TUGAS PROMOSI KESEHATAN

PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

DISUSUN OLEH : 1. 2. 3. 4. 5. CHRISTINE NATALIA FIYA DINIARTI MEILANI HUTABARAT RACHMADONA YULIA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INDONESIA MAJU PROGRAM STUDI S2 KESEHATAN TAHUN AJARAN 2011/2012

pengawasan terhadap Tempat Pengolahan Makanan (TPM) dan pengawasan terhadap industri rumah tangga. . Program Kesehatan Lingkungan pada masyarakat adalah bagian dari program pembangunan kesehatan nasional. sedangkan untuk penyakit berbasis lingkungan terbanyak adalah demam berdarah 63 kasus. Program yang dituangkan dalam tugas intregasi kepada petugas Kesling adalah melaksanakan program UKS. kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dan manusia. Indikator yang akan dicapai adalah meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pola hidup bersih dan sehat. yaitu upaya promosi kesehatan. melaksanakan kunjungan TTU. melaksanakan kunjungan TK. perbaikan gizi masyarakat. Pencapaian visi Indonesia 2010 dapat dicapai dengan menggerakan Puskesmas sebagai pelaksana teknis Dinas Kesehatan terbawah yang memiliki enam kewajiban yang harus dilaksanakan. Sanitasi pada TTU telah mencapai 100% memenuhi syarat. kesehatan ibu anak dan keluarga berencana. kesehatan lingkungan (kesling). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan dengan titik berat pada upaya peningkatan kualitas hidup dan pencegahan penyakit disamping pengobatan dan pemulihan. 98. melaksanakan kunjungan TPM.1. melaksanakan kunjungan SD. meningkatnya industri dan tempat-tempat umum yang sehat. Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organization (WHO). Berdasarkan Laporan Evaluasi Program Kerja Puskemas Harapan Raya mengenai program Kesling dan P2P pada tahun 2007 menunjukan 90% warga memiliki sumber air bersih. melaksanakan kunjungan rumah.77% warga memiliki sistem pengelolaan air limbah dengan baik. menurunnya angka penyakit diare. Departemen Kesehatan Republik Indonesia sudah menetapkan visi dan misi Puskesmas. mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang ada di wilayahnya serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.1. Analisa Situasi Sesuai dengan strategi Indonesia sehat tahun 2010 dan kebutuhan pembangunan sektor kesehatan di era desentralisasi ini. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara warga dalam kodisi yang sangat baik yaitu mencapai 100% untuk 2 TPS yang diawasi oleh Kesling. Jumlah persentase air bersih yang memenuhi persyaratan didapatkan angka 100%. Di Puskesmas Harapan Raya program Kesling yang dilaksanakan di Puskesmas Harapan Raya secara umum yaitu pengawasan terhadap TempatTempat Umum (TTU). dan perincian sarana ibadah yang baik juga mencapai 100%. Kecamatan sehat merupakan gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang hidup di lingkungan yang sehat dan prilaku hidup masyarakat yang juga sehat. diare 59 kasus dan 18 kasus scabies. 2.80% warga memiliki jamban dan 89. pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.1. serta pengobatan. demam berdarah dan penyakit akibat kurang sehatnya lingkungan di sekitar masyarakat. Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) mendefinisikan kesehatan lingkungan sebagai suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia. Visi pembangunan kesehatan melalui Puskesmas adalah terwujudnya Kecamatan sehat tahun 2010. serta penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan menurut World Health Organization (WHO). maka perlu adanya program kegiatan terobosan yang dapat memacu peningkatan kualitas lingkungan yang lebih baik. sehingga dapat menekan kejadian penyakit yang berbasis lingkungan. Perencanaan daerah dan perkotaan 14. 2. Penanggulangan masalah kesehatan ke arah upaya preventif dan promotif. Perumahan dan pemukiman 12. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi / wabah. 5. limbah gas. Tujuan khusus dari kegiatan Siaga Kesling adalah : 1. Penyebarluasan informasi mengenai kesehatan lingkungan dan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan kepada masyarakat. radiasi. serta perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat yang masih rendah. Aspek kesling dan transportasi udara 13. kebisingan. Bila melihat kondisi lingkungan yang kurang sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat yang masih rendah. bencana alam dan perpindahan penduduk 17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan Di Indonesia. Menurunnya penyakit berbasis lingkungan. Masalah kesehatan berbasis lingkungan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan baik kualitas maupun kuantitasnya. Pengendalian vektor 5. pengendalian vektor penyakit dan penyakit berbasis lingkungan. Pencegahan / pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia 6. Pengendalian radiasi 9. yaitu . Higiene makanan. Penyediaan air minum 2. Meningkatnya gerakan masyarakat dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan lingkungan. 23 tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Kesehatan pasal 22 ayat 3 menyebutkan bahwa kesehatan lingkungan meliputi kegiatan / program penyehatan air dan udara. 1. dan penyehatan atau pengamanan lainnya. 3. Pengendalian kebisingan 11. Pengendalian pencemaran udara 8. Pembuangan sampah padat 4. . Pengelolaan air buangan dan pengendalian pencemaran 3. pengamanan limbah padat. Rekreasi umum dan pariwisata 16. TB Paw. 4. Kesehatan kerja 10. Pencegahan kecelakaan 15. berdasarkan undang-undang No. ISPA. Program kegiatan Siaga Kesehatan Lingkungan (Siaga Kesling) yang merupakan kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan dengan melibatkan peran serta masyarakat agar masyarakat terlindungi dan masalah penyakit yang berbasis lingkungan. Di samping itu juga disebabkan oleh pola pelayanan kesehatan yang masih menitik beratkan pada pelayanan kuratif. mengakibatkan penyakit berbasis lingkungan seperti diare. DBD dan lain-lain. Meningkatnya perilaku masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). limbah cair. termasuk higiene susu 7.

