LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI PEMESINAN MODUL 2 (PENGUKURAN

)
Kelompok Nama (NRP) Rifky Dwi Setiadi S. Russel Novando Berman Soneka Asisten Tanggal Pengumpulan : (6110021) (6110130) (6110206) : Adi Nugroho : 20 April 2012 : 41

LABORATORIUM PROSES PRODUKSI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................

i ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................ iii BAB I PENDAHULUAN................................................................................. I-1

I.1 Tujuan Praktikum.............................................................................. .. I-1 I.2 Prosedur Pelaksanaan……..……………….………………………… I-1 I.3 Dasar Teori ........................ ………………………………….............. I-2 BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA............................................... II-1 BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN .................................................. III-1 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………… .... IV-1 LAMPIRAN………………………………… ................................................. iv

i

3. 4. Mengetahui kegunaan pengukuran dalam proses produksi. Mengetahui berbagai macam alat ukur baik alat ukur langsung maupun tidak langsung. Pekerjaan pengukuran. 2.2 Pendahuluan Mengukur pada hakekatnya membandingkan suatu besaran yang belumdiketahui besarannya dengan besaran lain yang diketahui besarnya. dan faktor manusia) dan kekeliruan acak (berkaitan dengan faktor non teknis atau sistematik). dengan melakukan pengukuran juga dapat diketahui apakah benda kerja I-1 . Selain itu. Dapat menganalisa dan melakukan evaluasi dari hasil pengukuran benda kerja yang telah dilakukan. Akan tetapi didalam proses pengukuran terdapat kekeliruan-kekeliruan. Alat ukur yang baik setidak-tidaknya mengandung informasi besaranbesaran yang diukur yang sesuai dengan kondisi nyatanya. Untuk keperluan tersebut diperlukan alat ukur. yaitu kekeliruan sistematik (berkaitan denganalat ukur.1 Tujuan Praktikum Tujuan pratikum pada modul pengukuran ialah agar para pratikan dapat: 1. metode pengukuran. memerlukan alat ukur yang baik. Dengan pengukuran dapat diketahui dimensi dari benda kerja yang dihasilkan melalui proses produksi. I. Mampu melakukan proses pengukuran dengan menggunakan alat ukur langsung dan tidak langsung. Proses pengukuran amat penting dalam proses produksi. Ada 2 kelompok kekeliruan.BAB I PENDAHULUAN I.

Pengukuran langsung Hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala yang telah dikalibrasi yang terdapat pada alat ukur tersebut. Mengadakan komunikasi antar perancang. pelaksana pembuatan. I-2 . I. Memperkirakan hal‐hal yang akan terjadi Melakukan pengendalian agar sesuatu yang akan terjadi dapat sesuai dengan harapan perancang. Contoh pengukuran langsung adalah pengukuran dengan menggunakan mikrometer dan jangka sorong. penguji mutu dan berbagai pihak yang terkait lainnya. dengan melakukan proses pengukuran dapat: Membuat gambaran melalui karakteristik suatu obyek atau prosesnya. Besaran standar sendiri dapat berupa gabungan dari besaran-besaran dasar yang meliputi 7 besaran yaitu: Tabel I.3 Dasar Teori Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran standar. Selain itu.1 Besaran menurut Standar Internasional Terdapat empat cara pengukuran yaitu: 1.BAB I PENDAHULUAN yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi atau tidak.

Instrument atau alat ukur terdiri dari banyak jenis yang dapat juga dikelompokkan melalui disiplin kerja atau besaran fisiknya. untuk melakukan kegiatan pengukuran. balok ukur. Perbedaan nilai yang ditunjukkan oleh skala alat ukur pembanding (sewaktu mengukur objek ukur/bagian benda yang diukur) dengan ukuran standar dapat digunakan untuk menentukan dimensi dari objek ukur. universal measurung machine dst. Pengukuran dengan kaliber batas Pengukuran dengan kaliber batas tidak menunjukkan atau menghasilkan suatu nilai ukuran/dimensi. pembandung dan pembantu. Pengukuran tidak langsung Pengukuran dengan menggunakan alat ukur standar. Jadi instrumen adalah sesuatu yang digunakan untuk membantu kerja indera untuk melakukan proses pengukuran.BAB I PENDAHULUAN 2. Proses pengukuran identik dengan proses produksi disuatu industri. Contoh pengukuran dengan metode ini adalah pengukuran dengan menggunakan Go No Gogauge. profile proyector. Produk proses pengukuran adalah berupa angka‐angka. bilah sudut. I-3 . diantaranya: alat ukur dimensi: mistar. 4. mikrometer. Umumnya pengukuran dengan kaliber batas dipakai untuk proses pemeriksaan yang cepat atas produk yang dibuat dalam jumlah besar. 3. Pengukuran dengan metode ini hanya menunjukkan apakah dimensi yang diukur tersebut terletak di dalam atau diluar daerah toleransinya. Pengukuran dengan bentuk standar Bentuk suatu produk dapat dibandingkan dengan suatu bentuk standar pada layar dari alat ukur proyeksi (profil proyektor). Pengukuran semacam ini juga tidak menentukan dimensi dari suatu objek ukur secara tidak langsung. Contoh pengukuran tidak langsung adalah pengukuran dengan menggunakan blok ukur dan batang ukur. Karakteristik yang menonjol dari proses pengu kuran adalah pengukuran yang dilakukan berkalikali terhadap suatu besaran yang konstan harganya menghasilkan yang tidak sama. diperlukan suatu perangkat yang dinamakan instrumen (alat ukur). Selain itu. jangka sorong.

Pengambangan Contoh alat ukur: 1.fotometer. Mistar ini memiliki ketelitian 0. Kestabilan nol 8.BAB I PENDAHULUAN alat ukur massa : timbangan. torquemeter. tachometer. Untuk mengukur besaran yang nilainya lebih besar lagi digunakan rol meter. PRT alat ukur optik: luxmeter. Ketelitian adalah nilai terkecil yang masih dapat diukur oleh alat ukur. kain. Histerisis 5. Mistar ukur Mistar adalah alat ukur panjang yang memiliki skala terkecil 1 mm. alat ukur listrik: voltmeter.5 mm yaitu setengah skala terkecil. misal digunakan untuk mengukur panjang suatu meja. Rol meter dapat digunakan untuk mengukur panjang suatu bidang tanah.comparator elektronik. Kemudahan baca 3. jembatan Wheatstone alat ukur suhu: termometer gelas. spectrometer dan lain‐lain Sifat umum dari alat ukur yaitu: 1. Mistar banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari.weight set dst alat ukur mekanik. Kepasifan 6. buku. visosimeter. Kepekaan 4. amperemeter. I-4 . stroboscope dll alat ukur fisik : gelas ukur. Alat ukur linier langsung a. flowmeter . ruangan kelas dan lain lain. Pergeseran 7. densitometer. Rantai kalibrasi/mampu usut 2.

Skala terkecil dari rol meter adalah centimeter ( cm ). Skala utama mikrometer skrup ditera sehingga skala terkecilnya adalah 0. Secara umum. Apabila bidal diputar kanan maka bidal akan maju mendekati nol skala utama atau sebaliknya. sedangan pada bidal terdapat skala nonius. Gambar I. lebar ataupun diameter benda yang relatif kecil. Mikrometer sekrup Mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur panjang. Pada silinder tetap terdapat skala utama. Gambar I.1 Mistar ukur b.BAB I PENDAHULUAN ataupun panjang suatu jalan. Mikrometer sering digunakan untuk mengukur tebal plat logam ataupun diameter silinder kawat.2 Mikrometer sekrup c. jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter dalam I-5 . Sedangkan skala nonius dibagi menjadi 50 yaitu dari 0 sampai 49. Jangka sorong (vernier caliper) Jangka sorong sering digunakan untuk mengukur diameter baut ataupun mur. Mikrometer sekrup terdiri dari silinder tetap dan silinder yang dapat diputar (bidal).5 mm.

2. Jangka sorong juga digunakan untuk mengukur kedalam suatu tabung.3 Jangka sorong Jangka sorong terdiri dari bagian yang tetap yang dihubungkan dengan rahang tetap dan bagian yang dapat digeser yang dihubungkan dengan rahang geser. Sedang pada rahang sorong terdapat skala nonius dari 1sampai 10. Alat ukur standar o Blok ukur (gauge block metric) o Batang ukur o Kaliber induk tinggi (height gauge) Merupakan sebuah alat pengukuran yang berfungsi mengukur tinggi benda terhadap suatu bidang acuan atau bisa juga untuk memberikan tanda I-6 . Alat ukur linier tidak langsung a.1 mm yaitu selisih antara 1 skala utama dengan 1 skala nonius. Panjang 10 skala nonius sama dengan 9mm. Pada bagian yang tetap terdapat skala utama dengan skala terkecil 1mm. sehingga 1 skala nonius sama dengan 0.BAB I PENDAHULUAN maupun diameter luar suatu benda berbentuk tabung. Ketelitian jangka sorong adalah 0.9mm. Gambar I.

Kesalahan ini tidak dapat dihindari. Kesalahan ini I-7 . Diantaranya adalah kesalahan pembacaan alat ukur.kesalahan dalam pengukuran dapat digolongkan menjadi tiga jenis. Seperti kerusakan atau adanya bagianbagian yang aus dan pengaruh lingkungan terhadap peralatan atau pemakai. Alat ukur sudut a. Alat ukur pembanding 1. Alat ukur pembanding o Batang baja dengan 2 rpl yang diletakkan pada kedua ujung sisinya. Saat melakukan pengukuran besaran listrik tidak ada yang menghasilkan ketelitian dengan sempurna. Perlu diketahui ketelitian yang sebenarnya dan sebab terjadinya kesalahan pengukuran.BAB I PENDAHULUAN goresan secara berulang terhadap benda kerja sebagai acuan dalam proses permesinan. Dial indicator Dial indicator adalah alat ukur yang dipergunakan untuk memeriksa penyimpangan yang sangat kecil dari bidang datar. b. 2. Alat ukur standar o Busur derajat b. Kesalahan . tetapi harus dicegah dan perlu perbaikkan • Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors) Kesalahan ini disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada instrumen sendiri. bidang silinder atau permukaan bulat dan kesejajaran. yaitu : • Kesalahan-kesalahan Umum (gross-errors) Kesalahan ini kebanyakan disebabkan oleh kesalahan manusia. Pembanding (Compator) 3. penyetelan yang tidak tepat dan pemakaian instrumen yang tidak sesuai dan kesalahan penaksiran.

Antara lain sebab perubahan-perubahan parameter atau sistem pengukuran terjadi secara acak. • Kesalahan acak yang tak disengaja (random errors) Kesalahan ini diakibatkan oleh penyebab yang tidak dapat langsung diketahui. Pada pengukuran yang sudah direncanakan kesalahan . karena struktur mekanisnya Selain itu masih ada lagi yaitu kesalahan kalibrasi yang bisa mengakibatkan pembacaan instrumen terlalu tinggi atau terlalu rendah dari yang seharusnya. I-8 .BAB I PENDAHULUAN merupakan kesalahan yang tidak dapat dihindari dari instrumen.kesalahan ini biasanya hanya kecil.

1 Tampak depan benda kerja II-1 . yaitu tampak depan.BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA 1. Pengukuran dengan jangka sorong Tampak benda kerja berada pada gambar 1 – gambar 5 di lampiran. untuk gambar 2D yang ditampilkan dengan proyeksi amerika. tampak samping dan tampak atas: Tampak depan: Gambar II. Gambar yang dibuat berupa bentuk 2D dan 3D.

2 Tampak samping benda kerja Tampak atas dari benda kerja: Gambar II.BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA Tampak samping dari benda kerja: Gambar II.3 Tampak atas dari benda kerja II-2 .

13 mm 0.4 Gambar 3 dimensi benda kerja 2.05 mm Ujung 0.10 mm 0.08 mm 0.gambar 9) II-3 .11 mm 0.065mm 0.13 mm 0.12 mm 0.055mm 0.03 mm 0.06 mm 0. Tengah dan ujung berarti jarak dari titik ujung awal benda ke tengah mimiliki panjang berapa hingga pada titik ujungnya memiliki panjang berapa.04 mm Ujung 0.07 mm 0. (gambar 6 .05 mm 0.11 mm Bagian bawah Tengah 0.05 mm 0.06 mm 0.12 mm 0.04 mm 0.12 mm 0.BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA Gambar benda kerja 3 dimensi: Gambar II.14 mm 0. Pengukuran dengan dial indicator Tabel II-1 Hasil pengukuran dengan dial indicator Percobaan ke 1 2 3 Rata-rata Bagian samping Tengah 0.12 mm Benda yang diukur berbentuk balok.10 mm Bagian depan Tengah 0.06 mm Ujung 0. Untuk lebih untuk melihat bentuk bendanya serta bagian-bagian bendanya serta juga benda ukur yang digunakan dapat dilihat di lampiran.

950 mm 16. 925 mm 16.939 mm 16.446 mm Benda yang diukur berbentuk silinder.50 mm 11. Pengukuran dengan mikrometer sekrup Tabel II-2 Hasil Pengukuran dengan mikrometer sekrup Pengukuran ke 1 2 3 4 5 Rata-rata Diameter 16.00 mm 11. (gambar 10) II-4 .920 mm 16.9324 mm Tinggi 11.52 mm 11.75 mm 11. Untuk lebih untuk melihat bentuk bendanya serta bagian-bagian bendanya serta juga benda ukur yang digunakan dapat dilihat di lampiran.46 mm 11.BAB II DATA DAN PENGOLAHAN DATA 3.928 mm 16.

BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN Rifky Dwi S. Kemudian.74 cm. Selanjutnya perhatikan skala utama.01 cm. Jangka sorong Jangka sorong memiliki batas ketelitian 0. digunakan pada praktikum modul 2 yaitu: 1. pada jangka sorong menunjukkan angka 4.01 cm). Contohnya skala nonius yang berimpit dengan skala utama adalah 4 skala. Pengukuran sangat penting dalam proses produksi karena pengukuran ditujukan untuk mengetahui dimensi dari benda kerja yang akan dibuat. praktikan melakukan serangkaian kegiatan pengukuran terhadap benda kerja yang memiliki dimensi tertentu. Atau dapat dirumuskan: Hasil = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x skala terkecil jangka sorong) = Skala Utama + (skala nonius yang berimpit x 0. artinya ketepatan pengukuran dengan alat ini sampai 0. (2010610021) Pada praktikum modul 2 yaitu pengukuran.01 cm terdekat.4 mm. III-1 .7 cm. Cara pembacaan jangka sorong yaitu mula-mula perhatikan skala nonius yang berimpit dengan salah satu skala utama.4 mm = 4. Sehingga panjang benda kerja yang diukur sama dengan 4. Jangka sorong memiliki dua macam skala : Skala utama dalam satuan cm. hitunglah berapa skala Alat ukur yang hingga ke angka nol.7 cm + 0. Pada skala utama. Artinya angka tersebut 0. setelah angka nol mundur ke belakang sebagai contoh. Skala nonius dalam satuan mm.

Dial indicator Dial indicator adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur permukaan bidang datar. alat ukurnya tidak berada pada posisi yang miring atau permukaan yang tidak rata. benda kerja yang diukur dalam pengukuran yaitu silinder alumunium. III-2 . height master merupakan alat ukur yang sangat sensitif sehingga ketika melakukan pengulangan pengukuran hampir pasti didapatkan hasil yang berbeda. Pada praktikum modul pengukuran.BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada praktikum. Cara membaca skala micrometeradalah sebagai berikut: Membaca angka skala utama atau barrel scale Membaca angka skala timbel Jumlahkan angka yang diperoleh 3. Akan tetapi. Mikrometer memiliki ketelitian samapai 0. benda kerja yang diukur menggunakan jangka sorong yaitu benda kerja yang memiliki dimensi objek yang kompleks. Selain itu. Hal ini digunakan dalam proses pemesinan untuk mengukur bagian logam presisi. Mikrometer sekrup Pada pengukuran menggunakan mikrometer sekrup. yaitu sekitar 25 mm. height master digunakan untuk mengukur tingkat kerataan permukaan dari balok yang dilakukan pada 3 titik yang berbeda. jangkauan ukuran mikrometer jauh lebih kecil. dan balok logam. dan benda kerja yang memiliki sudut yang tidak beraturan. Hal ini bertujuan agar pengukuran yang dilakukan. Sedangkan. Height master Sebuah alat pengukuran yang berfungsi mengukur tinggi benda terhadap suatu bidang acuan atau bisa juga untuk memberikan tanda goresan secara berulang terhadap benda kerja sebagai acuan dalam proses permesinan. 2. 4. dial indicator diletakkan pada meja datar yang terbuat dari granit.01 mm. Selain itu. hasil pengukuran dengan menggunakan alat ini biasanya lebih presisi dari pada menggunakan jangka sorong.

pengunci jangka sorong dapat bergeser ke tempat lain dan mempengaruhi hasil pengukuran. faktor yang mempengaruhi proses pengukuran menjadi berbeda dikarenakan oleh: 1. salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian pengukuran dengan alat ukur ( jangka sorong. Selain kesalahan pada pengukur. mikrometer sekrup) adalah dengan melakukan pengukuran yang sama untuk beberapa kali kemudian mencari nilai rataratanya. Ketelitian dan ketepatan dalam pengukuran 2. Hasil dari pengukuran yang berulang-ulang tentunya akan menghasilkan ukuran yang tidak jauh berbeda antara satu data data dengan yang lainnya. Pengukuran berulang juga memungkinkan kita memperkirakan ketidakpastian pengukuran dengan mengecek konsistensi hasil pengukuran seberapa presisi hasil pengukuran waktunya tergantung pada sebaran data. Hal ini dikarenakan adanya penyimpangan yang dapat dilakukan oleh pengukur berupa perbedaan pembacaan alat ukur. Kerusakan alat ukur III-3 . Secara umum. tidak pada titik yang sebenarnya. terjadi juga kesalahan pada pengoperasian jangka sorong dan alat ukur lainnya dimana pengunci tidak bekerja dengan baik sehingga ketika mengukur. Hal ini dapat diminimalisasi dengan cara melakukan pengukuran secara berulang agar dapat mengurangi ketidakpastian yang ditimbulkan karena kesalahan dalam pengukuran. Sebagai contoh. Selain itu pada pengukuran terdapat kesalahan-kesalahan lain yang mungkin terjadi seperti kesalahan dalam menggunakan dial indicator dimana titik nol yang seharusnya menjadi acuan. dari 3 pengukuran yang dilakukan dapat diambil kesimpulan yang sama yaitu pengukuran akan selalu menghasilkan angka yang berbeda. dilakukan pengukuran secara berulang. Russel Novando (2010610130) Berdasarkan dari pengolahan data yang didapat dari pratikum.BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada praktikum modul pengukuran. Pengukuran berulang merupakan salah satu cara untuk menyakinkan hasil pengukuran yang dilakukan dengan mengulang pengukuran yang sama untuk beberapa kali.

kesalahan sistematis. Dalam pratikum ini yang didapat adalah kesalahan umum. Pada pengukuran dengan dial indicator. karena saat melakukan pengukuran diperlukan men-setting ujung dial indicator di ujung tepi permukaan benda sehingga pada saat melakukan pengukuran ulang belum tentu pengukuran awal akan berada di ujung tepi permukaan benda itu lagi. Selain itu. Pengukuran yang maksimal hanya didapat saat pengukuran dengan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup digital. Dan juga saat melakukan pengukurannya diperlukan menggerakan benda kerja dengan arah yang lurus. tetapi saat praktikumnya terdapat gerakan pergeseran benda kerja tidak lurus (sedikit miring-miring saat melakukan pergeseran benda kerja) sehingga mendapatkan hasil pengukuran yang maksimal. tetapi kesalahan ini telah diatas dengan melakukan pembacaan berulang kali agar dapat lebih teliti mendapatkan angka hasil pengukuran. kemudian rata-rata tersebut dijadikan acuan untuk membandingkan data. Definisi dari ketelitian sendiri adalah dengan menggunakan beberapa data yang kemudian akan dirata-ratakan. data yang didapatkan kurang akurat. terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi dalam proses pengukuran yaitu kesalahan umum. Untuk pengukuran yang ada pada gambar autocad. Dimensi benda yang rumit Pengukuran dilakukan berkali-kali agar dapat memperoleh suatu angka yang teliti. Selain ketelitian terdapat ketepatan juga yaitu apakah angka yang didapat akan menghasilkan ukuran yang sama bila menggunakan alat ukur yang lain. tetapi pada pratikum ini tidak digunakan alat ukur lebih dari satu (hanya menggunakan alat ukur 1 jenis saja). angka yang dimasukkan berbeda dengan angka yang didapat saat pengukuran dengan praktikum. dan kesalahan yang tak disengaja.BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN 3. seperti kesalahan pembacaan alat ukur. Maka dari itu untuk mendapatakn data yang teliti dilakukan pengukuran berulang untuk setiap alat ukur yang digunakan kemudian dirata-ratakan. Hal ini disebabkan karena pengambilan pembulatan angka pada data yang membuat data- III-4 .

Jadi pada saat kami melakukan praktikum tentang pengukuran dilaboratorium kami mengukur benda kerja dengan sebanyak 3 kali pengukuran. dengan melakukan pengukuran juga dapat diketahui apakah benda kerja atau objek yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi atau tidak. Pengukuran langsung 2. Untuk tiap objek ukur tersebut akan diukur dengan menggunakan alat ukur langsung dan tidak langsung dan masing-masing pengukuran diulang sebanyak 3 kali agar dalam pengukuran untuk mengetahui ketelitian dan ketepatan serta mengetahui benda kerja yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi atau tidak dalam mengukur benda kerja. Pengukuran dengan bentuk standar. Dalam pengukuran benda kerja ada 4(empat ) cara dalam pengukuran yaitu : 1.Dengan pengukuran dapat diketahui dimensi dari benda kerja atau objek yang dihasilkan melalui proses produksi. untuk menghasilkan benda kerja sesuai spesifikasi dalam proses produksi maka pengukuran terhadap benda kerja harus memiliki ketelitian dan ketepatan yang tinggi. Jadi pengukuran sangat penting dilakukan dalam melakukan prose produksi. Untuk mendapatkan ketelitian dan ketepatan yang tinggi maka harus melakukan pengukuran yang dilakukan yang berulang kali atau setidaknya pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali untuk mengukur benda kerja. Dengan pengukuran yang dilakukan sebanyak 3 kali itu apakah benda kerja yang III-5 . Berman Soneka (2010610206) Proses pengukuran amat penting dalam proses produksi. Pengukuran tidak langsung 3. Selain itu. Jika dalam pengukuran benda kerja memiliki ketelitian dan ketepatan yang tinggi pasti benda kerja yang dihasilkan sesuai dengan benda kerja.BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN data pengukuran menjadi kurang akurat jika dibandingkan dengan data yang di ukur dengan jangka sorong. Pengukuran dengan kaliber batas 4.

para praktikan melakukan pengukuran dengan tidak kosentrasi ataupun dengan terburu-buru dalam melakukan pengukuran. Dalam pengukuran juga bisa mengetahui dimensi benda kerja yang dihasilkan dari proses produksi.BAB III ANALISIS DAN PEMBAHASAN dihasilkan sesuai dengan spesifikasi atau sesuai dengan standar proses produksi. faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengukuran menjadi tidak teliti dan tidak tepat ialah 1. 3. Kondisi lingkungan juga berpengaruh dalam melakukan proses pengukuran. itulah beberapa faktor-faktor atau yang mempengaruhi menjadi tidak teliti dan tidak tepat. Alat ukur yang digunakan tidak sesuai dengan standarnya lagi atau alat ukur yang digunakan dalam praktikum sudah rusak. proses pengukuran III-6 . Pada praktikan. Ketidaktelitian atau ketidaktepatan dalam pengukuran itu memiliki faktor dalam pengukuran. Jadi pengukuran itu dilakukan berkali-kali untuk memperoleh ketelitian dan ketepatan yang tinggi dalam pengukuran pada benda kerja. Jadi. 2. Pengukuran itu sangat berpengaruh terhadap dimensi benda kerja yang dihasilkan serta benda kerja itu sesuai dengan spesifikasi atau tidak.

jangka sorong. Sedangkan alat ukur linier tidak langsung terdiri atas dial indicator. dan master height. pengukuran tidak langsung. Pengukuran ada 3 jenis yaitu: pengukuran langsung. 8. 4. Rata-rata hasil pengukuran merupakan hasil pengukuran yang benar atau pasti karena dilakukan pengukuran secara berulang agar dapat mendapatkan data yang akurat. IV‐1 . kesalahan sistematis. 6. Proses pengukuran amat penting dalam proses produksi. proses penggunaan alat ukurnya dengan benar atau tidak. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakpastian pengukuran dengan alat ukur ( jangka sorong. dan sebagainya. dan mikrometer sekrup. dan pengukuran dengan kaliber atas. mikrometer sekrup) adalah dengan melakukan pengukuran yang sama untuk beberapa kali kemudian mencari nilai rata-ratanya. Hasil pengukuran didapatkan selalu berbeda karena terdapat beberapa faktor seperti ketelitian pengamat saat membaca alat ukur. 7.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV. 2. Pengukuran yang dilakukan merupakan pengukuran langsung. 3. Dengan pengukuran dapat diketahui dimensi dari benda kerja yang dihasilkan melalui proses produksi. Alat ukur linier terdiri atas mistar ukur. blok ukur. 5. 1 Kesimpulan Kesimpulan yang didapat dari praktikum modul pengukuran yaitu: 1. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada pengukuran yaitu kesalahan umum karena salah pembacaan. dan kesalahan acak yang tak desengaja.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV. 3. Alat praktikum agar disesuaikan dengan teknologi yang telah berkembang saat ini. 2 Saran Saran yang praktikan ususlkan untuk praktikum adalah: 1. Praktikum sebaiknya dilakukan dengan lebih menarik IV‐2 . Alat praktikum yang sudah ada agar lebih diperbanyak jenisnya agar dapat lebih mengenal jenis alat ukur lain 2.

Bagian depan Gambar 2. Tampak keseluruhan iv . Bagian belakang Gambar 4. Bagian samping Gambar 3. Bagian atas Gambar 5.LAMPIRAN GAMBAR Gambar 1.

Bagian bawah permukaan Gambar 9.LAMPIRAN Gambar 6. Tampak benda kerja keseluruhan v . Bagian samping permukaan Gambar 7. Bagian atas permukaan Gambar 8. Tampak keseluruhan Gambar 10.

LAMPIRAN Gambar 11. Jangka sorong Gambar 12. Height master vi . Dial indicator Gambar 14. Height master dan dial indicator Gambar 13.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful