P. 1
Sistem Kekerabatan Suku Jawa

Sistem Kekerabatan Suku Jawa

|Views: 60|Likes:
Published by ImEnk Nz

More info:

Published by: ImEnk Nz on May 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2013

pdf

text

original

Sistem Kekerabatan Suku Jawa

Rabu, Maret 31, 2010
Sistem Kekerabatan Suku Bangsa Jawa
A. Fungsi Ideal Kekerabatan

Sistem kekerabatan orang Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral (garis keturunan diperhitungkan dari dua belah pihak, ayah dan ibu). Dengan prinsip bilateral atau parental ini maka ego mengenal hubungannya dengan sanak saudara dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, dari satu nenek moyang sampai generasi ketiga, yang disebut sanak saudulur (kindred). Khusus di daerah Yogyakarta bentuk kerabat disebut alur waris (sistem trah), yang terdiri dari enam sampai tujuh generasi. Dari 1. 2. 3. 4. Hak Seorang Suku dan sistem ego mempunyai Jawa kedudukan anak setelah kekerabatan dua orang kakek keluarga dan perempuan dan ini dua luas sama, adalah dimata orang maka: nenek. (kindred). hukum. Neolokal.

mengenal laki-laki

Adat

menikah

5. Perkawinannya bersifat Eksogami, meskipun ada yang melakukan perkawinan Cross Cousin. 6. a. Perkawinan perkawinan dengan yang saudara dilarang sekandung antara (incest lain: taboo).

b. perkawinan pancer lanang (perkawinan antara anak-anak dari dua orang tua yang bersaudara laki-laki. c. 7. Suku Jawa Kawin mengenal lari. (diijinkan):

a. Perkawinan Ngarang Wulu yaitu perkawinan duda dengan saudara perempuan istrinya yang sudah meninggal (sororat).

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah-istilah kekerabatan untuk menyebut seseorang didalam kelompok kerabatnya adalah sebagai berikut.

Namun. namun hal itu tidak memutus tali silahturahmi antar anggota keluarga luas. karena orang yang lebih tua dianggap merupakan pembimbing. Ego menyebut orang tua laki-laki/perempuan tiga tingkat diatas ayah dan ibu Ego dengan Mbah Canggah. Pak Tua. Ego menyebut adik perempuan dari ayah atau ibu dengan Bibi. b. Melanggar semua perintah dan nasihat kaum tua dapat menimbulkan sengsara yang disebut dengan kuwalat. Le. Ego menyebut adik laki-laki dari ayah atau ibu dengan Paman. Biyung. Mbah. Ajeng. perempuan dengan Ndhuk. Ego menyebut orang tua laki-laki/ perempuan dua tingkat diatas ayah dan ibu Ego dengan Mbah Buyut. Ibu Cilik. Ego menyebut orang tua ayah atau ibu baik laki-laki maupun perempuan dengan Eyang. Dhimas. Kakek. Dik. Bagi orang muda adalah keharusan menyebut seseorang yang lebih tua darinya baik laki-laki maupun perempuan dengan istilah tersebut diatas. Uwa. Sebaliknya Ego akan disebut Putu. Mbak. d. walaupun memang frekuensi silahturahmi tersebut jarang. m. Dhenok. h. Fungsi Aktual Kekerabatan Dalam masyarakat Jawa. g. Kakang Mas. e. Siwa.a. Simbah Canggah. B. Buyut. Canggah. Yu. Di Yogyakarta tata cara sopan santun pergaulan seperti diatas berlaku diantara kelompok kerabat (kinship behavior). i. Eyang Canggah. dalam kehidupan keluarga saya. adanya istilah kindred (keluarga luas) menunjukkan arti penting dalam kebersamaan keluarga luas. l. Simbah. f. Buklik. pelindung. Kang. Siwa. Dhi Yu. k. Ego Ego menyebut menyebut orang orang tua tua laki-laki perempuan dengan dengan Bapak Simbok atau atau Rama. Ego Ego Ego menyebut menyebut menyebut adik kakak adik perempuan laki-laki dengan dengan Adhi. j. Kakang. Ego menyebut kakak laki-laki dari ayah atau ibu dengan Pak Dhe. Selain itu. Sebaliknya Ego akan disebut dengan Putu Buyut. Sebaliknya Ego akan disebut Putu Canggah. atau penasehat kaum muda. Mbok Dhe. Ego menyebut kakak laki-laki dengan Kamas. c. Mas. Ego menyebut kakak perempuan dari ayah atau ibu dengan Bu Dhe. Mbok Cilik. masing-masing anggota keluarga lebih fokus terhadap keluarga intinya. sebutan atau panggilan yang menunjukkan kekerabatan keluarga sedikit demi sedikit . Mbak Adhi. Pak Lik. Pak Cilik.

telah terkikis. Sebagai contoh. Ø Lingkungan sekitar masing-masing keluarga inti yang telah banyak mempengaruhi cara hidup anggotanya. namun maksud dari pergeseran tersebut adalah pergeseran pola pikir yang tadinya sikap menaati perintah dan nasihat orang tua adalah untuk menghindari “kuwalat“. Begitu pula dalam memanggil adik laki-laki dari ayah atau ibu. Ø Faktor-faktor Jarak tempat tinggal Penyebab antar satu Terjadinya anggota lain Pergeseran yang terlalu Fungsi jauh. Bukan berarti melanggar perintah dan nasihat orang tua itu mulai diperbolehkan. namun dengan panggilan “mama”. dalam keluarga saya dalam memanggil orang tua perempuan (ibu) tidak dengan panggilan “simbok” atau “biyung”. namun sekarang karena menghindari timbulnya dosa dan sebagai sikap hormat terhadap orang yang lebih tua. . keluarga saya menggunakan panggilan “oom” dan panggilan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu adalah “tante”. terutama yang berdomisili di luar lingkungan Jawa. Ø Adanya pengaruh kepercayaan religi (agama) sehingga sedikit menggeser nilai kepercayaan Jawa. Dalam hal melanggar perintah dan nasihat orang tua di masyarakat Jawa juga mulai tergeser nilainya. Ø Adanya pengaruh media massa dalam merepresentasikan kehidupan keluarga. C.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->