yang biasanya memburuk setelah dua hari pertama. 2.Program dan lintas sektor maupun swasta dan masyarakat . tempat umum.Penyebarluasan (sosialisasi. ekimosis. Adanya vektor tersebut berhubungan dengan beberapa faktor. dan sebagainya.2. yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu yang singkat. trombositopenia.Laporan kepada atasan langsung dan sektor terkait . antara lain : 1. Pengendalian Vektor DBD Pengendalian vektor DBD adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk menekan kepadatan nyamuk dan jentik nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit DBD di rumah atau bangunan yang meliputi perumahan. Untuk memutuskan rantai penularan. Antar rumah jaraknya berdekatan.Rekomendasi kepada petugas kesehatan dan sektor terkait . sekolah. perkantoran. Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti. hematemesis. Sanitasi lingkungan yang kurang baik. purpura. pemberantasan vektor dianggap cara paling memadai saat ini. Uji tourniquet dengan atau tanpa ruam disertai beberapa atau semua gejala perdarahan seperti petekie spontan yang timbul serentak.Pengolahan data hasil pemeriksaan tempat perindukan vektor . 3. Vektor ini bersarang di bejana-bejana yang berisi air jernih. yaitu: 1. hematokrit meningkat dan gangguan maturasi megakariosit. Kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari. masa perdarahan dan masa protrombin yang memanjang.Pendataan rumah/bangunan di wilayah keija . karena : 1. Penyediaan air bersih yang langka.Pemeriksaan tempat perindukan vektor pada rumah / bangunan . Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple bitters). 2. Demam Berdarah Dengue Demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam. Surveilans tempat perindukan vektor . kaleng bekas dan lain-lain. 2.3. gudang. Langkah-langkah kegiatan berhubungan dengan pengendalian vektor demam berdarah dengue yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI. Tetapi karena vektor tersebar luas maka untuk keberhasilan pemberantasan perlu dilakukan total coverage (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tak dapat berkembang biak lagi. nyeri otot dan sendi. yang memungkinkan penularan karena jarak terbang Aedes aegypti berkisar antara 40-100 meter. diseminasi informasi) hasil surveilans / pengamatan kepada lintas . Daerah yang terserang DBD adalah wilayah yang ada penduduknya. disamping juga dilaporkan Aedes albopictus sebagai vektor. Etiologi dari penyakit ini adalah virus dengue yang tergolong dalam famili / suku / grup flaviviridae dan dikenal ada 4 serotipe. epitaksis.2. melena. tidak mengalir dan tawar seperti bak mandi. Vektor demam berdarah dengue khususnya Aedes aegypti sebenarnya mudah diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air bersih dan jarak terbang maksimal dan nyamuk ini hanya 100 meter. drum penampung air.

