Menangkal Korupsi Menurut Perspektif Al-Qur’an

Diposkan oleh @ di 09:46

Korupsi sesungguhnya merupakan nama keren dari mencuri, dan mencuri menurut istilah bahasa arab “sarakah” (menyembunyikan sesuatu yang bukan miliknya) dan di dalam KUHP disebutkan bahwa mencuri adalah memindahkan sesuatu dari tempat semula ke tempat lain yang bukan miliknya. Perilaku korupsi bisa juga iindikasikan dari berbagai perspektif atau pendekatan. Tindakan korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan hukum misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya. Korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri. Korupsi adalah tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi yang secara sengaja dilakukan sendiri atau bersama-sama untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri. Pendekatan atau perspektif orang awam dengan lugas mengatakan menggelapkan uang kantor, menyalahgunakan wewenangnya untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa bekerja secara serius adalah tindakan korupsi. Bisa saja hal itu dikatakan untuk menjelaskan hal yang kita benci dan akan kita jinakkan. Sanksi bagi pencuri dalam agama kan sudah jelas. Namun perlu disadari bahwa untuk menghilangkan korupsi bukanlah perkara gampang karena ia telah berurat berakar dan menjalar kemana-mana terutama di negeri kita ini. Bangsa dari sebuah negara dengan tingkat keberagamaan (religiusitas) nya ternyata tidak bisa dijadikan sebagai ukuran. Karena ternyata, negara yang dikenal sangat religius seperti Indonesia, dalam beberapa survei justru meraih rekor yang sangat tinggi dalam urusan korupsi. Sebaliknya, sejumlah negara sekuler yang abai pada agama, justru berhasil menekan tingkat korupsi hingga pada tingkatan yang paling minim. Padahal, jika merujuk doktrin-doktrin normatif agama yang amat ideal (dalam hal ini Islam), Indonesia –sebagai negara dengan populasi muslim paling besar di dunia– tidak sepantasnya menduduki peringkat negara terkorup. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya, karena tidak adanya hubungan antara agama dengan tingkat korupsi, masalah korupsi mungkin lebih bersifat karikatural. Boleh dikatakan, bahwa terdapat dua kelompok orang yang bersih dari korupsi. Pertama, orang yang betul-betul takut dengan hukum Tuhan. Tapi kelompok pertama ini sedikit sekali jumlahnya. Kedua, khususnya di negeri yang sekuler, motif tidak korupsi bukan karena takut kepada Tuhan, tapi lebih bersifat rasionalis saja. Misalnya, kalau mereka menyuap polisi, mereka sadar itu akan menghancurkan tatanan hukum. Kalau mengambil hak orang lain, mereka sadar akan menyengsarakan banyak orang. Walaupun penulis sepakat dengan Teten Masduki yang berkesimpulan bahwa korupsi bisa dikategorikan sebagai perbuatan syirik, tapi sifatnya sosial. Kesadaran sosial, semacam penghargaan terhadap hak orang lain, sedikitnya akan mampu mengerem untuk melakukan perbuatan korupsi. Jika mereka sadar betul kalau korupsi akan menilap hak orang. Mereka sadar kalau korupsi akan merusak sistem ekonomi, dengan merusak sistim perekonomian maka negara akan hancur. Islam kan sebenarnya menanamkan kesadaran seperti itu. Pada hakikatnya Islam dilahirkan untuk membebaskan manusia dari pelbagai bentuk perbudakan dan eksploitasi.

Karena. kita masih berkeyakinan bahwa saat ini. Untuk pola hubungan masyarakat yang masih sangat dipengaruhi community leader (pemimpin kelompok) faktor keteladanan memang harus lebih ditonjolkan. maupun pembaharuan substansi perundang-undangan. Karena kalau kita perhatikan bahwa permasalahan korupsi tidak saja menjadi kendala struktural. Gerakan pemberantasan memang telah banyak dilakukan. membutuhkan ekstra kerja keras dalam menangani permasalahan yang sangat krusial ini. politik. Mulai dari gerakan moral-kultural. dan problem-problem sosial lainnya yang bersinggungan langsung dengan kita. Dan korupsi itu jelas dampaknya menimbulkan kemiskinan. dengan begitu kita semua sedang belajar untuk hidup lebih lurus. maka keteladanan tokoh masyarakat akan berperan sangat penting dalam memberantas korupsi. politis-struktural. Pada level inilah. Jadi harus dimulai dari diri sendiri. sosial. sebagai bentuk kepedulian moral. mungkin praktik agama kita yang pemaknaannya keliru. agama perlu menjadi moral guardian (benteng moral) untuk mengawal aktivitas politik penganutnya agar tidak terjebak pada pengingkaran amanah. Semua energi bisa dilibatkan dan sedia dikerahkan. Tapi korupsi tak urung usai.Jadi sebenarnya. Tentu saja. karena lebih menekankan hal-hal yang bersifat ritual. Makanya. ketika sistem hukum dan sistim sosial tidak mendukung. Tindak korupsi tentu termasuk hal yang harus diperangi Islam karena dapat menimbulkan masalah besar. kadang sedikit aneh jika melihat orang-orang yang getol shalat sampai hitam jidatnya. sentimen sosial kaum muslim terhadap isu-isu seperti korupsi. . Itu karena mereka sudah merasa sangat mengerti bagaimana cara bertaubatnya. Padahal menurut sejarah. agama harus tetap diikutkan untuk masalah yang satu ini. perhatian pertama Nabi Muhammad dalam dakwahnya terletak pada usaha perbaikan sistem sosial. Untuk itu. Untuk konteks Indonesia. kwalitas moral politisi sesungguhnya punya pengaruh yang sangat signifikan dalam membuka pintu-pintu terjadinya praktik korupsi.Yang jelas. Islam datang untuk memerangi sistem ketidakadilan. cita-cita untuk menjadi Indonesia baru. Korupsi dapat menghancurkan apa saja. Makanya diperlukan pemaknaan kembali atas agama. budaya. tapi dalam kehidupan sosial justru menolelir tindak-tindak korupsi. walau ada pihak yang menyebut soal ini tidak berkaitan dengan soal agama. tindakan korupsi tidak menghargai fitrah manusia yang diilhamkan kepadanya untuk cinta kepada kebaikan. bahkan agama. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‟an yang berbicara soal kemiskinan. Bahkan beragam metode dan model gerakan telah digalakkan. ia senantiasa menyelinap dalam setiap sendi kehidupan kita: ekonomi. korupsi telah membudaya (nation culture). Sayangnya. Bangsa ini perlu banyak belajar dan merenung untuk menghargai bahwa korupsi merugikan orang banyak yang telah bekerja keras dan berlaku jujur. namun lebih dari itu. yang segera harus dicarikan jalan keluarnya untuk menangkal agar tidak lagi bangsa ini dihantui dengan berbagai kasus korupsi. menjadi bagian yang tak terpisahkan dari realitas birokrasi kita. Karena masalah struktural tadi. nampaknya kurang bersemangat untuk mendapatkan perhatian dibandingkan dengan sentimen persaudaraan sesama muslim seperti dengan Palestina ataupun Irak yang sangat luar biasa.

Islam bukanlah teologi eskapistik yang mengamini umatnya untuk larut dalam buaian spiritual. walaupun Islam meneguhkan adanya konsep ummatan wahidatan dalam Islam. Al-Isra: 16. Al-Zuhruf: 23. juga merupakan tanggung jawab agama. Hud: 27). Al-Quran juga punya perangkat teoritis untuk memberantas korupsi. Beberapa ayat dalam al-Quran yang memberi argumen cukup tegas bahwa dalam setiap harta yang dimiliki manusia. yakni umat yang kaya dan umat yang miskin. seringkali terdapat penegasan akan tesis Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung korup (power tends to corrupt). al-Quran juga sesungguhnya bisa menjadi landasan teoritik yang bisa dipakai untuk melakukan pembebasan kemanusiaan. realitas kaum pinggiran yang kini semakin memprihatinkan dalam kehidupan bangsa kita. . maka perlu dilakukan oposisi melawan hegemoni kaum penindas itu (Qs. tidak punya daya paksa struktural. ia juga sekaligus melarang umat Islam untuk memilih kaum penindas jadi penguasa (Qs. bagi kebanyakan umatnya tidak mempunyai dimensi sosial dan intelektual yang kuat dalam membendung realitas kemungkaran yang terjadi. bahwa sesungguhnya seorang manusia harus menafkahkan atas harta yang dikuasai (Qs. Hanya saja. bukankah itu merupakan pengingkaran besar atas amanah kebendaan yang dititipkan pada manusia.Asumsi ini jelas perlu diperbaharui. senantiasa ada hak yang tersurat. Lalu. tidak saja menghadirkan penegasan itu.Pada sisi yang berbeda. Al-Quran mempunyai kekuatan untuk membentuk budaya masyarakat. Al-Kahfi: 71. doktrin-doktrin normatif yang tertuang dalam al-Quran itu. Saba: 34-35. Jika ditelaah lebih jauh. Hanya saja. Dengan ungkapan yang berbeda. sehingga lupa akan tanggung jawab sosialnya. al-Quran mempunyai perangkat teoritis yang bisa dipakai untuk membentuk ragam manifes ketidakadilan sosial. bahkan untuk masalah seperti korupsi. Bagi Hanafi. Al-Hadid [57]: 7). sehingga sang koruptor menjadi tak bergeming. dapat dimengerti bahwa sifat-sifat seorang pemimpin seharusnya bukan sosok yang korup. namun secara empiris kaum muslimin terbagi dalam dua kelompok. yang patut disayangkan. Allah ingin memberi ketegasan. Al-Hujurat: 9). maka di sinilah. Al-Maarij [70]: 24-25). ini sekadar menjadi kesadaran kultural. kenapa di dalam Al-Quran juga sempat disinggung bahwa kaum tertindas perlu menjadi pemimpin di bumi ini (Al-Shaff: 5. Sesungguhnya memang sudah saatnya al-Quran tidak lagi diletakkan sebagai kesadaran normatif yang hanya bergerak pada wilayah kultural. Dalam banyak ayat. Terkait korupsi. Dan al-Quran. Demikian itulah. Dan itu artinya. Ia juga harus mampu menyelinap dalam perbaikan pada ruang-ruang struktural. Jika dipahami secara kontekstual. jelas bukan miliknya (Qs. Al-Anfal: 137). Al-Quran memiliki impetus emosional yang dapat menggerakkan umat Islam untuk bersikap sesuai dengan ajaran yang dikandungnya. agama telah kehilangan vitalitasnya sebagai agen kemanusiaan (humanity agency). An-Naml: 34. Namun jika mereka terlanjur berkuasa. Dan hak itu. jika korupsi dilakukan. Jika semakin hari semakin lebar jarak itu. Sungguh argumen reflektif Hassan Hanafi perlu kita hadirkan di sini. bagi saya al-Quran tidak saja mampu membentuk kesadaran moral manusia untuk tidak rakus memakan harta rakyat.

Al-Insan: 8-9. iman pada level inilah yang justru lebih penting. Pada sisi inilah. Korupsi sebagai bagian dari monopoli dan konsentrasi kekuasaan juga disinggung oleh al-Quran. Bahkan sangat mungkin. termasuk dalam memberantas korupsi. dan mencintai mereka. yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain. Wallahu „alam. AlQur‟an harus menjadi inspirasi dan pelopor untuk melakukan gerakan pembebasan. Maka membela kaum lemah juga merupakan bagian dari karakter insan takwa (Qs. http://ushuluddinsh. Al-Maarij: 24. boleh dibilang bahwa ruang ketakwaan tidak saja dilihat melalui ibadah ritual serta kepuasan spiritual yang telah diraih. melalui pembaharuan struktural. Di sinilah praksis pembelaan terhadap kaum lemah perlu dilakukan.blogspot. Dari sinilah. namun lebih dari itu. Al-Humazah: 1-9). keberimanan masyarakat oleh al-Quran perlu dipandu untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan kita. Dengan demikian. Al-Hasyr: 7). Al-Baqarah: 197.namun profil populis yang dekat dengan rakyat. Gerakan oposisi terhadap penguasa yang korup bahkan diyakini sebagai jihad fi sabilillah (Al-Nisa: 75) yang juga merupakan agenda para rasul (Al-Anfal: 157). Al-Dzariyat: 19). Dan tudingan celaka. seraya mengutuknya (Qs. Ali Imran: 134. secara radikal kemudian al-Quran “begitu berani” mengklaim orang yang (mushally) sebagai pendusta agama jika ia tidak memiliki keperpihakan pada anak yatim (Qs.com/2011/06/menangkal-korupsi-menurut-perspektif-al. bagi umat Islam yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya tanpa ada kesadaran nurani (inner conscious) untuk mewujudkan kesejahteraan sosial (social welfare) (Qs. dan tidak hanya dorongan moral.html . Al-Maun: 1-7).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful