Menjadi Pemimpin

Kita paham bahwa pemimpin tidak dilahirkan dari ruang-ruang kelas. Pengajaran mengenai berbagai konsep tentang kepemimpinan, hakikatnya, gaya-modelnya, atribut-atribut dan sifat-sifatnya, jenis-jenis karismanya, bakat dan talenta yang diperlukan, tentu berguna. Namun, hal menjadi pemimpin bukanlah soal pengetahuan semata. Orang tidak bisa menjadi pemimpin dengan melakukan riset secara online di internet, berapa tahun pun itu dilakukan. Ia harus keluar kelas, beranjak dari kursinya, meninggalkan perpustakaan, dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Pelatihan kepemimpinan juga akan bermanfaat. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi, jelas perlu. Mengasah kemampuan untuk menunjukkan arah (direction), membagi-bagi peran dan tugas, pasti penting. Menumbuhkan kemahiran dalam memotivasi dan membangkitkan kembali semangat yang terkulai, sangatlah vital. Menajamkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat dan berpikir kreatif out of the box, juga tak bisa disangkal arti pentingnya. Tetapi, hal menjadi pemimpin bukanlah soal-soal pelatihan. Sejuta sertifikat dari lembaga-lembaga pelatihan kepemimpinan yang paling terkemuka di bumi ini, tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin. Jika pengajaran dan pelatihan kepemimpinan merupakan syarat perlu, tetapi belum memadai, maka unsur apalagi yang penting dan harus ada agar orang menjadi pemimpin? Apakah unsur yang justru esensial dan vital dalam proses membentuk seseorang menjadi pemimpin? Studi dan pengalaman saya yang terbatas menunjuk pada satu hal sederhana: pendidikan. Untuk menjadi pemimpin seseorang perlu mengalami proses pendidikan. Artinya, ia mengalami proses pemanusiawian dirinya sendiri secara berkelanjutan. Ia perlu menemukan contoh-contoh yang dijadikannya panutan; dan ia sendiri bertanggung jawab untuk membentuk dirinya agar mengalami proses transformasi menjadi teladan-contoh-panutan bagi lingkungan konstituennya. Ia harus menjadi manusia transisi, kata Stpehen R. Covey. Menjadi pemimpin, kata Warren Bennis, adalah menjadi diri sendiri yang otentik. Jadi, hal menjadi pemimpin memerlukan kelengkapan dari proses pendidikan, proses pengajaran, dan proses pelatihan. Di antara ketiga proses tersebut, pendidikan adalah jiwanya, spiritual aspeknya. Dan jiwa atau spiritualitas pemimpin tidak berasal dari kelas-kelas pelatihan atau buku-buku yang berisi pengajaran luar biasa. Jiwa pemimpin berpijak pada realitas hidup lingkungannya; realitas hidup konstituen dengan segala masalah dan potensinya. Dan realitas itulah yang ingin diubahnya; ingin ia bentuk-ulang sehingga menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkebudayaan, lebih berkeadilan, lebih sejahtera, lebih berkesesuaian dengan hakikat, harkat, dan martabat kemanusiaan. Singkatnya, lebih sesuai dengan visi sang pemimpin. Spirit Perubahan Dalam konteks mikro, sebuah organisasi yang tidak menumbuhkan spirit perubahan adalah organisasi yang masa depannya terancam. Perusahaan yang semangat inovasinya melempem tidak akan bertahan sebagai perusahaan terkemuka dalam jangka panjang. Sebab spirit perubahan dan semangat inovasi adalah sekadar pertanda hadirnya pemimpin dalam organisasi terkait.

Tanpa hal itu, pemimpin tidak hadir, tidak eksis. Yang ada hanyalah pejabat, pemangku jabatan. Yang berperan adalah manajer, pengelola yang memuja efisiensi. Yang eksis adalah bos, pemberi instruksi dengan senjata reward and punishment. Spirit perubahan, yang merupakan hakikat pendidikan sejati, adalah inti dari ‖bisnis‖ pemimpin. Ia menggerakkan orang untuk melakukan perubahan. Entah itu dalam perubahan yang bersifat evolutif-gradual-perlahan; perubahan dengan kecepatan menengah-reformatif-parsial; atau perubahan yang bersifat radikal-revolusioner-total. Entah perubahan untuk membuat sesuatu menjadi lebih besar (bigger), lebih tinggi (higher), lebih baik (better), lebih kuat (stronger), lebih cepat (faster), lebih mudah (easier, friendlier), dan sebagainya. Entah itu menyangkut kinerja produksi, kinerja penjualan dan pemasaran, kinerja keuangan, atau kinerja perusahaan secara keseluruhan, kepuasan konsumen, pertumbuhan pangsa pasar, profit margin, dan sebagainya. Pembawa Perubahan Karena perubahan adalah inti bisnis pemimpin, maka menjadi pemimpin berarti bergaul di lingkungan pendobrak status quo (kemapanan). Para pembawa perubahan yang anti kemapanan ini bisa dikelompokkan menjadi empat. Pertama, orang-orang muda yang baru keluar dari pelatihan. Mereka telah mempelajari sejumlah hal namun belum pernah mempratikkannya. Keluguan dan kurangnya pengalaman justru menjadi keunggulan mereka. Albert Einstein dalam bidang sains, Fred Smith dengan Federal Express, dan Steve Jobs-Steve Wozniak dengan Apple-nya, pernah mewakili kelompok ini. Kedua, orangtua yang pindah bidang kegiatannya (shifting field). Karena baru pindah bidang, orang-orang model ini belum terkontaminasi dengan apa yang ‖bisa‖ dan ‖tidak bisa‖ dlakukan dalam bidang yang baru dimasukinya. Mereka akan menerobos saja pakem-pakem lama, dan kemudian mencatatkan hal-hal baru. Alex Mueller, fisikawan yang mulai menggeluti super konduktor di usia lanjut; Edward Deming, ahli statistik yang kemudian berkecimpung di dunia manufaktur di usia lanjut, sehingga melahirkan gerakan Total Quality Management (TQM); dan Bill Weimer, sarjana fisika yang beralih rupa dari seorang ahli teknik menjadi ahli pemasaran di IBM; adalah beberapa contoh legendaris dari kepeloporan orang-orang gerusia di atas 40 tahun yang pindah bidang. Ketiga, orang-orang lama yang nyentrik dan tidak konvensional. Mereka biasanya dikenal karena tidak disiplin, susah diurus, suka mengajukan pertanyaan kepada manajemen. Paul Garvin, pendiri Motorola, membawa radio dari ruang keluarga menjadi radio mobil; Robert Galvin, mengeluarkan Motorola dari bisnis elektronik konsumen lalu memasuki produksi chip terpadu; kedua ayah-anak itu tidak takut menerobos peraturan-peraturan untuk membawa perusahaannya berkembang. Keempat, pelaksana lapangan. Mereka tidak mengetahui apakah masalah yang mereka hadapi khusus atau generik; mereka hanya tahu bahwa masalah harus dipecahkan agar tugas mereka selesai. Spread sheet elektronik dan sistem switch telepon ditemukan oleh pelaksana lapangan semacam ini.

com dan aharefa@gmail. Penggagas Visi Indonesia 2045. Itu sebabnya kita tidak bisa menjelaskan tempat baru itu dengan berkaca pada pengalaman.‖ Pernyataan singkat di atas sarat makna. Ia tidak berada dalam pengalaman kita. dan nilai-nilai. bahkan para kompetitor. Ia justru berada di ruang kemungkinan-kemungkinan. bergaullah dengan orang-orang muda yang masih fresh graduate. Para pemimpin-pemimpin baru sedang dilahirkan. sedang bergerak ke depan. Trainer Coach Berpengalaman 20 Tahun. Mereka yang dalam proses perebutan kekuasaan tahun-tahun ini akan digantikan oleh orang-orang yang sama sekali baru dalam satu dekade ke depan.com. Penulis 35 Buku Best-seller. kepemimpinan yang bertumpu semata-mata pada pengalaman tidak lagi dapat diandalkan. John Scully.andriasharefa. orang-orang. Semoga. ke tempat pengalaman itu terjadi (terra firma). Zaman baru telah datang dan tak bisa dihindari. Tags: Pemimpin Baru July 27. Tentang pemimpin baru. karena mereka mendasarkan penjelasannya pada pengalaman. di ruang-ruang maya yang merupakan proyeksi dari pikiran-pikiran manusia. di Jepang dan Eropa. pernah mengatakan bahwa. misalnya bagaimana ia dapat memimpin orang yang tidak pernah memberi laporan kepadanya––orang-orang yang berada di organisasi lain. Tulisan ini sudah dimuat di Bisnis Indonesia Minggu edisi 9 Agustus 2009. ―Para pemimpin baru menghadapi ujian baru. dengarkan pandangan orang-orang nyentrik yang tidak konvensional dalam perusahaan. Dan zaman baru meminta pemimpin-pemimpin baru. Mari kita telusuri beberapa di antaranya. ke suatu tempat yang bahkan belum pernah kita datangi (terra incognita). Kita tidak sedang bergerak ke belakang.Jadi. suka atau tidak suka. untuk menjadi pemimpin yang membawa perubahan. Kita. Andrias Harefa. ajak bicara orangtua yang beralih bidang pengabdian. Beralamat di www. mantan CEO Apple Computer. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment Kita paham bahwa Indonesia sedang dalam proses persalinan massal. dan seringseringlah turun ke bawah untuk berbicara dengan pelaksana lapangan. Pertama. Para pemimpin tradisional mengalami kesulitan untuk menerangkan apa yang sedang terjadi di dunia. yang berbasis pada ide-ide. . Bagaimana Anda dapat memimpin di lingkungan yang padat ide dan berisikan jaringan-jaringan yang interdependen ini? Ini memerlukan seperangkat keterampilan yang sama sekali baru.

Keempat. maka para pemimpin baru memilih posisi sebagai pemandu orkestra (mengatur orang-orang dengan fungsi dan peran yang beraneka ragam. melainkan lebih berbasiskan pada gagasan-gagasan segar di tengah pasar pengalaman yang kumuh oleh kepongahan. Sebaliknya. maka senioritas dan usia tidak bisa lagi dijadikan isu untuk mengukur kecakapan seorang pemimpin. Kita tidak perlu menjadi ahli ilmu politik lebih dulu untuk memahami. Perekat dan magnetnya bukan hirarki organisasi yang struktural. maka kemana para pemimpin baru itu berpaling? Jawabnya tegas: kepada ide-ide. Jika para pemimpin tradisional mengambil posisi sebagai komandan upacara (mengatur barisan yang seragam). Itu sebabnya pemimpin baru lebih berkutat pada soal-soal visi dan nilai-nilai bersama. ujian bagi para pemimpin baru adalah bagaimana ia menembus batas-batas yang ada untuk mengembangkan pengaruhnya. Ia tidak tampil sebagai ‖pemberi perintah‖. tetapi juga konstituen dari parta politik yang lain. tetapi kesamaan nilai-nilai yang dianut. nampak kucarkacir tersedot magnet dari para pemimpin di luar partai sendiri. Atau bagaimana pemimpin sebuah partai politik (sebagai organisasi) memengaruhi tidak saja konstituennya sendiri. Kaum muda mendapatkan . Ia juga tidak memiliki ilusi berlebihan untuk bisa mengontrol semua hal bagi dirinya sendiri.Kedua. berorientasi jangka panjang. Pemimpin baru percaya pada konsep the leader in you dan the leader in us. Keempat hal di atas memberi sedikit gambaran kepada kita tentang sosok pemimpin baru untuk zaman ini: pertama. dengan orang-orang muda yang bergairah. Ia datang dengan gagasan-gagasan. pegawai di organisasi pemasok. bahkan pegawai di organisasi kompetitornya. dan konsumennya. Berdasarkan nilai-nilai tertentu. karena pengalaman tidak bisa jadi acuan. orang-orang. kalau pengalaman tidak bisa dijadikan tumpuan utama. sementara mereka yang secara fisik berjauhan menjadi berdekatan. dan menawarkan nilai-nilai yang diyakini lebih baik dari para pemimpin tradisional. Bukankah fenomena koalisi-koalisi antar partai merupakan ujian yang sangat jelas mengenai kiprah para pemimpin baru? Bukankah ujian semacam ini telah membuat para pemimpin tradisional kalang kabut dalam menentukan posisinya sendiri? Konstituen dari partai-partai yang lemah kepemimpinannya. dimana berbagai macam gagasan berseliweran untuk saling diapresiasi dan saling dikritisi sekaligus. bercumbu dengan masa depan. para pemimpin baru sangat sadar bahwa ia berkewajiban untuk menginspirasi konstituennya dan mengembangkan kepemimpinan di segala level organisasi. Ketiga. Pemimpin baru bergaul dengan dunia maya. sesuai jenis alat musik yang dipegangnya). dan nilai-nilai. Obama melakukan hal yang benar (doing the right thing). bertanya ―apa‖ dan ‖mengapa‖. mengatur irama dan arah bersama. sampai lahir pemimpin-pemimpin baru yang lolos ujian. dunia virtual. tetapi juga mereka yang di luar perusahaannya. Barack Obama mungkin menjadi contoh paling populer untuk menegaskan hal ini. Dan patut diduga fenomena ini masih akan terus berlangsung sampai satu dekade mendatang. orang-orang yang secara fisik dekat menjadi berjauhan. Tembok-tembok birokrasi diluluhlantakkan dan suasana formal berubah menjadi informal dan kerap personal. Bagaimana seorang pemimpin perusahaan memengaruhi tidak saja pegawai. tetapi lebih sebagai ‖penjual gagasan‖. bahwa kemenangan Obama tidak berbasiskan pengalaman. menginovasi dan mengembangkan. ia tidak lagi sekadar main perintah seperti komandan upacara. karena pemimpin baru menghadapi lingkungan yang padat ide dan berisikan jaringanjaringan yang interdependen.

menjadi pemimpin itu soal pilihan. 1993) mengusulkan istilah pengganti follower atau employee. Definisi diatas menegaskan bahwa konstituen adalah pemegang otoritas yang sesungguhnya. Dan layaknya sebuah perjanjian. para pemasok. dan distribusi tanggung jawab. Selamat datang pemimpin! * Andrias Harefa. Tags: Konstituen June 29.‖ demikian Kouzes dan Posner (Credibility. Mari kita songsong para pemimpin baru. mereka merasa perlu menegaskan pentingnya seorang pemimpin untuk ―menghargai para konstituen dengan segala perbedaannya‖ lewat paparan sepanjang 30 halaman. kedua. Penggagas Visi Indonesia 2045. Dan dalam buku tersebut. bukan sebaliknya. Pelatih Trainer Berpengalaman 20 tahun. mampu bertenggang rasa. Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh sang pemimpin berdasarkan otoritas yang ―dititipkan‖ kepadanya itu? Ia dapat bertindak mewakili atau atas nama konstituennya itu (on his/her behalf) dalam rangka memberikan pelayanan. Seorang konstituen memberikan otoritas kepada pemimpin. pembagian peran. Pada titik ini kita melihat kepemimpinan sebagai sebuah transaksi atau perjanjian antar pihak. Indonesia sedang dalam proses persalinan massal. dan mitra bisnis lainnya. para pemegang saham. 2009 by admin Filed under Leadership 1 Comment ―Konstituen adalah seseorang yang secara aktif mengambil bagian dalam proses menjalankan organisasi dan yang memberikan otoritas kepada orang lain untuk bertindak mewakili dirinya. baik tertulis maupun lisan. dan warga negara. Dengan kata lain.andriasharefa. dan menjadi pengikut atau konstituen itu soal keputusan. Konstituen itu bisa pegawai/ bawahan. Kouzes dan Posner juga mengatakan bahwa kepemimpinan adalah ―suatu hubungan timbal balik antara mereka yang memilih untuk memimpin dan mereka yang memutuskan untuk mengikuti‖ (cetak miring penulis). Penulis 35 Buku Best-Seller. dan solider. toleran. apalagi dalam konteks masyarakat yang multikultur seperti Indonesia.peluang untuk memainkan peran strategis mereka tanpa harus menunggu restu orangtua. ketiga. Dapat dihubungi di www. pemimpin baru haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai luhur—termasuk nasionalisme—dan mampu berpikir kreatif. Artikel ini juga dimuat di Bisnis Indonesia Minggu rubrik Spiritual Leadership. tetapi juga bisa konsumen. ia memberikan tidak saja hak (untuk bertindak .com. serta cakap mengomunikasikan gagasan kepada publik. Dan bila otoritas itu dipercayakan atau diberikan kepada orang lain. maka orang lain itu kita sebut pemimpin. Ada kesepakatan.

Apa yang dulu tersimpan rapi di benak para eksekutif puncak dan file-file manajemen. Artinya. televisi. Konstituen menuntut agar pemimpinnya memiliki pengetahuan yang luas. dewan direktur. Mereka menjadi relatif lebih berpengetahuan dan karenanya lebih demanding (menuntut) ketimbang sebelum era ―dunia yang dilipat‖ (internet). modem. maka ia akan sulit menjalankan perannya sebagai pemimpin bisnis. Dalam dunia politik kontemporer. dst) tetapi juga kewajiban (untuk melayani konstituennya). baik dari serikat pekerja. majalah. tabloid. Seorang eksekutif dipilih atau ditunjuk oleh shareholders atau owner(s). Namun. konstituen eksekutif puncak perusahaan––CEO. keinginan dan harapan konstituen di masa mendatang. Meski demikian. dalam proses berikutnya sang eksekutif wajib memenangkan hati konstituen yang non-shareholders dan non-owners itu. yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang mengandalkan kekerasan senjata. internet). memangku jabatan. CD ROM. para pemimpin juga diharapkan memiliki hati dan jiwa yang mau melayani konstituennya (servanthood attitude). yang paling menonjol mungkin ini: konstituen masa kini memiliki banyak pilihan dan opini karena mereka memiliki informasi yang dipasok oleh media cetak (koran. sejak pemilihan presiden dilakukan secara langsung mulai 2004 silam. dsb––yang pertama umumnya adalah para shareholder (pemegang saham untuk perusahaan publik) atau owner (pemilik perusahaan privat). Sungguh keliru jika masih saja ada pemimpin formal. bahkan lingkungan sosial dimana proses bisnis perusahaan berlangsung. menerima fasilitas jabatan. Keterlibatan pegawai dan pelanggan. terutama tentang situasi dan kondisi riil yang dihadapi konstituen pada masa kini dan berbagai kebutuhan. tetapi sangat tidak menonjol atau bahkan nol. email. personal computer. kini tersedia di internet bagi semua (atau sebagian besar) orang. konstituen masa kini sangatlah berbeda dalam cara mereka menilai para pemimpin formalnya karena mereka memiliki informasi. dan pemasok mungkin ada. Ada kontrak yang dilakukan secara terbuka di depan umum. jurnal. disamping pengetahuan yang luas. Ada pula yang dilakukan secara diam-diam dan menjadi isu durkampanye (kampanye hitam) antar calon pemimpin nasional. intimidasi. serta memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang tugas dan tanggung jawabnya. baik dalam organisasi publik maupun yang bersifat privat. Karena konstituen masa kini memiliki akses yang relatif luas terhadap informasi. kita menyaksikan adanya kontrak-kontrak politik yang diajukan oleh kelompokkelompok tertentu kepada capres dan cawapres yang berlaga untuk menang. Dalam dunia bisnis.atas nama konstituen. para pemasok. maka para pemimpin yang kurang berpengetahuan akan semakin ditinggalkan. faksimili. . dsb) dan elektronik (radio. Era ini ditandai dengan peringatan bahwa kekuatan pedang (senjata dan kekerasan) telah dikalahkan dengan kekuatan pena (informasi dan pengetahuan). Konstituen abad 21 Apakah ada perbedaan antara konstituen pada masa lampau dengan konstituen pada era milenium ketiga ini? Menurut Warren Bennis (1997). Ia harus mengupayakan sendiri legitimasi yang lebih besar. Bila tidak. dan teror. Dan informasi ini bersifat memberdayakan konstituen.

Pemimpin melihat kenyataan masa kini sebagai sesuatu yang tidak ideal. Dan untuk itu tidak diperlukan apaapa kecuali diri sendiri. mereka yang memangku jabatan. sebab pemimpin yang tidak kaya juga melegenda. * ANDRIAS HAREFA. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment Kita paham bahwa kepemimpinan bukanlah posisi atau jabatan.andriasharefa. belum tentu pantas di sebut pemimpin. Kita paham bahwa kepemimpinan adalah pekerjaan. Jadi. Cara menjadi pemimpin itu sederhana saja: kerjakanlah pekerjaan yang hanya pemimpin memilih melakukan jenis pekerjaan semacam itu. sebagian malah jadi pesakitan di mata hukum karena terkait korupsi. . Lalu apakah pekerjaan pemimpin itu? Apakah pekerjaan yang kalau dilakukan pasti membuat seseorang menjadi pemimpin? Mungkin tiga hal ini. dan Nelson Mandela adalah contohnya. Bahkan untuk pemimpin besar sekaliber Bung Karno. tidak seharusnya begini.Adakah para pemimpin kita memahami karakteristik konstituen masa kini? Semoga. setelah mereka wafat pun banyak orang masih dengan bangga mengaku sebagai pengikut setianya. Pemimpin berurusan dengan masa depan. Bunda Teresa. Bung Hatta. Kalau ia benar-benar pemimpin. Mereka memulai pekerjaannya dengan bekal seadanya. entah karena diturunkan atau pensiun. memikirkan hal-hal yang ideal. pemimpin mengerjakan proses idealisasi. tanpa dukungan partai politik atau konglomerat yang luar biasa. Kekayaan besar tidak diperlukan.com Tags: Kerja Pemimpin June 15. Tepatnya masa depan yang lebih baik bagi setiap orang di lingkungannya. suatu saat nanti. sebagian lagi mengalami post-power sindrom. Lihat saja sejumlah pejabat yang turun dari jabatannya. Ketiganya juga memulai ―karier‖ sebagai pemimpin tanpa modal nama beken. yang seharusnya ada. Penggagas Visi Indonesia 2045 . tanpa jabatan pun banyak orang akan tetap mengikutinya. Mahatma Gandhi.Beralamat di www. dan sekaligus membayangkan sesuatu yang ideal. dan Bung Syahrir.com dan aharefa@gmail. Pertama. mereka yang bukan pemimpin akan menjauhi pekerjaan itu. dan yang benar-benar bisa terwujud. Karena itu pejabat. pemimpin berpikir ke depan.

pemimpin selalu bergairah untuk merumuskan apa yang ideal itu menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dikomunikasikan kepada orang banyak. nyaris tanpa pertimbangan. lebih sempurna. Itulah pekerjaan pertama pemimpin. Ia mampu melihat peluang dalam setiap tantangan yang menghadang. saat Amerika Serikat terpuruk oleh keserakahan yang diciptakannya sendiri? Bisakah para pemimpin bisnis—dalam berbagai tekanan krisis dan pesimisme kronis yang bersifat global— membayangkan bentuk yang lebih baik. cara-cara yang membuatnya mampu bersikap optimis. bahkan harta benda—dan sangat kurang memikirkan dirinya sendiri. Seberapa idealkah keadaan perusahaan yang dipimpinnya saat ini. Ia ikhlas memberikan dirinya—baik waktu. serta upaya-upaya serius untuk . para pemimpin perlu berpikir keras untuk melakukan idealisasi dari usaha yang dipimpinnya saat ini.Karena pekerjaan pemimpin selalu berkaitan dengan masa depan. Rumusan itu galib kita sebut visi. Jika visi itu pernah ada. menjadi realita dan fakta sejarah yang baru yang membuat dunia di sekitarnya menjadi lebih baik. visi konglomerasi. Mereka tak bisa diam. ketika dikomunikasikan dengan keyakinan yang besar. Dan dalam tiap tindakan (proses) merealisasikan visi itu. maka tantangan berikutnya adalah bagaimana memformulasikan hal itu menjadi visi bersama. pemimpin selalu menawarkan agenda aksi. adalah membuat visi itu menjadi nyata. visi organisasi. atau apapun nama dan istilah yang senyampang dengan itu. meski kadang mereka dipaksa menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Mereka berkolaborasi. Mereka mencari strategi-strategi terbaik. Dalam konteks bisnis. maka ia adalah pembaca tanda-tanda jaman. dan Mandela bicara soal perlawanan tanpa kekerasan. Visi yang besar dan jelas menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering untuk mencari cara merealisasikannya. Formulasi dan reformulasi visi disatu sisi. dengan totalitas diri yang nyaris tanpa pamrih. Ketiga. Membicarakan visinya saja sudah membuat mereka bersemangat untuk segera bertindak. pekerja. yang dipahami oleh seluruh jajaran konstituen. Pamrihnya yang utama. King. sang pemimpin memberikan dirinya total. dan pengikutnya. melakukan koalisi. Bung Karno bicara mengenai Indonesia merdeka dan bhineka tunggal ika. kerjasama kemitraan startegis. di seluruh dunia. terutama kepada konstituen yang mengikutinya dengan sukarela. di sepanjang jaman. kalau boleh dikatakan pamrih. perasaan. Gandhi. pikiran. bagaimana merevisi hal yang penting itu dalam formulasi baru yang lebih ―bernyawa‖ dan ―berbunyi nyaring‖. Semua itu rumusan visi yang sederhana. Mereka mengumpulkan orang untuk bergerak. suatu penglihatan jauh ke depan tentang kemungkinan yang bisa tercipta dengan melakukan serangkaian aktivitas tertentu di masa kini. tenaga. namun berdaya gerak luar biasa. Ia membaca situasi dan kondisi dengan cara yang khusus. Mereka mengajak bertindak. Bunda Teresa bicara soal cinta kasih kepada orang miskin. Kedua. Bung Hatta bicara soal ekonomi kerakyatan. dan lebih bermakna dari apapun yang sekarang eksis? Mampukah ia menerobos realitas dan seolah-olah menjadi ―tidak realistis‖ karena berpikir ideal? Jika idealisasi sudah makin mewujud.

Penulis 35 Buku Best-Seller. Apakah persamaan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh sekaliber Sir Winston Churchill. Mahatma Gandhi. Jack Welch. yang memanfaatkan kecerdasan-kecerdasan terbaik dalam organisasi bisnis terkait. Michael Dell. pernah melakukan serangkaian aktivitas terencana dalam hidupnya.com Tags: Mata Pemimpin March 9. Martin Luther King Jr. Soekarno. konglomerat. Jadi. Penggagas Visi Indonesia 2045.mengkomunikasikannya dilain sisi. wahai para pemimpin: bekerjalah! * Andrias Harefa. Henry Ford. yang telah diperkaya oleh tuntutan perkembangan jaman. Kim Dae-jung. Andy Grove. Rich DeVos–Jay Van Andel. . Terhadap jawaban itu dapat ditambahkan bahwa mereka sama-sama manusia yang pernah dilahirkan di muka bumi. dan seterusnya. orang-orang terkaya. perintis dan agen perubahan. Konosuke Matsushita. inovator-kreator. kedua. Dapat dihubungi di www. dan merekrut ―agen-agen‖ sampai ―pengecer‖. Mereka menetapkan ―harga produk/jasa‖ dan memberikan ―personal guarantee‖ kepada para ―konsumen‖. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment ada mata inderawi. yang satu tak banyak berguna tanpa yang lain. Walt Disney. Singkatnya. Larry Ellison. dan kemudian dikenal dunia sebagai negarawan. dan Lou Gerstner? Sedikitnya dapat disebutkan dua hal ini: pertama. pemimpin besar. perlu diperbaiki agenda aksi berdasarkan strategi-strategi yang diperbaharui. Steve Jobs. namun tanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan tetaplah dipundak sang pemimpin. Bill Gates. Nelson Mandela. Mereka mempersiapkan ―saluran distribusi‖. adalah dua keping dari satu mata uang. konstituen yang tulus dan antusias (willing and enthusiastic constituents).andriasharefa. melakukan ―promosi‖. Mohammad Hatta. Mereka melakukan ―survai pasar‖ untuk mengenai kebutuhan ―konsumennya‖. visi besar dan jelas (greatclear-bold vision). Pelatih Trainer Berpengalaman 20 tahun. Inilah bekal bagi pelaksana lapangan untuk bertindak dari waktu ke waktu. Bunda Teresa. Mereka merancang konsep ―produk dan jasa‖ yang akan ―diproduksinya‖. Kita tahu bahwa ―bisnis‖ utama para pemimpin sejati adalah visi. dan ada mata jiwa. Selanjutnya. Jeff Bezos. ada mata budi.

dan bagaimana merumuskan visi dapat dilatihkan. Apa saja yang ―dilihat‖ oleh sang pemimpin akan menjadi ―bisnisnya‖. kalau tercapai. matanya harus fungsional. Ini menyangkut tiga hal. Kalaupun ada. visi itu tidak cukup ambisius. Mereka juga ―mengkonsumsi‖ sendiri visi yang dirumuskannya itu. sejarah mengajarkan kepada kita bahwa menjadi pemimpin itu tidak mungkin. visi itu tidak sesuai dengan harapan dan keinginan banyak orang. visi itu tidak cukup dikomunikasikan. Untuk itu pemimpin sejati jelas harus ―melek‖. Apakah para pemimpin visioner itu ―cuma‖ sekadar ―pemasar‖ saja? Tidak. Harus ditambahkan dengan faktor perenungan atau kontemplasi di peristirahatan batin (sanctuary). tetapi tidak banyak (atau bahkan tidak ada sama sekali) orang-orang yang willing to follow enthusiastically? Saya tidak memiliki jawaban yang pasti. Visi harus berangkat dari hati (heart. hanya seolah-olah ada. Begitulah. Masalahnya mengapa banyak rumusan visi yang digagas oleh orang tertentu tidak ―dibeli‖ oleh orang lain? Mengapa banyak orang yang gede rasa (ge-er). tetapi keduanya belum cukup. visi itu tidak cukup menarik perhatian. . visi itu tidak ―bernafas‖ atau tidak ―hidup‖.mereka melakukan segala aktivitas ―pemasaran‖ dalam arti yang seluas-luasnya untuk memastikan visi yang dirumuskannya ―laris terjual‖ (sold). bahkan visi pemerintahan (pusat dan daerah) hanyalah sekadar basa-basi saja. visi itu tidak dirumuskan secara positif. agenda aksi). visi itu tidak diyakini dapat dicapai. tidak sungguh-sungguh ada. perenungan dan proses pembelajaran). Mereka hidup dari situ. yang kemudian diberi ―bingkai‖ oleh akal budi (ratio. Dan visi adalah soal ―penglihatan‖. Kepemimpinan tanpa visi itu tidak ada. visi itu tidak menginspirasikan antusiasme. mereka bernafas dari situ. Dan mungkin perenungan dan kontemplasi itulah yang sangat sedikit dilakukan oleh banyak orang yang memegang jabatan kepemimpinan (formal) saat ini. Visi tidak mungkin diperoleh dari pelatihan (training) sebab pada hakikatnya visi bukan keterampilan. visi itu tidak membuat orang bersedia berkorban. merasa memiliki visi dan menyebut dirinya pemimpin. tidak sejati. visi perusahaan. visi itu tidak mampu memberi makna dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. bila tanpa visi. Hal di atas jelas menunjukkan bahwa visi itu bukan sekadar rumusan kata-kata indah yang puitis dan enak didengar. soal ―mata‖. dan kemudian direalisasikan lewat tindakan nyata (act. visi itu tidak merefleksikan keunikan. visi itu tidak dipelihara baik-baik oleh penggagasnya. visi itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sebagian besar orang. asesoris penghias dinding yang meaningless (tanpa makna). visi itu. pengetahuan). tidak memberikan rasa bangga. visi itu tidak cukup memotivasi. Namun studi dan perenungan saya selama tiga tahun terakhir sedikitnya menunjukkan 17 kemungkinan berikut: visi itu tidak cukup jelas. meski ia mencakup hal itu. visi itu tidak cukup sederhana untuk dapat diingat. mereka makan dan minum dari situ. Sekali lagi ―bisnis‖ para pemimpin sejati adalah visi. Bahkan visi juga bukan sekadar hasil olah pengetahuan (knowledge management). Itu sebabnya kebanyakan visi pribadi. Mereka menjadi ―pasangan‖ dari visi yang dikampanyekannya. Dengan demikian hal ihwal tentang (apa) visi dapat diajarkan.

Sekalipun pemimpin melihat realitas masa kini sebagai kondisi yang sangat tidak memuaskan dirinya. Ia tak pernah bosan menginvestasikan waktu. dan keempat. melainkan juga proaktif. Karena itu ia bertindak. Ia juga melihat dirinya sebagai pembuat gelombang-gelombang perubahan itu sendiri. ia melihat sejumlah agenda aksi (strategi dan sejumlah taktik) yang bisa dilakukan untuk mengubah realitas masa kini ke arah realitas masa depan yang diimpikannya itu. yang dijadikannya ―urusan saya juga‖. Dengan demikian. antara lain. Ia tidak sembarang mengumbar kata. dan informasi. baik lewat kata maupun lewat tindakan nyata. mengumpulkan fakta. ditandai dengan wawasan dan pengetahuan yang membentang luas. mencari informasi. Ia menggunakan kekuatan kata untuk memberikan gambaran mengenai apa yang dilihat terutama oleh mata budi (eye of mind) dan mata batinnya (eye of spirit). sehingga ia acap kali dijadikan narasumber yang kredibel. Ia tidak pesimistik. hal mana ditandai oleh moralitas. Dan tiap kali realitas masa kini mencoba ―membunuh‖ harapannya. Pandangan dan pendapatnya sering dijadikan acuan hidup banyak orang.Pertama. Apa yang sesungguhnya dilihat oleh mata budi dan mata batin seorang pemimpin? Mungkin ini: pertama. Ia mempercayai kekuatan kata. integritas. maka sang pemimpin berjuang untuk memfokuskan pandangannya kepada kemungkinan melakukan sesuatu untuk mengubah realitas itu. dan karakter yang relatif tak tercela. tugas dan panggilannya yang unik dan relatif tak tergantikan. namun ia bukanlah seorang yang sinis menatap masa depan. Ia tidak mau dipenjara oleh masa kini. uang. ia melihat peran. Karena penglihatannya itu. Mata spiritualnya harus fungsional. ketiga. Hasilnya adalah integritas. tetapi memberikan dirinya untuk ―ditawan‖ oleh masa depan. integritas . belajar dari sejarah tentang segala sesuatu yang menarik minat dan perhatiannya. Ketiga. Apa yang dilihat oleh seorang pemimpin dikomunikasikannya lewat kata-kata dan tindakan nyata. Ia memikirkan dan merenung-renungkan setiap kata-kata yang akan diucapkannya. baik kata maupun tindakan adalah ekspresi dari sebuah penglihatan (visi) yang dikomunikasikan dari dalam ke luar diri (inside out). agar kata-kata yang diucapkannya juga terlihat jelas dalam perbuatannya. Untuk mata fisik ini Helen Keller (buta tuli). pada sisi lain. Ia mengupayakan sedemikian rupa. realitas yang tidak ideal dan tidak berkesesuaian dengan potensi yang ada. mampu menginisiasi atau memprakarsai perubahan. melainkan justru optimistik dan penuh harapan akan masa depan yang lebih baik. Ia tidak saja adaptif. Namun. baik mata inderawinya. ia harus ―melek‖ secara batin. seorang pemimpin sejati menyadari benar keterbatasan kata-kata. ia melihat kondisi aktual yang tidak memuaskan dirinya. Dari mana kita dapat mengetahui bahwa seseorang itu melek. dan seluruh hidupnya untuk mengejar ilmu pengetahuan. Fanny Crosby (buta). diri yang dikomunikasikan secara utuh (integer). Ia sebabnya ciri utama seorang pemimpin antara lain adalah menyuarakan harapan. mata budinya juga fungsional. maupun terutama mata budi dan mata batinnya? Dari mana lagi kalau bukan dari kata-kata dan perbuatannya. Ia tidak melihat dirinya semata-mata sebagai pemberi respons atas berbagai gelombang besar perubahan. data. baik dalam konteks organisasi maupun dalam konteks masyarakat dimana ia berada. Bila kita dapat menyepakati bahwa kepemimpinan sejati dicirikan oleh visi. ia melihat kemungkinan untuk mengintervensi realitas yang tidak ideal itu dan dengan demikian menciptakan suatu realitas baru di masa depan yang secara mendasar lebih baik. mampu menyesuaikan diri. dan mungkin juga Abdurrahman Wahid (agak terganggu penglihatannya) dapat disebut sebagai pengecualian yang amat sangat langka. Hal ini. Stevie Wonder (buta). kedua. pemimpin tidak saja melihat dirinya sebagai peselancar yang menari di atas gelombang-gelombang perubahan zaman. mata inderawinya juga fungsional. Kedua. menyatakan kata-kata itu dalam bentuk perbuatan.

Tema diskusi kala itu adalah From Entrepreneur to Intrapreneur: How to Institutionalize Creativity. Yang kita miliki beberapa dekade terakhir ini adalah pejabat-pejabat.[] Tags: Entrepreneurial Leadership? March 9. Menurut Drucker. yakni orang-orang yang memahami kepemimpinan pertama-tama dan terutama sebagai sebuah jabatan elitis dan karenanya perlu diperebutkan. dan harapan. dan kita sekarang bergerak ke era ekonomi berdasarkan kewirausahaan. Jadi. Ph. Winarno. karena setiap orang diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik dalam waktu cepat. terutama di kalangan kaum muda. Keterlambatan ini seringkali tidak memuaskan pelanggan dan pada akhirnya akan merugikan organisasi. tak jarang membuat organisasi lambat menjawab perubahan. Dengan demikian manajemen. aturan dan prosedur. yang oleh Winarno diidentikkan dengan birokrasi. era ekonomi yang berdasarkan manajemen telah berakhir. Dalam tema tersebut terkesan ada harapan untuk mencari sejumlah cara agar entrepreneurship spirit dari orang perseorangan [biasanya pendiri organisasi bisnis] dapat ditularkan atau diakomodasi secara sistemik ke dalam . Ketua Sekolah Tinggi Manajemen PPM. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment Dalam sebuah diskusi di Jakarta belum lama ini. and Intrapreneurship in Your Company. V. maka mungkin kita juga dapat menerima kenyataan bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang telah kehilangan pemimpin. Innovations. menyitir sebuah kesimpulan maha guru manajemen modern Peter Drucker. Yang kita miliki adalah manajer-manajer yang mengukuhkan status quo.(selarasnya kata dan perbuatan). masalahnya sekarang adalah siapakah yang mau menguji dan menggugat kembali ―penglihatannya‖? Siapakah yang tidak merasa puas dengan kondisi Indonesia masa kini dan pada saat yang sama mampu melihat kondisi masa depan yang lebih berkesesuaian dengan potensi masyarakat bangsa dan negara Indonesia? Siapakah yang masih mampu menyelaraskan kata dan perbuatannya (membangun integritas)? Siapakah yang masih mampu mempertahankan harapannya? Siapakah yang masih melek mata budi dan mata batinnya? Mari kita cari orangorang semacam itu. mereka yang menerima realitas masa kini apa adanya. mereka yang tidak pernah mampu mengubah haluan atau membuat perubahan. Dan mari kita nobatkan mereka menjadi pemimpin kita. Dalam konteks ini ekonomi yang didasarkan kewirausahaan dirasakan lebih baik. ketertiban. Salah satu alasan yang disebutkan adalah karena manajemen menekankan pola berpikir secara rasional agar organisasi tetap survive . mereka yang mengikuti berbagai prosedur standar operasi yang sudah ada.D.

terutama di lapisan tengah. manajer boleh dikatakan paling tidak bebas. hemat saya. Manajemen itu ibarat tubuh manusia yang melaksanakan berbagai aktivitas sesuai dengan arahan akal sehat dan hati nuraninya. mengambil keputusan dan berorientasi pada tindakan. sebab bagaimana pun intrapreneur tetap seorang pelaksana. Manajer harus bersetuju dengan penguasa [atasannya]. menunjukkan adanya pergeseran harapan terhadap peran manajer dalam organisasi. Mereka yang menduduki posisi manajerial tidak lagi diharapkan sekadar menjalankan fungsi-fungsi manajemen. atau sekadar menunjukkan bahwa manajemen tetap diperlukan. dan intrapreneur. baik organisasi bisnis maupun organisasi pemerintahan [terutama BUMN dan BHMN]. maka apa saja prakondisi dan kondisi yang diperlukan untuk itu? Dan seterusnya. entrepreneur. maka apa yang membedakan seorang entrepreneur dan intrapreneur dengan seorang leader? Keempat. yakni spirit manusia. Untuk itu diperlukan sejumlah intrapreneur alias intra corporate entrepreneur [entrepreneur dalam organisasi]. dan intrapreneur agak bebas. Manajemen an sich tidak lagi bisa diandalkan sepenuhnya. Mereka inilah yang diharapkan melakukan berbagai kegiatan entrepreneurial dalam organisasi. aturan dan prosedur] tetap akan diperlukan dalam batas-batas tertentu. apakah kita memiliki sejumlah contoh kasus untuk membuktikan bahwa kehadiran intrapreneur akan membuat organisasi berkembang ke arah innovative and creative organization? Kelima. Intrapreneur mahir mengajak orang lain menyetujui pandangannya.sebuah sistem organisasi dan membentuk apa yang bisa disebut sebagai entrepreneurial organization. Entrepreneur mengikuti pandangan pribadi. lebih sabar dan mau lebih berkompromi daripada seorang entrepreneur. Laporan hasil diskusi yang dipublikasikan oleh majalah MANAJEMEN tersebut. apakah hal itu mengukuhkan sinyalemen sementara pihak mengenai matinya ilmu manajemen. ikut hadir Marius Widyarto Wiwied. namun bukan yang terpenting. namun belakangan ini saya menyadari bahwa manajemen [dalam arti birokrasi. Entrepreneur paling bebas. Dari aspek kebebasan bertindak. tetapi tidak cukup [necessary but insufficient]? Kedua. Mereka juga diharapkan memainkan peranan sebagai entrepreneur dalam skala dan intensitas tertentu. jika kita ingin membangun sebuah entrepreneurial organization. Meski pernah memikirkan kemungkinan matinya ilmu manajemen. CEO PT Caladi Lima Sembilan. menunda keputusan sampai merasa apa yang diinginkan atasannya tercapai. Ada sejumlah pertanyaan yang masih perlu dicari jawabannya terhadap pergeseran harapan atas peran para manajer itu. Pertama. Kegagalan paradigma manajemen terletak pada dominasinya terhadap hal-hal yang tidak bisa dimanajemeni. Tubuh penting. Ini nampak dalam hal pengambilan keputusan. Ia berusaha membedakan antara manajer. Dalam diskusi tersebut. . produsen kaos C-59 yang sudah memasuki pasar manca negara dengan merek C-Forty Nine. Dan mereka yang diharapkan memainkan peranan sebagai intrapreneur ini [siapa lagi kalau bukan] para manajer. bagaimana dengan peran manajer sebagai pemimpin yang membuat lahirnya istilah Manager-Leader [antara lain dipergunakan oleh Andrew Tani dan kawan-kawan] atau Leader-Manager? Ketiga. Mungkin itu sebabnya Gede Prama mengumandangkan konsep manajemen sebagai spirit. karena itu saja tidak cukup untuk menopang pertumbuhan organisasi di tengah arus perubahan yang semakin cepat. jika manajer bisa dibedakan dengan entrepreneur dan intrapreneur.

sehingga berupaya melakukan perubahan dan pembaharuan. Jika manajemen mengurusi benda-benda [things] dan kepemimpinan bertalian dengan orang [people]. Terobosan kedua yang mendobrak paradigma manajemen adalah paradigma kewirausahaan. terutama organisasi bisnis. menjadi penting untuk disimak. Dan sebagai gantinya kita harus menggunakan paradigma bahwa sebuah korporasi adalah sebuah komunitas entrepreneur yang diciptakan untuk menghasilkan kesejahteraan bagi individu dan memberi nilai tambah kepada masyarakat. Nanyang Technoligal University. maka nilai tambah bagi masyarakat diukur dari Return on labour [ROL. Keduanya pastilah memiliki kecenderungan tidak puas dengan apa yang telah ada [status quo]. Kao. Diperlukan setumpuk keberanian untuk melakukan hal-hal baru [kreatif] atau untuk melakukan sesuatu dengan cara-cara yang berbeda [inovatif]. Jadi. Dapatkah pengembangan manusia dan pengembangan produk/jasa dalam organisasi dipisahkan secara tegas? Saya tidak tahu. Jika benar bahwa kepemimpinan organisasi kini dan di masa mendatang memerlukan pola kepemimpinan yang bercorak kewirausahaan [entrepreneurial leadership]. tetapi juga soal-soal strategis lainnya seperti ROL. tidak boleh hanya disibukkan dengan soal-soal seberapa cepat dan seberapa besar para shareholders memperoleh ROI-nya. Sementara fokus pengembangan organisasi melalui pengembangan produk dan/atau jasa yang kreatif [baru] dan inovatif [berbeda].Terobosan pertama yang mendobrak paradigma manajemen adalah paradigma kepemimpinan. Return on resources [ROR]. ROR. Jika peningkatan kesejahteraan individu diukur dari Return on investment [ROI]. maka bagaimanakah kita membedakannya dengan kepemimpinan yang bercorak manajemen? Pada titik ini saya kira penegasan Raymond W. Dengan kata lain. mungkin itu lebih dekat dengan soal leadership.Y. sebuah organisasi. Namun jika fokus pengembangan organisasi diarahkan melalui pengembangan manusia dalam organisasi. kita harus meninggalkan paradigma bahwa sebuah korporasi adalah mesin produksi uang untuk kepentingan segelintir orang saja [yakni investor yang sibuk mempersoalkan ROI-nya]. Singapura. dan ROE dari kegiatan usahanya. yang mulai marak sejak akhir dekade 80-an. mungkin hal itu lebih dekat dengan entrepreneurship. abad ke-21. share of fruit of labour]. dan Return on environment [ROE]. dengan pendekatan entrepreneurial leadership. yang boleh dikatakan menyambut meilenium ketiga. Keduanya pastilah memerlukan keberanian bertindak yang digerakkan oleh visi tertentu. Jika paradigma kepemimpinan berusaha menggugah spirit manusia dalam organisasi. maka paradigma kewirausahaan menantang keberanian bertindak untuk menyatakan spirit tersebut dalam bentuk konkrit yang dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan [stakeholders]. Menurut Kao. maka dalam pengelolaan sebuah organisasi yang beranggotakan manusia dan memiliki aset-aset non-manusia. manakah yang harus didahulukan atau diprioritaskan? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan menjawab pertanyaan istilah mana yang lebih tepat Manager-Leader atau Leader-Manager. profesor di Nanyang Business School. Akan tetapi saya kira isuisu organisasi akan bergerak dari leadership-management ke entrepreneurial leadership. peningkatan kesejahteraan individu tertentu [para investor yang segelintir itu] hanya dapat diterima sepanjang usaha mereka memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sekitarnya. Tidak terlalu jelas bagi saya atribut macam apa yang membedakan seorang leader dengan seorang entrepreneur. .

kita dapat mengatakan bahwa organisasi yang dikendalikan oleh entrepreneurial leader akan menjadi organisasi bisnis yang mampu bertahan dalam jangka panjang [ratusan tahun]. membelai. menyabuni tubuh. memutar kunci. menggendong. mengetik. meng-klik ikon-ikon di keyboard.Dalam sistem politik dan ekonomi yang masih didominasi oleh paradigma manajemen. sebab itu memang tidak mungkin. mencangkul. memijat. dan banyak lagi yang lainnya. Dan mengingat studi Arie De Geus dalam The Living Company [1997]. kehadiran entrepreneurial leader agaknya menjadi kerinduan banyak pihak di negeri ini. Demikiankah? Tags: Tangan Pemimpin March 9. melambai. menulis. karena kepedulian mereka terhadap masalah-masalah socio-ekonomi dan lingkungan hidup di sekitarnya. Pemimpin tidak mengerjakan ―semua hal‖ secara langsung. memukul. yakni pekerjaan yang hanya dilakukan oleh mereka yang . Singkatnya. mengangkat. memetik gitar. Secara simbolik kita dapat bertanya apakah yang dikerjakan oleh ―tangan‖ seseorang yang menandakan bahwa ia layak kita sebut pemimpin? Hemat saya. sebab ia selalu concern tentang perluasan kesempatan kerja dan kelestarian lingkungan hidup dimana usahanya berlangsung. Bahkan ―tanda tangan‖ dijadikan penanda yang nyaris disetarakan dengan sidik jari untuk menyatakan keunikan personal. –– Max De Pree Tangan adalah salah satu organ tubuh manusia yang paling sering dilibatkan dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. menggergaji. Mulai menggosok gigi. menyisir rambut. bertepuk. menyalami. pekerjaan pemimpin mungkin bisa diringkas menjadi mengerjakan sejumlah pekerjaan yang membuat masing-masing konstituen mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan untuk menciptakan suatu kehidupan bersama yang secara mendasar lebih baik di masa depan. Ia bisa diharapkan untuk mengatasi kesenjangan yang amat besar antara kelompok kaya dan kelompok miskin. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment One become a leader through doing the work of a leader. Pemimpin ‖hanya‖ mengerjakan pekerjaan tertentu. secara umum dapat dikatakan bahwa dengan tangannya manusia mengerjakan banyak pekerjaan untuk menyatakan kehadirannya sebagai manusia. mencabut. memotong. menekan tuts piano.

apakah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kapasitas sebagai pemimpin? Sudah berulangkali saya tegaskan bahwa pekerjaan utama seorang pemimpin adalah melayani konstituennya (mulai dari anggota keluarga. sampai warga negara). beberapa suster melihat satu-dua orang anak kecil berdagang koran di perempatan lampu merah. yang aktual maupun yang potensial. semakin lama semakin besar. Ibarat bola salju. mengambil inisiatif pelayanan atas dasar rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tulus ikhlas untuk merintis perubahan organisasi dan masyarakat ke arah yang lebih baik. Ternyata mereka tidak pernah sarapan pagi. sampai sebuah simfoni yang indah bergema menjangkau audiens yang menonton pertunjukannya. dan makin hari makin bertambah jumlahnya. Pendirian panti yang satu ini bermula dari hal yang sederhana. dan terus meluncur ke bawah. Dalam kesempatan berbincang dengan Sr. Mereka pun dilayani dengan baik. lalu mengundang kelompok pemusik lainnya. mereka membawa nenek ini ke susteran. saya mencari tahu bagaimana mereka memulai berbagai aktivitas pelayanannya. Beberapa suster melihat seorang nenek yang yang terlunta-lunta di jalanan dan setelah diperhatikan tidak ada sanak keluarga yang mengurusnya. Baru dua-tiga hari kemudian dua orang anak mampir ke susteran ―menagih janji‖ untuk diberikan sarapan. Lalu satu per satu orang jompo yang terlunta-lunta di jalanan (sebagian dianggap gila oleh masyarakat setempat) diajak hidup bersama para suster itu. yang didirikan sekitar tahun 1962. Nah. Anak-anak yang belum terbiasa diperlakukan seperti itu tak memberikan tanggapan. Ia melayani bukan agar dilayani. pegawai. Dengan kata lain pekerjaan pemimpin itu adalah memprakarsai. sampai jadilah sebuah Panti Wreda. Pada suatu pagi. Akhirnya didirikan rumah singgah khusus untuk anak-anak loper koran ini. Josep. Anak-anak ini didekati. pemimpin memulai tindakan dengan ―merendahkan dirinya‖ agar ―menggelinding‖ dari puncak gunung salju (baca: jabatan formal kepemimpinan). Karena belas kasihan. dan para yatim piatu. Pernyataan pemimpin sebagai ―pemegang amanah‖ selaras dengan hal ini. dalam perjalanan pulang dari rumah ibadah. merengkuh tiap bongkah salju yang dapat diraihnya. Atau ibarat pemimpin orkestra yang memulai pertunjukkan dengan memberi aba-aba kepada kelompok pemusik yang satu. memulai. mereka saat ini mempunyai Panti Wreda St. Sebagai contoh. sampai cukup besar untuk melindas setiap pohon (baca: hambatan) yang merintangi jalannya. melainkan agar konstituen yang dilayaninya dapat melayani kepentingan mereka sendiri sekaligus kepentingan masyarakat yang lebih luas. Dengan pemahaman yang demikian saya terpesona mendengarkan berbagai cerita (dan menyaksikan sebagian dari proses) perintisan pelayanan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh suster-suster Sarekat Putri Kasih (The Daugther of Charity) di Kediri. Lalu sang suster mengundang anak-anak ini mampir ke susteran bila ingin sarapan. anak-anak loper koran. pejabat Provinsial Puteri Kasih Indonesia. terutama dalam melayani orang-orang jompo. Ini bukan pemandangan yang biasa di Kediri waktu itu. dan seterusnya. lalu ditanya sudah sarapan belum.memiliki kapasitas untuk memimpin. Di rumah singgah itu anak-anak tidak saja . Contoh lain hampir setali tiga uang. Dan kemudian saya menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh para suster yang berpenampilan amat sederhana itu adalah pekerjaan yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang telah mengembangkan kapasitas kepemimpinan dalam dirinya. Anna Wiwiek Supraptiwi. Esoknya datang lagi.

mereka datang ke Indonesia. dan HCJ Princen (1992). Sesungguhnya potensi kepemimpinan ada dalam diri setiap orang (Harefa: Berguru pada Matahari. tetapi juga didampingi mengerjakan tugas-tugas pelajaran sekolah dan sebagainya. Tina di sekitar Senen. memprakarsai. Mulanya di Surabaya. dan semua itu ada ―di depan mata‖. Vincensius A. Para suster Sarekat Puteri Kasih memang telah terbiasa untuk ―melayani kemiskinan dan penderitaan di depan mata‖. Paulo dan St. Almarhum Romo Mangun di Kali Code dan Kedung Ombo. Perancis. Sejumlah suster berangkat dari Kediri untuk tinggal bersama para pengungsi dan membantu kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Ada begitu banyak ―pekerjaan‖ yang menanti untuk dikerjakan di negeri ini. Sarekat ini didirikan oleh St. Lumy dengan Kampus Diakonia Modern-nya. dan Wardah Hafidz yang memilih menjadi sahabat para tukang becak di Ibu Kota. maka semua orang yang saya sebutkan diatas adalah pemimpin. Pelayanan yang agak khusus adalah melayani para pengungsi di Sampang. Sambil berseloroh para suster itu berkata. saya juga terpesona menyaksikan upaya para penerima Yap Thiam Hien Award. tetapi malas bekerja apalagi sampai ―menjadi pelayan‖ (being a servant). Ada begitu banyak orang yang sibuk berburu ―jabatan‖. ―kalau ada bencana di suatu daerah. yang memulai suatu pelayanan. adalah contoh lain dari kaum sarjana ―populis‖ yang melayani anak-anak dan orang-orang miskin di Jakarta (Kompas. 24/12/01). Pada masa revolusi Perancis. adalah nama-nama lain yang juga memberikan pelajaran kepada kita tentang ―pekerjaan tangan‖ seorang pemimpin. mulai dari Haji Muhidin. Gramedia. mendiang Solagratia S. namun kemudian berpusat di Kediri. dan menjadi sarekat yang unik karena mempekerjakan biarawati di luar tembok-tembok biara. Bahkan lebih dari itu. Masalahnya. Bila kita dapat menerima bahwa seseorang menjadi pemimpin dengan mengerjakan pekerjaan seorang pemimpin (the work of a leader). dalam masyarakat kita kepemimpinan pertama-tama lebih dimengerti sebagai sebuah ―jabatan‖ dan bukan sebuah ―pekerjaan‖. Mereka dibantu para relawan kemanusiaan yang tergerak hatinya –– sebagian adalah kaum muda NU–– untuk meringankan penderitaan pengungsi akibat perselisihan etnis di Kalimantan (Dayak versus Madura) beberapa waktu lalu. kami langsung kebagian pekerjaan‖. Hal yang sama mereka pernah lakukan di Papua dan (dulu) di Timor Loro Sae (Timtim). lewat jaringan Puter Kasih dari Belanda. Jhony Simanjuntak. Lalu sejak 1931. Mereka semua adalah perintis. Ini telah dimulai sejak tahun 1633 di Paris. menerima tanggung jawab untuk mengambil inisiatif dalam memulai tindakan sederhana (melayani sesamanya dalam skala dan kapasitas yang sesuai dengan dirinya) untuk menciptakan organisasi dan masyarakat yang lebih baik. Sebab tiap orang sesungguhnya memiliki peluang untuk memulai. terlepas dari apakah ia diberi jabatan formal kepemimpinan atau tidak. Louisa de Mirillac. Madura. dan Mona di kawasan Kramat. jika ia tidak melihat ada kemungkinan memperoleh ―keuntungan‖ bagi dirinya sendiri (―jabatan‖ adalah salah satu bentuk ―keuntungan‖ itu). memprakarsai suatu perbuatan baik.mendapatkan sarapan pagi. sampai Ester Jusuf Purba dan Suraiya Kamaruzzaman (2001). para Puteri Kasih ini menolong banyak orang miskin yang menderita di sana. Banyak orang enggan mengambil inisiatif. pemrakarsa. 1998). Banyak orang enggan ―mengotori tangannya‖ dengan pekerjaan yang penuh . khususnya kepada kaum yang terpinggirkan. Di luar Sarekat Puteri Kasih.

Ketika ia wafat. menegaskan bahwa ―lidah adalah amanah‖. Dan akar-akar permasalahan ini boleh jadi bersumber pada mandulnya institusi-institusi formal di bidang kependidikan. maka berbicara bisa berarti berlian. dan kurangnya kepedulian sosial. ―Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkata-katalah dengan kata-kata yang benar‖ [QS Al-Ahzab:70]. atau bahkan tidak fungsionalnya hati nurani kita sebagai masyarakat bangsa. Banyak orang yang lebih suka menjadi ―kritikus‖ yang ―bersih‖ karena tidak mengerjakan apapun. Jiwa status quo (anti perubahan) yang telah menyatu dengan berbagai institusi formal itu agaknya masih terlalu kokoh untuk ditumbangkan oleh gerakan reformasi yang hingga kini nampaknya masih setengah matang. maka hendaklah dia berkata baik atau diam‖ [HR Bukhari-Muslim]. ―Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir. Lalu dikutipnya ayat suci yang berbunyi. dikenal sebagai penggagas konsep Manajemen Qalbu [2001]. maka ia akan berkata ―Jadi batu kau‖. Semua ini mungkin pertama-tama adalah masalah kurangnya kesadaran diri. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment Sebab diam tidak selalu berarti emas.[] Tags: Lidah Pemimpin March 9. diketahui bahwa lidahnya berwarna hitam dan mengandung racun yang mematikan. ―Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. mubaligh muda dari Bandung yang. dan jadilah ―sesuatu‖ itu batu. entah berapa lama lagi kita harus menunggu lahirnya pemimpin-pemimpin baru dalam skala nasional. Ketika berbicara tentang lidah. panggilan akrabnya. dan keagamaan. .‖ kata KH Abdullah Gymnastiar. antara lain.―lumpur‖ yang diwariskan oleh angkatan sebelumnya. sekali pun dengan mengerjakan segudang pekerjaan itu––yang menuntut keringat dan tangan kotor––mereka tidak memperoleh ―keuntungan‖ bagi dirinya sendiri. pemimpin-pemimpin yang mengerjakan pekerjaan sebagai seorang pemimpin. seorang pendeta Kristen mengutip ayat Alkitab yang berbunyi. Kalau ia memanggil ―sesuatu‖ [orang atau binatang] dan tidak memperoleh tanggapan sesuai keinginannya. Jadi. Salah satu cerita rakyat yang terkenal di Sumatera Selatan adalah tentang Si Pahit Lidah. Mungkin itu sebabnya ia dikenal sebagai Si Pahit Lidah. Konon ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara keturunan seorang raja Hindustan. Dengan cara itu Aa Gym. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. dan sabda Nabi Muhammad saw. kebudayaan.

Kita memiliki sejumlah pemimpin yang fasih berbicara. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Sebagaimana dikutip Daniel Dhakidae dalam buku Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Kita memiliki terlalu banyak pemangku jabatan di tingkat elite yang terjebak pada dua situasi ekstrem. justru menjadi ―bisu‖ dan ―tertidur lelap‖ di bangku empuknya. Bahkan sampai hari-hari ini ―kekuatan lidah‖ Bung Karno masih sulit dicarikan tandingannya. yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. mereka yang terlalu cepat bicara [too fast]. penelitian di tahun 2000 menunjukkan bahwa sekitar 34 persen [170an orang] anggota DPR tidak pernah hadir. barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya. atau bahkan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ketika mereka berbicara. untuk menggunakan “lidahnya” [bukan berbicara dengan ―tangan/baku pukul‖ seperti yang didemontrasikan saat Sidang Istimewa MPR tahun 2001 silam]. kebingungan dan merasa tidak terwakili. Menyoal kekuatan lidah dalam konteks kepemimpinan boleh jadi akan membuat kita merindukan kehadiran seorang pemimpin yang mampu mengelola the power of speech untuk mengumandangkan suara batin kita yang dibungkam berbagai persoalan hidup sehari-hari. sarat dengan pengetahuan dan informasi. apa yang mereka bicarakan dan cara mereka berbicara tidak nyambung dengan hati kita. warga negara biasa. sebagian besar kita merasa justru tidak terwakili.―Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal. kata hikmat atau kata mutiara. tetapi juga dalam skala global-internasional. memang. kita juga dibingungkan apa lagi yang harus dipertimbangkan untuk dapat menentukan sikap dan pendirian yang bersangkutan. demikianlah mereka yang mampu mengendalikan lidahnya. Mereka berbicara tentang dirinya. hlm. tidak saja di Indonesia.xxiv]. Pemilihan Umum 1999 [Kompas. partainya. yang keluar dari mulut kita ketika berbicara. sebagian pemimpin yang duduk di DPR khususnya. Bagai seekor kuda yang dapat dikendalikan dengan kekang dimulutnya. dalam sidang-sidang parlemen. Kapankah waktu yang tepat bagi pemimpin untuk bersuara. kelompoknya. sehingga bisa ―membakar‖ orang banyak untuk bertindak. 2000. Pada kelompok yang pertama. akan dapat menguasai dirinya dalam berbagai situasi. Mereka ini agaknya tak memiliki kesadaran sedikit pun bahwa mereka dibayar oleh rakyat untuk bicara. menggunakan the power of speechnya? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Makin banyak mereka bicara. Kekuatan ini begitu dahsyat. apalagi bicara.‖ [Yakobus 3:2]. sekali pun sebagian dari mereka itu duduk di Dewan Perwakilan Rakyat. mengelola the power of speech. Pertama. makin jauh terasa jarak antara ―kita‖ dengan ―mereka‖. ia adalah orang yang sempurna. Sebagaimana dikutip pada bagian awal tulisan ini. atau bagai kemudi yang kecil mengendalikan sebuah kapal besar. Mereka tertidur saat mengikuti sidang-sidang yang membahas persoalan-persoalan bangsa. Coba saya simak rekaman kaset pidatopidato Bung Karno yang tajam dan memukau audiens pendengarnya selama beberapa dekade. Baik cerita rakyat maupun kutipan ayat-ayat suci agama Islam dan Kristen di atas menegaskan bahwa kekuatan lidah adalah kekuatan kata-kata yang diucapkan. sehingga tak ada yang membantah ketika ia menyebut dirinya sebagai ―Penyambung Lidah Rakyat‖. Masalahnya. Lebih celaka lagi. Namun setidaknya kita bisa belajar dari nasihatnasihat orang bijak yang tersebar dalam bentuk pepatah. . kita sering bingung dengan apa yang dibicarakannya karena permasalahan yang di angkat ke permukaan masih belum cukup data dan faktanya. Mungkin benar keprihatinan yang dinyatakan oleh sejumlah budayawan negeri ini. tapi bukan tentang ―kita‖. dan kedua. bahkan ayat-ayat dalam kitab suci agama-agama. Jadi. Begitu fasihnya ia menggunakan kekuatan kata-kata. bahkan cukup banyak yang mangkir secara reguler dan hanya muncul untuk menandatangani slip gaji bulanan. duaduanya hanya membuat kita. Pada kelompok yang kedua. mereka yang terlalu terlambat bicara [too late]. golongannya.

Ia tidak diharapkan diam ketika berbagai wacana telah berkembang sedemikian rupa ke arah yang kontra-produktif. cukup dilihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Pemimpin yang melek mata hati dan mata budinya. Akan tetapi juga dapat dikatakan bahwa kata-kata yang sembrono. Ia diharapkan tidak berbicara jika yang akan dikatakannya lebih merupakan pengulangan-pengulangan yang tidak perlu [klise. Ia tidak diharapkan diam ketika diam dapat dipersepsi sebagai tanda persetujuan akan hal yang tidak mungkin boleh disetujuinya. Pemimpin yang tidak asal bicara. ini memerlukan aktualisasi seluruh potensi kemanusiaan sang pemimpin.seorang pemimpin diharapkan untuk benar-benar mengendalikan ―lidah‖-nya. tidak bias. Ia diharapkan tidak bicara kalau kata-katanya hanya akan menghasilkan perdebatan yang tidak perlu. Ia tidak diharapkan bicara saat publik meminta dirinya untuk lebih banyak bertindak. asal bunyi. Ini memerlukan kematangan pribadi dan karakter terpuji serta seni komunikasi. dan menyakitkan hati pendengar. Pemimpin tidak boleh diam membisu ketika semua fakta telah relatif gamblang bagi khalayak ramai [konstituennya]. ―Mulut manusia itu seperti moncong teko. Ia tidak diharapkan diam ketika diam itu tidak lagi dipersepsi sebagai ―emas‖. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. kebohongan yang memelintir makna sesungguhnya. Sebaliknya juga benar. Sekali lagi harus kita akui bahwa dalam konteks kepemimpinan. tetapi sebagai ―kebodohan‖ atau ketidakpekaan terhadap permasalahan yang berkembang [telat mikir]. Republik yang sedang porak poranda ini memerlukan pemimpin yang mampu mengendalikan lidah-nya. kasar. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang. namun tak selalu diam membatu. Singkatnya. Ia diharapkan untuk tidak berbicara saat emosinya dalam keadaan tak terkendali. Mungkin benar ilustrasi yang dipergunakan Aa Gym ketika ia mengatakan bahwa. namun sangat mengena. Ilustrasi ini sederhana. mencerminkan kemungkinan hati nurani yang terpolusi dan akal budi yang yang tak terasah baik. 2009 by admin Filed under Leadership . sloganistik. Hati nurani yang bersih dan akal budi yang tajam sering terungkap dari kata-kata [juga tindakan] seseorang. Ini memerlukan kemampuan membaca ―teks‖ [realitas] sesuai dengan ―konteks‖ [situasi dan kondisi tertentu] agar dapat diinterpretasikan maknanya secara relatif benar. lihat saja dari apa yang sering keluar dari mulutnya‖. Ia diharapkan tidak asal bicara tanpa ada kejelasan mengenai data dan fakta. tetapi sudah mengarah pada ―mengutuk‖ sesuatu yang belum pantas untuk dikutuk. Kalau ingin tahu isi teko. Dan yang paling diharapkan mungkin adalah ia tidak berbicara tentang sesuatu yang patut diduga merupakan dusta. Ia diharapkan tidak berbicara saat ia seharusnya mendengarkan. Ia diharapkan tidak bicara soal masalah-masalah diluar bidang kompetensi dan tugas utamanya. Ini memerlukan kepekaan nurani dan kecerdasan budi dalam memilih kata dan mengutarakannya. dsb]. soal waktu bicara dan waktu diam mungkin sama peliknya dengan memilih apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya. Ia diharapkan tidak berbicara jika kata-katanya bukan lagi bersifat ―mengingatkan‖. Dimanakah mereka? Tags: Telinga Pemimpin March 9.

Tubuh kita dapat diatur posisinya agar terkesan sungguh-sungguh memperhatikan orang lain. Namun. Mendengarkan adalah seni. ia tidak bisa membeli alat bantu apapun di toko manapun. Sebagai teknik. Dalam berbagai program pelatihan kepemimpinan. Sejumlah teknik diajarkan untuk dipraktekkan berulang-ulang. memang dapat dilatih. ―Saya akan menutup mata dan telinga terhadap hal-hal lain. Mary Kay Ash mungkin mendramatisir soal seni mendengarkan ini. Latihan dan bahkan disiplin untuk mendengarkan tetaplah perlu. perihal mendengarkan ini juga sering dilatihkan. Ketika beberapa konsultan kecantikan (beauty consultant) yang bekerja di perusahaannya datang untuk minta nasihat. maka ia memerlukan hearing aid. Yang ingin saya tegaskan adalah bahwa mendengarkan hanya bisa dilakukan bila hal itu merupakan keputusan hati. barangkali saya tidak akan memperhatikannya‖. maka mungkin ia merupakan bagian dari kecerdasan emosional (emotional intelligence) atau bahkan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence).Leave a Comment Pemimpin seharusnya orang yang bertelinga Ia bukan saja harus dapat mendengar (hearing) tetapi mampu mendengarkan (listening) Salah satu rahasia kepemimpinan Mary Kay Ash adalah kemampuannya dalam mendengarkan orang lain. alat bantu mendengar yang bisa dibeli di beberapa toko. Ia pernah mengatakan bahwa pada saat ia sedang berusaha mendengarkan orang lain. bukan teknik. Ia hanya perlu menata hati dan pikirannya agar tidak melanglang buana ketika orang lain sedang berbicara kepadanya. bahkan penting. Itu sebabnya mendengarkan harus dibedakan dengan sekadar mendengar. mendengarkan lebih berurusan dengan telinga hati ketimbang telinga fisik. Jika orang memiliki masalah dengan pendengaran fisiknya. mendengarkan hanyalah soal menciptakan kesan. Dan mereka yang terlatih untuk bersikap dan berpenampilan ―seperti‖ orang yang mendengarkan. Sebab seni bukan cara. Namun saya kira mendengarkan sebagai seni tidaklah bisa dilatihkan. ia seringkali merasa bahwa yang perlu dilakukannya hanyalah mendengarkan cukup lama. Namun tidak berarti latihan mendengarkan tidak perlu. Bahkan andai ada seekor gorila yang berjalan memasuki ruangan. Artinya. Namun pikiran dan hati kita tidak . ia agaknya benarbenar meyakini bahwa kemampuan mendengarkan merupakan suatu kemampuan yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinannya. Namun jika orang tidak mampu mendengarkan orang lain. sama halnya dengan kepemimpinan. Dan seni tidaklah sepenuhnya bertalian dengan soal-soal kecerdasan intelektual. Mata kita dapat dilatih untuk memandang lawan bicara kita. sampai pihak yang meminta nasihatnya itu menemukan sendiri cara penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Kalau toh seni mendengarkan ingin dikaitkan dengan soal kecerdasan. Saya langsung memandang orang yang berbicara kepada saya.

entah dengan maksud untuk menyenangkan ataupun dengan maksud untuk mencari kelemahan dari kata-kata yang disampaikan lawan bicara kita. maka kita dengan mudah akan dapat melakukannya. tidak memberikan perhatian penuh. Informasi. nasihat. Para penatar P-4 di masa Orde Baru. kita dapat mendengarkan secara logika. mungkin banyak didengarkan dalam arti ini juga. Kita hanya sibuk mencari cara untuk memberikan tanggapan balik kepada lawan bicaranya. kecuali bila penampilan fisik itu benar-benar merupakan ekspresi yang jujur dan tulus dari hati kita. kritik. Pada tahap ini apa yang masuk dari telinga kanan. Namun. Pihak-pihak yang setuju dan pihak-pihak yang berpendapat sebaliknya hanya mendengarkan pihak lain dalam rangka mencari-cari alasan untuk ―memukul balik‖. Misalnya. kita cuma pura-pura mendengarkan. dalam diskusi yang sarat dengan adu argumentasi. Keempat. Apa yang mereka dengar tidak mempengaruhi pikiran dan perilaku mereka. Juga bila orang sedang mengunjungi berbagai pameran. Ketiga. Jadi. mendengarkan kuliah-kuliah dikampus dalam arti ini. dan sejenisnya. apalagi sampai ke dalam hati. Buktinya. langsung keluar dari telinga kiri. tapi dalam hati mereka berkata ―emangnya gue pikirin‖. televisi. pada tahap ini pun keterlibatan pikiran dan hati belum terjadi. ikut sekatenan atau pasar malam. Ini hanya berarti bahwa secara fisik telinga kita normal (tidak tuli). sejumlah orang memberikan semacam orasi dan yang lain mendengar tapi tidak sampai mendengarkan. Pertama. banyak orang sibuk sendiri dengan obrolan dan kegiatan lainnya yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan orasi yang sedang disampaikan. saya kira. Pada saat itu ada banyak suara disana sini. Jadi. Misalnya. apakah mereka sungguh-sungguh mengerti (understanding) atau baru sekadar tahu (knowing)? . Sebagian besar mahasiswa. atau apapun yang disampaikan lawan bicara kita tidak sampai menetap di otak. kita dapat mendengarkan secara amat selektif. mampu mengingat/menghafal apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita. Mereka ikut kuliah dan bisa menjawab soal ujian semester persis seperti yang dikuliahkan dosen sebelumnya. atau peralatan multi media yang sedang didemonstrasikan penggunaannya. kita dapat mendengar tapi tidak sampai mendengarkan ketika kita memberikan kesan seolah-olah mendengarkan tetapi sesungguhnya tidak. kita dapat mendengar (hearing). Artinya. Kita mendengarkan juga. Jika kita diminta mengulangi apa yang telah dikatakannya secara verbal. secara fisik mereka mendengar. tetapi sama sekali tidak mendengarkan (listening). Kita mendengarkan dengan ―otak‖. termasuk suara radio. Biasanya inilah yang terjadi saat seorang pegawai mendengarkan atasannya memberikan pengarahan yang membosankan. kebanyakan orang yang mendengar tidak pernah mendengarkan. Tidak ada kejujuran dan ketulusan untuk memahami secara sungguh-sungguh. Kedua. Masalahnya. saat ada demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia. keluhan. cuma basa basi sosial untuk tidak membuat orang lain tersinggung. Sejumlah pakar ilmu komunikasi dan kepemimpinan sering membedakan soal kemampuan mendengarkan ini dalam berbagai tingkatan. tetapi tidak sampai memahami secara utuh apa yang sebenarnya ingin disampaikan lawan bicara.bisa dipaksa untuk mengikuti penampilan fisik kita. Pada tahap ini kita sudah melangkah lebih jauh dari sekadar hearing. Kita berusaha mencari pembenaran dari pendapat kita sendiri.

tetapi juga pesan yang disampaikan secara nonverbal. not going anywhere. karena kita bersedia dipengaruhi.Kelima. Ekspresi dari jiwa yang dying (sekarat) ini bisa macam-macam. yakni lewat bahasa tubuh. khususnya orang berusia dewasa. tidak suka berubah. mandeg. dan dengan pemahaman itu kita diperhadapkan pada kemungkinan mengubah persepsi awal kita. dan sikap dasar gede rasa ini menutup telinga pikiran dan hati kita. merasa tahu. Dari hari ke hari sangat sulit mencari tanda-tanda (sign) bahwa para pejabat itu benar-benar mendengarkan pandangan pihakpihak yang berbeda dengan dirinya. bukan sekadar dari telinga ke telinga atau dari pikiran ke pikiran. Pertama. Jiwanya meronta-ronta. Bila persepsi kita berubah. kekurangan oksigen. termasuk pandangan dan sikap dasar kita terhadap persoalan-persoalan hidup. Inilah. Kita. maka kita dimungkinkan untuk mengubah persepsi awal kita yang mungkin keliru. saya kira ia bicara soal empathic listening di atas. Saya kira. Dengan kata lain. juga tidak mendengarkan aspirasi para buruh yang ketakutan karena merasa periuk nasi satu-satunya selalu terancam hilang dalam hitungan detik. Pada sisi lain. belajar kembali (re-learn) ilmu psikologi komunikasi. Lebih jauh. Kita perlu mengingatkan para pejabat itu bahwa perasaan ―didengarkan‖ ibarat oksigen bagi jiwa. kita dapat mendengarkan sampai benar-benar memahami apa yang sesungguhnya ingin disampaikan lawan bicara kita. Kebuntuan ini memicu berbagai bentuk tindak kekerasan sebagai cara menyatakan dan memaksakan kehendak. Pihakpihak yang merasa tidak didengarkan berada dalam posisi sesak nafas. empathic listening membantu kita untuk memahami kerangka pikiran dan perasaan lawan bicara kita. Jadi ada keterlibatan diri secara total. dan kecepatan suara. hemat saya. baik milik negara maupun swasta murni. merasa mengerti persoalan. Sebagian orang menyebut tahap ini sebagai empathic listening. Jika Mary Kay Ash mengatakan bahwa mendengarkan adalah seni. Dan dalam pengertian ini mendengarkan tidak saja menyangkut soal apa yang didengar secara verbal (kata-kata) atau fisik (mimik muka yang bisa dibuat-buat). Akar masalahnya adalah karena masing-masing atau salah satu pihak tidak pernah sungguh-sungguh mendengarkan secara empatik. sudah mengerti dan tidak mau mendengarkan. tidak didengarkan sungguh-sungguh. sekalipun ada begitu banyak forum ―dialog‖ yang dibuat. kita harus bersedia membuat pikiran kita terbuka (open mind) untuk dipengaruhi. proses reformasi yang sedang kita jalani di negeri ini terhambat oleh ketidakmampuan banyak pihak. Mendengarkan dengan melibatan diri secara total (telinga. Mulai . Kita sudah merasa benar. Dan ini tidak saja menuntut keterlibatan pikiran. Kita cenderung mempertahankan apa yang kita miliki. tidak dipahami. Para pejabat dan eksekutif perusahaan cenderung merasa paling benar. maka kemungkinan sikap dan perilaku kita pun akan berubah. rakyat banyak dan kaum buruh merasa tetap tidak dimengerti. Kedua. pikiran. Pada tahap ini kita mendengarkan dengan tujuan untuk memahami sepenuhnya. yang tidak disukai banyak orang. Mungkin baik jika setiap pemangku jabatan kepemimpinan di berbagai organisasi politik maupun ekonomi/bisnis. dan hati) mengandung sedikitnya dua konsekuensi. terutama para pemimpin formal (baca: pejabat) di lembaga tertinggi dan tinggi negara untuk mendengarkan aspirasi rakyat banyak secara empatik. sudah tahu. tetapi juga ketulusan hati. empathic listening dapat dikatakan upaya mendengarkan dari hati ke hati. Sangat sulit mengusahakan adanya kesepahaman. intonasi. Demonstrasi buruh yang sering marak juga mengindikasikan bahwa eksekutif puncak perusahaan. Akibatnya buntu.

saya mengajukan hipotesis bahwa manusia dilahirkan sebagai pembelajar (learner) yang dimungkinkan menjadi . paling tahu/pintar. dimengerti. maka ia telah kehilangan kemanusiawiannya dan tak lagi mampu mendengarkan dengan pikiran hatinya (mindheart). Pemimpinlah yang harus mengambil inisiatif untuk lebih banyak mendengarkan. di dunia ini tidak ada hal yang lebih mengerikan daripada pemimpin yang merasa dirinya paling benar. rendahkanlah hati untuk menerima kemungkinan bahwa anda keliru mempersepsi persoalan. 2000). pertama-tama dan terutama memang merupakan tanggung jawab para pemimpin. mendengarkan sebagai salah satu atribut penting kepemimpinan. Pemimpinlah yang pertama-tama harus mentransformasikan dirinya untuk menjadi lebih manusiawi. Sejauh yang saya pahami. Yang dibutuhkan mungkin bukan sekadar alternatif solusi yang rasional. adalah seni dalam mengelola perubahan. Haruskah kita mengundang Mary Kay Ash untuk memberikan ―pelatihan‖ kepemimpinan kepada para pemimpin kita? Mudah-mudahan tidak. dalam arti membuka pikiran dan menyediakan hati untuk mengubah salah persepsi yang mungkin dimilikinya. dengarkanlah lebih dulu.dari diam. Dalam buku bertajuk Menjadi Manusia Pembelajar (Penerbit Kompas. sampai demonstratif atau bahkan beringas tak karuan. Namun tidak sebaliknya. Dan mengelola perubahan di tengah paradok globalisasi versus otonomi daerah. paling mengerti dan karenanya tidak bersedia berubah sama sekali. 2009 by admin Filed under Leadership Leave a Comment Pemimpin memprakarsai proses perubahan atau proses pembelajaran. Dengan cara itu ia dapat benar-benar memimpin proses transformasi masyarakat dan organisasi dimana ia dipercaya untuk kurun waktu tertentu. apatis. Sekali lagi. Sebab bila pemimpin merasa dirinya serba super. berusahalah mengerti lebih dalam. maka solusi alternatif yang rasional tentu banyak gunanya. bukalah pikiran. Menjadi pemimpin sejati berarti menjadi pembelajar … seumur hidup. Jadi. Apabila rakyat banyak atau kaum buruh merasa bahwa para pemimpin formal itu sungguh-sungguh mendengarkan jeritan hatinya.[] Tags: Pembelajar sebagai Pemimpin March 9. dipahami apa adanya. tetapi perasaan ―didengarkan‖ secara empatik. Banyaknya solusi yang rasional tidak dengan sendirinya membuat rakyat dan buruh pabrik merasa didengarkan.

Krishnamurti seperti Freedom From The Known (1969). tak berubah. DPA. dan masuk museum bersama Dinosaurus. dan BPK) menunjukkan bahwa sistem politik yang militeristik dan dikendalikan sepenuhnya oleh seorang ―Raja Mataram Baru‖ ––disebut sebagai sistem Demokrasi Pancasila––telah ―sukses‖ menciptakan pejabat-pejabat tinggi negara yang ―anti belajar‖ dan ―anti sejarah‖ (baca: penjaga dan pemuja status quo). Sungguh celaka sebuah organisasi. telah memasung kreativitas sekian generasi setelah angkatan 1928. Jangankan bermimpi menjadi perusahaan yang inovatif. Khusus dalam konteks bisnis. Sistem pengajaran nasional yang serba seragam dan militeristik. bangkrut. maka ia mandeg. menjadi perusahaan yang adaptif pun mayoritas konglomerasi Orde Baru tak cukup mampu. dan berubah berarti belajar. sehingga ―proses pembelajaran‖ saya beri makna yang sama dengan ―proses perubahan‖. sebuah organisasi. Ibarat wortel mentah yang cukup liat dan lentur. tetapi juga di berbagai konglomerasi–– mengukuhkan hipotesis bahwa kita semua sangat kurang belajar. MA. entah sebagai Pemimpin Besar Revolusi atau pun sebagai Bapak Pembangunan Nasional. dan sebuah negara bangsa yang kurang sekali belajar––terutama dari sejarah––akan terancam ―gagal‖. apa lagi sebuah negara bangsa yang tidak memiliki pemimpin yang mempersepsi dirinya pertama-tama dan terutama sebagai longlife learner. yang semuanya mendobrak kemapanan semu dan memicu proses refleksi kritis. sebuah organisasi. dan sebuah negara bangsa (nation state) tidak belajar atau sangat kurang belajar. para eksekutif puncak perusahaan mungkin memang perlu didongengi cerita sepasang tikus dan sepasang kurcaci dari buklet Who Moved My Cheese?–– yang diberi hard cover agar bisa dijual mahal oleh penerbitnya di Indonesia––sebab akal sehat . apalagi perubahan yang bersifat radikal seperti reformasi total. status quo. Sementara pada level nasional. Pada level personal. Mungkin kepada mereka kaum New Agers lupa memberikan karya-karya terbaik J. Hipotesis ini menjelaskan bahwa sekitar 60 persen organisasi bisnis yang hancur digilas krisis multidimensi di Indonesia pada tahun 1997-1998 adalah organisasi-organisasi yang tidak mampu memperkembangkan dirinya menjadi apa yang populer disebut learning organization. Dan ―belajar‖ saya sinonimkan dengan ―berubah‖. maka seseorang. sistem politik-ekonomi-sosial-budaya-pertahanan-keamanan-nasional (poleksosbudhankamnas) Orde Baru telah ―merebus‖ wortel mentah itu (baca: konglomerasi yang terbentuk dari hasil berKKN-ria) hingga menjadi begitu keras dan karenanya mudah dipatahkan. punah. Dan karena perubahan adalah sesuatu yang konstan. Organisasi-organisasi tersebut tidak mampu membangun dan memperkembangan budaya belajar di dalam dirinya. sehingga mereka amat sangat rentan terhadap perubahan. sulitnya mereformasi lembaga tertinggi (MPR) dan lembaga-lembaga tinggi negara (Presiden. The Urgency of Change (1970). pembelajar seumur hidup. Belajar berarti berubah. Sungguh tragis nasib sebuah masyarakat yang hanya memiliki manusia-manusia lupa diri yang ingin menjadi longlife leader. atau The Impossible Question (1972). hancurnya karier para ―eksekutif muda‖ yang menduduki jabatan-jabatan mentereng dalam waktu singkat (proses instant)––baik di pemerintahan. DPR. hancur. yang kemudian menduduki posisi-posisi penting di perusahaan (dan pemerintahan). bahkan oleh seorang anak batita (bawah tiga tahun). pemimpin seumur hidup. Bila seseorang. tetapi sesungguhnya sudah berhenti belajar.pemimpin (leader) bahkan tumbuh sampai ke tahap manusia guru (master).

sehingga kalau sudah ―lulus sekolah‖ tak lagi ―belajar‖. Pemimpin yang suka berubah. otentik. dan dalam segala situasi dan kondisi.mereka tidak cukup mampu untuk menerima kenyataan bahwa perubahan adalah proses alamiah yang sangat disadari oleh longlife learner. suka belajar. Ia sadar bahwa ―jubah‖ kepemimpinan yang membedakan antara organisasinya dan organisasi lain. Pembelajar sebagai pemimpin (learner as a leader) pada hakikatnya adalah pembelajar yang sudah terbebaskan dari pengajarnya. bereksperimentasi. Pemimpin yang suka belajar. apalagi belajar untuk dapat ―hadiah‖ berupa gelar. dan harta kekayaan. memompakan motivasi juang. Pemimpin sejati (true leader) tidak begitu bodoh untuk mempersamakan begitu saja makna ―belajar‖ dengan ―sekolah‖. maupun yang tidak menyenangkan. melayani ―konstituen‖ yang menyepakati dan menghormati ―konstitusi‖ yang disepakati bersama. Ia belajar dan dengan cara itu ia makin membuat dirinya berproses menjadi manusiawi (humanize him/her-self). tidak anti perubahan. Ia tak bisa dan memang tidak berkeinginan untuk menolak perubahan. Ia justru mempersiapkan sejumlah pengganti potensial. mendengarkan (listening). ―Belajar‖ bagi pemimpin sejati adalah di semua tempat. Jika pada . kepada semua orang. yang secara mendasar lebih baik. Ia belajar tanpa menunggu. bertindak. Ia membaca. ―Belajar‖ bagi pemimpin sejati dipahami sebagai proses yang berlangsung seumur hidup. Ia belajar karena baginya hidup itu belajar. Sementara khusus untuk aparat birokrasi mungkin perlu dikarang juga dongeng serupa dengan judul tentatif Who Moved My Chair? Kalau yang terakhir ini ditulis oleh Gus Dur atau Akbar Tandjung. sebuah pertanda bahwa ia menolak dikultuskan. Ia belajar karena ia pembelajar. berperadaban. Pembelajaran seorang pemimpin akan mendorong pertumbuhannya untuk mengubah ―paradigma organisasi‖ (termasuk ―paradigma partai politik‖) ke tingkat ―paradigma kebangsaan‖ bahkan ―paradigma kemanusiaan‖. bukan hanya di gedung sekolahan/universitas. hipotesis saya adalah untuk menjadi pemimpin sejati atau untuk tidak kehilangan kesejatian sebagai pemimpin. jabatan/ kekuasaan. tanpa didikte. mereka yang menduduki posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi perlu melihat dirinya sebagai longlife learner dan bukannya berambisi menjadi longlife leader tanpa proses pembelajaran yang tak berkesudahan. tetapi justru ingin menciptakan gelombang-gelombang perubahan. tanpa disuruh. Sekali lagi. kepentingan kelompoknya dengan kepentingan kelompok ―oposisi‖. tanpa dipaksa oleh kaum pengajar (teacher) atau pun pelatih (trainer). membebaskan diri dari apa yang ―telah diketahuinya‖ (masa lalu dan masa kini) menuju kepada yang ―belum diketahuinya‖ (masa depan). Ia mengatur strategi. berpikir. maka ia akan memasuki tahap tertinggi untuk menjadi manusia guru (becoming a master). baik saat dinilai ―sukses‖ maupun ―gagal‖. tetapi justru memprakarsai perubahan. mungkin akan masuk daftar best-seller juga. harus ―dicopot‖ jika ia ingin menjadi ―guru bangsa‖ dan bahkan ―guru umat manusia‖. dan sangat sadar bahwa hanya dengan meninggalkan jenjang kepemimpinan. Ia membangun kultur yang lebih manusiawi. baik yang menyenangkan. Pembelajar sebagai pemimpin menolak menjadi atau dijadikan longlife leader. bukan sekadar belajar untuk hidup. Ia menggagas visi. ―membuahi‖ realitas masa kini agar ―melahirkan‖ realitas baru di masa depan. bukan cuma dalam kelas dan ruang-ruang kuliah atau laboratorium yang steril dari persoalan-persoalan hidup yang nyata. ber-refleksi.

Pembelajar sebagai pemimpin mengembangkan kesadaran (awareness) dalam dirinya bahwa tugas pokoknya adalah menciptakan realitas masa depan yang lebih baik dengan cara mengintervensi realitas masa kini sesuai kapasitas dirinya sebagai manusia otentik. retreat. Pembelajar sebagai pemimpin selalu mencari kesempatan untuk merenung. dan pengetahuan tentang ―sesama manusia‖ (―the other‖. serta dirumah-rumah. termasuk rakyat dan konstituen). dimana kaum muda itu seharusnya mengalami proses pendidikan pertama dan utama. Pertama-tama di lembaga tertinggi dan lembaga-lembaga tinggi negara. unik tak terbandingkan dengan apapun dan siapapun yang ―bukan dirinya‖. Pembelajar sebagai pemimpin tak hanya mempelajari ―teks‖. Lalu di berbagai organisasi prolaba (dari UKM sampai konglomerasi) maupun nirlaba. tahajud. sehingga menjadi ―aku‖ dan ―kami‖ (tahap pemimpin). melakukan refleksi. Pembelajar sebagai pemimpin selalu berupaya menyelaraskan sikap-sikap dan pandangan hidupnya agar lebih berkesesuaian dengan nilai-nilai luhur dan mulia yang diyakininya. dimana kaum muda di-ajar (agar melek budi) dan dilatih (agar memiliki life skills). tak berhenti pada spiritual intelligence). dan berbagai kegiatan mengasah kearifan spiritual-nya (spiritual wisdom. organisasi politik dan organisasi nonpolitik. maupun ―agama-agama‖ yang partikular). Pembelajar sebagai pemimpin menyediakan waktu untuk meningkatkan kompetensi teknis dan manajerialnya. Namun juga di lembaga-lembaga pengajaran atau persekolahan dan lembaga pelatihan. negeri yang masih amburadul tak karuan ini memerlukan sosok-sosok pembelajar sebagai pemimpin. Saya kira. tetapi juga menafsirkan ―konteks‖ ajaran-ajaran mulia di dunia (baik dalam arti ―Agama‖ yang universal. meditasi. maka pada tahap ―guru‖ ia justru melepaskan ―keakuannya‖ dan ―kekamian‖-nya untuk menjadi bagian dari ―kita‖. Pembelajar sebagai pemimpin adalah mereka yang selalu mengejar pengetahuan ―diri‖ (self knowledge).tahap ―pembelajar‖ ia menguatkan individualitas (harap tidak dikacaukan dengan individualisme) dan identitas kelompoknya. Benarkah? Tags: .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful