BAB I PENDAHULUAN

Hubungan bahasa dengan masalah-masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filsuf, bahkan hal ini telah berlangsung sejak zaman Yunani. Namun demikian pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa tidaklah lama, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema-problema filsafat pada zaman tertentu. Suatu perubahan yang sangat penting terjadi ketika para filsuf mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai suatu contoh problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, "keadilan", "kebaikan", "kebenaran", "kewajiban", "hakikat ada" dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai "Filsafat Analitik", yang berkembang di Eropa terutama di Inggris pada abad XX. Memang semua ahli filsafat sependapat bahwa hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan tidak dapat dipisahkan terutama dalam pengertian pokok bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep tersebut terungkapkan melalui bahasa maka analisis tersebut tentunya berkaitan dengan makna bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan konsep-konsep tersebut. Hubungan yang sangat erat antara bahasa dengan filsafat tersebut sebenarnya telah berlangsung lama bahkan sejak zaman pra Sokrates, namun dalam perjalanan sejaran aksentuasi perhatian filsuf berbeda-beda dan sangat tergantung pada perhatian dan permasalahan filsafat yang dikembangkannya. Pada zaman Yunani filsafat merupakan dasar untuk memandang hakikat segala sesuatu termasuk bahasa. Hal ini dapat dipahami karena pada zaman tersebut belum berkembang ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu bahasa juga merupakan objek material pemecahan problema spekulatif para filsuf. Dikotomi spekulatif tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' adalah merupakan pusat perhatian filsuf pada saat itu. Demikian juga dikotomi 'analogi' dan 'anomali' juga merupakan diskursus filosofis yang mendasar mengingat bahasa merupakan sarana yang utama dalam filsafat terutama

dalam logika. Plato, Aristoteles, kaum Sofis dan kaum Stoik adalah tokoh-tokoh filsuf yang menaruh perhatian terhadap bahasa. Selain itu tradisi analitika bahasa juga telah berkembang pada saat itu, yaitu ketika Sokrates berdialog dengan kaum Sofis. Metode yang digunakan dalam analitika bahasa pada saat itu dikenal dengan metode dialektis-kritis terutama untuk mengatasi kekacauan dan kesesatan pikir. Terlebih lagi peranan bahasa menjadi semakin penting ketika Aristoteles mengangkat bahasa dalam 'organon' yang merupakan karya besar di bidang logika yang merupakan salah satu cabang dalam filsafat. Karya-karya besar para filsuf Yunani yang menaruh perhatian terhadap bahasa inilah kemudian dilanjutkan oleh para Sarjana dari Alexandrian terutama karya-karya kaum Stoa yang kemudian pada perkembangan berikutnya merupakan dasar-dasar pokok bagi pengembangan bahasa aliran tradisionalisme. Pada zaman Romawi objek perhatian filsuf terhadap bahasa berkembang kearah karya gramatika bahasa latin dan tokoh-tokoh yang terkenal adalah Varro dan Priscia. Karya-karya besar mereka terutama dalam meletakkan dasar-dasar dalam bidang etimologi, morfologi yaitu tentang "partes Orations" dan "Oratio" yang lazimnya dalam linguistic tersebut sintaksis. Perhatian filsuf menjadi semakin besar ketika zaman abad pertengahan, yang ditandai dengan tujuh system utama yaitu 'Trivium' yang meliputi gramatika, dialektika (logika), dan retorika; serta 'Quadrivium' yang mencakup aritmatika, gemetrika, astronomi, dan musik. Akar-akar ilmu pengetahuan modern sudah mulai nampak, oleh karena itu perhatian filsuf terhadap bahasa juga sebagian mengarah kepada perkembangan linguistic sehingga pemikiran-pemikiran filosofisnya merupakan dasar pijak linguistic tersebut. Persoalan klasik Yunani tentang hakikat bahasa 'fisei-nomos' serta 'analogi-anomalia' kembali merebak menjadi isu spekulatif yang actual pada saat itu. Tokoh filsuf abad pertengahan yang menaruh perhatian terhadap bahasa dalam mengklarifikasikan konsep filosofisnya terutama dalam kaitannya dengan religi adalah Thomas Aquinas. Metode analitika bahasa yang digunakan oleh Thomas dan karyanya 'Summa Theologiae' adalah dengan analogi yang metaphor. Pada zaman modern yang ditandai dengan ’Renaissance' dan 'Aufklarung', pemikiran-pemikiran filsafat secara berangsur-angsur berkembang ke arah timbulnya

ilmu pengetahuan alam modern. Tokoh-tokoh pengembang ilmu pengetahuan tersebut antara lain Copernicus, Johanes Kepler, Galileo Galilei dan terutama tokoh yang meletakkan dasar filosofis ilmu pengetahuan yaitu Francis Bacon dengan 'Novum Organism-nya'. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut perhatian filsuf terhadap bahasa juga semakin mengarah pada ilmu pengetahuan bahasa (linguistic). Bahkan yang terlebih penting lagi berkembangnya bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan terutama peranan bahasa dalam pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemology. Walaupun perkembangan filsafat mengarah pada timbulnya ilmu pengetahuan modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsafat modern, namun pada zaman modern ini terdapat tokoh-tokoh filsfat modern yang memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Rene Descartes dengan metode skiptisnya dan bertumpu pada metode 'Cogito Ergo Sum'. Rasionalisme Rene Descartes dengan metode skiptisnya yang mengkritik ilmu pengetahuan dengan mengembangkan prinsip analisis berdasarkan rasio. Begitu juga paham empirisme Inggris dengan tokoh-tokoh Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume serta tokoh kritisme Immanuel Kant. Aliran-aliran inilah yang mempengaruhi timbulnya aliran Atomisme Logis di Inggris yang kemudian berkembang dan mempengaruhi aliran Positivisme Logis serta filsafat bahasa biasa. Sejalan dengan karakteristik perkembangan filsafat modern yang mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan modern maka peranan bahasa sebagai sarana ilmu pengetahuan menjadi semakin penting. Periode filsafat abad XX perhatian filsuf terhadap bahasa menjadi semakin besar. Mereka semakin sadar bahwa dalam kenyataannya terdapat banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi semakin jelas manakala menggunakan analisis bahasa. Pada periode ini terdapat suatu reaksi yang sangat radikal terutama terhadap pandangan empirisme, idealisme maupun konsep metafisika. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan, kekacauan dan kekaburan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis. Berbeda dengan perkembangan filsafat bahasa di Inggris, di Perancis terdapat suatu perubahan yang sangat radikal pada abad XX tersebut, yaitu Ferdinand de Saussure telah meletakkan dasar-dasar filosofis terhadap linguistic. Pandangannya tentang hakikat bahasa telah membuka cakrawala baru bagi ilmu bahasa yang

sebelumnya hanya berkiblat pada tradisi Yunani. Konsep Ferdinand de Saussure tersebut sangat penting dalam linguistic karena mengembangkan paradigma baru di bidang ilmu bahasa yang dikenal dengan linguistic modern yang dijiwai oleh paham Strukturalisme. Paham ini berkembang sebagai reaksi terhadap ilmu bahasa tradisionalisme yang mendasarkan pada tradisi Alexandrian yang bercirikan pada makna dan tidak mendasarkan pada struktur bahasa yang bersifat empiris. Pengaruh linguistic modern yang didasarkan pada pemikiran filosofis dan teori Ferdinand de Saussure pengaruhnya cukup luas di berbagai wilayah di Eropa, Amerika termasuk di Indonesia sendiri. Tokoh Strukturalisme di Amerika yang sangat terkenal adalah Bloomfield. Perkembangan Strukturalisme yang sangat besar inipun pada akhirnya juga mendapat reaksi yang sangat keras dari paham Transfosionalisme Generatif di bawah Noam Chomsky yang pengaruhnya juga cukup besar. Demikianlah sekilas perkembangan filsafat bahasa yang selain memberikan wawasan bagi kita tentang pasang surut perhatian filsuf terhadap bahasa juga menunjukan aksentuasi konseptual filosofis terhadap bahasa, serta ruang lingkup filsafat bahasa yang sangat beranekaragam dan kompleks. Namun demikian secara keseluruhan filsafat bahasa dapat dikelompokkan atas dua pengertian yaitu pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam menganalisis, memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep filosofis, kedua: perhatian filsuf terhadap bahasa sebagai objek material yaitu membahas dan mencari hakikat bahasa yang pada gilirannya menjadi paradigma bagi perkembangan aliran-aliran dan teori-teori linguistic.

A. Pengertian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa sebagai salah satu cabang filsafat memang mulai dikenal dan berkembang pada abad XX ketika para filsuf mulai sadar bahwa terdapat banyak masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat baru dapat dijelaskan melalui analisis bahasa, karena bahasa merupakan sarana yang vital dalam filsafat (Davis, 1976). Berbeda dengan cabang-cabang filsafat lainnya, filsafat bahasa termasuk bidang yang kompleks dan sulit ditentukan lingkup pengertiannya (Devitt, 1987). Namun demikian bukanlah berarti filsafat bahasa itu merupakan bidang filsafat yang tidak jelas objek pembahasannya melainkan para filsuf bahasa memiliki aksentuasi yang

beraneka ragam sehingga penekanannya juga beraneka ragam juga. Walaupun bidang filsafat bahasa baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun berdasarkan fakta sejarah hubungan filsafat dengan bahasa telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani. Berdasarkan pengamatan terhadap perkembangan sejarah filsafat bahasa maka filsafat bahasa dapat dikelompokkan menjadi dua macam pengertian yaitu : Pertama: perhatian filsuf terhadap bahasa dalam memecahkan dan menjelaskan problema-problema dan konsep-konsep dalam filsafat. Pada periode abad XX para filsuf semakin sadar bahwa banyak problema-problema serta konsep-konsep filsafat dapat dijelaskan melalui analisis bahasa misalnya berbagai macam pertanyaan filosofis seperti 'kebenaran', 'keadilan', 'kewajiban', 'kebaikan' dan pertanyaanpertanyaan fundamental filosofis lainnya dapat dijelaskan dan diuraikan melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Tradisi inilah menurut para ahli filsafat disebut dengan pengertian 'Filsafat Analitik' atau "FIlsafat Analitika Bahasa'. Istilah ini memang baru dikenal dan berkembang pada abad XX, namun demikian perhatian para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan konsep-konsep filsafat daam kenyataan sejarah berlangsung lama yaitu sejak zaman yunani. Sokrates misalnya telah menggunakan metode analitika bahasa dalam berdebat dengan kaum Sofis yang dikenal dengan metode dialektis-kritis. Demikian juga Thomas Aquinas pada abad pertengahan melalui analisis bahasa analogi dan metaphor untuk menjelaskan konsep-konsep filosofisnya. Filsuf abad modern seperti Rene Descartes juga menjelaskan konsep-konsepnya melalui analisis bahasa atau analisis penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. Aliran-aliran filsafat analitika bahasa antara lain Atomisme Logis Positivisme Logis dan Filsafat Bahasa Biasa. Berdasarkan pengertian yang pertama ini dapat disimpulkan bahwa bahasa sebagai sarana analisis para filsuf dalam memecahkan, memahami dan menjelaskan konsepkonsep dan problema-problema filsafat. Kedua, filsafat bahasa sebagaimana bidang-bidang filsafat lainnya seperti filsafat hukum, filsafat manusia, filsafat alan, filsafat sosial dan bidang-bidang filsafat lainnya yang membahas, menganalisis dan mencari hakikat dari objek materi filsafat tersebut (Davis, 1976). Pengertian yang kedua ini hendaklah dibedakan dengan pengertian filsafat analitika bahasa yang menggunakan bahasa sebagai alat analisis konsep-konsep dan masalah-masalah filsafat. Oleh karena itu filsafat bahasa

Tokoh yang sangat popular yang mengembangkan pemikiran filosofis ini adalah Ferdinad de Saessure. karena bahasa adalah hanya salah satu saja dari banyak sistem tanda dalam kehidupan manusia. melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Dengan demikian bahasa adalah merupakan sistem simbol yang memiliki makna. Dalam hubungan inilah kemudian berkembang ilmu tanda yang dikenal dengan semiologi dengan tokoh Roland Barethes. Oleh karena itu untuk . Akar filsafat bahasa inilah yang menumbuhkan ilmu semiotika. Bahasa sebagai suatu sistem tanda tersebut pada suatu saat menurut Saussure berada pada suatu wilayah ilmu tanda secara umum. sebagaimana dikemukan oelh Bertrand Russell bahwa bahasa memiliki kesesuaian dengan struktur realitas dan fakta dan lebih dipertegas oleh Wittgenstein bahwa bahasa merupakan gambaran realitas. merupakan alat komunikasi manusia. Charles Sanders Peirce mengembangkan ilmu tanda yang dikenal dengan semiotika. Kedudukan Bahasa dalam Filsafat Bahasa pada hakikatnya merupakan suatu sistem simbol yang tidak hanya merupakan urut bunyi-bunyi secara empiris. Filsafat sebagai suatu aktivitas manusia yang berpangkal pada akal pikiran manusia untuk menemukan kearifan dalam hidupnya. meskipun terdapat dua istilah namun objek material ilmu tersebut memiliki kesamaan. B. Peirce mendasarkan filsafat semiotikanya berdasarkan pada filsafat logika dan pragmatisme. penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya.dalam pengertian yang kedua ini bahasa sebagai objek materi filsafat. terutama dalam mencari dan menemukan hakikat realitas dari segala sesuatu memiliki hubungan yang erat dengan bahasa terutama bidang semantik. yang menurut Saussure disebut significant dan signifie. Terdapat hubungan antara tanda dengan objek tanda tersebut. Perkembangan filsafat bahasa yang menggali hakikat bahasa selain sebagai sarana komunikasi pada hakikatnya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. sehingga filsafat bahasa membahas hakikat bahasa itu sendiri. Berbeda dengan para digma tersebut. Hal itu dapat dipahami karena dunia fakta dan realitas yang menjadi objek aktivitas filsafat adalah dunia simbolik yang terwakili oleh bahasa.

tidak akan setepat dan sejelas pengamatan secara langsung tentang aneka bunga mawat tersebut. Akibat lebih lanjut adanya kekaburan dan ketaksaan makna adanya terjadi inexplicitness. 'bunga melati' dan lain sebagainya. Kesamaran dan ketaksaan bahasa tersebut sebenarnya disamping merupakan kelemahan bahasa untuk aktivitas filsafat juga sebaliknya sebenarnya justru kelebihan bahasa manusia yaitu bersifat 'multifungsi' yaitu selain berfungsi simbolik. Betapapun demikian keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia tidak hanya merupakan simbol belaka melainkan merupakan media . 1988:20). Dari adanya jumlah kekurangan tersebut tidak mengherankan apabila paparan lewat bahasa sering mengandung misleadingness sehubungan keberadaannya dalam komukasi (Aminuddin. sehingga bahasa seringkali tidak mampu mengungkapkan secara eksak. tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang direpresentasikannya. (5) misleadingness (menyesatkan). sosial. bahasa juga memiliki fungsi 'emotif. serta konteks situasional dalam pemakaiannya sehingga mengalami context-dependent. 1964:6).dapat mengungkapkan struktur realitas diperlukan sesuai sistem simbol bahasa yang memenuhih syarat logis segingga satuan-satuan dalam ungkapan bahasa itu terwujud dalam proposisi-proposisi. (4) contex-dependence (tergantung pada konteks). Kata bunga misalnya. (2) inxeplicitness (tidak eksplisit). Berbagai kelemahan dan kekurangan bahasa dalam proses pengungkapan konsep-konsep filosofis perlu diberikan suatu penjelasan khusus agar ungkapanungkapan atau kata-kata yang digunakan dalam menjelaskan realitas tidak terjadi misleadingness. Penjelasan secara verbal tentang aneka warna bungan mawar. Sehubungan dengan masalah tersebut dalam kenyataannya bahasa sehari-hari memiliki sejumlah kelemahan dalam hubungannya dengan ungkapan-ungkapan dalam aktivitas berfilsafat. hipinimi maupun polisemi juga menjadi faktor kesamaran dan ketaksaan makna. Ambiguity berkaitan dengan ciri ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Kata 'orang tua' dapat berarti 'bapak-ibu' ataupun orang yang memang sudah tua. Selain itu pemakaian suatu bentuk sering kali berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatik. Bahasa memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Selain itu adanya sinonimi. 'bunga anggrek'. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain (1) vagueness (kesamaran). dapat dikaitkan dengan 'bunga mawar'. (3) ambiguity (ketaksaan). (Alston.

Bahasa sebagai media pengembang refleksi filosofis tersebut telah berlangsung lama bahkan sejak zaman Yunani kuno. Untuk itu Aristoteles menyebutnya dengan istilah 'sofia' dan 'teologi' (Steenberghen. Kesimpulannya adalah terdapat hal-hal yang bersifat metafisik. Dalam pengertian yang demikian inilah bahasa menunjukkan fungsi vitalnya dalam aktivitas manusia. Fungsi Bahasa dalam Metafisika Metafisika adalah salah satu cabang filsafat disamping cabang-cabang lainnya. Hakikat manusia yang dilukiskan dengan ungkapan Animal Rationale. yang ada dan secara keseluruhan bersangkutan dengan sebab-sebab terdalam. 'cerita'. terdapat 14 buku tanpa nama dan ia menyebut keempat belas karya tersebut dengan 'buku-buku yang datang sesudah fisika'. kualitas. 1. kesempurnaan. (Bagus. Dalam buku-buku ini ia menemukan pembahasan mengenai realitas. Andronikus menemukan bahwa sesudah karya-karya Aristoteles mengenai fisika. 1991:18). Dari sejumlah fitur semantis itu para filsuf Yunani merumuskan pengertian 'logos' sebagai kegiatan menyatakan sesuatu yang didukung oleh sejumlah komponen yang masing-masing komponen tersebut antara satu dengan yang lainnya memiliki hubungan dengan menggunakan katakata. Masing-masing hubungan tersebut memiliki fungsi dan cirinya masing-masing. 1970:8). logika dan epistemologi. 'perbuatan'. yaitu berfilsafat. Demikian juga istilah 'logos' dalam bahasa Yunani mengandung makna 'isyarat'. kualitas. misalnya dalam bahasa Yunani berpangkal dari 'logon ekhoon' yang mengandung makna 'dilengkapi dengan akal budi'. 'inti sesuatu'. 1980:4). . Aristoteles menamakan metafisika sebagai filsafat yang pertama yang membahas tentang hakikat realitas. 'kata maupun susunan kata' (Peursen.pengembangan pikiran manusia terutama dalam mengungkapkan realitas segala sesuatu. Secara etimologis istilah metafisika beasal dari bahasa Yunani 'ia meta ta physica' yang secara harfiah dibalik fisik atau di balik hal-hal yang bersifat fisik. yang ada yang tidak terdapat dalam dunia fisik. kesempurnaan. tidak dapat dipisahkan terutama dalam cabangcabang filsafat metafisika. Berdasarkan kenyataan fungsi bahasa tersebut diatas maka hubungan bahasa dengan filsafat sangat erat bahkan. prinsip konstitutif dan tertinggi dari segala sesuatu.

Oleh karena itu metafisika adalah sebagai ilmu mengenai yang ada yang bersifat universal. teori mengenai roh. 1974:47). Menurut christian Wolf. tempat tertentu.Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan suatu pengertian bahwa metafisika adalah suatu cabang filsafat yang membahas secara sistematis dan reflektif dalam mencari hakikat segala sesuatu yang ada dibalik hal-hal yang bersifat fisik dan bersifat partikular. (6) tempat segala sesuatu di alam semesta ini senantiasa mengambil ruangan dimana sesuatu itu berada. . hal itu dikarenakan substansi memiliki kuantitas. juga dapat diartikan mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal yang ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal. adapun teori mengenai roh dibagi atas psikologi dan teologi kodrati (natural) (Ando. dan sembilan aksidensia. bentuk dan berat sehingga segala sesuatu menempati ruang tertentu. Keberadaan aksidensia tergantung dan terlekat pada substansi yang meliputi : (1) kuantitas yaitu unsur fisis dari segala sesuatu yang meliputi luas. ruang. waktu. (3) aksi yaitu yang menyangkut perubahan dinamika segala sesuatu yang ada dan yang mungkin terjadi. metafisika meliputi dua cabang ilmu. Aristoteles menjelaskann tentang konsep 10 kategori yang meliputi substansi yaitu merupakan hakikat dari segala sesuatu yang bersifat fundamental dan merupakan dasar dari segala sesuatu. Misalnya pertanyaan-pertanyaan fundamental yang diajukan oleh Plato. Apakah keadilan. 1987:11). kontradiksi. (5) relasi setiap hal termasuk benda senantiasa memiliki hubungan dengan sesuatu yang lainnya. (2) kualitas yaitu yang berkaitan dengan aksidensia sifat-sifat terutama sifat-sifat yang dapat ditangkap dengan indra (untuk substansi yang memiliki kuantitas). Upaya metafisika untuk memformulasikan fakta-fakta atau Kenyataankenyataan segala sesuatu yang ada dengan suatu asumsi yang menjadi dasar dari argumentasi metafisis tertentu dirumuskan secara lebih eksplisit dan dengan demikian maka peranan bahasa dalam metafisika menjadi sangat sentral. kebaikan dan sebagainya adalah upaya-upaya secar analitik melalui bahasa untuk membuat eksplisit tentang pertanyaan-pertanyaan metafisis tersebut (White. (7) waktu segala sesuatu di alam semesta ini berada di dalam suatu waktu tertentu. kesucian. yaitu ontologi dan kosmologi umum. (4) passi yaitu yang menyangkut penerimaan perubahan yang dikaitkan dengan ssuatu hal atau benda yang lainnya.

keadaan. relasi. Fungsi Bahasa dalam Epistemologi Epistemologi adalah salahsatu cabang filsafat yang pokok.akapn sesuatu itu berada dan kapan sesuatu itu tidak berada kembali. (8) keadaan yaitu bagaimana sesuatu itu berada disamping sesuatu lainnya. (2) Apakah watak dari pengetahuan itu? Adakah dunia yang real di luar akal manusia. 2002:10). Berdasarkan bidang pembahasannya epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan manusia yang meliputi sumber-sumber. watak da kebenaran pengetahuan manusia. 2. . waktu. bukan berdasarkan pengamatan empiris atau hukum rasio. Ungkapan-ungkapan metafisis yang demikian ini yang karena tidak mengacu pada realitas atau fakta yang bersifat empiris maka formulasinya sangat tergantung pada ungkapan-ungkapan bahasa yang digunakan dalam metafisika tersebut. dan juga substansi. Hal itu didasarkan pad akenyataan bahwa pemikiran-pemikiran tentang hakikat segala sesuatu dalam metafisika. Berdasarkan uraian tersebut maka metafisika berupaya untuk memformulasikan segala sesuatu yang bersifat fundamental dan mendasar dari segala sesuatu dan hal ini dilakukan oleh para filsuf dengan membuat eksplisit hakikat segala sesuatu tersebut dan hal ini hanya akan dilakukan dengan menggunakan analisis bahasa yang terutama karena sifat metafisika yang tidak mengacu pada realitas yang bersifat empiris. melainkan berdasarkan analisis bahasa. Bilama dirinci persoalan-persoalan epistemologi meliputi bidang sebagai berikut : (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu? Hal ini semuanya merupakan problema asal pengetahuan manusia. Dalam karya lainnya yang disebut 'peri Hermeneias' Aristoteles merupakan peletak dasar kelas kata yang secara ontologis juga mendasarkan pada sepuluh kategori tersebut (Kaelan. seperti ruang. secara etimologis istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani "Episteme" yang berarti pengetahuan. dan kalau ada dapatkah kita mengetahui? Hal ini semuanya merupakan problema penampilan terhadap realitas.

matematika. serta problema kebenaran pengetahuan manusia. Kalau kita menolak atau mengingkari kebenaran pernyataan-pernyataan itu maka berarti kita harus mengubah satu atau lebih artian terminologi bahasa yang digunakan dalam pernyataan-pernyataan pengetahuan apriori seperti 'kali'. Persoalannya adalah bagaimana dapat dikatakan bahwa pernyataanpernyataan itu benar. 'bagi'. 'tambah'. 1984:20). dan bagaimana sesuatu pernyataan it adalah benar (Poerwowidagdo. logika dan mungkin kita memiliki pengetahuan apriori yang lain. (Titus. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan tentang sesuatu itu adalah benar demikian tanpa didasarkan pada pengalaman indra. tanpa tahun:8). Berdasarkan analisis problema dasar epistemologi tesebut maka dua masalah pokok sangat ditentukan oleh formulasi bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan pengetahuan manusia yaitu sumber pengetahuan manusia yang pengetahuannya meliputi pengetahuan apriori dan aposteriori. Berkaitan dengan masalah pengetahuan a priori peranan bahasa sangat penting bahkan sangat menentukan. 'akar' dan terminologi bahasa lainnya yang digunakan dalam pengetahuan apriori tersebut. misalnya 6 x 6 = 36. sudut bertolak belakang sama besarnya dan pernyataan apriori lainnya secara pasti benar. oleh karena itu kebenaran-kebenarannya sangat ditentukan oleh penggunaan bahasa. Namun demikian bagaimanapun juga bahwa hal itu memaksa kita untuk bertanya apakah yang menyebabkan sesuatu artian (term) itu mempunyai makna tertentu. Argumentasi pengetahuan apriori seperti tersebut di atasmerupakan suatu perdebatan yang besar tentang pengetahuan manusia. Justifikasi kebenaran dalam pengetahuan apriori tersebut seluruhnya diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan bahasa.(3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimanakah kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Hal ini semua merupakan problema kebenaran pengetahuan manusia. Selain dalam pengetahuan apriori peranan penting bahasa dalam epistemologi berkaitan erat dengan teori kebenaran. dan pengalaman kita tidak akan pernah menyalahkan pernyataan-pernyataan tersebut. V16 = 4. Terdapat tiga teori kebenaran dalam epistemologi yaitu: . Jawaban yang akan kita jumpai adalah bahwa pernyataan tentang pengetahuan itu benar berdasarkan definisi atau pernyataanpernyataan itu benar karna arti yang terkandung dalam artian-artian itu sendiri.

suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana hal itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek atu fakta yang diacu pernyataan tersebut.(1) Teori kebenaran koherensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. (2) Teori kebenaran korespondensi yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana materi pengetahuan yang dikadung dalam pernyataan itu berkorespondensi atau berhubungan dengan objek atau fakta yang diacu oleh pernyataan tersebut. Pernyataanpernyataan yang benar tersebut sangat bergantung pada ungkapan yang dirumuskan melalui bahasa dan ungkapan-ungkapan tersebut terdiri atas pangkal pikir-pangkal pikir yang dirumuskan melalui bahasa juga. (3) Teori kebenaran pragmatis yang menyatakan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Berbeda dengan peranna bahasa dalam sistem kebenaran koherensi. Kesalahan dalam merumuskan bahasa akan berakibat kesalahan dalam kebenaran pengetahuan. Jikalau seseorang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara Republik Indonesia adalah Jakarta" adalah benar maka pernyataan itu adalah benar karena pernyataan itu dengan objek yang bersifat faktual atau Jakarta yang memang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia. Misalnya pernyataan 'semua orang pasti akan mati' adalah suatu pernyataan yang benar. peranan bahasa dalam sistem kebenaran menurut teori korespondensi. maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahasa sangat menentukan pada sistem kebenaran koherensi. maka pernyataan 'si Amin pasti akan mati' adalah pernyataan yang benar juga. Justifikasi kebenaran menurut teori koherensi sangat ditentukan oleh suatu pernyataan yang terdahulu yang dianggap benar. Dengan kata lain perkataan bahwa suatu pernyataan itu dianggap benar bilamana memiliki konsekuensi pragmatis bagi kehidupan praktis manusia (Suriasumantri. Namun sekiranya orang lain yang menyatakan bahwa "Ibu kota Negara . Bilamana dalam pernyataan di atas rumusan bahasanya menjadi 'beberapa orang pasti akan mati dianggap pengetahuan yang benar maka pernyataan kedua menjadi 'si Amin belum mati'. 1984:55-59).

sehingga bahasa sangat menentukan formulasi kebenaran tentang fakta. Artinya. 1994:76). tetapi hanya data indrawi dan bahasa harian mengandung teori-teori atau hipotesis yang tidak dapat dibuktikan mengenai benda-benda pengalaman. 2002:12-16). Konstatasi Lean tersebut mengisyaratakan pada kita bahwa objek pengetahuan yang bersifat fisis dan real tidak dapat begitu saja terwakili melalui rumusan bahasa. dan kalau demikian maka akan berakibat pada kesalahan perumusan bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peranan analisis bahasa menjadi sangat penting bahkan sangat menentukan terutama dalam operasionalisasi penelitian sosial yang mendasarkan pada teori kebenaran korespondensi (Kaelan. Konsekuensinya suatu pernyataan yang benar pada suat waktu tertentu dapat menjadi tidak benar manakala pernyataant .Republik Indonesia adalah Yogyakarta" maka pernyataan tersebut adalah tidak benar karena tidak didukung oleh objek yang terdapat suatu hubungan antara ide dan fakta (objek faktual) dan hubungan tersebut dilakukan melalui bahasa. Lean menekankan bahwa bahasa adalah nyata seutuhnya dan tidak mungkin memuat hipotesis yang tak dikenal atu menunjuk kepada hal yang tidak dapat diamati. berkaitan erat dengan konsekuensi fungsional dalam kehidupan praktis. Kelemahan sistem kebenaran teori korespondensi ini terletak pada kekurang sesuaian antara pengalaman indera dengan fakta empiris. sebab objek fisis menurut teori korespondensi tersebut sejauh mana dapat dibuktikan didalam persepsi indrawi karena hanya merupakan data indrawi. kata dalam dirinya sendiri adalah bunyi dan kita memberikan arti kepadanya dengan cara kita dalam menggunakannya (Lean. 1963:16-24). suatu pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Arti kata-katanya terletak dalam penggunaannya. Peranan ungkapan-ungkapan bahasa dalam penentuan kebenaran berdasarkan teori pragmatis. sehingga rumusan bahasa dalam mengungkapkan kebenaran dalam hubungannya dengan objek fisis menjadi sangat menentukan (lihat Hadi. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Martin Lean yang mengemukakan bahwa kita tidak pernah mengalami objek. Kelemahan teori korespondensi adlah apa yang kita persepsi secara langsung adalah persis dengan apa yang dipercaya oleh anggapan umum yaitu objek yang bersifat real dan terlepas dari subjek.

menarik suatu kesimpulan adalah merupakan sebagian kegiatan berpikir manusia (Poespoprodjo. 3. bagaimana kemungkinan hubungan antara bahasa dengan pikiran manusia dalam upaya manusia memahami realitas secara benar (Aminuddin. Berpikir dalam pengertian ini adalah suatu bentuk kegiatan akal dan terarah sehingga dengan demikian tidak semua kegiatan manusia yang bersumber pad aakal tersebut berpikir. mempertimbangkan. 'berpikir dengan mempertimbangkan aturan-aturan atau hukum-hukum' dan bentuk kegiatan ini sering diistilahkan dengan 'bernalar' dengan istilah lain menurut Plato dan Aristoteles bahwa berpikir adalah berbicara di dalam batin. menganalisis. melainkan juga menyertai proses berpikir manusia dalam memahami dunia luar. pergi ke pasar dengan naik mobil atau becak. Seseorang yang sedang melamun tidak termasuk kegiatan berpikir. Masalahnya sekarang. misalnya seseorang yang berpikir akan membeli roti untuk dimakan. juga memiliki fungsi kognitif dan emotif. 1988:36). Bahasa sebagai Sarana dalam Logika Dalam kehidupan manusia bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja. baik secara objektif maupun secara imajinatif. Kegiatan bernalar dengan menggunakan hukum-hukum itulah yang disebut sebagai logika yang merupakan salah satu cabang filsafat praktis. Sebaliknya suatu rumusan bahasa yang tidak mengungkapkan kebenaran objektif dapat menjadi benar karena memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu.dalam masalah ini bahasa memiliki peranan mengkomunikasikan antara objek dengan kehidiupan manusia secara praktis. Oleh sebab memiliki fungsi komunikatif. Rumusan bahasa yang melukiskan kebenaran tentang objek pengetahuan dapat menjadi tidak benar karena tidak memiliki konsekuensi kegunaan praktis bagi kehidupan manusia tertentu. Demikian juga berpikir dapat digolongkan dalam dua pengertian yaitu pertama 'berpikir tanpa menggunakan aturan-aturan atau hukum-hukum'.ersebut tidak memiliki konsekuensi kegunaan atau manfaat praktis bagi kehidupan manusia. kedua. . 1984:4). membuktikan sesuatu.

Dalam pengertian inilah maka peranan bahasa di dalam logika menjadi sangat penting.Persoalan yang mendasar adalah bagaimana kegiatan bernalar manusia itu dapat dikomunikasikan kepada orang lain dan dapat mewakili kebenaran isi pikiran manusia. kalau fungsi pengingkaran itu diganti dengan tanda = maka pola preposisi itu menjadi sebagai berikut : S=P. di dalam pikiran tidak hanya terbentuk pengertian akan tetapi terjadi perangkaian term-term itu. atau sebaliknya ada pengertian yang mengingkari pengertian yang lainnya. Pengertian adalah sesuatu yang abstrak dan diwujudkan dalam bentuk simbol bahasa. Rangkaian pengertian itulah yang disebut proposisi dan pengertian hanya terdapat dalam proposisi. proposisinya menjadi sebagai berikut :" Anjing hitam itu tidak menggonggong". Dalam proses pembentukan proposisi itu sekaligus terjadi pengakuan atau pengingkaran. Dalam proses pembentukan proposisi pengertian (1) disebut subjek (S) adalah pengertian (2) yang menerangkan pengertian (I) disebut predikat (P). Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri dalam pikiran manusia. Dalam kaitannya dengan . Jikalau terjadi pengakuan maka proposisi itu akan menjadi "Anjing hitam itu menggonggong". adapun proposisi itu mengandung benar atau salah. proposisi atau pernyataan. Jikalah proses pembentukan proposisi itu terjadi pengingkaran maka. Kata "itu" berfungsi menerangkan dan diberi tanda = maka pola proposisi itu menjadi sebagai berikut S=P. Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa term tidak dapat ditentukan benar atau salah. Misalnya pada contoh proposisi berikut ini:"anjing hitam itu menggonggong" proposisi itu terdiri atas pengertian "anjing hitam (S) dan "menggonggong" (P). Proses pembentukan proposisi terjadi sedemikian rupa sehingga ada pengertian yang menerangkan pengertian yang lain. dan penalaran atau reasoning. Berkaitan dengan kegiatan penalaran terutama dalam kaitannya dengan observasi empirik. Kegiatan penalaran manusia sebagaimana dijelaskan adalah kegiatan berpikir. Dalam pengertian ini sifat-sifat bahasa berbeda dengan sifat-sifat yang dilambangkannya yaitu pengertian. adapun bentuk-bentuk pemikiran dari yang paling sederhana adalah sebagai berikut: pengertian atau konsep. Oleh karena itu kerancuan sifat-sifat bahasa dengan sifat-sifat yang dilambangkannya akan menimbulkan sesat dalam penarikan kesimpulan. Pengertian yang dilambangkan dengan kata disebut sebagai term.

Hal yang sama juga kita jumpai dalam . Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil analisis penyimpulan penalaran tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan. sesuai dengan arti kalimat yang bersangkutan. dalam kalimat yang berbeda dapat memiliki makna yang berbeda. tanpa tahun:5). Amin adalah mahasiswa UGM Amin adalah penjual sepatu Jadi: Amin adalah mahasiswa UGM yang penjual sepatu Penyimpulan ini benar karena unsur term menggunakkan bahasa yang benar yaitu kata Amin mengacu pada seseorang tertentu. Walaupun term tidak dapat ditentukan bernar atau salah namun kekurang tepatan dalam menentukan simbol (bahasa) term. Maka meskipun kata-kata sama. Berdasarkan uraian di atas bahwa kesesatan dalam penalaran dapat diakibatkan karena bahasa dalam pembentukan term dan proposisi. Misalnya dalam penyimpulan berikut ini. Namun bilamana penentuan bahas term itu tidak maka akan berakibat sesatnya penyimpulan. walaupun keduanya secara formal bentuknya sama namun bentuk logisnya berbeda.bahasa yang digunakan dalam pembentukan proposisi tersebut maka kekeliruan dalam menentukan simbol term dapat berakibat sesanya kesimpulan. dan setiap kata dalam sebuah kalimat mempunyai arti yang. sehingga kesimpulannya tidak dapat bersama-sama sebagai term yang lama. Misalnya pada contoh berikut: Ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM Ada seseorang yang adalah penjual sepatu Jadi: ada seseorang yang adalah mahasiswa UGM dan penjual sepatu Kesimpulan yang kedua ini menyesatkan karena term "ada seseorang yang" ini tidak mengacu pada orang yang sama. (lihat Poerwowidagdo. maka dapat berakibat sesatnya kesimpulan. Jadi peran bahasa dalam penentuan term sangat mempengaruhi hasil dari penalaran tersebut. dan perhatian itu dikarenakan kekurangan tepatan dalam menentukan simbol bahasa pada term sebagai unsur dari proposisi.

Kesesatan karena term ekuivok Term ekuivok yaitu term yang mempunyai lebih dari satu arti. sehingga arti kalimat yang sama dapat bervariasi dalam konteks yang berbeda. berikut ini beberapa kesesatan karena bahasa. Sebuah kalimat dengan struktur sintaksis tertentu dapat mempunyai arti lebih dari satu. Kesesatan karena aksen atau tekanan Dalam ucapan tiap-tiap kata ada suku kata yang diberi tekanan. kalau penalaran itu diberi bentuk lambang. dan arti kalimat juga tergantung pada konteksnya. Kalau dalam satu penalaran terjadi pergantian arti dari sebuah term yang sama. Kesesatan karena arti kiasan (metaphor) Ada analogi antara arti kiasan dengan arti sebenarnya. Contoh : Sifat abadi adalah sifat Tuhan Joko adalah mahasiswa abadi Jadi: Joko adalah mahasiswa yang memiliki sifat Tuhan c. Contoh : Tiap pagi pasukan mengadakan apel. dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. b. Kesesatan karena bahasa itu biasanya hilang atau berubah kalau penalaran dari satu bahasa disalin ke dalam bahasa yang lain. Kalau dalam suatu penalaran sebuah . artinya terdapat kesamaan dan juga ada perbedaannya. Perubahan tekanan dapat membawa perubahan arti. maka kurang perhatian terhadap tekanan ucapan dapat mengakibatkan perbedaan arti dan kesesatan penalaran. Apel itu buah Jadi: Tiap pagi pasukan mengadakan buah. maka terjadilah kesesatan penalaran. Ketidaksaksamaan dalam menentukan arti kata atau arti kalimat. kesesatan itu akan hilang sama sekali. Justru lambang-lambang dalam logika diciptakan untuk menghindari ketidakpastian arti dalam bahasa.kalimat. a.

filsafat bahasa dalam perkembangannya tidak mempunyai prinsip-prinsip yang jelas dan terdefinisikan dengan baik (Alston. sehingga artinya menjadi bercabang. Namun demikian satu hal yang penting untuk diketahui. . sedangkan dalam konklusi artinya berbeda maka terjadilah kesesatan karena amfiboli itu. Apa yang paling depan. yaitu bahwa mereka kesemuanya menaruh perhatiant erhadap bahasa baik sebagai objek materia dalam berfilsafat maupun bagaimana bahasa itu berfungsi dalam kegiatan filsafat (lihat Poerwowidagdo.arti kiasan disamakan dengan arti sebenarnya atau sebaliknya. 1977:122). 1985:12). terjadilah kesesataan karena arti kiasan. Dalam sejarah perkembangan aksentuasi filsuf bahasa menunjukkan minat perhatian yang berbeda dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan problema filosofis pada zamannya masing-masing. Luas Kajian Filsafat Bahasa Filsafat bahasa merupakan cabang filsafat khusus yang memiliki objek materia bahasa. 1964:1). bahwa betapapun terdapat berbagai macam perbedaan tentang perhatian filsuf terhadap bahasa. mahasiswanya atau mejanya? Kalau dalam sebuah penalaran kalimat amfiboli itu di dalam suatu premis digunakan dalam arti yang satu. Demikianlah kiranya pernana bahasa dalam pembentukan term dan proposisi sangat menentukan benar atau sesatnya suatu hasil penalaran dalam logika (Soekadijo. Berbeda dengan cabang-cabang serta bidang-bidang filsafat lainnya. 2). meskipun juga terdapat persamaan di antara mereka. Hal ini disebabkan karena penganutpenganut filsafat bahasa atau tokoh-tokoh filsafat bahasa masing-masing mempunyai perhatian dan caranya sendiri-sendiri. Contoh : Mahasiswa yang duduk di atas meja yang paling depan. d. C. Kesesatan karena amfiboli (amphibolia) Amfiboli terjadi kalau kontruksi kalimat itu sedemikian rupa. yang pasti terdapat hubungan yang sangat erat antara filsafat dengan bahasa karena bahasa merupakan alat dasar dan utama dalam filsafat (Liang Gie.

Berdasarkan alasan tersebut diatas. hakikat bahasa sebagai substansi dan bentuk. filsafat bahasa sebagaimana cabang-cabang filsafat lainnya membahas hakikat bahasa sebagai objek materia filsafat. Hal ini disebabkan karena sesuatu kata tertentu mempunyai arti atau makna tertentu dan yang nampak sedemikian rupa sehingga menimbulkan refleksi filosofis. komunikasi manusia dan bidang-bidang lainnya yang prinsipnya berkenaan dengan pembahasan bahasa sampai hakikatnya yang terdalam (Kaelan. kebudayaan. Kedua: itidaklah tepat bilamana lingkup pembahasan filsafat bahasa itu hanya berkaitan dengan filsafat analitik. Keempat: Selain masalah-maslah tersebut diatas. Meskipun sebenarnya seorang filsuf dapat menggunakan analisisnya untuk setiap konsep dasar yang berkenaan dengan bahasa tetapi dallam kenyataannya kecenderungan yang ada ialah untuk memusatkan perhatiannya pada konsep-konsep semantis. Oleh karena itu lingkup filsafat bahasa yang utama membahas filsafat analitik baik menyangkut perkembangan maupun konsep-konsep dari para tokohnya. . Pertama: salah satu tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep (conceptual analysis). Antar alain hakikat bahasa secara ontologis sebagai dualisme bentuk dan makna. oleh karena itu salah satu bidang filsafat bahasa adalah untuk memberikan analisis yang adekuat tentang konsep-konsep dasr dan hal ini dilakukan melalui analisis bahasa. Lingkup lain filsafat bahasa adalah berkenaan dengan penggunaan dan fungsi bahasa. 2002:22). yaitu pembahasan tentang bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bagi tindakan manusia. dan lain sebagainya. bahkan lingkup pembahasan ini terlalu lama ditekuni oleh para filsuf. Ketiga: berkenaan dengan teori makna dan dimensi-dimensi makna pembahasan tentang lingkup inilah filsafat bahasa memiliki keterkaitan erat dengan linguistik yaitu bidang semantik. Demikian juga hubungan bahasa dengan pikiran. Dalam pengertian inilah pada abad XX filsafat bahasa memiliki aksentuasi pada filsafat analitik. maka pembahasan filsafat bahasa meliputi masalah sebagai berikut.

melainkan karena tidak mampu memahami .BAB II KAJIAN FILSAFAT TENTANG BAHASA A. bahwa alam tidak bisa dibujuk bukan karena enggan memenuhi permintaan manusia. Pengantar Tatkala manusia untuk pertama kali mulai menyadari bahwa kepercayaanya melalui mitos primitifnya itu sia-sia.

Peristiwa ini mengharuskan manusia mengahadapi masalah baru yang merupakan titik balik dan krisis dalam hidup intelektual mampu hidup moralnya. retan terhadap kesepian yang mendalam yang membawa manusia untuk merenungkan dunia sekitarnya. Diskursus melalui bahasa dan tentang bahasa dalam menyibak hakikat realitas telah marak dilakukan oleh para filsuf sejak zaman pra Sokrates. Sekalipun terdapat perbedaan perhatian para filsuf abad pertengahan dengan zaman Yunani namun bahasa masih merupakan teman akrab dalam kegiatan refleksi filosofisnya. Kata tidak dapat mengubah alam benda-benda. kelemahan dan ketidakjelasan konsep-konsep filosofis dapat dijelaskan melalui analisis bahasa. Fungsi magis kata mulai memudar. akan tetapi secara logis kata diangkat ke tingakat lebih tinggi. diganti oleh fungsi semantis. Dalam pengertian inilah dalam sejarah manusia mulai sadar melihat hubungan bahasa dengan realitas dari sudut yang berbeda. Hal itu berlangsung sampai zaman modern dan kemudian disusul filsuf-filsuf abad XX justru semakin menyadari bahwa kekaburan. Bersamaan dengan itu merebak pula reaksi tokoh-tokoh Postmodernisme yang mengakar keberbagai bidang kehidupan manusia yang sekali lagi juga menggunakan media bahasa sebagai dasar pijaknya terutama konsep dekonstruksinya. bahkan tertinggi. Secara fisik kata boleh dikatakan tanpa daya. B. Logos menjadi prinsip alam semesta dan menjadi prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. Sejak itu manusia menemukan dirinya dicekam kesendirian yang mendalam. namun demikian kata bukanlah tanpa arti dan tanpa kekuatan. Zaman Yunani . pada era inilah para filsuf analitik berkiprah menjelaskan mengkritik dan mengungkapkan konsep-konsep filosofisnya melalui analisi bahasa. Demikianlah kiranya sejarah filsafat Yunani telah akrab dengan bahasa dalam mengungkapkan refleksi filosofisnya. tidak lagi memiliki pengaruh jasmaniah atau adikodrati secara langsung. bukanlah letupan angin semata-mata yang menentukan kata bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. kata tidak dapat mengubah kehendak dewa-dewa atau roh-roh.bahasa manusia dan kesadaran itu tentunya menimbulkan goncangan jiwa. Kata tidak lagi memuat daya-daya misterius supernatural. Kata bukanlah sekedar flatus vocis.

Dengan demikian Herakleitos tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. bahasa merupakan media mengungkapkan daya magis dalam komunikasinya dengan para Dewa dan kekuatan super natural lainnya. namun ia mencari prinsip perubahan. namun demikian bahasa bukanlah tanpa arti dan tanpa potensi. namun yang menentukan bahasa bukanlah ciri fisiknya melainkan ciri logisnya. bahasa tidak dapat menggerakkan kehendak Dewa-dewa atau roh-roh. Masa Pra Sokrates Bangsa Yunani sejak lama dikenal sebagai bangsa yang gemar akan oleh pikirnya. Manusia dengan kemampuan kodratnya yang dianugrahkan oleh Tuhan berupanya memahami hakikat realitas segala sesuatu termasuk Tuhan sendiri. Menurutnya tidak ada sesuatu yang difinitif melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa 'sedang menjadi' yang terkenal dengan ungkapan 'panta rhei' artinya semua mengalir. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. .1. akan tetapi secara logis sematis bahasa dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi dalam mengungkap rahasia alam dan segala sesuatu. Namun demikian bagi bangsa Yunani sebelum para filsuf hadir dengan kemampuan refleksinya. Bahasa bukanlah hanya letupan angin yang meluncur dari mulut manusia. Secara struktual fisis bahasa memang tanpa eneegi. Ia tidak sejutu bahwa diatas dunia terdapat ada yang murni sebagai dunia ideal. Kembara refleksi intelektual ini terjadi pada awal filsafat Yunani. bahasa adalah bentuk makna. kata bukanlah sekedar flotus vocis. 1989: 10). Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. semuanya berubah terus-menerus (Bertens. bahasa adalah subtansi dan bentuk sehingga bahasa memiliki ciri logisnya. di dalam dunia jasmani tidak ada sesuatupun yang tetap. Demikianlah kemudian logos menjadi prinsip alam semesta dan prinsip pertama bagi pengetahuan manusia. terutama Herakleitos yang oleh Aristoteles dalam metafisikanya disebut 'para fisiologis kuno' (hoi arkhaioi phisiologoi). Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi. Dengan memudarnya fungsi magis dari bahasa bangsa Yunani mulai sadar bahwa bahasa tidak mampu mengubah alam benda-benda fisis. Ekspresi mitis dan primitif ini membawa manusia pada kegoncangan jiwanya mereka menjadi semakin sepi dan merasakan adanya krisis intelektualnya.

Para filsuf alam memahami dan menafsirkan indentitas ini dari segi yang betul-betul bersifat material. sebenarnya sama-sama menerima kebenaranya. Semua mazhab mulai dengan pengadaian-pengadaian bahwa fakta pengetahuan tidak akan dipertanggungjawabkan tanpa adanya identitas antara subjek yang mengetahui dan realitas yang diketahui. dan dengan cinta kita lihat cinta. dengan air kata melihat air. Bilamana kita gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa dan bukanya melalui fenomena fisik belaka maka kita gagal pula dalam menemukan pintu gerbang filsafat. Terdapat beberapa kesulitan baru yang menyangkut masalah arti. kata 'logos' bukan semata-mata gejala antropologis. Sebab berkat bumilah. bahkan dengan benci kita melihat benci yang menyedihkan. bahkan sampai dewasa inipun masalah itu terdapat beranekaragam pendirian yang dikemukakan oleh para filsuf. karena keduanya satu dan sama. karena ada yang menjelaskan subtansi . dengan api kita lihat api yang kadangkala merusak. Idealisme dan realisme. biarpun mereka berbeda dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. kata Empedokles kita melihat bumi. pemikiran filsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Cassirer. namun kata 'logos' juga mengandung kebenaran kosmis universal. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos pun. melainkan dipahami dalam fungsi semantis dan simbolis. maka akan ditemukan di dalam dunia fisik.Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara menduduki tempat sentral. Parmenides menandaskan bahwa kita tidak dapat memisahkan ada dan berpikir. Namun kata tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. linguis maupun para psikolog Filsafat Yunani kuno hanya mampu memcahkan melalui prinsip yang secara umum diterima dan sangat mapan. dengan udara kita lihat udara yang cerah. Bahkan masa Herakleitos ini disebut sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgmann. Kita harus memahami arti ucapan-ucapan agar dapat memahami arti dalam semesta. Bilamana teori umum ini diterima maka persoalan kemudian adalah apa "arti dari arti" ? Secara antologis pertama-tama dan yang terpenting adalah arti harus diterangkan dari sudut ada. 1974: 3). Pengetahuan tentang makrokosmos dimungkinkan karena mikrokosmos merupakan bagian sistem yang harmonis. Dengan demikian. Bila kodrat manusia kita analisis. 1987: 70). Masalah "arti dari arti" merupakan masalah yang kontroversial.

2002:27. kaki meja dan sebagainya). Pendapat yang menyatakan bahwa bahasa adalah bersifat alamiah (fisei) yaitu bahwa bahasa mempunyai hubungan dengan asal usul usul. Kemudian hal itu dengan sendirinya dilanjutkan dengan upaya menginterpretasi makna. Bahasa bukanlah pemberian . Jadi ada hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. u) metafora (hubungan antara sumber pertama dengan aplikasi kedua. sumber dalam prinsip-prinsip abadi dan tak dapat diganti di luar manusia itu sendiri dan karena itu tak dapat ditolak. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. Karena hal ini merupakan tradisi maka dapat dilanggar dapat berubah dalam perjalanan zaman. Sepatah kata tidak dapat memberi arti pada suatu benda bila tidak ada sekurang-kurangnya identitas sebagian di antara kedua hal tersebut. Sebaliknya kaum konvensionalis berpendapat bahwa makna bahasa diperoleh dari hasil-hasil tradisi. nature. dan saat itu kemudian munculah persoalahn filosofis yaitu apakah bahasa itu dikuasai oleh alam. misalnya leher botol.28). menyusun daftar kata-kata peniru bunyi ('onomatopoeia'). o. atau fisei ataukah bahasa itu bersifat konvensi atau nomos. Kaum naturalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatakan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk.merupakan kategori yang paling umum yang mengikat dan menyatukan kebenaran dengan realitas. Pertentangan antara 'Fisei' dan 'Nomos' Perhatian para filsuf terhadap bahasa nampaknya menjadi semakin kental. ciri-ciri atau 'sound symbolism' baik bersifat imitatif dan sugestif (I. Perbincangan hakikat bahasa pada zaman itu menjadi semakin marak tentang terdapat bahwa apakah bahasa itu sebagai konversi atau bersifat alamiah (Kaelan. kebiasaan-kebiasaan berupa 'tacit agreement' yang artinya 'persetujuan dian'. Dari pengertian ini lahirlah usaha-usaha orang untuk mencari sumber sebuah kata atau disebut 'etimologi'. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal bukan semata-mata konvensional. Kaum naturalis selanjutnya mengutarakan bahwa bahasa bukanlah hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'.

M. jawaban. Protagoras sebagai tokoh kaum Sofis ini membedakan tipe-tipe kalimat atas 7 yaitu : narasi pertanyaan. Austin yang membedakan bahasa atas tindakan dalam menggunakan bahasa. fasih lidahnya dan berkeliling dari kota ke kota untuk melatih kaum muda dalam bidang keahlian berpidato. Mereka terkenal di seluruh Yunani karena keahliannya dalam bidang retorika. dan undangan. Adapun Gorgia membedakan tentang gaya bahasa yang dewasa ini dikenal dalam studi bahasa secara luas (Parera. sehingga penganut-penganutnya dinamakan kaum Sofis. 1977:42). Untuk tujuan ini mereka mengembangkan cabang pengetahuan . perintah.Tuhan. Mencari keterangan tentang bahasa dunia benda-benda fisik merupakan usaha yang sia-sia dan tidak berguna. Sesuai dengan ungkapan yang dikemukakan oleh Protagoras bahawa manusia menjadi pusat semesta manusia adalah merupakan pusat segala-galanya. Hal ini nampaknya mirip dengan konsep J. Dalam dialog Plato pendapat ini diwakili oleh tokoh yang dikenal saat itu yang bernama Hermogenes. Athena menjadi pusat baru seluruh kebudayaan Yunani. Kaum Sofis Sekitar pertengahan abad 5 S. Kaum Sofis menemukan pendekatan baru yang lebih sederhana untuk mendekati bahasa manusia. Pada waktu itu di bidang politik Athena memainkan peranan yang sangat penting di bawah pimpinan Perikles. laporan doa. Dalam kaitannya dengan filsafat bahasa kaum Sofis mengemukakan bahwa dalam membahas hakikat bahasa yang memainkan peranan utama bukanlah metafisika melainkan filsafat manusia. Kaum Sofis ini mulai menekuni bahasa mengadakan pembedaan tipe-tipe kalimat berdasarkan isi dan maknanya mungkin berdasarkan strukturnya. Terdapatlah suatu golongan yang biasanya dinamakan Sofistik. melainkan bahasa bersifat konvensional. Demikian pula waktu itu filsafat juga berpusat di Athena.L. Demikianlah kiprah para filsuf bahasa yang mencoba menemukan hakikat bahasa. Memang diakui bahwa dalam kenyataannya bahasa tidak dapat dipasung melalui satu mazhab saja melainkan bahasa memang memiliki sifat konvensional namun juga terdapat ciri-ciri fisei walaupun hal itu meliputi jumlah yang banyak.

baru yaitu 'retorika' . 1987:173). Mereka hanya mencapai kesepakatan mengenai satu hal kebenaran yang sesungguhnya tidak mungkin dapat tercapai. dalam definisi mereka tentang 'kebijaksanaan (sophia). Proses dialek-kritis dalam hal ini mengandung suatu pengertian "dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan (inteplay) antar ide (Titurs. 1980:54). Dalam diskusi filsafat mereka tidak memiliki kesepakatan tentang dasar-dasar umum yang berlaku bagi kedua teori tersebut. Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. 1984:17). Kaum Sofis inilah yang membawa perubahan terhadap corak pemikiran filsafat di Yunani yang semula terarah pada kosmos menjadi terarah pada teori pengetahuan dan etika (Hatta. Sokrates Kaum Sofis yang dikenal dengan kemahirannya dalam olah penggunaan bahasa terutama melalui retorikanya. Tugas bahasa yang nyata bukanlah untuk melukiskan benda-benda melainkan untuk membangkitkan emosi manusia. 2. istilah dan kata menjadi sia-sia dan berlebihan. maka muncullah persoalan dasar-dasar teori pengetahuan dan etika. Sejalan dengan filsafat kaum Sofis yang dalam arena perdebatan filsaft tidak mudah menyerah. yaitu segala sesuatu yang bersifat nisbi. bukan hanya untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran saja. Menanggapi kondisi kacau akibat kelicinan kaum Sofis tersebut Sokrates merasa terpanggil untuk meluruskannya dengan suatu metode "dialektis=kritis". Tugas bahasa benda-benda. senantiasa aktif mengembangkan dan mengangkat masalah-masalah filsafat untuk diperdebatkan secara kritis. retorika menduduki tempat sentral. Kata-kata tidak memiliki korelasi objektif. oleh karena itu harus diragukan kebenarannya. Sokrates dalam menerapkan metode dialektis kritis itu tidak begitu saja menerima suatu pengertian sebelum dilakukan pengujian-pengujian untuk . Semua pertikaian tentang 'kebenaran' atau 'ketepatan' (orthotes). melainkan untuk mendorong orang agar mengambil tindakan-tindakan tertentu (Cassirer.

Kaum Sofis yang lazimnya tidak begitu saja mudah menyerah dengan kefasihannya dalam setiap perdebatan ternyata mengakui keuletan dan akurasi metode Sokrates dalam menjelaskan makna melalui analisis bahasanya dialektis kritis.membuktikan benar atau salahnya. Metode yang digunakan oleh Sokrates dengan metode yang dikembangkan oleh kaum Sofis dengan retorikanya nampaknya memang terdapat perbedaan . kepada seorang panglima tentang makna 'keberanian'. Dengan menggunakan metode dialketis kritis inilah nampaknya Sokrates mampu mengatasi kemelut filosofis melalui perdebatan yang ketat. 1984:28). Akan tetapi jikalau lawan dialog itu tidak mampu mengajukan argumentasi yang benar mengenai pengertian yang diungkapkannya. Oleh karena itu ia selalu meminta penjelasan-penjelasan tentang sesuatu pengertian dari orang yang dianggap ahli dalam bidangnya. dan kepada seorang pemimpin tentang makna 'keadilan' dan lain sebagainya (Bakker. karena dianggapnya tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. maka ide yang telah teruji tadi diterimanya sebagai pengetahuan yang benar untuk sementara sebelum dilakukan pengujian lebih lanjut melalu metode komparasi (perbandingan). Dengan metode itu tujuan utama Sokrates adalah untuk menjernihkan pelbagai problema filosofis yang selama ini dikacaukan oleh kaum Sofis. Misalnya ia bertanya kepada seorang seniman tentang apa yang dimaksud dengan 'keindahan'. Jadi Sokrates senantiasa menuntut para ahli untuk mempertanggungjawabkan pengetahuannya dengan alasan yang benar. terutama yang ditimbulkan oleh kaum Sofis. Dapat pula dikatakan bahwa dengan metode dialektis kritis ini Sokrates melakukan penyembuhan (therapy). maka ide yang dilontarkan akan disisihkan oleh Sokrates. yang terjadi ddalam bidang filsafat pada masa itu. Metodi Therapy yang dilakukan oleh Sokrates terhadap kekacauan makna yang merupakan penyakit kronis yang ditimbulkan oleh kaum Sofis ini nampaknya juga dilakukan oleh para filsuf analitik dalam menyembuhkan obrolan omong kosongnya kaum idealisme yang dianggapnya tidak bermakna. kemudian Sokrates mengajukan serangkaian pertanyaan mengenai dasar-dasar pemikiran para ahli itu tentang apa alasan mereka sehingga memiliki pandangan yang demikian. (Lihat Mustansyir. Apabila diperoleh suatu jawaban yang memang benar yang didukung oleh alasan yang benar. Setelah diperoleh penjelasan dari ahlinya. 1987:20).

Namun demikian tesis Plato tersebut selaman beberapa abad masih tetap bertahan. Bila pengadaian ini bersumber pada teori umum pengetahuan bukannya pada teori bahasa maka diperlukan suatu upaya pemecahan. maka kita harus menelusuri kata-kata sampai pada sumber-sumbernya. Keberatan terhadap teori Plato ini menunjuk pad fakta bahwa ketika menganalisis kata-kata dalam pembicaraan sehari-hari. Bilamana kita hendak mengusut lebih lanjut ikatan yang menyatukan antara kata-kata dengan objeknya. Menurut prinsip ini sebenarnya etimologi tidak hanya .yang sangat tajam. kita sering sungguhsungguh tidak bisa menentukan kemiripan yang diduga ada antara bunyi-bunyi dengan benda-benda. suatu kata dalam perbedaharaan bahasa manusia takkan dapat dipahami. Persoalan dikotomi tentang hakikat bahasa 'fisei' dan 'nomos' tertuang dalam dialog Cratylus dan Hermogenes. Tanpa hubungan natural seperti itu. 1987: 171). Plato Plato seorang filsuf dari Athena dalam menuangkan karya-karya filosofisnya diwujudkan melalui bentuk dialog. 3. Ulasan Plato terhadap teori yang mengatakan bahwa semua bahasa berasal dari peniruan bunyi-bunyi berakhir dengan ejekan dan karikatur. Kesulitan ini bagaimanapun juga dapat disingkirkan dengan menunjuk fakta bahwa bahasa manusia sejak semula rentan terhadap perubahan dan kerusakan. Dalam persoalan inilah Plato mengemukakan diktrinnya yang disebut 'onomatopoeia’ (Cassier. Bahkan sampai dewasa ini kepustakaan bahasa masih merupakan bahan pembahasan walaupun tidak merupakan satu-satunya teori dalam ilmu bahasa. namun demikian keduanya memiliki kesamaan yaitu menjelaskan konsep-konsep filosofis melalui bahasa. Dari kata-kata direvatif kita harus kembali kepada kata-kata primer. Filsafat bahasa Plato inilah yang mampu menjembatani jurang antara namanama dengan benda-benda. Maka tidak boleh berhenti pada keadaan yang sekarang. kita harus menemukan 'etimon' atau bentuk murni dan bentuk asal dari tiap-tiap kata. Hubungan antara simbol dengan objeknya haruslah narutal tidak semata-mata konvensional.

'Rhemata' jamaknya 'rhema' dapat berarti frase atau ucapan dalam bahasa sehari-hari. verb. kategori demikian pula tentang filsafat bahasa. Pemikiran inilah yang merupakan pangkal perbedaan konsepnya dengan pemikiran filosofis gurunya. Misalnya tentang prinsip kausalitas. Ia sebagai salah seorang dari padepokan Akademia Plato di Athera dan dia belajar samapai Plato meninggal. subjek dalam hubungan subjek logis. maupun kalimat. nominal menurut istilah tata bahasa. Platolah yang pertamatama membedakan kata dalam 'onoma' dan 'rhema' (Parera. Aristoteles Aristoteles seorang filsuf yang jenius dari Stagira yang memiliki karya yang cukup banyak dan pemikiran-pemikirannya sampai saat ini masih relevan dengan ilmu pengetahuan. Pengertian 'onomata' jamaknya 'onoma' dapat berarti nama (dalam bahasa sehari-hari). 4. Teori Aristoteles disebut dengan istilah 'hilemorfisme' yang berasal dari bahasa Yunani 'hyle' dan 'morphe' yang secara hafiah disebut 'teori bentuk-materi'. melainkan dalam bendabenda jasmani sendiri.menjadi dasar dalam linguistik melainkan justru menjadi salah satu dasar filsafat bahasa. Nampaknya Plato telah banyak menuangkan konsep-konsepnya berkaitan dengan hakikat bahasa yang dalam kenyataannya sampai saat ini merupakan dasar pijak bagi pengembangan imu bahasa. 1983 : 43). Aristoteles . Aristoteles mengemukakan pemikiran filosofisnya bahwa terdapat sesuatu yang tetap akan tetapi tidak dalam suatu dunia ideal. Lebih lanjut Plato mengemukakan pemikiran filosofisnya tentang bahasa dalam dialog Cratylus. nomen. dalam istilah tata bahasa dan 'rhema' merupakan anggota dari 'logos' yang berarti suatu segmentasi bahasa baik berupa frase klausa. bahwa bahasa pada hakikatnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan 'ono mata' dan 'rhemata' yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. verbal. logika.

Bentuk dan materi dalam pengertian ini bukanlah dalam arti empiris indrawi melainkan dalam pengertian prinsip-prinsip metafisis. yang sama sekali terbuka. dengan bersama menandai waktu yang dimaksudkan misalnya 'kesehatan' adalah 'onoma' tetapi 'adalah sehat' adalah 'rhema'. Materi adalah prinsip yang sama sekali tidak ditentukan. Pemikiran Aristoteles tentang filsafat bahasa tidak bisa dipisahkan dengan logika yang dalam karyanya disebut 'organon' secara luas dikenal dengan istilah logika tradisional. Dalam pengertian inilah maka Aristoteles mengemukakan bahwa ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda kongkrit (Bertens. karena sebagaian tamabahan menandai adanya (waktu sekarang) dalam diri seseorang. 1989 : 15). dan selalu merupakan tanda untuk apa yang dibicarakan tentang sesuatu yang lain. yaitu bentuk dan materi. susunan fikir. Dalam 'organ' Aristoteles menjelaskan bahwa logika itu meliputi pengertian dan penggolongan artian. yang secara sederhana bahwa hakikat bahasa juga meliputi hakikat materi dan bentuk (Arens. batasan. Materi adalah suatu kemungkinan belaka untuk menerima suatu bentuk. Bilamana kita .memberikan konstatasinya bahwa setiap benda jasmani terdiri atas dua hal. 1975:21). Selain itu yang dimaksud dengan pengertian 'syndesmoi' adalah 'penghubung partikel' yang dalam pengertian linguistik sering diistilahkan dengan konjungsi. Pandangan Aristoteles tentang hakikat bahasa itu nampak mendasarkan pada konsep filosofisnya tentang 'hilemorfisme'. tak ada satu bagianpun dari padanya memberi tanda secara sendiri-sendiri. Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu. penyimpulan langsung dan sesat pikir (Liang Gie. 1984: 21). Selain itu Aristoteles juga mengembangkan prinsip keteraturan dalam bahasa sehingga bahasa memiliki paradigma yang disebut dengan 'analogi'. tak satu bagianpun mempunyai makna sendiri. keterangan. Dalam salah satu karyanya Peri Hermeneias yang mengemukakan tentang kwalifikasi kata yaitu 'onoma'. 'rhema' dan 'syndesmoi'. Demikian juga dalam membahasa tentang hakikat bahasa Aristoteles juga mendasarkan pada prinsip metafisisnya. Dua prinsip ini tidak dapat hanya ditunjukkan dengan jari melainkan harus diandaikan bahwa kita mengerti benda-benda jasmani. 'onoma' adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu.

Golongan yang berpendapat analogi menyatakan bahwa alam ini memiliki keteraturan. namun demikian sampai saat ini kedua pendapat itu masih relevan dengan realitas bahasa terutama dalam pengembangan bidang ilmu linguistik. Dalam pengrtian inilah bahasa itu pada hakikatnya bersifat alamiah (Parera. Keteraturan bahasa membawa konsekuensi dapat disusun suatu tata bahasa. Memang dapat kita akui bahwa perdebatan kedua pendapat itu akan berjalan seperti rel kereta api. Proses pembentukan proposisi. satu paradigma.analisis lebih jauh dasar kerja penalaran logika tradisional sangat mendasarkan pada term yang diwakili oleh simbol bahasa. Dikotomi 'analogi' dan 'anomali' Pembahasan tentang hakikat bahasa di Yunani ditandai pula dengan munculnya teori 'analogi' dan 'anomali' yang nampaknya berpegangan pada khitohnya masing-masing. demikian pula manusia juga memiliki keteraturan dan hal itu terefleksi melalui bahasa. . 'girl – girls'. batasan dan terutama penyimpulan yang benar senantiasa mendasarkan pada analisis bahasa. Analogi secara matematis berdasarkan proporsi seperti 6:3 sama dengan 4:2 sama dengan 2:1 misalnya jamak dalam bahasa Inggris 'book – books'. Oleh karena itu menurut kelompok analogi bahwa bahasa itu teratur dan disusun secara teratur pula. Sebaliknya kaum anomalis berpendapat bahwa bahasa dalam bentukbentuknya tidak teratur (irreguler). Kiranya pendapat kaum anomalis ini masih digunakan sebagai salah satu ciri bahasa bahwa bahasa itu pada hakikatnya arbitrer (mana suka) karena sifat bahasa yang alamiah tadi. Mereka menunjuk beberapa bukti dalam kenyataan sehari-hari mengapa ada sinonimi dan homonimi mengapa ada unsur kata yang disebut netral dan jika bahasa itu bersifat konvensional semestinya kekacauan itu diperbaiki. premis. 1983: 42). Prinsip analogi ini sebenarnya merupakan transformasi keteraturan logika dan matematika ke dalam bahasa. Analogi dianut oleh kelompok Plato dan Aristoteles dan diterapkannya dalam karya-karya mereka. 'cow – cows' dan lain sebagainya. Dalam pengertian inilah sebenarnya Aristoteles telah turut andil dalam meletakkan dasar-dasar filsafat bahasa.

dan tidak menggunakan bebtuk-bentuk onoma secara praktis dalam contoh. sign yang disebut semainon. tempat Zeno memberikan pembelajarannya. Dalam bidang lekta. Mereka membedakan antara legein (tutur) bunyi yang mungkin merupakan bagian dari fonologi dari sebuah bahasa tetapi tidak bermakna. dan ini adalah bunyi atau materi bahasa. B. Kedua. Mazhab Stoa Mazhab Stoa didirikan oleh Zeno dari Kriton sekitar menjelang abad keempat SM. atau lekton. phone. Semua perubahan dari onoma sesuai dengan fungsinya tidak mereka akui hal itu hanya sebagai kasus saja.5. Namun demikian satu hal yang perlu dicatat bahwa sumbangan kaum Stoa terhadap filsafat bahasa cukup besar terutama dalam menentukan prinsip-prinsip analisisnya secara sistematis. Nama stoa menunjuk kepada tempat belajar yaitu suatu serambi bertiang. tanda tulisan untuk huruf itu dan nama untuk huruf itu. Ketiga. makna mereka mempunyai pandangan yang berbeda dengan analisis logika Aristoteles yang sering tidak jelas maksudnya. Menurut kaum Stoa kasus itupun onoma pula yang sesuai dengan fungsinya. Kaum Stoapun juga menaruh perhatian terhadap bunyi. dan C. Pertama. Lalu mereka membedakan atas kasus nominatif-genetif. datif- . yang diistilahkan dengan semainomenon. Mazhab Stoa ini berdiri atas kelompok filsuf yang ahli logika sehingga pandangan-pandangannya tentang hakikat bahasa tidak dapat dilepaskan dengan rasio yang mendasarkan pada logika. (2) makna. Hal ini disebabkan logika Aristoteles dengan silogismenya yang hanya mempergunakan kode huruf A. Langkah pertama kaum Stoa untuk mendeskripsikan tentang hakikat bahasa terutama tentang makna dengan membedakan tiga aspek utama bahasa : (1) tanda atau simbol. kaum Stoa telah membedakan antara studi bahasa secara logika dan studi bahasa secara gramatika. kedua kemajuan tersebut ada hubungannya dengan perbedaan kaum Stoa dan logika peripatetik dari penganut Aristoteles. Mereka memberikan contoh tentang kata Yunani 'gramma' berarti huruf itu sendiri. Aristoteles hanya mengakui adanya onoma dan onomata. mereka telah menciptakan beberapa istilah teknik khusus untuk berbicara tentang bahasa. (3) hal-hal ternal yang disebut benda atau situasi yang diistilahkan dengan to pragma atau to tungchanon.

he. Pendapat kaum Soa ini memang merupakan rintisan ke arah pengembangan suatu tata bahasa walaupun sifatnya masih spekulatif (Parera. dan arthron. yang mula-mula empat kemudian lima : benda. yang meliputi juga Romawi maupun Yunani. seperti dalam bahasa Yunani : ho. antara lain dengan dikembangkan "kebudayaan helenistis". Syndesmoi disebutkan sebagai kata yang tidak mempunyai akhir kasus. Kaum stoa juga membedakan jenis kata.45). hoi. tunggal dan jamak. Pengembangan dan . sedangkan rhema disebutkan sebagai kata yang menggambarkan satu peristiwa dan tidak mengalami kasus. Dalam hal ini mereka memberikan pengertian bercampur antara bentuk morfologis dan semantik. Pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat bahasa walaupun masih memiliki ciri spekulatif namun telah mulai mengarah pada dasar-dasar linguistik. Hal ini bukan berarti kehancuran kebudayaan dan filsafat Yunani melainkan tetap berkembang dengan subur mengingat sang Raja sendiri menaruh perhatian terhadap kebudayaan. Hal yang sama juga berlaku bagi rhema. yang dalam pengertian sekarang disebut bentuk infinit dan finit. Walaupun Aristoteles membedakan rhema dalam 'tense' ia berbicara tentang sesuatu yang belum komplit. to. C.akusatif dan sebagainya. ta. yang menyatakan jenis kelamin maskulin. 1983:44. Bentuk ini kemudian kita kenal dengan nama artikel dan kata ganti penghubung. Zaman Abad Pertengahan Alexander Agung yang dalam sejarah telah mendirikan suatu kerajaan besar. Dalam kenyataan sejarah perhatian orang Romawi terhadap bahasa sangat dipengaruhi bahkan meneruskan pemikiran-pemikiran para filsuf Yunani. kerja. Arthron ialah kata yang menyatakan jenis kelamin dan jumlah. Jika masuk dalam suatu kalimat akan berbentuk kategorrhema. feminin. syndesmoi. Kata benda disebut kata yang mengalami infleksi yang dibedakan atas kata benda dan nama diri. Kaum stoa dalam hal ini membedakan rhema dan kategorrhema. hai. netral. Apa yang mereka sebut nominatif itu menurut Aristoteles disebut onoma saja.

Dengan metode-metode linguistik komparatifnya ia memberikan pula etimologi dalam bidang kata primer derivasi serta infleksi. Varro juga membahas hal yang sama.pemikiran tentang bahasa di Romawi diserahkan kepada seorang tokoh yang bernama Crates seorang filsuf dan sekaligus seorang ahli gramatika golongan Stoa. Etimologi Dalam bidang etimologi Varro mencatat perubahan bunyi dari zaman ke zaman dan perubahan makna dari sebuah kata. Satu hal yang merupakan suatu kelemahan dalam etimologi ini. seperti bahasa Indo Eropa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pemikiran-pemikiran filsuf Yunani sangat mewarnai konsep-konsep tiap orang Romawi. ialah menganggap semua kata yang berbentuk sama adalah pinjam langsung. walaupun beberapa contohnya kurang tepat. Padahal dalam kenyataannya ada pula bentuk-bentuk bahasa kedua bahasa tersebut harus direkonstruksikan kembali kepada satu bahasa purba. Karya Varro yang terbesar adalah "De Lingua Latina" terdiri atas 25 jilid. dan berikut ini beberapa bagian yang penting dari karya Varro. Pengertian Kata . Pemikiran Varro tentang Hakikat bahasa Dalam perkembangan karyanya Varro terlibat juga dalam perbincangan spekulatif yang dikotomis di Yunani yaitu antara pandangan analogi dan anomali. 1. Kiranya dalam karya-karyanya yang ada. Perubahan makna umpamanya 'hostis' semula berarti 'orang asing' kemudian berubah menjadi 'musuh'. Karya besar filsuf Romawi tentang filsafat bahasa adalah Varro yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan ahli bahasa. Ia memberikan contoh perubahan bunyi 'duellum'menjadi 'bellum' = perang.

Jadi ada kasus : nominativus (Bentuk primer.Menurut Varro perihal pembahasan kata sebenarnya terdapat bentukbentuk yang terjadi secara analogi dan anomali terutama dalam bahasa Latin. dan yang menjadi anggota bawahan dari kata kerja. Ia menyusun satu sistem infleksi dari kata Latin dalam empat bagian sebagai berikut. Berbeda dengan bahasa Yunani yang hanya mengenal lima kasus. jika ia mempunyai deklinasi yang biasa dipakai semua orang menurut ketentuan dan aturan. Yang berinfleksi kasus Yang berinfleksi 'tense' Yang tidak berinfleksi --. dari). Konsep kasus inilah yang banyak memberi sumbangan terhadap perkembangan studi bahasa. Dalam menyusun bentuk indikatif 'tense'. Dalam hubungan ini penting juga untuk diketahui pengertian kata yang dikemukakan oleh Varro. Ia menyusun satu perbedaan antara 'tense'.adverbium Keempat kelas kata ini dikategorikan kembali kedalam (yang membuat perntanyaan yang menghubungkan dalam sintaksis kata benda dan kata kerja. 'time'.kata kerja --. adverbium). 'aspect'. Yang disebut kata ialah bagian dari ucapan. 1983: 52). Varro telah membahas lebih jauh dibandingkan dengan pada masa Yunani. dativus (menyatakan asal. Kasus yang keenam adalah ablativus. generativus (menyatakan kepunyaan).kata benda (termasuk sifat) --. Dengan kata kerja ia nampaknya bersimpati terhadap kaum Stoa. Varro membedakan juga deklinasi dari bentuk- . yang tidak dapat dipisahkan lagi dan merupakan bentuk minimum. Dalam hal deklinasi. ia membedakan pula atas aktif-pasif (Parera. Konsep morfologi Dalam bidang morfologi Varro menunjukkan orisinalitasnya dalam pembagian kelas kata. Jadi terdapat bentuk-bentuk teratur dan tidak teratur. pokok). Kasus dan Deklinasi Dalam hal kasus perihal penggunaan dan maknanya dalam bahasa Latin ada enam kasus.

karena merekalah yang memasukkan semantik sebagai norma utama dalam deskripsi bahasa. yaitu bunyi yang diucapkan untuk membedakan makna. Deklinasi naturalis pada umumnya reguler dan dapat diketauhi masyarakat pemakai bahasa dengan serta merta tanpa ragu-ragu. Akan tetapi bunyi yang disebut vox illitterata adalah bunyi yang tidak dapat ditulis. (2) teori-teori taa bahasanya merupakan tonggak-tonggak utama pembicaraan bahasa secara tradisional. Nama dari huruf-huruf ini adalah figurae. Konsep deklinasi tersebut yang mempengaruhi cara kerja penemuan etimologi. Kata adalah bagian yang minium dari suatu ujaran dan harus diartikan terpisah . demikian juga mereka juga membicarakan segi-segi formal dari bentuk-bentuk bahasa. 2. Konsep Priscia Perkembangan pemikiran tentang hakikat bahasa lama kelamaan menjadi semakin sempurna dan berkembang ke arah sturdi ketatabahasaan. Menurut konsep morfologi Priscia dijelaskan bahwa kata disebut dictio. Nilai dari bunyi ini disebut potestas. Jika disebut tata bahasa tradisional sebenarnya merekalah sumbernya. Konsep Priscia ini merupakan model yang paling berpengaruh terhadap perkembangan bahasa sesudahnya. apakah ia bunyi articulata atau inartikulata. Hal ini dianggap penting karena terdapat dua alasan yaitu : (1) konsep Priscia merupakan model tata bahasa latin yang paling lengkap yang dituturkan oleh pembicara aslinya. Fonologi dan Morfologi Priscia Dalam bidang fonologi priscia membicarakan tulisan atau huruf yang disebutnya litterae. Deklinasi voluntaria yaitu satu perubahan bentuk dari kata-kata secara morfologis yang bersifat selektif dan manasuka. Litterae merupakan bagian yang terkecil dari bunyi yang dapat dituliskan. Para penutur kadang-kadang harus sadar akan bagaimana ia harus melaksanakan suatu deklinasi irreguler. Priscia membedakan pula atas vox articulata. Secara singkronis ia membedakan pula ada dua macam deklinasi yaitu : deklinasi naturalis atau deklinasi alamiah ialah perubahan sebuah bentuk yang terjadi dengan sendirinya dan sudah terpola.bentuk derivasi dan infleksi. Bahkan konsep model Priscia inilah yang merupakan model dan contoh untuk penulisan dan pendeskripsian tatabahasa-tatabahasa di Eropa dan di dunia lainnya. vox litterata adalah bunyi-bunyi yang dapat dituliskan.

Cinjuctio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dan secara sintaksis menghubungkan anggota-anggota kelas kata yang lain untuk menyatakan hubungan antara unsur satu dengan lainnya. 7). Verbum menyatakan perbuatan atau dikenal perbuatan.dalam makna sebagai satu keseluruhan. Tingkat berikutnya pembahasan bahasa yang menyangkut hubungan kata dengan kata. Menurut Priscia oratio yaitu . Mengambil kategori verbum dan nomen (tense dan kasus). Kata benda yang menunjukkan subtansi dan kualitas. Nomen : dalamnya termasuk kata sifat menurut klasifikasi sekarang. tetapi tidak berinfleksi kasus. Adverbium : keistimewaan adverbum ini ialah selalu dipergunakan dalam konstruksi bersama dengan verbum dan secara sintaksis dan semantik merupakan atribut verbum. Dalam bidang morfologi inilah Priscia membedakan jenis kata dalam delapan macam yaitu : 1). Praepositio : yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi juga dipergunakan sebagai kata yang terletak di depan bentuk yang berkasus atau dalam kompositum. Pronomen : yaitu jenis kata yang dapat menggantikan nomen biasa dan biasanya menunjukkan orang pertama. Penentuan kelas kata tersebut sebagai unsur dari pembenetukan satuan bahasa lainnya yaitu kalimat. 6). Verbum : verbum adalah jenis kata yang mempunyai infleksi untuk menunjukkan 'tense'. 5). dan oleh karena itu berbeda dari keduanya. Participium : yaitu sebuah kelas kata yang selalu berderivasi dari verbum. kedua dan ketiga. 4). 3). modus. frase dan unsur lainya yang dewasa ini disebut bidang sintaksis disebut sebagai oratio. Dalam hal ini Priscia memiliki suatu kekeliruan bahwa seakan-akan bentuk vires bentuk Latin tidak dapat dianalisis atau dipecah-pecah kembali dalam bentuk yang lebih kecil lagi. 2). Interjectio : jenis kata yang secara sintaksis terlepas dari verbum dan menyatakan perasaan atau sikap pikiran 8).

tata susun kata yang berselang dan menunjukkan kalimat itu selesai. Hal yang menarik dari segi oratio yaitu bahwa sebuah kata itu dapat menjadi kalimat secara penuh. Demikianlah kiranya pemikiran tentang bahasa kelompok Priscia yang besar pengaruhnya terhadaps tudi bahasa pada periode-periode berikutnya (Parera, 1983, 54-56); (Kaelan, 2002: 24-43).

D. Zaman Abad Modern Ciri yang utama pada zaman abad pertengahan adalah masa-masanya filsuf Kristiani terutama kaum Patristik dan Sekolastik sehingga wacana filosofis juga sangat akrab dengan teologi. Selain di Eropa perkembangan pendidikan diwarnai oleh sistem pendidikan Latin. Semua orang yang mencapai pendidikan tinggi baik di awam mapun rohaniawan bergantung pada pengetahuan mereka mengenai bahasa Latin. Dengan demikian bahasa latin menduduki tempat yang terhormat terutama dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat maupun teologi. Pendidikan zaman abad pertengahan dibangun dalam 7 sistem sebagai pilar utamanya dan bersifat liberal. Ketujuh dasar pendidikan liberal tersebut dibedakan atas Trivium, yang mencakup grammatika dialektika (logika) dan retorik, serta Quadrivium, yang mencakup aritmetika, geometrika, astronomi dan musik. Pada zaman ini perkembangan filsafat bahasa menuju pada dua arah yaitu, pertama dengan ditentukannya grammatika sebagai pilar pendidikan lain serta bahasa latin sebagai titik sentral dalam khasanah pendidikan maka pendidikan spekulatif filosofis memberikan dsar yang kokoh bagi ilmu bahasa. Kedua oleh karena sistem pendidikan dan pemikiran filosofis pada saat itu sangat akrab dengan teologi, maka analisis filosofis diungkapkan melalui analisis bahasa sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas. Kemudian dasar-dasar yang mendukung perkembangan ilmu bahasa antara lain konsep pemikiran kaum Modistae dan konsep bahasa spekulativa.

1.

Pemikiran Thomas Aquinas Thomas Aquinas atau dikenal juga dari Aquino dilahirkan di Italia dan pada

usia 19 tahun ia masuk Ordo Dominikan. Thomas telah menghasilkan banyak

karya dansuatu edisi modern telah mengumpulkan semua karyanya terdiri atas 34 jilid. Pemikiran filsafat Thomas diwarnai oleh nuansa teologi dan selain itu Thomas banyak memberikan komentar terhadap filsafat Aristoteles, sehingga tidak mengherankan banyak karya-karyanya diwarnai oleh filsafat Aristoteles. Pemikiran Thomas yang lekat dengan teologi tersebut dalam sistematika filsafatnya merupakan karya terbesar pada periode abad pertengahan terutama karyanya yang berjudul summa Theologiae (ikhtisar teologi) (Bertens, 1989:35). Untuk menemukan suatu kebenaran pada suatu masalah tertentu menurut Thomas perlu memahami terlebih dahulu dengan baik-baik apa yang telah disumbangkan pemikir-pemikir besar yang lain. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles, yang mengembangkan semangat dialektika Sokrates. Menurut Thomas kesemuanya harus diandaikan bahwa mereka mempunyai dasar bag pendapatnya. Segala pro dan kontra dari siapa pun harus diangkat secara serius, dan dideskripsikan seobjektif mungkin. Argumen itu diuji dari segala pihak, dari teks asli maupun interpretasi-interpretasi pemahaman dan penilaian kritis dan lebih mendalam mengenai persoalan dan prinsip-prinsip yang bersangkutan. Melalui analisis bahasa ia mengetengahkan kelemahan, kekurangan dan keberatan-keberatannya pada gilirannya mengetengahkan pandangannya atas kebenaran tersebut. Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa pemikiran filosofis Thomas sangat dipengaruhi terutama oleh filsafat Aristoteles. Pertama-tama Thomas berusaha mengolah filsafat Aristoteles. Hampir semua karya filosofisnya merupakan komentar atas karya-karya besar Aristoteles. Ia mendalami dan menyelami pemikiran Aristoteles dan kemudian juga memformulasikannya melalui pandangan filosofisnya. Sehingga tidak mengherankan pemikiran filosofisnya diwarnai oleh logika Aristoteles sebagai metode berpikirnya. Titik tolak tradisi yang kedua yang diangkat secara kritis dan mendasar oleh Thomas yaitu pemikiran Platonis. Ia senantiasa menganalisis prinsip-prinsip filosofisnya yang mendasari ajaran mereka kemudiann daam keragka pemikiran filosofis ajaran-ajaran platonis disistematisir berdasarkan kerangka logika Aristoteles.

Analisis Bahasa Banyak kalangan historian memberikan ciri perkembangan pemikiran filsafat pada abad pertengahan diwarnai oleh mercusuar tradisi Skolastik, sehingga tidak mengherankan bahasa Latin menduduki posisi sentral dalam wacana intelektual filosofis dan teologi. Analisis bahasa praktis menjadi metode yang akrab dalam penuangan pemikiran pemikiran filosofis. Dalam pemikiran filosofis Thomas menggunakan ungkapan-ungkapan dengan melalui bahasa yang bersahaja, terang dan berbentuk murni. Analissi abstraksi sebagai metode khas filsafat dikembangkannya, yaitu dengan meninjau suatu segi atau sifat tersendiri dan kemudian menyisihkan segala aksidensia dan akhirnya sampai pada substansi atau hakikat segala sesuatu. Konsep pengertian sepergi ’kodrat’, nafsu dan lain sebagainya dapat dijelaskan dengan tepat. Bahasa sastra yang bersifat puitis senantiasa dihindarinya. Namun demikian bukan berarti Thomas mengelak dari fungsi bahasa yang bersifat fleksibel serta kelenturan makna bahasa. Hal ini nampak dalam mengungkapkan analisis filosofisnya melalui analogi dan metafor. Memang benar diakui oleh banyak kalangan intelektual bahwa dalam setiap khasanah ilmup engetahuan memiliki istlah-istilah teknis dan artifisial tertentu yang memang berlaku sah dan bermakna dalam konteks ilmu pengetahuant ertentu tersebut. Namun demikian bahasa adalah tepat dan kaya dan merupakan sarana yang mutlak bagi presisi ilmiah. Para ahli juga sependapat bahwa terdapat suatu perbedaan antara struktur sintaksis dengan struktur logis, yang terdapat dalam makna bahasa. Untuk mencapai suatu kebenaran dalam sistem pemikirannya Thomas, menggunakan analisis bahasa melalui penalaran logis dengan menggunakan prinsip deduksi yang dilakukan dengan melalui analisis premis. Premis dalam proses deduksi adalah merupakan suatu pernyataan yang mutlak benar, yang memberikan informasi tentang kenyataan (Copleston, 1958:28). Premis yang demikian ini merupakan suatu prinsip yang jelas dengan sendirinya (principium per se notum), sekali istilah dipahami semua orang yakin akan kebenarannya. Hal itu meliputi beberapa macam bentuk premis deduktif yaitu: Definisi, yaitu pernyataan yang predikatnya menyatakan hakikat subjek. Bagi Thomas definisi itu sangat sentral, dan ia sangat cermat mencarinya, misalnya definisi ’keadilan’. Thomas secara konsistem berusaha memberi

kepada segala sesuatu kerangka skematis yang menyajikan pemahaman. Ia mulai dari pemahaman umum misalnya tentang ’ada’, kemudian dengan perbandingan pertentangan, analisis istilah dan sebagainya ia memberikan definisi unik yang hanya berlaku bagi hal yang akan dirumuskannya. Paling ideal definisi yang mampu memberikan rumusan menurut prinsip ’genus et species’. Namun demikian juga dapat ditandai menurut salah satu sifat, atau salah satu sebab atau menurut salah satu prinsip, dengan demikian definisi itu dapat ditentukan. Prnsip yang self-evident, yaitu suatupernyataan yang predikatnya merupakan sifat yang dalam analisis nampaknya mutlak berlaku bagi subjeknya, misalnya prinsip kausalitas (Copleston, 1955:29). Dapat juga keseluruhan yang terbatas itu lebih besar daripada masing-masing bagiannya. Pengetahuan akan istilah-istilah dalam prinsip itu memang secara psikologis berasal dari pencerapan, tetapi evidensinya muncul langsung dalam analisis hubungan predikat dan subjek, jadi secara logis bersifat ’apriori’. Prinsipprinsip yang self-evident itu berhubungan satu sama lain, akhirnya dikembalikan pada prinsip utama ’yang ada tidak dapat sekaligus tidak ada’. Prinsip yang lebih bersifat sekunder, yaitu dengan memakai prinsip-prinsip metafisis lainnya. Misalnya, ’yang baik ialah sebagaimana berlaku dalam kebanyakan hal’, ’kodrat selalu mengarah ke kesatuan’, yang lain merupakan hubungan substansi dan aksidensia atau hubungan potensi dengan aktivitas. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tudingan kepada filsafat Skolastik Thomas yang dianggapnya menjadi verbalisme yang kering, suatu sitem berpikir yang tertutup yang diabadikan melalui sistem hafalan belaka, walaupun sebenarnya tuduhan itu tidak sepenuhnya benar (Bakker, 1984:60,64). Walaupun tidak memiliki hubungan sebab akibat yang langsung antara sistem pemikiran Thomas dengan Atomisme Logis nampaknya memiliki kemiripan terutama menggunakan ungkapan bahasa melalui logika dalam melakukan analisis konsep-konsep filsafat. Hanya perbedaan yang esensial adalah Atomisme Logis menolak metafisik karena ungkapan metafisis sebenarnya tidak mengungkapkan keberadaan fakta apa pun; sedangkan Thomas justru analisis logis melalui ungkapan-ungkapan bahasa digunakan dalam upaya untuk memberikan analisis ungkapan-ungkapan metafisis maupun fakta.

Analogi dan Metafor Anggapan yang menyatakan bahwa filsafat Thomas bersifat verbalisme yang kering, nampaknya tidak sepenuhnya benar karena dalam kenyataannya Thomas mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofisnya tidak hanya melalui logika Aristoteles melainkan juga mengangkat analogi dan metafor. Dalam filsafat Thomas doktrin tentang 'analogi' sebenarnya dimaksudkan justru untuk mengangkat wacana teologis ke taraf ilmu filosofis sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan menghindarkan diri dari wacana puitik religius (Sugiharto, 1996:124). Bila bagi Aristoteles kesulitan yang dihadapi adalah bagaimana bisa keluar dari dilema antara disatu pihak ada unsur dasr yang satu bagi seluruh kenyataan, di pihak lain ada pula makna yang amat beragam dari kenyataan itu, maka wacana teologi menghadapi kenyataan yang seperti itu. Dalam wacana teologis tentang Tuhan dan tantang manusia yang akan berakibat menghilangkan unsur transendensi Tuhan. Di pihak lain mengasumsikan ketidakberhubungan total antara kedua wacana itu dan akan berakibat membawa kepada agnositisme. Kenyataan itulah yang kemudian membawa Thomas Aquinas menerapkan konsep Aristoteles tentang 'analogi' di kawasan teologi. Maka di antara atribut yang bersifat univokal dan ekuivokal kemudian ada atribut baru , yaitu atribut 'analogi'. Jadi doktrin Thomas tentang Analogi Etnis atau 'analogi' pengada itu adalah upaya untuk memadukan hubungan horizontal antara ciptaan di dunia ini dengan hubungan vertikal antara ciptaan itu dengan Tuhan. Hal inilah yang kemudian dimaksudkan dengan istilah onto-teologi. Betapa keras upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke taraf 'ilmiah filosofis' terlihat dari bagiamana ia secara terus menerus mengubah dan memberi rincian baru atas konsep analogi tersebut. Misalnya ia berupaya membagi analogi itu menjadi 'analogi proportio' dan 'analogi proportionalitas' (dalam de Veritate). Tidak puas dengan itu dibuatnya analogi 'duorum et tertius' dan analogi 'unius ad alterum' (dalam de Potentia). Masih juga belum measa puas Thomas menciptakan rincian baru yaitu analogi dengan prioritas pada Tuhan sendiri, jadi titik tolaknya adalah Tuhan kemudian analogi yang berangkat dari sifat-sifat

ciptaan yang titik tolaknya adalah ciptaan (dalam Summa Theologiae). mampu mengangkat persoalan-persoalan teologis ketingkat pemikiran yang bersifat ilmiah filosofis. Dalam summa theologiae diungkapkan 'Tangan tuhan menciptakan keajaiban'. 2002:44. Dilema inilah yang kemudian dipecahkan oleh Thomas melalui karya besarnya dengan menggunakan analisis bahasanya terutama melalui analogi dan metafor (Kaelan. 2. Perkembangan pemikiran filosofis zaman abad pertengahan yang memuncak mencapai puncak keemasan pada karya dan konsep-konsep Skolastik terutama pemikiran filosofis Thomas Aquinas yang menyangkut dan menganalisis secara kritis karya-karya besar Aristoteles. 1974: 63). Dalam kenyataannya metode yang digunakan dalam memecahkan dan menjelaskan problemaproblema filosofis dengan menggunakan metode analisis yang menonjol dari karya pemikiran Thomas ini melalui analisis bahasa terutama analogi dan metafor. Yang dimaksud tangan dalam pengertian harfiah adalah mengacu pada anggota badan manusia. kekuasaan dari Tuhan. sehingga pengertian makna "Tangan Tuhan" adalah kekuatan. Namund emikian yang dimaksud dengan "Tangan Tuhan" adalah makna spiritual. Mazhab Modistae . Selain melalui analogi upaya Thomas untuk mengangkat wacana teologi ke tingkat wacana ilmiah filosofis ia mengembangkan melalui metafor. Dengan melalui ungkapan bahasa metaforis ini Thomas mampu mengungkap makna spiritual teologis ke dataraan ilmiah filosofis sekaligus menghilangkan kekaburan ungkapan teologis (Borgmann.50). Analisis bahasa teologi tentang hakikat Tuhan yang transenden sulit diungkapkan melalui bahasa terutama yang mengacu pada realitas fakta ciptaan Tuhan. Hal ini dapat dilakukan dengan sendirinya melalui kelenturan bahasa. Melalui ungkapan bahasa mnetaforis persoalan-persoalan teologi dapat diklarifikasikan secara ilmiah filosofis. Memang terdapat kendala yang bersifat dilematis yaitu di satu pihak keberadaan Tuhan yang bersifat transenden diungkapkan melalui bahasa yang acuannya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sifatnya adalah real dan terbatas.

Secara sistematis dapat disusun dasar pemikiran sebagai berikut: Modi essendi Modi intellegendi active Modi sifnificandi active modi intellegendi passivi modi significandi passivi Berdasarkan konsep pemikiran yang dikemukakan oleh kaum Modistae nampaknya pengaruh ilmu pengetahuan dan pemikiran-pemikiran Skolastik yang memberi ciri mencari sebab-sebab universal dan tidak berubah. Sehingga dengan demikian berkembanglah . karena menurutnya bahasa bersifat reguler dan universal.Kaum Modistae menaruh perhatian terhadap pemikiran hakikat bahasa secara tekun mereka mengembangkan dan nama Mostae muncul karena ucapan mereka yang dikenal dengan 'De Modis Significandi'. Modi Significandi inilah yang meruakan kunci dalam sistem analisis bahasa kaum Modistae. Kepribadsian ini disebut 'modessendi' dan pikiran manusia menangkap ini dengan daya pengertian yang aktif yang disebut sebagai 'modi intellegendi activi' yang kepadanya dikenakan pula daya pengertian yang pasif yaitu 'modi intellegendi passiva'. epistemologi dan metafisika. Mereka pun mengulang pertentangan klasik tentang hakikat bahas 'Fisei dan Nomos'. Mereka menerima analogi. Dalam konsep pemikiran kaum Modistae ini unsur semantik mendapatperhatian yang utama dan digunakan pula dalam penyebutan definisidefinisi bentuk-bentuk bahasa. Salah satu usaha untuk memastikan semua ini ialah usaha dari kaum Modistae untuk menemukan sumber makna. Dalam bahasa pikiran in dialihkan kedalam tanda bunyi (voces) penunjuk yang aktif (modi sifnigicandi activi) dalam bentuk kata-kata (dictiones) dan bagian ujaran (paries orationis) atau sering disebut jenis kata. sehingga dalam konsep pemikiran tersebut mereka mencoba menurunkan kategorikategori tata bahasa dari kategori-kategori logika. perdebatan antara 'Analogi dan Anomali'. Interpretasi ajaran Skolastik akan ajaran-ajaran Aristoteles nampak dengan jelas dalam sistem pemikiran kaum Modistae ini. Menurut konsep pemikiran kaum Modistae barang-barang atau benda-benda memiliki beberapa ciri khas atau kepribadian yang perlu dibeda-bedakan.

Dengan ini kaum spekulativa berdasarkan filsafat metafisik mereka ingin mendeskrispikan bhawa semua bahasa mempunyai kesamaan jenis kata dan kategori-kategori gramatikal lainnya. modus. walaupun secara pedagogis ada manfaatnya. Kata hanya mewakili hal yang adanya benda itu dalam pelbagai cara. Persoalan yang timbul adalah bagaimana bahasa dapat merupakan jembatan atau alat bagi pengetahuan yang benar. Disimpulkan pula kepada bahwa prinsip-prinsip bersifat universal dan konstan. Konsep Bahasa Spekulativa Konsep bahasa spekulativa adalah merupakan hasil integrasi deskripsi bahasa Latin seperti yang dirumuskan oleh Priscia dan Donatus ke dalam filsafat Skolastik. Konsep bahasa adalah berasal dari konsep filosofis partes orationis dan dicirikan dalam modus yang menunjuk itu atau modi significandi. 3. dan hal lini terjadi dengan pendekatan kepada partes orationis. dan ini memberikan refleksi dari kenyataan yang mendasari dunia fisik. kualitas dan sebagainya.etimologi dalam zaman ini dan sumber mereka adalah 20 jilid etimologi dari Santo Istidore dari Seville tahun 636 (Parera. substansi. Menurut konsep bahasa spekulativa bahwa kata pada hakikatnya tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuknya. Tugas dari konsep bahasa spekulativa ialah untukmenemukan prinsipprinsip tempat kata-kata sebagai sebuah tanda dihubungkan pada satu pihak dengan intelek manusia dan pada pihal lain dihubungkan kepada benda yang ditunjuk ata yang diwakilinya. Skolatisme sendiri adalah merupakan hasil integrasi filsafat Aristoteles dalam tangan pemikir-pemikir seperti Thomas Aquinas ke dalam teologi. Dalam konteks ini deskripsi bahasa latin seperti yang dilakukan oleh Priscia dan Donatus dianggap tidak cukup. Istilah spekulativa berasal dari kata speculum yang berarti 'cermin'. Pengertian spekulativa kiranya dapat dijelaskan dengan lebih memperhatikan maksudnya ini. Seorang tokoh yang terkenal pada masa . Skolatisisme timbul dari satu kemampuan dan pengabdian intelektual yang matang. aksi. 1983:57).

Keakraban manusia dalam menafsirkan suara Tuhan sebagaimana dilakukan oleh kaum Patristik dan Sekolastik terutama sebagaimana dilakukan oleh Thomas Aquinas pada masa abad pertengahan menjadi sirna dengan munculnya kesadaran manusia akan dirinya sendiri. 1983:11). Awal gerakan pembaharuan ini sebenarnya telah dilakukan oleh orang-orang Italia yang dikenal dengan gerakan humanisme yang sebenarnya teah dilakukan sejak abad pertengahan. bahwa pada abad pertengahan orang telah mempelajari karya besar dari pada pemikir dan penulis Yunani dan Latin.itu yaitu Peter Helias yang secara garis besar doktrin Priscia akan tetapi ia selalu memberikan komentar berdasarkan logika Aristoteles. Tidak dpat disangkal. Demikianlah akhirnya masa kejayaan abad pertengahan memudar di telah waktu dan muncullah masa abad modern yang diawali dengan ”renaissance”. Di dalam ekalhiran kembali itu orang kembali kepada sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan (Hadiwijono. Kaum humanis zaman Renaissance bermaksud untuk meningkatkan perkembangan yang harmonis dan sifat-sifat dan kecakapan-kecakapan alamiah manusia dengan mengusahakan kepustakaanyang lebih baik dan dengan mengikuti jejak kebudayaan klasik. E. dan logika ini dipakai sebagai dasar kaidah peraturan bahasa yang benar dalam bahasa zaman itu (Parera. Pengantar Sejarah pemikiran umat manusia menapak terus dipimpin sang waktu. Kekhusukan manusia dalam mensyukuri karunia Sang Maha Kuasa nampaknya terusik dengan munculnya kegelisahan manusia akan dirinya sendiri. Secara harfiah kata ’Renaissance’ berarti ’kelahiran kembali’. Maka pada zaman Renaissance ini . 1983:59).gerakan ini ditandai dengan usaha untukmenghidupkan kembali kebudayaan Yunani-/Romawi. namun apa yang telah dilakukan orangorang pada abad pertengahan itu berbeda dengan apa yang dilakukan para humanis pada zaman Renaisance yang tidak mendasarkan pada otoritas teologi. Zaman Abad Modern 1. Secara historis Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman di mana orang merasa dirinya sebgai telah dilahirkan kembali dalam suatu peradaban.

Kebanyakan orang berpendaapat bahwa akal tidak bewibawa atas kebenaran-kebenaran keagamaan. Pengetahuan yang pasti bukannya didapat dari pewarisan. Era baru akan penemuan dirinya sendiri oleh manusia ini berakibat manusia merasa terbebas dari kungkungan wahyu. melainkan diperoleh oleh manusia sendiri karena kekuatan sendiri dengan penelitian-penelitian. Demikianlah lambat laun filsafat mulai meninggalkan kemesraannya dengan teologi. sebab orang merasa kerasan di dunia dan sangat menghargai akan hal-hal yang baik dari hidup ini. Selain itu karena menjadi semakin optimis. kepada hidup kemasyarakatan dan kepada sejarah. filsafat menjadi lebihbersifat individualistis sehingga sejarah menunjukan kepribadian-kepribadian. Suatu perkembangan yang maha penting dalam zaman itu adalah mulai timbulnya ilmu pengetahuan alam modern berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Menurutnya wahyu memiliki wibawa dalam bidangnya sendiri. Johanes Kepler serta Galileo Galilei. Seorang tokoh yang meletakkan dasar filosofis untuk perkembangan dalam ilmu pengetahuan adalah Francis Bacon bangsawan Inggris ini mengarang suatu karya yang bermaksud menggantikan teori Aristoteles tentang . Titik tolak yaitu kebebasan mutlak bagi pemikiran dan penelitian bebas dan wibawa atau tradisi. Menurut Renaissance dunia diterima seperti apa adanya. Beberapa tokoh peletak dasr ilmu pengetahuant ersebut antara lain Leonardo da Vinci. Manusia mulai menyadari dua hal yang berbeda yaitu dunia dan dirinya sendiri. Perhatian itu ditujukan kepada manusia.munculah kebangkitan untuk mempelajari sastra klasik dan penyambutan yang bersemangat atas realitas hidup ini yang bersifat alamiah. Dalam khasanah filsafat orng berpendapat bahwa dalam pengertian ini tiada sedikitpun ikatan kepada satu wibawa apa pun dalam hal kebebasan akal manusia. Pengenalan akan dirinya sendiri dalam arti mereka mulai sadar akan nilai pribadinya dan akan kekuatan pribadinya. Kebenaran harus dicapai dengan kekuatan sendiri.Nocolaus Copernicus. karena kebenaran-kebenaran itu hanya dapat dipercaya. Dapat juga dikatakan bahwa di samping terdapat pandangan atas dunia alamiah yang murni dan berdiri sendiri terdapat juga jiwa yang murni. Optimisme manusia diarahkan kepada perhatian yang sungguh-sungguh atas segala hal yang kongkrit.

Paham-paham tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa terutama dalam pengembanan dasar-dasar analisis bahasa. Filsuf ini dilahirkan di Prancis dan belajar filsafat pada Kolese di La Fleche. yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri. John Locke. David Hume tokoh Kritisisme Immanuel Kant serta August Comte sebagai pencetus paham positivisme. Buku tersebut menjelaskan tentang pengembaraan intelektualnya. Descartes menyusun satu buku tentang mode yang berjudul ”De cours de la Methode” (1637) yang artinya yaitu uraian tentang metode. Descartes menyatakan bahwa dalam bidnag dak ada sesuatupun yang dianggap pasti. bahwa Aufklarung dimaksudkan bahwa manusia keluar dari keadaan tidak akil balig. 1983:47). Zaman filsafat abad modern ini muncullah berbagai tokoh pemikir yang mampu mengubah dunia terutama yang kemudian dikembangkan pada ilmu pengetahuan. Nama ini diberikan pada masa ini karena manusia mencari suatu cahaya baru dalam rasionya. Immanuel Kant telah memberikan semacam definisi. Terlebih lagi perkembangan filsafat pada abad modern ini ditandai dengan hadirnya masa Aufklarung. Rasionalisme Rene Descartes yang bahkan ia disebut sebagai ”Bapak filsafat modern”. Dalam kaitan dengan erkembangan filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. 2. Rene Descartes Filsuf yang membuka cakrawala abad modern adalah Rene Descartes sehingga ia layak mendapat gelar ”bapak filsafat modern”. 1989:64). Empirisme antara lain tokohnya adalah Thomas Hobbes. Kesalahan dikarenakan manusia tidak mau mempergunakan akalnya.ilmu pengetahuan dengan suatu teori baru yang disebut Novum Organon (Bertens. semuanya dapat dipersoalkan tidak terkecuali . Dalam pengertian ini Voltaire menyebutnya sebagai ”Zaman akal’ (Hadiwijono. Ia sebagai seorang filsuf yang inovatif ia tidak merasa puas dengan ajaranajaran filsafat dan ilmu pengetahuan yang menjadi bahan pendidikannya.

sebagai pengetahuan yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. Pemikiran Descartes sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat analitika bahasa dan bahkan hal ini ditekankan sendiri oleh Descartes bahwa metode yang ia kembangkan itu adalah metode analitis. Menurut Descartes yang dipandang. Oleh karna itu ide-ide juga menjadi alat untuk mengenal hal-hal yang di luar pikiran. Hanya pemikiran yang jelas dan terpilah-pilah yang dapat mengajar kepada kita secara sempurna tentang hakikat segala sesuatu dan sifatsifatnya yaitu melalui pengertian-pengertian atau ide-ide yang secara langsung jelas. Pengamatan indrawi hanya memberi nilai praktis. Ide yang samarsamar itu henya memberitahukan kepada diri tentang perasaan subjek yang mengamatinya. 1983:22).e mlalui perantaaan. Bendabenda di luar kita hanya memberi ide yang samar-samar saja. Pengertian yang jelas dan terpilahpilah tadi ternyata benar-benar sesuai dengan apa yang digambarkan (Hadiwijono.filsafat dan ilmu pengetahuan yang pada saat itu berkembang. terkecuali ilmu pasti yang meruakan hasil dari rasio (Bertens. Konsekuensinya kita harus menghidnarkan diri dari sikap tergesa-gesa dan prasangka. Pengertian atau ide0idea itu semula dikenal dengan realitasnya sendiri. Benda-benda di luar kita hanya memberi nilai praktis. 1989:45). Namun keragua-raguan di sini bersifat metodis dan bukannya skiptisisme mutlak. Oleh karena itu untuk mencapai kebenaran pengetahuan yang kedap dengan keragu-raguan tahapan metodenya sebagai berikut : (a) Bertolak dari keragu-raguan metodis bahwa tidak ada yang diterima sebagai sesuatu yang benar. artinya bahwa gagasan-gagawan atau ide-ide itu seharusnya dapat dibedakan dengan gagasan-gagasan atau ide-ide yang lain. Yang diketahui pikiran secara langsung tanpa melalui perantaraan adalah dirinya semata-mata. yaitu keragu-raguan sebagai suatu pandangan. Untuk mencapai kebenaran pengetahuan Descartes bepangkal pada keragu-raguan terhadap segala sesuatu. Adapun dalam keputusan-keputusan . Pengamatan indrawi tidak memberi keterangan kepada kita tentang hakikat dan sifat-sifat dunia ke luar kita. Segala sesuatu di luarnya hanya dikenal secara tidak langsung. Pikiran menemukand alam dirinya sendiri ide-ide itu sebgai gagasan-gagasan yang menampakkandiri sebagai pencerminan objekobjek atau sasaran-saaran di luar kita.

Tiada seorang pun dapat menipu saya. (b) Semua bahan danepsoalan yang diteliti. (c) Sistmatik pikiran dilakukan dengan bertitik tolak dari pemahaman objek dari yang paling sederhana danmudah. 1983:21). Realitas tersusun atas fakta-fakta dari fakta atomik sampai pada fakta yang bersifat kompleks. Memang segala sesuatu yang dipikirkan dapat saja tentang khayala. berangsur-angsur tahap demi tahap sampai pada pengertian yang lebh kompleks. dan yang dimaksud fakta daam pengertian ini dalah keberadaan suatu peristiwa (state of affairs). 1984:74-78). dibagikandalam sebanyak mungkin bagian. Terdapat kesamaan antara metode Descartes dengan metode Atomisme logis yaitu keduanya menggunakan metode analitis. atau dengan lain perkataan bhawa kedua pemikiran tesebut sama-sama menggunakan metode analitis dalam mengungkapkan kebenaran.hanya menerima sesuatu yang dilakukan pada akal dengandemikian jelas dan tegas sehingga mustahil untuk disangksikan. sehingga ditemukan suatu kepastian maka dengan demikian tiada lagi keraguan (Bakker. Doktrin Descartes tentang cogito ergo sum yang ditindaklanjuti dengan keragu-raguan metodis beserta langkahnya untukmendapatkan kebenaran pada hakikatnya adalah menerapkan metode yang besifat analitik dan hal itu dikemukakan sendiri oleh Descartes. (d) Akhirnya sampailah pada tinjauan permasalahan yang bersifat universal. Hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan menurut Descartes yaitu bahwa ’cogito ergo sum’ aku berpikir dan oleh karena itu aku ada’. manakala kiranya perlu untuk pemecahan yang memadai. Atomisme logis dalam memecahkan problema-problema . aka tetapi aku berpikir bukanlah khayalan. Proposisi atomik adalah mengungkapkan fakta atomik. Langkah-langkah metodis ini nampaknya memiliki kemiripand engan metod eyang dikembangkanoleh tokoh-tokoh Atomisme logis. Namun demikian terdapat perbedaan di antara keduanyayaitu. Jadi dari pengertian yang simple dan absolut sampai pada pengertian yang kompleks dan relatif. bahawa saya berpikir danoleh karena itu di dalam hal berpikir ini saya tidak ragu-ragu maka aku berada (Hadiwijono. Pemikiran Atomisme logis yang menjelaskan realias melalui bahasa logik yang diungkapkan melalui proposisi-proposisi.

Biarpun demikian ia menerima juga prinsip metode yang dipakai dalam ilmu-ilmu alam sebagaimana dikembangkan oleh Bacon yaitu metode empiris matematis. Pemikiran filsafat materialisme sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan filsafat bahasa. Demikianlah kiranya Rene Descartes selain sebagai bapak filsafat modern ia juga sebagai peletak dasar-dasar filsafat analitik. Adapun Rene Descartes melalui pendekatan ontologik yaitu ’cogito ergo sum’ ’aku berpikir oleh karena itu saya ada’ dan pencapaian tidak didasarkan padaanalisis logis namun didasarkan pada intuisi dan akal murni. Thomas Hobbes termasuk filsuf yang unik dan kreatif yaitu menyatukan pandangan emirisme dengan rasionalisme dalam suatu sitem filsafat materialisme. Thomas Hobbes adalah filsuf Inggrus pertama yang mengembangkan aliran empirisme. Menurut Hobbes filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ilmu. Thomas Hobbes Perkembangan pemikiran filsafat setelah masa rasionalisme Descartes adalah paham empirisme.filosofis menggunakan analisis logis tentang ungkapan-ungkapan filsafat. dalam memberikan dasar-dasar ilmiah. 3.w alaupun titik tolak pemikiran Descartes adalah pada rasio. sehingga sampai pada suatu putusan. baik yang berkaitan dengan pemikiran filsafat analitik maupun terhadap perkembangan pemikiran hakikat bahasa yang merupakan dasar-dasar perkembangan ilmu linguistik periode berikutnya. . sebab filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang efek-efek atau akibat-akibat. Sasaran filsafat adalah fakta-fakta yang diamati. Francis Bacon telah menerapkan prinsip-prinsip empirisme namun Bacon tidak mengembangkan suatu ajaran yang lengkap melainkan dalam bentuk pengembangan pada aplikasi di bidang ilmu pengetahuan empiris. Walaupun sebelum Hobbes. atau tentang penampakan-penampakan yang sedemikian sebagaimana yang kita peroleh dengan merasionalisasikan pengetahuan yang semula kita miliki dari sebab-sebabnya atau asalnya. Paham rasionalismenya dikembangkan oleh para tokoh filsafat analitik yang mengungkapkan konsepkonsep tentang proposisi antara lain proposisi formal yang bersumber pada rasio manusia.

empirisme Hobbes memberikan warna bagi penentuan sistem logika bahasa filsafat analitik yaitu proposisi meliputi pengertian proposisi empiris (atau faktual) yaitu proposisi yang mengungkapkan realitas empiris (yaitu yang . Sasaran ini dihasilkan dengan perantaraan pengertian-pengertian ruang.tidak semua yang diamati pada benda-benda itu adalah nyata. terutama atomisme logis dan positivisme logis. namun demikian sebenarnya berdasarkan ajaran-ajaran yang dikembangkanya terdapat tiga hal yang mempengaruhi berkembangnya filsafat bahasa terutama filsafat analitika bahasa. rasionalisme dan meaterialisme (Hadiwijono. Sebenarnya masih terdapat filsafat Hobbes yang justru paling populer yaitu konsepnya dalam bidang filsafat politik dan salah satu karya besarnya adalah ”Leviathan” (Bertens. Dunia adalah suatu keseluruhan sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. 1989:51). yang nyata menurutnya adalah gerak dari bagian-bagian kecil benda-benda itu. Pertama. dan hal ini dilakukan oleh atomisme logis dan positivisme logis dalam mengungkapkan realitas melalui bahasa yang didasarkan pada logika. Segala yang ada ditentukan oleh sebab. bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta-fakta bahkan menurut positivisme logis. Kedua. Adapun instrumennya adalah pengertianpengertian yang diungkapkan melalui bahasa yang menggambarkan fakta-fakta itu. Walaupun tidak secara langsung pengaruh Hobbes terhadap berkembangnya filsafat bahasa. Demkian sebab akibat dan kesadaran kita termasuk di dalamnya. Menurut Hobbes. menurut Hobbes fakta-fakta itu diungkapkan dengan menggunakan bahasa sebagai instrumennya. yang hukumnya sesuai dengan hukum alam dan ilmu pasti. Ketiga. 1983:32). Demikianlah kiranya filsafat Hobbes nampak ciri-ciri empirisme. waktu bilangan dan gerak yang diamati pada benda-benda yang bergerak. Di dalam proses pengamatan disajikan fakta-fakta yang dikenal dalam bntuk pengertian-pengertian yang ada dalam kesadaran kita. Hobbes memberikan dasar-dasar ini karena dalam empirisme Hobbes ajuga mengangkat otoritas rasio (logika) dan fakta. ajaran empirisme Hobbes memberikan warna bagi berkembangnya pahampaham filsafat analitika bahasa. bahwa ungkapan yang bermakna adalah yang dapat diverifikasi secara empiris. Segala gejala pada benda-benda yang menunjukkan sifat benda itu ternyata hanya perasaan yang ada pada subjek.yaitu untuk mencari sebab-sebabnya.

menggabungkannya. namun ia menentang ajaranajaran pokok Descartes. subjek menamggapi gagasan-gagasan itu sebagai termasuk hal yang sama. Menurut Locke segala pengetahuan datang dari pengalaman yang tidak lebih dari itu. yang berdiri sendiri yang disebut substansi. tanpa pengeolahan logis apapun.berasal dari pengalaman indra). Jikalau beberapa gagasan secara teratur bersama-sama menampilkan diri. 1989:51). Akal tidakmelahirkan pengetahuan dari dirinya sendiri. merangkumkannya dan menajdikannya bersifat . 1983:36). yang timbulnya karena pengalaman-pengalaman lahirian (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection) yang berada dalam psikis manusia. Walaupun Locke menggabungkan beberapa pemikiran Descartes. dan proposisi formal yang bersumber dari rasio manusia dan memiliki kebenarannnya yang bersifat tautologis. Gagasangagasan dibedakan atas gagasan tunggal (simple ideas) dan gagasan majemuk (complex ideas). Selain dari substansi gagasan-gagasan majemuk juga dapat meliputi pengertian tentang keadaan atau modi tentang hubungan-hubungan. Locke tidak membedakan antara pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal. adapun gagasan majemuk timbul dari percampuran atau penggabungan gagaan-gagasn tunggal. namun diperolehnya dri luar akal melalui indera (Hadiwijono. Gagasan tunggal datang langsung dari pengalmaan. Tugas rohmanusia terbatas pada memberi sebutan kepada gagasan-gagasant unggal gadi. John Locke Pemikiran empirisme John Locke merupakan sistesis rasionalisme Rene Descartes dengan empirisme Thomas Hobbes. Satu-satunya sasaran atau objek pengetahuan adalah gagasan atau ide-ide. Akal atau rasio bersifat pasif pada waktu pengetahuan didapatkan. Semula akal semacam secarik kertas yang putih bersih ’as a white paper’ tanpa tulisan dan seluruh isinyaberasal dari pengalaman inderawi manusia (Bertens. Ia menentang teori rasionalisme mengenai ide-ide dan asas-asas pertama yang dipandag sebagai bawaan manusia. 4.

Segala putusan terjadi di kawasan roh. Pengamatan tentang dua gagasan tunggal yang ada atau yang tidak ada persesuaiannya dinyatakan didalam suatu putusan. Gagasan tunggal dari pengalaman lahiriah semuanya adalah benar sejauh gagasan-gagasan itu disebabkan oleh realitas yang ada di luar subjek serta menghadirkan realitas itu dalam kesadaran kita. Sasaran kesesuaian manusia adalah gagasan semata-mata. Pengetahuan umum adalah suatu sebutan kolektif bagi segala gagasan yang tunggal dan mejumuk dri rumpun yang sama. etika). ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan tunggal dan kesesuaianya dengan kenyataan di luar kita (misalnya mengenai sifat primer dan sekunder) dan ada putusan yang mengenai gagasan-gagasan kompleks dan kesesuaiannya dengan kenyataan (dalam hal ini khususnya timbul soal yang mengenai substansi). Putusan yang benar diperoleh karena pengalaman intuitif. Apakah gagasanyang satu ada persesuannya dengan gagasan yang lain dapat muncul dalam beberapa bentuk antara lain : (a) dalam bentuk identitas atau perbedaan. Empirisme John Locke lebih memiliki sifat analitis dibandingkan dengan Thomas Hobbes. Gagasan-gagasan tunggal dari pengalmaan batiniah adalah objektif. Segala gejala psikis yang disaksikan oleh kesadaran kita tampil sebagai kenyataan bagi manusia. tetapi dapat juga salah. Jadi bahasa yang tersusun atas kata-kata berfungsi sebagai tanda bagi suatu isi kesadaran manusia. (c) dalam bentuk koeksistensi atau berada bersamasama. pembuktian kurang memberi kepasatian dibanding dengan intuisi (Hadiwijono. sehingga dalam hubungannya dengan pemikiran filsafat analitika bahasa empirisme Locke banyak memberikan sumbangan terutama . (b) dalam bentuk hubungan. Putusan itu dapat benar.umum. Bagaimanapun bentuknya gagasangagasan itu senantiasa dihubungkan dengan yang lain dalam suatu putusan. dan (d) dalam bentuk kenyataan. Segala kepastian dan kejelasan dalam pengetahuan bersandarkan intuisi. Gagasa-gagasan itu kita kenal dalam kesadaran seerti keadaanyang sebenarnya. Dari gagasan-gagasan itulah timbul isi pengetahuan kita yang bermacam-macam sekali. 1983:36). Ada putusan yang hanya mengenai pengetahuan tentang gagasan-gagasan kita (ilmu pasti. Pengenalan manusia adalah pengenalan tentang gagasan-gagasan atau ide-ide yaitu kesankesan yang dimiliki subjek yang mengenal.

Dalam kaitannya dengan bahasa isi pengetahuan yang timbul dari gagasangagasan manusia diungkapkan melalui bahasa. Dalam konsep filsafat analitika bahasa dikenal konsep proposisi. karena ia menyangkal adanya suatu dunia yang ada di luar kita. yang ada hanyalah ciriciri yang diamati. Keyakinan asasu menurutnya adalah sebagai berikut : (a) segala realitas di luar manusia adalah tergantung kepada kesadaran. Hal ini sesuai dengan konsep Locke tentang ide-ide yang sederhana dan ide-ide yang kompleks. Namun perbedaannya bahwa Locke tidak menentukan susunan gagasan-gagasan atau ide-ide itu berdasarkan pada sistem logika seperti yang dilakukan oleh atomisme logis maupun positivisme logis. sebab pengamatan adalah identik . (c) tidada perbedaan antara gagasan pengalaman batiniah dengan gagasan pengalaman lahiriah. (b) tiada perbedaan antara dunia rohani dan dunia bendawi. Berkeley dalam konsep-konsep pemikiran filosofisnya sebenarnya meneruskan tradisi Locke namun dalam kesimpulan serta dasar-dasar metafisiknya berbeda. 1989:52). yang tersusun atas prinsipprinsip logika sehingga menentukan bermakna atau tidaknya ungkapan tersebut.dasar-dasar fakta empiris beserta bentuk susunan gagasan-gagasan. 5. Sebagaimana kita pahami Locke menyatakan tentang adanya substansisubstansi material dan hal ini ditolak oleh Berkeley. Ia berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material di luar kita. adapun menurut filsafat analitik yang diungkapkan melalui bahasa adalah fakta. atau pengalaman dalamroh saja sehingga pemikiran Berkeley ini dikenal secara luas dengan aliran yang disebut ”imaterialisme’ (Bertens. George Berkeley Filsuf kelahiran Irlandia ini pernah menjadi uskup Anglikan di Cloyne. elementer atau sederhana yang melukiskan fakta elementer (atomis) serta proposisi kompleks yang melukiskan fakta yang kompleks pula. Jastifikasi pengetahuan empiris juga memiliki kesamaan dengan justifikasi proposisi menurut konsep analitika bahasa yaitu keduanya bukan hanya sampai pada klarifikasi melainkan sampai pada putusan. Berdasarkan ciri metafisiknya pemikiran Berkeley ini bermuara pada aliran idealisme.

benda. artinya isi yang diamati adalah sesuatu yang benar-benar dapat diamati. Sifat pengamatan adalah kongkrit. dengan penggabungan bagian-bagian gambaran yang diamati. Isi itu bukan pengertian-pengertian umum yang abstrak yang bersifat individual. 6.dengan gagasan yang diamati. Jadi hanya gagasan-gagasan yang kongkritlah yang dapat dipakai sebagai untuk memikirkan gagasan-gagasan konkrit lainnya yang bermacam-macam itu. Tiada pengertian umum seperti umpamanya substansi. Menurutnya segala pengetahuan kita bersandar pada pengamatan. melainkan hubungan antara pengamatan indera yang satu dengan pengamatan indera yang lain. karena prinsip utama para filsuf analitis adalah penolakannya terhadap metafisika. Pengamatan adalah identik degangagasan yang diamati. Pemikiran Berkeley di samping secara substansial sebagai pangkal penolakan kalangan filsuf analitika bahasa karena dasar metafisisnya yang bersifat ’imaterialis’. Objek adalah gagasan-gagasan atau ide-ide. Sesuatu yang kita amati adalah kongkrit. juga memiliki sisi positif yang dikembangkan oleh positivisme logis yaitu pengamatan yang kalau menuntut istilah positivisme logis adalah sebagai prinsip verifikasi. David Hume . yang dalam realitasnya yang bersifat kongkrit dikenal dngan pribadi-pribadi (Hadiwijono. Demikian juga objek itu pad ahakikatnya disebabkan pengamatan karena pengamatanpengamatan yang ditambah ingatan dan fantasi atau khayalan. Titik tolak pemikiran Berkeley terdapat pada pandangannya dibidang teori pengenalan. dunia dan lains ebagainya yang lazim dikenal metafisika (Hadiwijono. Pengamatan terjadi bukan karena hubungan antara subjek yang mengamati dengan objek yang diamati. dan (d) tiada sesuatu yang berada kecuali roh. Apa yang berada secara umum hanya berada sebagai nama saja. 1983:50). Hanya pengamatanlah yang ada. sehingga realitas objek yang diamati pada hakikatnya terletak pada pengamatan itu sendiri. yaitu ide-ide yang disebabkan karena pengamatan indera yang langsung disebabkan pengamatan batiniah. 1983:51).

barulah kita mengetahui hal yang sebenarnya. Ide atau pengertian adalah sebagai tembusan atau copy dari kesan-kesan. yang satu secara langsung yang lain dengan perenungan kembali (Hume. Ide kurang jelas dan kurang hidup jika dibandingkan dengan kesan-kesan. Akan tetapi segala kekaburan dan kekacauan akan hilang. yang melalui ide-ide atau pengertian-pengertian . Bilamana akal kita diperoleh kesan-kesan yang demikian itu. Sumber asal ide-ide itu adalah kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman. yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau merefleksikan dalam kesadaran kesan-kesan yang telah diterima dari pengalaman manusia. baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. Kuasa kesan-kesan ini memang . Sebenarnya sebagian umat manusia mendasarkan pendapatnya atau pengetahuannya. Yang dimaksud dengan kesankesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman. Menurut Hume bahwa manusia tidakmembawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya dan sumber pengetahuan adalah pengamatan. jika kita berhasil menemukan kembali sumber-sumber asal ide-ide atau pengertian-pengertian itu. 1977:9-13). Pengamatan memberikan dua hal. Menurut Hume yang dimaksud dengan pengertian atau ide adlaah gambaran tentang pengalaan yang redup sama-samar. tradisi pemikiran empirisme yang paling konsekuen dan radikal adalah pemikiran David Hume. Ia memang mengembangkan ajakan Locke dan Berkelay yang diolahnya secara cermat sehingga merupakan pandangan empirisme yang amat fanatik dan tajam. atas hal-hal yangd iterimanyatidak secara langsung. yaitu kesan-kesan atau ’impression’ dan pengertianpengertian atau ide-ide yang disebut ’ideas’.Dalam sejarah filsafat Inggris. itulah sebabanya manusia sering ragu-ragu. Perbedaannya terletak pada caranya ditimbulkan dalam kesadaran. Yang termasuk dalam ide yang keadaannya redup. Rasa sakit pada bagian tubuh yang sedang luka dirasakan lebih kuat dibanding dengan kemudian jikalau rasa sakit itu direnungkan kembali. yang kita terima secara tidak langsung misalnya gagasan yang menyenangkan atau yang menyedihkan dari pertemuan dengan teman. yang menampakkan diri dengan jelas hidup dan kuat. Sebagaian besar pendapat manusia sebenarnya tidak bermakna karena kesalahan pengenalan. sehingga kesan atau ide adalah sama. samar-samar dan tidak pasti adalah segala hal apa saja. dan lainlain. kacau dan lain sebagainya.

tanpa ada satu pengamatan yang lain. Dengan ungkapan lain Hume menolak secara radikal realitas metafisis yang tidak didasarkan pada fakta empiris. Oleh karena itu yang disebut ”aku sebenarnya merupakan suatu komposisi atau susunan kesan-kesan tadi. di mana segala keragu-raguan dilarutkan kedalam kepastian.tidak dapat kita andalkan sepenuhnya. Jadi aku sebenarnya bukanlah merupakan suatu substansi yang berdiri sendiri karena tidak dapat diamati secara langsung. ketakutan.kita percaya bahwa di dalam kesan-kesan itu pengalaman kita bukan lagi hal-hal yang menyesatkan dan salah. Hume juga memiliki andil yang besar terhadap konsep dasa proposisi terutama paham atomisme logis. pengharapan. kesenangan dan lain sebagainya. walaupun pada sisi lain ia mendasarkan pandangan matafisiknya pada eksistensi pengamatan. Ungkapan-ungkapan metafisis yang dikemukakan oleh kaum idealisme itu sebenarnya tidak menyatakan fakta apa-apa oleh karena itu sama sekali tidak bermakna atau nirarti. yang menjelaskan bahwa proposisi itu mengungkapkan fakta yaitu suatu keberadaan peristiwa. Di dalam diri kita tiada hal yang lain kecuali kemarahan. Ia tidak pernah menjumpai kesan aku yang berdiri sendiri. dan sebenarnya yang diamati hanyalah kesan-kesan belaka. sehingga sebenarnya merupakan susunan kesan-kesan atau komposisi kesankesan yang diterima manusia. Bagi pengamat idealisme yang fanatik nampaknya pemikiran Hume diasakan terlalu keras dan radikal. Menurut Hume. tidak pernah ia mengamati aku itu. Secara metafisik Hume menentang aku menurut Descartes maupun Berkeley yang menyatakan aku sebagai substansi roh. Aspek inilah yang merupakan inspirasi kalangan filsuf analitika bahwa terutama paham atomisme logis dan positivisme logis. adapun proposisi yang kompleks mengungkapkan fakta yang kompleks. kesan-kesan serta ide-ide. Proposisi yang sederhana mengungkapkan fakta yang sederhana atau elekmenter. kekacauan. dan keyakinan yang demikian inlah menurut Hume disebut ’kepercayaan’. Susunan logis proposisi ini nampaknya memiliki kesamaan dengan konsep susunan kesan- . Dalam kepercayaan itu kita mendapatkan pengetahuan langsung. Mereka secara lantang menyatakan menentang dan menolak ungkapanungkapan metafisika.

7. Pemkiran empirisme inilah yang memberikand asar-dasar yang sangat kokoh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada metode ilmiah. tokohnya antara lain Ferdinand de Saussure. universalia dan egocentric particular yang dikembangkan oleh Russel adalah merupakan hasil pengolahan lebih lanjut konsep Hume tentang teori pengenalan.a dapun universalia adalah menunjuk pada sifat atau hubungan. Demikian juga pengakuan tentang realitas empiris sebagai dasr pemikiran filosofisnya nampaknya merupakan sumbangan yang berharga atas pemilahan proposisi menurut positivisme logis yaitu proposisi formal dan faktual atau empiris. Pengaruh pemikiran empirisme juga sangat kuat terhadap filsuf bahasa yang membahas dan mengembagkan pengertian hakikat bahasa terutama dalam kaitannya dengan perkembangan linguistik modern yang mengakui hakikat realitas bahasas ebagai suatu realitas empiris. 1983:63). Chornsky dan tokoh-tokoh lainnya. Pemikiran Kant tersebut dikenal dengan paham ”kritisisme”. 1984:86). Menurutnya Kritisisme adalah . Immanuel Kant Munculnya pemikiran filsuf Jerman ini menandai suatu era baru dalam bidang perkembangan filsafat. Selain itu prinsip verifikasi empiris yang dikembangkan oleh positivisme logis nampaknya meruakan hasil jasa baik dari Hume. Halliday. Konsep particularia. Egocentric particular adalah merupakan pengalaman individual (Heraty. Menurut Russel particularia adlaah merupakan hasil persepsi kongkrit individual.kesan serta ide-ide yang sederhana dan yang kompleks menurut Hume yang dikembangkan dalam proses yang disebut pengenalan. Russel yang juga setia pada tradisi empirisme nampaknya mengembangkan lebih lanjut konsep Hume terutama doktrin pengenalannya pada atomisme logis. Bloomfield. Kant berusaha untuk melakukan suatu sintesis baru terhadap suatu pemikiran filsafat yang pada saat itu berkembang yatiu paham rasionalisme dan empirisme (Hadiwijono. Demikianlah kiranya tradisi empirisme yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan filsafat bahasa.

karena mereka hanya percaya secara mentah-mentah pada kemampuan rasio tapa menyelidiki terlebih dahulu. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan. Kant berupaya mengembangkan pengenalan dengan berpangkal pada suatu anggapan bahwa objek mengarahkan diri pada subjek. Kant adalah filsuf yang pertama yang mengembangkan penyelidikan ini. karena menurut pendapatnya filsuf-filsufnya sebelumnya adalah bersifat dogmatisme. Kritik atas Rasio Murni Kritisisme Kant sebagai suatu usaha raksasa untuk menjembatani rasionalisme dengan empirisme.filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio. Sebagaimana ditetapkan oleh Copernicus bahwa bumi berputar sekitar matahari dan tidak sebaliknya. Kant yang dalam prestasi pemikirannya mampu mengubah wajah dan paradigma filsafat membedakan dan mempertentangkan antara dogmatisme dengan kritisisme yang dituangkan dalam karya besarnya yang sangat terkenal pada abad itu (Bertens. demikianlah pula . berarti hanya unsur-unsur yang berasal dari pengalaman sebagaimana dikemukakan Locke dan Hume. yang berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman misalnya ’ide-ide bawaan’ ala Descartes. Padahal sebagaimana diketahui bersama bahwa pada masa Kant sudah menjadi jelas bahwa ilmu pengetahuan yang telahdihasilkan oleh beberaa ilmuwan mampu menemukan dalil atau hukum-hukum yang sifatnya berlaku umum. Walaupun Kant seangat mengagumi empirisme Hume yang bersifat radikal dan konsekuen. Sedangkan empirisme menekankan unsur-unsur aposteriorinya. namun ia tidak menyetujui spektisisme yang dikembangkan Hume yang menyimpulkan bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak dapat mencapai suatu kepastian. Menurut Kant baik rasionalisme maupun empirisme sebenarnya keduaduanya bersifat berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori. 1989:59). Dahulu para filsuf mencoba mengerti akan pengenalan dengan mengandaikan bahwa subjek mengarahkan diri pada objek.

namun bersifat sintesis (Hadiwijono. memang terdapat suatu realitas yang terlepas dari subjek. Selain itu terdapat pula putusan yang bersifat apriori namun bersifat sintetis juga. ’the thing in itself’. yang terdiri atas subjek dan predikat. Oleh karena itu suatu metafisika yang dapat dipertanggungjawabakan secara ilmiah. Jadi ruang tidak merupakan ’ruang pada dirinya’ (ruang an sich).Kant berupaya memperlihatkan pemikirannya yang substansial bahawa pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek (Bertens. unsur apriori itu sudah terdapat pada taraf indera. Ilmu pasti sebenarnya tersusun atas dasar putusan a priori yang bersifat sintetis. misalnya ”logam mengembang”. Ia berpendapat bahwa dalam pengenalan inderawi selalu ada dua bentuk apriori. Kant menyatakan bahwa memang ada ’das ding an sich’ (bendabenda pada dirinya sendiri). a. Pada Taraf Indra Pengenalan merupakan sintesis antara unsur apriori dengan unsur aposteriori. Putusan ini disebut putusan sintetis dan diperoleh secara aposteriori. 1983:65). putusan ini berlaku umum dan mutlak. Suatu putusan menghubungkan dua pengertian. . Ilmu pengetahuan mengandaikan adanya putusan-putusan yang memberi pengertian baru (sintetis) dan yang pasti mutlak dan bersifat umum (a priori). Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang sangat penting yaitu. Demikianlah pula waktu tidak merupakan suatu arus tetap. Menurut Kant pengenalan itu bersandar pada putusan. 1989:60). Unsur apriori memainkan peranan bentuk dan unsur aposteriori memainkan peranan materi. Kedua-duanya merupakan bentuk apriori dari pengenalan inderawi (Bertens. Menurut Kant. Oleh karena itu perlu pertama-tama diadakan penelitian terhadap suatu keputusan. 1989:61). yaitu ruang dan waktu. yang selalu merupakan suatu sintesis antara hal-hal yang datang dari luar dengan bentuk ruang dan waktu (Bertens. Maka ilmu pengetahuan menurut adanya putusan-putusan apriori yang bersifat sintetis. Akan tetapi ’das ding an sich’ selalu tinggal X yang tidak dikenal. 1989:60). misalnya ”segala kejadian ada sebabnya”. di mana penginderaan-penginderaan bisa ditempatkan. Kita hanya mengenal gejalagejala. harus juga dapat kerja dengan mempergunakan putusan-putusan yang apriori.

terdiri atas : categories (tidak bersyarata). Bentuk apriori ini dinamakan Kant dengan ’kategori’ (Bertens. limitasi (batas-batas). Suatu hal yang inovatif dalam pemikiran kant dalam masalah ini adalah nampak adanya upaya untuk mensintesiskan antara rasionaisme dengan metafisika. Dengan lain perkataan. partikuler (sebagian. Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah apriorri yang terdapat dalam akal budi. rasio mengadakan argumentasi-argumentasi seperti halnya akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusanputusan. 1983:30). 4) Kateogri modalis. keperluan/kebutuhan (Hamersma. dan universal (umum). Tugas akal budi adalah menciptakan orde antara data-data inderawi. Pada taraf rasio Tugas rasio adalah menarik kesimpulan dari putusan-putusan. 1989:61). 3) Kategori relasi. 2) Kategori kualitas. ada/tiada. Dengan demikian Kant telah menjelaskan sahnya pengetahuan alam. sehingga terpaksa manusia memikirkan data-data inderawi sebagai substansi atau menurut ikatan kategori yang lainnya. c. Pada taraf akal budi Kant membedakan akal budi (verstand) dengan rasio (vernunft). dengan lain perkataan akal budi menentukanputusan. Akal budi memiliki struktur yang sedemikian rupa. Kant memperlihatkan bhawa rasio membentuk argumentasi- . Menurut Kant terdapat empat kategori sebagai berikut : 1) Kategori kuantitas. negasi (pengingkaran). Pengenalan akal budi merupakan sintesis antara bentuk dan materi. disjuctif (saling meniadakan). terdiri atas: singuler (satuan). hypothetis (sebab dan akibat). terdiri atas : realitas (kenyataan). terdiri atas : mungkin/tidak.b.

argumentasi itu dengan dipimpin oleh tiga ide yaitu jiwa. Jadi apa yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis. atau dengan lain perkataan rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. Tetpai di samping itu terdapat juga ’rasio praktis’ yaitu rasio yang mengatakan a pa yang harus kita lakukan. kategorikategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide. tetapi ketiga ide tadi tidak termasuk pengalaman kita. yaitu kebebasan kehendak. Usaha metafisika itu sia-sia dan hal itu dibuktikan oleh Kant bahwa bukti-bukti adanya Allah yang diberikan dalam filsafat praktis semuanya kontradiktoris (Bertens. Kritik atas Rasio Praktis rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan. Karena kategori-kategori kal budi hanya berlaku untuk pengalaman. jiwa dan adanya Allah kita sama sekali tidak . immoralitas jiwa dan adanya Allah. dunia dan Allah. sehingga rasio disebut ’rasio teoritis’ atau menurut istilah Kant disebut ’rasio murni’. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberikan perintah yang mutlak (imperatif kategoris). Tetapi tentang kebebasan kehendak. Ketiga ide tersebut mengatur argumentasi-argumetnasi kita tentang pengalaman. immoralitas. dan dalam bidang segala-galanya yang ada (Allah). 1989:62). Menurut Kant terdapat tiga hal yang harus diandaikan agar tingkah laku kita tidak menjadi mustahil. Dengan ide Kant memaksudkan suatu cita-cita yang menjamin kesatuan terakhr dalam bidang gejala-gejala psikis (jiwa). harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Itulah sebabnya Kant menyebut sebagai ”ketga postulat dari rasio praktis”. Adanya Allah dan immortalitas jiwa tidak dapat dibuktikan. dalam bidang kejadiankejadian jasmani (Dunia). Tetapi justru itulah yang diusahakan oleh metafisika misalnya upaya dalam bidang metafisika untuk membuktikan bahwa Allah adalah sebagai penyebab pertama alam semesta. Tetapi dengan hal itu metafisika melewati batas-batas yang ditentukan untuk pengenalan manusia. Tetapi harus diinsyafi bahwa ketiga hal itu tidak dibuktikan. Mislanya barang kepunyaan orang lain harus dikembalikan atau secara negatif berupa larangan untuk tidak menyakiti orang yang tidak bersalah. melainkan hanya dituntut. sekalipun metafisika berusha yang sedemikian.

Ap ayang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak. Jadi kita hanya dapat menyatakan atau mengkonstatir fakta-faktanya. sedangkan hubungan-hubungan tetap yang tampak pada urutannya disebut ’hukum’. Akhirnya dengan berpangkal pada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat masa depan. yang secara etimologis berasal dari kata ’positif yang secara harfiah berarti yang diketahui. Segala uraian atau persoalan yang berada di luar apa yang ada sebagai fakta dikesampingkan. Menurut Aliran positivisme bahwa pengetahuan berpangkal dari apa yang telah diketahui. dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. 1989:62). Positivisme August Comte Pada abad ke-19 timbullah aliran filsata yang menandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Hubungan yang tetap yang tampak dalam persamaan disebut ’pengertian’. yang faktual empiris bahkan dapat juga berarti teruji atau teramati. Setelah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum-hukum tertentu. Aliran itu terkenal dengan nama ”Positivisme”. 8. yang kita terima sebagaimana apa adanya. Maka tiada gunanya untuk menanyakan pad tingkat hakikatnya atau kepada sebab-sebab yang sebenarnya dari gejala-gejala itu. Bilamana diamati ajaran positivisme terutama dalam kaitannya dengan pengenalan pengetahuan masih memiliki kesamaan-kesamaan prinsip terutama . Apa yang dapat kita lakukan adalah segala fakta yang menyajikan diri kepada kita sebagai penampakan atau gejala. Oleh karena itu metafisika ditolak. yang faktual atau yang positif. ke arah yang akan nampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri dngannya. Demikianlah positivisme membatasi filsfat dan ilmu pengetahuan pada bidang gejala-gejala saja. Menerima ketiga postulat tersebut dinamakan Kant sebagai kepercayaan (Bertens. segala hal yang bersifat empiris dan segala gejala.mempunyai pengetahuan teoritis. Arti segala ilmu pengetahuan adalah mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan. Yang harus diusahakan manusia adalah menentukan syarat-syarat di mana fakta-fakta tertentu tampil dan menghubungkan faktafakta itu menurut persamaannya dan urutannya.

manusia percaya kepada dewa-dewa yang masing-masing menguasai suatu dunianya sendiri-sendiri misalnya.dalam hal mengutamakan pengalaman empiris. dewa matahari dan lain sebagainya yang disebut (politeisme). Ketiga zaman tersebut meliputi: zaman teologis. Adapun pada taraf lebihtinggi lagi manusia memandang satu Tuhan sebagai penguasa segala sesuatu (monoteisme). Zaman teologis sendiri dibagi atas tiga periode yaitu : taraf yang paling primitif yaitu benda-benda sendiri dianggapnya berjiwa (animisme). Positivisme hanyamembatasi diri pada pengalaman-pengalaman objektif dan tanpa melibatkan pengalamanpengalaman batiniah (Hadiwijono. baik manusia perorangan maupun umat manusia sebagai keseluruhan. Pemikiran August Comte Ajaran Comte yang paling terkenal adalah tiga tahap perkembangan pemikiran manusia. Kekuasaan ini dianggap sebagai makhluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia. Demikianlah doktrin positivisme yang periode-periode berikutnya sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern terutama pada abad XX. dewa laut. Bagi Comte perkembangan menurut tiga tahap atau tiga zaman tersebut merupakan suatu hukum yang tetap. zaman metafisis dan zaman positif atau zaman ilmiah. Namun perbedaan yang pokok adalah positivisme menolak dengan tegas metafisika. termasuk juga pengertian kawasan ide atau gagasan yang bersifat batiniah. dewa gunung. 1983:109). 1) Zaman Teologis Pada zaman ini manusia percaya bahwa di balik gejala-gejala alam terdapat kekuasaan adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. tetapi manusia percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk-makhluk insani yang biasa. taraf berikutnya. 2) Zaman Metafisis .

hanya perbedaannya positivisme logis menekankan pada analisis konsep filosofis melalui bahasa serta positivisme logis lebih menekankan kepada prinsip verifikasi. bahkan positivisme logis ingin menghilangkan metafisika. Dalam karitannya dengan ilmu pengetahuan Comte juga memberikan uraian-uraiannya yang kiranya sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan pada abad XX. aksidensia dan lain sebagainya menjadi penting pada zaman ini. 2002:53-76). seperti misalnya ’kodrat’ dan ’penyebab’. Baik positivisme maupun positivisme logis keduanya menolak dengan tegas tentang metafisika.Dalam zaman ini kuasa-kuasa adikodrati diganti dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang abstrak. BAB III . Dasar-dasar verifikasi. Konsep-konsep metafisika seperti substansi. Seluruh pandangan positivisme diangkat oleh positivisme logis. Baru dalam zaman terakhir inilah manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenanrya atau disebut ilmu pengetahuan modern (Bertens. Atas dasar observasi dan dengan menggunakan rasionaya manusia berusaha menetapkan relasi-relasi persamaan atau uruturutan yang terdapat di antara fakta-fakta. 3) Zaman Positif Pada zaman ini sudah tidak lagi dicari penyebab-penyebab yang terdapat dibelakang fakta-fakta. Pemikiran positivisme ini memberikan dasar pijak bagi paham filsafat analitik terutama kelompok Wina atau Kring Wina yang menamakan dirinya sebagai paham positivisme logis. 1989:73). Manusia membatasi diri pada fakta-fakta yang disajikan kepadanya. Metafisika dijunjung tinggi dalam zaman metafisis ini. pandangannya tentang ilmu pengetahuan dengan segala dasar-dasar epistemologinya dapat dikatakan hampir keduanya memiliki kesamaan (Kaelan.

dunia idea dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. PENGANTAR Perhatian filsafat terahadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa ‘kata’ (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan ‘jangan dengar aku’. yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Sokrates dalam berdialog ilmiah dengan kaum sofis menggunakan analisi bahasa dan metode yang dikembangkan dikenal dengan metode ‘dialektis kritis’. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini. bahasa bahkan menjadi pusat perhatian filsafat ketika retorika menjadi medium utama dalam dialog filosofis. perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Menurut Herakleitos. Pada zaman Sokrates. Demikian juga perhatian yang amat besar terhadap bahasa juga dikembangkan oleh Plato maupun Aristoteles. Demikian sehingga pemikiran Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang melakukan bahasa sebagai objek kajian filsafat (Casseirer. Objektivitas kebenaran filosofis perlu diungkapkan dalam suatu analisis bahasa secara diakletis dan dengan didasarkan pada dasar logika.FILSAFAT ANALITIKA BAHASA A. bahkan tentang hakikat bahasa itu sendiri menjadi topic perhatian utama. . dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki temapat yang sentral. 2944: 170). ia mencari prinsio perubahan. ‘dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa bergeser benda itu satu’. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja. Seluruh minat Herakleitos terpusat pada dunia fenomenal. terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata komis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawai. bahkan sejak zaman pra Sokrates.

Kekhusuan manusia dalam mengagungkan sang Maha Kuasa pada abad pertengahan juga diungkapkannya melalui ungkapan manusiawi yaitu bahasa. Kaum Patristik dan Skolastik mengemukakan pemikirannya tentang teologi berupaya untuk mendeskripsikannya secara ontologik dengan menggunakan ungkapan-ungkapan bahasa. Terutama Thomas Aquinas telah mengangkat teologi ke tingkat ilmiah filosofis sehingga mampu menjebatani teologi ketingkat ilmiah filosofis. Peranan rasio. Memang banyak bahasa itu sulit ditentukan ahli filsafat dan kalangan historia bahwa filsafat bahasa itu sulit ditentukan batasan pengertiannya terutama filsafat analitika bahasa. . Para filsuf analitika bahasa melihat banyak ungkapan-ungkapan filsafat misalnya ungkapan-ungkapan metafisis dari kaum idealism. kalangan filsuf analitika bahasa sadar bahwa sebenarnya problem-problem filsafat itu dapat dipecahkan. sehingga mampu menjembatani antara realitas Tuhan yang bersifat adikodrati dengan realitas makhluk yang bersifat terbatas. rasionalisme maupun intuisionisme sebenarnya tidak bermakna atau dengan lain perkataan filsuf analitika bahasa menolak dengan tegas ungkapan-ungkapan metafisis. karena dasar-dasar filosofisnya yang cukup rumit. bahkan yang paling radikal kaum positivism logis ingin menghilangkan metagisika. Ketika para penganut aliran-aliran filsafat modern bertikai memperdebatkan tentang hakikat kebenaran segala sesuatu. aliran epirisme yang menekankan peranan pengalaman indera dalam pengenalan pengetahuan manusia serta aliran materialism dan kritisme Immanuel filsafat analitika bahasa terutama dalam pengungkapan realitas segala sesuatu melalui ungkapan bahasa. Filsafat abad modern memberikan dasar-dasar yang kokoh terhadap timbulnya filsafat analitika bahasa. Oleh karena itu aliran rasionalisme yang menekankan otoritas akal. Bilamana kita kaji dalam sejarah filsafat timbulnya filsafat analitika sebagai suatu ketidakpuasan terhadap perkembangan pemikiran filsafat modern pada saat itu. indera dan intuisi manusia sangat menentukan dalam pengenalan pengetahuan manusia. padat dan sangat beragam. atau melalui suau analisis bahasa. dijelaskan dan diuraikan dengan menggunakan analisis ungkapan-ungkapan filsafat.

antara aliran satu dengan lainnya. Lyotard dan tokoh-tokoh lainnya dalam paham ‘postmodernisme’ Demikialah kiranya filsafat analitika bahasa memiliki dimensi yang sangat luas dan meliputi berbagai bidang. B. Pemilihan filsafat analitika bahasa ini memang sulit untuk ditentukan berdasarkan periodisasi maupun wilayah karena aliran-aliran filsafat analitik tersebut memiliki keterkaitan pengaruh antara tokoh satu dengan lainnya. Demikian juga secara diakronis filsafat analitika bahasa pada abad XX ini tidak terbatas pada timbulnya aliran-aliran filsafat di Inggris. namun demikian bilamana kita sependapat bahwa pengetian filsafat analitika adalah pemecahan dan penjelasan problem-problem serta konsep-konsep filsafat melalui analisi bahasa. namun lebih luas antara lain di Jerman selain mempengaruhi tumbuh berkembangnya aliran positivism logis dan lingkungan Wina.Secara termonologi istilah analitika bahasa baru dikenal dan popular pada abad XX. Michel Foucault. antara lain Edmund Husserl dengan aliran fenomennologinya. penentuan berdasarkan aliran merupakan suatu pilihan yang dianggap paling tepat. juga terdapat filsuf-filsuf kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala untuk sampai pada suatu kebenaran yang hakiki. Filsafat Sebagai Analisis Bahasa . Maka untuk mempermudah pamahaman kita tentang perkembangannya filsafat analitika bahasa. maka sebenarnya berdasarkan isi materi dan merodenya filsafat analitika bahasa itu telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman Yunani. Gadamer dan Dilthey dengan mazhab Frangfrutnya. Reaksi yang keras dari filsuf-filsuf kontemporer terhadap proses modernism antara lain melalui analisis ungkapan bahasa karena modernism tidak mampu mengungkapkan hakikat kemanusiaan dan hal ini hanya mampu diungkapkan melalui symbol-simbol sebagaimana dikembangkan oleh Derrida. Dalam pembahasan ini analisi bahasa tidak hanya berkaitan dengan penjelasan dan pemecahan problem-problem filsafat namun berkaitan erat dengan metode hermeneutic.

‘apakah yang dimaksud dengan kebaikan’ dan lain sebagainya. kebenaran. pengetahuan ataupun kewajiban moral. Berdasarkan hal tersebut maka banyak kalangan filsuf terutama para tokoh filsafat analitika bahsa menyatakan bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep. bahkan kalangan flsuf analitika bahasa menyadari banyak ungkapan-ungkapan filsafat yang sama sekali tidak menjelaskan apa-apa. sehingga banyak filsuf menaruh perhatian untuk menyempurnakannya. Namun demikian kegiatan para filsuf semacam itu dewasa ini dianggap tidak mencukupi karena tidak didukung dengan pengalatan dan pembuktian yang memadai untuk mendapatkan kesimpulan adekuat. Sebagaimana kita ketahui misalnya banyak filsuf yang mengetengahkan konsepnya melalui analitika bahasa. misalnya tentang hakikat pengetahuan sebagai berikut : (1) Kita menyelidiki pengetahuan itu (2) Kita menganalisis konsep pengetahuan itu (3) Kita ingin membuat eksplisit kebenaran pengetahuan itu Untuk pemecahan yang pertama mustahil dapat dilaksanakan karena seakan-akan filsafat itu mencari dan meneliti suatu entitas (keberadaan) . Kegiatan yang semacam itu merupakan suatu permulaan dari suatu usaha pokok filsafat untuk mendapatkan kebenaran hakikat tentang segala sesuatu termasuk manusia sendiri. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. Untuk itu terdapat tiga cara untuk memformulasikan problema filsafat secara analitis misalnya masalah sebab akibat. misalnya ‘apakah keadilan itu’. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan yang fundamental tentang hakikat segala sesuatu para filsuf berupaya untuk memberikan suatu argumentasi yang didukung dengan analisis bahasa yang memenuhi syarat-syarat logis.Bahasa adalah alat yang paling utama bagi seorang filsuf serta merupakan media untuk analisis dan refleksi. Oleh Karena itu bahasa sangat sensitive terhadap kekaburan serta kelemahan-kelemahan lainnya. ‘apakah yang dimaksud dengan kebenaran’. Hal ini terutama dengan timbulnya aliran filsafat analitika bahasa yang memandang bahwa problema-problema filosofis akan menjadi terjelaskan manakala menggunakan analisis terminology gramatika.

sesuatu yangd isebut pengetahuan berada bebas dari pikiran manusia. Untuk yang kedua itu juga menyesatkan karena seakan-akan tugas filsafat untuk memeriksa. Kemudian menentukan bagian-bagiannya. tanpa tahun: 14). Problem yang muncul berkaitan dengan filsafat sebagai analisis konsep-konsep yaitu kekurangan dan keterbatasan bahasa sebagaimana dihadapi oleh disiplin ilmu-ilmu lainnya. meneliti dan mengamati sesuatu yang disebut pengetahuan. Dalam pengertian inilah menurut Alston bahawa bahasa merupakan laboratorium filsafat untuk menguji dan menjelaskan konsep-konsep dan problema-problema filosofis bahkan untuk menentukan kebenaran pemikirannya (Alston. Konsep-konsep filsafat senantiasa diartikulasikan secara verbal sehingga dengan demikian mmaka bahasa memiliki peranan yang netral. Kedudukan filsafat sebagai analisisi konsep-konsep dan mengingat peranan bahasa yang bersifat sentral dalam mengungkapkan secara verbal pandangan-pandangan dan pemikiran filosofis maka timbulnah suatu masalah yaitu keterbatasan bahasa sehari-hari yang dalam masalah tertentu tidak mampu mengungkapkan konsep filosofis. Namun demikian harus diakui bahwa untuk mengatasi . yaitu bahwa tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep tersebut senantiasa melalui bahasa (Poerwowidagdo. Kiranya hanya kemungkinan alternative yang ketiga saja yang banyak dilakukan oleh filsafat. Menanggapi peranan bahsa sehari-hari dalam kegiatan filsafat maka terdapat dua kelompok filsuf yang memilkiki pandangan yang berbeda. 1964:5). (1) Terdapat kelompok filsuf yang beranggapan bahwa sebenarnya bahasa biasa (ordinary language) yaitu bahasa yang sehari-hari digunakan dalam komunikasi manusia itu telah cukup untukmaksud-maksud filsafat atau dengan perkataan bahasa sehari-hari itu memadai sebagai sarana pengungkapan konsep-konsep filsafat. Memang filsafat sebagai analisis konsep-konsep tesebut senantiasa berkaitan dengan bahasa yang berkaitan dengan makna (semantic) dan tidak turut campur dalam bahasa itu sendiri sebagai suatu realitas. menentukan hubungan-hubungannya hingga menjadi suatu konsep disebut pengetahuan.

Bertnard Russel dan tokoh lainnya. (2)Sebaliknya terdapat kelompok filsuf yang menganggap bahwa bahasa seharihari itu tidak cukup untukmengungkapkan masalah-masalah dan konsepkonsep filsafat. yaitu perlu diwujudkan suatu bahasa sarat dengan logika sehingga ungkapan-ungkapan bahasa dalam filsafat kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Menurut kelompok filsuf ini tugas filsafat yaitu membangun dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam bahasa sehari-hari itu. Misalnya kita sering mendengarkan suatu ungkapan filosofis yang menyatakan bahwa suatu ungkapan itu secara metafisis memiliki makna yang dalam tanpa memberikan alas an yang memadai agar memiliki atau satu dasar kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka yang menjadi perhatian kita yang terpenting adalah usaha bahwa perhatian filsafat itu memang berkenaan dengan konsepsi umum tentang bahasa serta makna yang terkandung di dalamnya.kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan bahasa sehari-hari bahasa filsafat harus diberikan suatu pengertian yang khusus atau harus memberikan suatu penjelasan terhadap penyimpangan tersebut. Maka menurut pandangan yang pertama ini tugas filsuf dalam memberikan semacam terapi untuk penyembuhan dalam kelemahan penggunaan bahwa filsafat tersebut. Dengan suatu kerangka bahasa yang sedemikian itu kita dapat memahami dan mengerti tentang hakikat fakta-fakta atau kenyataan-kenyataan dunia. sehingga timbullah kekacauan dalam filsafat dan penyimpangan itu tanpa suatu penjelasan agar dapat dimengerti (Poerwowidagdo. Menurut pandangan ini (terutama aliran filsafat bahasa biasa Wittgenstein II) masalah-masalah filsafat itu timbul justru karna adnaya penyimpangan-penyimpangan penggunaan bahasa biasa oleh para filsuf dalam berfilsafat. tanpa tahun: 10). Rudolf Carnap. Demikianlah kiranya perhatian filsafat terhadap bahasa dan hal ini mengingat tugas utama filsafat adalah analisis konsep-konsep dan oleh karena ungkapan . Masalah-masalah filsafat itu justru timbul karena bahasa biasa itu tidak cukup untuk tujuan analisis filosofis karena bahasa sehari-hari memiliki banyak kelemahan dan demi kejelasan kebenaran konsep-konsep filosofis maka perlu dilakukan suatu pembaharuan bahasa. Ryle. Kelompok filsafat antara lain Leibniz.

atau kadang disebut juga ‘empirisme logis’ (logical empirism). pengaruhnya meliputi berbagai Negara di Eropa maupun di Amerika. Perkembangan filsafat analitika bahasa itu memang tidak dapat diperjelas begitu saja terpisahkan dari aliran-aliran yang berkembang sebelumnya seperti aliran rasionalisme. Terlebih lagi terdapat banyak filsuf yang memiliki kebiasaan melanglang jagad. Selain itu aliran ini berkembang sebagai reaksi . Pada dasarnya pekembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism). pindah dari Negara satu ke Negara lainnya misalnya Bertrand Russell. Idealism. Demikian juga terdapat suatu aliran yang berkembang di Eropa akan tetapi pusatnya di Wina sehingga aliran tersebut juga disebut ‘Mazhab Wina’ atau ‘kring Wina’. Aliran-Aliran Filsafat Analitika Bahasa Analitika bahasa adalah suatu metode yang khas dalam filsafat untuk menjelaskan. imaterialisme dan aliran positivism. empirisme. Atomisme logis mulai berkembang pada awal abad XX di Inggris dan aliran ini sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran sebelumnya yaitu rasionalisme dan empirisme. Selain itu setelah perkembangan filsafat bahasa biasa.filosofis itu bersifat verbal maka upaya untuk membuat bahasa itu sudah memadai dalam berfilsafat menjadi sangat penting sekali (lihat Alston. ‘positivisme logis’ (logical positivism). secara historis tradisi ini sebenarnya telah berkembang sejak lama bahkan sejak zaman pra Sokrates. lalu istilah itu menjadi popular dan berkembang pada abad XX terutama di Inggris khususnya dan Eropa pada umumnya. Wittgensein dan tokoh lainnya. Atas dasar kenyataan historis yang demikia inilah maka filsafat analitika bahasa menjadi sangat sulit sekali untuk dibatasi berdasarkan wilayah perkembangannya. dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy). menguraikan dan menguji kebenaran ungakapan-ungkapan filosofis. 1964:6) C. Oleh karena itu akan menjadi lebih memadai bilamana uraian perkembangan filsafat analitika bahasa itu difokuskan pada perkembangan berdasarkan aliran-alirannya. Namun demikian.

Oleh karena itu hal ini tidak hanya terbatas aliran di Inggris saja. 2002: 84. dan aliran inilah yang memiliki bentuk yang paling kuat bilamana dibandingkan dengan aliran yang lainnya dan memiliki pengaruh yang sangat luas baik di Inggris sendiri. dan Peter Strawson. Atomisme Logis Dalam perkembangan pemikiran filsafat di Inggris permulaan abad XX.L. Akhirnya agar memiliki kasamaan persepsi tentang aliran filsafat analitika bahasa. Hal ini dimaksudkan bahwa pusat perhatian para filsuf pada masalah filsafat dikembangkannya melalui bahasa dan membahas. Setelah perang dunia kedua muncullah aliran filsafat bahasa biasa. melainkan juga aliran di wilayah lainnya (kaelan. Ausdtin. kimia ilmu-ilmu alam dan lain sebagainya dan berpusat di Wina. menjelaskan serta memcahkan masalah filsafat dengan menggunakan analitika bahsa. Jerman. D. muncullah suatu perkembangan pemikiran yang baru yang oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai suatu perubahan yang radikal atau . di Jerman dalam aliran fenomenologi Husserl dan Gadamer. kita tentukan bahwa pengertian tersebut ditunjukkan kepada pengertian aliran filsafat yang berkembang pada abad XX yang menaruh perhatian terhadap bahasa.mazhab positivism logis sangat besar pengaruhnya di dunia terutama terhadap perkembanganya ilmu pengetahuan modern bahkan sampai saat ini terutama di Indonesia sendiri.ketidakpuasan atas aliran idealism.Ryle. Paham positivism logis ini menurut sejarah dikembangkan oleh kalangan ilmuwan bidang fisika. G. matematika. Pengaruh atomisme logis kemudian diteruskan oleh aliran positivism yang dalam beberapa hal banyak menyetujuan konsep-konsep atomisme logis. Prancis. Walaupun pengaruh tersebut tidak secara langsung namun aliran filsafat tersebut secara ontologism memiliki kesamaan. maupun di Amerika. Pengaruh filsafat bahasa biasa di Inggris juga amat luas terutama kelompok filsuf Oxford antara lain J.86). ataupun melalui analistik languistik. Misalnya aliran di Prancis yang mendasarkan pemikiran filosofisnya pada bahasa biasa antara lain pada paham postmodernisme Lyotard. Derrida dan Foucault.

dalam suatu artikelnya yang telah dimuat dalam ‘Cotemporary British Philosophy’ yang terbut tahun 1924 dalam artikelnya itu ia mengatakan sebagai berikut: “I hold that logic is what is fundamental in philosophy and that schools should be characterized rathes by their logic than by their metaphysics. Perkembangan baru ini membawa perubahan dalam gaya. Logika saya sendiri bersifat atomis. Nama . baik dengan atau tanpa awalan kata sifat” Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russell dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya “Tractatus Logico Philosophicus’. arah dan corak pemikirannya.sebagai suatu ‘revolusi’. Ayer. My own logic ia atomic and is this aspect upon wich I should mish to lay stress. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. Oleh karena itu lebih suka menyebut filsafat saya dengan nama atomisme logis dari pada realism. dan aspek (segi) inilah yang ingin saya tekankan saya tekankan. There fore I prefer to describe my philosophy as logical atomism rather than as realism.J.More (1873-1958).E. “saya menganggap bahwa logika itu adalah apa yang fundamental di dalam filsafat. Whether with or without some prefixed adjectife” (Russell dalam A. fan bahwa mazhan-mazhab (aliran-aliran) itu seharusnya diwarnai oleh logikanya dari pada oleh metafisikanya. Bertrand Russell sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empirisme yang mengikuti jejak john Locke dan David Hume. namun dalam kenyataanya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. sehingga konsep filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme. Nama aliran atomisme logis dikemukakan oleh Bertand Russell dalam mengemukakan konsep filosofisnya yang diberi nama ‘atomisme logis’. Dan sebagai tokoh utamanya yaitu Bertrand Russell (1872-1970) dan Ludwig Wittgestein (1889-1951). Pusat dari gerakan pemikiran filsafat yang baru ini adalah di Cambridge Inggris yang diiris oleh G. 1959:31).

E. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya.‘atomisme logis’ yang dipilih oleh Bertrand Russell menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu keryanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. namun dalam kenyataannya tradisi idealisnya juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Bradley mempengaruh bidang formulasi logika proposisi sedangkan G.H. H. Moore.E. E. sehingga konsep . Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oloeh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalanmanusia. meskipun dianggap sebagai suatu karya filsafat yang sama sekali baru. F. Dalam kaitan ini Bertrand Russel menolak atomisme psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologis namun dilakukan terhadap proposisiproposisi. Demikianlah dalam kenyataannya munculnya pemikiran atomisme logis di Inggris tidak dapat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada atomisme logis. Bradley Pemikiran atomisme logis sebagaimana dikemukakan oleh Bertrand Russel dan sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam bukunya ‘Tractatus Logico Philosophicus’. namun dalam kenyataannya tidak dapat dipisahkan dengan aliran-aliran filsafat yang mendahuluinya. Pengaruh pikiran idealism tersebut antara lain dari F. Pengaruh Idealisme F. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya melaksanakan analisis psikologis terhadap ide.H. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan oleh Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. Bertrand Russel sendiri sebenarnya sebagai seorang penganut empiris yang mengikuti jejak John Locke dan David Hume. Menurut Hume semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis (atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nam atomisme logis daripada realism. Bradley dan pemikiran analitis G.

Dunia memiliki arti yang berlainan . Tokoh-tokoh idealism Inggris tersebut antara lain T. Moore. jiwa (mind) dan bukannya benda-benda material dan kekuatan. Selanjutnya ditekankan oleh idealism bahwa realitas dasar terdiri tatas ide. Demikianlah dalam kenyataannya pemikiran baru atomisme logis di Inggris tidakdpat dipisahkan dengan para tokoh yang mempengaruhi dan memberikan sumbangan kepada aliran atomisme logis. Pada awal abad XX.E. Hume percaya bahwa filsuf itu hendaknya bisa melaksanakan analisis psikologisnya David Hume dan analisis itu bukannya pada aspek psikologi namun dilakukan terhadap proposisi-proposisi. Pengaruh pemikiran idealism tersebut antara lain F.filosofisnya Nampak adanya garis-garis filsafat empirisme.H. Bradley mempengaruhi bidang formulasi logika proposisi sedangkan G. Moore memberikan tekanan pad cirri analisisnya.H. Menurut Hume semua ide yang atomis (Atomic ideas) yang merupakan ide yang terkecil. Jika materialism mengemukakan bahwa materi adalah real dan mind adalah fenomena yang menyertainya maka idealism menyatakan bahwa mind itulah yang real dan materi adalah produk sampingnya. Green. pikiran-pikiran.E. F. Bradley dan pemikiran analisis G. Bernard Bosanquet dan terutama adalah F.H. Namun ‘atomisme logis’ yangdipilih oleh Bertrand Russel menunjukkan adanya pengaruh dari David Hume dalam suatu karyanya yang berjudul ‘An Enguiry Concerning Human Understanding’. Tumbuh suburnya aliran-aliran itu tersebut memberikan suatu reaksi atau materialism dan positivism yang merajalela di Eropa pada waktu itu yang menguasai filsuf-filsuf generasi sebelum tmimbulnya idealism. namun kenyataannnya tradisi idealispun juga memberikan garis dan warna dalam pemikirannya. Edward Caird. Struktur pemikiran atomisme logis diilhami oleh konsep Hume tentang susunan ide-ide dalam pengenalan manusia. 1981:18). pikiran atau jiwa atau hubungan yang sangat erat dengannya. H. Walaupun pemikiran atomisme logis yang dikembangkan Bertrand Russel dipengaruhi oleh empirisme terutama John Locke dan David Hume. aliran yang dominan di Inggris adalah idealism. akal. Bradley (Bertens. Atas dasar alasan inilah Bertrand Russel memilih nama atomisme logis dari para realism. Menurut aliran idealism bahwa realitas terdiri atas ide.

dari apa yang Nampak pada permukaannya. Dunia dipahami dan ditafsirkan olehpenyelidikan tentang hukum-hukum pikiran dan kesadaran dan tidak hanya oleh metode ilmu objektif saja yang berdasarkan kepada pengamatan empiris (Titus, 1984:316). Francis Herber Bradley (1846-1924) adalah penganut idealism yang fanatic dan memiliki pengaruh yangs angat besar di Inggris. Ia menguraikan pendapatnya tentang hubungan antara pemikiran dengan realitas dan hal ini merupakan kritik yang sangat keras terhadap teori pengenalan dari paham empirisme menurut Bradley metode pengenalan empirisme itu sebenarnya bersifat psikologis dan bahwa mereka itu bekerja dengan ide-ide dan sama sekali tidak dengan putusan (judgements) atau keterangan-keterangan (proposisi-proposisi). Ide sebagaimana dimaksudkan kalangan empirisme adalah isi dari pikiran. Kaum empirisme tertarik dengan asal usul pikiran kita, bagaimana kita mendapatkan kemampuan kita untuk berpikiran tentang kualitas, hubungan pada pihak lain proposisi itu bukanlahisi dari pikiran kita, akan tetapi merupakan pernyataan-pernyataan tentang duna ini, yaitu bahwa sesuatu itu adalah sedemikian rupa yang ditangkap oleh pikiran. Menurut pandangan F.H. Bradley, metode kaum empirisme itu adalah suatu kesalahan. Kaum empirisme kurang memperhatikan putusan (judgements) atau proposisi, dan halinilah yang menjadi yang merupakan perbedaan yang paling dalam antara Immanuel kant dan David Hume. Pemikiran-pemikiran F.H. Bradley inlah yang mempengaruhi

formulasi logika atomisme logis Bertrand Russel, yaitu realitas itu terwujudkan dalam suatu ungkapan bahasa yang merupakan suatu proposisiproposisi. Dengan demikian nampaklah pada kita bahwa logika atomisme logis Bertrand Russell itu merupakan suatu empirisme yang didasrkan atas putusan-putusan atau proposisi-proposisi dan bukan didasarkan atas ide-ide, sehingga formulasi logika Russel sebenarnya memanfaatkan idelaisme F.H. Bradley dalam atomisme logika (Poerwowidagdo, tanpa tahun 26). Namun demikian Russel juga menolak dengan keras pandangan metafisis dari idealism, sebab sebagaimana diungkapkan oleh Russel bahwa pemikirannya itu tidak didasarkan atas pandangan metafisika melainkan

ditentukan oleh formulasi logikanya karenamenurut Russel logikalah yang paling fundamental dalam filsafat.

F. Geogre Edward Moore Filsuf kelahiran Upper Nortwood London memiliki pengaruh yang amat besar terhadap aliran filsafat atomisme logis.walaupun demikian sebenarnya Moore sendiri bukanlah penganut yang setia dari aliran atomisme logis, bahkan boleh dikatakan ia sendiri berdiri di pinggri gerakan itu (Poerwowidagdo: 30). Moore adalah seorang tokoh filsafat analitik (penguraian) dan sebgai seorang anais ia berpendapat bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis yang tepat tentang apa yang dimaksudkan dengan konsep-konsep atau proposisi-proposisi dalam ilmu filsafat. Karya Moore yang terkenal adalah ‘Principia Ethica’ (1903) dan dalam bentuk yang popouler adalah “Ethics’ (1912). Ia tidak menolak etika normative dan lebih menekankan pada analisis konsep dan argumentasiargumentasi yang dipakai dalam etika. Jadi Moore lebih menekankan pada analisis ‘metaetika’. Buku yang berjudul ‘Principia Ethica’ sebagaian besar merupakan uraian yang menyangkut terminologid alam etika, misalnya tentang arti kata ‘baik’. Suatu pembahasan Moore yang terkenal adalah tentang arti kritik dan uraiannya tengan ‘kekeliruan naturalistis’ (naturalistic fallacy). Dalam uraiannya Moore menjelaskan arti kata ‘baik’. Dalam etika yang disamakan dengan cirri naturalisstis. Misalnya kekeliruan yang dilakukan oleh para penganut paham ‘hedonisme’, yang menyamakan ‘baik’ dengan sesuatu yang menyenangkan’. Bagi mereka “X itu baik” sama artinya dengan “X itu menyenangkan”. Akan tetapi hal itu tidak dapat dipertahankan terutama karena dua alasan sebagai berikut. Pertama, kalau seandainya ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ itu sama artinya, maka akan timbul suat masalah tentang bagaimana ssuatu yang menyenangkan tetapi tidak baik, sebaba dalam kenyataannya hal itu sering terjadi. Kedua, kalau seandainya pengertian ‘baik’ dan ‘menyenangkan’ sama artinya, maka pertanyaan “apakah yang menyenangkan itu baik?” seharusnya sama artinya juga dengan pertanyaan “apakah yang baik itu baik?”. Namun demikian kita

akin bahwa pertanyaan pertama betul-betul mempunyai arti dan tidak boleh disetarafkan dengan pertanyaan yang kedua yang sederhana itu. Moore berpendapat bahwa kata ‘baik memang tidak dapat didefinisikan sebab tidak mungkin diasalkan kepada suatu yang lebih jelas lagi. Moore memang tidakmenolak metafisika, akan tetapi dalam berbagai macam uraiannya ia tidak mempraktekkan metafisika. Secara otoritis ia mengakui bahwa metafisika sebagai salah satu cabang filsafat yang penting, akan tetapi ia justru lebih tertarik untuk mengkritik pandangan metafisis dari filsuf lain. Dalam pengertian ini Moore secara tidak langsung telah membangun tumbuhnya sikap skiptis dan kritis terhadap metafisika. Inlah sumbangan Moore terhadap tumbuhnya aliran baru di inggris teurutama atomisme logis yang mengkritik dan bahkan menolak metafisika (Bertens, 1981:24). Atas dasar sikapnya yang konsisten tersebut maka tidaklah mengherankan jikalau Moore mengkritik kaum idealism Inggris yang pada saat itu menguasai dunia pemikiran di Inggris. Kritisk Moore terhadap aliran idealism tersebut tertuang dalam karangannya yang berjudul “The Refutation of Idealisme”, yang dimuat dalam majalah “Mind” (1930). Kaum idealism terutama kaum Hegelian berpendapat bahwa ‘segala sesuatu itu bersifat spiritual’, ‘tidak ada dunia material di luar kita’, ‘waktu adalah tidak real’ dan lain sebagainya. Menurut Moore pendapat kaum idealism tersbut tidak berdasarkan pada logika sehingga tidak dipahami oleh akal sehati maka atomisme logis mendapat inspirasi bahwa analisis bahasa harus berdasarkan pada logika, sehingga ungkapan-ungkapan bahasa yang melukiskan suatu realitas terwujud dalam bentuk proposisi-proposisi (lihat Bertens, 1981:24 dan Charlesworth, 1959:12).formulasi pemikiran filsafat yang mendasarkan pada suatu analisis melalui bahasa dan didasarkan atas logika inilah yang merupakan jasa-jasa baik Moore terhadap lahirnya atomisme logis. Namun demikian hendaklah kita ingat bahwa memang dalam kenyataannya seluruh dasar-dasar logika atomisme logis tidak didasarkan atas pemikiran Moore karena sebagaimana diketahui bahwa Moore bukanlah ahli di bidang logika. Daam setiap system analisisnya Moore tidak mengakhriri dengan justifikasi

benar atau salah, melainkan apakah itu bermakna atau tidak bermakna berdasarkan analisis bahasa. Atas dasar cirri-ciri pemikiran Moore beserta metodenya maka tidaklah mengherankan bilamana Moore diberi gelar sebagai perintis pergerakan baru dalam pemikiran filsafat di Inggris, yaitu sebagai perintis gerakan filsafat analitik yang dalam terminology filsafat dikenal juga dengan istilah “filsafat analitika bahasa”. Berdasarkan atas reputasinya itu maka Moore berpendapat bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis yang tepat atau memadai tentang konsep suatu proposisi, yaitu menguraikan dengan jelas dan memadai apa yang dimaksud dengan konsep atau proposisi itu (Moore, 1959:vii. Memberikan analisis secara pantas terhadap suatu konsep atau suatu proposisi itu sama dengan menggantikan perkataan atau kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan hal itu dengan ungkapan-ungkapan lainyang sama benar nilainya (exactly equivalent) dengan kalimat atau ungkapan tadi akan tetapi menjadi analisis adalah sebagai berikut: Analisis adalah semacam definisi semacam persamaan dengan

ungkapan yang membingungkan (ungkapan yang kurang jelas), pangkal uraian (analysandum) di sebelah kiri dan ungkapan baru di sebelah kanan yang sering disebut analisis (penguraian) (analysans) sebagai penguraian (lihat Poerwowidagdo, tanpa tahun: 31). Berkaitan dengan analisis tersebut maka pangkal uraian (analysandum) dan pengaurai (analysans) tidak harus selalu identik sama persis),melainkan keduanya harussama dalam arti mempunyai kondisi-kondisi kebenaran yang sama (Langford, 1959:335). Meskipun Moore dan Russel sama-sama setuju bahwa tugas filsafat adalah menganalisis konsep-konsep atau proposisi-proposisi yaitu mengungkapkan dengan jelas namun keduanya terdapat suatu perbedaan. Menurut Moore bahwa kepercayaan akal sehat (common sense) tentang benda-benda itu dapat diktahui dengan pasti adalah benar. Adapun menurut Russell mencari kebenaran metafisis melalui penggunaan analisis. Selain itu Moore dalam pemikirannya hanya mencari penjelasan tanpa meninggalkan

akal sehat. Berdasarkan pada pandangan dan pemikirannya tentang filsafat maka Moore telah banyak memberikan sumbangan bagi lahirnya pemikiran baru di Inggris yaitu filsafat analitika bahasa terutama aliran atomisme logis, walaupun ia sendiri sebenarnya bukan seorang penganut setia aliran tersebut.

G. Filsafat Atomisme Logis Bertnard Russel Fulsuf Cambridge ini memiliki inovasi yang luar biasa dan ia sebagai salah seorang pelopor pemikiran baru di Inggris. Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Russsell dikuasai oleh tradisi idealism, sehingga sekaligus pemikiran Russell merupakan suatu reaksi yang sangat akurat terhadap aliran tersebut. Suatu kelebihan dari konsep pemikiran anomisme logis Bertrand Russell adalah, ia mampu mensintesiskan berbagai macam pemikiran para filsuf sebelumnya maupun filsuf sezamannya. Dalam pemikiran Russell Nampak garis lurus tradisi empirisme John Locke dan David Hume terutama dalam struktur logis dari proposisi-proposisi, dari proposisi sederhana (atomis) sampai pada proposisi kompleks yang memiliki kompleks corak logis yang sama dengan konsep ide-ide sederhana (ide atomis) sampai pad aide-ide yang bersifat kompleks. Namun demikian di pihak lain Russell juga mengangkat pemikiran idealism Bradley dalam mengkritik kelemahan paham empirisme, walaupun Russell menolak dengan tegas metafisika idealism Bradley yang mengungkapkan kelemahan empirisme yang dikatakannya bahwa metode empirisme itu bersifat psikologis, yang hanya bekerja dengan ide-ide dan bukannya berdasarkan pada suatu putusan (juggements) atau keterangan-keterangan (proposisiproposisi). Dasar inilah kemudian diangkat oleh Russell demi prinsipprinsip analisinya yaitu yang berdasarkan pada suatu putusan. Formulasi analisis Russell juga dipahami oleh konsep pemikiran teman akrabnya G.E Moore sebagai seorang filsuf perintis filsafat analitika. Russell dan Moore memang sependapat bahwa tugas filsuf adalah memberikan analisis proposisi-proposisi, namun keduanya terdapat perbedaan. Moore mendasarkan analisisnya berdasarkan analisinya

Moore beranggapan bahw bahasa sehari-hari (bahasa alamiah) kiranya telah memadai untuk berfilsafat. tergantung pada konteks dan lain sebagainya. yang berdasarkan formulasi logika Ia mengakuinya banyak dipengaruhi oleh logika baru dari Gothlob Frege (1848-1925). tanpa tahun:207). Russell ingin membangun bahasa yang mampu mengungkapkan realitas. sedangkan menurut Russell bahasa sehari-hari itu tidak memadai untuk bahasa filsafat karena banyak kelemahan antara lain kekaburan. oleh karena itu pemikirannya dinamakan ‘atomisme logis’. Atas dasar pendapat inilah maka Russell membangun pemikirannya melalui bahasa berdasarkan formulasi logika. Akan tetapi menurut Russell logika barunya Frege itu tidaklah cukup untuk membuat suatu kerangka dari sebuah bahasa yang sempurna. Alasan yang dikemukakan Russell adalah sebagai berikut : (1) Logika Frege yang baru itu hanya cocok untuk diterapkan pada ilmu hitung (arithmetic) dan tidak dapat diterapkan pada cabang-cabang lain dari matematika. Atas dasar alasan tersebut maka Russell bekerja sama dengan Al-fred North Whitehead. (2) Pangkal pikir atau premis Frege itu tidak meniadakan beberapa kontradiksi yang terdapat dalam system logika formal lama (Poerwowidagdo. sedangkan Russell mencari kebenaran melalui penggunaan analisis disertai dengan sintesis logis.berdasarkan akal sehat. Hal ini menyakinkan pada diri Russell. Pandangan pokok dari ‘Principia Mathenmatica’ yaitu dari ide-ide dan aksiomaaksioma tertentu dari logika formal dan dengan pertolongan logika hubungan. makna ganda. Berdasarkan prinsip-prinsi pemikiran itulah maka Russell menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada metafisikanya melainkan lebih berdasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasariah dalam filsafat. semua matematika murni dapat disimpulkan atau dideduksikan . bahwa tugas filsafat adalah analisis logis yang disertai dengan sintesis logis. Russell mencoba mengatasi kelemahan-kelemahan itu dengan sisitem logika dalam buku ‘Principia Mathematica’.

1959: 33-46). Metode analisis bahasa dalam pemecahan problem-problem filsafat yang mendasarkan pada analisis apriori dan sintesis aposteriori di sini Nampak alur pikir dari kritisme Immanuel Kant. Sebagaimana diungkapkan oleh Russell bahwa tugas filsafat adalah analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. Adapun sintesa logis dilakukan dengan menentukan makna suatu pernyataan atas dasar pengamatan empiris (pengalaman indara). Russell berpendapat bahwa dunia itu mempunyai struktur yang sesuai dengan logika matematika yang gramatikalnya itu sempurna. Dalam masalah ini pengertiannya lain dengan gramatika tatabahasa alamiah atau gramatika bahasa-bahasa biasa yang menyesatkan dan tidak memadai sebagai cara pengungkapan untuk mendapatkan suatu kebenaran (Russell. 1987:41). Memang harus kita akui bahwa inovasi pemikiran Russell tentang metode tersbut untuk membangun konsep atomisme logisnya. Dengan metode yang demikian ini Russell berhasil memecahkan problemproblem filsafat melalui analisis bahasa. mengandung suatu pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan suatu alasan-alasan yang berdifat apriori yang tepat bagi suatu pernyataan. Atas dasar alasan itulah maka Russsell lebih mendahulukan analisis logis dari pada sintesis logis (lihat Charlesworth. Menurut Russell melalui system logika baru ini banyak masalah filsafat dapat didiskusikan atau dibicarakan tanpa adanya kekaburan. dan dalam kenyataan terdapat teori yang bersifat empirisme murni yang tidak mampu mengunkapkan hal tersebut. Banyak proposisi atau keterangan filsafat dapat dijelaskan dengan menggunakan system logika baru. Menurut Russell kebenaran yang bersifat logis dan matematis yang diungkapkan melalui analisis logika meyakinkan kita untuk mengakui keberadaan sifat-sifat yang universal yang bersifat tetap.tanpa ada lagi ide baru yang tak terbuktikan atau proposisi-proposisi yang tak tebukti. Dengan melalui analsis logisnya Russell menyatakan hal itu untuk mendapatkan satuan-satuan logis akan kebenaran realitas (kebenaran atom-atom logis). dalam Mustansyir. Hal ini diungkapkan oleh Russell yang menyatakan bahwa sesuatu yang menyebabkan ia menamakan .

melainkan didukung oleh suatu fakta yaitu sintesis logika dari fakta. sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi Y dapat digantikan pada X. Struktur gramatikal belum tentu menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa. karena ‘Sokrates adalah seorang flsuf dan ‘Aristoteles adalah filsuf’. melainkan atom logis (Heraty. 1. atau dengan lain perkataan perlu ditentukan formulasi logis dalam ungkapan-ungkapan bahasa. Formulasi Logika Bahasa Prinsip analisis yang diciptakan oleh Russell dalam konsep atomisme logisnya memiliki konsekuensi dirumuskannya ungkapan bahasa yang memiliki formulasi logis.pemikiran filsafatya ‘atomisme logis’ yaitu karena atom-atom yang ingin dicapai Russell sebagai hasil analisis terakhir bukan merupakan suatu atom fisik. 1959:369). (Bertens. ‘Sokrates’ dan ‘Aristoteles’ memiliki formulasi logis yang sama karena berdasarkan pada suatu fakta bahwa baik Sokrates maupun Aristoteles keduanya adalah sebagai filsuf. Misalnya ‘X dan Y’ memiliki formulasi logis yang sama jikalau unsure X mengandung kesesuaian dengan unsure Y. Sebagainya dikemukakan oleh Russell bahwa formulasi logis itu bukan hanya didasarkan logika formulasi saja. jadi secara gramatikal memiliki struktur yang sama. sehingga keduanya memiliki formulasi logis yang sama (lihat Russell. namun struktur logisnya tidak sama. misalnya Sokrates dan Aristoteles memiliki formulasi logis yang sama. Menurut Russell ada suatu kalimat yang memiliki struktus gramatikal yang sama namun berbeda dalam hal struktur logisnya. Misalnya kalimat ‘Lions are yellow’ dan ‘Lions are real’. Dengan memahami formulasi logis dari . 1981: 28). Menurut Russell bahwa dua pengertian memiliki suatu formulasi logis yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. keduanya kalimat itu memiliki struktur gramatikal yang sama namun keduanya memiliki struktur logis yang tidak sama. ‘Lions’ pada kalimat (1) dan (2) bersama-sama merupakan predikat (prinsip verifikasi). 1984: 85-86).

Bentuk-bentuk penyataan yang bersifat paradox itu berhasil diatasi oleh Russell dengan membedakan antara semua unsure yang termasuk ke dalam suatu himpunan. Melalui penentuan formulasi logis ini nampaknya Russell berhasil memcahkan sejumlah paradox. sebagai suatu yang tidak dengan sendirinya merupakan suatu himpunan itu sendiri. oleh karena itu mengandung pengecualian. Misalnya sifat yang diberikan kepada Epimenedes. jadi termasuk omong kosong karena tidak didasarkan pada verifikasi apapun. Contoh serupa dapat dilihat pada pernyataan berikut: (1) Segala bentuk perempatan itu salah (inpun sebagai salah satu perempatan) oleh karena itu salah. pada hal dia sendiri adalah warga Kreta.ungkapan maka kita dapat membedakan antara bentuk logis gramatika dari suatu ungkapan dengan bentuk semantic dari ungkapan tersebut. 1987:44). sebagai seorang pembohong. adalah dari kelas proposisi itu. maka itu tidak . (3) Setiap penyataan ilmiah yang tidak didasarkan pada verifikasi itu hanya omong kosong (inipun suatu pernyataan ilmiah). (2) Semua peraturan mengandung pengecualian. Misalnya jikalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota himpunan ‘filsuf’. yang seakan-akan tampak mustahil untuk dikatakan sebagai benar. yang telah membingungkan para tahil untuk dikatakan sebagai benat. Penyataan yang dikemukakan oleh Epimenedes bahwa ‘semua orang Kreta itu pembohong’. seorang warga masyarakat Kreta. Jika ia (Epidemenedes) mengatakan “semua orang Kreta itu pembohong”. (pernyataan inipun sebagai suatu peraturan). jenis penyataan yang bersifat paradox itu bukanlah merupakan jenis pernyataan yang sama dengan pernyataan yang digambarkan. berarti pernyataan itu adalah bohong dan oleh sebab itu pernyataan itu dapat disimpulkan salah (Jones dalam Mustansyir. sebab keterangan tersebut merupakan suatu proposisi dari kelas yang lebih tinggi. Menurut Russell. yang telah membingungkan para filsuf Yunani.

Dasar utama yang ditekankan oleh Russell adalah analisis logis. 1987: 45). tetapi sayangnya hampir semua karya filsafat mencoba untuk menghindari hal tersebut (Jones dalam Mustansyir. Ia berpendapat bahwa pertama-tama merupakan analisis logis bilamana hendak merupakan filsafat yang bersifat ilmiah.berarti kelas filsuf itu sendiri merupakan seorang filsuf. sehingga analisis dilakukan dengan analisis logis dan disertai dengan sintesa logis. berupaya untuk mengatasi kesulitan 2. sebab kelas filsuf lebih tinggi tingaktannya dari pada seorang filsuf. Prinsip Kesesuaian (Isomorfi) Russell dan Moore memang memiliki kesamaan pandangan bahwa tugas filsafat adalah memberikan analisis konsep-konsep dan oleh karena konsep-konsep itu diungkapkan melalui bahasa maka analisis bahasa memegang peranan penting. Menurut Russell analisis harus didasarkan pada struktur logika. yaitu ia ingin menganalisis hakikat realitas dunia melalui analisis logis. Demikianlah Russell mengembangkan formulasi logis dalam analisisnya melalui ungkapan bahasa dan dalam wacana filsafat. sehingga masing-masing terletak pada jenis hierarki yang berbeda pula. ia berpendapat bahwa analisis dilakukan pada struktur hakiki bahasa dan bukannya terbatas pada konsep-konsep filsuf lain dalam menggunakan bahasa. Namun demikian Russell berbeda dengan Moore. Dalam pengertian ini Russell menampakkan konsep pemikirannya yang cemerlang. Hal ini dapat diterima secara terang oleh akal sehat. Pegetahuan pada . namun tidak benar bilamana dikatakan ‘filsuf’ menggunakan anggota dari ‘filsuf’ itu sendiri. Russel mendasarkan pada analisis logis karena hal ini berdasarkan pada kebenaran apiori yang sifatnya universal yang bersumber pada rasio manusia. Adapun sintesis logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris (pengalaman indrawi) yang bersifat aposteriori. Jadi kalau dikatakan Sokrates dan Plato termasuk anggota kelas ‘filsuf’ itu adalah benar.

sedangkan universalia menunjukkan suatu sifat atau hubungan. yaitu aspek egocentric yang terdapat pada kata-kata itu. Berdasarkan pengertian itu maka ‘egocentric particular’ adalah merupakan entitas-entitas atau satuan-satuan kongkrit yang dikenal karea suatu pengalaman pribadi yang pada dasarnya tidak dapat dibagi dengan orang lain. adapun fakta terungkapkan melalui bahasa sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan struktur logis realitas dunia (Heraty. kata ini jelas menunjukkan pada suatu satuan kenyataan. tetapi di samping itu masih mempunyai keistimewaan. orang lain secara teoritik dapa tmemahami kita melihat objek tersebut sebgai suatu fakta empiris. Dengan demikian pengalaman itu tidak dibagi kepada orang lain. Dalam sistemnya yang tersusun ini ia bertolak dari pernyataanpernyataan dasar. Dengan lain perkataan Russsell menegaskan bahwa terdapa suatu kesesuaian bantuk atau struktur antara bahasa dengan dunia. Particularia adalah hasil persepsi kongkrit individual. atau terdapat suatu ‘isomorfi’ antara struktur bahasa dengan dunia. dan menjadi pengalaman sendiri yang disebut ‘egosentric’. namun tidak dapat diketahuinya bahwa objek tersebut menjadi pengalaman kita. Kata-kata itu mengacu pada suatu unsure kenyataan . Mengenai dasar pengalaman atau empiris dikatakannya bahwa bilama kita mengalami sesuatu yang kita lihat secara langsung misalnya. 85). Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta. hal ini berarti bahwa sebagaimana halnya dengan nama diri. itu berstatus sebagai nama diri yang logis (logical proper name).hakikatnya merupakan pernyataan-pernyataan yang tersusun menjadi suatu system yang menunjuk kepada entitas atau unsur pada realitas dunia. ialah pernyataan empiric yang langsung menyebutkan suatu konfrontasi dengan realitas yang meliputi dua macam yaitu particularia dan universalia. 1984: 79. Dalam hal ini Russel lebih condong pada pengertian ‘aquaintance’ atau pengenalan daripada sebagai ‘experience’. Stuan-satuan yang merupakan egocentric particular’ itu yang menurut Russel juga merupakan kata-kata deiktik kesemuanya dapat dikembalikanpada suatu bentuk ‘egocentric particular’ pokok misalnya ini.

tadi Kata-kata ganti: aku. dan (2) suatu logical proper name dapat menunjuk hanya pada entitas-entitas yang kita kenal pada suatu saat (Clack. Pengertian ‘logical paper name’ atau nama diri yang logis memiliki dia macam cirri. Maka dengan demikian bagi Russell sepatah kata diektik merupakan suatu denotasi sifatnya yang sangat pribadi. Struktur logis bahasa menunjukkan suatu susunan yang terdiri atas satuan-satuan bahasa yang mengacu pada suatu satuan entitas karena struktur logis bahsa menunjukkan struktur logis dunia. 1972:34). Ciliwung : kata-kata petunjuk : ini. Namun logical proper name ataunama diri yang logis ini bukanlah nama dalam arti nama seseorang akan tetapi merupakan suatu deskripsi minimal yang memiliki referensi tunggal. dia nama diri .87). yaitu: (1) suatu logical proper nama adalah sejauh hal itu berfungsi sebagai nama yang tidakd apat menunjuk pada objek yang sama untuk dua orang yang berbeda.hal itu memang dimaksudkan untuk menunjukkan suatu hubungan antara bahasa dengan realitas dan pengacuan tersebut menurut Russel disebut dinotasi yang dijelaskannya pada penggunaan kata objek (object word) (Heraty. Adapun pembedaan referensi tunggal itu adaah sebagai berikut : PEMBEDAAN REFERENSI TUNGGAL MENURUT BERTRAND RUSSELL (1) Nama Diri (2) Kata-kata Deiktik : Napoleon. 1984:86. Dengan demkian egocentric particular merupakan nama diri yang logis atausalah satu bentuk logical proper name. itu (ruang dan waktu) nanti. Oleh karena itu nama diri logis adalah merupakan suatu deskripsi minimal yang mengacu pada acuan tunggal atau referensi tungal. adapun suatu logical proper name adalah merupakan suatu denotasi yang menyebutkan keterangan atau deskripsi minimal.

yaitu ungkapan itu dapat disebutkan tanpa melibatkan eksistensi objek (lihat Heaty. Deskripsi penunggal secara tata bahasa berbentuk subjek (S) dan predikat (P).(3) Deskripsi penunggal :”Pemenang hadiah Nobel” “perintis kemerdekaan” “ Pembela hak asasi” Heraty. Perbedaan secara logis antaranama diri di satupihak dengan deskripsi penunggal di pihak lain. ini secara logis sebenarnya tidak berbentuk subjek predikat. Teori deskripsi penunggal ini membawa penyelesaian yang menurut Russell disebut sebagai dilemma ontologism. yaitu sebagai suatu pernyataan yang mengandung pertentangan yang member makna pada ungkapan tersebut dan sekaligus melibatkan eksistensinya. Suatu nama diri dapat dianggap sebagai singkatan deskripsi penunggal atau ‘unique definitie description’. misalnya Sokrates filsuf pertama yang mempersoalkan istilah etika. Hal itu dapat diketahui dalam perbedaan penggunaan yaitu penggunaan secara atributif dan penggunaans ecara referensial. Sifat yang mengacu dan deskriptif yang sekaligus terdapat pada deskripsi penunggal itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam analisis bahasa. karena memberikan kemampuan untuk membicarakan sesuatu yang tidak langsung dapat dijumpai dalam lingkungan tertentu. Misalnya ungkapan ‘ Si Malin Kundang” yang mengandung dilemma ontologism. terutama menurut teori referensi. Jadi secara struktur gramatical dan struktur logis berbeda. . logis 1984:96) Dengan demikianpengertian nama diri yang logis adlah meliputi kata-kata deiktik dan deskripsi penunggal. 1984:98). Nama diri itu dapat mengacu pada suatu unsure tanpa diperlukan deskripsi-deskripsi. yaitu bahwa nama diri itu merupakan singkatan deskripsi penunggal ‘definite description’.

dan kata-kata itu .Deskripsi tentang doktrin isomorfi merupakan upaya Russel untuk mewujudkan obsesinya tentang hakikat struktur bahasa yang memiliki struktur logis realitas dunia. Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata. yang dapat diberikankualifikasinya benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Struktur Proposisi Pemikiran filsafat atomis logis Bertrand Russel diuraikan dalam serangkaian ceramahnya kemudian dalam bentuk artikel adan dimuat dalam majalah “Monist’ tahun 1918 dan 1919. Hakikat keseluruhan fakta-fakta yang merupakan dunia tersebut memiliki struktur logis dan oleh karena itu hakikat fakta-fakta tadi terlukiskan melalui proposisi. Dengan perkataan lain prinsip verifikasi merupakan symbol dan bukan merupakan bagian dunia. Selain itu berbagai macam pendapatnya tentang atomisme logis juga termuat dalam pengantar buku Ludwig Wittgenstein “Tractatus Logico Philosophicus”. Maka menurut Russell analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuanyang benar pula tentang hakikat realitas dunia. 3. Kemudian artikel-artikel tersebut dikumpulkandalam buku dengan judul ‘Logic and Knowledge’. Atomisme logis menggambarkan bahasa ideal itu sebagai suatu kumpulan besar proposisi-proposisi yang tak terbatas yang tersusun atas struktur proposisi sederhana. tanpa tahun: 23). Formulasi logis bahasa yang memiliki kesesuaian struktur dengan realitas dunia ini dikembangkan lebih lanjut oleh Russell dalam pengertian proposisi yang tersusun atas proposisi atomis menjadi proposisi yang bersifat majemuk atau kompleks. Dunia pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan fakta-fakta dan fakta-fakta tersebut terungkap melalui bahasa yang disebut proposisi. Fakta-fakta itu sendiri sebenarnya tidak dapat bersifat benar atau salah. Sebagaimana dijeaskan dimuka bahwa terdapat prinsip isomorfi atau kesesuaian struktur dan bentuk bahasa dengan realitas dunia. elementer atau atomisme logis (Poerwowidagdo.

Contoh dari inderawi misalnya ‘putih dan contoh universalia misalnya ‘berdiri di samping’. Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Russell memberikan contoh sebagai berikut : “Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana” ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi ang menggambarkan dua fakta atomis yaitu: (1) “Sokrates adalah warga Athena”. dalam Tractatus. Namun perlu diingat bahwa tidak terdapat . danmenunjuk kepada data-data atomis. Untukmenjelaskan struktur proposisi atomis dan proposisi majemuk tersebut. Untukmembentuk suatuproposisi majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti ‘dan’.menunjukkan kepada suatu data indrawi (sense data) dan “universalia” (universals) yatiu cirri-ciria tau relasi-relasi. atau’ serta kara penghubung lainnya. 1963:13). dan (2) “Sokrates adalah seorang yang bijaksana” Kedua proposisi tersebut membentuk suatu pengertianproposisi mejemuk setelah dihubungkan dengan kata ‘yang” (Russell. Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana mislanya ‘inilah putih’ (x adalah y) atau ‘ini berdiri di samping itu’ (xRy). Menurut Bertrand Russell terdapat juga pengertian proposisi ‘molekuler’ misalnya ‘inilah putih’. 1981:29). Karen amengungkapkan fakta yang paling sederhana (istilah atomis sepadan dengan susunan benda-benda yang terdiri atas bagian terkecil yang disebut atom) dank arena proposisi pada hakikatnya merupakan symbol bahasa yang mengungkapkan fakta-fakta (Bertens. Oleh karena itu proposisi tersebut merupakan bentuk yang paling sederhana (yang terkecil) maka proposisi tersebut disebut proposisi atomis. Data inderawi ditunjukkan dengan ‘logical proper name’ (nama diri yang logis) misalnya ‘ini’ dan ‘itu’. ‘inilah merah’.

Kebenaran atau ketidakbenaran proposisi-proposisi molekuler tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomis yang terdapat di dalamnya. Menurut atomisme logis bahwa dunia dapat diasalkan pada fakta-fakta atomis. Bilamana dipahami secara formal seakan-akan proposisi itu majemuk. misalnya “John beranggapan bahwa bumi itu datar”. Misalnya proposisi ‘semua orang akan mati’ ini bukanlah terdiri atas fakta-fakta atomismisalnya “A akan mati” . Kebenaran proposisi itu tidak tergantung pada benar atau tidaknya ‘bumi itu datar’ melainkan pada suatu fakta khusus. tetapi tidak dapat disangkal lagi bahwa atomisme logis mengandung suatu metafisika. hal ini jelas merupakan suatu argumentasi metafisis. “ B akan mati” dan seterusnya melainkan berdasarkan suatu fakta umum. Alasannya ialah bahwa teori ini mau menjelaskan struktur hakiki bahasa dan dunia. jadi faktafakta atomis menentukan benar atau tidaknya proposisi apapun juga (baik atomis maupun molekuler). sebaga hal itulah satu-satunyacara untuk menerangkan benar atau tidaknya suatu proposisi negative. sebagaimana diakui oleh Russel sendiri. Demikian juga Russel engakui juga tentang fakta-fakta khusus. Misanya “tidakada kuda berkepala lima” proposisi itu benar atau tidak hanya berdasarkan fakta. melainkan berasal dari suatu analisis mengenai bahasa yang mendasarkan pada suatu kebenaran apriori karena menekankan . Jadi kebenaran proposisi tadi bukannya karena serangkaian fakta-fakta atomis melainkan suatu fakta umum yang memang secra umum telah diakui kebenarannya. Selain fakta-fakta atomis yang diungkapkan melalui proposisi atomis. Bilamana suatu doktrin atomisme logis menolak metafisika. Demikian juga pendapat Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pad asuatu datadata empiris. “Poltat akan mati”. juga terdapat pengertian ‘fakta-fakta umum’ yang kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang secara umum diketahui benar. Russel menerima juga pengertian fakta-fakta negative.pengertian fakta-fakta molekuler.

1981: 39). Berdasarkan rincian konsep-konsepnya maka atomisme Bertrand Russell itu tidak lain merupakan ‘pluralisme radikal’ yang bertentangan dengan ‘monisme’ yang mendasari metafisika idealism khususnya idealism Bradley (Bertens. Karyanya yang terbit dalam majalah Analosophische Abhandlungen. sehingga tidak mengherankan mereka berdua sebagai tokoh aliran filsafat atomisme logis. H. Buku ini sebagai karya besar pertama ketika ia memperkuat visi dasar atomisme logis. Bertrand Russell bahkan pernah menjadi muridnya. 1981:31). Tractatus Logico Philosophicus sebagai suatu karya besar di bidang filsafat termasuk tidak panjang kira-kira hanya 75 halaman saja. Demikian juga pemikiran-pemikiran Russell banyak dipengaruhi juga oleh Wittgenstein. Periode berikutnya filsuf yang pernah maj perang ini menulis suatu buku dengan judul Philosophical Investigationss. karena karya yang besar yang pernah dihasilkannya yaitu pada periode I dan II visi yang berbeda bahkan bertolak belakang. Pada karyanya yang kedua ini ia murtad dari doktrin atomisme logis. Setahun kemudian diterbitkan suatu edisi baru dengan terjemahan dalam bahasa Inggris di samping teks Jerman yang asli. Uraian dalam buku ini berupa uraian-uraian singakat yang merupakan . Filsafat Atomisme Logis Ludwig Wittgestei Filsuf kelahiran Wina Austria ini melalui reputasi karya filsafat yang spesifik. dan hal itu banyak ditemukan oleh Russell pada kata pengantar buku Wiitgenstein. Pada tahun 1912 dengan judul Logisch Philosophische Abhandlugen (ulasan-ulasan logis dan filosofis). walaupun dalam beberapa hal kurang menyetujuinya. Edisi ini disertai kata pengantar oleh senoirnya Bertrand Russell. Karya besar Wittgenstein yang merupakan ulasan filosofis yang ketat tentang filsafat atomisme logis tersebut berjudul Tractatus Logico Philosophicus (Bertens.pada struktur logis. Ia merupakan teman dekat dari tokoh atomisme logis. konsepnya tidak lagi setia terhadap pemikirannya prinsip-prinsip kebenaran baru.

1 1. yang menunjukkan struktur logis dari proposisi-proposisi. yang digunakan dalam filsafat (Wittgenstein. kemudian (1. 1963: 27).suatu proposisi. dan seterusnya) yang menunjukkan struktur kepentingan dari proposisi dalam uraian pemikiran Tractatuc tersebut.2.11. Terdapat tujuh angka decimal. kecuali hanya membiarkannya dalam . dan seterusnya). sehingga kadangkadang karena padatnya makna yang terkandung di dalamnya menjadi kurang dapat dipahami. Menurutnya uraian yang dilakukan oleh filsuf terdahulu tentang proposisi dan problem filsafat bukannya salah. melainkan suatu kegitan atau aktivitas. yang secara sistematis diberi nomor. Filsafat itu sebenarnya bukanlah merupakan suatu tubuh atau kumpulan ajaran-ajaran atau doktrindoktrin. Makna yang terkandung dalam proposisi-proposisi itu sangat padat. Tanpa filsafat pikiran itu akan mengawang dan tidak sehingga tugas filsafat ialah membuat jelas dan batas-batas pengertian yang jelas. Filsafat tidak mengahasilkan keterangan-keterangan filsafati. Uraian Wittgenstein dalam pendahuluan tulisannya ia menyatakan bahwa persoalan filsafat itu timbul karena para filsuf terdahulu dalam memecahkan dan merumuskan problem-problem filsafat kurang memahami logika bahasa. Oleh karena itu kita tidak memberikan suatu jawaban terhadap persoalan semacam itu. Peranan Logika Bahasa Wittgenstein sependapat dengan gurunya bahwa tugas utama filsafat adalah memberikan analisis logis dan disertai dengan sintesis logis. 1. melainkan tidak dapat dipahami.12. 1.1. 1. Sebuah karya filsafat pada pokoknya terdiri atas penjelasan-penjelasan serta uraian-uraian. namun lebih cenderung kepada penjelasan-penjelasan tentang proposisi. Misalnya (1. Dalam Tractatus ia menjelaskan bahwa filsafat bertujuan untuk penjelasan logis dari pikiran. 1. Menurut Wittgenstein ara atau system pemberian nomor itu sedemikian rupa sehingga proposisi-proposisi yang paling penting itu diberi nomor atau angka bulat.

1962: 33. Untuk menghindari suatu kekacauan dan kesalahan yang seupa dalam filsafat maka perlu disusun suatu kerangka bahasa yang memenuhi dtruktur logika bagi uraian dan pemecahan problema-problema filosofis. Suatu logika bahasa yang sempurna mengandung aturan sintaksis tertentu sehingga dapat menghingari ungkapan yang tidak bermakna. 34). Oleh karena itu kita akan membuat kita menjadi tidak logis juga (Wittgenstein. Problem dan proposisi yang dikemukakan oleh filsuf terdahulu itu tidak dapat dipahami karena mereka tidak mengerti dengan logika bahasa. Russell dalam kata pengantar buku tersebut menyatakan bahwa pemikiran Wittegenstein dalam bukunya itu telah menggunakan suatu logika bahasa yang sempurna. sehingga setiap kata hanya memiliki suatu fungsi tertentu saja. Atas dasar konstatasinya tersebut maka Wiitgenstein merealisasikannya dalam karya besarnya tersebut dan struktur bahasa yang digunakan dalam uraian filosofisnya berdasarkan suatu struktur logika. 32). . Pengguna logika bahasa yang sempurna tersebut menunjukkan bahwa pemakaian unsure-unsur bahasa seperti kata dan kalimat dilakukan secara tepat. Atas dasar karya besarnya inilah maka ia diberi gelar doctor filsafat di Trinity College di Cambridge. Oleh karena itu analisis dilakukan terhadap proposisi tau realitas yang dikemukakan oleh para filsuf terdahulu melalui penggunaan bahasa yang memnuhi syarat logika. Ketidak jelasan dan kekacauan yang terjadi dalam filsafat karena kekaburan bahas filsafat yang tidak yang menggunakan tolok ukur yang jelas yang dapat menentukan apakah suatu ungkapan filsafat itu bermakna atau tidak bermakna. dan setiap kalimat hanya mewakili suatu keadaan factual (fakta) tertentu saja. 1963: 31.bentuk seperti semula yang tidak terpahami. Demikianlah kiranya pendapat Wittgensteinn yang sejalan dengan seniornya yang menegaskan tugas filsafat adalah melakukan analisis tentang ungkapan-ungkapan. problem-problem serta konsep-konsep dengan menggunakan bahasa yang memiliki struktur logika. dan memiliki symbol tunggal yang selalu memiliki makna tertentu dan terbatas (Wittgenstein.

sebuah fakta adalah kebenaran suatu peristiwa. melalui analisis. dan akhirnya terbagi menjadi sautu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas). Dunia itu bukanlah terdiri atas benda-benda. (what is the case. Apa yang merupakan kenyataan yang sedemikian itu. (The World is the totality of fact not of thing) 1. yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.2 Dunia itu terbagi menjadi fakta-fakta (kenyataan-kenyataan). Menurut Wittgenstein yang dimaksud dengan fakta.1 Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta. (The worlds is all that is the case) 1. menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer. atau benda-benda . bukan dari benda-benda. Kedua : setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri. adalah suatu peristiwa (state of affairs) atau keadaan dan suatu peristiwa itu adalah kombinasi dari benda-benda atau objek-objek bagaimana hal itu berada di dunia.2. (The World devides into facts) 2. Pemikiran Filosofis Tractatus Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus tradisi atas pernyataan-pernyataan yang secar logis memiliki hubungan. a fact the existence of states of affairs). Dunia itu adalah semua hal yang adalah demikian. Pernyataan-pernyataan tersebut secara rinci diperjelas lagi secara logis dalam pernyataan-pernyataan sebagai berikut: Pernyataan yang pertama 1. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut: Pertama : dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta.

waktu. dalam arti bahwa dunia itu pada akhirnya terdiri atas fakta-fakta atomis tersebut. kuantitas. Misalnya suatu keberadaan peristiwa yaitu bagaimana kedudukan pintu di antara dinding-dinding. Fakta-fakta ini adalah fakta yang terkecil. Dunia itu terdiri atas fakta-fakta dan dapat dijelaskan dalan arti hubungan antara satu dengan lainnya. Fakta-fakta ini berikutnya terdiri tas fakta-fakta yang makin kurang kompleks lagi. Dengan demikian dunia itu harus dijelaskan atau diterangkan bukan dalam arti objek-objek itu sendiri. melainkan bagaimana objekobjek itu berhubungan.itu bukanlah bahan dunia. dan keadaan (lihat Poewowidagdo: 37). dan berada di antara satu dengan lainnya jadi tentang uraian mengenai bagaimana peristiwa tentang objek-objek itu berada dan terjadi. Lebih lanjut dijelaskan oleh Wittgenstein bahwa totalitas fakta itu sangat kompleks (rumit) dan terdiri atas fakta-fakta yang kurang kompleks. kualitas. Faktafakta itu adalah yang paling sederhana yang berdiri melingkuupi diri sendiri yang dapat berada pada dirinya dalam isolasi. demikian seterusnya dan akhirnya kita sampai pada fakta-fakta yang sudah tidak dapat diredusir atau dikurangi lagi. Struktur logika Wittgenstein menjelaskan bahwa fakta-fakta atomis adalah merupakan balok-balok bangunan (building blocks) dari dunia. yaitu bagaimana objek-objek itu memiliki interrelasi dan keadaan. Letak jendela di depan pintu pertama. enam jendela terletak disebelah kiri ruang dan empat jendela terletak di sebelah kanan ruang dan lain sebagainya. Jadi yang dimaksud Wittgenstein adalah bahwa sebuah fakta itu adalah suatu keberadaan peristiwa (state of affairs). namun objek-objek itu merupakan subtansi dunia. hubungan kausalitas. ruang. yang paling elementer yang merupakan bagian terkecil sehingga disebut sebagai fakta atomis. 3. Struktur Logika Bahasa . dunia itu adalah jumlah keseluruhan dari fakta (totalitas fakta) dan bukannya jumlah dari objekobjek atau benda-benda itu sendiri.

nama itu bermakna manakala dalam hubungannya dengan proposisi. Dengan kata lain bagi setiap “X” maka hanya ada sebuah jawabanyang benar terhadap pertanyaan “apa bagian terakhir dari “X” itu?. Bagian-bagiandari proposisi-proposisi elementer (dasar) bukanlah proposisi itu sendiri. 4.Konsep Wittgenstein tentang logika bahasa dalam mengungkapkan realitas dunia diuraikannya dalam pernyataannya yang kedua sebagai berikut: 3.3.1.2.21 Sebuah proposisi hanya mempunyai satu analisis yang lengkap 3. 3. Di dalam sebuah proposisis sebuah pikiran mendapatkan sebuah ungkapan yang dapat diamati oleh indera 3. Sebuah proposisi dasar (elementer) proposisi-proposisi lebih lanjut dan tidk dapat dianalisis lagi menjadi halnya sebuah fakta atomis adalah sebuah faktayang tidak terdiri atas fakta lebihlanjut dan lebih asasi. Proposisi-proposisi yang mempunyai makna adalah proposisi yang berhubungan dengan sebuah nama. Hal itu didasarkan pada . Di dalam sebuah proposisi sebuah pikiran dapat diungkapkansedemikian rupa sehingga unsure-unsur dari tanda proposisi berkesesuaian dengan objek dari pikiran. Sebuah gambaran logis dari suatu kenyataan itu adaah sebuah pikiran 3.01 sebuah proposisi itu adalah suatu gambaran realitas (kenyataan) Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan.001 Jumlah keseluruhan (totalitas) dari proposisi itu adalah bahasa 4. Suatu proposisi dapat dianalisis menjadi sebuah proposisi sebagai bagian terakhirnya (ultimate constituent) dari segala sesuatu itu terpancang di dalam hakikat sesuatu itu.menurut Wittgenstein bahwa setiap proposisi elementer itu hanya memiliki satu saja analisis yang final. Sebuah pikiran adalah sebuah proposisi yang bermakna 4.

Wittgenstein kemudian berpendapat bahwa setiap proposisi itu harus dapat dianalisis menjadi proposisi-proposisi dasar. karena Sokrates dapat didefinisikan sebagai misalnya seorang laki-laki. Sebuah nama tidak dapat dipecah-pecah lebih lanjut dengan cara defines. “Nama” dalam pengertian ini menurut istilah Wittgenstein adalah sebagai tanda pertama (primitive) (3. Karena masuk akal bilamana kita menganggap bahwa hanya proposisi dasarlah yang besar dari segala macam makna ganda dari segala kemungkinan salah paham atau salah arti tentang makna proposisi. Oleh . Jadi “X” dan “Y”. ‘merah’ dan ‘biru’. Dengan menerima asumsi ini. ‘hijau’ dan sebagainya adalah sebagai contoh nama primitive yang dimaksudkandalam tractatus.26). sebuah proposisi dasar itu adalah suatu proposisi.22). dan objek itu adalah maknannya (3. seorang filsuf Yunani yang hidup di Athena dan lain sebagainya.21).001). sperti nama orang atau nama sesuatu. yang seluruhnya terdiri atas nama-nama (4. jadi jikalau tidak ada objek maka fungsi dari proposisi-proposisi dasr hanya akan terdiri atas istilah-istilah (terms) yang tidak mempunyai arti. dalam pengertian ini istilah ‘nama’ memiliki pengertiant eknis dan menurut Wittgenstein tidak gunakan dalam arti biasa. Sebuah nama itu berarti sebuah objek. jadi sebuah proposisi dasar membenarkan suatu faktafakta karena sebuah fakta itu adalah keberadaan suatu peristiwa. jadi misalnya “Sokrates” bukanlah dalam pengertian tekni ini. Proposisi-proposisi dasar adalah bangunan akhir dari bahasa karena jumlah keseluruhan proposisi itu adalah bahasa (4. “Bujursangkar” bukanlah sebuah nama karena pengertian bujursangkar dapat didefinisikan lebih lanjut dan dianalisis lebih lanjut maka hal ini bukanlah sebagaimana nama primitive yang dimaksudkan oleh Wittgenstein. dan dengan demikian menjadi tidak berarti ataut idak bermakna. Wittgenstein menyatakan bahwa proposisi-proposisi yaitu suatu proposisi dasr mengungkapkan keberadaan suatu peristiwa (state of affairs (4.203).asumsinya bahawa setiap proposisi itu mempunyasi satu makan tertentu secara sempurna.

Struktur logika bahasa yang digunakan Wittgenstein dalam mengungkapkan suatu realitas dimaksudkan untuk mengatasi kekaburan-kekaburan.112). “Proposisi itu adlah gambaran realitas (kenyataan) dunia maka jika saya memahami proposisi itu berarti saya memahami keadaan suatu peristiwa secra raktual (fakta) yang dihadirkan melalui suatu proposisi tersebut. sehingga dalam memahami realias dunia manusia hanya akan memberikan suatu keputusan benar atau salah. 4. Sebuah proposisi itu adalah sebuah contoh (model) dari kenyataan (realitas) yang kita bayangkan” (4. Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa maka bahasa pad ahakikatnya merupakan suatu gambaran dunia. dan keseluruhan proposisi adalah bahasa. bermakna atau tidak bermakna ungkapan yang menjelaskan dunia. maka suatu kesimpulan logis yang dapat ditarik adalah bahwa kebenaran dari dunia itu hanya dapat dinyatakan dalam suatu bahasa. Dengan demikian struktur logis dunia terungkap melalui bahasa yangmemiliki kesesuaian dengan struktur logis dunia. Demikian juga dengan mudah saya dapat memahami proposisi itu tanpa perlu dijelaskan lagi suatu pengertian yang terkandung didalamnya (4. Teori Gambar (Picture Theory) Pemikiran Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. . Hal itu diungkapkan Wittgenstein dalam “Tractatus” sebagai berikut: “Sebuah proposisi itu adalah gambaran realitas (kenyataan) dunia. Dunia adalah keseluruhan dari fakta-fakta .karena itu proposisi dasar itu adalah bagian akhir dari proposisiproposisi.01).

dalam Mustansyir: 56). Menurut Wittgenstein proposisi logika sebenarnya tidak termasuk proposisi sejati. melainkan kebenarannya bersifat tautologies (Betens. atau kontradiksi-kontradiksi. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief (Sokolowski. dan sebaliknya sebuah proposisi mengandung suatu kesalahan manakala tidak berkesesuaian dengan keberadaan suatu peristiwa (Wittgenstein. sebab tidak menggambarkan sesuatu. Namun demikian menurut Wittgenstein proposisi logika tersebut bukan berarti tidak bermakna. Selain proposisi yang menggambarkan keberadaan suatu peristiwa. maka keberadaan suatu peristiwa itu tiada dapat benar atau salah. Misalnya proposisi “Amin berada di rumah atau di luar rumah” yang merupakan kebenaran tautologis. Konsep Wittgenstein tentang teori gambar yangmenjelaskan tentang hubungan antara proposisi yang diungkapkan melalui bahasa dengan realitas keberadaan suatu peristiwa. 1981:44). terdapat pula proposisi-proposisi logika yaitu kebenarankebenaran yang berdasar pada prinsip-prinsip logika. Oleh karena itu proposisi merupakan suatu gambaran keberadaan suatu peristiwa.Dalam pengertian ini Wittgenstein berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika untuk mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. selanjutnya akan nampak . 1981:45). 1969:94). dan “Amin berada di rumah atau tidak berada di rumah. Proposisi-proposisi tersebut tidak mengungkapkan suatu pikiran. namun merupakan suatu kebenaran tautologies belaka dan tidak menggambarkan suatu bentuk peristiwa atau tidak merupakan suatu ‘picture’ dari sesuatu. adapun proposisi sebagai sarana yang berupa suatau ungkapan bahasa yang menghadirkan bentuk peristiwa kepada kita itulah yang dapat dikenakan kualifikasi benar atau salah (Bertens.” Yang merupakan suatu kontradiksi. Hal itu termasuk tautology-tautologi. Maka sebuah proposisi memiliki dua macam kutub yaitu suatu proposisi mengandung kebenaran jikalau berkesesuaian dengan suatu keberadaan peristiwa. 1964.

hal tersebut sebenarnya termasuk pengertian nama variable.sikap pandangannya tentang realitas fakta dengan unsure metafisik yang hal itu ditolak oleh Wittgenstein. kompleks. Kedua tipe kata yang termasuk pengertian konsep formal. bola dan lain sebagainya. 5. yaitu termasuk tipe-tipe kata yang mengacu pada konsep yang bersifat formal dan hal ini sebenarnya menurut Wittgenstein bukanlah merupakan suatu konsep. yaitu tipe kata yang termasuk memiliki acuan kongkrit sepeti : meja. objek. Tipe-tipe kata (Word Type) Dalam upaya penerapan metode analisis bahasa Wittgenstein menerapkan beberapa teknik untuk menganalisis makna bahasa. fakta. Konsep formal tersebut misalnya arti. 1959:81). Prinsip verifikasi problema-problema filsafat timbul karena kekacauan para filsuf dalam penggunaan bahasa. Perbedaan itu dapat terjadi karena memiliki susunan satuan kata yang menyusun kalimat tersebut. Metode untuk menentukan konsep nyata adalah jilalau dapat dipahami peningkatanucapan mengenai konsep yang bersangkutan. Sebgaimana telah dibahas di muka bahwa suatu satuan uangkapan bahasa yang memiliki struktur sintaksis yang sama. kursi. Pada tingkatan reduktif Wittgenstein sependapat dengan Russell dengan cara menganalisis unitunit bahasa sampai pada unsure logis. antar lain dengan menganalisis tipe-tipe kata. dapat berbeda susunan logisnya. tongkat. Menurut Wittgenstein Struktur bahasa yang terdapat dalam konsep formal itu digunakan secara paksa untuk mengikuti struktur . yaitu yang harus diisi oleh konsep nyat a(Charlesworth. Pengingkaran terhadap konsep formal itut idak masuk akal dan penggunaan suatu konsep formal yang seakan-akan merupakan suatu konsep nyata hal itu akanmenimbulkan suatu kekacauan (Bakker. fungsi. angka dan ada. mobil. Dalam penentuan tipe-tipe kata inilah perlu dibedakan pengertian konsep nyata. 1984:128). yaitu mencampuradukkan pemakaian ungkapan konsep nyata dengan konsep formal.

Proposisi-proposisi logika itu bermakna akan tetapi tidak menggambarkan suatu realitas . melainkan hanya ditunjukkan oleh objek itu sendiri dalam bentuk symbol (misalnya ‘nama’. Pengembangan lebihlanjut tentan word types tersebut dilakukan oleh Wittgenstein pada filsafatnya pada periode kedua yaitu pada teori language game.bahas ayang serupa dengan konsep nyata oleh karena itu tidakmemiliki struktur logis maka. yang dalam kenyataannya visi dasar filosofisnya uupaya Wittgenstein dalam mengembangkan bahas ideal dalam konsep filsafatnya yang dalam kenyataannya bertolak dari dasar-dasar yang berbeda pada konsep filosofisnya pada periode pertama yang mendasarkan pada struktur logis bahasa. menurut Wittgenstein sesuatu yang termasuk konsep formal itu sebenarnya tidak dapat diungkapkan ke dalam sebuah proposisi. sehingga sttuktur logis dunia terlukiskandalam struktur logis bahasa dan proposisi yang melukiskan suatu realitas dunia inilah yang merupakan suatu proposisi sejati. maka menurut Wittgenstein propoisisi yang bemakna adalah proposisi yang menggambarkan suatu realitas dunia yang memiliki struktur logis. Pandangan Wittgenstein tentang Metafisika Berdasarkan pada pandangannya struktur hakikat realitas dunai ang diungkapkan melalui ungkapan bahasa yang disebut proposisi. Keduanya memiliki cirri yang berbeda. Konsep formal tidaklah sama dengan konsep nyata yang hadir melalui suatu fungsi yang dimilikinya. 6. Selain itu terdapat proposisi-proposisi logika yaitu proposisi-proposisi yang mendasarkan pada prinsip-prinsip logis yang kebenarannya besifat tautologies-tautologis. angka dipergunakan untuk tanda bilangan. dan lain sebagainya). ia hanya dapat diungkapkan dalam bentuk symbol yang bersifat pasti (Wittgenstein. sebab sifat-sifat formal tidak dapat menghadirkan fungsinya secara jelas. 1969:126). adapun pada konsep filosofisnya pada periode kedua Wittgenstein mendasarkan pada language game. dipergunakan untukmengatakan suatu objek.

subjek yang menggunakan bahasa tidak termasuk dunia. Tentu saja penolakan atas proposisi tersebut menurut atas nama ‘logika bahasa’. Kematianmanusia seakan-akan memagari dunia manusia tetapi tidak termasuk didalamnya. Menurut Wittgenstein metafisika melampuai batas-batas bahasa. kematian. namun demikian Wittgenstein menyatakan bahwa memang terdapat hal-hal yang memang tidak dapat dikatakan yaitu hal-hal yang bersifat mistis. Allah dan bahasa sendiri. Tidak dapat dikatakan pula bhawa Allah menyatakan dirinya dalam dunia. Hal-hal yang melampaui batas-batas bahasa tersebut menurut Wittgenstein adalah subjek. kaerna kematian itu tidak meruapakan suatu kejadian yang dapat digolongkan diantara kejadian-kejadian lain. Demikian juga subjek yang menggunakan bahasa tidak mungkin diarahkan pada dirinya sendiri. Berdasarkan pandangan filosofisnya maka teori gambar memiliki konsekuensi logis menolak porposisi-proposisi metafisis karena menurut Wittgenstein proposisi tersebut tidak bermakna. Ketidakbermaknaan propoissi metafisik tersebut didasarkan atas teorinya bahwa proposisi tersebut tidak mengungkapkan apa-apa atau dengan lain perkataan bersifat ‘omong kosong’. Sebab kalau . Menurut Wittgenstein filsafat bukanlah merupakan suatu ajaran melainkan merupakan suatu aktivitas. (2) Demikian juga kematian tidak mungkin juga berbicara tentang kematiannya sendiri. (3) Juga Allah tidak dapat dipandang sebagai Sesuatu didalam dunia. Metafisika mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan.dunia karena tidak menggambarkan suatu kebenaran peristiwa dan kebenaran bersifat pasif. sebagiamana mata tidak dapat diarahkan pada dirinya sendiri. Wittegenstein bermaksud bahwa tidak pernah suatu kejadian dalam dunia dapat dipandang sebagai “campur tangan” Allah. (1) Oleh karena bahasa merupakan gambaran dunia. Tugas menurut Wittgenstein adalah menjelaskan kepada seseorang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan.

Ia seakanakan memanjat melalui tanggal dnsetelah itu membuang tangga tersebut. 1981:46). Gerakan filsafat baru ini berpusat di Wina. serta beberapa mahasiswa antara lain. Hal ini sebenarnya sudah merupakan suatu keyakinan metafisika. yang berarti mengakui bahwa terdapat unsure metafisika dari bahasa yaitu makna. Positivisme Logis Pada tahun 1922 berkembanglah suatu gerakan filsafat baru yang dirintis oleh seorang fisikus sekaligus seorang filsuf bernama Moritz Schlik (1882-1936). I. dan dalam masalah ini ia lupa bahwa dalam berbagai hal ia menunjukkan bahasa yang bermakna. Anggota-anggota lingkungan Wina ini antara lain: Kurt Goedel. 1981:166). Melalui bahasa si pembaca dihantar ke suatu titik di mana ia mengerti bahwa bahasa yang dihantarkannya tidka bermakna. akant etapi suatu gambar tidak memantulkan dirinya sendiri. Rudolf Carnap ahli matematika dan fisika. ontology tentang hakikat dunia.s elain itu pendapatnya tentang hakikat bahasa bahwa bahasa seaka-akan hanya merupakan suatu struktur fisis dan logis. . yaitu suatu kota yang sekaligus sebagai pusat kelompok ilmuwan yang terkenal dengan nama Vienna Circle atau dikenal juga mazhab Wina (Kring Wina). Akibatnya kita tidak dpat berbicara tentang Allah dengan cara yang bermakna. Penolakan Wittgenstein pada metafisika sebenarnya merupakan suatu sikap yang tidak konsisten dengan visi dasar bahasa yang dilukiskannya sebagai gambaran dunia yang memiliki struktur logis. seorang ahli matematika. Friederich Wismann dan Herbert Feigl (Bertens.maka Allah bekerja sebagai sesuatu dalam dunia. Hans Hahn juga seorang ahli matematika.demikian. Oleh karena itu Wittgenstein berkesimpulan bahwa orang yang mengerti Tractatus akan mengakui bahwa ucapan-ucapan didalamnya tidak bermakna. Karena hanya sebagai alat belaka (Bertens. Karl Menger ahli matematika. Bahasa menggambarkan dunia. (4) Yang paling paradoksal adalah pendapat Wittgenstein bahwa bahasa tidak dapat bicara tentang dirinya sendiri. Philip Frank seorang ahli fisika.

namun karena berpura-pura sebgai ungkapan atau hal yang bersifat kognotif. Sebagaimana diungkapkan oleh Rudolf Carnap sebagai seorang tokoh positivism logis dalam suatu tulisannya yang berjudul “the Elemination of Metaphisics Through Logical Analysis” (Pengapusan metafisika melalui analisis logis) menyatakan: tidak bermakna . Positivism logis menggunakan teknik analisis untuk dua macam tujuah: Pertama: bertujuan untuk menghilangkanmetafisika. Oleh karena itu ungkapan-ungkapan metafisis itu pada hakikatnya tidak menyatakan apa-apa sehingga bersifat ‘nirarti’ atau (Poerwowidagdo: 52). Berdasarkan nama yang dipopulerkannya aliran ini juga mendapat pengaruh positivism. Hans Hahn dan Rudolf Carnap mengeluarkan suatu deklarasi ilmiah dalam suatu konggres International pertama dengan judul Wissenschaftliche Weltauffasung: der Wiener Kreis (pandangan dunia yang bersifat ilmiah: Lingkungan Wina).Aliran ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Ludwig Wittgenstein. Inggris dan Skandinavia. 1981:169). Melalui suatu karangan kecil yang disusun oleh Neurath. Ungkapanungkapan metafisis itu ditolak oleh kaum positivism logis bukan karena bersifat emotive. Oleh karena itu aliran tersebut disepakati dengan nama “neopositivisme” atau popular dikenal dengan nama “positivism logis. walaupun pengaruhnya bersifat langsung dan sebenanrya Wittgenstein sendiri tidak ikut aktif dalam kelompok Wina tersebut. Pandanganini menguraikan tentang pendirian filosofis kelompok lingkungan Wina yang sangat diwarnai oleh ilmu-ilmu pengetahuan positif. Aliran ini sangat dipengaruhi oleh tradisi empirisme yang melanjutkan garis tegas pada leluhurnya yaitu David Hume. Beberapa kali diusulkan nama empirisme logis dan oleh karena nama tesebut lazim digunakan oleh aliran filsafat yang berkembang di Amerika Serikat. John Stuart Mill dan Ernest Mach (Bertens.” Positivism logis menerima pandangan-pandangan filosofis dari atomisme logis tentang logika dan cara atau teknik analisisnya namun demikian positivism logis menolak metafisika atomisme logis. melainkan pada dirinya sendiri tak dapat ditolak.

Oleh karena itulah maka positivism sering disebut empirisme logis. Jadi kaum positivism logis atau empirisme logis itu tidak menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu salah. melainkan bahwa tidaklah suatupengingkaran atasnya. 1959:60). (Ayer. Positivism logis tidak melawan metafisika. hanya dinyatakannya bahwa apa yang dikatakan oleh kaum metafisika itu tidak dapat dipahami. Dengan demikian seorang empiris yang konsisten tidak mengingkari dudnia transenden. metafisika itu nirarti mengingkari berarti keberadaan dunia luar atau dunia yang transenden. Keputusan ini pertama-tama mengenai pada metafisika yang spekulatif.“Didalam wilayah metafisika termasuk semua filsafat nilai dan teori norma analisis logis menghasilkan hal yang negative yaitu pernyataanpernyataan bidang ini (metafisika dll) semuanya adalah nirarti” Lebih lanjut mengemukakan sebagai berikut: Analisis logis dengan demikian member keputusan dan menyatakan nirarti pada setiap apa yang disebut pengetahuan yang berpura-pura melampaui batas-batas pengalaman.akan tetapi bahwa apa yang dikatakan kaum metafisika itu tidak menyatakan sesuatu sama sekali. tetapi menunjukkan bahwa baik pengingkaran maupun pengakuan keduaduanya adalah nirarti” (Schlik. Penolakan terhadap metafisika oleh positivism logis tidak boleh diartikan bahwa positivism logis itu menolak atau pernyataan-pernyataan Schlick sebagai berikut: “Pengingkaran tentang keberadaan dunia luar yang transenden itu akan sama saja dengan suatu pernyataan metafisis tentang pengakuan keberadaan dunia luar yang trasenden itu.hal ini sebagaiman dikemukakan oleh Moritz . apa yang dimaksud dengan pengetahuan yang berasal dari pemikiran murni. atau tidak menyatakan sesuatu sama sekali (Poerwowidagdo. 1959:107). Penekanan pada pengalaman menunjukkan aspek empirisme yang kuat dalam positivism logis. 55). atau oleh intuisi murni yang berpurapura dapat dilakukan tanpa pengalaman.

kecuali hanyamenganalisis masalahmasalah dan disusul dengan menjelaskannya. tetapi hanya apa artinya apabila kita menyatakan bahwa sesuatu itu nyata. Dengan demikian sebenarnya banyak problem yang semu saja yang menampakkan seolah-olah merupakan suatu problema yang amat penting pada hal penjelasan analitis menunjukkan suatu keputusan.Kedua. Tugas filsafat adalah analisis logis terhada pengetahuan ilmiah. Filsafat tidak menyoroti problemproblem yang berbeda dari problem-problem ilmupengetahuan. walaupun mereka menolak visi dasarmetafisisnya. . 1. hal itu hanya dapat diputuskan melalui metode umumnya dalam kehidupan sehari-hari dan dari ilmu pengetahuan. positivism logis menggunakan teknik analisis demi penjelasan bahasa ilmiah dan bukan untuk menganalisis pernyataan-pernyataan fakta ilmiah. demikian juga terhadap psikologi dan sosiologi. Oleh karena itu tidak dapat diharapkan bahwa filsafat akan memecahkan problemproblem ilmu pengetahuan ilmiah. Demikianpula terdapat problem-problem lain yang karena penjelasan yang sama dinyatakan termasuk kompetensi ilmu pengetahuan. Analisis Logis terhadap Bahasa Secara prinsip positivism logis menerima konsep-konsep atomisme logis dalam hal analisis logis melalui bahasa. Sebab dengan analisis filsafati kita tidak dapat menentukan apakah sesuatu itunyata (real). Positivism logis terutama memperhatikan duamasalah : (1) analisis pengetahuan. Demikian juga apakah hal itu memang demikian atautidak. yaitu melalui pengalaman.jadi menurut positivism logis tugas filsfat itu memperhatikan analisis-analisis dan penjelasan tentag pernyataan-pernyataan dan proposisiproposisi terutama dari ilmu pengetahuan. Menurut positivism logis filsafat tidak memiliki suatu wilayah ilmiah tersendiri yang terletak disamping wilayah-wilayahlain yang menjadi objek ilmu pengetahuan. dan (2) pendasaran matematika dan ilmu pengetahuan alam.

teori atau dalil hal itu dianggap memiliki makna bilamana secara prinsip dapat diverifikasi. Misalnya. Dalam pengertian inilah maka positivism logis mengembangkan prinsip verifikasi. Menurut mazhab yang berpusat di Wina ini bahwa suatu ungkapan atau proposisi dianggap bermakna manakala secara prinsip dapat diverifikasi. Pernyataanini bermakna walaupun belum dilakukan suatu verifikasi. suatu pernyataan “di planet Mars terdapat makhluk hidup sejenis manusia”.Atas dasarpengetahuan tersebut maka kaum positivism logis menentukan sikap bahwa agar tidak terjadi kekacauan maka analisis terhadap bahasa yang digunakan dalam ilmu pengetahuan dalam filsafat adalah langkah yang paling tepat. pengujian dan pembuktian . atau bahkan prinsip verifikasi itu juga tidak mengharuskan menghasilkan suatu pernyataan yang mesti benar (Poerwowidagdo. matematika serta ilmu pengetahuan alam yang bersifat positif dan empiris. Prinsip Verifikasi Positivism logis yang konsep-konsep dasarnya sangat diwarnai logika. Misalnya pengamatan. Oleh karena itu arti suatupernyataan adalah sama dengan metode verifikasinya yang berdasarkan pada suatu pengalaman empiris (Beerlling. Memverifikasi berartimenguji. Namun prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh positivism logis tersebut yang dipegang teguh adalah suatu keharusan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu secara prinsip memiliki kemungkinan diverifikasi secara empiris. 2. akan tetapi pernyataan ini memiliki kemungkinan verifikasinya. 1966:108). 58). Hal ini berarti bukan mengharuskan bahwa suatu pernyataan atau proposisi itu telah dilakukan verifikasi. membuktikan secara empiris. maka sudah dapat dipastikan bahwa analisis logis tentang pernyataan-pernyataan ilmiah maupun pernyataan filsafat sagnat ditentukan oleh metode ilmu pengetahuan positif dan empiris tersebut. Setiap ilmu pengetahuan dan filsafat senantiasa memiliki suatu pernyataan-pernyataan baik berupa aksioma.

Peristiwa semacam itu terlihat dalam kalimat protocol dan inilah yang menjadi permulaan ilmu . verifikasinya ternyata hanya terdapat uang sejumlah Rp.000. Pada pernyataan-pernyataan ini tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. Menurut Sclick bahwa salah satu cara penetahuan itu dimulai dengan pengamatan peristiwa secara empiris.-. Demikianlah kiranya penolakan yang sangat radikal kaum positivime logis terhadap metafisika. Konsekuensinya setiap pernyataan atau proposisi yang secara prinsip tidak dapat diverifikasimaka pernyataan tersebut pada hakikatnya tidak bermakna. Hanya proposisi atau pernyataan yang mengandung istilah yang diangkat secara langsung dari objek yang dapat diamati itulah yangmengandung makna (hal ini dinamakan dengan istilah kalimat protocol). 1991:66). Walaupun secara prinsip kaum positivism logismenerapkan prinsip verifikasi. konsekuensinya juga sama yaitu pernyataan yang tidak bermakna.dilakukan dengan menggunakan telescope. Di dalam sebuah tas terdapat uang sejumlah seratus ribu rupiah. Demikian juga terdapat orang yang menyatakan “realitas itu tidak bersifat absolute”. satelit dan lain sebagainya. namun di antara para tokoh-tokohnyamemiliki perbedaan pandangan. Pernyataan “pemahaman akan analogi etnis adalah bertitik tolak dari yang ada yang bersifat transcendental” (Bagus. Jadi yang membenarkan ungkapan metafisis maupun yang menegasikan ungkapan yang sama pada hakikatnya kesemuanya itu omong kosong belaka sebab tidakada kemungkinan untuk melakukan verifikasi. Moritz Schlick misalnyamenafsirkan verifikasi itu dalam pengertian pengamatan empiris secara langsung. Pernyataan-pernyataan tersebut tidakmemiliki kemungkinan untuk dilakukan pembuktian secara empiris. Jadi prinsip verifikasi juga tidak harus dijamin dengan kebenaran hasil dari verifikasi tersebut. 5. hal ini merupakan suatu pernyataan yang bermakna walaupun setelah dilakukan pembuktian. “Realitas pada hakikatnya bersifat absolute” dan pernyataan-pernyataan metafisis lainnya menurut positivisme logis merupakan suatu pernyataan yang tidak bermakna.

Konstatasi Sclick ini menimbulkan kontroversi yaitu prinsip yang meletakkan verifikasi hanya pada suatu peristiwa yang dapat dialami secara langsung. Ia menyadari kelemahan yang terdapat dalam prinsip verifikasi yang dikembangkan oleh Sclick. Hal ini jelas terdapat pada pandangan Sclick. 1952:37). . Komentar atas prinsip verifikasi tersebut antara lain dari seorang tokoh posivitisme logis Ayer. Verifikasi yang bersifat ketat (strong verifiable) yaitu sejauh kebenaran suatu pernyataan atau proposisi itu didukung pengalaman secara meyakinkan. Melalui prinsip verifikasi ini tidak hanya kalimat yang teruji dan terbuktikan secara empiric saja yang bermakna. Prinsip verifikasi ini memiliki pengaruh yang sangat luas di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Penafsiran yang dikemukakan oleh Ayer terhadap prinsip verifikasi tersebut berhasil mengatasi kelemahan yang terdapat dalam pandangan tokoh posivitisme logis sebelumnya. melainkan juga kalimat yang dapat dianalisis lebih lanjut Ayer menegaskan bahwa suatu cara yang sederhana untuk merumuskan hal itu dalah dengan mengatakan bahwa suatu kalimat menandung makna.(Beerling. yaitu kalimat atau pernyataan yang diperiksa benar atau salahnya melalui pengamatan empiris secara langsung. yaitu jikalah sejauh proposisi itu mengandung kemungkinan bagi pengalaman atau merupakan pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Menurut Ayer prinsip verifikasi itu merupakan pengandaian untukmelengkapi suatu criteria sehingga melalui criteria tersebut dapat ditentukan apakah suatu kalimat itu mengandung makna atau tidak (Ayer. 1952:5). jikalau pernyataan atau proposisi itu dapat diverifikasi atau dapat dianalisis secara empiris. Menurut Ayer prinsip verifikasi sebagaimana yang diajukan oleh Sclick itu merupakan verifikasi dalam arti yang ketat dan disamping itu terdapat verifikasi yang bersifat longgar atau lunak. Adapun verifikasi dalam arti yang lunak. 1966:107). yang hanya mendasarkan prinsip verifikasi hanya secara empiris saja. yang mengaitkan prinsip verifikasi itu dengan kalimat protocol.

Konsep Proposisi Doktrin yang telah dipegang teguh oleh kalangan positivism logis adalah bahwa tugas filsafat adalah untuk menentukan danmembuat jelas. (2) Proposisi analitis tidak berdasarkan pada pengalaman. Menurut Ayer proposisi empiris manakala mengandung suatu kemungkinan untukdisahkan atau ditolak dalam pengertian pengalaman yang sebenarnya. . Sehingga tidak memerlukan verifikasi empiris. (2) Proposisi formal (proposisi analisis). melainkan berdasarkan pada pengetahuan a priori (pengetahuan yang diperoleh melalui refleksi logis tanpa melalui pengalaman empiris). pernyataan-pernyataan atauproposisi-proposisi dalam ilmu penetahuan dan filsafat. Terdapat dua macam proposisi menurut positivism logis yang pengertiannya sebagai berikut : (1) Proposisi empiris. Dalam pembahasannya tentang proposisi Ayer memberikan beberapa cirri yang diuraikan sebagai berikut: (1) Proposisi analitis memiliki cirri benar berdasarkan pembatasan sematamata berdasarkan makna yang terkandung dalam susunan simbolnya.3. Proposisi formal ini meliputi proposisi logika dan matematika yang memiliki kebenaran secara pasti (kebenarannya bersifat tautologies) sehingga tidak memerlukan verifikasi pengalaman empiris. yaitu proposisi yang kebenarannya tidak memerlukan verifikasi secara empiris. Konsekuensinya ungkapan yang dikemukakan dalam ilmu penetahuand an filsafat merupakan proposisi-proposisi maka penentuan macam dan jenis proposisi tersebut menjadi sangat penting. yaitu proposisi factual yang harus dapat diverifikasi secara empiris. oleh karena itu filsafat harus melakukan analisis dalam ilmu pengetahuan dan filsafat.

Proposisi yang didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti artinya. hal itu tergantung pada fakta bahwa symbol “dokter mata” itu secara logis sama artinya dengan “spesialis mata”. Proposisi analisis yang semata-mata benar berdasarkan simbolnya adalah dalam matematika. dalam Mustansyir 1987:73). Dan hal itu berarti tidakada pengalaan yang akan membuktikan atas ketidakbenarannya (Ayer. (4) Proposisi analitis mengandung makna sejauh proposisi yang bersangkutan didasarkan pada penggunaan istilah yang pasti. Proposisi analisis mengandung kepastian dan keniscayaan yang bersifat tautologies. proposisi tersebut tidak memiliki kandungan istilah yang factual. berarti penjelasan yang sama merupakan pegangan bagi setiap kebenaran a priori lainnya. jadi maknanya terletak pada bahasa atau ungkapan-ungkapan verbal. berarti terdapat suatu hubungan yang memang sudah semestinya. yaitu suatu pernyataan yang mesti berdasarkan hukum-hukum logika. karena “mati” itu merupakan sifat yang sudah semestinya ada pada manusia.(3) Proposisi analitis mengandung kepastian dan keniscayaan. (Charlesworth. Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern dewasa ini konsep proposisi menurut positivism logis ini menjadi kata kunci untuk mendapatkan suatu kebenaran ilmiah yang objektif. misalnya “9 + 8=17” adalah proposisi matematika yang kebenarannya berdasarkan symbol yaitu “9+8” adalah sama dengan “17” Kebenaran proposisi analisis yang didasarkan pada pengetahuan a priori. 1952:85). Persoalannya adlaah ilmu pengetahuan itu beraneka ragam corak dan sifatnya baik berdasarkan objek formal maupun objek materialnya. Pernyataan semacam ini merupakan tautologies. Oleh karena itu . Misalnya semua manusia pasti mati”. Pengtahuan yang kita peroleh berdasarkan suatu refleksi logis ( apirori) mengenai pengertian bahwa “seorang spesialis dokter mata adlaah seorang dokter mata”. yaitu memiliki sifat kebenaran tautologies.

tetapi harus bersifat lain. Karena itu terpaksa mereka mengembangkan suatu teori logis yang baru. atau memang secara apriori memiliki struktur kebenaran. Suatu usaha untuk mengkonstruksikan matematika dengan memakai logika baru ialah karya B. Logika dan Matematika Sejak pertengahan abad ke-19 logika mengalami suatu pembaruan radikal. sebab dengan itu mereka sanggup mengerti lebih baik kedudukan khusus logika dan matematika dalam cakrawala ilmu pengetahuan. Perbedaan antara logika modern dan logika klasik ialah (1) penggunaan symbol-simbol menurut analogi dengan matematika. Percobaan itu mendapat sambutan hangat pada waktuitu. Dengan itu mereka mau meneruskan prinsip empiris seradikal mungkin. Mereka mengalami jalan buntu dalam mengkonstruksikan matematika secara regorus atas dasar logika tradisional. Whitehead yang sangat penting (Principia mathematica. 1910-1913). yang menyoroti relasirelasi lain. tiga jilid. Logika baru dan hubungannya dengan matematika memainkan peranan penting bagi Ludwig Wittgenstein. 4. Logika dan matematika tidak dapat diubah oleh . Tetapi bagi para pengikut Ludwig Wittgenstein pendirian itu tidak memuaskan. Russel dan A. bahwa hubungan antara ungkapan bahasa dalam suatu proposisi harus memiliki hubungan yang jelas dengan fakta empiris.dan (2) bertambahnya wilayah-wilayah pembahasan yangsama sekali baru pembaharuan logika ini dirintis oleh ahli-ali matematika. yakni subjel-kopula-predikat.akan timbul suatupersoalan yang semakin rumit bagi ilmu-ilmu pengetahuan yang memiliki sifat kualitatif. Dalam abad ke-19 John Stuart Mill dan Herbert Spencer melontarkan percobaan untuk medasarkan logika dan matematika atas pengalaman. Karena dapat mengerti bahwa tidak mungkin logika dan matematika mempunyai dasar empiris. Relasi-relasi dalam matematika tidak dapat ditangani dengan menggunakan skema logika tradisional . Hal ini berdasarkan tijauan analitis.

atau menyalahtafsirkan logika dan matematika (karena orang mau mengasalkannya kepada pengalaman). Ucapan-ucapan logika serta matematika bersifat analitis belaka dan bukan sintetis. Sebagaimana diketahui bahwa matematika dan logika bersifat apriori. Mereka melihat jalan keluar dari dilemma itu tidak dapat diasalkan kepada pengalaman. Pertanyaan-pertanyaan dan ucapan-ucapan yang menyangkut objek-objek sedemikian tak lain adalah pertanyaan-pertanyaan semu dan ucapan-ucapan semu saja.pengalaman-pengalaman baru. Konsepsi Lingkungan Wina tentang Filsafat Pada akhir uraian neoposivisme Lingkungan Wina ini kita memandang sebentar konsepsi mereka tentag filsafat. . tentu tidak merupakan pendirian baru (rasionalisme misalnya sudah lama menekankan hal itu). Tetapi semua ucapan tentang realitas empiris bersifat sintetis. Dua ilmu ini hanya mengandung relasi-relasi pikiran. 1981:170). berarti dlakukan pada pengetahuan tentang fakta-fakta saja dan tidak berlaku untuk setiap macam pengetahuan (Bertens. Semua anggota lingkungan Wina sepakat dalam mencita-citakan suatu filsafat yang bersifat ilmiah (bandingkan misalnya dngan Karl Jaspers). Menurut pendapat mereka filsafat tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. Objekobjek metafisika yang tradisional seperti ada yang absolute (tetapi nilainilai yang absolute dan norma-norma) tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita. Atau dengan suatu istilah yang berasal dari Wittgenstein ucapan-ucapan sedemikian itu merupakan tautology-tautologi. Realitas empiris menurut segala aspeknya dipelajari oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang khusus. Prinsip-prinsipnya bersifat apriori (tak tergantung pada pengalaman). 5. Hal yang baru yang dilihat oleh Ludwig Wittgenstein ialah hubungannya dengan empirisme. Logika matematika tidak mengatakan apapun juga tentang realitas empiris. Dan suatu realitas non empiris atau transenden tidak mungkin menjadi objek pengetahuan.

Pendekatan formalistis belaka tidakdapat dilaksanakan. biologi. ilmu sejarah dan lain-lain. kecuali menjelaskan kata-kata serta ucapan-ucapan dan dengan demikian menyingkirkan ucapan-ucapan yang tidak bermakna. filsafat kehidupan organis. Ilmu pengetahuan memverifikasi ucapan-ucapan. Di kemudian hari Carnap menyadari bahwa analisis logis tidak dapat dilepaskan dari masalah bermakna tidaknya bahasa yang diselidiki. Filsafat tidak boleh dimengerti sebagai filsafat alam. filsafat manusia. Sampai di situ semua anggota lingkunga Wina setuju. filsafat sejarah dan sebagainya. Dalam bukunya Sintaksis logis dari bahasa ia mengatakan bahawa filsafat harus menyelidiki sintaksis logis dari ucapan-ucapan ilmiah. Pada Carnap dapat kita saksikan suatu perkembangan daam pendapatnya tentang tugas-tugas filsafat. Itu berarti bahwa filsafat tidak boleh melewati masalah teori pengetahuan. Sepanjang filsafat dapat kita lihat bahwa filsafat telah menyibukkan diri dengan tiga hal (1) pertama-tama terdapat masalah-masalah yangmenyangkut fakta-fakta empiris. Tetapi dengan masalah-masalah semacam itu sekarang ini filsafat tidak mempunyai urusan lagi. Schlock dalam jilid pertama majalah Erkenntnis pernah mengatakan bahwa filsafat tidak mempunyai tugas lagi. tetapi sebagai analsisi logis tentang ilmu pengetahuanalam. Menurut Carna sintaksis logis itu harus disusun secara formal antara relasi-relasi. Sebagai kesimpulan dapat kita katakana bahwa Ludwig Wittgenstein mempunyai suatu konsepsi jelas tentang cara membatasi tugas filsafat terhadap usaha-usaha intelektual yang lain.Metafiska tidak mungkin mencapai status filsafat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. psikologi. Tetapi mereka tidak selalu sepakat dalam menentukan tugas-tugas filsafat secara kongkrit. artinya struktur logis ucapanucapan tersebut. Seluruh wilayah empiris termasuk wewenang ilmu pengetahuan positif. sedangkan filsafat meneropong makna ucapan-ucapan. juga dalam menyelidiki pendasaran ilmu pengetahuan. (2) berikutnya .

Dalam pengertian inilah menurut positivism logis justru merupakan letak tugas filsafat dewasa ini. Bahasa Universal bagi Seluruh Ilmu Pengetahuan Suatu usaha yang senantiasa mendapat perhatian para anggota Lingkungan Wina ialah percobaan untuk memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan semua ilmu pengetahuan dapat ‘diterjemahkan’ ke dalam bahasa universal yang sama. tetapi neopositivisme berpendapat bahwa dalam metafisika dipersoalkan pertanyaanpertanyaan yang tidak bisa dijawab. Masalah-masalah ini tidak dapat dirumuskan dalam bahasa ilmiah. Tetapi dengan itu filsafat tidak mengalami kerugian. Sesuatu yang merupakan dasar seluruh konstruksi ini ialah tingkatanyang disebut “auto-psikologis” (misalnya pengalaman saya tentang ‘merah’). melainkan hanya satu ilmu pengetahuan yang membahas objek-objek yang termasuk pelbagai tarag pengetahuan. Karena itu maslah-masalah metafisis tidak mempunyai makna. Dahulu masalahmasalah ini ramai dibicarakan dalam filsafat. Untuk itu Carnap menyusun suatu hierarki tingkatan-tingkatan. merupakan suatu percobaan terkenal untuk melaksanakan proyek tadi. Konstruksi logis dunia karya Carnap. (3) akhirnya masih terdapat masalah-masalah metafisis. mak asudah terbuktilah bahwa tidak ada banyak ilmu pengetahuan. lingkup geraknya dibersihkan dari persoalanpersoalan sesat. Atas fondamen ini dapat disusun berturut-turut .terdapat masalah-masalah yang menyangkut pengekspresian pengetahuan kita atau dengan kata lainmelalui ungkapan bahasa. 6. Masalah-masalah ini ditangani dengan menjelaskan konsep-konsep dan ungkapan-ungkapan yang kita pakai. Sebaliknya. Kalau cita-cita ini sampai diwujudkan. Setiap tingkatan bahasa sesuai dengan suatu tingkatan objek-objek. Dalam buni ini Carnap coba membuktikan bahwa setiap objek-objek pengetahuan dapat dasalkan kepada pengalaman-pengalaman elementer subjek. Urutan tingkatan-tingkatan sesuai dengan urutan dalam sttuktur pengenalan.

Karena itu bahasa inilah menjadi bahasa universal bagi semua ilmu pengetahuan dan tidak ada lagi banyak ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. 1981:173). fondamen itu tidak boleh dikaitkan dengan ucapan-ucapan yang menyangkut suasana “keakuan” (sebagaimana halnya pada Carnap dalam KOnstruksi Logis dunia).tingkatan fisis. Carnap memecahkan masalah dispositional terms itu dengan cara mengubah beberapa pendirian dalam bukunya. Objek-objek dari masing-masing tingkatan dapa diasalkan objek-objek dari tingkatan lebih rendah. social dan cultural. tetapi hanya satu ilmu pengetahuan yang diungkapkan dengan suatu bahasa universal. dan pada umumnya semua istilah dalam bahasa Inggris yang berakhir dengan –ble. Ada kesulitan-kesulitan lain lagi yang mengakibatkan bahwa akhirnya Carnap sendiri tidak puas lagi dengan usaha yang dilontarkan dlam bukunya “konstruksi Logis Dunia” (Bertens. Neurath tidak setuju jika suatu lapisan auto-psikologis diambil sebagai fenomena kesatuan ilmu pengetahuan. Tetapi ada banyak kesulitan yang mengancam keberhasilan proyek ambisium Carnap ini. visible (dapat dilihat). maka orang dapat merumuskan semua ucapan ilmu pengetahuan dalam bahasa dasariah yang mengungkapkan pengalaman-pengalaman elementer kita. Dengan demikian. Misalnya soluble (dapat dilarutkan fakta). Salah atu kesulitan terkenal ialah masalah dispositioal terms. Menurut dia. psikologis. Maka dari itu bahasa yang dikonstruksikan Carnap mempunyai basis dan susunan sedemikian rupa sehingga setiap ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang khusus dapat “diterjemahkan” melalui tahap-tahap tertentu ke dalam ucapan yang termasuk ilmu pengetahuan yang lain. melainkan karena objek yang bersangkutan mempunyai semacam “kemampuan” (idisposition) untuk menimbulkan fakta tertentu. kalau tingkatan sosiokultur dapat diasalkan kepada tingkatan ilmu-ilmu pengetahuana alam. biologis. Dengan dispositional terms dimaksudkan suatu istilah yang mengungkapkan suatu cirri yang harus disifatkan kepada suatu objek bukan berdasarkan fakta-fakta actual. Tetapi harus terdiri dari ucapan-ucapan yang .

Dalam hal ini memainkan peranan besar apa yang dinamai Neurath sebagai ‘kalimat-kalimat protokol’ (protocol sentences). Dengan perkataan lain. ke dalam ucapan0ucapan tentang keadaan dan kejadian-kejadian badani. Istilah ini diciptakan oleh Carnap dalam suatu artikel pada tahun 1931.seperti misalnya. setelah dia meninggalkan pandangannya dari Konstruksi logis dunia. Erkenntnis.30 sebuah meja diamati oleh John”. Karena semua ilmu pengetahuan cultural (Geisteswissenschaften) yang berbeda dari imu pengetahuan alam. Maksudnya ialah kalimatkalimat yang berupa laporan sehingga dapat dikontrol oleh semua orang. Ucapan-ucapan psikologi yang sungguh-sungguh ilmiah hanya berbicara kejadian-kejadian dalam badan. Percobaan Neurath ini pada umumnya mendapat dukungan Carnap juga. maka salah satu problem besar yang dihadapi ialah memperlihatkan bahwa ucapan-ucapan tentang ‘yang fisis’. Ketika ia sudah meninggalkan pendapatnya dalam konstruksi logis dunia (Die Physikalische Sprache als Universalsprache der Wissenschaft”. : “pada pukul 15. 1931). Kalau orang menganut pendirian itu. Ucapan-ucapan tentang ‘yang psikis’ yang tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. . Semua ilmu pengetahuan sama-sama bersifat ‘fisis’ dan justru itulah memungkinkan kesatuannya. Pendirian Neurath tentang kesatuan ilmu pengetahuan ini membawa dia keapda apa yang disebut ‘fisikalisme’ (pshysicalism). Bagi Neurath bahasa fisika merupakan bahasa yang paling fundamental dan semua bahasa ilmiah harus dapat diterjemahkan ke dalam bahasa fisika itu. khususnya dalam system saraf pusat. tetapi dalam beberapa hal ia tetap mempunyai pendapat lain. Fisikalisme bermaksud menyangkal setiap perbedaan principal antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan cultural. Kalimat-kalimat protocol semacam itu merupakan ucapanucapan paling elementer dalam ilmu pengetahuan yang disatukan. Dalam hal ini Neurath dan Carnap berkembang kea rah suatu pendapat yang sangat ekstrem. sebab hanya ucapan-ucapan macam in bersifat inersubjektif dan dapat dicek oleh umum.bersifat umum dan terbuka secara intersubjektif. ucapan-ucapan psikologis harus dpat ‘diterjemahkan.

berarti sebagai usaha yang tidak mempunyai makna teoritis dan tidak mengungkapkan sesuatu apapun (Bertens. Demikianlah pengaruh positivism logis terhadap ilmu pengetahuan lain terutama ilmu pengetahuan psikologis. Latar belakang ilmu yang dikuasainya yang di samping imu pasti dan logika. karena secara principal tidak terbuka lagi bagi pemeriksaan intersubjektif dank arena tu tidak dapat dirumuskan secara fisikalistis. nampaknya memiliki corak tersendiri dalam menciptakan klarifikasi dan ketelitian dalam bidang filsafat. budaya. sebab bagi neopositivisme semuanya yang tidak dapat ditangani ilmu pengetahuan menurut tanggapan merek mengenai ilmu pengetahuan. 1981:174). Positivism Ayer tidak lain juga meneruskan garis lurus tradisi . J. social dan ilmu pengetahuan lainnya yang sampai saat ini masih terasa terutama di Indonesia sendiri (Kaelan. Dikatakannya bahwa pengalaman-pengalaman macam itu tidak mempunyai nilai ilmiah. 202:187. Fisikalisme tidak mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman psikis merupakan suatu fakta empiris. yaitu fisikalisme dicap sebagai metafisika. 136). Itulah sebabnya ucapan-ucapan semacam itu tidak diberi tempat dalam wilayah ilmu pengetahuan. ia diangkat menjadi professor di Universitas Oxford. Jadi satu-satunya psikologi ilmiah yang mungkin adalah suatu behaviorisme radikal. sehingga tidak mengherankan karya yang diterbitkannya yang berjudul “Language. Truth and Logic” merupakan karya yang sangat terkenal dan memiliki pandangan yang sangat radikal. Itulah metafisika belaka. Positivisme Logis Alfred Jules Ayer Walaupun positivism logis berpusat di Wina Austria namun Ayer sebagai seorang filsuf Oxford Inggris mengembangkan konsep filosofis positivism logis secara lebih radikal. Pemikiran filsafat Ayer yang mengintrodusir positivism logis dari lingkungan Wina dan sekaligus disintesiskan dengan metode yang dikembangkan oleh Moore dan Russell. ia juga menguasai ilmu bahasa dan fisiologi. Sekembalinya dari Wina.pada dasarnya tidak terbuka untuk pemeriksaan intersubjektif.

Usaha mereka yang utama adalah untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dalam filsafat dan ilmu pengetahuan. Mereka tidak menghiraukan benar atau tidaknya suatu ungkapan melainkan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan sehingga gilirannya mereka ingin mewujudkan “bagaimana dapat ditentukan suatu norma yang jelas yang dapat membedakan ungkapan-ungkapan yang bermakna dari ungkapan-ungkapan yang tidak bermakna”. is consistent with any assumption what so ever concerning the nature of his future experience. menerima suatu proposisi sebagai benar atau menolaknya sebagai salah. The sentence expressing it may be emotionally significant to him. Dalam kesempatan inilah Ayer mengambil alih program ambisius dari kelompok postiivisme logis Wina ini dan dalam bukunya ia merumuskan prinsip sebagai berikut : “We say that a sentence is factually significant to any given person. Sebaliknya kalau apa yang dianggap sebagai proposisi bersifat demikian rupa sehingga menerima kebenaran atau tidak benarannya . Inggris terutama Hume dan menekankan pada analisis logis versi Bertranad Russell. under certain conditions. kalau dan hanya kalau ia tahu observasiobservasi mana yang membuat dia denga syarat-syarat terteentu. if analysis only if. on the other had the putative proposition is of such a character that assumption of its truth or falsehood. to accept the proposition as being true. “kami mengatakan bahwa suatu kalimat pada kenyataannya bermakna bagi seorang tertentu. or reject it as being false. a mereka pseudo proposition. 1952: 48).empirisme. he knows that observations would lead him. Untuk itulah kemudian mereka menentukan prinsip ilmiah yang dikenal dengan prinsip verifikasi. but it not literary significant (Ayer. if not a tautology.as far as he is concerned it is. Sebagaimana diketahui bahwa kelompok lingkungan Wina di satu pihak menaruh antusiasmebesar untuk ilmu pengetahuan dan matematika dan di pihak lain mengambil sikap negative terhadap metafisika. If. then.

Menurut Ayer suatu ungkapan itu bermakna bilamana suatu ungkapan itu merupakan observation statement artinya merupakan suatu pernyataan yang menyangkut realitas inderawi. Ungkapan seperti itu tidak bermakna karena tidak mungkin ditentukan benar atau salahnya dan tidak memungkinkan dilakukan verifikasi. ungkapan tersebut salah akan tetapi ungkapan tersbut bermakna.dapat dicocokkan dengan pengandaian apapun juga mengenai pengalamannya di kemudian hari. sebab ketidakbenarannya dapat ditetapkan. Suatu ungkapan yang bermakna dapat benar dan juga dimungkinkan dapat juga salah. Barangkali kalimat yang mengungkapkan proposisi itu mempunyai makna emosional bagi dia. apa yang disebut proposisi itu tidak lain (kecuali kalau merupakan suatu tautologies) daripada proposisi semu saja. maka bagi orangyang bersangkutan. Akan tetapi kalau suatu ungkapan “hari ini cuaca lebih bagus daripada di luar”. (2) verikasi dalam arti yang lunak. yaitu jikalau suatu proposisi itu mengandung suatu kemungkinan bagi pengalaman atau pengalaman yang memungkinkan (Ayer. Agar supaya ungkapan itu bermakna maka perlu kita dapat menunjukkan kepada suatu hal empiris atau dengan lainperkataan memerlukan suatu fakta atau data empiris (Bertens. Dengan lain perkataan dikatakan bermakna bilamana dilakukan berdasarkan observasi atau verifikasi. Ayer menekankan dua macam pengertian verifikasi yaitu (1) verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable). 1981:35). yaitu sejauh kebenaran suatu proposisi itu didukung oleh suatu pengalaman secara meyakinkan. Seseorangyang menyatakan bahwa “Surabaya adalah Ibu Kota Negara Republik Indonesia”. .a tau sekurang-kurangnya memiliki hubungan dengan observasi. Berbeda dengan tokoh-tokoh positivism lingkungan Wina. akan tetapi pasti tidak ada makna harafiah”. Berdasarkan pernyataan Ayer tersebut dapat dijelaskan bahwa pada hakikatnya prinsip verifikasi bermaksud untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dan bukannya untuk menentukan suatu criteria kebenarannya. 1952:37).

Demikian juga untuk mendapatkan suatu . Demikian juga suatu ungkapan bahasa itu disebut bermakna. Verifikasi juga tidak harus dilakukan secara lengkap melainkan sebagian saja dan hal ini sangat dilakukan dalam verifikasi dalam bidang ilmu-ilmu alam dan fisika.Selain ungkapan-ungkapan yang berdasarkan data empiris terdpat pula satu ungkapan atau proposisi yang bermakna yaitu proposisi matematika dan logika. sehingga kebenarannya bersifat pasti atau bersifat tautology. sudut yang bertolak belakang sama besarnya. bujur sangkar memiliki empat sisi yang sama dan lains ebagainya. adalah benar tanpa melalui verifikasi empiris. namun jikalah ungkapan bahas aitu secara principal memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Dalam masalah ini Ayer menerima kebenaran atas kesaksian tersebut sebab kalau demikian maka semua ungkapan bahasa pad amasa lampau akan menjadi tidak bermakna. hal itu bermakna walupun secar factual belum pernah dilakukan suatu verifikasi namun memiliki suatu kepastian bahwa ungkapantersebut secara prinsip memiliki kemungkinan untuk diverifikasi. Ungkapan-ungkapan matematika dan logika itu tidak mengungkapkan realitas inderawi sehingga tidak dapat diverifikasi atas dasar pengalaman. Maka untuk menentukan benar tidaknya suatu ungkapan matematika dan logika maka kita tidak dapat meninggalkan bahasa karena kebenarannya. tidak harus ungkapan itu diverifikasi secara factual. misalnya dapat pula melalui suatu kesaksian seseorang yang dpat dipercaya. Dalam pengertian inilah maka terdapat tempat bagi prinsip verifikasi atas kebenaran fakta-fakta sejarah. Misalnya untuk mengetahui bahwa dalam segelas air itu mengandung larutan gula maka cukup dengan hanya melakukan verifikasi untuk setetes air saja. Tidak perlu suatu ungkapan baahasa itu diverikasi secara langsung. Tentu saja Ayer harus mengakui adanya batas-batas yang berlaku untuk prinsip verifikasi. hal itu dapat diterima sebagai suatu ungkapan yang bermakna karena misalnya berdasarkan kesaksian seorang tokoh pendiri Negara RI. Misalnya 44:11 = 4. Misalnya ungkapan “Undang-undang Dasar 1945 disyahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945”. Misalnya suatu ungkapan bahwa “di planet mars terdapat makhluk hidup sejenismanusia”.

1981:36). filsafat manusia pad ahakikatnya adalah omong kosong atau nirarti. maka tidak perlu melakukan eksperimen untuk seluruh logam. aksiologi.hukum umum bahwa “semua logam kalau dipanasi memuat”. Filsafat Bahasa Biasa (The Ordinary Language Philosophy) Berkembangnya konsep pemikiran filsafat analitik sebagai reaksi ketidakpuasan dunia pemikiran filsafat pada saat itu yang didominasi oleh tradisi idealism terutama kalangan teolog. Keyakinan atas prinsip verifikasi ini memiliki konsekuensi bahwa ungkapan-ungkapan metafisis adalah tidak bermakna. “nilai itu adalah bersifat objektif” dan ungkapan metafisis yang lainnya pada hakikatnya tidakmengungkapkan suatu realitas empiris sama sekali sehingga ungkapan itu sma sekali tidak bermakna. setiap manusia harus berbuat baik terhadap sesamanya”. Menruut Ayer semua ungkapan bahasa teologi. Secara hati-hati Ayer menentukan berbagai macam prinsip verifikasi yang nampaknya lebih rinci dibandingkan dengan para pengembangnya di lingkungan Wina. baik yang bernada memberikan dukungannya maupun para teolog yang memberikan reaksi menentangnya. “a statement wich is not relevant to experience…Has no factual content”. Reaksi Ayer justru lebih radikal dibandingkan dnganpara tokoh lainnya. Para tokoh filsafat analitika bahasa menyadari bahwa dalam kenyataannya banyak problem-problem filsafat dapat diselesaikan . “lukisan itu memiliki nilai yang tinggi”. Pada perkembangan berikutnya filsafat positivism Ayer ini cukup mendapatkan respon yang sangat hangat di kalangan filsuf. Walaupun reaksi terhadap metafisika telahdilakukan oleh Russel dan Moore namun karena konsepnya yang sangat radikal maka filsafat Ayer dikenal juga sebagai suatu radikalisme Bertrand Russel (Bertens. ontology. etika . K.estetika. Diskusi mulai marak terutama berkaitan dengan prinsip-prinsip verifikasi yang dalam kenyataannya untuk diterapkan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan masih memerlukan pemikiran yang cermat serta rincian yang bersifat rigorous. Ungkapan bahasa seperti “Tuhan adalah pencipta segala sesuatutermasuk alam semesta”. yang sangat mengagungkan pentingnya metafisika.

mereka lupa ahwa aspek semantic sendiri memiliki sifat metafisis tidka dapat mati dengan indra manusia. karena sama sekali tidak melukiskan suatu realitas dunia. Mereka dengan keyakinan yang kuat menyatakan bahwa berdasarkan logika bahasa ungkapan-ungkapan metafisika dari kalangan penganut idealism terutama bidang teologi. Untuk itu mereka memiliki proyek yang spektakuler dan sangat ambisius yaitu ingin mewujudkan suatu bahasa yang ideal. Begitu juga gurunya Bertrand Russell yang dengan tegas menyatakan bahwa ungkapan-ungkapan bahasa metafisika pada hakikatnya adalah omong kosong belaka. Oleh karena itu bahasa merupakan pusat perhatian kalangan filsuf analitika. oleh karena itu ungkapan-ungkapan tersebut sebenarnya adalah nirarti atau sama sekali tidak bermakna. dan tidak melukiskan suatu kebenaran peristiwa secara empiris. Ungkapan-ungkapanmetafisika itu sebenarnya tidak mengungkapkan realitas empiric.melalui analisis bahasa. sehingga melalui kategori-kategori logika mereka menentukan bahasa yang bermakna atau bahasa yang tidak bermakna. Reaksi yang sangat radikal dari kalangan atomisme logis dan prinsip verifikasi positivism logis tersebutmemang sempat menggemparkan dunia pemikiran filsfat di Eropa terutama di Inggris. Hal ini sebagaimana diakui sendirioleh Russel yaitu bahwa teori atomisme logis ingin menjelaskan . Namun dengan dasar-dasar yang kuat para tokoh filsfat analitik yang mendasarkan aspek semantic bahasa melalui struktur logika. estetika dan terutama ontology pada hakikatnya tidak bermakna. Dalam masalah ini Wittgenstein dlam karyanya Tractatus Logico Philosophicus merupakan karya yang besar yang menekankan tentang logika bahasa. bahkan Ludwig Wittgenstein sendiri mendapat gelar doktornya karena karyanya Tractatus Logico Philophicus. etika. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dalam filsafat atomisme logis sendiri terkandung suatuprinsip metafisika. ungkapan-ungkapan metafisika mendapat perhatian yang serius bahkan pada aliran atomisme logis dan positivism logis ingin membersihkan filsafat dari metafisika. aksiologi. Para tokoh filsafat analitika bahasa memusatkan perhatian pada aspek semantic bahasa. yaitu bahasa yang memiliki struktur logika yang sesuai dengan struktur logika dari realitas dunia.

Begitu juga pemikiran Wittgenstein melalui Tractatus yang mendasarkan pada aspek semantic bahasa dengan menekankan struktur logika dalam kenyataannyajuga terkandung di dalamnya dasar-dasar metafisika. 1981:47). melainkan berasal dari suatu analisis melalui bahasa. Pemikiran Filsafat Wittgenstein Periode II Philosophiecal Investigations Konsep pemikiran filsafat Wittgenstein periode II tertuang dalam suatu karyanya yang berjudul Philosophical Investigations. sehingga ia sendiri menyatakan bahwa setiap orangyang membaca tractatus akhirnya akan sampai pada suatu titik di mana ia akan mengerti bahwa ungkapan-ungkapan bahasa dalam tractatus sebenarnya tidak bermakna. atau dengan kata lain perkataan teori ini ingin mengungkapkan bahawa bagaimana akhirnya dunia diasalkan kepada fakta-fakta atomis. Hal yang demikian ini jelas merupakan suatu pendapat yang bersifat metafisis. dalam sejarah filsafat analitika bahasa. Hal itu dikatakan oleh Wittgenstein dianalogikan seperti orang yang memanjat melalui tangga dan setelah sampai pada tujuannya maka tangga tersebut dibuangkan (Bertens. bahkan dalam berbagai kehidupan . Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahasa diformulasi logika. Karya Wittgenstein periode II ini memiliki corak yang berlainan bahkan bertolak belakang dengan Tractatus mendasarkan pada semantic dan memiliki formulasi logika. Dengan demikian Nampak jelas bagi kita bahawa metafisika ynag terkandung dalam teori Russell itu merupakan suatu pluralism radikal.suatu struktur hakiki bahasa yang sepadan dengan dunia. Pada karyanya yang kedua ini ia menyadari bahawa bahasa diformulasikan melalui logika sebenarnya sangat tidak mungkin untuk dikembangkan dalam filsafat. Bahkan sebagaimana kita ketahui bahwa pemikiran Russell itu sama sekali tidak berdasarkan pada data-data empiris. Formulasi logika bahasa menemui berbagai macam keterbatasan dan kesulitan.

manusia terdapat berbagai macam konteks yang tidakmungkin hanya diungkapkan melalui formulasi logika bahasa. Dengan demikian sebuah proposisi itu adalah sebuahfungsi kebenaran (truth function) dari proposisi elementer. Dengan demikian Wittgenstein sebagai seorang filsuf secara jujur mengakui kelemahan dan kesalahan pada karyanya yang pertama. Dalam Philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama. Segi pragmatic bahasa dalam kehidupan sehari-hari semakin disadari oleh Wittgenstein sehingga terdapat sejumlah bahasa yang digunakan dalam berbagai macam konteks kehidupan. perintah. pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam pemikirannya yang kedua Wittgenstein mengkritik pendapatnyayang pertama yang berkaitan dengan struktur hakikat bahasa. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda di dalam penggunaan bahasa (Poerwowidagdo:65). kemajemukan jenis-jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan oleh ahli logika . Berkaitan dengan masalah ini Wittgenstein berkata: “Adalah sangat menarik untuk membandingkan kemajemukan dari alat-aat dalam bahasa dan berbagai cara yang digunakannya. Dalam Tractatus Wittgenstein menganggap bahwa bahasa sebagai suatu kumpulan besar yang tak terbatas dari proposisi-proposisi yang sederhana atau yang atomis. yang menyatakan bahwa:”empat tahun yang lalu ia berkesempatan membaca kembali karyanya yang pertama dan dijelaskannya bahwa ide yang terkandung didalamnya ingin ditampilkan sekaligus dengan pemikiran-pemikiran yang pertama”. Proposisi atomis pada hakikatnya menggambarkan realitas fakta atomis yaitu keberadaan suatu peristiwa yang paling sederhana yang memiliki satu saja analisis yang lengkap. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran. pertanyaanpertanyaan. Pengakuan atas kelemahan pada karya besarnya yang pertama diungkapkannya dalam kata pengantar karyanya yang kedua Philosophical Investigations (PI). Makna dari sebuahproposisi itu adalah kenyataannya yang sesuai dengan fakta atau kebenaran suatu peristiwa.

Lebih lanjut ia juga menyatakan:”kita melihat bahwa apa yang kita sebut “kalimat dan bahasa” tidak mempunyai kesatuan formal yang saya bayangkan. akan tetapi lebih merupakan kelompok struktur yang kurang lebih saling berhubungan antara satu dengan lainnya (Wittgenstein. Dengan demikian tugas fisafat adalah menguraikan dan menerangkan bahasa dan tidak melakukan interfensi didalamnya.tentang struktur bahasa termasuk pengarang Tractatus Logico Philosophicus” (lihat Wittgenstein. Demikianlah Wittgenstein semakin sadar bahwa dalam kenyataannya bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup dalam upaya untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran filosofis. Salahs atu tesis pokok sebagai esensi dari pandangan Wittgenstein yang ke II adalah bahwa “ makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa dan bahwa makna bahasa itu adalah penggunaannya di dalam hidup. (P. 340). Karya Wittgenstein yang ke II ini lebih menekankah pada aspek pragmatic bahasa atau dengan perkataan lain lebih meletakkan bahasa dalam fungsinya sebagai alat komunikasi dalam hidup manusia. Tata permainan Bahasa (Language Games) Philosophical Investigations adalah merupakan suatu bentuk filsafat bahasa biasa yang paling kuat. sekaligus sebagai penunjuk jalan atas terbukanya pemikiran filsafat yang menaruh perhatian terhadap bahasa biasa (ordinary language). 1983:108).. Dalam masalah ini Wittgenstein mengemukakan sebagai berikut: . Bahasa tidak hanya memiliki satu struktur logis saja melainkan segi penggunaannya dalam hidup manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang kehidupan.l. 1.par. 1983:23). Buku karya Wittgenstein tersebut berisi banyak thesis ban berbagai jenis pernyataan-pernyataan. ada yang telah dikembangkan lebih lanjut dan terdapat juga ungkapan-ungkpaan kapan yang masih orisinal.

di mana kita memakai kata.I. Oleh karena itu kehidupan sehari-hari itu bersifat kompleks yaitu meliputi berbagai macam bidang kehidupan maka penggunaan bahasa pun juga meliputi bermacammacam penggunaan dan bentuk kalimatnya pun juga meliputi bermacam-macam. par. 340). Orang tidak dapat menduga bagaimana sebuah kata itu berfungsi orang hanya harus melihat penggunaannya dan belajar dari padanya (P.I. . Istilah ‘language games’ (tata permainan bahasa) dipakai oleh Wittgenstein dalam arti bahawa menurut kenyataan penggunaannya. Mengarang suatu cerita. sehingga senantiasa muncul jenis-jenis bahasa baru yang sili berganti dan yang lama menjadi terlupakan. Melaporkan hasil pengujiand alam bentuk table dan diagram. Banyaknya jumlah senantiasa berkembang dantidak tetap. ‘makna’ itu dapat didefinisikan sebagai berikut: Bahwa makna sebuah kata itu adalah penggunaannya dalam bahasa (p. Berdasarkan pemikiran-pemikirannya Wittgenstein sebenarnya membuka suatu cakrawala dari dalam berfilsafat yaitu tidak lagi didasarkan kepada bahasa sehari-hari. menguraikan keadaan suatu benda atau menyebutkan ukurannya.yaitu bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari (ordinary language). bersendagurau. bahasa merupakan sebagaian dari suatu kegiatan atau merupakan suatu bentuk kehidupan. Melaporkan keadaan suatu peristiwa. ar. Filsafat sama sekali tidak boleh turut campur dalam penggunaan bahasa yang sesungguhnya. Jadi kita dapat melihat jamaknya atau majemuknya permainan bahasa itu dalam kehidupan sehari-hari.Dalam banyak kasus meskipun tidak semuanya. membuat lelucon. dan sebenarnya filsafat hanya dapat menguraikannya. menjawab teka teki. Menyusun dan membuktikan suatu hipotesis. 43). misalnya dalam contoh sebagai berikut: Memberikan perintah dan mentaatinya.

Setiap ragam permainan bahasa mengandung aturan permainan bahasa yang mencerminkan cirri atau corak khas dari permainan bahasa yang bersangkutan. Keanekaragaman dalam hidup manusia memerlukan bahasa yang digunakan dalam konteks-konteks tertentu.I. (apakah aturan ini untuk mencegah kita melakukan sesuatu tanpa suatupertimbangan yang pasti) (P. Oleh karena itu setiap konteks kehidupan manusia menggunakan bahasa tertentu yang memiliki aturan-aturan main tertentu. prg. barangkali kita tidak memahami aturan tersebut secara petunjuk yang menggariskan agar kita berpikir tiga kali (berpikir tiga langkah kedepan) sebelum menggerakkan buah catur. berdoa damasih banyak ragam bahasa lainya (P. Apakah kita dapa melanggar atuaran yang telah ditentukan di sini? Pelanggaran itu hanya menunjukkan bahawa kita tidak mengetahui petunjuk yang sebenarnya tentang aturan permainan itu . 23). maka tentu kita akan merasa kagum dan memahami tentang maksud dan tujuan suatu aturan. Bertanya dan berterima kasih. menterjemahkan bahasa dari bahasa ke bahasa lain. Analog dengan yang dikemukakan oleh Wittgenstein itu menunjukkan.I. Hal itu dilukiskan oleh Wittgenstein dalam bukunya melalui contoh sebuahpermainan catur sebagai berikut: Suatu permainan hendaklah berpedoman pada suatu aturan dalam suatu permainan catur manakala telah ditentukan bahwa “raja” memegang peranan yang sangat penting.567). prg. bahwa dalam berbagai macam permainan terdapat aturanaturan main tersendiri yang aturan tersebut harus ditaati dan harus . Oleh karena itu perhatian kita dalam masalah ini diarahkan untuk membandingkan keanekaragaman alat0alat dalam bahasa (dalam masalah ini adalah unsure-unsur bahasa) dan cara penggunaanya yang meliputi jenis-jenis dan kalimat. mengucapkan salah. Sebagaimana layaknya permainan amaka terdapat seperangkat aturan yang harus dipatuhi yang merupakan pedoman dalam penyelenggaraa permainan tersebut.memecahkan suatu soal hitungan secara praktis. maka ketentuan itu merupakan bagian yang esensial dalam permainant ersebut. Jikalau kita menjumpai penerapan aturan ini di atas papan catur.

Dalam pengertian inilah Wittgenstein menyadari akan kelemahan konsepnya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasanya yang pertama yang memiliki obsesi untuk membangun bahasa ideal yang terstruktur secara logis yang melukiskan susunan logis realitas dunia. Oleh karena itu mustahil bilamana kita menentukan suatu aturan permainan bahasa yang bersifat umum yang berlaku dalam berbagaimacam konteks kehidupan manusia. prg. sedangkan makna bahasa adalah tergantung penggunaannya dalam hidup” (P. Dalam ilmu bahasa memang kita memilikimakna leksikal akan tetapi tidak memilikimakna informasi hanya terbatas sebagai suatu symbol saja. . adapun makna kalimat adalah tergantung penggunaanya dalam bahasa. 23). Setiap bentuk permainan bahasa memiliki aturan permainan sendiri-sendiri yang tidak dapat dicampuradukkan dengan tata aturan (ragam) ilmiah misalnya. bola volley.merupakan pedoman dalam tata permainan.I. Dengan demikian kita sampailah pada suatu kesimpulan tentang penggunaan bahasa sebagai berikut: “Makna sebuah kata adalah tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. Kekacauan akan timbul manakala kita menerapkan aturan permainan bahasa yang satu ke dalam bentuk permainan bahasa lainnya. Demikian pula halnya dengan tata permainan bahasa. tenis dan lain sebagainya yang masing-masing juga memiliki aturan-aturan main sendiri-sendiri. Penggunaan bahasa dalam konteks ilmiah tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam santai. Demikian pula hal itu berlaku sebaliknya tata permainan dalam koneks bahasa santai tidak dapat dicampuradukkan dengan penggunaan bahasa dalam ragam ilmiah. memmiliki aturan permainan sendiri dalam arti ketentuanketentuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat ilmiah. sepak bola. sehingga sebenarnya terdapat kata yang maknanya tidak menunjukkan suatu realitas kehidupan misalnya kata :’kemudian’. Dalam pengertian ini dimaksudkan oleh Wittgenstein selain permainan catur masih terdapat banyak permainan-permainan lainnya antara lain. Sebab ragam santai memiliki atuaran tersendiri.

‘bilamana’. dan hal ini sebagai bentuk permainan bahasa dalam sebuah kemiripan keluarga” (P. Hal itu terjadi karena sesungguhnya kata atau ungkapan itu dihubungkan dalam banyakcara yang berbeda (P. dan lain sebagainya.I. yang sifatnya beranekaragaman dan tidak terbatas. ‘ajar’ dan banyak kata lainnya. 67).I. Sehubungan dengan permasalahan ini Wittgenstein menguraikan contoh ‘aneka kemiripan keluarga’ sebagai suatu analog sebagai berikut: “Saya kira tidak ada ungkapan yang lebih sesuai untuk menggambarkan sifat atau kalimat. yang dipergunakan dalam banyak cara selain ‘aneka kemiripan keluarga’. maka sebuah kata sangat tergantung penggunaannya dalam suatu kalimat. acapkali kita menjumpai kata atau ungkapan bahasa yang sama namun dipergunakan dalam pelbagai bidang kehidupan atau dipergunakan dalam pelbagai bentuk permainan bahasa. Oleh karena itu dalam hubungannya dengan segi pramatik bahasa yaitu penggunaan bahasa dalam hidup manusia. .‘atau’. Kehidupan manusia yang bersifat kompleks yang meliputi berbagai bidang dan meemiliki sifat dinamis dengan sendirinya memiliki beragaimacam aturan dan hal tersebut terlukiskan melalui bahasa. Aneka kemiripan di antara anggota-anggota keluarga itu terlihat pada bentuk sifat. Dalam pengertian inilah maka bahasa akan memiliki makna manakala mampu mencerminkan aturan-aturan yang terdapt dalam setiap konteks kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari. 65). Menurut Wittgenstein hal itu dapat saja terjadi yaitu bahasa menghasilkan hal yang bersifat umum. prg. warna mata. Namun demikian fenomena konteks kehidupan yang dilukiskan melalui bahasa tesebut bukanlah sesuatu pengertian yang bersifat umum. demikian pula makna sebuah kalimat pada hakikatnya sangat tergantung penggunaannya dalam bahasa (wacana) dan akhirnya makna bahasa itu sangat tergantung pada penggunaannya dalam hidup manusia. temperamenya. Walaupun nampaknya simpang siur namun terletak dalam jalur yang sama. sikap. prg.

‘engkau’. Namun kiranya akan menjadi berbeda misalnya kata ‘engkau’ digunakan dalam penuturan dengan seorang raja atau seorang pejabatn tinggi dalam suatu Negara. Hal ini banyak kita temukan pada kata-kata dieksis seperti ‘aku’. Penggunaan kata-kata tersebut sangat tergantung pada konteks dalam kehidupan manusia. ‘dia’ dan lain sebagainya. Demikian juga ungkapan sebagai kata perintah ‘bersiap’ bagi konteks penerapan dalam baris berbaris walaupun orng kedua dalam penuturan tersebut seorang presiden pada waktu upacara jari besar tertentu maka hal itu memiliki makna yang sopan dan lazim. Namun bilamana kata tersebt digunaakn dalam konteks formal misalnya di kediaman istana kepresidenan maka ungkapan tersebut menjadi bermakna lain bahkan akan dirasakan tidak sopan dan arogan. situasi maupun kondisinya. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab.Penggunaan kata atau kalimat yang sama dengan pelbagai cara yang berbeda bukanlah berarti memiliki makna yang sama melainkan memiliki dasar-dasar kemiripan yang sifatnya umum. Oleh karena itu meskipun mengandung suatu kemiripan yang bersifat umum namun maknanya yang sangat tergantung pada cara penggunaannya dan konsekuensinya juga sangat tergantung pada game atau aturan main dalam konteks penggunaan tersebut dalam kehidupan manusia. Walaupun secara struktur ungkapan kalimat atau kata memiliki kemiripan namun dalam penerapan dan penggunaan yang berbeda dan sangat tergantung kepada konteks kehidupan yang berkaitan dengan ragam bahasa tertentu. . Hal tesebut terjadi tidak lain karena aturan (game) yang berlaku berbeda. maka hal itu justru akan menimbulkan makna yang akrab dan kekeluargaan. Dalam kaitannya dengan etika bahasa misalnya kata ‘engkau’ yang digunakan dalam konteks penutur yang memiliki tingkatan yang sama atau misalnya sesame teman akraba. Jadi walaupun terdapat ungkapan yang sama namun maknanya tetap tergantung pad penggunaan dalam situasi atau konteks yang bersangkutan yang memiliki aturan masing-masing.

Namun demikian melalui konsep ‘tata permainan bahasa’ ia berupaya menunjukan berbagai macam kelemahan bahasa dalam filsafat. sehingga ia mengungkapkan persoalan timbul karena para filsuf yang menggunakan bahasa kurang tepat dalam mengungkapkan realitas melalui logika bahasa. Bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk maksudmaksud filsafat.’objeck’. Kritik Wittgenstein atas Bahasa Filsafat Kalau pada periode pertama Wittgenstein mengkritik bahasa filsafat yang dikatakannya bahwa penggunaan bahasa filsafat tidak memiliki struktur logis. etika dan cabang-cabang lainnya sebenarnya tidak mengungkapkan apa-apa. Hal itu dikemukakannya oleh Wittgenstein sebagai berikut: “Bilamana para filsuf menggunakan kata atau ungkapan misanya ‘knowledge’. maka seharusnya kita bertanya pad diri sendiri: apakah kata atau istilah itu telah dipergunakan sesuai dengan aturan permainan bahasa dalam konteks yang bersangkutan. Banyak ungkapanungkapan filsafat terutama ungkapan metafisis tidak melukiskan suatu realitas fakta dunia secara empiris. ‘name’. Dua hal yang dikemukakan oleh Wittgenstein berkaitan dengan bahasa filsafat tersebut yaitu: Pertama: kekacauan bahasa filsafat timbul karena penggunaan istilah atau ungkapan dalam bahasa filsafat yang tidak sesuai dengan aturan permainan bahasa. dan kemudian berupaya menjangkau tingkatan hakiakt segala sesuatu. filsafat nilai. Wittgenstein menyatakan bahwa persoalan-persoalan filsfat timbul karena terdapat kekacauan dalam penerapan ‘tata permainan bahasa’. sehingga bahasa filsafat terutama metafisika. estetika. “proposition’. namund alam kenyataannya banyak filsuf yang menggunakan bahasa tidak sesuai dengan aturan (game) yang ada. ‘I’.2. Oleh karena itu yang harus kita lakukan .

Atau dengan lain perkataan. yaitu suatu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang umum pada semua satuan-satuan kongkrit (entities) yang diletakkan di bawah istilah yang bersifat umum (Wittgenstein. 1964:198).l.P. Oleh karena itu Wittgenstein menganjurkan agar kita menghindari dan melewati penyamaran dari sesuatu yang tidak terpahami itu dengan menunjukkan bahwa hal itu sebenarnya nirarti belaka (P. (2) aspek metodis.l prg. Tugas Filsafat Bahasa filsafat yang memiliki berbagai kelemahan tersebut pada hakikatnya dapat diatasi manakala kita mengetahui dan menerapkan analisis bahasa dalam filsafat. yaitu cara berfilsafat yang seharusnya ditempuh yang hal itu meliputi aspek sebagai berikut: . Ketiga penyamaran atau pengertian terselubung melalui pengajuan istilah yang tidak dapat dipahami misalnya ‘keberadaan’. 116). ‘ketiadaan’. 464). kita mencari ‘kesatuan pengeritandalam keanekaragaman. Kelemahan filsafat yang demikian ini oleh Wittgenstein disebut dengan istilah “craving for Generality”. dan lains ebagainya. prg. kesamaan dalam perbedaan ketunggalan dalam kemajemukan (craing for unity) (Pitcher. yaitu dengan cara menghilangkan kekacauan-kekacauan yang terjadi dalam bahasa filsafat. 1972: dalam Mustansyir.: 87). dengan lain perkataan kelemahan bahasa filsafat dapat teratasi bilamana meletakkan tugas filsafat sebagai analisis bahasa. Untuk itu terdapat dua macam cara untuk melekatakan filsafat sebagai analisis yaitu : (1) aspek penyembuhan (therapheutics).sekarang adalah mengarahkan kembaliungkapan tersebut dari wilayah aturan metafisika kepada aturan penggunaan bahasa sehari-hari (. 1987. adanya kecenderungan untuk mencari pengertian yang bersifat umum dengan merangkum pelbagai gejala yang diperkirakan mencerminkan sifat keumumannya. 3. Kedua.

sehingga dalam pengertian ini bahasa sehari-hari merupakan dasr utama bagi upaya filsafat. Betapapun demikian . yaitu bukannya dengan melalui keterangan baru melainkan menyusun kembali apa yang telah kita ketahui. dan berdasarkan konsep analitika bahasanyayang mendasarkan pada aturan language games maka dapat dipastikan bahaw menurutnya ungkapanungkapan metafisis adalah bermakna dalam aturan dan konteks tata aturan bahasa dalam metafisika tersebut. Filsafat tidak turut campur dalam memberikan interpretasi. Namun dalam pemikirannyayang kedua ia memang tidak menolak metafisika.a) Dalam berfilsafat haruslah meletakkan landasanya pada pengunaan bahasa sehari-hari. c) Metode analisis bahasa harus diletakkan dalam posisi yang netral artinya tidak turut campur dalam memberikan interpretasi filosofis yaitu memberikan penafsiran tentang realitas. sehingga seakan-akan berada di dunia luar akan tetapi sebenarnya terperangkap dalam ruangan botol tersebut. dengan memperhatikan secara teliti aturan-aturan permainan bahasa. Namun satu hal yang menarik adalah bilamana ia dalam periode pertama dalam karyanya Tractatus. hanya memberikan atau memaparkan secara objektif. Oleh karena itu menurut Wittgenstein untuk mengatasi kekacauan tersebut haruslah melalui penampakan jalannya bahasa. ia menolak dengan radikal tentang ungkapan metafisika bahkan secara tegas menghilangkan metafisika namuns ecara filosofis konsepnya pun teatp mengandung suatu metafisika. sebab filsafat tidak dapat memberikan dasar apapun. yang diberatkan Wittgestein seperti seekor lalat yang terjebak dalam sebuah botol yang bening. Filsafat membiarkan segala sesuatu sesuai dengan apa adamnya (lihat Bakker. b) Upaya untuk keluar dari kemelut kekacauan filsafat yang diakibatkan oleh kekacauan penggunaan bahasa. 1984:130). Pada pemikirannya yang kedua ini ia meletakkan pluralitas bahasa dalam aspek pragmatisnya. Demikianlah pemikiran filsafat Wittgenstein periode yang kedua yang bertolak belakang dengan pemikirannyayang pertama.

Hal itu dikuatkan dengan konstatasinya bahawa tugas filsafat adalah memberikan sesuai dengan apa adanya dan tidak turut campur di dalamnya dan filsafat bukanlah sekumpulan ajaran atau dogma melainkan hanya memberikan analisis dan penjelasan saja. John Langshaw Austin dan Peter Strawson. dapat mengubah wajah filsafat’Inggris terutama yang berpusat di Oxpord dan Cambridge. bahkan meluas ke Eropa dan Amerika. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua pemikiran filsafatnya. Beberapa Filsuf Dari Oxford Corak baru pemikiran filsafat yang dirintis oleh Bertrand Russell. Tradisi di Oxpord sebenarnya memang cukup ketat sebab filsuf yang bukan professor dari universitas Oxpord lazimnya sangat sulit untuk mendapatkan tempat di Oxpord. Moore dan Wittgenstein.154). Filsuf-filsuf Oxpord tersebut lazimmnya juga mendapatkan pendidikan filsafat Yunani dan mereka kebanyakan juga memiliki latar belakang pendidikan filologi klasik dan linguistic sehingga tidak mengherankan kalau hal itu sangat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. . antara lain filsfu yang terkenal di Oxpord yaitu: Gibert Ryle. Sejak dikembangkannya filsafat bahasa biasa Ludwig Wittgenstein pengaruhnya cukup kuat pada perkembangan pemikiran filsafat di Inggris pada abad XX. Namun hampir dapat dikatakan bahwa semua filsuf oxpord kebanyakan meneruskan tradisi filsafat bahasa biasa. 2002:37. Akhirnya konsep Wittgenstein itu adalah merupakan karya besar yang mampu mengubah wajah filsafat di Eropa terutama di Inggris walaupun memiliki kelemahan mendasar (Kaelan. Namun demikian walaupun lambat akan tetapi pengaruh filsafat bahasa biasa Wittgenstein cukup kuat dan bahkan dikembangkan dengan berbagaimacam modifikasi. L.nampaknya dia tetap tidak mau menampakkan dasar metafisikanya dalam konsepnya yang kedua tersebut.

Gilbert Ryle Gilbert Ryle seorang filsuf Oxford yang memiliki reputasi filsafat yang cukup besar. Kekeliruan Kategori (Category Mistake) Karya Filsafat Ryle yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Concept of Mind” adalah merupakan karya yang . Melambungnya nama Ryle nampaknya mercusuar filsafat Inggris berpindah dari Cambridge ke Oxford. Ryle tidak mendasarkan pada struktur logika bahasa melainkan ia memperhatikan dan menganalisis penggunaan bahasa sehari-hari berdasarkan prinsip-prinsip logika. namun demikian Nampak unsure logika juga mempengaruhi pemikirannya. yang antara lain ia membahas dan menganalisis berbagai macam penggunaan bahasa sehari-hari terutama dalam filsafat yang sering terjadi kekeliruan kategori atau dikenal dengan istilah ‘category mistake’. Pemikiran filsafat Ryle mendasarkan pada filsafat bahasa biasa (ordinary language philosophy). yaitu sering terjadi dalam penggunaan bahasa sehari-hari menyalahi prinsip-prinsip logika. Berdasarkan pemikiran filsafatnya itu terdapat suatu kemungkinan ia memadukan prinsip atomisme logis dengan filsafat bahasa biasa melalui suatu analisis bahasa. Ryle yang pernah mendapat pendidikan bahasa terutama filologi klasik pada tahun 1945 menjadi Profesor di Oxford dan pada tahun 1947 ia menggantikan Moore sebagai pimpinan majalah “Mind” sampai tahun 1971. a. Hal ini Nampak pada bukunya yang paling popular yaitu “The Concept of Mind”. sedangkan prinsip analisisnya menunjukkan garis lurus pada prinsip analsisis Moore Ryle memang mendasarkan pada prinsip filsafat bahasa biasa. Memang terdapat suatu perbedaan dengan atomisme logis yang mendasarkan pada bahasa ideal dengan struktur logis yang menggambarkan struktur logis realitas duni.1. Warna filsafat Ryle Nampak adanya pengaruh dari pemikiran Ludwig Wittgenstein dalam hal titik tolaknya pada bahasa biasa.

terpenting di Inggris dalam periode setelah perang dunia kedua. Dalam karyanyaini ia membahas tentang konsep-konsep yang menyangkut hidup psikis, seperti misalnya pencerapan, persepsi, fantasi, pengingatan, pemikiran, pengertian, kehendak, motif dan lain sebagainya. Dalam pemakaian bahasa sehari-hari Ryle menganalisisnya secara terinci dan mendalam, dan dengan demikian banyak ditemukan kekacauan dan kekeliruan dalam filsafat dan pada akhirnya dapat segera dilakukan pembenaran-pembenaran serta kesalahan dapat disingkirkan. Menurut Ryle pokok yang sering terjadi dalam filsafat adalah kekeliruan mengenai kategori (category mistake). Kekeliruan terjadi dalam penggunaan bahasa dalam melukiskan fakta-fakta yang termasuk kategori satu dengan menggunakan cirri-ciri logis yang menandakan kategori lain (Bertens, 1981:54). Misalnya seorang anak yang pergi ke kebun binatang dan melihat singa, harimau, gajah, kijang dan banteng, kemudian ia mengatakan bahwa berikutnya ia inginmelihat binatang menyusui. Penggunaan bahasa ini adalah merupakan suatu kekeliruan kategori (category mistake) sebab binatang-binatang menyusui tidak berada di samping singa, harimau, gajah, kijang dan banteng yang pernah dilihatnya. Menurut Ryle dalam filsafat penggunaan bahasa sehari-hari sering juga terjadi kekeliruankategori sehingga persoalan-persoalan filsafat seringkali timbul karena kekeliruan tersebut. Analisis tentang penggunaan bahasa sehari-hari dalam filsafat dilakukan Ryle antara lain terhadap konsep Descartes. Menurut Ryle filsafat Descartes tentang manusia bertumpu pada suatu category mistake. Pandangan Descartes tentang manusia mendasarkan pada pandangan yang dualistic yaitu dua substansi yang berbeda yang meliputi roh atau substansi berpikir (res cogitans) dan materi atau substansi yang meluas yang disebut (res extensa). Manusia mengenal dirinya sendiri sebagai makhluk yang berpikir (cogito) yang tidak bersifat kebendaan jadi merupakan suatu substansi yang ekkal, dan juga mengenal dirinya sebagai suatu

kesadaran. Di lain pihak terdapat substansi yang kedua, yaitu yang tidak berpikir yang bersifat kejasmanian yang bersifat lapang dan meluas. Perubahan yang terjadi pada dunia jasmani ini dapat diterangkan atas dasar-dasar kausal mekanis yang murni. Dunia keluasan inilah dipandangnya sebagai dunia mesin yang memiliki sifat-sifat mekanis. Hal yang memiliki sifat yang demikian ini termasuk juga binatang yang pada hakikatnya tidak memiliki kesadaran danmemiliki system yang otomatis mekanis dan tidak memiliki roh atau jiwa. Realitas tentang manusia yang demikian ini menurut Ryle merpakan dua unsure yangmemiliki corak logis atau kategori yang berbeda, dan sangat janggal bilamana merpakan suatu kesatuan yang harmonis. Dalam hubunganini Ryle mengungkapkan sebagai “the myth of the ghost in the machine”, sebagai suatumitos tentang hantu dalam sebuah mesin (Ryle, 1983:23). Filsafat Ryle ini merupakan suatu kritik yang sangat tajam pada konsep Rene Descartes, yang pada saat itu lazimnya merupakan dasar tumpuan dari konsep manusia. Secara ontologism konsep Descartes tersebut bahwa manusia mempunyai jiwa atau raoh dan dengan cara yang sama dia juga memiliki tubuh atau raga. Roh atau jiwa itu secara logis dapat dibandingkan dengan tubuh pada hal dalam kenyataannya memiliki eksistensi yang berbeda dan tidak terbuka bagi orang lain dan hanya dikenal melalui introspeksi. Para filsuf mengakui bahwa intelegensi manusia misalnya merupakan suatu hal yang dikuasai oleh hukum-hukum yang lain. Namun mereka keliru dalam mengandaikan melalui bahasa bahwa kata ‘intelegensi’ itu menunjuk kepada suatu hal, pada hal fungsi intelegensi menurut Ryle hanyalah melukiskan tingkah laku seseorang. Dengan maksud memperlihatkan secara kongkret bagaimana para filsuf mencampuradukkan kategori-kategori yang berlainan. Ryle membedakan pelbagai jenis kata, misalnya menurutnya perlu dibedakan kata-kata yang menunjuk pada suatu disposisi (mengerti bahasa perancis misalnya) misalnya dengan kata-

kata yang menunjuk pada suatu peristiwa (mendengarkan siaran radio berbahasa perancis). Suatu ungkapan ‘ia tidak merokok’ misalnya dapat dipakai dalam dua arti tadi yaitu untuk menunjukan suatu disposisi bahwa (ia sudah biasa tidak merokok) atau untuk menunjuk suatu kejadian kongkrit (ia sekarang tidak merokok). Dalam masalah ini penggunaan bahasa sehari-hari oleh para filsuf sering terjadi makna yang satu berpindah kepada makna yang lainnya (kedua). Analisis yang diungkapkan oleh Ryle adalah perbedaan antara task verb dengan achievement verb, yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu tugas dan kata kerja yang mengacu pada suatu hasil. Dua kata kerja ini sering digabung sebagai pasangan. Kalau demikian maka suatu aktivitas yang sama diucapkan dengan cara yang berlainan oleh dua jenis kata kerja itu, jadi kita tidak perlu mengandaikan dua aktivitas. Beberapa contoh kata misalnya ‘mencari’, ‘mendapatkan’, ‘mendengarkan’, ‘mendengar’, ‘menengok’, ‘melihat’. Contoh yang lain misalnya bilaman seseorang mengungkapkan bahwa ‘seorang atlit lari seratus meter dan menang’. Dalam hal ini kita menggunakan dua macam istilah yaitu ‘lari’ sebagai suatu task verb, adapun ‘menang’ adalah sebagai achievement verb. Hal ini perlu disadari bahwa achievement verb itu tidaklah menunjukan suatu akvititas di samping ‘lari’ tetapi suatu hasil yang diperoleh dari lari. Atlit itu tidak berbuat dua hal, pertama ‘lari’ dan kedua ‘menang’, melainkan ia hanya melakukan satu hal saja yaitu lari sekuat tenaga dan menang. Dengan analisis-analisis serupa itu Ryle mengkritik dengan keras dualism sebagaimana konsep Rene Descartes dan berupaya menghindari monism materialistis tentang manusia. Kata-kata psikis tidak menunjuk pada suatu taraf hidup yang tersembunyi bagi pihak lain. Namum kepada suatu tingkah laku yang dapat diamati oleh setiap orang, tetapi hal itu tidak berarti bahwa filsafat Ryle sendiri luput dari segala kesulitan terbesar bagi Ruyle, yaitu bahwa ia

terjebak

pada

behaviorisme,

meski

ia

berupaya

untuk

menghindarinya (Bertens, 1981:56).

b. Bahasa Biasa (The Ordinary Language)

Filsafat bahasa biasa yang mendasarkan pada suatu konsep bahwa masalah-masalah filsafat dapat diselesaikan dan dijelaskan melalui analisis bahasa. Mereka lazimnya mendasarkan bahwa bahasa biasa, yaitu bahasa sehari-hari pada hakikatnya telah cukup untuk melakukan analisis filsafat. Namund emikian perkembangan konsep filsafat bahasa biasa sampai pada priode Ryle belum pernah ada filsuf yang berupaya untuk mendeskripsikan tentang penggunaan bahasa biasa beserta pembedaan-pembedaannya, dan dalam kesempatan inilah Ryle berupaya untuk mengungkapkan penggunaan bahasa biasa. Menurut Ryle perlu dibedakan antara ‘penggunaan dari bahasa biasa’ (the use of ordinary language) dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage), dan antara ‘penggunaanyang baisa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression). Bilamana kita membahas penggunaan bahasa biasa maka perlu diperjelas pengertian ‘luar biasa’, ‘esoteris’, ‘teknis’, ‘puitis’, ‘notasional’, atau bahkan dimaksudkan ‘bahasa kuno’. Pengertian ‘biasa’ (ordinary) dapat berarti ‘umum (common) atau yang sedang belangsung (current), bahas pergaulan sehari-hari (colloquial), atau bahasa harian, bahasa yang sederhana (vernaculler), bahasa alamiah (natural language) dan hal inilah yang harus dijernihkan dalam penggunaan bahasa. Filsafat bahasa biasa menurut yang Ryle pada dari hakikatnya atau

memperhatikan

penggunaan

biasa

bahasa,

penggunaan bahas yang baku, yang standard dan bukannya

penggunan bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari (colloquial language). Oleh karena itu tugas filsafat adalah berkaitan dengan analisis penggunaan yang biasa dari ungkapan-ungkapan tertentu dan bukannya menganalisis bahasa yang digunakan dalam kehidupans ehari-hari. Tujuan dilakukannya analisis bahasa yang baku atau yang standard dalam penggunaan ungkapan-ungkapan dalam filsafat adalah untuk mendapatkan suatu kejelasan yang memadai bagi pengalaman bahasa-bahasa yang baku atau yang standard tersebut (Charlesworth, 1959:180). Hal ini dalam wacana filsafat sering kita jumpai misalnya penggunaan istilah ‘kebenaran’ ‘keadilan, ‘keberadaan’, ‘wajib’, ‘keindahan’ dan banyak istilah-istilah lainnya. Istilah-istilah ini sering kita jumpai dalam bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Namun demikian pengertian serta makna yang terkandung di dalamnya jelas memiliki perbedaan. Oleh karena itu penyimpangan penggunaan yang terjadi dalam ungkapan-ungkapan filsfat itulah yang perlu mendapatkan suat penjelasan yang memadai, dan manakala makna penggunaan ungkapan-ungkapan tersebut telah disepakai dan dianggap baku dalam filsafat maka persoalan inilah yang mendapat perhatian dalam filsafat bahasa biasa. Ryle berpendapat bahwa banyak diskusi filsafat itu berkaitan dengan persoalan yang menyangkut tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’. Dalam pengertian ini persoalan filsafat bahasa biasa berkenaan dengan penggunaan kata, ungkapanatau istilah yang memang bersifat ‘esoteris’ (khusus). Dalam berbagai macam ilmu pengetahuan banyak dijumpai istilah-istilah yang bersifat teknis dan khusus, misalnya dalam ilmu social, politik, hukum biologi, fisika, matematika, teologia, psikologi, ekonomi, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Ungkapan-ungkapan yang diguakan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan itu harus dianalisis dengan menggunakan bahasa biasa untuk mendapatkan suatupengertian yang memag bersifat teknis atau khusus. Upaya analisis tersebut untuk memperjelas (to eculidate) penggunaan yang biasa (standard)

“ia berada di luar rumah tetapi duduk di kamar tengah’. Ungkapan atau istilah ‘permintaan’ dalam suatu hukum ‘penawaran-permintaan’ dalam ilmu ekonomi memiliki makna yang berbeda dengan pengertian istilah permintaand alam bahasa sehari-hari. Penggunaan (use) itu adalah suatu metode atau cara. Penggunaan ungkapan itu dapat sah atau tidak sah secara logis (yaitu harus sesuai dengan hukum logika). Misalnya dalam ilmu hukum istilah ‘wajib’ memiliki penekanan yang berbeda dengan pengertian ‘wajib’ dalam bahasa sehari-hari. dan banyak istilah lain yang tidak sesuai dengan hukum-hukum logika. yang standard.dari artian-artian atau istilah-istilah teknis yang sebenarnya cukup biasa dalam ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Satu hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ungkapan adalah aturan-aturanlogika (rules of logic). namun ‘wajib’ dalam pengertian seharihari dapat diartikan keharusan moral. Filsafat bahasa biasa itu berkenaan dengan penggunaan yang biasa. penuh arti atau nirarti.mungkina tau tidak mungkin. Proses analisis ungkapan dalam filsafat bahasa biasa harus memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam penggunaan ungkapan. Dalam hal ini yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan adalah kata ‘penggunaan’ dan bukannya perkataan biasa atau ungkapan. yaitu sebuah teknik untuk melakukan sesuatu. Dalam masalah ini analisis filsafati itu berkenaan dengan ‘penggunaan yang biasa. Istilah ‘wajib dalam ilmu hukum dapat berarti memiliki daya imperative (memaksa). Misalnya suatu ungkapan ‘Amin lebih tua dari bapaknya’. yang dianggap umumd ari suatu ungkapan’ dalam suatu bidang ilmu pengetahuan tertentu (Poerwowidagdo:11). yang baku dan yang benar. yang standar atau yang baku. . Hal ini berlawanan dengan penyalahgunaan dan bukannya berkaitan dengan penggunaan yang dilawankan dengan ketidakbergunaan dari ungkapan-ungkapan.

dianggap sama pentingnya dengan menamakan konsep itu dengan ‘linguistic . yang berarti unsure bahasa (what). yang benar atau yang biasa.Pemikiran Ryle ini memang memiliki cirri khas dibandingkan dengan konsep Moore maupun Wittgenstein. akan tetapi Ryle brpendapat bahawa analisis filsafat bahasa biasa itu bukannya berkaitan dengan bahasa sehariahari melainkan dengan analisis bahasa yang baku. Filsuf yang juga sebgai professor di univesitas Oxford tersebut namkan meneruskan garis pemikiran filsafat bahasa biasa Wittgenstein. Bahkan menurutnya tidak jarang masalah-masalah filosofis akan Nampak dalam bentuk yang baru jikalau didekati dengan menggunakan unsure-unsur yang terkandung dalam bahasa sehari-hari. Namun demikian nampaknya Austin sebagai salah satu filsuf yang memiliki perhatian yang sangat kuat terhadap bahasa biasa dalam arti penggunaanya dalam pergaulan hidup sehari-hari. Austin selalu menekankan bahwa penggunaan bahasa tidak dapat dilepaskan dengan situasi kongkrit di mana ungkapan-ungkapan kita kemukakan dan dari fenomena-fenomena yang berkaitan dengan penggunaan bahasa tersebut. John Langshaw Austin Austin adalah seorang filsuf yang menaruh minat tehadap filsafat bahasa biasa. yang standard. Ungkapan yang sering dilontarkan Austin adalah ‘what to say when’. kalau Wittgenstein mendasarkan analisisnya pada bahasa biasa atau bahasa sehari-hari dalam filsafat bahasa biasanya. Ia memang menggunakan prinsip-prinsip analisis istilah-istilah dalam filsafat terutama yang digunakan filsuf-filsuf lain namun ia mendasarkan pada prinsip-prinsip logika. Ryle juga mendasarkan pada bahasa biasa dalam konsep filsafat analitika bahasanya sebagaimana dilakukan oleh Wittgenstein. 2. Menurut Austin kita akanmendapatkan pelajaran yang sangat banyak dari perhatian kita terhadap bahasa sehari=-hari yang digunakan dalam pergaulan hidup.

dan ‘penggunaan bahasa yang biasa’ (the ordinary linguistic usage). sebab nama itu dinyatakan percobaannya untuk menjelaskan fenomena-fenomena dengan melalui penyelidikan bahasa. sehingga ia memiliki cirri khas dibandingkan dengan Wittgenstein dan Gilbert Ryle. Namun Austin dalam pemikiran filsafat bahasa biasanya ia menaruh perhatian dan menekuni tentang pembedaan jenis-jenis ucapan dan pembedaan tentang (speech acts) tindakantindakan bahasa). Wittgenstein mendasarkan pada makna bahasa sehari-hari dalam kaitannya dengan konteks penggunaannya dalam berbagai bidang kehiudpan sehingga dikembangkannya dalam teorinya yang dikenal dengan (language games). Karya yang paling popular adalah ‘Philosophical Papers’ yang ditulis tahun 1961. dan karyayang berupa buku yaitu . Ryle lebih menekankan pada aspek pragmatis dalam kaitannya dengan aturan0aturan logika. yaitu pembedaan istilah ‘penggunaan bahas ayang biasa’ (the use of ordinary language). Ia juga membedakan dan memperjelas filsafat bahasa biasa. Sebagai seorang filsuf bahasa biasa Austinmemiliki perhatian yang khas terhadap penggunaan bahasa biasa. How to Do Things with Words’ yang ditulis tahun 1962. Pembedaan Ucapan Bahasa Sumbangan Austin yang termasyur dalam filsafat bahasa yaitu pembedaan ‘ucapan performatif’ (performative utterance) dan .phenomenology’. yang memuat berbagai macam paper merupakan kumpulan-kumpulan bahan kuliah yang diberikan di universitas Oxford. sehingga Ryle sering menemukan persoalan filsafat timbul karena kekacauan dalam penggunaan bahasa yang melanggar norma logika atau yang tidak sesuai dengan kategori logika. yang dikenal dengan (category mistake). 1. demikian juga tentang ‘penggunaan yang biasa dari ungkapan’ (the ordinary use of the expression).

ang menyatakan sesuatu atau terdapat sesuatu yang dikonstatir dalam ucapan tersebut. yang nampaknya memiliki kemiripan dengan ungkapan proposisi sebagaimana dikemukkaan oleh kaum atomisme logis. Pembedaan tentang macam ucapan-ucapan tersebut dikemukakan secara rinci oleh Austin sebagai berikut : Ucapan Konstatif (Constative Utterance) Bahasa yang digunakan manusia dalam komunikasi dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai macam ucapan yang memiliki konsekusensi dalam penggunaannya. namun Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstratif itu berdasarkan . Selain itu pembedaan itu memang tidak bersifat mutlak karena pada situasi tertentu seringkali kedua macam ucapan itu memiliki kesamaan. Dalam pengertian ini ucapan konstatif memang memiliki konsekuensi untuk ditentukan benar atau salah.‘ucapan konstatif (constative utterances.). Kedua ucapan tersebut tidak hanya berbeda dalam ucapannya namun memiliki perbedaan juga dalam hal situasi serta persyaratan yang harus dipenuhinya. Perbedaan tersebut mengandung konsekuensi bagi penuturannya baik penurut 1 maupun 2. Namun demikian terdapat perbedaan karena konsep Austin walupun cucapan konstatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh si pendengar umum Austin tidak melukiskan fakta melalui ucapan konstatif itu berdasarkan atas konsekuensi ucapan dengan kata yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan konstatif itu terdapat perbedaan karena konsep Austin walaupun ucapan kosntatif itu dapat dibuktikan benar atau salahnya oleh pendengat. Ucapan ‘konstatif’ adalah salah satu jenis ucapan bahasa yang melukiskan suatu keadaan factual. sebelum Austin kebanyak filsuf hanya ditentukan atas dasar formulasi bahas tertentu misalnya menurut atomisme lgis atau filsafat bahasa biasa Wittgenstein. Pemikiran Austin ini merupakan suatu kontribusi yang sangat berharga bagi pengembangan aspek pragmatic pada studi bahasa yang Nampak pada akhir-kakhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan linguis.

Menurut Austin bahwa filsafat bahasa biasa tidak dapat dibatasi dengan penentuan bahasa yang bermakna atau tidak bermakna berdasarkan formulasi logika belaka sebagaimana dilakukan oleh kaum atomisme logis atau sebaliknya. Hal itu dapat dibuktikan benar atau salahnya berdasarkan fakta atau kejadian itu sendiri. Contoh-contoh kalimat tersebut termasuk ucapan yang bersifat konstatif. artinya apakah fakta yang dilukiskan tersebut benar-benar terjadi pada waktu yang telah lalu. kita tidak dapat hanya menentukan bermakna atau tidak bermaknanya suatu ungkapan itu hanya tergantung pada penggunaannya tanpa ditentukan benar atau salahnya ungkapan tersebut berdasarkan pada fakta atau peristiwa pada waktu yang lampau.formulasi logika. Untuk memahami macam ucapan tersebut dapat kita analisis contoh berikut: 1) Undang-Undang Dasar 1945 disyahkan tanggal 18 Agustus 1945 2) Di kebun binatang Gembira Loka ada seekor gajah yang sedang beranak 3) Perekonomian Indonesia mengalami goncangan karena jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar A.S. Oleh karena itu menurut Austin bahwa ucapan konstatif itu isinya mengandung acuan kejadian atau fakta historis yaitu kejadian masa lampau yang merupakanperistiwa nyata atau benar-benar terjadi (lihat Austin. Benar atau salah dari ucapan konstatif itu didasarkan atas konsekuensi ucapan dengan fakta yang terjadi yang dilukiskan melalui ucapan tersebut (lihat Austin. Untuk membuktikan kebenaranya dapat dilakukan misalnya dengan menyelidiki atau membuktikannya. 1962:6). 1962:3). Selain itu peristiwa atau fakta yang dimaksudkan Austin bukanlah sebagai fakta menurut atomisme logis . yaitu ucapan yang melukiskan suatu fakta atau kejadian pada waktu yang telahlampau. 4) BAnyak tenaga kerja wanita Indonesia terlantar dan bermasalah di Arab Saudi.

Oleh karena itu problema-problema filsafati seringakli muncul karena penggunaan bahasa sehari-hari yang sangat dibatasi penggunaanya terutama konsekuensi atas ungkapan-ungkapan tersebut baik bagi penutur maupun pendengar tuturan bahasa. Oleh karena itu Austin menamakan ucapan semacam itu sebagai ucapan “performatif (performative utterance). Ucapan performatif tidak dapat ditentukan benar dan salah berdasarkan peristiwa atau fakta yang telah lampau. Fakta dalam pengertian ini menurut Austin bahwa suatu ungkapan itu benar-benar menunjuk pada suatu kejadian atau peristiwa yang telahlalu yaitu peristiwa yang terjadi sebelum ungkapantersebut diucapkan. Dengan suatu ucapan performatif seseorang bukanya memberitahukan suatuperistiwa atau kejadian. Ucapan Performatif (Performative Utterance) Menurut Austin selain ucapan konstatif terdapat juga jenis ucapan yang disebut ucapan performatif. Beberapa contoh ucapan performatif dapat diamati pada contoh kalimat berikut : 1) Saya menunjuk saudaara sebagai ketua panitia ujian Negara kelompok ilmu ekonomi . melainkan dengan mengucapkan kalimat itu seseorang sungguh-sungguh berbuat sesuatu misalnya mengadakan suatuperjanjian.menunjukkan realitas dunia. Pada hal menurut Austin selain ucapan yang dikategorikan ucapan konstatif yang mengungkapkan suatu peristiwa atau kejadian pada waktu yang telah lalu terdpat juga ucapan formatif. melaikan suatu ucapan yang memiliki konsekuensi perubuatan bagi penuturannya. 1981:59). Dalam pengertian inilah bahwa ucapan konstattif itu memiliki acuan historis yang mengacu pada suat peristiwa. yang berdasarkan pada kata di dalam bahasa Inggris ‘to perform’ dan ‘performance’ (Bertens.

Menurut Austin ucapan-ucapan performatif tersebut memiliki syaratsyarat sebagai berikut : 1) Suatu ucapan performatif pasti tidak sah jikalau diucapkan oleh seseorang yang tidak memiliki kompetensi dengan masalah ini atau suatu keadaan yang tidak memenuhi syarat atau tidak mengizinkan ucapan itu. 3) Akhirnya suatu ucapan performtif juga tidak sah manakala orang yang bersangkutan menyimpang dari apa yang diucapkannya. . Ucapan-ucapan tersebut juga bukan berkaitan dengan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan yang diucapkannya oleh seseorang. 1981:59). Misalnya ungkapan ‘saya mengangkat tidak menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada’ adalah tidak layak bilamana diucapkanoleh seoran gmahasiswa kewenangan untuk mengucapkan ungkapant ersebut.2) Aku berjanji akanmemberi hadiah kepada saudara. Misalnya saya menunjuk saudara untuk menggantikan kedudukan saya sebagai sekretars organisasi kita. Misalnya seseorangyang berjanji akan tetapi tidak mau menepatinya. jika saya naik pangkat. 2) Suatu ucapan performatif juga tidak sah jikalau seseorang yang mengucapkan kalimat tersebut tidak bonafide atau tidak bersikap jujur. 3) Saya mengangkat saudara menjadi Dekan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Ucapan-ucapan semacam itu tidak dibuktikan benar atau salahnya baik berdasarkan logika maupun fakta yang terjadi melainkan berkaitan dengan layak atau tidak layak diucapkanoleh seseorang (Austin. akan tetapi orang yang bersangkutan masih tetap menduduki jabatansekretaris. melainkan suatu ucapan performatif akan tidak layak diucapkan manakala seseorang tersebut tidak memiliki kewenangan dalan mengucapkannya. 1962:54). sehingga ucapan tersebut tidak konsekuen (Bertens.

2. Sesuatu yang menarik perhatian karya Austin adlah’speech acts’. Ketiga syarat dan keempat cirri ucapan tersebut sangat menentukan kelayakanatau ketidaklayakan suatu ucapan performatif. Oleh karena itu ucapan performatif itu hanya bisa mengalami suatu kegagalankegagalan (infelicities). Dari empat cirri tersebut satu cirri yang sangat menentukan ucapan performatif yaitu orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tertentu serta terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut. 1962:54). Layak atau tidak layak. wajar atau tidak wajar (Austin. Sesuatu yang menarik karya Austin adalah kemiripan pemikirannya dengan pemikiran Wittgenstein yang . 1962:56-57). Berdasarkan cirri-cirinya ucapan performatif itu menurut Austin memiliki cirri-ciri sebagai berikut : 1) Diucapkannya oleh orang pertama (penutur pertama) 2) Orang yang mengucapkan hadir dalam situasi tersebut 3) Bersifat indikatif (mengandung pernyataan tertentu) 4) Orang yang menyatakan terlibat secara aktif dengan isi pernyataan tersebut (Austin. Bilaman kita analisis syarat dan cirri-ciri ucapan perfomatif sangat berkaitan dengan keterlibatan si penutur dalam hubungandengan ucapan tersebut. Tindakan Bahasa (Speech Acts) Dalam karyanya “How to do Things with Words’ Austin juga berupaya untuk merinci macam-macam ucapan bahasa dalam kaitannya dengantindakan dalam mengucapkannya atau yang dikenal dengan ‘speech acts’.Perlu diperhatikan bahwa tiga isyarat yang berlaku bagi uccapan performatif tidak mengakibatkan suatu ucapan itu salah karena ucapan performatif itu tidak berkaitan dengan kualifikasi benar atau salah melainkan happy atau unhappy.

dan jenis tindakan bahas ayang terakhir adalah (3) perlocutionary acts. (2) illocutionasy acts. yaitu merupakan suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu. dan menghubungkannya dengan sesuatu yang . Menurut Austin tindakan bahasa dibedakan atas tiga macam yaitu (1) locutionary acts. yaitu suatu tindakan bahasa untuk mengatakan sesuatu. Perhatian kita dalam tindakan bahasa lainnya. Tindakan Lokasi (Locutionary Acts) Jenis tindakan bahasa lokusi ini menurut Austin sifatnya lebih umum artinya suatu tindakan bahasa untuk menyampaikan sesuatu. yaitu suatu tindakan untuk menyampaikan suatu makna tertentu.reaksi. Salah satu kelebihan filsafat Austin adalah mampu mengolah filsafat bahasa biasa dalam suatu perspektif yang bersifat menyeluruh. pikiran atau tindakan bagi yang mendengar atau orang kedua yang diajak berbicara. yaitu tindakan bicara si penutur dikaitkan dengan sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturannya. Memang bilamana kita perhatikan detail-detail metode kedua filsuf itu memiliki kemiripan. Tindakan lokusi dimaksudkan untuk mengatakan sesuatu secara jelas.kedua yaitu filsafat bahas biasa. yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan suatu efek. namun justru Austin termasuk filsuf Inggris yang berhasil merinci penggunaan bahasa biasa sebagaimana ditekankan oleh Wittgenstein. “in saying’ dengan menggunakan suatu daya tertentu yang membuat si penutur bertindak atau berlaku karena yang diucapkannya. Menurut Austin bahwa dalam filsafat bahasa biasa tidak hanya terbatas pada analisis makna bahasa biasa saja melainkan juga menganalisis macam-macam ungkapan atau ucapan dalam kaitannya dengan tindakan si penutur bahasa.

(1) Phonetic act Bahasa pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dengan unsure empiris yaitu yang berupa bunyi bahasa. Oleh karena itu ‘tindakan ponetik’ yaitu suatu tindakan bahasa dengan mengucapkan bunyi tertentu sehingga memiliki makna leksikal (yaitu makna bahasa yang terkandung dalam kosakata). misalnya memberitahukan tentang sesuatu kejadian atau peristiwa tertentu.hal ini berarti melalui ucapan tersebut mengarah dan mengacu pada orang ketiga. Konsekuensinya ketiga bahasa tersebut harus termanifestasi agar tindakan bahasa lokusi dapat berhasil dengan baik. “ia mengatakan. misalnya : ‘ada seekor kucing di kebun’. Jadi tindakan bahasa lokusi yaitu tindakanbahasa untuk mengatakan sesuatu. 1962:95). Austin menggolongkan “locutionary acts’ menjadi tiga macam tindakan bahasa yaitu: (1) ‘phonetic act’. pukulah saya!”. Oleh karena itu dalam suatu tindakan bahasa pasti dilakukan melalui tindakan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. (2) ‘phatic act’. Tiga tindakan bahasa tersebut merupakan semacam sub kelas dari tindakan lokusi. 1962:94). dan (3) ‘hretic act’ (Austin. Jadi sesuatu yang diutamakan dalam isi tuturan yang diucapkan itu dimaksudkan untukmemperjelas tindakan bahasa yang dilakukan itu sendiri. (2) Phatic act . Melalui ucapan lokusi ini tidak menuntut tanggung jawab si penutur untuk melaksanakan isi tuturannya.diutamakan (Austin. Tindakan lokusi ini tidak mengandaikan situasi si penutur untuk melaksanakanisi tuturannya itu dan lebih menonjolkan gaya bahasa si penutur dalam mengungkapkan sesuatu.

“Apakah temanmu ada di rumah?”.Tindakan bahasa ‘patic’ adalah merupakan suatu sub klas dari tindakan bahasa lokusi. Berdasarkan contoh-contoh sebagimana kitalihat di atas maka dapat disimpulkan bahwa ‘phatic act’ merupakan suatu kalimat langsung. “pergi”. yaitu berupa pengucapan kosakata tertentu. adapun ‘rhatic act’ merupakan suatu kalimat yang tidak langsung (reported speech). Dia berkata bahwa apakah temanku ada dirumah. Dia berkata bahwa dia menyuruhku pergi. karena intonasi juga makna bahasa. berarti menurut suatu kaidah tertentu sehingga memiliki makna tertentu dan oleh karena itu dituturkan melalui bunyi. Dia berkata. Dengan tersusunnya kosa kata tersebut dalam suatu system tata bahasa. Misalnya pada contoh kalimat berikut: Dia berkata bahwa dia akan tidur di kamar. Dia berkata bahwa tikus itu ada di dapur. “Saya akan tidur di kamar. (3)Rhetic act Tindakan bahasa ‘rhetic’ adalah penampilan suatu tindakan bahasa dengan menggunakan kosa kata tertentu yang ada pada ‘phatic act’. dengan acuan dan pengertian yang sudah pasti. Tindakan bahasa patic sebagaimana Nampak dalam contohcontoh tersebut merupakan suatu penampilan bunyi bahasa dalam suatu system kosa kata yang tersusun dalam suatu tata bahasa.” Tikus itu ada didapur”. Misalnya jenis-jenis bunyi tertentu yang membentuk suatu bahasa tertnetu.” Dia berkata. . contoh sebagai berikut: Dia berkata. Dia berkata.

. Seseorang tidak mungkin menuturkan kata-kata tanpa suatu pengertian. Austin lebih lanjut menambahkan bahwa dalam ‘rhetic act’. dalam hal ini intonasi harus diperhatikan juga karena dalam bahas lisan intonasi memiliki suatu makna tertentu. Menurut Austin kita tidak dapat menampilkan suatu ‘rhetic act. tetapi bukan sebaliknya. tetapi tidak sebaliknya (Austin. ‘menamai’ dan ‘menunjuk’) itu sendiri adalah tindakan penghubung yang terjadi dalam menampilan ‘rhetic act’. Maka dapat disimpulkan bahwa kita dapat menampilkan suatu ‘phatic act’ yang bukan merupakan suatu ‘rhetic act’. 1962:97. dan ‘reference’ (misalnya. Tindakan Illokusi (Illocutionary Act) Menurut Austin tindakan bahasa illokusi yaitu suatu penampilan tindakan bahasa dalam mengatakan sesautu. ‘sense’. dan tidak dipenuhinya dengan benar kaidah dalam tata bahasa maka suatu tindakan bahasa itu dapat terjadi bersifat tidak bermakna.kaerna jikalau seekor binatang mengeluarkan suara maka suara tersebut bukanlah suatu ‘phatic act’. Dalam pengertian ‘phatic act’ harus digunakan dua hal yaitu kosakata dan tata bahasa. ‘phatic act’ sebagaimana ‘phonetic act’ pada dasarnya dapat ditirukan dan didengarkan (termasuk intonasi. 1997:41). bandingkan Wicoyo. yang dilawankan denga suatu tindakan bahasa dengan menggunakan . gerakan tangan dan isyarat).Lebih lanjut Austin menjelaskan bahwa untuk menampilkan suatu ‘phatic act’. atau jikalau seseorang menampilkan ‘phatic act’ maka ia menampilkan juga ‘phonetic act’. tanpa adanya suatu acuan. Jadi dengan tindakan bahasa yang menampilkan kosa kata dan tata bahasa maka mengharuskan kita memerhatikan suatu kaidah dalam menggunakan bahasa.

Tindakan bahasa ini merupakan salah satu usaha untuk mengetahui atau menentukan apakah sesuatu itu benar atau telah sesuai dengan suatu kenyataanatau tidak. Austin membedakan tindakan bahasa illokusi ini menjadi lima macam yaitu : (1) Verdictives (2) Exercitives (3) Commisives (4) Behabitives (5) Expositives (Austin. wasit dan yuri.sesuatu. Suatu tindakan bahasa verrdictif memiliki suatu hubungan dengan kebenaran dan kesalahan. Tindakan-tindakan bahasa yang termasuk tindakan verdiktif adlah sebagai berikut: (a) Membebaskan (acquit) (b) Menghukum (convict) (c) Memutuskan (find as a matter of fact) (d) Menyangka (hold as a matter of fact) (e) Menafsirkan (inter prêt as) (f) Memahami (understand) . perhitungan atau tafsiran. menurut ketepatan itulah isi dari suatu keputusan. Tetapi keputusan tersebut barangkali dapat berupa misalnya suatu perkiraan. 1962: 150) (1) Verdictives Tindakan bahasa verdictif adalah suatu tindakan bahasa dalam mengatakan ssuatu yang ditandai dengan adanya suatu keputusan (verdict) sebagaimana dilakukan oleh hakim.

Macam-macam contoh tindakan tersebut adalah sebagai berikut: a) Menunjuk (appointing) b) Memilih (choose) c) Memerintah (ordering) d) Member suara (voting) e) Memaksa (urging) f) Menasehati (advising) g) Memperingatikan (warning) h) Menamai (name) i) Memproklamirkan (proclaim) j) Mengarahkan (direct) (Austin: 155) .(g) Mengirakan (read it as it) (h) Memerintah (rule) (i) Menghitung (calculate) (j) Memperhitungkan (reckon) (k) Memperkirakan (estimate) (l) Menempatkan (locate) (m)Menetapkan tempat (place) (n) Menentukan tanggal (date) (o) Mengukur (measure) (p) Menilai (value) (q) Melukiskan (describe) (2) Exercitives Tindakan bahasa exersitif adalah suatu jenis tindakan bahasa yang merupakan akibat adanya kekuasaan. hak. atau pengaruh.

sikap. selamat yang senantiasa timbul dalam komunikasi social.(3) Commissives Tindakan bahasa kommisitif adalah jenis tindakan bahasa dengan melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. Jadi si putur bahasa mengucapkan suatu tindakan bahasa dalam melakukan suatu perbuatan atau perjanjian. memaafkan. Contoh-contoh tindakan bahasa kommistif ini adalah sebagai berikut: a) Berjanji (promise) b) Melakukan (undertake) c) Kontrak (contract) d) Bersumpah (swear) e) Menyetujui (agree) f) Mengumumkan (declrase for) g) Melawan (appose) h) Bertaruh (to bet on) i) Mendukung (espouse) (Austin. 1962: 156) (4) Behabitives Tindakan bahasa behabitif adalah tindakan bahasa dalam melakukan sesuatu yang menyangka simpati. Secara lebih luas sebenarnya tindaka bahasa macam ini mempunyai suatu hubungan dengan tindakan verdiktif dan exersitif. ikut bergembira bilamana yang diajak berbicara baru . memberikan. Hal ini memiliki konsekuensi kepada si penutur bahasa untuk melakukan sesuati. Seseorang dalam melakukan tindakan bahasa tersebut memiliki tujuan bagi orang yang diajak bicara yaitu bertujuan untuk menghibur misalnya bagi yang sedang mengalami kesusahan.

tindakan bahasa ‘kommisif’ tindakan bahasa ‘behabitif’ adalah tindakan bahasa yang menyangkut persetujuan sikap dan yang terakhir tidakan bahasa ‘expositif’ adalah suatu tindakan bahsa dalam menguraikan. menjelaskan. Bilamana kita simpulkan secara keseluruhan yang menyangkut kelima macam tindakan bahasa yang termasuk ‘illocutionary act’ tersebut adalah sebagai berikut: tindakan bahasa ‘verdiktif’ adalah suatu tindakan bahasa yang digunakan untuk memutuskan. memberikan suatu penjelasan tentang penggunaanpenggunaan dan dari acuan. tindakan bahasa ‘exercitif’ adalah tindakan bahasa yang berkaitan dengan suatu pernyataan yang tegas dalam hal pengaruh atau kekuatan. memberikan suat keterangan atau pendapat. juga meminta maaf jikalau melakukan suatu kesalah dan lain sebagai berikut. 1997:45). memberikan argumentasi. serta komunikasi dalam masyarakat. (5) Expositives Tindakan bahasa yang dikelompokkan pada tindakan expositif adalah sekelompok tindakan bahasa yang digunakan dalam tindakan suatu pandangan. Beberapa contoh bagi tindakan bahasa behabitif adalah sebagai berikut: (a) Pemberian selamat (congratulation) (b) Tantangan (challenging) (c) Pemberian maaf (apologizing) (d) Kutukan (cursing) (e) Ikut berduka cita (condoling) (Austin.mengalami kebahagiaan atau kesenangan. 1962: 159). . Sehingga dengan demikian kelima macam tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut sebenarnya saling berkaitan (lihat Wicoyo.

Tindakan Bahasa Perlokusi (Perlocutionary Act) Bilamana tindakan bahas ‘lokusi’ dan’illokusi’ lebih

menekankan pada peranan tindakan si penutur bahasa, maka pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ lebihberkaitan dengan respon atau efek bagi orang yang diajak berbicara oleh si penutur bahasa. Tindakan bahasa ‘perlokusi’ atau ‘perlocutionary act’ yaitu suatu tindakan bahasa dalam mengatakan sesuatu dengan maksud untuk menimbulkan efek,, reaksi atau respon atas pikiran atau tindakan pada orangyang diajak berbicara. Oleh karena itu pada tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah memiliki hubungan dengan akibat yang ditimbulkan berkaitan dengan isi ucapan atau ungkapan bahas bagi si pendengar. Menurut Austin, bahwa bilamana seseorang itu mengatakan sesuatu seringkali menimbulkan pengaruh terhadap perasaan, pikiran atau pengaruh lain yang berupa perilaku bagi si penutur itu sendiri, orangyang diajak berbicara ataupun orang lain yang mendengarkan isi atau makna ungkapan bahasa yang bersangkutan. Hal ini dapat dilakukan dengan merencanakan atau merancang, mengarahkan serta menetapkan suatu tujuan tertentu pada perkataan disebut tindakan bahasa ‘perlokusi’ (Austiin, 1962:101). Ungkapn-ungkapan bahasa yang termasuk pada kelompok tindakan bahasa ‘perlokusi’ antara lain sebagai berikut: (a) Meyakinkan (b) Menipu (c) Menakuti (d) Merayu (e) Mengarahkan, dan ungkapan-ungkapan lainnya.

Bilamana kita bandingkan dengan tindakan bahasa ‘illokusi’ maka tindakan bahasa ‘illokusi’ tersebut adalah tindakan bahas yang membuat si penutur atau si pembicara melakukan suatu tindakan karena berkaitan dengan apa yang dikatakannya. Adapun tindakan bahasa ‘perlokusi’ adalah tindakan bahasa yang karena ucapan atau tindakan bicara dari pembicara, timbul suatu efek bagi si pendengar atau pengaruh bagi si pendengar baik secara aktif ataupun secara pasif. Memang suatu tindakan bahasa ‘illokusi’ dapat menjadi sarana bagi tindakan bahasa ‘perlokusi’ akantetapi tidakdapat sebaliknya. Menurut Austin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh tindakan ‘perlokusi’ itu merupakan suatu akibat nyata, yang tidak meliputi atau tidak mencakup akibat yang lazim terjadi, misalnya janji yang dilakukan oleh si pembicara (penutur), hal inijelas merupakan tindakan ‘illokusi’. Kiranya suatu perbedaan antara sesuatu yang kita rasakan secara nyata menimbulkan suatu akibat yang nyata pula, suatu tindakan ‘perlokusi’, adapun sesuatu yang kita lakukan yang menimbulkan akibat yang lazim atau sudah wajar terjadi itu merupakan suatu tindakan illokusi (Austin, 1962:102). Suatu perbedaan yang paling menonjol antara tindakan ‘illokusi’ dengan tindakan ‘perlokusi’ adalah akibat yang ditimbulkan atau efek yang ditimbulkan oleh perbuatan melalui ucapan bahasa. Pada tindakan perlokusi efek atau akibat dari tindakan bahasa itu merupakan suatu hasil yang diinginkan, direncanakan atau diperhitungkan sebelumnya oleh si pembicara. Dengan perkataan yang lain efek atau akibat yang timbul pada si pendengar itu memang merupakan maksud si penutur untuk mempengaruhinya.

3. Peter Strawson Filsuf analitik yang menaruh perhatian terhadap filsafat bahasa biasa adalah Peter Strawson. Ia juga sebagai filsuf Oxford yang

berkedudukan sebagai professor pada universitas tersebut dan karyakaryanya yang popular antara lain “individuals : Analisis Essays in Descriptif Metaphysics’ (1959), selain itu ia juga menulis buku yang berjudul “Introduction to Logical Theory’ (1952); The Bounds of Sense’ (1966), dan sebuah buku tentang filsafat Kant ‘Meaning and Truth’ (1970). Dalam majalah ‘Mind’ ia mengkritik ajaran Russell dengan judul ‘the Theory of Definite Descriptions’ yang cukup popular dikalangan filsuf Inggris.

Pemikiran Filosofis Konsep pemikiran filosofis Strawson tertuang dalam karyanya yang berjudul ‘Individuals’ dan kepada buku ini ia memberikan anak judul ‘Analisis Essay in Descriptive Metaphisics’. Sesuatu yang menarik perhatian dalam buku tersebut adalah munculnya kata metafisika secara eksplisit. Ia memang termasuk penganut paham filsafat bahasa biasa sebagaimana filsuf-filsuf Oxford lainnya, dan sebagaimana diketahi bahwa filsuf yang menganut filsafat bahasa biasa tidak mengembangkan doktrin mengkritik metafisika atau barangkali persoalan metafisika bagi menganut ‘ordinary language’ kurang mendapat tempat. Keadaan yang demikian inilah yang membawa Strawson mendapat perhatian, karena di samping ia tetap setiap terhadap paham ‘ordinary language’ akan tetapi ia berupaya untuk mengangkat kembali pamor ‘metafisika’ di kalangan filsuf Inggris. Menurut Strawson memang melalui ‘ordinary language’ filsuf dapat mengembangkan konsep-konsepnya, namun demikian tugas filsafat tidak boleh dibatasi hanya pada penyelidikanitu saja. Filsafat juga harus berusaha melukiskan’our conceptual structure’,yaitu susunan konsep-konsep dasar yang menandai pemikiran kita. Susunan konseptual itu diandaikan begitu sja kalau kita menyelidiki cara bagaimana ucapan-ucapan kita dipakai. Oleh karena itu apa yang dimaksud itupun dapat dilukiskan juga dan inipun merupakan suatu tugas filsafat pula.

Strawson

beranggapan bahwa dalam pemikiran kita terdapat

sejumlah konsep dan kategori yang tidak berubah dan oleh karena itu tidakmengenal sejarah. Struktur konseptual tesebut memainkan peranan dalam pemikiran sehari-hari maupun dalam pemikiran yang lebih teknis sebagaimana dipraktekan dalam ilmu pengetahuan. Usaha ‘metafisika deskriptif’ adalah untuk menggali dan menelanjangi struktur itu. Menurut pandagan Strawson istilah “descriptive metaphysics’ bertentangan dengan ‘revisionary metaphysics’. Pengertian ‘revision metaphisics’ adalah suatu konsep metafisika yang meninjau kembali realitas, suatu metafisika yang mengemukakan suatu struktur baru, adapun ‘metafisika deskriptif’ itu tidak melakukan suatu perubahan sama sekali. Menurut Strawson filsuf-filsuf yang termasuk penganut metafisika revisioner adalah Descartes dan Liebniz; adapun metafisika deskriptif antara lain sebagaimana dilakukan oleh Aristoteles dan Kant (Bertens, 1981:65). Dengan demikian Peter Strawson membedakan dua macam metafisika yaitu :
(a) Descriptive Metaphisics, yaitu suatu metafisika yang hanya berusaha

untuk menguraikan batas-batas konseptual dari bahasa kita.
(b) Revisionary metaphisics, yaitu metafisika yang berusaha untuk

mengadakan suatu revisi atau pembaharuan terhadap batas-batas konseptual dari bahasa kita (POerwowidagdo: 11). Masalah pokok yang dibahas daam individuals yaitu persoalan refernsi atau menunjuk kepada suatu objek. Dalam ucapan-ucapan yang kita kemukakan senantiasa menunjukkan kepad suatu objek. Strawson ingin memecahkan makna bahasa yang dipahami oleh si penutur bahasa tanpa menimbulkankemaknagandaan. Untuk itu menurut Strawson kita harus menacari objek-objek individual yaitu ‘sense data’ atau ‘sense impressions’, mislnya ‘merah’ dan bahwa semua objek lain dapat diasalkan kepada data-data atau kesan-ksesan itu. Bagi Strawson “basic particulars’’ bukannya unsure yang terdapat dalam hal-hal lainnya (bukan semacam atom), melainkan suatu objek individual dan semua

objek laind apat diidentifikasikan melalui objek yang ditunjukkan itu hadir sendiri. Misalnya ;oran gyang duduk di situ di ujung deretan pertama’. Dalam masalah ini memang tidak terdapat suatu kesulitan apapun. Permasalahannya adalah bagaimana kalau yang kita maksudkan adlah objek yang tidak hadir. Misalnya ‘orang yang memakai topi hitam’, hal ini senantiasa memungkinkan bagi pendengar bahwa ucapan itu tentang oranglain daripada yang dimaksudkan. Menurut Strawson untuk menghindari kedwiartian (kemaknagandaan) yaitu dengan cara menentukan objek individual itu dalam ruang dan waktu. Misalnya pada contoh orang yang pakai topi hitam tadi, orangyang bersangkutan selalau dapat melukiskan misalnya ‘orang yang memakai topi hitam, yang beridrilima meter di depan buku gerbang Gedung MPR RI di Jakarta, pada tanggal 10 Oktober 1998 jam 10.00 pagi WIB. Menurut Strawson objek-objek individual yang dilukiskan dalam rangka system ruang danwaktu adalah objek-objek material. Jadi itulah individu-individu yan dimaksud oleh Strawson yang memungkinkan kit amengidentifikasi hal-hal lain seperti ‘pengalaman psikis’, peristiwaperistiwa, proses-proses dan bagian-bagian fisis yang kecil. Konsep strawson yang menarik secara khusus adaah tentang

‘persona’. Konteksnya adalah kesulitan yang dialami oleh para filsuf untuk mengidentifikasikan keadaan-keadaan sadar, dengan menunjuk pada objek-objek material. Terlebih dahulu Strawson menyelidiki dua kemungkinan yang ternyata harus ditolak kedua-duanya. Kemungkinan pertama disebut ‘the no ownership theory’, yaitu suatu keadaan seorang Bertrand Russell bicara tentang ‘saya’, bilamana dikatakan ‘rasa sakit saya’, ‘pengalaman saya’, dan lain sebagainya. Pengalaman misalnya hanya dapat diidentifikasikan sebagai pengalaman seseorang. Kemungkinan yan kedua adalah sebagaimana dikemukakan oleh Descartes dan kawan-kawannya, yaitu teori-teori yang berdasarkan dualism. Kalau demikian maka keadaan-keadaan sadar dimiliki oleh suatu ‘private-ego”, suatu aku yang tersembunyi bagi orang lain. Membicarakan tentang ‘pengalaman saya’ senantiasa berarti membedakan dengan pengalaman orang lain. Menurut Strawson hanya

Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkantingkah lakunya. yang kita maksudkan adalah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. Filsafat Bahasa dan Semiotika Sebagaimana dipahami bahwa perhatian para filsuf terhadap bahasa telah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’ yang kita maksudkan adlah apa yang Nampak atas dasar tingkah lakunya. yaitu dengan mengikuti ‘persona’ sebagai suatu konsep yang tidak dapat dianalisis lagi. bertaqwa terhadap Tuhan’ dan lainsebagainya). BAB IV SEMIOTIKA A. maupun hal-hal yang hanya dikatakan tengan ersona saja (‘main gitar’. Konsep Strawson itu memang sangat khas terutama dikalangan filsuf filsfat bahasa basa yang lazimnya kurang akrab dengan analisis bahas ayang berkaitan dengan metafisika dan Strawson berupaya untuk mencobanya melalui ‘ordinary language’ (Kaelan. Ucapan terakhir ini dapat dikatakan tentang orang lain berdasarkan tingkah lakunya.ada satu jalan keluar untuk mengatasi kesulitan ini. 1981:670. Konsep ‘persona’ tidak dibentuk oleh konsep ‘tubuh’ dan konsep ‘roh’. Tentang suatu persona dapat dikatakan tentang benda-benda material. 2002:155-182). Demikianlah kiranya Strawson dalam karyanya “individuals’ berupaya untuk memberikan suatu argumentasi-argumentasi atas akal sehatkita. tatkala para filsuf seperti Herakleitos . misalnya beratnya 70 kg. terutama dalam pemikirannya tentang objek-objek material dan persona-persona yang merupakan suatu ‘basic particular’. Tetapi merupakan suatu individu yang tunggal. belajar filsafat. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya jalan keluar bagi argumentasi akal sehati dalam mengatasi konstatasi “metafisika revisioner’ (bertens. Kalau kita misalnya berbicara tentang ‘kegembiraan saudara X’.

Dalam dunia manusiawi ini kemampuan berbicara secara verbal menduduki komposisi yang sentral. Bahkan dalam pemikiran Herakleitos ini kata 'logos' bukanlah semata-mata gejala antropologis semata. Dalam masalah ini Herakleitos tidak puas hanya dngan perubahan saja melainkan senantiasa mengkaji dan menyelidiki prinsip perubahan. yaitu bahasa tidak hanya dipahami sebagai media dalam memahami realitas kosmis. Dalam hubugan ini kata dalam bahasa. Dalam pengertian inilah maka manusia dalam mengungkap makna realitas dunia material bukannya dengan melalui medium bahasa. melainkan segala sesuatu yang ada senantiasa "sedang menjadi" yang dalam filsafat dikenal dengan 'panta rhei' artinya tidak ada yang tetap. Dalam hubungan ini apakah bahasa itu dikuasai oleh alam yang disebut 'fisei' atau bahasa itu bersifat alamiah 'nomos'. Bahkan menurut Borgman. melainkan tentang hakikat bahasa itu sendiri dalam hubungannya dengan alam. melainkan juga mengandung kebenaran kosmis unviersal. Pendapat yang menyatakan bahawa bahasa adalah alamiah (fisei). Dalam pengertian ini menurut Herakleitos segala sesuatu senantiasa dalam proses menjadi dan berubah-ubah (bertens. 1989:10). definitive dan mutlak. 170). maka manusia akan gagal pula memahami fenomena material. Manusia harus memahami ucapan-ucapan dalam kehidupan agar dapat memahami alam semesta. Arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah alam material melainkan dunia manusiawi. 1974:3). Jikalau manusia gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa. Perhatian manusia terhadap bahasa pada zaman Yunani Kuno tersebut mengalami perkembangan yang cukup menarik. Menurutnya tidak ada sesuatu hakikat yang murni. masa Herakleitos ini dikenali sebagai asal mula filsafat bahasa (Borgman. dengan demikian amak manusia mengalami kegagalan dalam memahami hakikat maka dunia material melalui filsafat bahasa. tidak lagi dilihat sebagai kekuatan magis. namun dipahami dalam fungsi semantik dansimbolis.menyelidiki hakikat realitas dunia fenomenal. 1987. Herakleitos tidak sependapat bahwa hakikat realitas diatas dunia terdapat hakikat dunia yang murni sebagai suatu manifestasi dunia ideal. Menurut Herakleitos prinsip ini tidak dapat ditemukan dalam realitas benda material. sumber dalam prinsip-prinsip abadi yang terdapat di alam semesta yang tak dapat diganti di luar . Dengan demikian maka pemikiranfilsafat Yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa (Casirer.

Plato juga mengembangkan prinsip 'anomatopeia' yang secara prinsip mendasarkan bahwa hakikat bahasa manusia tidak dapat dipahami jika berdasasrkan teori bahasa semata. Dalam hubungan dengan pemikiran filosofis tentang bahasa. dan 'syndesmoi'. tak ada satu bagianpun daripadanya yang memberi tanda secara sendiri-sendiri. Onoma adalah bentuk yang berupa vokal yang secara konseptual mempunyai makna tak berwaktu. Prinsip logika bahasa yang dikembangkan Aristoteles memberikan prinsip dalam ilmu bahasa bahwa dalam suatu bahasa itu terdapat suatu keteraturan (analogi). 'rema'. Selain Plato filsuf besar yang mengembangkan pemikiran tentang filsafat bahasa adalah Aristoteles. Dalam karyanya yang berjudul Peri hermenias. sehingga sejak itulah muncul suatu bidang kajian untuk mencari asal usul kata yang disebut sebagai 'etimologi'. 1984:21). Pemikiran Plato inilah yang merupakan awal pemikiran filosofis tentang bahasa yang mampu menjembatani antar anama-nama dan benda-benda atau sesuatu yang diacu oleh bahasa. dan . 1987:171).manusia itu sendiri dan oleh karena itu tidakd apat ditolak. 1975:21). Secara ontologis pemikiran filosofis Aristoteles tentang bahasa itu mendasarkan pada core philosophy pemikirannya yang dikenal dengan 'hhilemorfisme'. Komposisi fonetik adalah cermin komposisi benda. 'book-books'. Kaum naturalis dengan tokohnya seperti Cratylus dalam dialog Plato mengatkan bahwa semua kata pada umumnya mendekati benda yang ia tunjuk. 'girl-girls's. melainkan berdasarkan teori umum pengetahuan manusia (Casirer. Misalnya kata 'cow'-'cows'. yang secara sederhana mengungkapkan bahwa hakikat bahasa adalah meliputi materi dan benetuk (Arens. adapun 'syndesmoi' adalah sebagai penghubungan partikel yang dalam linguistik sering disebut sebagai konjungsi. Kaum naturalis selanjutnya menyatakan bahwa bahasa tidak hanya bersifat fisis belaka melainkan mencapai makna secara alamiah atau 'fisei'. Jadi terdapat suatu hubungan antara komposisi bunyi dengan apa yang dimaksud. yang mendasarkan pemikirannya pada prinsip metafisis. Misalnya jamak dalam bahasa Inggris dikenal dengan menambahkan 's' pad akata jama tersebut. Aristoteles juga mengembangkan prinsip analogi dalam bahasa yang merupakan pengaruh dari pemikiran logikanya yang bertitel organon (Liang Gie. Aristoteles mengemukakan pemikirannya tentang kualifikasi kata yaitu 'onoma' . Adapun 'rhema' adalah apa yang bersama menandai waktu.

Namun disamping teori Aristoteles tersbut juga berkembang teori yang menyatakan bahwa bahawa pada hakikatnya tidak beraturan atau arbiter (manasuka). dan telah mengembangkan pembagian kelas kata yang sampai saat ini masihdiwarisi oleh ilmu bahasa. antara signifier dengan sifnified. Hal ini kiranya senada dengan teori filsfat analitis menurut Wittgenstein bahwa ungkapan bahasa adalah merupakan suatu ungkapan kehidupan. dandalam kehidupan terdpat suatu rule of the game yaitu aturan-aturan dalam menggunakan ungkapan tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut maka bila tanda merupakan bagian dari kehidupan sosial. Tokoh lain yang mengembangkan semiotika yang bahkan banyak memberikan dasar-dasar paradigmatik terhadap semiotika adalah Charles Sanders Peirce. antara bahasa dengan sesuatu yang diacunya. August Comte dan filsuf lainnya. Pemikiran zaman Yunani tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh para filsuf bahasa dari Roma.sebagainya. Teori tentang semiotika yang mengikuti tradisi Saussure. Zaman romawi ini dikembangkan tentang morfologi. Demikian pula pada abad pertengahan Thomas Aquinas juga mengembangkan filsfat bahasa. 1990:15). David Hume. Pada zaman modern par filsuf lebih menekankan pada logos. sehingga pada periode ini dikenal dengan Zaman Romawi. maka tanda juga merupakan bagiand ari aturan-aturan sosial yang berlaku. . John locke. yaitu pengetahuand an ilmu pengetahuan seperti Rene Descartes. dan teori ini dikenal dengan prinsip 'anomalia' (parera. Terdapat hubungan yang tak dapat dipisahkan antara penanda dan petanda. menekankan bahwa semiotika adlah bidang ilmu yang mengkaji tentang peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial (Saussure. Bahkan pada zaman ini berkembang konsep Pricia. yang mendasarkan bahasa pada sitem logika. Pada zaman in Varo mengmbangkan pemikirannya tentang bahas amenjadi semakin rinci. Thomas Aquinas. Selanjutnya Wittgenstein menekankan bahwa dalam setiap konteks kehidupant erdapat suatu aturan penggunaan masing-masing. dan membagi kelas kata menjadi 8 macam. yang menekankan pada perkembangan ilmup negetahuan. Nampaknya arah perkembangan filsafat bahasa juga mengikuti trend perkembangan filsafat saat itu. Demikian pula dalam bidang ilmu bahasa Ferdinand De Saussure yang mengikuti tradisi strukturalis yang mengembangkan dasar-dasar linguistik umum ynag mengembangkan pemikirannya bawha bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. 1983:42). yang mengembangkan fonologi dan morfologi.

semiotika Peirce lebih banyak didasari pemikirannya tentang logika. sedangkan penalaran itu menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda (Zoest. Pemikiran Peirce sederhana. dikembangkan . Ungkapan bahasa dalam pengertian ini bukan sekedar bahasa sebagai sitem tanda. beranggapan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan gambaran realitas dunia empiris. Dasar-dasar pemikiran inilah yang membuka cakrawala baru. Pemikiran yang revolusioner dari Moore ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran filsafat bahasa yang dalam filsafat kontemporer disebut sebagai aliran filsafat analitika Bahasa. misalnya dalam bidang etika. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan objek material dalam upaya mengkaji hakikat segala sesuatu. Filsuf analitis selain melakukan kritik terhadap pemikiran etika juga mengembangkan tentang metode ilmu pengetahuan melalui analitika bahasa. oleh karena kekacauan dalam penggunaan ungkapan-ungkapan bahasa. kebenaran. 1992:1). Berbeda dengan Saussure. Dalam filsafat bahasa selain membahas hakikat bahasa sebagai sautu sistem tanda juga mengkaji tentang bagaimana hakikat bahasa sebagai suatu ungkapan kehidupan manusia. Ludwig Wittgenstein dalah Tractatus (pemikiran I). logika adalah mempelajari tentang bagaimana orang bernalar. seperti keadilan. Kritik Moore tersebut dituangkan dalam karyanya yang berjudul Principia Ethica (1903). melainkan bahasa sebagai suatu ungkapan dalam kehidupan manusia. sehingga sebenarnya ia adalah juga sebagai filsuf bahasa. keagamaan. Filsuf George Edward Moore berpendapat bahwa banyak kalangan filsuf mengalami kekacauan dalam berfilsafat. Sehingga konsekuensinya struktur logis realitas bahsas adalah sepadan dengan struktur logis realitas dunia empiris. dan lain sebagainya. Moore melakukan kritik terhadap para filsuf idealisme. Oleh karena itu menurut pemikiran Wittgenstein hakikat bahasa tidak hanya merupakan suatu sistem tanda melainkan secara ontologis menggambarkan realitas dunia empiris. bahwa hakikat bahasa adalah merupakan dasar paradigmatik tentang metodologi dalam ilmu pengetahuan. etika. Prinsip metodis yang dikembangkan oleh Wittgenstein dalam aliran atomisme logis ini. Pada abad XX par afilsuf mengembangkan paradigma baru dalam berfilsafat. Sedangkan logika Peirce juga mengembangkan ilmu bahasa.sementara tradisi Saussure yang dikembangkan oleh Roland Barthers yang elbih dikenal dengan istilah semiologi meskipun kedua istilah tersebut mengacu pada ilmu yang sama.

poetika. dengan dasar ontologis. Semiotika adalah ilmu tanda yaitu metode analisis untuk mengkaji tand. 1999:4). dan aliran inilah yang mengembangkan bahasa sebagai metode dalam ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai metode kuantitatif. Akhirnya setelah semiotika berkembang nampaknya akan membangun suatu bidang ilmu tersendiri yang disbut bidang semiotika. sebagaimana bidang ilmu lain seperti ilmu sosial. Tanda-tanda terletak dimana-mana. budaya. sehingga konsep Peirce lebih menekankan pad pengembangan semiotika komunikasi. Namun demikian kiranya perlu dipahami bahwa sampai saat ini bidang ilmu semiotika kiranya masih enggan untuk berkembang menjadi ilmu tersendiri terpisah dari filsafat bahasa. dan bidang lainnya. atau 'seme' yang berarti penafsiran tanda (cobley dan Jansz. Pierce mendasarkan semiotika pad alogika. demikianpula gerak. Istilah 'Semeion' ini sebelum berkembang pada awalnya berakar pada tradisi studi kalasik atau skolastik atas seni retorika. Nampaknya istilah 'semeion' itu diderivasikan dari istilah kedokteran hipokratik atau asklepiadik dngan perhatiannya 'tanda' pad amasa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal yang lain. linguistik. isyarata. dan dasar aksiologis tertentu. Berdasarkan uraian diatas maka semiotika merupakan sub kajian filsafat bahasa yang lebih menekankan pad kajian tanda. dan logika. Tanda-tanda adlah perangkat yang kita pakai dalam upaya mencari jalan di dunia ini. kata adalah tanda. ditengah-tengah manusia dan bersama-masa manusia. di satu sisi Saussure mengembangkan pemikirannya berdasarkan strukturalisme dan berkembang ke arah prinsip-prinsip dsar linguistik umum.leibh lanjut oleh kelompok Lingkungan Wina yang juga dikenal sebagai aliran positivisme logis. B. sejarah. Berbeda dengan Saussure. epistemologis. pragmatik dan linguistik. 2001:49). Pengertian dan Lingkup Semiotika Istilah semiotika berasal dari bahasa Yunani "semeion" yang berarti 'tanda'. misalnya asap menandakan adanya api (Kurniawan. lampu lalulintas. Dengan istilah lain semiotika belum menemukan body of knowledge tersendiri sebagai salash satu bidang ilmu disamping ilmu-ilmu lainnya. Hal ini berdasarkan fakta bahwa semiotika lebih merupakan suatu sistem epistemologis dalam pendekatan bidang ilmu tertentu seperti sastra dan komunikasi. Dua tokoh filsuf bahasayang mengembangkan semiotika pada awalnya mendasarkan pemikiran filsafatnya pada hakikat bahasa. .

studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. Menurut Pines apa yang dikerjakan semiotika adlah memberikan kejelasan kepada manusia untuk menguraikan aturan-aturan dalam suatu kehidupan dan membawa manusia pada suatu kesadaran dalam kehidupan ini (dalam Berger. 2001:53). wacana. dan segala sesuatu dapat dianggap sebagai tanda dalam kehidupan manusia (Zoest. frase. dan bentuk-bentuk nonverbal teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dngan maknanya dan bagaimana tanda disusun. Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol..s egala sesuatu (things). dan makna (meaning) adalah hubungan antara sesuatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn. puisi. Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa maka huruf. 2004:17). Tanda-tanda itu hanya mengemban arti (significant) dalam hubungannya dengan pembacanya. klausa dan kalimat tidak pernah memiliki arti pada dirinya sendiri. dapat dilihat dalam suatu aktivitas penanda yaitu suatu proses signifikansi yang enggunakan tanda yang menghubungkan objek dengan interpretasi (Sobur. makalah. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi. bangunan. kata. 1988:2179. struktur film. memaknai hal-hal. 1992:vii). Semiotika atau semiologi menurut istilah Barthes. secara umum. Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah dunia yang serba beragam ini.bendera dan sebagainya. dalam arti dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi. cerpen. pad prinspnya hendak mempelajari bagiamana kemanusiaan(humanity). komik. pidato presiden. Tanda dalam pengertian ini bukanlah hanya sekedar harfiah melainkan leibh luas misalnya struktur karya sastra. nyanyian burung. poster politik.. agar setidaknya kita dapat memilikipegangan. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dngan apa yang ditandakannya (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sitem bahasa yang bersangkutan. Sebuah teks apakah itu surat cinta. iklan. bahasa. Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). serta ungkapan bahasa lainnya yang merupakan suatu tanda. Hal ini kiranya . kartun. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri. Kurniawan. Dalam penelitian sastra misalnya kerap diperhatikan hubungan antara tanda-tanda (strukturalisme) dan hubungan tanda dengan apa yang ditandakannya (semantik). 1996:64). 2000:14). melainakanjuga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes.

sejalan dengan tesis dari Wittgenstein. ground serta penafsir. semantic level (tingkatan semantik) dan pragmatic level (tingkatan pragmatik). dalam arti hakikat bahasa secara universal. 2004:19). dan makna. yaitu semiotika murni. Jadi semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi dengan menggunakan tanda (sign) dan berdasarkan pada sign sistem (code) (segers. yaitu bagaimana tanda-tanda dalam kehidupan manusia itu atau bagaimana sistem penandaan itu berfungsi. periklanan. Pure semiotic membahas tentang dasar filosofis semiotika. 2004:19). dan the Meaning of information (1972) karya Doede Nauta. yang mengembangkan teori 'language games'. Objek. yaitu berkatian dengan metabahasa. misalnya dalam kaitannya dengan sistem tanda sosial. dan semiotika terapan (applied) (sobur. bahwa bahasa adalah sebagai suatu sistem tanda. sastra. semiotika deskriptif (descriptive). Walaupun ribuan tahun yang lalu para tokoh filsafat Yunani telah membahas tentang fungsi tanda. Peirce menjelaskan bahwa semiotika adalah sebagai bidang ilmu yang mengkaji hubungan diantara tanda. serta di abad pertengahan pembahasan tentang penggunaan . Adapun deskriptif semiotic. sementara Carles Moris menyebutnya sebagai suatu proses tanda ketika sesuatu merupakan tanda bagi beberapa organisme (Segers. Pembahasan tentang hakikat bahasa sebagaimana dikembangkan oleh Saussure. Nauta membedakan menjadi tiga tingkatan yaitu syntactic level (tingkatan sintaktik). Berdasarkan tingkatan hubungan semitoika. Sementara Cobley dan Jansz (1999:4) menjelaskannya bahwa semiotika adalah sebagai sebuah disiplin ilmu yang mengkaji dan menganalisis tanda. (pure). Berdasarkan lingkup permbahasannya semiotika dibedakan atas tiga macam. Sedangkan aplied semiotik adalah lingkup semiotika yang membahas tentang penerapan semiotika pada bidang atau konteks tertentu. 2000:4). komunikasi. misalnya sistem tanda tertentu atau bahasa tertentu secara deskriptif. Buku-buku yang membahas tentang semiotika murnia antara lain a Theory of Semiotic karya Umberto Eco (1976). yang masing-masing kehidupan memiliki aturan-aturannya sendiri-sendiri (rule of the game). adalah lingkup semiotika yang membahas tentang semiotika tertentu. dan lain sebagainya (lihat Sobur. dan aturan itu terkandung dalam ungkapan bahasa dalam kehidupan. sedangkan bagi Peirce tentang hakikat tanda dalam hubungannya dngan objek. 2000:5). bahwa dalam kehidupan itu terdapat bebagai macam konteks kehidupan.

Berdasarkan pembahasan diatas sebenarnya perkembangan semiotika diilhami oleh dua orang filsuf bahasa yaitu Ferdinand de Saussarure dan Charles Sanders Peirce. namun istilah semiotika sendiri baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert seorang filsuf Jerman. Meskipun kedua tokoh tersebut memberikan dasr-dasar paradigmatik tentang semiotika. Berbeda dengan Peirce. Dengan lain perkatana dasar ontologis dan epistemologi semiotika diletakkan oleh dua tokoh tersebut. meskipun kadng lebih menonjol tentang tanda bahasa. Saussure adalah seorang ahli linguistik. Oleh karena itu konsep Saussure tentang hakikat bahasa merupakan paradigma bagi sistem linguistik modern. Sebeok dalam karyanya yang bertitel Contributions to the Doctorine of Signs (1977) (Zoest. 1992:viii). Roland Barthes membahasnya dalam buku yang berjudul element de Semiologie (1953). Semiotika peirce diwarnai oleh filsafat pragmatisme dan logika. ia dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern. dan T. dengan konsep-konsep yang baru dan tipologi yang sangat rinci. namun dalam paradigmatik yang berbeda. bahkan oleh kalangan linguis dunia. Roman Jacobson dalam karyanya yang berjudul Coup d'Oeilsur le Developpement de la Semiotique 91975). Misalnya Peirce mengembangkan pemikirna tentang semiotika pada tahun 1939. L. Baginya bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. G. yang antara lain membahas pemikiran tentang batas-batas penelitian semiotika. Ia merancang semiotika sebagai suatu teori yang baru sama sekali. namun sebenarnya di antara kadua tokoh tesebut tidak terdpat hubungan kausalitas. dan merancang konsep yang sangat canggih tentang ilmu bahasa beserta aspek terapannya. Mounin di dalam bukunya yang berjudul Introduction a la semiologies (1970). Kedua filsuf terebut memang hidup seazaman.tanda juga telah disinggung oleh banyak filsuf.J. Morris dalam bukunya yang berjudul Writting on the General Theory of Signs (1971). Prieto di dalam bukunya yang berjudul Mes Semiologies (1953). Umberto Eco membahas semiotika dalam bukunya yang berjudul A Theory of Semiotics 91976). sehingga konsep semiotikanya juga sangat dilandasi oleh dasar-dasar logika dan aspek pragmatis. Saussure menyadari bahawa sitem tanda yang disebut bahasa hanyalah salah satu di antara sistem tanda lainnya dalam .A. Perkembangan berikutnya par atokoh filsafat bhasa baru ramai membhas secara sistmatis pada abad XX ini. Bidang semiotika ini kemudian menjadi lahan yang subur dan bermunculan berbagai tulisan semiotika sepergi Ch.

Dalam satu kalimat ia mengungkapkan gagasan. dan diantaranya tanda=-tanda linguistik merupakan kategori yang penting. Teks-teks tersebut mengandung pengulangan dan pembetuland an hal ini menjadi tugas penganut semiotika Peirce untuk menemukan koherensi dan menyaring hal-hal yang penting. Peirce mendasarkan semiotika pad tradisi filsafatnya sendiri yaitu pragmatisme dan logika. Hal yang berlaku bagi tanda pada umumnya berlaku pula bagi tanda linguistik. berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. sedangkan Saussure mendasarkan semiotika pada filsafat bahasanya. Secara lebih tegas ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dalam tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun setelah kematiannya dalam Ouvres Completes (karya lengkap). namun mengacu pada pengertian yang sama. Peirce menghendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat diterapkan pad asegala macam tanda. dan untuk mencapai tujuan tersebut. menunjukkan bahwa meskipun istilah semiotika (menurut Peirce) dan semiologi (menurut Saussure) berbeda.kehidupan manusia. Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. Dengan megembangkan semiotika. karena logika mempelajari bagaimana orang bernalar. Kenyataan bahwa di antara Saussure dan Peirce keduanya tidak saling mengenal. Dengan demikian sebenarnya Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. Ia memberi tempat yang penting pada linguistik. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir. yang merupakan dasr epistemologis linguistik umum. atau dengan perkataan lain memiliki kekhasannya masing-masing. Kekhasan dan perbedaan itu dikarenakan pada latar belakang filosofis yang berbeda. Keberadaan memiliki hubungan sebab akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Menurut peirce semiotika didasarkan pada logika. bahwa pada suatu saat harus ada teori tentang tanda yang mencakup semua sistem itu. Namun pandangan filosofisnya memiliki perbedaan. ia . tetapi bukan satu-satunya kategori. dan ia mengusulkan dan menyebut teorinya dengan 'semiologi'. 2000:14) tanda-tanda berkaitan dengan objekobjek yang menyerupainya. Menurut Peierce (dalam Berger. Kita mempunyai kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda-tanda. namun bukan satu-satunya. tapi tidak sebaliknya (Zoest. sedangkan penalaran menurut Peirce dilakukan melalui tanda-tanda. 1992:2).

teori Peirce telah banyak mengalami perubahan. Dalam penyebarluasan itu. musik. Konsep Peirce telah diperkenalkan di Eropa oleh Max Bense (Jerman) yang menggunakannya dalam penelitian estetika dan analisis tekstual. melainkan juga karena pada waktu mereka mengerjakan teori. Dasar filosofis inilah yang menarik Barthes untuk mengembangkan semiologi. dan untuk itu ia mengusulkan nama semiologi. sedangkan yang mendasarkan filsafat Peirce. suatu kelebaihan yang luar biasa dari teori Saussure adalah ia . 1992:2). Berdasarkan pernyataan ini sebenarnya tidak ada perbedaan epistemologis antara kata semiotika dan semiologi. 1995:38). Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai suatu sistem tanda. Berbeda dengan Peirce. Menurut Grenz.5). Bahkan di Eropa pemikiran Peirce berkembang dengan sukses melalui karya eklektis Umberto Eco dari Italia. menggunakan istilah Semiotika. konsep Peirce dapat dikembangkan pad penelitian bidang teater. lazimnya yang mendasarkan pada filsafat bahasa Saussure menggunakan istilah semiologi. Menurut Lyons. Saussure adlah seorang tokoh besa ryang berasal dari Swiss pendiri sebagai pendiri dan Bapak linguistik modern (Lyons. dan lains ebagainya. Demikian pula semiotika Peirce dikembangkan oleh George Klaus dan diintegrasikan dengan pemikirannya sendiri (zoest. Baiks ecara implisit maupun eksplisit para ahli semiotika yang mengikuti tradisi Saussure menganggap bahwa tanda-tanda linguistik mempunyai kelebihan dari sistem semiotika yang lain (Zoest. Untuk melengkapi konsep itu ia menciptakan kata-kata baru yang diciptakannya sendiri.memerlukan konsep-konsep baru. linguistik berkembang dengan pesatnya. berdasarkan paradigma sistem linguistik umum yang telah dibangun oleh Saussure. 1992:4. Misalnya dalam keinginannya untuk membangun semiotika behavioris. Ketika para pengikut Saussure secara bertahap menyusun teori semiologi secara umum yang telah diramalkan kehadirannya oleh Saussure mengilhami mereka. Memang perlu dimaklumi dalam perkembangan berikutnya pendekatan epistemologis tersebut menyebabkan penggunaan istilah itu denganberdasarkan ciri khas masing-masing. Morris telah mencampurkan konsep-konsep yang dibuatnya sendiri ke dalam konsep-konsep Peirce. artistektur. Saussure mengembangkan dasr-dasar teori linguistik umum. Dalam karya Eco tahun 1972 dan (1976). Ia menambahkan bahwa teori tentang tanda linguistik perlu menemukan tempatnya dalam sebuah teori yang lebih umum. kebudayaan. iklan.

1992:4). Pengaruh Hjelmslev terlihat lagi dalam penelitian para tokoh semiotik yang menaruh perhatian pad atanda-tanda yang tanpa maksud yang berupa symptom. teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotika adalah teori Hjelmslev. dan studi bahasa adalah berkaitan dengan objek material ujaran dan perilaku bahasa manusia secara empiris yang disebut parole. Pengaruh itu nampak pada teori semiologi komunikasi. Ahli semiotika yang mendasarkan pada filsafat Saussure. Roland Barthes adalah tokoh yang paling terkenal dari aliran semiotika ini. Ketika Saussure memberikan kuliah-kuliahnya yang dikenal dengan linguistik umum. ia belum mengenal studi sebagaimana ditulis oleh Peirce pada masa itu. dalam teorinya menggunakan istilah atau kosakata yang berbeda.menolak teori historis tentang bahasa yang pada abad ke-19 berkembang pesat di Eropa. Mereka menggunakan istilahistilah dari linguistik. Jadi jika kita simpulkan kedua tokoh semiotika tersebut memang tidak memiliki hubungan kausalitas baik dari segi ontologis. bahwa ctatan . Mounin). yaitu tempat yang biasanya diduduki oleh filsafat. yang digunakan dngan sadar oleh mereka yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya ( si penerima). Pada penggunaan konsep linguistik ditambahkan penggunaan konsep psikoanalisis (aliran Freud) atau sosiologis (marxis). dan bahasa pada hakikatnya adalah merupakan suatu sistem tanda (Grenz. melainkan untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) yang juga dipunyai tanda itu. dalam kerja kaum semiotik yang cenderung memberikan tempat yang tinggi dan sentral. Aliran semiotika ini juga mengambil aspek epistemologi paham linguistik modern Noam chomsky yang beraliran transformasionalisme generatif (Zoest. Buyssnes. epistemologis maupun aspek aksiologis. yang populer disebut 'semiotika konotasi'. yang sering dihasilkan oleh pengirim tanpa disadari. Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan. Roman Jakobson (1966) menyatakan sebagai berikut. 2001:178). Menurut Saussure bahasa adalah penanda (significant) dan petanda (signifie). Pasca teori Saussure. Teori ini merupakan pendekatan semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal). (Prieto. Julia Kristeva adalah tokoh yang paling dikenal dari aliran ini biasanya disebut 'semiotika ekspansionis'. Sistem semiotik dari rambu-rambu lalu lintas merupakan salah satu contoh penggunaan tanda seperti ini. seorang strukturalis dari Denmark.

meskipun lebih menaruhp erhatian terhadap tanda sebagai sebuah sistem dan struktur. dan seakan-akan tidak ada ruang lain (Piliang. maka pandangan Peirce pasti akan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan teori linguistik internasional (lihat Zoest. Demikian pula semiotika komunikasi yang mendasarkan pada filsafat Peirce. 2004:v). dan semiotika komunikasi (semiotics of communication) adlaah semiotika yang berdasarkan filsafat Peirce. Para ahli semiotika membedakan semiotika signifikansi (semiotic of signification) dicirikan berdasarkan filsafat bahasa Saussure. Semiotika yang mengikuti tradisi Saussure lebih dikenal dengan istilah 'semiologi. 1992:5). statis dan didnamis. bahwa terdapat dua tradisi yang besar yang mengikuti pandangan dua filsuf besar yaitu filsuf bahasa Ferdinad de Saussure yang merupakan bapak linguistik modern dan Charles Sanders Peirce yang memiliki latar belakang filsfat pragramtisme. sedangkan . meskipun menekankan pada produksi tanda secara sosial dan pross interpretasi yang tanpa akhir (semiosis). Dalam kenyataannya pembahasan dua macam model semiotika tersebut justru terjadi interaksi yang saling memperkaya dan saling melengkapi. Jika dikaji secara filosofis kedua tipe semiotika tradisi Saussure danPeirce justru sebenarnya saling memperkaya. Semiotika Signifikansi Sebagaimana dipahami oleh para ahli semiotika. dogmatis dan revolusioner. misalnya signifikansi dan komunikasi. teori dan praksis. Semiotika signifikansi yang berakar pada tradisi filsafat bahasa Saussure. Namun demikian kedua tipe tersebut tidak perlu dipandang sebagai suatu kontradiksi.tentang semiotika yang telah dikembangkan oleh Peirce di atas kertas selama setengah abad. meskipun secara epistemologi menunjukkan ciri khas masing-masing. penting dari segi sejarah. logika dan bahasa. akan tetapi tidak berarti bahawa semiotika tersebut mengabaikan penggunaan tanda secara kongkrit oleh individu-individu di dalam konteks komunikasi sosial. atau jikalau paling tidak catatan-catatan tersebut telah dikenal oleh para ahli linguistik. Dua tipe semiotika yang dikembangkan olehdua filsuf tersebut memang memilkiki ciri khas serta karakteristik masing-masing. akan tetapi tidak berarti mengabaikan sistem tanda (lihat Piliang. dan sampai tahun 1930-an belum diterbitkan. konvensional dan progresiv. 2004:vii).

antara sebuah 'kitab suci' dan bagaimana setiap orang 'mengamalkannya' (Pilliang. Jika bahasa sebagai sistem tanda dalam komunikasi sosial manusia maka implisit dalam pengertian tersebut terdapat sebuah relasi. Meskipun demikian. ia mempunyai konsekuensi lebih luas pada bidnag-bidang di luar linguistik. sementara 'semiotika komunikasi'. bahwa bila tanda juga merupakan bagian dari aturan-aturan dalam kehidupan sosial yang berlaku. bisa menjebabk pada kerangka pikir relasi . yaitu analisis bahasa sebagai sebuah sistem (langue). sistem vs tindakan. 2004:vii). pedoman dan pengamalannya untuk menjelaskan dua model analisis bahasa Saussure tersebut. yang memiliki aturan tertentu yang disepakati bersama. Perbedaan antara langue dan parole ini sangat sentral dalam pemikiran bahasa Saussure. melainkan dalam bahasa terdapat konvensi sosial (social convention). Hal inilah yang memungkinkan bahasa sebagai sarana komunikasi sosial. 2004:vii). maka konvensi juga mengatur tanda secara sosial tentang pemilihan. Apa yang secara epistemologi disebut 'semiotika signifikasi' pada prinsipnya adalah semiotika pada tingkat 'langue. Meskipun demikian karena keterkaitannya sistem tanda bahasa dngan sistem sosial. atau dengan analogi yang lebih ekstrem. Oleh karena itu dalam semiotika terdapat pengertian sistem tanda (sign system). dan contohcontoh aktual tingkah laku itu sendiri. dan bahasa adalah sebagai convensi yang arbitrer. dan bahasa sebagaimana ia digunakan secara nyata oleh individu-individu dalam berkomunikasi secara sosial (parole). pengkombinasikan dan penggunaan tanda secara tertentu. Saussure mengusulkan dua model analisis bahasa.tradisi Peirce dipopulerkan dengan istilah semiotika. oleh karena sebagaimana dikemukakan oleh Jonathan Culler. adalah semiotika pada tingkat parole. Pandangan filsafat Saussuretentang bahas amenyebutkan bahwa hakikat bahasa adalah merupakan suatu sistem tanda. sehingga sistem tanda ini memiliki nilai sosial. analogi istitusi dan evenet. sdisebabkan secara esensial ia merupakan perbedaan antara 'institusi' dan 'event'. Berkaitan dengan hal ini. antara sistem yang memungkinkan berbagai tindak tanduk sosial. Sussure tidak mengakui bahwa bahsa memiliki keteraturan secara alamiah. oleh karen aitu bahasa merupakan sarana komunikasi manusia maka bahasa juga sebagai sistem tanda dalam komunikasi manusia (Piliang.

yang mengatur pengkombinasian tanda dan maknanya. yang memungkinkan untuk dihasilkannya makna yang juga bertingkat-tingkat. atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makan yang ekplisit. hanya terdapat kemungkinan yang terbatas bagi setiap orang dalam menggunakannya. yaitu denotasi (denotation) dan konotasi (connotation). Akan tetapi. Sementara ’konotasi’ adalah tingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda langsung dan tidak pasti (artinya terbuka terhadap berbagai kemungkinan tafsiran). Demikian . adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam sebuah sistem. Semiotika signifikasi. Barhtes menjelaskan dua tingkat dalam pertandaan. Mitos sebagaimana diungkapkan dalam pemahaman semiotika Barthes adalah sistem pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah (Barthes. Sesungguhnya ada beberapatingkat relasi tersebut.semacam mesin untuk memproduksi makna. Relasi antara penanda dan petanda berdasarkan konvensi inilahyang disebut sebagai siginifikansi (signification). 2004:viii). Dalam melihat relasi pertandaan ini. akan tetapi lebih bersifat konvensional.horisontal atau relasi 'satu arah' (Pilliang. berdasarkan aturan main dan konvisi tertentu (Fiske. Kompleksitas relasi inid igambarkan oleh Roland Barthes lewat ’tingkatan signifikansi’ (staggered system). Saussure menjelaskan ’tanda’ sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari dua bidang seperti halnya selembar kertas yaitu bidang penanda (signifier) untukmenjelaskan ’bentuk’ atau ’ekspresi’ dan bidang penanta (signified). signifikansi tidaklah sederhana sebagai relasi antara penanda dan petanda. langsung dan pasti. Meskinpun demikian. Dalam kerangkalangue. Bahasa adalah struktur yang dikendalikan oleh aturan main tertentu. Selain itu. Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention). yaitu makna-makan yang berkaitan dengan mitos. yang dogmatis dan hegemonis antara yang pertama dan yang kedua. Akan tetapi bertentangan dengan pandangan tersebut. 1990:85). 2004:vii). untuk menjelaskan ’konsep’ atau ’makna’. yang akan dijelaskan nanti Saussure justru melihat relasi antara langue dan parole sebagai relasi yang saling menghidupkan dan saling mengembangkan. mulai dariyang sederhana sampai yang sangat kompleks. Barthes juga menjadi makan yang lebih dalam tingkatnya. 1967. ”Denotasi’ adalahtingkat pertandaanyang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda. seperti setiap mesin. Pilliang. dengan demikian.

Aturan pertama. 1979:48). yaitu cara pengkombinasian tanda berdasarkan aturan main tertentu (Barthes. ’poci. menurut Saussure hanya dimungkinkan lewat operasinya dua aksis bahasa yang disebutnya aksis paradigms dan aksis syntagms.pula bahasa. menurut Saussure bahwa di dalam bahasa hanya ada prinsip perbedaan (difference).’ dst. Berdasarkan aksis bahasa yang dikembangkan Saussure tersebut. dan hanya satu unit dari pilihan tersebut yang dapat dipilih. Semiotika signifikansi. Roland Barthes mengembangkan sebuah ’model relasi’ antar apa yang disebutnya system. Semiotika struktural dianggap terlalu menyandarkan diri pada sistem dan struktur yang tidak berubah.s ehingga menghasilkan ungkapan bermakna. yaitu perbendaharaan tanda (kata. Jika kita ingin menghasilkan sebuah ekspresi yang bermakna. tidak ada hubungan keharusan antara kata ’peci’ dan sebuah benda yang kita pakai sebagai penutup kepala kitaL apa yang memungkinkan terjadinya hubungan adalah perbedaan antara ’peci’. ’perbedaan. perbendaharaan kata) yang melaluinya pilihan-pilihan dibuat. Kata-kata mempunyai makna disebabkan diantara katakata tersebut ada ’perbedaan’. Meskipun demikian. gambar. serta perangkat aturan main bahasa (gramar. ’picu’. visual. benda) dan syntagm. Semiotika signifikasi dianggap mengandng banyak kelemahan. disebabkan mereka berada didalam ’relasi perbedaan’. dalam bahasa. dogmatik dan mekanistik. Misalnya. Dalam bahasa kita disediakan perbendaharaan kata atau tanda (vocabulary). terutama sifatnya yang statis. sehingga kemungkinan pesan dikomunikasikan dari seseorang kepada orang lain (Eco. ’Syntagms’ adalah kombinasi tanda dengan tanda lainnya dari perangkat yang ada berdasarkan aturan tertentu. sehingga menutup pintu bagi peran manusia . ’pacu’. sintak) yang harus kita patuhi. 1967:125). menaruh perhatian pada’relasi’ sistematik antara perbendaharaan tanda. semiotika signifikansi yang dikembangkan oleh Saussure dan Barthes banyak mendapat kritik dari berbagai pihak. yang hanya mempunyai satu kata saja untuk menjelaskan setiap hal. ’kode’ adalah seperangkat aturan atau konvensi bersama yang didalamnya tanda-tanda dapat dikombinasikan. dalam hal ini. ’Paradigms’ adalah satu perangkat tanda (kamus. serta konsep-konsep (signified) yang berkaitan dengannya. misalnya kata ’rem’. manusia tidak bisa membayangkan sebuah bahasa. Ada berbagai rule of the game atau aturan penggunaan dalam bahasa. Aturan main kedua adalah perbendaharaan tanda dan cara kombinasinya. aturan pengkombinasiannya (code).

kini dapat mengalami perubahan ketika sistem tersebut ’ditempa’ di dalam praktik-praktik penggunaan bahasa secara diakronik. Dengan demikian. bahwa ia secara terus menerus ’ditempa’ di dalam praktik penggunana bahasa komunitas. Berbagai pembacaan mendalam terhadap karya Saussure menunjukkan bahwa Saussure sesungguhnya tidak ’anti perubahan’. Sistem bahasa justru dapat berubah ketika ia ’diui’ secara terus menerus di dalam praktik kehidupan sosial. dalam pengertian. selama perubahan tersebut diterima secara kolektif.sebagai subjek (Subject). perubahan tersebut tidaklah sewenang-wenang dan anarkis (Piliang. Dengan demikian. 2004. keadaan. langue adalah ’produk sosial’. Sebaliknya. yang melihat strutkru dan sistem bahasa sebagai sesuatu yang dapat berubah. Dengan demikian. dan kemudian menadi ’konvensi baru’. Sistem bahasa hanya bisa diubah oleh individu dan ’kolektivitasnya’ (Thibault. struktur bahasa yang berdasarkan pemikiran saussure dilihat sebagai bersifat sinkronis. . 1998:27). dapat berkembang ’egoisme’ atau ’anarkisme bahasa’. Artinya. tidak benar pengguna bahsa dilihat hanya sebagai ’subek yang pasif’ dihadapan hegemoni sistem dan atuaran bahasa tersebut. ada sifat-sifat fleksibilitas yang dcukup kuat pada filsafat bahasa Saussure. Relasi atas langue dan parole bukanlah sebuah relasi yang statis dan tidak berubah. Dengan demikian. 2004:xi). dalam proses penggunaan bahasa tersebut. sebagaimana yang dikemukakanoleh Paul J.x). Saussure melihat. yang mempunyai potensi-potensi kreativitas dan produktivitas dalam mengubah bahasa (Pilliang 2004:vii-xii). tidak benar merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. dalam Rereading Saussure: The Dynamics of Signs in social Life. sebagai mana yang sering dituduhkan. yang didalanbya lingkungan. tindak individu dalam penggunaan bahasa dalam mengubah sistem tanda. Akan tetapi. sistem bahasa tidak bisa diubah oleh individu-individu semata sebagai pengguna bahasa pada tingkat parole. situasi dan hal-hal baru yang berkembang di dalam praktik tersebut menuntut sistem untuk berubah (Piliang. Akan tetapi. sebaliknya justru merupakan basis dari sifat dinamis bahasa. sesuai dengan perkembangan sosial dan lingkungan. bahwa sistem bahasa (langue) merupakan kondisi yang harus ada dalam setiap penggunaan tanda secara konkrit (parole). terbuka pintu bagi sebuah titik awal perubahan sistem (change in system). Thibault. sebab dengan demikian. meskipun demikian. Setiap pengguna bahasa akan mengacu pada sistem bahasa tersebut.

’perubahan’ yang dimaksud Saussure bukanlah perubahan yang sewenang-wenang. yang merupakan prakondisi dari . (Thibault. melainkan saling mempengaruhi secara timbal balik. sebagaimana yang sering dituduhkan. anarkis. bukan perubahan yang acak dan revolusioner (Pilliang. Dengan perkataan lain. akan tetapi ia menyesuaikan sesitem tersebut dengan perubahan dan ketidakpastian situasi yang ada (contingency). penyempurnaan dan kompleksitas bahasa secara terus menerus. Aktivitas produksi makna dalam parole dimungkinkan sekaligus ’dibatasi’ oleh kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh sistem bahasa. melainkan subek dari transformasi historis dan sosial. hanya saja ia tidak memfokuskan diri pada ruang tersebut. kemestian dan tak berubah. Individu-individu tidak mempunyai kebebasan untuk memproduksi kombinasi semau dan sesukanya. Parola adalah semacam ’kebebasan kombinasi’ (freedom of combination). ’kebebasan’ disini bukanlah dalam pengertian kebebasan random. Penggunaan bahasa secara kreatif dan inovatif selalu dalam konteks transformasi sumber-sumber sosial dan semiotis secaa evolusioner. 1998:28). Perubahan tersebut dilandasi oleh prinsip dialektika sosial sendiri. sperti yang dijelaskan Thibault di atas. bahasa justru selalu ’bergerak’ dalam kondisi ketidakstabilan yang permanen (permanen instability) (Thibault. Pemikiran Saussure tentang dinamika dan dialektika perubahan. sesungguhnya telah menempatkan Saussure tidak pada posisi "membelenggu' subjek pengguna bahasa lewat 'kekuasan struktur' (hegemony of structure). tidak sistematis. kebebasan dalam parole bukanlah ’kebebasan tanpa batas’. yang didalamnya terjadi proses ’tesis’ dan ’sintesis’ sebagai jalan kearah pengkayaan. Konsekuensinya adalah bahwa langue tidak dapat berdiri sendiri secara otonom dalam kaitannya dengan parole. Saussure mengakui parole sebagai ruang tempat berlangsungnya perubahan. Akan tetapi. 1998:78). tetapi pada 'sistem bahasa' (langue). akan tetapi pada posisi yang relatif tidak berbeda dengan Peirce. Dalam berkomunikasi subek tetap saa secara aktif menggunakan sumber daya langue berdasarkan pengalaman masa lalu dan pola –pola regulernya. atau anarkis.yang didalamnya langue dipelihara prinsip dasarnya. Ketimbang besifat stabil. dan tanpa aturan. Meskipun demikian. Dengan demikian. struktur dan relasi bahsaa di dalam sistem bahasa yang ada tidak bersifat permanen. akan tetapi sekaligus diubah secara evolusioner. 2004: xii).

ketimbang ’sistem tanda’ (sign system)..parola. Saussure mengakui tidak saja aspek signifikansi dari semiotika. Tampa pada definisi Peirce ini peran ’subjek’ (somebody) sebagai bagian tak terpisahkan dari pertandaan. Pilian. Menurut Eco sistem tanda (langue) dan proses . Peirce sebaliknya melihat subek sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses signifikasi. akan tetapi juga aspek komunikasinya. 1995:43). 2004:xii). yang menjadi landasan bagi semiotika komunikasi. Sebagai sebuah ’mesin produksi makna’. ”Semiotika komunikasi”. dan mengkombinasikannya. ia tidak masuk terlalu jauh ke dalam aspek komunikasi tersebut. yaitu proses penciptaan ’rangkaian interpretant yang tanpa akhir’ di dalam sebuah rantai produksi dan reproduksi tanda yang didalamnya tnda mendapatkan tempat hidupnya. yang memilih tanda dari bahan baku tanda-tanda yang ada. ’tanda’ dalam pandangan Peirce selalu berada di dalam proses perubahan tanpa henti. Semiotika komunikasi Peierce melihat tanda (representamen) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari objek referensinya serta pemahaman subek atas tanda (intepretant).something which stands to somebody for something in some respect or capacity” (Winfried Noth. 1995:42). 2004:xii).. Umberto Eco yang sering disebut-sebut sebagai ’penengah’ antara semiotika signifikasi Saussure dansemiotika komunikasi Peirce melihat ’salah kaprah’ dalam melihat model-model semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi sebagai sebuah relasi oposisi biner. Artinya. yang disebut proses ’semiosis tak terbatas’ (unlimited semiosis). Hanya saja. semiotika komunikasi sangat bertumpu pada ’pekera tanda’ (labor). bertumbuh. Bila Saussure dianggap mengabaikan subjek sebagai perubahan sistem bahasa. dan berkembang bika (Winfried Noth. menurut Umberto Eco dalam A Theory of semiotic. ’Tanda’ menurut pandangan Peirce adalah ”. dalam rangka memproduksikan sebuah ekpresi bahasa bermakan (Eco. Model tradic yang digunakan Peirce (representamen + object + Interpretant = sign) memperlihatkan peran besar subek ini dalam proses transformasi bahasa. 1979:15). 'medan' yang justru dimasuki secara intens oleh Peirce (Pilliang. adalah semiotika yang menekankan aspek ’produksi tanda’ (sign production).

1979:1). ’progresif dan ’transformatif’ yang sama-sama dimiliki oleh Saussure maupun Peirce. 2004:xiii). Ia mempekerakan tanda-tanda (memilih. Sebab. bahwa ’semiotika signifikansi’ dan ’semiotika komunikasi’ semata adalah penamaan dari dua proses yang satu sama lain sesungguhnya saling berkaitan. saling mempengaruhi timbal alik (reciprocal) dan tidak dapat dipisahkan begitu saja sebagai dua ’medan’ yang otonom. yang menyebabkan ’jurang’ yang memisahkan antara kedua ahli semiotika itu sesungguhnya tidak ke sedalam sebagaimana yang dibayangkan. saling mengisi. Ada pandangan yang keliru. sehingga dengan demikian tidak ada ’oposisi’ antara ’keliaran semiosis’ (dan aktivitas interpretasi) Peirce dan kekakuan dan ’kebekuan’ tanda Saussure (Eco. ’teori proses komunikasi’. khususnya pekerja tanda. bahwa pandangan Eco ini sejalan dengan pandangan Thibault. yang melihat sifat-sifat ’dinamis’. bahwa ’semiotika itu sesungguhnya tidak sedalam sebagaimana yang dibayangkan. bagaimanapun uga ’tanda’ adalah asal usul dari ’proses semiosis’. dan ’model produksi tanda’ Peirce di dalam A Theory of Semiotics. ketika seseorang ’menuturkan’ kata (atau image). yang membuat seakan-akan Saussure danPeirce merupakan dua ’kubu perang’. maka ia terlibat di dalam sebuah proses ’produksi tanda’ (yang sebagaimana konsep produksi dalam ekonomi melibatkan berbagai lapisan pekerja (labor). Ini berarti. menyeleksi. Eco memberikan sebuah elaborasi yang komprehensif dan kritis mengenai ’model signifikasi’ Saussure. menata dan . Lewat sebuah ’otonom’ yang mendalam tentang karya Peirce dan Saussure. Keharusan memilih di antara dua teori ’inilah yang merupakan salah kaprah dalam semiotika. sebagaimana yang dikatakan Eco. seakan-akan orang harus memilih antara ’teori tanda’ (teori signifikansi) dan ’teori semiosis’ (yang disebut uga oleh Eco ’teori praktik signifikant’. bahwa seakan-akan orang tidak menyatukan antara ’doktrin tanda’ (doctrine of sign) dan doktrin ’semiosis’ sebagai proses interpretasi tanpa akhir. (pilliang. yang tidak dapat didamaikan. Dalam hal ini. Eco mengelaborasi lebih jauh konsep ’dinamika tanda’ yang tidak dikembangkan secara khusus oleh Saussure. sebagai ’dua seteru’ yang tidak dapat dipertemukan. Dapat dilihat di sini. ’teori teks’ dan ’teori wacana’). dan tidak diuraikan secara detail oleh Peirce. Menurut Eco.interpretasi tanda secara tak terhingga (Semiosis) tidak bisa dilihat dalam keranka oposisi biner. Ini berarti.

proses dinamika bahasa tersebut bukanlah proses yang semena-mena. yaitu ketika situasi diskursus menuntut adanya perubahan aturan main. sebagaimana yang kita lihat di atas halnya dimungkinkan ketika sistem bahasa (langue) dan proses penggunaan tanda secara sosial merupakan sebuah ’spiral’. yang memberi peluang bagi ’kreativitas bahasa’. Eco melihat semacam dialektika antara kode (code) dan pesan (message). Seperti seorang pelukis.mengkombinasikan dengan cara dan aturan main tertentu). 2004:xiv). Akan tetapi. (Pilliang. yang satu sama lain saling mendinamisasi. maka ia harus melandasi korelasi tersebut berdasarkan ’konvensi baru’ (new convention) (Eco. Di dalam proses pertukaran kata (atau image) tersebut sesungguhnya berpeluang teradi proses perubahan kode (the changing of codes) (Eco. Akan tetapi. Dalam hal ini. sehingga menciptakan sebuah sistem bahasa yang selalu ’siaga’ terhadap berbagai situasi atau lingkungan baru. Proses ’dinamika bahasa’ seperti ini. Untuk mengusulkan sebuah kode. 1979:188). dan setiap korelasi harus berdasarkansebuah ’konvensi’ (convention). ia harus mengusulkan cara baru pengkoden (new coding). yang menuntut danya perubahan. yaitu ketika ekspresi atau isi komunikasi betul-betul baru dan tak terumuskan (undefinable) lewat kode yang ada (Eco. Akan tetapi. Ketika orang lain ’membaca’ kata (atau image) tersebut. yang merupakan produk sosial dari bahasa (Pilliang. . sebagaimana yang diingatkan oleh Saussure. dalam rangka memahami kata (atau image) tersebut. Dalam hal ini. 1979:189). oleh karena setiap penggunaan fungsi tanda diatur oleh sebuah kode. dalam komunikasi sseorang dihadapkan pada keharusan menemukan sebuah fungsi tanda yang baru. akan tetapi pesan itu sendiri dapat merestruktur kode. maka ia menggunakan tenaga kera interpretasi. oleh karena konvensi itu sendiri belum ada. oleh karena produk akhir dari setiap perubahan sistem adalah konvensi baru. Eco melukiskan sebuah situasi diskursus yang didalamnya berlangsung proses ’kreativitas yang mengubah aturan (rule changing creativity). Proses komunikasi dapat menciptakan semacam diskursus baru (new discourse). dengan cara mengerahkan segala kemampuan baca dan kode (kode) yang dipahaminya. Orang dapat merestruktur ekspresi maupun isi pesan mengikuti kemungkinankemungkinan dan kapasitas pengkombinasinya yang dinamis. 1979:152). 2004:xii-xiv). berarti mengusulkan ’korelasi’. Meskipun kode mengontrol penyampaian pesan.

simulasi atau ironi (Piliang. tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk yang berasal dari tawuran pelajar di jalan. Meskipun semiotika seperti ini masih bergantung pad akonsep-konsep tanda dan komunikasi. Bila semiotika signifikansi Saussure dianggap terlalu bersandar pada langue sebagai 'pusat' (center) yang dituduh menghalangi inovasi dalam bahasa. misalnya. Kristeva. Serres dan Baudrillard. Dalam hal ini. Bila diciptakan ruang kreativitas dalam bahasa. Cara-cara berpikir seperti inilah yang dikembangkan oleh para pemikir seperti Derrida. 2004:xv). chaos.Semiotika 'ekstra-komunikasi' Ada sebuah 'medan bahasa' yang secara sepintas tampak 'melampaui' ruang kontroversi antar a'semiotika signifikansi' dan semiotika komunikasi'. akant etai ia juga . Hal ini disebabkan bahwa noise pada kenyataannya mempunyai ciri0ciri yang tidak berbeda dengan pesan (message). maka hirukpikuk di sini tidak hanya dilihat sebagai 'pengganggu' komunikasi guru-murid. kitatampaknya diajak untuk berpikir sedikit ekstrem tentang teori komunikasi. dan bila dibuka pintu bagi kemungkinan untuk menyingkap berbagai hal yang tak terpikirkan dan tak terpresentasikan dalam bahasa.'tak terbayangkan' (unimaginable) atau bahkan 'tak terpresentasikan ' (unrepresentable) di dalam bahasa. bahwa noise bukanlah semata elemen 'pengganggu' komunikasi. maka bahasa harus melepaskan sandarannya pad cara berpikir sistem dan struktur. yaitu apa yang disebut 'semiotika ekstra-komunikasi'. yang untuk itu sebuah neologi semiotika perlu diusulkan. yaitu sebuah 'medan ekstra'. Deleuze & Guattari. apakah itu yang disebut noise. disinformasi. ketika seorang guru tengah asyik berbicara. maka semiotika 'ekstra-komunikasi' lebih menaruhp erhatian pada kemungkinan baru yang tidak terpikirkan' (unthinkable). Dalam konteks semiotika ekstra-komunikasi' ini. noise itu juga membawa sebuah pesan. melainkan salah satu unsur penting dalam komunikasi itu sendiri. Ia mengemukakan. melainkan 'sesuatu' yang berada di luar relasi komunikasi sender/message/receiver.. disorder. turbulensi. akant etapi ia mempunyai hubungan yang 'ironis' dengannya. Bahwa ada semacam 'medan komunikasi. Bila didalam sebuah ruang kelas. Artinya. Michel Serres melihat elemen noise yang selama ini dianggap sebagai 'ekses' dalam komunikasi sebagai elemen yang sanga tpenting dalam komunikasi. yang didalamnya yang menjadi fokus atau motif bukanlah 'pesan' (message).

Komunikasi telah beralih darimotif mencari pesan lewat medium. 1987:20). Derrida lalu membedakan antara dua cara penafsiran. sebab perhatian lebih dipusatkan pada permainan dan ekspresi itu sendiri. dengan menutup prose permainan dan produktivitas tanda. Dipengaruhi oleh pemikiran McLuhan. Ia juga menggunakan istilah 'diseminasi' (dissemination) untuk menjelaskan sebuah situasi 'ketidakterisian makna' disebabkan absennya petanda. yaitu : penafsiran 'restropektif' (restropective). bahwa semiotika signifikasi yang dikembangkan oleh Saussure sarat dengan kecenderungan 'logosentrisme' yaitu kecenderungan bahasa untuk merayakan sifat metafisik dan dogmatik dari langue. kondisi 'ketidakterisian makna' dan 'ketidakterisian kode' ini dibiarkan secara tak berhingga. didalam sebuah 'permainan bebas' (free play) (Derrida. determinasi seperti ini menjadi sebab utama dari 'penutupan' (foreclosure) berbagai kemungkinan tafsiran kreatif yang disediakan oleh bahasa dan tanda. Baudrillard melukiskan tentang bagaimana relasi komunikasi. Di dalam the Ecstras of communication. misalnya. Baudrillard melihat. dan tafsiran 'prospektif' (prospective).sebuah 'pesan' misalnya murid harus berjaga-jaga terhadap akibat samping dari tawuran tersebut (Serres. dengan melepaskan diri dari determinasi sistem. 2004:xix). Sedikit berbeda dengan Serres. Derrida menggunakan istilah differance untuk menjelskan sebuah proses permainan bebas penanda yaitu berupa 'pergerakan' dari satu penanda ke penanda lainnya. dengan demikian. languae atau paroe. yang secara eksplisit membuka pintu bagi indeterminasi makna. justru menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pesan dalam komunikasi. bahwa justru 'medium' itu sendiri yang kini menjadi pesan (medium is the message). pusat perhatian dan motif dalam komunikasi telah beralih ke pencarian pesan ke arah keterpesonaan yang ditimbulkan oleh permainan. yang didalamnya pusat perhatian bukanlah pad pesan. teknik dan teknologi komunikasi itu sendiri. melainkan pada 'permainan medium' itu sendiri. Artinya. signified atas signifier. telah memerangkap setiap orang di dalam keterpesonaan tindak. yang disebutnya 'ekstasi komunikasi'. teknik dan kecanggihan teknologi medium itu sendiri. 1995:dalam Pialang. pada kecenderungan determinasi speech atas writting. ke arah motif . Noise. Jacques Derrida melihat. makna atau noise. Di dalam determinasi. yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinil. Ini tampak. Baudrillard melihat sebuah model komunikasi. sehingga pesan komunikasi yang sesungguhnya menjadi tidak dipentingkan lagi.

dalam Pilliang. yang menciptakan serangkaian penanda-penanda yan satu sama lainnya tidak berkaitan. dan pada saat itulah ia menerbitkan memoire-nya yang sangat terkenal berjudul Memoire sur le Systeme Primitif des Voyelles dans les Langues Indo-Europeenes (Memoir tentang Sistem Huruf Hidup Primitif dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). karena keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan. Ferdinand de Saussure Saussure lahir di Jenewa tahun 1857 dalam sebuah keluarga yang sangat terkenal di kota itu. 1988. yang kini mengambil alih pesan. dan kemudian ia pindah ke universitas Leipzig untuk belajar ilmu bahasa. Kemudian pada umum 21 tahun ia belajar bahasa Sansakerta selama 18 bulan. konsep atau petanda tidak dikaitkan dengan satu penanda dengan car ayang stabil. sehingga tidak mampu menghasilkan sebuah ungkapan bermakna. terjadi semacam 'keterputusan' rantai pertandaan (antara penanda dan petanda. C. Ia hidup sejaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkheim. yang untuk penjelasannya diperlukan konsep teoritis atau pengembangan lagi (Piliang. Di dalam model komunikasi yang dikemukakan lacan. yaitu apa yang disebut 'semiotika chaos'. Filsuf Semiotika dan Pemikirannya 1. yang untuk itu sebuah neologi lain dapat diusulkan untuk menjelaskannya. Jacques Lacan memfokuskan diri pada 'kegalauan' atau 'turbulensi' dalam sistem pertandaan. antara penanda dan penanda lainnya). nampaknya Saussure kurang tertarik pada bidang tersbut. 2004:xii-xvii). meskipun tidak banyak bukti bahwa di antara mereka saling berkomunikasi. Bila pemikir sebelumnya menaruh perhatian pada 'ekses-ekses' pada rantai komunikasi. semua penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. Setelah satu tahun kuliah di Jeneewa pada fakultas fisika dan kimia.penikmatan kesenangan (ekstasi) yang disediakan oleh medium itu sendiri. dan bahkan telah berubah menjadi 'pesan' itu sendiri (Boudrillard. yang disebut model komunikasi 'skizofrenia'. . 2004. sehingga menciptakan semacam persimpangsiuran penanda-penanda yang kemudian tercipta adalah semacam 'kegalauan dalam pertandaan'. Dengan perkataan lain. xvii). Di dalam bahasa skizofrenia.

Pada tahun 1881 ia diangkat menjadi dosen dalam bahasa Gothic dan bahasa Jerman Kuno di Ecole Pratique des Hautes Etudes. kita harus melihatnya secara ’sinkronis’. Ia mengusulkan teori bahasa yang disebut ’strukturalisme’ untuk menggantikan pendekatan ’historis’ dari para pendahulunya. Saussure menggunakan pendekatan anto-historis yang melihat bahasa sebagai sistem yang utuh dan harmonis secara internal (langue). 2001: 178). Selama sepuluh tahun ia mengajar di Paris sampai diangkat menjadi professor bahasa Sansakerta dan bahasabahasa Indo-Eropa di Universitas Jenewa (Lechte. 2:44 ). dan faktor-faktor lainnya yang memperngaruhi perilaku linguistik manusia (Grenz. perubahan jumlah penduduk. Ia sebetulnya tidak pernah mencetak pemikirannya menjadi buku. seperti geografi. kehebatan Saussure adalah ia berhasil menyerang pemahaman ’historis’ terhadap bahasa yang kembangkan pada abad ke-19 memulai studi bahasa dengan fokus kepada prilaku linguistik nyata (ucapan manusia. Untuk memahami sebuah simponi.Pada tahun 1880. parola). kita harus memperhatikan keutuhan karya musik secara kesluruhan dan bukan kepada permainan individual dari setiap pemain musik. Kita tidak boleh . 2001:232. Menurut Lyons (1995:38). perpindahan penduduk. 2001:232). sebagai sebuah jaringan hubungan antara bunyi dan makna. mencari faktor-faktor yang berpengaruh. Karya itulah yang dikenal dengan istilah ’strukturalisme’ (Grenz. setelah mempertahankan tesisnya tentang kasus generatif mutlak dalam bahasa sansakerta. Untuk memahami bahasa. Menurut Stanley J. Studi demikian menelusuri perkembangan kata-kata dan ekspresi sepanjang sejarah. Karya ini dikemudian hari merupakan sumber teori linguistik yang paling berpengaruh. Grenz. Saussure memang terkenal karena teorinya tentang tanda. Catatan-catatan kuliahnya dikumpulkan oleh murid-muridnya menjadi sebuah outline. Bahasa di mata Saussure tak ubahnya sebuah karya musik. 233). Banyak aliran linguistik yang berlainan dapat dibedakan pada waktu ini. Saussures pindah ke Paris. tetapi semuanya secara langsung atau tidak langsung dipengaruhi oleh strukturalisme Saussure (Sobur. Karyanya yang disusun dari tiga kumpulan catatan kuliah saat ia memberi kuliah linguistik umum di Universitas Jenewa pada tahun 1907. 2001: 178). judul course in General Linguistics (Lechte.

bangsa adalah sebuah keutuhan yang berdiri sendiri. Para ahli linguistik sebelum dia melihat bahasa sebagai fenomena alamiah yang berkembang sesuai hukum-hukum yang baku. Selain sebgai seorang yang memupuk berlangsungnya tradisi intelektual. pemahaman struktual demikian menjadi dasar bagi pemikiran postmodernisme yang diwariskan Saussure. maka setiap sistem bahasa ditentukan oleh kebiasaan sosial. Saussure mengatakan sebaliknya bahwa bahasa adalah fenomena sosial. Kategori dalam bahasa menerjemahkannya menajadi ’kata benda’ dan ’kata sifat’. Kata-kata ini merupakan label bagi benda-benda yang bisa dikenali sehingga bahasa adalah klasifikasi. Tampaknya memang. Struktur bahasa adalah milik bahasa itu sendiri (Grenz. Misalnya. Mereka mengatakan bahwa struktur bahasa kita mencerminkan proses logika berpikir. dan juga dengan epitemologi Pencerahan. Sebagaimana dijelaskan di depan bahw Saussure dilahirnkan di Jenewa pada tahun 1857 dalam sebuah karya keluarga yang sangat terkenal di kota itu . 2001: 180)/ Sebetulnya. 2004: 45). Namun. yang membuatnya tekenal dari luar lingkungan linguistik (Sobur. pandangan Saussure berbeda total dengan ilmu bahasa abad ke-19.melihatnya secara atomistik. kategori dalam logika mengatakan ’subtansi’ dan ’kualitas’. Pada perkembangan selanutnya. Saussure juga merupakan seorang tokoh pembaruan intelektual dan ini jelas dalam karyanya. Saussure mempertanyakan pendekatan terhadap studi bahasa yang dilakukan oleh pencerahan. Jika bahasa adalah sebuah fenomena sosial. sesudah tahun 1968. Baginya. sebelum tahun 1960 tidak terlalu banyak orang dalam lingkungan akademik atau luarnya yang pernah mendengar nama Saussure. secara individual. 2004: 44). Caurse in General Linguistics. Bahasa itu bersifat otonom: struktur bahasa bukan merupakan cerminan dari struktur pikiran atau cerminan dari fakta-fakta. kehidupan intelektual Eropa menjadi ramai dengan perbincangan tentang karya-karya ’bapak strukturalisme dan linguistik’ ini. Pendekatan inilah yang disebut-sebut sebgai linguistik struktual (Sobur. Para ahli bahasa abad Pencerahan melakukan studi dengan mengurusi kepingankepingan detail dan ’sebagai orang luar’ (yang tidak terlibat dalam bahasa itu sendiri).

penanda adalah ’bunyi yang bermakna’ atau ’coretan yang bermakna’. Yang mesti diperhatikan adalah bahwa dalam tanda bahasa yang konkret. Selain sebagai seorang ahli lingustik. ada lima pandangan dari Saussure yang kemudian hari menjadi peletak dasar dari strukturalisme Levi Strauss.karena keberhasilan mereka dalam bidang ilmu. Suatu penanda tanpa petanda tanpa tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. hanya bisa dikatakan sebagai bahasa atau berfungsi sebagai bahasa bilamana suara atau bunyi tersebut mengekpresian. Ia hidup sezaman dengan Sigmund Freud dan Emile Durkhein meski tidak banyak bukti bahwa ia sudah pernah berhubungan dengan mereka. Yang cukup pentinga dalam upaya mengangkap hal pokok pada teori Saussure adalah prinsip yang mengatakan bahwa bahasa itu adalah suatu sistem tanda. menyatakan. bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Suara-suara. (3) langue (bahasa) dan parole (tuturan. signifiant atau signifie. yakni signifer (penanda) dan signified (pertanda). 2001: 180). Dengan sebuah ide atau pertanda (signifer). pengertian-pengrtian tertentu. dan setiap tanda itu tersusun dari dua bagian. atau konsep. suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas . kedua unsur tadi tidak bisa dilepaskan. Menurut Saussure. atau bunyi-bunyian. Jadi. Tanda adalah kesatuan dari suatu bendtuk penanda (signified). yaitu pandangan tentang (1) signifeir (penanda) dan signified (petanda). Signifier dan Signified. Jadi petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens. penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. atau menyampaikan ide-ide. Untuk itu. binang. Petanda adalah gambaran mental. serata (5) syntagmatic (sintagmatik) associative (paradigmatik). pikiran. Sedikitnya. (2) form (bentuk) dan content (isi). ia juga adalah seorang spesialis bahasa-bahasa Indo-Eropa dan Sansekerta yang menjadi sumber pembaruan intelektual dalam bidang ilmu sosial dan kemanusiaan. ujaran): (4) synchronic (sinkronik) dan diachronic (diakronik). suara-suara tersebut harus merupakan bagian dari sistem konvensi sistem kesepakatan dan merupakan bagian dari sebuah sistem tanda. Dengan kata lain. Tanda bahasa selalu mempunyai da segi: Penanda atau pertanda. Sebaliknya. baik suara manusia. signifier atau signified.

sedang konsepnya adalah petanda (signified). Suara yang muncul dari sebuah kata yang diucapkan merupakan penanda (signifer). sebuah kata apa saja. Namun. Berdasarkan prinsip ini. Tandalah yang merupakan fakta dasar dari bahasa (Culler. menurut Saussure. namun juga suara yang berbeda (distinc sound). Berlawanan dengan tradisi yang membesarkannya. misalnya. setiap upaya untuk memaparkan teori Saussure mengenai bahasa pertama-tama harus membicarakan pandangan Saussure mengenai hakikat tanda tersebut. (Lechte. Meski demikian. 2004: 46). maka kata tersebut pasti menunjukkan tidak hanya suatu konsep yang berbeda (distinct concept). dalam Ahmisa-Putra. seperti dua sisi dari sehelai kertas. bukan menyatakan sesuatu dengan sebuah nama. meskipun antara penanda atau petanda tampak sebagai entitas yang terpisah-pisah namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. pertanda atau yang ditandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. Setiap tanda kebahasaan. 1998: 35). Jadi. struktur dasar suatu bahasa tidak lagi dianggap muncul dalam etimologi dan filologi. Maka itu. bahkan secara lebih mendasar Saussure negungkapkan suatu hal yang bagi kebanyakan orang modern menjadi prinsip yang paling berpengaruh dalam teori linguistiknya: bahwa hubungan antara penanda dan yang ditandakan (pertanda) bersifat menasuka atau berubah-ubah. 18982. konsep Saussure tentang tanda menunjuk ke otonomi relatif bahasa dalam kaitannya dengan realitas. Karena itu. pandangan ’nomenklaturis’ menjadi suatu landasan linguistik yang sama sekali tindak mencukupi (Sobur. ”Penanda dan petanda merupakan kesatuan. 2004: 47). Pemisahan hanya akan menghancurkan ’kata’ tersebut.dari penanda. Saussure tidak meneria pendapat yang menyatakan bahwa ikatan mendasar yang ada dalam bahasa adalah antara kata dan benda.”kata Saussure (Sobur. pada dasarnya menyatukan sebuah konsep (concept) dan suatu citraan saurau (sound image). Dua unsur ini tidak bisa dipisahkan sama sekali. . Ambil saja. 2001: 235). tetapi bisa ditangkap dengan sangat baik melalui cara bagaimana bahasa itu mengutarkan (yaitu konfigurasi linguistik tertentu atau totalitas) perubahan.

dan kita katakan kita naik ’kereta api yang sama’ walaupun gerbong danlokomotifnya boleh jadi sama sekali sudah berbeda. dapat diucapkan secara berlain-lainan oleh individu-individu yang berbeda. sedangkan wadahnya yaitu kata ’sinkronisasi’ sebagai bagian darisebuah sistem bahasa tetap sama (Ahimsa-Putra. bagaimana suatu kata itu memperoleh maknanya? Atas pertanyaan ini Saussure memberikan jawaban yang lain dengan jawaban yang biasanya diberikan pada masa itu. satu berwujud bunyi dan yang lain berwujud idea. misalnya. papan dan biji catur itu tidak terlalu penting. misalnya dibedakan menurut suaranya dengan kata salam. aturan-aturan permainannya. Istilah form (bentuk) dan content (materi. Juga susunan gerbong dan jumlahnya. 2001:39) memberikan contoh lain yang kini sangat populer. isi) ini oleh Gleason (Pateda. Untuk membedakan antara form (bentuk. bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi. kata tersebut tetaplah satu dan sama. Umpamanya saja.50 (kalau tidak telat). yakni kereta api. Kata ’sinkronisasi’. Jadi. 2001:40). kita naik kereta api ini ke Jakarta. Yang bervariasi. Pada hari senin. dan malam. Dalam permainan catur. dan mungkin juga diberi makna yang berbeda.Form dan Content. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi. Walaupun demikian. namuns ecara . Menurut Saussure. baik gerbong maupun lokomotifnya. Memang demikianlah wujudnya. Begitu pula halnya dengan kata-kata. wadah) dan content (isi) ini. kita tahhu bahwa di Stasiun Bandung ada kereta api Parahyangan Bandung-Jakarta pukul 07. Hari selasa berikutnya kita naik lagi kereta api ini ke Jakarta. kata Saussure adalah ”the phonic and psychological ’matter’. yang memberikan pada suatu kata disstinctive form-nya. tidak lain adalah differensiasi sistematis yang ada antara setiap kata dengan kata-kata yang lain. Lalu persoalannya adalah. atau bentuk khasnya. Saussure (Ahimsa-Putra. 1997: 35) diistilahkan dengan expression dan content. Saussure membandingkan form dan content atau subtance itu dengan permainan catur. Kata kalam. Apa yang ’tetap’ di sini sehingga kita lalu mengatakan ’kita naik kereta api yang sama’ tidak lain adalah ’wadah’ kereta api tersebut. sementara isinya berubah-ubah. tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya. karena kereta api tersebut bisa saja berganti setiap hari. apa sebetulnya yang membuat suatu kata berbeda dalam phonic dan conceptual form-nya? Dengan kata lain. bahasa berisi sistem nilai.

Ketika itu . Di samping itu. asosiasi spotan dan tindakan yang berjalan dengan itu. khususnya dalam teori wacana. Padahal. yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realitas yangtak dapat dikelompok-kelompokkan ’kita seakan-akan tidak akan menemukan kesatuan di dalamnya. karena kata Indonesia tersebut terpisah dari kata atau dibedkan dengan kata rice. Obek itu tidak tergantung dri materi tanda yang membentuknya. 2004:48). dan kombinasi tanda-tanda yang teradi sewaktu-waktu) (Sobur.konseptual kata tersebut dibedakan dengan buku. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu. pena. fisiologi. yang dengan sendirinya merupakan linguistik individual. tutur Barthes. suatu kesatuan sistematis dari konvensi yang memang perlu untuk komunikasi. Artinya. 1976:2-3) sebagai dua pendekatan linguistic yang pad agilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoeur. terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bnyi. psikis. 2004:49).” kata Barthes. umpamanya tidak persis sama dengan kata rice dalam bahasa Inggris. tinta dan sebagainya. langue (sistem bahasa) dan parole (kegiatan ujaran) terpaksa kita mengambil . Perbedaan-perbedaan yang memisahkan suatu kata dengan katakata yang lain terutama yangmemisahkannya dengan kata-kata yang paling berdekatan (menurut suara maupun konsep) itulah yang memberikan identias pada kata tersebut. kata padi tidak masuk dalam differensiasi system arti dalam bahasa Inggris (Sobur. kekacauan itu dapat hilang dari semua keragaman tersebut dapat disarikan suatu obek sosial yang murni. dan disebut langue. Hal ini pun diakui Roland Barthes (1996:80) yang menyatakan bahwa konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaruan besar pada linguistic sebelumnya. Saussure membedakantiga istilah dalam bahasa Perancis: language. kaerna realita itu sekalipun bersifat fisik. Langue dan Parola. Jadi kata padi dalam bahasa Indonesia. katanya lagi. Saussure dianggap cukup penting oleh Recoeur karena ialah yang meletakkan dasar perbedaan antara langue dan parole (Ricoeur. individual dan juga sosial. kertas. linguistik disibukkan oleh usaha mencari sebabsebab perkembangan bersejarah dalam perubahan ucapan. Saussure mulai dengan sifat bahasa yang ’berbentuk amak dan beragam’. realisasi aturan-aturan.

Langue adalah sesuatuyang berkadar individual dan juga sosial universal. seperti uga sebuah simfoni tidak sama dengan cara dibawakannya dalam sebuah konser oleh orkes tertentu (dengan segala kekurangannya umpamanya). Dalam pengertian umum. Sebagai sistem sosial. namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dn stimulus yang menunjang. Jika ahli-ahli linguistik menyelidiki bahasa. langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu. tidak juga dapat mengubahnya. 2004:50). namun disebabkan. Selain itu. Language adalah suat kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan. Dalam konsep Saussure. gangguan psikologis pada bagian tertentu maka dia tidak bisab erbicara secara formal. sebab dibidang ini kekhususan bahasa Perancis tidak mudah terjemahkan oleh bahasa-bahasa lain. 2001: 181-182. 1993:77). langue. produksi masyarakat itu bersifat otonom. (Bertens. seperti permainan yang mempunyai aturan-aturan sendiri: orang tidak dapat menggunakannya kecuali setelah mempelajarinya. bukan hanya abstraksi-abstraksi saa. Dalam pandangan Barthes (1996:81) apa yang disebut langue itu adalah langage dikurangi parole:” Itu adalah suat institusi sosial dan sekaligus juga suatu sistem nilai. sama sekali bukan tindakan.” katanya. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada . mereka membatasi diri atas langue saja (Sobur. 2001:182). langue dimaksudkan bahas seauh merupakan milik bersma dari suatu golongan bahasa tertentu. katanya. Individu tak dapat membuatnya sendiri. Langage mengacu pada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parola (Bertens. Singkatnya.l hal itu harus merupakan perjanian bersama. umpamanya. Apabila orang ingin berkomunikasi. sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (Hidayat. Alwasilah. langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial dan budaya. Langue ini ada dalam benak orang. Akibatnya .alih istilah-istilah yang diberikan oleh buku Saussure sendiri. language adalah bahasa pada umumnya. 1996:23). tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langage. Alwasilah (1993:77) menyebut langue sebagai totalitas dari kumpulan fakta atau bahasa. menurut Barthes. ia harus mengikuti keseluruhan perjanjia itu. Orang bisu pun sama memiliki langage ini.

melainkan aturan-aturan yang berlaku bagi nada-nada tersebut (Sobur. bahasa itu bikan substansi. terutama posisinya dalam hubungan dengan bunyi lain. menurut Saussure. ia mengemukakan perbandingan yang lalu menjadi terkenal. tidak memberikan kontribusi sedikit pun untuk pengertiannya. harus dianggap sebagai sistem (Bertens. karena membedakan makna kata harus dan arus. 1998:107). Untuk mengerti permainan catur. tidak mempunyai peranan. gading. Yang termasuk dalam tanda bahasa dan kode inia dalah apa yang oleh para ahli disebut fonem. selain itu. Atau mengubah seluruh sistem. 1988:243). melainkan bentuk saja. sedangkan ujud fenotisnya tergantung pada beberapa faktor. Permainan catur merupakan suatu sistem relasi-relasi di manas etiap catur mempunyai fungsinya. Namun menurut Saussure. Dan sistem itu dikonstruksikan oleh aturan-aturanya. bahan dari dama bahasa itu terdiri. Fonem merupakan abstraksi. Juga bahan dari mana buah-buah catur dibikin (kayu. Demikian pula bahasa.tanda-tanda (sign) bahasa atau ada pula yang menyebutnya sebagai kode-kode (code)bahasa (Kleden-Probonegoro. kata Saussure. yakni bahsa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. 2001:182). Dalam bahasa Tionghoa. . Dalam bahasa yang esensial ialah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang membentuk sistem itu. Maksudnya. /b/ dan /p/ adalah dua fonem yang berbeda karena bapa dan papa berbedad engan maknanya. termasuk dalam tanda bahasa juga ada yang disebut morfem. Guna menjelaskan hal tersebut. Yang penting dalam bahasa adalah aturanaturan yang mengkonstitusikannya yaitu unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. 2001:55-56) atau satuan bunyi terkecil yang berfungsi untuk membedakan arti (muliono. Menambah atau mengurangi jumlah buah catur berarti mengubah sistem esensial. nada-nada memegang peranan penting. bukan adanya nada-nada membentuk bahasa tionghoa sebagai bahasa. 1988:592). yaitu ”satuan bunyi terkecil yang mampu menunjukan kontras makna” (Kridalaksana. Apa yang dinamakan langue itu. Misalnya dalam bahasa Indonesia /h/ adalah fonem. yaitu satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Moeliono. 2004:51). tidak perlu dikatahui bhawa permainan ini berasal dari Parsi. plastik). Asal usulnya permainan catur tidak relevan untuk memahami permainan itu sendiri.

karena merupakan aktivitas kombinatif ini pula. maka parole adalah living speech. Karena adanya keberulangan inilah. merupakan suatu tindakan individual yan merupakan seleksi dan aktualisasi. kata dia. Menurut Bertens. parole juga dapat dipandang seagai mekanisme psikofisik yang memungkinkan subjek menampilkan kombinasi-kombinasi tadi. yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. Pertama-tama parole dapat dipandang sebagai kombinasi yang memungkinkan subek (penutur) sanggup menggunakan kode bahasa untuk mengungkapkan pikiran pribadinya.dalam jalur semiologis itu ada kemungkinan bahwa pembedaan yang dibuat Saussure diubah. Pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana. Kalau parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Juga. Barthes mencontohkan busana. justru hal itu perlu dicatat. Kalau langue bersifat kolektif dan pemakaiannya tidak disadari oleh pengguna bahasa yang bersangkutan. setiap tanda bisa menjadi elemen dari langue. parole juga merupakan mekanisme psikofisik dan hal inilah. kata Barthes. maka unit dasar parole adalah kalimat. Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem. parole itu terdiri atas ”kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakankode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiranpribadinya ” (Bertens. dalam arti tnda atau kode itu dianggap baku sehingga mudah disusun sebagai suatu sistem. 1996:81). Maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa. Selain itu. maka parole boleh dianggap bersifat diakronik dalam arti sangat terikat oleh dimensi waktu pada saat terjadi pembicaraan. 1999:89). dan.Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode. menurut Barthes. di sini perlu dibedakan tiga sistem yang berbeda. parole merupakan bagian dri bahas ayang sepenuhnya individual (Budiman. Kalau langue bersifat sinkronik. Kalau unit dasar langue adalah kata. parole seperti telah disinggung. Aspek kombinatif ini mengimplikasikan bahwa parole tersusun dari tanda-tanda yang identik dan senantiasa berulang. Kemudian. yang memungkinkannya menampilkan kombinasi tersebut. sesuai dengan realita yang . Tentunya. maka parole terkait dengant indakan individual dan bukan semata-mata sebentuk kreasi. Berkebalikan dengan langue.

2004:52).digunakandalam komunikasi dalam busana yang tertulis artinya digambarkan oleh suatu majalah mode dengan bantuan bahasa yang diucapkan dapat dikatakan bahwa di ini tak ada parole. Busana yang ’di gambarkan’ tidak pernah sesuai dengan realisasi individual aturan-aturan dalam mode itu. Bertens (2001:184) menyebut : sinkronis’ sebagai ’bertepatan menurut waktu’. seperti dikutip Barthes (1996:82). linguistik harus memperhatikan sinkronis sebelum menghiraukan diakornis. itu adalah langue dalam keadaan yang murni. tidak mungkin ada langue tanpaparola. Penting untuk disadari bahwa deskripsi sinkronis pada dasarnya tidak terbatas pad aanalisis bahasa lisan modern. dan parole pada tataran komunikasi dengan katakata. misalnya menyelidiki bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 1965. 1995:46). Berkaitan dengan ini. merupakan suatukesatuan sistematik tanda dan aturan. yang memungkinkan hal tesebut (adanya langue sebelum pewujudan parole) kali ini diterima. Apakah yang dimaksud denga kedua istilah ini? Kedua istilah ini berasal dari kata Yunani Khrona (waktu) dan dua awalan syn dan dia masing-masing berarti ’bersama’ dan ’melalui’. dan di lainpihak abstraksi yang menyatu pada setiap langue dikonkritkan di sini dalam bentuk bahasa tertulis: mode pakaian(tertulis) adalah langue pada atataran komunikasi pakaian. Synchronic dan Diachronic. 1994:34)l jadi bisa dikatakan besifat horizontal. karena di satu pihak bahasa mode tidak datang dari masa yang berbicara. asalkan ada cukup keterangan yang dilestarikan dalam naskahnaskah yang telah sampai kepada kita (Sobur. Seseorang dapat melakukan analisis sinkronis bahasa-bahasa ’mati’ (usang. menurut Saussire. linguistik sinkronis mempelajari bahasa tanpa mempersoalkan urutan waktu. Menurut Saussure. Perhatian dituukan pada bahasa sezaman yang diujarkan oleh pembicara (pateda. melainkan dari kelompok pengambil keputusan yang dengan sadar mengembangkan kode. Dengan demikian. Salah satu dari banyak perbedaan konsep dan tata istilah paling penting yang diperkenalkan ke dalamlinguistik oleh Saussure adalah perbedaan antara studi bahasa sinkronis dandiakronis (perbedaan itu kadang-kadang digambarkan dengan studi sinkronis sebuah bahasa adalah deskripsi tentang ”keadaan tertentu bahasa tesebut (pada suatu masa) (Lyons. Menurutnya. .

Oleh sebab itu. misalnya studi diakronis bahasa Inggris mungkin mengalami perkembangan di masa catatan-catatan kita yang paling awal sampai sekarang ini. Dapatlah kita katakan bahwa studi ini bersifat vertikal. Dengan demikian telah dibuka jalan untuk studi yang kemudian disebut ’struktural’. Jadi. Tak ada manfaatnya mempelajari evolusi . itu tidka berarti bahwa Saussure menolak penyelidikan diakronis tentang bahasa (Bertens:2001: 184-185). Atau dengan kata lain.Diakronis dalam hal ini mengandung pengertian ’menelusuri waktu’ Bertens. dan seagainya. Justru karena bahasa merupakan suatu sistem dalam arti yang diterangkan tadi. perubahan-perubahan fonetis. Atas dasar itu. Misalnya menyelidiki perkembangan bahasa Indonesia (dulud isebut bahasa Melayu) yang dimulai dengan adanya prasasti di Kedukan Bukit sampai sekarang. studi diakronis atas bahasa tertentu adalah deskripsi tentang perkembangan searah (melalui waktu). linguistik diakronis adalah subdisiplin linguistik yang menyelidiki perkembangan suatu bahasa dari masa ke masa. bahasa bisa dipelajari menurut dua sudut pandangan itu: sinkronis dan diakronis. linguistik tidak saja mengesampingkan semua unsurekstralingual. Menurut Bertens. Saussure menekankan perlunya pendekatan sinkronis tentang bahasa. dengant idak mempedulikan perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang telah menghasilkan sistem itu. Saussure berpendapat bahwa penyelidikan sinkronis harus mendahului penyelidikan diakronis. bertentangan dengan ahli-ahli linguistik abad ke-19 yang hampir semua mempraktikkan suatu pendekatan diakronis tentang bahasa: mereka mempelajari bahasa dari sudut pandangan komparatif-historis dengan menelusuri proses evolusi bahasa-bahasa tertentu. atau mungkin meliputi jangka waktu tertentu yang lebih terbatas. 2001:184). etimologi. linguistik harus mempelajari sistem bahasa sebagaimana dipakai sekarang ini. Pada dasarnya. sistem terlebih dahulu mesti dilukiskan tesendiri menurut prinsip sinkronis. Linguistik komparatif historis harus membandingkan bahasa-bahasa sebagai sistem-sistem. linguistik melepaskan juga objek studinya dri dimensi waktu. Kita dapat menyelidiki suatu bahasa sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dandengan begitu tidak memperhatikan bagiamana bahasa itu telah berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita bisa menyoroti perkembangan suatu bahasa sepanjang waktu.

penggantian tersebut bersifat fleksibel. bagaimana garis x dan garis y dalam sebuah sistem koordinat. Jika kita mengambil sekumpulan tanda ”seekor kucing berbaring di atas karpet”L maka satu elemen tertentu kata ’kucing’. ’kucing’ bisa dikatakan memiliki hubungan paradigmatik (hubungan yang saling menggantikan) dengan ’singa’ dan ’anjing’. Syntagmatic dan Associative. Cobley dan Jansz (1999:16-17) memberi contoh sederhana. Satu lagi struktur bahasa yang dibahas dalam konsepsi dasar Saussure tentang sistem pembedaan di antara tanda0tanda adalah mengenai syntagmatic dan associative (paradigmatic) atau antara sintagmatik dan paradigmatik. ’berbaring’.atau perkembangan salah satu unsur bahasa. bisa saa kita ’kucing’ diganti dengan ’anjing’ karena keduanya memiliki hubungan paradigmatik. Kini digabungkan dengan ’seekor’. Hubungan-hbungan ini terdapat pada kata-kata sebagai rangkaian bunyi-bunyi maupun kata-kata sebagai konsep. 2. harus selalu sessuai dengan aturan sintagmatiknya. Sekarang kita lihat bagaimana kemudian kata ’kucing’ dikombinasikan denganelemenelemen lainnya. misalnya menjadi bermakna sebab ia memang bisa dibedakan dengan ’seekor. 2004:53). ’berbaring’. Misalnya. 2004:54-54). Hubungan paradigmatik tersebut. Sejauh tetap memenuhi syarat hubungan sintagmatik. dan ’karpet’ kata ’kucing’ menghasilkan rangkaian yang membentuk sebuah sintagma (kumpulan tanda yang berurut secara logis). Ia tidak hanya menerjemahkan istilah . terlepas dari sistem-sistem di mana unsur itu berfungsi (Sobur. Pengubahan ini terbukti tidak mempengaruhi hubungan sintagmatik. menurut Cobley dan Jansz. Dari tahun 1879-1884 ia menjadi dosen paruh waktu dalam bidnag logika di universitas John Hokins. Melalui cara ini. ’karpet’. ’atas’. ’di’. Kualifikasi dan kemampuan seperti itu tidak terlalu menampilkan kreativitas intelektual yang menonjol saat itu. Selama lebih dar tiga puluh tahun Peirce banyak melaksanakan tugas astronomi dan geodesi untuk survei pantai Amerika Serikat. selain pertukaran dua kata benda (Sobur. Charles Sanders Peirce Charles Sanders Peirce lahir dari keluarga intelektual pada tahun 1893. ayahnya Benyamin adalah seorang Profesor matematika di Harvard University.

demikian menurut Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:20). astronomi. khususnya semiotika. teman-temanya membiarkan dia hidup dalam kesusahan sampai meninggalnya. tulis Cobley dan Jansz. . tentunya karena bidang yang diminatinya sangat luas. Kerapkali disebut bahwa selain menadi seorang pendiri pragmatisme. di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Peirce memberikan sumbangan yang penting pada logika filsafat dan matematika. seperti dituturkan Cobley dan Jansz (1999:18). khususnya semiotika. tahun 1914. ia mengetahui banyak hal. Barangkali karena Peirce. Setelah itu Peirce di berhentikan. Ia menekuni ilmu pasati dan alam. Peirce menurut pandangan Roy. melainkan sebagai seorang ilmuwan yang penuh tanggung jawab. 2001:226). lingkungan tempat dia secara bertahapmengkonstruksi ’semiotika’nya. ’sifat pemarah dan sulit diatur itu diduga karena penyakit sarafnya yang sering kambuh dan kerusakan kulit di sekitar wajah yang sangat parah’. psikologi. Namun bagaimanapun juga. 2004:39). J. dan ia juga terpengaruh oleh filsafat Yohanes Duns Scotus (Lechte. linguistik. yang sekarang menjadi populer itu tetapi ia juga menjadi seorang pemikir dan pengembang tentang karya-karya Kant dan Hegel yang dibacanya dalam bahasa Jerman. dan agama. sangat berjasa karena telah mengidentifikasi. juga mengembangkan karya logika dan matematika.’semiotika’ dari bahasa Yunani kuno. dari logika ilmu ke dalam kepentingan intelektual. Ia diperbolehkan menjadi lektor di suatu universitas hanya lima tahun. Peirce sangat temperamental (Sobur. kimia. yaitu tindakan komunikatif dan telah menunjukkan bagaimana ia menggaris bawahi kepentingan teknis ilmu. Peirce menulis tentang berbagai masalah yang satu sama lain tidak saling berkaitan. Yang jarang disebut adalah bahwa Peirce melihat teori semiotikanya karyanya tentang tanda sebagai yang tak terpisahkan dari logika. Howard (2000:154). Konon. Dalam filsafat ia menjadi tokoh Pragmatisme. ’Pierce adalah seorang pemikir yang argumentatif’. tidak dapat menjadi contoh dari gaya hidup akademik yang santun. Menurut Aart van Zoest (1993:8) Peirce adalah salah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensional. Namun ironisnya. Dalam hal ini ia tak sekadar sebagai seorang penggmbar.

kepada penafsirnya. Penafsir ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objeknya (induksi. Peirce memang berusaha untuk menemukan struktur terner di manapun mereka bisa terjadi. Sering juga disebut sebagai designatum atau denotatum (denotatum adalah kelas penunjuk). dan penafsirnya adalah sebagai unsur pengantara. Agar bisa ada sebagai suatu tanda. disebutnya oleh Peirce sebagai objek.Walaupun Peirce menerbitkan tulisan lebihdari sepuluh ribu halaman cetak. selama suatu penafsir (gagasan) yang membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari suatu makna atau penanda) bisa ditangkap oleh penafsir lainnya. 2001:44). objeknya adalah unsur kedua. suatu tanda itu tidak pernah berupa suatu entitas yang sendirian. seringkali mengulang-ulang bahwa secara umum tanda adalah yang mewakili sesuatu bagi seseorang. maka tand tersebut harus ditafsirkan (dan berarti harus memiliki penafsir). apa yang diacunya. Peirce terkenal karena teori tandanya dan didalam lingkup semiotika. Dalam bahasa Perancis digunakan kata referent (dalam bahasa Indonesia disebut ’acuan’). Iamenyebutnya representamen. pemikiran Peirce harus dianggap selalu berada dalam proses dan terus mengalami modifikasi dan penajaman lebih lanjut. oleh karena itu. Peirce sebagaimana dipaparkan Lechte (2001:227). Oleh karena itu. yaitu C. Ketiga unsur ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan semiotika yang tak terbatas. tetapi yang memiliki ketiga aspek tesebut. Perumusan yang terlalu sederhana ini menyalahi kenyataan tentang adanya suatu fungsi tanda: tanda A menunjukkan suatu fakta (atau objek B). deduksi dan penangkapan (hipotesis) membentuk tiga jenis penafsir yang penting). tanda ’is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. apa yang ditunjuknya.” menurut Peirce makna tanda yang sebenarnya adalah mengemukakan sesuatu. namun ia tidak pernah menerbitkan buku yang berisikan telaah mengenai masalah yang menadi bidangnya. dan representasi seperti . Apa yang dikemukakan oleh tanda. Peirce mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan contoh unsur pertama. Hubungan antara Tanda dan Acuannya Bagi Peirce (Pateda. dalam kaitan dengan karyanya tentang tanda. Jadi suatu tanda mengacu pada suatu acuan.

tanda diinterpretasikan. kode ini bersifat transindivdual (melampuai batas individu). Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda misalnya kata kabur atau keruh yang ada pada urutan kata air sungai keruh yang menandakan bahwa ada . yaitu dengan ground-nya dengan objek atau acuannya. 1992:8). lembut. 1992: 8. Jadi dalam hubungan ini bahasa itu adalah ground. Atas dasar hubungan ini. dan legisign. yang berarti bahwa setelah dihubungkan dengan acuan. lemah.itu adalah fungsinyayang utama. Ungkapan dalam kalimat ini hanya akan diakui sebagai tanda oleh orang yang mengerti dan menguasai bahasa Perancis. Sesuatu yang digunakan agar tanda dapat berfungsi oleh Peirce disebut ground. dalam kalimat ’Metteez ce livre sur la table’ (taruhlah buku ini di atas meja). Peirce (lihat Pateda. Tandatanda lalu lintas hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang mengerti tentang rambu-rambu lalu lintas. 12001:44). Akan tetapi. Kode adalah suatu sistem peraturan. suatu kesatuan konvensi. Berkat hal-hal tersebut ornag yang menggunakan tanda ini mengetahui apa yang diacunya dan bagiamana harus menginterpretasikanya. Seringkali ground suatu tanda merupakan kode. sebuah meja (Zoest. Selainitu representasi seperti itu dapat terlaksana berkat bantuan sesuatu. Jadi tanda selalu terdapat dalam hubungan triadik. dan dengan interpretantnya (Zoest. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qulaisign . kajian ini dibahas dalam bidang pragmatik semotik. meskipun kadang tidak demikian. banyak tanda yang bertitik tolak dari ground yang bersifat sangat individual. dapa tmenjelaskan apa yang telah diuraikan di muka. Dalam hubungan dengan pengirim dan penerima. peraturan bagimasyarakat yang menggunakan bahasa Perancis. Selain itu. Bila kita akui bahwa kalimat yang dikutip tadi diucapkan dalam suatu situasi khusus kata table mengacu pada objek tertentu. misalnya katakata kasar.yang menunjuk kepada penerima tanda. sinsign. merdu. dari tanda yang orisinal berkembang suatu tanda baru yang disebut interpretant. Pengertian interpretant harus dibedakan dengan interpretateur. misalnya berkat bantuan suatu kode. dalam hal ini suatu kode. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Pateda. Dalam hubungan dengan ungkapan bahasa kata table (meja). keras. 2001:44) mengatakan klasifikasi tanda.

Misalnya. Hubungan indeks dapat juga menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Berdasarkan berbagai klasifikasi tersebut. dicent sign atau dicisign dan argument. Sebuah tiang penunjuk jalan dan sebuah gambar panah penunjuk arah adalah sebuah indeks. Berdasarkan interpretant. Sebuah hubungan peta geografis dalam hubungannya dengan alam yang dipetakan dan sebuah potret dengan orangnya adalah hubungan ikon. 2001:4547) membagi tanda menjadi sepuluh jenis: . (3) Hubungan yang ketiga adalah hubungan yang sudah erbentuk secara konvensional.hujan di hulu sungai. yaitu suatu tanda merupakan suatu hasil kesepakatan masyarakat dan hubungan tanda itu disebut sebagai simbol. hubungan tanda seperti ini disebut indeks. atau mata dimasuki insekta. atau ingin tidur. (2) hubungan antara tanda dengan acuannya dapat pula timbul karena kedekatan eksistensi. atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan. Mislanya kota kata ”kursi”. atau menderita penyakit mata. atau baru bangun. Misalnya banyak kosa kata yang merupakan suatu hasil konvensi masyarakat pengguna bahasa tertentu. 1992:9). Contoh yang paling jelas ialah asap sebagai tanda adanya api. Peirce membagi dalam tiga hal. tanda itu disebut icon (ikon). maka di tepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa di situ sering terjadi kecelakaan. representament) dibagi atas. (1) Hubungan antara tanda dan acuannya dapat berupa hubungan kemiripan. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. rheme. Argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. orang yang merah matanya saa menadakan bahwa orang itu baru menangis. tanda (sign. Pada pembahasan tentang hubungan antara tanda dan acuannya. Misalnya. Dicent signt atau dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. jika pada suatu jalan sering terjadi kecelakaan. Legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Peirce (lihat Pateda. itu adalah simbol yang merupakan hasil konvensi mengapa ’kursi’ itu tidak disebut ’pisang goreng’ hal itu adalah merupakan suatu kesepakatan dalam masyarakat yang sifatnya arbitrer atau manasuka (Lihat Zoest. misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.

(3) Rhematic Indexial Sinsign yakni tanda berdasarkan pengalaman langsung. Seseorang bertanya. yang secara langsung. yakni tanda yang mengacu kepada objek tertentu. yakni tanda yang bermakna informasi dan menunjuk subek informasi. Misalnya. yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. (8) Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme. (5) Iconic Legissign.(1) Qualisign. kita melihat gambar harimau. Lantas kita katakan. Kata-kata yang kita gunakan yang kita dengar . tanda larangan yang terdapat di pintu masuk sebuah atau hukum. (6) Rhematic Indexical Legisign. peta dan tanda baca. karena ada asosiasi antara gambar dengan benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau. ”pergi!” penafsiran kita langsung berasosiasi pada otak. diagram.yakni suara tand yang memperlihatkan kemiripan. dan serta merta kita pergi. Contoh foto. yakni tanda yang memberikan informasi tentang sesuatu. rambu lalu lintas. suaranya keras yang menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan. Misanya. menarik perhatian karena kehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Kata keras menunjukkan kualitas tanda. Misalnya. (9) Dicent Symbol atau Propotion (proposisi) (proposisi) adalah tanda yang langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak.” itu!” (7) Dicent Indexical Legisign. Contoh: pantai yang sering merenggutnyawa orang yang mandi di situ akan di pasang bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya. yakni tanda yang dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. (2) Iconic sinsign. Tanda berupa lampu merah yang berputarputar di atas mobil ambulans menandakan orang sakit atau orang yang celaka yang tengaah dilarikan ke rumah sakit. Kalau seseorang berkata. Mengapa kita katakan demikian. yakni tanda yang menginformasikan norma Dicent Sinsign. ”Mana buku itu?” dan dijawab. (4) kantor. harimau. dilarang mandi di sini. Misalnya. Padahal proposisi yang kita dengar hanya kata. misalnya kata ganti penunjuk.

dan seseorang segera menetapkan pilihan atau sikap. Otak secara otomatis dan cepat menafsirkan proposisi itu. Barthes menghabiskan masa kecilnya di Bayonne. dan semiologi Saussurean. Inggris 1977) dan Critical Essays (1964.43). dan menerbitkan artikel peramanya tentang Andre Gide. Ia mengajukan pandangan ini dalamWriting Degree Zero (1953. 2001:192). Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi penilaian atau alasan. sampai akhir hayatnya tahun 1980 (Lechte. Inggris 1972). Sebelum menyelesaikan sekolah dasr dan menengahnya di Paris. tempat pertemuannya dengan A. Setelah mengajar bahasa dan sastra Perancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir) tempat . Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukuralis yang aktif mempraktikkan model linguistik. Kata-kata yang kita gunakan yang membentuk kalimat. Antara tahun 1943 dan 1947 ia menderita penyakit TBC. mengapa seseorang berkata begitu. dan masa istirahanya dimanfaatkan untuk membaca banyak hal. ”gelap. Seseorang berkata. Sejak itulah ia diasuh oleh ibu dan kakek neneknya. semuanya adalah proposisi yang mengandung makna yang berasosiasi di dalam otak. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Prancis yang ternama: eksponen penerapan stukturalisme dan semiotika pada studi sastra Bertens (2001:208) menyebutnya sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960-an dan 70an. Roland Barthes Roland Barthes lahir di Cherbourg pada tahun 1915 dan tatkala ia masih kanak-kanak ayahnya telah meninggal dunia dalam suatu pertempuran. (10) Argument. Setelah mengaajar di Rumania dan Mesir. Tentu saja penilaiant ersebut mengandung kebenaran (Sobur. Greimas ia mengajar di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales. Barthes diangkat dalam keanggotan college de France pada tahun 1977. Perancis barat daya. Terj. 3.” orang itu berkata gelap sebab it menilai ruang itu cocok dikatakan gelap. 2004:42.J. terj.hanya kata. ia berpendapat bahwa bahasa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap sesuatu berdasarkan alasan tertentu.

Pada 1976. dari tahun 1960. ia menjadi asistem dan kemudian menjadi Directeur d’Etudes (Direktur studi) dari seksi keenam Ecole Pratique des Hautes Etudes. Mode ditafsirkan sebagai suatu ’bahasa’ yang ditandai sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi (mislanya antara pelbagai warna. Writing Degree Zero. Criticism and Truth (Sistem Mode) (1967). Buku ini merupakan suatu percobaan untuk menetapkan Metode Analisis struktural atas mode pakaian wanita. Setahun kemudian Barthes menerbitkan Michelet (1954). Barthes telah menulis buku. Setelah kembali ke Perancis ia bekerja untuk Centre National tde Recherche Scientifique (Pusat Nasional untuk Penelitian Ilmiah). antara lain: Le degree zero de Z’ecriture atau ”Nol Deraat di Bidang Menulis” (1953. yang beberapa diantarnaya. dalam buku kecil ini Barthes melukiskan prinsip-prinsip linguistik dan relevansinya di bidang-bidang lain. reklame dalam surat kabar dan lain-lain sebagai geala masyarakat borjuis. Tapi Barthes memperlihatkan bahwa di belakangnya terdapat suatu sistem. . Karya-karya pokok Barthes. Tahun 1980 ia meninggal pada usis 64 tahun. Buku Barhtes lain yang banyak mendapat sorotan adalah Mythologies (Mitologimitologi) (1957). ia banyak mengabdikan dirinya dalam pelbagai penelitian di bdiang sosiologi dan leksiologi. Disinilah ia banyak menulis tentang sastra. Untuk itu ia menyelidiki artikelartikel tentang mode pakaian dalam dua majalah dari tahun 1958 sampai 1959. sambil mdengaar tentang sosiologi tanda.pertemuannya dengan Algirdas Greimas. Dilihat sepintas lalu. Melalui lembaga penelitian ini. Lalu. ia mengajar di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales. Dalam buku ini ia menganalisis dan kultural yang dikenal umum seeprti balap sepeda Tour de France. Kritik Barthes atas kebudayaan borjuis sangat menonjol dalam buku ini. terbit pula Critical Essays (1964). krah tertutup atau terbuka. mode pakaian merupakan sesuatu yang kebetulan dan sepele. dan representasi kolektif serta kritik semiotika. telah menjadi bahan rujukan penting untuk studi semiotika di Indonesia.1977). bahan tekstil yang tertentu. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. dan lain-lain). Barthes diangkat sebagai profesor untuk ’semiologi literer’ di College de France. akibat ditabrak mobil di jalanan Paris sebulan sebelumnya. simbol.

kita menemukan suatu tema di dalam cerita. ditulis oleh sastrawan Perancis abad ke-19. pembaca menyusun tema suatu teks. atau tepatnya menurut konsep Barthes. kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. Honore de Balzac. kode simbolik. Ia menlihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan kontoasi kata atau frase yang mirip. maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses.dalam proses pembacaan. buku ini merupakan salah satu contoh bagus tentang cara kerja Barthes. Lihat pula Indriani. 2001:145-149). pasca struktural. seorang anak belajar bawha ibunya dan anaknya berbeda satu sama lain dan . Kode semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. kode proaretik (logika tindakan). Perlu dicatat bahwa Barthes mengangap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ’akhir’. berjudul sarrasine.. Mislanya. dan kode gnomik. Barthes berpendapat bahwa ’Sarrasine ini terangkai dalam kode rasionalisasi. Kode teka teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. suatu proses yang mirip dengan yang terlihat dalam retorika tentang tanda mode. Lima kode ang ditinjau Barthes adalah (Lechte. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bnyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara. yang oleh bertens (2001:210) pantas sebuah buku dengan judul cukup aneh. buku ini ditulis Barthes sebagai upaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah realis. kode hermeneutik (kode teka-teki). 2004:65).Buku terakhir karya Barthes adalah S/Z (1970). dalam karya ini. Dalam penilaian John Lechte (2001:196). 2001:196. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka teki dan penyelesaiannya di dalam cerita. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu. ia menganalisis sebuah novel kecil yang relatif kurang dikenal. Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ’kebenaran’ bagi pertanyaan yang muncul dalamteks. atau kode kultural yang meembangkitkan suatu badan pengetahuan tertentu (Sobur. kodes emik (makna konotatif. Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fisik yang paling khas bersifat strutkural.

dari terbukanya pintu sampai pertualangan yang romantis. Fourier. Kode gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. Lalu dalam buku lainnya. menurut Lechte (2001:196). Sade. Dalam suatu teks verbal. secra teoritis Barthes melihat semua lakukan dapat dikodfikasi. tokoh komunisme utopistis. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya.bahwa perbedaan ini juga membuat anak itu sama dengan satu di antara keduanya dan berbeda dari yang lain atau pun pada taraf pemisahan dunia secra kultural dan primitif menjadi kekuatan dan nilai-nilai yang berlawanan yang secaramitologis dapat dikodekan. artinya . Pada praktiknya. kita selalu mengharap lakukan di-’isi’ sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (seperti pemilahan ala Todorov). Loyola (1971). dalam buku ini Barthes menerapkan semiotika pada kebudayaan Jepang. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu. pengarang tentang erotik. rincian yang paling meyakinkan. Tujuan analisis Barthes ini. semua teks yang bersifat naratif. perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikoeekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis. bukan hanya untuk membanguns uatu sistem klasifikasi unsur-unsur narasi yang sngat forml. Kode proaretik atau kode tindakan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. atau teka-teki yang paling menarik. sebuah negara yang banyak dikagumi Barthes seperti sebaliknya juga disana terdapat minat khusus untuk Barthes dan strukturalisme pada umumnya. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya. dan . Jika Aristoteles dan Todorov hanya mencari adegan-adegan utama atau laur utama. dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur. realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes. ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal. Barthes menyelidiki persamaan dan perbedaan antara Marquis de Sade. merupakan produk buatan. 2004:67). antara lain. Pada kebanyakan fiksi. Fourier. Buku-buku Barthes yang lain dapat disebut lagi mislanya (The Empire of Sign (Kekaisaran Tanda-Tanda) (1970). Menurut Barthes.

steak dari keripik. 2001:196). sebuah rangkaian tulisan muncul dalam majalah Prancis. seperti dipaparkan John Lechte (2001:193). berkisar dari teori semitoika. Dalam ”The Death of Author’ (kematian Sang Pengarang). Ia juga menulis otobiografinya dengan judul Roland Barthes by Roland Barthes (Roland Barthes oleh Roland Barthes) (1975). Citroen tipe terbaru. Les Letters Nouvelles. Karya-karya lain yang ditulis Roland Barthes adalah A loves Discourse: Fragments (1977). 2004:68). Buku ini. kultur populer dan literer. 2004:67). serta barang-barang konsumsi . seperti juga karyakarya yang lebih bersifat pribadi tentang kepuasan dalam wacana. Buku yang mengumpulkan esay tersebut dengan sangat tepat di beri judul Mythologies dan dipublikasikan tahun 1957 membeberkan perenungan-perenungan tentang penari-penari perut. Buku ini memberikan petunjuk tentang aya-gaya tulisan yang lebih bersifat tidak menyatu. Selanjutnya. busa detergen. essai kritik sastra. hiburan. Camera Lucida.Ignatius dari Loyola. dan remi fiksi (Lechte . cinta dan dalam bidang fotografi (Sobur. Pada setiap terbitannya Roland Barthes membahas ’Mythologies of the Month’ (Mitologi bulan ini).a Barthes membuat tulisan tentang ’kesenangan dan membaca’ dalam the Pleasure of the Text (1973). The Grain of the Voice : Interviews (1962-1980 (1981) dan The Responsibility of Forms (1982). Hal ini menruut Bertens dapat ditafsirkan sebagai geala yang menunjukkan bahwa pada Barthes-pun terdpat tendensi untuk menghilangkan subjek dari teks (Sobur. sebagian besar dengan menunjukkan bagiamana aspek denotatif tanda-tanda dalam budaya pop menyingkapkan konotasi yang pada dasrnya adalah ’mitos-mitos’ (myths) yang dibangkitkan oleh sistem tanda yang lebih luas yang membentuk masyarakat (Cobley & Jansz. imaji dan pesan iklan. bersifat pribadi. Karya-karya tersebut memang sangat beragam. serta remehremeh lainnya. Pada 1954-1956. seperti dikutip Bertens (2001:211). seluruhnya ditulis dengan menggunakan orang ketiga (’ia’ atau juga ’RB’). pengarang tentang hidup kristiani yang namanya tercantumdalam daftar orang Santo dari Gereja Katolik. pemaparan tulisan historis Jules Michelet sehubungan dengan obsersinya. Refections on Photography (1980). wajah Greta Garbo. telaah psikobiografis tentang Sarrasine yang menggusarkan kelompok tertentu dalam sastra Perancis. 1999:43). Disini.

Memang. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem yang pertama. 2004:69). Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif. tanda denotatif . CONNOTATIVE SIGNIFIES (PENANDA KONOTATIF) 6. pada saat bersamaan.Barthes. Signifier (penanda) 2. Denotative sign (tanda denonatif) 4. 1999). Barthes pada dasarnya bukanlah seorang filsuf Marxis atau kritikus kultural dengan inspirasi religius (Sobur. sepeti dipaparkan Cobley & Jansz (1999:44). Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke dua. NY: Totem Books.1. CONOTATIVE SIFNIFIED (PETANDA KONOTATIF) 3. hlm. Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz. membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungis. Melanjutkan studi Hjelmslev. Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) Gambar 3. Barthes menciptakan peta tentang bagaimana tanda bekerja (Cobles & Jansz. Konotasi. yang didalam Mythologiesnya secara tegas ia bedakan daridenotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. dalam setiap eseinya. 1999. walaupun merupakan sifat asli tanda. 2004:68). (Sobur. Akan tetapi.yang dibangun diats sistem lain yang telah ada sebelumnya. Introducting semiotics.sehari-hari menemui telaah subjektif yang cukup unik dalam hasil penerapannya. 1. 51. tidak sperti Benjamin.Kadang-kadang prosa Barhtes dalam Mythologies yang mampu menggabungkan kehati-hatian dan kepuasan dengan ketajjam kritisnya mengingatkan kita pada Walter Benjamin. Dia menghabiskan waktu untuk menguraikan danmenunjukkan bahw konotasi yang terkandung dalam mitologi-mitologi tersebut bianya merupakan hasil konstruksi yang cermat. Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peranpembaca (The reader). Meskipun demikian. membahas fenomena keseharian yang luput dari perhatian. Signified (petanda) 5.

dalam Kurniawan. Kesatuan dari tingkat-tingkat dan relasinya ini membentuk suatu sitstem (ERC). kegarangan. hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika anda mengenai tanda ’singa’. sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat isi untuk sistem kedua: ER (ERC). 1983. 2001. 1.adalah juga penanda konotatif (4). Secara lebih rinci. linguistik pada dasarnya membedakan tingkat ekspresi (E) dan tingkat isi (C) yang keduanya dihubungkan oleh sebuah relasi (R). Pada artikulasi pertama (sebelah kiri). dikutip dari Kurniawan. Dua Sudut Artikulasi Barthes Sumber (Barthes 1983. Di sni sistem 1 berkorespondensi dengan objek bahasa dan sistem 2 dengan metabahasa (metalanguage) (Kurniawan. Dengan kata lain. 2001:67). Sobur. Di sini sistem 1 berkorespondensi dengan tingkat denotasi dan sistem 2 dengan tingkat konotasi. Barthes sependapat bahwa bahasa dapat dipilih menadi dua sudut artikulasi demikian (Barthes.pada artikulasi kedua (sebelah kanan). sistem primer (ERC) mengkonstitusi tingkat ekspresi untuk sistem kedua: (ERC) RC. 1999:51). . tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. dan keberanian menjadi mungkin(Cobley. Sesungguhnya inilah sumbangan Barthes yang snagat berarti bagi penyempurnaan semiologi Saussure. Konot asi 2. dan Jansz.2. Sistem demikian ini dapat dilihat dirinya sendiri menjadi unsur sederhana dari sebuah sistem kedua yang akibatnya memperluasnya. Jadi dalam konsep Barthes. barulah konotasi seperti harga diri. yang berhenti pada penandaan dalam tataran denotatif. Mengacu pada Hjelmslev. 2004:70). 2001:67). denota sir E C E C Objek bahasa E C E C Metabahasa Gambar 3.

dengan kata lain. namun ia tetap berguna sebagai sebuah koreksi atas kepercayaan bahwa makna ’harfiah’ merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman. misalnya ditandai oleh berbagai ragam penanda. petanda dan tanda. namun sebagai suatu sistem yang uni. Imperialisme Inggris. Proses signifikasi yang secra tradisional disebut sebagai denotasi ini biasanya mengacu kepada penggunaan bahasa dengan arti yang sesuai dengan apa yang terucap. 2004:71). mitos dibangun oleh suatu ranai pemaknaanyang telah ada sebelumnya atau. Dalam pengertian umum. 1999:22). mitos adalah uga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. denotasi merupakan tingkat kedua. Sebagai reaksi yang paling ekstrem melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini. sensor atau represi politis. konotasi identik dengan operasi ideologi. bahasa Inggris yang kita telah menginternasional. yang ada hanyalah konotasi semata-mata. Dalam kerangka Barthes. Barhtes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Dalam hal ini denotasi ustru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makan dand engan demikian. Penolakan ini mungkin terasa berlebihan. demotnasi biasanya dimengerti sebagai makna harfiah. ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi dan dimengerti oleh Barthes. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda. bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi atau acuan. Mitologi mempelajari bentuk-bentuk tersebut karena pengulangan konsep terjadi dalam wuud pelbagai bentuk tersebut (Sobur. 2001:28). Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Akan tetapi di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya.Pada dasarnya. seperti teh (yang menjadi minuman wajib bangsa Inggris namun di negeri itu tak ada satu pun pohon teh yang ditanam). Baginya. Artinya dari segi jumlah. petanda lebih miskin jumlahnya daripada penanda. (Budiman. yangisebutnya sebagai ’mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. sehingga dalam peraktiknya terjadilah pemunculan sebuah konsep secara berulang-ulang dalam bentukbentuk yang berbeda. makna yang ’sesungguhnya’. bendera Union Jack yang lengan-lengannya menyebar ke delapan penuru. .

Barthes juga memahami idelogi sebagai kesadaran palsu yang membuat orang hidup di dalam dunia yang imajiner dan ideal. Pengaruh Jakobson pada semiotika abad ke-20 sangat besar.Apa yang menjadi alasan atau pertimbangan Barthes memepatkan ideologi dengan mitos? Ia memampatkan ideologi denganmitos karena. Telaah bahasa menjadi kunci dalam upaya memahami sastra dan folklore (cerita rakyat). Menurut Umberto Eco suatu alasan mengapa Jakobson tidak pernah menulis satu buku khusus tentang semiotika adalah karena seluruh eksitensi keilmuwannya merupakan contoh hidup dari pencarian semiotika (Cobley dan Jansz. dan tiulah sebabnya didalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Menurut Lechte (2001:107). meski realitas hidupnya yang sesungguhnya tidaklah demikian. ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda-penanda penting.d engan demikian. 2001:28). Roman Jakobson Roman Jakobson lahir di Moskow pada tahun 1896. 4. Pada 1915m Jakobson mendirikan lingkungan linguistik di Mowkow dan terpengaruh oleh Husserl. dan pelopor utama supayapendekatan strukturalis pad abahasa. fenomenologi Husserl cukup penting dalam membentuk . sudut pandang. Ideologi ada selama kebudayaan ada. Kebanyakan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan. hubungan antara penanda konotatif adalah petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman. sehingga akibatnya. karya Berthes itu cukup menarik kalangan ahli semiotia. (Sobur. Hubungan antar suara dalam konteks tertentu menghasilkan makna dan signifikansi (significance). Latar. seperti tokoh. Seperti Marx. Ia adalah murid ahli fonologi Rusia Nikolai Troubetzkoy. 1999:142). pada tahun 1914 Jakobson memasuki fakultas historikko-filologi di Universitas moskow dan masuk bagian bahsa di jurusan Slavia dan Rusia. dan lain-lain. Jakobson dianggap sebagai salah seorang ahli linguistik abad kedua puluh yang cukup dikenal. khususnya karena ia sangat menekankan bahwa pola suara bahasa 0wilayah penelitian Jakobson yang pertama dan utama pada hakikatnya bersifat relasional. baik di dalam mitos maupun ideologi. 2004:64-70).

dan . yang hilang adalah hubungan kesamaan. pembuka. menjelaskan. pengacu pesan. pembentuk. 2004: 56). penyadi pesan. Fungsi referensial (1) sejajar dengan faktor konteks atau referen. fungsi fatis (5) sejaar dengan faktor kontak (awal komunikasi). penerang terhadap sandi atau kode yang digunakan. Pada yang pertama. dan (6) fungsi puitis. adalah penekanannya pada dua aspek dasar struktur bahasa yang diwakili oleh gambaran metafor retoris (kesamaan). menyatakan. Menurut Jakobson bahasa memiliki enam macam fungsi (Sudaryanto. sedangkan yang kedua berarti adanya masalah dalam upaya menjaga hieraraki satuan-satuan linguistik. fungsi emotif (2) sejajar dengan faktor pembicara. dan metonimia (kesinambungan). fungsi metalingual (4) sejajar dengan faktor sandi atau kode. pengungkapan keadaan pembicara. yaitu: (1) fungsi referensial. fungsi konatif (3) sejajar dengan faktor pendengar yang diajak berbicara. pemelihara hubungan atau kontak antara pembicara dengan penyimak. seperti dipaparkan john Lechte. Setiap fungsi bersejajar dengan faktor fundamental tertentu yang memungkinkan bekerjanya bahasa. (2) fungsi emotif. 2001: 108). (5) fungsi fatis. 1990: 12). dan fungsi puitis (6) sejajar dengan faktor amanat atau pesan (Sobur.pemikiran filsafat bahasanya saat ia berusaha melihat hubungan antara ’bagian’ dengan ’keseluruhan’ dalam bahasa dan kultur dalam kehidupan manusia. (3) fungsi konatif. Fungsi tertentu yang enam jumlahnya itu mengungkapkan. menafsirkan faktor tertentu yang juga enam jumlahnya itu. Memahami bagaimana berbagai bentuk afasia mempengaruhi fungsi bahasa. pengungkapan keinginan pembiacara yang langsung atau segera dilakukan atau dipikirkan oleh sang penyimak. Yang pertama memperlihatkan ketidakmampuan pada tingaktan metalinguistik p. Pemikiran awalnya yang penting. berarti memahami bagaimana kerusakan pada bagian pemilihan dan subtasi kutub metaforis atau dalam gabungan dan kontekstualisasi kutub metonomia. (4) fungsi metalingual. sedangkan pada yang kedua adalah kesinambungannya. Roman Jakobson adalah salah satu dari beberapa ahli linguistik abad kedua puluh yang pertama kali meneliti secara serius baik pembelajaran bahasa maupun bagaimana fungsi bahasa bisa hilang seperti yang berlangsung pada afasia (Lechte.

yang merupakan faktor-faktor pembentuk dalam setiap jenis komunikasi verbal (Segers. Keduanya bukan huruf hidup. 2001:56). Fonem /c/ tidak bersuara voiced sedang fonem /j/ bersuara + voiced). 1977. unit-unit yang bermakna. sehingga tanda-tanda ini cukup berbeda satu dengan yang lain (c) merumuskan dalil-dalil sigtimatis mengenai istilah-sitilah kebahsaan dengan distinctive features yang dapat berkombinasi dengan tandatanda kebahasaan tertentu lainnya. bukan pula dental.dalam setiap pengunaan bahasa cenderung menonjol salah satu fungsi tanpa menghilangkan fungsi yang lain (Sudaryanto. (b) memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah. ciri-ciri itut idaklah menjelaskan perbedaan diantara kedua-nya (Ahimsa-Putra. 2000:15).meskipun ciri-ciri itu tidak ditangkap atau diketahui. suatu code . 1990:12). 2001:56): (a) mencari distinctive features (ciri pembeda) yang mebedakan tanda-tanda kebahasaan tau dengan yang lain. pesan tersebut memerlukan context (konteks) yang menunuuk pada (. Tanda-tanda ini harus berbeda seiring dengan ada tidaknya ciri pembeda dalam tanda-teanda tersebut. Jakobson menerangkan adanya fungsi bahasa yang berbeda. 2001:56). Langkah-langkah analisis struktural atas fonem yang dilakukan oleh Jakobson antara lain (ahimsa-putra. Jakobson adalah salah seorang dari teoritikus yang pertama-tama berusaha menjelaskan proses komunikasi teks sastra. Agar operatif.. dalam AhimsaPutra. Adresser (pengirim) mengirimkan suatu pesan message (pesan) kepada seorang adresser (yang dikirimi). dan ini dilakukan dengan mengetahui ciri-ciri pembeda (distinctive features) dari suatu suara yang memisahkannya dengan ciri-ciri suara yang lain. dalam artikelnya yang terkenal linguistics dan poetics. Ciri pembeda yang penting di situ adalah suara (voice). Misalnya saa /c/ dan /j/ dalam pancang dan panjang. bukan bunyi sengau (nazal). (d) menentukan perbedaan-perbedaan antar tanda yang masih dapat saling menggantikan (Pettit.) sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan. Keduanya memiliki ciri-ciri positif dan negatif tesebut.. Meskipun begitu . Jakobson yakin bahwa fungsi utama dari suara dalam bahasa adalah untuk memungkinkan manusia membedakan unit-unit semantis. bukan bila-bial. Keduanya adalah konsonan yang diartikulasikan dengan melekatkan bagian tengah lidah pada langit-langit mulut.

Proses komunikasi verbal diskemakan sebagai berikut: CONTEXT MESSAGE ADRESSER __________________ CONTACT CODE (lihat Sobur.2004:59). emnunjukkan ekspresi langsung dari sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakan. 1960. salah satu fungsi dari pesan-pesan tersebut adalah penggunaan alat-alat literatur sebaga metafora dan metonimi. bagi pengirim dan yang dikirimi (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pemakna kode). istilah ’emotif yang diperkenalkan dan dianjurkan oleh Marty. dan akhirnya. memasuki dan berada dalam komunikasi (Jakobson. menurut Jakobson (1996:70). suatu contact (kontak). Disebutka. Hal ini . menurutnya lebih disukai dari pada istilah emosional (Sobur. Fungsi emotif atau fungsi ekspresif yang berfokus pada pengirim. yang dirangsang oleh kualitas-kualitas tertentu pesan itu. Fungsi puitik itu kerap didefinisikan oleh Jakobson sebagai seperangkat (eistellung) yang mengarah kepada pesan secara terpusat (Segersm 2000:16). Fungsi puitik bertumpu pada orientasi spesifik pembaca ke arah pesan. 204:58) ADRESSE Dengan model tesebut memungkinkan Jakobson untuk melanjutkan konsepnya mengenai fungsi puitik. 2000a:16). Pesan-pesan juga memiliki fungsi-fungsi emotif dan referensial.(kode ) secra penuh atau paling tidak sebagian. 2000a:208). Menurut Jakobson (berger. 2000:16). memungkinkan keduanya. suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi. . dalam Segers. Bentuk itu berbeda dengan sarana referensial bahasa. baik yang betul-betul maupun yang dibuat-buat. atau dikatakan juga ’merupakan fungsi dari ekspresi pemikiran bahasa ’puitik (Berger. Oleh karena itu. Strata emotif yang paling murni dalam bahasa dapat terlihat dalam bentuk kata seru. menurutnya cenderung menimbulkan kesan emosi tertentu.

maupun melalui peran sintaksis (kata-kata itu bukan komponen.s esungguhnya Jakobson telah menunjukkan pada 1935 bahwa fungsi puitik atau estetik. tetapi padanan kalimat-kalima). Seseorang dapat mengimajinasikan bahwa dalam bacaan. menjadi pelopor dalam menunukkan segala bentuk pertentangan (pertentangan fenomik. ceramah dan sebagainya (Jakobson. belum pernah ada ahli linguistik yang berhasil menganalisis puisi dan menyingkapkan struktur diskursus poetika. gramatikal. seperti dipaparkan Lechte. seseorang yang menggunakan unsur-unsur ekspresif untuk menunjukan kemarahan atau sikap ironisnya. 1996:71). Lechte (2001:111-112) melihat. dengan jelaskan kemarahan atau sikap ironisnya. (Jakobson. Ia juga. ”Apabila kita menganalisis pengertian informasi pad aspek kognitif bahasa. menurut Jakobson. Rien T. mislanya dalam studi searah. 2004:59). Jakobson memberi contoh : ”tut! Tut!” kata Mc Ginty: ucapan yang lengkap dari tokoh Conan Dyle ini terdiri dari dua kata onomatope yang menirukan suara onga mengisap sesuatu. Singkatnya. dalam telaah tentang praktik perpuisian. tidak terbatas pada teks sastra khususnya dan karya seni umumnya. . misalnya. fungsi putik (yang disebabkan oleh pemakaian bahasa ’sastra ’) bersaing keras dengan fungsi referensial (suatu deskripsi tentang situasi-situasi tertentu dalam sejarah. maupun leksikal. jika perhatian hanya diarahkan pada pesan itu sendiri. pertentangan antara nada dan irama) namun secara khusus pertentangan antara konsonan-konsosnan muncul dalam kelahiran sebuah puisi.” katanya. 2000:16). dengan jelas memberi tambahan informasi dan tentu saja perilaku verbal ini tak bisa disamakan dengan kegiatan non-semiotik nutritif seperti ’makan jeruk’. tetapi muncul uga dalam artikel surab kabar. Segers melihat. menurut Jakobson. adalah orang pertama yang menekankan pentingnya irama dalam puisi karya Maryakovski dan Khlebnikov.fungsi emotif dibentang secara nyata dengan tanda seri dam terasa pad seluruh ucapan: baik pada tataran bunyi.baik melalui pola bunyi (sekuen bunyi aneh atau bahkan bunyi-bunyi yang tidak biasa). Di sini Jakobson menyatukan dimensi-dimensi ’literer’ dan ’linguistik secara keseluruhan’ melalui pengertian tentang struktur yang mempersatuakannya (Sobur. 1935: dikutip Segers. pertentangan antara penglihatan dan suara. Fungsi puitik dapat dijumpai dalam semua proses komunikasi verbal.

Louis Hjelmslev Ahli linguistik dan semiotik Hjelmsle ini lahir di Denmark tahun 1899. konsep tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan. 2001:54). 2001:4). yang kemudian diterjemahkan oleh Francis J. Memang. Pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis. diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk. 5. Ia membagi tnda kedalam expression dan content. Namun. istilah sintagmatik selalu diperlawankan dengan paradigmatik. di dalam uaran atau tindak tutur tertentu. dan expression substance dan contend substance pada pihak lain. maka relasi-relasi sintagmatik. Ia dikenal sebagai ahli linguistik penerus yang berpengaruh dari tradisi Saussure (Masinambow. Prolegomena to theory of Language (1943). Language: An Introduction (1970). Pembedaaan atau diferensiasi tersebut berlangsung melalui dua sumbu : sintagmatis dan paradigmatis (Ahimsa-putra. 2001:17). bahwa baik expression maupun content mempunyai komponen form dan substance sehingga terdapat expression form pada satu pihak. 2000b:iii) (Lechte. Kurniawan. 1992a: 110-111). Maka. Hjelmslev mengembangkan sistem dyadic system yang merupakan ciri sistem Saussure (Masinambow. Whitfield (1963). Ia juga diakui lanigan sebagai tokoh linguistik yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca-Saussure (Lanigan. Pakar linguistik dan semitotika ini lahir di Denmark pada tahun 1899. 1988:124-128). dua istilah yang sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. 2004:60). Sebuah sintagma merujuk kepada hubungan in praesentia antara satu kata dengan kata-kata yang lain. terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui . danmeninggal tahun 1966. (Sobur. 2001:213). Karena tuturan selalu diekspresikan sebagai suatu rangkaian tanda-tanda verbal dalam dimensi waktu. dan meninggal pada 1966. atau antara suatu satuan gramatikal dengan satuan-satuan yang lain. kadangkala disebut juga sebagai relasi-relasi linear (Budiman. dengan perluasan ini. di dalam linguistik pasca-Saussure.Analisis Jakobson atas bahasa mengambil ide dari Saussure yang mengatakan bahwa bahasa atau struktur bahasa bersifat diferensial (differential) atau membedakan. antar lain lewat dua karyanya yang terbaik.

Demikian pula hanya dengan content form yang dari content substance diberikan batas-batas pada bahan tanpa bentuk. Hjelmslev beranggapan bahwa fungsi simbolik yang muncul dalam bahasa. 2000:47). 2004:61). Hamparan laut itu diibaratkan sebagai bahan amorphous.expression subtance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam expression form tersebut. Kontribusi penting lainnya adalah usaha perluasan semiologi Saussure sebagai logika deduktif. pada saat pelemparan terlihat bayangan jala itu yang diibaratkan sebagai substance yang memberikan batasan pada hamparan laut. sebuah tanda dan sebuah tanda masing-masing harus secara berturu-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. (Sobur. Hjelmslev sendiri memberikan metafora bahwa form adalah ibarat jala yang dilempar ke laut. Hjelmslev menegaskan bahwa tanda-tanda tidak bisa dengan sederhana dibanguns ebagai kombinasi diferensial dari penanda dan petanda. yang memuat baik representasi eidetik maupun empiris dari pemaknaan. logika digital Saussurean dan diferensial either/or (korelasi) membatasi sebuah sistem yang tidak lengkap. 1988). bergerak dari semiotik konotatif dan semiotika denotatif dan akhirnya sampai pada metasemiotika dari referensi yang real. dalam arti tanda dalam . Bagi . tanpa bentuk (Sobur. Dalam pandangan Hjelmslev. (2) mengandung hubungan multiplanar. Langkah pertama yang krusial dalam proyek ini adalah mengedepankan langue sebagai sebuah sistem yang mengatur setiap produksi tanda. 2004:61). Sumbangan Hjelmslev terhadap semiologi Saussure sadalah dalam menegaskan perlunya sebuah sains yang mempelajari bagaimana tandahidup dan berfungsi dalam masyarakat (Cobley & Jansz. Metasemiotika yang dimaksud Hjelmslev adalah bentuk penghubungan tanda-tand dalam teks sastra sebagai fakta semiotis hingga membuahkan gambaran semiotisnya (Aminudin. 1999:39). Dia mengusulkan bhawa diferensiasi bisa juga diselesaikan oleh kombinasi dari sebuah logika analog dari diferensiasi both/and mempertahankan ’relasi’ dalam sebuah ’proses’ (Lanigan. Hjelmslev. Sebagai rekonstruksi yang oleh Hjelmslev disebut scientific semiotic. metasemiotika merupakan rekonstruksi sistemis yang (1) dilakukan interpreternya. Ia juga menambahkan kepada semiotika Saussure dengan memperhatikan hakikat dari sebuah tand dalam koneksi logisnya dengan tanda-tanda lain.

maka dimensi yang hendak dijelaskan Hjelmslev tampak begitu terang jika kita mencoba menjelaskan bagaimana kta manifest desnity dipersepsi oleh orangorang Amerika pada kurun waktu tertentu. Arti denotatif yang terkandung didalamnya pun cukup mudah diketahui. namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya.teks selain memiliki hubungan dengan tanda-tanda yang lain dalam kesatuan teksnya. Todorov. 2000:47). sebenarnya tidak hanya demikian yang berlangsung. Meskipun begitu. Para penulis seperti Barthes. Sebagaimana tanda yang lain. Karena itu. linguistik adalah sebuah contoh metasemiotika: telaah tentang bahasa yang juga adalah bahsa itu senriri. yaitu: takdir yang tak terhindarkan. adalah klise yang digunakan oleh presiden-presiden Amerika abad ke-19 untuk merujuk dan membenarkan upaya kolonisasi seluruh dataran. Metasemiotika sebagai rekonstruksi interpreter tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem tanda yang ditafsirkannya dan tidak mempu mengadakan formulasi dan rekonstruksi (Aminuddin. Manifest Desnity. Dalam pandangan Hjelmslev. Hjelmslev (Lechte. sebuah tanda tidak hanya mengadung sebuah hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda). cukup mudah untuk mengenali petanda dalam dsemboyan ini. 2001:205) mengatakan bahwa ’sebuah semiotika denotatif adalah sebuah semiotika adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bukanlah yang semiotik’. sedangkan semiotika konotatif adalah sebuah semiotika di mana bidangnya bersifat semiotik. Menyinggung ihwal manifest desnity . metasemiotika ada sebagai lambang kebahasaan yang memiliki kerangka hubungan secara internal maupun eksternal. kata Cobley dan Jansz. secara potensial konotasi dapat mengaktifkan keseluruhan sistem penandaan yang ada dalam masyarakat (Sobur. 2004:63). bisa dikatakan bahwa dalam tanda tersebut terkandung kekuatan konotasi. dan menurut Hjelmslev ini disebut sebagai suatu ’metasemiotika’. Bidang kandungan bisa menjadi semiotika. Seperti dikatakan Cobley dan Jansz (1999). juga memiliki jaringan hubungan dengan subsistem yang lain secara eksternal. Kenyataannya. dan (3) dalam kesadaran batin interpreter. yang diciptakan pada 1845. dan Eco menggunakan pengertian tentang semiotika konotatif dan . Menurut Hjelmslev.

sekaligus dia berhenti dari RAI. Lalu. kumpulan esai semiotika. Sviluppo dell’estetico medievale. La Repubblica L’Espresso dan Il Manifesto. Guilio Eco. memang kerap muncul dalam tulisantulisannya. ia merupakan praktisi Katolik sampai umur dua puluh dua tahun. 2004:63). Sebelum menjadi intelektual termasyhur dalam bidang semiotika. dan diterbitkan tahun 1956 (Lechte. 2001:3). Umberto Eco Umberto Eco lahir pada 5 Januari 1932 di wilayah Piedmont Italia. Sejak 1975 dia menjadi profesor di Universitas Bologna. 6. Menurut pengakuannya (Cox. Di universitas Turin. Pada 1962. Kemudian di susul dengan The Rule f the Reader: Explorations in the Semiotics of Texts (1981) dan Semiotics and the Philosophy of Language . Eco menyunting A Semiotic Landscape. ia tidak marah atau bersikap anti agama setelah menjadi eks katolik. bahkan mungkin beberapa di antaranya sengaja diperlihatkan. La Stampa. Formasi ini. Tulisan-tulisannya muncul dalam Il giorno. Corriere della Sera. ia mempelajari teori-teori estetika Abad Tengah. seorang akuntan dan veteran dadri tiga perang berbeda. dan menekankan bahwa konsep moralitas yang kokoh yang menggarisbawahi hdiup dant ulisannya mungkin berasal dari informasi awal kekatolikannya. pada 1979. namun mereka masih berhati-hati sehubungan dengan pengertiantentang metasemiotika tersebut (Sobur. 2004:72). seperti dikatakan Harvey Cox (2000:3). Dia kemudian memasuki dunia jurnalisme sebagai editor untuk Program Budaya dijaringan televisi RAI (Sobur.denonatif. Pada suatu waktu dengan sangat menyesal ia pernah menceritakan bagiamana telah kehilangan iman. namun kemudian mempelajari filsafat dan sastra sebelum akhirnya menjadi ahli semiotika. Eco menerbitkan Opera-opera (The Open Work). Pada 1966 dia pindah ke Milan dan menerbitkan Le poetische di Joyce: dall ’summ’ al ’finnegans Wake’. Awalnya ia belajar hukum. ia menulis tesisnya tentang estetika Thomas Aquinas dan meraih gelar doktor dalam bidnag filsafat pada 1954. Saat usia Eco baru 22 tahun. Tahun 1976. 2001:199). Pada 1959 muncul karya keduanya. Di Milan dia mulai menyusun teorinya tentang semiotika La strutura assente (The Absent Structure). Meski begitu. ia menerbitkan A Theory of Semiotics. Ayahnya.

dan Corpus Hermeneuticum dalam Foucaul’s Pendulum). Kedua karya ini mengarah ke aspek-aspek msa lalu dan masa kini dalam teori tentang tanda. katanya. termasuk bahasa Indonesia dengan judul Beriman atau Tidak beriman? Sebuah konfrontasi (Maret 2001) . Umberto Eco sebagai ahli semiotika yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yangpaling komprehensif dan kontemporer. nama Umberto Eco menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. ’Ketika koran Italia ’La Correra de la Serra. mengundang dan mempertemukan novelis intelektual Umberto dan uskup intelektual Carlo Maria Martini untuk melakukan perubahan pandangan dalam halaman-halaman koran mereka. dan The Island of the Day Before (sobur. Lewat Novel The Name of the Rose dan Foucault’s Pendulum. kemudian tampak jelas bagi kita bahwa yang sesungguhnya hendakdia katakan adalah keseluruhan sejarah umat manusia. Paul Cobley dan Litza Jansz (1999:172) dalam Introducing semiotics menulis. Karya-karyanya merupakan sintesis produktif dari hampir semua mazhab semiotika abad ke-20 yang didukung oleh pengetahuan yang luas berupa warisan kajian-kajian klasik tentang tanda (Littlejohn.’ demikian Harvey Cox dalam pengantar pendahuluannya pada buku Belief or Nonbelief. Umberto Eco pernah berupaya menjawab secar apanjang lebar tentang luas wilayah dan batas-batas semiotika. . Menurut Littlejohn. 2004:73). 1996:71). Diskusi tersebut. korespondensinya dengan Cardinal Carlo Maria Martini.dalam pernyataannya. (Sobur. Novel-novelnya antar lain The Name of The Rose (1983).(1984). seperti halnya pada sekumpulan naskah yang bersifat intelektual (khususnya tentang abad pertengahan) dan naskah lainnya (’Sherlock Holmes dalam The Name of the Rose. Namun saya ragu mereka mampu menangkap betapa cemerlangnya hasil konsepsi yang dpat dihasilkan dua orang tersbut hubungan korespondensi Eco-Martini. 2004:73). mereka tuangkan dalam buku Belief or Nonbelief? A Confrontation 91997). para editor jelas-jelas dngan ide-ide segar dan imajinatif. Foucault’s Pendulum (1988). teori Eco penting karena ia mengintergrasikan teori-teori semitika sebelumnya danmembawa semiotika secara lebih mendalam. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia. Terakhir. tambah Cox sebenarnya mampu membuka peluang percakapan intelektual mengenai agama menuju tingkatan yang baru.

Dengan ini ia mampu memuaskan dan saya akan mengatakannya dari perspektif Amerika keirihatian teman bicaranya dalam diskusi ini. 2004:75). Bagaimana pandangan cox tentang Eco yang lewat novel-novelnya cenderung lebih diwarnai dengan refleksi keagamaan yang cukup intens. Foucault’s Pndulum berisi referensi berharga keagamaan abad tengah dan Corpus Hermeticum. belakang ini semiotika menunukkan perhatian besr dalam produksi tanda yang dihasilkan oleh masyarakat linguistik dan budaya. Akankah para pemuka agama Amerika berpikiran sama dengannya dalam melihat negara ini. Menurut pandangan Cox (2001:4) Eco merupakan salah satu orang bijak dewasa yang tidak tertarik pada penyangkalan keberadaan orang-orang beriman namun dengan sungguh-sungguh berusaha mencari iluminasi yang berbeda dari dasar hukum yang sama. teman bicara yang selalu ragu-ragu namun tidak berprinsip skeptis. namun keduanya masih tetap saling menghormati bahkan berusaha menyenangkan lawan bicaranya. 2001:3-4) kemudian menjelaskan: Jika ini digunakan oleh penulis-penulis lain. Akankah kita memiliki teman bicara yang seperti Eco menempatkan dirinya sendiri. Berbeda dengan konsep yang lebih statis . (Cox. nyaris bertolak belakang dengan suasana kehidupan masala lalu Eco yang pernah mengaku telah kehilangan iman?”. kompuer dan albigenses.. Berkaitan dengan semiotika. kita biarkan saja Eco berada di antara mereka mungkin karena seluruh novel dan kesungguhanya menulis sejarah agama di Eropa saja yang menunukkan dia tidak sekadar ikut-ikutan. menjadi karangan bunga setiap awal bab The Name of The Rose?” kata Cox dengan nada tanya.. mungkin tidak percaya pada Tuhan namun menyadari bagiamana arogannya bila pernyataan seperti ”Tuhan tidak ada’ dinyatakan (Sobur. Ia mampu menulis dengan sama mudahnya antara filsfat dan estetika. Namun untuk beberapa alasan. siapa yang dapat melupakakn kutipan-kutipan bahasa latin yang..kebanyakan pembaca mungkin menemukan kutipan-kutipan seperti itu senga dipamerkan. Thomas Aquinas dan James Joyce.memperlihatkan bahwa masing-masing pihak saling menguji dan menantang. para pemikir yang tahu apa yang mereka katakan jika tidak setuju dengan para teolog. seperti surat-surat teriluminasi yang menghiasi teks-teks kitab suci lama yang diperbanyak melalui tulisan tangan.

Suatu ’perihal ekspresi’ bisa dihubungkan dengan ’perihal isi’ yang berbeda-beda. Lampu merah dan lampu hijau juga mengandung makna konotasional yang lemah dari ’kewajiban’ versus ’pilihan bebas’. serta pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce yang bersifat taksonomis. Eco (1979:29) menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan. atau hutan tempat jejak bekas pedati atau jejak kaki mengakibatkan sedikit banyak muncunya modifikasi abadi. budaya yang berbeda-beda dapat memberikan bermacam-macam konotasi terhadap nama tertentu ini (Eco. Eco yakin bahwa ’kode tersebut bukanlah kondisi alami Dunia Semantik Global. 1979:87). Menurut Eco. sedangkan yang lainnya lemah dan bersifat sementara. sistem aturan. 1979:49). sebagian darinya kuat dan stabil. yaitu kode yang terdiri atas hierarki subkode-subkode yang kompleks. dan ingin memustkan perhatian para modifikasi sistem tanda.fungsi tanda merupakan interaksi antara berbagai norma: ’Kode memberikan kondisi untuk hubungan timbal balik fungsi-fungsi tanda secara kompleks’ (Eco. Eco menyimpulkan bahwa ’satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapt ditawar.yang diajukan Ferdinand de Saussure tentang tanda dan pendekatan taksonomis semiotika. Pasanganpasangan yang bersifat konotatif termasuk dalam kelompok terakhir. Eco melihat tiga fungsi tanda: ’alat tukang kayu’. Wana merah dan hijau pada lampu lalu lintas mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi inernasional dan merupakan bagian dari kode yang ’kuat’. ’halus’. Komentar yang sama juga boleh dibuat oleh terhadap nama Napoleon. 1979:56). Eco memastikan diri untuk menyelidiki sifat-sifat dinamis tanda dalam bukunya Theory of Semiothics (1976. Dia menjelaskan pandangan epistemologisnya dengan menggunakan suatu perbandingan. dan juga bukan struktur tetap yang . Pada dasarnya. 1979). Dalam kasus bahasa Inggris untuk kata plane. 1979:127). Objek semiotika boleh diibaratkan dengan permukaan laut tempat kiambang segera lenyap begit kapal lewat. versus ’kasar’ (Eco. ungkapan dan isi dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean)’ (Eco. melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda-beda. dan ’pesawat terbant’. Nama itu menunukkan suatu unit budaya yang dirumuskan dengan baik dan mempunyai tempat dalam bidang semantik dan sejarah. Tambahan lagi. ’dataran’.

dan dengan demikian menimbulkan pasangan pengkodean (Eco. Karena itu. Dalam hal ini ia terpaksa menggunakan apa yang disebut konsep abduksi (abduction) sepeti dianjurkan Peirce. 1979:132). merupakan dasar bagi aspek ganda bahasa sebagai kreativitas yang terikat aturan dan kreativitas yang mengubah aturan (Eco. seperti di kutip lechte (2001:203). Hubungan antara kode dan pesan. yang dengand emikian kode mengontrol pengeluaran pesan dan pesan-pesan baru dapat merestruktur (menyusun kembali) kode. Akant etapi. namun juga mesti . berpendapat bahwa tanda itu tidak hanya mewakili sesuatu yang lain (dengan demikian hanya memiliki arti seperti yang tercantum dalam kamus). John Lechte (2001:200) menyatakan. Ia melihat bawah suatu konteks ambigu yang tidak terkodekan yang ditafsirkan secara konsisten.mendasari kompleks hubungan dan cabang-cabang setiap proses semitik (Eco. Motivasi yang mirip tampak jelas dalam pembahasan Eco tentangt anda dan penandaan yang tertulis dalam semiotic and the Phylosophy of language (1984). 2001:199). Dari sinilah. 1979:161). Di sini Eco. dan suatu naskah selalu menawarkan kesempatan penafsiran yang tak terhingga banyaknya. semiosis yang tak terbatas lebih terkait dengan pengertian ’interpretan’ dri Peirce dimana makna ditetapkan dalam kaitannya dengan kondisi kemungkinan (Lechte. (Ia juga tahu bahwa Peirce mengikuti dua kasus yang agak berbeda di sini. semiosis yang tak terbatas terkait dengan seenis penengah dalam kaitannya dengan kedudukan pembaca. Ichwal Toeri yang dimunculkan Eco dalam bukunya A Theory of Semiotics. Meskipun semiosis yang takt erbatas ini adalah hasil dari fakta bahwa tanda dalam bahasa terkait dengantanda lain. 1979:65). atau pelbagai kode yang belum dimengerti oleh si penerima. walaupun A theory of Semiotics secara eksplisit terkait dengan teori tentang pembangkitan kode dan tanda. Eco ingin menghindari kemungkinan makna tunggal di satu sisi melawan maknayang tak terhingga di sisi lain. jika diterima masyarakat menghasilkan sebuah konvensi. prinsip fleksibilitas dan kreativitas bahasa berasal. Menruut Eco. titik tolak yang mendasarinya adalah pengertian Peirce tentang semiosis yang tak terbatas. Ini merupakan reaksi sementara terhadap fakta-fakta dan situasi yang belum dikodifikasikan. Eco tidak menjelaskan kasus kode-kode tersebut yang tidak terpahami).

2004:75-78). Hal ini tidak asing lagi bagi karya Saussure. 3.tan pa kode. Pandangan yang berlaku di sini adalah ’interpretant’ menurut Peirce. Pengenalan atau peristiwa dilihat sebagai suatu ungkapan kandungan tanda. gejala. Eco menggunakan istilah ’kode-s’ untuk menunjukkankode yang dipakai dengan cara ini. dan disamping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini. atau bukti. sistem) dan parole (laku bahasa). Bisa juga dengan menggunakan istilah Hjelmslev seperi yang juga dikatakan Eco kode mengaitkan bidang ungkapan bahasa dengan isinya. Kerja fisik: upaya yang dilakukan untuk membuat tanda.ditafsirkan.m namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure. minatnya yang utama adalah dalam bahasa sebagai yang tersusun atas langue (di mana kode= tata baasa. Ia melakukan hal ini dengan mengembangkan suatu model yang disebutnya. mengikuti Quillian. sisntaksis. Walaupun dia memberikan sejumlah contoh dalam jenis-jenis kode ini. Dengan kata lain: kode-s bahas itu setara dengan organisasi tertentu pada unsur parole. seperti tanda. sehingga hubungan antara DNA dan RNA dalam biologi bisa dianalisis menurut kode. dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. 2. Kode-s bisa bersifat ’denotatif’ (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah). Penampilan: suatu obek atau tindakan menjadi contoh enis objek atau tindakan. yang menghasilkan semiosis tidak terbatas. Di sini kode sesuai dengan struktur bahasa. tanda-tanda suara atau grafis tidak meiliki arti apa pun. Secara umum kode bisa berbentuk tunggal. atau konotatif (bila tampak kode lain misalnya kode kesopanan dalam pernyataan yang sama). yaitu hurufhuruf abjad. . unsur-unsur pokok dlaam tipologi cara pembentukan tanda adalah : 1. jenis kode morse dimana suatu kode tertentu (garis dantitik) sesuatu dengan sekelompok tanda. Kode dengan jenis ini di mana satu sistem unsur diterjemahkan ke sistem lainnya memiliki penerapan yang sangat luas. sebagai suatu ’model Q’ model kode yang meninjau semiosis yang tak terbatas (Sobur. Menurut Eco.

Julia Kristeva Julia Kristeva selain sebagai tokoh semiotika juga sebagai tokoh teoretisi feminis. dan tanda-tanda matematika. Kristeva menjadikan semiotika struktural Saussure sebagai objek subversi dan pembongkaran. Penemuan: kasus yang paling jelas dari ratio difficult. Ciri aliran ini. menolak hadirnya subjek sebagai agen perusahan dan subversi bahasa (Pilliang. disebabkan di dalam menjelajahi ruang epistemologisnya. sistem tanda itu menurut Eco bersifat terbuka dan dinamis (lihat Sobur. Julia Kristiva lahir di Bulgaria pada tahun 1941 ini mencapai reputasi yang istimewa sebagai seorang linguis dan ahli semiotik ketika ia bergabung dengan kelompok Tel. yang Eco usulkan melalui model Q dan melalui penemuan pembentuk tanda yang sering diabaikan ahli semiotika konvensional adalah kebutuhan dalam melakukan peninjauan kemampuan sistem bahasa agar pembaruan danpenyebaran bisa dilakukan. 2001:203). Quel diParis pada akhir 1960-an dan tahun 1965 ia berangkat ke Paris untuk menuntut ilmu. Karena begitu terarahnya . menurut van Zoest. menjadi landasan suatu kontinuum materi baru (Lechte. subversir dan kreativitas antisosial dalam bahasa.4. Ia masuk ke dalam kehidupan intelektual paris. Bukannya bersifat statis dan tertutup.sebagai yang tidk terlihat oleh kode. Van Zoest (1993:4) menyebut Kristeva sebagai pencetus munculnya semotika ekspansif. 2004:79). Orientasi psikoanalisisnya dalam karyanya selalu meletakkan perhatiannya pada bahasa dan segala manifestasinya. Sebagaimana halnya Derrida. Replika: kecenderungan kearah ratio difficilis secara prinsip. 7. ialah adanya sasaran akhir untuk kelak mengambil alih kedudukanfilsafat. 1999:296).aktif mengikuti seminar Roland Barthes dan terlibat dalam dunia pemikiran kesastraan (Lechte. Menurut Lechte (2001:203).kristeva melihat semiotika Saussure sebagai satu wacana yang hanya menawarkan makna tunggal. Melalui semiotika revolusionernya ia mengembangkan kemungkinan bentuk-bentuk pelanggaran. Contoh-contohnya adalah emblim. tetapi mengambil bentuk-betuk kodifikasi melalui pengayaan. notasi musik. 2001:220). 5.

tanpa merasa keliru dalam bidang metodologi. adalah material kulit telanjang (raw material) dari signifikasi yang bersifat badanian dan hal libidinal yang mestimemanfaatkan. menurut Sarup. pengertian ’tanda’ kehilangan tempat sentralnya. dan psikologis tertentu. semiotika jenis ini terkadang disebut ilmu total baru. Sedangkan simbolik Kristeva. Dengan kata lain. Para ahli semiotika jenis ini. linguistis. organ-organ tubuh dan lubanglubang. tekstual. dan terlalu reduksionistis. sekaligus menyediakan. Dalam hal ini simbolik merupakan keteraturan lapisan atas dari semiotika.s ebagaimana dikutip Fathul A. Husein (2002). mengungkap model umum dari prinsip-prinsip prkatik penandaan Kristeva sebagai berasal dari pemikiran psikoanalsis-struktural Jaques Lacan yang mengintegrasikan analisis Freudian dan semiologi struktural. yang bersumber dari proses-proses primer yang berorientasi materials ebagai sumber pertama ritme dan gerak hidup manusia sejak kita semua berumah tinggal dalam tubuh Ibu.pada sasaran. Dalam An Introductory Guide to Post-Structuralisme and Post Modernism. Dalam pandangan Sarup. Yang semiotik jadinya meluapi batas-batas teks-teks tersebut dalam momen-momen . dan kehidupan sosial berdasarkan distingsi Sigmund Freud yang menyruak di antar apenggerakpenggerak pra-Oedipal dan seksual Oedipal. adalah sebuah sistem yang teroediplaisasikan dan diregulasi oleh proses-proses sekunder dibawah Hukum Sang Ayah. Tempat itu diduduki oleh pengertian produksi arti. Penelitian yang menilai tanda terlalu statis. terlalu nonhistoris. diganti oleh penelitian yang disebut praktik arti. penggerak-penggerak komponen praOedipal dan zona polymorphous erotogenic. semiotika Kristeava. dalam pandangan Sarup. mencampurakn analisis mereka dengan pengertianpengertian dari dua aliran hermeneutika yang sukses pada zaman itu. Hasilnya adalah teks yang bisa dipahami (understandable text) yanglahir dari pergolakan norma-norma halus. Ia mengontrol beragam proses-proses simiosis yang bagaimana pun bersifat rapuh dan bisa rusak ataupudar pada momen-momen penting historis. yakni psikoanalisis dan Marxisme (Sobur. Dalam semiotika jenis ini. konsepsi Kristeva mengenai fungsi-fungsi semiotik dan simbolik beroperasi dalam dimensi psikologis. saluran kearah regulasi dan kohesi sosial. semiotika Kristeva bisa dikorelasikan dengan yang anarkhis. Madan Sarup (1993). Dengan begitu. 2004:79).

yang menjadi substratum bagi teks-teks aktual. ia hanya suatu proses. 2001:221). ”genoteks’ itu bukan linguistik. Bagi sementara orang. Ia bahkan telah menunjukkan minatnya pada tahun 1990 dengan menerbitkan sebuah roman a cle yang berjudul les samourais. La revolution dulangage poetique (Revolusi dalam Bahasa Puisi). masing-masing berkorespondensi dengan apa yang disebut sebagai ’genoteks’ dan ’fenoteks’. genoteks adalah teks yang mempunyai kemungkinan tak terbatas. Karya-karya Kristeva mengenai bahasa. baik fenoteks maupun genoteks tidak bisa berdiri sendiri. dan puisi (Sobur. telah menjadi pusat perdebatan di kalangan feminis kontemporef. Meski demikian. Di sini. seperti kata John Lechte (2001:220-225). Ia selalu menaruh minat pad sifat bahasa dan segala manifestasinya. Karya Kristeva ini. Pada tataran yang sepenuhnya bersifat tekstual. ’fenoteks’ sesuai dengan bahasa komunikasi. yang menjadi pusat perhatianadalah generasi kristeva yang datang sesudah Sartre.istimewa yang khas Kristeva. . dan tampaknya juga merupakan suatu pembongkaran pada kehidupan dan cinta kaum avant-garde intelektual di Paris. 2004:80).sebaliknya. 2004:81). Ini adalah tataran tempat kita biasa membaca saat kita mencari makna kata. Lechte melihat. ia memang dikenal sebagai teoreetisi feminis. Menurut Kristeva (Lechte. subjektivitas. Profesor dibidang linguistik pada universitas Paris VIII yang sekaligus seorang psikoanalis ini mulai merenungkan sifat feminitas (yang dilihatnya sebagai sumber yang tak ternama dan terungkapkan). Dalam pengertian lebih luas. Mereka selalu ada bersama dalam proses yang disebut Kristeva sebagai ’proses penandaan’ (Sobur. Mandrins. yang semiotis dan simbolis. dan seksualitas yang secara khusus dilandasi psikoanalisis Lacanian tersebut. Di sini ia membedakan le semiotique dari baik la semiotique (semiotika konvensional) maupun yang ’simbolis’ lingkungan representasi. kekudusan. mengingatkan kita pada karya de Beauvoir. yakni tiga serangkai kekuatan subversif yaitu kegilaan.pergulatan Kristeva pada hubungan antara bahasa dan pentingnya bahasa bagi pembentukan subjek mendorong Kristeva untuk mulai mengembangkan teori tentang ’semiotika’ (le semiotique) pada tahun 1974 dalam tesis doktornya. imaji dan semua bentuk bahasa yang sepenuhnya terartikulasi.

bentuk melismatik yang terkode. dan berbagai landasan pengucapannya) dipelajari oleh para penulis avant-garde abad ke-19.s egala sesuatu di dalam performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. yangmembentuk jalan nilai-nilai budaya. representasi. Kristeva (dalam Pilliang. 1999:270)menyebut bahasa puitik sebagai produkd ari sifnigiance. Sebenarnya kata Kristeva. ideiolek pengarang. Fenoteks adalah teks aktual yang bersumber dari genoteks.singkatnya. Fenoteks meliputi seluruh fenomena dan ciri-ciri yang dimiliki oleh struktur bahasa. tetapi ia juga menunjukkan bagaimana bahasa puisi memberikan pengaruhnya dalam masa pembentukan sejarah dan ekonomi tertentu. Bahasa puitik. Dalam karya besarnya yang ia tulis tahun 1974. bahasa puitik dapat dikatakan sebagai musuh dari lembaga sosial. 2001:221-222). 1999a:35). kaidah-kaidah genre. merupakan satu proses pengguncangganjingan tidak boleh dikatakan. dan dogmatisnya. menurutnya. sperti Malarme dan Lautreamnt. yaitu masa Perancis Republik ketiga (Lechte. kristeva tidak hanyamenunjukkan bagiamana landasan semiotika bahasa (suara dan iramanya. yang dicari dalam proses pertandaan bahasa puitik bukanlahperpaduan dan kemantapan identitas danmaknamelainkan penciptaan krisis-krisis dan proses pengguncangan segala sesuatu yang telah melembaga secara sosial. Disebabkan oleh sifat antikemapanan. representasi. Bahasa puitik menghasilkan tidak saja penjelajahan . penghancuran-identitas maknamakna dan transendensi (termasuk di dalamnya subversi terhadap kecenderungan agama). 1999a:41). yang dikatakannya merupakansatu-satunya bahasa yang dapat menghasilkan revolusi. dan ekspresi. sekarang dan masa ayangakan datang sebelum tertimbun dan tenggelam di dalam fenoteks tecakup didalamnya (Budiman.selruuh kemungkinan yang dimiliki oleh bahasa dimasa lampau. performansi bahasa yang berfungsi untuk komunikasi. La revolution du language poetique (Revolution in Poetic Language). segala sesuatu yang dapat diperbincangkan.a dalah bahas yang melalui kekhususan operasi pertandaannya.Genoteks dapat pula dianggap sebagaisuatu sarana yang membuat seluruh evaluasi historis bahasa dan aneka praktik penandaan. yang secara langsung berhubungan dengan alibi-alibi ideologis di suatu zaman (Budiman. kebenaran absolut. dan gaya interpretasi.

estetik yang baru. Dalam bentuknya yang paling radikal. batas terjauh darikonvensi moral. yaitu makna yang subversif dan kreatif. chora berada pada sisi dimensi material dan puitis dari bahasa. Sifnigicance adalah proses penciptaan yang tanpa batas dan tak terbatas. sejak ia masih kuliah di Paris pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. .membedakannya dar para ahli semiotika lain yang lebih tertarik untuk melakukan formalisasi cara kerja bahasa konvensional. Kristeva membedakan antara dua praktik pembentukan makna dalam wacana. minat Kristeva dalam menganalisis sifat bahasa puitis yang heterogen. 2004:83). adalah sejanis asal usul. Dalam Revolution in Poetic Language ini. 1999:270). Ia merupakan sebuah perjalanan menuju batas-batas terjauh dari subjek.yang kira-kiramenyatakan kedudukan ibu yang tidak bisa dipresentasikan.yakni (1) signifikasi. Sementara ahlimelihat. tetapi bukanyang bisa diberi nama. yaitu makna yang dilembagakan dan dikontrol secara sosial (tanda di sini berfungsi sebagai refleksi dari konvensi dan kodekode sosial yang ada).seperti pada yang feminim secara umum. Ini. dan (2) signifiance. Maka. pelepasan rangsangan-rangsangan dalam diri manusia melalui ungkapan bahasa. semiotika menjadi disamakan dengan chora feminin. Kristeva juga terus mengembanggkan teorinya tentang subjek sebagai subjek yang berada dalam proses. karena akan menempatkannya pada lingkungan simbolik dan memberi kita suatu pengertian palsu. tetapi dalam bntuk yang radikal. bahasa puitik merupakan batu sandungan komunikasi pada masyarakat dan peradaban yang dibangun berlandaskan rasionalistas transedensi (Pilliang. bukan dalam bentuknya sebagai suatu peralatan statis. Inimemberi rasa untuk menangkap bahasa dalam bentuknyayang dinamis. tabu dan kesepakatan sosial dalam satu masyarakat. akan tetapi sekarang secara eksplisit ia memakai teori psikoanalisis.tata bahasa sendiri. seperti yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli linguistik. tidak saja keperczyaan dan penandaana yang sudah melembaga. seperti dikutip Lechte. Hanya melalui penyaluran rangsangan dalam diri secara bebas dan pelanggaran batas terjauh inilah dihasilkan revolusi dan jouissance dalam bahasa (sobur. Lancanian. keluar dariaturan dan praktis.

karya-karyanya yang lebih kemudian jelas menegaskan bahwa adalah bodoh jika hal-hal yang lain ditingalkan sepenuhnya (Lechte. Subjek dalam hal ini adalah subjek yang tidak berdiri melulu sebagai subjek yang statis yang hanya berada dalam satu bentuk imajiner saja (Sobur. 2004:83). khususnya dalam seni. An Essay on Objection (1980) About Chinesse ’women (1986). Meskipun ini bisa membuka jalan kepada mistisisme. manifestasi proses sepertiapakah esoterisme (sesuatu yang hanya bisa dipahami . Dua buku pertamanya dalam bahasa perancis Semeiotike. antara lain : Revolution in Poetic Language (1974). yang heterogen. Masalahnya kini. agama dan ritual. atau mengharuskan. kata Kristeva. 2001:220). shamanisme. Kristeva menunjukkan minat yang sama kepada penerapan simbolik terhadap lingkup yang tak teraknalisis ini. hal lain yang bersifat radikal pad akehidupan individu dan kultural. Approche semilogique d’une structure discursive tranformatielle (1970). Black Sun (1987). di sana acapkali muncul jika kita lakukan retrospeksi fenomena terpisah-pisah yang tertahan dalam latar belakang sistem-sistem penandaan komunal atau paling tidak yang secara cepat berintegrasi ke dalamnya untuk menunjukkan proses sangat penting dari proses pembentukan tanda atau signifikasi. dan puisi (baca: seni) ’yang sukar dipahami’ (incomprehensible). sebagai upaya untuk menggarisbawahi batas-batas wacana yang bisa berguna secara sosial sekaligus memperlihatkan dengan jelas represi-represi apa yang terkandung didalamnya.dari karya-karya tersebut yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Kristeva melihat bahwa dalam sejarah sistem-sistem pembentukan tanda. banyak menguraikan ihwal semiotika dan semantika (Sobur. Dalam hal ini ia beranggapan bahwa wacana-wacana yang magis. pada momen historis macam apakah perubahan sosial akan sanggup bertahan terhadap. Powers of Horror. sebuah proses yang melampaui subjek berikut struktur-struktur komunikatifnya. Salah satu ciri yang menonjol pada karya Kristeva adalah keinginannya untuk melakukan analisis pada yangtidakbisa dianalisis yaitu yang tidak bisa diungkapkan. secara khusus. karnaval. dan Strangers to Ourselves (1988).Lechte (2001) mencatat tidak kurang dari delapan karya pokokKristeva. esoterisme. Recherches pous une semantique (1969) dan Le Texte du roman. 2004:84).

2004:85). Dalam mencermati hal ini Kristeva memberikan contoh bahwa kata-kata memiliki makna rujukan (referential meaning) oleh karena struktur simbolik bahasa. bahkan terhadap revolusi? Dan di bawah kondisi-kondisi seperti apakah yangpuitik dan yang esoterik itu mampu memperingatkan kita kepada adanya jalan buntu.kultur dan natur. Julia Kristeva mulai dikenal pada akhir 1960-an sebagai seorang penerjemah karya formalis Rusia. tanpa semiotik. dengan mendesak keduanya bahwa penggerak-penggerak yang fisis itu berlangsung dalam representasi penandaan. Di isnilah arti penting tiga dekade lebih Kristeva menulis teoretisasi yang. kata-kata memberi makna hidup (life meaning) atau makna non-referential oleh karena kandungan simiotiknya. tandas Kristeva pada hakikatnya signifikasi menuntut sekaligus semiotik dan simbolik. nada. semua signifikasi hanya kehampaan tanpa nilai penting apapun untuk hidup hkita. dan dimensi gerak dari praktik-praktik penandaan. selain membuatnya lebih fleksibel? Untuk menjawab berbagai persoalan seperti itu. 2002). Ia berhubungan dengan ritme. Husein (2002).oleh kalangan tertentu). Dalam kaitan ini ia menonjolkan teori Bakhtin tentang novel ’dialogis’ seperti juga pengertiannya tentang ’karnaval’. semua signifikasi hanya akan tinggal igauan belaka.dalam pergeseran bata-batas sosial sanggup meneguhkan praktik-praktik penandaan yang seiring sejalan terhadap perubahan sosial-ekonomi. Tanpa simbolik. Dua elemen inilah yang dimata Kristeva mengomposisikan seluruh peristiwa penandaaan. psike dan soma. Elemen semiotik adalah penggerak-penggerak jasmaniah atau yang bersifat fisis yang berlangsung dalam signifikasi.yatiu ’seminalisis’. tidak ada signifikasi tanpa kombinasi keduanya (Sobur. sebuah bonus tak berbahaya yang ditawarkan tatanan sosial pengguna esoterisme untuk memperluas dan menumbuhsuburkannya. seperti dikutip Fathul A. Sebaliknya. Dengan demikian. Mikhail Bakhtin. Seminalisis adalah sebuah ’pendekatan terhadap bahasa sebagai suatuproses . dan secara lebih hakiki. kristeva menjadi seorang teoritisi bahasa dan sastra dengan konsepnya yang khas Kristeva. persoalan dan gambaran. Sedangakn elemen simbolik yang membutat rujukan (reference) menjadi mungkin. mengungkap hubungan antara pikiran dan tubuh. kristeva mengetengahkan sebuah distingsi antara apa yangdisebut semiotik dan simbolik (Husein. Pada sisi lain. Segera setelah itu.

yakni yang dinamakan sebagai ’genoteks’ oleh Kristeva (1989. sejajard engan proses semiosis yang juga tak berujung pangkal. Semanalisis mengkaji strategi-strategi bahasa yang khas dalam situasi-situasi yang khas.intertekstualitas dapat dirumuskan secarasederhana sebagai hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks-teks lain. dalam Budiman. ia merupakan pengkajian terhadap bahasa sebagai wacana yang spesifik. Gerakan intertekstualitas ini tanpa batas. Jonathan Culler (1982:246-247) melihat genoteks ini sebagai teks yangmemiliki kemungkinan tanpa bata dan menjadi landasan bagi teks-teks aktual. Dengan kata lain. Menurut Kristeva. dalam upaya mengenali disposisi semiotika ini perlu diidentifikasikan perubahan pada subjek yang berbicara tadi yaitu subjek yang kini memiliki kapasitas untuk merombak orde yang telahmerangkapnya dengan begitu saja. Menurut Kristeva. 2004:83-86). Sebagai suatu teori tekstual yang tidak berorientasi pada sistem. semanalisis mendekati dan memahami makna secara kontekstual. setiap teks merupakan rembesan dan transformasi dari . setiap teksmemperoleh bentuknya sebagai mosaik kutipan-kutipan. 1999a:105-106). Semanalisis berbeda dengan ’semiotik sistem-sistem yang melakukan deskripsi sistematis terhadap kendala-kendala sosial dan simbolik di setiap praktik penandaan.kemunculan genoteks senantiasa diindikasikan oleh disposisi semiotika. Semanalisis memahami makna bukan lagi sebagai sistem tanda. prinsip yang paling mendasar dari intertekstualitas adalah bahwa setiap halnya tanda-tanda mengacu kepada tanda-tanda yang lain setiap teks mengacu kepada teks-teks yang lain. Linguistics and the Study of Literature. bukan sebagai sistem (langue) yang berlaku umum. menganggap bahwa pengkajian teks beserta dengan konteksnya masing-masing adalah sama pentingnya (Budiman.penandaan (signifying process) yang heterogen dan terletak pada subjek-subjek yang berbicara (speaking subjects)”.dalam pandangan kristeva. 1999b:110). Titik berangkat semanalisis adlah suatuteori makna yang niscaya menyesuaikan dirinya dengan teori tentang subjek yang berbicara. Dalam bukunya Structuralist Poetics: Structuralism. melainkan sebagai proses penandaan yangmemperlihatkan pelepasan dan artikulasi lebih lanjut dari ’drives’ yang dikendalai oleh kode sosial dan belum tereduksi kedalam sistem bahasa. (Sobur.

Greimas mendirikan jurnal language dan juga menerbitkan karya awalnya tentang semantik struktural yaitu Semantique Structurale (semantik struktural). menemukan ciri-ciri yangmenonjol di dalamsebuah teks dan memberikannya sebuah struktur (Budiman. Greimas . Pada tahun 1956. Sepuluh tahun kemudian. ia mulai berminat kepada kultur Abad pertengahan. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditulis pada tahun 1975 tentang hubungan antara karyanya dengan karya Vladamier Propp. Sesudah menyelesaikan licence es lettres pada tahun 1939. yaitu Maurice Merleau Ponty dan Calude levi Strauss. dan tokoh lainnya. mode : Le mode en 1830. Bagi dia. Essai de description du vocabulaire vestimentaire d’apres les journaux de mode de I’epoque” (1948). Dubois. 2001:205. A. iamemulai program doktoralnya yang berpuncak dalam tesisnya tentang. bersama R. J. Genette.J. dalam tahun-tahun penuh ketenangan strukturalisme sekitar tahun 1966. (Mode dalam tahun 1830-an. 8. yang pada awalnya juga dibuat sebagai suatu tesis doktoral. Barthes. (Sobur. Setelah kembali ke Prancis pada tahun 1944. hanya untuk menyaksikan invasiyangdilakukan oleh Jerman dan Rusia. Ia pertamakali datang ke Perancis untuk belajar hukum di Universitas Grenoble. Saat it sedang di kota itu. 1999:51-52).dapat membaca dan menstrukturkan teks. Dalam judul ini tampak nuansa dari karya Barthes.teks-teks lain. Algirdas Julien Greimas Algridas Julien Greimas lahir di Lithuania pada tahun 1917. Bersama Todorov Kristeva. 206). Greimas menerbitkan sebuah artikel yang berpengaruh dan penting tentang karya Saussure. Melalui hal terakhir inilah seseorang.s ebuah karya hanya dapat dibaca dalam kaitannya dengan atau dalam pertentangannya terhadap teks-teks lain yang menjadai resapannya. Tokoh ini meninggal pada thun 1992 (Lecthe. 2004:86). The Fashion System. Essai deskriptif tentang perbendaharaan kata vestimentary dalam surat kabar masa itu). dan tokoh lainnya. beserta harapanharapannya. Greimas mulai mempelajari dialek franco-provencale. yang memanfaatkan karyaduatokoh penting lainnya. Ia kembali ke Lithuania pada tahun 1940. Greimas juga menjadi anggota penelitian semiotik milik kelompok Levi-Strauss di College de France.

buah dri upaya untuk membaca Greimas ini sesuai dengan kerja keras yang dilakukan sekalipun dorongan yang dilakukannya dengan tanpa kenal lelah agar semiotika menjadi ilmiah. . Mengikuti Greimas. kita masih tergoda untukmengikuti contoh Propp. Akhirnya. 2001:205). dalam upaya kita untuk membenarkan model teoretis parsial dan bahkan pada fakta yang tidak teratur. dan menggunakan prinsip untuk bergerak dari yang diketahui ke yang tidak diketahui. Yang pertama adalah bahwa ’contoh dari Prop’ dalam mengembangkan model cerita rakyat Rusia mekipun terkenal sangat kaku maih mempengaruhi karya para ahli semiotika dalam tahun 1970-an yang terilhami secara ilmiah. namun pada saat yang memberimomentum pad semiologi Greimas. baik dalam mengembanagkan teori diskursus yang sepenuhnya semiosis (baca: deskriptif). dan bahkan gerakan dari ’sastra lisan ke tulisan’. anmun pada saatyang sama sangat ingin ia hindari atau ingin ia ubah. upaya untuk secara implisit menyandarkan diri pada kerangka metafisis atau sekumpulan asumsi akan berakibat dikacaukannya semiotika dengan lingkungaanontologi atau ’keberadaan’ itu sendiri (Lechte. beresiko menjadikannya positivistik.mengatakan bahwa meskipun nilai heuristiknya agak berkurang dan meskipun pandangan ini tidak terlalu asli. 1988:xxiv). Seperti yang akan kit alihat. ’dari yang sederhana ke yang rumit’. dari ceritarakyat (sastra lisan) ke sastra tulisan. Hal ini tampaknya datang dari suatu perwatakan filosofis tertentu yang memberi momentum pada semiologi Greimas. agar pengetahuan kita tentang narasi dan organisasi diskursif menjadi semakin meningkat (Greimas. Dalam pernyataan ini paling tidak ada dua hal yang menarik. dari yang sederhana ke yang rumit. mungkin ia bergerak lebih jauh dari ahli semiotika lainnya. yang kedua adalah para pembaca bisa melihat bahwa di sini pengertian metafisis sering disebut-sebut: pergerakan dari ’yang diketahui ke yang tidak diketahui’. Barangkali sejak saat linguistik ingin memisahkan lingkungan linguistik dari lingkungan ekstra linguistik akan cenderung muncul kesulitan yang bersifat konseptual atau bahkan yang bersifat empiris. maupun dalma menyadari segala kesulitan yang datang saat melakukannya. meskipun Greimas tidak lalri dari masalah kesulitan tersebut.

Seperti halnya dalam diskursus naratif. dan sebagainya (courtes.Lintasan intelektual Greiman adalah hasil dari upaya untuk melakukan analisis dan melakukan formalisasi setiap aspek diskursus. Greimas telah manulis tentang diskursus hukum. sememe (inti semie dan semes kontekstual yang sesuai dengan arti kata tertentu). Classeme (atau semes contekstual) anaphora (yang mengaitkan ujaran atau paragraf). Adanya satuan-satuan yang berbeda dari linguistik konvensional yang terus muncul adalah salah satu petunjuk tentang adanya kemungkinan model hubungan antara satuan-satuan ini. 1990:108). tidak seperti Saussure Greimas menekankan bahasa sebagai suatu ’kesatuan struktur penandaan’ yang mensyaratkan bahwa sistem itu sebelumnya sudah ada. Oleh sebab itu. kita temui: seme (satuan artiminimal). Selain itu. Greimas sering tampil sebagai yang dipengaruhi linguistik konvensional baik dalam belokan teknis yang diberikannya kepada istilah umum seperti ’inventarisasi’. dan disini kita bisa melihat pengaruh Merleau Ponty. ia juga mengambil jarak terhadap dorongan idealis yang datang dari para ’bapak’ linguistik umum.’praanggapan’. dan menunjukkan bahwa ’dalam kaitannya dengan bentuk. cara kerja bahasa ini menjadi titik pusat perhatian penelitian Greimas. maupun bagaimana linguistik itu (dalam kata-kata Greimas sendiri) ’menjadi disiplin semiotika yang paling berkembang’. Pada tingkat yang sedikit lebih rendah. didalam diskursus deskriptif terdapat diskursus tentang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. khususnya pada hukum Prancis yang terkait dengan berbagai perusahaan dagang. menjadi yang . Walaupun begitu. 1982:12). Mekipun demikian. tetapi harus diartikulasikan atau dibentuk. satu buah tanda tidak melakukan penandaan. Kosa kata semacam ini berbeda dari terminologi linguistik konvensional karena satuan analisisnya itu bukan kalimat melainkan diskursus. setiap diskursus hukum datang dari tata bahasa hukum yang berbeda dari tata bahasa alami yangmemunculkan diskursus ini’ ((Greimas. atau’praktis’. Greimas menyadari pentingnya suatu sistem. meskipun Greimas mempelajari hubungan antara unsur-unsur diskursus paling banyak berupa diskursus naratif namun bukan hanya kualitas substantif unsur-unsur ini. Dalam mengembangkan jalinan istilah yang autentik suatu kosa kata yang sebenarnya berguna untuk menguraikan dan melakukan analisis secara semiotik pada lingkup diskursus Greimas mengikuti jejak Hjelmslev.

yang akibatnya mengutamakan para pelaku dibalik tindakan. atau ’sistem’ tidak dilupakan. Greimas menerbitkan karyanya yang berjudul Dictionnaire de l’ancien francais (kamus Bahasa Prancis Kuno) Lechte. Seperti yang telah kita lihat. Semiotika struktural menguraikan makna dari makna. Pengertian aturan banyak mendominasi pemikiran para ahli strukturalis awal. Walaupun begitu. Singkatnya. Greimas berusaha mempelajari pembentukan makna dalam diskursus makna sebagai suatu proses penandaan. suatu semantika struktural akan menjadi suatu semiotika struktural saat makna diubah mnjadi satuan-satuan analisis yang menjelaskan pembentukan makna dalam satu konteks tertentu. 1990:12). yang kemudian memulai kariernya dalam leksiografi. Makna ini tidak bersifat intensional (terkait dengan subjek psikologis) atau hermeneutik (makna yang ada sebelum bahasa dipakai). Oleh sebab itu. diskursus itu adalah bahasa sebagaimana ia dipakai. Bila dipahami dengan cara ini. Pada tahun 1969. Walaupun begitu. tetapi bertitik tumpu pada satu jaringan yanag memunculkan makna di dalamnya. maka ujaran harus dipahami sebagai yang tertata dengan cara tertentu. karena bila kita ingin membangun suatu ’tata bahasa’ semiotika pembentukan makna. Ujaran tidak brsifat kontingen atau sebarang saja. karena bagi Greimas pengertian tentang suatu ’jaringan hubungan’ berjalan seiring dengan pemakaian bahasa. Pengertian diskursus oleh Greimas adalah seperti yang dimaksudkan oleh Benveniste: ”bahaa sebagai yang dipakai oleh penutur bahasa itu. Ketegaran ilmiah yang biasa diterima pada linguistik membuat hal ini menjadi suatu awal bangkitnya seorang peneliti yang lebih menghargai ketegaran karya intelektual daripada karya-karya lainnya.’dianggap memiliki klaim terkuat dalam statusnya sebagai ilmu’ (Greimas. Aturan itu mensyaratkan adanya seorang pelaku dibalik suatu tindakan yang patuh kepada aturan-aturan ini. langue. yang ada hanyalah para actant entitas yang . Sebaliknya. semantika struktural melepaskan diri dari konsep makna linguistik konvensional dengan tidak menitikberatkan baik pada kata maupun pada kalimat secara terlepas dari konteks. Karena alasan ini maka semiotika struktural aksi dari Greimas yang mirip dengan etnografi dari Bourdieu lebih menyukai strategi daripada aturan. bagi Greimas. akan jelas bahwa Greimas itu pertama-tama lebih tertarik pad sisi parole dalam persamaan ’langue/parole’. 2001:207).

Dalam logika. ’mengetahui’.dibentuk oleh konfigurasi tindakan-tindakan diskursif itu sendiri. Selain itu. modalisasi adlah yang mencirikan dan membatasi setiap situasi actantial yang memang selalu ada dalam situasi semacam itu. Maka. Bisa saja ada sutu subjek puncak. Greimas cukup cerdik untuk tidak mempsikologisasikan subjek diskursif.membentuk nilai-nilai dasar yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan eksistensi tertentu pada jagat semiotika mikro yang otonom: ’ingin untuk’ dan ’mampu untuk’ berkaitan dengan eksistensi pada tataran semu nilai modal. Bisa juga. Mungkin penggunaan modalitas oleh Greimas lebih dekat kepad a pengertian linguistik karena ia ingin memberikan status aksiomatik pada pengertian ini. modalitas terkait dengan cara bagaimana sesuatu itu bisa berarti suatu hal atau bukan suatu hal.’mampu untuk’. Oleh sebab itu’ ingin untuk’. Greimas mengembangkan sejumlah istilah kunci yang perlu dipahami secara penuh agar semua yang sudah dikerjakannya bisa dipahami. pada awalnya istilahini menunjuk pada ’yang mengubah predikat pada sebuah ujaran’ (1988:193). ’mengetahui’ dan ’mampu . dan lainnya. ’harus’. ”John harus menulis surat’. sebuah kota bisa menjadi actant. Greimas mengatakan bahwa ’pelaku sintaksis’ (Syntactic actant) bukan ’orangyang berbicara’ (subjek ontologis) melainkan ’orang yang berbicara manusia semu yang dibentuk oleh tindak bercakapnya (Greimas. Agar kita bisa memahami cara actant (Greimas. Seorang pelaku bisa sama dengan dua orang pelaku psikologis. sebagai contoh. misalnya sepasang suami istri yang bersama-sama membentuk fungsi yang sesuai dengan diungkapkannya suatu narasi. seperti kota paris dalam analisis Greimas pada ’Two Friends’ karya Maupassant (Greimas.’melakukan’.dalam linguistik. 1990:12). predikatnya adalah dalam cara kewajiban. atau ditinjau dengan kritis. ’adalah’. tidak ada subjek dibalik diskursus. 1988:xxiv). namun ini tidakmenjadi bahan pemikiran semiotika selain ontologi. seperti para pemikir strukturalis lainnya. mengatakan ’ia sakit pada tahun 1930’ dalah memberikan suatu modalitas temporal kepada satu keadaan sakit. Maka dari itu. Istilah kunci pertama adalah ’modalitas’. Oleh sebab itu. pada suatu semiotika struktural jenis Greimasian. benar atau salah. 1988:xxiv) dalam suatu diskursus naratif. dalam sebuah pernyataan. Dengan cara yang sama. yang ada hanyalah subjek yang dibentuk oleh tindakan diskursif itu sendiri.

seperti pada nafsu dan emosi. lebih dari upaya bertindak. 2001:209). Lebih jauh lagi. Untuk menghadapi hal ini. kaerna puisi ini lebih menitikberatkan ketidaklengkapan daripada ’nilai semantik yang diinginkan objek itu’. secara niscaya mereka tidak bersifat kontinyu. Isotopi memungkinkan berbagai unsur berbeda (makna. puisi Eluard menghargai situasi permulaan. Modalisasi bersikap berlebihan dalam menentukan tindakan para actant yaitu subjek dalam diskursus naratif. Hal kunci pada aspektualitas adalah kedudukan penting yang dianggapnya ada pada tubuh dalam kaitannya dengan nafsu dan perwatakan subjek. Hal ini berbeda dngan pertentangan hierarkis ’permukaan/laten’. Greimas memperkenalkan istilah ’aspektualitas’ dalam telaah semiotika tentang nafsu. Terpinjam dari ilmu kimia (Greimas sering meminjam istilah dari ilmu-ilmu alam). melalui pengertian tentang isotopi. Oleh sebab itu. yang menganggapnya mubazir.Greimas mampu memindahkan titik pusat perhatian semiotika darikalimat diskursus. bukannya pada yang bersifat induktif (Lecthe. Oleh sebab itu. ’cinta hanya bisa diraih pada saat-saat pertama. Capital de l a douleur. ujaran) menjadi . Di sini aspektualitas kelihatan dominan dalam puisi karya Paul Eluard. mereka tidak mampu memasukkan keadaan-keadaan yang kontinyu.untuk’berhubungan dengan tataran aktualisasi. ia didasarkan atas suatu prosedur hipotetiko-deduktif’. tindakan. isotopi terkait dengan tingkatan-tingkatan makna yang sejajar dalam suatu diskursus homogenyang tunggal. suatu hal yang bisa mengawali bidang penelitian yang tampaknya bersifat sangat abstrak dan sarat pemikiran (cerebral) (Lechte. kekusutan. Singkatnya modalisasi adalah upaya ’meletakkan’ bentuk suatu ’deklarasi aksiomatik’. dan lebih mirip dengan struktur permainan kata. Sebagaimana ditunjukkan Ronald Schleifer dalam pendahuluan edisi terjemahan bahasa Inggris dari Semantique structurale. Secara singkat. ”Isotopi” adalah istilahpokok lain dalam kosa kata semiotika Greimas. jika modalitas datang dari suatu aksiomatik yang membangkitkan ketidakteraturan. kehidupan manusia saat masa kecil’. ketidaklengkapan. atua kepada perwatakan modalisasi pada keadaan subjek’ (Greimas. Karena secara khusus mereka terkait dengan tindakan. tatapan saat kelopak mata terbuka hari saat fajar. 2001:2009). 1991:5). dan ketidakstabilan proses-proses yang sangat sulit untuk distabilkan.

maka Freud sering berhadapan dengan suatu kumpulan yang sangat heterogen.terkait dengan satu diskursus yang sama. Greimas yang menunjukkan bahwa suatu isotop bisa berupa aktorial saat kalimat yang mengungkapkan berbagai tindakan pada akhirnya menunjuk ke satu pelaku. Bukti yang ditunjukkan oleh bahasa Greimas sendiri tampaknya mengakui kesulitan yang ada dalam hal ini. Yang diyakini Greimas dalam ”isotopi’ adalah bahwa pembedaan kandungan mimpi antara yang ’laten’ dan yang ’tampil’ menurut Freud dalam interpretation of Dreams sudah tidak berlaku lagi (Greimas. yang ’tampil’ dan ’laten’ tampak menjadi berbeda dalam kedua kasus tersebut. tentang perikanan dan persahabatan). pertama dalam kaitannya dengan masalah yang meninjau pemisahan yang bersifat semiotik danmetafisis yangmuncul sejak awal dan kedua. Terkait dengan telaah Greimas tentang karya Maupassant. mungkin perlu kita ingat bahwa saat Greimas meninjau bagaimana suatu naskah yang sudah homogen (misalnya. ”Two friend’. Sehubungan dengan pemisahan yang semiotik dari yang metafisis atau ontologis. dalam kaitan dengan analisis Greimas tentang bagian akhir dari telaah semiotiknya tentang karya Maupassant yang telah disebutkan di atas. ”Two Friends”. Sekarang kita coba mengkaji upaya yang dilakukan Greimas. kita bisa menanyakan hal apakah pemisahan ini memang layak. Meskipun begitu. ”paris” diskursif saat kalimat-kalimat yang dibuat secara independen dilihat merujuk pada subjek yang sama. Hasilnya. figuratif saat naskah menjadi sarana berbagai alegori atau perumpamaan. pemahaman tentang. Dalam telaahnya tentang cerita pendek karya Maupasant. sudah jelas bahwa secara metodologis kita perlu memeriksa komentar tentang akhir kisah secara terpisah dari yang mendahuluinya. yang . dan tematis saat naskah ini menyarankan adanya pengetahuan yang berkembang di luar pengetahuan naratif (dalam kasus yang bersangkutan. Two Friends’) menjadi homogen. 1990:112). Tanpa menolak baik wawasan yang mendalam dari ’isotopi’ maupun kerumitan masalah. bila bahasa alami yang banyak mengandung penyelubungan metafisis harus menjadi sarana ilmu semiotika itu sendiri?. yang darinya harus disusun suatu naskah yang homogen.yaitu ’Two Friends’ (Lechte. 2001:2010).

Bisa kita tafsirkan bahwa (karena tampak tidak bersatu dengan bagian sebelumnya atau mungkin lebih baik. Eksekusi selesai. sedangkan naskah analisisnya hampir 250 halaman panjangnya. yang dicirikan dengan tiadanya gangguan somatik atau nologis. para baris terakhir tertulis: ”kemudian iamulai mengisap pipanya lagi”. Ini adalah yang dituliskan Greimas dalam bagian yang terkait dengan baris terakhir kisah ini: ’Mengisap pipa’ jelas merupakan representasi figuratif dari keadaan tenang. Bagi Greimas. Kontras semacam ini. Di sini para pembaca akan terhenyak oleh adanya kontras yang tajam antara baris terakhir dengan yang mendahuluinya. yangmenjadi ciri khas upaya Greimas (Greimas. dua orang bersahabat ini (the two friends) ditembak karena dianggap menjadi mata-mata perancis. namun dalam kaitan dengan kisah ini Greimas tidk meninjaunya sedikit pun. Setelah tertangkap oleh tentara Prussia (waktu itu sedang berlangsung perang Prancis-Prussia) pada saat sedang memancing.akan diuraikan di bawah ini adalah garis baesar dari upaya untuk menganalisis karya Greimas secara keseluruhan. muatan yang dimunculkan oleh ketidakpedulian tanpa rasa iba sedikit pun dalam hati si perwira Prussia. 1990:59). bukan hanya naskah yang panjang. muatan baris terakhir ini menjadi kunci muatan emosional cerita ini. Segera sesudah itu. Meskipun melalui penggunaan isotopi ia sering merujuk ke simbolisme Kristen dan yang lainnya. Tampaknya mulai mempertanyakan kemungkinan praktis dalam melakukan analisis. tubuh mereka diberi beban dan dimasukan kedalam sungai tempat ikan yang akan mereka pancing. Dalam . perwira Prussia yang memerintahkan eksekusi ini kemudian memerintahkan ikan yang ada untuk dimasak. tetapi juga naskah yang lebih rumit.karena tampak seperti begitu saja diletakkaamn) baris terakhri ini menjadi kunci muatan emosional ceritaini. Pertama. kitalihat bahwa naskah yang dianalisis Two Friend” hanya terdiri atas enam halaman. Selain itu. Lebih penting lagi adalah bahwa cara yang dilakukan dalam menganalisis akhir kisah membangkitkan keraguan tentang kejelasan pandangan penelitian Greimas. baris terakhir ini adalah unsur yang memberikan sumbangan pada sebagian diskursus naratif yang ingin dibangunnya. para pembaca bisa mulai bertanya-tanya apakah Greimas benar-benar telah meninggalkan keindahan linguistik yang mencirikan telaah tentang kalimat.

kemungkinan yang dibentuk oleh modalitas. pembingungan/mistifikasi) naskah oleh tata bahasa (Lechte. secara mendasar tata bahasa ini masih berada di luar sistem yang ingin diisolasikannya. 2001:239). Berdasarkan hal ini.terang ini ia berusaha menyingkapkan struktur yang menentukan kemungkinan adanya diskursus naratif. sekalupun itu berarti bahwa semiotika struktural terpaksa harus menerima tandangan yang paling berat (Lechte. Tata bahasa ini akan menjadi suatu sistem yang implisit terdapat didalam diskursus narasi. 9. Ia tidak mundur oleh penolakan ini. semangat ilmiah yang berada di belakang proyek Geimas ini mensyaratkan adanya keterbukaan dalam upaya melakukan modifikasi teori bila menemui kesulitan. dan sebagainya. Oleh sebab itu. dan melalui salah seorang staf perpustakaan ini ia mulai berhubungan dengan Gerard Genette yang menyarankan agar Todorov mengikuti seminar Roland Barthes di Ecole des Houtes Etudes en Sciences Sociales (Lechte. Setelah menyelesaikan sarjana tingkat pertamanya dan dengan rekomendasi yang diperolehnya dari Universitas Sofia. tindakan kognitif dan pragmatis. Tzvetan Todorov lahir di Bulgaria dan datang ke Paris pada tahu 1963. isotop. Ia (tata bahasa) lebih mendahulukan strategi daripada aturan. Mekipun demikian. 211). 207-211). yang sekaligus disepadankan dengan upaya untuk menghindari penguasaan (maksudnya. mungkin pada prinsipnya muatan emosional pad anaskah ini seharusnya ikut dikaji. ia masih mendominasi naskah ajar (tutor text) dan tampaknya inginmenjadikan naskah ajar ini sebagai sasaran kuncinya. Hubungan dengan Barthes yang menjadi pembimbing dalam menyelesaikan doctorat de toisieme cycle pada tahun 1996 memungkinkannya untuk . Tzvetan Todorov Sebagaimana halnya Julia Kristeva. Dekan fakultas tersebut menanggapi perminaan Todorov dengan dingin dan mengatakan bahwa ’teori sastra tidak dipelajari di fakultasnya dan tidak ada keinginan untukmelakukannya’ (Dosse: 1991:240). lalu ia mulai membaca di perpustakaan universitas Sorbonne. perjumpaan dan pergulatan pertama Todorov dengan karakter dan lingkungan konservatif Sorbonne pra-1968 berlangsung saat ia melamar untuk melakukan penelitian tentang teori sastra di fakultas sastra perguruan tinggi tersebut.

Pada setiap kisah narasi terdapat berbagai tindakan atau peristiwa. ’Makna dari ’Madame Bovary harus dipertentangkan dengan sastra romatik’ (Lechte. Namun. Dua artikel awalnya pun diterbitkan. 1964: 4). Apakah karya ini secara keseluruhan terlepas dari prinsip ini. 2001 : 240). sehingga maknanya bersifat khas dalam otonomi dan ketunggalannya? Todorov mengatakan tidak.mengembangkan artikel pada jurnal semiotika interdisipliner yang berpengaruh. 1966: 126). Baru setelah karya-karya A. makna sutu karya (berlawanan dengan interpretasinya) datang dari hubungannya dengan karya-karya lain yang ada dalam sejarah sastra. seperti para teoretisi struktural lainnya (misalnya Barthes dan Genette). Salah satunya. Pendekatan ini mengarah ke sejenis telah yang dilakukan dalam Litterature et signification – buku yang didasarkan atas tesis doktoral Todov yang mengambil novel epistolari abad kedelapan belas karya Laclos berjudul Les Liaisons dangereuses sebagai naskah telahnya. suatu pradigma struktural kemudian bisa dikaitakn dengan bidang semantik. namun . jika memang demikian. Todorov mengaitkan telah tentang makna dengan kerangka hermeneutik (yang berararti juga humanis). bagaimana dengan makna (sens) karya ini secara keseluruhan? Mengatakan bahwa suatu makna itu bersifat relasional berarti bahwa unsurunsur makna ini membentuk suatu sistem: mereka tertata dengan cara tertentu dan tidak hanya berbentuk suatu kumpulan yang bersifat ad hoc. berjudul ’La description de la signification en litterature’ meninjau berbagai tingakatan analisis struktural dan menekankan bahwa dalam analisis struktural ini bentuk objek literer lebih utama daripada subtansi isinya yang terkait dengan semantik (Todoro. makna unsur-unsur ini ada dalam hubungan antara usnur-unsur tersebut.(Todorov. Pada saat itu. Sambil menggemakan karya Genette tentang narasi (recit)Todorov terus melakukan analisis tingaktan ’kisah’ (historia) dan diskursus dalam artikel telaahan tersebut.J. yaitu communications. 1966: 125). Satu artikel penting lainnya artikel awal Todorow yang menunjukkan pengaruh formalis Rusia adalah ’Le categories du recit litteraire’ (Todorov. Di sini Todorov mengulang pernyataan bahwa ’uraian pada suatu karya serarah pada makna unsur-unsur karya sastra itu : kritikus sastra tampaknya berupaya memberikan interpretasi. Greimas dikenal secara luas.

Secara umum. (2) sebuah narasi bisa memiliki lebih dari struktur yang muncul saat dua model yang berbeda bisa berjalan sama baiknya dakan analisis ini. Seperti Genette. Dengan menggunakan Les Liaisons dangereuses sebagai contoh. kita bisa mempelajari logika dari segala jalinan ini. subjektivitas (atau konteks atau proses narasi). Todorov juga tertarik untuk melakukan analisis waktu. narasi. Hanya bila tingakatan-tingakatan peristiwa dan tindakan dipelajari dengan cukup memadai. Meskipun demikian. Segala proses ini harus tetap reatif tidak tampak bagi para pembaca agar narasi ini bisa tampil sebagai kisah yang penuh intrik. dan objektivitas (atau narasi sebagai penyebutan atau tindak linguistik yang lengkap) pada suatu naskah tertentu. Dalam bukunya.tidak berlangsung dengan mengikuti suatu krologi ideal. apakah dalam setiap novel ada kisah semacam ini? Todorov mengatakan ini adalah kisah yang diciptakan novel itu sendiri. dan (3) di sini tidak mungkin mengisolasi tingakatan tindakan dalam rangka melakukan analisis padanya bisa ’tindakan’ yang berlangsung dalam suatu narasi itu setara dengan keragaman situasi psikologis para pelakunya seperti yang berlangsung dalam Les Liaisons dangereuse (Lechte. Litterrature et signifacation (1967). Todorov merangkum pandangan banyak kaum teoretisi strukturalis generasi tahun 1960- . tetapi mengikuti logika tertentu. Bahkan pada inti argumennya terdapat sebuah genre (jenis) yang didasarkan atas berhasilnya harapan melalui peniruan saat novel epistolari ini didasarkan atas seumlah proses yang ada di dalam struktur novel. 2001: 240). Todorov berupaya memperjelas berbagai proses (procedes) yang memuncukan narasi. Todorov mengembangkan analisis tentang les Liasions dangereuses yang dimulai dalam artikelnya yang dibuat pada tahun 1966. Tindakan dan peristiwa tersebut membentuk suatu kerangka yang sering agak rumit dan kemudian menyatu pada satu krtitik. Todorov menunjukan bahwa : (1) segala tindakan dalam suatu narasi itu tidak bersifat sebarang. Proses-proses ini juga setara dengan fungsi atau makna (sens) setiap unsur yang ada dalam narasi itu. Dengan merangkum pandangannya dalam literature et signification. baik sebagai laku bahas (enonciation) yang memunculkannya gaya dan subjektivitas maupun sebagai sebuah kisah (enonce).

Pencarian makna akhir ini akan sia-sia karena ’makna suatu karya adalah untuk mengungkapkan dirinya sendiri mengisahkan eksistensinya sendiri kepada kita’ (Todorov. Pada tahun 1981. Cukup menarik bahwa setelah membuat tulisan yang cukup berpengaruh tentang Decameron. Saat Todorov berbicara tentang pencarian makna akhir suatu karya yang berada di luar karya itu sendiri yaitu pencarian makna yang berada di luar eksistensi karya yang bersangkutan secara implisit ia mengambil jarak dari pendekatan hermeneutik pada naskah. setiapnovel. Todorov berpendapat bahwa bahkan dalam zaman strukturalis sekalipun. maka pada awal 1980-an Todorov mulai berusaha mempergunakan kerangka yang lebih bersifat interpretatif yang ditujukan untuk melawan pendekatan apolitis pada analisis tekstual formal. pengaruh Romantisme tidak bisa dihindari. dan literatur tentang yang fantastik semua didasarkan atas pengertian tentang otonomi relatif dari naskah literer arah oeuvre Todorov mulai berubah ke telaah sejarah dan teori tentang simbol. ia lalu menulis: ”Melalui rangkaian peristiwa setiap karya.an. pendekatan yang sering diarahkan untuk menangkap pesan akhir naskah (yang sering bersifat ideologis). perbedaan antara fiksi dan non fiksi menjadi problematis bila karya fiktif ini dilihat sebagai proses penciptaanya sendiri karena sekarang fakta dari fiksi ini (yaitu yang berupa non-fiksi) tampaknya menjadi sifat pokok dari fiksi (Lechte. akan tetapi. tentang strukturalisme. Todorov paling menghargai aspek ’antropologi filosofis’ dalam karya Bakhtin yang memikirkan masalah . upayanya untuk membaca kembali oeuvre. Hal ini tampil dengan bagus dalam surat terakhir dari Les Liaisons Dangereusses yang menjelaskan penerbitan kumpulan surat yangmenyusun novel ini. Todorov kembali ke para pembimbing formalis Rusianya saat itu ia lebih banyak melakukan penafsiran terhadap pemikiran mereka daripada memasukkan metode-metode formalis mereka ke dalam karyanya. ceritanya sendiri”. Dengan cara ini. fakta dari kaya fiktif ini bukan suatu fiksi. mengisahkan kembali kisah penciptaannya. Pada satu tataran. 2001:241). 1991:49). Maka dari itu. Bakhtin menjadi suatu titik balik dalam seluruh pendekatannya pada teori sastra. bila pada tahun 1960-an Todorov menggunakan formalisme ataumelalui strukturalisme sebagai cara untuk menolak pendekatan terhadap realisme sosial yang benar secara ideologis.

diri pribadi dengan yang lain. Lechte. dan mengubahnya menjadi suatu dialog naskah yang mengetahui dan agar diketahui? (Todorov. dan Nous et les autres (1989). Diawali dengan usulan bahwa peneliti harus dilihat sebagai yang terkait di dalam objek telaah harus mengalami dialog dengannya Todorov mulai melakukan sederetan penelitian yangmelihat bagaimana searah dan kultur Eropa dan Perancis saling terlibat satu sama lain. bukankah ini adalah ciri pokok pengetahuan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan seperti yang telah diuraikan Bakhtin. ’yang lain’ dalam prinsip dialogis yang diartikulasikan oleh Bakhtin menduduki tempat yang sangat penting. sesudah Dostoyevski. yang tidak bisa menangkap ’yang lain’ ’penolakan kesatuan yang ada pada ’saya’ memiliki pasangannya dalam pengakuan status baru ’engkau pada yang lain’. yang lain’ tidak lagi menjadi obek. Dari sini a berpendapat bahwa pandangan mendasar pada Bakhtin adalah menyadari tidak adanya karya seni. Dua tulisan yang penting di sini adalah The Conquest of America (1982).tentang ’yang lain’. Pada satu tingkat. Oleh sebab itu. Dalam The Conquest of America Todorov menganalisis dan melakukan interpretasi dokumen tentang Columbus dan penemuan benua Amerika pad tahun 1492. orang-orang Indian diserang diperlakukan sepergi ’aning buduk’ dalam . yaitu tidak berhubungan dengan objek-objek ’bisu’ ilmu alam. 2001:243). suatu cara yang sangat khas dan tidak berubah dalam memahami kehidupan (termasuk pandangan tentang apa yang akan ditemuinya di belahan dunialain). Seperti yang sering ditunjukkan Todorov. tetapi menjadi subjek. Orang-orang Indian dilihat dan diperlakukan sebagai binatang liar. yang hanya cocok untuk menjadi budak bangsa Eropa. Bisa juga. jika Columbus memiliki tingkatan sadar dan tidak sadar. Kemudian Todorov bertanya. Pandangan ini diperoleh Todorov dari Dostoyevski melalui karya-karya Bakhtin lebih lanjut. yang penting adalah mengetahui bagaimana hal ini berpengaruh pada sikapnya saat ia benar-benar bertemu dengan orang-orang Amerika Tengah. ini berarti bahwa perilaku Columbus bisa diramalkan: ia bertemu dengan yang lain melalui prasangka kulturalnya (termasuk religi). Bagi Todorov. 1991:107. Ini adalah sebuah telaah yang penuh pengabdian telaah yang dilakukan oleh seorang moralis yang memikirkan hubungan antara orang-orang Eropa dengan Indian. identitas dan perbedaan. ”Akan tetapi.

sedangkan secara berjarak diidealkan sebagai orang liar yang mulia. Ia tidak hanya mengandalkan informasi yang datang dari para informannya. dan ia memanipulasikan situasi yang ditemuinya demi keuntungannya (Todorov. 1984:49). Moctezuma dan orang-orang aztec terbelenggu oleh pandangan tentang dunia yang tergantung pada upaya membaca masa kini secara kaku melalui prisma masa lalu. Sebaliknya. dan mengambil perwatakan psikologis yang negatif dalam hubungannya dengan itu. dan suatu ketika ia menipu para penduduk asli pulau yang sekarang adalah kepulauan Bahama agar mereka berpikir bahwa mereka akan dibawa ketahan terjanji milik para nenek moyang mereka. Cortes berusaha mendapatkan informasi tentang dan dengan demikian memahami cara hidup orang yang akan dia perangi. tetapi ia juga mempergunakan mitos-mitos orang Aztec dalam sebuah muslihat yang bertujuan untuk menyesatkan musuhnya. orang-orang Aztec melihat kedatangan orang-orang Eropa sebagai suatu pertanda buruk. Singkatnya. tidak seperti orang-orang Aztec. abad penaklukan. seperti yang dikatakan Kitab Suci. Meskipun dipengaruhioleh keyakinan Kristen. pertama ia ingin menunjukkan bagaimana tanda dan inerpretasinya. Menurut Todorov. Oleh sebab itu. bahasa dan komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam kontak yang dilakukan oleh orang-orang Spanyol dan Aztec pada abad keenam belas. Di sini Todorov berpendapat bahwa orang-orang Spanyol memenangkan perang penaklukan atas pimpinan Hernando Cortes sebagaian besar karena para penakluk itu mampu bertindak berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari pengamatan. Cortes memupuk ilusi kaum Aztec bahwa ia adalah seorang dewa. Cortes berusaha mempelajari bahasabahas orang-orang yang dijumpainya ini dengan banyak cara. Cortes menyadari pentingnya bahasa dan pengetahuan tentang kultur Aztec. ’pada saat yang sama alteritas manusia ditolak sekaligus diterima’ oleh orang-orang Eropa. Orang-orang Aztec ini menyandarkan diri pada nubuat dan pemahaman tentang nasib yang terkait erat dengannya. Meskipun ia memiliki pengetahuan tentang kultur orang Aztec dan ini adalah hal pokok kedua yang bisa dipikirkan dalam hubungan dengan . Todorov ingin menampilakn dua aspek dalam penaklukan Amerika. saat mereka diadikan budak oleh Cortes ini. Sebagai contoh.pertemuan nyata.

jelas bahwa Cortes berperanan dalam menghancurkan kultur Aztec. serta kemampuan improvisasi yang dibawa oleh karya penulisan ini. Todorov meninjau tema-tema tentang ras. Dalam karya berikutnya nous et les autres (diri sendiri dan orang lain) tentang dialog antara diri dan orang lain. Dalam kesimpulannya. tulisan-tulisan yang universal dan eksotik dalam karya berbagai penulis Levi-Strauss. bangsa. Walaupun tokoh ini tidak bermaksud untuk mengklaim bahwa kultur Eropa itu lebih tinggi derajatnya daripada kultur-kultur lain. dialog seperti inilah yang bisa dan mungkin dilakukan. Di sini yang paling manarik Todorov adalah bagaimana berbagai pengarang menunukkan rasa kepercayaannya kepada perenungan gaya Perancis tentang keanekaragaman manusia mulai dari etnosentrisme yang merangkum semuanya (yang lain dianggap sebagai objek). di mana suara yang lain bisa didengar dengan cara tidak mendengarkan suara kita saja atau dengan cara tidak membungkam suara orang lain. tetapi juga populasi Amerika Selatan yang pada saat itu berjumlah 80 juta jiwa menjadi hanya satu juta jiwa saat penduduk dunia baru berjumlah 400 juta jiwa. ke relativisme yang merangkum semuanya (yang lain adalah segalanya dan diri . Dialog sejati. semakin ini direalisasikan. Tocqueville. Montalgne. Meskipun ia mampu melakukan pengenalan dan pemahaman tentang ’yang lain’ perjuangan Cortes ini akhirnya membawa kehancuran bagi suku Aztec. dan lain-lain. Dialog adalah pengakuan prinsip Rimbaud bahwa ’saya adalah yang lain juga’. salah satu pendirian Todorov yang bisa diperdebatkan adalah bahwa ia menyebutkan peradaban Barat (baca: Eropa) sebagai asal usul dialog dan karya penulisan. di mana ’saya’ dan ’kamu’ muncul bersama-sama.penaklukan ini. Renan. Gobineau. Ini karena orang Spanyol termasuk Cortes hanya tertarik pada emas. Kengerian tentang hal ini mencapai puncaknya selama berlangsungnya kolonialisme Spanyol. Saat itu antara tahun 1500 dan 1600 mereka tidak hanya diperbudak. Todorov menegaskan lagi komitemennya pada prinsip dialog menurut Bakhtin. Dialog ini mensyaratkan adanya kualitas lain. semakin banyak ia menghasilkan kemampuan untuk melakukan improvisasi menghadapi situasi sebagaimana adanya dan bertindak dengan tepat. dan tidak mampu melihat laan mereka sebagaimanusia seperti mereka. Walaupun begitu. Autaud. masih tidak jelas apakah maksud ini sudah direalisasikan atau belum. Chateaubriand.

Sedangkan menurut Todorov. Dalam masa antara penerbitan Conquest of America dan Nous et les autres. apakah ini tidak berarti bahwa pada individu ini terdapat kebebasan terhadap kemanusiaa? Apakh tidak mungkin terjadi suatu keadaaan di mana seorang individu memilih satu nilai yang ada dalam masyarakat? Bukankah ini lebih tepat sebagai soal pilihan moral atau politik yang konservatif? Singkatnya. essai sur Rousseau (1985) yang berupaya untuk menangkan intensitas pemikiran Rousseau. sya masih memiliki kemungkinan untuk terdcerabut darinya. Renan dan Barres adalah orang-orang yang mewakili pandangan pertama. bukannya Todorov tidak membangkitkan hal-hal penting dalam nous et les autres. tampak bahwa ia memang lebih siap untuk melakukan analisis semiotik pad anaskah daripada menangani masalah-masalah filosofis dan mora. Jelas bahwa lingkungan saya mendorong saya untuk mereproduksi perilaku yang diunggulkannya akan tetapi. Levi Strauss mewkili pandangan kedua.sendiri bukan apa-apa). kolonialisme atau universalisme. Di sini ada banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan kepada Todorov. melainkan ia Cuma memberikan jawaban atas masalah-masalah filosofis yang rumit secara tidak lengkap dalam buku yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman tentang pengalaman kontemporer mengenai interaksi antara diri pribadi dan yang lain. ia bersandar pada pengertian apriori bahwa pada dasarnya kebebasan manusia sebagai suatu spesies adalah masalah pribadi: ’dikatakan bahwa kebebasan adalah ciri khas spesies manusia. 2001:244). dapatkah seseorang berbicara tentang kebebasan dalam kaitannya dengan manusia sebagai suatu spesies tanpa jatuh ke dalam biologisme? Apa bentuk hubungan yang sejati antara kemanusiaan dan individu? Jika kebebasan adalah khas pada individu. Todorov terus menulis tentang sifat dan kritik sastra dalam karya seperti Critique de la critique (1984) dan La Nation de la litterature (1987). . dan Face a l’extreme (1991) tentang naiz dan totaliteranisme komunis (Lechte. dalam membahas pandangannya tentang ’humanisme yang berkelakuan baik’. Karena Todorov biasanya bersikap hati-hati untuk tidak tergesa-gesa mengambil sikap sehubungan dengan rasisme. Sebagai contoh. Karya-karya ini secara sebagian bisa dipertentangkan dengan Frele Bonheur.

namun juga membuatnya lekat dengan semiotika. 1997:62). Pertentangan antara arti. Riffatere memperkenalkan istilah Superreader. (meaning) dan . kontradiksi atau kekosongan makna (distorting). Namanya mulai dikenal terutama sejak ia menerbitkan bukunya semiotic of Poetry (1978). yaitu bahwa sebuah puisi mengatakan sesuatu yang berbeda dari makna yang dikandungnya (a poem says one things and means another). maka konotatif) serta pada pihak lain dialektik antara teks dan pembaca. Kelompok ini diharapkan daat mengungkap potensi semantik dan pragmatik dari pesan teks melalui stilistika. (2) adanya ketaksaan. 2001:245). mana denotatif) dan tataran semiotik (istilah Peirce: tataran mistis. yang mungkin hanya dipahami dengan referensi lain di luar teks (Taum. Pertanyaan terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah apakah ketegangan ini seharusnya memang ada ataukah justru dinafikan saja (Lechte. dan (3) sebuah teks memberi peluang bagi pemaknaan unsur-unsur bahasa yang tidak bermakna seandainya berada diluar teks tersebut (creating) (Sobur.Secara umum. 2001:22) menyebut gerakan atau strategi ini dengan ketidaklangsungan (indirection). yang terjadi karena (1) sebuah tanda bergeser dari satu makna ke makna lain atau berfungsi mewakili tanda lain (disflacing). Riffaterret (Budiman. 10. Kesulitan akan muncul bila terdapat penyimpangan ganya. Michael Riffaterre Nama Michael Riffaterre sebetulnya tidak begitu tersohor jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh semiotika atau strukturalisme lainnya. Pokok-pokok pemikiran Riffaterre dalam semiotika adalah apa yang kreap disebut-sebut para ahli sebagai ’a dialectic between text and reader’. 2004:86). Dalam karya inilah Riffaterre mendeklarasikan sebuah pengertian puisi yang tidak sekadar membawa nuansa baru. oeuvre Todorov cukup menarik dan penting sehubungan dengan ketegangan antara keketatan analisis struktural yang diberikannya dengan tulisan tentang komitmen moral tulisan Todorov dalam tahap poststrukturalis. yakni sintesis pengalaman membaca dari seumlah pembaca dengan kompetensi yang berbeda-beda. dialektika antara tataran mimetik (istilah Peirce: tataran kebahasaan.

sedangkan perspektif Riffaterre adalah pembaca (ideal) (Sobur. dan interteks. dalam menurunkan arti ke dalam makna mestilah dilakukan dengan adanya bukti-bukti berdasarkan fakta yang ada. sedangkan pendekatan Riffaterre disebut sebagai analisis resepsi. sebuah puisi. 2004:88). Didalam melakukan komunikasi dengan karya sastra. Hal ini disebabkan bahw pembaca merupakan satusatunya pelaku yang menciptakan pertalian antara teks. Hal ini jelas bahwa perspektif penelitian Jakobson dan Levi-Strauss adlah teks.Jadi.objektif dan umum. tetai seluruh tindakan komunikasi’. bukanlah melulu suatu pesan. subjektif dan khusus. Arti karya sastra selalu berhubungan dengan tema dan bersifat lugas. majas. pembaca sesungguhnya dituntut untuk menemukan makna yang dikandung karya itu secara kreatif dan dinamis. dalam batinnya uga berlangsung transfer semiotik dari tanda yang satu ke tanda yang lain secara terus menerus. dan bersifat kias. Berdasarkan alasan inilah Riffaterre mengkritik model komunikasi Roman Jakobson tentang pesan estetiknya. 1993:29-30). Di samping itu.makna (significance) memainkan peranan yang sangat menentukan. yang bersifat linguistik. Superreader ditanggapi secara serius oleh Jakobson dan Levi-Strauss (196) tentang puisi Baudelaire yang berjudul ”Les Chats’. maksud karya sastra adalah arti yang dihubungkan dengan konsep. ada dua faktor yang penting. Akant etapi. Jika tanpa adanya bukti-bukti. Bauer (1972) dan Ponser (1972). Dalam kasus ini superreader Riffaterre adalah Baueelaire sendiri (yang memutuskan untuk menganalisis soneta dalam Les . Pertama-tama Riffaterre ingin menganalisis proses resepsi yang didasarkan pada seorang pembaca ideal atau superreader. situasi dan sebagainya telah terimajinasikan. Adapun karya sastra selalu berhubungan dengan amanat. Segers (2000:47) menyebut pendekatan Jakobson dan Levi –Strauss sebagi suatu analisiss struktural deskriptif. Metodologi analitik yang diadopsi oleh Roman Jakobson danLevi-Strauss secara mendasar denga metodologi Riffaterre. seperti dikutip Rien T. yaitu teks dan pembaca. seseorang (tokoh atau pelaku). penafsir. Hipotesis yang merupakan landasan analisis Riffaterre terhadap ’les chats’ adalah bahwa ’fenomena puitik. Manakala sebuah teks analisis. maka manka yang ditangkap itu akan bergeser dan berubah-ubah (Santosa.

seperti dikutip Segers (2000:48).fleurs du mal). melainkan pembaca yang ditandai oleh penilaian yang ketat. dalam Segers. Gautier (yang mempara frasekan soneta). ia mampu mengambil sikap subjektif terhadap teks. Riffaterre. ia membuatnya tergantung pada persepsi pembaca selama serangkaian waktu dalam prsoes membaca. Pembaca super mensintesiskan beberapa sikap komunikasional dan dia memiliki informasi-informasi yang maksimum. karena konsentrasi superhuman-nya. yang mengkritik metode Jakobson dan Levi –Strauss dan menanggapi analisis mereka terhadap ’les chats’ dengan interpretasinya sendiri. Riffaterre menggunakan konsep ’pengalaman kontras’ dalam menentukan struktur puitik oleh pembaca: ”Setiap hal dalam teks yang mengajukan pembaca super (superreader) secara tentatif dianggap sebagai komponen struktur puisik’ (Riffaterre. Tanpa menolak prinsip ekuivalensi (riffaterre ternyata memerlukannya untuk menetapkan pola-pola harapan). Ia tidak menilai struktur. Menurut Posner. kritikus (termasuk Jakobson dan Levi-Strauss) karya Larousse Dictionnaire du XIX-eme slecle untuk kutipan soneta-soneta dan informaninforman seperti murid-murid Riffaterre. Bila pengalaman . ”Riffaterre tidak menggolongkan unsur-unsur teks abstrak. aneka penerjemah puisi. 1998). tetapi bermacam-macam struktur. Karena dia tidakmempunyai hubungan dengan dunia nyata. tidak semua ada dalam analisis Riffaterre. Ia tidak menilai struktur. Riffaterre tidak dapat menenggelamkan dirinya sendiri dalam karakteristik tekstual yang amat banyak karena hanya karakteristik dan menerangkan pengalaman tertentu itu yang dipertimbangkan. Kontras muncul ketika harapan pembaca mengenai struktur repetitif terbukti salah dan kemungkinan meramal diperkecil. Pada tempat pertama. menurut Bauer (1972. melainkan menyusun kelompok penilaian yang sudah pasti (Sobur. Roland Posner (1972). memasukkan faktor waktu dalam kedua aspeknya. dikutip Fokkema & Kunne-Ibsch. Keuntungan lebih lanjut analisis Riffaterre adalah penekanannya pada intersubjektivitas. menekankan keuntungan perspektif pembaca dalam interpretasi Riffaterre. 1966. 2004:8). ia mungkin menyadari benar-benar proses resepsi ini. 2000). faktor waktu memegang peranandalam proses membaca. Masalah yang tampaknya tidak dapat dipecahkan dalam pendekatan Jakobson.

Analisis Jakobson dan Levi-Strauss terhadap ’Les Chats’ oleh Riffaterre dianggapberhasil (Fokemma & Kunne-Ibsch. terutama yang terakhir. kontak ini menentukan akseptabilitas obersvasi ekuivalensi dan kepentingan estetisnya. untuk membuatnya lebih tampak. perbedaan antara Jakobson/Levi-strauss dan Riffaterre. (Sobur. Bekerja dari pendirian tersebut (Riffaterre harus menolak dua pembagian yang telah disebut diatas (Fokemma & Kunne-Ibsch. pengaruh ini tampak jelas: ”Maka. adalah kontak antara teks dengan pembaca. 1998). 1998:99) ”Pembagian tiga dan empat. seperti dikutip Fokemma dan Kunne Ibsch dan di sini fokusnya terhadap pembaca tidak bisa diragukan lagi ia mempunyai keberatan mengenai ekuialensi yang menghindarkan persentibilias. seperti dikutip Fokkena & Kunne-Ibsch (1998:99). yangd iharapkan memberi tekanan pada bentuk pesan.kontras terjadi. bisa dilukiskan sebagai berikut: dua orang yang pertama mengumpulkan sebanyak mungkin potensi relasi ekuivalensi. sedangkan Riffaterre berkeinginan untuk hanya memikirkan relasi- . Penekanan pada bentuk bahasa yang diperlukan demi efek puitik. Namun. dan karena itu konstituen-konstituten ini harus tetap berbeda dari struktur. Pembagian menjadi tiga dan empat seperti yang dilakukan Jakobson dan Levi-Strauss. menurut Riffaterre ia bisa mempengaruhi makna secara retroaktif. patut dicontoh dalam kurangnya perseptibilitas ini. puitik. seperti kata Fokkema& Kunne-Ibsch. lebih memaksakan. 1998:98). menurut pendapatnya. 1966. Berhasil dalam pengertian bahwa analisis tersebut menyajikan demonstrasi yang menyakinkan mengenai jalinan yang luar biasa yang oleh mereka bagian-bagian uaran dijaga kesatuannya. jika tidak. Berkenaan ddengan prinsip ekuivalensi. 2004:89). dalam teks yang telah dirasakan.” Bagi Riffaterre yang penting. Setelah pemenuhan proses membaca. menggunakan konstituen yangmungkint idak bisa dirasakan oleh pembaca. bagi yang sepenuhnya setuju dengan prinsip ekuivalensi. itu tidak relevan. dalam Fokemma & Kunne-Ibsch. menggelora lagi untuk memodifikasi apa yang telah kita rasakan sebelumnya’ (Riffaterre. menurut Ruwet (1968). keseluruhan data dan epngetahuan akhir. sekalipun keberatankeberatan itu mungkin dalam pengertian yang sangat teoritis. sekurangkurangnya harus ’tampak’.

Dalam kesempatan ini pembaca mempergunakan segala kemampuan dan pengetahuannya yang ada pada dirinya. yaitu menyejajarkan enam faktor bahasa dan enam fungsi bahasa. 1993) tidak setuju dengan model komunikasi sastra yang diaukan Jakobson. Lagi pula. Di sini Jakobson hanya memperhatikan aspek kebahasaan dalam artian yang terbatas saja. seseorang dapat menanyakan bagaimana pembaca ideal dikonstruksikan dan elemen-elemen mana yang harus dimiliki atau diikatnya. Michael Riffaterre (1978.relasi ekuivalensi yang direalissir. Oleh sebab itu. Lebih jauh Riffatere menjelaskan bahwa yang menentukan makna sebuah karya sastra adalah pembaca secara mutlak. Dibandingkan dengan analisis deskriptif dari Jakobson dan Levi-Strauss. yait berdasarkan pengalamannya sebagai pembaca susastra. karya sastra lebih dari pada struktur bahasa dan menonjolkan karya sastra sebagai sarana komunikasi dan berfungsi sebagai koneks stilistika yang sama dengan koneks harapan pembaca. Model komunikasi sasra Jakobson yang demikian itu dapat menghilangkan relevansi sosial budaya. dalam Santosa. Pola harapan pembaca ini ditentukan oleh segala ssuatu yang pernah dibaca atau didengarnya sehingga susastra mendapatkan maknanya secra menyeluruh (Sobur. dengan mengabaikan aspek-aspek lain. Bauer (dalam Segers. Selanjutnya ia mengemukakan alasan bahwa materi Riffatere telah dirakit dengan menggunakan kuesioner sehingga dasar dan hasil analisis resepsi dapat dicek. ada pula kerugian yang berkaitan dengan analisis resepsi Riffaterre (segers. . 2004:89. Potensi kebahasaan sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia.90). Riffaterre menemukan pemecahan hierarkisasi. analisislinguistik pad asalah satu pihak tidaklah cukup dan pada pihak lain dapat melampaui batas kemampuan seorang pembaca. yaitu untuk menentukan apa yang relevan dengan fungsi puitik karya sastra. Posner menunjukkan bahwa analisis ini testabel hanya sampai tingkatan tertentu. 2000:48) menanyakan apakah tidak lebih benar mendasarkan analisi pada seumlah pembaca real (dan bukannya pada seorang pembaca super) danmenyelidiki respons-respons mereka mengenai teks sebagai suatu kelompok. Dengan cara itu. kritik ini tidak diterapkan pada analisis resepsi historis. dan secara teoritik tidakmenentu. lepasdari arti kata tidaklah cukup. 2000:48). Akant etapi.

sedangkan apa yang dikatakan di dalam sajak adalah kosong dari isi atau pesan. suatu bentukan yang tiada lain daripada senam indah kata-kata (a calisthenics of words). emosi. suatu kesibukan perakitan kata-kata (a verbal setting-up exercise) (Sobur. Pada titik itu sajak adalah suatu bentukan (construct) yang seakan-akan tiada lain kerjanya daripada bereksperimen dengan tata bahasa teksnya. semiosis merupakan sinonim bagi signifikasi (Budiman. yang dinamakan sebagai semiosis. kekosongan. apakah itu . diwujudkan hanya demi pembentukan tanda (semiosis). melibatkan suatu tilikan ke arah struktur paradigmatik yang mengelilingi kata-kata dan struktur inertekstual yang mengelilingi suatu teks puitik. 1999a:107). 2004:91). for it may tell us much about potry’s being more of a game than anithing else”) (Sastrowardojo.dalam membaca sebuah puisi atau figur verbal apa pun. sedang tanda itu suatu rujukan kepada kata ’nothing’. 1999a:107). Ditemukannya pada sajak-sajak penyair Prancis itu bahwa ’pertentnagna yang mendasar. puisi itu tidak lain daripada sekedar permainan belaka (”This is an extreme case but exemplary. Semiosis adalah lawan dari mimesis (Budiman. Di dalam pernyataannya yang dikatakan Subagio Sastrowardojo. moral atau filsafat’. Dikatakannya bahwa penyerupaan dengan kenyataan (mimesis) dalam sajak atau puisi sangat palsu dan semu (quite spurious and illusoryi). yakni tanpa isi. sekurang-kurangnya sepanjang kesastraan itu terwuud dalam puisi dapat sampai pada titik. tempat sajak merupakan suatu bentuk yang sama sekali kosong dari ’pesan’dalam arti yang biasa. Sebaliknya. pernah menyatakan bahwa secara ekstrem dapat dikatakan. proses pembacaan figuratif. atau barangkali dengan gambaran yang lebih baik. yang selalu disebut-sebut dan dipuji-puji teori nya itu oleh pakar-pakar sastra di Indonesia. 1988:14). misalnya saa Barthes. seorang penafsir akan menemukan bahwa pembacaan yang bersifat ’harfiah’ atau mimetik tidak akan memadai.Bagaimana pokok pandangan Riffaterre terhadap puisi? Ahli semiotika. katanya. Bagi beberapa ahli semiotik lain. (1988:15) sebagai berbelit-belit Riffaterre berkesimpulan bahwa bersajak adalah bermainmain dengan kata belaka seperti dalam kecantikan. Ia sampai kepada kesimpulan yang belaku secara umum itu tentang puisi setelah mempelajari sajak-sajak Stephane Mallarme. yang menjadi wadah dari kesastraan (literatiness).

yaitu simile (perbandingan). penyimpangan arti (distorting of meaning). personifikasi. Penggantian arti menurut Riffaterre disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonomi dalam karya sastra. yaitu penggantian arti (displacing of meaning). Dikemukakan oleh Riffaterre (1978. tetapi menimbulkan makna dalam sajak (karya sastra). persajakan (rima). Penyimpangan arti menurut Riffaterre disebabkan oleh tiga hal. dalampuisi nonsense itu mempunyai makna. senekdoki. dengan cara lain. ketaklangsungan ekspresi yang tidak langsung. lebih-lebih bahasa puisi. misalnya konvensi mantra. Kontradiksi ialah mengandung pertentangan. kontradiksi. Tipografi dan homologues. Riffaterre berbicra dalam kaitannya dengan pemaknaan puisi. tetapi sesungguhnya dapat dikenakan juga pada prosa. metafora dan metonimi ini dalam arti luasnya untuk menyebut bahasa kiasan pad umumnya.t idak terbatas pada bahasa kiasan metafora dan metonimi saja. Itulah bagi Riffaterre ciri umum atau hakikat puisi. Nonsense adalah kata-katayang secara linguistik tidak mempunyai arti. dan alegori. sebab hanya berupa rangkaian bunyi tidka terdpat dalam kamus. 2001:75) disebabkan oleh tiga hal. Ambiguitas disebabkan oleh bahasa sastra itu berarti ganda (polyinterpretable). disebabkan oleh paradoks atau ironi. yaitu arti sastra karena konvensi sastra. di luar linguistik. jadi. Jdi. Hal ini disebabkan oleh metafora dan metonimi itu merupakan bahasa kiasan yang sangat penting hingga untuk mengganti bahasa kiasan lainnya. Nonsense itu untuk menimbulkan kekuatan gaib atau magis. yaitu menyatakan pikiran atau gagasan secra tidak langsung. Diantaranya adalah pembaitan. penciptaan arti ini merupakan organisasi teks. dalam Pradopo. dan nonsense. . dan penciptaan arti (creating of meaning) (Sobur.perasaan. untuk mempengaruhi dunia gaib. Penciptaan arti menurut Riffaterre merupakan konvensi kepuitisan yang berupa bentuk visual yang secara linguistik tidak mepunyai arti. 2001:74-75) bahwa puisi itu dari dahulu hingga sekarang selalu berubah karena evolusi selera dan konsep estetik yang selalu berubah dari periode ke periode. moral atau filsafat. yaitu ambiguitas. Akan tetapi. 2004:92). perbandingan epos. enjambement. Ketidaklangsungan ekpresi itu menurut Riffaterre (Pradopo.

Pembacaan heuristic adalah pembacaan berdasar struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konensi (sistem semiotik tingkat pertama. 2004:86-92). Jacques Derrida adalah filsuf postmodern yang paling akuran. 2001:84). Sementara menyelesaikan gelar sarjananya. seorang Pioneer McDonald dan profeson teologi dan etika di Regent College. Bancouver. Gagasan-gagasannya tentang kritik sasatra mengklasifikasikan dia di antara kritikus sastra. 2001:222). ’kata Satnley J. Derrida bisa dimasukkan ke dalam kelompok penulis hermeneutik seauh ia berhubungan dengan bahasa dan makna. Derrida memutuskan tidak menulis tesis ini untuk mencapai gelar doktor. Al Jazair. Apa yang dikatakan Grenz. dilahirkan pada 1930 dalam keluarga Yahudi di El Biar. Britihs Columbia. tidaklah berlebihan. telah tersirat dalam ’semiotika’ Charles Sanders. Setelah menyelesaikan tugasnya. Peirce. Pembaca yang jeli akan segera mengenali bahwa melalui gagasan-gagasan tentang intterpretant dna rantai abadi semiosis banyak argumen yang mesti diabuat Derrida berkenaan dengan teorinya tentang tanda. Riffaterre berpendapat. 11. Ia menyadari permasalahan yang ada dalam ilmu filsafat. Sementara studinya semakin mau. Akan tetapi. pertama kali dapat dilakukan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik atau retroaktif (Pradopo. khususnya dalam hubungannya dengan literatur. Grenz (2001:221). ia tertarik mempelajari filsafat. Jika Foucault adalah murid Neitzsche yang paling seati. ia tetapi tinggal di Perancis untuk studi ke Ecole Normale Superieure (ENS). Paris. untuk bisa memberi makna sajak secara semiotik. Ia kian yakin pada kesimpulannya bahwa filsafat adalah semacam bentuk sastra literatur (Grenz. beberapa komentator mengatakan bahwa ia justru seorang filsuf yang anti hermeneutik. meskipun . Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan karya sastra berdasarkan sistem semiotik tingkat kedua atau berdasarkan konvensi dasarnya.Menyinggung soal makna sajak. Jacques Derrida Jacques Derrida. Pembacaan hermeneutik dlaah pembacaan ulang (retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya (Sobur. Ia pergi dari rumahnya ke Prancis untuk menjadi anggota militer. maka Derrida adalah penafsir postmodern yang terpenting tentang Nietzsche.

saat ia menjadi filsuf yang barangkali paling terkenal di dunia. ia belaar dibawah bimbingan Husserl. Derrida sering mendapat hambatan dari masyarakat akademik Inggris. Derrida banyak disebut-sebut sebagai lelaki yang sangat cerdasa. melalui rangkaian jabatan profesor di Amerika. ’barangkali cara penafsiran Derrida memang cocok dengan atmosfir Amerika’. Meskipun demikian. baik Foucault maupun Lacan yang berpengaruh terutama karena teori filmnya. pada 1992. di wilayah studi-studi tekstula (terutama teori sastra) Derrida akan menjadi seorang mahaguru.dia sendiri mengingkari anggapan orang tentang posisinya sebagai filsuf atau sastrawan (Derrida. 1993: 109). mulai dari filsuf-filsuf Yunani klasik seperti Plato. Seperti Foucault. 1993). Ia seringkali juga disebut sebagai post strukturalis. selama 1970-an dan awal 1980-an. kemudian Kant. Kelonpok ini didirikan ketika dalam rangka rencana pembaruan pendidikan peranan . 1972. Sekarang ia mengajar di ENS sebagai maitre-asisstent. dan Universitas Cornell (Sobur. dan Aristoteles. Sebaliknya. 2004:94). Irvine. sayangnya nasib Derrida kurang begitu beruntung di dunia akademik. Husserl. meski ia sendiri menyangkal kecenderungan strukturalis (Sumaryono. Ia mengandaikan para pembaca tulisannya adalah orang-orang yang termasuk pakar di bidang seni dan sastra. seperti dituturkan Cobles dan Jansz (1999:100). dosen tetap bidang filsafat. Freud. Hegel. Di Inggris. meskipun dalam bentuk yang sudah diacak-acak. dalam Sumaryono. Neitzsche. Namun. Ia juga menjadi profesor tamu pada Universitas California. Ia dengan tekun mempelajari karya-karya filsafat tokoh-tokoh besar. Ia banyak mengutip teks-teks Yunani dan Jerman asli dan sangat sering mengupas kembali naskah-naskah berbahasa Perancis. menjadi figur-figur intelektual terkemuka. Bahkan. Derrida aktif dalam berbagai kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan posisi yang wajar bagi pengajaran filsafat di tingkat sekolah menengah: Greph (Groupe de recherche sur l’ensignement philosophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). Tetapi karya-karyanya sulit dimengerti. tokoh fenomenologi Jerman yang hidup di tahun 1859-1938. dan Heiddegger. Sejak 1974. ada yang melakukan kampanye menolak penghargaan akademik yang hendak diberikan kepadanya di Cambridge. kata cobley dan Jansz.

. ia menghantam poisisi filsafat. Tulisan-tulisannya bergerak antara sifat bermain-main dan sifat sengaja mempermainkan aturan-aturan literatur yang selama ini ada. Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang menurut ohn Lechte (2001:169) dianggap paling terkenal. dengan demikian. dikumpulkan dalam buku Du Droit a la philosophie (1990) (Tentang Hak atas filsafat). Mereka merasa disiplin ilmu mereka mempunyai hak melemparkan pertanyaan mendasar terhadap ilmu-ilmu lainnya misalnya : ’Apa itu literatur? Atau ’apa itu puisi?’ Derrida keberatan dengan konsep demikian (Grenz. Critique. diantaranya. Writing and Difference (1978). 2001: 222). Margins of Philosophy (1982). beberapa diantara artikel itu. (Siapa takun pada Filsfat?). ditambah dengan karangan-karangan baru. (1981). Sebaliknya. Spurs: Nietzsche’s Style (1979). misalnya dalam Qui a peur de la philosophie? (1977). Ia banyak menulis artikel dalam terbit-terbitan perhimpunan ini. The Archeology of the Frivolus. Ia mulai memperoleh perhatian publik pada tahun 1965 sewaktu ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah urnal yang terbit di Paris. Limited Inc (1977). Ia sangat keberatan terhadap para filsuf yang menganggap diri mereka sebagai pengamat yang objektif. secara tidak langsung ia mewaspadai usaha filsafat untuk membagi tulisan menjadi beberapa bentuk. Strategis ini membuat tulisan Derrida melawan struktur yang ada. meliputi : Speech and Phenomena (1973). Dissemination (1981). Signeponge/Signsponge (1984). Ia mengatakan bahwa selama ini ilmu filsafat hanya berani menilai dan menghakimi jenis sastra literatur lainnya. Reading Condillac. The Origin of Geometry (1977).. yakni Of Grammatology (1976). dan The Post Card (1987). Buku-buku lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. tetapi menolak digolongkan sebagai salah satu jenis sastra. Guna melawan kecenderungan ini. Derrida memasukkan bentuk sastra literatur lain ke dalam area filsuf (misalnya. Positions (1981). puisi). Ia menganggap dirinya mampu memandang dari sebuah titik puncak terhadap aktivitas secara literatur lainnya. Tulisan-tulisan Derrida sangat sulit ditafsirkan. Jacques Derrida memulai kariernya sebagai filsuf akademis tahun 1955.filsafat pada sekolah menengah mulaid ipersoalkan.

Ia juga tidak membatasi diri pada suatu penelitian mengenai praandaian-praandaian dan implikasi-implikasi dalam teks-teks yang dibicarakan. komentar dalam bentuk yang khusus. 2004:95).Ia. Senjata yang Derrida gunakan adalah dekonstruksi. Ia mengajak kita menuju cara baru dalam membaca dan menulis (Sobur. Melihat karya-karya Derrida secara sepintas lalu kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa hampir semua karangan yang ditulisnya hingga sekarang merupakan komentar atas pengarang-pengaran lain: filsuf-filsuf. derrida tampil sebagai seorang ahli membuat makna ganda dan makna tersembunyi. ’pembongkaran’ (Bertens. menggunakan beberapa teknik untuk menghasilkan sifat tersebut. sebagai suatu penelitian objektif. seperti diceritakan Grenz. dan para sstrawan. Dengan mengomentari teks-teks tersebut ia menyajikan suatu teks baru. Ia menyusun teksnya sendiri dengan ’membongkar’ teks-teks lain dan dengan demikian ia berusaha melebihi teks-teks itu dengan mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan dalam teks-teks itu sendiri. Tujuannya bersifat destruktir (menghancurkan). Agak berbeda dengan pendahulunya. sebab dengan cara itu pemikirannya sendiri berkembang selangkah demi selangkah. Ia tidak berusaha menyusun sesuatu yang baru berdasarkan yang lama. Terkadang pula ia menyajikan percakapan yang mencakup beberapa suara atau satu suara utama yang diinterupsi oleh seorang juru bicara. para ilmuwan misalnya Freud. Ia tidak memberi penafsiran begitu saja. dan Levi-Strauss. Namun. Saussure. menghancurkan tradisi logosentrisme Barat. Prosedur atau langkahlangkah ini oleh Derrida disebut dekkonstruction. Banyak tulisannya bersifat percakapan dengan tulisan-tulisan filsuf besar dan penulis terkenal lainnya. Dekonstruksionisme menjadi paham yang amat penting dan berpengaruh besar terutama sekali karena ia menghadapkan dirinya dengan satu paham yang amat . Derrida hendak melucuti cita-cita modern yang memandang filsafat sebagai ilmu murni. Terkadang ia mencampurkan dua teks dengan meletakkan secaraberdampingan sebanyak beberapa halaman yang terpisah secara vertikal atau horizontal. Derrida bukan seorang pembuat mitos baru. 2001:328). Melalui semua ini. Ia juga menolak konsep adanya hubungan langsung antara bahasa kita dan realitas di luar kita.

Ia mulai dengan menegaskan bahwa dekonstruksi bukan sebuah metode atau sebuah teknik. Dalam bahasa Yunani. Bagi Derrid. 2001: 179) mendefinisikan logosentrisme sebagai ’keinginan akan suatu pusat’. Intinya. atau sebuah gaya kritik sastra literatur atau sebuah prosedur untuk menafsirkan teks. Ilmu filsafat adalah menjadi target utama dekonstrusi. sehingga logosentrisme juga disebut ifonosentrisme. Derrida (Selden. tradisi yang hidup berabad-abad dan tetap hidup sampai sekarang. pada mulanya adalah ’kata’. Paham ini adalah apa yang oleh Derrida disebut sebagai logosentrisme tadi atau fonosentrisme. (Sobur. secara lebih khusus. dekonstruksi berhubungan dengan bahasa. dekonstruksionisme juga berhadapan dengan paham yang sebelumnya juga amat berpengaruh.berakar dalam lama tradisi filsafat dan pemikiran pada umumnya. Dekonstruksi menggunakan asumsi filsafat atau filologi tentu untuk menghancurkan logosentrisme. Ia memperingatkan kita agar tidak menggantikan pembacaan dekonstrusktif dengan pemahaman konseptual tentang pembacaan tersebut. Menurutnya. logos itu sendiri ’kata’. 2001:235). 1989. Tulisan tidak mempunyai acuan lain di luar dirinya. 2001:235). yatiu strukturalisme. Meski sulit didefinisikan. Dan ’kata’ berarti sesuatu yang diucapkan. dikutip Faruk. Justru dekonstruksi menolak definisi karena Derrida menghalangi pendefinisian tersebut (Grenz. Dekonstruksi adalah segala sesuatu yang derrida tolak. Filsafat terlalu ditekan untuk selalu mencari dasar transenden bagi bahasa kita. Logosentrisme adalah anggapan adanya sesuatu diluar sistem bahasa kita yang dapat diadikan acuan untuk sebuah karya tulis agar kalimat-kalimatnya dapat dikatakan :’benar’ (Grenz. ”logos’ yang mengkonsentrasikan pusat kehadiran pada sabda Tuhan. Asal istilahnya berpusat pada Perjanjian Baru. bersifat fonotok. ’prinsip utama’ filsafat tidak boleh berupa dasar transenden yang menyatukan segala bahasa. Dekonstruksi sangat sulit didefinisikan. Derrida menegaskan bahwa tradisi filsafat Barat terlalu logosentris atau objektivistik. tidak ada tulisan yang dapat dibatasi oleh dasar transenden. Selain itu. ada sesuatu yang dapat dikatakan tentang dekonstruksi. Prinsip utama filsafat harus berupa simbol-simbol . 2004:97). Tak ada kerangka acuan yang dpapat menghasilkan sesuatu selain dongeng yang diciptakan dari kata-kata.

interpretasi. kita tidak dapat mengeluarkan sebuah dalil destruktif tunggal yang belum termasuk ke . akan identitas diri dan ’kedekatan diri’ atau ’kepemilikan diri’. tanda (tanda tanpa kehadiran kebenaran). terjebak dalam semacam lingkaran. meski hampir semua filsuf para-Heidegger mengagungkan pembahasan tersebut (Sobur. determinasi ’yang ada’ sebagai kehadiran. tujuan filsafat bukan mempertahankan atau menjelaskan sistem-sistem ini. Derrida mulai dngan mengomentari atau mengutip kritik metafisika Nietzsche. Tambahnya pula. hanya saja Derrida membumbuinya dengan beberapa resep linguistik dan metode gramatologi ciptaannya. Lewat suatu pendekatan yang disebut sebagai ’pembongkaran’ atau ’dekonstruksi’. kritik Freudian atas ’kehadiran-diri’. kritik atas konsep ’yang ada’ dan kebenaran untuk disubstitusikan dengan konsep-konsep permainan. 2004:97). Derrida (2001: 28) menandaskan: Tak ada makna dalam tindakan tanpa konsep-konsep metafisika dalam rangka melawan metafisika. Di sini. ontoteologi.yang tidak berdasarkan sesuatu apa pun selain bahasa. jelas Derrida. Ketika hendak melukiskan bentuk hubungan antara sejarah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis. yaitu kritik atas kesadar-an. dimulai dari Plato dan berakhir di tangah Heidegger. dan lebih radikal lagi adalah penghancuran metafisika. Ia menerapkan metode ini dalam metafisika Barat klasik. tetapi merobohkannya (dekonstruksi). Lingkaran ini unik. Semua wacana destruktif ini dan semua analogianalogi mereka. Istilah yang dipakai Derrida adalah pinjaman dari Heidegger. kata Derrida. akan subjek. alat Heidegger. Derrida mengklaim kerelativitasan metafisika. Dekonstruksi pertama kali dibakukan Derrida dalam bukunya De La Grammatologie (of Grammatology) tahun 1967. Kita tidak mempunyai bahasa tidak sintaksis dan tidak juga leksikon yang asing bagi sejarah ini adalah. Lalu ia menggambarkan bentuk hubungan antara searah metafisika dan kehancuran sejarah metafisika itu. Derrida memulai penelitian mendasar pada bnetuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum identitas.

logika. cara klasik. tidak dapat membuat kita lupa bahwa konsep tanda tidak dengan sendirinya melewati atau menjangkau oposisi antara yang dpat dirasakan dan dapat dimengerti tersebut. penanda dari petandanya sendiri. dalam maknanya. penanda mengacu pada suatu petanda. cara yang kita gunakan berlawanan dengan . tanpa risiko penghapusan perbedaan (seluruhnya) dalam identitas diri suatu petanda yang direduksi menjadi dirinya sendiri atas penandanya. penanda berbeda dan petandanya sendiri. Menurut Derrida (2001: 29-30). mulai sekarnag. maka kata penanda sendiri yang seharusnya ditinggalkan sebagai konsep metafisika (Sobur. Namun sejak setiap orang mengharapkan untuk memperlihatkan bahwa tak ada petanda transendetal atau khusus. sebagai tanda diri. Dalam pandangan Derrida. serta oleh sistemnya. hanya dengan mengeluarkan hal itu keluar dirinya. tercapai dengan reduksi atau penurunan penanda. Ia kemudian mengambil contoh metafisika kehadiran diserang dengan bantuan dari konsep tanda. menurutnya tidak mempunyai batas. jika seseorang menghapus perbedaan radikal antara penanda dan petanda. 2004:99). Kepentingan. Menurut Derrida. jika tanda. Ia. konsep tanda ditentukan oleh oposisi ini: melalui dan melalui keseluruhan totalitas sejarahnya.dalam bentuk. kata Derrida. Karena ada dua jalan heterogen penghapusan perbedaan antara penanda dan petanda: pertama. katanya. Tapi. seharusnya memperluas penolakannya terhadap konsep dan kata tanda itu sendiri yang tepatnya sesuatu yang tidak bisa dilakukan. atau kepada apa yang dianggap sebagai sesuatu yang sama. terutama dalam penyampaian tanda pada pemikiran yang lain. dan postulat-postulat implisit dari apa yang tepatnya dicari untuk dipertentangkan. Menurut Derrida. Mengomentari pendapat Levi-Strauss dalam pendahuluan bukunya Le cru etle cuit bahwa ia telah ’berusaha melebihi oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti dengan menempatkan diri (dirinya sendiri) sejak awal pada tingkatan tanda-tanda’. kita tidak bisa menyerah begitu saja pada kompleksitas metafisika pada memberikan kritikan yang kita arahkan melawan kompleksitas ini. dan bahwa bidang atau pengertian yang saling mempengaruhi. kekuatan dan legitimasi dari tindakannya. kita tidak dapat melakukan sesuatu pada konsep tanda (Sobur. menurut Derrida. 99). Karena pengertian tanda selalu dipahami dan ditegaskan.

menurut Derrida. adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku (Assyaukanie. pertama dan terutama sebagai oposisi antara yang dapat dirasakan dan dapat dimengerti. dekat pada formulasi atau bahkan dengan pembentukan lingkaran ini” tandasnya. ’penganut Plato’ terakhir. khususnya pada wacana mengenai ’struktur’. Dekonstruksi. Hal tersebut. katanya dapat melakukan hal yang sama pada Heidegger sendiri. atau pada orang yang lain. membutuhkan tanda yang sedang dikurangi (Sobur. menurutnya. Derida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni. sebagai ahli metafisika terakhir. Inilah. Paradoksnya adalah bahwa pengurangan metafisika dari tanda. misalnya dari metafisika yang dikerjakan Neitszche. Dan sekarang ini. berada di dalam konsep-konsep yang yang diwariskan. Seseorang. dalam Nurcahyono.yang pertama disini. Karena konsep ini bukanlah unsur-unsur atau atom-atom dan karena mereka diambil dari seubah kalimat dan sebuah sistem. dapat diperluas pada semua konsep dan semua kalimat metafisika. ’yang memungkinkan para penghancur ini untuk saling menghancurkan satu sama lain. Tapi tandas Derreida. 2004:99). 1999:95). Heidegger menganggap nietzshce. Dicontohkannya. Konsep dekonstruksi yang dimulai dengan konsep demistifikasi. ”Mereka relatif naif. yang didalamnya reduksi sebelumnya berfungsi. setiap keterangan berhubungan dengan seluruh metafisika. pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (signifier) melalui penyusunan konsep (signified). katanya. Dalam teori Grammatologiy. Opposisi. bersamaan dengan reduksi. menurut Derrida perbedaan-perbedaan yang menjelaskan keragaman wacana destruktif dan ketidaksetuuan antara mereka yang membuatnya. tercapai dengan menempatkan ke dalam pertanyaan. Dan apa yang ia katakan di sini tentang tanda. dengan kejernihan dan kekakuannya sebagai tidak jujur dan salah konstruksi. . adalah bagian dari sistem. pada Freud. sistematik. menurut Derrida tak ada penggunaan yang tersebar lebih luas (Derrida. empirik. ’inilah’ jelas Derrida. 2001:31). ada banyak cara terperangkap dalam lingkaran ini. dalam pandangan dia. Freud dan Heidegger.

2001: 39-40). prinsip di plesetkan sehingga berada di pinggir. dan (2) apokalips tanpa akhir (apokalupse without end) (Tedjoworo.karena semua tanda senantiasa sudah mengadung artikulasi lain (Subangun. namun yang dipahami adalah pandangan Derrida ini sama sekali menolak paham asal usul (originalita). Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan hampir tanpa batas. mimesis tidak mengacu pada origin tertentu. Strategi dekonstruksi dialankan dengan asumsi bahwa filsafat barat bisa mempertahankan ide tentang pusat sebagai kehadiran murni hanya dengan cara menekan efek-efek metaforis dan figuratif yang menjadi karakter bahasa. yakni : (1) mimesis tanpa asal usul (mimesi without origin). ’Menulis’ karenanya adalah sebentuk mimesis. Jacques Derrida mengacu pada dekonstruksi ganda terhadap paham asal usul dan terhadap pemahaman akan mimesis dalam teks m malararme berjudul . dikemas dalam dua pokok. Puncak dekonstuksi Derrida. mimesis itu tanpa asal usul. yang ada adalah repetisi dan reiterasi. Dekonstruksi. 2004:101). menurut Derrida. cara terbaik untuk mendekonstruksi metafisika asal usul (origin) adalah dengan mendalami penyelidikan atas ’menulis’ (ecriture). Plato membandingkan jiwa manusia dengan sebuah buku (Biblos). pertama sekali adalah usaha membalik secara terus menerus hierarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahwa sebgai medannya. Ia mengacu pada terminologi ’menulis’ yang meliputi segala aspek pengalaman yang ditandai dengan jejak-jejak signifikansi. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. 1994:61). Mimesis hanyalah demi mimesis (Sobar. yang banyak disbut sementara ahli sebagai dekonstruksi postmodernisme terutama dalam kaitannya dengan bahasa. Sekilas pandangan ini seolah-olah kembali pada pandangan Plato tentang mimesis. Tidak ada peristiwa awal dalam suatu lingkaran makna. Dengan demikian yang semula pusat. fondasi. tidak lagi fondasi dan tidak jadi prinsip. Dalam pandangan Derrida. Pertama. Yang mengkopi dan mengilustrasikan pengalaman manusia dalam proses ’menulis-mimetik’ yang dilakukan oleh ’penulis internal’ (grammateus) dan ’pelukis internal’ (zographos-demiurgos). Sebaliknya.

Kata ini juga membuka suatu permainan dekonstruktif tanpa pernah terjadi objek di bawah tatanan logosentris. Kata ini disebutnya sebagai yang memperkuat nada apokaliptik.93-101. bagai upaya konseptual maupun linguistik untuk memutuskan makna dari sesuatu. Juga kata itu tidak dapat disituasikan secara temporal. ciri dekonstruktir pemahaman kata ’datang’ itu meruntuhkan be utuskan makna atas parodi. yang mengandalkan pada keabadian. membentuk figur dan imaji yang tidak dapat diasalkan pada ucapan yang mendahuluinya. Akhirnya. ketidakpasatian. lebih mampu mengakomodasi dinamika. ditangkap oleh permainan’. selalu merupakan akibat dari cara tertentu yang diimplikasikan dalam permainan. menampilan dua kolom tulisan satu sastra. Apolkalip tanpa akhir hanya dapat dipahami sebagai suat ’akhir yang tak berakhir’ Sobur. geolak dan kegelisahan-kegelisahan yang mencirikan budaya chaos bagi Deririda (2001:24). 200.Mimique. kestabilan dan kematapan tanda dan kode dan makna-makna semitoika yang dikembangkan oleh Derrida bsebagai salah seorang pemikir psot strukturalisme. agak bertentangan dengan semiotika struktural yang dikembangkan Saussure. Kata ’datang’ tak dapat diurai maupun diinterpretasikan dalam suatu analisis atas kata tersebut. Tidak ada imitasi terhadap ’sesuatu’ dan peniruan tidak mengimitasi apa pun. istilah apokalips di sini bearti suatu ’penyingkapan’ (un-cover. Kedua.: kita tidak atahu siapa yang berbicara atau kepada siapa kata itu diarahkan. Ia mengomentari keduanya dengan analisis dekonstruktif terhadap datang’ (come).bila pada . apokalips tanpa akhir. menurut Derrida. Gerakan yang terjadi dalam menulis. Yohanes apokalips profan Jean Genet. Kita bahkan tidak bisa mengimjinasikan apa iatu ’keberan’dalam pemahaman apokalips tanpa akhir ini. bukan lagi parodi atas kehidupan atau apa pun. Bahasa. dan satu filosofis yang mengolah apokalips suci St. Apa yang terjadi dalam mimesis sebetulnya adalah suatu dekonstruksi diri (Self deconstruction). Berkaitan dengan semiotika. Derrida membuat suatu perbandingan saling dekonstruktif dalam tulisannya yang berjudul Glas. apokaluptein). ’kegelisahan. bukan lagi mema ciri dekonstruktif maupun linguistik untuk membatalkan saat naratif linier imajinasi manusia. hanyakah suatu parodi atas parodi. karena ia adalah suatu alamat tanpa subjek.

DR. yang ditemukan hanyalah ungkapan yang berbeda-beda dengan makna yang berbeda-beda pula secara tak terhingga. yang melampaui bentuk ungkapan/penanda (signifier). ’semiotika ketidakberaturan’ (Sobur. Inilah yang disebut trace oleh Derrida (Pilliang. Derrida juga menemukan bahwa kita tidak bisa lagi terpaku pada makna/pertanda (signified) yang transenden. 2001:310). PENULIS: PROF. . Hubungan antar ungkapan dan makna yang pasti (Signifier/signified) memang penting untuk kasus-kasus tertentu. M.semiotika konvensional yang ditekankan adalah proses signifikansi. maka di dalam semiotika poststrukturalis yang ditekankan adalah proses significance. namun untuk kasus-kasus yang lain. 2001:310). Didalam Positions. KAELAN. yaitu memfungsikan tanda sebagai refleksi dan kode-kode sosial yang telah mapan. 2004:102). yait sebuah proses penciptaan kreatif tanda dan kode-kode yang tanpa batas dan tak terbatas (Pilliang.S. Bedanya bentuk ungkapan dan makan itu kini cenderung mengapung (floating). Setiap makan menadi bentuk ungkapan baru berikutnya. Ini pulalah yang disebut-sebut sebagai semiotics of chaos.