P. 1
kebijakan fiskal moneter

kebijakan fiskal moneter

|Views: 235|Likes:
Published by Khoirul Saleh

More info:

Published by: Khoirul Saleh on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2014

pdf

text

original

PERANAN KEBIJAKAN FISKAL DAN MONETER SEHUBUNGAN DENGAN KESEJAHTERAAN RAKYAT A.

Kebijakan fiskal Dalam perhtiungan pendapatan nasional, sektor pemerintah merupakan salah satu komponen utama. Sebagaimana yang kita ketahui, melalui pendekatan pengeluaran dapat dihitung dengan rumus Y = C + I + G + ( X – M ). Dalam unsur G ini, terdapat dua komponen penting, yaitu penerimaan pemerintah dan pengueluaran pemerintah. Untuk mengendalikan kedua komponen tersebut dibuatlah suatu kebijakan, yang disebut kebijakan fiskal. Jadi kebijakan fiskal adalah kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan cara memanipulasi anggaran pendapatan dan belanja pemerintah (KDBK UNIMED, teori Ekonomi Makro, 2012). Atau dapat juga diartikan kebijakan fiskal adalah kebijakan yang digunakan pemerintah untuk mengelola/ mengarahkan perekonomian ke kondisi yang lebih baik dengan cara mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah (APBD). (KDBK UNIMED, teori ekonomi moneter,2012). Dapat disimpulkan bahwa kebijakan fiskal ini adalah kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah dalam menjalankan perekonomian kearah yang lebih baik. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara umum. PAJAK

Kebijakan Fiskal / Politik Anggaran dibagi menjadi tiga bagian : 1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) / Kebijakan Fiskal Ekspansif Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya sangat baik digunakan jika keaadaan ekonomi sedang resesif.

yaitu :   Kebijakan moneter ekspansi : dengan menambah jumlah uang beredar. B. Kalau diibaratkan suatu susunan tubuh manusia.2.demikian halnya dengan uang. Hal ini dilakukan ketika terjadi inflasi tinggi. . Kebujakan moneter adalah upaya pemerintah melalui bank sentral untuk mengendalikan perekonomian makro kearah kondisi yang diinginkan dengan mengatur uang beredar. Kebijakan moneter kontraktif : dengan menurangi jumlah uang beredar. Baiknya politik anggaran surplus dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk menurunkan tekanan permintaan. Untuk mengatasi masalah ini. Hal ini dilakukan ketika terjadi deflasi. (KDBK UNIMED. KEBIJAKAN MONETER Uang merupakan satu hal yang sangat vital dalam perekonomian. pemerintah dapat men ambah dan mengurangi jumlah uang beredar untuk mengendalikan inflasi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter dibedakan menjadi dua bagian. Jantung merupakan pengontrol peredaran darah dalam tubuh kita. tidak terlalu banyak. 3. dan tidak boleh terlalu sedikit. Kondisi yang lebih baik adalah meningkatkan output nasional dan terkendalinya stabilitas harga (inflasi terkontrol). Dengan kebijakan ini. Anggaran Surplus (Surplus Budget) / Kebijakan Fiskal Kontraktif Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk membuat pemasukannya lebih besar daripada pengeluarannya. Anggaran Berimbang (Balanced Budget) Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan.2012). Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin. Dapat dikatakan bahwa uang adalah jantungnya perekonomian. karena akan menimbulkan penyakit bagi tubuh kita. Kebijakan ini juga sering disebut kebijakan uang ketat. tidak boleh kebanyakan ataupun kurang. Keberadaannya harus terkontrol rapi. Karena nantinya akan manjadi masalah dalam perekonomian. Teori Ekonomi Moneter. pemerintah menempuh suatu kebijakan yang disebut kebijakan moneter.

maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Jika ingin menambah jumlah uang beredar. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang. Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Untuk menambah jumlah uang. serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang. yaitu antara lain : 1. bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang. pemerintah menaikkan rasio. Untuk menurunkan jumlah uang beredar. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. 2. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Himbauan Moral (Moral Persuasion) Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral. 3. pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. 4. pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. . Untuk membuat jumlah uang bertambah. Namun.

Jadi untuk menuju perekonomian yang baik itu. baik kebijakan fiskal dan moneter harus selslu mencapai keseimbangan dengan tingkat pendapatan nasional tertentu. Kalau kebijakan fiskal dengan pengendalian APBP. sedangkan pasar barang digambarkan melalui kurva IS yang dikendalikan dengan kebijakan fiskal.C. Pengambilan keputusan untuk menentukan kebijakan mana yang harus diambil. atau disebut daerah klasik. harus meninjau dari sisi pendapatan nasional. hanya saja instrumennya saja yang berbeda. Untuk lebih jelas dapat dilihat dari kurva dibawah ini. atau dapat kita sebut juga titik perpotongan antara kedua kurva tersebut. Sebagai contoh. Titik keseimbangan pengguanan kedua kebijakan ini terjadi ketika IS = LM. Yang menjadi pertanyaan “Bagaimana hubungan antara kedua kebijakan tersebut dalam menuju perekonomian yang lebih baik”. ketika perekonomian pada situasi dimana tingkat suku bunga sangat tinggi. sedangkan instrumen kebijakan moneter adalah pengendalian uang beredar. HUBUNGAN KEBIJAKAN FISKAL DENGAN KEBIJAKAN MONETER DALAM PEREKONOMIAN Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa kebijakan yang ditempuh pemerintah. Secara teoritis dapat kita ilustrasikan dengan kaitannya dengan pasar uang dan pasar barang. Pasar uang digambarkan dengan kurva LM yang dikendalikan dengan kebijakan moneter. yaitu menggiring perekonomian menuju arah yang lebih baik. yang mana kedua hal tersebut diperuntukan terhadap pendapatan nasional. LM I0 IS Y Dari kurva diatas terlihat jelas bagaimana hubungan dari kedua kebijakan fiskal dan moneter dalam mengambil keputusan untuk mengarahkan perekonomian kearah yang lebih baik. baik kebijakan fiskal maupun moneter punya tujuan yang sama. maka pada saat itu kurva .

perhatikan kurva berikut. I i1 i2 IS0 Y LM IS1 Dari gambar diatas. Dengan demikian maka kurva IS digeser ke kanan atas. Jadi kebijakan yang diambil adalah kebijakan dengan menambah uang beredar. Dalam artian kita menambah G. Pelaksanaan kebijakan fiskal berupa menaikan kurva IS tidak efektif. “Karenanya kebijakan moneter dan fiskal perlu ditingkatkan saat mengalami goncangan. Jum’at (29/4). saat melaksanakan ujian terbuka program doktor di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. SE. . Peningkatan tingkat suku bunga tidak diiringi dengan peningkatan pendapatan nasional. seperti adanya semacam Dewan Moneter. Tidak akan membawa perubahan terhadap tingkat pendapatan nasional. yang merupakan kebijakan moneter. Untuk lebih jelas.LM berbentuk tegak lurus atau inelastis sempurna. Kita gunakan saja kebijakan fiskal misalnya.. koordinasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal jauh lebih bermanfaat dibanding tidak melakukan koordinasi. KOORDINASI KEBIJAKAN MONETER DAN KEBIJAKAN FISKAL JAUH LEBIH BERMANFAAT DIBANDING TIDAK MELAKUKAN KOORDINASI Dalam rangka mengatasi kerugian sosial akibat goncangan inflasi dan goncangan output. MA. Hasil simulasi membuktikan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal (kebijakan fiskal endogen) menghasilkan fungsi kerugian lebih kecil dibanding tanpa koordinasi (kebijakan fiskal eksogen). melalui penguatan kelembagaan.” kata Wijoyo Santoso. jelas bagaimana pengambilan keputusan yang baik untuk masalah yang tersebut diatas. Namun kenaikan tersebut tidak meningkatkan pendapatan nasional. Maka perubahan tingkat suku bunga. Hal ini akan mangakibatkan tingkat suku bunga akan naik.

Sementara itu respon kebijakan moneter dan fiskal terhadap goncangan inflasi dan goncangan output secara bersama-sama terbukti juga belum optimal. Simulasi membuktikan semakin kecil varian suku bunga relatif terhadap variabel output akan menghasilkan fungsi kerugian yang lebih kecil. di Bank Indonesia. respon kebijakan moneter dan fiskal belum optimal.” ujar peneliti utama senior. menurut Wijoyo. Sebaliknya interaksi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal bersifat substitusi atau saling menggantikan dalam menghadapi goncangan output. dibandingkan fungsi kerugian apabila kebijakan fiskal bersifat eksogen untuk semua variasi bobot suku bunga dan output. Hasil simulasi menyimpulkan interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia dalam periode observasi bersifat komplementer atau saling membantu dalam menghadapi goncangan inflasi. “Oleh karena itu. Interaksi kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia ke substitusi atau komplementer. dipengaruhi oleh berbagai tipe goncangan.Menghadapi goncangan inflasi. karena nilai fungsi kerugian pada parameter hasil estimasi secara mutlak masih lebih besar jika dibandingkan dengan fungsi kerugian pada kombinasi parameter yang ada. volatilitas atau varian suku bunga perlu dijaga seminimal mungkin relatif terhadap varian output. sedangkan otoritas fiskal akan mengurangi pengeluarannya . kata Wijoyo. Hasil simulasi memperlihatkan fungsi kerugian yang lebih besar di mana kebijakan fiskal bersifat endogen dibandingkan fungsi kerugian apabila kebijakan fiskal bersifat eksogen. “Goncangan output berupa kenaikan output sebesar 1 persen otoritas moneter tidak akan menaikkan suku bunga kebijakan karena kenaikan output tersebut tidak menimbulkan dampak inflasi yang signifikan. untuk mencapai interaksi kebijakan moneter dan fiskal yang optimal. sedangkan otoritas fiskal akan mengurangi pengeluaran pemerintah atau defisit anggaran karena output dianggap sudah cukup meningkat. PPSK. Wijoyo berpandangan goncangan inflasi berupa kenaikan inflasi 1 persen akan mendorong otoritas moneter meningkatkan suku bunga kebijakan untuk mengendalikan inflasi. Sebaliknya dalam menghadapi goncangan output interaksi kebijakan moneter dan fiskal (kebijakan fiskal endogen) menghasilkan kerugian yang lebih kecil.

” papar Wijoyo yang dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.karena menganggap output sudah cukup meningkat. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->