6. . sosekbud. . . . dan kemitraan . . dan survei entomologi.Menentukan jenis pengendalian vektor sesuai dengan permasalahan di wilayah kerja.Hasil sosialisasi dilaporkan kepada atasan langsung dan sektor terkait.Menentukan materi penyuluhan pengendalian vektor.Melaksanakan penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam rangka pengendalian vektor khususnya tempat perindukan. Penyuluhan dan penggerakan masyarakat .Investigasi rumah/ bangunan dan lingkungan yang potensial jentik di wilayah kerja melalui survey lingkungan. . 5.Menjalin jejaring kerjasama baik terhadap lintas sektor maupun swasta. . Dari hasil PE bila ditemukan penderita DBD lain atau ada jentik dan penderita panas tanpa sebab yang jelas > 3 orang maka dilakukan kegiatan penyuluhan mengenai 3 M Plus.Menentukan jumlah dan jenis peraturan / pedoman yang akan disosialisasikan. Kegiatan ini harus ditunjang dengan pelaksanaan promosi kesehatan dalam bentuk penyuluhan tentang penyakit demam berdarah dengue serta kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara aktif yaitu melalui supervisi dan secara pasif melalui laporan hasil kegiatan. Sosialisasi. langkah kegiatannya meliputi pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) dengan cara 3 M Plus dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) tiap 3 bulan sekali tiap desa / kelurahan endemis pada 100 rumah / bangunan dipilih secara acak (random sampling) yang merupakan evaluasi hasil kegiatan PSN DBD yang telah dilakukan masyarakat. swasta dan masyarakat. 4.Melakukan pemberantasan vektor sesuai dengan jenisnya. Langkah-langkah kegiatan penanggulangan kasus demam beradarah dengue di wilayah kerja Puskesmas meliputi penyelidikan epidemiologi (PE) yaitu pencarian penderita / tersangka DBD lainnya dan pemeriksaaan jentik di rumab penderita / tersangka dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter (di rumah penderita dan 20 rumah sekitarnya) serta tempat-tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan. tindakan larvasidasi.Menghimpun feed back (umpan balik) yang diberikan oleh sasaran. swasta dan masyarakat. Apabila tidak ditemukan maka hanya melakukan penyuluhan dan kegiatan 3M Plus.Melakukan identifikasi masalah sesuai dengan sasaran. Pengendalian vektor . Dalam hal pemberantasan vektor.Melakukan advokasi terhadap pengambil keputusan di tingkat kec maupun kab/kota. . lintas sektor terkait.Pembinaan teknis terhadap pemerintah (dinas kesehatan.Menentukan jenis media penyuluhan sesuai dengan sasaran.Melakukan pertemuan untuk sosialisasi terhadap lintas program. 3. puskesmas). pengasapan/fogging focus.Melaksanakan pelatihan pengendalian vektor. Peningkatan SDM .Pemantauan secara terus menerus terhadap hasil survailans tempat perindukan. . .2. . advokasi. . Monitoring dan evaluasi .Menentukan jenis pelatihan yang sesuai dengan peserta yang dilatih .

dan harapan pengguna jasa pelayanan tersebut melalui analisis suatu proses tertentu. adanya gap antara kenyataan dengan yang diinginkan. PDCA cycle berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Mengidentifikasi akar penyebab masalah • Menyimpulkan penyebab • Teknik yang dapat digunakan : brainstorming • Alat yang digunakan : fish bone analysis Ishikawa 6. Fokus pada peluang peningkatan mutu • Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan • Kritenia masalah menyatakan efek atas ketidakpuasan. dapat diukur. • Teknik yang dapat digunakan : brainstorming 3. Observasi dilaksanakan melalui pendekatan program. Do. Plan 1. Metode yang digunakan dalam upaya peningkatan mutu ini adalah metode Plan. yaitu: a. and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi (problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving). Menemukan dan memilih penyelesaian • Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah • Teknik yang dapat digunakan : brainstorming b. 5. Upaya Peningkatan Mutu Upaya peningkatan mutu ini dimulai dengan mendapatkan topik permasalahan yang kemudian dilakukan observasi kegiatan terhadap topik permasalahan yaitu dibidang Kesling dan bidang P2P Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru. Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini • Pelajari proses dan awal hingga akhir. Konsep PDCA cycle pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930 yang disebut dengan “Shewhart cycle”. Mengukur dan menganalisis situasi tersebut • Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut • Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja dan dinamika proses • Teknik yang digunakan observasi • Mengunakan alat ukur seperti wawancara 4.4. identifikasi siapa saja yang terlibat dalam prose tersebut. Mengidentifikasi output pelayanan. 2. sumber dana. spesifik. Merencanakan suatu proyek uji coba • Merencanakan sumber daya manusia. Kemudian dilakukan wawancara dengan petugas kesehatan dibidang Kesling dan P2P yang dimulai pada bulan Juni 2008. Walter Edwards Deming yang kemudian dikenal dengan “The Deming Wheel”. .2. Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam PDCA cycle. dan sebagainya. Do 1. Hasil observasi dan wawancara didiskusikan dengan pembimbing kegiatan upaya peningkatan mutu untuk menentukan permasalahan yang perlu mengalami perbaikan. • Merencanakan rencana kegiatan (plan of action) 2. siapa pengguna jasa pelayanan. Check. Melaksanakan Pilot Project Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat (± 2 minggu).

Membuat kesimpulan proyek • Hasil menjanjikan namun perlu perubahan • Jika proyek gagal. caa penyelesaian lain • Jika proyek berhasil. prosedur dan kebijakan yang ada • Komunikasikan kepada seluruh staf.c. Memonitor perubahan • Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur • Alat yang digunakan untuk dokumentasi . Standarisasi perubahan • Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan • Revisi proses yang sudah diperbaiki • Modifikasi standar. pelanggan dan suplier atas perubahan yang dilakukan • Lakukan pelatihan bila perlu • Mengembangkan rencana yang jelas • Dokumentasikan proyek 2. Check 1. Evaluasi hasil proyek • Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut • Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama) • Target yang ingin dicapai 80% • Teknik yang digunakan : observasi dan survei • Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner 2. Action 1. selanjutnya dibuat rutinitas d.

4. Analisa Masalah Proses identifikaasi masalah dilakukan dengan cara : 1.OPTIMALISASI KEGITAN PEMERTKSAAN JENTIK BERKALA VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI PUSKESMAS HARAPAN RAYA PEKANBARU 3. Observasi. 2. Kemampuan merubah • Nilai 1 tidak mudah • Nilai 2 mudah . khususnya kegiatan pemeriksaan jentik berkala. Solusi • Nilai 1 tidak mudah • Nilai 2 mudah • Nilai 3 sangat mudah 3.1. Dari data-data tersebut teridentifikasikan masalah-masalah. Wawancara mengenai pola penyakit DBD dengan pengunjung Puskemas mengenai 3M plus.kurangnya promosi kesehatan lingkungan mengenai 3 M plus dan pola penyakit DBD.Tidak ada media promosi mengenai 3M + Plus dan pola penyakit DBD wawancara dan observasi Berdasarkan permasalahan yang ditemukan ditetapkan satu prioritas masalah dengan metode scoring yang menggunakan pertimbangan 4 aspek yaitu : 1. Urgensi/kepentingan • Nilai 1 tidak penting • Nilai 2 penting • Nilai 3 sangat penting 2. 3. Data sekunder mengenai evaluasi program kerja Puskesmas Harapan Raya tahun 2007 mengenai DBD. Dari laporan hasil evaluasi Puskesmas tahun 2007 diketahui 0% kegiatan dilakukan Wawancara dan data sekunder. Wawancara dengan staff dengan staff di bagian Kesling dan P2P. Tidak ada media promosi mengenai 3M + Plus dan pola penyakit DBD Metode Identifikasi Masalah Wawancara dan data sekunder Kegiatan Pemeriksaan survailans Jentik Berkala epidemiologi (PJB) berjalan Promosi kesehatan lingkungan Kurangnya promosi mengenai 3 M plus dan Pola penyakit DBD 2 Wawancara dan observasi Masalah Kegiatan surveilans epidemiologi Pemeriksaan Jentik Berkala ( PJB ) tidak berjalan.14 dari 20 pengunjung yang diwawancarai tidak dapat menyebutkan apa itu 3M plus. yaitu : Tabel 3.1 Masalah yang ditemukan pada program Kesling – P2P bidang penyelidikan epidemiologi dan pemberantasan menular di Puskesmas Harapan Raya No 1 Aspek yang dinilai Masalah Evidance Base Dari laporan hasil evaluasi Puskesmas tahun 2007 diketahui 0% kegiatan dilakukan 14 dari 20 Pengunjung yang di wawancarai tidak dapat menyebutkan apa itu 3M plus.

didapatkan 1 prioritas masalah yang ditentukan berdasarkan pembobotan nilai dengan seleksi yang terdiri dan dua unsur yaitu kriteria masalah dan skor. Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah dapat disimpulkan bahwa yang menjadi prioritas masalah dan selanjutnya akan dicari altenatif pemecahan masalah yaitu tidak optimalnya pelaksaanaan program Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) demam berdarah dengue di Puskesmas Harapan Raya.3 Identifikasi Penyebab Masalah Masalah Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) tidak dilakukan Penyebab Timbulnya Masalah  Mankurangnya petugas pelaksana Kesling – P2P untuk pelaksanaan pemeriksaan jentik berkala (PJB) khususnya Penanggungan jawab kegiatan tidak ada  Method Tidak ada protap mengenai pelaksanaan kegiatan pemeriksaan jentik berkala di Puskesmas Harapan Raya Berdasarkan wawancara. Biaya • Nilai 1 tinggi • Nilai 2 sedang • Nilai 3 rendah 3. petugas Kesling dan petugas P2P dilapangan masing-masing hanya 1 orang dari wawacara diketahui tidak ada penangung jawab .P2P program penyelidikan epidemiologi dan pemberantasan penyakit menular di Puskesmas Rarapan Raya. protap mengenai pemeriksaan jentik berkala tidak ada Evidence Base Berdasarkan wawancara. Identifikasi Penyebab Masalah Berdasarkan tabel penentuan prioritas masalah di atas. Kriteria Masalah Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) tidak dilakukan Kurangnya promosi mengenai 3 M plus dan Pola 2 penyakit DBD Urgensi 3 Solusi 2 Kemampuan untuk Biaya merubah 2 1 Total 12 Rank I 2 2 2 1 8 II Dari 2 masalah tersebut. Penentuan Prioritas Masalah Penetuan prioritas masalah dibuat ke dalam tabel penentuan prioritas masalah sebagai berikut: Tabel 3.3. 3.2 Penentuan prioritas masalah pada bidang Keling . di dapatkan prioritas masalah utama pada kegiatan ini adalah optimalisasi program Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) demam berdarah dengue di Puskesmas Harapan Raya. Beberapa hal yang menjadi penyebab masalah tersebut antara lain terlihat dan bebrbagai aspek dibawah ini : Tabel 3.• Nilai 3 sangat mudah 4.2.

Sekunder : . Teranalisisnya setiap permasalahan yang ada di kegiatan PJB. pendekatan / metode wawancara dan observasi. pemeriksaan jentik di rumah pada daerah adanya kasus. dan pemberiaan bubuk abate. fogging.Kurangnya kerjasama lintas sektroal dan pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya untuk melakukan secara bersama. karena petugas tersebut juga diberdayakan untuk pelaksanaan kegiatan lain di puskesmas Berdasarkan wawancar. diketahui bahwa petugas Kesling dan P2P juga memegang kegiatan lain di luar bidangnya Dibawah ini dapat dilihat hubungan antara keempat faktor dengan menggunakan fishbone Analysis Ishikawa.4. 2. Dan data evaluasi Puskesmas tahun 2007 mengenai pemeriksaan jentik berkala (PJB) dinyatakan 0% dilaksanakan dan promosi kesehatan mengenai DBD . 3.1 Tujuan Umum Optimalisasi pelaksanaan kegiatan PJB di lingkungan kesehatan Puskesmas Harapan Raya. Diperolehnya penyebab timbulnya masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan PJB melalui data sekunder. Teridentifikasinya masalah di kegiatan PJB melalui data sekunder.  Money Kurangnya dana yang dialokasikan khusus terhadap kegiatan pemeriksaan jentik berkala  Time Kurangnya waktu yang dimiliki petugas Kesling dan P2P untuk pelaksanaan kegiatan PJB. belum adanya koordinasi dengan pihak terkait Berdasarkan wawancara. Sasaran sekunder . tidak adanya dana khusus pelaksanaan kegiatan PJB Wawancara.Sasaran primer.4. 3. masyarakat yang berada di wilayah kerja PKM Harapan Raya.Tokoh masyarakat yang berada di wilayah kerja PKM Harapan Raya Kegiatan yang dilakukan untuk penanggulangan DBD di wilayah kerja Puskesmas Harapan adalah penyelidikan epidemiologi (PE). 3.Nakes Sasaran Tersier .2 Tujuan Khusus 1. 4. Tujuan Kegiatan 3. Sasaran Primer. Diperolehnya beberapa solusi dan alternative pemecahan masalah pada kegiatan PJB.4. wawancara dan observasi.

RT 05 .750.(penyuluhan 3M plus dan pola penularan penyakit DBD) di Puskesmas Harapan Raya dilaksanakan apabila terjadi kasus.RT 06 Nama Kegiatan Fogging Pemberian Bubuk Abate Fogging Pemberian Bubuk Abate Biaya – Biaya Akomodasi .RT 03 . terutama program pemeriksaan jentik berkala (PJB).RT 01 .RT 02 .RT 06 Tim Pelaksana Tenaga Kes PKM Harapan Raya Tenaga Lepasan Paraf 2 Tenaga Kes PKM Harapan Raya Tenaga lepasan Menyusun Rencana Anggaran Pengeluaran No 1 Nama Desa .0000 2 Kegiatan foging 2 pemberian bubuk abate dapat terlaksana dengan baik selama 01 Jan – 01 Feb dan akan dimonitoring selama 3 bulan 1 x (secara berkala) dan apabila dalam monitoring tersebut ditemukan DBD maka akan dilakukan kegiatan foging dan pemberian bubuk abate . Transport Makan Pengadaan Bubuk Abate & Malapion serta Solar Total Ket Rp . Berdasarkan observasi dan wawancara.RT 02 . Seharusnya menurut Departemen Kesehatan harus dilakukan PJB dan penyuluhan 3M minimal setiap 3 bulan sekali oleh Puskesmas sebagai upaya penanggulangan DBD. maka penulis merasa perlu untuk meningkatkan mutu pelaksanaan program penangulangan DBD oleh Puskesmas Harapan Raya.1.RT 04 .RT 04 . mengingat kasus demam berdarah dengue menempati peringkat pertama dan penyakit berbasis lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya Bengkulu.RT 05 .RT 03 .RT 01 . No 1 Waktu 01 Januari – 01 Febriari 2011 01 Januari – 01 Februari 2011 Kegiatan Fogging pemberian bubuk Abate Fogging pemberian bubuk Abate Nama Desa .

Kurangnya waktu yang dimiliki petugas Kesling dan P2P Dari berbagai masalah di atas. Dinas Kesehatan Kota Diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota untuk lebih memperhatikan pelaksanaan kegiatan PJB vector DBD oleh Puskesmas yang ada di Pekanbaru. observasi dan data sekunder yang telah diterangkan di BAB sebelumnya. Tidak adanya alokasi dana khusus untuk pelaksanaan kegiatan. 3. Kerjasama lintas sektoral dalam pelaksanaan kegiatan masih kurang 5. Simpulan Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan jektik berkala (PJB) yang merupakan bagian dan survailans penanggulangan dan pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Puskesmas Harapan Raya belum optimal. . dengan melihat jumlah penderita DBD di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya masih cukup tinggi. 2. dimana ditunjukkan dan data evaluasi program Puskesmas Harapan Raya tahun 2007 mengenai program penanggulangan dan pemberantasan penyakit menular DBD khususnya kegiatan pemeriksaan jektik berkaa diketahui pelaksanaan kegiatan adalah 0%. telah dibuat rekomendasi strategi pemecahan masalah yang dihadapi. Alangkah baiknya dilakukan tindakan preventif untuk keadaan ini dengan pelaksanaan kegiatan PJB dengan benar. dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan tidak berjalannya dengan baik kegiatan tersebut yaitu: 1. 4.1. 6.2. Tidak adanya protap mengenai pelaksanaan kegiatan. Kurangnya petugas Kesling dan P2P di lapangan. Penanggungjawab kegiatan tidak ada. Dari hasil wawancara. Puskesmas Harapan Raya Diharapkan kepada pihak Puskesman Harapan Raya untuk mengupayakan pelaksanaan kegiatan PJB vector DBD ini. Saran 1. meskipun belum ada perubahan yang dapat dilihat dalam pelaksanaan kegiatan PJB ini. Hal ini dikarenakan oleh DBD masih merupakan masalah kesehatan di kota Pekanbaru. Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan ini tidak berjalan secara efektif meskipun sudah ditetapkan sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Harapan Raya Pekanbaru. 4. 2.PENUTUP 4.

depkes. 8. . 10. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI. Puskesmas Harapan Raya. Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Disitasi dari : http://www.id [diakses mei 2008] 7. Departemen Kesehatan Repubik Indonesia. 9. Laporan Tahunan Kinerja Program Kesling Puskesmas Harapan Raya. Puskemas Harapan Raya. Kesehatan dan Indonesia sehat 2010. Jakarta 2001 .htm. World Health Organization (WHO). Trikarjana P. Sistem Kesling. Depkes RI. [diakses April 2008] 4. www.go. Informasi singkat penyelenggaraan Puskesmas si Era Desentralisasi.DAFTAR PUSTAKA 1. Last Update Januari 2008. Dinkes Curug. Pelayanan Kesehatan Di Era Globalisasi. Environmental Health. 1-15 2. www.id [diakses april 2008] 3.int.dinkescurug.blogspot. Pekanbaru: 2007. 5. Disitasi dari: http://www.go. Last Update : Desember 2007. Dasar Kesehatan Lingkungan. Profil Puskesmas Harapan Raya tahun 2007. Makasar : 2007. Depatemen Kesehatan RI. Pekanbaru: 2008. Setiyabudi R. 6. Profil dan Laporan Tahunan Subdinas Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit Tahun 2006.WHO.ajgo. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.