METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK

BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI Skripsi Diajuhkan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menempuh Ujian Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh NOVI ROMAWATI NIM : 202011000962

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007

METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI

Skipsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Oleh NOVI ROMAWATI NIM 20201100962

Di bawah Bimbingan Pembimbing I Pembimbing II

( Drs. H. Ahmad Syafi’ie Noor ) NIM : 150 0094403

( Drs. Sapiudin Shidiq, M.Ag ) NIM : 150299477

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H / 2006

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang

berjudul “METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI’’ ini telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 17 November 2006 dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam Program Strata Satu ( SI ) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam. Jakarta, 17 November 2006 Ssidang Munaqasyah Dekan/ Ketua Merangkap Anggota Pembantu Dekan I, Sekretaris Merangkap Anggota

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA NIP. 150 231 356 Anggota, Penguji I

Prof. Dr. H. Aziz Fahrurrozi, MA NIP. 150 202 343

Penguji II

Drs. H. A. Mawardi Sutedjo, M.S NIP. 150 011 336

Drs. H. Khalimi, M.Ag NIP. 150 267 202

2.. A. 1. Sistematika Penulisan …………………………………………. BAB II LANDASAN TEORITIS ………………………………………. Pengertian Pendidikan Agama Islam ……………………. Pelaksanaan Metode Bercerita …………………………….. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………… C. Aspek-aspek dan Teknik-teknik Bercerita ………………. 3. Metode Pembahasan ………………………………………….. 3... 4.... D.. Pengertian Metode Bercerita ……………………………… 2... E. 5. Hakikat Metode Bercerita ……………………………………. Tujuan dan Fungsi Metode Bercerita ……………………. Dasar Pendidikan Agama Islam ………………………….. Pendidikan Agama Islam ……………………………………… 1.. Latar Belakang Masalah ……………………………………… B. i .DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………………………. i iv vi 1 1 5 5 6 6 9 9 9 11 15 16 17 17 19 23 28 2 DAFTAR ISI ………………………………………………………………… BAB I DAFTAR TABEL …………………………………………………………… PENDAHULUAN ………………………………………………. Tujuan Pendidikan Agama Islam …………………………. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ………………. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita ……………. A. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………. 4.

A.BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………. 2. B. Keadaan Belajar Mengajar ………………………………… 3. A. C... Deskripsi Data ………………………………………………… 1.. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………. Hasil Pelaksanaan Metode Bercerita ……………………. DAFTAR PUSTAKA 45 46 46 57 59 59 62 ii . Tujuan Penelitihan ……………………………………………. Kesimpulan ………………………………………………… B. D... Respon Anak Didik terhadap Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Bercerita di Taman Kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji …………………………….. Pelaksanaan Metode Bercerita pada Pendidikan Agama Islam di TK Bait Al-Falah ………………………………………. Populasi dan Sampel ……………………………………….. Teknik Analisa Data …………………………………………. 1.... Analisa Data …………………………………………………. B.. Sarana dan prasarana ………………………………………. E.. 31 31 31 31 32 33 34 34 38 38 41 BAB IV HASIL PENELITIAN …………………………………………… A. 2.. Gambaran Umum TK Bait Al-Falah Pondok Ranji ……………. C. BAB V PENUTUP ………………………………………………….. Saran ………………………………………………………. Sumber Data …………………………………………………...

LAMPIRAN –LAMPIRAN iii .

Latar Belakang Masalah Setiap manusia membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama. Perkembangan agama sejak usia dini anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. PT. Toko Gunung Agung. tempat berlindung dan memohon pertolongan-Nya. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak didik.BAB I PENDAHULUAN A. Agama mengajarkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia akan merasa tenang dan tentram hatinya kalau dapat mendekat dan mengabdi kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam jiwa manusia ada satu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa. Di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk membina anak didiknya agar menjadi orang baik dan mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuh kembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan. Kesehatan Mental. supaya segala gerak-geriknya menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya. 127 1 . 1 1 Zakiah Daradjat. h. ( Jakarta. 2001) Cet ke -23. Itulah sebabnya manusia memerlukan pendidikan agama untuk menuntun ibadahnya.

Pada umur ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. do’a mau pulang. 1996). Pendidikan agama diperlukan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik misalnya membaca do’a tiap kali memulai pekerjaan seperti do’a mau makan dan minum. 127 Zakiyah Daradjat.41 . Penanaman nila-nilai agama sebaikya dilaksanakan kepada anak pada usia pra-sekolah. Cet.2 Tingkat usia kanak-kanak merupakan kesempatan pertama yang sangat baik bagi pendidik untuk membina kepribadian anak yang akan menentukan masa depan mereka. sesuai dengan kemampuannya. do’a naik kendaraan. 2 Metode yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan agama pada anak tentu berbeda dengan metode yang dilaksanakan untuk orang dewasa. kalau kita ingin agar agama mempunyai arti bagi mereka hendaklah disampaikan dengan cara-cara lebih konkrit dengan bahasa yang dipahaminya dan tidak bersifat dogmatic saja”. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat sebagai berikut : “Anakanak bukanlah orang dewasa yang kecil. dan lain-lain yang biasa di terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. h. h. Anak didik pada usia Taman Kanak-kanak masih sangat terbatas kemampuannya. 3 2 3 Ibid. sebelum mereka dapat berpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Agar semenjak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan dapat mengenal Tuhannya yaitu Allah SWT. (Jakarta : Bulan Bintang. Di samping itu memperkenalkan Tuhan yang Maha Esa secara sederhana.. Ilmu Jiwa Agama. Ke-16.

mereka belum dapat memikirkan soal-soal maknawi. 78 5 4 . Orang tua juga sebagai pendidik harus dapat memikirkan dan memperhatikan tahapan-tahapan di dalam memberikan pendidikan agama pada anaknya. ke-2. Cet.ke-2. orang tua kepada anaknya. Seni Cerita Islami. guru bercerita kepada pendengarnya. 1995). h.3 Cerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru kepada muridmuridnya. 5 Soekanto. orang tua harus dapat memperhatikan kondisi anak di dalam mendidiknya. 2001) Cet. h. ( Jakarta : CV Ruhama. Suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan sandaran kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan cerita. 9 Zakiyah Daradjat. sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Zakiyah Darajat “Anak pada usia pra-sekolah tertarik kepada ceritacerita pendek seperti cerpen yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya. (Jakarta : Bumi Mitra Press. soal-soal yang abstrak dan hukum-hukum umum. Anak-anak itu sangat perasa dengan perasaan yang halus dan mudah terpengaruh. mereka dapat mengetahui dengan salah satu pancaindra. 4 Anak-anak merupakan sosok individu yang mempunyai pikiran yang terbatas dan pengalaman yang sedikit. Berkenaan dengan pendidikan agama yang akan diberikan dan ditanamkan ke dalam jiwa anak. Mereka hidup dengan akal pikiran dan alam yang nyata. terlebih lagi cenderung akan memilih suatu permainan yang bertujuan mendorong anak untuk tertarik dan kagum kepada agama Islam”. Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah.

157 . maka dalam menunjang kemampuan penyesuaian diri seorang anak membutuhkan rangsangan yang cocok dengan jiwa mereka. maka metode bercerita merupakan salah satu teknik penyampaian yang digunakan dalam proses pendidikan di Taman Kanak-kanak yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak. metode bercerita adalah salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak Taman Kanak-kanak dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Guru yang mampu memberikan cerita akan menimbulkan semangat dan pemahaman kepada anak terhadap pelajaran yang diterima dari cerita tersebut. Cet ke-2. 6 Salah satu cara untuk merangsang anak agar tertarik melakukan kegiatan dengan metode cerita. 2004). (Jakarta : PT Asdi Mahasatya. yaitu: 6 PONDOK Moeslichatoen R. Ada beberapa hal yang mendorong penulis untuk membahas masalah ini. h. Secara kejiwaan anak-anak ialah manusia yang akrab dengan simbol-simbol kasih sayang orang lain yang ada di sekitarnya. Dengan teknik yang bervariasi dalam penyampaian materi pelajaran akan membantu guru dalam melaksanakan tugas secara baik. seperti melalui kata-kata sanjungan atau pujian. Oleh sebab itu. Penulis mencoba untuk mengetahui lebih jauh tentang pelaksanaan metode bercerita yang diterapkan di Taman Kanak-Kanak Bait Al-Falah melalui penelitian dengan judul “METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH RANJI”. Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar.4 Dunia anak adalah dunia pasif ide.

2. Namun dalam penulisan skripsi ini penulis hanya membatasi pada metode cerita yang diterapkan pada materi pendidikan agama Islam sebagai penanaman nilai-nilai keagamaan bagi anak yang diterapkan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji.5 1. Pendidikan Agama Islam sangat penting di berikan kepada anak di usia prasekolah untuk mengenal agama. Metode yang diteliti adalah metode bercerita Pelaksanaan metode cerita yang diterapkan di Taman Kanak-kanak mempunyai ruang lingkup yang luas. B. 3. karena metode yang menarik dengan dunia anak-anak. 3. Untuk mempermudah pembahasan pada penelitian. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji. Pendidikan agama merupakan mobilisator dan filter dari segala hal kehidupan. 2. penulis membatasi masalah yang akan dibahas sebagai berikut : 1. Pengaruh cerita yang baik disampaikan kepada anak didik sangat besar terhadap perubahan prilaku positif anak. Pembatasan dan Perumusan Masalah Untuk mempermudah pembahasan pada penelitian ini. maka permasalahan di rumuskan sebagai berikut: . Salah satu metode dalam melaksanakan pendidikan agama Islam pada lembaga Taman Kanak-kanak ini adalah metode bercerita.

B. Bagaimana hasil anak-anak didik di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah setelah memperoleh pendidikan agama Islam melalui metode bercerita? C. Metode Pembahasan Sebagaiman lazimnya suatu karya ilmiah. Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan metode bercerita sebagai penanaman pendidikan agama Islam di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Tujuan dan Manfaat Penelitian A. Untuk mengetahui pelaksanaan metode bercerita dalam proses belajar mengajar pendidikan agama Islam di Taman Kanank-kanak Bait Al-Falah.6 1. Untuk mengetahui betapa pentinganya metode becerita terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam bagi siswa di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji. 2. Untuk mengetahui pelaksanaan metode bercerita sebagai penanaman pendidikan agama Islam di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji. Manfaat Penelitian : 1. D. Tujuan Penelitian : 1. 2. Bagaimana pelaksanaan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ? 2. yaitu: . maka penulis dalam membahas skripsi ini mengunakan dua macam metode penelitian.

Sistematika Penulisan Pokok bahasan dari seluruh rangkaian penulisan skripsi ini dibahas dalam lima bab. Bab II : Kajian Pustaka terdiri dari : Pengertian Pendidikan Agama Islam. yaitu dalam hal ini penulis mengadakan penelitian langsung ke objek yang diteliti dengan jenis pengumpulan data. Pelaksanaan Metode Bercerita. Aspek-aspek dan Teknik-teknik Bercerita. Kajian kepustakaan (Library Research). Dasar pendidikan Islam. Cetakan ke-2. E. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam. Tujuan Pendidikan Agama Islam. dan dokumentasi. yaitu dengan membaca buku artikel serta literature lainnya yang berhubungan dengan masalah yang penulis bahas. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita. Penelitihan lapangan (Field Research). Manfaat Penelitian. 2.7 1. dan Sistematika Penulisan. yaitu observasi. Fungsi Metode Bercerita. Setiap bab terdiri beberapa sub bahasan yang dibagi sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan terdiri dari Latar Belakang Masalah. Tujuan Metode Bercerita. Metode Pembahasan. tahun 2002. Pembatasan dan Perumusan Masalah. . Tesis dan Disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. wawancara. 3. Penulisan skripsi ini merujuk pada buku Pedoman Penulisan Skripsi. Hakikat Metode Bercerita : Pengertian Metode Bercerita.

Teknik Pengumpulan Data. Definisi Operasional. Hasil Pelaksanaan Metode Bercerita. Analisa Data terdiri dari : Respon Anak Didik Terhadap Metode Bercerita sebagai Penanaman Pendidikan Agama Islam di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Teknik Analisa Data. Deskripsi Data :terdiri dari : Keadaan. Bab V : Penutup yang terdiri dari : Kesimpulan dan Saran . Pelaksanaan Metode Bercerita pada Pendidikan Agama Islam di Bait Al-Falah. Ruang Lingkup Penelitihan. Sumber Data. Bab IV : Hasil Penelitian terdiri dari : Gambaran umum Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Sarana dan Prasarana.8 Bab III : Metode Penelitihan terdiri dari : Tujuan Penelitian. Keadaan Belajar Mengajar.

Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Sebelum penulis mengemukakan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam. Al-Ma’arif. Marimba.3 Dengan demikian pendidikan berarti interaksi dalam diri individu dengan masyarakat sekitarnya baik dilihat dari segi kecerdasan atau kemampuan. sekaligus mengandung makna mengajar (hadanah)”. (Bandung : PT. h. Ilmu Pendidikan Islam. sedangkan dalam Bahasa Arab sering diterjemahkan dengan “Tarbiyah”. 1 3 Ahamad D. membesarkan dan mendidik. 2001). (Jakarta : Kalam Mulia. Kata tarbiyah lebih luas konotasinya. 1 Ramayulis mendefinisikan pendidikan sebagai “bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar menjadi dewasa”. Pendidikan dalam bahasa Inggris disebut dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. 19 2 1 9 . h. yaitu mengandung arti “memelihara. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Cet. Cet ke 4.2 Sedangkan Menurut Ahmad D. 1994).9 BAB II LANDASAN TEORITIS A. ke-6. 1986). Mendidik adalah usaha atau tindakan yang dilakukan secara Abudin Nata. Logos. Marimba Pendidikan adalah “Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”. Filsafat Pendidikan Islam. terlebih dahulu didefinisikan kata pendidikan. (Jakarta : PT.5 Ramayulis. minat maupun pengalaman. h.

Tujuan yang inggin dicapai adalah membawa siterdidik kearah terbentuknya kepribadian yang utama. 4 Menurut Zakiyah Darajat. Cet. bahwa “ pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak yang sesuai dengan ajaran Islam”. Jakarta : Bumi Askara. baik jasmani maupun rohani bagi perjalanan hidupnya di masa yang akan datang. (Jakarta : Bumi Askara. sehingga terbentuk manusia yang bertanggung jawab. h. ke -2. dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang telah diyakini secara menyeluruh. 86 6 Zuhairini. menghayati. baik berupa bimbingan. Ilmu Pendidikian Islam. 1996). pembinaan. 1995). bahwa “pendidikan agama Islam adalah usaha terhadap anak didik agar kelak dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup”. Berdasarkan definisi-definisi tentang pendidikan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses yang terdiri dari usaha yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap siterdidik.6 Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan agama Islam adalah bimbingan dan asuhan terhadap anak agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami. Filsafat Pendidikan Islam. 23 Zakiyah Darajat. Marimba “pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani yang berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam”. ataupun latihan. 5 Menurut Zuhairini menyatakan. serta menjadikan ajaran agama Islam 4 5 Ibid. 152 .. Tentang Pendidikan Islam para ahli mendefinisikannya sebagai berikut : Menurut Ahmad D. h. pengarahan.10 sadar dengan bantuan alat pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. h.

Oleh karena itu pendidikan agama Islam sebagai sebuah kejayaan juga harus mempunyai landasan atau dasar yang sejalan dengan ajaran al-Qur’an dan Hadits. maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan . 2. Dasar Pendidikan Agama Islam Setiap kegiatan untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan atau dasar tempat berpijak yang baik dan kuat. An-Nahl [16] : 64 ) ˴ ˴ ˶ ˸ϟ΍ ˴ ˴ ˸Ϩ˶  ͉ ˴ ˵˸Β˴  Ύ͉ ˶ Ύ˱ Ύ˴ ˸Σ˶ ˶ ˸ϳ˴ ˶ ΍˴ ˸ϟΎ˶ ˴  ˵ Ύ͉ ˶ Ύ͉˶ ΍ϭ˵ ˵ ˸ό˴  Ύ͉˴ ˴ ͊ ˴  ϰ˴ ˴ ˴ ήΒϜ ϙΪ ϋ ϦϐϠ ϳ ϣ· ϧ δ · Ϧ Ϊϟ Ϯ Αϭ ϩ ϳ· ϟ· ΪΒ Η ϟ΃ ϚΑέ πϗϭ Ύ˱ ϳ˶ ˴ Ύ˱ ˸Ϯ˴ Ύ˴ ˵ ˴ ˸Ϟ˵ ˴ Ύ˴ ˵ ˸ή˴ ˸Ϩ˴ Ύ˴ ˴ ͈ ˵Ύ˴ ˵ ˴˸Ϟ˵ ˴ Ύ˴ ˴ Ύ˴ ˵ Ύ˴ ˶ ˸ϭ˴Ύ˴ ˵ ˵ ˴ ˴ Ϥ ήϛ ϟ ϗ ϤϬϟ ϗϭ Ϥϫ Ϭ Η ϟϭ ϑ΃ ϤϬϟ ϘΗ Ϡϓ Ϥϫ Ϡϛ ΃ ϤϫΪΣ΃ Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Untuk lebih jelasnya mengenai dasar-dasar pendidikan Islam.S. Al-Qur’an Kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an itu sendiri. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduaduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Firman Allah : ˳ ˸Ϯ˴ ˶ ˱ ˴ ˸Σ˴ ˴ ϯ˱ ˵ ˴ ˶ ϴ˶ ΍Ϯ˵ ˴ ˴ ˸Χ΍ϱ˶ ͉΍˵ ˵ ˴ ˴ ͋ ˴ ˵ ˶ Ύ͉˶˴ Ύ˴ ˶ ˸ϟ΍˴ ˸ϴ˴ ˴ Ύ˴ ˸ϟ˴ ˸ϧ˴Ύ˴ ˴ ϡ Ϙϟ ΔϤ έϭ Ϊϫϭ Ϫ ϓ ϔϠΘ άϟ ϢϬϟ ϦϴΒΘϟ ϟ· Ώ ΘϜ Ϛ Ϡϋ Ϩ ΰ ΃ ϣϭ ˴ Ϯ˵ ˶ ˸Ά˵ ϥ Ϩϣ ϳ Artinya : “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) ini. penulis akan menguraikan sebagai berikut: a. melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”(Q.11 itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

Cet.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. dan ulil amri di antara kamu. Al-Isra’ [23] : 66 ) Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.31 . yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir dan dipandang beribadah bagi yang membacanya. Ύ˱ ϳ˶ ˸΄˴ ˵ ˴ ˸Σ˴˴ ˲ ˸ϴ˴ ˴ ˶ ˴ ˶ ˶ ΂˸ϟ΍ Ϡ ϭ Η Ϧδ ΃ϭ ή Χ ϚϟΫ ήΧ Artinya : "Hai orang-orang yang beriman. yang tertulis di dalam mushaf-mushaf. jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya).S. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. (Q." (Q. Ulumul Qur’an. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).S. h. (Bandung : Pustaka Setia.Ke-1. 2000). 6 Sebagaimana dalam Firman Allah : ˸ϥ˶˴  ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˶  ˶ ˸ϣ˴ ˸ϟ΍ ϲ˶ϭ˵˴  ˴ Ϯ˵ ͉ ϟ΍ ΍Ϯ˵ ϴ˶ ˴˴  ˴ ͉ϟ΍ ΍Ϯ˵ ϴ˶ ˴ ΍Ϯ˵ ˴ ΍˴  ˴ ϳ˶ ͉΍ Ύ˴ ͊ ˴Ύ˴ Έϓ Ϝ ϣ ή ΄ ϟ ΃ϭ ϝ γή ό σ΃ϭ ϪϠ ό σ΃ Ϩϣ ˯ Ϧ άϟ Ϭϳ΃ ϳ ˶ ˸Ϯ˴ ˸ϟ΍˴ ˶ ͉ϟΎ˶ ˴ Ϯ˵ ˶ ˸Ά˵ ˸Ϣ˵ ˸Ϩ˵ ˸ϥ˶˶ Ϯ˵ ͉ ϟ΍˴ ˶ ͉ϟ΍ϰ˴ ˶˵ ϭ͊ ˵ ˴ ˳ ˸ϲ˴ ϲ˶ ˸Ϣ˵ ˸ϋ˴ Ύ˴ ˴ ϡ ϴ ϭ ϪϠ Α ϥ Ϩϣ Η Θ ϛ · ϝ γή ϭ ϪϠ ϟ· ϩ Ωήϓ ˯ η ϓ Θ ί ϨΗ . An-Nissa [4] : 59) Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi dasar atau sumber pertama pendidikan agama Islam adalah Al-qur’an yaitu kumpulan firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab suci ini menjadi 6 Rosihon Anwar.12 janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. Al-Qur’an adalah firman Allah yang berfungsi sebagai mu’jizat (sebagai bukti kebenaran atas Nabi Muhammad SAW) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

13 sumber hukum yang utama dan berlaku untuk sepanjang masa dalam lingkungan umat Islam. budi pekerti. ikhlas). As-Sunnah merupakan landasan kedua dengan pembinaan pribadi manusia muslim.7 b.8 As-Sunnah berisi pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspeknya. perbuatan dan ketetapan yang berkaitan dengan hukum. 9 Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa menuntut ilmu maka akan mengetahui adanya Dzat Allah dan sifatnya. untuk membina umat manusia seutuhnya dan muslim yang bertaqwa. jujur. akan mengetahui bagaimana cara ibadah. takabur. Seperti dalam Hadits Nabi : ˳ ˶ ˸δ˵ ˵ ˶ ˵ ϲ˴ ˴ ˵ ˴ ˸ϳ˶ ˴ ˶ ˸Ϡ˶ ϟ˸΍˵ ˴ ˴ ˴ ˴ ˴ ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˴ ˶ ˴ ϟ΍ϲ˴˴ ˶ Ϡ˴ ΍΍˵ ˸Ϯ˵ έ˴ Ύ˴  ϢϠ ϣ Ϟϛ Ϡϋ Δπ ήϓ Ϣ ό ΐϠσ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϪϠ Ϡλ Ϫ ϟ ϝ γ ϝ ϗ  ϪΟΎϣϦΑ΍ϩ΍ϭέ. marah dan bermusuhan). akhlaq tercela (dendam. dengan ilmu akan mengetahui adanya tingkah laku hati (prilaku hati) seperti akhlaq terpuji (sabar. As-Sunnah Dasar kedua pendidikan Islam adalah As-Sunnah yang mempunyai arti segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW berupa perkataan. riya.syukur. mengetahui haram dan halal. dermawan. dengki. Al-Qur’an sebagai sumber yang selalu digunakan oleh sahabat sejalan dengan firman Allah SWT dalam al-Qura’an surat An-Nissa ayat 59 yang memerintahkan untuk berbakti kepada Allah dan Rasul Allah dan untuk mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasulnya.

h.ke-3. Cet. ke-1. Cit. 32 8 Nasroen Haroen. h. Ushul Fiqh 1. (Jakarta : AMRI. Cet. Sapiuddin Shidiq.. (Jakarta : Logos Waca Ilmu. 2001). 21 7 . 38 9 Zakiyah Darajat.. Op. Tarikh Tasyri’ (Sejarah Pembentukan Hukum Islam). h. 2005).

keimanan dengan rukun Iman. Iman kepada Kitabkitab Allah. (Surabaya : PT Makhtabah Muhammad Nahban bin Ahmad). Iman kepada Allah. ijma’ yang diakui. Wilayah syariah mencakup aspek ibadah. Akhlaq Lil Banin. sedangkan aqidah mencakup keimanan dan keyakinan.14 Artinya : Menuntut Ilmu wajib bagi setiap orang Islam.7-8 11 Umar bin Ahmad Barja. (Indonesia : PT Daru Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah). h. Iman kepada Malaikat. 2 10 . maka apabila akhlaq mereka hilang maka bangasa akan musna. Iman kepada Allah.10 Sesunggunya umat manusia akan kekal karena akhlaq. yang menjadi sumber pendidikan agama Islam adalah pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas syar’i. Mauidhatul Mu’minin.11 Dari uraian di atas dapat simpulkan bahwa dasar pendidikan Islam adalah AlQur’an dan As-Sunnah yang memuat dua prinsip dasar yaitu aqidah dan syari’ah. Iman kepada Rasul. ijtihad dan tafsir yang benar dalam bentuk hasil pengetahuan kemanusiaan dan Syekh Jamalidin Al-Qosimi. h. oleh karena itu Nabi bersabda : ˶ ˴ ˸Χ˴ ΍˴ ˶ Ύ˴ ˴ ˴ ˶ ˴ ˵ ˵ ˸δ˶ ˵ Ύ˴ ˴ ˶˴ ˴ ˴ ˴ ˶ ˸ϴ˴ ˴ ˶ ˴ ϟ΍ϲ˴ ˴ ˶ Ϡ˴ ΍΍˵ ˸Ϯ˵ έ˴ Ύ˴ ϕϼ Ϸ ϡέ Ϝϣ ϢϤΗϷ Ζ όΑ Ϥϧ΍ ϢϠγϭ Ϫ Ϡϋ ϪϠ Ϡλ Ϫ ϟ ϝ γ ϝ ϗ Artinya : Sesunggunya aku (Muhammad) di utus hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Umat-umat terdahulu selalu tertanamkan urusan yang paling besar adalah Akhlaq. Iman kepada Qadha dan Qadhar. Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. muamalah. Iman kepada hari akhir. akhlak dan keilmuan lainnya. oleh karena itu yang menolong agama samawi adalah orang Islam.

Filsafat Pendidikan Islam. Tujuan keagamaan. h. pasti mempunyai dasar dan tujuan. Pandangan hidup ini berupa agama ataupun aliran filsafat tertentu. 1996). Raja Grafindo Persada. Tujuan pendidikan Islam yang paling utama ialah beribadah kepada Allah dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat. 24 . Jamaludin dan Usman Said. Tujuan ilmiah yang bersifat kedunian. yaitu: 1. 2. (Jakarta : PT. maksudnya ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui Tuhannya telah memurnikan hak-hak Allah yang telah diwajibkan atasnya. yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup. Cet ke-2. h. 37 13 12 Ramayulius. oleh karenanya tujuan pendidikan haruslah individu maupun sebagai masyarakat. 1994).15 akhlak. dengan merujuk kepada kedua sumber asal Al-Qur’an dan As-Sunnah) sebagai sumber utama. Islam mempunyai dua tujuan. Ilmu Pendidikan Islam. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Islam Menurut Ibnu Khaldun bahwa pendidikan setiap aktifitas yang direncanakan. (Jakarta : Kalam Mulia.13 Sedangkan fungsi pendidikan agama bagi anak adalah membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. 12 4. Tujuan pendidikan itu biasanya dikaitkan dengan pandangan hidup yang diyakini kebenarannya oleh penyusun tujuan tersebut. Begitu pula pendidikan Islam mempunyai dasar dan tujuan. mempunyai akhlak yang luhur. Pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan masyarakat.

16

berilmu pengetahuan dan memiliki ketrampilan yang dapat disalurkan. Agama benarbenar berfungsi sebagai pengendali kepribadian dalam hidupnya dikemudian hari. Pendidikan agama harus diberikan sejak dini agar anak terbiasa melakukan ibadah dan menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan kesadarannya sendiri. 14

4. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam Menurut Mahmud Yunus bahwa inti pokok ajaran Islam meliputi masalah Keimanan (aqidah), masalah Keislaman (syariat), dan masalah Ihsan (akhlak). Tiga inti pokok ajaran ini kemudian dijabarkan dalam bentuk rukun Iman, rukun Islam dan Akhlak. Dari ketiganya lahirlah beberapa keilmuan agama yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak. Ketiga kelompok ilmu Agama itu kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits, serta ditambah lagi dengan sejarah Islam (tarikh), sehingga menurut Mahmud secara berututan adalah : a. Ilmu Tauhid / Keimanan Ilmu Tauhid ini meliputi rukun iman yaitu Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab-kitab Allah, iman kepada Rosul , iman kepada hari akhir dan iman kepada Taqdir. b. Ilmu Fiqh Ilmu fiqh ini meliputi : thaharah, shalat, zakat, puasa, haji dan umroh, muamalah, mawaris, munakahat, hudud, jinayat, jihad dan aqdhiyah c. Al-Qur’an d. Hadits e. Akhlak meliputi : akhlak kepada Allah, akhlak kepada Rosul, akhlak kepada orang tua, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada teman (sesama) dan akhlak kepada lingkungan hidup. f. Tarikh Islam.

14

Zakiyah Darajat, Ilmu Pendidikian Islam, (Jakarta : Bumi Askara, 1996), h. 86

17

Ruang lingkup pembahasan tergantung pada jenis lembaga pendidikan yang bersangkutan, tujuan dan tingkat kemamapuan anak didik sebagai konsumen. 15

B. Metode Bercerita 1. Pengertian Metode Bercerita Metode digunakan sebagai suatu cara dalam menyampaikan suatu pesan atau materi pelajaran kepada anak didik. Metode mengajar yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya suatu proses belajar mengajar sehingga banyak waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh guru baru berhasil, jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan. Dr. Ahamad Tafsir memberikan pengertian metode adalah “Cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu”.
16

Sedangkan menurut Sukanto “Cerita

adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya, ayah kepada anak-anaknya, guru bercerita kepada pendengarnya. Suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata-kata yang dipergunakan untuk mencapai tujuan cerita”. 17 Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak digunakan di Taman Kanak-kanak. Sebagai suatu metode bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesauai dengan tema pembelajaran. Bila isi cerita dikaitkan dengan

Mahmud Yunus, Metode Khusus Pendidikan Agama Islam (Jakarta: PT Hidakarya Agung, 1983), Cet. ke-11, h.17 Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, ( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2003), Cet ke-7, h. 9 17 Soekanto, Seni Bercerita Islami, (Jakarta; Bina Mitra Press, 2001), Cet. ke-2, h. 9
16

15

18

dunia kehidupan anak di Taman Kanak kanak, maka mereka dapat memahami isi cerita itu, mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan dengan mudah dapat menangkap isi cerita. 18 Menurut Abudin Nata “Metode bercerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya dijadikan sebagai salah satu teknik pendidikan”. 19 Dunia kehidupan anak-anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah, dan luar sekolah. Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi pengalaman bagi anak di Taman Kanak-kanak yang bersifat unik dan menarik yang menggetarkan perasaan anak dan memotivasi anak untuk mengikuti cerita sampai tuntas. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode bercerita adalah menuturkan atau menyampaikan cerita secara lisan kepada anak didik sehingga dengan cerita tersebut dapat disampaikan pesan-pesan yang baik. Dengan adanya proses belajar mengajar, maka metode bercerita merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pesan atau materi pelajaran yang disesuaikan dengan kondisi anak didik.

2. Tujuan dan Fungsi Metode Bercerita a. Tujuan Metode Bercerita
18

Moeslichatoen R, Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak, ( Rieka Cipta : 2004), Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jaklarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), Cet. ke-4,

h.157
19

h. 97

19

Tujuan metode bercerita adalah agar anak dapat membedakan perbuatan yang baik dan buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bercerita guru dapat menanamkan nilai-nilai Islam pada anak didik, seperti menunjukan perbedaan perbuatan baik dan buruk serta ganjaran dari setiap perbuatan. Melalui metode bercerita anak diharapkan dapat membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Asnelli Ilyas bahwa tujuan metode bercerita dalam pendidikan anak adalah “menanamkan akhlak Islamiyah dan perasaan keTuhanan kepada anak dengan harapan melalui pendidikan dapat menggugah anak untuk senantiasa merenung dan berfikir sehingga dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari”. 20 Menurut Hapidin dan Wanda Guranti, tujuan metode bercerita adalah sebagai berikut : a. Melatih daya tangkap dan daya berpikir b. Melatih daya konsentrasi c. Membantu perkembangan fantasi d. Menciptakan suasana menyenagkan di kelas. 21 Menurut Abdul Aziz Majid, tujuan metode bercerita adalah sebagai berikut : a. Menghibur anak dan menyenakan mereka dengan bercerita yang baik b. Membantu pengetahuan siswa secara umum c. Mengembangkan imajinasi d. Mendidik akhlak
Asnelli Ilyas, Mendambakan Anak Soleh, (Bandung : Al-Bayan, 1997), Cet. Ke-2, h.34 Hapinudin dan Winda Gunarti, Pedoman Perencanaan dan Evaluasi Pengajaran di Taman Kanak-kanak, (Jakarta: PGTK Darul Qolam, 1996), h. 62
21 20

Melalui metode bercerita maka anak akan menyerap pesan-pesan yang dituturkan melalui kegiatan bercerita. h. Arifin. h. (Jakarta : Bumi Askara. (Jakarta : PT Asdi Mahasatya. 6 Moeslichatoen R.61 . Ilmu Pendidikan Islam.2001). Mengasah rasa 22 Sedangkan menurut Moeslichatoen R. (Bandung: Remaja Rosda Karya. dengan jelas metode bercerita disajikan kepada anak didik bertujuan agar mereka memahami. Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak. Mendidik Dengan Cerita. 24 Bercerita bukan hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga merupakan suatu cara yang dapat digunakan dalam mencapai sasaran-sasaran atau target pendidikan.170 24 23 H.20 e. menghayati dan mengamalkan ajaranajaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dan menambahkan rasa cinta anak-anak kepada Allah. Rosul dan Al-Qur’an. Cet ke1. Cet ke-1. b. Fungsi Metode Bercerita Secara umum metode berfungsi sebagai pemberi atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. bahwa tujuan metode bercerita adalah. 2004). h. 1999). Cet ke-2. Penuturan cerita yang sarat informasi atau nilai-nilai dapat dihayati anak dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari”. “salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberi pengalaman belajar agar anak memperoleh penguasaan isi cerita yang disampaikan lebih baik. 23 Dalam kegiatan bercerita anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan cerita dari guru. M. Metode cerita dapat menjadikan suasana belajar menyenangkan dan menggembirakan 22 Abdul Aziz Abdul.

h. Cet ke-1. Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan beberapa fungsi metode cerita : a. 1999). Isi cerita yang dipahami tentu saja akan membawa pengaruh terhadap anak didik dalam menentukan sikapnya. Menanamkan nilai-nilai pendidikan yang baik Melalui metode bercerita ini sedikit demi sedikit dapat ditanamkan hal-hal yang baik kepada anak didik. (Jakarta : Bumi Askara. c. Arifin. Dapat mengembangkan imajinasi anak Kisah-kisah yang disajikan dalam sebuah cerita dapat membantu anak didik alam mengembangkan imajinasi mereka. Cerita hendaknya dipilih dan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam suatu pelajaran. Ilmu Pendidikan Islam. Memahami konsep ajaran Islam secara emosional Cerita yang bersumber dari Al-Qur’an dan kisah-kisah keluarga muslim diperdengarkan melalui cerita diharapkan anak didik tergerak hatinya untuk 25 H.61 . dapat berupa cerita para Rosul atau umat-umat terdahulu yang memiliki kepatuhan dan keteladanan. b. Dengan hasil imajinasinya diharapkan mereka mampu bertindak seperti tokoh-tokoh dalam cerita yang disajikan oleh guru. 25 e. M. Membangkitkan rasa ingin tahu Mengetahui hal-hal yang baik adalah harapan dari sebuah cerita sehingga rasa ingin tahu tersebut membuat anak berupaya memahami isi cerita.21 dengan penuh dorongan dan motivasi sehingga pelajaran atau materi pendidikan itu dapat dengan mudah diberikan.

bukanlah patut disisikan dalam memilih tema. 24 26 . Di antara yang banyak itu pilih cerita yang baik dan berguna. Kisah-kisah yang ditulis hanya untuk merangsang emosi-emosi yang rendah. Mendidik anak Saleh Melalui Metode Pendekatan seni Bermain. 26 3. Berikut ini beberapa definisi mengenai tema adalah sebagai berikut : Tema-tema yang terdapat di dalam cerita banyak dikenal oleh masyarakat dan tidak semuanya baik untuk diceritakan kepada anak-anak. Jika aspek Bahroin s. Tema cerita seperti ini.pn. Aspek-aspek dan Teknik-teknik Metode bercerita a. Secara teoritis ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dalam memilih tema cerita. Cet-ke-1. Aspek Relegius (agama) Dalam memilih tema cerita yang baik. Banyak tema cerita yang diterbitkan yang tidak memiliki pendidikan dan moral. Dan untuk dewasa ini sudah banyak cerita yang diterbitkan. 1995). (Jakarta: t. aspek agama ini tidak dapat diabaikan mengingat tema cerita yang dipilih merupakan sarana pembentukan moral. Aspek-aspek tersebut di antaranya adalah a.22 mengetahui lebih banyak agamanya dan pada akhirnya terdorong untuk beramal di jalan lurus. Aspek-aspek Bercerita Salah satu unsur penting dalam seluruh rangkaian dalam efektifitas yang ditempuh dalam upaya pembentukan moral anak melalui cerita adalah memilih tema cerita yang baik untuk disampaikan kepada anak. Cerita dan Menyanyi. h.

kestabilan emosi. 35 28 . kemampuan berbahasa serta tahap perkembangan pengetahuan anak dalam mengahayati cerita tersebut. Kini upaya menenggelamkan pengaruh cerita yang temanya tidak baik dan dapat merusak aqidah dan akhlak anak. Memilih Dongeng Islami Pada Anak. Unsur mendidik.2 Sugihastuti. yaitu menghibur dan mendidik anak dalam waktu yang bersamaan. Aspek Pedagogis (Pendidikan).23 agama ini kurang diperhatikan keberadaanya. 27 J. maka dikhawatirkan anak akan memperoleh informasi-informasi yang temanya tidak baik. Abdullah.1996). Cet. 1997). baik secara langsung ataupun tidak langsung terimplisit dalam tema dongeng. bahkan ada kemungkinan cerita yang demikian dapat merusak moral anak yang sudah baik. ( Jakarta : Amanah.h. Aspek Psikologis Mempertimbangkan aspek psikologis dalam memilih tema cerita sangat membantu perkembangan jiwa anak.ke-1. Maka secara kejiwaan tema ceritapun disesuaikan dengan kemampuan berfikir. h. Bagi kalangan keluarga muslim tema cerita yang dipilih tidak hanya karena gaya ceritanya saja. (Jakarta : Pustaka Pelajar. Serba-serbi Cerita Anak-anak. Cerita yang baik dapat mempengaruhi perkembangan anak. 28 c. 27 b. melainkan harus sarat dengan nilai-nilai ajaran Islam. sehingga dari tema cerita diperoleh dua keuntungan. Mengingat anak adalah manusia yang sedang berkembang. Disinilah letak peran pencerita untuk dapat memilih tema cerita dan menyampaikan pesan-pesan didaktis dalam cerita. Pertimbangan aspek pendidikan dalam memilih tema cerita juga penting.

Cerita akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. 29 Adapun teknik penggunaan dari masing-masing bentuk metode bercerita tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Bercerita dengan alat peraga Dalam melaksanakan kegiatan digunakan alat peraga untuk memberikan kepada anak didik suatu tanggapan yang tepat mengenai hal-hal yang didengar dalam suatu cerita : a. h. 2004).Dalam bentuk cerita ini guru sebaiknya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Alat peraga diperhatikan dan diperkenalkan terlebih dahulu pada anak didik. Bercerita dengan alat peraga langsung Alat peraga dalam pengertian ini adalah beberapa jenis hewan atau bendabenda yang sebenarnya bukan tiruan atau berupa gambar-gambar. Paduan Mengajar KBK di Taman Kanak-kanak. 2) Guru menjelaskan dengan singkat melalui tanya jawab dengan mengenalkan objek yang akan diceritakan.24 b. kemampuan dan kebutuahan anak. Cet ke-1. Teknik-teknik Bercerita Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah guru selesai bercerita. 35 29 . Achmad Hidayat dan Arief Imron .. (Jakarta : Insida Lantabora. Penggunaan alat peraga langsung untuk memberikan kepada anak suatu tanggapan yang tepat mengenai hal-hal yang didengar dalam cerita.

Dalam buku cerita bergambar biasanya terdapat tulisan kalimat-kalimat pendek yang menceritakan secara singkat gambar tersebut. 30 c. (Jakarta : LPGTK Tadika Puri. 13 . 2003). b. Ada dua hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam membacakan cerita. Bercerita dengan menggunakan buku cerita Bercerita dengan buku dilakukan dengan membacakan cerita dari sebuah buku cerita bergambar. intonasi dan nada serta mimik gurulah 30 Eddy Supriadi. Srategi Belajar Mengajar. mudah dimengerti dan membawa pesan. Bercerita dengan gambar Bercerita dengan gambar hendaknya sesuai dengan tahap perkembangan anak. seperti : 1) Buku cerita dipegang dengan posisi yang dapat dilihat semua anak. 2) Ketika memegang buku guru tidak boleh melakukan gerakan-gerakan seperti bercerita tanpa alat peraga. h. 4) Gambar yang ditutup setiap kali guru memulai kembali. Kegiatan membacakan cerita ini dilakukan karena kebanyakan anak usia pra-sekolah gemar akan cerita yang dibacakan oleh guru atau orang dewasa lainya. baik dalam hal pembentukan prilaku positif maupun pengembangan kemampuan dasar. isinya menarik.25 3) Alat peraga kemudian disimpan sebelum guru bercerita dan mengatur posisi duduk anak didik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bercerita dengan gambar adalah : 1) Gambar harus jelas dan tidak terlalu kecil. 2) Guru memperhatikan gambar tidak terlalu tinggi dan harus terlihat 3) Gambar-gambar yang digunakan harus menarik.

Cerita yang membekas pada diri anak akan sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya. . c. Sebelum bercerita aturlah posisi duduk anak dan guru. 2) Bercerita dengan alat peraga Kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak-kanak dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode jika tidak ada alat peraga yang kongkrit. Guru harus menunjukan mimic muka. Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat diketahui bahwa teknik yang dipergunakan guru dalam bercerita ditentukan pula oleh bentuk cerita yang akan disajikan. d. Dalam menggunakan metode ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya adalah sebagai berikut : a.26 yang berperan di samping gambar-gambar dan kalimat-kalimat dalam buku untuk membantu fantasi anak. gerakan-gerakan tangan dan kaki serta suara sebagai pencerminan dan penghayatan secara sungguh-sungguh terhadap isi dan alur cerita. Dalam bercerita harus menggunakan bahasa yang jelas. komunikasi dan mudah dimengerti anak. Selama bercerita hindari teguran pada anak. b. Dalam kegiatan bercerita yang berperan adalah guru dengan cara bercerita melalui ekspresi yang tepat.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita Dalam proses belajar mengajar. cerita merupakan salah satu metode yang terbaik.” 31 4. Dengan adanya metode bercerita diharapkan mampu menyentu jiwa jika didasari dengan ketulusan hati yang mendalam. Metode bercerita ini diisyaratkan dalam Al-Qur’an : ˸Ϧ˶ ˴ ˸Ϩ˵ ˸ϥ˶˴ ˴ ΍˴ ˸ή˵ ˸ϟ΍΍˴ ˴ ˴ ˸ϴ˴˶Ύ˴ ˸ϴ˴ ˸ϭ˴Ύ˴ ˶ ˶ ˴ ˴ ˸ϟ΍˴ ˴ ˸Σ˴˴ ˸ϴ˴˴ ͊ ˵ ˴ ˵ ˸Τ˴  ϣ Ζ ϛ ·ϭ ϥ ˯ Ϙ άϫ Ϛ ϟ· Ϩ Σ ΃ ϤΑ κμϘ Ϧδ ΃ Ϛ Ϡϋ κϘϧ Ϧ ϧ ˼˺˻ϒγϮϳ.27 Sebagaimana Mahmud Yunus mengemukakan bahwa “Pengaruh cerita lebih besar dari pada memberikan pengajaran semata-mata dengan nasehat atau menyuruh dan melarang kepada anak didik.

Kelebihan Metode Bercerita 1. sehingga anak didik terpengaruh oleh tokoh dan topic kisah tersebut.S. Karena anak didik akan senatiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah. Kisah dapat mengaktifkan dan membangkitkan semangat anak didik. a. (Jakarta : Hida Karya Agung. 19 31 . cet. Ke-11. Mahmud Yunus.Yusuf [12] : 3 Kandungan ayat ini mencerminkan bahwa cerita yang ada dalam Al-Qur’an merupakan cerita-cerita pilihan yang mengandung nilai pedagonis. Metodik Khusus Pendidikan Agama. h. Dan sesunggunya kamu sebelum(Aku mewahyukan) adalah termasuk orang-orang yang lalai “(Q.˴ ϴ˶˶ Ύ˴ ˸ϟ΍˴ ˶ ˴˶ ˶˸Β˴ Ϧ Ϡϓ ϐ ϦϤϟ ϪϠ ϗ Artinya : "Kami menceritakan kepadamu yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu. 1983).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bercerita merupakan penyampaian materi pelajaran dengan cara menceritakan kronologis terjadinya sebuah peristiwa baik benar atau bersifat fiktif semata. (Jakarta : Ciputat Press. senang. Bersifat monolong dan dapat menjenuhkan anak didik.159-162 32 . Namun terkadang kevalidan sebuah cerita terbentur pada Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyampaikan cerita itu sendiri sehingga terjadi banyak kelemahannya. Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita. Metode bercerita ini dalam pendidikan agama menggunakan pradigma Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad. h. Kekurangan Metode Bercerita 1. 3. Pemahaman anak didik akan menjadi sulit ketika kisah itu telah terakumulasi oleh masalah lain. 3. sungkan. atau benci sehingga bergelora dalam lipatan cerita. karena mengundang untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya. Seperti takut. Cet. Dapat mempengaruhi emosi. Kisah selalu memikat. perasaan diawasi. Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.28 2. 2002). Armai Arief. 32 b. rela. Ke-1. sehingga memiliki substansi cerita yang valid tanpa diragukan lagi keabsahanny. 4. 2. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan.

Mengatur tempat duduk agar dapat mendengarkan dengan intonasi yang jelas. Penutup kegiatan bercerita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan isi cerita. 4. 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 33 Moeslichatoen R.. 3. Cit. Mengkomunikasikan tujuan dan tema dalam kegiatan anak. Op. 2.. h. 179 . Pembukaan kegiatan bercerita.. 5.29 5. guru menggali pengalaman-pengalaman anak sesuai dengan tema cerita. Menggunakan alat peraga/media untuk menarik perhatian dan menetapkan rancangan cara-cara bertutur yang dapat menggetarkan perasaan anak. Pelaksanaan Metode Bercerita Sesuai dengan tema dan tujuan langkah pelaksanaan dalam bercerita yaitu : 1.

Sumber Data Adapun sumber data yang dijadikan sebagai bahan skripsi antara lain : 1. maka dari populasi 8 orang guru diambil semua (100%). 1992). antara lain : 30 1 Herman Rasito. Ketua Yayasan 2.: Gramedia Pustaka Utama. Cara penjumlahan sampel diambil dari populasi 8 (delapan) orang guru Bait Al-Falah B. (Jakarta . Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa teknik. Kepala sekolah TK beserta dewan guru 3. Pengantar Metodologi Penelitian. Para Orang Tua Siswa C.1 Dalam penelitian yang menjadi populasi sekaligus sample adalah seluruh guru Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah yang berjumlah 8 (delapan ) orang guru. benda. h.30 A. hewan. tumbuh-tumbuhan dan peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam sebuah penelitian.. Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia. 49 . Para Siswa 4.

data tersebut direduksi dengan cara membuat abtraksi dan diedit serta dipindahkan jawaban responden dalam tabulasi dan disusun secara rinci . Dokumentasi.31 1. Angket. Dalam wawancara ini. yaitu formulir yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan secara tertulis pada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti. Setelah dipelajari. Penulis melakukan observasi langsung kesekolah untuk mendapatkan gambaran konkrit tentang pelaksanaan metode bercerita yang dilakukan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji. Penulis memperoleh data melalui penggunaan sumber-sumber tertulis yang sebagai utamanya adalah dokumen sekolah. 2. Observasi. 4. dan pertanyaan yang ada dalam angket ini yaitu untuk mengetahui tanggapan para guru tentang metode bercerita sebagai metode belajar mengajar Pendidikan Agama Islam di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. D. angket dan wawancara kemudian diedit yang selanjutnya dianalisa dan disimpulkan. Wawancara. penulis langsung melakukan wawancara kepada kepala sekolah Informasi yang diinginkan dari kepala sekolah adalah mengenai sejarah dan latar belakang berdirinya Taman Kanak-kanak Bait AlFalah beserta sarana dan prasarananya yang tersedia. Angket ini diberikan kepada seluruh guru Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah yang dijadikan responden penelitian. Teknik Analisa Data Dalam analisa ini penulis memperoleh data melalui observasi. 3.

32 dalam bentuk tabel kemudian diukur dengan perhitungan rata-rata dengan menggunakan rumusan distribusi dan frekuensi sebagai berikuat : F P = -------.X 100 % N Keterangan : P = Prosentase F = Frekuensi N = Jumlah individu BAB IV HASIL PENELITIAN .

Untuk menampung murid yang banyak itu supaya nyaman. Gambaran Umum Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah merupakan lembaga pendidikan sekolah yang didirikan pada tahun 2003 yang berlokasi di Jl. Selain bangunan ruang kelas tersedia juga tempat parkir dengan luas tanah 500 meter. maka ketua yayasan merenovasi garansi sebagai ruangan kelas yang menjadikan anak betah dengan fasilitas puzzle dan AC. Tahun kedua sampai sekarang murid di Taman Kanak-kanak Bait AlFalah bertambah banyak.48 Pondok Ranji Taman Kanak-kanak ini didirikan atas keinginan kekeluargaan. Tempat penerimaannya mampu menampung 33 . Dengan bangunan yang bertambah TK Bait Al-Falah mempunyai luas tanah 1200 meter. Pada bulan januari dengan kekompakan keluarga besar yayasan Bait Al-Falah maka diadakan pembukaan pendaftaran dengan biaya yang murah supaya para warga sekitarnya berminat. Pada waktu itu inggin mendirikan dengan tujuan membantu anak yang kurang mampu atau yatim piatu disekitar sekolah. Supratman No. Dengan dua bahasa dalam percakapan seharihari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris seiring dengan kemajuan zaman modern. Selain itu lapangan basket anak-anak dirubah menjadi ruangan kelas yang luas dengan penuh hiasan yang menarik perhatian anak didik. sebagian besar mereka kebanyakan tinggal diperumahan. Tidak lama kemudian setelah diamati sekitar sekolah kebanyakan mereka adalah orang yang mampu.33 A. Tahun pertama TK Bait Al-Falah menerima 100 murid berusia 3-5 tahun yang dibagi 6 kelas. WR.

yang argumentasinya keluar dari ketua yayasan pendiri Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah yaitu Bapak Ir. Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah sekarang ini dilengkapi dengan fasilitas yang nyaman. 1 Keberadaan Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah untuk tahun kedua berjumlah 135 anak didik yang dibagi menjadi 9 kelas. Tenaga pengajar di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah pada tahun kedua berjumlah 18 (delapan belas) orang dengan perincian 9 (sembilan) orang guru dan 7 (tujuh) orang asisten/guru bantu 1 (satu) orang kepala Sekolah dan 1 (satu) koordinator sekolah merangkap sebagai guru keliling selama proses belajar berjalan. Beliau memiliki program kegiatan yang menarik perhatian untuk menghibur anak didik penuh keceriaan. Semua ini merupakan keberhasilan yang cepat. M. Edwin Kurniawan. APV. dan Kepala sekolah dipercayakan oleh salah seorang yang sudah hidup di dunia TK 15 tahun yaitu Bapak Iwan Ototh asli orang betawi yang pakar dalam pendidikan anak pra-sekolah. Pondok Ranji : 14 Juni 2006 .34 mobil yang mewah-mewah seperti Mercedes Bend. Untuk lebih jelasnya mengenai keberadaan guru Taman Kanak-kanak Bait AlFalah dapat dilihat table dibawah ini. Tabel I 1 Iwan Ototh. Wawancara Pribadi. BMW dengan banyak pepohonan yang rindang dan suasana pandangan jalan ramai kemacetan. dan S1. Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. tempat bermain yang luas dan peningkatan kualitas tenaga pengajar.BA. Diantara mereka ada yang memiliki latar belakang PGTK.

26-03-1977 Siswa Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah pada tahun kedua berjumlah 135 anak.07-04-1975 Bandung.30-03 1981 B wangi. 26-10 1982 Tangerang. 23-06-1968 Ijazah Terakhir PGA Strata-1 Aliyah Strata-1 D-3 D-3 Strata-1 PGTK PGTK Strata-1 Strata-1 PGTK Strata-1 Strata-1 Strata-1 D-3 PGTK Jabatan Kep-Sek Koordinator Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Asisten Fatkhul Khoiriya Ponorogo 02-06-1980 Lilik Awaliz Dianah Wirda Sudarsi Tati Herawati Jakarta. 06-01 1981 Lampung. 22-08. 4-5 tahun kelompok A 5-6 tahun kelompok B untuk lebih jelas lagi dapat dilihat pada table dibawah ini. Terdiri dari 3 (tiga) jenjang pendidikan yaitu pendidikan untuk anak usia 3-4 tahun di kelompok bermain. 23-06-1968 Trenggalk. 23-07-1971 Sukoharjo. 22-05-1977 Jakarta. Tabel 2 . 06 -06-1975 Jakarta.31-01-1985 Tangerang.35 Dafatar guru-guru Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 17 18 Nama Guru Iwan Ototh Rina Setiyowati Amalia Husna Yuanhita Intan P Nurul Hediazfi Sri Suharsi Afidah Agustin Dian Almarina Titin Wahyu Fabiola Regina Tempat Tgl Lahir Jakarta.07-01-1981 Jakarta.19-08-1984 Jakarta. 13-08-1981 Jakarta.1985 Jakarta. 10-10-1980 Jakarta.

Seketaris Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah.Supratman No:48 Pondok Ranji Kecamatan Ciputat Tangerang. Taman Kanak-kanak ini berada di tengah-tengah antara perbatasan Pondok Ranji dan Bintaro dekat jalan raya yang tempatnya strategis untuk dijangkau. perpustakaan (library). Wawancara Pribadi. ruang ketrampilan (Art). Di sekitar Taman Kanak-kakak ini terdapat perumahan dan ruko yang mewah. Selain itu Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah mempunyai Alvina Ayunda Batubara. 2 Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah terletak di Jalan WR. Fasilitas tersebut biasanya dipergunakan siswa untuk kegiatan-kegiatan sehari-hari yang ditentukan sesuai dengan tema pembelajaran. Pondok Ranji : 14 Juni 2006 2 . ruang pertemuan (Center Hall) atau musholla.36 Jumlah Siswa Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Kelas KB A B Jumlah Perempuan 11 Anak 20 Anak 18 Anak 49 Anak Laki-laki 19 Anak 25 Anak 42 Anak 86 Anak Jumlah 30 45 60 135 Anak Selain itu Taman Kanak-kankak Bait Al-Falah juga mempunyai seorang pegawai bagian kebersihan dan pramu bakti. Di samping itu proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah tidak terganggu walau dengan banyaknya kendaraan yang melewati sekolah ini sampai terjebak macet sebagian besar wali murid memiliki alat transportasi pribadi masing-masing. Selain itu kegiatan proses belajar mengajar juga didukung oleh fasilitasfasilitas seperti ruang memasak (Cooking).

Semua guru dijadikan populasi sekaligus sample. Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah bagaikan rumah persinggahan anak didik. Maka Taman Kanak-kanak diusahakan menjadi tempat yang indah dan menyenangkan bagi kehidupan anak. Maka sarana yang disediakan tersebut hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut : . Keberadaannya mendukung dan memperlancar berlangsungnya proses pembelajaran. B. Sarana dan Prasarana Taman Kanak-kanak merupakan lingkungan pertama bagi anak-anak di luar keluarganya. angket studi dokumentasi dan melihat langsung proses pengajaran metode bercerita di TK Bait Al-Falah. Data-data penelitian tentang metode bercerita sebagai penanaman agama Islam pada anak usia pra-sekolah di TK Bait Al-Falah diperoleh dari wawancara.37 lapangan yang sering disebut dengan tempat bermain anak-anak ketika jam istirahat dan upacara mingguan. Deskripsi Data Penulis mengambil data dari guru-guru yang mengajar di TK Bait Al-Falah Pondok Ranji. 1. Sarana dan prasarana merupakan hal yang penting dalam proses belajar mengajar. sedangkan angket diberikan kepada guru-guru. Untuk itu maka gedung Taman Kanak-kanak dilengkapi sarana dan prasarana yang memenuhi syarat dengan usia anak. Wawancara dilakukan dengan Kepala Sekolah.

kemampuan dan usia anak. b. Sarana proses mengajar dan kelengkapannya digunakan oleh Taman Kanakkanak Bait Al-Falah mengacu pada garis-garis program pengembangan. Sarana tersebut dapat membantu anak dalam melakukan kegiatan yang sesuai dengan minat.38 a. Sarana tersebut dapat membantu guru dalam berbagai metode atau teknik mengajar dalam proses belajar mengajar. yaitu : . sehingga sarana yang disediakan adalah sebagai berikut : Tabel 3 Sarana dan Prasarana di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah No 1 2 3 4 6 7 8 9 10 11 12 Sarana Meja guru dan murid Kursi guru dan murid Papan tulis Computer Loker dan rak sepatu Alat permainan (ayunan dan prosotan) Lemari besar untuk guru Perpustakaan dan unit kesehatan Kran untuk cuci tangan dan wudhu Kamar mandi Tempat parkir dan penunggu Jumlah 36 144 9 5 135 / 9 6 9 1 5 4 1 Keterangan Baik Baik Baik Baik Baik 1 Rusak 1 Rusak Baik Baik Baik Baik Selain itu di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah juga memiliki sarana untuk lima sudut.

STRUKTUR ORGANISASI Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah KEPALA SEKOLAH SEKRETARIS KOORDINATOR BENDAHARA PS TK A TK B GURU GURU GURU SISWA SISWA SISWA 2. buku cerita Islami. Sudut Ketuhanan seperti peralatan sholat. Sudut Kelurga seperti piring. Sudut Alam Sekitar seperti tanaman hias.39 1. gelas. media kreatif dan lain-lain. sendok. 4. air dan lain-lain. Kegiatan Belajar Mengajar Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah di lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia 3-6 tahun dengan sebutan . garpu. serbet dan lain-lain. binatang. mangkok. Iqro’ dan lain-lain. Sudut Pembangunan seperti balok-balok bangunan. gambar dan tulisan praktek sholat. Sudut Kebudayaan seperti alat musik. kerucut berwarna dan lain-lain 5. 2. 3.

Absen . Membaca do’a: Al-Fatihah dan Ayat Kursi c.30 WIB sampai dengan 11. karya wisata. Bahasa sehari-hari di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah mempunyai kelebihan tersendiri yaitu menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa inggris selama proses pembelajaran berjalan. Dalam proses mengajar satu hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah metode mengajar.15 WIB. Kegiatan belajar mengajar tersebut adalah 1.40 anak pra-sekolah. Berbaris sesuai kelas atau kelompok b. Membaca ikrar d. Pendidikan pada tingkat pra-sekolah ini pada hakikatnya adalah belajar sambil bermain sehingga siswa dapat menyerap pelajaran tanpa mereka sadari. Hal ini penting karena yang dihadapi adalah anak-anak yang masih kecil dengan sifat yang cepat bosan dan senang menggangu teman yang lain. Kegiatan pembukaan: a. Dari empat metode ini yang sering digunakan dan digemari untuk anak karena dapat memotivasi anak didik dengan dunia mereka. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak-kank Bait Al-Falah dimulai pukul 07. Mengucap salam sebelum belajar di mulai e. Secara umum metode yang biasa digunakan di Taman Kanak-kanak bait AlFalah adalah metode bercerita. proyek. sosiodrama. Maka dari itu diharapkan guru dapat mengatasi setiap situasi yang terjadi di dalam maupun di luar kelas.

b. selesai makan siswa berdoa kembali. 3. kegiatan Inti (pemberian materi pelajaran)yang terdiri dari pengenalan surat-surat pendek.41 2. Membaca do’a akan pulang. Menyanyikan lagu-lagu. nasehat dan pengetahuan agama. Kegiatan penutup yang terdiri dari : a. Dengan metode bercerita materi pelajaran yang disampaikan akan lebih mudah dipahami dan cepat diserap oleh anak-anak. guru dapat menyajikan materi pelajaran tersebut dengan menggunakan berbagai metode seperti metode bercerita. Dalam proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah selalu diperhatikan tingkat minat dan kemanpuan anak didik. 4. yang kemudian di akhiri dengan pembacaan buku cerita dan ketrampilan (Art) oleh ibu guru. Istirahat atau makan. di mana anak akan antusias . pemberian tugas (Scince) sesuai tema. c. berdoa dan menggunakan tangan kanan ketika makan. doa-doa pendek. Pada usia Taman Kanak-kanak pembiasaan kehidupan beragama memang sangat penting karena masa inilah masa paling penting tepat untuk memberikan pondasi bagi kehidupannya kelak. sebelum makan siswa dibiasakan mencuci tangan. Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah menjalin komunikasi dengan para wali murid agar hal-hal yang sudah di berikan di sekolah ditindaklanjuti atau dibiasakan juga dirumah. seperti ketika menyampaikan materi pelajaran yang berisi bimbingan. Memberi salam Setiap hari anak-anak Taman Kanak-kanak bait Al-Falah selalu dibiasakan melakukan hal-hal yang baik dan Islami.

yaitu memerankan tokoh-tokoh atau benda-benda di sekitar anak dengan tujuan untuk mengembangkan daya khayal dan penghayatan terhadap bahan pengembangan yang di laksanakan. yaitu cara mempertunjukan atau memperagakan suatu obyek atau proses dari suatu kejadian atau peristiwa. Metode Khusus Pengembangan Kemampuan Berbahasa Di Taman Kanak-kanak. h. yaitu kegiatan belajar mengajar dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas yang telah disediakan oleh guru. Metode demontrasi. 4. 5. yaitu cara bertutur dan menyampaikan cerita atau memberikan penerangan kepada anak didik secara lisan. Metode bercakap-cakap. Metode bercerita (ceramah ). 1998). Metode pemberian tugas.42 dalam mendengarkan cerita apalagi ditambah improvisasi yang menarik dan berbagai intonasi. 3. yaitu kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan-bahan kegiatan pengembangan dan kemanpuan yang sedang dibahas. 3 Dalam kegiatan belajar mengajar guru dapat menggunakan metode tersebut secara bervariasi yang disesuaiakan dengan situasi dan kondisi. Metode bermain peran . Beberapa metode yang dipergunakan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah antara lain : 1. 8 . 2. yaitu suatu cara bercakap-cakap dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan anak atau anak dengan guru. 6. (Jakarta. Untuk membantu 3 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Metode karya wisata.

Perasaan atau emosi. Kemanpuan bermasyarakat atau bersosialisasi b. pensil warna dan lain sebagainya yang semua itu dipergunakan sesuai dengan fungsinya. Keimanan dan ketaqwaan. c. buku mewarnai. Program pendidikan di Taman Kanak-kanak bukan sekedar mengerjakan pokok bahasan yang telah tertera pada kurikulum. (Jakarta. tetapi ditunjang pula dengan kreatifitas guru memberikan improvisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak yang sesuai dengan kondisi anak itu sendiri. Kemanpuan berbahasa 2. 13 4 . kertas. d. e. f. Dengan tersedianya alat-alat tersebut anak menjadi senang dalam menjalankan tugasnya dan memudahlkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. 4 2. lem.43 kegiatan belajar di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah juga disediakan alat peraga dan alat bantu laiannya. Disiplin. Diantara alat peraga yang disediakan adalah gunting. Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan bagi usia pra-sekolah atau anak berusia anrata 4 sampai 6 tahun. pensil. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Bercerita di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Adapun jenis materi pelajaran yang disampaikan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ada dua program pengembangan. 1996). h. yaitu : a. Kemanpuan daya fakir 3. Pengembangan kemanpuan dasar yang meliputi : 1. Moral Pancasila . penghapus. Pengembangan bidang perilaku meliputi : b. Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak. Kemanpuan jasmani. Kemanpuan keterampilan 4. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

karena pada usia pra-sekolah condong untuk meniru. Maka setiap cerita yang disampaikan. Tujuan ide bercerita itu sendiri berupa nasehat guna memperbaiki sikap anak didik. diharapkan agar anak didik tidak merasa dinasehati dan dilarang oleh guru. didengar. menyanyi dan bercerita. agar jangan sampai mereka menemukan tauladan tauladan yang tidak baik dalam cerita-cerita tersebut. bimbingan dan himbauan. sehingga diharapkan nasehat. majalah atau yang berasal dari pengalaman dan pengamatan guru dengan memperhatikan kondisi anak didik. dilihat dan dibaca. bimbingan dan himbauan tersebut dapat berbekas dalam diri anak yang dapat dijadikan pedoman dalam tingkah laku. Ketiga metode inilah yang sangat digemari oleh anak-anak usia pra-sekolah karena sesuai dengan dunia mereka. . Anak usia pra-sekolah tertarik pada cerita-cerita pendek yang berkisah tentang peristiwa yang sering dialaminya atau dekat dengan kehidupannya sehari-hari.44 Secara umum metade yang digunakan di Taman Kanak-kanak adalah bermain. bukubuku cerita bergambar. Dengan metode bercerita guru dapat memberikan nasehat. Para Guru di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah juga menggunakan metode bercerita dalam memberikan pendidikan agama Islam pada anak didiknya. Dalam menyampaikan cerita. oleh anak hendaknya mempunyai mutu dan nilai-nilai pedagogis. guru mengambil sumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini sangat membantu perkembangan keagamaannya. apalagi didukung oleh kreatifitas yang dimiliki para guru.

Akan tetapi untuk dapat diterima atau tidaknya cerita oleh sebuah anak tergantung kepada peranan guru dalam mengespresikan cerita. tetapi ditunjanag pula oleh kreatifitas guru memberikan inprovisasi dalam mengembangkan daya imajinasi anak sesuai dengan kondisi anak itu sendiri.45 Dalam kegiatan proses belajar mengajar hal yang terpenting dan utama tergantung dari peran seorang guru dalam mengekspresikan serita. Analisa Data 1. Para guru di Taman Kanak Bait Al-Falah diberi kebebasan untuk mengekspresikan cerita sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimpang dari aspek pedagogis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di Taman Kanak-kanak. Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi pra-sekolah atau anak berusia 4 sampai 6 tahun. Program pendidikan di Taman Kanak-kanak bukan sekedar mengajarkan pokok bahasan yang tertera pada satuan kegiatan harian atau mingguan. Ketika seorang guru akan menyajikan sebuah cerita maka anak didik dengan tertib dan antusias mendengarkan apa yang diceritakan oleh guru. . C. Secara umum anak-anak di Taman Kanak-kanak sangat senang dan antusias untuk mendengarkan cerita. Respon Anak Didik terhadap Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Bercerita di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji.

Tabel 4 Penggunaan Media atau Alat dalam Menerangkan Pelajaran Agama Islam No 1 2 Selalu Sering Jawaban Frekuensi 2 4 Persentase 25 50 .46 Para guru di Taman Kanak-kanak diberi kebebasan untuk mengespresikan cerita sesuai dengan keadaan lapangan selama tidak menyimpang dari aspek pedagogis dan prinsip-prinsip belajar mengajar di Taman Kanak-kanak. Untuk mengetahui respon anak tersebut penulis melakukan pengamatan langsung terhadap anak didik ketika berlangsungnya pelaksanaan metode bercerita dan memberikan angket kepada guru kelas diselenggarakan rumus : F P = -------. Dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita penulis juga ingin mengetahui respon anak terhadap pelaksanaan pendidikan aagama Islam melalui metode bercerita.X 100 % N Keterangan : P = Prosentase F = Frekuensi N = Jumlah Populasi Di bawah ini adalah data-data hasil pengamatan penulis mengenai respon anak terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji yang dibuat dalam table-tabel.

serta ada sebagian guru (25%) kadang-kadang menggunakan alat peraga dalam menyampaikan pelajaran agama Islam. Tabel 5 Ketertarikan Siswa Terhadap Materi Pendidikan Agama Islam yang Diajarkan Melalui Metode Bercerita No 1 2 3 4 Tertarik Cukup Tertarik Kurang Tertarik Tidak Tertarik Jumlah Jawaban Frekuensi 6 2 8 Persentase 75 25 100 . Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian guru sering menggunakan alat peraga atau media dalam penyampaikan materi pelajaran agama.47 3 4 Kadang-kadang Tidak Perna Jumlah 2 8 25 100 Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa ada sebagian guru (50%) sering menggunakan alat peraga dalam menyampaikan pelajaran agama Islam (25%) yang selalu menggunakan alat peraga dalam menyampaikan pelajaran agama Islam.

. serta ada sebagian guru (37.48 Dari data pada tabel di atas para guru mengatakan bahwa sebagian anak didik (75%) yang tertarik dengan materi pendidikan agama Isalam yang di ajarkan oleh guru.5%) dalam penyampaian cerita terlebih dahulu mempersiapkan materi yang akan diberikan terhadap anak didik. Tabel 6 Aktivitas Guru Sebelum Melalui Cerita No 1 2 3 4 Jawaban Mempersiapkan Materi Memilih Cerita Yang Baik Kadang-kadang Tidak Pernah Jumlah Frekuensi 5 3 8 Persentase 62.5%) dalam penyampaian cerita terlebih dahulu memilih tema cerita yang baik. serta ada sebagian guru mengatakan (25%) anak didik cukup tertarik dengan materi pendidikan agama Islam yang diajarkan oleh guru.5 100 Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa ada sebagian guru (62. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar siswa tertarik dengan materi pendidikan agama Islam yang di ajarkan oleh guru.5 37. Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar guru mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada siswa.

49 Tabel 7 Jenis Penyampaian Materi Cerita No 1 2 3 4 Cerita Nabi Cerita Tokoh dalam Al-Qur’an Cerita Binatang Cerita Tumbuh-tumbuhan Jumlah Jawaban Frekuensi 5 1 2 8 Persentase 62.5 25 100 Dari data pada tabel di atas diketahui bahwa ada sebagian guru (62.. Tabel 8 Kesenangan Anak dalam Mendengarkan Cerita No 1 2 3 Jawaban Sangat Senang Cukup Senang Kurang Senang Frekuensi 3 5 Persentase 3.5 12.25 - . Hal ini menunjukan bahwa sebagian besar guru dalam penyampaian cerita lebih banyak mengambil isi cerita tentang cerita Nabi dan mereka ikut berperan aktif dalam bercerita.5%) menyampaikan isi cerita mengambil sumber dari cerita tokoh dalam Al-Qur’an . serta ada sebagian guru (25%) menyampaikan isi cerita mengambil sumber dari cerita binatang.5%) menyampaikan isi cerita mengambil sumber dari cerita Nabi-nabi. serta ada sebagian guru (12.75 6.

.75%) anak sangat senang mendengarkan cerita. karena guru-guru mampu menyampaikan cerita dengan cara yang menarik. serta ada sebagian guru mengatakan bahwa anak-anak TK Bait al-Falah (50%) cukup aktif dalam kegiatan bercerita atau bercakap-cakap. Tabel 9 Keaktifan Siswa dalam Kegiatan Bercerita No 1 2 3 4 Jawaban Sangat Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Jumlah Frekuensi 4 4 8 Persentase 50 50 100 Dari tabel di atas diketahui bahwa anak didik (50%) sangat aktif dalam kegiatan bercerita atau bercakap-cakap.50 4 Tidak Senang Jumlah 8 100 Dari tabel di atas diketahui bahwa anak murid (62. serta ada sebagian guru yang memperhatikan murid (3.5%) guru mengatakan cukup senang dalam mendengarkan cerita yang disampaikan oleh gurunya. Hal ini menunjukan bahwa anak-anak cukup aktif dan sangat aktif dalam kegiatan bercerita atau bercakap-cakap.

5 62.5 25 Dari tabel di atas diketahui bahwa anak didik (50%) anak-anak selalu memperhatikan ketika guru bercerita atau bercakap-cakap.51 Tabel 10 Keadaan Anak Ketika Guru Bercerita No 1 2 3 4 Jawaban Selalu Memperhatikan Cukup Memperhatikan Kadang-kadang Memperhatikan Tidak Memperhatikan Jumlah 8 100 Frekuensi 4 3 2 Persentase 50 37. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak dalam kegiatan bercerita selalu memperhatikan gurunya karena isi cerita menarik perhatian anak didik. Tabel 11 Penggunaan Bahasa dalam Menyampaikan Materi Cerita No 1 2 3 4 Jawaban Bahasa Daerah Bahasa Asing Bahasa Indonesia Lain-lain 1 5 3 12.5%) cukup memperhatikan ketika guru bercerita. sedangkan (25%) guru mengatakan anak-anak kadang-kadang memperhatikan ketika guru bercerita atau bercakap-cakap.5 25 Frekuensi Persentase . serta ada sebagian guru mengatakan bahwa anak-anak TK Bait al-Falah (37.

serta sebagian guru ada yang menggunakan bahasa lain-lain. Berdasarkan berbagai tempat yang .5 12. (12.5%) guru lebih cenderung memilih bahasa bahasa Indonesia. sebagian kecil guru (12.5%) guru lebih senang bercerita di tempat yang nyaman atau tempat lain-lain.5 37. Hal ini sebagian besar dari guru-guru menggunakan bahas Indonesia untuk menyampaikan isi cerita dengan jelas.5%) ada salah satu guru yang suka menncari suasana indah dengan menngunakan di halaman sekolah sebagai tempat bercerita.5 100 Dari table di atas diketahui (37. dan (12.5 37. dan (37.5%) ada salah satu guru yang suka mencari suasana indah dengan menggunakan teras atau di bawah pohon di luar sekolah sebagai tempat bercerita.5%) guru lebih suka bercerita di dalam kelas. Tabel 12 Penggunaan Tempat dalam Bercerita No 1 2 3 4 Jawaban Di halaman Sekolah Di dalam Kelas Di luar Kelas Lain-lain Jumlah Frekuensi 1 3 1 3 8 Persentase 12.5%) yang selalu menggunakan bahas Asing.52 Jumlah 8 100 Dari tabel di atas mengenai penggunaan bahas (62.

Tabel 14 Pemahaman Anak dengan Menggunakan Metode Bercerita No 1 2 3 4 Paham Cukup Paham Kurang Paham Tidak Mampu Jawaban Frekuensi 6 3 Persentase 75 37. Tabel 13 Lamanya Penyampaian Cerita No 1 2 3 4 15 Menit 20 Menit 35 Menit 40 Menit Jumlah 8 100 Jawaban Frekuensi 4 4 Persentase 50 50 Dari table di atas diketahui bahwa empat guru (50%) dalam menyampaikan cerita banyak membutuhkan waktu 15 menit dan (50%) empat dari guru yang lainya membutuhkan waktu 20 menit dalam menyampaikan cerita.5 .53 dapat dimanfaatkan untuk bercerita maka sebagian guru lebih memilih bercerita di dalam kelas dan tempat lain-lain yang nyaman untuk anak didik.

dan sebagian guru mengatakan (37.54 Jumlah 8 100 Dari tabel di atas pada umumnya di Taman Kanak-kanak Bait Al-falah (75%) guru sebagian besar menggunakan metode bercerita anak-anak lebih senang dan paham.5 37. kemauan anak melaksanakan pesan-pesan agama melaluimetode bercerita dapat dilihat pada tabel dibawah ini.5%) anak-anak mamapu menjawab pertanyaan setelah selesai bercerita. Hal ini guru semanggat dan berusaha agar anak-anak dapat memahami menghayati isi cerita yang pesan-pesan agama yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari.5 Dari tabel di atas guru mengatakan (62. Tabel 15 Kemamapuan Anak dalam Menjawab Pertanyaan No 1 2 3 4 Mampu Cukup Mampu Kurang Mampu Tidak Mampu Jumlah 8 100 Jawaban Frekuensi 5 3 Persentase 62.5) guru menggunakan metode bercerita cukup paham bagi anak didik. Serta sebagian (37.5%) anak didik cukup mampu untuk menjawab pertanyaan setelah guru bercerita. .

Kegembiraan ini tercipta karena kreasi para guru dalam penerapan metode cerita membuat suaranya berubah-rubah.5%) guru mengatakan bahwa anak-anak Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah yang kadang-kadang melaksanakan pesan-pesan agama yang telah disampaikan. Hasil Pelaksanaan Metode Bercerita Metode bercerita merupakan metode yang sangat diminati oleh para murid.5%) mengatakan bahwa anak-anak di Taman Kanak-kanak Bait AlFalah tidak melaksanakan pesan-pesan agama yang telah disampaikan oleh gurunya dan sebagian kecil (12.5 Berdasarkan data yang diperoleh dari tabel di atas. Hal ini terlihat dari kegembiraan yang mereka ekspresikan ketika mendengarkan guru bercerita. 2.55 Tabel 16 Kemampuan Anak Melaksanakan Pesan-pesan Agama yang Disampaikan Melalui Metode Bercerita No 1 2 3 4 Jawaban Melaksanakan Tidak Melaksanakan Kadang-kadang Lain-lai Jumlah 8 100 Frekuensi 1 7 Persentase 12. Menyesuaikan dengan tuntutan tokoh dalam . diketahui bahwa hampir seluruh guru (87.5 87.

ditambah lagi dengan penyampaian yang dikemas secara penuh kesan saat menyampaikan sehingga tercipta cerita-cerita yang penuh makna dan dapat berguna bagi murid-murid yang mendengarkan. Dalam hal ini salah seseorang guru mengatakan: “ dalam menyampaikan sebuah isi tema cerita para guru memperoleh respon positif yang diperlihatkan oleh para murid dengan sikap selalu antusias dan senang saat guru mengkisahkan sebuah ceruta. sehingga aspek rohani anak . Pealaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah dengan metode bercerita sangat efektif dalam rangka penanaman nilai-nilai agama Islam pada anak. Menjalin hubungan baik dengan para guru sangatlah penting dalam menciptakan perubahan prilaku anak didik. Disamping itu jika cerita yang disampaikan oleh guru menyenangkan dan berkesan dalam diri anak. Guru selalu menghubungkan setiap materi cerita yang akan disajikan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Dengan demikian bahwa penerapan metode bercerita mempunyai pengaruh yang sangat positif dalam kegiatan proses belajar mengajar terhadap perkembangan keagamaan anak. Dengan diterimanya penguatan dari orang tuanya anak akan mengerjakan setiap hal yang diperintakan atau sebaliknya meninggalkan segala hal yang dikatakan tidak baik. sesampainya di rumah anak akan menceritakan kembali kepada orang tuanya untuk mendapatkan penguatan dari apa yang telah diceritakan oleh gurunya. Banyak di antara orang tua murid menyaksikan perubahan positif prilaku anak-anak yang sesuai dengan cerita yang mereka dengar dari gurunya.56 cerita yang dikisahkan.

57 tersentuh dan ia akan patuh melakukan segala apa yang diperhatikan oleh gurunya tanpa terpaksa. .

VCD cerita Islami) ditunjang oleh kreativitas guru yang menarik. Radio.58 BAB V PENUTUP A. 58 . Kesimpulan Adapun kesimpulan yang penulis peroleh dari hasil penelitian ini sebagai berikut : 1. Pelaksanaan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita di Taman Kanakkanak Bait Al-Falah dengan cara menyajikan cerita-cerita bersifat umum yang bernuansa Islami membuat anak didik memperhatikan dan mendengarkan dengan tenang ketika guru menjelaskan pelajaran yang didukung oleh alat peraga dan media (TV. b. Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memberikan pendidikan agama Islam melalui metode bercerita antara lain : a. Mendidik anak-anak untuk senantiasa sopan santun dan berbakti kepada orang tua melalui cerita yang bernuansa Islami tentang anak soleh guru membaca langsung dari buku cerita. Tape. baik terhadap teman temannya maupun terhadap para gurunya melalui bercerita ataupun bercakap-cakap dengan menggunakan media boneka. Selalu membiasakan anak-anak pada hal-hal yang baik dan Islami selama berlangsung kegiatan proses belajar mengajar di dalam atau di luar kelas.

peran pihak sekolah. Saran .saran Ada beberapa hal yang disampaikan oleh penulis sebagai saran : 1. seperti buku-buku cerita. Sehingga mereka dapat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. gambar berseri atau kemampuan guru berimprovisasi dalam menciptakan suasana yang menyenangkan. Membiasakan anak-anak dengan berdo’a ketika memulai kegiatan agar terbiasa dekat dengan Tuhannya melalui buku cerita dan gambar-gambar. Hal ini didukung alat Bantu. B. menjadi insan kamil yang selamat kehidupannya di dunia dan akhirat. Hendaknya para guru bekerja sama dengan siswa dan orang tua dalam membimbing. 2. sehingga anak terbiasa amalan-amalan yang baik sesuai dengan ajaran Islam. orang tua dan lingkungan masyarakat sangat membantupertumbuhan . membina mereka sehingga mereka selalu memiliki budi pekerti yang baik. 3. 3. Pendidikan agama Islam yang ditanamkan kepada anak didik melalui metode bercerita sanggat membantu anak-anak untuk mengetahui dan memahami ajaranajaran dalam Islam. Kepada guru-guru di TK Bait Al-Falah hendaknya mampu membimbing anak didik dengan lebih maksimal tanpa merasa cukup dengan apa yang ada dalam upaya menanamkan dan membiasakan nilai-nilai agama pada anak didik. Dalam menghadapi zaman yang penuh perkembangan.59 c.

4.60 kepribadian anak. Untuk mendukung keberhasilan proses pembelajaran dengan metode bercerita. Maka cerita akan lebih bernakna. Karenaitu hendaknya sekolah dan masyarakat mampu memainkan peranannya tersebut dengan baik. . jika dilengkapi dengan media yang sesuai dan memadai.

Kadang-kadang . oleh karena itu saya mengharapkan bantuan Ibu Guru untuk mengisi angket ini dengan membubuhkan tanda silang ( X ) pada jawaban yang sebenarnya. Apakah murid-murid anda tertarik dengan materi Pendidikaan Agama Islam yang diajarkan ? a. Selalu c. Ibu Guru yang Terhormat.61 ANGKET UNTUK GURU KELAS DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH Bismillahirrahmaanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb. Nama Responden Jabatan :……………………………… :……………………………… Pertanyan ! 1. Tertarik b. Cukup tertarik c. d. Kurang tertarik Tidak tertarik 2. Saya ucapkan terima kasih. Apakah anda menggunakan media atau alat peragaa dalam menerangkan pelajaran agama ? a. Penelitian ini adalah dalam rangka penyelesaian skripsi. Atas kesedian Ibu Guru.

Cerita binatang Cerita tumbuh-tumbuhan 5. Bahasa Indonesia lain-lain 9. Apakah murid anda berperan aktif dalm kegiatan bercerita ? a. Sangat senang Cukup senang c. b. Bahasa apakah yang anda gunakan dalam menyampaikan cerita ? a. Aktivitas apakah yang anda siapkan sebelum memulai cerita ? a. Memilih tema cerita yang baik lain-lain 4. d. Kurang aktif Tidak aktif 7. Cerita apa saja yang anda sampaikan pada anak didik ? a. Selalu memperhatikan Cukup memperhatikan c.62 b. Mencatat hal-hal yang baik c. Sangat aktif Cukup aktif c. d. d. Kurang senang Tidak senang 6. Apakah murid-murid anda senang mendengarkan cerita yang anda sampaikan dalam menyampaikan materi pelajaran ? a. d. Dimana biasanya guru memilih tempat yang sesuai untuk bercerita ? . apakah murid-murid anda memperhatikan ? a. Bahasa asing c. Kadang-kadang memperhatikan Tidak memperhatikan 8. b. Tidak pernah 3. Certa Nabi b. Mempersiapkan materi b. Ketika guru sedang mengajar dengan bercerita. Bahasa daerah b. Sering d. d. Cerita tokoh dalam Al-qur’an c. b. d.

c. b. Paham b. Cukup mampu c.63 a. Kurang mampu Tidak mampu 13. Cukup paham c. Apakah murid anda melaksanakan pesan agama yang disampaikan melalui metode bercerita ? a. Untuk mengembangkan potensi beragama pada anak. apa yag biasanya dilakukan pihak sekolah ? a. d. Di halaman sekolah b. 15 menit b. Melaksanakan b. Mampu b. Kurang paham Tidak paham 12. Berapa lama biasanya guru menyampaikan cerita ? a. d. lain-lain 10. d. Kadang-kadang Lain-lain 14. Apakah murid-murid anda memahami materi yang disampaiakn dengan menggunakan metode bercerita ? a. d. Di dalam kelas c. 35 menit 40 menit 11. Menyediakan sarana dan prasarana Menyediakan buku-buku untuk anak Mengunjungi tempat-tempat yang memperlihatkan kekuasaan Tuhan . Apakah murid-murid anda mampu menjawab pertanyaan yang diberikan ? a. Diluar kelas d. 20 menit c. Tidak melaksanakan c.

Bagaimana perasaan anda mengajar dengan menggunakan metode bercerita ? a. Semua dilakukan 15. d. Sangat puas c. Puas . Cukup puas T b.64 d.

Program Kegiatan Belajar Taman Kanakkanak. 2002 Arifin. Syekh. Indonesia : PT Daru Ihya AlKutub Al-Arabiyah.I Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an.. Wawancara Pribadi. Akhlaq Lil Banin. J. M. Toko Gunung Agung. Ke-1 Ayunda. Armai.. Mendidik Anak Dengan Cerita. Ulumul Qur’an. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Insida Lantabora.Ed. 1994 Al-Qosimi. Jakarta: CV Ruhama. Rosihan. Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah.. 1996 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997 Anwar. Jakarta: Bumi Askara. Departemen Agama R. Jakarta. bin. Jakarta: Amanah. Jakarta: Bumi Askara. 1996. Jakarta. M. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan. 2001 ________. Ahmad Hidayat. Metode Khusus Pengembangan . Jakarta: Bulan Bintang. Ilmu Pendidikan Islam.65 DAFTAR PUSTAKA Ahmad Barja. Bandung: Remaja Rosdakarya. Alvina. 1999 Arief Imron. Drs. Panduan Mengajar KBK di Taman Kanak-kanak. Surabaya : PT Makhtabah Muhammad Nahban bin Ahmad. M.. 1996 ________. Jakarta. Zakiyah. Bandung : Pustaka Setia. Drs. 1993 Abdullah. Memilih Dongeng Islami Pada Anak. Jamaludin.. Pondok Ranji: 14 Juni 2006 Daradjat..Ag. Jakarta: Ciputat Press. Prof. Ilmu Pendidikian Islam. Batubara. 2001. Prof.. 1996. H. Cet. 2000 Arief. Jakarta. Umar. 1995 ________. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2004 Aziz. 1994 Al-Qur’an dan Terjemahnya. Kemampuan Berbahasa. Seketaris Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Abdul. PT.. DR. Mauidhatul Mu’minin. Kesehatan Metal.

Jakarta: Bumi Mitra Press. Jarkarta: LPGTK Tadika Puri. DAN Hapinudin dan Pedoman Perencanaan dan Evaluasi Pengajaran di Taman Kanak-kanak. R. Jakarta: Kalam Mulia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Filsafat Pendidikan Islam. Cet. Prof. Srategi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada. Serba-serbi Cerita Anak-anak. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Sugihastuti. Ke-1 Supriadi. Jakarta: Rieka Cipta. Jakarta: Pustaka Pelajar. Drs.. Jakarta: PGTK Darul Qolam. Eddy. Metode Pengajaran Di Taman Kanak-kanak. 1992. Wawancara Pribadi. 2001. M A. 1997.. Abuddin. AlMa’arif. 1994 Rasito.. Prof. 1986.. D. Ototh. 2000. Metodologi Pengajaran Agama Islam. 1994. Marimba. Bandung: PT. 2001. M. Haroen. Usman. 2005. Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah. Tafsir. 2003. Drs. Nasroen. Bahroin. Mendidik anak Saleh Melalui Metode Pendekatan seni Bermain.. Soekanto. Filsafat Pendidikan Islam. Ilmu Pendidikan Islam. Asnelli. Pengantar Metodologi Penelitian. Cerita dan Menyanyi.. 1996. 1996 . 1996. Drs. Iwan.66 Ilyas. Ushul Fiqh 1. Jamaludin dan. Moeslichatoen.. S. 1995) Shidiq.Ag. Seni Islam sebagai Media Pendidikan. Ramayulis. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Sapiuddin. Ahmad. Seni Cerita Islami. Nata. Said. DR. Mendambakan Anak Soleh. Herman. Jakarta: PGTK Darul Qalam. Jakarta: AMRI. Pondok Ranji: 14 Juni 2006. 2004.pn. Diah. 2003 Syukisnawati. Drs. Ahmad. Bandung: Al-Bayan. DR. Winda Gunarti.Remaja Rosdakarya. Bandung: PT. (Jakarta: t.. Jakarta: PT. Tarikh Tasyri’Sejarah Pembentukan Hukum Islam. Jaklarta: Logos Wacana Ilmu.

Zuhairini. H. Jakarta: Hida Karya Agung.. . Dra. Metodik Khusus Pendidikan Agama.67 Yunus. Jakarta: Bulan Askara. 1983. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Mahmud.

Tanya : Jawab : Apakah tujuan didirikan Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ? Tujuan didirikan Taman Kanak-kanak ini agar kita memiliki wadah untuk dapat mempersiapkan anak-anak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.Winarno dan Ibu Hj. untuk mempersiapkan kesekolah dasar (SD). pertama kelompok bermain yang sering disebut dengan “Play Group”. Edwin Kurniawan. Dan diamanatkan kepada putranya yaitu. Tanya : Jawab : Kenapa Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah menggunakan dua bahasa ? Karena dengan kemajuan zaman modern ini.BA. didirikan oleh Bapak H. M. Sri Wilujeng dengan usaha bersamasama kekuatan keluarga. anak pada usia pra-sekolah saat ini lebih cepat terangsang daya pikir mereka.68 BERITA WAWANCARA DENGAN KEPALA SEKOLAH TAMAN KAKAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI Tanya : Jawab : Bagaimana sejarah berdirinya Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ? Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah berdiri pada tahun 2003. Ir. Tanya : Jawab : Ada berapa jenjang pendidikan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ? Di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ada tiga jenjang yaitu. khusus usia .

Tanya : Bagaimana kegiatan belajar mengajar di Taman Kanak-kanak Bait AlFalah ? Jawab : Kegiatan belajar mengajar di TK Bait Al-Falah pada umumnya sama dengan TK lain dengan kegiatan seperti. pemberian tugas. penyampaian tema. menyanyi dan bermacam-macam tepuk tangan. binatang. syahadat (ikrar). penutup(pulang). keluargaku. panca indra. kebersihan kesehatan dan keamanan. Tanya : Jawab : Ada berapa materi yang disampaikan ? Dalam pelajaran di Taman Kanak-kanak dikenal dengan “Tema” seperti dibawah ini yang digunakan : aku. pakaian. makanan dan minuman. makin bertambah hari demi hari adanya penambahan ruangan dan mainan untuk . bermain(istirahat). akan tetapi ada kelebihan yang dimiliki di TK Bait Al-Falah yaitu setiap hari jum’at diadakan praktek ibadah beserta do’a-do’a shalat yang akan dipraktekan. rumah. Tanya : Apakah semua sarana dan prasarana di Taman Kanak-kanak bait Al-Falah sudah terpenuhi ? Jawab : Syukur Alhamdulillah.69 3-4 tahun. Ketiga khusus kelompok TK B khusus usia 5-6 tahun. baris berbaris. makan bersama. Kedua khusus kelompok TK A untuk usia 4-5 tahun. diadakan kotak amal (uang amal) untuk melatih anak didik beramal dari masa kanak-kanak bermanfaat bagi mereka. sekolah. semua sarana dan fasilitas sudah terpenuhi. kendaraan. memasuki ruangan kelas sesuai kelompok. berdo’a sebelum belajar. tanaman. ketrampilan.

Tanya : Bagaimana perkembangan Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah setiap Tahunnya ? Jawab : Alhamdulillah setiap tahunnya jumlah murid bertambah meningkat.70 membantu anak didik bisa bertambah senang. metode bercakap-cakap. Alhamdulillah untuk keadaan anak . metode karyawisata. metode proyek. Tanya : Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar metode apa saja yang dipergunakan di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ? Jawab : Dengan banyaknya kegiatan yang ada di TK Bait Al-Falah maka cukup banyak metode yang digunakan seperti : metode bercerita. karena berbagai macam suku yang ada. hal ini karena sistem yang diterapkan dengan kedisiplinan dan dua bahasa yang dimiliki untuk bahasa pengantar. Tanya : Bagaimana keadaan guru dan anak didik di Taman Kanak-Kanak Bait AlFalah ? Jawab : Keindahan ada pada guru-guru di TK Bait Al-Falah semuanya cukup humoris dan ada juga yang bisa melucu untuk menghibur ketika mereka dalam keadaan lelah (capek) dengan canda tawa bersama tidak terasa. untuk alat peraga dalam bercerita cukup banyak dan banyak manfaatnya. adanya remedial khusus siswa anak TK B yang belum bisa supaya dapat mengejar teman-teman yang sudah bisa untuk mempersiapkan ke SD yang unggulan di sekitas Bintaro Jaya dan Ciputat. dengan bernyanyi dan bertepuk tangan bersama-sama.

mengahafal rukun Iman dan rukun Islam. 14 Juni 2006 Kepala Sekolah TK Bait Al-Falah Pondok Ranji ( Iwan Ototh ) .71 didik di TK bait Al-Falah sangat bermacam-macam karakter yang mereka miliki dari yang aktif sampai pasif. Tanya : Usaha apa saja yang dilakukan oleh kepala sekolah agar anak didik berprilaku agamis ? Jawab : Membiasakan mereka dengan sebelum memulai kegiatan dengan membaca do’a dan mengakhiri juga dengan do’a-do’a yang sudah diterapkan kepada anak didik sehari-hari. ayat-ayat pendek dan bacaan do’a-do’a dalam praktek shalat. Pondok Ranji. akan tetapi kondisi fisik dan psikis yang sehat. beramal setiap hari jum’at.

72 METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI Skripsi Diajuhkan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menempuh Ujian Sarjana Pendidikan Agama Islam Oleh NOVI ROMAWATI NIM : 202011000962 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2007 .

4.. 4.. D.73 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………………………. 3. Pengertian Pendidikan Agama Islam ……………………. Dasar Pendidikan Agama Islam …………………………. i iv vi 1 1 5 5 6 6 9 9 9 11 15 16 17 17 19 23 28 DAFTAR ISI ………………………………………………………………… BAB I DAFTAR TABEL …………………………………………………………… PENDAHULUAN ………………………………………………. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita …………….. Hakikat Metode Bercerita ……………………………………. Tujuan dan Fungsi Metode Bercerita …………………….... Tujuan Pendidikan Agama Islam …………………………. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………… C. Sistematika Penulisan …………………………………………. A. BAB II LANDASAN TEORITIS ………………………………………. 2. Pengertian Metode Bercerita ……………………………… 2.. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………. A... 3. Pendidikan Agama Islam ……………………………………… 1. . Aspek-aspek dan Teknik-teknik Bercerita ………………. E.. Metode Pembahasan ………………………………………….. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ………………. 1. B. Latar Belakang Masalah ……………………………………… B..

.. Kesimpulan ………………………………………………… B. 2. Tujuan Penelitihan …………………………………………….. Analisa Data …………………………………………………. 2. D. Teknik Analisa Data …………………………………………. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………... Sumber Data …………………………………………………. Hasil Pelaksanaan Metode Bercerita ……………………... B. BAB IV HASIL PENELITIAN …………………………………………… A. B. BAB V PENUTUP …………………………………………………. 1. Saran ………………………………………………………. C. BAB III METODE PENELITIAN ………………………………………. Pelaksanaan Metode Bercerita pada Pendidikan Agama Islam di TK Bait Al-Falah ………………………………………... Populasi dan Sampel ………………………………………..74 5... Gambaran Umum TK Bait Al-Falah Pondok Ranji …………….. 2 31 31 31 31 32 33 34 34 38 38 41 45 46 46 57 59 59 62 . C. A. E. Respon Anak Didik terhadap Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Bercerita di Taman Kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji ……………………………. Keadaan Belajar Mengajar ………………………………… 3.. Sarana dan prasarana ……………………………………….. Deskripsi Data ………………………………………………… 1.. A. Pelaksanaan Metode Bercerita ……………………………..

75 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN –LAMPIRAN .

Ahmad Syafi’ie Noor ) NIM : 150 0094403 ( Drs.Ag ) NIM : 150299477 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H / 2006 . M. Sapiudin Shidiq. H.76 METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI Skipsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Untuk Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam Oleh NOVI ROMAWATI NIM 20201100962 Di bawah Bimbingan Pembimbing I Pembimbing II ( Drs.

Jenis Penyampaian Materi Cerita ……………………………….. Kemampuan Anak Melaksanakan Pesan-pesan Agama yang Disampaikan Melalui Metode Bercerita ……………. 54 Pemahaman Anak dengan Menggunakan Metode Bercerita…….... 56 54 55 .. Penggunaan Media atau Alat dalam Menerangkan Pelajaran Agama Islam …………………………………………………… 36 37 38 48 Tabel 5 Ketertarikan Siswa Terhadap Materi Pendidikan Agama Islam yang Diajarkan Melalui Metode Bercerita ……………………. Kesenangan Anak dalam Mendengarkan Cerita ……………….. Jumlah Siswa Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ……………... Keaktifan Siswa dalam Kegiatan Bercerita ……………………. Penggunaan Tempat dalam Bercerita …………………………… 53 Lamanya Penyampaian Cerita ………………………………….... 48 49 50 51 51 52 53 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Aktivitas Guru Sebelum Memulai Cerita ………………………..77 DAFTAR TABEL Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Daftar Guru-guru Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ………. Sarana dan Prasarana di Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah ….... Kemampuan Anak dalam Menjawab Pertanyaan ………………... Penggunaan Bahasa dalam Menyampaikan Materi Cerita ……. …. Keadaan Anak Ketika Guru Bercerita ………………………….

KATA PENGANTAR . Alhamdulillah kesulitan-kesulitan yang penulis hadapi dapat teratasi. MA. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Bapak Drs. M. Dr. Sungguh tidak sedikit kesulitan-kesulitan yang penulis hadapi dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Sapiudin Shidiq. namun berkat adanya bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. M. 2.78 ϢΣ ϟ Ϧ ϟ Ϳ Ϣ Α ˶ ˸ϴ˶ ή˴ ΍˶ Ϥ˸Σή˴ ΍˶ ΍˶ ˸δ˶ Puji dan syukur penulis panjatkan ke-hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam. Bapak Prof. Bapak Drs. Ahmad Syafi’ie Noor dan Bapak Drs.Ag. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk mencapai gelar sarjana Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya dan membimbing penulis dengan ketulusan hati dan senantiasa memberikan nasehat selama penyusunan skripsi ini. MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan. sehingga dapat diselesaikan skripsi yang berjudul “ Metode Bercerita Sebagai Penanaman Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Pra-Sekolah Di Taman Kanak-Kanak Bait Al-Falah Pondok Ranji”. Abdul Fattah Wibisono. Dede Rasyada. Bapak Drs. Sapiudin Shidiq.Ag. 3. Secara khusus penulis ucapkan terima kasih kepada : 1.

sehingga skripsi ini akan bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Rindut. 6. semoga segala bantuan yang diberikan kepada penulis mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun. goniscong. Suto. 7. Ummi Naskhatin dan semua keluarga besar Moch Nadjih (Alm). Yuk Pink).Lela &Anis. yang telah memberikan motivasi yang sangat bermakna sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Hatta. nena bago. nadiul.79 4. Mas Agus. 5. Fadlor. Zumi. (M. untuk temenku “Neneng” yang semangat mengajak keperpustakaan dan bersedia memberikan solusi. Pimpinan perpustakaan Pusat UIN Syarif Hidayatullah dan pimpinan perpustakaan Fakultas Tarbiyah beserta stafnya yang telah melayani penulis dengan menyediakan buku-buku yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini. anak-anak An-Nur C3. Teman-teman seperjuangan kelas B/PAI angkatan 2002. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih dari sempurna. Taman Kanak-kanak Bait Al-Falah yang telah menjadi inspirasi penulisan skripsiini. Teman sejatiku Mas Yosep Albanat. Jakarta 28 September 2006 . iyuz. serta para dewan guru dan kepala sekolah yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian dan meluangkan waktu untuk mengisi angket. Akhirnya hanya Sang Ilahi jualah ikhlas berserah diri. Zain.

80 Penulis .

Dede Rosyada. Khalimi. MA NIP. Dr.Ag NIP. Penguji I Prof. 150 011 336 Drs. Mawardi Sutedjo.81 PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi yang berjudul “METODE BERCERITA SEBAGAI PENANAMAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI TAMAN KANAK-KANAK BAIT AL-FALAH PONDOK RANJI’’ ini telah diujikan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 17 November 2006 dan telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam Program Strata Satu ( SI ) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam. Jakarta. H. M. 150 202 343 Penguji II Drs. A. 17 November 2006 Ssidang Munaqasyah Dekan/ Ketua Merangkap Anggota Pembantu Dekan I. Dr. 150 231 356 Anggota. H. M. H. MA NIP. Sekretaris Merangkap Anggota Prof.S NIP. 150 267 202 . Aziz Fahrurrozi.

82 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful