P. 1
KONSUMEN

KONSUMEN

|Views: 49|Likes:
Published by Hery Stone

More info:

Published by: Hery Stone on May 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2012

pdf

text

original

KONSUMEN SEBAGAI INDIVIDU: PERSONALITY, LIFESTYLE DAN ATTITUDE  Apakah yang anda ketahui tentang Value/Nilai dalam

kerangka Perilaku Konsumen?  Apakah Lifestyle? Bagaimanakan relasi antara value dengan lifestyle?  Bagaimanakah value dan lifestyle digunakan sebagai penanda identifikasi kelas-kelas konsumen? Mengapa sistem ini dikatakan lebih relevan dibandingkan dengan sistem demografi/SES yang telah ada? NILAI Nilai adalah keyakinan/kepercayaan tentang keinginan terhadap situasi tertentu yang menjadi panduan perilaku seseorang . Nilai bersifat umum dan berbeda penerapannya dalam sikap pada situasi tertentu saja. Nilai berperan penting dalam kegiatan konsumsi. Orang membeli produk karena diyakini akan mencapai tujuan dari nilai terkait. Nilai sangat berkaitan dengan kultur, karena kultur memiliki seperangkat nilai-nilai untuk anggotanya. Nilai berubah seiring waktu. Pola konsumsi produk juga dapat ditampilkan sebagai bentuk penguatan atau penentangan terhadap nilai yang diyakini. Setiap budaya dicirikan oleh dukungan anggotanya dari sistem nilai. Proses belajar keyakinan dan perilaku didukung oleh budaya sendiri disebut enkulturasi. Sebaliknya, proses belajar nilai sistem dan perilaku budaya lain disebut akulturasi. nilai berikut: rasa memiliki, menyenangkan dan kenikmatan dalam hidup, kesenangan, hubungan hangat dengan orang lain, pemenuhan diri, menjadi baik dihormati, rasa keberhasilan, kehormatan diri dan keamanan.

Penataan nilai dalam domain motivasi saling menyediakan kerangka teoritis untuk pendekatan ini untuk nilai-nilai yang banyak peneliti menemukan memuaskan dibandingkan dengan persediaan nilai lain. Lebih khusus, telah menunjukkan untuk membedakan antara kultur dan jenis perilaku konsumsi media. Matrealis adalah peruwujudan nilai-nilai seseorang adalah melalui konsumsi. Konsumsi sebagai tujuan. Materialisme mengacu pada pentingnya orang menunjukkan harta

Nilai berasal dari luar diri konsumen. konsumen akan melihat beberapa penilaian subjektif. di mana orang sering mengukur mereka layak dan orang lain dalam hal berapa banyak mereka miliki. sehingga konsumen akan memberikan atribut tertentu pada produk tersebut. Untuk menentukan produk mana yang paling menguntungkan. konsumen terus mengevaluasi apakah produk terebut berhasil merepresentasikan nilai dari tujuan atau dapat mencapai harapam. VALUE & EXPECTATION . sentralistik dan kebahagiaan. produk dengan nilai oleh materialis tinggi lebih mungkin untuk secara publik dikonsumsi dan lebih mahal. Nilai sangat dipengaruhi oleh norma yang diberlakukan kultur setempat.duniawi. Matrealisme dapat dianggap sebagai nilai yang lebih umum dan bagian dari nilai konsumen lain. Standar hidup konsumen di banyak negara. yaitu yang paling mudah menggali memori dan lebih cepat dapat diekspresikan. Apakah orang yang bersangkutan ingin memenuhi ekspektasi orang lain (kultur) atau malah secara komunal menentang penilaiaan orang lain melalui konsumsi produk. Misalnya dalam pemilihan produk atau merk. Jika suatu perilaku mempunyai kemungikan berhasil atau bahkan berhasil meraih tujuan. Materialis lebih mungkin harta nilai status dan penampilan yang berhubungan dengan makna. Nilai merupakan ekspektasi orang lain terhadp diri seseorang yang kemudian berpengaruh terhadap pola konsumsi. Konsumsi menjadi tujuan bukan saran untuk mencapaikan suatu keadaan yang baik.Nilai Sikap dikembangkan melalui model harapan dan nilai. Model ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang berfungsi untuk meraih harapan dan nilai dari tujuan melalui aktivitas yang dikerjakan. Gaya hidup kita dipengaruhi oleh standar hidup kita telah datang ke harapkan dan keinginan. Pendekatan matrealis individu berbeda tergantung dari tingkat sukses. Model Harapan . Akibatnya. meningkat berdasarkan tingkat konsumsi warga negara. sehingga untuk mewujudkan nilai-nilai seseorang adalah melalui konsumsinya. maka perilaku itu akan terus dilakukan.

Menyukai: kita kan cenderung menyetujui apa terhadap apa yang kita suka atau kagumi. Pertukaran: orang akan lebih suka memberi apabila mereka juga menerima. 4. termasuk ketika konsumen menggunakan produk. Orientasi menyarankan terhadap aturan dan orientasi terhadap objek. tidak dapat dikendalikan. dan aksi. 2. Beberapa prinsip yang memepengaruhi pemikiran: 1. tanpa konsumen itu menyadarinya. Interaksi dalam komunikasi dimaknai oleh objek. 6. Marketing menggunakan media untuk memuaskan audience atau target market. Kunci dalam memahami dinamika interaksi komunikasi pemasaran berdasarkan respon atau feedback dari perilaku. Kekuasaan: kita akan lebih percaya pada sumber yang memiliki otoritas/kekuasaan. 5. Komunikasi mengenai produk menghasilkan transaksi . mereka dapat menjelaskan produk tersebut.ATTITUDE behavior behavior behabior LIFE STYLE SIKAP Sikap terdiri dari sikap eksplisit dan implisit. ide. Sikap eksplisit adalah sikap yang disadari. Sikap berhubungan dengan persuasi yaitu kegiatan untuk mengubah sikap. PERSUASI Persuasi sama dengan sebuah pendekatan terhadap bagaimana sikap dapat dimodifikasi atau diciptakan. Budaya mempengaruhi simbol dan maksud komunikasi digunakan dalam proses yang terjadi dalam konteks budaya. Kekurangan: barang akan lebih menarik jika keterdsediaannya sedikit. Kesepakatan: kita akan mengumpulkan informasi apa yang orang lain lakukan sebelum kita. Sehingga mendorong jarak antara informasi pemasaran dan hiburan menjadi kabur. Dalam mempengaruhi konsumen. 3. Kadang sikap implisit sering diaktifkan tanpa orang tersebut menyadarinya. Konsumen akan lebih menyukai jika diperbolehkan mencoba terlebih dahulu. Untuk memaknai tidak diberikan sekali. Sehingga dapat mempengaruhi konsumen. Konsistensi/terus-menerus: manusia tidak mencoba untuk menyangkal diri mereka terhadap apa yang mereka katakan dan lakukan pada suatu isu. Di lain sisi sikap implisit adalah sikap yang tidak disadari. dan untuk semua.

yaitu umpan balik dari pelanggan dalam menanggapi pesan pemasaran. Gaya hidup juga mengkonstruksikan individu dalam mengkonsumsi produk atau merk yang dinilainya mencerminkan nilai yang dipegang. penerima dan umpan balik. bagi konsumen yang "dingin" dipersilahkan untuk mencoba terlebih dahulu. Konsumen yang memperoleh informasi mengenai produk akan menjalin hubungan denga perusahaan. LIFESTYLE Lifestyle (gaya hidup) adalah istilah yang menggambarkan cara hidup seseorang maupun kelompok. Model komunikasi dalam pentransferan makna terdiri dari sumber. Gaya hidup mencerminkan sikap individu terhadap nilai. Hal ini juga yang menjadi alasan individu melakukan sesuatu. Pengaruh pesan tergantung dari tingkat penerimaan dan keterlibatan konsumen. Transaksi pesan dilanjutkan berupa pertanyaan mengenai informasi layanan. Pandangan trandisional komunikasi cenderung mengganggap perseptor sebagai elemen pasif. Daya tarik dapat berupa kata-kata dan gambar. Untuk menyentuh sisi emosional atau rasional. perusahaan. pesan. Seperti vegetarian dan pecinta lingkungan (go green). Pertanyaan ini dapat menjadi informasi mendatang. Perilaku-perilaku tersebut menjadi kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.berupa respon pertama. Pendekatan uses and gratification berpendapat bahwa konsumen merupakan partisipan aktif sebagai pengguna media berdasarkan berbagai alasan. media. humor atau seksual. Gaya hidup dapat ditunjukkan dengan satu set perilaku atau pengindraan. Frekuensi pengulangan pesan dan isi pesan dapat berupa ketakutan. Efektifitas sumber pesan ditentukan oleh daya tarik dan kredibilitas komunikator. Pada perkembangannya komunikasi intraktif menyoroti kebutuhan akan pertimbangan. Gaya hidup memberikan kesadaran untuk menunjukkan identitas diri. . Sementara kredibilitas komunikator juga mempengaruhi identifikasi produk. harapan dan pandangan terhadap dunia. Sementara itu. Argumentasi dalam proses pemasaran dinilai lebih efektif untuk mengirimkan pesan kepada konsumen yang ingin mempelajari produk. Pada era modern ini gaya hidup sering diasosiasikan dengan apa yang mereka lakukan setiap hari.

Konsumen disamaratakan berdasarkan ciri khas yang sudah melekat bukan dari pemahaman terhadap lingkungan eksternal dan internal konsumen itu sendiri. motivasi. Pengaruh individu memberi kontribusi pemahaman terhadap suatu fenomena. situasi sosial politik.meskipun nilai sangat dipengaruhi faktor eksternal. namun peneliti juga perlu memahami pengaruh individu itu sendiri dalam pengambilan keputusan kecenderungan nilai. Nilai sangat berhubungan dengan kebudayaan. Sementara itu pendekatan lifestyle menjelaskan lebih personal atas konsep diri. Di lain pihak sistem SES tidak secara spesifik menjelaskan mengenai personality konsumen. Sistem SES yang membagi konsumen dari faktor demografi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan pembagian kelas berdasarkan lifestyle. pendidikan. jenis kelamin.SISTEM SES (DEMOGRAFI) VS LIFESTYLE Jika sebelumnya kelas-kelas dalam konsumen (society) dilihat dari faktor demografi (seperti usia. Peneliti harus lebih mendalam mengetahui kecenderungan konsumen dari nilai yang dianut. perekonomian. AMBAR PERTIWI MANAJEMEN KOMUNIKASI 2011 / 4224 . pendapatan dan sebagainya) untuk membagi kelompok-kelompok. dan harapan konsumen terhadap konsumsi suatu produk dan merk. Pengumpulan data menggunakan sistem SES lebih mudah karena batasan terlihat jelas. tingkat ekonomi. pengaruh lingkungan. Promosi berdasarkan lifestyle dapat lebih mengena untuk menjawab kebutuhan konsumen atas representasi nilai-nilai yang dianut. Sementara klasifikasi berdasarkan lifestyle lebih absurb. kini pola pemasaran cenderung berubah mengikuti kelompok-kelompok berdasarkan gaya hidup.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->