasa seharihari itu tidak cukup untukmengungkapkan masalah-masalah dan konsepkonsep filsafat. Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan dunia. tanpa tahun: 10). Misalnya kita sering mendengarkan suatu ungkapan filosofis yang menyatakan bahwa suatu ungkapan itu secara metafisis memiliki makna yang dalam tanpa memberikan alas an yang memadai agar memiliki atau satu dasar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu setelah perkembangan filsafat bahasa biasa. Atas dasar kenyataan historis yang demikia inilah maka filsafat analitika bahasa menjadi sangat sulit sekali untuk dibatasi berdasarkan wilayah perkembangannya. menguraikan dan menguji kebenaran ungakapan-ungkapan filosofis. Terlebih lagi terdapat banyak filsuf yang memiliki kebiasaan melanglang jagad. 1964:6) C. Wittgensein dan tokoh lainnya. imaterialisme dan aliran positivism. Demikian juga terdapat suatu aliran yang berkembang di Eropa akan tetapi pusatnya di Wina sehingga aliran tersebut juga disebut ‘Mazhab Wina’ atau ‘kring Wina’. atau kadang disebut juga ‘empirisme logis’ (logical empirism). Aliran-Aliran Filsafat Analitika Bahasa Analitika bahasa adalah suatu metode yang khas dalam filsafat untuk menjelaskan. Selain itu aliran ini berkembang sebagai reaksi . Perkembangan filsafat analitika bahasa itu memang tidak dapat diperjelas begitu saja terpisahkan dari aliran-aliran yang berkembang sebelumnya seperti aliran rasionalisme. lalu istilah itu menjadi popular dan berkembang pada abad XX terutama di Inggris khususnya dan Eropa pada umumnya. Namun demikian. empirisme. pengaruhnya meliputi berbagai Negara di Eropa maupun di Amerika. ‘positivisme logis’ (logical positivism). secara historis tradisi ini sebenarnya telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman pra Sokrates. Oleh karena itu akan menjadi lebih memadai bilamana uraian perkembangan filsafat analitika bahasa itu difokuskan pada perkembangan berdasarkan aliran-alirannya. pindah dari Negara satu ke Negara lainnya misalnya Bertrand Russell. Atomisme logis mulai berkembang pada awal abad XX di Inggris dan aliran ini sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran sebelumnya yaitu rasionalisme dan empirisme.filosofis itu bersifat verbal maka upaya untuk membuat bahasa itu sudah memadai dalam berfilsafat menjadi sangat penting sekali (lihat Alston. Idealism. Pada dasarnya pekembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism). dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy).

Jerman. dan Peter Strawson.Ryle. matematika. Hal ini dimaksudkan bahwa pusat perhatian para filsuf pada masalah filsafat dikembangkannya melalui bahasa dan membahas. Ausdtin. ataupun melalui analistik languistik. Pengaruh filsafat bahasa biasa di Inggris juga amat luas terutama kelompok filsuf Oxford antara lain J.L. Misalnya aliran di Prancis yang mendasarkan pemikiran filosofisnya pada bahasa biasa antara lain pada paham postmodernisme Lyotard. melainkan juga aliran di wilayah lainnya (kaelan. dan aliran inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan aliran yang lainnya dan memiliki pengaruh yang sangat luas baik di Inggris sendiri. D.ketidakpuasan atas aliran idealism. 2002: 84. Setelah perang dunia kedua muncullah aliran filsafat bahasa biasa. Walaupun pengaruh tersebut tidak secara langsung namun aliran filsafat tersebut secara ontologism memiliki kesamaan. di Jerman dalam aliran fenomenologi Husserl dan Gadamer.86). Paham positivism logis ini menurut sejarah dikembangkan oleh kalangan ilmuwan bidang fisika. Derrida dan Foucault. Oleh karena itu hal ini tidak hanya terbatas aliran di Inggris saja. Akhirnya agar memiliki kasamaan persepsi tentang aliran filsafat analitika bahasa. muncullah suatu perkembangan pemikiran yang baru yang oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai suatu perubahan yang radikal atau . kita tentukan bahwa pengertian tersebut ditunjukkan kepada pengertian aliran filsafat yang berkembang pada abad XX yang menaruh perhatian terhadap bahasa. menjelaskan serta memcahkan masalah filsafat dengan menggunakan analitika bahsa. Pengaruh atomisme logis kemudian diteruskan oleh aliran positivism yang dalam beberapa hal banyak menyetujuan konsep-konsep atomisme logis. maupun di Amerika. Prancis. kimia ilmu-ilmu alam dan lain sebagainya dan berpusat di Wina. G. Atomisme Logis Dalam perkembangan pemikiran filsafat di Inggris permulaan abad XX.mazhab positivism logis sangat besar pengaruhnya di dunia terutama terhadap perkembanganya ilmu pengetahuan modern bahkan sampai saat ini terutama di Indonesia sendiri.

sebagai suatu ‘revolusi’. arah dan corak pemikirannya. Nama . Whether with or without some prefixed adjectife” (Russell dalam A. Ayer. Pusat dari gerakan pemikiran filsafat yang baru ini adalah di Cambridge Inggris yang diiris oleh G. namun dalam kenyataanya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. Oleh karena itu lebih suka menyebut filsafat saya dengan nama atomisme logis dari pada realism.J. Dan sebagai tokoh utamanya yaitu Bertrand Russell (1872-1970) dan Ludwig Wittgestein (1889-1951). “saya menganggap bahwa logika itu adalah apa yang fundamental di dalam filsafat. 1959:31). meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. fan bahwa mazhan-mazhab (aliran-aliran) itu seharusnya diwarnai oleh logikanya dari pada oleh metafisikanya.More (1873-1958). sehingga konsep filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Logika saya sendiri bersifat atomis. baik dengan atau tanpa awalan kata sifat” Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya “Tractatus Logico Philosophicus’. Bertrand Russell sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empirisme yang mengikuti jejak john Locke dan David Hume. Perkembangan baru ini membawa perubahan dalam gaya.E. dalam suatu artikelnya yang telah dimuat dalam ‘Cotemporary British Philosophy’ yang terbut tahun 1924 dalam artikelnya itu ia mengatakan sebagai berikut: “I hold that logic is what is fundamental in philosophy and that schools should be characterized rathes by their logic than by their metaphysics. There fore I prefer to describe my philosophy as logical atomism rather than as realism. Nama aliran atomisme logis dikemukakan oleh Bertand Russell dalam mengemukakan konsep filosofisnya yang diberi nama ‘atomisme logis’. dan aspek (segi) inilah yang ingin saya tekankan saya tekankan. My own logic ia atomic and is this aspect upon wich I should mish to lay stress.

Bradley Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russel dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya ‘Tractatus Logico Philosophicus’. Dalam kaitan ini Bertrand Russel menolak atomisme psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologis namun dilakukan terhadap proposisiproposisi.E. namun dalam kenyataannya tradisi idealisnya juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Pengaruh Idealisme F.H. namun dalam kenyataannya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. sehingga konsep . E. F. H.E. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nam atomisme logis daripada realism. Bradley dan pemikiran analitis G. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oloeh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalanmanusia. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan oleh Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Bradley mempengaruh bidang formulasi logika proposisi sedangkan G.H. Moore. Bertrand Russel sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empiris yang mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Pengaruh pikiran idealism tersebut antara lain dari F. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya melaksanakan analisis psikologis terhadap ide. Demikianlah dalam kenyataannya munculnya pemikiran atomisme logis di Inggris tidak dapat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada atomisme logis. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya.‘atomisme logis’ yang dipilih oleh Bertrand Russell menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu keryanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. Menurut Hume semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis (atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil.

E. Edward Caird.H. namun kenyataannnya tradisi idealispun juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Namun ‘atomisme logis’ yangdipilih oleh Bertrand Russel menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu karyanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’.H. Pada awal abad XX. Jika materialism mengemukakan bahwa materi adalah real dan mind adalah fenomena yang menyertainya maka idealism menyatakan bahwa mind itulah yang real dan materi adalah produk sampingnya. Green. jiwa (mind) dan bukannya benda-benda material dan kekuatan. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya bisa melaksanakan analisis psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologi namun dilakukan terhadap proposisi-proposisi. 1981:18). Bradley (Bertens.H. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume.filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Selanjutnya ditekankan oleh idealism bahwa realitas dasar terdiri tatas ide. Moore. Bernard Bosanquet dan terutama adalah F. Demikianlah dalam kenyataannya pemikiran baru atomisme logis di Inggris tidakdpat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada aliran atomisme logis. Tokoh-tokoh idealism Inggris tersebut antara lain T. pikiran-pikiran. akal. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nama atomisme logis dari para realism. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oleh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalan manusia. Tumbuh suburnya aliran-aliran itu tersebut memberikan suatu reaksi atau materialism dan positivism yang merajalela di Eropa pada waktu itu yang menguasai filsuf-filsuf generasi sebelum tmimbulnya idealism. Dunia memiliki arti yang berlainan . Menurut Hume semua ide yang atomis (Atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. Pengaruh pemikiran idealism tersebut antara lain F.E. H. Menurut aliran idealism bahwa realitas terdiri atas ide. aliran yang dominan di Inggris adalah idealism. pikiran atau jiwa atau hubungan yang sangat erat dengannya. F. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya. Bradley dan pemikiran analisis G. Bradley mempengaruhi bidang formulasi logika proposisi sedangkan G.

dari apa yang Nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan ditafsirkan olehpenyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metode ilmu objektif saja yang berdasarkan kepada pengamatan empiris (Titus, 1984:316). Francis Herber Bradley (1846-1924) adalah penganut idealism yang fanatic dan memiliki pengaruh yangs angat besar di Inggris. Ia menguraikan pendapatnya tentang hubungan antara pemikiran dengan realitas dan hal ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme menurut Bradley metode pengenalan empirisme itu sebenarnya bersifat psikologis dan bahwa mereka itu bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan (judgements) atau keterangan-keterangan (proposisi-proposisi). Ide sebagaimana dimaksudkan kalangan empirisme adalah isi dari pikiran. Kaum empirisme tertarik dengan asal usul pikiran kita, bagaimana kita mendapatkan kemampuan kita untuk berpikiran tentang kualitas, hubungan pada pihak lain proposisi itu bukanlahisi dari pikiran kita, akan tetapi merupakan pernyataan-pernyataan tentang duna ini, yaitu bahwa sesuatu itu adalah sedemikian rupa yang ditangkap oleh pikiran. Menurut pandangan F.H. Bradley, metode kaum empirisme itu adalah suatu kesalahan. Kaum empirisme kurang memperhatikan putusan (judgements) atau proposisi, dan halinilah yang menjadi yang merupakan perbedaan yang paling dalam antara Immanuel kant dan David Hume. Pemikiran-pemikiran F.H. Bradley inlah yang mempengaruhi

formulasi logika atomisme logis Bertrand Russel, yaitu realitas itu terwujudkan dalam suatu ungkapan bahasa yang merupakan suatu proposisiproposisi. Dengan demikian nampaklah pada kita bahwa logika atomisme logis Bertrand Russell itu merupakan suatu empirisme yang didasrkan atas putusan-putusan atau proposisi-proposisi dan bukan didasarkan atas ide-ide, sehingga formulasi logika Russel sebenarnya memanfaatkan idelaisme F.H. Bradley dalam atomisme logika (Poerwowidagdo, tanpa tahun 26). Namun demikian Russel juga menolak dengan keras pandangan metafisis dari idealism, sebab sebagaimana diungkapkan oleh Russel bahwa pemikirannya itu tidak didasarkan atas pandangan metafisika melainkan

ditentukan oleh formulasi logikanya karenamenurut Russel logikalah yang paling fundamental dalam filsafat.

F. Geogre Edward Moore Filsuf kelahiran Upper Nortwood London memiliki pengaruh yang amat besar terhadap aliran filsafat atomisme logis.walaupun demikian sebenarnya Moore sendiri bukanlah penganut yang setia dari aliran atomisme logis, bahkan boleh dikatakan ia sendiri berdiri di pinggri gerakan itu (Poerwowidagdo: 30). Moore adalah seorang tokoh filsafat analitik (penguraian) dan sebgai seorang anais ia berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Karya Moore yang terkenal adalah ‘Principia Ethica’ (1903) dan dalam bentuk yang popouler adalah “Ethics’ (1912). Ia tidak menolak etika normative dan lebih menekankan pada analisis konsep dan argumentasiargumentasi yang dipakai dalam etika. Jadi Moore lebih menekankan pada analisis ‘metaetika’. Buku yang berjudul ‘Principia Ethica’ sebagaian besar merupakan uraian yang menyangkut terminologid alam etika, misalnya tentang arti kata ‘baik’. Suatu pembahasan Moore yang terkenal adalah tentang arti kritik dan uraiannya tengan ‘kekeliruan naturalistis’ (naturalistic fallacy). Dalam uraiannya Moore menjelaskan arti kata ‘baik’. Dalam etika yang disamakan dengan cirri naturalisstis. Misalnya kekeliruan yang dilakukan oleh para penganut paham ‘hedonisme’, yang menyamakan ‘baik’ dengan sesuatu yang menyenangkan’. Bagi mereka “X itu baik” sama artinya dengan “X itu menyenangkan”. Akan tetapi hal itu tidak dapat dipertahankan terutama karena dua alasan sebagai berikut. Pertama, kalau seandainya ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ itu sama artinya, maka akan timbul suat masalah tentang bagaimana ssuatu yang menyenangkan tetapi tidak baik, sebaba dalam kenyataannya hal itu sering terjadi. Kedua, kalau seandainya pengertian ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ sama artinya, maka pertanyaan “apakah yang menyenangkan itu baik?” seharusnya sama artinya juga dengan pertanyaan “apakah yang baik itu baik?”. Namun demikian kita

akin bahwa pertanyaan pertama betul-betul mempunyai arti dan tidak boleh disetarafkan dengan pertanyaan yang kedua yang sederhana itu. Moore berpendapat bahwa kata ‘baik memang tidak dapat didefinisikan sebab tidak mungkin diasalkan kepada suatu yang lebih jelas lagi. Moore memang tidakmenolak metafisika, akan tetapi dalam berbagai macam uraiannya ia tidak mempraktekkan metafisika. Secara otoritis ia mengakui bahwa metafisika sebagai salah satu cabang filsafat yang penting, akan tetapi ia justru lebih tertarik untuk mengkritik pandangan metafisis dari filsuf lain. Dalam pengertian ini Moore secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap skiptis dan kritis terhadap metafisika. Inlah sumbangan Moore terhadap tumbuhnya aliran baru di inggris teurutama atomisme logis yang mengkritik dan bahkan menolak metafisika (Bertens, 1981:24). Atas dasar sikapnya yang konsisten tersebut maka tidaklah mengherankan jikalau Moore mengkritik kaum idealism Inggris yang pada saat itu menguasai dunia pemikiran di Inggris. Kritisk Moore terhadap aliran idealism tersebut tertuang dalam karangannya yang berjudul “The Refutation of Idealisme”, yang dimuat dalam majalah “Mind” (1930). Kaum idealism terutama kaum Hegelian berpendapat bahwa ‘segala sesuatu itu bersifat spiritual’, ‘tidak ada dunia material di luar kita’, ‘waktu adalah tidak real’ dan lain sebagainya. Menurut Moore pendapat kaum idealism tersbut tidak berdasarkan pada logika sehingga tidak dipahami oleh akal sehati maka atomisme logis mendapat inspirasi bahwa analisis bahasa harus berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi (lihat Bertens, 1981:24 dan Charlesworth, 1959:12).formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan jasa-jasa baik Moore terhadap lahirnya atomisme logis. Namun demikian hendaklah kita ingat bahwa memang dalam kenyataannya seluruh dasar-dasar logika atomisme logis tidak didasarkan atas pemikiran Moore karena sebagaimana diketahui bahwa Moore bukanlah ahli di bidang logika. Daam setiap system analisisnya Moore tidak mengakhriri dengan justifikasi

benar atau salah, melainkan apakah itu bermakna atau tidak bermakna berdasarkan analisis bahasa. Atas dasar cirri-ciri pemikiran Moore beserta metodenya maka tidaklah mengherankan bilamana Moore diberi gelar sebagai perintis pergerakan baru dalam pemikiran filsafat di Inggris, yaitu sebagai perintis gerakan filsafat analitik yang dalam terminology filsafat dikenal juga dengan istilah “filsafat analitika bahasa”. Berdasarkan atas reputasinya itu maka Moore berpendapat bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis yang tepat atau memadai tentang konsep suatu proposisi, yaitu menguraikan dengan jelas dan memadai apa yang dimaksud dengan konsep atau proposisi itu (Moore, 1959:vii. Memberikan analisis secara pantas terhadap suatu konsep atau suatu proposisi itu sama dengan menggantikan perkataan atau kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan hal itu dengan ungkapan-ungkapan lainyang sama benar nilainya (exactly equivalent) dengan kalimat atau ungkapan tadi akan tetapi menjadi analisis adalah sebagai berikut: Analisis adalah semacam definisi semacam persamaan dengan

ungkapan yang membingungkan (ungkapan yang kurang jelas), pangkal uraian (analysandum) di sebelah kiri dan ungkapan baru di sebelah kanan yang sering disebut analisis (penguraian) (analysans) sebagai penguraian (lihat Poerwowidagdo, tanpa tahun: 31). Berkaitan dengan analisis tersebut maka pangkal uraian (analysandum) dan pengaurai (analysans) tidak harus selalu identik sama persis),melainkan keduanya harussama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama (Langford, 1959:335). Meskipun Moore dan Russel sama-sama setuju bahwa tugas filsafat adalah menganalisis konsep-konsep atau proposisi-proposisi yaitu mengungkapkan dengan jelas namun keduanya terdapat suatu perbedaan. Menurut Moore bahwa kepercayaan akal sehat (common sense) tentang benda-benda itu dapat diktahui dengan pasti adalah benar. Adapun menurut Russell mencari kebenaran metafisis melalui penggunaan analisis. Selain itu Moore dalam pemikirannya hanya mencari penjelasan tanpa meninggalkan

akal sehat. Berdasarkan pada pandangan dan pemikirannya tentang filsafat maka Moore telah banyak memberikan sumbangan bagi lahirnya pemikiran baru di Inggris yaitu filsafat analitika bahasa terutama aliran atomisme logis, walaupun ia sendiri sebenarnya bukan seorang penganut setia aliran tersebut.

G. Filsafat Atomisme Logis Bertnard Russel Fulsuf Cambridge ini memiliki inovasi yang luar biasa dan ia sebagai salah seorang pelopor pemikiran baru di Inggris. Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Russsell dikuasai oleh tradisi idealism, sehingga sekaligus pemikiran Russell merupakan suatu reaksi yang sangat akurat terhadap aliran tersebut. Suatu kelebihan dari konsep pemikiran anomisme logis Bertrand Russell adalah, ia mampu mensintesiskan berbagai macam pemikiran para filsuf sebelumnya maupun filsuf sezamannya. Dalam pemikiran Russell Nampak garis lurus tradisi empirisme John Locke dan David Hume terutama dalam struktur logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki kompleks corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide atomis) sampai pad aide-ide yang bersifat kompleks. Namun demikian di pihak lain Russell juga mengangkat pemikiran idealism Bradley dalam mengkritik kelemahan paham empirisme, walaupun Russell menolak dengan tegas metafisika idealism Bradley yang mengungkapkan kelemahan empirisme yang dikatakannya bahwa metode empirisme itu bersifat psikologis, yang hanya bekerja dengan ide-ide dan bukannya berdasarkan pada suatu putusan (juggements) atau keterangan-keterangan (proposisiproposisi). Dasar inilah kemudian diangkat oleh Russell demi prinsipprinsip analisinya yaitu yang berdasarkan pada suatu putusan. Formulasi analisis Russell juga dipahami oleh konsep pemikiran teman akrabnya G.E Moore sebagai seorang filsuf perintis filsafat analitika. Russell dan Moore memang sependapat bahwa tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, namun keduanya terdapat perbedaan. Moore mendasarkan analisisnya berdasarkan analisinya

yang berdasarkan formulasi logika Ia mengakuinya banyak dipengaruhi oleh logika baru dari Gothlob Frege (1848-1925). sedangkan menurut Russell bahasa sehari-hari itu tidak memadai untuk bahasa filsafat karena banyak kelemahan antara lain kekaburan. Alasan yang dikemukakan Russell adalah sebagai berikut : (1) Logika Frege yang baru itu hanya cocok untuk diterapkan pada ilmu hitung (arithmetic) dan tidak dapat diterapkan pada cabang-cabang lain dari matematika. tanpa tahun:207). Berdasarkan prinsip-prinsi pemikiran itulah maka Russell menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada metafisikanya melainkan lebih berdasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasariah dalam filsafat. Russell mencoba mengatasi kelemahan-kelemahan itu dengan sisitem logika dalam buku ‘Principia Mathematica’. sedangkan Russell mencari kebenaran melalui penggunaan analisis disertai dengan sintesis logis. Atas dasar pendapat inilah maka Russell membangun pemikirannya melalui bahasa berdasarkan formulasi logika. semua matematika murni dapat disimpulkan atau dideduksikan . Hal ini menyakinkan pada diri Russell. Pandangan pokok dari ‘Principia Mathenmatica’ yaitu dari ide-ide dan aksiomaaksioma tertentu dari logika formal dan dengan pertolongan logika hubungan. tergantung pada konteks dan lain sebagainya. makna ganda. (2) Pangkal pikir atau premis Frege itu tidak meniadakan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam system logika formal lama (Poerwowidagdo. oleh karena itu pemikirannya dinamakan ‘atomisme logis’. Russell ingin membangun bahasa yang mampu mengungkapkan realitas. Atas dasar alasan tersebut maka Russell bekerja sama dengan Al-fred North Whitehead.berdasarkan akal sehat. Akan tetapi menurut Russell logika barunya Frege itu tidaklah cukup untuk membuat suatu kerangka dari sebuah bahasa yang sempurna. bahwa tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis. Moore beranggapan bahw bahasa sehari-hari (bahasa alamiah) kiranya telah memadai untuk berfilsafat.

Russell berpendapat bahwa dunia itu mempunyai struktur yang sesuai dengan logika matematika yang gramatikalnya itu sempurna. Banyak proposisi atau keterangan filsafat dapat dijelaskan dengan menggunakan system logika baru. Hal ini diungkapkan oleh Russell yang menyatakan bahwa sesuatu yang menyebabkan ia menamakan . Atas dasar alasan itulah maka Russsell lebih mendahulukan analisis logis dari pada sintesis logis (lihat Charlesworth. Adapun sintesa logis dilakukan dengan menentukan makna suatu pernyataan atas dasar pengamatan empiris (pengalaman indara). Menurut Russell kebenaran yang bersifat logis dan matematis yang diungkapkan melalui analisis logika meyakinkan kita untuk mengakui keberadaan sifat-sifat yang universal yang bersifat tetap.tanpa ada lagi ide baru yang tak terbuktikan atau proposisi-proposisi yang tak tebukti. Dengan melalui analsis logisnya Russell menyatakan hal itu untuk mendapatkan satuan-satuan logis akan kebenaran realitas (kebenaran atom-atom logis). 1987:41). dalam Mustansyir. Memang harus kita akui bahwa inovasi pemikiran Russell tentang metode tersbut untuk membangun konsep atomisme logisnya. dan dalam kenyataan terdapat teori yang bersifat empirisme murni yang tidak mampu mengunkapkan hal tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Russell bahwa tugas filsafat adalah analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. Metode analisis bahasa dalam pemecahan problem-problem filsafat yang mendasarkan pada analisis apriori dan sintesis aposteriori di sini Nampak alur pikir dari kritisme Immanuel Kant. mengandung suatu pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan suatu alasan-alasan yang berdifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. 1959: 33-46). Dalam masalah ini pengertiannya lain dengan gramatika tatabahasa alamiah atau gramatika bahasa-bahasa biasa yang menyesatkan dan tidak memadai sebagai cara pengungkapan untuk mendapatkan suatu kebenaran (Russell. Dengan metode yang demikian ini Russell berhasil memecahkan problemproblem filsafat melalui analisis bahasa. Menurut Russell melalui system logika baru ini banyak masalah filsafat dapat didiskusikan atau dibicarakan tanpa adanya kekaburan.

1981: 28). ‘Lions’ pada kalimat (1) dan (2) bersama-sama merupakan predikat (prinsip verifikasi).pemikiran filsafatya ‘atomisme logis’ yaitu karena atom-atom yang ingin dicapai Russell sebagai hasil analisis terakhir bukan merupakan suatu atom fisik. namun struktur logisnya tidak sama. Menurut Russell ada suatu kalimat yang memiliki struktus gramatikal yang sama namun berbeda dalam hal struktur logisnya. Misalnya ‘X dan Y’ memiliki formulasi logis yang sama jikalau unsure X mengandung kesesuaian dengan unsure Y. atau dengan lain perkataan perlu ditentukan formulasi logis dalam ungkapan-ungkapan bahasa. Dengan memahami formulasi logis dari . (Bertens. Menurut Russell bahwa dua pengertian memiliki suatu formulasi logis yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. 1. melainkan atom logis (Heraty. Misalnya kalimat ‘Lions are yellow’ dan ‘Lions are real’. ‘Sokrates’ dan ‘Aristoteles’ memiliki formulasi logis yang sama karena berdasarkan pada suatu fakta bahwa baik Sokrates maupun Aristoteles keduanya adalah sebagai filsuf. 1959:369). 1984: 85-86). sehingga keduanya memiliki formulasi logis yang sama (lihat Russell. Struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa. sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi Y dapat digantikan pada X. jadi secara gramatikal memiliki struktur yang sama. Sebagainya dikemukakan oleh Russell bahwa formulasi logis itu bukan hanya didasarkan logika formulasi saja. melainkan didukung oleh suatu fakta yaitu sintesis logika dari fakta. Formulasi Logika Bahasa Prinsip analisis yang diciptakan oleh Russell dalam konsep atomisme logisnya memiliki konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis. misalnya Sokrates dan Aristoteles memiliki formulasi logis yang sama. keduanya kalimat itu memiliki struktur gramatikal yang sama namun keduanya memiliki struktur logis yang tidak sama. karena ‘Sokrates adalah seorang flsuf dan ‘Aristoteles adalah filsuf’.

adalah dari kelas proposisi itu. Menurut Russell. sebagai seorang pembohong. Misalnya sifat yang diberikan kepada Epimenedes. jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apapun. Melalui penentuan formulasi logis ini nampaknya Russell berhasil memcahkan sejumlah paradox. seorang warga masyarakat Kreta. pada hal dia sendiri adalah warga Kreta. Contoh serupa dapat dilihat pada pernyataan berikut: (1) Segala bentuk perempatan itu salah (inpun sebagai salah satu perempatan) oleh karena itu salah. sebagai suatu yang tidak dengan sendirinya merupakan suatu himpunan itu sendiri. oleh karena itu mengandung pengecualian. (3) Setiap penyataan ilmiah yang tidak didasarkan pada verifikasi itu hanya omong kosong (inipun suatu pernyataan ilmiah). (2) Semua peraturan mengandung pengecualian. Bentuk-bentuk penyataan yang bersifat paradox itu berhasil diatasi oleh Russell dengan membedakan antara semua unsure yang termasuk ke dalam suatu himpunan. yang telah membingungkan para filsuf Yunani. Misalnya jikalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota himpunan ‘filsuf’. jenis penyataan yang bersifat paradox itu bukanlah merupakan jenis pernyataan yang sama dengan pernyataan yang digambarkan. Jika ia (Epidemenedes) mengatakan “semua orang Kreta itu pembohong”.ungkapan maka kita dapat membedakan antara bentuk logis gramatika dari suatu ungkapan dengan bentuk semantic dari ungkapan tersebut. yang seakan-akan tampak mustahil untuk dikatakan sebagai benar. berarti pernyataan itu adalah bohong dan oleh sebab itu pernyataan itu dapat disimpulkan salah (Jones dalam Mustansyir. sebab keterangan tersebut merupakan suatu proposisi dari kelas yang lebih tinggi. Penyataan yang dikemukakan oleh Epimenedes bahwa ‘semua orang Kreta itu pembohong’. maka itu tidak . (pernyataan inipun sebagai suatu peraturan). 1987:44). yang telah membingungkan para tahil untuk dikatakan sebagai benat.

sehingga masing-masing terletak pada jenis hierarki yang berbeda pula. Hal ini dapat diterima secara terang oleh akal sehat. Russel mendasarkan pada analisis logis karena hal ini berdasarkan pada kebenaran apiori yang sifatnya universal yang bersumber pada rasio manusia. Prinsip Kesesuaian (Isomorfi) Russell dan Moore memang memiliki kesamaan pandangan bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep itu diungkapkan melalui bahasa maka analisis bahasa memegang peranan penting. Ia berpendapat bahwa pertama-tama merupakan analisis logis bilamana hendak merupakan filsafat yang bersifat ilmiah. Dalam pengertian ini Russell menampakkan konsep pemikirannya yang cemerlang. Namun demikian Russell berbeda dengan Moore.berarti kelas filsuf itu sendiri merupakan seorang filsuf. yaitu ia ingin menganalisis hakikat realitas dunia melalui analisis logis. 1987: 45). ia berpendapat bahwa analisis dilakukan pada struktur hakiki bahasa dan bukannya terbatas pada konsep-konsep filsuf lain dalam menggunakan bahasa. tetapi sayangnya hampir semua karya filsafat mencoba untuk menghindari hal tersebut (Jones dalam Mustansyir. berupaya untuk mengatasi kesulitan 2. sehingga analisis dilakukan dengan analisis logis dan disertai dengan sintesa logis. sebab kelas filsuf lebih tinggi tingaktannya dari pada seorang filsuf. Pegetahuan pada . Jadi kalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota kelas ‘filsuf’ itu adalah benar. namun tidak benar bilamana dikatakan ‘filsuf’ menggunakan anggota dari ‘filsuf’ itu sendiri. Adapun sintesis logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris (pengalaman indrawi) yang bersifat aposteriori. Menurut Russell analisis harus didasarkan pada struktur logika. Dasar utama yang ditekankan oleh Russell adalah analisis logis. Demikianlah Russell mengembangkan formulasi logis dalam analisisnya melalui ungkapan bahasa dan dalam wacana filsafat.

hal ini berarti bahwa sebagaimana halnya dengan nama diri. Kata-kata itu mengacu pada suatu unsure kenyataan . 85). itu berstatus sebagai nama diri yang logis (logical proper name). orang lain secara teoritik dapa tmemahami kita melihat objek tersebut sebgai suatu fakta empiris. dan menjadi pengalaman sendiri yang disebut ‘egosentric’. Berdasarkan pengertian itu maka ‘egocentric particular’ adalah merupakan entitas-entitas atau satuan-satuan kongkrit yang dikenal karea suatu pengalaman pribadi yang pada dasarnya tidak dapat dibagi dengan orang lain. yaitu aspek egocentric yang terdapat pada kata-kata itu. adapun fakta terungkapkan melalui bahasa sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur logis realitas dunia (Heraty. Dengan lain perkataan Russsell menegaskan bahwa terdapa suatu kesesuaian bantuk atau struktur antara bahasa dengan dunia. Dalam hal ini Russel lebih condong pada pengertian ‘aquaintance’ atau pengenalan daripada sebagai ‘experience’. Dalam sistemnya yang tersusun ini ia bertolak dari pernyataanpernyataan dasar. tetapi di samping itu masih mempunyai keistimewaan. Dengan demikian pengalaman itu tidak dibagi kepada orang lain. namun tidak dapat diketahuinya bahwa objek tersebut menjadi pengalaman kita. kata ini jelas menunjukkan pada suatu satuan kenyataan. Mengenai dasar pengalaman atau empiris dikatakannya bahwa bilama kita mengalami sesuatu yang kita lihat secara langsung misalnya. Stuan-satuan yang merupakan egocentric particular’ itu yang menurut Russel juga merupakan kata-kata deiktik kesemuanya dapat dikembalikanpada suatu bentuk ‘egocentric particular’ pokok misalnya ini. sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan. 1984: 79. atau terdapat suatu ‘isomorfi’ antara struktur bahasa dengan dunia. Particularia adalah hasil persepsi kongkrit individual. Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta.hakikatnya merupakan pernyataan-pernyataan yang tersusun menjadi suatu system yang menunjuk kepada entitas atau unsur pada realitas dunia. ialah pernyataan empiric yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam yaitu particularia dan universalia.

dia nama diri .87). Ciliwung : kata-kata petunjuk : ini. itu (ruang dan waktu) nanti. adapun suatu logical proper name adalah merupakan suatu denotasi yang menyebutkan keterangan atau deskripsi minimal. Pengertian ‘logical paper name’ atau nama diri yang logis memiliki dia macam cirri. 1972:34). yaitu: (1) suatu logical proper nama adalah sejauh hal itu berfungsi sebagai nama yang tidakd apat menunjuk pada objek yang sama untuk dua orang yang berbeda. dan (2) suatu logical proper name dapat menunjuk hanya pada entitas-entitas yang kita kenal pada suatu saat (Clack.hal itu memang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu hubungan antara bahasa dengan realitas dan pengacuan tersebut menurut Russel disebut dinotasi yang dijelaskannya pada penggunaan kata objek (object word) (Heraty. tadi Kata-kata ganti: aku. Oleh karena itu nama diri logis adalah merupakan suatu deskripsi minimal yang mengacu pada acuan tunggal atau referensi tungal. Namun logical proper name ataunama diri yang logis ini bukanlah nama dalam arti nama seseorang akan tetapi merupakan suatu deskripsi minimal yang memiliki referensi tunggal. 1984:86. Dengan demkian egocentric particular merupakan nama diri yang logis atausalah satu bentuk logical proper name. Struktur logis bahasa menunjukkan suatu susunan yang terdiri atas satuan-satuan bahasa yang mengacu pada suatu satuan entitas karena struktur logis bahsa menunjukkan struktur logis dunia. Maka dengan demikian bagi Russell sepatah kata diektik merupakan suatu denotasi sifatnya yang sangat pribadi. Adapun pembedaan referensi tunggal itu adaah sebagai berikut : PEMBEDAAN REFERENSI TUNGGAL MENURUT BERTRAND RUSSELL (1) Nama Diri (2) Kata-kata Deiktik : Napoleon.

yaitu ungkapan itu dapat disebutkan tanpa melibatkan eksistensi objek (lihat Heaty. yaitu sebagai suatu pernyataan yang mengandung pertentangan yang member makna pada ungkapan tersebut dan sekaligus melibatkan eksistensinya.(3) Deskripsi penunggal :”Pemenang hadiah Nobel” “perintis kemerdekaan” “ Pembela hak asasi” Heraty. Suatu nama diri dapat dianggap sebagai singkatan deskripsi penunggal atau ‘unique definitie description’. Misalnya ungkapan ‘ Si Malin Kundang” yang mengandung dilemma ontologism. Jadi secara struktur gramatical dan struktur logis berbeda. terutama menurut teori referensi. Hal itu dapat diketahui dalam perbedaan penggunaan yaitu penggunaan secara atributif dan penggunaans ecara referensial. misalnya Sokrates filsuf pertama yang mempersoalkan istilah etika. 1984:98). Perbedaan secara logis antaranama diri di satupihak dengan deskripsi penunggal di pihak lain. yaitu bahwa nama diri itu merupakan singkatan deskripsi penunggal ‘definite description’. Nama diri itu dapat mengacu pada suatu unsure tanpa diperlukan deskripsi-deskripsi. Deskripsi penunggal secara tata bahasa berbentuk subjek (S) dan predikat (P). logis 1984:96) Dengan demikianpengertian nama diri yang logis adlah meliputi kata-kata deiktik dan deskripsi penunggal. karena memberikan kemampuan untuk membicarakan sesuatu yang tidak langsung dapat dijumpai dalam lingkungan tertentu. Sifat yang mengacu dan deskriptif yang sekaligus terdapat pada deskripsi penunggal itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam analisis bahasa. ini secara logis sebenarnya tidak berbentuk subjek predikat. Teori deskripsi penunggal ini membawa penyelesaian yang menurut Russell disebut sebagai dilemma ontologism. .

Atomisme logis menggambarkan bahasa ideal itu sebagai suatu kumpulan besar proposisi-proposisi yang tak terbatas yang tersusun atas struktur proposisi sederhana. 3. Fakta-fakta itu sendiri sebenarnya tidak dapat bersifat benar atau salah. Dengan perkataan lain prinsip verifikasi merupakan symbol dan bukan merupakan bagian dunia. Selain itu berbagai macam pendapatnya tentang atomisme logis juga termuat dalam pengantar buku Ludwig Wittgenstein “Tractatus Logico Philosophicus”. Struktur Proposisi Pemikiran filsafat atomis logis Bertrand Russel diuraikan dalam serangkaian ceramahnya kemudian dalam bentuk artikel adan dimuat dalam majalah “Monist’ tahun 1918 dan 1919. Sebagaimana dijeaskan dimuka bahwa terdapat prinsip isomorfi atau kesesuaian struktur dan bentuk bahasa dengan realitas dunia. dan kata-kata itu . Formulasi logis bahasa yang memiliki kesesuaian struktur dengan realitas dunia ini dikembangkan lebih lanjut oleh Russell dalam pengertian proposisi yang tersusun atas proposisi atomis menjadi proposisi yang bersifat majemuk atau kompleks. Dunia pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan fakta-fakta dan fakta-fakta tersebut terungkap melalui bahasa yang disebut proposisi. Hakikat keseluruhan fakta-fakta yang merupakan dunia tersebut memiliki struktur logis dan oleh karena itu hakikat fakta-fakta tadi terlukiskan melalui proposisi. Maka menurut Russell analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuanyang benar pula tentang hakikat realitas dunia.Deskripsi tentang doktrin isomorfi merupakan upaya Russel untuk mewujudkan obsesinya tentang hakikat struktur bahasa yang memiliki struktur logis realitas dunia. yang dapat diberikankualifikasinya benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. elementer atau atomisme logis (Poerwowidagdo. Kemudian artikel-artikel tersebut dikumpulkandalam buku dengan judul ‘Logic and Knowledge’. tanpa tahun: 23). Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata.

atau’ serta kara penghubung lainnya. 1963:13). dalam Tractatus.menunjukkan kepada suatu data indrawi (sense data) dan “universalia” (universals) yatiu cirri-ciria tau relasi-relasi. Untukmembentuk suatuproposisi majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti ‘dan’. Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Menurut Bertrand Russell terdapat juga pengertian proposisi ‘molekuler’ misalnya ‘inilah putih’. danmenunjuk kepada data-data atomis. 1981:29). Untukmenjelaskan struktur proposisi atomis dan proposisi majemuk tersebut. Karen amengungkapkan fakta yang paling sederhana (istilah atomis sepadan dengan susunan benda-benda yang terdiri atas bagian terkecil yang disebut atom) dank arena proposisi pada hakikatnya merupakan symbol bahasa yang mengungkapkan fakta-fakta (Bertens. Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana mislanya ‘inilah putih’ (x adalah y) atau ‘ini berdiri di samping itu’ (xRy). Namun perlu diingat bahwa tidak terdapat . Contoh dari inderawi misalnya ‘putih dan contoh universalia misalnya ‘berdiri di samping’. ‘inilah merah’. Data inderawi ditunjukkan dengan ‘logical proper name’ (nama diri yang logis) misalnya ‘ini’ dan ‘itu’. Russell memberikan contoh sebagai berikut : “Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi ang menggambarkan dua fakta atomis yaitu: (1) “Sokrates adalah warga Athena”. Oleh karena itu proposisi tersebut merupakan bentuk yang paling sederhana (yang terkecil) maka proposisi tersebut disebut proposisi atomis. dan (2) “Sokrates adalah seorang yang bijaksana” Kedua proposisi tersebut membentuk suatu pengertianproposisi mejemuk setelah dihubungkan dengan kata ‘yang” (Russell.

“Poltat akan mati”. Demikian juga Russel engakui juga tentang fakta-fakta khusus. jadi faktafakta atomis menentukan benar atau tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler). Misanya “tidakada kuda berkepala lima” proposisi itu benar atau tidak hanya berdasarkan fakta. Misalnya proposisi ‘semua orang akan mati’ ini bukanlah terdiri atas fakta-fakta atomismisalnya “A akan mati” . Alasannya ialah bahwa teori ini mau menjelaskan struktur hakiki bahasa dan dunia. Bilamana dipahami secara formal seakan-akan proposisi itu majemuk. Demikian juga pendapat Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pad asuatu datadata empiris. Russel menerima juga pengertian fakta-fakta negative. Bilamana suatu doktrin atomisme logis menolak metafisika. misalnya “John beranggapan bahwa bumi itu datar”. Jadi kebenaran proposisi tadi bukannya karena serangkaian fakta-fakta atomis melainkan suatu fakta umum yang memang secra umum telah diakui kebenarannya. tetapi tidak dapat disangkal lagi bahwa atomisme logis mengandung suatu metafisika. Kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. melainkan berasal dari suatu analisis mengenai bahasa yang mendasarkan pada suatu kebenaran apriori karena menekankan . hal ini jelas merupakan suatu argumentasi metafisis. Menurut atomisme logis bahwa dunia dapat diasalkan pada fakta-fakta atomis. sebagaimana diakui oleh Russel sendiri. Selain fakta-fakta atomis yang diungkapkan melalui proposisi atomis. juga terdapat pengertian ‘fakta-fakta umum’ yang kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang secara umum diketahui benar.pengertian fakta-fakta molekuler. “ B akan mati” dan seterusnya melainkan berdasarkan suatu fakta umum. sebaga hal itulah satu-satunyacara untuk menerangkan benar atau tidaknya suatu proposisi negative. Kebenaran proposisi itu tidak tergantung pada benar atau tidaknya ‘bumi itu datar’ melainkan pada suatu fakta khusus.

H. karena karya yang besar yang pernah dihasilkannya yaitu pada periode I dan II visi yang berbeda bahkan bertolak belakang. Demikian juga pemikiran-pemikiran Russell banyak dipengaruhi juga oleh Wittgenstein. Setahun kemudian diterbitkan suatu edisi baru dengan terjemahan dalam bahasa Inggris di samping teks Jerman yang asli. Uraian dalam buku ini berupa uraian-uraian singakat yang merupakan . Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgestei Filsuf kelahiran Wina Austria ini melalui reputasi karya filsafat yang spesifik. Karya besar Wittgenstein yang merupakan ulasan filosofis yang ketat tentang filsafat atomisme logis tersebut berjudul Tractatus Logico Philosophicus (Bertens. Pada karyanya yang kedua ini ia murtad dari doktrin atomisme logis. Buku ini sebagai karya besar pertama ketika ia memperkuat visi dasar atomisme logis. Pada tahun 1912 dengan judul Logisch Philosophische Abhandlugen (ulasan-ulasan logis dan filosofis). dan hal itu banyak ditemukan oleh Russell pada kata pengantar buku Wiitgenstein. Karyanya yang terbit dalam majalah Analosophische Abhandlungen. Bertrand Russell bahkan pernah menjadi muridnya.pada struktur logis. konsepnya tidak lagi setia terhadap pemikirannya prinsip-prinsip kebenaran baru. sehingga tidak mengherankan mereka berdua sebagai tokoh aliran filsafat atomisme logis. Tractatus Logico Philosophicus sebagai suatu karya besar di bidang filsafat termasuk tidak panjang kira-kira hanya 75 halaman saja. 1981:31). Ia merupakan teman dekat dari tokoh atomisme logis. Edisi ini disertai kata pengantar oleh senoirnya Bertrand Russell. walaupun dalam beberapa hal kurang menyetujuinya. Berdasarkan rincian konsep-konsepnya maka atomisme Bertrand Russell itu tidak lain merupakan ‘pluralisme radikal’ yang bertentangan dengan ‘monisme’ yang mendasari metafisika idealism khususnya idealism Bradley (Bertens. 1981: 39). Periode berikutnya filsuf yang pernah maj perang ini menulis suatu buku dengan judul Philosophical Investigationss.

2. yang menunjukkan struktur logis dari proposisi-proposisi.11. Filsafat itu sebenarnya bukanlah merupakan suatu tubuh atau kumpulan ajaran-ajaran atau doktrindoktrin. Makna yang terkandung dalam proposisi-proposisi itu sangat padat. namun lebih cenderung kepada penjelasan-penjelasan tentang proposisi. kecuali hanya membiarkannya dalam . 1963: 27). 1. yang digunakan dalam filsafat (Wittgenstein. Menurutnya uraian yang dilakukan oleh filsuf terdahulu tentang proposisi dan problem filsafat bukannya salah.1. sehingga kadangkadang karena padatnya makna yang terkandung di dalamnya menjadi kurang dapat dipahami. Oleh karena itu kita tidak memberikan suatu jawaban terhadap persoalan semacam itu. kemudian (1. 1. Tanpa filsafat pikiran itu akan mengawang dan tidak sehingga tugas filsafat ialah membuat jelas dan batas-batas pengertian yang jelas. 1. 1. Peranan Logika Bahasa Wittgenstein sependapat dengan gurunya bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. Terdapat tujuh angka decimal. melainkan tidak dapat dipahami. Sebuah karya filsafat pada pokoknya terdiri atas penjelasan-penjelasan serta uraian-uraian.suatu proposisi. dan seterusnya) yang menunjukkan struktur kepentingan dari proposisi dalam uraian pemikiran Tractatuc tersebut. Misalnya (1. yang secara sistematis diberi nomor. Uraian Wittgenstein dalam pendahuluan tulisannya ia menyatakan bahwa persoalan filsafat itu timbul karena para filsuf terdahulu dalam memecahkan dan merumuskan problem-problem filsafat kurang memahami logika bahasa.1 1. melainkan suatu kegitan atau aktivitas. Dalam Tractatus ia menjelaskan bahwa filsafat bertujuan untuk penjelasan logis dari pikiran. dan seterusnya).12. Menurut Wittgenstein ara atau system pemberian nomor itu sedemikian rupa sehingga proposisi-proposisi yang paling penting itu diberi nomor atau angka bulat. Filsafat tidak mengahasilkan keterangan-keterangan filsafati.

Pengguna logika bahasa yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat. 1962: 33. Oleh karena itu kita akan membuat kita menjadi tidak logis juga (Wittgenstein. Atas dasar konstatasinya tersebut maka Wiitgenstein merealisasikannya dalam karya besarnya tersebut dan struktur bahasa yang digunakan dalam uraian filosofisnya berdasarkan suatu struktur logika. problem-problem serta konsep-konsep dengan menggunakan bahasa yang memiliki struktur logika. Oleh karena itu analisis dilakukan terhadap proposisi tau realitas yang dikemukakan oleh para filsuf terdahulu melalui penggunaan bahasa yang memnuhi syarat logika. Problem dan proposisi yang dikemukakan oleh filsuf terdahulu itu tidak dapat dipahami karena mereka tidak mengerti dengan logika bahasa. Suatu logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghingari ungkapan yang tidak bermakna. Atas dasar karya besarnya inilah maka ia diberi gelar doctor filsafat di Trinity College di Cambridge. Russell dalam kata pengantar buku tersebut menyatakan bahwa pemikiran Wittegenstein dalam bukunya itu telah menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. 34). 1963: 31. . Untuk menghindari suatu kekacauan dan kesalahan yang seupa dalam filsafat maka perlu disusun suatu kerangka bahasa yang memenuhi dtruktur logika bagi uraian dan pemecahan problema-problema filosofis. sehingga setiap kata hanya memiliki suatu fungsi tertentu saja.bentuk seperti semula yang tidak terpahami. dan setiap kalimat hanya mewakili suatu keadaan factual (fakta) tertentu saja. 32). Ketidak jelasan dan kekacauan yang terjadi dalam filsafat karena kekaburan bahas filsafat yang tidak yang menggunakan tolok ukur yang jelas yang dapat menentukan apakah suatu ungkapan filsafat itu bermakna atau tidak bermakna. Demikianlah kiranya pendapat Wittgensteinn yang sejalan dengan seniornya yang menegaskan tugas filsafat adalah melakukan analisis tentang ungkapan-ungkapan. dan memiliki symbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas (Wittgenstein.

Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu. Menurut Wittgenstein yang dimaksud dengan fakta. (The World is the totality of fact not of thing) 1. dan akhirnya terbagi menjadi sautu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas). (what is the case. Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: Pernyataan yang pertama 1.1 Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta. (The World devides into facts) 2. bukan dari benda-benda. adalah suatu peristiwa (state of affairs) atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia.2 Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan). a fact the existence of states of affairs). yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut: Pertama : dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta.2. Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian. atau benda-benda . menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer. melalui analisis. Dunia itu bukanlah terdiri atas benda-benda. Kedua : setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri. sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa. Pemikiran Filosofis Tractatus Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus tradisi atas pernyataan-pernyataan yang secar logis memiliki hubungan. (The worlds is all that is the case) 1.

demikian seterusnya dan akhirnya kita sampai pada fakta-fakta yang sudah tidak dapat diredusir atau dikurangi lagi. Dunia itu terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan dalan arti hubungan antara satu dengan lainnya. Jadi yang dimaksud Wittgenstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa (state of affairs). Faktafakta itu adalah yang paling sederhana yang berdiri melingkuupi diri sendiri yang dapat berada pada dirinya dalam isolasi. enam jendela terletak disebelah kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang dan lain sebagainya. yang paling elementer yang merupakan bagian terkecil sehingga disebut sebagai fakta atomis. yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan. hubungan kausalitas. Lebih lanjut dijelaskan oleh Wittgenstein bahwa totalitas fakta itu sangat kompleks (rumit) dan terdiri atas fakta-fakta yang kurang kompleks. dalam arti bahwa dunia itu pada akhirnya terdiri atas fakta-fakta atomis tersebut.itu bukanlah bahan dunia. Struktur Logika Bahasa . dunia itu adalah jumlah keseluruhan dari fakta (totalitas fakta) dan bukannya jumlah dari objekobjek atau benda-benda itu sendiri. dan keadaan (lihat Poewowidagdo: 37). namun objek-objek itu merupakan subtansi dunia. Struktur logika Wittgenstein menjelaskan bahwa fakta-fakta atomis adalah merupakan balok-balok bangunan (building blocks) dari dunia. dan berada di antara satu dengan lainnya jadi tentang uraian mengenai bagaimana peristiwa tentang objek-objek itu berada dan terjadi. kuantitas. ruang. kualitas. Dengan demikian dunia itu harus dijelaskan atau diterangkan bukan dalam arti objek-objek itu sendiri. Fakta-fakta ini berikutnya terdiri tas fakta-fakta yang makin kurang kompleks lagi. 3. Letak jendela di depan pintu pertama. melainkan bagaimana objekobjek itu berhubungan. waktu. Fakta-fakta ini adalah fakta yang terkecil. Misalnya suatu keberadaan peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding.

Sebuah gambaran logis dari suatu kenyataan itu adaah sebuah pikiran 3. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya (ultimate constituent) dari segala sesuatu itu terpancang di dalam hakikat sesuatu itu. Bagian-bagiandari proposisi-proposisi elementer (dasar) bukanlah proposisi itu sendiri. Proposisi-proposisi yang mempunyai makna adalah proposisi yang berhubungan dengan sebuah nama.1. 4. Dengan kata lain bagi setiap “X” maka hanya ada sebuah jawabanyang benar terhadap pertanyaan “apa bagian terakhir dari “X” itu?.001 Jumlah keseluruhan (totalitas) dari proposisi itu adalah bahasa 4. Sebuah pikiran adalah sebuah proposisi yang bermakna 4.Konsep Wittgenstein tentang logika bahasa dalam mengungkapkan realitas dunia diuraikannya dalam pernyataannya yang kedua sebagai berikut: 3. Di dalam sebuah proposisi sebuah pikiran dapat diungkapkansedemikian rupa sehingga unsure-unsur dari tanda proposisi berkesesuaian dengan objek dari pikiran. Sebuah proposisi dasar (elementer) proposisi-proposisi lebih lanjut dan tidk dapat dianalisis lagi menjadi halnya sebuah fakta atomis adalah sebuah faktayang tidak terdiri atas fakta lebihlanjut dan lebih asasi.01 sebuah proposisi itu adalah suatu gambaran realitas (kenyataan) Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan.2. 3.21 Sebuah proposisi hanya mempunyai satu analisis yang lengkap 3. Hal itu didasarkan pada . nama itu bermakna manakala dalam hubungannya dengan proposisi. Di dalam sebuah proposisis sebuah pikiran mendapatkan sebuah ungkapan yang dapat diamati oleh indera 3.menurut Wittgenstein bahwa setiap proposisi elementer itu hanya memiliki satu saja analisis yang final.3.

dalam pengertian ini istilah ‘nama’ memiliki pengertiant eknis dan menurut Wittgenstein tidak gunakan dalam arti biasa. Sebuah nama itu berarti sebuah objek. ‘hijau’ dan sebagainya adalah sebagai contoh nama primitive yang dimaksudkandalam tractatus.22). yang seluruhnya terdiri atas nama-nama (4. jadi sebuah proposisi dasar membenarkan suatu faktafakta karena sebuah fakta itu adalah keberadaan suatu peristiwa.asumsinya bahawa setiap proposisi itu mempunyasi satu makan tertentu secara sempurna. sebuah proposisi dasar itu adalah suatu proposisi. Wittgenstein menyatakan bahwa proposisi-proposisi yaitu suatu proposisi dasr mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa (state of affairs (4. “Bujursangkar” bukanlah sebuah nama karena pengertian bujursangkar dapat didefinisikan lebih lanjut dan dianalisis lebih lanjut maka hal ini bukanlah sebagaimana nama primitive yang dimaksudkan oleh Wittgenstein. dan dengan demikian menjadi tidak berarti ataut idak bermakna. dan objek itu adalah maknannya (3.21). sperti nama orang atau nama sesuatu. jadi misalnya “Sokrates” bukanlah dalam pengertian tekni ini. Sebuah nama tidak dapat dipecah-pecah lebih lanjut dengan cara defines. karena Sokrates dapat didefinisikan sebagai misalnya seorang laki-laki. ‘merah’ dan ‘biru’.001). seorang filsuf Yunani yang hidup di Athena dan lain sebagainya. Karena masuk akal bilamana kita menganggap bahwa hanya proposisi dasarlah yang besar dari segala macam makna ganda dari segala kemungkinan salah paham atau salah arti tentang makna proposisi.26). Wittgenstein kemudian berpendapat bahwa setiap proposisi itu harus dapat dianalisis menjadi proposisi-proposisi dasar. Jadi “X” dan “Y”.203). jadi jikalau tidak ada objek maka fungsi dari proposisi-proposisi dasr hanya akan terdiri atas istilah-istilah (terms) yang tidak mempunyai arti. Dengan menerima asumsi ini. Proposisi-proposisi dasar adalah bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa (4. Oleh . “Nama” dalam pengertian ini menurut istilah Wittgenstein adalah sebagai tanda pertama (primitive) (3.

