BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Letak Geografis Kabupaten Ngada (Bajawa) adalah salah satu dari 15 kabupaten di propinsi NTT,yang terletak di bagian tengah pulau Flores,secara geografis kabupaten Ngada terletak pada koordinat 120o,45o dan 8o – 9o LS. Beriklim tropis dengan dua musim yaitu musim hujan (Oktober-April) dan musim panas (MeiSeptember). Rata-rata curah dalam musim hujan 122 mm - 152 mm. Rangkaian pegunungan dan perbukitan merupakan kekhasan topografi kab.Ngada (Bajawa). Gunung-gunung yang terkenal adalah Ebulobo (2.149 m), Inelika (1.631 m),Inerie (2.245 m), Lobobutu (1.800 m). Kabupaten Ngada memiliki Flora dan Fauna yang bervariasi sebagian besar sebagai petani,panorama yang indah,adat istiadat yang unik merupakan obyek wisata yang dapat dinikmati. 1.2 Mata Pencaharian Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa masing-masing kesatuan adat istiadat di Bajawa (Ngada) mempunyai pranata ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya antara lain: 1. Masyarakat di Kecamatan So‟a merupakan pendukung kebudayaan parawitu (kebudayaan berburu). 2. Masyarakat dibajawa khususnya Naru,Watujaji,Mangulewa,Aimere,Bou-bou, Boripo,Nua lima zua,Langa,merupakan pendukung kebudayaan Reba (kebudayaan tahun baru dan panen). 3. Pendukung kebudayaan bertani dalam arti luas ialah pendukung Ngadhu/Peo, yang terjadi pada sebagian adat Bajawa (Ngada) dan Kecamatan Riung. Secara tradisional pola bercocok tanam sejak dahulu berkebudayaan kea kala (tebas bakar),yang di tandai dengan menebas hutan dengan pohon-pohon besar yang rindang dan tinggi.
1

Pekerjaan lebih mudah karena rumput yang tumbuh dibawahnya lembab dan mudah dibersikan. Dalam mencari lahan yang lebih subur,masyarakat Bajawa mengenal ungkapan “gae semu nu oe lina”. Rangkaian upacara pertanian di tandai dengan beberapa situs. Secara tradisional memilih tpemat yang cocok untuk berladang,bersawah yang memiliki serangkaian acara dengan mengorbankan darah hewan. Hal ini karena membuka hutan baru,menebang pohon-pohon perlu mendapat ijin dari penguasa hutan. Ritus upacara pertanian di dahului oleh satu acara memohon datangnya hujan yaitu „„Enga ae uza”, kemudian di acara “Ghoro nio” ( tarik kelapa ) dan “Kela nio” (belah kelapa) untuk memberi makan bumi,membuat dingin tanah, disusul dengan acara “Bu siu” (mengikuti suara burung),upacara ini bertujuan untuk membutakan mata burung supaya tidak melihat biji-bijian yang di tanam. Semua pekerjaan pertanian dapat dilakukan brgotong-royong,waktu bekerja kebun baik sebelum sampai dengan sesudah menanam,rangkaian pekerjaan dilakukan dengan gotong-royong mengenal istilah “kabho tawo ne’e sozo wozo” (kerja sama dalam penggarapan tani). Bentuk gotong-royong lainnya seperti:  Rau zo,Leza kaba: Seluruh rakyat dapat diijinkan menanam penanaman pertama dan pemetikkan hasil panen untuk padi dan jagung secara simbolis tetap dilakukan oleh wanita karena mereka jugalah yang menentukan bibit terbaik dari padi dan jagung.  Moni uma/Doko uma/Anakola: Acara perayaan ladang sesudah panen,hasil diikat dalam simpul-simpul dan di masukan dalam lumbung. 1.2 Sistem Sosial Masyarakat Arti keluarga dalam masyarakat Bajawa umumnya selain terdekat dalam bentuk keluarga inti “Sa‟o”(rumah), maka keluarga yang lebih luas ialah se pendukung satu simbol pemersatu (Satu peo,Satu ngadhu,Satu bhaga). Ikatan nama membawa hak-hak dan kewajiban tertentu,sebagai contoh sebagai anggota kekerabatan dari kesatuan adat istiadat harus taat pada kepala suku terutama atas tanah. Atas kenyataan ini maka
2

masyarakat pendukung suku mempunyai sebuah rumah pokok (adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal “Ngadhu ulu sa’o saka pu’u”. sebagai contoh perkumpulan “kee kaka” (kerja sama menyumbangkan nasi yang empunya hajat).lapisan terbawah adalah “ho’o”. Disamping struktur-struktur tersebut.”mori sobhi” (pemegang kalender adat).Disamping penggolongan masyarakat berdasarkan pelapisan. kelompok menyumbangkan tenaga. Rumah-rumah itu bergabung dalam pola perkampungan yang letaknya dibukit-bukit keliling kampung di pagari benteng batu seperti di baghi. Bentuk ukiran sangat bervariasi dari yang paling sederhana sampai yang bertaraf atas misalnya “sa’o. Sistem/pelapisan sosial di sebut “ata/riwu ga’e’’ yang memiliki hak-hak khusus dalam persekutuan adat. Para istri setiap lapisan terutama pelapisan atas dan menengah disebut „’inegae/finegae„‟ dengan tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan pengeluaran.akomodasi dan perlengkapan. Semua anggota keluarga diharuskan taat juga pada kepala keluarga dengan satu prinsip yang disebut “Ulu sa’o lie ne’e teda toko sipolali” dan klen besar dari rumah-rumah klen inti itu membentuk klen kecil atau “Woe” misalnya Woe ngadhu. sa’o lipi wisu. Organisasi sosial tersebut dibentuk berdasarkan pengelompokan fungsi dalam bidan pertanian (rau zo) untuk kerja bergilir.mengambil bagian pokok dalam upacara adat.yaitu orang-orang kecil atau budak. materil “suu papa suru”atau “sa’a papa laka”. 3 . maka masyarakat ngada (Bajawa) juga mengenal bebrapa organisasi sosial yang berfungsi gotong royong. Secara tradisional rumah adat Bajawa sejak dulu ditandai dengan “Weti” ukiran ragam motif. Ukiran-ukiran di buat dalam sebilah papan dan diletakan pada dasar dinding panggung.maka di kenal pula “Mori lengi” atau “Mori nua” (mereka di hormati karena mereka adalah suku atau orang tertua yang mendirikan kampung induk).”mori wesu sudu” (menetapkan saat diadakan tinju). “mori sao saka puu” (kepala rumah adat). seperti urusan konsumsi. sa’o keka. Lapisan menengah disebut„‟gae kisa„‟ yang menjadi penengah/jembatan antara lapisan atas dan terbawah.watu api.kebersihan lingkungan pesta.sa‟o dawu ngongo”. “Mori wesu tana” (tuan tanah).

Dengan demikian . walau hanya kenangan didalam setiap langkah kehidupan anak cucu turunannya.1 Ngadhu dan bhaga.BAB II BERPIKIR MORAL MASYARAKAT 2. agar menjadi tempat yang layak bagi Allah. artinya keadaan yang suci. Begitulah kewajiban setiap woe di Ngada (Bajawa). 2.karena itu.Bila dikaitkan dengan keyakinan kristiani loka oja itu tidak saja tempat alamiah. sejak usia memasuki kehidupan bermasyarakatterutama menjelang usia perkawinan. artinya tempat suci sebagai simbol hati nurani manusia yang berkenaan kepada sang ilahi atau leluhur.perkawinan sudah dianggap sebagai suatu panggilan hidup. Filosofi (Cara pandang masyarakat) 2. Dalam filosofi masyarakat Bajawa menyebutkan: Mula ngadu tau tubo lizu. 4 . Kewajiban menjaga kebersihan diri sudah diterapkan sejak dini. menegakan simbol kehadiran leluhur lelakinya yang demikian eratnya dibumi mesra bersama cucunya. Mereka dimandikan supaya menjadi bersih dan suci adanya. bersih diri.Kesucian. pengganti rupa dari leluhur pokok perempuan dari setiap woe di Ngada. sekaligus sebagai perantara menemui sang ilahi. ngadhu dan bhaga adalah monument pengganti rupa dari suami istri sebagaimana diungkapkan dalam bahasa budaya Ngada “Ngadhu he‟e bhaga wi radakisa nata” yang berarti ngadhu dan bhaga menaungi halaman kampung.Acara ini diperintahkan dan diteguhkan dengan ajaran”pui loka oja pe‟i tangi lewa dewawi dhoro dhega”.kabu wi rawe nitu. keperawanan hidup itu sudah diawasi dan dijaga sampai saat menjelang perkawinan. Bhaga dalam monumen. Pada hari kelahiran seorang anak.2.Hanya orang-orang tertentu yang boleh mengantarkan sembahan atau sesajian ketempat itu.2.mendirikan ngadu menjadi tiang penyangga langit dan akar mencengkram kuat kedalam bumi serta ujungnya menjulang mencapai Allah. lobo wi soi dewa.2 Filosofi kekudusan-kesucian para leluhur (Go Milo/Go zio milo).suatu tradisi si ibu dan si anak diperciki dengan air kelapa merah seraya menyebutkan”dia wi zio milo rasi higa”.1.tetapi juga simbol hati nurani manusia yang berkenaan pada Allah.kekudusan.

3 Filosofi wi pegi kage suli ngi’i Adalah ungkapan yang menunjukan tujuan dan hidup perkawinan trdisi itu. artinya meringik seperti kuda jantan dan berkokok seperti ayam jantan kebanggaan yang berbicara penuh wibawa. misalnya: anak menikah dengan ayahnya atau saudara lakilaki dengan saudari perempuannya. tingkah laku serta pengembangan kehidupan sosial ekonomi dan gaya kepimimpinan tradisi Ngada (Bajawa).2. Asas dan dasar perkawinana tradisi diatas menjadi asas dan dasar hidup perkawinan orang Ngada (Bajawa) serta diterapkan melalui ajaran pokoknya.Maka kelahiran seorang diibaratkan seperti menanam atau menggantikan gigi. 5 . 3.wi kako sama manu jago”.dimana seseorang laki-laki bersama keluarganya masuk pertama kali kerumah perempuan atau perkenalan. La‟a Sala Artinya Suatu perkawinan yang dilakukan pasangan yang masih mempunyai hubungan darah.anak patut dibanggakan dikenal dengan”wi yie sama jora ngasa. 3. Reba Pesta adat tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Bajawa dalam setahun sekali untuk mensyukuri hasil panen. yakni “Sui Uwi”.2. 2.2 Nilai-nilai moral tradisional masyarakat Bajawa Nilai-nilai moral Tradisional 1.dalam arti patah tumbuh hilang berganti. kemudian itu menyangkut pula tata tertib hidup. Perkawinan tradisi Ngada (Bajawa) bertujuan untuk saling mmembahagiakan antara suami dan istri dan memperoleh keturunan.ada generasi penerusnya.memasang tananam kembali gigi yang telah tak tumbuh lagi. yakni keturunan.anak pengganti atau pelanjutperan orang tua. Termasuk pelanggaran moral. Bere Tere Suatu acara adat. 2.

satip jari atau urat dipatahkan begitu seterusnya. Kematian seperti ini jenazahnya tidak boleh di simpan di dalam rumah harus berada di luar rumah. Golo Kematian yang tidak wajar. 7. Sebelum acara reba ada satu tahapan adat namanya soka soka uwi artinya seluruh pujaan tentang tanaman uwi-uwi hawut pertandanya reba. Ketika tinggal satu jari atau sisir ke 13 itu berarti waktu untuk melaksanan upacara reba. Sagi 8. Idi Ngawu Pihak laki-laki membawa belis pada pihak perempuan sebelum menikah. Kiki Ngi‟i Tinju adat yang dilakukan setahun sekali khususnya di kecamatan so‟a. O uwi e…… 6 . Simbol pemotongan gigi yang dilakukan hanya pada perempuan yang sudah dewasa. 5. Perayaan Awal Ada beberapa upacara ritual yang dilaksan pada saat reba 1..3. 2.1 upacara adat reba A.3 PENERAPAN NILAI-NILAI MORAL DALAM PERISTIWA ATAU UPACARA ADAT.awal perayaan reba sebelum kobe dheke. Sobhi dibuat dari bantang bambu aur sepanjang 20 cm di buat bentuk jari-jari atau urat sisir sebanyak 13 jari atau urat. 5.4. 4.ditabrak dll. 2.seperti dibunuh. Ka Sa‟o Upacara yang dilakukan untuk masuk rumah adat yang baru/rumah baru. Paki sobhi Paki sobhi pembuatan sisir dari bambu yang digunakan sebagai kalender adat yang dilakukan pada hari pertama. Syair soka uwi sebagai berikut: O uwi e….dengan hitungan tiap bulan baru muncul di bagian barat. 6.

ssatu buah kelapa muda yang masi kecil(nio boko) dan nasi. Tempat persemayan uwi . uwi e…. Proses upacara rebha sebagai berikut . wete (jewawut) dan hobho (kacang-kacangan) tanaman ini di tanam didalam kebun atau ladang. meski sungkur juga takaan habis ) O.dikebun merka langsung menuju kesebuh tempat didalam kebun yang bernama mata tewi . Rebha dilaksanakan untuk memohon berkat Tuhan melalui arwah leluhur agar tujuan tanaman (ngaza lima zua) tumbuh subur dan menghasilkan panen berlimpa.mata tewi merupakan sebuah tempat yang berukuran kira-kira 2x2 m. hae lewa (jagung solor). Beberapa orang dari masing-masing suku /warga rumah adat berangkat dari sa’o(rumah adat) menuju kebun membawa serta parang. sebelum melakukan penanaman bibit uwi seorang yang lebih tua mengucapkan semacam manra zi’a ura manu untuk menyatakan ujud pelaksanaan upacara tersebut Syair zia ura manu: Zi’a ura manu dia (semoga dengan upacara pemotongan ayam untuk rebha) Dia kami da rebha uma(ini kami akan merebha kebun) Raba go ngaza lima zua wi lowa(agar tanaman yang di tanam bertumbuh subur) 7 .sedangkan di tengahnya tanam tanaman yang laen. O uwi Makna bebas.seekor ayam kecil . Tanama-tanaman tersebut adalah pare (padi). piso. uwi adalah tanaman simbol sumber kehidupan yang tak kan bisa punah meski dikonsumsi oleh hewan dan manusia 2. Rebha Rebha adalah salah satu upacara persiapan reba yang dilaksanakan pada pagi hari pertama sebelum kobe dheke..Ulu mena kutu ko’e koe dhano ana ko’e (ketimur babi landak gali meski di gali tetap masih ada) Ulu zele hui moki moki dhano bhai moli (kebarat babi hutan sungkur.pada keempat sudut kebun itu ditanami uwi. ha‟e (jagung). Upacara rebha dilaksanaan pada pagi hari di kebun atau diladang sebelum upacara persiapan berikunya yaitu tege kaju lasa.

melalui pengamatan kondisi urat hati. tanaman tumbuh subur atau berhasil. sore harinya ada upacara te g’e kaju secara harafiah tege kaju artinya masukan kayu (kayu api)kedalam sa’o (rumah adat)kayu api ini sudah dipotong dan dikeringkan kurang lebih satu bulan menjelang reba kayu-kayu itu dikumpulkan dipadha sa’o 8 . dan empedu ayam akan tanpak petunjuk-petunjuk tertentu seperti akan terjadi kelaparan. empedunya.kemmudian mereka berjalan keliling kebun memercik tanaman di seluruh kebun sambil beteriak lowa-lowa-lowa (lowa artinya bertumbuh terus) ter akhir kelapa mida tadi di telingkupkan pada salah satu kayun patok teras kebun za’i/ulu kemudian mereka makan nasi serta daging ayam yang dibakar. Manu kau ura zia (ayam semoga urat. dan si pengucap mantra tadi harus melihat kondisi urat hati.sebelum dimakan mereka harus memberikan sesajean kuwi bagi leluhur berupa nasi dan hati ayam.pada waktu kuwi /memberikan sesajian harus diucapkan mantra berikut Dia ine ema ebu kajo ( ini para leluhur nenek moyang) Kami da puju kuwi (kami memberimu sesajen) Ka papa fara inu papa pinu (makanlah bersama .setelah itu darah ayam dioleskda batu lanu dan daun-daun tanaman tadi yang dipetik dan diikat menjadi satu.Dia kami nge nuka reba (kami persembahkan darah ayam ini bagi keselamatan peryaan reba di kampong.dan lain-lain.kemudian salah seorang membakara ayam tadi dan yang lainya berjalalan keliling kebununtuk rebha daun tanaman tadi dioleskan dengan darah ayam di celupkan kedalam buah kelapa muda setelah di lubangi bagian matanya. Tege kaju/kuju lasa Setelah upacara rebha dikebun.minumlah bergilir) Kami nenga raba go buku reba (kami akan merayakan adat budaya reba Dhegha go buku ngata sili anan wunga (mengenang adat budaya sili ana wunga) 3. empedumu menunjukan tanda baik) Bhoko se wolo jali jo (tanam terbaris rapih ) Da lewa noze nea(yang tinggi dipangkas sehinggah subur ) Kiki kaba ne’e we’a (dapat menghasilkan kerbau dengan emas) Pedhu kau bodha wela olo (semoga penyakit tersingkir jauh) Setelah zi’a ura manu lalu ayam di potong dan di bakar dibelah untuk melihat isi perutnya.

Teknik masukan kayu seseorang berdiri di padha sa’o mengambil kayu satu paersatu diberikan kepada seseorang lain yang berdiri di teda lalu diteruskan kepada seorang lainya yang sudah berdiri didalam sa’o dan menyusun keatas para-para. Pada zaman dahulu ada orang yang di tugaskan untuk 9 . Sebelum ayam dipotong. Sesudah kayu dimasukan semua dilanjutkan dengan upacara pemotonngan ayam didalam sa’o untuk mengesahkan upacara tege kaju tersebut. Kayu api tersebut disiapkan untuk dipakai selama upacara reba. Bhaga adalah miniatur sa’o yang didirikan di tengah kampung. salah seorang pemangku adat dari sa’o tersebut mengucapkan mantra zia ura manu untuk pengesahan upacara tege kaju selanjutnya saluruh warga sao (ana sa’o) besama-sama makan minum perjamuan tege kaju tersebut intinya adalah makan ber sama.5 meter diatas tungkuh api didalam rumah adat. 4. Jenis kayunya harus kayu isi supaya bara api tetap ada. disusun menumpuk ke atas. Filsafatnya olo pu’u dhra olo lobo tupu tapa. sebab selama perayaan reba masing-masing rumah tidak boleh meminta api dari rumah lain. Kaju lasa ini ada 12 batang diletakan tersendiri paling bawah yaitu bagian bawa para-para.maka simbolisnya :segala urusan harus dimulai dari bawa atau dasar kalau dimulai dari atas akan tertahan atau terhalang. Sedangkan kaju lasa tidak dibolehkan dipakai namun tetap disimpan sampai waktu perayaan reba tahun berikutnya. Bila masa pesta reba telah selesai namum kayu-kayu tersebuut masi ada maka kayu tersebut boleh digunakan untuk masak. Kayu –kayu lain dimasukan kemudian. dan selama perayaan reba tidak boleh ada yang ke kebun sebab panenannya bisa gagal. Yang dimaksud paling pertama ialah kaju lasa yaitu kayu reba yang belum kering betul. minum bergilir dari satu cangkir.yaitu jenjang pertama sa’o. Posisi kayu dimasukan kedalam sa’o adalah bagian pangkal duluan . Secara harafiah artinya kalau duluan pangkal lancer. kalau duluan pucuk akan tertahan ranting atau cabang. Reba bhaga Sesudah upacara tege kaju dilanjutkan dengan reba bhaga. Kayu dimasukan ke on’e sa’o dan diletakan di atas para-para (ke’e)yang berjarak kurang lebih 1. Masalahnya bukan banyak sedikitnya makanan tetapi seperti filsafat ka papa fara inu papa resi yang artinya makan bersama dari satu wadah. sa’o memiliki tiga jenjang lantai yaitu pertama padha kedua teda dan jenjang ketiga one Pelaksanaan upacara teg’e kaju harus dimulai dari rumah adat.

ayam dan moke. b. c.namanya wa’e tua ana manu mereka ikut merayakan kobe dheke disa’o itu Kobe dheke juga merupakan ajang seorang pemuda dan keluarganya mengantar tua manu untuk meresmikan pertunanganan dengan seorang pemudi dari sa‟o tersebut.maupun yanga datang dari luar daerah karena bekerja di perantauan akan berkumpul bersama. untuk sebuah 10 . misalnya ka sa’o. Disamping bhaga ada ngdhu yaitu tiang pemali berukir. b. kenduri dan lain-lain. Setiap ana sa’o/ warga sa’o yang datang akan membawakan serta beras. Esa go wala su’a kobe wunga Zua go su’I uwi kobe ngia zua Telu go pojo tebu kobe ngia telu Perayaan inti rebha terdiri atas tioga bagian yakni: a. khususnya kebagian dalam /one sa’o yang posisi paling tinggi. c. B.sehingga masuk rumah adat selalu digunakan kata dhek’e pada malam itu semua keluarga atau warga sa’o ngaza baik yang berada dikampung itu . moke dan ayam. Kobe dheke/dheke reba Sedo uwi da woko uwi Su‟I uwi A. Reba bhga dilaksanakan didalam bhaga diawali dengan pengucapan mantra zi’a ura manu dengan ujud reba bahga. Urat hati dan empedu ayam harus diamati untuk mengetahui tanda-tanda atau ramalan. Nuansa maknanya bahwa masuk rumah adat /sa’o kita harus menaiki tangga. merupakan malam reuni keluarga secara paripurna. Perayaan inti Sili peletak budaya pertama reba sudah menata perayaan reba dalam tiga bagian yaitu¨: a. Kobe dheke/dheke reba Secara harafiah kobe dheke terdiri atas dua kata yaitu kobe yang berarti malam.menjaga khusus untuk tinggal di bhaga. Dheke reba diselenggarakan dirumah adat masing-masing. Pesta reba bhga cuma beberapa orang saja. Pada malam itu juga para penggarap lahan milik sa‟o itu akan datang mengantarkan beras. tempat menambat kerbau yang akan dikorban kan untuk upacara-upacara tertentu dalam kampung. dan dheke yang berarti naik.

sa’u sedangkan perampuan menggunaka lawo. orang muda maupun orang tua. Pada malam itu tiap-tiap rumah adat seluruh warga sa‟o tekun mengikuti dheke reba biasanya orang mengikuti dheke reba di sa’o (pihak mama martilinear )baru mereka pergi merayakan di rumah pihak bapak B. boku. keru. sedangkan dibagian dalam lingkaran ada kelompok koor kecil yang masing-masing terdiri atas 3 orang yang melantunkan bait-bait solonya.koba rao wolo (ubi merambat menutupi gunung) Uwi ladu wai poso koba reko lizu (uwi penopang gunung poso merambat menutupi langit) Uwi kutu koe ana dhano koe (ubi digali babi landak tetap ada) Awi hui moki. Jalur adat yang harus ditempuha adalah melamar/masuk minang (bere tere oka pale). Sedo Uw‟i Sedo uwi adalah tarian tandak khusus pada perayaan reba seni pertunjukan masal yang dilakoni seluruh masyarakat baik anak-anak. para penari membentuk lingkaran. marangia.pernikahan. sambil menyanyi o uwi e refrein lagu tandak tersebut dinyanyikan bersama-sama oleh seluruh peserta. Contoh syair-syair tentang uwi antara lain: Uwi meze go leba laba (ubi sebesar gong sepanjang gendang) Uwi tebu toko. Kemudian pada waktu reba mengantarkan tua manu baru terakihir pemberkatan nikah . marangia. kasa sese. Semua menari harus berpakaian adat lengkap. melakukan gerakan hentakan kaki dalam irama maju mundur selangkah bergantian kaki kiri maju dan kaki kanan mundur. Gerakan berputaaran kekanan. lega jara. moki dhano bhai moli (ubi disungkur celeng tetap tak akan habis) Uwi halo leza sedu peka rua wali(uwi biar musim paanas bertumbuh) Contoh syair yang berkaitan dengan para leluhur peletak dasar budaya rebha sili ana wunga da nuka pera gua (silih mengajarkanpertama adat budaya) 11 . laki-laki menggunakan sapu lu’e. butu dan propertinya setelah dheke reba bertempat dipelantaran kampung.

.le tewi e di balas lagi o.. untuk makan minum sesudah itu baru diteruskan lagi menari tandak. le teki lalu geri leli oleh perampuan ereleleleleo. saling kunjung. kadang-kadang tandak ini diselingi dengan kelo ghae dimana seluruh penari bergabung bergerombol menari berarak keliling kampung sambil menyani o.. bisa juga menggunakan solo-solo sindiran lain. saling mengundang.le tewie di balaz lagi o. Selama pesta reba orang hanya ingin makan dan menari. Selingan lain ereleleleooooo. kau kau. Untuk menggantikan suasana atau variasi bernyanyi dan menari. 12 .uwi misalnya heti si riwu eeee sili ana wunga da nuka pera gua kau. kau.Sabe ne me ga’e ndoma ngape(sabe da gae peramal ulung ) Paba ule laje sasa rama dara(paba ule laja penyemangat) Pati ne’e sina pojo pi’e ge hiwa(pati dan sina selalu berhasil tiap tahun) Wiji ne.e wojo dhanga tau pagho(wiji dan wajo peteni yang selalu berhasil) Selama menari dan menyanyi ini kadang-kadang di selingi dengan ereleleo dimana kelompok pemuda dan pemudi saling menyindir ditutup dengan sorakan gerileli oleh atau juga sindiran yang berisi oleh nasihat orang tua sair sindiran atau pata neke terhadap gadis-gadis yang hamil sebelum menikah misalnya pare mala nuza pu. uwi.. tekie dibalas lagi o. kau. dengan meneriaki sambil menghentakan kaki lebih keras dengan irama dobel yang lebih cepat hal ini dilakukan untuk lebih menggrirangkan dan lebih menyemangati pesta. beo lado busa ha’e dhiri zala ata langi la’a uwi mwena repi ko’e beti ghoru beki Selingan lain ialah gaka uwi (seruan peringatan uwi) dimana seorang laki-laki meneriaki sebuah pengumuman tetap dalam nada irama ama tandak o.... bergembira bersama. kau. untuk mengajak orang-orang lain yang masih menonton saja agar ikut menari. kau e lalu disambung oleh kaum perampuan. Sering kali rombongan itu ditahan oleh warga rumah-rumah yang dilewati..ruda ana dole (oleh kelompok laki-laki/perempuan) lalu di balas zale jere boro e lalu di balaz lagi o.

selanjutnya proses menjelaskan bahwa otoritas pada nilai  Seni Petunjuk Sedo uwi merupakan seni pertunjukan massal yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat baik anak-anak.pembuangan sampah atau kotoran yang terkumpul selama perayaan reba. semuanya berpakayan adat lengkap.C. Perayaan Penutup Upacara penutup dalam rangkaian upacara reba adalah pojo tebu bu pojo atau rebu pojotebu juga disebut rorahota atau rora sot. Setelah pojo tebu warga kampung beristirahat saja dikampung. Nilai-Nilai Budaya Reba Nilai adalah aspek budaya yang paling dalam tertanam.luka merupakan senitari yang dilakukan secara massalsambil me4nyanyikan lagu o.uwi demikian juga tarian o. D. bulu ayam. orang muda dan orang tua. Setelah upacara pojo tebu segala sesuatu yang berkaitan dengan perayaan reba tidak boleh disebut-sebut lagi. hal ini termasuk tabu. Masa tenang atau masa istirahat sampai dengan upacara poke lasu wara selesai.sebab dapat mendatangkan bencana angin.pojotebu yaitu acara pembersihan. Para penari membentuk lingkaran sambil menghentakan kaki dalam irama maju mundur selangkah-selangkah bergantian kaki kiri dan kanan bergerak kearah kanan diiringi lagu o.upacara poke lasu wara biasanya dilaksanakan dalam waktu 3 hari setelah reba. tulang daun kacang. dll. Mereka tidak boleh kerja kebun atau ke kebun.ingi nabe tegu. 13 . Sampah-Sampah tersebut seperti kulit ubi.masa tenang atau setelah istirahat ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk membayar hutang piutang atau bermusyawarah tentang belis atau urusan-urusan adat lainnya.luka dan mengeli. tulang-tulang.

Fungsi dan makna didaktis 6. 14 .kedua kelompok kecil tersebut merupakan kelompok chorus 1(naro doa)dan chorus 2(jara tu)lingkaran ini bergerak berlawanan arah jarum jam.kema sa’i leza beza bugu kungu uri logo artinya bekerja keras membanting tulang. Fungsi dan makne politis 4. historis leluhur. teks su’i uwi termasuk teks material kotbah (Nai 1999) malam merupakan malam refleksi kehidupan sosial. lingkungan serta aspek kehidupan lain. Fungsi dan makna didiaktis 7. pekerjaan. belakang membusur bercucuran keringat Dua netu uma nuka nono sa’o artinya bekerjalah kebun kaplingmu. Fungsi dan makna apresiatif-rekletif Berikut beberapa contoh ajaran hidup: Ngo sosogo bojo. lahanmu. Fungsi dan makna historis 2.su’i uwi merupakan tujuh fungsi dan makna yaitu: 1. dan selesai kerja kembali kerumah adatmu. Refrein o. sampai kukumu tumpul. Musik ini bergaya polifoni sebab ada Ttiga kelompok melantunkan melodi yang berbeda dengan syair yang berbeda tetap dalam satu irama harmoni.uwi dinyanyikan secara bersama-sama terdengar indah sebab ada paduan suara anak-anak. wanita dan kaum pria. Fungsi dan mmakna religius 5. Seni Musik Lagu o‟uwi dinyanyikan secara bersama oleh seluruh peserta sedo uwi. Fungsi dan makna hukum adat 3. agama.  Nilai Moral/Ajaran Hidup Pada upacara SU’I UWI mosalaki dalam woe/klan menyampaikan pesan moral bagi seluh warga sukunya.di bagian dalam lingkaran ada dua kelompok kor kecil yang masing-masing terdiri atas tiga orang untuk melantunkan bait-bait solohnya. pendidikan.

ayam atau babi 15 .loka wi lowa.kasi makan ayam dan kasi makan babi supaya berkembang. Ngira-ngira lawo pisa artinya jangan bertindak sembarang. Ka modhe inu nari bhila dhadhi dhawi. simpanlah rapih-rapih (makanan) agar badan tidak kurus. aksesoris. kawin-kawin bagai mayan enau  Nilai Magis Pada upacara reba ada nilai magis yang tidak dapat diterima dari aspek logika akal sehat.tanam menanam supaya tidak kurang Bo wi ma’e nobo peni wi dhesi.contoh pada pengucapan mantra sebelum pemotongan hewan kurban akan terbaca tanda-tanda peristiwa melalui kondisi urat.tuza mula wi ma’ekura artinya keluarga semoga tidak punah. moke. namun hal itu ada dan tetap terjadi. hati dan empedu hewan tersebut. kembali kekampung pikulah kayu utuk memasak makanan untuk mengenyangkan perut.  Nilai Ekonomis Penyiapan kebutuhan untuk pelaksanaan upaca reba dapat menghasilkan uang dari hasil penjualan produk seperti pakaian adat.go tuka tuda da nunga bhila kura tua artinya makan enak minum manis bagaikan keluarga.hi wi ma’e tiki artinya bertumbuh seperti pisang yang ditanam rumpunnya supaya tidak kurus. Ngo si molo-molo tebo wi ma’e ro pebhisi ghemi-ghemi weki wi ma’e dheri artinya bekerjalah baik-baik agar badan tidak sakit. Artinya pergi ke kebun harus membawa tofa untuk bekerja buat mengsi perut.Dua zili uma sa’a go su’a wirau uma wi noa pusi tuka. Bhuka moe miku mola. beras.nuka dia nu’a su’u kaju rubha uta wi no’a bo’o tuka. Woe wi ma’e be’o. harus hati-hati bela ma’e dheke mote ma’e ngadho artinya jangan suka membicarakan nama orang. artinya tunas supaya tidak putus.

 Lawo (sarung) butu  Lawo keto  Lawo wa‟i manu  Lawo biri  Lawo pisa berwarna biru. Kuda: sebagai kendaraan yang di gunakan setiap hari.  Tenunan untuk kaum wanita:  Hoba ragi mite : sarung berwarna hitam diselingi beberapa garis  Ragi woi toto pata : berwarna hitam dan di beri hiasan tertentu.2Tenun ikat Kegiatan tenun menenun nampaknya merupakan cirri khas dihampir setiap etnis masyarakat Nusa Tenggara Timur.Seluruh tenunan dari Bajawa.. 16 .sehingga warnanya gelap.termasuk masyarakat Bajawa.2.  Hoba ragi woi sa wisa : sarung seluruh berwarna hitam diselingi warna merah.tenang.Semua ini merupakan pengaruh kebudayaan Hinduisme.3. Seni Bajawa tenunan ikat pada masyarakat dan belum dan wanita digolongkan sederhana berkembang secara baik dengan berbagai motif seperti kuda.dan kaki ayam.memberikan kesan suram. Kaki ayam:sebagai binatang sakti naga manu. Kegiatan tenun dinamakan “Mane tenu/Seda tenu” yang dilakukan khusus oleh para wanita (kaum Ibu muda/gadis).

merah tua dan dijemur sampai kering.mengumpat orang. Lu‟e/sapu gajah : pakian laki-laki yang bernilai tinggi.nenek dan kakek.kemudian untuk motif. Proses menghasilkan tenunan melangkahi satu rangkaian pekerjaan panjang dan memakan waktu lama.2 Kelahiran Kelahiran sebagai waktu yang paling dinantikan baik oleh orang tua. Kelahiran biasanya ada acara ritual bahkan pada masa sebelumnya yakni waktu hamil sudah di adakan beberapa acara yang bertujuan memelihara kehamilan.3. Sapu piri.biru. Menenun dimulai dari pengeluaran kapas tua yang setelah dijemur dan dipisahkan bijinya.gambar kain/motif daerah       Tenunan untuk kaum pria: Boku : Mahkota bagi setiap laki-laki dewasa. Hasil ikatan pada benang di celupkan dalam pewarna hitam. Lu‟e/sapu jara kedhi Lu‟e kebo : berbentuk selendang berukuran kecil/sedang.tiwa ba viro” 17 . 2. Menenun di mulai dari mengikat rentangan benang di antara dua potongan bamboo. sesudah pengerigan.melanggar kesopanan dan kehormatan orang tua.direntangkan pada alat-alat tenun.gambar bentuk tertentu diikat oleh kaum ibu dengan syarat-syarat tertentu. Ungkapan sumpah serapah untuk orang atau wanita pada umumnya adalah “sigi ba ghighi. Akibatnya menjelang kelahiran mendapat kesulitan persalinan. Apa sebab? Karena dimasa muda sang gadis mungkin pernah melanggar tabu hamil.

ariari dipotong (dengan kepercayaan bahwa ari-ari adalah bagian dari keluarga batin calon adikadik dan bayi).Rangkaian upacara kelahiran disebut “Doro Azi”. Pemberian pakaian semua hanya untuk pria dan wanita. pelbagai nama dipanggil berganti-ganti sampai sang bayi bersin. dilakukan acara “Kela Nio” (membelah kelapa) dan airnya dipercikkan kearah mata angin pada sudut merah dengan ucapan “Le Fa Le Meku” ucapan keselamatan. dan tetangga berkumpul dirumah keluarga. pandai menghemat. Disini peranan dukun bersalin/tora mali menjadi semakin penting. ditanamkam rasa malu sehingga menutup bagian tubuh yang tidak boleh dilihat oleh umum. sehingga perlu dipelihara. Pada saat nasi sedang dimasak. Tora mali berasal dari dua kata.suki dhano dhapi tebo (jangan jadi bersalin seharusnya tersumbat rahim sang ibu)” “zata ghezo zale semo (bila selesai bersalin maka kubur selalu terbuka menelan nyawa sang ibu)”. Pada masa balita sang anak mulai diperkenalkan dengan pakaian disebut “Rida/Pedi” menutup tubuh. daging kelapa diukur dan diberikan pada hadirin. baru sang ayah menggunakan nama itu. Tora artinya orang yang mempunyai kemampuan nujum. menerangkan sesuatu yang gaib. Sesudah itu acara-acara pemberian nama yang dicalonkan dari keturunan ayah dan ibu. rukun dan damai. kerabat. Sebagai contoh sesudah lahir. Lumbung padi selalu terisi. Setelah 40 hari dari masa kelahiran dilanjutkan dengan upacara mencukur rambut “Koi Ulu Azi”. Ungkapan ini seolah-olah mengancam nyawa sang ibu menjelang kelahiran. bertanak nasi. memasak air panas. memandikan ibu dan anak. Sementara itu para wanita. yang disebut “ Teo Bau”. Plasenta disimpan baik-baik dalam bere (tas jinjing) yang dibungkus dengan kain putih kemudian digantung diatas pohon.(bila terjadi kehamilan termakan kutukan orang tua)”. dan Mali artinya orang yang mampu mengelakan penderitaan orang sakit (nama yang lain teke ru`u/teke wunu kaju). “dhadhi subhe. Tujuannya agar ketika dewasa sang bayi tadi tidak kikir. 18 . Pakaian tradisional untuk anak-anak disebut “Rida Go Upu” yang terbuat dari sisasisa tenunan yang disulam lagi dalam bentuk kasar. Sangat penting dilakukan pada anak sulung (anak laki). dan menyimpan makanan dalam segala musim.

“Naja” adalah simbol wanita yang menjadi calon istri. Logo bei ube” adalah simbol perkawinan tradisional Bajawa untuk meyatukan kedua insan yang berbeda jenis kelamin yang telah membentuk kehidupan dalam satu rumah. Kedua.Ditinjau dari segi suku Ditinjau dari segi suku ada dua sistem perkawinan Adat.3. 2) Po Tolo Kobho Nau Wawo Ngima: perkawinan di dalam sesama dalam kesatuan masyarakat hukum adat yang segeneologis (woe). “logo‟ adalah punggung yang menajdi simbol pria.” Sistem ini juga tetap berpegang pada prinsip bahwa 19 . Sedangkan “ube” adalah dinding papan rumah adat sebagai simbol wanita calon istri yang menjadi pemilik rumah dan pemilik ketangguhan dan keselamatan hidup. B.” naja berarti “pelupu yang menjadi lantai rumah adat. Logo Bei Ube” (pantat telah menyentuh lantai dan pungung pun telah bersadar pada dinding). Artinya.” “Buri” ini menjadi simbol pria. sistem perkawinan eksogami. Tujuaannya pernikahan jenis ini ada dua: 1) Kago sama sao wea nao mae galo: artinya. Buri adalah “pantat. maupun dengan sesama anggota kampung yang artinya masih keluarga jauh. “Buri peka naja.Arti dan Makna Perkawinan Arti dan makna perkawinan dalam masyarakat Bajawa dapat dibaca dalam kata-kata kunci yang diapakai pada saat perkawinan adat.” peka “menyentuh. untuk memperteguh hak dan kewajiban dalam kesatuan masyarakat hukum adat. Salah satu kata kunci yang dipakai adalah “Buri Peka Naja. Pertama. Tujuannya. Perkawinan jenis ini sering terjadi antara saudara sebuyut.Sistem Perkawinan a. Perkawinan dengan sistem ini disebut “kadhi bata. Tujuannya. Menurut sistem ini perkawinan terjadi di antara sesama kesatuan masyarakat hukum adat atau marga yang sering disebut “go sama one” baik untuk lingkup “woe” (kelompok masyarakat adat yang lebih kecil dari suku).2. Dari penafsiran atas ungkapan ini dapat disimpulkan bahwa perkawinan merupakan persatuan kedua insan yang berbeda jenis kelamin untuk membangun kehidupan bersama dalam keselamatan dan tangguh dalam menumbuhkan keturunan mereka. perkawinan di antara anggota suku sendiri guna menghindari belis atau mas kawin. juga tetap sama yakni menjaga agar harta benda tidak mengalir pihak lain melalui belis.3 Perkawinan A. sistem perkawian endogami. perkawinan yang dilakukan antara kedua pasangan dari kesatuan teritorial yang lebih luas dari kampung halaman sendiri.

biasanya sangat jarang karena perkawinan jenis ini dilakukan bila di dalam rumah sang ayah tidak ada saudari yang berhak atas segala warisan di dalam rumah tersebut.pembelisan dan upaca perkawinan. hasil perkawinan “dii sao” bukan berada di tangan ayahnya. tetapi berada di tangan pamannya. perkawinan “dii sao” merupakan bentuk perkawinan yang lazim terjadi. Dari bentuk perkawinan ini.apalagi jika cuma satu-satunya putri tunggal seluruh rangkaian acara pinangan disebut “Bere tere oka pale”. Di sini.tetapi tahapnya sama. Relasi kunci yang terjadi di sini adalah relasi “paman-anak” dan bukan “bapak-anak. Namun.pasangan tetaplah seasal.Dilihat dari Segi Rumah Dari segi ini juga dikenal dua jenis perkawinan. seketurunan dari kelurga yang telah lama melakukan perkawinan ke luar. C.di adakan di rumah wanita karena yang akan mewarisi harta kekeyaan kliennya.idi tua manu” sistem perkawinan di wilayah Bajawa antara lain: 20 . Akan tetapi.bheku mebhu tana tigi. Bentuk perkawinan ini sesuai dengan sistem kekerabatan matilineal menurut garis keturunan ibu. Perkawinan “pasa” adalah bentuk perkawinan di mana istri dibelis oleh pihak keluarga suami. sedangkan pengaturannya diurus oleh saudara istrinya.” Masa depan anak-anak. suami tidak terhitung sebagai anggota rumah dan tak mempunyai hak atas semua harta warisan yang ada di dalam rumah istrinya. suami menjadi pendatang dalam rumah istrinya atau yang dikenal dengan nama “ana ngodho mai. memiliki hak atas harta warisan ayah. mereka tetap harus taat kepada anak-anak saudari ayahya. sedarah.” Suami datang. Anak-anak hasil perkawinan ini mengikuti garis keturunan bapak. Sebagai pendatang. Intinya. b. pola pemukiman pasca nikah. Pertama.perkawinan ini di lakukan tanpa belis. wanita menjadi ahli waris atas semua harta milik dari keluarga di mana wanita itu tinggal. Kedua. Yang berhak adalah istrinya. perkawinan “pasa” atau belis. tetap sama yakni perkawinan dilakukan di antara keluarga sendiri. tinggal dan bekerja di rumah istrinya. perkawinan di Bajawa berbentuk matriarchat.perbedaan-perbedaan hanya pada tata cara peminang.seluruh biaya perkawinan di tanggung oleh kedua belah pihak. jika ada.JENIS-JENIS PERKAWINAN Ritus perkawinan atau zeza latu ngawu di Bajawa nampaknya sama bagi semua kultur dan tidak mengandung perbedaan yang prinsipil.

 Perkawinan berdasarkan pelapisan sosial. Perkawinan masuk. layak diperlakukan dihampir semua kultur disebut “Kago Sama Sa’o Wea Nao Wi Mae Galo. sanksinya harus dihukum menurut adat dan diusir keluar kampung. Perkawinan ini lebih mirip atau dapat di katakan menganut prinsip sama dengan matrilineal dengan alasan-alasan utama anak wanita sebagai pewaris keluarga dengan segala kekayaannya. kawin masuk di sebut “Daru rai manu atau kawo api ngata” pengurapan dengan darah ayam.Bajawa. Para pemuda dari golongan Gae dihalalkan berkawin dengan gadis bukan golongan Gae. Jenis perkawinan ini memakai ”weli atau belis” sehinga hak perempuan berpindah kerumah suami. Suatu bentuk perkawinan yang sama seperti terjadi di dalam kesatuan adat rote dengan terang kampung. Penentuan hari perkawinan biasanya dilakukan pada hari pembicaraan pertemuan tahap kedua setelah peminangan.  Perkawinan menurut keturunan Perkawinan ini disebut perkawinan yang teratur berdsarkan sepupu (anak om dan tante). Fai Weta Saki Nara”. Perkawinan antara lapisan seperingkat pada masyarakat Bajawa terlarang sekali. Ada juga anggapan sementara orang bahwa dengan kawin masuk sebenarnya lelaki di perbudak oleh keluarga istri. Kejadian perkawinan terbalik (lelaki kasta bawah terhadap wanita kasta lebih atas) disebut “Laa Sala Page Leko”.  perkawinan keluar. namun anak-anak yang dilahirkan nanti digolongkan sebagai yang bukan Gae seperti ibunya.disini berlaku asas yang bernama Endogami pelapisan. Perkawinan ini hanya terjadi di Feo dan So‟a. maka pihak lelaki mengantar anak 21 . Hanya diperkenankan pada pelapisan yang sama.perkawinan itu di nyatakan syah apa bila di sertai acara zeza (peresmian adat) yang dalam adat Bajawa ialah “beo sa‟o atau teo tada”. Setelah weli terbayar sehari atau dua hari sebelum nikah. Waktu itu ditentukan besarnya belis dari keluarga lelaki (hewan seperti kerbau.apabila seorang gadis dari tingkat atau golongan Gae (golongan bangsawan) berkawin dengan lelaki dari golongan yang bukan Gae. kuda) sebagian keluarga wanita dengan ternak kecil (babi) sebagai balasan.

a. Hal ini dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk diketahui oleh seisi kampung bahwa gadis itu telah dipinang (dilamar). Acara ini dilakukan dengan penuh persaudaraan dan keakraban sebagai suatu kerabat yang saling menerima dalam satu ikatan. kedua calon suami-istri menjalankan pencocokan tingkah laku atau tahap penyamaan persepesi. b. Dalam upacara zeza ini akan dilakukan beberapa ritus pokok: 1. Zeza: yang merupakan upacara peresmian atau pengesahan perkawinan secara adat. Hasil temuannya disampaikan kepada orang tuanya untuk diproses lebih lanjut dengan tata urusan yang mulai melibatkan keluarga besar dan anggota suku. Zia Ura Ngana. Setelah beras dan babi diletakan di depan pintu rumah adat. d. tetapi oleh ibunya. Beku Mebhu Tana Tigi (hancurnya dedaunan di sepanjang jalan dan padatnya tanah yang sering dilalui). Setelah tingal kira-kira seminggu maka keluarga wanita menghantar lelaki kembali kekeluarganya diiringi tarian dan lagu-lagu gembira. Berarti. Pada waktu ritus ini. Bere Tere Oka Pale (meletakan tempat untuk sekapur sirih). Disebut demikian karena inilah yang dinamakan dengan tahap penjajakan yang bukan dilakukan oleh pemuda kepada pacarnya. D. didoakan oleh tua adat.Tahap-tahap Perkawinan Tahap Perkenalan dan Pacaran (Papa Tei Tewe Moni Neni) Tahap ini merupakan tahap mencari jodoh yang dilakukan sendiri oleh sang pria. kedua calon diminta untuk duduk di “mata raga” (altar korban dalam rumah adat) yang diapiti oleh 22 . sebelum menikah secara adat. Nasa. Inilah tahap peminangan atau melamar. babi dan beras diletakkan pada tempat yang sama lalu didoakan oleh tua adat kemudian dimasak untuk dimakan dalam acara tersebut. Pada tahap ini ada beberapa sub-tahap yang harus dilewati lagi. c. Masa ini boleh disebut sebagai masa pertunanganan. Di sini. Ibu sang pemudalah yang aktif ke rumah calon besannya untuk menjajaki kenyataan perilaku dan sifat gadis idaman anaknya dan berupaya mendapatkan kepastian apakah gadis yang bersangkutan sungguh-sunguh bebas dari incaran pria lain selain putranya. pihak lelaki mengutus duta peminangannya yang terdiri dari saudari kandung dan beberapa wanita lainnya yang dianggap layak dan mampu bersekapur – sirih dengan pihak gadis pinangan dan keluarganya.lelakinya kerumah keluarganya wanita untuk dikukuhkankan disana. visi dan misi.

tua adat mengucapkan kata-kata: “dia wi toro papa bhoko. Hal ini didasarkan atas sistem perkawinan matriarkat yang berakibat bahwa wanita yang berperan sebagai penguasa sedangkan suami sebagai pembantu. para pelindung rumah leluhur. yakni empedunya penuh. pasu wi mae nau. Saudara pengantin wanita diminta untuk membawa babi dan beras yang disimpan di atas kepala babi sambil berkata sebagai berikut: “zia ura ngana dia. pengurapan darah babi pada pengantin: darah babi yang dioleskan di dahi merupakan penegasan seorang laki-laki memasuki rumah wanita. leluhur pokok pria dan wanita dari kesatuan masyarakat hukum adat ini. Sekiranya permohonan kami ini berkenan di hati kalian. kage wi gebhe huy nee maki zeza (fai nee hak) wi moe go wea da lala dhape. tewe dia da buri peka naja. Ngana kau bhara ura zia.” Dengan upacara ini seeorang pria yang menjadi calon suami si gadis resmi menjadi suami si gadis untuk seterusnya bersama istrinya mengatur kehidupan bersama dalam keluarga.pedhu benu lie seko. zala wigoda gai. 23 .” Artinya: “sucilah seluruh makanan ini di saat upacara pernikahan anak kami (nama kedua mempelai) ini.. kau ba se gebu. leluhur pokok turunan Teru dan Tena. buah kecipirnya serangkai dengan hati tanda kewibawaan berkekuatan) 2. Dia jao wela kau seteka mata mema.sanak saudara dari kedua belah pihak. Para orang tua yang telah tiada untuk bersama kami menyaksikan guna melindungi mereka bagi persatuannya yang agung berkelanjutan untuk mejadi suami-istri yang bersatu padu takterceraikan seakan emas yang disepuh-leburkan jadi satu. wiwi le gaja rae.” Artinya: “anak lelaki ini kini diserahkan sebagai suami anak kita (nama penganti wanita tersebut) dan menjadi pembantu dalam rumah ini. mite mata raga da toa gha nee ulu beo gha nee eko. kabu peda kau ba le teme. lani setebu.kami wi bhe nee nitu zale ngadhu nee bhaga. padha wi meze aze. dua wi penga dua.. para leluhur dan pra orang tua. sus keri asa kae nusi nange kajo pera. logo bei ube. Tee setoko. wi zeza ana kami (. Wiwi kau ba le gaja rae. Tunjukkanlah pada urat-urat hati babi ini. ketu kau ba le todho ngadho. Leluhur terpokok Oba dan Ngana. pemberi ajaran dan pengetahuan. yang kami hadirkan ya Penguasa lagit dan bumi.. ulu wi tutu. Saat pengurapan dengan darah babi. ine ame mai wi dii utu meda mogo. nuka wi penga nuka.nama). wi lewa pipi wi mae isi.

tetap bukan merupakan sebuah sakramen. Bau gae: persembahan atau penyajian yang suci kepada penguasa langit dan bumi dan para luluhur sekaligus memohon perlindungan dan naungan itu. melindungi pengantin sesuai dengan permohonan yang diharapkan dalam pengucapan doa.3. 24 . 4. perlu dilihat sikap-sikap yang tepat untuk mengatasi hal ini. 6. dengan sendirinya kedua mempelai ini boleh tinggal serumah. E. Ritus Penutup: acara penutup sering disebut dengan “Ka toka inu sobhe. lese dhe peda pawe. Karena itu. tidur bersama dan melakukan aktivitas layaknya sebagai suami-istri tanpa terlebih dahulu mengesahkan perkawinannya di Gereja.” Jelaslah bahwa perkawinan adat Bajawa sesempurna apapun dan walaupun sifatnya sudah sangat mengikat.Sifat Perkawinan Dari kata-kata doa dan nasehat serta simbol-simbol yang digunakan dapat dikatakan bahwa perkawianan adat Bajawa bersifat monogam dan takterceraikan. Biasanya setelah semua proses ini berlangsung.” Yang merupakan makan bersama penutup bagi semua yang hadir pada upacara tersebut. Tota ura ngana: untuk membaca kehendak penguasa langit dan bumi dan para leluhur guna membimbing. di akhir semua tahap tersebut sebaiknya dipikirkan juga untuk sesegera mungkin menindaklajutinya dengan proses-proses yang lazim dalam tahap-tahap perkawinan Kristiani agar perkawinan tersebut bernilai sakramntal dan bukan hanya menjadi realitas manusiawi belaka. Perkawinan adat ini masih berpengaruh kuat sampai dengan saat ini. Hal ini terbukti pada saat upacara perkawinan adat di mana bahasa-bahasa adat yang digunakan pada saat peresmian perkawinan tersebut berbunyi “yang senantiasa bersatu dan takterceraikan. Zeza: pemberian makan makanan utama berupa daging babi dan nasi yang disucikan kepada pengantin lelaki sebagai ujud untuk sudah boleh hidup bersama. monogam dan takterceraikan. 5. Karena itu. Hukum Adat dan Hukum Gereja masih kelihatan sama kuatnya.

Orang yang meninggal dunia secara tidak normal (dibunuh. Kegiatan menganyam diarahkan untuk menghasilkan peralatan rumah tangga/alat-alat yang dipergunakan untuk keperluan menyimpan barang-barang konsumsi. Sesudah liang lahat digali penguburan dapat dilakukan. Cara penguburan orang-orang meninggal dilihat dari sebab kematiannya. Cara-cara ini tidak dilakukan sekarang ini.5 Menganyam.hawa sejuk dan dingin. bunuh diri. 2. “piso sa‟o” (mati golo/tidak wajar) yang cara penguburannya dilakukan secara tradisional. Kegiatan menganyam disebut subi nana/weko riko. Kematian yang normal atau “mata ade” mengikuti urutan acara ritual yang layak.Seoarang bayi jika meninggal sebelum 40 hari harus dikuburkan dibawah kolong rumah.jenazah dipikul keluar kampung seperti orang memikul hewan yang mati.diikat kedua ujung tangannya tanpa pakian lalu dikuburkan. lelaki pengubur masuk kerumah dan meminta alat-alat penggali dan alat-alat makan “ngeme/kula” (bekal waktu menggali kubur). 2. Para wanita di Kabupaten ngada (Bajawa) sangat berperan dalam kegiatan seni karya yaitu anyam-anyaman. Yang dominan adalah Ssegi sosialnya.3. Sebab perkawinan Kristiani lebih menuntut kesepakatan timbal-balik dari masing-asing pasangan dengan hati yang bebas dan bukan karena tekanan sosial oleh keluarga dan masayrakat adat. keluarga dan kerabat dikumpulkan. setelah itu semua peralatan penggali dibuang dengan upacara kecil.3.tujuannya melindungi sang bayi yang sangat memerlukan perlindungan orang tua. Kesepakatan tibal-balik antara kedua pasangan dan bukan hanya “antara kedua pihak keluarga” harus lebih ditonjolkan lagi. kecuali tikar menggunakan daun pandan.antara lain : 25 .Segi personalitas kurang tampak di dalam perkawinan adat Bajawa. Jenis-jenis anyaman.4 Kematian Kematian merupakan bagian berakhir dari daur kehidupan seorang termasuk manusia di Bajawa. Bahan dasar ialah daun lontar. Penguburan dengan cara yang lain juga berbeda juga karena mati tidak normal terhadap seorang karena busung air yang oleh masyarakat dianggap meninggal karena sihir. tabrakan) dikuburkan dengan cara yang berbeda dengan mati yang normal.

= Berbentuk kentongan. sesudah makan malam (menjelang tidur). = Dos tempat bakau untuk pria. = Tempat menyimpan pakaian. alat ini ditiup pada malam hari sesudah panen padi = Ditiup oleh pria maupun wanita. Lega  Bere Oka  Pegho  Wati  Sole/Diu  Kepe/lega ragh  Dhale/Loba = Tempat sirih pinang dan kapur (pria). = Tempat sirih pinang dan kapur (wanita).Foy  Robe  Toda Gu  Go Genga = Terbuat dari bambu. 2.antara lain :  Foy Pay  Foy Doa  Bhego. = Piring anyaman. Biasanya kegiatan mengayam dilakukan pada waktu senggang dalam rumah sesudah makan siang. = Alat musik bambu (mirip sasando dengan 5 tali yang dimainkan pria maupun wanita). 26 .dibunyikan dengan memukul untuk mengiringi tarian terkenal Toda Gu. = Feko Alat tiup yang terbuat dari bambu. = Saku untuk memuat barang bawaan diatas kuda. = Nyiru untuk menapis beras.6 Seni musik/seni suara Seni musik ditandai dengan pemilikan alat-alat musik tradisional yang sampai sekarang tetap dipertahankan secara baik. = Alat tiup yang terbuat dari pelepah enau. Beberapa alat musik.3.

1 Komentar dan Rekomendasi  Mengenai perkawinan antar sesama ras Disini perkawinan hanya dilakukan atau berlaku dimana seorang wanita yang berketurunan bangsawan atau rang atas hanya boleh menikah dengan laki-laki keturunan bangsawan atau rang atas juga. dia mengetahui bahwa hal itu tidak boleh terjadi tetapi keduanya saling mencintai.jika dilihat dari perkembangan zaman pada dewasa ini atau modern ini.BAB III PENUTUP 3.Dalam hal ini kelompok kami hanya mau memberi sedikit rekomendasi atau komentar. diposisi orang tua gadis itu melarangnya dan menjodokannya dengan pria rang atas yang sama sekali tidak dicintainya. Dilihat dari segi budaya memang setiap orang harus menaatinya. jikalau bisa perkawinan antara sesama ras ini bisa dihapuskan. Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa perkawinan antar sesama ras terkadang membawa penderitaan bagi seseorang.dalam hal ini para perempuan rang atas tersebut secara tidak langsung mereka mengalami tekanan batin yang luar biasa.tetapi tidak dihapuskan begitu saja melainkan dihilangkan secara perlahan-lahan. Tapi disisi lain. 27 .Sebagai contoh: Seorang gadis rang atas mencintai pria yang rang bawah. namun apa boleh buat? Budaya tetaplah budaya.jika tidak seseorang akan menanggung akibatnya. Karena disini kita mengetahui banyak yang mengalami pederitaan atau dengan kata lain perkawinan ini dilakukan atas paksaan atau kehendak orang lain.hal ini memang kelihatannya tidak wajar. Mereka tidak di perbolehkan untuk berkeluarga dengan laki-laki rang bawah.bukan atas rasa cinta seseorang “Tuhan menciptakan manusia sama derajatnya”.

php 3 april 2012 28 .nttuweb. Alo Liliweri. 2008 “Ngada membangun” Bajawa : Ledalero.Proyek penelitian dan pencatatan kebudayaan daerah Depdikbud.Petrus C. Upacara tradisional(upacara kematian) daerah NTT. 5. http://www. Dhogo. 1989 “Inang hidup dan baktiku” Kupang : Tim penggerak PKK Provinsi NTT.Jatmiko.com/ntt/ngada/profil-ngada. 2007 “Penerbit pemukiman kecamatan Bajawa Kabupaten Ngada” Dinas kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Ngada pusat penelitian dan pengembangan arkeologi nasional.DAFTAR PUSTAKA 1. Ubaldus Gogi. 3. Asry Moi. Ansel Doredae. 6. 4. 2005 “Reba” Bajawa : Biro Humas Setda Provinsi NTT. 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful