KONSEP DASAR POSTPARTUM BLUES

A. Latar Belakang Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya.Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindroma yang oleh para peneliti dan klinisi disebut postpartum blues.

B. Pengertian Postpartum Blues Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan. Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang

sosial ekonomi serta keadekuatan dukungan sosial dari lingkungannya (suami. antara lain adalah: 1. tingkat pendidikan. apakah suami. tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami. Takut kehilangan bayi. problem dengan si sulung. C. prolaktin dan estriol yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. keluarga dan teman). bayi sakit ( kuning. seperti.Yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi baik noradrenalin maupun serotonin yang berperan dalam suasana hati dan kejadian depresi 2. berupa perubahan kadar estrogen. yang berkaitan dengan hubungannya dengan si bayi. anak akan terganggu. yang dapat mempengaruhi kondisi fisik. terjadi perubahan hormon yang melibatkan endorphin. status perkawinan. Apakah suami menginginkan juga kehamilan ini.Faktor demografik yaitu umur dan paritas 3. atau berperan sebagai tempat ibu mengadu/berkeluh-kesah) selama ibu menjalani masa kehamilannya atau timbul permasalahan. yang mempunyai dampak lebih buruk. mental dan emosional Ibu. progesteron. ternyata estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase. D. 6. Kadar estrogen turun secara bermakna setelah melahirkan. problem dengan orang tua dan mertua. Baby blues adalah keadaan di mana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman setelah persalinan. kehamilan yang tidak diinginkan. Ketika plasenta dikeluarkan pada saat persalinan.mengalaminya. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan 4. dan teman memberi dukungan moril (misalnya dengan membantu pekerjaan rumah tangga. terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya. atau pun dengan dirinya sendiri. Takut untuk memulai hubungan suami istri ( ML ). riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya. keluarga. Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan. Etiologi Postpartum Blues Banyak faktor diduga berperan pada sindroma ini. Faktor hormonal. misalnya suami yang tidak membantu. progesteron. Gejala . dan estrogen dalam tubuh Ibu. Gejala Klinis Postpartum blues Gejala – gejala postpartum blues ini bisa terlihat dari perubahan sikap seorang ibu. dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin. dll ) 5.

banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin. Endinburgh Posnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca salin. di mana setiap pertanyaan memiliki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat itu. mendapati bahwa nilai skoring lebih besar dari 12 (dua belas) memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk mendiagnosis kejadian post-partum blues . Pertanyaan-pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan. Swedia. dan Indonesia. Dalam dekade terakhir ini. perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada post-partum blues . tidak mau makan. Cox et. Namun jika masih berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan itu dapat disebut postpartum depression.. Gejala – gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. merasa terlalu sensitif dan cemas berlebihan. dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejalagejala tersebut. penakut. tidak bergairah.tersebut biasanya muncul pada hari ke-3 atau 6 hari setelah melahirkan. Al.Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit. E. sering berganti mood.EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca . sakit kepala. khususnya terhadap hal yang semula sangat diminati. insomnia yang berlebihan.Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan. Beberapa perubahan sikap tersebut diantaranya sering tiba-tiba menangis karena merasa tidak bahagia. Berbagai studi mengenai post-partum blues di luar negeri melaporkan angka kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%.EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda. Pemeriksaan Penunjang Postpartum Blues Skrining untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. merasa tidak mempunyai ikatan batin dengan si kecil yang baru saja Anda lahirkan . tidak mau bicara. kecemasan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat bantu. tidak mampu berkonsentrasi dan sangat sulit membuat keputusan. Italia. yang kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan. mudah tersinggung (iritabilitas). Australia.

berolahraga ringan. F. dapat diberikan pertolongan dari para ahli. bahkan merujuk para ahli psikologi/konseling bila memang diperlukan. minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai. Mereka merasakan ada suatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter atau sumbersumber lainnya. disesuaikan dengan konsep mereka tentang keibuan dan perawatan bayi. yaitu: dokter dan bidan/perawat sangat diperlukan.Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi yang menakutkan. Para ibu ini membutuhkan dukungan pertolongan yang sesungguhnya. Penatalaksanaan Postpartum Blues Post-partum blues atau gangguan mental pasca-salin seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. tidur ketika bayi tidur. mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin sehari-hari.Para ibu ini membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga dipenuhi. Dengan bantuan dari teman dan keluarga. seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak. Para ibu yang mengalami postpartum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Banyak ibu yang ‘ berjuang ‘ sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau istirahat. Post-partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi. termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masamasa tersebut serta penanganannya. misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang proses kehamilan dan persalinan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri. atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan.salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 (dua) minggu kemudian. tidak gelisah.Bila memang diperlukan. dan seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Untuk minta pertolongan. ikhlas dan tulus dengan peran . Para ahli obstetri memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penanganan yang tepat bila terjadi gangguan tersebut. Penanganan gangguan mental pasca-salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan penanganan gangguan mental pada momen-momen lainya.

umur. G. bantuan-bantuan praktis dan pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada saat-saat tertentu. medical record dan lain-lain. induksi. Selama hamil. Dampak pengalaman melahirkan Banyak ibu memperlihatkan suatu kebutuhan untuk memeriksa proses kelahiran itu sendiri dan melihat kembali perilaku mereka saat hamil dalam upaya retrospeksi diri. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan di tingkat perilaku. pekerjaan. orang tua bisa merasa kecewa karena tidak bisa mencapai yang telah direncanakan sebelumnya. Asuhan keperawatan pada pasien Pasien Postpartum Blues 1. alamat. emosional. ibu dan pasangannya mungkin telah membuat suatu rencana tertentu tentang kelahiran anak mereka. Pengkajiannya meliputi . dengan melibatkan lingkungannya.baru sebagai ibu. Pengobatan medis. Pengkajian pada pasien post partum blues menurut Bobak ( 2004 ) dapat dilakukan pada pasien dalam beradaptasi menjadi orang tua baru. keluarga dan juga teman dekatnya. membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya. tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi. 2. intelektual. bersikap fleksibel. anestesi epidural. bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru Dalam penanganan para ibu yang mengalami post-partum blues dibutuhkan pendekatan menyeluruh/holistik. Identitas klien Data diri klien meliputi : nama. kelahiran sesar). Rencan individu didasarkan pada karakteristik wanita dan keadaannya yang spesifik. Suami atau pasangan wanita tersebut juga dapat mengalami gangguan emosional akibat perilaku wanita tersebut. hal-hal yang mencakup kelahiran pervagina dan beberapa intervensi medis. Apabila pengalaman mereka dalam persalinan sangat berbeda dari yang diharapkan (misalnya . Pengkajian Pengenalan gejala mood merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh perawat perinatal. Rencana keperawatan harus merefleksikan respons perilaku yang diharapkan dari gangguan tertentu. sosial dan psikologis secara bersama-sama. konseling emosional. pendidikan. yaitu: suami. Apa yang dirasakan orang tua tentang . 1.

Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan penyesuaian perilaku seksual setelah melahirkan seringkali menimbulkan kekhawatiran pada orang tua baru. Perilaku maladaptif terlihat ketika respon orang tua tidak sesuai dengan kebutuhan bayinya. Bayi – bayi ini cenderung akan dapat diperlakukan kasar. Konsep diri dan citra tubuh ibu juga dapat mempengaruhi seksualitasnya. saat orang tua bereaksi terhadap bayi baru lahir dan melanjutkan proses untuk menegakkan hubungan mereka. dan ketidakberdayaannya. Perilaku Adaptif dan Perilaku Maladaptif Perilaku adaptif berasal dari penerimaan dan persepsi realistis orang tua terhadap kebutuhan bayinya yang baru lahir dan keterbatasan kemampuan mereka. Mereka tidak dapat merasakan kesenangan dari kontak fisik dengan anak mereka. dan seksualitas ibu. terlihat segera setelah ibu melahirkan. Tanda-tanda yang menunjukkan ada atau tidaknya kualitas ini. Orang tua menunjukkan perilaku yang adaptif ketika mereka merasakan suka cita karena kehadiran bayinya dan karena tugas-tugas yang diselesaikan untuk dan bersama anaknya. Kualitas keibuan atau kebapaan pada perilaku orang tua membantu perawatan dan perlindungan anak. Orang tua tidak merasa tertarik untuk melihat anaknya. Baik ibu maupun ayah menunjukkan kedua jenis perilaku maupun saat ini kebanyakan riset hanya berfokus pada ibu. Bagaimana perasaan ibu baru tentang diri dan tubuhnya selama masa nifas dapat mempengaruhi perilaku dan adaptasinya dalam menjadi orang tua. Interaksi Orang tua – Bayi Suatu pengkajian pada masa nifas yang menyeluruh meliputi evaluasi interaksi orang tua dengan bayi baru. Banyak orang tua baru mengalami kesulitan untuk menjadi orang tua sampai akhirnya keterampilan mereka membaik. saat mereka memahami yang dikatakan bayinya melalui ekspresi emosi yang diperlihatkan bayi dan yang kemudian menenangkan bayinya. respon social yang tidak matur. dan ketika mereka dapat membaca gerakan bayi dan dapat merasa tingkat kelelahan bayi. Ibu yang baru melahirkan bisa merasa enggan untuk memulai hubungan seksual karena takut merasa nyeri atau takut bahwa hubungan seksual akan mengganggu penyembuhan jaringan perineum. Tugas merawat . citra tubuh. 5. Respon orang tua terhadap kelahiran anak meliputi perilaku adaptif dan perilaku maladatif. Citra diri ibu Suatu pengkajian penting mengenai konsep diri. 3. 4.pengalaman melahirkan sudah pasti akan mempengaruhi adaptasi mereka untuk menjadi orang tua.

Struktur dan fungsi keluarga Komponen penting lain dalam pengkajian pada pasien post partum blues ialah melihat komposisi dan fungsi keluarga. Payudara : Produksi kolostrum 48 jam pertama. menurun kira-kira 1 lebar jari setiap harinya. Sirkulasi Episode diaforetik lebih sering terjadi pada malam hari. Penyesuaian seorang wanita terhadap perannya sebagai ibu sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangannya. berlanjut pada susu matur. d. berlanjut menjadi lokhia serosa dengan aliran tergantung pada posisi (misalnya . biasanya pada hari ke-3. mungkin lebih dini. Nyeri/ketidaknyamanan Nyeri tekan payudara/pembesaran dapat terjadi diantara hari ke-3 sampai ke-5 pascapartum. . Aktivitas / istirahat Insomnia mungkin teramati. dipandang sebagai sesuatu yang menyebalkan. b. dan anak-anak lain. Makanan/cairan Kehilangan nafsu makan mungkin dikeluhkan mungkin hari – hari ke-3. Lokhia rubra berlanjut sampai hari ke-2. 6. takut/menangis (" Post partum blues " sering terlihat kira-kira 3 hari setelah kelahiran). ibunya dengan keluarga lain. Orang tua tidak mampu membedakan cara berespon terhadap tanda yang disampaikan oleh bayi.3. tergantung kapan menyusui dimulai. f. Sedangkan Pengkajian Dasar data klien menurut Marilynn E. e. Seksualitas Uterus 1 cm diatas umbilikus pada 12 jam setelah kelahiran. rekumben versus ambulasi berdiri) dan aktivitas (misalnya . Eliminasi Diuresis diantara hari ke-2 dan ke-5. c. lelah keinginan untuk berbicara dan kebutuhan untuk dipeluk dan melakukan kontak mata.anak seperti memandikan atau mengganti pakaian. Integritas Ego Peka rangsang. g. Perawat dapat membantu meringankan tugas ibu baru yang akan pulang dengan mengkaji kemungkinan konflik yang bisa terjadi diantara anggota keluarga dan membantu ibu merencanakan strategi untuk mengatasi masalah tersebut sebelum keluar dari rumah sakit. Doenges ( 2001 ) Adalah : a. seperti rasa lapar. Tampaknya sukar bagi mereka untuk menerima anaknya sebagai anak yang sehat dan gembira. menyusui).

tidak mengenal sumber – sumber. kegirangan). c. Diagnosa I : Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis (sangat gembira. proses persalinan dan kelahiran melelahkan. Gangguan pola tidur berhubungan dengan Respon hormonal dan psikologis (sangat gembira. bila ada yang mempengaruhi istirahat. 4) Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat. dan penurunan refleks secara psikologis. nyeri/ketidaknyamanan. Tujuan : Mengidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru. Rasional : Persalinan atau kelahiran yang lam dan sulit.2. Resiko tinggi ketidakefektifan koping individu berkaitan perubahan emosional yang tidak stabil pada ibu. b. 2) Kaji factor-faktor. kegirangan). . meningkatkan tingkat kelelahan. 3) Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah kembali ke rumah. dan adanya sibling dan anggota keluarga lain. Rasional : Membantu meningkatkan istirahat. Rasional : Rencana yang kreatif yang membolehkan untuk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan / mengingat. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan pada pasien postpartum blues diantaranya Adalah : a. Rasional : Kelelahan dapat mempengaruhi penilaian psikologis. 3. tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsang. 5) Kaji lingkungan rumah. khususnya bila ini terjadi malam. melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan istirahat. ansietas. ansietas. proses persalinan dan kelahiran melelahkan. Rencana Keperawatan a. bantuan dirumah. kesalahan interpretasi. nyeri/ketidaknyamanan. suplai ASI.

persepsi tidak realistis . 4) Diskusikan kebutuhan seksualitas dan rencana untuk kontrasepsi. hasil yang diharapkan. Rasional : Periode pascanatal dapat merupakan pengalaman positif bila penyuluhan yang tepat untuk membantu pertumbuhan ibu. perubahan fisiologis. ketidakadekuatan sistem pendukung. Rasional : Terhadap hubungan antara lama persalinan dan kemampuan untuk melakukan tanggung jawab tugas dan aktifitas-aktifitas perawatan diri/perawatan bayi. Intervensi Keperawatan : 1) Pastikan persepsi klien tentang persalinan dan kelahiran. Rasional : Pasangan mungkin memerlukan kejelasan mengenai ketersediaan metoda kontrasepsi dan kenyataan bahwa kehamilan dapat terjadi bahkan sebelum kunjungan sebelum kunjungan minggu ke-6. kesalahan interpretasi. Diagnosa III : Risiko tidak efektif koping individual berhubungan dengan krisis maturasional dari kehamilan/mengasuh anak dan melakukan peran ibu dan menjadi orang tua (atau melepaskan untuk adopsi). tidak mengenal sumber – sumber. mempercepat pemulihan dan penyembuhan. maturasi.Rasional : Multipara dengan anak di rumah memerlukan tidur lebih banyak dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur dan memenuhi kebutuhannya. lama persalinan. kebutuhan individu. dan tingkat kelelahan klien. Tujuan : Mengungkapkan berhubungan dengan pemahaman perubahan fisiologis. dan kompetensi. dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional. termasuk perawatan perineal dan higiene. C. b. Rasional : Membantu mencegah infeksi. 3) Berikan informasi tentang perawatan diri. Diagnosa II : Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan perawatan bayi berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat. 2) Kaji kesiapan klien dan motivasi untuk belajar. melakukan aktivitas / prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan-alasan untuk tindakan. kerentanan personal.

ansietas. kegagalan pribadi. Rasional : Terhadap hubungan langsung antara penerimaan yang positif akan peran feminin dan keunikan fungsi feminin serta adaptasi yang positif terhadap kelahiran anak. atau pelayanan perawat berkunjung. konsentrasi yang buruk. menangis. Rasional : Membantu klien / pasangan bekerja melalui proses dan memperjelas realitas dari pengalaman fantasi. Rasional : Kira – kira 40 % wanita dengan depresi pascapartum ringan mempunyai gejala – gejala yang menetap sampai 1 tahun dan dapat memerlukan evaluasi lanjut. Rasional : Sebanyak 80 % ibu – ibu mengalami depresi sementara atau perasaan emosi kecewa setelah melahirkan. 7) Kolaborasi dalam merujuk klien/pasangan pada kelompok pendukungan menjadi orang tua. dan depresi ringan atau berat). kesedihan. Rasional : Membantu dalam mengkaji kemampuan klien untuk mengatasi stres. 4) Evaluasi kemampuan koping masa lalu klien. sistem pendukung. 2) Anjurkan diskusi oleh klien / pasangan tentang persepsi pengalaman kelahiran. Intervensi Keperawatan : 1) Kaji respon emosional klien selama pranatal dan dan periode intrapartum dan persepsi klien tentang penampilannya selama persalinan. 5) Berikan dukungan emosional dan bimbingan antisipasi untuk membantu klien mempelajari peran baru dan strategi untuk koping terhadap bayi baru lahir. latar belakang budaya. .Tujuan : Mengungkapkan ansietas dan respon emosional. pelayanan sosial. kelompok komunitas. 6) Anjurkan pengungkapan rasa bersalah. Rasional : Keterampilan menjadi ibu / orang tua bukan secara insting tetapi harus dipelajari. atau keragu – raguan tentang kemampuan menjadi orang tua Rasional : Membantu pasangan mengevaluasi kekuatan dan area masalah secara realistis dan mengenali kebutuhan terhadap bantuan profesional yang tepat. mencari sumber-sumber yang tepat sesuai kebutuhan. 3) Kaji terhadap gejala depresi yang fana (" perasaan sedih " pascapartum) pada hari ke-2 sampai ke-3 pascapartum (misalnya . mengidentifikasi kekuatan individu dan kemampuan koping pribadi. dan menyusui. dan rencana untuk bantuan domestik pada saat pulang. menjadi ibu.

kolaboratif. KESIMPULAN 1. Evaluasi Evaluasi didasarkan pada kemajuan pasien dalam mencapai hasil akhir yang ditetapkan yaitu meliputi .4. dokumentasi. Banyak penyebab terjadinya postpartum blues yaitu . kesejahteraan fisik ibu dan bayi akan dipertahankan. Postpartum blues yaitu suatu perasaan bercampur aduk 2. 5. ibu dan keluarganya dapat mengatasi masalahnya secara efektif. Setiap anggota keluarga akan melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. dan respon pasien terhadap asuhan keperawatan. dan setiap anggota keluarga dapat meneruskan pola pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Menurut Allen (1998) komponen dalam tahap implementasi meliputi tindakan keperawatann mandiri. Implementasi Menurut Doenges (2000) implementasi adalah perawat mengimplementasikan intervensiintervensi yang terdapat dalam rencana perawatan. Perawat dapat yakin bahwa perawatan berlangsung efektif jika kesejahteraan fisik ibu dan bayi dapat dipertahankan. Ibu dan keluarga akan mengembangkan koping yang efektif.

Asuhan keperawatan pada pasien postpartum blues pada dasarnya harus holistik yaitu menyeluruh dari bio-psiko-sosio-spiritual dan melibatkan orang tua si anak yaitu ayah dan ibu sia anak . Orang dikatakan mengalami postpartum blues jika mengalami gejala – gejala sebagai berikut 4. Penderita postpartum dapat dideteksi melalui skrinning yaitu dengan kuisioner yang berupa pertanyaan tentang rasa cemas 5.3. Penanganan pada post partum blues ini bermacam – macam caranya 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful