P. 1
Prinsip Konsumsi Islam

Prinsip Konsumsi Islam

|Views: 445|Likes:
Published by Nizar Muhammad

More info:

Published by: Nizar Muhammad on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/26/2014

pdf

text

original

0

PRINSIP KONSUMSI ISLAM
Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengantar Ekonomi Islam







DOSEN PENGAMPU
MUHAMMAD NIZAR, SE, Sy.


NAMA
FIRMAWATI
NIM: 2011.86.22.0005

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN
2012
1

PRINSIP KONSUMSI ISLAM

A. Pendahuluan
Keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan naluri
manusia. Sejak kecil, bahkan ketika baru lahir, manusia sudah menyatakan
keinginan untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara, misalnya
dengan menangis untuk menunjukkan bahwa seorang bayi lapar dan ingin
minum susu dari ibunya. Semakin besar dan akhirnya dewasa, keinginan dan
kebutuhan seorang manusia akan terus meningkat dan mencapai puncaknya
pada usia tertentu untuk seterusnya menurun hingga seseorang meninggal
dunia.
Teori Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana
manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan
memanfaatkan sumber daya (resources) yang dimilikinya.
Teori perilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi
konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme. Diprakarsai
oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat
mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri.
Dengan demikian pembatasan terhadap kebebasan individu, baik oleh individu
lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk
melakukannya. Oleh pengikutnya, John Stuart Mill dalam buku On Liberty
yang terbit pada 1859, paham ini dipertajam dengan mengungkapkan konsep
“freedom of action” sebagai pernyataan dari kebebasan-kebebasan dasar
1
2

manusia. Menurut John Stuart Mill, campur tangan negara di dalam
masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur
tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campir tangan terhadap
kebebasan-kebebasan dasar manusia, dan karena itu harus dihentikan.
Lebih jauh John Stuart Mill berpendapat bahwa setiap orang di dalam
masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang
dipilihnya sendiri, namun kebebasan seseorang untuk bertindak itu dibatasi
oleh kebebasan orang lain, artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh
mendatangkan kerugian bagi orang lain.
Dasar filosofis tersebut melatar belakangi analisa mengenai perilaku
konsumen dalam teori ekonomi konvensional.

B. Definisi Konsumsi
Konsumsi adalah suatu kegiatan manusia yang secara langsung
menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya dengan tujuan
untuk memperoleh kepuasan yang berakibat mengurangi ataupun
menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa.
Motif seseorang bekerja adalah untuk mencari penghasilan,
penghasilan yang diperoleh akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan
(untuk konsumsi) dan apabila memungkinkan sisanya akan ditabung (saving),
atau mungkin bisa diinvestasikan (penanaman modal dalam perusahaan).


3

1. Menurut Drs. Hananto dan Sukarto T.J.
Konsumsi adalah bagian dari penghasilan yang dipergunakan untuk
membeli barang-barang atau jasa-jasa guna memenuhi hidup.
2. Menurut Albert C Mayers.
Konsumsi adalah penggunaan barang-barang dan jasa yang langsung dan
terakhir guna memenuhi kebutuhan hidup manusia.
3. Menurut ilmu ekonomi
Konsumsi adalah setiap kegiatan memanfaatkan, menghabiskan kegunaan
barang maupun jasa untuk memenuhi kebutuhan demi menjaga
kelangsungan hidup.
Islam adalah agama yang ajarannya mengatur segenap prilaku manusia
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula dalam masalah
konsumsi, Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-
kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemashlahatan
hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam
al-Qur’an dan as-Sunnah. Prilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan al-
Qur’an dan as-Sunnah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan
dan kesejahteraan hidupnya.





4

C. Pinsip Konsumsi Dalam Islam
Menurut Manan, ada 5 prinsip konsumsi dalam islam, yaitu:
1. Prinsip Keadilan
Prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang
halal dan tidak dilarang hukum. Firman Allah dalam QS Al- Baqarah: 173
!..¸| ¸¯¸> `¡÷,l. «.,.l¦ ¸¦´¸ ´¡`>l´¸ ¸¸,¸¸.¸>l¦ !.´¸ _¸>¦ .¸«¸, ¸¸¯,-¸l ¸<¦ ¸_.· ¯¸L.¦
´¸¯,s ¸_!, ¸´¸ ¸:!s ¸· ´¡.¸| ¸«,ls ¿¸| ´<¦ "¸¡±s '¸,¸>¯¸ .
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama)
selain Allah. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
(memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Haram juga menurut ayat Ini daging yang berasal dari sembelihan
yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.
Pelarangan dilakukan karena berkaitan dengan hewan yang
dimaksud berbahaya bagi tubuh dan tentunya berbahaya bagi jiwa, terkait
dengan moral dan spritual (mempersekutukan Allah).
2. Prinsip Kebersihan
Makanan harus baik dan cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun
menjijikkan sehingga merusak selera.
3. Prinsip Kesederhanaan
Prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makan dan
minuman yang tidak berlebihan Firman Allah dalam QS Al-A’raaf : 31
5

_¸.,., ¸:¦´, ¦¸.> ¯>..,¸¸ ..¸s ¸_´ ¸.¸>`.. ¦¡lé´¸ ¦¡,´¸.¦´ ¸ ¸´¸ ¦¡·¸¸.· .«.¸| ¸ ´¸¸>´
_,¸·¸¸..l¦ .
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-
lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih- lebihan.

Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sholat atau thawaf keliling
ka'bah atau ibadah-ibadah yang lain. Janganlah melampaui batas yang
dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan
yang dihalalkan.
4. Prinsip kemurahan hati
Dengan mentaati perintah Islam tidak ada bahaya maupun dosa
ketika kita memakan dan meminum makanan halal yang disediakan
Tuhannya. Firman Allah dalam QS Al-Maidah: 96
_¸>¦ ¯¡>l .,. ¸¸`>,l¦ .«`.!-L´¸ !´-... ¯¡>l ¸:´¸!¯,´.l¸l´¸ ¸¸¯¸`>´¸ ¯¡>,l. .,. ¸¯¸¸l¦ !.
`¸..: !´.`¸`> ¦¡1.¦´¸ ´<¦ _¸¦ ¸«,l¸| _¸¸:>´ .
Dihalalkan bagimu binatang buruan lautdan makanan (yang
berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi
orang-orang yang dalam perjalanan, dan diharamkan atasmu
(menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram,
dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan
dikumpulkan.

5. Prinsip moralitas
Seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum
makan dan menyatakan terima kasih kepadanya setelah makan.


6

D. Tujuan Konsumsi
Bagi sahabat Mu’awiyah, kuncinya adalah bagaimana kita mengatur
anggaran pendapatan dan belanja rumah tangga. “Pengaturan belanja yang
baik itu merupakan setengah usaha, dan dia dianggap sebagai setengah mata
pencaharian”. Lalu bagaimana seorang muslim mengatur anggaran rumah
tangganya? Islam, sebagaimana kita telah mengetahui, menganjurkan umatnya
untuk bekerja dan berusaha dengan baik. Islam juga memerintahkan agar harta
dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. Pada intinya bila umat
Islam dalam mencari harta sampai kemudian membelanjakannya tetap
berpedoman bahwa itu semua merupakan bagian dari ibadah, insyaAllah tidak
akan terjerumus pada pembelanjaan yang ditujukan untuk keburukan yang
bisa membawa keluarga itu pada kemaksiatan.
Disadari atau tidak sesungguhnya pola konsumsi dan gaya hidup kita
cenderung merugikan diri sendiri. Dimulai dari pemenuhan kebutuhan pokok
(primer) seperti makan, minum, sandang dan papan, keseluruhannya
mengandung bahan-bahan yang harus diimpor dengan mengabaikan sumber-
sumber yang sesungguhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri. Banyak barang-
barang tertentu yang semestinya belum layak dikonsumsi oleh bangsa ini,
telah diperkenalkan dan kemudian menjadi mode yang ditiru sehingga
meningkatkan impor akan barang tersebut. Ini belum ditambah dengan
barang-barang mewah yang beredar mulai dari alat-alat kecantikan sampai
kepada mobil- mobil mewah. Padahal pola hidup seperti ini hanya akan
memperburuk neraca transaksi berjalan karena meningkatkan impor barang
7

tersebut sehingga menguras devisa dan pada gilirannya akan menekan nilai
tukar mata uang dalam negeri.
Islam memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan
konsep israf (berlebih- lebih) dalam membelanjakan harta dan tabzir. Islam
memperingatkan agen ekonomi agar jangan sampai terlena dalam berlomba-
lomba mencari harta (at-takaatsur). Islam membentuk jiwa dan pribadi yang
beriman, bertaqwa, bersyukur dan menerima. Pola hidup konsumtivme seperti
di atas tidak pantas dan tidak selayaknya dilakukan oleh pribadi yang beriman
dan bertaqwa. Satu-satunya gaya hidup yang cocok adalah simple living
(hidup sederhana) dalam pengertian yang benar secara syar’i.
Islam mengajarkan kepada kita agar pengeluaran rumah tangga
muslim lebih mengutamakan kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan
syariat. Setidaknya terdapat tiga kebutuhan pokok:
1. Kebutuhan primer, yakni nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang dapat
mewujudkan lima tujuan syariat (yakni memelihara jiwa, akal, agama,
keturunan dan kehormatan). Tanpa kebutuhan primer kehidupan manusia
tidak akan berlangsung. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan,
minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan dan
pernikahan.
2. Kebutuhan sekunder, yakni kebutuhan manusia untuk memudahkan
kehidupan, agar terhindar dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu
dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan inipun masih
berkaitan dengan lima tujuan syariat itu tadi.
8

3. Kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menciptakan kebaikan
dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini
tergantung pada bagaimana pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder
serta, sekali lagi, berkaitan dengan lima tujuan syariat.
Untuk mewujudkan lima tujuan syariat ini, ibu rumah tangga yang
umumnya merupakan pemimpin rumah tangga, mesti disiplin dalam menepati
skala prioritas kebutuhan tadi, sesuai dengan pendapatan yang diperoleh
suaminya.
Meski satu rumah tangga sudah mampu memenuhi sampai kebutuhan
ketiga atau pelengkap, Islam tetap tidak menganjurkan, bahkan
mengharamkan pengeluaran yang berlebih- lebihan dan terkesan mewah,
karena dapat mendatangkan kerusakan dan kebinasaan. Allah berfirman dalam
QS al-Israa: 16
¦:¸|´¸ !.:´¸¦ ¿¦ ,¸l¯¸. «,¯¸· !.¯¸.¦ !¸,¸·´¸.`. ¦¡1.±· !¸,¸· _>· !¸¯,l. `_¯¡1l¦ !¸..¯¸..· ¦¸,¸... .
Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami
perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
(supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan
(ketentuan kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-
hancurnya.

Untuk mencegah agar kita tidak terlanjur ke gaya hidup mewah, Islam
mengharamkan segala pembelanjaan yang tidak mendatangkan manfaat, baik
manfaat material maupun spiritual. Apalagi melakukan pembelanjaan untuk
barang-barang yang bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga dibenci Allah,
9

seperti minuman alkohol, narkoba, dan barang haram lainnya. Juga pembelian
yang mengarah pada perbuatan bid’ah dan kebiasaan buruk.
Namun itu semua tidak berarti membuat kita menjadi kikir. Islam
mengajarkan kepada kita sikap pertengahan dalam mengeluarkan harta, tidak
berlebihan dan tidak pula kikir. Sikap berlebihan akan merusak jiwa, harta dan
masyarakat. Sementara kikir adalah satu sikap hidup yang dapat menahan dan
membekukan harta. Dalam QS al-Furqaan: 67.
_¸¸¦´¸ ¦:¸| ¦¡1±.¦ ¯¡l ¦¡·¸¸`.¸ ¯¡l´¸ ¦¸¸.1, ¿lé´¸ _,, ¸l: !´.¦´¡· .
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), pilihan sulit
seperti ini. Masyarakat atau negara juga sering harus menghadapi
pilihan-pilihan yang tidak mudah. Pemerintah kita misalnya
menghadapi pilihan sulit antara membangun infrastruktur untuk
merangsang investasi, atau membangun mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah
antara yang demikian.

Atau dalam QS al- israa ayat 29:
¸´¸ ¯_->´ ì., ¡l-. _|¸| ,¸1`.`s ¸´¸ !¸L´.¯, . _´ ¸1`.,l¦ .`-1.· !´.¡l. ¦´¸¡´.>: .

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan
janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi
tercela dan menyesal.

Sesungguhnya bukan hanya individu yang akan menghadapi
pendidikan yang baik demi dihasilkannya SDM yang berkualitas. Untuk itu
diperlukan satu pilihan yang sangat bijak agar kedua hal tersebut bisa dicapai
secara optimal.
Sesungguhnya pembagian Allah atas rizki hambaNya telah ditentukan
batasan, kadar dan jenisnya. Allah mengetahui kemampuan seorang hamba di
dalam membelanjakan dan mentasarufkan rizki yang telah diberikan tanpa
10

adanya sikap melampaui batas dan tindak keborosan. Allah mengetahui
seberapa jauh kemampuan hambaNya untuk mengelola rizki dan kekayaan
yang telah diberikan tanpa melanggar batas-batas yang telah ditentukan. Allah
berfirman dalam QS al-Baqarah:155
¡>.´¡l¯,.l´¸ ¸,`_:¸, ´_¸. ¸.¯¡>'¦ ¸_¡>l¦´¸ ¸_1.´¸ ´_¸. ¸_´¡.¸¦ ¸_±.¸¦´¸ ¸,¸..l¦´¸ ¸¸¸:,´¸ _¸¸¸¸¸.¯.l¦
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ujian dan cobaan Allah yang sangat beragam itu, tak lain merupakan
ujian keimanan dan kesabaran seorang hamba. Sebagai dalam ayat di atas,
salah satu ujian itu bisa berupa adanya rasa lapar, dan kekurangan atas bahan
makanan pokok. Sesungguhnya kehadiran manusia di muka bumi hanyalah
sekadar mewujudkan kehendak Tuhan (masyiah Rabbaniyah). Sayyid Qutbh
dalam Saad Marthon, menjelaskan: “Masyiah Rabbaniyah adalah totalitas
keinginan seorang hamba untuk pasrah dan menyerahkan seluruh jiwa dan
raga terhadap keinginan dan ketentuan Tuhan dalam segala aspek kehidupan,
baik dalam proses pembuatan barang, penelitian dan analisis kehidupan sosial,
proses untuk memberdayakan hasil bumi dan wewenang mengolah serta
memakmurkan bumi yang telah dititipkan Allah kepada manusia”.
Adanya kelangkaan satu barang tidak hanya menghadirkan ujian
keimanan dan kesabaran seorang manusia. Kelangkaan barang juga akan
menuntut seorang hamba untuk kreatif dalam menghasilkan barang dan jasa
guna memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mencari jalan keluar bagi kesulitan
yang dihadapinya. Satu contoh bagaimana manusia mengatasi kelangkaan
11

sumber energi yang dalam beberapa puluh tahun ke depan diperkirakan habis.
Banyak penelitian dilakukan untuk menghasilkan sumber energi alternatif.
Begitulah, seorang manusia akan lebih terdorong untuk memakmurkan
kehidupan masyarakat jika menemukan kesulitan dalam kehidupan ekonomi.

E. Tiga Pondasi Dasar Ekonomi Islam
Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi
masyarakat muslim:
1. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini
mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk
akhirat daripada dunia. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada
konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption
(karena terdapat balasan surga di akhirat), sedangkan konsumsi duniawi
adalah present consumption.
2. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral
agama Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin
tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan,
kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam.
Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
3. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang
dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara
12

berlebihan). Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika
diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar QS al-Baqarah: 265
`_..´¸ _¸¸¦ _¡1¸±.`, `¡¸l´¡.¦ ´,!-¸.¯,¦ ¸!.¯¸. ¸<¦ !.¸¸,:.´¸ _¸. ¯¡¸¸¸.±.¦ ¸_:.´ _«.>
¸:´¡¯,¸¸, !¸,!.¦ _¸,¦´¸ ¸.!:· !¸lé¦ ¸_,±-¸. ¿¸|· ¯¡l !¸¯,¸.`, _¸,¦´¸ ¨_L· ´<¦´¸ !.¸,
¿¡l.-. ¸,¸., .
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya
karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka,
seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram
oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali
lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis
(pun memadai), dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

F. Dasar Hukum Perilaku Konsumen
Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan
amanah Allah SWT kepada sang Khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya
bagi kesejahteraan bersama. Dalam satu pemanfaatan yang telah diberikan
kepada sang Khalifah adalah kegiatan ekonomi (umum) dan lebih sempit lagi
kegiatan konsumsi (khusus). Islam mengajarkan kepada sang khalifah untuk
memakai dasar yang benar agar mendapatkan keridhaan dari Allah Sang
Pencipta.
1. Sumber yang Berasal dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul
Sumber yang ada dalam al-Qur’an

Makan dan minumlah, namun janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan.
13

2. Sumber yang berasal dari Sunnah Rasul, yang artinya: Abu Said Al-
Chodry r.a berkata: Ketika kami dalam bepergian berasama Nabi SAW,
mendadak datang seseorang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan-ke
kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan, maka bersabda Nabi
SAW : “Siapa yang mempunyai kelebihan kendaraan harus dibantukan
pada yang tidak memmpunyai kendaraan. Dan siapa yang mempunyai
kelebihan bekal harus dibantukan pada orang yang tidak berbekal.”
kemudian Rasulullah menyebut berbagai macam jenis kekayaan hingga
kita merasa seseorang tidak berhak memiliki sesuatu yang lebih dari
kebutuhan hajatnya. (H.R. Muslim).
3. Ijtihad Para Ahli Fiqh
Ijitihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan sedikit
banyaknya kemungkinan suatu persoalan syari’at. Mannan menyatakan
bahwa sumber hukum ekonomi islam (termasuk di dalamnya terdapat
dasar hukum tentang prilaku konsumen) yaitu; al-Qur’an, as-Sunnah,
ijma’, serta qiyas dan ijtihad.
Menurut Mannan, yang ditulis oleh Muhammad dalam bukunya
”Ekonomi Mikro Islam” (2005: 165), konsumsi adalah permintaan sedangkan
produksi adalah penyediaan atau penawaran. Kebutuhan konsumen, yang kini
dan yang telah diperhitungkan sebelumya, menrupakan insentif pokok bagi
kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya
menyerap pendapatannya, tetapi juga memberi insentif untuk
meningkatkannya.
14

Hal ini berarti bahwa pembicaraan mengenai konsumsi adalah penting.
dan hanya para ahli ekonomi yang mempertunjukkan kemampuannya untuk
memahami dan menjelaskan prinsip produksi maupun konsumsi, mereka
dapat dianggap kompeten untuk mengembangkan hukum- hukum nilai dan
distribusi atau hampir setiap cabang lain dari subyek tersebut.
Menurut Muhammad perbedaan antara ilmu ekonomi modren dan
ekonomi Islam dalam hal konsumsi terletak pada cara pendekatannya dalam
memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui kegemaran
materialistis semata-mata dari pola konsumsi modren.
Lebih lanjut Mannan mengatakan semakin tinggi kita menaiki jenjang
peradaban, semakin kita terkalahkan oleh kebutuhan fisiologik karena faktor-
faktor psikologis. Cita rasa seni, keangkuhan, dorongan-dorongan untuk
pamer semua faktor ini memainkan peran yang semakin dominan dalam
menentukan bentuk lahiriah konkret dari kebutuhan-kebutuhan fisiologik kita.
Dalam suatu masyarakat primitif, konsomsi sangat sederhana, karena
kebutuhannya sangat sederhana. Tetapi peradaban modren telah
menghancurkan kesederhanaan manis akan kebutuhan-kabutuhan ini.
15

Daftar Pustaka
Khan, Fahim. Essay in Islamic Economy, The Islamic Foundation.

Muhammad, Ekonomi Mikro Dalam Perspektif Islam, Yogyakarta: BPFE-
Yogyakarta, 2004.
Siddiqi, Muhammad Nejatullah, Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: LIPPM,
1986.

http://id.shvoong.com/business- management/human-resources/2077036-
pengertian-konsumsi- menurut-para-ahli/#ixzz1nqW7Rc6s.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->