BAB I PENDAHULUAN

Hubungan bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf, bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman Yunani. Namun demikian pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa tidaklah lama, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema-problema filsafat pada zaman tertentu. Suatu perubahan yang sangat penting terjadi ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai suatu contoh problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, "keadilan", "kebaikan", "kebenaran", "kewajiban", "hakikat ada" dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai "Filsafat Analitik", yang berkembang di Eropa terutama di Inggris pada abad XX. Memang semua ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa maka analisis tersebut tentunya berkaitan dengan makna bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep-konsep tersebut. Hubungan yang sangat erat antara bahasa dengan filsafat tersebut sebenarnya telah berlangsung lama bahkan sejak zaman pra Sokrates, namun dalam perjalanan sejaran aksentuasi perhatian filsuf berbeda-beda dan sangat tergantung pada perhatian dan permasalahan filsafat yang dikembangkannya. Pada zaman Yunani filsafat merupakan dasar untuk memandang hakikat segala sesuatu termasuk bahasa. Hal ini dapat dipahami karena pada zaman tersebut belum berkembang ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu bahasa juga merupakan objek material pemecahan problema spekulatif para filsuf. Dikotomi spekulatif tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' adalah merupakan pusat perhatian filsuf pada saat itu. Demikian juga dikotomi 'analogi' dan 'anomali' juga merupakan diskursus filosofis yang mendasar mengingat bahasa merupakan sarana yang utama dalam filsafat terutama

dalam logika. Plato, Aristoteles, kaum Sofis dan kaum Stoik adalah tokoh-tokoh filsuf yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Selain itu tradisi analitika bahasa juga telah berkembang pada saat itu, yaitu ketika Sokrates berdialog dengan kaum Sofis. Metode yang digunakan dalam analitika bahasa pada saat itu dikenal dengan metode dialektis-kritis terutama untuk mengatasi kekacauan dan kesesatan pikir. Terlebih lagi peranan bahasa menjadi semakin penting ketika Aristoteles mengangkat bahasa dalam 'organon' yang merupakan karya besar di bidang logika yang merupakan salah satu cabang dalam filsafat. Karya-karya besar para filsuf Yunani yang menaruh perhatian terhadap bahasa inilah kemudian dilanjutkan oleh para Sarjana dari Alexandrian terutama karya-karya kaum Stoa yang kemudian pada perkembangan berikutnya merupakan dasar-dasar pokok bagi pengembangan bahasa aliran tradisionalisme. Pada zaman Romawi objek perhatian filsuf terhadap bahasa berkembang kearah karya gramatika bahasa latin dan tokoh-tokoh yang terkenal adalah Varro dan Priscia. Karya-karya besar mereka terutama dalam meletakkan dasar-dasar dalam bidang etimologi, morfologi yaitu tentang "partes Orations" dan "Oratio" yang lazimnya dalam linguistic tersebut sintaksis. Perhatian filsuf menjadi semakin besar ketika zaman abad pertengahan, yang ditandai dengan tujuh system utama yaitu 'Trivium' yang meliputi gramatika, dialektika (logika), dan retorika; serta 'Quadrivium' yang mencakup aritmatika, gemetrika, astronomi, dan musik. Akar-akar ilmu pengetahuan modern sudah mulai nampak, oleh karena itu perhatian filsuf terhadap bahasa juga sebagian mengarah kepada perkembangan linguistic sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya merupakan dasar pijak linguistic tersebut. Persoalan klasik Yunani tentang hakikat bahasa 'fisei-nomos' serta 'analogi-anomalia' kembali merebak menjadi isu spekulatif yang actual pada saat itu. Tokoh filsuf abad pertengahan yang menaruh perhatian terhadap bahasa dalam mengklarifikasikan konsep filosofisnya terutama dalam kaitannya dengan religi adalah Thomas Aquinas. Metode analitika bahasa yang digunakan oleh Thomas dan karyanya 'Summa Theologiae' adalah dengan analogi yang metaphor. Pada zaman modern yang ditandai dengan ’Renaissance' dan 'Aufklarung', pemikiran-pemikiran filsafat secara berangsur-angsur berkembang ke arah timbulnya

ilmu pengetahuan alam modern. Tokoh-tokoh pengembang ilmu pengetahuan tersebut antara lain Copernicus, Johanes Kepler, Galileo Galilei dan terutama tokoh yang meletakkan dasar filosofis ilmu pengetahuan yaitu Francis Bacon dengan 'Novum Organism-nya'. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut perhatian filsuf terhadap bahasa juga semakin mengarah pada ilmu pengetahuan bahasa (linguistic). Bahkan yang terlebih penting lagi berkembangnya bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan terutama peranan bahasa dalam pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemology. Walaupun perkembangan filsafat mengarah pada timbulnya ilmu pengetahuan modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsafat modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsfat modern yang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Rene Descartes dengan metode skiptisnya dan bertumpu pada metode 'Cogito Ergo Sum'. Rasionalisme Rene Descartes dengan metode skiptisnya yang mengkritik ilmu pengetahuan dengan mengembangkan prinsip analisis berdasarkan rasio. Begitu juga paham empirisme Inggris dengan tokoh-tokoh Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume serta tokoh kritisme Immanuel Kant. Aliran-aliran inilah yang mempengaruhi timbulnya aliran Atomisme Logis di Inggris yang kemudian berkembang dan mempengaruhi aliran Positivisme Logis serta filsafat bahasa biasa. Sejalan dengan karakteristik perkembangan filsafat modern yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan modern maka peranan bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan menjadi semakin penting. Periode filsafat abad XX perhatian filsuf terhadap bahasa menjadi semakin besar. Mereka semakin sadar bahwa dalam kenyataannya terdapat banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi semakin jelas manakala menggunakan analisis bahasa. Pada periode ini terdapat suatu reaksi yang sangat radikal terutama terhadap pandangan empirisme, idealisme maupun konsep metafisika. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekacauan dan kekaburan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan perkembangan filsafat bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan yang sangat radikal pada abad XX tersebut, yaitu Ferdinand de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistic. Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang

sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi Yunani. Konsep Ferdinand de Saussure tersebut sangat penting dalam linguistic karena mengembangkan paradigma baru di bidang ilmu bahasa yang dikenal dengan linguistic modern yang dijiwai oleh paham Strukturalisme. Paham ini berkembang sebagai reaksi terhadap ilmu bahasa tradisionalisme yang mendasarkan pada tradisi Alexandrian yang bercirikan pada makna dan tidak mendasarkan pada struktur bahasa yang bersifat empiris. Pengaruh linguistic modern yang didasarkan pada pemikiran filosofis dan teori Ferdinand de Saussure pengaruhnya cukup luas di berbagai wilayah di Eropa, Amerika termasuk di Indonesia sendiri. Tokoh Strukturalisme di Amerika yang sangat terkenal adalah Bloomfield. Perkembangan Strukturalisme yang sangat besar inipun pada akhirnya juga mendapat reaksi yang sangat keras dari paham Transfosionalisme Generatif di bawah Noam Chomsky yang pengaruhnya juga cukup besar. Demikianlah sekilas perkembangan filsafat bahasa yang selain memberikan wawasan bagi kita tentang pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa juga menunjukan aksentuasi konseptual filosofis terhadap bahasa, serta ruang lingkup filsafat bahasa yang sangat beranekaragam dan kompleks. Namun demikian secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian yaitu pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis, kedua: perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek material yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran-aliran dan teori-teori linguistic.

A. Pengertian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa sebagai salah satu cabang filsafat memang mulai dikenal dan berkembang pada abad XX ketika para filsuf mulai sadar bahwa terdapat banyak masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat baru dapat dijelaskan melalui analisis bahasa, karena bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat (Davis, 1976). Berbeda dengan cabang-cabang filsafat lainnya, filsafat bahasa termasuk bidang yang kompleks dan sulit ditentukan lingkup pengertiannya (Devitt, 1987). Namun demikian bukanlah berarti filsafat bahasa itu merupakan bidang filsafat yang tidak jelas objek pembahasannya melainkan para filsuf bahasa memiliki aksentuasi yang

beraneka ragam sehingga penekanannya juga beraneka ragam juga. Walaupun bidang filsafat bahasa baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun berdasarkan fakta sejarah hubungan filsafat dengan bahasa telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani. Berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan sejarah filsafat bahasa maka filsafat bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengertian yaitu : Pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat. Pada periode abad XX para filsuf semakin sadar bahwa banyak problema-problema serta konsep-konsep filsafat dapat dijelaskan melalui analisis bahasa misalnya berbagai macam pertanyaan filosofis seperti 'kebenaran', 'keadilan', 'kewajiban', 'kebaikan' dan pertanyaanpertanyaan fundamental filosofis lainnya dapat dijelaskan dan diuraikan melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Tradisi inilah menurut para ahli filsafat disebut dengan pengertian 'Filsafat Analitik' atau "FIlsafat Analitika Bahasa'. Istilah ini memang baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun demikian perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan konsep-konsep filsafat daam kenyataan sejarah berlangsung lama yaitu sejak zaman yunani. Sokrates misalnya telah menggunakan metode analitika bahasa dalam berdebat dengan kaum Sofis yang dikenal dengan metode dialektis-kritis. Demikian juga Thomas Aquinas pada abad pertengahan melalui analisis bahasa analogi dan metaphor untuk menjelaskan konsep-konsep filosofisnya. Filsuf abad modern seperti Rene Descartes juga menjelaskan konsep-konsepnya melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Aliran-aliran filsafat analitika bahasa antara lain Atomisme Logis Positivisme Logis dan Filsafat Bahasa Biasa. Berdasarkan pengertian yang pertama ini dapat disimpulkan bahwa bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsepkonsep dan problema-problema filsafat. Kedua, filsafat bahasa sebagaimana bidang-bidang filsafat lainnya seperti filsafat hukum, filsafat manusia, filsafat alan, filsafat sosial dan bidang-bidang filsafat lainnya yang membahas, menganalisis dan mencari hakikat dari objek materi filsafat tersebut (Davis, 1976). Pengertian yang kedua ini hendaklah dibedakan dengan pengertian filsafat analitika bahasa yang menggunakan bahasa sebagai alat analisis konsep-konsep dan masalah-masalah filsafat. Oleh karena itu filsafat bahasa

Peirce mendasarkan filsafat semiotikanya berdasarkan pada filsafat logika dan pragmatisme. sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. Tokoh yang sangat popular yang mengembangkan pemikiran filosofis ini adalah Ferdinad de Saessure. Berbeda dengan para digma tersebut. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem simbol yang memiliki makna.dalam pengertian yang kedua ini bahasa sebagai objek materi filsafat. Bahasa sebagai suatu sistem tanda tersebut pada suatu saat menurut Saussure berada pada suatu wilayah ilmu tanda secara umum. merupakan alat komunikasi manusia. Kedudukan Bahasa dalam Filsafat Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urut bunyi-bunyi secara empiris. meskipun terdapat dua istilah namun objek material ilmu tersebut memiliki kesamaan. Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menemukan kearifan dalam hidupnya. karena bahasa adalah hanya salah satu saja dari banyak sistem tanda dalam kehidupan manusia. Hal itu dapat dipahami karena dunia fakta dan realitas yang menjadi objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang terwakili oleh bahasa. Dalam hubungan inilah kemudian berkembang ilmu tanda yang dikenal dengan semiologi dengan tokoh Roland Barethes. yang menurut Saussure disebut significant dan signifie. terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu memiliki hubungan yang erat dengan bahasa terutama bidang semantik. sebagaimana dikemukan oelh Bertrand Russell bahwa bahasa memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta dan lebih dipertegas oleh Wittgenstein bahwa bahasa merupakan gambaran realitas. Akar filsafat bahasa inilah yang menumbuhkan ilmu semiotika. Perkembangan filsafat bahasa yang menggali hakikat bahasa selain sebagai sarana komunikasi pada hakikatnya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. Oleh karena itu untuk . B. melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Terdapat hubungan antara tanda dengan objek tanda tersebut. penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. Charles Sanders Peirce mengembangkan ilmu tanda yang dikenal dengan semiotika.

Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) vagueness (kesamaran). Berbagai kelemahan dan kekurangan bahasa dalam proses pengungkapan konsep-konsep filosofis perlu diberikan suatu penjelasan khusus agar ungkapanungkapan atau kata-kata yang digunakan dalam menjelaskan realitas tidak terjadi misleadingness. Kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut sebenarnya disamping merupakan kelemahan bahasa untuk aktivitas filsafat juga sebaliknya sebenarnya justru kelebihan bahasa manusia yaitu bersifat 'multifungsi' yaitu selain berfungsi simbolik. 1988:20). Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bungan mawar. 'bunga melati' dan lain sebagainya. bahasa juga memiliki fungsi 'emotif. hipinimi maupun polisemi juga menjadi faktor kesamaran dan ketaksaan makna. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kenyataannya bahasa sehari-hari memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan-ungkapan dalam aktivitas berfilsafat. 1964:6). (3) ambiguity (ketaksaan). 'bunga anggrek'. (2) inxeplicitness (tidak eksplisit). (Alston. Selain itu pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik. dapat dikaitkan dengan 'bunga mawar'. Kata bunga misalnya. serta konteks situasional dalam pemakaiannya sehingga mengalami context-dependent. Kata 'orang tua' dapat berarti 'bapak-ibu' ataupun orang yang memang sudah tua. sosial. Betapapun demikian keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia tidak hanya merupakan simbol belaka melainkan merupakan media . tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawat tersebut. Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna adanya terjadi inexplicitness. (4) contex-dependence (tergantung pada konteks).dapat mengungkapkan struktur realitas diperlukan sesuai sistem simbol bahasa yang memenuhih syarat logis segingga satuan-satuan dalam ungkapan bahasa itu terwujud dalam proposisi-proposisi. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Dari adanya jumlah kekurangan tersebut tidak mengherankan apabila paparan lewat bahasa sering mengandung misleadingness sehubungan keberadaannya dalam komukasi (Aminuddin. sehingga bahasa seringkali tidak mampu mengungkapkan secara eksak. (5) misleadingness (menyesatkan). tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang direpresentasikannya. Selain itu adanya sinonimi.

Bahasa sebagai media pengembang refleksi filosofis tersebut telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. Andronikus menemukan bahwa sesudah karya-karya Aristoteles mengenai fisika. Dalam pengertian yang demikian inilah bahasa menunjukkan fungsi vitalnya dalam aktivitas manusia. kesempurnaan. Secara etimologis istilah metafisika beasal dari bahasa Yunani 'ia meta ta physica' yang secara harfiah dibalik fisik atau di balik hal-hal yang bersifat fisik. Berdasarkan kenyataan fungsi bahasa tersebut diatas maka hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan. yaitu berfilsafat.pengembangan pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan realitas segala sesuatu. Dari sejumlah fitur semantis itu para filsuf Yunani merumuskan pengertian 'logos' sebagai kegiatan menyatakan sesuatu yang didukung oleh sejumlah komponen yang masing-masing komponen tersebut antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan dengan menggunakan katakata. Masing-masing hubungan tersebut memiliki fungsi dan cirinya masing-masing. terdapat 14 buku tanpa nama dan ia menyebut keempat belas karya tersebut dengan 'buku-buku yang datang sesudah fisika'. kualitas. Untuk itu Aristoteles menyebutnya dengan istilah 'sofia' dan 'teologi' (Steenberghen. Dalam buku-buku ini ia menemukan pembahasan mengenai realitas. (Bagus. 'inti sesuatu'. Kesimpulannya adalah terdapat hal-hal yang bersifat metafisik. tidak dapat dipisahkan terutama dalam cabangcabang filsafat metafisika. Aristoteles menamakan metafisika sebagai filsafat yang pertama yang membahas tentang hakikat realitas. Hakikat manusia yang dilukiskan dengan ungkapan Animal Rationale. kualitas. . 'kata maupun susunan kata' (Peursen. prinsip konstitutif dan tertinggi dari segala sesuatu. logika dan epistemologi. 'cerita'. 1. Demikian juga istilah 'logos' dalam bahasa Yunani mengandung makna 'isyarat'. yang ada yang tidak terdapat dalam dunia fisik. 'perbuatan'. 1991:18). misalnya dalam bahasa Yunani berpangkal dari 'logon ekhoon' yang mengandung makna 'dilengkapi dengan akal budi'. 1970:8). 1980:4). Fungsi Bahasa dalam Metafisika Metafisika adalah salah satu cabang filsafat disamping cabang-cabang lainnya. kesempurnaan. yang ada dan secara keseluruhan bersangkutan dengan sebab-sebab terdalam.

Keberadaan aksidensia tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi : (1) kuantitas yaitu unsur fisis dari segala sesuatu yang meliputi luas. bentuk dan berat sehingga segala sesuatu menempati ruang tertentu. dan sembilan aksidensia. Misalnya pertanyaan-pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Plato. Oleh karena itu metafisika adalah sebagai ilmu mengenai yang ada yang bersifat universal. Apakah keadilan. . (2) kualitas yaitu yang berkaitan dengan aksidensia sifat-sifat terutama sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indra (untuk substansi yang memiliki kuantitas). kebaikan dan sebagainya adalah upaya-upaya secar analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut (White. Upaya metafisika untuk memformulasikan fakta-fakta atau Kenyataankenyataan segala sesuatu yang ada dengan suatu asumsi yang menjadi dasar dari argumentasi metafisis tertentu dirumuskan secara lebih eksplisit dan dengan demikian maka peranan bahasa dalam metafisika menjadi sangat sentral. kesucian. adapun teori mengenai roh dibagi atas psikologi dan teologi kodrati (natural) (Ando. metafisika meliputi dua cabang ilmu. 1974:47). tempat tertentu. kontradiksi. (4) passi yaitu yang menyangkut penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan ssuatu hal atau benda yang lainnya. waktu. hal itu dikarenakan substansi memiliki kuantitas. ruang. 1987:11). (5) relasi setiap hal termasuk benda senantiasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lainnya. (7) waktu segala sesuatu di alam semesta ini berada di dalam suatu waktu tertentu. teori mengenai roh. Menurut christian Wolf. yaitu ontologi dan kosmologi umum.Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan suatu pengertian bahwa metafisika adalah suatu cabang filsafat yang membahas secara sistematis dan reflektif dalam mencari hakikat segala sesuatu yang ada dibalik hal-hal yang bersifat fisik dan bersifat partikular. juga dapat diartikan mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal yang ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal. Aristoteles menjelaskann tentang konsep 10 kategori yang meliputi substansi yaitu merupakan hakikat dari segala sesuatu yang bersifat fundamental dan merupakan dasar dari segala sesuatu. (3) aksi yaitu yang menyangkut perubahan dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi. (6) tempat segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa mengambil ruangan dimana sesuatu itu berada.

(2) Apakah watak dari pengetahuan itu? Adakah dunia yang real di luar akal manusia. bukan berdasarkan pengamatan empiris atau hukum rasio. relasi.akapn sesuatu itu berada dan kapan sesuatu itu tidak berada kembali. keadaan. Fungsi Bahasa dalam Epistemologi Epistemologi adalah salahsatu cabang filsafat yang pokok. Hal itu didasarkan pad akenyataan bahwa pemikiran-pemikiran tentang hakikat segala sesuatu dalam metafisika. 2002:10). Ungkapan-ungkapan metafisis yang demikian ini yang karena tidak mengacu pada realitas atau fakta yang bersifat empiris maka formulasinya sangat tergantung pada ungkapan-ungkapan bahasa yang digunakan dalam metafisika tersebut. melainkan berdasarkan analisis bahasa. seperti ruang. waktu. dan juga substansi. (8) keadaan yaitu bagaimana sesuatu itu berada disamping sesuatu lainnya. Dalam karya lainnya yang disebut 'peri Hermeneias' Aristoteles merupakan peletak dasar kelas kata yang secara ontologis juga mendasarkan pada sepuluh kategori tersebut (Kaelan. watak da kebenaran pengetahuan manusia. 2. secara etimologis istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani "Episteme" yang berarti pengetahuan. dan kalau ada dapatkah kita mengetahui? Hal ini semuanya merupakan problema penampilan terhadap realitas. Bilama dirinci persoalan-persoalan epistemologi meliputi bidang sebagai berikut : (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu? Hal ini semuanya merupakan problema asal pengetahuan manusia. . Berdasarkan bidang pembahasannya epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia yang meliputi sumber-sumber. Berdasarkan uraian tersebut maka metafisika berupaya untuk memformulasikan segala sesuatu yang bersifat fundamental dan mendasar dari segala sesuatu dan hal ini dilakukan oleh para filsuf dengan membuat eksplisit hakikat segala sesuatu tersebut dan hal ini hanya akan dilakukan dengan menggunakan analisis bahasa yang terutama karena sifat metafisika yang tidak mengacu pada realitas yang bersifat empiris.

tanpa tahun:8). Berdasarkan analisis problema dasar epistemologi tesebut maka dua masalah pokok sangat ditentukan oleh formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu sumber pengetahuan manusia yang pengetahuannya meliputi pengetahuan apriori dan aposteriori. Jawaban yang akan kita jumpai adalah bahwa pernyataan tentang pengetahuan itu benar berdasarkan definisi atau pernyataanpernyataan itu benar karna arti yang terkandung dalam artian-artian itu sendiri. Berkaitan dengan masalah pengetahuan a priori peranan bahasa sangat penting bahkan sangat menentukan. logika dan mungkin kita memiliki pengetahuan apriori yang lain. dan bagaimana sesuatu pernyataan it adalah benar (Poerwowidagdo. (Titus. misalnya 6 x 6 = 36. V16 = 4. 'akar' dan terminologi bahasa lainnya yang digunakan dalam pengetahuan apriori tersebut. 'tambah'. Justifikasi kebenaran dalam pengetahuan apriori tersebut seluruhnya diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi yaitu: . 1984:20). Pengetahuan apriori adalah pengetahuan tentang sesuatu itu adalah benar demikian tanpa didasarkan pada pengalaman indra. Namun demikian bagaimanapun juga bahwa hal itu memaksa kita untuk bertanya apakah yang menyebabkan sesuatu artian (term) itu mempunyai makna tertentu. matematika. sudut bertolak belakang sama besarnya dan pernyataan apriori lainnya secara pasti benar. Kalau kita menolak atau mengingkari kebenaran pernyataan-pernyataan itu maka berarti kita harus mengubah satu atau lebih artian terminologi bahasa yang digunakan dalam pernyataan-pernyataan pengetahuan apriori seperti 'kali'. Selain dalam pengetahuan apriori peranan penting bahasa dalam epistemologi berkaitan erat dengan teori kebenaran. dan pengalaman kita tidak akan pernah menyalahkan pernyataan-pernyataan tersebut. Persoalannya adalah bagaimana dapat dikatakan bahwa pernyataanpernyataan itu benar.(3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Hal ini semua merupakan problema kebenaran pengetahuan manusia. 'bagi'. oleh karena itu kebenaran-kebenarannya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. serta problema kebenaran pengetahuan manusia. Argumentasi pengetahuan apriori seperti tersebut di atasmerupakan suatu perdebatan yang besar tentang pengetahuan manusia.

Namun sekiranya orang lain yang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara . Kesalahan dalam merumuskan bahasa akan berakibat kesalahan dalam kebenaran pengetahuan. Bilamana dalam pernyataan di atas rumusan bahasanya menjadi 'beberapa orang pasti akan mati dianggap pengetahuan yang benar maka pernyataan kedua menjadi 'si Amin belum mati'. Berbeda dengan peranna bahasa dalam sistem kebenaran koherensi. Misalnya pernyataan 'semua orang pasti akan mati' adalah suatu pernyataan yang benar. Jikalau seseorang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara Republik Indonesia adalah Jakarta" adalah benar maka pernyataan itu adalah benar karena pernyataan itu dengan objek yang bersifat faktual atau Jakarta yang memang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. Pernyataanpernyataan yang benar tersebut sangat bergantung pada ungkapan yang dirumuskan melalui bahasa dan ungkapan-ungkapan tersebut terdiri atas pangkal pikir-pangkal pikir yang dirumuskan melalui bahasa juga. suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana hal itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek atu fakta yang diacu pernyataan tersebut. Justifikasi kebenaran menurut teori koherensi sangat ditentukan oleh suatu pernyataan yang terdahulu yang dianggap benar. peranan bahasa dalam sistem kebenaran menurut teori korespondensi. (3) Teori kebenaran pragmatis yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. maka pernyataan 'si Amin pasti akan mati' adalah pernyataan yang benar juga. Dengan kata lain perkataan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana memiliki konsekuensi pragmatis bagi kehidupan praktis manusia (Suriasumantri. maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sangat menentukan pada sistem kebenaran koherensi. (2) Teori kebenaran korespondensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikadung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut. 1984:55-59).(1) Teori kebenaran koherensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

Kelemahan teori korespondensi adlah apa yang kita persepsi secara langsung adalah persis dengan apa yang dipercaya oleh anggapan umum yaitu objek yang bersifat real dan terlepas dari subjek. sehingga bahasa sangat menentukan formulasi kebenaran tentang fakta. 1994:76).Republik Indonesia adalah Yogyakarta" maka pernyataan tersebut adalah tidak benar karena tidak didukung oleh objek yang terdapat suatu hubungan antara ide dan fakta (objek faktual) dan hubungan tersebut dilakukan melalui bahasa. Kelemahan sistem kebenaran teori korespondensi ini terletak pada kekurang sesuaian antara pengalaman indera dengan fakta empiris. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peranan analisis bahasa menjadi sangat penting bahkan sangat menentukan terutama dalam operasionalisasi penelitian sosial yang mendasarkan pada teori kebenaran korespondensi (Kaelan. Peranan ungkapan-ungkapan bahasa dalam penentuan kebenaran berdasarkan teori pragmatis. Konstatasi Lean tersebut mengisyaratakan pada kita bahwa objek pengetahuan yang bersifat fisis dan real tidak dapat begitu saja terwakili melalui rumusan bahasa. sebab objek fisis menurut teori korespondensi tersebut sejauh mana dapat dibuktikan didalam persepsi indrawi karena hanya merupakan data indrawi. Artinya. kata dalam dirinya sendiri adalah bunyi dan kita memberikan arti kepadanya dengan cara kita dalam menggunakannya (Lean. sehingga rumusan bahasa dalam mengungkapkan kebenaran dalam hubungannya dengan objek fisis menjadi sangat menentukan (lihat Hadi. Lean menekankan bahwa bahasa adalah nyata seutuhnya dan tidak mungkin memuat hipotesis yang tak dikenal atu menunjuk kepada hal yang tidak dapat diamati. tetapi hanya data indrawi dan bahasa harian mengandung teori-teori atau hipotesis yang tidak dapat dibuktikan mengenai benda-benda pengalaman. 2002:12-16). Konsekuensinya suatu pernyataan yang benar pada suat waktu tertentu dapat menjadi tidak benar manakala pernyataant . berkaitan erat dengan konsekuensi fungsional dalam kehidupan praktis. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Martin Lean yang mengemukakan bahwa kita tidak pernah mengalami objek. dan kalau demikian maka akan berakibat pada kesalahan perumusan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan tersebut. suatu pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Arti kata-katanya terletak dalam penggunaannya. 1963:16-24).

1984:4). melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam memahami dunia luar. Masalahnya sekarang.dalam masalah ini bahasa memiliki peranan mengkomunikasikan antara objek dengan kehidiupan manusia secara praktis. membuktikan sesuatu. Seseorang yang sedang melamun tidak termasuk kegiatan berpikir. mempertimbangkan. Oleh sebab memiliki fungsi komunikatif. 'berpikir dengan mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum' dan bentuk kegiatan ini sering diistilahkan dengan 'bernalar' dengan istilah lain menurut Plato dan Aristoteles bahwa berpikir adalah berbicara di dalam batin. kedua. Kegiatan bernalar dengan menggunakan hukum-hukum itulah yang disebut sebagai logika yang merupakan salah satu cabang filsafat praktis. juga memiliki fungsi kognitif dan emotif. bagaimana kemungkinan hubungan antara bahasa dengan pikiran manusia dalam upaya manusia memahami realitas secara benar (Aminuddin. misalnya seseorang yang berpikir akan membeli roti untuk dimakan. Rumusan bahasa yang melukiskan kebenaran tentang objek pengetahuan dapat menjadi tidak benar karena tidak memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo. pergi ke pasar dengan naik mobil atau becak.ersebut tidak memiliki konsekuensi kegunaan atau manfaat praktis bagi kehidupan manusia. 1988:36). . Demikian juga berpikir dapat digolongkan dalam dua pengertian yaitu pertama 'berpikir tanpa menggunakan aturan-aturan atau hukum-hukum'. Sebaliknya suatu rumusan bahasa yang tidak mengungkapkan kebenaran objektif dapat menjadi benar karena memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. Berpikir dalam pengertian ini adalah suatu bentuk kegiatan akal dan terarah sehingga dengan demikian tidak semua kegiatan manusia yang bersumber pad aakal tersebut berpikir. menganalisis. 3. baik secara objektif maupun secara imajinatif. Bahasa sebagai Sarana dalam Logika Dalam kehidupan manusia bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja.

Persoalan yang mendasar adalah bagaimana kegiatan bernalar manusia itu dapat dikomunikasikan kepada orang lain dan dapat mewakili kebenaran isi pikiran manusia. Dalam pengertian inilah maka peranan bahasa di dalam logika menjadi sangat penting. Dalam kaitannya dengan . adapun proposisi itu mengandung benar atau salah. Kata "itu" berfungsi menerangkan dan diberi tanda = maka pola proposisi itu menjadi sebagai berikut S=P. dan penalaran atau reasoning. proposisi atau pernyataan. proposisinya menjadi sebagai berikut :" Anjing hitam itu tidak menggonggong". Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa term tidak dapat ditentukan benar atau salah. di dalam pikiran tidak hanya terbentuk pengertian akan tetapi terjadi perangkaian term-term itu. kalau fungsi pengingkaran itu diganti dengan tanda = maka pola preposisi itu menjadi sebagai berikut : S=P. Pengertian adalah sesuatu yang abstrak dan diwujudkan dalam bentuk simbol bahasa. Proses pembentukan proposisi terjadi sedemikian rupa sehingga ada pengertian yang menerangkan pengertian yang lain. Oleh karena itu kerancuan sifat-sifat bahasa dengan sifat-sifat yang dilambangkannya akan menimbulkan sesat dalam penarikan kesimpulan. Dalam proses pembentukan proposisi pengertian (1) disebut subjek (S) adalah pengertian (2) yang menerangkan pengertian (I) disebut predikat (P). Misalnya pada contoh proposisi berikut ini:"anjing hitam itu menggonggong" proposisi itu terdiri atas pengertian "anjing hitam (S) dan "menggonggong" (P). Jikalah proses pembentukan proposisi itu terjadi pengingkaran maka. Rangkaian pengertian itulah yang disebut proposisi dan pengertian hanya terdapat dalam proposisi. Kegiatan penalaran manusia sebagaimana dijelaskan adalah kegiatan berpikir. Dalam proses pembentukan proposisi itu sekaligus terjadi pengakuan atau pengingkaran. adapun bentuk-bentuk pemikiran dari yang paling sederhana adalah sebagai berikut: pengertian atau konsep. Jikalau terjadi pengakuan maka proposisi itu akan menjadi "Anjing hitam itu menggonggong". Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran manusia. Berkaitan dengan kegiatan penalaran terutama dalam kaitannya dengan observasi empirik. Dalam pengertian ini sifat-sifat bahasa berbeda dengan sifat-sifat yang dilambangkannya yaitu pengertian. Pengertian yang dilambangkan dengan kata disebut sebagai term. atau sebaliknya ada pengertian yang mengingkari pengertian yang lainnya.

sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. Maka meskipun kata-kata sama. Jadi peran bahasa dalam penentuan term sangat mempengaruhi hasil dari penalaran tersebut. Misalnya pada contoh berikut: Ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM Ada seseorang yang adalah penjual sepatu Jadi: ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM dan penjual sepatu Kesimpulan yang kedua ini menyesatkan karena term "ada seseorang yang" ini tidak mengacu pada orang yang sama. Berdasarkan hasil analisis penyimpulan penalaran tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan. tanpa tahun:5). Walaupun term tidak dapat ditentukan bernar atau salah namun kekurang tepatan dalam menentukan simbol (bahasa) term. Misalnya dalam penyimpulan berikut ini. Hal yang sama juga kita jumpai dalam . Namun bilamana penentuan bahas term itu tidak maka akan berakibat sesatnya penyimpulan. Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda. (lihat Poerwowidagdo. Amin adalah mahasiswa UGM Amin adalah penjual sepatu Jadi: Amin adalah mahasiswa UGM yang penjual sepatu Penyimpulan ini benar karena unsur term menggunakkan bahasa yang benar yaitu kata Amin mengacu pada seseorang tertentu. walaupun keduanya secara formal bentuknya sama namun bentuk logisnya berbeda. Berdasarkan uraian di atas bahwa kesesatan dalam penalaran dapat diakibatkan karena bahasa dalam pembentukan term dan proposisi. dan setiap kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang. dalam kalimat yang berbeda dapat memiliki makna yang berbeda. sehingga kesimpulannya tidak dapat bersama-sama sebagai term yang lama.bahasa yang digunakan dalam pembentukan proposisi tersebut maka kekeliruan dalam menentukan simbol term dapat berakibat sesanya kesimpulan. maka dapat berakibat sesatnya kesimpulan. dan perhatian itu dikarenakan kekurangan tepatan dalam menentukan simbol bahasa pada term sebagai unsur dari proposisi.

Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama. berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa. Kesesatan karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Kesesatan karena term ekuivok Term ekuivok yaitu term yang mempunyai lebih dari satu arti. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti.kalimat. dan arti kalimat juga tergantung pada konteksnya. maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. a. Contoh : Tiap pagi pasukan mengadakan apel. Apel itu buah Jadi: Tiap pagi pasukan mengadakan buah. b. dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. Kalau dalam suatu penalaran sebuah . Justru lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari ketidakpastian arti dalam bahasa. Sebuah kalimat dengan struktur sintaksis tertentu dapat mempunyai arti lebih dari satu. sehingga arti kalimat yang sama dapat bervariasi dalam konteks yang berbeda. Kesesatan karena arti kiasan (metaphor) Ada analogi antara arti kiasan dengan arti sebenarnya. kesesatan itu akan hilang sama sekali. artinya terdapat kesamaan dan juga ada perbedaannya. Contoh : Sifat abadi adalah sifat Tuhan Joko adalah mahasiswa abadi Jadi: Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat Tuhan c. kalau penalaran itu diberi bentuk lambang. maka terjadilah kesesatan penalaran. Ketidaksaksamaan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat. Kesesatan karena aksen atau tekanan Dalam ucapan tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan.

. Demikianlah kiranya pernana bahasa dalam pembentukan term dan proposisi sangat menentukan benar atau sesatnya suatu hasil penalaran dalam logika (Soekadijo. 2). Kesesatan karena amfiboli (amphibolia) Amfiboli terjadi kalau kontruksi kalimat itu sedemikian rupa. 1985:12). bahwa betapapun terdapat berbagai macam perbedaan tentang perhatian filsuf terhadap bahasa. yang pasti terdapat hubungan yang sangat erat antara filsafat dengan bahasa karena bahasa merupakan alat dasar dan utama dalam filsafat (Liang Gie. Hal ini disebabkan karena penganutpenganut filsafat bahasa atau tokoh-tokoh filsafat bahasa masing-masing mempunyai perhatian dan caranya sendiri-sendiri. mahasiswanya atau mejanya? Kalau dalam sebuah penalaran kalimat amfiboli itu di dalam suatu premis digunakan dalam arti yang satu. C. sehingga artinya menjadi bercabang. 1964:1). Berbeda dengan cabang-cabang serta bidang-bidang filsafat lainnya. Contoh : Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan. meskipun juga terdapat persamaan di antara mereka. sedangkan dalam konklusi artinya berbeda maka terjadilah kesesatan karena amfiboli itu. Dalam sejarah perkembangan aksentuasi filsuf bahasa menunjukkan minat perhatian yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema filosofis pada zamannya masing-masing. filsafat bahasa dalam perkembangannya tidak mempunyai prinsip-prinsip yang jelas dan terdefinisikan dengan baik (Alston. Apa yang paling depan. terjadilah kesesataan karena arti kiasan. d. Luas Kajian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa merupakan cabang filsafat khusus yang memiliki objek materia bahasa. Namun demikian satu hal yang penting untuk diketahui.arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya. yaitu bahwa mereka kesemuanya menaruh perhatiant erhadap bahasa baik sebagai objek materia dalam berfilsafat maupun bagaimana bahasa itu berfungsi dalam kegiatan filsafat (lihat Poerwowidagdo. 1977:122).

Berdasarkan alasan tersebut diatas. 2002:22). Demikian juga hubungan bahasa dengan pikiran. Pertama: salah satu tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep (conceptual analysis). Dalam pengertian inilah pada abad XX filsafat bahasa memiliki aksentuasi pada filsafat analitik. kebudayaan. Antar alain hakikat bahasa secara ontologis sebagai dualisme bentuk dan makna. komunikasi manusia dan bidang-bidang lainnya yang prinsipnya berkenaan dengan pembahasan bahasa sampai hakikatnya yang terdalam (Kaelan. Ketiga: berkenaan dengan teori makna dan dimensi-dimensi makna pembahasan tentang lingkup inilah filsafat bahasa memiliki keterkaitan erat dengan linguistik yaitu bidang semantik. maka pembahasan filsafat bahasa meliputi masalah sebagai berikut. Keempat: Selain masalah-maslah tersebut diatas. . filsafat bahasa sebagaimana cabang-cabang filsafat lainnya membahas hakikat bahasa sebagai objek materia filsafat. hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk. bahkan lingkup pembahasan ini terlalu lama ditekuni oleh para filsuf. Oleh karena itu lingkup filsafat bahasa yang utama membahas filsafat analitik baik menyangkut perkembangan maupun konsep-konsep dari para tokohnya. dan lain sebagainya. Meskipun sebenarnya seorang filsuf dapat menggunakan analisisnya untuk setiap konsep dasar yang berkenaan dengan bahasa tetapi dallam kenyataannya kecenderungan yang ada ialah untuk memusatkan perhatiannya pada konsep-konsep semantis. oleh karena itu salah satu bidang filsafat bahasa adalah untuk memberikan analisis yang adekuat tentang konsep-konsep dasr dan hal ini dilakukan melalui analisis bahasa. Kedua: itidaklah tepat bilamana lingkup pembahasan filsafat bahasa itu hanya berkaitan dengan filsafat analitik. Lingkup lain filsafat bahasa adalah berkenaan dengan penggunaan dan fungsi bahasa. yaitu pembahasan tentang bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bagi tindakan manusia. Hal ini disebabkan karena sesuatu kata tertentu mempunyai arti atau makna tertentu dan yang nampak sedemikian rupa sehingga menimbulkan refleksi filosofis.

Pengantar Tatkala manusia untuk pertama kali mulai menyadari bahwa kepercayaanya melalui mitos primitifnya itu sia-sia. melainkan karena tidak mampu memahami .BAB II KAJIAN FILSAFAT TENTANG BAHASA A. bahwa alam tidak bisa dibujuk bukan karena enggan memenuhi permintaan manusia.

Kata tidak lagi memuat daya-daya misterius supernatural. namun demikian kata bukanlah tanpa arti dan tanpa kekuatan.bahasa manusia dan kesadaran itu tentunya menimbulkan goncangan jiwa. bahkan tertinggi. Demikianlah kiranya sejarah filsafat Yunani telah akrab dengan bahasa dalam mengungkapkan refleksi filosofisnya. kata tidak dapat mengubah kehendak dewa-dewa atau roh-roh. retan terhadap kesepian yang mendalam yang membawa manusia untuk merenungkan dunia sekitarnya. tidak lagi memiliki pengaruh jasmaniah atau adikodrati secara langsung. Kata tidak dapat mengubah alam benda-benda. Peristiwa ini mengharuskan manusia mengahadapi masalah baru yang merupakan titik balik dan krisis dalam hidup intelektual mampu hidup moralnya. akan tetapi secara logis kata diangkat ke tingakat lebih tinggi. Zaman Yunani . diganti oleh fungsi semantis. bukanlah letupan angin semata-mata yang menentukan kata bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. B. Bersamaan dengan itu merebak pula reaksi tokoh-tokoh Postmodernisme yang mengakar keberbagai bidang kehidupan manusia yang sekali lagi juga menggunakan media bahasa sebagai dasar pijaknya terutama konsep dekonstruksinya. Logos menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. pada era inilah para filsuf analitik berkiprah menjelaskan mengkritik dan mengungkapkan konsep-konsep filosofisnya melalui analisi bahasa. Diskursus melalui bahasa dan tentang bahasa dalam menyibak hakikat realitas telah marak dilakukan oleh para filsuf sejak zaman pra Sokrates. Kata bukanlah sekedar flatus vocis. Sekalipun terdapat perbedaan perhatian para filsuf abad pertengahan dengan zaman Yunani namun bahasa masih merupakan teman akrab dalam kegiatan refleksi filosofisnya. kelemahan dan ketidakjelasan konsep-konsep filosofis dapat dijelaskan melalui analisis bahasa. Dalam pengertian inilah dalam sejarah manusia mulai sadar melihat hubungan bahasa dengan realitas dari sudut yang berbeda. Sejak itu manusia menemukan dirinya dicekam kesendirian yang mendalam. Fungsi magis kata mulai memudar. Hal itu berlangsung sampai zaman modern dan kemudian disusul filsuf-filsuf abad XX justru semakin menyadari bahwa kekaburan. Secara fisik kata boleh dikatakan tanpa daya.

terutama Herakleitos yang oleh Aristoteles dalam metafisikanya disebut 'para fisiologis kuno' (hoi arkhaioi phisiologoi). Manusia dengan kemampuan kodratnya yang dianugrahkan oleh Tuhan berupanya memahami hakikat realitas segala sesuatu termasuk Tuhan sendiri. bahasa tidak dapat menggerakkan kehendak Dewa-dewa atau roh-roh. . bahasa adalah subtansi dan bentuk sehingga bahasa memiliki ciri logisnya. Masa Pra Sokrates Bangsa Yunani sejak lama dikenal sebagai bangsa yang gemar akan oleh pikirnya. kata bukanlah sekedar flotus vocis. Secara struktual fisis bahasa memang tanpa eneegi. 1989: 10). bahasa merupakan media mengungkapkan daya magis dalam komunikasinya dengan para Dewa dan kekuatan super natural lainnya. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi. semuanya berubah terus-menerus (Bertens. Demikianlah kemudian logos menjadi prinsip alam semesta dan prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. Namun demikian bagi bangsa Yunani sebelum para filsuf hadir dengan kemampuan refleksinya. namun ia mencari prinsip perubahan. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Menurutnya tidak ada sesuatu yang difinitif melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa 'sedang menjadi' yang terkenal dengan ungkapan 'panta rhei' artinya semua mengalir. di dalam dunia jasmani tidak ada sesuatupun yang tetap. namun yang menentukan bahasa bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. bahasa adalah bentuk makna. akan tetapi secara logis sematis bahasa dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dalam mengungkap rahasia alam dan segala sesuatu. namun demikian bahasa bukanlah tanpa arti dan tanpa potensi. Ia tidak sejutu bahwa diatas dunia terdapat ada yang murni sebagai dunia ideal. Dengan memudarnya fungsi magis dari bahasa bangsa Yunani mulai sadar bahwa bahasa tidak mampu mengubah alam benda-benda fisis.1. Bahasa bukanlah hanya letupan angin yang meluncur dari mulut manusia. Ekspresi mitis dan primitif ini membawa manusia pada kegoncangan jiwanya mereka menjadi semakin sepi dan merasakan adanya krisis intelektualnya. Dengan demikian Herakleitos tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. Kembara refleksi intelektual ini terjadi pada awal filsafat Yunani. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal.

Sebab berkat bumilah. Para filsuf alam memahami dan menafsirkan indentitas ini dari segi yang betul-betul bersifat material. kata 'logos' bukan semata-mata gejala antropologis. sebenarnya sama-sama menerima kebenaranya. Masalah "arti dari arti" merupakan masalah yang kontroversial. Namun kata tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. bahkan sampai dewasa inipun masalah itu terdapat beranekaragam pendirian yang dikemukakan oleh para filsuf. Bila kodrat manusia kita analisis. kata Empedokles kita melihat bumi. Kita harus memahami arti ucapan-ucapan agar dapat memahami arti dalam semesta. Terdapat beberapa kesulitan baru yang menyangkut masalah arti. Bilamana kita gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa dan bukanya melalui fenomena fisik belaka maka kita gagal pula dalam menemukan pintu gerbang filsafat. Parmenides menandaskan bahwa kita tidak dapat memisahkan ada dan berpikir. 1987: 70). Bahkan masa Herakleitos ini disebut sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgmann. biarpun mereka berbeda dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Pengetahuan tentang makrokosmos dimungkinkan karena mikrokosmos merupakan bagian sistem yang harmonis. Semua mazhab mulai dengan pengadaian-pengadaian bahwa fakta pengetahuan tidak akan dipertanggungjawabkan tanpa adanya identitas antara subjek yang mengetahui dan realitas yang diketahui. linguis maupun para psikolog Filsafat Yunani kuno hanya mampu memcahkan melalui prinsip yang secara umum diterima dan sangat mapan. dengan air kata melihat air. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos pun. bahkan dengan benci kita melihat benci yang menyedihkan. namun kata 'logos' juga mengandung kebenaran kosmis universal. karena keduanya satu dan sama. dan dengan cinta kita lihat cinta. 1974: 3). pemikiran filsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Cassirer. melainkan dipahami dalam fungsi semantis dan simbolis.Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara menduduki tempat sentral. Bilamana teori umum ini diterima maka persoalan kemudian adalah apa "arti dari arti" ? Secara antologis pertama-tama dan yang terpenting adalah arti harus diterangkan dari sudut ada. Dengan demikian. dengan api kita lihat api yang kadangkala merusak. Idealisme dan realisme. dengan udara kita lihat udara yang cerah. maka akan ditemukan di dalam dunia fisik. karena ada yang menjelaskan subtansi .

Kaum naturalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatakan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. misalnya leher botol. atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos. sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri dan karena itu tak dapat ditolak. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal bukan semata-mata konvensional. Pertentangan antara 'Fisei' dan 'Nomos' Perhatian para filsuf terhadap bahasa nampaknya menjadi semakin kental.merupakan kategori yang paling umum yang mengikat dan menyatukan kebenaran dengan realitas. Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa adalah bersifat alamiah (fisei) yaitu bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal usul usul. kebiasaan-kebiasaan berupa 'tacit agreement' yang artinya 'persetujuan dian'. o. nature. Kemudian hal itu dengan sendirinya dilanjutkan dengan upaya menginterpretasi makna. Bahasa bukanlah pemberian . u) metafora (hubungan antara sumber pertama dengan aplikasi kedua. ciri-ciri atau 'sound symbolism' baik bersifat imitatif dan sugestif (I. menyusun daftar kata-kata peniru bunyi ('onomatopoeia').28). Sepatah kata tidak dapat memberi arti pada suatu benda bila tidak ada sekurang-kurangnya identitas sebagian di antara kedua hal tersebut. kaki meja dan sebagainya). Perbincangan hakikat bahasa pada zaman itu menjadi semakin marak tentang terdapat bahwa apakah bahasa itu sebagai konversi atau bersifat alamiah (Kaelan. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. 2002:27. Jadi ada hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. Sebaliknya kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari hasil-hasil tradisi. Kaum naturalis selanjutnya mengutarakan bahwa bahasa bukanlah hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Karena hal ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dapat berubah dalam perjalanan zaman. dan saat itu kemudian munculah persoalahn filosofis yaitu apakah bahasa itu dikuasai oleh alam. Dari pengertian ini lahirlah usaha-usaha orang untuk mencari sumber sebuah kata atau disebut 'etimologi'.

1977:42). Protagoras sebagai tokoh kaum Sofis ini membedakan tipe-tipe kalimat atas 7 yaitu : narasi pertanyaan. Hal ini nampaknya mirip dengan konsep J. Mereka terkenal di seluruh Yunani karena keahliannya dalam bidang retorika. Austin yang membedakan bahasa atas tindakan dalam menggunakan bahasa.L. Demikianlah kiprah para filsuf bahasa yang mencoba menemukan hakikat bahasa. laporan doa. fasih lidahnya dan berkeliling dari kota ke kota untuk melatih kaum muda dalam bidang keahlian berpidato. Dalam kaitannya dengan filsafat bahasa kaum Sofis mengemukakan bahwa dalam membahas hakikat bahasa yang memainkan peranan utama bukanlah metafisika melainkan filsafat manusia. Kaum Sofis ini mulai menekuni bahasa mengadakan pembedaan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan maknanya mungkin berdasarkan strukturnya. dan undangan. perintah. Sesuai dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Protagoras bahawa manusia menjadi pusat semesta manusia adalah merupakan pusat segala-galanya. Demikian pula waktu itu filsafat juga berpusat di Athena. Memang diakui bahwa dalam kenyataannya bahasa tidak dapat dipasung melalui satu mazhab saja melainkan bahasa memang memiliki sifat konvensional namun juga terdapat ciri-ciri fisei walaupun hal itu meliputi jumlah yang banyak. Kaum Sofis Sekitar pertengahan abad 5 S. Pada waktu itu di bidang politik Athena memainkan peranan yang sangat penting di bawah pimpinan Perikles. Athena menjadi pusat baru seluruh kebudayaan Yunani. Dalam dialog Plato pendapat ini diwakili oleh tokoh yang dikenal saat itu yang bernama Hermogenes. melainkan bahasa bersifat konvensional. Untuk tujuan ini mereka mengembangkan cabang pengetahuan . sehingga penganut-penganutnya dinamakan kaum Sofis. Kaum Sofis menemukan pendekatan baru yang lebih sederhana untuk mendekati bahasa manusia.Tuhan. jawaban. Terdapatlah suatu golongan yang biasanya dinamakan Sofistik. Adapun Gorgia membedakan tentang gaya bahasa yang dewasa ini dikenal dalam studi bahasa secara luas (Parera.M. Mencari keterangan tentang bahasa dunia benda-benda fisik merupakan usaha yang sia-sia dan tidak berguna.

bukan hanya untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran saja. Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. senantiasa aktif mengembangkan dan mengangkat masalah-masalah filsafat untuk diperdebatkan secara kritis. 1980:54). maka muncullah persoalan dasar-dasar teori pengetahuan dan etika. melainkan untuk mendorong orang agar mengambil tindakan-tindakan tertentu (Cassirer. Sokrates dalam menerapkan metode dialektis kritis itu tidak begitu saja menerima suatu pengertian sebelum dilakukan pengujian-pengujian untuk . Mereka hanya mencapai kesepakatan mengenai satu hal kebenaran yang sesungguhnya tidak mungkin dapat tercapai. Proses dialek-kritis dalam hal ini mengandung suatu pengertian "dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (inteplay) antar ide (Titurs. Sokrates Kaum Sofis yang dikenal dengan kemahirannya dalam olah penggunaan bahasa terutama melalui retorikanya. retorika menduduki tempat sentral. Dalam diskusi filsafat mereka tidak memiliki kesepakatan tentang dasar-dasar umum yang berlaku bagi kedua teori tersebut. istilah dan kata menjadi sia-sia dan berlebihan. 1987:173). Sejalan dengan filsafat kaum Sofis yang dalam arena perdebatan filsaft tidak mudah menyerah. 2. Menanggapi kondisi kacau akibat kelicinan kaum Sofis tersebut Sokrates merasa terpanggil untuk meluruskannya dengan suatu metode "dialektis=kritis".baru yaitu 'retorika' . Tugas bahasa benda-benda. dalam definisi mereka tentang 'kebijaksanaan (sophia). oleh karena itu harus diragukan kebenarannya. yaitu segala sesuatu yang bersifat nisbi. Semua pertikaian tentang 'kebenaran' atau 'ketepatan' (orthotes). 1984:17). Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. Kaum Sofis inilah yang membawa perubahan terhadap corak pemikiran filsafat di Yunani yang semula terarah pada kosmos menjadi terarah pada teori pengetahuan dan etika (Hatta. Tugas bahasa yang nyata bukanlah untuk melukiskan benda-benda melainkan untuk membangkitkan emosi manusia.

Kaum Sofis yang lazimnya tidak begitu saja mudah menyerah dengan kefasihannya dalam setiap perdebatan ternyata mengakui keuletan dan akurasi metode Sokrates dalam menjelaskan makna melalui analisis bahasanya dialektis kritis. Misalnya ia bertanya kepada seorang seniman tentang apa yang dimaksud dengan 'keindahan'. dan kepada seorang pemimpin tentang makna 'keadilan' dan lain sebagainya (Bakker. Oleh karena itu ia selalu meminta penjelasan-penjelasan tentang sesuatu pengertian dari orang yang dianggap ahli dalam bidangnya. karena dianggapnya tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. kemudian Sokrates mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai dasar-dasar pemikiran para ahli itu tentang apa alasan mereka sehingga memiliki pandangan yang demikian. Akan tetapi jikalau lawan dialog itu tidak mampu mengajukan argumentasi yang benar mengenai pengertian yang diungkapkannya. maka ide yang telah teruji tadi diterimanya sebagai pengetahuan yang benar untuk sementara sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut melalu metode komparasi (perbandingan). Apabila diperoleh suatu jawaban yang memang benar yang didukung oleh alasan yang benar. Dengan menggunakan metode dialketis kritis inilah nampaknya Sokrates mampu mengatasi kemelut filosofis melalui perdebatan yang ketat. terutama yang ditimbulkan oleh kaum Sofis. Jadi Sokrates senantiasa menuntut para ahli untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar. maka ide yang dilontarkan akan disisihkan oleh Sokrates. 1987:20). Metodi Therapy yang dilakukan oleh Sokrates terhadap kekacauan makna yang merupakan penyakit kronis yang ditimbulkan oleh kaum Sofis ini nampaknya juga dilakukan oleh para filsuf analitik dalam menyembuhkan obrolan omong kosongnya kaum idealisme yang dianggapnya tidak bermakna.membuktikan benar atau salahnya. Metode yang digunakan oleh Sokrates dengan metode yang dikembangkan oleh kaum Sofis dengan retorikanya nampaknya memang terdapat perbedaan . Dengan metode itu tujuan utama Sokrates adalah untuk menjernihkan pelbagai problema filosofis yang selama ini dikacaukan oleh kaum Sofis. 1984:28). (Lihat Mustansyir. Setelah diperoleh penjelasan dari ahlinya. kepada seorang panglima tentang makna 'keberanian'. Dapat pula dikatakan bahwa dengan metode dialektis kritis ini Sokrates melakukan penyembuhan (therapy). yang terjadi ddalam bidang filsafat pada masa itu.

maka kita harus menelusuri kata-kata sampai pada sumber-sumbernya. Plato Plato seorang filsuf dari Athena dalam menuangkan karya-karya filosofisnya diwujudkan melalui bentuk dialog. Keberatan terhadap teori Plato ini menunjuk pad fakta bahwa ketika menganalisis kata-kata dalam pembicaraan sehari-hari. namun demikian keduanya memiliki kesamaan yaitu menjelaskan konsep-konsep filosofis melalui bahasa. Filsafat bahasa Plato inilah yang mampu menjembatani jurang antara namanama dengan benda-benda. Namun demikian tesis Plato tersebut selaman beberapa abad masih tetap bertahan. Persoalan dikotomi tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' tertuang dalam dialog Cratylus dan Hermogenes. Tanpa hubungan natural seperti itu. suatu kata dalam perbedaharaan bahasa manusia takkan dapat dipahami. Dari kata-kata direvatif kita harus kembali kepada kata-kata primer. Dalam persoalan inilah Plato mengemukakan diktrinnya yang disebut 'onomatopoeia’ (Cassier. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal tidak semata-mata konvensional. Kesulitan ini bagaimanapun juga dapat disingkirkan dengan menunjuk fakta bahwa bahasa manusia sejak semula rentan terhadap perubahan dan kerusakan. Bilamana kita hendak mengusut lebih lanjut ikatan yang menyatukan antara kata-kata dengan objeknya. 1987: 171).yang sangat tajam. Menurut prinsip ini sebenarnya etimologi tidak hanya . Ulasan Plato terhadap teori yang mengatakan bahwa semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi berakhir dengan ejekan dan karikatur. 3. Bila pengadaian ini bersumber pada teori umum pengetahuan bukannya pada teori bahasa maka diperlukan suatu upaya pemecahan. Bahkan sampai dewasa ini kepustakaan bahasa masih merupakan bahan pembahasan walaupun tidak merupakan satu-satunya teori dalam ilmu bahasa. kita harus menemukan 'etimon' atau bentuk murni dan bentuk asal dari tiap-tiap kata. Maka tidak boleh berhenti pada keadaan yang sekarang. kita sering sungguhsungguh tidak bisa menentukan kemiripan yang diduga ada antara bunyi-bunyi dengan benda-benda.

Pengertian 'onomata' jamaknya 'onoma' dapat berarti nama (dalam bahasa sehari-hari). Platolah yang pertamatama membedakan kata dalam 'onoma' dan 'rhema' (Parera. kategori demikian pula tentang filsafat bahasa.menjadi dasar dalam linguistik melainkan justru menjadi salah satu dasar filsafat bahasa. subjek dalam hubungan subjek logis. Aristoteles . Aristoteles Aristoteles seorang filsuf yang jenius dari Stagira yang memiliki karya yang cukup banyak dan pemikiran-pemikirannya sampai saat ini masih relevan dengan ilmu pengetahuan. Nampaknya Plato telah banyak menuangkan konsep-konsepnya berkaitan dengan hakikat bahasa yang dalam kenyataannya sampai saat ini merupakan dasar pijak bagi pengembangan imu bahasa. verbal. bahwa bahasa pada hakikatnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan 'ono mata' dan 'rhemata' yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. 1983 : 43). verb. Ia sebagai salah seorang dari padepokan Akademia Plato di Athera dan dia belajar samapai Plato meninggal. maupun kalimat. nominal menurut istilah tata bahasa. melainkan dalam bendabenda jasmani sendiri. Aristoteles mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa terdapat sesuatu yang tetap akan tetapi tidak dalam suatu dunia ideal. 'Rhemata' jamaknya 'rhema' dapat berarti frase atau ucapan dalam bahasa sehari-hari. Pemikiran inilah yang merupakan pangkal perbedaan konsepnya dengan pemikiran filosofis gurunya. logika. Teori Aristoteles disebut dengan istilah 'hilemorfisme' yang berasal dari bahasa Yunani 'hyle' dan 'morphe' yang secara hafiah disebut 'teori bentuk-materi'. Misalnya tentang prinsip kausalitas. Lebih lanjut Plato mengemukakan pemikiran filosofisnya tentang bahasa dalam dialog Cratylus. 4. nomen. dalam istilah tata bahasa dan 'rhema' merupakan anggota dari 'logos' yang berarti suatu segmentasi bahasa baik berupa frase klausa.

susunan fikir. Materi adalah prinsip yang sama sekali tidak ditentukan. tak satu bagianpun mempunyai makna sendiri. 'onoma' adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. Selain itu Aristoteles juga mengembangkan prinsip keteraturan dalam bahasa sehingga bahasa memiliki paradigma yang disebut dengan 'analogi'. keterangan. batasan. Dalam pengertian inilah maka Aristoteles mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkrit (Bertens. 1975:21). Pandangan Aristoteles tentang hakikat bahasa itu nampak mendasarkan pada konsep filosofisnya tentang 'hilemorfisme'. 'rhema' dan 'syndesmoi'. Demikian juga dalam membahasa tentang hakikat bahasa Aristoteles juga mendasarkan pada prinsip metafisisnya. karena sebagaian tamabahan menandai adanya (waktu sekarang) dalam diri seseorang. Bentuk dan materi dalam pengertian ini bukanlah dalam arti empiris indrawi melainkan dalam pengertian prinsip-prinsip metafisis. dengan bersama menandai waktu yang dimaksudkan misalnya 'kesehatan' adalah 'onoma' tetapi 'adalah sehat' adalah 'rhema'. Materi adalah suatu kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk. penyimpulan langsung dan sesat pikir (Liang Gie. dan selalu merupakan tanda untuk apa yang dibicarakan tentang sesuatu yang lain. 1984: 21). Pemikiran Aristoteles tentang filsafat bahasa tidak bisa dipisahkan dengan logika yang dalam karyanya disebut 'organon' secara luas dikenal dengan istilah logika tradisional.memberikan konstatasinya bahwa setiap benda jasmani terdiri atas dua hal. tak ada satu bagianpun dari padanya memberi tanda secara sendiri-sendiri. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. Dalam salah satu karyanya Peri Hermeneias yang mengemukakan tentang kwalifikasi kata yaitu 'onoma'. Selain itu yang dimaksud dengan pengertian 'syndesmoi' adalah 'penghubung partikel' yang dalam pengertian linguistik sering diistilahkan dengan konjungsi. yang secara sederhana bahwa hakikat bahasa juga meliputi hakikat materi dan bentuk (Arens. Bilamana kita . yaitu bentuk dan materi. Dalam 'organ' Aristoteles menjelaskan bahwa logika itu meliputi pengertian dan penggolongan artian. yang sama sekali terbuka. 1989 : 15). Dua prinsip ini tidak dapat hanya ditunjukkan dengan jari melainkan harus diandaikan bahwa kita mengerti benda-benda jasmani.

. Analogi dianut oleh kelompok Plato dan Aristoteles dan diterapkannya dalam karya-karya mereka. 'cow – cows' dan lain sebagainya.analisis lebih jauh dasar kerja penalaran logika tradisional sangat mendasarkan pada term yang diwakili oleh simbol bahasa. Dalam pengrtian inilah bahasa itu pada hakikatnya bersifat alamiah (Parera. Mereka menunjuk beberapa bukti dalam kenyataan sehari-hari mengapa ada sinonimi dan homonimi mengapa ada unsur kata yang disebut netral dan jika bahasa itu bersifat konvensional semestinya kekacauan itu diperbaiki. satu paradigma. demikian pula manusia juga memiliki keteraturan dan hal itu terefleksi melalui bahasa. Proses pembentukan proposisi. Keteraturan bahasa membawa konsekuensi dapat disusun suatu tata bahasa. namun demikian sampai saat ini kedua pendapat itu masih relevan dengan realitas bahasa terutama dalam pengembangan bidang ilmu linguistik. Kiranya pendapat kaum anomalis ini masih digunakan sebagai salah satu ciri bahasa bahwa bahasa itu pada hakikatnya arbitrer (mana suka) karena sifat bahasa yang alamiah tadi. Golongan yang berpendapat analogi menyatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan. 'girl – girls'. 1983: 42). Memang dapat kita akui bahwa perdebatan kedua pendapat itu akan berjalan seperti rel kereta api. Dikotomi 'analogi' dan 'anomali' Pembahasan tentang hakikat bahasa di Yunani ditandai pula dengan munculnya teori 'analogi' dan 'anomali' yang nampaknya berpegangan pada khitohnya masing-masing. premis. Prinsip analogi ini sebenarnya merupakan transformasi keteraturan logika dan matematika ke dalam bahasa. Dalam pengertian inilah sebenarnya Aristoteles telah turut andil dalam meletakkan dasar-dasar filsafat bahasa. Analogi secara matematis berdasarkan proporsi seperti 6:3 sama dengan 4:2 sama dengan 2:1 misalnya jamak dalam bahasa Inggris 'book – books'. Oleh karena itu menurut kelompok analogi bahwa bahasa itu teratur dan disusun secara teratur pula. Sebaliknya kaum anomalis berpendapat bahwa bahasa dalam bentukbentuknya tidak teratur (irreguler). batasan dan terutama penyimpulan yang benar senantiasa mendasarkan pada analisis bahasa.

Semua perubahan dari onoma sesuai dengan fungsinya tidak mereka akui hal itu hanya sebagai kasus saja. Nama stoa menunjuk kepada tempat belajar yaitu suatu serambi bertiang. (2) makna. Mereka memberikan contoh tentang kata Yunani 'gramma' berarti huruf itu sendiri. Mereka membedakan antara legein (tutur) bunyi yang mungkin merupakan bagian dari fonologi dari sebuah bahasa tetapi tidak bermakna. kaum Stoa telah membedakan antara studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara gramatika. Lalu mereka membedakan atas kasus nominatif-genetif. Namun demikian satu hal yang perlu dicatat bahwa sumbangan kaum Stoa terhadap filsafat bahasa cukup besar terutama dalam menentukan prinsip-prinsip analisisnya secara sistematis. Hal ini disebabkan logika Aristoteles dengan silogismenya yang hanya mempergunakan kode huruf A. dan ini adalah bunyi atau materi bahasa. Menurut kaum Stoa kasus itupun onoma pula yang sesuai dengan fungsinya. B. tanda tulisan untuk huruf itu dan nama untuk huruf itu. Pertama. tempat Zeno memberikan pembelajarannya. phone. Mazhab Stoa ini berdiri atas kelompok filsuf yang ahli logika sehingga pandangan-pandangannya tentang hakikat bahasa tidak dapat dilepaskan dengan rasio yang mendasarkan pada logika. sign yang disebut semainon. Langkah pertama kaum Stoa untuk mendeskripsikan tentang hakikat bahasa terutama tentang makna dengan membedakan tiga aspek utama bahasa : (1) tanda atau simbol. dan C. Mazhab Stoa Mazhab Stoa didirikan oleh Zeno dari Kriton sekitar menjelang abad keempat SM. mereka telah menciptakan beberapa istilah teknik khusus untuk berbicara tentang bahasa.5. Kedua. Aristoteles hanya mengakui adanya onoma dan onomata. atau lekton. yang diistilahkan dengan semainomenon. (3) hal-hal ternal yang disebut benda atau situasi yang diistilahkan dengan to pragma atau to tungchanon. dan tidak menggunakan bebtuk-bentuk onoma secara praktis dalam contoh. makna mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan analisis logika Aristoteles yang sering tidak jelas maksudnya. Kaum Stoapun juga menaruh perhatian terhadap bunyi. Ketiga. kedua kemajuan tersebut ada hubungannya dengan perbedaan kaum Stoa dan logika peripatetik dari penganut Aristoteles. datif- . Dalam bidang lekta.

dan arthron. Apa yang mereka sebut nominatif itu menurut Aristoteles disebut onoma saja. hai. yang dalam pengertian sekarang disebut bentuk infinit dan finit. tunggal dan jamak. syndesmoi. Kaum stoa dalam hal ini membedakan rhema dan kategorrhema. Zaman Abad Pertengahan Alexander Agung yang dalam sejarah telah mendirikan suatu kerajaan besar. seperti dalam bahasa Yunani : ho. Arthron ialah kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah. netral. antara lain dengan dikembangkan "kebudayaan helenistis". Pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat bahasa walaupun masih memiliki ciri spekulatif namun telah mulai mengarah pada dasar-dasar linguistik. kerja.akusatif dan sebagainya. Jika masuk dalam suatu kalimat akan berbentuk kategorrhema. he. feminin. yang meliputi juga Romawi maupun Yunani. 1983:44. Walaupun Aristoteles membedakan rhema dalam 'tense' ia berbicara tentang sesuatu yang belum komplit. ta.45). Kata benda disebut kata yang mengalami infleksi yang dibedakan atas kata benda dan nama diri. Pendapat kaum Soa ini memang merupakan rintisan ke arah pengembangan suatu tata bahasa walaupun sifatnya masih spekulatif (Parera. Hal yang sama juga berlaku bagi rhema. yang menyatakan jenis kelamin maskulin. Kaum stoa juga membedakan jenis kata. Syndesmoi disebutkan sebagai kata yang tidak mempunyai akhir kasus. hoi. Dalam hal ini mereka memberikan pengertian bercampur antara bentuk morfologis dan semantik. sedangkan rhema disebutkan sebagai kata yang menggambarkan satu peristiwa dan tidak mengalami kasus. yang mula-mula empat kemudian lima : benda. Hal ini bukan berarti kehancuran kebudayaan dan filsafat Yunani melainkan tetap berkembang dengan subur mengingat sang Raja sendiri menaruh perhatian terhadap kebudayaan. Dalam kenyataan sejarah perhatian orang Romawi terhadap bahasa sangat dipengaruhi bahkan meneruskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani. Bentuk ini kemudian kita kenal dengan nama artikel dan kata ganti penghubung. Pengembangan dan . to. C.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pemikiran-pemikiran filsuf Yunani sangat mewarnai konsep-konsep tiap orang Romawi. dan berikut ini beberapa bagian yang penting dari karya Varro. seperti bahasa Indo Eropa. Dengan metode-metode linguistik komparatifnya ia memberikan pula etimologi dalam bidang kata primer derivasi serta infleksi.pemikiran tentang bahasa di Romawi diserahkan kepada seorang tokoh yang bernama Crates seorang filsuf dan sekaligus seorang ahli gramatika golongan Stoa. Padahal dalam kenyataannya ada pula bentuk-bentuk bahasa kedua bahasa tersebut harus direkonstruksikan kembali kepada satu bahasa purba. Ia memberikan contoh perubahan bunyi 'duellum'menjadi 'bellum' = perang. Etimologi Dalam bidang etimologi Varro mencatat perubahan bunyi dari zaman ke zaman dan perubahan makna dari sebuah kata. 1. Kiranya dalam karya-karyanya yang ada. Varro juga membahas hal yang sama. Perubahan makna umpamanya 'hostis' semula berarti 'orang asing' kemudian berubah menjadi 'musuh'. walaupun beberapa contohnya kurang tepat. ialah menganggap semua kata yang berbentuk sama adalah pinjam langsung. Pengertian Kata . Pemikiran Varro tentang Hakikat bahasa Dalam perkembangan karyanya Varro terlibat juga dalam perbincangan spekulatif yang dikotomis di Yunani yaitu antara pandangan analogi dan anomali. Karya besar filsuf Romawi tentang filsafat bahasa adalah Varro yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan ahli bahasa. Karya Varro yang terbesar adalah "De Lingua Latina" terdiri atas 25 jilid. Satu hal yang merupakan suatu kelemahan dalam etimologi ini.

yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum. Kasus dan Deklinasi Dalam hal kasus perihal penggunaan dan maknanya dalam bahasa Latin ada enam kasus.kata kerja --. Kasus yang keenam adalah ablativus. dativus (menyatakan asal. Ia menyusun satu sistem infleksi dari kata Latin dalam empat bagian sebagai berikut. 1983: 52). generativus (menyatakan kepunyaan). Dalam hal deklinasi. pokok). Dalam menyusun bentuk indikatif 'tense'. Varro membedakan juga deklinasi dari bentuk- . Varro telah membahas lebih jauh dibandingkan dengan pada masa Yunani.kata benda (termasuk sifat) --. Jadi terdapat bentuk-bentuk teratur dan tidak teratur.adverbium Keempat kelas kata ini dikategorikan kembali kedalam (yang membuat perntanyaan yang menghubungkan dalam sintaksis kata benda dan kata kerja. Konsep kasus inilah yang banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan studi bahasa. jika ia mempunyai deklinasi yang biasa dipakai semua orang menurut ketentuan dan aturan. Yang disebut kata ialah bagian dari ucapan. Berbeda dengan bahasa Yunani yang hanya mengenal lima kasus. dan yang menjadi anggota bawahan dari kata kerja. Dengan kata kerja ia nampaknya bersimpati terhadap kaum Stoa. Jadi ada kasus : nominativus (Bentuk primer. dari). 'time'. adverbium).Menurut Varro perihal pembahasan kata sebenarnya terdapat bentukbentuk yang terjadi secara analogi dan anomali terutama dalam bahasa Latin. 'aspect'. Dalam hubungan ini penting juga untuk diketahui pengertian kata yang dikemukakan oleh Varro. Konsep morfologi Dalam bidang morfologi Varro menunjukkan orisinalitasnya dalam pembagian kelas kata. Yang berinfleksi kasus Yang berinfleksi 'tense' Yang tidak berinfleksi --. Ia menyusun satu perbedaan antara 'tense'. ia membedakan pula atas aktif-pasif (Parera.

Konsep Priscia Perkembangan pemikiran tentang hakikat bahasa lama kelamaan menjadi semakin sempurna dan berkembang ke arah sturdi ketatabahasaan. Konsep Priscia ini merupakan model yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa sesudahnya. Secara singkronis ia membedakan pula ada dua macam deklinasi yaitu : deklinasi naturalis atau deklinasi alamiah ialah perubahan sebuah bentuk yang terjadi dengan sendirinya dan sudah terpola. apakah ia bunyi articulata atau inartikulata. Nilai dari bunyi ini disebut potestas. Para penutur kadang-kadang harus sadar akan bagaimana ia harus melaksanakan suatu deklinasi irreguler. Jika disebut tata bahasa tradisional sebenarnya merekalah sumbernya. demikian juga mereka juga membicarakan segi-segi formal dari bentuk-bentuk bahasa. Hal ini dianggap penting karena terdapat dua alasan yaitu : (1) konsep Priscia merupakan model tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya. Konsep deklinasi tersebut yang mempengaruhi cara kerja penemuan etimologi. 2. Deklinasi voluntaria yaitu satu perubahan bentuk dari kata-kata secara morfologis yang bersifat selektif dan manasuka. Deklinasi naturalis pada umumnya reguler dan dapat diketauhi masyarakat pemakai bahasa dengan serta merta tanpa ragu-ragu. Kata adalah bagian yang minium dari suatu ujaran dan harus diartikan terpisah . yaitu bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna. Fonologi dan Morfologi Priscia Dalam bidang fonologi priscia membicarakan tulisan atau huruf yang disebutnya litterae. Akan tetapi bunyi yang disebut vox illitterata adalah bunyi yang tidak dapat ditulis. Bahkan konsep model Priscia inilah yang merupakan model dan contoh untuk penulisan dan pendeskripsian tatabahasa-tatabahasa di Eropa dan di dunia lainnya. Nama dari huruf-huruf ini adalah figurae. vox litterata adalah bunyi-bunyi yang dapat dituliskan. Menurut konsep morfologi Priscia dijelaskan bahwa kata disebut dictio. Litterae merupakan bagian yang terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. karena merekalah yang memasukkan semantik sebagai norma utama dalam deskripsi bahasa. Priscia membedakan pula atas vox articulata. (2) teori-teori taa bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional.bentuk derivasi dan infleksi.

frase dan unsur lainya yang dewasa ini disebut bidang sintaksis disebut sebagai oratio. Penentuan kelas kata tersebut sebagai unsur dari pembenetukan satuan bahasa lainnya yaitu kalimat. Verbum menyatakan perbuatan atau dikenal perbuatan. Tingkat berikutnya pembahasan bahasa yang menyangkut hubungan kata dengan kata. Menurut Priscia oratio yaitu . Pronomen : yaitu jenis kata yang dapat menggantikan nomen biasa dan biasanya menunjukkan orang pertama. Adverbium : keistimewaan adverbum ini ialah selalu dipergunakan dalam konstruksi bersama dengan verbum dan secara sintaksis dan semantik merupakan atribut verbum. 2).dalam makna sebagai satu keseluruhan. dan oleh karena itu berbeda dari keduanya. Cinjuctio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dan secara sintaksis menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan antara unsur satu dengan lainnya. 3). Mengambil kategori verbum dan nomen (tense dan kasus). Dalam hal ini Priscia memiliki suatu kekeliruan bahwa seakan-akan bentuk vires bentuk Latin tidak dapat dianalisis atau dipecah-pecah kembali dalam bentuk yang lebih kecil lagi. 5). Interjectio : jenis kata yang secara sintaksis terlepas dari verbum dan menyatakan perasaan atau sikap pikiran 8). Dalam bidang morfologi inilah Priscia membedakan jenis kata dalam delapan macam yaitu : 1). 4). Kata benda yang menunjukkan subtansi dan kualitas. tetapi tidak berinfleksi kasus. modus. Nomen : dalamnya termasuk kata sifat menurut klasifikasi sekarang. Participium : yaitu sebuah kelas kata yang selalu berderivasi dari verbum. Praepositio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi juga dipergunakan sebagai kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus atau dalam kompositum. kedua dan ketiga. 6). Verbum : verbum adalah jenis kata yang mempunyai infleksi untuk menunjukkan 'tense'. 7).

tata susun kata yang berselang dan menunjukkan kalimat itu selesai. Hal yang menarik dari segi oratio yaitu bahwa sebuah kata itu dapat menjadi kalimat secara penuh. Demikianlah kiranya pemikiran tentang bahasa kelompok Priscia yang besar pengaruhnya terhadaps tudi bahasa pada periode-periode berikutnya (Parera, 1983, 54-56); (Kaelan, 2002: 24-43).

D. Zaman Abad Modern Ciri yang utama pada zaman abad pertengahan adalah masa-masanya filsuf Kristiani terutama kaum Patristik dan Sekolastik sehingga wacana filosofis juga sangat akrab dengan teologi. Selain di Eropa perkembangan pendidikan diwarnai oleh sistem pendidikan Latin. Semua orang yang mencapai pendidikan tinggi baik di awam mapun rohaniawan bergantung pada pengetahuan mereka mengenai bahasa Latin. Dengan demikian bahasa latin menduduki tempat yang terhormat terutama dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat maupun teologi. Pendidikan zaman abad pertengahan dibangun dalam 7 sistem sebagai pilar utamanya dan bersifat liberal. Ketujuh dasar pendidikan liberal tersebut dibedakan atas Trivium, yang mencakup grammatika dialektika (logika) dan retorik, serta Quadrivium, yang mencakup aritmetika, geometrika, astronomi dan musik. Pada zaman ini perkembangan filsafat bahasa menuju pada dua arah yaitu, pertama dengan ditentukannya grammatika sebagai pilar pendidikan lain serta bahasa latin sebagai titik sentral dalam khasanah pendidikan maka pendidikan spekulatif filosofis memberikan dsar yang kokoh bagi ilmu bahasa. Kedua oleh karena sistem pendidikan dan pemikiran filosofis pada saat itu sangat akrab dengan teologi, maka analisis filosofis diungkapkan melalui analisis bahasa sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas. Kemudian dasar-dasar yang mendukung perkembangan ilmu bahasa antara lain konsep pemikiran kaum Modistae dan konsep bahasa spekulativa.

1.

Pemikiran Thomas Aquinas Thomas Aquinas atau dikenal juga dari Aquino dilahirkan di Italia dan pada

usia 19 tahun ia masuk Ordo Dominikan. Thomas telah menghasilkan banyak

karya dansuatu edisi modern telah mengumpulkan semua karyanya terdiri atas 34 jilid. Pemikiran filsafat Thomas diwarnai oleh nuansa teologi dan selain itu Thomas banyak memberikan komentar terhadap filsafat Aristoteles, sehingga tidak mengherankan banyak karya-karyanya diwarnai oleh filsafat Aristoteles. Pemikiran Thomas yang lekat dengan teologi tersebut dalam sistematika filsafatnya merupakan karya terbesar pada periode abad pertengahan terutama karyanya yang berjudul summa Theologiae (ikhtisar teologi) (Bertens, 1989:35). Untuk menemukan suatu kebenaran pada suatu masalah tertentu menurut Thomas perlu memahami terlebih dahulu dengan baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar yang lain. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles, yang mengembangkan semangat dialektika Sokrates. Menurut Thomas kesemuanya harus diandaikan bahwa mereka mempunyai dasar bag pendapatnya. Segala pro dan kontra dari siapa pun harus diangkat secara serius, dan dideskripsikan seobjektif mungkin. Argumen itu diuji dari segala pihak, dari teks asli maupun interpretasi-interpretasi pemahaman dan penilaian kritis dan lebih mendalam mengenai persoalan dan prinsip-prinsip yang bersangkutan. Melalui analisis bahasa ia mengetengahkan kelemahan, kekurangan dan keberatan-keberatannya pada gilirannya mengetengahkan pandangannya atas kebenaran tersebut. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa pemikiran filosofis Thomas sangat dipengaruhi terutama oleh filsafat Aristoteles. Pertama-tama Thomas berusaha mengolah filsafat Aristoteles. Hampir semua karya filosofisnya merupakan komentar atas karya-karya besar Aristoteles. Ia mendalami dan menyelami pemikiran Aristoteles dan kemudian juga memformulasikannya melalui pandangan filosofisnya. Sehingga tidak mengherankan pemikiran filosofisnya diwarnai oleh logika Aristoteles sebagai metode berpikirnya. Titik tolak tradisi yang kedua yang diangkat secara kritis dan mendasar oleh Thomas yaitu pemikiran Platonis. Ia senantiasa menganalisis prinsip-prinsip filosofisnya yang mendasari ajaran mereka kemudiann daam keragka pemikiran filosofis ajaran-ajaran platonis disistematisir berdasarkan kerangka logika Aristoteles.

Analisis Bahasa Banyak kalangan historian memberikan ciri perkembangan pemikiran filsafat pada abad pertengahan diwarnai oleh mercusuar tradisi Skolastik, sehingga tidak mengherankan bahasa Latin menduduki posisi sentral dalam wacana intelektual filosofis dan teologi. Analisis bahasa praktis menjadi metode yang akrab dalam penuangan pemikiran pemikiran filosofis. Dalam pemikiran filosofis Thomas menggunakan ungkapan-ungkapan dengan melalui bahasa yang bersahaja, terang dan berbentuk murni. Analissi abstraksi sebagai metode khas filsafat dikembangkannya, yaitu dengan meninjau suatu segi atau sifat tersendiri dan kemudian menyisihkan segala aksidensia dan akhirnya sampai pada substansi atau hakikat segala sesuatu. Konsep pengertian sepergi ’kodrat’, nafsu dan lain sebagainya dapat dijelaskan dengan tepat. Bahasa sastra yang bersifat puitis senantiasa dihindarinya. Namun demikian bukan berarti Thomas mengelak dari fungsi bahasa yang bersifat fleksibel serta kelenturan makna bahasa. Hal ini nampak dalam mengungkapkan analisis filosofisnya melalui analogi dan metafor. Memang benar diakui oleh banyak kalangan intelektual bahwa dalam setiap khasanah ilmup engetahuan memiliki istlah-istilah teknis dan artifisial tertentu yang memang berlaku sah dan bermakna dalam konteks ilmu pengetahuant ertentu tersebut. Namun demikian bahasa adalah tepat dan kaya dan merupakan sarana yang mutlak bagi presisi ilmiah. Para ahli juga sependapat bahwa terdapat suatu perbedaan antara struktur sintaksis dengan struktur logis, yang terdapat dalam makna bahasa. Untuk mencapai suatu kebenaran dalam sistem pemikirannya Thomas, menggunakan analisis bahasa melalui penalaran logis dengan menggunakan prinsip deduksi yang dilakukan dengan melalui analisis premis. Premis dalam proses deduksi adalah merupakan suatu pernyataan yang mutlak benar, yang memberikan informasi tentang kenyataan (Copleston, 1958:28). Premis yang demikian ini merupakan suatu prinsip yang jelas dengan sendirinya (principium per se notum), sekali istilah dipahami semua orang yakin akan kebenarannya. Hal itu meliputi beberapa macam bentuk premis deduktif yaitu: Definisi, yaitu pernyataan yang predikatnya menyatakan hakikat subjek. Bagi Thomas definisi itu sangat sentral, dan ia sangat cermat mencarinya, misalnya definisi ’keadilan’. Thomas secara konsistem berusaha memberi

kepada segala sesuatu kerangka skematis yang menyajikan pemahaman. Ia mulai dari pemahaman umum misalnya tentang ’ada’, kemudian dengan perbandingan pertentangan, analisis istilah dan sebagainya ia memberikan definisi unik yang hanya berlaku bagi hal yang akan dirumuskannya. Paling ideal definisi yang mampu memberikan rumusan menurut prinsip ’genus et species’. Namun demikian juga dapat ditandai menurut salah satu sifat, atau salah satu sebab atau menurut salah satu prinsip, dengan demikian definisi itu dapat ditentukan. Prnsip yang self-evident, yaitu suatupernyataan yang predikatnya merupakan sifat yang dalam analisis nampaknya mutlak berlaku bagi subjeknya, misalnya prinsip kausalitas (Copleston, 1955:29). Dapat juga keseluruhan yang terbatas itu lebih besar daripada masing-masing bagiannya. Pengetahuan akan istilah-istilah dalam prinsip itu memang secara psikologis berasal dari pencerapan, tetapi evidensinya muncul langsung dalam analisis hubungan predikat dan subjek, jadi secara logis bersifat ’apriori’. Prinsipprinsip yang self-evident itu berhubungan satu sama lain, akhirnya dikembalikan pada prinsip utama ’yang ada tidak dapat sekaligus tidak ada’. Prinsip yang lebih bersifat sekunder, yaitu dengan memakai prinsip-prinsip metafisis lainnya. Misalnya, ’yang baik ialah sebagaimana berlaku dalam kebanyakan hal’, ’kodrat selalu mengarah ke kesatuan’, yang lain merupakan hubungan substansi dan aksidensia atau hubungan potensi dengan aktivitas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tudingan kepada filsafat Skolastik Thomas yang dianggapnya menjadi verbalisme yang kering, suatu sitem berpikir yang tertutup yang diabadikan melalui sistem hafalan belaka, walaupun sebenarnya tuduhan itu tidak sepenuhnya benar (Bakker, 1984:60,64). Walaupun tidak memiliki hubungan sebab akibat yang langsung antara sistem pemikiran Thomas dengan Atomisme Logis nampaknya memiliki kemiripan terutama menggunakan ungkapan bahasa melalui logika dalam melakukan analisis konsep-konsep filsafat. Hanya perbedaan yang esensial adalah Atomisme Logis menolak metafisik karena ungkapan metafisis sebenarnya tidak mengungkapkan keberadaan fakta apa pun; sedangkan Thomas justru analisis logis melalui ungkapan-ungkapan bahasa digunakan dalam upaya untuk memberikan analisis ungkapan-ungkapan metafisis maupun fakta.

Analogi dan Metafor Anggapan yang menyatakan bahwa filsafat Thomas bersifat verbalisme yang kering, nampaknya tidak sepenuhnya benar karena dalam kenyataannya Thomas mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofisnya tidak hanya melalui logika Aristoteles melainkan juga mengangkat analogi dan metafor. Dalam filsafat Thomas doktrin tentang 'analogi' sebenarnya dimaksudkan justru untuk mengangkat wacana teologis ke taraf ilmu filosofis sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan menghindarkan diri dari wacana puitik religius (Sugiharto, 1996:124). Bila bagi Aristoteles kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana bisa keluar dari dilema antara disatu pihak ada unsur dasr yang satu bagi seluruh kenyataan, di pihak lain ada pula makna yang amat beragam dari kenyataan itu, maka wacana teologi menghadapi kenyataan yang seperti itu. Dalam wacana teologis tentang Tuhan dan tantang manusia yang akan berakibat menghilangkan unsur transendensi Tuhan. Di pihak lain mengasumsikan ketidakberhubungan total antara kedua wacana itu dan akan berakibat membawa kepada agnositisme. Kenyataan itulah yang kemudian membawa Thomas Aquinas menerapkan konsep Aristoteles tentang 'analogi' di kawasan teologi. Maka di antara atribut yang bersifat univokal dan ekuivokal kemudian ada atribut baru , yaitu atribut 'analogi'. Jadi doktrin Thomas tentang Analogi Etnis atau 'analogi' pengada itu adalah upaya untuk memadukan hubungan horizontal antara ciptaan di dunia ini dengan hubungan vertikal antara ciptaan itu dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian dimaksudkan dengan istilah onto-teologi. Betapa keras upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke taraf 'ilmiah filosofis' terlihat dari bagiamana ia secara terus menerus mengubah dan memberi rincian baru atas konsep analogi tersebut. Misalnya ia berupaya membagi analogi itu menjadi 'analogi proportio' dan 'analogi proportionalitas' (dalam de Veritate). Tidak puas dengan itu dibuatnya analogi 'duorum et tertius' dan analogi 'unius ad alterum' (dalam de Potentia). Masih juga belum measa puas Thomas menciptakan rincian baru yaitu analogi dengan prioritas pada Tuhan sendiri, jadi titik tolaknya adalah Tuhan kemudian analogi yang berangkat dari sifat-sifat

Perkembangan pemikiran filosofis zaman abad pertengahan yang memuncak mencapai puncak keemasan pada karya dan konsep-konsep Skolastik terutama pemikiran filosofis Thomas Aquinas yang menyangkut dan menganalisis secara kritis karya-karya besar Aristoteles.ciptaan yang titik tolaknya adalah ciptaan (dalam Summa Theologiae). 1974: 63). 2. sehingga pengertian makna "Tangan Tuhan" adalah kekuatan. Namund emikian yang dimaksud dengan "Tangan Tuhan" adalah makna spiritual. Dengan melalui ungkapan bahasa metaforis ini Thomas mampu mengungkap makna spiritual teologis ke dataraan ilmiah filosofis sekaligus menghilangkan kekaburan ungkapan teologis (Borgmann. Yang dimaksud tangan dalam pengertian harfiah adalah mengacu pada anggota badan manusia. Dalam kenyataannya metode yang digunakan dalam memecahkan dan menjelaskan problemaproblema filosofis dengan menggunakan metode analisis yang menonjol dari karya pemikiran Thomas ini melalui analisis bahasa terutama analogi dan metafor. Melalui ungkapan bahasa mnetaforis persoalan-persoalan teologi dapat diklarifikasikan secara ilmiah filosofis. Analisis bahasa teologi tentang hakikat Tuhan yang transenden sulit diungkapkan melalui bahasa terutama yang mengacu pada realitas fakta ciptaan Tuhan. Mazhab Modistae . mampu mengangkat persoalan-persoalan teologis ketingkat pemikiran yang bersifat ilmiah filosofis. Dalam summa theologiae diungkapkan 'Tangan tuhan menciptakan keajaiban'. kekuasaan dari Tuhan. Hal ini dapat dilakukan dengan sendirinya melalui kelenturan bahasa. Dilema inilah yang kemudian dipecahkan oleh Thomas melalui karya besarnya dengan menggunakan analisis bahasanya terutama melalui analogi dan metafor (Kaelan.50). 2002:44. Memang terdapat kendala yang bersifat dilematis yaitu di satu pihak keberadaan Tuhan yang bersifat transenden diungkapkan melalui bahasa yang acuannya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sifatnya adalah real dan terbatas. Selain melalui analogi upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke tingkat wacana ilmiah filosofis ia mengembangkan melalui metafor.

Dalam bahasa pikiran in dialihkan kedalam tanda bunyi (voces) penunjuk yang aktif (modi sifnigicandi activi) dalam bentuk kata-kata (dictiones) dan bagian ujaran (paries orationis) atau sering disebut jenis kata. Dalam konsep pemikiran kaum Modistae ini unsur semantik mendapatperhatian yang utama dan digunakan pula dalam penyebutan definisidefinisi bentuk-bentuk bahasa. perdebatan antara 'Analogi dan Anomali'. Menurut konsep pemikiran kaum Modistae barang-barang atau benda-benda memiliki beberapa ciri khas atau kepribadian yang perlu dibeda-bedakan. Kepribadsian ini disebut 'modessendi' dan pikiran manusia menangkap ini dengan daya pengertian yang aktif yang disebut sebagai 'modi intellegendi activi' yang kepadanya dikenakan pula daya pengertian yang pasif yaitu 'modi intellegendi passiva'. Interpretasi ajaran Skolastik akan ajaran-ajaran Aristoteles nampak dengan jelas dalam sistem pemikiran kaum Modistae ini. Mereka pun mengulang pertentangan klasik tentang hakikat bahas 'Fisei dan Nomos'. Mereka menerima analogi. Modi Significandi inilah yang meruakan kunci dalam sistem analisis bahasa kaum Modistae. Sehingga dengan demikian berkembanglah . sehingga dalam konsep pemikiran tersebut mereka mencoba menurunkan kategorikategori tata bahasa dari kategori-kategori logika.Kaum Modistae menaruh perhatian terhadap pemikiran hakikat bahasa secara tekun mereka mengembangkan dan nama Mostae muncul karena ucapan mereka yang dikenal dengan 'De Modis Significandi'. karena menurutnya bahasa bersifat reguler dan universal. Secara sistematis dapat disusun dasar pemikiran sebagai berikut: Modi essendi Modi intellegendi active Modi sifnificandi active modi intellegendi passivi modi significandi passivi Berdasarkan konsep pemikiran yang dikemukakan oleh kaum Modistae nampaknya pengaruh ilmu pengetahuan dan pemikiran-pemikiran Skolastik yang memberi ciri mencari sebab-sebab universal dan tidak berubah. Salah satu usaha untuk memastikan semua ini ialah usaha dari kaum Modistae untuk menemukan sumber makna. epistemologi dan metafisika.

Skolatisisme timbul dari satu kemampuan dan pengabdian intelektual yang matang. Konsep bahasa adalah berasal dari konsep filosofis partes orationis dan dicirikan dalam modus yang menunjuk itu atau modi significandi. walaupun secara pedagogis ada manfaatnya. Persoalan yang timbul adalah bagaimana bahasa dapat merupakan jembatan atau alat bagi pengetahuan yang benar. Konsep Bahasa Spekulativa Konsep bahasa spekulativa adalah merupakan hasil integrasi deskripsi bahasa Latin seperti yang dirumuskan oleh Priscia dan Donatus ke dalam filsafat Skolastik. Pengertian spekulativa kiranya dapat dijelaskan dengan lebih memperhatikan maksudnya ini. Skolatisme sendiri adalah merupakan hasil integrasi filsafat Aristoteles dalam tangan pemikir-pemikir seperti Thomas Aquinas ke dalam teologi. 1983:57). substansi. Disimpulkan pula kepada bahwa prinsip-prinsip bersifat universal dan konstan. Dalam konteks ini deskripsi bahasa latin seperti yang dilakukan oleh Priscia dan Donatus dianggap tidak cukup. modus. aksi. Dengan ini kaum spekulativa berdasarkan filsafat metafisik mereka ingin mendeskrispikan bhawa semua bahasa mempunyai kesamaan jenis kata dan kategori-kategori gramatikal lainnya. dan hal lini terjadi dengan pendekatan kepada partes orationis. kualitas dan sebagainya. dan ini memberikan refleksi dari kenyataan yang mendasari dunia fisik. Kata hanya mewakili hal yang adanya benda itu dalam pelbagai cara. Tugas dari konsep bahasa spekulativa ialah untukmenemukan prinsipprinsip tempat kata-kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada satu pihak dengan intelek manusia dan pada pihal lain dihubungkan kepada benda yang ditunjuk ata yang diwakilinya. 3. Seorang tokoh yang terkenal pada masa . Istilah spekulativa berasal dari kata speculum yang berarti 'cermin'.etimologi dalam zaman ini dan sumber mereka adalah 20 jilid etimologi dari Santo Istidore dari Seville tahun 636 (Parera. Menurut konsep bahasa spekulativa bahwa kata pada hakikatnya tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuknya.

Di dalam ekalhiran kembali itu orang kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan (Hadiwijono. Awal gerakan pembaharuan ini sebenarnya telah dilakukan oleh orang-orang Italia yang dikenal dengan gerakan humanisme yang sebenarnya teah dilakukan sejak abad pertengahan. Kaum humanis zaman Renaissance bermaksud untuk meningkatkan perkembangan yang harmonis dan sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan alamiah manusia dengan mengusahakan kepustakaanyang lebih baik dan dengan mengikuti jejak kebudayaan klasik. dan logika ini dipakai sebagai dasar kaidah peraturan bahasa yang benar dalam bahasa zaman itu (Parera. Secara harfiah kata ’Renaissance’ berarti ’kelahiran kembali’.gerakan ini ditandai dengan usaha untukmenghidupkan kembali kebudayaan Yunani-/Romawi. 1983:59). Secara historis Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya sebgai telah dilahirkan kembali dalam suatu peradaban. Pengantar Sejarah pemikiran umat manusia menapak terus dipimpin sang waktu. bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya besar dari pada pemikir dan penulis Yunani dan Latin. Maka pada zaman Renaissance ini . Keakraban manusia dalam menafsirkan suara Tuhan sebagaimana dilakukan oleh kaum Patristik dan Sekolastik terutama sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas pada masa abad pertengahan menjadi sirna dengan munculnya kesadaran manusia akan dirinya sendiri. Zaman Abad Modern 1. namun apa yang telah dilakukan orangorang pada abad pertengahan itu berbeda dengan apa yang dilakukan para humanis pada zaman Renaisance yang tidak mendasarkan pada otoritas teologi. E. Kekhusukan manusia dalam mensyukuri karunia Sang Maha Kuasa nampaknya terusik dengan munculnya kegelisahan manusia akan dirinya sendiri. Demikianlah akhirnya masa kejayaan abad pertengahan memudar di telah waktu dan muncullah masa abad modern yang diawali dengan ”renaissance”. 1983:11). Tidak dpat disangkal.itu yaitu Peter Helias yang secara garis besar doktrin Priscia akan tetapi ia selalu memberikan komentar berdasarkan logika Aristoteles.

kepada hidup kemasyarakatan dan kepada sejarah. Era baru akan penemuan dirinya sendiri oleh manusia ini berakibat manusia merasa terbebas dari kungkungan wahyu. melainkan diperoleh oleh manusia sendiri karena kekuatan sendiri dengan penelitian-penelitian. Demikianlah lambat laun filsafat mulai meninggalkan kemesraannya dengan teologi.munculah kebangkitan untuk mempelajari sastra klasik dan penyambutan yang bersemangat atas realitas hidup ini yang bersifat alamiah. sebab orang merasa kerasan di dunia dan sangat menghargai akan hal-hal yang baik dari hidup ini. Beberapa tokoh peletak dasr ilmu pengetahuant ersebut antara lain Leonardo da Vinci. Titik tolak yaitu kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian bebas dan wibawa atau tradisi. Seorang tokoh yang meletakkan dasar filosofis untuk perkembangan dalam ilmu pengetahuan adalah Francis Bacon bangsawan Inggris ini mengarang suatu karya yang bermaksud menggantikan teori Aristoteles tentang . Selain itu karena menjadi semakin optimis. Menurutnya wahyu memiliki wibawa dalam bidangnya sendiri. Johanes Kepler serta Galileo Galilei. Kebanyakan orang berpendaapat bahwa akal tidak bewibawa atas kebenaran-kebenaran keagamaan. Perhatian itu ditujukan kepada manusia.Nocolaus Copernicus. Pengenalan akan dirinya sendiri dalam arti mereka mulai sadar akan nilai pribadinya dan akan kekuatan pribadinya. Menurut Renaissance dunia diterima seperti apa adanya. Suatu perkembangan yang maha penting dalam zaman itu adalah mulai timbulnya ilmu pengetahuan alam modern berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri. Pengetahuan yang pasti bukannya didapat dari pewarisan. karena kebenaran-kebenaran itu hanya dapat dipercaya. Dapat juga dikatakan bahwa di samping terdapat pandangan atas dunia alamiah yang murni dan berdiri sendiri terdapat juga jiwa yang murni. Manusia mulai menyadari dua hal yang berbeda yaitu dunia dan dirinya sendiri. filsafat menjadi lebihbersifat individualistis sehingga sejarah menunjukan kepribadian-kepribadian. Dalam khasanah filsafat orng berpendapat bahwa dalam pengertian ini tiada sedikitpun ikatan kepada satu wibawa apa pun dalam hal kebebasan akal manusia. Optimisme manusia diarahkan kepada perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkrit.

semuanya dapat dipersoalkan tidak terkecuali . Filsuf ini dilahirkan di Prancis dan belajar filsafat pada Kolese di La Fleche. Nama ini diberikan pada masa ini karena manusia mencari suatu cahaya baru dalam rasionya. Empirisme antara lain tokohnya adalah Thomas Hobbes.ilmu pengetahuan dengan suatu teori baru yang disebut Novum Organon (Bertens. Dalam kaitan dengan erkembangan filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. Descartes menyusun satu buku tentang mode yang berjudul ”De cours de la Methode” (1637) yang artinya yaitu uraian tentang metode. 1989:64). Kesalahan dikarenakan manusia tidak mau mempergunakan akalnya. Dalam pengertian ini Voltaire menyebutnya sebagai ”Zaman akal’ (Hadiwijono. Terlebih lagi perkembangan filsafat pada abad modern ini ditandai dengan hadirnya masa Aufklarung. Paham-paham tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa terutama dalam pengembanan dasar-dasar analisis bahasa. yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri. Rene Descartes Filsuf yang membuka cakrawala abad modern adalah Rene Descartes sehingga ia layak mendapat gelar ”bapak filsafat modern”. bahwa Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari keadaan tidak akil balig. Buku tersebut menjelaskan tentang pengembaraan intelektualnya. Ia sebagai seorang filsuf yang inovatif ia tidak merasa puas dengan ajaranajaran filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikannya. 2. Rasionalisme Rene Descartes yang bahkan ia disebut sebagai ”Bapak filsafat modern”. Zaman filsafat abad modern ini muncullah berbagai tokoh pemikir yang mampu mengubah dunia terutama yang kemudian dikembangkan pada ilmu pengetahuan. John Locke. Immanuel Kant telah memberikan semacam definisi. David Hume tokoh Kritisisme Immanuel Kant serta August Comte sebagai pencetus paham positivisme. 1983:47). Descartes menyatakan bahwa dalam bidnag dak ada sesuatupun yang dianggap pasti.

Pikiran menemukand alam dirinya sendiri ide-ide itu sebgai gagasan-gagasan yang menampakkandiri sebagai pencerminan objekobjek atau sasaran-saaran di luar kita. terkecuali ilmu pasti yang meruakan hasil dari rasio (Bertens.e mlalui perantaaan. Untuk mencapai kebenaran pengetahuan Descartes bepangkal pada keragu-raguan terhadap segala sesuatu. Namun keragua-raguan di sini bersifat metodis dan bukannya skiptisisme mutlak. Benda-benda di luar kita hanya memberi nilai praktis. Bendabenda di luar kita hanya memberi ide yang samar-samar saja. Pengertian atau ide0idea itu semula dikenal dengan realitasnya sendiri. Pengamatan indrawi tidak memberi keterangan kepada kita tentang hakikat dan sifat-sifat dunia ke luar kita. 1989:45). Adapun dalam keputusan-keputusan . Ide yang samarsamar itu henya memberitahukan kepada diri tentang perasaan subjek yang mengamatinya. Oleh karna itu ide-ide juga menjadi alat untuk mengenal hal-hal yang di luar pikiran. Pengamatan indrawi hanya memberi nilai praktis. Hanya pemikiran yang jelas dan terpilah-pilah yang dapat mengajar kepada kita secara sempurna tentang hakikat segala sesuatu dan sifatsifatnya yaitu melalui pengertian-pengertian atau ide-ide yang secara langsung jelas. Pengertian yang jelas dan terpilahpilah tadi ternyata benar-benar sesuai dengan apa yang digambarkan (Hadiwijono. sebagai pengetahuan yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. artinya bahwa gagasan-gagawan atau ide-ide itu seharusnya dapat dibedakan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang lain. 1983:22).filsafat dan ilmu pengetahuan yang pada saat itu berkembang. Oleh karena itu untuk mencapai kebenaran pengetahuan yang kedap dengan keragu-raguan tahapan metodenya sebagai berikut : (a) Bertolak dari keragu-raguan metodis bahwa tidak ada yang diterima sebagai sesuatu yang benar. Pemikiran Descartes sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa dan bahkan hal ini ditekankan sendiri oleh Descartes bahwa metode yang ia kembangkan itu adalah metode analitis. Menurut Descartes yang dipandang. Konsekuensinya kita harus menghidnarkan diri dari sikap tergesa-gesa dan prasangka. Segala sesuatu di luarnya hanya dikenal secara tidak langsung. Yang diketahui pikiran secara langsung tanpa melalui perantaraan adalah dirinya semata-mata. yaitu keragu-raguan sebagai suatu pandangan.

1984:74-78). atau dengan lain perkataan bhawa kedua pemikiran tesebut sama-sama menggunakan metode analitis dalam mengungkapkan kebenaran. manakala kiranya perlu untuk pemecahan yang memadai. (b) Semua bahan danepsoalan yang diteliti. 1983:21). bahawa saya berpikir danoleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu maka aku berada (Hadiwijono. berangsur-angsur tahap demi tahap sampai pada pengertian yang lebh kompleks. Realitas tersusun atas fakta-fakta dari fakta atomik sampai pada fakta yang bersifat kompleks. Langkah-langkah metodis ini nampaknya memiliki kemiripand engan metod eyang dikembangkanoleh tokoh-tokoh Atomisme logis. Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan menurut Descartes yaitu bahwa ’cogito ergo sum’ aku berpikir dan oleh karena itu aku ada’. dibagikandalam sebanyak mungkin bagian.hanya menerima sesuatu yang dilakukan pada akal dengandemikian jelas dan tegas sehingga mustahil untuk disangksikan. dan yang dimaksud fakta daam pengertian ini dalah keberadaan suatu peristiwa (state of affairs). Terdapat kesamaan antara metode Descartes dengan metode Atomisme logis yaitu keduanya menggunakan metode analitis. aka tetapi aku berpikir bukanlah khayalan. Tiada seorang pun dapat menipu saya. (c) Sistmatik pikiran dilakukan dengan bertitik tolak dari pemahaman objek dari yang paling sederhana danmudah. Memang segala sesuatu yang dipikirkan dapat saja tentang khayala. Atomisme logis dalam memecahkan problema-problema . sehingga ditemukan suatu kepastian maka dengan demikian tiada lagi keraguan (Bakker. (d) Akhirnya sampailah pada tinjauan permasalahan yang bersifat universal. Pemikiran Atomisme logis yang menjelaskan realias melalui bahasa logik yang diungkapkan melalui proposisi-proposisi. Proposisi atomik adalah mengungkapkan fakta atomik. Jadi dari pengertian yang simple dan absolut sampai pada pengertian yang kompleks dan relatif. Namun demikian terdapat perbedaan di antara keduanyayaitu. Doktrin Descartes tentang cogito ergo sum yang ditindaklanjuti dengan keragu-raguan metodis beserta langkahnya untukmendapatkan kebenaran pada hakikatnya adalah menerapkan metode yang besifat analitik dan hal itu dikemukakan sendiri oleh Descartes.

Menurut Hobbes filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ilmu.filosofis menggunakan analisis logis tentang ungkapan-ungkapan filsafat. sehingga sampai pada suatu putusan. Thomas Hobbes Perkembangan pemikiran filsafat setelah masa rasionalisme Descartes adalah paham empirisme. atau tentang penampakan-penampakan yang sedemikian sebagaimana yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati. Demikianlah kiranya Rene Descartes selain sebagai bapak filsafat modern ia juga sebagai peletak dasar-dasar filsafat analitik. 3. Francis Bacon telah menerapkan prinsip-prinsip empirisme namun Bacon tidak mengembangkan suatu ajaran yang lengkap melainkan dalam bentuk pengembangan pada aplikasi di bidang ilmu pengetahuan empiris. baik yang berkaitan dengan pemikiran filsafat analitik maupun terhadap perkembangan pemikiran hakikat bahasa yang merupakan dasar-dasar perkembangan ilmu linguistik periode berikutnya.w alaupun titik tolak pemikiran Descartes adalah pada rasio. sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat. Thomas Hobbes adalah filsuf Inggrus pertama yang mengembangkan aliran empirisme. Paham rasionalismenya dikembangkan oleh para tokoh filsafat analitik yang mengungkapkan konsepkonsep tentang proposisi antara lain proposisi formal yang bersumber pada rasio manusia. Pemikiran filsafat materialisme sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa. . Adapun Rene Descartes melalui pendekatan ontologik yaitu ’cogito ergo sum’ ’aku berpikir oleh karena itu saya ada’ dan pencapaian tidak didasarkan padaanalisis logis namun didasarkan pada intuisi dan akal murni. Walaupun sebelum Hobbes. Biarpun demikian ia menerima juga prinsip metode yang dipakai dalam ilmu-ilmu alam sebagaimana dikembangkan oleh Bacon yaitu metode empiris matematis. Thomas Hobbes termasuk filsuf yang unik dan kreatif yaitu menyatukan pandangan emirisme dengan rasionalisme dalam suatu sitem filsafat materialisme. dalam memberikan dasar-dasar ilmiah.

yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Walaupun tidak secara langsung pengaruh Hobbes terhadap berkembangnya filsafat bahasa. namun demikian sebenarnya berdasarkan ajaran-ajaran yang dikembangkanya terdapat tiga hal yang mempengaruhi berkembangnya filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. ajaran empirisme Hobbes memberikan warna bagi berkembangnya pahampaham filsafat analitika bahasa. yang hukumnya sesuai dengan hukum alam dan ilmu pasti. bahwa ungkapan yang bermakna adalah yang dapat diverifikasi secara empiris. dan hal ini dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis dalam mengungkapkan realitas melalui bahasa yang didasarkan pada logika. Hobbes memberikan dasar-dasar ini karena dalam empirisme Hobbes ajuga mengangkat otoritas rasio (logika) dan fakta. Pertama.tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata. Dunia adalah suatu keseluruhan sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. Kedua. Sebenarnya masih terdapat filsafat Hobbes yang justru paling populer yaitu konsepnya dalam bidang filsafat politik dan salah satu karya besarnya adalah ”Leviathan” (Bertens. Adapun instrumennya adalah pengertianpengertian yang diungkapkan melalui bahasa yang menggambarkan fakta-fakta itu. Demkian sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta-fakta bahkan menurut positivisme logis. Di dalam proses pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bntuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. rasionalisme dan meaterialisme (Hadiwijono. Segala gejala pada benda-benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada subjek. Ketiga. yang nyata menurutnya adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. waktu bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Segala yang ada ditentukan oleh sebab. 1983:32). Menurut Hobbes. 1989:51). menurut Hobbes fakta-fakta itu diungkapkan dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Demikianlah kiranya filsafat Hobbes nampak ciri-ciri empirisme. terutama atomisme logis dan positivisme logis. Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian ruang. empirisme Hobbes memberikan warna bagi penentuan sistem logika bahasa filsafat analitik yaitu proposisi meliputi pengertian proposisi empiris (atau faktual) yaitu proposisi yang mengungkapkan realitas empiris (yaitu yang .

Ia menentang teori rasionalisme mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandag sebagai bawaan manusia. yang timbulnya karena pengalaman-pengalaman lahirian (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection) yang berada dalam psikis manusia. Menurut Locke segala pengetahuan datang dari pengalaman yang tidak lebih dari itu. namun ia menentang ajaranajaran pokok Descartes. Gagasangagasan dibedakan atas gagasan tunggal (simple ideas) dan gagasan majemuk (complex ideas). Selain dari substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertian tentang keadaan atau modi tentang hubungan-hubungan. Gagasan tunggal datang langsung dari pengalmaan. menggabungkannya. tanpa pengeolahan logis apapun. 1989:51).berasal dari pengalaman indra). Semula akal semacam secarik kertas yang putih bersih ’as a white paper’ tanpa tulisan dan seluruh isinyaberasal dari pengalaman inderawi manusia (Bertens. Akal tidakmelahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. 4. Tugas rohmanusia terbatas pada memberi sebutan kepada gagasan-gagasant unggal gadi. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal. yang berdiri sendiri yang disebut substansi. John Locke Pemikiran empirisme John Locke merupakan sistesis rasionalisme Rene Descartes dengan empirisme Thomas Hobbes. Jikalau beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri. adapun gagasan majemuk timbul dari percampuran atau penggabungan gagaan-gagasn tunggal. dan proposisi formal yang bersumber dari rasio manusia dan memiliki kebenarannnya yang bersifat tautologis. subjek menamggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk hal yang sama. Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan atau ide-ide. Akal atau rasio bersifat pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Walaupun Locke menggabungkan beberapa pemikiran Descartes. namun diperolehnya dri luar akal melalui indera (Hadiwijono. merangkumkannya dan menajdikannya bersifat . 1983:36).

Segala gejala psikis yang disaksikan oleh kesadaran kita tampil sebagai kenyataan bagi manusia. Pengenalan manusia adalah pengenalan tentang gagasan-gagasan atau ide-ide yaitu kesankesan yang dimiliki subjek yang mengenal. Putusan itu dapat benar. Jadi bahasa yang tersusun atas kata-kata berfungsi sebagai tanda bagi suatu isi kesadaran manusia.umum. Pengamatan tentang dua gagasan tunggal yang ada atau yang tidak ada persesuaiannya dinyatakan didalam suatu putusan. dan (d) dalam bentuk kenyataan. Pengetahuan umum adalah suatu sebutan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan mejumuk dri rumpun yang sama. (c) dalam bentuk koeksistensi atau berada bersamasama. Ada putusan yang hanya mengenai pengetahuan tentang gagasan-gagasan kita (ilmu pasti. 1983:36). Putusan yang benar diperoleh karena pengalaman intuitif. Bagaimanapun bentuknya gagasangagasan itu senantiasa dihubungkan dengan yang lain dalam suatu putusan. Apakah gagasanyang satu ada persesuannya dengan gagasan yang lain dapat muncul dalam beberapa bentuk antara lain : (a) dalam bentuk identitas atau perbedaan. tetapi dapat juga salah. Dari gagasan-gagasan itulah timbul isi pengetahuan kita yang bermacam-macam sekali. etika). Sasaran kesesuaian manusia adalah gagasan semata-mata. Empirisme John Locke lebih memiliki sifat analitis dibandingkan dengan Thomas Hobbes. Gagasa-gagasan itu kita kenal dalam kesadaran seerti keadaanyang sebenarnya. ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan tunggal dan kesesuaianya dengan kenyataan di luar kita (misalnya mengenai sifat primer dan sekunder) dan ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan kompleks dan kesesuaiannya dengan kenyataan (dalam hal ini khususnya timbul soal yang mengenai substansi). Gagasan-gagasan tunggal dari pengalmaan batiniah adalah objektif. Segala putusan terjadi di kawasan roh. sehingga dalam hubungannya dengan pemikiran filsafat analitika bahasa empirisme Locke banyak memberikan sumbangan terutama . (b) dalam bentuk hubungan. Segala kepastian dan kejelasan dalam pengetahuan bersandarkan intuisi. pembuktian kurang memberi kepasatian dibanding dengan intuisi (Hadiwijono. Gagasan tunggal dari pengalaman lahiriah semuanya adalah benar sejauh gagasan-gagasan itu disebabkan oleh realitas yang ada di luar subjek serta menghadirkan realitas itu dalam kesadaran kita.

Berdasarkan ciri metafisiknya pemikiran Berkeley ini bermuara pada aliran idealisme. Hal ini sesuai dengan konsep Locke tentang ide-ide yang sederhana dan ide-ide yang kompleks. Dalam konsep filsafat analitika bahasa dikenal konsep proposisi. Sebagaimana kita pahami Locke menyatakan tentang adanya substansisubstansi material dan hal ini ditolak oleh Berkeley. (c) tidada perbedaan antara gagasan pengalaman batiniah dengan gagasan pengalaman lahiriah. Ia berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material di luar kita.dasar-dasar fakta empiris beserta bentuk susunan gagasan-gagasan. yang ada hanyalah ciriciri yang diamati. George Berkeley Filsuf kelahiran Irlandia ini pernah menjadi uskup Anglikan di Cloyne. 1989:52). Namun perbedaannya bahwa Locke tidak menentukan susunan gagasan-gagasan atau ide-ide itu berdasarkan pada sistem logika seperti yang dilakukan oleh atomisme logis maupun positivisme logis. sebab pengamatan adalah identik . elementer atau sederhana yang melukiskan fakta elementer (atomis) serta proposisi kompleks yang melukiskan fakta yang kompleks pula. adapun menurut filsafat analitik yang diungkapkan melalui bahasa adalah fakta. Jastifikasi pengetahuan empiris juga memiliki kesamaan dengan justifikasi proposisi menurut konsep analitika bahasa yaitu keduanya bukan hanya sampai pada klarifikasi melainkan sampai pada putusan. 5. Dalam kaitannya dengan bahasa isi pengetahuan yang timbul dari gagasangagasan manusia diungkapkan melalui bahasa. Keyakinan asasu menurutnya adalah sebagai berikut : (a) segala realitas di luar manusia adalah tergantung kepada kesadaran. Berkeley dalam konsep-konsep pemikiran filosofisnya sebenarnya meneruskan tradisi Locke namun dalam kesimpulan serta dasar-dasar metafisiknya berbeda. karena ia menyangkal adanya suatu dunia yang ada di luar kita. atau pengalaman dalamroh saja sehingga pemikiran Berkeley ini dikenal secara luas dengan aliran yang disebut ”imaterialisme’ (Bertens. (b) tiada perbedaan antara dunia rohani dan dunia bendawi. yang tersusun atas prinsipprinsip logika sehingga menentukan bermakna atau tidaknya ungkapan tersebut.

benda. Sifat pengamatan adalah kongkrit. dengan penggabungan bagian-bagian gambaran yang diamati. Isi itu bukan pengertian-pengertian umum yang abstrak yang bersifat individual. artinya isi yang diamati adalah sesuatu yang benar-benar dapat diamati. melainkan hubungan antara pengamatan indera yang satu dengan pengamatan indera yang lain. dunia dan lains ebagainya yang lazim dikenal metafisika (Hadiwijono. Jadi hanya gagasan-gagasan yang kongkritlah yang dapat dipakai sebagai untuk memikirkan gagasan-gagasan konkrit lainnya yang bermacam-macam itu. 1983:51). Hanya pengamatanlah yang ada. Pemikiran Berkeley di samping secara substansial sebagai pangkal penolakan kalangan filsuf analitika bahasa karena dasar metafisisnya yang bersifat ’imaterialis’. yaitu ide-ide yang disebabkan karena pengamatan indera yang langsung disebabkan pengamatan batiniah. Pengamatan adalah identik degangagasan yang diamati. 1983:50). yang dalam realitasnya yang bersifat kongkrit dikenal dngan pribadi-pribadi (Hadiwijono.dengan gagasan yang diamati. 6. Titik tolak pemikiran Berkeley terdapat pada pandangannya dibidang teori pengenalan. Tiada pengertian umum seperti umpamanya substansi. Apa yang berada secara umum hanya berada sebagai nama saja. Objek adalah gagasan-gagasan atau ide-ide. Menurutnya segala pengetahuan kita bersandar pada pengamatan. dan (d) tiada sesuatu yang berada kecuali roh. sehingga realitas objek yang diamati pada hakikatnya terletak pada pengamatan itu sendiri. David Hume . Demikian juga objek itu pad ahakikatnya disebabkan pengamatan karena pengamatanpengamatan yang ditambah ingatan dan fantasi atau khayalan. juga memiliki sisi positif yang dikembangkan oleh positivisme logis yaitu pengamatan yang kalau menuntut istilah positivisme logis adalah sebagai prinsip verifikasi. Pengamatan terjadi bukan karena hubungan antara subjek yang mengamati dengan objek yang diamati. karena prinsip utama para filsuf analitis adalah penolakannya terhadap metafisika. Sesuatu yang kita amati adalah kongkrit.

Ide kurang jelas dan kurang hidup jika dibandingkan dengan kesan-kesan. yang menampakkan diri dengan jelas hidup dan kuat. yang satu secara langsung yang lain dengan perenungan kembali (Hume. jika kita berhasil menemukan kembali sumber-sumber asal ide-ide atau pengertian-pengertian itu. Sebenarnya sebagian umat manusia mendasarkan pendapatnya atau pengetahuannya. Ide atau pengertian adalah sebagai tembusan atau copy dari kesan-kesan. samar-samar dan tidak pasti adalah segala hal apa saja. yang kita terima secara tidak langsung misalnya gagasan yang menyenangkan atau yang menyedihkan dari pertemuan dengan teman. Rasa sakit pada bagian tubuh yang sedang luka dirasakan lebih kuat dibanding dengan kemudian jikalau rasa sakit itu direnungkan kembali. sehingga kesan atau ide adalah sama. Menurut Hume yang dimaksud dengan pengertian atau ide adlaah gambaran tentang pengalaan yang redup sama-samar. 1977:9-13). Menurut Hume bahwa manusia tidakmembawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya dan sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal. Akan tetapi segala kekaburan dan kekacauan akan hilang. itulah sebabanya manusia sering ragu-ragu. Yang dimaksud dengan kesankesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. kacau dan lain sebagainya.Dalam sejarah filsafat Inggris. Bilamana akal kita diperoleh kesan-kesan yang demikian itu. Sumber asal ide-ide itu adalah kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman. yaitu kesan-kesan atau ’impression’ dan pengertianpengertian atau ide-ide yang disebut ’ideas’. baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. atas hal-hal yangd iterimanyatidak secara langsung. Ia memang mengembangkan ajakan Locke dan Berkelay yang diolahnya secara cermat sehingga merupakan pandangan empirisme yang amat fanatik dan tajam. barulah kita mengetahui hal yang sebenarnya. tradisi pemikiran empirisme yang paling konsekuen dan radikal adalah pemikiran David Hume. yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman manusia. dan lainlain. Kuasa kesan-kesan ini memang . Yang termasuk dalam ide yang keadaannya redup. Perbedaannya terletak pada caranya ditimbulkan dalam kesadaran. yang melalui ide-ide atau pengertian-pengertian . Sebagaian besar pendapat manusia sebenarnya tidak bermakna karena kesalahan pengenalan.

dan keyakinan yang demikian inlah menurut Hume disebut ’kepercayaan’. Ia tidak pernah menjumpai kesan aku yang berdiri sendiri. Mereka secara lantang menyatakan menentang dan menolak ungkapanungkapan metafisika. Di dalam diri kita tiada hal yang lain kecuali kemarahan. Dalam kepercayaan itu kita mendapatkan pengetahuan langsung. Secara metafisik Hume menentang aku menurut Descartes maupun Berkeley yang menyatakan aku sebagai substansi roh. kesenangan dan lain sebagainya. Proposisi yang sederhana mengungkapkan fakta yang sederhana atau elekmenter. pengharapan. ketakutan. walaupun pada sisi lain ia mendasarkan pandangan matafisiknya pada eksistensi pengamatan.kita percaya bahwa di dalam kesan-kesan itu pengalaman kita bukan lagi hal-hal yang menyesatkan dan salah. adapun proposisi yang kompleks mengungkapkan fakta yang kompleks. Jadi aku sebenarnya bukanlah merupakan suatu substansi yang berdiri sendiri karena tidak dapat diamati secara langsung. Aspek inilah yang merupakan inspirasi kalangan filsuf analitika bahwa terutama paham atomisme logis dan positivisme logis. kesan-kesan serta ide-ide. Oleh karena itu yang disebut ”aku sebenarnya merupakan suatu komposisi atau susunan kesan-kesan tadi. Ungkapan-ungkapan metafisis yang dikemukakan oleh kaum idealisme itu sebenarnya tidak menyatakan fakta apa-apa oleh karena itu sama sekali tidak bermakna atau nirarti. Menurut Hume. tidak pernah ia mengamati aku itu. sehingga sebenarnya merupakan susunan kesan-kesan atau komposisi kesankesan yang diterima manusia. Dengan ungkapan lain Hume menolak secara radikal realitas metafisis yang tidak didasarkan pada fakta empiris. Bagi pengamat idealisme yang fanatik nampaknya pemikiran Hume diasakan terlalu keras dan radikal. Susunan logis proposisi ini nampaknya memiliki kesamaan dengan konsep susunan kesan- . di mana segala keragu-raguan dilarutkan kedalam kepastian. dan sebenarnya yang diamati hanyalah kesan-kesan belaka. tanpa ada satu pengamatan yang lain. Hume juga memiliki andil yang besar terhadap konsep dasa proposisi terutama paham atomisme logis. yang menjelaskan bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta yaitu suatu keberadaan peristiwa.tidak dapat kita andalkan sepenuhnya. kekacauan.

Demikian juga pengakuan tentang realitas empiris sebagai dasr pemikiran filosofisnya nampaknya merupakan sumbangan yang berharga atas pemilahan proposisi menurut positivisme logis yaitu proposisi formal dan faktual atau empiris. 1983:63). universalia dan egocentric particular yang dikembangkan oleh Russel adalah merupakan hasil pengolahan lebih lanjut konsep Hume tentang teori pengenalan.kesan serta ide-ide yang sederhana dan yang kompleks menurut Hume yang dikembangkan dalam proses yang disebut pengenalan. Menurutnya Kritisisme adalah . Chornsky dan tokoh-tokoh lainnya. 7. Egocentric particular adalah merupakan pengalaman individual (Heraty. Pemikiran Kant tersebut dikenal dengan paham ”kritisisme”. Menurut Russel particularia adlaah merupakan hasil persepsi kongkrit individual. Pemkiran empirisme inilah yang memberikand asar-dasar yang sangat kokoh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada metode ilmiah. Selain itu prinsip verifikasi empiris yang dikembangkan oleh positivisme logis nampaknya meruakan hasil jasa baik dari Hume. Demikianlah kiranya tradisi empirisme yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan filsafat bahasa. Immanuel Kant Munculnya pemikiran filsuf Jerman ini menandai suatu era baru dalam bidang perkembangan filsafat. Kant berusaha untuk melakukan suatu sintesis baru terhadap suatu pemikiran filsafat yang pada saat itu berkembang yatiu paham rasionalisme dan empirisme (Hadiwijono. Bloomfield. tokohnya antara lain Ferdinand de Saussure. Konsep particularia. Pengaruh pemikiran empirisme juga sangat kuat terhadap filsuf bahasa yang membahas dan mengembagkan pengertian hakikat bahasa terutama dalam kaitannya dengan perkembangan linguistik modern yang mengakui hakikat realitas bahasas ebagai suatu realitas empiris. Halliday. 1984:86).a dapun universalia adalah menunjuk pada sifat atau hubungan. Russel yang juga setia pada tradisi empirisme nampaknya mengembangkan lebih lanjut konsep Hume terutama doktrin pengenalannya pada atomisme logis.

Kant yang dalam prestasi pemikirannya mampu mengubah wajah dan paradigma filsafat membedakan dan mempertentangkan antara dogmatisme dengan kritisisme yang dituangkan dalam karya besarnya yang sangat terkenal pada abad itu (Bertens. Kritik atas Rasio Murni Kritisisme Kant sebagai suatu usaha raksasa untuk menjembatani rasionalisme dengan empirisme. 1989:59). Walaupun Kant seangat mengagumi empirisme Hume yang bersifat radikal dan konsekuen. Menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme sebenarnya keduaduanya bersifat berat sebelah.filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. Kant berupaya mengembangkan pengenalan dengan berpangkal pada suatu anggapan bahwa objek mengarahkan diri pada subjek. demikianlah pula . Padahal sebagaimana diketahui bersama bahwa pada masa Kant sudah menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan yang telahdihasilkan oleh beberaa ilmuwan mampu menemukan dalil atau hukum-hukum yang sifatnya berlaku umum. Kant adalah filsuf yang pertama yang mengembangkan penyelidikan ini. yang berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman misalnya ’ide-ide bawaan’ ala Descartes. namun ia tidak menyetujui spektisisme yang dikembangkan Hume yang menyimpulkan bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak dapat mencapai suatu kepastian. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriorinya. Sebagaimana ditetapkan oleh Copernicus bahwa bumi berputar sekitar matahari dan tidak sebaliknya. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan. berarti hanya unsur-unsur yang berasal dari pengalaman sebagaimana dikemukakan Locke dan Hume. Dahulu para filsuf mencoba mengerti akan pengenalan dengan mengandaikan bahwa subjek mengarahkan diri pada objek. karena menurut pendapatnya filsuf-filsufnya sebelumnya adalah bersifat dogmatisme. karena mereka hanya percaya secara mentah-mentah pada kemampuan rasio tapa menyelidiki terlebih dahulu.

1989:61). yang selalu merupakan suatu sintesis antara hal-hal yang datang dari luar dengan bentuk ruang dan waktu (Bertens. yaitu ruang dan waktu. 1989:60). . misalnya ”segala kejadian ada sebabnya”. Demikianlah pula waktu tidak merupakan suatu arus tetap. Maka ilmu pengetahuan menurut adanya putusan-putusan apriori yang bersifat sintetis. Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu. a. unsur apriori itu sudah terdapat pada taraf indera. Pada Taraf Indra Pengenalan merupakan sintesis antara unsur apriori dengan unsur aposteriori. Kant menyatakan bahwa memang ada ’das ding an sich’ (bendabenda pada dirinya sendiri). Kita hanya mengenal gejalagejala. Ia berpendapat bahwa dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori. Akan tetapi ’das ding an sich’ selalu tinggal X yang tidak dikenal. namun bersifat sintesis (Hadiwijono. Putusan ini disebut putusan sintetis dan diperoleh secara aposteriori. Menurut Kant. 1983:65). 1989:60). Ilmu pasti sebenarnya tersusun atas dasar putusan a priori yang bersifat sintetis. di mana penginderaan-penginderaan bisa ditempatkan. Oleh karena itu perlu pertama-tama diadakan penelitian terhadap suatu keputusan.Kant berupaya memperlihatkan pemikirannya yang substansial bahawa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek (Bertens. putusan ini berlaku umum dan mutlak. ’the thing in itself’. Kedua-duanya merupakan bentuk apriori dari pengenalan inderawi (Bertens. Jadi ruang tidak merupakan ’ruang pada dirinya’ (ruang an sich). Menurut Kant pengenalan itu bersandar pada putusan. misalnya ”logam mengembang”. yang terdiri atas subjek dan predikat. Unsur apriori memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Oleh karena itu suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabakan secara ilmiah. harus juga dapat kerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang apriori. memang terdapat suatu realitas yang terlepas dari subjek. Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan-putusan yang memberi pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak dan bersifat umum (a priori). Selain itu terdapat pula putusan yang bersifat apriori namun bersifat sintetis juga. Suatu putusan menghubungkan dua pengertian.

Pada taraf akal budi Kant membedakan akal budi (verstand) dengan rasio (vernunft). terdiri atas: singuler (satuan). Akal budi memiliki struktur yang sedemikian rupa. terdiri atas : categories (tidak bersyarata). Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data inderawi. Suatu hal yang inovatif dalam pemikiran kant dalam masalah ini adalah nampak adanya upaya untuk mensintesiskan antara rasionaisme dengan metafisika. Pada taraf rasio Tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. ada/tiada. keperluan/kebutuhan (Hamersma. hypothetis (sebab dan akibat). rasio mengadakan argumentasi-argumentasi seperti halnya akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusanputusan. dengan lain perkataan akal budi menentukanputusan. terdiri atas : mungkin/tidak. limitasi (batas-batas). Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah apriorri yang terdapat dalam akal budi. 1983:30). sehingga terpaksa manusia memikirkan data-data inderawi sebagai substansi atau menurut ikatan kategori yang lainnya. c. Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk dan materi. Dengan demikian Kant telah menjelaskan sahnya pengetahuan alam. 3) Kategori relasi. negasi (pengingkaran). Menurut Kant terdapat empat kategori sebagai berikut : 1) Kategori kuantitas.b. 4) Kateogri modalis. Bentuk apriori ini dinamakan Kant dengan ’kategori’ (Bertens. disjuctif (saling meniadakan). Kant memperlihatkan bhawa rasio membentuk argumentasi- . dan universal (umum). 2) Kategori kualitas. terdiri atas : realitas (kenyataan). partikuler (sebagian. 1989:61). Dengan lain perkataan.

Tetpai di samping itu terdapat juga ’rasio praktis’ yaitu rasio yang mengatakan a pa yang harus kita lakukan.argumentasi itu dengan dipimpin oleh tiga ide yaitu jiwa. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak (imperatif kategoris). atau dengan lain perkataan rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. dunia dan Allah. yaitu kebebasan kehendak. dan dalam bidang segala-galanya yang ada (Allah). jiwa dan adanya Allah kita sama sekali tidak . sehingga rasio disebut ’rasio teoritis’ atau menurut istilah Kant disebut ’rasio murni’. Karena kategori-kategori kal budi hanya berlaku untuk pengalaman. Menurut Kant terdapat tiga hal yang harus diandaikan agar tingkah laku kita tidak menjadi mustahil. immoralitas jiwa dan adanya Allah. Tetapi harus diinsyafi bahwa ketiga hal itu tidak dibuktikan. Dengan ide Kant memaksudkan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan terakhr dalam bidang gejala-gejala psikis (jiwa). melainkan hanya dituntut. Ketiga ide tersebut mengatur argumentasi-argumetnasi kita tentang pengalaman. sekalipun metafisika berusha yang sedemikian. kategorikategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide. Tetapi tentang kebebasan kehendak. Tetapi dengan hal itu metafisika melewati batas-batas yang ditentukan untuk pengenalan manusia. Kritik atas Rasio Praktis rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan. 1989:62). Tetapi justru itulah yang diusahakan oleh metafisika misalnya upaya dalam bidang metafisika untuk membuktikan bahwa Allah adalah sebagai penyebab pertama alam semesta. Usaha metafisika itu sia-sia dan hal itu dibuktikan oleh Kant bahwa bukti-bukti adanya Allah yang diberikan dalam filsafat praktis semuanya kontradiktoris (Bertens. tetapi ketiga ide tadi tidak termasuk pengalaman kita. Adanya Allah dan immortalitas jiwa tidak dapat dibuktikan. immoralitas. harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Mislanya barang kepunyaan orang lain harus dikembalikan atau secara negatif berupa larangan untuk tidak menyakiti orang yang tidak bersalah. Itulah sebabnya Kant menyebut sebagai ”ketga postulat dari rasio praktis”. dalam bidang kejadiankejadian jasmani (Dunia). Jadi apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis.

Positivisme August Comte Pada abad ke-19 timbullah aliran filsata yang menandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan modern. ke arah yang akan nampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri dngannya. yang secara etimologis berasal dari kata ’positif yang secara harfiah berarti yang diketahui. Hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan disebut ’pengertian’. Demikianlah positivisme membatasi filsfat dan ilmu pengetahuan pada bidang gejala-gejala saja. Bilamana diamati ajaran positivisme terutama dalam kaitannya dengan pengenalan pengetahuan masih memiliki kesamaan-kesamaan prinsip terutama . Menerima ketiga postulat tersebut dinamakan Kant sebagai kepercayaan (Bertens. dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. Yang harus diusahakan manusia adalah menentukan syarat-syarat di mana fakta-fakta tertentu tampil dan menghubungkan faktafakta itu menurut persamaannya dan urutannya. yang kita terima sebagaimana apa adanya. Segala uraian atau persoalan yang berada di luar apa yang ada sebagai fakta dikesampingkan.mempunyai pengetahuan teoritis. Apa yang dapat kita lakukan adalah segala fakta yang menyajikan diri kepada kita sebagai penampakan atau gejala. Oleh karena itu metafisika ditolak. Aliran itu terkenal dengan nama ”Positivisme”. yang faktual empiris bahkan dapat juga berarti teruji atau teramati. Setelah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum-hukum tertentu. Akhirnya dengan berpangkal pada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat masa depan. Jadi kita hanya dapat menyatakan atau mengkonstatir fakta-faktanya. Menurut Aliran positivisme bahwa pengetahuan berpangkal dari apa yang telah diketahui. Ap ayang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak. 8. segala hal yang bersifat empiris dan segala gejala. yang faktual atau yang positif. sedangkan hubungan-hubungan tetap yang tampak pada urutannya disebut ’hukum’. Maka tiada gunanya untuk menanyakan pad tingkat hakikatnya atau kepada sebab-sebab yang sebenarnya dari gejala-gejala itu. Arti segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan. 1989:62).

Demikianlah doktrin positivisme yang periode-periode berikutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada abad XX. 2) Zaman Metafisis . Positivisme hanyamembatasi diri pada pengalaman-pengalaman objektif dan tanpa melibatkan pengalamanpengalaman batiniah (Hadiwijono. zaman metafisis dan zaman positif atau zaman ilmiah. Zaman teologis sendiri dibagi atas tiga periode yaitu : taraf yang paling primitif yaitu benda-benda sendiri dianggapnya berjiwa (animisme). manusia percaya kepada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu dunianya sendiri-sendiri misalnya. Pemikiran August Comte Ajaran Comte yang paling terkenal adalah tiga tahap perkembangan pemikiran manusia. 1983:109). taraf berikutnya. Adapun pada taraf lebihtinggi lagi manusia memandang satu Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu (monoteisme). Bagi Comte perkembangan menurut tiga tahap atau tiga zaman tersebut merupakan suatu hukum yang tetap. dewa gunung. Ketiga zaman tersebut meliputi: zaman teologis. termasuk juga pengertian kawasan ide atau gagasan yang bersifat batiniah. 1) Zaman Teologis Pada zaman ini manusia percaya bahwa di balik gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. dewa laut.dalam hal mengutamakan pengalaman empiris. baik manusia perorangan maupun umat manusia sebagai keseluruhan. tetapi manusia percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk insani yang biasa. dewa matahari dan lain sebagainya yang disebut (politeisme). Namun perbedaan yang pokok adalah positivisme menolak dengan tegas metafisika. Kekuasaan ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia.

2002:53-76). Baik positivisme maupun positivisme logis keduanya menolak dengan tegas tentang metafisika. Seluruh pandangan positivisme diangkat oleh positivisme logis.Dalam zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak. Baru dalam zaman terakhir inilah manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenanrya atau disebut ilmu pengetahuan modern (Bertens. Dalam karitannya dengan ilmu pengetahuan Comte juga memberikan uraian-uraiannya yang kiranya sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan pada abad XX. Pemikiran positivisme ini memberikan dasar pijak bagi paham filsafat analitik terutama kelompok Wina atau Kring Wina yang menamakan dirinya sebagai paham positivisme logis. bahkan positivisme logis ingin menghilangkan metafisika. hanya perbedaannya positivisme logis menekankan pada analisis konsep filosofis melalui bahasa serta positivisme logis lebih menekankan kepada prinsip verifikasi. pandangannya tentang ilmu pengetahuan dengan segala dasar-dasar epistemologinya dapat dikatakan hampir keduanya memiliki kesamaan (Kaelan. BAB III . 3) Zaman Positif Pada zaman ini sudah tidak lagi dicari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Dasar-dasar verifikasi. Konsep-konsep metafisika seperti substansi. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionaya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau uruturutan yang terdapat di antara fakta-fakta. Manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. 1989:73). Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman metafisis ini. aksidensia dan lain sebagainya menjadi penting pada zaman ini. seperti misalnya ’kodrat’ dan ’penyebab’.

yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. . Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. bahasa bahkan menjadi pusat perhatian filsafat ketika retorika menjadi medium utama dalam dialog filosofis. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini. Demikian juga perhatian yang amat besar terhadap bahasa juga dikembangkan oleh Plato maupun Aristoteles. ‘dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa bergeser benda itu satu’.FILSAFAT ANALITIKA BAHASA A. 2944: 170). dunia idea dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata komis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawai. perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Pada zaman Sokrates. terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. Sokrates dalam berdialog ilmiah dengan kaum sofis menggunakan analisi bahasa dan metode yang dikembangkan dikenal dengan metode ‘dialektis kritis’. dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki temapat yang sentral. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Objektivitas kebenaran filosofis perlu diungkapkan dalam suatu analisis bahasa secara diakletis dan dengan didasarkan pada dasar logika. PENGANTAR Perhatian filsafat terahadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama. Demikian sehingga pemikiran Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang melakukan bahasa sebagai objek kajian filsafat (Casseirer. Bahkan Herakleitos mengatakan ‘jangan dengar aku’. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa ‘kata’ (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. Menurut Herakleitos. bahkan tentang hakikat bahasa itu sendiri menjadi topic perhatian utama. bahkan sejak zaman pra Sokrates. ia mencari prinsio perubahan.

kalangan filsuf analitika bahasa sadar bahwa sebenarnya problem-problem filsafat itu dapat dipecahkan. sehingga mampu menjembatani antara realitas Tuhan yang bersifat adikodrati dengan realitas makhluk yang bersifat terbatas. bahkan yang paling radikal kaum positivism logis ingin menghilangkan metagisika. atau melalui suau analisis bahasa. Kaum Patristik dan Skolastik mengemukakan pemikirannya tentang teologi berupaya untuk mendeskripsikannya secara ontologik dengan menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa. padat dan sangat beragam. Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. indera dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. Peranan rasio. rasionalisme maupun intuisionisme sebenarnya tidak bermakna atau dengan lain perkataan filsuf analitika bahasa menolak dengan tegas ungkapan-ungkapan metafisis. aliran epirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran materialism dan kritisme Immanuel filsafat analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realitas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa. Para filsuf analitika bahasa melihat banyak ungkapan-ungkapan filsafat misalnya ungkapan-ungkapan metafisis dari kaum idealism. Terutama Thomas Aquinas telah mengangkat teologi ke tingkat ilmiah filosofis sehingga mampu menjebatani teologi ketingkat ilmiah filosofis. Ketika para penganut aliran-aliran filsafat modern bertikai memperdebatkan tentang hakikat kebenaran segala sesuatu. Bilamana kita kaji dalam sejarah filsafat timbulnya filsafat analitika sebagai suatu ketidakpuasan terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern pada saat itu. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal.Kekhusuan manusia dalam mengagungkan sang Maha Kuasa pada abad pertengahan juga diungkapkannya melalui ungkapan manusiawi yaitu bahasa. Memang banyak bahasa itu sulit ditentukan ahli filsafat dan kalangan historia bahwa filsafat bahasa itu sulit ditentukan batasan pengertiannya terutama filsafat analitika bahasa. karena dasar-dasar filosofisnya yang cukup rumit. dijelaskan dan diuraikan dengan menggunakan analisis ungkapan-ungkapan filsafat. .

Gadamer dan Dilthey dengan mazhab Frangfrutnya. namun demikian bilamana kita sependapat bahwa pengetian filsafat analitika adalah pemecahan dan penjelasan problem-problem serta konsep-konsep filsafat melalui analisi bahasa. maka sebenarnya berdasarkan isi materi dan merodenya filsafat analitika bahasa itu telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman Yunani. antara lain Edmund Husserl dengan aliran fenomennologinya. antara aliran satu dengan lainnya. Lyotard dan tokoh-tokoh lainnya dalam paham ‘postmodernisme’ Demikialah kiranya filsafat analitika bahasa memiliki dimensi yang sangat luas dan meliputi berbagai bidang. Reaksi yang keras dari filsuf-filsuf kontemporer terhadap proses modernism antara lain melalui analisis ungkapan bahasa karena modernism tidak mampu mengungkapkan hakikat kemanusiaan dan hal ini hanya mampu diungkapkan melalui symbol-simbol sebagaimana dikembangkan oleh Derrida. Demikian juga secara diakronis filsafat analitika bahasa pada abad XX ini tidak terbatas pada timbulnya aliran-aliran filsafat di Inggris. Michel Foucault. penentuan berdasarkan aliran merupakan suatu pilihan yang dianggap paling tepat. Dalam pembahasan ini analisi bahasa tidak hanya berkaitan dengan penjelasan dan pemecahan problem-problem filsafat namun berkaitan erat dengan metode hermeneutic. juga terdapat filsuf-filsuf kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala untuk sampai pada suatu kebenaran yang hakiki. Maka untuk mempermudah pamahaman kita tentang perkembangannya filsafat analitika bahasa.Secara termonologi istilah analitika bahasa baru dikenal dan popular pada abad XX. Filsafat Sebagai Analisis Bahasa . Pemilihan filsafat analitika bahasa ini memang sulit untuk ditentukan berdasarkan periodisasi maupun wilayah karena aliran-aliran filsafat analitik tersebut memiliki keterkaitan pengaruh antara tokoh satu dengan lainnya. B. namun lebih luas antara lain di Jerman selain mempengaruhi tumbuh berkembangnya aliran positivism logis dan lingkungan Wina.

Hal ini terutama dengan timbulnya aliran filsafat analitika bahasa yang memandang bahwa problema-problema filosofis akan menjadi terjelaskan manakala menggunakan analisis terminology gramatika. sehingga banyak filsuf menaruh perhatian untuk menyempurnakannya. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan yang fundamental tentang hakikat segala sesuatu para filsuf berupaya untuk memberikan suatu argumentasi yang didukung dengan analisis bahasa yang memenuhi syarat-syarat logis. misalnya tentang hakikat pengetahuan sebagai berikut : (1) Kita menyelidiki pengetahuan itu (2) Kita menganalisis konsep pengetahuan itu (3) Kita ingin membuat eksplisit kebenaran pengetahuan itu Untuk pemecahan yang pertama mustahil dapat dilaksanakan karena seakan-akan filsafat itu mencari dan meneliti suatu entitas (keberadaan) . Berdasarkan hal tersebut maka banyak kalangan filsuf terutama para tokoh filsafat analitika bahsa menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep. Untuk itu terdapat tiga cara untuk memformulasikan problema filsafat secara analitis misalnya masalah sebab akibat. pengetahuan ataupun kewajiban moral. kebenaran. misalnya ‘apakah keadilan itu’. Sebagaimana kita ketahui misalnya banyak filsuf yang mengetengahkan konsepnya melalui analitika bahasa. Namun demikian kegiatan para filsuf semacam itu dewasa ini dianggap tidak mencukupi karena tidak didukung dengan pengalatan dan pembuktian yang memadai untuk mendapatkan kesimpulan adekuat. Oleh Karena itu bahasa sangat sensitive terhadap kekaburan serta kelemahan-kelemahan lainnya. ‘apakah yang dimaksud dengan kebaikan’ dan lain sebagainya. bahkan kalangan flsuf analitika bahasa menyadari banyak ungkapan-ungkapan filsafat yang sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.Bahasa adalah alat yang paling utama bagi seorang filsuf serta merupakan media untuk analisis dan refleksi. Kegiatan yang semacam itu merupakan suatu permulaan dari suatu usaha pokok filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakikat tentang segala sesuatu termasuk manusia sendiri. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’.

Konsep-konsep filsafat senantiasa diartikulasikan secara verbal sehingga dengan demikian mmaka bahasa memiliki peranan yang netral. Problem yang muncul berkaitan dengan filsafat sebagai analisis konsep-konsep yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa sebagaimana dihadapi oleh disiplin ilmu-ilmu lainnya. Untuk yang kedua itu juga menyesatkan karena seakan-akan tugas filsafat untuk memeriksa. tanpa tahun: 14). 1964:5). meneliti dan mengamati sesuatu yang disebut pengetahuan. Memang filsafat sebagai analisis konsep-konsep tesebut senantiasa berkaitan dengan bahasa yang berkaitan dengan makna (semantic) dan tidak turut campur dalam bahasa itu sendiri sebagai suatu realitas. Menanggapi peranan bahsa sehari-hari dalam kegiatan filsafat maka terdapat dua kelompok filsuf yang memilkiki pandangan yang berbeda. Kemudian menentukan bagian-bagiannya. menentukan hubungan-hubungannya hingga menjadi suatu konsep disebut pengetahuan. yaitu bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep tersebut senantiasa melalui bahasa (Poerwowidagdo. Dalam pengertian inilah menurut Alston bahawa bahasa merupakan laboratorium filsafat untuk menguji dan menjelaskan konsep-konsep dan problema-problema filosofis bahkan untuk menentukan kebenaran pemikirannya (Alston. (1) Terdapat kelompok filsuf yang beranggapan bahwa sebenarnya bahasa biasa (ordinary language) yaitu bahasa yang sehari-hari digunakan dalam komunikasi manusia itu telah cukup untukmaksud-maksud filsafat atau dengan perkataan bahasa sehari-hari itu memadai sebagai sarana pengungkapan konsep-konsep filsafat.sesuatu yangd isebut pengetahuan berada bebas dari pikiran manusia. Kedudukan filsafat sebagai analisisi konsep-konsep dan mengingat peranan bahasa yang bersifat sentral dalam mengungkapkan secara verbal pandangan-pandangan dan pemikiran filosofis maka timbulnah suatu masalah yaitu keterbatasan bahasa sehari-hari yang dalam masalah tertentu tidak mampu mengungkapkan konsep filosofis. Kiranya hanya kemungkinan alternative yang ketiga saja yang banyak dilakukan oleh filsafat. Namun demikian harus diakui bahwa untuk mengatasi .

sehingga timbullah kekacauan dalam filsafat dan penyimpangan itu tanpa suatu penjelasan agar dapat dimengerti (Poerwowidagdo. Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan dunia. Demikianlah kiranya perhatian filsafat terhadap bahasa dan hal ini mengingat tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena ungkapan . Maka yang menjadi perhatian kita yang terpenting adalah usaha bahwa perhatian filsafat itu memang berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya kita sering mendengarkan suatu ungkapan filosofis yang menyatakan bahwa suatu ungkapan itu secara metafisis memiliki makna yang dalam tanpa memberikan alas an yang memadai agar memiliki atau satu dasar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Rudolf Carnap. Masalah-masalah filsafat itu justru timbul karena bahasa biasa itu tidak cukup untuk tujuan analisis filosofis karena bahasa sehari-hari memiliki banyak kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa. Bertnard Russel dan tokoh lainnya. Menurut pandangan ini (terutama aliran filsafat bahasa biasa Wittgenstein II) masalah-masalah filsafat itu timbul justru karna adnaya penyimpangan-penyimpangan penggunaan bahasa biasa oleh para filsuf dalam berfilsafat. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari itu. (2)Sebaliknya terdapat kelompok filsuf yang menganggap bahwa bahasa seharihari itu tidak cukup untukmengungkapkan masalah-masalah dan konsepkonsep filsafat. Maka menurut pandangan yang pertama ini tugas filsuf dalam memberikan semacam terapi untuk penyembuhan dalam kelemahan penggunaan bahwa filsafat tersebut. tanpa tahun: 10).kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan bahasa sehari-hari bahasa filsafat harus diberikan suatu pengertian yang khusus atau harus memberikan suatu penjelasan terhadap penyimpangan tersebut. yaitu perlu diwujudkan suatu bahasa sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Ryle. Kelompok filsafat antara lain Leibniz.

Atomisme logis mulai berkembang pada awal abad XX di Inggris dan aliran ini sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran sebelumnya yaitu rasionalisme dan empirisme. pengaruhnya meliputi berbagai Negara di Eropa maupun di Amerika. dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy). pindah dari Negara satu ke Negara lainnya misalnya Bertrand Russell. atau kadang disebut juga ‘empirisme logis’ (logical empirism). imaterialisme dan aliran positivism. ‘positivisme logis’ (logical positivism).filosofis itu bersifat verbal maka upaya untuk membuat bahasa itu sudah memadai dalam berfilsafat menjadi sangat penting sekali (lihat Alston. Idealism. lalu istilah itu menjadi popular dan berkembang pada abad XX terutama di Inggris khususnya dan Eropa pada umumnya. Pada dasarnya pekembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism). Perkembangan filsafat analitika bahasa itu memang tidak dapat diperjelas begitu saja terpisahkan dari aliran-aliran yang berkembang sebelumnya seperti aliran rasionalisme. Selain itu aliran ini berkembang sebagai reaksi . menguraikan dan menguji kebenaran ungakapan-ungkapan filosofis. secara historis tradisi ini sebenarnya telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman pra Sokrates. Oleh karena itu akan menjadi lebih memadai bilamana uraian perkembangan filsafat analitika bahasa itu difokuskan pada perkembangan berdasarkan aliran-alirannya. Wittgensein dan tokoh lainnya. empirisme. Atas dasar kenyataan historis yang demikia inilah maka filsafat analitika bahasa menjadi sangat sulit sekali untuk dibatasi berdasarkan wilayah perkembangannya. 1964:6) C. Terlebih lagi terdapat banyak filsuf yang memiliki kebiasaan melanglang jagad. Selain itu setelah perkembangan filsafat bahasa biasa. Namun demikian. Aliran-Aliran Filsafat Analitika Bahasa Analitika bahasa adalah suatu metode yang khas dalam filsafat untuk menjelaskan. Demikian juga terdapat suatu aliran yang berkembang di Eropa akan tetapi pusatnya di Wina sehingga aliran tersebut juga disebut ‘Mazhab Wina’ atau ‘kring Wina’.

Hal ini dimaksudkan bahwa pusat perhatian para filsuf pada masalah filsafat dikembangkannya melalui bahasa dan membahas. Atomisme Logis Dalam perkembangan pemikiran filsafat di Inggris permulaan abad XX.86). Prancis. D. Oleh karena itu hal ini tidak hanya terbatas aliran di Inggris saja. dan Peter Strawson. kita tentukan bahwa pengertian tersebut ditunjukkan kepada pengertian aliran filsafat yang berkembang pada abad XX yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Akhirnya agar memiliki kasamaan persepsi tentang aliran filsafat analitika bahasa. melainkan juga aliran di wilayah lainnya (kaelan. Pengaruh atomisme logis kemudian diteruskan oleh aliran positivism yang dalam beberapa hal banyak menyetujuan konsep-konsep atomisme logis. Ausdtin. dan aliran inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan aliran yang lainnya dan memiliki pengaruh yang sangat luas baik di Inggris sendiri. Paham positivism logis ini menurut sejarah dikembangkan oleh kalangan ilmuwan bidang fisika. di Jerman dalam aliran fenomenologi Husserl dan Gadamer.L. kimia ilmu-ilmu alam dan lain sebagainya dan berpusat di Wina. maupun di Amerika. Walaupun pengaruh tersebut tidak secara langsung namun aliran filsafat tersebut secara ontologism memiliki kesamaan. Misalnya aliran di Prancis yang mendasarkan pemikiran filosofisnya pada bahasa biasa antara lain pada paham postmodernisme Lyotard. matematika. Jerman. G. Setelah perang dunia kedua muncullah aliran filsafat bahasa biasa. muncullah suatu perkembangan pemikiran yang baru yang oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai suatu perubahan yang radikal atau .Ryle.mazhab positivism logis sangat besar pengaruhnya di dunia terutama terhadap perkembanganya ilmu pengetahuan modern bahkan sampai saat ini terutama di Indonesia sendiri.ketidakpuasan atas aliran idealism. Derrida dan Foucault. 2002: 84. menjelaskan serta memcahkan masalah filsafat dengan menggunakan analitika bahsa. ataupun melalui analistik languistik. Pengaruh filsafat bahasa biasa di Inggris juga amat luas terutama kelompok filsuf Oxford antara lain J.

Ayer. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. “saya menganggap bahwa logika itu adalah apa yang fundamental di dalam filsafat. Perkembangan baru ini membawa perubahan dalam gaya. 1959:31).J. fan bahwa mazhan-mazhab (aliran-aliran) itu seharusnya diwarnai oleh logikanya dari pada oleh metafisikanya. Bertrand Russell sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empirisme yang mengikuti jejak john Locke dan David Hume. arah dan corak pemikirannya. baik dengan atau tanpa awalan kata sifat” Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya “Tractatus Logico Philosophicus’. Nama . namun dalam kenyataanya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. There fore I prefer to describe my philosophy as logical atomism rather than as realism. My own logic ia atomic and is this aspect upon wich I should mish to lay stress. Whether with or without some prefixed adjectife” (Russell dalam A. Pusat dari gerakan pemikiran filsafat yang baru ini adalah di Cambridge Inggris yang diiris oleh G. dan aspek (segi) inilah yang ingin saya tekankan saya tekankan. Oleh karena itu lebih suka menyebut filsafat saya dengan nama atomisme logis dari pada realism.E.More (1873-1958). dalam suatu artikelnya yang telah dimuat dalam ‘Cotemporary British Philosophy’ yang terbut tahun 1924 dalam artikelnya itu ia mengatakan sebagai berikut: “I hold that logic is what is fundamental in philosophy and that schools should be characterized rathes by their logic than by their metaphysics.sebagai suatu ‘revolusi’. Dan sebagai tokoh utamanya yaitu Bertrand Russell (1872-1970) dan Ludwig Wittgestein (1889-1951). sehingga konsep filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Nama aliran atomisme logis dikemukakan oleh Bertand Russell dalam mengemukakan konsep filosofisnya yang diberi nama ‘atomisme logis’. Logika saya sendiri bersifat atomis.

sehingga konsep . Moore. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya. namun dalam kenyataannya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya.E. E. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nam atomisme logis daripada realism.H. Dalam kaitan ini Bertrand Russel menolak atomisme psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologis namun dilakukan terhadap proposisiproposisi. Bradley mempengaruh bidang formulasi logika proposisi sedangkan G. Menurut Hume semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis (atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. H.E. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan oleh Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya melaksanakan analisis psikologis terhadap ide.‘atomisme logis’ yang dipilih oleh Bertrand Russell menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu keryanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. Pengaruh Idealisme F. F.H. Bradley dan pemikiran analitis G. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oloeh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalanmanusia. Demikianlah dalam kenyataannya munculnya pemikiran atomisme logis di Inggris tidak dapat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada atomisme logis. Bradley Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russel dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya ‘Tractatus Logico Philosophicus’. Bertrand Russel sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empiris yang mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Pengaruh pikiran idealism tersebut antara lain dari F. namun dalam kenyataannya tradisi idealisnya juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya.

Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oleh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalan manusia.E. Jika materialism mengemukakan bahwa materi adalah real dan mind adalah fenomena yang menyertainya maka idealism menyatakan bahwa mind itulah yang real dan materi adalah produk sampingnya. Tokoh-tokoh idealism Inggris tersebut antara lain T. jiwa (mind) dan bukannya benda-benda material dan kekuatan. aliran yang dominan di Inggris adalah idealism.E. Tumbuh suburnya aliran-aliran itu tersebut memberikan suatu reaksi atau materialism dan positivism yang merajalela di Eropa pada waktu itu yang menguasai filsuf-filsuf generasi sebelum tmimbulnya idealism. akal. pikiran atau jiwa atau hubungan yang sangat erat dengannya.H.H. Bernard Bosanquet dan terutama adalah F. Bradley mempengaruhi bidang formulasi logika proposisi sedangkan G. Namun ‘atomisme logis’ yangdipilih oleh Bertrand Russel menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu karyanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. Menurut aliran idealism bahwa realitas terdiri atas ide. Bradley dan pemikiran analisis G. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Green. namun kenyataannnya tradisi idealispun juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya bisa melaksanakan analisis psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologi namun dilakukan terhadap proposisi-proposisi. Moore. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nama atomisme logis dari para realism. Pengaruh pemikiran idealism tersebut antara lain F. Dunia memiliki arti yang berlainan . Edward Caird. Menurut Hume semua ide yang atomis (Atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. Pada awal abad XX. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya. H. F.H. Bradley (Bertens. 1981:18).filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Demikianlah dalam kenyataannya pemikiran baru atomisme logis di Inggris tidakdpat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada aliran atomisme logis. Selanjutnya ditekankan oleh idealism bahwa realitas dasar terdiri tatas ide. pikiran-pikiran.

dari apa yang Nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan ditafsirkan olehpenyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metode ilmu objektif saja yang berdasarkan kepada pengamatan empiris (Titus, 1984:316). Francis Herber Bradley (1846-1924) adalah penganut idealism yang fanatic dan memiliki pengaruh yangs angat besar di Inggris. Ia menguraikan pendapatnya tentang hubungan antara pemikiran dengan realitas dan hal ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme menurut Bradley metode pengenalan empirisme itu sebenarnya bersifat psikologis dan bahwa mereka itu bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan (judgements) atau keterangan-keterangan (proposisi-proposisi). Ide sebagaimana dimaksudkan kalangan empirisme adalah isi dari pikiran. Kaum empirisme tertarik dengan asal usul pikiran kita, bagaimana kita mendapatkan kemampuan kita untuk berpikiran tentang kualitas, hubungan pada pihak lain proposisi itu bukanlahisi dari pikiran kita, akan tetapi merupakan pernyataan-pernyataan tentang duna ini, yaitu bahwa sesuatu itu adalah sedemikian rupa yang ditangkap oleh pikiran. Menurut pandangan F.H. Bradley, metode kaum empirisme itu adalah suatu kesalahan. Kaum empirisme kurang memperhatikan putusan (judgements) atau proposisi, dan halinilah yang menjadi yang merupakan perbedaan yang paling dalam antara Immanuel kant dan David Hume. Pemikiran-pemikiran F.H. Bradley inlah yang mempengaruhi

formulasi logika atomisme logis Bertrand Russel, yaitu realitas itu terwujudkan dalam suatu ungkapan bahasa yang merupakan suatu proposisiproposisi. Dengan demikian nampaklah pada kita bahwa logika atomisme logis Bertrand Russell itu merupakan suatu empirisme yang didasrkan atas putusan-putusan atau proposisi-proposisi dan bukan didasarkan atas ide-ide, sehingga formulasi logika Russel sebenarnya memanfaatkan idelaisme F.H. Bradley dalam atomisme logika (Poerwowidagdo, tanpa tahun 26). Namun demikian Russel juga menolak dengan keras pandangan metafisis dari idealism, sebab sebagaimana diungkapkan oleh Russel bahwa pemikirannya itu tidak didasarkan atas pandangan metafisika melainkan

ditentukan oleh formulasi logikanya karenamenurut Russel logikalah yang paling fundamental dalam filsafat.

F. Geogre Edward Moore Filsuf kelahiran Upper Nortwood London memiliki pengaruh yang amat besar terhadap aliran filsafat atomisme logis.walaupun demikian sebenarnya Moore sendiri bukanlah penganut yang setia dari aliran atomisme logis, bahkan boleh dikatakan ia sendiri berdiri di pinggri gerakan itu (Poerwowidagdo: 30). Moore adalah seorang tokoh filsafat analitik (penguraian) dan sebgai seorang anais ia berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Karya Moore yang terkenal adalah ‘Principia Ethica’ (1903) dan dalam bentuk yang popouler adalah “Ethics’ (1912). Ia tidak menolak etika normative dan lebih menekankan pada analisis konsep dan argumentasiargumentasi yang dipakai dalam etika. Jadi Moore lebih menekankan pada analisis ‘metaetika’. Buku yang berjudul ‘Principia Ethica’ sebagaian besar merupakan uraian yang menyangkut terminologid alam etika, misalnya tentang arti kata ‘baik’. Suatu pembahasan Moore yang terkenal adalah tentang arti kritik dan uraiannya tengan ‘kekeliruan naturalistis’ (naturalistic fallacy). Dalam uraiannya Moore menjelaskan arti kata ‘baik’. Dalam etika yang disamakan dengan cirri naturalisstis. Misalnya kekeliruan yang dilakukan oleh para penganut paham ‘hedonisme’, yang menyamakan ‘baik’ dengan sesuatu yang menyenangkan’. Bagi mereka “X itu baik” sama artinya dengan “X itu menyenangkan”. Akan tetapi hal itu tidak dapat dipertahankan terutama karena dua alasan sebagai berikut. Pertama, kalau seandainya ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ itu sama artinya, maka akan timbul suat masalah tentang bagaimana ssuatu yang menyenangkan tetapi tidak baik, sebaba dalam kenyataannya hal itu sering terjadi. Kedua, kalau seandainya pengertian ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ sama artinya, maka pertanyaan “apakah yang menyenangkan itu baik?” seharusnya sama artinya juga dengan pertanyaan “apakah yang baik itu baik?”. Namun demikian kita

akin bahwa pertanyaan pertama betul-betul mempunyai arti dan tidak boleh disetarafkan dengan pertanyaan yang kedua yang sederhana itu. Moore berpendapat bahwa kata ‘baik memang tidak dapat didefinisikan sebab tidak mungkin diasalkan kepada suatu yang lebih jelas lagi. Moore memang tidakmenolak metafisika, akan tetapi dalam berbagai macam uraiannya ia tidak mempraktekkan metafisika. Secara otoritis ia mengakui bahwa metafisika sebagai salah satu cabang filsafat yang penting, akan tetapi ia justru lebih tertarik untuk mengkritik pandangan metafisis dari filsuf lain. Dalam pengertian ini Moore secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap skiptis dan kritis terhadap metafisika. Inlah sumbangan Moore terhadap tumbuhnya aliran baru di inggris teurutama atomisme logis yang mengkritik dan bahkan menolak metafisika (Bertens, 1981:24). Atas dasar sikapnya yang konsisten tersebut maka tidaklah mengherankan jikalau Moore mengkritik kaum idealism Inggris yang pada saat itu menguasai dunia pemikiran di Inggris. Kritisk Moore terhadap aliran idealism tersebut tertuang dalam karangannya yang berjudul “The Refutation of Idealisme”, yang dimuat dalam majalah “Mind” (1930). Kaum idealism terutama kaum Hegelian berpendapat bahwa ‘segala sesuatu itu bersifat spiritual’, ‘tidak ada dunia material di luar kita’, ‘waktu adalah tidak real’ dan lain sebagainya. Menurut Moore pendapat kaum idealism tersbut tidak berdasarkan pada logika sehingga tidak dipahami oleh akal sehati maka atomisme logis mendapat inspirasi bahwa analisis bahasa harus berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi (lihat Bertens, 1981:24 dan Charlesworth, 1959:12).formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan jasa-jasa baik Moore terhadap lahirnya atomisme logis. Namun demikian hendaklah kita ingat bahwa memang dalam kenyataannya seluruh dasar-dasar logika atomisme logis tidak didasarkan atas pemikiran Moore karena sebagaimana diketahui bahwa Moore bukanlah ahli di bidang logika. Daam setiap system analisisnya Moore tidak mengakhriri dengan justifikasi

benar atau salah, melainkan apakah itu bermakna atau tidak bermakna berdasarkan analisis bahasa. Atas dasar cirri-ciri pemikiran Moore beserta metodenya maka tidaklah mengherankan bilamana Moore diberi gelar sebagai perintis pergerakan baru dalam pemikiran filsafat di Inggris, yaitu sebagai perintis gerakan filsafat analitik yang dalam terminology filsafat dikenal juga dengan istilah “filsafat analitika bahasa”. Berdasarkan atas reputasinya itu maka Moore berpendapat bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis yang tepat atau memadai tentang konsep suatu proposisi, yaitu menguraikan dengan jelas dan memadai apa yang dimaksud dengan konsep atau proposisi itu (Moore, 1959:vii. Memberikan analisis secara pantas terhadap suatu konsep atau suatu proposisi itu sama dengan menggantikan perkataan atau kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan hal itu dengan ungkapan-ungkapan lainyang sama benar nilainya (exactly equivalent) dengan kalimat atau ungkapan tadi akan tetapi menjadi analisis adalah sebagai berikut: Analisis adalah semacam definisi semacam persamaan dengan

ungkapan yang membingungkan (ungkapan yang kurang jelas), pangkal uraian (analysandum) di sebelah kiri dan ungkapan baru di sebelah kanan yang sering disebut analisis (penguraian) (analysans) sebagai penguraian (lihat Poerwowidagdo, tanpa tahun: 31). Berkaitan dengan analisis tersebut maka pangkal uraian (analysandum) dan pengaurai (analysans) tidak harus selalu identik sama persis),melainkan keduanya harussama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama (Langford, 1959:335). Meskipun Moore dan Russel sama-sama setuju bahwa tugas filsafat adalah menganalisis konsep-konsep atau proposisi-proposisi yaitu mengungkapkan dengan jelas namun keduanya terdapat suatu perbedaan. Menurut Moore bahwa kepercayaan akal sehat (common sense) tentang benda-benda itu dapat diktahui dengan pasti adalah benar. Adapun menurut Russell mencari kebenaran metafisis melalui penggunaan analisis. Selain itu Moore dalam pemikirannya hanya mencari penjelasan tanpa meninggalkan

akal sehat. Berdasarkan pada pandangan dan pemikirannya tentang filsafat maka Moore telah banyak memberikan sumbangan bagi lahirnya pemikiran baru di Inggris yaitu filsafat analitika bahasa terutama aliran atomisme logis, walaupun ia sendiri sebenarnya bukan seorang penganut setia aliran tersebut.

G. Filsafat Atomisme Logis Bertnard Russel Fulsuf Cambridge ini memiliki inovasi yang luar biasa dan ia sebagai salah seorang pelopor pemikiran baru di Inggris. Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Russsell dikuasai oleh tradisi idealism, sehingga sekaligus pemikiran Russell merupakan suatu reaksi yang sangat akurat terhadap aliran tersebut. Suatu kelebihan dari konsep pemikiran anomisme logis Bertrand Russell adalah, ia mampu mensintesiskan berbagai macam pemikiran para filsuf sebelumnya maupun filsuf sezamannya. Dalam pemikiran Russell Nampak garis lurus tradisi empirisme John Locke dan David Hume terutama dalam struktur logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki kompleks corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide atomis) sampai pad aide-ide yang bersifat kompleks. Namun demikian di pihak lain Russell juga mengangkat pemikiran idealism Bradley dalam mengkritik kelemahan paham empirisme, walaupun Russell menolak dengan tegas metafisika idealism Bradley yang mengungkapkan kelemahan empirisme yang dikatakannya bahwa metode empirisme itu bersifat psikologis, yang hanya bekerja dengan ide-ide dan bukannya berdasarkan pada suatu putusan (juggements) atau keterangan-keterangan (proposisiproposisi). Dasar inilah kemudian diangkat oleh Russell demi prinsipprinsip analisinya yaitu yang berdasarkan pada suatu putusan. Formulasi analisis Russell juga dipahami oleh konsep pemikiran teman akrabnya G.E Moore sebagai seorang filsuf perintis filsafat analitika. Russell dan Moore memang sependapat bahwa tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, namun keduanya terdapat perbedaan. Moore mendasarkan analisisnya berdasarkan analisinya

Akan tetapi menurut Russell logika barunya Frege itu tidaklah cukup untuk membuat suatu kerangka dari sebuah bahasa yang sempurna. Russell ingin membangun bahasa yang mampu mengungkapkan realitas. bahwa tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis. tanpa tahun:207). (2) Pangkal pikir atau premis Frege itu tidak meniadakan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam system logika formal lama (Poerwowidagdo. oleh karena itu pemikirannya dinamakan ‘atomisme logis’. Berdasarkan prinsip-prinsi pemikiran itulah maka Russell menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada metafisikanya melainkan lebih berdasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasariah dalam filsafat. Moore beranggapan bahw bahasa sehari-hari (bahasa alamiah) kiranya telah memadai untuk berfilsafat. sedangkan Russell mencari kebenaran melalui penggunaan analisis disertai dengan sintesis logis. makna ganda. Alasan yang dikemukakan Russell adalah sebagai berikut : (1) Logika Frege yang baru itu hanya cocok untuk diterapkan pada ilmu hitung (arithmetic) dan tidak dapat diterapkan pada cabang-cabang lain dari matematika. Russell mencoba mengatasi kelemahan-kelemahan itu dengan sisitem logika dalam buku ‘Principia Mathematica’. tergantung pada konteks dan lain sebagainya. Hal ini menyakinkan pada diri Russell. semua matematika murni dapat disimpulkan atau dideduksikan . Atas dasar pendapat inilah maka Russell membangun pemikirannya melalui bahasa berdasarkan formulasi logika. yang berdasarkan formulasi logika Ia mengakuinya banyak dipengaruhi oleh logika baru dari Gothlob Frege (1848-1925). Pandangan pokok dari ‘Principia Mathenmatica’ yaitu dari ide-ide dan aksiomaaksioma tertentu dari logika formal dan dengan pertolongan logika hubungan. sedangkan menurut Russell bahasa sehari-hari itu tidak memadai untuk bahasa filsafat karena banyak kelemahan antara lain kekaburan.berdasarkan akal sehat. Atas dasar alasan tersebut maka Russell bekerja sama dengan Al-fred North Whitehead.

Atas dasar alasan itulah maka Russsell lebih mendahulukan analisis logis dari pada sintesis logis (lihat Charlesworth. Russell berpendapat bahwa dunia itu mempunyai struktur yang sesuai dengan logika matematika yang gramatikalnya itu sempurna. Banyak proposisi atau keterangan filsafat dapat dijelaskan dengan menggunakan system logika baru. Sebagaimana diungkapkan oleh Russell bahwa tugas filsafat adalah analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. 1987:41). Menurut Russell melalui system logika baru ini banyak masalah filsafat dapat didiskusikan atau dibicarakan tanpa adanya kekaburan. dalam Mustansyir. mengandung suatu pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan suatu alasan-alasan yang berdifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. Memang harus kita akui bahwa inovasi pemikiran Russell tentang metode tersbut untuk membangun konsep atomisme logisnya. Metode analisis bahasa dalam pemecahan problem-problem filsafat yang mendasarkan pada analisis apriori dan sintesis aposteriori di sini Nampak alur pikir dari kritisme Immanuel Kant. Dalam masalah ini pengertiannya lain dengan gramatika tatabahasa alamiah atau gramatika bahasa-bahasa biasa yang menyesatkan dan tidak memadai sebagai cara pengungkapan untuk mendapatkan suatu kebenaran (Russell.tanpa ada lagi ide baru yang tak terbuktikan atau proposisi-proposisi yang tak tebukti. Dengan melalui analsis logisnya Russell menyatakan hal itu untuk mendapatkan satuan-satuan logis akan kebenaran realitas (kebenaran atom-atom logis). Menurut Russell kebenaran yang bersifat logis dan matematis yang diungkapkan melalui analisis logika meyakinkan kita untuk mengakui keberadaan sifat-sifat yang universal yang bersifat tetap. Dengan metode yang demikian ini Russell berhasil memecahkan problemproblem filsafat melalui analisis bahasa. Hal ini diungkapkan oleh Russell yang menyatakan bahwa sesuatu yang menyebabkan ia menamakan . 1959: 33-46). dan dalam kenyataan terdapat teori yang bersifat empirisme murni yang tidak mampu mengunkapkan hal tersebut. Adapun sintesa logis dilakukan dengan menentukan makna suatu pernyataan atas dasar pengamatan empiris (pengalaman indara).

keduanya kalimat itu memiliki struktur gramatikal yang sama namun keduanya memiliki struktur logis yang tidak sama. ‘Sokrates’ dan ‘Aristoteles’ memiliki formulasi logis yang sama karena berdasarkan pada suatu fakta bahwa baik Sokrates maupun Aristoteles keduanya adalah sebagai filsuf. sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi Y dapat digantikan pada X. sehingga keduanya memiliki formulasi logis yang sama (lihat Russell. misalnya Sokrates dan Aristoteles memiliki formulasi logis yang sama. melainkan didukung oleh suatu fakta yaitu sintesis logika dari fakta. karena ‘Sokrates adalah seorang flsuf dan ‘Aristoteles adalah filsuf’. Sebagainya dikemukakan oleh Russell bahwa formulasi logis itu bukan hanya didasarkan logika formulasi saja. 1981: 28). ‘Lions’ pada kalimat (1) dan (2) bersama-sama merupakan predikat (prinsip verifikasi). Menurut Russell ada suatu kalimat yang memiliki struktus gramatikal yang sama namun berbeda dalam hal struktur logisnya. atau dengan lain perkataan perlu ditentukan formulasi logis dalam ungkapan-ungkapan bahasa. melainkan atom logis (Heraty. Dengan memahami formulasi logis dari . namun struktur logisnya tidak sama. Misalnya kalimat ‘Lions are yellow’ dan ‘Lions are real’. Struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa. 1.pemikiran filsafatya ‘atomisme logis’ yaitu karena atom-atom yang ingin dicapai Russell sebagai hasil analisis terakhir bukan merupakan suatu atom fisik. Misalnya ‘X dan Y’ memiliki formulasi logis yang sama jikalau unsure X mengandung kesesuaian dengan unsure Y. Menurut Russell bahwa dua pengertian memiliki suatu formulasi logis yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. jadi secara gramatikal memiliki struktur yang sama. 1984: 85-86). (Bertens. 1959:369). Formulasi Logika Bahasa Prinsip analisis yang diciptakan oleh Russell dalam konsep atomisme logisnya memiliki konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis.

Penyataan yang dikemukakan oleh Epimenedes bahwa ‘semua orang Kreta itu pembohong’. berarti pernyataan itu adalah bohong dan oleh sebab itu pernyataan itu dapat disimpulkan salah (Jones dalam Mustansyir. sebagai suatu yang tidak dengan sendirinya merupakan suatu himpunan itu sendiri. adalah dari kelas proposisi itu. Contoh serupa dapat dilihat pada pernyataan berikut: (1) Segala bentuk perempatan itu salah (inpun sebagai salah satu perempatan) oleh karena itu salah. Misalnya jikalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota himpunan ‘filsuf’. (pernyataan inipun sebagai suatu peraturan). Misalnya sifat yang diberikan kepada Epimenedes. seorang warga masyarakat Kreta. jenis penyataan yang bersifat paradox itu bukanlah merupakan jenis pernyataan yang sama dengan pernyataan yang digambarkan. Bentuk-bentuk penyataan yang bersifat paradox itu berhasil diatasi oleh Russell dengan membedakan antara semua unsure yang termasuk ke dalam suatu himpunan. yang telah membingungkan para filsuf Yunani. Melalui penentuan formulasi logis ini nampaknya Russell berhasil memcahkan sejumlah paradox. sebab keterangan tersebut merupakan suatu proposisi dari kelas yang lebih tinggi. jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apapun. maka itu tidak . (2) Semua peraturan mengandung pengecualian. Jika ia (Epidemenedes) mengatakan “semua orang Kreta itu pembohong”. 1987:44).ungkapan maka kita dapat membedakan antara bentuk logis gramatika dari suatu ungkapan dengan bentuk semantic dari ungkapan tersebut. sebagai seorang pembohong. oleh karena itu mengandung pengecualian. (3) Setiap penyataan ilmiah yang tidak didasarkan pada verifikasi itu hanya omong kosong (inipun suatu pernyataan ilmiah). pada hal dia sendiri adalah warga Kreta. Menurut Russell. yang telah membingungkan para tahil untuk dikatakan sebagai benat. yang seakan-akan tampak mustahil untuk dikatakan sebagai benar.

Namun demikian Russell berbeda dengan Moore. sehingga analisis dilakukan dengan analisis logis dan disertai dengan sintesa logis. sebab kelas filsuf lebih tinggi tingaktannya dari pada seorang filsuf. Demikianlah Russell mengembangkan formulasi logis dalam analisisnya melalui ungkapan bahasa dan dalam wacana filsafat. Dasar utama yang ditekankan oleh Russell adalah analisis logis. Hal ini dapat diterima secara terang oleh akal sehat. namun tidak benar bilamana dikatakan ‘filsuf’ menggunakan anggota dari ‘filsuf’ itu sendiri. Prinsip Kesesuaian (Isomorfi) Russell dan Moore memang memiliki kesamaan pandangan bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep itu diungkapkan melalui bahasa maka analisis bahasa memegang peranan penting. yaitu ia ingin menganalisis hakikat realitas dunia melalui analisis logis. Adapun sintesis logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris (pengalaman indrawi) yang bersifat aposteriori. Pegetahuan pada . 1987: 45). berupaya untuk mengatasi kesulitan 2. tetapi sayangnya hampir semua karya filsafat mencoba untuk menghindari hal tersebut (Jones dalam Mustansyir. sehingga masing-masing terletak pada jenis hierarki yang berbeda pula. Jadi kalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota kelas ‘filsuf’ itu adalah benar.berarti kelas filsuf itu sendiri merupakan seorang filsuf. Russel mendasarkan pada analisis logis karena hal ini berdasarkan pada kebenaran apiori yang sifatnya universal yang bersumber pada rasio manusia. ia berpendapat bahwa analisis dilakukan pada struktur hakiki bahasa dan bukannya terbatas pada konsep-konsep filsuf lain dalam menggunakan bahasa. Ia berpendapat bahwa pertama-tama merupakan analisis logis bilamana hendak merupakan filsafat yang bersifat ilmiah. Menurut Russell analisis harus didasarkan pada struktur logika. Dalam pengertian ini Russell menampakkan konsep pemikirannya yang cemerlang.

hakikatnya merupakan pernyataan-pernyataan yang tersusun menjadi suatu system yang menunjuk kepada entitas atau unsur pada realitas dunia. Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta. Stuan-satuan yang merupakan egocentric particular’ itu yang menurut Russel juga merupakan kata-kata deiktik kesemuanya dapat dikembalikanpada suatu bentuk ‘egocentric particular’ pokok misalnya ini. 1984: 79. itu berstatus sebagai nama diri yang logis (logical proper name). 85). namun tidak dapat diketahuinya bahwa objek tersebut menjadi pengalaman kita. yaitu aspek egocentric yang terdapat pada kata-kata itu. Particularia adalah hasil persepsi kongkrit individual. Dalam sistemnya yang tersusun ini ia bertolak dari pernyataanpernyataan dasar. orang lain secara teoritik dapa tmemahami kita melihat objek tersebut sebgai suatu fakta empiris. sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan. dan menjadi pengalaman sendiri yang disebut ‘egosentric’. hal ini berarti bahwa sebagaimana halnya dengan nama diri. tetapi di samping itu masih mempunyai keistimewaan. kata ini jelas menunjukkan pada suatu satuan kenyataan. Dengan lain perkataan Russsell menegaskan bahwa terdapa suatu kesesuaian bantuk atau struktur antara bahasa dengan dunia. ialah pernyataan empiric yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam yaitu particularia dan universalia. Mengenai dasar pengalaman atau empiris dikatakannya bahwa bilama kita mengalami sesuatu yang kita lihat secara langsung misalnya. Dalam hal ini Russel lebih condong pada pengertian ‘aquaintance’ atau pengenalan daripada sebagai ‘experience’. Dengan demikian pengalaman itu tidak dibagi kepada orang lain. Kata-kata itu mengacu pada suatu unsure kenyataan . adapun fakta terungkapkan melalui bahasa sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur logis realitas dunia (Heraty. Berdasarkan pengertian itu maka ‘egocentric particular’ adalah merupakan entitas-entitas atau satuan-satuan kongkrit yang dikenal karea suatu pengalaman pribadi yang pada dasarnya tidak dapat dibagi dengan orang lain. atau terdapat suatu ‘isomorfi’ antara struktur bahasa dengan dunia.

Adapun pembedaan referensi tunggal itu adaah sebagai berikut : PEMBEDAAN REFERENSI TUNGGAL MENURUT BERTRAND RUSSELL (1) Nama Diri (2) Kata-kata Deiktik : Napoleon.87). Dengan demkian egocentric particular merupakan nama diri yang logis atausalah satu bentuk logical proper name. dan (2) suatu logical proper name dapat menunjuk hanya pada entitas-entitas yang kita kenal pada suatu saat (Clack. Namun logical proper name ataunama diri yang logis ini bukanlah nama dalam arti nama seseorang akan tetapi merupakan suatu deskripsi minimal yang memiliki referensi tunggal. adapun suatu logical proper name adalah merupakan suatu denotasi yang menyebutkan keterangan atau deskripsi minimal. Pengertian ‘logical paper name’ atau nama diri yang logis memiliki dia macam cirri. dia nama diri . 1972:34). Maka dengan demikian bagi Russell sepatah kata diektik merupakan suatu denotasi sifatnya yang sangat pribadi. Struktur logis bahasa menunjukkan suatu susunan yang terdiri atas satuan-satuan bahasa yang mengacu pada suatu satuan entitas karena struktur logis bahsa menunjukkan struktur logis dunia. Oleh karena itu nama diri logis adalah merupakan suatu deskripsi minimal yang mengacu pada acuan tunggal atau referensi tungal.hal itu memang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu hubungan antara bahasa dengan realitas dan pengacuan tersebut menurut Russel disebut dinotasi yang dijelaskannya pada penggunaan kata objek (object word) (Heraty. 1984:86. itu (ruang dan waktu) nanti. yaitu: (1) suatu logical proper nama adalah sejauh hal itu berfungsi sebagai nama yang tidakd apat menunjuk pada objek yang sama untuk dua orang yang berbeda. Ciliwung : kata-kata petunjuk : ini. tadi Kata-kata ganti: aku.

terutama menurut teori referensi. Sifat yang mengacu dan deskriptif yang sekaligus terdapat pada deskripsi penunggal itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam analisis bahasa. Deskripsi penunggal secara tata bahasa berbentuk subjek (S) dan predikat (P). Suatu nama diri dapat dianggap sebagai singkatan deskripsi penunggal atau ‘unique definitie description’. . misalnya Sokrates filsuf pertama yang mempersoalkan istilah etika. yaitu sebagai suatu pernyataan yang mengandung pertentangan yang member makna pada ungkapan tersebut dan sekaligus melibatkan eksistensinya. ini secara logis sebenarnya tidak berbentuk subjek predikat. logis 1984:96) Dengan demikianpengertian nama diri yang logis adlah meliputi kata-kata deiktik dan deskripsi penunggal. yaitu bahwa nama diri itu merupakan singkatan deskripsi penunggal ‘definite description’.(3) Deskripsi penunggal :”Pemenang hadiah Nobel” “perintis kemerdekaan” “ Pembela hak asasi” Heraty. Misalnya ungkapan ‘ Si Malin Kundang” yang mengandung dilemma ontologism. yaitu ungkapan itu dapat disebutkan tanpa melibatkan eksistensi objek (lihat Heaty. karena memberikan kemampuan untuk membicarakan sesuatu yang tidak langsung dapat dijumpai dalam lingkungan tertentu. Nama diri itu dapat mengacu pada suatu unsure tanpa diperlukan deskripsi-deskripsi. Teori deskripsi penunggal ini membawa penyelesaian yang menurut Russell disebut sebagai dilemma ontologism. Hal itu dapat diketahui dalam perbedaan penggunaan yaitu penggunaan secara atributif dan penggunaans ecara referensial. Perbedaan secara logis antaranama diri di satupihak dengan deskripsi penunggal di pihak lain. Jadi secara struktur gramatical dan struktur logis berbeda. 1984:98).

Maka menurut Russell analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuanyang benar pula tentang hakikat realitas dunia. 3. yang dapat diberikankualifikasinya benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Sebagaimana dijeaskan dimuka bahwa terdapat prinsip isomorfi atau kesesuaian struktur dan bentuk bahasa dengan realitas dunia. Dengan perkataan lain prinsip verifikasi merupakan symbol dan bukan merupakan bagian dunia. tanpa tahun: 23). Atomisme logis menggambarkan bahasa ideal itu sebagai suatu kumpulan besar proposisi-proposisi yang tak terbatas yang tersusun atas struktur proposisi sederhana. dan kata-kata itu . Hakikat keseluruhan fakta-fakta yang merupakan dunia tersebut memiliki struktur logis dan oleh karena itu hakikat fakta-fakta tadi terlukiskan melalui proposisi.Deskripsi tentang doktrin isomorfi merupakan upaya Russel untuk mewujudkan obsesinya tentang hakikat struktur bahasa yang memiliki struktur logis realitas dunia. Fakta-fakta itu sendiri sebenarnya tidak dapat bersifat benar atau salah. Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata. elementer atau atomisme logis (Poerwowidagdo. Dunia pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan fakta-fakta dan fakta-fakta tersebut terungkap melalui bahasa yang disebut proposisi. Formulasi logis bahasa yang memiliki kesesuaian struktur dengan realitas dunia ini dikembangkan lebih lanjut oleh Russell dalam pengertian proposisi yang tersusun atas proposisi atomis menjadi proposisi yang bersifat majemuk atau kompleks. Struktur Proposisi Pemikiran filsafat atomis logis Bertrand Russel diuraikan dalam serangkaian ceramahnya kemudian dalam bentuk artikel adan dimuat dalam majalah “Monist’ tahun 1918 dan 1919. Kemudian artikel-artikel tersebut dikumpulkandalam buku dengan judul ‘Logic and Knowledge’. Selain itu berbagai macam pendapatnya tentang atomisme logis juga termuat dalam pengantar buku Ludwig Wittgenstein “Tractatus Logico Philosophicus”.

Russell memberikan contoh sebagai berikut : “Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi ang menggambarkan dua fakta atomis yaitu: (1) “Sokrates adalah warga Athena”. Untukmenjelaskan struktur proposisi atomis dan proposisi majemuk tersebut. 1981:29). Namun perlu diingat bahwa tidak terdapat . Untukmembentuk suatuproposisi majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti ‘dan’. Oleh karena itu proposisi tersebut merupakan bentuk yang paling sederhana (yang terkecil) maka proposisi tersebut disebut proposisi atomis. Data inderawi ditunjukkan dengan ‘logical proper name’ (nama diri yang logis) misalnya ‘ini’ dan ‘itu’. ‘inilah merah’. Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Contoh dari inderawi misalnya ‘putih dan contoh universalia misalnya ‘berdiri di samping’. dan (2) “Sokrates adalah seorang yang bijaksana” Kedua proposisi tersebut membentuk suatu pengertianproposisi mejemuk setelah dihubungkan dengan kata ‘yang” (Russell. 1963:13). Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana mislanya ‘inilah putih’ (x adalah y) atau ‘ini berdiri di samping itu’ (xRy). dalam Tractatus.menunjukkan kepada suatu data indrawi (sense data) dan “universalia” (universals) yatiu cirri-ciria tau relasi-relasi. Karen amengungkapkan fakta yang paling sederhana (istilah atomis sepadan dengan susunan benda-benda yang terdiri atas bagian terkecil yang disebut atom) dank arena proposisi pada hakikatnya merupakan symbol bahasa yang mengungkapkan fakta-fakta (Bertens. Menurut Bertrand Russell terdapat juga pengertian proposisi ‘molekuler’ misalnya ‘inilah putih’. danmenunjuk kepada data-data atomis. atau’ serta kara penghubung lainnya.

Bilamana suatu doktrin atomisme logis menolak metafisika. juga terdapat pengertian ‘fakta-fakta umum’ yang kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang secara umum diketahui benar. tetapi tidak dapat disangkal lagi bahwa atomisme logis mengandung suatu metafisika. Menurut atomisme logis bahwa dunia dapat diasalkan pada fakta-fakta atomis. sebagaimana diakui oleh Russel sendiri. Alasannya ialah bahwa teori ini mau menjelaskan struktur hakiki bahasa dan dunia. misalnya “John beranggapan bahwa bumi itu datar”. “ B akan mati” dan seterusnya melainkan berdasarkan suatu fakta umum. Demikian juga pendapat Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pad asuatu datadata empiris. melainkan berasal dari suatu analisis mengenai bahasa yang mendasarkan pada suatu kebenaran apriori karena menekankan . sebaga hal itulah satu-satunyacara untuk menerangkan benar atau tidaknya suatu proposisi negative. Kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. Misalnya proposisi ‘semua orang akan mati’ ini bukanlah terdiri atas fakta-fakta atomismisalnya “A akan mati” .pengertian fakta-fakta molekuler. “Poltat akan mati”. Russel menerima juga pengertian fakta-fakta negative. hal ini jelas merupakan suatu argumentasi metafisis. jadi faktafakta atomis menentukan benar atau tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler). Selain fakta-fakta atomis yang diungkapkan melalui proposisi atomis. Misanya “tidakada kuda berkepala lima” proposisi itu benar atau tidak hanya berdasarkan fakta. Demikian juga Russel engakui juga tentang fakta-fakta khusus. Kebenaran proposisi itu tidak tergantung pada benar atau tidaknya ‘bumi itu datar’ melainkan pada suatu fakta khusus. Bilamana dipahami secara formal seakan-akan proposisi itu majemuk. Jadi kebenaran proposisi tadi bukannya karena serangkaian fakta-fakta atomis melainkan suatu fakta umum yang memang secra umum telah diakui kebenarannya.

karena karya yang besar yang pernah dihasilkannya yaitu pada periode I dan II visi yang berbeda bahkan bertolak belakang. Buku ini sebagai karya besar pertama ketika ia memperkuat visi dasar atomisme logis. Karyanya yang terbit dalam majalah Analosophische Abhandlungen. Uraian dalam buku ini berupa uraian-uraian singakat yang merupakan . 1981:31). Ia merupakan teman dekat dari tokoh atomisme logis. H. Demikian juga pemikiran-pemikiran Russell banyak dipengaruhi juga oleh Wittgenstein. Bertrand Russell bahkan pernah menjadi muridnya. sehingga tidak mengherankan mereka berdua sebagai tokoh aliran filsafat atomisme logis. Karya besar Wittgenstein yang merupakan ulasan filosofis yang ketat tentang filsafat atomisme logis tersebut berjudul Tractatus Logico Philosophicus (Bertens. walaupun dalam beberapa hal kurang menyetujuinya. konsepnya tidak lagi setia terhadap pemikirannya prinsip-prinsip kebenaran baru.pada struktur logis. Pada karyanya yang kedua ini ia murtad dari doktrin atomisme logis. 1981: 39). Setahun kemudian diterbitkan suatu edisi baru dengan terjemahan dalam bahasa Inggris di samping teks Jerman yang asli. Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgestei Filsuf kelahiran Wina Austria ini melalui reputasi karya filsafat yang spesifik. Tractatus Logico Philosophicus sebagai suatu karya besar di bidang filsafat termasuk tidak panjang kira-kira hanya 75 halaman saja. dan hal itu banyak ditemukan oleh Russell pada kata pengantar buku Wiitgenstein. Berdasarkan rincian konsep-konsepnya maka atomisme Bertrand Russell itu tidak lain merupakan ‘pluralisme radikal’ yang bertentangan dengan ‘monisme’ yang mendasari metafisika idealism khususnya idealism Bradley (Bertens. Periode berikutnya filsuf yang pernah maj perang ini menulis suatu buku dengan judul Philosophical Investigationss. Pada tahun 1912 dengan judul Logisch Philosophische Abhandlugen (ulasan-ulasan logis dan filosofis). Edisi ini disertai kata pengantar oleh senoirnya Bertrand Russell.

yang digunakan dalam filsafat (Wittgenstein. 1. Sebuah karya filsafat pada pokoknya terdiri atas penjelasan-penjelasan serta uraian-uraian. Oleh karena itu kita tidak memberikan suatu jawaban terhadap persoalan semacam itu. kecuali hanya membiarkannya dalam .2. Terdapat tujuh angka decimal. Menurutnya uraian yang dilakukan oleh filsuf terdahulu tentang proposisi dan problem filsafat bukannya salah.11.1. dan seterusnya). yang menunjukkan struktur logis dari proposisi-proposisi. 1963: 27). Filsafat itu sebenarnya bukanlah merupakan suatu tubuh atau kumpulan ajaran-ajaran atau doktrindoktrin. dan seterusnya) yang menunjukkan struktur kepentingan dari proposisi dalam uraian pemikiran Tractatuc tersebut. 1. namun lebih cenderung kepada penjelasan-penjelasan tentang proposisi. Peranan Logika Bahasa Wittgenstein sependapat dengan gurunya bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. kemudian (1. Tanpa filsafat pikiran itu akan mengawang dan tidak sehingga tugas filsafat ialah membuat jelas dan batas-batas pengertian yang jelas. melainkan tidak dapat dipahami. Filsafat tidak mengahasilkan keterangan-keterangan filsafati. 1. Makna yang terkandung dalam proposisi-proposisi itu sangat padat. sehingga kadangkadang karena padatnya makna yang terkandung di dalamnya menjadi kurang dapat dipahami. Menurut Wittgenstein ara atau system pemberian nomor itu sedemikian rupa sehingga proposisi-proposisi yang paling penting itu diberi nomor atau angka bulat.1 1. Uraian Wittgenstein dalam pendahuluan tulisannya ia menyatakan bahwa persoalan filsafat itu timbul karena para filsuf terdahulu dalam memecahkan dan merumuskan problem-problem filsafat kurang memahami logika bahasa. yang secara sistematis diberi nomor. Misalnya (1. melainkan suatu kegitan atau aktivitas. 1.suatu proposisi.12. Dalam Tractatus ia menjelaskan bahwa filsafat bertujuan untuk penjelasan logis dari pikiran.

sehingga setiap kata hanya memiliki suatu fungsi tertentu saja. Pengguna logika bahasa yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat.bentuk seperti semula yang tidak terpahami. Suatu logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghingari ungkapan yang tidak bermakna. Ketidak jelasan dan kekacauan yang terjadi dalam filsafat karena kekaburan bahas filsafat yang tidak yang menggunakan tolok ukur yang jelas yang dapat menentukan apakah suatu ungkapan filsafat itu bermakna atau tidak bermakna. 1962: 33. Atas dasar karya besarnya inilah maka ia diberi gelar doctor filsafat di Trinity College di Cambridge. Russell dalam kata pengantar buku tersebut menyatakan bahwa pemikiran Wittegenstein dalam bukunya itu telah menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. . Demikianlah kiranya pendapat Wittgensteinn yang sejalan dengan seniornya yang menegaskan tugas filsafat adalah melakukan analisis tentang ungkapan-ungkapan. dan memiliki symbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas (Wittgenstein. 1963: 31. Atas dasar konstatasinya tersebut maka Wiitgenstein merealisasikannya dalam karya besarnya tersebut dan struktur bahasa yang digunakan dalam uraian filosofisnya berdasarkan suatu struktur logika. 34). Untuk menghindari suatu kekacauan dan kesalahan yang seupa dalam filsafat maka perlu disusun suatu kerangka bahasa yang memenuhi dtruktur logika bagi uraian dan pemecahan problema-problema filosofis. Oleh karena itu kita akan membuat kita menjadi tidak logis juga (Wittgenstein. Problem dan proposisi yang dikemukakan oleh filsuf terdahulu itu tidak dapat dipahami karena mereka tidak mengerti dengan logika bahasa. dan setiap kalimat hanya mewakili suatu keadaan factual (fakta) tertentu saja. Oleh karena itu analisis dilakukan terhadap proposisi tau realitas yang dikemukakan oleh para filsuf terdahulu melalui penggunaan bahasa yang memnuhi syarat logika. problem-problem serta konsep-konsep dengan menggunakan bahasa yang memiliki struktur logika. 32).

a fact the existence of states of affairs). melalui analisis. Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu. yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.2 Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan). (The World is the totality of fact not of thing) 1. Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: Pernyataan yang pertama 1.1 Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta. Menurut Wittgenstein yang dimaksud dengan fakta. (The World devides into facts) 2. adalah suatu peristiwa (state of affairs) atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia. (The worlds is all that is the case) 1. (what is the case. sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa. Pemikiran Filosofis Tractatus Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus tradisi atas pernyataan-pernyataan yang secar logis memiliki hubungan. bukan dari benda-benda. Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian. menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut: Pertama : dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta. Kedua : setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri.2. atau benda-benda . dan akhirnya terbagi menjadi sautu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas). Dunia itu bukanlah terdiri atas benda-benda.

Fakta-fakta ini adalah fakta yang terkecil. Fakta-fakta ini berikutnya terdiri tas fakta-fakta yang makin kurang kompleks lagi. Dengan demikian dunia itu harus dijelaskan atau diterangkan bukan dalam arti objek-objek itu sendiri. ruang. Struktur logika Wittgenstein menjelaskan bahwa fakta-fakta atomis adalah merupakan balok-balok bangunan (building blocks) dari dunia. kualitas. yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan. Letak jendela di depan pintu pertama. hubungan kausalitas. dan berada di antara satu dengan lainnya jadi tentang uraian mengenai bagaimana peristiwa tentang objek-objek itu berada dan terjadi. Lebih lanjut dijelaskan oleh Wittgenstein bahwa totalitas fakta itu sangat kompleks (rumit) dan terdiri atas fakta-fakta yang kurang kompleks. demikian seterusnya dan akhirnya kita sampai pada fakta-fakta yang sudah tidak dapat diredusir atau dikurangi lagi. waktu. enam jendela terletak disebelah kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang dan lain sebagainya.itu bukanlah bahan dunia. dan keadaan (lihat Poewowidagdo: 37). namun objek-objek itu merupakan subtansi dunia. Dunia itu terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan dalan arti hubungan antara satu dengan lainnya. Struktur Logika Bahasa . melainkan bagaimana objekobjek itu berhubungan. Faktafakta itu adalah yang paling sederhana yang berdiri melingkuupi diri sendiri yang dapat berada pada dirinya dalam isolasi. dunia itu adalah jumlah keseluruhan dari fakta (totalitas fakta) dan bukannya jumlah dari objekobjek atau benda-benda itu sendiri. kuantitas. 3. Jadi yang dimaksud Wittgenstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa (state of affairs). yang paling elementer yang merupakan bagian terkecil sehingga disebut sebagai fakta atomis. dalam arti bahwa dunia itu pada akhirnya terdiri atas fakta-fakta atomis tersebut. Misalnya suatu keberadaan peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding.

nama itu bermakna manakala dalam hubungannya dengan proposisi. Sebuah proposisi dasar (elementer) proposisi-proposisi lebih lanjut dan tidk dapat dianalisis lagi menjadi halnya sebuah fakta atomis adalah sebuah faktayang tidak terdiri atas fakta lebihlanjut dan lebih asasi. 4. Sebuah gambaran logis dari suatu kenyataan itu adaah sebuah pikiran 3. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya (ultimate constituent) dari segala sesuatu itu terpancang di dalam hakikat sesuatu itu. Sebuah pikiran adalah sebuah proposisi yang bermakna 4. Di dalam sebuah proposisis sebuah pikiran mendapatkan sebuah ungkapan yang dapat diamati oleh indera 3. Proposisi-proposisi yang mempunyai makna adalah proposisi yang berhubungan dengan sebuah nama.1.Konsep Wittgenstein tentang logika bahasa dalam mengungkapkan realitas dunia diuraikannya dalam pernyataannya yang kedua sebagai berikut: 3.menurut Wittgenstein bahwa setiap proposisi elementer itu hanya memiliki satu saja analisis yang final.3. Dengan kata lain bagi setiap “X” maka hanya ada sebuah jawabanyang benar terhadap pertanyaan “apa bagian terakhir dari “X” itu?. Hal itu didasarkan pada . Di dalam sebuah proposisi sebuah pikiran dapat diungkapkansedemikian rupa sehingga unsure-unsur dari tanda proposisi berkesesuaian dengan objek dari pikiran. Bagian-bagiandari proposisi-proposisi elementer (dasar) bukanlah proposisi itu sendiri.2.01 sebuah proposisi itu adalah suatu gambaran realitas (kenyataan) Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan.001 Jumlah keseluruhan (totalitas) dari proposisi itu adalah bahasa 4. 3.21 Sebuah proposisi hanya mempunyai satu analisis yang lengkap 3.

dalam pengertian ini istilah ‘nama’ memiliki pengertiant eknis dan menurut Wittgenstein tidak gunakan dalam arti biasa.asumsinya bahawa setiap proposisi itu mempunyasi satu makan tertentu secara sempurna.001). Proposisi-proposisi dasar adalah bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa (4. Jadi “X” dan “Y”.203). ‘hijau’ dan sebagainya adalah sebagai contoh nama primitive yang dimaksudkandalam tractatus. dan dengan demikian menjadi tidak berarti ataut idak bermakna. Wittgenstein kemudian berpendapat bahwa setiap proposisi itu harus dapat dianalisis menjadi proposisi-proposisi dasar. Sebuah nama itu berarti sebuah objek.21).22). ‘merah’ dan ‘biru’. yang seluruhnya terdiri atas nama-nama (4. Dengan menerima asumsi ini. Wittgenstein menyatakan bahwa proposisi-proposisi yaitu suatu proposisi dasr mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa (state of affairs (4. Oleh . Sebuah nama tidak dapat dipecah-pecah lebih lanjut dengan cara defines. karena Sokrates dapat didefinisikan sebagai misalnya seorang laki-laki.26). seorang filsuf Yunani yang hidup di Athena dan lain sebagainya. “Bujursangkar” bukanlah sebuah nama karena pengertian bujursangkar dapat didefinisikan lebih lanjut dan dianalisis lebih lanjut maka hal ini bukanlah sebagaimana nama primitive yang dimaksudkan oleh Wittgenstein. dan objek itu adalah maknannya (3. sebuah proposisi dasar itu adalah suatu proposisi. jadi sebuah proposisi dasar membenarkan suatu faktafakta karena sebuah fakta itu adalah keberadaan suatu peristiwa. jadi misalnya “Sokrates” bukanlah dalam pengertian tekni ini. jadi jikalau tidak ada objek maka fungsi dari proposisi-proposisi dasr hanya akan terdiri atas istilah-istilah (terms) yang tidak mempunyai arti. Karena masuk akal bilamana kita menganggap bahwa hanya proposisi dasarlah yang besar dari segala macam makna ganda dari segala kemungkinan salah paham atau salah arti tentang makna proposisi. sperti nama orang atau nama sesuatu. “Nama” dalam pengertian ini menurut istilah Wittgenstein adalah sebagai tanda pertama (primitive) (3.

Dengan demikian struktur logis dunia terungkap melalui bahasa yangmemiliki kesesuaian dengan struktur logis dunia. Teori Gambar (Picture Theory) Pemikiran Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan” (4. “Proposisi itu adlah gambaran realitas (kenyataan) dunia maka jika saya memahami proposisi itu berarti saya memahami keadaan suatu peristiwa secra raktual (fakta) yang dihadirkan melalui suatu proposisi tersebut.karena itu proposisi dasar itu adalah bagian akhir dari proposisiproposisi. . bermakna atau tidak bermakna ungkapan yang menjelaskan dunia. 4. Hal itu diungkapkan Wittgenstein dalam “Tractatus” sebagai berikut: “Sebuah proposisi itu adalah gambaran realitas (kenyataan) dunia. Struktur logika bahasa yang digunakan Wittgenstein dalam mengungkapkan suatu realitas dimaksudkan untuk mengatasi kekaburan-kekaburan. Demikian juga dengan mudah saya dapat memahami proposisi itu tanpa perlu dijelaskan lagi suatu pengertian yang terkandung didalamnya (4. sehingga dalam memahami realias dunia manusia hanya akan memberikan suatu keputusan benar atau salah.112). Dunia adalah keseluruhan dari fakta-fakta . Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa maka bahasa pad ahakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. dan keseluruhan proposisi adalah bahasa.01). maka suatu kesimpulan logis yang dapat ditarik adalah bahwa kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam suatu bahasa.

” Yang merupakan suatu kontradiksi. Maka sebuah proposisi memiliki dua macam kutub yaitu suatu proposisi mengandung kebenaran jikalau berkesesuaian dengan suatu keberadaan peristiwa. adapun proposisi sebagai sarana yang berupa suatau ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa kepada kita itulah yang dapat dikenakan kualifikasi benar atau salah (Bertens. maka keberadaan suatu peristiwa itu tiada dapat benar atau salah. Selain proposisi yang menggambarkan keberadaan suatu peristiwa. 1964. sebab tidak menggambarkan sesuatu. Namun demikian menurut Wittgenstein proposisi logika tersebut bukan berarti tidak bermakna. dan “Amin berada di rumah atau tidak berada di rumah. Proposisi-proposisi tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran. Konsep Wittgenstein tentang teori gambar yangmenjelaskan tentang hubungan antara proposisi yang diungkapkan melalui bahasa dengan realitas keberadaan suatu peristiwa. namun merupakan suatu kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. Menurut Wittgenstein proposisi logika sebenarnya tidak termasuk proposisi sejati. Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologis. 1981:44). selanjutnya akan nampak . 1969:94). 1981:45). melainkan kebenarannya bersifat tautologies (Betens. atau kontradiksi-kontradiksi. dan sebaliknya sebuah proposisi mengandung suatu kesalahan manakala tidak berkesesuaian dengan keberadaan suatu peristiwa (Wittgenstein.Dalam pengertian ini Wittgenstein berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika untuk mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief (Sokolowski. terdapat pula proposisi-proposisi logika yaitu kebenarankebenaran yang berdasar pada prinsip-prinsip logika. Hal itu termasuk tautology-tautologi. dalam Mustansyir: 56). Oleh karena itu proposisi merupakan suatu gambaran keberadaan suatu peristiwa.

dapat berbeda susunan logisnya. fakta. Tipe-tipe kata (Word Type) Dalam upaya penerapan metode analisis bahasa Wittgenstein menerapkan beberapa teknik untuk menganalisis makna bahasa. Konsep formal tersebut misalnya arti. 5. Kedua tipe kata yang termasuk pengertian konsep formal. 1959:81). 1984:128). kompleks. kursi. Menurut Wittgenstein Struktur bahasa yang terdapat dalam konsep formal itu digunakan secara paksa untuk mengikuti struktur . Dalam penentuan tipe-tipe kata inilah perlu dibedakan pengertian konsep nyata. yaitu yang harus diisi oleh konsep nyat a(Charlesworth. Prinsip verifikasi problema-problema filsafat timbul karena kekacauan para filsuf dalam penggunaan bahasa.sikap pandangannya tentang realitas fakta dengan unsure metafisik yang hal itu ditolak oleh Wittgenstein. yaitu termasuk tipe-tipe kata yang mengacu pada konsep yang bersifat formal dan hal ini sebenarnya menurut Wittgenstein bukanlah merupakan suatu konsep. objek. fungsi. Perbedaan itu dapat terjadi karena memiliki susunan satuan kata yang menyusun kalimat tersebut. Pada tingkatan reduktif Wittgenstein sependapat dengan Russell dengan cara menganalisis unitunit bahasa sampai pada unsure logis. Sebgaimana telah dibahas di muka bahwa suatu satuan uangkapan bahasa yang memiliki struktur sintaksis yang sama. yaitu tipe kata yang termasuk memiliki acuan kongkrit sepeti : meja. hal tersebut sebenarnya termasuk pengertian nama variable. angka dan ada. tongkat. mobil. antar lain dengan menganalisis tipe-tipe kata. bola dan lain sebagainya. yaitu mencampuradukkan pemakaian ungkapan konsep nyata dengan konsep formal. Metode untuk menentukan konsep nyata adalah jilalau dapat dipahami peningkatanucapan mengenai konsep yang bersangkutan. Pengingkaran terhadap konsep formal itut idak masuk akal dan penggunaan suatu konsep formal yang seakan-akan merupakan suatu konsep nyata hal itu akanmenimbulkan suatu kekacauan (Bakker.

dan lain sebagainya). Proposisi-proposisi logika itu bermakna akan tetapi tidak menggambarkan suatu realitas . Konsep formal tidaklah sama dengan konsep nyata yang hadir melalui suatu fungsi yang dimilikinya. maka menurut Wittgenstein propoisisi yang bemakna adalah proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. menurut Wittgenstein sesuatu yang termasuk konsep formal itu sebenarnya tidak dapat diungkapkan ke dalam sebuah proposisi. dipergunakan untukmengatakan suatu objek. sebab sifat-sifat formal tidak dapat menghadirkan fungsinya secara jelas. Selain itu terdapat proposisi-proposisi logika yaitu proposisi-proposisi yang mendasarkan pada prinsip-prinsip logis yang kebenarannya besifat tautologies-tautologis. sehingga sttuktur logis dunia terlukiskandalam struktur logis bahasa dan proposisi yang melukiskan suatu realitas dunia inilah yang merupakan suatu proposisi sejati. 1969:126). ia hanya dapat diungkapkan dalam bentuk symbol yang bersifat pasti (Wittgenstein. Pandangan Wittgenstein tentang Metafisika Berdasarkan pada pandangannya struktur hakikat realitas dunai ang diungkapkan melalui ungkapan bahasa yang disebut proposisi. Pengembangan lebihlanjut tentan word types tersebut dilakukan oleh Wittgenstein pada filsafatnya pada periode kedua yaitu pada teori language game. melainkan hanya ditunjukkan oleh objek itu sendiri dalam bentuk symbol (misalnya ‘nama’. angka dipergunakan untuk tanda bilangan. adapun pada konsep filosofisnya pada periode kedua Wittgenstein mendasarkan pada language game. Keduanya memiliki cirri yang berbeda.bahas ayang serupa dengan konsep nyata oleh karena itu tidakmemiliki struktur logis maka. 6. yang dalam kenyataannya visi dasar filosofisnya uupaya Wittgenstein dalam mengembangkan bahas ideal dalam konsep filsafatnya yang dalam kenyataannya bertolak dari dasar-dasar yang berbeda pada konsep filosofisnya pada periode pertama yang mendasarkan pada struktur logis bahasa.

subjek yang menggunakan bahasa tidak termasuk dunia. Menurut Wittgenstein filsafat bukanlah merupakan suatu ajaran melainkan merupakan suatu aktivitas.dunia karena tidak menggambarkan suatu kebenaran peristiwa dan kebenaran bersifat pasif. Ketidakbermaknaan propoissi metafisik tersebut didasarkan atas teorinya bahwa proposisi tersebut tidak mengungkapkan apa-apa atau dengan lain perkataan bersifat ‘omong kosong’. (3) Juga Allah tidak dapat dipandang sebagai Sesuatu didalam dunia. Wittegenstein bermaksud bahwa tidak pernah suatu kejadian dalam dunia dapat dipandang sebagai “campur tangan” Allah. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Berdasarkan pandangan filosofisnya maka teori gambar memiliki konsekuensi logis menolak porposisi-proposisi metafisis karena menurut Wittgenstein proposisi tersebut tidak bermakna. kaerna kematian itu tidak meruapakan suatu kejadian yang dapat digolongkan diantara kejadian-kejadian lain. Tugas menurut Wittgenstein adalah menjelaskan kepada seseorang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan. (2) Demikian juga kematian tidak mungkin juga berbicara tentang kematiannya sendiri. kematian. Sebab kalau . Menurut Wittgenstein metafisika melampuai batas-batas bahasa. namun demikian Wittgenstein menyatakan bahwa memang terdapat hal-hal yang memang tidak dapat dikatakan yaitu hal-hal yang bersifat mistis. Hal-hal yang melampaui batas-batas bahasa tersebut menurut Wittgenstein adalah subjek. Kematianmanusia seakan-akan memagari dunia manusia tetapi tidak termasuk didalamnya. Tidak dapat dikatakan pula bhawa Allah menyatakan dirinya dalam dunia. Tentu saja penolakan atas proposisi tersebut menurut atas nama ‘logika bahasa’. sebagiamana mata tidak dapat diarahkan pada dirinya sendiri. (1) Oleh karena bahasa merupakan gambaran dunia. Demikian juga subjek yang menggunakan bahasa tidak mungkin diarahkan pada dirinya sendiri. Allah dan bahasa sendiri.

I. Oleh karena itu Wittgenstein berkesimpulan bahwa orang yang mengerti Tractatus akan mengakui bahwa ucapan-ucapan didalamnya tidak bermakna. Melalui bahasa si pembaca dihantar ke suatu titik di mana ia mengerti bahwa bahasa yang dihantarkannya tidka bermakna. 1981:46).s elain itu pendapatnya tentang hakikat bahasa bahwa bahasa seaka-akan hanya merupakan suatu struktur fisis dan logis. Ia seakanakan memanjat melalui tanggal dnsetelah itu membuang tangga tersebut. Karl Menger ahli matematika. Gerakan filsafat baru ini berpusat di Wina. yang berarti mengakui bahwa terdapat unsure metafisika dari bahasa yaitu makna. Penolakan Wittgenstein pada metafisika sebenarnya merupakan suatu sikap yang tidak konsisten dengan visi dasar bahasa yang dilukiskannya sebagai gambaran dunia yang memiliki struktur logis. Hal ini sebenarnya sudah merupakan suatu keyakinan metafisika. Friederich Wismann dan Herbert Feigl (Bertens. ontology tentang hakikat dunia. Rudolf Carnap ahli matematika dan fisika.demikian. Bahasa menggambarkan dunia. dan dalam masalah ini ia lupa bahwa dalam berbagai hal ia menunjukkan bahasa yang bermakna. (4) Yang paling paradoksal adalah pendapat Wittgenstein bahwa bahasa tidak dapat bicara tentang dirinya sendiri. Philip Frank seorang ahli fisika. yaitu suatu kota yang sekaligus sebagai pusat kelompok ilmuwan yang terkenal dengan nama Vienna Circle atau dikenal juga mazhab Wina (Kring Wina). Akibatnya kita tidak dpat berbicara tentang Allah dengan cara yang bermakna.maka Allah bekerja sebagai sesuatu dalam dunia. Anggota-anggota lingkungan Wina ini antara lain: Kurt Goedel. Karena hanya sebagai alat belaka (Bertens. akant etapi suatu gambar tidak memantulkan dirinya sendiri. seorang ahli matematika. 1981:166). serta beberapa mahasiswa antara lain. Hans Hahn juga seorang ahli matematika. . Positivisme Logis Pada tahun 1922 berkembanglah suatu gerakan filsafat baru yang dirintis oleh seorang fisikus sekaligus seorang filsuf bernama Moritz Schlik (1882-1936).

Beberapa kali diusulkan nama empirisme logis dan oleh karena nama tesebut lazim digunakan oleh aliran filsafat yang berkembang di Amerika Serikat. Aliran ini sangat dipengaruhi oleh tradisi empirisme yang melanjutkan garis tegas pada leluhurnya yaitu David Hume. Melalui suatu karangan kecil yang disusun oleh Neurath. Pandanganini menguraikan tentang pendirian filosofis kelompok lingkungan Wina yang sangat diwarnai oleh ilmu-ilmu pengetahuan positif. John Stuart Mill dan Ernest Mach (Bertens. Ungkapanungkapan metafisis itu ditolak oleh kaum positivism logis bukan karena bersifat emotive. namun karena berpura-pura sebgai ungkapan atau hal yang bersifat kognotif. Berdasarkan nama yang dipopulerkannya aliran ini juga mendapat pengaruh positivism.Aliran ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Ludwig Wittgenstein. Oleh karena itu aliran tersebut disepakati dengan nama “neopositivisme” atau popular dikenal dengan nama “positivism logis. 1981:169). Hans Hahn dan Rudolf Carnap mengeluarkan suatu deklarasi ilmiah dalam suatu konggres International pertama dengan judul Wissenschaftliche Weltauffasung: der Wiener Kreis (pandangan dunia yang bersifat ilmiah: Lingkungan Wina). Inggris dan Skandinavia. Positivism logis menggunakan teknik analisis untuk dua macam tujuah: Pertama: bertujuan untuk menghilangkanmetafisika. walaupun pengaruhnya bersifat langsung dan sebenanrya Wittgenstein sendiri tidak ikut aktif dalam kelompok Wina tersebut. melainkan pada dirinya sendiri tak dapat ditolak. Sebagaimana diungkapkan oleh Rudolf Carnap sebagai seorang tokoh positivism logis dalam suatu tulisannya yang berjudul “the Elemination of Metaphisics Through Logical Analysis” (Pengapusan metafisika melalui analisis logis) menyatakan: tidak bermakna .” Positivism logis menerima pandangan-pandangan filosofis dari atomisme logis tentang logika dan cara atau teknik analisisnya namun demikian positivism logis menolak metafisika atomisme logis. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan metafisis itu pada hakikatnya tidak menyatakan apa-apa sehingga bersifat ‘nirarti’ atau (Poerwowidagdo: 52).

Positivism logis tidak melawan metafisika.hal ini sebagaiman dikemukakan oleh Moritz . Penekanan pada pengalaman menunjukkan aspek empirisme yang kuat dalam positivism logis. metafisika itu nirarti mengingkari berarti keberadaan dunia luar atau dunia yang transenden. 1959:107). atau tidak menyatakan sesuatu sama sekali (Poerwowidagdo.akan tetapi bahwa apa yang dikatakan kaum metafisika itu tidak menyatakan sesuatu sama sekali. Keputusan ini pertama-tama mengenai pada metafisika yang spekulatif. atau oleh intuisi murni yang berpurapura dapat dilakukan tanpa pengalaman. Penolakan terhadap metafisika oleh positivism logis tidak boleh diartikan bahwa positivism logis itu menolak atau pernyataan-pernyataan Schlick sebagai berikut: “Pengingkaran tentang keberadaan dunia luar yang transenden itu akan sama saja dengan suatu pernyataan metafisis tentang pengakuan keberadaan dunia luar yang trasenden itu. (Ayer. hanya dinyatakannya bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu tidak dapat dipahami. Jadi kaum positivism logis atau empirisme logis itu tidak menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu salah. Oleh karena itulah maka positivism sering disebut empirisme logis. melainkan bahwa tidaklah suatupengingkaran atasnya. 1959:60).“Didalam wilayah metafisika termasuk semua filsafat nilai dan teori norma analisis logis menghasilkan hal yang negative yaitu pernyataanpernyataan bidang ini (metafisika dll) semuanya adalah nirarti” Lebih lanjut mengemukakan sebagai berikut: Analisis logis dengan demikian member keputusan dan menyatakan nirarti pada setiap apa yang disebut pengetahuan yang berpura-pura melampaui batas-batas pengalaman. Dengan demikian seorang empiris yang konsisten tidak mengingkari dudnia transenden. tetapi menunjukkan bahwa baik pengingkaran maupun pengakuan keduaduanya adalah nirarti” (Schlik. apa yang dimaksud dengan pengetahuan yang berasal dari pemikiran murni. 55).

Positivism logis terutama memperhatikan duamasalah : (1) analisis pengetahuan. demikian juga terhadap psikologi dan sosiologi. tetapi hanya apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu nyata.jadi menurut positivism logis tugas filsfat itu memperhatikan analisis-analisis dan penjelasan tentag pernyataan-pernyataan dan proposisiproposisi terutama dari ilmu pengetahuan. Menurut positivism logis filsafat tidak memiliki suatu wilayah ilmiah tersendiri yang terletak disamping wilayah-wilayahlain yang menjadi objek ilmu pengetahuan. Analisis Logis terhadap Bahasa Secara prinsip positivism logis menerima konsep-konsep atomisme logis dalam hal analisis logis melalui bahasa. Demikianpula terdapat problem-problem lain yang karena penjelasan yang sama dinyatakan termasuk kompetensi ilmu pengetahuan. Oleh karena itu tidak dapat diharapkan bahwa filsafat akan memecahkan problemproblem ilmu pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak menyoroti problemproblem yang berbeda dari problem-problem ilmupengetahuan. . Sebab dengan analisis filsafati kita tidak dapat menentukan apakah sesuatu itunyata (real). positivism logis menggunakan teknik analisis demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. Dengan demikian sebenarnya banyak problem yang semu saja yang menampakkan seolah-olah merupakan suatu problema yang amat penting pada hal penjelasan analitis menunjukkan suatu keputusan. kecuali hanyamenganalisis masalahmasalah dan disusul dengan menjelaskannya. yaitu melalui pengalaman. walaupun mereka menolak visi dasarmetafisisnya.Kedua. hal itu hanya dapat diputuskan melalui metode umumnya dalam kehidupan sehari-hari dan dari ilmu pengetahuan. dan (2) pendasaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Demikian juga apakah hal itu memang demikian atautidak. Tugas filsafat adalah analisis logis terhada pengetahuan ilmiah. 1.

suatu pernyataan “di planet Mars terdapat makhluk hidup sejenis manusia”. atau bahkan prinsip verifikasi itu juga tidak mengharuskan menghasilkan suatu pernyataan yang mesti benar (Poerwowidagdo. maka sudah dapat dipastikan bahwa analisis logis tentang pernyataan-pernyataan ilmiah maupun pernyataan filsafat sagnat ditentukan oleh metode ilmu pengetahuan positif dan empiris tersebut. akan tetapi pernyataan ini memiliki kemungkinan verifikasinya. Hal ini berarti bukan mengharuskan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu telah dilakukan verifikasi. Misalnya. Pernyataanini bermakna walaupun belum dilakukan suatu verifikasi. Prinsip Verifikasi Positivism logis yang konsep-konsep dasarnya sangat diwarnai logika. Memverifikasi berartimenguji. 1966:108). 2. membuktikan secara empiris. Menurut mazhab yang berpusat di Wina ini bahwa suatu ungkapan atau proposisi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi. Oleh karena itu arti suatupernyataan adalah sama dengan metode verifikasinya yang berdasarkan pada suatu pengalaman empiris (Beerlling. 58).Atas dasarpengetahuan tersebut maka kaum positivism logis menentukan sikap bahwa agar tidak terjadi kekacauan maka analisis terhadap bahasa yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dalam filsafat adalah langkah yang paling tepat. Misalnya pengamatan. pengujian dan pembuktian . teori atau dalil hal itu dianggap memiliki makna bilamana secara prinsip dapat diverifikasi. Dalam pengertian inilah maka positivism logis mengembangkan prinsip verifikasi. Setiap ilmu pengetahuan dan filsafat senantiasa memiliki suatu pernyataan-pernyataan baik berupa aksioma. Namun prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh positivism logis tersebut yang dipegang teguh adalah suatu keharusan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu secara prinsip memiliki kemungkinan diverifikasi secara empiris. matematika serta ilmu pengetahuan alam yang bersifat positif dan empiris.

verifikasinya ternyata hanya terdapat uang sejumlah Rp. Peristiwa semacam itu terlihat dalam kalimat protocol dan inilah yang menjadi permulaan ilmu .000. Jadi prinsip verifikasi juga tidak harus dijamin dengan kebenaran hasil dari verifikasi tersebut. Hanya proposisi atau pernyataan yang mengandung istilah yang diangkat secara langsung dari objek yang dapat diamati itulah yangmengandung makna (hal ini dinamakan dengan istilah kalimat protocol). konsekuensinya juga sama yaitu pernyataan yang tidak bermakna. hal ini merupakan suatu pernyataan yang bermakna walaupun setelah dilakukan pembuktian. satelit dan lain sebagainya. Pernyataan “pemahaman akan analogi etnis adalah bertitik tolak dari yang ada yang bersifat transcendental” (Bagus. Walaupun secara prinsip kaum positivism logismenerapkan prinsip verifikasi. 1991:66). Jadi yang membenarkan ungkapan metafisis maupun yang menegasikan ungkapan yang sama pada hakikatnya kesemuanya itu omong kosong belaka sebab tidakada kemungkinan untuk melakukan verifikasi. Moritz Schlick misalnyamenafsirkan verifikasi itu dalam pengertian pengamatan empiris secara langsung.-. Di dalam sebuah tas terdapat uang sejumlah seratus ribu rupiah. Pernyataan-pernyataan tersebut tidakmemiliki kemungkinan untuk dilakukan pembuktian secara empiris. Demikianlah kiranya penolakan yang sangat radikal kaum positivime logis terhadap metafisika. Menurut Sclick bahwa salah satu cara penetahuan itu dimulai dengan pengamatan peristiwa secara empiris.dilakukan dengan menggunakan telescope. Konsekuensinya setiap pernyataan atau proposisi yang secara prinsip tidak dapat diverifikasimaka pernyataan tersebut pada hakikatnya tidak bermakna. namun di antara para tokoh-tokohnyamemiliki perbedaan pandangan. Demikian juga terdapat orang yang menyatakan “realitas itu tidak bersifat absolute”. Pada pernyataan-pernyataan ini tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. “Realitas pada hakikatnya bersifat absolute” dan pernyataan-pernyataan metafisis lainnya menurut positivisme logis merupakan suatu pernyataan yang tidak bermakna. 5.

yang mengaitkan prinsip verifikasi itu dengan kalimat protocol. yang hanya mendasarkan prinsip verifikasi hanya secara empiris saja. 1966:107).(Beerling. Hal ini jelas terdapat pada pandangan Sclick. Penafsiran yang dikemukakan oleh Ayer terhadap prinsip verifikasi tersebut berhasil mengatasi kelemahan yang terdapat dalam pandangan tokoh posivitisme logis sebelumnya. yaitu kalimat atau pernyataan yang diperiksa benar atau salahnya melalui pengamatan empiris secara langsung. yaitu jikalah sejauh proposisi itu mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Konstatasi Sclick ini menimbulkan kontroversi yaitu prinsip yang meletakkan verifikasi hanya pada suatu peristiwa yang dapat dialami secara langsung. Menurut Ayer prinsip verifikasi itu merupakan pengandaian untukmelengkapi suatu criteria sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat itu mengandung makna atau tidak (Ayer. Melalui prinsip verifikasi ini tidak hanya kalimat yang teruji dan terbuktikan secara empiric saja yang bermakna. 1952:5). Komentar atas prinsip verifikasi tersebut antara lain dari seorang tokoh posivitisme logis Ayer. Ia menyadari kelemahan yang terdapat dalam prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh Sclick. jikalau pernyataan atau proposisi itu dapat diverifikasi atau dapat dianalisis secara empiris. Adapun verifikasi dalam arti yang lunak. . melainkan juga kalimat yang dapat dianalisis lebih lanjut Ayer menegaskan bahwa suatu cara yang sederhana untuk merumuskan hal itu dalah dengan mengatakan bahwa suatu kalimat menandung makna. Menurut Ayer prinsip verifikasi sebagaimana yang diajukan oleh Sclick itu merupakan verifikasi dalam arti yang ketat dan disamping itu terdapat verifikasi yang bersifat longgar atau lunak. 1952:37). Prinsip verifikasi ini memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Verifikasi yang bersifat ketat (strong verifiable) yaitu sejauh kebenaran suatu pernyataan atau proposisi itu didukung pengalaman secara meyakinkan.

Konsep Proposisi Doktrin yang telah dipegang teguh oleh kalangan positivism logis adalah bahwa tugas filsafat adalah untuk menentukan danmembuat jelas. oleh karena itu filsafat harus melakukan analisis dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Terdapat dua macam proposisi menurut positivism logis yang pengertiannya sebagai berikut : (1) Proposisi empiris. (2) Proposisi formal (proposisi analisis). pernyataan-pernyataan atauproposisi-proposisi dalam ilmu penetahuan dan filsafat. yaitu proposisi factual yang harus dapat diverifikasi secara empiris. yaitu proposisi yang kebenarannya tidak memerlukan verifikasi secara empiris. Menurut Ayer proposisi empiris manakala mengandung suatu kemungkinan untukdisahkan atau ditolak dalam pengertian pengalaman yang sebenarnya.3. Sehingga tidak memerlukan verifikasi empiris. Proposisi formal ini meliputi proposisi logika dan matematika yang memiliki kebenaran secara pasti (kebenarannya bersifat tautologies) sehingga tidak memerlukan verifikasi pengalaman empiris. . melainkan berdasarkan pada pengetahuan a priori (pengetahuan yang diperoleh melalui refleksi logis tanpa melalui pengalaman empiris). Konsekuensinya ungkapan yang dikemukakan dalam ilmu penetahuand an filsafat merupakan proposisi-proposisi maka penentuan macam dan jenis proposisi tersebut menjadi sangat penting. Dalam pembahasannya tentang proposisi Ayer memberikan beberapa cirri yang diuraikan sebagai berikut: (1) Proposisi analitis memiliki cirri benar berdasarkan pembatasan sematamata berdasarkan makna yang terkandung dalam susunan simbolnya. (2) Proposisi analitis tidak berdasarkan pada pengalaman.

proposisi tersebut tidak memiliki kandungan istilah yang factual. (4) Proposisi analitis mengandung makna sejauh proposisi yang bersangkutan didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti. Proposisi analisis mengandung kepastian dan keniscayaan yang bersifat tautologies. yaitu memiliki sifat kebenaran tautologies. Proposisi analisis yang semata-mata benar berdasarkan simbolnya adalah dalam matematika. yaitu suatu pernyataan yang mesti berdasarkan hukum-hukum logika. berarti terdapat suatu hubungan yang memang sudah semestinya. misalnya “9 + 8=17” adalah proposisi matematika yang kebenarannya berdasarkan symbol yaitu “9+8” adalah sama dengan “17” Kebenaran proposisi analisis yang didasarkan pada pengetahuan a priori. Persoalannya adlaah ilmu pengetahuan itu beraneka ragam corak dan sifatnya baik berdasarkan objek formal maupun objek materialnya. Pernyataan semacam ini merupakan tautologies. karena “mati” itu merupakan sifat yang sudah semestinya ada pada manusia. dalam Mustansyir 1987:73). Proposisi yang didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti artinya.(3) Proposisi analitis mengandung kepastian dan keniscayaan. hal itu tergantung pada fakta bahwa symbol “dokter mata” itu secara logis sama artinya dengan “spesialis mata”. jadi maknanya terletak pada bahasa atau ungkapan-ungkapan verbal. Dan hal itu berarti tidakada pengalaan yang akan membuktikan atas ketidakbenarannya (Ayer. berarti penjelasan yang sama merupakan pegangan bagi setiap kebenaran a priori lainnya. 1952:85). Pengtahuan yang kita peroleh berdasarkan suatu refleksi logis ( apirori) mengenai pengertian bahwa “seorang spesialis dokter mata adlaah seorang dokter mata”. Misalnya semua manusia pasti mati”. Oleh karena itu . (Charlesworth. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern dewasa ini konsep proposisi menurut positivism logis ini menjadi kata kunci untuk mendapatkan suatu kebenaran ilmiah yang objektif.

Logika dan Matematika Sejak pertengahan abad ke-19 logika mengalami suatu pembaruan radikal. 4. Logika baru dan hubungannya dengan matematika memainkan peranan penting bagi Ludwig Wittgenstein. Russel dan A. atau memang secara apriori memiliki struktur kebenaran.akan timbul suatupersoalan yang semakin rumit bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang memiliki sifat kualitatif. 1910-1913). Mereka mengalami jalan buntu dalam mengkonstruksikan matematika secara regorus atas dasar logika tradisional. Hal ini berdasarkan tijauan analitis. bahwa hubungan antara ungkapan bahasa dalam suatu proposisi harus memiliki hubungan yang jelas dengan fakta empiris. Suatu usaha untuk mengkonstruksikan matematika dengan memakai logika baru ialah karya B. Dalam abad ke-19 John Stuart Mill dan Herbert Spencer melontarkan percobaan untuk medasarkan logika dan matematika atas pengalaman. yakni subjel-kopula-predikat. Tetapi bagi para pengikut Ludwig Wittgenstein pendirian itu tidak memuaskan. Perbedaan antara logika modern dan logika klasik ialah (1) penggunaan symbol-simbol menurut analogi dengan matematika. tiga jilid. yang menyoroti relasirelasi lain. Relasi-relasi dalam matematika tidak dapat ditangani dengan menggunakan skema logika tradisional . Percobaan itu mendapat sambutan hangat pada waktuitu. Logika dan matematika tidak dapat diubah oleh . sebab dengan itu mereka sanggup mengerti lebih baik kedudukan khusus logika dan matematika dalam cakrawala ilmu pengetahuan. Karena itu terpaksa mereka mengembangkan suatu teori logis yang baru.dan (2) bertambahnya wilayah-wilayah pembahasan yangsama sekali baru pembaharuan logika ini dirintis oleh ahli-ali matematika. Karena dapat mengerti bahwa tidak mungkin logika dan matematika mempunyai dasar empiris. Whitehead yang sangat penting (Principia mathematica. Dengan itu mereka mau meneruskan prinsip empiris seradikal mungkin. tetapi harus bersifat lain.

Dan suatu realitas non empiris atau transenden tidak mungkin menjadi objek pengetahuan. Mereka melihat jalan keluar dari dilemma itu tidak dapat diasalkan kepada pengalaman. 1981:170). Atau dengan suatu istilah yang berasal dari Wittgenstein ucapan-ucapan sedemikian itu merupakan tautology-tautologi. tentu tidak merupakan pendirian baru (rasionalisme misalnya sudah lama menekankan hal itu). Prinsip-prinsipnya bersifat apriori (tak tergantung pada pengalaman). . Konsepsi Lingkungan Wina tentang Filsafat Pada akhir uraian neoposivisme Lingkungan Wina ini kita memandang sebentar konsepsi mereka tentag filsafat. Realitas empiris menurut segala aspeknya dipelajari oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus. Menurut pendapat mereka filsafat tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. 5. berarti dlakukan pada pengetahuan tentang fakta-fakta saja dan tidak berlaku untuk setiap macam pengetahuan (Bertens. atau menyalahtafsirkan logika dan matematika (karena orang mau mengasalkannya kepada pengalaman). Pertanyaan-pertanyaan dan ucapan-ucapan yang menyangkut objek-objek sedemikian tak lain adalah pertanyaan-pertanyaan semu dan ucapan-ucapan semu saja. Tetapi semua ucapan tentang realitas empiris bersifat sintetis. Dua ilmu ini hanya mengandung relasi-relasi pikiran.pengalaman-pengalaman baru. Logika matematika tidak mengatakan apapun juga tentang realitas empiris. Sebagaimana diketahui bahwa matematika dan logika bersifat apriori. Objekobjek metafisika yang tradisional seperti ada yang absolute (tetapi nilainilai yang absolute dan norma-norma) tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita. Semua anggota lingkungan Wina sepakat dalam mencita-citakan suatu filsafat yang bersifat ilmiah (bandingkan misalnya dngan Karl Jaspers). Ucapan-ucapan logika serta matematika bersifat analitis belaka dan bukan sintetis. Hal yang baru yang dilihat oleh Ludwig Wittgenstein ialah hubungannya dengan empirisme.

psikologi. tetapi sebagai analsisi logis tentang ilmu pengetahuanalam. Dalam bukunya Sintaksis logis dari bahasa ia mengatakan bahawa filsafat harus menyelidiki sintaksis logis dari ucapan-ucapan ilmiah. Di kemudian hari Carnap menyadari bahwa analisis logis tidak dapat dilepaskan dari masalah bermakna tidaknya bahasa yang diselidiki. Pada Carnap dapat kita saksikan suatu perkembangan daam pendapatnya tentang tugas-tugas filsafat. sedangkan filsafat meneropong makna ucapan-ucapan. Sampai di situ semua anggota lingkunga Wina setuju. Menurut Carna sintaksis logis itu harus disusun secara formal antara relasi-relasi. Ilmu pengetahuan memverifikasi ucapan-ucapan. Schlock dalam jilid pertama majalah Erkenntnis pernah mengatakan bahwa filsafat tidak mempunyai tugas lagi. Tetapi dengan masalah-masalah semacam itu sekarang ini filsafat tidak mempunyai urusan lagi. Itu berarti bahwa filsafat tidak boleh melewati masalah teori pengetahuan. filsafat sejarah dan sebagainya. filsafat kehidupan organis. juga dalam menyelidiki pendasaran ilmu pengetahuan. Seluruh wilayah empiris termasuk wewenang ilmu pengetahuan positif. Sepanjang filsafat dapat kita lihat bahwa filsafat telah menyibukkan diri dengan tiga hal (1) pertama-tama terdapat masalah-masalah yangmenyangkut fakta-fakta empiris.Metafiska tidak mungkin mencapai status filsafat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (2) berikutnya . biologi. ilmu sejarah dan lain-lain. kecuali menjelaskan kata-kata serta ucapan-ucapan dan dengan demikian menyingkirkan ucapan-ucapan yang tidak bermakna. Filsafat tidak boleh dimengerti sebagai filsafat alam. Tetapi mereka tidak selalu sepakat dalam menentukan tugas-tugas filsafat secara kongkrit. artinya struktur logis ucapanucapan tersebut. Sebagai kesimpulan dapat kita katakana bahwa Ludwig Wittgenstein mempunyai suatu konsepsi jelas tentang cara membatasi tugas filsafat terhadap usaha-usaha intelektual yang lain. Pendekatan formalistis belaka tidakdapat dilaksanakan. filsafat manusia.

Kalau cita-cita ini sampai diwujudkan. Urutan tingkatan-tingkatan sesuai dengan urutan dalam sttuktur pengenalan. Konstruksi logis dunia karya Carnap. mak asudah terbuktilah bahwa tidak ada banyak ilmu pengetahuan.terdapat masalah-masalah yang menyangkut pengekspresian pengetahuan kita atau dengan kata lainmelalui ungkapan bahasa. Tetapi dengan itu filsafat tidak mengalami kerugian. Setiap tingkatan bahasa sesuai dengan suatu tingkatan objek-objek. lingkup geraknya dibersihkan dari persoalanpersoalan sesat. Sebaliknya. Untuk itu Carnap menyusun suatu hierarki tingkatan-tingkatan. Dahulu masalahmasalah ini ramai dibicarakan dalam filsafat. Karena itu maslah-masalah metafisis tidak mempunyai makna. Masalah-masalah ini tidak dapat dirumuskan dalam bahasa ilmiah. merupakan suatu percobaan terkenal untuk melaksanakan proyek tadi. Bahasa Universal bagi Seluruh Ilmu Pengetahuan Suatu usaha yang senantiasa mendapat perhatian para anggota Lingkungan Wina ialah percobaan untuk memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan semua ilmu pengetahuan dapat ‘diterjemahkan’ ke dalam bahasa universal yang sama. Atas fondamen ini dapat disusun berturut-turut . Dalam pengertian inilah menurut positivism logis justru merupakan letak tugas filsafat dewasa ini. 6. tetapi neopositivisme berpendapat bahwa dalam metafisika dipersoalkan pertanyaanpertanyaan yang tidak bisa dijawab. Masalah-masalah ini ditangani dengan menjelaskan konsep-konsep dan ungkapan-ungkapan yang kita pakai. melainkan hanya satu ilmu pengetahuan yang membahas objek-objek yang termasuk pelbagai tarag pengetahuan. Sesuatu yang merupakan dasar seluruh konstruksi ini ialah tingkatanyang disebut “auto-psikologis” (misalnya pengalaman saya tentang ‘merah’). Dalam buni ini Carnap coba membuktikan bahwa setiap objek-objek pengetahuan dapat dasalkan kepada pengalaman-pengalaman elementer subjek. (3) akhirnya masih terdapat masalah-masalah metafisis.

tingkatan fisis. Dengan demikian. maka orang dapat merumuskan semua ucapan ilmu pengetahuan dalam bahasa dasariah yang mengungkapkan pengalaman-pengalaman elementer kita. Menurut dia. Carnap memecahkan masalah dispositional terms itu dengan cara mengubah beberapa pendirian dalam bukunya. psikologis. biologis. 1981:173). Misalnya soluble (dapat dilarutkan fakta). dan pada umumnya semua istilah dalam bahasa Inggris yang berakhir dengan –ble. Ada kesulitan-kesulitan lain lagi yang mengakibatkan bahwa akhirnya Carnap sendiri tidak puas lagi dengan usaha yang dilontarkan dlam bukunya “konstruksi Logis Dunia” (Bertens. Neurath tidak setuju jika suatu lapisan auto-psikologis diambil sebagai fenomena kesatuan ilmu pengetahuan. tetapi hanya satu ilmu pengetahuan yang diungkapkan dengan suatu bahasa universal. Objek-objek dari masing-masing tingkatan dapa diasalkan objek-objek dari tingkatan lebih rendah. Salah atu kesulitan terkenal ialah masalah dispositioal terms. melainkan karena objek yang bersangkutan mempunyai semacam “kemampuan” (idisposition) untuk menimbulkan fakta tertentu. visible (dapat dilihat). Maka dari itu bahasa yang dikonstruksikan Carnap mempunyai basis dan susunan sedemikian rupa sehingga setiap ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang khusus dapat “diterjemahkan” melalui tahap-tahap tertentu ke dalam ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang lain. Tetapi harus terdiri dari ucapan-ucapan yang . Tetapi ada banyak kesulitan yang mengancam keberhasilan proyek ambisium Carnap ini. kalau tingkatan sosiokultur dapat diasalkan kepada tingkatan ilmu-ilmu pengetahuana alam. fondamen itu tidak boleh dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang menyangkut suasana “keakuan” (sebagaimana halnya pada Carnap dalam KOnstruksi Logis dunia). social dan cultural. Karena itu bahasa inilah menjadi bahasa universal bagi semua ilmu pengetahuan dan tidak ada lagi banyak ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Dengan dispositional terms dimaksudkan suatu istilah yang mengungkapkan suatu cirri yang harus disifatkan kepada suatu objek bukan berdasarkan fakta-fakta actual.

Kalimat-kalimat protocol semacam itu merupakan ucapanucapan paling elementer dalam ilmu pengetahuan yang disatukan. Ucapan-ucapan tentang ‘yang psikis’ yang tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. Ucapan-ucapan psikologi yang sungguh-sungguh ilmiah hanya berbicara kejadian-kejadian dalam badan. Dalam hal ini Neurath dan Carnap berkembang kea rah suatu pendapat yang sangat ekstrem. Bagi Neurath bahasa fisika merupakan bahasa yang paling fundamental dan semua bahasa ilmiah harus dapat diterjemahkan ke dalam bahasa fisika itu.bersifat umum dan terbuka secara intersubjektif.seperti misalnya. Karena semua ilmu pengetahuan cultural (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari imu pengetahuan alam. Ketika ia sudah meninggalkan pendapatnya dalam konstruksi logis dunia (Die Physikalische Sprache als Universalsprache der Wissenschaft”. khususnya dalam system saraf pusat. tetapi dalam beberapa hal ia tetap mempunyai pendapat lain. 1931). sebab hanya ucapan-ucapan macam in bersifat inersubjektif dan dapat dicek oleh umum. Kalau orang menganut pendirian itu. Dalam hal ini memainkan peranan besar apa yang dinamai Neurath sebagai ‘kalimat-kalimat protokol’ (protocol sentences). Percobaan Neurath ini pada umumnya mendapat dukungan Carnap juga. : “pada pukul 15. Dengan perkataan lain. setelah dia meninggalkan pandangannya dari Konstruksi logis dunia. Semua ilmu pengetahuan sama-sama bersifat ‘fisis’ dan justru itulah memungkinkan kesatuannya. maka salah satu problem besar yang dihadapi ialah memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan tentang ‘yang fisis’. Maksudnya ialah kalimatkalimat yang berupa laporan sehingga dapat dikontrol oleh semua orang. . Istilah ini diciptakan oleh Carnap dalam suatu artikel pada tahun 1931. Fisikalisme bermaksud menyangkal setiap perbedaan principal antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan cultural. Pendirian Neurath tentang kesatuan ilmu pengetahuan ini membawa dia keapda apa yang disebut ‘fisikalisme’ (pshysicalism). Erkenntnis. ucapan-ucapan psikologis harus dpat ‘diterjemahkan. ke dalam ucapan0ucapan tentang keadaan dan kejadian-kejadian badani.30 sebuah meja diamati oleh John”.

Truth and Logic” merupakan karya yang sangat terkenal dan memiliki pandangan yang sangat radikal. J. 136). sehingga tidak mengherankan karya yang diterbitkannya yang berjudul “Language. Dikatakannya bahwa pengalaman-pengalaman macam itu tidak mempunyai nilai ilmiah. Itulah sebabnya ucapan-ucapan semacam itu tidak diberi tempat dalam wilayah ilmu pengetahuan. budaya. Positivisme Logis Alfred Jules Ayer Walaupun positivism logis berpusat di Wina Austria namun Ayer sebagai seorang filsuf Oxford Inggris mengembangkan konsep filosofis positivism logis secara lebih radikal. sebab bagi neopositivisme semuanya yang tidak dapat ditangani ilmu pengetahuan menurut tanggapan merek mengenai ilmu pengetahuan. 202:187. berarti sebagai usaha yang tidak mempunyai makna teoritis dan tidak mengungkapkan sesuatu apapun (Bertens. 1981:174). Itulah metafisika belaka. Pemikiran filsafat Ayer yang mengintrodusir positivism logis dari lingkungan Wina dan sekaligus disintesiskan dengan metode yang dikembangkan oleh Moore dan Russell. Demikianlah pengaruh positivism logis terhadap ilmu pengetahuan lain terutama ilmu pengetahuan psikologis. social dan ilmu pengetahuan lainnya yang sampai saat ini masih terasa terutama di Indonesia sendiri (Kaelan. Positivism Ayer tidak lain juga meneruskan garis lurus tradisi .pada dasarnya tidak terbuka untuk pemeriksaan intersubjektif. nampaknya memiliki corak tersendiri dalam menciptakan klarifikasi dan ketelitian dalam bidang filsafat. karena secara principal tidak terbuka lagi bagi pemeriksaan intersubjektif dank arena tu tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. yaitu fisikalisme dicap sebagai metafisika. Fisikalisme tidak mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman psikis merupakan suatu fakta empiris. Latar belakang ilmu yang dikuasainya yang di samping imu pasti dan logika. Sekembalinya dari Wina. ia diangkat menjadi professor di Universitas Oxford. ia juga menguasai ilmu bahasa dan fisiologi. Jadi satu-satunya psikologi ilmiah yang mungkin adalah suatu behaviorisme radikal.

Mereka tidak menghiraukan benar atau tidaknya suatu ungkapan melainkan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan sehingga gilirannya mereka ingin mewujudkan “bagaimana dapat ditentukan suatu norma yang jelas yang dapat membedakan ungkapan-ungkapan yang bermakna dari ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna”. Sebaliknya kalau apa yang dianggap sebagai proposisi bersifat demikian rupa sehingga menerima kebenaran atau tidak benarannya . The sentence expressing it may be emotionally significant to him. but it not literary significant (Ayer. he knows that observations would lead him. 1952: 48). “kami mengatakan bahwa suatu kalimat pada kenyataannya bermakna bagi seorang tertentu. menerima suatu proposisi sebagai benar atau menolaknya sebagai salah. under certain conditions. kalau dan hanya kalau ia tahu observasiobservasi mana yang membuat dia denga syarat-syarat terteentu. or reject it as being false. If. to accept the proposition as being true. if analysis only if. then.as far as he is concerned it is.empirisme. Usaha mereka yang utama adalah untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Inggris terutama Hume dan menekankan pada analisis logis versi Bertranad Russell. on the other had the putative proposition is of such a character that assumption of its truth or falsehood. Dalam kesempatan inilah Ayer mengambil alih program ambisius dari kelompok postiivisme logis Wina ini dan dalam bukunya ia merumuskan prinsip sebagai berikut : “We say that a sentence is factually significant to any given person. is consistent with any assumption what so ever concerning the nature of his future experience. if not a tautology. a mereka pseudo proposition. Untuk itulah kemudian mereka menentukan prinsip ilmiah yang dikenal dengan prinsip verifikasi. Sebagaimana diketahui bahwa kelompok lingkungan Wina di satu pihak menaruh antusiasmebesar untuk ilmu pengetahuan dan matematika dan di pihak lain mengambil sikap negative terhadap metafisika.

maka bagi orangyang bersangkutan. yaitu sejauh kebenaran suatu proposisi itu didukung oleh suatu pengalaman secara meyakinkan. Suatu ungkapan yang bermakna dapat benar dan juga dimungkinkan dapat juga salah. Menurut Ayer suatu ungkapan itu bermakna bilamana suatu ungkapan itu merupakan observation statement artinya merupakan suatu pernyataan yang menyangkut realitas inderawi.dapat dicocokkan dengan pengandaian apapun juga mengenai pengalamannya di kemudian hari. akan tetapi pasti tidak ada makna harafiah”. apa yang disebut proposisi itu tidak lain (kecuali kalau merupakan suatu tautologies) daripada proposisi semu saja. . Agar supaya ungkapan itu bermakna maka perlu kita dapat menunjukkan kepada suatu hal empiris atau dengan lainperkataan memerlukan suatu fakta atau data empiris (Bertens. ungkapan tersebut salah akan tetapi ungkapan tersbut bermakna. (2) verikasi dalam arti yang lunak. Akan tetapi kalau suatu ungkapan “hari ini cuaca lebih bagus daripada di luar”. Ayer menekankan dua macam pengertian verifikasi yaitu (1) verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable). Barangkali kalimat yang mengungkapkan proposisi itu mempunyai makna emosional bagi dia.a tau sekurang-kurangnya memiliki hubungan dengan observasi. Berdasarkan pernyataan Ayer tersebut dapat dijelaskan bahwa pada hakikatnya prinsip verifikasi bermaksud untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dan bukannya untuk menentukan suatu criteria kebenarannya. Seseorangyang menyatakan bahwa “Surabaya adalah Ibu Kota Negara Republik Indonesia”. Dengan lain perkataan dikatakan bermakna bilamana dilakukan berdasarkan observasi atau verifikasi. 1952:37). Ungkapan seperti itu tidak bermakna karena tidak mungkin ditentukan benar atau salahnya dan tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. sebab ketidakbenarannya dapat ditetapkan. 1981:35). yaitu jikalau suatu proposisi itu mengandung suatu kemungkinan bagi pengalaman atau pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Berbeda dengan tokoh-tokoh positivism lingkungan Wina.

hal itu bermakna walupun secar factual belum pernah dilakukan suatu verifikasi namun memiliki suatu kepastian bahwa ungkapantersebut secara prinsip memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Ungkapan-ungkapan matematika dan logika itu tidak mengungkapkan realitas inderawi sehingga tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman. Misalnya ungkapan “Undang-undang Dasar 1945 disyahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945”. Demikian juga untuk mendapatkan suatu . Dalam pengertian inilah maka terdapat tempat bagi prinsip verifikasi atas kebenaran fakta-fakta sejarah. adalah benar tanpa melalui verifikasi empiris. tidak harus ungkapan itu diverifikasi secara factual. Maka untuk menentukan benar tidaknya suatu ungkapan matematika dan logika maka kita tidak dapat meninggalkan bahasa karena kebenarannya. Dalam masalah ini Ayer menerima kebenaran atas kesaksian tersebut sebab kalau demikian maka semua ungkapan bahasa pad amasa lampau akan menjadi tidak bermakna. Tidak perlu suatu ungkapan baahasa itu diverikasi secara langsung. misalnya dapat pula melalui suatu kesaksian seseorang yang dpat dipercaya. sehingga kebenarannya bersifat pasti atau bersifat tautology.Selain ungkapan-ungkapan yang berdasarkan data empiris terdpat pula satu ungkapan atau proposisi yang bermakna yaitu proposisi matematika dan logika. bujur sangkar memiliki empat sisi yang sama dan lains ebagainya. Misalnya suatu ungkapan bahwa “di planet mars terdapat makhluk hidup sejenismanusia”. Verifikasi juga tidak harus dilakukan secara lengkap melainkan sebagian saja dan hal ini sangat dilakukan dalam verifikasi dalam bidang ilmu-ilmu alam dan fisika. hal itu dapat diterima sebagai suatu ungkapan yang bermakna karena misalnya berdasarkan kesaksian seorang tokoh pendiri Negara RI. sudut yang bertolak belakang sama besarnya. Misalnya 44:11 = 4. Demikian juga suatu ungkapan bahasa itu disebut bermakna. Tentu saja Ayer harus mengakui adanya batas-batas yang berlaku untuk prinsip verifikasi. namun jikalah ungkapan bahas aitu secara principal memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Misalnya untuk mengetahui bahwa dalam segelas air itu mengandung larutan gula maka cukup dengan hanya melakukan verifikasi untuk setetes air saja.

setiap manusia harus berbuat baik terhadap sesamanya”. “nilai itu adalah bersifat objektif” dan ungkapan metafisis yang lainnya pada hakikatnya tidakmengungkapkan suatu realitas empiris sama sekali sehingga ungkapan itu sma sekali tidak bermakna. Reaksi Ayer justru lebih radikal dibandingkan dnganpara tokoh lainnya.hukum umum bahwa “semua logam kalau dipanasi memuat”.estetika. “a statement wich is not relevant to experience…Has no factual content”. K. aksiologi. Para tokoh filsafat analitika bahasa menyadari bahwa dalam kenyataannya banyak problem-problem filsafat dapat diselesaikan . “lukisan itu memiliki nilai yang tinggi”. Secara hati-hati Ayer menentukan berbagai macam prinsip verifikasi yang nampaknya lebih rinci dibandingkan dengan para pengembangnya di lingkungan Wina. maka tidak perlu melakukan eksperimen untuk seluruh logam. etika . Diskusi mulai marak terutama berkaitan dengan prinsip-prinsip verifikasi yang dalam kenyataannya untuk diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan masih memerlukan pemikiran yang cermat serta rincian yang bersifat rigorous. Pada perkembangan berikutnya filsafat positivism Ayer ini cukup mendapatkan respon yang sangat hangat di kalangan filsuf. 1981:36). yang sangat mengagungkan pentingnya metafisika. ontology. Keyakinan atas prinsip verifikasi ini memiliki konsekuensi bahwa ungkapan-ungkapan metafisis adalah tidak bermakna. Filsafat Bahasa Biasa (The Ordinary Language Philosophy) Berkembangnya konsep pemikiran filsafat analitik sebagai reaksi ketidakpuasan dunia pemikiran filsafat pada saat itu yang didominasi oleh tradisi idealism terutama kalangan teolog. Ungkapan bahasa seperti “Tuhan adalah pencipta segala sesuatutermasuk alam semesta”. Walaupun reaksi terhadap metafisika telahdilakukan oleh Russel dan Moore namun karena konsepnya yang sangat radikal maka filsafat Ayer dikenal juga sebagai suatu radikalisme Bertrand Russel (Bertens. baik yang bernada memberikan dukungannya maupun para teolog yang memberikan reaksi menentangnya. Menruut Ayer semua ungkapan bahasa teologi. filsafat manusia pad ahakikatnya adalah omong kosong atau nirarti.

bahkan Ludwig Wittgenstein sendiri mendapat gelar doktornya karena karyanya Tractatus Logico Philophicus. aksiologi. Dalam masalah ini Wittgenstein dlam karyanya Tractatus Logico Philosophicus merupakan karya yang besar yang menekankan tentang logika bahasa. Namun dengan dasar-dasar yang kuat para tokoh filsfat analitik yang mendasarkan aspek semantic bahasa melalui struktur logika. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam filsafat atomisme logis sendiri terkandung suatuprinsip metafisika. Ungkapan-ungkapanmetafisika itu sebenarnya tidak mengungkapkan realitas empiric. yaitu bahasa yang memiliki struktur logika yang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia. Untuk itu mereka memiliki proyek yang spektakuler dan sangat ambisius yaitu ingin mewujudkan suatu bahasa yang ideal. dan tidak melukiskan suatu kebenaran peristiwa secara empiris.melalui analisis bahasa. Mereka dengan keyakinan yang kuat menyatakan bahwa berdasarkan logika bahasa ungkapan-ungkapan metafisika dari kalangan penganut idealism terutama bidang teologi. etika. ungkapan-ungkapan metafisika mendapat perhatian yang serius bahkan pada aliran atomisme logis dan positivism logis ingin membersihkan filsafat dari metafisika. Oleh karena itu bahasa merupakan pusat perhatian kalangan filsuf analitika. Hal ini sebagaimana diakui sendirioleh Russel yaitu bahwa teori atomisme logis ingin menjelaskan . estetika dan terutama ontology pada hakikatnya tidak bermakna. mereka lupa ahwa aspek semantic sendiri memiliki sifat metafisis tidka dapat mati dengan indra manusia. karena sama sekali tidak melukiskan suatu realitas dunia. Reaksi yang sangat radikal dari kalangan atomisme logis dan prinsip verifikasi positivism logis tersebutmemang sempat menggemparkan dunia pemikiran filsfat di Eropa terutama di Inggris. Begitu juga gurunya Bertrand Russell yang dengan tegas menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan bahasa metafisika pada hakikatnya adalah omong kosong belaka. sehingga melalui kategori-kategori logika mereka menentukan bahasa yang bermakna atau bahasa yang tidak bermakna. oleh karena itu ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya adalah nirarti atau sama sekali tidak bermakna. Para tokoh filsafat analitika bahasa memusatkan perhatian pada aspek semantic bahasa.

Karya Wittgenstein periode II ini memiliki corak yang berlainan bahkan bertolak belakang dengan Tractatus mendasarkan pada semantic dan memiliki formulasi logika. Bahkan sebagaimana kita ketahui bahwa pemikiran Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pada data-data empiris. Hal yang demikian ini jelas merupakan suatu pendapat yang bersifat metafisis. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahawa bahasa diformulasikan melalui logika sebenarnya sangat tidak mungkin untuk dikembangkan dalam filsafat. melainkan berasal dari suatu analisis melalui bahasa. sehingga ia sendiri menyatakan bahwa setiap orangyang membaca tractatus akhirnya akan sampai pada suatu titik di mana ia akan mengerti bahwa ungkapan-ungkapan bahasa dalam tractatus sebenarnya tidak bermakna. Begitu juga pemikiran Wittgenstein melalui Tractatus yang mendasarkan pada aspek semantic bahasa dengan menekankan struktur logika dalam kenyataannyajuga terkandung di dalamnya dasar-dasar metafisika. Hal itu dikatakan oleh Wittgenstein dianalogikan seperti orang yang memanjat melalui tangga dan setelah sampai pada tujuannya maka tangga tersebut dibuangkan (Bertens. Dengan demikian Nampak jelas bagi kita bahawa metafisika ynag terkandung dalam teori Russell itu merupakan suatu pluralism radikal. Formulasi logika bahasa menemui berbagai macam keterbatasan dan kesulitan. 1981:47). dalam sejarah filsafat analitika bahasa. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahasa diformulasi logika. Pemikiran Filsafat Wittgenstein Periode II Philosophiecal Investigations Konsep pemikiran filsafat Wittgenstein periode II tertuang dalam suatu karyanya yang berjudul Philosophical Investigations.suatu struktur hakiki bahasa yang sepadan dengan dunia. atau dengan kata lain perkataan teori ini ingin mengungkapkan bahawa bagaimana akhirnya dunia diasalkan kepada fakta-fakta atomis. bahkan dalam berbagai kehidupan .

Pengakuan atas kelemahan pada karya besarnya yang pertama diungkapkannya dalam kata pengantar karyanya yang kedua Philosophical Investigations (PI). Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda di dalam penggunaan bahasa (Poerwowidagdo:65). pertanyaanpertanyaan. Dengan demikian sebuah proposisi itu adalah sebuahfungsi kebenaran (truth function) dari proposisi elementer. Berkaitan dengan masalah ini Wittgenstein berkata: “Adalah sangat menarik untuk membandingkan kemajemukan dari alat-aat dalam bahasa dan berbagai cara yang digunakannya. Makna dari sebuahproposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau kebenaran suatu peristiwa. kemajemukan jenis-jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan oleh ahli logika . Dengan demikian Wittgenstein sebagai seorang filsuf secara jujur mengakui kelemahan dan kesalahan pada karyanya yang pertama. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran. perintah. yang menyatakan bahwa:”empat tahun yang lalu ia berkesempatan membaca kembali karyanya yang pertama dan dijelaskannya bahwa ide yang terkandung didalamnya ingin ditampilkan sekaligus dengan pemikiran-pemikiran yang pertama”. Dalam Tractatus Wittgenstein menganggap bahwa bahasa sebagai suatu kumpulan besar yang tak terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau yang atomis. Proposisi atomis pada hakikatnya menggambarkan realitas fakta atomis yaitu keberadaan suatu peristiwa yang paling sederhana yang memiliki satu saja analisis yang lengkap. Dalam Philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama.manusia terdapat berbagai macam konteks yang tidakmungkin hanya diungkapkan melalui formulasi logika bahasa. Segi pragmatic bahasa dalam kehidupan sehari-hari semakin disadari oleh Wittgenstein sehingga terdapat sejumlah bahasa yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan. Dalam pemikirannya yang kedua Wittgenstein mengkritik pendapatnyayang pertama yang berkaitan dengan struktur hakikat bahasa. pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam masalah ini Wittgenstein mengemukakan sebagai berikut: .tentang struktur bahasa termasuk pengarang Tractatus Logico Philosophicus” (lihat Wittgenstein.l. Demikianlah Wittgenstein semakin sadar bahwa dalam kenyataannya bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup dalam upaya untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis. sekaligus sebagai penunjuk jalan atas terbukanya pemikiran filsafat yang menaruh perhatian terhadap bahasa biasa (ordinary language). Buku karya Wittgenstein tersebut berisi banyak thesis ban berbagai jenis pernyataan-pernyataan. ada yang telah dikembangkan lebih lanjut dan terdapat juga ungkapan-ungkpaan kapan yang masih orisinal. 1. Karya Wittgenstein yang ke II ini lebih menekankah pada aspek pragmatic bahasa atau dengan perkataan lain lebih meletakkan bahasa dalam fungsinya sebagai alat komunikasi dalam hidup manusia. Lebih lanjut ia juga menyatakan:”kita melihat bahwa apa yang kita sebut “kalimat dan bahasa” tidak mempunyai kesatuan formal yang saya bayangkan.. Bahasa tidak hanya memiliki satu struktur logis saja melainkan segi penggunaannya dalam hidup manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang kehidupan.par. 1983:108). 340). (P. Tata permainan Bahasa (Language Games) Philosophical Investigations adalah merupakan suatu bentuk filsafat bahasa biasa yang paling kuat. Dengan demikian tugas fisafat adalah menguraikan dan menerangkan bahasa dan tidak melakukan interfensi didalamnya. akan tetapi lebih merupakan kelompok struktur yang kurang lebih saling berhubungan antara satu dengan lainnya (Wittgenstein. 1983:23). Salahs atu tesis pokok sebagai esensi dari pandangan Wittgenstein yang ke II adalah bahwa “ makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa dan bahwa makna bahasa itu adalah penggunaannya di dalam hidup.

Istilah ‘language games’ (tata permainan bahasa) dipakai oleh Wittgenstein dalam arti bahawa menurut kenyataan penggunaannya. Banyaknya jumlah senantiasa berkembang dantidak tetap. menjawab teka teki. par. misalnya dalam contoh sebagai berikut: Memberikan perintah dan mentaatinya. bersendagurau. Berdasarkan pemikiran-pemikirannya Wittgenstein sebenarnya membuka suatu cakrawala dari dalam berfilsafat yaitu tidak lagi didasarkan kepada bahasa sehari-hari. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari itu bersifat kompleks yaitu meliputi berbagai macam bidang kehidupan maka penggunaan bahasa pun juga meliputi bermacammacam penggunaan dan bentuk kalimatnya pun juga meliputi bermacam-macam. dan sebenarnya filsafat hanya dapat menguraikannya. membuat lelucon. di mana kita memakai kata. Orang tidak dapat menduga bagaimana sebuah kata itu berfungsi orang hanya harus melihat penggunaannya dan belajar dari padanya (P. Menyusun dan membuktikan suatu hipotesis.yaitu bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari (ordinary language). ‘makna’ itu dapat didefinisikan sebagai berikut: Bahwa makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa (p. 340). Melaporkan hasil pengujiand alam bentuk table dan diagram. ar. 43). Jadi kita dapat melihat jamaknya atau majemuknya permainan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat sama sekali tidak boleh turut campur dalam penggunaan bahasa yang sesungguhnya. sehingga senantiasa muncul jenis-jenis bahasa baru yang sili berganti dan yang lama menjadi terlupakan. Melaporkan keadaan suatu peristiwa.Dalam banyak kasus meskipun tidak semuanya. . Mengarang suatu cerita.I.I. bahasa merupakan sebagaian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan. menguraikan keadaan suatu benda atau menyebutkan ukurannya.

bahwa dalam berbagai macam permainan terdapat aturanaturan main tersendiri yang aturan tersebut harus ditaati dan harus . maka ketentuan itu merupakan bagian yang esensial dalam permainant ersebut. barangkali kita tidak memahami aturan tersebut secara petunjuk yang menggariskan agar kita berpikir tiga kali (berpikir tiga langkah kedepan) sebelum menggerakkan buah catur. Analog dengan yang dikemukakan oleh Wittgenstein itu menunjukkan. maka tentu kita akan merasa kagum dan memahami tentang maksud dan tujuan suatu aturan.I. Jikalau kita menjumpai penerapan aturan ini di atas papan catur. Keanekaragaman dalam hidup manusia memerlukan bahasa yang digunakan dalam konteks-konteks tertentu. (apakah aturan ini untuk mencegah kita melakukan sesuatu tanpa suatupertimbangan yang pasti) (P. Sebagaimana layaknya permainan amaka terdapat seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang merupakan pedoman dalam penyelenggaraa permainan tersebut. prg. Bertanya dan berterima kasih. prg.memecahkan suatu soal hitungan secara praktis. menterjemahkan bahasa dari bahasa ke bahasa lain. Oleh karena itu setiap konteks kehidupan manusia menggunakan bahasa tertentu yang memiliki aturan-aturan main tertentu. Oleh karena itu perhatian kita dalam masalah ini diarahkan untuk membandingkan keanekaragaman alat0alat dalam bahasa (dalam masalah ini adalah unsure-unsur bahasa) dan cara penggunaanya yang meliputi jenis-jenis dan kalimat. berdoa damasih banyak ragam bahasa lainya (P. Apakah kita dapa melanggar atuaran yang telah ditentukan di sini? Pelanggaran itu hanya menunjukkan bahawa kita tidak mengetahui petunjuk yang sebenarnya tentang aturan permainan itu . 23). Setiap ragam permainan bahasa mengandung aturan permainan bahasa yang mencerminkan cirri atau corak khas dari permainan bahasa yang bersangkutan. Hal itu dilukiskan oleh Wittgenstein dalam bukunya melalui contoh sebuahpermainan catur sebagai berikut: Suatu permainan hendaklah berpedoman pada suatu aturan dalam suatu permainan catur manakala telah ditentukan bahwa “raja” memegang peranan yang sangat penting.I. mengucapkan salah.567).

merupakan pedoman dalam tata permainan. prg. Sebab ragam santai memiliki atuaran tersendiri. Kekacauan akan timbul manakala kita menerapkan aturan permainan bahasa yang satu ke dalam bentuk permainan bahasa lainnya. Dengan demikian kita sampailah pada suatu kesimpulan tentang penggunaan bahasa sebagai berikut: “Makna sebuah kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. bola volley. Dalam ilmu bahasa memang kita memilikimakna leksikal akan tetapi tidak memilikimakna informasi hanya terbatas sebagai suatu symbol saja. . 23). adapun makna kalimat adalah tergantung penggunaanya dalam bahasa. Demikian pula hal itu berlaku sebaliknya tata permainan dalam koneks bahasa santai tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam ilmiah. Oleh karena itu mustahil bilamana kita menentukan suatu aturan permainan bahasa yang bersifat umum yang berlaku dalam berbagaimacam konteks kehidupan manusia. tenis dan lain sebagainya yang masing-masing juga memiliki aturan-aturan main sendiri-sendiri. Setiap bentuk permainan bahasa memiliki aturan permainan sendiri-sendiri yang tidak dapat dicampuradukkan dengan tata aturan (ragam) ilmiah misalnya. memmiliki aturan permainan sendiri dalam arti ketentuanketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat ilmiah. Demikian pula halnya dengan tata permainan bahasa.I. Penggunaan bahasa dalam konteks ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam santai. Dalam pengertian inilah Wittgenstein menyadari akan kelemahan konsepnya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasanya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasa ideal yang terstruktur secara logis yang melukiskan susunan logis realitas dunia. sepak bola. Dalam pengertian ini dimaksudkan oleh Wittgenstein selain permainan catur masih terdapat banyak permainan-permainan lainnya antara lain. sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam hidup” (P. sehingga sebenarnya terdapat kata yang maknanya tidak menunjukkan suatu realitas kehidupan misalnya kata :’kemudian’.

dan hal ini sebagai bentuk permainan bahasa dalam sebuah kemiripan keluarga” (P. yang sifatnya beranekaragaman dan tidak terbatas. prg. 65). sikap. Hal itu terjadi karena sesungguhnya kata atau ungkapan itu dihubungkan dalam banyakcara yang berbeda (P. 67). Dalam kehidupan sehari-hari. yang dipergunakan dalam banyak cara selain ‘aneka kemiripan keluarga’. acapkali kita menjumpai kata atau ungkapan bahasa yang sama namun dipergunakan dalam pelbagai bidang kehidupan atau dipergunakan dalam pelbagai bentuk permainan bahasa. Sehubungan dengan permasalahan ini Wittgenstein menguraikan contoh ‘aneka kemiripan keluarga’ sebagai suatu analog sebagai berikut: “Saya kira tidak ada ungkapan yang lebih sesuai untuk menggambarkan sifat atau kalimat. Dalam pengertian inilah maka bahasa akan memiliki makna manakala mampu mencerminkan aturan-aturan yang terdapt dalam setiap konteks kehidupan manusia. Menurut Wittgenstein hal itu dapat saja terjadi yaitu bahasa menghasilkan hal yang bersifat umum. Kehidupan manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang dan meemiliki sifat dinamis dengan sendirinya memiliki beragaimacam aturan dan hal tersebut terlukiskan melalui bahasa. ‘ajar’ dan banyak kata lainnya. prg. .I. demikian pula makna sebuah kalimat pada hakikatnya sangat tergantung penggunaannya dalam bahasa (wacana) dan akhirnya makna bahasa itu sangat tergantung pada penggunaannya dalam hidup manusia.‘atau’. warna mata. Namun demikian fenomena konteks kehidupan yang dilukiskan melalui bahasa tesebut bukanlah sesuatu pengertian yang bersifat umum. temperamenya. Walaupun nampaknya simpang siur namun terletak dalam jalur yang sama. maka sebuah kata sangat tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat.I. Oleh karena itu dalam hubungannya dengan segi pramatik bahasa yaitu penggunaan bahasa dalam hidup manusia. ‘bilamana’. Aneka kemiripan di antara anggota-anggota keluarga itu terlihat pada bentuk sifat. dan lain sebagainya.

Penggunaan kata-kata tersebut sangat tergantung pada konteks dalam kehidupan manusia. Hal ini banyak kita temukan pada kata-kata dieksis seperti ‘aku’. . Demikian juga ungkapan sebagai kata perintah ‘bersiap’ bagi konteks penerapan dalam baris berbaris walaupun orng kedua dalam penuturan tersebut seorang presiden pada waktu upacara jari besar tertentu maka hal itu memiliki makna yang sopan dan lazim. Dalam kaitannya dengan etika bahasa misalnya kata ‘engkau’ yang digunakan dalam konteks penutur yang memiliki tingkatan yang sama atau misalnya sesame teman akraba. Oleh karena itu meskipun mengandung suatu kemiripan yang bersifat umum namun maknanya yang sangat tergantung pada cara penggunaannya dan konsekuensinya juga sangat tergantung pada game atau aturan main dalam konteks penggunaan tersebut dalam kehidupan manusia. Hal tesebut terjadi tidak lain karena aturan (game) yang berlaku berbeda. Walaupun secara struktur ungkapan kalimat atau kata memiliki kemiripan namun dalam penerapan dan penggunaan yang berbeda dan sangat tergantung kepada konteks kehidupan yang berkaitan dengan ragam bahasa tertentu.Penggunaan kata atau kalimat yang sama dengan pelbagai cara yang berbeda bukanlah berarti memiliki makna yang sama melainkan memiliki dasar-dasar kemiripan yang sifatnya umum. ‘engkau’. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab. Jadi walaupun terdapat ungkapan yang sama namun maknanya tetap tergantung pad penggunaan dalam situasi atau konteks yang bersangkutan yang memiliki aturan masing-masing. ‘dia’ dan lain sebagainya. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab dan kekeluargaan. situasi maupun kondisinya. Namun kiranya akan menjadi berbeda misalnya kata ‘engkau’ digunakan dalam penuturan dengan seorang raja atau seorang pejabatn tinggi dalam suatu Negara. Namun bilamana kata tersebt digunaakn dalam konteks formal misalnya di kediaman istana kepresidenan maka ungkapan tersebut menjadi bermakna lain bahkan akan dirasakan tidak sopan dan arogan.

‘name’. sehingga ia mengungkapkan persoalan timbul karena para filsuf yang menggunakan bahasa kurang tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. filsafat nilai.2. namund alam kenyataannya banyak filsuf yang menggunakan bahasa tidak sesuai dengan aturan (game) yang ada. maka seharusnya kita bertanya pad diri sendiri: apakah kata atau istilah itu telah dipergunakan sesuai dengan aturan permainan bahasa dalam konteks yang bersangkutan. dan kemudian berupaya menjangkau tingkatan hakiakt segala sesuatu. Kritik Wittgenstein atas Bahasa Filsafat Kalau pada periode pertama Wittgenstein mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa filsafat tidak memiliki struktur logis. sehingga bahasa filsafat terutama metafisika. Namun demikian melalui konsep ‘tata permainan bahasa’ ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa dalam filsafat. etika dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa. Oleh karena itu yang harus kita lakukan . Banyak ungkapanungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan suatu realitas fakta dunia secara empiris. ‘I’. Hal itu dikemukakannya oleh Wittgenstein sebagai berikut: “Bilamana para filsuf menggunakan kata atau ungkapan misanya ‘knowledge’. Dua hal yang dikemukakan oleh Wittgenstein berkaitan dengan bahasa filsafat tersebut yaitu: Pertama: kekacauan bahasa filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permainan bahasa.’objeck’. “proposition’. Wittgenstein menyatakan bahwa persoalan-persoalan filsfat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan ‘tata permainan bahasa’. estetika. Bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk maksudmaksud filsafat.

Oleh karena itu Wittgenstein menganjurkan agar kita menghindari dan melewati penyamaran dari sesuatu yang tidak terpahami itu dengan menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya nirarti belaka (P. adanya kecenderungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum pelbagai gejala yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. Atau dengan lain perkataan.P. kesamaan dalam perbedaan ketunggalan dalam kemajemukan (craing for unity) (Pitcher. Kelemahan filsafat yang demikian ini oleh Wittgenstein disebut dengan istilah “craving for Generality”. Ketiga penyamaran atau pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami misalnya ‘keberadaan’. 1964:198).sekarang adalah mengarahkan kembaliungkapan tersebut dari wilayah aturan metafisika kepada aturan penggunaan bahasa sehari-hari (.l prg. (2) aspek metodis. 3. kita mencari ‘kesatuan pengeritandalam keanekaragaman. 464). 116).: 87). Untuk itu terdapat dua macam cara untuk melekatakan filsafat sebagai analisis yaitu : (1) aspek penyembuhan (therapheutics). 1987. yaitu cara berfilsafat yang seharusnya ditempuh yang hal itu meliputi aspek sebagai berikut: . dan lains ebagainya. yaitu suatu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang umum pada semua satuan-satuan kongkrit (entities) yang diletakkan di bawah istilah yang bersifat umum (Wittgenstein. ‘ketiadaan’. yaitu dengan cara menghilangkan kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahasa filsafat. Kedua.l. Tugas Filsafat Bahasa filsafat yang memiliki berbagai kelemahan tersebut pada hakikatnya dapat diatasi manakala kita mengetahui dan menerapkan analisis bahasa dalam filsafat. dengan lain perkataan kelemahan bahasa filsafat dapat teratasi bilamana meletakkan tugas filsafat sebagai analisis bahasa. 1972: dalam Mustansyir. prg.

Namun dalam pemikirannyayang kedua ia memang tidak menolak metafisika. c) Metode analisis bahasa harus diletakkan dalam posisi yang netral artinya tidak turut campur dalam memberikan interpretasi filosofis yaitu memberikan penafsiran tentang realitas. Namun satu hal yang menarik adalah bilamana ia dalam periode pertama dalam karyanya Tractatus. b) Upaya untuk keluar dari kemelut kekacauan filsafat yang diakibatkan oleh kekacauan penggunaan bahasa. sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apapun. 1984:130). Betapapun demikian . Filsafat tidak turut campur dalam memberikan interpretasi. dengan memperhatikan secara teliti aturan-aturan permainan bahasa. sehingga dalam pengertian ini bahasa sehari-hari merupakan dasr utama bagi upaya filsafat. yaitu bukannya dengan melalui keterangan baru melainkan menyusun kembali apa yang telah kita ketahui. ia menolak dengan radikal tentang ungkapan metafisika bahkan secara tegas menghilangkan metafisika namuns ecara filosofis konsepnya pun teatp mengandung suatu metafisika. sehingga seakan-akan berada di dunia luar akan tetapi sebenarnya terperangkap dalam ruangan botol tersebut. dan berdasarkan konsep analitika bahasanyayang mendasarkan pada aturan language games maka dapat dipastikan bahaw menurutnya ungkapanungkapan metafisis adalah bermakna dalam aturan dan konteks tata aturan bahasa dalam metafisika tersebut. hanya memberikan atau memaparkan secara objektif. Pada pemikirannya yang kedua ini ia meletakkan pluralitas bahasa dalam aspek pragmatisnya. yang diberatkan Wittgestein seperti seekor lalat yang terjebak dalam sebuah botol yang bening. Oleh karena itu menurut Wittgenstein untuk mengatasi kekacauan tersebut haruslah melalui penampakan jalannya bahasa.a) Dalam berfilsafat haruslah meletakkan landasanya pada pengunaan bahasa sehari-hari. Filsafat membiarkan segala sesuatu sesuai dengan apa adamnya (lihat Bakker. Demikianlah pemikiran filsafat Wittgenstein periode yang kedua yang bertolak belakang dengan pemikirannyayang pertama.

Sejak dikembangkannya filsafat bahasa biasa Ludwig Wittgenstein pengaruhnya cukup kuat pada perkembangan pemikiran filsafat di Inggris pada abad XX. dapat mengubah wajah filsafat’Inggris terutama yang berpusat di Oxpord dan Cambridge.154). Moore dan Wittgenstein. Filsuf-filsuf Oxpord tersebut lazimmnya juga mendapatkan pendidikan filsafat Yunani dan mereka kebanyakan juga memiliki latar belakang pendidikan filologi klasik dan linguistic sehingga tidak mengherankan kalau hal itu sangat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. antara lain filsfu yang terkenal di Oxpord yaitu: Gibert Ryle. 2002:37. John Langshaw Austin dan Peter Strawson. . Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua pemikiran filsafatnya. Hal itu dikuatkan dengan konstatasinya bahawa tugas filsafat adalah memberikan sesuai dengan apa adanya dan tidak turut campur di dalamnya dan filsafat bukanlah sekumpulan ajaran atau dogma melainkan hanya memberikan analisis dan penjelasan saja. Tradisi di Oxpord sebenarnya memang cukup ketat sebab filsuf yang bukan professor dari universitas Oxpord lazimnya sangat sulit untuk mendapatkan tempat di Oxpord.nampaknya dia tetap tidak mau menampakkan dasar metafisikanya dalam konsepnya yang kedua tersebut. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua filsuf oxpord kebanyakan meneruskan tradisi filsafat bahasa biasa. Beberapa Filsuf Dari Oxford Corak baru pemikiran filsafat yang dirintis oleh Bertrand Russell. bahkan meluas ke Eropa dan Amerika. L. Namun demikian walaupun lambat akan tetapi pengaruh filsafat bahasa biasa Wittgenstein cukup kuat dan bahkan dikembangkan dengan berbagaimacam modifikasi. Akhirnya konsep Wittgenstein itu adalah merupakan karya besar yang mampu mengubah wajah filsafat di Eropa terutama di Inggris walaupun memiliki kelemahan mendasar (Kaelan.

sedangkan prinsip analisisnya menunjukkan garis lurus pada prinsip analsisis Moore Ryle memang mendasarkan pada prinsip filsafat bahasa biasa. Ryle tidak mendasarkan pada struktur logika bahasa melainkan ia memperhatikan dan menganalisis penggunaan bahasa sehari-hari berdasarkan prinsip-prinsip logika. yang antara lain ia membahas dan menganalisis berbagai macam penggunaan bahasa sehari-hari terutama dalam filsafat yang sering terjadi kekeliruan kategori atau dikenal dengan istilah ‘category mistake’. Memang terdapat suatu perbedaan dengan atomisme logis yang mendasarkan pada bahasa ideal dengan struktur logis yang menggambarkan struktur logis realitas duni. Pemikiran filsafat Ryle mendasarkan pada filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy). a. yaitu sering terjadi dalam penggunaan bahasa sehari-hari menyalahi prinsip-prinsip logika. Kekeliruan Kategori (Category Mistake) Karya Filsafat Ryle yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Concept of Mind” adalah merupakan karya yang . namun demikian Nampak unsure logika juga mempengaruhi pemikirannya. Berdasarkan pemikiran filsafatnya itu terdapat suatu kemungkinan ia memadukan prinsip atomisme logis dengan filsafat bahasa biasa melalui suatu analisis bahasa. Ryle yang pernah mendapat pendidikan bahasa terutama filologi klasik pada tahun 1945 menjadi Profesor di Oxford dan pada tahun 1947 ia menggantikan Moore sebagai pimpinan majalah “Mind” sampai tahun 1971. Melambungnya nama Ryle nampaknya mercusuar filsafat Inggris berpindah dari Cambridge ke Oxford. Hal ini Nampak pada bukunya yang paling popular yaitu “The Concept of Mind”. Warna filsafat Ryle Nampak adanya pengaruh dari pemikiran Ludwig Wittgenstein dalam hal titik tolaknya pada bahasa biasa. Gilbert Ryle Gilbert Ryle seorang filsuf Oxford yang memiliki reputasi filsafat yang cukup besar.1.

terpenting di Inggris dalam periode setelah perang dunia kedua. Dalam karyanyaini ia membahas tentang konsep-konsep yang menyangkut hidup psikis, seperti misalnya pencerapan, persepsi, fantasi, pengingatan, pemikiran, pengertian, kehendak, motif dan lain sebagainya. Dalam pemakaian bahasa sehari-hari Ryle menganalisisnya secara terinci dan mendalam, dan dengan demikian banyak ditemukan kekacauan dan kekeliruan dalam filsafat dan pada akhirnya dapat segera dilakukan pembenaran-pembenaran serta kesalahan dapat disingkirkan. Menurut Ryle pokok yang sering terjadi dalam filsafat adalah kekeliruan mengenai kategori (category mistake). Kekeliruan terjadi dalam penggunaan bahasa dalam melukiskan fakta-fakta yang termasuk kategori satu dengan menggunakan cirri-ciri logis yang menandakan kategori lain (Bertens, 1981:54). Misalnya seorang anak yang pergi ke kebun binatang dan melihat singa, harimau, gajah, kijang dan banteng, kemudian ia mengatakan bahwa berikutnya ia inginmelihat binatang menyusui. Penggunaan bahasa ini adalah merupakan suatu kekeliruan kategori (category mistake) sebab binatang-binatang menyusui tidak berada di samping singa, harimau, gajah, kijang dan banteng yang pernah dilihatnya. Menurut Ryle dalam filsafat penggunaan bahasa sehari-hari sering juga terjadi kekeliruankategori sehingga persoalan-persoalan filsafat seringkali timbul karena kekeliruan tersebut. Analisis tentang penggunaan bahasa sehari-hari dalam filsafat dilakukan Ryle antara lain terhadap konsep Descartes. Menurut Ryle filsafat Descartes tentang manusia bertumpu pada suatu category mistake. Pandangan Descartes tentang manusia mendasarkan pada pandangan yang dualistic yaitu dua substansi yang berbeda yang meliputi roh atau substansi berpikir (res cogitans) dan materi atau substansi yang meluas yang disebut (res extensa). Manusia mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk yang berpikir (cogito) yang tidak bersifat kebendaan jadi merupakan suatu substansi yang ekkal, dan juga mengenal dirinya sebagai suatu

kesadaran. Di lain pihak terdapat substansi yang kedua, yaitu yang tidak berpikir yang bersifat kejasmanian yang bersifat lapang dan meluas. Perubahan yang terjadi pada dunia jasmani ini dapat diterangkan atas dasar-dasar kausal mekanis yang murni. Dunia keluasan inilah dipandangnya sebagai dunia mesin yang memiliki sifat-sifat mekanis. Hal yang memiliki sifat yang demikian ini termasuk juga binatang yang pada hakikatnya tidak memiliki kesadaran danmemiliki system yang otomatis mekanis dan tidak memiliki roh atau jiwa. Realitas tentang manusia yang demikian ini menurut Ryle merpakan dua unsure yangmemiliki corak logis atau kategori yang berbeda, dan sangat janggal bilamana merpakan suatu kesatuan yang harmonis. Dalam hubunganini Ryle mengungkapkan sebagai “the myth of the ghost in the machine”, sebagai suatumitos tentang hantu dalam sebuah mesin (Ryle, 1983:23). Filsafat Ryle ini merupakan suatu kritik yang sangat tajam pada konsep Rene Descartes, yang pada saat itu lazimnya merupakan dasar tumpuan dari konsep manusia. Secara ontologism konsep Descartes tersebut bahwa manusia mempunyai jiwa atau raoh dan dengan cara yang sama dia juga memiliki tubuh atau raga. Roh atau jiwa itu secara logis dapat dibandingkan dengan tubuh pada hal dalam kenyataannya memiliki eksistensi yang berbeda dan tidak terbuka bagi orang lain dan hanya dikenal melalui introspeksi. Para filsuf mengakui bahwa intelegensi manusia misalnya merupakan suatu hal yang dikuasai oleh hukum-hukum yang lain. Namun mereka keliru dalam mengandaikan melalui bahasa bahwa kata ‘intelegensi’ itu menunjuk kepada suatu hal, pada hal fungsi intelegensi menurut Ryle hanyalah melukiskan tingkah laku seseorang. Dengan maksud memperlihatkan secara kongkret bagaimana para filsuf mencampuradukkan kategori-kategori yang berlainan. Ryle membedakan pelbagai jenis kata, misalnya menurutnya perlu dibedakan kata-kata yang menunjuk pada suatu disposisi (mengerti bahasa perancis misalnya) misalnya dengan kata-

kata yang menunjuk pada suatu peristiwa (mendengarkan siaran radio berbahasa perancis). Suatu ungkapan ‘ia tidak merokok’ misalnya dapat dipakai dalam dua arti tadi yaitu untuk menunjukan suatu disposisi bahwa (ia sudah biasa tidak merokok) atau untuk menunjuk suatu kejadian kongkrit (ia sekarang tidak merokok). Dalam masalah ini penggunaan bahasa sehari-hari oleh para filsuf sering terjadi makna yang satu berpindah kepada makna yang lainnya (kedua). Analisis yang diungkapkan oleh Ryle adalah perbedaan antara task verb dengan achievement verb, yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu tugas dan kata kerja yang mengacu pada suatu hasil. Dua kata kerja ini sering digabung sebagai pasangan. Kalau demikian maka suatu aktivitas yang sama diucapkan dengan cara yang berlainan oleh dua jenis kata kerja itu, jadi kita tidak perlu mengandaikan dua aktivitas. Beberapa contoh kata misalnya ‘mencari’, ‘mendapatkan’, ‘mendengarkan’, ‘mendengar’, ‘menengok’, ‘melihat’. Contoh yang lain misalnya bilaman seseorang mengungkapkan bahwa ‘seorang atlit lari seratus meter dan menang’. Dalam hal ini kita menggunakan dua macam istilah yaitu ‘lari’ sebagai suatu task verb, adapun ‘menang’ adalah sebagai achievement verb. Hal ini perlu disadari bahwa achievement verb itu tidaklah menunjukan suatu akvititas di samping ‘lari’ tetapi suatu hasil yang diperoleh dari lari. Atlit itu tidak berbuat dua hal, pertama ‘lari’ dan kedua ‘menang’, melainkan ia hanya melakukan satu hal saja yaitu lari sekuat tenaga dan menang. Dengan analisis-analisis serupa itu Ryle mengkritik dengan keras dualism sebagaimana konsep Rene Descartes dan berupaya menghindari monism materialistis tentang manusia. Kata-kata psikis tidak menunjuk pada suatu taraf hidup yang tersembunyi bagi pihak lain. Namum kepada suatu tingkah laku yang dapat diamati oleh setiap orang, tetapi hal itu tidak berarti bahwa filsafat Ryle sendiri luput dari segala kesulitan terbesar bagi Ruyle, yaitu bahwa ia

terjebak

pada

behaviorisme,

meski

ia

berupaya

untuk

menghindarinya (Bertens, 1981:56).

b. Bahasa Biasa (The Ordinary Language)

Filsafat bahasa biasa yang mendasarkan pada suatu konsep bahwa masalah-masalah filsafat dapat diselesaikan dan dijelaskan melalui analisis bahasa. Mereka lazimnya mendasarkan bahwa bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk melakukan analisis filsafat. Namund emikian perkembangan konsep filsafat bahasa biasa sampai pada priode Ryle belum pernah ada filsuf yang berupaya untuk mendeskripsikan tentang penggunaan bahasa biasa beserta pembedaan-pembedaannya, dan dalam kesempatan inilah Ryle berupaya untuk mengungkapkan penggunaan bahasa biasa. Menurut Ryle perlu dibedakan antara ‘penggunaan dari bahasa biasa’ (the use of ordinary language) dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage), dan antara ‘penggunaanyang baisa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). Bilamana kita membahas penggunaan bahasa biasa maka perlu diperjelas pengertian ‘luar biasa’, ‘esoteris’, ‘teknis’, ‘puitis’, ‘notasional’, atau bahkan dimaksudkan ‘bahasa kuno’. Pengertian ‘biasa’ (ordinary) dapat berarti ‘umum (common) atau yang sedang belangsung (current), bahas pergaulan sehari-hari (colloquial), atau bahasa harian, bahasa yang sederhana (vernaculler), bahasa alamiah (natural language) dan hal inilah yang harus dijernihkan dalam penggunaan bahasa. Filsafat bahasa biasa menurut yang Ryle pada dari hakikatnya atau

memperhatikan

penggunaan

biasa

bahasa,

penggunaan bahas yang baku, yang standard dan bukannya

penggunan bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari (colloquial language). Oleh karena itu tugas filsafat adalah berkaitan dengan analisis penggunaan yang biasa dari ungkapan-ungkapan tertentu dan bukannya menganalisis bahasa yang digunakan dalam kehidupans ehari-hari. Tujuan dilakukannya analisis bahasa yang baku atau yang standard dalam penggunaan ungkapan-ungkapan dalam filsafat adalah untuk mendapatkan suatu kejelasan yang memadai bagi pengalaman bahasa-bahasa yang baku atau yang standard tersebut (Charlesworth, 1959:180). Hal ini dalam wacana filsafat sering kita jumpai misalnya penggunaan istilah ‘kebenaran’ ‘keadilan, ‘keberadaan’, ‘wajib’, ‘keindahan’ dan banyak istilah-istilah lainnya. Istilah-istilah ini sering kita jumpai dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun demikian pengertian serta makna yang terkandung di dalamnya jelas memiliki perbedaan. Oleh karena itu penyimpangan penggunaan yang terjadi dalam ungkapan-ungkapan filsfat itulah yang perlu mendapatkan suat penjelasan yang memadai, dan manakala makna penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut telah disepakai dan dianggap baku dalam filsafat maka persoalan inilah yang mendapat perhatian dalam filsafat bahasa biasa. Ryle berpendapat bahwa banyak diskusi filsafat itu berkaitan dengan persoalan yang menyangkut tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’. Dalam pengertian ini persoalan filsafat bahasa biasa berkenaan dengan penggunaan kata, ungkapanatau istilah yang memang bersifat ‘esoteris’ (khusus). Dalam berbagai macam ilmu pengetahuan banyak dijumpai istilah-istilah yang bersifat teknis dan khusus, misalnya dalam ilmu social, politik, hukum biologi, fisika, matematika, teologia, psikologi, ekonomi, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang diguakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan itu harus dianalisis dengan menggunakan bahasa biasa untuk mendapatkan suatupengertian yang memag bersifat teknis atau khusus. Upaya analisis tersebut untuk memperjelas (to eculidate) penggunaan yang biasa (standard)

mungkina tau tidak mungkin. Filsafat bahasa biasa itu berkenaan dengan penggunaan yang biasa. Satu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ungkapan adalah aturan-aturanlogika (rules of logic). Dalam masalah ini analisis filsafati itu berkenaan dengan ‘penggunaan yang biasa. Penggunaan ungkapan itu dapat sah atau tidak sah secara logis (yaitu harus sesuai dengan hukum logika). Misalnya suatu ungkapan ‘Amin lebih tua dari bapaknya’. Proses analisis ungkapan dalam filsafat bahasa biasa harus memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam penggunaan ungkapan. yaitu sebuah teknik untuk melakukan sesuatu. “ia berada di luar rumah tetapi duduk di kamar tengah’. yang standard. . yang standar atau yang baku. yang baku dan yang benar. Istilah ‘wajib dalam ilmu hukum dapat berarti memiliki daya imperative (memaksa).dari artian-artian atau istilah-istilah teknis yang sebenarnya cukup biasa dalam ilmu pengetahuan yang bersangkutan. yang dianggap umumd ari suatu ungkapan’ dalam suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu (Poerwowidagdo:11). Penggunaan (use) itu adalah suatu metode atau cara. dan banyak istilah lain yang tidak sesuai dengan hukum-hukum logika. Ungkapan atau istilah ‘permintaan’ dalam suatu hukum ‘penawaran-permintaan’ dalam ilmu ekonomi memiliki makna yang berbeda dengan pengertian istilah permintaand alam bahasa sehari-hari. penuh arti atau nirarti. Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan adalah kata ‘penggunaan’ dan bukannya perkataan biasa atau ungkapan. namun ‘wajib’ dalam pengertian seharihari dapat diartikan keharusan moral. Hal ini berlawanan dengan penyalahgunaan dan bukannya berkaitan dengan penggunaan yang dilawankan dengan ketidakbergunaan dari ungkapan-ungkapan. Misalnya dalam ilmu hukum istilah ‘wajib’ memiliki penekanan yang berbeda dengan pengertian ‘wajib’ dalam bahasa sehari-hari.

Filsuf yang juga sebgai professor di univesitas Oxford tersebut namkan meneruskan garis pemikiran filsafat bahasa biasa Wittgenstein. dianggap sama pentingnya dengan menamakan konsep itu dengan ‘linguistic . Bahkan menurutnya tidak jarang masalah-masalah filosofis akan Nampak dalam bentuk yang baru jikalau didekati dengan menggunakan unsure-unsur yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. 2. Namun demikian nampaknya Austin sebagai salah satu filsuf yang memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap bahasa biasa dalam arti penggunaanya dalam pergaulan hidup sehari-hari. John Langshaw Austin Austin adalah seorang filsuf yang menaruh minat tehadap filsafat bahasa biasa. yang berarti unsure bahasa (what). yang benar atau yang biasa. Ryle juga mendasarkan pada bahasa biasa dalam konsep filsafat analitika bahasanya sebagaimana dilakukan oleh Wittgenstein. Ia memang menggunakan prinsip-prinsip analisis istilah-istilah dalam filsafat terutama yang digunakan filsuf-filsuf lain namun ia mendasarkan pada prinsip-prinsip logika. Menurut Austin kita akanmendapatkan pelajaran yang sangat banyak dari perhatian kita terhadap bahasa sehari=-hari yang digunakan dalam pergaulan hidup.Pemikiran Ryle ini memang memiliki cirri khas dibandingkan dengan konsep Moore maupun Wittgenstein. kalau Wittgenstein mendasarkan analisisnya pada bahasa biasa atau bahasa sehari-hari dalam filsafat bahasa biasanya. Ungkapan yang sering dilontarkan Austin adalah ‘what to say when’. Austin selalu menekankan bahwa penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dengan situasi kongkrit di mana ungkapan-ungkapan kita kemukakan dan dari fenomena-fenomena yang berkaitan dengan penggunaan bahasa tersebut. akan tetapi Ryle brpendapat bahawa analisis filsafat bahasa biasa itu bukannya berkaitan dengan bahasa sehariahari melainkan dengan analisis bahasa yang baku. yang standard.

sehingga Ryle sering menemukan persoalan filsafat timbul karena kekacauan dalam penggunaan bahasa yang melanggar norma logika atau yang tidak sesuai dengan kategori logika. Sebagai seorang filsuf bahasa biasa Austinmemiliki perhatian yang khas terhadap penggunaan bahasa biasa. demikian juga tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). sebab nama itu dinyatakan percobaannya untuk menjelaskan fenomena-fenomena dengan melalui penyelidikan bahasa. Wittgenstein mendasarkan pada makna bahasa sehari-hari dalam kaitannya dengan konteks penggunaannya dalam berbagai bidang kehiudpan sehingga dikembangkannya dalam teorinya yang dikenal dengan (language games). How to Do Things with Words’ yang ditulis tahun 1962. 1. Ryle lebih menekankan pada aspek pragmatis dalam kaitannya dengan aturan0aturan logika. Namun Austin dalam pemikiran filsafat bahasa biasanya ia menaruh perhatian dan menekuni tentang pembedaan jenis-jenis ucapan dan pembedaan tentang (speech acts) tindakantindakan bahasa). Karya yang paling popular adalah ‘Philosophical Papers’ yang ditulis tahun 1961. yaitu pembedaan istilah ‘penggunaan bahas ayang biasa’ (the use of ordinary language). dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage). sehingga ia memiliki cirri khas dibandingkan dengan Wittgenstein dan Gilbert Ryle. Pembedaan Ucapan Bahasa Sumbangan Austin yang termasyur dalam filsafat bahasa yaitu pembedaan ‘ucapan performatif’ (performative utterance) dan .phenomenology’. yang dikenal dengan (category mistake). Ia juga membedakan dan memperjelas filsafat bahasa biasa. yang memuat berbagai macam paper merupakan kumpulan-kumpulan bahan kuliah yang diberikan di universitas Oxford. dan karyayang berupa buku yaitu .

Selain itu pembedaan itu memang tidak bersifat mutlak karena pada situasi tertentu seringkali kedua macam ucapan itu memiliki kesamaan. Perbedaan tersebut mengandung konsekuensi bagi penuturannya baik penurut 1 maupun 2. namun Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstratif itu berdasarkan . Pembedaan tentang macam ucapan-ucapan tersebut dikemukakan secara rinci oleh Austin sebagai berikut : Ucapan Konstatif (Constative Utterance) Bahasa yang digunakan manusia dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai macam ucapan yang memiliki konsekusensi dalam penggunaannya.). Pemikiran Austin ini merupakan suatu kontribusi yang sangat berharga bagi pengembangan aspek pragmatic pada studi bahasa yang Nampak pada akhir-kakhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan linguis. Ucapan ‘konstatif’ adalah salah satu jenis ucapan bahasa yang melukiskan suatu keadaan factual. sebelum Austin kebanyak filsuf hanya ditentukan atas dasar formulasi bahas tertentu misalnya menurut atomisme lgis atau filsafat bahasa biasa Wittgenstein. ang menyatakan sesuatu atau terdapat sesuatu yang dikonstatir dalam ucapan tersebut. yang nampaknya memiliki kemiripan dengan ungkapan proposisi sebagaimana dikemukkaan oleh kaum atomisme logis. Namun demikian terdapat perbedaan karena konsep Austin walupun cucapan konstatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh si pendengar umum Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstatif itu berdasarkan atas konsekuensi ucapan dengan kata yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan konstatif itu terdapat perbedaan karena konsep Austin walaupun ucapan kosntatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh pendengat. Dalam pengertian ini ucapan konstatif memang memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah.‘ucapan konstatif (constative utterances. Kedua ucapan tersebut tidak hanya berbeda dalam ucapannya namun memiliki perbedaan juga dalam hal situasi serta persyaratan yang harus dipenuhinya.

Untuk memahami macam ucapan tersebut dapat kita analisis contoh berikut: 1) Undang-Undang Dasar 1945 disyahkan tanggal 18 Agustus 1945 2) Di kebun binatang Gembira Loka ada seekor gajah yang sedang beranak 3) Perekonomian Indonesia mengalami goncangan karena jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar A. 1962:3). Contoh-contoh kalimat tersebut termasuk ucapan yang bersifat konstatif. kita tidak dapat hanya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu ungkapan itu hanya tergantung pada penggunaannya tanpa ditentukan benar atau salahnya ungkapan tersebut berdasarkan pada fakta atau peristiwa pada waktu yang lampau. Selain itu peristiwa atau fakta yang dimaksudkan Austin bukanlah sebagai fakta menurut atomisme logis . 1962:6). 4) BAnyak tenaga kerja wanita Indonesia terlantar dan bermasalah di Arab Saudi. Oleh karena itu menurut Austin bahwa ucapan konstatif itu isinya mengandung acuan kejadian atau fakta historis yaitu kejadian masa lampau yang merupakanperistiwa nyata atau benar-benar terjadi (lihat Austin. Menurut Austin bahwa filsafat bahasa biasa tidak dapat dibatasi dengan penentuan bahasa yang bermakna atau tidak bermakna berdasarkan formulasi logika belaka sebagaimana dilakukan oleh kaum atomisme logis atau sebaliknya.S. artinya apakah fakta yang dilukiskan tersebut benar-benar terjadi pada waktu yang telah lalu. yaitu ucapan yang melukiskan suatu fakta atau kejadian pada waktu yang telahlampau. Untuk membuktikan kebenaranya dapat dilakukan misalnya dengan menyelidiki atau membuktikannya. Benar atau salah dari ucapan konstatif itu didasarkan atas konsekuensi ucapan dengan fakta yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan tersebut (lihat Austin. Hal itu dapat dibuktikan benar atau salahnya berdasarkan fakta atau kejadian itu sendiri.formulasi logika.

Ucapan Performatif (Performative Utterance) Menurut Austin selain ucapan konstatif terdapat juga jenis ucapan yang disebut ucapan performatif. Pada hal menurut Austin selain ucapan yang dikategorikan ucapan konstatif yang mengungkapkan suatu peristiwa atau kejadian pada waktu yang telah lalu terdpat juga ucapan formatif.menunjukkan realitas dunia. melaikan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi perubuatan bagi penuturannya. melainkan dengan mengucapkan kalimat itu seseorang sungguh-sungguh berbuat sesuatu misalnya mengadakan suatuperjanjian. Dalam pengertian inilah bahwa ucapan konstattif itu memiliki acuan historis yang mengacu pada suat peristiwa. Beberapa contoh ucapan performatif dapat diamati pada contoh kalimat berikut : 1) Saya menunjuk saudaara sebagai ketua panitia ujian Negara kelompok ilmu ekonomi . yang berdasarkan pada kata di dalam bahasa Inggris ‘to perform’ dan ‘performance’ (Bertens. Dengan suatu ucapan performatif seseorang bukanya memberitahukan suatuperistiwa atau kejadian. Ucapan performatif tidak dapat ditentukan benar dan salah berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau. Oleh karena itu problema-problema filsafati seringakli muncul karena penggunaan bahasa sehari-hari yang sangat dibatasi penggunaanya terutama konsekuensi atas ungkapan-ungkapan tersebut baik bagi penutur maupun pendengar tuturan bahasa. Oleh karena itu Austin menamakan ucapan semacam itu sebagai ucapan “performatif (performative utterance). Fakta dalam pengertian ini menurut Austin bahwa suatu ungkapan itu benar-benar menunjuk pada suatu kejadian atau peristiwa yang telahlalu yaitu peristiwa yang terjadi sebelum ungkapantersebut diucapkan. 1981:59).

Misalnya ungkapan ‘saya mengangkat tidak menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada’ adalah tidak layak bilamana diucapkanoleh seoran gmahasiswa kewenangan untuk mengucapkan ungkapant ersebut. melainkan suatu ucapan performatif akan tidak layak diucapkan manakala seseorang tersebut tidak memiliki kewenangan dalan mengucapkannya. 3) Saya mengangkat saudara menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Ucapan-ucapan semacam itu tidak dibuktikan benar atau salahnya baik berdasarkan logika maupun fakta yang terjadi melainkan berkaitan dengan layak atau tidak layak diucapkanoleh seseorang (Austin. Menurut Austin ucapan-ucapan performatif tersebut memiliki syaratsyarat sebagai berikut : 1) Suatu ucapan performatif pasti tidak sah jikalau diucapkan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi dengan masalah ini atau suatu keadaan yang tidak memenuhi syarat atau tidak mengizinkan ucapan itu. akan tetapi orang yang bersangkutan masih tetap menduduki jabatansekretaris. 2) Suatu ucapan performatif juga tidak sah jikalau seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut tidak bonafide atau tidak bersikap jujur. 1981:59). Ucapan-ucapan tersebut juga bukan berkaitan dengan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan yang diucapkannya oleh seseorang.2) Aku berjanji akanmemberi hadiah kepada saudara. Misalnya seseorangyang berjanji akan tetapi tidak mau menepatinya. 3) Akhirnya suatu ucapan performtif juga tidak sah manakala orang yang bersangkutan menyimpang dari apa yang diucapkannya. 1962:54). . sehingga ucapan tersebut tidak konsekuen (Bertens. Misalnya saya menunjuk saudara untuk menggantikan kedudukan saya sebagai sekretars organisasi kita. jika saya naik pangkat.

Tindakan Bahasa (Speech Acts) Dalam karyanya “How to do Things with Words’ Austin juga berupaya untuk merinci macam-macam ucapan bahasa dalam kaitannya dengantindakan dalam mengucapkannya atau yang dikenal dengan ‘speech acts’. Ketiga syarat dan keempat cirri ucapan tersebut sangat menentukan kelayakanatau ketidaklayakan suatu ucapan performatif.Perlu diperhatikan bahwa tiga isyarat yang berlaku bagi uccapan performatif tidak mengakibatkan suatu ucapan itu salah karena ucapan performatif itu tidak berkaitan dengan kualifikasi benar atau salah melainkan happy atau unhappy. Oleh karena itu ucapan performatif itu hanya bisa mengalami suatu kegagalankegagalan (infelicities). Dari empat cirri tersebut satu cirri yang sangat menentukan ucapan performatif yaitu orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tertentu serta terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut. Berdasarkan cirri-cirinya ucapan performatif itu menurut Austin memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1) Diucapkannya oleh orang pertama (penutur pertama) 2) Orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tersebut 3) Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu) 4) Orang yang menyatakan terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut (Austin. Sesuatu yang menarik karya Austin adalah kemiripan pemikirannya dengan pemikiran Wittgenstein yang . Sesuatu yang menarik perhatian karya Austin adlah’speech acts’. 1962:54). Bilaman kita analisis syarat dan cirri-ciri ucapan perfomatif sangat berkaitan dengan keterlibatan si penutur dalam hubungandengan ucapan tersebut. wajar atau tidak wajar (Austin. 2. Layak atau tidak layak. 1962:56-57).

namun justru Austin termasuk filsuf Inggris yang berhasil merinci penggunaan bahasa biasa sebagaimana ditekankan oleh Wittgenstein. Memang bilamana kita perhatikan detail-detail metode kedua filsuf itu memiliki kemiripan. Menurut Austin tindakan bahasa dibedakan atas tiga macam yaitu (1) locutionary acts. dan menghubungkannya dengan sesuatu yang . Tindakan Lokasi (Locutionary Acts) Jenis tindakan bahasa lokusi ini menurut Austin sifatnya lebih umum artinya suatu tindakan bahasa untuk menyampaikan sesuatu. (2) illocutionasy acts. Tindakan lokusi dimaksudkan untuk mengatakan sesuatu secara jelas. yaitu merupakan suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu. “in saying’ dengan menggunakan suatu daya tertentu yang membuat si penutur bertindak atau berlaku karena yang diucapkannya. Menurut Austin bahwa dalam filsafat bahasa biasa tidak hanya terbatas pada analisis makna bahasa biasa saja melainkan juga menganalisis macam-macam ungkapan atau ucapan dalam kaitannya dengan tindakan si penutur bahasa. dan jenis tindakan bahas ayang terakhir adalah (3) perlocutionary acts.reaksi.kedua yaitu filsafat bahas biasa. yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan suatu efek. yaitu tindakan bicara si penutur dikaitkan dengan sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturannya. Perhatian kita dalam tindakan bahasa lainnya. yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan suatu makna tertentu. Salah satu kelebihan filsafat Austin adalah mampu mengolah filsafat bahasa biasa dalam suatu perspektif yang bersifat menyeluruh. pikiran atau tindakan bagi yang mendengar atau orang kedua yang diajak berbicara. yaitu suatu tindakan bahasa untuk mengatakan sesuatu.

“ia mengatakan. Tiga tindakan bahasa tersebut merupakan semacam sub kelas dari tindakan lokusi. (2) ‘phatic act’. misalnya : ‘ada seekor kucing di kebun’. Melalui ucapan lokusi ini tidak menuntut tanggung jawab si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya.hal ini berarti melalui ucapan tersebut mengarah dan mengacu pada orang ketiga. dan (3) ‘hretic act’ (Austin. pukulah saya!”. Konsekuensinya ketiga bahasa tersebut harus termanifestasi agar tindakan bahasa lokusi dapat berhasil dengan baik. (2) Phatic act . Austin menggolongkan “locutionary acts’ menjadi tiga macam tindakan bahasa yaitu: (1) ‘phonetic act’. Tindakan lokusi ini tidak mengandaikan situasi si penutur untuk melaksanakanisi tuturannya itu dan lebih menonjolkan gaya bahasa si penutur dalam mengungkapkan sesuatu. Jadi tindakan bahasa lokusi yaitu tindakanbahasa untuk mengatakan sesuatu. 1962:94). 1962:95). Jadi sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturan yang diucapkan itu dimaksudkan untukmemperjelas tindakan bahasa yang dilakukan itu sendiri. misalnya memberitahukan tentang sesuatu kejadian atau peristiwa tertentu. (1) Phonetic act Bahasa pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan unsure empiris yaitu yang berupa bunyi bahasa. Oleh karena itu dalam suatu tindakan bahasa pasti dilakukan melalui tindakan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa.diutamakan (Austin. Oleh karena itu ‘tindakan ponetik’ yaitu suatu tindakan bahasa dengan mengucapkan bunyi tertentu sehingga memiliki makna leksikal (yaitu makna bahasa yang terkandung dalam kosakata).

Misalnya jenis-jenis bunyi tertentu yang membentuk suatu bahasa tertnetu. Dia berkata bahwa tikus itu ada di dapur. Dia berkata. dengan acuan dan pengertian yang sudah pasti. adapun ‘rhatic act’ merupakan suatu kalimat yang tidak langsung (reported speech). “pergi”. Dia berkata bahwa dia menyuruhku pergi. (3)Rhetic act Tindakan bahasa ‘rhetic’ adalah penampilan suatu tindakan bahasa dengan menggunakan kosa kata tertentu yang ada pada ‘phatic act’.” Dia berkata.Tindakan bahasa ‘patic’ adalah merupakan suatu sub klas dari tindakan bahasa lokusi. Dengan tersusunnya kosa kata tersebut dalam suatu system tata bahasa. contoh sebagai berikut: Dia berkata. Dia berkata. karena intonasi juga makna bahasa. Dia berkata bahwa apakah temanku ada dirumah. “Saya akan tidur di kamar. “Apakah temanmu ada di rumah?”. Berdasarkan contoh-contoh sebagimana kitalihat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ‘phatic act’ merupakan suatu kalimat langsung.” Tikus itu ada didapur”. . yaitu berupa pengucapan kosakata tertentu. Misalnya pada contoh kalimat berikut: Dia berkata bahwa dia akan tidur di kamar. berarti menurut suatu kaidah tertentu sehingga memiliki makna tertentu dan oleh karena itu dituturkan melalui bunyi. Tindakan bahasa patic sebagaimana Nampak dalam contohcontoh tersebut merupakan suatu penampilan bunyi bahasa dalam suatu system kosa kata yang tersusun dalam suatu tata bahasa.

dan ‘reference’ (misalnya. ‘sense’. tanpa adanya suatu acuan. gerakan tangan dan isyarat). 1962:97. Dalam pengertian ‘phatic act’ harus digunakan dua hal yaitu kosakata dan tata bahasa. Jadi dengan tindakan bahasa yang menampilkan kosa kata dan tata bahasa maka mengharuskan kita memerhatikan suatu kaidah dalam menggunakan bahasa. Maka dapat disimpulkan bahwa kita dapat menampilkan suatu ‘phatic act’ yang bukan merupakan suatu ‘rhetic act’.Lebih lanjut Austin menjelaskan bahwa untuk menampilkan suatu ‘phatic act’. dan tidak dipenuhinya dengan benar kaidah dalam tata bahasa maka suatu tindakan bahasa itu dapat terjadi bersifat tidak bermakna. Seseorang tidak mungkin menuturkan kata-kata tanpa suatu pengertian. Tindakan Illokusi (Illocutionary Act) Menurut Austin tindakan bahasa illokusi yaitu suatu penampilan tindakan bahasa dalam mengatakan sesautu. dalam hal ini intonasi harus diperhatikan juga karena dalam bahas lisan intonasi memiliki suatu makna tertentu. tetapi tidak sebaliknya (Austin. 1997:41). Austin lebih lanjut menambahkan bahwa dalam ‘rhetic act’. tetapi bukan sebaliknya. bandingkan Wicoyo. ‘phatic act’ sebagaimana ‘phonetic act’ pada dasarnya dapat ditirukan dan didengarkan (termasuk intonasi. Menurut Austin kita tidak dapat menampilkan suatu ‘rhetic act.kaerna jikalau seekor binatang mengeluarkan suara maka suara tersebut bukanlah suatu ‘phatic act’.. yang dilawankan denga suatu tindakan bahasa dengan menggunakan . atau jikalau seseorang menampilkan ‘phatic act’ maka ia menampilkan juga ‘phonetic act’. ‘menamai’ dan ‘menunjuk’) itu sendiri adalah tindakan penghubung yang terjadi dalam menampilan ‘rhetic act’.

sesuatu. menurut ketepatan itulah isi dari suatu keputusan. 1962: 150) (1) Verdictives Tindakan bahasa verdictif adalah suatu tindakan bahasa dalam mengatakan ssuatu yang ditandai dengan adanya suatu keputusan (verdict) sebagaimana dilakukan oleh hakim. Tindakan bahasa ini merupakan salah satu usaha untuk mengetahui atau menentukan apakah sesuatu itu benar atau telah sesuai dengan suatu kenyataanatau tidak. Tetapi keputusan tersebut barangkali dapat berupa misalnya suatu perkiraan. Tindakan-tindakan bahasa yang termasuk tindakan verdiktif adlah sebagai berikut: (a) Membebaskan (acquit) (b) Menghukum (convict) (c) Memutuskan (find as a matter of fact) (d) Menyangka (hold as a matter of fact) (e) Menafsirkan (inter prêt as) (f) Memahami (understand) . wasit dan yuri. perhitungan atau tafsiran. Suatu tindakan bahasa verrdictif memiliki suatu hubungan dengan kebenaran dan kesalahan. Austin membedakan tindakan bahasa illokusi ini menjadi lima macam yaitu : (1) Verdictives (2) Exercitives (3) Commisives (4) Behabitives (5) Expositives (Austin.

Macam-macam contoh tindakan tersebut adalah sebagai berikut: a) Menunjuk (appointing) b) Memilih (choose) c) Memerintah (ordering) d) Member suara (voting) e) Memaksa (urging) f) Menasehati (advising) g) Memperingatikan (warning) h) Menamai (name) i) Memproklamirkan (proclaim) j) Mengarahkan (direct) (Austin: 155) . hak.(g) Mengirakan (read it as it) (h) Memerintah (rule) (i) Menghitung (calculate) (j) Memperhitungkan (reckon) (k) Memperkirakan (estimate) (l) Menempatkan (locate) (m)Menetapkan tempat (place) (n) Menentukan tanggal (date) (o) Mengukur (measure) (p) Menilai (value) (q) Melukiskan (describe) (2) Exercitives Tindakan bahasa exersitif adalah suatu jenis tindakan bahasa yang merupakan akibat adanya kekuasaan. atau pengaruh.

1962: 156) (4) Behabitives Tindakan bahasa behabitif adalah tindakan bahasa dalam melakukan sesuatu yang menyangka simpati. sikap. selamat yang senantiasa timbul dalam komunikasi social. memberikan. Contoh-contoh tindakan bahasa kommistif ini adalah sebagai berikut: a) Berjanji (promise) b) Melakukan (undertake) c) Kontrak (contract) d) Bersumpah (swear) e) Menyetujui (agree) f) Mengumumkan (declrase for) g) Melawan (appose) h) Bertaruh (to bet on) i) Mendukung (espouse) (Austin. memaafkan. Jadi si putur bahasa mengucapkan suatu tindakan bahasa dalam melakukan suatu perbuatan atau perjanjian.(3) Commissives Tindakan bahasa kommisitif adalah jenis tindakan bahasa dengan melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. Hal ini memiliki konsekuensi kepada si penutur bahasa untuk melakukan sesuati. Secara lebih luas sebenarnya tindaka bahasa macam ini mempunyai suatu hubungan dengan tindakan verdiktif dan exersitif. ikut bergembira bilamana yang diajak berbicara baru . Seseorang dalam melakukan tindakan bahasa tersebut memiliki tujuan bagi orang yang diajak bicara yaitu bertujuan untuk menghibur misalnya bagi yang sedang mengalami kesusahan.

memberikan suatu penjelasan tentang penggunaanpenggunaan dan dari acuan. serta komunikasi dalam masyarakat.mengalami kebahagiaan atau kesenangan. 1997:45). tindakan bahasa ‘kommisif’ tindakan bahasa ‘behabitif’ adalah tindakan bahasa yang menyangkut persetujuan sikap dan yang terakhir tidakan bahasa ‘expositif’ adalah suatu tindakan bahsa dalam menguraikan. memberikan argumentasi. juga meminta maaf jikalau melakukan suatu kesalah dan lain sebagai berikut. Sehingga dengan demikian kelima macam tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut sebenarnya saling berkaitan (lihat Wicoyo. (5) Expositives Tindakan bahasa yang dikelompokkan pada tindakan expositif adalah sekelompok tindakan bahasa yang digunakan dalam tindakan suatu pandangan. 1962: 159). menjelaskan. . Bilamana kita simpulkan secara keseluruhan yang menyangkut kelima macam tindakan bahasa yang termasuk ‘illocutionary act’ tersebut adalah sebagai berikut: tindakan bahasa ‘verdiktif’ adalah suatu tindakan bahasa yang digunakan untuk memutuskan. memberikan suat keterangan atau pendapat. Beberapa contoh bagi tindakan bahasa behabitif adalah sebagai berikut: (a) Pemberian selamat (congratulation) (b) Tantangan (challenging) (c) Pemberian maaf (apologizing) (d) Kutukan (cursing) (e) Ikut berduka cita (condoling) (Austin. tindakan bahasa ‘exercitif’ adalah tindakan bahasa yang berkaitan dengan suatu pernyataan yang tegas dalam hal pengaruh atau kekuatan.

Tindakan Bahasa Perlokusi (Perlocutionary Act) Bilamana tindakan bahas ‘lokusi’ dan’illokusi’ lebih

menekankan pada peranan tindakan si penutur bahasa, maka pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ lebihberkaitan dengan respon atau efek bagi orang yang diajak berbicara oleh si penutur bahasa. Tindakan bahasa ‘perlokusi’ atau ‘perlocutionary act’ yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan efek,, reaksi atau respon atas pikiran atau tindakan pada orangyang diajak berbicara. Oleh karena itu pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah memiliki hubungan dengan akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan isi ucapan atau ungkapan bahas bagi si pendengar. Menurut Austin, bahwa bilamana seseorang itu mengatakan sesuatu seringkali menimbulkan pengaruh terhadap perasaan, pikiran atau pengaruh lain yang berupa perilaku bagi si penutur itu sendiri, orangyang diajak berbicara ataupun orang lain yang mendengarkan isi atau makna ungkapan bahasa yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan dengan merencanakan atau merancang, mengarahkan serta menetapkan suatu tujuan tertentu pada perkataan disebut tindakan bahasa ‘perlokusi’ (Austiin, 1962:101). Ungkapn-ungkapan bahasa yang termasuk pada kelompok tindakan bahasa ‘perlokusi’ antara lain sebagai berikut: (a) Meyakinkan (b) Menipu (c) Menakuti (d) Merayu (e) Mengarahkan, dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Bilamana kita bandingkan dengan tindakan bahasa ‘illokusi’ maka tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut adalah tindakan bahas yang membuat si penutur atau si pembicara melakukan suatu tindakan karena berkaitan dengan apa yang dikatakannya. Adapun tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah tindakan bahasa yang karena ucapan atau tindakan bicara dari pembicara, timbul suatu efek bagi si pendengar atau pengaruh bagi si pendengar baik secara aktif ataupun secara pasif. Memang suatu tindakan bahasa ‘illokusi’ dapat menjadi sarana bagi tindakan bahasa ‘perlokusi’ akantetapi tidakdapat sebaliknya. Menurut Austin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh tindakan ‘perlokusi’ itu merupakan suatu akibat nyata, yang tidak meliputi atau tidak mencakup akibat yang lazim terjadi, misalnya janji yang dilakukan oleh si pembicara (penutur), hal inijelas merupakan tindakan ‘illokusi’. Kiranya suatu perbedaan antara sesuatu yang kita rasakan secara nyata menimbulkan suatu akibat yang nyata pula, suatu tindakan ‘perlokusi’, adapun sesuatu yang kita lakukan yang menimbulkan akibat yang lazim atau sudah wajar terjadi itu merupakan suatu tindakan illokusi (Austin, 1962:102). Suatu perbedaan yang paling menonjol antara tindakan ‘illokusi’ dengan tindakan ‘perlokusi’ adalah akibat yang ditimbulkan atau efek yang ditimbulkan oleh perbuatan melalui ucapan bahasa. Pada tindakan perlokusi efek atau akibat dari tindakan bahasa itu merupakan suatu hasil yang diinginkan, direncanakan atau diperhitungkan sebelumnya oleh si pembicara. Dengan perkataan yang lain efek atau akibat yang timbul pada si pendengar itu memang merupakan maksud si penutur untuk mempengaruhinya.

3. Peter Strawson Filsuf analitik yang menaruh perhatian terhadap filsafat bahasa biasa adalah Peter Strawson. Ia juga sebagai filsuf Oxford yang

berkedudukan sebagai professor pada universitas tersebut dan karyakaryanya yang popular antara lain “individuals : Analisis Essays in Descriptif Metaphysics’ (1959), selain itu ia juga menulis buku yang berjudul “Introduction to Logical Theory’ (1952); The Bounds of Sense’ (1966), dan sebuah buku tentang filsafat Kant ‘Meaning and Truth’ (1970). Dalam majalah ‘Mind’ ia mengkritik ajaran Russell dengan judul ‘the Theory of Definite Descriptions’ yang cukup popular dikalangan filsuf Inggris.

Pemikiran Filosofis Konsep pemikiran filosofis Strawson tertuang dalam karyanya yang berjudul ‘Individuals’ dan kepada buku ini ia memberikan anak judul ‘Analisis Essay in Descriptive Metaphisics’. Sesuatu yang menarik perhatian dalam buku tersebut adalah munculnya kata metafisika secara eksplisit. Ia memang termasuk penganut paham filsafat bahasa biasa sebagaimana filsuf-filsuf Oxford lainnya, dan sebagaimana diketahi bahwa filsuf yang menganut filsafat bahasa biasa tidak mengembangkan doktrin mengkritik metafisika atau barangkali persoalan metafisika bagi menganut ‘ordinary language’ kurang mendapat tempat. Keadaan yang demikian inilah yang membawa Strawson mendapat perhatian, karena di samping ia tetap setiap terhadap paham ‘ordinary language’ akan tetapi ia berupaya untuk mengangkat kembali pamor ‘metafisika’ di kalangan filsuf Inggris. Menurut Strawson memang melalui ‘ordinary language’ filsuf dapat mengembangkan konsep-konsepnya, namun demikian tugas filsafat tidak boleh dibatasi hanya pada penyelidikanitu saja. Filsafat juga harus berusaha melukiskan’our conceptual structure’,yaitu susunan konsep-konsep dasar yang menandai pemikiran kita. Susunan konseptual itu diandaikan begitu sja kalau kita menyelidiki cara bagaimana ucapan-ucapan kita dipakai. Oleh karena itu apa yang dimaksud itupun dapat dilukiskan juga dan inipun merupakan suatu tugas filsafat pula.

Strawson

beranggapan bahwa dalam pemikiran kita terdapat

sejumlah konsep dan kategori yang tidak berubah dan oleh karena itu tidakmengenal sejarah. Struktur konseptual tesebut memainkan peranan dalam pemikiran sehari-hari maupun dalam pemikiran yang lebih teknis sebagaimana dipraktekan dalam ilmu pengetahuan. Usaha ‘metafisika deskriptif’ adalah untuk menggali dan menelanjangi struktur itu. Menurut pandagan Strawson istilah “descriptive metaphysics’ bertentangan dengan ‘revisionary metaphysics’. Pengertian ‘revision metaphisics’ adalah suatu konsep metafisika yang meninjau kembali realitas, suatu metafisika yang mengemukakan suatu struktur baru, adapun ‘metafisika deskriptif’ itu tidak melakukan suatu perubahan sama sekali. Menurut Strawson filsuf-filsuf yang termasuk penganut metafisika revisioner adalah Descartes dan Liebniz; adapun metafisika deskriptif antara lain sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan Kant (Bertens, 1981:65). Dengan demikian Peter Strawson membedakan dua macam metafisika yaitu :
(a) Descriptive Metaphisics, yaitu suatu metafisika yang hanya berusaha

untuk menguraikan batas-batas konseptual dari bahasa kita.
(b) Revisionary metaphisics, yaitu metafisika yang berusaha untuk

mengadakan suatu revisi atau pembaharuan terhadap batas-batas konseptual dari bahasa kita (POerwowidagdo: 11). Masalah pokok yang dibahas daam individuals yaitu persoalan refernsi atau menunjuk kepada suatu objek. Dalam ucapan-ucapan yang kita kemukakan senantiasa menunjukkan kepad suatu objek. Strawson ingin memecahkan makna bahasa yang dipahami oleh si penutur bahasa tanpa menimbulkankemaknagandaan. Untuk itu menurut Strawson kita harus menacari objek-objek individual yaitu ‘sense data’ atau ‘sense impressions’, mislnya ‘merah’ dan bahwa semua objek lain dapat diasalkan kepada data-data atau kesan-ksesan itu. Bagi Strawson “basic particulars’’ bukannya unsure yang terdapat dalam hal-hal lainnya (bukan semacam atom), melainkan suatu objek individual dan semua

objek laind apat diidentifikasikan melalui objek yang ditunjukkan itu hadir sendiri. Misalnya ;oran gyang duduk di situ di ujung deretan pertama’. Dalam masalah ini memang tidak terdapat suatu kesulitan apapun. Permasalahannya adalah bagaimana kalau yang kita maksudkan adlah objek yang tidak hadir. Misalnya ‘orang yang memakai topi hitam’, hal ini senantiasa memungkinkan bagi pendengar bahwa ucapan itu tentang oranglain daripada yang dimaksudkan. Menurut Strawson untuk menghindari kedwiartian (kemaknagandaan) yaitu dengan cara menentukan objek individual itu dalam ruang dan waktu. Misalnya pada contoh orang yang pakai topi hitam tadi, orangyang bersangkutan selalau dapat melukiskan misalnya ‘orang yang memakai topi hitam, yang beridrilima meter di depan buku gerbang Gedung MPR RI di Jakarta, pada tanggal 10 Oktober 1998 jam 10.00 pagi WIB. Menurut Strawson objek-objek individual yang dilukiskan dalam rangka system ruang danwaktu adalah objek-objek material. Jadi itulah individu-individu yan dimaksud oleh Strawson yang memungkinkan kit amengidentifikasi hal-hal lain seperti ‘pengalaman psikis’, peristiwaperistiwa, proses-proses dan bagian-bagian fisis yang kecil. Konsep strawson yang menarik secara khusus adaah tentang

‘persona’. Konteksnya adalah kesulitan yang dialami oleh para filsuf untuk mengidentifikasikan keadaan-keadaan sadar, dengan menunjuk pada objek-objek material. Terlebih dahulu Strawson menyelidiki dua kemungkinan yang ternyata harus ditolak kedua-duanya. Kemungkinan pertama disebut ‘the no ownership theory’, yaitu suatu keadaan seorang Bertrand Russell bicara tentang ‘saya’, bilamana dikatakan ‘rasa sakit saya’, ‘pengalaman saya’, dan lain sebagainya. Pengalaman misalnya hanya dapat diidentifikasikan sebagai pengalaman seseorang. Kemungkinan yan kedua adalah sebagaimana dikemukakan oleh Descartes dan kawan-kawannya, yaitu teori-teori yang berdasarkan dualism. Kalau demikian maka keadaan-keadaan sadar dimiliki oleh suatu ‘private-ego”, suatu aku yang tersembunyi bagi orang lain. Membicarakan tentang ‘pengalaman saya’ senantiasa berarti membedakan dengan pengalaman orang lain. Menurut Strawson hanya

Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’. Tentang suatu persona dapat dikatakan tentang benda-benda material. yaitu dengan mengikuti ‘persona’ sebagai suatu konsep yang tidak dapat dianalisis lagi. misalnya beratnya 70 kg. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’ yang kita maksudkan adlah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya.ada satu jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ini. belajar filsafat. bertaqwa terhadap Tuhan’ dan lainsebagainya). Demikianlah kiranya Strawson dalam karyanya “individuals’ berupaya untuk memberikan suatu argumentasi-argumentasi atas akal sehatkita. Tetapi merupakan suatu individu yang tunggal. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkan tingkah lakunya. Konsep Strawson itu memang sangat khas terutama dikalangan filsuf filsfat bahasa basa yang lazimnya kurang akrab dengan analisis bahas ayang berkaitan dengan metafisika dan Strawson berupaya untuk mencobanya melalui ‘ordinary language’ (Kaelan. yang kita maksudkan adalah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. Filsafat Bahasa dan Semiotika Sebagaimana dipahami bahwa perhatian para filsuf terhadap bahasa telah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno. BAB IV SEMIOTIKA A. terutama dalam pemikirannya tentang objek-objek material dan persona-persona yang merupakan suatu ‘basic particular’. 1981:670. 2002:155-182). tatkala para filsuf seperti Herakleitos . Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkantingkah lakunya. Konsep ‘persona’ tidak dibentuk oleh konsep ‘tubuh’ dan konsep ‘roh’. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya jalan keluar bagi argumentasi akal sehati dalam mengatasi konstatasi “metafisika revisioner’ (bertens. maupun hal-hal yang hanya dikatakan tengan ersona saja (‘main gitar’.

Manusia harus memahami ucapan-ucapan dalam kehidupan agar dapat memahami alam semesta. Menurutnya tidak ada sesuatu hakikat yang murni. Dalam pengertian ini menurut Herakleitos segala sesuatu senantiasa dalam proses menjadi dan berubah-ubah (bertens. 1989:10). Dalam pengertian inilah maka manusia dalam mengungkap makna realitas dunia material bukannya dengan melalui medium bahasa. 1987. Dalam hubungan ini apakah bahasa itu dikuasai oleh alam yang disebut 'fisei' atau bahasa itu bersifat alamiah 'nomos'. melainkan juga mengandung kebenaran kosmis unviersal. namun dipahami dalam fungsi semantik dansimbolis. 1974:3). Jikalau manusia gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa.menyelidiki hakikat realitas dunia fenomenal. Perhatian manusia terhadap bahasa pada zaman Yunani Kuno tersebut mengalami perkembangan yang cukup menarik. yaitu bahasa tidak hanya dipahami sebagai media dalam memahami realitas kosmis. 170). melainkan tentang hakikat bahasa itu sendiri dalam hubungannya dengan alam. melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa "sedang menjadi" yang dalam filsafat dikenal dengan 'panta rhei' artinya tidak ada yang tetap. Bahkan menurut Borgman. masa Herakleitos ini dikenali sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgman. Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara secara verbal menduduki komposisi yang sentral. Dalam masalah ini Herakleitos tidak puas hanya dngan perubahan saja melainkan senantiasa mengkaji dan menyelidiki prinsip perubahan. dengan demikian amak manusia mengalami kegagalan dalam memahami hakikat maka dunia material melalui filsafat bahasa. Arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah alam material melainkan dunia manusiawi. Pendapat yang menyatakan bahawa bahasa adalah alamiah (fisei). Dalam hubugan ini kata dalam bahasa. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos ini kata 'logos' bukanlah semata-mata gejala antropologis semata. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam realitas benda material. Dengan demikian maka pemikiranfilsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Casirer. definitive dan mutlak. sumber dalam prinsip-prinsip abadi yang terdapat di alam semesta yang tak dapat diganti di luar . tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. Herakleitos tidak sependapat bahwa hakikat realitas diatas dunia terdapat hakikat dunia yang murni sebagai suatu manifestasi dunia ideal. maka manusia akan gagal pula memahami fenomena material.

Dalam hubungan dengan pemikiran filosofis tentang bahasa. Jadi terdapat suatu hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. adapun 'syndesmoi' adalah sebagai penghubungan partikel yang dalam linguistik sering disebut sebagai konjungsi. Pemikiran Plato inilah yang merupakan awal pemikiran filosofis tentang bahasa yang mampu menjembatani antar anama-nama dan benda-benda atau sesuatu yang diacu oleh bahasa. Aristoteles mengemukakan pemikirannya tentang kualifikasi kata yaitu 'onoma' . Misalnya kata 'cow'-'cows'. yang secara sederhana mengungkapkan bahwa hakikat bahasa adalah meliputi materi dan benetuk (Arens. sehingga sejak itulah muncul suatu bidang kajian untuk mencari asal usul kata yang disebut sebagai 'etimologi'. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. Selain Plato filsuf besar yang mengembangkan pemikiran tentang filsafat bahasa adalah Aristoteles. 'girl-girls's. Prinsip logika bahasa yang dikembangkan Aristoteles memberikan prinsip dalam ilmu bahasa bahwa dalam suatu bahasa itu terdapat suatu keteraturan (analogi). yang mendasarkan pemikirannya pada prinsip metafisis. Kaum naturalis selanjutnya menyatakan bahwa bahasa tidak hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Kaum naturalis dengan tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatkan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk.manusia itu sendiri dan oleh karena itu tidakd apat ditolak. 1975:21). 1984:21). dan 'syndesmoi'. Plato juga mengembangkan prinsip 'anomatopeia' yang secara prinsip mendasarkan bahwa hakikat bahasa manusia tidak dapat dipahami jika berdasasrkan teori bahasa semata. Aristoteles juga mengembangkan prinsip analogi dalam bahasa yang merupakan pengaruh dari pemikiran logikanya yang bertitel organon (Liang Gie. Onoma adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. 'rema'. Secara ontologis pemikiran filosofis Aristoteles tentang bahasa itu mendasarkan pada core philosophy pemikirannya yang dikenal dengan 'hhilemorfisme'. Misalnya jamak dalam bahasa Inggris dikenal dengan menambahkan 's' pad akata jama tersebut. tak ada satu bagianpun daripadanya yang memberi tanda secara sendiri-sendiri. dan . 1987:171). melainkan berdasarkan teori umum pengetahuan manusia (Casirer. Dalam karyanya yang berjudul Peri hermenias. 'book-books'.

Thomas Aquinas. Pemikiran zaman Yunani tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh para filsuf bahasa dari Roma. 1983:42). Namun disamping teori Aristoteles tersbut juga berkembang teori yang menyatakan bahwa bahawa pada hakikatnya tidak beraturan atau arbiter (manasuka). Teori tentang semiotika yang mengikuti tradisi Saussure. yang mengembangkan fonologi dan morfologi. John locke. Demikian pula pada abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengembangkan filsfat bahasa. Pada zaman in Varo mengmbangkan pemikirannya tentang bahas amenjadi semakin rinci. menekankan bahwa semiotika adlah bidang ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (Saussure. 1990:15).sebagainya. yang menekankan pada perkembangan ilmup negetahuan. August Comte dan filsuf lainnya. yaitu pengetahuand an ilmu pengetahuan seperti Rene Descartes. Terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan antara penanda dan petanda. Hal ini kiranya senada dengan teori filsfat analitis menurut Wittgenstein bahwa ungkapan bahasa adalah merupakan suatu ungkapan kehidupan. antara bahasa dengan sesuatu yang diacunya. Pada zaman modern par filsuf lebih menekankan pada logos. maka tanda juga merupakan bagiand ari aturan-aturan sosial yang berlaku. Selanjutnya Wittgenstein menekankan bahwa dalam setiap konteks kehidupant erdapat suatu aturan penggunaan masing-masing. Bahkan pada zaman ini berkembang konsep Pricia. dandalam kehidupan terdpat suatu rule of the game yaitu aturan-aturan dalam menggunakan ungkapan tersebut. . dan telah mengembangkan pembagian kelas kata yang sampai saat ini masihdiwarisi oleh ilmu bahasa. dan teori ini dikenal dengan prinsip 'anomalia' (parera. Nampaknya arah perkembangan filsafat bahasa juga mengikuti trend perkembangan filsafat saat itu. Zaman romawi ini dikembangkan tentang morfologi. Demikian pula dalam bidang ilmu bahasa Ferdinand De Saussure yang mengikuti tradisi strukturalis yang mengembangkan dasar-dasar linguistik umum ynag mengembangkan pemikirannya bawha bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. David Hume. dan membagi kelas kata menjadi 8 macam. Berdasarkan pengertian tersebut maka bila tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. yang mendasarkan bahasa pada sitem logika. sehingga pada periode ini dikenal dengan Zaman Romawi. antara signifier dengan sifnified. Tokoh lain yang mengembangkan semiotika yang bahkan banyak memberikan dasar-dasar paradigmatik terhadap semiotika adalah Charles Sanders Peirce.

Ungkapan bahasa dalam pengertian ini bukan sekedar bahasa sebagai sitem tanda. etika. Sehingga konsekuensinya struktur logis realitas bahsas adalah sepadan dengan struktur logis realitas dunia empiris. dan lain sebagainya. misalnya dalam bidang etika. Moore melakukan kritik terhadap para filsuf idealisme. Kritik Moore tersebut dituangkan dalam karyanya yang berjudul Principia Ethica (1903). Ludwig Wittgenstein dalah Tractatus (pemikiran I). semiotika Peirce lebih banyak didasari pemikirannya tentang logika. seperti keadilan. Sedangkan logika Peirce juga mengembangkan ilmu bahasa. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan dasar paradigmatik tentang metodologi dalam ilmu pengetahuan. Pemikiran yang revolusioner dari Moore ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran filsafat bahasa yang dalam filsafat kontemporer disebut sebagai aliran filsafat analitika Bahasa. Dalam filsafat bahasa selain membahas hakikat bahasa sebagai sautu sistem tanda juga mengkaji tentang bagaimana hakikat bahasa sebagai suatu ungkapan kehidupan manusia. Filsuf analitis selain melakukan kritik terhadap pemikiran etika juga mengembangkan tentang metode ilmu pengetahuan melalui analitika bahasa. oleh karena kekacauan dalam penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Berbeda dengan Saussure. Pemikiran Peirce sederhana. Filsuf George Edward Moore berpendapat bahwa banyak kalangan filsuf mengalami kekacauan dalam berfilsafat. Oleh karena itu menurut pemikiran Wittgenstein hakikat bahasa tidak hanya merupakan suatu sistem tanda melainkan secara ontologis menggambarkan realitas dunia empiris. sedangkan penalaran itu menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda (Zoest. 1992:1). keagamaan. Pada abad XX par afilsuf mengembangkan paradigma baru dalam berfilsafat. Dasar-dasar pemikiran inilah yang membuka cakrawala baru. logika adalah mempelajari tentang bagaimana orang bernalar.sementara tradisi Saussure yang dikembangkan oleh Roland Barthers yang elbih dikenal dengan istilah semiologi meskipun kedua istilah tersebut mengacu pada ilmu yang sama. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan objek material dalam upaya mengkaji hakikat segala sesuatu. dikembangkan . Prinsip metodis yang dikembangkan oleh Wittgenstein dalam aliran atomisme logis ini. beranggapan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan gambaran realitas dunia empiris. kebenaran. melainkan bahasa sebagai suatu ungkapan dalam kehidupan manusia. sehingga sebenarnya ia adalah juga sebagai filsuf bahasa.

Pierce mendasarkan semiotika pad alogika. Dengan istilah lain semiotika belum menemukan body of knowledge tersendiri sebagai salash satu bidang ilmu disamping ilmu-ilmu lainnya. 2001:49). dan bidang lainnya. Namun demikian kiranya perlu dipahami bahwa sampai saat ini bidang ilmu semiotika kiranya masih enggan untuk berkembang menjadi ilmu tersendiri terpisah dari filsafat bahasa. sebagaimana bidang ilmu lain seperti ilmu sosial. atau 'seme' yang berarti penafsiran tanda (cobley dan Jansz. dan aliran inilah yang mengembangkan bahasa sebagai metode dalam ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai metode kuantitatif. Dua tokoh filsuf bahasayang mengembangkan semiotika pada awalnya mendasarkan pemikiran filsafatnya pada hakikat bahasa. demikianpula gerak. linguistik. di satu sisi Saussure mengembangkan pemikirannya berdasarkan strukturalisme dan berkembang ke arah prinsip-prinsip dsar linguistik umum. poetika. epistemologis. isyarata. budaya. 1999:4). lampu lalulintas. Berbeda dengan Saussure. kata adalah tanda. B. dan logika. . ditengah-tengah manusia dan bersama-masa manusia. Berdasarkan uraian diatas maka semiotika merupakan sub kajian filsafat bahasa yang lebih menekankan pad kajian tanda. Pengertian dan Lingkup Semiotika Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani "semeion" yang berarti 'tanda'. Semiotika adalah ilmu tanda yaitu metode analisis untuk mengkaji tand. pragmatik dan linguistik. dengan dasar ontologis. Tanda-tanda terletak dimana-mana. dan dasar aksiologis tertentu. sehingga konsep Peirce lebih menekankan pad pengembangan semiotika komunikasi. Istilah 'Semeion' ini sebelum berkembang pada awalnya berakar pada tradisi studi kalasik atau skolastik atas seni retorika. Tanda-tanda adlah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini. Akhirnya setelah semiotika berkembang nampaknya akan membangun suatu bidang ilmu tersendiri yang disbut bidang semiotika. Nampaknya istilah 'semeion' itu diderivasikan dari istilah kedokteran hipokratik atau asklepiadik dngan perhatiannya 'tanda' pad amasa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal yang lain. sejarah. misalnya asap menandakan adanya api (Kurniawan. Hal ini berdasarkan fakta bahwa semiotika lebih merupakan suatu sistem epistemologis dalam pendekatan bidang ilmu tertentu seperti sastra dan komunikasi.leibh lanjut oleh kelompok Lingkungan Wina yang juga dikenal sebagai aliran positivisme logis.

poster politik. melainakanjuga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes. puisi. Menurut Pines apa yang dikerjakan semiotika adlah memberikan kejelasan kepada manusia untuk menguraikan aturan-aturan dalam suatu kehidupan dan membawa manusia pada suatu kesadaran dalam kehidupan ini (dalam Berger. dan makna (meaning) adalah hubungan antara sesuatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn.. cerpen. Hal ini kiranya . 1992:vii). Sebuah teks apakah itu surat cinta. kata. dalam arti dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. bangunan. Tanda dalam pengertian ini bukanlah hanya sekedar harfiah melainkan leibh luas misalnya struktur karya sastra. pidato presiden. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dngan apa yang ditandakannya (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sitem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra misalnya kerap diperhatikan hubungan antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan tanda dengan apa yang ditandakannya (semantik).bendera dan sebagainya. Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah dunia yang serba beragam ini. Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa maka huruf. dan segala sesuatu dapat dianggap sebagai tanda dalam kehidupan manusia (Zoest. struktur film. 1988:2179. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol. komik. 2001:53). klausa dan kalimat tidak pernah memiliki arti pada dirinya sendiri. Kurniawan. agar setidaknya kita dapat memilikipegangan. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri. iklan. wacana.s egala sesuatu (things). serta ungkapan bahasa lainnya yang merupakan suatu tanda. 2000:14). frase. 1996:64). nyanyian burung.. 2004:17). pad prinspnya hendak mempelajari bagiamana kemanusiaan(humanity). bahasa. kartun. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi. memaknai hal-hal. studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam hubungannya dengan pembacanya. Semiotika atau semiologi menurut istilah Barthes. secara umum. dan bentuk-bentuk nonverbal teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dngan maknanya dan bagaimana tanda disusun. makalah. dapat dilihat dalam suatu aktivitas penanda yaitu suatu proses signifikansi yang enggunakan tanda yang menghubungkan objek dengan interpretasi (Sobur.

yaitu semiotika murni. dan makna. Adapun deskriptif semiotic. 2004:19). misalnya dalam kaitannya dengan sistem tanda sosial. dan lain sebagainya (lihat Sobur. sedangkan bagi Peirce tentang hakikat tanda dalam hubungannya dngan objek. dalam arti hakikat bahasa secara universal. semiotika deskriptif (descriptive). semantic level (tingkatan semantik) dan pragmatic level (tingkatan pragmatik). bahwa bahasa adalah sebagai suatu sistem tanda. serta di abad pertengahan pembahasan tentang penggunaan . 2004:19). Berdasarkan lingkup permbahasannya semiotika dibedakan atas tiga macam. sementara Carles Moris menyebutnya sebagai suatu proses tanda ketika sesuatu merupakan tanda bagi beberapa organisme (Segers. sastra. Walaupun ribuan tahun yang lalu para tokoh filsafat Yunani telah membahas tentang fungsi tanda. adalah lingkup semiotika yang membahas tentang semiotika tertentu. Buku-buku yang membahas tentang semiotika murnia antara lain a Theory of Semiotic karya Umberto Eco (1976). Berdasarkan tingkatan hubungan semitoika. dan aturan itu terkandung dalam ungkapan bahasa dalam kehidupan. bahwa dalam kehidupan itu terdapat bebagai macam konteks kehidupan. dan semiotika terapan (applied) (sobur. Pure semiotic membahas tentang dasar filosofis semiotika. yang masing-masing kehidupan memiliki aturan-aturannya sendiri-sendiri (rule of the game). misalnya sistem tanda tertentu atau bahasa tertentu secara deskriptif. yaitu berkatian dengan metabahasa. Sementara Cobley dan Jansz (1999:4) menjelaskannya bahwa semiotika adalah sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji dan menganalisis tanda. Jadi semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi dengan menggunakan tanda (sign) dan berdasarkan pada sign sistem (code) (segers. 2000:5). ground serta penafsir. Sedangkan aplied semiotik adalah lingkup semiotika yang membahas tentang penerapan semiotika pada bidang atau konteks tertentu. komunikasi. dan the Meaning of information (1972) karya Doede Nauta. yang mengembangkan teori 'language games'. Objek. Nauta membedakan menjadi tiga tingkatan yaitu syntactic level (tingkatan sintaktik). periklanan. (pure). yaitu bagaimana tanda-tanda dalam kehidupan manusia itu atau bagaimana sistem penandaan itu berfungsi.sejalan dengan tesis dari Wittgenstein. Pembahasan tentang hakikat bahasa sebagaimana dikembangkan oleh Saussure. Peirce menjelaskan bahwa semiotika adalah sebagai bidang ilmu yang mengkaji hubungan diantara tanda. 2000:4).

Kedua filsuf terebut memang hidup seazaman. G. Prieto di dalam bukunya yang berjudul Mes Semiologies (1953). Ia merancang semiotika sebagai suatu teori yang baru sama sekali. ia dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. Saussure adalah seorang ahli linguistik. meskipun kadng lebih menonjol tentang tanda bahasa. Berbeda dengan Peirce. Morris dalam bukunya yang berjudul Writting on the General Theory of Signs (1971).J. Semiotika peirce diwarnai oleh filsafat pragmatisme dan logika. namun istilah semiotika sendiri baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert seorang filsuf Jerman. yang antara lain membahas pemikiran tentang batas-batas penelitian semiotika. sehingga konsep semiotikanya juga sangat dilandasi oleh dasar-dasar logika dan aspek pragmatis. 1992:viii). Oleh karena itu konsep Saussure tentang hakikat bahasa merupakan paradigma bagi sistem linguistik modern. Mounin di dalam bukunya yang berjudul Introduction a la semiologies (1970).A.tanda juga telah disinggung oleh banyak filsuf. dengan konsep-konsep yang baru dan tipologi yang sangat rinci. Perkembangan berikutnya par atokoh filsafat bhasa baru ramai membhas secara sistmatis pada abad XX ini. namun dalam paradigmatik yang berbeda. L. Sebeok dalam karyanya yang bertitel Contributions to the Doctorine of Signs (1977) (Zoest. Meskipun kedua tokoh tersebut memberikan dasr-dasar paradigmatik tentang semiotika. Roman Jacobson dalam karyanya yang berjudul Coup d'Oeilsur le Developpement de la Semiotique 91975). bahkan oleh kalangan linguis dunia. dan merancang konsep yang sangat canggih tentang ilmu bahasa beserta aspek terapannya. namun sebenarnya di antara kadua tokoh tesebut tidak terdpat hubungan kausalitas. Dengan lain perkatana dasar ontologis dan epistemologi semiotika diletakkan oleh dua tokoh tersebut. dan T. Umberto Eco membahas semiotika dalam bukunya yang berjudul A Theory of Semiotics 91976). Saussure menyadari bahawa sitem tanda yang disebut bahasa hanyalah salah satu di antara sistem tanda lainnya dalam . Roland Barthes membahasnya dalam buku yang berjudul element de Semiologie (1953). Bidang semiotika ini kemudian menjadi lahan yang subur dan bermunculan berbagai tulisan semiotika sepergi Ch. Berdasarkan pembahasan diatas sebenarnya perkembangan semiotika diilhami oleh dua orang filsuf bahasa yaitu Ferdinand de Saussarure dan Charles Sanders Peirce. Baginya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. Misalnya Peirce mengembangkan pemikirna tentang semiotika pada tahun 1939.

Peirce menghendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat diterapkan pad asegala macam tanda. Kenyataan bahwa di antara Saussure dan Peirce keduanya tidak saling mengenal. karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar. Secara lebih tegas ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dalam tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun setelah kematiannya dalam Ouvres Completes (karya lengkap). Dalam satu kalimat ia mengungkapkan gagasan. Teks-teks tersebut mengandung pengulangan dan pembetuland an hal ini menjadi tugas penganut semiotika Peirce untuk menemukan koherensi dan menyaring hal-hal yang penting. Kita mempunyai kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda-tanda. Peirce mendasarkan semiotika pad tradisi filsafatnya sendiri yaitu pragmatisme dan logika. sedangkan penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda. dan ia mengusulkan dan menyebut teorinya dengan 'semiologi'. dan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun pandangan filosofisnya memiliki perbedaan. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir. Dengan demikian sebenarnya Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. 1992:2). Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. dan diantaranya tanda=-tanda linguistik merupakan kategori yang penting. Kekhasan dan perbedaan itu dikarenakan pada latar belakang filosofis yang berbeda. atau dengan perkataan lain memiliki kekhasannya masing-masing. Menurut Peierce (dalam Berger. namun bukan satu-satunya.kehidupan manusia. Hal yang berlaku bagi tanda pada umumnya berlaku pula bagi tanda linguistik. ia . Dengan megembangkan semiotika. menunjukkan bahwa meskipun istilah semiotika (menurut Peirce) dan semiologi (menurut Saussure) berbeda. sedangkan Saussure mendasarkan semiotika pada filsafat bahasanya. 2000:14) tanda-tanda berkaitan dengan objekobjek yang menyerupainya. bahwa pada suatu saat harus ada teori tentang tanda yang mencakup semua sistem itu. namun mengacu pada pengertian yang sama. Menurut peirce semiotika didasarkan pada logika. yang merupakan dasr epistemologis linguistik umum. tapi tidak sebaliknya (Zoest. tetapi bukan satu-satunya kategori. Keberadaan memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia memberi tempat yang penting pada linguistik.

sedangkan yang mendasarkan filsafat Peirce. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai suatu sistem tanda. iklan. linguistik berkembang dengan pesatnya. dan lains ebagainya. Dalam penyebarluasan itu. Baiks ecara implisit maupun eksplisit para ahli semiotika yang mengikuti tradisi Saussure menganggap bahwa tanda-tanda linguistik mempunyai kelebihan dari sistem semiotika yang lain (Zoest. dan untuk itu ia mengusulkan nama semiologi. Dalam karya Eco tahun 1972 dan (1976). 1992:2). berdasarkan paradigma sistem linguistik umum yang telah dibangun oleh Saussure. Berbeda dengan Peirce. Konsep Peirce telah diperkenalkan di Eropa oleh Max Bense (Jerman) yang menggunakannya dalam penelitian estetika dan analisis tekstual. Menurut Lyons. Misalnya dalam keinginannya untuk membangun semiotika behavioris. 1995:38).5). Morris telah mencampurkan konsep-konsep yang dibuatnya sendiri ke dalam konsep-konsep Peirce. Memang perlu dimaklumi dalam perkembangan berikutnya pendekatan epistemologis tersebut menyebabkan penggunaan istilah itu denganberdasarkan ciri khas masing-masing. menggunakan istilah Semiotika. Saussure adlah seorang tokoh besa ryang berasal dari Swiss pendiri sebagai pendiri dan Bapak linguistik modern (Lyons. artistektur. konsep Peirce dapat dikembangkan pad penelitian bidang teater. Menurut Grenz. Demikian pula semiotika Peirce dikembangkan oleh George Klaus dan diintegrasikan dengan pemikirannya sendiri (zoest. Bahkan di Eropa pemikiran Peirce berkembang dengan sukses melalui karya eklektis Umberto Eco dari Italia. teori Peirce telah banyak mengalami perubahan. Dasar filosofis inilah yang menarik Barthes untuk mengembangkan semiologi.memerlukan konsep-konsep baru. melainkan juga karena pada waktu mereka mengerjakan teori. Untuk melengkapi konsep itu ia menciptakan kata-kata baru yang diciptakannya sendiri. Saussure mengembangkan dasr-dasar teori linguistik umum. Berdasarkan pernyataan ini sebenarnya tidak ada perbedaan epistemologis antara kata semiotika dan semiologi. Ketika para pengikut Saussure secara bertahap menyusun teori semiologi secara umum yang telah diramalkan kehadirannya oleh Saussure mengilhami mereka. Ia menambahkan bahwa teori tentang tanda linguistik perlu menemukan tempatnya dalam sebuah teori yang lebih umum. lazimnya yang mendasarkan pada filsafat bahasa Saussure menggunakan istilah semiologi. musik. kebudayaan. suatu kelebaihan yang luar biasa dari teori Saussure adalah ia . 1992:4.

Roman Jakobson (1966) menyatakan sebagai berikut. Mereka menggunakan istilahistilah dari linguistik. epistemologis maupun aspek aksiologis. Pasca teori Saussure. Sistem semiotik dari rambu-rambu lalu lintas merupakan salah satu contoh penggunaan tanda seperti ini. bahwa ctatan . Pada penggunaan konsep linguistik ditambahkan penggunaan konsep psikoanalisis (aliran Freud) atau sosiologis (marxis). ia belum mengenal studi sebagaimana ditulis oleh Peirce pada masa itu. Pengaruh Hjelmslev terlihat lagi dalam penelitian para tokoh semiotik yang menaruh perhatian pad atanda-tanda yang tanpa maksud yang berupa symptom. Roland Barthes adalah tokoh yang paling terkenal dari aliran semiotika ini. yang populer disebut 'semiotika konotasi'. Julia Kristeva adalah tokoh yang paling dikenal dari aliran ini biasanya disebut 'semiotika ekspansionis'. dalam teorinya menggunakan istilah atau kosakata yang berbeda. 1992:4). dan bahasa pada hakikatnya adalah merupakan suatu sistem tanda (Grenz.menolak teori historis tentang bahasa yang pada abad ke-19 berkembang pesat di Eropa. yang sering dihasilkan oleh pengirim tanpa disadari. melainkan untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) yang juga dipunyai tanda itu. Teori ini merupakan pendekatan semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal). Pengaruh itu nampak pada teori semiologi komunikasi. Ketika Saussure memberikan kuliah-kuliahnya yang dikenal dengan linguistik umum. yang digunakan dngan sadar oleh mereka yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya ( si penerima). Ahli semiotika yang mendasarkan pada filsafat Saussure. (Prieto. 2001:178). dalam kerja kaum semiotik yang cenderung memberikan tempat yang tinggi dan sentral. dan studi bahasa adalah berkaitan dengan objek material ujaran dan perilaku bahasa manusia secara empiris yang disebut parole. yaitu tempat yang biasanya diduduki oleh filsafat. Jadi jika kita simpulkan kedua tokoh semiotika tersebut memang tidak memiliki hubungan kausalitas baik dari segi ontologis. Buyssnes. Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan. Menurut Saussure bahasa adalah penanda (significant) dan petanda (signifie). Mounin). Aliran semiotika ini juga mengambil aspek epistemologi paham linguistik modern Noam chomsky yang beraliran transformasionalisme generatif (Zoest. seorang strukturalis dari Denmark. teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotika adalah teori Hjelmslev.

atau jikalau paling tidak catatan-catatan tersebut telah dikenal oleh para ahli linguistik. konvensional dan progresiv. sedangkan . penting dari segi sejarah. dan sampai tahun 1930-an belum diterbitkan. 2004:v). logika dan bahasa. 1992:5). Namun demikian kedua tipe tersebut tidak perlu dipandang sebagai suatu kontradiksi. meskipun lebih menaruhp erhatian terhadap tanda sebagai sebuah sistem dan struktur. Dalam kenyataannya pembahasan dua macam model semiotika tersebut justru terjadi interaksi yang saling memperkaya dan saling melengkapi. meskipun secara epistemologi menunjukkan ciri khas masing-masing. akan tetapi tidak berarti mengabaikan sistem tanda (lihat Piliang. Dua tipe semiotika yang dikembangkan olehdua filsuf tersebut memang memilkiki ciri khas serta karakteristik masing-masing. Semiotika yang mengikuti tradisi Saussure lebih dikenal dengan istilah 'semiologi. dan semiotika komunikasi (semiotics of communication) adlaah semiotika yang berdasarkan filsafat Peirce. maka pandangan Peirce pasti akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teori linguistik internasional (lihat Zoest.tentang semiotika yang telah dikembangkan oleh Peirce di atas kertas selama setengah abad. bahwa terdapat dua tradisi yang besar yang mengikuti pandangan dua filsuf besar yaitu filsuf bahasa Ferdinad de Saussure yang merupakan bapak linguistik modern dan Charles Sanders Peirce yang memiliki latar belakang filsfat pragramtisme. dogmatis dan revolusioner. akan tetapi tidak berarti bahawa semiotika tersebut mengabaikan penggunaan tanda secara kongkrit oleh individu-individu di dalam konteks komunikasi sosial. meskipun menekankan pada produksi tanda secara sosial dan pross interpretasi yang tanpa akhir (semiosis). Semiotika Signifikansi Sebagaimana dipahami oleh para ahli semiotika. 2004:vii). Para ahli semiotika membedakan semiotika signifikansi (semiotic of signification) dicirikan berdasarkan filsafat bahasa Saussure. misalnya signifikansi dan komunikasi. Jika dikaji secara filosofis kedua tipe semiotika tradisi Saussure danPeirce justru sebenarnya saling memperkaya. Demikian pula semiotika komunikasi yang mendasarkan pada filsafat Peirce. teori dan praksis. Semiotika signifikansi yang berakar pada tradisi filsafat bahasa Saussure. dan seakan-akan tidak ada ruang lain (Piliang. statis dan didnamis.

2004:vii). 2004:vii). Sussure tidak mengakui bahwa bahsa memiliki keteraturan secara alamiah. Meskipun demikian karena keterkaitannya sistem tanda bahasa dngan sistem sosial. dan contohcontoh aktual tingkah laku itu sendiri. Meskipun demikian. oleh karena sebagaimana dikemukakan oleh Jonathan Culler. Saussure mengusulkan dua model analisis bahasa. pedoman dan pengamalannya untuk menjelaskan dua model analisis bahasa Saussure tersebut. analogi istitusi dan evenet. yang memiliki aturan tertentu yang disepakati bersama. adalah semiotika pada tingkat parole. bahwa bila tanda juga merupakan bagian dari aturan-aturan dalam kehidupan sosial yang berlaku. Pandangan filsafat Saussuretentang bahas amenyebutkan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. ia mempunyai konsekuensi lebih luas pada bidnag-bidang di luar linguistik. dan bahasa sebagaimana ia digunakan secara nyata oleh individu-individu dalam berkomunikasi secara sosial (parole). antara sebuah 'kitab suci' dan bagaimana setiap orang 'mengamalkannya' (Pilliang. Apa yang secara epistemologi disebut 'semiotika signifikasi' pada prinsipnya adalah semiotika pada tingkat 'langue. Hal inilah yang memungkinkan bahasa sebagai sarana komunikasi sosial.tradisi Peirce dipopulerkan dengan istilah semiotika. Berkaitan dengan hal ini. sementara 'semiotika komunikasi'. Oleh karena itu dalam semiotika terdapat pengertian sistem tanda (sign system). bisa menjebabk pada kerangka pikir relasi . pengkombinasikan dan penggunaan tanda secara tertentu. sdisebabkan secara esensial ia merupakan perbedaan antara 'institusi' dan 'event'. maka konvensi juga mengatur tanda secara sosial tentang pemilihan. Perbedaan antara langue dan parole ini sangat sentral dalam pemikiran bahasa Saussure. dan bahasa adalah sebagai convensi yang arbitrer. oleh karen aitu bahasa merupakan sarana komunikasi manusia maka bahasa juga sebagai sistem tanda dalam komunikasi manusia (Piliang. sehingga sistem tanda ini memiliki nilai sosial. atau dengan analogi yang lebih ekstrem. melainkan dalam bahasa terdapat konvensi sosial (social convention). yaitu analisis bahasa sebagai sebuah sistem (langue). Jika bahasa sebagai sistem tanda dalam komunikasi sosial manusia maka implisit dalam pengertian tersebut terdapat sebuah relasi. antara sistem yang memungkinkan berbagai tindak tanduk sosial. sistem vs tindakan.

yang mengatur pengkombinasian tanda dan maknanya. yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat. Relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi inilahyang disebut sebagai siginifikansi (signification). Dalam kerangkalangue.semacam mesin untuk memproduksi makna. yang akan dijelaskan nanti Saussure justru melihat relasi antara langue dan parole sebagai relasi yang saling menghidupkan dan saling mengembangkan. seperti setiap mesin. Demikian . dengan demikian. 1967. Semiotika signifikasi. langsung dan pasti. Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu. Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention). atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makan yang ekplisit. Selain itu. adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem. ”Denotasi’ adalahtingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda. Kompleksitas relasi inid igambarkan oleh Roland Barthes lewat ’tingkatan signifikansi’ (staggered system). Pilliang. yaitu denotasi (denotation) dan konotasi (connotation). Akan tetapi. akan tetapi lebih bersifat konvensional. berdasarkan aturan main dan konvisi tertentu (Fiske. Akan tetapi bertentangan dengan pandangan tersebut. hanya terdapat kemungkinan yang terbatas bagi setiap orang dalam menggunakannya. signifikansi tidaklah sederhana sebagai relasi antara penanda dan petanda. Meskinpun demikian. Sesungguhnya ada beberapatingkat relasi tersebut. yaitu makna-makan yang berkaitan dengan mitos.horisontal atau relasi 'satu arah' (Pilliang. mulai dariyang sederhana sampai yang sangat kompleks. Barthes juga menjadi makan yang lebih dalam tingkatnya. 1990:85). Mitos sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman semiotika Barthes adalah sistem pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah (Barthes. Dalam melihat relasi pertandaan ini. untuk menjelaskan ’konsep’ atau ’makna’. Barhtes menjelaskan dua tingkat dalam pertandaan. 2004:viii). 2004:vii). Sementara ’konotasi’ adalah tingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsiran). Saussure menjelaskan ’tanda’ sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untukmenjelaskan ’bentuk’ atau ’ekspresi’ dan bidang penanta (signified). yang dogmatis dan hegemonis antara yang pertama dan yang kedua.

s ehingga menghasilkan ungkapan bermakna. Ada berbagai rule of the game atau aturan penggunaan dalam bahasa. ’poci. Berdasarkan aksis bahasa yang dikembangkan Saussure tersebut. sehingga kemungkinan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain (Eco. benda) dan syntagm. ’Paradigms’ adalah satu perangkat tanda (kamus. 1967:125). terutama sifatnya yang statis. Semiotika signifikasi dianggap mengandng banyak kelemahan. Aturan main kedua adalah perbendaharaan tanda dan cara kombinasinya. perbendaharaan kata) yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat. serta perangkat aturan main bahasa (gramar. menurut Saussure hanya dimungkinkan lewat operasinya dua aksis bahasa yang disebutnya aksis paradigms dan aksis syntagms. semiotika signifikansi yang dikembangkan oleh Saussure dan Barthes banyak mendapat kritik dari berbagai pihak. Meskipun demikian. Roland Barthes mengembangkan sebuah ’model relasi’ antar apa yang disebutnya system. visual. misalnya kata ’rem’. menaruh perhatian pada’relasi’ sistematik antara perbendaharaan tanda. Semiotika struktural dianggap terlalu menyandarkan diri pada sistem dan struktur yang tidak berubah. ’Syntagms’ adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yang ada berdasarkan aturan tertentu.pula bahasa. menurut Saussure bahwa di dalam bahasa hanya ada prinsip perbedaan (difference). gambar. yang hanya mempunyai satu kata saja untuk menjelaskan setiap hal. manusia tidak bisa membayangkan sebuah bahasa. tidak ada hubungan keharusan antara kata ’peci’ dan sebuah benda yang kita pakai sebagai penutup kepala kitaL apa yang memungkinkan terjadinya hubungan adalah perbedaan antara ’peci’. Dalam bahasa kita disediakan perbendaharaan kata atau tanda (vocabulary). disebabkan mereka berada didalam ’relasi perbedaan’. Jika kita ingin menghasilkan sebuah ekspresi yang bermakna. sehingga menutup pintu bagi peran manusia . dan hanya satu unit dari pilihan tersebut yang dapat dipilih. ’picu’. dogmatik dan mekanistik. Semiotika signifikansi. 1979:48). Kata-kata mempunyai makna disebabkan diantara katakata tersebut ada ’perbedaan’. aturan pengkombinasiannya (code). yaitu perbendaharaan tanda (kata. ’pacu’. yaitu cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main tertentu (Barthes. ’kode’ adalah seperangkat aturan atau konvensi bersama yang didalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan. sintak) yang harus kita patuhi.’ dst. dalam hal ini. serta konsep-konsep (signified) yang berkaitan dengannya. ’perbedaan. Misalnya. Aturan pertama. dalam bahasa.

Berbagai pembacaan mendalam terhadap karya Saussure menunjukkan bahwa Saussure sesungguhnya tidak ’anti perubahan’. bahwa sistem bahasa (langue) merupakan kondisi yang harus ada dalam setiap penggunaan tanda secara konkrit (parole). langue adalah ’produk sosial’. keadaan. dalam pengertian. sesuai dengan perkembangan sosial dan lingkungan. 2004:xi). sebagaimana yang dikemukakanoleh Paul J.x). 1998:27). Akan tetapi. dan kemudian menadi ’konvensi baru’. Relasi atas langue dan parole bukanlah sebuah relasi yang statis dan tidak berubah. Sistem bahasa justru dapat berubah ketika ia ’diui’ secara terus menerus di dalam praktik kehidupan sosial. tindak individu dalam penggunaan bahasa dalam mengubah sistem tanda. Saussure melihat. Dengan demikian. kini dapat mengalami perubahan ketika sistem tersebut ’ditempa’ di dalam praktik-praktik penggunaan bahasa secara diakronik. dapat berkembang ’egoisme’ atau ’anarkisme bahasa’. tidak benar merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. Setiap pengguna bahasa akan mengacu pada sistem bahasa tersebut. . Artinya. yang didalanbya lingkungan. yang melihat strutkru dan sistem bahasa sebagai sesuatu yang dapat berubah. Dengan demikian. terbuka pintu bagi sebuah titik awal perubahan sistem (change in system). yang mempunyai potensi-potensi kreativitas dan produktivitas dalam mengubah bahasa (Pilliang 2004:vii-xii). sebaliknya justru merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. struktur bahasa yang berdasarkan pemikiran saussure dilihat sebagai bersifat sinkronis. Dengan demikian. Thibault. Akan tetapi. dalam proses penggunaan bahasa tersebut. bahwa ia secara terus menerus ’ditempa’ di dalam praktik penggunana bahasa komunitas. perubahan tersebut tidaklah sewenang-wenang dan anarkis (Piliang. Sebaliknya. situasi dan hal-hal baru yang berkembang di dalam praktik tersebut menuntut sistem untuk berubah (Piliang. Sistem bahasa hanya bisa diubah oleh individu dan ’kolektivitasnya’ (Thibault. meskipun demikian. sebagai mana yang sering dituduhkan. sebab dengan demikian.sebagai subjek (Subject). ada sifat-sifat fleksibilitas yang dcukup kuat pada filsafat bahasa Saussure. sistem bahasa tidak bisa diubah oleh individu-individu semata sebagai pengguna bahasa pada tingkat parole. tidak benar pengguna bahsa dilihat hanya sebagai ’subek yang pasif’ dihadapan hegemoni sistem dan atuaran bahasa tersebut. dalam Rereading Saussure: The Dynamics of Signs in social Life. 2004. selama perubahan tersebut diterima secara kolektif. Dengan demikian.

Perubahan tersebut dilandasi oleh prinsip dialektika sosial sendiri. (Thibault. tetapi pada 'sistem bahasa' (langue). melainkan subek dari transformasi historis dan sosial. Dengan demikian. Dalam berkomunikasi subek tetap saa secara aktif menggunakan sumber daya langue berdasarkan pengalaman masa lalu dan pola –pola regulernya. Pemikiran Saussure tentang dinamika dan dialektika perubahan. hanya saja ia tidak memfokuskan diri pada ruang tersebut. 2004: xii). penyempurnaan dan kompleksitas bahasa secara terus menerus. bukan perubahan yang acak dan revolusioner (Pilliang. struktur dan relasi bahsaa di dalam sistem bahasa yang ada tidak bersifat permanen. bahasa justru selalu ’bergerak’ dalam kondisi ketidakstabilan yang permanen (permanen instability) (Thibault. Akan tetapi. sebagaimana yang sering dituduhkan. Parola adalah semacam ’kebebasan kombinasi’ (freedom of combination). tidak sistematis. akan tetapi pada posisi yang relatif tidak berbeda dengan Peirce. akan tetapi sekaligus diubah secara evolusioner. sperti yang dijelaskan Thibault di atas. yang didalamnya terjadi proses ’tesis’ dan ’sintesis’ sebagai jalan kearah pengkayaan. 1998:28). Individu-individu tidak mempunyai kebebasan untuk memproduksi kombinasi semau dan sesukanya. ’perubahan’ yang dimaksud Saussure bukanlah perubahan yang sewenang-wenang. 1998:78). anarkis. Konsekuensinya adalah bahwa langue tidak dapat berdiri sendiri secara otonom dalam kaitannya dengan parole. Penggunaan bahasa secara kreatif dan inovatif selalu dalam konteks transformasi sumber-sumber sosial dan semiotis secaa evolusioner. Dengan perkataan lain. ’kebebasan’ disini bukanlah dalam pengertian kebebasan random.yang didalamnya langue dipelihara prinsip dasarnya. dan tanpa aturan. kebebasan dalam parole bukanlah ’kebebasan tanpa batas’. sesungguhnya telah menempatkan Saussure tidak pada posisi "membelenggu' subjek pengguna bahasa lewat 'kekuasan struktur' (hegemony of structure). Ketimbang besifat stabil. yang merupakan prakondisi dari . kemestian dan tak berubah. Aktivitas produksi makna dalam parole dimungkinkan sekaligus ’dibatasi’ oleh kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh sistem bahasa. akan tetapi ia menyesuaikan sesitem tersebut dengan perubahan dan ketidakpastian situasi yang ada (contingency). Meskipun demikian. melainkan saling mempengaruhi secara timbal balik. Saussure mengakui parole sebagai ruang tempat berlangsungnya perubahan. atau anarkis.

'medan' yang justru dimasuki secara intens oleh Peirce (Pilliang. Peirce sebaliknya melihat subek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses signifikasi. adalah semiotika yang menekankan aspek ’produksi tanda’ (sign production). 1979:15). ’Tanda’ menurut pandangan Peirce adalah ”. 1995:42). Pilian. Menurut Eco sistem tanda (langue) dan proses . Tampa pada definisi Peirce ini peran ’subjek’ (somebody) sebagai bagian tak terpisahkan dari pertandaan. ”Semiotika komunikasi”. ia tidak masuk terlalu jauh ke dalam aspek komunikasi tersebut. Model tradic yang digunakan Peirce (representamen + object + Interpretant = sign) memperlihatkan peran besar subek ini dalam proses transformasi bahasa.parola. akan tetapi juga aspek komunikasinya. Umberto Eco yang sering disebut-sebut sebagai ’penengah’ antara semiotika signifikasi Saussure dansemiotika komunikasi Peirce melihat ’salah kaprah’ dalam melihat model-model semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi sebagai sebuah relasi oposisi biner. 1995:43).. yang disebut proses ’semiosis tak terbatas’ (unlimited semiosis). yaitu proses penciptaan ’rangkaian interpretant yang tanpa akhir’ di dalam sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda yang didalamnya tnda mendapatkan tempat hidupnya. dan berkembang bika (Winfried Noth.something which stands to somebody for something in some respect or capacity” (Winfried Noth. Bila Saussure dianggap mengabaikan subjek sebagai perubahan sistem bahasa. Saussure mengakui tidak saja aspek signifikansi dari semiotika.. yang menjadi landasan bagi semiotika komunikasi. yang memilih tanda dari bahan baku tanda-tanda yang ada. Artinya. dan mengkombinasikannya. semiotika komunikasi sangat bertumpu pada ’pekera tanda’ (labor). ketimbang ’sistem tanda’ (sign system). Sebagai sebuah ’mesin produksi makna’. dalam rangka memproduksikan sebuah ekpresi bahasa bermakan (Eco. Semiotika komunikasi Peierce melihat tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subek atas tanda (intepretant). 2004:xii). ’tanda’ dalam pandangan Peirce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti. Hanya saja. 2004:xii). bertumbuh. menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotic.

bahwa ’semiotika signifikansi’ dan ’semiotika komunikasi’ semata adalah penamaan dari dua proses yang satu sama lain sesungguhnya saling berkaitan. sebagai ’dua seteru’ yang tidak dapat dipertemukan. saling mempengaruhi timbal alik (reciprocal) dan tidak dapat dipisahkan begitu saja sebagai dua ’medan’ yang otonom. Eco mengelaborasi lebih jauh konsep ’dinamika tanda’ yang tidak dikembangkan secara khusus oleh Saussure. Ada pandangan yang keliru. ’teori teks’ dan ’teori wacana’). Ini berarti. bagaimanapun uga ’tanda’ adalah asal usul dari ’proses semiosis’. (pilliang. Dapat dilihat di sini. ketika seseorang ’menuturkan’ kata (atau image). seakan-akan orang harus memilih antara ’teori tanda’ (teori signifikansi) dan ’teori semiosis’ (yang disebut uga oleh Eco ’teori praktik signifikant’. maka ia terlibat di dalam sebuah proses ’produksi tanda’ (yang sebagaimana konsep produksi dalam ekonomi melibatkan berbagai lapisan pekerja (labor). saling mengisi. menyeleksi. Eco memberikan sebuah elaborasi yang komprehensif dan kritis mengenai ’model signifikasi’ Saussure.interpretasi tanda secara tak terhingga (Semiosis) tidak bisa dilihat dalam keranka oposisi biner. Menurut Eco. bahwa ’semiotika itu sesungguhnya tidak sedalam sebagaimana yang dibayangkan. 1979:1). dan tidak diuraikan secara detail oleh Peirce. Keharusan memilih di antara dua teori ’inilah yang merupakan salah kaprah dalam semiotika. Lewat sebuah ’otonom’ yang mendalam tentang karya Peirce dan Saussure. bahwa seakan-akan orang tidak menyatukan antara ’doktrin tanda’ (doctrine of sign) dan doktrin ’semiosis’ sebagai proses interpretasi tanpa akhir. sehingga dengan demikian tidak ada ’oposisi’ antara ’keliaran semiosis’ (dan aktivitas interpretasi) Peirce dan kekakuan dan ’kebekuan’ tanda Saussure (Eco. yang melihat sifat-sifat ’dinamis’. Sebab. Dalam hal ini. Ini berarti. 2004:xiii). dan ’model produksi tanda’ Peirce di dalam A Theory of Semiotics. khususnya pekerja tanda. Ia mempekerakan tanda-tanda (memilih. ’progresif dan ’transformatif’ yang sama-sama dimiliki oleh Saussure maupun Peirce. menata dan . sebagaimana yang dikatakan Eco. yang tidak dapat didamaikan. bahwa pandangan Eco ini sejalan dengan pandangan Thibault. ’teori proses komunikasi’. yang membuat seakan-akan Saussure danPeirce merupakan dua ’kubu perang’. yang menyebabkan ’jurang’ yang memisahkan antara kedua ahli semiotika itu sesungguhnya tidak ke sedalam sebagaimana yang dibayangkan.

berarti mengusulkan ’korelasi’. oleh karena produk akhir dari setiap perubahan sistem adalah konvensi baru. Dalam hal ini. yang memberi peluang bagi ’kreativitas bahasa’. dan setiap korelasi harus berdasarkansebuah ’konvensi’ (convention). Seperti seorang pelukis. maka ia menggunakan tenaga kera interpretasi. 2004:xii-xiv). Meskipun kode mengontrol penyampaian pesan. 1979:152). yang satu sama lain saling mendinamisasi. Proses ’dinamika bahasa’ seperti ini. yang menuntut danya perubahan. Orang dapat merestruktur ekspresi maupun isi pesan mengikuti kemungkinankemungkinan dan kapasitas pengkombinasinya yang dinamis. yaitu ketika situasi diskursus menuntut adanya perubahan aturan main. 1979:189). ia harus mengusulkan cara baru pengkoden (new coding). dalam komunikasi sseorang dihadapkan pada keharusan menemukan sebuah fungsi tanda yang baru. Dalam hal ini. Akan tetapi. Eco melihat semacam dialektika antara kode (code) dan pesan (message). Untuk mengusulkan sebuah kode. Eco melukiskan sebuah situasi diskursus yang didalamnya berlangsung proses ’kreativitas yang mengubah aturan (rule changing creativity). yang merupakan produk sosial dari bahasa (Pilliang. sebagaimana yang kita lihat di atas halnya dimungkinkan ketika sistem bahasa (langue) dan proses penggunaan tanda secara sosial merupakan sebuah ’spiral’. maka ia harus melandasi korelasi tersebut berdasarkan ’konvensi baru’ (new convention) (Eco. Akan tetapi. Proses komunikasi dapat menciptakan semacam diskursus baru (new discourse). dalam rangka memahami kata (atau image) tersebut. akan tetapi pesan itu sendiri dapat merestruktur kode. sebagaimana yang diingatkan oleh Saussure. sehingga menciptakan sebuah sistem bahasa yang selalu ’siaga’ terhadap berbagai situasi atau lingkungan baru. 1979:188). yaitu ketika ekspresi atau isi komunikasi betul-betul baru dan tak terumuskan (undefinable) lewat kode yang ada (Eco. dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode (kode) yang dipahaminya. (Pilliang. oleh karena setiap penggunaan fungsi tanda diatur oleh sebuah kode. . Di dalam proses pertukaran kata (atau image) tersebut sesungguhnya berpeluang teradi proses perubahan kode (the changing of codes) (Eco. 2004:xiv). Akan tetapi. oleh karena konvensi itu sendiri belum ada.mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu). Ketika orang lain ’membaca’ kata (atau image) tersebut. proses dinamika bahasa tersebut bukanlah proses yang semena-mena.

akant etai ia juga . Meskipun semiotika seperti ini masih bergantung pad akonsep-konsep tanda dan komunikasi. kitatampaknya diajak untuk berpikir sedikit ekstrem tentang teori komunikasi. akant etapi ia mempunyai hubungan yang 'ironis' dengannya. Serres dan Baudrillard. Bila diciptakan ruang kreativitas dalam bahasa. Ia mengemukakan. melainkan salah satu unsur penting dalam komunikasi itu sendiri. Dalam konteks semiotika ekstra-komunikasi' ini. Deleuze & Guattari. misalnya. disinformasi. melainkan 'sesuatu' yang berada di luar relasi komunikasi sender/message/receiver. apakah itu yang disebut noise. Cara-cara berpikir seperti inilah yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Derrida. Artinya. Bahwa ada semacam 'medan komunikasi. yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan. Kristeva.Semiotika 'ekstra-komunikasi' Ada sebuah 'medan bahasa' yang secara sepintas tampak 'melampaui' ruang kontroversi antar a'semiotika signifikansi' dan semiotika komunikasi'. noise itu juga membawa sebuah pesan. maka hirukpikuk di sini tidak hanya dilihat sebagai 'pengganggu' komunikasi guru-murid. maka bahasa harus melepaskan sandarannya pad cara berpikir sistem dan struktur. Michel Serres melihat elemen noise yang selama ini dianggap sebagai 'ekses' dalam komunikasi sebagai elemen yang sanga tpenting dalam komunikasi.'tak terbayangkan' (unimaginable) atau bahkan 'tak terpresentasikan ' (unrepresentable) di dalam bahasa. Bila semiotika signifikansi Saussure dianggap terlalu bersandar pada langue sebagai 'pusat' (center) yang dituduh menghalangi inovasi dalam bahasa. yang didalamnya yang menjadi fokus atau motif bukanlah 'pesan' (message). disorder. yaitu sebuah 'medan ekstra'. Bila didalam sebuah ruang kelas. Dalam hal ini. dan bila dibuka pintu bagi kemungkinan untuk menyingkap berbagai hal yang tak terpikirkan dan tak terpresentasikan dalam bahasa. 2004:xv). turbulensi. chaos. yaitu apa yang disebut 'semiotika ekstra-komunikasi'. Hal ini disebabkan bahwa noise pada kenyataannya mempunyai ciri0ciri yang tidak berbeda dengan pesan (message). bahwa noise bukanlah semata elemen 'pengganggu' komunikasi. simulasi atau ironi (Piliang.. tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk yang berasal dari tawuran pelajar di jalan. ketika seorang guru tengah asyik berbicara. maka semiotika 'ekstra-komunikasi' lebih menaruhp erhatian pada kemungkinan baru yang tidak terpikirkan' (unthinkable).

Baudrillard melihat. Ini tampak. telah memerangkap setiap orang di dalam keterpesonaan tindak. Dipengaruhi oleh pemikiran McLuhan. kondisi 'ketidakterisian makna' dan 'ketidakterisian kode' ini dibiarkan secara tak berhingga. sehingga pesan komunikasi yang sesungguhnya menjadi tidak dipentingkan lagi. dan tafsiran 'prospektif' (prospective). didalam sebuah 'permainan bebas' (free play) (Derrida. ke arah motif . Baudrillard melukiskan tentang bagaimana relasi komunikasi. Noise.sebuah 'pesan' misalnya murid harus berjaga-jaga terhadap akibat samping dari tawuran tersebut (Serres. teknik dan kecanggihan teknologi medium itu sendiri. makna atau noise. 1987:20). pusat perhatian dan motif dalam komunikasi telah beralih ke pencarian pesan ke arah keterpesonaan yang ditimbulkan oleh permainan. dengan melepaskan diri dari determinasi sistem. Baudrillard melihat sebuah model komunikasi. dengan menutup prose permainan dan produktivitas tanda. Artinya. Di dalam the Ecstras of communication. yang disebutnya 'ekstasi komunikasi'. teknik dan teknologi komunikasi itu sendiri. dengan demikian. Ia juga menggunakan istilah 'diseminasi' (dissemination) untuk menjelaskan sebuah situasi 'ketidakterisian makna' disebabkan absennya petanda. yang didalamnya pusat perhatian bukanlah pad pesan. Derrida lalu membedakan antara dua cara penafsiran. yaitu : penafsiran 'restropektif' (restropective). sebab perhatian lebih dipusatkan pada permainan dan ekspresi itu sendiri. Jacques Derrida melihat. yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinil. 2004:xix). languae atau paroe. pada kecenderungan determinasi speech atas writting. bahwa semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Saussure sarat dengan kecenderungan 'logosentrisme' yaitu kecenderungan bahasa untuk merayakan sifat metafisik dan dogmatik dari langue. 1995:dalam Pialang. melainkan pada 'permainan medium' itu sendiri. Komunikasi telah beralih darimotif mencari pesan lewat medium. determinasi seperti ini menjadi sebab utama dari 'penutupan' (foreclosure) berbagai kemungkinan tafsiran kreatif yang disediakan oleh bahasa dan tanda. bahwa justru 'medium' itu sendiri yang kini menjadi pesan (medium is the message). misalnya. Derrida menggunakan istilah differance untuk menjelskan sebuah proses permainan bebas penanda yaitu berupa 'pergerakan' dari satu penanda ke penanda lainnya. signified atas signifier. yang secara eksplisit membuka pintu bagi indeterminasi makna. Sedikit berbeda dengan Serres. justru menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pesan dalam komunikasi. Di dalam determinasi.

1988. dan kemudian ia pindah ke universitas Leipzig untuk belajar ilmu bahasa. semua penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. Kemudian pada umum 21 tahun ia belajar bahasa Sansakerta selama 18 bulan. meskipun tidak banyak bukti bahwa di antara mereka saling berkomunikasi. yang kini mengambil alih pesan. dan bahkan telah berubah menjadi 'pesan' itu sendiri (Boudrillard. Ferdinand de Saussure Saussure lahir di Jenewa tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu. xvii). yang untuk penjelasannya diperlukan konsep teoritis atau pengembangan lagi (Piliang. sehingga menciptakan semacam persimpangsiuran penanda-penanda yang kemudian tercipta adalah semacam 'kegalauan dalam pertandaan'. Ia hidup sejaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. karena keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Di dalam bahasa skizofrenia. Dengan perkataan lain. yang disebut model komunikasi 'skizofrenia'. 2004. nampaknya Saussure kurang tertarik pada bidang tersbut. . Setelah satu tahun kuliah di Jeneewa pada fakultas fisika dan kimia. Di dalam model komunikasi yang dikemukakan lacan. Bila pemikir sebelumnya menaruh perhatian pada 'ekses-ekses' pada rantai komunikasi. antara penanda dan penanda lainnya). sehingga tidak mampu menghasilkan sebuah ungkapan bermakna.penikmatan kesenangan (ekstasi) yang disediakan oleh medium itu sendiri. Filsuf Semiotika dan Pemikirannya 1. terjadi semacam 'keterputusan' rantai pertandaan (antara penanda dan petanda. yang untuk itu sebuah neologi lain dapat diusulkan untuk menjelaskannya. 2004:xii-xvii). dalam Pilliang. yang menciptakan serangkaian penanda-penanda yan satu sama lainnya tidak berkaitan. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan satu penanda dengan car ayang stabil. yaitu apa yang disebut 'semiotika chaos'. C. dan pada saat itulah ia menerbitkan memoire-nya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le Systeme Primitif des Voyelles dans les Langues Indo-Europeenes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). Jacques Lacan memfokuskan diri pada 'kegalauan' atau 'turbulensi' dalam sistem pertandaan.

perpindahan penduduk. Saussure memang terkenal karena teorinya tentang tanda. Karya itulah yang dikenal dengan istilah ’strukturalisme’ (Grenz. judul course in General Linguistics (Lechte. sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. Studi demikian menelusuri perkembangan kata-kata dan ekspresi sepanjang sejarah. 2:44 ). Pada tahun 1881 ia diangkat menjadi dosen dalam bahasa Gothic dan bahasa Jerman Kuno di Ecole Pratique des Hautes Etudes. Karyanya yang disusun dari tiga kumpulan catatan kuliah saat ia memberi kuliah linguistik umum di Universitas Jenewa pada tahun 1907. dan faktor-faktor lainnya yang memperngaruhi perilaku linguistik manusia (Grenz. kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara kesluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Banyak aliran linguistik yang berlainan dapat dibedakan pada waktu ini. Untuk memahami bahasa. setelah mempertahankan tesisnya tentang kasus generatif mutlak dalam bahasa sansakerta. kehebatan Saussure adalah ia berhasil menyerang pemahaman ’historis’ terhadap bahasa yang kembangkan pada abad ke-19 memulai studi bahasa dengan fokus kepada prilaku linguistik nyata (ucapan manusia. 233). Saussures pindah ke Paris. 2001: 178). tetapi semuanya secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh strukturalisme Saussure (Sobur. Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik.Pada tahun 1880. kita harus melihatnya secara ’sinkronis’. Ia mengusulkan teori bahasa yang disebut ’strukturalisme’ untuk menggantikan pendekatan ’historis’ dari para pendahulunya. parola). Untuk memahami sebuah simponi. mencari faktor-faktor yang berpengaruh. Grenz. Menurut Stanley J. 2001: 178). Menurut Lyons (1995:38). Kita tidak boleh . Catatan-catatan kuliahnya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline. 2001:232. perubahan jumlah penduduk. 2001:232). Karya ini dikemudian hari merupakan sumber teori linguistik yang paling berpengaruh. seperti geografi. Saussure menggunakan pendekatan anto-historis yang melihat bahasa sebagai sistem yang utuh dan harmonis secara internal (langue). Selama sepuluh tahun ia mengajar di Paris sampai diangkat menjadi professor bahasa Sansakerta dan bahasabahasa Indo-Eropa di Universitas Jenewa (Lechte. Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku.

Para ahli linguistik sebelum dia melihat bahasa sebagai fenomena alamiah yang berkembang sesuai hukum-hukum yang baku. Bahasa itu bersifat otonom: struktur bahasa bukan merupakan cerminan dari struktur pikiran atau cerminan dari fakta-fakta. Misalnya. secara individual. dan juga dengan epitemologi Pencerahan. Saussure mempertanyakan pendekatan terhadap studi bahasa yang dilakukan oleh pencerahan. maka setiap sistem bahasa ditentukan oleh kebiasaan sosial. Caurse in General Linguistics. Saussure juga merupakan seorang tokoh pembaruan intelektual dan ini jelas dalam karyanya. Tampaknya memang. 2004: 44). sebelum tahun 1960 tidak terlalu banyak orang dalam lingkungan akademik atau luarnya yang pernah mendengar nama Saussure. Pendekatan inilah yang disebut-sebut sebgai linguistik struktual (Sobur. Sebagaimana dijelaskan di depan bahw Saussure dilahirnkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah karya keluarga yang sangat terkenal di kota itu . Jika bahasa adalah sebuah fenomena sosial. kategori dalam logika mengatakan ’subtansi’ dan ’kualitas’. pandangan Saussure berbeda total dengan ilmu bahasa abad ke-19. Pada perkembangan selanutnya. Mereka mengatakan bahwa struktur bahasa kita mencerminkan proses logika berpikir. Baginya. Para ahli bahasa abad Pencerahan melakukan studi dengan mengurusi kepingankepingan detail dan ’sebagai orang luar’ (yang tidak terlibat dalam bahasa itu sendiri). Saussure mengatakan sebaliknya bahwa bahasa adalah fenomena sosial. Kategori dalam bahasa menerjemahkannya menajadi ’kata benda’ dan ’kata sifat’. sesudah tahun 1968. bangsa adalah sebuah keutuhan yang berdiri sendiri. yang membuatnya tekenal dari luar lingkungan linguistik (Sobur. Kata-kata ini merupakan label bagi benda-benda yang bisa dikenali sehingga bahasa adalah klasifikasi. pemahaman struktual demikian menjadi dasar bagi pemikiran postmodernisme yang diwariskan Saussure. Namun. 2001: 180)/ Sebetulnya. Selain sebgai seorang yang memupuk berlangsungnya tradisi intelektual.melihatnya secara atomistik. 2004: 45). Struktur bahasa adalah milik bahasa itu sendiri (Grenz. kehidupan intelektual Eropa menjadi ramai dengan perbincangan tentang karya-karya ’bapak strukturalisme dan linguistik’ ini.

kedua unsur tadi tidak bisa dilepaskan. (2) form (bentuk) dan content (isi). Yang mesti diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang konkret. Suara-suara. penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. ada lima pandangan dari Saussure yang kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi Strauss. Tanda adalah kesatuan dari suatu bendtuk penanda (signified). (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan. yaitu pandangan tentang (1) signifeir (penanda) dan signified (petanda). penanda adalah ’bunyi yang bermakna’ atau ’coretan yang bermakna’. ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens. menyatakan. atau konsep. Yang cukup pentinga dalam upaya mengangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda. atau bunyi-bunyian. signifiant atau signifie.karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. atau menyampaikan ide-ide. dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian. bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). baik suara manusia. hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekpresian. suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sistem konvensi sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda. 2001: 180). Sebaliknya. Dengan sebuah ide atau pertanda (signifer). Sedikitnya. Untuk itu. Suatu penanda tanpa petanda tanpa tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. pikiran. pengertian-pengrtian tertentu. Dengan kata lain. Signifier dan Signified. Menurut Saussure. signifier atau signified. Selain sebagai seorang ahli lingustik. Petanda adalah gambaran mental. ujaran): (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik). yakni signifer (penanda) dan signified (pertanda). Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkhein meski tidak banyak bukti bahwa ia sudah pernah berhubungan dengan mereka. serata (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik). Jadi. Tanda bahasa selalu mempunyai da segi: Penanda atau pertanda. binang. suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas .

maka kata tersebut pasti menunjukkan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept). Jadi. sedang konsepnya adalah petanda (signified). . setiap upaya untuk memaparkan teori Saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan Saussure mengenai hakikat tanda tersebut. 2001: 235). Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citraan saurau (sound image). Pemisahan hanya akan menghancurkan ’kata’ tersebut. sebuah kata apa saja. bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama.dari penanda. 1998: 35). bahkan secara lebih mendasar Saussure negungkapkan suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori linguistiknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (pertanda) bersifat menasuka atau berubah-ubah. meskipun antara penanda atau petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. Berlawanan dengan tradisi yang membesarkannya. 18982. Karena itu. 2004: 46). Saussure tidak meneria pendapat yang menyatakan bahwa ikatan mendasar yang ada dalam bahasa adalah antara kata dan benda. Ambil saja. konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. Maka itu. dalam Ahmisa-Putra. namun juga suara yang berbeda (distinc sound). 2004: 47). Berdasarkan prinsip ini. (Lechte. ”Penanda dan petanda merupakan kesatuan. Meski demikian. pertanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. menurut Saussure. struktur dasar suatu bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi. pandangan ’nomenklaturis’ menjadi suatu landasan linguistik yang sama sekali tindak mencukupi (Sobur. seperti dua sisi dari sehelai kertas. tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarkan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan.”kata Saussure (Sobur. misalnya. Namun. Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifer). Setiap tanda kebahasaan.

kita tahhu bahwa di Stasiun Bandung ada kereta api Parahyangan Bandung-Jakarta pukul 07. Jadi. 2001:40). misalnya. Untuk membedakan antara form (bentuk. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi. Yang bervariasi. Saussure membandingkan form dan content atau subtance itu dengan permainan catur. dan mungkin juga diberi makna yang berbeda. yang memberikan pada suatu kata disstinctive form-nya. 2001:39) memberikan contoh lain yang kini sangat populer. dan kita katakan kita naik ’kereta api yang sama’ walaupun gerbong danlokomotifnya boleh jadi sama sekali sudah berbeda. papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi. misalnya dibedakan menurut suaranya dengan kata salam. Pada hari senin. dan malam. aturan-aturan permainannya. Menurut Saussure. yakni kereta api. Istilah form (bentuk) dan content (materi. namuns ecara . Begitu pula halnya dengan kata-kata. Saussure (Ahimsa-Putra. atau bentuk khasnya. Memang demikianlah wujudnya. sedangkan wadahnya yaitu kata ’sinkronisasi’ sebagai bagian darisebuah sistem bahasa tetap sama (Ahimsa-Putra. baik gerbong maupun lokomotifnya. apa sebetulnya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Dengan kata lain. Apa yang ’tetap’ di sini sehingga kita lalu mengatakan ’kita naik kereta api yang sama’ tidak lain adalah ’wadah’ kereta api tersebut. tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya. satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. Lalu persoalannya adalah. wadah) dan content (isi) ini. 1997: 35) diistilahkan dengan expression dan content. kata tersebut tetaplah satu dan sama.50 (kalau tidak telat). kata Saussure adalah ”the phonic and psychological ’matter’.Form dan Content. dapat diucapkan secara berlain-lainan oleh individu-individu yang berbeda. karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap hari. Hari selasa berikutnya kita naik lagi kereta api ini ke Jakarta. sementara isinya berubah-ubah. Kata ’sinkronisasi’. Kata kalam. Umpamanya saja. Dalam permainan catur. Walaupun demikian. isi) ini oleh Gleason (Pateda. Juga susunan gerbong dan jumlahnya. bahasa berisi sistem nilai. tidak lain adalah differensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata yang lain. kita naik kereta api ini ke Jakarta. bagaimana suatu kata itu memperoleh maknanya? Atas pertanyaan ini Saussure memberikan jawaban yang lain dengan jawaban yang biasanya diberikan pada masa itu.

suatu kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi. Obek itu tidak tergantung dri materi tanda yang membentuknya. kertas. Di samping itu. individual dan juga sosial.konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. Hal ini pun diakui Roland Barthes (1996:80) yang menyatakan bahwa konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaruan besar pada linguistic sebelumnya. psikis. Padahal. yang dengan sendirinya merupakan linguistik individual. katanya lagi. Artinya. kekacauan itu dapat hilang dari semua keragaman tersebut dapat disarikan suatu obek sosial yang murni. pena. Ketika itu . Saussure dianggap cukup penting oleh Recoeur karena ialah yang meletakkan dasar perbedaan antara langue dan parole (Ricoeur. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu. dan disebut langue. khususnya dalam teori wacana. Perbedaan-perbedaan yang memisahkan suatu kata dengan katakata yang lain terutama yangmemisahkannya dengan kata-kata yang paling berdekatan (menurut suara maupun konsep) itulah yang memberikan identias pada kata tersebut. linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebabsebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan. tutur Barthes. dan kombinasi tanda-tanda yang teradi sewaktu-waktu) (Sobur. karena kata Indonesia tersebut terpisah dari kata atau dibedkan dengan kata rice. 2004:49). langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran) terpaksa kita mengambil . realisasi aturan-aturan. Saussure membedakantiga istilah dalam bahasa Perancis: language. umpamanya tidak persis sama dengan kata rice dalam bahasa Inggris. Langue dan Parola. Jadi kata padi dalam bahasa Indonesia. 2004:48).” kata Barthes. 1976:2-3) sebagai dua pendekatan linguistic yang pad agilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoeur. Saussure mulai dengan sifat bahasa yang ’berbentuk amak dan beragam’. terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bnyi. kata padi tidak masuk dalam differensiasi system arti dalam bahasa Inggris (Sobur. asosiasi spotan dan tindakan yang berjalan dengan itu. fisiologi. yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realitas yangtak dapat dikelompok-kelompokkan ’kita seakan-akan tidak akan menemukan kesatuan di dalamnya. tinta dan sebagainya. kaerna realita itu sekalipun bersifat fisik.

namun disebabkan. Individu tak dapat membuatnya sendiri. Langue ini ada dalam benak orang. gangguan psikologis pada bagian tertentu maka dia tidak bisab erbicara secara formal. Singkatnya. Dalam pandangan Barthes (1996:81) apa yang disebut langue itu adalah langage dikurangi parole:” Itu adalah suat institusi sosial dan sekaligus juga suatu sistem nilai. Alwasilah. sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat. mereka membatasi diri atas langue saja (Sobur. produksi masyarakat itu bersifat otonom. Alwasilah (1993:77) menyebut langue sebagai totalitas dari kumpulan fakta atau bahasa. ia harus mengikuti keseluruhan perjanjia itu. Apabila orang ingin berkomunikasi. seperti uga sebuah simfoni tidak sama dengan cara dibawakannya dalam sebuah konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya umpamanya). sebab dibidang ini kekhususan bahasa Perancis tidak mudah terjemahkan oleh bahasa-bahasa lain. langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu. langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial dan budaya. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada . Orang bisu pun sama memiliki langage ini. langue. language adalah bahasa pada umumnya. langue dimaksudkan bahas seauh merupakan milik bersma dari suatu golongan bahasa tertentu.alih istilah-istilah yang diberikan oleh buku Saussure sendiri. Akibatnya . namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dn stimulus yang menunjang. menurut Barthes. Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa. Dalam konsep Saussure. 1993:77). bukan hanya abstraksi-abstraksi saa. (Bertens. 2001:182). 2004:50). katanya.l hal itu harus merupakan perjanian bersama. seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya. Selain itu. Langage mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parola (Bertens. Dalam pengertian umum. umpamanya. Language adalah suat kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan.” katanya. 1996:23). tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langage. 2001: 181-182. sama sekali bukan tindakan. tidak juga dapat mengubahnya. Langue adalah sesuatuyang berkadar individual dan juga sosial universal. Sebagai sistem sosial.

Dan sistem itu dikonstruksikan oleh aturan-aturanya. Yang penting dalam bahasa adalah aturanaturan yang mengkonstitusikannya yaitu unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. Namun menurut Saussure. plastik). harus dianggap sebagai sistem (Bertens. Demikian pula bahasa. Maksudnya. . melainkan aturan-aturan yang berlaku bagi nada-nada tersebut (Sobur. ia mengemukakan perbandingan yang lalu menjadi terkenal. tidak memberikan kontribusi sedikit pun untuk pengertiannya. menurut Saussure. Juga bahan dari mana buah-buah catur dibikin (kayu. /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bapa dan papa berbedad engan maknanya. Atau mengubah seluruh sistem. bahasa itu bikan substansi. termasuk dalam tanda bahasa juga ada yang disebut morfem. 2004:51). Dalam bahasa yang esensial ialah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang membentuk sistem itu. tidak mempunyai peranan. Apa yang dinamakan langue itu. terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. karena membedakan makna kata harus dan arus. yaitu satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Moeliono. Guna menjelaskan hal tersebut. yaitu ”satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukan kontras makna” (Kridalaksana. Asal usulnya permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri. kata Saussure. selain itu. sedangkan ujud fenotisnya tergantung pada beberapa faktor. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem esensial. 1988:592). 2001:182). Dalam bahasa Tionghoa. 1998:107). Untuk mengerti permainan catur. gading. 1988:243). tidak perlu dikatahui bhawa permainan ini berasal dari Parsi.tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code)bahasa (Kleden-Probonegoro. melainkan bentuk saja. yakni bahsa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. 2001:55-56) atau satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti (muliono. Yang termasuk dalam tanda bahasa dan kode inia dalah apa yang oleh para ahli disebut fonem. bukan adanya nada-nada membentuk bahasa tionghoa sebagai bahasa. nada-nada memegang peranan penting. Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi di manas etiap catur mempunyai fungsinya. Fonem merupakan abstraksi. Misalnya dalam bahasa Indonesia /h/ adalah fonem. bahan dari dama bahasa itu terdiri.

Menurut Bertens. dan. Maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Kalau parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. maka parole adalah living speech. sesuai dengan realita yang .dalam jalur semiologis itu ada kemungkinan bahwa pembedaan yang dibuat Saussure diubah. Berkebalikan dengan langue. parole seperti telah disinggung. di sini perlu dibedakan tiga sistem yang berbeda. Juga. Barthes mencontohkan busana. parole juga dapat dipandang seagai mekanisme psikofisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi-kombinasi tadi. Selain itu. parole juga merupakan mekanisme psikofisik dan hal inilah. karena merupakan aktivitas kombinatif ini pula. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. maka unit dasar parole adalah kalimat. setiap tanda bisa menjadi elemen dari langue.Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya tidak disadari oleh pengguna bahasa yang bersangkutan. menurut Barthes. Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. yang memungkinkannya menampilkan kombinasi tersebut. kata Barthes. 1999:89). justru hal itu perlu dicatat. Tentunya. kata dia. Kalau langue bersifat sinkronik. Kemudian. Kalau unit dasar langue adalah kata. merupakan suatu tindakan individual yan merupakan seleksi dan aktualisasi. 1996:81). Pertama-tama parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan subek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya. dalam arti tnda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem. maka parole terkait dengant indakan individual dan bukan semata-mata sebentuk kreasi. Pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana. parole itu terdiri atas ”kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakankode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiranpribadinya ” (Bertens. maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu pada saat terjadi pembicaraan. parole merupakan bagian dri bahas ayang sepenuhnya individual (Budiman. Karena adanya keberulangan inilah.

yang memungkinkan hal tesebut (adanya langue sebelum pewujudan parole) kali ini diterima. asalkan ada cukup keterangan yang dilestarikan dalam naskahnaskah yang telah sampai kepada kita (Sobur. karena di satu pihak bahasa mode tidak datang dari masa yang berbicara. dan parole pada tataran komunikasi dengan katakata. Berkaitan dengan ini. itu adalah langue dalam keadaan yang murni. 1995:46). tidak mungkin ada langue tanpaparola. linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. dan di lainpihak abstraksi yang menyatu pada setiap langue dikonkritkan di sini dalam bentuk bahasa tertulis: mode pakaian(tertulis) adalah langue pada atataran komunikasi pakaian. . melainkan dari kelompok pengambil keputusan yang dengan sadar mengembangkan kode. seperti dikutip Barthes (1996:82). 2004:52). Menurutnya. Bertens (2001:184) menyebut : sinkronis’ sebagai ’bertepatan menurut waktu’. Synchronic dan Diachronic. Perhatian dituukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara (pateda.digunakandalam komunikasi dalam busana yang tertulis artinya digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan dapat dikatakan bahwa di ini tak ada parole. linguistik harus memperhatikan sinkronis sebelum menghiraukan diakornis. misalnya menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965. menurut Saussire. merupakan suatukesatuan sistematik tanda dan aturan. Apakah yang dimaksud denga kedua istilah ini? Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani Khrona (waktu) dan dua awalan syn dan dia masing-masing berarti ’bersama’ dan ’melalui’. Dengan demikian. Seseorang dapat melakukan analisis sinkronis bahasa-bahasa ’mati’ (usang. Menurut Saussure. 1994:34)l jadi bisa dikatakan besifat horizontal. Busana yang ’di gambarkan’ tidak pernah sesuai dengan realisasi individual aturan-aturan dalam mode itu. Penting untuk disadari bahwa deskripsi sinkronis pada dasarnya tidak terbatas pad aanalisis bahasa lisan modern. Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalamlinguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dandiakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarkan dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang ”keadaan tertentu bahasa tesebut (pada suatu masa) (Lyons.

misalnya studi diakronis bahasa Inggris mungkin mengalami perkembangan di masa catatan-catatan kita yang paling awal sampai sekarang ini. studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan searah (melalui waktu). linguistik melepaskan juga objek studinya dri dimensi waktu. Jadi. linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. Kita dapat menyelidiki suatu bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dandengan begitu tidak memperhatikan bagiamana bahasa itu telah berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita bisa menyoroti perkembangan suatu bahasa sepanjang waktu. Atau dengan kata lain. Dengan demikian telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut ’struktural’. Atas dasar itu. dan seagainya. perubahan-perubahan fonetis. Saussure berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis. etimologi. Menurut Bertens. bahasa bisa dipelajari menurut dua sudut pandangan itu: sinkronis dan diakronis. Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi . Pada dasarnya. sistem terlebih dahulu mesti dilukiskan tesendiri menurut prinsip sinkronis. linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsurekstralingual. Saussure menekankan perlunya pendekatan sinkronis tentang bahasa. bertentangan dengan ahli-ahli linguistik abad ke-19 yang hampir semua mempraktikkan suatu pendekatan diakronis tentang bahasa: mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu. Oleh sebab itu. dengant idak mempedulikan perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang telah menghasilkan sistem itu.Diakronis dalam hal ini mengandung pengertian ’menelusuri waktu’ Bertens. atau mungkin meliputi jangka waktu tertentu yang lebih terbatas. linguistik harus mempelajari sistem bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini. itu tidka berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa (Bertens:2001: 184-185). Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulud isebut bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai sekarang. Dapatlah kita katakan bahwa studi ini bersifat vertikal. Justru karena bahasa merupakan suatu sistem dalam arti yang diterangkan tadi. 2001:184). Linguistik komparatif historis harus membandingkan bahasa-bahasa sebagai sistem-sistem.

Sekarang kita lihat bagaimana kemudian kata ’kucing’ dikombinasikan denganelemenelemen lainnya. ’di’. Jika kita mengambil sekumpulan tanda ”seekor kucing berbaring di atas karpet”L maka satu elemen tertentu kata ’kucing’. ’atas’. ’karpet’. ayahnya Benyamin adalah seorang Profesor matematika di Harvard University. Kini digabungkan dengan ’seekor’. Selama lebih dar tiga puluh tahun Peirce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk survei pantai Amerika Serikat. ’berbaring’. menurut Cobley dan Jansz. Satu lagi struktur bahasa yang dibahas dalam konsepsi dasar Saussure tentang sistem pembedaan di antara tanda0tanda adalah mengenai syntagmatic dan associative (paradigmatic) atau antara sintagmatik dan paradigmatik. Ia tidak hanya menerjemahkan istilah . dan ’karpet’ kata ’kucing’ menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah sintagma (kumpulan tanda yang berurut secara logis). Cobley dan Jansz (1999:16-17) memberi contoh sederhana. selain pertukaran dua kata benda (Sobur. ’kucing’ bisa dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan ’singa’ dan ’anjing’. Melalui cara ini. terlepas dari sistem-sistem di mana unsur itu berfungsi (Sobur. harus selalu sessuai dengan aturan sintagmatiknya. Dari tahun 1879-1884 ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidnag logika di universitas John Hokins. Hubungan paradigmatik tersebut. bisa saa kita ’kucing’ diganti dengan ’anjing’ karena keduanya memiliki hubungan paradigmatik. 2. Misalnya. 2004:53). Hubungan-hbungan ini terdapat pada kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep.atau perkembangan salah satu unsur bahasa. Kualifikasi dan kemampuan seperti itu tidak terlalu menampilkan kreativitas intelektual yang menonjol saat itu. 2004:54-54). penggantian tersebut bersifat fleksibel. bagaimana garis x dan garis y dalam sebuah sistem koordinat. misalnya menjadi bermakna sebab ia memang bisa dibedakan dengan ’seekor. Syntagmatic dan Associative. Sejauh tetap memenuhi syarat hubungan sintagmatik. ’berbaring’. Pengubahan ini terbukti tidak mempengaruhi hubungan sintagmatik. Charles Sanders Peirce Charles Sanders Peirce lahir dari keluarga intelektual pada tahun 1893.

astronomi. . tentunya karena bidang yang diminatinya sangat luas. Dalam hal ini ia tak sekadar sebagai seorang penggmbar. Howard (2000:154). sangat berjasa karena telah mengidentifikasi. Namun bagaimanapun juga. linguistik. teman-temanya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya. di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. ia mengetahui banyak hal. tulis Cobley dan Jansz. seperti dituturkan Cobley dan Jansz (1999:18). yang sekarang menjadi populer itu tetapi ia juga menjadi seorang pemikir dan pengembang tentang karya-karya Kant dan Hegel yang dibacanya dalam bahasa Jerman. khususnya semiotika. 2004:39). Ia menekuni ilmu pasati dan alam. dari logika ilmu ke dalam kepentingan intelektual.’semiotika’ dari bahasa Yunani kuno. Menurut Aart van Zoest (1993:8) Peirce adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional. kimia. Kerapkali disebut bahwa selain menadi seorang pendiri pragmatisme. lingkungan tempat dia secara bertahapmengkonstruksi ’semiotika’nya. juga mengembangkan karya logika dan matematika. Peirce memberikan sumbangan yang penting pada logika filsafat dan matematika. yaitu tindakan komunikatif dan telah menunjukkan bagaimana ia menggaris bawahi kepentingan teknis ilmu. tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun. Barangkali karena Peirce. 2001:226). melainkan sebagai seorang ilmuwan yang penuh tanggung jawab. dan agama. ’sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulit di sekitar wajah yang sangat parah’. ’Pierce adalah seorang pemikir yang argumentatif’. tahun 1914. demikian menurut Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:20). khususnya semiotika. Ia diperbolehkan menjadi lektor di suatu universitas hanya lima tahun. Setelah itu Peirce di berhentikan. Namun ironisnya. Dalam filsafat ia menjadi tokoh Pragmatisme. J. Konon. Peirce menulis tentang berbagai masalah yang satu sama lain tidak saling berkaitan. Peirce menurut pandangan Roy. Peirce sangat temperamental (Sobur. dan ia juga terpengaruh oleh filsafat Yohanes Duns Scotus (Lechte. Yang jarang disebut adalah bahwa Peirce melihat teori semiotikanya karyanya tentang tanda sebagai yang tak terpisahkan dari logika. psikologi.

dalam kaitan dengan karyanya tentang tanda. apa yang diacunya. pemikiran Peirce harus dianggap selalu berada dalam proses dan terus mengalami modifikasi dan penajaman lebih lanjut. Perumusan yang terlalu sederhana ini menyalahi kenyataan tentang adanya suatu fungsi tanda: tanda A menunjukkan suatu fakta (atau objek B). tanda ’is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (induksi.” menurut Peirce makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. Peirce terkenal karena teori tandanya dan didalam lingkup semiotika. Peirce mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan contoh unsur pertama. tetapi yang memiliki ketiga aspek tesebut. Hubungan antara Tanda dan Acuannya Bagi Peirce (Pateda. Jadi suatu tanda mengacu pada suatu acuan. Peirce memang berusaha untuk menemukan struktur terner di manapun mereka bisa terjadi. deduksi dan penangkapan (hipotesis) membentuk tiga jenis penafsir yang penting). objeknya adalah unsur kedua. Peirce sebagaimana dipaparkan Lechte (2001:227). Iamenyebutnya representamen. dan representasi seperti . selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya. Apa yang dikemukakan oleh tanda. Sering juga disebut sebagai designatum atau denotatum (denotatum adalah kelas penunjuk). yaitu C. apa yang ditunjuknya. suatu tanda itu tidak pernah berupa suatu entitas yang sendirian. 2001:44). namun ia tidak pernah menerbitkan buku yang berisikan telaah mengenai masalah yang menadi bidangnya. oleh karena itu. seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. maka tand tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki penafsir).Walaupun Peirce menerbitkan tulisan lebihdari sepuluh ribu halaman cetak. Ketiga unsur ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan semiotika yang tak terbatas. Agar bisa ada sebagai suatu tanda. kepada penafsirnya. Oleh karena itu. Dalam bahasa Perancis digunakan kata referent (dalam bahasa Indonesia disebut ’acuan’). dan penafsirnya adalah sebagai unsur pengantara. disebutnya oleh Peirce sebagai objek.

kajian ini dibahas dalam bidang pragmatik semotik. 1992:8). Pengertian interpretant harus dibedakan dengan interpretateur. dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. Pateda. sinsign. misalnya berkat bantuan suatu kode. Atas dasar hubungan ini. Jadi dalam hubungan ini bahasa itu adalah ground. yaitu dengan ground-nya dengan objek atau acuannya. Dalam hubungan dengan pengirim dan penerima. misalnya katakata kasar. merdu. tanda diinterpretasikan. Kode adalah suatu sistem peraturan. Jadi tanda selalu terdapat dalam hubungan triadik. suatu kesatuan konvensi. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Tandatanda lalu lintas hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengerti tentang rambu-rambu lalu lintas. Seringkali ground suatu tanda merupakan kode. sebuah meja (Zoest. lemah. banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual. Sesuatu yang digunakan agar tanda dapat berfungsi oleh Peirce disebut ground. Akan tetapi. lembut. dalam kalimat ’Metteez ce livre sur la table’ (taruhlah buku ini di atas meja). dan legisign. dalam hal ini suatu kode. Selainitu representasi seperti itu dapat terlaksana berkat bantuan sesuatu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada . keras. dapa tmenjelaskan apa yang telah diuraikan di muka. 2001:44) mengatakan klasifikasi tanda. kode ini bersifat transindivdual (melampuai batas individu). Peirce (lihat Pateda. Berkat hal-hal tersebut ornag yang menggunakan tanda ini mengetahui apa yang diacunya dan bagiamana harus menginterpretasikanya. meskipun kadang tidak demikian. dan dengan interpretantnya (Zoest. peraturan bagimasyarakat yang menggunakan bahasa Perancis. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qulaisign . Ungkapan dalam kalimat ini hanya akan diakui sebagai tanda oleh orang yang mengerti dan menguasai bahasa Perancis. 12001:44). 1992: 8. Bila kita akui bahwa kalimat yang dikutip tadi diucapkan dalam suatu situasi khusus kata table mengacu pada objek tertentu. yang berarti bahwa setelah dihubungkan dengan acuan.itu adalah fungsinyayang utama.yang menunjuk kepada penerima tanda. Selain itu. Dalam hubungan dengan ungkapan bahasa kata table (meja).

Misalnya banyak kosa kata yang merupakan suatu hasil konvensi masyarakat pengguna bahasa tertentu. atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. representament) dibagi atas. atau menderita penyakit mata.hujan di hulu sungai. yaitu suatu tanda merupakan suatu hasil kesepakatan masyarakat dan hubungan tanda itu disebut sebagai simbol. Pada pembahasan tentang hubungan antara tanda dan acuannya. 1992:9). maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa di situ sering terjadi kecelakaan. Dicent signt atau dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. itu adalah simbol yang merupakan hasil konvensi mengapa ’kursi’ itu tidak disebut ’pisang goreng’ hal itu adalah merupakan suatu kesepakatan dalam masyarakat yang sifatnya arbitrer atau manasuka (Lihat Zoest. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Sebuah tiang penunjuk jalan dan sebuah gambar panah penunjuk arah adalah sebuah indeks. (3) Hubungan yang ketiga adalah hubungan yang sudah erbentuk secara konvensional. tanda (sign. Berdasarkan interpretant. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan. dicent sign atau dicisign dan argument. tanda itu disebut icon (ikon). Hubungan indeks dapat juga menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya. Mislanya kota kata ”kursi”. Misalnya. orang yang merah matanya saa menadakan bahwa orang itu baru menangis. Sebuah hubungan peta geografis dalam hubungannya dengan alam yang dipetakan dan sebuah potret dengan orangnya adalah hubungan ikon. Argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. (2) hubungan antara tanda dengan acuannya dapat pula timbul karena kedekatan eksistensi. Berdasarkan berbagai klasifikasi tersebut. Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api. hubungan tanda seperti ini disebut indeks. atau ingin tidur. atau mata dimasuki insekta. Peirce membagi dalam tiga hal. 2001:4547) membagi tanda menjadi sepuluh jenis: . atau baru bangun. misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia. Peirce (lihat Pateda. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. jika pada suatu jalan sering terjadi kecelakaan. rheme.

karena ada asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau. rambu lalu lintas. yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk subek informasi. Misalnya. Misalnya. menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah atau hukum. ”Mana buku itu?” dan dijawab. Seseorang bertanya. suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan. harimau. yang secara langsung. (3) Rhematic Indexial Sinsign yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung. (6) Rhematic Indexical Legisign.yakni suara tand yang memperlihatkan kemiripan. Lantas kita katakan. peta dan tanda baca. Kata keras menunjukkan kualitas tanda. yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. Tanda berupa lampu merah yang berputarputar di atas mobil ambulans menandakan orang sakit atau orang yang celaka yang tengaah dilarikan ke rumah sakit. Kalau seseorang berkata. (5) Iconic Legissign. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. ”pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak. dilarang mandi di sini. Misanya. yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. yakni tanda yang menginformasikan norma Dicent Sinsign. yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu. misalnya kata ganti penunjuk. diagram. Contoh: pantai yang sering merenggutnyawa orang yang mandi di situ akan di pasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya.(1) Qualisign. yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu. kita melihat gambar harimau. dan serta merta kita pergi. (2) Iconic sinsign. Misalnya. Contoh foto.” itu!” (7) Dicent Indexical Legisign. (4) kantor. (8) Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme. (9) Dicent Symbol atau Propotion (proposisi) (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak. Mengapa kita katakan demikian. Kata-kata yang kita gunakan yang kita dengar .

dan masa istirahanya dimanfaatkan untuk membaca banyak hal. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964. ia berpendapat bahwa bahasa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. 3. ”gelap. dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat. dan semiologi Saussurean. 2004:42. Barthes diangkat dalam keanggotan college de France pada tahun 1977. Sejak itulah ia diasuh oleh ibu dan kakek neneknya. Ia mengajukan pandangan ini dalamWriting Degree Zero (1953. Barthes menghabiskan masa kecilnya di Bayonne. Antara tahun 1943 dan 1947 ia menderita penyakit TBC.” orang itu berkata gelap sebab it menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. (10) Argument. Greimas ia mengajar di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales. Roland Barthes Roland Barthes lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan tatkala ia masih kanak-kanak ayahnya telah meninggal dunia dalam suatu pertempuran. Terj. Setelah mengajar bahasa dan sastra Perancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir) tempat . Inggris 1972). 2001:192).hanya kata. semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. Seseorang berkata. Tentu saja penilaiant ersebut mengandung kebenaran (Sobur. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu. Sebelum menyelesaikan sekolah dasr dan menengahnya di Paris. mengapa seseorang berkata begitu. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama: eksponen penerapan stukturalisme dan semiotika pada studi sastra Bertens (2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70an. terj. sampai akhir hayatnya tahun 1980 (Lechte.J. yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukuralis yang aktif mempraktikkan model linguistik.43). dan menerbitkan artikel peramanya tentang Andre Gide. tempat pertemuannya dengan A. Setelah mengaajar di Rumania dan Mesir. Perancis barat daya.

reklame dalam surat kabar dan lain-lain sebagai geala masyarakat borjuis. dari tahun 1960. sambil mdengaar tentang sosiologi tanda. bahan tekstil yang tertentu. Setelah kembali ke Perancis ia bekerja untuk Centre National tde Recherche Scientifique (Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah). Barthes telah menulis buku.1977). Buku ini merupakan suatu percobaan untuk menetapkan Metode Analisis struktural atas mode pakaian wanita. Pada 1976. simbol. terbit pula Critical Essays (1964).pertemuannya dengan Algirdas Greimas. Writing Degree Zero. Disinilah ia banyak menulis tentang sastra. Mode ditafsirkan sebagai suatu ’bahasa’ yang ditandai sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi (mislanya antara pelbagai warna. dalam buku kecil ini Barthes melukiskan prinsip-prinsip linguistik dan relevansinya di bidang-bidang lain. dan representasi kolektif serta kritik semiotika. akibat ditabrak mobil di jalanan Paris sebulan sebelumnya. Criticism and Truth (Sistem Mode) (1967). Setahun kemudian Barthes menerbitkan Michelet (1954). Lalu. mode pakaian merupakan sesuatu yang kebetulan dan sepele. ia menjadi asistem dan kemudian menjadi Directeur d’Etudes (Direktur studi) dari seksi keenam Ecole Pratique des Hautes Etudes. krah tertutup atau terbuka. Untuk itu ia menyelidiki artikelartikel tentang mode pakaian dalam dua majalah dari tahun 1958 sampai 1959. yang beberapa diantarnaya. Tahun 1980 ia meninggal pada usis 64 tahun. Barthes diangkat sebagai profesor untuk ’semiologi literer’ di College de France. Karya-karya pokok Barthes. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dalam buku ini ia menganalisis dan kultural yang dikenal umum seeprti balap sepeda Tour de France. . Melalui lembaga penelitian ini. Buku Barhtes lain yang banyak mendapat sorotan adalah Mythologies (Mitologimitologi) (1957). antara lain: Le degree zero de Z’ecriture atau ”Nol Deraat di Bidang Menulis” (1953. Tapi Barthes memperlihatkan bahwa di belakangnya terdapat suatu sistem. Kritik Barthes atas kebudayaan borjuis sangat menonjol dalam buku ini. Dilihat sepintas lalu. telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia. ia mengajar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales. ia banyak mengabdikan dirinya dalam pelbagai penelitian di bdiang sosiologi dan leksiologi. dan lain-lain).

kode simbolik. berjudul sarrasine. atau kode kultural yang meembangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu (Sobur. kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. dan kode gnomik. buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. seorang anak belajar bawha ibunya dan anaknya berbeda satu sama lain dan . pembaca menyusun tema suatu teks. ditulis oleh sastrawan Perancis abad ke-19. maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Kode semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. kode proaretik (logika tindakan).. Lihat pula Indriani. kode hermeneutik (kode teka-teki). kodes emik (makna konotatif. dalam karya ini. Perlu dicatat bahwa Barthes mengangap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ’akhir’. Dalam penilaian John Lechte (2001:196). Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fisik yang paling khas bersifat strutkural. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu. Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ’kebenaran’ bagi pertanyaan yang muncul dalamteks.Buku terakhir karya Barthes adalah S/Z (1970).dalam proses pembacaan. Mislanya. buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. Ia menlihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan kontoasi kata atau frase yang mirip. Lima kode ang ditinjau Barthes adalah (Lechte. Barthes berpendapat bahwa ’Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi. 2001:196. pasca struktural. atau tepatnya menurut konsep Barthes. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi. yang oleh bertens (2001:210) pantas sebuah buku dengan judul cukup aneh. Honore de Balzac. kita menemukan suatu tema di dalam cerita. suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. 2004:65). Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bnyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara. 2001:145-149). Kode teka teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka teki dan penyelesaiannya di dalam cerita. ia menganalisis sebuah novel kecil yang relatif kurang dikenal.

Buku-buku Barthes yang lain dapat disebut lagi mislanya (The Empire of Sign (Kekaisaran Tanda-Tanda) (1970). artinya . Fourier. dalam buku ini Barthes menerapkan semiotika pada kebudayaan Jepang. semua teks yang bersifat naratif. perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikoeekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis. Lalu dalam buku lainnya. Barthes menyelidiki persamaan dan perbedaan antara Marquis de Sade. bukan hanya untuk membanguns uatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sngat forml. Pada praktiknya. dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur. menurut Lechte (2001:196). realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal. dan . antara lain. 2004:67). kita selalu mengharap lakukan di-’isi’ sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (seperti pemilahan ala Todorov). ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Loyola (1971). sebuah negara yang banyak dikagumi Barthes seperti sebaliknya juga disana terdapat minat khusus untuk Barthes dan strukturalisme pada umumnya. atau teka-teki yang paling menarik.bahwa perbedaan ini juga membuat anak itu sama dengan satu di antara keduanya dan berbeda dari yang lain atau pun pada taraf pemisahan dunia secra kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secaramitologis dapat dikodekan. Fourier. dari terbukanya pintu sampai pertualangan yang romantis. yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya. Jika Aristoteles dan Todorov hanya mencari adegan-adegan utama atau laur utama. Pada kebanyakan fiksi. merupakan produk buatan. Sade. pengarang tentang erotik. Kode proaretik atau kode tindakan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. tokoh komunisme utopistis. Menurut Barthes. Dalam suatu teks verbal. rincian yang paling meyakinkan. Kode gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. secra teoritis Barthes melihat semua lakukan dapat dikodfikasi. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Tujuan analisis Barthes ini.

sebagian besar dengan menunjukkan bagiamana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyingkapkan konotasi yang pada dasrnya adalah ’mitos-mitos’ (myths) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat (Cobley & Jansz. serta barang-barang konsumsi . pengarang tentang hidup kristiani yang namanya tercantumdalam daftar orang Santo dari Gereja Katolik. bersifat pribadi. kultur populer dan literer. seperti dipaparkan John Lechte (2001:193). seperti juga karyakarya yang lebih bersifat pribadi tentang kepuasan dalam wacana. Les Letters Nouvelles. berkisar dari teori semitoika. The Grain of the Voice : Interviews (1962-1980 (1981) dan The Responsibility of Forms (1982). essai kritik sastra. Selanjutnya. 1999:43). cinta dan dalam bidang fotografi (Sobur. Citroen tipe terbaru. sebuah rangkaian tulisan muncul dalam majalah Prancis. busa detergen. seperti dikutip Bertens (2001:211). steak dari keripik. Refections on Photography (1980). 2004:68).Ignatius dari Loyola. Buku ini. telaah psikobiografis tentang Sarrasine yang menggusarkan kelompok tertentu dalam sastra Perancis. Dalam ”The Death of Author’ (kematian Sang Pengarang). serta remehremeh lainnya. Karya-karya lain yang ditulis Roland Barthes adalah A loves Discourse: Fragments (1977). Hal ini menruut Bertens dapat ditafsirkan sebagai geala yang menunjukkan bahwa pada Barthes-pun terdpat tendensi untuk menghilangkan subjek dari teks (Sobur. Pada setiap terbitannya Roland Barthes membahas ’Mythologies of the Month’ (Mitologi bulan ini). Karya-karya tersebut memang sangat beragam. imaji dan pesan iklan.a Barthes membuat tulisan tentang ’kesenangan dan membaca’ dalam the Pleasure of the Text (1973). 2004:67). hiburan. seluruhnya ditulis dengan menggunakan orang ketiga (’ia’ atau juga ’RB’). 2001:196). Ia juga menulis otobiografinya dengan judul Roland Barthes by Roland Barthes (Roland Barthes oleh Roland Barthes) (1975). pemaparan tulisan historis Jules Michelet sehubungan dengan obsersinya. Pada 1954-1956. wajah Greta Garbo. dan remi fiksi (Lechte . Disini. Buku yang mengumpulkan esay tersebut dengan sangat tepat di beri judul Mythologies dan dipublikasikan tahun 1957 membeberkan perenungan-perenungan tentang penari-penari perut. Camera Lucida. Buku ini memberikan petunjuk tentang aya-gaya tulisan yang lebih bersifat tidak menyatu.

Melanjutkan studi Hjelmslev. dalam setiap eseinya. 1. Introducting semiotics. Denotative sign (tanda denonatif) 4. Konotasi. 1999.Barthes. Signifier (penanda) 2. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem yang pertama.Kadang-kadang prosa Barhtes dalam Mythologies yang mampu menggabungkan kehati-hatian dan kepuasan dengan ketajjam kritisnya mengingatkan kita pada Walter Benjamin. 2004:68). 1999). yang didalam Mythologiesnya secara tegas ia bedakan daridenotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobles & Jansz.1. Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz.yang dibangun diats sistem lain yang telah ada sebelumnya.sehari-hari menemui telaah subjektif yang cukup unik dalam hasil penerapannya. pada saat bersamaan. Memang. Meskipun demikian. Akan tetapi. Signified (petanda) 5. Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). tanda denotatif . Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif. hlm. tidak sperti Benjamin. CONOTATIVE SIFNIFIED (PETANDA KONOTATIF) 3. sepeti dipaparkan Cobley & Jansz (1999:44). (Sobur. 51. 2004:69). Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke dua. membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peranpembaca (The reader). Barthes pada dasarnya bukanlah seorang filsuf Marxis atau kritikus kultural dengan inspirasi religius (Sobur. CONNOTATIVE SIGNIFIES (PENANDA KONOTATIF) 6. NY: Totem Books. membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungis. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) Gambar 3. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan danmenunjukkan bahw konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut bianya merupakan hasil konstruksi yang cermat. walaupun merupakan sifat asli tanda.

Jadi dalam konsep Barthes. 2001:67). Sistem demikian ini dapat dilihat dirinya sendiri menjadi unsur sederhana dari sebuah sistem kedua yang akibatnya memperluasnya. denota sir E C E C Objek bahasa E C E C Metabahasa Gambar 3. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat isi untuk sistem kedua: ER (ERC). Dua Sudut Artikulasi Barthes Sumber (Barthes 1983. linguistik pada dasarnya membedakan tingkat ekspresi (E) dan tingkat isi (C) yang keduanya dihubungkan oleh sebuah relasi (R). Sobur. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang snagat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure. Konot asi 2. hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika anda mengenai tanda ’singa’. Di sni sistem 1 berkorespondensi dengan objek bahasa dan sistem 2 dengan metabahasa (metalanguage) (Kurniawan. Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan tingkat denotasi dan sistem 2 dengan tingkat konotasi. dikutip dari Kurniawan. tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. dan keberanian menjadi mungkin(Cobley.adalah juga penanda konotatif (4). 1999:51).pada artikulasi kedua (sebelah kanan). Kesatuan dari tingkat-tingkat dan relasinya ini membentuk suatu sitstem (ERC). Dengan kata lain. barulah konotasi seperti harga diri. 2001. kegarangan. 2001:67). Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menadi dua sudut artikulasi demikian (Barthes. 2004:70). Secara lebih rinci. 1983. dalam Kurniawan. Mengacu pada Hjelmslev. dan Jansz. Pada artikulasi pertama (sebelah kiri). yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif.2. . sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat ekspresi untuk sistem kedua: (ERC) RC. 1.

bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi dan dimengerti oleh Barthes. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini. (Budiman. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda. sehingga dalam peraktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentukbentuk yang berbeda. Baginya. demotnasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah. dengan kata lain. Dalam kerangka Barthes. petanda dan tanda. yangisebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Imperialisme Inggris. Barhtes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Dalam pengertian umum. 2004:71). seperti teh (yang menjadi minuman wajib bangsa Inggris namun di negeri itu tak ada satu pun pohon teh yang ditanam). Akan tetapi di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya. Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wuud pelbagai bentuk tersebut (Sobur. Artinya dari segi jumlah. mitos adalah uga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. bahasa Inggris yang kita telah menginternasional. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. . namun sebagai suatu sistem yang uni. denotasi merupakan tingkat kedua. petanda lebih miskin jumlahnya daripada penanda. yang ada hanyalah konotasi semata-mata. bendera Union Jack yang lengan-lengannya menyebar ke delapan penuru. 1999:22). konotasi identik dengan operasi ideologi.Pada dasarnya. makna yang ’sesungguhnya’. sensor atau represi politis. namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ’harfiah’ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman. Proses signifikasi yang secra tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. Dalam hal ini denotasi ustru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makan dand engan demikian. misalnya ditandai oleh berbagai ragam penanda. mitos dibangun oleh suatu ranai pemaknaanyang telah ada sebelumnya atau. 2001:28).

hubungan antara penanda konotatif adalah petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman. Latar. Barthes juga memahami idelogi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal. Roman Jakobson Roman Jakobson lahir di Moskow pada tahun 1896. 4.d engan demikian. ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting. 2001:28). dan tiulah sebabnya didalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. seperti tokoh. sehingga akibatnya. Kebanyakan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan.Apa yang menjadi alasan atau pertimbangan Barthes memepatkan ideologi dengan mitos? Ia memampatkan ideologi denganmitos karena. Pengaruh Jakobson pada semiotika abad ke-20 sangat besar. dan lain-lain. Seperti Marx. sudut pandang. Telaah bahasa menjadi kunci dalam upaya memahami sastra dan folklore (cerita rakyat). Jakobson dianggap sebagai salah seorang ahli linguistik abad kedua puluh yang cukup dikenal. khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa 0wilayah penelitian Jakobson yang pertama dan utama pada hakikatnya bersifat relasional. baik di dalam mitos maupun ideologi. karya Berthes itu cukup menarik kalangan ahli semiotia. Menurut Umberto Eco suatu alasan mengapa Jakobson tidak pernah menulis satu buku khusus tentang semiotika adalah karena seluruh eksitensi keilmuwannya merupakan contoh hidup dari pencarian semiotika (Cobley dan Jansz. 1999:142). Ideologi ada selama kebudayaan ada. 2004:64-70). Pada 1915m Jakobson mendirikan lingkungan linguistik di Mowkow dan terpengaruh oleh Husserl. Ia adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Troubetzkoy. dan pelopor utama supayapendekatan strukturalis pad abahasa. (Sobur. Menurut Lechte (2001:107). pada tahun 1914 Jakobson memasuki fakultas historikko-filologi di Universitas moskow dan masuk bagian bahsa di jurusan Slavia dan Rusia. fenomenologi Husserl cukup penting dalam membentuk . meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. Hubungan antar suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi (significance).

(2) fungsi emotif. fungsi emotif (2) sejajar dengan faktor pembicara. yaitu: (1) fungsi referensial. Setiap fungsi bersejajar dengan faktor fundamental tertentu yang memungkinkan bekerjanya bahasa.pemikiran filsafat bahasanya saat ia berusaha melihat hubungan antara ’bagian’ dengan ’keseluruhan’ dalam bahasa dan kultur dalam kehidupan manusia. (4) fungsi metalingual. (5) fungsi fatis. menjelaskan. pembuka. (3) fungsi konatif. pengungkapan keinginan pembiacara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak. dan . dan fungsi puitis (6) sejajar dengan faktor amanat atau pesan (Sobur. adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan). fungsi konatif (3) sejajar dengan faktor pendengar yang diajak berbicara. 1990: 12). Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan pada tingaktan metalinguistik p. Roman Jakobson adalah salah satu dari beberapa ahli linguistik abad kedua puluh yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang seperti yang berlangsung pada afasia (Lechte. pembentuk. sedangkan pada yang kedua adalah kesinambungannya. Fungsi tertentu yang enam jumlahnya itu mengungkapkan. dan (6) fungsi puitis. 2004: 56). pengacu pesan. menafsirkan faktor tertentu yang juga enam jumlahnya itu. Fungsi referensial (1) sejajar dengan faktor konteks atau referen. Menurut Jakobson bahasa memiliki enam macam fungsi (Sudaryanto. penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan. seperti dipaparkan john Lechte. 2001: 108). menyatakan. berarti memahami bagaimana kerusakan pada bagian pemilihan dan subtasi kutub metaforis atau dalam gabungan dan kontekstualisasi kutub metonomia. pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak. Memahami bagaimana berbagai bentuk afasia mempengaruhi fungsi bahasa. Pada yang pertama. fungsi metalingual (4) sejajar dengan faktor sandi atau kode. pengungkapan keadaan pembicara. yang hilang adalah hubungan kesamaan. penyadi pesan. fungsi fatis (5) sejaar dengan faktor kontak (awal komunikasi). dan metonimia (kesinambungan). Pemikiran awalnya yang penting. sedangkan yang kedua berarti adanya masalah dalam upaya menjaga hieraraki satuan-satuan linguistik.

bukan pula dental..) sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan. Agar operatif. 2001:56). 2001:56).dalam setiap pengunaan bahasa cenderung menonjol salah satu fungsi tanpa menghilangkan fungsi yang lain (Sudaryanto. 1977. unit-unit yang bermakna. Keduanya adalah konsonan yang diartikulasikan dengan melekatkan bagian tengah lidah pada langit-langit mulut. Keduanya bukan huruf hidup.. bukan bila-bial. dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciri-ciri suara yang lain. ciri-ciri itut idaklah menjelaskan perbedaan diantara kedua-nya (Ahimsa-Putra. 2001:56): (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang mebedakan tanda-tanda kebahasaan tau dengan yang lain. bukan bunyi sengau (nazal). yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal (Segers. 1990:12). Jakobson adalah salah seorang dari teoritikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi teks sastra. Misalnya saa /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang. (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. 2000:15). Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan oleh Jakobson antara lain (ahimsa-putra. pesan tersebut memerlukan context (konteks) yang menunuuk pada (. Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. Fonem /c/ tidak bersuara voiced sedang fonem /j/ bersuara + voiced). Meskipun begitu . Keduanya memiliki ciri-ciri positif dan negatif tesebut.meskipun ciri-ciri itu tidak ditangkap atau diketahui. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain (c) merumuskan dalil-dalil sigtimatis mengenai istilah-sitilah kebahsaan dengan distinctive features yang dapat berkombinasi dengan tandatanda kebahasaan tertentu lainnya. Adresser (pengirim) mengirimkan suatu pesan message (pesan) kepada seorang adresser (yang dikirimi). Jakobson menerangkan adanya fungsi bahasa yang berbeda. Ciri pembeda yang penting di situ adalah suara (voice). (d) menentukan perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan (Pettit. dalam artikelnya yang terkenal linguistics dan poetics. suatu code . Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-teanda tersebut. dalam AhimsaPutra.

Oleh karena itu. 2000:16). 1960. Disebutka. 2000a:208). menurutnya cenderung menimbulkan kesan emosi tertentu. dalam Segers. Fungsi puitik bertumpu pada orientasi spesifik pembaca ke arah pesan. salah satu fungsi dari pesan-pesan tersebut adalah penggunaan alat-alat literatur sebaga metafora dan metonimi. Pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan referensial. baik yang betul-betul maupun yang dibuat-buat. suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi. Hal ini . istilah ’emotif yang diperkenalkan dan dianjurkan oleh Marty. Bentuk itu berbeda dengan sarana referensial bahasa. Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagai seperangkat (eistellung) yang mengarah kepada pesan secara terpusat (Segersm 2000:16). . 2000a:16). yang dirangsang oleh kualitas-kualitas tertentu pesan itu. bagi pengirim dan yang dikirimi (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pemakna kode).2004:59). memasuki dan berada dalam komunikasi (Jakobson. Fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim. menurutnya lebih disukai dari pada istilah emosional (Sobur. memungkinkan keduanya. Menurut Jakobson (berger. suatu contact (kontak). Proses komunikasi verbal diskemakan sebagai berikut: CONTEXT MESSAGE ADRESSER __________________ CONTACT CODE (lihat Sobur.(kode ) secra penuh atau paling tidak sebagian. dan akhirnya. Strata emotif yang paling murni dalam bahasa dapat terlihat dalam bentuk kata seru. menurut Jakobson (1996:70). 204:58) ADRESSE Dengan model tesebut memungkinkan Jakobson untuk melanjutkan konsepnya mengenai fungsi puitik. atau dikatakan juga ’merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa ’puitik (Berger. emnunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan.

dalam telaah tentang praktik perpuisian. Jakobson memberi contoh : ”tut! Tut!” kata Mc Ginty: ucapan yang lengkap dari tokoh Conan Dyle ini terdiri dari dua kata onomatope yang menirukan suara onga mengisap sesuatu.s esungguhnya Jakobson telah menunjukkan pada 1935 bahwa fungsi puitik atau estetik. seseorang yang menggunakan unsur-unsur ekspresif untuk menunjukan kemarahan atau sikap ironisnya. tetapi padanan kalimat-kalima). pertentangan antara penglihatan dan suara. dengan jelas memberi tambahan informasi dan tentu saja perilaku verbal ini tak bisa disamakan dengan kegiatan non-semiotik nutritif seperti ’makan jeruk’. . ”Apabila kita menganalisis pengertian informasi pad aspek kognitif bahasa. menurut Jakobson. belum pernah ada ahli linguistik yang berhasil menganalisis puisi dan menyingkapkan struktur diskursus poetika. gramatikal. fungsi putik (yang disebabkan oleh pemakaian bahasa ’sastra ’) bersaing keras dengan fungsi referensial (suatu deskripsi tentang situasi-situasi tertentu dalam sejarah. 1935: dikutip Segers. dengan jelaskan kemarahan atau sikap ironisnya. pertentangan antara nada dan irama) namun secara khusus pertentangan antara konsonan-konsosnan muncul dalam kelahiran sebuah puisi. 2000:16). tidak terbatas pada teks sastra khususnya dan karya seni umumnya. Di sini Jakobson menyatukan dimensi-dimensi ’literer’ dan ’linguistik secara keseluruhan’ melalui pengertian tentang struktur yang mempersatuakannya (Sobur. 1996:71). Singkatnya.fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seri dam terasa pad seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi. (Jakobson. maupun melalui peran sintaksis (kata-kata itu bukan komponen. menjadi pelopor dalam menunukkan segala bentuk pertentangan (pertentangan fenomik. Lechte (2001:111-112) melihat. seperti dipaparkan Lechte. menurut Jakobson. Ia juga. Segers melihat. Fungsi puitik dapat dijumpai dalam semua proses komunikasi verbal. mislanya dalam studi searah. 2004:59). Seseorang dapat mengimajinasikan bahwa dalam bacaan. adalah orang pertama yang menekankan pentingnya irama dalam puisi karya Maryakovski dan Khlebnikov. ceramah dan sebagainya (Jakobson. misalnya. maupun leksikal.” katanya.baik melalui pola bunyi (sekuen bunyi aneh atau bahkan bunyi-bunyi yang tidak biasa). tetapi muncul uga dalam artikel surab kabar. jika perhatian hanya diarahkan pada pesan itu sendiri. Rien T.

Louis Hjelmslev Ahli linguistik dan semiotik Hjelmsle ini lahir di Denmark tahun 1899. di dalam uaran atau tindak tutur tertentu. diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk. Pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis. Prolegomena to theory of Language (1943). antar lain lewat dua karyanya yang terbaik. Ia juga diakui lanigan sebagai tokoh linguistik yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca-Saussure (Lanigan. (Sobur. dengan perluasan ini. Maka. Pembedaaan atau diferensiasi tersebut berlangsung melalui dua sumbu : sintagmatis dan paradigmatis (Ahimsa-putra. kadangkala disebut juga sebagai relasi-relasi linear (Budiman. 2001:54). Hjelmslev mengembangkan sistem dyadic system yang merupakan ciri sistem Saussure (Masinambow. bahwa baik expression maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat expression form pada satu pihak. danmeninggal tahun 1966. 2001:4). Memang. Whitfield (1963). maka relasi-relasi sintagmatik. atau antara suatu satuan gramatikal dengan satuan-satuan yang lain. Ia dikenal sebagai ahli linguistik penerus yang berpengaruh dari tradisi Saussure (Masinambow. terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui . Namun. Pakar linguistik dan semitotika ini lahir di Denmark pada tahun 1899. 1992a: 110-111). dan meninggal pada 1966. Kurniawan. 2004:60). 2001:213). 1988:124-128). 2001:17). 5. konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan. Language: An Introduction (1970). di dalam linguistik pasca-Saussure. dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure.Analisis Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang mengatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial (differential) atau membedakan. dan expression substance dan contend substance pada pihak lain. Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. 2000b:iii) (Lechte. Sebuah sintagma merujuk kepada hubungan in praesentia antara satu kata dengan kata-kata yang lain. yang kemudian diterjemahkan oleh Francis J. istilah sintagmatik selalu diperlawankan dengan paradigmatik. Ia membagi tnda kedalam expression dan content.

(Sobur. Sebagai rekonstruksi yang oleh Hjelmslev disebut scientific semiotic. 2000:47). Ia juga menambahkan kepada semiotika Saussure dengan memperhatikan hakikat dari sebuah tand dalam koneksi logisnya dengan tanda-tanda lain. Metasemiotika yang dimaksud Hjelmslev adalah bentuk penghubungan tanda-tand dalam teks sastra sebagai fakta semiotis hingga membuahkan gambaran semiotisnya (Aminudin. Kontribusi penting lainnya adalah usaha perluasan semiologi Saussure sebagai logika deduktif. Langkah pertama yang krusial dalam proyek ini adalah mengedepankan langue sebagai sebuah sistem yang mengatur setiap produksi tanda. Demikian pula hanya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk. Dalam pandangan Hjelmslev. Hjelmslev menegaskan bahwa tanda-tanda tidak bisa dengan sederhana dibanguns ebagai kombinasi diferensial dari penanda dan petanda. pada saat pelemparan terlihat bayangan jala itu yang diibaratkan sebagai substance yang memberikan batasan pada hamparan laut. bergerak dari semiotik konotatif dan semiotika denotatif dan akhirnya sampai pada metasemiotika dari referensi yang real. metasemiotika merupakan rekonstruksi sistemis yang (1) dilakukan interpreternya. yang memuat baik representasi eidetik maupun empiris dari pemaknaan. 1988). logika digital Saussurean dan diferensial either/or (korelasi) membatasi sebuah sistem yang tidak lengkap. Bagi . sebuah tanda dan sebuah tanda masing-masing harus secara berturu-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Hjelmslev sendiri memberikan metafora bahwa form adalah ibarat jala yang dilempar ke laut. Hjelmslev beranggapan bahwa fungsi simbolik yang muncul dalam bahasa. 2004:61). Hjelmslev. (2) mengandung hubungan multiplanar. 1999:39). Hamparan laut itu diibaratkan sebagai bahan amorphous. Dia mengusulkan bhawa diferensiasi bisa juga diselesaikan oleh kombinasi dari sebuah logika analog dari diferensiasi both/and mempertahankan ’relasi’ dalam sebuah ’proses’ (Lanigan.expression subtance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam expression form tersebut. dalam arti tanda dalam . Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure sadalah dalam menegaskan perlunya sebuah sains yang mempelajari bagaimana tandahidup dan berfungsi dalam masyarakat (Cobley & Jansz. tanpa bentuk (Sobur. 2004:61).

Menurut Hjelmslev. sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. Menyinggung ihwal manifest desnity . Arti denotatif yang terkandung didalamnya pun cukup mudah diketahui. bisa dikatakan bahwa dalam tanda tersebut terkandung kekuatan konotasi. juga memiliki jaringan hubungan dengan subsistem yang lain secara eksternal. Dalam pandangan Hjelmslev. sedangkan semiotika konotatif adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik. Metasemiotika sebagai rekonstruksi interpreter tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem tanda yang ditafsirkannya dan tidak mempu mengadakan formulasi dan rekonstruksi (Aminuddin. Todorov. 2001:205) mengatakan bahwa ’sebuah semiotika denotatif adalah sebuah semiotika adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bukanlah yang semiotik’. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika. Manifest Desnity. linguistik adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahsa itu senriri. Kenyataannya.teks selain memiliki hubungan dengan tanda-tanda yang lain dalam kesatuan teksnya. adalah klise yang digunakan oleh presiden-presiden Amerika abad ke-19 untuk merujuk dan membenarkan upaya kolonisasi seluruh dataran. 2000:47). Hjelmslev (Lechte. Sebagaimana tanda yang lain. cukup mudah untuk mengenali petanda dalam dsemboyan ini. Karena itu. dan (3) dalam kesadaran batin interpreter. secara potensial konotasi dapat mengaktifkan keseluruhan sistem penandaan yang ada dalam masyarakat (Sobur. yaitu: takdir yang tak terhindarkan. 2004:63). kata Cobley dan Jansz. Seperti dikatakan Cobley dan Jansz (1999). dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu ’metasemiotika’. metasemiotika ada sebagai lambang kebahasaan yang memiliki kerangka hubungan secara internal maupun eksternal. Para penulis seperti Barthes. maka dimensi yang hendak dijelaskan Hjelmslev tampak begitu terang jika kita mencoba menjelaskan bagaimana kta manifest desnity dipersepsi oleh orangorang Amerika pada kurun waktu tertentu. sebuah tanda tidak hanya mengadung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda). Meskipun begitu. namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. yang diciptakan pada 1845. dan Eco menggunakan pengertian tentang semiotika konotatif dan .

Saat usia Eco baru 22 tahun. Umberto Eco Umberto Eco lahir pada 5 Januari 1932 di wilayah Piedmont Italia. Pada 1966 dia pindah ke Milan dan menerbitkan Le poetische di Joyce: dall ’summ’ al ’finnegans Wake’. Sebelum menjadi intelektual termasyhur dalam bidang semiotika. Eco menerbitkan Opera-opera (The Open Work). ia menulis tesisnya tentang estetika Thomas Aquinas dan meraih gelar doktor dalam bidnag filsafat pada 1954. Ayahnya. Tahun 1976. Menurut pengakuannya (Cox. namun kemudian mempelajari filsafat dan sastra sebelum akhirnya menjadi ahli semiotika. Lalu. La Stampa. Sejak 1975 dia menjadi profesor di Universitas Bologna. Pada suatu waktu dengan sangat menyesal ia pernah menceritakan bagiamana telah kehilangan iman. Pada 1962. ia tidak marah atau bersikap anti agama setelah menjadi eks katolik. Eco menyunting A Semiotic Landscape. Kemudian di susul dengan The Rule f the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts (1981) dan Semiotics and the Philosophy of Language . seorang akuntan dan veteran dadri tiga perang berbeda. pada 1979. ia mempelajari teori-teori estetika Abad Tengah. ia menerbitkan A Theory of Semiotics. Di universitas Turin. kumpulan esai semiotika. La Repubblica L’Espresso dan Il Manifesto. 2001:199). bahkan mungkin beberapa di antaranya sengaja diperlihatkan. Sviluppo dell’estetico medievale. 2004:72). Tulisan-tulisannya muncul dalam Il giorno. ia merupakan praktisi Katolik sampai umur dua puluh dua tahun. Di Milan dia mulai menyusun teorinya tentang semiotika La strutura assente (The Absent Structure). Dia kemudian memasuki dunia jurnalisme sebagai editor untuk Program Budaya dijaringan televisi RAI (Sobur. Formasi ini. Guilio Eco. 2001:3). memang kerap muncul dalam tulisantulisannya. seperti dikatakan Harvey Cox (2000:3). 6. Meski begitu. Pada 1959 muncul karya keduanya. dan menekankan bahwa konsep moralitas yang kokoh yang menggarisbawahi hdiup dant ulisannya mungkin berasal dari informasi awal kekatolikannya. namun mereka masih berhati-hati sehubungan dengan pengertiantentang metasemiotika tersebut (Sobur. dan diterbitkan tahun 1956 (Lechte. 2004:63).denonatif. sekaligus dia berhenti dari RAI. Awalnya ia belajar hukum. Corriere della Sera.

1996:71). Novel-novelnya antar lain The Name of The Rose (1983). seperti halnya pada sekumpulan naskah yang bersifat intelektual (khususnya tentang abad pertengahan) dan naskah lainnya (’Sherlock Holmes dalam The Name of the Rose. (Sobur. tambah Cox sebenarnya mampu membuka peluang percakapan intelektual mengenai agama menuju tingkatan yang baru. Karya-karyanya merupakan sintesis produktif dari hampir semua mazhab semiotika abad ke-20 yang didukung oleh pengetahuan yang luas berupa warisan kajian-kajian klasik tentang tanda (Littlejohn. termasuk bahasa Indonesia dengan judul Beriman atau Tidak beriman? Sebuah konfrontasi (Maret 2001) . Umberto Eco sebagai ahli semiotika yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yangpaling komprehensif dan kontemporer. Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:172) dalam Introducing semiotics menulis. Menurut Littlejohn. Lewat Novel The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. ’Ketika koran Italia ’La Correra de la Serra. Diskusi tersebut.’ demikian Harvey Cox dalam pengantar pendahuluannya pada buku Belief or Nonbelief. dan Corpus Hermeneuticum dalam Foucaul’s Pendulum). nama Umberto Eco menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Kedua karya ini mengarah ke aspek-aspek msa lalu dan masa kini dalam teori tentang tanda. teori Eco penting karena ia mengintergrasikan teori-teori semitika sebelumnya danmembawa semiotika secara lebih mendalam. korespondensinya dengan Cardinal Carlo Maria Martini. Terakhir. Namun saya ragu mereka mampu menangkap betapa cemerlangnya hasil konsepsi yang dpat dihasilkan dua orang tersbut hubungan korespondensi Eco-Martini. 2004:73). para editor jelas-jelas dngan ide-ide segar dan imajinatif. Foucault’s Pendulum (1988). kemudian tampak jelas bagi kita bahwa yang sesungguhnya hendakdia katakan adalah keseluruhan sejarah umat manusia.dalam pernyataannya. dan The Island of the Day Before (sobur. 2004:73). mereka tuangkan dalam buku Belief or Nonbelief? A Confrontation 91997). Umberto Eco pernah berupaya menjawab secar apanjang lebar tentang luas wilayah dan batas-batas semiotika. mengundang dan mempertemukan novelis intelektual Umberto dan uskup intelektual Carlo Maria Martini untuk melakukan perubahan pandangan dalam halaman-halaman koran mereka. katanya.(1984). .

. Bagaimana pandangan cox tentang Eco yang lewat novel-novelnya cenderung lebih diwarnai dengan refleksi keagamaan yang cukup intens. kompuer dan albigenses.. menjadi karangan bunga setiap awal bab The Name of The Rose?” kata Cox dengan nada tanya. Namun untuk beberapa alasan. Berkaitan dengan semiotika. seperti surat-surat teriluminasi yang menghiasi teks-teks kitab suci lama yang diperbanyak melalui tulisan tangan.memperlihatkan bahwa masing-masing pihak saling menguji dan menantang. 2001:3-4) kemudian menjelaskan: Jika ini digunakan oleh penulis-penulis lain.. mungkin tidak percaya pada Tuhan namun menyadari bagiamana arogannya bila pernyataan seperti ”Tuhan tidak ada’ dinyatakan (Sobur. siapa yang dapat melupakakn kutipan-kutipan bahasa latin yang. nyaris bertolak belakang dengan suasana kehidupan masala lalu Eco yang pernah mengaku telah kehilangan iman?”. Akankah kita memiliki teman bicara yang seperti Eco menempatkan dirinya sendiri. belakang ini semiotika menunukkan perhatian besr dalam produksi tanda yang dihasilkan oleh masyarakat linguistik dan budaya. kita biarkan saja Eco berada di antara mereka mungkin karena seluruh novel dan kesungguhanya menulis sejarah agama di Eropa saja yang menunukkan dia tidak sekadar ikut-ikutan. Berbeda dengan konsep yang lebih statis . (Cox. para pemikir yang tahu apa yang mereka katakan jika tidak setuju dengan para teolog. Ia mampu menulis dengan sama mudahnya antara filsfat dan estetika. namun keduanya masih tetap saling menghormati bahkan berusaha menyenangkan lawan bicaranya. 2004:75). Thomas Aquinas dan James Joyce. Menurut pandangan Cox (2001:4) Eco merupakan salah satu orang bijak dewasa yang tidak tertarik pada penyangkalan keberadaan orang-orang beriman namun dengan sungguh-sungguh berusaha mencari iluminasi yang berbeda dari dasar hukum yang sama. Akankah para pemuka agama Amerika berpikiran sama dengannya dalam melihat negara ini. Foucault’s Pndulum berisi referensi berharga keagamaan abad tengah dan Corpus Hermeticum. teman bicara yang selalu ragu-ragu namun tidak berprinsip skeptis. Dengan ini ia mampu memuaskan dan saya akan mengatakannya dari perspektif Amerika keirihatian teman bicaranya dalam diskusi ini.kebanyakan pembaca mungkin menemukan kutipan-kutipan seperti itu senga dipamerkan.

1979). Pada dasarnya. budaya yang berbeda-beda dapat memberikan bermacam-macam konotasi terhadap nama tertentu ini (Eco. Dalam kasus bahasa Inggris untuk kata plane. Objek semiotika boleh diibaratkan dengan permukaan laut tempat kiambang segera lenyap begit kapal lewat. Menurut Eco. yaitu kode yang terdiri atas hierarki subkode-subkode yang kompleks. sebagian darinya kuat dan stabil. 1979:127). Eco menyimpulkan bahwa ’satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapt ditawar. ’dataran’. dan ingin memustkan perhatian para modifikasi sistem tanda. Eco yakin bahwa ’kode tersebut bukanlah kondisi alami Dunia Semantik Global. Suatu ’perihal ekspresi’ bisa dihubungkan dengan ’perihal isi’ yang berbeda-beda. sedangkan yang lainnya lemah dan bersifat sementara. Eco memastikan diri untuk menyelidiki sifat-sifat dinamis tanda dalam bukunya Theory of Semiothics (1976.fungsi tanda merupakan interaksi antara berbagai norma: ’Kode memberikan kondisi untuk hubungan timbal balik fungsi-fungsi tanda secara kompleks’ (Eco. Lampu merah dan lampu hijau juga mengandung makna konotasional yang lemah dari ’kewajiban’ versus ’pilihan bebas’. dan juga bukan struktur tetap yang . sistem aturan. Eco melihat tiga fungsi tanda: ’alat tukang kayu’. Nama itu menunukkan suatu unit budaya yang dirumuskan dengan baik dan mempunyai tempat dalam bidang semantik dan sejarah. atau hutan tempat jejak bekas pedati atau jejak kaki mengakibatkan sedikit banyak muncunya modifikasi abadi. 1979:56). melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda-beda. 1979:87). Tambahan lagi. versus ’kasar’ (Eco.yang diajukan Ferdinand de Saussure tentang tanda dan pendekatan taksonomis semiotika. ’halus’. Pasanganpasangan yang bersifat konotatif termasuk dalam kelompok terakhir. Dia menjelaskan pandangan epistemologisnya dengan menggunakan suatu perbandingan. Wana merah dan hijau pada lampu lalu lintas mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi inernasional dan merupakan bagian dari kode yang ’kuat’. 1979:49). Eco (1979:29) menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan. dan ’pesawat terbant’. Komentar yang sama juga boleh dibuat oleh terhadap nama Napoleon. serta pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce yang bersifat taksonomis. ungkapan dan isi dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean)’ (Eco.

Dalam hal ini ia terpaksa menggunakan apa yang disebut konsep abduksi (abduction) sepeti dianjurkan Peirce. jika diterima masyarakat menghasilkan sebuah konvensi. merupakan dasar bagi aspek ganda bahasa sebagai kreativitas yang terikat aturan dan kreativitas yang mengubah aturan (Eco. Akant etapi. prinsip fleksibilitas dan kreativitas bahasa berasal. Dari sinilah. Motivasi yang mirip tampak jelas dalam pembahasan Eco tentangt anda dan penandaan yang tertulis dalam semiotic and the Phylosophy of language (1984). Meskipun semiosis yang takt erbatas ini adalah hasil dari fakta bahwa tanda dalam bahasa terkait dengantanda lain. Eco ingin menghindari kemungkinan makna tunggal di satu sisi melawan maknayang tak terhingga di sisi lain. walaupun A theory of Semiotics secara eksplisit terkait dengan teori tentang pembangkitan kode dan tanda. semiosis yang tak terbatas terkait dengan seenis penengah dalam kaitannya dengan kedudukan pembaca. titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang semiosis yang tak terbatas. seperti di kutip lechte (2001:203). John Lechte (2001:200) menyatakan. Eco tidak menjelaskan kasus kode-kode tersebut yang tidak terpahami). namun juga mesti .mendasari kompleks hubungan dan cabang-cabang setiap proses semitik (Eco. dan suatu naskah selalu menawarkan kesempatan penafsiran yang tak terhingga banyaknya. 2001:199). Karena itu. Hubungan antara kode dan pesan. yang dengand emikian kode mengontrol pengeluaran pesan dan pesan-pesan baru dapat merestruktur (menyusun kembali) kode. berpendapat bahwa tanda itu tidak hanya mewakili sesuatu yang lain (dengan demikian hanya memiliki arti seperti yang tercantum dalam kamus). Menruut Eco. Ichwal Toeri yang dimunculkan Eco dalam bukunya A Theory of Semiotics. semiosis yang tak terbatas lebih terkait dengan pengertian ’interpretan’ dri Peirce dimana makna ditetapkan dalam kaitannya dengan kondisi kemungkinan (Lechte. atau pelbagai kode yang belum dimengerti oleh si penerima. Di sini Eco. 1979:132). dan dengan demikian menimbulkan pasangan pengkodean (Eco. Ini merupakan reaksi sementara terhadap fakta-fakta dan situasi yang belum dikodifikasikan. Ia melihat bawah suatu konteks ambigu yang tidak terkodekan yang ditafsirkan secara konsisten. 1979:161). (Ia juga tahu bahwa Peirce mengikuti dua kasus yang agak berbeda di sini. 1979:65).

Pengenalan atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda. yaitu hurufhuruf abjad. Dengan kata lain: kode-s bahas itu setara dengan organisasi tertentu pada unsur parole. Penampilan: suatu obek atau tindakan menjadi contoh enis objek atau tindakan. . sebagai suatu ’model Q’ model kode yang meninjau semiosis yang tak terbatas (Sobur. mengikuti Quillian. 2. jenis kode morse dimana suatu kode tertentu (garis dantitik) sesuatu dengan sekelompok tanda. 3.m namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. Menurut Eco. gejala. dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. yang menghasilkan semiosis tidak terbatas. Di sini kode sesuai dengan struktur bahasa. unsur-unsur pokok dlaam tipologi cara pembentukan tanda adalah : 1. Walaupun dia memberikan sejumlah contoh dalam jenis-jenis kode ini. seperti tanda. Hal ini tidak asing lagi bagi karya Saussure.ditafsirkan. Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membuat tanda. 2004:75-78). sistem) dan parole (laku bahasa). minatnya yang utama adalah dalam bahasa sebagai yang tersusun atas langue (di mana kode= tata baasa. atau konotatif (bila tampak kode lain misalnya kode kesopanan dalam pernyataan yang sama). Secara umum kode bisa berbentuk tunggal.tan pa kode. Ia melakukan hal ini dengan mengembangkan suatu model yang disebutnya. Bisa juga dengan menggunakan istilah Hjelmslev seperi yang juga dikatakan Eco kode mengaitkan bidang ungkapan bahasa dengan isinya. sisntaksis. Eco menggunakan istilah ’kode-s’ untuk menunjukkankode yang dipakai dengan cara ini. sehingga hubungan antara DNA dan RNA dalam biologi bisa dianalisis menurut kode. Kode dengan jenis ini di mana satu sistem unsur diterjemahkan ke sistem lainnya memiliki penerapan yang sangat luas. Pandangan yang berlaku di sini adalah ’interpretant’ menurut Peirce. tanda-tanda suara atau grafis tidak meiliki arti apa pun. dan disamping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini. Kode-s bisa bersifat ’denotatif’ (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah). atau bukti.

sebagai yang tidk terlihat oleh kode. Orientasi psikoanalisisnya dalam karyanya selalu meletakkan perhatiannya pada bahasa dan segala manifestasinya. Replika: kecenderungan kearah ratio difficilis secara prinsip. ialah adanya sasaran akhir untuk kelak mengambil alih kedudukanfilsafat. subversir dan kreativitas antisosial dalam bahasa. Quel diParis pada akhir 1960-an dan tahun 1965 ia berangkat ke Paris untuk menuntut ilmu. menurut van Zoest. 2001:220). dan tanda-tanda matematika. 1999:296). 5. Bukannya bersifat statis dan tertutup. Melalui semiotika revolusionernya ia mengembangkan kemungkinan bentuk-bentuk pelanggaran. Ia masuk ke dalam kehidupan intelektual paris. Ciri aliran ini.aktif mengikuti seminar Roland Barthes dan terlibat dalam dunia pemikiran kesastraan (Lechte. sistem tanda itu menurut Eco bersifat terbuka dan dinamis (lihat Sobur. Van Zoest (1993:4) menyebut Kristeva sebagai pencetus munculnya semotika ekspansif. Julia Kristiva lahir di Bulgaria pada tahun 1941 ini mencapai reputasi yang istimewa sebagai seorang linguis dan ahli semiotik ketika ia bergabung dengan kelompok Tel. menolak hadirnya subjek sebagai agen perusahan dan subversi bahasa (Pilliang. 2004:79). Karena begitu terarahnya . menjadi landasan suatu kontinuum materi baru (Lechte.kristeva melihat semiotika Saussure sebagai satu wacana yang hanya menawarkan makna tunggal. Penemuan: kasus yang paling jelas dari ratio difficult. 7. yang Eco usulkan melalui model Q dan melalui penemuan pembentuk tanda yang sering diabaikan ahli semiotika konvensional adalah kebutuhan dalam melakukan peninjauan kemampuan sistem bahasa agar pembaruan danpenyebaran bisa dilakukan. Menurut Lechte (2001:203). Julia Kristeva Julia Kristeva selain sebagai tokoh semiotika juga sebagai tokoh teoretisi feminis. Sebagaimana halnya Derrida. 2001:203). notasi musik. Kristeva menjadikan semiotika struktural Saussure sebagai objek subversi dan pembongkaran. disebabkan di dalam menjelajahi ruang epistemologisnya. tetapi mengambil bentuk-betuk kodifikasi melalui pengayaan.4. Contoh-contohnya adalah emblim.

organ-organ tubuh dan lubanglubang. semiotika Kristeva bisa dikorelasikan dengan yang anarkhis. dan kehidupan sosial berdasarkan distingsi Sigmund Freud yang menyruak di antar apenggerakpenggerak pra-Oedipal dan seksual Oedipal. mengungkap model umum dari prinsip-prinsip prkatik penandaan Kristeva sebagai berasal dari pemikiran psikoanalsis-struktural Jaques Lacan yang mengintegrasikan analisis Freudian dan semiologi struktural. semiotika Kristeava. adalah material kulit telanjang (raw material) dari signifikasi yang bersifat badanian dan hal libidinal yang mestimemanfaatkan. semiotika jenis ini terkadang disebut ilmu total baru. Dalam hal ini simbolik merupakan keteraturan lapisan atas dari semiotika. yang bersumber dari proses-proses primer yang berorientasi materials ebagai sumber pertama ritme dan gerak hidup manusia sejak kita semua berumah tinggal dalam tubuh Ibu. adalah sebuah sistem yang teroediplaisasikan dan diregulasi oleh proses-proses sekunder dibawah Hukum Sang Ayah. konsepsi Kristeva mengenai fungsi-fungsi semiotik dan simbolik beroperasi dalam dimensi psikologis. Para ahli semiotika jenis ini. penggerak-penggerak komponen praOedipal dan zona polymorphous erotogenic. dan terlalu reduksionistis. tekstual. Yang semiotik jadinya meluapi batas-batas teks-teks tersebut dalam momen-momen . mencampurakn analisis mereka dengan pengertianpengertian dari dua aliran hermeneutika yang sukses pada zaman itu. linguistis. pengertian ’tanda’ kehilangan tempat sentralnya. tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti. diganti oleh penelitian yang disebut praktik arti. Dalam pandangan Sarup. Ia mengontrol beragam proses-proses simiosis yang bagaimana pun bersifat rapuh dan bisa rusak ataupudar pada momen-momen penting historis. Penelitian yang menilai tanda terlalu statis.s ebagaimana dikutip Fathul A. saluran kearah regulasi dan kohesi sosial. Hasilnya adalah teks yang bisa dipahami (understandable text) yanglahir dari pergolakan norma-norma halus. yakni psikoanalisis dan Marxisme (Sobur. dalam pandangan Sarup. Dengan kata lain. menurut Sarup. Dalam An Introductory Guide to Post-Structuralisme and Post Modernism. Husein (2002).pada sasaran. Madan Sarup (1993). Sedangkan simbolik Kristeva. Dalam semiotika jenis ini. dan psikologis tertentu. sekaligus menyediakan. Dengan begitu. terlalu nonhistoris. 2004:79).

”genoteks’ itu bukan linguistik. seperti kata John Lechte (2001:220-225). Karya Kristeva ini. telah menjadi pusat perdebatan di kalangan feminis kontemporef. . baik fenoteks maupun genoteks tidak bisa berdiri sendiri. Mandrins. Bagi sementara orang. La revolution dulangage poetique (Revolusi dalam Bahasa Puisi).pergulatan Kristeva pada hubungan antara bahasa dan pentingnya bahasa bagi pembentukan subjek mendorong Kristeva untuk mulai mengembangkan teori tentang ’semiotika’ (le semiotique) pada tahun 1974 dalam tesis doktornya. ia memang dikenal sebagai teoreetisi feminis. 2004:81). 2001:221). Ia bahkan telah menunjukkan minatnya pada tahun 1990 dengan menerbitkan sebuah roman a cle yang berjudul les samourais. dan tampaknya juga merupakan suatu pembongkaran pada kehidupan dan cinta kaum avant-garde intelektual di Paris. Ia selalu menaruh minat pad sifat bahasa dan segala manifestasinya. subjektivitas. Di sini ia membedakan le semiotique dari baik la semiotique (semiotika konvensional) maupun yang ’simbolis’ lingkungan representasi. Pada tataran yang sepenuhnya bersifat tekstual. Lechte melihat. yakni tiga serangkai kekuatan subversif yaitu kegilaan. yang menjadi substratum bagi teks-teks aktual. ia hanya suatu proses. imaji dan semua bentuk bahasa yang sepenuhnya terartikulasi. ’fenoteks’ sesuai dengan bahasa komunikasi. genoteks adalah teks yang mempunyai kemungkinan tak terbatas. dan seksualitas yang secara khusus dilandasi psikoanalisis Lacanian tersebut. Karya-karya Kristeva mengenai bahasa. Dalam pengertian lebih luas. yang semiotis dan simbolis. Mereka selalu ada bersama dalam proses yang disebut Kristeva sebagai ’proses penandaan’ (Sobur. Menurut Kristeva (Lechte.istimewa yang khas Kristeva. mengingatkan kita pada karya de Beauvoir. Di sini. Ini adalah tataran tempat kita biasa membaca saat kita mencari makna kata. dan puisi (Sobur. Profesor dibidang linguistik pada universitas Paris VIII yang sekaligus seorang psikoanalis ini mulai merenungkan sifat feminitas (yang dilihatnya sebagai sumber yang tak ternama dan terungkapkan). 2004:80). kekudusan. yang menjadi pusat perhatianadalah generasi kristeva yang datang sesudah Sartre. Meski demikian.sebaliknya. masing-masing berkorespondensi dengan apa yang disebut sebagai ’genoteks’ dan ’fenoteks’.

penghancuran-identitas maknamakna dan transendensi (termasuk di dalamnya subversi terhadap kecenderungan agama). yaitu masa Perancis Republik ketiga (Lechte.Genoteks dapat pula dianggap sebagaisuatu sarana yang membuat seluruh evaluasi historis bahasa dan aneka praktik penandaan. Dalam karya besarnya yang ia tulis tahun 1974. ideiolek pengarang. yang secara langsung berhubungan dengan alibi-alibi ideologis di suatu zaman (Budiman. representasi. menurutnya. kristeva tidak hanyamenunjukkan bagiamana landasan semiotika bahasa (suara dan iramanya. tetapi ia juga menunjukkan bagaimana bahasa puisi memberikan pengaruhnya dalam masa pembentukan sejarah dan ekonomi tertentu. sperti Malarme dan Lautreamnt. yang dikatakannya merupakansatu-satunya bahasa yang dapat menghasilkan revolusi. Fenoteks meliputi seluruh fenomena dan ciri-ciri yang dimiliki oleh struktur bahasa.selruuh kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa dimasa lampau. bahasa puitik dapat dikatakan sebagai musuh dari lembaga sosial. yang dicari dalam proses pertandaan bahasa puitik bukanlahperpaduan dan kemantapan identitas danmaknamelainkan penciptaan krisis-krisis dan proses pengguncangan segala sesuatu yang telah melembaga secara sosial. kaidah-kaidah genre. 1999:270)menyebut bahasa puitik sebagai produkd ari sifnigiance. 2001:221-222). merupakan satu proses pengguncangganjingan tidak boleh dikatakan. bentuk melismatik yang terkode.s egala sesuatu di dalam performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. dan dogmatisnya. dan ekspresi. Kristeva (dalam Pilliang. Disebabkan oleh sifat antikemapanan. performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. representasi. Sebenarnya kata Kristeva. dan gaya interpretasi. yangmembentuk jalan nilai-nilai budaya.a dalah bahas yang melalui kekhususan operasi pertandaannya. 1999a:41). 1999a:35). Bahasa puitik menghasilkan tidak saja penjelajahan . segala sesuatu yang dapat diperbincangkan. Fenoteks adalah teks aktual yang bersumber dari genoteks. kebenaran absolut.singkatnya. Bahasa puitik. La revolution du language poetique (Revolution in Poetic Language). sekarang dan masa ayangakan datang sebelum tertimbun dan tenggelam di dalam fenoteks tecakup didalamnya (Budiman. dan berbagai landasan pengucapannya) dipelajari oleh para penulis avant-garde abad ke-19.

membedakannya dar para ahli semiotika lain yang lebih tertarik untuk melakukan formalisasi cara kerja bahasa konvensional. semiotika menjadi disamakan dengan chora feminin. karena akan menempatkannya pada lingkungan simbolik dan memberi kita suatu pengertian palsu. adalah sejanis asal usul. Ini. Dalam Revolution in Poetic Language ini. seperti dikutip Lechte. seperti yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli linguistik.yakni (1) signifikasi. chora berada pada sisi dimensi material dan puitis dari bahasa. . tetapi dalam bntuk yang radikal. Ia merupakan sebuah perjalanan menuju batas-batas terjauh dari subjek. yaitu makna yang subversif dan kreatif. pelepasan rangsangan-rangsangan dalam diri manusia melalui ungkapan bahasa. akan tetapi sekarang secara eksplisit ia memakai teori psikoanalisis.estetik yang baru. bahasa puitik merupakan batu sandungan komunikasi pada masyarakat dan peradaban yang dibangun berlandaskan rasionalistas transedensi (Pilliang. Lancanian.seperti pada yang feminim secara umum. Sifnigicance adalah proses penciptaan yang tanpa batas dan tak terbatas. batas terjauh darikonvensi moral. yaitu makna yang dilembagakan dan dikontrol secara sosial (tanda di sini berfungsi sebagai refleksi dari konvensi dan kodekode sosial yang ada). tetapi bukanyang bisa diberi nama. Hanya melalui penyaluran rangsangan dalam diri secara bebas dan pelanggaran batas terjauh inilah dihasilkan revolusi dan jouissance dalam bahasa (sobur. keluar dariaturan dan praktis. minat Kristeva dalam menganalisis sifat bahasa puitis yang heterogen. Dalam bentuknya yang paling radikal. Inimemberi rasa untuk menangkap bahasa dalam bentuknyayang dinamis. tabu dan kesepakatan sosial dalam satu masyarakat. Sementara ahlimelihat. dan (2) signifiance. bukan dalam bentuknya sebagai suatu peralatan statis. 1999:270). Kristeva juga terus mengembanggkan teorinya tentang subjek sebagai subjek yang berada dalam proses. Maka. sejak ia masih kuliah di Paris pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Kristeva membedakan antara dua praktik pembentukan makna dalam wacana.yang kira-kiramenyatakan kedudukan ibu yang tidak bisa dipresentasikan. 2004:83). tidak saja keperczyaan dan penandaana yang sudah melembaga.tata bahasa sendiri.

kata Kristeva. karya-karyanya yang lebih kemudian jelas menegaskan bahwa adalah bodoh jika hal-hal yang lain ditingalkan sepenuhnya (Lechte. Black Sun (1987). An Essay on Objection (1980) About Chinesse ’women (1986). Subjek dalam hal ini adalah subjek yang tidak berdiri melulu sebagai subjek yang statis yang hanya berada dalam satu bentuk imajiner saja (Sobur. Kristeva melihat bahwa dalam sejarah sistem-sistem pembentukan tanda. agama dan ritual. Powers of Horror. manifestasi proses sepertiapakah esoterisme (sesuatu yang hanya bisa dipahami . hal lain yang bersifat radikal pad akehidupan individu dan kultural. yang heterogen.dari karya-karya tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. pada momen historis macam apakah perubahan sosial akan sanggup bertahan terhadap. esoterisme. khususnya dalam seni. Meskipun ini bisa membuka jalan kepada mistisisme. Dalam hal ini ia beranggapan bahwa wacana-wacana yang magis. Kristeva menunjukkan minat yang sama kepada penerapan simbolik terhadap lingkup yang tak teraknalisis ini. shamanisme. antara lain : Revolution in Poetic Language (1974). 2004:83). Masalahnya kini. di sana acapkali muncul jika kita lakukan retrospeksi fenomena terpisah-pisah yang tertahan dalam latar belakang sistem-sistem penandaan komunal atau paling tidak yang secara cepat berintegrasi ke dalamnya untuk menunjukkan proses sangat penting dari proses pembentukan tanda atau signifikasi. banyak menguraikan ihwal semiotika dan semantika (Sobur. sebagai upaya untuk menggarisbawahi batas-batas wacana yang bisa berguna secara sosial sekaligus memperlihatkan dengan jelas represi-represi apa yang terkandung didalamnya. dan Strangers to Ourselves (1988). atau mengharuskan. Salah satu ciri yang menonjol pada karya Kristeva adalah keinginannya untuk melakukan analisis pada yangtidakbisa dianalisis yaitu yang tidak bisa diungkapkan. Approche semilogique d’une structure discursive tranformatielle (1970). Dua buku pertamanya dalam bahasa perancis Semeiotike. 2004:84). secara khusus. dan puisi (baca: seni) ’yang sukar dipahami’ (incomprehensible).Lechte (2001) mencatat tidak kurang dari delapan karya pokokKristeva. Recherches pous une semantique (1969) dan Le Texte du roman. 2001:220). sebuah proses yang melampaui subjek berikut struktur-struktur komunikatifnya. karnaval.

kata-kata memberi makna hidup (life meaning) atau makna non-referential oleh karena kandungan simiotiknya. Ia berhubungan dengan ritme. 2002). Pada sisi lain. Di isnilah arti penting tiga dekade lebih Kristeva menulis teoretisasi yang. Seminalisis adalah sebuah ’pendekatan terhadap bahasa sebagai suatuproses . Mikhail Bakhtin. tanpa semiotik. Dua elemen inilah yang dimata Kristeva mengomposisikan seluruh peristiwa penandaaan. tidak ada signifikasi tanpa kombinasi keduanya (Sobur. Dengan demikian. Tanpa simbolik. Julia Kristeva mulai dikenal pada akhir 1960-an sebagai seorang penerjemah karya formalis Rusia. dan secara lebih hakiki. nada. persoalan dan gambaran. Sebaliknya. mengungkap hubungan antara pikiran dan tubuh. Dalam mencermati hal ini Kristeva memberikan contoh bahwa kata-kata memiliki makna rujukan (referential meaning) oleh karena struktur simbolik bahasa. Dalam kaitan ini ia menonjolkan teori Bakhtin tentang novel ’dialogis’ seperti juga pengertiannya tentang ’karnaval’. kristeva menjadi seorang teoritisi bahasa dan sastra dengan konsepnya yang khas Kristeva. Segera setelah itu. selain membuatnya lebih fleksibel? Untuk menjawab berbagai persoalan seperti itu. dan dimensi gerak dari praktik-praktik penandaan. 2004:85).oleh kalangan tertentu). sebuah bonus tak berbahaya yang ditawarkan tatanan sosial pengguna esoterisme untuk memperluas dan menumbuhsuburkannya.dalam pergeseran bata-batas sosial sanggup meneguhkan praktik-praktik penandaan yang seiring sejalan terhadap perubahan sosial-ekonomi. semua signifikasi hanya akan tinggal igauan belaka. psike dan soma. Sedangakn elemen simbolik yang membutat rujukan (reference) menjadi mungkin. tandas Kristeva pada hakikatnya signifikasi menuntut sekaligus semiotik dan simbolik. bahkan terhadap revolusi? Dan di bawah kondisi-kondisi seperti apakah yangpuitik dan yang esoterik itu mampu memperingatkan kita kepada adanya jalan buntu. dengan mendesak keduanya bahwa penggerak-penggerak yang fisis itu berlangsung dalam representasi penandaan. Elemen semiotik adalah penggerak-penggerak jasmaniah atau yang bersifat fisis yang berlangsung dalam signifikasi.yatiu ’seminalisis’. semua signifikasi hanya kehampaan tanpa nilai penting apapun untuk hidup hkita. Husein (2002). seperti dikutip Fathul A. kristeva mengetengahkan sebuah distingsi antara apa yangdisebut semiotik dan simbolik (Husein.kultur dan natur.

melainkan sebagai proses penandaan yangmemperlihatkan pelepasan dan artikulasi lebih lanjut dari ’drives’ yang dikendalai oleh kode sosial dan belum tereduksi kedalam sistem bahasa. 1999b:110). Semanalisis mengkaji strategi-strategi bahasa yang khas dalam situasi-situasi yang khas. 1999a:105-106). menganggap bahwa pengkajian teks beserta dengan konteksnya masing-masing adalah sama pentingnya (Budiman. semanalisis mendekati dan memahami makna secara kontekstual. setiap teks merupakan rembesan dan transformasi dari . dalam Budiman. Semanalisis memahami makna bukan lagi sebagai sistem tanda. bukan sebagai sistem (langue) yang berlaku umum. prinsip yang paling mendasar dari intertekstualitas adalah bahwa setiap halnya tanda-tanda mengacu kepada tanda-tanda yang lain setiap teks mengacu kepada teks-teks yang lain. Gerakan intertekstualitas ini tanpa batas. Dengan kata lain. Menurut Kristeva. Sebagai suatu teori tekstual yang tidak berorientasi pada sistem. Dalam bukunya Structuralist Poetics: Structuralism. Jonathan Culler (1982:246-247) melihat genoteks ini sebagai teks yangmemiliki kemungkinan tanpa bata dan menjadi landasan bagi teks-teks aktual. Titik berangkat semanalisis adlah suatuteori makna yang niscaya menyesuaikan dirinya dengan teori tentang subjek yang berbicara. (Sobur.kemunculan genoteks senantiasa diindikasikan oleh disposisi semiotika. 2004:83-86). ia merupakan pengkajian terhadap bahasa sebagai wacana yang spesifik.dalam pandangan kristeva. setiap teksmemperoleh bentuknya sebagai mosaik kutipan-kutipan. yakni yang dinamakan sebagai ’genoteks’ oleh Kristeva (1989. dalam upaya mengenali disposisi semiotika ini perlu diidentifikasikan perubahan pada subjek yang berbicara tadi yaitu subjek yang kini memiliki kapasitas untuk merombak orde yang telahmerangkapnya dengan begitu saja. Menurut Kristeva.penandaan (signifying process) yang heterogen dan terletak pada subjek-subjek yang berbicara (speaking subjects)”.intertekstualitas dapat dirumuskan secarasederhana sebagai hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks-teks lain. sejajard engan proses semiosis yang juga tak berujung pangkal. Semanalisis berbeda dengan ’semiotik sistem-sistem yang melakukan deskripsi sistematis terhadap kendala-kendala sosial dan simbolik di setiap praktik penandaan. Linguistics and the Study of Literature.

Dalam judul ini tampak nuansa dari karya Barthes. Barthes. Greimas mulai mempelajari dialek franco-provencale. yaitu Maurice Merleau Ponty dan Calude levi Strauss. (Sobur. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditulis pada tahun 1975 tentang hubungan antara karyanya dengan karya Vladamier Propp. beserta harapanharapannya. J. dalam tahun-tahun penuh ketenangan strukturalisme sekitar tahun 1966. Sesudah menyelesaikan licence es lettres pada tahun 1939. Essai de description du vocabulaire vestimentaire d’apres les journaux de mode de I’epoque” (1948). (Mode dalam tahun 1830-an. hanya untuk menyaksikan invasiyangdilakukan oleh Jerman dan Rusia. 1999:51-52). bersama R. Sepuluh tahun kemudian. Setelah kembali ke Prancis pada tahun 1944. mode : Le mode en 1830. Tokoh ini meninggal pada thun 1992 (Lecthe. Pada tahun 1956. Bersama Todorov Kristeva. A.s ebuah karya hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan atau dalam pertentangannya terhadap teks-teks lain yang menjadai resapannya. Melalui hal terakhir inilah seseorang. 206). Dubois. Greimas juga menjadi anggota penelitian semiotik milik kelompok Levi-Strauss di College de France. Ia kembali ke Lithuania pada tahun 1940. dan tokoh lainnya. Essai deskriptif tentang perbendaharaan kata vestimentary dalam surat kabar masa itu). The Fashion System.J. Algirdas Julien Greimas Algridas Julien Greimas lahir di Lithuania pada tahun 1917. Greimas menerbitkan sebuah artikel yang berpengaruh dan penting tentang karya Saussure. Genette. Saat it sedang di kota itu. iamemulai program doktoralnya yang berpuncak dalam tesisnya tentang. ia mulai berminat kepada kultur Abad pertengahan. 2001:205. yang pada awalnya juga dibuat sebagai suatu tesis doktoral. 8. Greimas mendirikan jurnal language dan juga menerbitkan karya awalnya tentang semantik struktural yaitu Semantique Structurale (semantik struktural). menemukan ciri-ciri yangmenonjol di dalamsebuah teks dan memberikannya sebuah struktur (Budiman.teks-teks lain. 2004:86). Greimas . Ia pertamakali datang ke Perancis untuk belajar hukum di Universitas Grenoble. Bagi dia. yang memanfaatkan karyaduatokoh penting lainnya.dapat membaca dan menstrukturkan teks. dan tokoh lainnya.

’dari yang sederhana ke yang rumit’.mengatakan bahwa meskipun nilai heuristiknya agak berkurang dan meskipun pandangan ini tidak terlalu asli. Mengikuti Greimas. upaya untuk secara implisit menyandarkan diri pada kerangka metafisis atau sekumpulan asumsi akan berakibat dikacaukannya semiotika dengan lingkungaanontologi atau ’keberadaan’ itu sendiri (Lechte. dan menggunakan prinsip untuk bergerak dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. anmun pada saatyang sama sangat ingin ia hindari atau ingin ia ubah. . Barangkali sejak saat linguistik ingin memisahkan lingkungan linguistik dari lingkungan ekstra linguistik akan cenderung muncul kesulitan yang bersifat konseptual atau bahkan yang bersifat empiris. maupun dalma menyadari segala kesulitan yang datang saat melakukannya. baik dalam mengembanagkan teori diskursus yang sepenuhnya semiosis (baca: deskriptif). Yang pertama adalah bahwa ’contoh dari Prop’ dalam mengembangkan model cerita rakyat Rusia mekipun terkenal sangat kaku maih mempengaruhi karya para ahli semiotika dalam tahun 1970-an yang terilhami secara ilmiah. dari yang sederhana ke yang rumit. dalam upaya kita untuk membenarkan model teoretis parsial dan bahkan pada fakta yang tidak teratur. namun pada saat yang memberimomentum pad semiologi Greimas. dan bahkan gerakan dari ’sastra lisan ke tulisan’. meskipun Greimas tidak lalri dari masalah kesulitan tersebut. Hal ini tampaknya datang dari suatu perwatakan filosofis tertentu yang memberi momentum pada semiologi Greimas. beresiko menjadikannya positivistik. agar pengetahuan kita tentang narasi dan organisasi diskursif menjadi semakin meningkat (Greimas. Akhirnya. kita masih tergoda untukmengikuti contoh Propp. Dalam pernyataan ini paling tidak ada dua hal yang menarik. 1988:xxiv). Seperti yang akan kit alihat. 2001:205). yang kedua adalah para pembaca bisa melihat bahwa di sini pengertian metafisis sering disebut-sebut: pergerakan dari ’yang diketahui ke yang tidak diketahui’. dari ceritarakyat (sastra lisan) ke sastra tulisan. buah dri upaya untuk membaca Greimas ini sesuai dengan kerja keras yang dilakukan sekalipun dorongan yang dilakukannya dengan tanpa kenal lelah agar semiotika menjadi ilmiah. mungkin ia bergerak lebih jauh dari ahli semiotika lainnya.

setiap diskursus hukum datang dari tata bahasa hukum yang berbeda dari tata bahasa alami yangmemunculkan diskursus ini’ ((Greimas. khususnya pada hukum Prancis yang terkait dengan berbagai perusahaan dagang. Pada tingkat yang sedikit lebih rendah. 1982:12). Mekipun demikian. dan menunjukkan bahwa ’dalam kaitannya dengan bentuk. Walaupun begitu. 1990:108). dan disini kita bisa melihat pengaruh Merleau Ponty. meskipun Greimas mempelajari hubungan antara unsur-unsur diskursus paling banyak berupa diskursus naratif namun bukan hanya kualitas substantif unsur-unsur ini. menjadi yang . Kosa kata semacam ini berbeda dari terminologi linguistik konvensional karena satuan analisisnya itu bukan kalimat melainkan diskursus. sememe (inti semie dan semes kontekstual yang sesuai dengan arti kata tertentu). Greimas menyadari pentingnya suatu sistem. Greimas telah manulis tentang diskursus hukum. tidak seperti Saussure Greimas menekankan bahasa sebagai suatu ’kesatuan struktur penandaan’ yang mensyaratkan bahwa sistem itu sebelumnya sudah ada.’praanggapan’. cara kerja bahasa ini menjadi titik pusat perhatian penelitian Greimas. satu buah tanda tidak melakukan penandaan. Selain itu. dan sebagainya (courtes. Greimas sering tampil sebagai yang dipengaruhi linguistik konvensional baik dalam belokan teknis yang diberikannya kepada istilah umum seperti ’inventarisasi’. Classeme (atau semes contekstual) anaphora (yang mengaitkan ujaran atau paragraf).Lintasan intelektual Greiman adalah hasil dari upaya untuk melakukan analisis dan melakukan formalisasi setiap aspek diskursus. Adanya satuan-satuan yang berbeda dari linguistik konvensional yang terus muncul adalah salah satu petunjuk tentang adanya kemungkinan model hubungan antara satuan-satuan ini. Oleh sebab itu. ia juga mengambil jarak terhadap dorongan idealis yang datang dari para ’bapak’ linguistik umum. Seperti halnya dalam diskursus naratif. kita temui: seme (satuan artiminimal). didalam diskursus deskriptif terdapat diskursus tentang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. atau’praktis’. maupun bagaimana linguistik itu (dalam kata-kata Greimas sendiri) ’menjadi disiplin semiotika yang paling berkembang’. Dalam mengembangkan jalinan istilah yang autentik suatu kosa kata yang sebenarnya berguna untuk menguraikan dan melakukan analisis secara semiotik pada lingkup diskursus Greimas mengikuti jejak Hjelmslev. tetapi harus diartikulasikan atau dibentuk.

Greimas berusaha mempelajari pembentukan makna dalam diskursus makna sebagai suatu proses penandaan. Walaupun begitu. yang kemudian memulai kariernya dalam leksiografi. Pengertian diskursus oleh Greimas adalah seperti yang dimaksudkan oleh Benveniste: ”bahaa sebagai yang dipakai oleh penutur bahasa itu. Walaupun begitu. 2001:207). suatu semantika struktural akan menjadi suatu semiotika struktural saat makna diubah mnjadi satuan-satuan analisis yang menjelaskan pembentukan makna dalam satu konteks tertentu. Oleh sebab itu. Karena alasan ini maka semiotika struktural aksi dari Greimas yang mirip dengan etnografi dari Bourdieu lebih menyukai strategi daripada aturan. yang ada hanyalah para actant entitas yang . maka ujaran harus dipahami sebagai yang tertata dengan cara tertentu. Aturan itu mensyaratkan adanya seorang pelaku dibalik suatu tindakan yang patuh kepada aturan-aturan ini. Semiotika struktural menguraikan makna dari makna. 1990:12). Greimas menerbitkan karyanya yang berjudul Dictionnaire de l’ancien francais (kamus Bahasa Prancis Kuno) Lechte.’dianggap memiliki klaim terkuat dalam statusnya sebagai ilmu’ (Greimas. langue. karena bila kita ingin membangun suatu ’tata bahasa’ semiotika pembentukan makna. Sebaliknya. diskursus itu adalah bahasa sebagaimana ia dipakai. yang akibatnya mengutamakan para pelaku dibalik tindakan. tetapi bertitik tumpu pada satu jaringan yanag memunculkan makna di dalamnya. Ujaran tidak brsifat kontingen atau sebarang saja. Bila dipahami dengan cara ini. Ketegaran ilmiah yang biasa diterima pada linguistik membuat hal ini menjadi suatu awal bangkitnya seorang peneliti yang lebih menghargai ketegaran karya intelektual daripada karya-karya lainnya. Seperti yang telah kita lihat. Pada tahun 1969. semantika struktural melepaskan diri dari konsep makna linguistik konvensional dengan tidak menitikberatkan baik pada kata maupun pada kalimat secara terlepas dari konteks. bagi Greimas. akan jelas bahwa Greimas itu pertama-tama lebih tertarik pad sisi parole dalam persamaan ’langue/parole’. Makna ini tidak bersifat intensional (terkait dengan subjek psikologis) atau hermeneutik (makna yang ada sebelum bahasa dipakai). atau ’sistem’ tidak dilupakan. Pengertian aturan banyak mendominasi pemikiran para ahli strukturalis awal. karena bagi Greimas pengertian tentang suatu ’jaringan hubungan’ berjalan seiring dengan pemakaian bahasa. Singkatnya.

Maka dari itu. Oleh sebab itu. 1988:xxiv). ”John harus menulis surat’.dalam linguistik. seperti kota paris dalam analisis Greimas pada ’Two Friends’ karya Maupassant (Greimas. Greimas mengatakan bahwa ’pelaku sintaksis’ (Syntactic actant) bukan ’orangyang berbicara’ (subjek ontologis) melainkan ’orang yang berbicara manusia semu yang dibentuk oleh tindak bercakapnya (Greimas. dan lainnya.dibentuk oleh konfigurasi tindakan-tindakan diskursif itu sendiri. Maka. pada awalnya istilahini menunjuk pada ’yang mengubah predikat pada sebuah ujaran’ (1988:193). ’mengetahui’ dan ’mampu . benar atau salah. tidak ada subjek dibalik diskursus. modalitas terkait dengan cara bagaimana sesuatu itu bisa berarti suatu hal atau bukan suatu hal. Agar kita bisa memahami cara actant (Greimas. Greimas mengembangkan sejumlah istilah kunci yang perlu dipahami secara penuh agar semua yang sudah dikerjakannya bisa dipahami. Dengan cara yang sama.’melakukan’. ’adalah’. Dalam logika. ’mengetahui’. mengatakan ’ia sakit pada tahun 1930’ dalah memberikan suatu modalitas temporal kepada satu keadaan sakit. Bisa saja ada sutu subjek puncak. 1988:xxiv) dalam suatu diskursus naratif. modalisasi adlah yang mencirikan dan membatasi setiap situasi actantial yang memang selalu ada dalam situasi semacam itu. predikatnya adalah dalam cara kewajiban. Oleh sebab itu’ ingin untuk’.membentuk nilai-nilai dasar yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan eksistensi tertentu pada jagat semiotika mikro yang otonom: ’ingin untuk’ dan ’mampu untuk’ berkaitan dengan eksistensi pada tataran semu nilai modal. atau ditinjau dengan kritis. ’harus’. Bisa juga. namun ini tidakmenjadi bahan pemikiran semiotika selain ontologi. pada suatu semiotika struktural jenis Greimasian. Selain itu. yang ada hanyalah subjek yang dibentuk oleh tindakan diskursif itu sendiri. Mungkin penggunaan modalitas oleh Greimas lebih dekat kepad a pengertian linguistik karena ia ingin memberikan status aksiomatik pada pengertian ini. Seorang pelaku bisa sama dengan dua orang pelaku psikologis. seperti para pemikir strukturalis lainnya.’mampu untuk’. dalam sebuah pernyataan. misalnya sepasang suami istri yang bersama-sama membentuk fungsi yang sesuai dengan diungkapkannya suatu narasi. sebagai contoh. sebuah kota bisa menjadi actant. 1990:12). Greimas cukup cerdik untuk tidak mempsikologisasikan subjek diskursif. Istilah kunci pertama adalah ’modalitas’.

bukannya pada yang bersifat induktif (Lecthe. Oleh sebab itu. Hal kunci pada aspektualitas adalah kedudukan penting yang dianggapnya ada pada tubuh dalam kaitannya dengan nafsu dan perwatakan subjek. dan ketidakstabilan proses-proses yang sangat sulit untuk distabilkan. Isotopi memungkinkan berbagai unsur berbeda (makna. 2001:209). Capital de l a douleur. secara niscaya mereka tidak bersifat kontinyu. Lebih jauh lagi. Untuk menghadapi hal ini. Secara singkat. Oleh sebab itu. Sebagaimana ditunjukkan Ronald Schleifer dalam pendahuluan edisi terjemahan bahasa Inggris dari Semantique structurale.Greimas mampu memindahkan titik pusat perhatian semiotika darikalimat diskursus. tatapan saat kelopak mata terbuka hari saat fajar. yang menganggapnya mubazir. melalui pengertian tentang isotopi. Hal ini berbeda dngan pertentangan hierarkis ’permukaan/laten’. lebih dari upaya bertindak. Singkatnya modalisasi adalah upaya ’meletakkan’ bentuk suatu ’deklarasi aksiomatik’. ia didasarkan atas suatu prosedur hipotetiko-deduktif’. ’cinta hanya bisa diraih pada saat-saat pertama.untuk’berhubungan dengan tataran aktualisasi. isotopi terkait dengan tingkatan-tingkatan makna yang sejajar dalam suatu diskursus homogenyang tunggal. Greimas memperkenalkan istilah ’aspektualitas’ dalam telaah semiotika tentang nafsu. 1991:5). tindakan. suatu hal yang bisa mengawali bidang penelitian yang tampaknya bersifat sangat abstrak dan sarat pemikiran (cerebral) (Lechte. mereka tidak mampu memasukkan keadaan-keadaan yang kontinyu. kekusutan. kehidupan manusia saat masa kecil’. Di sini aspektualitas kelihatan dominan dalam puisi karya Paul Eluard. ketidaklengkapan. kaerna puisi ini lebih menitikberatkan ketidaklengkapan daripada ’nilai semantik yang diinginkan objek itu’. Modalisasi bersikap berlebihan dalam menentukan tindakan para actant yaitu subjek dalam diskursus naratif. Karena secara khusus mereka terkait dengan tindakan. jika modalitas datang dari suatu aksiomatik yang membangkitkan ketidakteraturan. ujaran) menjadi . 2001:2009). seperti pada nafsu dan emosi. dan lebih mirip dengan struktur permainan kata. atua kepada perwatakan modalisasi pada keadaan subjek’ (Greimas. ”Isotopi” adalah istilahpokok lain dalam kosa kata semiotika Greimas. puisi Eluard menghargai situasi permulaan. Terpinjam dari ilmu kimia (Greimas sering meminjam istilah dari ilmu-ilmu alam).

Sekarang kita coba mengkaji upaya yang dilakukan Greimas.terkait dengan satu diskursus yang sama. Sehubungan dengan pemisahan yang semiotik dari yang metafisis atau ontologis. yang darinya harus disusun suatu naskah yang homogen. tentang perikanan dan persahabatan). Meskipun begitu. dan tematis saat naskah ini menyarankan adanya pengetahuan yang berkembang di luar pengetahuan naratif (dalam kasus yang bersangkutan. Dalam telaahnya tentang cerita pendek karya Maupasant. pemahaman tentang. mungkin perlu kita ingat bahwa saat Greimas meninjau bagaimana suatu naskah yang sudah homogen (misalnya. ”paris” diskursif saat kalimat-kalimat yang dibuat secara independen dilihat merujuk pada subjek yang sama. maka Freud sering berhadapan dengan suatu kumpulan yang sangat heterogen. Yang diyakini Greimas dalam ”isotopi’ adalah bahwa pembedaan kandungan mimpi antara yang ’laten’ dan yang ’tampil’ menurut Freud dalam interpretation of Dreams sudah tidak berlaku lagi (Greimas. Hasilnya. 1990:112). sudah jelas bahwa secara metodologis kita perlu memeriksa komentar tentang akhir kisah secara terpisah dari yang mendahuluinya. Two Friends’) menjadi homogen.yaitu ’Two Friends’ (Lechte. 2001:2010). bila bahasa alami yang banyak mengandung penyelubungan metafisis harus menjadi sarana ilmu semiotika itu sendiri?. figuratif saat naskah menjadi sarana berbagai alegori atau perumpamaan. ”Two Friends”. yang . Tanpa menolak baik wawasan yang mendalam dari ’isotopi’ maupun kerumitan masalah. dalam kaitan dengan analisis Greimas tentang bagian akhir dari telaah semiotiknya tentang karya Maupassant yang telah disebutkan di atas. pertama dalam kaitannya dengan masalah yang meninjau pemisahan yang bersifat semiotik danmetafisis yangmuncul sejak awal dan kedua. ”Two friend’. Greimas yang menunjukkan bahwa suatu isotop bisa berupa aktorial saat kalimat yang mengungkapkan berbagai tindakan pada akhirnya menunjuk ke satu pelaku. kita bisa menanyakan hal apakah pemisahan ini memang layak. Bukti yang ditunjukkan oleh bahasa Greimas sendiri tampaknya mengakui kesulitan yang ada dalam hal ini. Terkait dengan telaah Greimas tentang karya Maupassant. yang ’tampil’ dan ’laten’ tampak menjadi berbeda dalam kedua kasus tersebut.

1990:59). kitalihat bahwa naskah yang dianalisis Two Friend” hanya terdiri atas enam halaman. bukan hanya naskah yang panjang. sedangkan naskah analisisnya hampir 250 halaman panjangnya. Lebih penting lagi adalah bahwa cara yang dilakukan dalam menganalisis akhir kisah membangkitkan keraguan tentang kejelasan pandangan penelitian Greimas. muatan baris terakhir ini menjadi kunci muatan emosional cerita ini. Ini adalah yang dituliskan Greimas dalam bagian yang terkait dengan baris terakhir kisah ini: ’Mengisap pipa’ jelas merupakan representasi figuratif dari keadaan tenang. Pertama. Setelah tertangkap oleh tentara Prussia (waktu itu sedang berlangsung perang Prancis-Prussia) pada saat sedang memancing. Eksekusi selesai. baris terakhir ini adalah unsur yang memberikan sumbangan pada sebagian diskursus naratif yang ingin dibangunnya. Bisa kita tafsirkan bahwa (karena tampak tidak bersatu dengan bagian sebelumnya atau mungkin lebih baik. Tampaknya mulai mempertanyakan kemungkinan praktis dalam melakukan analisis.karena tampak seperti begitu saja diletakkaamn) baris terakhri ini menjadi kunci muatan emosional ceritaini. yangmenjadi ciri khas upaya Greimas (Greimas. dua orang bersahabat ini (the two friends) ditembak karena dianggap menjadi mata-mata perancis. para pembaca bisa mulai bertanya-tanya apakah Greimas benar-benar telah meninggalkan keindahan linguistik yang mencirikan telaah tentang kalimat.akan diuraikan di bawah ini adalah garis baesar dari upaya untuk menganalisis karya Greimas secara keseluruhan. tetapi juga naskah yang lebih rumit. muatan yang dimunculkan oleh ketidakpedulian tanpa rasa iba sedikit pun dalam hati si perwira Prussia. namun dalam kaitan dengan kisah ini Greimas tidk meninjaunya sedikit pun. Di sini para pembaca akan terhenyak oleh adanya kontras yang tajam antara baris terakhir dengan yang mendahuluinya. Segera sesudah itu. Meskipun melalui penggunaan isotopi ia sering merujuk ke simbolisme Kristen dan yang lainnya. para baris terakhir tertulis: ”kemudian iamulai mengisap pipanya lagi”. tubuh mereka diberi beban dan dimasukan kedalam sungai tempat ikan yang akan mereka pancing. yang dicirikan dengan tiadanya gangguan somatik atau nologis. Bagi Greimas. Kontras semacam ini. Dalam . perwira Prussia yang memerintahkan eksekusi ini kemudian memerintahkan ikan yang ada untuk dimasak. Selain itu.

yang sekaligus disepadankan dengan upaya untuk menghindari penguasaan (maksudnya. kemungkinan yang dibentuk oleh modalitas. 9.terang ini ia berusaha menyingkapkan struktur yang menentukan kemungkinan adanya diskursus naratif. Setelah menyelesaikan sarjana tingkat pertamanya dan dengan rekomendasi yang diperolehnya dari Universitas Sofia. 207-211). dan melalui salah seorang staf perpustakaan ini ia mulai berhubungan dengan Gerard Genette yang menyarankan agar Todorov mengikuti seminar Roland Barthes di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales (Lechte. Oleh sebab itu. dan sebagainya. Tata bahasa ini akan menjadi suatu sistem yang implisit terdapat didalam diskursus narasi. Mekipun demikian. isotop. 211). Berdasarkan hal ini. lalu ia mulai membaca di perpustakaan universitas Sorbonne. pembingungan/mistifikasi) naskah oleh tata bahasa (Lechte. perjumpaan dan pergulatan pertama Todorov dengan karakter dan lingkungan konservatif Sorbonne pra-1968 berlangsung saat ia melamar untuk melakukan penelitian tentang teori sastra di fakultas sastra perguruan tinggi tersebut. semangat ilmiah yang berada di belakang proyek Geimas ini mensyaratkan adanya keterbukaan dalam upaya melakukan modifikasi teori bila menemui kesulitan. Tzvetan Todorov Sebagaimana halnya Julia Kristeva. ia masih mendominasi naskah ajar (tutor text) dan tampaknya inginmenjadikan naskah ajar ini sebagai sasaran kuncinya. Ia (tata bahasa) lebih mendahulukan strategi daripada aturan. 2001:239). sekalupun itu berarti bahwa semiotika struktural terpaksa harus menerima tandangan yang paling berat (Lechte. Tzvetan Todorov lahir di Bulgaria dan datang ke Paris pada tahu 1963. Hubungan dengan Barthes yang menjadi pembimbing dalam menyelesaikan doctorat de toisieme cycle pada tahun 1996 memungkinkannya untuk . Ia tidak mundur oleh penolakan ini. mungkin pada prinsipnya muatan emosional pad anaskah ini seharusnya ikut dikaji. tindakan kognitif dan pragmatis. Dekan fakultas tersebut menanggapi perminaan Todorov dengan dingin dan mengatakan bahwa ’teori sastra tidak dipelajari di fakultasnya dan tidak ada keinginan untukmelakukannya’ (Dosse: 1991:240). secara mendasar tata bahasa ini masih berada di luar sistem yang ingin diisolasikannya.

Todorov mengaitkan telah tentang makna dengan kerangka hermeneutik (yang berararti juga humanis). 1966: 126). Pada saat itu. 1966: 125). berjudul ’La description de la signification en litterature’ meninjau berbagai tingakatan analisis struktural dan menekankan bahwa dalam analisis struktural ini bentuk objek literer lebih utama daripada subtansi isinya yang terkait dengan semantik (Todoro. seperti para teoretisi struktural lainnya (misalnya Barthes dan Genette). Pada setiap kisah narasi terdapat berbagai tindakan atau peristiwa. 1964: 4).(Todorov. yaitu communications. 2001 : 240). Pendekatan ini mengarah ke sejenis telah yang dilakukan dalam Litterature et signification – buku yang didasarkan atas tesis doktoral Todov yang mengambil novel epistolari abad kedelapan belas karya Laclos berjudul Les Liaisons dangereuses sebagai naskah telahnya. bagaimana dengan makna (sens) karya ini secara keseluruhan? Mengatakan bahwa suatu makna itu bersifat relasional berarti bahwa unsurunsur makna ini membentuk suatu sistem: mereka tertata dengan cara tertentu dan tidak hanya berbentuk suatu kumpulan yang bersifat ad hoc. Apakah karya ini secara keseluruhan terlepas dari prinsip ini. Baru setelah karya-karya A. makna unsur-unsur ini ada dalam hubungan antara usnur-unsur tersebut. Salah satunya. Namun. jika memang demikian. Sambil menggemakan karya Genette tentang narasi (recit)Todorov terus melakukan analisis tingaktan ’kisah’ (historia) dan diskursus dalam artikel telaahan tersebut. Greimas dikenal secara luas. Di sini Todorov mengulang pernyataan bahwa ’uraian pada suatu karya serarah pada makna unsur-unsur karya sastra itu : kritikus sastra tampaknya berupaya memberikan interpretasi. sehingga maknanya bersifat khas dalam otonomi dan ketunggalannya? Todorov mengatakan tidak. namun . Dua artikel awalnya pun diterbitkan.mengembangkan artikel pada jurnal semiotika interdisipliner yang berpengaruh.J. ’Makna dari ’Madame Bovary harus dipertentangkan dengan sastra romatik’ (Lechte. suatu pradigma struktural kemudian bisa dikaitakn dengan bidang semantik. makna sutu karya (berlawanan dengan interpretasinya) datang dari hubungannya dengan karya-karya lain yang ada dalam sejarah sastra. Satu artikel penting lainnya artikel awal Todorow yang menunjukkan pengaruh formalis Rusia adalah ’Le categories du recit litteraire’ (Todorov.

Todorov menunjukan bahwa : (1) segala tindakan dalam suatu narasi itu tidak bersifat sebarang. baik sebagai laku bahas (enonciation) yang memunculkannya gaya dan subjektivitas maupun sebagai sebuah kisah (enonce). narasi. Todorov juga tertarik untuk melakukan analisis waktu. Todorov merangkum pandangan banyak kaum teoretisi strukturalis generasi tahun 1960- . Dengan menggunakan Les Liaisons dangereuses sebagai contoh. dan objektivitas (atau narasi sebagai penyebutan atau tindak linguistik yang lengkap) pada suatu naskah tertentu. dan (3) di sini tidak mungkin mengisolasi tingakatan tindakan dalam rangka melakukan analisis padanya bisa ’tindakan’ yang berlangsung dalam suatu narasi itu setara dengan keragaman situasi psikologis para pelakunya seperti yang berlangsung dalam Les Liaisons dangereuse (Lechte. Litterrature et signifacation (1967). (2) sebuah narasi bisa memiliki lebih dari struktur yang muncul saat dua model yang berbeda bisa berjalan sama baiknya dakan analisis ini. Seperti Genette. Tindakan dan peristiwa tersebut membentuk suatu kerangka yang sering agak rumit dan kemudian menyatu pada satu krtitik. Meskipun demikian. Secara umum. Hanya bila tingakatan-tingakatan peristiwa dan tindakan dipelajari dengan cukup memadai. Segala proses ini harus tetap reatif tidak tampak bagi para pembaca agar narasi ini bisa tampil sebagai kisah yang penuh intrik. apakah dalam setiap novel ada kisah semacam ini? Todorov mengatakan ini adalah kisah yang diciptakan novel itu sendiri. Todorov mengembangkan analisis tentang les Liasions dangereuses yang dimulai dalam artikelnya yang dibuat pada tahun 1966. Dengan merangkum pandangannya dalam literature et signification.tidak berlangsung dengan mengikuti suatu krologi ideal. Todorov berupaya memperjelas berbagai proses (procedes) yang memuncukan narasi. Dalam bukunya. kita bisa mempelajari logika dari segala jalinan ini. Proses-proses ini juga setara dengan fungsi atau makna (sens) setiap unsur yang ada dalam narasi itu. subjektivitas (atau konteks atau proses narasi). Bahkan pada inti argumennya terdapat sebuah genre (jenis) yang didasarkan atas berhasilnya harapan melalui peniruan saat novel epistolari ini didasarkan atas seumlah proses yang ada di dalam struktur novel. 2001: 240). tetapi mengikuti logika tertentu.

perbedaan antara fiksi dan non fiksi menjadi problematis bila karya fiktif ini dilihat sebagai proses penciptaanya sendiri karena sekarang fakta dari fiksi ini (yaitu yang berupa non-fiksi) tampaknya menjadi sifat pokok dari fiksi (Lechte. pengaruh Romantisme tidak bisa dihindari. Bakhtin menjadi suatu titik balik dalam seluruh pendekatannya pada teori sastra. setiapnovel. Pada satu tataran. ceritanya sendiri”. Saat Todorov berbicara tentang pencarian makna akhir suatu karya yang berada di luar karya itu sendiri yaitu pencarian makna yang berada di luar eksistensi karya yang bersangkutan secara implisit ia mengambil jarak dari pendekatan hermeneutik pada naskah. Pada tahun 1981. Dengan cara ini. tentang strukturalisme. upayanya untuk membaca kembali oeuvre.an. dan literatur tentang yang fantastik semua didasarkan atas pengertian tentang otonomi relatif dari naskah literer arah oeuvre Todorov mulai berubah ke telaah sejarah dan teori tentang simbol. bila pada tahun 1960-an Todorov menggunakan formalisme ataumelalui strukturalisme sebagai cara untuk menolak pendekatan terhadap realisme sosial yang benar secara ideologis. Cukup menarik bahwa setelah membuat tulisan yang cukup berpengaruh tentang Decameron. Todorov kembali ke para pembimbing formalis Rusianya saat itu ia lebih banyak melakukan penafsiran terhadap pemikiran mereka daripada memasukkan metode-metode formalis mereka ke dalam karyanya. Pencarian makna akhir ini akan sia-sia karena ’makna suatu karya adalah untuk mengungkapkan dirinya sendiri mengisahkan eksistensinya sendiri kepada kita’ (Todorov. Hal ini tampil dengan bagus dalam surat terakhir dari Les Liaisons Dangereusses yang menjelaskan penerbitan kumpulan surat yangmenyusun novel ini. pendekatan yang sering diarahkan untuk menangkap pesan akhir naskah (yang sering bersifat ideologis). 1991:49). Todorov berpendapat bahwa bahkan dalam zaman strukturalis sekalipun. mengisahkan kembali kisah penciptaannya. ia lalu menulis: ”Melalui rangkaian peristiwa setiap karya. akan tetapi. Todorov paling menghargai aspek ’antropologi filosofis’ dalam karya Bakhtin yang memikirkan masalah . Maka dari itu. maka pada awal 1980-an Todorov mulai berusaha mempergunakan kerangka yang lebih bersifat interpretatif yang ditujukan untuk melawan pendekatan apolitis pada analisis tekstual formal. 2001:241). fakta dari kaya fiktif ini bukan suatu fiksi.

diri pribadi dengan yang lain. Ini adalah sebuah telaah yang penuh pengabdian telaah yang dilakukan oleh seorang moralis yang memikirkan hubungan antara orang-orang Eropa dengan Indian. 1991:107. yang hanya cocok untuk menjadi budak bangsa Eropa. ini berarti bahwa perilaku Columbus bisa diramalkan: ia bertemu dengan yang lain melalui prasangka kulturalnya (termasuk religi). Bisa juga. 2001:243). sesudah Dostoyevski. yang tidak bisa menangkap ’yang lain’ ’penolakan kesatuan yang ada pada ’saya’ memiliki pasangannya dalam pengakuan status baru ’engkau pada yang lain’. jika Columbus memiliki tingkatan sadar dan tidak sadar. dan Nous et les autres (1989). Orang-orang Indian dilihat dan diperlakukan sebagai binatang liar. ’yang lain’ dalam prinsip dialogis yang diartikulasikan oleh Bakhtin menduduki tempat yang sangat penting. Seperti yang sering ditunjukkan Todorov. Dari sini a berpendapat bahwa pandangan mendasar pada Bakhtin adalah menyadari tidak adanya karya seni. Bagi Todorov. yang lain’ tidak lagi menjadi obek. dan mengubahnya menjadi suatu dialog naskah yang mengetahui dan agar diketahui? (Todorov. Diawali dengan usulan bahwa peneliti harus dilihat sebagai yang terkait di dalam objek telaah harus mengalami dialog dengannya Todorov mulai melakukan sederetan penelitian yangmelihat bagaimana searah dan kultur Eropa dan Perancis saling terlibat satu sama lain. orang-orang Indian diserang diperlakukan sepergi ’aning buduk’ dalam . ”Akan tetapi.tentang ’yang lain’. yang penting adalah mengetahui bagaimana hal ini berpengaruh pada sikapnya saat ia benar-benar bertemu dengan orang-orang Amerika Tengah. identitas dan perbedaan. Kemudian Todorov bertanya. Pada satu tingkat. suatu cara yang sangat khas dan tidak berubah dalam memahami kehidupan (termasuk pandangan tentang apa yang akan ditemuinya di belahan dunialain). Dalam The Conquest of America Todorov menganalisis dan melakukan interpretasi dokumen tentang Columbus dan penemuan benua Amerika pad tahun 1492. Oleh sebab itu. Dua tulisan yang penting di sini adalah The Conquest of America (1982). tetapi menjadi subjek. Pandangan ini diperoleh Todorov dari Dostoyevski melalui karya-karya Bakhtin lebih lanjut. Lechte. bukankah ini adalah ciri pokok pengetahuan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan seperti yang telah diuraikan Bakhtin. yaitu tidak berhubungan dengan objek-objek ’bisu’ ilmu alam.

Todorov ingin menampilakn dua aspek dalam penaklukan Amerika. Di sini Todorov berpendapat bahwa orang-orang Spanyol memenangkan perang penaklukan atas pimpinan Hernando Cortes sebagaian besar karena para penakluk itu mampu bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan. dan ia memanipulasikan situasi yang ditemuinya demi keuntungannya (Todorov. Meskipun dipengaruhioleh keyakinan Kristen. sedangkan secara berjarak diidealkan sebagai orang liar yang mulia. Ia tidak hanya mengandalkan informasi yang datang dari para informannya. Cortes memupuk ilusi kaum Aztec bahwa ia adalah seorang dewa. abad penaklukan. pertama ia ingin menunjukkan bagaimana tanda dan inerpretasinya. Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang kultur orang Aztec dan ini adalah hal pokok kedua yang bisa dipikirkan dalam hubungan dengan . Orang-orang Aztec ini menyandarkan diri pada nubuat dan pemahaman tentang nasib yang terkait erat dengannya. dan suatu ketika ia menipu para penduduk asli pulau yang sekarang adalah kepulauan Bahama agar mereka berpikir bahwa mereka akan dibawa ketahan terjanji milik para nenek moyang mereka. dan mengambil perwatakan psikologis yang negatif dalam hubungannya dengan itu. seperti yang dikatakan Kitab Suci. Cortes berusaha mendapatkan informasi tentang dan dengan demikian memahami cara hidup orang yang akan dia perangi. ’pada saat yang sama alteritas manusia ditolak sekaligus diterima’ oleh orang-orang Eropa. tidak seperti orang-orang Aztec. Sebaliknya. Menurut Todorov. tetapi ia juga mempergunakan mitos-mitos orang Aztec dalam sebuah muslihat yang bertujuan untuk menyesatkan musuhnya. bahasa dan komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam kontak yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol dan Aztec pada abad keenam belas. Sebagai contoh. Singkatnya. Moctezuma dan orang-orang aztec terbelenggu oleh pandangan tentang dunia yang tergantung pada upaya membaca masa kini secara kaku melalui prisma masa lalu. saat mereka diadikan budak oleh Cortes ini. Oleh sebab itu. 1984:49). Cortes berusaha mempelajari bahasabahas orang-orang yang dijumpainya ini dengan banyak cara.pertemuan nyata. orang-orang Aztec melihat kedatangan orang-orang Eropa sebagai suatu pertanda buruk. Cortes menyadari pentingnya bahasa dan pengetahuan tentang kultur Aztec.

Dalam kesimpulannya. Dialog ini mensyaratkan adanya kualitas lain. semakin ini direalisasikan. Todorov meninjau tema-tema tentang ras. di mana ’saya’ dan ’kamu’ muncul bersama-sama. di mana suara yang lain bisa didengar dengan cara tidak mendengarkan suara kita saja atau dengan cara tidak membungkam suara orang lain. ke relativisme yang merangkum semuanya (yang lain adalah segalanya dan diri . Dialog sejati. jelas bahwa Cortes berperanan dalam menghancurkan kultur Aztec. dialog seperti inilah yang bisa dan mungkin dilakukan. salah satu pendirian Todorov yang bisa diperdebatkan adalah bahwa ia menyebutkan peradaban Barat (baca: Eropa) sebagai asal usul dialog dan karya penulisan. Walaupun tokoh ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa kultur Eropa itu lebih tinggi derajatnya daripada kultur-kultur lain. Montalgne. Di sini yang paling manarik Todorov adalah bagaimana berbagai pengarang menunukkan rasa kepercayaannya kepada perenungan gaya Perancis tentang keanekaragaman manusia mulai dari etnosentrisme yang merangkum semuanya (yang lain dianggap sebagai objek). Tocqueville. Meskipun ia mampu melakukan pengenalan dan pemahaman tentang ’yang lain’ perjuangan Cortes ini akhirnya membawa kehancuran bagi suku Aztec. Todorov menegaskan lagi komitemennya pada prinsip dialog menurut Bakhtin. Renan. Kengerian tentang hal ini mencapai puncaknya selama berlangsungnya kolonialisme Spanyol. dan tidak mampu melihat laan mereka sebagaimanusia seperti mereka. dan lain-lain. Chateaubriand. semakin banyak ia menghasilkan kemampuan untuk melakukan improvisasi menghadapi situasi sebagaimana adanya dan bertindak dengan tepat. bangsa. Dialog adalah pengakuan prinsip Rimbaud bahwa ’saya adalah yang lain juga’. Gobineau. Saat itu antara tahun 1500 dan 1600 mereka tidak hanya diperbudak. Dalam karya berikutnya nous et les autres (diri sendiri dan orang lain) tentang dialog antara diri dan orang lain. serta kemampuan improvisasi yang dibawa oleh karya penulisan ini. Ini karena orang Spanyol termasuk Cortes hanya tertarik pada emas. Autaud. masih tidak jelas apakah maksud ini sudah direalisasikan atau belum. tetapi juga populasi Amerika Selatan yang pada saat itu berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya satu juta jiwa saat penduduk dunia baru berjumlah 400 juta jiwa. Walaupun begitu. tulisan-tulisan yang universal dan eksotik dalam karya berbagai penulis Levi-Strauss.penaklukan ini.

Di sini ada banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan kepada Todorov. tampak bahwa ia memang lebih siap untuk melakukan analisis semiotik pad anaskah daripada menangani masalah-masalah filosofis dan mora. sya masih memiliki kemungkinan untuk terdcerabut darinya. Levi Strauss mewkili pandangan kedua. Sedangkan menurut Todorov. apakah ini tidak berarti bahwa pada individu ini terdapat kebebasan terhadap kemanusiaa? Apakh tidak mungkin terjadi suatu keadaaan di mana seorang individu memilih satu nilai yang ada dalam masyarakat? Bukankah ini lebih tepat sebagai soal pilihan moral atau politik yang konservatif? Singkatnya. Karya-karya ini secara sebagian bisa dipertentangkan dengan Frele Bonheur. dan Face a l’extreme (1991) tentang naiz dan totaliteranisme komunis (Lechte. melainkan ia Cuma memberikan jawaban atas masalah-masalah filosofis yang rumit secara tidak lengkap dalam buku yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman kontemporer mengenai interaksi antara diri pribadi dan yang lain. bukannya Todorov tidak membangkitkan hal-hal penting dalam nous et les autres. Todorov terus menulis tentang sifat dan kritik sastra dalam karya seperti Critique de la critique (1984) dan La Nation de la litterature (1987). Karena Todorov biasanya bersikap hati-hati untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap sehubungan dengan rasisme. Sebagai contoh. dapatkah seseorang berbicara tentang kebebasan dalam kaitannya dengan manusia sebagai suatu spesies tanpa jatuh ke dalam biologisme? Apa bentuk hubungan yang sejati antara kemanusiaan dan individu? Jika kebebasan adalah khas pada individu. Renan dan Barres adalah orang-orang yang mewakili pandangan pertama. ia bersandar pada pengertian apriori bahwa pada dasarnya kebebasan manusia sebagai suatu spesies adalah masalah pribadi: ’dikatakan bahwa kebebasan adalah ciri khas spesies manusia. essai sur Rousseau (1985) yang berupaya untuk menangkan intensitas pemikiran Rousseau. Dalam masa antara penerbitan Conquest of America dan Nous et les autres. . Jelas bahwa lingkungan saya mendorong saya untuk mereproduksi perilaku yang diunggulkannya akan tetapi. dalam membahas pandangannya tentang ’humanisme yang berkelakuan baik’. 2001:244). kolonialisme atau universalisme.sendiri bukan apa-apa).

dialektika antara tataran mimetik (istilah Peirce: tataran kebahasaan. Michael Riffaterre Nama Michael Riffaterre sebetulnya tidak begitu tersohor jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh semiotika atau strukturalisme lainnya. Dalam karya inilah Riffaterre mendeklarasikan sebuah pengertian puisi yang tidak sekadar membawa nuansa baru. 2001:245). Riffaterret (Budiman. Pokok-pokok pemikiran Riffaterre dalam semiotika adalah apa yang kreap disebut-sebut para ahli sebagai ’a dialectic between text and reader’. yakni sintesis pengalaman membaca dari seumlah pembaca dengan kompetensi yang berbeda-beda. Kelompok ini diharapkan daat mengungkap potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika. (2) adanya ketaksaan. yaitu bahwa sebuah puisi mengatakan sesuatu yang berbeda dari makna yang dikandungnya (a poem says one things and means another). 1997:62). Pertanyaan terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah apakah ketegangan ini seharusnya memang ada ataukah justru dinafikan saja (Lechte. 10. dan (3) sebuah teks memberi peluang bagi pemaknaan unsur-unsur bahasa yang tidak bermakna seandainya berada diluar teks tersebut (creating) (Sobur. Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan ganya. mana denotatif) dan tataran semiotik (istilah Peirce: tataran mistis. Pertentangan antara arti. Riffatere memperkenalkan istilah Superreader. 2001:22) menyebut gerakan atau strategi ini dengan ketidaklangsungan (indirection). namun juga membuatnya lekat dengan semiotika. 2004:86). yang terjadi karena (1) sebuah tanda bergeser dari satu makna ke makna lain atau berfungsi mewakili tanda lain (disflacing).Secara umum. yang mungkin hanya dipahami dengan referensi lain di luar teks (Taum. oeuvre Todorov cukup menarik dan penting sehubungan dengan ketegangan antara keketatan analisis struktural yang diberikannya dengan tulisan tentang komitmen moral tulisan Todorov dalam tahap poststrukturalis. maka konotatif) serta pada pihak lain dialektik antara teks dan pembaca. (meaning) dan . kontradiksi atau kekosongan makna (distorting). Namanya mulai dikenal terutama sejak ia menerbitkan bukunya semiotic of Poetry (1978).

Hipotesis yang merupakan landasan analisis Riffaterre terhadap ’les chats’ adalah bahwa ’fenomena puitik. maksud karya sastra adalah arti yang dihubungkan dengan konsep. dan interteks. Superreader ditanggapi secara serius oleh Jakobson dan Levi-Strauss (196) tentang puisi Baudelaire yang berjudul ”Les Chats’. dan bersifat kias. tetai seluruh tindakan komunikasi’. Metodologi analitik yang diadopsi oleh Roman Jakobson danLevi-Strauss secara mendasar denga metodologi Riffaterre. yaitu teks dan pembaca. Akant etapi.makna (significance) memainkan peranan yang sangat menentukan. seperti dikutip Rien T. sedangkan perspektif Riffaterre adalah pembaca (ideal) (Sobur. Dalam kasus ini superreader Riffaterre adalah Baueelaire sendiri (yang memutuskan untuk menganalisis soneta dalam Les . Bauer (1972) dan Ponser (1972). Di samping itu.objektif dan umum. Jika tanpa adanya bukti-bukti. Hal ini disebabkan bahw pembaca merupakan satusatunya pelaku yang menciptakan pertalian antara teks. sedangkan pendekatan Riffaterre disebut sebagai analisis resepsi. yang bersifat linguistik. Hal ini jelas bahwa perspektif penelitian Jakobson dan Levi-Strauss adlah teks. majas. seseorang (tokoh atau pelaku). subjektif dan khusus. 1993:29-30). bukanlah melulu suatu pesan. penafsir. Segers (2000:47) menyebut pendekatan Jakobson dan Levi –Strauss sebagi suatu analisiss struktural deskriptif. Adapun karya sastra selalu berhubungan dengan amanat. Pertama-tama Riffaterre ingin menganalisis proses resepsi yang didasarkan pada seorang pembaca ideal atau superreader. Didalam melakukan komunikasi dengan karya sastra. Berdasarkan alasan inilah Riffaterre mengkritik model komunikasi Roman Jakobson tentang pesan estetiknya. dalam menurunkan arti ke dalam makna mestilah dilakukan dengan adanya bukti-bukti berdasarkan fakta yang ada. maka manka yang ditangkap itu akan bergeser dan berubah-ubah (Santosa. 2004:88). dalam batinnya uga berlangsung transfer semiotik dari tanda yang satu ke tanda yang lain secara terus menerus. pembaca sesungguhnya dituntut untuk menemukan makna yang dikandung karya itu secara kreatif dan dinamis. sebuah puisi. ada dua faktor yang penting. Arti karya sastra selalu berhubungan dengan tema dan bersifat lugas. Manakala sebuah teks analisis.Jadi. situasi dan sebagainya telah terimajinasikan.

2004:8). ia mungkin menyadari benar-benar proses resepsi ini. Riffaterre tidak dapat menenggelamkan dirinya sendiri dalam karakteristik tekstual yang amat banyak karena hanya karakteristik dan menerangkan pengalaman tertentu itu yang dipertimbangkan. Ia tidak menilai struktur. Roland Posner (1972). 1966. tidak semua ada dalam analisis Riffaterre. dikutip Fokkema & Kunne-Ibsch. melainkan menyusun kelompok penilaian yang sudah pasti (Sobur. yang mengkritik metode Jakobson dan Levi –Strauss dan menanggapi analisis mereka terhadap ’les chats’ dengan interpretasinya sendiri. menekankan keuntungan perspektif pembaca dalam interpretasi Riffaterre. seperti dikutip Segers (2000:48). ia mampu mengambil sikap subjektif terhadap teks. tetapi bermacam-macam struktur. faktor waktu memegang peranandalam proses membaca. aneka penerjemah puisi. kritikus (termasuk Jakobson dan Levi-Strauss) karya Larousse Dictionnaire du XIX-eme slecle untuk kutipan soneta-soneta dan informaninforman seperti murid-murid Riffaterre. ia membuatnya tergantung pada persepsi pembaca selama serangkaian waktu dalam prsoes membaca. Menurut Posner.fleurs du mal). Riffaterre. Keuntungan lebih lanjut analisis Riffaterre adalah penekanannya pada intersubjektivitas. Gautier (yang mempara frasekan soneta). karena konsentrasi superhuman-nya. menurut Bauer (1972. 1998). melainkan pembaca yang ditandai oleh penilaian yang ketat. Kontras muncul ketika harapan pembaca mengenai struktur repetitif terbukti salah dan kemungkinan meramal diperkecil. Pembaca super mensintesiskan beberapa sikap komunikasional dan dia memiliki informasi-informasi yang maksimum. Pada tempat pertama. Karena dia tidakmempunyai hubungan dengan dunia nyata. dalam Segers. Masalah yang tampaknya tidak dapat dipecahkan dalam pendekatan Jakobson. Tanpa menolak prinsip ekuivalensi (riffaterre ternyata memerlukannya untuk menetapkan pola-pola harapan). ”Riffaterre tidak menggolongkan unsur-unsur teks abstrak. memasukkan faktor waktu dalam kedua aspeknya. Riffaterre menggunakan konsep ’pengalaman kontras’ dalam menentukan struktur puitik oleh pembaca: ”Setiap hal dalam teks yang mengajukan pembaca super (superreader) secara tentatif dianggap sebagai komponen struktur puisik’ (Riffaterre. Ia tidak menilai struktur. 2000). Bila pengalaman .

bisa dilukiskan sebagai berikut: dua orang yang pertama mengumpulkan sebanyak mungkin potensi relasi ekuivalensi. bagi yang sepenuhnya setuju dengan prinsip ekuivalensi. Berkenaan ddengan prinsip ekuivalensi. Namun. 1998). Berhasil dalam pengertian bahwa analisis tersebut menyajikan demonstrasi yang menyakinkan mengenai jalinan yang luar biasa yang oleh mereka bagian-bagian uaran dijaga kesatuannya. yangd iharapkan memberi tekanan pada bentuk pesan. (Sobur. kontak ini menentukan akseptabilitas obersvasi ekuivalensi dan kepentingan estetisnya. seperti dikutip Fokkena & Kunne-Ibsch (1998:99). sekurangkurangnya harus ’tampak’. Penekanan pada bentuk bahasa yang diperlukan demi efek puitik. puitik. dalam Fokemma & Kunne-Ibsch. menurut Riffaterre ia bisa mempengaruhi makna secara retroaktif. Bekerja dari pendirian tersebut (Riffaterre harus menolak dua pembagian yang telah disebut diatas (Fokemma & Kunne-Ibsch.kontras terjadi. perbedaan antara Jakobson/Levi-strauss dan Riffaterre.” Bagi Riffaterre yang penting. 1998:98). dan karena itu konstituen-konstituten ini harus tetap berbeda dari struktur. pengaruh ini tampak jelas: ”Maka. seperti dikutip Fokemma dan Kunne Ibsch dan di sini fokusnya terhadap pembaca tidak bisa diragukan lagi ia mempunyai keberatan mengenai ekuialensi yang menghindarkan persentibilias. Analisis Jakobson dan Levi-Strauss terhadap ’Les Chats’ oleh Riffaterre dianggapberhasil (Fokemma & Kunne-Ibsch. sedangkan Riffaterre berkeinginan untuk hanya memikirkan relasi- . terutama yang terakhir. menggelora lagi untuk memodifikasi apa yang telah kita rasakan sebelumnya’ (Riffaterre. keseluruhan data dan epngetahuan akhir. Pembagian menjadi tiga dan empat seperti yang dilakukan Jakobson dan Levi-Strauss. 1998:99) ”Pembagian tiga dan empat. jika tidak. patut dicontoh dalam kurangnya perseptibilitas ini. menurut pendapatnya. 2004:89). menggunakan konstituen yangmungkint idak bisa dirasakan oleh pembaca. dalam teks yang telah dirasakan. seperti kata Fokkema& Kunne-Ibsch. lebih memaksakan. sekalipun keberatankeberatan itu mungkin dalam pengertian yang sangat teoritis. menurut Ruwet (1968). 1966. adalah kontak antara teks dengan pembaca. Setelah pemenuhan proses membaca. untuk membuatnya lebih tampak. itu tidak relevan.

Dengan cara itu. 2000:48) menanyakan apakah tidak lebih benar mendasarkan analisi pada seumlah pembaca real (dan bukannya pada seorang pembaca super) danmenyelidiki respons-respons mereka mengenai teks sebagai suatu kelompok. dan secara teoritik tidakmenentu. yaitu menyejajarkan enam faktor bahasa dan enam fungsi bahasa. Model komunikasi sasra Jakobson yang demikian itu dapat menghilangkan relevansi sosial budaya. Potensi kebahasaan sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia.relasi ekuivalensi yang direalissir. analisislinguistik pad asalah satu pihak tidaklah cukup dan pada pihak lain dapat melampaui batas kemampuan seorang pembaca. kritik ini tidak diterapkan pada analisis resepsi historis. Dibandingkan dengan analisis deskriptif dari Jakobson dan Levi-Strauss. Di sini Jakobson hanya memperhatikan aspek kebahasaan dalam artian yang terbatas saja. Posner menunjukkan bahwa analisis ini testabel hanya sampai tingkatan tertentu. . yait berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca susastra. Dalam kesempatan ini pembaca mempergunakan segala kemampuan dan pengetahuannya yang ada pada dirinya. lepasdari arti kata tidaklah cukup. karya sastra lebih dari pada struktur bahasa dan menonjolkan karya sastra sebagai sarana komunikasi dan berfungsi sebagai koneks stilistika yang sama dengan koneks harapan pembaca. Michael Riffaterre (1978. Riffaterre menemukan pemecahan hierarkisasi.90). Oleh sebab itu. dengan mengabaikan aspek-aspek lain. 2004:89. Akant etapi. yaitu untuk menentukan apa yang relevan dengan fungsi puitik karya sastra. Lagi pula. dalam Santosa. Pola harapan pembaca ini ditentukan oleh segala ssuatu yang pernah dibaca atau didengarnya sehingga susastra mendapatkan maknanya secra menyeluruh (Sobur. 1993) tidak setuju dengan model komunikasi sastra yang diaukan Jakobson. ada pula kerugian yang berkaitan dengan analisis resepsi Riffaterre (segers. 2000:48). seseorang dapat menanyakan bagaimana pembaca ideal dikonstruksikan dan elemen-elemen mana yang harus dimiliki atau diikatnya. Lebih jauh Riffatere menjelaskan bahwa yang menentukan makna sebuah karya sastra adalah pembaca secara mutlak. Selanjutnya ia mengemukakan alasan bahwa materi Riffatere telah dirakit dengan menggunakan kuesioner sehingga dasar dan hasil analisis resepsi dapat dicek. Bauer (dalam Segers.

dalam membaca sebuah puisi atau figur verbal apa pun. for it may tell us much about potry’s being more of a game than anithing else”) (Sastrowardojo. Semiosis adalah lawan dari mimesis (Budiman. puisi itu tidak lain daripada sekedar permainan belaka (”This is an extreme case but exemplary. Dikatakannya bahwa penyerupaan dengan kenyataan (mimesis) dalam sajak atau puisi sangat palsu dan semu (quite spurious and illusoryi). melibatkan suatu tilikan ke arah struktur paradigmatik yang mengelilingi kata-kata dan struktur inertekstual yang mengelilingi suatu teks puitik. seorang penafsir akan menemukan bahwa pembacaan yang bersifat ’harfiah’ atau mimetik tidak akan memadai.Bagaimana pokok pandangan Riffaterre terhadap puisi? Ahli semiotika. misalnya saa Barthes. (1988:15) sebagai berbelit-belit Riffaterre berkesimpulan bahwa bersajak adalah bermainmain dengan kata belaka seperti dalam kecantikan. apakah itu . yakni tanpa isi. proses pembacaan figuratif. katanya. pernah menyatakan bahwa secara ekstrem dapat dikatakan. yang menjadi wadah dari kesastraan (literatiness). Sebaliknya. tempat sajak merupakan suatu bentuk yang sama sekali kosong dari ’pesan’dalam arti yang biasa. sedangkan apa yang dikatakan di dalam sajak adalah kosong dari isi atau pesan. Ditemukannya pada sajak-sajak penyair Prancis itu bahwa ’pertentnagna yang mendasar. moral atau filsafat’. 1999a:107). sedang tanda itu suatu rujukan kepada kata ’nothing’. diwujudkan hanya demi pembentukan tanda (semiosis). Bagi beberapa ahli semiotik lain. yang dinamakan sebagai semiosis. suatu bentukan yang tiada lain daripada senam indah kata-kata (a calisthenics of words). Pada titik itu sajak adalah suatu bentukan (construct) yang seakan-akan tiada lain kerjanya daripada bereksperimen dengan tata bahasa teksnya. 2004:91). yang selalu disebut-sebut dan dipuji-puji teori nya itu oleh pakar-pakar sastra di Indonesia. kekosongan. semiosis merupakan sinonim bagi signifikasi (Budiman. emosi. 1988:14). Di dalam pernyataannya yang dikatakan Subagio Sastrowardojo. suatu kesibukan perakitan kata-kata (a verbal setting-up exercise) (Sobur. sekurang-kurangnya sepanjang kesastraan itu terwuud dalam puisi dapat sampai pada titik. atau barangkali dengan gambaran yang lebih baik. 1999a:107). Ia sampai kepada kesimpulan yang belaku secara umum itu tentang puisi setelah mempelajari sajak-sajak Stephane Mallarme.

di luar linguistik. Diantaranya adalah pembaitan. Riffaterre berbicra dalam kaitannya dengan pemaknaan puisi. persajakan (rima). Tipografi dan homologues. untuk mempengaruhi dunia gaib. yaitu penggantian arti (displacing of meaning). Penciptaan arti menurut Riffaterre merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mepunyai arti. metafora dan metonimi ini dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pad umumnya. penyimpangan arti (distorting of meaning). disebabkan oleh paradoks atau ironi. Ambiguitas disebabkan oleh bahasa sastra itu berarti ganda (polyinterpretable). yaitu simile (perbandingan). dalam Pradopo. penciptaan arti ini merupakan organisasi teks. Nonsense adalah kata-katayang secara linguistik tidak mempunyai arti. enjambement. Penggantian arti menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonomi dalam karya sastra. moral atau filsafat. Jdi. dengan cara lain. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimi itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga untuk mengganti bahasa kiasan lainnya. yaitu arti sastra karena konvensi sastra. jadi. dan alegori. Nonsense itu untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis. ketaklangsungan ekspresi yang tidak langsung. 2001:75) disebabkan oleh tiga hal.perasaan. senekdoki. Kontradiksi ialah mengandung pertentangan. yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secra tidak langsung. dalampuisi nonsense itu mempunyai makna. misalnya konvensi mantra. dan nonsense. Ketidaklangsungan ekpresi itu menurut Riffaterre (Pradopo. tetapi sesungguhnya dapat dikenakan juga pada prosa. yaitu ambiguitas. kontradiksi. tetapi menimbulkan makna dalam sajak (karya sastra). Dikemukakan oleh Riffaterre (1978. .t idak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. Itulah bagi Riffaterre ciri umum atau hakikat puisi. perbandingan epos. 2001:74-75) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. dan penciptaan arti (creating of meaning) (Sobur. sebab hanya berupa rangkaian bunyi tidka terdpat dalam kamus. Akan tetapi. lebih-lebih bahasa puisi. personifikasi. Penyimpangan arti menurut Riffaterre disebabkan oleh tiga hal. 2004:92).

Ia kian yakin pada kesimpulannya bahwa filsafat adalah semacam bentuk sastra literatur (Grenz. Peirce. ia tertarik mempelajari filsafat. dilahirkan pada 1930 dalam keluarga Yahudi di El Biar. Jacques Derrida Jacques Derrida. 2001:222). 2004:86-92). Gagasan-gagasannya tentang kritik sasatra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra. Derrida memutuskan tidak menulis tesis ini untuk mencapai gelar doktor. tidaklah berlebihan. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi dasarnya. Paris. Jacques Derrida adalah filsuf postmodern yang paling akuran. ’kata Satnley J. untuk bisa memberi makna sajak secara semiotik. maka Derrida adalah penafsir postmodern yang terpenting tentang Nietzsche. telah tersirat dalam ’semiotika’ Charles Sanders. Jika Foucault adalah murid Neitzsche yang paling seati. 11. Grenz (2001:221). khususnya dalam hubungannya dengan literatur. Ia pergi dari rumahnya ke Prancis untuk menjadi anggota militer. Pembacaan hermeneutik dlaah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya (Sobur. Britihs Columbia. Bancouver. Akan tetapi. 2001:84). seorang Pioneer McDonald dan profeson teologi dan etika di Regent College. Riffaterre berpendapat. Sementara studinya semakin mau. Pembaca yang jeli akan segera mengenali bahwa melalui gagasan-gagasan tentang intterpretant dna rantai abadi semiosis banyak argumen yang mesti diabuat Derrida berkenaan dengan teorinya tentang tanda. pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Pradopo. ia tetapi tinggal di Perancis untuk studi ke Ecole Normale Superieure (ENS). Setelah menyelesaikan tugasnya. Apa yang dikatakan Grenz. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. meskipun .Menyinggung soal makna sajak. Sementara menyelesaikan gelar sarjananya. Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik seauh ia berhubungan dengan bahasa dan makna. Pembacaan heuristic adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konensi (sistem semiotik tingkat pertama. Ia menyadari permasalahan yang ada dalam ilmu filsafat. Al Jazair.

kata cobley dan Jansz. ada yang melakukan kampanye menolak penghargaan akademik yang hendak diberikan kepadanya di Cambridge. Hegel. Ia dengan tekun mempelajari karya-karya filsafat tokoh-tokoh besar. Ia seringkali juga disebut sebagai post strukturalis. Bahkan. Derrida sering mendapat hambatan dari masyarakat akademik Inggris. dan Aristoteles. meskipun dalam bentuk yang sudah diacak-acak. meski ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis (Sumaryono. pada 1992. selama 1970-an dan awal 1980-an. ’barangkali cara penafsiran Derrida memang cocok dengan atmosfir Amerika’.dia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf atau sastrawan (Derrida. 1993: 109). Ia mengandaikan para pembaca tulisannya adalah orang-orang yang termasuk pakar di bidang seni dan sastra. Sejak 1974. Derrida aktif dalam berbagai kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan posisi yang wajar bagi pengajaran filsafat di tingkat sekolah menengah: Greph (Groupe de recherche sur l’ensignement philosophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). seperti dituturkan Cobles dan Jansz (1999:100). Di Inggris. dan Universitas Cornell (Sobur. 2004:94). Freud. ia belaar dibawah bimbingan Husserl. mulai dari filsuf-filsuf Yunani klasik seperti Plato. Meskipun demikian. Kelonpok ini didirikan ketika dalam rangka rencana pembaruan pendidikan peranan . di wilayah studi-studi tekstula (terutama teori sastra) Derrida akan menjadi seorang mahaguru. kemudian Kant. 1993). saat ia menjadi filsuf yang barangkali paling terkenal di dunia. dalam Sumaryono. menjadi figur-figur intelektual terkemuka. Sebaliknya. Sekarang ia mengajar di ENS sebagai maitre-asisstent. tokoh fenomenologi Jerman yang hidup di tahun 1859-1938. Irvine. Ia juga menjadi profesor tamu pada Universitas California. baik Foucault maupun Lacan yang berpengaruh terutama karena teori filmnya. Namun. dosen tetap bidang filsafat. Derrida banyak disebut-sebut sebagai lelaki yang sangat cerdasa. dan Heiddegger. Tetapi karya-karyanya sulit dimengerti. sayangnya nasib Derrida kurang begitu beruntung di dunia akademik. Ia banyak mengutip teks-teks Yunani dan Jerman asli dan sangat sering mengupas kembali naskah-naskah berbahasa Perancis. Seperti Foucault. melalui rangkaian jabatan profesor di Amerika. Neitzsche. Husserl. 1972.

Tulisan-tulisannya bergerak antara sifat bermain-main dan sifat sengaja mempermainkan aturan-aturan literatur yang selama ini ada. Derrida memasukkan bentuk sastra literatur lain ke dalam area filsuf (misalnya. beberapa diantara artikel itu. Signeponge/Signsponge (1984). dikumpulkan dalam buku Du Droit a la philosophie (1990) (Tentang Hak atas filsafat). Jacques Derrida memulai kariernya sebagai filsuf akademis tahun 1955. puisi). Strategis ini membuat tulisan Derrida melawan struktur yang ada. Margins of Philosophy (1982). yakni Of Grammatology (1976). 2001: 222). The Archeology of the Frivolus. dengan demikian. . Buku-buku lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang menurut ohn Lechte (2001:169) dianggap paling terkenal. Positions (1981). Writing and Difference (1978). The Origin of Geometry (1977). tetapi menolak digolongkan sebagai salah satu jenis sastra. ditambah dengan karangan-karangan baru. dan The Post Card (1987). Tulisan-tulisan Derrida sangat sulit ditafsirkan. Limited Inc (1977). misalnya dalam Qui a peur de la philosophie? (1977).. Ia mulai memperoleh perhatian publik pada tahun 1965 sewaktu ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah urnal yang terbit di Paris. secara tidak langsung ia mewaspadai usaha filsafat untuk membagi tulisan menjadi beberapa bentuk. Ia menganggap dirinya mampu memandang dari sebuah titik puncak terhadap aktivitas secara literatur lainnya. (1981). Reading Condillac. diantaranya. Guna melawan kecenderungan ini. Sebaliknya. Critique. Dissemination (1981). (Siapa takun pada Filsfat?). Ia banyak menulis artikel dalam terbit-terbitan perhimpunan ini. meliputi : Speech and Phenomena (1973). Ia sangat keberatan terhadap para filsuf yang menganggap diri mereka sebagai pengamat yang objektif. ia menghantam poisisi filsafat. Ia mengatakan bahwa selama ini ilmu filsafat hanya berani menilai dan menghakimi jenis sastra literatur lainnya.filsafat pada sekolah menengah mulaid ipersoalkan. Mereka merasa disiplin ilmu mereka mempunyai hak melemparkan pertanyaan mendasar terhadap ilmu-ilmu lainnya misalnya : ’Apa itu literatur? Atau ’apa itu puisi?’ Derrida keberatan dengan konsep demikian (Grenz. Spurs: Nietzsche’s Style (1979).

2004:95). Agak berbeda dengan pendahulunya. menggunakan beberapa teknik untuk menghasilkan sifat tersebut. Saussure. komentar dalam bentuk yang khusus. Ia juga tidak membatasi diri pada suatu penelitian mengenai praandaian-praandaian dan implikasi-implikasi dalam teks-teks yang dibicarakan. dan Levi-Strauss. Senjata yang Derrida gunakan adalah dekonstruksi. Ia mengajak kita menuju cara baru dalam membaca dan menulis (Sobur. Ia tidak memberi penafsiran begitu saja. Derrida bukan seorang pembuat mitos baru. Namun. Ia juga menolak konsep adanya hubungan langsung antara bahasa kita dan realitas di luar kita. Melalui semua ini. para ilmuwan misalnya Freud. Ia menyusun teksnya sendiri dengan ’membongkar’ teks-teks lain dan dengan demikian ia berusaha melebihi teks-teks itu dengan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan dalam teks-teks itu sendiri. menghancurkan tradisi logosentrisme Barat. Dekonstruksionisme menjadi paham yang amat penting dan berpengaruh besar terutama sekali karena ia menghadapkan dirinya dengan satu paham yang amat .Ia. Ia tidak berusaha menyusun sesuatu yang baru berdasarkan yang lama. sebab dengan cara itu pemikirannya sendiri berkembang selangkah demi selangkah. Prosedur atau langkahlangkah ini oleh Derrida disebut dekkonstruction. 2001:328). Tujuannya bersifat destruktir (menghancurkan). Terkadang ia mencampurkan dua teks dengan meletakkan secaraberdampingan sebanyak beberapa halaman yang terpisah secara vertikal atau horizontal. dan para sstrawan. Derrida hendak melucuti cita-cita modern yang memandang filsafat sebagai ilmu murni. Melihat karya-karya Derrida secara sepintas lalu kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa hampir semua karangan yang ditulisnya hingga sekarang merupakan komentar atas pengarang-pengaran lain: filsuf-filsuf. seperti diceritakan Grenz. Banyak tulisannya bersifat percakapan dengan tulisan-tulisan filsuf besar dan penulis terkenal lainnya. Dengan mengomentari teks-teks tersebut ia menyajikan suatu teks baru. sebagai suatu penelitian objektif. derrida tampil sebagai seorang ahli membuat makna ganda dan makna tersembunyi. Terkadang pula ia menyajikan percakapan yang mencakup beberapa suara atau satu suara utama yang diinterupsi oleh seorang juru bicara. ’pembongkaran’ (Bertens.

(Sobur. tidak ada tulisan yang dapat dibatasi oleh dasar transenden. dekonstruksi berhubungan dengan bahasa. Ia memperingatkan kita agar tidak menggantikan pembacaan dekonstrusktif dengan pemahaman konseptual tentang pembacaan tersebut. ’prinsip utama’ filsafat tidak boleh berupa dasar transenden yang menyatukan segala bahasa. Prinsip utama filsafat harus berupa simbol-simbol . Menurutnya. sehingga logosentrisme juga disebut ifonosentrisme. Tulisan tidak mempunyai acuan lain di luar dirinya. Derrida menegaskan bahwa tradisi filsafat Barat terlalu logosentris atau objektivistik.berakar dalam lama tradisi filsafat dan pemikiran pada umumnya. Justru dekonstruksi menolak definisi karena Derrida menghalangi pendefinisian tersebut (Grenz. Dekonstruksi adalah segala sesuatu yang derrida tolak. bersifat fonotok. Dan ’kata’ berarti sesuatu yang diucapkan. secara lebih khusus. Meski sulit didefinisikan. Ilmu filsafat adalah menjadi target utama dekonstrusi. yatiu strukturalisme. 2001:235). ada sesuatu yang dapat dikatakan tentang dekonstruksi. 1989. Intinya. Dalam bahasa Yunani. Bagi Derrid. Paham ini adalah apa yang oleh Derrida disebut sebagai logosentrisme tadi atau fonosentrisme. Dekonstruksi sangat sulit didefinisikan. 2001:235). pada mulanya adalah ’kata’. Dekonstruksi menggunakan asumsi filsafat atau filologi tentu untuk menghancurkan logosentrisme. Asal istilahnya berpusat pada Perjanjian Baru. Derrida (Selden. 2004:97). logos itu sendiri ’kata’. atau sebuah gaya kritik sastra literatur atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks. dekonstruksionisme juga berhadapan dengan paham yang sebelumnya juga amat berpengaruh. 2001: 179) mendefinisikan logosentrisme sebagai ’keinginan akan suatu pusat’. Filsafat terlalu ditekan untuk selalu mencari dasar transenden bagi bahasa kita. Tak ada kerangka acuan yang dpapat menghasilkan sesuatu selain dongeng yang diciptakan dari kata-kata. Ia mulai dengan menegaskan bahwa dekonstruksi bukan sebuah metode atau sebuah teknik. dikutip Faruk. tradisi yang hidup berabad-abad dan tetap hidup sampai sekarang. Logosentrisme adalah anggapan adanya sesuatu diluar sistem bahasa kita yang dapat diadikan acuan untuk sebuah karya tulis agar kalimat-kalimatnya dapat dikatakan :’benar’ (Grenz. Selain itu. ”logos’ yang mengkonsentrasikan pusat kehadiran pada sabda Tuhan.

Ketika hendak melukiskan bentuk hubungan antara sejarah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika. kritik Freudian atas ’kehadiran-diri’. ontoteologi. Tambahnya pula. Lingkaran ini unik. kita tidak dapat mengeluarkan sebuah dalil destruktif tunggal yang belum termasuk ke . tanda (tanda tanpa kehadiran kebenaran). Ia menerapkan metode ini dalam metafisika Barat klasik. terjebak dalam semacam lingkaran. kata Derrida. interpretasi. 2004:97). Derrida mulai dngan mengomentari atau mengutip kritik metafisika Nietzsche. meski hampir semua filsuf para-Heidegger mengagungkan pembahasan tersebut (Sobur. Derrida (2001: 28) menandaskan: Tak ada makna dalam tindakan tanpa konsep-konsep metafisika dalam rangka melawan metafisika. alat Heidegger. kritik atas konsep ’yang ada’ dan kebenaran untuk disubstitusikan dengan konsep-konsep permainan. dimulai dari Plato dan berakhir di tangah Heidegger. Semua wacana destruktif ini dan semua analogianalogi mereka. tetapi merobohkannya (dekonstruksi). Lalu ia menggambarkan bentuk hubungan antara searah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika itu. tujuan filsafat bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini. Derrida mengklaim kerelativitasan metafisika. Lewat suatu pendekatan yang disebut sebagai ’pembongkaran’ atau ’dekonstruksi’. akan subjek. dan lebih radikal lagi adalah penghancuran metafisika. Derrida memulai penelitian mendasar pada bnetuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum identitas. jelas Derrida.yang tidak berdasarkan sesuatu apa pun selain bahasa. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis. yaitu kritik atas kesadar-an. Dekonstruksi pertama kali dibakukan Derrida dalam bukunya De La Grammatologie (of Grammatology) tahun 1967. Istilah yang dipakai Derrida adalah pinjaman dari Heidegger. hanya saja Derrida membumbuinya dengan beberapa resep linguistik dan metode gramatologi ciptaannya. Di sini. determinasi ’yang ada’ sebagai kehadiran. Kita tidak mempunyai bahasa tidak sintaksis dan tidak juga leksikon yang asing bagi sejarah ini adalah. akan identitas diri dan ’kedekatan diri’ atau ’kepemilikan diri’.

katanya. jika tanda. menurut Derrida. logika. tercapai dengan reduksi atau penurunan penanda. tanpa risiko penghapusan perbedaan (seluruhnya) dalam identitas diri suatu petanda yang direduksi menjadi dirinya sendiri atas penandanya. konsep tanda ditentukan oleh oposisi ini: melalui dan melalui keseluruhan totalitas sejarahnya. kita tidak dapat melakukan sesuatu pada konsep tanda (Sobur. Karena pengertian tanda selalu dipahami dan ditegaskan. Menurut Derrida. hanya dengan mengeluarkan hal itu keluar dirinya. penanda berbeda dan petandanya sendiri. dalam maknanya. tidak dapat membuat kita lupa bahwa konsep tanda tidak dengan sendirinya melewati atau menjangkau oposisi antara yang dpat dirasakan dan dapat dimengerti tersebut. terutama dalam penyampaian tanda pada pemikiran yang lain. Namun sejak setiap orang mengharapkan untuk memperlihatkan bahwa tak ada petanda transendetal atau khusus. kita tidak bisa menyerah begitu saja pada kompleksitas metafisika pada memberikan kritikan yang kita arahkan melawan kompleksitas ini. Mengomentari pendapat Levi-Strauss dalam pendahuluan bukunya Le cru etle cuit bahwa ia telah ’berusaha melebihi oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti dengan menempatkan diri (dirinya sendiri) sejak awal pada tingkatan tanda-tanda’. dan postulat-postulat implisit dari apa yang tepatnya dicari untuk dipertentangkan. atau kepada apa yang dianggap sebagai sesuatu yang sama. seharusnya memperluas penolakannya terhadap konsep dan kata tanda itu sendiri yang tepatnya sesuatu yang tidak bisa dilakukan. mulai sekarnag. kata Derrida. 2004:99). penanda mengacu pada suatu petanda. Karena ada dua jalan heterogen penghapusan perbedaan antara penanda dan petanda: pertama. Ia kemudian mengambil contoh metafisika kehadiran diserang dengan bantuan dari konsep tanda. penanda dari petandanya sendiri. Menurut Derrida. jika seseorang menghapus perbedaan radikal antara penanda dan petanda. cara yang kita gunakan berlawanan dengan . Ia. maka kata penanda sendiri yang seharusnya ditinggalkan sebagai konsep metafisika (Sobur. 99). sebagai tanda diri. cara klasik. Kepentingan. Tapi. menurutnya tidak mempunyai batas. Menurut Derrida (2001: 29-30).dalam bentuk. kekuatan dan legitimasi dari tindakannya. Dalam pandangan Derrida. dan bahwa bidang atau pengertian yang saling mempengaruhi. serta oleh sistemnya.

Freud dan Heidegger. sistematik. sebagai ahli metafisika terakhir. menurut Derrida tak ada penggunaan yang tersebar lebih luas (Derrida. adalah bagian dari sistem. Dan sekarang ini. dengan kejernihan dan kekakuannya sebagai tidak jujur dan salah konstruksi. 1999:95). empirik. ada banyak cara terperangkap dalam lingkaran ini. ”Mereka relatif naif. yang didalamnya reduksi sebelumnya berfungsi. pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (signifier) melalui penyusunan konsep (signified). adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku (Assyaukanie. setiap keterangan berhubungan dengan seluruh metafisika. Karena konsep ini bukanlah unsur-unsur atau atom-atom dan karena mereka diambil dari seubah kalimat dan sebuah sistem. dalam pandangan dia. menurutnya. membutuhkan tanda yang sedang dikurangi (Sobur. Dicontohkannya. Konsep dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi. ’penganut Plato’ terakhir. dapat diperluas pada semua konsep dan semua kalimat metafisika. pertama dan terutama sebagai oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti. atau pada orang yang lain. Heidegger menganggap nietzshce. Paradoksnya adalah bahwa pengurangan metafisika dari tanda. Opposisi. Tapi tandas Derreida. Derida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni. Dan apa yang ia katakan di sini tentang tanda.yang pertama disini. dalam Nurcahyono. dekat pada formulasi atau bahkan dengan pembentukan lingkaran ini” tandasnya. bersamaan dengan reduksi. katanya dapat melakukan hal yang sama pada Heidegger sendiri. Hal tersebut. pada Freud. Dalam teori Grammatologiy. menurut Derrida perbedaan-perbedaan yang menjelaskan keragaman wacana destruktif dan ketidaksetuuan antara mereka yang membuatnya. tercapai dengan menempatkan ke dalam pertanyaan. katanya. 2004:99). 2001:31). ’inilah’ jelas Derrida. Seseorang. misalnya dari metafisika yang dikerjakan Neitszche. Dekonstruksi. menurut Derrida. . khususnya pada wacana mengenai ’struktur’. Inilah. berada di dalam konsep-konsep yang yang diwariskan. ’yang memungkinkan para penghancur ini untuk saling menghancurkan satu sama lain.

karena semua tanda senantiasa sudah mengadung artikulasi lain (Subangun. dikemas dalam dua pokok. mimesis tidak mengacu pada origin tertentu. dan (2) apokalips tanpa akhir (apokalupse without end) (Tedjoworo. ’Menulis’ karenanya adalah sebentuk mimesis. 2004:101). 2001: 39-40). Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Sekilas pandangan ini seolah-olah kembali pada pandangan Plato tentang mimesis. tidak lagi fondasi dan tidak jadi prinsip. Sebaliknya. prinsip di plesetkan sehingga berada di pinggir. yang banyak disbut sementara ahli sebagai dekonstruksi postmodernisme terutama dalam kaitannya dengan bahasa. Mimesis hanyalah demi mimesis (Sobar. Puncak dekonstuksi Derrida. Yang mengkopi dan mengilustrasikan pengalaman manusia dalam proses ’menulis-mimetik’ yang dilakukan oleh ’penulis internal’ (grammateus) dan ’pelukis internal’ (zographos-demiurgos). Dalam pandangan Derrida. Plato membandingkan jiwa manusia dengan sebuah buku (Biblos). Ia mengacu pada terminologi ’menulis’ yang meliputi segala aspek pengalaman yang ditandai dengan jejak-jejak signifikansi. 1994:61). Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan hampir tanpa batas. menurut Derrida. Dengan demikian yang semula pusat. namun yang dipahami adalah pandangan Derrida ini sama sekali menolak paham asal usul (originalita). Dekonstruksi. Jacques Derrida mengacu pada dekonstruksi ganda terhadap paham asal usul dan terhadap pemahaman akan mimesis dalam teks m malararme berjudul . fondasi. pertama sekali adalah usaha membalik secara terus menerus hierarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahwa sebgai medannya. Pertama. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Strategi dekonstruksi dialankan dengan asumsi bahwa filsafat barat bisa mempertahankan ide tentang pusat sebagai kehadiran murni hanya dengan cara menekan efek-efek metaforis dan figuratif yang menjadi karakter bahasa. yakni : (1) mimesis tanpa asal usul (mimesi without origin). yang ada adalah repetisi dan reiterasi. mimesis itu tanpa asal usul. cara terbaik untuk mendekonstruksi metafisika asal usul (origin) adalah dengan mendalami penyelidikan atas ’menulis’ (ecriture).

menurut Derrida. menampilan dua kolom tulisan satu sastra. apokalips tanpa akhir. Ia mengomentari keduanya dengan analisis dekonstruktif terhadap datang’ (come). ciri dekonstruktir pemahaman kata ’datang’ itu meruntuhkan be utuskan makna atas parodi. selalu merupakan akibat dari cara tertentu yang diimplikasikan dalam permainan. ditangkap oleh permainan’. bukan lagi parodi atas kehidupan atau apa pun. Bahasa. Juga kata itu tidak dapat disituasikan secara temporal. 200.: kita tidak atahu siapa yang berbicara atau kepada siapa kata itu diarahkan. Kata ’datang’ tak dapat diurai maupun diinterpretasikan dalam suatu analisis atas kata tersebut. hanyakah suatu parodi atas parodi. bagai upaya konseptual maupun linguistik untuk memutuskan makna dari sesuatu. Apolkalip tanpa akhir hanya dapat dipahami sebagai suat ’akhir yang tak berakhir’ Sobur. agak bertentangan dengan semiotika struktural yang dikembangkan Saussure. Berkaitan dengan semiotika. Akhirnya. istilah apokalips di sini bearti suatu ’penyingkapan’ (un-cover. bukan lagi mema ciri dekonstruktif maupun linguistik untuk membatalkan saat naratif linier imajinasi manusia. Gerakan yang terjadi dalam menulis. apokaluptein). Tidak ada imitasi terhadap ’sesuatu’ dan peniruan tidak mengimitasi apa pun. karena ia adalah suatu alamat tanpa subjek. geolak dan kegelisahan-kegelisahan yang mencirikan budaya chaos bagi Deririda (2001:24). Kata ini disebutnya sebagai yang memperkuat nada apokaliptik. ketidakpasatian. kestabilan dan kematapan tanda dan kode dan makna-makna semitoika yang dikembangkan oleh Derrida bsebagai salah seorang pemikir psot strukturalisme. Derrida membuat suatu perbandingan saling dekonstruktif dalam tulisannya yang berjudul Glas.93-101.bila pada . Kata ini juga membuka suatu permainan dekonstruktif tanpa pernah terjadi objek di bawah tatanan logosentris. yang mengandalkan pada keabadian. Apa yang terjadi dalam mimesis sebetulnya adalah suatu dekonstruksi diri (Self deconstruction). lebih mampu mengakomodasi dinamika. ’kegelisahan. dan satu filosofis yang mengolah apokalips suci St. Kedua. membentuk figur dan imaji yang tidak dapat diasalkan pada ucapan yang mendahuluinya. Yohanes apokalips profan Jean Genet.Mimique. Kita bahkan tidak bisa mengimjinasikan apa iatu ’keberan’dalam pemahaman apokalips tanpa akhir ini.

2001:310). maka di dalam semiotika poststrukturalis yang ditekankan adalah proses significance.semiotika konvensional yang ditekankan adalah proses signifikansi. yang ditemukan hanyalah ungkapan yang berbeda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula secara tak terhingga. yait sebuah proses penciptaan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas dan tak terbatas (Pilliang. KAELAN. Ini pulalah yang disebut-sebut sebagai semiotics of chaos. namun untuk kasus-kasus yang lain. 2004:102). M. Hubungan antar ungkapan dan makna yang pasti (Signifier/signified) memang penting untuk kasus-kasus tertentu. DR. Setiap makan menadi bentuk ungkapan baru berikutnya. Derrida juga menemukan bahwa kita tidak bisa lagi terpaku pada makna/pertanda (signified) yang transenden. Inilah yang disebut trace oleh Derrida (Pilliang. 2001:310). ’semiotika ketidakberaturan’ (Sobur. yang melampaui bentuk ungkapan/penanda (signifier). Didalam Positions.S. PENULIS: PROF. Bedanya bentuk ungkapan dan makan itu kini cenderung mengapung (floating). yaitu memfungsikan tanda sebagai refleksi dan kode-kode sosial yang telah mapan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful