P. 1
Filsafat b Ahasa Semiotika

Filsafat b Ahasa Semiotika

|Views: 862|Likes:
Published by Maya Irmayanti

More info:

Published by: Maya Irmayanti on May 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Hubungan bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf, bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman Yunani. Namun demikian pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa tidaklah lama, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema-problema filsafat pada zaman tertentu. Suatu perubahan yang sangat penting terjadi ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai suatu contoh problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, "keadilan", "kebaikan", "kebenaran", "kewajiban", "hakikat ada" dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai "Filsafat Analitik", yang berkembang di Eropa terutama di Inggris pada abad XX. Memang semua ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa maka analisis tersebut tentunya berkaitan dengan makna bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep-konsep tersebut. Hubungan yang sangat erat antara bahasa dengan filsafat tersebut sebenarnya telah berlangsung lama bahkan sejak zaman pra Sokrates, namun dalam perjalanan sejaran aksentuasi perhatian filsuf berbeda-beda dan sangat tergantung pada perhatian dan permasalahan filsafat yang dikembangkannya. Pada zaman Yunani filsafat merupakan dasar untuk memandang hakikat segala sesuatu termasuk bahasa. Hal ini dapat dipahami karena pada zaman tersebut belum berkembang ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu bahasa juga merupakan objek material pemecahan problema spekulatif para filsuf. Dikotomi spekulatif tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' adalah merupakan pusat perhatian filsuf pada saat itu. Demikian juga dikotomi 'analogi' dan 'anomali' juga merupakan diskursus filosofis yang mendasar mengingat bahasa merupakan sarana yang utama dalam filsafat terutama

dalam logika. Plato, Aristoteles, kaum Sofis dan kaum Stoik adalah tokoh-tokoh filsuf yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Selain itu tradisi analitika bahasa juga telah berkembang pada saat itu, yaitu ketika Sokrates berdialog dengan kaum Sofis. Metode yang digunakan dalam analitika bahasa pada saat itu dikenal dengan metode dialektis-kritis terutama untuk mengatasi kekacauan dan kesesatan pikir. Terlebih lagi peranan bahasa menjadi semakin penting ketika Aristoteles mengangkat bahasa dalam 'organon' yang merupakan karya besar di bidang logika yang merupakan salah satu cabang dalam filsafat. Karya-karya besar para filsuf Yunani yang menaruh perhatian terhadap bahasa inilah kemudian dilanjutkan oleh para Sarjana dari Alexandrian terutama karya-karya kaum Stoa yang kemudian pada perkembangan berikutnya merupakan dasar-dasar pokok bagi pengembangan bahasa aliran tradisionalisme. Pada zaman Romawi objek perhatian filsuf terhadap bahasa berkembang kearah karya gramatika bahasa latin dan tokoh-tokoh yang terkenal adalah Varro dan Priscia. Karya-karya besar mereka terutama dalam meletakkan dasar-dasar dalam bidang etimologi, morfologi yaitu tentang "partes Orations" dan "Oratio" yang lazimnya dalam linguistic tersebut sintaksis. Perhatian filsuf menjadi semakin besar ketika zaman abad pertengahan, yang ditandai dengan tujuh system utama yaitu 'Trivium' yang meliputi gramatika, dialektika (logika), dan retorika; serta 'Quadrivium' yang mencakup aritmatika, gemetrika, astronomi, dan musik. Akar-akar ilmu pengetahuan modern sudah mulai nampak, oleh karena itu perhatian filsuf terhadap bahasa juga sebagian mengarah kepada perkembangan linguistic sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya merupakan dasar pijak linguistic tersebut. Persoalan klasik Yunani tentang hakikat bahasa 'fisei-nomos' serta 'analogi-anomalia' kembali merebak menjadi isu spekulatif yang actual pada saat itu. Tokoh filsuf abad pertengahan yang menaruh perhatian terhadap bahasa dalam mengklarifikasikan konsep filosofisnya terutama dalam kaitannya dengan religi adalah Thomas Aquinas. Metode analitika bahasa yang digunakan oleh Thomas dan karyanya 'Summa Theologiae' adalah dengan analogi yang metaphor. Pada zaman modern yang ditandai dengan ’Renaissance' dan 'Aufklarung', pemikiran-pemikiran filsafat secara berangsur-angsur berkembang ke arah timbulnya

ilmu pengetahuan alam modern. Tokoh-tokoh pengembang ilmu pengetahuan tersebut antara lain Copernicus, Johanes Kepler, Galileo Galilei dan terutama tokoh yang meletakkan dasar filosofis ilmu pengetahuan yaitu Francis Bacon dengan 'Novum Organism-nya'. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut perhatian filsuf terhadap bahasa juga semakin mengarah pada ilmu pengetahuan bahasa (linguistic). Bahkan yang terlebih penting lagi berkembangnya bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan terutama peranan bahasa dalam pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemology. Walaupun perkembangan filsafat mengarah pada timbulnya ilmu pengetahuan modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsafat modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsfat modern yang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Rene Descartes dengan metode skiptisnya dan bertumpu pada metode 'Cogito Ergo Sum'. Rasionalisme Rene Descartes dengan metode skiptisnya yang mengkritik ilmu pengetahuan dengan mengembangkan prinsip analisis berdasarkan rasio. Begitu juga paham empirisme Inggris dengan tokoh-tokoh Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume serta tokoh kritisme Immanuel Kant. Aliran-aliran inilah yang mempengaruhi timbulnya aliran Atomisme Logis di Inggris yang kemudian berkembang dan mempengaruhi aliran Positivisme Logis serta filsafat bahasa biasa. Sejalan dengan karakteristik perkembangan filsafat modern yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan modern maka peranan bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan menjadi semakin penting. Periode filsafat abad XX perhatian filsuf terhadap bahasa menjadi semakin besar. Mereka semakin sadar bahwa dalam kenyataannya terdapat banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi semakin jelas manakala menggunakan analisis bahasa. Pada periode ini terdapat suatu reaksi yang sangat radikal terutama terhadap pandangan empirisme, idealisme maupun konsep metafisika. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekacauan dan kekaburan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan perkembangan filsafat bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan yang sangat radikal pada abad XX tersebut, yaitu Ferdinand de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistic. Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang

sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi Yunani. Konsep Ferdinand de Saussure tersebut sangat penting dalam linguistic karena mengembangkan paradigma baru di bidang ilmu bahasa yang dikenal dengan linguistic modern yang dijiwai oleh paham Strukturalisme. Paham ini berkembang sebagai reaksi terhadap ilmu bahasa tradisionalisme yang mendasarkan pada tradisi Alexandrian yang bercirikan pada makna dan tidak mendasarkan pada struktur bahasa yang bersifat empiris. Pengaruh linguistic modern yang didasarkan pada pemikiran filosofis dan teori Ferdinand de Saussure pengaruhnya cukup luas di berbagai wilayah di Eropa, Amerika termasuk di Indonesia sendiri. Tokoh Strukturalisme di Amerika yang sangat terkenal adalah Bloomfield. Perkembangan Strukturalisme yang sangat besar inipun pada akhirnya juga mendapat reaksi yang sangat keras dari paham Transfosionalisme Generatif di bawah Noam Chomsky yang pengaruhnya juga cukup besar. Demikianlah sekilas perkembangan filsafat bahasa yang selain memberikan wawasan bagi kita tentang pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa juga menunjukan aksentuasi konseptual filosofis terhadap bahasa, serta ruang lingkup filsafat bahasa yang sangat beranekaragam dan kompleks. Namun demikian secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian yaitu pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis, kedua: perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek material yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran-aliran dan teori-teori linguistic.

A. Pengertian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa sebagai salah satu cabang filsafat memang mulai dikenal dan berkembang pada abad XX ketika para filsuf mulai sadar bahwa terdapat banyak masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat baru dapat dijelaskan melalui analisis bahasa, karena bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat (Davis, 1976). Berbeda dengan cabang-cabang filsafat lainnya, filsafat bahasa termasuk bidang yang kompleks dan sulit ditentukan lingkup pengertiannya (Devitt, 1987). Namun demikian bukanlah berarti filsafat bahasa itu merupakan bidang filsafat yang tidak jelas objek pembahasannya melainkan para filsuf bahasa memiliki aksentuasi yang

beraneka ragam sehingga penekanannya juga beraneka ragam juga. Walaupun bidang filsafat bahasa baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun berdasarkan fakta sejarah hubungan filsafat dengan bahasa telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani. Berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan sejarah filsafat bahasa maka filsafat bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengertian yaitu : Pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat. Pada periode abad XX para filsuf semakin sadar bahwa banyak problema-problema serta konsep-konsep filsafat dapat dijelaskan melalui analisis bahasa misalnya berbagai macam pertanyaan filosofis seperti 'kebenaran', 'keadilan', 'kewajiban', 'kebaikan' dan pertanyaanpertanyaan fundamental filosofis lainnya dapat dijelaskan dan diuraikan melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Tradisi inilah menurut para ahli filsafat disebut dengan pengertian 'Filsafat Analitik' atau "FIlsafat Analitika Bahasa'. Istilah ini memang baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun demikian perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan konsep-konsep filsafat daam kenyataan sejarah berlangsung lama yaitu sejak zaman yunani. Sokrates misalnya telah menggunakan metode analitika bahasa dalam berdebat dengan kaum Sofis yang dikenal dengan metode dialektis-kritis. Demikian juga Thomas Aquinas pada abad pertengahan melalui analisis bahasa analogi dan metaphor untuk menjelaskan konsep-konsep filosofisnya. Filsuf abad modern seperti Rene Descartes juga menjelaskan konsep-konsepnya melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Aliran-aliran filsafat analitika bahasa antara lain Atomisme Logis Positivisme Logis dan Filsafat Bahasa Biasa. Berdasarkan pengertian yang pertama ini dapat disimpulkan bahwa bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsepkonsep dan problema-problema filsafat. Kedua, filsafat bahasa sebagaimana bidang-bidang filsafat lainnya seperti filsafat hukum, filsafat manusia, filsafat alan, filsafat sosial dan bidang-bidang filsafat lainnya yang membahas, menganalisis dan mencari hakikat dari objek materi filsafat tersebut (Davis, 1976). Pengertian yang kedua ini hendaklah dibedakan dengan pengertian filsafat analitika bahasa yang menggunakan bahasa sebagai alat analisis konsep-konsep dan masalah-masalah filsafat. Oleh karena itu filsafat bahasa

Kedudukan Bahasa dalam Filsafat Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urut bunyi-bunyi secara empiris. penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. Hal itu dapat dipahami karena dunia fakta dan realitas yang menjadi objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang terwakili oleh bahasa. meskipun terdapat dua istilah namun objek material ilmu tersebut memiliki kesamaan. Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menemukan kearifan dalam hidupnya. Tokoh yang sangat popular yang mengembangkan pemikiran filosofis ini adalah Ferdinad de Saessure. Berbeda dengan para digma tersebut. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem simbol yang memiliki makna. sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu memiliki hubungan yang erat dengan bahasa terutama bidang semantik. Peirce mendasarkan filsafat semiotikanya berdasarkan pada filsafat logika dan pragmatisme. Oleh karena itu untuk . melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. B. karena bahasa adalah hanya salah satu saja dari banyak sistem tanda dalam kehidupan manusia.dalam pengertian yang kedua ini bahasa sebagai objek materi filsafat. Charles Sanders Peirce mengembangkan ilmu tanda yang dikenal dengan semiotika. Bahasa sebagai suatu sistem tanda tersebut pada suatu saat menurut Saussure berada pada suatu wilayah ilmu tanda secara umum. sebagaimana dikemukan oelh Bertrand Russell bahwa bahasa memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta dan lebih dipertegas oleh Wittgenstein bahwa bahasa merupakan gambaran realitas. Perkembangan filsafat bahasa yang menggali hakikat bahasa selain sebagai sarana komunikasi pada hakikatnya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. Dalam hubungan inilah kemudian berkembang ilmu tanda yang dikenal dengan semiologi dengan tokoh Roland Barethes. Akar filsafat bahasa inilah yang menumbuhkan ilmu semiotika. Terdapat hubungan antara tanda dengan objek tanda tersebut. merupakan alat komunikasi manusia. yang menurut Saussure disebut significant dan signifie.

sosial. Kata bunga misalnya.dapat mengungkapkan struktur realitas diperlukan sesuai sistem simbol bahasa yang memenuhih syarat logis segingga satuan-satuan dalam ungkapan bahasa itu terwujud dalam proposisi-proposisi. Selain itu adanya sinonimi. Kata 'orang tua' dapat berarti 'bapak-ibu' ataupun orang yang memang sudah tua. Selain itu pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik. tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawat tersebut. hipinimi maupun polisemi juga menjadi faktor kesamaran dan ketaksaan makna. 1964:6). bahasa juga memiliki fungsi 'emotif. (5) misleadingness (menyesatkan). 'bunga melati' dan lain sebagainya. sehingga bahasa seringkali tidak mampu mengungkapkan secara eksak. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kenyataannya bahasa sehari-hari memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan-ungkapan dalam aktivitas berfilsafat. Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. 1988:20). dapat dikaitkan dengan 'bunga mawar'. (4) contex-dependence (tergantung pada konteks). (2) inxeplicitness (tidak eksplisit). Berbagai kelemahan dan kekurangan bahasa dalam proses pengungkapan konsep-konsep filosofis perlu diberikan suatu penjelasan khusus agar ungkapanungkapan atau kata-kata yang digunakan dalam menjelaskan realitas tidak terjadi misleadingness. serta konteks situasional dalam pemakaiannya sehingga mengalami context-dependent. Kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut sebenarnya disamping merupakan kelemahan bahasa untuk aktivitas filsafat juga sebaliknya sebenarnya justru kelebihan bahasa manusia yaitu bersifat 'multifungsi' yaitu selain berfungsi simbolik. tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang direpresentasikannya. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. (Alston. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bungan mawar. Betapapun demikian keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia tidak hanya merupakan simbol belaka melainkan merupakan media . (3) ambiguity (ketaksaan). Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) vagueness (kesamaran). 'bunga anggrek'. Dari adanya jumlah kekurangan tersebut tidak mengherankan apabila paparan lewat bahasa sering mengandung misleadingness sehubungan keberadaannya dalam komukasi (Aminuddin. Akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna adanya terjadi inexplicitness.

Aristoteles menamakan metafisika sebagai filsafat yang pertama yang membahas tentang hakikat realitas. (Bagus. Dari sejumlah fitur semantis itu para filsuf Yunani merumuskan pengertian 'logos' sebagai kegiatan menyatakan sesuatu yang didukung oleh sejumlah komponen yang masing-masing komponen tersebut antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan dengan menggunakan katakata. yaitu berfilsafat. 'cerita'. yang ada dan secara keseluruhan bersangkutan dengan sebab-sebab terdalam. kesempurnaan. 1980:4). Dalam pengertian yang demikian inilah bahasa menunjukkan fungsi vitalnya dalam aktivitas manusia. Masing-masing hubungan tersebut memiliki fungsi dan cirinya masing-masing. 'perbuatan'. 1. misalnya dalam bahasa Yunani berpangkal dari 'logon ekhoon' yang mengandung makna 'dilengkapi dengan akal budi'. logika dan epistemologi. Dalam buku-buku ini ia menemukan pembahasan mengenai realitas. yang ada yang tidak terdapat dalam dunia fisik. . Bahasa sebagai media pengembang refleksi filosofis tersebut telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. prinsip konstitutif dan tertinggi dari segala sesuatu. 1970:8). Demikian juga istilah 'logos' dalam bahasa Yunani mengandung makna 'isyarat'. 1991:18). Andronikus menemukan bahwa sesudah karya-karya Aristoteles mengenai fisika. terdapat 14 buku tanpa nama dan ia menyebut keempat belas karya tersebut dengan 'buku-buku yang datang sesudah fisika'. Hakikat manusia yang dilukiskan dengan ungkapan Animal Rationale.pengembangan pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan realitas segala sesuatu. 'inti sesuatu'. tidak dapat dipisahkan terutama dalam cabangcabang filsafat metafisika. Untuk itu Aristoteles menyebutnya dengan istilah 'sofia' dan 'teologi' (Steenberghen. Secara etimologis istilah metafisika beasal dari bahasa Yunani 'ia meta ta physica' yang secara harfiah dibalik fisik atau di balik hal-hal yang bersifat fisik. Fungsi Bahasa dalam Metafisika Metafisika adalah salah satu cabang filsafat disamping cabang-cabang lainnya. Kesimpulannya adalah terdapat hal-hal yang bersifat metafisik. kualitas. kualitas. Berdasarkan kenyataan fungsi bahasa tersebut diatas maka hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan. 'kata maupun susunan kata' (Peursen. kesempurnaan.

teori mengenai roh. (3) aksi yaitu yang menyangkut perubahan dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi. bentuk dan berat sehingga segala sesuatu menempati ruang tertentu. yaitu ontologi dan kosmologi umum. Menurut christian Wolf. 1987:11). adapun teori mengenai roh dibagi atas psikologi dan teologi kodrati (natural) (Ando. kontradiksi. Aristoteles menjelaskann tentang konsep 10 kategori yang meliputi substansi yaitu merupakan hakikat dari segala sesuatu yang bersifat fundamental dan merupakan dasar dari segala sesuatu. Misalnya pertanyaan-pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Plato. juga dapat diartikan mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal yang ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal. dan sembilan aksidensia. Oleh karena itu metafisika adalah sebagai ilmu mengenai yang ada yang bersifat universal. waktu. ruang. Apakah keadilan. tempat tertentu. kesucian. kebaikan dan sebagainya adalah upaya-upaya secar analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut (White. . (7) waktu segala sesuatu di alam semesta ini berada di dalam suatu waktu tertentu. (4) passi yaitu yang menyangkut penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan ssuatu hal atau benda yang lainnya. Upaya metafisika untuk memformulasikan fakta-fakta atau Kenyataankenyataan segala sesuatu yang ada dengan suatu asumsi yang menjadi dasar dari argumentasi metafisis tertentu dirumuskan secara lebih eksplisit dan dengan demikian maka peranan bahasa dalam metafisika menjadi sangat sentral. Keberadaan aksidensia tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi : (1) kuantitas yaitu unsur fisis dari segala sesuatu yang meliputi luas. hal itu dikarenakan substansi memiliki kuantitas. (6) tempat segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa mengambil ruangan dimana sesuatu itu berada. 1974:47). metafisika meliputi dua cabang ilmu. (2) kualitas yaitu yang berkaitan dengan aksidensia sifat-sifat terutama sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indra (untuk substansi yang memiliki kuantitas).Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan suatu pengertian bahwa metafisika adalah suatu cabang filsafat yang membahas secara sistematis dan reflektif dalam mencari hakikat segala sesuatu yang ada dibalik hal-hal yang bersifat fisik dan bersifat partikular. (5) relasi setiap hal termasuk benda senantiasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lainnya.

2002:10). 2. secara etimologis istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani "Episteme" yang berarti pengetahuan. (2) Apakah watak dari pengetahuan itu? Adakah dunia yang real di luar akal manusia. Bilama dirinci persoalan-persoalan epistemologi meliputi bidang sebagai berikut : (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu? Hal ini semuanya merupakan problema asal pengetahuan manusia. Hal itu didasarkan pad akenyataan bahwa pemikiran-pemikiran tentang hakikat segala sesuatu dalam metafisika. bukan berdasarkan pengamatan empiris atau hukum rasio. Fungsi Bahasa dalam Epistemologi Epistemologi adalah salahsatu cabang filsafat yang pokok. keadaan. Ungkapan-ungkapan metafisis yang demikian ini yang karena tidak mengacu pada realitas atau fakta yang bersifat empiris maka formulasinya sangat tergantung pada ungkapan-ungkapan bahasa yang digunakan dalam metafisika tersebut. (8) keadaan yaitu bagaimana sesuatu itu berada disamping sesuatu lainnya.akapn sesuatu itu berada dan kapan sesuatu itu tidak berada kembali. relasi. Dalam karya lainnya yang disebut 'peri Hermeneias' Aristoteles merupakan peletak dasar kelas kata yang secara ontologis juga mendasarkan pada sepuluh kategori tersebut (Kaelan. dan juga substansi. watak da kebenaran pengetahuan manusia. seperti ruang. waktu. . dan kalau ada dapatkah kita mengetahui? Hal ini semuanya merupakan problema penampilan terhadap realitas. Berdasarkan uraian tersebut maka metafisika berupaya untuk memformulasikan segala sesuatu yang bersifat fundamental dan mendasar dari segala sesuatu dan hal ini dilakukan oleh para filsuf dengan membuat eksplisit hakikat segala sesuatu tersebut dan hal ini hanya akan dilakukan dengan menggunakan analisis bahasa yang terutama karena sifat metafisika yang tidak mengacu pada realitas yang bersifat empiris. Berdasarkan bidang pembahasannya epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia yang meliputi sumber-sumber. melainkan berdasarkan analisis bahasa.

Selain dalam pengetahuan apriori peranan penting bahasa dalam epistemologi berkaitan erat dengan teori kebenaran. 'bagi'. dan pengalaman kita tidak akan pernah menyalahkan pernyataan-pernyataan tersebut. (Titus. matematika. 'tambah'. Namun demikian bagaimanapun juga bahwa hal itu memaksa kita untuk bertanya apakah yang menyebabkan sesuatu artian (term) itu mempunyai makna tertentu. 1984:20). Pengetahuan apriori adalah pengetahuan tentang sesuatu itu adalah benar demikian tanpa didasarkan pada pengalaman indra. Jawaban yang akan kita jumpai adalah bahwa pernyataan tentang pengetahuan itu benar berdasarkan definisi atau pernyataanpernyataan itu benar karna arti yang terkandung dalam artian-artian itu sendiri. Argumentasi pengetahuan apriori seperti tersebut di atasmerupakan suatu perdebatan yang besar tentang pengetahuan manusia. tanpa tahun:8). oleh karena itu kebenaran-kebenarannya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. misalnya 6 x 6 = 36. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi yaitu: . logika dan mungkin kita memiliki pengetahuan apriori yang lain. V16 = 4. Kalau kita menolak atau mengingkari kebenaran pernyataan-pernyataan itu maka berarti kita harus mengubah satu atau lebih artian terminologi bahasa yang digunakan dalam pernyataan-pernyataan pengetahuan apriori seperti 'kali'. Justifikasi kebenaran dalam pengetahuan apriori tersebut seluruhnya diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa.(3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Hal ini semua merupakan problema kebenaran pengetahuan manusia. serta problema kebenaran pengetahuan manusia. dan bagaimana sesuatu pernyataan it adalah benar (Poerwowidagdo. sudut bertolak belakang sama besarnya dan pernyataan apriori lainnya secara pasti benar. 'akar' dan terminologi bahasa lainnya yang digunakan dalam pengetahuan apriori tersebut. Berdasarkan analisis problema dasar epistemologi tesebut maka dua masalah pokok sangat ditentukan oleh formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu sumber pengetahuan manusia yang pengetahuannya meliputi pengetahuan apriori dan aposteriori. Persoalannya adalah bagaimana dapat dikatakan bahwa pernyataanpernyataan itu benar. Berkaitan dengan masalah pengetahuan a priori peranan bahasa sangat penting bahkan sangat menentukan.

1984:55-59). maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sangat menentukan pada sistem kebenaran koherensi. Justifikasi kebenaran menurut teori koherensi sangat ditentukan oleh suatu pernyataan yang terdahulu yang dianggap benar. Pernyataanpernyataan yang benar tersebut sangat bergantung pada ungkapan yang dirumuskan melalui bahasa dan ungkapan-ungkapan tersebut terdiri atas pangkal pikir-pangkal pikir yang dirumuskan melalui bahasa juga. Kesalahan dalam merumuskan bahasa akan berakibat kesalahan dalam kebenaran pengetahuan. maka pernyataan 'si Amin pasti akan mati' adalah pernyataan yang benar juga. Namun sekiranya orang lain yang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara . Misalnya pernyataan 'semua orang pasti akan mati' adalah suatu pernyataan yang benar. Berbeda dengan peranna bahasa dalam sistem kebenaran koherensi. Jikalau seseorang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara Republik Indonesia adalah Jakarta" adalah benar maka pernyataan itu adalah benar karena pernyataan itu dengan objek yang bersifat faktual atau Jakarta yang memang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. (3) Teori kebenaran pragmatis yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain perkataan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana memiliki konsekuensi pragmatis bagi kehidupan praktis manusia (Suriasumantri. suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana hal itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek atu fakta yang diacu pernyataan tersebut. (2) Teori kebenaran korespondensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikadung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut. peranan bahasa dalam sistem kebenaran menurut teori korespondensi.(1) Teori kebenaran koherensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bilamana dalam pernyataan di atas rumusan bahasanya menjadi 'beberapa orang pasti akan mati dianggap pengetahuan yang benar maka pernyataan kedua menjadi 'si Amin belum mati'.

Kelemahan teori korespondensi adlah apa yang kita persepsi secara langsung adalah persis dengan apa yang dipercaya oleh anggapan umum yaitu objek yang bersifat real dan terlepas dari subjek. 2002:12-16). Kelemahan sistem kebenaran teori korespondensi ini terletak pada kekurang sesuaian antara pengalaman indera dengan fakta empiris. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peranan analisis bahasa menjadi sangat penting bahkan sangat menentukan terutama dalam operasionalisasi penelitian sosial yang mendasarkan pada teori kebenaran korespondensi (Kaelan. suatu pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Artinya. sehingga bahasa sangat menentukan formulasi kebenaran tentang fakta. sebab objek fisis menurut teori korespondensi tersebut sejauh mana dapat dibuktikan didalam persepsi indrawi karena hanya merupakan data indrawi. Arti kata-katanya terletak dalam penggunaannya. 1963:16-24). 1994:76).Republik Indonesia adalah Yogyakarta" maka pernyataan tersebut adalah tidak benar karena tidak didukung oleh objek yang terdapat suatu hubungan antara ide dan fakta (objek faktual) dan hubungan tersebut dilakukan melalui bahasa. Lean menekankan bahwa bahasa adalah nyata seutuhnya dan tidak mungkin memuat hipotesis yang tak dikenal atu menunjuk kepada hal yang tidak dapat diamati. Konstatasi Lean tersebut mengisyaratakan pada kita bahwa objek pengetahuan yang bersifat fisis dan real tidak dapat begitu saja terwakili melalui rumusan bahasa. Peranan ungkapan-ungkapan bahasa dalam penentuan kebenaran berdasarkan teori pragmatis. kata dalam dirinya sendiri adalah bunyi dan kita memberikan arti kepadanya dengan cara kita dalam menggunakannya (Lean. dan kalau demikian maka akan berakibat pada kesalahan perumusan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan tersebut. tetapi hanya data indrawi dan bahasa harian mengandung teori-teori atau hipotesis yang tidak dapat dibuktikan mengenai benda-benda pengalaman. sehingga rumusan bahasa dalam mengungkapkan kebenaran dalam hubungannya dengan objek fisis menjadi sangat menentukan (lihat Hadi. berkaitan erat dengan konsekuensi fungsional dalam kehidupan praktis. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Martin Lean yang mengemukakan bahwa kita tidak pernah mengalami objek. Konsekuensinya suatu pernyataan yang benar pada suat waktu tertentu dapat menjadi tidak benar manakala pernyataant .

membuktikan sesuatu. Berpikir dalam pengertian ini adalah suatu bentuk kegiatan akal dan terarah sehingga dengan demikian tidak semua kegiatan manusia yang bersumber pad aakal tersebut berpikir. pergi ke pasar dengan naik mobil atau becak. baik secara objektif maupun secara imajinatif. menganalisis. 1988:36). Seseorang yang sedang melamun tidak termasuk kegiatan berpikir. 'berpikir dengan mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum' dan bentuk kegiatan ini sering diistilahkan dengan 'bernalar' dengan istilah lain menurut Plato dan Aristoteles bahwa berpikir adalah berbicara di dalam batin. Oleh sebab memiliki fungsi komunikatif. kedua. Demikian juga berpikir dapat digolongkan dalam dua pengertian yaitu pertama 'berpikir tanpa menggunakan aturan-aturan atau hukum-hukum'. bagaimana kemungkinan hubungan antara bahasa dengan pikiran manusia dalam upaya manusia memahami realitas secara benar (Aminuddin. 3. misalnya seseorang yang berpikir akan membeli roti untuk dimakan.ersebut tidak memiliki konsekuensi kegunaan atau manfaat praktis bagi kehidupan manusia. melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam memahami dunia luar.dalam masalah ini bahasa memiliki peranan mengkomunikasikan antara objek dengan kehidiupan manusia secara praktis. Bahasa sebagai Sarana dalam Logika Dalam kehidupan manusia bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. 1984:4). Masalahnya sekarang. juga memiliki fungsi kognitif dan emotif. Kegiatan bernalar dengan menggunakan hukum-hukum itulah yang disebut sebagai logika yang merupakan salah satu cabang filsafat praktis. mempertimbangkan. Sebaliknya suatu rumusan bahasa yang tidak mengungkapkan kebenaran objektif dapat menjadi benar karena memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. . Rumusan bahasa yang melukiskan kebenaran tentang objek pengetahuan dapat menjadi tidak benar karena tidak memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo.

Pengertian yang dilambangkan dengan kata disebut sebagai term. Dalam pengertian inilah maka peranan bahasa di dalam logika menjadi sangat penting. Kata "itu" berfungsi menerangkan dan diberi tanda = maka pola proposisi itu menjadi sebagai berikut S=P. Pengertian adalah sesuatu yang abstrak dan diwujudkan dalam bentuk simbol bahasa. Jikalau terjadi pengakuan maka proposisi itu akan menjadi "Anjing hitam itu menggonggong". di dalam pikiran tidak hanya terbentuk pengertian akan tetapi terjadi perangkaian term-term itu. dan penalaran atau reasoning. Dalam kaitannya dengan . Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran manusia. adapun proposisi itu mengandung benar atau salah. adapun bentuk-bentuk pemikiran dari yang paling sederhana adalah sebagai berikut: pengertian atau konsep. Berkaitan dengan kegiatan penalaran terutama dalam kaitannya dengan observasi empirik. kalau fungsi pengingkaran itu diganti dengan tanda = maka pola preposisi itu menjadi sebagai berikut : S=P. proposisi atau pernyataan. proposisinya menjadi sebagai berikut :" Anjing hitam itu tidak menggonggong". Dalam pengertian ini sifat-sifat bahasa berbeda dengan sifat-sifat yang dilambangkannya yaitu pengertian. Dalam proses pembentukan proposisi itu sekaligus terjadi pengakuan atau pengingkaran. Proses pembentukan proposisi terjadi sedemikian rupa sehingga ada pengertian yang menerangkan pengertian yang lain. Rangkaian pengertian itulah yang disebut proposisi dan pengertian hanya terdapat dalam proposisi. atau sebaliknya ada pengertian yang mengingkari pengertian yang lainnya.Persoalan yang mendasar adalah bagaimana kegiatan bernalar manusia itu dapat dikomunikasikan kepada orang lain dan dapat mewakili kebenaran isi pikiran manusia. Oleh karena itu kerancuan sifat-sifat bahasa dengan sifat-sifat yang dilambangkannya akan menimbulkan sesat dalam penarikan kesimpulan. Kegiatan penalaran manusia sebagaimana dijelaskan adalah kegiatan berpikir. Dalam proses pembentukan proposisi pengertian (1) disebut subjek (S) adalah pengertian (2) yang menerangkan pengertian (I) disebut predikat (P). Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa term tidak dapat ditentukan benar atau salah. Misalnya pada contoh proposisi berikut ini:"anjing hitam itu menggonggong" proposisi itu terdiri atas pengertian "anjing hitam (S) dan "menggonggong" (P). Jikalah proses pembentukan proposisi itu terjadi pengingkaran maka.

walaupun keduanya secara formal bentuknya sama namun bentuk logisnya berbeda. Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda. Walaupun term tidak dapat ditentukan bernar atau salah namun kekurang tepatan dalam menentukan simbol (bahasa) term. Berdasarkan uraian di atas bahwa kesesatan dalam penalaran dapat diakibatkan karena bahasa dalam pembentukan term dan proposisi. Amin adalah mahasiswa UGM Amin adalah penjual sepatu Jadi: Amin adalah mahasiswa UGM yang penjual sepatu Penyimpulan ini benar karena unsur term menggunakkan bahasa yang benar yaitu kata Amin mengacu pada seseorang tertentu. Hal yang sama juga kita jumpai dalam . dan perhatian itu dikarenakan kekurangan tepatan dalam menentukan simbol bahasa pada term sebagai unsur dari proposisi. dan setiap kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang. (lihat Poerwowidagdo. Jadi peran bahasa dalam penentuan term sangat mempengaruhi hasil dari penalaran tersebut. dalam kalimat yang berbeda dapat memiliki makna yang berbeda. Maka meskipun kata-kata sama. tanpa tahun:5). Berdasarkan hasil analisis penyimpulan penalaran tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan.bahasa yang digunakan dalam pembentukan proposisi tersebut maka kekeliruan dalam menentukan simbol term dapat berakibat sesanya kesimpulan. Namun bilamana penentuan bahas term itu tidak maka akan berakibat sesatnya penyimpulan. sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Misalnya dalam penyimpulan berikut ini. sehingga kesimpulannya tidak dapat bersama-sama sebagai term yang lama. maka dapat berakibat sesatnya kesimpulan. Misalnya pada contoh berikut: Ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM Ada seseorang yang adalah penjual sepatu Jadi: ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM dan penjual sepatu Kesimpulan yang kedua ini menyesatkan karena term "ada seseorang yang" ini tidak mengacu pada orang yang sama.

maka terjadilah kesesatan penalaran. dan arti kalimat juga tergantung pada konteksnya. dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. Kesesatan karena term ekuivok Term ekuivok yaitu term yang mempunyai lebih dari satu arti. Kesesatan karena aksen atau tekanan Dalam ucapan tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan. berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa. Justru lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari ketidakpastian arti dalam bahasa. Contoh : Tiap pagi pasukan mengadakan apel. sehingga arti kalimat yang sama dapat bervariasi dalam konteks yang berbeda. Apel itu buah Jadi: Tiap pagi pasukan mengadakan buah. kesesatan itu akan hilang sama sekali. maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. Kalau dalam suatu penalaran sebuah . Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama. b. Contoh : Sifat abadi adalah sifat Tuhan Joko adalah mahasiswa abadi Jadi: Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat Tuhan c. Kesesatan karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti. Kesesatan karena arti kiasan (metaphor) Ada analogi antara arti kiasan dengan arti sebenarnya. a. artinya terdapat kesamaan dan juga ada perbedaannya. Sebuah kalimat dengan struktur sintaksis tertentu dapat mempunyai arti lebih dari satu. Ketidaksaksamaan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat.kalimat. kalau penalaran itu diberi bentuk lambang.

Berbeda dengan cabang-cabang serta bidang-bidang filsafat lainnya. Kesesatan karena amfiboli (amphibolia) Amfiboli terjadi kalau kontruksi kalimat itu sedemikian rupa. yang pasti terdapat hubungan yang sangat erat antara filsafat dengan bahasa karena bahasa merupakan alat dasar dan utama dalam filsafat (Liang Gie. 2). sehingga artinya menjadi bercabang.arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya. 1977:122). 1964:1). d. C. Dalam sejarah perkembangan aksentuasi filsuf bahasa menunjukkan minat perhatian yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema filosofis pada zamannya masing-masing. . 1985:12). Luas Kajian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa merupakan cabang filsafat khusus yang memiliki objek materia bahasa. yaitu bahwa mereka kesemuanya menaruh perhatiant erhadap bahasa baik sebagai objek materia dalam berfilsafat maupun bagaimana bahasa itu berfungsi dalam kegiatan filsafat (lihat Poerwowidagdo. Apa yang paling depan. bahwa betapapun terdapat berbagai macam perbedaan tentang perhatian filsuf terhadap bahasa. Hal ini disebabkan karena penganutpenganut filsafat bahasa atau tokoh-tokoh filsafat bahasa masing-masing mempunyai perhatian dan caranya sendiri-sendiri. Namun demikian satu hal yang penting untuk diketahui. Demikianlah kiranya pernana bahasa dalam pembentukan term dan proposisi sangat menentukan benar atau sesatnya suatu hasil penalaran dalam logika (Soekadijo. Contoh : Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan. filsafat bahasa dalam perkembangannya tidak mempunyai prinsip-prinsip yang jelas dan terdefinisikan dengan baik (Alston. meskipun juga terdapat persamaan di antara mereka. terjadilah kesesataan karena arti kiasan. sedangkan dalam konklusi artinya berbeda maka terjadilah kesesatan karena amfiboli itu. mahasiswanya atau mejanya? Kalau dalam sebuah penalaran kalimat amfiboli itu di dalam suatu premis digunakan dalam arti yang satu.

dan lain sebagainya. Oleh karena itu lingkup filsafat bahasa yang utama membahas filsafat analitik baik menyangkut perkembangan maupun konsep-konsep dari para tokohnya. Demikian juga hubungan bahasa dengan pikiran. filsafat bahasa sebagaimana cabang-cabang filsafat lainnya membahas hakikat bahasa sebagai objek materia filsafat. Kedua: itidaklah tepat bilamana lingkup pembahasan filsafat bahasa itu hanya berkaitan dengan filsafat analitik. . yaitu pembahasan tentang bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bagi tindakan manusia. 2002:22). Meskipun sebenarnya seorang filsuf dapat menggunakan analisisnya untuk setiap konsep dasar yang berkenaan dengan bahasa tetapi dallam kenyataannya kecenderungan yang ada ialah untuk memusatkan perhatiannya pada konsep-konsep semantis. maka pembahasan filsafat bahasa meliputi masalah sebagai berikut. Hal ini disebabkan karena sesuatu kata tertentu mempunyai arti atau makna tertentu dan yang nampak sedemikian rupa sehingga menimbulkan refleksi filosofis. Antar alain hakikat bahasa secara ontologis sebagai dualisme bentuk dan makna. komunikasi manusia dan bidang-bidang lainnya yang prinsipnya berkenaan dengan pembahasan bahasa sampai hakikatnya yang terdalam (Kaelan. Keempat: Selain masalah-maslah tersebut diatas. Lingkup lain filsafat bahasa adalah berkenaan dengan penggunaan dan fungsi bahasa. oleh karena itu salah satu bidang filsafat bahasa adalah untuk memberikan analisis yang adekuat tentang konsep-konsep dasr dan hal ini dilakukan melalui analisis bahasa. bahkan lingkup pembahasan ini terlalu lama ditekuni oleh para filsuf.Berdasarkan alasan tersebut diatas. kebudayaan. Pertama: salah satu tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep (conceptual analysis). Dalam pengertian inilah pada abad XX filsafat bahasa memiliki aksentuasi pada filsafat analitik. hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk. Ketiga: berkenaan dengan teori makna dan dimensi-dimensi makna pembahasan tentang lingkup inilah filsafat bahasa memiliki keterkaitan erat dengan linguistik yaitu bidang semantik.

bahwa alam tidak bisa dibujuk bukan karena enggan memenuhi permintaan manusia.BAB II KAJIAN FILSAFAT TENTANG BAHASA A. melainkan karena tidak mampu memahami . Pengantar Tatkala manusia untuk pertama kali mulai menyadari bahwa kepercayaanya melalui mitos primitifnya itu sia-sia.

Secara fisik kata boleh dikatakan tanpa daya. Kata bukanlah sekedar flatus vocis. akan tetapi secara logis kata diangkat ke tingakat lebih tinggi.bahasa manusia dan kesadaran itu tentunya menimbulkan goncangan jiwa. Zaman Yunani . Bersamaan dengan itu merebak pula reaksi tokoh-tokoh Postmodernisme yang mengakar keberbagai bidang kehidupan manusia yang sekali lagi juga menggunakan media bahasa sebagai dasar pijaknya terutama konsep dekonstruksinya. kata tidak dapat mengubah kehendak dewa-dewa atau roh-roh. Kata tidak lagi memuat daya-daya misterius supernatural. bahkan tertinggi. Logos menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. Sekalipun terdapat perbedaan perhatian para filsuf abad pertengahan dengan zaman Yunani namun bahasa masih merupakan teman akrab dalam kegiatan refleksi filosofisnya. Sejak itu manusia menemukan dirinya dicekam kesendirian yang mendalam. Dalam pengertian inilah dalam sejarah manusia mulai sadar melihat hubungan bahasa dengan realitas dari sudut yang berbeda. namun demikian kata bukanlah tanpa arti dan tanpa kekuatan. Kata tidak dapat mengubah alam benda-benda. pada era inilah para filsuf analitik berkiprah menjelaskan mengkritik dan mengungkapkan konsep-konsep filosofisnya melalui analisi bahasa. Hal itu berlangsung sampai zaman modern dan kemudian disusul filsuf-filsuf abad XX justru semakin menyadari bahwa kekaburan. bukanlah letupan angin semata-mata yang menentukan kata bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. B. retan terhadap kesepian yang mendalam yang membawa manusia untuk merenungkan dunia sekitarnya. kelemahan dan ketidakjelasan konsep-konsep filosofis dapat dijelaskan melalui analisis bahasa. tidak lagi memiliki pengaruh jasmaniah atau adikodrati secara langsung. Fungsi magis kata mulai memudar. Demikianlah kiranya sejarah filsafat Yunani telah akrab dengan bahasa dalam mengungkapkan refleksi filosofisnya. diganti oleh fungsi semantis. Peristiwa ini mengharuskan manusia mengahadapi masalah baru yang merupakan titik balik dan krisis dalam hidup intelektual mampu hidup moralnya. Diskursus melalui bahasa dan tentang bahasa dalam menyibak hakikat realitas telah marak dilakukan oleh para filsuf sejak zaman pra Sokrates.

namun ia mencari prinsip perubahan. Kembara refleksi intelektual ini terjadi pada awal filsafat Yunani. Ekspresi mitis dan primitif ini membawa manusia pada kegoncangan jiwanya mereka menjadi semakin sepi dan merasakan adanya krisis intelektualnya. Dengan memudarnya fungsi magis dari bahasa bangsa Yunani mulai sadar bahwa bahasa tidak mampu mengubah alam benda-benda fisis. Demikianlah kemudian logos menjadi prinsip alam semesta dan prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. terutama Herakleitos yang oleh Aristoteles dalam metafisikanya disebut 'para fisiologis kuno' (hoi arkhaioi phisiologoi). namun demikian bahasa bukanlah tanpa arti dan tanpa potensi. . Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Masa Pra Sokrates Bangsa Yunani sejak lama dikenal sebagai bangsa yang gemar akan oleh pikirnya. Ia tidak sejutu bahwa diatas dunia terdapat ada yang murni sebagai dunia ideal.1. Dengan demikian Herakleitos tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. 1989: 10). kata bukanlah sekedar flotus vocis. namun yang menentukan bahasa bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. bahasa adalah subtansi dan bentuk sehingga bahasa memiliki ciri logisnya. Namun demikian bagi bangsa Yunani sebelum para filsuf hadir dengan kemampuan refleksinya. Secara struktual fisis bahasa memang tanpa eneegi. Menurutnya tidak ada sesuatu yang difinitif melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa 'sedang menjadi' yang terkenal dengan ungkapan 'panta rhei' artinya semua mengalir. bahasa adalah bentuk makna. di dalam dunia jasmani tidak ada sesuatupun yang tetap. Manusia dengan kemampuan kodratnya yang dianugrahkan oleh Tuhan berupanya memahami hakikat realitas segala sesuatu termasuk Tuhan sendiri. bahasa merupakan media mengungkapkan daya magis dalam komunikasinya dengan para Dewa dan kekuatan super natural lainnya. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi. Bahasa bukanlah hanya letupan angin yang meluncur dari mulut manusia. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. akan tetapi secara logis sematis bahasa dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dalam mengungkap rahasia alam dan segala sesuatu. bahasa tidak dapat menggerakkan kehendak Dewa-dewa atau roh-roh. semuanya berubah terus-menerus (Bertens.

Kita harus memahami arti ucapan-ucapan agar dapat memahami arti dalam semesta. namun kata 'logos' juga mengandung kebenaran kosmis universal. Parmenides menandaskan bahwa kita tidak dapat memisahkan ada dan berpikir. Para filsuf alam memahami dan menafsirkan indentitas ini dari segi yang betul-betul bersifat material. dengan udara kita lihat udara yang cerah. dengan air kata melihat air. Namun kata tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. karena keduanya satu dan sama. biarpun mereka berbeda dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. kata Empedokles kita melihat bumi. Masalah "arti dari arti" merupakan masalah yang kontroversial. Pengetahuan tentang makrokosmos dimungkinkan karena mikrokosmos merupakan bagian sistem yang harmonis. Idealisme dan realisme. pemikiran filsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Cassirer. kata 'logos' bukan semata-mata gejala antropologis. 1974: 3). Semua mazhab mulai dengan pengadaian-pengadaian bahwa fakta pengetahuan tidak akan dipertanggungjawabkan tanpa adanya identitas antara subjek yang mengetahui dan realitas yang diketahui. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos pun. bahkan sampai dewasa inipun masalah itu terdapat beranekaragam pendirian yang dikemukakan oleh para filsuf. karena ada yang menjelaskan subtansi . Sebab berkat bumilah. Bilamana kita gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa dan bukanya melalui fenomena fisik belaka maka kita gagal pula dalam menemukan pintu gerbang filsafat. dan dengan cinta kita lihat cinta. dengan api kita lihat api yang kadangkala merusak. bahkan dengan benci kita melihat benci yang menyedihkan. 1987: 70).Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara menduduki tempat sentral. maka akan ditemukan di dalam dunia fisik. linguis maupun para psikolog Filsafat Yunani kuno hanya mampu memcahkan melalui prinsip yang secara umum diterima dan sangat mapan. melainkan dipahami dalam fungsi semantis dan simbolis. Terdapat beberapa kesulitan baru yang menyangkut masalah arti. sebenarnya sama-sama menerima kebenaranya. Bila kodrat manusia kita analisis. Bahkan masa Herakleitos ini disebut sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgmann. Bilamana teori umum ini diterima maka persoalan kemudian adalah apa "arti dari arti" ? Secara antologis pertama-tama dan yang terpenting adalah arti harus diterangkan dari sudut ada. Dengan demikian.

Sebaliknya kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari hasil-hasil tradisi. Perbincangan hakikat bahasa pada zaman itu menjadi semakin marak tentang terdapat bahwa apakah bahasa itu sebagai konversi atau bersifat alamiah (Kaelan.merupakan kategori yang paling umum yang mengikat dan menyatukan kebenaran dengan realitas. Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa adalah bersifat alamiah (fisei) yaitu bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal usul usul. dan saat itu kemudian munculah persoalahn filosofis yaitu apakah bahasa itu dikuasai oleh alam. Karena hal ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dapat berubah dalam perjalanan zaman. Kemudian hal itu dengan sendirinya dilanjutkan dengan upaya menginterpretasi makna. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal bukan semata-mata konvensional. Bahasa bukanlah pemberian . menyusun daftar kata-kata peniru bunyi ('onomatopoeia'). 2002:27. Dari pengertian ini lahirlah usaha-usaha orang untuk mencari sumber sebuah kata atau disebut 'etimologi'. nature.28). o. kebiasaan-kebiasaan berupa 'tacit agreement' yang artinya 'persetujuan dian'. kaki meja dan sebagainya). Jadi ada hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. Kaum naturalis selanjutnya mengutarakan bahwa bahasa bukanlah hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Sepatah kata tidak dapat memberi arti pada suatu benda bila tidak ada sekurang-kurangnya identitas sebagian di antara kedua hal tersebut. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. misalnya leher botol. ciri-ciri atau 'sound symbolism' baik bersifat imitatif dan sugestif (I. u) metafora (hubungan antara sumber pertama dengan aplikasi kedua. Pertentangan antara 'Fisei' dan 'Nomos' Perhatian para filsuf terhadap bahasa nampaknya menjadi semakin kental. atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos. Kaum naturalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatakan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri dan karena itu tak dapat ditolak.

L. Protagoras sebagai tokoh kaum Sofis ini membedakan tipe-tipe kalimat atas 7 yaitu : narasi pertanyaan. Mereka terkenal di seluruh Yunani karena keahliannya dalam bidang retorika. perintah. Adapun Gorgia membedakan tentang gaya bahasa yang dewasa ini dikenal dalam studi bahasa secara luas (Parera. dan undangan. Mencari keterangan tentang bahasa dunia benda-benda fisik merupakan usaha yang sia-sia dan tidak berguna. Demikianlah kiprah para filsuf bahasa yang mencoba menemukan hakikat bahasa. melainkan bahasa bersifat konvensional. fasih lidahnya dan berkeliling dari kota ke kota untuk melatih kaum muda dalam bidang keahlian berpidato. Pada waktu itu di bidang politik Athena memainkan peranan yang sangat penting di bawah pimpinan Perikles. Kaum Sofis menemukan pendekatan baru yang lebih sederhana untuk mendekati bahasa manusia. Athena menjadi pusat baru seluruh kebudayaan Yunani. sehingga penganut-penganutnya dinamakan kaum Sofis.M. laporan doa. Austin yang membedakan bahasa atas tindakan dalam menggunakan bahasa. Terdapatlah suatu golongan yang biasanya dinamakan Sofistik. Sesuai dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Protagoras bahawa manusia menjadi pusat semesta manusia adalah merupakan pusat segala-galanya. Kaum Sofis Sekitar pertengahan abad 5 S. jawaban. Hal ini nampaknya mirip dengan konsep J.Tuhan. Dalam kaitannya dengan filsafat bahasa kaum Sofis mengemukakan bahwa dalam membahas hakikat bahasa yang memainkan peranan utama bukanlah metafisika melainkan filsafat manusia. Untuk tujuan ini mereka mengembangkan cabang pengetahuan . 1977:42). Dalam dialog Plato pendapat ini diwakili oleh tokoh yang dikenal saat itu yang bernama Hermogenes. Kaum Sofis ini mulai menekuni bahasa mengadakan pembedaan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan maknanya mungkin berdasarkan strukturnya. Demikian pula waktu itu filsafat juga berpusat di Athena. Memang diakui bahwa dalam kenyataannya bahasa tidak dapat dipasung melalui satu mazhab saja melainkan bahasa memang memiliki sifat konvensional namun juga terdapat ciri-ciri fisei walaupun hal itu meliputi jumlah yang banyak.

Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. istilah dan kata menjadi sia-sia dan berlebihan. bukan hanya untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran saja. Semua pertikaian tentang 'kebenaran' atau 'ketepatan' (orthotes). Mereka hanya mencapai kesepakatan mengenai satu hal kebenaran yang sesungguhnya tidak mungkin dapat tercapai. Sokrates Kaum Sofis yang dikenal dengan kemahirannya dalam olah penggunaan bahasa terutama melalui retorikanya. oleh karena itu harus diragukan kebenarannya.baru yaitu 'retorika' . Menanggapi kondisi kacau akibat kelicinan kaum Sofis tersebut Sokrates merasa terpanggil untuk meluruskannya dengan suatu metode "dialektis=kritis". Sokrates dalam menerapkan metode dialektis kritis itu tidak begitu saja menerima suatu pengertian sebelum dilakukan pengujian-pengujian untuk . senantiasa aktif mengembangkan dan mengangkat masalah-masalah filsafat untuk diperdebatkan secara kritis. melainkan untuk mendorong orang agar mengambil tindakan-tindakan tertentu (Cassirer. retorika menduduki tempat sentral. Proses dialek-kritis dalam hal ini mengandung suatu pengertian "dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (inteplay) antar ide (Titurs. Tugas bahasa yang nyata bukanlah untuk melukiskan benda-benda melainkan untuk membangkitkan emosi manusia. dalam definisi mereka tentang 'kebijaksanaan (sophia). Kaum Sofis inilah yang membawa perubahan terhadap corak pemikiran filsafat di Yunani yang semula terarah pada kosmos menjadi terarah pada teori pengetahuan dan etika (Hatta. yaitu segala sesuatu yang bersifat nisbi. Dalam diskusi filsafat mereka tidak memiliki kesepakatan tentang dasar-dasar umum yang berlaku bagi kedua teori tersebut. 2. Sejalan dengan filsafat kaum Sofis yang dalam arena perdebatan filsaft tidak mudah menyerah. 1987:173). 1984:17). 1980:54). Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. Tugas bahasa benda-benda. maka muncullah persoalan dasar-dasar teori pengetahuan dan etika.

Jadi Sokrates senantiasa menuntut para ahli untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar. Kaum Sofis yang lazimnya tidak begitu saja mudah menyerah dengan kefasihannya dalam setiap perdebatan ternyata mengakui keuletan dan akurasi metode Sokrates dalam menjelaskan makna melalui analisis bahasanya dialektis kritis. 1984:28). (Lihat Mustansyir. maka ide yang dilontarkan akan disisihkan oleh Sokrates. Misalnya ia bertanya kepada seorang seniman tentang apa yang dimaksud dengan 'keindahan'. yang terjadi ddalam bidang filsafat pada masa itu. karena dianggapnya tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Dapat pula dikatakan bahwa dengan metode dialektis kritis ini Sokrates melakukan penyembuhan (therapy). 1987:20). Metode yang digunakan oleh Sokrates dengan metode yang dikembangkan oleh kaum Sofis dengan retorikanya nampaknya memang terdapat perbedaan .membuktikan benar atau salahnya. kemudian Sokrates mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai dasar-dasar pemikiran para ahli itu tentang apa alasan mereka sehingga memiliki pandangan yang demikian. Apabila diperoleh suatu jawaban yang memang benar yang didukung oleh alasan yang benar. Dengan menggunakan metode dialketis kritis inilah nampaknya Sokrates mampu mengatasi kemelut filosofis melalui perdebatan yang ketat. Setelah diperoleh penjelasan dari ahlinya. Dengan metode itu tujuan utama Sokrates adalah untuk menjernihkan pelbagai problema filosofis yang selama ini dikacaukan oleh kaum Sofis. Metodi Therapy yang dilakukan oleh Sokrates terhadap kekacauan makna yang merupakan penyakit kronis yang ditimbulkan oleh kaum Sofis ini nampaknya juga dilakukan oleh para filsuf analitik dalam menyembuhkan obrolan omong kosongnya kaum idealisme yang dianggapnya tidak bermakna. Oleh karena itu ia selalu meminta penjelasan-penjelasan tentang sesuatu pengertian dari orang yang dianggap ahli dalam bidangnya. dan kepada seorang pemimpin tentang makna 'keadilan' dan lain sebagainya (Bakker. kepada seorang panglima tentang makna 'keberanian'. Akan tetapi jikalau lawan dialog itu tidak mampu mengajukan argumentasi yang benar mengenai pengertian yang diungkapkannya. maka ide yang telah teruji tadi diterimanya sebagai pengetahuan yang benar untuk sementara sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut melalu metode komparasi (perbandingan). terutama yang ditimbulkan oleh kaum Sofis.

Namun demikian tesis Plato tersebut selaman beberapa abad masih tetap bertahan. suatu kata dalam perbedaharaan bahasa manusia takkan dapat dipahami. Persoalan dikotomi tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' tertuang dalam dialog Cratylus dan Hermogenes. Dari kata-kata direvatif kita harus kembali kepada kata-kata primer. Keberatan terhadap teori Plato ini menunjuk pad fakta bahwa ketika menganalisis kata-kata dalam pembicaraan sehari-hari. Bahkan sampai dewasa ini kepustakaan bahasa masih merupakan bahan pembahasan walaupun tidak merupakan satu-satunya teori dalam ilmu bahasa. Plato Plato seorang filsuf dari Athena dalam menuangkan karya-karya filosofisnya diwujudkan melalui bentuk dialog. Bila pengadaian ini bersumber pada teori umum pengetahuan bukannya pada teori bahasa maka diperlukan suatu upaya pemecahan.yang sangat tajam. 1987: 171). namun demikian keduanya memiliki kesamaan yaitu menjelaskan konsep-konsep filosofis melalui bahasa. Bilamana kita hendak mengusut lebih lanjut ikatan yang menyatukan antara kata-kata dengan objeknya. Filsafat bahasa Plato inilah yang mampu menjembatani jurang antara namanama dengan benda-benda. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal tidak semata-mata konvensional. kita sering sungguhsungguh tidak bisa menentukan kemiripan yang diduga ada antara bunyi-bunyi dengan benda-benda. Tanpa hubungan natural seperti itu. 3. Menurut prinsip ini sebenarnya etimologi tidak hanya . Kesulitan ini bagaimanapun juga dapat disingkirkan dengan menunjuk fakta bahwa bahasa manusia sejak semula rentan terhadap perubahan dan kerusakan. Maka tidak boleh berhenti pada keadaan yang sekarang. Dalam persoalan inilah Plato mengemukakan diktrinnya yang disebut 'onomatopoeia’ (Cassier. kita harus menemukan 'etimon' atau bentuk murni dan bentuk asal dari tiap-tiap kata. maka kita harus menelusuri kata-kata sampai pada sumber-sumbernya. Ulasan Plato terhadap teori yang mengatakan bahwa semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi berakhir dengan ejekan dan karikatur.

maupun kalimat. subjek dalam hubungan subjek logis. Ia sebagai salah seorang dari padepokan Akademia Plato di Athera dan dia belajar samapai Plato meninggal. verbal. Misalnya tentang prinsip kausalitas. 1983 : 43). nominal menurut istilah tata bahasa. Aristoteles . Teori Aristoteles disebut dengan istilah 'hilemorfisme' yang berasal dari bahasa Yunani 'hyle' dan 'morphe' yang secara hafiah disebut 'teori bentuk-materi'. Pengertian 'onomata' jamaknya 'onoma' dapat berarti nama (dalam bahasa sehari-hari). Aristoteles Aristoteles seorang filsuf yang jenius dari Stagira yang memiliki karya yang cukup banyak dan pemikiran-pemikirannya sampai saat ini masih relevan dengan ilmu pengetahuan. 'Rhemata' jamaknya 'rhema' dapat berarti frase atau ucapan dalam bahasa sehari-hari.menjadi dasar dalam linguistik melainkan justru menjadi salah satu dasar filsafat bahasa. Lebih lanjut Plato mengemukakan pemikiran filosofisnya tentang bahasa dalam dialog Cratylus. Platolah yang pertamatama membedakan kata dalam 'onoma' dan 'rhema' (Parera. dalam istilah tata bahasa dan 'rhema' merupakan anggota dari 'logos' yang berarti suatu segmentasi bahasa baik berupa frase klausa. kategori demikian pula tentang filsafat bahasa. bahwa bahasa pada hakikatnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan 'ono mata' dan 'rhemata' yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. melainkan dalam bendabenda jasmani sendiri. Nampaknya Plato telah banyak menuangkan konsep-konsepnya berkaitan dengan hakikat bahasa yang dalam kenyataannya sampai saat ini merupakan dasar pijak bagi pengembangan imu bahasa. verb. Aristoteles mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa terdapat sesuatu yang tetap akan tetapi tidak dalam suatu dunia ideal. Pemikiran inilah yang merupakan pangkal perbedaan konsepnya dengan pemikiran filosofis gurunya. logika. nomen. 4.

'onoma' adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. yaitu bentuk dan materi. penyimpulan langsung dan sesat pikir (Liang Gie. dengan bersama menandai waktu yang dimaksudkan misalnya 'kesehatan' adalah 'onoma' tetapi 'adalah sehat' adalah 'rhema'. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. 1989 : 15). Selain itu yang dimaksud dengan pengertian 'syndesmoi' adalah 'penghubung partikel' yang dalam pengertian linguistik sering diistilahkan dengan konjungsi. 1984: 21). batasan. Demikian juga dalam membahasa tentang hakikat bahasa Aristoteles juga mendasarkan pada prinsip metafisisnya. Dalam pengertian inilah maka Aristoteles mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkrit (Bertens. Dalam salah satu karyanya Peri Hermeneias yang mengemukakan tentang kwalifikasi kata yaitu 'onoma'. keterangan. Materi adalah prinsip yang sama sekali tidak ditentukan. karena sebagaian tamabahan menandai adanya (waktu sekarang) dalam diri seseorang. Pandangan Aristoteles tentang hakikat bahasa itu nampak mendasarkan pada konsep filosofisnya tentang 'hilemorfisme'. Bilamana kita . Selain itu Aristoteles juga mengembangkan prinsip keteraturan dalam bahasa sehingga bahasa memiliki paradigma yang disebut dengan 'analogi'.memberikan konstatasinya bahwa setiap benda jasmani terdiri atas dua hal. susunan fikir. Dua prinsip ini tidak dapat hanya ditunjukkan dengan jari melainkan harus diandaikan bahwa kita mengerti benda-benda jasmani. tak ada satu bagianpun dari padanya memberi tanda secara sendiri-sendiri. Dalam 'organ' Aristoteles menjelaskan bahwa logika itu meliputi pengertian dan penggolongan artian. tak satu bagianpun mempunyai makna sendiri. Bentuk dan materi dalam pengertian ini bukanlah dalam arti empiris indrawi melainkan dalam pengertian prinsip-prinsip metafisis. 1975:21). yang sama sekali terbuka. Pemikiran Aristoteles tentang filsafat bahasa tidak bisa dipisahkan dengan logika yang dalam karyanya disebut 'organon' secara luas dikenal dengan istilah logika tradisional. dan selalu merupakan tanda untuk apa yang dibicarakan tentang sesuatu yang lain. Materi adalah suatu kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk. 'rhema' dan 'syndesmoi'. yang secara sederhana bahwa hakikat bahasa juga meliputi hakikat materi dan bentuk (Arens.

'cow – cows' dan lain sebagainya. demikian pula manusia juga memiliki keteraturan dan hal itu terefleksi melalui bahasa. 1983: 42). Oleh karena itu menurut kelompok analogi bahwa bahasa itu teratur dan disusun secara teratur pula. Keteraturan bahasa membawa konsekuensi dapat disusun suatu tata bahasa. Dikotomi 'analogi' dan 'anomali' Pembahasan tentang hakikat bahasa di Yunani ditandai pula dengan munculnya teori 'analogi' dan 'anomali' yang nampaknya berpegangan pada khitohnya masing-masing. Dalam pengertian inilah sebenarnya Aristoteles telah turut andil dalam meletakkan dasar-dasar filsafat bahasa. premis. batasan dan terutama penyimpulan yang benar senantiasa mendasarkan pada analisis bahasa. Analogi dianut oleh kelompok Plato dan Aristoteles dan diterapkannya dalam karya-karya mereka. Sebaliknya kaum anomalis berpendapat bahwa bahasa dalam bentukbentuknya tidak teratur (irreguler). 'girl – girls'.analisis lebih jauh dasar kerja penalaran logika tradisional sangat mendasarkan pada term yang diwakili oleh simbol bahasa. namun demikian sampai saat ini kedua pendapat itu masih relevan dengan realitas bahasa terutama dalam pengembangan bidang ilmu linguistik. Mereka menunjuk beberapa bukti dalam kenyataan sehari-hari mengapa ada sinonimi dan homonimi mengapa ada unsur kata yang disebut netral dan jika bahasa itu bersifat konvensional semestinya kekacauan itu diperbaiki. satu paradigma. Prinsip analogi ini sebenarnya merupakan transformasi keteraturan logika dan matematika ke dalam bahasa. . Golongan yang berpendapat analogi menyatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan. Proses pembentukan proposisi. Memang dapat kita akui bahwa perdebatan kedua pendapat itu akan berjalan seperti rel kereta api. Dalam pengrtian inilah bahasa itu pada hakikatnya bersifat alamiah (Parera. Kiranya pendapat kaum anomalis ini masih digunakan sebagai salah satu ciri bahasa bahwa bahasa itu pada hakikatnya arbitrer (mana suka) karena sifat bahasa yang alamiah tadi. Analogi secara matematis berdasarkan proporsi seperti 6:3 sama dengan 4:2 sama dengan 2:1 misalnya jamak dalam bahasa Inggris 'book – books'.

Namun demikian satu hal yang perlu dicatat bahwa sumbangan kaum Stoa terhadap filsafat bahasa cukup besar terutama dalam menentukan prinsip-prinsip analisisnya secara sistematis. yang diistilahkan dengan semainomenon. Nama stoa menunjuk kepada tempat belajar yaitu suatu serambi bertiang. dan tidak menggunakan bebtuk-bentuk onoma secara praktis dalam contoh. Aristoteles hanya mengakui adanya onoma dan onomata. mereka telah menciptakan beberapa istilah teknik khusus untuk berbicara tentang bahasa. Menurut kaum Stoa kasus itupun onoma pula yang sesuai dengan fungsinya. Lalu mereka membedakan atas kasus nominatif-genetif. (2) makna. Langkah pertama kaum Stoa untuk mendeskripsikan tentang hakikat bahasa terutama tentang makna dengan membedakan tiga aspek utama bahasa : (1) tanda atau simbol. Ketiga. Kaum Stoapun juga menaruh perhatian terhadap bunyi. Mereka memberikan contoh tentang kata Yunani 'gramma' berarti huruf itu sendiri. Dalam bidang lekta. datif- . B. Mazhab Stoa Mazhab Stoa didirikan oleh Zeno dari Kriton sekitar menjelang abad keempat SM. Pertama.5. tanda tulisan untuk huruf itu dan nama untuk huruf itu. Kedua. phone. makna mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan analisis logika Aristoteles yang sering tidak jelas maksudnya. sign yang disebut semainon. Hal ini disebabkan logika Aristoteles dengan silogismenya yang hanya mempergunakan kode huruf A. dan C. kedua kemajuan tersebut ada hubungannya dengan perbedaan kaum Stoa dan logika peripatetik dari penganut Aristoteles. kaum Stoa telah membedakan antara studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara gramatika. tempat Zeno memberikan pembelajarannya. (3) hal-hal ternal yang disebut benda atau situasi yang diistilahkan dengan to pragma atau to tungchanon. atau lekton. dan ini adalah bunyi atau materi bahasa. Semua perubahan dari onoma sesuai dengan fungsinya tidak mereka akui hal itu hanya sebagai kasus saja. Mazhab Stoa ini berdiri atas kelompok filsuf yang ahli logika sehingga pandangan-pandangannya tentang hakikat bahasa tidak dapat dilepaskan dengan rasio yang mendasarkan pada logika. Mereka membedakan antara legein (tutur) bunyi yang mungkin merupakan bagian dari fonologi dari sebuah bahasa tetapi tidak bermakna.

yang dalam pengertian sekarang disebut bentuk infinit dan finit. C. yang menyatakan jenis kelamin maskulin. tunggal dan jamak. Pendapat kaum Soa ini memang merupakan rintisan ke arah pengembangan suatu tata bahasa walaupun sifatnya masih spekulatif (Parera. Hal yang sama juga berlaku bagi rhema. Zaman Abad Pertengahan Alexander Agung yang dalam sejarah telah mendirikan suatu kerajaan besar. kerja. Walaupun Aristoteles membedakan rhema dalam 'tense' ia berbicara tentang sesuatu yang belum komplit. Syndesmoi disebutkan sebagai kata yang tidak mempunyai akhir kasus. Kaum stoa juga membedakan jenis kata. antara lain dengan dikembangkan "kebudayaan helenistis". Hal ini bukan berarti kehancuran kebudayaan dan filsafat Yunani melainkan tetap berkembang dengan subur mengingat sang Raja sendiri menaruh perhatian terhadap kebudayaan. yang meliputi juga Romawi maupun Yunani. Arthron ialah kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah. Bentuk ini kemudian kita kenal dengan nama artikel dan kata ganti penghubung.akusatif dan sebagainya. feminin. Kata benda disebut kata yang mengalami infleksi yang dibedakan atas kata benda dan nama diri. Jika masuk dalam suatu kalimat akan berbentuk kategorrhema. Dalam kenyataan sejarah perhatian orang Romawi terhadap bahasa sangat dipengaruhi bahkan meneruskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani. to. Apa yang mereka sebut nominatif itu menurut Aristoteles disebut onoma saja. 1983:44. netral. seperti dalam bahasa Yunani : ho. dan arthron. hoi. hai. Pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat bahasa walaupun masih memiliki ciri spekulatif namun telah mulai mengarah pada dasar-dasar linguistik.45). he. syndesmoi. Pengembangan dan . Dalam hal ini mereka memberikan pengertian bercampur antara bentuk morfologis dan semantik. Kaum stoa dalam hal ini membedakan rhema dan kategorrhema. yang mula-mula empat kemudian lima : benda. sedangkan rhema disebutkan sebagai kata yang menggambarkan satu peristiwa dan tidak mengalami kasus. ta.

pemikiran tentang bahasa di Romawi diserahkan kepada seorang tokoh yang bernama Crates seorang filsuf dan sekaligus seorang ahli gramatika golongan Stoa. Karya Varro yang terbesar adalah "De Lingua Latina" terdiri atas 25 jilid. Varro juga membahas hal yang sama. Ia memberikan contoh perubahan bunyi 'duellum'menjadi 'bellum' = perang. Kiranya dalam karya-karyanya yang ada. dan berikut ini beberapa bagian yang penting dari karya Varro. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pemikiran-pemikiran filsuf Yunani sangat mewarnai konsep-konsep tiap orang Romawi. Perubahan makna umpamanya 'hostis' semula berarti 'orang asing' kemudian berubah menjadi 'musuh'. Padahal dalam kenyataannya ada pula bentuk-bentuk bahasa kedua bahasa tersebut harus direkonstruksikan kembali kepada satu bahasa purba. Satu hal yang merupakan suatu kelemahan dalam etimologi ini. Dengan metode-metode linguistik komparatifnya ia memberikan pula etimologi dalam bidang kata primer derivasi serta infleksi. 1. Pengertian Kata . Etimologi Dalam bidang etimologi Varro mencatat perubahan bunyi dari zaman ke zaman dan perubahan makna dari sebuah kata. ialah menganggap semua kata yang berbentuk sama adalah pinjam langsung. walaupun beberapa contohnya kurang tepat. seperti bahasa Indo Eropa. Karya besar filsuf Romawi tentang filsafat bahasa adalah Varro yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan ahli bahasa. Pemikiran Varro tentang Hakikat bahasa Dalam perkembangan karyanya Varro terlibat juga dalam perbincangan spekulatif yang dikotomis di Yunani yaitu antara pandangan analogi dan anomali.

Yang disebut kata ialah bagian dari ucapan. pokok). ia membedakan pula atas aktif-pasif (Parera. 'aspect'. Berbeda dengan bahasa Yunani yang hanya mengenal lima kasus. Kasus yang keenam adalah ablativus. Varro membedakan juga deklinasi dari bentuk- . Konsep morfologi Dalam bidang morfologi Varro menunjukkan orisinalitasnya dalam pembagian kelas kata. 'time'. Jadi terdapat bentuk-bentuk teratur dan tidak teratur. Varro telah membahas lebih jauh dibandingkan dengan pada masa Yunani. Konsep kasus inilah yang banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan studi bahasa. Ia menyusun satu sistem infleksi dari kata Latin dalam empat bagian sebagai berikut. Jadi ada kasus : nominativus (Bentuk primer. dativus (menyatakan asal.adverbium Keempat kelas kata ini dikategorikan kembali kedalam (yang membuat perntanyaan yang menghubungkan dalam sintaksis kata benda dan kata kerja. yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum. dan yang menjadi anggota bawahan dari kata kerja. Ia menyusun satu perbedaan antara 'tense'.kata kerja --. jika ia mempunyai deklinasi yang biasa dipakai semua orang menurut ketentuan dan aturan. Dalam hal deklinasi.kata benda (termasuk sifat) --. dari). Dengan kata kerja ia nampaknya bersimpati terhadap kaum Stoa. Dalam menyusun bentuk indikatif 'tense'. 1983: 52). Dalam hubungan ini penting juga untuk diketahui pengertian kata yang dikemukakan oleh Varro. Kasus dan Deklinasi Dalam hal kasus perihal penggunaan dan maknanya dalam bahasa Latin ada enam kasus.Menurut Varro perihal pembahasan kata sebenarnya terdapat bentukbentuk yang terjadi secara analogi dan anomali terutama dalam bahasa Latin. Yang berinfleksi kasus Yang berinfleksi 'tense' Yang tidak berinfleksi --. generativus (menyatakan kepunyaan). adverbium).

Deklinasi naturalis pada umumnya reguler dan dapat diketauhi masyarakat pemakai bahasa dengan serta merta tanpa ragu-ragu. Konsep Priscia Perkembangan pemikiran tentang hakikat bahasa lama kelamaan menjadi semakin sempurna dan berkembang ke arah sturdi ketatabahasaan. Priscia membedakan pula atas vox articulata. Menurut konsep morfologi Priscia dijelaskan bahwa kata disebut dictio. 2. (2) teori-teori taa bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Konsep deklinasi tersebut yang mempengaruhi cara kerja penemuan etimologi. Konsep Priscia ini merupakan model yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa sesudahnya. Akan tetapi bunyi yang disebut vox illitterata adalah bunyi yang tidak dapat ditulis. vox litterata adalah bunyi-bunyi yang dapat dituliskan. Secara singkronis ia membedakan pula ada dua macam deklinasi yaitu : deklinasi naturalis atau deklinasi alamiah ialah perubahan sebuah bentuk yang terjadi dengan sendirinya dan sudah terpola. Nama dari huruf-huruf ini adalah figurae. Litterae merupakan bagian yang terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. yaitu bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna. Para penutur kadang-kadang harus sadar akan bagaimana ia harus melaksanakan suatu deklinasi irreguler. Hal ini dianggap penting karena terdapat dua alasan yaitu : (1) konsep Priscia merupakan model tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya. Jika disebut tata bahasa tradisional sebenarnya merekalah sumbernya. Kata adalah bagian yang minium dari suatu ujaran dan harus diartikan terpisah . apakah ia bunyi articulata atau inartikulata. Fonologi dan Morfologi Priscia Dalam bidang fonologi priscia membicarakan tulisan atau huruf yang disebutnya litterae. Deklinasi voluntaria yaitu satu perubahan bentuk dari kata-kata secara morfologis yang bersifat selektif dan manasuka. Bahkan konsep model Priscia inilah yang merupakan model dan contoh untuk penulisan dan pendeskripsian tatabahasa-tatabahasa di Eropa dan di dunia lainnya. demikian juga mereka juga membicarakan segi-segi formal dari bentuk-bentuk bahasa.bentuk derivasi dan infleksi. Nilai dari bunyi ini disebut potestas. karena merekalah yang memasukkan semantik sebagai norma utama dalam deskripsi bahasa.

Adverbium : keistimewaan adverbum ini ialah selalu dipergunakan dalam konstruksi bersama dengan verbum dan secara sintaksis dan semantik merupakan atribut verbum.dalam makna sebagai satu keseluruhan. Menurut Priscia oratio yaitu . Dalam bidang morfologi inilah Priscia membedakan jenis kata dalam delapan macam yaitu : 1). dan oleh karena itu berbeda dari keduanya. kedua dan ketiga. Penentuan kelas kata tersebut sebagai unsur dari pembenetukan satuan bahasa lainnya yaitu kalimat. frase dan unsur lainya yang dewasa ini disebut bidang sintaksis disebut sebagai oratio. Dalam hal ini Priscia memiliki suatu kekeliruan bahwa seakan-akan bentuk vires bentuk Latin tidak dapat dianalisis atau dipecah-pecah kembali dalam bentuk yang lebih kecil lagi. Mengambil kategori verbum dan nomen (tense dan kasus). Nomen : dalamnya termasuk kata sifat menurut klasifikasi sekarang. 4). 3). Praepositio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi juga dipergunakan sebagai kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus atau dalam kompositum. Pronomen : yaitu jenis kata yang dapat menggantikan nomen biasa dan biasanya menunjukkan orang pertama. Verbum menyatakan perbuatan atau dikenal perbuatan. Verbum : verbum adalah jenis kata yang mempunyai infleksi untuk menunjukkan 'tense'. Kata benda yang menunjukkan subtansi dan kualitas. 5). Cinjuctio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dan secara sintaksis menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan antara unsur satu dengan lainnya. tetapi tidak berinfleksi kasus. 2). 6). 7). Tingkat berikutnya pembahasan bahasa yang menyangkut hubungan kata dengan kata. Participium : yaitu sebuah kelas kata yang selalu berderivasi dari verbum. modus. Interjectio : jenis kata yang secara sintaksis terlepas dari verbum dan menyatakan perasaan atau sikap pikiran 8).

tata susun kata yang berselang dan menunjukkan kalimat itu selesai. Hal yang menarik dari segi oratio yaitu bahwa sebuah kata itu dapat menjadi kalimat secara penuh. Demikianlah kiranya pemikiran tentang bahasa kelompok Priscia yang besar pengaruhnya terhadaps tudi bahasa pada periode-periode berikutnya (Parera, 1983, 54-56); (Kaelan, 2002: 24-43).

D. Zaman Abad Modern Ciri yang utama pada zaman abad pertengahan adalah masa-masanya filsuf Kristiani terutama kaum Patristik dan Sekolastik sehingga wacana filosofis juga sangat akrab dengan teologi. Selain di Eropa perkembangan pendidikan diwarnai oleh sistem pendidikan Latin. Semua orang yang mencapai pendidikan tinggi baik di awam mapun rohaniawan bergantung pada pengetahuan mereka mengenai bahasa Latin. Dengan demikian bahasa latin menduduki tempat yang terhormat terutama dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat maupun teologi. Pendidikan zaman abad pertengahan dibangun dalam 7 sistem sebagai pilar utamanya dan bersifat liberal. Ketujuh dasar pendidikan liberal tersebut dibedakan atas Trivium, yang mencakup grammatika dialektika (logika) dan retorik, serta Quadrivium, yang mencakup aritmetika, geometrika, astronomi dan musik. Pada zaman ini perkembangan filsafat bahasa menuju pada dua arah yaitu, pertama dengan ditentukannya grammatika sebagai pilar pendidikan lain serta bahasa latin sebagai titik sentral dalam khasanah pendidikan maka pendidikan spekulatif filosofis memberikan dsar yang kokoh bagi ilmu bahasa. Kedua oleh karena sistem pendidikan dan pemikiran filosofis pada saat itu sangat akrab dengan teologi, maka analisis filosofis diungkapkan melalui analisis bahasa sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas. Kemudian dasar-dasar yang mendukung perkembangan ilmu bahasa antara lain konsep pemikiran kaum Modistae dan konsep bahasa spekulativa.

1.

Pemikiran Thomas Aquinas Thomas Aquinas atau dikenal juga dari Aquino dilahirkan di Italia dan pada

usia 19 tahun ia masuk Ordo Dominikan. Thomas telah menghasilkan banyak

karya dansuatu edisi modern telah mengumpulkan semua karyanya terdiri atas 34 jilid. Pemikiran filsafat Thomas diwarnai oleh nuansa teologi dan selain itu Thomas banyak memberikan komentar terhadap filsafat Aristoteles, sehingga tidak mengherankan banyak karya-karyanya diwarnai oleh filsafat Aristoteles. Pemikiran Thomas yang lekat dengan teologi tersebut dalam sistematika filsafatnya merupakan karya terbesar pada periode abad pertengahan terutama karyanya yang berjudul summa Theologiae (ikhtisar teologi) (Bertens, 1989:35). Untuk menemukan suatu kebenaran pada suatu masalah tertentu menurut Thomas perlu memahami terlebih dahulu dengan baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar yang lain. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles, yang mengembangkan semangat dialektika Sokrates. Menurut Thomas kesemuanya harus diandaikan bahwa mereka mempunyai dasar bag pendapatnya. Segala pro dan kontra dari siapa pun harus diangkat secara serius, dan dideskripsikan seobjektif mungkin. Argumen itu diuji dari segala pihak, dari teks asli maupun interpretasi-interpretasi pemahaman dan penilaian kritis dan lebih mendalam mengenai persoalan dan prinsip-prinsip yang bersangkutan. Melalui analisis bahasa ia mengetengahkan kelemahan, kekurangan dan keberatan-keberatannya pada gilirannya mengetengahkan pandangannya atas kebenaran tersebut. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa pemikiran filosofis Thomas sangat dipengaruhi terutama oleh filsafat Aristoteles. Pertama-tama Thomas berusaha mengolah filsafat Aristoteles. Hampir semua karya filosofisnya merupakan komentar atas karya-karya besar Aristoteles. Ia mendalami dan menyelami pemikiran Aristoteles dan kemudian juga memformulasikannya melalui pandangan filosofisnya. Sehingga tidak mengherankan pemikiran filosofisnya diwarnai oleh logika Aristoteles sebagai metode berpikirnya. Titik tolak tradisi yang kedua yang diangkat secara kritis dan mendasar oleh Thomas yaitu pemikiran Platonis. Ia senantiasa menganalisis prinsip-prinsip filosofisnya yang mendasari ajaran mereka kemudiann daam keragka pemikiran filosofis ajaran-ajaran platonis disistematisir berdasarkan kerangka logika Aristoteles.

Analisis Bahasa Banyak kalangan historian memberikan ciri perkembangan pemikiran filsafat pada abad pertengahan diwarnai oleh mercusuar tradisi Skolastik, sehingga tidak mengherankan bahasa Latin menduduki posisi sentral dalam wacana intelektual filosofis dan teologi. Analisis bahasa praktis menjadi metode yang akrab dalam penuangan pemikiran pemikiran filosofis. Dalam pemikiran filosofis Thomas menggunakan ungkapan-ungkapan dengan melalui bahasa yang bersahaja, terang dan berbentuk murni. Analissi abstraksi sebagai metode khas filsafat dikembangkannya, yaitu dengan meninjau suatu segi atau sifat tersendiri dan kemudian menyisihkan segala aksidensia dan akhirnya sampai pada substansi atau hakikat segala sesuatu. Konsep pengertian sepergi ’kodrat’, nafsu dan lain sebagainya dapat dijelaskan dengan tepat. Bahasa sastra yang bersifat puitis senantiasa dihindarinya. Namun demikian bukan berarti Thomas mengelak dari fungsi bahasa yang bersifat fleksibel serta kelenturan makna bahasa. Hal ini nampak dalam mengungkapkan analisis filosofisnya melalui analogi dan metafor. Memang benar diakui oleh banyak kalangan intelektual bahwa dalam setiap khasanah ilmup engetahuan memiliki istlah-istilah teknis dan artifisial tertentu yang memang berlaku sah dan bermakna dalam konteks ilmu pengetahuant ertentu tersebut. Namun demikian bahasa adalah tepat dan kaya dan merupakan sarana yang mutlak bagi presisi ilmiah. Para ahli juga sependapat bahwa terdapat suatu perbedaan antara struktur sintaksis dengan struktur logis, yang terdapat dalam makna bahasa. Untuk mencapai suatu kebenaran dalam sistem pemikirannya Thomas, menggunakan analisis bahasa melalui penalaran logis dengan menggunakan prinsip deduksi yang dilakukan dengan melalui analisis premis. Premis dalam proses deduksi adalah merupakan suatu pernyataan yang mutlak benar, yang memberikan informasi tentang kenyataan (Copleston, 1958:28). Premis yang demikian ini merupakan suatu prinsip yang jelas dengan sendirinya (principium per se notum), sekali istilah dipahami semua orang yakin akan kebenarannya. Hal itu meliputi beberapa macam bentuk premis deduktif yaitu: Definisi, yaitu pernyataan yang predikatnya menyatakan hakikat subjek. Bagi Thomas definisi itu sangat sentral, dan ia sangat cermat mencarinya, misalnya definisi ’keadilan’. Thomas secara konsistem berusaha memberi

kepada segala sesuatu kerangka skematis yang menyajikan pemahaman. Ia mulai dari pemahaman umum misalnya tentang ’ada’, kemudian dengan perbandingan pertentangan, analisis istilah dan sebagainya ia memberikan definisi unik yang hanya berlaku bagi hal yang akan dirumuskannya. Paling ideal definisi yang mampu memberikan rumusan menurut prinsip ’genus et species’. Namun demikian juga dapat ditandai menurut salah satu sifat, atau salah satu sebab atau menurut salah satu prinsip, dengan demikian definisi itu dapat ditentukan. Prnsip yang self-evident, yaitu suatupernyataan yang predikatnya merupakan sifat yang dalam analisis nampaknya mutlak berlaku bagi subjeknya, misalnya prinsip kausalitas (Copleston, 1955:29). Dapat juga keseluruhan yang terbatas itu lebih besar daripada masing-masing bagiannya. Pengetahuan akan istilah-istilah dalam prinsip itu memang secara psikologis berasal dari pencerapan, tetapi evidensinya muncul langsung dalam analisis hubungan predikat dan subjek, jadi secara logis bersifat ’apriori’. Prinsipprinsip yang self-evident itu berhubungan satu sama lain, akhirnya dikembalikan pada prinsip utama ’yang ada tidak dapat sekaligus tidak ada’. Prinsip yang lebih bersifat sekunder, yaitu dengan memakai prinsip-prinsip metafisis lainnya. Misalnya, ’yang baik ialah sebagaimana berlaku dalam kebanyakan hal’, ’kodrat selalu mengarah ke kesatuan’, yang lain merupakan hubungan substansi dan aksidensia atau hubungan potensi dengan aktivitas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tudingan kepada filsafat Skolastik Thomas yang dianggapnya menjadi verbalisme yang kering, suatu sitem berpikir yang tertutup yang diabadikan melalui sistem hafalan belaka, walaupun sebenarnya tuduhan itu tidak sepenuhnya benar (Bakker, 1984:60,64). Walaupun tidak memiliki hubungan sebab akibat yang langsung antara sistem pemikiran Thomas dengan Atomisme Logis nampaknya memiliki kemiripan terutama menggunakan ungkapan bahasa melalui logika dalam melakukan analisis konsep-konsep filsafat. Hanya perbedaan yang esensial adalah Atomisme Logis menolak metafisik karena ungkapan metafisis sebenarnya tidak mengungkapkan keberadaan fakta apa pun; sedangkan Thomas justru analisis logis melalui ungkapan-ungkapan bahasa digunakan dalam upaya untuk memberikan analisis ungkapan-ungkapan metafisis maupun fakta.

Analogi dan Metafor Anggapan yang menyatakan bahwa filsafat Thomas bersifat verbalisme yang kering, nampaknya tidak sepenuhnya benar karena dalam kenyataannya Thomas mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofisnya tidak hanya melalui logika Aristoteles melainkan juga mengangkat analogi dan metafor. Dalam filsafat Thomas doktrin tentang 'analogi' sebenarnya dimaksudkan justru untuk mengangkat wacana teologis ke taraf ilmu filosofis sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan menghindarkan diri dari wacana puitik religius (Sugiharto, 1996:124). Bila bagi Aristoteles kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana bisa keluar dari dilema antara disatu pihak ada unsur dasr yang satu bagi seluruh kenyataan, di pihak lain ada pula makna yang amat beragam dari kenyataan itu, maka wacana teologi menghadapi kenyataan yang seperti itu. Dalam wacana teologis tentang Tuhan dan tantang manusia yang akan berakibat menghilangkan unsur transendensi Tuhan. Di pihak lain mengasumsikan ketidakberhubungan total antara kedua wacana itu dan akan berakibat membawa kepada agnositisme. Kenyataan itulah yang kemudian membawa Thomas Aquinas menerapkan konsep Aristoteles tentang 'analogi' di kawasan teologi. Maka di antara atribut yang bersifat univokal dan ekuivokal kemudian ada atribut baru , yaitu atribut 'analogi'. Jadi doktrin Thomas tentang Analogi Etnis atau 'analogi' pengada itu adalah upaya untuk memadukan hubungan horizontal antara ciptaan di dunia ini dengan hubungan vertikal antara ciptaan itu dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian dimaksudkan dengan istilah onto-teologi. Betapa keras upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke taraf 'ilmiah filosofis' terlihat dari bagiamana ia secara terus menerus mengubah dan memberi rincian baru atas konsep analogi tersebut. Misalnya ia berupaya membagi analogi itu menjadi 'analogi proportio' dan 'analogi proportionalitas' (dalam de Veritate). Tidak puas dengan itu dibuatnya analogi 'duorum et tertius' dan analogi 'unius ad alterum' (dalam de Potentia). Masih juga belum measa puas Thomas menciptakan rincian baru yaitu analogi dengan prioritas pada Tuhan sendiri, jadi titik tolaknya adalah Tuhan kemudian analogi yang berangkat dari sifat-sifat

Namund emikian yang dimaksud dengan "Tangan Tuhan" adalah makna spiritual. sehingga pengertian makna "Tangan Tuhan" adalah kekuatan. kekuasaan dari Tuhan. Yang dimaksud tangan dalam pengertian harfiah adalah mengacu pada anggota badan manusia. Dilema inilah yang kemudian dipecahkan oleh Thomas melalui karya besarnya dengan menggunakan analisis bahasanya terutama melalui analogi dan metafor (Kaelan. mampu mengangkat persoalan-persoalan teologis ketingkat pemikiran yang bersifat ilmiah filosofis. 2.50). Memang terdapat kendala yang bersifat dilematis yaitu di satu pihak keberadaan Tuhan yang bersifat transenden diungkapkan melalui bahasa yang acuannya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sifatnya adalah real dan terbatas. Hal ini dapat dilakukan dengan sendirinya melalui kelenturan bahasa. Selain melalui analogi upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke tingkat wacana ilmiah filosofis ia mengembangkan melalui metafor. 1974: 63). Melalui ungkapan bahasa mnetaforis persoalan-persoalan teologi dapat diklarifikasikan secara ilmiah filosofis. Perkembangan pemikiran filosofis zaman abad pertengahan yang memuncak mencapai puncak keemasan pada karya dan konsep-konsep Skolastik terutama pemikiran filosofis Thomas Aquinas yang menyangkut dan menganalisis secara kritis karya-karya besar Aristoteles. Dengan melalui ungkapan bahasa metaforis ini Thomas mampu mengungkap makna spiritual teologis ke dataraan ilmiah filosofis sekaligus menghilangkan kekaburan ungkapan teologis (Borgmann. Analisis bahasa teologi tentang hakikat Tuhan yang transenden sulit diungkapkan melalui bahasa terutama yang mengacu pada realitas fakta ciptaan Tuhan.ciptaan yang titik tolaknya adalah ciptaan (dalam Summa Theologiae). Dalam kenyataannya metode yang digunakan dalam memecahkan dan menjelaskan problemaproblema filosofis dengan menggunakan metode analisis yang menonjol dari karya pemikiran Thomas ini melalui analisis bahasa terutama analogi dan metafor. Mazhab Modistae . Dalam summa theologiae diungkapkan 'Tangan tuhan menciptakan keajaiban'. 2002:44.

perdebatan antara 'Analogi dan Anomali'. Secara sistematis dapat disusun dasar pemikiran sebagai berikut: Modi essendi Modi intellegendi active Modi sifnificandi active modi intellegendi passivi modi significandi passivi Berdasarkan konsep pemikiran yang dikemukakan oleh kaum Modistae nampaknya pengaruh ilmu pengetahuan dan pemikiran-pemikiran Skolastik yang memberi ciri mencari sebab-sebab universal dan tidak berubah. Sehingga dengan demikian berkembanglah . Mereka menerima analogi. Modi Significandi inilah yang meruakan kunci dalam sistem analisis bahasa kaum Modistae. Dalam konsep pemikiran kaum Modistae ini unsur semantik mendapatperhatian yang utama dan digunakan pula dalam penyebutan definisidefinisi bentuk-bentuk bahasa. Menurut konsep pemikiran kaum Modistae barang-barang atau benda-benda memiliki beberapa ciri khas atau kepribadian yang perlu dibeda-bedakan. epistemologi dan metafisika. Kepribadsian ini disebut 'modessendi' dan pikiran manusia menangkap ini dengan daya pengertian yang aktif yang disebut sebagai 'modi intellegendi activi' yang kepadanya dikenakan pula daya pengertian yang pasif yaitu 'modi intellegendi passiva'. Dalam bahasa pikiran in dialihkan kedalam tanda bunyi (voces) penunjuk yang aktif (modi sifnigicandi activi) dalam bentuk kata-kata (dictiones) dan bagian ujaran (paries orationis) atau sering disebut jenis kata. sehingga dalam konsep pemikiran tersebut mereka mencoba menurunkan kategorikategori tata bahasa dari kategori-kategori logika. Interpretasi ajaran Skolastik akan ajaran-ajaran Aristoteles nampak dengan jelas dalam sistem pemikiran kaum Modistae ini.Kaum Modistae menaruh perhatian terhadap pemikiran hakikat bahasa secara tekun mereka mengembangkan dan nama Mostae muncul karena ucapan mereka yang dikenal dengan 'De Modis Significandi'. Salah satu usaha untuk memastikan semua ini ialah usaha dari kaum Modistae untuk menemukan sumber makna. Mereka pun mengulang pertentangan klasik tentang hakikat bahas 'Fisei dan Nomos'. karena menurutnya bahasa bersifat reguler dan universal.

dan ini memberikan refleksi dari kenyataan yang mendasari dunia fisik. substansi. 1983:57). Persoalan yang timbul adalah bagaimana bahasa dapat merupakan jembatan atau alat bagi pengetahuan yang benar. Dalam konteks ini deskripsi bahasa latin seperti yang dilakukan oleh Priscia dan Donatus dianggap tidak cukup. walaupun secara pedagogis ada manfaatnya. kualitas dan sebagainya. 3. Skolatisisme timbul dari satu kemampuan dan pengabdian intelektual yang matang. Menurut konsep bahasa spekulativa bahwa kata pada hakikatnya tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuknya. Konsep bahasa adalah berasal dari konsep filosofis partes orationis dan dicirikan dalam modus yang menunjuk itu atau modi significandi. Pengertian spekulativa kiranya dapat dijelaskan dengan lebih memperhatikan maksudnya ini. Seorang tokoh yang terkenal pada masa . Dengan ini kaum spekulativa berdasarkan filsafat metafisik mereka ingin mendeskrispikan bhawa semua bahasa mempunyai kesamaan jenis kata dan kategori-kategori gramatikal lainnya. Kata hanya mewakili hal yang adanya benda itu dalam pelbagai cara. Skolatisme sendiri adalah merupakan hasil integrasi filsafat Aristoteles dalam tangan pemikir-pemikir seperti Thomas Aquinas ke dalam teologi. Tugas dari konsep bahasa spekulativa ialah untukmenemukan prinsipprinsip tempat kata-kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada satu pihak dengan intelek manusia dan pada pihal lain dihubungkan kepada benda yang ditunjuk ata yang diwakilinya. Disimpulkan pula kepada bahwa prinsip-prinsip bersifat universal dan konstan. dan hal lini terjadi dengan pendekatan kepada partes orationis. Konsep Bahasa Spekulativa Konsep bahasa spekulativa adalah merupakan hasil integrasi deskripsi bahasa Latin seperti yang dirumuskan oleh Priscia dan Donatus ke dalam filsafat Skolastik. aksi. modus.etimologi dalam zaman ini dan sumber mereka adalah 20 jilid etimologi dari Santo Istidore dari Seville tahun 636 (Parera. Istilah spekulativa berasal dari kata speculum yang berarti 'cermin'.

Demikianlah akhirnya masa kejayaan abad pertengahan memudar di telah waktu dan muncullah masa abad modern yang diawali dengan ”renaissance”. 1983:59). Tidak dpat disangkal. 1983:11). Maka pada zaman Renaissance ini . Pengantar Sejarah pemikiran umat manusia menapak terus dipimpin sang waktu. bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya besar dari pada pemikir dan penulis Yunani dan Latin.itu yaitu Peter Helias yang secara garis besar doktrin Priscia akan tetapi ia selalu memberikan komentar berdasarkan logika Aristoteles. Zaman Abad Modern 1. Di dalam ekalhiran kembali itu orang kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan (Hadiwijono. Secara historis Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya sebgai telah dilahirkan kembali dalam suatu peradaban. namun apa yang telah dilakukan orangorang pada abad pertengahan itu berbeda dengan apa yang dilakukan para humanis pada zaman Renaisance yang tidak mendasarkan pada otoritas teologi. Awal gerakan pembaharuan ini sebenarnya telah dilakukan oleh orang-orang Italia yang dikenal dengan gerakan humanisme yang sebenarnya teah dilakukan sejak abad pertengahan. Secara harfiah kata ’Renaissance’ berarti ’kelahiran kembali’. dan logika ini dipakai sebagai dasar kaidah peraturan bahasa yang benar dalam bahasa zaman itu (Parera. E.gerakan ini ditandai dengan usaha untukmenghidupkan kembali kebudayaan Yunani-/Romawi. Keakraban manusia dalam menafsirkan suara Tuhan sebagaimana dilakukan oleh kaum Patristik dan Sekolastik terutama sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas pada masa abad pertengahan menjadi sirna dengan munculnya kesadaran manusia akan dirinya sendiri. Kaum humanis zaman Renaissance bermaksud untuk meningkatkan perkembangan yang harmonis dan sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan alamiah manusia dengan mengusahakan kepustakaanyang lebih baik dan dengan mengikuti jejak kebudayaan klasik. Kekhusukan manusia dalam mensyukuri karunia Sang Maha Kuasa nampaknya terusik dengan munculnya kegelisahan manusia akan dirinya sendiri.

munculah kebangkitan untuk mempelajari sastra klasik dan penyambutan yang bersemangat atas realitas hidup ini yang bersifat alamiah. Selain itu karena menjadi semakin optimis. Dalam khasanah filsafat orng berpendapat bahwa dalam pengertian ini tiada sedikitpun ikatan kepada satu wibawa apa pun dalam hal kebebasan akal manusia. melainkan diperoleh oleh manusia sendiri karena kekuatan sendiri dengan penelitian-penelitian. Optimisme manusia diarahkan kepada perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkrit. Beberapa tokoh peletak dasr ilmu pengetahuant ersebut antara lain Leonardo da Vinci. Pengetahuan yang pasti bukannya didapat dari pewarisan. Pengenalan akan dirinya sendiri dalam arti mereka mulai sadar akan nilai pribadinya dan akan kekuatan pribadinya. sebab orang merasa kerasan di dunia dan sangat menghargai akan hal-hal yang baik dari hidup ini. Johanes Kepler serta Galileo Galilei. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri. Perhatian itu ditujukan kepada manusia. Seorang tokoh yang meletakkan dasar filosofis untuk perkembangan dalam ilmu pengetahuan adalah Francis Bacon bangsawan Inggris ini mengarang suatu karya yang bermaksud menggantikan teori Aristoteles tentang . kepada hidup kemasyarakatan dan kepada sejarah. Kebanyakan orang berpendaapat bahwa akal tidak bewibawa atas kebenaran-kebenaran keagamaan. Menurut Renaissance dunia diterima seperti apa adanya. Titik tolak yaitu kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian bebas dan wibawa atau tradisi. Manusia mulai menyadari dua hal yang berbeda yaitu dunia dan dirinya sendiri. Menurutnya wahyu memiliki wibawa dalam bidangnya sendiri. Demikianlah lambat laun filsafat mulai meninggalkan kemesraannya dengan teologi.Nocolaus Copernicus. filsafat menjadi lebihbersifat individualistis sehingga sejarah menunjukan kepribadian-kepribadian. karena kebenaran-kebenaran itu hanya dapat dipercaya. Suatu perkembangan yang maha penting dalam zaman itu adalah mulai timbulnya ilmu pengetahuan alam modern berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Dapat juga dikatakan bahwa di samping terdapat pandangan atas dunia alamiah yang murni dan berdiri sendiri terdapat juga jiwa yang murni. Era baru akan penemuan dirinya sendiri oleh manusia ini berakibat manusia merasa terbebas dari kungkungan wahyu.

Terlebih lagi perkembangan filsafat pada abad modern ini ditandai dengan hadirnya masa Aufklarung. Rasionalisme Rene Descartes yang bahkan ia disebut sebagai ”Bapak filsafat modern”. semuanya dapat dipersoalkan tidak terkecuali . Rene Descartes Filsuf yang membuka cakrawala abad modern adalah Rene Descartes sehingga ia layak mendapat gelar ”bapak filsafat modern”. Nama ini diberikan pada masa ini karena manusia mencari suatu cahaya baru dalam rasionya. David Hume tokoh Kritisisme Immanuel Kant serta August Comte sebagai pencetus paham positivisme. yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri. Empirisme antara lain tokohnya adalah Thomas Hobbes. John Locke. Immanuel Kant telah memberikan semacam definisi. Dalam kaitan dengan erkembangan filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. Buku tersebut menjelaskan tentang pengembaraan intelektualnya. Filsuf ini dilahirkan di Prancis dan belajar filsafat pada Kolese di La Fleche. 1989:64). Dalam pengertian ini Voltaire menyebutnya sebagai ”Zaman akal’ (Hadiwijono. 1983:47). 2. Descartes menyatakan bahwa dalam bidnag dak ada sesuatupun yang dianggap pasti. Zaman filsafat abad modern ini muncullah berbagai tokoh pemikir yang mampu mengubah dunia terutama yang kemudian dikembangkan pada ilmu pengetahuan. Ia sebagai seorang filsuf yang inovatif ia tidak merasa puas dengan ajaranajaran filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikannya. Paham-paham tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa terutama dalam pengembanan dasar-dasar analisis bahasa. bahwa Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari keadaan tidak akil balig. Kesalahan dikarenakan manusia tidak mau mempergunakan akalnya. Descartes menyusun satu buku tentang mode yang berjudul ”De cours de la Methode” (1637) yang artinya yaitu uraian tentang metode.ilmu pengetahuan dengan suatu teori baru yang disebut Novum Organon (Bertens.

Konsekuensinya kita harus menghidnarkan diri dari sikap tergesa-gesa dan prasangka. Untuk mencapai kebenaran pengetahuan Descartes bepangkal pada keragu-raguan terhadap segala sesuatu. Hanya pemikiran yang jelas dan terpilah-pilah yang dapat mengajar kepada kita secara sempurna tentang hakikat segala sesuatu dan sifatsifatnya yaitu melalui pengertian-pengertian atau ide-ide yang secara langsung jelas. 1989:45). Pengertian atau ide0idea itu semula dikenal dengan realitasnya sendiri. Oleh karna itu ide-ide juga menjadi alat untuk mengenal hal-hal yang di luar pikiran. Segala sesuatu di luarnya hanya dikenal secara tidak langsung. 1983:22). artinya bahwa gagasan-gagawan atau ide-ide itu seharusnya dapat dibedakan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang lain. Pemikiran Descartes sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa dan bahkan hal ini ditekankan sendiri oleh Descartes bahwa metode yang ia kembangkan itu adalah metode analitis. terkecuali ilmu pasti yang meruakan hasil dari rasio (Bertens. Yang diketahui pikiran secara langsung tanpa melalui perantaraan adalah dirinya semata-mata. Benda-benda di luar kita hanya memberi nilai praktis. Pengamatan indrawi tidak memberi keterangan kepada kita tentang hakikat dan sifat-sifat dunia ke luar kita. Pengamatan indrawi hanya memberi nilai praktis. Ide yang samarsamar itu henya memberitahukan kepada diri tentang perasaan subjek yang mengamatinya. Oleh karena itu untuk mencapai kebenaran pengetahuan yang kedap dengan keragu-raguan tahapan metodenya sebagai berikut : (a) Bertolak dari keragu-raguan metodis bahwa tidak ada yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Pikiran menemukand alam dirinya sendiri ide-ide itu sebgai gagasan-gagasan yang menampakkandiri sebagai pencerminan objekobjek atau sasaran-saaran di luar kita.e mlalui perantaaan. Adapun dalam keputusan-keputusan . Menurut Descartes yang dipandang. Namun keragua-raguan di sini bersifat metodis dan bukannya skiptisisme mutlak.filsafat dan ilmu pengetahuan yang pada saat itu berkembang. Bendabenda di luar kita hanya memberi ide yang samar-samar saja. yaitu keragu-raguan sebagai suatu pandangan. Pengertian yang jelas dan terpilahpilah tadi ternyata benar-benar sesuai dengan apa yang digambarkan (Hadiwijono. sebagai pengetahuan yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah.

sehingga ditemukan suatu kepastian maka dengan demikian tiada lagi keraguan (Bakker.hanya menerima sesuatu yang dilakukan pada akal dengandemikian jelas dan tegas sehingga mustahil untuk disangksikan. dan yang dimaksud fakta daam pengertian ini dalah keberadaan suatu peristiwa (state of affairs). Jadi dari pengertian yang simple dan absolut sampai pada pengertian yang kompleks dan relatif. (c) Sistmatik pikiran dilakukan dengan bertitik tolak dari pemahaman objek dari yang paling sederhana danmudah. Tiada seorang pun dapat menipu saya. atau dengan lain perkataan bhawa kedua pemikiran tesebut sama-sama menggunakan metode analitis dalam mengungkapkan kebenaran. manakala kiranya perlu untuk pemecahan yang memadai. (d) Akhirnya sampailah pada tinjauan permasalahan yang bersifat universal. berangsur-angsur tahap demi tahap sampai pada pengertian yang lebh kompleks. bahawa saya berpikir danoleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu maka aku berada (Hadiwijono. Memang segala sesuatu yang dipikirkan dapat saja tentang khayala. dibagikandalam sebanyak mungkin bagian. Realitas tersusun atas fakta-fakta dari fakta atomik sampai pada fakta yang bersifat kompleks. aka tetapi aku berpikir bukanlah khayalan. Atomisme logis dalam memecahkan problema-problema . Pemikiran Atomisme logis yang menjelaskan realias melalui bahasa logik yang diungkapkan melalui proposisi-proposisi. 1984:74-78). Doktrin Descartes tentang cogito ergo sum yang ditindaklanjuti dengan keragu-raguan metodis beserta langkahnya untukmendapatkan kebenaran pada hakikatnya adalah menerapkan metode yang besifat analitik dan hal itu dikemukakan sendiri oleh Descartes. Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan menurut Descartes yaitu bahwa ’cogito ergo sum’ aku berpikir dan oleh karena itu aku ada’. 1983:21). Proposisi atomik adalah mengungkapkan fakta atomik. Namun demikian terdapat perbedaan di antara keduanyayaitu. Terdapat kesamaan antara metode Descartes dengan metode Atomisme logis yaitu keduanya menggunakan metode analitis. Langkah-langkah metodis ini nampaknya memiliki kemiripand engan metod eyang dikembangkanoleh tokoh-tokoh Atomisme logis. (b) Semua bahan danepsoalan yang diteliti.

dalam memberikan dasar-dasar ilmiah. sehingga sampai pada suatu putusan. Francis Bacon telah menerapkan prinsip-prinsip empirisme namun Bacon tidak mengembangkan suatu ajaran yang lengkap melainkan dalam bentuk pengembangan pada aplikasi di bidang ilmu pengetahuan empiris. Adapun Rene Descartes melalui pendekatan ontologik yaitu ’cogito ergo sum’ ’aku berpikir oleh karena itu saya ada’ dan pencapaian tidak didasarkan padaanalisis logis namun didasarkan pada intuisi dan akal murni. Walaupun sebelum Hobbes. Menurut Hobbes filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ilmu. Thomas Hobbes termasuk filsuf yang unik dan kreatif yaitu menyatukan pandangan emirisme dengan rasionalisme dalam suatu sitem filsafat materialisme. Thomas Hobbes adalah filsuf Inggrus pertama yang mengembangkan aliran empirisme. Biarpun demikian ia menerima juga prinsip metode yang dipakai dalam ilmu-ilmu alam sebagaimana dikembangkan oleh Bacon yaitu metode empiris matematis. Thomas Hobbes Perkembangan pemikiran filsafat setelah masa rasionalisme Descartes adalah paham empirisme. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati. baik yang berkaitan dengan pemikiran filsafat analitik maupun terhadap perkembangan pemikiran hakikat bahasa yang merupakan dasar-dasar perkembangan ilmu linguistik periode berikutnya.filosofis menggunakan analisis logis tentang ungkapan-ungkapan filsafat. sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat. 3. . Paham rasionalismenya dikembangkan oleh para tokoh filsafat analitik yang mengungkapkan konsepkonsep tentang proposisi antara lain proposisi formal yang bersumber pada rasio manusia.w alaupun titik tolak pemikiran Descartes adalah pada rasio. Demikianlah kiranya Rene Descartes selain sebagai bapak filsafat modern ia juga sebagai peletak dasar-dasar filsafat analitik. atau tentang penampakan-penampakan yang sedemikian sebagaimana yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Pemikiran filsafat materialisme sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa.

Sebenarnya masih terdapat filsafat Hobbes yang justru paling populer yaitu konsepnya dalam bidang filsafat politik dan salah satu karya besarnya adalah ”Leviathan” (Bertens. 1983:32). Segala yang ada ditentukan oleh sebab. terutama atomisme logis dan positivisme logis. Di dalam proses pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bntuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta-fakta bahkan menurut positivisme logis.tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata. yang hukumnya sesuai dengan hukum alam dan ilmu pasti. Adapun instrumennya adalah pengertianpengertian yang diungkapkan melalui bahasa yang menggambarkan fakta-fakta itu. Kedua. Demikianlah kiranya filsafat Hobbes nampak ciri-ciri empirisme. yang nyata menurutnya adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu.yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Hobbes memberikan dasar-dasar ini karena dalam empirisme Hobbes ajuga mengangkat otoritas rasio (logika) dan fakta. Demkian sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. waktu bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. empirisme Hobbes memberikan warna bagi penentuan sistem logika bahasa filsafat analitik yaitu proposisi meliputi pengertian proposisi empiris (atau faktual) yaitu proposisi yang mengungkapkan realitas empiris (yaitu yang . Ketiga. Walaupun tidak secara langsung pengaruh Hobbes terhadap berkembangnya filsafat bahasa. bahwa ungkapan yang bermakna adalah yang dapat diverifikasi secara empiris. 1989:51). Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian ruang. menurut Hobbes fakta-fakta itu diungkapkan dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Segala gejala pada benda-benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada subjek. dan hal ini dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis dalam mengungkapkan realitas melalui bahasa yang didasarkan pada logika. rasionalisme dan meaterialisme (Hadiwijono. ajaran empirisme Hobbes memberikan warna bagi berkembangnya pahampaham filsafat analitika bahasa. namun demikian sebenarnya berdasarkan ajaran-ajaran yang dikembangkanya terdapat tiga hal yang mempengaruhi berkembangnya filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. Pertama. Dunia adalah suatu keseluruhan sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. Menurut Hobbes.

Ia menentang teori rasionalisme mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandag sebagai bawaan manusia. merangkumkannya dan menajdikannya bersifat . Menurut Locke segala pengetahuan datang dari pengalaman yang tidak lebih dari itu. Jikalau beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri. 4. Selain dari substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertian tentang keadaan atau modi tentang hubungan-hubungan. namun diperolehnya dri luar akal melalui indera (Hadiwijono. yang timbulnya karena pengalaman-pengalaman lahirian (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection) yang berada dalam psikis manusia. namun ia menentang ajaranajaran pokok Descartes. subjek menamggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk hal yang sama. yang berdiri sendiri yang disebut substansi. dan proposisi formal yang bersumber dari rasio manusia dan memiliki kebenarannnya yang bersifat tautologis. 1989:51). Akal atau rasio bersifat pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. menggabungkannya. Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan atau ide-ide.berasal dari pengalaman indra). 1983:36). Walaupun Locke menggabungkan beberapa pemikiran Descartes. tanpa pengeolahan logis apapun. Semula akal semacam secarik kertas yang putih bersih ’as a white paper’ tanpa tulisan dan seluruh isinyaberasal dari pengalaman inderawi manusia (Bertens. Gagasan tunggal datang langsung dari pengalmaan. Akal tidakmelahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal. adapun gagasan majemuk timbul dari percampuran atau penggabungan gagaan-gagasn tunggal. John Locke Pemikiran empirisme John Locke merupakan sistesis rasionalisme Rene Descartes dengan empirisme Thomas Hobbes. Gagasangagasan dibedakan atas gagasan tunggal (simple ideas) dan gagasan majemuk (complex ideas). Tugas rohmanusia terbatas pada memberi sebutan kepada gagasan-gagasant unggal gadi.

Dari gagasan-gagasan itulah timbul isi pengetahuan kita yang bermacam-macam sekali. Segala gejala psikis yang disaksikan oleh kesadaran kita tampil sebagai kenyataan bagi manusia. (c) dalam bentuk koeksistensi atau berada bersamasama. Pengenalan manusia adalah pengenalan tentang gagasan-gagasan atau ide-ide yaitu kesankesan yang dimiliki subjek yang mengenal. Segala putusan terjadi di kawasan roh.umum. Putusan itu dapat benar. tetapi dapat juga salah. dan (d) dalam bentuk kenyataan. pembuktian kurang memberi kepasatian dibanding dengan intuisi (Hadiwijono. Sasaran kesesuaian manusia adalah gagasan semata-mata. Jadi bahasa yang tersusun atas kata-kata berfungsi sebagai tanda bagi suatu isi kesadaran manusia. Pengetahuan umum adalah suatu sebutan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan mejumuk dri rumpun yang sama. ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan tunggal dan kesesuaianya dengan kenyataan di luar kita (misalnya mengenai sifat primer dan sekunder) dan ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan kompleks dan kesesuaiannya dengan kenyataan (dalam hal ini khususnya timbul soal yang mengenai substansi). sehingga dalam hubungannya dengan pemikiran filsafat analitika bahasa empirisme Locke banyak memberikan sumbangan terutama . Empirisme John Locke lebih memiliki sifat analitis dibandingkan dengan Thomas Hobbes. Gagasa-gagasan itu kita kenal dalam kesadaran seerti keadaanyang sebenarnya. etika). Bagaimanapun bentuknya gagasangagasan itu senantiasa dihubungkan dengan yang lain dalam suatu putusan. Apakah gagasanyang satu ada persesuannya dengan gagasan yang lain dapat muncul dalam beberapa bentuk antara lain : (a) dalam bentuk identitas atau perbedaan. Gagasan tunggal dari pengalaman lahiriah semuanya adalah benar sejauh gagasan-gagasan itu disebabkan oleh realitas yang ada di luar subjek serta menghadirkan realitas itu dalam kesadaran kita. 1983:36). Segala kepastian dan kejelasan dalam pengetahuan bersandarkan intuisi. Gagasan-gagasan tunggal dari pengalmaan batiniah adalah objektif. Pengamatan tentang dua gagasan tunggal yang ada atau yang tidak ada persesuaiannya dinyatakan didalam suatu putusan. (b) dalam bentuk hubungan. Putusan yang benar diperoleh karena pengalaman intuitif. Ada putusan yang hanya mengenai pengetahuan tentang gagasan-gagasan kita (ilmu pasti.

Sebagaimana kita pahami Locke menyatakan tentang adanya substansisubstansi material dan hal ini ditolak oleh Berkeley. Hal ini sesuai dengan konsep Locke tentang ide-ide yang sederhana dan ide-ide yang kompleks. Berkeley dalam konsep-konsep pemikiran filosofisnya sebenarnya meneruskan tradisi Locke namun dalam kesimpulan serta dasar-dasar metafisiknya berbeda. karena ia menyangkal adanya suatu dunia yang ada di luar kita. 1989:52). Keyakinan asasu menurutnya adalah sebagai berikut : (a) segala realitas di luar manusia adalah tergantung kepada kesadaran. Berdasarkan ciri metafisiknya pemikiran Berkeley ini bermuara pada aliran idealisme. elementer atau sederhana yang melukiskan fakta elementer (atomis) serta proposisi kompleks yang melukiskan fakta yang kompleks pula. sebab pengamatan adalah identik . (c) tidada perbedaan antara gagasan pengalaman batiniah dengan gagasan pengalaman lahiriah. Jastifikasi pengetahuan empiris juga memiliki kesamaan dengan justifikasi proposisi menurut konsep analitika bahasa yaitu keduanya bukan hanya sampai pada klarifikasi melainkan sampai pada putusan. Dalam kaitannya dengan bahasa isi pengetahuan yang timbul dari gagasangagasan manusia diungkapkan melalui bahasa. George Berkeley Filsuf kelahiran Irlandia ini pernah menjadi uskup Anglikan di Cloyne. adapun menurut filsafat analitik yang diungkapkan melalui bahasa adalah fakta. Ia berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material di luar kita. atau pengalaman dalamroh saja sehingga pemikiran Berkeley ini dikenal secara luas dengan aliran yang disebut ”imaterialisme’ (Bertens.dasar-dasar fakta empiris beserta bentuk susunan gagasan-gagasan. Namun perbedaannya bahwa Locke tidak menentukan susunan gagasan-gagasan atau ide-ide itu berdasarkan pada sistem logika seperti yang dilakukan oleh atomisme logis maupun positivisme logis. (b) tiada perbedaan antara dunia rohani dan dunia bendawi. Dalam konsep filsafat analitika bahasa dikenal konsep proposisi. 5. yang ada hanyalah ciriciri yang diamati. yang tersusun atas prinsipprinsip logika sehingga menentukan bermakna atau tidaknya ungkapan tersebut.

Sifat pengamatan adalah kongkrit. dunia dan lains ebagainya yang lazim dikenal metafisika (Hadiwijono. dan (d) tiada sesuatu yang berada kecuali roh. melainkan hubungan antara pengamatan indera yang satu dengan pengamatan indera yang lain. Tiada pengertian umum seperti umpamanya substansi. Isi itu bukan pengertian-pengertian umum yang abstrak yang bersifat individual. David Hume . juga memiliki sisi positif yang dikembangkan oleh positivisme logis yaitu pengamatan yang kalau menuntut istilah positivisme logis adalah sebagai prinsip verifikasi. artinya isi yang diamati adalah sesuatu yang benar-benar dapat diamati. benda. dengan penggabungan bagian-bagian gambaran yang diamati. Objek adalah gagasan-gagasan atau ide-ide. sehingga realitas objek yang diamati pada hakikatnya terletak pada pengamatan itu sendiri. Pengamatan terjadi bukan karena hubungan antara subjek yang mengamati dengan objek yang diamati. yaitu ide-ide yang disebabkan karena pengamatan indera yang langsung disebabkan pengamatan batiniah. 6. Demikian juga objek itu pad ahakikatnya disebabkan pengamatan karena pengamatanpengamatan yang ditambah ingatan dan fantasi atau khayalan. yang dalam realitasnya yang bersifat kongkrit dikenal dngan pribadi-pribadi (Hadiwijono. Titik tolak pemikiran Berkeley terdapat pada pandangannya dibidang teori pengenalan. Apa yang berada secara umum hanya berada sebagai nama saja. 1983:51). Pengamatan adalah identik degangagasan yang diamati. karena prinsip utama para filsuf analitis adalah penolakannya terhadap metafisika. Jadi hanya gagasan-gagasan yang kongkritlah yang dapat dipakai sebagai untuk memikirkan gagasan-gagasan konkrit lainnya yang bermacam-macam itu. Pemikiran Berkeley di samping secara substansial sebagai pangkal penolakan kalangan filsuf analitika bahasa karena dasar metafisisnya yang bersifat ’imaterialis’. Sesuatu yang kita amati adalah kongkrit. 1983:50).dengan gagasan yang diamati. Hanya pengamatanlah yang ada. Menurutnya segala pengetahuan kita bersandar pada pengamatan.

1977:9-13). Kuasa kesan-kesan ini memang . sehingga kesan atau ide adalah sama. Sebenarnya sebagian umat manusia mendasarkan pendapatnya atau pengetahuannya. atas hal-hal yangd iterimanyatidak secara langsung. Menurut Hume bahwa manusia tidakmembawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya dan sumber pengetahuan adalah pengamatan.Dalam sejarah filsafat Inggris. Yang dimaksud dengan kesankesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. Ide atau pengertian adalah sebagai tembusan atau copy dari kesan-kesan. yang satu secara langsung yang lain dengan perenungan kembali (Hume. Perbedaannya terletak pada caranya ditimbulkan dalam kesadaran. dan lainlain. yang kita terima secara tidak langsung misalnya gagasan yang menyenangkan atau yang menyedihkan dari pertemuan dengan teman. yang melalui ide-ide atau pengertian-pengertian . Yang termasuk dalam ide yang keadaannya redup. Rasa sakit pada bagian tubuh yang sedang luka dirasakan lebih kuat dibanding dengan kemudian jikalau rasa sakit itu direnungkan kembali. itulah sebabanya manusia sering ragu-ragu. Sumber asal ide-ide itu adalah kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman. yaitu kesan-kesan atau ’impression’ dan pengertianpengertian atau ide-ide yang disebut ’ideas’. tradisi pemikiran empirisme yang paling konsekuen dan radikal adalah pemikiran David Hume. yang menampakkan diri dengan jelas hidup dan kuat. jika kita berhasil menemukan kembali sumber-sumber asal ide-ide atau pengertian-pengertian itu. kacau dan lain sebagainya. yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman manusia. Menurut Hume yang dimaksud dengan pengertian atau ide adlaah gambaran tentang pengalaan yang redup sama-samar. Sebagaian besar pendapat manusia sebenarnya tidak bermakna karena kesalahan pengenalan. Bilamana akal kita diperoleh kesan-kesan yang demikian itu. Akan tetapi segala kekaburan dan kekacauan akan hilang. baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. Ide kurang jelas dan kurang hidup jika dibandingkan dengan kesan-kesan. Ia memang mengembangkan ajakan Locke dan Berkelay yang diolahnya secara cermat sehingga merupakan pandangan empirisme yang amat fanatik dan tajam. Pengamatan memberikan dua hal. samar-samar dan tidak pasti adalah segala hal apa saja. barulah kita mengetahui hal yang sebenarnya.

Jadi aku sebenarnya bukanlah merupakan suatu substansi yang berdiri sendiri karena tidak dapat diamati secara langsung. Secara metafisik Hume menentang aku menurut Descartes maupun Berkeley yang menyatakan aku sebagai substansi roh.kita percaya bahwa di dalam kesan-kesan itu pengalaman kita bukan lagi hal-hal yang menyesatkan dan salah. sehingga sebenarnya merupakan susunan kesan-kesan atau komposisi kesankesan yang diterima manusia. dan sebenarnya yang diamati hanyalah kesan-kesan belaka. Ia tidak pernah menjumpai kesan aku yang berdiri sendiri. Dengan ungkapan lain Hume menolak secara radikal realitas metafisis yang tidak didasarkan pada fakta empiris. kesan-kesan serta ide-ide. Oleh karena itu yang disebut ”aku sebenarnya merupakan suatu komposisi atau susunan kesan-kesan tadi. pengharapan. dan keyakinan yang demikian inlah menurut Hume disebut ’kepercayaan’. tidak pernah ia mengamati aku itu. Aspek inilah yang merupakan inspirasi kalangan filsuf analitika bahwa terutama paham atomisme logis dan positivisme logis. Susunan logis proposisi ini nampaknya memiliki kesamaan dengan konsep susunan kesan- . Di dalam diri kita tiada hal yang lain kecuali kemarahan. kesenangan dan lain sebagainya. Hume juga memiliki andil yang besar terhadap konsep dasa proposisi terutama paham atomisme logis.tidak dapat kita andalkan sepenuhnya. di mana segala keragu-raguan dilarutkan kedalam kepastian. Proposisi yang sederhana mengungkapkan fakta yang sederhana atau elekmenter. ketakutan. Dalam kepercayaan itu kita mendapatkan pengetahuan langsung. Ungkapan-ungkapan metafisis yang dikemukakan oleh kaum idealisme itu sebenarnya tidak menyatakan fakta apa-apa oleh karena itu sama sekali tidak bermakna atau nirarti. adapun proposisi yang kompleks mengungkapkan fakta yang kompleks. walaupun pada sisi lain ia mendasarkan pandangan matafisiknya pada eksistensi pengamatan. tanpa ada satu pengamatan yang lain. yang menjelaskan bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta yaitu suatu keberadaan peristiwa. Menurut Hume. Mereka secara lantang menyatakan menentang dan menolak ungkapanungkapan metafisika. kekacauan. Bagi pengamat idealisme yang fanatik nampaknya pemikiran Hume diasakan terlalu keras dan radikal.

Selain itu prinsip verifikasi empiris yang dikembangkan oleh positivisme logis nampaknya meruakan hasil jasa baik dari Hume. 1983:63). Halliday. Menurut Russel particularia adlaah merupakan hasil persepsi kongkrit individual. 1984:86). Chornsky dan tokoh-tokoh lainnya. Demikian juga pengakuan tentang realitas empiris sebagai dasr pemikiran filosofisnya nampaknya merupakan sumbangan yang berharga atas pemilahan proposisi menurut positivisme logis yaitu proposisi formal dan faktual atau empiris. Kant berusaha untuk melakukan suatu sintesis baru terhadap suatu pemikiran filsafat yang pada saat itu berkembang yatiu paham rasionalisme dan empirisme (Hadiwijono. Menurutnya Kritisisme adalah . 7. Pemkiran empirisme inilah yang memberikand asar-dasar yang sangat kokoh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada metode ilmiah. Pengaruh pemikiran empirisme juga sangat kuat terhadap filsuf bahasa yang membahas dan mengembagkan pengertian hakikat bahasa terutama dalam kaitannya dengan perkembangan linguistik modern yang mengakui hakikat realitas bahasas ebagai suatu realitas empiris. Egocentric particular adalah merupakan pengalaman individual (Heraty. Immanuel Kant Munculnya pemikiran filsuf Jerman ini menandai suatu era baru dalam bidang perkembangan filsafat.kesan serta ide-ide yang sederhana dan yang kompleks menurut Hume yang dikembangkan dalam proses yang disebut pengenalan. tokohnya antara lain Ferdinand de Saussure. Demikianlah kiranya tradisi empirisme yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan filsafat bahasa. Pemikiran Kant tersebut dikenal dengan paham ”kritisisme”. Bloomfield. Konsep particularia.a dapun universalia adalah menunjuk pada sifat atau hubungan. universalia dan egocentric particular yang dikembangkan oleh Russel adalah merupakan hasil pengolahan lebih lanjut konsep Hume tentang teori pengenalan. Russel yang juga setia pada tradisi empirisme nampaknya mengembangkan lebih lanjut konsep Hume terutama doktrin pengenalannya pada atomisme logis.

1989:59). Dahulu para filsuf mencoba mengerti akan pengenalan dengan mengandaikan bahwa subjek mengarahkan diri pada objek. yang berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman misalnya ’ide-ide bawaan’ ala Descartes.filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriorinya. karena menurut pendapatnya filsuf-filsufnya sebelumnya adalah bersifat dogmatisme. Menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme sebenarnya keduaduanya bersifat berat sebelah. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. namun ia tidak menyetujui spektisisme yang dikembangkan Hume yang menyimpulkan bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak dapat mencapai suatu kepastian. Kritik atas Rasio Murni Kritisisme Kant sebagai suatu usaha raksasa untuk menjembatani rasionalisme dengan empirisme. Kant adalah filsuf yang pertama yang mengembangkan penyelidikan ini. Walaupun Kant seangat mengagumi empirisme Hume yang bersifat radikal dan konsekuen. Sebagaimana ditetapkan oleh Copernicus bahwa bumi berputar sekitar matahari dan tidak sebaliknya. Padahal sebagaimana diketahui bersama bahwa pada masa Kant sudah menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan yang telahdihasilkan oleh beberaa ilmuwan mampu menemukan dalil atau hukum-hukum yang sifatnya berlaku umum. demikianlah pula . berarti hanya unsur-unsur yang berasal dari pengalaman sebagaimana dikemukakan Locke dan Hume. karena mereka hanya percaya secara mentah-mentah pada kemampuan rasio tapa menyelidiki terlebih dahulu. Kant yang dalam prestasi pemikirannya mampu mengubah wajah dan paradigma filsafat membedakan dan mempertentangkan antara dogmatisme dengan kritisisme yang dituangkan dalam karya besarnya yang sangat terkenal pada abad itu (Bertens. Kant berupaya mengembangkan pengenalan dengan berpangkal pada suatu anggapan bahwa objek mengarahkan diri pada subjek.

a. Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu. 1989:60). Selain itu terdapat pula putusan yang bersifat apriori namun bersifat sintetis juga. 1983:65). 1989:60). Ia berpendapat bahwa dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori. putusan ini berlaku umum dan mutlak. misalnya ”segala kejadian ada sebabnya”. Kedua-duanya merupakan bentuk apriori dari pengenalan inderawi (Bertens. Kita hanya mengenal gejalagejala. memang terdapat suatu realitas yang terlepas dari subjek. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan-putusan yang memberi pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak dan bersifat umum (a priori). misalnya ”logam mengembang”. yang selalu merupakan suatu sintesis antara hal-hal yang datang dari luar dengan bentuk ruang dan waktu (Bertens. harus juga dapat kerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang apriori. Unsur apriori memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Putusan ini disebut putusan sintetis dan diperoleh secara aposteriori. namun bersifat sintesis (Hadiwijono. unsur apriori itu sudah terdapat pada taraf indera. Maka ilmu pengetahuan menurut adanya putusan-putusan apriori yang bersifat sintetis. Demikianlah pula waktu tidak merupakan suatu arus tetap. Menurut Kant pengenalan itu bersandar pada putusan. Jadi ruang tidak merupakan ’ruang pada dirinya’ (ruang an sich). 1989:61). Ilmu pasti sebenarnya tersusun atas dasar putusan a priori yang bersifat sintetis. yang terdiri atas subjek dan predikat. Akan tetapi ’das ding an sich’ selalu tinggal X yang tidak dikenal. Menurut Kant. Suatu putusan menghubungkan dua pengertian. . Oleh karena itu suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabakan secara ilmiah.Kant berupaya memperlihatkan pemikirannya yang substansial bahawa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek (Bertens. Pada Taraf Indra Pengenalan merupakan sintesis antara unsur apriori dengan unsur aposteriori. Kant menyatakan bahwa memang ada ’das ding an sich’ (bendabenda pada dirinya sendiri). Oleh karena itu perlu pertama-tama diadakan penelitian terhadap suatu keputusan. yaitu ruang dan waktu. ’the thing in itself’. di mana penginderaan-penginderaan bisa ditempatkan.

keperluan/kebutuhan (Hamersma. negasi (pengingkaran). Bentuk apriori ini dinamakan Kant dengan ’kategori’ (Bertens. 4) Kateogri modalis. terdiri atas : mungkin/tidak. Pada taraf rasio Tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data inderawi. hypothetis (sebab dan akibat). dan universal (umum). limitasi (batas-batas). Menurut Kant terdapat empat kategori sebagai berikut : 1) Kategori kuantitas.b. Kant memperlihatkan bhawa rasio membentuk argumentasi- . Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah apriorri yang terdapat dalam akal budi. Pada taraf akal budi Kant membedakan akal budi (verstand) dengan rasio (vernunft). 1989:61). ada/tiada. terdiri atas : categories (tidak bersyarata). terdiri atas : realitas (kenyataan). sehingga terpaksa manusia memikirkan data-data inderawi sebagai substansi atau menurut ikatan kategori yang lainnya. Akal budi memiliki struktur yang sedemikian rupa. 3) Kategori relasi. dengan lain perkataan akal budi menentukanputusan. Suatu hal yang inovatif dalam pemikiran kant dalam masalah ini adalah nampak adanya upaya untuk mensintesiskan antara rasionaisme dengan metafisika. disjuctif (saling meniadakan). terdiri atas: singuler (satuan). Dengan lain perkataan. c. rasio mengadakan argumentasi-argumentasi seperti halnya akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusanputusan. 1983:30). Dengan demikian Kant telah menjelaskan sahnya pengetahuan alam. 2) Kategori kualitas. partikuler (sebagian. Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk dan materi.

dunia dan Allah. kategorikategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide. Tetapi tentang kebebasan kehendak.argumentasi itu dengan dipimpin oleh tiga ide yaitu jiwa. immoralitas jiwa dan adanya Allah. atau dengan lain perkataan rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. immoralitas. Mislanya barang kepunyaan orang lain harus dikembalikan atau secara negatif berupa larangan untuk tidak menyakiti orang yang tidak bersalah. sehingga rasio disebut ’rasio teoritis’ atau menurut istilah Kant disebut ’rasio murni’. tetapi ketiga ide tadi tidak termasuk pengalaman kita. sekalipun metafisika berusha yang sedemikian. yaitu kebebasan kehendak. jiwa dan adanya Allah kita sama sekali tidak . Dengan ide Kant memaksudkan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan terakhr dalam bidang gejala-gejala psikis (jiwa). Kritik atas Rasio Praktis rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan. Tetapi dengan hal itu metafisika melewati batas-batas yang ditentukan untuk pengenalan manusia. Adanya Allah dan immortalitas jiwa tidak dapat dibuktikan. harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Karena kategori-kategori kal budi hanya berlaku untuk pengalaman. Tetapi harus diinsyafi bahwa ketiga hal itu tidak dibuktikan. melainkan hanya dituntut. Ketiga ide tersebut mengatur argumentasi-argumetnasi kita tentang pengalaman. Jadi apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis. Tetapi justru itulah yang diusahakan oleh metafisika misalnya upaya dalam bidang metafisika untuk membuktikan bahwa Allah adalah sebagai penyebab pertama alam semesta. Usaha metafisika itu sia-sia dan hal itu dibuktikan oleh Kant bahwa bukti-bukti adanya Allah yang diberikan dalam filsafat praktis semuanya kontradiktoris (Bertens. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak (imperatif kategoris). 1989:62). Tetpai di samping itu terdapat juga ’rasio praktis’ yaitu rasio yang mengatakan a pa yang harus kita lakukan. Menurut Kant terdapat tiga hal yang harus diandaikan agar tingkah laku kita tidak menjadi mustahil. Itulah sebabnya Kant menyebut sebagai ”ketga postulat dari rasio praktis”. dan dalam bidang segala-galanya yang ada (Allah). dalam bidang kejadiankejadian jasmani (Dunia).

Positivisme August Comte Pada abad ke-19 timbullah aliran filsata yang menandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu metafisika ditolak. Segala uraian atau persoalan yang berada di luar apa yang ada sebagai fakta dikesampingkan. Ap ayang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak. ke arah yang akan nampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri dngannya. segala hal yang bersifat empiris dan segala gejala. Bilamana diamati ajaran positivisme terutama dalam kaitannya dengan pengenalan pengetahuan masih memiliki kesamaan-kesamaan prinsip terutama . yang secara etimologis berasal dari kata ’positif yang secara harfiah berarti yang diketahui. Menerima ketiga postulat tersebut dinamakan Kant sebagai kepercayaan (Bertens. dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. Akhirnya dengan berpangkal pada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat masa depan. Arti segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan. yang kita terima sebagaimana apa adanya. sedangkan hubungan-hubungan tetap yang tampak pada urutannya disebut ’hukum’. Yang harus diusahakan manusia adalah menentukan syarat-syarat di mana fakta-fakta tertentu tampil dan menghubungkan faktafakta itu menurut persamaannya dan urutannya.mempunyai pengetahuan teoritis. Aliran itu terkenal dengan nama ”Positivisme”. Maka tiada gunanya untuk menanyakan pad tingkat hakikatnya atau kepada sebab-sebab yang sebenarnya dari gejala-gejala itu. Hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan disebut ’pengertian’. Jadi kita hanya dapat menyatakan atau mengkonstatir fakta-faktanya. Setelah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum-hukum tertentu. 1989:62). yang faktual atau yang positif. yang faktual empiris bahkan dapat juga berarti teruji atau teramati. Demikianlah positivisme membatasi filsfat dan ilmu pengetahuan pada bidang gejala-gejala saja. Menurut Aliran positivisme bahwa pengetahuan berpangkal dari apa yang telah diketahui. 8. Apa yang dapat kita lakukan adalah segala fakta yang menyajikan diri kepada kita sebagai penampakan atau gejala.

2) Zaman Metafisis . tetapi manusia percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk insani yang biasa. termasuk juga pengertian kawasan ide atau gagasan yang bersifat batiniah. zaman metafisis dan zaman positif atau zaman ilmiah. 1) Zaman Teologis Pada zaman ini manusia percaya bahwa di balik gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. 1983:109). dewa matahari dan lain sebagainya yang disebut (politeisme). Ketiga zaman tersebut meliputi: zaman teologis. Bagi Comte perkembangan menurut tiga tahap atau tiga zaman tersebut merupakan suatu hukum yang tetap. Demikianlah doktrin positivisme yang periode-periode berikutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada abad XX. manusia percaya kepada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu dunianya sendiri-sendiri misalnya. taraf berikutnya. Namun perbedaan yang pokok adalah positivisme menolak dengan tegas metafisika. Zaman teologis sendiri dibagi atas tiga periode yaitu : taraf yang paling primitif yaitu benda-benda sendiri dianggapnya berjiwa (animisme). baik manusia perorangan maupun umat manusia sebagai keseluruhan. Kekuasaan ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia. Pemikiran August Comte Ajaran Comte yang paling terkenal adalah tiga tahap perkembangan pemikiran manusia. Adapun pada taraf lebihtinggi lagi manusia memandang satu Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu (monoteisme).dalam hal mengutamakan pengalaman empiris. Positivisme hanyamembatasi diri pada pengalaman-pengalaman objektif dan tanpa melibatkan pengalamanpengalaman batiniah (Hadiwijono. dewa laut. dewa gunung.

2002:53-76).Dalam zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak. BAB III . pandangannya tentang ilmu pengetahuan dengan segala dasar-dasar epistemologinya dapat dikatakan hampir keduanya memiliki kesamaan (Kaelan. Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman metafisis ini. bahkan positivisme logis ingin menghilangkan metafisika. Dalam karitannya dengan ilmu pengetahuan Comte juga memberikan uraian-uraiannya yang kiranya sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan pada abad XX. hanya perbedaannya positivisme logis menekankan pada analisis konsep filosofis melalui bahasa serta positivisme logis lebih menekankan kepada prinsip verifikasi. seperti misalnya ’kodrat’ dan ’penyebab’. Dasar-dasar verifikasi. Pemikiran positivisme ini memberikan dasar pijak bagi paham filsafat analitik terutama kelompok Wina atau Kring Wina yang menamakan dirinya sebagai paham positivisme logis. Baik positivisme maupun positivisme logis keduanya menolak dengan tegas tentang metafisika. 3) Zaman Positif Pada zaman ini sudah tidak lagi dicari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Konsep-konsep metafisika seperti substansi. Manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Seluruh pandangan positivisme diangkat oleh positivisme logis. 1989:73). Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionaya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau uruturutan yang terdapat di antara fakta-fakta. Baru dalam zaman terakhir inilah manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenanrya atau disebut ilmu pengetahuan modern (Bertens. aksidensia dan lain sebagainya menjadi penting pada zaman ini.

Menurut Herakleitos. Objektivitas kebenaran filosofis perlu diungkapkan dalam suatu analisis bahasa secara diakletis dan dengan didasarkan pada dasar logika. dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki temapat yang sentral. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. bahkan sejak zaman pra Sokrates. PENGANTAR Perhatian filsafat terahadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini. Pada zaman Sokrates.FILSAFAT ANALITIKA BAHASA A. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa ‘kata’ (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Demikian juga perhatian yang amat besar terhadap bahasa juga dikembangkan oleh Plato maupun Aristoteles. Sokrates dalam berdialog ilmiah dengan kaum sofis menggunakan analisi bahasa dan metode yang dikembangkan dikenal dengan metode ‘dialektis kritis’. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan ‘jangan dengar aku’. perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. 2944: 170). dunia idea dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Demikian sehingga pemikiran Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang melakukan bahasa sebagai objek kajian filsafat (Casseirer. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata komis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawai. bahkan tentang hakikat bahasa itu sendiri menjadi topic perhatian utama. bahasa bahkan menjadi pusat perhatian filsafat ketika retorika menjadi medium utama dalam dialog filosofis. . ia mencari prinsio perubahan. ‘dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa bergeser benda itu satu’.

Ketika para penganut aliran-aliran filsafat modern bertikai memperdebatkan tentang hakikat kebenaran segala sesuatu.Kekhusuan manusia dalam mengagungkan sang Maha Kuasa pada abad pertengahan juga diungkapkannya melalui ungkapan manusiawi yaitu bahasa. padat dan sangat beragam. Peranan rasio. bahkan yang paling radikal kaum positivism logis ingin menghilangkan metagisika. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal. Kaum Patristik dan Skolastik mengemukakan pemikirannya tentang teologi berupaya untuk mendeskripsikannya secara ontologik dengan menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa. kalangan filsuf analitika bahasa sadar bahwa sebenarnya problem-problem filsafat itu dapat dipecahkan. dijelaskan dan diuraikan dengan menggunakan analisis ungkapan-ungkapan filsafat. Para filsuf analitika bahasa melihat banyak ungkapan-ungkapan filsafat misalnya ungkapan-ungkapan metafisis dari kaum idealism. indera dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. atau melalui suau analisis bahasa. rasionalisme maupun intuisionisme sebenarnya tidak bermakna atau dengan lain perkataan filsuf analitika bahasa menolak dengan tegas ungkapan-ungkapan metafisis. Bilamana kita kaji dalam sejarah filsafat timbulnya filsafat analitika sebagai suatu ketidakpuasan terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern pada saat itu. karena dasar-dasar filosofisnya yang cukup rumit. sehingga mampu menjembatani antara realitas Tuhan yang bersifat adikodrati dengan realitas makhluk yang bersifat terbatas. Terutama Thomas Aquinas telah mengangkat teologi ke tingkat ilmiah filosofis sehingga mampu menjebatani teologi ketingkat ilmiah filosofis. . aliran epirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran materialism dan kritisme Immanuel filsafat analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realitas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa. Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. Memang banyak bahasa itu sulit ditentukan ahli filsafat dan kalangan historia bahwa filsafat bahasa itu sulit ditentukan batasan pengertiannya terutama filsafat analitika bahasa.

juga terdapat filsuf-filsuf kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala untuk sampai pada suatu kebenaran yang hakiki. maka sebenarnya berdasarkan isi materi dan merodenya filsafat analitika bahasa itu telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman Yunani. Maka untuk mempermudah pamahaman kita tentang perkembangannya filsafat analitika bahasa. B. Reaksi yang keras dari filsuf-filsuf kontemporer terhadap proses modernism antara lain melalui analisis ungkapan bahasa karena modernism tidak mampu mengungkapkan hakikat kemanusiaan dan hal ini hanya mampu diungkapkan melalui symbol-simbol sebagaimana dikembangkan oleh Derrida. penentuan berdasarkan aliran merupakan suatu pilihan yang dianggap paling tepat. antara aliran satu dengan lainnya. Filsafat Sebagai Analisis Bahasa .Secara termonologi istilah analitika bahasa baru dikenal dan popular pada abad XX. namun demikian bilamana kita sependapat bahwa pengetian filsafat analitika adalah pemecahan dan penjelasan problem-problem serta konsep-konsep filsafat melalui analisi bahasa. Demikian juga secara diakronis filsafat analitika bahasa pada abad XX ini tidak terbatas pada timbulnya aliran-aliran filsafat di Inggris. Dalam pembahasan ini analisi bahasa tidak hanya berkaitan dengan penjelasan dan pemecahan problem-problem filsafat namun berkaitan erat dengan metode hermeneutic. Pemilihan filsafat analitika bahasa ini memang sulit untuk ditentukan berdasarkan periodisasi maupun wilayah karena aliran-aliran filsafat analitik tersebut memiliki keterkaitan pengaruh antara tokoh satu dengan lainnya. Lyotard dan tokoh-tokoh lainnya dalam paham ‘postmodernisme’ Demikialah kiranya filsafat analitika bahasa memiliki dimensi yang sangat luas dan meliputi berbagai bidang. Gadamer dan Dilthey dengan mazhab Frangfrutnya. Michel Foucault. antara lain Edmund Husserl dengan aliran fenomennologinya. namun lebih luas antara lain di Jerman selain mempengaruhi tumbuh berkembangnya aliran positivism logis dan lingkungan Wina.

Bahasa adalah alat yang paling utama bagi seorang filsuf serta merupakan media untuk analisis dan refleksi. Kegiatan yang semacam itu merupakan suatu permulaan dari suatu usaha pokok filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakikat tentang segala sesuatu termasuk manusia sendiri. sehingga banyak filsuf menaruh perhatian untuk menyempurnakannya. Berdasarkan hal tersebut maka banyak kalangan filsuf terutama para tokoh filsafat analitika bahsa menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep. Sebagaimana kita ketahui misalnya banyak filsuf yang mengetengahkan konsepnya melalui analitika bahasa. ‘apakah yang dimaksud dengan kebaikan’ dan lain sebagainya. kebenaran. pengetahuan ataupun kewajiban moral. misalnya ‘apakah keadilan itu’. misalnya tentang hakikat pengetahuan sebagai berikut : (1) Kita menyelidiki pengetahuan itu (2) Kita menganalisis konsep pengetahuan itu (3) Kita ingin membuat eksplisit kebenaran pengetahuan itu Untuk pemecahan yang pertama mustahil dapat dilaksanakan karena seakan-akan filsafat itu mencari dan meneliti suatu entitas (keberadaan) . Untuk itu terdapat tiga cara untuk memformulasikan problema filsafat secara analitis misalnya masalah sebab akibat. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. bahkan kalangan flsuf analitika bahasa menyadari banyak ungkapan-ungkapan filsafat yang sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan yang fundamental tentang hakikat segala sesuatu para filsuf berupaya untuk memberikan suatu argumentasi yang didukung dengan analisis bahasa yang memenuhi syarat-syarat logis. Hal ini terutama dengan timbulnya aliran filsafat analitika bahasa yang memandang bahwa problema-problema filosofis akan menjadi terjelaskan manakala menggunakan analisis terminology gramatika. Oleh Karena itu bahasa sangat sensitive terhadap kekaburan serta kelemahan-kelemahan lainnya. Namun demikian kegiatan para filsuf semacam itu dewasa ini dianggap tidak mencukupi karena tidak didukung dengan pengalatan dan pembuktian yang memadai untuk mendapatkan kesimpulan adekuat.

Kemudian menentukan bagian-bagiannya. Dalam pengertian inilah menurut Alston bahawa bahasa merupakan laboratorium filsafat untuk menguji dan menjelaskan konsep-konsep dan problema-problema filosofis bahkan untuk menentukan kebenaran pemikirannya (Alston. meneliti dan mengamati sesuatu yang disebut pengetahuan. Memang filsafat sebagai analisis konsep-konsep tesebut senantiasa berkaitan dengan bahasa yang berkaitan dengan makna (semantic) dan tidak turut campur dalam bahasa itu sendiri sebagai suatu realitas. tanpa tahun: 14). Kiranya hanya kemungkinan alternative yang ketiga saja yang banyak dilakukan oleh filsafat. Problem yang muncul berkaitan dengan filsafat sebagai analisis konsep-konsep yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa sebagaimana dihadapi oleh disiplin ilmu-ilmu lainnya. yaitu bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep tersebut senantiasa melalui bahasa (Poerwowidagdo. Menanggapi peranan bahsa sehari-hari dalam kegiatan filsafat maka terdapat dua kelompok filsuf yang memilkiki pandangan yang berbeda. 1964:5). Konsep-konsep filsafat senantiasa diartikulasikan secara verbal sehingga dengan demikian mmaka bahasa memiliki peranan yang netral.sesuatu yangd isebut pengetahuan berada bebas dari pikiran manusia. menentukan hubungan-hubungannya hingga menjadi suatu konsep disebut pengetahuan. Kedudukan filsafat sebagai analisisi konsep-konsep dan mengingat peranan bahasa yang bersifat sentral dalam mengungkapkan secara verbal pandangan-pandangan dan pemikiran filosofis maka timbulnah suatu masalah yaitu keterbatasan bahasa sehari-hari yang dalam masalah tertentu tidak mampu mengungkapkan konsep filosofis. Untuk yang kedua itu juga menyesatkan karena seakan-akan tugas filsafat untuk memeriksa. (1) Terdapat kelompok filsuf yang beranggapan bahwa sebenarnya bahasa biasa (ordinary language) yaitu bahasa yang sehari-hari digunakan dalam komunikasi manusia itu telah cukup untukmaksud-maksud filsafat atau dengan perkataan bahasa sehari-hari itu memadai sebagai sarana pengungkapan konsep-konsep filsafat. Namun demikian harus diakui bahwa untuk mengatasi .

Demikianlah kiranya perhatian filsafat terhadap bahasa dan hal ini mengingat tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena ungkapan . Maka menurut pandangan yang pertama ini tugas filsuf dalam memberikan semacam terapi untuk penyembuhan dalam kelemahan penggunaan bahwa filsafat tersebut. Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan dunia. Rudolf Carnap. Ryle. Bertnard Russel dan tokoh lainnya. Kelompok filsafat antara lain Leibniz. Menurut pandangan ini (terutama aliran filsafat bahasa biasa Wittgenstein II) masalah-masalah filsafat itu timbul justru karna adnaya penyimpangan-penyimpangan penggunaan bahasa biasa oleh para filsuf dalam berfilsafat. Maka yang menjadi perhatian kita yang terpenting adalah usaha bahwa perhatian filsafat itu memang berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya kita sering mendengarkan suatu ungkapan filosofis yang menyatakan bahwa suatu ungkapan itu secara metafisis memiliki makna yang dalam tanpa memberikan alas an yang memadai agar memiliki atau satu dasar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. sehingga timbullah kekacauan dalam filsafat dan penyimpangan itu tanpa suatu penjelasan agar dapat dimengerti (Poerwowidagdo. tanpa tahun: 10). (2)Sebaliknya terdapat kelompok filsuf yang menganggap bahwa bahasa seharihari itu tidak cukup untukmengungkapkan masalah-masalah dan konsepkonsep filsafat. Masalah-masalah filsafat itu justru timbul karena bahasa biasa itu tidak cukup untuk tujuan analisis filosofis karena bahasa sehari-hari memiliki banyak kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari itu.kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan bahasa sehari-hari bahasa filsafat harus diberikan suatu pengertian yang khusus atau harus memberikan suatu penjelasan terhadap penyimpangan tersebut. yaitu perlu diwujudkan suatu bahasa sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

lalu istilah itu menjadi popular dan berkembang pada abad XX terutama di Inggris khususnya dan Eropa pada umumnya. pindah dari Negara satu ke Negara lainnya misalnya Bertrand Russell. Wittgensein dan tokoh lainnya. secara historis tradisi ini sebenarnya telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman pra Sokrates. empirisme. Perkembangan filsafat analitika bahasa itu memang tidak dapat diperjelas begitu saja terpisahkan dari aliran-aliran yang berkembang sebelumnya seperti aliran rasionalisme. imaterialisme dan aliran positivism. Terlebih lagi terdapat banyak filsuf yang memiliki kebiasaan melanglang jagad. Idealism.filosofis itu bersifat verbal maka upaya untuk membuat bahasa itu sudah memadai dalam berfilsafat menjadi sangat penting sekali (lihat Alston. menguraikan dan menguji kebenaran ungakapan-ungkapan filosofis. ‘positivisme logis’ (logical positivism). Demikian juga terdapat suatu aliran yang berkembang di Eropa akan tetapi pusatnya di Wina sehingga aliran tersebut juga disebut ‘Mazhab Wina’ atau ‘kring Wina’. dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy). Oleh karena itu akan menjadi lebih memadai bilamana uraian perkembangan filsafat analitika bahasa itu difokuskan pada perkembangan berdasarkan aliran-alirannya. pengaruhnya meliputi berbagai Negara di Eropa maupun di Amerika. Selain itu setelah perkembangan filsafat bahasa biasa. Aliran-Aliran Filsafat Analitika Bahasa Analitika bahasa adalah suatu metode yang khas dalam filsafat untuk menjelaskan. Pada dasarnya pekembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism). Selain itu aliran ini berkembang sebagai reaksi . atau kadang disebut juga ‘empirisme logis’ (logical empirism). 1964:6) C. Atas dasar kenyataan historis yang demikia inilah maka filsafat analitika bahasa menjadi sangat sulit sekali untuk dibatasi berdasarkan wilayah perkembangannya. Atomisme logis mulai berkembang pada awal abad XX di Inggris dan aliran ini sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran sebelumnya yaitu rasionalisme dan empirisme. Namun demikian.

Ryle. dan Peter Strawson. G. di Jerman dalam aliran fenomenologi Husserl dan Gadamer. Akhirnya agar memiliki kasamaan persepsi tentang aliran filsafat analitika bahasa.L. D. kita tentukan bahwa pengertian tersebut ditunjukkan kepada pengertian aliran filsafat yang berkembang pada abad XX yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Prancis. Walaupun pengaruh tersebut tidak secara langsung namun aliran filsafat tersebut secara ontologism memiliki kesamaan. menjelaskan serta memcahkan masalah filsafat dengan menggunakan analitika bahsa. Setelah perang dunia kedua muncullah aliran filsafat bahasa biasa. maupun di Amerika. Misalnya aliran di Prancis yang mendasarkan pemikiran filosofisnya pada bahasa biasa antara lain pada paham postmodernisme Lyotard. melainkan juga aliran di wilayah lainnya (kaelan. Pengaruh filsafat bahasa biasa di Inggris juga amat luas terutama kelompok filsuf Oxford antara lain J. muncullah suatu perkembangan pemikiran yang baru yang oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai suatu perubahan yang radikal atau . Hal ini dimaksudkan bahwa pusat perhatian para filsuf pada masalah filsafat dikembangkannya melalui bahasa dan membahas. Pengaruh atomisme logis kemudian diteruskan oleh aliran positivism yang dalam beberapa hal banyak menyetujuan konsep-konsep atomisme logis. kimia ilmu-ilmu alam dan lain sebagainya dan berpusat di Wina. Paham positivism logis ini menurut sejarah dikembangkan oleh kalangan ilmuwan bidang fisika. Jerman.86). 2002: 84. Derrida dan Foucault. Oleh karena itu hal ini tidak hanya terbatas aliran di Inggris saja. Ausdtin. ataupun melalui analistik languistik.ketidakpuasan atas aliran idealism. Atomisme Logis Dalam perkembangan pemikiran filsafat di Inggris permulaan abad XX. dan aliran inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan aliran yang lainnya dan memiliki pengaruh yang sangat luas baik di Inggris sendiri. matematika.mazhab positivism logis sangat besar pengaruhnya di dunia terutama terhadap perkembanganya ilmu pengetahuan modern bahkan sampai saat ini terutama di Indonesia sendiri.

namun dalam kenyataanya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya.E. Dan sebagai tokoh utamanya yaitu Bertrand Russell (1872-1970) dan Ludwig Wittgestein (1889-1951). arah dan corak pemikirannya. baik dengan atau tanpa awalan kata sifat” Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya “Tractatus Logico Philosophicus’. 1959:31).More (1873-1958). Nama aliran atomisme logis dikemukakan oleh Bertand Russell dalam mengemukakan konsep filosofisnya yang diberi nama ‘atomisme logis’. Logika saya sendiri bersifat atomis.sebagai suatu ‘revolusi’. Whether with or without some prefixed adjectife” (Russell dalam A. Ayer. “saya menganggap bahwa logika itu adalah apa yang fundamental di dalam filsafat. Bertrand Russell sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empirisme yang mengikuti jejak john Locke dan David Hume. There fore I prefer to describe my philosophy as logical atomism rather than as realism. My own logic ia atomic and is this aspect upon wich I should mish to lay stress. fan bahwa mazhan-mazhab (aliran-aliran) itu seharusnya diwarnai oleh logikanya dari pada oleh metafisikanya.J. Oleh karena itu lebih suka menyebut filsafat saya dengan nama atomisme logis dari pada realism. Nama . sehingga konsep filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. Perkembangan baru ini membawa perubahan dalam gaya. dan aspek (segi) inilah yang ingin saya tekankan saya tekankan. dalam suatu artikelnya yang telah dimuat dalam ‘Cotemporary British Philosophy’ yang terbut tahun 1924 dalam artikelnya itu ia mengatakan sebagai berikut: “I hold that logic is what is fundamental in philosophy and that schools should be characterized rathes by their logic than by their metaphysics. Pusat dari gerakan pemikiran filsafat yang baru ini adalah di Cambridge Inggris yang diiris oleh G.

Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nam atomisme logis daripada realism.E.‘atomisme logis’ yang dipilih oleh Bertrand Russell menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu keryanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. F. namun dalam kenyataannya tradisi idealisnya juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. E. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. namun dalam kenyataannya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. Bertrand Russel sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empiris yang mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Pengaruh Idealisme F. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan oleh Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Bradley dan pemikiran analitis G. Dalam kaitan ini Bertrand Russel menolak atomisme psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologis namun dilakukan terhadap proposisiproposisi. Bradley mempengaruh bidang formulasi logika proposisi sedangkan G. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oloeh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalanmanusia. sehingga konsep .H. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya melaksanakan analisis psikologis terhadap ide. Menurut Hume semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis (atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. Bradley Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russel dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya ‘Tractatus Logico Philosophicus’.E.H. H. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya. Moore. Demikianlah dalam kenyataannya munculnya pemikiran atomisme logis di Inggris tidak dapat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada atomisme logis. Pengaruh pikiran idealism tersebut antara lain dari F.

Selanjutnya ditekankan oleh idealism bahwa realitas dasar terdiri tatas ide. Bradley dan pemikiran analisis G. Green. Jika materialism mengemukakan bahwa materi adalah real dan mind adalah fenomena yang menyertainya maka idealism menyatakan bahwa mind itulah yang real dan materi adalah produk sampingnya. 1981:18).H. akal. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oleh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalan manusia. Pengaruh pemikiran idealism tersebut antara lain F.E.E.H. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya bisa melaksanakan analisis psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologi namun dilakukan terhadap proposisi-proposisi. Namun ‘atomisme logis’ yangdipilih oleh Bertrand Russel menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu karyanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Menurut aliran idealism bahwa realitas terdiri atas ide. Tumbuh suburnya aliran-aliran itu tersebut memberikan suatu reaksi atau materialism dan positivism yang merajalela di Eropa pada waktu itu yang menguasai filsuf-filsuf generasi sebelum tmimbulnya idealism. F. Tokoh-tokoh idealism Inggris tersebut antara lain T.H. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya. jiwa (mind) dan bukannya benda-benda material dan kekuatan. Menurut Hume semua ide yang atomis (Atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. pikiran atau jiwa atau hubungan yang sangat erat dengannya. Bradley mempengaruhi bidang formulasi logika proposisi sedangkan G. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nama atomisme logis dari para realism. Pada awal abad XX. Demikianlah dalam kenyataannya pemikiran baru atomisme logis di Inggris tidakdpat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada aliran atomisme logis.filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Dunia memiliki arti yang berlainan . Moore. Bradley (Bertens. Edward Caird. pikiran-pikiran. H. namun kenyataannnya tradisi idealispun juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Bernard Bosanquet dan terutama adalah F. aliran yang dominan di Inggris adalah idealism.

dari apa yang Nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan ditafsirkan olehpenyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metode ilmu objektif saja yang berdasarkan kepada pengamatan empiris (Titus, 1984:316). Francis Herber Bradley (1846-1924) adalah penganut idealism yang fanatic dan memiliki pengaruh yangs angat besar di Inggris. Ia menguraikan pendapatnya tentang hubungan antara pemikiran dengan realitas dan hal ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme menurut Bradley metode pengenalan empirisme itu sebenarnya bersifat psikologis dan bahwa mereka itu bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan (judgements) atau keterangan-keterangan (proposisi-proposisi). Ide sebagaimana dimaksudkan kalangan empirisme adalah isi dari pikiran. Kaum empirisme tertarik dengan asal usul pikiran kita, bagaimana kita mendapatkan kemampuan kita untuk berpikiran tentang kualitas, hubungan pada pihak lain proposisi itu bukanlahisi dari pikiran kita, akan tetapi merupakan pernyataan-pernyataan tentang duna ini, yaitu bahwa sesuatu itu adalah sedemikian rupa yang ditangkap oleh pikiran. Menurut pandangan F.H. Bradley, metode kaum empirisme itu adalah suatu kesalahan. Kaum empirisme kurang memperhatikan putusan (judgements) atau proposisi, dan halinilah yang menjadi yang merupakan perbedaan yang paling dalam antara Immanuel kant dan David Hume. Pemikiran-pemikiran F.H. Bradley inlah yang mempengaruhi

formulasi logika atomisme logis Bertrand Russel, yaitu realitas itu terwujudkan dalam suatu ungkapan bahasa yang merupakan suatu proposisiproposisi. Dengan demikian nampaklah pada kita bahwa logika atomisme logis Bertrand Russell itu merupakan suatu empirisme yang didasrkan atas putusan-putusan atau proposisi-proposisi dan bukan didasarkan atas ide-ide, sehingga formulasi logika Russel sebenarnya memanfaatkan idelaisme F.H. Bradley dalam atomisme logika (Poerwowidagdo, tanpa tahun 26). Namun demikian Russel juga menolak dengan keras pandangan metafisis dari idealism, sebab sebagaimana diungkapkan oleh Russel bahwa pemikirannya itu tidak didasarkan atas pandangan metafisika melainkan

ditentukan oleh formulasi logikanya karenamenurut Russel logikalah yang paling fundamental dalam filsafat.

F. Geogre Edward Moore Filsuf kelahiran Upper Nortwood London memiliki pengaruh yang amat besar terhadap aliran filsafat atomisme logis.walaupun demikian sebenarnya Moore sendiri bukanlah penganut yang setia dari aliran atomisme logis, bahkan boleh dikatakan ia sendiri berdiri di pinggri gerakan itu (Poerwowidagdo: 30). Moore adalah seorang tokoh filsafat analitik (penguraian) dan sebgai seorang anais ia berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Karya Moore yang terkenal adalah ‘Principia Ethica’ (1903) dan dalam bentuk yang popouler adalah “Ethics’ (1912). Ia tidak menolak etika normative dan lebih menekankan pada analisis konsep dan argumentasiargumentasi yang dipakai dalam etika. Jadi Moore lebih menekankan pada analisis ‘metaetika’. Buku yang berjudul ‘Principia Ethica’ sebagaian besar merupakan uraian yang menyangkut terminologid alam etika, misalnya tentang arti kata ‘baik’. Suatu pembahasan Moore yang terkenal adalah tentang arti kritik dan uraiannya tengan ‘kekeliruan naturalistis’ (naturalistic fallacy). Dalam uraiannya Moore menjelaskan arti kata ‘baik’. Dalam etika yang disamakan dengan cirri naturalisstis. Misalnya kekeliruan yang dilakukan oleh para penganut paham ‘hedonisme’, yang menyamakan ‘baik’ dengan sesuatu yang menyenangkan’. Bagi mereka “X itu baik” sama artinya dengan “X itu menyenangkan”. Akan tetapi hal itu tidak dapat dipertahankan terutama karena dua alasan sebagai berikut. Pertama, kalau seandainya ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ itu sama artinya, maka akan timbul suat masalah tentang bagaimana ssuatu yang menyenangkan tetapi tidak baik, sebaba dalam kenyataannya hal itu sering terjadi. Kedua, kalau seandainya pengertian ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ sama artinya, maka pertanyaan “apakah yang menyenangkan itu baik?” seharusnya sama artinya juga dengan pertanyaan “apakah yang baik itu baik?”. Namun demikian kita

akin bahwa pertanyaan pertama betul-betul mempunyai arti dan tidak boleh disetarafkan dengan pertanyaan yang kedua yang sederhana itu. Moore berpendapat bahwa kata ‘baik memang tidak dapat didefinisikan sebab tidak mungkin diasalkan kepada suatu yang lebih jelas lagi. Moore memang tidakmenolak metafisika, akan tetapi dalam berbagai macam uraiannya ia tidak mempraktekkan metafisika. Secara otoritis ia mengakui bahwa metafisika sebagai salah satu cabang filsafat yang penting, akan tetapi ia justru lebih tertarik untuk mengkritik pandangan metafisis dari filsuf lain. Dalam pengertian ini Moore secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap skiptis dan kritis terhadap metafisika. Inlah sumbangan Moore terhadap tumbuhnya aliran baru di inggris teurutama atomisme logis yang mengkritik dan bahkan menolak metafisika (Bertens, 1981:24). Atas dasar sikapnya yang konsisten tersebut maka tidaklah mengherankan jikalau Moore mengkritik kaum idealism Inggris yang pada saat itu menguasai dunia pemikiran di Inggris. Kritisk Moore terhadap aliran idealism tersebut tertuang dalam karangannya yang berjudul “The Refutation of Idealisme”, yang dimuat dalam majalah “Mind” (1930). Kaum idealism terutama kaum Hegelian berpendapat bahwa ‘segala sesuatu itu bersifat spiritual’, ‘tidak ada dunia material di luar kita’, ‘waktu adalah tidak real’ dan lain sebagainya. Menurut Moore pendapat kaum idealism tersbut tidak berdasarkan pada logika sehingga tidak dipahami oleh akal sehati maka atomisme logis mendapat inspirasi bahwa analisis bahasa harus berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi (lihat Bertens, 1981:24 dan Charlesworth, 1959:12).formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan jasa-jasa baik Moore terhadap lahirnya atomisme logis. Namun demikian hendaklah kita ingat bahwa memang dalam kenyataannya seluruh dasar-dasar logika atomisme logis tidak didasarkan atas pemikiran Moore karena sebagaimana diketahui bahwa Moore bukanlah ahli di bidang logika. Daam setiap system analisisnya Moore tidak mengakhriri dengan justifikasi

benar atau salah, melainkan apakah itu bermakna atau tidak bermakna berdasarkan analisis bahasa. Atas dasar cirri-ciri pemikiran Moore beserta metodenya maka tidaklah mengherankan bilamana Moore diberi gelar sebagai perintis pergerakan baru dalam pemikiran filsafat di Inggris, yaitu sebagai perintis gerakan filsafat analitik yang dalam terminology filsafat dikenal juga dengan istilah “filsafat analitika bahasa”. Berdasarkan atas reputasinya itu maka Moore berpendapat bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis yang tepat atau memadai tentang konsep suatu proposisi, yaitu menguraikan dengan jelas dan memadai apa yang dimaksud dengan konsep atau proposisi itu (Moore, 1959:vii. Memberikan analisis secara pantas terhadap suatu konsep atau suatu proposisi itu sama dengan menggantikan perkataan atau kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan hal itu dengan ungkapan-ungkapan lainyang sama benar nilainya (exactly equivalent) dengan kalimat atau ungkapan tadi akan tetapi menjadi analisis adalah sebagai berikut: Analisis adalah semacam definisi semacam persamaan dengan

ungkapan yang membingungkan (ungkapan yang kurang jelas), pangkal uraian (analysandum) di sebelah kiri dan ungkapan baru di sebelah kanan yang sering disebut analisis (penguraian) (analysans) sebagai penguraian (lihat Poerwowidagdo, tanpa tahun: 31). Berkaitan dengan analisis tersebut maka pangkal uraian (analysandum) dan pengaurai (analysans) tidak harus selalu identik sama persis),melainkan keduanya harussama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama (Langford, 1959:335). Meskipun Moore dan Russel sama-sama setuju bahwa tugas filsafat adalah menganalisis konsep-konsep atau proposisi-proposisi yaitu mengungkapkan dengan jelas namun keduanya terdapat suatu perbedaan. Menurut Moore bahwa kepercayaan akal sehat (common sense) tentang benda-benda itu dapat diktahui dengan pasti adalah benar. Adapun menurut Russell mencari kebenaran metafisis melalui penggunaan analisis. Selain itu Moore dalam pemikirannya hanya mencari penjelasan tanpa meninggalkan

akal sehat. Berdasarkan pada pandangan dan pemikirannya tentang filsafat maka Moore telah banyak memberikan sumbangan bagi lahirnya pemikiran baru di Inggris yaitu filsafat analitika bahasa terutama aliran atomisme logis, walaupun ia sendiri sebenarnya bukan seorang penganut setia aliran tersebut.

G. Filsafat Atomisme Logis Bertnard Russel Fulsuf Cambridge ini memiliki inovasi yang luar biasa dan ia sebagai salah seorang pelopor pemikiran baru di Inggris. Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Russsell dikuasai oleh tradisi idealism, sehingga sekaligus pemikiran Russell merupakan suatu reaksi yang sangat akurat terhadap aliran tersebut. Suatu kelebihan dari konsep pemikiran anomisme logis Bertrand Russell adalah, ia mampu mensintesiskan berbagai macam pemikiran para filsuf sebelumnya maupun filsuf sezamannya. Dalam pemikiran Russell Nampak garis lurus tradisi empirisme John Locke dan David Hume terutama dalam struktur logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki kompleks corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide atomis) sampai pad aide-ide yang bersifat kompleks. Namun demikian di pihak lain Russell juga mengangkat pemikiran idealism Bradley dalam mengkritik kelemahan paham empirisme, walaupun Russell menolak dengan tegas metafisika idealism Bradley yang mengungkapkan kelemahan empirisme yang dikatakannya bahwa metode empirisme itu bersifat psikologis, yang hanya bekerja dengan ide-ide dan bukannya berdasarkan pada suatu putusan (juggements) atau keterangan-keterangan (proposisiproposisi). Dasar inilah kemudian diangkat oleh Russell demi prinsipprinsip analisinya yaitu yang berdasarkan pada suatu putusan. Formulasi analisis Russell juga dipahami oleh konsep pemikiran teman akrabnya G.E Moore sebagai seorang filsuf perintis filsafat analitika. Russell dan Moore memang sependapat bahwa tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, namun keduanya terdapat perbedaan. Moore mendasarkan analisisnya berdasarkan analisinya

oleh karena itu pemikirannya dinamakan ‘atomisme logis’. makna ganda. Moore beranggapan bahw bahasa sehari-hari (bahasa alamiah) kiranya telah memadai untuk berfilsafat. tanpa tahun:207). Russell ingin membangun bahasa yang mampu mengungkapkan realitas. Berdasarkan prinsip-prinsi pemikiran itulah maka Russell menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada metafisikanya melainkan lebih berdasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasariah dalam filsafat. sedangkan menurut Russell bahasa sehari-hari itu tidak memadai untuk bahasa filsafat karena banyak kelemahan antara lain kekaburan. bahwa tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis.berdasarkan akal sehat. sedangkan Russell mencari kebenaran melalui penggunaan analisis disertai dengan sintesis logis. Alasan yang dikemukakan Russell adalah sebagai berikut : (1) Logika Frege yang baru itu hanya cocok untuk diterapkan pada ilmu hitung (arithmetic) dan tidak dapat diterapkan pada cabang-cabang lain dari matematika. Akan tetapi menurut Russell logika barunya Frege itu tidaklah cukup untuk membuat suatu kerangka dari sebuah bahasa yang sempurna. (2) Pangkal pikir atau premis Frege itu tidak meniadakan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam system logika formal lama (Poerwowidagdo. Atas dasar alasan tersebut maka Russell bekerja sama dengan Al-fred North Whitehead. yang berdasarkan formulasi logika Ia mengakuinya banyak dipengaruhi oleh logika baru dari Gothlob Frege (1848-1925). Russell mencoba mengatasi kelemahan-kelemahan itu dengan sisitem logika dalam buku ‘Principia Mathematica’. Atas dasar pendapat inilah maka Russell membangun pemikirannya melalui bahasa berdasarkan formulasi logika. Hal ini menyakinkan pada diri Russell. semua matematika murni dapat disimpulkan atau dideduksikan . Pandangan pokok dari ‘Principia Mathenmatica’ yaitu dari ide-ide dan aksiomaaksioma tertentu dari logika formal dan dengan pertolongan logika hubungan. tergantung pada konteks dan lain sebagainya.

Memang harus kita akui bahwa inovasi pemikiran Russell tentang metode tersbut untuk membangun konsep atomisme logisnya. Menurut Russell kebenaran yang bersifat logis dan matematis yang diungkapkan melalui analisis logika meyakinkan kita untuk mengakui keberadaan sifat-sifat yang universal yang bersifat tetap. Adapun sintesa logis dilakukan dengan menentukan makna suatu pernyataan atas dasar pengamatan empiris (pengalaman indara). Dengan melalui analsis logisnya Russell menyatakan hal itu untuk mendapatkan satuan-satuan logis akan kebenaran realitas (kebenaran atom-atom logis). Sebagaimana diungkapkan oleh Russell bahwa tugas filsafat adalah analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. 1987:41). Menurut Russell melalui system logika baru ini banyak masalah filsafat dapat didiskusikan atau dibicarakan tanpa adanya kekaburan.tanpa ada lagi ide baru yang tak terbuktikan atau proposisi-proposisi yang tak tebukti. Atas dasar alasan itulah maka Russsell lebih mendahulukan analisis logis dari pada sintesis logis (lihat Charlesworth. Dalam masalah ini pengertiannya lain dengan gramatika tatabahasa alamiah atau gramatika bahasa-bahasa biasa yang menyesatkan dan tidak memadai sebagai cara pengungkapan untuk mendapatkan suatu kebenaran (Russell. dalam Mustansyir. Dengan metode yang demikian ini Russell berhasil memecahkan problemproblem filsafat melalui analisis bahasa. Banyak proposisi atau keterangan filsafat dapat dijelaskan dengan menggunakan system logika baru. 1959: 33-46). mengandung suatu pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan suatu alasan-alasan yang berdifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. dan dalam kenyataan terdapat teori yang bersifat empirisme murni yang tidak mampu mengunkapkan hal tersebut. Russell berpendapat bahwa dunia itu mempunyai struktur yang sesuai dengan logika matematika yang gramatikalnya itu sempurna. Hal ini diungkapkan oleh Russell yang menyatakan bahwa sesuatu yang menyebabkan ia menamakan . Metode analisis bahasa dalam pemecahan problem-problem filsafat yang mendasarkan pada analisis apriori dan sintesis aposteriori di sini Nampak alur pikir dari kritisme Immanuel Kant.

1959:369). jadi secara gramatikal memiliki struktur yang sama. Dengan memahami formulasi logis dari . ‘Lions’ pada kalimat (1) dan (2) bersama-sama merupakan predikat (prinsip verifikasi). keduanya kalimat itu memiliki struktur gramatikal yang sama namun keduanya memiliki struktur logis yang tidak sama. karena ‘Sokrates adalah seorang flsuf dan ‘Aristoteles adalah filsuf’. Misalnya kalimat ‘Lions are yellow’ dan ‘Lions are real’. Misalnya ‘X dan Y’ memiliki formulasi logis yang sama jikalau unsure X mengandung kesesuaian dengan unsure Y. sehingga keduanya memiliki formulasi logis yang sama (lihat Russell. Menurut Russell ada suatu kalimat yang memiliki struktus gramatikal yang sama namun berbeda dalam hal struktur logisnya. Formulasi Logika Bahasa Prinsip analisis yang diciptakan oleh Russell dalam konsep atomisme logisnya memiliki konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis. namun struktur logisnya tidak sama. melainkan didukung oleh suatu fakta yaitu sintesis logika dari fakta. Struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa. ‘Sokrates’ dan ‘Aristoteles’ memiliki formulasi logis yang sama karena berdasarkan pada suatu fakta bahwa baik Sokrates maupun Aristoteles keduanya adalah sebagai filsuf. 1984: 85-86). misalnya Sokrates dan Aristoteles memiliki formulasi logis yang sama. melainkan atom logis (Heraty.pemikiran filsafatya ‘atomisme logis’ yaitu karena atom-atom yang ingin dicapai Russell sebagai hasil analisis terakhir bukan merupakan suatu atom fisik. atau dengan lain perkataan perlu ditentukan formulasi logis dalam ungkapan-ungkapan bahasa. 1. 1981: 28). Sebagainya dikemukakan oleh Russell bahwa formulasi logis itu bukan hanya didasarkan logika formulasi saja. Menurut Russell bahwa dua pengertian memiliki suatu formulasi logis yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi Y dapat digantikan pada X. (Bertens.

sebab keterangan tersebut merupakan suatu proposisi dari kelas yang lebih tinggi. pada hal dia sendiri adalah warga Kreta. yang seakan-akan tampak mustahil untuk dikatakan sebagai benar. (2) Semua peraturan mengandung pengecualian. Bentuk-bentuk penyataan yang bersifat paradox itu berhasil diatasi oleh Russell dengan membedakan antara semua unsure yang termasuk ke dalam suatu himpunan. berarti pernyataan itu adalah bohong dan oleh sebab itu pernyataan itu dapat disimpulkan salah (Jones dalam Mustansyir. yang telah membingungkan para tahil untuk dikatakan sebagai benat. Melalui penentuan formulasi logis ini nampaknya Russell berhasil memcahkan sejumlah paradox. (3) Setiap penyataan ilmiah yang tidak didasarkan pada verifikasi itu hanya omong kosong (inipun suatu pernyataan ilmiah). Misalnya sifat yang diberikan kepada Epimenedes. 1987:44). sebagai seorang pembohong. Jika ia (Epidemenedes) mengatakan “semua orang Kreta itu pembohong”. jenis penyataan yang bersifat paradox itu bukanlah merupakan jenis pernyataan yang sama dengan pernyataan yang digambarkan. Misalnya jikalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota himpunan ‘filsuf’. jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apapun. Penyataan yang dikemukakan oleh Epimenedes bahwa ‘semua orang Kreta itu pembohong’. sebagai suatu yang tidak dengan sendirinya merupakan suatu himpunan itu sendiri. Contoh serupa dapat dilihat pada pernyataan berikut: (1) Segala bentuk perempatan itu salah (inpun sebagai salah satu perempatan) oleh karena itu salah. (pernyataan inipun sebagai suatu peraturan). Menurut Russell. oleh karena itu mengandung pengecualian. seorang warga masyarakat Kreta. adalah dari kelas proposisi itu. maka itu tidak .ungkapan maka kita dapat membedakan antara bentuk logis gramatika dari suatu ungkapan dengan bentuk semantic dari ungkapan tersebut. yang telah membingungkan para filsuf Yunani.

Hal ini dapat diterima secara terang oleh akal sehat. berupaya untuk mengatasi kesulitan 2. Dalam pengertian ini Russell menampakkan konsep pemikirannya yang cemerlang. Russel mendasarkan pada analisis logis karena hal ini berdasarkan pada kebenaran apiori yang sifatnya universal yang bersumber pada rasio manusia. sehingga analisis dilakukan dengan analisis logis dan disertai dengan sintesa logis. Demikianlah Russell mengembangkan formulasi logis dalam analisisnya melalui ungkapan bahasa dan dalam wacana filsafat. ia berpendapat bahwa analisis dilakukan pada struktur hakiki bahasa dan bukannya terbatas pada konsep-konsep filsuf lain dalam menggunakan bahasa. Adapun sintesis logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris (pengalaman indrawi) yang bersifat aposteriori. sehingga masing-masing terletak pada jenis hierarki yang berbeda pula. namun tidak benar bilamana dikatakan ‘filsuf’ menggunakan anggota dari ‘filsuf’ itu sendiri. sebab kelas filsuf lebih tinggi tingaktannya dari pada seorang filsuf. Menurut Russell analisis harus didasarkan pada struktur logika. Prinsip Kesesuaian (Isomorfi) Russell dan Moore memang memiliki kesamaan pandangan bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep itu diungkapkan melalui bahasa maka analisis bahasa memegang peranan penting. Jadi kalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota kelas ‘filsuf’ itu adalah benar. Dasar utama yang ditekankan oleh Russell adalah analisis logis. Ia berpendapat bahwa pertama-tama merupakan analisis logis bilamana hendak merupakan filsafat yang bersifat ilmiah. 1987: 45). yaitu ia ingin menganalisis hakikat realitas dunia melalui analisis logis.berarti kelas filsuf itu sendiri merupakan seorang filsuf. Pegetahuan pada . Namun demikian Russell berbeda dengan Moore. tetapi sayangnya hampir semua karya filsafat mencoba untuk menghindari hal tersebut (Jones dalam Mustansyir.

adapun fakta terungkapkan melalui bahasa sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur logis realitas dunia (Heraty. Dalam hal ini Russel lebih condong pada pengertian ‘aquaintance’ atau pengenalan daripada sebagai ‘experience’. kata ini jelas menunjukkan pada suatu satuan kenyataan. tetapi di samping itu masih mempunyai keistimewaan. yaitu aspek egocentric yang terdapat pada kata-kata itu. itu berstatus sebagai nama diri yang logis (logical proper name). ialah pernyataan empiric yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam yaitu particularia dan universalia. namun tidak dapat diketahuinya bahwa objek tersebut menjadi pengalaman kita. Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta. sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan. 85). Berdasarkan pengertian itu maka ‘egocentric particular’ adalah merupakan entitas-entitas atau satuan-satuan kongkrit yang dikenal karea suatu pengalaman pribadi yang pada dasarnya tidak dapat dibagi dengan orang lain. Particularia adalah hasil persepsi kongkrit individual. Dalam sistemnya yang tersusun ini ia bertolak dari pernyataanpernyataan dasar. atau terdapat suatu ‘isomorfi’ antara struktur bahasa dengan dunia. orang lain secara teoritik dapa tmemahami kita melihat objek tersebut sebgai suatu fakta empiris. Mengenai dasar pengalaman atau empiris dikatakannya bahwa bilama kita mengalami sesuatu yang kita lihat secara langsung misalnya. dan menjadi pengalaman sendiri yang disebut ‘egosentric’. Dengan demikian pengalaman itu tidak dibagi kepada orang lain. Kata-kata itu mengacu pada suatu unsure kenyataan . Dengan lain perkataan Russsell menegaskan bahwa terdapa suatu kesesuaian bantuk atau struktur antara bahasa dengan dunia. hal ini berarti bahwa sebagaimana halnya dengan nama diri. Stuan-satuan yang merupakan egocentric particular’ itu yang menurut Russel juga merupakan kata-kata deiktik kesemuanya dapat dikembalikanpada suatu bentuk ‘egocentric particular’ pokok misalnya ini. 1984: 79.hakikatnya merupakan pernyataan-pernyataan yang tersusun menjadi suatu system yang menunjuk kepada entitas atau unsur pada realitas dunia.

dia nama diri . adapun suatu logical proper name adalah merupakan suatu denotasi yang menyebutkan keterangan atau deskripsi minimal. Maka dengan demikian bagi Russell sepatah kata diektik merupakan suatu denotasi sifatnya yang sangat pribadi.87). dan (2) suatu logical proper name dapat menunjuk hanya pada entitas-entitas yang kita kenal pada suatu saat (Clack. Adapun pembedaan referensi tunggal itu adaah sebagai berikut : PEMBEDAAN REFERENSI TUNGGAL MENURUT BERTRAND RUSSELL (1) Nama Diri (2) Kata-kata Deiktik : Napoleon. Namun logical proper name ataunama diri yang logis ini bukanlah nama dalam arti nama seseorang akan tetapi merupakan suatu deskripsi minimal yang memiliki referensi tunggal.hal itu memang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu hubungan antara bahasa dengan realitas dan pengacuan tersebut menurut Russel disebut dinotasi yang dijelaskannya pada penggunaan kata objek (object word) (Heraty. yaitu: (1) suatu logical proper nama adalah sejauh hal itu berfungsi sebagai nama yang tidakd apat menunjuk pada objek yang sama untuk dua orang yang berbeda. Ciliwung : kata-kata petunjuk : ini. itu (ruang dan waktu) nanti. Pengertian ‘logical paper name’ atau nama diri yang logis memiliki dia macam cirri. Dengan demkian egocentric particular merupakan nama diri yang logis atausalah satu bentuk logical proper name. Oleh karena itu nama diri logis adalah merupakan suatu deskripsi minimal yang mengacu pada acuan tunggal atau referensi tungal. 1984:86. tadi Kata-kata ganti: aku. Struktur logis bahasa menunjukkan suatu susunan yang terdiri atas satuan-satuan bahasa yang mengacu pada suatu satuan entitas karena struktur logis bahsa menunjukkan struktur logis dunia. 1972:34).

logis 1984:96) Dengan demikianpengertian nama diri yang logis adlah meliputi kata-kata deiktik dan deskripsi penunggal.(3) Deskripsi penunggal :”Pemenang hadiah Nobel” “perintis kemerdekaan” “ Pembela hak asasi” Heraty. Sifat yang mengacu dan deskriptif yang sekaligus terdapat pada deskripsi penunggal itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam analisis bahasa. Deskripsi penunggal secara tata bahasa berbentuk subjek (S) dan predikat (P). Misalnya ungkapan ‘ Si Malin Kundang” yang mengandung dilemma ontologism. karena memberikan kemampuan untuk membicarakan sesuatu yang tidak langsung dapat dijumpai dalam lingkungan tertentu. Nama diri itu dapat mengacu pada suatu unsure tanpa diperlukan deskripsi-deskripsi. yaitu bahwa nama diri itu merupakan singkatan deskripsi penunggal ‘definite description’. Jadi secara struktur gramatical dan struktur logis berbeda. 1984:98). yaitu sebagai suatu pernyataan yang mengandung pertentangan yang member makna pada ungkapan tersebut dan sekaligus melibatkan eksistensinya. misalnya Sokrates filsuf pertama yang mempersoalkan istilah etika. Teori deskripsi penunggal ini membawa penyelesaian yang menurut Russell disebut sebagai dilemma ontologism. Hal itu dapat diketahui dalam perbedaan penggunaan yaitu penggunaan secara atributif dan penggunaans ecara referensial. Perbedaan secara logis antaranama diri di satupihak dengan deskripsi penunggal di pihak lain. terutama menurut teori referensi. . Suatu nama diri dapat dianggap sebagai singkatan deskripsi penunggal atau ‘unique definitie description’. ini secara logis sebenarnya tidak berbentuk subjek predikat. yaitu ungkapan itu dapat disebutkan tanpa melibatkan eksistensi objek (lihat Heaty.

Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata. Selain itu berbagai macam pendapatnya tentang atomisme logis juga termuat dalam pengantar buku Ludwig Wittgenstein “Tractatus Logico Philosophicus”. Atomisme logis menggambarkan bahasa ideal itu sebagai suatu kumpulan besar proposisi-proposisi yang tak terbatas yang tersusun atas struktur proposisi sederhana. dan kata-kata itu . Fakta-fakta itu sendiri sebenarnya tidak dapat bersifat benar atau salah. Sebagaimana dijeaskan dimuka bahwa terdapat prinsip isomorfi atau kesesuaian struktur dan bentuk bahasa dengan realitas dunia. Hakikat keseluruhan fakta-fakta yang merupakan dunia tersebut memiliki struktur logis dan oleh karena itu hakikat fakta-fakta tadi terlukiskan melalui proposisi. Dunia pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan fakta-fakta dan fakta-fakta tersebut terungkap melalui bahasa yang disebut proposisi. yang dapat diberikankualifikasinya benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Formulasi logis bahasa yang memiliki kesesuaian struktur dengan realitas dunia ini dikembangkan lebih lanjut oleh Russell dalam pengertian proposisi yang tersusun atas proposisi atomis menjadi proposisi yang bersifat majemuk atau kompleks.Deskripsi tentang doktrin isomorfi merupakan upaya Russel untuk mewujudkan obsesinya tentang hakikat struktur bahasa yang memiliki struktur logis realitas dunia. Dengan perkataan lain prinsip verifikasi merupakan symbol dan bukan merupakan bagian dunia. Maka menurut Russell analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuanyang benar pula tentang hakikat realitas dunia. elementer atau atomisme logis (Poerwowidagdo. tanpa tahun: 23). Struktur Proposisi Pemikiran filsafat atomis logis Bertrand Russel diuraikan dalam serangkaian ceramahnya kemudian dalam bentuk artikel adan dimuat dalam majalah “Monist’ tahun 1918 dan 1919. Kemudian artikel-artikel tersebut dikumpulkandalam buku dengan judul ‘Logic and Knowledge’. 3.

atau’ serta kara penghubung lainnya. Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana mislanya ‘inilah putih’ (x adalah y) atau ‘ini berdiri di samping itu’ (xRy). 1963:13). Contoh dari inderawi misalnya ‘putih dan contoh universalia misalnya ‘berdiri di samping’. 1981:29). Oleh karena itu proposisi tersebut merupakan bentuk yang paling sederhana (yang terkecil) maka proposisi tersebut disebut proposisi atomis. Russell memberikan contoh sebagai berikut : “Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi ang menggambarkan dua fakta atomis yaitu: (1) “Sokrates adalah warga Athena”. dalam Tractatus. Untukmenjelaskan struktur proposisi atomis dan proposisi majemuk tersebut. Data inderawi ditunjukkan dengan ‘logical proper name’ (nama diri yang logis) misalnya ‘ini’ dan ‘itu’. Untukmembentuk suatuproposisi majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti ‘dan’. Menurut Bertrand Russell terdapat juga pengertian proposisi ‘molekuler’ misalnya ‘inilah putih’. dan (2) “Sokrates adalah seorang yang bijaksana” Kedua proposisi tersebut membentuk suatu pengertianproposisi mejemuk setelah dihubungkan dengan kata ‘yang” (Russell. danmenunjuk kepada data-data atomis. Namun perlu diingat bahwa tidak terdapat . ‘inilah merah’. Karen amengungkapkan fakta yang paling sederhana (istilah atomis sepadan dengan susunan benda-benda yang terdiri atas bagian terkecil yang disebut atom) dank arena proposisi pada hakikatnya merupakan symbol bahasa yang mengungkapkan fakta-fakta (Bertens. Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya.menunjukkan kepada suatu data indrawi (sense data) dan “universalia” (universals) yatiu cirri-ciria tau relasi-relasi.

Kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. melainkan berasal dari suatu analisis mengenai bahasa yang mendasarkan pada suatu kebenaran apriori karena menekankan . Misalnya proposisi ‘semua orang akan mati’ ini bukanlah terdiri atas fakta-fakta atomismisalnya “A akan mati” . “Poltat akan mati”. misalnya “John beranggapan bahwa bumi itu datar”. Selain fakta-fakta atomis yang diungkapkan melalui proposisi atomis. Demikian juga pendapat Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pad asuatu datadata empiris. Demikian juga Russel engakui juga tentang fakta-fakta khusus. hal ini jelas merupakan suatu argumentasi metafisis. Bilamana suatu doktrin atomisme logis menolak metafisika. juga terdapat pengertian ‘fakta-fakta umum’ yang kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang secara umum diketahui benar. Alasannya ialah bahwa teori ini mau menjelaskan struktur hakiki bahasa dan dunia. “ B akan mati” dan seterusnya melainkan berdasarkan suatu fakta umum.pengertian fakta-fakta molekuler. jadi faktafakta atomis menentukan benar atau tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler). sebagaimana diakui oleh Russel sendiri. Jadi kebenaran proposisi tadi bukannya karena serangkaian fakta-fakta atomis melainkan suatu fakta umum yang memang secra umum telah diakui kebenarannya. Bilamana dipahami secara formal seakan-akan proposisi itu majemuk. sebaga hal itulah satu-satunyacara untuk menerangkan benar atau tidaknya suatu proposisi negative. Kebenaran proposisi itu tidak tergantung pada benar atau tidaknya ‘bumi itu datar’ melainkan pada suatu fakta khusus. Menurut atomisme logis bahwa dunia dapat diasalkan pada fakta-fakta atomis. tetapi tidak dapat disangkal lagi bahwa atomisme logis mengandung suatu metafisika. Misanya “tidakada kuda berkepala lima” proposisi itu benar atau tidak hanya berdasarkan fakta. Russel menerima juga pengertian fakta-fakta negative.

Periode berikutnya filsuf yang pernah maj perang ini menulis suatu buku dengan judul Philosophical Investigationss. Berdasarkan rincian konsep-konsepnya maka atomisme Bertrand Russell itu tidak lain merupakan ‘pluralisme radikal’ yang bertentangan dengan ‘monisme’ yang mendasari metafisika idealism khususnya idealism Bradley (Bertens. Demikian juga pemikiran-pemikiran Russell banyak dipengaruhi juga oleh Wittgenstein. sehingga tidak mengherankan mereka berdua sebagai tokoh aliran filsafat atomisme logis. H.pada struktur logis. konsepnya tidak lagi setia terhadap pemikirannya prinsip-prinsip kebenaran baru. Ia merupakan teman dekat dari tokoh atomisme logis. 1981: 39). Pada karyanya yang kedua ini ia murtad dari doktrin atomisme logis. karena karya yang besar yang pernah dihasilkannya yaitu pada periode I dan II visi yang berbeda bahkan bertolak belakang. dan hal itu banyak ditemukan oleh Russell pada kata pengantar buku Wiitgenstein. Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgestei Filsuf kelahiran Wina Austria ini melalui reputasi karya filsafat yang spesifik. Karya besar Wittgenstein yang merupakan ulasan filosofis yang ketat tentang filsafat atomisme logis tersebut berjudul Tractatus Logico Philosophicus (Bertens. Karyanya yang terbit dalam majalah Analosophische Abhandlungen. Setahun kemudian diterbitkan suatu edisi baru dengan terjemahan dalam bahasa Inggris di samping teks Jerman yang asli. Pada tahun 1912 dengan judul Logisch Philosophische Abhandlugen (ulasan-ulasan logis dan filosofis). Buku ini sebagai karya besar pertama ketika ia memperkuat visi dasar atomisme logis. walaupun dalam beberapa hal kurang menyetujuinya. Uraian dalam buku ini berupa uraian-uraian singakat yang merupakan . 1981:31). Tractatus Logico Philosophicus sebagai suatu karya besar di bidang filsafat termasuk tidak panjang kira-kira hanya 75 halaman saja. Edisi ini disertai kata pengantar oleh senoirnya Bertrand Russell. Bertrand Russell bahkan pernah menjadi muridnya.

suatu proposisi. kemudian (1.11. namun lebih cenderung kepada penjelasan-penjelasan tentang proposisi.1 1. 1. yang secara sistematis diberi nomor. sehingga kadangkadang karena padatnya makna yang terkandung di dalamnya menjadi kurang dapat dipahami.2. Oleh karena itu kita tidak memberikan suatu jawaban terhadap persoalan semacam itu. Peranan Logika Bahasa Wittgenstein sependapat dengan gurunya bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. Tanpa filsafat pikiran itu akan mengawang dan tidak sehingga tugas filsafat ialah membuat jelas dan batas-batas pengertian yang jelas.1. Terdapat tujuh angka decimal. Makna yang terkandung dalam proposisi-proposisi itu sangat padat. kecuali hanya membiarkannya dalam . Misalnya (1. Menurut Wittgenstein ara atau system pemberian nomor itu sedemikian rupa sehingga proposisi-proposisi yang paling penting itu diberi nomor atau angka bulat. 1. Filsafat itu sebenarnya bukanlah merupakan suatu tubuh atau kumpulan ajaran-ajaran atau doktrindoktrin. 1. Uraian Wittgenstein dalam pendahuluan tulisannya ia menyatakan bahwa persoalan filsafat itu timbul karena para filsuf terdahulu dalam memecahkan dan merumuskan problem-problem filsafat kurang memahami logika bahasa. yang digunakan dalam filsafat (Wittgenstein. dan seterusnya). Menurutnya uraian yang dilakukan oleh filsuf terdahulu tentang proposisi dan problem filsafat bukannya salah. melainkan suatu kegitan atau aktivitas. 1. Sebuah karya filsafat pada pokoknya terdiri atas penjelasan-penjelasan serta uraian-uraian. yang menunjukkan struktur logis dari proposisi-proposisi. Dalam Tractatus ia menjelaskan bahwa filsafat bertujuan untuk penjelasan logis dari pikiran. dan seterusnya) yang menunjukkan struktur kepentingan dari proposisi dalam uraian pemikiran Tractatuc tersebut. melainkan tidak dapat dipahami.12. 1963: 27). Filsafat tidak mengahasilkan keterangan-keterangan filsafati.

sehingga setiap kata hanya memiliki suatu fungsi tertentu saja. dan setiap kalimat hanya mewakili suatu keadaan factual (fakta) tertentu saja. . dan memiliki symbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas (Wittgenstein. Atas dasar konstatasinya tersebut maka Wiitgenstein merealisasikannya dalam karya besarnya tersebut dan struktur bahasa yang digunakan dalam uraian filosofisnya berdasarkan suatu struktur logika. Pengguna logika bahasa yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat. 34). Suatu logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghingari ungkapan yang tidak bermakna. Problem dan proposisi yang dikemukakan oleh filsuf terdahulu itu tidak dapat dipahami karena mereka tidak mengerti dengan logika bahasa. Atas dasar karya besarnya inilah maka ia diberi gelar doctor filsafat di Trinity College di Cambridge. Russell dalam kata pengantar buku tersebut menyatakan bahwa pemikiran Wittegenstein dalam bukunya itu telah menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. Oleh karena itu kita akan membuat kita menjadi tidak logis juga (Wittgenstein. Oleh karena itu analisis dilakukan terhadap proposisi tau realitas yang dikemukakan oleh para filsuf terdahulu melalui penggunaan bahasa yang memnuhi syarat logika. Ketidak jelasan dan kekacauan yang terjadi dalam filsafat karena kekaburan bahas filsafat yang tidak yang menggunakan tolok ukur yang jelas yang dapat menentukan apakah suatu ungkapan filsafat itu bermakna atau tidak bermakna. Demikianlah kiranya pendapat Wittgensteinn yang sejalan dengan seniornya yang menegaskan tugas filsafat adalah melakukan analisis tentang ungkapan-ungkapan.bentuk seperti semula yang tidak terpahami. Untuk menghindari suatu kekacauan dan kesalahan yang seupa dalam filsafat maka perlu disusun suatu kerangka bahasa yang memenuhi dtruktur logika bagi uraian dan pemecahan problema-problema filosofis. 1962: 33. 1963: 31. 32). problem-problem serta konsep-konsep dengan menggunakan bahasa yang memiliki struktur logika.

Dunia itu bukanlah terdiri atas benda-benda. Kedua : setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri. (The worlds is all that is the case) 1. (what is the case. (The World devides into facts) 2. a fact the existence of states of affairs). melalui analisis. Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu. yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir. dan akhirnya terbagi menjadi sautu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas). Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian. Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: Pernyataan yang pertama 1. adalah suatu peristiwa (state of affairs) atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia. bukan dari benda-benda. sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut: Pertama : dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta. Pemikiran Filosofis Tractatus Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus tradisi atas pernyataan-pernyataan yang secar logis memiliki hubungan. (The World is the totality of fact not of thing) 1. menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer.2.2 Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan). atau benda-benda . Menurut Wittgenstein yang dimaksud dengan fakta.1 Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta.

Dengan demikian dunia itu harus dijelaskan atau diterangkan bukan dalam arti objek-objek itu sendiri. ruang. dan keadaan (lihat Poewowidagdo: 37). Jadi yang dimaksud Wittgenstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa (state of affairs). demikian seterusnya dan akhirnya kita sampai pada fakta-fakta yang sudah tidak dapat diredusir atau dikurangi lagi. dunia itu adalah jumlah keseluruhan dari fakta (totalitas fakta) dan bukannya jumlah dari objekobjek atau benda-benda itu sendiri. Letak jendela di depan pintu pertama. kualitas.itu bukanlah bahan dunia. Fakta-fakta ini adalah fakta yang terkecil. dan berada di antara satu dengan lainnya jadi tentang uraian mengenai bagaimana peristiwa tentang objek-objek itu berada dan terjadi. Faktafakta itu adalah yang paling sederhana yang berdiri melingkuupi diri sendiri yang dapat berada pada dirinya dalam isolasi. kuantitas. Fakta-fakta ini berikutnya terdiri tas fakta-fakta yang makin kurang kompleks lagi. 3. dalam arti bahwa dunia itu pada akhirnya terdiri atas fakta-fakta atomis tersebut. waktu. hubungan kausalitas. Dunia itu terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan dalan arti hubungan antara satu dengan lainnya. enam jendela terletak disebelah kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang dan lain sebagainya. Struktur Logika Bahasa . Misalnya suatu keberadaan peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding. melainkan bagaimana objekobjek itu berhubungan. yang paling elementer yang merupakan bagian terkecil sehingga disebut sebagai fakta atomis. Lebih lanjut dijelaskan oleh Wittgenstein bahwa totalitas fakta itu sangat kompleks (rumit) dan terdiri atas fakta-fakta yang kurang kompleks. namun objek-objek itu merupakan subtansi dunia. yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan. Struktur logika Wittgenstein menjelaskan bahwa fakta-fakta atomis adalah merupakan balok-balok bangunan (building blocks) dari dunia.

Di dalam sebuah proposisis sebuah pikiran mendapatkan sebuah ungkapan yang dapat diamati oleh indera 3.01 sebuah proposisi itu adalah suatu gambaran realitas (kenyataan) Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan.2. 4. Bagian-bagiandari proposisi-proposisi elementer (dasar) bukanlah proposisi itu sendiri. Sebuah pikiran adalah sebuah proposisi yang bermakna 4. Sebuah proposisi dasar (elementer) proposisi-proposisi lebih lanjut dan tidk dapat dianalisis lagi menjadi halnya sebuah fakta atomis adalah sebuah faktayang tidak terdiri atas fakta lebihlanjut dan lebih asasi.Konsep Wittgenstein tentang logika bahasa dalam mengungkapkan realitas dunia diuraikannya dalam pernyataannya yang kedua sebagai berikut: 3. 3. Di dalam sebuah proposisi sebuah pikiran dapat diungkapkansedemikian rupa sehingga unsure-unsur dari tanda proposisi berkesesuaian dengan objek dari pikiran. Sebuah gambaran logis dari suatu kenyataan itu adaah sebuah pikiran 3. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya (ultimate constituent) dari segala sesuatu itu terpancang di dalam hakikat sesuatu itu. Proposisi-proposisi yang mempunyai makna adalah proposisi yang berhubungan dengan sebuah nama. Hal itu didasarkan pada .21 Sebuah proposisi hanya mempunyai satu analisis yang lengkap 3. Dengan kata lain bagi setiap “X” maka hanya ada sebuah jawabanyang benar terhadap pertanyaan “apa bagian terakhir dari “X” itu?.3. nama itu bermakna manakala dalam hubungannya dengan proposisi.1.menurut Wittgenstein bahwa setiap proposisi elementer itu hanya memiliki satu saja analisis yang final.001 Jumlah keseluruhan (totalitas) dari proposisi itu adalah bahasa 4.

001). “Bujursangkar” bukanlah sebuah nama karena pengertian bujursangkar dapat didefinisikan lebih lanjut dan dianalisis lebih lanjut maka hal ini bukanlah sebagaimana nama primitive yang dimaksudkan oleh Wittgenstein. Oleh . Wittgenstein kemudian berpendapat bahwa setiap proposisi itu harus dapat dianalisis menjadi proposisi-proposisi dasar. yang seluruhnya terdiri atas nama-nama (4. jadi sebuah proposisi dasar membenarkan suatu faktafakta karena sebuah fakta itu adalah keberadaan suatu peristiwa.asumsinya bahawa setiap proposisi itu mempunyasi satu makan tertentu secara sempurna. dan dengan demikian menjadi tidak berarti ataut idak bermakna. Sebuah nama itu berarti sebuah objek.26). karena Sokrates dapat didefinisikan sebagai misalnya seorang laki-laki.21). Wittgenstein menyatakan bahwa proposisi-proposisi yaitu suatu proposisi dasr mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa (state of affairs (4. sperti nama orang atau nama sesuatu.203). jadi misalnya “Sokrates” bukanlah dalam pengertian tekni ini. Proposisi-proposisi dasar adalah bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa (4. Jadi “X” dan “Y”. Sebuah nama tidak dapat dipecah-pecah lebih lanjut dengan cara defines. Karena masuk akal bilamana kita menganggap bahwa hanya proposisi dasarlah yang besar dari segala macam makna ganda dari segala kemungkinan salah paham atau salah arti tentang makna proposisi. ‘merah’ dan ‘biru’. jadi jikalau tidak ada objek maka fungsi dari proposisi-proposisi dasr hanya akan terdiri atas istilah-istilah (terms) yang tidak mempunyai arti. dan objek itu adalah maknannya (3. sebuah proposisi dasar itu adalah suatu proposisi. ‘hijau’ dan sebagainya adalah sebagai contoh nama primitive yang dimaksudkandalam tractatus. “Nama” dalam pengertian ini menurut istilah Wittgenstein adalah sebagai tanda pertama (primitive) (3. dalam pengertian ini istilah ‘nama’ memiliki pengertiant eknis dan menurut Wittgenstein tidak gunakan dalam arti biasa.22). Dengan menerima asumsi ini. seorang filsuf Yunani yang hidup di Athena dan lain sebagainya.

Hal itu diungkapkan Wittgenstein dalam “Tractatus” sebagai berikut: “Sebuah proposisi itu adalah gambaran realitas (kenyataan) dunia. dan keseluruhan proposisi adalah bahasa. 4. Dunia adalah keseluruhan dari fakta-fakta .karena itu proposisi dasar itu adalah bagian akhir dari proposisiproposisi. Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan” (4.112). sehingga dalam memahami realias dunia manusia hanya akan memberikan suatu keputusan benar atau salah. . bermakna atau tidak bermakna ungkapan yang menjelaskan dunia. Demikian juga dengan mudah saya dapat memahami proposisi itu tanpa perlu dijelaskan lagi suatu pengertian yang terkandung didalamnya (4. Dengan demikian struktur logis dunia terungkap melalui bahasa yangmemiliki kesesuaian dengan struktur logis dunia. maka suatu kesimpulan logis yang dapat ditarik adalah bahwa kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam suatu bahasa. Struktur logika bahasa yang digunakan Wittgenstein dalam mengungkapkan suatu realitas dimaksudkan untuk mengatasi kekaburan-kekaburan. Teori Gambar (Picture Theory) Pemikiran Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. “Proposisi itu adlah gambaran realitas (kenyataan) dunia maka jika saya memahami proposisi itu berarti saya memahami keadaan suatu peristiwa secra raktual (fakta) yang dihadirkan melalui suatu proposisi tersebut.01). Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa maka bahasa pad ahakikatnya merupakan suatu gambaran dunia.

adapun proposisi sebagai sarana yang berupa suatau ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa kepada kita itulah yang dapat dikenakan kualifikasi benar atau salah (Bertens. terdapat pula proposisi-proposisi logika yaitu kebenarankebenaran yang berdasar pada prinsip-prinsip logika. Proposisi-proposisi tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran.Dalam pengertian ini Wittgenstein berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika untuk mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. selanjutnya akan nampak . Oleh karena itu proposisi merupakan suatu gambaran keberadaan suatu peristiwa. Menurut Wittgenstein proposisi logika sebenarnya tidak termasuk proposisi sejati.” Yang merupakan suatu kontradiksi. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief (Sokolowski. Namun demikian menurut Wittgenstein proposisi logika tersebut bukan berarti tidak bermakna. namun merupakan suatu kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. Hal itu termasuk tautology-tautologi. Maka sebuah proposisi memiliki dua macam kutub yaitu suatu proposisi mengandung kebenaran jikalau berkesesuaian dengan suatu keberadaan peristiwa. melainkan kebenarannya bersifat tautologies (Betens. dan sebaliknya sebuah proposisi mengandung suatu kesalahan manakala tidak berkesesuaian dengan keberadaan suatu peristiwa (Wittgenstein. Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologis. Selain proposisi yang menggambarkan keberadaan suatu peristiwa. 1981:44). Konsep Wittgenstein tentang teori gambar yangmenjelaskan tentang hubungan antara proposisi yang diungkapkan melalui bahasa dengan realitas keberadaan suatu peristiwa. maka keberadaan suatu peristiwa itu tiada dapat benar atau salah. atau kontradiksi-kontradiksi. sebab tidak menggambarkan sesuatu. dan “Amin berada di rumah atau tidak berada di rumah. dalam Mustansyir: 56). 1969:94). 1964. 1981:45).

hal tersebut sebenarnya termasuk pengertian nama variable. yaitu termasuk tipe-tipe kata yang mengacu pada konsep yang bersifat formal dan hal ini sebenarnya menurut Wittgenstein bukanlah merupakan suatu konsep.sikap pandangannya tentang realitas fakta dengan unsure metafisik yang hal itu ditolak oleh Wittgenstein. fakta. Pada tingkatan reduktif Wittgenstein sependapat dengan Russell dengan cara menganalisis unitunit bahasa sampai pada unsure logis. angka dan ada. 1984:128). objek. 1959:81). 5. kompleks. mobil. Metode untuk menentukan konsep nyata adalah jilalau dapat dipahami peningkatanucapan mengenai konsep yang bersangkutan. yaitu mencampuradukkan pemakaian ungkapan konsep nyata dengan konsep formal. Perbedaan itu dapat terjadi karena memiliki susunan satuan kata yang menyusun kalimat tersebut. Prinsip verifikasi problema-problema filsafat timbul karena kekacauan para filsuf dalam penggunaan bahasa. Kedua tipe kata yang termasuk pengertian konsep formal. yaitu yang harus diisi oleh konsep nyat a(Charlesworth. fungsi. Sebgaimana telah dibahas di muka bahwa suatu satuan uangkapan bahasa yang memiliki struktur sintaksis yang sama. Pengingkaran terhadap konsep formal itut idak masuk akal dan penggunaan suatu konsep formal yang seakan-akan merupakan suatu konsep nyata hal itu akanmenimbulkan suatu kekacauan (Bakker. bola dan lain sebagainya. Konsep formal tersebut misalnya arti. Tipe-tipe kata (Word Type) Dalam upaya penerapan metode analisis bahasa Wittgenstein menerapkan beberapa teknik untuk menganalisis makna bahasa. tongkat. antar lain dengan menganalisis tipe-tipe kata. yaitu tipe kata yang termasuk memiliki acuan kongkrit sepeti : meja. kursi. Menurut Wittgenstein Struktur bahasa yang terdapat dalam konsep formal itu digunakan secara paksa untuk mengikuti struktur . Dalam penentuan tipe-tipe kata inilah perlu dibedakan pengertian konsep nyata. dapat berbeda susunan logisnya.

Pengembangan lebihlanjut tentan word types tersebut dilakukan oleh Wittgenstein pada filsafatnya pada periode kedua yaitu pada teori language game. ia hanya dapat diungkapkan dalam bentuk symbol yang bersifat pasti (Wittgenstein. adapun pada konsep filosofisnya pada periode kedua Wittgenstein mendasarkan pada language game. Keduanya memiliki cirri yang berbeda. Konsep formal tidaklah sama dengan konsep nyata yang hadir melalui suatu fungsi yang dimilikinya. Selain itu terdapat proposisi-proposisi logika yaitu proposisi-proposisi yang mendasarkan pada prinsip-prinsip logis yang kebenarannya besifat tautologies-tautologis. 1969:126). melainkan hanya ditunjukkan oleh objek itu sendiri dalam bentuk symbol (misalnya ‘nama’. Proposisi-proposisi logika itu bermakna akan tetapi tidak menggambarkan suatu realitas . maka menurut Wittgenstein propoisisi yang bemakna adalah proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. menurut Wittgenstein sesuatu yang termasuk konsep formal itu sebenarnya tidak dapat diungkapkan ke dalam sebuah proposisi.bahas ayang serupa dengan konsep nyata oleh karena itu tidakmemiliki struktur logis maka. angka dipergunakan untuk tanda bilangan. yang dalam kenyataannya visi dasar filosofisnya uupaya Wittgenstein dalam mengembangkan bahas ideal dalam konsep filsafatnya yang dalam kenyataannya bertolak dari dasar-dasar yang berbeda pada konsep filosofisnya pada periode pertama yang mendasarkan pada struktur logis bahasa. dan lain sebagainya). dipergunakan untukmengatakan suatu objek. sehingga sttuktur logis dunia terlukiskandalam struktur logis bahasa dan proposisi yang melukiskan suatu realitas dunia inilah yang merupakan suatu proposisi sejati. sebab sifat-sifat formal tidak dapat menghadirkan fungsinya secara jelas. 6. Pandangan Wittgenstein tentang Metafisika Berdasarkan pada pandangannya struktur hakikat realitas dunai ang diungkapkan melalui ungkapan bahasa yang disebut proposisi.

Wittegenstein bermaksud bahwa tidak pernah suatu kejadian dalam dunia dapat dipandang sebagai “campur tangan” Allah. sebagiamana mata tidak dapat diarahkan pada dirinya sendiri. Tidak dapat dikatakan pula bhawa Allah menyatakan dirinya dalam dunia. Menurut Wittgenstein metafisika melampuai batas-batas bahasa. Hal-hal yang melampaui batas-batas bahasa tersebut menurut Wittgenstein adalah subjek. Sebab kalau . Tugas menurut Wittgenstein adalah menjelaskan kepada seseorang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan. (3) Juga Allah tidak dapat dipandang sebagai Sesuatu didalam dunia. kaerna kematian itu tidak meruapakan suatu kejadian yang dapat digolongkan diantara kejadian-kejadian lain. Berdasarkan pandangan filosofisnya maka teori gambar memiliki konsekuensi logis menolak porposisi-proposisi metafisis karena menurut Wittgenstein proposisi tersebut tidak bermakna. Kematianmanusia seakan-akan memagari dunia manusia tetapi tidak termasuk didalamnya. Ketidakbermaknaan propoissi metafisik tersebut didasarkan atas teorinya bahwa proposisi tersebut tidak mengungkapkan apa-apa atau dengan lain perkataan bersifat ‘omong kosong’. (1) Oleh karena bahasa merupakan gambaran dunia. subjek yang menggunakan bahasa tidak termasuk dunia. kematian. Demikian juga subjek yang menggunakan bahasa tidak mungkin diarahkan pada dirinya sendiri. Tentu saja penolakan atas proposisi tersebut menurut atas nama ‘logika bahasa’. Menurut Wittgenstein filsafat bukanlah merupakan suatu ajaran melainkan merupakan suatu aktivitas. namun demikian Wittgenstein menyatakan bahwa memang terdapat hal-hal yang memang tidak dapat dikatakan yaitu hal-hal yang bersifat mistis. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan.dunia karena tidak menggambarkan suatu kebenaran peristiwa dan kebenaran bersifat pasif. Allah dan bahasa sendiri. (2) Demikian juga kematian tidak mungkin juga berbicara tentang kematiannya sendiri.

Positivisme Logis Pada tahun 1922 berkembanglah suatu gerakan filsafat baru yang dirintis oleh seorang fisikus sekaligus seorang filsuf bernama Moritz Schlik (1882-1936). I. serta beberapa mahasiswa antara lain. Karena hanya sebagai alat belaka (Bertens. 1981:46). 1981:166). Rudolf Carnap ahli matematika dan fisika. Hans Hahn juga seorang ahli matematika. .maka Allah bekerja sebagai sesuatu dalam dunia. Akibatnya kita tidak dpat berbicara tentang Allah dengan cara yang bermakna. Karl Menger ahli matematika. Anggota-anggota lingkungan Wina ini antara lain: Kurt Goedel. yaitu suatu kota yang sekaligus sebagai pusat kelompok ilmuwan yang terkenal dengan nama Vienna Circle atau dikenal juga mazhab Wina (Kring Wina). ontology tentang hakikat dunia. yang berarti mengakui bahwa terdapat unsure metafisika dari bahasa yaitu makna. akant etapi suatu gambar tidak memantulkan dirinya sendiri. Oleh karena itu Wittgenstein berkesimpulan bahwa orang yang mengerti Tractatus akan mengakui bahwa ucapan-ucapan didalamnya tidak bermakna. Gerakan filsafat baru ini berpusat di Wina. (4) Yang paling paradoksal adalah pendapat Wittgenstein bahwa bahasa tidak dapat bicara tentang dirinya sendiri. seorang ahli matematika. Bahasa menggambarkan dunia. Philip Frank seorang ahli fisika. Penolakan Wittgenstein pada metafisika sebenarnya merupakan suatu sikap yang tidak konsisten dengan visi dasar bahasa yang dilukiskannya sebagai gambaran dunia yang memiliki struktur logis. Ia seakanakan memanjat melalui tanggal dnsetelah itu membuang tangga tersebut. Hal ini sebenarnya sudah merupakan suatu keyakinan metafisika. Friederich Wismann dan Herbert Feigl (Bertens. dan dalam masalah ini ia lupa bahwa dalam berbagai hal ia menunjukkan bahasa yang bermakna. Melalui bahasa si pembaca dihantar ke suatu titik di mana ia mengerti bahwa bahasa yang dihantarkannya tidka bermakna.s elain itu pendapatnya tentang hakikat bahasa bahwa bahasa seaka-akan hanya merupakan suatu struktur fisis dan logis.demikian.

Inggris dan Skandinavia. Hans Hahn dan Rudolf Carnap mengeluarkan suatu deklarasi ilmiah dalam suatu konggres International pertama dengan judul Wissenschaftliche Weltauffasung: der Wiener Kreis (pandangan dunia yang bersifat ilmiah: Lingkungan Wina). Melalui suatu karangan kecil yang disusun oleh Neurath. Ungkapanungkapan metafisis itu ditolak oleh kaum positivism logis bukan karena bersifat emotive. Aliran ini sangat dipengaruhi oleh tradisi empirisme yang melanjutkan garis tegas pada leluhurnya yaitu David Hume. Pandanganini menguraikan tentang pendirian filosofis kelompok lingkungan Wina yang sangat diwarnai oleh ilmu-ilmu pengetahuan positif. Berdasarkan nama yang dipopulerkannya aliran ini juga mendapat pengaruh positivism. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan metafisis itu pada hakikatnya tidak menyatakan apa-apa sehingga bersifat ‘nirarti’ atau (Poerwowidagdo: 52). Oleh karena itu aliran tersebut disepakati dengan nama “neopositivisme” atau popular dikenal dengan nama “positivism logis. Positivism logis menggunakan teknik analisis untuk dua macam tujuah: Pertama: bertujuan untuk menghilangkanmetafisika. Sebagaimana diungkapkan oleh Rudolf Carnap sebagai seorang tokoh positivism logis dalam suatu tulisannya yang berjudul “the Elemination of Metaphisics Through Logical Analysis” (Pengapusan metafisika melalui analisis logis) menyatakan: tidak bermakna . John Stuart Mill dan Ernest Mach (Bertens. 1981:169).Aliran ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Ludwig Wittgenstein. namun karena berpura-pura sebgai ungkapan atau hal yang bersifat kognotif. melainkan pada dirinya sendiri tak dapat ditolak. Beberapa kali diusulkan nama empirisme logis dan oleh karena nama tesebut lazim digunakan oleh aliran filsafat yang berkembang di Amerika Serikat. walaupun pengaruhnya bersifat langsung dan sebenanrya Wittgenstein sendiri tidak ikut aktif dalam kelompok Wina tersebut.” Positivism logis menerima pandangan-pandangan filosofis dari atomisme logis tentang logika dan cara atau teknik analisisnya namun demikian positivism logis menolak metafisika atomisme logis.

atau tidak menyatakan sesuatu sama sekali (Poerwowidagdo. Penekanan pada pengalaman menunjukkan aspek empirisme yang kuat dalam positivism logis. 1959:60).hal ini sebagaiman dikemukakan oleh Moritz . hanya dinyatakannya bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu tidak dapat dipahami. melainkan bahwa tidaklah suatupengingkaran atasnya.akan tetapi bahwa apa yang dikatakan kaum metafisika itu tidak menyatakan sesuatu sama sekali. Positivism logis tidak melawan metafisika. 1959:107). Oleh karena itulah maka positivism sering disebut empirisme logis. atau oleh intuisi murni yang berpurapura dapat dilakukan tanpa pengalaman. 55). apa yang dimaksud dengan pengetahuan yang berasal dari pemikiran murni. metafisika itu nirarti mengingkari berarti keberadaan dunia luar atau dunia yang transenden. tetapi menunjukkan bahwa baik pengingkaran maupun pengakuan keduaduanya adalah nirarti” (Schlik. (Ayer. Keputusan ini pertama-tama mengenai pada metafisika yang spekulatif. Penolakan terhadap metafisika oleh positivism logis tidak boleh diartikan bahwa positivism logis itu menolak atau pernyataan-pernyataan Schlick sebagai berikut: “Pengingkaran tentang keberadaan dunia luar yang transenden itu akan sama saja dengan suatu pernyataan metafisis tentang pengakuan keberadaan dunia luar yang trasenden itu.“Didalam wilayah metafisika termasuk semua filsafat nilai dan teori norma analisis logis menghasilkan hal yang negative yaitu pernyataanpernyataan bidang ini (metafisika dll) semuanya adalah nirarti” Lebih lanjut mengemukakan sebagai berikut: Analisis logis dengan demikian member keputusan dan menyatakan nirarti pada setiap apa yang disebut pengetahuan yang berpura-pura melampaui batas-batas pengalaman. Jadi kaum positivism logis atau empirisme logis itu tidak menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu salah. Dengan demikian seorang empiris yang konsisten tidak mengingkari dudnia transenden.

tetapi hanya apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu nyata. positivism logis menggunakan teknik analisis demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. yaitu melalui pengalaman. Menurut positivism logis filsafat tidak memiliki suatu wilayah ilmiah tersendiri yang terletak disamping wilayah-wilayahlain yang menjadi objek ilmu pengetahuan. Filsafat tidak menyoroti problemproblem yang berbeda dari problem-problem ilmupengetahuan. Oleh karena itu tidak dapat diharapkan bahwa filsafat akan memecahkan problemproblem ilmu pengetahuan ilmiah. Tugas filsafat adalah analisis logis terhada pengetahuan ilmiah.Kedua. hal itu hanya dapat diputuskan melalui metode umumnya dalam kehidupan sehari-hari dan dari ilmu pengetahuan. 1. Positivism logis terutama memperhatikan duamasalah : (1) analisis pengetahuan. Demikianpula terdapat problem-problem lain yang karena penjelasan yang sama dinyatakan termasuk kompetensi ilmu pengetahuan.jadi menurut positivism logis tugas filsfat itu memperhatikan analisis-analisis dan penjelasan tentag pernyataan-pernyataan dan proposisiproposisi terutama dari ilmu pengetahuan. dan (2) pendasaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. kecuali hanyamenganalisis masalahmasalah dan disusul dengan menjelaskannya. Dengan demikian sebenarnya banyak problem yang semu saja yang menampakkan seolah-olah merupakan suatu problema yang amat penting pada hal penjelasan analitis menunjukkan suatu keputusan. Sebab dengan analisis filsafati kita tidak dapat menentukan apakah sesuatu itunyata (real). Analisis Logis terhadap Bahasa Secara prinsip positivism logis menerima konsep-konsep atomisme logis dalam hal analisis logis melalui bahasa. Demikian juga apakah hal itu memang demikian atautidak. demikian juga terhadap psikologi dan sosiologi. walaupun mereka menolak visi dasarmetafisisnya. .

Dalam pengertian inilah maka positivism logis mengembangkan prinsip verifikasi. matematika serta ilmu pengetahuan alam yang bersifat positif dan empiris. suatu pernyataan “di planet Mars terdapat makhluk hidup sejenis manusia”. 1966:108). Setiap ilmu pengetahuan dan filsafat senantiasa memiliki suatu pernyataan-pernyataan baik berupa aksioma. Memverifikasi berartimenguji. Hal ini berarti bukan mengharuskan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu telah dilakukan verifikasi. pengujian dan pembuktian .Atas dasarpengetahuan tersebut maka kaum positivism logis menentukan sikap bahwa agar tidak terjadi kekacauan maka analisis terhadap bahasa yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dalam filsafat adalah langkah yang paling tepat. 2. Namun prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh positivism logis tersebut yang dipegang teguh adalah suatu keharusan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu secara prinsip memiliki kemungkinan diverifikasi secara empiris. Misalnya. teori atau dalil hal itu dianggap memiliki makna bilamana secara prinsip dapat diverifikasi. Menurut mazhab yang berpusat di Wina ini bahwa suatu ungkapan atau proposisi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi. Pernyataanini bermakna walaupun belum dilakukan suatu verifikasi. Misalnya pengamatan. membuktikan secara empiris. 58). atau bahkan prinsip verifikasi itu juga tidak mengharuskan menghasilkan suatu pernyataan yang mesti benar (Poerwowidagdo. akan tetapi pernyataan ini memiliki kemungkinan verifikasinya. Oleh karena itu arti suatupernyataan adalah sama dengan metode verifikasinya yang berdasarkan pada suatu pengalaman empiris (Beerlling. maka sudah dapat dipastikan bahwa analisis logis tentang pernyataan-pernyataan ilmiah maupun pernyataan filsafat sagnat ditentukan oleh metode ilmu pengetahuan positif dan empiris tersebut. Prinsip Verifikasi Positivism logis yang konsep-konsep dasarnya sangat diwarnai logika.

Pernyataan “pemahaman akan analogi etnis adalah bertitik tolak dari yang ada yang bersifat transcendental” (Bagus. “Realitas pada hakikatnya bersifat absolute” dan pernyataan-pernyataan metafisis lainnya menurut positivisme logis merupakan suatu pernyataan yang tidak bermakna. Jadi yang membenarkan ungkapan metafisis maupun yang menegasikan ungkapan yang sama pada hakikatnya kesemuanya itu omong kosong belaka sebab tidakada kemungkinan untuk melakukan verifikasi.000. Di dalam sebuah tas terdapat uang sejumlah seratus ribu rupiah. verifikasinya ternyata hanya terdapat uang sejumlah Rp.dilakukan dengan menggunakan telescope. hal ini merupakan suatu pernyataan yang bermakna walaupun setelah dilakukan pembuktian. Jadi prinsip verifikasi juga tidak harus dijamin dengan kebenaran hasil dari verifikasi tersebut. satelit dan lain sebagainya. konsekuensinya juga sama yaitu pernyataan yang tidak bermakna. Peristiwa semacam itu terlihat dalam kalimat protocol dan inilah yang menjadi permulaan ilmu . 1991:66). Demikian juga terdapat orang yang menyatakan “realitas itu tidak bersifat absolute”.-. Pada pernyataan-pernyataan ini tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. Walaupun secara prinsip kaum positivism logismenerapkan prinsip verifikasi. Menurut Sclick bahwa salah satu cara penetahuan itu dimulai dengan pengamatan peristiwa secara empiris. Konsekuensinya setiap pernyataan atau proposisi yang secara prinsip tidak dapat diverifikasimaka pernyataan tersebut pada hakikatnya tidak bermakna. 5. namun di antara para tokoh-tokohnyamemiliki perbedaan pandangan. Moritz Schlick misalnyamenafsirkan verifikasi itu dalam pengertian pengamatan empiris secara langsung. Hanya proposisi atau pernyataan yang mengandung istilah yang diangkat secara langsung dari objek yang dapat diamati itulah yangmengandung makna (hal ini dinamakan dengan istilah kalimat protocol). Pernyataan-pernyataan tersebut tidakmemiliki kemungkinan untuk dilakukan pembuktian secara empiris. Demikianlah kiranya penolakan yang sangat radikal kaum positivime logis terhadap metafisika.

melainkan juga kalimat yang dapat dianalisis lebih lanjut Ayer menegaskan bahwa suatu cara yang sederhana untuk merumuskan hal itu dalah dengan mengatakan bahwa suatu kalimat menandung makna. yaitu kalimat atau pernyataan yang diperiksa benar atau salahnya melalui pengamatan empiris secara langsung. Prinsip verifikasi ini memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan. 1966:107).(Beerling. 1952:5). jikalau pernyataan atau proposisi itu dapat diverifikasi atau dapat dianalisis secara empiris. Adapun verifikasi dalam arti yang lunak. yaitu jikalah sejauh proposisi itu mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Komentar atas prinsip verifikasi tersebut antara lain dari seorang tokoh posivitisme logis Ayer. yang hanya mendasarkan prinsip verifikasi hanya secara empiris saja. Melalui prinsip verifikasi ini tidak hanya kalimat yang teruji dan terbuktikan secara empiric saja yang bermakna. Konstatasi Sclick ini menimbulkan kontroversi yaitu prinsip yang meletakkan verifikasi hanya pada suatu peristiwa yang dapat dialami secara langsung. 1952:37). yang mengaitkan prinsip verifikasi itu dengan kalimat protocol. . Hal ini jelas terdapat pada pandangan Sclick. Menurut Ayer prinsip verifikasi itu merupakan pengandaian untukmelengkapi suatu criteria sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat itu mengandung makna atau tidak (Ayer. Ia menyadari kelemahan yang terdapat dalam prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh Sclick. Menurut Ayer prinsip verifikasi sebagaimana yang diajukan oleh Sclick itu merupakan verifikasi dalam arti yang ketat dan disamping itu terdapat verifikasi yang bersifat longgar atau lunak. Penafsiran yang dikemukakan oleh Ayer terhadap prinsip verifikasi tersebut berhasil mengatasi kelemahan yang terdapat dalam pandangan tokoh posivitisme logis sebelumnya. Verifikasi yang bersifat ketat (strong verifiable) yaitu sejauh kebenaran suatu pernyataan atau proposisi itu didukung pengalaman secara meyakinkan.

Konsekuensinya ungkapan yang dikemukakan dalam ilmu penetahuand an filsafat merupakan proposisi-proposisi maka penentuan macam dan jenis proposisi tersebut menjadi sangat penting. (2) Proposisi analitis tidak berdasarkan pada pengalaman. (2) Proposisi formal (proposisi analisis).3. pernyataan-pernyataan atauproposisi-proposisi dalam ilmu penetahuan dan filsafat. Terdapat dua macam proposisi menurut positivism logis yang pengertiannya sebagai berikut : (1) Proposisi empiris. melainkan berdasarkan pada pengetahuan a priori (pengetahuan yang diperoleh melalui refleksi logis tanpa melalui pengalaman empiris). Dalam pembahasannya tentang proposisi Ayer memberikan beberapa cirri yang diuraikan sebagai berikut: (1) Proposisi analitis memiliki cirri benar berdasarkan pembatasan sematamata berdasarkan makna yang terkandung dalam susunan simbolnya. yaitu proposisi factual yang harus dapat diverifikasi secara empiris. Konsep Proposisi Doktrin yang telah dipegang teguh oleh kalangan positivism logis adalah bahwa tugas filsafat adalah untuk menentukan danmembuat jelas. yaitu proposisi yang kebenarannya tidak memerlukan verifikasi secara empiris. . Menurut Ayer proposisi empiris manakala mengandung suatu kemungkinan untukdisahkan atau ditolak dalam pengertian pengalaman yang sebenarnya. Sehingga tidak memerlukan verifikasi empiris. oleh karena itu filsafat harus melakukan analisis dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Proposisi formal ini meliputi proposisi logika dan matematika yang memiliki kebenaran secara pasti (kebenarannya bersifat tautologies) sehingga tidak memerlukan verifikasi pengalaman empiris.

Misalnya semua manusia pasti mati”. Proposisi analisis yang semata-mata benar berdasarkan simbolnya adalah dalam matematika. karena “mati” itu merupakan sifat yang sudah semestinya ada pada manusia. jadi maknanya terletak pada bahasa atau ungkapan-ungkapan verbal. hal itu tergantung pada fakta bahwa symbol “dokter mata” itu secara logis sama artinya dengan “spesialis mata”. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern dewasa ini konsep proposisi menurut positivism logis ini menjadi kata kunci untuk mendapatkan suatu kebenaran ilmiah yang objektif. Dan hal itu berarti tidakada pengalaan yang akan membuktikan atas ketidakbenarannya (Ayer. Persoalannya adlaah ilmu pengetahuan itu beraneka ragam corak dan sifatnya baik berdasarkan objek formal maupun objek materialnya. dalam Mustansyir 1987:73). Proposisi yang didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti artinya. Pengtahuan yang kita peroleh berdasarkan suatu refleksi logis ( apirori) mengenai pengertian bahwa “seorang spesialis dokter mata adlaah seorang dokter mata”. (Charlesworth. yaitu suatu pernyataan yang mesti berdasarkan hukum-hukum logika. (4) Proposisi analitis mengandung makna sejauh proposisi yang bersangkutan didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti.(3) Proposisi analitis mengandung kepastian dan keniscayaan. Pernyataan semacam ini merupakan tautologies. 1952:85). misalnya “9 + 8=17” adalah proposisi matematika yang kebenarannya berdasarkan symbol yaitu “9+8” adalah sama dengan “17” Kebenaran proposisi analisis yang didasarkan pada pengetahuan a priori. berarti penjelasan yang sama merupakan pegangan bagi setiap kebenaran a priori lainnya. yaitu memiliki sifat kebenaran tautologies. berarti terdapat suatu hubungan yang memang sudah semestinya. proposisi tersebut tidak memiliki kandungan istilah yang factual. Proposisi analisis mengandung kepastian dan keniscayaan yang bersifat tautologies. Oleh karena itu .

Percobaan itu mendapat sambutan hangat pada waktuitu. Logika dan Matematika Sejak pertengahan abad ke-19 logika mengalami suatu pembaruan radikal. Whitehead yang sangat penting (Principia mathematica. Karena dapat mengerti bahwa tidak mungkin logika dan matematika mempunyai dasar empiris. Relasi-relasi dalam matematika tidak dapat ditangani dengan menggunakan skema logika tradisional . sebab dengan itu mereka sanggup mengerti lebih baik kedudukan khusus logika dan matematika dalam cakrawala ilmu pengetahuan. atau memang secara apriori memiliki struktur kebenaran. Dengan itu mereka mau meneruskan prinsip empiris seradikal mungkin. Tetapi bagi para pengikut Ludwig Wittgenstein pendirian itu tidak memuaskan. tiga jilid. yang menyoroti relasirelasi lain. yakni subjel-kopula-predikat. 4. 1910-1913). Karena itu terpaksa mereka mengembangkan suatu teori logis yang baru. Mereka mengalami jalan buntu dalam mengkonstruksikan matematika secara regorus atas dasar logika tradisional.akan timbul suatupersoalan yang semakin rumit bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang memiliki sifat kualitatif. Logika baru dan hubungannya dengan matematika memainkan peranan penting bagi Ludwig Wittgenstein. Logika dan matematika tidak dapat diubah oleh . bahwa hubungan antara ungkapan bahasa dalam suatu proposisi harus memiliki hubungan yang jelas dengan fakta empiris. Perbedaan antara logika modern dan logika klasik ialah (1) penggunaan symbol-simbol menurut analogi dengan matematika. tetapi harus bersifat lain. Hal ini berdasarkan tijauan analitis. Dalam abad ke-19 John Stuart Mill dan Herbert Spencer melontarkan percobaan untuk medasarkan logika dan matematika atas pengalaman. Russel dan A.dan (2) bertambahnya wilayah-wilayah pembahasan yangsama sekali baru pembaharuan logika ini dirintis oleh ahli-ali matematika. Suatu usaha untuk mengkonstruksikan matematika dengan memakai logika baru ialah karya B.

1981:170). Tetapi semua ucapan tentang realitas empiris bersifat sintetis. tentu tidak merupakan pendirian baru (rasionalisme misalnya sudah lama menekankan hal itu). Atau dengan suatu istilah yang berasal dari Wittgenstein ucapan-ucapan sedemikian itu merupakan tautology-tautologi. Prinsip-prinsipnya bersifat apriori (tak tergantung pada pengalaman). Dua ilmu ini hanya mengandung relasi-relasi pikiran. Menurut pendapat mereka filsafat tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. Semua anggota lingkungan Wina sepakat dalam mencita-citakan suatu filsafat yang bersifat ilmiah (bandingkan misalnya dngan Karl Jaspers). Realitas empiris menurut segala aspeknya dipelajari oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus. Sebagaimana diketahui bahwa matematika dan logika bersifat apriori. Mereka melihat jalan keluar dari dilemma itu tidak dapat diasalkan kepada pengalaman. Pertanyaan-pertanyaan dan ucapan-ucapan yang menyangkut objek-objek sedemikian tak lain adalah pertanyaan-pertanyaan semu dan ucapan-ucapan semu saja. berarti dlakukan pada pengetahuan tentang fakta-fakta saja dan tidak berlaku untuk setiap macam pengetahuan (Bertens. 5. Dan suatu realitas non empiris atau transenden tidak mungkin menjadi objek pengetahuan. Konsepsi Lingkungan Wina tentang Filsafat Pada akhir uraian neoposivisme Lingkungan Wina ini kita memandang sebentar konsepsi mereka tentag filsafat. Objekobjek metafisika yang tradisional seperti ada yang absolute (tetapi nilainilai yang absolute dan norma-norma) tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita. Hal yang baru yang dilihat oleh Ludwig Wittgenstein ialah hubungannya dengan empirisme. .pengalaman-pengalaman baru. Ucapan-ucapan logika serta matematika bersifat analitis belaka dan bukan sintetis. atau menyalahtafsirkan logika dan matematika (karena orang mau mengasalkannya kepada pengalaman). Logika matematika tidak mengatakan apapun juga tentang realitas empiris.

Ilmu pengetahuan memverifikasi ucapan-ucapan. biologi. sedangkan filsafat meneropong makna ucapan-ucapan. Sampai di situ semua anggota lingkunga Wina setuju. kecuali menjelaskan kata-kata serta ucapan-ucapan dan dengan demikian menyingkirkan ucapan-ucapan yang tidak bermakna. Itu berarti bahwa filsafat tidak boleh melewati masalah teori pengetahuan. Menurut Carna sintaksis logis itu harus disusun secara formal antara relasi-relasi. Tetapi dengan masalah-masalah semacam itu sekarang ini filsafat tidak mempunyai urusan lagi. Seluruh wilayah empiris termasuk wewenang ilmu pengetahuan positif. Sepanjang filsafat dapat kita lihat bahwa filsafat telah menyibukkan diri dengan tiga hal (1) pertama-tama terdapat masalah-masalah yangmenyangkut fakta-fakta empiris. Dalam bukunya Sintaksis logis dari bahasa ia mengatakan bahawa filsafat harus menyelidiki sintaksis logis dari ucapan-ucapan ilmiah. Pada Carnap dapat kita saksikan suatu perkembangan daam pendapatnya tentang tugas-tugas filsafat. juga dalam menyelidiki pendasaran ilmu pengetahuan. ilmu sejarah dan lain-lain. psikologi. Tetapi mereka tidak selalu sepakat dalam menentukan tugas-tugas filsafat secara kongkrit.Metafiska tidak mungkin mencapai status filsafat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. artinya struktur logis ucapanucapan tersebut. filsafat kehidupan organis. Sebagai kesimpulan dapat kita katakana bahwa Ludwig Wittgenstein mempunyai suatu konsepsi jelas tentang cara membatasi tugas filsafat terhadap usaha-usaha intelektual yang lain. Schlock dalam jilid pertama majalah Erkenntnis pernah mengatakan bahwa filsafat tidak mempunyai tugas lagi. tetapi sebagai analsisi logis tentang ilmu pengetahuanalam. Pendekatan formalistis belaka tidakdapat dilaksanakan. Filsafat tidak boleh dimengerti sebagai filsafat alam. (2) berikutnya . Di kemudian hari Carnap menyadari bahwa analisis logis tidak dapat dilepaskan dari masalah bermakna tidaknya bahasa yang diselidiki. filsafat manusia. filsafat sejarah dan sebagainya.

terdapat masalah-masalah yang menyangkut pengekspresian pengetahuan kita atau dengan kata lainmelalui ungkapan bahasa. Dalam pengertian inilah menurut positivism logis justru merupakan letak tugas filsafat dewasa ini. Sebaliknya. Atas fondamen ini dapat disusun berturut-turut . Tetapi dengan itu filsafat tidak mengalami kerugian. Setiap tingkatan bahasa sesuai dengan suatu tingkatan objek-objek. Dalam buni ini Carnap coba membuktikan bahwa setiap objek-objek pengetahuan dapat dasalkan kepada pengalaman-pengalaman elementer subjek. Masalah-masalah ini ditangani dengan menjelaskan konsep-konsep dan ungkapan-ungkapan yang kita pakai. Dahulu masalahmasalah ini ramai dibicarakan dalam filsafat. Untuk itu Carnap menyusun suatu hierarki tingkatan-tingkatan. (3) akhirnya masih terdapat masalah-masalah metafisis. Konstruksi logis dunia karya Carnap. Urutan tingkatan-tingkatan sesuai dengan urutan dalam sttuktur pengenalan. Bahasa Universal bagi Seluruh Ilmu Pengetahuan Suatu usaha yang senantiasa mendapat perhatian para anggota Lingkungan Wina ialah percobaan untuk memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan semua ilmu pengetahuan dapat ‘diterjemahkan’ ke dalam bahasa universal yang sama. tetapi neopositivisme berpendapat bahwa dalam metafisika dipersoalkan pertanyaanpertanyaan yang tidak bisa dijawab. Masalah-masalah ini tidak dapat dirumuskan dalam bahasa ilmiah. lingkup geraknya dibersihkan dari persoalanpersoalan sesat. merupakan suatu percobaan terkenal untuk melaksanakan proyek tadi. Sesuatu yang merupakan dasar seluruh konstruksi ini ialah tingkatanyang disebut “auto-psikologis” (misalnya pengalaman saya tentang ‘merah’). Kalau cita-cita ini sampai diwujudkan. mak asudah terbuktilah bahwa tidak ada banyak ilmu pengetahuan. melainkan hanya satu ilmu pengetahuan yang membahas objek-objek yang termasuk pelbagai tarag pengetahuan. Karena itu maslah-masalah metafisis tidak mempunyai makna. 6.

dan pada umumnya semua istilah dalam bahasa Inggris yang berakhir dengan –ble. Karena itu bahasa inilah menjadi bahasa universal bagi semua ilmu pengetahuan dan tidak ada lagi banyak ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Neurath tidak setuju jika suatu lapisan auto-psikologis diambil sebagai fenomena kesatuan ilmu pengetahuan. Ada kesulitan-kesulitan lain lagi yang mengakibatkan bahwa akhirnya Carnap sendiri tidak puas lagi dengan usaha yang dilontarkan dlam bukunya “konstruksi Logis Dunia” (Bertens. Salah atu kesulitan terkenal ialah masalah dispositioal terms. Maka dari itu bahasa yang dikonstruksikan Carnap mempunyai basis dan susunan sedemikian rupa sehingga setiap ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang khusus dapat “diterjemahkan” melalui tahap-tahap tertentu ke dalam ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang lain. fondamen itu tidak boleh dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang menyangkut suasana “keakuan” (sebagaimana halnya pada Carnap dalam KOnstruksi Logis dunia). tetapi hanya satu ilmu pengetahuan yang diungkapkan dengan suatu bahasa universal. Misalnya soluble (dapat dilarutkan fakta). Objek-objek dari masing-masing tingkatan dapa diasalkan objek-objek dari tingkatan lebih rendah. Carnap memecahkan masalah dispositional terms itu dengan cara mengubah beberapa pendirian dalam bukunya. 1981:173). Menurut dia. Dengan dispositional terms dimaksudkan suatu istilah yang mengungkapkan suatu cirri yang harus disifatkan kepada suatu objek bukan berdasarkan fakta-fakta actual. kalau tingkatan sosiokultur dapat diasalkan kepada tingkatan ilmu-ilmu pengetahuana alam. visible (dapat dilihat). Tetapi ada banyak kesulitan yang mengancam keberhasilan proyek ambisium Carnap ini. social dan cultural. melainkan karena objek yang bersangkutan mempunyai semacam “kemampuan” (idisposition) untuk menimbulkan fakta tertentu. Dengan demikian. Tetapi harus terdiri dari ucapan-ucapan yang . biologis. psikologis. maka orang dapat merumuskan semua ucapan ilmu pengetahuan dalam bahasa dasariah yang mengungkapkan pengalaman-pengalaman elementer kita.tingkatan fisis.

: “pada pukul 15. Istilah ini diciptakan oleh Carnap dalam suatu artikel pada tahun 1931. setelah dia meninggalkan pandangannya dari Konstruksi logis dunia. Semua ilmu pengetahuan sama-sama bersifat ‘fisis’ dan justru itulah memungkinkan kesatuannya. Kalau orang menganut pendirian itu. Bagi Neurath bahasa fisika merupakan bahasa yang paling fundamental dan semua bahasa ilmiah harus dapat diterjemahkan ke dalam bahasa fisika itu. Dalam hal ini memainkan peranan besar apa yang dinamai Neurath sebagai ‘kalimat-kalimat protokol’ (protocol sentences). Dengan perkataan lain. ucapan-ucapan psikologis harus dpat ‘diterjemahkan. Kalimat-kalimat protocol semacam itu merupakan ucapanucapan paling elementer dalam ilmu pengetahuan yang disatukan. Maksudnya ialah kalimatkalimat yang berupa laporan sehingga dapat dikontrol oleh semua orang. Ucapan-ucapan tentang ‘yang psikis’ yang tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis.30 sebuah meja diamati oleh John”. khususnya dalam system saraf pusat. Fisikalisme bermaksud menyangkal setiap perbedaan principal antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan cultural. Ucapan-ucapan psikologi yang sungguh-sungguh ilmiah hanya berbicara kejadian-kejadian dalam badan. . Pendirian Neurath tentang kesatuan ilmu pengetahuan ini membawa dia keapda apa yang disebut ‘fisikalisme’ (pshysicalism). Erkenntnis. Karena semua ilmu pengetahuan cultural (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari imu pengetahuan alam. Dalam hal ini Neurath dan Carnap berkembang kea rah suatu pendapat yang sangat ekstrem. sebab hanya ucapan-ucapan macam in bersifat inersubjektif dan dapat dicek oleh umum. ke dalam ucapan0ucapan tentang keadaan dan kejadian-kejadian badani. Ketika ia sudah meninggalkan pendapatnya dalam konstruksi logis dunia (Die Physikalische Sprache als Universalsprache der Wissenschaft”. maka salah satu problem besar yang dihadapi ialah memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan tentang ‘yang fisis’. tetapi dalam beberapa hal ia tetap mempunyai pendapat lain.seperti misalnya.bersifat umum dan terbuka secara intersubjektif. 1931). Percobaan Neurath ini pada umumnya mendapat dukungan Carnap juga.

Pemikiran filsafat Ayer yang mengintrodusir positivism logis dari lingkungan Wina dan sekaligus disintesiskan dengan metode yang dikembangkan oleh Moore dan Russell. Latar belakang ilmu yang dikuasainya yang di samping imu pasti dan logika. berarti sebagai usaha yang tidak mempunyai makna teoritis dan tidak mengungkapkan sesuatu apapun (Bertens. ia diangkat menjadi professor di Universitas Oxford. Truth and Logic” merupakan karya yang sangat terkenal dan memiliki pandangan yang sangat radikal. nampaknya memiliki corak tersendiri dalam menciptakan klarifikasi dan ketelitian dalam bidang filsafat. 136). 1981:174). Positivism Ayer tidak lain juga meneruskan garis lurus tradisi . yaitu fisikalisme dicap sebagai metafisika. Dikatakannya bahwa pengalaman-pengalaman macam itu tidak mempunyai nilai ilmiah. J. Demikianlah pengaruh positivism logis terhadap ilmu pengetahuan lain terutama ilmu pengetahuan psikologis. sehingga tidak mengherankan karya yang diterbitkannya yang berjudul “Language.pada dasarnya tidak terbuka untuk pemeriksaan intersubjektif. 202:187. Itulah sebabnya ucapan-ucapan semacam itu tidak diberi tempat dalam wilayah ilmu pengetahuan. Jadi satu-satunya psikologi ilmiah yang mungkin adalah suatu behaviorisme radikal. karena secara principal tidak terbuka lagi bagi pemeriksaan intersubjektif dank arena tu tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. ia juga menguasai ilmu bahasa dan fisiologi. Fisikalisme tidak mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman psikis merupakan suatu fakta empiris. Sekembalinya dari Wina. sebab bagi neopositivisme semuanya yang tidak dapat ditangani ilmu pengetahuan menurut tanggapan merek mengenai ilmu pengetahuan. Positivisme Logis Alfred Jules Ayer Walaupun positivism logis berpusat di Wina Austria namun Ayer sebagai seorang filsuf Oxford Inggris mengembangkan konsep filosofis positivism logis secara lebih radikal. social dan ilmu pengetahuan lainnya yang sampai saat ini masih terasa terutama di Indonesia sendiri (Kaelan. budaya. Itulah metafisika belaka.

Dalam kesempatan inilah Ayer mengambil alih program ambisius dari kelompok postiivisme logis Wina ini dan dalam bukunya ia merumuskan prinsip sebagai berikut : “We say that a sentence is factually significant to any given person. he knows that observations would lead him. Inggris terutama Hume dan menekankan pada analisis logis versi Bertranad Russell. a mereka pseudo proposition. if not a tautology. but it not literary significant (Ayer. on the other had the putative proposition is of such a character that assumption of its truth or falsehood. menerima suatu proposisi sebagai benar atau menolaknya sebagai salah. is consistent with any assumption what so ever concerning the nature of his future experience. Sebagaimana diketahui bahwa kelompok lingkungan Wina di satu pihak menaruh antusiasmebesar untuk ilmu pengetahuan dan matematika dan di pihak lain mengambil sikap negative terhadap metafisika.as far as he is concerned it is. The sentence expressing it may be emotionally significant to him.empirisme. or reject it as being false. Sebaliknya kalau apa yang dianggap sebagai proposisi bersifat demikian rupa sehingga menerima kebenaran atau tidak benarannya . If. Usaha mereka yang utama adalah untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. to accept the proposition as being true. Untuk itulah kemudian mereka menentukan prinsip ilmiah yang dikenal dengan prinsip verifikasi. under certain conditions. kalau dan hanya kalau ia tahu observasiobservasi mana yang membuat dia denga syarat-syarat terteentu. Mereka tidak menghiraukan benar atau tidaknya suatu ungkapan melainkan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan sehingga gilirannya mereka ingin mewujudkan “bagaimana dapat ditentukan suatu norma yang jelas yang dapat membedakan ungkapan-ungkapan yang bermakna dari ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna”. if analysis only if. then. 1952: 48). “kami mengatakan bahwa suatu kalimat pada kenyataannya bermakna bagi seorang tertentu.

maka bagi orangyang bersangkutan. Dengan lain perkataan dikatakan bermakna bilamana dilakukan berdasarkan observasi atau verifikasi. 1981:35). Barangkali kalimat yang mengungkapkan proposisi itu mempunyai makna emosional bagi dia. yaitu sejauh kebenaran suatu proposisi itu didukung oleh suatu pengalaman secara meyakinkan. Agar supaya ungkapan itu bermakna maka perlu kita dapat menunjukkan kepada suatu hal empiris atau dengan lainperkataan memerlukan suatu fakta atau data empiris (Bertens. Berdasarkan pernyataan Ayer tersebut dapat dijelaskan bahwa pada hakikatnya prinsip verifikasi bermaksud untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dan bukannya untuk menentukan suatu criteria kebenarannya. Seseorangyang menyatakan bahwa “Surabaya adalah Ibu Kota Negara Republik Indonesia”. Berbeda dengan tokoh-tokoh positivism lingkungan Wina. (2) verikasi dalam arti yang lunak. Akan tetapi kalau suatu ungkapan “hari ini cuaca lebih bagus daripada di luar”.dapat dicocokkan dengan pengandaian apapun juga mengenai pengalamannya di kemudian hari. Ayer menekankan dua macam pengertian verifikasi yaitu (1) verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable). .a tau sekurang-kurangnya memiliki hubungan dengan observasi. ungkapan tersebut salah akan tetapi ungkapan tersbut bermakna. yaitu jikalau suatu proposisi itu mengandung suatu kemungkinan bagi pengalaman atau pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Suatu ungkapan yang bermakna dapat benar dan juga dimungkinkan dapat juga salah. akan tetapi pasti tidak ada makna harafiah”. Menurut Ayer suatu ungkapan itu bermakna bilamana suatu ungkapan itu merupakan observation statement artinya merupakan suatu pernyataan yang menyangkut realitas inderawi. sebab ketidakbenarannya dapat ditetapkan. 1952:37). apa yang disebut proposisi itu tidak lain (kecuali kalau merupakan suatu tautologies) daripada proposisi semu saja. Ungkapan seperti itu tidak bermakna karena tidak mungkin ditentukan benar atau salahnya dan tidak memungkinkan dilakukan verifikasi.

Misalnya ungkapan “Undang-undang Dasar 1945 disyahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945”. misalnya dapat pula melalui suatu kesaksian seseorang yang dpat dipercaya. Dalam pengertian inilah maka terdapat tempat bagi prinsip verifikasi atas kebenaran fakta-fakta sejarah. Ungkapan-ungkapan matematika dan logika itu tidak mengungkapkan realitas inderawi sehingga tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman. bujur sangkar memiliki empat sisi yang sama dan lains ebagainya. hal itu dapat diterima sebagai suatu ungkapan yang bermakna karena misalnya berdasarkan kesaksian seorang tokoh pendiri Negara RI. hal itu bermakna walupun secar factual belum pernah dilakukan suatu verifikasi namun memiliki suatu kepastian bahwa ungkapantersebut secara prinsip memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Misalnya 44:11 = 4. sehingga kebenarannya bersifat pasti atau bersifat tautology. Dalam masalah ini Ayer menerima kebenaran atas kesaksian tersebut sebab kalau demikian maka semua ungkapan bahasa pad amasa lampau akan menjadi tidak bermakna. adalah benar tanpa melalui verifikasi empiris. Tentu saja Ayer harus mengakui adanya batas-batas yang berlaku untuk prinsip verifikasi.Selain ungkapan-ungkapan yang berdasarkan data empiris terdpat pula satu ungkapan atau proposisi yang bermakna yaitu proposisi matematika dan logika. Maka untuk menentukan benar tidaknya suatu ungkapan matematika dan logika maka kita tidak dapat meninggalkan bahasa karena kebenarannya. namun jikalah ungkapan bahas aitu secara principal memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Demikian juga suatu ungkapan bahasa itu disebut bermakna. sudut yang bertolak belakang sama besarnya. Verifikasi juga tidak harus dilakukan secara lengkap melainkan sebagian saja dan hal ini sangat dilakukan dalam verifikasi dalam bidang ilmu-ilmu alam dan fisika. Misalnya suatu ungkapan bahwa “di planet mars terdapat makhluk hidup sejenismanusia”. tidak harus ungkapan itu diverifikasi secara factual. Misalnya untuk mengetahui bahwa dalam segelas air itu mengandung larutan gula maka cukup dengan hanya melakukan verifikasi untuk setetes air saja. Demikian juga untuk mendapatkan suatu . Tidak perlu suatu ungkapan baahasa itu diverikasi secara langsung.

1981:36). Keyakinan atas prinsip verifikasi ini memiliki konsekuensi bahwa ungkapan-ungkapan metafisis adalah tidak bermakna. baik yang bernada memberikan dukungannya maupun para teolog yang memberikan reaksi menentangnya. K. Filsafat Bahasa Biasa (The Ordinary Language Philosophy) Berkembangnya konsep pemikiran filsafat analitik sebagai reaksi ketidakpuasan dunia pemikiran filsafat pada saat itu yang didominasi oleh tradisi idealism terutama kalangan teolog. “a statement wich is not relevant to experience…Has no factual content”. “lukisan itu memiliki nilai yang tinggi”. Ungkapan bahasa seperti “Tuhan adalah pencipta segala sesuatutermasuk alam semesta”. etika . Menruut Ayer semua ungkapan bahasa teologi. Walaupun reaksi terhadap metafisika telahdilakukan oleh Russel dan Moore namun karena konsepnya yang sangat radikal maka filsafat Ayer dikenal juga sebagai suatu radikalisme Bertrand Russel (Bertens. setiap manusia harus berbuat baik terhadap sesamanya”. Para tokoh filsafat analitika bahasa menyadari bahwa dalam kenyataannya banyak problem-problem filsafat dapat diselesaikan . Reaksi Ayer justru lebih radikal dibandingkan dnganpara tokoh lainnya. Diskusi mulai marak terutama berkaitan dengan prinsip-prinsip verifikasi yang dalam kenyataannya untuk diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan masih memerlukan pemikiran yang cermat serta rincian yang bersifat rigorous. ontology. maka tidak perlu melakukan eksperimen untuk seluruh logam.hukum umum bahwa “semua logam kalau dipanasi memuat”. yang sangat mengagungkan pentingnya metafisika. “nilai itu adalah bersifat objektif” dan ungkapan metafisis yang lainnya pada hakikatnya tidakmengungkapkan suatu realitas empiris sama sekali sehingga ungkapan itu sma sekali tidak bermakna. filsafat manusia pad ahakikatnya adalah omong kosong atau nirarti. Secara hati-hati Ayer menentukan berbagai macam prinsip verifikasi yang nampaknya lebih rinci dibandingkan dengan para pengembangnya di lingkungan Wina.estetika. Pada perkembangan berikutnya filsafat positivism Ayer ini cukup mendapatkan respon yang sangat hangat di kalangan filsuf. aksiologi.

sehingga melalui kategori-kategori logika mereka menentukan bahasa yang bermakna atau bahasa yang tidak bermakna. ungkapan-ungkapan metafisika mendapat perhatian yang serius bahkan pada aliran atomisme logis dan positivism logis ingin membersihkan filsafat dari metafisika. Reaksi yang sangat radikal dari kalangan atomisme logis dan prinsip verifikasi positivism logis tersebutmemang sempat menggemparkan dunia pemikiran filsfat di Eropa terutama di Inggris. Untuk itu mereka memiliki proyek yang spektakuler dan sangat ambisius yaitu ingin mewujudkan suatu bahasa yang ideal. Hal ini sebagaimana diakui sendirioleh Russel yaitu bahwa teori atomisme logis ingin menjelaskan . oleh karena itu ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya adalah nirarti atau sama sekali tidak bermakna.melalui analisis bahasa. Mereka dengan keyakinan yang kuat menyatakan bahwa berdasarkan logika bahasa ungkapan-ungkapan metafisika dari kalangan penganut idealism terutama bidang teologi. Para tokoh filsafat analitika bahasa memusatkan perhatian pada aspek semantic bahasa. bahkan Ludwig Wittgenstein sendiri mendapat gelar doktornya karena karyanya Tractatus Logico Philophicus. estetika dan terutama ontology pada hakikatnya tidak bermakna. aksiologi. dan tidak melukiskan suatu kebenaran peristiwa secara empiris. mereka lupa ahwa aspek semantic sendiri memiliki sifat metafisis tidka dapat mati dengan indra manusia. Oleh karena itu bahasa merupakan pusat perhatian kalangan filsuf analitika. yaitu bahasa yang memiliki struktur logika yang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia. Namun dengan dasar-dasar yang kuat para tokoh filsfat analitik yang mendasarkan aspek semantic bahasa melalui struktur logika. Begitu juga gurunya Bertrand Russell yang dengan tegas menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan bahasa metafisika pada hakikatnya adalah omong kosong belaka. etika. karena sama sekali tidak melukiskan suatu realitas dunia. Dalam masalah ini Wittgenstein dlam karyanya Tractatus Logico Philosophicus merupakan karya yang besar yang menekankan tentang logika bahasa. Ungkapan-ungkapanmetafisika itu sebenarnya tidak mengungkapkan realitas empiric. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam filsafat atomisme logis sendiri terkandung suatuprinsip metafisika.

Hal itu dikatakan oleh Wittgenstein dianalogikan seperti orang yang memanjat melalui tangga dan setelah sampai pada tujuannya maka tangga tersebut dibuangkan (Bertens. atau dengan kata lain perkataan teori ini ingin mengungkapkan bahawa bagaimana akhirnya dunia diasalkan kepada fakta-fakta atomis. sehingga ia sendiri menyatakan bahwa setiap orangyang membaca tractatus akhirnya akan sampai pada suatu titik di mana ia akan mengerti bahwa ungkapan-ungkapan bahasa dalam tractatus sebenarnya tidak bermakna. Begitu juga pemikiran Wittgenstein melalui Tractatus yang mendasarkan pada aspek semantic bahasa dengan menekankan struktur logika dalam kenyataannyajuga terkandung di dalamnya dasar-dasar metafisika. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahawa bahasa diformulasikan melalui logika sebenarnya sangat tidak mungkin untuk dikembangkan dalam filsafat. 1981:47). Dengan demikian Nampak jelas bagi kita bahawa metafisika ynag terkandung dalam teori Russell itu merupakan suatu pluralism radikal. dalam sejarah filsafat analitika bahasa. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahasa diformulasi logika. Karya Wittgenstein periode II ini memiliki corak yang berlainan bahkan bertolak belakang dengan Tractatus mendasarkan pada semantic dan memiliki formulasi logika.suatu struktur hakiki bahasa yang sepadan dengan dunia. Hal yang demikian ini jelas merupakan suatu pendapat yang bersifat metafisis. bahkan dalam berbagai kehidupan . melainkan berasal dari suatu analisis melalui bahasa. Formulasi logika bahasa menemui berbagai macam keterbatasan dan kesulitan. Bahkan sebagaimana kita ketahui bahwa pemikiran Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pada data-data empiris. Pemikiran Filsafat Wittgenstein Periode II Philosophiecal Investigations Konsep pemikiran filsafat Wittgenstein periode II tertuang dalam suatu karyanya yang berjudul Philosophical Investigations.

Dengan demikian sebuah proposisi itu adalah sebuahfungsi kebenaran (truth function) dari proposisi elementer. pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda di dalam penggunaan bahasa (Poerwowidagdo:65). Makna dari sebuahproposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau kebenaran suatu peristiwa. yang menyatakan bahwa:”empat tahun yang lalu ia berkesempatan membaca kembali karyanya yang pertama dan dijelaskannya bahwa ide yang terkandung didalamnya ingin ditampilkan sekaligus dengan pemikiran-pemikiran yang pertama”.manusia terdapat berbagai macam konteks yang tidakmungkin hanya diungkapkan melalui formulasi logika bahasa. Dengan demikian Wittgenstein sebagai seorang filsuf secara jujur mengakui kelemahan dan kesalahan pada karyanya yang pertama. Berkaitan dengan masalah ini Wittgenstein berkata: “Adalah sangat menarik untuk membandingkan kemajemukan dari alat-aat dalam bahasa dan berbagai cara yang digunakannya. Pengakuan atas kelemahan pada karya besarnya yang pertama diungkapkannya dalam kata pengantar karyanya yang kedua Philosophical Investigations (PI). Dalam pemikirannya yang kedua Wittgenstein mengkritik pendapatnyayang pertama yang berkaitan dengan struktur hakikat bahasa. perintah. pertanyaanpertanyaan. Dalam Philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran. Proposisi atomis pada hakikatnya menggambarkan realitas fakta atomis yaitu keberadaan suatu peristiwa yang paling sederhana yang memiliki satu saja analisis yang lengkap. Dalam Tractatus Wittgenstein menganggap bahwa bahasa sebagai suatu kumpulan besar yang tak terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau yang atomis. kemajemukan jenis-jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan oleh ahli logika . Segi pragmatic bahasa dalam kehidupan sehari-hari semakin disadari oleh Wittgenstein sehingga terdapat sejumlah bahasa yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan.

sekaligus sebagai penunjuk jalan atas terbukanya pemikiran filsafat yang menaruh perhatian terhadap bahasa biasa (ordinary language). Dalam masalah ini Wittgenstein mengemukakan sebagai berikut: ..tentang struktur bahasa termasuk pengarang Tractatus Logico Philosophicus” (lihat Wittgenstein. 1983:108).l. 340). ada yang telah dikembangkan lebih lanjut dan terdapat juga ungkapan-ungkpaan kapan yang masih orisinal. Demikianlah Wittgenstein semakin sadar bahwa dalam kenyataannya bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup dalam upaya untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis. 1983:23). Lebih lanjut ia juga menyatakan:”kita melihat bahwa apa yang kita sebut “kalimat dan bahasa” tidak mempunyai kesatuan formal yang saya bayangkan.par. Karya Wittgenstein yang ke II ini lebih menekankah pada aspek pragmatic bahasa atau dengan perkataan lain lebih meletakkan bahasa dalam fungsinya sebagai alat komunikasi dalam hidup manusia. akan tetapi lebih merupakan kelompok struktur yang kurang lebih saling berhubungan antara satu dengan lainnya (Wittgenstein. 1. Bahasa tidak hanya memiliki satu struktur logis saja melainkan segi penggunaannya dalam hidup manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian tugas fisafat adalah menguraikan dan menerangkan bahasa dan tidak melakukan interfensi didalamnya. Salahs atu tesis pokok sebagai esensi dari pandangan Wittgenstein yang ke II adalah bahwa “ makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa dan bahwa makna bahasa itu adalah penggunaannya di dalam hidup. (P. Buku karya Wittgenstein tersebut berisi banyak thesis ban berbagai jenis pernyataan-pernyataan. Tata permainan Bahasa (Language Games) Philosophical Investigations adalah merupakan suatu bentuk filsafat bahasa biasa yang paling kuat.

misalnya dalam contoh sebagai berikut: Memberikan perintah dan mentaatinya. .I. Melaporkan hasil pengujiand alam bentuk table dan diagram. 340). menjawab teka teki.Dalam banyak kasus meskipun tidak semuanya. Jadi kita dapat melihat jamaknya atau majemuknya permainan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari. di mana kita memakai kata. dan sebenarnya filsafat hanya dapat menguraikannya. Mengarang suatu cerita. membuat lelucon.I. ‘makna’ itu dapat didefinisikan sebagai berikut: Bahwa makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa (p.yaitu bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari (ordinary language). Filsafat sama sekali tidak boleh turut campur dalam penggunaan bahasa yang sesungguhnya. bersendagurau. menguraikan keadaan suatu benda atau menyebutkan ukurannya. Orang tidak dapat menduga bagaimana sebuah kata itu berfungsi orang hanya harus melihat penggunaannya dan belajar dari padanya (P. bahasa merupakan sebagaian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan. par. 43). Istilah ‘language games’ (tata permainan bahasa) dipakai oleh Wittgenstein dalam arti bahawa menurut kenyataan penggunaannya. sehingga senantiasa muncul jenis-jenis bahasa baru yang sili berganti dan yang lama menjadi terlupakan. Banyaknya jumlah senantiasa berkembang dantidak tetap. Menyusun dan membuktikan suatu hipotesis. Berdasarkan pemikiran-pemikirannya Wittgenstein sebenarnya membuka suatu cakrawala dari dalam berfilsafat yaitu tidak lagi didasarkan kepada bahasa sehari-hari. Melaporkan keadaan suatu peristiwa. ar. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari itu bersifat kompleks yaitu meliputi berbagai macam bidang kehidupan maka penggunaan bahasa pun juga meliputi bermacammacam penggunaan dan bentuk kalimatnya pun juga meliputi bermacam-macam.

menterjemahkan bahasa dari bahasa ke bahasa lain. Jikalau kita menjumpai penerapan aturan ini di atas papan catur. Oleh karena itu setiap konteks kehidupan manusia menggunakan bahasa tertentu yang memiliki aturan-aturan main tertentu. Sebagaimana layaknya permainan amaka terdapat seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang merupakan pedoman dalam penyelenggaraa permainan tersebut. Hal itu dilukiskan oleh Wittgenstein dalam bukunya melalui contoh sebuahpermainan catur sebagai berikut: Suatu permainan hendaklah berpedoman pada suatu aturan dalam suatu permainan catur manakala telah ditentukan bahwa “raja” memegang peranan yang sangat penting.I. prg. 23).I.memecahkan suatu soal hitungan secara praktis.567). Setiap ragam permainan bahasa mengandung aturan permainan bahasa yang mencerminkan cirri atau corak khas dari permainan bahasa yang bersangkutan. berdoa damasih banyak ragam bahasa lainya (P. Apakah kita dapa melanggar atuaran yang telah ditentukan di sini? Pelanggaran itu hanya menunjukkan bahawa kita tidak mengetahui petunjuk yang sebenarnya tentang aturan permainan itu . mengucapkan salah. maka tentu kita akan merasa kagum dan memahami tentang maksud dan tujuan suatu aturan. bahwa dalam berbagai macam permainan terdapat aturanaturan main tersendiri yang aturan tersebut harus ditaati dan harus . barangkali kita tidak memahami aturan tersebut secara petunjuk yang menggariskan agar kita berpikir tiga kali (berpikir tiga langkah kedepan) sebelum menggerakkan buah catur. Oleh karena itu perhatian kita dalam masalah ini diarahkan untuk membandingkan keanekaragaman alat0alat dalam bahasa (dalam masalah ini adalah unsure-unsur bahasa) dan cara penggunaanya yang meliputi jenis-jenis dan kalimat. Keanekaragaman dalam hidup manusia memerlukan bahasa yang digunakan dalam konteks-konteks tertentu. Bertanya dan berterima kasih. (apakah aturan ini untuk mencegah kita melakukan sesuatu tanpa suatupertimbangan yang pasti) (P. maka ketentuan itu merupakan bagian yang esensial dalam permainant ersebut. prg. Analog dengan yang dikemukakan oleh Wittgenstein itu menunjukkan.

Demikian pula halnya dengan tata permainan bahasa. Demikian pula hal itu berlaku sebaliknya tata permainan dalam koneks bahasa santai tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam ilmiah. sepak bola. memmiliki aturan permainan sendiri dalam arti ketentuanketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat ilmiah. sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam hidup” (P. Dalam ilmu bahasa memang kita memilikimakna leksikal akan tetapi tidak memilikimakna informasi hanya terbatas sebagai suatu symbol saja. prg.I. tenis dan lain sebagainya yang masing-masing juga memiliki aturan-aturan main sendiri-sendiri. Kekacauan akan timbul manakala kita menerapkan aturan permainan bahasa yang satu ke dalam bentuk permainan bahasa lainnya. Dalam pengertian ini dimaksudkan oleh Wittgenstein selain permainan catur masih terdapat banyak permainan-permainan lainnya antara lain. sehingga sebenarnya terdapat kata yang maknanya tidak menunjukkan suatu realitas kehidupan misalnya kata :’kemudian’. Dalam pengertian inilah Wittgenstein menyadari akan kelemahan konsepnya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasanya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasa ideal yang terstruktur secara logis yang melukiskan susunan logis realitas dunia. bola volley. Dengan demikian kita sampailah pada suatu kesimpulan tentang penggunaan bahasa sebagai berikut: “Makna sebuah kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. adapun makna kalimat adalah tergantung penggunaanya dalam bahasa. Penggunaan bahasa dalam konteks ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam santai. . Setiap bentuk permainan bahasa memiliki aturan permainan sendiri-sendiri yang tidak dapat dicampuradukkan dengan tata aturan (ragam) ilmiah misalnya.merupakan pedoman dalam tata permainan. 23). Sebab ragam santai memiliki atuaran tersendiri. Oleh karena itu mustahil bilamana kita menentukan suatu aturan permainan bahasa yang bersifat umum yang berlaku dalam berbagaimacam konteks kehidupan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian inilah maka bahasa akan memiliki makna manakala mampu mencerminkan aturan-aturan yang terdapt dalam setiap konteks kehidupan manusia. Walaupun nampaknya simpang siur namun terletak dalam jalur yang sama. warna mata. maka sebuah kata sangat tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. ‘ajar’ dan banyak kata lainnya. prg. Namun demikian fenomena konteks kehidupan yang dilukiskan melalui bahasa tesebut bukanlah sesuatu pengertian yang bersifat umum. Kehidupan manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang dan meemiliki sifat dinamis dengan sendirinya memiliki beragaimacam aturan dan hal tersebut terlukiskan melalui bahasa. Oleh karena itu dalam hubungannya dengan segi pramatik bahasa yaitu penggunaan bahasa dalam hidup manusia. 67). yang dipergunakan dalam banyak cara selain ‘aneka kemiripan keluarga’. Aneka kemiripan di antara anggota-anggota keluarga itu terlihat pada bentuk sifat.‘atau’. Hal itu terjadi karena sesungguhnya kata atau ungkapan itu dihubungkan dalam banyakcara yang berbeda (P. temperamenya. Sehubungan dengan permasalahan ini Wittgenstein menguraikan contoh ‘aneka kemiripan keluarga’ sebagai suatu analog sebagai berikut: “Saya kira tidak ada ungkapan yang lebih sesuai untuk menggambarkan sifat atau kalimat. demikian pula makna sebuah kalimat pada hakikatnya sangat tergantung penggunaannya dalam bahasa (wacana) dan akhirnya makna bahasa itu sangat tergantung pada penggunaannya dalam hidup manusia. prg. dan lain sebagainya. ‘bilamana’. Menurut Wittgenstein hal itu dapat saja terjadi yaitu bahasa menghasilkan hal yang bersifat umum. dan hal ini sebagai bentuk permainan bahasa dalam sebuah kemiripan keluarga” (P. acapkali kita menjumpai kata atau ungkapan bahasa yang sama namun dipergunakan dalam pelbagai bidang kehidupan atau dipergunakan dalam pelbagai bentuk permainan bahasa.I. sikap. .I. yang sifatnya beranekaragaman dan tidak terbatas. 65).

‘dia’ dan lain sebagainya. . ‘engkau’. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab. Namun kiranya akan menjadi berbeda misalnya kata ‘engkau’ digunakan dalam penuturan dengan seorang raja atau seorang pejabatn tinggi dalam suatu Negara. Hal tesebut terjadi tidak lain karena aturan (game) yang berlaku berbeda. Hal ini banyak kita temukan pada kata-kata dieksis seperti ‘aku’. Dalam kaitannya dengan etika bahasa misalnya kata ‘engkau’ yang digunakan dalam konteks penutur yang memiliki tingkatan yang sama atau misalnya sesame teman akraba. Walaupun secara struktur ungkapan kalimat atau kata memiliki kemiripan namun dalam penerapan dan penggunaan yang berbeda dan sangat tergantung kepada konteks kehidupan yang berkaitan dengan ragam bahasa tertentu.Penggunaan kata atau kalimat yang sama dengan pelbagai cara yang berbeda bukanlah berarti memiliki makna yang sama melainkan memiliki dasar-dasar kemiripan yang sifatnya umum. situasi maupun kondisinya. Namun bilamana kata tersebt digunaakn dalam konteks formal misalnya di kediaman istana kepresidenan maka ungkapan tersebut menjadi bermakna lain bahkan akan dirasakan tidak sopan dan arogan. Jadi walaupun terdapat ungkapan yang sama namun maknanya tetap tergantung pad penggunaan dalam situasi atau konteks yang bersangkutan yang memiliki aturan masing-masing. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab dan kekeluargaan. Demikian juga ungkapan sebagai kata perintah ‘bersiap’ bagi konteks penerapan dalam baris berbaris walaupun orng kedua dalam penuturan tersebut seorang presiden pada waktu upacara jari besar tertentu maka hal itu memiliki makna yang sopan dan lazim. Oleh karena itu meskipun mengandung suatu kemiripan yang bersifat umum namun maknanya yang sangat tergantung pada cara penggunaannya dan konsekuensinya juga sangat tergantung pada game atau aturan main dalam konteks penggunaan tersebut dalam kehidupan manusia. Penggunaan kata-kata tersebut sangat tergantung pada konteks dalam kehidupan manusia.

estetika.2. Bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk maksudmaksud filsafat. dan kemudian berupaya menjangkau tingkatan hakiakt segala sesuatu. Hal itu dikemukakannya oleh Wittgenstein sebagai berikut: “Bilamana para filsuf menggunakan kata atau ungkapan misanya ‘knowledge’. namund alam kenyataannya banyak filsuf yang menggunakan bahasa tidak sesuai dengan aturan (game) yang ada. filsafat nilai. maka seharusnya kita bertanya pad diri sendiri: apakah kata atau istilah itu telah dipergunakan sesuai dengan aturan permainan bahasa dalam konteks yang bersangkutan. sehingga bahasa filsafat terutama metafisika. ‘I’. ‘name’. etika dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa. “proposition’. Oleh karena itu yang harus kita lakukan . Dua hal yang dikemukakan oleh Wittgenstein berkaitan dengan bahasa filsafat tersebut yaitu: Pertama: kekacauan bahasa filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permainan bahasa. Banyak ungkapanungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan suatu realitas fakta dunia secara empiris.’objeck’. Wittgenstein menyatakan bahwa persoalan-persoalan filsfat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan ‘tata permainan bahasa’. Namun demikian melalui konsep ‘tata permainan bahasa’ ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa dalam filsafat. sehingga ia mengungkapkan persoalan timbul karena para filsuf yang menggunakan bahasa kurang tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. Kritik Wittgenstein atas Bahasa Filsafat Kalau pada periode pertama Wittgenstein mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa filsafat tidak memiliki struktur logis.

kesamaan dalam perbedaan ketunggalan dalam kemajemukan (craing for unity) (Pitcher. Untuk itu terdapat dua macam cara untuk melekatakan filsafat sebagai analisis yaitu : (1) aspek penyembuhan (therapheutics).l prg. Oleh karena itu Wittgenstein menganjurkan agar kita menghindari dan melewati penyamaran dari sesuatu yang tidak terpahami itu dengan menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya nirarti belaka (P. 1964:198). dengan lain perkataan kelemahan bahasa filsafat dapat teratasi bilamana meletakkan tugas filsafat sebagai analisis bahasa.P. 1972: dalam Mustansyir. Kelemahan filsafat yang demikian ini oleh Wittgenstein disebut dengan istilah “craving for Generality”. 1987. 464). Atau dengan lain perkataan. Ketiga penyamaran atau pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami misalnya ‘keberadaan’. 116).: 87). Tugas Filsafat Bahasa filsafat yang memiliki berbagai kelemahan tersebut pada hakikatnya dapat diatasi manakala kita mengetahui dan menerapkan analisis bahasa dalam filsafat. ‘ketiadaan’. kita mencari ‘kesatuan pengeritandalam keanekaragaman. yaitu cara berfilsafat yang seharusnya ditempuh yang hal itu meliputi aspek sebagai berikut: . prg. yaitu suatu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang umum pada semua satuan-satuan kongkrit (entities) yang diletakkan di bawah istilah yang bersifat umum (Wittgenstein. yaitu dengan cara menghilangkan kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahasa filsafat. 3. dan lains ebagainya.l.sekarang adalah mengarahkan kembaliungkapan tersebut dari wilayah aturan metafisika kepada aturan penggunaan bahasa sehari-hari (. (2) aspek metodis. adanya kecenderungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum pelbagai gejala yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Kedua.

sehingga dalam pengertian ini bahasa sehari-hari merupakan dasr utama bagi upaya filsafat. Oleh karena itu menurut Wittgenstein untuk mengatasi kekacauan tersebut haruslah melalui penampakan jalannya bahasa.a) Dalam berfilsafat haruslah meletakkan landasanya pada pengunaan bahasa sehari-hari. ia menolak dengan radikal tentang ungkapan metafisika bahkan secara tegas menghilangkan metafisika namuns ecara filosofis konsepnya pun teatp mengandung suatu metafisika. Demikianlah pemikiran filsafat Wittgenstein periode yang kedua yang bertolak belakang dengan pemikirannyayang pertama. sehingga seakan-akan berada di dunia luar akan tetapi sebenarnya terperangkap dalam ruangan botol tersebut. Filsafat tidak turut campur dalam memberikan interpretasi. c) Metode analisis bahasa harus diletakkan dalam posisi yang netral artinya tidak turut campur dalam memberikan interpretasi filosofis yaitu memberikan penafsiran tentang realitas. yaitu bukannya dengan melalui keterangan baru melainkan menyusun kembali apa yang telah kita ketahui. hanya memberikan atau memaparkan secara objektif. Namun satu hal yang menarik adalah bilamana ia dalam periode pertama dalam karyanya Tractatus. sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apapun. b) Upaya untuk keluar dari kemelut kekacauan filsafat yang diakibatkan oleh kekacauan penggunaan bahasa. dan berdasarkan konsep analitika bahasanyayang mendasarkan pada aturan language games maka dapat dipastikan bahaw menurutnya ungkapanungkapan metafisis adalah bermakna dalam aturan dan konteks tata aturan bahasa dalam metafisika tersebut. Pada pemikirannya yang kedua ini ia meletakkan pluralitas bahasa dalam aspek pragmatisnya. Betapapun demikian . Namun dalam pemikirannyayang kedua ia memang tidak menolak metafisika. yang diberatkan Wittgestein seperti seekor lalat yang terjebak dalam sebuah botol yang bening. Filsafat membiarkan segala sesuatu sesuai dengan apa adamnya (lihat Bakker. dengan memperhatikan secara teliti aturan-aturan permainan bahasa. 1984:130).

Hal itu dikuatkan dengan konstatasinya bahawa tugas filsafat adalah memberikan sesuai dengan apa adanya dan tidak turut campur di dalamnya dan filsafat bukanlah sekumpulan ajaran atau dogma melainkan hanya memberikan analisis dan penjelasan saja. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua pemikiran filsafatnya. Moore dan Wittgenstein. Filsuf-filsuf Oxpord tersebut lazimmnya juga mendapatkan pendidikan filsafat Yunani dan mereka kebanyakan juga memiliki latar belakang pendidikan filologi klasik dan linguistic sehingga tidak mengherankan kalau hal itu sangat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. . Beberapa Filsuf Dari Oxford Corak baru pemikiran filsafat yang dirintis oleh Bertrand Russell. 2002:37. antara lain filsfu yang terkenal di Oxpord yaitu: Gibert Ryle. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua filsuf oxpord kebanyakan meneruskan tradisi filsafat bahasa biasa. John Langshaw Austin dan Peter Strawson. L. Namun demikian walaupun lambat akan tetapi pengaruh filsafat bahasa biasa Wittgenstein cukup kuat dan bahkan dikembangkan dengan berbagaimacam modifikasi.nampaknya dia tetap tidak mau menampakkan dasar metafisikanya dalam konsepnya yang kedua tersebut.154). Akhirnya konsep Wittgenstein itu adalah merupakan karya besar yang mampu mengubah wajah filsafat di Eropa terutama di Inggris walaupun memiliki kelemahan mendasar (Kaelan. bahkan meluas ke Eropa dan Amerika. Tradisi di Oxpord sebenarnya memang cukup ketat sebab filsuf yang bukan professor dari universitas Oxpord lazimnya sangat sulit untuk mendapatkan tempat di Oxpord. Sejak dikembangkannya filsafat bahasa biasa Ludwig Wittgenstein pengaruhnya cukup kuat pada perkembangan pemikiran filsafat di Inggris pada abad XX. dapat mengubah wajah filsafat’Inggris terutama yang berpusat di Oxpord dan Cambridge.

a. namun demikian Nampak unsure logika juga mempengaruhi pemikirannya. sedangkan prinsip analisisnya menunjukkan garis lurus pada prinsip analsisis Moore Ryle memang mendasarkan pada prinsip filsafat bahasa biasa. Ryle tidak mendasarkan pada struktur logika bahasa melainkan ia memperhatikan dan menganalisis penggunaan bahasa sehari-hari berdasarkan prinsip-prinsip logika. Berdasarkan pemikiran filsafatnya itu terdapat suatu kemungkinan ia memadukan prinsip atomisme logis dengan filsafat bahasa biasa melalui suatu analisis bahasa. yang antara lain ia membahas dan menganalisis berbagai macam penggunaan bahasa sehari-hari terutama dalam filsafat yang sering terjadi kekeliruan kategori atau dikenal dengan istilah ‘category mistake’. Warna filsafat Ryle Nampak adanya pengaruh dari pemikiran Ludwig Wittgenstein dalam hal titik tolaknya pada bahasa biasa. Gilbert Ryle Gilbert Ryle seorang filsuf Oxford yang memiliki reputasi filsafat yang cukup besar. Kekeliruan Kategori (Category Mistake) Karya Filsafat Ryle yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Concept of Mind” adalah merupakan karya yang . Hal ini Nampak pada bukunya yang paling popular yaitu “The Concept of Mind”. Ryle yang pernah mendapat pendidikan bahasa terutama filologi klasik pada tahun 1945 menjadi Profesor di Oxford dan pada tahun 1947 ia menggantikan Moore sebagai pimpinan majalah “Mind” sampai tahun 1971.1. Pemikiran filsafat Ryle mendasarkan pada filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy). Melambungnya nama Ryle nampaknya mercusuar filsafat Inggris berpindah dari Cambridge ke Oxford. Memang terdapat suatu perbedaan dengan atomisme logis yang mendasarkan pada bahasa ideal dengan struktur logis yang menggambarkan struktur logis realitas duni. yaitu sering terjadi dalam penggunaan bahasa sehari-hari menyalahi prinsip-prinsip logika.

terpenting di Inggris dalam periode setelah perang dunia kedua. Dalam karyanyaini ia membahas tentang konsep-konsep yang menyangkut hidup psikis, seperti misalnya pencerapan, persepsi, fantasi, pengingatan, pemikiran, pengertian, kehendak, motif dan lain sebagainya. Dalam pemakaian bahasa sehari-hari Ryle menganalisisnya secara terinci dan mendalam, dan dengan demikian banyak ditemukan kekacauan dan kekeliruan dalam filsafat dan pada akhirnya dapat segera dilakukan pembenaran-pembenaran serta kesalahan dapat disingkirkan. Menurut Ryle pokok yang sering terjadi dalam filsafat adalah kekeliruan mengenai kategori (category mistake). Kekeliruan terjadi dalam penggunaan bahasa dalam melukiskan fakta-fakta yang termasuk kategori satu dengan menggunakan cirri-ciri logis yang menandakan kategori lain (Bertens, 1981:54). Misalnya seorang anak yang pergi ke kebun binatang dan melihat singa, harimau, gajah, kijang dan banteng, kemudian ia mengatakan bahwa berikutnya ia inginmelihat binatang menyusui. Penggunaan bahasa ini adalah merupakan suatu kekeliruan kategori (category mistake) sebab binatang-binatang menyusui tidak berada di samping singa, harimau, gajah, kijang dan banteng yang pernah dilihatnya. Menurut Ryle dalam filsafat penggunaan bahasa sehari-hari sering juga terjadi kekeliruankategori sehingga persoalan-persoalan filsafat seringkali timbul karena kekeliruan tersebut. Analisis tentang penggunaan bahasa sehari-hari dalam filsafat dilakukan Ryle antara lain terhadap konsep Descartes. Menurut Ryle filsafat Descartes tentang manusia bertumpu pada suatu category mistake. Pandangan Descartes tentang manusia mendasarkan pada pandangan yang dualistic yaitu dua substansi yang berbeda yang meliputi roh atau substansi berpikir (res cogitans) dan materi atau substansi yang meluas yang disebut (res extensa). Manusia mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk yang berpikir (cogito) yang tidak bersifat kebendaan jadi merupakan suatu substansi yang ekkal, dan juga mengenal dirinya sebagai suatu

kesadaran. Di lain pihak terdapat substansi yang kedua, yaitu yang tidak berpikir yang bersifat kejasmanian yang bersifat lapang dan meluas. Perubahan yang terjadi pada dunia jasmani ini dapat diterangkan atas dasar-dasar kausal mekanis yang murni. Dunia keluasan inilah dipandangnya sebagai dunia mesin yang memiliki sifat-sifat mekanis. Hal yang memiliki sifat yang demikian ini termasuk juga binatang yang pada hakikatnya tidak memiliki kesadaran danmemiliki system yang otomatis mekanis dan tidak memiliki roh atau jiwa. Realitas tentang manusia yang demikian ini menurut Ryle merpakan dua unsure yangmemiliki corak logis atau kategori yang berbeda, dan sangat janggal bilamana merpakan suatu kesatuan yang harmonis. Dalam hubunganini Ryle mengungkapkan sebagai “the myth of the ghost in the machine”, sebagai suatumitos tentang hantu dalam sebuah mesin (Ryle, 1983:23). Filsafat Ryle ini merupakan suatu kritik yang sangat tajam pada konsep Rene Descartes, yang pada saat itu lazimnya merupakan dasar tumpuan dari konsep manusia. Secara ontologism konsep Descartes tersebut bahwa manusia mempunyai jiwa atau raoh dan dengan cara yang sama dia juga memiliki tubuh atau raga. Roh atau jiwa itu secara logis dapat dibandingkan dengan tubuh pada hal dalam kenyataannya memiliki eksistensi yang berbeda dan tidak terbuka bagi orang lain dan hanya dikenal melalui introspeksi. Para filsuf mengakui bahwa intelegensi manusia misalnya merupakan suatu hal yang dikuasai oleh hukum-hukum yang lain. Namun mereka keliru dalam mengandaikan melalui bahasa bahwa kata ‘intelegensi’ itu menunjuk kepada suatu hal, pada hal fungsi intelegensi menurut Ryle hanyalah melukiskan tingkah laku seseorang. Dengan maksud memperlihatkan secara kongkret bagaimana para filsuf mencampuradukkan kategori-kategori yang berlainan. Ryle membedakan pelbagai jenis kata, misalnya menurutnya perlu dibedakan kata-kata yang menunjuk pada suatu disposisi (mengerti bahasa perancis misalnya) misalnya dengan kata-

kata yang menunjuk pada suatu peristiwa (mendengarkan siaran radio berbahasa perancis). Suatu ungkapan ‘ia tidak merokok’ misalnya dapat dipakai dalam dua arti tadi yaitu untuk menunjukan suatu disposisi bahwa (ia sudah biasa tidak merokok) atau untuk menunjuk suatu kejadian kongkrit (ia sekarang tidak merokok). Dalam masalah ini penggunaan bahasa sehari-hari oleh para filsuf sering terjadi makna yang satu berpindah kepada makna yang lainnya (kedua). Analisis yang diungkapkan oleh Ryle adalah perbedaan antara task verb dengan achievement verb, yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu tugas dan kata kerja yang mengacu pada suatu hasil. Dua kata kerja ini sering digabung sebagai pasangan. Kalau demikian maka suatu aktivitas yang sama diucapkan dengan cara yang berlainan oleh dua jenis kata kerja itu, jadi kita tidak perlu mengandaikan dua aktivitas. Beberapa contoh kata misalnya ‘mencari’, ‘mendapatkan’, ‘mendengarkan’, ‘mendengar’, ‘menengok’, ‘melihat’. Contoh yang lain misalnya bilaman seseorang mengungkapkan bahwa ‘seorang atlit lari seratus meter dan menang’. Dalam hal ini kita menggunakan dua macam istilah yaitu ‘lari’ sebagai suatu task verb, adapun ‘menang’ adalah sebagai achievement verb. Hal ini perlu disadari bahwa achievement verb itu tidaklah menunjukan suatu akvititas di samping ‘lari’ tetapi suatu hasil yang diperoleh dari lari. Atlit itu tidak berbuat dua hal, pertama ‘lari’ dan kedua ‘menang’, melainkan ia hanya melakukan satu hal saja yaitu lari sekuat tenaga dan menang. Dengan analisis-analisis serupa itu Ryle mengkritik dengan keras dualism sebagaimana konsep Rene Descartes dan berupaya menghindari monism materialistis tentang manusia. Kata-kata psikis tidak menunjuk pada suatu taraf hidup yang tersembunyi bagi pihak lain. Namum kepada suatu tingkah laku yang dapat diamati oleh setiap orang, tetapi hal itu tidak berarti bahwa filsafat Ryle sendiri luput dari segala kesulitan terbesar bagi Ruyle, yaitu bahwa ia

terjebak

pada

behaviorisme,

meski

ia

berupaya

untuk

menghindarinya (Bertens, 1981:56).

b. Bahasa Biasa (The Ordinary Language)

Filsafat bahasa biasa yang mendasarkan pada suatu konsep bahwa masalah-masalah filsafat dapat diselesaikan dan dijelaskan melalui analisis bahasa. Mereka lazimnya mendasarkan bahwa bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk melakukan analisis filsafat. Namund emikian perkembangan konsep filsafat bahasa biasa sampai pada priode Ryle belum pernah ada filsuf yang berupaya untuk mendeskripsikan tentang penggunaan bahasa biasa beserta pembedaan-pembedaannya, dan dalam kesempatan inilah Ryle berupaya untuk mengungkapkan penggunaan bahasa biasa. Menurut Ryle perlu dibedakan antara ‘penggunaan dari bahasa biasa’ (the use of ordinary language) dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage), dan antara ‘penggunaanyang baisa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). Bilamana kita membahas penggunaan bahasa biasa maka perlu diperjelas pengertian ‘luar biasa’, ‘esoteris’, ‘teknis’, ‘puitis’, ‘notasional’, atau bahkan dimaksudkan ‘bahasa kuno’. Pengertian ‘biasa’ (ordinary) dapat berarti ‘umum (common) atau yang sedang belangsung (current), bahas pergaulan sehari-hari (colloquial), atau bahasa harian, bahasa yang sederhana (vernaculler), bahasa alamiah (natural language) dan hal inilah yang harus dijernihkan dalam penggunaan bahasa. Filsafat bahasa biasa menurut yang Ryle pada dari hakikatnya atau

memperhatikan

penggunaan

biasa

bahasa,

penggunaan bahas yang baku, yang standard dan bukannya

penggunan bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari (colloquial language). Oleh karena itu tugas filsafat adalah berkaitan dengan analisis penggunaan yang biasa dari ungkapan-ungkapan tertentu dan bukannya menganalisis bahasa yang digunakan dalam kehidupans ehari-hari. Tujuan dilakukannya analisis bahasa yang baku atau yang standard dalam penggunaan ungkapan-ungkapan dalam filsafat adalah untuk mendapatkan suatu kejelasan yang memadai bagi pengalaman bahasa-bahasa yang baku atau yang standard tersebut (Charlesworth, 1959:180). Hal ini dalam wacana filsafat sering kita jumpai misalnya penggunaan istilah ‘kebenaran’ ‘keadilan, ‘keberadaan’, ‘wajib’, ‘keindahan’ dan banyak istilah-istilah lainnya. Istilah-istilah ini sering kita jumpai dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun demikian pengertian serta makna yang terkandung di dalamnya jelas memiliki perbedaan. Oleh karena itu penyimpangan penggunaan yang terjadi dalam ungkapan-ungkapan filsfat itulah yang perlu mendapatkan suat penjelasan yang memadai, dan manakala makna penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut telah disepakai dan dianggap baku dalam filsafat maka persoalan inilah yang mendapat perhatian dalam filsafat bahasa biasa. Ryle berpendapat bahwa banyak diskusi filsafat itu berkaitan dengan persoalan yang menyangkut tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’. Dalam pengertian ini persoalan filsafat bahasa biasa berkenaan dengan penggunaan kata, ungkapanatau istilah yang memang bersifat ‘esoteris’ (khusus). Dalam berbagai macam ilmu pengetahuan banyak dijumpai istilah-istilah yang bersifat teknis dan khusus, misalnya dalam ilmu social, politik, hukum biologi, fisika, matematika, teologia, psikologi, ekonomi, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang diguakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan itu harus dianalisis dengan menggunakan bahasa biasa untuk mendapatkan suatupengertian yang memag bersifat teknis atau khusus. Upaya analisis tersebut untuk memperjelas (to eculidate) penggunaan yang biasa (standard)

Penggunaan ungkapan itu dapat sah atau tidak sah secara logis (yaitu harus sesuai dengan hukum logika). Satu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ungkapan adalah aturan-aturanlogika (rules of logic). yaitu sebuah teknik untuk melakukan sesuatu. Filsafat bahasa biasa itu berkenaan dengan penggunaan yang biasa. yang standard. Istilah ‘wajib dalam ilmu hukum dapat berarti memiliki daya imperative (memaksa). “ia berada di luar rumah tetapi duduk di kamar tengah’. Misalnya suatu ungkapan ‘Amin lebih tua dari bapaknya’. namun ‘wajib’ dalam pengertian seharihari dapat diartikan keharusan moral. Penggunaan (use) itu adalah suatu metode atau cara. Misalnya dalam ilmu hukum istilah ‘wajib’ memiliki penekanan yang berbeda dengan pengertian ‘wajib’ dalam bahasa sehari-hari.mungkina tau tidak mungkin. yang baku dan yang benar. yang dianggap umumd ari suatu ungkapan’ dalam suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu (Poerwowidagdo:11). dan banyak istilah lain yang tidak sesuai dengan hukum-hukum logika. Proses analisis ungkapan dalam filsafat bahasa biasa harus memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam penggunaan ungkapan. Ungkapan atau istilah ‘permintaan’ dalam suatu hukum ‘penawaran-permintaan’ dalam ilmu ekonomi memiliki makna yang berbeda dengan pengertian istilah permintaand alam bahasa sehari-hari. Hal ini berlawanan dengan penyalahgunaan dan bukannya berkaitan dengan penggunaan yang dilawankan dengan ketidakbergunaan dari ungkapan-ungkapan. Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan adalah kata ‘penggunaan’ dan bukannya perkataan biasa atau ungkapan. Dalam masalah ini analisis filsafati itu berkenaan dengan ‘penggunaan yang biasa.dari artian-artian atau istilah-istilah teknis yang sebenarnya cukup biasa dalam ilmu pengetahuan yang bersangkutan. . penuh arti atau nirarti. yang standar atau yang baku.

yang berarti unsure bahasa (what). Ungkapan yang sering dilontarkan Austin adalah ‘what to say when’. Namun demikian nampaknya Austin sebagai salah satu filsuf yang memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap bahasa biasa dalam arti penggunaanya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Austin selalu menekankan bahwa penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dengan situasi kongkrit di mana ungkapan-ungkapan kita kemukakan dan dari fenomena-fenomena yang berkaitan dengan penggunaan bahasa tersebut. Menurut Austin kita akanmendapatkan pelajaran yang sangat banyak dari perhatian kita terhadap bahasa sehari=-hari yang digunakan dalam pergaulan hidup. akan tetapi Ryle brpendapat bahawa analisis filsafat bahasa biasa itu bukannya berkaitan dengan bahasa sehariahari melainkan dengan analisis bahasa yang baku. 2. Bahkan menurutnya tidak jarang masalah-masalah filosofis akan Nampak dalam bentuk yang baru jikalau didekati dengan menggunakan unsure-unsur yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. kalau Wittgenstein mendasarkan analisisnya pada bahasa biasa atau bahasa sehari-hari dalam filsafat bahasa biasanya. yang benar atau yang biasa. Ryle juga mendasarkan pada bahasa biasa dalam konsep filsafat analitika bahasanya sebagaimana dilakukan oleh Wittgenstein. yang standard. John Langshaw Austin Austin adalah seorang filsuf yang menaruh minat tehadap filsafat bahasa biasa. dianggap sama pentingnya dengan menamakan konsep itu dengan ‘linguistic .Pemikiran Ryle ini memang memiliki cirri khas dibandingkan dengan konsep Moore maupun Wittgenstein. Ia memang menggunakan prinsip-prinsip analisis istilah-istilah dalam filsafat terutama yang digunakan filsuf-filsuf lain namun ia mendasarkan pada prinsip-prinsip logika. Filsuf yang juga sebgai professor di univesitas Oxford tersebut namkan meneruskan garis pemikiran filsafat bahasa biasa Wittgenstein.

sebab nama itu dinyatakan percobaannya untuk menjelaskan fenomena-fenomena dengan melalui penyelidikan bahasa. Sebagai seorang filsuf bahasa biasa Austinmemiliki perhatian yang khas terhadap penggunaan bahasa biasa. Ia juga membedakan dan memperjelas filsafat bahasa biasa. yaitu pembedaan istilah ‘penggunaan bahas ayang biasa’ (the use of ordinary language). Karya yang paling popular adalah ‘Philosophical Papers’ yang ditulis tahun 1961.phenomenology’. yang dikenal dengan (category mistake). Pembedaan Ucapan Bahasa Sumbangan Austin yang termasyur dalam filsafat bahasa yaitu pembedaan ‘ucapan performatif’ (performative utterance) dan . demikian juga tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage). Namun Austin dalam pemikiran filsafat bahasa biasanya ia menaruh perhatian dan menekuni tentang pembedaan jenis-jenis ucapan dan pembedaan tentang (speech acts) tindakantindakan bahasa). sehingga ia memiliki cirri khas dibandingkan dengan Wittgenstein dan Gilbert Ryle. dan karyayang berupa buku yaitu . yang memuat berbagai macam paper merupakan kumpulan-kumpulan bahan kuliah yang diberikan di universitas Oxford. Ryle lebih menekankan pada aspek pragmatis dalam kaitannya dengan aturan0aturan logika. Wittgenstein mendasarkan pada makna bahasa sehari-hari dalam kaitannya dengan konteks penggunaannya dalam berbagai bidang kehiudpan sehingga dikembangkannya dalam teorinya yang dikenal dengan (language games). How to Do Things with Words’ yang ditulis tahun 1962. sehingga Ryle sering menemukan persoalan filsafat timbul karena kekacauan dalam penggunaan bahasa yang melanggar norma logika atau yang tidak sesuai dengan kategori logika. 1.

namun Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstratif itu berdasarkan . Pembedaan tentang macam ucapan-ucapan tersebut dikemukakan secara rinci oleh Austin sebagai berikut : Ucapan Konstatif (Constative Utterance) Bahasa yang digunakan manusia dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai macam ucapan yang memiliki konsekusensi dalam penggunaannya. Kedua ucapan tersebut tidak hanya berbeda dalam ucapannya namun memiliki perbedaan juga dalam hal situasi serta persyaratan yang harus dipenuhinya. Perbedaan tersebut mengandung konsekuensi bagi penuturannya baik penurut 1 maupun 2.‘ucapan konstatif (constative utterances. Ucapan ‘konstatif’ adalah salah satu jenis ucapan bahasa yang melukiskan suatu keadaan factual. Pemikiran Austin ini merupakan suatu kontribusi yang sangat berharga bagi pengembangan aspek pragmatic pada studi bahasa yang Nampak pada akhir-kakhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan linguis. sebelum Austin kebanyak filsuf hanya ditentukan atas dasar formulasi bahas tertentu misalnya menurut atomisme lgis atau filsafat bahasa biasa Wittgenstein. ang menyatakan sesuatu atau terdapat sesuatu yang dikonstatir dalam ucapan tersebut. Namun demikian terdapat perbedaan karena konsep Austin walupun cucapan konstatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh si pendengar umum Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstatif itu berdasarkan atas konsekuensi ucapan dengan kata yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan konstatif itu terdapat perbedaan karena konsep Austin walaupun ucapan kosntatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh pendengat. Selain itu pembedaan itu memang tidak bersifat mutlak karena pada situasi tertentu seringkali kedua macam ucapan itu memiliki kesamaan. yang nampaknya memiliki kemiripan dengan ungkapan proposisi sebagaimana dikemukkaan oleh kaum atomisme logis.). Dalam pengertian ini ucapan konstatif memang memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah.

4) BAnyak tenaga kerja wanita Indonesia terlantar dan bermasalah di Arab Saudi. Untuk membuktikan kebenaranya dapat dilakukan misalnya dengan menyelidiki atau membuktikannya.formulasi logika. Contoh-contoh kalimat tersebut termasuk ucapan yang bersifat konstatif. Oleh karena itu menurut Austin bahwa ucapan konstatif itu isinya mengandung acuan kejadian atau fakta historis yaitu kejadian masa lampau yang merupakanperistiwa nyata atau benar-benar terjadi (lihat Austin. Selain itu peristiwa atau fakta yang dimaksudkan Austin bukanlah sebagai fakta menurut atomisme logis . artinya apakah fakta yang dilukiskan tersebut benar-benar terjadi pada waktu yang telah lalu.S. yaitu ucapan yang melukiskan suatu fakta atau kejadian pada waktu yang telahlampau. Hal itu dapat dibuktikan benar atau salahnya berdasarkan fakta atau kejadian itu sendiri. Menurut Austin bahwa filsafat bahasa biasa tidak dapat dibatasi dengan penentuan bahasa yang bermakna atau tidak bermakna berdasarkan formulasi logika belaka sebagaimana dilakukan oleh kaum atomisme logis atau sebaliknya. kita tidak dapat hanya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu ungkapan itu hanya tergantung pada penggunaannya tanpa ditentukan benar atau salahnya ungkapan tersebut berdasarkan pada fakta atau peristiwa pada waktu yang lampau. Untuk memahami macam ucapan tersebut dapat kita analisis contoh berikut: 1) Undang-Undang Dasar 1945 disyahkan tanggal 18 Agustus 1945 2) Di kebun binatang Gembira Loka ada seekor gajah yang sedang beranak 3) Perekonomian Indonesia mengalami goncangan karena jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar A. 1962:3). Benar atau salah dari ucapan konstatif itu didasarkan atas konsekuensi ucapan dengan fakta yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan tersebut (lihat Austin. 1962:6).

Dengan suatu ucapan performatif seseorang bukanya memberitahukan suatuperistiwa atau kejadian. Dalam pengertian inilah bahwa ucapan konstattif itu memiliki acuan historis yang mengacu pada suat peristiwa.menunjukkan realitas dunia. Ucapan performatif tidak dapat ditentukan benar dan salah berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau. Fakta dalam pengertian ini menurut Austin bahwa suatu ungkapan itu benar-benar menunjuk pada suatu kejadian atau peristiwa yang telahlalu yaitu peristiwa yang terjadi sebelum ungkapantersebut diucapkan. Beberapa contoh ucapan performatif dapat diamati pada contoh kalimat berikut : 1) Saya menunjuk saudaara sebagai ketua panitia ujian Negara kelompok ilmu ekonomi . Pada hal menurut Austin selain ucapan yang dikategorikan ucapan konstatif yang mengungkapkan suatu peristiwa atau kejadian pada waktu yang telah lalu terdpat juga ucapan formatif. yang berdasarkan pada kata di dalam bahasa Inggris ‘to perform’ dan ‘performance’ (Bertens. Oleh karena itu Austin menamakan ucapan semacam itu sebagai ucapan “performatif (performative utterance). Oleh karena itu problema-problema filsafati seringakli muncul karena penggunaan bahasa sehari-hari yang sangat dibatasi penggunaanya terutama konsekuensi atas ungkapan-ungkapan tersebut baik bagi penutur maupun pendengar tuturan bahasa. 1981:59). melainkan dengan mengucapkan kalimat itu seseorang sungguh-sungguh berbuat sesuatu misalnya mengadakan suatuperjanjian. Ucapan Performatif (Performative Utterance) Menurut Austin selain ucapan konstatif terdapat juga jenis ucapan yang disebut ucapan performatif. melaikan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi perubuatan bagi penuturannya.

Menurut Austin ucapan-ucapan performatif tersebut memiliki syaratsyarat sebagai berikut : 1) Suatu ucapan performatif pasti tidak sah jikalau diucapkan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi dengan masalah ini atau suatu keadaan yang tidak memenuhi syarat atau tidak mengizinkan ucapan itu. akan tetapi orang yang bersangkutan masih tetap menduduki jabatansekretaris. Ucapan-ucapan tersebut juga bukan berkaitan dengan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan yang diucapkannya oleh seseorang. 2) Suatu ucapan performatif juga tidak sah jikalau seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut tidak bonafide atau tidak bersikap jujur. Misalnya seseorangyang berjanji akan tetapi tidak mau menepatinya.2) Aku berjanji akanmemberi hadiah kepada saudara. Misalnya ungkapan ‘saya mengangkat tidak menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada’ adalah tidak layak bilamana diucapkanoleh seoran gmahasiswa kewenangan untuk mengucapkan ungkapant ersebut. sehingga ucapan tersebut tidak konsekuen (Bertens. 3) Saya mengangkat saudara menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Ucapan-ucapan semacam itu tidak dibuktikan benar atau salahnya baik berdasarkan logika maupun fakta yang terjadi melainkan berkaitan dengan layak atau tidak layak diucapkanoleh seseorang (Austin. melainkan suatu ucapan performatif akan tidak layak diucapkan manakala seseorang tersebut tidak memiliki kewenangan dalan mengucapkannya. 3) Akhirnya suatu ucapan performtif juga tidak sah manakala orang yang bersangkutan menyimpang dari apa yang diucapkannya. . Misalnya saya menunjuk saudara untuk menggantikan kedudukan saya sebagai sekretars organisasi kita. jika saya naik pangkat. 1962:54). 1981:59).

2. Tindakan Bahasa (Speech Acts) Dalam karyanya “How to do Things with Words’ Austin juga berupaya untuk merinci macam-macam ucapan bahasa dalam kaitannya dengantindakan dalam mengucapkannya atau yang dikenal dengan ‘speech acts’. Sesuatu yang menarik perhatian karya Austin adlah’speech acts’. Bilaman kita analisis syarat dan cirri-ciri ucapan perfomatif sangat berkaitan dengan keterlibatan si penutur dalam hubungandengan ucapan tersebut. Layak atau tidak layak. Ketiga syarat dan keempat cirri ucapan tersebut sangat menentukan kelayakanatau ketidaklayakan suatu ucapan performatif. 1962:56-57). Sesuatu yang menarik karya Austin adalah kemiripan pemikirannya dengan pemikiran Wittgenstein yang . wajar atau tidak wajar (Austin. Berdasarkan cirri-cirinya ucapan performatif itu menurut Austin memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1) Diucapkannya oleh orang pertama (penutur pertama) 2) Orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tersebut 3) Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu) 4) Orang yang menyatakan terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut (Austin. 1962:54). Dari empat cirri tersebut satu cirri yang sangat menentukan ucapan performatif yaitu orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tertentu serta terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut. Oleh karena itu ucapan performatif itu hanya bisa mengalami suatu kegagalankegagalan (infelicities).Perlu diperhatikan bahwa tiga isyarat yang berlaku bagi uccapan performatif tidak mengakibatkan suatu ucapan itu salah karena ucapan performatif itu tidak berkaitan dengan kualifikasi benar atau salah melainkan happy atau unhappy.

dan jenis tindakan bahas ayang terakhir adalah (3) perlocutionary acts.kedua yaitu filsafat bahas biasa. dan menghubungkannya dengan sesuatu yang . “in saying’ dengan menggunakan suatu daya tertentu yang membuat si penutur bertindak atau berlaku karena yang diucapkannya. yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan suatu efek. yaitu merupakan suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu. Menurut Austin tindakan bahasa dibedakan atas tiga macam yaitu (1) locutionary acts. Tindakan Lokasi (Locutionary Acts) Jenis tindakan bahasa lokusi ini menurut Austin sifatnya lebih umum artinya suatu tindakan bahasa untuk menyampaikan sesuatu. namun justru Austin termasuk filsuf Inggris yang berhasil merinci penggunaan bahasa biasa sebagaimana ditekankan oleh Wittgenstein. yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan suatu makna tertentu. Perhatian kita dalam tindakan bahasa lainnya. (2) illocutionasy acts. yaitu tindakan bicara si penutur dikaitkan dengan sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturannya. Tindakan lokusi dimaksudkan untuk mengatakan sesuatu secara jelas. yaitu suatu tindakan bahasa untuk mengatakan sesuatu. Menurut Austin bahwa dalam filsafat bahasa biasa tidak hanya terbatas pada analisis makna bahasa biasa saja melainkan juga menganalisis macam-macam ungkapan atau ucapan dalam kaitannya dengan tindakan si penutur bahasa.reaksi. pikiran atau tindakan bagi yang mendengar atau orang kedua yang diajak berbicara. Memang bilamana kita perhatikan detail-detail metode kedua filsuf itu memiliki kemiripan. Salah satu kelebihan filsafat Austin adalah mampu mengolah filsafat bahasa biasa dalam suatu perspektif yang bersifat menyeluruh.

dan (3) ‘hretic act’ (Austin. “ia mengatakan.diutamakan (Austin. misalnya memberitahukan tentang sesuatu kejadian atau peristiwa tertentu. Konsekuensinya ketiga bahasa tersebut harus termanifestasi agar tindakan bahasa lokusi dapat berhasil dengan baik. Jadi tindakan bahasa lokusi yaitu tindakanbahasa untuk mengatakan sesuatu. Austin menggolongkan “locutionary acts’ menjadi tiga macam tindakan bahasa yaitu: (1) ‘phonetic act’. 1962:95). pukulah saya!”. Oleh karena itu ‘tindakan ponetik’ yaitu suatu tindakan bahasa dengan mengucapkan bunyi tertentu sehingga memiliki makna leksikal (yaitu makna bahasa yang terkandung dalam kosakata). (1) Phonetic act Bahasa pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan unsure empiris yaitu yang berupa bunyi bahasa. Tiga tindakan bahasa tersebut merupakan semacam sub kelas dari tindakan lokusi. Jadi sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturan yang diucapkan itu dimaksudkan untukmemperjelas tindakan bahasa yang dilakukan itu sendiri. (2) ‘phatic act’.hal ini berarti melalui ucapan tersebut mengarah dan mengacu pada orang ketiga. Melalui ucapan lokusi ini tidak menuntut tanggung jawab si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya. 1962:94). Oleh karena itu dalam suatu tindakan bahasa pasti dilakukan melalui tindakan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. (2) Phatic act . Tindakan lokusi ini tidak mengandaikan situasi si penutur untuk melaksanakanisi tuturannya itu dan lebih menonjolkan gaya bahasa si penutur dalam mengungkapkan sesuatu. misalnya : ‘ada seekor kucing di kebun’.

(3)Rhetic act Tindakan bahasa ‘rhetic’ adalah penampilan suatu tindakan bahasa dengan menggunakan kosa kata tertentu yang ada pada ‘phatic act’. Dia berkata bahwa dia menyuruhku pergi. Dia berkata bahwa tikus itu ada di dapur.” Dia berkata. Dia berkata. adapun ‘rhatic act’ merupakan suatu kalimat yang tidak langsung (reported speech). Dia berkata bahwa apakah temanku ada dirumah.Tindakan bahasa ‘patic’ adalah merupakan suatu sub klas dari tindakan bahasa lokusi. Dia berkata. berarti menurut suatu kaidah tertentu sehingga memiliki makna tertentu dan oleh karena itu dituturkan melalui bunyi. . Berdasarkan contoh-contoh sebagimana kitalihat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ‘phatic act’ merupakan suatu kalimat langsung. “Saya akan tidur di kamar. “Apakah temanmu ada di rumah?”. “pergi”. yaitu berupa pengucapan kosakata tertentu. Tindakan bahasa patic sebagaimana Nampak dalam contohcontoh tersebut merupakan suatu penampilan bunyi bahasa dalam suatu system kosa kata yang tersusun dalam suatu tata bahasa.” Tikus itu ada didapur”. Dengan tersusunnya kosa kata tersebut dalam suatu system tata bahasa. dengan acuan dan pengertian yang sudah pasti. Misalnya jenis-jenis bunyi tertentu yang membentuk suatu bahasa tertnetu. contoh sebagai berikut: Dia berkata. karena intonasi juga makna bahasa. Misalnya pada contoh kalimat berikut: Dia berkata bahwa dia akan tidur di kamar.

bandingkan Wicoyo. ‘phatic act’ sebagaimana ‘phonetic act’ pada dasarnya dapat ditirukan dan didengarkan (termasuk intonasi. Dalam pengertian ‘phatic act’ harus digunakan dua hal yaitu kosakata dan tata bahasa. tanpa adanya suatu acuan. tetapi bukan sebaliknya. ‘menamai’ dan ‘menunjuk’) itu sendiri adalah tindakan penghubung yang terjadi dalam menampilan ‘rhetic act’. Jadi dengan tindakan bahasa yang menampilkan kosa kata dan tata bahasa maka mengharuskan kita memerhatikan suatu kaidah dalam menggunakan bahasa. 1962:97. gerakan tangan dan isyarat). atau jikalau seseorang menampilkan ‘phatic act’ maka ia menampilkan juga ‘phonetic act’. Tindakan Illokusi (Illocutionary Act) Menurut Austin tindakan bahasa illokusi yaitu suatu penampilan tindakan bahasa dalam mengatakan sesautu. Menurut Austin kita tidak dapat menampilkan suatu ‘rhetic act.Lebih lanjut Austin menjelaskan bahwa untuk menampilkan suatu ‘phatic act’. Austin lebih lanjut menambahkan bahwa dalam ‘rhetic act’. Maka dapat disimpulkan bahwa kita dapat menampilkan suatu ‘phatic act’ yang bukan merupakan suatu ‘rhetic act’. yang dilawankan denga suatu tindakan bahasa dengan menggunakan .. dan tidak dipenuhinya dengan benar kaidah dalam tata bahasa maka suatu tindakan bahasa itu dapat terjadi bersifat tidak bermakna. dan ‘reference’ (misalnya. tetapi tidak sebaliknya (Austin. ‘sense’. 1997:41).kaerna jikalau seekor binatang mengeluarkan suara maka suara tersebut bukanlah suatu ‘phatic act’. Seseorang tidak mungkin menuturkan kata-kata tanpa suatu pengertian. dalam hal ini intonasi harus diperhatikan juga karena dalam bahas lisan intonasi memiliki suatu makna tertentu.

menurut ketepatan itulah isi dari suatu keputusan.sesuatu. Tindakan-tindakan bahasa yang termasuk tindakan verdiktif adlah sebagai berikut: (a) Membebaskan (acquit) (b) Menghukum (convict) (c) Memutuskan (find as a matter of fact) (d) Menyangka (hold as a matter of fact) (e) Menafsirkan (inter prêt as) (f) Memahami (understand) . Suatu tindakan bahasa verrdictif memiliki suatu hubungan dengan kebenaran dan kesalahan. Tetapi keputusan tersebut barangkali dapat berupa misalnya suatu perkiraan. perhitungan atau tafsiran. 1962: 150) (1) Verdictives Tindakan bahasa verdictif adalah suatu tindakan bahasa dalam mengatakan ssuatu yang ditandai dengan adanya suatu keputusan (verdict) sebagaimana dilakukan oleh hakim. Austin membedakan tindakan bahasa illokusi ini menjadi lima macam yaitu : (1) Verdictives (2) Exercitives (3) Commisives (4) Behabitives (5) Expositives (Austin. Tindakan bahasa ini merupakan salah satu usaha untuk mengetahui atau menentukan apakah sesuatu itu benar atau telah sesuai dengan suatu kenyataanatau tidak. wasit dan yuri.

Macam-macam contoh tindakan tersebut adalah sebagai berikut: a) Menunjuk (appointing) b) Memilih (choose) c) Memerintah (ordering) d) Member suara (voting) e) Memaksa (urging) f) Menasehati (advising) g) Memperingatikan (warning) h) Menamai (name) i) Memproklamirkan (proclaim) j) Mengarahkan (direct) (Austin: 155) .(g) Mengirakan (read it as it) (h) Memerintah (rule) (i) Menghitung (calculate) (j) Memperhitungkan (reckon) (k) Memperkirakan (estimate) (l) Menempatkan (locate) (m)Menetapkan tempat (place) (n) Menentukan tanggal (date) (o) Mengukur (measure) (p) Menilai (value) (q) Melukiskan (describe) (2) Exercitives Tindakan bahasa exersitif adalah suatu jenis tindakan bahasa yang merupakan akibat adanya kekuasaan. atau pengaruh. hak.

memaafkan. Jadi si putur bahasa mengucapkan suatu tindakan bahasa dalam melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. Seseorang dalam melakukan tindakan bahasa tersebut memiliki tujuan bagi orang yang diajak bicara yaitu bertujuan untuk menghibur misalnya bagi yang sedang mengalami kesusahan. memberikan. Secara lebih luas sebenarnya tindaka bahasa macam ini mempunyai suatu hubungan dengan tindakan verdiktif dan exersitif. ikut bergembira bilamana yang diajak berbicara baru . 1962: 156) (4) Behabitives Tindakan bahasa behabitif adalah tindakan bahasa dalam melakukan sesuatu yang menyangka simpati. sikap. selamat yang senantiasa timbul dalam komunikasi social. Hal ini memiliki konsekuensi kepada si penutur bahasa untuk melakukan sesuati. Contoh-contoh tindakan bahasa kommistif ini adalah sebagai berikut: a) Berjanji (promise) b) Melakukan (undertake) c) Kontrak (contract) d) Bersumpah (swear) e) Menyetujui (agree) f) Mengumumkan (declrase for) g) Melawan (appose) h) Bertaruh (to bet on) i) Mendukung (espouse) (Austin.(3) Commissives Tindakan bahasa kommisitif adalah jenis tindakan bahasa dengan melakukan suatu perbuatan atau perjanjian.

Beberapa contoh bagi tindakan bahasa behabitif adalah sebagai berikut: (a) Pemberian selamat (congratulation) (b) Tantangan (challenging) (c) Pemberian maaf (apologizing) (d) Kutukan (cursing) (e) Ikut berduka cita (condoling) (Austin. memberikan argumentasi. memberikan suat keterangan atau pendapat. 1962: 159). tindakan bahasa ‘exercitif’ adalah tindakan bahasa yang berkaitan dengan suatu pernyataan yang tegas dalam hal pengaruh atau kekuatan. memberikan suatu penjelasan tentang penggunaanpenggunaan dan dari acuan. juga meminta maaf jikalau melakukan suatu kesalah dan lain sebagai berikut. .mengalami kebahagiaan atau kesenangan. (5) Expositives Tindakan bahasa yang dikelompokkan pada tindakan expositif adalah sekelompok tindakan bahasa yang digunakan dalam tindakan suatu pandangan. menjelaskan. Sehingga dengan demikian kelima macam tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut sebenarnya saling berkaitan (lihat Wicoyo. Bilamana kita simpulkan secara keseluruhan yang menyangkut kelima macam tindakan bahasa yang termasuk ‘illocutionary act’ tersebut adalah sebagai berikut: tindakan bahasa ‘verdiktif’ adalah suatu tindakan bahasa yang digunakan untuk memutuskan. tindakan bahasa ‘kommisif’ tindakan bahasa ‘behabitif’ adalah tindakan bahasa yang menyangkut persetujuan sikap dan yang terakhir tidakan bahasa ‘expositif’ adalah suatu tindakan bahsa dalam menguraikan. serta komunikasi dalam masyarakat. 1997:45).

Tindakan Bahasa Perlokusi (Perlocutionary Act) Bilamana tindakan bahas ‘lokusi’ dan’illokusi’ lebih

menekankan pada peranan tindakan si penutur bahasa, maka pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ lebihberkaitan dengan respon atau efek bagi orang yang diajak berbicara oleh si penutur bahasa. Tindakan bahasa ‘perlokusi’ atau ‘perlocutionary act’ yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan efek,, reaksi atau respon atas pikiran atau tindakan pada orangyang diajak berbicara. Oleh karena itu pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah memiliki hubungan dengan akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan isi ucapan atau ungkapan bahas bagi si pendengar. Menurut Austin, bahwa bilamana seseorang itu mengatakan sesuatu seringkali menimbulkan pengaruh terhadap perasaan, pikiran atau pengaruh lain yang berupa perilaku bagi si penutur itu sendiri, orangyang diajak berbicara ataupun orang lain yang mendengarkan isi atau makna ungkapan bahasa yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan dengan merencanakan atau merancang, mengarahkan serta menetapkan suatu tujuan tertentu pada perkataan disebut tindakan bahasa ‘perlokusi’ (Austiin, 1962:101). Ungkapn-ungkapan bahasa yang termasuk pada kelompok tindakan bahasa ‘perlokusi’ antara lain sebagai berikut: (a) Meyakinkan (b) Menipu (c) Menakuti (d) Merayu (e) Mengarahkan, dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Bilamana kita bandingkan dengan tindakan bahasa ‘illokusi’ maka tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut adalah tindakan bahas yang membuat si penutur atau si pembicara melakukan suatu tindakan karena berkaitan dengan apa yang dikatakannya. Adapun tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah tindakan bahasa yang karena ucapan atau tindakan bicara dari pembicara, timbul suatu efek bagi si pendengar atau pengaruh bagi si pendengar baik secara aktif ataupun secara pasif. Memang suatu tindakan bahasa ‘illokusi’ dapat menjadi sarana bagi tindakan bahasa ‘perlokusi’ akantetapi tidakdapat sebaliknya. Menurut Austin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh tindakan ‘perlokusi’ itu merupakan suatu akibat nyata, yang tidak meliputi atau tidak mencakup akibat yang lazim terjadi, misalnya janji yang dilakukan oleh si pembicara (penutur), hal inijelas merupakan tindakan ‘illokusi’. Kiranya suatu perbedaan antara sesuatu yang kita rasakan secara nyata menimbulkan suatu akibat yang nyata pula, suatu tindakan ‘perlokusi’, adapun sesuatu yang kita lakukan yang menimbulkan akibat yang lazim atau sudah wajar terjadi itu merupakan suatu tindakan illokusi (Austin, 1962:102). Suatu perbedaan yang paling menonjol antara tindakan ‘illokusi’ dengan tindakan ‘perlokusi’ adalah akibat yang ditimbulkan atau efek yang ditimbulkan oleh perbuatan melalui ucapan bahasa. Pada tindakan perlokusi efek atau akibat dari tindakan bahasa itu merupakan suatu hasil yang diinginkan, direncanakan atau diperhitungkan sebelumnya oleh si pembicara. Dengan perkataan yang lain efek atau akibat yang timbul pada si pendengar itu memang merupakan maksud si penutur untuk mempengaruhinya.

3. Peter Strawson Filsuf analitik yang menaruh perhatian terhadap filsafat bahasa biasa adalah Peter Strawson. Ia juga sebagai filsuf Oxford yang

berkedudukan sebagai professor pada universitas tersebut dan karyakaryanya yang popular antara lain “individuals : Analisis Essays in Descriptif Metaphysics’ (1959), selain itu ia juga menulis buku yang berjudul “Introduction to Logical Theory’ (1952); The Bounds of Sense’ (1966), dan sebuah buku tentang filsafat Kant ‘Meaning and Truth’ (1970). Dalam majalah ‘Mind’ ia mengkritik ajaran Russell dengan judul ‘the Theory of Definite Descriptions’ yang cukup popular dikalangan filsuf Inggris.

Pemikiran Filosofis Konsep pemikiran filosofis Strawson tertuang dalam karyanya yang berjudul ‘Individuals’ dan kepada buku ini ia memberikan anak judul ‘Analisis Essay in Descriptive Metaphisics’. Sesuatu yang menarik perhatian dalam buku tersebut adalah munculnya kata metafisika secara eksplisit. Ia memang termasuk penganut paham filsafat bahasa biasa sebagaimana filsuf-filsuf Oxford lainnya, dan sebagaimana diketahi bahwa filsuf yang menganut filsafat bahasa biasa tidak mengembangkan doktrin mengkritik metafisika atau barangkali persoalan metafisika bagi menganut ‘ordinary language’ kurang mendapat tempat. Keadaan yang demikian inilah yang membawa Strawson mendapat perhatian, karena di samping ia tetap setiap terhadap paham ‘ordinary language’ akan tetapi ia berupaya untuk mengangkat kembali pamor ‘metafisika’ di kalangan filsuf Inggris. Menurut Strawson memang melalui ‘ordinary language’ filsuf dapat mengembangkan konsep-konsepnya, namun demikian tugas filsafat tidak boleh dibatasi hanya pada penyelidikanitu saja. Filsafat juga harus berusaha melukiskan’our conceptual structure’,yaitu susunan konsep-konsep dasar yang menandai pemikiran kita. Susunan konseptual itu diandaikan begitu sja kalau kita menyelidiki cara bagaimana ucapan-ucapan kita dipakai. Oleh karena itu apa yang dimaksud itupun dapat dilukiskan juga dan inipun merupakan suatu tugas filsafat pula.

Strawson

beranggapan bahwa dalam pemikiran kita terdapat

sejumlah konsep dan kategori yang tidak berubah dan oleh karena itu tidakmengenal sejarah. Struktur konseptual tesebut memainkan peranan dalam pemikiran sehari-hari maupun dalam pemikiran yang lebih teknis sebagaimana dipraktekan dalam ilmu pengetahuan. Usaha ‘metafisika deskriptif’ adalah untuk menggali dan menelanjangi struktur itu. Menurut pandagan Strawson istilah “descriptive metaphysics’ bertentangan dengan ‘revisionary metaphysics’. Pengertian ‘revision metaphisics’ adalah suatu konsep metafisika yang meninjau kembali realitas, suatu metafisika yang mengemukakan suatu struktur baru, adapun ‘metafisika deskriptif’ itu tidak melakukan suatu perubahan sama sekali. Menurut Strawson filsuf-filsuf yang termasuk penganut metafisika revisioner adalah Descartes dan Liebniz; adapun metafisika deskriptif antara lain sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan Kant (Bertens, 1981:65). Dengan demikian Peter Strawson membedakan dua macam metafisika yaitu :
(a) Descriptive Metaphisics, yaitu suatu metafisika yang hanya berusaha

untuk menguraikan batas-batas konseptual dari bahasa kita.
(b) Revisionary metaphisics, yaitu metafisika yang berusaha untuk

mengadakan suatu revisi atau pembaharuan terhadap batas-batas konseptual dari bahasa kita (POerwowidagdo: 11). Masalah pokok yang dibahas daam individuals yaitu persoalan refernsi atau menunjuk kepada suatu objek. Dalam ucapan-ucapan yang kita kemukakan senantiasa menunjukkan kepad suatu objek. Strawson ingin memecahkan makna bahasa yang dipahami oleh si penutur bahasa tanpa menimbulkankemaknagandaan. Untuk itu menurut Strawson kita harus menacari objek-objek individual yaitu ‘sense data’ atau ‘sense impressions’, mislnya ‘merah’ dan bahwa semua objek lain dapat diasalkan kepada data-data atau kesan-ksesan itu. Bagi Strawson “basic particulars’’ bukannya unsure yang terdapat dalam hal-hal lainnya (bukan semacam atom), melainkan suatu objek individual dan semua

objek laind apat diidentifikasikan melalui objek yang ditunjukkan itu hadir sendiri. Misalnya ;oran gyang duduk di situ di ujung deretan pertama’. Dalam masalah ini memang tidak terdapat suatu kesulitan apapun. Permasalahannya adalah bagaimana kalau yang kita maksudkan adlah objek yang tidak hadir. Misalnya ‘orang yang memakai topi hitam’, hal ini senantiasa memungkinkan bagi pendengar bahwa ucapan itu tentang oranglain daripada yang dimaksudkan. Menurut Strawson untuk menghindari kedwiartian (kemaknagandaan) yaitu dengan cara menentukan objek individual itu dalam ruang dan waktu. Misalnya pada contoh orang yang pakai topi hitam tadi, orangyang bersangkutan selalau dapat melukiskan misalnya ‘orang yang memakai topi hitam, yang beridrilima meter di depan buku gerbang Gedung MPR RI di Jakarta, pada tanggal 10 Oktober 1998 jam 10.00 pagi WIB. Menurut Strawson objek-objek individual yang dilukiskan dalam rangka system ruang danwaktu adalah objek-objek material. Jadi itulah individu-individu yan dimaksud oleh Strawson yang memungkinkan kit amengidentifikasi hal-hal lain seperti ‘pengalaman psikis’, peristiwaperistiwa, proses-proses dan bagian-bagian fisis yang kecil. Konsep strawson yang menarik secara khusus adaah tentang

‘persona’. Konteksnya adalah kesulitan yang dialami oleh para filsuf untuk mengidentifikasikan keadaan-keadaan sadar, dengan menunjuk pada objek-objek material. Terlebih dahulu Strawson menyelidiki dua kemungkinan yang ternyata harus ditolak kedua-duanya. Kemungkinan pertama disebut ‘the no ownership theory’, yaitu suatu keadaan seorang Bertrand Russell bicara tentang ‘saya’, bilamana dikatakan ‘rasa sakit saya’, ‘pengalaman saya’, dan lain sebagainya. Pengalaman misalnya hanya dapat diidentifikasikan sebagai pengalaman seseorang. Kemungkinan yan kedua adalah sebagaimana dikemukakan oleh Descartes dan kawan-kawannya, yaitu teori-teori yang berdasarkan dualism. Kalau demikian maka keadaan-keadaan sadar dimiliki oleh suatu ‘private-ego”, suatu aku yang tersembunyi bagi orang lain. Membicarakan tentang ‘pengalaman saya’ senantiasa berarti membedakan dengan pengalaman orang lain. Menurut Strawson hanya

terutama dalam pemikirannya tentang objek-objek material dan persona-persona yang merupakan suatu ‘basic particular’. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’. 2002:155-182). tatkala para filsuf seperti Herakleitos . 1981:670. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya jalan keluar bagi argumentasi akal sehati dalam mengatasi konstatasi “metafisika revisioner’ (bertens. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’ yang kita maksudkan adlah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. Konsep Strawson itu memang sangat khas terutama dikalangan filsuf filsfat bahasa basa yang lazimnya kurang akrab dengan analisis bahas ayang berkaitan dengan metafisika dan Strawson berupaya untuk mencobanya melalui ‘ordinary language’ (Kaelan. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkantingkah lakunya. maupun hal-hal yang hanya dikatakan tengan ersona saja (‘main gitar’.ada satu jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ini. Konsep ‘persona’ tidak dibentuk oleh konsep ‘tubuh’ dan konsep ‘roh’. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkan tingkah lakunya. Tentang suatu persona dapat dikatakan tentang benda-benda material. misalnya beratnya 70 kg. bertaqwa terhadap Tuhan’ dan lainsebagainya). BAB IV SEMIOTIKA A. Demikianlah kiranya Strawson dalam karyanya “individuals’ berupaya untuk memberikan suatu argumentasi-argumentasi atas akal sehatkita. yaitu dengan mengikuti ‘persona’ sebagai suatu konsep yang tidak dapat dianalisis lagi. Tetapi merupakan suatu individu yang tunggal. yang kita maksudkan adalah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. belajar filsafat. Filsafat Bahasa dan Semiotika Sebagaimana dipahami bahwa perhatian para filsuf terhadap bahasa telah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno.

Bahkan menurut Borgman. tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa "sedang menjadi" yang dalam filsafat dikenal dengan 'panta rhei' artinya tidak ada yang tetap. masa Herakleitos ini dikenali sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgman. Manusia harus memahami ucapan-ucapan dalam kehidupan agar dapat memahami alam semesta. dengan demikian amak manusia mengalami kegagalan dalam memahami hakikat maka dunia material melalui filsafat bahasa. yaitu bahasa tidak hanya dipahami sebagai media dalam memahami realitas kosmis. Dalam pengertian ini menurut Herakleitos segala sesuatu senantiasa dalam proses menjadi dan berubah-ubah (bertens. Dengan demikian maka pemikiranfilsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Casirer. Dalam hubugan ini kata dalam bahasa. Dalam pengertian inilah maka manusia dalam mengungkap makna realitas dunia material bukannya dengan melalui medium bahasa. namun dipahami dalam fungsi semantik dansimbolis. 170). Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam realitas benda material. Jikalau manusia gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa. Herakleitos tidak sependapat bahwa hakikat realitas diatas dunia terdapat hakikat dunia yang murni sebagai suatu manifestasi dunia ideal. Menurutnya tidak ada sesuatu hakikat yang murni. Arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah alam material melainkan dunia manusiawi. sumber dalam prinsip-prinsip abadi yang terdapat di alam semesta yang tak dapat diganti di luar . 1989:10). Perhatian manusia terhadap bahasa pada zaman Yunani Kuno tersebut mengalami perkembangan yang cukup menarik. 1987.menyelidiki hakikat realitas dunia fenomenal. Dalam hubungan ini apakah bahasa itu dikuasai oleh alam yang disebut 'fisei' atau bahasa itu bersifat alamiah 'nomos'. Dalam masalah ini Herakleitos tidak puas hanya dngan perubahan saja melainkan senantiasa mengkaji dan menyelidiki prinsip perubahan. melainkan tentang hakikat bahasa itu sendiri dalam hubungannya dengan alam. melainkan juga mengandung kebenaran kosmis unviersal. definitive dan mutlak. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos ini kata 'logos' bukanlah semata-mata gejala antropologis semata. 1974:3). Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara secara verbal menduduki komposisi yang sentral. Pendapat yang menyatakan bahawa bahasa adalah alamiah (fisei). maka manusia akan gagal pula memahami fenomena material.

manusia itu sendiri dan oleh karena itu tidakd apat ditolak. Plato juga mengembangkan prinsip 'anomatopeia' yang secara prinsip mendasarkan bahwa hakikat bahasa manusia tidak dapat dipahami jika berdasasrkan teori bahasa semata. 1987:171). dan . Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. Secara ontologis pemikiran filosofis Aristoteles tentang bahasa itu mendasarkan pada core philosophy pemikirannya yang dikenal dengan 'hhilemorfisme'. 'girl-girls's. Prinsip logika bahasa yang dikembangkan Aristoteles memberikan prinsip dalam ilmu bahasa bahwa dalam suatu bahasa itu terdapat suatu keteraturan (analogi). dan 'syndesmoi'. yang secara sederhana mengungkapkan bahwa hakikat bahasa adalah meliputi materi dan benetuk (Arens. Onoma adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. tak ada satu bagianpun daripadanya yang memberi tanda secara sendiri-sendiri. 1984:21). Misalnya jamak dalam bahasa Inggris dikenal dengan menambahkan 's' pad akata jama tersebut. sehingga sejak itulah muncul suatu bidang kajian untuk mencari asal usul kata yang disebut sebagai 'etimologi'. 1975:21). yang mendasarkan pemikirannya pada prinsip metafisis. Selain Plato filsuf besar yang mengembangkan pemikiran tentang filsafat bahasa adalah Aristoteles. Aristoteles mengemukakan pemikirannya tentang kualifikasi kata yaitu 'onoma' . Jadi terdapat suatu hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. melainkan berdasarkan teori umum pengetahuan manusia (Casirer. Aristoteles juga mengembangkan prinsip analogi dalam bahasa yang merupakan pengaruh dari pemikiran logikanya yang bertitel organon (Liang Gie. Dalam hubungan dengan pemikiran filosofis tentang bahasa. adapun 'syndesmoi' adalah sebagai penghubungan partikel yang dalam linguistik sering disebut sebagai konjungsi. 'rema'. Pemikiran Plato inilah yang merupakan awal pemikiran filosofis tentang bahasa yang mampu menjembatani antar anama-nama dan benda-benda atau sesuatu yang diacu oleh bahasa. Misalnya kata 'cow'-'cows'. Kaum naturalis dengan tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatkan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. Kaum naturalis selanjutnya menyatakan bahwa bahasa tidak hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Dalam karyanya yang berjudul Peri hermenias. 'book-books'.

Namun disamping teori Aristoteles tersbut juga berkembang teori yang menyatakan bahwa bahawa pada hakikatnya tidak beraturan atau arbiter (manasuka). Bahkan pada zaman ini berkembang konsep Pricia. Berdasarkan pengertian tersebut maka bila tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. maka tanda juga merupakan bagiand ari aturan-aturan sosial yang berlaku. Pada zaman modern par filsuf lebih menekankan pada logos. Tokoh lain yang mengembangkan semiotika yang bahkan banyak memberikan dasar-dasar paradigmatik terhadap semiotika adalah Charles Sanders Peirce. 1983:42). Nampaknya arah perkembangan filsafat bahasa juga mengikuti trend perkembangan filsafat saat itu. yang mengembangkan fonologi dan morfologi. dan teori ini dikenal dengan prinsip 'anomalia' (parera. Selanjutnya Wittgenstein menekankan bahwa dalam setiap konteks kehidupant erdapat suatu aturan penggunaan masing-masing. . yaitu pengetahuand an ilmu pengetahuan seperti Rene Descartes. Demikian pula pada abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengembangkan filsfat bahasa. Zaman romawi ini dikembangkan tentang morfologi. 1990:15). Pada zaman in Varo mengmbangkan pemikirannya tentang bahas amenjadi semakin rinci. dan membagi kelas kata menjadi 8 macam. Teori tentang semiotika yang mengikuti tradisi Saussure. Demikian pula dalam bidang ilmu bahasa Ferdinand De Saussure yang mengikuti tradisi strukturalis yang mengembangkan dasar-dasar linguistik umum ynag mengembangkan pemikirannya bawha bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. dan telah mengembangkan pembagian kelas kata yang sampai saat ini masihdiwarisi oleh ilmu bahasa. antara bahasa dengan sesuatu yang diacunya. yang mendasarkan bahasa pada sitem logika. John locke.sebagainya. sehingga pada periode ini dikenal dengan Zaman Romawi. antara signifier dengan sifnified. August Comte dan filsuf lainnya. Terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan antara penanda dan petanda. Hal ini kiranya senada dengan teori filsfat analitis menurut Wittgenstein bahwa ungkapan bahasa adalah merupakan suatu ungkapan kehidupan. menekankan bahwa semiotika adlah bidang ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (Saussure. David Hume. Pemikiran zaman Yunani tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh para filsuf bahasa dari Roma. yang menekankan pada perkembangan ilmup negetahuan. dandalam kehidupan terdpat suatu rule of the game yaitu aturan-aturan dalam menggunakan ungkapan tersebut. Thomas Aquinas.

dikembangkan . beranggapan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan gambaran realitas dunia empiris. Moore melakukan kritik terhadap para filsuf idealisme.sementara tradisi Saussure yang dikembangkan oleh Roland Barthers yang elbih dikenal dengan istilah semiologi meskipun kedua istilah tersebut mengacu pada ilmu yang sama. Pemikiran Peirce sederhana. misalnya dalam bidang etika. melainkan bahasa sebagai suatu ungkapan dalam kehidupan manusia. Ungkapan bahasa dalam pengertian ini bukan sekedar bahasa sebagai sitem tanda. Oleh karena itu menurut pemikiran Wittgenstein hakikat bahasa tidak hanya merupakan suatu sistem tanda melainkan secara ontologis menggambarkan realitas dunia empiris. kebenaran. Prinsip metodis yang dikembangkan oleh Wittgenstein dalam aliran atomisme logis ini. semiotika Peirce lebih banyak didasari pemikirannya tentang logika. logika adalah mempelajari tentang bagaimana orang bernalar. Filsuf analitis selain melakukan kritik terhadap pemikiran etika juga mengembangkan tentang metode ilmu pengetahuan melalui analitika bahasa. Berbeda dengan Saussure. Filsuf George Edward Moore berpendapat bahwa banyak kalangan filsuf mengalami kekacauan dalam berfilsafat. etika. 1992:1). seperti keadilan. Dalam filsafat bahasa selain membahas hakikat bahasa sebagai sautu sistem tanda juga mengkaji tentang bagaimana hakikat bahasa sebagai suatu ungkapan kehidupan manusia. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan dasar paradigmatik tentang metodologi dalam ilmu pengetahuan. Sehingga konsekuensinya struktur logis realitas bahsas adalah sepadan dengan struktur logis realitas dunia empiris. Pada abad XX par afilsuf mengembangkan paradigma baru dalam berfilsafat. Dasar-dasar pemikiran inilah yang membuka cakrawala baru. Ludwig Wittgenstein dalah Tractatus (pemikiran I). Kritik Moore tersebut dituangkan dalam karyanya yang berjudul Principia Ethica (1903). dan lain sebagainya. keagamaan. sehingga sebenarnya ia adalah juga sebagai filsuf bahasa. Sedangkan logika Peirce juga mengembangkan ilmu bahasa. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan objek material dalam upaya mengkaji hakikat segala sesuatu. sedangkan penalaran itu menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda (Zoest. oleh karena kekacauan dalam penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Pemikiran yang revolusioner dari Moore ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran filsafat bahasa yang dalam filsafat kontemporer disebut sebagai aliran filsafat analitika Bahasa.

1999:4). Dengan istilah lain semiotika belum menemukan body of knowledge tersendiri sebagai salash satu bidang ilmu disamping ilmu-ilmu lainnya.leibh lanjut oleh kelompok Lingkungan Wina yang juga dikenal sebagai aliran positivisme logis. dengan dasar ontologis. Berbeda dengan Saussure. poetika. linguistik. dan bidang lainnya. atau 'seme' yang berarti penafsiran tanda (cobley dan Jansz. kata adalah tanda. Istilah 'Semeion' ini sebelum berkembang pada awalnya berakar pada tradisi studi kalasik atau skolastik atas seni retorika. dan dasar aksiologis tertentu. di satu sisi Saussure mengembangkan pemikirannya berdasarkan strukturalisme dan berkembang ke arah prinsip-prinsip dsar linguistik umum. dan aliran inilah yang mengembangkan bahasa sebagai metode dalam ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai metode kuantitatif. Akhirnya setelah semiotika berkembang nampaknya akan membangun suatu bidang ilmu tersendiri yang disbut bidang semiotika. sejarah. isyarata. budaya. pragmatik dan linguistik. . B. lampu lalulintas. Semiotika adalah ilmu tanda yaitu metode analisis untuk mengkaji tand. ditengah-tengah manusia dan bersama-masa manusia. misalnya asap menandakan adanya api (Kurniawan. 2001:49). Pierce mendasarkan semiotika pad alogika. Tanda-tanda adlah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini. Nampaknya istilah 'semeion' itu diderivasikan dari istilah kedokteran hipokratik atau asklepiadik dngan perhatiannya 'tanda' pad amasa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal yang lain. demikianpula gerak. Hal ini berdasarkan fakta bahwa semiotika lebih merupakan suatu sistem epistemologis dalam pendekatan bidang ilmu tertentu seperti sastra dan komunikasi. Berdasarkan uraian diatas maka semiotika merupakan sub kajian filsafat bahasa yang lebih menekankan pad kajian tanda. sehingga konsep Peirce lebih menekankan pad pengembangan semiotika komunikasi. Dua tokoh filsuf bahasayang mengembangkan semiotika pada awalnya mendasarkan pemikiran filsafatnya pada hakikat bahasa. Tanda-tanda terletak dimana-mana. dan logika. Namun demikian kiranya perlu dipahami bahwa sampai saat ini bidang ilmu semiotika kiranya masih enggan untuk berkembang menjadi ilmu tersendiri terpisah dari filsafat bahasa. epistemologis. Pengertian dan Lingkup Semiotika Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani "semeion" yang berarti 'tanda'. sebagaimana bidang ilmu lain seperti ilmu sosial.

puisi. Semiotika atau semiologi menurut istilah Barthes. melainakanjuga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes.. Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah dunia yang serba beragam ini. bangunan. klausa dan kalimat tidak pernah memiliki arti pada dirinya sendiri. cerpen. Sebuah teks apakah itu surat cinta. bahasa. dalam arti dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. memaknai hal-hal. 1992:vii). pad prinspnya hendak mempelajari bagiamana kemanusiaan(humanity). kata. iklan. komik.. poster politik. Tanda dalam pengertian ini bukanlah hanya sekedar harfiah melainkan leibh luas misalnya struktur karya sastra. dan makna (meaning) adalah hubungan antara sesuatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn. 2004:17). dapat dilihat dalam suatu aktivitas penanda yaitu suatu proses signifikansi yang enggunakan tanda yang menghubungkan objek dengan interpretasi (Sobur. frase. wacana. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dngan apa yang ditandakannya (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sitem bahasa yang bersangkutan. 2001:53). Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam hubungannya dengan pembacanya. makalah. Hal ini kiranya . dan bentuk-bentuk nonverbal teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dngan maknanya dan bagaimana tanda disusun. kartun. struktur film. Menurut Pines apa yang dikerjakan semiotika adlah memberikan kejelasan kepada manusia untuk menguraikan aturan-aturan dalam suatu kehidupan dan membawa manusia pada suatu kesadaran dalam kehidupan ini (dalam Berger.s egala sesuatu (things). Kurniawan. dan segala sesuatu dapat dianggap sebagai tanda dalam kehidupan manusia (Zoest. 1988:2179. pidato presiden. Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa maka huruf. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol. nyanyian burung.bendera dan sebagainya. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri. Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). agar setidaknya kita dapat memilikipegangan. secara umum. serta ungkapan bahasa lainnya yang merupakan suatu tanda. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi. Dalam penelitian sastra misalnya kerap diperhatikan hubungan antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan tanda dengan apa yang ditandakannya (semantik). 2000:14). studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. 1996:64).

Sedangkan aplied semiotik adalah lingkup semiotika yang membahas tentang penerapan semiotika pada bidang atau konteks tertentu. yaitu semiotika murni. bahwa dalam kehidupan itu terdapat bebagai macam konteks kehidupan. semantic level (tingkatan semantik) dan pragmatic level (tingkatan pragmatik). Buku-buku yang membahas tentang semiotika murnia antara lain a Theory of Semiotic karya Umberto Eco (1976). Objek. 2000:4). 2000:5). yaitu berkatian dengan metabahasa. periklanan. komunikasi. Pembahasan tentang hakikat bahasa sebagaimana dikembangkan oleh Saussure.sejalan dengan tesis dari Wittgenstein. yang mengembangkan teori 'language games'. yaitu bagaimana tanda-tanda dalam kehidupan manusia itu atau bagaimana sistem penandaan itu berfungsi. bahwa bahasa adalah sebagai suatu sistem tanda. misalnya dalam kaitannya dengan sistem tanda sosial. adalah lingkup semiotika yang membahas tentang semiotika tertentu. dan aturan itu terkandung dalam ungkapan bahasa dalam kehidupan. dan makna. Pure semiotic membahas tentang dasar filosofis semiotika. sementara Carles Moris menyebutnya sebagai suatu proses tanda ketika sesuatu merupakan tanda bagi beberapa organisme (Segers. dan the Meaning of information (1972) karya Doede Nauta. Berdasarkan lingkup permbahasannya semiotika dibedakan atas tiga macam. dalam arti hakikat bahasa secara universal. Jadi semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi dengan menggunakan tanda (sign) dan berdasarkan pada sign sistem (code) (segers. dan lain sebagainya (lihat Sobur. Walaupun ribuan tahun yang lalu para tokoh filsafat Yunani telah membahas tentang fungsi tanda. 2004:19). Berdasarkan tingkatan hubungan semitoika. (pure). dan semiotika terapan (applied) (sobur. semiotika deskriptif (descriptive). Sementara Cobley dan Jansz (1999:4) menjelaskannya bahwa semiotika adalah sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji dan menganalisis tanda. serta di abad pertengahan pembahasan tentang penggunaan . ground serta penafsir. Peirce menjelaskan bahwa semiotika adalah sebagai bidang ilmu yang mengkaji hubungan diantara tanda. Adapun deskriptif semiotic. 2004:19). Nauta membedakan menjadi tiga tingkatan yaitu syntactic level (tingkatan sintaktik). misalnya sistem tanda tertentu atau bahasa tertentu secara deskriptif. sedangkan bagi Peirce tentang hakikat tanda dalam hubungannya dngan objek. sastra. yang masing-masing kehidupan memiliki aturan-aturannya sendiri-sendiri (rule of the game).

bahkan oleh kalangan linguis dunia. Meskipun kedua tokoh tersebut memberikan dasr-dasar paradigmatik tentang semiotika. Mounin di dalam bukunya yang berjudul Introduction a la semiologies (1970). dan merancang konsep yang sangat canggih tentang ilmu bahasa beserta aspek terapannya. Prieto di dalam bukunya yang berjudul Mes Semiologies (1953). namun sebenarnya di antara kadua tokoh tesebut tidak terdpat hubungan kausalitas. Umberto Eco membahas semiotika dalam bukunya yang berjudul A Theory of Semiotics 91976). Roman Jacobson dalam karyanya yang berjudul Coup d'Oeilsur le Developpement de la Semiotique 91975). Perkembangan berikutnya par atokoh filsafat bhasa baru ramai membhas secara sistmatis pada abad XX ini. dengan konsep-konsep yang baru dan tipologi yang sangat rinci. dan T. Saussure menyadari bahawa sitem tanda yang disebut bahasa hanyalah salah satu di antara sistem tanda lainnya dalam .tanda juga telah disinggung oleh banyak filsuf. ia dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Semiotika peirce diwarnai oleh filsafat pragmatisme dan logika. Berbeda dengan Peirce. G. namun dalam paradigmatik yang berbeda. Ia merancang semiotika sebagai suatu teori yang baru sama sekali. meskipun kadng lebih menonjol tentang tanda bahasa. namun istilah semiotika sendiri baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert seorang filsuf Jerman. Saussure adalah seorang ahli linguistik. Bidang semiotika ini kemudian menjadi lahan yang subur dan bermunculan berbagai tulisan semiotika sepergi Ch. Kedua filsuf terebut memang hidup seazaman. Morris dalam bukunya yang berjudul Writting on the General Theory of Signs (1971). Misalnya Peirce mengembangkan pemikirna tentang semiotika pada tahun 1939. yang antara lain membahas pemikiran tentang batas-batas penelitian semiotika. Berdasarkan pembahasan diatas sebenarnya perkembangan semiotika diilhami oleh dua orang filsuf bahasa yaitu Ferdinand de Saussarure dan Charles Sanders Peirce. Baginya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda.A.J. sehingga konsep semiotikanya juga sangat dilandasi oleh dasar-dasar logika dan aspek pragmatis. 1992:viii). Roland Barthes membahasnya dalam buku yang berjudul element de Semiologie (1953). Dengan lain perkatana dasar ontologis dan epistemologi semiotika diletakkan oleh dua tokoh tersebut. L. Sebeok dalam karyanya yang bertitel Contributions to the Doctorine of Signs (1977) (Zoest. Oleh karena itu konsep Saussure tentang hakikat bahasa merupakan paradigma bagi sistem linguistik modern.

2000:14) tanda-tanda berkaitan dengan objekobjek yang menyerupainya. Secara lebih tegas ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dalam tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun setelah kematiannya dalam Ouvres Completes (karya lengkap). Dengan demikian sebenarnya Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. ia . Ia memberi tempat yang penting pada linguistik. 1992:2). atau dengan perkataan lain memiliki kekhasannya masing-masing. karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar. sedangkan Saussure mendasarkan semiotika pada filsafat bahasanya. Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. Teks-teks tersebut mengandung pengulangan dan pembetuland an hal ini menjadi tugas penganut semiotika Peirce untuk menemukan koherensi dan menyaring hal-hal yang penting. berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. menunjukkan bahwa meskipun istilah semiotika (menurut Peirce) dan semiologi (menurut Saussure) berbeda. Kenyataan bahwa di antara Saussure dan Peirce keduanya tidak saling mengenal. Namun pandangan filosofisnya memiliki perbedaan. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir. dan ia mengusulkan dan menyebut teorinya dengan 'semiologi'. bahwa pada suatu saat harus ada teori tentang tanda yang mencakup semua sistem itu. Hal yang berlaku bagi tanda pada umumnya berlaku pula bagi tanda linguistik. Dengan megembangkan semiotika. namun bukan satu-satunya. tapi tidak sebaliknya (Zoest. dan untuk mencapai tujuan tersebut. Peirce menghendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat diterapkan pad asegala macam tanda. Dalam satu kalimat ia mengungkapkan gagasan. namun mengacu pada pengertian yang sama. sedangkan penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda. Menurut peirce semiotika didasarkan pada logika. Keberadaan memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. tetapi bukan satu-satunya kategori. Kita mempunyai kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda-tanda. dan diantaranya tanda=-tanda linguistik merupakan kategori yang penting. Kekhasan dan perbedaan itu dikarenakan pada latar belakang filosofis yang berbeda. Menurut Peierce (dalam Berger. Peirce mendasarkan semiotika pad tradisi filsafatnya sendiri yaitu pragmatisme dan logika.kehidupan manusia. yang merupakan dasr epistemologis linguistik umum.

konsep Peirce dapat dikembangkan pad penelitian bidang teater. Ia menambahkan bahwa teori tentang tanda linguistik perlu menemukan tempatnya dalam sebuah teori yang lebih umum. Misalnya dalam keinginannya untuk membangun semiotika behavioris. 1995:38). Berbeda dengan Peirce. Menurut Grenz. berdasarkan paradigma sistem linguistik umum yang telah dibangun oleh Saussure. 1992:2). Konsep Peirce telah diperkenalkan di Eropa oleh Max Bense (Jerman) yang menggunakannya dalam penelitian estetika dan analisis tekstual. Demikian pula semiotika Peirce dikembangkan oleh George Klaus dan diintegrasikan dengan pemikirannya sendiri (zoest. musik. teori Peirce telah banyak mengalami perubahan. kebudayaan. dan lains ebagainya. lazimnya yang mendasarkan pada filsafat bahasa Saussure menggunakan istilah semiologi. menggunakan istilah Semiotika.memerlukan konsep-konsep baru. Dalam karya Eco tahun 1972 dan (1976). Baiks ecara implisit maupun eksplisit para ahli semiotika yang mengikuti tradisi Saussure menganggap bahwa tanda-tanda linguistik mempunyai kelebihan dari sistem semiotika yang lain (Zoest. Dasar filosofis inilah yang menarik Barthes untuk mengembangkan semiologi. melainkan juga karena pada waktu mereka mengerjakan teori. Saussure adlah seorang tokoh besa ryang berasal dari Swiss pendiri sebagai pendiri dan Bapak linguistik modern (Lyons. Memang perlu dimaklumi dalam perkembangan berikutnya pendekatan epistemologis tersebut menyebabkan penggunaan istilah itu denganberdasarkan ciri khas masing-masing. sedangkan yang mendasarkan filsafat Peirce. Saussure mengembangkan dasr-dasar teori linguistik umum. linguistik berkembang dengan pesatnya. Ketika para pengikut Saussure secara bertahap menyusun teori semiologi secara umum yang telah diramalkan kehadirannya oleh Saussure mengilhami mereka.5). Berdasarkan pernyataan ini sebenarnya tidak ada perbedaan epistemologis antara kata semiotika dan semiologi. iklan. 1992:4. Bahkan di Eropa pemikiran Peirce berkembang dengan sukses melalui karya eklektis Umberto Eco dari Italia. dan untuk itu ia mengusulkan nama semiologi. Menurut Lyons. Dalam penyebarluasan itu. Morris telah mencampurkan konsep-konsep yang dibuatnya sendiri ke dalam konsep-konsep Peirce. Untuk melengkapi konsep itu ia menciptakan kata-kata baru yang diciptakannya sendiri. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai suatu sistem tanda. suatu kelebaihan yang luar biasa dari teori Saussure adalah ia . artistektur.

teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotika adalah teori Hjelmslev. Menurut Saussure bahasa adalah penanda (significant) dan petanda (signifie). Teori ini merupakan pendekatan semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal). seorang strukturalis dari Denmark. yaitu tempat yang biasanya diduduki oleh filsafat. Julia Kristeva adalah tokoh yang paling dikenal dari aliran ini biasanya disebut 'semiotika ekspansionis'. ia belum mengenal studi sebagaimana ditulis oleh Peirce pada masa itu. bahwa ctatan . Pengaruh Hjelmslev terlihat lagi dalam penelitian para tokoh semiotik yang menaruh perhatian pad atanda-tanda yang tanpa maksud yang berupa symptom. Roland Barthes adalah tokoh yang paling terkenal dari aliran semiotika ini. Buyssnes. melainkan untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) yang juga dipunyai tanda itu. yang sering dihasilkan oleh pengirim tanpa disadari. epistemologis maupun aspek aksiologis. yang digunakan dngan sadar oleh mereka yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya ( si penerima). (Prieto. Jadi jika kita simpulkan kedua tokoh semiotika tersebut memang tidak memiliki hubungan kausalitas baik dari segi ontologis. Ketika Saussure memberikan kuliah-kuliahnya yang dikenal dengan linguistik umum. Ahli semiotika yang mendasarkan pada filsafat Saussure. Mounin). 1992:4). dalam kerja kaum semiotik yang cenderung memberikan tempat yang tinggi dan sentral. Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan. 2001:178). Pengaruh itu nampak pada teori semiologi komunikasi.menolak teori historis tentang bahasa yang pada abad ke-19 berkembang pesat di Eropa. dalam teorinya menggunakan istilah atau kosakata yang berbeda. Sistem semiotik dari rambu-rambu lalu lintas merupakan salah satu contoh penggunaan tanda seperti ini. Mereka menggunakan istilahistilah dari linguistik. Roman Jakobson (1966) menyatakan sebagai berikut. Aliran semiotika ini juga mengambil aspek epistemologi paham linguistik modern Noam chomsky yang beraliran transformasionalisme generatif (Zoest. Pada penggunaan konsep linguistik ditambahkan penggunaan konsep psikoanalisis (aliran Freud) atau sosiologis (marxis). dan studi bahasa adalah berkaitan dengan objek material ujaran dan perilaku bahasa manusia secara empiris yang disebut parole. Pasca teori Saussure. dan bahasa pada hakikatnya adalah merupakan suatu sistem tanda (Grenz. yang populer disebut 'semiotika konotasi'.

1992:5). dogmatis dan revolusioner. Semiotika Signifikansi Sebagaimana dipahami oleh para ahli semiotika. bahwa terdapat dua tradisi yang besar yang mengikuti pandangan dua filsuf besar yaitu filsuf bahasa Ferdinad de Saussure yang merupakan bapak linguistik modern dan Charles Sanders Peirce yang memiliki latar belakang filsfat pragramtisme. teori dan praksis. Demikian pula semiotika komunikasi yang mendasarkan pada filsafat Peirce. Dalam kenyataannya pembahasan dua macam model semiotika tersebut justru terjadi interaksi yang saling memperkaya dan saling melengkapi. sedangkan . Jika dikaji secara filosofis kedua tipe semiotika tradisi Saussure danPeirce justru sebenarnya saling memperkaya. maka pandangan Peirce pasti akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teori linguistik internasional (lihat Zoest. akan tetapi tidak berarti mengabaikan sistem tanda (lihat Piliang. Dua tipe semiotika yang dikembangkan olehdua filsuf tersebut memang memilkiki ciri khas serta karakteristik masing-masing. meskipun lebih menaruhp erhatian terhadap tanda sebagai sebuah sistem dan struktur. misalnya signifikansi dan komunikasi. penting dari segi sejarah. Semiotika yang mengikuti tradisi Saussure lebih dikenal dengan istilah 'semiologi. 2004:v). konvensional dan progresiv. Para ahli semiotika membedakan semiotika signifikansi (semiotic of signification) dicirikan berdasarkan filsafat bahasa Saussure. akan tetapi tidak berarti bahawa semiotika tersebut mengabaikan penggunaan tanda secara kongkrit oleh individu-individu di dalam konteks komunikasi sosial. Namun demikian kedua tipe tersebut tidak perlu dipandang sebagai suatu kontradiksi. meskipun secara epistemologi menunjukkan ciri khas masing-masing. dan sampai tahun 1930-an belum diterbitkan. meskipun menekankan pada produksi tanda secara sosial dan pross interpretasi yang tanpa akhir (semiosis). atau jikalau paling tidak catatan-catatan tersebut telah dikenal oleh para ahli linguistik.tentang semiotika yang telah dikembangkan oleh Peirce di atas kertas selama setengah abad. logika dan bahasa. statis dan didnamis. Semiotika signifikansi yang berakar pada tradisi filsafat bahasa Saussure. dan seakan-akan tidak ada ruang lain (Piliang. dan semiotika komunikasi (semiotics of communication) adlaah semiotika yang berdasarkan filsafat Peirce. 2004:vii).

pedoman dan pengamalannya untuk menjelaskan dua model analisis bahasa Saussure tersebut. Pandangan filsafat Saussuretentang bahas amenyebutkan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. dan contohcontoh aktual tingkah laku itu sendiri. Apa yang secara epistemologi disebut 'semiotika signifikasi' pada prinsipnya adalah semiotika pada tingkat 'langue. antara sebuah 'kitab suci' dan bagaimana setiap orang 'mengamalkannya' (Pilliang. sementara 'semiotika komunikasi'. Jika bahasa sebagai sistem tanda dalam komunikasi sosial manusia maka implisit dalam pengertian tersebut terdapat sebuah relasi. Meskipun demikian karena keterkaitannya sistem tanda bahasa dngan sistem sosial. maka konvensi juga mengatur tanda secara sosial tentang pemilihan. analogi istitusi dan evenet. adalah semiotika pada tingkat parole. melainkan dalam bahasa terdapat konvensi sosial (social convention). dan bahasa sebagaimana ia digunakan secara nyata oleh individu-individu dalam berkomunikasi secara sosial (parole). Hal inilah yang memungkinkan bahasa sebagai sarana komunikasi sosial. pengkombinasikan dan penggunaan tanda secara tertentu. oleh karena sebagaimana dikemukakan oleh Jonathan Culler. sdisebabkan secara esensial ia merupakan perbedaan antara 'institusi' dan 'event'. Berkaitan dengan hal ini. sehingga sistem tanda ini memiliki nilai sosial. Perbedaan antara langue dan parole ini sangat sentral dalam pemikiran bahasa Saussure. dan bahasa adalah sebagai convensi yang arbitrer. ia mempunyai konsekuensi lebih luas pada bidnag-bidang di luar linguistik.tradisi Peirce dipopulerkan dengan istilah semiotika. yang memiliki aturan tertentu yang disepakati bersama. Meskipun demikian. Saussure mengusulkan dua model analisis bahasa. oleh karen aitu bahasa merupakan sarana komunikasi manusia maka bahasa juga sebagai sistem tanda dalam komunikasi manusia (Piliang. Oleh karena itu dalam semiotika terdapat pengertian sistem tanda (sign system). Sussure tidak mengakui bahwa bahsa memiliki keteraturan secara alamiah. bisa menjebabk pada kerangka pikir relasi . antara sistem yang memungkinkan berbagai tindak tanduk sosial. 2004:vii). atau dengan analogi yang lebih ekstrem. sistem vs tindakan. yaitu analisis bahasa sebagai sebuah sistem (langue). bahwa bila tanda juga merupakan bagian dari aturan-aturan dalam kehidupan sosial yang berlaku. 2004:vii).

Kompleksitas relasi inid igambarkan oleh Roland Barthes lewat ’tingkatan signifikansi’ (staggered system). Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu. signifikansi tidaklah sederhana sebagai relasi antara penanda dan petanda. Selain itu. akan tetapi lebih bersifat konvensional. Pilliang. Dalam kerangkalangue. dengan demikian. yang akan dijelaskan nanti Saussure justru melihat relasi antara langue dan parole sebagai relasi yang saling menghidupkan dan saling mengembangkan. hanya terdapat kemungkinan yang terbatas bagi setiap orang dalam menggunakannya. Dalam melihat relasi pertandaan ini. yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat. mulai dariyang sederhana sampai yang sangat kompleks. atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makan yang ekplisit. Akan tetapi bertentangan dengan pandangan tersebut. seperti setiap mesin. untuk menjelaskan ’konsep’ atau ’makna’. 2004:viii). berdasarkan aturan main dan konvisi tertentu (Fiske. yang dogmatis dan hegemonis antara yang pertama dan yang kedua. Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention). yaitu makna-makan yang berkaitan dengan mitos. ”Denotasi’ adalahtingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda. yang mengatur pengkombinasian tanda dan maknanya. langsung dan pasti. Meskinpun demikian. Saussure menjelaskan ’tanda’ sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untukmenjelaskan ’bentuk’ atau ’ekspresi’ dan bidang penanta (signified). Semiotika signifikasi. Akan tetapi. Barhtes menjelaskan dua tingkat dalam pertandaan.horisontal atau relasi 'satu arah' (Pilliang. Mitos sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman semiotika Barthes adalah sistem pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah (Barthes.semacam mesin untuk memproduksi makna. 1990:85). 1967. adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem. Relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi inilahyang disebut sebagai siginifikansi (signification). 2004:vii). Barthes juga menjadi makan yang lebih dalam tingkatnya. Demikian . Sementara ’konotasi’ adalah tingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsiran). Sesungguhnya ada beberapatingkat relasi tersebut. yaitu denotasi (denotation) dan konotasi (connotation).

’poci. serta konsep-konsep (signified) yang berkaitan dengannya. 1979:48). Kata-kata mempunyai makna disebabkan diantara katakata tersebut ada ’perbedaan’. terutama sifatnya yang statis. Berdasarkan aksis bahasa yang dikembangkan Saussure tersebut. disebabkan mereka berada didalam ’relasi perbedaan’. Semiotika signifikansi. sehingga menutup pintu bagi peran manusia . ’pacu’. menurut Saussure bahwa di dalam bahasa hanya ada prinsip perbedaan (difference). menurut Saussure hanya dimungkinkan lewat operasinya dua aksis bahasa yang disebutnya aksis paradigms dan aksis syntagms. manusia tidak bisa membayangkan sebuah bahasa.pula bahasa. Dalam bahasa kita disediakan perbendaharaan kata atau tanda (vocabulary). semiotika signifikansi yang dikembangkan oleh Saussure dan Barthes banyak mendapat kritik dari berbagai pihak. misalnya kata ’rem’. yang hanya mempunyai satu kata saja untuk menjelaskan setiap hal. dogmatik dan mekanistik. Semiotika struktural dianggap terlalu menyandarkan diri pada sistem dan struktur yang tidak berubah. gambar. benda) dan syntagm. ’perbedaan. ’picu’. Aturan pertama. Meskipun demikian. perbendaharaan kata) yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat. ’Paradigms’ adalah satu perangkat tanda (kamus. Ada berbagai rule of the game atau aturan penggunaan dalam bahasa. dalam bahasa. visual. Semiotika signifikasi dianggap mengandng banyak kelemahan. yaitu cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main tertentu (Barthes.’ dst. dan hanya satu unit dari pilihan tersebut yang dapat dipilih. 1967:125). Roland Barthes mengembangkan sebuah ’model relasi’ antar apa yang disebutnya system. yaitu perbendaharaan tanda (kata. sehingga kemungkinan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain (Eco.s ehingga menghasilkan ungkapan bermakna. aturan pengkombinasiannya (code). ’kode’ adalah seperangkat aturan atau konvensi bersama yang didalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan. tidak ada hubungan keharusan antara kata ’peci’ dan sebuah benda yang kita pakai sebagai penutup kepala kitaL apa yang memungkinkan terjadinya hubungan adalah perbedaan antara ’peci’. sintak) yang harus kita patuhi. ’Syntagms’ adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yang ada berdasarkan aturan tertentu. Misalnya. menaruh perhatian pada’relasi’ sistematik antara perbendaharaan tanda. Jika kita ingin menghasilkan sebuah ekspresi yang bermakna. serta perangkat aturan main bahasa (gramar. dalam hal ini. Aturan main kedua adalah perbendaharaan tanda dan cara kombinasinya.

selama perubahan tersebut diterima secara kolektif. 2004. dapat berkembang ’egoisme’ atau ’anarkisme bahasa’. yang mempunyai potensi-potensi kreativitas dan produktivitas dalam mengubah bahasa (Pilliang 2004:vii-xii). yang didalanbya lingkungan. sebaliknya justru merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. Dengan demikian. Berbagai pembacaan mendalam terhadap karya Saussure menunjukkan bahwa Saussure sesungguhnya tidak ’anti perubahan’. Thibault. dan kemudian menadi ’konvensi baru’. bahwa sistem bahasa (langue) merupakan kondisi yang harus ada dalam setiap penggunaan tanda secara konkrit (parole). sesuai dengan perkembangan sosial dan lingkungan. Relasi atas langue dan parole bukanlah sebuah relasi yang statis dan tidak berubah. dalam pengertian.x). tidak benar merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. perubahan tersebut tidaklah sewenang-wenang dan anarkis (Piliang. Setiap pengguna bahasa akan mengacu pada sistem bahasa tersebut. sebagaimana yang dikemukakanoleh Paul J. bahwa ia secara terus menerus ’ditempa’ di dalam praktik penggunana bahasa komunitas. Sebaliknya. situasi dan hal-hal baru yang berkembang di dalam praktik tersebut menuntut sistem untuk berubah (Piliang. sebab dengan demikian. . Dengan demikian. sebagai mana yang sering dituduhkan. Dengan demikian. Dengan demikian. 2004:xi). Akan tetapi. ada sifat-sifat fleksibilitas yang dcukup kuat pada filsafat bahasa Saussure. sistem bahasa tidak bisa diubah oleh individu-individu semata sebagai pengguna bahasa pada tingkat parole. dalam proses penggunaan bahasa tersebut. struktur bahasa yang berdasarkan pemikiran saussure dilihat sebagai bersifat sinkronis. keadaan. tindak individu dalam penggunaan bahasa dalam mengubah sistem tanda. Sistem bahasa hanya bisa diubah oleh individu dan ’kolektivitasnya’ (Thibault. 1998:27). langue adalah ’produk sosial’. kini dapat mengalami perubahan ketika sistem tersebut ’ditempa’ di dalam praktik-praktik penggunaan bahasa secara diakronik.sebagai subjek (Subject). terbuka pintu bagi sebuah titik awal perubahan sistem (change in system). Saussure melihat. yang melihat strutkru dan sistem bahasa sebagai sesuatu yang dapat berubah. meskipun demikian. dalam Rereading Saussure: The Dynamics of Signs in social Life. Artinya. Sistem bahasa justru dapat berubah ketika ia ’diui’ secara terus menerus di dalam praktik kehidupan sosial. tidak benar pengguna bahsa dilihat hanya sebagai ’subek yang pasif’ dihadapan hegemoni sistem dan atuaran bahasa tersebut. Akan tetapi.

akan tetapi ia menyesuaikan sesitem tersebut dengan perubahan dan ketidakpastian situasi yang ada (contingency). atau anarkis.yang didalamnya langue dipelihara prinsip dasarnya. Penggunaan bahasa secara kreatif dan inovatif selalu dalam konteks transformasi sumber-sumber sosial dan semiotis secaa evolusioner. Parola adalah semacam ’kebebasan kombinasi’ (freedom of combination). tetapi pada 'sistem bahasa' (langue). penyempurnaan dan kompleksitas bahasa secara terus menerus. sperti yang dijelaskan Thibault di atas. melainkan subek dari transformasi historis dan sosial. Dengan demikian. Perubahan tersebut dilandasi oleh prinsip dialektika sosial sendiri. Ketimbang besifat stabil. 1998:28). Saussure mengakui parole sebagai ruang tempat berlangsungnya perubahan. dan tanpa aturan. Dengan perkataan lain. kemestian dan tak berubah. yang didalamnya terjadi proses ’tesis’ dan ’sintesis’ sebagai jalan kearah pengkayaan. sebagaimana yang sering dituduhkan. Konsekuensinya adalah bahwa langue tidak dapat berdiri sendiri secara otonom dalam kaitannya dengan parole. hanya saja ia tidak memfokuskan diri pada ruang tersebut. Pemikiran Saussure tentang dinamika dan dialektika perubahan. 2004: xii). yang merupakan prakondisi dari . ’kebebasan’ disini bukanlah dalam pengertian kebebasan random. kebebasan dalam parole bukanlah ’kebebasan tanpa batas’. anarkis. 1998:78). Aktivitas produksi makna dalam parole dimungkinkan sekaligus ’dibatasi’ oleh kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh sistem bahasa. sesungguhnya telah menempatkan Saussure tidak pada posisi "membelenggu' subjek pengguna bahasa lewat 'kekuasan struktur' (hegemony of structure). Meskipun demikian. tidak sistematis. bukan perubahan yang acak dan revolusioner (Pilliang. ’perubahan’ yang dimaksud Saussure bukanlah perubahan yang sewenang-wenang. Dalam berkomunikasi subek tetap saa secara aktif menggunakan sumber daya langue berdasarkan pengalaman masa lalu dan pola –pola regulernya. Individu-individu tidak mempunyai kebebasan untuk memproduksi kombinasi semau dan sesukanya. akan tetapi pada posisi yang relatif tidak berbeda dengan Peirce. Akan tetapi. melainkan saling mempengaruhi secara timbal balik. (Thibault. akan tetapi sekaligus diubah secara evolusioner. struktur dan relasi bahsaa di dalam sistem bahasa yang ada tidak bersifat permanen. bahasa justru selalu ’bergerak’ dalam kondisi ketidakstabilan yang permanen (permanen instability) (Thibault.

yang memilih tanda dari bahan baku tanda-tanda yang ada.. 1979:15). Semiotika komunikasi Peierce melihat tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subek atas tanda (intepretant).. yang menjadi landasan bagi semiotika komunikasi. ia tidak masuk terlalu jauh ke dalam aspek komunikasi tersebut. bertumbuh. 2004:xii). semiotika komunikasi sangat bertumpu pada ’pekera tanda’ (labor). Saussure mengakui tidak saja aspek signifikansi dari semiotika. 'medan' yang justru dimasuki secara intens oleh Peirce (Pilliang. dan berkembang bika (Winfried Noth. Bila Saussure dianggap mengabaikan subjek sebagai perubahan sistem bahasa. yaitu proses penciptaan ’rangkaian interpretant yang tanpa akhir’ di dalam sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda yang didalamnya tnda mendapatkan tempat hidupnya. Sebagai sebuah ’mesin produksi makna’. ketimbang ’sistem tanda’ (sign system). 1995:43). adalah semiotika yang menekankan aspek ’produksi tanda’ (sign production). dalam rangka memproduksikan sebuah ekpresi bahasa bermakan (Eco. Model tradic yang digunakan Peirce (representamen + object + Interpretant = sign) memperlihatkan peran besar subek ini dalam proses transformasi bahasa.something which stands to somebody for something in some respect or capacity” (Winfried Noth. akan tetapi juga aspek komunikasinya. ’tanda’ dalam pandangan Peirce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti. Pilian. Hanya saja.parola. yang disebut proses ’semiosis tak terbatas’ (unlimited semiosis). ”Semiotika komunikasi”. Menurut Eco sistem tanda (langue) dan proses . Umberto Eco yang sering disebut-sebut sebagai ’penengah’ antara semiotika signifikasi Saussure dansemiotika komunikasi Peirce melihat ’salah kaprah’ dalam melihat model-model semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi sebagai sebuah relasi oposisi biner. 2004:xii). ’Tanda’ menurut pandangan Peirce adalah ”. menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotic. 1995:42). Artinya. Peirce sebaliknya melihat subek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses signifikasi. dan mengkombinasikannya. Tampa pada definisi Peirce ini peran ’subjek’ (somebody) sebagai bagian tak terpisahkan dari pertandaan.

Dapat dilihat di sini. saling mengisi. yang menyebabkan ’jurang’ yang memisahkan antara kedua ahli semiotika itu sesungguhnya tidak ke sedalam sebagaimana yang dibayangkan. seakan-akan orang harus memilih antara ’teori tanda’ (teori signifikansi) dan ’teori semiosis’ (yang disebut uga oleh Eco ’teori praktik signifikant’. Ada pandangan yang keliru. ’teori proses komunikasi’. Ini berarti. Lewat sebuah ’otonom’ yang mendalam tentang karya Peirce dan Saussure. sehingga dengan demikian tidak ada ’oposisi’ antara ’keliaran semiosis’ (dan aktivitas interpretasi) Peirce dan kekakuan dan ’kebekuan’ tanda Saussure (Eco.interpretasi tanda secara tak terhingga (Semiosis) tidak bisa dilihat dalam keranka oposisi biner. Eco mengelaborasi lebih jauh konsep ’dinamika tanda’ yang tidak dikembangkan secara khusus oleh Saussure. dan tidak diuraikan secara detail oleh Peirce. yang membuat seakan-akan Saussure danPeirce merupakan dua ’kubu perang’. ’teori teks’ dan ’teori wacana’). bahwa seakan-akan orang tidak menyatukan antara ’doktrin tanda’ (doctrine of sign) dan doktrin ’semiosis’ sebagai proses interpretasi tanpa akhir. Ini berarti. khususnya pekerja tanda. bahwa pandangan Eco ini sejalan dengan pandangan Thibault. bagaimanapun uga ’tanda’ adalah asal usul dari ’proses semiosis’. saling mempengaruhi timbal alik (reciprocal) dan tidak dapat dipisahkan begitu saja sebagai dua ’medan’ yang otonom. bahwa ’semiotika itu sesungguhnya tidak sedalam sebagaimana yang dibayangkan. menyeleksi. Menurut Eco. menata dan . sebagaimana yang dikatakan Eco. yang melihat sifat-sifat ’dinamis’. ’progresif dan ’transformatif’ yang sama-sama dimiliki oleh Saussure maupun Peirce. Dalam hal ini. Sebab. ketika seseorang ’menuturkan’ kata (atau image). Ia mempekerakan tanda-tanda (memilih. maka ia terlibat di dalam sebuah proses ’produksi tanda’ (yang sebagaimana konsep produksi dalam ekonomi melibatkan berbagai lapisan pekerja (labor). dan ’model produksi tanda’ Peirce di dalam A Theory of Semiotics. (pilliang. 2004:xiii). sebagai ’dua seteru’ yang tidak dapat dipertemukan. Keharusan memilih di antara dua teori ’inilah yang merupakan salah kaprah dalam semiotika. yang tidak dapat didamaikan. Eco memberikan sebuah elaborasi yang komprehensif dan kritis mengenai ’model signifikasi’ Saussure. bahwa ’semiotika signifikansi’ dan ’semiotika komunikasi’ semata adalah penamaan dari dua proses yang satu sama lain sesungguhnya saling berkaitan. 1979:1).

maka ia harus melandasi korelasi tersebut berdasarkan ’konvensi baru’ (new convention) (Eco. Proses ’dinamika bahasa’ seperti ini. Ketika orang lain ’membaca’ kata (atau image) tersebut. akan tetapi pesan itu sendiri dapat merestruktur kode. Orang dapat merestruktur ekspresi maupun isi pesan mengikuti kemungkinankemungkinan dan kapasitas pengkombinasinya yang dinamis. Akan tetapi. oleh karena konvensi itu sendiri belum ada. Dalam hal ini. yang memberi peluang bagi ’kreativitas bahasa’. yaitu ketika situasi diskursus menuntut adanya perubahan aturan main. oleh karena produk akhir dari setiap perubahan sistem adalah konvensi baru. 2004:xii-xiv). Eco melukiskan sebuah situasi diskursus yang didalamnya berlangsung proses ’kreativitas yang mengubah aturan (rule changing creativity). oleh karena setiap penggunaan fungsi tanda diatur oleh sebuah kode. berarti mengusulkan ’korelasi’. . Eco melihat semacam dialektika antara kode (code) dan pesan (message). sehingga menciptakan sebuah sistem bahasa yang selalu ’siaga’ terhadap berbagai situasi atau lingkungan baru. yang menuntut danya perubahan. dalam rangka memahami kata (atau image) tersebut. maka ia menggunakan tenaga kera interpretasi. 2004:xiv). dalam komunikasi sseorang dihadapkan pada keharusan menemukan sebuah fungsi tanda yang baru. dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode (kode) yang dipahaminya. Proses komunikasi dapat menciptakan semacam diskursus baru (new discourse). Akan tetapi. (Pilliang. sebagaimana yang diingatkan oleh Saussure. dan setiap korelasi harus berdasarkansebuah ’konvensi’ (convention). sebagaimana yang kita lihat di atas halnya dimungkinkan ketika sistem bahasa (langue) dan proses penggunaan tanda secara sosial merupakan sebuah ’spiral’. 1979:152). Untuk mengusulkan sebuah kode. yang satu sama lain saling mendinamisasi. Di dalam proses pertukaran kata (atau image) tersebut sesungguhnya berpeluang teradi proses perubahan kode (the changing of codes) (Eco. 1979:189). yaitu ketika ekspresi atau isi komunikasi betul-betul baru dan tak terumuskan (undefinable) lewat kode yang ada (Eco. Akan tetapi. ia harus mengusulkan cara baru pengkoden (new coding). Meskipun kode mengontrol penyampaian pesan. 1979:188). proses dinamika bahasa tersebut bukanlah proses yang semena-mena. Seperti seorang pelukis.mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu). Dalam hal ini. yang merupakan produk sosial dari bahasa (Pilliang.

yang didalamnya yang menjadi fokus atau motif bukanlah 'pesan' (message). chaos. Bila semiotika signifikansi Saussure dianggap terlalu bersandar pada langue sebagai 'pusat' (center) yang dituduh menghalangi inovasi dalam bahasa.. disorder. apakah itu yang disebut noise. melainkan salah satu unsur penting dalam komunikasi itu sendiri. noise itu juga membawa sebuah pesan. Deleuze & Guattari.'tak terbayangkan' (unimaginable) atau bahkan 'tak terpresentasikan ' (unrepresentable) di dalam bahasa. tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk yang berasal dari tawuran pelajar di jalan. akant etapi ia mempunyai hubungan yang 'ironis' dengannya. Bila didalam sebuah ruang kelas. Dalam hal ini. Kristeva. misalnya. Michel Serres melihat elemen noise yang selama ini dianggap sebagai 'ekses' dalam komunikasi sebagai elemen yang sanga tpenting dalam komunikasi. Cara-cara berpikir seperti inilah yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Derrida. maka bahasa harus melepaskan sandarannya pad cara berpikir sistem dan struktur. Bila diciptakan ruang kreativitas dalam bahasa. 2004:xv). yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan. Artinya. akant etai ia juga . Meskipun semiotika seperti ini masih bergantung pad akonsep-konsep tanda dan komunikasi. yaitu apa yang disebut 'semiotika ekstra-komunikasi'. dan bila dibuka pintu bagi kemungkinan untuk menyingkap berbagai hal yang tak terpikirkan dan tak terpresentasikan dalam bahasa. Serres dan Baudrillard. Ia mengemukakan. Hal ini disebabkan bahwa noise pada kenyataannya mempunyai ciri0ciri yang tidak berbeda dengan pesan (message). bahwa noise bukanlah semata elemen 'pengganggu' komunikasi. disinformasi. Bahwa ada semacam 'medan komunikasi. kitatampaknya diajak untuk berpikir sedikit ekstrem tentang teori komunikasi.Semiotika 'ekstra-komunikasi' Ada sebuah 'medan bahasa' yang secara sepintas tampak 'melampaui' ruang kontroversi antar a'semiotika signifikansi' dan semiotika komunikasi'. ketika seorang guru tengah asyik berbicara. yaitu sebuah 'medan ekstra'. Dalam konteks semiotika ekstra-komunikasi' ini. simulasi atau ironi (Piliang. maka semiotika 'ekstra-komunikasi' lebih menaruhp erhatian pada kemungkinan baru yang tidak terpikirkan' (unthinkable). turbulensi. melainkan 'sesuatu' yang berada di luar relasi komunikasi sender/message/receiver. maka hirukpikuk di sini tidak hanya dilihat sebagai 'pengganggu' komunikasi guru-murid.

sebuah 'pesan' misalnya murid harus berjaga-jaga terhadap akibat samping dari tawuran tersebut (Serres. melainkan pada 'permainan medium' itu sendiri. signified atas signifier. bahwa justru 'medium' itu sendiri yang kini menjadi pesan (medium is the message). teknik dan teknologi komunikasi itu sendiri. languae atau paroe. sehingga pesan komunikasi yang sesungguhnya menjadi tidak dipentingkan lagi. Ia juga menggunakan istilah 'diseminasi' (dissemination) untuk menjelaskan sebuah situasi 'ketidakterisian makna' disebabkan absennya petanda. misalnya. yang secara eksplisit membuka pintu bagi indeterminasi makna. 1995:dalam Pialang. yang didalamnya pusat perhatian bukanlah pad pesan. Derrida menggunakan istilah differance untuk menjelskan sebuah proses permainan bebas penanda yaitu berupa 'pergerakan' dari satu penanda ke penanda lainnya. sebab perhatian lebih dipusatkan pada permainan dan ekspresi itu sendiri. ke arah motif . dengan melepaskan diri dari determinasi sistem. determinasi seperti ini menjadi sebab utama dari 'penutupan' (foreclosure) berbagai kemungkinan tafsiran kreatif yang disediakan oleh bahasa dan tanda. 2004:xix). Baudrillard melihat. dengan demikian. pada kecenderungan determinasi speech atas writting. bahwa semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Saussure sarat dengan kecenderungan 'logosentrisme' yaitu kecenderungan bahasa untuk merayakan sifat metafisik dan dogmatik dari langue. justru menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pesan dalam komunikasi. Baudrillard melihat sebuah model komunikasi. Komunikasi telah beralih darimotif mencari pesan lewat medium. didalam sebuah 'permainan bebas' (free play) (Derrida. Derrida lalu membedakan antara dua cara penafsiran. pusat perhatian dan motif dalam komunikasi telah beralih ke pencarian pesan ke arah keterpesonaan yang ditimbulkan oleh permainan. dengan menutup prose permainan dan produktivitas tanda. Di dalam determinasi. Noise. Dipengaruhi oleh pemikiran McLuhan. yaitu : penafsiran 'restropektif' (restropective). Di dalam the Ecstras of communication. dan tafsiran 'prospektif' (prospective). 1987:20). yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinil. makna atau noise. Sedikit berbeda dengan Serres. Baudrillard melukiskan tentang bagaimana relasi komunikasi. Ini tampak. kondisi 'ketidakterisian makna' dan 'ketidakterisian kode' ini dibiarkan secara tak berhingga. yang disebutnya 'ekstasi komunikasi'. Jacques Derrida melihat. telah memerangkap setiap orang di dalam keterpesonaan tindak. teknik dan kecanggihan teknologi medium itu sendiri. Artinya.

nampaknya Saussure kurang tertarik pada bidang tersbut. Ia hidup sejaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. C. terjadi semacam 'keterputusan' rantai pertandaan (antara penanda dan petanda. yang kini mengambil alih pesan. Dengan perkataan lain. yaitu apa yang disebut 'semiotika chaos'. Setelah satu tahun kuliah di Jeneewa pada fakultas fisika dan kimia. 2004. yang untuk penjelasannya diperlukan konsep teoritis atau pengembangan lagi (Piliang. sehingga menciptakan semacam persimpangsiuran penanda-penanda yang kemudian tercipta adalah semacam 'kegalauan dalam pertandaan'. Di dalam model komunikasi yang dikemukakan lacan.penikmatan kesenangan (ekstasi) yang disediakan oleh medium itu sendiri. dan bahkan telah berubah menjadi 'pesan' itu sendiri (Boudrillard. dan kemudian ia pindah ke universitas Leipzig untuk belajar ilmu bahasa. meskipun tidak banyak bukti bahwa di antara mereka saling berkomunikasi. antara penanda dan penanda lainnya). xvii). dalam Pilliang. Ferdinand de Saussure Saussure lahir di Jenewa tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu. Kemudian pada umum 21 tahun ia belajar bahasa Sansakerta selama 18 bulan. Filsuf Semiotika dan Pemikirannya 1. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan satu penanda dengan car ayang stabil. yang untuk itu sebuah neologi lain dapat diusulkan untuk menjelaskannya. Jacques Lacan memfokuskan diri pada 'kegalauan' atau 'turbulensi' dalam sistem pertandaan. 2004:xii-xvii). semua penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. yang menciptakan serangkaian penanda-penanda yan satu sama lainnya tidak berkaitan. sehingga tidak mampu menghasilkan sebuah ungkapan bermakna. . 1988. Bila pemikir sebelumnya menaruh perhatian pada 'ekses-ekses' pada rantai komunikasi. dan pada saat itulah ia menerbitkan memoire-nya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le Systeme Primitif des Voyelles dans les Langues Indo-Europeenes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). Di dalam bahasa skizofrenia. yang disebut model komunikasi 'skizofrenia'. karena keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan.

judul course in General Linguistics (Lechte. 2001: 178). dan faktor-faktor lainnya yang memperngaruhi perilaku linguistik manusia (Grenz. Kita tidak boleh . sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Menurut Lyons (1995:38). Banyak aliran linguistik yang berlainan dapat dibedakan pada waktu ini. Studi demikian menelusuri perkembangan kata-kata dan ekspresi sepanjang sejarah. Karya ini dikemudian hari merupakan sumber teori linguistik yang paling berpengaruh. Menurut Stanley J. Ia mengusulkan teori bahasa yang disebut ’strukturalisme’ untuk menggantikan pendekatan ’historis’ dari para pendahulunya. mencari faktor-faktor yang berpengaruh. seperti geografi. Saussure memang terkenal karena teorinya tentang tanda. 2001:232. Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. 233). Saussure menggunakan pendekatan anto-historis yang melihat bahasa sebagai sistem yang utuh dan harmonis secara internal (langue). Catatan-catatan kuliahnya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline. kehebatan Saussure adalah ia berhasil menyerang pemahaman ’historis’ terhadap bahasa yang kembangkan pada abad ke-19 memulai studi bahasa dengan fokus kepada prilaku linguistik nyata (ucapan manusia. 2001:232). perubahan jumlah penduduk. Pada tahun 1881 ia diangkat menjadi dosen dalam bahasa Gothic dan bahasa Jerman Kuno di Ecole Pratique des Hautes Etudes. 2:44 ). Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara kesluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Saussures pindah ke Paris. Karyanya yang disusun dari tiga kumpulan catatan kuliah saat ia memberi kuliah linguistik umum di Universitas Jenewa pada tahun 1907. Untuk memahami sebuah simponi. parola). setelah mempertahankan tesisnya tentang kasus generatif mutlak dalam bahasa sansakerta. perpindahan penduduk. Grenz.Pada tahun 1880. Untuk memahami bahasa. 2001: 178). tetapi semuanya secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh strukturalisme Saussure (Sobur. Karya itulah yang dikenal dengan istilah ’strukturalisme’ (Grenz. Selama sepuluh tahun ia mengajar di Paris sampai diangkat menjadi professor bahasa Sansakerta dan bahasabahasa Indo-Eropa di Universitas Jenewa (Lechte. kita harus melihatnya secara ’sinkronis’.

Kata-kata ini merupakan label bagi benda-benda yang bisa dikenali sehingga bahasa adalah klasifikasi. Mereka mengatakan bahwa struktur bahasa kita mencerminkan proses logika berpikir. Para ahli linguistik sebelum dia melihat bahasa sebagai fenomena alamiah yang berkembang sesuai hukum-hukum yang baku. 2001: 180)/ Sebetulnya. 2004: 45). Saussure juga merupakan seorang tokoh pembaruan intelektual dan ini jelas dalam karyanya. Misalnya. kategori dalam logika mengatakan ’subtansi’ dan ’kualitas’. dan juga dengan epitemologi Pencerahan.melihatnya secara atomistik. Pada perkembangan selanutnya. Caurse in General Linguistics. Baginya. Bahasa itu bersifat otonom: struktur bahasa bukan merupakan cerminan dari struktur pikiran atau cerminan dari fakta-fakta. Selain sebgai seorang yang memupuk berlangsungnya tradisi intelektual. sesudah tahun 1968. Pendekatan inilah yang disebut-sebut sebgai linguistik struktual (Sobur. pandangan Saussure berbeda total dengan ilmu bahasa abad ke-19. Para ahli bahasa abad Pencerahan melakukan studi dengan mengurusi kepingankepingan detail dan ’sebagai orang luar’ (yang tidak terlibat dalam bahasa itu sendiri). pemahaman struktual demikian menjadi dasar bagi pemikiran postmodernisme yang diwariskan Saussure. Saussure mengatakan sebaliknya bahwa bahasa adalah fenomena sosial. Sebagaimana dijelaskan di depan bahw Saussure dilahirnkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah karya keluarga yang sangat terkenal di kota itu . Struktur bahasa adalah milik bahasa itu sendiri (Grenz. maka setiap sistem bahasa ditentukan oleh kebiasaan sosial. secara individual. kehidupan intelektual Eropa menjadi ramai dengan perbincangan tentang karya-karya ’bapak strukturalisme dan linguistik’ ini. Tampaknya memang. Namun. Jika bahasa adalah sebuah fenomena sosial. Saussure mempertanyakan pendekatan terhadap studi bahasa yang dilakukan oleh pencerahan. bangsa adalah sebuah keutuhan yang berdiri sendiri. 2004: 44). yang membuatnya tekenal dari luar lingkungan linguistik (Sobur. sebelum tahun 1960 tidak terlalu banyak orang dalam lingkungan akademik atau luarnya yang pernah mendengar nama Saussure. Kategori dalam bahasa menerjemahkannya menajadi ’kata benda’ dan ’kata sifat’.

suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas . Menurut Saussure. kedua unsur tadi tidak bisa dilepaskan. serata (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik). pikiran. Tanda adalah kesatuan dari suatu bendtuk penanda (signified). signifier atau signified.karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Suatu penanda tanpa petanda tanpa tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens. dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian. ada lima pandangan dari Saussure yang kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi Strauss. Suara-suara. menyatakan. Signifier dan Signified. Sebaliknya. Selain sebagai seorang ahli lingustik. atau konsep. baik suara manusia. yakni signifer (penanda) dan signified (pertanda). Tanda bahasa selalu mempunyai da segi: Penanda atau pertanda. (2) form (bentuk) dan content (isi). signifiant atau signifie. penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. atau menyampaikan ide-ide. pengertian-pengrtian tertentu. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkhein meski tidak banyak bukti bahwa ia sudah pernah berhubungan dengan mereka. ujaran): (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik). Sedikitnya. ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan. 2001: 180). suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sistem konvensi sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda. Untuk itu. binang. penanda adalah ’bunyi yang bermakna’ atau ’coretan yang bermakna’. Yang cukup pentinga dalam upaya mengangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda. atau bunyi-bunyian. Petanda adalah gambaran mental. hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekpresian. yaitu pandangan tentang (1) signifeir (penanda) dan signified (petanda). Dengan kata lain. (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan. Jadi. Yang mesti diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang konkret. bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Dengan sebuah ide atau pertanda (signifer).

18982. dalam Ahmisa-Putra. bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. seperti dua sisi dari sehelai kertas. 2004: 46). 1998: 35). Berlawanan dengan tradisi yang membesarkannya. Meski demikian. sedang konsepnya adalah petanda (signified). Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifer). pertanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. Saussure tidak meneria pendapat yang menyatakan bahwa ikatan mendasar yang ada dalam bahasa adalah antara kata dan benda. menurut Saussure. maka kata tersebut pasti menunjukkan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept). ”Penanda dan petanda merupakan kesatuan. Karena itu. misalnya. . Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. (Lechte. tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarkan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan. struktur dasar suatu bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi. Namun.dari penanda. sebuah kata apa saja. namun juga suara yang berbeda (distinc sound). meskipun antara penanda atau petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. 2001: 235). konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. pandangan ’nomenklaturis’ menjadi suatu landasan linguistik yang sama sekali tindak mencukupi (Sobur.”kata Saussure (Sobur. Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. bahkan secara lebih mendasar Saussure negungkapkan suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori linguistiknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (pertanda) bersifat menasuka atau berubah-ubah. Setiap tanda kebahasaan. 2004: 47). Maka itu. Ambil saja. Pemisahan hanya akan menghancurkan ’kata’ tersebut. Berdasarkan prinsip ini. Jadi. pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citraan saurau (sound image). setiap upaya untuk memaparkan teori Saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan Saussure mengenai hakikat tanda tersebut.

kita naik kereta api ini ke Jakarta. Dalam permainan catur. karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap hari. Saussure (Ahimsa-Putra. bahasa berisi sistem nilai. dan mungkin juga diberi makna yang berbeda. Memang demikianlah wujudnya. Kata ’sinkronisasi’. satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. namuns ecara . Umpamanya saja. baik gerbong maupun lokomotifnya. dan malam. wadah) dan content (isi) ini.Form dan Content. Lalu persoalannya adalah. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi. kata tersebut tetaplah satu dan sama. 2001:39) memberikan contoh lain yang kini sangat populer. Walaupun demikian. Untuk membedakan antara form (bentuk. aturan-aturan permainannya. bagaimana suatu kata itu memperoleh maknanya? Atas pertanyaan ini Saussure memberikan jawaban yang lain dengan jawaban yang biasanya diberikan pada masa itu. Yang bervariasi. Apa yang ’tetap’ di sini sehingga kita lalu mengatakan ’kita naik kereta api yang sama’ tidak lain adalah ’wadah’ kereta api tersebut. Jadi. yakni kereta api. Kata kalam. bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi. Saussure membandingkan form dan content atau subtance itu dengan permainan catur. Begitu pula halnya dengan kata-kata. Hari selasa berikutnya kita naik lagi kereta api ini ke Jakarta. dapat diucapkan secara berlain-lainan oleh individu-individu yang berbeda. apa sebetulnya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Dengan kata lain. kata Saussure adalah ”the phonic and psychological ’matter’. 2001:40). dan kita katakan kita naik ’kereta api yang sama’ walaupun gerbong danlokomotifnya boleh jadi sama sekali sudah berbeda. Menurut Saussure.50 (kalau tidak telat). tidak lain adalah differensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata yang lain. isi) ini oleh Gleason (Pateda. Pada hari senin. kita tahhu bahwa di Stasiun Bandung ada kereta api Parahyangan Bandung-Jakarta pukul 07. misalnya. yang memberikan pada suatu kata disstinctive form-nya. misalnya dibedakan menurut suaranya dengan kata salam. 1997: 35) diistilahkan dengan expression dan content. papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. sementara isinya berubah-ubah. tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya. Juga susunan gerbong dan jumlahnya. atau bentuk khasnya. sedangkan wadahnya yaitu kata ’sinkronisasi’ sebagai bagian darisebuah sistem bahasa tetap sama (Ahimsa-Putra. Istilah form (bentuk) dan content (materi.

Perbedaan-perbedaan yang memisahkan suatu kata dengan katakata yang lain terutama yangmemisahkannya dengan kata-kata yang paling berdekatan (menurut suara maupun konsep) itulah yang memberikan identias pada kata tersebut. tinta dan sebagainya. kata padi tidak masuk dalam differensiasi system arti dalam bahasa Inggris (Sobur. kekacauan itu dapat hilang dari semua keragaman tersebut dapat disarikan suatu obek sosial yang murni. Padahal. langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran) terpaksa kita mengambil . individual dan juga sosial. kaerna realita itu sekalipun bersifat fisik. realisasi aturan-aturan.” kata Barthes. Saussure mulai dengan sifat bahasa yang ’berbentuk amak dan beragam’. Artinya. Ketika itu . katanya lagi. 2004:48). khususnya dalam teori wacana. fisiologi. Obek itu tidak tergantung dri materi tanda yang membentuknya. 2004:49). umpamanya tidak persis sama dengan kata rice dalam bahasa Inggris. yang dengan sendirinya merupakan linguistik individual. Saussure membedakantiga istilah dalam bahasa Perancis: language. pena. Jadi kata padi dalam bahasa Indonesia. kertas. terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bnyi. karena kata Indonesia tersebut terpisah dari kata atau dibedkan dengan kata rice. Hal ini pun diakui Roland Barthes (1996:80) yang menyatakan bahwa konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaruan besar pada linguistic sebelumnya. linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebabsebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan. tutur Barthes. Di samping itu. dan kombinasi tanda-tanda yang teradi sewaktu-waktu) (Sobur. yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realitas yangtak dapat dikelompok-kelompokkan ’kita seakan-akan tidak akan menemukan kesatuan di dalamnya. suatu kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi. Langue dan Parola.konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. asosiasi spotan dan tindakan yang berjalan dengan itu. Saussure dianggap cukup penting oleh Recoeur karena ialah yang meletakkan dasar perbedaan antara langue dan parole (Ricoeur. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu. dan disebut langue. psikis. 1976:2-3) sebagai dua pendekatan linguistic yang pad agilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoeur.

(Bertens. produksi masyarakat itu bersifat otonom. Akibatnya . language adalah bahasa pada umumnya. sama sekali bukan tindakan. sebab dibidang ini kekhususan bahasa Perancis tidak mudah terjemahkan oleh bahasa-bahasa lain. Alwasilah (1993:77) menyebut langue sebagai totalitas dari kumpulan fakta atau bahasa. Dalam pengertian umum. namun disebabkan. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada . Dalam konsep Saussure. seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya. Langue adalah sesuatuyang berkadar individual dan juga sosial universal. Individu tak dapat membuatnya sendiri. mereka membatasi diri atas langue saja (Sobur. Apabila orang ingin berkomunikasi. Alwasilah. langue. umpamanya. tidak juga dapat mengubahnya. Dalam pandangan Barthes (1996:81) apa yang disebut langue itu adalah langage dikurangi parole:” Itu adalah suat institusi sosial dan sekaligus juga suatu sistem nilai. ia harus mengikuti keseluruhan perjanjia itu. bukan hanya abstraksi-abstraksi saa. Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa. Langue ini ada dalam benak orang. langue dimaksudkan bahas seauh merupakan milik bersma dari suatu golongan bahasa tertentu. 2001:182). Orang bisu pun sama memiliki langage ini. Sebagai sistem sosial. 1996:23). Langage mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parola (Bertens.alih istilah-istilah yang diberikan oleh buku Saussure sendiri.” katanya. tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langage. langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial dan budaya. sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat. Language adalah suat kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan. langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu. menurut Barthes. katanya. 2004:50). 2001: 181-182. gangguan psikologis pada bagian tertentu maka dia tidak bisab erbicara secara formal. seperti uga sebuah simfoni tidak sama dengan cara dibawakannya dalam sebuah konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya umpamanya). namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dn stimulus yang menunjang.l hal itu harus merupakan perjanian bersama. 1993:77). Singkatnya. Selain itu.

Guna menjelaskan hal tersebut. . 1998:107). Misalnya dalam bahasa Indonesia /h/ adalah fonem. bahasa itu bikan substansi. karena membedakan makna kata harus dan arus. bukan adanya nada-nada membentuk bahasa tionghoa sebagai bahasa. Maksudnya. Atau mengubah seluruh sistem. tidak perlu dikatahui bhawa permainan ini berasal dari Parsi. Asal usulnya permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri. ia mengemukakan perbandingan yang lalu menjadi terkenal. Juga bahan dari mana buah-buah catur dibikin (kayu. melainkan bentuk saja. bahan dari dama bahasa itu terdiri. sedangkan ujud fenotisnya tergantung pada beberapa faktor. Untuk mengerti permainan catur. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem esensial. Yang penting dalam bahasa adalah aturanaturan yang mengkonstitusikannya yaitu unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. tidak memberikan kontribusi sedikit pun untuk pengertiannya. Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi di manas etiap catur mempunyai fungsinya. terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. 2001:55-56) atau satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti (muliono. Namun menurut Saussure. yaitu satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Moeliono. 2001:182). menurut Saussure. Dalam bahasa yang esensial ialah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang membentuk sistem itu. melainkan aturan-aturan yang berlaku bagi nada-nada tersebut (Sobur. kata Saussure. Apa yang dinamakan langue itu. plastik). tidak mempunyai peranan. yakni bahsa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. Demikian pula bahasa. 1988:243). gading. /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bapa dan papa berbedad engan maknanya. 1988:592). harus dianggap sebagai sistem (Bertens. selain itu. Yang termasuk dalam tanda bahasa dan kode inia dalah apa yang oleh para ahli disebut fonem. 2004:51). nada-nada memegang peranan penting. Dan sistem itu dikonstruksikan oleh aturan-aturanya. termasuk dalam tanda bahasa juga ada yang disebut morfem.tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code)bahasa (Kleden-Probonegoro. Dalam bahasa Tionghoa. yaitu ”satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukan kontras makna” (Kridalaksana. Fonem merupakan abstraksi.

Pertama-tama parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan subek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. Pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana. dalam arti tnda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Kalau langue bersifat sinkronik. yang memungkinkannya menampilkan kombinasi tersebut. Menurut Bertens. 1999:89). 1996:81). maka parole adalah living speech. Juga. maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu pada saat terjadi pembicaraan. Berkebalikan dengan langue. kata dia. Kemudian. menurut Barthes. parole juga dapat dipandang seagai mekanisme psikofisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi-kombinasi tadi. parole seperti telah disinggung. Tentunya. kata Barthes. sesuai dengan realita yang . parole juga merupakan mekanisme psikofisik dan hal inilah. Barthes mencontohkan busana. karena merupakan aktivitas kombinatif ini pula.dalam jalur semiologis itu ada kemungkinan bahwa pembedaan yang dibuat Saussure diubah. di sini perlu dibedakan tiga sistem yang berbeda. Kalau parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. justru hal itu perlu dicatat. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya tidak disadari oleh pengguna bahasa yang bersangkutan. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. parole merupakan bagian dri bahas ayang sepenuhnya individual (Budiman. Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem. Karena adanya keberulangan inilah. setiap tanda bisa menjadi elemen dari langue.Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode. parole itu terdiri atas ”kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakankode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiranpribadinya ” (Bertens. Selain itu. maka unit dasar parole adalah kalimat. Kalau unit dasar langue adalah kata. merupakan suatu tindakan individual yan merupakan seleksi dan aktualisasi. dan. maka parole terkait dengant indakan individual dan bukan semata-mata sebentuk kreasi.

Dengan demikian. Penting untuk disadari bahwa deskripsi sinkronis pada dasarnya tidak terbatas pad aanalisis bahasa lisan modern. 1994:34)l jadi bisa dikatakan besifat horizontal. Synchronic dan Diachronic. 2004:52). Menurut Saussure. .digunakandalam komunikasi dalam busana yang tertulis artinya digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan dapat dikatakan bahwa di ini tak ada parole. dan parole pada tataran komunikasi dengan katakata. menurut Saussire. linguistik harus memperhatikan sinkronis sebelum menghiraukan diakornis. merupakan suatukesatuan sistematik tanda dan aturan. seperti dikutip Barthes (1996:82). Apakah yang dimaksud denga kedua istilah ini? Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani Khrona (waktu) dan dua awalan syn dan dia masing-masing berarti ’bersama’ dan ’melalui’. yang memungkinkan hal tesebut (adanya langue sebelum pewujudan parole) kali ini diterima. tidak mungkin ada langue tanpaparola. Perhatian dituukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara (pateda. Menurutnya. Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalamlinguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dandiakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarkan dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang ”keadaan tertentu bahasa tesebut (pada suatu masa) (Lyons. dan di lainpihak abstraksi yang menyatu pada setiap langue dikonkritkan di sini dalam bentuk bahasa tertulis: mode pakaian(tertulis) adalah langue pada atataran komunikasi pakaian. karena di satu pihak bahasa mode tidak datang dari masa yang berbicara. misalnya menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965. Seseorang dapat melakukan analisis sinkronis bahasa-bahasa ’mati’ (usang. asalkan ada cukup keterangan yang dilestarikan dalam naskahnaskah yang telah sampai kepada kita (Sobur. melainkan dari kelompok pengambil keputusan yang dengan sadar mengembangkan kode. 1995:46). linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Busana yang ’di gambarkan’ tidak pernah sesuai dengan realisasi individual aturan-aturan dalam mode itu. itu adalah langue dalam keadaan yang murni. Bertens (2001:184) menyebut : sinkronis’ sebagai ’bertepatan menurut waktu’. Berkaitan dengan ini.

Dapatlah kita katakan bahwa studi ini bersifat vertikal. Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi . Dengan demikian telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut ’struktural’. itu tidka berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa (Bertens:2001: 184-185). perubahan-perubahan fonetis. Jadi. Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulud isebut bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai sekarang. Pada dasarnya. linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsurekstralingual. bahasa bisa dipelajari menurut dua sudut pandangan itu: sinkronis dan diakronis. Oleh sebab itu. Kita dapat menyelidiki suatu bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dandengan begitu tidak memperhatikan bagiamana bahasa itu telah berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita bisa menyoroti perkembangan suatu bahasa sepanjang waktu. bertentangan dengan ahli-ahli linguistik abad ke-19 yang hampir semua mempraktikkan suatu pendekatan diakronis tentang bahasa: mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu. Atau dengan kata lain. sistem terlebih dahulu mesti dilukiskan tesendiri menurut prinsip sinkronis. studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan searah (melalui waktu). Atas dasar itu. linguistik harus mempelajari sistem bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini. Justru karena bahasa merupakan suatu sistem dalam arti yang diterangkan tadi. dengant idak mempedulikan perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang telah menghasilkan sistem itu.Diakronis dalam hal ini mengandung pengertian ’menelusuri waktu’ Bertens. etimologi. misalnya studi diakronis bahasa Inggris mungkin mengalami perkembangan di masa catatan-catatan kita yang paling awal sampai sekarang ini. Menurut Bertens. dan seagainya. Saussure menekankan perlunya pendekatan sinkronis tentang bahasa. Saussure berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis. linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. 2001:184). linguistik melepaskan juga objek studinya dri dimensi waktu. Linguistik komparatif historis harus membandingkan bahasa-bahasa sebagai sistem-sistem. atau mungkin meliputi jangka waktu tertentu yang lebih terbatas.

Melalui cara ini. bisa saa kita ’kucing’ diganti dengan ’anjing’ karena keduanya memiliki hubungan paradigmatik. Pengubahan ini terbukti tidak mempengaruhi hubungan sintagmatik. Ia tidak hanya menerjemahkan istilah . ayahnya Benyamin adalah seorang Profesor matematika di Harvard University. misalnya menjadi bermakna sebab ia memang bisa dibedakan dengan ’seekor. Kualifikasi dan kemampuan seperti itu tidak terlalu menampilkan kreativitas intelektual yang menonjol saat itu. Satu lagi struktur bahasa yang dibahas dalam konsepsi dasar Saussure tentang sistem pembedaan di antara tanda0tanda adalah mengenai syntagmatic dan associative (paradigmatic) atau antara sintagmatik dan paradigmatik. terlepas dari sistem-sistem di mana unsur itu berfungsi (Sobur. ’kucing’ bisa dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan ’singa’ dan ’anjing’. Dari tahun 1879-1884 ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidnag logika di universitas John Hokins. selain pertukaran dua kata benda (Sobur. Hubungan paradigmatik tersebut. bagaimana garis x dan garis y dalam sebuah sistem koordinat. Selama lebih dar tiga puluh tahun Peirce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk survei pantai Amerika Serikat. dan ’karpet’ kata ’kucing’ menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah sintagma (kumpulan tanda yang berurut secara logis). Cobley dan Jansz (1999:16-17) memberi contoh sederhana. 2. Misalnya. menurut Cobley dan Jansz. ’atas’. Jika kita mengambil sekumpulan tanda ”seekor kucing berbaring di atas karpet”L maka satu elemen tertentu kata ’kucing’. 2004:54-54). Kini digabungkan dengan ’seekor’. Charles Sanders Peirce Charles Sanders Peirce lahir dari keluarga intelektual pada tahun 1893. ’berbaring’. Sekarang kita lihat bagaimana kemudian kata ’kucing’ dikombinasikan denganelemenelemen lainnya. Hubungan-hbungan ini terdapat pada kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep. Syntagmatic dan Associative. Sejauh tetap memenuhi syarat hubungan sintagmatik. 2004:53). harus selalu sessuai dengan aturan sintagmatiknya. ’di’. penggantian tersebut bersifat fleksibel.atau perkembangan salah satu unsur bahasa. ’karpet’. ’berbaring’.

juga mengembangkan karya logika dan matematika. dan ia juga terpengaruh oleh filsafat Yohanes Duns Scotus (Lechte. yang sekarang menjadi populer itu tetapi ia juga menjadi seorang pemikir dan pengembang tentang karya-karya Kant dan Hegel yang dibacanya dalam bahasa Jerman. Yang jarang disebut adalah bahwa Peirce melihat teori semiotikanya karyanya tentang tanda sebagai yang tak terpisahkan dari logika. ia mengetahui banyak hal. J. . Namun ironisnya. Dalam hal ini ia tak sekadar sebagai seorang penggmbar. 2004:39). sangat berjasa karena telah mengidentifikasi. Ia diperbolehkan menjadi lektor di suatu universitas hanya lima tahun. Peirce menulis tentang berbagai masalah yang satu sama lain tidak saling berkaitan. dari logika ilmu ke dalam kepentingan intelektual. Ia menekuni ilmu pasati dan alam. ’sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulit di sekitar wajah yang sangat parah’. khususnya semiotika. psikologi. linguistik. Howard (2000:154). tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun. kimia. demikian menurut Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:20). tahun 1914. Peirce memberikan sumbangan yang penting pada logika filsafat dan matematika. Kerapkali disebut bahwa selain menadi seorang pendiri pragmatisme. Peirce menurut pandangan Roy. Barangkali karena Peirce. tentunya karena bidang yang diminatinya sangat luas. melainkan sebagai seorang ilmuwan yang penuh tanggung jawab. 2001:226). khususnya semiotika. lingkungan tempat dia secara bertahapmengkonstruksi ’semiotika’nya.’semiotika’ dari bahasa Yunani kuno. teman-temanya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya. dan agama. Namun bagaimanapun juga. astronomi. ’Pierce adalah seorang pemikir yang argumentatif’. seperti dituturkan Cobley dan Jansz (1999:18). di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. yaitu tindakan komunikatif dan telah menunjukkan bagaimana ia menggaris bawahi kepentingan teknis ilmu. Dalam filsafat ia menjadi tokoh Pragmatisme. Menurut Aart van Zoest (1993:8) Peirce adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional. Setelah itu Peirce di berhentikan. tulis Cobley dan Jansz. Peirce sangat temperamental (Sobur. Konon.

kepada penafsirnya. apa yang ditunjuknya. Peirce terkenal karena teori tandanya dan didalam lingkup semiotika. dan representasi seperti . deduksi dan penangkapan (hipotesis) membentuk tiga jenis penafsir yang penting). apa yang diacunya. tanda ’is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. oleh karena itu. maka tand tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki penafsir). Iamenyebutnya representamen. Peirce memang berusaha untuk menemukan struktur terner di manapun mereka bisa terjadi. objeknya adalah unsur kedua. Hubungan antara Tanda dan Acuannya Bagi Peirce (Pateda. Dalam bahasa Perancis digunakan kata referent (dalam bahasa Indonesia disebut ’acuan’). yaitu C.Walaupun Peirce menerbitkan tulisan lebihdari sepuluh ribu halaman cetak.” menurut Peirce makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (induksi. Oleh karena itu. pemikiran Peirce harus dianggap selalu berada dalam proses dan terus mengalami modifikasi dan penajaman lebih lanjut. Apa yang dikemukakan oleh tanda. 2001:44). disebutnya oleh Peirce sebagai objek. dalam kaitan dengan karyanya tentang tanda. Peirce sebagaimana dipaparkan Lechte (2001:227). Peirce mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan contoh unsur pertama. dan penafsirnya adalah sebagai unsur pengantara. Ketiga unsur ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan semiotika yang tak terbatas. suatu tanda itu tidak pernah berupa suatu entitas yang sendirian. Jadi suatu tanda mengacu pada suatu acuan. Agar bisa ada sebagai suatu tanda. tetapi yang memiliki ketiga aspek tesebut. Sering juga disebut sebagai designatum atau denotatum (denotatum adalah kelas penunjuk). Perumusan yang terlalu sederhana ini menyalahi kenyataan tentang adanya suatu fungsi tanda: tanda A menunjukkan suatu fakta (atau objek B). seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya. namun ia tidak pernah menerbitkan buku yang berisikan telaah mengenai masalah yang menadi bidangnya.

peraturan bagimasyarakat yang menggunakan bahasa Perancis. Akan tetapi.itu adalah fungsinyayang utama. dan dengan interpretantnya (Zoest. meskipun kadang tidak demikian. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qulaisign . kode ini bersifat transindivdual (melampuai batas individu). Atas dasar hubungan ini. dan legisign.yang menunjuk kepada penerima tanda. Kode adalah suatu sistem peraturan. Peirce (lihat Pateda. Bila kita akui bahwa kalimat yang dikutip tadi diucapkan dalam suatu situasi khusus kata table mengacu pada objek tertentu. 2001:44) mengatakan klasifikasi tanda. 12001:44). misalnya katakata kasar. sinsign. yaitu dengan ground-nya dengan objek atau acuannya. Seringkali ground suatu tanda merupakan kode. keras. tanda diinterpretasikan. merdu. Ungkapan dalam kalimat ini hanya akan diakui sebagai tanda oleh orang yang mengerti dan menguasai bahasa Perancis. sebuah meja (Zoest. lembut. suatu kesatuan konvensi. Pateda. 1992: 8. dalam kalimat ’Metteez ce livre sur la table’ (taruhlah buku ini di atas meja). 1992:8). misalnya berkat bantuan suatu kode. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada . lemah. yang berarti bahwa setelah dihubungkan dengan acuan. Jadi tanda selalu terdapat dalam hubungan triadik. Dalam hubungan dengan ungkapan bahasa kata table (meja). dapa tmenjelaskan apa yang telah diuraikan di muka. dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. Sesuatu yang digunakan agar tanda dapat berfungsi oleh Peirce disebut ground. dalam hal ini suatu kode. Jadi dalam hubungan ini bahasa itu adalah ground. Pengertian interpretant harus dibedakan dengan interpretateur. Dalam hubungan dengan pengirim dan penerima. kajian ini dibahas dalam bidang pragmatik semotik. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Berkat hal-hal tersebut ornag yang menggunakan tanda ini mengetahui apa yang diacunya dan bagiamana harus menginterpretasikanya. Selainitu representasi seperti itu dapat terlaksana berkat bantuan sesuatu. Tandatanda lalu lintas hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengerti tentang rambu-rambu lalu lintas. banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual. Selain itu.

Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api. (2) hubungan antara tanda dengan acuannya dapat pula timbul karena kedekatan eksistensi. tanda (sign. hubungan tanda seperti ini disebut indeks. Misalnya banyak kosa kata yang merupakan suatu hasil konvensi masyarakat pengguna bahasa tertentu.hujan di hulu sungai. Mislanya kota kata ”kursi”. jika pada suatu jalan sering terjadi kecelakaan. 2001:4547) membagi tanda menjadi sepuluh jenis: . atau baru bangun. yaitu suatu tanda merupakan suatu hasil kesepakatan masyarakat dan hubungan tanda itu disebut sebagai simbol. rheme. atau mata dimasuki insekta. dicent sign atau dicisign dan argument. orang yang merah matanya saa menadakan bahwa orang itu baru menangis. Sebuah hubungan peta geografis dalam hubungannya dengan alam yang dipetakan dan sebuah potret dengan orangnya adalah hubungan ikon. Hubungan indeks dapat juga menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Dicent signt atau dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. 1992:9). Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. atau ingin tidur. atau menderita penyakit mata. Peirce membagi dalam tiga hal. Peirce (lihat Pateda. Misalnya. representament) dibagi atas. misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia. Sebuah tiang penunjuk jalan dan sebuah gambar panah penunjuk arah adalah sebuah indeks. Misalnya. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan. maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa di situ sering terjadi kecelakaan. Berdasarkan berbagai klasifikasi tersebut. Pada pembahasan tentang hubungan antara tanda dan acuannya. itu adalah simbol yang merupakan hasil konvensi mengapa ’kursi’ itu tidak disebut ’pisang goreng’ hal itu adalah merupakan suatu kesepakatan dalam masyarakat yang sifatnya arbitrer atau manasuka (Lihat Zoest. Berdasarkan interpretant. tanda itu disebut icon (ikon). (3) Hubungan yang ketiga adalah hubungan yang sudah erbentuk secara konvensional.

(9) Dicent Symbol atau Propotion (proposisi) (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. (8) Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme. ”Mana buku itu?” dan dijawab. yang secara langsung. harimau. Misalnya. dan serta merta kita pergi. Seseorang bertanya. menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Contoh: pantai yang sering merenggutnyawa orang yang mandi di situ akan di pasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya. Misalnya. Misalnya. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. diagram. Kalau seseorang berkata. suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan.yakni suara tand yang memperlihatkan kemiripan. karena ada asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau. Mengapa kita katakan demikian. yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu. yakni tanda yang menginformasikan norma Dicent Sinsign. Kata-kata yang kita gunakan yang kita dengar . Misanya. Tanda berupa lampu merah yang berputarputar di atas mobil ambulans menandakan orang sakit atau orang yang celaka yang tengaah dilarikan ke rumah sakit. Contoh foto. (6) Rhematic Indexical Legisign. (4) kantor. yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. (5) Iconic Legissign. dilarang mandi di sini. kita melihat gambar harimau. yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. misalnya kata ganti penunjuk. ”pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak. (2) Iconic sinsign.” itu!” (7) Dicent Indexical Legisign. Lantas kita katakan. Kata keras menunjukkan kualitas tanda. (3) Rhematic Indexial Sinsign yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung. yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk subek informasi. yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu. rambu lalu lintas. tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah atau hukum. peta dan tanda baca.(1) Qualisign.

Setelah mengaajar di Rumania dan Mesir. dan menerbitkan artikel peramanya tentang Andre Gide. Inggris 1972). 3. Tentu saja penilaiant ersebut mengandung kebenaran (Sobur. Perancis barat daya. yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Roland Barthes Roland Barthes lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan tatkala ia masih kanak-kanak ayahnya telah meninggal dunia dalam suatu pertempuran. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama: eksponen penerapan stukturalisme dan semiotika pada studi sastra Bertens (2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70an. Seseorang berkata. (10) Argument.” orang itu berkata gelap sebab it menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan. tempat pertemuannya dengan A. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukuralis yang aktif mempraktikkan model linguistik.43). dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap. Sebelum menyelesaikan sekolah dasr dan menengahnya di Paris. semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. 2004:42. Terj.J. dan semiologi Saussurean. ia berpendapat bahwa bahasa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Greimas ia mengajar di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales. ”gelap. sampai akhir hayatnya tahun 1980 (Lechte. 2001:192). Barthes diangkat dalam keanggotan college de France pada tahun 1977. Ia mengajukan pandangan ini dalamWriting Degree Zero (1953. mengapa seseorang berkata begitu. Antara tahun 1943 dan 1947 ia menderita penyakit TBC. Sejak itulah ia diasuh oleh ibu dan kakek neneknya. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964. Setelah mengajar bahasa dan sastra Perancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir) tempat . Barthes menghabiskan masa kecilnya di Bayonne.hanya kata. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu. terj. dan masa istirahanya dimanfaatkan untuk membaca banyak hal.

diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kritik Barthes atas kebudayaan borjuis sangat menonjol dalam buku ini. dari tahun 1960.1977). . Buku ini merupakan suatu percobaan untuk menetapkan Metode Analisis struktural atas mode pakaian wanita. dalam buku kecil ini Barthes melukiskan prinsip-prinsip linguistik dan relevansinya di bidang-bidang lain. Barthes diangkat sebagai profesor untuk ’semiologi literer’ di College de France. Mode ditafsirkan sebagai suatu ’bahasa’ yang ditandai sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi (mislanya antara pelbagai warna. antara lain: Le degree zero de Z’ecriture atau ”Nol Deraat di Bidang Menulis” (1953. ia banyak mengabdikan dirinya dalam pelbagai penelitian di bdiang sosiologi dan leksiologi. Melalui lembaga penelitian ini. Lalu. sambil mdengaar tentang sosiologi tanda. dan representasi kolektif serta kritik semiotika. Criticism and Truth (Sistem Mode) (1967). simbol. Writing Degree Zero. Untuk itu ia menyelidiki artikelartikel tentang mode pakaian dalam dua majalah dari tahun 1958 sampai 1959. ia menjadi asistem dan kemudian menjadi Directeur d’Etudes (Direktur studi) dari seksi keenam Ecole Pratique des Hautes Etudes. Tahun 1980 ia meninggal pada usis 64 tahun. dan lain-lain). Pada 1976. Dilihat sepintas lalu. terbit pula Critical Essays (1964). krah tertutup atau terbuka. bahan tekstil yang tertentu. telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia. mode pakaian merupakan sesuatu yang kebetulan dan sepele. ia mengajar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales.pertemuannya dengan Algirdas Greimas. Setelah kembali ke Perancis ia bekerja untuk Centre National tde Recherche Scientifique (Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah). Tapi Barthes memperlihatkan bahwa di belakangnya terdapat suatu sistem. Setahun kemudian Barthes menerbitkan Michelet (1954). Barthes telah menulis buku. reklame dalam surat kabar dan lain-lain sebagai geala masyarakat borjuis. Buku Barhtes lain yang banyak mendapat sorotan adalah Mythologies (Mitologimitologi) (1957). Disinilah ia banyak menulis tentang sastra. Karya-karya pokok Barthes. yang beberapa diantarnaya. Dalam buku ini ia menganalisis dan kultural yang dikenal umum seeprti balap sepeda Tour de France. akibat ditabrak mobil di jalanan Paris sebulan sebelumnya.

Ia menlihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan kontoasi kata atau frase yang mirip. kita menemukan suatu tema di dalam cerita. 2004:65). atau tepatnya menurut konsep Barthes. kode hermeneutik (kode teka-teki). ia menganalisis sebuah novel kecil yang relatif kurang dikenal. berjudul sarrasine. Kode semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi.Buku terakhir karya Barthes adalah S/Z (1970).dalam proses pembacaan. kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. atau kode kultural yang meembangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu (Sobur. Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ’kebenaran’ bagi pertanyaan yang muncul dalamteks. pembaca menyusun tema suatu teks. kode simbolik. 2001:145-149). ditulis oleh sastrawan Perancis abad ke-19. Lima kode ang ditinjau Barthes adalah (Lechte. yang oleh bertens (2001:210) pantas sebuah buku dengan judul cukup aneh. Barthes berpendapat bahwa ’Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu. maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Perlu dicatat bahwa Barthes mengangap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ’akhir’. Kode teka teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. seorang anak belajar bawha ibunya dan anaknya berbeda satu sama lain dan . Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka teki dan penyelesaiannya di dalam cerita. Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fisik yang paling khas bersifat strutkural. pasca struktural. Honore de Balzac. 2001:196. Mislanya. Dalam penilaian John Lechte (2001:196). dan kode gnomik. suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. Lihat pula Indriani. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bnyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara. dalam karya ini. kodes emik (makna konotatif. kode proaretik (logika tindakan)..

atau teka-teki yang paling menarik. merupakan produk buatan. Buku-buku Barthes yang lain dapat disebut lagi mislanya (The Empire of Sign (Kekaisaran Tanda-Tanda) (1970). dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur. Kode gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal. Pada kebanyakan fiksi.bahwa perbedaan ini juga membuat anak itu sama dengan satu di antara keduanya dan berbeda dari yang lain atau pun pada taraf pemisahan dunia secra kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secaramitologis dapat dikodekan. Fourier. pengarang tentang erotik. 2004:67). tokoh komunisme utopistis. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya. dari terbukanya pintu sampai pertualangan yang romantis. Pada praktiknya. Dalam suatu teks verbal. Menurut Barthes. Kode proaretik atau kode tindakan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu. dan . bukan hanya untuk membanguns uatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sngat forml. artinya . rincian yang paling meyakinkan. Jika Aristoteles dan Todorov hanya mencari adegan-adegan utama atau laur utama. menurut Lechte (2001:196). semua teks yang bersifat naratif. ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes. Lalu dalam buku lainnya. Loyola (1971). secra teoritis Barthes melihat semua lakukan dapat dikodfikasi. Tujuan analisis Barthes ini. dalam buku ini Barthes menerapkan semiotika pada kebudayaan Jepang. sebuah negara yang banyak dikagumi Barthes seperti sebaliknya juga disana terdapat minat khusus untuk Barthes dan strukturalisme pada umumnya. kita selalu mengharap lakukan di-’isi’ sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (seperti pemilahan ala Todorov). realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. antara lain. Fourier. Barthes menyelidiki persamaan dan perbedaan antara Marquis de Sade. perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikoeekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Sade.

The Grain of the Voice : Interviews (1962-1980 (1981) dan The Responsibility of Forms (1982). essai kritik sastra. kultur populer dan literer. 2001:196). pemaparan tulisan historis Jules Michelet sehubungan dengan obsersinya. Camera Lucida. hiburan. cinta dan dalam bidang fotografi (Sobur. seluruhnya ditulis dengan menggunakan orang ketiga (’ia’ atau juga ’RB’). 2004:67).a Barthes membuat tulisan tentang ’kesenangan dan membaca’ dalam the Pleasure of the Text (1973). serta barang-barang konsumsi . serta remehremeh lainnya. seperti dikutip Bertens (2001:211). berkisar dari teori semitoika. wajah Greta Garbo. busa detergen. Karya-karya lain yang ditulis Roland Barthes adalah A loves Discourse: Fragments (1977). sebagian besar dengan menunjukkan bagiamana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyingkapkan konotasi yang pada dasrnya adalah ’mitos-mitos’ (myths) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat (Cobley & Jansz. bersifat pribadi. telaah psikobiografis tentang Sarrasine yang menggusarkan kelompok tertentu dalam sastra Perancis. sebuah rangkaian tulisan muncul dalam majalah Prancis. steak dari keripik. imaji dan pesan iklan. Pada setiap terbitannya Roland Barthes membahas ’Mythologies of the Month’ (Mitologi bulan ini). Refections on Photography (1980). Buku ini memberikan petunjuk tentang aya-gaya tulisan yang lebih bersifat tidak menyatu. seperti dipaparkan John Lechte (2001:193). Hal ini menruut Bertens dapat ditafsirkan sebagai geala yang menunjukkan bahwa pada Barthes-pun terdpat tendensi untuk menghilangkan subjek dari teks (Sobur. Buku ini. dan remi fiksi (Lechte .Ignatius dari Loyola. Dalam ”The Death of Author’ (kematian Sang Pengarang). Les Letters Nouvelles. Citroen tipe terbaru. Buku yang mengumpulkan esay tersebut dengan sangat tepat di beri judul Mythologies dan dipublikasikan tahun 1957 membeberkan perenungan-perenungan tentang penari-penari perut. Ia juga menulis otobiografinya dengan judul Roland Barthes by Roland Barthes (Roland Barthes oleh Roland Barthes) (1975). Pada 1954-1956. Selanjutnya. 1999:43). pengarang tentang hidup kristiani yang namanya tercantumdalam daftar orang Santo dari Gereja Katolik. seperti juga karyakarya yang lebih bersifat pribadi tentang kepuasan dalam wacana. 2004:68). Karya-karya tersebut memang sangat beragam. Disini.

Signifier (penanda) 2. CONNOTATIVE SIGNIFIES (PENANDA KONOTATIF) 6. CONOTATIVE SIFNIFIED (PETANDA KONOTATIF) 3.sehari-hari menemui telaah subjektif yang cukup unik dalam hasil penerapannya.Barthes. Meskipun demikian. Introducting semiotics. membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. tidak sperti Benjamin. pada saat bersamaan. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) Gambar 3. Melanjutkan studi Hjelmslev. Denotative sign (tanda denonatif) 4. Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif. NY: Totem Books. Akan tetapi. dalam setiap eseinya. 51. Memang. Signified (petanda) 5.Kadang-kadang prosa Barhtes dalam Mythologies yang mampu menggabungkan kehati-hatian dan kepuasan dengan ketajjam kritisnya mengingatkan kita pada Walter Benjamin. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke dua. (Sobur. Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz. walaupun merupakan sifat asli tanda. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan danmenunjukkan bahw konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut bianya merupakan hasil konstruksi yang cermat. tanda denotatif . 2004:69). 1999). 1. hlm. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem yang pertama. 1999. Barthes pada dasarnya bukanlah seorang filsuf Marxis atau kritikus kultural dengan inspirasi religius (Sobur. membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungis.1. Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peranpembaca (The reader). Konotasi. 2004:68). Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobles & Jansz. sepeti dipaparkan Cobley & Jansz (1999:44). yang didalam Mythologiesnya secara tegas ia bedakan daridenotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.yang dibangun diats sistem lain yang telah ada sebelumnya.

kegarangan. 2001. tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Sistem demikian ini dapat dilihat dirinya sendiri menjadi unsur sederhana dari sebuah sistem kedua yang akibatnya memperluasnya.2. Dua Sudut Artikulasi Barthes Sumber (Barthes 1983. Secara lebih rinci. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat ekspresi untuk sistem kedua: (ERC) RC. Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menadi dua sudut artikulasi demikian (Barthes. dalam Kurniawan. dan keberanian menjadi mungkin(Cobley. barulah konotasi seperti harga diri. Konot asi 2. 2001:67). . Pada artikulasi pertama (sebelah kiri). linguistik pada dasarnya membedakan tingkat ekspresi (E) dan tingkat isi (C) yang keduanya dihubungkan oleh sebuah relasi (R). dikutip dari Kurniawan. dan Jansz.adalah juga penanda konotatif (4). yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif. Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan tingkat denotasi dan sistem 2 dengan tingkat konotasi. 1. 1999:51). Jadi dalam konsep Barthes. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang snagat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat isi untuk sistem kedua: ER (ERC). 2001:67). Mengacu pada Hjelmslev. Dengan kata lain. 2004:70). Sobur.pada artikulasi kedua (sebelah kanan). 1983. denota sir E C E C Objek bahasa E C E C Metabahasa Gambar 3. Di sni sistem 1 berkorespondensi dengan objek bahasa dan sistem 2 dengan metabahasa (metalanguage) (Kurniawan. Kesatuan dari tingkat-tingkat dan relasinya ini membentuk suatu sitstem (ERC). hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika anda mengenai tanda ’singa’.

bendera Union Jack yang lengan-lengannya menyebar ke delapan penuru. Dalam pengertian umum. sehingga dalam peraktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentukbentuk yang berbeda. misalnya ditandai oleh berbagai ragam penanda. Proses signifikasi yang secra tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. konotasi identik dengan operasi ideologi. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini. yangisebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. sensor atau represi politis. namun sebagai suatu sistem yang uni. 2001:28). Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. denotasi merupakan tingkat kedua. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda. mitos adalah uga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wuud pelbagai bentuk tersebut (Sobur. ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi dan dimengerti oleh Barthes. Dalam kerangka Barthes. petanda lebih miskin jumlahnya daripada penanda. dengan kata lain. petanda dan tanda. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan. makna yang ’sesungguhnya’. bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ’harfiah’ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman. Barhtes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. 2004:71). Artinya dari segi jumlah. mitos dibangun oleh suatu ranai pemaknaanyang telah ada sebelumnya atau. seperti teh (yang menjadi minuman wajib bangsa Inggris namun di negeri itu tak ada satu pun pohon teh yang ditanam). (Budiman. . Dalam hal ini denotasi ustru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makan dand engan demikian. Baginya. demotnasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah. bahasa Inggris yang kita telah menginternasional. 1999:22). Akan tetapi di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya.Pada dasarnya. Imperialisme Inggris.

dan tiulah sebabnya didalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. fenomenologi Husserl cukup penting dalam membentuk . Seperti Marx. (Sobur. pada tahun 1914 Jakobson memasuki fakultas historikko-filologi di Universitas moskow dan masuk bagian bahsa di jurusan Slavia dan Rusia. baik di dalam mitos maupun ideologi. Menurut Lechte (2001:107). sudut pandang.d engan demikian. Pengaruh Jakobson pada semiotika abad ke-20 sangat besar. dan pelopor utama supayapendekatan strukturalis pad abahasa. sehingga akibatnya. meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. Menurut Umberto Eco suatu alasan mengapa Jakobson tidak pernah menulis satu buku khusus tentang semiotika adalah karena seluruh eksitensi keilmuwannya merupakan contoh hidup dari pencarian semiotika (Cobley dan Jansz. hubungan antara penanda konotatif adalah petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman. Pada 1915m Jakobson mendirikan lingkungan linguistik di Mowkow dan terpengaruh oleh Husserl. 2004:64-70).Apa yang menjadi alasan atau pertimbangan Barthes memepatkan ideologi dengan mitos? Ia memampatkan ideologi denganmitos karena. Jakobson dianggap sebagai salah seorang ahli linguistik abad kedua puluh yang cukup dikenal. karya Berthes itu cukup menarik kalangan ahli semiotia. khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa 0wilayah penelitian Jakobson yang pertama dan utama pada hakikatnya bersifat relasional. 4. Roman Jakobson Roman Jakobson lahir di Moskow pada tahun 1896. Hubungan antar suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi (significance). Ideologi ada selama kebudayaan ada. Ia adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Troubetzkoy. ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting. seperti tokoh. 1999:142). Barthes juga memahami idelogi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal. Telaah bahasa menjadi kunci dalam upaya memahami sastra dan folklore (cerita rakyat). Latar. 2001:28). dan lain-lain. Kebanyakan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan.

pengungkapan keadaan pembicara. pembuka. Setiap fungsi bersejajar dengan faktor fundamental tertentu yang memungkinkan bekerjanya bahasa. (3) fungsi konatif. penyadi pesan. Roman Jakobson adalah salah satu dari beberapa ahli linguistik abad kedua puluh yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang seperti yang berlangsung pada afasia (Lechte.pemikiran filsafat bahasanya saat ia berusaha melihat hubungan antara ’bagian’ dengan ’keseluruhan’ dalam bahasa dan kultur dalam kehidupan manusia. dan fungsi puitis (6) sejajar dengan faktor amanat atau pesan (Sobur. dan metonimia (kesinambungan). sedangkan pada yang kedua adalah kesinambungannya. 1990: 12). fungsi metalingual (4) sejajar dengan faktor sandi atau kode. menjelaskan. pengungkapan keinginan pembiacara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak. Pemikiran awalnya yang penting. berarti memahami bagaimana kerusakan pada bagian pemilihan dan subtasi kutub metaforis atau dalam gabungan dan kontekstualisasi kutub metonomia. fungsi konatif (3) sejajar dengan faktor pendengar yang diajak berbicara. pembentuk. Memahami bagaimana berbagai bentuk afasia mempengaruhi fungsi bahasa. dan (6) fungsi puitis. Fungsi referensial (1) sejajar dengan faktor konteks atau referen. penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan. yaitu: (1) fungsi referensial. yang hilang adalah hubungan kesamaan. fungsi fatis (5) sejaar dengan faktor kontak (awal komunikasi). (2) fungsi emotif. 2001: 108). Menurut Jakobson bahasa memiliki enam macam fungsi (Sudaryanto. Pada yang pertama. 2004: 56). menyatakan. fungsi emotif (2) sejajar dengan faktor pembicara. seperti dipaparkan john Lechte. pengacu pesan. sedangkan yang kedua berarti adanya masalah dalam upaya menjaga hieraraki satuan-satuan linguistik. pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak. menafsirkan faktor tertentu yang juga enam jumlahnya itu. dan . (4) fungsi metalingual. Fungsi tertentu yang enam jumlahnya itu mengungkapkan. adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan). (5) fungsi fatis. Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan pada tingaktan metalinguistik p.

Adresser (pengirim) mengirimkan suatu pesan message (pesan) kepada seorang adresser (yang dikirimi).) sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan. Ciri pembeda yang penting di situ adalah suara (voice). yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal (Segers. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-teanda tersebut. Fonem /c/ tidak bersuara voiced sedang fonem /j/ bersuara + voiced).. ciri-ciri itut idaklah menjelaskan perbedaan diantara kedua-nya (Ahimsa-Putra. 2001:56). bukan pula dental. Meskipun begitu . dalam artikelnya yang terkenal linguistics dan poetics. Jakobson adalah salah seorang dari teoritikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi teks sastra. 1990:12). bukan bila-bial. pesan tersebut memerlukan context (konteks) yang menunuuk pada (. dalam AhimsaPutra. Jakobson menerangkan adanya fungsi bahasa yang berbeda. Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan oleh Jakobson antara lain (ahimsa-putra.dalam setiap pengunaan bahasa cenderung menonjol salah satu fungsi tanpa menghilangkan fungsi yang lain (Sudaryanto.meskipun ciri-ciri itu tidak ditangkap atau diketahui. (d) menentukan perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan (Pettit.. Keduanya bukan huruf hidup. (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. 2001:56). dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciri-ciri suara yang lain. unit-unit yang bermakna. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Misalnya saa /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang. Keduanya adalah konsonan yang diartikulasikan dengan melekatkan bagian tengah lidah pada langit-langit mulut. Agar operatif. suatu code . 2001:56): (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang mebedakan tanda-tanda kebahasaan tau dengan yang lain. 2000:15). Keduanya memiliki ciri-ciri positif dan negatif tesebut. 1977. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain (c) merumuskan dalil-dalil sigtimatis mengenai istilah-sitilah kebahsaan dengan distinctive features yang dapat berkombinasi dengan tandatanda kebahasaan tertentu lainnya. bukan bunyi sengau (nazal).

(kode ) secra penuh atau paling tidak sebagian. Fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim. suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi. memungkinkan keduanya. Strata emotif yang paling murni dalam bahasa dapat terlihat dalam bentuk kata seru.2004:59). yang dirangsang oleh kualitas-kualitas tertentu pesan itu. emnunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan. suatu contact (kontak). Proses komunikasi verbal diskemakan sebagai berikut: CONTEXT MESSAGE ADRESSER __________________ CONTACT CODE (lihat Sobur. baik yang betul-betul maupun yang dibuat-buat. Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagai seperangkat (eistellung) yang mengarah kepada pesan secara terpusat (Segersm 2000:16). atau dikatakan juga ’merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa ’puitik (Berger. salah satu fungsi dari pesan-pesan tersebut adalah penggunaan alat-alat literatur sebaga metafora dan metonimi. menurutnya lebih disukai dari pada istilah emosional (Sobur. dan akhirnya. 2000a:16). Pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan referensial. istilah ’emotif yang diperkenalkan dan dianjurkan oleh Marty. menurutnya cenderung menimbulkan kesan emosi tertentu. dalam Segers. 2000a:208). memasuki dan berada dalam komunikasi (Jakobson. Oleh karena itu. menurut Jakobson (1996:70). Bentuk itu berbeda dengan sarana referensial bahasa. Fungsi puitik bertumpu pada orientasi spesifik pembaca ke arah pesan. Hal ini . Disebutka. bagi pengirim dan yang dikirimi (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pemakna kode). 1960. 204:58) ADRESSE Dengan model tesebut memungkinkan Jakobson untuk melanjutkan konsepnya mengenai fungsi puitik. 2000:16). . Menurut Jakobson (berger.

maupun melalui peran sintaksis (kata-kata itu bukan komponen. (Jakobson. jika perhatian hanya diarahkan pada pesan itu sendiri. dalam telaah tentang praktik perpuisian. Fungsi puitik dapat dijumpai dalam semua proses komunikasi verbal. Di sini Jakobson menyatukan dimensi-dimensi ’literer’ dan ’linguistik secara keseluruhan’ melalui pengertian tentang struktur yang mempersatuakannya (Sobur. adalah orang pertama yang menekankan pentingnya irama dalam puisi karya Maryakovski dan Khlebnikov. mislanya dalam studi searah. ceramah dan sebagainya (Jakobson. pertentangan antara penglihatan dan suara.fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seri dam terasa pad seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi. Rien T. dengan jelaskan kemarahan atau sikap ironisnya. tetapi padanan kalimat-kalima). pertentangan antara nada dan irama) namun secara khusus pertentangan antara konsonan-konsosnan muncul dalam kelahiran sebuah puisi. Seseorang dapat mengimajinasikan bahwa dalam bacaan.s esungguhnya Jakobson telah menunjukkan pada 1935 bahwa fungsi puitik atau estetik. maupun leksikal. menjadi pelopor dalam menunukkan segala bentuk pertentangan (pertentangan fenomik. 1935: dikutip Segers. Ia juga. menurut Jakobson. misalnya. 1996:71). gramatikal. seseorang yang menggunakan unsur-unsur ekspresif untuk menunjukan kemarahan atau sikap ironisnya. ”Apabila kita menganalisis pengertian informasi pad aspek kognitif bahasa. menurut Jakobson. Lechte (2001:111-112) melihat. Singkatnya. Segers melihat. dengan jelas memberi tambahan informasi dan tentu saja perilaku verbal ini tak bisa disamakan dengan kegiatan non-semiotik nutritif seperti ’makan jeruk’. seperti dipaparkan Lechte. belum pernah ada ahli linguistik yang berhasil menganalisis puisi dan menyingkapkan struktur diskursus poetika. 2004:59). Jakobson memberi contoh : ”tut! Tut!” kata Mc Ginty: ucapan yang lengkap dari tokoh Conan Dyle ini terdiri dari dua kata onomatope yang menirukan suara onga mengisap sesuatu. 2000:16). tetapi muncul uga dalam artikel surab kabar. fungsi putik (yang disebabkan oleh pemakaian bahasa ’sastra ’) bersaing keras dengan fungsi referensial (suatu deskripsi tentang situasi-situasi tertentu dalam sejarah.baik melalui pola bunyi (sekuen bunyi aneh atau bahkan bunyi-bunyi yang tidak biasa). .” katanya. tidak terbatas pada teks sastra khususnya dan karya seni umumnya.

2001:17). bahwa baik expression maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat expression form pada satu pihak. Prolegomena to theory of Language (1943). Sebuah sintagma merujuk kepada hubungan in praesentia antara satu kata dengan kata-kata yang lain. Memang. antar lain lewat dua karyanya yang terbaik. kadangkala disebut juga sebagai relasi-relasi linear (Budiman. 1992a: 110-111).Analisis Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang mengatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial (differential) atau membedakan. dan meninggal pada 1966. dengan perluasan ini. Pembedaaan atau diferensiasi tersebut berlangsung melalui dua sumbu : sintagmatis dan paradigmatis (Ahimsa-putra. maka relasi-relasi sintagmatik. 2001:213). Hjelmslev mengembangkan sistem dyadic system yang merupakan ciri sistem Saussure (Masinambow. Kurniawan. Whitfield (1963). 1988:124-128). danmeninggal tahun 1966. Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan. di dalam uaran atau tindak tutur tertentu. dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. 5. Namun. Pakar linguistik dan semitotika ini lahir di Denmark pada tahun 1899. di dalam linguistik pasca-Saussure. Ia dikenal sebagai ahli linguistik penerus yang berpengaruh dari tradisi Saussure (Masinambow. 2001:54). terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui . Pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis. 2004:60). Language: An Introduction (1970). dan expression substance dan contend substance pada pihak lain. Ia juga diakui lanigan sebagai tokoh linguistik yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca-Saussure (Lanigan. diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk. 2000b:iii) (Lechte. 2001:4). (Sobur. Louis Hjelmslev Ahli linguistik dan semiotik Hjelmsle ini lahir di Denmark tahun 1899. yang kemudian diterjemahkan oleh Francis J. istilah sintagmatik selalu diperlawankan dengan paradigmatik. Maka. Ia membagi tnda kedalam expression dan content. atau antara suatu satuan gramatikal dengan satuan-satuan yang lain.

logika digital Saussurean dan diferensial either/or (korelasi) membatasi sebuah sistem yang tidak lengkap. (2) mengandung hubungan multiplanar. yang memuat baik representasi eidetik maupun empiris dari pemaknaan. Sebagai rekonstruksi yang oleh Hjelmslev disebut scientific semiotic. metasemiotika merupakan rekonstruksi sistemis yang (1) dilakukan interpreternya. Bagi .expression subtance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam expression form tersebut. Ia juga menambahkan kepada semiotika Saussure dengan memperhatikan hakikat dari sebuah tand dalam koneksi logisnya dengan tanda-tanda lain. sebuah tanda dan sebuah tanda masing-masing harus secara berturu-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. pada saat pelemparan terlihat bayangan jala itu yang diibaratkan sebagai substance yang memberikan batasan pada hamparan laut. 2000:47). 2004:61). Hamparan laut itu diibaratkan sebagai bahan amorphous. 2004:61). (Sobur. 1988). Dalam pandangan Hjelmslev. Hjelmslev menegaskan bahwa tanda-tanda tidak bisa dengan sederhana dibanguns ebagai kombinasi diferensial dari penanda dan petanda. Langkah pertama yang krusial dalam proyek ini adalah mengedepankan langue sebagai sebuah sistem yang mengatur setiap produksi tanda. Kontribusi penting lainnya adalah usaha perluasan semiologi Saussure sebagai logika deduktif. 1999:39). Dia mengusulkan bhawa diferensiasi bisa juga diselesaikan oleh kombinasi dari sebuah logika analog dari diferensiasi both/and mempertahankan ’relasi’ dalam sebuah ’proses’ (Lanigan. Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure sadalah dalam menegaskan perlunya sebuah sains yang mempelajari bagaimana tandahidup dan berfungsi dalam masyarakat (Cobley & Jansz. Demikian pula hanya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk. bergerak dari semiotik konotatif dan semiotika denotatif dan akhirnya sampai pada metasemiotika dari referensi yang real. tanpa bentuk (Sobur. Hjelmslev. Metasemiotika yang dimaksud Hjelmslev adalah bentuk penghubungan tanda-tand dalam teks sastra sebagai fakta semiotis hingga membuahkan gambaran semiotisnya (Aminudin. Hjelmslev sendiri memberikan metafora bahwa form adalah ibarat jala yang dilempar ke laut. dalam arti tanda dalam . Hjelmslev beranggapan bahwa fungsi simbolik yang muncul dalam bahasa.

metasemiotika ada sebagai lambang kebahasaan yang memiliki kerangka hubungan secara internal maupun eksternal. sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. yaitu: takdir yang tak terhindarkan. linguistik adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahsa itu senriri.teks selain memiliki hubungan dengan tanda-tanda yang lain dalam kesatuan teksnya. juga memiliki jaringan hubungan dengan subsistem yang lain secara eksternal. 2004:63). Para penulis seperti Barthes. Kenyataannya. maka dimensi yang hendak dijelaskan Hjelmslev tampak begitu terang jika kita mencoba menjelaskan bagaimana kta manifest desnity dipersepsi oleh orangorang Amerika pada kurun waktu tertentu. Metasemiotika sebagai rekonstruksi interpreter tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem tanda yang ditafsirkannya dan tidak mempu mengadakan formulasi dan rekonstruksi (Aminuddin. secara potensial konotasi dapat mengaktifkan keseluruhan sistem penandaan yang ada dalam masyarakat (Sobur. sebuah tanda tidak hanya mengadung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda). Todorov. Sebagaimana tanda yang lain. yang diciptakan pada 1845. cukup mudah untuk mengenali petanda dalam dsemboyan ini. Karena itu. kata Cobley dan Jansz. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika. Meskipun begitu. 2001:205) mengatakan bahwa ’sebuah semiotika denotatif adalah sebuah semiotika adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bukanlah yang semiotik’. namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Dalam pandangan Hjelmslev. Seperti dikatakan Cobley dan Jansz (1999). dan Eco menggunakan pengertian tentang semiotika konotatif dan . dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu ’metasemiotika’. adalah klise yang digunakan oleh presiden-presiden Amerika abad ke-19 untuk merujuk dan membenarkan upaya kolonisasi seluruh dataran. Arti denotatif yang terkandung didalamnya pun cukup mudah diketahui. Menurut Hjelmslev. sedangkan semiotika konotatif adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik. bisa dikatakan bahwa dalam tanda tersebut terkandung kekuatan konotasi. 2000:47). Hjelmslev (Lechte. Manifest Desnity. Menyinggung ihwal manifest desnity . dan (3) dalam kesadaran batin interpreter.

Corriere della Sera. Tulisan-tulisannya muncul dalam Il giorno. 6. Dia kemudian memasuki dunia jurnalisme sebagai editor untuk Program Budaya dijaringan televisi RAI (Sobur. La Stampa. Eco menerbitkan Opera-opera (The Open Work). Awalnya ia belajar hukum. Sejak 1975 dia menjadi profesor di Universitas Bologna. bahkan mungkin beberapa di antaranya sengaja diperlihatkan. 2004:72). 2001:3). Pada 1962.denonatif. 2001:199). Ayahnya. 2004:63). Tahun 1976. Pada suatu waktu dengan sangat menyesal ia pernah menceritakan bagiamana telah kehilangan iman. Meski begitu. namun kemudian mempelajari filsafat dan sastra sebelum akhirnya menjadi ahli semiotika. ia menerbitkan A Theory of Semiotics. ia tidak marah atau bersikap anti agama setelah menjadi eks katolik. Umberto Eco Umberto Eco lahir pada 5 Januari 1932 di wilayah Piedmont Italia. Pada 1959 muncul karya keduanya. namun mereka masih berhati-hati sehubungan dengan pengertiantentang metasemiotika tersebut (Sobur. sekaligus dia berhenti dari RAI. Guilio Eco. Di universitas Turin. La Repubblica L’Espresso dan Il Manifesto. Sebelum menjadi intelektual termasyhur dalam bidang semiotika. memang kerap muncul dalam tulisantulisannya. dan menekankan bahwa konsep moralitas yang kokoh yang menggarisbawahi hdiup dant ulisannya mungkin berasal dari informasi awal kekatolikannya. Di Milan dia mulai menyusun teorinya tentang semiotika La strutura assente (The Absent Structure). Eco menyunting A Semiotic Landscape. ia mempelajari teori-teori estetika Abad Tengah. ia menulis tesisnya tentang estetika Thomas Aquinas dan meraih gelar doktor dalam bidnag filsafat pada 1954. Formasi ini. dan diterbitkan tahun 1956 (Lechte. Sviluppo dell’estetico medievale. seorang akuntan dan veteran dadri tiga perang berbeda. pada 1979. kumpulan esai semiotika. Menurut pengakuannya (Cox. ia merupakan praktisi Katolik sampai umur dua puluh dua tahun. Pada 1966 dia pindah ke Milan dan menerbitkan Le poetische di Joyce: dall ’summ’ al ’finnegans Wake’. Lalu. Kemudian di susul dengan The Rule f the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts (1981) dan Semiotics and the Philosophy of Language . Saat usia Eco baru 22 tahun. seperti dikatakan Harvey Cox (2000:3).

2004:73). mengundang dan mempertemukan novelis intelektual Umberto dan uskup intelektual Carlo Maria Martini untuk melakukan perubahan pandangan dalam halaman-halaman koran mereka. kemudian tampak jelas bagi kita bahwa yang sesungguhnya hendakdia katakan adalah keseluruhan sejarah umat manusia. Kedua karya ini mengarah ke aspek-aspek msa lalu dan masa kini dalam teori tentang tanda. 1996:71). Umberto Eco pernah berupaya menjawab secar apanjang lebar tentang luas wilayah dan batas-batas semiotika. Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:172) dalam Introducing semiotics menulis. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. termasuk bahasa Indonesia dengan judul Beriman atau Tidak beriman? Sebuah konfrontasi (Maret 2001) . dan Corpus Hermeneuticum dalam Foucaul’s Pendulum). Umberto Eco sebagai ahli semiotika yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yangpaling komprehensif dan kontemporer. Novel-novelnya antar lain The Name of The Rose (1983). Karya-karyanya merupakan sintesis produktif dari hampir semua mazhab semiotika abad ke-20 yang didukung oleh pengetahuan yang luas berupa warisan kajian-kajian klasik tentang tanda (Littlejohn.(1984).dalam pernyataannya. ’Ketika koran Italia ’La Correra de la Serra. Menurut Littlejohn. Diskusi tersebut. mereka tuangkan dalam buku Belief or Nonbelief? A Confrontation 91997). dan The Island of the Day Before (sobur. Namun saya ragu mereka mampu menangkap betapa cemerlangnya hasil konsepsi yang dpat dihasilkan dua orang tersbut hubungan korespondensi Eco-Martini. Lewat Novel The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. korespondensinya dengan Cardinal Carlo Maria Martini. para editor jelas-jelas dngan ide-ide segar dan imajinatif. Foucault’s Pendulum (1988). (Sobur. Terakhir. tambah Cox sebenarnya mampu membuka peluang percakapan intelektual mengenai agama menuju tingkatan yang baru. . 2004:73). katanya. teori Eco penting karena ia mengintergrasikan teori-teori semitika sebelumnya danmembawa semiotika secara lebih mendalam. seperti halnya pada sekumpulan naskah yang bersifat intelektual (khususnya tentang abad pertengahan) dan naskah lainnya (’Sherlock Holmes dalam The Name of the Rose.’ demikian Harvey Cox dalam pengantar pendahuluannya pada buku Belief or Nonbelief. nama Umberto Eco menjadi pusat perhatian masyarakat dunia.

Akankah kita memiliki teman bicara yang seperti Eco menempatkan dirinya sendiri. nyaris bertolak belakang dengan suasana kehidupan masala lalu Eco yang pernah mengaku telah kehilangan iman?”.kebanyakan pembaca mungkin menemukan kutipan-kutipan seperti itu senga dipamerkan. 2001:3-4) kemudian menjelaskan: Jika ini digunakan oleh penulis-penulis lain. Berbeda dengan konsep yang lebih statis . siapa yang dapat melupakakn kutipan-kutipan bahasa latin yang. Foucault’s Pndulum berisi referensi berharga keagamaan abad tengah dan Corpus Hermeticum. namun keduanya masih tetap saling menghormati bahkan berusaha menyenangkan lawan bicaranya. mungkin tidak percaya pada Tuhan namun menyadari bagiamana arogannya bila pernyataan seperti ”Tuhan tidak ada’ dinyatakan (Sobur. 2004:75). kompuer dan albigenses.. Berkaitan dengan semiotika. Thomas Aquinas dan James Joyce. seperti surat-surat teriluminasi yang menghiasi teks-teks kitab suci lama yang diperbanyak melalui tulisan tangan.. Ia mampu menulis dengan sama mudahnya antara filsfat dan estetika. Dengan ini ia mampu memuaskan dan saya akan mengatakannya dari perspektif Amerika keirihatian teman bicaranya dalam diskusi ini. Menurut pandangan Cox (2001:4) Eco merupakan salah satu orang bijak dewasa yang tidak tertarik pada penyangkalan keberadaan orang-orang beriman namun dengan sungguh-sungguh berusaha mencari iluminasi yang berbeda dari dasar hukum yang sama.memperlihatkan bahwa masing-masing pihak saling menguji dan menantang. para pemikir yang tahu apa yang mereka katakan jika tidak setuju dengan para teolog. kita biarkan saja Eco berada di antara mereka mungkin karena seluruh novel dan kesungguhanya menulis sejarah agama di Eropa saja yang menunukkan dia tidak sekadar ikut-ikutan.. Namun untuk beberapa alasan. Bagaimana pandangan cox tentang Eco yang lewat novel-novelnya cenderung lebih diwarnai dengan refleksi keagamaan yang cukup intens. Akankah para pemuka agama Amerika berpikiran sama dengannya dalam melihat negara ini. teman bicara yang selalu ragu-ragu namun tidak berprinsip skeptis. menjadi karangan bunga setiap awal bab The Name of The Rose?” kata Cox dengan nada tanya. (Cox. belakang ini semiotika menunukkan perhatian besr dalam produksi tanda yang dihasilkan oleh masyarakat linguistik dan budaya.

Eco yakin bahwa ’kode tersebut bukanlah kondisi alami Dunia Semantik Global.yang diajukan Ferdinand de Saussure tentang tanda dan pendekatan taksonomis semiotika. Tambahan lagi. 1979:49). 1979). Suatu ’perihal ekspresi’ bisa dihubungkan dengan ’perihal isi’ yang berbeda-beda. melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda-beda. Eco melihat tiga fungsi tanda: ’alat tukang kayu’. Dalam kasus bahasa Inggris untuk kata plane. Dia menjelaskan pandangan epistemologisnya dengan menggunakan suatu perbandingan.fungsi tanda merupakan interaksi antara berbagai norma: ’Kode memberikan kondisi untuk hubungan timbal balik fungsi-fungsi tanda secara kompleks’ (Eco. budaya yang berbeda-beda dapat memberikan bermacam-macam konotasi terhadap nama tertentu ini (Eco. 1979:87). Menurut Eco. sebagian darinya kuat dan stabil. 1979:127). Wana merah dan hijau pada lampu lalu lintas mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi inernasional dan merupakan bagian dari kode yang ’kuat’. ’halus’. yaitu kode yang terdiri atas hierarki subkode-subkode yang kompleks. Pada dasarnya. Eco (1979:29) menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan. dan ingin memustkan perhatian para modifikasi sistem tanda. Eco menyimpulkan bahwa ’satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapt ditawar. 1979:56). dan juga bukan struktur tetap yang . Eco memastikan diri untuk menyelidiki sifat-sifat dinamis tanda dalam bukunya Theory of Semiothics (1976. Komentar yang sama juga boleh dibuat oleh terhadap nama Napoleon. ’dataran’. sistem aturan. Nama itu menunukkan suatu unit budaya yang dirumuskan dengan baik dan mempunyai tempat dalam bidang semantik dan sejarah. dan ’pesawat terbant’. versus ’kasar’ (Eco. Lampu merah dan lampu hijau juga mengandung makna konotasional yang lemah dari ’kewajiban’ versus ’pilihan bebas’. Objek semiotika boleh diibaratkan dengan permukaan laut tempat kiambang segera lenyap begit kapal lewat. atau hutan tempat jejak bekas pedati atau jejak kaki mengakibatkan sedikit banyak muncunya modifikasi abadi. serta pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce yang bersifat taksonomis. ungkapan dan isi dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean)’ (Eco. sedangkan yang lainnya lemah dan bersifat sementara. Pasanganpasangan yang bersifat konotatif termasuk dalam kelompok terakhir.

merupakan dasar bagi aspek ganda bahasa sebagai kreativitas yang terikat aturan dan kreativitas yang mengubah aturan (Eco. Menruut Eco. 1979:132). Motivasi yang mirip tampak jelas dalam pembahasan Eco tentangt anda dan penandaan yang tertulis dalam semiotic and the Phylosophy of language (1984). berpendapat bahwa tanda itu tidak hanya mewakili sesuatu yang lain (dengan demikian hanya memiliki arti seperti yang tercantum dalam kamus). Ichwal Toeri yang dimunculkan Eco dalam bukunya A Theory of Semiotics. 1979:65). seperti di kutip lechte (2001:203). John Lechte (2001:200) menyatakan. Eco ingin menghindari kemungkinan makna tunggal di satu sisi melawan maknayang tak terhingga di sisi lain. dan suatu naskah selalu menawarkan kesempatan penafsiran yang tak terhingga banyaknya. namun juga mesti . walaupun A theory of Semiotics secara eksplisit terkait dengan teori tentang pembangkitan kode dan tanda. semiosis yang tak terbatas lebih terkait dengan pengertian ’interpretan’ dri Peirce dimana makna ditetapkan dalam kaitannya dengan kondisi kemungkinan (Lechte. atau pelbagai kode yang belum dimengerti oleh si penerima. 1979:161). titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang semiosis yang tak terbatas.mendasari kompleks hubungan dan cabang-cabang setiap proses semitik (Eco. prinsip fleksibilitas dan kreativitas bahasa berasal. Eco tidak menjelaskan kasus kode-kode tersebut yang tidak terpahami). Karena itu. Di sini Eco. (Ia juga tahu bahwa Peirce mengikuti dua kasus yang agak berbeda di sini. Dalam hal ini ia terpaksa menggunakan apa yang disebut konsep abduksi (abduction) sepeti dianjurkan Peirce. Ini merupakan reaksi sementara terhadap fakta-fakta dan situasi yang belum dikodifikasikan. Meskipun semiosis yang takt erbatas ini adalah hasil dari fakta bahwa tanda dalam bahasa terkait dengantanda lain. yang dengand emikian kode mengontrol pengeluaran pesan dan pesan-pesan baru dapat merestruktur (menyusun kembali) kode. Dari sinilah. jika diterima masyarakat menghasilkan sebuah konvensi. Ia melihat bawah suatu konteks ambigu yang tidak terkodekan yang ditafsirkan secara konsisten. 2001:199). Akant etapi. dan dengan demikian menimbulkan pasangan pengkodean (Eco. Hubungan antara kode dan pesan. semiosis yang tak terbatas terkait dengan seenis penengah dalam kaitannya dengan kedudukan pembaca.

gejala. Secara umum kode bisa berbentuk tunggal. tanda-tanda suara atau grafis tidak meiliki arti apa pun. sistem) dan parole (laku bahasa). Bisa juga dengan menggunakan istilah Hjelmslev seperi yang juga dikatakan Eco kode mengaitkan bidang ungkapan bahasa dengan isinya.ditafsirkan. 3. dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. unsur-unsur pokok dlaam tipologi cara pembentukan tanda adalah : 1.m namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. Walaupun dia memberikan sejumlah contoh dalam jenis-jenis kode ini. Hal ini tidak asing lagi bagi karya Saussure. Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membuat tanda. 2004:75-78). atau bukti. atau konotatif (bila tampak kode lain misalnya kode kesopanan dalam pernyataan yang sama). Pandangan yang berlaku di sini adalah ’interpretant’ menurut Peirce. yang menghasilkan semiosis tidak terbatas. yaitu hurufhuruf abjad. mengikuti Quillian. Pengenalan atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda. minatnya yang utama adalah dalam bahasa sebagai yang tersusun atas langue (di mana kode= tata baasa. jenis kode morse dimana suatu kode tertentu (garis dantitik) sesuatu dengan sekelompok tanda. . Menurut Eco. sehingga hubungan antara DNA dan RNA dalam biologi bisa dianalisis menurut kode. Di sini kode sesuai dengan struktur bahasa. Dengan kata lain: kode-s bahas itu setara dengan organisasi tertentu pada unsur parole. Penampilan: suatu obek atau tindakan menjadi contoh enis objek atau tindakan. dan disamping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini. 2. Kode dengan jenis ini di mana satu sistem unsur diterjemahkan ke sistem lainnya memiliki penerapan yang sangat luas. Ia melakukan hal ini dengan mengembangkan suatu model yang disebutnya. Kode-s bisa bersifat ’denotatif’ (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah). sisntaksis. seperti tanda. Eco menggunakan istilah ’kode-s’ untuk menunjukkankode yang dipakai dengan cara ini.tan pa kode. sebagai suatu ’model Q’ model kode yang meninjau semiosis yang tak terbatas (Sobur.

notasi musik. tetapi mengambil bentuk-betuk kodifikasi melalui pengayaan.aktif mengikuti seminar Roland Barthes dan terlibat dalam dunia pemikiran kesastraan (Lechte. subversir dan kreativitas antisosial dalam bahasa. 2001:203). Penemuan: kasus yang paling jelas dari ratio difficult. 7. disebabkan di dalam menjelajahi ruang epistemologisnya. Orientasi psikoanalisisnya dalam karyanya selalu meletakkan perhatiannya pada bahasa dan segala manifestasinya. menjadi landasan suatu kontinuum materi baru (Lechte. ialah adanya sasaran akhir untuk kelak mengambil alih kedudukanfilsafat. Quel diParis pada akhir 1960-an dan tahun 1965 ia berangkat ke Paris untuk menuntut ilmu. 1999:296). Van Zoest (1993:4) menyebut Kristeva sebagai pencetus munculnya semotika ekspansif. dan tanda-tanda matematika. 2001:220). Bukannya bersifat statis dan tertutup.4.sebagai yang tidk terlihat oleh kode. Melalui semiotika revolusionernya ia mengembangkan kemungkinan bentuk-bentuk pelanggaran. Replika: kecenderungan kearah ratio difficilis secara prinsip. 2004:79). Ciri aliran ini. Menurut Lechte (2001:203). 5. Julia Kristeva Julia Kristeva selain sebagai tokoh semiotika juga sebagai tokoh teoretisi feminis. menolak hadirnya subjek sebagai agen perusahan dan subversi bahasa (Pilliang.kristeva melihat semiotika Saussure sebagai satu wacana yang hanya menawarkan makna tunggal. Kristeva menjadikan semiotika struktural Saussure sebagai objek subversi dan pembongkaran. Julia Kristiva lahir di Bulgaria pada tahun 1941 ini mencapai reputasi yang istimewa sebagai seorang linguis dan ahli semiotik ketika ia bergabung dengan kelompok Tel. Karena begitu terarahnya . yang Eco usulkan melalui model Q dan melalui penemuan pembentuk tanda yang sering diabaikan ahli semiotika konvensional adalah kebutuhan dalam melakukan peninjauan kemampuan sistem bahasa agar pembaruan danpenyebaran bisa dilakukan. menurut van Zoest. sistem tanda itu menurut Eco bersifat terbuka dan dinamis (lihat Sobur. Sebagaimana halnya Derrida. Contoh-contohnya adalah emblim. Ia masuk ke dalam kehidupan intelektual paris.

Madan Sarup (1993). yakni psikoanalisis dan Marxisme (Sobur. organ-organ tubuh dan lubanglubang. pengertian ’tanda’ kehilangan tempat sentralnya. saluran kearah regulasi dan kohesi sosial. mengungkap model umum dari prinsip-prinsip prkatik penandaan Kristeva sebagai berasal dari pemikiran psikoanalsis-struktural Jaques Lacan yang mengintegrasikan analisis Freudian dan semiologi struktural. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti. Dalam pandangan Sarup. menurut Sarup. dan psikologis tertentu. Yang semiotik jadinya meluapi batas-batas teks-teks tersebut dalam momen-momen . linguistis. Hasilnya adalah teks yang bisa dipahami (understandable text) yanglahir dari pergolakan norma-norma halus. dan kehidupan sosial berdasarkan distingsi Sigmund Freud yang menyruak di antar apenggerakpenggerak pra-Oedipal dan seksual Oedipal. semiotika jenis ini terkadang disebut ilmu total baru. Penelitian yang menilai tanda terlalu statis. Dengan kata lain. Sedangkan simbolik Kristeva. tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi. terlalu nonhistoris. adalah sebuah sistem yang teroediplaisasikan dan diregulasi oleh proses-proses sekunder dibawah Hukum Sang Ayah. Dalam An Introductory Guide to Post-Structuralisme and Post Modernism. Husein (2002). adalah material kulit telanjang (raw material) dari signifikasi yang bersifat badanian dan hal libidinal yang mestimemanfaatkan. Dengan begitu. dan terlalu reduksionistis.pada sasaran. Dalam hal ini simbolik merupakan keteraturan lapisan atas dari semiotika. sekaligus menyediakan. 2004:79). diganti oleh penelitian yang disebut praktik arti. Dalam semiotika jenis ini. penggerak-penggerak komponen praOedipal dan zona polymorphous erotogenic. Para ahli semiotika jenis ini. semiotika Kristeva bisa dikorelasikan dengan yang anarkhis. dalam pandangan Sarup. yang bersumber dari proses-proses primer yang berorientasi materials ebagai sumber pertama ritme dan gerak hidup manusia sejak kita semua berumah tinggal dalam tubuh Ibu. mencampurakn analisis mereka dengan pengertianpengertian dari dua aliran hermeneutika yang sukses pada zaman itu. Ia mengontrol beragam proses-proses simiosis yang bagaimana pun bersifat rapuh dan bisa rusak ataupudar pada momen-momen penting historis. tekstual. semiotika Kristeava. konsepsi Kristeva mengenai fungsi-fungsi semiotik dan simbolik beroperasi dalam dimensi psikologis.s ebagaimana dikutip Fathul A.

yang semiotis dan simbolis. Karya Kristeva ini.pergulatan Kristeva pada hubungan antara bahasa dan pentingnya bahasa bagi pembentukan subjek mendorong Kristeva untuk mulai mengembangkan teori tentang ’semiotika’ (le semiotique) pada tahun 1974 dalam tesis doktornya. La revolution dulangage poetique (Revolusi dalam Bahasa Puisi). Dalam pengertian lebih luas. genoteks adalah teks yang mempunyai kemungkinan tak terbatas. Menurut Kristeva (Lechte. yang menjadi substratum bagi teks-teks aktual. Ia bahkan telah menunjukkan minatnya pada tahun 1990 dengan menerbitkan sebuah roman a cle yang berjudul les samourais. subjektivitas. dan puisi (Sobur. baik fenoteks maupun genoteks tidak bisa berdiri sendiri. ia memang dikenal sebagai teoreetisi feminis. Mandrins. Di sini. seperti kata John Lechte (2001:220-225). Karya-karya Kristeva mengenai bahasa. mengingatkan kita pada karya de Beauvoir. Bagi sementara orang.istimewa yang khas Kristeva. 2004:80). Pada tataran yang sepenuhnya bersifat tekstual. Ini adalah tataran tempat kita biasa membaca saat kita mencari makna kata.sebaliknya. ia hanya suatu proses. Di sini ia membedakan le semiotique dari baik la semiotique (semiotika konvensional) maupun yang ’simbolis’ lingkungan representasi. Profesor dibidang linguistik pada universitas Paris VIII yang sekaligus seorang psikoanalis ini mulai merenungkan sifat feminitas (yang dilihatnya sebagai sumber yang tak ternama dan terungkapkan). dan tampaknya juga merupakan suatu pembongkaran pada kehidupan dan cinta kaum avant-garde intelektual di Paris. dan seksualitas yang secara khusus dilandasi psikoanalisis Lacanian tersebut. imaji dan semua bentuk bahasa yang sepenuhnya terartikulasi. Mereka selalu ada bersama dalam proses yang disebut Kristeva sebagai ’proses penandaan’ (Sobur. Meski demikian. 2001:221). masing-masing berkorespondensi dengan apa yang disebut sebagai ’genoteks’ dan ’fenoteks’. ’fenoteks’ sesuai dengan bahasa komunikasi. Ia selalu menaruh minat pad sifat bahasa dan segala manifestasinya. yakni tiga serangkai kekuatan subversif yaitu kegilaan. ”genoteks’ itu bukan linguistik. . telah menjadi pusat perdebatan di kalangan feminis kontemporef. kekudusan. 2004:81). Lechte melihat. yang menjadi pusat perhatianadalah generasi kristeva yang datang sesudah Sartre.

sekarang dan masa ayangakan datang sebelum tertimbun dan tenggelam di dalam fenoteks tecakup didalamnya (Budiman.a dalah bahas yang melalui kekhususan operasi pertandaannya. segala sesuatu yang dapat diperbincangkan. kristeva tidak hanyamenunjukkan bagiamana landasan semiotika bahasa (suara dan iramanya.Genoteks dapat pula dianggap sebagaisuatu sarana yang membuat seluruh evaluasi historis bahasa dan aneka praktik penandaan. Sebenarnya kata Kristeva. 1999a:35). Fenoteks meliputi seluruh fenomena dan ciri-ciri yang dimiliki oleh struktur bahasa.s egala sesuatu di dalam performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. ideiolek pengarang. Dalam karya besarnya yang ia tulis tahun 1974. yang dicari dalam proses pertandaan bahasa puitik bukanlahperpaduan dan kemantapan identitas danmaknamelainkan penciptaan krisis-krisis dan proses pengguncangan segala sesuatu yang telah melembaga secara sosial. Fenoteks adalah teks aktual yang bersumber dari genoteks. representasi. yangmembentuk jalan nilai-nilai budaya. Kristeva (dalam Pilliang. 2001:221-222). 1999a:41). bentuk melismatik yang terkode. dan ekspresi. bahasa puitik dapat dikatakan sebagai musuh dari lembaga sosial. yaitu masa Perancis Republik ketiga (Lechte. Disebabkan oleh sifat antikemapanan. La revolution du language poetique (Revolution in Poetic Language). merupakan satu proses pengguncangganjingan tidak boleh dikatakan. Bahasa puitik menghasilkan tidak saja penjelajahan .singkatnya. performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. Bahasa puitik. dan dogmatisnya. dan gaya interpretasi. 1999:270)menyebut bahasa puitik sebagai produkd ari sifnigiance. tetapi ia juga menunjukkan bagaimana bahasa puisi memberikan pengaruhnya dalam masa pembentukan sejarah dan ekonomi tertentu. sperti Malarme dan Lautreamnt. representasi. kebenaran absolut. kaidah-kaidah genre. yang dikatakannya merupakansatu-satunya bahasa yang dapat menghasilkan revolusi.selruuh kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa dimasa lampau. dan berbagai landasan pengucapannya) dipelajari oleh para penulis avant-garde abad ke-19. yang secara langsung berhubungan dengan alibi-alibi ideologis di suatu zaman (Budiman. menurutnya. penghancuran-identitas maknamakna dan transendensi (termasuk di dalamnya subversi terhadap kecenderungan agama).

adalah sejanis asal usul. minat Kristeva dalam menganalisis sifat bahasa puitis yang heterogen. akan tetapi sekarang secara eksplisit ia memakai teori psikoanalisis. karena akan menempatkannya pada lingkungan simbolik dan memberi kita suatu pengertian palsu. Hanya melalui penyaluran rangsangan dalam diri secara bebas dan pelanggaran batas terjauh inilah dihasilkan revolusi dan jouissance dalam bahasa (sobur. sejak ia masih kuliah di Paris pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. seperti dikutip Lechte. tabu dan kesepakatan sosial dalam satu masyarakat. keluar dariaturan dan praktis. . Sifnigicance adalah proses penciptaan yang tanpa batas dan tak terbatas. Kristeva juga terus mengembanggkan teorinya tentang subjek sebagai subjek yang berada dalam proses.yakni (1) signifikasi. batas terjauh darikonvensi moral. bukan dalam bentuknya sebagai suatu peralatan statis. Ini. pelepasan rangsangan-rangsangan dalam diri manusia melalui ungkapan bahasa.tata bahasa sendiri. yaitu makna yang subversif dan kreatif. tetapi bukanyang bisa diberi nama. Dalam bentuknya yang paling radikal.seperti pada yang feminim secara umum. Inimemberi rasa untuk menangkap bahasa dalam bentuknyayang dinamis. Sementara ahlimelihat. yaitu makna yang dilembagakan dan dikontrol secara sosial (tanda di sini berfungsi sebagai refleksi dari konvensi dan kodekode sosial yang ada). tidak saja keperczyaan dan penandaana yang sudah melembaga. chora berada pada sisi dimensi material dan puitis dari bahasa.estetik yang baru. 1999:270). Lancanian. Dalam Revolution in Poetic Language ini. Maka. semiotika menjadi disamakan dengan chora feminin. 2004:83). seperti yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli linguistik. bahasa puitik merupakan batu sandungan komunikasi pada masyarakat dan peradaban yang dibangun berlandaskan rasionalistas transedensi (Pilliang.membedakannya dar para ahli semiotika lain yang lebih tertarik untuk melakukan formalisasi cara kerja bahasa konvensional. Ia merupakan sebuah perjalanan menuju batas-batas terjauh dari subjek. dan (2) signifiance. Kristeva membedakan antara dua praktik pembentukan makna dalam wacana. tetapi dalam bntuk yang radikal.yang kira-kiramenyatakan kedudukan ibu yang tidak bisa dipresentasikan.

Salah satu ciri yang menonjol pada karya Kristeva adalah keinginannya untuk melakukan analisis pada yangtidakbisa dianalisis yaitu yang tidak bisa diungkapkan. Recherches pous une semantique (1969) dan Le Texte du roman.Lechte (2001) mencatat tidak kurang dari delapan karya pokokKristeva. Approche semilogique d’une structure discursive tranformatielle (1970). An Essay on Objection (1980) About Chinesse ’women (1986). Black Sun (1987). Kristeva menunjukkan minat yang sama kepada penerapan simbolik terhadap lingkup yang tak teraknalisis ini. Meskipun ini bisa membuka jalan kepada mistisisme. Subjek dalam hal ini adalah subjek yang tidak berdiri melulu sebagai subjek yang statis yang hanya berada dalam satu bentuk imajiner saja (Sobur. antara lain : Revolution in Poetic Language (1974). Dua buku pertamanya dalam bahasa perancis Semeiotike.dari karya-karya tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. banyak menguraikan ihwal semiotika dan semantika (Sobur. pada momen historis macam apakah perubahan sosial akan sanggup bertahan terhadap. yang heterogen. khususnya dalam seni. hal lain yang bersifat radikal pad akehidupan individu dan kultural. Dalam hal ini ia beranggapan bahwa wacana-wacana yang magis. Kristeva melihat bahwa dalam sejarah sistem-sistem pembentukan tanda. sebuah proses yang melampaui subjek berikut struktur-struktur komunikatifnya. Masalahnya kini. dan puisi (baca: seni) ’yang sukar dipahami’ (incomprehensible). secara khusus. sebagai upaya untuk menggarisbawahi batas-batas wacana yang bisa berguna secara sosial sekaligus memperlihatkan dengan jelas represi-represi apa yang terkandung didalamnya. atau mengharuskan. agama dan ritual. manifestasi proses sepertiapakah esoterisme (sesuatu yang hanya bisa dipahami . dan Strangers to Ourselves (1988). karya-karyanya yang lebih kemudian jelas menegaskan bahwa adalah bodoh jika hal-hal yang lain ditingalkan sepenuhnya (Lechte. di sana acapkali muncul jika kita lakukan retrospeksi fenomena terpisah-pisah yang tertahan dalam latar belakang sistem-sistem penandaan komunal atau paling tidak yang secara cepat berintegrasi ke dalamnya untuk menunjukkan proses sangat penting dari proses pembentukan tanda atau signifikasi. shamanisme. esoterisme. Powers of Horror. kata Kristeva. 2001:220). karnaval. 2004:84). 2004:83).

tandas Kristeva pada hakikatnya signifikasi menuntut sekaligus semiotik dan simbolik.dalam pergeseran bata-batas sosial sanggup meneguhkan praktik-praktik penandaan yang seiring sejalan terhadap perubahan sosial-ekonomi. Mikhail Bakhtin. kata-kata memberi makna hidup (life meaning) atau makna non-referential oleh karena kandungan simiotiknya.yatiu ’seminalisis’. Dalam kaitan ini ia menonjolkan teori Bakhtin tentang novel ’dialogis’ seperti juga pengertiannya tentang ’karnaval’. nada. Dua elemen inilah yang dimata Kristeva mengomposisikan seluruh peristiwa penandaaan. kristeva menjadi seorang teoritisi bahasa dan sastra dengan konsepnya yang khas Kristeva. dan dimensi gerak dari praktik-praktik penandaan. Husein (2002). Elemen semiotik adalah penggerak-penggerak jasmaniah atau yang bersifat fisis yang berlangsung dalam signifikasi. Segera setelah itu. Dalam mencermati hal ini Kristeva memberikan contoh bahwa kata-kata memiliki makna rujukan (referential meaning) oleh karena struktur simbolik bahasa. persoalan dan gambaran. tidak ada signifikasi tanpa kombinasi keduanya (Sobur. dan secara lebih hakiki.oleh kalangan tertentu). Pada sisi lain. kristeva mengetengahkan sebuah distingsi antara apa yangdisebut semiotik dan simbolik (Husein. 2002). mengungkap hubungan antara pikiran dan tubuh. Seminalisis adalah sebuah ’pendekatan terhadap bahasa sebagai suatuproses . semua signifikasi hanya kehampaan tanpa nilai penting apapun untuk hidup hkita. sebuah bonus tak berbahaya yang ditawarkan tatanan sosial pengguna esoterisme untuk memperluas dan menumbuhsuburkannya. Julia Kristeva mulai dikenal pada akhir 1960-an sebagai seorang penerjemah karya formalis Rusia. Di isnilah arti penting tiga dekade lebih Kristeva menulis teoretisasi yang.kultur dan natur. Sedangakn elemen simbolik yang membutat rujukan (reference) menjadi mungkin. selain membuatnya lebih fleksibel? Untuk menjawab berbagai persoalan seperti itu. bahkan terhadap revolusi? Dan di bawah kondisi-kondisi seperti apakah yangpuitik dan yang esoterik itu mampu memperingatkan kita kepada adanya jalan buntu. 2004:85). dengan mendesak keduanya bahwa penggerak-penggerak yang fisis itu berlangsung dalam representasi penandaan. Ia berhubungan dengan ritme. semua signifikasi hanya akan tinggal igauan belaka. psike dan soma. Sebaliknya. seperti dikutip Fathul A. tanpa semiotik. Dengan demikian. Tanpa simbolik.

Titik berangkat semanalisis adlah suatuteori makna yang niscaya menyesuaikan dirinya dengan teori tentang subjek yang berbicara. Dengan kata lain. Gerakan intertekstualitas ini tanpa batas. Sebagai suatu teori tekstual yang tidak berorientasi pada sistem. setiap teks merupakan rembesan dan transformasi dari . setiap teksmemperoleh bentuknya sebagai mosaik kutipan-kutipan. melainkan sebagai proses penandaan yangmemperlihatkan pelepasan dan artikulasi lebih lanjut dari ’drives’ yang dikendalai oleh kode sosial dan belum tereduksi kedalam sistem bahasa.penandaan (signifying process) yang heterogen dan terletak pada subjek-subjek yang berbicara (speaking subjects)”. bukan sebagai sistem (langue) yang berlaku umum. Semanalisis berbeda dengan ’semiotik sistem-sistem yang melakukan deskripsi sistematis terhadap kendala-kendala sosial dan simbolik di setiap praktik penandaan. Semanalisis mengkaji strategi-strategi bahasa yang khas dalam situasi-situasi yang khas. 1999a:105-106). Menurut Kristeva. dalam upaya mengenali disposisi semiotika ini perlu diidentifikasikan perubahan pada subjek yang berbicara tadi yaitu subjek yang kini memiliki kapasitas untuk merombak orde yang telahmerangkapnya dengan begitu saja. yakni yang dinamakan sebagai ’genoteks’ oleh Kristeva (1989. Menurut Kristeva.dalam pandangan kristeva. dalam Budiman.kemunculan genoteks senantiasa diindikasikan oleh disposisi semiotika. Jonathan Culler (1982:246-247) melihat genoteks ini sebagai teks yangmemiliki kemungkinan tanpa bata dan menjadi landasan bagi teks-teks aktual. ia merupakan pengkajian terhadap bahasa sebagai wacana yang spesifik. menganggap bahwa pengkajian teks beserta dengan konteksnya masing-masing adalah sama pentingnya (Budiman. semanalisis mendekati dan memahami makna secara kontekstual. Dalam bukunya Structuralist Poetics: Structuralism. (Sobur. 2004:83-86).intertekstualitas dapat dirumuskan secarasederhana sebagai hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks-teks lain. Linguistics and the Study of Literature. 1999b:110). sejajard engan proses semiosis yang juga tak berujung pangkal. Semanalisis memahami makna bukan lagi sebagai sistem tanda. prinsip yang paling mendasar dari intertekstualitas adalah bahwa setiap halnya tanda-tanda mengacu kepada tanda-tanda yang lain setiap teks mengacu kepada teks-teks yang lain.

Essai de description du vocabulaire vestimentaire d’apres les journaux de mode de I’epoque” (1948). Greimas . A. iamemulai program doktoralnya yang berpuncak dalam tesisnya tentang. Pada tahun 1956. Saat it sedang di kota itu. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditulis pada tahun 1975 tentang hubungan antara karyanya dengan karya Vladamier Propp. Melalui hal terakhir inilah seseorang. Sesudah menyelesaikan licence es lettres pada tahun 1939. yaitu Maurice Merleau Ponty dan Calude levi Strauss. bersama R. 2004:86). menemukan ciri-ciri yangmenonjol di dalamsebuah teks dan memberikannya sebuah struktur (Budiman. (Mode dalam tahun 1830-an. Ia kembali ke Lithuania pada tahun 1940. beserta harapanharapannya. Barthes. Dalam judul ini tampak nuansa dari karya Barthes. 206). Greimas mendirikan jurnal language dan juga menerbitkan karya awalnya tentang semantik struktural yaitu Semantique Structurale (semantik struktural). Sepuluh tahun kemudian. Tokoh ini meninggal pada thun 1992 (Lecthe. Dubois. yang memanfaatkan karyaduatokoh penting lainnya. The Fashion System. Bagi dia. Greimas menerbitkan sebuah artikel yang berpengaruh dan penting tentang karya Saussure. Greimas juga menjadi anggota penelitian semiotik milik kelompok Levi-Strauss di College de France.teks-teks lain. mode : Le mode en 1830. dan tokoh lainnya. Ia pertamakali datang ke Perancis untuk belajar hukum di Universitas Grenoble.dapat membaca dan menstrukturkan teks. dan tokoh lainnya. (Sobur. dalam tahun-tahun penuh ketenangan strukturalisme sekitar tahun 1966. Essai deskriptif tentang perbendaharaan kata vestimentary dalam surat kabar masa itu). yang pada awalnya juga dibuat sebagai suatu tesis doktoral. hanya untuk menyaksikan invasiyangdilakukan oleh Jerman dan Rusia. J. Algirdas Julien Greimas Algridas Julien Greimas lahir di Lithuania pada tahun 1917. Setelah kembali ke Prancis pada tahun 1944. Greimas mulai mempelajari dialek franco-provencale. 1999:51-52). ia mulai berminat kepada kultur Abad pertengahan. Bersama Todorov Kristeva.J.s ebuah karya hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan atau dalam pertentangannya terhadap teks-teks lain yang menjadai resapannya. 8. Genette. 2001:205.

dan bahkan gerakan dari ’sastra lisan ke tulisan’. buah dri upaya untuk membaca Greimas ini sesuai dengan kerja keras yang dilakukan sekalipun dorongan yang dilakukannya dengan tanpa kenal lelah agar semiotika menjadi ilmiah. upaya untuk secara implisit menyandarkan diri pada kerangka metafisis atau sekumpulan asumsi akan berakibat dikacaukannya semiotika dengan lingkungaanontologi atau ’keberadaan’ itu sendiri (Lechte. agar pengetahuan kita tentang narasi dan organisasi diskursif menjadi semakin meningkat (Greimas. ’dari yang sederhana ke yang rumit’. Barangkali sejak saat linguistik ingin memisahkan lingkungan linguistik dari lingkungan ekstra linguistik akan cenderung muncul kesulitan yang bersifat konseptual atau bahkan yang bersifat empiris. baik dalam mengembanagkan teori diskursus yang sepenuhnya semiosis (baca: deskriptif). dari yang sederhana ke yang rumit. maupun dalma menyadari segala kesulitan yang datang saat melakukannya. Seperti yang akan kit alihat. yang kedua adalah para pembaca bisa melihat bahwa di sini pengertian metafisis sering disebut-sebut: pergerakan dari ’yang diketahui ke yang tidak diketahui’. Hal ini tampaknya datang dari suatu perwatakan filosofis tertentu yang memberi momentum pada semiologi Greimas. meskipun Greimas tidak lalri dari masalah kesulitan tersebut. dari ceritarakyat (sastra lisan) ke sastra tulisan. mungkin ia bergerak lebih jauh dari ahli semiotika lainnya. . Yang pertama adalah bahwa ’contoh dari Prop’ dalam mengembangkan model cerita rakyat Rusia mekipun terkenal sangat kaku maih mempengaruhi karya para ahli semiotika dalam tahun 1970-an yang terilhami secara ilmiah. kita masih tergoda untukmengikuti contoh Propp. Dalam pernyataan ini paling tidak ada dua hal yang menarik. dan menggunakan prinsip untuk bergerak dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. namun pada saat yang memberimomentum pad semiologi Greimas.mengatakan bahwa meskipun nilai heuristiknya agak berkurang dan meskipun pandangan ini tidak terlalu asli. beresiko menjadikannya positivistik. dalam upaya kita untuk membenarkan model teoretis parsial dan bahkan pada fakta yang tidak teratur. Akhirnya. 1988:xxiv). 2001:205). Mengikuti Greimas. anmun pada saatyang sama sangat ingin ia hindari atau ingin ia ubah.

Walaupun begitu. Adanya satuan-satuan yang berbeda dari linguistik konvensional yang terus muncul adalah salah satu petunjuk tentang adanya kemungkinan model hubungan antara satuan-satuan ini. dan sebagainya (courtes.Lintasan intelektual Greiman adalah hasil dari upaya untuk melakukan analisis dan melakukan formalisasi setiap aspek diskursus. Selain itu. menjadi yang .’praanggapan’. 1982:12). atau’praktis’. Classeme (atau semes contekstual) anaphora (yang mengaitkan ujaran atau paragraf). Dalam mengembangkan jalinan istilah yang autentik suatu kosa kata yang sebenarnya berguna untuk menguraikan dan melakukan analisis secara semiotik pada lingkup diskursus Greimas mengikuti jejak Hjelmslev. Seperti halnya dalam diskursus naratif. setiap diskursus hukum datang dari tata bahasa hukum yang berbeda dari tata bahasa alami yangmemunculkan diskursus ini’ ((Greimas. satu buah tanda tidak melakukan penandaan. Oleh sebab itu. Greimas telah manulis tentang diskursus hukum. ia juga mengambil jarak terhadap dorongan idealis yang datang dari para ’bapak’ linguistik umum. Kosa kata semacam ini berbeda dari terminologi linguistik konvensional karena satuan analisisnya itu bukan kalimat melainkan diskursus. Greimas menyadari pentingnya suatu sistem. khususnya pada hukum Prancis yang terkait dengan berbagai perusahaan dagang. dan menunjukkan bahwa ’dalam kaitannya dengan bentuk. Pada tingkat yang sedikit lebih rendah. kita temui: seme (satuan artiminimal). tidak seperti Saussure Greimas menekankan bahasa sebagai suatu ’kesatuan struktur penandaan’ yang mensyaratkan bahwa sistem itu sebelumnya sudah ada. tetapi harus diartikulasikan atau dibentuk. cara kerja bahasa ini menjadi titik pusat perhatian penelitian Greimas. dan disini kita bisa melihat pengaruh Merleau Ponty. Greimas sering tampil sebagai yang dipengaruhi linguistik konvensional baik dalam belokan teknis yang diberikannya kepada istilah umum seperti ’inventarisasi’. meskipun Greimas mempelajari hubungan antara unsur-unsur diskursus paling banyak berupa diskursus naratif namun bukan hanya kualitas substantif unsur-unsur ini. 1990:108). didalam diskursus deskriptif terdapat diskursus tentang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Mekipun demikian. maupun bagaimana linguistik itu (dalam kata-kata Greimas sendiri) ’menjadi disiplin semiotika yang paling berkembang’. sememe (inti semie dan semes kontekstual yang sesuai dengan arti kata tertentu).

atau ’sistem’ tidak dilupakan. Makna ini tidak bersifat intensional (terkait dengan subjek psikologis) atau hermeneutik (makna yang ada sebelum bahasa dipakai). karena bila kita ingin membangun suatu ’tata bahasa’ semiotika pembentukan makna. bagi Greimas. semantika struktural melepaskan diri dari konsep makna linguistik konvensional dengan tidak menitikberatkan baik pada kata maupun pada kalimat secara terlepas dari konteks.’dianggap memiliki klaim terkuat dalam statusnya sebagai ilmu’ (Greimas. Seperti yang telah kita lihat. tetapi bertitik tumpu pada satu jaringan yanag memunculkan makna di dalamnya. Pengertian aturan banyak mendominasi pemikiran para ahli strukturalis awal. 2001:207). Greimas menerbitkan karyanya yang berjudul Dictionnaire de l’ancien francais (kamus Bahasa Prancis Kuno) Lechte. akan jelas bahwa Greimas itu pertama-tama lebih tertarik pad sisi parole dalam persamaan ’langue/parole’. langue. Walaupun begitu. Ujaran tidak brsifat kontingen atau sebarang saja. Singkatnya. Bila dipahami dengan cara ini. karena bagi Greimas pengertian tentang suatu ’jaringan hubungan’ berjalan seiring dengan pemakaian bahasa. Oleh sebab itu. Aturan itu mensyaratkan adanya seorang pelaku dibalik suatu tindakan yang patuh kepada aturan-aturan ini. diskursus itu adalah bahasa sebagaimana ia dipakai. 1990:12). Karena alasan ini maka semiotika struktural aksi dari Greimas yang mirip dengan etnografi dari Bourdieu lebih menyukai strategi daripada aturan. Greimas berusaha mempelajari pembentukan makna dalam diskursus makna sebagai suatu proses penandaan. yang akibatnya mengutamakan para pelaku dibalik tindakan. Walaupun begitu. Pada tahun 1969. maka ujaran harus dipahami sebagai yang tertata dengan cara tertentu. Semiotika struktural menguraikan makna dari makna. suatu semantika struktural akan menjadi suatu semiotika struktural saat makna diubah mnjadi satuan-satuan analisis yang menjelaskan pembentukan makna dalam satu konteks tertentu. Ketegaran ilmiah yang biasa diterima pada linguistik membuat hal ini menjadi suatu awal bangkitnya seorang peneliti yang lebih menghargai ketegaran karya intelektual daripada karya-karya lainnya. yang kemudian memulai kariernya dalam leksiografi. yang ada hanyalah para actant entitas yang . Pengertian diskursus oleh Greimas adalah seperti yang dimaksudkan oleh Benveniste: ”bahaa sebagai yang dipakai oleh penutur bahasa itu. Sebaliknya.

misalnya sepasang suami istri yang bersama-sama membentuk fungsi yang sesuai dengan diungkapkannya suatu narasi.’melakukan’. yang ada hanyalah subjek yang dibentuk oleh tindakan diskursif itu sendiri.dibentuk oleh konfigurasi tindakan-tindakan diskursif itu sendiri. 1988:xxiv) dalam suatu diskursus naratif. namun ini tidakmenjadi bahan pemikiran semiotika selain ontologi. pada suatu semiotika struktural jenis Greimasian. 1990:12). Greimas cukup cerdik untuk tidak mempsikologisasikan subjek diskursif. Oleh sebab itu. Dalam logika. atau ditinjau dengan kritis. predikatnya adalah dalam cara kewajiban.dalam linguistik. ’harus’. ’mengetahui’ dan ’mampu . pada awalnya istilahini menunjuk pada ’yang mengubah predikat pada sebuah ujaran’ (1988:193). modalitas terkait dengan cara bagaimana sesuatu itu bisa berarti suatu hal atau bukan suatu hal. Greimas mengatakan bahwa ’pelaku sintaksis’ (Syntactic actant) bukan ’orangyang berbicara’ (subjek ontologis) melainkan ’orang yang berbicara manusia semu yang dibentuk oleh tindak bercakapnya (Greimas. Agar kita bisa memahami cara actant (Greimas. Istilah kunci pertama adalah ’modalitas’. sebuah kota bisa menjadi actant. Dengan cara yang sama. 1988:xxiv). mengatakan ’ia sakit pada tahun 1930’ dalah memberikan suatu modalitas temporal kepada satu keadaan sakit. sebagai contoh. Maka dari itu. tidak ada subjek dibalik diskursus. seperti kota paris dalam analisis Greimas pada ’Two Friends’ karya Maupassant (Greimas. benar atau salah. Mungkin penggunaan modalitas oleh Greimas lebih dekat kepad a pengertian linguistik karena ia ingin memberikan status aksiomatik pada pengertian ini. ’adalah’. dan lainnya.’mampu untuk’. Seorang pelaku bisa sama dengan dua orang pelaku psikologis. Bisa saja ada sutu subjek puncak. seperti para pemikir strukturalis lainnya. Bisa juga. modalisasi adlah yang mencirikan dan membatasi setiap situasi actantial yang memang selalu ada dalam situasi semacam itu. Maka. Greimas mengembangkan sejumlah istilah kunci yang perlu dipahami secara penuh agar semua yang sudah dikerjakannya bisa dipahami. ”John harus menulis surat’. ’mengetahui’.membentuk nilai-nilai dasar yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan eksistensi tertentu pada jagat semiotika mikro yang otonom: ’ingin untuk’ dan ’mampu untuk’ berkaitan dengan eksistensi pada tataran semu nilai modal. dalam sebuah pernyataan. Oleh sebab itu’ ingin untuk’. Selain itu.

Hal ini berbeda dngan pertentangan hierarkis ’permukaan/laten’. atua kepada perwatakan modalisasi pada keadaan subjek’ (Greimas. Isotopi memungkinkan berbagai unsur berbeda (makna. Greimas memperkenalkan istilah ’aspektualitas’ dalam telaah semiotika tentang nafsu. tindakan. 1991:5).Greimas mampu memindahkan titik pusat perhatian semiotika darikalimat diskursus. Lebih jauh lagi. kaerna puisi ini lebih menitikberatkan ketidaklengkapan daripada ’nilai semantik yang diinginkan objek itu’. 2001:209). Terpinjam dari ilmu kimia (Greimas sering meminjam istilah dari ilmu-ilmu alam). yang menganggapnya mubazir. Di sini aspektualitas kelihatan dominan dalam puisi karya Paul Eluard. bukannya pada yang bersifat induktif (Lecthe. lebih dari upaya bertindak. seperti pada nafsu dan emosi. Singkatnya modalisasi adalah upaya ’meletakkan’ bentuk suatu ’deklarasi aksiomatik’. 2001:2009). Sebagaimana ditunjukkan Ronald Schleifer dalam pendahuluan edisi terjemahan bahasa Inggris dari Semantique structurale. dan lebih mirip dengan struktur permainan kata. ”Isotopi” adalah istilahpokok lain dalam kosa kata semiotika Greimas. puisi Eluard menghargai situasi permulaan. ujaran) menjadi . mereka tidak mampu memasukkan keadaan-keadaan yang kontinyu. secara niscaya mereka tidak bersifat kontinyu. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu. kehidupan manusia saat masa kecil’. Karena secara khusus mereka terkait dengan tindakan. suatu hal yang bisa mengawali bidang penelitian yang tampaknya bersifat sangat abstrak dan sarat pemikiran (cerebral) (Lechte. isotopi terkait dengan tingkatan-tingkatan makna yang sejajar dalam suatu diskursus homogenyang tunggal. Hal kunci pada aspektualitas adalah kedudukan penting yang dianggapnya ada pada tubuh dalam kaitannya dengan nafsu dan perwatakan subjek. Modalisasi bersikap berlebihan dalam menentukan tindakan para actant yaitu subjek dalam diskursus naratif. melalui pengertian tentang isotopi. ketidaklengkapan. Secara singkat. tatapan saat kelopak mata terbuka hari saat fajar. kekusutan. jika modalitas datang dari suatu aksiomatik yang membangkitkan ketidakteraturan. ia didasarkan atas suatu prosedur hipotetiko-deduktif’. ’cinta hanya bisa diraih pada saat-saat pertama.untuk’berhubungan dengan tataran aktualisasi. Untuk menghadapi hal ini. Capital de l a douleur. dan ketidakstabilan proses-proses yang sangat sulit untuk distabilkan.

Greimas yang menunjukkan bahwa suatu isotop bisa berupa aktorial saat kalimat yang mengungkapkan berbagai tindakan pada akhirnya menunjuk ke satu pelaku. dalam kaitan dengan analisis Greimas tentang bagian akhir dari telaah semiotiknya tentang karya Maupassant yang telah disebutkan di atas. ”Two Friends”. 1990:112). ”paris” diskursif saat kalimat-kalimat yang dibuat secara independen dilihat merujuk pada subjek yang sama. yang darinya harus disusun suatu naskah yang homogen. Bukti yang ditunjukkan oleh bahasa Greimas sendiri tampaknya mengakui kesulitan yang ada dalam hal ini. dan tematis saat naskah ini menyarankan adanya pengetahuan yang berkembang di luar pengetahuan naratif (dalam kasus yang bersangkutan. yang ’tampil’ dan ’laten’ tampak menjadi berbeda dalam kedua kasus tersebut. pertama dalam kaitannya dengan masalah yang meninjau pemisahan yang bersifat semiotik danmetafisis yangmuncul sejak awal dan kedua. Meskipun begitu. 2001:2010). Tanpa menolak baik wawasan yang mendalam dari ’isotopi’ maupun kerumitan masalah. Sekarang kita coba mengkaji upaya yang dilakukan Greimas.terkait dengan satu diskursus yang sama. sudah jelas bahwa secara metodologis kita perlu memeriksa komentar tentang akhir kisah secara terpisah dari yang mendahuluinya. pemahaman tentang. Sehubungan dengan pemisahan yang semiotik dari yang metafisis atau ontologis. Two Friends’) menjadi homogen. maka Freud sering berhadapan dengan suatu kumpulan yang sangat heterogen. bila bahasa alami yang banyak mengandung penyelubungan metafisis harus menjadi sarana ilmu semiotika itu sendiri?. kita bisa menanyakan hal apakah pemisahan ini memang layak. yang . Hasilnya. Yang diyakini Greimas dalam ”isotopi’ adalah bahwa pembedaan kandungan mimpi antara yang ’laten’ dan yang ’tampil’ menurut Freud dalam interpretation of Dreams sudah tidak berlaku lagi (Greimas. tentang perikanan dan persahabatan). figuratif saat naskah menjadi sarana berbagai alegori atau perumpamaan. Dalam telaahnya tentang cerita pendek karya Maupasant.yaitu ’Two Friends’ (Lechte. mungkin perlu kita ingat bahwa saat Greimas meninjau bagaimana suatu naskah yang sudah homogen (misalnya. Terkait dengan telaah Greimas tentang karya Maupassant. ”Two friend’.

perwira Prussia yang memerintahkan eksekusi ini kemudian memerintahkan ikan yang ada untuk dimasak. Dalam . sedangkan naskah analisisnya hampir 250 halaman panjangnya. tetapi juga naskah yang lebih rumit. kitalihat bahwa naskah yang dianalisis Two Friend” hanya terdiri atas enam halaman. Setelah tertangkap oleh tentara Prussia (waktu itu sedang berlangsung perang Prancis-Prussia) pada saat sedang memancing. yangmenjadi ciri khas upaya Greimas (Greimas. Segera sesudah itu. Meskipun melalui penggunaan isotopi ia sering merujuk ke simbolisme Kristen dan yang lainnya. tubuh mereka diberi beban dan dimasukan kedalam sungai tempat ikan yang akan mereka pancing. 1990:59). Kontras semacam ini. Lebih penting lagi adalah bahwa cara yang dilakukan dalam menganalisis akhir kisah membangkitkan keraguan tentang kejelasan pandangan penelitian Greimas. yang dicirikan dengan tiadanya gangguan somatik atau nologis. Bisa kita tafsirkan bahwa (karena tampak tidak bersatu dengan bagian sebelumnya atau mungkin lebih baik. namun dalam kaitan dengan kisah ini Greimas tidk meninjaunya sedikit pun.karena tampak seperti begitu saja diletakkaamn) baris terakhri ini menjadi kunci muatan emosional ceritaini. Eksekusi selesai. para baris terakhir tertulis: ”kemudian iamulai mengisap pipanya lagi”. muatan baris terakhir ini menjadi kunci muatan emosional cerita ini. Pertama. Selain itu. Bagi Greimas. Tampaknya mulai mempertanyakan kemungkinan praktis dalam melakukan analisis. muatan yang dimunculkan oleh ketidakpedulian tanpa rasa iba sedikit pun dalam hati si perwira Prussia.akan diuraikan di bawah ini adalah garis baesar dari upaya untuk menganalisis karya Greimas secara keseluruhan. dua orang bersahabat ini (the two friends) ditembak karena dianggap menjadi mata-mata perancis. Di sini para pembaca akan terhenyak oleh adanya kontras yang tajam antara baris terakhir dengan yang mendahuluinya. para pembaca bisa mulai bertanya-tanya apakah Greimas benar-benar telah meninggalkan keindahan linguistik yang mencirikan telaah tentang kalimat. baris terakhir ini adalah unsur yang memberikan sumbangan pada sebagian diskursus naratif yang ingin dibangunnya. bukan hanya naskah yang panjang. Ini adalah yang dituliskan Greimas dalam bagian yang terkait dengan baris terakhir kisah ini: ’Mengisap pipa’ jelas merupakan representasi figuratif dari keadaan tenang.

secara mendasar tata bahasa ini masih berada di luar sistem yang ingin diisolasikannya. pembingungan/mistifikasi) naskah oleh tata bahasa (Lechte. 2001:239). Oleh sebab itu. mungkin pada prinsipnya muatan emosional pad anaskah ini seharusnya ikut dikaji. Dekan fakultas tersebut menanggapi perminaan Todorov dengan dingin dan mengatakan bahwa ’teori sastra tidak dipelajari di fakultasnya dan tidak ada keinginan untukmelakukannya’ (Dosse: 1991:240). perjumpaan dan pergulatan pertama Todorov dengan karakter dan lingkungan konservatif Sorbonne pra-1968 berlangsung saat ia melamar untuk melakukan penelitian tentang teori sastra di fakultas sastra perguruan tinggi tersebut. kemungkinan yang dibentuk oleh modalitas. dan melalui salah seorang staf perpustakaan ini ia mulai berhubungan dengan Gerard Genette yang menyarankan agar Todorov mengikuti seminar Roland Barthes di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales (Lechte. lalu ia mulai membaca di perpustakaan universitas Sorbonne. Ia (tata bahasa) lebih mendahulukan strategi daripada aturan. Mekipun demikian. Ia tidak mundur oleh penolakan ini. isotop. 211). ia masih mendominasi naskah ajar (tutor text) dan tampaknya inginmenjadikan naskah ajar ini sebagai sasaran kuncinya. dan sebagainya. semangat ilmiah yang berada di belakang proyek Geimas ini mensyaratkan adanya keterbukaan dalam upaya melakukan modifikasi teori bila menemui kesulitan. 207-211). tindakan kognitif dan pragmatis. Tzvetan Todorov Sebagaimana halnya Julia Kristeva. Setelah menyelesaikan sarjana tingkat pertamanya dan dengan rekomendasi yang diperolehnya dari Universitas Sofia. Hubungan dengan Barthes yang menjadi pembimbing dalam menyelesaikan doctorat de toisieme cycle pada tahun 1996 memungkinkannya untuk . 9. Berdasarkan hal ini.terang ini ia berusaha menyingkapkan struktur yang menentukan kemungkinan adanya diskursus naratif. Tzvetan Todorov lahir di Bulgaria dan datang ke Paris pada tahu 1963. Tata bahasa ini akan menjadi suatu sistem yang implisit terdapat didalam diskursus narasi. sekalupun itu berarti bahwa semiotika struktural terpaksa harus menerima tandangan yang paling berat (Lechte. yang sekaligus disepadankan dengan upaya untuk menghindari penguasaan (maksudnya.

Apakah karya ini secara keseluruhan terlepas dari prinsip ini.mengembangkan artikel pada jurnal semiotika interdisipliner yang berpengaruh. Todorov mengaitkan telah tentang makna dengan kerangka hermeneutik (yang berararti juga humanis). Pendekatan ini mengarah ke sejenis telah yang dilakukan dalam Litterature et signification – buku yang didasarkan atas tesis doktoral Todov yang mengambil novel epistolari abad kedelapan belas karya Laclos berjudul Les Liaisons dangereuses sebagai naskah telahnya.(Todorov. Satu artikel penting lainnya artikel awal Todorow yang menunjukkan pengaruh formalis Rusia adalah ’Le categories du recit litteraire’ (Todorov. 1966: 126). 1964: 4). namun . sehingga maknanya bersifat khas dalam otonomi dan ketunggalannya? Todorov mengatakan tidak. jika memang demikian. Baru setelah karya-karya A. suatu pradigma struktural kemudian bisa dikaitakn dengan bidang semantik. Salah satunya. yaitu communications. Namun. 1966: 125). Sambil menggemakan karya Genette tentang narasi (recit)Todorov terus melakukan analisis tingaktan ’kisah’ (historia) dan diskursus dalam artikel telaahan tersebut. berjudul ’La description de la signification en litterature’ meninjau berbagai tingakatan analisis struktural dan menekankan bahwa dalam analisis struktural ini bentuk objek literer lebih utama daripada subtansi isinya yang terkait dengan semantik (Todoro. bagaimana dengan makna (sens) karya ini secara keseluruhan? Mengatakan bahwa suatu makna itu bersifat relasional berarti bahwa unsurunsur makna ini membentuk suatu sistem: mereka tertata dengan cara tertentu dan tidak hanya berbentuk suatu kumpulan yang bersifat ad hoc. seperti para teoretisi struktural lainnya (misalnya Barthes dan Genette). makna unsur-unsur ini ada dalam hubungan antara usnur-unsur tersebut. Pada setiap kisah narasi terdapat berbagai tindakan atau peristiwa. makna sutu karya (berlawanan dengan interpretasinya) datang dari hubungannya dengan karya-karya lain yang ada dalam sejarah sastra. Dua artikel awalnya pun diterbitkan. Di sini Todorov mengulang pernyataan bahwa ’uraian pada suatu karya serarah pada makna unsur-unsur karya sastra itu : kritikus sastra tampaknya berupaya memberikan interpretasi. ’Makna dari ’Madame Bovary harus dipertentangkan dengan sastra romatik’ (Lechte.J. 2001 : 240). Greimas dikenal secara luas. Pada saat itu.

tidak berlangsung dengan mengikuti suatu krologi ideal. tetapi mengikuti logika tertentu. Dengan merangkum pandangannya dalam literature et signification. Proses-proses ini juga setara dengan fungsi atau makna (sens) setiap unsur yang ada dalam narasi itu. Hanya bila tingakatan-tingakatan peristiwa dan tindakan dipelajari dengan cukup memadai. Tindakan dan peristiwa tersebut membentuk suatu kerangka yang sering agak rumit dan kemudian menyatu pada satu krtitik. Segala proses ini harus tetap reatif tidak tampak bagi para pembaca agar narasi ini bisa tampil sebagai kisah yang penuh intrik. Todorov menunjukan bahwa : (1) segala tindakan dalam suatu narasi itu tidak bersifat sebarang. Bahkan pada inti argumennya terdapat sebuah genre (jenis) yang didasarkan atas berhasilnya harapan melalui peniruan saat novel epistolari ini didasarkan atas seumlah proses yang ada di dalam struktur novel. narasi. baik sebagai laku bahas (enonciation) yang memunculkannya gaya dan subjektivitas maupun sebagai sebuah kisah (enonce). Litterrature et signifacation (1967). Todorov merangkum pandangan banyak kaum teoretisi strukturalis generasi tahun 1960- . Dengan menggunakan Les Liaisons dangereuses sebagai contoh. dan (3) di sini tidak mungkin mengisolasi tingakatan tindakan dalam rangka melakukan analisis padanya bisa ’tindakan’ yang berlangsung dalam suatu narasi itu setara dengan keragaman situasi psikologis para pelakunya seperti yang berlangsung dalam Les Liaisons dangereuse (Lechte. Seperti Genette. apakah dalam setiap novel ada kisah semacam ini? Todorov mengatakan ini adalah kisah yang diciptakan novel itu sendiri. Secara umum. (2) sebuah narasi bisa memiliki lebih dari struktur yang muncul saat dua model yang berbeda bisa berjalan sama baiknya dakan analisis ini. dan objektivitas (atau narasi sebagai penyebutan atau tindak linguistik yang lengkap) pada suatu naskah tertentu. Todorov mengembangkan analisis tentang les Liasions dangereuses yang dimulai dalam artikelnya yang dibuat pada tahun 1966. Todorov juga tertarik untuk melakukan analisis waktu. kita bisa mempelajari logika dari segala jalinan ini. Meskipun demikian. 2001: 240). subjektivitas (atau konteks atau proses narasi). Dalam bukunya. Todorov berupaya memperjelas berbagai proses (procedes) yang memuncukan narasi.

Maka dari itu. bila pada tahun 1960-an Todorov menggunakan formalisme ataumelalui strukturalisme sebagai cara untuk menolak pendekatan terhadap realisme sosial yang benar secara ideologis. 2001:241). upayanya untuk membaca kembali oeuvre. dan literatur tentang yang fantastik semua didasarkan atas pengertian tentang otonomi relatif dari naskah literer arah oeuvre Todorov mulai berubah ke telaah sejarah dan teori tentang simbol. fakta dari kaya fiktif ini bukan suatu fiksi. maka pada awal 1980-an Todorov mulai berusaha mempergunakan kerangka yang lebih bersifat interpretatif yang ditujukan untuk melawan pendekatan apolitis pada analisis tekstual formal. Pada tahun 1981.an. Pencarian makna akhir ini akan sia-sia karena ’makna suatu karya adalah untuk mengungkapkan dirinya sendiri mengisahkan eksistensinya sendiri kepada kita’ (Todorov. ceritanya sendiri”. Todorov kembali ke para pembimbing formalis Rusianya saat itu ia lebih banyak melakukan penafsiran terhadap pemikiran mereka daripada memasukkan metode-metode formalis mereka ke dalam karyanya. pengaruh Romantisme tidak bisa dihindari. Cukup menarik bahwa setelah membuat tulisan yang cukup berpengaruh tentang Decameron. Todorov berpendapat bahwa bahkan dalam zaman strukturalis sekalipun. perbedaan antara fiksi dan non fiksi menjadi problematis bila karya fiktif ini dilihat sebagai proses penciptaanya sendiri karena sekarang fakta dari fiksi ini (yaitu yang berupa non-fiksi) tampaknya menjadi sifat pokok dari fiksi (Lechte. Todorov paling menghargai aspek ’antropologi filosofis’ dalam karya Bakhtin yang memikirkan masalah . Saat Todorov berbicara tentang pencarian makna akhir suatu karya yang berada di luar karya itu sendiri yaitu pencarian makna yang berada di luar eksistensi karya yang bersangkutan secara implisit ia mengambil jarak dari pendekatan hermeneutik pada naskah. pendekatan yang sering diarahkan untuk menangkap pesan akhir naskah (yang sering bersifat ideologis). ia lalu menulis: ”Melalui rangkaian peristiwa setiap karya. Hal ini tampil dengan bagus dalam surat terakhir dari Les Liaisons Dangereusses yang menjelaskan penerbitan kumpulan surat yangmenyusun novel ini. Dengan cara ini. setiapnovel. Pada satu tataran. Bakhtin menjadi suatu titik balik dalam seluruh pendekatannya pada teori sastra. mengisahkan kembali kisah penciptaannya. 1991:49). tentang strukturalisme. akan tetapi.

diri pribadi dengan yang lain. yang hanya cocok untuk menjadi budak bangsa Eropa. Oleh sebab itu. 2001:243). jika Columbus memiliki tingkatan sadar dan tidak sadar. Lechte. Bagi Todorov. dan mengubahnya menjadi suatu dialog naskah yang mengetahui dan agar diketahui? (Todorov. yang lain’ tidak lagi menjadi obek. 1991:107. tetapi menjadi subjek. Bisa juga. yaitu tidak berhubungan dengan objek-objek ’bisu’ ilmu alam. Diawali dengan usulan bahwa peneliti harus dilihat sebagai yang terkait di dalam objek telaah harus mengalami dialog dengannya Todorov mulai melakukan sederetan penelitian yangmelihat bagaimana searah dan kultur Eropa dan Perancis saling terlibat satu sama lain. yang penting adalah mengetahui bagaimana hal ini berpengaruh pada sikapnya saat ia benar-benar bertemu dengan orang-orang Amerika Tengah. Dari sini a berpendapat bahwa pandangan mendasar pada Bakhtin adalah menyadari tidak adanya karya seni. Orang-orang Indian dilihat dan diperlakukan sebagai binatang liar. Kemudian Todorov bertanya. Dua tulisan yang penting di sini adalah The Conquest of America (1982). Ini adalah sebuah telaah yang penuh pengabdian telaah yang dilakukan oleh seorang moralis yang memikirkan hubungan antara orang-orang Eropa dengan Indian. sesudah Dostoyevski. Pada satu tingkat. Seperti yang sering ditunjukkan Todorov. bukankah ini adalah ciri pokok pengetahuan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan seperti yang telah diuraikan Bakhtin. ”Akan tetapi. ’yang lain’ dalam prinsip dialogis yang diartikulasikan oleh Bakhtin menduduki tempat yang sangat penting. suatu cara yang sangat khas dan tidak berubah dalam memahami kehidupan (termasuk pandangan tentang apa yang akan ditemuinya di belahan dunialain). identitas dan perbedaan.tentang ’yang lain’. orang-orang Indian diserang diperlakukan sepergi ’aning buduk’ dalam . ini berarti bahwa perilaku Columbus bisa diramalkan: ia bertemu dengan yang lain melalui prasangka kulturalnya (termasuk religi). Pandangan ini diperoleh Todorov dari Dostoyevski melalui karya-karya Bakhtin lebih lanjut. yang tidak bisa menangkap ’yang lain’ ’penolakan kesatuan yang ada pada ’saya’ memiliki pasangannya dalam pengakuan status baru ’engkau pada yang lain’. Dalam The Conquest of America Todorov menganalisis dan melakukan interpretasi dokumen tentang Columbus dan penemuan benua Amerika pad tahun 1492. dan Nous et les autres (1989).

Sebaliknya. abad penaklukan.pertemuan nyata. 1984:49). Ia tidak hanya mengandalkan informasi yang datang dari para informannya. dan suatu ketika ia menipu para penduduk asli pulau yang sekarang adalah kepulauan Bahama agar mereka berpikir bahwa mereka akan dibawa ketahan terjanji milik para nenek moyang mereka. tidak seperti orang-orang Aztec. pertama ia ingin menunjukkan bagaimana tanda dan inerpretasinya. Oleh sebab itu. sedangkan secara berjarak diidealkan sebagai orang liar yang mulia. Moctezuma dan orang-orang aztec terbelenggu oleh pandangan tentang dunia yang tergantung pada upaya membaca masa kini secara kaku melalui prisma masa lalu. Orang-orang Aztec ini menyandarkan diri pada nubuat dan pemahaman tentang nasib yang terkait erat dengannya. Todorov ingin menampilakn dua aspek dalam penaklukan Amerika. Cortes menyadari pentingnya bahasa dan pengetahuan tentang kultur Aztec. Cortes berusaha mendapatkan informasi tentang dan dengan demikian memahami cara hidup orang yang akan dia perangi. tetapi ia juga mempergunakan mitos-mitos orang Aztec dalam sebuah muslihat yang bertujuan untuk menyesatkan musuhnya. dan mengambil perwatakan psikologis yang negatif dalam hubungannya dengan itu. Meskipun dipengaruhioleh keyakinan Kristen. Cortes berusaha mempelajari bahasabahas orang-orang yang dijumpainya ini dengan banyak cara. Di sini Todorov berpendapat bahwa orang-orang Spanyol memenangkan perang penaklukan atas pimpinan Hernando Cortes sebagaian besar karena para penakluk itu mampu bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan. Cortes memupuk ilusi kaum Aztec bahwa ia adalah seorang dewa. ’pada saat yang sama alteritas manusia ditolak sekaligus diterima’ oleh orang-orang Eropa. Menurut Todorov. saat mereka diadikan budak oleh Cortes ini. Singkatnya. seperti yang dikatakan Kitab Suci. bahasa dan komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam kontak yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol dan Aztec pada abad keenam belas. dan ia memanipulasikan situasi yang ditemuinya demi keuntungannya (Todorov. Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang kultur orang Aztec dan ini adalah hal pokok kedua yang bisa dipikirkan dalam hubungan dengan . Sebagai contoh. orang-orang Aztec melihat kedatangan orang-orang Eropa sebagai suatu pertanda buruk.

Dialog sejati. dialog seperti inilah yang bisa dan mungkin dilakukan. Ini karena orang Spanyol termasuk Cortes hanya tertarik pada emas. Todorov meninjau tema-tema tentang ras.penaklukan ini. Gobineau. dan lain-lain. Saat itu antara tahun 1500 dan 1600 mereka tidak hanya diperbudak. Renan. Tocqueville. semakin banyak ia menghasilkan kemampuan untuk melakukan improvisasi menghadapi situasi sebagaimana adanya dan bertindak dengan tepat. Chateaubriand. Kengerian tentang hal ini mencapai puncaknya selama berlangsungnya kolonialisme Spanyol. ke relativisme yang merangkum semuanya (yang lain adalah segalanya dan diri . Meskipun ia mampu melakukan pengenalan dan pemahaman tentang ’yang lain’ perjuangan Cortes ini akhirnya membawa kehancuran bagi suku Aztec. Dialog adalah pengakuan prinsip Rimbaud bahwa ’saya adalah yang lain juga’. masih tidak jelas apakah maksud ini sudah direalisasikan atau belum. Walaupun begitu. dan tidak mampu melihat laan mereka sebagaimanusia seperti mereka. Walaupun tokoh ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa kultur Eropa itu lebih tinggi derajatnya daripada kultur-kultur lain. serta kemampuan improvisasi yang dibawa oleh karya penulisan ini. Todorov menegaskan lagi komitemennya pada prinsip dialog menurut Bakhtin. tetapi juga populasi Amerika Selatan yang pada saat itu berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya satu juta jiwa saat penduduk dunia baru berjumlah 400 juta jiwa. Montalgne. Dialog ini mensyaratkan adanya kualitas lain. jelas bahwa Cortes berperanan dalam menghancurkan kultur Aztec. Dalam karya berikutnya nous et les autres (diri sendiri dan orang lain) tentang dialog antara diri dan orang lain. di mana suara yang lain bisa didengar dengan cara tidak mendengarkan suara kita saja atau dengan cara tidak membungkam suara orang lain. semakin ini direalisasikan. Di sini yang paling manarik Todorov adalah bagaimana berbagai pengarang menunukkan rasa kepercayaannya kepada perenungan gaya Perancis tentang keanekaragaman manusia mulai dari etnosentrisme yang merangkum semuanya (yang lain dianggap sebagai objek). bangsa. di mana ’saya’ dan ’kamu’ muncul bersama-sama. Dalam kesimpulannya. Autaud. tulisan-tulisan yang universal dan eksotik dalam karya berbagai penulis Levi-Strauss. salah satu pendirian Todorov yang bisa diperdebatkan adalah bahwa ia menyebutkan peradaban Barat (baca: Eropa) sebagai asal usul dialog dan karya penulisan.

sya masih memiliki kemungkinan untuk terdcerabut darinya. 2001:244). Karena Todorov biasanya bersikap hati-hati untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap sehubungan dengan rasisme. Sebagai contoh. tampak bahwa ia memang lebih siap untuk melakukan analisis semiotik pad anaskah daripada menangani masalah-masalah filosofis dan mora. Dalam masa antara penerbitan Conquest of America dan Nous et les autres. Sedangkan menurut Todorov. apakah ini tidak berarti bahwa pada individu ini terdapat kebebasan terhadap kemanusiaa? Apakh tidak mungkin terjadi suatu keadaaan di mana seorang individu memilih satu nilai yang ada dalam masyarakat? Bukankah ini lebih tepat sebagai soal pilihan moral atau politik yang konservatif? Singkatnya. bukannya Todorov tidak membangkitkan hal-hal penting dalam nous et les autres. Todorov terus menulis tentang sifat dan kritik sastra dalam karya seperti Critique de la critique (1984) dan La Nation de la litterature (1987). Levi Strauss mewkili pandangan kedua. Karya-karya ini secara sebagian bisa dipertentangkan dengan Frele Bonheur. melainkan ia Cuma memberikan jawaban atas masalah-masalah filosofis yang rumit secara tidak lengkap dalam buku yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman kontemporer mengenai interaksi antara diri pribadi dan yang lain. Jelas bahwa lingkungan saya mendorong saya untuk mereproduksi perilaku yang diunggulkannya akan tetapi.sendiri bukan apa-apa). Di sini ada banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan kepada Todorov. . dan Face a l’extreme (1991) tentang naiz dan totaliteranisme komunis (Lechte. essai sur Rousseau (1985) yang berupaya untuk menangkan intensitas pemikiran Rousseau. Renan dan Barres adalah orang-orang yang mewakili pandangan pertama. dapatkah seseorang berbicara tentang kebebasan dalam kaitannya dengan manusia sebagai suatu spesies tanpa jatuh ke dalam biologisme? Apa bentuk hubungan yang sejati antara kemanusiaan dan individu? Jika kebebasan adalah khas pada individu. ia bersandar pada pengertian apriori bahwa pada dasarnya kebebasan manusia sebagai suatu spesies adalah masalah pribadi: ’dikatakan bahwa kebebasan adalah ciri khas spesies manusia. kolonialisme atau universalisme. dalam membahas pandangannya tentang ’humanisme yang berkelakuan baik’.

dan (3) sebuah teks memberi peluang bagi pemaknaan unsur-unsur bahasa yang tidak bermakna seandainya berada diluar teks tersebut (creating) (Sobur. Namanya mulai dikenal terutama sejak ia menerbitkan bukunya semiotic of Poetry (1978). Michael Riffaterre Nama Michael Riffaterre sebetulnya tidak begitu tersohor jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh semiotika atau strukturalisme lainnya.Secara umum. yang mungkin hanya dipahami dengan referensi lain di luar teks (Taum. Pertentangan antara arti. kontradiksi atau kekosongan makna (distorting). Kelompok ini diharapkan daat mengungkap potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika. 2004:86). yakni sintesis pengalaman membaca dari seumlah pembaca dengan kompetensi yang berbeda-beda. Riffaterret (Budiman. 10. Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan ganya. yang terjadi karena (1) sebuah tanda bergeser dari satu makna ke makna lain atau berfungsi mewakili tanda lain (disflacing). dialektika antara tataran mimetik (istilah Peirce: tataran kebahasaan. maka konotatif) serta pada pihak lain dialektik antara teks dan pembaca. oeuvre Todorov cukup menarik dan penting sehubungan dengan ketegangan antara keketatan analisis struktural yang diberikannya dengan tulisan tentang komitmen moral tulisan Todorov dalam tahap poststrukturalis. Pertanyaan terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah apakah ketegangan ini seharusnya memang ada ataukah justru dinafikan saja (Lechte. 1997:62). (2) adanya ketaksaan. namun juga membuatnya lekat dengan semiotika. (meaning) dan . 2001:22) menyebut gerakan atau strategi ini dengan ketidaklangsungan (indirection). 2001:245). mana denotatif) dan tataran semiotik (istilah Peirce: tataran mistis. yaitu bahwa sebuah puisi mengatakan sesuatu yang berbeda dari makna yang dikandungnya (a poem says one things and means another). Riffatere memperkenalkan istilah Superreader. Pokok-pokok pemikiran Riffaterre dalam semiotika adalah apa yang kreap disebut-sebut para ahli sebagai ’a dialectic between text and reader’. Dalam karya inilah Riffaterre mendeklarasikan sebuah pengertian puisi yang tidak sekadar membawa nuansa baru.

1993:29-30). penafsir. yang bersifat linguistik. subjektif dan khusus. Hal ini jelas bahwa perspektif penelitian Jakobson dan Levi-Strauss adlah teks. majas. ada dua faktor yang penting. Dalam kasus ini superreader Riffaterre adalah Baueelaire sendiri (yang memutuskan untuk menganalisis soneta dalam Les . dan bersifat kias. 2004:88). sebuah puisi. dan interteks. Pertama-tama Riffaterre ingin menganalisis proses resepsi yang didasarkan pada seorang pembaca ideal atau superreader. maksud karya sastra adalah arti yang dihubungkan dengan konsep. dalam menurunkan arti ke dalam makna mestilah dilakukan dengan adanya bukti-bukti berdasarkan fakta yang ada. Metodologi analitik yang diadopsi oleh Roman Jakobson danLevi-Strauss secara mendasar denga metodologi Riffaterre. Adapun karya sastra selalu berhubungan dengan amanat. Manakala sebuah teks analisis. Berdasarkan alasan inilah Riffaterre mengkritik model komunikasi Roman Jakobson tentang pesan estetiknya.Jadi. Hipotesis yang merupakan landasan analisis Riffaterre terhadap ’les chats’ adalah bahwa ’fenomena puitik. Di samping itu. bukanlah melulu suatu pesan. maka manka yang ditangkap itu akan bergeser dan berubah-ubah (Santosa. dalam batinnya uga berlangsung transfer semiotik dari tanda yang satu ke tanda yang lain secara terus menerus. sedangkan perspektif Riffaterre adalah pembaca (ideal) (Sobur. Superreader ditanggapi secara serius oleh Jakobson dan Levi-Strauss (196) tentang puisi Baudelaire yang berjudul ”Les Chats’.objektif dan umum. pembaca sesungguhnya dituntut untuk menemukan makna yang dikandung karya itu secara kreatif dan dinamis. seperti dikutip Rien T. Didalam melakukan komunikasi dengan karya sastra. Hal ini disebabkan bahw pembaca merupakan satusatunya pelaku yang menciptakan pertalian antara teks.makna (significance) memainkan peranan yang sangat menentukan. situasi dan sebagainya telah terimajinasikan. sedangkan pendekatan Riffaterre disebut sebagai analisis resepsi. seseorang (tokoh atau pelaku). yaitu teks dan pembaca. Jika tanpa adanya bukti-bukti. Bauer (1972) dan Ponser (1972). Akant etapi. Arti karya sastra selalu berhubungan dengan tema dan bersifat lugas. tetai seluruh tindakan komunikasi’. Segers (2000:47) menyebut pendekatan Jakobson dan Levi –Strauss sebagi suatu analisiss struktural deskriptif.

Tanpa menolak prinsip ekuivalensi (riffaterre ternyata memerlukannya untuk menetapkan pola-pola harapan). melainkan pembaca yang ditandai oleh penilaian yang ketat. yang mengkritik metode Jakobson dan Levi –Strauss dan menanggapi analisis mereka terhadap ’les chats’ dengan interpretasinya sendiri. Riffaterre. karena konsentrasi superhuman-nya. menekankan keuntungan perspektif pembaca dalam interpretasi Riffaterre. 2000). melainkan menyusun kelompok penilaian yang sudah pasti (Sobur. Riffaterre menggunakan konsep ’pengalaman kontras’ dalam menentukan struktur puitik oleh pembaca: ”Setiap hal dalam teks yang mengajukan pembaca super (superreader) secara tentatif dianggap sebagai komponen struktur puisik’ (Riffaterre. ia mampu mengambil sikap subjektif terhadap teks. ia membuatnya tergantung pada persepsi pembaca selama serangkaian waktu dalam prsoes membaca. Pembaca super mensintesiskan beberapa sikap komunikasional dan dia memiliki informasi-informasi yang maksimum. dikutip Fokkema & Kunne-Ibsch. Bila pengalaman . 2004:8). ia mungkin menyadari benar-benar proses resepsi ini. tetapi bermacam-macam struktur.fleurs du mal). aneka penerjemah puisi. menurut Bauer (1972. Masalah yang tampaknya tidak dapat dipecahkan dalam pendekatan Jakobson. Roland Posner (1972). ”Riffaterre tidak menggolongkan unsur-unsur teks abstrak. seperti dikutip Segers (2000:48). Ia tidak menilai struktur. Pada tempat pertama. memasukkan faktor waktu dalam kedua aspeknya. Gautier (yang mempara frasekan soneta). dalam Segers. 1966. Ia tidak menilai struktur. Kontras muncul ketika harapan pembaca mengenai struktur repetitif terbukti salah dan kemungkinan meramal diperkecil. tidak semua ada dalam analisis Riffaterre. kritikus (termasuk Jakobson dan Levi-Strauss) karya Larousse Dictionnaire du XIX-eme slecle untuk kutipan soneta-soneta dan informaninforman seperti murid-murid Riffaterre. Keuntungan lebih lanjut analisis Riffaterre adalah penekanannya pada intersubjektivitas. Karena dia tidakmempunyai hubungan dengan dunia nyata. Menurut Posner. faktor waktu memegang peranandalam proses membaca. 1998). Riffaterre tidak dapat menenggelamkan dirinya sendiri dalam karakteristik tekstual yang amat banyak karena hanya karakteristik dan menerangkan pengalaman tertentu itu yang dipertimbangkan.

menurut Ruwet (1968). menurut pendapatnya. bagi yang sepenuhnya setuju dengan prinsip ekuivalensi. bisa dilukiskan sebagai berikut: dua orang yang pertama mengumpulkan sebanyak mungkin potensi relasi ekuivalensi. 1998). patut dicontoh dalam kurangnya perseptibilitas ini. pengaruh ini tampak jelas: ”Maka.kontras terjadi. untuk membuatnya lebih tampak. sekalipun keberatankeberatan itu mungkin dalam pengertian yang sangat teoritis. perbedaan antara Jakobson/Levi-strauss dan Riffaterre. puitik. 1998:99) ”Pembagian tiga dan empat. itu tidak relevan. seperti dikutip Fokemma dan Kunne Ibsch dan di sini fokusnya terhadap pembaca tidak bisa diragukan lagi ia mempunyai keberatan mengenai ekuialensi yang menghindarkan persentibilias. Pembagian menjadi tiga dan empat seperti yang dilakukan Jakobson dan Levi-Strauss. 1998:98). Berhasil dalam pengertian bahwa analisis tersebut menyajikan demonstrasi yang menyakinkan mengenai jalinan yang luar biasa yang oleh mereka bagian-bagian uaran dijaga kesatuannya. lebih memaksakan. menurut Riffaterre ia bisa mempengaruhi makna secara retroaktif. sedangkan Riffaterre berkeinginan untuk hanya memikirkan relasi- . yangd iharapkan memberi tekanan pada bentuk pesan. sekurangkurangnya harus ’tampak’. menggelora lagi untuk memodifikasi apa yang telah kita rasakan sebelumnya’ (Riffaterre. Namun. jika tidak. dalam teks yang telah dirasakan. Setelah pemenuhan proses membaca. 1966. menggunakan konstituen yangmungkint idak bisa dirasakan oleh pembaca. terutama yang terakhir.” Bagi Riffaterre yang penting. Bekerja dari pendirian tersebut (Riffaterre harus menolak dua pembagian yang telah disebut diatas (Fokemma & Kunne-Ibsch. keseluruhan data dan epngetahuan akhir. seperti kata Fokkema& Kunne-Ibsch. Analisis Jakobson dan Levi-Strauss terhadap ’Les Chats’ oleh Riffaterre dianggapberhasil (Fokemma & Kunne-Ibsch. adalah kontak antara teks dengan pembaca. 2004:89). dalam Fokemma & Kunne-Ibsch. seperti dikutip Fokkena & Kunne-Ibsch (1998:99). Penekanan pada bentuk bahasa yang diperlukan demi efek puitik. dan karena itu konstituen-konstituten ini harus tetap berbeda dari struktur. (Sobur. Berkenaan ddengan prinsip ekuivalensi. kontak ini menentukan akseptabilitas obersvasi ekuivalensi dan kepentingan estetisnya.

relasi ekuivalensi yang direalissir. Oleh sebab itu. 1993) tidak setuju dengan model komunikasi sastra yang diaukan Jakobson. Akant etapi. Dengan cara itu. yaitu untuk menentukan apa yang relevan dengan fungsi puitik karya sastra. dan secara teoritik tidakmenentu. Lebih jauh Riffatere menjelaskan bahwa yang menentukan makna sebuah karya sastra adalah pembaca secara mutlak. karya sastra lebih dari pada struktur bahasa dan menonjolkan karya sastra sebagai sarana komunikasi dan berfungsi sebagai koneks stilistika yang sama dengan koneks harapan pembaca. 2000:48) menanyakan apakah tidak lebih benar mendasarkan analisi pada seumlah pembaca real (dan bukannya pada seorang pembaca super) danmenyelidiki respons-respons mereka mengenai teks sebagai suatu kelompok. ada pula kerugian yang berkaitan dengan analisis resepsi Riffaterre (segers. dengan mengabaikan aspek-aspek lain. Pola harapan pembaca ini ditentukan oleh segala ssuatu yang pernah dibaca atau didengarnya sehingga susastra mendapatkan maknanya secra menyeluruh (Sobur. lepasdari arti kata tidaklah cukup. . Di sini Jakobson hanya memperhatikan aspek kebahasaan dalam artian yang terbatas saja. Michael Riffaterre (1978. yaitu menyejajarkan enam faktor bahasa dan enam fungsi bahasa.90). Selanjutnya ia mengemukakan alasan bahwa materi Riffatere telah dirakit dengan menggunakan kuesioner sehingga dasar dan hasil analisis resepsi dapat dicek. analisislinguistik pad asalah satu pihak tidaklah cukup dan pada pihak lain dapat melampaui batas kemampuan seorang pembaca. Posner menunjukkan bahwa analisis ini testabel hanya sampai tingkatan tertentu. Model komunikasi sasra Jakobson yang demikian itu dapat menghilangkan relevansi sosial budaya. 2004:89. yait berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca susastra. Dalam kesempatan ini pembaca mempergunakan segala kemampuan dan pengetahuannya yang ada pada dirinya. kritik ini tidak diterapkan pada analisis resepsi historis. Bauer (dalam Segers. Dibandingkan dengan analisis deskriptif dari Jakobson dan Levi-Strauss. Potensi kebahasaan sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia. 2000:48). seseorang dapat menanyakan bagaimana pembaca ideal dikonstruksikan dan elemen-elemen mana yang harus dimiliki atau diikatnya. dalam Santosa. Riffaterre menemukan pemecahan hierarkisasi. Lagi pula.

Bagi beberapa ahli semiotik lain.Bagaimana pokok pandangan Riffaterre terhadap puisi? Ahli semiotika. Pada titik itu sajak adalah suatu bentukan (construct) yang seakan-akan tiada lain kerjanya daripada bereksperimen dengan tata bahasa teksnya. Ia sampai kepada kesimpulan yang belaku secara umum itu tentang puisi setelah mempelajari sajak-sajak Stephane Mallarme. Ditemukannya pada sajak-sajak penyair Prancis itu bahwa ’pertentnagna yang mendasar. moral atau filsafat’. for it may tell us much about potry’s being more of a game than anithing else”) (Sastrowardojo. 1999a:107). diwujudkan hanya demi pembentukan tanda (semiosis). katanya. suatu bentukan yang tiada lain daripada senam indah kata-kata (a calisthenics of words). sedang tanda itu suatu rujukan kepada kata ’nothing’. sedangkan apa yang dikatakan di dalam sajak adalah kosong dari isi atau pesan. Semiosis adalah lawan dari mimesis (Budiman. Sebaliknya. yang menjadi wadah dari kesastraan (literatiness). tempat sajak merupakan suatu bentuk yang sama sekali kosong dari ’pesan’dalam arti yang biasa. Dikatakannya bahwa penyerupaan dengan kenyataan (mimesis) dalam sajak atau puisi sangat palsu dan semu (quite spurious and illusoryi). Di dalam pernyataannya yang dikatakan Subagio Sastrowardojo. 2004:91). seorang penafsir akan menemukan bahwa pembacaan yang bersifat ’harfiah’ atau mimetik tidak akan memadai. atau barangkali dengan gambaran yang lebih baik. puisi itu tidak lain daripada sekedar permainan belaka (”This is an extreme case but exemplary. proses pembacaan figuratif. kekosongan. 1999a:107). semiosis merupakan sinonim bagi signifikasi (Budiman. suatu kesibukan perakitan kata-kata (a verbal setting-up exercise) (Sobur. emosi. 1988:14). misalnya saa Barthes. yang dinamakan sebagai semiosis. (1988:15) sebagai berbelit-belit Riffaterre berkesimpulan bahwa bersajak adalah bermainmain dengan kata belaka seperti dalam kecantikan. sekurang-kurangnya sepanjang kesastraan itu terwuud dalam puisi dapat sampai pada titik. yakni tanpa isi. melibatkan suatu tilikan ke arah struktur paradigmatik yang mengelilingi kata-kata dan struktur inertekstual yang mengelilingi suatu teks puitik.dalam membaca sebuah puisi atau figur verbal apa pun. pernah menyatakan bahwa secara ekstrem dapat dikatakan. apakah itu . yang selalu disebut-sebut dan dipuji-puji teori nya itu oleh pakar-pakar sastra di Indonesia.

yaitu arti sastra karena konvensi sastra. ketaklangsungan ekspresi yang tidak langsung. dengan cara lain. di luar linguistik. sebab hanya berupa rangkaian bunyi tidka terdpat dalam kamus. Tipografi dan homologues. penciptaan arti ini merupakan organisasi teks. dalampuisi nonsense itu mempunyai makna. . moral atau filsafat. 2001:75) disebabkan oleh tiga hal. 2001:74-75) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. persajakan (rima). personifikasi. Ketidaklangsungan ekpresi itu menurut Riffaterre (Pradopo. metafora dan metonimi ini dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pad umumnya. Ambiguitas disebabkan oleh bahasa sastra itu berarti ganda (polyinterpretable). tetapi sesungguhnya dapat dikenakan juga pada prosa. enjambement. Penyimpangan arti menurut Riffaterre disebabkan oleh tiga hal. dalam Pradopo. dan alegori. yaitu ambiguitas. yaitu penggantian arti (displacing of meaning). Kontradiksi ialah mengandung pertentangan. yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secra tidak langsung. Jdi. Diantaranya adalah pembaitan. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimi itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga untuk mengganti bahasa kiasan lainnya. senekdoki. Penciptaan arti menurut Riffaterre merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mepunyai arti. Akan tetapi. dan nonsense. jadi. misalnya konvensi mantra. perbandingan epos. untuk mempengaruhi dunia gaib.t idak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. 2004:92). dan penciptaan arti (creating of meaning) (Sobur. Nonsense adalah kata-katayang secara linguistik tidak mempunyai arti. Nonsense itu untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis.perasaan. yaitu simile (perbandingan). tetapi menimbulkan makna dalam sajak (karya sastra). Penggantian arti menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonomi dalam karya sastra. Itulah bagi Riffaterre ciri umum atau hakikat puisi. Dikemukakan oleh Riffaterre (1978. kontradiksi. penyimpangan arti (distorting of meaning). Riffaterre berbicra dalam kaitannya dengan pemaknaan puisi. lebih-lebih bahasa puisi. disebabkan oleh paradoks atau ironi.

Paris.Menyinggung soal makna sajak. Ia pergi dari rumahnya ke Prancis untuk menjadi anggota militer. Setelah menyelesaikan tugasnya. untuk bisa memberi makna sajak secara semiotik. ia tetapi tinggal di Perancis untuk studi ke Ecole Normale Superieure (ENS). Apa yang dikatakan Grenz. Peirce. meskipun . Britihs Columbia. 2001:84). Al Jazair. khususnya dalam hubungannya dengan literatur. 11. seorang Pioneer McDonald dan profeson teologi dan etika di Regent College. maka Derrida adalah penafsir postmodern yang terpenting tentang Nietzsche. Grenz (2001:221). 2001:222). Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi dasarnya. Ia kian yakin pada kesimpulannya bahwa filsafat adalah semacam bentuk sastra literatur (Grenz. Jika Foucault adalah murid Neitzsche yang paling seati. ’kata Satnley J. Bancouver. Pembacaan hermeneutik dlaah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya (Sobur. Ia menyadari permasalahan yang ada dalam ilmu filsafat. Derrida memutuskan tidak menulis tesis ini untuk mencapai gelar doktor. 2004:86-92). ia tertarik mempelajari filsafat. Pembaca yang jeli akan segera mengenali bahwa melalui gagasan-gagasan tentang intterpretant dna rantai abadi semiosis banyak argumen yang mesti diabuat Derrida berkenaan dengan teorinya tentang tanda. dilahirkan pada 1930 dalam keluarga Yahudi di El Biar. Jacques Derrida adalah filsuf postmodern yang paling akuran. Riffaterre berpendapat. Gagasan-gagasannya tentang kritik sasatra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra. Akan tetapi. pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Pradopo. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. Pembacaan heuristic adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konensi (sistem semiotik tingkat pertama. Jacques Derrida Jacques Derrida. tidaklah berlebihan. telah tersirat dalam ’semiotika’ Charles Sanders. Sementara menyelesaikan gelar sarjananya. Sementara studinya semakin mau. Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik seauh ia berhubungan dengan bahasa dan makna.

saat ia menjadi filsuf yang barangkali paling terkenal di dunia. 2004:94). kata cobley dan Jansz. dan Heiddegger. dan Aristoteles. Derrida sering mendapat hambatan dari masyarakat akademik Inggris. Tetapi karya-karyanya sulit dimengerti. Freud. kemudian Kant. Husserl. meskipun dalam bentuk yang sudah diacak-acak. ’barangkali cara penafsiran Derrida memang cocok dengan atmosfir Amerika’. Irvine. dalam Sumaryono. Meskipun demikian. Seperti Foucault. melalui rangkaian jabatan profesor di Amerika. 1972. Ia dengan tekun mempelajari karya-karya filsafat tokoh-tokoh besar. Ia juga menjadi profesor tamu pada Universitas California. Ia seringkali juga disebut sebagai post strukturalis. Kelonpok ini didirikan ketika dalam rangka rencana pembaruan pendidikan peranan . mulai dari filsuf-filsuf Yunani klasik seperti Plato. Di Inggris. pada 1992. baik Foucault maupun Lacan yang berpengaruh terutama karena teori filmnya. selama 1970-an dan awal 1980-an. ia belaar dibawah bimbingan Husserl. Hegel. Namun. seperti dituturkan Cobles dan Jansz (1999:100). Derrida aktif dalam berbagai kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan posisi yang wajar bagi pengajaran filsafat di tingkat sekolah menengah: Greph (Groupe de recherche sur l’ensignement philosophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). dan Universitas Cornell (Sobur. Sekarang ia mengajar di ENS sebagai maitre-asisstent. 1993: 109). Ia banyak mengutip teks-teks Yunani dan Jerman asli dan sangat sering mengupas kembali naskah-naskah berbahasa Perancis. Bahkan. tokoh fenomenologi Jerman yang hidup di tahun 1859-1938. Sejak 1974. di wilayah studi-studi tekstula (terutama teori sastra) Derrida akan menjadi seorang mahaguru. Sebaliknya. Ia mengandaikan para pembaca tulisannya adalah orang-orang yang termasuk pakar di bidang seni dan sastra. dosen tetap bidang filsafat. Neitzsche. sayangnya nasib Derrida kurang begitu beruntung di dunia akademik. menjadi figur-figur intelektual terkemuka. 1993). meski ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis (Sumaryono.dia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf atau sastrawan (Derrida. ada yang melakukan kampanye menolak penghargaan akademik yang hendak diberikan kepadanya di Cambridge. Derrida banyak disebut-sebut sebagai lelaki yang sangat cerdasa.

Ia menganggap dirinya mampu memandang dari sebuah titik puncak terhadap aktivitas secara literatur lainnya. Critique. dikumpulkan dalam buku Du Droit a la philosophie (1990) (Tentang Hak atas filsafat). Buku-buku lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Guna melawan kecenderungan ini. puisi). Jacques Derrida memulai kariernya sebagai filsuf akademis tahun 1955. misalnya dalam Qui a peur de la philosophie? (1977). Positions (1981). Ia mulai memperoleh perhatian publik pada tahun 1965 sewaktu ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah urnal yang terbit di Paris. Writing and Difference (1978). Tulisan-tulisannya bergerak antara sifat bermain-main dan sifat sengaja mempermainkan aturan-aturan literatur yang selama ini ada. Sebaliknya. dengan demikian. Mereka merasa disiplin ilmu mereka mempunyai hak melemparkan pertanyaan mendasar terhadap ilmu-ilmu lainnya misalnya : ’Apa itu literatur? Atau ’apa itu puisi?’ Derrida keberatan dengan konsep demikian (Grenz. Strategis ini membuat tulisan Derrida melawan struktur yang ada. (Siapa takun pada Filsfat?). dan The Post Card (1987). Ia banyak menulis artikel dalam terbit-terbitan perhimpunan ini.filsafat pada sekolah menengah mulaid ipersoalkan. secara tidak langsung ia mewaspadai usaha filsafat untuk membagi tulisan menjadi beberapa bentuk. tetapi menolak digolongkan sebagai salah satu jenis sastra. Spurs: Nietzsche’s Style (1979). . ditambah dengan karangan-karangan baru. Tulisan-tulisan Derrida sangat sulit ditafsirkan. Signeponge/Signsponge (1984). diantaranya. Margins of Philosophy (1982). The Origin of Geometry (1977). Derrida memasukkan bentuk sastra literatur lain ke dalam area filsuf (misalnya.. 2001: 222). Reading Condillac. (1981). Limited Inc (1977). Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang menurut ohn Lechte (2001:169) dianggap paling terkenal. Ia sangat keberatan terhadap para filsuf yang menganggap diri mereka sebagai pengamat yang objektif. The Archeology of the Frivolus. ia menghantam poisisi filsafat. meliputi : Speech and Phenomena (1973). Dissemination (1981). beberapa diantara artikel itu. Ia mengatakan bahwa selama ini ilmu filsafat hanya berani menilai dan menghakimi jenis sastra literatur lainnya. yakni Of Grammatology (1976).

Ia juga tidak membatasi diri pada suatu penelitian mengenai praandaian-praandaian dan implikasi-implikasi dalam teks-teks yang dibicarakan. seperti diceritakan Grenz. para ilmuwan misalnya Freud.Ia. Ia tidak memberi penafsiran begitu saja. sebab dengan cara itu pemikirannya sendiri berkembang selangkah demi selangkah. Dekonstruksionisme menjadi paham yang amat penting dan berpengaruh besar terutama sekali karena ia menghadapkan dirinya dengan satu paham yang amat . Terkadang ia mencampurkan dua teks dengan meletakkan secaraberdampingan sebanyak beberapa halaman yang terpisah secara vertikal atau horizontal. Derrida hendak melucuti cita-cita modern yang memandang filsafat sebagai ilmu murni. ’pembongkaran’ (Bertens. Ia tidak berusaha menyusun sesuatu yang baru berdasarkan yang lama. sebagai suatu penelitian objektif. Ia mengajak kita menuju cara baru dalam membaca dan menulis (Sobur. dan para sstrawan. Tujuannya bersifat destruktir (menghancurkan). Namun. Senjata yang Derrida gunakan adalah dekonstruksi. Terkadang pula ia menyajikan percakapan yang mencakup beberapa suara atau satu suara utama yang diinterupsi oleh seorang juru bicara. komentar dalam bentuk yang khusus. Derrida bukan seorang pembuat mitos baru. Dengan mengomentari teks-teks tersebut ia menyajikan suatu teks baru. Agak berbeda dengan pendahulunya. dan Levi-Strauss. Saussure. menggunakan beberapa teknik untuk menghasilkan sifat tersebut. 2004:95). menghancurkan tradisi logosentrisme Barat. Banyak tulisannya bersifat percakapan dengan tulisan-tulisan filsuf besar dan penulis terkenal lainnya. Prosedur atau langkahlangkah ini oleh Derrida disebut dekkonstruction. 2001:328). Melihat karya-karya Derrida secara sepintas lalu kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa hampir semua karangan yang ditulisnya hingga sekarang merupakan komentar atas pengarang-pengaran lain: filsuf-filsuf. derrida tampil sebagai seorang ahli membuat makna ganda dan makna tersembunyi. Melalui semua ini. Ia juga menolak konsep adanya hubungan langsung antara bahasa kita dan realitas di luar kita. Ia menyusun teksnya sendiri dengan ’membongkar’ teks-teks lain dan dengan demikian ia berusaha melebihi teks-teks itu dengan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan dalam teks-teks itu sendiri.

Logosentrisme adalah anggapan adanya sesuatu diluar sistem bahasa kita yang dapat diadikan acuan untuk sebuah karya tulis agar kalimat-kalimatnya dapat dikatakan :’benar’ (Grenz. Selain itu. Dekonstruksi menggunakan asumsi filsafat atau filologi tentu untuk menghancurkan logosentrisme. Dan ’kata’ berarti sesuatu yang diucapkan. 2001:235). pada mulanya adalah ’kata’. Dekonstruksi sangat sulit didefinisikan.berakar dalam lama tradisi filsafat dan pemikiran pada umumnya. Dekonstruksi adalah segala sesuatu yang derrida tolak. Justru dekonstruksi menolak definisi karena Derrida menghalangi pendefinisian tersebut (Grenz. 2001:235). Tak ada kerangka acuan yang dpapat menghasilkan sesuatu selain dongeng yang diciptakan dari kata-kata. secara lebih khusus. Asal istilahnya berpusat pada Perjanjian Baru. tradisi yang hidup berabad-abad dan tetap hidup sampai sekarang. atau sebuah gaya kritik sastra literatur atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks. ada sesuatu yang dapat dikatakan tentang dekonstruksi. Paham ini adalah apa yang oleh Derrida disebut sebagai logosentrisme tadi atau fonosentrisme. Dalam bahasa Yunani. ’prinsip utama’ filsafat tidak boleh berupa dasar transenden yang menyatukan segala bahasa. Menurutnya. Bagi Derrid. Filsafat terlalu ditekan untuk selalu mencari dasar transenden bagi bahasa kita. 2004:97). ”logos’ yang mengkonsentrasikan pusat kehadiran pada sabda Tuhan. Ilmu filsafat adalah menjadi target utama dekonstrusi. 2001: 179) mendefinisikan logosentrisme sebagai ’keinginan akan suatu pusat’. 1989. Ia mulai dengan menegaskan bahwa dekonstruksi bukan sebuah metode atau sebuah teknik. dekonstruksionisme juga berhadapan dengan paham yang sebelumnya juga amat berpengaruh. yatiu strukturalisme. dikutip Faruk. Derrida (Selden. Meski sulit didefinisikan. Derrida menegaskan bahwa tradisi filsafat Barat terlalu logosentris atau objektivistik. Intinya. bersifat fonotok. tidak ada tulisan yang dapat dibatasi oleh dasar transenden. sehingga logosentrisme juga disebut ifonosentrisme. dekonstruksi berhubungan dengan bahasa. Prinsip utama filsafat harus berupa simbol-simbol . Ia memperingatkan kita agar tidak menggantikan pembacaan dekonstrusktif dengan pemahaman konseptual tentang pembacaan tersebut. (Sobur. Tulisan tidak mempunyai acuan lain di luar dirinya. logos itu sendiri ’kata’.

kritik Freudian atas ’kehadiran-diri’. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis. tetapi merobohkannya (dekonstruksi). alat Heidegger. yaitu kritik atas kesadar-an. Lingkaran ini unik. terjebak dalam semacam lingkaran. dimulai dari Plato dan berakhir di tangah Heidegger. ontoteologi. Ia menerapkan metode ini dalam metafisika Barat klasik. Lalu ia menggambarkan bentuk hubungan antara searah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika itu. Dekonstruksi pertama kali dibakukan Derrida dalam bukunya De La Grammatologie (of Grammatology) tahun 1967.yang tidak berdasarkan sesuatu apa pun selain bahasa. Istilah yang dipakai Derrida adalah pinjaman dari Heidegger. tanda (tanda tanpa kehadiran kebenaran). Derrida memulai penelitian mendasar pada bnetuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum identitas. meski hampir semua filsuf para-Heidegger mengagungkan pembahasan tersebut (Sobur. kritik atas konsep ’yang ada’ dan kebenaran untuk disubstitusikan dengan konsep-konsep permainan. Lewat suatu pendekatan yang disebut sebagai ’pembongkaran’ atau ’dekonstruksi’. Semua wacana destruktif ini dan semua analogianalogi mereka. kata Derrida. akan identitas diri dan ’kedekatan diri’ atau ’kepemilikan diri’. determinasi ’yang ada’ sebagai kehadiran. jelas Derrida. dan lebih radikal lagi adalah penghancuran metafisika. Derrida (2001: 28) menandaskan: Tak ada makna dalam tindakan tanpa konsep-konsep metafisika dalam rangka melawan metafisika. akan subjek. Tambahnya pula. kita tidak dapat mengeluarkan sebuah dalil destruktif tunggal yang belum termasuk ke . tujuan filsafat bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini. Di sini. Derrida mulai dngan mengomentari atau mengutip kritik metafisika Nietzsche. hanya saja Derrida membumbuinya dengan beberapa resep linguistik dan metode gramatologi ciptaannya. Derrida mengklaim kerelativitasan metafisika. interpretasi. Kita tidak mempunyai bahasa tidak sintaksis dan tidak juga leksikon yang asing bagi sejarah ini adalah. Ketika hendak melukiskan bentuk hubungan antara sejarah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika. 2004:97).

logika. seharusnya memperluas penolakannya terhadap konsep dan kata tanda itu sendiri yang tepatnya sesuatu yang tidak bisa dilakukan. konsep tanda ditentukan oleh oposisi ini: melalui dan melalui keseluruhan totalitas sejarahnya. Menurut Derrida (2001: 29-30). Karena ada dua jalan heterogen penghapusan perbedaan antara penanda dan petanda: pertama. 2004:99). tidak dapat membuat kita lupa bahwa konsep tanda tidak dengan sendirinya melewati atau menjangkau oposisi antara yang dpat dirasakan dan dapat dimengerti tersebut. katanya. menurut Derrida. Tapi. terutama dalam penyampaian tanda pada pemikiran yang lain. Namun sejak setiap orang mengharapkan untuk memperlihatkan bahwa tak ada petanda transendetal atau khusus. kekuatan dan legitimasi dari tindakannya. Ia kemudian mengambil contoh metafisika kehadiran diserang dengan bantuan dari konsep tanda. atau kepada apa yang dianggap sebagai sesuatu yang sama.dalam bentuk. jika tanda. menurutnya tidak mempunyai batas. mulai sekarnag. kata Derrida. penanda berbeda dan petandanya sendiri. serta oleh sistemnya. cara yang kita gunakan berlawanan dengan . Menurut Derrida. Dalam pandangan Derrida. kita tidak bisa menyerah begitu saja pada kompleksitas metafisika pada memberikan kritikan yang kita arahkan melawan kompleksitas ini. maka kata penanda sendiri yang seharusnya ditinggalkan sebagai konsep metafisika (Sobur. penanda dari petandanya sendiri. Kepentingan. Mengomentari pendapat Levi-Strauss dalam pendahuluan bukunya Le cru etle cuit bahwa ia telah ’berusaha melebihi oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti dengan menempatkan diri (dirinya sendiri) sejak awal pada tingkatan tanda-tanda’. 99). hanya dengan mengeluarkan hal itu keluar dirinya. kita tidak dapat melakukan sesuatu pada konsep tanda (Sobur. tercapai dengan reduksi atau penurunan penanda. dan postulat-postulat implisit dari apa yang tepatnya dicari untuk dipertentangkan. tanpa risiko penghapusan perbedaan (seluruhnya) dalam identitas diri suatu petanda yang direduksi menjadi dirinya sendiri atas penandanya. penanda mengacu pada suatu petanda. cara klasik. Ia. sebagai tanda diri. jika seseorang menghapus perbedaan radikal antara penanda dan petanda. Menurut Derrida. dan bahwa bidang atau pengertian yang saling mempengaruhi. dalam maknanya. Karena pengertian tanda selalu dipahami dan ditegaskan.

’inilah’ jelas Derrida. Hal tersebut. pada Freud. khususnya pada wacana mengenai ’struktur’. Inilah. 2004:99). menurutnya. 1999:95). Dicontohkannya. misalnya dari metafisika yang dikerjakan Neitszche. katanya dapat melakukan hal yang sama pada Heidegger sendiri. Karena konsep ini bukanlah unsur-unsur atau atom-atom dan karena mereka diambil dari seubah kalimat dan sebuah sistem. katanya. Opposisi. menurut Derrida tak ada penggunaan yang tersebar lebih luas (Derrida. dekat pada formulasi atau bahkan dengan pembentukan lingkaran ini” tandasnya. ’penganut Plato’ terakhir. bersamaan dengan reduksi. setiap keterangan berhubungan dengan seluruh metafisika. Derida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni. 2001:31). Dan sekarang ini. Dalam teori Grammatologiy. ’yang memungkinkan para penghancur ini untuk saling menghancurkan satu sama lain. empirik. yang didalamnya reduksi sebelumnya berfungsi. atau pada orang yang lain. menurut Derrida. sistematik. Seseorang. dapat diperluas pada semua konsep dan semua kalimat metafisika. Dekonstruksi. ”Mereka relatif naif. berada di dalam konsep-konsep yang yang diwariskan. . membutuhkan tanda yang sedang dikurangi (Sobur. pertama dan terutama sebagai oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti. Tapi tandas Derreida. Freud dan Heidegger. sebagai ahli metafisika terakhir. dengan kejernihan dan kekakuannya sebagai tidak jujur dan salah konstruksi. Heidegger menganggap nietzshce. Konsep dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi. adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku (Assyaukanie. adalah bagian dari sistem. menurut Derrida perbedaan-perbedaan yang menjelaskan keragaman wacana destruktif dan ketidaksetuuan antara mereka yang membuatnya. ada banyak cara terperangkap dalam lingkaran ini. dalam pandangan dia.yang pertama disini. Paradoksnya adalah bahwa pengurangan metafisika dari tanda. pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (signifier) melalui penyusunan konsep (signified). Dan apa yang ia katakan di sini tentang tanda. dalam Nurcahyono. tercapai dengan menempatkan ke dalam pertanyaan.

1994:61). yang banyak disbut sementara ahli sebagai dekonstruksi postmodernisme terutama dalam kaitannya dengan bahasa. Sebaliknya.karena semua tanda senantiasa sudah mengadung artikulasi lain (Subangun. Jacques Derrida mengacu pada dekonstruksi ganda terhadap paham asal usul dan terhadap pemahaman akan mimesis dalam teks m malararme berjudul . Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. cara terbaik untuk mendekonstruksi metafisika asal usul (origin) adalah dengan mendalami penyelidikan atas ’menulis’ (ecriture). Dengan demikian yang semula pusat. 2004:101). Sekilas pandangan ini seolah-olah kembali pada pandangan Plato tentang mimesis. Dalam pandangan Derrida. Strategi dekonstruksi dialankan dengan asumsi bahwa filsafat barat bisa mempertahankan ide tentang pusat sebagai kehadiran murni hanya dengan cara menekan efek-efek metaforis dan figuratif yang menjadi karakter bahasa. Ia mengacu pada terminologi ’menulis’ yang meliputi segala aspek pengalaman yang ditandai dengan jejak-jejak signifikansi. Mimesis hanyalah demi mimesis (Sobar. namun yang dipahami adalah pandangan Derrida ini sama sekali menolak paham asal usul (originalita). Pertama. yang ada adalah repetisi dan reiterasi. tidak lagi fondasi dan tidak jadi prinsip. dikemas dalam dua pokok. menurut Derrida. yakni : (1) mimesis tanpa asal usul (mimesi without origin). 2001: 39-40). mimesis itu tanpa asal usul. mimesis tidak mengacu pada origin tertentu. Plato membandingkan jiwa manusia dengan sebuah buku (Biblos). dan (2) apokalips tanpa akhir (apokalupse without end) (Tedjoworo. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Puncak dekonstuksi Derrida. Yang mengkopi dan mengilustrasikan pengalaman manusia dalam proses ’menulis-mimetik’ yang dilakukan oleh ’penulis internal’ (grammateus) dan ’pelukis internal’ (zographos-demiurgos). prinsip di plesetkan sehingga berada di pinggir. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan hampir tanpa batas. pertama sekali adalah usaha membalik secara terus menerus hierarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahwa sebgai medannya. Dekonstruksi. fondasi. ’Menulis’ karenanya adalah sebentuk mimesis.

Tidak ada imitasi terhadap ’sesuatu’ dan peniruan tidak mengimitasi apa pun. istilah apokalips di sini bearti suatu ’penyingkapan’ (un-cover. Kata ini disebutnya sebagai yang memperkuat nada apokaliptik. menurut Derrida. karena ia adalah suatu alamat tanpa subjek. agak bertentangan dengan semiotika struktural yang dikembangkan Saussure. ditangkap oleh permainan’. geolak dan kegelisahan-kegelisahan yang mencirikan budaya chaos bagi Deririda (2001:24). apokalips tanpa akhir. Yohanes apokalips profan Jean Genet.: kita tidak atahu siapa yang berbicara atau kepada siapa kata itu diarahkan. bukan lagi parodi atas kehidupan atau apa pun. 200. ketidakpasatian.93-101. yang mengandalkan pada keabadian. Apolkalip tanpa akhir hanya dapat dipahami sebagai suat ’akhir yang tak berakhir’ Sobur. ’kegelisahan. Kata ’datang’ tak dapat diurai maupun diinterpretasikan dalam suatu analisis atas kata tersebut. Kita bahkan tidak bisa mengimjinasikan apa iatu ’keberan’dalam pemahaman apokalips tanpa akhir ini.bila pada . Derrida membuat suatu perbandingan saling dekonstruktif dalam tulisannya yang berjudul Glas. bukan lagi mema ciri dekonstruktif maupun linguistik untuk membatalkan saat naratif linier imajinasi manusia. Juga kata itu tidak dapat disituasikan secara temporal. Kata ini juga membuka suatu permainan dekonstruktif tanpa pernah terjadi objek di bawah tatanan logosentris.Mimique. Bahasa. hanyakah suatu parodi atas parodi. membentuk figur dan imaji yang tidak dapat diasalkan pada ucapan yang mendahuluinya. lebih mampu mengakomodasi dinamika. bagai upaya konseptual maupun linguistik untuk memutuskan makna dari sesuatu. Berkaitan dengan semiotika. menampilan dua kolom tulisan satu sastra. dan satu filosofis yang mengolah apokalips suci St. Akhirnya. Kedua. Apa yang terjadi dalam mimesis sebetulnya adalah suatu dekonstruksi diri (Self deconstruction). ciri dekonstruktir pemahaman kata ’datang’ itu meruntuhkan be utuskan makna atas parodi. Ia mengomentari keduanya dengan analisis dekonstruktif terhadap datang’ (come). apokaluptein). selalu merupakan akibat dari cara tertentu yang diimplikasikan dalam permainan. kestabilan dan kematapan tanda dan kode dan makna-makna semitoika yang dikembangkan oleh Derrida bsebagai salah seorang pemikir psot strukturalisme. Gerakan yang terjadi dalam menulis.

S. yang ditemukan hanyalah ungkapan yang berbeda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula secara tak terhingga. yait sebuah proses penciptaan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas dan tak terbatas (Pilliang. 2001:310). namun untuk kasus-kasus yang lain. PENULIS: PROF. . Didalam Positions. yang melampaui bentuk ungkapan/penanda (signifier). Derrida juga menemukan bahwa kita tidak bisa lagi terpaku pada makna/pertanda (signified) yang transenden. Hubungan antar ungkapan dan makna yang pasti (Signifier/signified) memang penting untuk kasus-kasus tertentu.semiotika konvensional yang ditekankan adalah proses signifikansi. Ini pulalah yang disebut-sebut sebagai semiotics of chaos. ’semiotika ketidakberaturan’ (Sobur. maka di dalam semiotika poststrukturalis yang ditekankan adalah proses significance. Setiap makan menadi bentuk ungkapan baru berikutnya. Bedanya bentuk ungkapan dan makan itu kini cenderung mengapung (floating). yaitu memfungsikan tanda sebagai refleksi dan kode-kode sosial yang telah mapan. M. 2004:102). KAELAN. DR. Inilah yang disebut trace oleh Derrida (Pilliang. 2001:310).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->