P. 1
Instrumen-Instrumen Dalam Ekonomi Islam

Instrumen-Instrumen Dalam Ekonomi Islam

|Views: 2,124|Likes:
Published by Nizar Muhammad

More info:

Published by: Nizar Muhammad on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

0

INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM
EKONOMI ISLAM
Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengantar Ekonomi Islam







DOSEN PENGAMPU
MUHAMMAD NIZAR, SE, Sy.

NAMA
ZAINURI
NIM: 2011.86.22.0003

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
2012

1

INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM EKONOMI ISLAM

A. Pendahuluan
Untuk dapat dibedakan dengan paham-paham yang lain, suatu paham
ekonomi memiliki karakteristik tertentu. suatu paham ekonomi biasanya
dibangun oleh suatu tujuan, prinsip, nilai, dan paradigma. Misalnya, paham
liberalisme dibangun atas tujuam terwujudnya kebebasan setiap individu
untuk mengembangkan dirinya. Kebebasan ini akan terwujud apabila setiap
individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Dengan
demikian, kesempatan merupakan prinsip yang akan dipegang yang pada
akhirnya akan melahirkan suatu paradigma persaingan bebas.
Karakteristik ekonomi Islam yang membedakan dengan sistem
ekonomi lain, menurut Yusuf Qardhawi, ia adalah ekonomi rabbaniyah,
ilahiyah, insaniyah (berwawasan kemanusiaan), ekonomi berakhlak, dan
ekonomi pertengahan. Sebagai ekonomi ilahiyah, ekonomi Islam memiliki
aspek-aspek transenden yang suci, yang memadukannya dengan aspek materi,
dunia (profan). Titik tolaknya adalah Allah dan tujuannya adalah untuk
mencari karunia Allah melalui jalan (thariqah) yang tidak bertentangan
dengan apa yang telah digariskan oleh Allah.
Sebagai ekonomi kemanusiaan, ekonomi Islam melihat aspek
kemanusiaan (humanity) yang tidak bertentangan dengan aspek ilahiyah.
Manusia dalam pandangan ekonomi Islam merupakan pameran utama dalam
mengelola dan memakmurkan alam semesta disebabkan karena kemampuan
menajerial yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.
1
2

Dengan demikian sesungguhnya kegiatan ekonomi di mana- mana
adalah sama. Hal yang dapat membedakannya, menurut Syarifuddin
Prawiranegara (seorang ahli ekonomi dan teknokrat yang menonjol
peranannya di Indonesia pada akhir tahun 40-an dan 50-an), adalah moral
ekonominya. karena itu yang bisa dipelajari lebih khusus adalah etika
ekonominya, dalam hal ini misalnya menurut ajaran Islam.

B. Sistem Ekonomi Islam
John F. Due menjelaskan bahwa sistem eknomi adalah merupakan “...
group of economic intitutions or regarded a unit of the economic system, teh
organization through the operation of which the various resources scarce,
related to the m are utilized to satisfy the wants man”. Sistem ekonomi
merupakan lembaga (pranata) yang hidup dalam suatu masyarakat yang
dijadikan acuan oleh masyarakat tersebut dalam mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Adupun yang dimaksud dengan institusi adalah organisasi atau
kaedah, baik formal ataupun informal yang mengatur prilaku dan tindakan
anggota masyarakat tertentu baik dalam melakukan kegiatan rutin sehari-hari
maupun dalam mencapai tujuan tertentu, misalnya hak milik, rumah tangga,
bagi hasil dan lain- lain.
Sistem ekonomi yang terdapat di dalam setiap kelompok masyarakat
atau negatra tidak lain adalah untuk mengatasi persoalan.
1. Barang apa yang seharusnya dihasilkan.
2. Bagaimana cara menghasilkan barang itu.
3

3. Untuk siapa barang itu dihasilkan atau bagaimana barang tersebut
didistribusikan kepada masyarakat.
Dengan kata lain bahwa sistem ekonomi adalah suatu kesatuan
mekanisme dan lembaga pengambilan keputusan yang mengimplementasikan
keputusan terhadap produksi, distribusi dan konsumsi dalam suatu wilayah.
Dan pada dasarnya banyak faktor yang membentuk sistem ekonomi, seperti
ideologi, nilai-nilai yang dianut, keadaan alam, sejarah dan lain- lain. Secara
umum sistem ekonomi juga didasarkan pada pemikiran, konsep, atau teori-
teori ekonomi tertentu yang diyakini kebenarannya. Namun yang dianggap
elemen penting dari suatu sistem ekonomi menurut Gregory dan Stuart adalah:
1. Hak kepemilikan.
2. Mekanisme provisi informasi dan koordinasi dari keputusan-keputusan.
3. Metode pengambilan keputusan.
4. Sistem insentif bagi perilaku ekonomi.
Masing- masing sistem ekonomi kemungkinan berbeda tekanannya
dalam hal jenis hak milik tertentu, yang secara umum dapat dikategorikan
menjadi hak milik individu, hak milik sosial (publik), dan hak milik negara.
Dalam pengambilan keputusan, suatu sistem ekonomi kemungkinan memiliki
metode yang unik, misalnya menggunakan metode sentralistik, desentralistik,
atau gabungan keduanya. Provisi informasi dan koordinasi dalam keputusan
ekonomi dapat dilakukan menggunakan pasar, perencanaan, atau tradisi.
Sedangkan sistem insentif yang menjadi faktor motivasi dalam berekonomi
4

dapat berupa motivasi yang materialistik dan motivasi nonmaterialistik,
seperti spiritual, sosial, budaya dan sebagainya.
Dengan demikian sistem ekonomi Islam mencakup kesatuan
mekanisme dan lembaga yang dipergunakan untuk mengoperasionalkan
pemikiran dan teori-teori ekonomi Islam dalam kegiatan produksi, distribusi,
dan konsumsi. Selanjutnya akan dielaborasi elemen-elemen penting
perekonomian Islam.

C. Kepemilikan Dalam Islam
1. Sejarah Kepemilikan
Istilah kepemilikan telah ada dan muncul sejak adanya manusia
pertama di muka bumi ini. Saat itu, makna kepemilikan tidak lebih dari
sekedar penggunaan sesuatu guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada
masa awal ini manusia belum berfikiran untuk menyimpan apa yang ia
miliki. Ini disebabkan penghuni bumi saat itu masih sedikit dan kebutuhan
hidup sangat melimpah. Sehingga pada saat itu, kepemilikan terhadap
sesuatu hanyalah penggunaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
karena kebutuhan hidup sangat mudah didapat.
Seiring dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit jumlah bani
adam mulai bertambah dan memenuhi penjuru bumi. Dimulailah
persaingan guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal ini terjadi setelah
bertambahnya populusi. Dan dilain sisi setiap orang ingin memenuhi
kebutuhan dengannya. Maka sejak ini mulai pergeseran makna
5

kepemilikan yang awalnya hanya penggunaan untuk memenuhi kebutuhan
hidup, menjadi kewenangan dan kekuasaan. Maka mulai saat inilah
muncul istilah kepemilikan pribadi.
Dalam waktu yang sama manusia muncul dalam bentuk keluarga,
jamaah, dan kabilah. Dan seorang manusia tidaklah hidup kecuali secara
jamaah bermasyarakat. Karena tidak ada alternatif lain dalam
kelangsungan kehidupan seseorang kecuali bergabung dalam komunitas
masyarakat. Darinya muncul istilah kepemilikan bersama. Dimana tidak
ada hak wewenang pribadi dalam memanfaatkannya melainkan digunakan
bersama oleh setiap anggota masyarat seperti: jalan raya, jembatan, sungai,
gunung dll.
2. Definisi Kepemilikan Menurut Ulama Syiari’ah
Kepemilikan dalam syariat Islam adalah kepemilikan terhadap
sesuatu sesuai dengan aturan hukum, dan memiliki wewenang untuk
bertindak dari apa yang ia miliki selama dalam jalur yang benar dan sesuai
dengan hukum.
Melihat makna defenisi ini jelaslah bahwa kepemilikan dalam
islam berbeda dengan apa yang ada pada paham-paham lainnya. Seperti
halnya aliran kapitalis yang memandang makna kepemilikan sebagai
kekuasaan seseorang yang tak terbatas terhadap sesuatu tanpa ada pada
orang lain. Inilah perbedaan yang mendasar antara konsep kepemilikan
pada Islam dan yang paham lainnya yaitu harus berada pada jalur koridor
yang benar sebagaimana diperintahkan oleh Allah.
6

3. Faktor Penyebab Adanya Kepemilikan
Disadari bahwa kehidupan manusia tidaklah akan berjalan lancar
dengan baik kecuali setelah mendapatkan apa yang bisa mencukupi
kebutuhan hidupnya dari harta benda. Maka dalam kehidupan, harta adalah
sesuatau yang lazim dan wajib bagi semua manusia sejak pertama
diciptakan dimuka bumi ini. Dikatakan bahwa manusia pertama yang
menggunakan mata uang dinar dan dirham adalah Adam. Adam berkata:


Tidaklah berjalan dengan baik suatu kehidupan tanpa keduanya
yaitu dinar dan dirham.

Jika kehidupan manusia terikat oleh harta, maka secara otomatis,
wajiblah baginya bersungguh-sungguh dan jujur dalam mencapainya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah melalui rasulNya.
4. Faktor Penyebab Adanya Kepemilikan Dalam Islam
a. Tidak menggantungkan hidup kepada orang lain
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tidak adanya
ketergantungan materi dan mengaharap belas kasih orang lain. Karena
Islam memandang hina mereka yang hanya mengantungkan hidupnya
kepada orang lain tanpa mau berusaha untuk memenuhi kehidupannya
sendiri. Rasulullah juga melarang kita untuk menengadahkan tangan
kepada orang lain dengan tujuan meminta. Tergambar dalam
ucapannya:

Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah.
7

Diriwayatkan bahwa Luqman a.s berkata kepada anaknya:
”wahai anakku, jika engkau merasa fakir (kekurangan) maka minta
tolonglah kepada tuhanmu yang maha kuasa”. Berdoa dan merendah
kepadaNya. Mintalah kepadaNya karunia dan anugerahNya. Maka
sesungguhnya tidak ada yang memiliki selain Ia. Dan janganlah
engkau meminta kepada manusia. Dengannya kau terlihat rendah
dihadapan mereka,sedangkan kau tidak mendapatkan apa-apa”.
Hadist dan nash-nash diatas menanamkan pada umat muslim
jiwa yang mulia untuk tidak meminta dari apa yang ada di tangan
manusia kecuali dengan cara yang di halalkan oleh Islam. Dan
mendorong mereka untuk mancari yang halal melalui jalan yang telah
digariskan oleh Islam.
b. Semangat dan merasa tenang dalam beribadah kepada Allah
Ini bisa dilihat dari bagaimana dengannya seorang muslim bisa
menjalankan kewajibannya kepada Allah. yang membutuhkan
kejernihan pikiran. Dan ini tidak akan tercapai kecuali dengan
memberikan kepada jiwa apa yang memenuhi kebutuhannya. begitu
juga seorang muslim dalam menjalankan kewajiban kepada tuhannya
selain kesiapan batin juga memerlukan harta materi. karena diantara
kewajiban ada yang dalam pelaksanaannya memerlukan harta. Seperti
dalam kewajiban berzakat dan ibadah haji kedua itu tidak diwajibkan
kecuali kepada mereka yang mampu. Sudah jelas seorang muslim tidak
8

akan mampu melaksanakannya melainkan dengan bekerja yang bisa
menghasilkan materi.
Oleh karena itu Ibnu Taimiah berkata bahwa: keimanan
seorang muslim tidaklah sempurna kecuali ia mampu memenuhi
semua kebutuhan hidupnya . Karena itu maka kekurangan harta materi
merupakan kendala besar bagi seorang muslim dalam mencapai derajat
iman yang sempurna.
Dari ini bisa disimpulkan bahwa bagi seorang muslim harta
tidaklah melainkan sebatas wasilah perantara guna mencapai tujuan-
tujuan mulia. Bukanlah seperti apa yang disangka oleh sebagian umat
muslim. Bahwa Islam adalah pengangguran dan meninggalkan hal- hal
yang bersifat duniawi dari harta dan kenikmatan lainnya dengan dalih
zuhud, agar lebih tenang dalam beribadah. Lalu kemudian
mengasingkan diri dari masyarakat guna mencapai derajat keimanan
yang tinggi. Tidaklah seperti itu tetapi Islam mendorong dan
menganjurkan umatnya untuk selalu berusaha dalam mencari harta
guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan selanjutnya ia bisa beribadah
kepada Allah dengan tenang dan penuh kedamaian tanpa terikat oleh
siapapun.
c. Menolong sesama.
Jika kita cermati kehidupan para sahabat Rasulullah, mereka
bersemangat dalam mencari harta guna memenuhi kehidupan dan
mengeratkan tali silaturrahmi di antara mereka melalui sodaqoh.
9

Sebagaimana diriwayatkan dari Abdurrahman Bin Auf. Beliau berkata:
dengan harta aku menyambung silaturrahmi dan mendekatkan diri
kepada Allah begitu juga Zubair Ibnu Awam berkata: sesungguhnya
harta adalah darinya sumber kebaikan, silaturrahmi, nafaqah di jalan
Allah dan kebaikan akhlaq. Selain itu pula padanya kemuliaan dunia
dan kelezatannya.

D. Musyawarah Sebagi Prinsip Pengambilan Keputusan
1. Musyawarah
Adanya musyawarah dalam pengambilan keputusan karena di
dalam musyawarah semua peserta memiliki persamaan hak untuk
mendapatkan kesempatan secara adil untuk mengungkapkan pendapat dan
pandangan masing- masing terhadap suatu pengambilan keputusan.
Pelaksanaan musyawarah dan prosedur pengambilan keputusan tetap
berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam yaitu kebebasan,
keadilan, dan persamaan dalam berbicara serta mengemukakan pendapat.
Pendapat yang diajukan keputusan bukan melihat kepada siapa yang
mengemukakan pendapat itu, pendapat mayoritas atau minoritas,
melainkan bagaimana kualitas pendapat itu dan dampaknya bagi
kemaslahatan umat bukan kemaslahatan yang bermusyawarah.
Berikut petunjuk al-Qur’an tentang bentuk dan sistem musyawarah
pada ayat pertama dalam surat al-Syura ayat 38:
10

_¸¸¦´¸ ¦¡,!>.`.¦ ¯¡¸¸¸¯,¸¸l ¦¡`.!·¦´¸ :¡l¯.l¦ ¯¡>`¸.¦´¸ _´¸¡: ¯¡'¸´.¸, !´.¸.´¸ ¯¡¸.´.·¸´¸
¿¡1¸±.`, .
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan
Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka
(diputuskan) dengan musyawarat antara mereka, dan mereka
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada
mereka.

Allah juga menyebut musyawarah sebagai sifat terpuji bagi orang
beriman, kemudian Ia memerintahkan agar urusan dimusyawarahkan
sebagi tersebut dalam surat Ali Imran ayat 159:
!.¸,· ¸«.>´¸ ´_¸. ¸<¦ ¸.¸l ¯¡¸l ¯¡l´¸ ¸.´ !L· 1,¸ls ¸¸l1l¦ ¦¡´.±.¸ _¸. ,¸l¯¡>
¸s!· ¯¡·¸.s ¯¸¸±-.`.¦´¸ ¯¡> ¯¡>¯¸¸¸!:´¸ _¸· ¸¸¯.¸¦ ¦:¸|· ¸.´¸s ¯_´´¡.· _ls ¸<¦ ¿¸| ´<¦
´¸¸>´ _¸¸´´¡..l¦ .
Maka disebabkan rahmat dari Allah- lah kamu berlaku lemah
lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya.

2. Keadilan
Dalam Islam, kebenaran adalah kebenaran, kesesatan adalah
kesesatan, keadilan adalah keadilan, yang kesemuanya adalah berlaku
mutlak terhadap siapapun itu di dunia ini, tidak memandang dia adalah
rakyat jelata yang paling hina dan rendah ataupun pemimpin umat, atau
bahkan utusan tuhan sekalipun, semuanya duduk sama rendah dan berdiri
sama tinggi serta menjunjung bersama-sama dalam hukum, tidak ada yang
11

memiliki hak- hak istimewa apapun. salah adalah salah, benar adalah
benar. Oleh karena itu dalam mengambil keputusan hendaknya bersifat
adil. Dijelaskan dalam Firman Allah dalam QS. al-Maidah: 8
!¸¸!., _¸¸¦ ¦¡`..¦´, ¦¡.¡´ _,¸.¯¡· ¸< ´,¦.¸: ¸1`.¸1l!¸, ¸´¸ ¯¡÷..¸¸>, `¿!:.:
¸,¯¡· ´_ls ¸¦ ¦¡l¸.-. ¦¡l¸.s¦ ´¡> ´,¸·¦ _´¡1`.l¸l ¦¡1.¦´¸ ´<¦ ´_¸| ´<¦ ´¸,¸,> !.¸,
_¡l.-. .
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang
yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan.

Perintah wajib itu ditujukan kepada dua hal yaitu perintah
menetapkan hukum atau menyelesaikan satu masalah dengan adil dan
perintah berlaku adil bagi orang yang menetapkan hukum dan
menyelesaikan sustu masalah.

E. Pasar Yang Adil Dalam Media Koordinasi
Aspek keempat dalam sistem ekonomi adalah mekanisme pemenuhan
insentif. Dalam paham kapitalisme, mekanisme pasar atau transaksi dianggap
sebagai mekanisme yang paling tepat untuk pemenuhan kehendak setiap
individu. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap individu sadar dan
termotivasi oleh kepentingan individunya, karena itu tiap individu tidak perlu
diatur oleh pihak lain dalam memenuhi kepentingan sendiri. Mekanisme
transaksional akan tercipta manakala setiap individu memiliki pola pikir yang
12

individualistik. Seseorang akan mau memberikan miliknya apabila ia
mendapatkan imbalan yang sesuai dengan keinginannya. Mekanisme inilah
yang disebut mekanisme pasar.
Insentif individualistik tersebut oleh Islam diakomodasi sepanjang
tidak bertentangan dengan kepentingan sosial dan kepentingan suci (ibadah).
Karena itu kebebasan individu yang harmonis dengan kebutuhan sosial dan
moralitas Islam akan terwujud dalam mekanisme pasar yang mengedepankan
aspek moralitas dan kerja sama. Ibnu Taimiyah menyebutkan dengan “pasar
yang adil” atau gabungan antara persaingan dan kerja sama (coopetition).
Mekanisme pasar diberikan ruang gerak untuk penentuan harga, namun pasar
juga dikendalikan oleh pemerintah dan masyarakat dalam upaya mencapai
keadilan dan maslahah yang maksimum, jadi bukan pasar murni.

F. Maslahah Sebagai Insentif Ekonomi
Secara etimologi, maslahah mursalah ( ) terdiri dari dua
kata, yaitu kata maslahah ( ) dan kata mursalah ( ). Kata maslahah
( ) sendiri adalah masdar (kata benda) dari kata sholaha ( ) yang
memiliki arti faedah, kepentingan, kemanfaatan dan kemaslahatan.
Imam Musa Ibrahim menyebutkan dalam kitabnya “Al-madkhol fi
Ushulil Fiqh wa tarikhu at-tasyri’u al-Islam bahwa maslahah sama dengan
manfaah baik dipandang dari sisi wazan atau artinya.
Sedangkan kata Mursalah ( ) adalah isim maf’ul (objek) dari fiil
madli (kata dasar) dalam bentuk tsulasi (kata dasar yang tiga huruf) yaitu
13

dengan penambahan huruh alif dipangkalnya sehinga menjadi . secara
etimologi berarti terlepas atau dalam arti mutlaqotan (bebas). Kata lepas dan
bebas disini jika dihubungkan dengan kata maslahah maksudnya adalah
terlepas dan bebas dari keterangan yang menunjukan boleh atau tidaknya
dilakukan.
Bila ditinjau secara istilah, para ulama ushul fiqh tidak mencapai kata
sepakat dalam memberikan batasan dan defenisi tentang apa sebenarnya itu
maslahah.
Imam Ghozali mendefinisikan maslahah sebagai berikut,

Ungkapan yang pada asalnya digunakan untuk menarik manfaat atau
menolak mudhorot.

Imam As-Saukani mendefinisikan maslahah sebagai berikut,

Memelihara tujuan syara' (dalam menetapkan hukum) dengan cara
menghindarkan kerusakan dari manusia”.

Imam Abdur Rohman mendefinisikan maslahah dalam kitab tafsirnya
sebagai berikut,

“Hakikat Maslahah adalah sesuatu yang bisa membuat baik terhadap
keadaan-keadaan hamba- hamba (manusia- manusia) dan menstabilkan
urusan-urusanya baik urusan agama maupun urusan akhirat”.

Dalam kitab al-Buhust al-Ilmiyah disebutkan bahwa maslahah adalah


14


“Maslahah adalah manfaat yang diperoleh atau manfaat yang
dominant (umum dan ungul)”

Dalam kitab Mafaahim al-Islamiyah disebutkan:

“Maslahah adalah menarik manfaat yang dimaksud oleh syari’ yang
bijaksana”.

Dalam Majalah Jami’ah Islamiyah yang ada di madinah, disebutkan
bahwa maslahah adalah


“Maslahah adalah apa yang dikehendaki oleh akal yang lurus(tidak
dipengaruhi oleh hawa nafsu) dan fitrah yang sehat untuk
merealisasikan tujuan syaari’ dan manusia berupa kebaikan di dunia
dan akhirat”.

Walaupun para ulama ushul fiqh berbeda dalam mendefinisikan
maslahah, namun pada tataran subtasinya mereka boleh dibilang sampai pada
titik penyimpulan, bahwa maslahah adalah suatu bentuk upaya hukum untuk
mendatangkan sesuatu yang berdampak positif (manfaat) serta menghindarkan
diri dari hal- hal yang bermuatan negatif (mudorot)”

G. Penutup
Ekonomi syariah merupakan bagian integral dari ajaran Islam yang
universal dan komprehensif. Al-Qur’an secara tegas mendeklarasikan
kekomprehensifan Islam tersebut. Sebagaimana pada surat Al- An’am ayat
38, “Sedikitpun tidak kami lupakan di dalam kitab suci Al-Qur’an (QS. 6:38);
15

surat Al-Maidah ayat 3 “Pada hari ini Kusempurnakan bagi kamu agamamu
dan Kusempurnakan bagi kamu nikmatKu dan Aku ridho Islam itu sebagai
agama kamu”. Dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Kami menurunkan al-
Qur’an untuk menjelaskan segala sesuatu” (QS.16:89). Ajaran Islam
mengenai muamalah bersifat universal dan inklusif, sesuai dengan surah al-
Anbiyak 107. "Kami tidak mengutusmu kecuali untuk sekalian alam”. Ajaran
Islam dalam bermuamalat tidak membeda-bedakan muslim dan non- muslim.
Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diucapkan oleh Khalifah
Ali :“ Dalam bidang muamalat kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan
hak mereka adalah hak kita”.
Salah satu unsur yang menjadi dasar perbedaan antara sistem ekonomi
syariah dengan sistem ekonomi lainnya adalah pada falsafahnya, yang terdiri
dari nilai- nilai dan tujuan. Dalam ekonomi Islam, nilai-nilai ekonomi
bersumber dari al-Qur’an dan hadits berupa prinsip-prinsip universal. Di saat
sistem ekonomi lain hanya terfokus pada hukum dan sebab akibat dari suatu
kegiatan ekonomi, Islam lebih jauh membahas nilai- nilai dan etika yang
terkandung dalam setiap kegiatan ekonomi tersebut. Nilai- nilai inilah yang
selalu mendasari setiap kegiatan ekonomi Islam. Nilai fundamental yang
menjadi fondasi utama konstruksi ekonomi syariah adalah tauhid. Fondasi
berikutnya, adalah syariah dan akhlak. Pengamalan syariah dan akhlak
merupakan refleksi dari tauhid. Landasan tauhid yang tidak kokoh akan
mengakibatkan implementasi syariah tidak terganggu.
16

Fondasi syariah membimbing aktivitas ekonomi, sehingga sesuai
dengan kaidah-kaidah syariah (syari'ah compliance). Sedangkan akhlak
membimbing aktivitas ekonomi manusia agar senantiasa mengedepankan
moralitas dan etika untuk mencapai tujuan. Akhlak yang terpancar dari tauhid
akan membentuk integritas yang membentuk good corporate governance dan
market diciplin yang baik. Di atas fondasi tersebut terdapat sepuluh pilar yang
menjadi prinsip untuk mencapai tujuan (falah), Kesepuluh pilar tersebut
adalah maslahah, keadilan, khilafah tanggung jawab, kebebasan, ownership
(kepemilikan), produktifitas, persaudaraan (ukhuwah), nubuwwah, dan
jaminan sosial.
17

Daftar Pustaka

Hamid, Edy Suandi. Modul Sistem Ekonomi, Jakarta: UT, 2007.

Muhammad, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.

P3EI UII-BI, Ekonomi Islam, Jakarta: Rajawali Pers, 2008.

Raharjo, M. Dawam. Etika Ekonomi dan Manajemen, Yogyakarta: Tiara Wacana,
1990

http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2200531-definisi-
maslahah/#ixzz1phIoWpwJ.

http://qyuranies.blogsome.com/2007/09/18/prinsip-pengambilan-keputusan-
menurut- islam/ trackback.

http://iaei-pusat.org/index.php?option=com_content&view=article&id=87:road-
map-ekonomi-syariah&catid=48:artikel-ekonomi-syariah&Itemid=77.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->