4.112). Struktur logika bahasa yang digunakan Wittgenstein dalam mengungkapkan suatu realitas dimaksudkan untuk mengatasi kekaburan-kekaburan. Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan” (4.karena itu proposisi dasar itu adalah bagian akhir dari proposisiproposisi. sehingga dalam memahami realias dunia manusia hanya akan memberikan suatu keputusan benar atau salah. Demikian juga dengan mudah saya dapat memahami proposisi itu tanpa perlu dijelaskan lagi suatu pengertian yang terkandung didalamnya (4. Dunia adalah keseluruhan dari fakta-fakta . Teori Gambar (Picture Theory) Pemikiran Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Hal itu diungkapkan Wittgenstein dalam “Tractatus” sebagai berikut: “Sebuah proposisi itu adalah gambaran realitas (kenyataan) dunia. bermakna atau tidak bermakna ungkapan yang menjelaskan dunia. Dengan demikian struktur logis dunia terungkap melalui bahasa yangmemiliki kesesuaian dengan struktur logis dunia.01). maka suatu kesimpulan logis yang dapat ditarik adalah bahwa kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam suatu bahasa. Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa maka bahasa pad ahakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. dan keseluruhan proposisi adalah bahasa. . “Proposisi itu adlah gambaran realitas (kenyataan) dunia maka jika saya memahami proposisi itu berarti saya memahami keadaan suatu peristiwa secra raktual (fakta) yang dihadirkan melalui suatu proposisi tersebut.

selanjutnya akan nampak . Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologis. Konsep Wittgenstein tentang teori gambar yangmenjelaskan tentang hubungan antara proposisi yang diungkapkan melalui bahasa dengan realitas keberadaan suatu peristiwa. dan “Amin berada di rumah atau tidak berada di rumah. Proposisi-proposisi tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran. terdapat pula proposisi-proposisi logika yaitu kebenarankebenaran yang berdasar pada prinsip-prinsip logika. 1981:45). atau kontradiksi-kontradiksi. Menurut Wittgenstein proposisi logika sebenarnya tidak termasuk proposisi sejati. melainkan kebenarannya bersifat tautologies (Betens. Maka sebuah proposisi memiliki dua macam kutub yaitu suatu proposisi mengandung kebenaran jikalau berkesesuaian dengan suatu keberadaan peristiwa. 1981:44). dan sebaliknya sebuah proposisi mengandung suatu kesalahan manakala tidak berkesesuaian dengan keberadaan suatu peristiwa (Wittgenstein.Dalam pengertian ini Wittgenstein berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika untuk mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. adapun proposisi sebagai sarana yang berupa suatau ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa kepada kita itulah yang dapat dikenakan kualifikasi benar atau salah (Bertens. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief (Sokolowski. Oleh karena itu proposisi merupakan suatu gambaran keberadaan suatu peristiwa. 1969:94). Namun demikian menurut Wittgenstein proposisi logika tersebut bukan berarti tidak bermakna. 1964. maka keberadaan suatu peristiwa itu tiada dapat benar atau salah. namun merupakan suatu kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. Selain proposisi yang menggambarkan keberadaan suatu peristiwa. Hal itu termasuk tautology-tautologi.” Yang merupakan suatu kontradiksi. sebab tidak menggambarkan sesuatu. dalam Mustansyir: 56).

bola dan lain sebagainya. 5. yaitu yang harus diisi oleh konsep nyat a(Charlesworth. dapat berbeda susunan logisnya. hal tersebut sebenarnya termasuk pengertian nama variable. tongkat. Sebgaimana telah dibahas di muka bahwa suatu satuan uangkapan bahasa yang memiliki struktur sintaksis yang sama. Prinsip verifikasi problema-problema filsafat timbul karena kekacauan para filsuf dalam penggunaan bahasa. yaitu tipe kata yang termasuk memiliki acuan kongkrit sepeti : meja.sikap pandangannya tentang realitas fakta dengan unsure metafisik yang hal itu ditolak oleh Wittgenstein. fakta. Pengingkaran terhadap konsep formal itut idak masuk akal dan penggunaan suatu konsep formal yang seakan-akan merupakan suatu konsep nyata hal itu akanmenimbulkan suatu kekacauan (Bakker. Dalam penentuan tipe-tipe kata inilah perlu dibedakan pengertian konsep nyata. fungsi. angka dan ada. kursi. objek. Konsep formal tersebut misalnya arti. antar lain dengan menganalisis tipe-tipe kata. Kedua tipe kata yang termasuk pengertian konsep formal. Pada tingkatan reduktif Wittgenstein sependapat dengan Russell dengan cara menganalisis unitunit bahasa sampai pada unsure logis. yaitu mencampuradukkan pemakaian ungkapan konsep nyata dengan konsep formal. kompleks. Perbedaan itu dapat terjadi karena memiliki susunan satuan kata yang menyusun kalimat tersebut. Metode untuk menentukan konsep nyata adalah jilalau dapat dipahami peningkatanucapan mengenai konsep yang bersangkutan. 1959:81). 1984:128). yaitu termasuk tipe-tipe kata yang mengacu pada konsep yang bersifat formal dan hal ini sebenarnya menurut Wittgenstein bukanlah merupakan suatu konsep. Menurut Wittgenstein Struktur bahasa yang terdapat dalam konsep formal itu digunakan secara paksa untuk mengikuti struktur . Tipe-tipe kata (Word Type) Dalam upaya penerapan metode analisis bahasa Wittgenstein menerapkan beberapa teknik untuk menganalisis makna bahasa. mobil.

Konsep formal tidaklah sama dengan konsep nyata yang hadir melalui suatu fungsi yang dimilikinya. Pandangan Wittgenstein tentang Metafisika Berdasarkan pada pandangannya struktur hakikat realitas dunai ang diungkapkan melalui ungkapan bahasa yang disebut proposisi. sehingga sttuktur logis dunia terlukiskandalam struktur logis bahasa dan proposisi yang melukiskan suatu realitas dunia inilah yang merupakan suatu proposisi sejati. dipergunakan untukmengatakan suatu objek. 6. Keduanya memiliki cirri yang berbeda. 1969:126). maka menurut Wittgenstein propoisisi yang bemakna adalah proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. menurut Wittgenstein sesuatu yang termasuk konsep formal itu sebenarnya tidak dapat diungkapkan ke dalam sebuah proposisi. yang dalam kenyataannya visi dasar filosofisnya uupaya Wittgenstein dalam mengembangkan bahas ideal dalam konsep filsafatnya yang dalam kenyataannya bertolak dari dasar-dasar yang berbeda pada konsep filosofisnya pada periode pertama yang mendasarkan pada struktur logis bahasa. sebab sifat-sifat formal tidak dapat menghadirkan fungsinya secara jelas. Proposisi-proposisi logika itu bermakna akan tetapi tidak menggambarkan suatu realitas . ia hanya dapat diungkapkan dalam bentuk symbol yang bersifat pasti (Wittgenstein. melainkan hanya ditunjukkan oleh objek itu sendiri dalam bentuk symbol (misalnya ‘nama’. adapun pada konsep filosofisnya pada periode kedua Wittgenstein mendasarkan pada language game. angka dipergunakan untuk tanda bilangan. Selain itu terdapat proposisi-proposisi logika yaitu proposisi-proposisi yang mendasarkan pada prinsip-prinsip logis yang kebenarannya besifat tautologies-tautologis. Pengembangan lebihlanjut tentan word types tersebut dilakukan oleh Wittgenstein pada filsafatnya pada periode kedua yaitu pada teori language game. dan lain sebagainya).bahas ayang serupa dengan konsep nyata oleh karena itu tidakmemiliki struktur logis maka.

subjek yang menggunakan bahasa tidak termasuk dunia. Hal-hal yang melampaui batas-batas bahasa tersebut menurut Wittgenstein adalah subjek. namun demikian Wittgenstein menyatakan bahwa memang terdapat hal-hal yang memang tidak dapat dikatakan yaitu hal-hal yang bersifat mistis. kaerna kematian itu tidak meruapakan suatu kejadian yang dapat digolongkan diantara kejadian-kejadian lain. Menurut Wittgenstein filsafat bukanlah merupakan suatu ajaran melainkan merupakan suatu aktivitas. sebagiamana mata tidak dapat diarahkan pada dirinya sendiri.dunia karena tidak menggambarkan suatu kebenaran peristiwa dan kebenaran bersifat pasif. (3) Juga Allah tidak dapat dipandang sebagai Sesuatu didalam dunia. Allah dan bahasa sendiri. (1) Oleh karena bahasa merupakan gambaran dunia. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Berdasarkan pandangan filosofisnya maka teori gambar memiliki konsekuensi logis menolak porposisi-proposisi metafisis karena menurut Wittgenstein proposisi tersebut tidak bermakna. kematian. Menurut Wittgenstein metafisika melampuai batas-batas bahasa. Tugas menurut Wittgenstein adalah menjelaskan kepada seseorang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan. (2) Demikian juga kematian tidak mungkin juga berbicara tentang kematiannya sendiri. Wittegenstein bermaksud bahwa tidak pernah suatu kejadian dalam dunia dapat dipandang sebagai “campur tangan” Allah. Sebab kalau . Kematianmanusia seakan-akan memagari dunia manusia tetapi tidak termasuk didalamnya. Tentu saja penolakan atas proposisi tersebut menurut atas nama ‘logika bahasa’. Tidak dapat dikatakan pula bhawa Allah menyatakan dirinya dalam dunia. Demikian juga subjek yang menggunakan bahasa tidak mungkin diarahkan pada dirinya sendiri. Ketidakbermaknaan propoissi metafisik tersebut didasarkan atas teorinya bahwa proposisi tersebut tidak mengungkapkan apa-apa atau dengan lain perkataan bersifat ‘omong kosong’.

Melalui bahasa si pembaca dihantar ke suatu titik di mana ia mengerti bahwa bahasa yang dihantarkannya tidka bermakna. I. Friederich Wismann dan Herbert Feigl (Bertens. Akibatnya kita tidak dpat berbicara tentang Allah dengan cara yang bermakna. seorang ahli matematika. Bahasa menggambarkan dunia. Ia seakanakan memanjat melalui tanggal dnsetelah itu membuang tangga tersebut.demikian. Rudolf Carnap ahli matematika dan fisika. Hal ini sebenarnya sudah merupakan suatu keyakinan metafisika. 1981:166). ontology tentang hakikat dunia. Karl Menger ahli matematika. yang berarti mengakui bahwa terdapat unsure metafisika dari bahasa yaitu makna. Philip Frank seorang ahli fisika. Hans Hahn juga seorang ahli matematika.s elain itu pendapatnya tentang hakikat bahasa bahwa bahasa seaka-akan hanya merupakan suatu struktur fisis dan logis. 1981:46). dan dalam masalah ini ia lupa bahwa dalam berbagai hal ia menunjukkan bahasa yang bermakna.maka Allah bekerja sebagai sesuatu dalam dunia. Karena hanya sebagai alat belaka (Bertens. Oleh karena itu Wittgenstein berkesimpulan bahwa orang yang mengerti Tractatus akan mengakui bahwa ucapan-ucapan didalamnya tidak bermakna. akant etapi suatu gambar tidak memantulkan dirinya sendiri. serta beberapa mahasiswa antara lain. Positivisme Logis Pada tahun 1922 berkembanglah suatu gerakan filsafat baru yang dirintis oleh seorang fisikus sekaligus seorang filsuf bernama Moritz Schlik (1882-1936). Gerakan filsafat baru ini berpusat di Wina. yaitu suatu kota yang sekaligus sebagai pusat kelompok ilmuwan yang terkenal dengan nama Vienna Circle atau dikenal juga mazhab Wina (Kring Wina). (4) Yang paling paradoksal adalah pendapat Wittgenstein bahwa bahasa tidak dapat bicara tentang dirinya sendiri. Anggota-anggota lingkungan Wina ini antara lain: Kurt Goedel. Penolakan Wittgenstein pada metafisika sebenarnya merupakan suatu sikap yang tidak konsisten dengan visi dasar bahasa yang dilukiskannya sebagai gambaran dunia yang memiliki struktur logis. .

Hans Hahn dan Rudolf Carnap mengeluarkan suatu deklarasi ilmiah dalam suatu konggres International pertama dengan judul Wissenschaftliche Weltauffasung: der Wiener Kreis (pandangan dunia yang bersifat ilmiah: Lingkungan Wina). melainkan pada dirinya sendiri tak dapat ditolak. Melalui suatu karangan kecil yang disusun oleh Neurath. Pandanganini menguraikan tentang pendirian filosofis kelompok lingkungan Wina yang sangat diwarnai oleh ilmu-ilmu pengetahuan positif. Sebagaimana diungkapkan oleh Rudolf Carnap sebagai seorang tokoh positivism logis dalam suatu tulisannya yang berjudul “the Elemination of Metaphisics Through Logical Analysis” (Pengapusan metafisika melalui analisis logis) menyatakan: tidak bermakna .” Positivism logis menerima pandangan-pandangan filosofis dari atomisme logis tentang logika dan cara atau teknik analisisnya namun demikian positivism logis menolak metafisika atomisme logis. John Stuart Mill dan Ernest Mach (Bertens. Beberapa kali diusulkan nama empirisme logis dan oleh karena nama tesebut lazim digunakan oleh aliran filsafat yang berkembang di Amerika Serikat. Aliran ini sangat dipengaruhi oleh tradisi empirisme yang melanjutkan garis tegas pada leluhurnya yaitu David Hume. Oleh karena itu aliran tersebut disepakati dengan nama “neopositivisme” atau popular dikenal dengan nama “positivism logis. Ungkapanungkapan metafisis itu ditolak oleh kaum positivism logis bukan karena bersifat emotive. Positivism logis menggunakan teknik analisis untuk dua macam tujuah: Pertama: bertujuan untuk menghilangkanmetafisika. Berdasarkan nama yang dipopulerkannya aliran ini juga mendapat pengaruh positivism. 1981:169). namun karena berpura-pura sebgai ungkapan atau hal yang bersifat kognotif. Inggris dan Skandinavia.Aliran ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Ludwig Wittgenstein. walaupun pengaruhnya bersifat langsung dan sebenanrya Wittgenstein sendiri tidak ikut aktif dalam kelompok Wina tersebut. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan metafisis itu pada hakikatnya tidak menyatakan apa-apa sehingga bersifat ‘nirarti’ atau (Poerwowidagdo: 52).

Keputusan ini pertama-tama mengenai pada metafisika yang spekulatif. hanya dinyatakannya bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu tidak dapat dipahami. Positivism logis tidak melawan metafisika. Penolakan terhadap metafisika oleh positivism logis tidak boleh diartikan bahwa positivism logis itu menolak atau pernyataan-pernyataan Schlick sebagai berikut: “Pengingkaran tentang keberadaan dunia luar yang transenden itu akan sama saja dengan suatu pernyataan metafisis tentang pengakuan keberadaan dunia luar yang trasenden itu. atau oleh intuisi murni yang berpurapura dapat dilakukan tanpa pengalaman. Oleh karena itulah maka positivism sering disebut empirisme logis. 1959:107). tetapi menunjukkan bahwa baik pengingkaran maupun pengakuan keduaduanya adalah nirarti” (Schlik. melainkan bahwa tidaklah suatupengingkaran atasnya. 1959:60).“Didalam wilayah metafisika termasuk semua filsafat nilai dan teori norma analisis logis menghasilkan hal yang negative yaitu pernyataanpernyataan bidang ini (metafisika dll) semuanya adalah nirarti” Lebih lanjut mengemukakan sebagai berikut: Analisis logis dengan demikian member keputusan dan menyatakan nirarti pada setiap apa yang disebut pengetahuan yang berpura-pura melampaui batas-batas pengalaman. Dengan demikian seorang empiris yang konsisten tidak mengingkari dudnia transenden. Jadi kaum positivism logis atau empirisme logis itu tidak menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu salah.akan tetapi bahwa apa yang dikatakan kaum metafisika itu tidak menyatakan sesuatu sama sekali. 55). apa yang dimaksud dengan pengetahuan yang berasal dari pemikiran murni. metafisika itu nirarti mengingkari berarti keberadaan dunia luar atau dunia yang transenden.hal ini sebagaiman dikemukakan oleh Moritz . atau tidak menyatakan sesuatu sama sekali (Poerwowidagdo. (Ayer. Penekanan pada pengalaman menunjukkan aspek empirisme yang kuat dalam positivism logis.

. Demikian juga apakah hal itu memang demikian atautidak. Positivism logis terutama memperhatikan duamasalah : (1) analisis pengetahuan. positivism logis menggunakan teknik analisis demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. tetapi hanya apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu nyata. yaitu melalui pengalaman. Dengan demikian sebenarnya banyak problem yang semu saja yang menampakkan seolah-olah merupakan suatu problema yang amat penting pada hal penjelasan analitis menunjukkan suatu keputusan.jadi menurut positivism logis tugas filsfat itu memperhatikan analisis-analisis dan penjelasan tentag pernyataan-pernyataan dan proposisiproposisi terutama dari ilmu pengetahuan. Tugas filsafat adalah analisis logis terhada pengetahuan ilmiah. Menurut positivism logis filsafat tidak memiliki suatu wilayah ilmiah tersendiri yang terletak disamping wilayah-wilayahlain yang menjadi objek ilmu pengetahuan. Analisis Logis terhadap Bahasa Secara prinsip positivism logis menerima konsep-konsep atomisme logis dalam hal analisis logis melalui bahasa. demikian juga terhadap psikologi dan sosiologi.Kedua. kecuali hanyamenganalisis masalahmasalah dan disusul dengan menjelaskannya. dan (2) pendasaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Demikianpula terdapat problem-problem lain yang karena penjelasan yang sama dinyatakan termasuk kompetensi ilmu pengetahuan. walaupun mereka menolak visi dasarmetafisisnya. Filsafat tidak menyoroti problemproblem yang berbeda dari problem-problem ilmupengetahuan. Sebab dengan analisis filsafati kita tidak dapat menentukan apakah sesuatu itunyata (real). 1. Oleh karena itu tidak dapat diharapkan bahwa filsafat akan memecahkan problemproblem ilmu pengetahuan ilmiah. hal itu hanya dapat diputuskan melalui metode umumnya dalam kehidupan sehari-hari dan dari ilmu pengetahuan.

Dalam pengertian inilah maka positivism logis mengembangkan prinsip verifikasi. maka sudah dapat dipastikan bahwa analisis logis tentang pernyataan-pernyataan ilmiah maupun pernyataan filsafat sagnat ditentukan oleh metode ilmu pengetahuan positif dan empiris tersebut.Atas dasarpengetahuan tersebut maka kaum positivism logis menentukan sikap bahwa agar tidak terjadi kekacauan maka analisis terhadap bahasa yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dalam filsafat adalah langkah yang paling tepat. membuktikan secara empiris. Prinsip Verifikasi Positivism logis yang konsep-konsep dasarnya sangat diwarnai logika. 1966:108). suatu pernyataan “di planet Mars terdapat makhluk hidup sejenis manusia”. 58). Menurut mazhab yang berpusat di Wina ini bahwa suatu ungkapan atau proposisi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi. Misalnya. akan tetapi pernyataan ini memiliki kemungkinan verifikasinya. teori atau dalil hal itu dianggap memiliki makna bilamana secara prinsip dapat diverifikasi. Oleh karena itu arti suatupernyataan adalah sama dengan metode verifikasinya yang berdasarkan pada suatu pengalaman empiris (Beerlling. Namun prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh positivism logis tersebut yang dipegang teguh adalah suatu keharusan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu secara prinsip memiliki kemungkinan diverifikasi secara empiris. Hal ini berarti bukan mengharuskan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu telah dilakukan verifikasi. Misalnya pengamatan. Pernyataanini bermakna walaupun belum dilakukan suatu verifikasi. Memverifikasi berartimenguji. 2. pengujian dan pembuktian . Setiap ilmu pengetahuan dan filsafat senantiasa memiliki suatu pernyataan-pernyataan baik berupa aksioma. atau bahkan prinsip verifikasi itu juga tidak mengharuskan menghasilkan suatu pernyataan yang mesti benar (Poerwowidagdo. matematika serta ilmu pengetahuan alam yang bersifat positif dan empiris.

Demikianlah kiranya penolakan yang sangat radikal kaum positivime logis terhadap metafisika. Menurut Sclick bahwa salah satu cara penetahuan itu dimulai dengan pengamatan peristiwa secara empiris. Konsekuensinya setiap pernyataan atau proposisi yang secara prinsip tidak dapat diverifikasimaka pernyataan tersebut pada hakikatnya tidak bermakna. satelit dan lain sebagainya. Moritz Schlick misalnyamenafsirkan verifikasi itu dalam pengertian pengamatan empiris secara langsung. Jadi prinsip verifikasi juga tidak harus dijamin dengan kebenaran hasil dari verifikasi tersebut.-. Hanya proposisi atau pernyataan yang mengandung istilah yang diangkat secara langsung dari objek yang dapat diamati itulah yangmengandung makna (hal ini dinamakan dengan istilah kalimat protocol). Di dalam sebuah tas terdapat uang sejumlah seratus ribu rupiah. hal ini merupakan suatu pernyataan yang bermakna walaupun setelah dilakukan pembuktian.dilakukan dengan menggunakan telescope. Pada pernyataan-pernyataan ini tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. Jadi yang membenarkan ungkapan metafisis maupun yang menegasikan ungkapan yang sama pada hakikatnya kesemuanya itu omong kosong belaka sebab tidakada kemungkinan untuk melakukan verifikasi. 5. namun di antara para tokoh-tokohnyamemiliki perbedaan pandangan. Walaupun secara prinsip kaum positivism logismenerapkan prinsip verifikasi. Pernyataan “pemahaman akan analogi etnis adalah bertitik tolak dari yang ada yang bersifat transcendental” (Bagus. Demikian juga terdapat orang yang menyatakan “realitas itu tidak bersifat absolute”.000. verifikasinya ternyata hanya terdapat uang sejumlah Rp. konsekuensinya juga sama yaitu pernyataan yang tidak bermakna. “Realitas pada hakikatnya bersifat absolute” dan pernyataan-pernyataan metafisis lainnya menurut positivisme logis merupakan suatu pernyataan yang tidak bermakna. 1991:66). Pernyataan-pernyataan tersebut tidakmemiliki kemungkinan untuk dilakukan pembuktian secara empiris. Peristiwa semacam itu terlihat dalam kalimat protocol dan inilah yang menjadi permulaan ilmu .

Penafsiran yang dikemukakan oleh Ayer terhadap prinsip verifikasi tersebut berhasil mengatasi kelemahan yang terdapat dalam pandangan tokoh posivitisme logis sebelumnya. Adapun verifikasi dalam arti yang lunak. Konstatasi Sclick ini menimbulkan kontroversi yaitu prinsip yang meletakkan verifikasi hanya pada suatu peristiwa yang dapat dialami secara langsung. yang mengaitkan prinsip verifikasi itu dengan kalimat protocol. yang hanya mendasarkan prinsip verifikasi hanya secara empiris saja. yaitu kalimat atau pernyataan yang diperiksa benar atau salahnya melalui pengamatan empiris secara langsung. . melainkan juga kalimat yang dapat dianalisis lebih lanjut Ayer menegaskan bahwa suatu cara yang sederhana untuk merumuskan hal itu dalah dengan mengatakan bahwa suatu kalimat menandung makna. jikalau pernyataan atau proposisi itu dapat diverifikasi atau dapat dianalisis secara empiris. Prinsip verifikasi ini memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Hal ini jelas terdapat pada pandangan Sclick.(Beerling. Melalui prinsip verifikasi ini tidak hanya kalimat yang teruji dan terbuktikan secara empiric saja yang bermakna. Verifikasi yang bersifat ketat (strong verifiable) yaitu sejauh kebenaran suatu pernyataan atau proposisi itu didukung pengalaman secara meyakinkan. Menurut Ayer prinsip verifikasi itu merupakan pengandaian untukmelengkapi suatu criteria sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat itu mengandung makna atau tidak (Ayer. 1952:5). Menurut Ayer prinsip verifikasi sebagaimana yang diajukan oleh Sclick itu merupakan verifikasi dalam arti yang ketat dan disamping itu terdapat verifikasi yang bersifat longgar atau lunak. Ia menyadari kelemahan yang terdapat dalam prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh Sclick. Komentar atas prinsip verifikasi tersebut antara lain dari seorang tokoh posivitisme logis Ayer. 1952:37). yaitu jikalah sejauh proposisi itu mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan (Ayer. 1966:107).

melainkan berdasarkan pada pengetahuan a priori (pengetahuan yang diperoleh melalui refleksi logis tanpa melalui pengalaman empiris). yaitu proposisi yang kebenarannya tidak memerlukan verifikasi secara empiris. (2) Proposisi analitis tidak berdasarkan pada pengalaman. pernyataan-pernyataan atauproposisi-proposisi dalam ilmu penetahuan dan filsafat. Dalam pembahasannya tentang proposisi Ayer memberikan beberapa cirri yang diuraikan sebagai berikut: (1) Proposisi analitis memiliki cirri benar berdasarkan pembatasan sematamata berdasarkan makna yang terkandung dalam susunan simbolnya. (2) Proposisi formal (proposisi analisis). Menurut Ayer proposisi empiris manakala mengandung suatu kemungkinan untukdisahkan atau ditolak dalam pengertian pengalaman yang sebenarnya. . yaitu proposisi factual yang harus dapat diverifikasi secara empiris. Sehingga tidak memerlukan verifikasi empiris. oleh karena itu filsafat harus melakukan analisis dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Konsekuensinya ungkapan yang dikemukakan dalam ilmu penetahuand an filsafat merupakan proposisi-proposisi maka penentuan macam dan jenis proposisi tersebut menjadi sangat penting. Konsep Proposisi Doktrin yang telah dipegang teguh oleh kalangan positivism logis adalah bahwa tugas filsafat adalah untuk menentukan danmembuat jelas. Terdapat dua macam proposisi menurut positivism logis yang pengertiannya sebagai berikut : (1) Proposisi empiris. Proposisi formal ini meliputi proposisi logika dan matematika yang memiliki kebenaran secara pasti (kebenarannya bersifat tautologies) sehingga tidak memerlukan verifikasi pengalaman empiris.3.

jadi maknanya terletak pada bahasa atau ungkapan-ungkapan verbal. Misalnya semua manusia pasti mati”. Pernyataan semacam ini merupakan tautologies. Proposisi analisis yang semata-mata benar berdasarkan simbolnya adalah dalam matematika. Dan hal itu berarti tidakada pengalaan yang akan membuktikan atas ketidakbenarannya (Ayer. 1952:85). Proposisi yang didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti artinya.(3) Proposisi analitis mengandung kepastian dan keniscayaan. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern dewasa ini konsep proposisi menurut positivism logis ini menjadi kata kunci untuk mendapatkan suatu kebenaran ilmiah yang objektif. berarti penjelasan yang sama merupakan pegangan bagi setiap kebenaran a priori lainnya. yaitu memiliki sifat kebenaran tautologies. Pengtahuan yang kita peroleh berdasarkan suatu refleksi logis ( apirori) mengenai pengertian bahwa “seorang spesialis dokter mata adlaah seorang dokter mata”. proposisi tersebut tidak memiliki kandungan istilah yang factual. Persoalannya adlaah ilmu pengetahuan itu beraneka ragam corak dan sifatnya baik berdasarkan objek formal maupun objek materialnya. (4) Proposisi analitis mengandung makna sejauh proposisi yang bersangkutan didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti. Proposisi analisis mengandung kepastian dan keniscayaan yang bersifat tautologies. (Charlesworth. yaitu suatu pernyataan yang mesti berdasarkan hukum-hukum logika. dalam Mustansyir 1987:73). hal itu tergantung pada fakta bahwa symbol “dokter mata” itu secara logis sama artinya dengan “spesialis mata”. berarti terdapat suatu hubungan yang memang sudah semestinya. misalnya “9 + 8=17” adalah proposisi matematika yang kebenarannya berdasarkan symbol yaitu “9+8” adalah sama dengan “17” Kebenaran proposisi analisis yang didasarkan pada pengetahuan a priori. Oleh karena itu . karena “mati” itu merupakan sifat yang sudah semestinya ada pada manusia.

Logika baru dan hubungannya dengan matematika memainkan peranan penting bagi Ludwig Wittgenstein. Logika dan Matematika Sejak pertengahan abad ke-19 logika mengalami suatu pembaruan radikal. Whitehead yang sangat penting (Principia mathematica. sebab dengan itu mereka sanggup mengerti lebih baik kedudukan khusus logika dan matematika dalam cakrawala ilmu pengetahuan. Mereka mengalami jalan buntu dalam mengkonstruksikan matematika secara regorus atas dasar logika tradisional. Karena itu terpaksa mereka mengembangkan suatu teori logis yang baru. yakni subjel-kopula-predikat. Percobaan itu mendapat sambutan hangat pada waktuitu.dan (2) bertambahnya wilayah-wilayah pembahasan yangsama sekali baru pembaharuan logika ini dirintis oleh ahli-ali matematika. Suatu usaha untuk mengkonstruksikan matematika dengan memakai logika baru ialah karya B. Hal ini berdasarkan tijauan analitis. yang menyoroti relasirelasi lain. tetapi harus bersifat lain. tiga jilid. Relasi-relasi dalam matematika tidak dapat ditangani dengan menggunakan skema logika tradisional . Dalam abad ke-19 John Stuart Mill dan Herbert Spencer melontarkan percobaan untuk medasarkan logika dan matematika atas pengalaman. Dengan itu mereka mau meneruskan prinsip empiris seradikal mungkin. 1910-1913). Tetapi bagi para pengikut Ludwig Wittgenstein pendirian itu tidak memuaskan. bahwa hubungan antara ungkapan bahasa dalam suatu proposisi harus memiliki hubungan yang jelas dengan fakta empiris. 4. atau memang secara apriori memiliki struktur kebenaran. Logika dan matematika tidak dapat diubah oleh . Karena dapat mengerti bahwa tidak mungkin logika dan matematika mempunyai dasar empiris.akan timbul suatupersoalan yang semakin rumit bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang memiliki sifat kualitatif. Perbedaan antara logika modern dan logika klasik ialah (1) penggunaan symbol-simbol menurut analogi dengan matematika. Russel dan A.

Konsepsi Lingkungan Wina tentang Filsafat Pada akhir uraian neoposivisme Lingkungan Wina ini kita memandang sebentar konsepsi mereka tentag filsafat. Ucapan-ucapan logika serta matematika bersifat analitis belaka dan bukan sintetis. Hal yang baru yang dilihat oleh Ludwig Wittgenstein ialah hubungannya dengan empirisme. Pertanyaan-pertanyaan dan ucapan-ucapan yang menyangkut objek-objek sedemikian tak lain adalah pertanyaan-pertanyaan semu dan ucapan-ucapan semu saja. 5. Sebagaimana diketahui bahwa matematika dan logika bersifat apriori.pengalaman-pengalaman baru. Dan suatu realitas non empiris atau transenden tidak mungkin menjadi objek pengetahuan. Atau dengan suatu istilah yang berasal dari Wittgenstein ucapan-ucapan sedemikian itu merupakan tautology-tautologi. Mereka melihat jalan keluar dari dilemma itu tidak dapat diasalkan kepada pengalaman. tentu tidak merupakan pendirian baru (rasionalisme misalnya sudah lama menekankan hal itu). Prinsip-prinsipnya bersifat apriori (tak tergantung pada pengalaman). Dua ilmu ini hanya mengandung relasi-relasi pikiran. . Tetapi semua ucapan tentang realitas empiris bersifat sintetis. berarti dlakukan pada pengetahuan tentang fakta-fakta saja dan tidak berlaku untuk setiap macam pengetahuan (Bertens. Logika matematika tidak mengatakan apapun juga tentang realitas empiris. atau menyalahtafsirkan logika dan matematika (karena orang mau mengasalkannya kepada pengalaman). 1981:170). Menurut pendapat mereka filsafat tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. Semua anggota lingkungan Wina sepakat dalam mencita-citakan suatu filsafat yang bersifat ilmiah (bandingkan misalnya dngan Karl Jaspers). Realitas empiris menurut segala aspeknya dipelajari oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus. Objekobjek metafisika yang tradisional seperti ada yang absolute (tetapi nilainilai yang absolute dan norma-norma) tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita.

Seluruh wilayah empiris termasuk wewenang ilmu pengetahuan positif.Metafiska tidak mungkin mencapai status filsafat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pendekatan formalistis belaka tidakdapat dilaksanakan. filsafat sejarah dan sebagainya. psikologi. filsafat manusia. Sepanjang filsafat dapat kita lihat bahwa filsafat telah menyibukkan diri dengan tiga hal (1) pertama-tama terdapat masalah-masalah yangmenyangkut fakta-fakta empiris. Dalam bukunya Sintaksis logis dari bahasa ia mengatakan bahawa filsafat harus menyelidiki sintaksis logis dari ucapan-ucapan ilmiah. filsafat kehidupan organis. Tetapi dengan masalah-masalah semacam itu sekarang ini filsafat tidak mempunyai urusan lagi. Di kemudian hari Carnap menyadari bahwa analisis logis tidak dapat dilepaskan dari masalah bermakna tidaknya bahasa yang diselidiki. artinya struktur logis ucapanucapan tersebut. kecuali menjelaskan kata-kata serta ucapan-ucapan dan dengan demikian menyingkirkan ucapan-ucapan yang tidak bermakna. Sebagai kesimpulan dapat kita katakana bahwa Ludwig Wittgenstein mempunyai suatu konsepsi jelas tentang cara membatasi tugas filsafat terhadap usaha-usaha intelektual yang lain. Pada Carnap dapat kita saksikan suatu perkembangan daam pendapatnya tentang tugas-tugas filsafat. Itu berarti bahwa filsafat tidak boleh melewati masalah teori pengetahuan. ilmu sejarah dan lain-lain. Filsafat tidak boleh dimengerti sebagai filsafat alam. Schlock dalam jilid pertama majalah Erkenntnis pernah mengatakan bahwa filsafat tidak mempunyai tugas lagi. juga dalam menyelidiki pendasaran ilmu pengetahuan. biologi. sedangkan filsafat meneropong makna ucapan-ucapan. Tetapi mereka tidak selalu sepakat dalam menentukan tugas-tugas filsafat secara kongkrit. (2) berikutnya . tetapi sebagai analsisi logis tentang ilmu pengetahuanalam. Ilmu pengetahuan memverifikasi ucapan-ucapan. Menurut Carna sintaksis logis itu harus disusun secara formal antara relasi-relasi. Sampai di situ semua anggota lingkunga Wina setuju.

Urutan tingkatan-tingkatan sesuai dengan urutan dalam sttuktur pengenalan. melainkan hanya satu ilmu pengetahuan yang membahas objek-objek yang termasuk pelbagai tarag pengetahuan. Karena itu maslah-masalah metafisis tidak mempunyai makna. lingkup geraknya dibersihkan dari persoalanpersoalan sesat. Bahasa Universal bagi Seluruh Ilmu Pengetahuan Suatu usaha yang senantiasa mendapat perhatian para anggota Lingkungan Wina ialah percobaan untuk memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan semua ilmu pengetahuan dapat ‘diterjemahkan’ ke dalam bahasa universal yang sama. Konstruksi logis dunia karya Carnap. Untuk itu Carnap menyusun suatu hierarki tingkatan-tingkatan. Masalah-masalah ini tidak dapat dirumuskan dalam bahasa ilmiah. Kalau cita-cita ini sampai diwujudkan. Dahulu masalahmasalah ini ramai dibicarakan dalam filsafat. 6. Dalam buni ini Carnap coba membuktikan bahwa setiap objek-objek pengetahuan dapat dasalkan kepada pengalaman-pengalaman elementer subjek. Atas fondamen ini dapat disusun berturut-turut .terdapat masalah-masalah yang menyangkut pengekspresian pengetahuan kita atau dengan kata lainmelalui ungkapan bahasa. merupakan suatu percobaan terkenal untuk melaksanakan proyek tadi. tetapi neopositivisme berpendapat bahwa dalam metafisika dipersoalkan pertanyaanpertanyaan yang tidak bisa dijawab. mak asudah terbuktilah bahwa tidak ada banyak ilmu pengetahuan. Dalam pengertian inilah menurut positivism logis justru merupakan letak tugas filsafat dewasa ini. Sesuatu yang merupakan dasar seluruh konstruksi ini ialah tingkatanyang disebut “auto-psikologis” (misalnya pengalaman saya tentang ‘merah’). Tetapi dengan itu filsafat tidak mengalami kerugian. Setiap tingkatan bahasa sesuai dengan suatu tingkatan objek-objek. Sebaliknya. Masalah-masalah ini ditangani dengan menjelaskan konsep-konsep dan ungkapan-ungkapan yang kita pakai. (3) akhirnya masih terdapat masalah-masalah metafisis.

psikologis. Ada kesulitan-kesulitan lain lagi yang mengakibatkan bahwa akhirnya Carnap sendiri tidak puas lagi dengan usaha yang dilontarkan dlam bukunya “konstruksi Logis Dunia” (Bertens. Objek-objek dari masing-masing tingkatan dapa diasalkan objek-objek dari tingkatan lebih rendah. kalau tingkatan sosiokultur dapat diasalkan kepada tingkatan ilmu-ilmu pengetahuana alam. fondamen itu tidak boleh dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang menyangkut suasana “keakuan” (sebagaimana halnya pada Carnap dalam KOnstruksi Logis dunia). Dengan dispositional terms dimaksudkan suatu istilah yang mengungkapkan suatu cirri yang harus disifatkan kepada suatu objek bukan berdasarkan fakta-fakta actual. Salah atu kesulitan terkenal ialah masalah dispositioal terms. Tetapi ada banyak kesulitan yang mengancam keberhasilan proyek ambisium Carnap ini.tingkatan fisis. dan pada umumnya semua istilah dalam bahasa Inggris yang berakhir dengan –ble. biologis. social dan cultural. melainkan karena objek yang bersangkutan mempunyai semacam “kemampuan” (idisposition) untuk menimbulkan fakta tertentu. Maka dari itu bahasa yang dikonstruksikan Carnap mempunyai basis dan susunan sedemikian rupa sehingga setiap ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang khusus dapat “diterjemahkan” melalui tahap-tahap tertentu ke dalam ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang lain. tetapi hanya satu ilmu pengetahuan yang diungkapkan dengan suatu bahasa universal. Dengan demikian. Menurut dia. 1981:173). Karena itu bahasa inilah menjadi bahasa universal bagi semua ilmu pengetahuan dan tidak ada lagi banyak ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Misalnya soluble (dapat dilarutkan fakta). Tetapi harus terdiri dari ucapan-ucapan yang . Neurath tidak setuju jika suatu lapisan auto-psikologis diambil sebagai fenomena kesatuan ilmu pengetahuan. Carnap memecahkan masalah dispositional terms itu dengan cara mengubah beberapa pendirian dalam bukunya. maka orang dapat merumuskan semua ucapan ilmu pengetahuan dalam bahasa dasariah yang mengungkapkan pengalaman-pengalaman elementer kita. visible (dapat dilihat).

Kalau orang menganut pendirian itu. ke dalam ucapan0ucapan tentang keadaan dan kejadian-kejadian badani. Maksudnya ialah kalimatkalimat yang berupa laporan sehingga dapat dikontrol oleh semua orang. khususnya dalam system saraf pusat. 1931). Semua ilmu pengetahuan sama-sama bersifat ‘fisis’ dan justru itulah memungkinkan kesatuannya. sebab hanya ucapan-ucapan macam in bersifat inersubjektif dan dapat dicek oleh umum. ucapan-ucapan psikologis harus dpat ‘diterjemahkan. Istilah ini diciptakan oleh Carnap dalam suatu artikel pada tahun 1931. Ketika ia sudah meninggalkan pendapatnya dalam konstruksi logis dunia (Die Physikalische Sprache als Universalsprache der Wissenschaft”.30 sebuah meja diamati oleh John”. maka salah satu problem besar yang dihadapi ialah memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan tentang ‘yang fisis’. : “pada pukul 15.bersifat umum dan terbuka secara intersubjektif. setelah dia meninggalkan pandangannya dari Konstruksi logis dunia. tetapi dalam beberapa hal ia tetap mempunyai pendapat lain. Erkenntnis. . Dengan perkataan lain. Ucapan-ucapan tentang ‘yang psikis’ yang tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. Bagi Neurath bahasa fisika merupakan bahasa yang paling fundamental dan semua bahasa ilmiah harus dapat diterjemahkan ke dalam bahasa fisika itu. Ucapan-ucapan psikologi yang sungguh-sungguh ilmiah hanya berbicara kejadian-kejadian dalam badan. Dalam hal ini Neurath dan Carnap berkembang kea rah suatu pendapat yang sangat ekstrem. Fisikalisme bermaksud menyangkal setiap perbedaan principal antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan cultural. Dalam hal ini memainkan peranan besar apa yang dinamai Neurath sebagai ‘kalimat-kalimat protokol’ (protocol sentences). Kalimat-kalimat protocol semacam itu merupakan ucapanucapan paling elementer dalam ilmu pengetahuan yang disatukan. Karena semua ilmu pengetahuan cultural (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari imu pengetahuan alam. Pendirian Neurath tentang kesatuan ilmu pengetahuan ini membawa dia keapda apa yang disebut ‘fisikalisme’ (pshysicalism).seperti misalnya. Percobaan Neurath ini pada umumnya mendapat dukungan Carnap juga.

Jadi satu-satunya psikologi ilmiah yang mungkin adalah suatu behaviorisme radikal. yaitu fisikalisme dicap sebagai metafisika. Fisikalisme tidak mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman psikis merupakan suatu fakta empiris. Dikatakannya bahwa pengalaman-pengalaman macam itu tidak mempunyai nilai ilmiah. Itulah sebabnya ucapan-ucapan semacam itu tidak diberi tempat dalam wilayah ilmu pengetahuan. budaya. Latar belakang ilmu yang dikuasainya yang di samping imu pasti dan logika. Itulah metafisika belaka. 202:187. sebab bagi neopositivisme semuanya yang tidak dapat ditangani ilmu pengetahuan menurut tanggapan merek mengenai ilmu pengetahuan. ia diangkat menjadi professor di Universitas Oxford. 1981:174). ia juga menguasai ilmu bahasa dan fisiologi. nampaknya memiliki corak tersendiri dalam menciptakan klarifikasi dan ketelitian dalam bidang filsafat. berarti sebagai usaha yang tidak mempunyai makna teoritis dan tidak mengungkapkan sesuatu apapun (Bertens. Positivism Ayer tidak lain juga meneruskan garis lurus tradisi . Truth and Logic” merupakan karya yang sangat terkenal dan memiliki pandangan yang sangat radikal. Pemikiran filsafat Ayer yang mengintrodusir positivism logis dari lingkungan Wina dan sekaligus disintesiskan dengan metode yang dikembangkan oleh Moore dan Russell. sehingga tidak mengherankan karya yang diterbitkannya yang berjudul “Language. Sekembalinya dari Wina. J. karena secara principal tidak terbuka lagi bagi pemeriksaan intersubjektif dank arena tu tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. 136). Positivisme Logis Alfred Jules Ayer Walaupun positivism logis berpusat di Wina Austria namun Ayer sebagai seorang filsuf Oxford Inggris mengembangkan konsep filosofis positivism logis secara lebih radikal. social dan ilmu pengetahuan lainnya yang sampai saat ini masih terasa terutama di Indonesia sendiri (Kaelan.pada dasarnya tidak terbuka untuk pemeriksaan intersubjektif. Demikianlah pengaruh positivism logis terhadap ilmu pengetahuan lain terutama ilmu pengetahuan psikologis.

empirisme. if not a tautology. under certain conditions. 1952: 48). then. but it not literary significant (Ayer. on the other had the putative proposition is of such a character that assumption of its truth or falsehood. Sebaliknya kalau apa yang dianggap sebagai proposisi bersifat demikian rupa sehingga menerima kebenaran atau tidak benarannya . if analysis only if. “kami mengatakan bahwa suatu kalimat pada kenyataannya bermakna bagi seorang tertentu. Usaha mereka yang utama adalah untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. If. Dalam kesempatan inilah Ayer mengambil alih program ambisius dari kelompok postiivisme logis Wina ini dan dalam bukunya ia merumuskan prinsip sebagai berikut : “We say that a sentence is factually significant to any given person. Mereka tidak menghiraukan benar atau tidaknya suatu ungkapan melainkan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan sehingga gilirannya mereka ingin mewujudkan “bagaimana dapat ditentukan suatu norma yang jelas yang dapat membedakan ungkapan-ungkapan yang bermakna dari ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna”. kalau dan hanya kalau ia tahu observasiobservasi mana yang membuat dia denga syarat-syarat terteentu. The sentence expressing it may be emotionally significant to him. a mereka pseudo proposition. Sebagaimana diketahui bahwa kelompok lingkungan Wina di satu pihak menaruh antusiasmebesar untuk ilmu pengetahuan dan matematika dan di pihak lain mengambil sikap negative terhadap metafisika. or reject it as being false. menerima suatu proposisi sebagai benar atau menolaknya sebagai salah. Inggris terutama Hume dan menekankan pada analisis logis versi Bertranad Russell.as far as he is concerned it is. to accept the proposition as being true. he knows that observations would lead him. Untuk itulah kemudian mereka menentukan prinsip ilmiah yang dikenal dengan prinsip verifikasi. is consistent with any assumption what so ever concerning the nature of his future experience.

yaitu jikalau suatu proposisi itu mengandung suatu kemungkinan bagi pengalaman atau pengalaman yang memungkinkan (Ayer. sebab ketidakbenarannya dapat ditetapkan. akan tetapi pasti tidak ada makna harafiah”. . Akan tetapi kalau suatu ungkapan “hari ini cuaca lebih bagus daripada di luar”. 1952:37). (2) verikasi dalam arti yang lunak. ungkapan tersebut salah akan tetapi ungkapan tersbut bermakna. maka bagi orangyang bersangkutan.a tau sekurang-kurangnya memiliki hubungan dengan observasi. Menurut Ayer suatu ungkapan itu bermakna bilamana suatu ungkapan itu merupakan observation statement artinya merupakan suatu pernyataan yang menyangkut realitas inderawi. 1981:35).dapat dicocokkan dengan pengandaian apapun juga mengenai pengalamannya di kemudian hari. Ayer menekankan dua macam pengertian verifikasi yaitu (1) verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable). Dengan lain perkataan dikatakan bermakna bilamana dilakukan berdasarkan observasi atau verifikasi. Barangkali kalimat yang mengungkapkan proposisi itu mempunyai makna emosional bagi dia. apa yang disebut proposisi itu tidak lain (kecuali kalau merupakan suatu tautologies) daripada proposisi semu saja. Ungkapan seperti itu tidak bermakna karena tidak mungkin ditentukan benar atau salahnya dan tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. Agar supaya ungkapan itu bermakna maka perlu kita dapat menunjukkan kepada suatu hal empiris atau dengan lainperkataan memerlukan suatu fakta atau data empiris (Bertens. Berdasarkan pernyataan Ayer tersebut dapat dijelaskan bahwa pada hakikatnya prinsip verifikasi bermaksud untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dan bukannya untuk menentukan suatu criteria kebenarannya. Suatu ungkapan yang bermakna dapat benar dan juga dimungkinkan dapat juga salah. Berbeda dengan tokoh-tokoh positivism lingkungan Wina. yaitu sejauh kebenaran suatu proposisi itu didukung oleh suatu pengalaman secara meyakinkan. Seseorangyang menyatakan bahwa “Surabaya adalah Ibu Kota Negara Republik Indonesia”.

Dalam pengertian inilah maka terdapat tempat bagi prinsip verifikasi atas kebenaran fakta-fakta sejarah. tidak harus ungkapan itu diverifikasi secara factual. Ungkapan-ungkapan matematika dan logika itu tidak mengungkapkan realitas inderawi sehingga tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman. Tentu saja Ayer harus mengakui adanya batas-batas yang berlaku untuk prinsip verifikasi. sudut yang bertolak belakang sama besarnya. Demikian juga suatu ungkapan bahasa itu disebut bermakna. Misalnya suatu ungkapan bahwa “di planet mars terdapat makhluk hidup sejenismanusia”. Dalam masalah ini Ayer menerima kebenaran atas kesaksian tersebut sebab kalau demikian maka semua ungkapan bahasa pad amasa lampau akan menjadi tidak bermakna. Demikian juga untuk mendapatkan suatu . Misalnya untuk mengetahui bahwa dalam segelas air itu mengandung larutan gula maka cukup dengan hanya melakukan verifikasi untuk setetes air saja. namun jikalah ungkapan bahas aitu secara principal memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Tidak perlu suatu ungkapan baahasa itu diverikasi secara langsung. hal itu dapat diterima sebagai suatu ungkapan yang bermakna karena misalnya berdasarkan kesaksian seorang tokoh pendiri Negara RI. Misalnya ungkapan “Undang-undang Dasar 1945 disyahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945”. bujur sangkar memiliki empat sisi yang sama dan lains ebagainya. Verifikasi juga tidak harus dilakukan secara lengkap melainkan sebagian saja dan hal ini sangat dilakukan dalam verifikasi dalam bidang ilmu-ilmu alam dan fisika. adalah benar tanpa melalui verifikasi empiris. Maka untuk menentukan benar tidaknya suatu ungkapan matematika dan logika maka kita tidak dapat meninggalkan bahasa karena kebenarannya. misalnya dapat pula melalui suatu kesaksian seseorang yang dpat dipercaya.Selain ungkapan-ungkapan yang berdasarkan data empiris terdpat pula satu ungkapan atau proposisi yang bermakna yaitu proposisi matematika dan logika. sehingga kebenarannya bersifat pasti atau bersifat tautology. Misalnya 44:11 = 4. hal itu bermakna walupun secar factual belum pernah dilakukan suatu verifikasi namun memiliki suatu kepastian bahwa ungkapantersebut secara prinsip memiliki kemungkinan untuk diverifikasi.

estetika. ontology. baik yang bernada memberikan dukungannya maupun para teolog yang memberikan reaksi menentangnya. Diskusi mulai marak terutama berkaitan dengan prinsip-prinsip verifikasi yang dalam kenyataannya untuk diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan masih memerlukan pemikiran yang cermat serta rincian yang bersifat rigorous. K. Filsafat Bahasa Biasa (The Ordinary Language Philosophy) Berkembangnya konsep pemikiran filsafat analitik sebagai reaksi ketidakpuasan dunia pemikiran filsafat pada saat itu yang didominasi oleh tradisi idealism terutama kalangan teolog. Para tokoh filsafat analitika bahasa menyadari bahwa dalam kenyataannya banyak problem-problem filsafat dapat diselesaikan . “a statement wich is not relevant to experience…Has no factual content”. Secara hati-hati Ayer menentukan berbagai macam prinsip verifikasi yang nampaknya lebih rinci dibandingkan dengan para pengembangnya di lingkungan Wina. yang sangat mengagungkan pentingnya metafisika. Reaksi Ayer justru lebih radikal dibandingkan dnganpara tokoh lainnya. filsafat manusia pad ahakikatnya adalah omong kosong atau nirarti. Pada perkembangan berikutnya filsafat positivism Ayer ini cukup mendapatkan respon yang sangat hangat di kalangan filsuf. Keyakinan atas prinsip verifikasi ini memiliki konsekuensi bahwa ungkapan-ungkapan metafisis adalah tidak bermakna. aksiologi. “lukisan itu memiliki nilai yang tinggi”. “nilai itu adalah bersifat objektif” dan ungkapan metafisis yang lainnya pada hakikatnya tidakmengungkapkan suatu realitas empiris sama sekali sehingga ungkapan itu sma sekali tidak bermakna. etika . Ungkapan bahasa seperti “Tuhan adalah pencipta segala sesuatutermasuk alam semesta”. Menruut Ayer semua ungkapan bahasa teologi. maka tidak perlu melakukan eksperimen untuk seluruh logam.hukum umum bahwa “semua logam kalau dipanasi memuat”. Walaupun reaksi terhadap metafisika telahdilakukan oleh Russel dan Moore namun karena konsepnya yang sangat radikal maka filsafat Ayer dikenal juga sebagai suatu radikalisme Bertrand Russel (Bertens. 1981:36). setiap manusia harus berbuat baik terhadap sesamanya”.

oleh karena itu ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya adalah nirarti atau sama sekali tidak bermakna. Ungkapan-ungkapanmetafisika itu sebenarnya tidak mengungkapkan realitas empiric. Mereka dengan keyakinan yang kuat menyatakan bahwa berdasarkan logika bahasa ungkapan-ungkapan metafisika dari kalangan penganut idealism terutama bidang teologi. etika. Untuk itu mereka memiliki proyek yang spektakuler dan sangat ambisius yaitu ingin mewujudkan suatu bahasa yang ideal. Reaksi yang sangat radikal dari kalangan atomisme logis dan prinsip verifikasi positivism logis tersebutmemang sempat menggemparkan dunia pemikiran filsfat di Eropa terutama di Inggris. aksiologi. dan tidak melukiskan suatu kebenaran peristiwa secara empiris. Oleh karena itu bahasa merupakan pusat perhatian kalangan filsuf analitika. yaitu bahasa yang memiliki struktur logika yang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia. sehingga melalui kategori-kategori logika mereka menentukan bahasa yang bermakna atau bahasa yang tidak bermakna. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam filsafat atomisme logis sendiri terkandung suatuprinsip metafisika. Namun dengan dasar-dasar yang kuat para tokoh filsfat analitik yang mendasarkan aspek semantic bahasa melalui struktur logika. bahkan Ludwig Wittgenstein sendiri mendapat gelar doktornya karena karyanya Tractatus Logico Philophicus. Dalam masalah ini Wittgenstein dlam karyanya Tractatus Logico Philosophicus merupakan karya yang besar yang menekankan tentang logika bahasa. Hal ini sebagaimana diakui sendirioleh Russel yaitu bahwa teori atomisme logis ingin menjelaskan . Begitu juga gurunya Bertrand Russell yang dengan tegas menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan bahasa metafisika pada hakikatnya adalah omong kosong belaka. estetika dan terutama ontology pada hakikatnya tidak bermakna. ungkapan-ungkapan metafisika mendapat perhatian yang serius bahkan pada aliran atomisme logis dan positivism logis ingin membersihkan filsafat dari metafisika.melalui analisis bahasa. Para tokoh filsafat analitika bahasa memusatkan perhatian pada aspek semantic bahasa. karena sama sekali tidak melukiskan suatu realitas dunia. mereka lupa ahwa aspek semantic sendiri memiliki sifat metafisis tidka dapat mati dengan indra manusia.

Formulasi logika bahasa menemui berbagai macam keterbatasan dan kesulitan. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahasa diformulasi logika. atau dengan kata lain perkataan teori ini ingin mengungkapkan bahawa bagaimana akhirnya dunia diasalkan kepada fakta-fakta atomis. sehingga ia sendiri menyatakan bahwa setiap orangyang membaca tractatus akhirnya akan sampai pada suatu titik di mana ia akan mengerti bahwa ungkapan-ungkapan bahasa dalam tractatus sebenarnya tidak bermakna. Hal yang demikian ini jelas merupakan suatu pendapat yang bersifat metafisis. Begitu juga pemikiran Wittgenstein melalui Tractatus yang mendasarkan pada aspek semantic bahasa dengan menekankan struktur logika dalam kenyataannyajuga terkandung di dalamnya dasar-dasar metafisika. 1981:47). Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahawa bahasa diformulasikan melalui logika sebenarnya sangat tidak mungkin untuk dikembangkan dalam filsafat. Karya Wittgenstein periode II ini memiliki corak yang berlainan bahkan bertolak belakang dengan Tractatus mendasarkan pada semantic dan memiliki formulasi logika. dalam sejarah filsafat analitika bahasa. melainkan berasal dari suatu analisis melalui bahasa. Dengan demikian Nampak jelas bagi kita bahawa metafisika ynag terkandung dalam teori Russell itu merupakan suatu pluralism radikal.suatu struktur hakiki bahasa yang sepadan dengan dunia. bahkan dalam berbagai kehidupan . Bahkan sebagaimana kita ketahui bahwa pemikiran Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pada data-data empiris. Hal itu dikatakan oleh Wittgenstein dianalogikan seperti orang yang memanjat melalui tangga dan setelah sampai pada tujuannya maka tangga tersebut dibuangkan (Bertens. Pemikiran Filsafat Wittgenstein Periode II Philosophiecal Investigations Konsep pemikiran filsafat Wittgenstein periode II tertuang dalam suatu karyanya yang berjudul Philosophical Investigations.

Dalam Philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda di dalam penggunaan bahasa (Poerwowidagdo:65).manusia terdapat berbagai macam konteks yang tidakmungkin hanya diungkapkan melalui formulasi logika bahasa. Dengan demikian Wittgenstein sebagai seorang filsuf secara jujur mengakui kelemahan dan kesalahan pada karyanya yang pertama. Berkaitan dengan masalah ini Wittgenstein berkata: “Adalah sangat menarik untuk membandingkan kemajemukan dari alat-aat dalam bahasa dan berbagai cara yang digunakannya. Dengan demikian sebuah proposisi itu adalah sebuahfungsi kebenaran (truth function) dari proposisi elementer. kemajemukan jenis-jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan oleh ahli logika . pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam Tractatus Wittgenstein menganggap bahwa bahasa sebagai suatu kumpulan besar yang tak terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau yang atomis. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran. pertanyaanpertanyaan. yang menyatakan bahwa:”empat tahun yang lalu ia berkesempatan membaca kembali karyanya yang pertama dan dijelaskannya bahwa ide yang terkandung didalamnya ingin ditampilkan sekaligus dengan pemikiran-pemikiran yang pertama”. Segi pragmatic bahasa dalam kehidupan sehari-hari semakin disadari oleh Wittgenstein sehingga terdapat sejumlah bahasa yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan. perintah. Pengakuan atas kelemahan pada karya besarnya yang pertama diungkapkannya dalam kata pengantar karyanya yang kedua Philosophical Investigations (PI). Dalam pemikirannya yang kedua Wittgenstein mengkritik pendapatnyayang pertama yang berkaitan dengan struktur hakikat bahasa. Makna dari sebuahproposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau kebenaran suatu peristiwa. Proposisi atomis pada hakikatnya menggambarkan realitas fakta atomis yaitu keberadaan suatu peristiwa yang paling sederhana yang memiliki satu saja analisis yang lengkap.

1. Dengan demikian tugas fisafat adalah menguraikan dan menerangkan bahasa dan tidak melakukan interfensi didalamnya. 1983:108). (P.tentang struktur bahasa termasuk pengarang Tractatus Logico Philosophicus” (lihat Wittgenstein. Karya Wittgenstein yang ke II ini lebih menekankah pada aspek pragmatic bahasa atau dengan perkataan lain lebih meletakkan bahasa dalam fungsinya sebagai alat komunikasi dalam hidup manusia. Buku karya Wittgenstein tersebut berisi banyak thesis ban berbagai jenis pernyataan-pernyataan. Demikianlah Wittgenstein semakin sadar bahwa dalam kenyataannya bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup dalam upaya untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis. Dalam masalah ini Wittgenstein mengemukakan sebagai berikut: .par. ada yang telah dikembangkan lebih lanjut dan terdapat juga ungkapan-ungkpaan kapan yang masih orisinal. Bahasa tidak hanya memiliki satu struktur logis saja melainkan segi penggunaannya dalam hidup manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang kehidupan. akan tetapi lebih merupakan kelompok struktur yang kurang lebih saling berhubungan antara satu dengan lainnya (Wittgenstein. Tata permainan Bahasa (Language Games) Philosophical Investigations adalah merupakan suatu bentuk filsafat bahasa biasa yang paling kuat.. 1983:23). sekaligus sebagai penunjuk jalan atas terbukanya pemikiran filsafat yang menaruh perhatian terhadap bahasa biasa (ordinary language). Salahs atu tesis pokok sebagai esensi dari pandangan Wittgenstein yang ke II adalah bahwa “ makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa dan bahwa makna bahasa itu adalah penggunaannya di dalam hidup. Lebih lanjut ia juga menyatakan:”kita melihat bahwa apa yang kita sebut “kalimat dan bahasa” tidak mempunyai kesatuan formal yang saya bayangkan.l. 340).

membuat lelucon. Banyaknya jumlah senantiasa berkembang dantidak tetap. menguraikan keadaan suatu benda atau menyebutkan ukurannya. 43). Jadi kita dapat melihat jamaknya atau majemuknya permainan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari. par. Berdasarkan pemikiran-pemikirannya Wittgenstein sebenarnya membuka suatu cakrawala dari dalam berfilsafat yaitu tidak lagi didasarkan kepada bahasa sehari-hari. menjawab teka teki. Istilah ‘language games’ (tata permainan bahasa) dipakai oleh Wittgenstein dalam arti bahawa menurut kenyataan penggunaannya. Filsafat sama sekali tidak boleh turut campur dalam penggunaan bahasa yang sesungguhnya. Orang tidak dapat menduga bagaimana sebuah kata itu berfungsi orang hanya harus melihat penggunaannya dan belajar dari padanya (P. dan sebenarnya filsafat hanya dapat menguraikannya. Mengarang suatu cerita. sehingga senantiasa muncul jenis-jenis bahasa baru yang sili berganti dan yang lama menjadi terlupakan.yaitu bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari (ordinary language).Dalam banyak kasus meskipun tidak semuanya. bahasa merupakan sebagaian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan. Melaporkan hasil pengujiand alam bentuk table dan diagram. 340). di mana kita memakai kata. ‘makna’ itu dapat didefinisikan sebagai berikut: Bahwa makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa (p. Menyusun dan membuktikan suatu hipotesis. . misalnya dalam contoh sebagai berikut: Memberikan perintah dan mentaatinya. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari itu bersifat kompleks yaitu meliputi berbagai macam bidang kehidupan maka penggunaan bahasa pun juga meliputi bermacammacam penggunaan dan bentuk kalimatnya pun juga meliputi bermacam-macam.I. ar. Melaporkan keadaan suatu peristiwa. bersendagurau.I.

23). Oleh karena itu perhatian kita dalam masalah ini diarahkan untuk membandingkan keanekaragaman alat0alat dalam bahasa (dalam masalah ini adalah unsure-unsur bahasa) dan cara penggunaanya yang meliputi jenis-jenis dan kalimat. maka ketentuan itu merupakan bagian yang esensial dalam permainant ersebut. Sebagaimana layaknya permainan amaka terdapat seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang merupakan pedoman dalam penyelenggaraa permainan tersebut. Setiap ragam permainan bahasa mengandung aturan permainan bahasa yang mencerminkan cirri atau corak khas dari permainan bahasa yang bersangkutan. menterjemahkan bahasa dari bahasa ke bahasa lain.memecahkan suatu soal hitungan secara praktis. Hal itu dilukiskan oleh Wittgenstein dalam bukunya melalui contoh sebuahpermainan catur sebagai berikut: Suatu permainan hendaklah berpedoman pada suatu aturan dalam suatu permainan catur manakala telah ditentukan bahwa “raja” memegang peranan yang sangat penting.I. prg. Bertanya dan berterima kasih. (apakah aturan ini untuk mencegah kita melakukan sesuatu tanpa suatupertimbangan yang pasti) (P. berdoa damasih banyak ragam bahasa lainya (P.I. maka tentu kita akan merasa kagum dan memahami tentang maksud dan tujuan suatu aturan. prg.567). Apakah kita dapa melanggar atuaran yang telah ditentukan di sini? Pelanggaran itu hanya menunjukkan bahawa kita tidak mengetahui petunjuk yang sebenarnya tentang aturan permainan itu . Keanekaragaman dalam hidup manusia memerlukan bahasa yang digunakan dalam konteks-konteks tertentu. Oleh karena itu setiap konteks kehidupan manusia menggunakan bahasa tertentu yang memiliki aturan-aturan main tertentu. Jikalau kita menjumpai penerapan aturan ini di atas papan catur. barangkali kita tidak memahami aturan tersebut secara petunjuk yang menggariskan agar kita berpikir tiga kali (berpikir tiga langkah kedepan) sebelum menggerakkan buah catur. Analog dengan yang dikemukakan oleh Wittgenstein itu menunjukkan. mengucapkan salah. bahwa dalam berbagai macam permainan terdapat aturanaturan main tersendiri yang aturan tersebut harus ditaati dan harus .

Penggunaan bahasa dalam konteks ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam santai. bola volley. Sebab ragam santai memiliki atuaran tersendiri. memmiliki aturan permainan sendiri dalam arti ketentuanketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat ilmiah.merupakan pedoman dalam tata permainan. sehingga sebenarnya terdapat kata yang maknanya tidak menunjukkan suatu realitas kehidupan misalnya kata :’kemudian’. tenis dan lain sebagainya yang masing-masing juga memiliki aturan-aturan main sendiri-sendiri. 23). adapun makna kalimat adalah tergantung penggunaanya dalam bahasa. Oleh karena itu mustahil bilamana kita menentukan suatu aturan permainan bahasa yang bersifat umum yang berlaku dalam berbagaimacam konteks kehidupan manusia. prg. Kekacauan akan timbul manakala kita menerapkan aturan permainan bahasa yang satu ke dalam bentuk permainan bahasa lainnya.I. Dalam pengertian ini dimaksudkan oleh Wittgenstein selain permainan catur masih terdapat banyak permainan-permainan lainnya antara lain. Demikian pula hal itu berlaku sebaliknya tata permainan dalam koneks bahasa santai tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam ilmiah. sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam hidup” (P. sepak bola. Dengan demikian kita sampailah pada suatu kesimpulan tentang penggunaan bahasa sebagai berikut: “Makna sebuah kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. . Dalam ilmu bahasa memang kita memilikimakna leksikal akan tetapi tidak memilikimakna informasi hanya terbatas sebagai suatu symbol saja. Demikian pula halnya dengan tata permainan bahasa. Dalam pengertian inilah Wittgenstein menyadari akan kelemahan konsepnya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasanya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasa ideal yang terstruktur secara logis yang melukiskan susunan logis realitas dunia. Setiap bentuk permainan bahasa memiliki aturan permainan sendiri-sendiri yang tidak dapat dicampuradukkan dengan tata aturan (ragam) ilmiah misalnya.

warna mata.I. Walaupun nampaknya simpang siur namun terletak dalam jalur yang sama. demikian pula makna sebuah kalimat pada hakikatnya sangat tergantung penggunaannya dalam bahasa (wacana) dan akhirnya makna bahasa itu sangat tergantung pada penggunaannya dalam hidup manusia. acapkali kita menjumpai kata atau ungkapan bahasa yang sama namun dipergunakan dalam pelbagai bidang kehidupan atau dipergunakan dalam pelbagai bentuk permainan bahasa. ‘bilamana’. maka sebuah kata sangat tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. Dalam kehidupan sehari-hari. . temperamenya. 67). ‘ajar’ dan banyak kata lainnya. dan hal ini sebagai bentuk permainan bahasa dalam sebuah kemiripan keluarga” (P. dan lain sebagainya. prg. Dalam pengertian inilah maka bahasa akan memiliki makna manakala mampu mencerminkan aturan-aturan yang terdapt dalam setiap konteks kehidupan manusia. Sehubungan dengan permasalahan ini Wittgenstein menguraikan contoh ‘aneka kemiripan keluarga’ sebagai suatu analog sebagai berikut: “Saya kira tidak ada ungkapan yang lebih sesuai untuk menggambarkan sifat atau kalimat. Hal itu terjadi karena sesungguhnya kata atau ungkapan itu dihubungkan dalam banyakcara yang berbeda (P. Menurut Wittgenstein hal itu dapat saja terjadi yaitu bahasa menghasilkan hal yang bersifat umum. prg.‘atau’. sikap. yang sifatnya beranekaragaman dan tidak terbatas. Kehidupan manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang dan meemiliki sifat dinamis dengan sendirinya memiliki beragaimacam aturan dan hal tersebut terlukiskan melalui bahasa.I. Namun demikian fenomena konteks kehidupan yang dilukiskan melalui bahasa tesebut bukanlah sesuatu pengertian yang bersifat umum. Oleh karena itu dalam hubungannya dengan segi pramatik bahasa yaitu penggunaan bahasa dalam hidup manusia. 65). yang dipergunakan dalam banyak cara selain ‘aneka kemiripan keluarga’. Aneka kemiripan di antara anggota-anggota keluarga itu terlihat pada bentuk sifat.

Oleh karena itu meskipun mengandung suatu kemiripan yang bersifat umum namun maknanya yang sangat tergantung pada cara penggunaannya dan konsekuensinya juga sangat tergantung pada game atau aturan main dalam konteks penggunaan tersebut dalam kehidupan manusia. Namun bilamana kata tersebt digunaakn dalam konteks formal misalnya di kediaman istana kepresidenan maka ungkapan tersebut menjadi bermakna lain bahkan akan dirasakan tidak sopan dan arogan. Namun kiranya akan menjadi berbeda misalnya kata ‘engkau’ digunakan dalam penuturan dengan seorang raja atau seorang pejabatn tinggi dalam suatu Negara.Penggunaan kata atau kalimat yang sama dengan pelbagai cara yang berbeda bukanlah berarti memiliki makna yang sama melainkan memiliki dasar-dasar kemiripan yang sifatnya umum. ‘dia’ dan lain sebagainya. Hal ini banyak kita temukan pada kata-kata dieksis seperti ‘aku’. Demikian juga ungkapan sebagai kata perintah ‘bersiap’ bagi konteks penerapan dalam baris berbaris walaupun orng kedua dalam penuturan tersebut seorang presiden pada waktu upacara jari besar tertentu maka hal itu memiliki makna yang sopan dan lazim. Hal tesebut terjadi tidak lain karena aturan (game) yang berlaku berbeda. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab. ‘engkau’. situasi maupun kondisinya. Walaupun secara struktur ungkapan kalimat atau kata memiliki kemiripan namun dalam penerapan dan penggunaan yang berbeda dan sangat tergantung kepada konteks kehidupan yang berkaitan dengan ragam bahasa tertentu. Jadi walaupun terdapat ungkapan yang sama namun maknanya tetap tergantung pad penggunaan dalam situasi atau konteks yang bersangkutan yang memiliki aturan masing-masing. . Dalam kaitannya dengan etika bahasa misalnya kata ‘engkau’ yang digunakan dalam konteks penutur yang memiliki tingkatan yang sama atau misalnya sesame teman akraba. Penggunaan kata-kata tersebut sangat tergantung pada konteks dalam kehidupan manusia. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab dan kekeluargaan.

Dua hal yang dikemukakan oleh Wittgenstein berkaitan dengan bahasa filsafat tersebut yaitu: Pertama: kekacauan bahasa filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permainan bahasa.2. etika dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa. Banyak ungkapanungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan suatu realitas fakta dunia secara empiris. Oleh karena itu yang harus kita lakukan . Kritik Wittgenstein atas Bahasa Filsafat Kalau pada periode pertama Wittgenstein mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa filsafat tidak memiliki struktur logis. Bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk maksudmaksud filsafat.’objeck’. sehingga bahasa filsafat terutama metafisika. namund alam kenyataannya banyak filsuf yang menggunakan bahasa tidak sesuai dengan aturan (game) yang ada. Hal itu dikemukakannya oleh Wittgenstein sebagai berikut: “Bilamana para filsuf menggunakan kata atau ungkapan misanya ‘knowledge’. Wittgenstein menyatakan bahwa persoalan-persoalan filsfat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan ‘tata permainan bahasa’. dan kemudian berupaya menjangkau tingkatan hakiakt segala sesuatu. filsafat nilai. ‘name’. sehingga ia mengungkapkan persoalan timbul karena para filsuf yang menggunakan bahasa kurang tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. estetika. “proposition’. ‘I’. maka seharusnya kita bertanya pad diri sendiri: apakah kata atau istilah itu telah dipergunakan sesuai dengan aturan permainan bahasa dalam konteks yang bersangkutan. Namun demikian melalui konsep ‘tata permainan bahasa’ ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa dalam filsafat.

Untuk itu terdapat dua macam cara untuk melekatakan filsafat sebagai analisis yaitu : (1) aspek penyembuhan (therapheutics). Tugas Filsafat Bahasa filsafat yang memiliki berbagai kelemahan tersebut pada hakikatnya dapat diatasi manakala kita mengetahui dan menerapkan analisis bahasa dalam filsafat. 1964:198). ‘ketiadaan’. yaitu cara berfilsafat yang seharusnya ditempuh yang hal itu meliputi aspek sebagai berikut: .P. dengan lain perkataan kelemahan bahasa filsafat dapat teratasi bilamana meletakkan tugas filsafat sebagai analisis bahasa. 464). yaitu dengan cara menghilangkan kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahasa filsafat.l. 1972: dalam Mustansyir. prg. 116). 3.: 87). dan lains ebagainya. yaitu suatu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang umum pada semua satuan-satuan kongkrit (entities) yang diletakkan di bawah istilah yang bersifat umum (Wittgenstein. Kelemahan filsafat yang demikian ini oleh Wittgenstein disebut dengan istilah “craving for Generality”.sekarang adalah mengarahkan kembaliungkapan tersebut dari wilayah aturan metafisika kepada aturan penggunaan bahasa sehari-hari (.l prg. kita mencari ‘kesatuan pengeritandalam keanekaragaman. Oleh karena itu Wittgenstein menganjurkan agar kita menghindari dan melewati penyamaran dari sesuatu yang tidak terpahami itu dengan menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya nirarti belaka (P. Atau dengan lain perkataan. Kedua. 1987. adanya kecenderungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum pelbagai gejala yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Ketiga penyamaran atau pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami misalnya ‘keberadaan’. kesamaan dalam perbedaan ketunggalan dalam kemajemukan (craing for unity) (Pitcher. (2) aspek metodis.

Namun dalam pemikirannyayang kedua ia memang tidak menolak metafisika. Oleh karena itu menurut Wittgenstein untuk mengatasi kekacauan tersebut haruslah melalui penampakan jalannya bahasa. yaitu bukannya dengan melalui keterangan baru melainkan menyusun kembali apa yang telah kita ketahui. yang diberatkan Wittgestein seperti seekor lalat yang terjebak dalam sebuah botol yang bening.a) Dalam berfilsafat haruslah meletakkan landasanya pada pengunaan bahasa sehari-hari. c) Metode analisis bahasa harus diletakkan dalam posisi yang netral artinya tidak turut campur dalam memberikan interpretasi filosofis yaitu memberikan penafsiran tentang realitas. Demikianlah pemikiran filsafat Wittgenstein periode yang kedua yang bertolak belakang dengan pemikirannyayang pertama. 1984:130). dan berdasarkan konsep analitika bahasanyayang mendasarkan pada aturan language games maka dapat dipastikan bahaw menurutnya ungkapanungkapan metafisis adalah bermakna dalam aturan dan konteks tata aturan bahasa dalam metafisika tersebut. hanya memberikan atau memaparkan secara objektif. Pada pemikirannya yang kedua ini ia meletakkan pluralitas bahasa dalam aspek pragmatisnya. sehingga seakan-akan berada di dunia luar akan tetapi sebenarnya terperangkap dalam ruangan botol tersebut. Betapapun demikian . ia menolak dengan radikal tentang ungkapan metafisika bahkan secara tegas menghilangkan metafisika namuns ecara filosofis konsepnya pun teatp mengandung suatu metafisika. Namun satu hal yang menarik adalah bilamana ia dalam periode pertama dalam karyanya Tractatus. Filsafat tidak turut campur dalam memberikan interpretasi. dengan memperhatikan secara teliti aturan-aturan permainan bahasa. sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apapun. b) Upaya untuk keluar dari kemelut kekacauan filsafat yang diakibatkan oleh kekacauan penggunaan bahasa. Filsafat membiarkan segala sesuatu sesuai dengan apa adamnya (lihat Bakker. sehingga dalam pengertian ini bahasa sehari-hari merupakan dasr utama bagi upaya filsafat.

Hal itu dikuatkan dengan konstatasinya bahawa tugas filsafat adalah memberikan sesuai dengan apa adanya dan tidak turut campur di dalamnya dan filsafat bukanlah sekumpulan ajaran atau dogma melainkan hanya memberikan analisis dan penjelasan saja. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua filsuf oxpord kebanyakan meneruskan tradisi filsafat bahasa biasa. Tradisi di Oxpord sebenarnya memang cukup ketat sebab filsuf yang bukan professor dari universitas Oxpord lazimnya sangat sulit untuk mendapatkan tempat di Oxpord. Filsuf-filsuf Oxpord tersebut lazimmnya juga mendapatkan pendidikan filsafat Yunani dan mereka kebanyakan juga memiliki latar belakang pendidikan filologi klasik dan linguistic sehingga tidak mengherankan kalau hal itu sangat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Beberapa Filsuf Dari Oxford Corak baru pemikiran filsafat yang dirintis oleh Bertrand Russell. . Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua pemikiran filsafatnya.nampaknya dia tetap tidak mau menampakkan dasar metafisikanya dalam konsepnya yang kedua tersebut. John Langshaw Austin dan Peter Strawson. Moore dan Wittgenstein. antara lain filsfu yang terkenal di Oxpord yaitu: Gibert Ryle. 2002:37. Akhirnya konsep Wittgenstein itu adalah merupakan karya besar yang mampu mengubah wajah filsafat di Eropa terutama di Inggris walaupun memiliki kelemahan mendasar (Kaelan. dapat mengubah wajah filsafat’Inggris terutama yang berpusat di Oxpord dan Cambridge. Sejak dikembangkannya filsafat bahasa biasa Ludwig Wittgenstein pengaruhnya cukup kuat pada perkembangan pemikiran filsafat di Inggris pada abad XX.154). L. bahkan meluas ke Eropa dan Amerika. Namun demikian walaupun lambat akan tetapi pengaruh filsafat bahasa biasa Wittgenstein cukup kuat dan bahkan dikembangkan dengan berbagaimacam modifikasi.

Ryle tidak mendasarkan pada struktur logika bahasa melainkan ia memperhatikan dan menganalisis penggunaan bahasa sehari-hari berdasarkan prinsip-prinsip logika. Kekeliruan Kategori (Category Mistake) Karya Filsafat Ryle yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Concept of Mind” adalah merupakan karya yang . sedangkan prinsip analisisnya menunjukkan garis lurus pada prinsip analsisis Moore Ryle memang mendasarkan pada prinsip filsafat bahasa biasa. yang antara lain ia membahas dan menganalisis berbagai macam penggunaan bahasa sehari-hari terutama dalam filsafat yang sering terjadi kekeliruan kategori atau dikenal dengan istilah ‘category mistake’. Warna filsafat Ryle Nampak adanya pengaruh dari pemikiran Ludwig Wittgenstein dalam hal titik tolaknya pada bahasa biasa. Gilbert Ryle Gilbert Ryle seorang filsuf Oxford yang memiliki reputasi filsafat yang cukup besar. yaitu sering terjadi dalam penggunaan bahasa sehari-hari menyalahi prinsip-prinsip logika. namun demikian Nampak unsure logika juga mempengaruhi pemikirannya. a. Hal ini Nampak pada bukunya yang paling popular yaitu “The Concept of Mind”. Memang terdapat suatu perbedaan dengan atomisme logis yang mendasarkan pada bahasa ideal dengan struktur logis yang menggambarkan struktur logis realitas duni.1. Pemikiran filsafat Ryle mendasarkan pada filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy). Berdasarkan pemikiran filsafatnya itu terdapat suatu kemungkinan ia memadukan prinsip atomisme logis dengan filsafat bahasa biasa melalui suatu analisis bahasa. Ryle yang pernah mendapat pendidikan bahasa terutama filologi klasik pada tahun 1945 menjadi Profesor di Oxford dan pada tahun 1947 ia menggantikan Moore sebagai pimpinan majalah “Mind” sampai tahun 1971. Melambungnya nama Ryle nampaknya mercusuar filsafat Inggris berpindah dari Cambridge ke Oxford.

terpenting di Inggris dalam periode setelah perang dunia kedua. Dalam karyanyaini ia membahas tentang konsep-konsep yang menyangkut hidup psikis, seperti misalnya pencerapan, persepsi, fantasi, pengingatan, pemikiran, pengertian, kehendak, motif dan lain sebagainya. Dalam pemakaian bahasa sehari-hari Ryle menganalisisnya secara terinci dan mendalam, dan dengan demikian banyak ditemukan kekacauan dan kekeliruan dalam filsafat dan pada akhirnya dapat segera dilakukan pembenaran-pembenaran serta kesalahan dapat disingkirkan. Menurut Ryle pokok yang sering terjadi dalam filsafat adalah kekeliruan mengenai kategori (category mistake). Kekeliruan terjadi dalam penggunaan bahasa dalam melukiskan fakta-fakta yang termasuk kategori satu dengan menggunakan cirri-ciri logis yang menandakan kategori lain (Bertens, 1981:54). Misalnya seorang anak yang pergi ke kebun binatang dan melihat singa, harimau, gajah, kijang dan banteng, kemudian ia mengatakan bahwa berikutnya ia inginmelihat binatang menyusui. Penggunaan bahasa ini adalah merupakan suatu kekeliruan kategori (category mistake) sebab binatang-binatang menyusui tidak berada di samping singa, harimau, gajah, kijang dan banteng yang pernah dilihatnya. Menurut Ryle dalam filsafat penggunaan bahasa sehari-hari sering juga terjadi kekeliruankategori sehingga persoalan-persoalan filsafat seringkali timbul karena kekeliruan tersebut. Analisis tentang penggunaan bahasa sehari-hari dalam filsafat dilakukan Ryle antara lain terhadap konsep Descartes. Menurut Ryle filsafat Descartes tentang manusia bertumpu pada suatu category mistake. Pandangan Descartes tentang manusia mendasarkan pada pandangan yang dualistic yaitu dua substansi yang berbeda yang meliputi roh atau substansi berpikir (res cogitans) dan materi atau substansi yang meluas yang disebut (res extensa). Manusia mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk yang berpikir (cogito) yang tidak bersifat kebendaan jadi merupakan suatu substansi yang ekkal, dan juga mengenal dirinya sebagai suatu

kesadaran. Di lain pihak terdapat substansi yang kedua, yaitu yang tidak berpikir yang bersifat kejasmanian yang bersifat lapang dan meluas. Perubahan yang terjadi pada dunia jasmani ini dapat diterangkan atas dasar-dasar kausal mekanis yang murni. Dunia keluasan inilah dipandangnya sebagai dunia mesin yang memiliki sifat-sifat mekanis. Hal yang memiliki sifat yang demikian ini termasuk juga binatang yang pada hakikatnya tidak memiliki kesadaran danmemiliki system yang otomatis mekanis dan tidak memiliki roh atau jiwa. Realitas tentang manusia yang demikian ini menurut Ryle merpakan dua unsure yangmemiliki corak logis atau kategori yang berbeda, dan sangat janggal bilamana merpakan suatu kesatuan yang harmonis. Dalam hubunganini Ryle mengungkapkan sebagai “the myth of the ghost in the machine”, sebagai suatumitos tentang hantu dalam sebuah mesin (Ryle, 1983:23). Filsafat Ryle ini merupakan suatu kritik yang sangat tajam pada konsep Rene Descartes, yang pada saat itu lazimnya merupakan dasar tumpuan dari konsep manusia. Secara ontologism konsep Descartes tersebut bahwa manusia mempunyai jiwa atau raoh dan dengan cara yang sama dia juga memiliki tubuh atau raga. Roh atau jiwa itu secara logis dapat dibandingkan dengan tubuh pada hal dalam kenyataannya memiliki eksistensi yang berbeda dan tidak terbuka bagi orang lain dan hanya dikenal melalui introspeksi. Para filsuf mengakui bahwa intelegensi manusia misalnya merupakan suatu hal yang dikuasai oleh hukum-hukum yang lain. Namun mereka keliru dalam mengandaikan melalui bahasa bahwa kata ‘intelegensi’ itu menunjuk kepada suatu hal, pada hal fungsi intelegensi menurut Ryle hanyalah melukiskan tingkah laku seseorang. Dengan maksud memperlihatkan secara kongkret bagaimana para filsuf mencampuradukkan kategori-kategori yang berlainan. Ryle membedakan pelbagai jenis kata, misalnya menurutnya perlu dibedakan kata-kata yang menunjuk pada suatu disposisi (mengerti bahasa perancis misalnya) misalnya dengan kata-

kata yang menunjuk pada suatu peristiwa (mendengarkan siaran radio berbahasa perancis). Suatu ungkapan ‘ia tidak merokok’ misalnya dapat dipakai dalam dua arti tadi yaitu untuk menunjukan suatu disposisi bahwa (ia sudah biasa tidak merokok) atau untuk menunjuk suatu kejadian kongkrit (ia sekarang tidak merokok). Dalam masalah ini penggunaan bahasa sehari-hari oleh para filsuf sering terjadi makna yang satu berpindah kepada makna yang lainnya (kedua). Analisis yang diungkapkan oleh Ryle adalah perbedaan antara task verb dengan achievement verb, yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu tugas dan kata kerja yang mengacu pada suatu hasil. Dua kata kerja ini sering digabung sebagai pasangan. Kalau demikian maka suatu aktivitas yang sama diucapkan dengan cara yang berlainan oleh dua jenis kata kerja itu, jadi kita tidak perlu mengandaikan dua aktivitas. Beberapa contoh kata misalnya ‘mencari’, ‘mendapatkan’, ‘mendengarkan’, ‘mendengar’, ‘menengok’, ‘melihat’. Contoh yang lain misalnya bilaman seseorang mengungkapkan bahwa ‘seorang atlit lari seratus meter dan menang’. Dalam hal ini kita menggunakan dua macam istilah yaitu ‘lari’ sebagai suatu task verb, adapun ‘menang’ adalah sebagai achievement verb. Hal ini perlu disadari bahwa achievement verb itu tidaklah menunjukan suatu akvititas di samping ‘lari’ tetapi suatu hasil yang diperoleh dari lari. Atlit itu tidak berbuat dua hal, pertama ‘lari’ dan kedua ‘menang’, melainkan ia hanya melakukan satu hal saja yaitu lari sekuat tenaga dan menang. Dengan analisis-analisis serupa itu Ryle mengkritik dengan keras dualism sebagaimana konsep Rene Descartes dan berupaya menghindari monism materialistis tentang manusia. Kata-kata psikis tidak menunjuk pada suatu taraf hidup yang tersembunyi bagi pihak lain. Namum kepada suatu tingkah laku yang dapat diamati oleh setiap orang, tetapi hal itu tidak berarti bahwa filsafat Ryle sendiri luput dari segala kesulitan terbesar bagi Ruyle, yaitu bahwa ia

terjebak

pada

behaviorisme,

meski

ia

berupaya

untuk

menghindarinya (Bertens, 1981:56).

b. Bahasa Biasa (The Ordinary Language)

Filsafat bahasa biasa yang mendasarkan pada suatu konsep bahwa masalah-masalah filsafat dapat diselesaikan dan dijelaskan melalui analisis bahasa. Mereka lazimnya mendasarkan bahwa bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk melakukan analisis filsafat. Namund emikian perkembangan konsep filsafat bahasa biasa sampai pada priode Ryle belum pernah ada filsuf yang berupaya untuk mendeskripsikan tentang penggunaan bahasa biasa beserta pembedaan-pembedaannya, dan dalam kesempatan inilah Ryle berupaya untuk mengungkapkan penggunaan bahasa biasa. Menurut Ryle perlu dibedakan antara ‘penggunaan dari bahasa biasa’ (the use of ordinary language) dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage), dan antara ‘penggunaanyang baisa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). Bilamana kita membahas penggunaan bahasa biasa maka perlu diperjelas pengertian ‘luar biasa’, ‘esoteris’, ‘teknis’, ‘puitis’, ‘notasional’, atau bahkan dimaksudkan ‘bahasa kuno’. Pengertian ‘biasa’ (ordinary) dapat berarti ‘umum (common) atau yang sedang belangsung (current), bahas pergaulan sehari-hari (colloquial), atau bahasa harian, bahasa yang sederhana (vernaculler), bahasa alamiah (natural language) dan hal inilah yang harus dijernihkan dalam penggunaan bahasa. Filsafat bahasa biasa menurut yang Ryle pada dari hakikatnya atau

memperhatikan

penggunaan

biasa

bahasa,

penggunaan bahas yang baku, yang standard dan bukannya

penggunan bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari (colloquial language). Oleh karena itu tugas filsafat adalah berkaitan dengan analisis penggunaan yang biasa dari ungkapan-ungkapan tertentu dan bukannya menganalisis bahasa yang digunakan dalam kehidupans ehari-hari. Tujuan dilakukannya analisis bahasa yang baku atau yang standard dalam penggunaan ungkapan-ungkapan dalam filsafat adalah untuk mendapatkan suatu kejelasan yang memadai bagi pengalaman bahasa-bahasa yang baku atau yang standard tersebut (Charlesworth, 1959:180). Hal ini dalam wacana filsafat sering kita jumpai misalnya penggunaan istilah ‘kebenaran’ ‘keadilan, ‘keberadaan’, ‘wajib’, ‘keindahan’ dan banyak istilah-istilah lainnya. Istilah-istilah ini sering kita jumpai dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun demikian pengertian serta makna yang terkandung di dalamnya jelas memiliki perbedaan. Oleh karena itu penyimpangan penggunaan yang terjadi dalam ungkapan-ungkapan filsfat itulah yang perlu mendapatkan suat penjelasan yang memadai, dan manakala makna penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut telah disepakai dan dianggap baku dalam filsafat maka persoalan inilah yang mendapat perhatian dalam filsafat bahasa biasa. Ryle berpendapat bahwa banyak diskusi filsafat itu berkaitan dengan persoalan yang menyangkut tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’. Dalam pengertian ini persoalan filsafat bahasa biasa berkenaan dengan penggunaan kata, ungkapanatau istilah yang memang bersifat ‘esoteris’ (khusus). Dalam berbagai macam ilmu pengetahuan banyak dijumpai istilah-istilah yang bersifat teknis dan khusus, misalnya dalam ilmu social, politik, hukum biologi, fisika, matematika, teologia, psikologi, ekonomi, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang diguakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan itu harus dianalisis dengan menggunakan bahasa biasa untuk mendapatkan suatupengertian yang memag bersifat teknis atau khusus. Upaya analisis tersebut untuk memperjelas (to eculidate) penggunaan yang biasa (standard)

Dalam masalah ini analisis filsafati itu berkenaan dengan ‘penggunaan yang biasa. Misalnya suatu ungkapan ‘Amin lebih tua dari bapaknya’. Satu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ungkapan adalah aturan-aturanlogika (rules of logic). “ia berada di luar rumah tetapi duduk di kamar tengah’. Penggunaan (use) itu adalah suatu metode atau cara. Penggunaan ungkapan itu dapat sah atau tidak sah secara logis (yaitu harus sesuai dengan hukum logika). namun ‘wajib’ dalam pengertian seharihari dapat diartikan keharusan moral. yang baku dan yang benar. Filsafat bahasa biasa itu berkenaan dengan penggunaan yang biasa. Hal ini berlawanan dengan penyalahgunaan dan bukannya berkaitan dengan penggunaan yang dilawankan dengan ketidakbergunaan dari ungkapan-ungkapan. yaitu sebuah teknik untuk melakukan sesuatu.mungkina tau tidak mungkin. yang dianggap umumd ari suatu ungkapan’ dalam suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu (Poerwowidagdo:11). Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan adalah kata ‘penggunaan’ dan bukannya perkataan biasa atau ungkapan. Ungkapan atau istilah ‘permintaan’ dalam suatu hukum ‘penawaran-permintaan’ dalam ilmu ekonomi memiliki makna yang berbeda dengan pengertian istilah permintaand alam bahasa sehari-hari. dan banyak istilah lain yang tidak sesuai dengan hukum-hukum logika. Proses analisis ungkapan dalam filsafat bahasa biasa harus memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam penggunaan ungkapan.dari artian-artian atau istilah-istilah teknis yang sebenarnya cukup biasa dalam ilmu pengetahuan yang bersangkutan. yang standard. Misalnya dalam ilmu hukum istilah ‘wajib’ memiliki penekanan yang berbeda dengan pengertian ‘wajib’ dalam bahasa sehari-hari. . yang standar atau yang baku. penuh arti atau nirarti. Istilah ‘wajib dalam ilmu hukum dapat berarti memiliki daya imperative (memaksa).

dianggap sama pentingnya dengan menamakan konsep itu dengan ‘linguistic . kalau Wittgenstein mendasarkan analisisnya pada bahasa biasa atau bahasa sehari-hari dalam filsafat bahasa biasanya. yang benar atau yang biasa. John Langshaw Austin Austin adalah seorang filsuf yang menaruh minat tehadap filsafat bahasa biasa. yang standard. Filsuf yang juga sebgai professor di univesitas Oxford tersebut namkan meneruskan garis pemikiran filsafat bahasa biasa Wittgenstein. 2. Ryle juga mendasarkan pada bahasa biasa dalam konsep filsafat analitika bahasanya sebagaimana dilakukan oleh Wittgenstein. Austin selalu menekankan bahwa penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dengan situasi kongkrit di mana ungkapan-ungkapan kita kemukakan dan dari fenomena-fenomena yang berkaitan dengan penggunaan bahasa tersebut. akan tetapi Ryle brpendapat bahawa analisis filsafat bahasa biasa itu bukannya berkaitan dengan bahasa sehariahari melainkan dengan analisis bahasa yang baku. Namun demikian nampaknya Austin sebagai salah satu filsuf yang memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap bahasa biasa dalam arti penggunaanya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Ungkapan yang sering dilontarkan Austin adalah ‘what to say when’. Menurut Austin kita akanmendapatkan pelajaran yang sangat banyak dari perhatian kita terhadap bahasa sehari=-hari yang digunakan dalam pergaulan hidup. Bahkan menurutnya tidak jarang masalah-masalah filosofis akan Nampak dalam bentuk yang baru jikalau didekati dengan menggunakan unsure-unsur yang terkandung dalam bahasa sehari-hari.Pemikiran Ryle ini memang memiliki cirri khas dibandingkan dengan konsep Moore maupun Wittgenstein. yang berarti unsure bahasa (what). Ia memang menggunakan prinsip-prinsip analisis istilah-istilah dalam filsafat terutama yang digunakan filsuf-filsuf lain namun ia mendasarkan pada prinsip-prinsip logika.

sehingga Ryle sering menemukan persoalan filsafat timbul karena kekacauan dalam penggunaan bahasa yang melanggar norma logika atau yang tidak sesuai dengan kategori logika. dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage). 1. dan karyayang berupa buku yaitu . yang memuat berbagai macam paper merupakan kumpulan-kumpulan bahan kuliah yang diberikan di universitas Oxford.phenomenology’. Pembedaan Ucapan Bahasa Sumbangan Austin yang termasyur dalam filsafat bahasa yaitu pembedaan ‘ucapan performatif’ (performative utterance) dan . Karya yang paling popular adalah ‘Philosophical Papers’ yang ditulis tahun 1961. sebab nama itu dinyatakan percobaannya untuk menjelaskan fenomena-fenomena dengan melalui penyelidikan bahasa. Wittgenstein mendasarkan pada makna bahasa sehari-hari dalam kaitannya dengan konteks penggunaannya dalam berbagai bidang kehiudpan sehingga dikembangkannya dalam teorinya yang dikenal dengan (language games). Ia juga membedakan dan memperjelas filsafat bahasa biasa. yang dikenal dengan (category mistake). sehingga ia memiliki cirri khas dibandingkan dengan Wittgenstein dan Gilbert Ryle. yaitu pembedaan istilah ‘penggunaan bahas ayang biasa’ (the use of ordinary language). demikian juga tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). Namun Austin dalam pemikiran filsafat bahasa biasanya ia menaruh perhatian dan menekuni tentang pembedaan jenis-jenis ucapan dan pembedaan tentang (speech acts) tindakantindakan bahasa). Ryle lebih menekankan pada aspek pragmatis dalam kaitannya dengan aturan0aturan logika. How to Do Things with Words’ yang ditulis tahun 1962. Sebagai seorang filsuf bahasa biasa Austinmemiliki perhatian yang khas terhadap penggunaan bahasa biasa.

yang nampaknya memiliki kemiripan dengan ungkapan proposisi sebagaimana dikemukkaan oleh kaum atomisme logis. Namun demikian terdapat perbedaan karena konsep Austin walupun cucapan konstatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh si pendengar umum Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstatif itu berdasarkan atas konsekuensi ucapan dengan kata yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan konstatif itu terdapat perbedaan karena konsep Austin walaupun ucapan kosntatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh pendengat.‘ucapan konstatif (constative utterances. Pembedaan tentang macam ucapan-ucapan tersebut dikemukakan secara rinci oleh Austin sebagai berikut : Ucapan Konstatif (Constative Utterance) Bahasa yang digunakan manusia dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai macam ucapan yang memiliki konsekusensi dalam penggunaannya. Kedua ucapan tersebut tidak hanya berbeda dalam ucapannya namun memiliki perbedaan juga dalam hal situasi serta persyaratan yang harus dipenuhinya. ang menyatakan sesuatu atau terdapat sesuatu yang dikonstatir dalam ucapan tersebut. Selain itu pembedaan itu memang tidak bersifat mutlak karena pada situasi tertentu seringkali kedua macam ucapan itu memiliki kesamaan.). Perbedaan tersebut mengandung konsekuensi bagi penuturannya baik penurut 1 maupun 2. sebelum Austin kebanyak filsuf hanya ditentukan atas dasar formulasi bahas tertentu misalnya menurut atomisme lgis atau filsafat bahasa biasa Wittgenstein. namun Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstratif itu berdasarkan . Ucapan ‘konstatif’ adalah salah satu jenis ucapan bahasa yang melukiskan suatu keadaan factual. Dalam pengertian ini ucapan konstatif memang memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah. Pemikiran Austin ini merupakan suatu kontribusi yang sangat berharga bagi pengembangan aspek pragmatic pada studi bahasa yang Nampak pada akhir-kakhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan linguis.

kita tidak dapat hanya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu ungkapan itu hanya tergantung pada penggunaannya tanpa ditentukan benar atau salahnya ungkapan tersebut berdasarkan pada fakta atau peristiwa pada waktu yang lampau. artinya apakah fakta yang dilukiskan tersebut benar-benar terjadi pada waktu yang telah lalu.S. yaitu ucapan yang melukiskan suatu fakta atau kejadian pada waktu yang telahlampau. Selain itu peristiwa atau fakta yang dimaksudkan Austin bukanlah sebagai fakta menurut atomisme logis . 1962:6). 4) BAnyak tenaga kerja wanita Indonesia terlantar dan bermasalah di Arab Saudi. Untuk memahami macam ucapan tersebut dapat kita analisis contoh berikut: 1) Undang-Undang Dasar 1945 disyahkan tanggal 18 Agustus 1945 2) Di kebun binatang Gembira Loka ada seekor gajah yang sedang beranak 3) Perekonomian Indonesia mengalami goncangan karena jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar A.formulasi logika. Oleh karena itu menurut Austin bahwa ucapan konstatif itu isinya mengandung acuan kejadian atau fakta historis yaitu kejadian masa lampau yang merupakanperistiwa nyata atau benar-benar terjadi (lihat Austin. Benar atau salah dari ucapan konstatif itu didasarkan atas konsekuensi ucapan dengan fakta yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan tersebut (lihat Austin. 1962:3). Untuk membuktikan kebenaranya dapat dilakukan misalnya dengan menyelidiki atau membuktikannya. Menurut Austin bahwa filsafat bahasa biasa tidak dapat dibatasi dengan penentuan bahasa yang bermakna atau tidak bermakna berdasarkan formulasi logika belaka sebagaimana dilakukan oleh kaum atomisme logis atau sebaliknya. Hal itu dapat dibuktikan benar atau salahnya berdasarkan fakta atau kejadian itu sendiri. Contoh-contoh kalimat tersebut termasuk ucapan yang bersifat konstatif.

Fakta dalam pengertian ini menurut Austin bahwa suatu ungkapan itu benar-benar menunjuk pada suatu kejadian atau peristiwa yang telahlalu yaitu peristiwa yang terjadi sebelum ungkapantersebut diucapkan. Dalam pengertian inilah bahwa ucapan konstattif itu memiliki acuan historis yang mengacu pada suat peristiwa. melaikan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi perubuatan bagi penuturannya. Oleh karena itu Austin menamakan ucapan semacam itu sebagai ucapan “performatif (performative utterance). Ucapan Performatif (Performative Utterance) Menurut Austin selain ucapan konstatif terdapat juga jenis ucapan yang disebut ucapan performatif.menunjukkan realitas dunia. Ucapan performatif tidak dapat ditentukan benar dan salah berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau. Dengan suatu ucapan performatif seseorang bukanya memberitahukan suatuperistiwa atau kejadian. 1981:59). melainkan dengan mengucapkan kalimat itu seseorang sungguh-sungguh berbuat sesuatu misalnya mengadakan suatuperjanjian. Oleh karena itu problema-problema filsafati seringakli muncul karena penggunaan bahasa sehari-hari yang sangat dibatasi penggunaanya terutama konsekuensi atas ungkapan-ungkapan tersebut baik bagi penutur maupun pendengar tuturan bahasa. Beberapa contoh ucapan performatif dapat diamati pada contoh kalimat berikut : 1) Saya menunjuk saudaara sebagai ketua panitia ujian Negara kelompok ilmu ekonomi . Pada hal menurut Austin selain ucapan yang dikategorikan ucapan konstatif yang mengungkapkan suatu peristiwa atau kejadian pada waktu yang telah lalu terdpat juga ucapan formatif. yang berdasarkan pada kata di dalam bahasa Inggris ‘to perform’ dan ‘performance’ (Bertens.

jika saya naik pangkat. Misalnya ungkapan ‘saya mengangkat tidak menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada’ adalah tidak layak bilamana diucapkanoleh seoran gmahasiswa kewenangan untuk mengucapkan ungkapant ersebut. melainkan suatu ucapan performatif akan tidak layak diucapkan manakala seseorang tersebut tidak memiliki kewenangan dalan mengucapkannya. Misalnya seseorangyang berjanji akan tetapi tidak mau menepatinya.2) Aku berjanji akanmemberi hadiah kepada saudara. 1981:59). 3) Akhirnya suatu ucapan performtif juga tidak sah manakala orang yang bersangkutan menyimpang dari apa yang diucapkannya. 3) Saya mengangkat saudara menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Ucapan-ucapan semacam itu tidak dibuktikan benar atau salahnya baik berdasarkan logika maupun fakta yang terjadi melainkan berkaitan dengan layak atau tidak layak diucapkanoleh seseorang (Austin. 2) Suatu ucapan performatif juga tidak sah jikalau seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut tidak bonafide atau tidak bersikap jujur. akan tetapi orang yang bersangkutan masih tetap menduduki jabatansekretaris. . Misalnya saya menunjuk saudara untuk menggantikan kedudukan saya sebagai sekretars organisasi kita. sehingga ucapan tersebut tidak konsekuen (Bertens. Ucapan-ucapan tersebut juga bukan berkaitan dengan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan yang diucapkannya oleh seseorang. Menurut Austin ucapan-ucapan performatif tersebut memiliki syaratsyarat sebagai berikut : 1) Suatu ucapan performatif pasti tidak sah jikalau diucapkan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi dengan masalah ini atau suatu keadaan yang tidak memenuhi syarat atau tidak mengizinkan ucapan itu. 1962:54).

Berdasarkan cirri-cirinya ucapan performatif itu menurut Austin memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1) Diucapkannya oleh orang pertama (penutur pertama) 2) Orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tersebut 3) Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu) 4) Orang yang menyatakan terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut (Austin. wajar atau tidak wajar (Austin. 1962:54). Ketiga syarat dan keempat cirri ucapan tersebut sangat menentukan kelayakanatau ketidaklayakan suatu ucapan performatif. Sesuatu yang menarik perhatian karya Austin adlah’speech acts’.Perlu diperhatikan bahwa tiga isyarat yang berlaku bagi uccapan performatif tidak mengakibatkan suatu ucapan itu salah karena ucapan performatif itu tidak berkaitan dengan kualifikasi benar atau salah melainkan happy atau unhappy. Dari empat cirri tersebut satu cirri yang sangat menentukan ucapan performatif yaitu orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tertentu serta terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut. Oleh karena itu ucapan performatif itu hanya bisa mengalami suatu kegagalankegagalan (infelicities). Tindakan Bahasa (Speech Acts) Dalam karyanya “How to do Things with Words’ Austin juga berupaya untuk merinci macam-macam ucapan bahasa dalam kaitannya dengantindakan dalam mengucapkannya atau yang dikenal dengan ‘speech acts’. Sesuatu yang menarik karya Austin adalah kemiripan pemikirannya dengan pemikiran Wittgenstein yang . Layak atau tidak layak. 1962:56-57). Bilaman kita analisis syarat dan cirri-ciri ucapan perfomatif sangat berkaitan dengan keterlibatan si penutur dalam hubungandengan ucapan tersebut. 2.

(2) illocutionasy acts. dan menghubungkannya dengan sesuatu yang . Salah satu kelebihan filsafat Austin adalah mampu mengolah filsafat bahasa biasa dalam suatu perspektif yang bersifat menyeluruh. yaitu suatu tindakan bahasa untuk mengatakan sesuatu. yaitu tindakan bicara si penutur dikaitkan dengan sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturannya. Perhatian kita dalam tindakan bahasa lainnya. Tindakan Lokasi (Locutionary Acts) Jenis tindakan bahasa lokusi ini menurut Austin sifatnya lebih umum artinya suatu tindakan bahasa untuk menyampaikan sesuatu. “in saying’ dengan menggunakan suatu daya tertentu yang membuat si penutur bertindak atau berlaku karena yang diucapkannya. dan jenis tindakan bahas ayang terakhir adalah (3) perlocutionary acts. yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan suatu makna tertentu. Menurut Austin tindakan bahasa dibedakan atas tiga macam yaitu (1) locutionary acts.reaksi. yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan suatu efek. namun justru Austin termasuk filsuf Inggris yang berhasil merinci penggunaan bahasa biasa sebagaimana ditekankan oleh Wittgenstein. Tindakan lokusi dimaksudkan untuk mengatakan sesuatu secara jelas. pikiran atau tindakan bagi yang mendengar atau orang kedua yang diajak berbicara. Menurut Austin bahwa dalam filsafat bahasa biasa tidak hanya terbatas pada analisis makna bahasa biasa saja melainkan juga menganalisis macam-macam ungkapan atau ucapan dalam kaitannya dengan tindakan si penutur bahasa. Memang bilamana kita perhatikan detail-detail metode kedua filsuf itu memiliki kemiripan. yaitu merupakan suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu.kedua yaitu filsafat bahas biasa.

Jadi sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturan yang diucapkan itu dimaksudkan untukmemperjelas tindakan bahasa yang dilakukan itu sendiri. Oleh karena itu ‘tindakan ponetik’ yaitu suatu tindakan bahasa dengan mengucapkan bunyi tertentu sehingga memiliki makna leksikal (yaitu makna bahasa yang terkandung dalam kosakata). misalnya memberitahukan tentang sesuatu kejadian atau peristiwa tertentu. Tiga tindakan bahasa tersebut merupakan semacam sub kelas dari tindakan lokusi. 1962:95). Jadi tindakan bahasa lokusi yaitu tindakanbahasa untuk mengatakan sesuatu. Oleh karena itu dalam suatu tindakan bahasa pasti dilakukan melalui tindakan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. pukulah saya!”. Melalui ucapan lokusi ini tidak menuntut tanggung jawab si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya. (2) Phatic act . “ia mengatakan. Konsekuensinya ketiga bahasa tersebut harus termanifestasi agar tindakan bahasa lokusi dapat berhasil dengan baik. 1962:94). (2) ‘phatic act’.diutamakan (Austin. dan (3) ‘hretic act’ (Austin. Austin menggolongkan “locutionary acts’ menjadi tiga macam tindakan bahasa yaitu: (1) ‘phonetic act’. Tindakan lokusi ini tidak mengandaikan situasi si penutur untuk melaksanakanisi tuturannya itu dan lebih menonjolkan gaya bahasa si penutur dalam mengungkapkan sesuatu. (1) Phonetic act Bahasa pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan unsure empiris yaitu yang berupa bunyi bahasa.hal ini berarti melalui ucapan tersebut mengarah dan mengacu pada orang ketiga. misalnya : ‘ada seekor kucing di kebun’.

(3)Rhetic act Tindakan bahasa ‘rhetic’ adalah penampilan suatu tindakan bahasa dengan menggunakan kosa kata tertentu yang ada pada ‘phatic act’. “Apakah temanmu ada di rumah?”. Misalnya jenis-jenis bunyi tertentu yang membentuk suatu bahasa tertnetu. Dia berkata. yaitu berupa pengucapan kosakata tertentu. Berdasarkan contoh-contoh sebagimana kitalihat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ‘phatic act’ merupakan suatu kalimat langsung. contoh sebagai berikut: Dia berkata. “Saya akan tidur di kamar. adapun ‘rhatic act’ merupakan suatu kalimat yang tidak langsung (reported speech).” Dia berkata. Dia berkata bahwa apakah temanku ada dirumah. Misalnya pada contoh kalimat berikut: Dia berkata bahwa dia akan tidur di kamar.Tindakan bahasa ‘patic’ adalah merupakan suatu sub klas dari tindakan bahasa lokusi. Dia berkata bahwa tikus itu ada di dapur. Tindakan bahasa patic sebagaimana Nampak dalam contohcontoh tersebut merupakan suatu penampilan bunyi bahasa dalam suatu system kosa kata yang tersusun dalam suatu tata bahasa. Dia berkata. karena intonasi juga makna bahasa. Dengan tersusunnya kosa kata tersebut dalam suatu system tata bahasa. berarti menurut suatu kaidah tertentu sehingga memiliki makna tertentu dan oleh karena itu dituturkan melalui bunyi. Dia berkata bahwa dia menyuruhku pergi. “pergi”.” Tikus itu ada didapur”. dengan acuan dan pengertian yang sudah pasti. .

Maka dapat disimpulkan bahwa kita dapat menampilkan suatu ‘phatic act’ yang bukan merupakan suatu ‘rhetic act’. Seseorang tidak mungkin menuturkan kata-kata tanpa suatu pengertian. yang dilawankan denga suatu tindakan bahasa dengan menggunakan . ‘sense’. Austin lebih lanjut menambahkan bahwa dalam ‘rhetic act’. bandingkan Wicoyo. tetapi tidak sebaliknya (Austin.Lebih lanjut Austin menjelaskan bahwa untuk menampilkan suatu ‘phatic act’. 1962:97. dalam hal ini intonasi harus diperhatikan juga karena dalam bahas lisan intonasi memiliki suatu makna tertentu.kaerna jikalau seekor binatang mengeluarkan suara maka suara tersebut bukanlah suatu ‘phatic act’. Dalam pengertian ‘phatic act’ harus digunakan dua hal yaitu kosakata dan tata bahasa. tetapi bukan sebaliknya. Jadi dengan tindakan bahasa yang menampilkan kosa kata dan tata bahasa maka mengharuskan kita memerhatikan suatu kaidah dalam menggunakan bahasa. gerakan tangan dan isyarat). tanpa adanya suatu acuan. Tindakan Illokusi (Illocutionary Act) Menurut Austin tindakan bahasa illokusi yaitu suatu penampilan tindakan bahasa dalam mengatakan sesautu.. dan ‘reference’ (misalnya. ‘phatic act’ sebagaimana ‘phonetic act’ pada dasarnya dapat ditirukan dan didengarkan (termasuk intonasi. ‘menamai’ dan ‘menunjuk’) itu sendiri adalah tindakan penghubung yang terjadi dalam menampilan ‘rhetic act’. dan tidak dipenuhinya dengan benar kaidah dalam tata bahasa maka suatu tindakan bahasa itu dapat terjadi bersifat tidak bermakna. 1997:41). atau jikalau seseorang menampilkan ‘phatic act’ maka ia menampilkan juga ‘phonetic act’. Menurut Austin kita tidak dapat menampilkan suatu ‘rhetic act.

1962: 150) (1) Verdictives Tindakan bahasa verdictif adalah suatu tindakan bahasa dalam mengatakan ssuatu yang ditandai dengan adanya suatu keputusan (verdict) sebagaimana dilakukan oleh hakim. Austin membedakan tindakan bahasa illokusi ini menjadi lima macam yaitu : (1) Verdictives (2) Exercitives (3) Commisives (4) Behabitives (5) Expositives (Austin.sesuatu. menurut ketepatan itulah isi dari suatu keputusan. Tindakan-tindakan bahasa yang termasuk tindakan verdiktif adlah sebagai berikut: (a) Membebaskan (acquit) (b) Menghukum (convict) (c) Memutuskan (find as a matter of fact) (d) Menyangka (hold as a matter of fact) (e) Menafsirkan (inter prêt as) (f) Memahami (understand) . wasit dan yuri. Suatu tindakan bahasa verrdictif memiliki suatu hubungan dengan kebenaran dan kesalahan. perhitungan atau tafsiran. Tindakan bahasa ini merupakan salah satu usaha untuk mengetahui atau menentukan apakah sesuatu itu benar atau telah sesuai dengan suatu kenyataanatau tidak. Tetapi keputusan tersebut barangkali dapat berupa misalnya suatu perkiraan.

hak. Macam-macam contoh tindakan tersebut adalah sebagai berikut: a) Menunjuk (appointing) b) Memilih (choose) c) Memerintah (ordering) d) Member suara (voting) e) Memaksa (urging) f) Menasehati (advising) g) Memperingatikan (warning) h) Menamai (name) i) Memproklamirkan (proclaim) j) Mengarahkan (direct) (Austin: 155) .(g) Mengirakan (read it as it) (h) Memerintah (rule) (i) Menghitung (calculate) (j) Memperhitungkan (reckon) (k) Memperkirakan (estimate) (l) Menempatkan (locate) (m)Menetapkan tempat (place) (n) Menentukan tanggal (date) (o) Mengukur (measure) (p) Menilai (value) (q) Melukiskan (describe) (2) Exercitives Tindakan bahasa exersitif adalah suatu jenis tindakan bahasa yang merupakan akibat adanya kekuasaan. atau pengaruh.

Seseorang dalam melakukan tindakan bahasa tersebut memiliki tujuan bagi orang yang diajak bicara yaitu bertujuan untuk menghibur misalnya bagi yang sedang mengalami kesusahan. Secara lebih luas sebenarnya tindaka bahasa macam ini mempunyai suatu hubungan dengan tindakan verdiktif dan exersitif. ikut bergembira bilamana yang diajak berbicara baru . 1962: 156) (4) Behabitives Tindakan bahasa behabitif adalah tindakan bahasa dalam melakukan sesuatu yang menyangka simpati. Jadi si putur bahasa mengucapkan suatu tindakan bahasa dalam melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. memberikan. sikap. Hal ini memiliki konsekuensi kepada si penutur bahasa untuk melakukan sesuati. memaafkan. selamat yang senantiasa timbul dalam komunikasi social.(3) Commissives Tindakan bahasa kommisitif adalah jenis tindakan bahasa dengan melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. Contoh-contoh tindakan bahasa kommistif ini adalah sebagai berikut: a) Berjanji (promise) b) Melakukan (undertake) c) Kontrak (contract) d) Bersumpah (swear) e) Menyetujui (agree) f) Mengumumkan (declrase for) g) Melawan (appose) h) Bertaruh (to bet on) i) Mendukung (espouse) (Austin.

tindakan bahasa ‘kommisif’ tindakan bahasa ‘behabitif’ adalah tindakan bahasa yang menyangkut persetujuan sikap dan yang terakhir tidakan bahasa ‘expositif’ adalah suatu tindakan bahsa dalam menguraikan. tindakan bahasa ‘exercitif’ adalah tindakan bahasa yang berkaitan dengan suatu pernyataan yang tegas dalam hal pengaruh atau kekuatan. 1997:45). Sehingga dengan demikian kelima macam tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut sebenarnya saling berkaitan (lihat Wicoyo. juga meminta maaf jikalau melakukan suatu kesalah dan lain sebagai berikut. memberikan argumentasi. . menjelaskan. memberikan suatu penjelasan tentang penggunaanpenggunaan dan dari acuan. Beberapa contoh bagi tindakan bahasa behabitif adalah sebagai berikut: (a) Pemberian selamat (congratulation) (b) Tantangan (challenging) (c) Pemberian maaf (apologizing) (d) Kutukan (cursing) (e) Ikut berduka cita (condoling) (Austin. 1962: 159). memberikan suat keterangan atau pendapat. (5) Expositives Tindakan bahasa yang dikelompokkan pada tindakan expositif adalah sekelompok tindakan bahasa yang digunakan dalam tindakan suatu pandangan.mengalami kebahagiaan atau kesenangan. Bilamana kita simpulkan secara keseluruhan yang menyangkut kelima macam tindakan bahasa yang termasuk ‘illocutionary act’ tersebut adalah sebagai berikut: tindakan bahasa ‘verdiktif’ adalah suatu tindakan bahasa yang digunakan untuk memutuskan. serta komunikasi dalam masyarakat.

Tindakan Bahasa Perlokusi (Perlocutionary Act) Bilamana tindakan bahas ‘lokusi’ dan’illokusi’ lebih

menekankan pada peranan tindakan si penutur bahasa, maka pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ lebihberkaitan dengan respon atau efek bagi orang yang diajak berbicara oleh si penutur bahasa. Tindakan bahasa ‘perlokusi’ atau ‘perlocutionary act’ yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan efek,, reaksi atau respon atas pikiran atau tindakan pada orangyang diajak berbicara. Oleh karena itu pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah memiliki hubungan dengan akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan isi ucapan atau ungkapan bahas bagi si pendengar. Menurut Austin, bahwa bilamana seseorang itu mengatakan sesuatu seringkali menimbulkan pengaruh terhadap perasaan, pikiran atau pengaruh lain yang berupa perilaku bagi si penutur itu sendiri, orangyang diajak berbicara ataupun orang lain yang mendengarkan isi atau makna ungkapan bahasa yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan dengan merencanakan atau merancang, mengarahkan serta menetapkan suatu tujuan tertentu pada perkataan disebut tindakan bahasa ‘perlokusi’ (Austiin, 1962:101). Ungkapn-ungkapan bahasa yang termasuk pada kelompok tindakan bahasa ‘perlokusi’ antara lain sebagai berikut: (a) Meyakinkan (b) Menipu (c) Menakuti (d) Merayu (e) Mengarahkan, dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Bilamana kita bandingkan dengan tindakan bahasa ‘illokusi’ maka tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut adalah tindakan bahas yang membuat si penutur atau si pembicara melakukan suatu tindakan karena berkaitan dengan apa yang dikatakannya. Adapun tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah tindakan bahasa yang karena ucapan atau tindakan bicara dari pembicara, timbul suatu efek bagi si pendengar atau pengaruh bagi si pendengar baik secara aktif ataupun secara pasif. Memang suatu tindakan bahasa ‘illokusi’ dapat menjadi sarana bagi tindakan bahasa ‘perlokusi’ akantetapi tidakdapat sebaliknya. Menurut Austin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh tindakan ‘perlokusi’ itu merupakan suatu akibat nyata, yang tidak meliputi atau tidak mencakup akibat yang lazim terjadi, misalnya janji yang dilakukan oleh si pembicara (penutur), hal inijelas merupakan tindakan ‘illokusi’. Kiranya suatu perbedaan antara sesuatu yang kita rasakan secara nyata menimbulkan suatu akibat yang nyata pula, suatu tindakan ‘perlokusi’, adapun sesuatu yang kita lakukan yang menimbulkan akibat yang lazim atau sudah wajar terjadi itu merupakan suatu tindakan illokusi (Austin, 1962:102). Suatu perbedaan yang paling menonjol antara tindakan ‘illokusi’ dengan tindakan ‘perlokusi’ adalah akibat yang ditimbulkan atau efek yang ditimbulkan oleh perbuatan melalui ucapan bahasa. Pada tindakan perlokusi efek atau akibat dari tindakan bahasa itu merupakan suatu hasil yang diinginkan, direncanakan atau diperhitungkan sebelumnya oleh si pembicara. Dengan perkataan yang lain efek atau akibat yang timbul pada si pendengar itu memang merupakan maksud si penutur untuk mempengaruhinya.

3. Peter Strawson Filsuf analitik yang menaruh perhatian terhadap filsafat bahasa biasa adalah Peter Strawson. Ia juga sebagai filsuf Oxford yang

berkedudukan sebagai professor pada universitas tersebut dan karyakaryanya yang popular antara lain “individuals : Analisis Essays in Descriptif Metaphysics’ (1959), selain itu ia juga menulis buku yang berjudul “Introduction to Logical Theory’ (1952); The Bounds of Sense’ (1966), dan sebuah buku tentang filsafat Kant ‘Meaning and Truth’ (1970). Dalam majalah ‘Mind’ ia mengkritik ajaran Russell dengan judul ‘the Theory of Definite Descriptions’ yang cukup popular dikalangan filsuf Inggris.

Pemikiran Filosofis Konsep pemikiran filosofis Strawson tertuang dalam karyanya yang berjudul ‘Individuals’ dan kepada buku ini ia memberikan anak judul ‘Analisis Essay in Descriptive Metaphisics’. Sesuatu yang menarik perhatian dalam buku tersebut adalah munculnya kata metafisika secara eksplisit. Ia memang termasuk penganut paham filsafat bahasa biasa sebagaimana filsuf-filsuf Oxford lainnya, dan sebagaimana diketahi bahwa filsuf yang menganut filsafat bahasa biasa tidak mengembangkan doktrin mengkritik metafisika atau barangkali persoalan metafisika bagi menganut ‘ordinary language’ kurang mendapat tempat. Keadaan yang demikian inilah yang membawa Strawson mendapat perhatian, karena di samping ia tetap setiap terhadap paham ‘ordinary language’ akan tetapi ia berupaya untuk mengangkat kembali pamor ‘metafisika’ di kalangan filsuf Inggris. Menurut Strawson memang melalui ‘ordinary language’ filsuf dapat mengembangkan konsep-konsepnya, namun demikian tugas filsafat tidak boleh dibatasi hanya pada penyelidikanitu saja. Filsafat juga harus berusaha melukiskan’our conceptual structure’,yaitu susunan konsep-konsep dasar yang menandai pemikiran kita. Susunan konseptual itu diandaikan begitu sja kalau kita menyelidiki cara bagaimana ucapan-ucapan kita dipakai. Oleh karena itu apa yang dimaksud itupun dapat dilukiskan juga dan inipun merupakan suatu tugas filsafat pula.

Strawson

beranggapan bahwa dalam pemikiran kita terdapat

sejumlah konsep dan kategori yang tidak berubah dan oleh karena itu tidakmengenal sejarah. Struktur konseptual tesebut memainkan peranan dalam pemikiran sehari-hari maupun dalam pemikiran yang lebih teknis sebagaimana dipraktekan dalam ilmu pengetahuan. Usaha ‘metafisika deskriptif’ adalah untuk menggali dan menelanjangi struktur itu. Menurut pandagan Strawson istilah “descriptive metaphysics’ bertentangan dengan ‘revisionary metaphysics’. Pengertian ‘revision metaphisics’ adalah suatu konsep metafisika yang meninjau kembali realitas, suatu metafisika yang mengemukakan suatu struktur baru, adapun ‘metafisika deskriptif’ itu tidak melakukan suatu perubahan sama sekali. Menurut Strawson filsuf-filsuf yang termasuk penganut metafisika revisioner adalah Descartes dan Liebniz; adapun metafisika deskriptif antara lain sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan Kant (Bertens, 1981:65). Dengan demikian Peter Strawson membedakan dua macam metafisika yaitu :
(a) Descriptive Metaphisics, yaitu suatu metafisika yang hanya berusaha

untuk menguraikan batas-batas konseptual dari bahasa kita.
(b) Revisionary metaphisics, yaitu metafisika yang berusaha untuk

mengadakan suatu revisi atau pembaharuan terhadap batas-batas konseptual dari bahasa kita (POerwowidagdo: 11). Masalah pokok yang dibahas daam individuals yaitu persoalan refernsi atau menunjuk kepada suatu objek. Dalam ucapan-ucapan yang kita kemukakan senantiasa menunjukkan kepad suatu objek. Strawson ingin memecahkan makna bahasa yang dipahami oleh si penutur bahasa tanpa menimbulkankemaknagandaan. Untuk itu menurut Strawson kita harus menacari objek-objek individual yaitu ‘sense data’ atau ‘sense impressions’, mislnya ‘merah’ dan bahwa semua objek lain dapat diasalkan kepada data-data atau kesan-ksesan itu. Bagi Strawson “basic particulars’’ bukannya unsure yang terdapat dalam hal-hal lainnya (bukan semacam atom), melainkan suatu objek individual dan semua

objek laind apat diidentifikasikan melalui objek yang ditunjukkan itu hadir sendiri. Misalnya ;oran gyang duduk di situ di ujung deretan pertama’. Dalam masalah ini memang tidak terdapat suatu kesulitan apapun. Permasalahannya adalah bagaimana kalau yang kita maksudkan adlah objek yang tidak hadir. Misalnya ‘orang yang memakai topi hitam’, hal ini senantiasa memungkinkan bagi pendengar bahwa ucapan itu tentang oranglain daripada yang dimaksudkan. Menurut Strawson untuk menghindari kedwiartian (kemaknagandaan) yaitu dengan cara menentukan objek individual itu dalam ruang dan waktu. Misalnya pada contoh orang yang pakai topi hitam tadi, orangyang bersangkutan selalau dapat melukiskan misalnya ‘orang yang memakai topi hitam, yang beridrilima meter di depan buku gerbang Gedung MPR RI di Jakarta, pada tanggal 10 Oktober 1998 jam 10.00 pagi WIB. Menurut Strawson objek-objek individual yang dilukiskan dalam rangka system ruang danwaktu adalah objek-objek material. Jadi itulah individu-individu yan dimaksud oleh Strawson yang memungkinkan kit amengidentifikasi hal-hal lain seperti ‘pengalaman psikis’, peristiwaperistiwa, proses-proses dan bagian-bagian fisis yang kecil. Konsep strawson yang menarik secara khusus adaah tentang

‘persona’. Konteksnya adalah kesulitan yang dialami oleh para filsuf untuk mengidentifikasikan keadaan-keadaan sadar, dengan menunjuk pada objek-objek material. Terlebih dahulu Strawson menyelidiki dua kemungkinan yang ternyata harus ditolak kedua-duanya. Kemungkinan pertama disebut ‘the no ownership theory’, yaitu suatu keadaan seorang Bertrand Russell bicara tentang ‘saya’, bilamana dikatakan ‘rasa sakit saya’, ‘pengalaman saya’, dan lain sebagainya. Pengalaman misalnya hanya dapat diidentifikasikan sebagai pengalaman seseorang. Kemungkinan yan kedua adalah sebagaimana dikemukakan oleh Descartes dan kawan-kawannya, yaitu teori-teori yang berdasarkan dualism. Kalau demikian maka keadaan-keadaan sadar dimiliki oleh suatu ‘private-ego”, suatu aku yang tersembunyi bagi orang lain. Membicarakan tentang ‘pengalaman saya’ senantiasa berarti membedakan dengan pengalaman orang lain. Menurut Strawson hanya

Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’ yang kita maksudkan adlah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. Tetapi merupakan suatu individu yang tunggal. Filsafat Bahasa dan Semiotika Sebagaimana dipahami bahwa perhatian para filsuf terhadap bahasa telah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno. Tentang suatu persona dapat dikatakan tentang benda-benda material. misalnya beratnya 70 kg. belajar filsafat. yaitu dengan mengikuti ‘persona’ sebagai suatu konsep yang tidak dapat dianalisis lagi. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya jalan keluar bagi argumentasi akal sehati dalam mengatasi konstatasi “metafisika revisioner’ (bertens. terutama dalam pemikirannya tentang objek-objek material dan persona-persona yang merupakan suatu ‘basic particular’. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkantingkah lakunya. Konsep ‘persona’ tidak dibentuk oleh konsep ‘tubuh’ dan konsep ‘roh’. Demikianlah kiranya Strawson dalam karyanya “individuals’ berupaya untuk memberikan suatu argumentasi-argumentasi atas akal sehatkita. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkan tingkah lakunya. bertaqwa terhadap Tuhan’ dan lainsebagainya). maupun hal-hal yang hanya dikatakan tengan ersona saja (‘main gitar’. 1981:670. 2002:155-182). BAB IV SEMIOTIKA A. yang kita maksudkan adalah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya.ada satu jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ini. tatkala para filsuf seperti Herakleitos . Konsep Strawson itu memang sangat khas terutama dikalangan filsuf filsfat bahasa basa yang lazimnya kurang akrab dengan analisis bahas ayang berkaitan dengan metafisika dan Strawson berupaya untuk mencobanya melalui ‘ordinary language’ (Kaelan.

melainkan tentang hakikat bahasa itu sendiri dalam hubungannya dengan alam. Pendapat yang menyatakan bahawa bahasa adalah alamiah (fisei). tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. Dalam pengertian inilah maka manusia dalam mengungkap makna realitas dunia material bukannya dengan melalui medium bahasa. sumber dalam prinsip-prinsip abadi yang terdapat di alam semesta yang tak dapat diganti di luar . Menurutnya tidak ada sesuatu hakikat yang murni. 1987. yaitu bahasa tidak hanya dipahami sebagai media dalam memahami realitas kosmis. maka manusia akan gagal pula memahami fenomena material. Perhatian manusia terhadap bahasa pada zaman Yunani Kuno tersebut mengalami perkembangan yang cukup menarik. Dalam pengertian ini menurut Herakleitos segala sesuatu senantiasa dalam proses menjadi dan berubah-ubah (bertens. Dalam hubugan ini kata dalam bahasa. Herakleitos tidak sependapat bahwa hakikat realitas diatas dunia terdapat hakikat dunia yang murni sebagai suatu manifestasi dunia ideal. masa Herakleitos ini dikenali sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgman. melainkan juga mengandung kebenaran kosmis unviersal. melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa "sedang menjadi" yang dalam filsafat dikenal dengan 'panta rhei' artinya tidak ada yang tetap. 1989:10). Dengan demikian maka pemikiranfilsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Casirer. 170). Dalam masalah ini Herakleitos tidak puas hanya dngan perubahan saja melainkan senantiasa mengkaji dan menyelidiki prinsip perubahan. 1974:3). Dalam hubungan ini apakah bahasa itu dikuasai oleh alam yang disebut 'fisei' atau bahasa itu bersifat alamiah 'nomos'. definitive dan mutlak. Jikalau manusia gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa. namun dipahami dalam fungsi semantik dansimbolis. Bahkan menurut Borgman. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam realitas benda material. Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara secara verbal menduduki komposisi yang sentral. Manusia harus memahami ucapan-ucapan dalam kehidupan agar dapat memahami alam semesta. dengan demikian amak manusia mengalami kegagalan dalam memahami hakikat maka dunia material melalui filsafat bahasa. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos ini kata 'logos' bukanlah semata-mata gejala antropologis semata.menyelidiki hakikat realitas dunia fenomenal. Arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah alam material melainkan dunia manusiawi.

adapun 'syndesmoi' adalah sebagai penghubungan partikel yang dalam linguistik sering disebut sebagai konjungsi. Misalnya kata 'cow'-'cows'. Prinsip logika bahasa yang dikembangkan Aristoteles memberikan prinsip dalam ilmu bahasa bahwa dalam suatu bahasa itu terdapat suatu keteraturan (analogi). melainkan berdasarkan teori umum pengetahuan manusia (Casirer. Misalnya jamak dalam bahasa Inggris dikenal dengan menambahkan 's' pad akata jama tersebut. Kaum naturalis selanjutnya menyatakan bahwa bahasa tidak hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Pemikiran Plato inilah yang merupakan awal pemikiran filosofis tentang bahasa yang mampu menjembatani antar anama-nama dan benda-benda atau sesuatu yang diacu oleh bahasa. Onoma adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. 1987:171). 'book-books'. Aristoteles mengemukakan pemikirannya tentang kualifikasi kata yaitu 'onoma' . yang mendasarkan pemikirannya pada prinsip metafisis. tak ada satu bagianpun daripadanya yang memberi tanda secara sendiri-sendiri. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. Dalam hubungan dengan pemikiran filosofis tentang bahasa. 1984:21). dan 'syndesmoi'. 'rema'. Dalam karyanya yang berjudul Peri hermenias. 'girl-girls's. Selain Plato filsuf besar yang mengembangkan pemikiran tentang filsafat bahasa adalah Aristoteles. Secara ontologis pemikiran filosofis Aristoteles tentang bahasa itu mendasarkan pada core philosophy pemikirannya yang dikenal dengan 'hhilemorfisme'. Jadi terdapat suatu hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. 1975:21). sehingga sejak itulah muncul suatu bidang kajian untuk mencari asal usul kata yang disebut sebagai 'etimologi'. dan . Kaum naturalis dengan tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatkan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. yang secara sederhana mengungkapkan bahwa hakikat bahasa adalah meliputi materi dan benetuk (Arens. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda.manusia itu sendiri dan oleh karena itu tidakd apat ditolak. Aristoteles juga mengembangkan prinsip analogi dalam bahasa yang merupakan pengaruh dari pemikiran logikanya yang bertitel organon (Liang Gie. Plato juga mengembangkan prinsip 'anomatopeia' yang secara prinsip mendasarkan bahwa hakikat bahasa manusia tidak dapat dipahami jika berdasasrkan teori bahasa semata.

Thomas Aquinas. August Comte dan filsuf lainnya. Namun disamping teori Aristoteles tersbut juga berkembang teori yang menyatakan bahwa bahawa pada hakikatnya tidak beraturan atau arbiter (manasuka). David Hume. maka tanda juga merupakan bagiand ari aturan-aturan sosial yang berlaku. yaitu pengetahuand an ilmu pengetahuan seperti Rene Descartes. Nampaknya arah perkembangan filsafat bahasa juga mengikuti trend perkembangan filsafat saat itu. Selanjutnya Wittgenstein menekankan bahwa dalam setiap konteks kehidupant erdapat suatu aturan penggunaan masing-masing. Pada zaman in Varo mengmbangkan pemikirannya tentang bahas amenjadi semakin rinci. antara bahasa dengan sesuatu yang diacunya. . dan telah mengembangkan pembagian kelas kata yang sampai saat ini masihdiwarisi oleh ilmu bahasa. 1983:42). Hal ini kiranya senada dengan teori filsfat analitis menurut Wittgenstein bahwa ungkapan bahasa adalah merupakan suatu ungkapan kehidupan. dandalam kehidupan terdpat suatu rule of the game yaitu aturan-aturan dalam menggunakan ungkapan tersebut. Zaman romawi ini dikembangkan tentang morfologi. Teori tentang semiotika yang mengikuti tradisi Saussure. Bahkan pada zaman ini berkembang konsep Pricia. yang mendasarkan bahasa pada sitem logika. yang menekankan pada perkembangan ilmup negetahuan. Pemikiran zaman Yunani tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh para filsuf bahasa dari Roma. Pada zaman modern par filsuf lebih menekankan pada logos.sebagainya. Tokoh lain yang mengembangkan semiotika yang bahkan banyak memberikan dasar-dasar paradigmatik terhadap semiotika adalah Charles Sanders Peirce. Demikian pula pada abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengembangkan filsfat bahasa. dan teori ini dikenal dengan prinsip 'anomalia' (parera. antara signifier dengan sifnified. Terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan antara penanda dan petanda. John locke. sehingga pada periode ini dikenal dengan Zaman Romawi. yang mengembangkan fonologi dan morfologi. Demikian pula dalam bidang ilmu bahasa Ferdinand De Saussure yang mengikuti tradisi strukturalis yang mengembangkan dasar-dasar linguistik umum ynag mengembangkan pemikirannya bawha bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. menekankan bahwa semiotika adlah bidang ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (Saussure. Berdasarkan pengertian tersebut maka bila tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. 1990:15). dan membagi kelas kata menjadi 8 macam.

Berbeda dengan Saussure. dan lain sebagainya. seperti keadilan. kebenaran. Filsuf analitis selain melakukan kritik terhadap pemikiran etika juga mengembangkan tentang metode ilmu pengetahuan melalui analitika bahasa. Oleh karena itu menurut pemikiran Wittgenstein hakikat bahasa tidak hanya merupakan suatu sistem tanda melainkan secara ontologis menggambarkan realitas dunia empiris. oleh karena kekacauan dalam penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. beranggapan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan gambaran realitas dunia empiris.sementara tradisi Saussure yang dikembangkan oleh Roland Barthers yang elbih dikenal dengan istilah semiologi meskipun kedua istilah tersebut mengacu pada ilmu yang sama. Ludwig Wittgenstein dalah Tractatus (pemikiran I). sehingga sebenarnya ia adalah juga sebagai filsuf bahasa. dikembangkan . Pemikiran yang revolusioner dari Moore ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran filsafat bahasa yang dalam filsafat kontemporer disebut sebagai aliran filsafat analitika Bahasa. 1992:1). Dalam filsafat bahasa selain membahas hakikat bahasa sebagai sautu sistem tanda juga mengkaji tentang bagaimana hakikat bahasa sebagai suatu ungkapan kehidupan manusia. Moore melakukan kritik terhadap para filsuf idealisme. keagamaan. Sehingga konsekuensinya struktur logis realitas bahsas adalah sepadan dengan struktur logis realitas dunia empiris. misalnya dalam bidang etika. semiotika Peirce lebih banyak didasari pemikirannya tentang logika. logika adalah mempelajari tentang bagaimana orang bernalar. etika. Ungkapan bahasa dalam pengertian ini bukan sekedar bahasa sebagai sitem tanda. Pada abad XX par afilsuf mengembangkan paradigma baru dalam berfilsafat. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan dasar paradigmatik tentang metodologi dalam ilmu pengetahuan. Prinsip metodis yang dikembangkan oleh Wittgenstein dalam aliran atomisme logis ini. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan objek material dalam upaya mengkaji hakikat segala sesuatu. Dasar-dasar pemikiran inilah yang membuka cakrawala baru. Kritik Moore tersebut dituangkan dalam karyanya yang berjudul Principia Ethica (1903). Filsuf George Edward Moore berpendapat bahwa banyak kalangan filsuf mengalami kekacauan dalam berfilsafat. sedangkan penalaran itu menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda (Zoest. Sedangkan logika Peirce juga mengembangkan ilmu bahasa. melainkan bahasa sebagai suatu ungkapan dalam kehidupan manusia. Pemikiran Peirce sederhana.

Dua tokoh filsuf bahasayang mengembangkan semiotika pada awalnya mendasarkan pemikiran filsafatnya pada hakikat bahasa. dengan dasar ontologis. lampu lalulintas. linguistik. isyarata. Hal ini berdasarkan fakta bahwa semiotika lebih merupakan suatu sistem epistemologis dalam pendekatan bidang ilmu tertentu seperti sastra dan komunikasi. Tanda-tanda adlah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini. dan logika. Akhirnya setelah semiotika berkembang nampaknya akan membangun suatu bidang ilmu tersendiri yang disbut bidang semiotika. sejarah. Pierce mendasarkan semiotika pad alogika.leibh lanjut oleh kelompok Lingkungan Wina yang juga dikenal sebagai aliran positivisme logis. Pengertian dan Lingkup Semiotika Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani "semeion" yang berarti 'tanda'. atau 'seme' yang berarti penafsiran tanda (cobley dan Jansz. Tanda-tanda terletak dimana-mana. Berdasarkan uraian diatas maka semiotika merupakan sub kajian filsafat bahasa yang lebih menekankan pad kajian tanda. di satu sisi Saussure mengembangkan pemikirannya berdasarkan strukturalisme dan berkembang ke arah prinsip-prinsip dsar linguistik umum. Berbeda dengan Saussure. ditengah-tengah manusia dan bersama-masa manusia. Istilah 'Semeion' ini sebelum berkembang pada awalnya berakar pada tradisi studi kalasik atau skolastik atas seni retorika. Nampaknya istilah 'semeion' itu diderivasikan dari istilah kedokteran hipokratik atau asklepiadik dngan perhatiannya 'tanda' pad amasa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal yang lain. Dengan istilah lain semiotika belum menemukan body of knowledge tersendiri sebagai salash satu bidang ilmu disamping ilmu-ilmu lainnya. sehingga konsep Peirce lebih menekankan pad pengembangan semiotika komunikasi. Namun demikian kiranya perlu dipahami bahwa sampai saat ini bidang ilmu semiotika kiranya masih enggan untuk berkembang menjadi ilmu tersendiri terpisah dari filsafat bahasa. kata adalah tanda. . pragmatik dan linguistik. budaya. misalnya asap menandakan adanya api (Kurniawan. Semiotika adalah ilmu tanda yaitu metode analisis untuk mengkaji tand. dan bidang lainnya. epistemologis. sebagaimana bidang ilmu lain seperti ilmu sosial. dan aliran inilah yang mengembangkan bahasa sebagai metode dalam ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai metode kuantitatif. B. demikianpula gerak. dan dasar aksiologis tertentu. poetika. 2001:49). 1999:4).

2001:53). Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dngan apa yang ditandakannya (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sitem bahasa yang bersangkutan. dan makna (meaning) adalah hubungan antara sesuatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn. dalam arti dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. nyanyian burung. pad prinspnya hendak mempelajari bagiamana kemanusiaan(humanity). Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah dunia yang serba beragam ini. dan bentuk-bentuk nonverbal teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dngan maknanya dan bagaimana tanda disusun.. agar setidaknya kita dapat memilikipegangan. makalah. Hal ini kiranya . dapat dilihat dalam suatu aktivitas penanda yaitu suatu proses signifikansi yang enggunakan tanda yang menghubungkan objek dengan interpretasi (Sobur. serta ungkapan bahasa lainnya yang merupakan suatu tanda. iklan. puisi. Menurut Pines apa yang dikerjakan semiotika adlah memberikan kejelasan kepada manusia untuk menguraikan aturan-aturan dalam suatu kehidupan dan membawa manusia pada suatu kesadaran dalam kehidupan ini (dalam Berger.bendera dan sebagainya. frase. struktur film. Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa maka huruf. 1988:2179. 2004:17). Semiotika atau semiologi menurut istilah Barthes. Tanda dalam pengertian ini bukanlah hanya sekedar harfiah melainkan leibh luas misalnya struktur karya sastra. kata. wacana. bangunan. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri. pidato presiden. klausa dan kalimat tidak pernah memiliki arti pada dirinya sendiri.. dan segala sesuatu dapat dianggap sebagai tanda dalam kehidupan manusia (Zoest. studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. bahasa. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol. secara umum. 2000:14). poster politik. komik. cerpen. Kurniawan.s egala sesuatu (things). 1996:64). melainakanjuga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes. Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). kartun. memaknai hal-hal. Dalam penelitian sastra misalnya kerap diperhatikan hubungan antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan tanda dengan apa yang ditandakannya (semantik). Sebuah teks apakah itu surat cinta. 1992:vii). Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam hubungannya dengan pembacanya. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi.

Objek. 2000:5). komunikasi. Adapun deskriptif semiotic. Berdasarkan lingkup permbahasannya semiotika dibedakan atas tiga macam. dan lain sebagainya (lihat Sobur. yaitu berkatian dengan metabahasa. Jadi semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi dengan menggunakan tanda (sign) dan berdasarkan pada sign sistem (code) (segers. Walaupun ribuan tahun yang lalu para tokoh filsafat Yunani telah membahas tentang fungsi tanda. semiotika deskriptif (descriptive). yaitu bagaimana tanda-tanda dalam kehidupan manusia itu atau bagaimana sistem penandaan itu berfungsi. sementara Carles Moris menyebutnya sebagai suatu proses tanda ketika sesuatu merupakan tanda bagi beberapa organisme (Segers. dalam arti hakikat bahasa secara universal. adalah lingkup semiotika yang membahas tentang semiotika tertentu. (pure). 2000:4). Buku-buku yang membahas tentang semiotika murnia antara lain a Theory of Semiotic karya Umberto Eco (1976). Pembahasan tentang hakikat bahasa sebagaimana dikembangkan oleh Saussure. dan semiotika terapan (applied) (sobur. dan makna. periklanan. yaitu semiotika murni. Nauta membedakan menjadi tiga tingkatan yaitu syntactic level (tingkatan sintaktik). dan aturan itu terkandung dalam ungkapan bahasa dalam kehidupan. yang masing-masing kehidupan memiliki aturan-aturannya sendiri-sendiri (rule of the game). misalnya sistem tanda tertentu atau bahasa tertentu secara deskriptif. bahwa bahasa adalah sebagai suatu sistem tanda. Sedangkan aplied semiotik adalah lingkup semiotika yang membahas tentang penerapan semiotika pada bidang atau konteks tertentu. sedangkan bagi Peirce tentang hakikat tanda dalam hubungannya dngan objek.sejalan dengan tesis dari Wittgenstein. yang mengembangkan teori 'language games'. 2004:19). bahwa dalam kehidupan itu terdapat bebagai macam konteks kehidupan. Pure semiotic membahas tentang dasar filosofis semiotika. sastra. semantic level (tingkatan semantik) dan pragmatic level (tingkatan pragmatik). ground serta penafsir. serta di abad pertengahan pembahasan tentang penggunaan . 2004:19). Sementara Cobley dan Jansz (1999:4) menjelaskannya bahwa semiotika adalah sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji dan menganalisis tanda. misalnya dalam kaitannya dengan sistem tanda sosial. Berdasarkan tingkatan hubungan semitoika. Peirce menjelaskan bahwa semiotika adalah sebagai bidang ilmu yang mengkaji hubungan diantara tanda. dan the Meaning of information (1972) karya Doede Nauta.

Kedua filsuf terebut memang hidup seazaman. Sebeok dalam karyanya yang bertitel Contributions to the Doctorine of Signs (1977) (Zoest. 1992:viii).tanda juga telah disinggung oleh banyak filsuf. Morris dalam bukunya yang berjudul Writting on the General Theory of Signs (1971). Berbeda dengan Peirce. Misalnya Peirce mengembangkan pemikirna tentang semiotika pada tahun 1939. Mounin di dalam bukunya yang berjudul Introduction a la semiologies (1970). Ia merancang semiotika sebagai suatu teori yang baru sama sekali. meskipun kadng lebih menonjol tentang tanda bahasa. dengan konsep-konsep yang baru dan tipologi yang sangat rinci. Perkembangan berikutnya par atokoh filsafat bhasa baru ramai membhas secara sistmatis pada abad XX ini. G. namun dalam paradigmatik yang berbeda. Dengan lain perkatana dasar ontologis dan epistemologi semiotika diletakkan oleh dua tokoh tersebut. Baginya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda.J. ia dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Semiotika peirce diwarnai oleh filsafat pragmatisme dan logika. Bidang semiotika ini kemudian menjadi lahan yang subur dan bermunculan berbagai tulisan semiotika sepergi Ch. dan merancang konsep yang sangat canggih tentang ilmu bahasa beserta aspek terapannya. L. Oleh karena itu konsep Saussure tentang hakikat bahasa merupakan paradigma bagi sistem linguistik modern. Roland Barthes membahasnya dalam buku yang berjudul element de Semiologie (1953).A. Roman Jacobson dalam karyanya yang berjudul Coup d'Oeilsur le Developpement de la Semiotique 91975). Saussure menyadari bahawa sitem tanda yang disebut bahasa hanyalah salah satu di antara sistem tanda lainnya dalam . Saussure adalah seorang ahli linguistik. Umberto Eco membahas semiotika dalam bukunya yang berjudul A Theory of Semiotics 91976). Prieto di dalam bukunya yang berjudul Mes Semiologies (1953). namun sebenarnya di antara kadua tokoh tesebut tidak terdpat hubungan kausalitas. dan T. namun istilah semiotika sendiri baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert seorang filsuf Jerman. Berdasarkan pembahasan diatas sebenarnya perkembangan semiotika diilhami oleh dua orang filsuf bahasa yaitu Ferdinand de Saussarure dan Charles Sanders Peirce. yang antara lain membahas pemikiran tentang batas-batas penelitian semiotika. Meskipun kedua tokoh tersebut memberikan dasr-dasar paradigmatik tentang semiotika. sehingga konsep semiotikanya juga sangat dilandasi oleh dasar-dasar logika dan aspek pragmatis. bahkan oleh kalangan linguis dunia.

tapi tidak sebaliknya (Zoest. karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar. dan ia mengusulkan dan menyebut teorinya dengan 'semiologi'. Kita mempunyai kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda-tanda. Dengan megembangkan semiotika. Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. namun mengacu pada pengertian yang sama. Secara lebih tegas ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dalam tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun setelah kematiannya dalam Ouvres Completes (karya lengkap). Kenyataan bahwa di antara Saussure dan Peirce keduanya tidak saling mengenal. Hal yang berlaku bagi tanda pada umumnya berlaku pula bagi tanda linguistik. Keberadaan memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir. ia . Teks-teks tersebut mengandung pengulangan dan pembetuland an hal ini menjadi tugas penganut semiotika Peirce untuk menemukan koherensi dan menyaring hal-hal yang penting. berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. namun bukan satu-satunya. dan diantaranya tanda=-tanda linguistik merupakan kategori yang penting. dan untuk mencapai tujuan tersebut. atau dengan perkataan lain memiliki kekhasannya masing-masing.kehidupan manusia. Peirce menghendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat diterapkan pad asegala macam tanda. Ia memberi tempat yang penting pada linguistik. 2000:14) tanda-tanda berkaitan dengan objekobjek yang menyerupainya. Menurut Peierce (dalam Berger. tetapi bukan satu-satunya kategori. sedangkan Saussure mendasarkan semiotika pada filsafat bahasanya. Menurut peirce semiotika didasarkan pada logika. Namun pandangan filosofisnya memiliki perbedaan. Dalam satu kalimat ia mengungkapkan gagasan. 1992:2). Kekhasan dan perbedaan itu dikarenakan pada latar belakang filosofis yang berbeda. Peirce mendasarkan semiotika pad tradisi filsafatnya sendiri yaitu pragmatisme dan logika. menunjukkan bahwa meskipun istilah semiotika (menurut Peirce) dan semiologi (menurut Saussure) berbeda. Dengan demikian sebenarnya Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. yang merupakan dasr epistemologis linguistik umum. bahwa pada suatu saat harus ada teori tentang tanda yang mencakup semua sistem itu. sedangkan penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda.

Ketika para pengikut Saussure secara bertahap menyusun teori semiologi secara umum yang telah diramalkan kehadirannya oleh Saussure mengilhami mereka. Ia menambahkan bahwa teori tentang tanda linguistik perlu menemukan tempatnya dalam sebuah teori yang lebih umum. Saussure mengembangkan dasr-dasar teori linguistik umum. konsep Peirce dapat dikembangkan pad penelitian bidang teater.5).memerlukan konsep-konsep baru. Saussure adlah seorang tokoh besa ryang berasal dari Swiss pendiri sebagai pendiri dan Bapak linguistik modern (Lyons. musik. Demikian pula semiotika Peirce dikembangkan oleh George Klaus dan diintegrasikan dengan pemikirannya sendiri (zoest. Morris telah mencampurkan konsep-konsep yang dibuatnya sendiri ke dalam konsep-konsep Peirce. lazimnya yang mendasarkan pada filsafat bahasa Saussure menggunakan istilah semiologi. Memang perlu dimaklumi dalam perkembangan berikutnya pendekatan epistemologis tersebut menyebabkan penggunaan istilah itu denganberdasarkan ciri khas masing-masing. berdasarkan paradigma sistem linguistik umum yang telah dibangun oleh Saussure. sedangkan yang mendasarkan filsafat Peirce. menggunakan istilah Semiotika. artistektur. dan untuk itu ia mengusulkan nama semiologi. melainkan juga karena pada waktu mereka mengerjakan teori. Baiks ecara implisit maupun eksplisit para ahli semiotika yang mengikuti tradisi Saussure menganggap bahwa tanda-tanda linguistik mempunyai kelebihan dari sistem semiotika yang lain (Zoest. linguistik berkembang dengan pesatnya. iklan. 1992:2). Menurut Grenz. 1992:4. dan lains ebagainya. Misalnya dalam keinginannya untuk membangun semiotika behavioris. Dasar filosofis inilah yang menarik Barthes untuk mengembangkan semiologi. Konsep Peirce telah diperkenalkan di Eropa oleh Max Bense (Jerman) yang menggunakannya dalam penelitian estetika dan analisis tekstual. Untuk melengkapi konsep itu ia menciptakan kata-kata baru yang diciptakannya sendiri. Berdasarkan pernyataan ini sebenarnya tidak ada perbedaan epistemologis antara kata semiotika dan semiologi. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai suatu sistem tanda. suatu kelebaihan yang luar biasa dari teori Saussure adalah ia . Berbeda dengan Peirce. Menurut Lyons. 1995:38). teori Peirce telah banyak mengalami perubahan. kebudayaan. Dalam karya Eco tahun 1972 dan (1976). Bahkan di Eropa pemikiran Peirce berkembang dengan sukses melalui karya eklektis Umberto Eco dari Italia. Dalam penyebarluasan itu.

Mounin). dalam kerja kaum semiotik yang cenderung memberikan tempat yang tinggi dan sentral. dalam teorinya menggunakan istilah atau kosakata yang berbeda. bahwa ctatan . 2001:178). yang sering dihasilkan oleh pengirim tanpa disadari.menolak teori historis tentang bahasa yang pada abad ke-19 berkembang pesat di Eropa. Pengaruh Hjelmslev terlihat lagi dalam penelitian para tokoh semiotik yang menaruh perhatian pad atanda-tanda yang tanpa maksud yang berupa symptom. 1992:4). Roman Jakobson (1966) menyatakan sebagai berikut. dan bahasa pada hakikatnya adalah merupakan suatu sistem tanda (Grenz. Pasca teori Saussure. Menurut Saussure bahasa adalah penanda (significant) dan petanda (signifie). melainkan untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) yang juga dipunyai tanda itu. epistemologis maupun aspek aksiologis. Jadi jika kita simpulkan kedua tokoh semiotika tersebut memang tidak memiliki hubungan kausalitas baik dari segi ontologis. yaitu tempat yang biasanya diduduki oleh filsafat. Roland Barthes adalah tokoh yang paling terkenal dari aliran semiotika ini. Buyssnes. Pada penggunaan konsep linguistik ditambahkan penggunaan konsep psikoanalisis (aliran Freud) atau sosiologis (marxis). Julia Kristeva adalah tokoh yang paling dikenal dari aliran ini biasanya disebut 'semiotika ekspansionis'. Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan. teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotika adalah teori Hjelmslev. Sistem semiotik dari rambu-rambu lalu lintas merupakan salah satu contoh penggunaan tanda seperti ini. yang digunakan dngan sadar oleh mereka yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya ( si penerima). yang populer disebut 'semiotika konotasi'. Pengaruh itu nampak pada teori semiologi komunikasi. seorang strukturalis dari Denmark. Aliran semiotika ini juga mengambil aspek epistemologi paham linguistik modern Noam chomsky yang beraliran transformasionalisme generatif (Zoest. dan studi bahasa adalah berkaitan dengan objek material ujaran dan perilaku bahasa manusia secara empiris yang disebut parole. Ketika Saussure memberikan kuliah-kuliahnya yang dikenal dengan linguistik umum. Mereka menggunakan istilahistilah dari linguistik. Ahli semiotika yang mendasarkan pada filsafat Saussure. (Prieto. Teori ini merupakan pendekatan semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal). ia belum mengenal studi sebagaimana ditulis oleh Peirce pada masa itu.

