Apakah Hukum Forex Trading Valas Halal Menurut Hukum Islam

Aug 23rd, 2008 by Marketiva.

Sebagian umat Islam ada yang meragukan kehalalan praktik perdagangan berjangka. Bagaimana menurut padangan para pakar Islam? Apa pendapat para ulama mengenai trading forex, trading saham, trading index, saham, dan komoditi? Apakah Hukum Forex Trading Valas Halal Menurut Hukum Islam? Mari kita ikuti selengkapnya. Jangan engkau menjual sesuatu yang tidak ada padamu,” sabda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah. Oleh sementara fuqaha (ahli fiqih Islam), hadits tersebut ditafsirkan secara saklek. Pokoknya, setiap praktik jual beli yang tidak ada barangnya pada waktu akad, haram. Penafsiran secara demikian itu, tak pelak lagi, membuat fiqih Islam sulit untuk memenuhi tuntutan jaman yang terus berkembang dengan perubahan-perubahannya. Karena itu, sejumlah ulama klasik yang terkenal dengan pemikiran cemerlangnya, menentang cara penafsiran yang terkesan sempit tersebut. Misalnya, Ibn al-Qayyim. Ulama bermazhab Hambali ini berpendapat, bahwa tidak benar jual-beli barang yang tidak ada dilarang. Baik dalam Al Qur‘an,sunnah maupun fatwa para sahabat, larangan itu tidak ada. Dalam Sunnah Nabi, hanya terdapat larangan menjual barang yang belum ada, sebagaimana larangan beberapa barang yang sudah ada pada waktu akad. ―Causa legis atau ilat larangan tersebut bukan ada atau tidak adanya barang, melainkan garar,‖ ujar Dr. Syamsul Anwar, MA dari IAIN SUKA Yogyakarta menjelaskan pendapat Ibn al-Qayyim. Garar adalah ketidakpastian tentang apakah barang yang diperjual-belikan itu dapat diserahkan atau tidak. Misalnya, seseorang menjual unta yang hilang. Atau menjual barang milik orang lain, padahal tidak diberi kewenangan oleh yang bersangkutan. Jadi, meskipun pada waktu akad barangnya tidak ada, namun ada kepastian diadakan pada waktu diperlukan sehingga bisa diserahkan kepada pembeli, maka jual beli tersebut sah. Sebaliknya, kendati barangnya sudah ada tapi – karena satu dan lain hal — tidak mungkin diserahkan kepada pembeli, maka jual beli itu tidak sah. Perdagangan berjangka, jelas, bukan garar. Sebab, dalam kontrak berjangkanya, jenis komoditi yang dijual-belikan sudah ditentukan. Begitu juga dengan jumlah, mutu, tempat dan waktu penyerahannya. Semuanya berjalan di atas rel aturan resmi yang ketat, sebagai antisipasi terjadinya praktek penyimpangan berupa penipuan — satu hal yang sebetulnya bisa juga terjadi pada praktik jua-beli konvensional. Dalam perspektif hukum Islam, Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) (forex adalah bagian dari PBK) dapat dimasukkan ke dalam kategori almasa‘il almu‘ashirah atau masalahmasalah hukum Islam kontemporer. Karena itu, status hukumnya dapat dikategorikan kepada

32/1977 tentang PBK. ia termasuk ke dalam paradigma al-nushush qad intahat wa al-waqa‘I la tatanahi. sejalan dengan semangat dan bunyi UU No. Dengan demikian. Karena teori perubahan hukum seperti dijelaskan di atas. fatwa hukum dapat berubah karena beberapa variabel perubahnya. Dengan kata lain. Ia menjelaskan. adalah bahwa ijab dan qabul dinyatakan dalam bahasa dan . dapat menunjukkan elastisitas hukum Islam dalam kelembagaan dan praktek perekonomian. tempat. Paradigma ini diturunkan dari prinsip hukum Islam tentang keadilan yang dalam Al Quran digunakan istilah al-mizan. Keabsahan transaksi jual beli berjangka. Yang perlu diperhatikan dari unsur-unsur tersebut. nash hukum dalam bentuk Al-Quran dan Sunnah sudah selesai. Ulama Syafi‘iyah dan Hanabilah mendefinisikannya dengan: ―Akad atas komoditas jual beli yang diberi sifat terjamin yang ditangguhkan (berjangka) dengan harga jual yang ditetapkan di dalam bursa akad‖. Klasifikasi ijtihadiyyah masuk ke dalam wilayah fi ma la nasha fih. kasus-kasus hukum yang baru muncul mesti diberikan kepastian hukumnya melalui ijtihad. yakni politik hukum kebendaan. Di dalam transaksi demikian. yakni masalah hukum yang tidak mempunyai referensi nash hukum yang pasti. Dalam kasus hukum PBK. niat. yang menyatakan bahwa a-haqiqah fi al-a‘yan la fi al-adzhan. Dalam kategori masalah hukum al-Sahrastani. PBK termasuk kajian hukum Islam dalam pengertian bagaimana hukum Islam diterapkan dalam masalah kepemilikan atas harta benda. Bay‘ al-salam dapat diartikan sebagai berikut. ditentukan oleh terpenuhinya rukun dan syarat sebagai berikut: a) Rukun sebagai unsur-unsur utama yang harus ada dalam suatu peristiwa transaksi Unsurunsur utama di dalam bay‘ al-salam adalah:    Pihak-pihak pelaku transaksi (‗aqid) yang disebut dengan istilah muslim atau muslim ilaih. tidak lagi ada tambahan. yaitu ijab dan kabul. bukan dalam alam pemikiran atau alam idea. Teori perubahan hukum ini diturunkan dari paradigma ilmu hukum dari gurunya Ibn Taimiyyah. melalui perdagangan berjangka komoditi dalam era globalisasi dan perdagangan bebas. ijtihad dapat merujuk kepada teori perubahan hukum yang diperkenalkan oleh Ibn Qoyyim al-Jauziyyah. secara khusus masalah PBK dapat dimasukkan ke dalam bidang kajian fiqh al-siyasah maliyyah. al-wasth. Artinya. Objek transaksi (ma‘qud alaih). maka PBK dalam sistem hukum Islam dapat dianalogikan dengan bay‘ al-salam‘ajl bi‘ajil. kebenaran hukum itu dijumpai dalam kenyataan empirik. Al-salam atau al-salaf adalah bay‘ ajl bi‘ajil. penyerahan ra‘s al-mal dalam bentuk uang sebagai nilai tukar didahulukan daripada penyerahan komoditi yang dimaksud dalam transaksi itu. Dalam penerapannya. tujuan dan manfaat. yakni memperjualbelikan sesuatu yang dengan ketentuan sifat-sifatnya yang terjamin kebenarannya. Realisasi yang paling mungkin dalam rangka melindungi pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan berjangka komoditi dalam ruang dan waktu serta pertimbangan tujuan dan manfaatnya dewasa ini.masalah ijtihadiyyah. dan al-adl. a-qisth. Kalimat transaksi (Sighat ‗aqad). yakni: waktu. Artinya. yaitu barang-barang komoditi berjangka dan harga tukar (ra‘s al-mal al-salam dan al-muslim fih).

kejelasan jenis alat tukar. adalah: bahwa objek transaksi harus memenuhi kejelasan mengenai: jenisnya (an yakun fi jinsin ma‘lumin). yaitu dirham.kalimat yang jelas menunjukkan transaksi berjangka. Apa yang tidak dapat dilaksanakan semuanya. . Karena itu. ukuran (kadar). adalah. tempat penyerahan. dolar Singapura. sifatnya. yang akan merusak nilai transaksi. jangka penyerahan. dengan menganalogikan kepada bay‘ al-salam. b) Syarat-syarat     Persyaratan menyangkut objek transaksi. dolar Amerika. kejelasan jenis alat tukar apakah rupiah. baik sedang atau buruk. apakah kualitas istimewa. Syarat-syarat di atas ditetapkan dengan maksud menghilangkan jahalah fi al‘aqd atau alasan ketidaktahuan kondisi-kondisi barang pada saat transaksi. pond. Kedua. harga tukar. dengan alasan bahwa ‗aqd al-salam adalah bay‘ al-ma‘dum dengan sifat dan cara berbeda dari akad jual dan beli (buy). maka dapatlah digunakan kaidah hukum atau legal maxim yang berbunyi: ma la yudrak kulluh la yutrak kulluh. Pertama. Kejelasan jumlah harga tukar. dinar. dsb. Kalaupun dalam pelaksanaannya masih ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. disukat. rupiah atau dolar dsb atau barangbarang yang dapat ditimbang. hukum dan pelaksanaan PBK sampai batas-batas tertentu boleh dinyatakan dapat diterima atau setidak-tidaknya sesuai dengan semangat dan jiwa norma hukum Islam. Dengan demikian. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh harga tukar (al-tsaman). Kejelasan tentang kualitas objek transaksi. ulama Syafi‘iyah menekankan penggunaan istilah al-salam atau al-salaf di dalam kalimat-kalimat transaksi itu. Apakah timbangan yang disepakati dalam bentuk kilogram. maka tidak perlu ditinggalkan keseluruhannya. dst. Sebab hal ini akan mengakibatkan terjadinya perselisihan di antara pelaku transaksi. dst. Penjelasan singkat di atas nampaknya telah dapat memberikan kejelasan kebolehan PBK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful