P. 1
Aliran Pragmatisme

Aliran Pragmatisme

|Views: 864|Likes:

More info:

Published by: Arisnani Menyapa Assalamu'alaikum on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

1

A. Sejarah Aliran Pragmatisme Filsafat pragmatisme yang berkembang di Amerika Serikat pada abad ke19 sekaligus menjadi filsafat khas Amerika dengan tokoh seperti Charles Sandre Peirce (1839-1914), William James (1842-1910), dan John Dewey (1859-1952). Ketiga filosof tersebut berbeda, baik dalam metodologi maupun dalam kesimpulannya. Pragmatisme Peirce dilandasi oleh fisika dan matematika, filsafat Dewey dilandasi oleh sains-sains sosial dan biologi, sedangkan pragmatisme James adalah personal, psikologis, dan bahkan mungkin religius. Aliran pragmatisme menjadi sebuah aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan Amerika, baik pandangan hidup maupun bidang sosial politik, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi modern. dengan masuknya pragmatisme dalam bidang-bidang itu, terutama dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern, perkembangan pragmatisme menjadi sangat pesat sejalan dengan perkembangan yang begitu pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Peranan Amerika yang begitu menentukan dalam perkembangan ilmu dan teknologi modern dengan sendirinya ikut pula menentukan perkembangan aliran pemikiran ini, tidak hanya terbatas di Amerika tetapi bahkan meluas ke negara-negara lain. Istilah pragmatisme berasal dari kata “pragma” (dari bahasa yunani) artinya praktik atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Istilah lainnya yang dapat diberikan pada filsafat pragmatisme adalah instrumentalisme dan eksperimentalisme. Disebut instrumentalisme, karena menganggap bahwa dalam hidup ini tidak dikenal tujuan akhir, melainkan hanya tujuan sementara yang merupakan alat untuk mencapai tujuan berikutnya, termasuk dalam pendidikan tidak mengenal tujuan akhir. Dikatakan

eksperimentalisme, karena filsafat ini menggunakan metode eksperimen dan berdasarkan atas pengalaman dalam menentukan kebenarannya.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup tersebut. akan tetapi proses akan terus berlangsung karena adanya proses reproduksi dan kelahiran. b. juga berfungsi sebagai pembaharuan hidup. Anak maupun orang dewasa selalu belajar dari pengalamannya. Hakikat Pendidikan Menurut Dewey. karena adanya anggapan bahwa pendidikan selain sebagai alat. dimana mata pelajaran telah ditentukan menurut kemauan pendidik. pendidikan menentukan segalanya. Pendidikan menurut pragmatisme merupakan suatu proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman individu. Selanjutnya. melainkan materi yang berasal dari aktivitas yang asli dari lingkungan. Setiap individu dalam masyarakat bisa hancur. mengemukakan bahwa pendidikan sebagai suatu pembentukan terhadap pribadi anak tanpa memperhatikan kekuatan atau potensi yang ada dalam diri anak. terdapat dua teori pendidikan yang saling bertentangan yaitu: a. Konsep-Konsep Dasar Tentang Pendidikan Aliran Pragmatisme 1. dimana perkembangan anak telah memiliki tujuan yang digambarkan sebagai suatu yang lengkap dan pasti. Adanya kelangsungan hidup tersebut karena adanya readaptasi. . Unfolding theory. Hal ini berarti bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembentukan jiwa dari luar. Pengalaman-pengalaman tersebut bukan terdiri atas materi intern maupun materi yang diungkapkan. sehingga anak tinggal menerima saja. terjadi interaksi antara individu dengan lingkungannya. Teori konservatif. Hidup sebenarnya merupakan keseluruhan tingkatan pengalaman individu dengan kelompok.2 B. “a renewal of life”. berpandangan bahwa anak akan berkembang dengan sendirinya karena ia mempunyai kekuatan-kekuatan laten. John Dewey mengemukakan pentingnya pendidikan berdasarkan tiga pokok pemikiran yaitu: a. Pendidikan sebagai kebutuhan hidup Pendidikan merupakan kebutuhan hidup.

. yang belum diolah oleh anak. yang merupakan pembentukan kebiasaan. Ketergantungan ini dimaksudkan sebagai suatu pribadi yang selalu harus mendapat pertolongan. and condemnations of others”. Kehidupan anak yang belum matang. dan fungsi pendidikan merupakan “a pricess of leading and bringing up” (Dewey. Ini semua terjadi karea kebelummatangan. yang dimaksud plastisitas adalah kemampuan belajar yang belajar dari pengalaman.3 b. merupakan suatu lingkungan khusus yang memiliki tiga fungsi yaitu. merupakan suatu perubahan tindakan yang berlangsung terus untuk mencapai suatu hasil selanjutnya. Dalam pendidikan kekuatan anak untuk tumbuh tergantung pada kebutuhan atau ketergantungan terhadap orang lain dan plastisitas yang dimiliki anak. 2) Memurnikan dan mengidealkan kebiasaan masyarakat yang ada. c. dan lebih baik daripada yang diciptakan anak tersebut dan menjadi milik mereka untuk dikembangkan. Sekolah sebagai alat transmisi. 1) Menyederhanakan dan menertibkan faktor-faktor bawaan yang dibutuhkan untuk berkembang. melainkan harus dilihat sebagai pertumbuhan yang didorong oleh kemampuan yang tersembunyi. pendidikan yang diberikan kepada anak-anak dan para pemuda di masyarakat.1964). Dewey (1964) mengemukakan: “what he does and what he do depend upon the expectation. anak memiliki kapasitas pertumbuhan potensi yaitu kapasitas yang dapat tumbuh menjadi sesuatu yang berkelainan. karena pengaruh yang datang dari luar. Kelangsungan ini terjadi karena pertumbuhan. approval. kelangsungan hidup terjadi karena self renewal. Pendidikan sebagai fungsi sosial Menurut Dewey. Lingkungan merupakan syarat bagi pertumbuhan. 3) Menciptakan suatu lingkungan yang lebih luas.demands. Pendidikan sebagai Pertumbuhan Menurut Dewey. selalu berinteraksi dengan lingkungan.

Tujuan pendidikan berada di luar kehidupan. Mengenai kebenaran. serta teori nilai. tidak berlaku umum. Jadi tujuan pendidikan tidak dapat ditetapkan pada semua masyarakat. melainkan.4 2. maka hasil tujuan tersebut menjadi alat untuk mencapai tujuan berikutnya. tidak terlepas dari pandangannya tentang realitas. kecuali terdapat hubungan timbal balik antara masing-masing individu dalam masyarakat tersebut. Tujuan pendidikan menurut pragmatisme bersifat temporer. karena tujuan itu merupakan alat untuk bertindak. yang setiap saat dapat diubah oleh pengalaman berikutnya. tidak tetap. dan mencerminkan aktifitas bebas. pragmatism menganggap bahwa nilai itu relatif. Apabila suatu tujuan telah tercapai. 2) Tujuan pendidikan harus mampu memunculkan suatu metode yang dapat mempersatukan aktivitas pengajaran yang sedang berlangsung. dan tidak ada tujuan yang tetap dan pasti. Kidah moral dan etika tidak tetap. Seperti yang telah dikemukakan.yang ada hanyalah tujuan khusus.tidak berdiri sendiri. melainkan terus berubah seperti perubahan kebudayaan dan masyarakat. dengan tujuan pendidikan individu harus mampu melanjutkan pendidikannya. tidak ada kebenaran mutlak. Hakikat Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan pragmatisme. Sedangkan mengenai nilai. serta nilai itu relative. berada didalam kehidupan sendiri. . teori pengetahuan dan kebenaran. dan harus siap mengubah cara-cara yang akan kita kerjakan. dan tidak terlepas dari akal yang mengenal. Sehingga tujuan pendidikan harus dihasilkan dari situasi kehiduapn disekeliling anak dan pendidik. Beberapa karakteristik tujuan pendidikan yang harus diperhatikan adalah 1) Tujuan pendidikan hendaknya ditentukan dari kegiatan yang didasarkan atas kebutuhan intrinsik anak didik.yang ada hanya kebenaran khusus. Perubahan merupakan esensi dan realitas. pada prinsipnya kebenaran itu tidak mutlak. bahwa realitas merupakan interaksi manusia dengan lingkungannya. menurut pragmatisme tidak ada tujuan umum yang berlaku secara universal. Bahwa esensi realitas adalah perubahan. maka berkaitan dengan tujuan pendidikan. harus fleksibel.

Proses Belajar Mengajar Menurut pragmatisme. Perbuatan yang entelegen (cerdas) merupakan jaminan terbaik untuk melangsungkan pertumbuhan. berarti memberi kesempatan suatu pertumbuhan kepada individu secara maksimal. yang berarti materi tersebut telah disampaikan dan dipaksakan kepada anak untuk diterima. serta dibicarakan sebelumnya. karena diambilkan dari masyarakat dewasa. Kehidupan yang baik merupaka suatu pertumbuhan maksimum.5 3) Tujuan pendidikan adalah spesifik dan langsung. yang sangat fundamental dalam kehidupan masyarakat. dimana ia hidup. 3. bahwa bahan pelajaran terdiri atas seperangkat tindakan untuk memberi isi kepada kehidupan sosial yang ada pada waktu itu. Pendidikan dalam setiap fase atau tingkatan harus memiliki kriteria untuk memanfaatkan kehidupan sosial. dipahami. Baik oleh individu maupun oleh masyarakat. dan hanya dapat diukur oleh mereka yang oleh mereka yang memiliki intelegensi (kecerdasan) baik. Kehidupan yang baik dapat dimiliki. di mana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan dan dalam demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Bahan pelajaran apabila dikaitkan dengan demokrasi dalam pendidikan. pelajaran harus didasarkan atas fakta-fakta yang sudah diobservasi. Karena realitas dihasilkan dari interaksi manusia dengan lingkungannya. maka anak harus mempelajari dunia seperti dunia mempengaruhinya. Pendidikan harus tetap menjaga untuk tidak mengatakan yang berkaitan dengan tujuan umum dan tujuan akhir. merupakan jaminan terbaik untuk moral yang baik. Sekolah tidak dipisahkan dari kehidupan . Dewey tidak menyetujui pada bahan pelajaran yang telah disampaikan terlebih dahulu. baik oleh individu maupun oleh masyarakat. Penggunaan intelegensi secara maksimal. Di sekolah lama terdapat tujuan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. namun bahan yang diberikan guru terlalu tinggi. Bahan pelajaran harus mengandung ide-ide yang dapat mengembangkan situasi untuk mencapai tujuan dan harus ada hubungannya dengan materi pelajaran. Pada hakikatnya masyarakat adalah terbaik. masyarakat yang demokratis merupakan masyarakat terbaik. seperti dikemukakan oleh Bode .

dan kebenaran adalah termasuk pengetahuan. Sekolah harus merupakan tempat dimana kehidupan berlangsung.6 (1940:247) : “Hence the school is designed as a special mode to order environment. sehingga segalanya merupakan suatu kebulatan atau kesatuan. but not of authority. dan harus sesuai dengan minat anak. Pengalaman di sekolah dan di luar sekolah harus dipadukan. dan sekolah tidak terpisah dari kehidupan.1962 : 466) mengemukakan sebagai berikut : “The method education. dan masyarakat diperhatikan untuk memecahkan masalah tersebut. and anticipation of thing to be learn”. Materi pelajaran harus berhubungan langsung dengan masalah yang dihadapi anak. . tidak pasif begitu saja menerima apa yang diberikan gurunya. Dalam menentukan kurikulum. Di sekolah. yang pemecahannya diserahkan pada siswa-siswa untuk sampai kepada pengertian lebih baik tentang lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. guru seyogyanya menyusun situasi-situasi belajar sekitar masalah utama yang dihadapi masyarakat. direncanakan. so deviced or organizid what the activities which are carried on it will do what the life outside does not it”. and it cannot occur unless the student has a desire for. Sekolah merupakan cara khusus untuk mengatur lingkungan. Metode tersebut dilakukan dalam proses belajar mengajar. Dengan sekolah kita dapat menolong anak dalam menciptakan kehidupan yang baik. ought to be one of discipline. Pengetahuan dihasilkan dengan transaksi antara manusia dengan lingkungannya. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri bukan persiapan untuk suatu kehidupan. What be neither desires nor foresees percistent effort to learn. anak belajar apa yang ada dalam kehidupan. Pragmatisme meyakini bahwa pikiran anak itu aktif dan kreatif. Dalam situasi belajar. dan diorganisasi. Dewey argues. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam pelajaran proyek. Masalah yang dijadikan pusat kegiatan sebaiknya adalah hal-hal yang menarik perhatian anak. Authority is precisely the process of applying pressure to compel the child to achieve. setiap pelajaran tidak boleh terpisah. harus merupakan suatu kesatuan. Caranya adalah dengan mengambil suatu masalah menjadi pusat segala kegiatan. Dewey (Price.

in order to arous interest. Disiplin itu memang muncul dari dalam diri anak. serta gurulah yang menentukan segala-galanya. untuk mengetahui apakah yang menjadi minat perhatian anak.Secondly. Anak tidak akan memiliki dorongan untuk belajar matematika seandainya ia tidak merasakan suatu masalah yang ia tidak mengetahuinya. dan si anak dipaksa untuk mencapai tujuan tersebut. Kekuasaan tidak dapat dijadikan metode pendidikan karena merupakan suatu kekuatan yang datang dari luar. dan Kurikulum Guru di sekolah harus merupakan suatu petunjuk jalan serta pengamat tingkah laku anak.7 Metode yang sebaiknya digunakan dalam pendidikan adalah metode disiplin. Kekuasaan tidak sesuai dengan kemauan dan minat anak. the teacher ought to do whatever is necessary to make a student feel a problem in not knowing the subject matter at hand. Dalam usaha belajar tersebut dibutuhkan suatu kerjasama dengan yang lainnya... the teacher ought to creates a situasion in the classroom in which every . all compulsion should be awarded. Disiplin merupakan kemauan dan minat yang keluar dari dalam diri anak sendiri. Yang harus dikerjakan guru dalam hal disiplin adalah “First. bukan dengan kekuasaan. dan didasari oleh suatu asumsi bahwa ada tujuan yang baik dan benar secara obyektif. Thirdly. Anak dalam kelas harus merupakan suatu kelompok yang merasakan bersama terhadap suatu masalah. Hakikat Guru. Dengan cara demikian tidak mungkin anak akan mempunyai perhatian yang spontan atau minat langsung terhadap bahan pelajaran. Guru memaksakan bahan pelajaran kepada anak. guru dapat menentukaan masalah apa yang akan dijadikan pusat perhatian anak. dan mereka secara bersama bekerja secara sama-sama dalam memecahkan masalah-masalah tersebut. the theacher ought familiarize himself throughly with capasities and interest of each student. Anak akan belajar apabila ia memiliki minat dan antisipasi terhadap suatu masalah untuk dipelajari. dalam usaha mencapai tujuan bersama. dan guru pulalah yang berpikir untuk anak. Fourthly. Murid. namun dituntut suatu aktivitas dari anak yang lainnya. 4. Dengan mengamati perilaku anak tersebut.

d. hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing siswa. Guru hendaknya menciptakan suatu situasi yang menyebabkan siswa akan merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi. hendaknya dapat merekonstruksi lingkungan untuk memecahkan kebutuhan yang dirasakannya. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa “Siswa merupakan organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh. tugas guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai fasilitator. yaitu : a. antara siswa dengan siswa. Jadi. yaitu cara berpikir yang didasarkan pada fakta dan pengalaman. antara siswa dengan guru. berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. dan akhirnya dapat berpikir ilmiah dan logis. Anak harus dibangkitkan kecerdasannya. including himself. membangun dan menghiasi sendiri sesuai dengan minat yang ada pada dirinya. agar pada diri anak timbul hasrat untuk menyelidiki secara teratur. menyelidiki dan mengamati sendiri. minat dan masalah pribadinya. . Edward J. sedangkan guru berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa”. setiap apa yang dipelajari oleh siswa haruslah sesuai dengan kebutuhan. 1962:467). ada beberapa saran bagi guru yang harus diperhatikan. memberi dorongan dan kemudahan kepada siswa untuk bekerja bersama-sama. Jadi dalam proses belajar mengajar. Pragmatisme menghendaki agar siswa dalam menghadapi suatu pemasalahan. Menurut aliran pragmatisme. terutama dalam menghadapi siswa dalam kelas. c.8 person present. begitu pula antara guru dengan guru. b. Guru tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemampuan siswa. Guru harus dapat menciptakan situasi yang menimbulkan kerja sama dalam belajar. Untuk membangkitkan minat anak. sehingga timbul minat untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan jalan ini si anak akan belajar sambil bekerja. cooperates with the others in the process of learning”(Kingley Price.

9 Menurut para filsuf paragmatisme. Minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Kurikulum menurut aliran ini. . tradisi demokrasi adalah tradisi memperbaiki diri sendiri (a self-correcting tradition). Keterlibatan aliran pragmatisme dalam kegiatan proyek AUD adalah anak dapat membangun pengetahuan baru yang didasari oleh pengetahuan sebelumnya. dan sesekali oleh individual. terkadang oleh kelompokkelompok kecil di dalam kelas. berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. misalnya menggunakan metode proyek. anak-anak dimintai pendapat untuk melakukan suatu proyek. maka anak bersama guru menentukan salah satu topik yang akan dilakukan dalam proyek. Proyek merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian dan pemikiran anak untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. terlebih dahulu anak dan guru melakukan kunjungan misalnya ke desa wisata gerabah untuk melakukan observasi. Dalam diskusi antara anak-anak dan guru. Menghilangkan perbedaan antara pendidikan liberal pendidikan praktis atau pendidikan jabatan. cangkir dan botol minum dari tanah liat. anak-anak biasanya bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan terkadang bekerja sendiri pada subtopik khusus yang terkait dengan topik yang lebih luas yang sedang diselidiki. seperti gelas. Kurikulum pendidikan pragmatisme “berisi pengalaman-pengalaman yang telah teruji. Proyek biasanya dilakukan oleh seluruh kelas. Adapun kurikulum tersebut akan berubah. Sebelum melakukan diskusi di dalam kelas. Pendidikan berfokus pada kehidupan yang baik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagai pengetahuan. Setelah pendapat anak-anak tertampung. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk aktif. Implikasi Aliran Pragmatisme terhadap Pendidikan Anak Usia Dini Implikasi aliran pragmatisme terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bahkan jika sebuah proyek dilakukan oleh seluruh kelas. dengan C. Contoh proyek yang akan dilakukan anak-anak yaitu membuat alat minum.

sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia . 3. Kritik terhadap pragmatisme itu sendiri Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran. baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kritik dari segi metode pemikiran. kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide. Kritik terhadap Aliran Pragmatisme Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran 1. Dengan demikian. 2. tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri. tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Pertama. dalam konteks ideologis. yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme. Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas. Ide ini keliru dari tiga sisi. Kritik dari segi landasan ideologi pragmatisme Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu kekeliruan.10 anak memperoleh informasi baru khususnya melalui pengalaman langsung dari dunia nyata dan tidak jauh dari kehidupan anak. Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan pragmatisme. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia. D. Kebenaran suatu ide adalah satu hal. Maka. Selain itu anak secara aktif dan praktis melakukan kegiatan proyek. . Pragmatisme yang tercabang dari empirisme nampak jelas menggunakan metode ilmiah.

11 Kedua. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. pragmatisme menolak peran akal manusia. Ketiga. Seperti dengan aliran-aliran filsafat pada umumnya. Mereka berdualah yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang. pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri. pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide baik individu. Para filsuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey. Kekeliruan pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran: (1) . disamping John Dewey. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. kebenaran hakiki pragmatisme baru dapat dibuktikan menurut pragmatisme itu sendiri setelah melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif. dan masyarakat dan perubahan konteks waktu dan tempat. E. pragmatisme juga memiliki kekeliruan sehingga menimbulkan kritik-kritik terhadap aliran filsafat ini. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Atau dengan kata lain. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. karena di Amerika Serikat pragmatisme mendapat tempat tersendiri dengan melekatnya nama William James sebagai tokohnya. Maka. Maka. kelompok. tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Dengan kata lain. Penutup Istilah pragmatisme berasal dari kata pragma (dari bahasa yunani) artinya praktik atau aku berbuat. pragmatisme berarti telah menolak aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif.

12 kritik dari segi landasan ideologi pragmatisme. dan (3) kritik terhadap pragmatisme itu sendiri. (2) kritik dari segi metode pemikiran. .

P. BASIS . Bandung : ALFABETA Bandung Sonny Keraf. Pengantar Filsafat Pendidikan. Yogyakarta : Yayasan B. 2007. A. 1985. Basis Agama dan Pragmatisme.13 DAFTAR PUSTAKA Uyoh Sadullah.

11111247024 PKS PG PAUD IIC PROGRAM PRASEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 .Hum. Myka Siagawati 2.14 ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Filsafat Pendidikan Dosen Pengampu : L. Istiriyani 4. 11111247015 NIM. Heni Primasari NIM. Andriani. M. Arisnani Wibawati 3. 11111247009 NIM. Disusun Oleh : Kelompok 5 1. 11111247017 NIM.

15 KUMPULAN MAKALAH PENGANTAR FILSAFAT PENDIDIKAN (Tentang Aliran dan Filsafat Pendidikan Menurut Beberapa Tokoh) Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar Filsafat Pendidikan Dosen Pengampu : L. Disusun Oleh : KELAS PKS PG PAUD IIC PROGRAM KELANJUTAN STUDI S1 PG PAUD PROGRAM PRASEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 . M.Hum. Andriani.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->