P. 1
Dampak Positif Dan Negatif Putusan Mahkamah Konstitusi No

Dampak Positif Dan Negatif Putusan Mahkamah Konstitusi No

|Views: 1,079|Likes:
Published by Muhammad Maulana

More info:

Published by: Muhammad Maulana on May 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO.

46/PUU-VIII/2010 TERHADAP STATUS ANAK DILUAR NIKAH
KURNIAWAN TRI WIBOWO, SH ADVOKAT

Perkawinan

merupakan

bagian

hidup

yang

sakral,

karena

harus

memperhatikan norma dan kaidah hidup dalam masyarakat. Namun kenyataannya, tidak semua orang berprinsip demikian, dengan berbagai alasan pembenaran yang cukup masuk akal dan bisa diterima masyarakat, perkawinan sering kali tidak dihargai kesakralannya. Pernikahan merupakan sebuah media yang akan mempersatukan dua insan dalam sebuah rumah tangga. Pernikahan adalah satusatunya ritual pemersatu dua insan yang diakui secara resmi dalam hukum kenegaraan maupun hukum agama. Pelaksanaan perkawinan di Indonesia selalu bervariasi bentuknya. Mulai dari perkawinan lewat Kantor Urusan Agama (KUA), perkawinan bawa lari, sampai perkawinan yang populer di kalangan masyarakat, yaitu kawin siri. Perkawinan yang tidak dicatatkan atau yang dikenal dengan berbagai istilah lain seperti „kawin bawah tangan‟, „kawin siri‟ atau „nikah sirri’, adalah perkawinan yang dilakukan berdasarkan aturan agama atau adat istiadat dan tidak dicatatkan di kantor pegawai pencatat nikah (KUA bagi yang beragama Islam, Kantor Catatan Sipil bagi nonIslam). Istilah sirri berasal dari bahasa arab sirra, israr yang berarti rahasia. Kawin siri, menurut arti katanya, perkawinan yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi atau rahasia.[1] Kawin Siri tidak disaksikan orang banyak dan tidak dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah. Kawin itu dianggap sah menurut agama tetapi melanggar ketentuan pemerintah.[2] Akibat lebih jauh dari perkawinan yang tidak tercatat

adalah, anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak menuntut nafkah, biaya pendidikan ataupun warisan dari ayahnya.[3] Anak yang lahir di luar perkawinan atau sebagai akibat hubungan suami isteri yang tidak sah, hanya mempunyai hubungan nasab, hak dan kewajiban nafkah serta hak dan hubungan kewarisan dengan ibunya serta keluarga ibunya saja, tidak dengan ayah/bapak alami (genetiknya), kecuali ayahnya tetap mau bertanggung jawab dan tetap mendasarkan hak dan kewajibannya menurut hukum Islam. Perkawinan siri tidak. dapat mengingkari adanya hubungan darah dan keturunan antara ayah biologis dan si anak itu sendiri. Begitu juga ayah/bapak alami (genetik) tidak sah menjadi wali untuk menikahkan anak alami (genetiknya), jika anak tersebut kebetulan anak perempuan. Jika anak yang lahir di luar pernikahan tersebut berjenis kelamin perempuan dan hendak melangsungkan pernikahan maka wali nikah yang bersangkutan adalah wali Hakim, karena termasuk kelompok yang tidak mempunyai wali. Selain nikah siri adapula perkawinan secara biologis atau disebut zina. Zina juga mengakibatkan akibat hukum yaitu munculnya anak luar kawin. Nama penyanyi Machica Mochtar mungkin akan dikenang sebagai orang yang membawa perubahan pada UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP). Selama 38 tahun berlaku, diwarnai suara pro dan kontra, UUP nyaris tak tersentuh. Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010, anakanak yang dilahirkan dari hasil nikah siri status hukumnya sama dengan anak luar kawin hasil zina yakni hanya punya hubungan hukum dengan ibunya (lihat Pasal 43 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Hal ini membawa konsekuensi, anak yang lahir dari kawin siri dan juga zina, secara hukum negara tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya. Hal tersebut antara lain akan terlihat dari akta kelahiran si anak.Dalam akta kelahiran anak yang lahir dari perkawinan siri tercantum bahwa telah dilahirkan seorang anak bernama siapa, hari dan tanggal kelahiran, urutan kelahiran, nama ibu dan tanggal kelahiran ibu

mengingat doktrin mengelompokkan anak tidak sah dalam 3 (tiga) kelompok. Positif ketika para pelaku nikah siri dan zina mendapatkan haknya untuk mewaris. 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No. 46/PUU-VIII/2010. Anak luar kawin yang berhak mewaris tersebut merupakan anak luar kawin dalam arti Sempit. Anak luar kawin yang berhak mewaris adalah sesuai dengan pengaturannya dalam Pasal 280 KUHPerdata. sesuai dengan penyebutan yang diberikan oleh pembuat undang-undang dalam Pasal 272 jo 283 KUHPerdata (tentang anak zina dan sumbang). yaitu anak luar kawin. Akan tetapi. sisi buruknya hal ini merusak tatanan hukum yang telah lama dilaksanakan. Untuk mengkaji hal tersebut lebih lanjut. Sekalipun . berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada. kemudian Mahkamah Konstitusi (MK) melalui putusan Mahkamah Konstitusi No. memang memberikan akibat hukum lain-lain (sendiri-sendiri) atas status anak-anak seperti tersebut di atas. anak zina. maka selain digunakan sebagai tugas terstruktur. dan anak sumbang. konsekuensi dari tidak adanya hubungan antara ayah dan anak secara hukum juga berakibat anak luar kawin tidak mendapat warisan dari ayah biologisnya.(menyebut nama ibu saja. Selain itu. 46/PUU-VIII/2010 tentang pengujian pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan menyatakan anak yang lahir di luar kawin mempunyai hubungan hukum dengan ayah biologis. Demikian diatur dalam Pasal 55 ayat (2) huruf a PP No. kajian ini juga ditujukan untuk menggambarkan dampak positif dan negatif Putusan Mahkamah Konstitusi No. Pembagian seperti tersebut dilakukan. Implikasi putusan Mahkamah Konstitusi tersebut tentunya memiliki implikasi positif dan negatif. Anak luar kawin yang diakui secara sah adalah salah satu ahli waris menurut undang-undang yang diatur dalam KUHPerdata berdasarkan Pasal 280 jo Pasal 863 KUHPerdata. tak lagi hanya kepada ibu dan keluarga ibu. tidak menyebut nama ayah si anak). karena undang-undang sendiri. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

sedangkan mengenai kapan anak itu lahir tidak relevan. bahwa anak zina berbeda dengan anak sumbang dalam akibat hukumnya. Demikian pula berdasarkan ketentuan Pasal 283.anak zina dan anak sumbang sebenarnya juga merupakan anak luar kawin dalam arti bukan anak sah. Adapun anak sumbang adalah anak-anak yang dilahirkan dari hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. dapat diketahui anak luar kawin menurut Pasal 280 dengan anak zina dan anak sumbang yang dimaksud dalam Pasal 283 adalah berbeda. Terhadap anak sumbang. undang-undang dalarn keadaan tertentu memberikan perkecualian. tetapi kalau dibandingkan dengan Pasal 280 dengan Pasal 283 KUHPerdata. kepada mereka yang dengan dispensasi diberikan kesempatan untuk saling menikahi (Pasal 30 ayat (2) KUHPerdata) dapat mengakui dan mengesahkan anak sumbang mereka menjadi anak sah (Pasal 273 KUHPerdata). Dengan demikian anak luar kawin dalam arti sempit adalah anak yang dilahirkan dari hasil hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Anak zina adalah anak-anak yang dilahirkan dari hubungan luar nikah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan di mana salah satu atau kedua-duanya. . yaitu apakah pada saat itu salah satu atau kedua-duanya (maksudnya laki-laki dan perempuan yang mengadakan hubungan badan di luar nikah) ada dalam ikatan perkawinan dengan orang lain atau tidak. yang antara keduanya berdasarkan ketentuan undang-undang ada larangan untuk saling menikahi (Pasal 31 KUHPerdata). Perbedaan antara anak luar kawin dan anak zina terletak pada saat pembuahan atau hubungan badan yang menimbulkan kehamilan. anak-anak yang demikianlah yang bisa diakui secara sah oleh ayahnya (Pasal 280 KUHPerdata). Perkecualian seperti ini tidak diberikan untuk anak zina. terikat perkawinan dengan orang lain. dalam arti. dihubungkan dengan Pasal 273 KUHPerdata. yang kedua-duanya tidak terikat perkawinan dengan orang lain dan tidak ada larangan untuk saling menikahi.

[5] Sedangkan anak-anak lainnya. Untuk mengetahui siapa ayah dari seorang anak.U. anak luar kawin dalam arti sempit ini yang dapat diakui. Sedangkan dalam Islam anak luar kawin disebut sebagai anak zina. Bagi seseorang. yakni anak yang mempunyai ibu dan bapak yang tidak terikat dengan perkawinan. anak dianggap selalu mempunyai hubungan hukum dengan ibunya. Dengan pihak bapak. Sedangkan anak luar kawin dalam arti sempit. sedangkan terhadap pihak ibunya secara umum dapat dikatakan tidak terlalu susah untuk mengetahui siapa ibu dari anak yang dilahirkan tersebut.[4] Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. anak sumbang dan anak luar kawin lainnya. Anak-anak yang dilahirkan dari hubungan biologis ini dan ditumbuhkan sepanjang pekawinan adalah anak-anak sah (wettige of echte kinderen). artinya tidak termasuk anak zina dan anak sumbang. dinamakan anak tidak sah. Anak luar kawin dalam arti luas meliputi anak zina. Anak tidak mempunyai hubungan hukum dengan pihak ayah yang telah membenihkannya. masih dapat menimbulkan kesulitan.[6] Berdasarkan Pasal 272 K. terutama adalah dalam hubungannya dengan pihak bapaknya. Jadi terhadap anak yang lahir di luar nikah terdapat hubungan biologis hanya dengan ibunya tetapi tidak ada hubungan biologis dengan ayahnya. dengan perkawinan suami isteri memperoleh keturunan. atau anak di luar nikah juga sering disebut anak anak alami atau onwettige onechte of natuurlijke kinderen. Jadi antara bapak dan ibu serta anak ada hubungan biologis. Anak zina adalah anak yang lahir dari suatu hubungan kelamin antara lakilaki dengan perempuan yang tidak terikat dalam nikah yan sah meskipun ia lahir . anak tidaklah demikian.Perdata pengertian anak luar kawin dibagi menjadi dua yaitu dalam arti luas dan sempit. Masalah kedudukan anak ini.H. Yang dimaksudkan dengan “keturunan” disini adalah hubungan darah antara bapak.Kedudukan anak diatur di dalam Undang-Undang Perkawinan dalam Bab IX Pasal 42 sampai Pasal 43. ibu dan anak-anaknya.

baik yang berkenaan dengan pendidikan maupun warisan. Sedangkan anak yang dilahirkan di luar perkawinan. Jadi hubungan kekerabatan hanya berlangsung secara manusiawi bukan secara hukum. Anak zina itu tidak mempunyai hubungan nasab dengan laki-laki yang menyebabkan ia lahir. Sehingga secara yuridis formal ayah tidak wajib memberikan nafkah kepada anak itu. Anak luar kawin tersebut tidak dapat dinasabkan kepada bapaknya sehingga ia tidak akan mempunyai hubungan baik secara hukum maupun kekerabatan dengan bapaknya.dalam suatu perkawinan yang sah dengan laki-laki yang melakukan zina atau lakilaki lain.[7] Menurut Undang-Undang Perkawinan dalam Pasal 42 Anak sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. 9 Tahun 1975 yang merupakan peraturan pelaksanaan Undang-Undang tersebut tidak mengatur mengenai status anak tersebut. Artinya si anak tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayahnya. Dalam Undang-Undang Perkawinan Pasal 43 ayat (2) dikatakan bahwa kedudukan anak luar kawin selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. walaupun secara biologis anak itu adalah anaknya sendiri. namun perbedaan antara keduanya adalah bahwa anak zina telah jelas statusnya dari awal. seperti lahir dari perempuan yang tidak bersuami sedangkan anak li‟an lahir dari perempuan yang bersuami. merupakan anak luar kawin dan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya (Pasal 43 Undang-Undang Perkawinan). Akan tetapi sampai saat ini Peraturan Pemerintah yang dimaksud tersebut belum juga diterbitkan. namun tidak diakui anak tersebut oleh suaminya. Meskipun anak zina itu mempunyai status hukum yang sama dengan anak li‟an yaitu sama-sama tidak sah. Dengan adanya ketentuan dalam Undang-Undang Perkawinan yang menyatakan bahwa anak luar kawin hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya maupun juga antara keluarga ibu dengan anak yang dilahirkan di luar .

tetapi tidak ada hubungan perdata dengan laki-laki yang membenihkannya. dimana orang tua juga mempunyai kewajiban untuk mengurus dan menafkahi anak mereka. Hukum Islam. Dr. asas mana didasarkan pada asas yang terdapat dalam hukum adat. Anak itu mempunyai hubungan perdata dengan ibu yang melahirkannya dan keluarga dari ibunya itu. Wirjono dalam bukunya Hukum Waris di Indonesia. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya saja karena itu anak luar kawin hanya akan memperoleh . Undang-Undang Perkawinan tidak mengenal anak luar kawin terhadap ibunya. serta berhak untuk memperoleh warisan yang timbul baik antara ibu dan anak maupun dengan keluarga ibu dan anak. sudah selayaknya jika seorang anak menjadi ahli waris pertama yang didahulukan untuk mendapat bagian warisan dari orang tuanya.[9] Maka dari itu kedudukan seorang anak dalam masalah hubungan kewarisan sangat penting karena anak merupakan keturunan atau penerus dari orang tuanya. Tetapi dengan adanya pembedaan status anak antara anak sah dengan anak luar kawin diakui maka tentu saja pembagian diantara keduanya juga berbada. anak-anak dari si peninggal warisan merupakan golongan yang terpenting dan yang utama. antara lain menyebutkan bahwa oleh karena mereka (anak-anak) pada hakikatnya merupakan satu-satunyan golongan ahli waris.[8] Kalau kita lihat di dalam lingkungan Hukum Adat. oleh karena anak yang lahir di luar perkawinan adalah anak dari ibu yang melahirkannya. artinya sanak kelurga tidak menjadi ahli waris apabila si peninggal warisan meninggalkan anak-anak. maka secara hukum anak tersebut berada dalam asuhan dan pengawasan ibunya sehingga timbul kewajiban dari ibunya untuk memelihara dan mendidik.perkawinan tersebut. Memang bagaimanapun juga lahirnya anak tidak dapat dielakkan bahwa anak tersebut adalah anak dari ibu yang melahirkannya. Tidak mungkin anak lahir tanpa ibu. maupun di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW).

158). Pengaturan mengenai Hukum Waris di Indonesia masih beraneka ragam karena adanya sifat pluralistik dengan berlakunya tiga sistem hukum kewarisan. Dengan ketentuan tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa mengenai Hukum Waris yang terdapat dalam K.U. Dikarenakan bahwa sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat di dunia ini memiliki kondisi kekeluargaan yang berbeda-beda. 1933 No.warisan dari ibunya maupun keluarga ibunya saja. dinyatkan tidak berlaku”. dan peraturanperaturan lain yang mengatur tentang perkawinan sejauh setelah diatur dalam undang-undang ini. . khususnya bagi Warga Negara Indonesia keturunan Tionghoa dan Eropa dan ketentuan dalam K. Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijk Ordonnantie Christen Indonesiers S.U. Tidak berhak atas warisan dari bapaknya karena tidak mempunyai hubungan perdata dengan bapaknya.Perdata hanya berlaku bagi mereka yang tunduk atau menundukkan diri kepada Kitab Undang-Undang hukum Perdata.Perdata masih dapat diterapkan karena belum ada UndangUndang yang secara khusus mengaturnya. 1898 No. Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de gemengde Huwelijken S. dari inilah keadaan warisan dari masyarakat itu tergantung dari masyarakat tertentu yang ada kaitannya dengan kondisi kekeluargaan serta membawa dampak pada kekayaan dalam masyarakat tersebut. 74).1 Tahun 1974 yang mengatakan: “Untuk perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan berdasarkan atas Undang-Undang ini.H. yaitu Hukum Waris Adat.H. maka dengan berlakunya Undang-Undang ini ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Kitab undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek). Hukum Waris Islam.[10] Mengenai masalah kewarisan di Indonesia belum ada Undang-Undang yang mengatur secara spesifik mengenai hal tersebut. maka berdasarkan ketentuan Pasal 66 UU No. dan Hukum Waris Kitab UndangUndang Hukum Perdata.

Dalam K. itu tergantung dari berapa adanya anggota keluarga yang sah. yaitu dengan cara diakuinya anak tersebut oleh ayahnya. harus dihitung dan dikeluarkan lebih dahulu barulah sisanya dibagi antara ahli waris yang lainnya.H.Perdata hak waris anak luar kawin yang diakui diatur pada Pasal 862-866 dan Pasal 867 ayat (1). dalam arti hubungan hukum itu hanya ada antara anak luar kawin yang diakui dengan ayah ibu yang mengakuinya saja (Pasal 872 K. Jika ada ahli waris dari golongan pertama maka bagian anak yang lahir di luar perkawinan tersebut sepertiga dari bagian yang akan diperolehnya seandainya ia dilahirkan dari perkawinan yang sah. Namun pengakuan anak luar kawin ini hanya diperuntukkan bagi golongan keturunan Tionghoa yang diatur dalam K.U. hukum di Indonesia memberikan solusi agar anak luar kawin dapat memperoleh bagian warisan dari ayahnnya.[11] Bagian seorang anak yang lahir di luar perkawinan.H. hanya mereka yang mempunyai hubungan hukum dengan pewaris yang berhak mewaris.Perdata.Mengenai masalah kewarisan bagi anak luar kawin. tetapi diakui (erkend natuurlijk). Ahli Waris anak luar kawin timbul jika pewaris mengakui dengan sah anak luar kawin tersebut.H. Hubungan hukum antara anak luar kawin dengan ayah ibunya. Dalam K.U. bagiannya menjadi separoh dari bagian yang akan diperolehnya seandainya ia dilahirkan dari perkawinan yang sah.H.U. sehingga anak yang lahir di luar perkawinan itu. seolah-olah sisa warisan itu utuh.U.Perdata dianut prinsip bahwa. Pembagian warisan. Hubungan hukum tersebut bersifat terbatas. timbul sesudah ada pengakuan dari ayah ibunya tersebut. harus dilakukan sedemikian rupa.Perdata). Dan jikalau ia bersama-sama mewaris dengan anggotaanggota keluarga dari golongan kedua. Mengenai anak-anak yang lahir di luar kawin dan tidak diakui terdapat 2 golongan:[12] . Syarat agar anak luar kawin dapat mewaris ialah bahwa anak tersebut harus diakui dengan sah oleh orang tua yang membenihkannya.

U.H. Adapun status dari anak-anak tersebut bukanlah sebagai waris tapi sebagai seorang yang berpiutang. 2. serta jumlah dan keadaan para waris yang sah. Pasal 873 K. barang itu kembali kepada keturunan sah dari ayah atau ibu.H. Anak-anak yang lahir dalam zinah. Mengenai hak waris anak-anak ini Pasal 867 K.H.H.[13] Pasal 868 K.U. kalau ini tidak ada.Perdata menentukan.U. . yaitu anak yang lahir dari perhubungan orang lelaki dan orang perempuan. 1. Dan dalam Pasal 871 menjelaskan bahwa pasal ini mengatur barang-barang yang berasal dari warisan orang tuanya dahulu. sedangkan salah satu dari mereka atau keduaduanya berada di dalam perkawinan dengan orang lain. bahwa mereka itu tidak dapat mewaris dari orang yang membenihkannya. Mereka hanya dapat nafkah untuk hidup. Bapak dan/atau ibu yang mengakuinya dengan saudara-saudara beserta keturunannya. dan barang-barang itu masih terdapat dalam wujudnya.Perdata menentukan bahwa nafkah ditentukan menurut kekayaan si ayah atau si ibu. sedangkan di antara mereka terdapat larangan kawin. Anak-anak sebagaimana tersebut di atas memuat Pasal 283 K.Perdata tidak dapat diakui. kalau ini tidak ada. karena masih sangat dekat hubungan kekeluargannya (Pasal 30). 3.U. Ketentuan ini juga berlaku bagi tuntutan untuk minta kembali sesuatu barang yang telah dijual tapi belum dibayar. yaitu anak yang lahir dari perhubungan orang lelaki dan orang perempuan.Perdata ayat 2 mengatakan jika anak luar kawin meninggal dunia yang dapat mewaris adalah: Keturunannya dan isteri (suami)nya. 2. Keluarga yang terdekat dari ayah dan/atau ibu yang mengakuinya. Anak-anak yang lahir dalam sumbang. Dimana jika anak luar kawin pernah mewaris barang-barang dari orang tuanya.1. Adapun barang-barang lainnya dapat diwaris oleh saudara-saudaranya atau keturunannya. maka jika ia meninggal dunia dan ia tidak meninggalkan keturunan atau isteri (suami).

salah satu diantaranya adalah prinsip persamaan dihadapan hukum. merumuskan pandangannya tentang unsur-unsur dan asas-asas Negara Hukum itu secara baru yang meliputi 5 (lima) hal. perlindungan." Scheltema.Pengaturan mengenai kedudukan anak luar nikah yang diatur dalam ketentuan Pasal 43 UU Nomor 1 Tahun 1974 selama ini dianggap tidak cukup memadai dalam memberikan perlindungan hukum dan cenderung diskriminatif. status anak di luar nikah atau anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya tanpa adanya tanggung jawab dari ayah biologisnya. terkandung (a) adanya jaminan persamaan bagi semua orang di hadapan hukum dan pemerintahan. atau memdiskriminasikan orang atau kelompok orang tertentu. berlakunya persamaan (Similia Similius atau Equality before the Law) dalam negara hukum bermakna bahwa Pemerintah tidak boleh mengistimewakan orang atau kelompok orang tertentu. dan (b) tersedianya mekanisme untuk menuntut perlakuan yang sama bagi semua warga Negara. Dampak positif Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 menyatakan bahwa Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang berbunyi "Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya" bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu . Di dalam prinsip ini. Dengan demikian Hukum harus memberi perlindungan dan kepastian hukum yang adil terhadap status setiap anak yang dilahirkan dan hak-hak yang ada padanya. Putusan MK ini juga mencerminkan prinsip Persamaan di hadapan hukum (equality before the law) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28D ayat (1) yang berbunyi : "Setiap orang berhak atas pengakuan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. jaminan. termasuk terhadap anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah menurut peraturan perundang-undangan.

maka logika hukumnya Putusan ini menimbulkan konsekuensi adanya hubungan nasab anak luar nikah dengan bapak biologisnya. Anak itu hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya.pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya. oleh karena itu maka mempunyai akibat hukum sebagai berikut: (a). Dampak negatifnya putusan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 dinilai melanggar ajaran Islam dan tatanan hukum islam. status anak diluar nikah dalam kategiri yang kedua. tidak ada saling mewaris dengan bapaknya. waris dan lain sebagainya. bapak tidak dapat menjadi wali bagi anak diluar nikah. (c). karena hubungan nasab merupakan salah satu penyebab kerwarisan. Jadi hubungan yang timbul hanyalah secara manusiawi. Bapaknya tidak wajib memebrikan nafkah kepada anak itu. "Anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah. tidak ada hubungan nasab dengan bapaknya. Hukum islam menyatakan bahwa. disamakan statusnya dengan anak zina dan anak li‟an. maka ia tidak berhak dinikahkan oleh bapak biologisnya. baik dalam bentuk nafkah. bukan secara hukum. Hal ini tentunya berlaku apabila terlebih dahulu dilakukan pembuktian melalui ilmu pengetahuan dan teknologi seperti : tes DNA dan lain sebagainya yang menyatakan bahwa benar anak diluar nikah tersebut memiliki hubungan darah dengan laki-laki sebagai ayah biologisnya tersebut. (b).[14] . Apabila anak diluar nikah itu kebetulan seorang perempuan dan sudah dewasa lalu akan menikah. namun secara biologis ia tetap anaknya. Apabila dianalisis. adanya hak dan kewajiban antara anak luar nikah dan bapak biologisnya. sehingga ayat tersebut harus dibaca. termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya". Dalam hal ini terbuka kesempatan bagi para anak diluar nikah untuk mendapatkan hak nafkah. waris dan lain sebagainya.

Perbedaan perlindungan hukum antara anak dari hasil hubungan zina dengan anak dalam ikatan perkawinan. waris." Dalam hadits Imam Ahmad. Dalam kasus li'aan dimana suami menuduh istri berzina. melampuai batas. Dengan demikian. Nabi Muhammad Saw bersabda: "Anak adalah bagi yang empunya hamparan (suami). Malik dan Abu Daud). dan nafkah antara anak hasil zina dan lelaki yang menyebabkan kelahirannya karenahal demikian tidak dibenarkan oleh ajaran islam.[15] Menurut Makruf. termasuk mengesahkan hubungan nasab. dan bersifat "over dosis" serta bertentangan dengan ajaran islam dan pasal 29 UUD 45. telah diterangkan dalam beberapa hadits shahih yang menentukan bahwa anak hasil hubungan zina tidak memiliki hubungan keperdataan dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. kini kedudukan anak hasil zina dijadikan sama dengan kedudukan anak yang lahir dari hubungan perkawinan yang sah. Akibat nyata putusan MK. anak tidak ikut bapaknya dari segi nasab. tetapi ibunya. wali. putusan MK itu memiliki konsekuensi yang sangat luas. BukhariMuslim. Hal ini sangat menurunkan . mengingat penyamaan hak antara anak hasil zina dengan anak hasil perkawinan yang sah. Sebagaimana hadits Abu Daud: "dan Rasul menetapkan agar anaknya tidak dinasabkan kepada seorang ayah pun. Mahkamah Konstitusi dalam hal ini telah melampuai permohonan yang sekedar menghendaki pengakuan hubungan keperdataan atas anak dengan bapak hasil perkawinan tapi tidak dicatatkan di KUA menjadi meluas mengenai hubungan keperdataan atas anak hasil hubungan zina dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. (HR. baik dari segi kewajiban memperoleh nafkah dan terutama hak waris. MUI menilai putusan MK ini sangat berlebihan. dan bagi pezina batu (tidak berhak mendapat anak yang dilahirkan dari hubungan di luar nikah melainkan diserahkan kepada ibunya). sudah jelask putusan MK ini telah menyebabkan lembaga perkawinan menjadi kurang relevan apalagi sekedar pencatatannya. ditetapkan agar anak ikut si wanita atau ibunya.

Hukum islam menyatakan bahwa. Lalu tiba-tiba muncul anak luar kawin yang mengklaim dan membawa bukti bahwa dia juga anak biologis dari pewaris. Ini tentu saja merepotkan pembagian warisan yang dilakukan oleh notaris. maka keadaan itu semua berubah dan merepotkan pembagian warisan yang dilakukan oleh notaris. Sebaiknya Mahkamah Konstitusi hanya mengabulkan permohonan pemberian status anak luar kawin dari pernikahan siri bukan anak dari hasil zina. Kekhawatiran lain misalnya suatu waktu dalam pembuatan Akta Jual Beli. Dampak negatif lainnya hadir dalam segi teknis dengan adanya putusan MK ini. status anak diluar nikah dalam kategiri yang kedua. tetapi tiba-tiba datang anak luar kawin yang menuntut karena merasa mempunyai hak waris. Selain itu berdampak kepada jual beli harta warisan. si anak berhak atas warisan ayahnya tersebut. Hal ini berakibat pula adanya hubungan waris. bahkan pada tingkat ekstrem dapat muncul pendapat tidak dibutuhkan lagi lembaga perkawinan karena orang tidak perlu harus menikah secara sah apabila dikaitkan dengan perlindungan hukum anak. Karena tentunya hal ini membawa dampak yang bukan hanya teknis tetapi ideologis dan akidah umat islam. misalnya berupa tanah. Diakuinya anak luar kawin (hasil biologis) sebagai anak yang sah berarti akan mempunyai hubungan waris dengan bapak biologisnya. Dampak positif Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 terbuka kesempatan bagi para anak diluar nikah untuk mendapatkan hak nafkah. Dampak negatifnya putusan Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010 dinilai melanggar ajaran Islam dan tatanan hukum islam. Jadi. Dampak negatif lainnya hadir dalam segi teknis dengan adanya putusan MK ini. maka keadaan itu semua berubah. Kondisi tersebut menimbulkan masalah apabila warisan sudah terlanjur dibagikan kepada anak yang sah dari perkawinan. waris dan lain sebagainya.derajad kesucian dan keluhuran lembaga perkawinan. disamakan statusnya dengan anak zina dan anak li‟an. .

Cet. NN.info/2012/03/mui-putusan-mk-sembrono-overdosis. Jakarta. Over Dosis & Bertentangan dengan Ajaran Islam.or. 1979. Jakarta. Hukum Orang dan Keluarga. Jakarta. Hukum Kewarisan Perdata Barat. 2002. diakses pada tanggal 28 Maret 2012. Cet. Oemarsalim. Amir. Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian. diakses pada tanggal 28 Maret 2012. Ali. Dampak Perkawinan Bawah Tangan terhadap Anak. Jakarta. Soedharyo. http://www. PT. Indonesia Legal Center Publishing. Sinar Grafika. 2004.id. Jakarta. 2005. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Afandi.html. . Wahono dan Surini Ahlan Sjarif. 2005. Hukum Perkawinan dan Keluarga di Indonesia. 2006. Hukum Perkawinan Indonesia. Rineka Cipta. NN. Prodjohamijojo. Undang-undang Perkawinan dan masalah Pelaksanaannya Ditinjau dari segi Hukum Islam. 2004. Bandung. Yunus. 2004. http://www. Cet. Ciputat Press. Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Prenada Media.satumedia. Mahmud. Cet.IV. Kencana Media Group. II. Syahar. Surini Ahlan dan Nurul Elmiyah.II. Darmabrata. Hukum Kewarisan Islam. 1981. Martiman. Saidus. MUI : Putusan MK Sembrono.lbh-apik. 2007. IV. Jakarta. Syarifudin. Soimin. Sinar Grafika. 2006. Jakarta.II. Sjarif. ---------------------------. Cet. Jakarta. Cet. Alumni. Hidakarya agung. Hukum Perkawinan Dalam Islam. II. Dasar-Dasar Hukum Waris di Indonesia. Meretas Kebekuan Ijtihad.

satumedia.lbhapik. II. 53. 176. hal. Jakarta. [4]Wahono Darmabrata dan Surini Ahlan Sjarif. 2002. Hukum Perkawinan Dalam Islam. Jakarta. Over Dosis & Bertentangan dengan Ajaran Islam. [7]Amir Syarifudin. 195 [15] NN.id. [8]Darmabrata dan Sjarif. 54. Dasar-Dasar Hukum Waris di Indonesia. 2004. 43 [13]Ibid. 22 [3]NN. 2006. Kencana Media Group. http://www. hal. 131. [5]Martiman Prodjohamijojo.IV. [10]Oemarsalim. Jakarta. . Rineka Cipta. Jakarta. Bandung. Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia. [11]Surini Ahlan Sjarif dan Nurul Elmiyah. [12] Ali Afandi. Alumni. Sinar Grafika. Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian.http://www. PT. Jakarta. hal. Cet. hal. hal. Cet. Hukum Perkawinan dan Keluarga di Indonesia. Indonesia Legal Center Publishing. 2005. Prenada Media. Hidakarya agung. Jakarta.info/2012/03/mui-putusan-mk-sembrono-overdosis. 2004. Hukum Perkawinan Indonesia. hal. hal. [2]Saidus Syahar. Sinar Grafika. Jakarta. op. 44. Hukum Kewarisan Islam. 1981. Cet. Dampak Perkawinan Bawah Tangan terhadap Anak..II.cit.or. 5. Meretas Kebekuan Ijtihad. 87. Cet. 1979. hal. Ciputat Press. hal. MUI : Putusan MK Sembrono. hal. diakses pada tanggal 28 Maret 2012. diakses pada tanggal 28 Maret 2012. 2006. 135. Jakarta. Cet. Undang-undang Perkawinan dan masalah Pelaksanaannya Ditinjau dari segi Hukum Islam. [6]Ibid. Cet. IV.. hal. hal. [14] Amir Syarifuddin. Hukum Kewarisan Perdata Barat. Hukum Orang dan Keluarga.html.II.[1]Mahmud Yunus.. 148. hal. 2004.. 31. 2007. [9]Soedharyo Soimin. II. Jakarta.

Selain itu. 11 Tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya. menjadi meluas mengenai hubungan keperdataan atas anak hasil hubungan zina dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. dan nafkah antara anak hasil zina dan lelaki yang menyebabkan kelahirannya. apalagi sekadar pencatatannya. karena orang tidak perlu harus menikah secara sah apabila dikaitkan dengan perlindungan hukum anak.” kata Ichwan Sam menambahkan. kami nilai sangat menurunkan derajat kesucian dan keluhuran lembaga perkawinan. kini kedudukan anak hasil zina dijadikan sama dengan kedudukan anak yang lahir dari hubungan perkawinan yang sah. . putusan MK tersebut memiliki konsekwensi yang sangat luas. Putusan Mahkamah Konstitusi No. mengingat penyamaan hak antara anak hasil zina dengan anak hasil perkawinan yang sah tersebut. waris. dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.PENDAPAT PARA ULAMA DAN CENDEKIAWAN MUI:Putusan MK Sembrono. Dalam Fatwa MUI No. wali. Over Dosis & Bertentangan dengan Ajaran Islam JAKARTA (VoA-Islam) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 tersebut sangat berlebihan. melampaui batas. MUI menilai. “Jelaslah putusan MK ini telah menjadikan lembaga perkawinan menjadi kurang relevan. dimana hal demikian tidak dibenarkan oleh ajaran Islam. baik dari segi kewajiban memperoleh nafkah dan terutama hak waris. dapat muncul pendapat tidak dibutuhkan lembaga perkawinan. putusan MK telah membuka “kotak Pandora” yang selama ini kita jaga. Hal ini.” Akibat putusan MK yang sembrono itu. menyatakan: “Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab. toh anak hasil hubungan zina tersebut tetap memiliki hak nafkah dan hak waris yang sama dengan anak yang lahir dari perkawinan yang sah. dan bersifat “over dosis” serta bertentangan dengan ajaran Islam dan pasal 29 UUD 1945. wali nikah. Karena walaupun tidak dalam ikatan perkawinan (zina). tapi tidak dicatatkan kepada KUA. MUI memandang. waris. termasuk mengesahkan hubungan nasab. 46/PUU-VIII/2010 tersebut telah melampaui permohonan yang sekadar menghendaki pengakuan hubungan keperdataan atas anak dengan bapak hasil perkawinan. Bahkan pada tingkat ekstrim. yakni terbukanya peluang besar bagi berkembangnya pemikiran dan perilaku sebagian orang untuk melakukan hubungan di luar perkawinan (perzinahan) tanpa perlu khawatir dengan masa depan anak (terutama kekhawatiran dari pihak perempuan pasangan zina).

Terlebih Putusan MK itu menyatakan. hal ini tidak dapat diterima oleh agama Islam.com/news/indonesiana/2012/03/14/18167/muiputusanmk-sembrono. ditetapkan agar anak ikut si wanita atau ibunya. tetapi ibunya.” Dalam hadits Imam Ahmad. (HR. Melenyapkan perbedaan perlindungan hukum atas kedua kondisi itu akan menjadikan lembaga perkawinan menjadi sesuatu yang tidak relevan. Sebagaimana hadits Abu Daud: “dan Rasul menetapkan agar anaknya tidak dinasabkan kepada seorang ayah pun.voa-islam. dan anak yang lahir dari hasil hubungan zina jelas tidak memperoleh hak waris dari lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. tetapi perlindungan hukum yang tidak sama dengan anak dalam ikatan perkawinan. Dalam kasus li’aan dimana suami menuduh istri berzina. Putusan MK tersebut telah mengganggu. Merujuk Hadits Perbedaan perlindungan hukum antara anak dari hasil hubungan zina dengan anak dalam ikatan perkawinan. Yang benar. mengubah. menurut MUI. Ma’ruf Amin. dimana yang satu hanya memiliki hubungan keperdataan dengan ibunya dan keluarga ibunya. seolah –olah anak hasil hubungan zina tidak mendapat perlindungan hukum. adalah anak dari hasil hubungan zina tersebut memiliki perlindungan hukum. Bukhari-Muslim.Dan itulah gunanya lembaga perkawinan.” kata KH.over-dosis-bertentangan-dengan-ajaran-islam/ Catatan Penulis : . anak tidak ikut bapaknya dari segi nasab.Jelas. Malik dan Abu Daud). anak yang lahir dari hasil hubungan zina akan mendapat waris dari lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. “Padahal hukum waris Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah secara tegas dan jelas menyebutkan kategori anak yang mendapat harta waris. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Anak adalah bagi yang empunya hamparan (suami). sedangkan yang satunya lagi dengan bapak dan ibunya. bahkan merusak hukum waris Islam yang berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah. dan bagi pezina batu (tidak berhak mendapat anak yang dilahirkan dari hubungan di luar nikah melainkan diserahkan kepada ibunya). telah diterangkan dalam beberapa hadits shahih yang menentukan bahwa anak hasil hubungan zina tidak memiliki hubungan keperdataan dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. Desastian Sumber : http://www. MUI menilai MK telah keliru.

tetapi tidak meniadakan sama sekali lembaga perkawinan karena jika ingin diakui sebagai anak maka harus melalui lembaga perkawinan walaupun pernikahannya belum tercatat. wali nikah. waris. selama ini perkara yang diajukan uji materilnya terkait dengan status anak dari perkawinan sirri dalam nikah poligami bisa diajukan pengesahannya melalui isbat nikah di Pengadilan Agama untuk mendapatkan keabsahan pernikahannya. bukannya anak yang dilahirkan diluar pernikahan (baca: tanpa nikah=anak zina).Dalam posting sebelumnya (http://kuagunungjati. termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. Akibat putusan ini MUI mengeluarkan fatwa terkait hal tersebut dengan menyatakan bahwa ““Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab. Sejatinya bunyi putusan MK hanya mengakui hubungan perdata dengan ayahnya atas anak yang dilahirkan dari pernikahan yang tidak tercatat atau nikah siri. walaupun dalam sisi lain berdampak pada asumsi bahwa masyarakat yang melakukan nikah sirri pun anaknya bisa dinasabkan kepada ayahnya sehingga menimbulkan keengganan untuk mencatatkan pernikahannya. Hal tersebut juga semestinya bisa berlaku untuk pengajuan ijin poligami kemudian dilanjutkan dengan penetapan pernikahannya. dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.com/2012/02/ kontroversi-anak-diluar-nikah-dalam. Bisakah permohonan Ijin Poligami dan Penetapannya diajukan sekaligus. seperti dalam kasus permohonan perceraian bagi perempuan yang menikah sirri (tidak tercatat) dilakukan isbath terlebih dahulu kemudian baru proses perceraiannya.html) penulis telah menyampaikan bagaimana alur persidangan dan kasimpulan akhir dari keputusan kontroversial MK tentang kasus anak diluar nikah yang bisa dinasabkan kepada ayah/Bapaknya." Dengan bunyi putusan seperti diatas kiranya relevan dengan apa yang diajukan pemohon dan tidak mencederai UU perkawinan.blogspot.” Setuju apa yang disampaikan MUI bahwa putusan MK tersebut “over dosis” dan terlalu melebar dari perkara yang diajukan oleh pengusul yaitu Machicha Mochtar yang hanya ingin status anaknya hasil perkawinan sirinya dinasabkan juga kepada ayahnya. Jika Pengertian anak diluar pernikahan yang dimaksud UU adalah anak yang dilahirkan diluar pernikahan resmi maka bunyi putusannya menjadi “ Anak yang dilahirkan di luar perkawinan resmi ( lahir dalam pernikahan tidak tercatat) mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah. Yang berhak memberikan jawaban tentunya para hakim di pengadilan Agama apakah diatur dalam prosedur beracara penulis kurang memahami akan hal tersebut . Menurut hemat saya.

Ma’ruf kembali menjelaskan bahwa keputusan MK mengubah nasab seorang anak terlahir di luar nikah kepada lelaki sangat melanggar hukum Islam. juga Pengadilan Agama (PA) yang berwenang menyelesaikan urusan keperdataan umat muslim. Selasa (20/3) sebagimana dikutip republika online. Jakarta. akan kemanakah kemenag berpijak………. ”MK itu seperti Tuhan selain Allah saja. memang harus ada pengaturan ulang dan pembatasan terhadap posisi MK terutama kalau memutuskan hal-hal yang semacam ini. Bagi umat Muslim wajib patuhi fatwa MUI dan bagi Non Muslim selama tidak bertentangan dengan ajaran agamanya silahkan ikuti putusan MK………. keluarnya putusan ini justru membuat masalah dalam hukum ketatanegaraan. Sebagai pemerintah semestinya Kemenag patuh pada putusan MK. Beberapa ormas Islam cukup ramai merespon soal ini.. Siapa Peduli Anak di Luar Nikah? Kontroversi Putusan Mahkamah Konstitusi No.. masih menyisakan polemik. Ma’ruf mengakui bahwa putusan MK itu sudah final. ”Jadi. Sikap MUI yang mengajak untuk menolak putusan tersebut. PP Muslimat NU misalnya. akan tetapi putusan fatwa MUI yang merupakan kumpulan para ulama dan cendekiawan tak bisa disepelekan karena menyangkut kepentingan sebagian besar umat muslim dinegeri ini. kita tunggu saja babak selanjutnya dari polemik ini.” kata Ma’ruf dalam diskusi UU Perkawinan dan Implikasinya di kantor AJI Indonesia.” ujarnya. menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Dalam diskusi tersebut.11 Tahun 2012 juga telah dikeluarkan sebagai upaya jawaban atas keresahan umat atas putusan tersebut. akankah kemudian kita kembali berpikir primordial dan sarat SARA…. Bisa berbuat seenaknya dan memutuskan semaunya. maka posisi tersulit ada di jajaran Kementerian Agama. Ma’ruf Amin. PENDAPAT KETUA MUI: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). menyindir Mahkamah Konstitusi (MK) itu seperti ‘Tuhan selain Allah’. Sindiran itu disampaikan menyusul putusan MK pada Undang Undang Perkawinan.. 46/VIII/2010 pada tentang anak yang lahir di luar perkawinan. menggelar konferensi pers khusus yang mendorong agar segera dilakukan koordinasi . Namun.Terlanjur telah ditetapkan putusan MK yang bersifat final tentunya tidak bisa lagi dajukan upaya banding maupun kasasi dan Fatwa MUI No.

belum ada jalan keluar. putusan yang lahir dari pengujian UU No. MUI dinilai salah memahami konsep hukum. persoalan akan beralih ke urusan administrasi kependudukan yang menjadi kewenangan Kemendagri. Salah paham (atau paham yang salah?) untuk sementara kita pahami dulu. Anak yang dilahirkan kurang dari enam bulan setelah akad nikah. menurut jumhur ulama tidak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya. 1/1974 Pasal 43 Ayat 1 tentang Perkawinan yang dimohonkan Machica Mochtar ini. secara tak langsung tidak koheren dengan putusan MK. Satu sisi. Jika melihat bunyi putusan. Persoalan lain terkait status anak yang tercantum di akta kelahiran. Akan terjadi kekacauan nasab bila putusan ini diimplementasikan. yang diganti dengan penyebutan "anak di luar nikah" adalah masalah tersendiri. si anak akan merasa "cacat" seumur hidupnya dengan status itu. Pasal 43 Ayat 1 "anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya" dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang dimaknai menghilangkan hubungan perdata dengan laki-laki yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ayahnya. Dalam praktiknya. Pemahaman berbeda inilah yang mengawali keresahan di atas. Pengosongan nama ayah biologis si anak di akta kelahiran.lembaga negara terkait untuk mencarikan jalan keluar penataan urusan anak di luar nikah agar sinergi antara hukum syariat dan hukum legal formal kenegaraan. MUI menyamakan hubungan keperdataan dengan nasab. . Bagi MUI. Meski MK tidak memutuskan status anak dalam akta kelahiran. Justru vonis tersebut dipandang langkah untuk menghalangi perzinaan. Status Anak Persoalan tidak berhenti di situ. Status anak Machica dalam akta kelahirannya yang menyatakan "anak di luar nikah". Ini berarti MK menegaskan ayah si anak di luar nikah harus tetap bertanggung jawab menafkahi si anak secara hukum perdata. implikasi putusan dalam jangka panjang dapat berdampak pada semakin meluasnya perzinaan. Dilema ini menyeruak di beberapa daerah dan menjadi kontroversi di kantor-kantor catatan sipil. Sementara MK memandang keduanya berbeda dan tidak saling berhubungan dari aspek hukum. ditegaskan bahwa orang yang melakukan perzinaan justru harus bertanggung jawab karena telah diancam hukuman. MK melalui pernyataan Mahfud MD mengonfrontir sikap tersebut sebagai kesalahan MUI memahami putusan. Melalui pernyataan Mahfud MD serta juru bicara MK Akil Mochtar. meski masih saja menyisakan setuju-tidak setuju [bahkan hakim konstitusi Maria Farida Indrati yang nonmuslim memberikan concurring opinion (pendapat berbeda) dalam putusan ini]. ternyata menimbulkan tafsir beragam. Sisi lain. menyebutkan nama ayah biologis juga akan mengacaukan administrasi kependudukan.

sedangkan bapak kandungnya tidak mengakuinya. Bila dilahirkan di luar perkawinan. maka menurut Abu Hanifah. Dalam konteks ini. Tujuannya mengakhiri kontroversi dan menghentikan polemik yang berkembang di sana. berdialog. maka anak tersebut bisa menuntut keperdataan kepada bapaknya. dan masyarakat luas memiliki spirit yang sama. lembagalembaga ini perlu segera duduk bersama. "al waladu lil firaasyi walil 'aahiri hajrun". Layanan dan tanggung jawab orang tua tetap tidak boleh dilepaskan. Bukannya teratasi. MUI dan ormas-ormas Islam tidak perlu terlalu gusar dengan putusan MK. usulan ini justru akan membingungkan hak perwalian. apalagi menolak mentah-mentah. dan menuntaskan masalahmasalah yang timbul akibat putusan MK tersebut. Jika sudah terlanjur. Kesamaan Spirit Saya melihat. MK. Argumentasinya adalah setiap anak tetaplah anak dari kedua orang tuanya. nafkah. yang harus diperkuat untuk mendalami persoalan ini adalah kesadaran bahwa MUI. Menurut Abu Hanifah. artinya "status (kewalian) anak adalah siapa yang meniduri (menaruh benih). landasan pikirnya adalah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Aisyah Rasulullah saw. kita semua perlu memikirkan sistem pencegahan yang prima. anak-anak itu tidak boleh dibiarkan. UU 12/2006 tentang . di Banten. Kemendagri. MUI telah berperan sebagai penjaga moral masyarakat. Selain berdosa. pemerintah justru kesulitan mengidentifikasi asal usul anak. Putusan MK adalah putusan kemanusiaan. Jika dihilangkan. hukum sudah ditegakkan. yakni menghalangi bola salju perzinaan. Dalam konteks keindonesiaan. hak waris. zina telah secara jelas mengakibatkan kesulitan bagi anak sebagai individu maupun anggota masyarakat. anak di luar nikah bukan hanya urusan UU Perkawinan. Kepentingan kemanusiaan dan administrasi negara tetap harus diperhitungkan. UU 44/2008 tentang Pornografi juga amat berhubungan. Kementerian Agama. tidak terbebani status "anak haram" atau anak di luar nikah.Untuk mengatasinya. dengan tetap menjaga agar tidak terjadi benturan dengan hukum agama. dan hak anak lainnya atas orang tua. Jabar. Terhadap perzinaan. anak tersebut menjadi mahram (haram dinikahi) oleh ayah biologisnya sama dengan mahram melalui pernikahan. Karena itu. yang dapat merugikan masa depan dan pergaulan dengan teman-temannya. terlepas apakah dia lahir dalam perkawinan yang sah atau di luar perkawinan. Anak tidak boleh memikul dosa orang tua. pernah ada usulan agar kolom nama "orang tua" dihapus sama sekali. bagi pelaku zina menanggung dosa. Dalam Islam sendiri. anak mempunyai hubungan darah dengan siapa saja yang tidur seranjang dengan ibu anak. Tapi harus diingat. seiring besarnya jumlah anak yang lahir di luar perkawinan. Jika ada anak yang lahir di luar pernikahan yang sah.

Fenomena anak di luar nikah adalah fakta kehidupan yang hadir di tengah-tengah kita. "MUI sudah melakukan kajian sesuai syariat Islam dan itu lah hasilnya. ia ragu Mahkamah Konstitusi mampu memberikan bukti itu. Jl Dempo 5A Matraman Dalam. Ma'ruf menjelaskan pandangan MUI itu tidak akan berubah kecuali Mahkamah Konstitusi dapat memberikan bukti lain berdasarkan hukum syariat Islam. "Syariat Islam mengatakan bahwa anak hasil zina hanya memiliki hubungan dengan ibunya. Walau demikian. Dari hasil kajian tersebut kemudian dikeluarkan fatwa MUI tentang kedudukan anak hasil perzinaan dan perlakuan terhadapnya." kata Ketua MUI Ma'ruf Amin. Agar mereka tidak terjerembab pada lubang yang sama seperti yang dilakukan orang tuanya. Bungah." ujarnya. putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUUVII/2012 menyebutkan. MUI Tak Akan Cabut Fatwa Anak Hasil Zina JAKARTA (voa-islam. 27 Maret 2012. Telepon-081 333 23 6545 Sudah Sesuai Syari'at Islam. Inti fatwa Nomor 11 yang ditetapkan 10 Maret 2012 itu. Nasib mereka adalah nasib kita juga sebagai anak bangsa. bahkan tegas menyatakan orang tua bertanggungjawab penuh memelihara dan mengawasi anak. MUI tetap berpendirian anak di luar nikah tidak dapat memiliki hubungan perdata dengan ayah kandungnya. Peneliti International Conference of Islamic Scholars (ICIS). kepedulian kita sedang digugah.Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan tidak akan mencabut fatwa tentang kedudukan anak hasil perzinaan dan kedudukan mereka dalam hukum Islam.kewarganegaraan yang menyangkut HAM. kata Ma'ruf. Ma’ruf menilai putusan itu tidak sesuai syariat Islam . Selasa. anak lahir luar nikah memiliki hubungan perdata dengan lelaki yang dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan sebagai ayah biologisnya. Kantor ICIS.com) . Berbeda dengan fatwa itu. Gresik. Jakarta Pusat. bahwa anak hasil zina tidak punya hubungan nasab dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya. Abdullah Yazid Alumnus Ponpes Qomaruddin.

”ungkap Nasaruddin. Mahkamah Konstitusi dan Kementerian Agama.karena didasarkan pertimbangan mempertimbangkan hukum agama." kata dia. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengatakan. “Kami akan memfasilitasi pertemuan antara MK dan MUI. MUI menyatakan belum mendapatkan undangan pertemuan tersebut meski telah mendengar Kementerian Agama akan mengundang keduanya untuk berdialog. pertemuan itu juga diharapkan dapat meredam keresahan yang terjadi di kalangan masyarakat.”katanya. pihaknya berinisiatif mempertemukan kedua belah pihak guna mencari titik temu perbedaan pandangan yang ada. Menurutnya. pertemuan antara MK dan MUI sangat penting untuk memecahkan permasalahan seputar status keperdataan anak di luar perkawinan.bukan hanya orangnya yang ketemu. Ia mengatakan pandangan MUI dalam fatwa tersebut tidak akan berubah. putusan itu berpotensi tidak dipatuhi masyarakat. Snd] . Kemenag Mediasi Pertemua MUI-MK Sementara itu kementerian Agama (Kemenag) berencana memediasi pertemuan antara Mahkamah Konstitusi (MK) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk membahas status keperdataan anak di luar pernikahan. Karena itu. Namun saat dikonfirmasi mengenai pertemuan antara MUI. Selain memudahkan pihaknya dalam membuat aturan. Jika MK tetap bersikukuh dengan putusannya.“ Kami coba untuk memediasi keduanya. pemikiran manusia tanpa Hal senada diucapkan Kepala Sekretaris MUI Muhammad Isa Anshary. Kemenag dihadapkan pada pilihan sulit ketika akan mengimplementasikan putusan MK tentang status keperdataan anak di luar perkawinan terlebih ketika putusan itu mendapat penolakan dari MUI. melainkan pandangannya. Sekalipun Kementerian Agama akan mempertemukan MUI dengan Mahkamah Konstitusi untuk menyelaraskan pandangan kedua institusi berbeda tersebut. [Widad/Tmp. "MUI akan berpegang teguh dengan Al Quran dan Hadist.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->