2004:v). 2004:vii). dan semiotika komunikasi (semiotics of communication) adlaah semiotika yang berdasarkan filsafat Peirce. teori dan praksis. 1992:5). akan tetapi tidak berarti bahawa semiotika tersebut mengabaikan penggunaan tanda secara kongkrit oleh individu-individu di dalam konteks komunikasi sosial. misalnya signifikansi dan komunikasi. Dalam kenyataannya pembahasan dua macam model semiotika tersebut justru terjadi interaksi yang saling memperkaya dan saling melengkapi. Namun demikian kedua tipe tersebut tidak perlu dipandang sebagai suatu kontradiksi. meskipun secara epistemologi menunjukkan ciri khas masing-masing. akan tetapi tidak berarti mengabaikan sistem tanda (lihat Piliang.tentang semiotika yang telah dikembangkan oleh Peirce di atas kertas selama setengah abad. dogmatis dan revolusioner. Para ahli semiotika membedakan semiotika signifikansi (semiotic of signification) dicirikan berdasarkan filsafat bahasa Saussure. statis dan didnamis. dan seakan-akan tidak ada ruang lain (Piliang. atau jikalau paling tidak catatan-catatan tersebut telah dikenal oleh para ahli linguistik. penting dari segi sejarah. konvensional dan progresiv. bahwa terdapat dua tradisi yang besar yang mengikuti pandangan dua filsuf besar yaitu filsuf bahasa Ferdinad de Saussure yang merupakan bapak linguistik modern dan Charles Sanders Peirce yang memiliki latar belakang filsfat pragramtisme. Demikian pula semiotika komunikasi yang mendasarkan pada filsafat Peirce. sedangkan . Jika dikaji secara filosofis kedua tipe semiotika tradisi Saussure danPeirce justru sebenarnya saling memperkaya. Semiotika yang mengikuti tradisi Saussure lebih dikenal dengan istilah 'semiologi. meskipun lebih menaruhp erhatian terhadap tanda sebagai sebuah sistem dan struktur. logika dan bahasa. Semiotika signifikansi yang berakar pada tradisi filsafat bahasa Saussure. maka pandangan Peirce pasti akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teori linguistik internasional (lihat Zoest. meskipun menekankan pada produksi tanda secara sosial dan pross interpretasi yang tanpa akhir (semiosis). dan sampai tahun 1930-an belum diterbitkan. Semiotika Signifikansi Sebagaimana dipahami oleh para ahli semiotika. Dua tipe semiotika yang dikembangkan olehdua filsuf tersebut memang memilkiki ciri khas serta karakteristik masing-masing.

oleh karen aitu bahasa merupakan sarana komunikasi manusia maka bahasa juga sebagai sistem tanda dalam komunikasi manusia (Piliang. sementara 'semiotika komunikasi'. pengkombinasikan dan penggunaan tanda secara tertentu. maka konvensi juga mengatur tanda secara sosial tentang pemilihan. Meskipun demikian karena keterkaitannya sistem tanda bahasa dngan sistem sosial. ia mempunyai konsekuensi lebih luas pada bidnag-bidang di luar linguistik. bisa menjebabk pada kerangka pikir relasi . bahwa bila tanda juga merupakan bagian dari aturan-aturan dalam kehidupan sosial yang berlaku. adalah semiotika pada tingkat parole.tradisi Peirce dipopulerkan dengan istilah semiotika. antara sistem yang memungkinkan berbagai tindak tanduk sosial. Apa yang secara epistemologi disebut 'semiotika signifikasi' pada prinsipnya adalah semiotika pada tingkat 'langue. dan contohcontoh aktual tingkah laku itu sendiri. Saussure mengusulkan dua model analisis bahasa. yaitu analisis bahasa sebagai sebuah sistem (langue). atau dengan analogi yang lebih ekstrem. yang memiliki aturan tertentu yang disepakati bersama. sistem vs tindakan. dan bahasa sebagaimana ia digunakan secara nyata oleh individu-individu dalam berkomunikasi secara sosial (parole). sdisebabkan secara esensial ia merupakan perbedaan antara 'institusi' dan 'event'. Hal inilah yang memungkinkan bahasa sebagai sarana komunikasi sosial. analogi istitusi dan evenet. antara sebuah 'kitab suci' dan bagaimana setiap orang 'mengamalkannya' (Pilliang. Perbedaan antara langue dan parole ini sangat sentral dalam pemikiran bahasa Saussure. Meskipun demikian. oleh karena sebagaimana dikemukakan oleh Jonathan Culler. 2004:vii). 2004:vii). pedoman dan pengamalannya untuk menjelaskan dua model analisis bahasa Saussure tersebut. dan bahasa adalah sebagai convensi yang arbitrer. melainkan dalam bahasa terdapat konvensi sosial (social convention). Berkaitan dengan hal ini. Jika bahasa sebagai sistem tanda dalam komunikasi sosial manusia maka implisit dalam pengertian tersebut terdapat sebuah relasi. sehingga sistem tanda ini memiliki nilai sosial. Sussure tidak mengakui bahwa bahsa memiliki keteraturan secara alamiah. Oleh karena itu dalam semiotika terdapat pengertian sistem tanda (sign system). Pandangan filsafat Saussuretentang bahas amenyebutkan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda.

1967. adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem. signifikansi tidaklah sederhana sebagai relasi antara penanda dan petanda. Kompleksitas relasi inid igambarkan oleh Roland Barthes lewat ’tingkatan signifikansi’ (staggered system). Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention). Sesungguhnya ada beberapatingkat relasi tersebut. Semiotika signifikasi. Demikian . Selain itu. dengan demikian. ”Denotasi’ adalahtingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda. akan tetapi lebih bersifat konvensional. yang mengatur pengkombinasian tanda dan maknanya. Meskinpun demikian. atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makan yang ekplisit. Barhtes menjelaskan dua tingkat dalam pertandaan. yaitu makna-makan yang berkaitan dengan mitos. 2004:viii). yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat. berdasarkan aturan main dan konvisi tertentu (Fiske. 1990:85). seperti setiap mesin. 2004:vii). Dalam kerangkalangue.horisontal atau relasi 'satu arah' (Pilliang. untuk menjelaskan ’konsep’ atau ’makna’. Mitos sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman semiotika Barthes adalah sistem pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah (Barthes. yang akan dijelaskan nanti Saussure justru melihat relasi antara langue dan parole sebagai relasi yang saling menghidupkan dan saling mengembangkan. Barthes juga menjadi makan yang lebih dalam tingkatnya. Dalam melihat relasi pertandaan ini. mulai dariyang sederhana sampai yang sangat kompleks. yang dogmatis dan hegemonis antara yang pertama dan yang kedua. Relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi inilahyang disebut sebagai siginifikansi (signification). Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu.semacam mesin untuk memproduksi makna. Akan tetapi bertentangan dengan pandangan tersebut. Pilliang. Sementara ’konotasi’ adalah tingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsiran). Saussure menjelaskan ’tanda’ sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untukmenjelaskan ’bentuk’ atau ’ekspresi’ dan bidang penanta (signified). langsung dan pasti. yaitu denotasi (denotation) dan konotasi (connotation). hanya terdapat kemungkinan yang terbatas bagi setiap orang dalam menggunakannya. Akan tetapi.

benda) dan syntagm. dogmatik dan mekanistik. yaitu perbendaharaan tanda (kata. Semiotika signifikasi dianggap mengandng banyak kelemahan.’ dst. Kata-kata mempunyai makna disebabkan diantara katakata tersebut ada ’perbedaan’. Ada berbagai rule of the game atau aturan penggunaan dalam bahasa. aturan pengkombinasiannya (code). dan hanya satu unit dari pilihan tersebut yang dapat dipilih. terutama sifatnya yang statis. Dalam bahasa kita disediakan perbendaharaan kata atau tanda (vocabulary). tidak ada hubungan keharusan antara kata ’peci’ dan sebuah benda yang kita pakai sebagai penutup kepala kitaL apa yang memungkinkan terjadinya hubungan adalah perbedaan antara ’peci’. menaruh perhatian pada’relasi’ sistematik antara perbendaharaan tanda. sintak) yang harus kita patuhi. dalam bahasa. gambar. menurut Saussure bahwa di dalam bahasa hanya ada prinsip perbedaan (difference). Misalnya. Jika kita ingin menghasilkan sebuah ekspresi yang bermakna. ’pacu’.s ehingga menghasilkan ungkapan bermakna. visual. Aturan pertama. ’kode’ adalah seperangkat aturan atau konvensi bersama yang didalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan. Meskipun demikian. ’picu’. 1979:48). menurut Saussure hanya dimungkinkan lewat operasinya dua aksis bahasa yang disebutnya aksis paradigms dan aksis syntagms. disebabkan mereka berada didalam ’relasi perbedaan’.pula bahasa. serta konsep-konsep (signified) yang berkaitan dengannya. serta perangkat aturan main bahasa (gramar. yaitu cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main tertentu (Barthes. Berdasarkan aksis bahasa yang dikembangkan Saussure tersebut. ’Syntagms’ adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yang ada berdasarkan aturan tertentu. Semiotika signifikansi. semiotika signifikansi yang dikembangkan oleh Saussure dan Barthes banyak mendapat kritik dari berbagai pihak. Aturan main kedua adalah perbendaharaan tanda dan cara kombinasinya. ’Paradigms’ adalah satu perangkat tanda (kamus. ’perbedaan. ’poci. yang hanya mempunyai satu kata saja untuk menjelaskan setiap hal. dalam hal ini. Semiotika struktural dianggap terlalu menyandarkan diri pada sistem dan struktur yang tidak berubah. misalnya kata ’rem’. 1967:125). Roland Barthes mengembangkan sebuah ’model relasi’ antar apa yang disebutnya system. sehingga menutup pintu bagi peran manusia . manusia tidak bisa membayangkan sebuah bahasa. perbendaharaan kata) yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat. sehingga kemungkinan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain (Eco.

1998:27). sesuai dengan perkembangan sosial dan lingkungan. Berbagai pembacaan mendalam terhadap karya Saussure menunjukkan bahwa Saussure sesungguhnya tidak ’anti perubahan’. ada sifat-sifat fleksibilitas yang dcukup kuat pada filsafat bahasa Saussure. dan kemudian menadi ’konvensi baru’. sebagaimana yang dikemukakanoleh Paul J. yang mempunyai potensi-potensi kreativitas dan produktivitas dalam mengubah bahasa (Pilliang 2004:vii-xii). Akan tetapi. perubahan tersebut tidaklah sewenang-wenang dan anarkis (Piliang. dapat berkembang ’egoisme’ atau ’anarkisme bahasa’. .sebagai subjek (Subject). meskipun demikian. dalam proses penggunaan bahasa tersebut. dalam pengertian. langue adalah ’produk sosial’. selama perubahan tersebut diterima secara kolektif. Dengan demikian. kini dapat mengalami perubahan ketika sistem tersebut ’ditempa’ di dalam praktik-praktik penggunaan bahasa secara diakronik. bahwa sistem bahasa (langue) merupakan kondisi yang harus ada dalam setiap penggunaan tanda secara konkrit (parole). terbuka pintu bagi sebuah titik awal perubahan sistem (change in system). 2004. sebaliknya justru merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. sistem bahasa tidak bisa diubah oleh individu-individu semata sebagai pengguna bahasa pada tingkat parole. Thibault. dalam Rereading Saussure: The Dynamics of Signs in social Life. situasi dan hal-hal baru yang berkembang di dalam praktik tersebut menuntut sistem untuk berubah (Piliang. sebab dengan demikian. yang didalanbya lingkungan. Dengan demikian. keadaan. Akan tetapi. Dengan demikian. Dengan demikian.x). Saussure melihat. Sistem bahasa hanya bisa diubah oleh individu dan ’kolektivitasnya’ (Thibault. yang melihat strutkru dan sistem bahasa sebagai sesuatu yang dapat berubah. Sistem bahasa justru dapat berubah ketika ia ’diui’ secara terus menerus di dalam praktik kehidupan sosial. struktur bahasa yang berdasarkan pemikiran saussure dilihat sebagai bersifat sinkronis. bahwa ia secara terus menerus ’ditempa’ di dalam praktik penggunana bahasa komunitas. 2004:xi). Relasi atas langue dan parole bukanlah sebuah relasi yang statis dan tidak berubah. tidak benar merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. tindak individu dalam penggunaan bahasa dalam mengubah sistem tanda. sebagai mana yang sering dituduhkan. Sebaliknya. tidak benar pengguna bahsa dilihat hanya sebagai ’subek yang pasif’ dihadapan hegemoni sistem dan atuaran bahasa tersebut. Artinya. Setiap pengguna bahasa akan mengacu pada sistem bahasa tersebut.

kemestian dan tak berubah. 1998:28).yang didalamnya langue dipelihara prinsip dasarnya. melainkan subek dari transformasi historis dan sosial. Akan tetapi. Penggunaan bahasa secara kreatif dan inovatif selalu dalam konteks transformasi sumber-sumber sosial dan semiotis secaa evolusioner. Meskipun demikian. Perubahan tersebut dilandasi oleh prinsip dialektika sosial sendiri. Konsekuensinya adalah bahwa langue tidak dapat berdiri sendiri secara otonom dalam kaitannya dengan parole. yang didalamnya terjadi proses ’tesis’ dan ’sintesis’ sebagai jalan kearah pengkayaan. 1998:78). yang merupakan prakondisi dari . kebebasan dalam parole bukanlah ’kebebasan tanpa batas’. akan tetapi sekaligus diubah secara evolusioner. akan tetapi ia menyesuaikan sesitem tersebut dengan perubahan dan ketidakpastian situasi yang ada (contingency). sebagaimana yang sering dituduhkan. anarkis. Dalam berkomunikasi subek tetap saa secara aktif menggunakan sumber daya langue berdasarkan pengalaman masa lalu dan pola –pola regulernya. tidak sistematis. bukan perubahan yang acak dan revolusioner (Pilliang. (Thibault. sperti yang dijelaskan Thibault di atas. 2004: xii). Aktivitas produksi makna dalam parole dimungkinkan sekaligus ’dibatasi’ oleh kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh sistem bahasa. bahasa justru selalu ’bergerak’ dalam kondisi ketidakstabilan yang permanen (permanen instability) (Thibault. Dengan demikian. ’perubahan’ yang dimaksud Saussure bukanlah perubahan yang sewenang-wenang. atau anarkis. melainkan saling mempengaruhi secara timbal balik. hanya saja ia tidak memfokuskan diri pada ruang tersebut. Pemikiran Saussure tentang dinamika dan dialektika perubahan. tetapi pada 'sistem bahasa' (langue). akan tetapi pada posisi yang relatif tidak berbeda dengan Peirce. Ketimbang besifat stabil. penyempurnaan dan kompleksitas bahasa secara terus menerus. ’kebebasan’ disini bukanlah dalam pengertian kebebasan random. dan tanpa aturan. sesungguhnya telah menempatkan Saussure tidak pada posisi "membelenggu' subjek pengguna bahasa lewat 'kekuasan struktur' (hegemony of structure). Dengan perkataan lain. Saussure mengakui parole sebagai ruang tempat berlangsungnya perubahan. Parola adalah semacam ’kebebasan kombinasi’ (freedom of combination). struktur dan relasi bahsaa di dalam sistem bahasa yang ada tidak bersifat permanen. Individu-individu tidak mempunyai kebebasan untuk memproduksi kombinasi semau dan sesukanya.

’Tanda’ menurut pandangan Peirce adalah ”. Bila Saussure dianggap mengabaikan subjek sebagai perubahan sistem bahasa. Pilian.something which stands to somebody for something in some respect or capacity” (Winfried Noth.. Model tradic yang digunakan Peirce (representamen + object + Interpretant = sign) memperlihatkan peran besar subek ini dalam proses transformasi bahasa. ia tidak masuk terlalu jauh ke dalam aspek komunikasi tersebut. yaitu proses penciptaan ’rangkaian interpretant yang tanpa akhir’ di dalam sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda yang didalamnya tnda mendapatkan tempat hidupnya. Sebagai sebuah ’mesin produksi makna’. 'medan' yang justru dimasuki secara intens oleh Peirce (Pilliang. ’tanda’ dalam pandangan Peirce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti. ”Semiotika komunikasi”. bertumbuh.. akan tetapi juga aspek komunikasinya. yang menjadi landasan bagi semiotika komunikasi. dalam rangka memproduksikan sebuah ekpresi bahasa bermakan (Eco. adalah semiotika yang menekankan aspek ’produksi tanda’ (sign production). yang memilih tanda dari bahan baku tanda-tanda yang ada. ketimbang ’sistem tanda’ (sign system).parola. 1995:43). Saussure mengakui tidak saja aspek signifikansi dari semiotika. dan mengkombinasikannya. menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotic. yang disebut proses ’semiosis tak terbatas’ (unlimited semiosis). Menurut Eco sistem tanda (langue) dan proses . semiotika komunikasi sangat bertumpu pada ’pekera tanda’ (labor). Umberto Eco yang sering disebut-sebut sebagai ’penengah’ antara semiotika signifikasi Saussure dansemiotika komunikasi Peirce melihat ’salah kaprah’ dalam melihat model-model semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi sebagai sebuah relasi oposisi biner. 1995:42). Tampa pada definisi Peirce ini peran ’subjek’ (somebody) sebagai bagian tak terpisahkan dari pertandaan. 1979:15). Hanya saja. dan berkembang bika (Winfried Noth. Semiotika komunikasi Peierce melihat tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subek atas tanda (intepretant). 2004:xii). Peirce sebaliknya melihat subek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses signifikasi. Artinya. 2004:xii).

menata dan . yang tidak dapat didamaikan. dan ’model produksi tanda’ Peirce di dalam A Theory of Semiotics. Sebab. ’progresif dan ’transformatif’ yang sama-sama dimiliki oleh Saussure maupun Peirce. Dapat dilihat di sini. dan tidak diuraikan secara detail oleh Peirce. khususnya pekerja tanda. bagaimanapun uga ’tanda’ adalah asal usul dari ’proses semiosis’. Keharusan memilih di antara dua teori ’inilah yang merupakan salah kaprah dalam semiotika. yang melihat sifat-sifat ’dinamis’. yang membuat seakan-akan Saussure danPeirce merupakan dua ’kubu perang’. yang menyebabkan ’jurang’ yang memisahkan antara kedua ahli semiotika itu sesungguhnya tidak ke sedalam sebagaimana yang dibayangkan. Eco memberikan sebuah elaborasi yang komprehensif dan kritis mengenai ’model signifikasi’ Saussure. sehingga dengan demikian tidak ada ’oposisi’ antara ’keliaran semiosis’ (dan aktivitas interpretasi) Peirce dan kekakuan dan ’kebekuan’ tanda Saussure (Eco. bahwa ’semiotika itu sesungguhnya tidak sedalam sebagaimana yang dibayangkan. Dalam hal ini. sebagai ’dua seteru’ yang tidak dapat dipertemukan. seakan-akan orang harus memilih antara ’teori tanda’ (teori signifikansi) dan ’teori semiosis’ (yang disebut uga oleh Eco ’teori praktik signifikant’. Ini berarti. Ini berarti. bahwa pandangan Eco ini sejalan dengan pandangan Thibault. Menurut Eco. Lewat sebuah ’otonom’ yang mendalam tentang karya Peirce dan Saussure. Eco mengelaborasi lebih jauh konsep ’dinamika tanda’ yang tidak dikembangkan secara khusus oleh Saussure. bahwa ’semiotika signifikansi’ dan ’semiotika komunikasi’ semata adalah penamaan dari dua proses yang satu sama lain sesungguhnya saling berkaitan. sebagaimana yang dikatakan Eco. ’teori proses komunikasi’. ketika seseorang ’menuturkan’ kata (atau image).interpretasi tanda secara tak terhingga (Semiosis) tidak bisa dilihat dalam keranka oposisi biner. Ada pandangan yang keliru. saling mengisi. ’teori teks’ dan ’teori wacana’). (pilliang. 2004:xiii). 1979:1). Ia mempekerakan tanda-tanda (memilih. maka ia terlibat di dalam sebuah proses ’produksi tanda’ (yang sebagaimana konsep produksi dalam ekonomi melibatkan berbagai lapisan pekerja (labor). saling mempengaruhi timbal alik (reciprocal) dan tidak dapat dipisahkan begitu saja sebagai dua ’medan’ yang otonom. bahwa seakan-akan orang tidak menyatukan antara ’doktrin tanda’ (doctrine of sign) dan doktrin ’semiosis’ sebagai proses interpretasi tanpa akhir. menyeleksi.

ia harus mengusulkan cara baru pengkoden (new coding). Di dalam proses pertukaran kata (atau image) tersebut sesungguhnya berpeluang teradi proses perubahan kode (the changing of codes) (Eco. 1979:188). 1979:189). Akan tetapi. yang memberi peluang bagi ’kreativitas bahasa’. oleh karena konvensi itu sendiri belum ada. sehingga menciptakan sebuah sistem bahasa yang selalu ’siaga’ terhadap berbagai situasi atau lingkungan baru. Proses komunikasi dapat menciptakan semacam diskursus baru (new discourse). yaitu ketika ekspresi atau isi komunikasi betul-betul baru dan tak terumuskan (undefinable) lewat kode yang ada (Eco. dalam komunikasi sseorang dihadapkan pada keharusan menemukan sebuah fungsi tanda yang baru. Untuk mengusulkan sebuah kode. dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode (kode) yang dipahaminya. proses dinamika bahasa tersebut bukanlah proses yang semena-mena. maka ia menggunakan tenaga kera interpretasi. Orang dapat merestruktur ekspresi maupun isi pesan mengikuti kemungkinankemungkinan dan kapasitas pengkombinasinya yang dinamis. akan tetapi pesan itu sendiri dapat merestruktur kode. Eco melihat semacam dialektika antara kode (code) dan pesan (message). Dalam hal ini. sebagaimana yang diingatkan oleh Saussure. oleh karena setiap penggunaan fungsi tanda diatur oleh sebuah kode. 2004:xiv). Akan tetapi. 1979:152). Akan tetapi. dalam rangka memahami kata (atau image) tersebut. . Ketika orang lain ’membaca’ kata (atau image) tersebut. berarti mengusulkan ’korelasi’. yang satu sama lain saling mendinamisasi. maka ia harus melandasi korelasi tersebut berdasarkan ’konvensi baru’ (new convention) (Eco. 2004:xii-xiv). yang merupakan produk sosial dari bahasa (Pilliang.mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu). Proses ’dinamika bahasa’ seperti ini. Seperti seorang pelukis. dan setiap korelasi harus berdasarkansebuah ’konvensi’ (convention). Meskipun kode mengontrol penyampaian pesan. yaitu ketika situasi diskursus menuntut adanya perubahan aturan main. Dalam hal ini. yang menuntut danya perubahan. Eco melukiskan sebuah situasi diskursus yang didalamnya berlangsung proses ’kreativitas yang mengubah aturan (rule changing creativity). (Pilliang. oleh karena produk akhir dari setiap perubahan sistem adalah konvensi baru. sebagaimana yang kita lihat di atas halnya dimungkinkan ketika sistem bahasa (langue) dan proses penggunaan tanda secara sosial merupakan sebuah ’spiral’.

Ia mengemukakan. yang didalamnya yang menjadi fokus atau motif bukanlah 'pesan' (message). simulasi atau ironi (Piliang. tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk yang berasal dari tawuran pelajar di jalan. chaos. Artinya. misalnya. Michel Serres melihat elemen noise yang selama ini dianggap sebagai 'ekses' dalam komunikasi sebagai elemen yang sanga tpenting dalam komunikasi. Bahwa ada semacam 'medan komunikasi. Cara-cara berpikir seperti inilah yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Derrida. disorder. Deleuze & Guattari.Semiotika 'ekstra-komunikasi' Ada sebuah 'medan bahasa' yang secara sepintas tampak 'melampaui' ruang kontroversi antar a'semiotika signifikansi' dan semiotika komunikasi'. kitatampaknya diajak untuk berpikir sedikit ekstrem tentang teori komunikasi. maka hirukpikuk di sini tidak hanya dilihat sebagai 'pengganggu' komunikasi guru-murid. akant etapi ia mempunyai hubungan yang 'ironis' dengannya. disinformasi. melainkan 'sesuatu' yang berada di luar relasi komunikasi sender/message/receiver. noise itu juga membawa sebuah pesan. yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan.. bahwa noise bukanlah semata elemen 'pengganggu' komunikasi. Dalam konteks semiotika ekstra-komunikasi' ini. apakah itu yang disebut noise. akant etai ia juga . Bila diciptakan ruang kreativitas dalam bahasa. maka semiotika 'ekstra-komunikasi' lebih menaruhp erhatian pada kemungkinan baru yang tidak terpikirkan' (unthinkable). Serres dan Baudrillard. melainkan salah satu unsur penting dalam komunikasi itu sendiri.'tak terbayangkan' (unimaginable) atau bahkan 'tak terpresentasikan ' (unrepresentable) di dalam bahasa. Bila semiotika signifikansi Saussure dianggap terlalu bersandar pada langue sebagai 'pusat' (center) yang dituduh menghalangi inovasi dalam bahasa. turbulensi. yaitu apa yang disebut 'semiotika ekstra-komunikasi'. 2004:xv). maka bahasa harus melepaskan sandarannya pad cara berpikir sistem dan struktur. dan bila dibuka pintu bagi kemungkinan untuk menyingkap berbagai hal yang tak terpikirkan dan tak terpresentasikan dalam bahasa. Kristeva. yaitu sebuah 'medan ekstra'. Meskipun semiotika seperti ini masih bergantung pad akonsep-konsep tanda dan komunikasi. Bila didalam sebuah ruang kelas. Dalam hal ini. Hal ini disebabkan bahwa noise pada kenyataannya mempunyai ciri0ciri yang tidak berbeda dengan pesan (message). ketika seorang guru tengah asyik berbicara.

makna atau noise. Artinya. Baudrillard melihat. teknik dan kecanggihan teknologi medium itu sendiri. telah memerangkap setiap orang di dalam keterpesonaan tindak. misalnya. sehingga pesan komunikasi yang sesungguhnya menjadi tidak dipentingkan lagi. Noise. determinasi seperti ini menjadi sebab utama dari 'penutupan' (foreclosure) berbagai kemungkinan tafsiran kreatif yang disediakan oleh bahasa dan tanda. yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinil. bahwa justru 'medium' itu sendiri yang kini menjadi pesan (medium is the message). Baudrillard melihat sebuah model komunikasi. ke arah motif . 2004:xix). Baudrillard melukiskan tentang bagaimana relasi komunikasi. pada kecenderungan determinasi speech atas writting. languae atau paroe. Jacques Derrida melihat. kondisi 'ketidakterisian makna' dan 'ketidakterisian kode' ini dibiarkan secara tak berhingga. yang secara eksplisit membuka pintu bagi indeterminasi makna. Di dalam the Ecstras of communication.sebuah 'pesan' misalnya murid harus berjaga-jaga terhadap akibat samping dari tawuran tersebut (Serres. signified atas signifier. melainkan pada 'permainan medium' itu sendiri. yang didalamnya pusat perhatian bukanlah pad pesan. teknik dan teknologi komunikasi itu sendiri. dan tafsiran 'prospektif' (prospective). didalam sebuah 'permainan bebas' (free play) (Derrida. pusat perhatian dan motif dalam komunikasi telah beralih ke pencarian pesan ke arah keterpesonaan yang ditimbulkan oleh permainan. justru menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pesan dalam komunikasi. Derrida lalu membedakan antara dua cara penafsiran. dengan melepaskan diri dari determinasi sistem. Ini tampak. dengan demikian. bahwa semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Saussure sarat dengan kecenderungan 'logosentrisme' yaitu kecenderungan bahasa untuk merayakan sifat metafisik dan dogmatik dari langue. Derrida menggunakan istilah differance untuk menjelskan sebuah proses permainan bebas penanda yaitu berupa 'pergerakan' dari satu penanda ke penanda lainnya. Sedikit berbeda dengan Serres. sebab perhatian lebih dipusatkan pada permainan dan ekspresi itu sendiri. Komunikasi telah beralih darimotif mencari pesan lewat medium. Di dalam determinasi. 1995:dalam Pialang. dengan menutup prose permainan dan produktivitas tanda. yang disebutnya 'ekstasi komunikasi'. Dipengaruhi oleh pemikiran McLuhan. Ia juga menggunakan istilah 'diseminasi' (dissemination) untuk menjelaskan sebuah situasi 'ketidakterisian makna' disebabkan absennya petanda. 1987:20). yaitu : penafsiran 'restropektif' (restropective).

Ferdinand de Saussure Saussure lahir di Jenewa tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu. Bila pemikir sebelumnya menaruh perhatian pada 'ekses-ekses' pada rantai komunikasi. dan pada saat itulah ia menerbitkan memoire-nya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le Systeme Primitif des Voyelles dans les Langues Indo-Europeenes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). sehingga tidak mampu menghasilkan sebuah ungkapan bermakna. Jacques Lacan memfokuskan diri pada 'kegalauan' atau 'turbulensi' dalam sistem pertandaan. 2004:xii-xvii). semua penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. xvii). dalam Pilliang. Ia hidup sejaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. yang menciptakan serangkaian penanda-penanda yan satu sama lainnya tidak berkaitan. karena keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan perkataan lain. Di dalam bahasa skizofrenia. yang kini mengambil alih pesan. yang disebut model komunikasi 'skizofrenia'. dan kemudian ia pindah ke universitas Leipzig untuk belajar ilmu bahasa. meskipun tidak banyak bukti bahwa di antara mereka saling berkomunikasi. dan bahkan telah berubah menjadi 'pesan' itu sendiri (Boudrillard. yang untuk itu sebuah neologi lain dapat diusulkan untuk menjelaskannya. Kemudian pada umum 21 tahun ia belajar bahasa Sansakerta selama 18 bulan. nampaknya Saussure kurang tertarik pada bidang tersbut. 2004. C. terjadi semacam 'keterputusan' rantai pertandaan (antara penanda dan petanda. . Filsuf Semiotika dan Pemikirannya 1. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan satu penanda dengan car ayang stabil. yaitu apa yang disebut 'semiotika chaos'. antara penanda dan penanda lainnya). sehingga menciptakan semacam persimpangsiuran penanda-penanda yang kemudian tercipta adalah semacam 'kegalauan dalam pertandaan'. 1988. Setelah satu tahun kuliah di Jeneewa pada fakultas fisika dan kimia. Di dalam model komunikasi yang dikemukakan lacan.penikmatan kesenangan (ekstasi) yang disediakan oleh medium itu sendiri. yang untuk penjelasannya diperlukan konsep teoritis atau pengembangan lagi (Piliang.

seperti geografi. perubahan jumlah penduduk. perpindahan penduduk. setelah mempertahankan tesisnya tentang kasus generatif mutlak dalam bahasa sansakerta. Menurut Lyons (1995:38). judul course in General Linguistics (Lechte. sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. 2:44 ). Ia mengusulkan teori bahasa yang disebut ’strukturalisme’ untuk menggantikan pendekatan ’historis’ dari para pendahulunya. Studi demikian menelusuri perkembangan kata-kata dan ekspresi sepanjang sejarah. Kita tidak boleh . 2001:232. Karya itulah yang dikenal dengan istilah ’strukturalisme’ (Grenz. Saussure memang terkenal karena teorinya tentang tanda. 2001:232). Menurut Stanley J. kehebatan Saussure adalah ia berhasil menyerang pemahaman ’historis’ terhadap bahasa yang kembangkan pada abad ke-19 memulai studi bahasa dengan fokus kepada prilaku linguistik nyata (ucapan manusia. 2001: 178). Selama sepuluh tahun ia mengajar di Paris sampai diangkat menjadi professor bahasa Sansakerta dan bahasabahasa Indo-Eropa di Universitas Jenewa (Lechte. Saussures pindah ke Paris. kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara kesluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. tetapi semuanya secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh strukturalisme Saussure (Sobur. Saussure menggunakan pendekatan anto-historis yang melihat bahasa sebagai sistem yang utuh dan harmonis secara internal (langue). mencari faktor-faktor yang berpengaruh. Pada tahun 1881 ia diangkat menjadi dosen dalam bahasa Gothic dan bahasa Jerman Kuno di Ecole Pratique des Hautes Etudes. Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. 2001: 178).Pada tahun 1880. Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. parola). 233). Banyak aliran linguistik yang berlainan dapat dibedakan pada waktu ini. Karya ini dikemudian hari merupakan sumber teori linguistik yang paling berpengaruh. Karyanya yang disusun dari tiga kumpulan catatan kuliah saat ia memberi kuliah linguistik umum di Universitas Jenewa pada tahun 1907. Catatan-catatan kuliahnya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline. kita harus melihatnya secara ’sinkronis’. Untuk memahami bahasa. Untuk memahami sebuah simponi. dan faktor-faktor lainnya yang memperngaruhi perilaku linguistik manusia (Grenz. Grenz.

2001: 180)/ Sebetulnya. Sebagaimana dijelaskan di depan bahw Saussure dilahirnkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah karya keluarga yang sangat terkenal di kota itu . maka setiap sistem bahasa ditentukan oleh kebiasaan sosial. Para ahli bahasa abad Pencerahan melakukan studi dengan mengurusi kepingankepingan detail dan ’sebagai orang luar’ (yang tidak terlibat dalam bahasa itu sendiri). Mereka mengatakan bahwa struktur bahasa kita mencerminkan proses logika berpikir. kehidupan intelektual Eropa menjadi ramai dengan perbincangan tentang karya-karya ’bapak strukturalisme dan linguistik’ ini. pemahaman struktual demikian menjadi dasar bagi pemikiran postmodernisme yang diwariskan Saussure. Pada perkembangan selanutnya. Caurse in General Linguistics. kategori dalam logika mengatakan ’subtansi’ dan ’kualitas’.melihatnya secara atomistik. 2004: 45). Pendekatan inilah yang disebut-sebut sebgai linguistik struktual (Sobur. Jika bahasa adalah sebuah fenomena sosial. Tampaknya memang. Kata-kata ini merupakan label bagi benda-benda yang bisa dikenali sehingga bahasa adalah klasifikasi. sesudah tahun 1968. Bahasa itu bersifat otonom: struktur bahasa bukan merupakan cerminan dari struktur pikiran atau cerminan dari fakta-fakta. Struktur bahasa adalah milik bahasa itu sendiri (Grenz. sebelum tahun 1960 tidak terlalu banyak orang dalam lingkungan akademik atau luarnya yang pernah mendengar nama Saussure. dan juga dengan epitemologi Pencerahan. Saussure juga merupakan seorang tokoh pembaruan intelektual dan ini jelas dalam karyanya. Misalnya. Saussure mempertanyakan pendekatan terhadap studi bahasa yang dilakukan oleh pencerahan. Namun. yang membuatnya tekenal dari luar lingkungan linguistik (Sobur. bangsa adalah sebuah keutuhan yang berdiri sendiri. Saussure mengatakan sebaliknya bahwa bahasa adalah fenomena sosial. Para ahli linguistik sebelum dia melihat bahasa sebagai fenomena alamiah yang berkembang sesuai hukum-hukum yang baku. pandangan Saussure berbeda total dengan ilmu bahasa abad ke-19. Baginya. Selain sebgai seorang yang memupuk berlangsungnya tradisi intelektual. 2004: 44). Kategori dalam bahasa menerjemahkannya menajadi ’kata benda’ dan ’kata sifat’. secara individual.

Sedikitnya. yakni signifer (penanda) dan signified (pertanda). dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian. Petanda adalah gambaran mental. penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Selain sebagai seorang ahli lingustik. Suara-suara. penanda adalah ’bunyi yang bermakna’ atau ’coretan yang bermakna’. Signifier dan Signified. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens. hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekpresian. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkhein meski tidak banyak bukti bahwa ia sudah pernah berhubungan dengan mereka. Yang mesti diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang konkret. 2001: 180). bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan. ada lima pandangan dari Saussure yang kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi Strauss. yaitu pandangan tentang (1) signifeir (penanda) dan signified (petanda). binang. baik suara manusia. (2) form (bentuk) dan content (isi). signifier atau signified. kedua unsur tadi tidak bisa dilepaskan. pikiran. Sebaliknya. atau konsep. Tanda bahasa selalu mempunyai da segi: Penanda atau pertanda. Suatu penanda tanpa petanda tanpa tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Untuk itu. serata (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik). menyatakan. Menurut Saussure. Dengan kata lain. suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sistem konvensi sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda. atau menyampaikan ide-ide.karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Yang cukup pentinga dalam upaya mengangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda. signifiant atau signifie. suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas . atau bunyi-bunyian. (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan. ujaran): (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik). pengertian-pengrtian tertentu. Dengan sebuah ide atau pertanda (signifer). Tanda adalah kesatuan dari suatu bendtuk penanda (signified). Jadi.

namun juga suara yang berbeda (distinc sound). setiap upaya untuk memaparkan teori Saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan Saussure mengenai hakikat tanda tersebut. Ambil saja. Berlawanan dengan tradisi yang membesarkannya. maka kata tersebut pasti menunjukkan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept). Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. Jadi. (Lechte. Setiap tanda kebahasaan. seperti dua sisi dari sehelai kertas. sebuah kata apa saja. 18982. menurut Saussure.”kata Saussure (Sobur. Berdasarkan prinsip ini. konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. . bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. meskipun antara penanda atau petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifer). Namun. 2001: 235). dalam Ahmisa-Putra. misalnya. 1998: 35). ”Penanda dan petanda merupakan kesatuan.dari penanda. Maka itu. struktur dasar suatu bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi. pandangan ’nomenklaturis’ menjadi suatu landasan linguistik yang sama sekali tindak mencukupi (Sobur. bahkan secara lebih mendasar Saussure negungkapkan suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori linguistiknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (pertanda) bersifat menasuka atau berubah-ubah. 2004: 47). Pemisahan hanya akan menghancurkan ’kata’ tersebut. tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarkan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan. pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citraan saurau (sound image). Meski demikian. pertanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. Saussure tidak meneria pendapat yang menyatakan bahwa ikatan mendasar yang ada dalam bahasa adalah antara kata dan benda. sedang konsepnya adalah petanda (signified). 2004: 46). Karena itu.

tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya. Dalam permainan catur. 2001:39) memberikan contoh lain yang kini sangat populer. bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi. yakni kereta api. kita naik kereta api ini ke Jakarta. yang memberikan pada suatu kata disstinctive form-nya. misalnya. kita tahhu bahwa di Stasiun Bandung ada kereta api Parahyangan Bandung-Jakarta pukul 07. 2001:40). namuns ecara . dan mungkin juga diberi makna yang berbeda. tidak lain adalah differensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata yang lain. sedangkan wadahnya yaitu kata ’sinkronisasi’ sebagai bagian darisebuah sistem bahasa tetap sama (Ahimsa-Putra. sementara isinya berubah-ubah. Kata kalam. Umpamanya saja. Apa yang ’tetap’ di sini sehingga kita lalu mengatakan ’kita naik kereta api yang sama’ tidak lain adalah ’wadah’ kereta api tersebut. satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. Jadi. misalnya dibedakan menurut suaranya dengan kata salam. wadah) dan content (isi) ini. Juga susunan gerbong dan jumlahnya. kata tersebut tetaplah satu dan sama. Lalu persoalannya adalah. Yang bervariasi. Istilah form (bentuk) dan content (materi. papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. atau bentuk khasnya. karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap hari. Saussure membandingkan form dan content atau subtance itu dengan permainan catur. 1997: 35) diistilahkan dengan expression dan content. bagaimana suatu kata itu memperoleh maknanya? Atas pertanyaan ini Saussure memberikan jawaban yang lain dengan jawaban yang biasanya diberikan pada masa itu. dapat diucapkan secara berlain-lainan oleh individu-individu yang berbeda. kata Saussure adalah ”the phonic and psychological ’matter’. Saussure (Ahimsa-Putra. dan kita katakan kita naik ’kereta api yang sama’ walaupun gerbong danlokomotifnya boleh jadi sama sekali sudah berbeda.50 (kalau tidak telat). Hari selasa berikutnya kita naik lagi kereta api ini ke Jakarta. Pada hari senin. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi. aturan-aturan permainannya. Kata ’sinkronisasi’. baik gerbong maupun lokomotifnya. Memang demikianlah wujudnya. Untuk membedakan antara form (bentuk. Begitu pula halnya dengan kata-kata. Walaupun demikian.Form dan Content. apa sebetulnya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Dengan kata lain. bahasa berisi sistem nilai. isi) ini oleh Gleason (Pateda. dan malam. Menurut Saussure.

konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. Ketika itu . karena kata Indonesia tersebut terpisah dari kata atau dibedkan dengan kata rice. psikis. 2004:48). Di samping itu. Saussure membedakantiga istilah dalam bahasa Perancis: language. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu. umpamanya tidak persis sama dengan kata rice dalam bahasa Inggris. Padahal. Langue dan Parola. terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bnyi. kertas. Saussure dianggap cukup penting oleh Recoeur karena ialah yang meletakkan dasar perbedaan antara langue dan parole (Ricoeur. tutur Barthes. 2004:49). fisiologi. Saussure mulai dengan sifat bahasa yang ’berbentuk amak dan beragam’. katanya lagi. dan disebut langue. yang dengan sendirinya merupakan linguistik individual. Jadi kata padi dalam bahasa Indonesia. dan kombinasi tanda-tanda yang teradi sewaktu-waktu) (Sobur. linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebabsebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan. suatu kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi.” kata Barthes. Perbedaan-perbedaan yang memisahkan suatu kata dengan katakata yang lain terutama yangmemisahkannya dengan kata-kata yang paling berdekatan (menurut suara maupun konsep) itulah yang memberikan identias pada kata tersebut. yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realitas yangtak dapat dikelompok-kelompokkan ’kita seakan-akan tidak akan menemukan kesatuan di dalamnya. Artinya. 1976:2-3) sebagai dua pendekatan linguistic yang pad agilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoeur. kaerna realita itu sekalipun bersifat fisik. Hal ini pun diakui Roland Barthes (1996:80) yang menyatakan bahwa konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaruan besar pada linguistic sebelumnya. Obek itu tidak tergantung dri materi tanda yang membentuknya. pena. kekacauan itu dapat hilang dari semua keragaman tersebut dapat disarikan suatu obek sosial yang murni. khususnya dalam teori wacana. langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran) terpaksa kita mengambil . kata padi tidak masuk dalam differensiasi system arti dalam bahasa Inggris (Sobur. asosiasi spotan dan tindakan yang berjalan dengan itu. realisasi aturan-aturan. individual dan juga sosial. tinta dan sebagainya.

langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu. ia harus mengikuti keseluruhan perjanjia itu. (Bertens. namun disebabkan. seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya. sebab dibidang ini kekhususan bahasa Perancis tidak mudah terjemahkan oleh bahasa-bahasa lain. umpamanya. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada . gangguan psikologis pada bagian tertentu maka dia tidak bisab erbicara secara formal. namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dn stimulus yang menunjang. Langage mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parola (Bertens. Individu tak dapat membuatnya sendiri. katanya. language adalah bahasa pada umumnya. Dalam konsep Saussure. tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langage. langue. 1996:23). Alwasilah (1993:77) menyebut langue sebagai totalitas dari kumpulan fakta atau bahasa. Dalam pandangan Barthes (1996:81) apa yang disebut langue itu adalah langage dikurangi parole:” Itu adalah suat institusi sosial dan sekaligus juga suatu sistem nilai.” katanya. Langue ini ada dalam benak orang. Selain itu. Dalam pengertian umum. sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat. 2001:182). sama sekali bukan tindakan. seperti uga sebuah simfoni tidak sama dengan cara dibawakannya dalam sebuah konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya umpamanya). Orang bisu pun sama memiliki langage ini. 2001: 181-182. Langue adalah sesuatuyang berkadar individual dan juga sosial universal. menurut Barthes. 1993:77).alih istilah-istilah yang diberikan oleh buku Saussure sendiri. Apabila orang ingin berkomunikasi. Language adalah suat kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan. langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial dan budaya. bukan hanya abstraksi-abstraksi saa. produksi masyarakat itu bersifat otonom. langue dimaksudkan bahas seauh merupakan milik bersma dari suatu golongan bahasa tertentu. Alwasilah. tidak juga dapat mengubahnya. Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa.l hal itu harus merupakan perjanian bersama. Singkatnya. 2004:50). mereka membatasi diri atas langue saja (Sobur. Sebagai sistem sosial. Akibatnya .

gading. yaitu ”satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukan kontras makna” (Kridalaksana. Dalam bahasa Tionghoa. karena membedakan makna kata harus dan arus. Yang termasuk dalam tanda bahasa dan kode inia dalah apa yang oleh para ahli disebut fonem. Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi di manas etiap catur mempunyai fungsinya. melainkan bentuk saja. 1998:107). termasuk dalam tanda bahasa juga ada yang disebut morfem. Dan sistem itu dikonstruksikan oleh aturan-aturanya. Maksudnya. tidak mempunyai peranan. kata Saussure. yakni bahsa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. . bukan adanya nada-nada membentuk bahasa tionghoa sebagai bahasa. 1988:243). sedangkan ujud fenotisnya tergantung pada beberapa faktor. bahasa itu bikan substansi. ia mengemukakan perbandingan yang lalu menjadi terkenal.tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code)bahasa (Kleden-Probonegoro. Asal usulnya permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri. Namun menurut Saussure. tidak perlu dikatahui bhawa permainan ini berasal dari Parsi. 2001:55-56) atau satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti (muliono. yaitu satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Moeliono. Dalam bahasa yang esensial ialah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang membentuk sistem itu. Yang penting dalam bahasa adalah aturanaturan yang mengkonstitusikannya yaitu unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. nada-nada memegang peranan penting. Untuk mengerti permainan catur. /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bapa dan papa berbedad engan maknanya. selain itu. Apa yang dinamakan langue itu. Fonem merupakan abstraksi. menurut Saussure. Demikian pula bahasa. 1988:592). 2004:51). Misalnya dalam bahasa Indonesia /h/ adalah fonem. 2001:182). harus dianggap sebagai sistem (Bertens. terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem esensial. tidak memberikan kontribusi sedikit pun untuk pengertiannya. melainkan aturan-aturan yang berlaku bagi nada-nada tersebut (Sobur. Juga bahan dari mana buah-buah catur dibikin (kayu. Guna menjelaskan hal tersebut. bahan dari dama bahasa itu terdiri. plastik). Atau mengubah seluruh sistem.

parole juga merupakan mekanisme psikofisik dan hal inilah. Kalau langue bersifat sinkronik. Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem. kata dia. Pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana. Selain itu. karena merupakan aktivitas kombinatif ini pula. parole seperti telah disinggung.Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode. Berkebalikan dengan langue. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. maka parole adalah living speech. maka unit dasar parole adalah kalimat. Pertama-tama parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan subek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Barthes mencontohkan busana. setiap tanda bisa menjadi elemen dari langue. maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu pada saat terjadi pembicaraan. menurut Barthes. Kalau unit dasar langue adalah kata. merupakan suatu tindakan individual yan merupakan seleksi dan aktualisasi. 1996:81). Karena adanya keberulangan inilah.dalam jalur semiologis itu ada kemungkinan bahwa pembedaan yang dibuat Saussure diubah. sesuai dengan realita yang . parole itu terdiri atas ”kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakankode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiranpribadinya ” (Bertens. parole juga dapat dipandang seagai mekanisme psikofisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi-kombinasi tadi. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. dan. Tentunya. parole merupakan bagian dri bahas ayang sepenuhnya individual (Budiman. Menurut Bertens. justru hal itu perlu dicatat. 1999:89). yang memungkinkannya menampilkan kombinasi tersebut. Maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. kata Barthes. Juga. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya tidak disadari oleh pengguna bahasa yang bersangkutan. maka parole terkait dengant indakan individual dan bukan semata-mata sebentuk kreasi. Kalau parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. dalam arti tnda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem. di sini perlu dibedakan tiga sistem yang berbeda. Kemudian.

dan parole pada tataran komunikasi dengan katakata. yang memungkinkan hal tesebut (adanya langue sebelum pewujudan parole) kali ini diterima. Menurut Saussure. 2004:52). Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalamlinguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dandiakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarkan dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang ”keadaan tertentu bahasa tesebut (pada suatu masa) (Lyons. itu adalah langue dalam keadaan yang murni. tidak mungkin ada langue tanpaparola. menurut Saussire. melainkan dari kelompok pengambil keputusan yang dengan sadar mengembangkan kode. Berkaitan dengan ini. dan di lainpihak abstraksi yang menyatu pada setiap langue dikonkritkan di sini dalam bentuk bahasa tertulis: mode pakaian(tertulis) adalah langue pada atataran komunikasi pakaian. Bertens (2001:184) menyebut : sinkronis’ sebagai ’bertepatan menurut waktu’. Dengan demikian. linguistik harus memperhatikan sinkronis sebelum menghiraukan diakornis. Perhatian dituukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara (pateda. seperti dikutip Barthes (1996:82). Synchronic dan Diachronic. 1995:46). Busana yang ’di gambarkan’ tidak pernah sesuai dengan realisasi individual aturan-aturan dalam mode itu. Seseorang dapat melakukan analisis sinkronis bahasa-bahasa ’mati’ (usang. linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Menurutnya. Penting untuk disadari bahwa deskripsi sinkronis pada dasarnya tidak terbatas pad aanalisis bahasa lisan modern. merupakan suatukesatuan sistematik tanda dan aturan. asalkan ada cukup keterangan yang dilestarikan dalam naskahnaskah yang telah sampai kepada kita (Sobur. misalnya menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965. 1994:34)l jadi bisa dikatakan besifat horizontal.digunakandalam komunikasi dalam busana yang tertulis artinya digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan dapat dikatakan bahwa di ini tak ada parole. Apakah yang dimaksud denga kedua istilah ini? Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani Khrona (waktu) dan dua awalan syn dan dia masing-masing berarti ’bersama’ dan ’melalui’. . karena di satu pihak bahasa mode tidak datang dari masa yang berbicara.

linguistik melepaskan juga objek studinya dri dimensi waktu. linguistik harus mempelajari sistem bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini.Diakronis dalam hal ini mengandung pengertian ’menelusuri waktu’ Bertens. Pada dasarnya. Saussure menekankan perlunya pendekatan sinkronis tentang bahasa. Atas dasar itu. misalnya studi diakronis bahasa Inggris mungkin mengalami perkembangan di masa catatan-catatan kita yang paling awal sampai sekarang ini. Kita dapat menyelidiki suatu bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dandengan begitu tidak memperhatikan bagiamana bahasa itu telah berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita bisa menyoroti perkembangan suatu bahasa sepanjang waktu. Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi . sistem terlebih dahulu mesti dilukiskan tesendiri menurut prinsip sinkronis. Saussure berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis. dengant idak mempedulikan perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang telah menghasilkan sistem itu. Dapatlah kita katakan bahwa studi ini bersifat vertikal. bertentangan dengan ahli-ahli linguistik abad ke-19 yang hampir semua mempraktikkan suatu pendekatan diakronis tentang bahasa: mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu. studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan searah (melalui waktu). Jadi. dan seagainya. Linguistik komparatif historis harus membandingkan bahasa-bahasa sebagai sistem-sistem. itu tidka berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa (Bertens:2001: 184-185). etimologi. linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsurekstralingual. Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulud isebut bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai sekarang. atau mungkin meliputi jangka waktu tertentu yang lebih terbatas. Dengan demikian telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut ’struktural’. bahasa bisa dipelajari menurut dua sudut pandangan itu: sinkronis dan diakronis. Oleh sebab itu. Menurut Bertens. 2001:184). Justru karena bahasa merupakan suatu sistem dalam arti yang diterangkan tadi. linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. perubahan-perubahan fonetis. Atau dengan kata lain.

harus selalu sessuai dengan aturan sintagmatiknya. selain pertukaran dua kata benda (Sobur. ’atas’. 2. penggantian tersebut bersifat fleksibel. bisa saa kita ’kucing’ diganti dengan ’anjing’ karena keduanya memiliki hubungan paradigmatik. Hubungan paradigmatik tersebut.atau perkembangan salah satu unsur bahasa. ’berbaring’. Sekarang kita lihat bagaimana kemudian kata ’kucing’ dikombinasikan denganelemenelemen lainnya. ’di’. Ia tidak hanya menerjemahkan istilah . Charles Sanders Peirce Charles Sanders Peirce lahir dari keluarga intelektual pada tahun 1893. Satu lagi struktur bahasa yang dibahas dalam konsepsi dasar Saussure tentang sistem pembedaan di antara tanda0tanda adalah mengenai syntagmatic dan associative (paradigmatic) atau antara sintagmatik dan paradigmatik. Cobley dan Jansz (1999:16-17) memberi contoh sederhana. Selama lebih dar tiga puluh tahun Peirce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk survei pantai Amerika Serikat. Dari tahun 1879-1884 ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidnag logika di universitas John Hokins. ’kucing’ bisa dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan ’singa’ dan ’anjing’. 2004:53). menurut Cobley dan Jansz. ayahnya Benyamin adalah seorang Profesor matematika di Harvard University. ’berbaring’. Sejauh tetap memenuhi syarat hubungan sintagmatik. 2004:54-54). Hubungan-hbungan ini terdapat pada kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep. Pengubahan ini terbukti tidak mempengaruhi hubungan sintagmatik. Misalnya. terlepas dari sistem-sistem di mana unsur itu berfungsi (Sobur. ’karpet’. bagaimana garis x dan garis y dalam sebuah sistem koordinat. dan ’karpet’ kata ’kucing’ menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah sintagma (kumpulan tanda yang berurut secara logis). Syntagmatic dan Associative. misalnya menjadi bermakna sebab ia memang bisa dibedakan dengan ’seekor. Melalui cara ini. Kini digabungkan dengan ’seekor’. Kualifikasi dan kemampuan seperti itu tidak terlalu menampilkan kreativitas intelektual yang menonjol saat itu. Jika kita mengambil sekumpulan tanda ”seekor kucing berbaring di atas karpet”L maka satu elemen tertentu kata ’kucing’.

Peirce memberikan sumbangan yang penting pada logika filsafat dan matematika. khususnya semiotika. dan ia juga terpengaruh oleh filsafat Yohanes Duns Scotus (Lechte. sangat berjasa karena telah mengidentifikasi. ia mengetahui banyak hal. juga mengembangkan karya logika dan matematika. tahun 1914. Peirce menurut pandangan Roy. Peirce sangat temperamental (Sobur. Namun ironisnya. yaitu tindakan komunikatif dan telah menunjukkan bagaimana ia menggaris bawahi kepentingan teknis ilmu. ’Pierce adalah seorang pemikir yang argumentatif’. dari logika ilmu ke dalam kepentingan intelektual. Howard (2000:154). psikologi. lingkungan tempat dia secara bertahapmengkonstruksi ’semiotika’nya. Konon. linguistik. kimia. seperti dituturkan Cobley dan Jansz (1999:18). teman-temanya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya.’semiotika’ dari bahasa Yunani kuno. . astronomi. di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. 2004:39). Kerapkali disebut bahwa selain menadi seorang pendiri pragmatisme. Peirce menulis tentang berbagai masalah yang satu sama lain tidak saling berkaitan. demikian menurut Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:20). Dalam hal ini ia tak sekadar sebagai seorang penggmbar. Namun bagaimanapun juga. khususnya semiotika. tulis Cobley dan Jansz. yang sekarang menjadi populer itu tetapi ia juga menjadi seorang pemikir dan pengembang tentang karya-karya Kant dan Hegel yang dibacanya dalam bahasa Jerman. Ia menekuni ilmu pasati dan alam. Barangkali karena Peirce. ’sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulit di sekitar wajah yang sangat parah’. melainkan sebagai seorang ilmuwan yang penuh tanggung jawab. tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun. tentunya karena bidang yang diminatinya sangat luas. J. 2001:226). Menurut Aart van Zoest (1993:8) Peirce adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional. Dalam filsafat ia menjadi tokoh Pragmatisme. dan agama. Ia diperbolehkan menjadi lektor di suatu universitas hanya lima tahun. Yang jarang disebut adalah bahwa Peirce melihat teori semiotikanya karyanya tentang tanda sebagai yang tak terpisahkan dari logika. Setelah itu Peirce di berhentikan.

Dalam bahasa Perancis digunakan kata referent (dalam bahasa Indonesia disebut ’acuan’). Oleh karena itu. dalam kaitan dengan karyanya tentang tanda. maka tand tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki penafsir). disebutnya oleh Peirce sebagai objek. suatu tanda itu tidak pernah berupa suatu entitas yang sendirian. Peirce terkenal karena teori tandanya dan didalam lingkup semiotika. Jadi suatu tanda mengacu pada suatu acuan. Peirce mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan contoh unsur pertama. namun ia tidak pernah menerbitkan buku yang berisikan telaah mengenai masalah yang menadi bidangnya. deduksi dan penangkapan (hipotesis) membentuk tiga jenis penafsir yang penting). yaitu C. dan penafsirnya adalah sebagai unsur pengantara. tanda ’is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. Sering juga disebut sebagai designatum atau denotatum (denotatum adalah kelas penunjuk). 2001:44). Peirce sebagaimana dipaparkan Lechte (2001:227). Agar bisa ada sebagai suatu tanda. Peirce memang berusaha untuk menemukan struktur terner di manapun mereka bisa terjadi. objeknya adalah unsur kedua. apa yang ditunjuknya. Apa yang dikemukakan oleh tanda. kepada penafsirnya. selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya. oleh karena itu. tetapi yang memiliki ketiga aspek tesebut. Perumusan yang terlalu sederhana ini menyalahi kenyataan tentang adanya suatu fungsi tanda: tanda A menunjukkan suatu fakta (atau objek B). pemikiran Peirce harus dianggap selalu berada dalam proses dan terus mengalami modifikasi dan penajaman lebih lanjut. seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. Iamenyebutnya representamen. apa yang diacunya. Ketiga unsur ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan semiotika yang tak terbatas.Walaupun Peirce menerbitkan tulisan lebihdari sepuluh ribu halaman cetak. Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (induksi.” menurut Peirce makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. dan representasi seperti . Hubungan antara Tanda dan Acuannya Bagi Peirce (Pateda.

Dalam hubungan dengan ungkapan bahasa kata table (meja). Pengertian interpretant harus dibedakan dengan interpretateur. misalnya katakata kasar. Selain itu. sinsign. Dalam hubungan dengan pengirim dan penerima. lembut. suatu kesatuan konvensi. merdu. Berkat hal-hal tersebut ornag yang menggunakan tanda ini mengetahui apa yang diacunya dan bagiamana harus menginterpretasikanya. sebuah meja (Zoest. 12001:44). Pateda. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Bila kita akui bahwa kalimat yang dikutip tadi diucapkan dalam suatu situasi khusus kata table mengacu pada objek tertentu. misalnya berkat bantuan suatu kode. yaitu dengan ground-nya dengan objek atau acuannya. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qulaisign . Atas dasar hubungan ini. Tandatanda lalu lintas hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengerti tentang rambu-rambu lalu lintas. peraturan bagimasyarakat yang menggunakan bahasa Perancis. Peirce (lihat Pateda. Akan tetapi. Jadi dalam hubungan ini bahasa itu adalah ground. dan legisign. keras. lemah. dan dengan interpretantnya (Zoest. kajian ini dibahas dalam bidang pragmatik semotik. 2001:44) mengatakan klasifikasi tanda. Ungkapan dalam kalimat ini hanya akan diakui sebagai tanda oleh orang yang mengerti dan menguasai bahasa Perancis. Seringkali ground suatu tanda merupakan kode. banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual. kode ini bersifat transindivdual (melampuai batas individu). Jadi tanda selalu terdapat dalam hubungan triadik.yang menunjuk kepada penerima tanda. 1992:8). meskipun kadang tidak demikian. Sesuatu yang digunakan agar tanda dapat berfungsi oleh Peirce disebut ground. Selainitu representasi seperti itu dapat terlaksana berkat bantuan sesuatu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada . 1992: 8. dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. dalam kalimat ’Metteez ce livre sur la table’ (taruhlah buku ini di atas meja). yang berarti bahwa setelah dihubungkan dengan acuan.itu adalah fungsinyayang utama. dalam hal ini suatu kode. Kode adalah suatu sistem peraturan. tanda diinterpretasikan. dapa tmenjelaskan apa yang telah diuraikan di muka.

tanda (sign. itu adalah simbol yang merupakan hasil konvensi mengapa ’kursi’ itu tidak disebut ’pisang goreng’ hal itu adalah merupakan suatu kesepakatan dalam masyarakat yang sifatnya arbitrer atau manasuka (Lihat Zoest.hujan di hulu sungai. Mislanya kota kata ”kursi”. representament) dibagi atas. atau ingin tidur. tanda itu disebut icon (ikon). Misalnya. yaitu suatu tanda merupakan suatu hasil kesepakatan masyarakat dan hubungan tanda itu disebut sebagai simbol. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan. Misalnya. Sebuah hubungan peta geografis dalam hubungannya dengan alam yang dipetakan dan sebuah potret dengan orangnya adalah hubungan ikon. misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api. 2001:4547) membagi tanda menjadi sepuluh jenis: . (3) Hubungan yang ketiga adalah hubungan yang sudah erbentuk secara konvensional. jika pada suatu jalan sering terjadi kecelakaan. Dicent signt atau dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Misalnya banyak kosa kata yang merupakan suatu hasil konvensi masyarakat pengguna bahasa tertentu. Berdasarkan interpretant. atau mata dimasuki insekta. atau baru bangun. (2) hubungan antara tanda dengan acuannya dapat pula timbul karena kedekatan eksistensi. Berdasarkan berbagai klasifikasi tersebut. rheme. maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa di situ sering terjadi kecelakaan. atau menderita penyakit mata. Peirce membagi dalam tiga hal. atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Sebuah tiang penunjuk jalan dan sebuah gambar panah penunjuk arah adalah sebuah indeks. dicent sign atau dicisign dan argument. Peirce (lihat Pateda. Argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. Hubungan indeks dapat juga menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. orang yang merah matanya saa menadakan bahwa orang itu baru menangis. Pada pembahasan tentang hubungan antara tanda dan acuannya. 1992:9). hubungan tanda seperti ini disebut indeks.

yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda.” itu!” (7) Dicent Indexical Legisign. yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. kita melihat gambar harimau. (2) Iconic sinsign. yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk subek informasi. Contoh: pantai yang sering merenggutnyawa orang yang mandi di situ akan di pasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya. (4) kantor. Lantas kita katakan. diagram. menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. ”Mana buku itu?” dan dijawab. dilarang mandi di sini. harimau. dan serta merta kita pergi. misalnya kata ganti penunjuk. yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu. Kata-kata yang kita gunakan yang kita dengar . Kalau seseorang berkata. suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan.yakni suara tand yang memperlihatkan kemiripan. Kata keras menunjukkan kualitas tanda. (5) Iconic Legissign. Misalnya. Tanda berupa lampu merah yang berputarputar di atas mobil ambulans menandakan orang sakit atau orang yang celaka yang tengaah dilarikan ke rumah sakit. ”pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak. (9) Dicent Symbol atau Propotion (proposisi) (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. (3) Rhematic Indexial Sinsign yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung.(1) Qualisign. karena ada asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau. tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah atau hukum. Misalnya. Seseorang bertanya. Misalnya. yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu. (6) Rhematic Indexical Legisign. Mengapa kita katakan demikian. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. Contoh foto. yang secara langsung. yakni tanda yang menginformasikan norma Dicent Sinsign. Misanya. rambu lalu lintas. (8) Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme. peta dan tanda baca.

dan menerbitkan artikel peramanya tentang Andre Gide. 2001:192). Setelah mengaajar di Rumania dan Mesir.43). ”gelap. yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukuralis yang aktif mempraktikkan model linguistik. dan masa istirahanya dimanfaatkan untuk membaca banyak hal. Ia mengajukan pandangan ini dalamWriting Degree Zero (1953. Tentu saja penilaiant ersebut mengandung kebenaran (Sobur. semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. dan semiologi Saussurean. mengapa seseorang berkata begitu. Greimas ia mengajar di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales. Antara tahun 1943 dan 1947 ia menderita penyakit TBC. Terj. dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap. Seseorang berkata. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964. Roland Barthes Roland Barthes lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan tatkala ia masih kanak-kanak ayahnya telah meninggal dunia dalam suatu pertempuran. terj. Inggris 1972). Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama: eksponen penerapan stukturalisme dan semiotika pada studi sastra Bertens (2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70an. Sejak itulah ia diasuh oleh ibu dan kakek neneknya. sampai akhir hayatnya tahun 1980 (Lechte. Barthes menghabiskan masa kecilnya di Bayonne. 2004:42. 3. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan.J.” orang itu berkata gelap sebab it menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat. ia berpendapat bahwa bahasa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Perancis barat daya. Sebelum menyelesaikan sekolah dasr dan menengahnya di Paris. (10) Argument. Barthes diangkat dalam keanggotan college de France pada tahun 1977. Setelah mengajar bahasa dan sastra Perancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir) tempat .hanya kata. tempat pertemuannya dengan A.

Untuk itu ia menyelidiki artikelartikel tentang mode pakaian dalam dua majalah dari tahun 1958 sampai 1959. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. dan lain-lain). Barthes telah menulis buku. . Setelah kembali ke Perancis ia bekerja untuk Centre National tde Recherche Scientifique (Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah). dalam buku kecil ini Barthes melukiskan prinsip-prinsip linguistik dan relevansinya di bidang-bidang lain. mode pakaian merupakan sesuatu yang kebetulan dan sepele. reklame dalam surat kabar dan lain-lain sebagai geala masyarakat borjuis. ia mengajar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales. dari tahun 1960. Buku Barhtes lain yang banyak mendapat sorotan adalah Mythologies (Mitologimitologi) (1957). Dalam buku ini ia menganalisis dan kultural yang dikenal umum seeprti balap sepeda Tour de France. Disinilah ia banyak menulis tentang sastra. Dilihat sepintas lalu. Tapi Barthes memperlihatkan bahwa di belakangnya terdapat suatu sistem. sambil mdengaar tentang sosiologi tanda. Pada 1976. antara lain: Le degree zero de Z’ecriture atau ”Nol Deraat di Bidang Menulis” (1953. Writing Degree Zero. telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia. Kritik Barthes atas kebudayaan borjuis sangat menonjol dalam buku ini. krah tertutup atau terbuka. Lalu. akibat ditabrak mobil di jalanan Paris sebulan sebelumnya. Mode ditafsirkan sebagai suatu ’bahasa’ yang ditandai sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi (mislanya antara pelbagai warna. ia banyak mengabdikan dirinya dalam pelbagai penelitian di bdiang sosiologi dan leksiologi. Tahun 1980 ia meninggal pada usis 64 tahun. ia menjadi asistem dan kemudian menjadi Directeur d’Etudes (Direktur studi) dari seksi keenam Ecole Pratique des Hautes Etudes. Melalui lembaga penelitian ini.pertemuannya dengan Algirdas Greimas. Barthes diangkat sebagai profesor untuk ’semiologi literer’ di College de France. Karya-karya pokok Barthes. simbol. Criticism and Truth (Sistem Mode) (1967). dan representasi kolektif serta kritik semiotika. terbit pula Critical Essays (1964). bahan tekstil yang tertentu. yang beberapa diantarnaya.1977). Setahun kemudian Barthes menerbitkan Michelet (1954). Buku ini merupakan suatu percobaan untuk menetapkan Metode Analisis struktural atas mode pakaian wanita.

suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Lima kode ang ditinjau Barthes adalah (Lechte. buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka teki dan penyelesaiannya di dalam cerita..Buku terakhir karya Barthes adalah S/Z (1970). yang oleh bertens (2001:210) pantas sebuah buku dengan judul cukup aneh. Ia menlihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan kontoasi kata atau frase yang mirip. Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ’kebenaran’ bagi pertanyaan yang muncul dalamteks. kode proaretik (logika tindakan). atau kode kultural yang meembangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu (Sobur. kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. 2004:65). kode simbolik. kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Honore de Balzac. pembaca menyusun tema suatu teks. dalam karya ini. Perlu dicatat bahwa Barthes mengangap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ’akhir’. seorang anak belajar bawha ibunya dan anaknya berbeda satu sama lain dan . Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fisik yang paling khas bersifat strutkural. 2001:145-149). Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi. dan kode gnomik. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bnyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara. Lihat pula Indriani. buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. kodes emik (makna konotatif. Barthes berpendapat bahwa ’Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi. Kode teka teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Dalam penilaian John Lechte (2001:196). berjudul sarrasine. ia menganalisis sebuah novel kecil yang relatif kurang dikenal. 2001:196. ditulis oleh sastrawan Perancis abad ke-19. pasca struktural. Kode semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Mislanya. atau tepatnya menurut konsep Barthes. kode hermeneutik (kode teka-teki).dalam proses pembacaan.

merupakan produk buatan. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya.bahwa perbedaan ini juga membuat anak itu sama dengan satu di antara keduanya dan berbeda dari yang lain atau pun pada taraf pemisahan dunia secra kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secaramitologis dapat dikodekan. Fourier. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu. Menurut Barthes. semua teks yang bersifat naratif. Pada praktiknya. Sade. dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur. antara lain. Kode proaretik atau kode tindakan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. Pada kebanyakan fiksi. Jika Aristoteles dan Todorov hanya mencari adegan-adegan utama atau laur utama. dari terbukanya pintu sampai pertualangan yang romantis. 2004:67). sebuah negara yang banyak dikagumi Barthes seperti sebaliknya juga disana terdapat minat khusus untuk Barthes dan strukturalisme pada umumnya. bukan hanya untuk membanguns uatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sngat forml. artinya . dan . Dalam suatu teks verbal. Tujuan analisis Barthes ini. rincian yang paling meyakinkan. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya. kita selalu mengharap lakukan di-’isi’ sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (seperti pemilahan ala Todorov). Fourier. secra teoritis Barthes melihat semua lakukan dapat dikodfikasi. pengarang tentang erotik. atau teka-teki yang paling menarik. menurut Lechte (2001:196). dalam buku ini Barthes menerapkan semiotika pada kebudayaan Jepang. Barthes menyelidiki persamaan dan perbedaan antara Marquis de Sade. Loyola (1971). Kode gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. Buku-buku Barthes yang lain dapat disebut lagi mislanya (The Empire of Sign (Kekaisaran Tanda-Tanda) (1970). yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes. ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. tokoh komunisme utopistis. Lalu dalam buku lainnya. namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal. perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikoeekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis. realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui.

Dalam ”The Death of Author’ (kematian Sang Pengarang). Citroen tipe terbaru. pemaparan tulisan historis Jules Michelet sehubungan dengan obsersinya. bersifat pribadi. Karya-karya lain yang ditulis Roland Barthes adalah A loves Discourse: Fragments (1977). Karya-karya tersebut memang sangat beragam. sebagian besar dengan menunjukkan bagiamana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyingkapkan konotasi yang pada dasrnya adalah ’mitos-mitos’ (myths) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat (Cobley & Jansz. cinta dan dalam bidang fotografi (Sobur. Buku ini memberikan petunjuk tentang aya-gaya tulisan yang lebih bersifat tidak menyatu. telaah psikobiografis tentang Sarrasine yang menggusarkan kelompok tertentu dalam sastra Perancis. hiburan. The Grain of the Voice : Interviews (1962-1980 (1981) dan The Responsibility of Forms (1982). kultur populer dan literer. berkisar dari teori semitoika. Pada setiap terbitannya Roland Barthes membahas ’Mythologies of the Month’ (Mitologi bulan ini).Ignatius dari Loyola. Disini. 2004:67). serta barang-barang konsumsi . steak dari keripik. Camera Lucida. wajah Greta Garbo. seluruhnya ditulis dengan menggunakan orang ketiga (’ia’ atau juga ’RB’). Refections on Photography (1980). Buku ini. busa detergen. 2004:68).a Barthes membuat tulisan tentang ’kesenangan dan membaca’ dalam the Pleasure of the Text (1973). Hal ini menruut Bertens dapat ditafsirkan sebagai geala yang menunjukkan bahwa pada Barthes-pun terdpat tendensi untuk menghilangkan subjek dari teks (Sobur. Selanjutnya. seperti juga karyakarya yang lebih bersifat pribadi tentang kepuasan dalam wacana. Les Letters Nouvelles. Ia juga menulis otobiografinya dengan judul Roland Barthes by Roland Barthes (Roland Barthes oleh Roland Barthes) (1975). seperti dipaparkan John Lechte (2001:193). pengarang tentang hidup kristiani yang namanya tercantumdalam daftar orang Santo dari Gereja Katolik. essai kritik sastra. dan remi fiksi (Lechte . Buku yang mengumpulkan esay tersebut dengan sangat tepat di beri judul Mythologies dan dipublikasikan tahun 1957 membeberkan perenungan-perenungan tentang penari-penari perut. Pada 1954-1956. serta remehremeh lainnya. 1999:43). seperti dikutip Bertens (2001:211). sebuah rangkaian tulisan muncul dalam majalah Prancis. 2001:196). imaji dan pesan iklan.

Sastra merupakan contoh paling jelas sistem yang pertama. 1. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan danmenunjukkan bahw konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut bianya merupakan hasil konstruksi yang cermat. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke dua. membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungis. Denotative sign (tanda denonatif) 4. membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobles & Jansz. 1999). yang didalam Mythologiesnya secara tegas ia bedakan daridenotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. tanda denotatif .Barthes.Kadang-kadang prosa Barhtes dalam Mythologies yang mampu menggabungkan kehati-hatian dan kepuasan dengan ketajjam kritisnya mengingatkan kita pada Walter Benjamin. 1999. hlm. Konotasi. Signifier (penanda) 2. 2004:69). Memang. (Sobur. 2004:68). CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) Gambar 3. sepeti dipaparkan Cobley & Jansz (1999:44). Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Barthes pada dasarnya bukanlah seorang filsuf Marxis atau kritikus kultural dengan inspirasi religius (Sobur. Melanjutkan studi Hjelmslev. Akan tetapi.sehari-hari menemui telaah subjektif yang cukup unik dalam hasil penerapannya. CONOTATIVE SIFNIFIED (PETANDA KONOTATIF) 3. Introducting semiotics. 51. Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peranpembaca (The reader). NY: Totem Books. Meskipun demikian. walaupun merupakan sifat asli tanda. Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz. Signified (petanda) 5. tidak sperti Benjamin.1.yang dibangun diats sistem lain yang telah ada sebelumnya. dalam setiap eseinya. CONNOTATIVE SIGNIFIES (PENANDA KONOTATIF) 6. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif. pada saat bersamaan.

linguistik pada dasarnya membedakan tingkat ekspresi (E) dan tingkat isi (C) yang keduanya dihubungkan oleh sebuah relasi (R). Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan tingkat denotasi dan sistem 2 dengan tingkat konotasi. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang snagat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat isi untuk sistem kedua: ER (ERC). 2001:67). dan keberanian menjadi mungkin(Cobley. Secara lebih rinci. tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. 2004:70). denota sir E C E C Objek bahasa E C E C Metabahasa Gambar 3. dalam Kurniawan. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat ekspresi untuk sistem kedua: (ERC) RC. Pada artikulasi pertama (sebelah kiri). 1999:51). Konot asi 2. dikutip dari Kurniawan. Sistem demikian ini dapat dilihat dirinya sendiri menjadi unsur sederhana dari sebuah sistem kedua yang akibatnya memperluasnya.pada artikulasi kedua (sebelah kanan).adalah juga penanda konotatif (4). 1. 1983. Sobur. Dengan kata lain.2. barulah konotasi seperti harga diri. Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menadi dua sudut artikulasi demikian (Barthes. 2001:67). 2001. . Dua Sudut Artikulasi Barthes Sumber (Barthes 1983. Mengacu pada Hjelmslev. Jadi dalam konsep Barthes. kegarangan. yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif. Di sni sistem 1 berkorespondensi dengan objek bahasa dan sistem 2 dengan metabahasa (metalanguage) (Kurniawan. Kesatuan dari tingkat-tingkat dan relasinya ini membentuk suatu sitstem (ERC). dan Jansz. hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika anda mengenai tanda ’singa’.

Dalam kerangka Barthes. yang ada hanyalah konotasi semata-mata. petanda lebih miskin jumlahnya daripada penanda.Pada dasarnya. sehingga dalam peraktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentukbentuk yang berbeda. 2001:28). Baginya. 1999:22). demotnasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah. (Budiman. makna yang ’sesungguhnya’. Dalam pengertian umum. mitos adalah uga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. petanda dan tanda. Akan tetapi di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya. bahasa Inggris yang kita telah menginternasional. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. seperti teh (yang menjadi minuman wajib bangsa Inggris namun di negeri itu tak ada satu pun pohon teh yang ditanam). sensor atau represi politis. bendera Union Jack yang lengan-lengannya menyebar ke delapan penuru. bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ’harfiah’ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman. misalnya ditandai oleh berbagai ragam penanda. Proses signifikasi yang secra tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. 2004:71). Dalam hal ini denotasi ustru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makan dand engan demikian. denotasi merupakan tingkat kedua. namun sebagai suatu sistem yang uni. yangisebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi dan dimengerti oleh Barthes. . dengan kata lain. Imperialisme Inggris. Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wuud pelbagai bentuk tersebut (Sobur. konotasi identik dengan operasi ideologi. mitos dibangun oleh suatu ranai pemaknaanyang telah ada sebelumnya atau. Barhtes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda. Artinya dari segi jumlah. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan.

khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa 0wilayah penelitian Jakobson yang pertama dan utama pada hakikatnya bersifat relasional. baik di dalam mitos maupun ideologi.Apa yang menjadi alasan atau pertimbangan Barthes memepatkan ideologi dengan mitos? Ia memampatkan ideologi denganmitos karena. Roman Jakobson Roman Jakobson lahir di Moskow pada tahun 1896. Barthes juga memahami idelogi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal. Pada 1915m Jakobson mendirikan lingkungan linguistik di Mowkow dan terpengaruh oleh Husserl. Latar. 2001:28). Menurut Lechte (2001:107). Ideologi ada selama kebudayaan ada. Pengaruh Jakobson pada semiotika abad ke-20 sangat besar. karya Berthes itu cukup menarik kalangan ahli semiotia. Kebanyakan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan. pada tahun 1914 Jakobson memasuki fakultas historikko-filologi di Universitas moskow dan masuk bagian bahsa di jurusan Slavia dan Rusia. Jakobson dianggap sebagai salah seorang ahli linguistik abad kedua puluh yang cukup dikenal. Hubungan antar suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi (significance). dan pelopor utama supayapendekatan strukturalis pad abahasa. meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. hubungan antara penanda konotatif adalah petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman. fenomenologi Husserl cukup penting dalam membentuk . Menurut Umberto Eco suatu alasan mengapa Jakobson tidak pernah menulis satu buku khusus tentang semiotika adalah karena seluruh eksitensi keilmuwannya merupakan contoh hidup dari pencarian semiotika (Cobley dan Jansz. dan lain-lain. Seperti Marx. 2004:64-70). sudut pandang. 1999:142). ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting. Ia adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Troubetzkoy. Telaah bahasa menjadi kunci dalam upaya memahami sastra dan folklore (cerita rakyat).d engan demikian. seperti tokoh. sehingga akibatnya. dan tiulah sebabnya didalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. 4. (Sobur.

2001: 108). menjelaskan. 1990: 12). berarti memahami bagaimana kerusakan pada bagian pemilihan dan subtasi kutub metaforis atau dalam gabungan dan kontekstualisasi kutub metonomia. pengacu pesan. pengungkapan keadaan pembicara. penyadi pesan. (3) fungsi konatif. menyatakan. adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan). fungsi metalingual (4) sejajar dengan faktor sandi atau kode. sedangkan pada yang kedua adalah kesinambungannya. (4) fungsi metalingual.pemikiran filsafat bahasanya saat ia berusaha melihat hubungan antara ’bagian’ dengan ’keseluruhan’ dalam bahasa dan kultur dalam kehidupan manusia. pengungkapan keinginan pembiacara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak. Setiap fungsi bersejajar dengan faktor fundamental tertentu yang memungkinkan bekerjanya bahasa. fungsi fatis (5) sejaar dengan faktor kontak (awal komunikasi). Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan pada tingaktan metalinguistik p. Fungsi tertentu yang enam jumlahnya itu mengungkapkan. penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan. sedangkan yang kedua berarti adanya masalah dalam upaya menjaga hieraraki satuan-satuan linguistik. dan . dan (6) fungsi puitis. pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak. pembentuk. (5) fungsi fatis. (2) fungsi emotif. 2004: 56). Memahami bagaimana berbagai bentuk afasia mempengaruhi fungsi bahasa. fungsi konatif (3) sejajar dengan faktor pendengar yang diajak berbicara. Pemikiran awalnya yang penting. yang hilang adalah hubungan kesamaan. yaitu: (1) fungsi referensial. menafsirkan faktor tertentu yang juga enam jumlahnya itu. dan metonimia (kesinambungan). dan fungsi puitis (6) sejajar dengan faktor amanat atau pesan (Sobur. pembuka. Pada yang pertama. Roman Jakobson adalah salah satu dari beberapa ahli linguistik abad kedua puluh yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang seperti yang berlangsung pada afasia (Lechte. fungsi emotif (2) sejajar dengan faktor pembicara. seperti dipaparkan john Lechte. Menurut Jakobson bahasa memiliki enam macam fungsi (Sudaryanto. Fungsi referensial (1) sejajar dengan faktor konteks atau referen.

yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal (Segers. bukan pula dental. 1977.. bukan bunyi sengau (nazal). (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. Keduanya bukan huruf hidup. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain (c) merumuskan dalil-dalil sigtimatis mengenai istilah-sitilah kebahsaan dengan distinctive features yang dapat berkombinasi dengan tandatanda kebahasaan tertentu lainnya. Keduanya memiliki ciri-ciri positif dan negatif tesebut. pesan tersebut memerlukan context (konteks) yang menunuuk pada (. (d) menentukan perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan (Pettit. Keduanya adalah konsonan yang diartikulasikan dengan melekatkan bagian tengah lidah pada langit-langit mulut. 2001:56). suatu code . dalam artikelnya yang terkenal linguistics dan poetics. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis.dalam setiap pengunaan bahasa cenderung menonjol salah satu fungsi tanpa menghilangkan fungsi yang lain (Sudaryanto. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciri-ciri suara yang lain. Ciri pembeda yang penting di situ adalah suara (voice). Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan oleh Jakobson antara lain (ahimsa-putra. 2001:56).meskipun ciri-ciri itu tidak ditangkap atau diketahui. 2000:15). Jakobson menerangkan adanya fungsi bahasa yang berbeda. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-teanda tersebut. unit-unit yang bermakna. Agar operatif. 1990:12). Fonem /c/ tidak bersuara voiced sedang fonem /j/ bersuara + voiced). dalam AhimsaPutra. ciri-ciri itut idaklah menjelaskan perbedaan diantara kedua-nya (Ahimsa-Putra. Jakobson adalah salah seorang dari teoritikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi teks sastra.) sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan. Meskipun begitu . Adresser (pengirim) mengirimkan suatu pesan message (pesan) kepada seorang adresser (yang dikirimi). Misalnya saa /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang. 2001:56): (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang mebedakan tanda-tanda kebahasaan tau dengan yang lain.. bukan bila-bial.

menurutnya lebih disukai dari pada istilah emosional (Sobur.2004:59). Oleh karena itu. dan akhirnya. Fungsi puitik bertumpu pada orientasi spesifik pembaca ke arah pesan. memungkinkan keduanya. memasuki dan berada dalam komunikasi (Jakobson. atau dikatakan juga ’merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa ’puitik (Berger. Hal ini . 204:58) ADRESSE Dengan model tesebut memungkinkan Jakobson untuk melanjutkan konsepnya mengenai fungsi puitik. bagi pengirim dan yang dikirimi (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pemakna kode). 2000a:208). suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi.(kode ) secra penuh atau paling tidak sebagian. 2000:16). emnunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan. baik yang betul-betul maupun yang dibuat-buat. menurutnya cenderung menimbulkan kesan emosi tertentu. Disebutka. menurut Jakobson (1996:70). Menurut Jakobson (berger. dalam Segers. Fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim. Proses komunikasi verbal diskemakan sebagai berikut: CONTEXT MESSAGE ADRESSER __________________ CONTACT CODE (lihat Sobur. 1960. salah satu fungsi dari pesan-pesan tersebut adalah penggunaan alat-alat literatur sebaga metafora dan metonimi. istilah ’emotif yang diperkenalkan dan dianjurkan oleh Marty. Bentuk itu berbeda dengan sarana referensial bahasa. 2000a:16). suatu contact (kontak). Strata emotif yang paling murni dalam bahasa dapat terlihat dalam bentuk kata seru. yang dirangsang oleh kualitas-kualitas tertentu pesan itu. Pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan referensial. . Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagai seperangkat (eistellung) yang mengarah kepada pesan secara terpusat (Segersm 2000:16).

2000:16). Fungsi puitik dapat dijumpai dalam semua proses komunikasi verbal. jika perhatian hanya diarahkan pada pesan itu sendiri. pertentangan antara penglihatan dan suara. mislanya dalam studi searah. Segers melihat. Jakobson memberi contoh : ”tut! Tut!” kata Mc Ginty: ucapan yang lengkap dari tokoh Conan Dyle ini terdiri dari dua kata onomatope yang menirukan suara onga mengisap sesuatu. (Jakobson. dengan jelaskan kemarahan atau sikap ironisnya. belum pernah ada ahli linguistik yang berhasil menganalisis puisi dan menyingkapkan struktur diskursus poetika. gramatikal. seperti dipaparkan Lechte. 2004:59). fungsi putik (yang disebabkan oleh pemakaian bahasa ’sastra ’) bersaing keras dengan fungsi referensial (suatu deskripsi tentang situasi-situasi tertentu dalam sejarah. ”Apabila kita menganalisis pengertian informasi pad aspek kognitif bahasa.s esungguhnya Jakobson telah menunjukkan pada 1935 bahwa fungsi puitik atau estetik. 1935: dikutip Segers. pertentangan antara nada dan irama) namun secara khusus pertentangan antara konsonan-konsosnan muncul dalam kelahiran sebuah puisi.” katanya. dengan jelas memberi tambahan informasi dan tentu saja perilaku verbal ini tak bisa disamakan dengan kegiatan non-semiotik nutritif seperti ’makan jeruk’. tidak terbatas pada teks sastra khususnya dan karya seni umumnya. maupun leksikal. misalnya.fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seri dam terasa pad seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi.baik melalui pola bunyi (sekuen bunyi aneh atau bahkan bunyi-bunyi yang tidak biasa). Ia juga. Lechte (2001:111-112) melihat. tetapi muncul uga dalam artikel surab kabar. adalah orang pertama yang menekankan pentingnya irama dalam puisi karya Maryakovski dan Khlebnikov. ceramah dan sebagainya (Jakobson. menjadi pelopor dalam menunukkan segala bentuk pertentangan (pertentangan fenomik. seseorang yang menggunakan unsur-unsur ekspresif untuk menunjukan kemarahan atau sikap ironisnya. . menurut Jakobson. maupun melalui peran sintaksis (kata-kata itu bukan komponen. Singkatnya. Seseorang dapat mengimajinasikan bahwa dalam bacaan. dalam telaah tentang praktik perpuisian. Rien T. menurut Jakobson. Di sini Jakobson menyatukan dimensi-dimensi ’literer’ dan ’linguistik secara keseluruhan’ melalui pengertian tentang struktur yang mempersatuakannya (Sobur. tetapi padanan kalimat-kalima). 1996:71).

Pembedaaan atau diferensiasi tersebut berlangsung melalui dua sumbu : sintagmatis dan paradigmatis (Ahimsa-putra. yang kemudian diterjemahkan oleh Francis J. di dalam linguistik pasca-Saussure. 2001:17). Hjelmslev mengembangkan sistem dyadic system yang merupakan ciri sistem Saussure (Masinambow. Prolegomena to theory of Language (1943). Language: An Introduction (1970). antar lain lewat dua karyanya yang terbaik. 2001:213). Louis Hjelmslev Ahli linguistik dan semiotik Hjelmsle ini lahir di Denmark tahun 1899. Namun. Pakar linguistik dan semitotika ini lahir di Denmark pada tahun 1899. 2001:54). dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. Sebuah sintagma merujuk kepada hubungan in praesentia antara satu kata dengan kata-kata yang lain. bahwa baik expression maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat expression form pada satu pihak. di dalam uaran atau tindak tutur tertentu. 1992a: 110-111). dengan perluasan ini. Pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis. dan expression substance dan contend substance pada pihak lain. kadangkala disebut juga sebagai relasi-relasi linear (Budiman. istilah sintagmatik selalu diperlawankan dengan paradigmatik. 1988:124-128). Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan.Analisis Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang mengatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial (differential) atau membedakan. Ia juga diakui lanigan sebagai tokoh linguistik yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca-Saussure (Lanigan. Ia membagi tnda kedalam expression dan content. terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui . danmeninggal tahun 1966. 2001:4). Ia dikenal sebagai ahli linguistik penerus yang berpengaruh dari tradisi Saussure (Masinambow. maka relasi-relasi sintagmatik. diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk. 2000b:iii) (Lechte. Kurniawan. Memang. 2004:60). (Sobur. atau antara suatu satuan gramatikal dengan satuan-satuan yang lain. Whitfield (1963). dan meninggal pada 1966. Maka. 5.

Metasemiotika yang dimaksud Hjelmslev adalah bentuk penghubungan tanda-tand dalam teks sastra sebagai fakta semiotis hingga membuahkan gambaran semiotisnya (Aminudin. (2) mengandung hubungan multiplanar. Hjelmslev beranggapan bahwa fungsi simbolik yang muncul dalam bahasa. Demikian pula hanya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk. metasemiotika merupakan rekonstruksi sistemis yang (1) dilakukan interpreternya. Hjelmslev menegaskan bahwa tanda-tanda tidak bisa dengan sederhana dibanguns ebagai kombinasi diferensial dari penanda dan petanda. tanpa bentuk (Sobur. logika digital Saussurean dan diferensial either/or (korelasi) membatasi sebuah sistem yang tidak lengkap. (Sobur. 2004:61). 1988). Kontribusi penting lainnya adalah usaha perluasan semiologi Saussure sebagai logika deduktif. Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure sadalah dalam menegaskan perlunya sebuah sains yang mempelajari bagaimana tandahidup dan berfungsi dalam masyarakat (Cobley & Jansz. Dia mengusulkan bhawa diferensiasi bisa juga diselesaikan oleh kombinasi dari sebuah logika analog dari diferensiasi both/and mempertahankan ’relasi’ dalam sebuah ’proses’ (Lanigan. Hjelmslev sendiri memberikan metafora bahwa form adalah ibarat jala yang dilempar ke laut. sebuah tanda dan sebuah tanda masing-masing harus secara berturu-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Sebagai rekonstruksi yang oleh Hjelmslev disebut scientific semiotic. pada saat pelemparan terlihat bayangan jala itu yang diibaratkan sebagai substance yang memberikan batasan pada hamparan laut. dalam arti tanda dalam . Langkah pertama yang krusial dalam proyek ini adalah mengedepankan langue sebagai sebuah sistem yang mengatur setiap produksi tanda. Dalam pandangan Hjelmslev. bergerak dari semiotik konotatif dan semiotika denotatif dan akhirnya sampai pada metasemiotika dari referensi yang real. 1999:39). Hjelmslev.expression subtance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam expression form tersebut. Bagi . Hamparan laut itu diibaratkan sebagai bahan amorphous. 2000:47). 2004:61). yang memuat baik representasi eidetik maupun empiris dari pemaknaan. Ia juga menambahkan kepada semiotika Saussure dengan memperhatikan hakikat dari sebuah tand dalam koneksi logisnya dengan tanda-tanda lain.

Karena itu. Arti denotatif yang terkandung didalamnya pun cukup mudah diketahui. Hjelmslev (Lechte. maka dimensi yang hendak dijelaskan Hjelmslev tampak begitu terang jika kita mencoba menjelaskan bagaimana kta manifest desnity dipersepsi oleh orangorang Amerika pada kurun waktu tertentu. yang diciptakan pada 1845. sedangkan semiotika konotatif adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik. Menyinggung ihwal manifest desnity . Para penulis seperti Barthes. Meskipun begitu. bisa dikatakan bahwa dalam tanda tersebut terkandung kekuatan konotasi. Dalam pandangan Hjelmslev. dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu ’metasemiotika’. Kenyataannya. namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. 2001:205) mengatakan bahwa ’sebuah semiotika denotatif adalah sebuah semiotika adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bukanlah yang semiotik’. cukup mudah untuk mengenali petanda dalam dsemboyan ini. metasemiotika ada sebagai lambang kebahasaan yang memiliki kerangka hubungan secara internal maupun eksternal. secara potensial konotasi dapat mengaktifkan keseluruhan sistem penandaan yang ada dalam masyarakat (Sobur. yaitu: takdir yang tak terhindarkan. sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. linguistik adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahsa itu senriri. 2004:63). Todorov. Metasemiotika sebagai rekonstruksi interpreter tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem tanda yang ditafsirkannya dan tidak mempu mengadakan formulasi dan rekonstruksi (Aminuddin. 2000:47). dan (3) dalam kesadaran batin interpreter. Menurut Hjelmslev. Manifest Desnity. Seperti dikatakan Cobley dan Jansz (1999). sebuah tanda tidak hanya mengadung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda). dan Eco menggunakan pengertian tentang semiotika konotatif dan . adalah klise yang digunakan oleh presiden-presiden Amerika abad ke-19 untuk merujuk dan membenarkan upaya kolonisasi seluruh dataran. kata Cobley dan Jansz.teks selain memiliki hubungan dengan tanda-tanda yang lain dalam kesatuan teksnya. Sebagaimana tanda yang lain. juga memiliki jaringan hubungan dengan subsistem yang lain secara eksternal. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika.

Sviluppo dell’estetico medievale. Pada suatu waktu dengan sangat menyesal ia pernah menceritakan bagiamana telah kehilangan iman. Meski begitu. namun mereka masih berhati-hati sehubungan dengan pengertiantentang metasemiotika tersebut (Sobur. Di universitas Turin. Menurut pengakuannya (Cox. Corriere della Sera. Umberto Eco Umberto Eco lahir pada 5 Januari 1932 di wilayah Piedmont Italia.denonatif. Lalu. dan menekankan bahwa konsep moralitas yang kokoh yang menggarisbawahi hdiup dant ulisannya mungkin berasal dari informasi awal kekatolikannya. ia menulis tesisnya tentang estetika Thomas Aquinas dan meraih gelar doktor dalam bidnag filsafat pada 1954. 2001:3). memang kerap muncul dalam tulisantulisannya. 2001:199). kumpulan esai semiotika. ia menerbitkan A Theory of Semiotics. 2004:63). Formasi ini. Sebelum menjadi intelektual termasyhur dalam bidang semiotika. Awalnya ia belajar hukum. Di Milan dia mulai menyusun teorinya tentang semiotika La strutura assente (The Absent Structure). Dia kemudian memasuki dunia jurnalisme sebagai editor untuk Program Budaya dijaringan televisi RAI (Sobur. Ayahnya. La Stampa. pada 1979. 6. Guilio Eco. Pada 1959 muncul karya keduanya. ia tidak marah atau bersikap anti agama setelah menjadi eks katolik. bahkan mungkin beberapa di antaranya sengaja diperlihatkan. Kemudian di susul dengan The Rule f the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts (1981) dan Semiotics and the Philosophy of Language . sekaligus dia berhenti dari RAI. Tahun 1976. Saat usia Eco baru 22 tahun. Eco menyunting A Semiotic Landscape. Eco menerbitkan Opera-opera (The Open Work). ia merupakan praktisi Katolik sampai umur dua puluh dua tahun. Pada 1962. Sejak 1975 dia menjadi profesor di Universitas Bologna. 2004:72). La Repubblica L’Espresso dan Il Manifesto. ia mempelajari teori-teori estetika Abad Tengah. Tulisan-tulisannya muncul dalam Il giorno. dan diterbitkan tahun 1956 (Lechte. seorang akuntan dan veteran dadri tiga perang berbeda. namun kemudian mempelajari filsafat dan sastra sebelum akhirnya menjadi ahli semiotika. seperti dikatakan Harvey Cox (2000:3). Pada 1966 dia pindah ke Milan dan menerbitkan Le poetische di Joyce: dall ’summ’ al ’finnegans Wake’.

Terakhir. korespondensinya dengan Cardinal Carlo Maria Martini. Karya-karyanya merupakan sintesis produktif dari hampir semua mazhab semiotika abad ke-20 yang didukung oleh pengetahuan yang luas berupa warisan kajian-kajian klasik tentang tanda (Littlejohn. 1996:71).’ demikian Harvey Cox dalam pengantar pendahuluannya pada buku Belief or Nonbelief. seperti halnya pada sekumpulan naskah yang bersifat intelektual (khususnya tentang abad pertengahan) dan naskah lainnya (’Sherlock Holmes dalam The Name of the Rose.dalam pernyataannya.(1984). Foucault’s Pendulum (1988). Menurut Littlejohn. Namun saya ragu mereka mampu menangkap betapa cemerlangnya hasil konsepsi yang dpat dihasilkan dua orang tersbut hubungan korespondensi Eco-Martini. Lewat Novel The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. katanya. . dan Corpus Hermeneuticum dalam Foucaul’s Pendulum). Diskusi tersebut. Umberto Eco sebagai ahli semiotika yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yangpaling komprehensif dan kontemporer. Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:172) dalam Introducing semiotics menulis. 2004:73). ’Ketika koran Italia ’La Correra de la Serra. tambah Cox sebenarnya mampu membuka peluang percakapan intelektual mengenai agama menuju tingkatan yang baru. nama Umberto Eco menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. (Sobur. mereka tuangkan dalam buku Belief or Nonbelief? A Confrontation 91997). Kedua karya ini mengarah ke aspek-aspek msa lalu dan masa kini dalam teori tentang tanda. kemudian tampak jelas bagi kita bahwa yang sesungguhnya hendakdia katakan adalah keseluruhan sejarah umat manusia. para editor jelas-jelas dngan ide-ide segar dan imajinatif. termasuk bahasa Indonesia dengan judul Beriman atau Tidak beriman? Sebuah konfrontasi (Maret 2001) . teori Eco penting karena ia mengintergrasikan teori-teori semitika sebelumnya danmembawa semiotika secara lebih mendalam. 2004:73). Novel-novelnya antar lain The Name of The Rose (1983). dan The Island of the Day Before (sobur. mengundang dan mempertemukan novelis intelektual Umberto dan uskup intelektual Carlo Maria Martini untuk melakukan perubahan pandangan dalam halaman-halaman koran mereka. Umberto Eco pernah berupaya menjawab secar apanjang lebar tentang luas wilayah dan batas-batas semiotika.

Akankah kita memiliki teman bicara yang seperti Eco menempatkan dirinya sendiri. Berbeda dengan konsep yang lebih statis . Akankah para pemuka agama Amerika berpikiran sama dengannya dalam melihat negara ini. Bagaimana pandangan cox tentang Eco yang lewat novel-novelnya cenderung lebih diwarnai dengan refleksi keagamaan yang cukup intens.. belakang ini semiotika menunukkan perhatian besr dalam produksi tanda yang dihasilkan oleh masyarakat linguistik dan budaya. Thomas Aquinas dan James Joyce. Berkaitan dengan semiotika. mungkin tidak percaya pada Tuhan namun menyadari bagiamana arogannya bila pernyataan seperti ”Tuhan tidak ada’ dinyatakan (Sobur. para pemikir yang tahu apa yang mereka katakan jika tidak setuju dengan para teolog. kita biarkan saja Eco berada di antara mereka mungkin karena seluruh novel dan kesungguhanya menulis sejarah agama di Eropa saja yang menunukkan dia tidak sekadar ikut-ikutan. (Cox. seperti surat-surat teriluminasi yang menghiasi teks-teks kitab suci lama yang diperbanyak melalui tulisan tangan. nyaris bertolak belakang dengan suasana kehidupan masala lalu Eco yang pernah mengaku telah kehilangan iman?”. menjadi karangan bunga setiap awal bab The Name of The Rose?” kata Cox dengan nada tanya. Ia mampu menulis dengan sama mudahnya antara filsfat dan estetika.. namun keduanya masih tetap saling menghormati bahkan berusaha menyenangkan lawan bicaranya. teman bicara yang selalu ragu-ragu namun tidak berprinsip skeptis.. kompuer dan albigenses. Namun untuk beberapa alasan. 2004:75).memperlihatkan bahwa masing-masing pihak saling menguji dan menantang. siapa yang dapat melupakakn kutipan-kutipan bahasa latin yang.kebanyakan pembaca mungkin menemukan kutipan-kutipan seperti itu senga dipamerkan. Foucault’s Pndulum berisi referensi berharga keagamaan abad tengah dan Corpus Hermeticum. 2001:3-4) kemudian menjelaskan: Jika ini digunakan oleh penulis-penulis lain. Menurut pandangan Cox (2001:4) Eco merupakan salah satu orang bijak dewasa yang tidak tertarik pada penyangkalan keberadaan orang-orang beriman namun dengan sungguh-sungguh berusaha mencari iluminasi yang berbeda dari dasar hukum yang sama. Dengan ini ia mampu memuaskan dan saya akan mengatakannya dari perspektif Amerika keirihatian teman bicaranya dalam diskusi ini.

yaitu kode yang terdiri atas hierarki subkode-subkode yang kompleks. ’dataran’. 1979). Menurut Eco. 1979:87). Lampu merah dan lampu hijau juga mengandung makna konotasional yang lemah dari ’kewajiban’ versus ’pilihan bebas’. Nama itu menunukkan suatu unit budaya yang dirumuskan dengan baik dan mempunyai tempat dalam bidang semantik dan sejarah. versus ’kasar’ (Eco. Eco menyimpulkan bahwa ’satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapt ditawar. Wana merah dan hijau pada lampu lalu lintas mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi inernasional dan merupakan bagian dari kode yang ’kuat’. ungkapan dan isi dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean)’ (Eco. Eco memastikan diri untuk menyelidiki sifat-sifat dinamis tanda dalam bukunya Theory of Semiothics (1976. Suatu ’perihal ekspresi’ bisa dihubungkan dengan ’perihal isi’ yang berbeda-beda. Pasanganpasangan yang bersifat konotatif termasuk dalam kelompok terakhir. Tambahan lagi. dan juga bukan struktur tetap yang . sebagian darinya kuat dan stabil. 1979:49). Eco (1979:29) menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan. dan ’pesawat terbant’. 1979:127). serta pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce yang bersifat taksonomis. sedangkan yang lainnya lemah dan bersifat sementara. dan ingin memustkan perhatian para modifikasi sistem tanda. Eco yakin bahwa ’kode tersebut bukanlah kondisi alami Dunia Semantik Global. Dalam kasus bahasa Inggris untuk kata plane. ’halus’. Pada dasarnya.fungsi tanda merupakan interaksi antara berbagai norma: ’Kode memberikan kondisi untuk hubungan timbal balik fungsi-fungsi tanda secara kompleks’ (Eco. atau hutan tempat jejak bekas pedati atau jejak kaki mengakibatkan sedikit banyak muncunya modifikasi abadi. melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda-beda. Objek semiotika boleh diibaratkan dengan permukaan laut tempat kiambang segera lenyap begit kapal lewat. budaya yang berbeda-beda dapat memberikan bermacam-macam konotasi terhadap nama tertentu ini (Eco. Eco melihat tiga fungsi tanda: ’alat tukang kayu’. Komentar yang sama juga boleh dibuat oleh terhadap nama Napoleon. sistem aturan.yang diajukan Ferdinand de Saussure tentang tanda dan pendekatan taksonomis semiotika. Dia menjelaskan pandangan epistemologisnya dengan menggunakan suatu perbandingan. 1979:56).

(Ia juga tahu bahwa Peirce mengikuti dua kasus yang agak berbeda di sini.mendasari kompleks hubungan dan cabang-cabang setiap proses semitik (Eco. jika diterima masyarakat menghasilkan sebuah konvensi. semiosis yang tak terbatas terkait dengan seenis penengah dalam kaitannya dengan kedudukan pembaca. Karena itu. Dalam hal ini ia terpaksa menggunakan apa yang disebut konsep abduksi (abduction) sepeti dianjurkan Peirce. Motivasi yang mirip tampak jelas dalam pembahasan Eco tentangt anda dan penandaan yang tertulis dalam semiotic and the Phylosophy of language (1984). 2001:199). Di sini Eco. seperti di kutip lechte (2001:203). John Lechte (2001:200) menyatakan. berpendapat bahwa tanda itu tidak hanya mewakili sesuatu yang lain (dengan demikian hanya memiliki arti seperti yang tercantum dalam kamus). atau pelbagai kode yang belum dimengerti oleh si penerima. Ia melihat bawah suatu konteks ambigu yang tidak terkodekan yang ditafsirkan secara konsisten. prinsip fleksibilitas dan kreativitas bahasa berasal. Ichwal Toeri yang dimunculkan Eco dalam bukunya A Theory of Semiotics. walaupun A theory of Semiotics secara eksplisit terkait dengan teori tentang pembangkitan kode dan tanda. semiosis yang tak terbatas lebih terkait dengan pengertian ’interpretan’ dri Peirce dimana makna ditetapkan dalam kaitannya dengan kondisi kemungkinan (Lechte. Menruut Eco. Dari sinilah. dan suatu naskah selalu menawarkan kesempatan penafsiran yang tak terhingga banyaknya. namun juga mesti . Eco tidak menjelaskan kasus kode-kode tersebut yang tidak terpahami). dan dengan demikian menimbulkan pasangan pengkodean (Eco. titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang semiosis yang tak terbatas. 1979:161). Meskipun semiosis yang takt erbatas ini adalah hasil dari fakta bahwa tanda dalam bahasa terkait dengantanda lain. Akant etapi. 1979:132). merupakan dasar bagi aspek ganda bahasa sebagai kreativitas yang terikat aturan dan kreativitas yang mengubah aturan (Eco. Hubungan antara kode dan pesan. 1979:65). Eco ingin menghindari kemungkinan makna tunggal di satu sisi melawan maknayang tak terhingga di sisi lain. Ini merupakan reaksi sementara terhadap fakta-fakta dan situasi yang belum dikodifikasikan. yang dengand emikian kode mengontrol pengeluaran pesan dan pesan-pesan baru dapat merestruktur (menyusun kembali) kode.

minatnya yang utama adalah dalam bahasa sebagai yang tersusun atas langue (di mana kode= tata baasa. yaitu hurufhuruf abjad. seperti tanda. sisntaksis. atau konotatif (bila tampak kode lain misalnya kode kesopanan dalam pernyataan yang sama). Hal ini tidak asing lagi bagi karya Saussure. Pandangan yang berlaku di sini adalah ’interpretant’ menurut Peirce. Bisa juga dengan menggunakan istilah Hjelmslev seperi yang juga dikatakan Eco kode mengaitkan bidang ungkapan bahasa dengan isinya. Menurut Eco. . sistem) dan parole (laku bahasa). Walaupun dia memberikan sejumlah contoh dalam jenis-jenis kode ini. Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membuat tanda.m namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. mengikuti Quillian. Secara umum kode bisa berbentuk tunggal. 2. 3. Pengenalan atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda. jenis kode morse dimana suatu kode tertentu (garis dantitik) sesuatu dengan sekelompok tanda. Kode dengan jenis ini di mana satu sistem unsur diterjemahkan ke sistem lainnya memiliki penerapan yang sangat luas. Eco menggunakan istilah ’kode-s’ untuk menunjukkankode yang dipakai dengan cara ini. dan disamping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini. 2004:75-78). Di sini kode sesuai dengan struktur bahasa. tanda-tanda suara atau grafis tidak meiliki arti apa pun. sehingga hubungan antara DNA dan RNA dalam biologi bisa dianalisis menurut kode. gejala. sebagai suatu ’model Q’ model kode yang meninjau semiosis yang tak terbatas (Sobur. Kode-s bisa bersifat ’denotatif’ (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah).tan pa kode.ditafsirkan. Penampilan: suatu obek atau tindakan menjadi contoh enis objek atau tindakan. dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Ia melakukan hal ini dengan mengembangkan suatu model yang disebutnya. unsur-unsur pokok dlaam tipologi cara pembentukan tanda adalah : 1. atau bukti. Dengan kata lain: kode-s bahas itu setara dengan organisasi tertentu pada unsur parole. yang menghasilkan semiosis tidak terbatas.

7. menjadi landasan suatu kontinuum materi baru (Lechte.aktif mengikuti seminar Roland Barthes dan terlibat dalam dunia pemikiran kesastraan (Lechte. Sebagaimana halnya Derrida. Van Zoest (1993:4) menyebut Kristeva sebagai pencetus munculnya semotika ekspansif. Quel diParis pada akhir 1960-an dan tahun 1965 ia berangkat ke Paris untuk menuntut ilmu. Julia Kristeva Julia Kristeva selain sebagai tokoh semiotika juga sebagai tokoh teoretisi feminis. Penemuan: kasus yang paling jelas dari ratio difficult. Replika: kecenderungan kearah ratio difficilis secara prinsip. subversir dan kreativitas antisosial dalam bahasa.4. Bukannya bersifat statis dan tertutup. 2001:220). Orientasi psikoanalisisnya dalam karyanya selalu meletakkan perhatiannya pada bahasa dan segala manifestasinya. Julia Kristiva lahir di Bulgaria pada tahun 1941 ini mencapai reputasi yang istimewa sebagai seorang linguis dan ahli semiotik ketika ia bergabung dengan kelompok Tel. notasi musik. 5. Ciri aliran ini. menurut van Zoest.kristeva melihat semiotika Saussure sebagai satu wacana yang hanya menawarkan makna tunggal. Karena begitu terarahnya . sistem tanda itu menurut Eco bersifat terbuka dan dinamis (lihat Sobur. ialah adanya sasaran akhir untuk kelak mengambil alih kedudukanfilsafat. Ia masuk ke dalam kehidupan intelektual paris. disebabkan di dalam menjelajahi ruang epistemologisnya. 2001:203). Melalui semiotika revolusionernya ia mengembangkan kemungkinan bentuk-bentuk pelanggaran. dan tanda-tanda matematika. 1999:296). 2004:79). tetapi mengambil bentuk-betuk kodifikasi melalui pengayaan.sebagai yang tidk terlihat oleh kode. Contoh-contohnya adalah emblim. menolak hadirnya subjek sebagai agen perusahan dan subversi bahasa (Pilliang. Kristeva menjadikan semiotika struktural Saussure sebagai objek subversi dan pembongkaran. yang Eco usulkan melalui model Q dan melalui penemuan pembentuk tanda yang sering diabaikan ahli semiotika konvensional adalah kebutuhan dalam melakukan peninjauan kemampuan sistem bahasa agar pembaruan danpenyebaran bisa dilakukan. Menurut Lechte (2001:203).

pada sasaran. mencampurakn analisis mereka dengan pengertianpengertian dari dua aliran hermeneutika yang sukses pada zaman itu. Ia mengontrol beragam proses-proses simiosis yang bagaimana pun bersifat rapuh dan bisa rusak ataupudar pada momen-momen penting historis. saluran kearah regulasi dan kohesi sosial. pengertian ’tanda’ kehilangan tempat sentralnya. Dengan kata lain. tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi. linguistis. diganti oleh penelitian yang disebut praktik arti. Dalam semiotika jenis ini. adalah material kulit telanjang (raw material) dari signifikasi yang bersifat badanian dan hal libidinal yang mestimemanfaatkan. dan psikologis tertentu. adalah sebuah sistem yang teroediplaisasikan dan diregulasi oleh proses-proses sekunder dibawah Hukum Sang Ayah. Dengan begitu. semiotika Kristeava. dalam pandangan Sarup. Penelitian yang menilai tanda terlalu statis. Para ahli semiotika jenis ini. Husein (2002). yang bersumber dari proses-proses primer yang berorientasi materials ebagai sumber pertama ritme dan gerak hidup manusia sejak kita semua berumah tinggal dalam tubuh Ibu.s ebagaimana dikutip Fathul A. sekaligus menyediakan. Dalam An Introductory Guide to Post-Structuralisme and Post Modernism. Hasilnya adalah teks yang bisa dipahami (understandable text) yanglahir dari pergolakan norma-norma halus. penggerak-penggerak komponen praOedipal dan zona polymorphous erotogenic. Yang semiotik jadinya meluapi batas-batas teks-teks tersebut dalam momen-momen . menurut Sarup. Sedangkan simbolik Kristeva. konsepsi Kristeva mengenai fungsi-fungsi semiotik dan simbolik beroperasi dalam dimensi psikologis. mengungkap model umum dari prinsip-prinsip prkatik penandaan Kristeva sebagai berasal dari pemikiran psikoanalsis-struktural Jaques Lacan yang mengintegrasikan analisis Freudian dan semiologi struktural. tekstual. Dalam pandangan Sarup. semiotika Kristeva bisa dikorelasikan dengan yang anarkhis. dan kehidupan sosial berdasarkan distingsi Sigmund Freud yang menyruak di antar apenggerakpenggerak pra-Oedipal dan seksual Oedipal. dan terlalu reduksionistis. Madan Sarup (1993). Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti. organ-organ tubuh dan lubanglubang. terlalu nonhistoris. Dalam hal ini simbolik merupakan keteraturan lapisan atas dari semiotika. semiotika jenis ini terkadang disebut ilmu total baru. 2004:79). yakni psikoanalisis dan Marxisme (Sobur.

2004:81). yang menjadi pusat perhatianadalah generasi kristeva yang datang sesudah Sartre. subjektivitas. Mandrins. Profesor dibidang linguistik pada universitas Paris VIII yang sekaligus seorang psikoanalis ini mulai merenungkan sifat feminitas (yang dilihatnya sebagai sumber yang tak ternama dan terungkapkan). yang semiotis dan simbolis.istimewa yang khas Kristeva. genoteks adalah teks yang mempunyai kemungkinan tak terbatas. seperti kata John Lechte (2001:220-225). Meski demikian. Pada tataran yang sepenuhnya bersifat tekstual. Ini adalah tataran tempat kita biasa membaca saat kita mencari makna kata. 2004:80). imaji dan semua bentuk bahasa yang sepenuhnya terartikulasi. dan tampaknya juga merupakan suatu pembongkaran pada kehidupan dan cinta kaum avant-garde intelektual di Paris. kekudusan.pergulatan Kristeva pada hubungan antara bahasa dan pentingnya bahasa bagi pembentukan subjek mendorong Kristeva untuk mulai mengembangkan teori tentang ’semiotika’ (le semiotique) pada tahun 1974 dalam tesis doktornya. 2001:221). Dalam pengertian lebih luas. dan seksualitas yang secara khusus dilandasi psikoanalisis Lacanian tersebut. Karya Kristeva ini. Karya-karya Kristeva mengenai bahasa. Mereka selalu ada bersama dalam proses yang disebut Kristeva sebagai ’proses penandaan’ (Sobur. ia hanya suatu proses. ia memang dikenal sebagai teoreetisi feminis. yang menjadi substratum bagi teks-teks aktual. Lechte melihat. yakni tiga serangkai kekuatan subversif yaitu kegilaan. Di sini ia membedakan le semiotique dari baik la semiotique (semiotika konvensional) maupun yang ’simbolis’ lingkungan representasi. ”genoteks’ itu bukan linguistik. Menurut Kristeva (Lechte. Ia bahkan telah menunjukkan minatnya pada tahun 1990 dengan menerbitkan sebuah roman a cle yang berjudul les samourais. La revolution dulangage poetique (Revolusi dalam Bahasa Puisi). . Ia selalu menaruh minat pad sifat bahasa dan segala manifestasinya. dan puisi (Sobur. ’fenoteks’ sesuai dengan bahasa komunikasi. Di sini.sebaliknya. telah menjadi pusat perdebatan di kalangan feminis kontemporef. masing-masing berkorespondensi dengan apa yang disebut sebagai ’genoteks’ dan ’fenoteks’. mengingatkan kita pada karya de Beauvoir. Bagi sementara orang. baik fenoteks maupun genoteks tidak bisa berdiri sendiri.

yang dikatakannya merupakansatu-satunya bahasa yang dapat menghasilkan revolusi.a dalah bahas yang melalui kekhususan operasi pertandaannya. yang secara langsung berhubungan dengan alibi-alibi ideologis di suatu zaman (Budiman.s egala sesuatu di dalam performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. Sebenarnya kata Kristeva. bahasa puitik dapat dikatakan sebagai musuh dari lembaga sosial. merupakan satu proses pengguncangganjingan tidak boleh dikatakan. tetapi ia juga menunjukkan bagaimana bahasa puisi memberikan pengaruhnya dalam masa pembentukan sejarah dan ekonomi tertentu. 1999a:35). Fenoteks adalah teks aktual yang bersumber dari genoteks. segala sesuatu yang dapat diperbincangkan. yang dicari dalam proses pertandaan bahasa puitik bukanlahperpaduan dan kemantapan identitas danmaknamelainkan penciptaan krisis-krisis dan proses pengguncangan segala sesuatu yang telah melembaga secara sosial. dan berbagai landasan pengucapannya) dipelajari oleh para penulis avant-garde abad ke-19. penghancuran-identitas maknamakna dan transendensi (termasuk di dalamnya subversi terhadap kecenderungan agama). dan dogmatisnya. kristeva tidak hanyamenunjukkan bagiamana landasan semiotika bahasa (suara dan iramanya. yaitu masa Perancis Republik ketiga (Lechte. Dalam karya besarnya yang ia tulis tahun 1974.singkatnya. menurutnya. kebenaran absolut. dan gaya interpretasi. 1999:270)menyebut bahasa puitik sebagai produkd ari sifnigiance. bentuk melismatik yang terkode. Bahasa puitik menghasilkan tidak saja penjelajahan . Fenoteks meliputi seluruh fenomena dan ciri-ciri yang dimiliki oleh struktur bahasa.Genoteks dapat pula dianggap sebagaisuatu sarana yang membuat seluruh evaluasi historis bahasa dan aneka praktik penandaan.selruuh kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa dimasa lampau. Disebabkan oleh sifat antikemapanan. yangmembentuk jalan nilai-nilai budaya. dan ekspresi. sekarang dan masa ayangakan datang sebelum tertimbun dan tenggelam di dalam fenoteks tecakup didalamnya (Budiman. ideiolek pengarang. Bahasa puitik. La revolution du language poetique (Revolution in Poetic Language). 1999a:41). kaidah-kaidah genre. representasi. performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. representasi. 2001:221-222). Kristeva (dalam Pilliang. sperti Malarme dan Lautreamnt.

. Dalam Revolution in Poetic Language ini. Ini. seperti dikutip Lechte. karena akan menempatkannya pada lingkungan simbolik dan memberi kita suatu pengertian palsu. Sifnigicance adalah proses penciptaan yang tanpa batas dan tak terbatas. Sementara ahlimelihat. Kristeva juga terus mengembanggkan teorinya tentang subjek sebagai subjek yang berada dalam proses. Hanya melalui penyaluran rangsangan dalam diri secara bebas dan pelanggaran batas terjauh inilah dihasilkan revolusi dan jouissance dalam bahasa (sobur. Maka. pelepasan rangsangan-rangsangan dalam diri manusia melalui ungkapan bahasa. bahasa puitik merupakan batu sandungan komunikasi pada masyarakat dan peradaban yang dibangun berlandaskan rasionalistas transedensi (Pilliang. yaitu makna yang dilembagakan dan dikontrol secara sosial (tanda di sini berfungsi sebagai refleksi dari konvensi dan kodekode sosial yang ada). Inimemberi rasa untuk menangkap bahasa dalam bentuknyayang dinamis. tetapi dalam bntuk yang radikal. tidak saja keperczyaan dan penandaana yang sudah melembaga. Dalam bentuknya yang paling radikal. akan tetapi sekarang secara eksplisit ia memakai teori psikoanalisis.estetik yang baru. seperti yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli linguistik. bukan dalam bentuknya sebagai suatu peralatan statis.yakni (1) signifikasi. Lancanian. semiotika menjadi disamakan dengan chora feminin. tetapi bukanyang bisa diberi nama. keluar dariaturan dan praktis.membedakannya dar para ahli semiotika lain yang lebih tertarik untuk melakukan formalisasi cara kerja bahasa konvensional. Kristeva membedakan antara dua praktik pembentukan makna dalam wacana. Ia merupakan sebuah perjalanan menuju batas-batas terjauh dari subjek. adalah sejanis asal usul. yaitu makna yang subversif dan kreatif. 2004:83).tata bahasa sendiri.yang kira-kiramenyatakan kedudukan ibu yang tidak bisa dipresentasikan. tabu dan kesepakatan sosial dalam satu masyarakat. 1999:270). sejak ia masih kuliah di Paris pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. chora berada pada sisi dimensi material dan puitis dari bahasa. minat Kristeva dalam menganalisis sifat bahasa puitis yang heterogen. batas terjauh darikonvensi moral.seperti pada yang feminim secara umum. dan (2) signifiance.

di sana acapkali muncul jika kita lakukan retrospeksi fenomena terpisah-pisah yang tertahan dalam latar belakang sistem-sistem penandaan komunal atau paling tidak yang secara cepat berintegrasi ke dalamnya untuk menunjukkan proses sangat penting dari proses pembentukan tanda atau signifikasi. karnaval. atau mengharuskan. dan puisi (baca: seni) ’yang sukar dipahami’ (incomprehensible). antara lain : Revolution in Poetic Language (1974). karya-karyanya yang lebih kemudian jelas menegaskan bahwa adalah bodoh jika hal-hal yang lain ditingalkan sepenuhnya (Lechte. shamanisme. Black Sun (1987). Recherches pous une semantique (1969) dan Le Texte du roman. Powers of Horror. esoterisme.dari karya-karya tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Approche semilogique d’une structure discursive tranformatielle (1970). banyak menguraikan ihwal semiotika dan semantika (Sobur. Masalahnya kini. pada momen historis macam apakah perubahan sosial akan sanggup bertahan terhadap.Lechte (2001) mencatat tidak kurang dari delapan karya pokokKristeva. Kristeva melihat bahwa dalam sejarah sistem-sistem pembentukan tanda. 2004:83). Kristeva menunjukkan minat yang sama kepada penerapan simbolik terhadap lingkup yang tak teraknalisis ini. kata Kristeva. Meskipun ini bisa membuka jalan kepada mistisisme. manifestasi proses sepertiapakah esoterisme (sesuatu yang hanya bisa dipahami . Dalam hal ini ia beranggapan bahwa wacana-wacana yang magis. sebagai upaya untuk menggarisbawahi batas-batas wacana yang bisa berguna secara sosial sekaligus memperlihatkan dengan jelas represi-represi apa yang terkandung didalamnya. 2001:220). yang heterogen. 2004:84). Salah satu ciri yang menonjol pada karya Kristeva adalah keinginannya untuk melakukan analisis pada yangtidakbisa dianalisis yaitu yang tidak bisa diungkapkan. Subjek dalam hal ini adalah subjek yang tidak berdiri melulu sebagai subjek yang statis yang hanya berada dalam satu bentuk imajiner saja (Sobur. sebuah proses yang melampaui subjek berikut struktur-struktur komunikatifnya. An Essay on Objection (1980) About Chinesse ’women (1986). hal lain yang bersifat radikal pad akehidupan individu dan kultural. secara khusus. agama dan ritual. Dua buku pertamanya dalam bahasa perancis Semeiotike. dan Strangers to Ourselves (1988). khususnya dalam seni.

Husein (2002). Segera setelah itu. tanpa semiotik. mengungkap hubungan antara pikiran dan tubuh. dan dimensi gerak dari praktik-praktik penandaan. tandas Kristeva pada hakikatnya signifikasi menuntut sekaligus semiotik dan simbolik. psike dan soma. dan secara lebih hakiki. Di isnilah arti penting tiga dekade lebih Kristeva menulis teoretisasi yang. Dua elemen inilah yang dimata Kristeva mengomposisikan seluruh peristiwa penandaaan. semua signifikasi hanya akan tinggal igauan belaka. kata-kata memberi makna hidup (life meaning) atau makna non-referential oleh karena kandungan simiotiknya. tidak ada signifikasi tanpa kombinasi keduanya (Sobur. Dalam kaitan ini ia menonjolkan teori Bakhtin tentang novel ’dialogis’ seperti juga pengertiannya tentang ’karnaval’. nada. sebuah bonus tak berbahaya yang ditawarkan tatanan sosial pengguna esoterisme untuk memperluas dan menumbuhsuburkannya. seperti dikutip Fathul A.kultur dan natur. Ia berhubungan dengan ritme. semua signifikasi hanya kehampaan tanpa nilai penting apapun untuk hidup hkita. persoalan dan gambaran. dengan mendesak keduanya bahwa penggerak-penggerak yang fisis itu berlangsung dalam representasi penandaan. Julia Kristeva mulai dikenal pada akhir 1960-an sebagai seorang penerjemah karya formalis Rusia. Pada sisi lain. Dengan demikian. Seminalisis adalah sebuah ’pendekatan terhadap bahasa sebagai suatuproses .oleh kalangan tertentu).yatiu ’seminalisis’. Sebaliknya. Dalam mencermati hal ini Kristeva memberikan contoh bahwa kata-kata memiliki makna rujukan (referential meaning) oleh karena struktur simbolik bahasa. kristeva menjadi seorang teoritisi bahasa dan sastra dengan konsepnya yang khas Kristeva. Tanpa simbolik. selain membuatnya lebih fleksibel? Untuk menjawab berbagai persoalan seperti itu. Elemen semiotik adalah penggerak-penggerak jasmaniah atau yang bersifat fisis yang berlangsung dalam signifikasi. 2002). kristeva mengetengahkan sebuah distingsi antara apa yangdisebut semiotik dan simbolik (Husein. Mikhail Bakhtin. Sedangakn elemen simbolik yang membutat rujukan (reference) menjadi mungkin. bahkan terhadap revolusi? Dan di bawah kondisi-kondisi seperti apakah yangpuitik dan yang esoterik itu mampu memperingatkan kita kepada adanya jalan buntu.dalam pergeseran bata-batas sosial sanggup meneguhkan praktik-praktik penandaan yang seiring sejalan terhadap perubahan sosial-ekonomi. 2004:85).

Menurut Kristeva. setiap teksmemperoleh bentuknya sebagai mosaik kutipan-kutipan. Gerakan intertekstualitas ini tanpa batas. ia merupakan pengkajian terhadap bahasa sebagai wacana yang spesifik. 1999b:110).penandaan (signifying process) yang heterogen dan terletak pada subjek-subjek yang berbicara (speaking subjects)”. yakni yang dinamakan sebagai ’genoteks’ oleh Kristeva (1989. menganggap bahwa pengkajian teks beserta dengan konteksnya masing-masing adalah sama pentingnya (Budiman. Sebagai suatu teori tekstual yang tidak berorientasi pada sistem. bukan sebagai sistem (langue) yang berlaku umum. melainkan sebagai proses penandaan yangmemperlihatkan pelepasan dan artikulasi lebih lanjut dari ’drives’ yang dikendalai oleh kode sosial dan belum tereduksi kedalam sistem bahasa. Semanalisis berbeda dengan ’semiotik sistem-sistem yang melakukan deskripsi sistematis terhadap kendala-kendala sosial dan simbolik di setiap praktik penandaan. Dengan kata lain. 1999a:105-106).dalam pandangan kristeva. dalam upaya mengenali disposisi semiotika ini perlu diidentifikasikan perubahan pada subjek yang berbicara tadi yaitu subjek yang kini memiliki kapasitas untuk merombak orde yang telahmerangkapnya dengan begitu saja. Dalam bukunya Structuralist Poetics: Structuralism.kemunculan genoteks senantiasa diindikasikan oleh disposisi semiotika. Semanalisis memahami makna bukan lagi sebagai sistem tanda. Semanalisis mengkaji strategi-strategi bahasa yang khas dalam situasi-situasi yang khas. Jonathan Culler (1982:246-247) melihat genoteks ini sebagai teks yangmemiliki kemungkinan tanpa bata dan menjadi landasan bagi teks-teks aktual. Titik berangkat semanalisis adlah suatuteori makna yang niscaya menyesuaikan dirinya dengan teori tentang subjek yang berbicara. Menurut Kristeva. sejajard engan proses semiosis yang juga tak berujung pangkal. dalam Budiman.intertekstualitas dapat dirumuskan secarasederhana sebagai hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks-teks lain. prinsip yang paling mendasar dari intertekstualitas adalah bahwa setiap halnya tanda-tanda mengacu kepada tanda-tanda yang lain setiap teks mengacu kepada teks-teks yang lain. setiap teks merupakan rembesan dan transformasi dari . Linguistics and the Study of Literature. 2004:83-86). semanalisis mendekati dan memahami makna secara kontekstual. (Sobur.

dan tokoh lainnya. iamemulai program doktoralnya yang berpuncak dalam tesisnya tentang. 1999:51-52). Melalui hal terakhir inilah seseorang. Bersama Todorov Kristeva. Greimas . Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditulis pada tahun 1975 tentang hubungan antara karyanya dengan karya Vladamier Propp. Genette. Essai de description du vocabulaire vestimentaire d’apres les journaux de mode de I’epoque” (1948). dan tokoh lainnya. Essai deskriptif tentang perbendaharaan kata vestimentary dalam surat kabar masa itu). 206). Algirdas Julien Greimas Algridas Julien Greimas lahir di Lithuania pada tahun 1917. (Sobur. mode : Le mode en 1830. Bagi dia. Sesudah menyelesaikan licence es lettres pada tahun 1939. yaitu Maurice Merleau Ponty dan Calude levi Strauss.dapat membaca dan menstrukturkan teks. Dubois. Setelah kembali ke Prancis pada tahun 1944. 2001:205. J. beserta harapanharapannya.teks-teks lain. The Fashion System. Saat it sedang di kota itu. yang pada awalnya juga dibuat sebagai suatu tesis doktoral. hanya untuk menyaksikan invasiyangdilakukan oleh Jerman dan Rusia. Greimas mulai mempelajari dialek franco-provencale. 8. Ia kembali ke Lithuania pada tahun 1940. dalam tahun-tahun penuh ketenangan strukturalisme sekitar tahun 1966. Sepuluh tahun kemudian. Pada tahun 1956. Dalam judul ini tampak nuansa dari karya Barthes. Greimas menerbitkan sebuah artikel yang berpengaruh dan penting tentang karya Saussure.J. ia mulai berminat kepada kultur Abad pertengahan. Ia pertamakali datang ke Perancis untuk belajar hukum di Universitas Grenoble. bersama R. Tokoh ini meninggal pada thun 1992 (Lecthe. (Mode dalam tahun 1830-an. 2004:86). Greimas juga menjadi anggota penelitian semiotik milik kelompok Levi-Strauss di College de France. Greimas mendirikan jurnal language dan juga menerbitkan karya awalnya tentang semantik struktural yaitu Semantique Structurale (semantik struktural). Barthes. yang memanfaatkan karyaduatokoh penting lainnya. A. menemukan ciri-ciri yangmenonjol di dalamsebuah teks dan memberikannya sebuah struktur (Budiman.s ebuah karya hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan atau dalam pertentangannya terhadap teks-teks lain yang menjadai resapannya.

dan bahkan gerakan dari ’sastra lisan ke tulisan’. Yang pertama adalah bahwa ’contoh dari Prop’ dalam mengembangkan model cerita rakyat Rusia mekipun terkenal sangat kaku maih mempengaruhi karya para ahli semiotika dalam tahun 1970-an yang terilhami secara ilmiah. dalam upaya kita untuk membenarkan model teoretis parsial dan bahkan pada fakta yang tidak teratur. Barangkali sejak saat linguistik ingin memisahkan lingkungan linguistik dari lingkungan ekstra linguistik akan cenderung muncul kesulitan yang bersifat konseptual atau bahkan yang bersifat empiris. meskipun Greimas tidak lalri dari masalah kesulitan tersebut. Dalam pernyataan ini paling tidak ada dua hal yang menarik. . 2001:205). ’dari yang sederhana ke yang rumit’. yang kedua adalah para pembaca bisa melihat bahwa di sini pengertian metafisis sering disebut-sebut: pergerakan dari ’yang diketahui ke yang tidak diketahui’. anmun pada saatyang sama sangat ingin ia hindari atau ingin ia ubah. kita masih tergoda untukmengikuti contoh Propp. 1988:xxiv). baik dalam mengembanagkan teori diskursus yang sepenuhnya semiosis (baca: deskriptif). Akhirnya.mengatakan bahwa meskipun nilai heuristiknya agak berkurang dan meskipun pandangan ini tidak terlalu asli. namun pada saat yang memberimomentum pad semiologi Greimas. Hal ini tampaknya datang dari suatu perwatakan filosofis tertentu yang memberi momentum pada semiologi Greimas. Seperti yang akan kit alihat. beresiko menjadikannya positivistik. agar pengetahuan kita tentang narasi dan organisasi diskursif menjadi semakin meningkat (Greimas. maupun dalma menyadari segala kesulitan yang datang saat melakukannya. Mengikuti Greimas. upaya untuk secara implisit menyandarkan diri pada kerangka metafisis atau sekumpulan asumsi akan berakibat dikacaukannya semiotika dengan lingkungaanontologi atau ’keberadaan’ itu sendiri (Lechte. dari ceritarakyat (sastra lisan) ke sastra tulisan. buah dri upaya untuk membaca Greimas ini sesuai dengan kerja keras yang dilakukan sekalipun dorongan yang dilakukannya dengan tanpa kenal lelah agar semiotika menjadi ilmiah. dan menggunakan prinsip untuk bergerak dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. mungkin ia bergerak lebih jauh dari ahli semiotika lainnya. dari yang sederhana ke yang rumit.

Greimas telah manulis tentang diskursus hukum. menjadi yang . 1990:108).Lintasan intelektual Greiman adalah hasil dari upaya untuk melakukan analisis dan melakukan formalisasi setiap aspek diskursus. dan menunjukkan bahwa ’dalam kaitannya dengan bentuk. Selain itu. Oleh sebab itu. tidak seperti Saussure Greimas menekankan bahasa sebagai suatu ’kesatuan struktur penandaan’ yang mensyaratkan bahwa sistem itu sebelumnya sudah ada. Seperti halnya dalam diskursus naratif. 1982:12). meskipun Greimas mempelajari hubungan antara unsur-unsur diskursus paling banyak berupa diskursus naratif namun bukan hanya kualitas substantif unsur-unsur ini. ia juga mengambil jarak terhadap dorongan idealis yang datang dari para ’bapak’ linguistik umum. dan sebagainya (courtes. Mekipun demikian. maupun bagaimana linguistik itu (dalam kata-kata Greimas sendiri) ’menjadi disiplin semiotika yang paling berkembang’.’praanggapan’. Adanya satuan-satuan yang berbeda dari linguistik konvensional yang terus muncul adalah salah satu petunjuk tentang adanya kemungkinan model hubungan antara satuan-satuan ini. dan disini kita bisa melihat pengaruh Merleau Ponty. Pada tingkat yang sedikit lebih rendah. didalam diskursus deskriptif terdapat diskursus tentang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Greimas menyadari pentingnya suatu sistem. Greimas sering tampil sebagai yang dipengaruhi linguistik konvensional baik dalam belokan teknis yang diberikannya kepada istilah umum seperti ’inventarisasi’. Kosa kata semacam ini berbeda dari terminologi linguistik konvensional karena satuan analisisnya itu bukan kalimat melainkan diskursus. tetapi harus diartikulasikan atau dibentuk. khususnya pada hukum Prancis yang terkait dengan berbagai perusahaan dagang. atau’praktis’. Classeme (atau semes contekstual) anaphora (yang mengaitkan ujaran atau paragraf). Dalam mengembangkan jalinan istilah yang autentik suatu kosa kata yang sebenarnya berguna untuk menguraikan dan melakukan analisis secara semiotik pada lingkup diskursus Greimas mengikuti jejak Hjelmslev. cara kerja bahasa ini menjadi titik pusat perhatian penelitian Greimas. sememe (inti semie dan semes kontekstual yang sesuai dengan arti kata tertentu). setiap diskursus hukum datang dari tata bahasa hukum yang berbeda dari tata bahasa alami yangmemunculkan diskursus ini’ ((Greimas. Walaupun begitu. kita temui: seme (satuan artiminimal). satu buah tanda tidak melakukan penandaan.

Oleh sebab itu. yang kemudian memulai kariernya dalam leksiografi. Singkatnya. semantika struktural melepaskan diri dari konsep makna linguistik konvensional dengan tidak menitikberatkan baik pada kata maupun pada kalimat secara terlepas dari konteks. Karena alasan ini maka semiotika struktural aksi dari Greimas yang mirip dengan etnografi dari Bourdieu lebih menyukai strategi daripada aturan. Bila dipahami dengan cara ini. tetapi bertitik tumpu pada satu jaringan yanag memunculkan makna di dalamnya. Ujaran tidak brsifat kontingen atau sebarang saja. bagi Greimas. Walaupun begitu. karena bagi Greimas pengertian tentang suatu ’jaringan hubungan’ berjalan seiring dengan pemakaian bahasa. Seperti yang telah kita lihat. diskursus itu adalah bahasa sebagaimana ia dipakai. yang ada hanyalah para actant entitas yang .’dianggap memiliki klaim terkuat dalam statusnya sebagai ilmu’ (Greimas. Greimas berusaha mempelajari pembentukan makna dalam diskursus makna sebagai suatu proses penandaan. Greimas menerbitkan karyanya yang berjudul Dictionnaire de l’ancien francais (kamus Bahasa Prancis Kuno) Lechte. 2001:207). akan jelas bahwa Greimas itu pertama-tama lebih tertarik pad sisi parole dalam persamaan ’langue/parole’. Semiotika struktural menguraikan makna dari makna. Pengertian diskursus oleh Greimas adalah seperti yang dimaksudkan oleh Benveniste: ”bahaa sebagai yang dipakai oleh penutur bahasa itu. Sebaliknya. suatu semantika struktural akan menjadi suatu semiotika struktural saat makna diubah mnjadi satuan-satuan analisis yang menjelaskan pembentukan makna dalam satu konteks tertentu. Makna ini tidak bersifat intensional (terkait dengan subjek psikologis) atau hermeneutik (makna yang ada sebelum bahasa dipakai). karena bila kita ingin membangun suatu ’tata bahasa’ semiotika pembentukan makna. Aturan itu mensyaratkan adanya seorang pelaku dibalik suatu tindakan yang patuh kepada aturan-aturan ini. yang akibatnya mengutamakan para pelaku dibalik tindakan. 1990:12). Ketegaran ilmiah yang biasa diterima pada linguistik membuat hal ini menjadi suatu awal bangkitnya seorang peneliti yang lebih menghargai ketegaran karya intelektual daripada karya-karya lainnya. maka ujaran harus dipahami sebagai yang tertata dengan cara tertentu. atau ’sistem’ tidak dilupakan. Pengertian aturan banyak mendominasi pemikiran para ahli strukturalis awal. Pada tahun 1969. Walaupun begitu. langue.

Oleh sebab itu. benar atau salah. sebagai contoh. Bisa juga. ’mengetahui’ dan ’mampu . Istilah kunci pertama adalah ’modalitas’. atau ditinjau dengan kritis. Maka dari itu. Dengan cara yang sama. Agar kita bisa memahami cara actant (Greimas.’melakukan’. predikatnya adalah dalam cara kewajiban. yang ada hanyalah subjek yang dibentuk oleh tindakan diskursif itu sendiri. Greimas mengatakan bahwa ’pelaku sintaksis’ (Syntactic actant) bukan ’orangyang berbicara’ (subjek ontologis) melainkan ’orang yang berbicara manusia semu yang dibentuk oleh tindak bercakapnya (Greimas. dan lainnya.membentuk nilai-nilai dasar yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan eksistensi tertentu pada jagat semiotika mikro yang otonom: ’ingin untuk’ dan ’mampu untuk’ berkaitan dengan eksistensi pada tataran semu nilai modal. Selain itu. ”John harus menulis surat’. modalitas terkait dengan cara bagaimana sesuatu itu bisa berarti suatu hal atau bukan suatu hal. seperti para pemikir strukturalis lainnya. modalisasi adlah yang mencirikan dan membatasi setiap situasi actantial yang memang selalu ada dalam situasi semacam itu. Mungkin penggunaan modalitas oleh Greimas lebih dekat kepad a pengertian linguistik karena ia ingin memberikan status aksiomatik pada pengertian ini. Seorang pelaku bisa sama dengan dua orang pelaku psikologis. tidak ada subjek dibalik diskursus. ’harus’. Maka. ’adalah’. 1988:xxiv) dalam suatu diskursus naratif. mengatakan ’ia sakit pada tahun 1930’ dalah memberikan suatu modalitas temporal kepada satu keadaan sakit.dalam linguistik. dalam sebuah pernyataan. Greimas mengembangkan sejumlah istilah kunci yang perlu dipahami secara penuh agar semua yang sudah dikerjakannya bisa dipahami. sebuah kota bisa menjadi actant. namun ini tidakmenjadi bahan pemikiran semiotika selain ontologi. pada suatu semiotika struktural jenis Greimasian. seperti kota paris dalam analisis Greimas pada ’Two Friends’ karya Maupassant (Greimas. pada awalnya istilahini menunjuk pada ’yang mengubah predikat pada sebuah ujaran’ (1988:193). ’mengetahui’. Oleh sebab itu’ ingin untuk’. Greimas cukup cerdik untuk tidak mempsikologisasikan subjek diskursif. Dalam logika.’mampu untuk’. misalnya sepasang suami istri yang bersama-sama membentuk fungsi yang sesuai dengan diungkapkannya suatu narasi. Bisa saja ada sutu subjek puncak.dibentuk oleh konfigurasi tindakan-tindakan diskursif itu sendiri. 1988:xxiv). 1990:12).

tatapan saat kelopak mata terbuka hari saat fajar. suatu hal yang bisa mengawali bidang penelitian yang tampaknya bersifat sangat abstrak dan sarat pemikiran (cerebral) (Lechte. kehidupan manusia saat masa kecil’. Oleh sebab itu. seperti pada nafsu dan emosi. bukannya pada yang bersifat induktif (Lecthe. Hal ini berbeda dngan pertentangan hierarkis ’permukaan/laten’. 2001:2009). ’cinta hanya bisa diraih pada saat-saat pertama. atua kepada perwatakan modalisasi pada keadaan subjek’ (Greimas. Untuk menghadapi hal ini. dan ketidakstabilan proses-proses yang sangat sulit untuk distabilkan. Terpinjam dari ilmu kimia (Greimas sering meminjam istilah dari ilmu-ilmu alam). Capital de l a douleur. kekusutan. Isotopi memungkinkan berbagai unsur berbeda (makna. Di sini aspektualitas kelihatan dominan dalam puisi karya Paul Eluard. Greimas memperkenalkan istilah ’aspektualitas’ dalam telaah semiotika tentang nafsu. Sebagaimana ditunjukkan Ronald Schleifer dalam pendahuluan edisi terjemahan bahasa Inggris dari Semantique structurale.untuk’berhubungan dengan tataran aktualisasi. melalui pengertian tentang isotopi. Secara singkat. jika modalitas datang dari suatu aksiomatik yang membangkitkan ketidakteraturan. dan lebih mirip dengan struktur permainan kata. secara niscaya mereka tidak bersifat kontinyu. Modalisasi bersikap berlebihan dalam menentukan tindakan para actant yaitu subjek dalam diskursus naratif. ujaran) menjadi . kaerna puisi ini lebih menitikberatkan ketidaklengkapan daripada ’nilai semantik yang diinginkan objek itu’. 1991:5). Lebih jauh lagi. Hal kunci pada aspektualitas adalah kedudukan penting yang dianggapnya ada pada tubuh dalam kaitannya dengan nafsu dan perwatakan subjek. ”Isotopi” adalah istilahpokok lain dalam kosa kata semiotika Greimas. ketidaklengkapan. puisi Eluard menghargai situasi permulaan. Singkatnya modalisasi adalah upaya ’meletakkan’ bentuk suatu ’deklarasi aksiomatik’. Karena secara khusus mereka terkait dengan tindakan. Oleh sebab itu. ia didasarkan atas suatu prosedur hipotetiko-deduktif’. 2001:209). yang menganggapnya mubazir.Greimas mampu memindahkan titik pusat perhatian semiotika darikalimat diskursus. mereka tidak mampu memasukkan keadaan-keadaan yang kontinyu. tindakan. isotopi terkait dengan tingkatan-tingkatan makna yang sejajar dalam suatu diskursus homogenyang tunggal. lebih dari upaya bertindak.

sudah jelas bahwa secara metodologis kita perlu memeriksa komentar tentang akhir kisah secara terpisah dari yang mendahuluinya. pertama dalam kaitannya dengan masalah yang meninjau pemisahan yang bersifat semiotik danmetafisis yangmuncul sejak awal dan kedua.terkait dengan satu diskursus yang sama. 1990:112). dalam kaitan dengan analisis Greimas tentang bagian akhir dari telaah semiotiknya tentang karya Maupassant yang telah disebutkan di atas. Two Friends’) menjadi homogen. maka Freud sering berhadapan dengan suatu kumpulan yang sangat heterogen. tentang perikanan dan persahabatan). ”Two friend’. yang . kita bisa menanyakan hal apakah pemisahan ini memang layak.yaitu ’Two Friends’ (Lechte. Sekarang kita coba mengkaji upaya yang dilakukan Greimas. 2001:2010). Tanpa menolak baik wawasan yang mendalam dari ’isotopi’ maupun kerumitan masalah. Hasilnya. pemahaman tentang. Meskipun begitu. bila bahasa alami yang banyak mengandung penyelubungan metafisis harus menjadi sarana ilmu semiotika itu sendiri?. yang darinya harus disusun suatu naskah yang homogen. dan tematis saat naskah ini menyarankan adanya pengetahuan yang berkembang di luar pengetahuan naratif (dalam kasus yang bersangkutan. Dalam telaahnya tentang cerita pendek karya Maupasant. yang ’tampil’ dan ’laten’ tampak menjadi berbeda dalam kedua kasus tersebut. Terkait dengan telaah Greimas tentang karya Maupassant. Bukti yang ditunjukkan oleh bahasa Greimas sendiri tampaknya mengakui kesulitan yang ada dalam hal ini. ”Two Friends”. Greimas yang menunjukkan bahwa suatu isotop bisa berupa aktorial saat kalimat yang mengungkapkan berbagai tindakan pada akhirnya menunjuk ke satu pelaku. ”paris” diskursif saat kalimat-kalimat yang dibuat secara independen dilihat merujuk pada subjek yang sama. Sehubungan dengan pemisahan yang semiotik dari yang metafisis atau ontologis. mungkin perlu kita ingat bahwa saat Greimas meninjau bagaimana suatu naskah yang sudah homogen (misalnya. figuratif saat naskah menjadi sarana berbagai alegori atau perumpamaan. Yang diyakini Greimas dalam ”isotopi’ adalah bahwa pembedaan kandungan mimpi antara yang ’laten’ dan yang ’tampil’ menurut Freud dalam interpretation of Dreams sudah tidak berlaku lagi (Greimas.

namun dalam kaitan dengan kisah ini Greimas tidk meninjaunya sedikit pun. tubuh mereka diberi beban dan dimasukan kedalam sungai tempat ikan yang akan mereka pancing. para baris terakhir tertulis: ”kemudian iamulai mengisap pipanya lagi”. para pembaca bisa mulai bertanya-tanya apakah Greimas benar-benar telah meninggalkan keindahan linguistik yang mencirikan telaah tentang kalimat. 1990:59). Tampaknya mulai mempertanyakan kemungkinan praktis dalam melakukan analisis. Kontras semacam ini. yangmenjadi ciri khas upaya Greimas (Greimas. Selain itu. baris terakhir ini adalah unsur yang memberikan sumbangan pada sebagian diskursus naratif yang ingin dibangunnya. bukan hanya naskah yang panjang. Bagi Greimas.akan diuraikan di bawah ini adalah garis baesar dari upaya untuk menganalisis karya Greimas secara keseluruhan. muatan baris terakhir ini menjadi kunci muatan emosional cerita ini. perwira Prussia yang memerintahkan eksekusi ini kemudian memerintahkan ikan yang ada untuk dimasak. kitalihat bahwa naskah yang dianalisis Two Friend” hanya terdiri atas enam halaman. Di sini para pembaca akan terhenyak oleh adanya kontras yang tajam antara baris terakhir dengan yang mendahuluinya. muatan yang dimunculkan oleh ketidakpedulian tanpa rasa iba sedikit pun dalam hati si perwira Prussia.karena tampak seperti begitu saja diletakkaamn) baris terakhri ini menjadi kunci muatan emosional ceritaini. tetapi juga naskah yang lebih rumit. Bisa kita tafsirkan bahwa (karena tampak tidak bersatu dengan bagian sebelumnya atau mungkin lebih baik. Ini adalah yang dituliskan Greimas dalam bagian yang terkait dengan baris terakhir kisah ini: ’Mengisap pipa’ jelas merupakan representasi figuratif dari keadaan tenang. Meskipun melalui penggunaan isotopi ia sering merujuk ke simbolisme Kristen dan yang lainnya. Setelah tertangkap oleh tentara Prussia (waktu itu sedang berlangsung perang Prancis-Prussia) pada saat sedang memancing. Dalam . sedangkan naskah analisisnya hampir 250 halaman panjangnya. dua orang bersahabat ini (the two friends) ditembak karena dianggap menjadi mata-mata perancis. yang dicirikan dengan tiadanya gangguan somatik atau nologis. Eksekusi selesai. Pertama. Lebih penting lagi adalah bahwa cara yang dilakukan dalam menganalisis akhir kisah membangkitkan keraguan tentang kejelasan pandangan penelitian Greimas. Segera sesudah itu.

9.terang ini ia berusaha menyingkapkan struktur yang menentukan kemungkinan adanya diskursus naratif. Tata bahasa ini akan menjadi suatu sistem yang implisit terdapat didalam diskursus narasi. ia masih mendominasi naskah ajar (tutor text) dan tampaknya inginmenjadikan naskah ajar ini sebagai sasaran kuncinya. pembingungan/mistifikasi) naskah oleh tata bahasa (Lechte. yang sekaligus disepadankan dengan upaya untuk menghindari penguasaan (maksudnya. Dekan fakultas tersebut menanggapi perminaan Todorov dengan dingin dan mengatakan bahwa ’teori sastra tidak dipelajari di fakultasnya dan tidak ada keinginan untukmelakukannya’ (Dosse: 1991:240). 211). Tzvetan Todorov Sebagaimana halnya Julia Kristeva. Tzvetan Todorov lahir di Bulgaria dan datang ke Paris pada tahu 1963. 207-211). kemungkinan yang dibentuk oleh modalitas. Oleh sebab itu. sekalupun itu berarti bahwa semiotika struktural terpaksa harus menerima tandangan yang paling berat (Lechte. secara mendasar tata bahasa ini masih berada di luar sistem yang ingin diisolasikannya. Ia (tata bahasa) lebih mendahulukan strategi daripada aturan. isotop. dan melalui salah seorang staf perpustakaan ini ia mulai berhubungan dengan Gerard Genette yang menyarankan agar Todorov mengikuti seminar Roland Barthes di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales (Lechte. mungkin pada prinsipnya muatan emosional pad anaskah ini seharusnya ikut dikaji. 2001:239). Berdasarkan hal ini. lalu ia mulai membaca di perpustakaan universitas Sorbonne. Hubungan dengan Barthes yang menjadi pembimbing dalam menyelesaikan doctorat de toisieme cycle pada tahun 1996 memungkinkannya untuk . dan sebagainya. Ia tidak mundur oleh penolakan ini. tindakan kognitif dan pragmatis. perjumpaan dan pergulatan pertama Todorov dengan karakter dan lingkungan konservatif Sorbonne pra-1968 berlangsung saat ia melamar untuk melakukan penelitian tentang teori sastra di fakultas sastra perguruan tinggi tersebut. Setelah menyelesaikan sarjana tingkat pertamanya dan dengan rekomendasi yang diperolehnya dari Universitas Sofia. Mekipun demikian. semangat ilmiah yang berada di belakang proyek Geimas ini mensyaratkan adanya keterbukaan dalam upaya melakukan modifikasi teori bila menemui kesulitan.

seperti para teoretisi struktural lainnya (misalnya Barthes dan Genette). Dua artikel awalnya pun diterbitkan. Pendekatan ini mengarah ke sejenis telah yang dilakukan dalam Litterature et signification – buku yang didasarkan atas tesis doktoral Todov yang mengambil novel epistolari abad kedelapan belas karya Laclos berjudul Les Liaisons dangereuses sebagai naskah telahnya. makna sutu karya (berlawanan dengan interpretasinya) datang dari hubungannya dengan karya-karya lain yang ada dalam sejarah sastra. 2001 : 240). namun . Satu artikel penting lainnya artikel awal Todorow yang menunjukkan pengaruh formalis Rusia adalah ’Le categories du recit litteraire’ (Todorov. ’Makna dari ’Madame Bovary harus dipertentangkan dengan sastra romatik’ (Lechte.(Todorov. Pada setiap kisah narasi terdapat berbagai tindakan atau peristiwa. yaitu communications. Greimas dikenal secara luas. Pada saat itu. Apakah karya ini secara keseluruhan terlepas dari prinsip ini. 1964: 4).J. bagaimana dengan makna (sens) karya ini secara keseluruhan? Mengatakan bahwa suatu makna itu bersifat relasional berarti bahwa unsurunsur makna ini membentuk suatu sistem: mereka tertata dengan cara tertentu dan tidak hanya berbentuk suatu kumpulan yang bersifat ad hoc.mengembangkan artikel pada jurnal semiotika interdisipliner yang berpengaruh. Baru setelah karya-karya A. Todorov mengaitkan telah tentang makna dengan kerangka hermeneutik (yang berararti juga humanis). 1966: 125). jika memang demikian. Di sini Todorov mengulang pernyataan bahwa ’uraian pada suatu karya serarah pada makna unsur-unsur karya sastra itu : kritikus sastra tampaknya berupaya memberikan interpretasi. Salah satunya. sehingga maknanya bersifat khas dalam otonomi dan ketunggalannya? Todorov mengatakan tidak. suatu pradigma struktural kemudian bisa dikaitakn dengan bidang semantik. makna unsur-unsur ini ada dalam hubungan antara usnur-unsur tersebut. 1966: 126). berjudul ’La description de la signification en litterature’ meninjau berbagai tingakatan analisis struktural dan menekankan bahwa dalam analisis struktural ini bentuk objek literer lebih utama daripada subtansi isinya yang terkait dengan semantik (Todoro. Sambil menggemakan karya Genette tentang narasi (recit)Todorov terus melakukan analisis tingaktan ’kisah’ (historia) dan diskursus dalam artikel telaahan tersebut. Namun.

Dengan merangkum pandangannya dalam literature et signification. Todorov merangkum pandangan banyak kaum teoretisi strukturalis generasi tahun 1960- . Seperti Genette. Segala proses ini harus tetap reatif tidak tampak bagi para pembaca agar narasi ini bisa tampil sebagai kisah yang penuh intrik. dan (3) di sini tidak mungkin mengisolasi tingakatan tindakan dalam rangka melakukan analisis padanya bisa ’tindakan’ yang berlangsung dalam suatu narasi itu setara dengan keragaman situasi psikologis para pelakunya seperti yang berlangsung dalam Les Liaisons dangereuse (Lechte. Dalam bukunya. kita bisa mempelajari logika dari segala jalinan ini. dan objektivitas (atau narasi sebagai penyebutan atau tindak linguistik yang lengkap) pada suatu naskah tertentu. Bahkan pada inti argumennya terdapat sebuah genre (jenis) yang didasarkan atas berhasilnya harapan melalui peniruan saat novel epistolari ini didasarkan atas seumlah proses yang ada di dalam struktur novel. tetapi mengikuti logika tertentu. apakah dalam setiap novel ada kisah semacam ini? Todorov mengatakan ini adalah kisah yang diciptakan novel itu sendiri. Dengan menggunakan Les Liaisons dangereuses sebagai contoh. Hanya bila tingakatan-tingakatan peristiwa dan tindakan dipelajari dengan cukup memadai.tidak berlangsung dengan mengikuti suatu krologi ideal. subjektivitas (atau konteks atau proses narasi). baik sebagai laku bahas (enonciation) yang memunculkannya gaya dan subjektivitas maupun sebagai sebuah kisah (enonce). Todorov mengembangkan analisis tentang les Liasions dangereuses yang dimulai dalam artikelnya yang dibuat pada tahun 1966. Todorov berupaya memperjelas berbagai proses (procedes) yang memuncukan narasi. Todorov juga tertarik untuk melakukan analisis waktu. narasi. Tindakan dan peristiwa tersebut membentuk suatu kerangka yang sering agak rumit dan kemudian menyatu pada satu krtitik. (2) sebuah narasi bisa memiliki lebih dari struktur yang muncul saat dua model yang berbeda bisa berjalan sama baiknya dakan analisis ini. Litterrature et signifacation (1967). Meskipun demikian. Todorov menunjukan bahwa : (1) segala tindakan dalam suatu narasi itu tidak bersifat sebarang. Proses-proses ini juga setara dengan fungsi atau makna (sens) setiap unsur yang ada dalam narasi itu. 2001: 240). Secara umum.

Saat Todorov berbicara tentang pencarian makna akhir suatu karya yang berada di luar karya itu sendiri yaitu pencarian makna yang berada di luar eksistensi karya yang bersangkutan secara implisit ia mengambil jarak dari pendekatan hermeneutik pada naskah. bila pada tahun 1960-an Todorov menggunakan formalisme ataumelalui strukturalisme sebagai cara untuk menolak pendekatan terhadap realisme sosial yang benar secara ideologis. Todorov berpendapat bahwa bahkan dalam zaman strukturalis sekalipun. ia lalu menulis: ”Melalui rangkaian peristiwa setiap karya. setiapnovel. Cukup menarik bahwa setelah membuat tulisan yang cukup berpengaruh tentang Decameron. 1991:49). 2001:241). pengaruh Romantisme tidak bisa dihindari. maka pada awal 1980-an Todorov mulai berusaha mempergunakan kerangka yang lebih bersifat interpretatif yang ditujukan untuk melawan pendekatan apolitis pada analisis tekstual formal.an. dan literatur tentang yang fantastik semua didasarkan atas pengertian tentang otonomi relatif dari naskah literer arah oeuvre Todorov mulai berubah ke telaah sejarah dan teori tentang simbol. Hal ini tampil dengan bagus dalam surat terakhir dari Les Liaisons Dangereusses yang menjelaskan penerbitan kumpulan surat yangmenyusun novel ini. fakta dari kaya fiktif ini bukan suatu fiksi. Todorov paling menghargai aspek ’antropologi filosofis’ dalam karya Bakhtin yang memikirkan masalah . Todorov kembali ke para pembimbing formalis Rusianya saat itu ia lebih banyak melakukan penafsiran terhadap pemikiran mereka daripada memasukkan metode-metode formalis mereka ke dalam karyanya. pendekatan yang sering diarahkan untuk menangkap pesan akhir naskah (yang sering bersifat ideologis). Pada tahun 1981. Pencarian makna akhir ini akan sia-sia karena ’makna suatu karya adalah untuk mengungkapkan dirinya sendiri mengisahkan eksistensinya sendiri kepada kita’ (Todorov. perbedaan antara fiksi dan non fiksi menjadi problematis bila karya fiktif ini dilihat sebagai proses penciptaanya sendiri karena sekarang fakta dari fiksi ini (yaitu yang berupa non-fiksi) tampaknya menjadi sifat pokok dari fiksi (Lechte. Maka dari itu. ceritanya sendiri”. tentang strukturalisme. Bakhtin menjadi suatu titik balik dalam seluruh pendekatannya pada teori sastra. akan tetapi. upayanya untuk membaca kembali oeuvre. Dengan cara ini. mengisahkan kembali kisah penciptaannya. Pada satu tataran.

yaitu tidak berhubungan dengan objek-objek ’bisu’ ilmu alam. dan mengubahnya menjadi suatu dialog naskah yang mengetahui dan agar diketahui? (Todorov. yang penting adalah mengetahui bagaimana hal ini berpengaruh pada sikapnya saat ia benar-benar bertemu dengan orang-orang Amerika Tengah. yang hanya cocok untuk menjadi budak bangsa Eropa. ’yang lain’ dalam prinsip dialogis yang diartikulasikan oleh Bakhtin menduduki tempat yang sangat penting. jika Columbus memiliki tingkatan sadar dan tidak sadar. Bisa juga. ”Akan tetapi. Pandangan ini diperoleh Todorov dari Dostoyevski melalui karya-karya Bakhtin lebih lanjut. Dua tulisan yang penting di sini adalah The Conquest of America (1982). sesudah Dostoyevski. Kemudian Todorov bertanya. orang-orang Indian diserang diperlakukan sepergi ’aning buduk’ dalam . suatu cara yang sangat khas dan tidak berubah dalam memahami kehidupan (termasuk pandangan tentang apa yang akan ditemuinya di belahan dunialain). tetapi menjadi subjek. Seperti yang sering ditunjukkan Todorov. Dalam The Conquest of America Todorov menganalisis dan melakukan interpretasi dokumen tentang Columbus dan penemuan benua Amerika pad tahun 1492. yang tidak bisa menangkap ’yang lain’ ’penolakan kesatuan yang ada pada ’saya’ memiliki pasangannya dalam pengakuan status baru ’engkau pada yang lain’. yang lain’ tidak lagi menjadi obek.tentang ’yang lain’. Oleh sebab itu. diri pribadi dengan yang lain. ini berarti bahwa perilaku Columbus bisa diramalkan: ia bertemu dengan yang lain melalui prasangka kulturalnya (termasuk religi). bukankah ini adalah ciri pokok pengetahuan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan seperti yang telah diuraikan Bakhtin. Pada satu tingkat. Diawali dengan usulan bahwa peneliti harus dilihat sebagai yang terkait di dalam objek telaah harus mengalami dialog dengannya Todorov mulai melakukan sederetan penelitian yangmelihat bagaimana searah dan kultur Eropa dan Perancis saling terlibat satu sama lain. Orang-orang Indian dilihat dan diperlakukan sebagai binatang liar. identitas dan perbedaan. 2001:243). Ini adalah sebuah telaah yang penuh pengabdian telaah yang dilakukan oleh seorang moralis yang memikirkan hubungan antara orang-orang Eropa dengan Indian. Lechte. 1991:107. Bagi Todorov. Dari sini a berpendapat bahwa pandangan mendasar pada Bakhtin adalah menyadari tidak adanya karya seni. dan Nous et les autres (1989).

Moctezuma dan orang-orang aztec terbelenggu oleh pandangan tentang dunia yang tergantung pada upaya membaca masa kini secara kaku melalui prisma masa lalu. Meskipun dipengaruhioleh keyakinan Kristen. Menurut Todorov. Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang kultur orang Aztec dan ini adalah hal pokok kedua yang bisa dipikirkan dalam hubungan dengan . Sebaliknya. ’pada saat yang sama alteritas manusia ditolak sekaligus diterima’ oleh orang-orang Eropa. dan suatu ketika ia menipu para penduduk asli pulau yang sekarang adalah kepulauan Bahama agar mereka berpikir bahwa mereka akan dibawa ketahan terjanji milik para nenek moyang mereka. Di sini Todorov berpendapat bahwa orang-orang Spanyol memenangkan perang penaklukan atas pimpinan Hernando Cortes sebagaian besar karena para penakluk itu mampu bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan. saat mereka diadikan budak oleh Cortes ini. dan mengambil perwatakan psikologis yang negatif dalam hubungannya dengan itu. Cortes menyadari pentingnya bahasa dan pengetahuan tentang kultur Aztec. tetapi ia juga mempergunakan mitos-mitos orang Aztec dalam sebuah muslihat yang bertujuan untuk menyesatkan musuhnya. Ia tidak hanya mengandalkan informasi yang datang dari para informannya. pertama ia ingin menunjukkan bagaimana tanda dan inerpretasinya. Cortes memupuk ilusi kaum Aztec bahwa ia adalah seorang dewa. Sebagai contoh. Cortes berusaha mempelajari bahasabahas orang-orang yang dijumpainya ini dengan banyak cara. Singkatnya. orang-orang Aztec melihat kedatangan orang-orang Eropa sebagai suatu pertanda buruk. 1984:49). abad penaklukan. Cortes berusaha mendapatkan informasi tentang dan dengan demikian memahami cara hidup orang yang akan dia perangi. dan ia memanipulasikan situasi yang ditemuinya demi keuntungannya (Todorov. Oleh sebab itu.pertemuan nyata. seperti yang dikatakan Kitab Suci. Todorov ingin menampilakn dua aspek dalam penaklukan Amerika. tidak seperti orang-orang Aztec. sedangkan secara berjarak diidealkan sebagai orang liar yang mulia. bahasa dan komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam kontak yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol dan Aztec pada abad keenam belas. Orang-orang Aztec ini menyandarkan diri pada nubuat dan pemahaman tentang nasib yang terkait erat dengannya.

Saat itu antara tahun 1500 dan 1600 mereka tidak hanya diperbudak. di mana ’saya’ dan ’kamu’ muncul bersama-sama. Di sini yang paling manarik Todorov adalah bagaimana berbagai pengarang menunukkan rasa kepercayaannya kepada perenungan gaya Perancis tentang keanekaragaman manusia mulai dari etnosentrisme yang merangkum semuanya (yang lain dianggap sebagai objek). serta kemampuan improvisasi yang dibawa oleh karya penulisan ini. Kengerian tentang hal ini mencapai puncaknya selama berlangsungnya kolonialisme Spanyol. semakin banyak ia menghasilkan kemampuan untuk melakukan improvisasi menghadapi situasi sebagaimana adanya dan bertindak dengan tepat. Dalam karya berikutnya nous et les autres (diri sendiri dan orang lain) tentang dialog antara diri dan orang lain. Todorov menegaskan lagi komitemennya pada prinsip dialog menurut Bakhtin. Todorov meninjau tema-tema tentang ras. dan lain-lain. Renan. Meskipun ia mampu melakukan pengenalan dan pemahaman tentang ’yang lain’ perjuangan Cortes ini akhirnya membawa kehancuran bagi suku Aztec. Gobineau. semakin ini direalisasikan. tulisan-tulisan yang universal dan eksotik dalam karya berbagai penulis Levi-Strauss. Dialog ini mensyaratkan adanya kualitas lain. Autaud. jelas bahwa Cortes berperanan dalam menghancurkan kultur Aztec. dan tidak mampu melihat laan mereka sebagaimanusia seperti mereka. ke relativisme yang merangkum semuanya (yang lain adalah segalanya dan diri . di mana suara yang lain bisa didengar dengan cara tidak mendengarkan suara kita saja atau dengan cara tidak membungkam suara orang lain. tetapi juga populasi Amerika Selatan yang pada saat itu berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya satu juta jiwa saat penduduk dunia baru berjumlah 400 juta jiwa. Tocqueville. Walaupun begitu. Dalam kesimpulannya. salah satu pendirian Todorov yang bisa diperdebatkan adalah bahwa ia menyebutkan peradaban Barat (baca: Eropa) sebagai asal usul dialog dan karya penulisan. dialog seperti inilah yang bisa dan mungkin dilakukan. Chateaubriand. masih tidak jelas apakah maksud ini sudah direalisasikan atau belum. bangsa. Montalgne. Walaupun tokoh ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa kultur Eropa itu lebih tinggi derajatnya daripada kultur-kultur lain. Ini karena orang Spanyol termasuk Cortes hanya tertarik pada emas. Dialog adalah pengakuan prinsip Rimbaud bahwa ’saya adalah yang lain juga’.penaklukan ini. Dialog sejati.

2001:244). ia bersandar pada pengertian apriori bahwa pada dasarnya kebebasan manusia sebagai suatu spesies adalah masalah pribadi: ’dikatakan bahwa kebebasan adalah ciri khas spesies manusia. dapatkah seseorang berbicara tentang kebebasan dalam kaitannya dengan manusia sebagai suatu spesies tanpa jatuh ke dalam biologisme? Apa bentuk hubungan yang sejati antara kemanusiaan dan individu? Jika kebebasan adalah khas pada individu. dalam membahas pandangannya tentang ’humanisme yang berkelakuan baik’. bukannya Todorov tidak membangkitkan hal-hal penting dalam nous et les autres. Renan dan Barres adalah orang-orang yang mewakili pandangan pertama. Karena Todorov biasanya bersikap hati-hati untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap sehubungan dengan rasisme. Jelas bahwa lingkungan saya mendorong saya untuk mereproduksi perilaku yang diunggulkannya akan tetapi. Todorov terus menulis tentang sifat dan kritik sastra dalam karya seperti Critique de la critique (1984) dan La Nation de la litterature (1987). Sedangkan menurut Todorov. dan Face a l’extreme (1991) tentang naiz dan totaliteranisme komunis (Lechte. sya masih memiliki kemungkinan untuk terdcerabut darinya. Sebagai contoh. kolonialisme atau universalisme. Levi Strauss mewkili pandangan kedua. apakah ini tidak berarti bahwa pada individu ini terdapat kebebasan terhadap kemanusiaa? Apakh tidak mungkin terjadi suatu keadaaan di mana seorang individu memilih satu nilai yang ada dalam masyarakat? Bukankah ini lebih tepat sebagai soal pilihan moral atau politik yang konservatif? Singkatnya. Di sini ada banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan kepada Todorov. . melainkan ia Cuma memberikan jawaban atas masalah-masalah filosofis yang rumit secara tidak lengkap dalam buku yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman kontemporer mengenai interaksi antara diri pribadi dan yang lain. essai sur Rousseau (1985) yang berupaya untuk menangkan intensitas pemikiran Rousseau.sendiri bukan apa-apa). tampak bahwa ia memang lebih siap untuk melakukan analisis semiotik pad anaskah daripada menangani masalah-masalah filosofis dan mora. Dalam masa antara penerbitan Conquest of America dan Nous et les autres. Karya-karya ini secara sebagian bisa dipertentangkan dengan Frele Bonheur.

oeuvre Todorov cukup menarik dan penting sehubungan dengan ketegangan antara keketatan analisis struktural yang diberikannya dengan tulisan tentang komitmen moral tulisan Todorov dalam tahap poststrukturalis. 10. yang mungkin hanya dipahami dengan referensi lain di luar teks (Taum. yakni sintesis pengalaman membaca dari seumlah pembaca dengan kompetensi yang berbeda-beda. 1997:62). yaitu bahwa sebuah puisi mengatakan sesuatu yang berbeda dari makna yang dikandungnya (a poem says one things and means another). Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan ganya. namun juga membuatnya lekat dengan semiotika. mana denotatif) dan tataran semiotik (istilah Peirce: tataran mistis. (meaning) dan . Pertanyaan terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah apakah ketegangan ini seharusnya memang ada ataukah justru dinafikan saja (Lechte. Dalam karya inilah Riffaterre mendeklarasikan sebuah pengertian puisi yang tidak sekadar membawa nuansa baru. Riffaterret (Budiman. Pertentangan antara arti. (2) adanya ketaksaan. 2001:245). Pokok-pokok pemikiran Riffaterre dalam semiotika adalah apa yang kreap disebut-sebut para ahli sebagai ’a dialectic between text and reader’. maka konotatif) serta pada pihak lain dialektik antara teks dan pembaca. Namanya mulai dikenal terutama sejak ia menerbitkan bukunya semiotic of Poetry (1978). dialektika antara tataran mimetik (istilah Peirce: tataran kebahasaan. yang terjadi karena (1) sebuah tanda bergeser dari satu makna ke makna lain atau berfungsi mewakili tanda lain (disflacing). 2001:22) menyebut gerakan atau strategi ini dengan ketidaklangsungan (indirection). kontradiksi atau kekosongan makna (distorting). Kelompok ini diharapkan daat mengungkap potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika.Secara umum. Riffatere memperkenalkan istilah Superreader. dan (3) sebuah teks memberi peluang bagi pemaknaan unsur-unsur bahasa yang tidak bermakna seandainya berada diluar teks tersebut (creating) (Sobur. 2004:86). Michael Riffaterre Nama Michael Riffaterre sebetulnya tidak begitu tersohor jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh semiotika atau strukturalisme lainnya.

Dalam kasus ini superreader Riffaterre adalah Baueelaire sendiri (yang memutuskan untuk menganalisis soneta dalam Les . Didalam melakukan komunikasi dengan karya sastra. Berdasarkan alasan inilah Riffaterre mengkritik model komunikasi Roman Jakobson tentang pesan estetiknya. majas.makna (significance) memainkan peranan yang sangat menentukan. Manakala sebuah teks analisis. dalam batinnya uga berlangsung transfer semiotik dari tanda yang satu ke tanda yang lain secara terus menerus. Arti karya sastra selalu berhubungan dengan tema dan bersifat lugas. ada dua faktor yang penting. yaitu teks dan pembaca. sedangkan perspektif Riffaterre adalah pembaca (ideal) (Sobur. Metodologi analitik yang diadopsi oleh Roman Jakobson danLevi-Strauss secara mendasar denga metodologi Riffaterre. seseorang (tokoh atau pelaku). Hipotesis yang merupakan landasan analisis Riffaterre terhadap ’les chats’ adalah bahwa ’fenomena puitik. pembaca sesungguhnya dituntut untuk menemukan makna yang dikandung karya itu secara kreatif dan dinamis. dan bersifat kias. maksud karya sastra adalah arti yang dihubungkan dengan konsep.Jadi. Adapun karya sastra selalu berhubungan dengan amanat. penafsir. Superreader ditanggapi secara serius oleh Jakobson dan Levi-Strauss (196) tentang puisi Baudelaire yang berjudul ”Les Chats’. Hal ini disebabkan bahw pembaca merupakan satusatunya pelaku yang menciptakan pertalian antara teks. subjektif dan khusus. Di samping itu. bukanlah melulu suatu pesan. 2004:88). tetai seluruh tindakan komunikasi’. dan interteks.objektif dan umum. Hal ini jelas bahwa perspektif penelitian Jakobson dan Levi-Strauss adlah teks. Jika tanpa adanya bukti-bukti. 1993:29-30). Segers (2000:47) menyebut pendekatan Jakobson dan Levi –Strauss sebagi suatu analisiss struktural deskriptif. Bauer (1972) dan Ponser (1972). sebuah puisi. maka manka yang ditangkap itu akan bergeser dan berubah-ubah (Santosa. seperti dikutip Rien T. yang bersifat linguistik. sedangkan pendekatan Riffaterre disebut sebagai analisis resepsi. dalam menurunkan arti ke dalam makna mestilah dilakukan dengan adanya bukti-bukti berdasarkan fakta yang ada. situasi dan sebagainya telah terimajinasikan. Pertama-tama Riffaterre ingin menganalisis proses resepsi yang didasarkan pada seorang pembaca ideal atau superreader. Akant etapi.

dalam Segers. memasukkan faktor waktu dalam kedua aspeknya. Ia tidak menilai struktur. Riffaterre tidak dapat menenggelamkan dirinya sendiri dalam karakteristik tekstual yang amat banyak karena hanya karakteristik dan menerangkan pengalaman tertentu itu yang dipertimbangkan. Keuntungan lebih lanjut analisis Riffaterre adalah penekanannya pada intersubjektivitas. melainkan pembaca yang ditandai oleh penilaian yang ketat. Tanpa menolak prinsip ekuivalensi (riffaterre ternyata memerlukannya untuk menetapkan pola-pola harapan).fleurs du mal). 1966. yang mengkritik metode Jakobson dan Levi –Strauss dan menanggapi analisis mereka terhadap ’les chats’ dengan interpretasinya sendiri. Roland Posner (1972). Pembaca super mensintesiskan beberapa sikap komunikasional dan dia memiliki informasi-informasi yang maksimum. Ia tidak menilai struktur. ia mampu mengambil sikap subjektif terhadap teks. aneka penerjemah puisi. Riffaterre. dikutip Fokkema & Kunne-Ibsch. karena konsentrasi superhuman-nya. seperti dikutip Segers (2000:48). 1998). menekankan keuntungan perspektif pembaca dalam interpretasi Riffaterre. ia membuatnya tergantung pada persepsi pembaca selama serangkaian waktu dalam prsoes membaca. Gautier (yang mempara frasekan soneta). ia mungkin menyadari benar-benar proses resepsi ini. kritikus (termasuk Jakobson dan Levi-Strauss) karya Larousse Dictionnaire du XIX-eme slecle untuk kutipan soneta-soneta dan informaninforman seperti murid-murid Riffaterre. Bila pengalaman . melainkan menyusun kelompok penilaian yang sudah pasti (Sobur. 2004:8). faktor waktu memegang peranandalam proses membaca. Riffaterre menggunakan konsep ’pengalaman kontras’ dalam menentukan struktur puitik oleh pembaca: ”Setiap hal dalam teks yang mengajukan pembaca super (superreader) secara tentatif dianggap sebagai komponen struktur puisik’ (Riffaterre. Kontras muncul ketika harapan pembaca mengenai struktur repetitif terbukti salah dan kemungkinan meramal diperkecil. menurut Bauer (1972. ”Riffaterre tidak menggolongkan unsur-unsur teks abstrak. tidak semua ada dalam analisis Riffaterre. tetapi bermacam-macam struktur. Menurut Posner. 2000). Karena dia tidakmempunyai hubungan dengan dunia nyata. Masalah yang tampaknya tidak dapat dipecahkan dalam pendekatan Jakobson. Pada tempat pertama.

keseluruhan data dan epngetahuan akhir. Bekerja dari pendirian tersebut (Riffaterre harus menolak dua pembagian yang telah disebut diatas (Fokemma & Kunne-Ibsch. 1998). menurut Ruwet (1968). patut dicontoh dalam kurangnya perseptibilitas ini. adalah kontak antara teks dengan pembaca. 1998:99) ”Pembagian tiga dan empat. Berkenaan ddengan prinsip ekuivalensi. Pembagian menjadi tiga dan empat seperti yang dilakukan Jakobson dan Levi-Strauss. menggelora lagi untuk memodifikasi apa yang telah kita rasakan sebelumnya’ (Riffaterre. itu tidak relevan.kontras terjadi. perbedaan antara Jakobson/Levi-strauss dan Riffaterre. 1998:98). menurut pendapatnya. seperti dikutip Fokkena & Kunne-Ibsch (1998:99). (Sobur. dan karena itu konstituen-konstituten ini harus tetap berbeda dari struktur. dalam Fokemma & Kunne-Ibsch. terutama yang terakhir. Penekanan pada bentuk bahasa yang diperlukan demi efek puitik. pengaruh ini tampak jelas: ”Maka. 1966. Setelah pemenuhan proses membaca. menurut Riffaterre ia bisa mempengaruhi makna secara retroaktif. Berhasil dalam pengertian bahwa analisis tersebut menyajikan demonstrasi yang menyakinkan mengenai jalinan yang luar biasa yang oleh mereka bagian-bagian uaran dijaga kesatuannya. lebih memaksakan. bisa dilukiskan sebagai berikut: dua orang yang pertama mengumpulkan sebanyak mungkin potensi relasi ekuivalensi. seperti kata Fokkema& Kunne-Ibsch. sekalipun keberatankeberatan itu mungkin dalam pengertian yang sangat teoritis. Analisis Jakobson dan Levi-Strauss terhadap ’Les Chats’ oleh Riffaterre dianggapberhasil (Fokemma & Kunne-Ibsch. kontak ini menentukan akseptabilitas obersvasi ekuivalensi dan kepentingan estetisnya. sekurangkurangnya harus ’tampak’.” Bagi Riffaterre yang penting. bagi yang sepenuhnya setuju dengan prinsip ekuivalensi. dalam teks yang telah dirasakan. 2004:89). puitik. seperti dikutip Fokemma dan Kunne Ibsch dan di sini fokusnya terhadap pembaca tidak bisa diragukan lagi ia mempunyai keberatan mengenai ekuialensi yang menghindarkan persentibilias. yangd iharapkan memberi tekanan pada bentuk pesan. Namun. menggunakan konstituen yangmungkint idak bisa dirasakan oleh pembaca. jika tidak. untuk membuatnya lebih tampak. sedangkan Riffaterre berkeinginan untuk hanya memikirkan relasi- .

Model komunikasi sasra Jakobson yang demikian itu dapat menghilangkan relevansi sosial budaya. Posner menunjukkan bahwa analisis ini testabel hanya sampai tingkatan tertentu. kritik ini tidak diterapkan pada analisis resepsi historis. analisislinguistik pad asalah satu pihak tidaklah cukup dan pada pihak lain dapat melampaui batas kemampuan seorang pembaca. Akant etapi. lepasdari arti kata tidaklah cukup.90). Riffaterre menemukan pemecahan hierarkisasi. seseorang dapat menanyakan bagaimana pembaca ideal dikonstruksikan dan elemen-elemen mana yang harus dimiliki atau diikatnya. Dengan cara itu. ada pula kerugian yang berkaitan dengan analisis resepsi Riffaterre (segers. 2004:89. yait berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca susastra. Oleh sebab itu. 1993) tidak setuju dengan model komunikasi sastra yang diaukan Jakobson. Pola harapan pembaca ini ditentukan oleh segala ssuatu yang pernah dibaca atau didengarnya sehingga susastra mendapatkan maknanya secra menyeluruh (Sobur. Selanjutnya ia mengemukakan alasan bahwa materi Riffatere telah dirakit dengan menggunakan kuesioner sehingga dasar dan hasil analisis resepsi dapat dicek. 2000:48). yaitu untuk menentukan apa yang relevan dengan fungsi puitik karya sastra. Di sini Jakobson hanya memperhatikan aspek kebahasaan dalam artian yang terbatas saja. Lebih jauh Riffatere menjelaskan bahwa yang menentukan makna sebuah karya sastra adalah pembaca secara mutlak. 2000:48) menanyakan apakah tidak lebih benar mendasarkan analisi pada seumlah pembaca real (dan bukannya pada seorang pembaca super) danmenyelidiki respons-respons mereka mengenai teks sebagai suatu kelompok. dalam Santosa. Dibandingkan dengan analisis deskriptif dari Jakobson dan Levi-Strauss. dan secara teoritik tidakmenentu. Dalam kesempatan ini pembaca mempergunakan segala kemampuan dan pengetahuannya yang ada pada dirinya. Lagi pula. . Bauer (dalam Segers. karya sastra lebih dari pada struktur bahasa dan menonjolkan karya sastra sebagai sarana komunikasi dan berfungsi sebagai koneks stilistika yang sama dengan koneks harapan pembaca. dengan mengabaikan aspek-aspek lain. Michael Riffaterre (1978. yaitu menyejajarkan enam faktor bahasa dan enam fungsi bahasa. Potensi kebahasaan sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia.relasi ekuivalensi yang direalissir.

yang menjadi wadah dari kesastraan (literatiness). kekosongan. Di dalam pernyataannya yang dikatakan Subagio Sastrowardojo. Dikatakannya bahwa penyerupaan dengan kenyataan (mimesis) dalam sajak atau puisi sangat palsu dan semu (quite spurious and illusoryi). Bagi beberapa ahli semiotik lain. Pada titik itu sajak adalah suatu bentukan (construct) yang seakan-akan tiada lain kerjanya daripada bereksperimen dengan tata bahasa teksnya. yang dinamakan sebagai semiosis. yakni tanpa isi. 1999a:107). katanya. Sebaliknya. moral atau filsafat’. Ditemukannya pada sajak-sajak penyair Prancis itu bahwa ’pertentnagna yang mendasar. suatu bentukan yang tiada lain daripada senam indah kata-kata (a calisthenics of words). seorang penafsir akan menemukan bahwa pembacaan yang bersifat ’harfiah’ atau mimetik tidak akan memadai. semiosis merupakan sinonim bagi signifikasi (Budiman. 2004:91). sekurang-kurangnya sepanjang kesastraan itu terwuud dalam puisi dapat sampai pada titik. proses pembacaan figuratif. for it may tell us much about potry’s being more of a game than anithing else”) (Sastrowardojo. atau barangkali dengan gambaran yang lebih baik. Ia sampai kepada kesimpulan yang belaku secara umum itu tentang puisi setelah mempelajari sajak-sajak Stephane Mallarme. puisi itu tidak lain daripada sekedar permainan belaka (”This is an extreme case but exemplary. (1988:15) sebagai berbelit-belit Riffaterre berkesimpulan bahwa bersajak adalah bermainmain dengan kata belaka seperti dalam kecantikan. pernah menyatakan bahwa secara ekstrem dapat dikatakan. emosi.dalam membaca sebuah puisi atau figur verbal apa pun. tempat sajak merupakan suatu bentuk yang sama sekali kosong dari ’pesan’dalam arti yang biasa.Bagaimana pokok pandangan Riffaterre terhadap puisi? Ahli semiotika. diwujudkan hanya demi pembentukan tanda (semiosis). yang selalu disebut-sebut dan dipuji-puji teori nya itu oleh pakar-pakar sastra di Indonesia. suatu kesibukan perakitan kata-kata (a verbal setting-up exercise) (Sobur. sedangkan apa yang dikatakan di dalam sajak adalah kosong dari isi atau pesan. apakah itu . sedang tanda itu suatu rujukan kepada kata ’nothing’. Semiosis adalah lawan dari mimesis (Budiman. 1999a:107). 1988:14). misalnya saa Barthes. melibatkan suatu tilikan ke arah struktur paradigmatik yang mengelilingi kata-kata dan struktur inertekstual yang mengelilingi suatu teks puitik.

untuk mempengaruhi dunia gaib. kontradiksi. . dalam Pradopo.t idak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. Nonsense adalah kata-katayang secara linguistik tidak mempunyai arti. Jdi. metafora dan metonimi ini dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pad umumnya. disebabkan oleh paradoks atau ironi. Kontradiksi ialah mengandung pertentangan. 2001:75) disebabkan oleh tiga hal. Penyimpangan arti menurut Riffaterre disebabkan oleh tiga hal. di luar linguistik. Penggantian arti menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonomi dalam karya sastra. dengan cara lain. sebab hanya berupa rangkaian bunyi tidka terdpat dalam kamus. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimi itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga untuk mengganti bahasa kiasan lainnya. yaitu arti sastra karena konvensi sastra. Nonsense itu untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis. yaitu penggantian arti (displacing of meaning). enjambement. Tipografi dan homologues. lebih-lebih bahasa puisi. persajakan (rima). misalnya konvensi mantra.perasaan. yaitu ambiguitas. perbandingan epos. 2001:74-75) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. penyimpangan arti (distorting of meaning). jadi. Riffaterre berbicra dalam kaitannya dengan pemaknaan puisi. personifikasi. penciptaan arti ini merupakan organisasi teks. Itulah bagi Riffaterre ciri umum atau hakikat puisi. tetapi menimbulkan makna dalam sajak (karya sastra). senekdoki. dalampuisi nonsense itu mempunyai makna. dan penciptaan arti (creating of meaning) (Sobur. Ambiguitas disebabkan oleh bahasa sastra itu berarti ganda (polyinterpretable). Diantaranya adalah pembaitan. dan nonsense. tetapi sesungguhnya dapat dikenakan juga pada prosa. Akan tetapi. Penciptaan arti menurut Riffaterre merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mepunyai arti. 2004:92). dan alegori. Dikemukakan oleh Riffaterre (1978. Ketidaklangsungan ekpresi itu menurut Riffaterre (Pradopo. yaitu simile (perbandingan). ketaklangsungan ekspresi yang tidak langsung. yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secra tidak langsung. moral atau filsafat.

’kata Satnley J. Pembaca yang jeli akan segera mengenali bahwa melalui gagasan-gagasan tentang intterpretant dna rantai abadi semiosis banyak argumen yang mesti diabuat Derrida berkenaan dengan teorinya tentang tanda. Riffaterre berpendapat. 2001:84). meskipun . 2001:222). Britihs Columbia. 11. Ia pergi dari rumahnya ke Prancis untuk menjadi anggota militer. Bancouver. Ia menyadari permasalahan yang ada dalam ilmu filsafat. tidaklah berlebihan. 2004:86-92). Jika Foucault adalah murid Neitzsche yang paling seati. Pembacaan hermeneutik dlaah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya (Sobur. maka Derrida adalah penafsir postmodern yang terpenting tentang Nietzsche. dilahirkan pada 1930 dalam keluarga Yahudi di El Biar. pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Pradopo. Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik seauh ia berhubungan dengan bahasa dan makna. ia tetapi tinggal di Perancis untuk studi ke Ecole Normale Superieure (ENS). Peirce. Setelah menyelesaikan tugasnya. Sementara studinya semakin mau. khususnya dalam hubungannya dengan literatur.Menyinggung soal makna sajak. untuk bisa memberi makna sajak secara semiotik. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. Jacques Derrida adalah filsuf postmodern yang paling akuran. Pembacaan heuristic adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konensi (sistem semiotik tingkat pertama. telah tersirat dalam ’semiotika’ Charles Sanders. Sementara menyelesaikan gelar sarjananya. Ia kian yakin pada kesimpulannya bahwa filsafat adalah semacam bentuk sastra literatur (Grenz. Akan tetapi. Al Jazair. Gagasan-gagasannya tentang kritik sasatra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra. Grenz (2001:221). ia tertarik mempelajari filsafat. Paris. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi dasarnya. seorang Pioneer McDonald dan profeson teologi dan etika di Regent College. Apa yang dikatakan Grenz. Jacques Derrida Jacques Derrida. Derrida memutuskan tidak menulis tesis ini untuk mencapai gelar doktor.

1993: 109). dan Universitas Cornell (Sobur. selama 1970-an dan awal 1980-an. 2004:94). menjadi figur-figur intelektual terkemuka. Meskipun demikian. dan Heiddegger. Freud. Di Inggris. Sebaliknya. mulai dari filsuf-filsuf Yunani klasik seperti Plato. ia belaar dibawah bimbingan Husserl. Tetapi karya-karyanya sulit dimengerti. Husserl. tokoh fenomenologi Jerman yang hidup di tahun 1859-1938. kemudian Kant. sayangnya nasib Derrida kurang begitu beruntung di dunia akademik.dia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf atau sastrawan (Derrida. dosen tetap bidang filsafat. Sekarang ia mengajar di ENS sebagai maitre-asisstent. seperti dituturkan Cobles dan Jansz (1999:100). 1993). melalui rangkaian jabatan profesor di Amerika. Ia mengandaikan para pembaca tulisannya adalah orang-orang yang termasuk pakar di bidang seni dan sastra. Ia seringkali juga disebut sebagai post strukturalis. baik Foucault maupun Lacan yang berpengaruh terutama karena teori filmnya. kata cobley dan Jansz. Irvine. Ia banyak mengutip teks-teks Yunani dan Jerman asli dan sangat sering mengupas kembali naskah-naskah berbahasa Perancis. meski ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis (Sumaryono. Derrida sering mendapat hambatan dari masyarakat akademik Inggris. dan Aristoteles. meskipun dalam bentuk yang sudah diacak-acak. Neitzsche. 1972. Sejak 1974. Ia juga menjadi profesor tamu pada Universitas California. ’barangkali cara penafsiran Derrida memang cocok dengan atmosfir Amerika’. Derrida aktif dalam berbagai kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan posisi yang wajar bagi pengajaran filsafat di tingkat sekolah menengah: Greph (Groupe de recherche sur l’ensignement philosophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). saat ia menjadi filsuf yang barangkali paling terkenal di dunia. Hegel. pada 1992. Bahkan. Derrida banyak disebut-sebut sebagai lelaki yang sangat cerdasa. di wilayah studi-studi tekstula (terutama teori sastra) Derrida akan menjadi seorang mahaguru. dalam Sumaryono. Seperti Foucault. ada yang melakukan kampanye menolak penghargaan akademik yang hendak diberikan kepadanya di Cambridge. Ia dengan tekun mempelajari karya-karya filsafat tokoh-tokoh besar. Namun. Kelonpok ini didirikan ketika dalam rangka rencana pembaruan pendidikan peranan .

Strategis ini membuat tulisan Derrida melawan struktur yang ada. Ia menganggap dirinya mampu memandang dari sebuah titik puncak terhadap aktivitas secara literatur lainnya. Ia mulai memperoleh perhatian publik pada tahun 1965 sewaktu ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah urnal yang terbit di Paris.. Margins of Philosophy (1982). Tulisan-tulisannya bergerak antara sifat bermain-main dan sifat sengaja mempermainkan aturan-aturan literatur yang selama ini ada. Limited Inc (1977). meliputi : Speech and Phenomena (1973). Reading Condillac. Ia banyak menulis artikel dalam terbit-terbitan perhimpunan ini. puisi). dengan demikian. Jacques Derrida memulai kariernya sebagai filsuf akademis tahun 1955. . Signeponge/Signsponge (1984). Positions (1981). ditambah dengan karangan-karangan baru. (1981). (Siapa takun pada Filsfat?). Critique. Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang menurut ohn Lechte (2001:169) dianggap paling terkenal. misalnya dalam Qui a peur de la philosophie? (1977). Ia mengatakan bahwa selama ini ilmu filsafat hanya berani menilai dan menghakimi jenis sastra literatur lainnya. Derrida memasukkan bentuk sastra literatur lain ke dalam area filsuf (misalnya. The Origin of Geometry (1977). Guna melawan kecenderungan ini. diantaranya. secara tidak langsung ia mewaspadai usaha filsafat untuk membagi tulisan menjadi beberapa bentuk. yakni Of Grammatology (1976). Tulisan-tulisan Derrida sangat sulit ditafsirkan. Ia sangat keberatan terhadap para filsuf yang menganggap diri mereka sebagai pengamat yang objektif. dikumpulkan dalam buku Du Droit a la philosophie (1990) (Tentang Hak atas filsafat). tetapi menolak digolongkan sebagai salah satu jenis sastra. Buku-buku lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Sebaliknya. Writing and Difference (1978). The Archeology of the Frivolus. 2001: 222). Mereka merasa disiplin ilmu mereka mempunyai hak melemparkan pertanyaan mendasar terhadap ilmu-ilmu lainnya misalnya : ’Apa itu literatur? Atau ’apa itu puisi?’ Derrida keberatan dengan konsep demikian (Grenz. dan The Post Card (1987). Spurs: Nietzsche’s Style (1979). Dissemination (1981).filsafat pada sekolah menengah mulaid ipersoalkan. beberapa diantara artikel itu. ia menghantam poisisi filsafat.

Dekonstruksionisme menjadi paham yang amat penting dan berpengaruh besar terutama sekali karena ia menghadapkan dirinya dengan satu paham yang amat . Agak berbeda dengan pendahulunya. Ia juga tidak membatasi diri pada suatu penelitian mengenai praandaian-praandaian dan implikasi-implikasi dalam teks-teks yang dibicarakan. menggunakan beberapa teknik untuk menghasilkan sifat tersebut. Melalui semua ini. komentar dalam bentuk yang khusus. dan para sstrawan. Derrida hendak melucuti cita-cita modern yang memandang filsafat sebagai ilmu murni. sebab dengan cara itu pemikirannya sendiri berkembang selangkah demi selangkah.Ia. Ia tidak memberi penafsiran begitu saja. Prosedur atau langkahlangkah ini oleh Derrida disebut dekkonstruction. Ia juga menolak konsep adanya hubungan langsung antara bahasa kita dan realitas di luar kita. Dengan mengomentari teks-teks tersebut ia menyajikan suatu teks baru. para ilmuwan misalnya Freud. Saussure. Senjata yang Derrida gunakan adalah dekonstruksi. dan Levi-Strauss. seperti diceritakan Grenz. Tujuannya bersifat destruktir (menghancurkan). menghancurkan tradisi logosentrisme Barat. Ia mengajak kita menuju cara baru dalam membaca dan menulis (Sobur. ’pembongkaran’ (Bertens. derrida tampil sebagai seorang ahli membuat makna ganda dan makna tersembunyi. Banyak tulisannya bersifat percakapan dengan tulisan-tulisan filsuf besar dan penulis terkenal lainnya. Ia tidak berusaha menyusun sesuatu yang baru berdasarkan yang lama. sebagai suatu penelitian objektif. 2004:95). Terkadang pula ia menyajikan percakapan yang mencakup beberapa suara atau satu suara utama yang diinterupsi oleh seorang juru bicara. 2001:328). Ia menyusun teksnya sendiri dengan ’membongkar’ teks-teks lain dan dengan demikian ia berusaha melebihi teks-teks itu dengan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan dalam teks-teks itu sendiri. Terkadang ia mencampurkan dua teks dengan meletakkan secaraberdampingan sebanyak beberapa halaman yang terpisah secara vertikal atau horizontal. Melihat karya-karya Derrida secara sepintas lalu kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa hampir semua karangan yang ditulisnya hingga sekarang merupakan komentar atas pengarang-pengaran lain: filsuf-filsuf. Namun. Derrida bukan seorang pembuat mitos baru.

Ilmu filsafat adalah menjadi target utama dekonstrusi. dikutip Faruk. Paham ini adalah apa yang oleh Derrida disebut sebagai logosentrisme tadi atau fonosentrisme. 1989. Menurutnya. Justru dekonstruksi menolak definisi karena Derrida menghalangi pendefinisian tersebut (Grenz. Dekonstruksi menggunakan asumsi filsafat atau filologi tentu untuk menghancurkan logosentrisme. Dekonstruksi adalah segala sesuatu yang derrida tolak. 2004:97). Filsafat terlalu ditekan untuk selalu mencari dasar transenden bagi bahasa kita. Bagi Derrid. Ia mulai dengan menegaskan bahwa dekonstruksi bukan sebuah metode atau sebuah teknik. (Sobur. Ia memperingatkan kita agar tidak menggantikan pembacaan dekonstrusktif dengan pemahaman konseptual tentang pembacaan tersebut. yatiu strukturalisme. Asal istilahnya berpusat pada Perjanjian Baru. atau sebuah gaya kritik sastra literatur atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks. Derrida menegaskan bahwa tradisi filsafat Barat terlalu logosentris atau objektivistik. logos itu sendiri ’kata’. 2001:235). Tak ada kerangka acuan yang dpapat menghasilkan sesuatu selain dongeng yang diciptakan dari kata-kata. dekonstruksi berhubungan dengan bahasa. Meski sulit didefinisikan. Selain itu.berakar dalam lama tradisi filsafat dan pemikiran pada umumnya. 2001:235). ’prinsip utama’ filsafat tidak boleh berupa dasar transenden yang menyatukan segala bahasa. secara lebih khusus. Dekonstruksi sangat sulit didefinisikan. Tulisan tidak mempunyai acuan lain di luar dirinya. ”logos’ yang mengkonsentrasikan pusat kehadiran pada sabda Tuhan. Derrida (Selden. tradisi yang hidup berabad-abad dan tetap hidup sampai sekarang. ada sesuatu yang dapat dikatakan tentang dekonstruksi. Prinsip utama filsafat harus berupa simbol-simbol . tidak ada tulisan yang dapat dibatasi oleh dasar transenden. Dan ’kata’ berarti sesuatu yang diucapkan. bersifat fonotok. sehingga logosentrisme juga disebut ifonosentrisme. Intinya. Dalam bahasa Yunani. Logosentrisme adalah anggapan adanya sesuatu diluar sistem bahasa kita yang dapat diadikan acuan untuk sebuah karya tulis agar kalimat-kalimatnya dapat dikatakan :’benar’ (Grenz. 2001: 179) mendefinisikan logosentrisme sebagai ’keinginan akan suatu pusat’. pada mulanya adalah ’kata’. dekonstruksionisme juga berhadapan dengan paham yang sebelumnya juga amat berpengaruh.

Semua wacana destruktif ini dan semua analogianalogi mereka. Istilah yang dipakai Derrida adalah pinjaman dari Heidegger. yaitu kritik atas kesadar-an. determinasi ’yang ada’ sebagai kehadiran. jelas Derrida. tetapi merobohkannya (dekonstruksi). Derrida mulai dngan mengomentari atau mengutip kritik metafisika Nietzsche. akan identitas diri dan ’kedekatan diri’ atau ’kepemilikan diri’. tanda (tanda tanpa kehadiran kebenaran). Lingkaran ini unik. 2004:97). kritik atas konsep ’yang ada’ dan kebenaran untuk disubstitusikan dengan konsep-konsep permainan. kata Derrida. ontoteologi. Derrida memulai penelitian mendasar pada bnetuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum identitas. interpretasi. Derrida (2001: 28) menandaskan: Tak ada makna dalam tindakan tanpa konsep-konsep metafisika dalam rangka melawan metafisika. alat Heidegger. Derrida mengklaim kerelativitasan metafisika. kita tidak dapat mengeluarkan sebuah dalil destruktif tunggal yang belum termasuk ke .yang tidak berdasarkan sesuatu apa pun selain bahasa. Lalu ia menggambarkan bentuk hubungan antara searah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika itu. Kita tidak mempunyai bahasa tidak sintaksis dan tidak juga leksikon yang asing bagi sejarah ini adalah. akan subjek. Di sini. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis. tujuan filsafat bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini. Lewat suatu pendekatan yang disebut sebagai ’pembongkaran’ atau ’dekonstruksi’. Tambahnya pula. hanya saja Derrida membumbuinya dengan beberapa resep linguistik dan metode gramatologi ciptaannya. meski hampir semua filsuf para-Heidegger mengagungkan pembahasan tersebut (Sobur. dimulai dari Plato dan berakhir di tangah Heidegger. terjebak dalam semacam lingkaran. dan lebih radikal lagi adalah penghancuran metafisika. Dekonstruksi pertama kali dibakukan Derrida dalam bukunya De La Grammatologie (of Grammatology) tahun 1967. Ia menerapkan metode ini dalam metafisika Barat klasik. kritik Freudian atas ’kehadiran-diri’. Ketika hendak melukiskan bentuk hubungan antara sejarah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika.

jika seseorang menghapus perbedaan radikal antara penanda dan petanda. Menurut Derrida (2001: 29-30). kita tidak dapat melakukan sesuatu pada konsep tanda (Sobur. menurut Derrida. dan postulat-postulat implisit dari apa yang tepatnya dicari untuk dipertentangkan. cara klasik. Menurut Derrida. Karena ada dua jalan heterogen penghapusan perbedaan antara penanda dan petanda: pertama. kita tidak bisa menyerah begitu saja pada kompleksitas metafisika pada memberikan kritikan yang kita arahkan melawan kompleksitas ini. Namun sejak setiap orang mengharapkan untuk memperlihatkan bahwa tak ada petanda transendetal atau khusus. konsep tanda ditentukan oleh oposisi ini: melalui dan melalui keseluruhan totalitas sejarahnya. atau kepada apa yang dianggap sebagai sesuatu yang sama. sebagai tanda diri. tanpa risiko penghapusan perbedaan (seluruhnya) dalam identitas diri suatu petanda yang direduksi menjadi dirinya sendiri atas penandanya. penanda mengacu pada suatu petanda. mulai sekarnag. 99). Ia.dalam bentuk. hanya dengan mengeluarkan hal itu keluar dirinya. Tapi. kata Derrida. penanda dari petandanya sendiri. Karena pengertian tanda selalu dipahami dan ditegaskan. maka kata penanda sendiri yang seharusnya ditinggalkan sebagai konsep metafisika (Sobur. Kepentingan. serta oleh sistemnya. terutama dalam penyampaian tanda pada pemikiran yang lain. tercapai dengan reduksi atau penurunan penanda. menurutnya tidak mempunyai batas. dan bahwa bidang atau pengertian yang saling mempengaruhi. jika tanda. Dalam pandangan Derrida. Mengomentari pendapat Levi-Strauss dalam pendahuluan bukunya Le cru etle cuit bahwa ia telah ’berusaha melebihi oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti dengan menempatkan diri (dirinya sendiri) sejak awal pada tingkatan tanda-tanda’. katanya. dalam maknanya. cara yang kita gunakan berlawanan dengan . Menurut Derrida. Ia kemudian mengambil contoh metafisika kehadiran diserang dengan bantuan dari konsep tanda. penanda berbeda dan petandanya sendiri. logika. 2004:99). kekuatan dan legitimasi dari tindakannya. seharusnya memperluas penolakannya terhadap konsep dan kata tanda itu sendiri yang tepatnya sesuatu yang tidak bisa dilakukan. tidak dapat membuat kita lupa bahwa konsep tanda tidak dengan sendirinya melewati atau menjangkau oposisi antara yang dpat dirasakan dan dapat dimengerti tersebut.

sistematik.yang pertama disini. Dan apa yang ia katakan di sini tentang tanda. tercapai dengan menempatkan ke dalam pertanyaan. atau pada orang yang lain. 1999:95). dalam pandangan dia. menurut Derrida perbedaan-perbedaan yang menjelaskan keragaman wacana destruktif dan ketidaksetuuan antara mereka yang membuatnya. katanya. menurut Derrida tak ada penggunaan yang tersebar lebih luas (Derrida. adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku (Assyaukanie. bersamaan dengan reduksi. Dekonstruksi. khususnya pada wacana mengenai ’struktur’. dalam Nurcahyono. Opposisi. Heidegger menganggap nietzshce. pada Freud. yang didalamnya reduksi sebelumnya berfungsi. Freud dan Heidegger. Konsep dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi. empirik. 2001:31). menurut Derrida. Seseorang. misalnya dari metafisika yang dikerjakan Neitszche. sebagai ahli metafisika terakhir. Paradoksnya adalah bahwa pengurangan metafisika dari tanda. pertama dan terutama sebagai oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti. dengan kejernihan dan kekakuannya sebagai tidak jujur dan salah konstruksi. Inilah. ”Mereka relatif naif. dapat diperluas pada semua konsep dan semua kalimat metafisika. 2004:99). Karena konsep ini bukanlah unsur-unsur atau atom-atom dan karena mereka diambil dari seubah kalimat dan sebuah sistem. berada di dalam konsep-konsep yang yang diwariskan. Dan sekarang ini. membutuhkan tanda yang sedang dikurangi (Sobur. Tapi tandas Derreida. menurutnya. setiap keterangan berhubungan dengan seluruh metafisika. Hal tersebut. ’inilah’ jelas Derrida. ’yang memungkinkan para penghancur ini untuk saling menghancurkan satu sama lain. katanya dapat melakukan hal yang sama pada Heidegger sendiri. dekat pada formulasi atau bahkan dengan pembentukan lingkaran ini” tandasnya. adalah bagian dari sistem. ada banyak cara terperangkap dalam lingkaran ini. Derida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni. Dalam teori Grammatologiy. pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (signifier) melalui penyusunan konsep (signified). . Dicontohkannya. ’penganut Plato’ terakhir.

mimesis tidak mengacu pada origin tertentu.karena semua tanda senantiasa sudah mengadung artikulasi lain (Subangun. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan hampir tanpa batas. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Strategi dekonstruksi dialankan dengan asumsi bahwa filsafat barat bisa mempertahankan ide tentang pusat sebagai kehadiran murni hanya dengan cara menekan efek-efek metaforis dan figuratif yang menjadi karakter bahasa. Yang mengkopi dan mengilustrasikan pengalaman manusia dalam proses ’menulis-mimetik’ yang dilakukan oleh ’penulis internal’ (grammateus) dan ’pelukis internal’ (zographos-demiurgos). dikemas dalam dua pokok. menurut Derrida. 1994:61). Dengan demikian yang semula pusat. Dekonstruksi. Sebaliknya. dan (2) apokalips tanpa akhir (apokalupse without end) (Tedjoworo. Sekilas pandangan ini seolah-olah kembali pada pandangan Plato tentang mimesis. mimesis itu tanpa asal usul. fondasi. Plato membandingkan jiwa manusia dengan sebuah buku (Biblos). cara terbaik untuk mendekonstruksi metafisika asal usul (origin) adalah dengan mendalami penyelidikan atas ’menulis’ (ecriture). ’Menulis’ karenanya adalah sebentuk mimesis. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Ia mengacu pada terminologi ’menulis’ yang meliputi segala aspek pengalaman yang ditandai dengan jejak-jejak signifikansi. pertama sekali adalah usaha membalik secara terus menerus hierarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahwa sebgai medannya. namun yang dipahami adalah pandangan Derrida ini sama sekali menolak paham asal usul (originalita). Puncak dekonstuksi Derrida. tidak lagi fondasi dan tidak jadi prinsip. Jacques Derrida mengacu pada dekonstruksi ganda terhadap paham asal usul dan terhadap pemahaman akan mimesis dalam teks m malararme berjudul . Dalam pandangan Derrida. Mimesis hanyalah demi mimesis (Sobar. 2001: 39-40). 2004:101). Pertama. prinsip di plesetkan sehingga berada di pinggir. yang banyak disbut sementara ahli sebagai dekonstruksi postmodernisme terutama dalam kaitannya dengan bahasa. yakni : (1) mimesis tanpa asal usul (mimesi without origin). yang ada adalah repetisi dan reiterasi.

Akhirnya. karena ia adalah suatu alamat tanpa subjek. geolak dan kegelisahan-kegelisahan yang mencirikan budaya chaos bagi Deririda (2001:24). istilah apokalips di sini bearti suatu ’penyingkapan’ (un-cover. ketidakpasatian. bagai upaya konseptual maupun linguistik untuk memutuskan makna dari sesuatu.93-101. Apa yang terjadi dalam mimesis sebetulnya adalah suatu dekonstruksi diri (Self deconstruction). agak bertentangan dengan semiotika struktural yang dikembangkan Saussure. dan satu filosofis yang mengolah apokalips suci St. Tidak ada imitasi terhadap ’sesuatu’ dan peniruan tidak mengimitasi apa pun. Derrida membuat suatu perbandingan saling dekonstruktif dalam tulisannya yang berjudul Glas. ditangkap oleh permainan’. Bahasa. bukan lagi parodi atas kehidupan atau apa pun. menampilan dua kolom tulisan satu sastra. Kedua. yang mengandalkan pada keabadian. membentuk figur dan imaji yang tidak dapat diasalkan pada ucapan yang mendahuluinya. Kata ini disebutnya sebagai yang memperkuat nada apokaliptik. kestabilan dan kematapan tanda dan kode dan makna-makna semitoika yang dikembangkan oleh Derrida bsebagai salah seorang pemikir psot strukturalisme. Ia mengomentari keduanya dengan analisis dekonstruktif terhadap datang’ (come).bila pada . lebih mampu mengakomodasi dinamika. Yohanes apokalips profan Jean Genet. Kata ini juga membuka suatu permainan dekonstruktif tanpa pernah terjadi objek di bawah tatanan logosentris. selalu merupakan akibat dari cara tertentu yang diimplikasikan dalam permainan. bukan lagi mema ciri dekonstruktif maupun linguistik untuk membatalkan saat naratif linier imajinasi manusia.: kita tidak atahu siapa yang berbicara atau kepada siapa kata itu diarahkan. ’kegelisahan. ciri dekonstruktir pemahaman kata ’datang’ itu meruntuhkan be utuskan makna atas parodi. hanyakah suatu parodi atas parodi.Mimique. Juga kata itu tidak dapat disituasikan secara temporal. Apolkalip tanpa akhir hanya dapat dipahami sebagai suat ’akhir yang tak berakhir’ Sobur. Berkaitan dengan semiotika. apokalips tanpa akhir. apokaluptein). Kita bahkan tidak bisa mengimjinasikan apa iatu ’keberan’dalam pemahaman apokalips tanpa akhir ini. Gerakan yang terjadi dalam menulis. 200. Kata ’datang’ tak dapat diurai maupun diinterpretasikan dalam suatu analisis atas kata tersebut. menurut Derrida.

maka di dalam semiotika poststrukturalis yang ditekankan adalah proses significance. ’semiotika ketidakberaturan’ (Sobur. Didalam Positions. 2001:310). Derrida juga menemukan bahwa kita tidak bisa lagi terpaku pada makna/pertanda (signified) yang transenden. yaitu memfungsikan tanda sebagai refleksi dan kode-kode sosial yang telah mapan.semiotika konvensional yang ditekankan adalah proses signifikansi. Ini pulalah yang disebut-sebut sebagai semiotics of chaos. Hubungan antar ungkapan dan makna yang pasti (Signifier/signified) memang penting untuk kasus-kasus tertentu. yang ditemukan hanyalah ungkapan yang berbeda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula secara tak terhingga. namun untuk kasus-kasus yang lain. PENULIS: PROF. yang melampaui bentuk ungkapan/penanda (signifier). KAELAN. M. . Setiap makan menadi bentuk ungkapan baru berikutnya. 2001:310). 2004:102).S. DR. Inilah yang disebut trace oleh Derrida (Pilliang. Bedanya bentuk ungkapan dan makan itu kini cenderung mengapung (floating). yait sebuah proses penciptaan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas dan tak terbatas (Pilliang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful