P. 1
10. Psikologi ABK

10. Psikologi ABK

|Views: 103|Likes:
Published by Nur Hikmah

More info:

Published by: Nur Hikmah on May 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2012

pdf

text

original

AGUSTIYAWATI

Tahukah anda tentang mereka ? Pernahkah anda temukan ? Pernahkan anda berkomunikasi ? Apa pendapat anda tentang mereka ?

Stigma dahulu; anak cacat, anak tuna, anak luar biasa

Anak yang dalam hal-hal tertentu berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya Anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yg penting dari fungsi kemanusiaannya Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan/kebutuhan & potensinya secara maksimal Membutuhkan pendidikan khusus & pelayanan tertentu

Kondisi Kesehatan. Intelektual. . Sensori. Bahasa. emosi  atau fisik. Motorik. Emosi. Gender.   Karakteristik Khusus yang berbeda bisa dilihat dalam hal: Etnik. juga bisa berbeda dalam hal stasus Ekonomi. Budaya.Anak dengan karakteristik khusus yang berbeda  dengan anak pada umumnya tanpa selalu  menunjukkan pada ketidakmampuan mental. Kondisi Sosial. dan Kondisi lainnya.

mental. emosional. dan/atau sosial sehingga berhak memperoleh pendidikan khusus Anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa sehingga berhak memperoleh pendidikan khusus Anak di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil sehingga berhak memperoleh pendidikan layanan khusus . intelektual.   Anak yang memiliki kelainan fisik.

Anak Lambat Belajar Anak Berbakat Anak Berkesulitan Belajar Anak Berkelainan Majemuk Anak Berkebutuhan Khusus/ Berkelainan Anak Autistik Anak dengan Gangguan Emosi & Perilaku Anak dengan Gangguan Penglihatan Anak dengan Gangguan Pendengaran Anak dengan Gangguan Intelektual Anak dengan Gangguan Fisik dan Motorik .

1988    Ashman & Elkins. 1994         Berkesulitan belajar Gangguan wicara Retardasi mental Gangguan emosi Gangguan fisik dan kesehatan Gangguan pendengaran Gangguan penglihatan Tunaganda      Anak berbakat Gangguan komunikasi Berkesulitan belajar Gangguan emosi dan perilaku Gangguan penglihatan Gangguan pendengaran Gangguan intelektual Gangguan fisik .Linch Lewis.

Anak dengan gangguan intelektual dan kognitif (gangguan kecerdasan.1. Anak dengan gangguan sosial dan emosi (gangguan pemusatan perhatian / hiperaktif. Anak dengan gangguan sensori (gangguan penglihatan. Anak dengan gangguan motorik (gangguan gerak/Cerabral Palsy (CP)) 3.kesulitan belajar. gangguan pendengaran) 2. cerdas/berbakat) 4. autism) .

Fachri. melalui layanan Guru Pembimbing Khusus. Dia mengikuti sekolah reguler dan dia hanya satu-satunya murid dengan gangguan penglihatan di kelasnya. Fachri mendapatkan dukungan pembelajaran tiap minggunya dari Pemrintah berkolaborasi dengan Helen Keller International. adalah contoh murid dengan nilai yang baik. anak dengan gangguan penglihatan (Low vision). Memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan (tunanetra total). .

• • • • • • • • • • Sering menabrak ketika bergerak. bola mata bergoyang-goyang. mengecil atau berwarna putih Sering meletakan barang di tempat yang salah Sering hendak terjatuh jika melewati rintangan jalan Sulit meniru gerak Sulit mengenal gambar jika warna kurang kontras . Kesulitan membaca huruf pada buku bacaan atau tulisan pada papan tulis Kesulitan menulis garis lurus Memegang buku dekat ke muka ketika membaca Sering mengeluh kepala pusing atau mata gatal atau mata berair Bentuk dan warna bola mata berbeda.

panggil namanya dan dalam proses penjelasan sesuatu gunakan komunikasi verbal Menyapa sambil membuat kontak dengan cara menyentuh punggung tangan Sediakan materi sesuai dengan tingkat penglihatan anak (Braille/huruf diperbesar) Gunakan arah jarum jam untuk menunjukkan letak Hindari kata tunjuk: ini. itu.    • • Gunakan objek riil dan konkrit untuk menjelaskan konsep Ketika hendak meminta perhatian anak. dll . di sini.

.

.

.Memiliki gangguan pendengaran baik yang pemanen maupun tidak permanen Tingkat Gangguan : Gangguan pendengaran sangat ringan (27-40dB) 2. Gangguan pendengaran ekstrim/tuli (di atas 91 dB) 1. Gangguan pendengaran ringan (41-55 dB) 3. Gangguan pendengaran berat (71dB90dB) 5. Gangguan pendengaran sedang (5670dB) 4.

Berbicara keras dan tidak jelas 5.Tidak menyadari adanya bunyi jika tidak melihat ke sumber suara atau tidak ada getaran 2.Terlihat mendekatkan telinga pada sumber bunyi 3.Sulit untuk mengungkapkan perasaan dengan tepat 6.Telinga mengeluarkan cairan 4.Cenderung pemata (mendapatkan informasi dengan melihat langsung .1.Cenderung menggunakan mimik atau gerakan (tangan dan tubuh) untuk berkomunikasi 7.

Bicara berhadapan agar gerak bibir dan mimik terlihat 3. gunakan komunikasi/kontak non verbal dan gunakan bahasa isyarat 1. Bicara pelan dengan artikulasi yang jelas 4. .Gunakan gambar dalam memperkenalkan kata/konsep baru 2. Gunakan pena dan kertas 5. Untuk berkomunikasi.

.

dengan intensitas yang sangat tinggi). tidak mampu didik dan latih. mengalami keterbatasan atau tidak dapat bergerak sendiri dan bicara sangat terbatas. . Sedang (IQ: 36-51): Limited support (bantuan dipergunakan secara konsisten. penundaan aktifitas secara terbatas dan ada kelainan fisik bawaan.Tingkat Gangguan : Ringan (IQ: 51-70): Intermittent support (bantuan dipergunakan saat dibutuhkan). Sangat Berat (IQ di bawah 20): Pervasive support (bantuan dipergunakan secara konsisten. seperti di rumah dan saat bekerja). tidak dapat menjaga kebersihan pribadi dan memiliki kelainan fisik. mampu didik. hanya pada waktu tertentu saja). mampu latih. Pengertian : Memiliki kemampuan inteligensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi Perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. bekerja dan tidak ada kelainan fisik. Berat (IQ : 20-35): Extensive support (bantuan dipergunakan secara berkala pada lingkungan/situasi tertentu.

Sulit mengikuti instruksi panjang/rumit 5.1. Sulit mengingat atau daya ingat lemah 4. Perilaku tidak sesuai dengan usia (kekanak-kanakan) 2. Membutuhkan pengulangan dalam belajar . Sulit memahami hal yang abstrak 3.

bertahap 4. yang dekat dengan kehidupannya 3. jelas. Beri instruksi pendek. Butuh konsistensi dan pengulangan dalam belajar 2.1. Dilibatkan dengan pendampingan/pengawasan . Gunakan media konkrit yang menarik. Gunakan kalimat yang singkat 5.

Tingkat Gangguan (Heward) :  Ringan Memiliki keterbatasan dalam melakukan aktifitas fisik. mengalami gangguan koordinasi sensorik  Berat Memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik. kualitas gerakan motorik dapat meningkat melalui terapi  Sedang Memiliki keterbatasan motorik. tidak mampu mengontrol gerakan fisik .

Sulit untuk berpindah dari suatu posisi ke posisi lain 3.Terjadi gangguan bicara pada mereka yang CP .Sering terjatuh 6.1.Gerakan tubuh kaku atau lemah 5.Sulit menggerakkan tubuh 2.Sulit meraih/mengambil benda di tempat yang tinggi atau rendah 4.

1.Bagi mereka yang menggunakan tongkat/kruk, jangan memegang tangan mereka ketika mereka berjalan, biarkan mereka memegang lengan atau bahu kita 2.Bagi mereka yang menggunakan kursi roda, sediakan ramp (bidang miring) untuk memudahkan mereka bergerak atau kita dapat membantu mendorongkan kursi rodanya 3.Bagi mereka yang diikuti dengan gangguan bicara, bicara singkat, dan jelas 4.Tawarkan tempat duduk dekat pintu

Gangguan pada satu atau lebih proses psikologi dasar yang meliputi pemahaman atau penggunaan bahasa, wicara maupun tertulis, yang mungkin tampil dalam ketidaksempurnaan kemampuan untuk mendengar, berpikir, bicara, membaca, mengeja, atau melakukan perhitungan matematika.
Hal ini merupakan kondisi dari ketidakmampuan persepsi, cindera otak, disfungsi minimal otak, disleksia dan perkembangan aphasia. Kondisi ini tidak meliputi anak-anak yang memiliki gangguan belajar yang berasal dari hambatan penglihatan, pendengaran, atau kelainan gerak, retardasi mental atau gangguan emosi atau ketidakberuntungan dalam lingkungan, budaya, maupun ekonomi.

1. Disleksia/gangguan membaca 2. Disgrafia/gangguan menulis 3. Diskalkulia (Kesulitan dalam memahami simbol matematika, konsep, arah dalam berhitung atau terbalik dalam menulis angka maupun nilai tempat. Misal: 2 – 1 = 3, 25 47 + , 5 , 101 (seratus satu) ditulis 1001 612 Disleksia dan disgrafia mengakibatkan ucapan dan tulisan anak menjadi: a. Revarsal – ubi menjadi ibu, buku menjadi duku b. Subtitusi – laut menjadi lauk c. Adisi – uang menjadi uwang d. Omisi – kayu menjadi kyu, rumah menjadi ruma e. Sequential memory – kepala menjadi kelapa, topi menjadi pito

bentuk. di mana. Gunakan buku berpetak untuk belajar berhitung atau clue-clue lain secara visual misal: 2 5 47 + 72 Anak harus selalu membuat ( ) dalam mengerjakan soal berhitung. kapan. Kesulitan dalam memahami arah dan kikuk dalam bergerak 4. Membaca dengan bantuan penggaris agar baris kalimat tidak terlewat 5. operasi aritmatika) Cara Membantunya: 1. Kesulitan dalam menulis/membaca 3. mengapa) untuk memahami isi bacaan 4.Karakteristik: 1. Menunjukkan gangguan orientasi arah ruang (kanan-kiri. Kesulitan dalam mengekspresikan diri 2. . depan-belakang) 5. Belajar bertahap 3. siapa. Gunakan 5 pertanyaan dasar (apa. atasbawah. Butuh konsisten dan pengulangan dalam belajar 2. Keterlambatan perkembangan konsep (ukuran.

CERDAS DAN BERBAKAT ISTIMEWA .

Pengertian : Memiliki gangguan perkembangan yang secara signifikan mempengaruhi kemampuan komunikasi verbal dan non verbal serta interaksi sosialnya. 3. 9. Karakteristik: 1. 6. 5. 8. 4. 2. Memiliki aktifitas yang berulang-ulang Terlambat dalam perkembangan komunikasi/bahasa Rentan terhadap perubahan lingkungan atau perubahan aktivitas rutin Tidak ada kontak mata Menunjukkan respon yang tidak biasa terhadap pengalaman sensorik Mengalami hambatan dalam bahasa dan interaksi sosial Pada beberapa anak ada yang memiliki kemampuan khusus yang berkembang sangat baik Sebagian anak autis menunjukkan hiperaktivitas. Sebagian ada yang diam dan tidak bisa bicara sama sekali . 7.

09. Buatlah jadwal kegiatan dengan waktu sesuai dengan kemampuan konsentrasi anak 3.30 – 07. Ajarkan rutinitas sedikit demi sedikit dan gunakan simbol-simbol gambar untuk mewakili kegiatan 2.45 .00 08.30 – 08.45 08.45 – 08.00 – 08. Ajarkan komunikasi eksperimen Senin 07.30 08.00 berbaris belajar menggambar istirahat belajar .1.45 07.

salah satu alat komunikasi anak autism .Gambar buku komunikasi jack (MH Training) Compic.

berlari tanpa arah. Berjalan mondar-mandir. Bicara berbelit-belit. suka memotong pembicaraan 7. melompat berlebihan 6.Pengertian (IDEA) : Anak mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan anak dalam memusatkan perhatian pada dua atau lebih situasi yang berbeda. Memberi respon yang terlalu cepat (impulsif). . Sering beralih dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain 4. Dalam situasi yang menuntut keadaan yang relatif tenang anak tampak gelisah 5. Menghentikan/Meninggalkan suatu tugas sebelum selesai 3. Perhatian mudah teralih 2. Tidak sabar menunggu giliran 8. Karakteristik: 1.

Ajarkan untuk membuat kesepakatan yang juga berlaku untuk semua siswa di kelas 4. Hindari pajangan yang menempel di kelas. berikan pujian untuk perilaku yang diharapkan dan abaikan untuk perilaku yang tidak diharapkan 3. Ajarkan untuk membuat jadwal harian sesuai dengan ketahanan konsentrasi anak 2. Jika memungkinkan konsultasikan dengan tenaga ahli (dokter anak. gunakan sudut abu ketika ia membutuhkan waktu untuk konsentrasi 5. psikolog) .1. Latihan disiplin gunakan pengelolaan perilaku.

Sumber Belajar) Part-time Special class (Sekolah Reguler Paruh Waktu) Self Contained Special Classes (Kls Khusus Ttp pd Sek. Reguler m e a n s t r e a m i n g s e g r e g a t i o n Agustiyawati Special Day School (Sekolah Khusus Harian) Residential School (Sekolah Berasrama) Residential Institution (Institusi Khusus) 33 .Least Restrective Environment (Sekolah Reguler Penuh) Reguler Classroom Teacher Consultant (Sekolah Reguler dengan Guru Konsultan)13 Reguler Classroom Itenerant Teacher (Sekolah Reguler dengan Guru Kunjung Reguler Classroom Resource Room (Sekolah Reguler dengan R.

Sekolah Khusus Pendidikan Khusus Sekolah Inklusi Sekolah Integrasi Agustiyawati 34 .

Kini SLB B LPATR Cicendo Bandung   Agustiyawati 35 . Westhoff mendirikan lembaga pendidikan bagi anak tunanetra di Bandung. Kini SLB C Cipaganti Bandung 1930 Ny. Tahun 1901 dr. Kini SLB A Wiyata Guna Tahun 1927 Folker merintis pendidikan bagi anak tunagrahita -> Folker School. 1942 diganti menjadi Perkumpulan Pengajaran Luar Biasa. Roelfsema mendirikan Vereniging Voor Onderwijs an Doffstomme Kinderen in Indonesia.

yang pada tahun 1958 diubah menjadi yayasan Dena Upakara. dan berikutnya sekolah untuk anak tunarungu putra didirikan oleh Bruder Karitae Kini yayasan Karya Bhakti Berikutnya Di Temanggung Jateng didirikan pula sekolah untuk anak tunanetra   Sekolah khusus bagi anak nakal -> Pro Joventute Hampir semua lembaga pendidikan tadi berlandaskan Charity (belas kasihan) dan sifatnya segregatif  Agustiyawati 36 . Tahun 1938 di Wonosobo Jateng. didirikan Werk Voor Misdeelde Kinderen in Nederlans Vost Indie.

 Dicanangkannya Wajib Belajar 6 tahun Diperkenalkannya SDLB dengan dana Proyek Inpres Dikeluarkan Kepmen 002/U/1986 tentang Pendidikan Terpadu (termasuk pengangkatan GPK) Didirikannya beberapa SLB Pembina baik tingkat propinsi maupun tingkat nasional    Agustiyawati 37 .

 Turut serta dalam penuntasan wajar 9 tahun Perluasan/peningkatan Subdit PLB menjadi Direktorat PLB Diujicobakannya kembali model pendidikan terpadu (menuju pendidikan yang inklusif) di beberapa daerah Dikeluarkan kebijakan (edaran Dirjen Dikdasmen tentang pendidikan yang inklusif Agustiyawati    38 .

BAGI ABK .

dan setiap anggota masyarakat. tetapi semua anak dan orangtuanya. semua guru dan administrator sekolah. seperti anak berkebutuhan khusus. Perubahan ini tidak hanya menguntungkan anak yang sering tersisihkan.unesco.bkk.- Pendidikan inklusi merupakan sebuah pendekatan yang berusaha mentransformasi sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan (www. (LIRP buku 1) .rog) - Inklusi merupakan perubahan praktis yang memberi peluang anak dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda bisa berhasil dalam belajar.

efektif. relevan dan tepat dalam wilayah tempat tinggalnya (Sue Stubbs.• Memastikan bahwa semua anak memiliki akses terhadap pendidikan yang terjangkau. Save the Children-UK) Memastikan semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar seluruh anak terlibat dalam proses pembelajaran (LIRP buku 1) • Suasan belajar yang kondusif di SMP Yasporbi jakarta .

Guru sekolah umum dan guru pendamping khusus diharapkan saling bekerjasama guna memastikan terpenuhinya kebutuhan akademik setiap anak.Peka terhadap setiap perbedaan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari Terbuka. Kamil. M. Dengan diikutsertakannya anak dalam proses belajar di sekolah umum dapat meningkatkan keterampilan bersosialisasinya. siswa SDN Pisangan Timur 20 Jakarta TImur merupakan siswa dengan gangguan fisik/gerak yang didiagnosa memiliki gangguan intelektual. . Adil dan Tanpa Diskriminasi Guru sekolah umum sedang mengajar pelajaran Geometri terhadap seorang siswi tunanetra dengan menggunakan buku pelajaran yang berhuruf Braille serta diagram taktil.

Berpusat pada kebutuhan dan keunikan anak Inovasi Guru pendamping khusus sedang memberikan remidial pada anak kesulitan belajar menggunakan pendekatan yang ramah dan sesuai kebutuhan anak sehingga suasana belajar jadi menyenangkan Guru pendamping khusus sedang melakukan simulasi pengukuran luas pandang penglihatan dengan menggunakan bola ping-pong. .

.Kerjasama (berbagi visi dalam kegiatan belajar – mengajar dan saling mengupayakan bantuan) Keterampilan Hidup Guru berdiskusi bersama saat pelatihan pendidikan inklusi. Siswa sedang melakukan kunjungan lapangan dan belajar mengenai cara mencegah serangan hama dari petani.

Segregasi/ Eksklusi Kurikulum Kurikulum terpisah. Contoh : SLB Terpadu/Integrasi Mengikuti kurikulum yang berlaku. Inklusi Kurikulum dirancang dan diajarkan sesuai kebutuhan Inklusi : memasukkan Partisipasi Kelompok tertentu Tidak ada Semua Pihak .

Segregasi Integrasi Menjadi bagian dari sekolah umum Inklusi Ada didalam sekolah umum Sistem Pendidikan Terpisah dari sekolah umum Tanggung jawab Unit Penyelenggara Pendidikan. Tergantung relasi dan kepedulian Semua Pihak .

.

 Konferensi Jomtien Tahun 1990 Tentang pendidikan untuk semua dan penyediaan akses pendidikan dasar bagi semua anak pada tahun 2000. serta mendukung segala kegiatan persatuan bangsa-bangsa untuk memelihara perdamaian. Pendidikan harus ditujukan pada pengembangan pribadi manusia secara menyeluruh dan demi memperkuat penghargaan terhadap hak asasi manusia dan kemerdekaan yang mendasar. Pendidikan dasar merupakan hal yang diwajibkan. Pendidikan harus mengajarkan mengenai saling menghargai. 2. Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. ras dan agama. . Deklarasi Internasional Tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pasal 16: 1. toleransi dan persahabatan antar negara.

ditandatangani oleh negara anggota PBB 30 Maret 2007 Negara-negara pihak mengakui hak orang-orang penyandang cacat atas pendidikan. . maupun dari etnis minoritas agar memiliki akses terhadap pendidikan yang memadai dan berkualitas. Konferensi Dunia Salamanca Tahun 1994 Tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus di mana menghasilkan kerangka kerja mengenai penyediaan akses dan standardisasi kualitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. khususnya perempuan. Negara-negara pihak harus menjamin suatu sistem pendidikan yang inklusif di semua tingkatan dan pembelajaran jangka panjang. Perencanaan pendidikan untuk semua di tingkat nasional sebagai bagian dari perencanaan pendidikan nasional.  Konvensi Hak Penyandang Cacat. 2. anak berkebutuhan khusus. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Resolusi 61/106. Dengan tujuan untuk mewujudkan hak ini tanpa diskriminasi dan atas dasar kesetaraan kesempatan. Memastikan semua anak. Senegal Tahun 2000 Menguatkan kembali Konferensi Jomtien yang diantaranya berisi: 1. disepakati 13 Desember 2006.  Konferensi Pendidikan Dunia di Dakar.

 Pasal 11 Ayat 1 : Adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan pendidikan yang layak bagi semua warga negara. minat dan kemampuannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Pendidikan Nasional  Pasal 41 tentang setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusi harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus Keputusan Presiden No. tanpa adanya diskriminasi. 20 Tahun 2003  Pasal 4 Ayat 1 : Pendidikan diselenggarakan berdasarkan demokrasi dan berkeadilan dan tanpa diskriminasi.    . Undang – Undang Dasar 1945  Pembukaan UUD 1945 alinea ke-empat  Pasal 31 tentang Pendidikan nasional bagi seluruh warga negara Indonesia Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 36/1990 tentang Pengesahan dari pengakuan akan hak-hak anak.  Pasal 12 Ayat 1b : Hak dari murid untuk memiliki pendidikan yang layak berdasarkan bakat.

06/MN/2003 dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional tanggal 20 Januari 2003 tentang Pendidikan Inklusi.  Surat Edaran No. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0306/VI/1995 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar. . 380/G.

20/2006 tentang Ketentuan Angka Kredit Bagi Guru Pembimbing Khusus. 54b/2006 dan No. Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta No. 727/2004 tentang Penunjukan SLB Sebagai Pusat Sumber Pendidikan Terpadu / Inklusi di Provinsi DKI Jakarta. 105/2003 dan No. Keputusan Bersama Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI Jakarta No. 34/2003 dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional tentang Penunjukkan Sekolah Perintis Pendidikan Inklusi di Lingkungan Pembinaan Dinas Pendidikan Dasar dan Dinas Dikmenti Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta No. 48/2005 tentang Guru Pembimbing Khusus Pada Sekolah Penyelenggara Pendidikan Terpadu / Inklusi di Lingkungan Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta.Kebijakan Lokal tingkat Provinsi DKI Jakarta  Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Dasar Provinsi DKI Jakarta No. Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi     .

Komite Sekolah 5. Pusat Sumber (SLB/SDLB) Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal. Orang tua 3.Siswa berkebutuhan khusus b. Profesional 11.Siswa / siswi lain 2. Pengawas Sekolah 7. 8. dan International Universitas 10.Guru Sekolah Umum b. Masyarakat . 9. Pemerintah 12.Pengertian : Pihak–pihak yang terlibat dan berperan penting dalam proses pembentukan dan pelaksanaan sistem pendidikan inklusi. Yang temasuk stakeholder (LIRP bk 1 hal 23-24) : 1. Kepala Sekolah dan Komponen Sekolah lainnya 6.Guru Pembimbing Khusus 4. Siswa: a. Nasional. Guru a.

GURU SEKOLAH UMUM GURU BIMBINGAN KHUSUS ORANG TUA PENGAWAS SEKOLAH PEMERINTAH UNIVERSITAS Masyarakat PROFESIONAL KOMITE SEKOLAH ABK Siswa lainnya KEPALA SEKOLAH / KOMPONEN LAIN LSM PUSAT SUMBER .

Peran siswa berkebutuhan khusus .Memacu siswa lain untuk berprestasi dengan baik Siswa lain .Menciptakan dan menumbuhkan sikap toleransi .Menumbuhkan motivasi belajar siswa berkebutuhan khusus - Meningkatkan kualitas belajar semua siswa Merupakan pengajar yang paling efektif karena sangat mengenal sifat dan perilaku anaknya Peran Orangtua Peran siswa lain dalam membantu anak berkebutuhan khusus didalam kelas .

STAKEHOLDER PENDIDIKAN INKLUSI Guru 1. orang tua dan penyedia layanan lainnya) Pak Ali seorang Guru Pembimbing Khusus bekerjasama dengan guru kelas dan siswa lain disekolah inklusi untuk membantu ABK dalam proses KBM . orang tua. Guru sekolah umum (guru kelas dan guru bidang studi) Mengelola kelas Menciptakan lingkungan kelas yang inklusif Menangani siswa berkebutuhan khusus (bekerja sama dengan guru pembimbing khusus. Guru pembimbing khusus (GPK) Menyediakan layanan pendukung bagi siswa berkebutuhan khusus Menyusun program pembelajaran individual (PPI) bersama guru kelas. orangtua tua dan penyedia layanan lainnya) 2. dan kepala sekolah Menangani siswa berkebutuhan khusus (bekerja sama dengan guru sekolah umum.

Memberikan masukan guna meningkatkan mutu pendidikan sekolah .Menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif .Mengawasi berjalannya program sekolah .Membantu sekolah dalam penyediaan sarana dan prasarana mengajar Kepala Sekolah dan Komponen Sekolah Lainnya .Komite Sekolah .Mengelola sekolah sehingga dapat berjalan dengan baik Pengawas Sekolah .Memberikan masukan guna meningkatkan mutu pendidikan sekolah .

Merupakan mitra pemerintah dalam mendukung terlaksananya sistem pendidikan inklusi Kegiatan pembraille-an soal ujian di pusat sumber SLB A Lebak Bulus .Memberikan layanan pendukung bagi anak berkebutuhan khusus. sekolah umum dan guru pembimbing khusus .Pusat Sumber .Melakukan identifikasi kebutuhan anak (berkerja sama dengan sekolah umum dan GPK) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lokal dan Internasional . orang tua.

Melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah Universitas .Mengidentifikasi dan menempatkan anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak atas pendidikan .Masyarakat .Merupakan mitra pemerintah dalam merancang kebijakan .Menghasilkan tenaga pendidik yang berkualitas .Menyediakan bantuan teknis bagi para stakeholder lain .Menyediakan layanan pendukung Profesional .

Masyarakat Masyarakat Sekolah. Stakeholders & Orang tua Aparat Pemerintah ASESMEN DAN PENEMPATAN IDENTIFIKASI Masyarakat Sekolah PAUD/ PADU Posyandu ASESMEN & PENEMPATAN .

PENGERTIAN DAN CIRI MANAJEMEN KELAS : Proses pengelolaan belajar di kelas dengan memperhatikan perencanaan kegiatan belajar mengajar dan komponen fisik (Santrock) Ciri (LIRP buku 4 dan buku 5):      Rancangan pembelajaran yang memperhatikan keberagaman Rencana pembelajaran yang kreatif dan inovatif Kegiatan pembelajaran yang melibatkan kerja sama Lingkungan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan Pembelajaran berpusat pada siswa dan bermakna bagi semua Suasana kelas dengan manajemen kelas inklusi di SDN 24 Kramat jati jakarta .

.

Tujuan • Menciptakan lingkungan kelas yang ramah dan menyenangkan • Menata lingkungan kelas yang menarik dan memudahkan • Menyusun dan mengelola rencana pembelajaran yang sesuai kebutuhan • Mengembangkan kerjasama LIngkungan kelas yang menyenangkan memberi kesempatan siswa bereksplorasi dan mengembangkan diri .

Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana pembelajaran: a. k. d. f. Apa yang diajarkan Mengapa diajarkan Bagaimana cara mengajarkan Apa yang digunakan Apa yang diketahui siswa sebelum/setelah pembelajaran Bagaimana mengelola kegiatan pembelajaran Bagimana mengatur lingkungan pembelajaran Apakah kegiatan dan lingkungan pembelajaran sesuai untuk semua siswa Apakah semua siswa terlibat dalam pembelajaran Bagaimana siswa melakukan pembelajaran Bagaimana siswa menampilkan hasil pembelajaran Apa bentuk tindak lanjut yang diinginkan . b. h. g. l. j. c. i. e.

inisiatif dan sikap toleran siswa Mengetahui sistem belajar di sekolah Meningkatkan kepercayaan terhadap guru dan sekolah memperkuat tanggung jawab pendidikan anak di sekolah Manfaat bagi orang tua:    .Manfaat bagi guru:    Mempermudah proses belajar mengajar Mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran Mengajar menjadi lebih efektif Manfaat bagi siswa:   Menciptakan sistem belajar yang non kompetitif dan kooperatif mengembangkan kreativitas.

Catatan : Papan Tulis GP : Gangguan perilaku TG : Tunagrahita TD TR TN TR : Tunarungu TN : Tunanetra TD : Tunadaksa GP TG .

GURU Papan Tulis TG TR TN TD TD Catatan : GP : Gangguan perilaku TG : Tunagrahita GP TR : Tunarungu TN : Tunanetra TD : Tunadaksa .

.Dampak yang timbul apabila anak berkebutuhan khusus tidak terlayani di sekolah – sekolah inklusif.

Potensi atau kemampuan anak kurang berkembang secara optimal .     Adanya labeling dalam masyarakat sekolah Timbulnya diskriminasi terhadap anak berkebutuhan khusus Mereka terhambat memperoleh kesempatan belajar Banyak terjadinya angka putus sekolah/DO/Tinggal kelas.

   Minimnya rasa toleransi terhadap sesama Kurangnya emphati terhadap teman yang berkebutuhan khusus Kurangnya sikap kooperatif terhadap .

Bagaimana ruang kelas anda nanti? .Bayangkan . . .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->